Al-Mutakabbir

Al-Ustadz Qomar Suaidi

 al-mutakabbir

Al-Mutakabbir adalah salah satu nama Allah ‘azza wa jalla yang agung dan mulia. Al-Mutakabbir artinya yang memiliki sifat kibriya’. Sifat kibriya’ biasa diterjemahkan dengan kesombongan sehingga mungkin ketika terdengar, pertama kali ada kesan tidak baik, karena sombong diharamkan oleh Allah ‘azza wa jalla sendiri.

Akan tetapi, pada hakikatnya terjemahan sombong terhadap kata kibriya’ belum mewakili makna kibriya’.  Hanya saja, keterbatasan bahasa kita menyebabkan kita menerjemahkan dengan sebagian maknanya. Padahal apabila merujuk kepada penjelasan ulama, kita akan dapati bahwa makna kibriya’ mengandung makna-makna lain yang sangat mulia dan agung, sebagaimana nanti kami akan sebutkan insya Allah.

Di samping itu, apabila sifat sombong disandarkan pada Allah ‘azza wa jalla, sama sekali tidak mengandung sifat negatif karena Allah Mahabaik, Mahamulia, Mahabijaksana.

Pantaslah bagi Allah ‘azza wa jalla untuk sombong, karena Allah ‘azza wa jalla Mahakuasa tak tertandingi, Mahabesar, Maha memiliki, Mahakaya, Pencipta alam semesta, Pemilik dan Pengaturnya. Segala urusan ada di tangan-Nya dan akan kembali kepada-Nya. Demikian pula berbagai sifat kebesaran dan keagungan yang lain yang dimilikinya, membuat sifat kesombongan yang dimiliki-Nya pada tempatnya.

Adapun makhluk, tidak pantas baginya untuk memiliki sifat sombong. Dia hendak sombong dengan apa? Dengan harta kekayaan yang dimilikinya? Dengan pangkat dan jabatan yang disandangnya? Dengan nasab nenek moyangnya? Dengan kekuatan yang dia miliki? Dengan banyaknya pengikut yang menuruti titahnya?

Semua itu hanyalah pemberian Allah ‘azza wa jalla kepadanya. Jadi, pantaskah dia sombong dengan sesuatu yang hakikatnya tidak dia miliki?! Sepantasnya seorang hamba justru merendahkan diri dan tawadhu’.

Lagipula kesombongan pada makhluk identik dengan sifat-sifat negatif lainnya. Seringkali kesombongan manusia mengantaran kepada kediktatoran, kezaliman, merendahkan orang lain, tidak mensyukuri nikmat Allah ‘azza wa jalla, menggunakan apa yang Allah ‘azza wa jalla berikan pada sesuatu yang bukan pada tempatnya, lupa diri, dan berbagai sifat negatif lain.

Beda halnya dengan kesombongan Allah ‘azza wa jalla, kesombongan yang beriring dengan sifat bijaksana-Nya, keadilan-Nya, syukur-Nya kepada hamba-Nya, menerima taubat mereka, pemuliaannya terhadap hamba-Nya, kasih sayang-Nya, kelembutan-Nya, dan berbagai sifat mulia yang lain.

Lebih dari itu, ternyata al-Mutakkabir bukan hanya bermakna sombong.

Ibnul Jauzi rahimahullah mengatakan bahwa tentang makna nama Allah ‘azza wa jalla, al-Mutakabbir, di dalamnya ada lima pendapat:

  1. Yang Mahatinggi dari segala yang jelek. Ini penafsiran Qatadah.
  2. Yang Mahatinggi untuk berbuat zalim terhadap hamba-Nya. Ini penafsiran az-Zajjaj.
  3. Yang memiliki sifat kibriya’ yang berarti kerajaan. Ini penafsiran Ibnul Anbari.
  4. Yang Mahatinggi untuk menyerupai sifat-sifat makhluk.
  5. Yang Mahasombong terhadap hamba-Nya yang membangkang.

Demikian penafsiran para ulama. Semuanya adalah makna yang baik dan mulia.

Allah ‘azza wa jalla telah menyebutkan nama ini dalam beberapa ayat, di antaranya,

Dia-lah Allah Yang tiada Rabb (yang berhak disembah) selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Mahaperkasa, Yang Mahakuasa, Yang Memiliki segala keagungan, Mahasuci, Allah dari apa yang mereka persekutukan. (al-Hasyr: 23)

Dan bagi-Nya lah keagungan di langit dan di bumi, Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (al-Jatsiyah: 37)

Dalam hadits dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قَالَ اللهُ  :الْكِبْرِيَاءُ رِدَائِي وَالْعَظَمَةُ إِزَارِي، فَمَنْ نَازَعَنِي وَاحِدًا مِنْهُمَا قَذَفْتُهُ فِي النَّارِ

“Allah ‘azza wa jalla berfirman, ‘Al-Kibriya’ adalah selendang-Ku dan keagungan adalah sarung-Ku. Barang siapa merebut salah satunya dari-Ku, maka Aku akan melemparkannya dalam neraka.” (Sahih, HR. Abu Dawud, diriwayatkan juga oleh Muslim dengan lafadz yang semakna)

 

Buah Mengimani Nama Allah ‘azza wa jalla, al-Mutakabbir

Dengan mengimani nama Allah ‘azza wa jalla tersebut, kita semakin mengetahui kelemahan kita selaku makhluk, sehingga tidak pantas bagi kita untuk bersikap sombong. Akan tetapi, justru sikap merendahkan diri dan tawadhu’ itulah yang pantas bagi kita.

Kita juga mengetahui kebesaran Allah ‘azza wa jalla dengan segala sifat mulia-Nya. Dialah ‘azza wa jalla yang berhak memiliki sifat sombong dengan makna yang positif sebagaimana dijelaskan di atas.

Wallahu a’lam.