Betapa Indah Nusantara Kita, Bila…

Betapa indah Nusantara kita, bila kemilau cahaya Islam menyentuh setiap relung kehidupan masyarakat. Sudut demi sudut kehidupan masyarakat berbinar menatap hari esok nan bahagia. Tiada diliputi ketakutan. Tiada pula kekhawatiran menggayut di dada.

Segenap hak warga negara terjamin. Rasa keadilan sedemikian mudah dikunyah masyarakat. Tak cuma bagi mereka yang bermodal kuat, namun masyarakat berkebutuhan finansial pun teramat mudah untuk mengenyam rasa adil itu.

Mengapa? Karena semua insan di Nusantara ini telah tercelup Islam yang lurus, benar, dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Bukan Islam yang sekadar nama, sedangkan isi ajarannya tak lebih sebuah doktrin taklid, kultus individu, menanamkan jiwa penurut secara membabi buta, dan fanatik tanpa kritik. Intinya, umat sengaja dibodohkan agar mudah dibodohi.

Betapa indah Nusantara kita, bila segenap masyarakat dididik untuk meneladani Nabi-Nya. Dididik untuk selalu mengikuti sunnah. Walau itu menyangkut hal yang mungkin oleh sebagian orang dianggap masalah sepele.

Mencintai sunnah Nabi-Nya teramat sangat urgen di Nusantara ini. Di tengah kaum liberalis yang menggila dengan pemikiran rancu lagi menyesatkan, menanamkan cinta sunnah setidaknya meminimalisir gerakan fasad kaum liberalis. Lebih dari itu, mencintai dan mengamalkan sunnah Rasul-Nya dengan penuh keikhlasan bisa mendatangkan kebaikan. Perhatikan firman Allah subhanahu wa ta’ala berikut.

قُلۡ إِن كُنتُمۡ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِي يُحۡبِبۡكُمُ ٱللَّهُ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۚ وَٱللَّهُ غَفُورٞ رَّحِيمٞ ٣١

“Katakanlah, ‘Jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.’ Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (Ali ‘Imran: 31)

Menanamkan kesadaran pada masyarakat untuk mengikuti sesuatu yang telah dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, hakikatnya menanamkan salah satu prinsip Islam. Prinsip inilah yang tengah diupayakan runtuh oleh musuh-musuh Islam melalui kaki tangan mereka dari kalangan liberalis dan Syiah. Seorang pembesar dari sebuah organisasi massa terbesar di Nusantara pernah melontarkan pernyataan tentang jenggot yang sedemikian sinis. Ada apa di balik ini semua?

Karena itu, pegang kukuh sunnah itu. Kata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّيْنَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ

“Wajib bagi kalian berpegang kepada sunnahku dan sunnah para khalifah yang terbimbing yang mendapat petunjuk. Gigit sunnah itu dengan gigi geraham.” (HR . Abu Dawud, Ibnu Majah, at-Tirmidzi, Ahmad, dan Ibnu Hibban)

Perseteruan antara hizbullah melawan bala tentara setan senantiasa terus berkecamuk. Kelompok liberalis yang telah berhasil menyusupkan kader-kader binaannya di tubuh berbagai organisasi sosial politik, tentu tak tinggal diam. Mereka aktif menebar pemikiran sekularisme, liberalisme, dan pluralisme ke tengah umat melalui sarana yang ada. Mereka meracuni umat dengan pemahaman sesat dan syubhat (rancu), hingga umat pun tak bisa lagi memahami Islam secara baik dan benar.

Banyak media masa, perguruan tinggi, pendidikan dasar dan menengah, pondok pesantren yang telah mereka taburi dengan pemikiran-pemikiran beracun. Melalui isu radikalisme dan terorisme, mereka sudutkan kaum muslimin yang kokoh berpegang pada tuntunan salaf. Walau mereka senyatanya tahu bahwa kaum salaf sangat menentang pemahaman radikalisme dan terorisme.

Namun, demi memuaskan hawa nafsu, mereka terus melontarkan tuduhan keji. Mereka tuduh Wahabi sebagai biang kekerasan. Padahal ungkapan-ungkapan yang mereka lontarkan—saat menuduh orang lain—sangat kental aroma kekerasannya meski dalam taraf verbal.

Menanamkan Rasisme

Betapa indah Nusantara kita, bila setiap penduduknya mematuhi titah perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagai seorang muslim yang lurus, baik, dan benar pemahaman keislamannya, tentu yang diikuti sebagai panutan adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Islam yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Islam universal, tidak terkotak-kotak oleh batas wilayah. Islam memupus sekat-sekat yang akan melahirkan jiwa sektarian (benci membabi buta terhadap kelompok lain), memunculkan jiwa ashabiyah (fanatik golongan), dan menonjolkan jiwa nasionalisme sempit (chauvinisme).

Perseteruan antara suku Aus dan Khazraj yang berlangsung lebih satu abad berhasil padam, dengan pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala. Islam telah mempersatukan Aus dan Khazraj. Setelah Islam hadir di tengah mereka, tak lagi ada baku tikai, tak ada lagi perseteruan. Kedua suku itu berdamai. Mereka menjadi bersaudara. Persaudaraan yang dibangun di atas dasar Islam yang benar. Islam yang telah diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semua tergambar melalui firman-Nya.

وَٱعۡتَصِمُواْ بِحَبۡلِ ٱللَّهِ جَمِيعٗا وَلَا تَفَرَّقُواْۚ وَٱذۡكُرُواْ نِعۡمَتَ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ إِذۡ كُنتُمۡ أَعۡدَآءٗ فَأَلَّفَ بَيۡنَ قُلُوبِكُمۡ فَأَصۡبَحۡتُم بِنِعۡمَتِهِۦٓ إِخۡوَٰنٗا وَكُنتُمۡ عَلَىٰ شَفَا حُفۡرَةٖ مِّنَ ٱلنَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنۡهَاۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمۡ ءَايَٰتِهِۦ لَعَلَّكُمۡ تَهۡتَدُونَ ١٠٣

“Dan berpegang teguhlah kalian semua pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepada kalian ketika kalian dahulu (masa jahiliah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hati kalian, sehingga dengan nikmat-Nya kalian menjadi bersaudara. Padahal (saat itu) kalian berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kalian dari sana. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kalian agar kalian mendapat petunjuk.” (Ali ‘Imran: 103)

Secara realitas, manusia hidup berpuak, bersuku, dan berbangsa. Secara realitas pula ada manusia berkulit hitam, putih, merah, dan warna kulit lainnya. Semua itu tidak dinafikan oleh Islam.

Meski demikian, tidaklah lantas warna kesukuan itu menjadi segalanya, bahkan menjadi penentu dalam menilai baik-buruk, benar-salah, lurus dan tidaknya sesuatu. Right or wrong is my country (benar atau salah adalah negaraku); jiwa korps. Islam yang benar Islam Nusantara, bukan Islam Arab.

Bukan demikian dan tidak seperti itu. Pemikiran semacam itu adalah pemikiran sektarian. Pemikiran yang menjadikan sukuku, bangsaku, korpsku, dibela habis walau kenyataannya suku, bangsa, dan korps tidak berada di pihak yang benar.

Pembelaan bersifat sektarian semacam itulah yang telah menjadikan manusia berdiri di tepi jurang kebinasaan. Cermati firman Allah subhanahu wa ta’ala berikut.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقۡنَٰكُم مِّن ذَكَرٖ وَأُنثَىٰ وَجَعَلۡنَٰكُمۡ شُعُوبٗا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓاْۚ إِنَّ أَكۡرَمَكُمۡ عِندَ ٱللَّهِ أَتۡقَىٰكُمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٞ ١٣

“Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan. Kemudian Kami jadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia diantara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dan Mahateliti.” (al-Hujurat: 13)

Betapa indah Nusantara kita, bila mampu membebaskan diri dari pemikiran sektarian, ashabiyah, dan tidak terkungkung nasionalisme sempit dan picik.

Yang lebih memprihatinkan, ada sebagian orang yang mencoba membetot pemahamannya terkait dengan Islam ke arah yang picik, sempit, dan sektarian. Islam yang sedemikian universal, sempurna, coba ditarik menjadi “Islam” yang eksklusif yang berlabel Islam Nusantara. Sebab, pemahaman Islam yang dilabeli “Nusantara” ini, menumbuhkan sikap anti-Arab. Semua yang berbau Arab dibenci, dimusuhi, dan semaksimal mungkin dienyahkan.

Jubah, serban, dan jenggot, menjadi sasaran antara untuk menumbuhkan sikap anti-Arab. Padahal tatkala jubah, serban, jenggot disikapi, penyikapan itu tak cuma untuk anti-Arab. Penyikapan itu bisa merembet ke arah sentimen agama. Sebab, apa yang diungkap—jenggot, serban, dan jubah—senyatanya dituntunkan dalam Islam.

Di masa yang akan datang, tidak menutup kemungkinan—apabila Islam Nusantara terus dikampanyekan—sikap rasial itu akan merembet menjadi bentuk kebencian dan permusuhan terhadap warga keturunan. Inilah ungkapan seorang pembesar dari salah sebuah ormas besar yang sempat dipublikasikan media masa, “Islam Indonesia itu bukan Islam Arab, tidak harus pakai gamis, tidak harus pakai serban. Tidak. Islam Indonesia adalah Islam khas Indonesia.”

Sadar atau tidak, para pengusung paham Islam Nusantara, telah menanamkan bibit-bibit konflik rasial di Nusantara ini. Jelas, betapa rusak dan berbahaya pemahaman yang mereka usung. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala menyelamatkan umat ini dari keterpurukan yang membinasakan.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

كِتَٰبٌ أُنزِلَ إِلَيۡكَ فَلَا يَكُن فِي صَدۡرِكَ حَرَجٞ مِّنۡهُ لِتُنذِرَ بِهِۦ وَذِكۡرَىٰ لِلۡمُؤۡمِنِينَ ٢ ٱتَّبِعُواْ مَآ أُنزِلَ إِلَيۡكُم مِّن رَّبِّكُمۡ وَلَا تَتَّبِعُواْ مِن دُونِهِۦٓ أَوۡلِيَآءَۗ قَلِيلٗا مَّا تَذَكَّرُونَ ٣

“(Inilah) Kitab yang diturunkan kepadamu, maka janganlah engkau sesak dada karenanya, agar engkau memberi peringatan dengan (Kitab) itu dan menjadi pelajaran bagi orang yang beriman. Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu, dan janganlah kamu ikuti selain Dia sebagai pemimpin. Sedikit sekali kalian mengambil pelajaran.” (al-A‘raf: 2—3)

 Nusantara Bertauhid

Betapa indah Nusantara kita, bila beragam kesyirikan dicegah dan keyakinan tauhid tertanam dalam pada masyarakat. Bukankah Allah subhanahu wa ta’ala telah mengingatkan perihal sebuah negeri yang penduduknya beriman dan bertakwa?

Tidakkah Nusantara ini hendaknya diwarnai dengan hal-hal yang bisa membangkitkan keimanan dan ketakwaan penduduknya?

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلَوۡ أَنَّ أَهۡلَ ٱلۡقُرَىٰٓ ءَامَنُواْ وَٱتَّقَوۡاْ لَفَتَحۡنَا عَلَيۡهِم بَرَكَٰتٖ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِ وَلَٰكِن كَذَّبُواْ فَأَخَذۡنَٰهُم بِمَا كَانُواْ يَكۡسِبُونَ ٩٦

“Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Tetapi, ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.” (al-A’raf: 96)

Betapa indah Nusantara kita, bila penduduknya benar-benar mengesakan Allah subhanahu wa ta’ala, mencegah beragam kesyirikan. Betapa banyak orang di Nusantara ini yang mempraktikkan kesyirikan dan mempertahankannya dengan alasan budaya atau tradisi. Melestarikan budaya dan tradisi nusantara—tanpa memandang apakah budaya atau tradisi tersebut bertentangan dengan syariat atau tidak—seakan menjadi keharusan yang tidak boleh diubah.

Tengoklah keadaan masyarakat di Nusantara ini. Dengan dikemas dalam bentuk wisata, praktik kesyirikan bak jamur di musim hujan. Biro-biro travel memfasilitasi untuk mengunjungi berbagai kuburan yang dikeramatkan. Bahkan, ada lokasi pemakaman yang dijadikan ritual kesyirikan diwarnai pula dengan tindak perzinaan.

Betapa indah Nusantara ini, bila tradisi dan budaya ditakar dengan syariat. Jangan asal berceloteh, sebagaimana dinyatakan seorang pembesar dari salah sebuah ormas besar, yang pernah dipublikasikan di sebuah media masa. Katanya, “Islam Nusantara itu artinya Islam yang tidak menghapus budaya, Islam yang tidak memusuhi tradisi, Islam yang tidak menafikan atau menghilangkan kultur.”

Masalahnya, budaya yang seperti apa, tradisi yang bagaimana, dan kultur yang model apa sehingga tak boleh dihapus, dimusuhi, dan dihilangkan?

Apakah tradisi dan budaya menyembelih kerbau yang diniatkan untuk sesaji bagi makhluk halus merupakan model budaya dan tradisi yang dilestarikan Islam Nusantara?

Apakah tradisi berpakaian sangat minim ala penduduk salah satu sudut Nusantara termasuk tradisi yang tidak boleh hilang dan dihapus?

Pernyataan sang pembesar di atas adalah pernyataan yang sangat membahayakan keyakinan umat. Pernyataan global tanpa rincian jelas. Pernyataan yang terkesan mencari pembenaran bagi konsep pengamalan agama agar sesuai budaya dan tradisi. Sebuah pembodohan terhadap umat.

Perubahan tradisi dan kultur di kalangan masyarakat Arab terjadi—dengan kehendak Allah—setelah dakwah ditegakkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kehadiran Islam telah mengubah sistem kehidupan masyarakat Arab.

Sebelum Islam datang, mereka saling melampiaskan dendam permusuhan. Setelah Islam datang, kedamaian meliputi mereka. Budaya permusuhan, perang antarkabilah lenyap.

Sebelum Islam datang, budaya dan tradisi syirik mendominasi kehidupan masyarakat Arab. Setelah Islam tiba, mereka menjadi masyarakat bertauhid yang memerangi beragam kesyirikan.

Tatanan masyarakat Arab benar-benar berubah. Ketika Islam datang, tak satu pun budaya, tradisi, dan kultur yang bertentangan syariat dibiarkan berkembang di tengah masyarakat. Telah terjadi perubahan dari masa jahiliah menuju masa yang dilandasi tauhid dan peradaban nan luhur.

Bahkan setelah itu, Islam tak semata menaungi masyarakat Arab. Islam pun menyebar ke segenap penjuru muka bumi. Itulah Islam yang telah ditunaikan secara benar oleh para sahabat serta para pengikutnya. Para sahabat mempelajari Islam dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Karena itu, kurun mereka termasuk kurun yang sarat keutamaan. Bahkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan sebagai sebaik-baik manusia. Mereka adalah generasi yang telah mendapat ridha dari Allah subhanahu wa ta’ala dan mereka pun ridha kepada-Nya.

وَٱلسَّٰبِقُونَ ٱلۡأَوَّلُونَ مِنَ ٱلۡمُهَٰجِرِينَ وَٱلۡأَنصَارِ وَٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُم بِإِحۡسَٰنٖ رَّضِيَ ٱللَّهُ عَنۡهُمۡ وَرَضُواْ عَنۡهُ وَأَعَدَّ لَهُمۡ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي تَحۡتَهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدٗاۚ ذَٰلِكَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ ١٠٠

“Dan orang-orang terdahulu lagi yang pertama-tama (berislam) diantara orang-orang Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikutinya dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selamanya. Itulah kemenangan yang agung.” (at-Taubah: 100)

Kata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

“Sebaik-baik manusia adalah pada masa kurunku, kemudian orang-orang yang setelahnya, kemudian orang-orang yang setelahnya.” (HR . al-Bukhari dan Muslim)

Aisyah radhiallahu ‘anha pernah mengungkapkan, “Seorang laki-laki pernah bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أَيُّ النَّاسِ خَيْرٌ؟

‘Siapakah manusia terbaik?’

Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

الْقَرْنُ الَّذِي أَنَا فِيهِ ثُمَّ الثَّانِي ثُمَّ الثَّالِثُ

“(Yaitu) kurun yang saya di dalamnya, kemudian (generasi) kedua, kemudian (generasi) ketiga.” (HR . Muslim)

Mereka itulah generasi salaf. Generasi yang memiliki banyak keutamaan. Generasi yang patut untuk diteladani. Mereka adalah manusia terbaik.

Karena itu, betapa indah Nusantara kita, bila generasi salaf yang menjadi teladannya. Generasi salaf telah memberi teladan bagaimana berislam yang baik dan benar. Kepribadian mereka nan luhur pantas untuk diikuti. Sebelum “Nusantara” lahir, mereka telah menampilkan sosok yang penuh rahmah, santun, beradab, dan lembut terhadap sesamanya.

Islam telah mengajari mereka untuk menjadi pribadi agung. Dari tangan mereka pula lahir masyarakat berperadaban tinggi. Ketakwaan, keimanan, kejujuran, keberanian, kelembutan, dan segenap akhlak terpuji lainnya ada pada mereka.

Ketinggian moral yang mereka miliki telah diakui umat. Islam tanpa diiringi “Nusantara” pun tetap menampakkan kelemahlembutan, penuh santun dan menebar rahmah. Sebelum “Nusantara” ini ada, Islam telah membentuk manusia-manusia berkarakter terpuji. Jadi, bukan karena faktor “Nusantara” Islam lantas jadi lembut, santun, rahmah, dan tidak radikal. Tidak. Bukan begitu. Sejak dahulu Islam telah memuat ajaran-ajaran terpuji dan telah pula mewarnai kehidupan umat manusia sehingga menjadi kehidupan berperadaban. Kisah damai suku Aus dan Khazraj adalah bukti perubahan yang telah dilakukan Islam.

Konsep Islam Nusantara itu sendiri masih belum jelas dan definitif. Konsep yang belum jelas itu pun cenderung dipaksakan ke tengah umat. Opini diarahkan untuk menimbulkan kesan bahwa Islam Nusantara adalah model Islam yang selaras dengan masyarakat Indonesia, bahkan dunia.

Ketika para pengusung Islam Nusantara tengah bersemangat menjajakan gagasannya, di sebuah acara perhelatan besar sebuah ormas besar, peristiwa besar pun berlangsung. Aksi beraroma kekerasan pun menyeruak di tengah perhelatan tersebut. Padahal, beberapa hari sebelumnya, para pembesar ormas besar itu telah bersuara lantang tentang konsep Islam Nusantara yang mengedepankan sikap rahmah, santun, lembut, antiradikalisme, dan terorisme.

Namun, apa yang terucap jauh panggang dari api. Realitas tidak menampilkan wajah Islam Nusantara yang konon berwajah sejuk, lembut, dan penuh rahmah. Masyarakat justru disuguhi tontonan yang sangat amat tidak pantas jadi tuntunan. Memalukan.

Ke mana arah pemahaman Islam Nusantara? Di balik propaganda antiradikalisme, antiterorisme, menampilkan wajah lemah lembut dan antikekerasan dari kalangan pengusung Islam Nusantara, telah terendus siasat dan kolaborasi mereka dengan orang-orang liberal dan Syiah.

Selain itu, mereka terus menjejalkan ide pluralisme, liberalisme, dan sekularisme ke tengah kaum Muslimin. Mereka sudutkan sekelompok kaum muslimin yang kukuh dengan sunnah. Di sisi lain, mereka merangkul dan memeluk kaum Kristen. Mereka jaga gereja saat kaum Kristen merayakan Natal, namun mereka diam membisu tatkala sebuah masjid dibakar oleh kalangan Kristen saat Hari Raya Idul Fitri. Itulah upaya mereka.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُونُوٓاْ أَنصَارَ ٱللَّهِ كَمَا قَالَ عِيسَى ٱبۡنُ مَرۡيَمَ لِلۡحَوَارِيِّ‍ۧنَ مَنۡ أَنصَارِيٓ إِلَى ٱللَّهِۖ قَالَ ٱلۡحَوَارِيُّونَ نَحۡنُ أَنصَارُ ٱللَّهِۖ فَ‍َٔامَنَت طَّآئِفَةٞ مِّنۢ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ وَكَفَرَت طَّآئِفَةٞۖ فَأَيَّدۡنَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ عَلَىٰ عَدُوِّهِمۡ فَأَصۡبَحُواْ ظَٰهِرِينَ ١٤

“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kalian penolong-penolong (agama) Allah sebagaimana Isa putra Maryam telah berkata kepada para pengikutnya yang setia, ‘Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?’ Para pengikut setianya menjawab, ‘Kamilah penolong-penolong (agama) Allah.’

Lalu segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan lainnya kafir. Lalu Kami berikan kekuatan kepada orang-orang beriman terhadap musuh-musuh mereka, sehingga mereka menjadi orang-orang yang menang.” (ash-Shaf: 14)

Demikian, semoga bermanfaat. Allahu a’lam.

Ditulis oleh al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin