Akidah dan Amalan Yahudi yang Ditiru oleh Sebagian Kaum Muslimin

Kaum Yahudi adalah orang-orang kafir yang kebenciannya kepada kaum muslimin sangatlah besar. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ ٱلنَّاسِ عَدَٰوَةً لِّلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱلۡيَهُودَ وَٱلَّذِينَ أَشۡرَكُواْۖ

“Sungguh, engkau akan dapati orang yang paling keras permusuhannya kepada kalian adalah orang-orang Yahudi dan kaum musyrikin.” (al-Maidah: 82)

Mereka adalah kaum yang dimurkai oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Mereka terus berupaya agar ada di antara kelompok kaum muslimin yang mengikuti mereka. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلَن تَرۡضَىٰ عَنكَ ٱلۡيَهُودُ وَلَا ٱلنَّصَٰرَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمۡۗ

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan ridha kepada kalian hingga kalian mengikuti agama mereka.” (al-Baqarah: 120)

Allah subhanahu wa ta’ala melarang kita berloyalitas dengan mereka. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَتَّخِذُواْ ٱلۡيَهُودَ وَٱلنَّصَٰرَىٰٓ أَوۡلِيَآءَۘ بَعۡضُهُمۡ أَوۡلِيَآءُ بَعۡضٍۚ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمۡ فَإِنَّهُۥ مِنۡهُمۡۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلظَّٰلِمِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menjadikan orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin (teman dekat kalian); sebagian mereka adalah pemimpin (teman dekat) bagi sebagian yang lain. Barang siapa di antara kalian menjadikan mereka menjadi pemimpin (teman dekat), maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (al-Maidah: 51)

Baca juga: Yahudi dan Nasrani adalah Orang-Orang Kafir

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita untuk senantiasa menyelisihi mereka. Beliau shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

أَعْفُوا اللِّحَى وَجُزُّوا الشّوَارِبَ وَغَيِّرُوا شَيْبَكُمْ وَلَا تَشَبَّهُوا بِالْيَهُودِ وَالنَّصَارَى

“Panjangkanlah jenggot, pendekkanlah kumis, dan ubahlah uban kalian. Janganlah kalian menyerupai orang-orang Yahudi dan Nasrani.” (Lihat Shahih al-Jami’ ash-Shaghir no. 1067)

Beliau shallallahu alaihi wa sallam bersabda pula,

خَالِفُوا الْيَهُودَ فَإِنَّهُمْ لَا يُصَلُّونَ فِي نِعَالِهِمْ وَلَا خِفَافِهِم

“Shalatlah dengan memakai sandal kalian. Selisihilah Yahudi, sesungguhnya mereka tidak shalat memakai sandal.” (HR. Abu Dawud no. 652; Syaikh al-Albani menilainya sahih dalam Misykatul Mashabih no. 765)

Akan tetapi, sudah merupakan sunnatullah, akan ada orang-orang yang mengikuti mereka. Beliau shallallahu alaihi wa sallam berkata,

لَتَتْبَعُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، شِبْرًا شِبْرًا وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ، حَتَّى لَوْ دَخَلُوا جُحْرَ ضَبٍّ تَبِعْتُمُوهُمْ. قُلْنَا: يَا رَسُولَ اللَهِ، الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى؟ قَالَ: فَمَنْ؟

“Kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Sampai-sampai, jika mereka masuk ke lubang dhabb, niscaya kalian akan mengikutinya.”

Kami katakana, “Wahai Rasulullah, apakah (yang dimaksud) Yahudi dan Nasrani?”

Beliau berkata, “Siapa lagi (kalau bukan mereka)?” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Baca juga: Makar dan Tipu Daya Ahlul Kitab

Di antara amalan dan keyakinan Yahudi yang diikuti sebagian muslimin adalah sebagai berikut.

1. Ghuluw

Ghuluw artinya melampaui batas. Adapun secara syariat, ghuluw artinya melampaui batas dalam memuji dan mencela.

Ghuluw terjadi dalam masalah akidah, ibadah, muamalah, ataupun adat. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

قُلۡ يَٰٓأَهۡلَ ٱلۡكِتَٰبِ لَا تَغۡلُواْ فِي دِينِكُمۡ غَيۡرَ ٱلۡحَقِّ

“Katakanlah, ‘Hai ahli kitab, janganlah kalian berbuat ghuluw (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agama kalian’.” (al-Maidah: 77)

Di antara bentuk ghuluw kaum Yahudi adalah mengultuskan dan menyembah manusia. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman tentang perbuatan Yahudi dan Nasrani,

ٱتَّخَذُوٓاْ أَحۡبَارَهُمۡ وَرُهۡبَٰنَهُمۡ أَرۡبَابًا مِّن دُونِ ٱللَّهِ

“Mereka menjadikan ulama dan ahli ibadah mereka sebagai rabb selain Allah.” (at-Taubah: 31)

Mereka mengultuskan Uzair, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala,

وَقَالَتِ ٱلۡيَهُودُ عُزَيۡرٌ ٱبۡنُ ٱللَّهِ وَقَالَتِ ٱلنَّصَٰرَى ٱلۡمَسِيحُ ٱبۡنُ ٱللَّهِۖ ذَٰلِكَ قَوۡلُهُم بِأَفۡوَٰهِهِمۡۖ يُضَٰهِ‍ُٔونَ قَوۡلَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِن قَبۡلُۚ

Orang-orang Yahudi berkata, “Uzair adalah anak Allah.” Orang-orang Nasrani berkata, “Al-Masih (Isa) adalah anak Allah.” Itulah ucapan yang diucapkan mulut-mulut mereka, menyerupai ucapan orang-orang kafir sebelum mereka. (at-Taubah: 30)

Kemudian muncul di kalangan muslimin orang-orang yang ghuluw terhadap Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan orang-orang saleh. Padahal Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata,

لاَ تُطْرُونِي، كَمَا أَطْرَتْ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ

“Janganlah kalian mengultuskan aku, sebagaimana orang-orang Nasrani mengultuskan Isa ibnu Maryam.” (HR. al-Bukhari no. 3445)

Baca juga: Jaring-Jaring Setan Itu Bernama Ghuluw

Di kalangan umat ini ada kelompok Sufi yang mengultuskan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, mengklaim bahwa beliau mengetahui ilmu gaib. Bahkan, sebagian mereka menyatakan bahwa semua makhluk diciptakan karena Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Padahal Allah subhanahu wa ta’ala menyatakan tentang hikmah diciptakannya jin dan manusia,

وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ

“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (adz-Dzariyat: 56)

Demikian juga kelompok Syiah, mereka mengultuskan orang-orang yang mereka anggap sebagai imam mereka. Di antara bentuk pengultusan mereka adalah meyakini bahwa imam mereka maksum (terjaga dari kesalahan) dan mengetahui perkara gaib.

Khomeini (tokoh Syiah) berkata, “Sesungguhnya termasuk perkara yang penting dalam mazhab kami, bahwasanya para imam memiliki kedudukan yang tidak bisa dicapai oleh malaikat muqarrabun (yang dekat) ataupun nabi yang diutus.”

Dalam kitab sesat mereka, al-Kafi, disebutkan, “Bab: Para imam mengetahui apa yang telah dan akan terjadi, tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi mereka.”

Inilah ucapan-ucapan kufur yang menunjukkan ghuluw kaum Syiah terhadap orang-orang yang mereka anggap sebagai imam.

2. Men-tahrif Kalamullah

Tahrif maknanya memalingkan ucapan dari makna yang zahir kepada makna lain yang tidak ditunjukkan oleh konteks kalimat, tanpa ada dalil yang menunjukkannya.

Tahrif ada dua macam: tahrif lafzhi dan tahrif maknawi.

Tafrif lafzhi ada tiga macam:

a. Mengubah harakat.

Contohnya, mereka men-tahrif firman Allah subhanahu wa ta’ala,

وَكَلَّمَ ٱللَّهُ مُوسَىٰ تَكۡلِيمًا

“Dan Allah telah berbicara kepada Musa secara langsung.” (an-Nisa: 164)

Mereka membacanya dengan me-nashab-kan lafzhul jalalah sehingga dibaca اللهَ sehingga maknanya Nabi Musa-lah yang berbicara kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

b. Menambah satu huruf.

Misalnya, seperti tahrif yang dilakukan ahlul bid’ah terhadap kata استوى (naik di atas) mereka tahrif menjadi استولى (menguasai).

c. Menambah satu kata.

Contohnya, tahrif yang mereka lakukan terhadap firman Allah subhanahu wa ta’ala,

وَجَآءَ رَبُّكَ

“Rabb-mu datang ….” (al-Fajr: 22)

menjadi

وَجَاءَ أَمْرُ رَبِّكَ

“Perintah Rabb-mu datang.”

Baca juga: Hanya Bagi Allah, Sifat yang Mahatinggi di Langit dan di Bumi

Adapun tahrif maknawi adalah mengubah makna suatu kata tanpa mengubah harakat atau lafaznya. Sebagai contoh, mereka memaknakan يد الله (tangan Allah) dengan makna kekuatan Allah.

Tahrif adalah perbuatan orang-orang Yahudi. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman tentang mereka,

مِّنَ ٱلَّذِينَ هَادُواْ يُحَرِّفُونَ ٱلۡكَلِمَ عَن مَّوَاضِعِهِۦ

“Di antara orang Yahudi ada yang mentahrif (menyelewengkan makna) firman Allah dari makna yang benar.” (an-Nisa: 46)

Di antara bentuk tahrif Yahudi, ketika mereka diperintah untuk mengucapkan حِطَّةٌ (ampunilah), mereka malah mengucapkan حِنْطَةٌ (gandum).

Di kalangan umat ini muncul kelompok-kelompok yang men-tahrif firman Allah subhanahu wa ta’ala untuk mendukung kebid’ahan dan akidah mereka yang rusak, seperti Mu’tazilah, Asy’ariyah, Maturidiyah, dan ahlul bid’ah lainnya. Mereka melakukan tahrif lafzhi dan maknawi yang telah diterangkan di atas.

3. Menjadikan kuburan sebagai masjid

Di antara sebab Allah melaknat Yahudi dan Nasrani adalah mereka menjadikan kuburan sebagai masjid. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

لَعَنَ اللهُ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى، اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسْجِدًا

“Allah melaknat Yahudi dan Nasrani karena mereka menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid.” (HR. al-Bukhari no. 1330)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memperingatkan umatnya dari perbuatan yang demikian. Beliau pernah berkata,

اللَّهُمَّ لَا تجْعَل قَبْرِي وَثَنًا يُعْبَدُ

“Ya Allah, janganlah Engkau jadikan kuburanku sebagai berhala yang disembah.” (HR. Malik; Syaikh al-Albani menilainya sahih dalam Misykatul Mashabih no. 750)

Baca juga: Bila Kuburan Diagungkan

Namun, muncul orang-orang Sufi dan semisal mereka—seperti Rafidhah dan lainnya—yang mengagungkan kuburan-kuburan dan menyembahnya. Mereka melakukan haul, thawaf, dan berbagai macam ritual yang tidak diajarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

Syaikh Shalih al-Fauzan rahimahullah berkata, “Di antara bentuk ghuluw kepada kuburan dan penghuni kubur adalah mendirikan bangunan di atas kuburan, memberinya lentera, meletakkan kelambu padanya, menulisi nisannya, mengapur (mengecatnya) serta bentuk ghuluw lainnya. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melarang semua perbuatan ini.” (Syarh Masa’il Jahiliyah, hlm. 226)

4. Berloyalitas kepada musuh-musuh Allah

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman tentang perbuatan Bani Israil (Yahudi),

تَرَىٰ كَثِيرًا مِّنۡهُمۡ يَتَوَلَّوۡنَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْۚ لَبِئۡسَ مَا قَدَّمَتۡ لَهُمۡ أَنفُسُهُمۡ أَن سَخِطَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِمۡ وَفِي ٱلۡعَذَابِ هُمۡ خَٰلِدُونَ

“Kamu melihat kebanyakan dari mereka berwala’ (berloyalitas) kepada orang-orang yang kafir (musyrik). Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka persiapkan bagi diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka; dan mereka akan kekal dalam siksaan.” (al-Maidah: 80)

Allah subhanahu wa ta’ala telah mengharamkan berloyalitas dengan orang kafir. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَتَّخِذُواْ ٱلۡيَهُودَ وَٱلنَّصَٰرَىٰٓ أَوۡلِيَآءَۘ بَعۡضُهُمۡ أَوۡلِيَآءُ بَعۡضٍۚ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمۡ فَإِنَّهُۥ مِنۡهُمۡۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلظَّٰلِمِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin (teman dekatmu); sebagian mereka adalah pemimpin (teman dekat) bagi sebagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu berwala’ (berloyalitas) kepada mereka (menjadikannya sebagai pemimpin atau teman dekat), maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (al-Maidah: 51)

Allah subhanahu wa ta’ala melarang kaum muslimin melakukan perbuatan seperti Yahudi yaitu berloyalitas dan cinta kepada orang-orang kafir. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

لَّا يَتَّخِذِ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٱلۡكَٰفِرِينَ أَوۡلِيَآءَ مِن دُونِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَۖ وَمَن يَفۡعَلۡ ذَٰلِكَ فَلَيۡسَ مِنَ ٱللَّهِ فِي شَيۡءٍ إِلَّآ أَن تَتَّقُواْ مِنۡهُمۡ تُقَىٰةًۗ وَيُحَذِّرُكُمُ ٱللَّهُ نَفۡسَهُۥۗ وَإِلَى ٱللَّهِ ٱلۡمَصِيرُ

“Janganlah orang-orang mukmin menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin (teman dekat) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka.” (Ali Imran: 28)

Baca juga: Al-Wala’ dan Al-Bara’ terhadap Orang Kafir

Jelaslah bahwa memusuhi dan berlepas diri dari orang kafir dan agama mereka adalah wajib. Prinsip al-wala wal bara termasuk kewajiban dalam Islam yang paling besar.

Namun, di umat ini ada Syiah Rafidhah dan kaum Sufi yang sering membuka hubungan dan ber-wala` dengan orang kafir. Mereka tidak segan-segan berkhianat untuk membantu orang kafir dalam menghadapi muslimin. Pengkhianatan yang pernah mereka lakukan merupakan satu di antara sekian banyak sejarah kelam mereka.

Seorang tokoh Rafidhah bernama Nashir ath-Thusi membuat bait-bait syair menyanjung al-Mu’tashim, salah seorang pemimpin dari Bani Abbasiyyah. Akan tetapi, ketika pemimpin Tartar, Hulagu Khan punya kesempatan untuk membunuhnya, ia pun memberikan isyarat untuk membunuhnya. Pengkhianatan inipun melibatkan seorang Rafidhah lainnya yang bernama Ibnu Alqami. Dialah yang menyarankan Al-Mu’tashim untuk mengurangi pasukan sehingga Hulagu leluasa membunuhnya. (‘Aqidah Ahlis Sunnah wa Mafhumuha, hlm. 65)

5. Sihir

Orang-orang Yahudi termasuk orang-orang yang menggunakan sihir. Bahkan, salah seorang di antara mereka telah menyihir Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Mereka telah membuang apa yang dibawa oleh para rasul, lalu beriman kepada kitab-kitab sihir. Allah subhanahu wa ta’ala menerangkan,

وَلَمَّا جَآءَهُمۡ رَسُولٌ مِّنۡ عِندِ ٱللَّهِ مُصَدِّقٌ لِّمَا مَعَهُمۡ نَبَذَ فَرِيقٌ مِّنَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ كِتَٰبَ ٱللَّهِ وَرَآءَ ظُهُورِهِمۡ كَأَنَّهُمۡ لَا يَعۡلَمُونَ ١٠١وَٱتَّبَعُواْ مَا تَتۡلُواْ ٱلشَّيَٰطِينُ عَلَىٰ مُلۡكِ سُلَيۡمَٰنَۖ وَمَا كَفَرَ سُلَيۡمَٰنُ وَلَٰكِنَّ ٱلشَّيَٰطِينَ كَفَرُواْ يُعَلِّمُونَ ٱلنَّاسَ ٱلسِّحۡرَ

“Dan setelah datang kepada mereka seorang Rasul dari sisi Allah yang membenarkan apa (Kitab) yang ada pada mereka, sebagian orang-orang yang diberi Kitab (Taurat) melemparkan Kitab Allah ke belakang (punggung)-nya, seolah-olah mereka tidak mengetahui (bahwa itu adalah Kitab Allah). Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidaklah kafir (tidak mengerjakan sihir). Hanya setan-setanlah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia.” (al-Baqarah: 101—102)

Amalan Yahudi yang kufur ini pun diikuti oleh sebagian orang yang menisbahkan diri kepada Islam. Sebagian mereka mendalami ilmu sihir dan menjauhkan diri dari ilmu agama Allah subhanahu wa ta’ala.

6. Beriman kepada sebagian ayat Allah dan mengingkari sebagian yang lain.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman menerangkan sebagian sifat Yahudi,

أَفَتُؤۡمِنُونَ بِبَعۡضِ ٱلۡكِتَٰبِ وَتَكۡفُرُونَ بِبَعۡضٍۚ

“Apakah kalian beriman kepada sebagian kitab dan mengingkari sebagiannya?” (al-Baqarah: 85)

Mereka tidak beriman kecuali yang sesuai dengan hawa nafsu mereka. Padahal keimanan mereka kepada sebagian ayat Allah subhanahu wa ta’ala tidaklah bermanfaat bagi mereka jika mendustakan yang lainnya.

Baca juga: Akibat Mengimani Sebagian Kitab dan Mengingkari Sebagian Lainnya

Syaikh Shalih Fauzan rahimahullah berkata, “Termasuk orang yang mengingkari sebagian ayat adalah orang yang menyatakan Al-Qur’an adalah makhluk, baik lafaz dan maknanya. Atau menyatakan bahwa lafaznya makhluk, tetapi maknanya bukan; seperti ucapan Asy’ariyah. Ini semua adalah ucapan yang mendustakan Al-Qur’an. Barang siapa yang menyatakan Al-Qur’an adalah makhluk, baik lafaz dan maknanya sebagaimana ucapan Jahmiyah; atau menyatakan bahwa lafaznya makhluk sedangkan maknanya dari Allah subhanahu wa ta’ala, inipun kufur. Berbeda halnya jika yang mengucapkannya adalah seorang muqallid (orang yang taklid) atau muta`awil (mentakwil) maka dia telah sesat. Sebab, Al-Qur’an adalah Kalamullah, baik lafaz dan maknanya. Huruf-huruf dan maknanya, semuanya adalah Kalamullah ….” (Syarh Masa’il Jahiliyah, hlm. 170)

7. Ta’ashub (fanatik buta)

Di antara sifat Yahudi adalah ta’ashub kepada mazhab yang batil. Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan ucapan mereka,

وَلَا تُؤۡمِنُوٓاْ إِلَّا لِمَن تَبِعَ دِينَكُمۡ

“Janganlah kalian percaya kecuali kepada orang yang mengikuti agama kalian.” (Ali Imran: 73)

Dalam ayat lain,

نُؤۡمِنُ بِمَآ أُنزِلَ عَلَيۡنَا

“Kami beriman kepada kitab yang diturunkan kepada kami.” (al-Baqarah: 91)

Maksudnya, (beriman) kepada kitab yang turun kepada nabi-nabi kami saja.

Baca juga: Bagaimana Cara Beriman kepada Nabi dan Rasul?

Padahal kewajiban mereka adalah beriman kepada apa yang Allah subhanahu wa ta’ala turunkan kepada nabi mereka dan nabi yang selain dari mereka. Hakikatnya, mereka pun tidak beriman kepada apa yang Allah subhanahu wa ta’ala turunkan kepada nabi mereka. Oleh karena itu, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

فَلِمَ تَقۡتُلُونَ أَنۢبِيَآءَ ٱللَّهِ

“Mengapa kalian membunuh nabi-nabi Allah?” (al-Baqarah: 91)

Maknanya, apakah yang Allah subhanahu wa ta’ala turunkan kepada kalian adalah ajaran membunuh para nabi, seperti yang kalian lakukan?

Amalan Yahudi ini pun diikuti oleh sebagian kaum muslimin. Sebagian mereka fanatik kepada mazhab atau kelompok tertentu tanpa ada dalil. Bahkan, dalam hal yang menyelisihi dalil Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

8. Tipu muslihat

Di antara amalan Yahudi yang tercela adalah melakukan hiyal dalam rangka menolak ajaran para rasul serta menyelamatkan kekufuran dan kesesatan mereka. Mereka melakukan tipu muslihat karena tidak mampu menolak secara terang-terangan. Akhirnya, mereka melakukan makar secara tersembunyi. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman tentang mereka,

وَمَكَرُواْ وَمَكَرَ ٱللَّهُۖ وَٱللَّهُ خَيۡرُ ٱلۡمَٰكِرِينَ

“Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.” (Ali Imran: 54)

Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berhijrah ke Madinah dan menang dalam Perang Badr, orang Yahudi tidak mampu menghalangi manusia dari agama Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Mereka pun melakukan hiyal (tipu muslihat) dan makar. Sekelompok mereka berkata, “Masuk Islamlah kalian di awal siang. Jika sudah di akhir siang, murtadlah kalian dari Islam. Ucapkanlah oleh kalian, ‘Tidak kami dapati kebaikan di dalam agama Muhammad.’ Niscaya manusia akan mengikuti langkah kalian karena kalian adalah ahlul kitab.”

Baca juga: Kristenisasi dan Makar Ahli Kitab

Allah subhanahu wa ta’ala membongkar makar mereka ini dalam firman-Nya,

وَقَالَت طَّآئِفَةٌ مِّنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِ ءَامِنُواْ بِٱلَّذِيٓ أُنزِلَ عَلَى ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَجۡهَ ٱلنَّهَارِ وَٱكۡفُرُوٓاْ ءَاخِرَهُۥ لَعَلَّهُمۡ يَرۡجِعُونَ

Sekelompok ahli kitab (kepada sesamanya) berkata, “Perlihatkanlah (seolah-olah) kalian beriman kepada apa yang diturunkan kepada orang-orang beriman (sahabat-sahabat Rasul) pada permulaan siang dan ingkarilah ia pada akhirnya, supaya mereka (orang-orang mukmin) kembali (kepada kekafiran).” (Ali Imran: 72)

Di antara bentuk hiyal (tipu muslihat) dan makar Yahudi adalah ketika mereka dilarang mengambil ikan pada hari Sabtu. Mereka lantas memasang jaring (jala) pada hari Jumat dan mengambilnya setelah Sabtu. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَسۡ‍َٔلۡهُمۡ عَنِ ٱلۡقَرۡيَةِ ٱلَّتِي كَانَتۡ حَاضِرَةَ ٱلۡبَحۡرِ إِذۡ يَعۡدُونَ فِي ٱلسَّبۡتِ إِذۡ تَأۡتِيهِمۡ حِيتَانُهُمۡ يَوۡمَ سَبۡتِهِمۡ شُرَّعًا وَيَوۡمَ لَا يَسۡبِتُونَ لَا تَأۡتِيهِمۡۚ كَذَٰلِكَ نَبۡلُوهُم بِمَا كَانُواْ يَفۡسُقُونَ

“Dan tanyakanlah kepada Bani Israil tentang negeri yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu, di waktu datang kepada mereka ikan-ikan (yang berada di sekitar) mereka terapung-apung di permukaan air, dan di hari-hari yang bukan Sabtu, ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah kami mencoba mereka disebabkan mereka berlaku fasik.” (al-A’raf: 163)

Baca juga:
Kisah Ashabus Sabti (bagian 1)
Kisah Ashabus Sabti (bagian 2)

Inilah beberapa akidah dan amalan kaum Yahudi yang Allah subhanahu wa ta’ala terangkan kepada kita. Kami menyebutkannya agar kita menjauhinya. Hudzaifah radhiallahu anhu berkata, “Dahulu para sahabat bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tentang kebaikan. Adapun aku bertanya kepada beliau tentang kejelekan karena khawatir akan menimpaku.”

Seorang penyair berkata,

عَرَفْتُ الشَرَّ لَا لِلشَرِ لَكِنْ لِتَوَقِّيهِ

     وَمَنْ لَم يَعرِفِ الشَرَّ مِنَ الْخَيرِ يَقَعْ فِيهِ

Aku kenal kejelekan bukan untuk melakukannya, tetapi untuk menjauhinya

    Siapa yang tidak mengenal kebaikan dari kejelekan, (dikhawatirkan) akan terjerumus padanya

Sebetulnya, masih banyak kesesatan yang dilakukan oleh sebagian orang yang menisbatkan diri mereka kepada Islam, seperti ucapan sesat orang-orang Syiah bahwa Al-Qur’an telah diubah. Ini juga ucapan yang pernah dilontarkan oleh kaum Yahudi (lihat kitab Lillah Tsumma lit Tarikh).

Demikian juga talbis (mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan) yang sering dilakukan oleh ahlul bid’ah. Itu merupakan warisan Yahudi. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلَا تَلۡبِسُواْ ٱلۡحَقَّ بِٱلۡبَٰطِلِ وَتَكۡتُمُواْ ٱلۡحَقَّ وَأَنتُمۡ تَعۡلَمُونَ

“Dan janganlah kalian campur adukkan yang haq dengan yang batil, dan janganlah kalian sembunyikan yang haq itu, sedang kalian mengetahuinya.” (al-Baqarah: 42)

Mudah-mudahan apa yang kami tulis ini bermanfaat. Mudah-mudahan Allah subhanahu wa ta’ala memberikan taufik kepada kita untuk menjauhi jalan-jalan kesesatan Yahudi dan orang kafir lainnya.

Walhamdulillahi rabbil ‘alamin.

(Ustadz Abu Abdillah Abdurrahman Mubarak)