Al-Muhyi

Al-Ustadz Qomar Suaidi

Al-Muhyi

Al-Muhyi adalah salah satu nama Allah subhanahu wa ta’ala. Nama ini berarti Yang Maha Menghidupkan. Allah subhanahu wa ta’ala telah menyebutkan nama ini dalam surat Fushilat ayat 39.

“Dan sebagian dari tanda-tanda (kekuasaan)-Nya bahwa kamu melihat bumi itu kering tandus. Apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak dan subur. Sesungguhnya Rabb Yang Menghidupkannya tentu dapat menghidupkan yang mati; sesungguhnya Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.”

Tentang al-Muhyi (Yang Maha Menghidupkan) dan al-Mumit (Yang Maha Mematikan), terjadi perselisihan di kalangan ulama tentang kedudukannya sebagai nama dan sifat Allah. Sebagian ulama memasukkan keduanya sebagai Asmaul Husna. Di antara mereka ialah al-Qurthubi, Ibul Arabi, dan az-Zajjaj. Adapun dari kalangan ulama masa kini ialah asy-Syaikh Zaid al-Madkhali.

Al-Baihaqi mengatakan dalam kitab al-I’tiqad bahwa al-Muhyi adalah Yang menghidupkan mani yang mati lalu menjadikannya makhluk hidup; Yang menghidupkan jasmani yang sudah hancur dengan mengembalikan ruh padanya saat terjadinya kebangkitan; Yang menghidupkan kalbu dengan cahaya ilmu; Yang menghidupkan bumi setelah kematiannya dengan menurunkan hujan padanya, serta menurunkan rejeki. Dia subhanahu wa ta’ala mematikan, yakni mematikan makhluk yang hidup; dan dengan kematian itu Dia melemahkan makhluk yang kuat.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Mahakuasa.” (ar-Rum: 54)

“Mengapa kamu kafir kepada Allah? Padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu. Kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali. Kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.” (al-Baqarah: 28)

“Dialah Allah yang telah menghidupkan kamu, kemudian mematikan kamu, kemudian menghidupkan kamu (lagi). Sesungguhnya manusia itu benar-benar sangat mengingkari nikmat.” (al-Hajj: 66)

 

Buah Mengimani Nama Allah al-Muhyi

Dengan mengimani bahwa Allahlah yang Maha Menghidupkan, kita mengetahui betapa besarnya kemampuan Allah karena Dialah yang menghidupkan segala sesuatu. Dengan air, Dia jadikan segala sesuatu yang hidup. Firman Allah,

“Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tidak juga beriman?” (al-Anbiya’: 30)

Maksudnya, asal-usul segala sesuatu yang hidup adalah air; demikian dikatakan oleh Ibnu Katsir rahimahullah.

Lihatlah sebagai contoh, bagaimana Allah subhanahu wa ta’ala menghidupkan sebuah padang yang tandus, dengan Allah turunkan hujan padanya lantas tumbuhlah rerumputan dan pepohonan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Apakah kamu tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah menurunkan air dari langit, maka diaturnya menjadi sumber-sumber air di bumi kemudian ditumbuhkan-Nya dengan air itu tanam-tanaman yang bermacam-macam warnanya. Lalu ia menjadi kering lalu kamu melihatnya kekuning-kuningan. Kemudian dijadikan-Nya hancur berderai-derai. Sesungguhnya pada hal tersebut benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.” (az-Zumar: 21)

Lihatlah pula bagaimana Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan semua yang melata di atas bumi dari air,

“Dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air. Sebagian dari hewan itu ada yang berjalan di atas perutnya dan sebagian berjalan dengan dua kaki, sedang sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya, sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (an-Nur: 45)

Lihatlah bagaimana Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan manusia,

“Bukankah Kami menciptakanmu dari air yang hina? Kemudian Kami letakkan dia dalam tempat yang kokoh (rahim), sampai waktu yang ditentukan. Lalu Kami tentukan (bentuknya), maka Kami-lah sebaik-baik yang menentukan.” (al-Mursalat: 20—23)

“Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan. Di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Kamu lihat bumi ini kering. Kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai tumbuh-tumbuhan yang indah.” (al-Hajj: 5)

Pada ayat itu pula, Allah subhanahu wa ta’ala mengingatkan bagaimana Dia menghidupkan kembali orang yang telah mati. Tak lain, hal itu semacam Allah menciptakannya dari ketiadaan menjadi seorang sosok manusia. Oleh karena itu, untuk menghidupkannya kembali, amatlah mudah bagi Allah subhanahu wa ta’ala.

“Dan Dialah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikan (menghidupkan) nya kembali, dan menghidupkan kembali itu adalah lebih mudah bagi-Nya. Dan bagi-Nya lah sifat yang Mahatinggi di langit dan di bumi; dan Dialah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (ar-Rum: 27)

Hal itu juga sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala menghidupkan padang yang tandus, menjadi subur dengan diturunkannya hujan padanya. Apabila segala kehidupan makhluk yang hidup adalah pemberian- Nya, maka Dialah yang Mahahidup dan tidak akan mati. Bertawakallah pada-Nya,

“Dan bertawakkallah kepada Allah Yang Mahahidup (Kekal) Yang Tidak Mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya. Dan cukuplah Dia Maha Mengetahui dosa-dosa para hamba-Nya.” (al-Furqan: 58)

Bersyukurlah kepada Allah subhanahu wa ta’ala yang menghidupkan kita setelah kematian kita; hanya kepada-Nyalah kita kembali.

Wallahul Muwaffiq.