AsySyafi

(ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc.)

Di antara nama-nama Allah l adalah asy-Syafi. Maknanya adalah Yang Maha Menyembuhkan. Nama Allah l ini tidak terdapat dalam al-Qur’an, tetapi dalam sebagian hadits Nabi n, di antaranya hadits Aisyah x:
عَنْ عَائِشَةَ x أَنَّ النَّبِىَّ n كَانَ يُعَوِّذُ بَعْضَ أَهْلِهِ، يَمْسَحُ بِيَدِهِ الْيُمْنَى وَيَقُولُ: اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ أَذْهِبِ الْبَاسَ، اشْفِهِ وَأَنْتَ الشَّافِي، لاَ شِفَاءَ إِلاَّ شِفَاؤُكَ، شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا
Nabi n dahulu memintakan perlindungan untuk sebagian keluarganya. Beliau mengusap dengan tangan kanannya seraya berucap:
اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ أَذْهِبِ الْبَاسَ، اشْفِهِ وَأَنْتَ الشَّافِي، لاَ شِفَاءَ إِلاَّ شِفَاؤُكَ، شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا
“Ya Allah, Rabb sekalian manusia hilangkanlah penyakit, sembuhkanlah dia. Engkaulah Maha Penyembuh, tiada kesembuhan selain kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tidak menyisakan penyakit.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
‘Mengusapkan tangannya’ maksudnya di tempat yang sakit. (Fathul Bari)
Dalam ayat al-Qur’an juga disebutkan bahwa Allah l lah yang menyembuhkan. Allah l menceritakan bahwa Nabi Ibrahim q mengatakan kepada kaumnya:
“Apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan.” (asy-Syu’ara: 80)
Maksudnya, bukan berhala-berhala yang disembah oleh kaumnya yang menyembuhkan.
Aisyah x juga menceritakan ucapan Rasulullah n saat Allah l menyembuhkan Rasulullah n dari sihir Yahudi,
أَمَّا أَنَا فَقَدْ شَفَانِيَ اللهُ وَخَشِيْتُ أَنْ يُثِيْرَ ذَلِكَ عَلىَ النَّاسِ شَرًّا
“Adapun aku, Allah l telah menyembuhkanku. Aku khawatir hal itu (yakni membunuh si penyihir) akan berakibat jelek kepada manusia.” (HR. al-Bukhari)
Al-Hulaimi t mengatakan, ketika berdoa, seseorang boleh mengucapkan, “Ya Syafi”, “Ya Kafi”, “Wahai Yang Maha Penyembuh”, dan “Wahai Yang Maha Mencukupi”, karena Allah l menyembuhkan dada dari syubhat dan keraguan, serta dari iri dan dengki. Allah l juga menyembuhkan badan dari penyakit-penyakit. Tidak ada yang mampu melakukannya selain-Nya. Tidak ada pula yang diseru dengan nama ini selain Dia l. Adapun makna penyembuhan adalah menghilangkan sesuatu yang mengganggu dan menyakiti badan. (al-Asma’ wash Shifat, karya al-Baihaqi, 1/219—220)

Buah Mengimani Nama Allah l asy-Syafi
Di antara buah keimanan terhadap nama Allah l tersebut adalah mensyukuri-Nya karena besarnya nikmat Allah l kepada kita semuanya. Berbagai penyakit menimpa kita, Allah l sajalah yang menyembuhkannya. Penyakit selalu datang silih berganti dalam waktu yang terkadang berdekatan, Allah l pula yang menyembuhkan padahal kesembuhan tersebut tidak dapat dinilai dengan harta. Allah l menyembuhkan siapa yang Dia l kehendaki sembuh demi tujuan dan hikmah yang Dia l inginkan.
Buah yang lain adalah mengetahui kebesaran kemampuan Allah l. Banyak sekali penyakit yang demikian parah atau akut, dokter dan para ahli sudah angkat tangan, namun dengan mudah Allah l menyembuhkannya apabila Dia l menghendaki. Terkadang, hanya dengan sebab seorang hamba sering berdoa kepada-Nya dengan sungguh-sungguh dan disertai oleh usaha semampunya. Mahabesar Allah dengan segala kemampuan dan kemurahan-Nya.
Dengan keimanan itu pula—jika keimanan itu kuat—seseorang tidak akan mencari-cari kesembuhan dari pengobatan-pengobatan alternatif yang haram, seperti dukun, paranormal, orang ‘pintar’, para penunggu tempat yang dikeramatkan, atau yang semisalnya. Tak jarang mereka menipu dan mengelabui konsumen mereka. Mereka semua tidak dapat menyembuhkan. Hanya Allah l lah yang dapat menyembuhkan. Kalaupun seseorang sembuh sepulang dari pengobatan alternatif yang haram tersebut, tidak berarti mereka yang menyembuhkan, tetapi Allah l yang menyembuhkan. Hal itu adalah ujian bagi keimanan mereka.