Balasan untuk Kaum Perusak

 

إِنَّمَا جَزَٰٓؤُاْ ٱلَّذِينَ يُحَارِبُونَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَيَسۡعَوۡنَ فِي ٱلۡأَرۡضِ فَسَادًا أَن يُقَتَّلُوٓاْ أَوۡ يُصَلَّبُوٓاْ أَوۡ تُقَطَّعَ أَيۡدِيهِمۡ وَأَرۡجُلُهُم مِّنۡ خِلَٰفٍ أَوۡ يُنفَوۡاْ مِنَ ٱلۡأَرۡضِۚ ذَٰلِكَ لَهُمۡ خِزۡيٞ فِي ٱلدُّنۡيَاۖ وَلَهُمۡ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ ٣٣

Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri. Hal itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka di dunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar.(al-Maidah: 33)

 

Sebab Turunnya Ayat

Ada beberapa pendapat yang menerangkan tentang sebab turunnya ayat ini.

 

  1. Ayat ini turun berkenaan dengan sekelompok orang dari kabilah Urainah yang datang ke Madinah.

Diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari rahimahullah dari hadits Anas radhiallahu ‘anhu yang berkata,

“Sekelompok orang yang berasal dari ‘Ukul mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka lantas masuk Islam. Kemudian mereka merasa tidak nyaman tinggal di kota Madinah karena cuaca yang tidak bersahabat dengan kondisi mereka.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintah mereka untuk mendatangi tempat unta sedekah digembalakan agar mereka bisa meminum air kencing dan susu unta tersebut. Mereka pun melakukannya dan menjadi sehat. Tak disangka, mereka justru murtad dan membunuh para penggembalanya.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar jejak mereka diikuti. Mereka pun berhasil diringkus dan dibawa kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian memotong tangan dan kaki mereka, mencungkil mata mereka, dan mata mereka ditusuk dengan besi panas hingga mereka mati.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Dalam riwayat Muslim, mereka berasal dari kabilah ‘Ukul atau ‘Urainah. Dalam riwayat lain, mereka dibuang di bawah terik matahari dan dibiarkan hingga mati.

Dalam riwayat lain, mereka meminta minum dan mereka tidak diberi minum.

Dalam riwayat al-Bukhari, Abu Qilabah berkata, “Mereka mencuri lalu membunuh, murtad setelah beriman, dan memerangi Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya.”

Dalam riwayat Muslim, Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mencungkil mata-mata mereka karena mereka telah mencungkil mata-mata para penggembala unta tersebut.”

Dalam riwayat Abu Dawud disebutkan bahwa Allah ‘azza wa jalla menurunkan ayat tentang orang-orang yang memerangi Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya berkaitan dengan kejadian ini.

  

  1. Ayat ini berkaitan dengan sekelompok ahli kitab yang memiliki perjanjian damai dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka lalu membatalkan perjanjian itu dan melakukan perusakan di muka bumi.

Allah ‘azza wa jalla kemudian memberi pilihan: membunuh mereka atau memotong tangan dan kaki mereka secara bersilang.

Ini adalah pendapat adh-Dhahhak dan diriwayatkan dari Ibnu Abbas.

 

  1. Ayat ini berkenaan dengan teman-teman Abu Burdah al-Aslami radhiallahu ‘anhu. Mereka melakukan perampokan terhadap satu kaum yang datang ingin memeluk Islam. Lalu turunlah ayat ini.

Ini diriwayatkan oleh Abu Shalih dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma.

 

  1. Ayat ini turun berkenaan dengan kaum musyrikin.

Ini merupakan pendapat al-Hasan dan diriwayatkan dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma. (Zadul Masiir, Ibnul Jauzi, 1/540—541)

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Yang benar, ayat ini bersifat umum, mencakup kaum musyrikin dan selain mereka yang memiliki sifat-sifat tersebut.” (Tafsir Ibnu Katsir)

 

Tafsir Ayat

يُحَارِبُونَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَيَسۡعَوۡنَ فِي ٱلۡأَرۡضِ فَسَادًا

“Orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi.

Ada beberapa penjelasan ulama tentang orang-orang yang memerangi Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya, serta berjalan di muka bumi dengan kerusakan.

  • Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam Tafsir-nya,

Muharabah artinya melakukan perlawanan dan menyelisihi. Yang dimaksud bisa jadi kekufuran, menyamun di jalan, dan mendatangkan rasa takut dalam perjalanan. Demikian pula bentuk melakukan perusakan di muka bumi, yang dikategorikan beberapa jenis perbuatan kejahatan.

“Bahkan, banyak kalangan ulama salaf, termasuk Sa’id bin al-Musayyab yang mengatakan bahwa pinjam-meminjam uang dinar dan dirham (dengan cara riba –pen.) termasuk bentuk perusakan di muka bumi.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَإِذَا تَوَلَّىٰ سَعَىٰ فِي ٱلۡأَرۡضِ لِيُفۡسِدَ فِيهَا وَيُهۡلِكَ ٱلۡحَرۡثَ وَٱلنَّسۡلَۚ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ ٱلۡفَسَادَ ٢٠٥

Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan.(al-Baqarah: 205)

 

  • Al-Allamah as-Sa’di rahimahullah berkata, “Orang-orang yang memerangi Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya adalah yang menampakkan permusuhan secara terang-terangan, merusak di muka bumi dengan kekufuran dan pembunuhan, merampas harta, dan memberi rasa takut di jalan-jalan.

“(Pendapat) yang masyhur, ayat yang mulia ini menjelaskan tentang hukum para penyamun di jalanan, yang mengganggu perjalanan manusia di kota-kota dan pedalaman, mengambil paksa harta mereka, membunuh, menakut-nakuti mereka, sehingga manusia tidak mau melewati jalan yang mereka ada di sana yang berakibat terhentinya aktivitas mereka.” (Taisir al-Karim ar-Rahman)

Dari penjelasan di atas, di antara kesimpulannya, yang dimaksud orang-orang yang memerangi Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya tidak terkhusus untuk orangorang kafir, tetapi juga kaum muslimin yang memiliki sifat “memerangi Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya dan melakukan perusakan di muka bumi”.

Bahkan, seseorang yang bermuamalah dengan cara riba pun termasuk kategori mereka yang memerangi Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya. Demikian pula para ahli bid’ah yang menghalalkan darah kaum muslimin, melakukan perusakan, merampas harta, menculik, mendatangkan rasa takut masyarakat di sebuah negeri, dan yang semisalnya. Semua itu merupakan bentuk memerangi Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya.

Abu Hanifah rahimahullah berpendapat bahwa yang dimaksud “memerangi” dalam ayat ini adalah jika dilakukan di jalan-jalan. Adapun jika dilakukan di dalam perkotaan, hal itu tidak termasuk.

Pendapat ini menyelisihi pandangan mayoritas para ulama mazhab Maliki, Syafi’i, al-Auza’i, Laits bin Sa’ad, dan Ahmad bin Hambal. Bahkan, al-Imam Malik rahimahullah berpendapat bahwa seseorang yang dikelabui orang lain lantas dibawa ke dalam rumah lalu dibunuh dan dirampas hartanya, juga termasuk bentuk peperangan terhadap Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya. (Tafsir Ibnu Katsir)

Termasuk dalam hal ini adalah perbuatan kaum teroris yang melakukan pembantaian dan perusakan di muka bumi, seperti yang dilakukan oleh

  • kaum Khawarij dengan berbagai nama dan kelompoknya,
  • kaum Syiah Rafidhah yang memerangi kaum muslimin di berbagai negeri, dan
  • kaum komunis dengan berbagai bentuknya.

Itu adalah bentuk memerangi Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya serta melakukan perusakan di muka bumi.

Diterangkan oleh Ibnu Taimiyah rahimahullah, “Setiap kelompok yang memiliki kekuatan namun enggan taat kepada Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya, sungguh ia telah memerangi Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya. “Siapa yang beramal di muka bumi tanpa berlandaskan kitabullah dan sunnah Rasul-Nya, dia telah melakukan perusakan di muka bumi. Oleh karena itu, para ulama salaf menjelaskan bahwa ayat ini berlaku untuk kaum kafir dan ahli kiblat (kaum muslimin).

“Karena itulah, mayoritas imam agama menggolongkan para penyamun yang menampakkan senjatanya untuk sekadar merampas harta dan orang yang berperang untuk mengambil harta, sebagai orang-orang yang memerangi Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya dan berjalan di muka bumi dengan kerusakan; meskipun mereka meyakini bahwa yang mereka lakukan itu haram; meski mereka beriman kepada Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya.

“Orang yang meyakini halalnya darah dan harta kaum muslimin, serta menganggap halal memerangi mereka, lebih pantas disebut sebagai “orang yang memerangi Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya dan berjalan di muka bumi dengan kerusakan” daripada mereka (orang-orang yang disebutkan sebelumnya).

“Hal ini sebagaimana halnya seorang kafir harbi yang menghalalkan darah dan harta kaum muslimin dan berpandangan bolehnya memerangi mereka, lebih pantas diperangi daripada orang fasik yang meyakini diharamkannya hal tersebut.

“Demikian pula halnya ahli bid’ah yang meninggalkan syariat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sunnahnya, serta menghalalkan darah dan harta kaum muslimin yang berpegang teguh kepada sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan syariatnya. Mereka lebih pantas diperangi daripada orang fasik; meskipun mereka menganggap perbuatannya sebagai agama yang mendekatkan dirinya kepada Allah ‘azza wa jalla.

“Demikian pula halnya kaum Yahudi dan Nasrani yang meyakini tindakan memerangi kaum muslimin sebagai cara mereka mendekatkan diri kepada Allah ‘azza wa jalla.

“Oleh karena itu, para pemimpin Islam bersepakat bahwa bid’ah yang berat ini lebih berbahaya daripada dosa-dosa yang diyakini oleh pelakunya sebagai dosa.

“Hal ini telah berlaku dalam sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau memerintahkan untuk memerangi kaum Khawarij yang meninggalkan sunnah beliau, dan memerintah kaum muslimin untuk bersabar menghadapi kezaliman para penguasa dan tetap shalat di belakang mereka, meski mereka melakukan perbuatan dosa.

“Bahkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mempersaksikan sebagian sahabatnya yang masih melakukan perbuatan dosa bahwa dia mencintai Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya. Beliau juga melarang melaknat mereka. Beliau memberitakan pula tentang Dzul Khuwaishirah dan para pengikutnya—yang memiliki ibadah dan sikap wara’—bahwa mereka telah keluar meninggalkan Islam seperti halnya anak panah yang keluar meninggalkan sasarannya. (Majmu’ al-Fatawa, 28/470—471)

 

Hukuman Bagi Perusak di Muka Bumi

Adapun makna firman Allah ‘azza wa jalla,

أَن يُقَتَّلُوٓاْ أَوۡ يُصَلَّبُوٓاْ أَوۡ تُقَطَّعَ أَيۡدِيهِمۡ وَأَرۡجُلُهُم مِّنۡ خِلَٰفٍ أَوۡ يُنفَوۡاْ مِنَ ٱلۡأَرۡضِۚ

“Mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri.

Di dalam ayat ini, Allah ‘azza wa jalla menjelaskan tentang hukum orang yang memerangi Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya serta melakukan perusakan di muka bumi, bahwa hukum terhadap mereka;

  • dibunuh
  • disalib
  • dipotong tangan dan kaki mereka secara menyilang
  • diasingkan dari muka bumi

Terjadi perselisihan di kalangan para ulama, apakah hukum yang disebutkan ini bersifat pilihan yang diserahkan kepada penguasa negeri?

Sebagian ulama berpendapat bahwa hukum ini bersifat pilihan yang diserahkan kepada keputusan penguasa negeri. Ini merupakan pendapat Said bin Musayyab, Mujahid, Atha’, Hasan al-Bashri, Ibrahim an-Nakha’i, dan adh-Dhahhak, serta dihikayatkan pula dari Malik bin Anas.

Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalhah, dari Ibnu Abbas bahwa ia berkata, “Barang siapa menghunuskan senjatanya di tengah kaum muslimin, mendatangkan rasa takut di jalan, lalu ia berhasil diringkus dan dihukum, pemimpin kaum muslimin diberi pilihan dalam menetapkan hukumnya: (1) jika ingin, dibunuh, (2) dan jika ingin, disalib, (3) dan jika ingin, dipotong tangan dan kakinya.”

Abu Tsaur berkata, “Penguasa diberi pilihan berdasarkan zahir ayat ini. Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma mengatakan bahwa apa yang disebut dalam al-Qur’an dengan kata ‘atau’ maka pelakunya diberi pilihan.”

Al-Qurthubi rahimahullah berkata, “Pendapat ini lebih tampak berdasarkan zahir ayat.” (Tafsir al-Qurthubi)

Adapun jumhur ulama menyatakan bahwa ayat ini diterapkan sesuai dengan keadaan, seperti yang dikatakan oleh al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah.

Diriwayatkan pula dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma bahwa beliau berkata tentang hukum para penyamun, “Jika membunuh dan merampas harta, mereka dibunuh dan disalib. Jika membunuh namun tidak merampas harta, mereka dibunuh tanpa disalib. Jika merampas harta dan tidak membunuh, dipotong tangan dan kakinya secara menyilang. Jika melakukan teror di jalan tanpa merampas harta, mereka diasingkan dari muka bumi.” (Tafsir Ibnu Katsir)

Al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata, “Jika dia merampas harta, dipotong tangan kanannya dan dipotong kaki kirinya, lalu dia dilepas. Sebab, kejahatan ini lebih dari sekadar mencuri dengan cara menyerang. Jika dia membunuh, dia pun dibunuh. Jika dia merampas harta dan membunuh, dia dibunuh dan disalib.” (Tafsir al-Qurthubi)

Ath-Thabari rahimahullah meriwayatkan dalam Tafsir-nya, Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada Jibril ‘alaihissalam tentang hukum yang diterapkan bagi orang yang memerangi Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya.

Jibril ‘alaihissalam menjawab, “Siapa yang mencuri dan membuat teror di jalan, potonglah tangannya sebagai hukuman dia mencuri; dan potong kakinya sebagai hukuman dia melakukan teror di jalan. Siapa yang membunuh, bunuhlah dia. Siapa yang membunuh lalu membuat teror di jalan dan menghalalkan kemaluan (memperkosa), saliblah dia!” (Tafsir Ibnu Katsir)

 

Makna Disalib

Ada perselisihan di kalangan para ulama tentang cara menyalibnya.

  • Sebagian para ulama mengatakan bahwa ia dibunuh terlebih dahulu lalu disalib. Ini merupakan pendapat yang zahir dari mazhab Syafi’i.
  • Ada pula yang berpendapat ia disalib dalam keadaan hidup lalu ditusuk hingga mati dalam keadaan tersalib. Ini merupakan pendapat Laits bin Sa’ad.
  • Ada pula yang berpendapat disalib selama tiga hari dalam keadaan hidup, lalu diturunkan dari tiang salib dan dibunuh. (Tafsir al-Baghawi)

Adapun makna dipotong tangan dan kaki secara bersilang adalah apabila tangan kanan yang dipotong, kaki yang dipotong adalah yang kiri. (Zadul Masir)

 

Makna Diasingkan dari Muka Bumi

Asal makna ( يُنفَوۡاْ ) adalah diusir dan dijauhkan. Ada beberapa penjelasan ulama terkait dengan makna diasingkan dari permukaan bumi.

 

  1. Dijauhkan dari negara Islam dan dimasukkan ke dalam negara kafir yang diperangi oleh kaum muslimin.

Ini merupakan pendapat Anas bin Malik, Hasan, dan Qatadah.

Ibnul Jauzi berkata, “Ini diberlakukan jika pelakunya musyrik dan kafir. Adapun jika dia seorang muslim, tidak diberlakukan hal tersebut.”

 

  1. Mereka dicari untuk ditegakkan hukum had atasnya, lalu setelah itu dijauhkan.

Pendapat ini diriwayatkan dari Ibnu Abbas dan Mujahid.

 

  1. Mereka dikeluarkan dari kampung tempat tinggalnya menuju kampung yang lain, seperti hukuman yang ditimpakan kepada pelaku zina.

Pendapat ini diriwayatkan dari Said bin Jubair. Al-Imam Malik berkata, “Diasingkan ke sebuah negeri yang bukan negerinya, lalu dipenjara di negeri tersebut.”

 

  1. Yang dimaksud adalah dipenjara.

Ini merupakan pendapat Abu Hanifah dan para pengikutnya. Mereka berpaandangan bahwa yang dimaksud diasingkan adalah dipenjarakan dari kebebasan dunia luar menuju dunia yang sempit. Pendapat ini dikuatkan pula Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullah.

Makhul rahimahullah menyebutkan bahwa Umar bin Khaththab radhiallahu ‘anhu adalah orang yang pertama kali menahan pelaku kejahatan dengan penjara. Beliau radhiallahu ‘anhu berkata, “Aku memenjarakannya hingga aku mengetahui bahwa dia telah bertobat. Aku tidak mengasingkannya dengan cara memindahkannya dari satu negeri ke negeri lain supaya tidak menyebabkan gangguan terhadap penduduk negeri tersebut.” (Tafsir al-Qurthubi)

 

Hukuman Terhadap Teroris Khawarij

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberitakan dalam banyak hadits tentang munculnya satu kelompok perusak di muka bumi yang menghalalkan darah dan harta kaum muslimin dengan mengatasnamakan agama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan penguasa kaum muslimin untuk memerangi mereka.

Dalam sebuah hadits yang sahih dari Abu Said al-Khudri radhiallahu ‘anhu, dikisahkan bahwa saat Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu berada di negeri Yaman, dia mengirim sebongkah emas yang masih bercampur dengan tanahnya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian membaginya kepada empat orang: al-Aqra’ bin Habis al-Hanzhali, ‘Uyainah bin Badar al-Fazari, Alqamah bin ‘Ulatsah al-‘Amiri, salah seorang dari kabilah Bani Kilab, dan Zaid al-Khair at-Tha’i, salah seorang dari Bani Nabhan.

Kaum Quraisy marah. Mereka berkata, “Engkau berikan kepada para pemuka kabilah Najd dan meninggalkan kami?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya aku melakukan hal ini untuk membuat hati mereka semakin kuat (dalam memeluk Islam).”

Datanglah seorang lelaki berjenggot lebat, menonjol bagian atas pipinya, kedua matanya tenggelam ke dalam, menonjol dahinya, botak kepalanya. Dia berkata, “Bertakwalah kepada Allah ‘azza wa jalla, wahai Muhammad!”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian bersabda, “Siapa yang akan taat kepada Allah ‘azza wa jalla jika aku bermaksiat kepada-Nya? Allah ‘azza wa jalla percaya kepadaku untuk menjadi utusan-Nya ke penduduk bumi, sementara kalian tidak percaya kepadaku?”

Orang itu pun pergi dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ مِنْ ضِئْضِئِ هَذَا قَوْمًا يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ يَقْتُلُونَ أَهْلَ الْإِسْلَامِ، وَيَدَعُونَ أَهْلَ الْأَوْثَانِ، يَمْرُقُونَ مِنَ الْإِسْلَامِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ، لَئِنْ أَدْرَكْتُهُمْ لَأَقْتُلَنَّهُمْ قَتْلَ عَاد.

“Sesungguhnya akan muncul dari cikal-bakal orang ini satu kaum yang membaca al-Qur’an tetapi tidak melampaui tenggorokannya. Mereka membunuh kaum muslimin dan membiarkan para penyembah berhala.

Mereka keluar meninggalkan agama Islam sebagaimana anak panah yang meninggalkan sasarannya. Jika aku mendapati mereka, niscaya aku akan membunuhnya seperti terbunuhnya kaum ‘Aad.” (HR. Muslim dalam Shahih-nya)

Dalam riwayat Muslim yang lainnya, “seperti terbunuhnya kaum Tsamud”.

An-Nawawi rahimahullah menerangkan bahwa makna ‘seperti terbunuhnya kaum ‘Aad’ adalah membunuh mereka secara massal hingga ke akar-akarnya.

Beliau juga berkata, “Dalam hadits ini, terdapat dalil anjuran memerangi mereka. Demikian pula dalil tentang keutamaan Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu yang memerangi mereka.” (Syarah Muslim, an-Nawawi, 7/162)

Ibnu Taimiyah rahimahullah juga menjelaskan hal yang sama, “Sungguh, kaum muslimin telah bersepakat tentang wajibnya memerangi kaum Khawarij dan Rafidhah dan yang semisal mereka, apabila mereka memisahkan diri dari jamaah (pemerintah) kaum muslimin, sebagaimana halnya Ali radhiallahu ‘anhu memerangi mereka.” (al-Fatawa al-Kubra, 3/ 548)

Hanya saja perlu diingat, yang berhak memerangi mereka adalah pemerintah kaum muslimin yang berkuasa di negeri tersebut.

 

ذَٰلِكَ لَهُمۡ خِزۡيٞ فِي ٱلدُّنۡيَاۖ وَلَهُمۡ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ ٣٣

Hal itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka di dunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar.

Al-Baghawi rahimahullah berkata menjelaskan ayat ini, “Itulah yang aku sebutkan tentang hukum had. Mereka mendapat kehinaan, siksaan, dan kerendahan dalam kehidupan dunia; dan mereka mendapat azab yang pedih dalam kehidupan akhirat.”

Wallahul muwaffiq.

 

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Muawiyah Askari bin Jamal