Kemurnian Agama Terjaga dengan Peringatan Ulama

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: تَلَا رَسُولُ اللهِ :

هُوَ ٱلَّذِيٓ أَنزَلَ عَلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ مِنۡهُ ءَايَٰتٞ مُّحۡكَمَٰتٌ هُنَّ أُمُّ ٱلۡكِتَٰبِ وَأُخَرُ مُتَشَٰبِهَٰتٞۖ فَأَمَّا ٱلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمۡ زَيۡغٞ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَٰبَهَ مِنۡهُ ٱبۡتِغَآءَ ٱلۡفِتۡنَةِ وَٱبۡتِغَآءَ تَأۡوِيلِهِۦۖ وَمَا يَعۡلَمُ تَأۡوِيلَهُۥٓ إِلَّا ٱللَّهُۗ وَٱلرَّٰسِخُونَ فِي ٱلۡعِلۡمِ يَقُولُونَ ءَامَنَّا بِهِۦ كُلّٞ مِّنۡ عِندِ رَبِّنَاۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّآ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَٰبِ ٧

قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللهِ: فَإِذَا رَأَيْت الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ، فَأُولَئِكَ الَّذِينَ سَمَّى اللهُ فَاحْذَرُوهُمْ

Lanjutkan membaca Kemurnian Agama Terjaga dengan Peringatan Ulama

Samakah Islam dan Kristen? Tidak!

Sahabat yang mulia, Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, pernah menyampaikan sebuah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk kita. Sabda yang harus terus diingat dan diulang-ulang agar akidah tidak tergerus, iman tidak ternoda. Sebuah sabda yang mematrikan di dalam dada bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang sah. Sebuah sabda yang mengingatkan bahwa inilah prinsip kita, Islam telah menghapus semua ajaran agama yang pernah ada!

Lanjutkan membaca Samakah Islam dan Kristen? Tidak!

Berita di Sekitar Kita

…عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ حِينَ قَالَ لَهَا أَهْلُ الإِفْكِ مَا قَالُوا، فَبَرَّأَهَا اللهُ مِنْهُ

“Dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, istri terkasih Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tentang isu yang disebarkan oleh ahlul ifki (para penyebar dusta) mengenai kehormatan beliau. Isu yang kemudian Allah menyucikan diri beliau darinya

 

Takhrij Haditsul Ifki

Kisah yang disebut dengan haditsul ifki ini secara lengkap diriwayatkan oleh al-Bukhari di dalam Shahihnya (no. 4750) dan beberapa tempat lain.

Al-Imam Muslim juga meriwayatkan kisah ini di dalam Shahih-nya (17/102).

Selain beliau berdua, yang meriwayatkan kisah ini adalah at-Tirmidzi (4/155), Ahmad (6/59), Abdur Razzaq (5/410) Ibnu Jarir (18/90) dan lainnya.

Hadits di atas sering dipilih oleh ahli hadits sebagai bukti kejelian, puncak kemampuan, dan kekuatan ilmu al-Imam az-Zuhri rahimahullah. Betapa tidak? Beliau memperoleh alur kisah di atas dari empat orang guru, yaitu Urwah bin Zubair, Said bin al-Musayyab, ‘Alqamah bin Waqqash dan Ubaidullah bin Abdillah. Apa yang telah dilakukan?

Az-Zuhri mengulang kembali haditsul ifki dalam satu alur saja. Sebuah kisah yang tersaji dengan menghimpun seluruh alur cerita yang disampaikan oleh guru-gurunya.

Al-Jam’u baina asy-syuyukh (menghimpun beberapa riwayat lantas disampaikan dalam satu alur) yang dilakukan oleh az-Zuhri bisa diterima oleh ulama. Sebab, beliau adalah seorang perawi yang hafizh lagi mutqin. Selain itu, az-Zuhri menguasai betul letak persamaan dan titik perbedaan riwayat-riwayat tersebut.

Perawi yang tingkatannya tidak seperti az-Zuhri, jika melakukan al-jam’u baina asy-syuyukh, tidak dapat diterima. Oleh sebab itu, ulama mengingkari riwayat semacam ini dari al-Waqidi, Atha’ bin as-Sa’ib, Jabir al-Ju’fi, ‘Auf al-A’rabi, dan lainnya. Sebab, mereka semua tidak memenuhi kriteria untuk melakukannya. (Syarh ‘Ilal at-Tirmidzi, 2/672—677)

 

Berita Dusta

Ada sekian berita dusta yang pernah tercatat dalam sejarah Islam. Isu-isu tidak berdasar, tuduhan keji, kabar palsu, dan informasi bohong, menjadi pilihan utama untuk memerangi Islam dan kaum muslimin. Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diisukan sebagai seorang dukun, tukang sihir, dan penyair? Bahkan, beliau dikatakan sebagai orang gila. Subhanallah!

Masihkah kita akan terseret dalam arus kesedihan? Apakah kita terus terjebak pada belenggu kecewa? Sedih dan kecewa dengan kadar sewajarnya masihlah disebut manusiawi. Ya, menghadapi atau mendengar isu dusta dan berita bohong memang amat mengganggu. Apalagi kita yang menjadi obyeknya. Masya Allah!

Jangan terjebak dalam belenggu kecewa! Tak usahlah terseret dalam arus kesedihan! Saat isu dusta diembuskan walau perlahan, ketika berita bohong disebarkan meski terang-terangan, marilah kita mengingat kembali sepotong cerita tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan rumah tangganya. Cerita yang amat menyayat hati. Cerita yang menyadarkan bahwa kita bukanlah apa-apa.

 

Ujian di Bulan Sya’ban

Tahun tersebut menjadi tahun kelima Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di bumi Madinah. Kisahnya bermula dari kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan undian untuk memilih, siapakah di antara istri-istri beliau yang akan menemani, melayani, dan berkhidmat selama perjalanan ke luar kota. Ibunda Aisyah radhiallahu ‘anha menjadi nama yang terpilih saat itu.

Dalam perjalanan pulang, rombongan berkemah untuk beristirahat di malam hari. Walaupun telah memberi izin, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta Ibunda Aisyah radhiallahu ‘anha untuk menunaikan hajat di penghujung malam saja. Benar saja, Ibunda Aisyah pun mencari lokasi sepi, meninggalkan letak perkemahan, sendirian dan di akhir malam.

Hampir bersamaan, Rasulullah radhiallahu ‘anha mengeluarkan perintah kepada rombongan untuk berangkat melanjutkan perjalanan.

Khusus untuk kaum wanita, ketika dalam perjalanan dibuatkan rumah-rumahan kecil semacam tandu untuk kemudian dipanggul. Tak terkecuali Ibunda Aisyah radhiallahu ‘anha saat itu. Rombongan berangkat. Mereka yang bertugas untuk mengangkat tandu, tidak merasa apabila Ibunda Aisyah tidak berada di dalamnya. Ringannya badan Ibunda Aisyah radhiallahu ‘anha ketika itu membuat mereka tidak dapat membedakan antara ada dan tidak adanya beliau di atas tandu. Mereka mengira, Ibunda Aisyah radhiallahu ‘anha ada di dalamnya. Perjalanan terus dilanjutkan.

Sungguh! Semua urusan di atas muka bumi ini telah diatur sedemikian sempurna. Ada Dzat yang Mahasempurna di atas sana. Dialah yang menentukan, memastikan, dan berkuasa atas seluruh peristiwa. Kita yakin ada sejuta hikmah di balik satu kisah atau sepotong musibah. Terutama untuk menyadarkan bahwa kita hanyalah makhluk yang lemah sehingga harus selalu berpulang, pasrah, dan menyerahkan segala-galanya kepada Allah ‘azza wa jalla.

Sekembalinya ke lokasi perkemahan, Ibunda Aisyah radhiallahu ‘anha terkejut karena tempat telah kosong dan sepi. Berbekal kecerdasan dan ketenangan, beliau memutuskan untuk menunggu di tempat itu saja, tanpa harus panik atau bingung. Katanya, “Tentu mereka akan merasa kehilangan dan akan kembali ke tempatku ini.”

Cukup lama Ibunda Aisyah radhiallahu ‘anha menunggu sampai akhirnya beliau tertidur. Ibunda Aisyah radhiallahu ‘anha terbangun saat mendengar istirja’ sahabat Shafwan bin Mu’aththal radhiallahu ‘anhu, “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.”

Ternyata Shafwan yang berkemah di bagian belakang rombongan pun tertidur pulas sehingga tertinggal. Shafwan yang melihat sosok seseorang lalu mendekati. Segera Shafwan mengenalinya sebagai Ibunda Aisyah radhiallahu ‘anha, apalagi dia pernah melihatnya sebelum ayat hijab diturunkan. Langsung saja Shafwan radhiallahu ‘anhu mengucapkan istirja’, memanggil dan menderumkan untanya, lalu mendekatkannya ke arah Ibunda Aisyah radhiallahu ‘anha.

Tidak ada satu patah kata pun yang terucap dari Shafwan radhiallahu ‘anhu. Jangankan satu patah kata, satu huruf pun tidak. Shafwan radhiallahu ‘anhu sangat mengerti adab dan etika. Tidak mungkin dia berbicara kepada keluarga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sementara beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak ada di sana. Shafwan radhiallahu ‘anhu begitu besar sikap hormatnya kepada Aisyah radhiallahu ‘anha, istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semoga Allah ‘azza wa jalla meridhainya.

Pun demikian Aisyah radhiallahu ‘anha. Tidak ada satu huruf pun yang terucap, apalagi sampai satu kata. Beliau adalah wanita suci lagi disucikan. Beliau adalah istri seorang hamba yang suci. Tidak mungkin Allah ‘azza wa jalla memilihkan seorang pendamping hidup untuk Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali wanita yang terbaik. Itu pasti! Semoga Allah ‘azza wa jalla meridhainya.

Ibunda Aisyah radhiallahu ‘anha kemudian naik ke atas unta karena memahami maksud dari Shafwan radhiallahu ‘anhu. Mereka berjalan mengejar rombongan. Shafwan radhiallahu ‘anhu berjalan di depan unta dan menggiringnya, tanpa pernah sekali pun memandang atau menoleh ke belakang. Akhirnya mereka berhasil menyusul saat matahari beranjak naik, di waktu dhuha.

 

Kacamata Berita

Kesempatan. Ya, peristiwa itu digunakan oleh orang-orang munafik untuk menyebarkan isu, berita bohong, dan kabar palsu. Mereka menyebarkan bahwa seorang sahabat Nabi telah berselingkuh dengan salah seorang istri beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Digembar-gemborkan, digemparkan, dan di-blow-up sedemikian rupa.

Lihatlah! Jangankan berita yang murni bohong, jelas-jelas palsu, kaum munafikin juga memelintir, merekayasa, dan memotong-motong sebuah cerita sehingga tersebar tidak seperti aslinya. Peristiwa yang sebenarnya terjadi sebagaimana dipaparkan di atas, bukan semacam yang disebarluaskan oleh kaum munafikin!

Seperti itulah liciknya musuh-musuh Islam. Maka dari itu, janganlah heran atau terkejut apabila ada sekian banyak isu-isu murahan atau berita dusta yang disematkan pada Islam, dakwah tauhid, dakwah sunnah, terlebih lagi pada pribadi para pengampunya. Bukankah dakwah salaf sering dituduh sebagai dakwah keras, takfiri, teroris, jumud, tertutup, merasa benar sendiri, dan seabreg tuduhan lainnya?

Ada duka di kota Madinah. Orang-orang sama bertanya, “Ada apa ini? Mengapa bisa terjadi?

Ketika kaum munafikin gembira dan tertawa, kaum mukminin bersedih. Mereka bersedih karena ikut merasakan kesedihan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pada saat yang sama, kaum mukminin sangatlah yakin bahwa kabar itu adalah dusta semata. Mereka menyatakan dengan penuh keyakinan,

مَّا يَكُونُ لَنَآ أَن نَّتَكَلَّمَ بِهَٰذَا سُبۡحَٰنَكَ هَٰذَا بُهۡتَٰنٌ عَظِيمٞ ١٦

Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita untuk memperbincangkan hal ini. Mahasuci Engkau (wahai Rabb kami),ini adalah dusta yang besar.” (al-Nur: 16)

Di sinilah terletak pelajaran penting dalam hal menyikapi berita di seputar kita. Contohlah kaum mukminin di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berusaha untuk tidak terlarut dalam isu-isu yang diembuskan. Apalagi terkait dengan kemaslahatan Islam dan kaum muslimin. Bersikaplah teliti, bekali diri dengan filter untuk menyaring, dan bertanyalah kepada orang-orang tepercaya dalam hal menanggapi berita.

Orang mukmin tidaklah mudah menerima isu atau kabar burung. Berita yang tidak jelas sumbernya, referensinya entah dari mana, janganlah langsung diterima. Apalagi terkait dengan harga diri, kehormatan, dan nama baik seorang muslim. Haruslah lebih berhati-hati!

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits Sa’id bin Zaid radhiallahu ‘anhu,

إِنَّ مِنْ أَرْبَى الرِّبَا الْاِسْتِطَالَةُ فِيْ عِرْضِ الْمُسْلِم بغَيْرِ حَقٍّ

“Sungguh, perbuatan riba yang paling besar adalah berbicara tentang kehormatan seorang muslim secara tidak benar.” (HR. Abu Dawud dan dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh Muqbil dalam ash-Shahihul Musnad 1/313)

Pada saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berisra’ dan mi’raj, diperlihatkan kepada beliau orang-orang yang berada di dalam neraka. Mereka memiliki kuku-kuku panjang terbuat dari tembaga. Mereka mencakar-cakar wajahnya sendiri. Saat ditanyakan, Malaikat Jibril menjawab,

هَؤُلاَءِ الَّذِيْنَ يَأْكُلُوْنَ لُحُوْمَ النَّاسِ وَيَقَعُوْنَ فِيْ أَعْرَاضِهِمْ

        “Mereka adalah orang-orang yang memakan daging orang lain (berbuat ghibah) dan menjatuhkan kehormatan orang lain.” (HR. Abu Dawud dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh Muqbil dalam ash-Shahihul Musnad 1/508)

Demikianlah ajaran Islam! Berhati-hati dalam berbicara, bersikap teliti saat menukil berita.

 

Menjadi Obyek Berita?

Apabila menjadi obyek sebuah isu, apa yang harus dilakukan? Contohlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam! Tirulah Ibunda Aisyah radhiallahu ‘anha! Hayatilah secara saksama sikap-sikap beliau saat menghadapi gencarnya isu sesat yang disebarkan oleh kaum munafikin. Beliau berdua tidak terburu-buru, tidak pula tergesa-gesa.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam , hamba yang memperoleh petunjuk ilahi dari atas langit ketujuh, tidaklah mengambil keputusan sendiri. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diam dan tidak berbicara. Yang beliau lakukan adalah menunggu dan menanti turunnya wahyu dari Allah ‘azza wa jalla. Biarlah Allah ‘azza wa jalla yang memutuskan.

Nah, inilah yang mesti kita lakukan saat menjadi obyek isu. Kembalilah kepada Allah dengan memperbanyak tobat, istighfar, dan zikir. Mengeluh dan mengadulah kepada-Nya. Mohonlah petunjuk dan kesabaran dari-Nya. Bacalah kalam Allah ‘azza wa jalla agar hati menjadi sejuk, jiwa bertambah tenang. Seperti itu pula yang dilakukan oleh Ibunda Aisyah radhiallahu ‘anha.

Dalam salah satu perbincangan kecil dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Ibunda Aisyah radhiallahu ‘anha mengakui dirinya adalah seorang perempuan muda yang tidak banyak menghafal al-Qur’an. Akan tetapi, beliau menyatakan, “Demi Allah! Tidak ada permisalan yang dapat aku sampaikan kepada kalian kecuali ucapan ayah Nabi Yusuf,

فَصَبۡرٞ جَمِيلٞۖ وَٱللَّهُ ٱلۡمُسۡتَعَانُ عَلَىٰ مَا تَصِفُونَ ١٨

“Maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan.” (Yusuf: 18)

Begitulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Ibunda Aisyah radhiallahu ‘anha! Kembali kepada Allah ‘azza wa jalla saat isu dan berita dusta tiba menyapa. Berikutnya adalah memohon masukan dan saran dari orang-orang dekat dan dapat dipercaya.

Selama masa penantian wahyu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bermusyawarah dengan Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu dan Usamah bin Zaid radhiallahu ‘anhu. Subhaanallah! Kepada yang jauh lebih muda, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta saran. Berapakah usia Usamah saat itu? Masih sangat belia, muda sekali. Hanya beberapa belas tahun umurnya. Bayangkan, tentang urusan rumah tangga yang bersifat privasi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap meminta saran dari orang lain.

Lantas bagaimana halnya dengan kita? Mestinya tidak perlu sungkan atau malu hati untuk meminta saran dan masukan dari orang lain saat menghadapi isu atau berita tidak mengenakkan. Asalkan orang itu dapat dipercaya dan bersifat amanah. Tirulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam!

Seperti itu juga yang dilakukan oleh Ibunda Aisyah radhiallahu ‘anha. Saat pertama kali mendengar berita dusta tersebut, Ibunda Aisyah meminta izin kepada Rasulullah radhiallahu ‘anha agar diperbolehkan menemui kedua orangtuanya.Kepada kedua orangtuanya, Abu Bakr ash-Shiddiq dan Ummu Ruman istrinya, Aisyah radhiallahu ‘anha meminta masukan. Sang ibu menyatakan, “Wahai putriku, anggap ringan saja masalah ini bagimu!”

Ingat-ingatlah pula bahwa tentu ada yang terpengaruh akibat isu atau berita dusta yang beredar. Jika sungguh-sungguh bertobat dan meminta maaf, berikanlah maaf untuknya. Hal ini seperti yang dilakukan oleh Abu Bakr ash-Shiddiq yang memaafkan Misthah radhiallahu ‘anhu, padahal ia pun terlibat dalam berita dusta yang disebarkan oleh kaum munafikin.

Ringkasnya, hidup di dunia ini tentu tidak akan lepas dan terbebas dari isu miring atau berita dusta. Alhamdulillah, Islam telah mengatur dan membimbing langkah terbaik untuk menghadapinya.

Dengan membaca kisah haditsul ifki, semoga Allah ‘azza wa jalla meringankan beban pikiran kita. Amin.

Wallahul Muwaffiq.

 

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar

Pemuda, Dalam Bidikan Musuh Islam

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللهُ تَعَالَى فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: إِمَامٌ عَدْلٌ، وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللهِ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ، وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ، وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ: إِنِّي أَخَافُ اللهَ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

“Ada tujuh golongan yang akan mendapat naungan Allah subhanahu wa ta’ala dengan naungan Arsy-Nya pada hari tidak ada naungan di hari tersebut kecuali naungan-Nya: (1) Pemimpin yang adil, (2) Pemuda yang senantiasa tumbuh dalam beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala, (3) Orang yang senantiasa hatinya tertambat dengan masjid ketika ia keluar darinya hingga kembali lagi kepadanya, (4) Dua orang yang saling mencintai karena Allah subhanahu wa ta’ala, keduanya berkumpul karena Allah subhanahu wa ta’ala, dan berpisah karena-Nya, (5) Orang yang mengeluarkan sedekah kemudian merahasiakannya sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya, (6) Seorang laki-laki yang dirayu berbuat keji oleh wanita bangsawan lagi rupawan, lalu menjawab, ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allah’, (7) dan Seseorang yang ingat (berzikir) kepada Allah subhanahu wa ta’ala di tempat yang sunyi kemudian kedua matanya meneteskan air mata.”

  Lanjutkan membaca Pemuda, Dalam Bidikan Musuh Islam

Menjadi Ahli Hadits – Sebuah Doa Untuk Anak

Dikisahkan bahwa Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma di masa kecilnya pernah menginap di rumah Maimunah bintu al-Harits radhiallahu ‘anha, bibinya. Maimunah sendiri adalah salah satu istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ibunda kaum muslimin. Saat itu Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma menyiapkan air untuk wudhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setelah mendengar jawaban Maimunah bahwa Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma lah yang melakukannya, beliau pun berdoa untuk Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma,

اللَّهُمَّ فَقِّهْهُ فِيْ الدِّيْنِ وَعَلِّمْهُ التَّأْوِيْلَ

“Ya Allah, buatlah dia menjadi faqih di dalam agama ini, dan ajarilah dia ilmu ta’wil (ilmu tafsir al-Qur’an).”

 

Takhrij Hadits

Apabila dicermati, doa Rasulullah untuk Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma ada dalam dua permohonan; menjadi faqih di dalam agama Islam dan menguasai ilmu tafsir. Sebagian orang menyangka bahwa kedua doa Rasulullah di atas diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari dan Muslim. Apakah memang demikian?

Hadits dengan lafadz di atas, dengan menyebutkan dua permohoan doa sekaligus, diriwayatkan oleh at-Thabarani (3/164/2), Abu Ali ash-Shawwaf dalam kitab al-Fawaid (3/166—167), ad-Dhiya’ dalam al-Mukhtarah (2/226) dengan dua sanad, dari Syibl bin Abbad, dari Sulaiman al-Ahwal, dari Said bin Jubair, dari Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma.

Sementara itu, al-Imam al-Bukhari (no. 75) dan Muslim (no. 2477) hanya meriwayatkan lafadz pertama, yakni permohonan menjadi faqih di dalam agama. Adh-Dhiya’ menyatakan, “Al-Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkan lafadz wa ‘allimhu at ta’wiil. Tambahan lafadz ini adalah tambahan yang hasan.”

Al-Albani menambahkan, “Al-Hakim menyatakan sahih (3/534) dan disepakati oleh adz-Dzahabi.”

Setelah menyebutkan beberapa bentuk lafadz lain, asy-Syaikh al-Albani menyimpulkan (Silsilah ash-Shahihah no. 2589), “Secara umum, dengan lafadz demikian hadits ini sahih. Di dalam syarah ath-Thahawiyah hlm. 234, penulis menyandarkan lafadz ini kepada al-Bukhari. Ini adalah wahm (kekeliruan), sebagaimana telah saya ingatkan dalam takhrij hadits di sana.”

 Doa

Mendoakan Anak

Satu hal penting yang sering dilupakan oleh orang tua adalah mendoakan kebaikan untuk anaknya. Sekian banyak dalil menyebutkan pentingnya orang tua sering mendoakan kebaikan untuk anak. Selain sebagai tanda kasih orang tua dan hak seorang anak, doa kebaikan menjadi salah satu sebab kebahagiaan anak di dunia dan akhirat kelak.

Selain itu, Islam juga melarang orang tua mendoakan kejelekan untuk anaknya. Apapun alasannya hal tersebut tidak boleh dilakukan. Senyatanya, dalam kehidupan sehari-hari, tidak jarang kita menemui orang tua yang saat emosi dan marah melaknat atau mendoakan kejelekan untuk anaknya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ، وَلَا تَدْعُوا عَلَى أَوْلَادِكُمْ، وَلَا تَدْعُوا عَلَى أَمْوَالِكُمْ، لَا تُوَافِقُوا مِنَ اللهِ سَاعَةً يُسْأَلُ فِيهَا عَطَاءٌ، فَيَسْتَجِيبُ لَكُم

“Janganlah kalian mendoakan kejelekan untuk diri sendiri! Janganlah mendoakan kejelekan untuk anak-anak kalian! Janganlah mendoakan kejelekan untuk harta milik kalian! Jangan sampai kalian (berdoa) dan tepat pada waktu yang ditentukan Allah ‘azza wa jalla untuk dikabulkan doa padanya, lantas doa kalian diwujudkan.” (HR . Muslim no. 3009, dari Jabir bin Abdillah)

Di dalam syarah Riyadhus Shalihin, asy-Syaikh Muhammad bin al-Utsaimin menyatakan, “Seandainya engkau menegur anakmu dengan mengatakan, ‘Kemari! Mengapa engkau melakukan perbuatan ini?! Semoga Allah ‘azza wa jalla tidak melimpahkan taufik untukmu! Semoga Satu hal penting yang sering dilupakan oleh orang tua adalah mendoakan kebaikan untuk anaknya.

Allah ‘azza wa jalla tidak membuatmu beruntung! Semoga Allah ‘azza wa jalla tidak menjadikanmu baik!’, dikhawatirkan bertepatan dengan waktu istijabah (dikabulkannya doa). Semua hal ini haram, tidak boleh!”

Alangkah lebih baiknya jika orang tua, pengajar atau siapa pun, ketika melihat dan bergaul dengan anak-anak untuk sering-sering mendoakan kebaikan. Barangkali saja tepat pada waktu istijabah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri sering mendoakan kebaikan untuk anak-anak kecil semasa hidupnya. Salah satu contohnya adalah doa beliau untuk Abdullah bin Abbas di dalam hadits kita ini.

 

Doa Rasulullah Terkabul?

Doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas pada waktunya benar-benar terkabul. Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma dikenal dan diakui sebagai ahli tafsir terkemuka di kalangan sahabat. Referensi-referensi Islam dipenuhi dengan riwayat, pendapat, dan fatwa Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma. Untuk menggambarkan profil Ibnu Abbas, kami akan menukilkan sedikit biografi beliau dari karya monumental al-Imam adz-Dzahabi yang berjudul Siyar A’lam an-Nubala.

Nama lengkap beliau adalah Abul Abbas Abdullah bin Abbas bin Abdul Muthalib al-Hasyimi. Adz-Dzahabi menyebutnya dengan Habrul Ummah (Tinta Umat)[1], Faqiihul ‘Ashr (Tokoh Fiqih di Masanya), dan Imam at-Tafsir (Pemuka Utama dalam Tafsir). Secara garis nasab, Ibnu Abbas merupakan sepupu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ibnu Abbas dilahirkan di sebuah lembah bernama Syi’b Abu Yusuf, sebuah daerah milik bani Hasyim. Syi’ib adalah lembah yang pernah digunakan oleh Rasulullah dan bani Hasyim untuk menetap ketika kaum kafir Quraisy melakukan blokade. Menurut pendapat yang dikuatkan oleh Ibnu Abdil Barr dan al-Hafizh Ibnu Hajar, Ibnu Abbas lahir tiga tahun sebelum hijrah. Oleh sebab itu, ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, Ibnu Abbas telah berusia 13 tahun.

Secara fisik, Ibnu Abbas memiliki perawakan yang tegap, dada bidang, berwibawa, gagah rupawan, cerdas , berkulit putih, dan berpostur tinggi. Apabila Ibnu Abbas berjalan dan melewati rumah-rumah, orang dapat mengenalnya hanya dengan mencium harum wangi yang berasal dari tubuhnya.

Walaupun hanya sekitar tiga puluh bulan bermulazamah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, riwayat hadits Ibnu Abbas menyentuh bilangan 1.660 hadits. Di dalam ash-Shahihain ada 75 hadits; 120 hadits hanya diriwayatkan oleh al-Bukhari, sementara al-Imam Muslim ada 9 hadits yang hanya beliau yang meriwayatkan.

Selain meriwayatkan hadits langsung dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Ibnu Abbas juga berguru dari Umar bin Khaththab, Ali bin Abi Thalib, Muadz bin Jabal, al-Abbas ayahnya, Abdurrahman bin Auf, Abu Sufyan, Abu Dzar, dan sahabat-sahabat lainnya g. Secara lebih khusus, Ibnu Abbas belajar al-Qur’an beserta ilmu-ilmu terapannya dari sahabat Ubai bin Ka’b dan Zaid bin Tsabit radhiallahu ‘anhuma.

Melihat nama-nama besar sahabat tempat Ibnu Abbas berguru dan menimba ilmu, maka tidaklah heran jika sahabat Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu menyanjung, “Andai Ibnu Abbas berusia seperti kami (sezaman sahabat senior), tentu tidak ada seorang pun yang mampu menyainginya.” Dalam kesempatan lain, Ibnu Mas’ud memuji, “Sebaik-baik penafsir al-Qur’an adalah Ibnu Abbas.”

Siapakah sahabat yang paling mengerti dan memahami tentang al-Qur’an berikut kandungan maknanya? Di antara mereka adalah Ibnu Abbas. Sahabat Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma mengakuinya dengan mengatakan, “Ibnu Abbas adalah orang yang paling mengerti tentang ayat-ayat al-Qur’an yang diturunkan oleh Allah ‘azza wa jalla untuk Nabi Muhammad.”

Pengakuan akan keilmuan Ibnu Abbas juga datang dari gurunya sendiri, Ubai bin Ka’b radhiallahu ‘anhu. Ubai pernah berkata, “Anak muda ini kelak akan menjadi tinta umat ini. Aku menyaksikan kecerdasan dan kepintaran terpancar dari dirinya. Sungguh, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berdoa kepada Allah ‘azza wa jalla agar menjadikannya faqih di dalam agama.”

Amirul Mukminin Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiallahu ‘anhuma juga mengakui taraf keilmuan Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma yang amat tinggi. Suatu saat Mu’awiyah berbicara kepada Ikrimah rahimahullah, mantan budak milik Ibnu Abbas sekaligus muridnya, “Demi Allah! Maula-mu (mantan majikanmu) adalah orang yang paling faqih di antara orang-orang yang telah meninggal, juga dibandingkan dengan orang-orang yang masih hidup.”

Demikianlah para sahabat memuji, menyanjung, dan mengakui keilmuan Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma. Kemampuannya di dalam bidang tafsir, kefaqihannya dalam banyak masalah agama telah menempatkan beliau pada posisi istimewa di kalangan sahabat. Hal ini merupakan bukti bahwa doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk beliau sungguh-sungguh dikabulkan oleh Allah ‘azza wa jalla.

Sebagai salah satu indikator keluasan ilmu Ibnu Abbas adalah sebuah keterangan dari Ibnu Hazm di dalam kitabnya, al-Ihkam. Di sana Ibnu Hazm mengatakan, “Abu Bakr Muhammad bin Musa bin Ya’qub bin al-Makmun, seorang ulama besar Islam, mengumpulkan fatwa-fatwa Ibnu Abbas dalam dua puluh jilid kitab.”

Subhanallah! Fatwa Ibnu Abbas terhimpun dalam dua puluh jilid kitab? Sungguh, telah dikabulkan doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam! Fatwa-fatwa Ibnu Abbas yang dibangun di atas ayat al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan bukti kuat akan keluasan dan kedalaman ilmu beliau. Semoga Allah ‘azza wa jalla meridhai beliau.

 

Menuju Ahli Tafsir

Usia Ibnu Abbas masih 13 tahun ketika Rasulullah wafat. Akan tetapi, semangat juangnya untuk menimba dan mencari ilmu tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Ibnu Abbas sempat mengajak seorang kawannya dari kaum Anshar untuk berkeliling belajar dari seorang sahabat ke sahabat lainnya. Namun, ajakan itu ditolak. Katanya, buat apa belajar sementara sahabat-sahabat Nabi g masih banyak yang hidup. Apakah orang-orang akan bertanya kepada kita?

Namun, semangat Ibnu Abbas selalu bergelora. Digambarkan oleh beliau sendiri, untuk bisa memperoleh sebuah riwayat, beliau terkadang harus rela menunggu sampai tertidur di depan rumah sahabat yang dituju. Usia muda, semangat tinggi, kecerdasan yang luar biasa ditambah lisan yang selalu bertanya, pada akhirnya membuat Ibnu Abbas menjadi salah satu sumber rujukan utama dalam masalah agama.

Bagaimana tidak menjadi seorang pemuka agama yang mumpuni, ilmu yang dihimpun dan dikumpulkan oleh Ibnu Abbas benar-benar berkualitas. Buktinya? Ibnu Abbas pernah menyatakan, “Sungguh! Untuk satu masalah saja, terkadang saya menanyakan jawabannya kepada tiga puluh orang sahabat Nabi.”

Kawannya yang sempat menolak ajakan Ibnu Abbas lalu berkomentar, “Anak muda yang satu ini memang lebih cerdas daripada saya.”

Dari beberapa hal di atas, seharusnya membuka harapan baru untuk anak-anak kita kelak. Kesempatan untuk menjadi seorang ahli tafsir, seseorang yang memahami makna dan kandungan al-Qur’an secara luas masih selalu ada. Asalkan kita sebagai orangtua atau pengajar selalu menanamkan semangat dan menaburkan benih motivasi dalam dada mereka. Menjadi seorang ahli tafsir? Mengapa tidak?

 

Warisan Ahli Tafsir, Murid-Murid Ahli Tafsir

Keilmuan Ibnu Abbas dalam hal menafsirkan al-Qur’an kemudian diwarisi oleh murid-muridnya. Oleh sebab itu, mayoritas tokoh dan pemuka ahli tafsir di kalangan tabi’in adalah murid-murid Ibnu Abbas. Tidak ada satu pun ayat al-Qur’an yang ditafsirkan lalu dituliskan di dalam karya-karya tafsir kecuali pasti tersebut salah satu dari nama murid-murid Ibnu Abbas.

Siapa yang tidak mengenal Mujahid bin Jabr? Seorang ahli tafsir yang disebut oleh ats-Tsauri, “Jika datang tafsir dari Mujahid, peganglah kuat-kuat!”

Siapa yang tidak mengenal Sa’id bin Jubair? Muhammad bin Sirin, Ikrimah, Thawus, Atha’ bin Yasar, asy-Sya’bi, Amr bin Dinar, Urwah bin az-Zubair, dan Arbadah at-Tamimi Shahibut Tafsir? Mereka semua adalah murid-murid utama Ibnu Abbas yang dikenal sebagai ahli tafsir juga.

Bagaimanakah Ibnu Abbas dalam pandangan murid-muridnya? Abu Wa’il bercerita, “Ibnu Abbas pernah menyampaikan khutbah untuk kami. Saat itu, beliau menjadi Amirul Hajj. Beliau membacakan surat an-Nur dan menafsirkannya. Sampai-sampai aku berkata, ‘Aku tidak pernah mendengar khutbah seindah ini. Andai khutbah ini didengar oleh orang-orang Persia, Romawi, dan Turki, niscaya mereka akan masuk Islam’.”

Mujahid memuji, “Aku tidak pernah melihat orang semacam Ibnu Abbas. Beliau adalah tinta umat ini.” Di waktu lain Mujahid menjelaskan, “Ibnu Abbas digelari dengan al-Bahr (Samudra) karena banyaknya ilmu yang dimiliki.”

Pujian yang sama juga dilayangkan oleh Ikrimah, murid beliau yang lain. Katanya, “Ibnu Abbas benar-benar samudra ilmu.”

Thawus menggambarkan untuk kita tentang keilmuan Ibnu Abbas di tengahtengah para sahabat. Kata Thawus, “Aku pernah bertemu sekitar lima ratus orang sahabat Nabi. Jika mereka berbeda pendapat, Ibnu Abbas selalu berusaha untuk meyakinkan mereka pada satu pendapat sampai akhirnya mereka pun sepakat dengan pendapat Ibnu Abbas.”

 

Ibnu Abbas di Mata Khalifah Umar bin al-Khaththab

Kefaqihan dan keluasan ilmu tafsir yang dimiliki Ibnu Abbas adalah alasan yang membuat Khalifah Umar bin al-Khaththab menunjuk beliau sebagai salah satu anggota Syura. Semula, sebagian sahabat kurang bisa menerima keputusan Umar. “Kalau anak muda ini bisa masuk dalam Syura, anak-anak kita yang seumur dengannya pun seharusnya bisa,” kata mereka.

Suatu saat, Khalifah Umar hendak menunjukkan bukti di hadapan seluruh anggota Syura bahwa Ibnu Abbas memang layak berada di sana. Umar lalu bertanya tentang makna firman Allah ‘azza wa jalla dalam surat an-Nashr. Sebagian sahabat diam, meski ada juga yang berusaha menjawab.

Di akhir diskusi, Umar bin al-Khaththab mempersilakan Ibnu Abbas untuk menjawab. Kata Ibnu Abbas, “Yang dimaksud adalah ajal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah ‘azza wa jalla memberitahukannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Setelah mendengar jawaban Ibnu Abbas, Umar menanggapi, “Aku pun tidak memahami ayat tersebut kecuali seperti yang engkau pahami!”

Dalam waktu yang berbeda, seorang utusan dari daerah datang bertemu dengan Khalifah Umar. Di dalam laporannya, utusan tersebut menceritakan semangat kaum muslimin di daerahnya yang begitu cepat mempelajari dan menghafal al-Qur’an. Ibnu Abbas secara terus terang menyatakan tidak senang dengan fenomena tersebut. Namun, Umar tidak menerima keberatan yang dinyatakan oleh Ibnu Abbas.

Ibnu Abbas kemudian pulang ke rumah dalam keadaan sedih atas sikap Umar. Beliau berbaring sampai disangka jatuh sakit oleh sebagian anggota keluarganya. Akhirnya datang panggilan dari Umar untuk Ibnu Abbas agar datang menghadap. Berbicara berdua, Umar menanyakan tentang pernyataan Ibnu Abbas di hadapan utusan tersebut. Apa alasannya?

Ibnu Abbas lalu menjelaskan, “Jika orang-orang terlalu cepat mempelajari dan menghafal al-Qur’an, mereka akan mengklaim saling benar. Apabila hal itu terjadi, mereka akan berdebat. Setelah itu mereka akan berselisih. Pada akhirnya mereka akan saling membunuh.”

Kata Umar menilai keterangan Ibnu Abbas, “Sungguh menakjubkan pikiranmu! Sungguh, selama ini aku menyembunyikan perasaan semacam itu dari orang-orang, sampai akhirnya engkau pun mengutarakannya.”

 

Doakanlah Kebaikan!

Kekhawatiran Ibnu Abbas akhirnya benar-benar nyata terjadi. Akibat dari berbicara tentang al-Qur’an tanpa landasan ilmiah hanya akan menimbulkan kekacauan dalam beragama. Menafsirkan al-Qur’an sesuai dengan hawa nafsu, kepentingan kelompok, atau kesenangan pribadi terlihat jelas pada kelompok-kelompok sempalan Islam. Serahkan

tafsir al-Qur’an pada ahlinya!

Sungguh benar ucapan sahabat Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu yang pernah menggambarkan semacam ini. Sebagian muridnya bertanya, kapankah hal itu terjadi?

Ibnu Mas’ud menjawab,

إِذَا كَثُرَ قُرَّاؤُكُمْ وَقَلَّ فُقَهَاؤُكُمْ، وَكَثُرَ أُمَرَاؤُكُمْ وَقَلَّ أُمَنَاؤُكُمْ، وَالْتُمِسَتِ الدُّنْيَا بِعَمَلِ الْآخِرَةِ، وَتُفُقِّهَ لِغَيْرِ الدِّينِ

“Apabila ahli membaca al-Qur’an banyak jumlahnya, tetapi yang mengerti tentang fiqihnya hanya sedikit. Banyak pemimpin bermunculan, namun yang bersikap amanah amat jarang. Dunia dicari dengan mengorbankan agama, dan orang belajar tetapi tidak tulus demi agama.” (Riwayat al-Hakim 4/514 dan ad-Darimi 1/64)

Mudah-mudahan Allah ‘azza wa jalla memberikan taufik dan hidayah-Nya agar kaum muslimin kembali kepada paham Salafus Shalih dalam hal menafsirkan al-Qur’an. Semoga kita dan anak-anak kita kelak selalu istiqamah mempelajari al-Qur’an, mencintai, mengamalkan, mengajarkan, dan mendakwahkannya.

Seperti Ibnu Abbas! Walaupun telah buta di masa tuanya, Ibnu Abbas tetap mengajarkan al-Qur’an beserta tafsirnya. Ibnu Abbas adalah figur panutan kita dalam ilmu tafsir. Semoga Allah meridhai beliau dan orang tuanya.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar bin Rifai


[1] Kata hibr dengan meng-kasrah huruf ha, maknanya tinta atau ulama. Adapun dengan habr maknanya ialah ulama. (Mishbahul Munir, al-Fayyumi)

Kedustaan di Balik Kedok Cinta

Al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: سُئِلَ النَّبِيُّ عَنِ الْكَلِمَاتِ الَّتِي تَلَقَّاهَا آدَمُ مِنْ رَبِّهِ فَتَابَ عَلَيْهِ، قَالَ:

سَأَلَهُ بِحَقِّ مُحَمَّدٍ وَعَلِيٍّ وَفَاطِمَةَ وَالْحَسَنِ وَالْحُسَيْنِ فَتَابَ عَلَيْهِ وَغُفِرَ لَهُ

Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang kalimat-kalimat yang diterima Adam dari Rabbnya sehingga Allah mengampuninya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘(Kalimat-kalimat itu adalah), ‘Adam memohon kepada Allah dengan hak Muhammad, Ali, Fathimah, Hasan, dan Husain, lalu Allah mengampuni Adam’.”

 hadits-palsu

Derajat Hadits

Hadits ini maudhu’ (palsu), hasil kedustaan Syiah Rafidhah atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Abul Faraj Ibnul Jauzi menyebutkan hadits di atas dalam al-Maudhu’at (1/316) melalui jalan ad-Daruquthni, beliau berkata,

تَفَرَّدَ بِهِ حُسِيْنٌ الْاَشْقَرُ رَوَى الْمَوْضُوعَاتِ عَنِ الْأَثْبَاتِ، عَنْ عَمْرِو بْنِ ثَابِتٍ وَلَيْسَ بِثِقَةٍ وَلَا مَأْمُون

“Husain al-Asyqar bersendiri dari ‘Amr bin Tsabit. Husain biasa meriwayatkan hadits-hadits palsu dari orang-orang tsiqah, sementara ‘Amr tidak tsiqah dan tidak tepercaya.”

Yahya bin Ma’in berkata, “Amr bin Tsabit bukan orang yang bisa dipercaya.”

Ibnu Hibban al-Busti berkata, “Dia memalsukan hadits-hadits dari perawi-perawi yang tsiqah.”

Ibnu Katsir rahimahullah, ketika menafsirkan surat asy-Syura ayat 23 mengatakan tentang ‘Amr bin Tsabit, “Dia seorang Syi’ah pendusta.”

Hadits Ibnu Abbas disebutkan pula oleh Ibnu ‘Araq al-Kinani dalam kitabnya, Tanzih asy-Syari’ah (1/413), dan beliau sandarkan riwayatnya kepada ad-Daruquthni.

As-Suyuthi membawakan hadits ini dalam kitabnya ad-Dur al-Mantsur  (1/147), hanya saja beliau mendiamkan hadits dan tidak memberikan komentar. Beliau menyebutkan pula hadits ini dalam kitabnya, al-La’ali’ al-Mashnu’ah (1/44) dan menghukuminya sebagai hadits maudhu’ (palsu).

Al-Kinani menyebutkan jalan lain untuk hadits ini dalam Tanzih asy-Syariah (1/395) melalui jalan Muhammad bin ‘Ali bin Khalaf al-‘Aththar, dari Husain al-Asyqar. Beliau nisbatkan jalan ini kepada Ibnu an-Najjar. Sayang, jalan ini tidak berfaedah. Sebab, Ibnu Adi menyatakan tentang Muhammad bin Ali bin Khalaf al-Aththar, “Dia muttaham bil kadzib (Tertuduh berdusta atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam).”

Walhasil, hadits di atas maudhu’, dipalsukan oleh orang-orang Syiah.

 

Makna Hadits

Di balik hadits-hadits palsu berisi pujian kepada Ahlul Bait inilah, Rafidhah menyembunyikan kesesatan dan kekufuran mereka. Hadits ini juga mengandung kemungkaran dan penyelisihan terhadap al-Qur’an dan as-Sunnah.

Lahiriah hadits ini berisi pujian kepada Ali, Fathimah, al-Hasan, dan al-Husain. Rafidhah memalsukannya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Hadits ini menunjukkan bahwa Adam telah mengenal Ali, Fathimah, Hasan, dan Husain, bahkan beliau bertawasul dengan hak mereka untuk mendapatkan ampunan Allah subhanahu wa ta’ala.

Sungguh, tidak ada satu hadits sahih pun mengajarkan kita bertawasul dengan orang-orang saleh ketika berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Hadits di atas, di samping palsu juga mengantarkan kepada kesyirikan. Sebab, doa ini berisi tawasul dengan orang-orang yang gaib (tidak ada); Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Ali, Hasan, Husain, dan Fathimah belum Allah subhanahu wa ta’ala ciptakan.

Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi rahimahullah berkata, “Hadits ini dan yang semisalnya adalah hadits palsu yang dipakai oleh tukang khurafat untuk dijadikan landasan dalam membolehkan berdoa kepada orang-orang yang telah mati.” (ath-Thali’ah, hlm. 230)

Di antara perkara yang menunjukkan kedustaan hadits ini, al-Qur’an telah menafsirkan kalimat-kalimat yang Allah subhanahu wa ta’ala wahyukan kepada Adam, yang dengannya beliau berdoa dan Allah subhanahu wa ta’ala ampuni dosa beliau.

Allah subhanahu wa ta’ala mengisahkan Adam dalam al-Qur’an bagaimana beliau berdosa kemudian Allah subhanahu wa ta’ala mengajarinya kalimat yang dengannya Allah subhanahu wa ta’ala mengampuni beliau. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam surat al-Baqarah,

Lalu keduanya digelincirkan oleh setan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman, “Turunlah kamu, sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan.” Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Rabbnya, maka Allah menerima tobatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang. (al-Baqarah: 36—37)

Menurut hadits Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma di atas, kalimat yang Adam terima adalah tawassul kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan ahli bait Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam yang belum Allah subhanahu wa ta’ala ciptakan! Hal ini menyelisihi al-Qur’an.

Syaikhul Islam berkata, “Adapun kalimat-kalimat (yang diucapkan Adam) telah disebutkan penafsirannya dalam al-Qur’an, yaitu firman Allah subhanahu wa ta’ala,

Keduanya berkata, “Wahai Rabb kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” (al-A’raf: 23)

Dimaklumi bahwa orang yang lebih rendah dari Adam (kedudukannya), baik dari kalangan orang kafir maupun fasik, jika bertobat kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan tobat nashuha, Allah subhanahu wa ta’ala akan menerima tobatnya tanpa harus bertawassul kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan siapa pun. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kita tidak pernah memerintah seorang pun bertobat dengan semisal doa ini.” (al-Muntaqa, hlm. 459)

Menjadi teranglah, di samping hadits di atas terdapat rawi pendusta dari orang Rafidhah, juga menyelisihi al-Qur’an dan petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam berdoa.

 

Ahlus Sunnah berlepas diri dari jalan Rafidhah yang membangun agama mereka di atas kedustaan. Mereka mengangkat sebagian ahlul bai setinggi-tingginya melebihi derajat para nabi dan rasul, sementara sebagian ahli bait Rasulullah n, mereka hinakan dan kafirkan.

 

Syiah dan Pemalsuan Hadits

Sekte sesat dan aliran sempalan dalam Islam tidak sekadar menawarkan dagangannya begitu saja.

Untuk menjual kesesatan dan melariskannya, mereka hiasi semua kebatilan dengan ayat al-Qur’an atau hadits sahih yang mereka simpangkan pemahamannya. Bahkan, dengan lancang mereka berani berdusta atas nama Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak ketinggalan Syiah Rafidhah. Mereka termasuk kelompok yang terdepan dalam hal memalsukan sabda-sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Pemalsuan hadits yang dilakukan oleh Rafidhah merupakan perkara yang disepakati ahlul hadits, sebagaimana tampak dalam beberapa ucapan ulama berikut.

Abdullah ibnul Mubarak al-Marwazi berkata bahwa Abu ‘Ishmah pernah bertanya kepada Abu Hanifah, “Dari siapakah engkau izinkan aku mendengar (mengambil) hadits?”

Beliau berkata, “Dari semua orang yang adil dalam hawa nafsunya, kecuali Syi’ah, karena prinsip mereka adalah menganggap sesat semua sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (al-Kifayah, hlm. 203)

Dari Yunus bin Abdul A’la berkata, dari Asyhab, al-Imam Malik ditanya tentang Rafidhah, maka beliau berkata, “Jangan kamu ajak bicara, jangan pula kamu riwayatkan dari mereka karena mereka selalu melakukan kedustaan.” (al-Muntaqa, hlm. 21)

Dari Harmalah bin Yahya, al-Imam asy-Syafi’i berkata, “Aku tidak pernah melihat seorang pun dari pengikut hawa nafsu yang lebih dusta dalam persaksian selain Rafidhah.” (al-Kifayah, hlm. 202)

Yazid bin Harun berkata, “Semua mubtadi’, selama tidak menyerukan kebid’ahannya, masih boleh ditulis haditsnya, kecuali Rafidhah, karena mereka sungguh selalu berdusta.” (al-Muntaqa, hlm. 22)

Demikianlah di antara upaya Syiah Rafidhah menghancurkan Islam. Mereka menebarkan pemikiran kufur dan sesat serta memalsukan hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai dalil atas kesesatan mereka.

Akan tetapi, alhamdulillah, rahmat Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa meliputi kaum mukminin. Allah subhanahu wa ta’ala membangkitkan para ulama Ahlus Sunnah yang sangat mendalam ilmunya. Mereka pun berjihad dengan menerangkan kepada umat tentang hadits yang didustakan atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

Benarkah Rafidhah Mencintai Ahlul Bait?

Dusta! Pengakuan Rafidhah mencintai ahlul bait hanyalah kedustaan. Menurut versi mereka, yang termasuk ahlul bait adalah Ali, Fatimah, Hasan, Husain, dan keturunannya. Sebatas itu saja ahlul bait.

Adapun istri-istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang pada hakikatnya termasuk ahlu bait Rasul, istri-istri Rasul di dunia dan di surga, mereka keluarkan dari barisan ahlul bait. Mereka mencela para istri Rasul, bahkan mereka kafirkan. Terlebih lagi Aisyah dan Hafshah, putri dua sahabat yang paling mereka benci: Abu Bakr dan Umar.

Ruqayyah dan Ummu Kultsum, dua putri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang beliau nikahkan dengan Utsman pun dikeluarkan dari ahlul bait lantaran menjadi istri Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu—yang sangat mereka benci dan kafirkan. Di antara merekaada yang berkata bahwa Ruqayyah dan Ummu Kultsum bukan anak Khadijah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun dari suami sebelumnya.

Inilah kedustaan pertama mereka dalam hal pengakuan kecintaan kepada ahlul bait. Mereka membenci bahkan mengafirkan sebagian ahlul bait, namun mencintai sebagian yang lain. Adapun Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah kaum yang mencintai seluruh ahli bait Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kedustaan kedua, Rafidhah telah melampaui batas dalam hal menyanjung ahlul bait. Mereka agungkan ahlul bait setinggi-tingginya, bahkan hingga mengangkat derajat ahlul bait melebihi derajat para nabi dan rasul. Mereka sekutukan Allah subhanahu wa ta’ala dengan ahlul bait versi mereka. Hal ini sebagaimana mereka melampaui batas terhadap imam mereka.

Semua kebatilan mereka didasari kedustaan. Mereka berdalil hadits dha’if, bahkan maudhu’ (palsu). Demikianlah Syi’ah Rafidhah, pengikut Abdullah bin Saba’ al-Yahudi, mengaku-aku cinta kepada ahlul bait Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun, semua itu hanyalah topeng untuk menutupi kebusukan mereka.

Mereka berani berdusta atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena memang syiar agama Rafidhah adalah kedustaan yang dilapisi dengan kemunafikan.[1]

 

Hadits-Hadits Palsu Tentang Ahlul Bait

Banyak sendi Islam mereka robohkan dalam kehidupan.

Hampir seluruh sahabat Rasul mereka kafirkan. Abu Bakr dan Umar mereka sebut dua berhala Quraisy. Demikian pula sahabat-sahabat lain, mereka hina dan caci maki[2]. Padahal hanya melalui jalan para sahabat, Islam disampaikan kepada umat.

Apa artinya? Artinya, semua riwayat sahabat tertolak karena mereka orang kafir.

Al-Qur’an mereka nyatakan telah dikhianati oleh para sahabat. Al-Qur’an yang ada saat ini, yang berada di tangan-tangan kaum muslimin, mereka anggap bukan lagi firman Allah subhanahu wa ta’ala yang diturunkan kepada manusia.

Untuk menutup kebusukan makar mereka terhadap Islam, Rafidhah bersembunyi di balik topeng kecintaan kepada ahlul bait. Mereka menyanjung dan memuji ahlul bait. Mereka bangun opini bahwa merekalah pembela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan keluarganya, merekalah pemegang estafet agama Rasul. Padahal yang ada adalah kekafiran dan jauhnya mereka dari Islam.

Hadits Ibnu Abbas di atas adalah contoh pertama dari hadits-hadits yang dibuat Rafidhah demi kepentingan mereka. Berikut ini kami tampilkan beberapa hadits palsu buatan agama Syiah Rafidhah yang sering mereka munculkan. Semoga apa yang kami paparkan dapat menjadi bekal bagi kaum muslimin untuk lebih berhati-hati dari makar Rafidhah.

 

Hadits Kedua

أَنَا مَدِينَةُ الْعِلْم،ِ وَعَلِيٌّ بَابُهَا، فَمَنْ أَرَادَ الْعِلْمَ فَلْيَأْتِهِ مِنْ بَابِهِ

“Aku adalah kota ilmu, sedangkan ‘Ali adalah pintunya. Barang siapa menginginkan ilmu, hendaknya dia mendatangi dari pintunya.”

Ini adalah hadits yang batil, karena tidak bersumber dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik sanad maupun matannya. Para imam ahli hadits menolak hadits tersebut. Di antara mereka ialah al-Imam al-Bukhari, Abu Zur’ah, at-Tirmidzi, al-Uqaili, Ibnu Hibban, ad-Daruquthni, Ibnul Adi, Ibnul Jauzi, al-Baghawi, an-Nawawi, Ibnu Daqiqil Ied, dan Ibnu Taimiyah.

Hadits ini palsu. Adz-Dzahabi menyatakan maudhu’ (palsu). Al-Albani menjelaskan kepalsuan hadits ini dalam adh-Dha’ifah (6/518, no. 2955) dan dalam Dha’iful Jami’ (no. 13220).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Hadits ‘Aku adalah kota ilmu dan Ali adalah pintunya….’ Tergolong maudhu’ (palsu). (Hadits ini) disebutkan oleh Ibnul Jauzi (dalam kitabnya al-Maudhu’at –pen.). Beliau kemudian menerangkan bahwa seluruh sanadnya palsu. Selain itu, kedustaan juga tampak dari matan hadits itu sendiri. Sebab, apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah kota ilmu dan tidak ada pintunya kecuali satu, dan tidak ada yang menyampaikan ilmu dari beliau (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam –pen.) kecuali satu orang (yakni Ali –pen), tentu urusan Islam akan rusak….” (Minhajus Sunnah, 4/138—139, dinukil dari adh-Dha’ifah)

Di samping itu, hadits ini juga bermakna bahwa semua riwayat sahabat diingkari, kecuali melalui jalan Ali bin Abi Thalib. Hal ini tentu merupakan makar lain di balik pemalsuan hadits ini, Allahul Musta’an.

 

Hadits Ketiga

السُّبَّقُ ثَلَاثَةٌ : فَالسَّابِقُ إِلَى مُوسَى يُوشَعُ بْنُ نُونٍ، وَالسَّابِقُ إِلَى عِيسَى صَاحِبُ يَاسِينَ، وَالسَّابِقُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلِيٌّ

“Pendahulu ada tiga. Pendahulu yang memenuhi panggilan (seruan) Musa adalah Yusya’ bin Nun. Pendahulu yang memenuhi seruan Isa adalah orang yang disebutkan dalam surat Yasin. Pendahulu yang memenuhi seruan Muhammad adalah Ali bin Abi Thalib.”

Al-‘Uqaili meriwayatkan hadits ini dalam kitabnya, adh-Dhu’afa al-Kabir, demikian pula ath-Thabarani (2/111), melalui jalan al-Husain bin Abi as-Sirri al-Asqallani, dari Husain al-Asyqar, dari Sufyan bin Uyainah, dari Ibnu Abi Najih, dari Mujahid, dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma.

Sanad riwayat ini sangat dha’if, bahkan al-Uqaili menempatkan hadits di atas dalam deretan hadits maudhu’ (palsu).

Dalam sanadnya terdapat Husain al-Asyqar. Dia adalah Ibnu Hasan al-Kufi, pengikut Syiah yang sesat. Telah lalu beberapa ucapan ulama tentang Husain al-Asyqar.

Al-Imam al-Bukhari rahimahullah berkata dalam kitab Tarikh ash-Shaghir (hlm. 2300, “Ia telah meriwayatkan hadits-hadits mungkar.”

Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya (3/570) berkata, “Ini adalah hadits mungkar yang tidak diketahui sanadnya kecuali dari jalan Husain al-Aysqar, yang telah dikenal oleh kalangan muhadditsin sebagai pengikut Syiah. Karena itu, ditinggalkan riwayatnya.”

 

Hadits Keempat

عَنْ أَبِي ذَرٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ مَرْفُوعاًخُلِقْتُ أَنَا وَعَلِيٌّ مِنْ نُورٍ، وَكُنَّا عَنْ يَمِينِ الْعَرْشِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ اللهُ آدَمَ بِأَلْفَيْ عَامٍ، ثُمَّ خَلَقَ اللهُ آدَمَ فَانْقَلَبْنَا فِي أَصْلَابِ الرِّجَالِ، ثُمَّ جَعَلْنَا فِي صُلْبِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ، ثُمَّ شَقَّ اسْمَيْنَا مِنَ اسْمِهِ؛ فَاللهُ الْمَحْمُودُ وَأَنَا مُحَمَّدٌ، وَاللهُ الْأَعْلَى وَعَلِيٌّ عَلِيًّا

Dari Abu Dzar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku dan Ali diciptakan dari cahaya. Dahulu kami berdua berada di sebelah kanan al-‘Arsy dua ribu tahun sebelum Allah subhanahu wa ta’ala ciptakan Adam. Lalu Allah subhanahu wa ta’ala ciptakan Adam kami pun berpindah pada sulbi manusia, diletakkanlah kami pada sulbi Abdul Muththalib. Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan nama kami dari nama-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala adalah al-Mahmud dan aku bernama Muhammad, Allah bernama al-A’la maka ‘Ali bernama Ali.

Hadits ini di antara hadits palsu yang dibuat kaum Rafidhah. Dalam sanad hadits ini terdapat seorang Rafidhah, Ja’far bin Ahmad bin Ali bin Bayan al-Ghafiqi.

Ibnul Jauzi berkata dalam kitabnya al-Maudhu’at, “Hadits ini dipalsukan oleh Ja’far bin Ammad, dia seorang Rafidhah tukang pemalsu hadits.”

Hadits ini disebutkan juga oleh asy-Syaukani dalam al-Fawaid al-Majmu’ah (343 no. 40). Beliau berkata, “Hadits ini maudhu’, dipalsukan oleh Ja’far bin Ahmad bin Ali bin Bayan, seorang Rafidhah, pemalsu hadits.”

Ibnu ‘Adi berkata, “Huwa kadzdzab yadha’ul hadits (Dia tukang dusta dan pemalsu hadits).” (Su’alat Hamzah as-Sahmi, 190)

Ibnu Hajar berkata, “Ibnu Yunus menyebutkan rawi ini dan berkata, ‘Dia seorang Rafidhah tukang pemalsu hadits.” (Lisanul Mizan, 2/108)

 

Hadits Kelima

          وَعَنِ بْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ حُبُّ عَلِيٍّ يَأْكُلُ الذُّنُوبَ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ

Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Mencintai Ali akan memakan (menghapuskan) dosa-dosa sebagaimana api melahap kayu bakar.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Asakir. (Tarikh Dimasyq, 52/13 no.131)

Hadits ini juga disebutkan dalam Kanzul ‘Ummal.

Asy-Syaukani mengatakan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh al-Khatib dari Ibnu Abbas dengan marfu’, hadits ini batil. (al-Fawaid al-Majmu’ah, 367 no. 58)

Asy-Syaikh al-Albani juga mengatakan dalam Silsilah adh-Dhaifah no. 1206, “Hadits ini batil.”

 

Hadits Keenam

وَعَنْ أَبِي بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ : إِنَّ اللهَ أَمَرَنِي بِحُبِّ أَرْبَعَةً :  وَأَخْبَرَنِي أَنَّهُ يُحِبُّهُمْ قِيلَ: يَا رَسُولَ اللهِ مَنْ هُمْ؟ قَالَ: عَلِيٌّ مِنْهُمْ يَقُولُ ذَلِكَ ثَلَاثاً وَأَبُو ذَرٍّ، وَسَلْمَانُ، وَالْمِقْدَادُ

Dari Abu Buraidah dari ayahnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan aku mencintai empat orang, dan mengabarkan kepadaku bahwa Dia mencintai mereka.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya, “Siapakah mereka, wahai

Rasulullah?” Beliau bersabda, “Ali termasuk mereka, Ali termasuk mereka, Ali termasuk mereka; juga Abu Dzar, Salman, dan al-Miqdad.” (Diriwayatkan Ibnu Majah no. 149, at-Tirmidzi no. 3718, dan al-Hakim 4649).

Di dalam sanadnya ada Sulaiman bin Isa bin Najih as-Sijzi.

Ibnul Jauzi rahimahullah menukil dari Abu Hatim ar-Razi yang berkata, “Dia kadzdzab (pendusta hadits Rasul).”

Ibnu ‘Adi berkata, “Yadha’ul Hadits (Dia biasa memalsukan hadits).”

 

Hadits Ketujuh

وَعَنْ حُجْرِ بْنِ عَنْبَسٍ قَالَوَقَدْ كَانَ أَكَلَ الدَّمَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ وَشَهِدَ مَعَ عَلِيٍّ الْجَمَلَ وَصِفِّينَ، قَالَ: خَطَبَ أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ فَاطِمَةَ إِلَى رَسُولِ اللهِ : فَقَالَ النَّبِيُّ هِيَ لَكَ يَا عَلِيُّ، لَسْتَ بِدَجَّالٍ

“Dari Hujr bin ‘Anbas—dahulu dia pemakan darah di masa jahiliah, dan ia menyertai Ali dalam Perang Jamal dan Shiffin, berkata, Abu Bakr dan Umarmeminang Fatimah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam namun Rasulullah bersabda, Fathimah untukmu wahai Ali, karena engkau bukan dajjal (pendusta).”

Hadits ini maudhu’ (palsu), diriwayatkan oleh Muhammad bin Sa’d dalam ath-Thabaqat al-Kubra (8/19). Di dalam sanadnya ada Musa bin Qais Abu Muhammad al-Farra’ al-Kufi.

Ibnu Hajar berkata, “Dia memiliki laqab (julukan) ‘ushfur al-jannah, dia jujur namun tertuduh berpemahaman Syiah’.” (at-Taqrib)

Al-Uqaili berkata tentangnya, “Minal ghulat fi ar-rafdh (Dia termasuk yang sangat ekstrem dalam agama Rafidhah).” (adh-Dhu’afa, 4/164)

Ibnul Jauzi menyebutkan hadits ini dalam kitabnya al-Maudhu’at. Beliau berkata, “Hadits ini palsu, dipalsukan oleh Musa bin Qais, seorang Rafidhah ekstrem. Ia berjuluk ushfur al-jannah (burung pipit surga). Namun, ia—insya Allah—(lebih tepat dijuluki) himar annar (keledai neraka). Sungguh, dalam pujiannya kepada Ali dalam hadits ini, dia menyembunyikan celaan terhadap Abu Bakr dan Umar.”

Benar ucapan Ibnul Jauzi. Rafidhah terus mencela Abu Bakr, Umar, dan para sahabat, bahkan mengafirkan mereka. Karena itu, mereka bersembunyi di balik pengakuan dusta mencintai ahlul bait.

Dalam hadits ini mereka memuji Ali. Namun, terselip di dalamnya celaan kepada Abu Bakr dan Umar, dengan menuduh keduanya sebagai dajjal. Allahul Musta’an.


[1] Mizanul I’tidal (1/ 6)

[2] Di antara sahabat yang mereka hujat adalah Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiallahu ‘anhuma. Pembelaan terhadap beliau dari hujatan Rafidhah dapat dilihat kembali pada Majalah Asy-Syariah edisi 78.

Dusta Syiah Dalam Riwayat

Al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar Ibnu Rifa’i

 

لاَ تَكْذِبُوا عَلَيَّ، فَإِنَّهُ مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ فَلْيَلِجِ النَّار

“Jangan berdusta atas namaku. Sungguh, siapa saja berdusta atas namaku, silakan masuk dalam neraka!”

Ucapan di atas adalah sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hadits ini diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari (no. 106), Muslim di dalam Muqaddimah Shahih-nya (Bab “Taghlizhul Kadzib” no. 1), at-Tirmidzi (no. 2660), dan Ibnu Majah (no. 31).

 151528_bola-api-dari-ledakan-matahari_663_382

Tentang Hadits

Madar (sumber) inti hadits di atas terletak pada perawi bernama Manshur bin al-Mu’tamir, dari Rib’i bin Hirasy, dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu. Tentang Ali radhiallahu ‘anhu, lembaran kertas dalam tulisan ini tidak akan cukup untuk berkisah tentang kelebihan, keistimewaan, dan keutamaan beliau. Perlu karya tersendiri untuk bercerita tentang figur Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu sebagaimana yang telah dilakukan oleh para ulama, jazahumullahu khairan.

Murid Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, yang meriwayatkan hadits dari beliau adalah Rib’i bin Hirasy. Siapakah beliau? Ahli hadits dari Kufah ini tercatat sebagai seorang tabi’in mulia yang tidak pernah berdusta walau sekali dalam hidupnya. Beliau pernah bersumpah untuk tidak tertawa sebelum mengetahui, di surga atau neraka tempatnya kelak?

Salah seorang yang memandikan jenazah Rib’i mengatakan, “Rib’i terus terlihat dalam senyum di atas ranjangnya, sampai kami selesai memandikannya.”

Beliau wafat pada 101 H di masa kekuasaan al-Hajjaj bin Yusuf. Sebagai madar hadits, Manshur bin al-Mu’tamir memang termasuk perawi di dalam kutubus sittah (kitab hadits yang enam). Banyak ulama menyebut beliau sebagai atsbatu ahli Kufah, perawi paling kuat di kota Kufah. Karena sering menangis, beliau mengalami gangguan penglihatan. Manshur wafat pada 132 H, semoga Allah ‘azza wa jalla merahmati beliau.

Dalam kalangan Syiah tidak dikenal istilah yang cukup populer di bidang ilmu hadits. Tidak ada pembahasan hadits sahih, hasan, ataupun dha’if, menurut keyakinan mereka. Jika pun ditemukan dalam beberapa kitab rujukan mereka, hal itu dilakukan demi prinsip taqiyyah (dusta demi keyakinan).

 

Makna Hadits

Sebagian ulama pensyarah hadits (Syarah Shahih Muslim karya an-Nawawi) menyatakan bahwa riwayat di atas termasuk dalam kategori mutawatir. Artinya, pada setiap tingkatan sanad hadits, ada banyak perawi yang meriwayatkan hadits ini.

Abu Bakr al-Bazzar menyebutkan ada sekitar 40 orang sahabat yang meriwayatkan hadits ini dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan, ada yang mengatakan 62 sahabat, termasuk sepuluh orang sahabat yang dijamin masuk surga.

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di akhir hadits (النَّار فَلْيَلِجِ) diterangkan oleh ulama menyimpan dua makna.

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas dimaknai, “Semoga kelak ia masuk ke dalam neraka.”

  • Khabar bi lafdzi amr (kalimat berita dalam konteks perintah).

Dengan demikian, sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas berarti, “Kelak ia akan masuk neraka, maka bersiap-siaplah.”

Makna mana pun dari kedua kemungkinan tersebut, seharusnya hal tersebut menjadi sebuah rambu hidup untuk tidak bermain-main ketika berbicara atas nama Islam, agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Berdusta adalah menyampaikan sesuatu yang bertolak belakang dengan fakta. Hal ini bisa terjadi secara disengaja maupun tidak, lupa atau karena tidak tahu. Akan tetapi, di dalam hadits ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan ancaman siksa bagi mereka yang secara sengaja melakukan tindak dusta atas nama beliau. Apa pun alasan dan tujuannya!

Apakah pelakunya dapat dikafirkan?

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah mengatakan bahwa dusta termasuk perbuatan dosa yang keji dan kesalahan yang membinasakan. Akan tetapi, dikafirkan atau tidak, menurut pendapat yang masyhur dari mayoritas ulama di berbagai mazhab, pelakunya tidak dikafirkan, kecuali jika ia meyakini hal tersebut halal dilakukan.

Bagaimana pun, ancaman yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas harusnya menjadi garis pengingat untuk kita agar berhati-hati jika berbicara atas nama agama. Tanpa ilmu syar’i sebagai landasan dan sikap ilmiah dalam bertindak, seorang muslim dilarang berucap atau berpendapat lantas mengatasnamakannya sebagai ajaran Islam.

Allah ‘azza wa jalla berfirman dalam al-Qur’an, Katakanlah, “Rabbku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujah untuk itu, dan (mengharamkan) mengadaadakan terhadap Allah apa saja yang tidak kamu ketahui.” (al-A’raf: 33)

 

Putar Balik Fakta Ala Syiah

Kalangan Syiah dengan berbagai sektenya, sangat tepat untuk dijadikan contoh nyata dalam pembahasan kita. Sengaja kami memilih riwayat hadits dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu—bukan dari sahabat lain—, karena pengakuan kalangan Syiah yang menghormati dan mengagungkan beliau.

Adapun kenyataannya? Silakan Anda menelaah tulisan ringkas ini.

Dalam kalangan Syiah tidak dikenal istilah yang cukup populer di bidang ilmu hadits. Tidak ada pembahasan hadits sahih, hasan, ataupun dha’if, menurut keyakinan mereka. Jika pun ditemukan dalam beberapa kitab rujukan mereka, hal itu dilakukan demi prinsip taqiyyah (dusta demi keyakinan).

Hal ini dinyatakan sendiri oleh salah satu tokoh besar mereka yang bernama al-Faidh al-Kasyani. Selain itu, al-Faidh menyebut pembagian hadits menjadi sahih, hasan, dan dhaif, hanyalah mustahdats. Artinya, sesuatu yang dibuatbuat oleh Ahlus Sunnah. Pernyataannya ini dimuat di dalam kitab al-Wafi pada mukadimah keduanya (1/11).

Bukankah hal ini menyelisihi prinsip utama kaum muslimin? Bukankah hal ini akan membuka lebar pintu berbicara dan bersikap tanpa dasar ilmiah? Bukankah hal ini secara tidak langsung telah membuktikan bahwa kalangan Syiah tidak peduli dengan sahih atau tidaknya riwayat dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?

Buku-buku referensi utama mereka penuh dengan riwayat palsu dan dusta. Bagaimana tidak, para perawi andalan kaum Syiah adalah kumpulan para pendusta. Sebut saja Zurarah bin A’yan, Jabir al-Ju’fi, Abu Bashir al-Laits, Barid al-‘Ijli, Humran bin A’yan, dan yang semisalnya.

Zurarah bin A’yan disebut ulama sebagai tokoh ekstrem kaum Syiah, terutama sebagai tokoh pendiri sekte Zurariyah (al-A’lam karya az-Zirikli 3/43).

Akan tetapi, apa pendapat Abu Abdillah, seorang ulama yang ditokohkan oleh kaum Syiah tentangnya? Kata Abu Abdillah Ja’far ash-Shadiq (Rijalul Kusysyi hlm. 149—151), “Zurarah lebih jahat dibandingkan dengan kaum Yahudi dan Nasrani!”

Seorang perawi yang telah dicacat oleh tokohnya sendiri, mengapa kemudian dijadikan sebagai salah satu sumber utama riwayat kaum Syiah?

Tidak perlu kaget atau heran! Kaum Syiah pada dasarnya memang tidak mengakui disiplin ilmu hadits, apalagi ilmu al-jarh wat ta’dil!

Sekalipun ditemukan sejenis ilmu al-jarh wat ta’dil di kalangan Syiah, pasti diiringi oleh kontradiksi, pertentangan, dan pendapat yang saling berlawanan.

Buktinya?

Adalah pengakuan dari seorang tokoh mereka yang dikenal dengan sebutan al-Kasyani. Dalam mukadimah kedua dari kitab al-Wafi (1/11/12), ia mengatakan, “Di dalam al-jarh wat ta’dil serta syarat yang berlaku, terdapat kontradiksi, pertentangan, dan pendapat yang saling berlawanan. Hampir-hampir hal ini membuat hati tidak tenang, sebagaimana hal ini tidak tersembunyi bagi orang yang mengetahuinya.”

 

Sikap Syiah Terhadap Referensi Islam

Kejahatan kaum Syiah ternyata tidak cukup sampai di situ. Selain membuat dan bersandar pada riwayat palsu dan dusta, mereka tidak menerima kitab hadits yang telah disepakati oleh kaum muslimin sebagai rujukan utama di dalam riwayat hadits.

Apa sikap mereka terhadap Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim? Dua referensi hadits yang disepakati ulama, bahkan kaum muslimin secara umum, sebagai dua kitab yang paling sahih setelah al-Qur’an?

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah menyatakan dalam Syarah Shahih Muslim, “Para ulama rahimahumullah telah bersepakat bahwa kitab paling sahih setelah al-Qur’an al-Aziz adalah ash-Shahihain; al-Bukhari dan Muslim. Bahkan, seluruh umat dapat menerimanya.”

Namun, bagaimanakah sikap Syiah? Mereka tidak dapat menerima riwayat hadits di dalam kedua kitab tersebut. Sebab, mereka meyakini bahwa para sahabat telah murtad setelah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, kecuali tiga orang, yaitu Abu Dzar, al-Miqdad, dan Salman al-Farisi radhiallahu ‘anhum.

Bukankah ini bentuk pelecehan terhadap sahabat? Bukankah hal ini bentuk cela mereka terhadap sahabat? Jika demikian, dari mana ajaran Islam dapat sampai kepada umat jika para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dicerca?

Mereka menuduh para sahabat masuk Islam karena paksaan, faktor ekonomi, penuh keraguan, munafik, dan celaan lainnya. Hal ini seperti yang dinyatakan oleh tokoh mereka, Husain bin Abdus Shamad dalam Musthalah Hadits-nya. Lihatlah pernyataan tokoh besar mereka, Alu Kasyif al-Ghitha’ (Ushulus Syiah, hlm. 79) yang berkata, “Kaum Syiah tidak menganggap sunnah kecuali riwayat dari ahlu bait yang dinilai sahih. Adapun seperti riwayat Abu Hurairah dan Samurah bin Jundub, tidak berharga bagi kalangan Imamiyah walau senilai sayap nyamuk.”

Pantas saja apabila Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dicela dan dijatuhkan kredibilitasnya! Sebab, riwayat Abu Hurairah banyak membongkar kesesatan dan kedustaan kaum Syiah. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda dalam hadits Abu Sa’id radhiallahu ‘anhu riwayat al-Bukhari dan Muslim,

لاَ تَسُبُّوا أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِي، فَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَوْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا، مَا أَدْرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَ نَصِيفَه

“Janganlah kalian mencela seorang pun dari sahabat-sahabatku! Sungguh, jika salah salah seorang di antara kalian berinfak emas sebesar Gunung Uhud, tidak akan bisa menyamai infak satu mud mereka, bahkan setengahnya.”

Parahnya lagi, kaum Syiah mencela imam kaum muslimin yang empat: Abu Hanifah, Malik, Syafi’i, dan Ahmad. Bahkan, dalam kitab asy-Syiah Hum Ahlus Sunnah (hlm. 109), sang penulis mengatakan, “… Empat mazhab yang diakui oleh Ahlus Sunnah hanyalah mazhab yang direkayasa oleh kaum politikus.”

Astaghfirullah! Sungguh keji dan dusta tuduhan mereka! Akidah Syiah semacam itu, apakah seorang muslim memakai perasaan dan empati untuk menganggap Syiah sebagai saudaranya?

Apakah ia ingin memaksakan kehendak, dengan pura-pura buta dari fakta, untuk menyatukan antara Sunnah dan Syiah?!

 

Kontradiksi Riwayat-Riwayat Syiah

Setelah membaca keterangan ringkas di atas, kita dapat mengukur keakuratan dan kevalidan sistem riwayat di kalangan Syiah. Oleh sebab itu, jangan heran apabila riwayat-riwayat kaum Syiah memiliki banyak kontradiksi dan pertentangan. Tidak ada satu pun riwayat kecuali pasti ditemukan riwayat lain yang bertentangan.

Fakta ini diakui sendiri oleh mereka, seperti oleh as-Sayyid Dildar as-Syi’i dalam kitab Asasul Ushul (hlm. 5), Husain bin Syihabudin al-Kurki dalam kitab Hidayatul Abrar (hlm. 264), dan as-Sayyid Hasyim Ma’ruf al-Husaini dalam kitab al-Maudhu’at (hlm. 165 cetakan pertama).

Simak saja pernyataan seorang tokoh terkemuka Syiah di dalam sebuah referensi utama mereka. Di dalam mukadimah kitab Tahdzibul Ahkam, Abu Ja’far Muhammad bin al-Hasan at-Thusi mengatakan, “… Sampai-sampai setiap kabar yang ada, pasti di sana ada yang bertentangan dengannya. Tidak ada satu pun hadits yang selamat kecuali di sisi lain ada yang menafikannya. Hal ini menjadi salah satu kritikan terbesar dari orang yang menyelisihi mazhab kita.”

 

Jangan Mudah Tertipu oleh Syiah!

Setelah sedikit mengenal metode periwayatan hadits yang berlaku di kalangan Syiah, semestinya kita berhatihati dan tidak mudah terpengaruh oleh riwayat-riwayat mereka. Kita justru harus mengubur rasa penasaran atau rasa ingin tahu tentang riwayat-riwayat Syiah. Khawatirnya, riwayat mereka yang kita baca kemudian menimbulkan syak dan syubhat (kerancuan pemikiran) di hati.

Nukilan tentang Syiah di atas kiranya cukup. Nukilan tersebut penulis ambil dari dua buah kitab, yaitu Haqiqatus Syiah karya Abdullah al-Maushili, dan Aqa’idus Syiah karya Abdurrahman as-Syatsri.

Mudah-mudahan kaum muslimin memperoleh pencerahan dan hidayah dari Allah ‘azza wa jalla sehingga semakin memahami tentang hakikat gerakan Syiah.

Amin ya Arham ar-Rahimin.

Perjalanan Panjang Meraih Ilmu

Al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc.

Long Straight Road

Dari Abdullah bin Muhammad bin ‘Aqil, dia mendengar Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu berkata,

بَلَغَنِي حَدِيثٌ عَنْ رَجُلٍ سَمِعَهُ مِنْ رَسُولِ اللهِفَاشْتَرَيْتُ بَعِيرًا ثُمَّ شَدَدْتُ عليه  رَحْلِي فَسِرْتُ إِلَيْهِ شَهْرًا حَتَّى قَدِمْتُ عَلَيْهِ الشَّامَ، فَإِذَا عَبْدُ اللهِ بْنُ أُنَيْسٍ فَقُلْتُ لِلْبَوَّابِ: قُلْ لَهُ جَابِرٌ عَلَى الْبَابِ. فَقَالَ: ابْنُ عَبْدِ اللهِ؟ قُلْتُ: نَعَمْ. فَخَرَجَ يَطَأُ ثَوْبَهُ فَاعْتَنَقَنِي وَاعْتَنَقْتُهُ  فَقُلْتُ: حَدِيثًا بَلَغَنِي عَنْكَ أَنَّكَ سَمِعْتَهُ مِنْ رَسُولِ اللهِ فِي الْقِصَاصِ فَخَشِيتُ أَنْ تَمُوتَ أَوْ أَمُوتَ قَبْلَ أَنْ أَسْمَعَهُ. قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ يَقُولُ: يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَوْقَالَ الْعِبَادُ عُرَاةً غُرْلًا بُهْمًا. قَالَ: قُلْنَا: وَمَا بُهْمًا؟ قَالَ: لَيْسَ مَعَهُمْ شَيْءٌ، ثُمَّ يُنَادِيهِمْ بِصَوْتٍيَسْمَعُهُ مِنْ قُرْبٍ: أَنَا الْمَلِكُ أَنَا الدَّيَّانُ وَلَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ مِنْ أَهْلِ النَّارِ أَنْ يَدْخُلَ النَّارَ وَلَهُ عِنْدَ أَحَدٍ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَقٌّ حَتَّى أَقُصَّهُ مِنْهُ، وَلَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ أَنْ يَدْخُلَ الْجَنَّةَ وَلِأَحَدٍ مِنْ أَهْلِ النَّارِ عِنْدَهُ حَقٌّ حَتَّى أَقُصَّهُ مِنْهُ حَتَّى اللَّطْمَةُ. قَالَ: قُلْنَا: كَيْفَ وَإِنَّا إِنَّمَا نَأْتِي اللهَ عَزَّ وَجَلَّ عُرَاةً غُرْلًا بُهْمًا؟ قَالَ: بِالْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ

“Telah sampai kepadaku sebuah hadits dari seseorang yang langsung mendengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (sedangkan aku tidak mendengar dari Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, –pen).”

Jabir berkata, “Aku pun bersegera membeli seekor unta. Aku persiapkan bekal perjalananku dan aku tempuh perjalanan satu bulan untuk menemuinya, hingga sampailah aku ke Syam. Ternyata orang tersebut adalah Abdullah bin Unais.”

Aku berkata kepada penjaga pintu rumahnya, “Sampaikan kepada tuanmu bahwa Jabir sedang menunggu di pintu.”

Penjaga itu masuk dan menyampaikan pesan itu kepada Abdullah bin Unais. Abdullah bertanya, “Jabir bin Abdillah?”

Aku menjawab, “Ya, benar!”

(Begitu tahu kedatanganku), Abdullah bin Unais bergegas keluar, lalu dia merangkulku dan aku pun merangkulnya.”

Aku berkata kepadanya, “Telah sampai kepadaku sebuah hadits, dikabarkan bahwa engkau mendengarnya langsung dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang qishash (pembalasan atas kezaliman di hari kiamat, –pen.). Saya khawatir engkau meninggal terlebih dahulu atau aku yang lebih dahulu meninggal sementara aku belum sempat mendengarnya.”

Abdullah bin Unais berkata, “Saya telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Seluruh manusia atau hamba nanti akan dikumpulkan di hari kiamat dalam keadaan telanjang, tidak berkhitan, dan buhma.’

Kami bertanya, ‘Apa itu buhma?’

Beliau menjawab, ‘Tidak membawa apa pun.

Kemudian Allah ‘azza wa jalla menyeru mereka dengan suara yang semua mendengar, ‘Aku adalah al-Malik (Maharaja)! Aku adalah ad-Dayyan (Yang Maha Membalas amalan hamba)! Tidaklah pantas bagi siapa pun dari kalangan penghuni neraka untuk masuk ke dalam neraka sementara masih ada hak penghuni surga pada dirinya hingga Aku mengqishashnya (yakni diselesaikan hak penghuni surga itu darinya). Tidak pantas pula bagi siapa pun dari kalangan penghuni surga untuk masuk ke dalam surga sementara masih ada hak penghuni neraka pada dirinya hingga Ku-selesaikan hak penghuni neraka itu darinya, meskipun hanya sebuah tamparan.”

Kami bertanya, “Bagaimana caranya menunaikan hak mereka sedangkan kita menemui Allah k dalam keadaan tidak berpakaian, tidak berkhitan, dan tidak memiliki apa pun?”

Nabi menjawab, “Diselesaikan dengan kebaikan dan kejelekan yang kita miliki.”

 

Takhrij Hadits

Kisah perjalanan Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu dari Madinah menuju Abdullah bin Unais radhiallahu ‘anhu di negeri Syam, diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah dalam al-Musnad (3/495), al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad (No. 970), al-Hakim dalam al-Mustadrak (4/574), demikian pula al-Baihaqi dalam al-Asma hlm. 78—79.

Semua meriwayatkan kisah ini melalui jalan Hammam bin Yahya, dari al-Qasim bin Abdul Wahid al-Makki, dari Abdullah bin Muhammad bin Aqil, dari Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu.

Ibnu ‘Aqil seorang yang hasan haditsnya.

Al-Qasim bin Abdul Wahid dihukumi tsiqah hanya oleh Ibnu Hibban. Sementara itu, Abu Hatim ar-Razi mengatakan tentangnya, “Yuktabu haditsuhu.”

Al-Hakim berkata tentang hadits ini, “Shahihul isnad (sanadnya sahih),” dan disepakati oleh Adz-Dzahabi.

Al-Hafizh al-Mundziri berkata tentang hadits ini, “Diriwayatkan oleh Ahmad dengan sanad hasan.”

Hadits perjalanan Jabir mengunjungi Abdullah bin Unais diriwayatkan oleh al-Bukhari secara mu’allaq[1] dalam Shahih-nya dengan jazm. Ibnu Hajar rahimahullah mengomentari dalam al-Fath (1/159), “(Diriwayatkan dengan shigat jazm, -pen) karena hadits ini hasan, dan hadits ini dikuatkan).”

Ibnu Hajar rahimahullah kemudian menyebutkan jalan-jalan hadits ini, “Hadits ini memiliki jalan lain yang dikeluarkan oleh ath-Thabarani dalam Musnad Syamiyyin, dan (diriwayatkan pula oleh) Tamam dalam Fawaid-nya melalui jalan al-Hajjaj bin Dinar, dari Muhammad bin al-Munkadir, dari Jabir…, sanadnya shalih.

Hadits ini memiliki jalan ketiga yang dikeluarkan oleh al-Khathib dalam kitabnya, ar-Rihlah, dari jalan al-Jarud al-’Ansi dari Jabir, namun dalam sanadnya ada kelemahan.

Hadits di atas dengan semua jalannya sahih insya Allah, sebagaimana disimpulkan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Zhilalil Jannah fi Takhrij as-Sunnah, hlm. 237. Wallahu a’lam.

 

Perjalanan yang Menakjubkan

Perjalanan panjang yang sangat menakjubkan! Satu bulan perjalanan ditempuh hanya untuk sebuah hadits yang bisa dibaca tidak lebih dari lima menit. Subhanallah.

Demi mendengarkan hadits ini secara lengkap dan utuh melalui sumber yang langsung mendengar dari lisan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Jabir mengencangkan ikat pinggang, menembus panas sahara meninggalkan kota Madinah menuju negeri Syam. Ia menjumpai Abdullah bin Unais radhiallahu ‘anhu, sang pemilik hadits.

Demikian agung nilai sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di mata generasi terbaik umat ini. Para sahabat benar-benar memandang bahwa satu kalimat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih baik dari dunia dan seisinya, bahkan tidak bisa dibandingkan. Demikian pula seharusnya cara pandang seorang muslim terhadap sabda-sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Karena besarnya nilai ilmu itulah, sudah sepantasnya jalan-jalan yang panjang ditempuh demi meraihnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda tentang keutamaan menempuh jalan menuntut ilmu,

وَمَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ طَرِيْقًا إِلَى الجَنَّةِ

“Barang siapa menempuh jalan meraih ilmu (al-Kitab dan as-Sunnah) niscaya akan Allah ‘azza wa jalla mudahkan jalan baginya menuju jannah.” (HR. Muslim no. 1390)

Melakukan rihlah (perjalanan jauh) menuntut ilmu telah menjadi kebiasaan ulama pendahulu umat ini baik dari kalangan sahabat maupun sesudahnya. Salaf (pendahulu) umat ini memahami benar bahwa ilmu itu harus dicari dan didatangi, tidak datang dengan sendirinya! Ilmu dicapai dengan upaya, bukan ditunggu dengan berleha-leha. Perjalanan panjang menuntut ilmu telah dicontohkan oleh Nabi Musa ‘alaihissalaam dalam perjalanan panjangnya bersama Khidhir yang diabadikan dalam surat al-Kahfi. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya, “Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun.” (al-Kahfi: 60)

Dalam riwayat-riwayat sirah (sejarah) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun kita dapatkan contoh yang sangat banyak. Para sahabat yang berdatangan dari segala penjuru menuju kota Madinah untuk belajar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam atau menanyakan problem yang mereka hadapi, kemudian kembali ke kampung halaman masing-masing mendakwahkan ilmu yang telah ditimba.

Sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat terus bersemangat melakukan perjalanan menimba ilmu, sebagaimana semangat mereka menyebarkannya kepada umat. Hal ini bisa dilihat pada kisah Jabir bin Abdullah bersama Abdullah bin Unais radhiallahu ‘anhuma di atas.

Jejak generasi terbaik diikuti oleh para tabi’in, atbaut tabi’in, dan ulama setelah mereka. Tidak sedikit dari mereka yang menempuh perjalanan yang begitu jauh untuk menuntut ilmu.

Al-Imam Abu Hatim ar-Razi rahimahullah mengatakan bahwa dirinya pernah berjalan kaki lebih dari 1.000 farsakh. Padahal satu farsakh lebih dari 5 km, belum lagi perjalanan beliau menaiki kendaraan.

Setiap kali membaca biografi ulama, kita dapatkan sejarah perjalanan mereka menuntut ilmu, baik berjalan kaki maupun berkendaraan, menuju Makkah, Madinah, Baghdad, Yaman, Mesir, Damaskus, dan negeri-negeri lain yang menjadi pusat ilmu kala itu.

Baqi bin Makhlad al-Andalusi rahimahullah melakukan perjalanan dari Andalusia ke Afrika lalu menuju Baghdad untuk belajar kepada al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah.

Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah sendiri telah melakukan perjalanan yang begitu jauh. Ibnu Jauzi rahimahullah mengatakan, “Al-Imam Ahmad pernah mengelilingi dunia dua kali sampai ia menyusun kitab al-Musnad.”

Ilmu al-Kitab dan as-Sunnah memang demikian mahal. Sungguh, untuk meraihnya harus ditempuh jalanjalannya, baik jalan yang bersifat indrawi seperti berjalan menuju masjid dan menghadiri majelis-majelis ilmu, maupun jalan yang sifatnya maknawi seperti duduk membaca kitab-kitab ulama dan berusaha memahaminya.

Barang siapa menempuh jalan tersebut, Allah ‘azza wa jalla akan mudahkan baginya jalan menuju jannah. Sebab, hanya dengan ilmu syar’i itulah seorang mengenal hak-hak Allah ‘azza wa jalla, mengenal nama-nama Allah ‘azza wa jalla dan sifat-sifat-Nya Yang Mahaagung, serta mengerti tauhid dan kesyirikan.

Dengan ilmu syar’i itu pula Anda akan mengerti hukum-hukum Allah ‘azza wa jalla yang terkait dengan diri Anda atau orang lain. Anda akan mengetahui cara bersuci, shalat, dan seterusnya. Anda akan mengerti pula apa yang diperintahkan dan yang dilarang-Nya. Anda akan mampu membedakan antara yang haq dan yang batil.

Dengan menuntut ilmu syariat, jalan pun menjadi terang dan segala kebaikan akan diraih. Hal ini dijanjikan oleh sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

“Siapa yang Allah ‘azza wa jalla kehendaki kebaikan atasnya, Allah ‘azza wa jalla akan pahamkan dia dalam agama.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Jika seorang telah mengetahui betapa agungnya ilmu syar’i, sudah sepantasnya ia bersegera mempergunakan kesempatan. Lebih-lebih masa muda, saat segala kemampuan dimiliki dan belum datang kesibukan serta masa tua.

 

Rihlah untuk Membela Hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Kedustaan

Bukan hanya rihlah menuntut hadits yang sahih, para ulama pun rela menempuh perjalanan jauh untuk meneliti keabsahan suatu hadits. Makar-makar musuh Islam pun terbongkar, pintalanpintalannya terurai.

Ibnul Jauzi rahimahullah menyebutkan sebuah riwayat dalam kitabnya, al-Maudhu’at, tentang terbongkarnya kepalsuan hadits Ubai bin Ka’b tentang fadhail al-Qur’an. Beliau berkata, “… Dari Mahmud bin Ghailan[2] dia berkata, Aku mendengar Muammal berkata, Seorang syaikh menyampaikan kepadaku (hadits) fadhail surat-surat al-Qur’an yang diriwayatkan dari Ubai bin Ka’b radhiallahu ‘anhu. Aku bertanya kepadanya, ‘Siapa yang menyampaikan kepadamu?’ Dia berkata, ‘Seorang syaikh di negeri Mada’in, dia masih hidup.’

(Muammal berkata,) aku pun pergi kepadanya dan bertanya, ‘Siapa yang menyampaikan kepadamu?’ Dia menjawab, ‘Seorang syaikh di negeri Wasith dan dia masih hidup.’

Aku pun pergi kepadanya dan bertanya, ‘Siapa yang menyampaikan kepadamu?’ Dia menjawab, ‘Seorang syaikh di negeri Bashrah.’

Aku pergi kepadanya. Dia berkata, ‘Yang menyampaikan kepadaku adalah seorang syaikh dari negeri Ba’adan.’

Aku pun menjumpai syaikh tersebut. (Ketika aku telah bertemu dengannya di Ba’adan, aku tanyakan, siapa yang menyampaikan hadits ini?) Dia pun meraih tanganku dan membawaku masuk ke dalam sebuah rumah yang ternyata terdapat sejumlah penganut sufi beserta seorang syaikh. Dia berkata, ‘Syaikh inilah yang menyampaikan hadits (Ubai bin Ka’b radhiallahu ‘anhu kepadaku).’

Aku (Muammal) bertanya pada syaikh (sufi), ‘Siapa yang menyampaikan hadits ini?’ Dia berkata, ‘Tidak ada seorang pun menyampaikannya kepadaku. Akan tetapi, kami menyaksikan manusia lari darial-Qur’an, maka kami membuat (baca: memalsukan) hadits untuk (kebaikan) manusia agar mereka mau kembali pada al-Qur’an’.” (al-Maudhu’at [1/239—241])

Perhatikanlah kesungguhan ahlul hadits memperjuangkan agama Allah ‘azza wa jalla dan membela sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan cara membersihkan hadits Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dari kepalsuan. Seorang dari mereka bersedia berjalan jauh, berkeliling ke berbagai negeri, hanya untuk meneliti kebenaran sebuah hadits. Semoga Allah ‘azza wa jalla mengumpulkan kita bersama mereka dalam jannah-Nya yang penuh kenikmatan.

 

Keadaan Umat yang Menyedihkan

Apa yang kita kisahkan di atas demikian indah. Namun, keadaannya terbalik dengan kebanyakan kaum muslimin di akhir zaman, termasuk di negeri kita.

Saat ini, jarang terlihat sosok muslim duduk bersimpuh di hadapan Allah ‘azza wa jalla membaca kalam-Nya. Sangat sukar didapatkan pemandangan seorang muslim membaca hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, menghafalkannya, dan mentadaburi makna yang terkandung di dalamnya.

Lihatlah para pemuda generasi Islam di sekitar kita. Apakah mereka menekuni shalat lima waktu yang Allah ‘azza wa jalla wajibkan atas manusia? Betapa banyak pemudapemudi menyia-nyiakan shalat. Jarang ada pemuda yang mengisi shaf-shaf shalat lima waktu di masjid.

Lihat pula generasi muda umat ini, kesibukan apa yang sering mereka tekuni? Ternyata banyak di antara mereka disibukkan dengan pergaulan bebas dan dunia maya. Bukan masjid-masjid Allah ‘azza wa jalla yang didatangi, melainkan tempat hiburan, keramaian, dan kemaksiatan yang mereka gandrungi. Pemandangan yang sangat menyesakkan dan berat untuk diceritakan. Nasalullah as-salamah wal ‘afiyah.

Di sisi lain, kaum muslimin bercerai-berai. Umat dikotak-kotakkan dalam banyak partai politik setelah terpecah-pecah dalam aliran dan sekte-sekte Islam.

Mendengar ayat-ayat al-Qur’an dan hadits, mereka menghindar atau pura-pura tidak tahu. Duduk menuntut ilmu seakan-akan tidak mendatangkan apa yang mereka inginkan! Dalam kancah politik, yang ada dalam benak mereka adalah bagaimana mengumpulkan suara sebanyak-banyaknya dan menggapai kursi kedudukan.

Walhasil, banyak kaum muslimin menjadi korban pesta demokrasi. Harta, pikiran, dan tenaga, terkuras habis. Waktu pun terbuang sia-sia tanpa satu ayat atau satu hadits pun dibaca dan ditadaburi.

Wahai kaum muslimin, tidakkah kita sadar, berpaling dari al-Qur’an dan as-Sunnah serta menjauh dari jalan generasi terbaik umat ini (yakni sahabat), adalah salah satu target makar musuh-musuh Islam?

 

Akibat Berpaling dari al-Kitab dan as-Sunnah

Berpaling dari al-Qur’an dan as-Sunnah bukan urusan yang sepele. Masalah ini sangat besar. Akibat yang buruk benar-benar akan dituai oleh mereka yang berpaling dari peringatan Allah ‘azza wa jalla.

Di antara akibat buruknya ialah apa yang Allah ‘azza wa jalla sebutkan,

Barang siapa berpaling dari pengajaran Yang Maha Pemurah (al-Qur’an), Kami adakan baginya setan (yang menyesatkan) maka setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. Dan sesungguhnya setan-setan itu benarbenar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk. Apabila orang-orang yang berpaling itu datang kepada Kami (di hari kiamat), dia berkata, “Aduhai, semoga (jarak) antaraku dan kamu seperti jarak antara timur dan barat, maka setan itu adalah sejahat-jahat teman (yang menyertai manusia).” (Harapanmu itu) sekali-kali tidak akan memberi manfaat kepadamu di hari itu karena kamu telah menganiaya (dirimu sendiri). Sesungguhnya kamu bersekutu dalam azab itu. (az-Zukhruf: 36—39)

Ya, Allah ‘azza wa jalla menguasakan setan atas orang yang berpaling dari al-Qur’an dan as-Sunnah. Allah ‘azza wa jalla menjadikan setan sebagai teman dekatnya yang selalu mengiringinya. Dalam ayat lain,

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” Berkatalah ia, “Ya Rabbku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulu adalah seorang yang melihat?” Allah berfirman, “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu(pula) pada hari ini kamu pun dilupakan.” (Thaha: 124—126)

Jangan engkau sangka mereka yang sibuk dengan dunia, sibuk memburu kursi dalam ajang pesta demokrasi merasakan kebahagiaan. Tidak, demi Allah! Perjalanan pencari dunia akan terputus, diakhiri dengan kekecewaan dan kebinasaan.

Layaknya seorang yang berjudi, para pencari kekuasaan mempertaruhkan seluruh sumber daya yang dimiliki hanya demi sebuah kursi.

Segala cara ditempuh: berdusta, mengumbar janji, praktik suap, menghidupkan premanisme, mencela dan menjatuhkan lawan politik, menebarkan kecurigaan dan kebencian kepada saudara seiman, dan akibat-akibat buruk lain yang tidak samar bagi setiap yang berakal. Lebih menyedihkan lagi ketika praktik-praktik perdukunan juga makin merebak seiring trend mencalonkan diri sebagai calon anggota legislatif. Agama tidak lagi dijaga, bahkan kini dijual semurah-murahnya demi sebuah kata: Kursi!

 

Oleh-Oleh Perjalanan Sahabat Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu

Berbeda halnya dengan perjalanan Jabir radhiallahu ‘anhu menuntut ilmu. Perjuangan beliau dikenang sepanjang masa. Ilmu yang beliau cari di negeri Syam dengan perjalanan panjangnya sungguh tidak sia-sia, sebagaimana sia-sianya harta para pencari dunia dan kekuasaan.Setiap langkah menuju ilmu dicatat sebagai amalan kebaikan. Hadits yang diperoleh Jabir radhiallahu ‘anhu dalam perjalanan itu pun terus dikenang dan dibaca kaum muslimin yang tidak terhingga jumlahnya hingga hari kiamat, terus diambil manfaatnya, diriwayatkan para ulama…

Pahala pun terus mengalir kepada sahabat Jabir bin Abdillah dan Abdullah bin Unais radhiallahu ‘anhuma, insya Allah. Hal ini sebagaimana janji Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau,

إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْ لَهُ

“Jika anak Adam mati maka terputuslah semua amalannya kecuali tiga hal: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim no. 1389 dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Berkatalah ia, “Ya Rabbku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulu adalah seorang yang melihat?” Allah berfirman, “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka

kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada

hari ini kamu pun dilupakan.”

Sungguh, keadaan kaum muslimin secara umum dan negeri ini secara  khusus akan terus menyedihkan jika tidak bersegera kembali kepada al-Kitab dan as-Sunnah, serta meniti jejak sahabat dalam memahami keduanya.

Wahai kaum muslimin, marilah kita kembali kepada kejayaan Islam dengan kembali mempelajari al-Kitab dan as-Sunnah. Kembali meniti jalan para sahabat dalam memahami dan mengamalkan Islam.

Kaum muslimin harus segera bangun dari tidur yang lelap. Mereka harus menyadari betapa besar makar musuh-musuh Islam menjauhkan kaum muslimin dari agamanya.

Di akhir majelis, kita ingatkan sebuah sabda yang sangat agung tentang jalan kejayaan bagi umat. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللهُ عَلَيْكُمْ ذُلًّا يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِيْنِكُمْ

“Apabila kalian telah berjual beli dengan cara al-’inah (jenis jual beli riba, -pen), telah mengambil ekor-ekor sapi, telah ridha dengan perkebunan, dan meninggalkan jihad, Allah akan menimpakan kehinaan kepada kalian. Allah ‘azza wa jalla tidak akan mencabutnya sampai kalian kembali kepada agama kalian.” (HR. Abu Dawud dan lain-lainnya dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam ash-Shahihah no. 11)

Itulah jalan kejayaan. Menempuh jalan-jalan meraih ilmu al-Kitab dan as-Sunnah, sebagaimana halnya Jabir radhiallahu ‘anhu menempuhnya.

 

Beberapa Faedah

  1. 1. Hadits ini menunjukkan keutamaan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai kaum yang sangat bersemangat menuntut ilmu, menyebarkannya, dan sangat mengagungkan al-Qur’an dan as-Sunnah.
  2. 2. Di antara adab menuntut ilmu adalah mencurahkan segala potensi dan kemampuan, harta, tenaga, dan waktu untuk menimba ilmu, seperti halnya yang dicontohkan oleh Jabir bin Abdilah radhiallahu ‘anhu.

Al-Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan dalam Shahih-nya ucapan indah dari Yahya bin Abi Katsir rahimahullah,

لاَ يُسْتَطَاعُ الْعِلْمُ بِرَاحَةِ الْجِسْمِ

“Ilmu tidak akan dicapai dengan santainya badan.” (HR. Muslim)

  1. Pentingnya tatsabbut (meneliti) berita-berita yang datang, lebih-lebih jika berita tersebut terkait dengan agama, terkait dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  2. Hadits ini menerangkan salah satu adab bertamu, yaitu al-isti’dzan (meminta izin).

Di antara hikmah disyariatkannya meminta izin sebelum masuk ke rumah orang lain adalah menjaga pandangan mata dari hal-hal yang tidak baik atau tidak pantas untuk dilihat.

  1. 5. Hadits di atas merupakan salah satu contoh riwayat sahabat dari sahabat yang lain.
  2. 6. Mengingat kematian menjadi penyemangat seorang muslim untuk bersegera melakukan amalan saleh dan meninggalkan kemaksiatan kepada Allah ‘azza wa jalla.

Dalam kisah di atas, Jabir radhiallahu ‘anhu berkata kepada Abdullah bin Unais radhiallahu ‘anhu,

فَخَشِيتُ أَنْ تَمُوتَ أَوْ أَمُوتَ قَبْلَ أَنْ أَسْمَعَهُ

“Saya khawatir engkau meninggal terlebih dahulu atau aku yang lebih dulu meninggal, sementara itu aku belum sempat mendengarnya.”

  1. Hadits ini menetapkan nama Allah ‘azza wa jalla al-Malik dan ad-Dayyan. Al-Malik artinya adalah Yang Maha Menguasai (Maharaja) dan ad-Dayyan artinya adalah Yang Maha memberikan balasan.
  2. Hadits ini menetapkan sifat “kalam” (berbicara) bagi Allah ‘azza wa jalla.
  3. Penduduk mahsyar mendengar firman Allah ‘azza wa jalla.
  4. Hadits di atas menetapkan adanya qishash di hari kiamat yang menunjukkan kemahaadilan Allah ‘azza wa jalla. Tidak ada sedikit pun perkara kezaliman kecuali akan diselesaikan oleh Allah ‘azza wa jalla di hari kiamat walaupun kezaliman tersebut dilakukan seorang penduduk jannah kepada seorang penduduk neraka, Allah ‘azza wa jalla akan menyelesaikannya.
  5. Haramnya segala bentuk kezaliman terhadap siapa pun, termasuk kepada orang-orang kafir.
  6. Kezaliman dan ketidakadilan yang dilakukan oleh seseorang terhadap orang lain, akan dibayar pada hari kiamat dengan pahala yang dia miliki, diberikan kepada orang yang terzalimi.

Apabila tidak ada pahala padanya sementara kezaliman belum terbayar, dosa dari orang yang terzalimi ditimpakan kepada orang yang menzalimi.

Bisa jadi pada awalnya seseorang membawa sekian banyak amalan kebaikan. Namun, karena kezaliman-kezalimannya, kebaikannya habis, kemudian ditimpakan atasnya dosa-dosa orang yang ia zalimi. Ini sebagaimana yang ditunjukkan oleh hadits dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ؟ قَالُوا: الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لاَ دِرْهَمَ لَهُ وَ مَتَاعَ. فَقَالَ: إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا، فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ

“Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut itu?”

Mereka menjawab, “Orang yang bangkrut di kalangan kami adalah yang tidak memiliki dirham dan tidak pula memiliki harta/barang.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa, dan zakat. Namun, ia juga datang membawa dosa kezaliman. Ia pernah mencerca si fulan, menuduh (zina dan lainnya, -pen) tanpa bukti terhadap si fulan, memakan harta si fulan, menumpahkan darah si fulan, dan memukul fulan. Sebagai tebusan atas kezalimannya, diberikanlah sebagian kebaikannya kepada fulan, demikian pula kepada fulan dan fulan. Apabila kebaikannya telah habis dibagi-bagikan kepada orang-orang yang dizaliminya sementara belum semua kezalimannya tertebus, diambillah kejelekan/kesalahan yang dimiliki oleh orang yang dizaliminya lalu ditimpakan kepadanya, kemudian ia dicampakkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim no. 6522)

  1. Manusia kelak akan dibangkitkan lalu dikumpulkan di Padang Mahsyar dalam keadaan tidak berpakaian, tidak berkhitan, dan tidak membawa apa pun.
  2. Pertanyaan murid kepada sang guru mengenai perkara yang belum dipahami dari pembicaraan.

Dalam hadits ini, sahabat bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang makna buhma.

  1. Bolehnya menyambut tamu yang datang dari safar dengan merangkul atau memeluknya.

Al-Imam al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad memberi judul kisah Jabir radhiallahu ‘anhu di atas dengan bab “Mu’anaqah”.


[1] Hadits mu’allaq adalah hadits yang dibuang satu orang perawi atau lebih pada bagian awal sanadnya. Dalam Shahih al-Bukhari, banyak hadits mu’allaq yang disebutkan dalam judul-judul bab yang dibuat al-Bukhari.

[2] Dia adalah Abu Ahmad Mahmud bin Ghailan al-‘Adawi al-Marwazi, tsiqah, meninggal 239 H.

Hukum Menelaah Taurat dan Injil

Al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc.

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ الَّله أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ أَتَى النَّبِيَّ بِكِتَابٍ أَصَابَهُ مِنْ بَعْضِ أَهْلِ الْكُتُبِ فَقَرَأَهُ النَّبِيُّ فَغَضِبَ فَقَالَ: أَمُتَهَوِّكُونَ فِيهَا يَا ابْنَ الْخَطَّابِ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ  لَقَدْ جِئْتُكُمْ بِهَا بَيْضَاءَ نَقِيَّةً لَا تَسْأَلُوهُمْ عَنْ شَيْءٍ فَيُخْبِرُوكُمْ بِحَقٍّ فَتُكَذِّبُوا بِهِ أَوْ بِبَاطِلٍ فَتُصَدِّقُوا بِهِ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ مُوسَى كَانَ حَيًّا مَا وَسِعَهُ إِلَّا أَنْ يَتَّبِعَنِي

Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiallahu ‘anhuma, Suatu saat ‘Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan membawa sebuah kitab yang ia dapatkan dari sebagian Ahli Kitab. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membacanya. Beliau kemudian marah dan bersabda, “Apakah engkau termasuk orang yang bingung, wahai Ibnul Khaththab? Demi Dzat yang jiwaku berada di Tangan-Nya sungguh aku telah datang kepada kalian dengan membawa agama yang putih bersih. Jangan kalian bertanya sesuatu kepada mereka (Ahlul Kitab) karena (boleh jadi) mereka mengabarkan al-haq kepada kalian namun kalian mendustakan al-haq tersebut, atau mereka mengabarkan satu kebatilan lalu kalian membenarkan kebatilan tersebut. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya Musa ‘alaihissalam masih hidup niscaya tidak diperkenan baginya melainkan dia harus mengikutiku.”

 

Horizontal Road

Takhrij Hadits

Hadits yang mulia ini hasan. Diriwayatkan al-Imam Ahmad bin Hanbal dalam Musnad-nya (3/387 no. 14623), melalui jalan guru beliau Suraij bin an-Nu’man dari Husyaim dari Mujalid dari asy-Sya’bi dari Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhuma.

Diriwayatkan pula oleh Ibnu Abi ‘Ashim dalam as-Sunnah (10/27), ad-Darimi (1/115), Ibnu Abdil Barr dalam Jami’ Bayan al-Ilm hlm. 339, al-Baghawi dalam Tafsir-nya, Ma’alim at-Tanzil (1/197), dan dalam Syarhus Sunnah (1/270).

Dalam riwayat al-Baghawi, Umar radhiallahu ‘anhu berkata,

إِنَّا نَسْمَعُ أَحَادِيثَ مِنْ يَهُودٍ تَعَجَّبْنَا، أَفَتَرَى أَنْ نَكْتُبَ بَعْضَهَا؟

“Sesungguhnya kami mendengar beberapa ucapan orang Yahudi yang kami kagum padanya, apakah menurutmu boleh kami mencatat sebagiannya?”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

أَمُتَهَوِّكُونَ أَنْتُمْ كَمَا تَهَوَّكَتِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى؟ لَقَدْ جِئْتُكُمْ بِهَا بَيْضَاءَ نَقِيَّةً، وَلَوْ كَانَ مُوسَى حَيًّا مَا وَسِعَهُ إِلاَّ اتِّبَاعِي

“Apakah kalian adalah orang-orang yang bingung seperti bingungnya Yahudi dan Nasrani? Sungguh, aku telah membawa untuk kalian syariat yang putih dan bersih. Seandainya Musa ‘alaihissalam hidup sekarang ini, maka tidak diperkenankan baginya kecuali harus mengikutiku.”

Sanad hadits Jabir radhiallahu ‘anhu di atas dha’if (lemah) dengan sebab Mujalid. Al-Haitsami berkata, “Dalam hadits ini ada Mujalid bin Sa’id, dia dilemahkan oleh Ahmad, Yahya bin Sa’id, dan selainnya.” (Majma’ Zawaid, 1/174)

Hadits ini memiliki banyak syawahid (penguat) di antaranya riwayat dalam Musnad Abu Ya’la al-Mushili (2/426—427), dan dinyatakan hasan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Irwaul Ghalil (6/338—340 no. 1589; 6/34—38 no. 1589).

 

Makna Hadits

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah semulia-mulianya pendidik, sebagaimana sahabatsahabat beliau adalah seutama-utamanya generasi.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam demikian bersemangat dalam menanamkan akidah kepada umatnya. Beliau dorong mereka untuk memusatkan perhatian dan mencurahkan segala upaya dalam mempelajari al-Qur’an dan Sunnah Rasul sebagai rujukan utama agama.

Beliau juga memberikan peringatan keras dari perkara-perkara yang bisa memalingkan manusia dari al-Qur’an. Termasuk apa yang ada dalam hadits Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhuma.

Inilah salah satu pilar terjaganya syariat Islam, terjaganya al-Qur’an dan as-Sunnah; semangat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebarkan risalah dan semangat para sahabat dalam mempelajari juga menyebarkan al-Qur’an dan as-Sunnah ke seluruh penjuru dunia.

Hadits Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhuma juga mengandung larangan bagi seorang muslim untuk membaca, menelaah, atau mencatat berita-berita Ahlul Kitab, Yahudi, dan Nasrani.

Ya, hadits di atas lahiriahnya larangan dari membaca dan mempelajari Taurat dan Injil, agar seseorang tidak dipalingkan dari mempelajari al-Qur’an dan agar selamat dari kebatilan yang telah disisipkan dalam Injil dan Taurat, yang sudah tidak murni lagi seperti di zaman Nabi Musa dan Isa ‘alihima assalam.[1]

 Tarbiyah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam benar-benar membekas pada diri-diri sahabat. Segenap waktu dan tenaga mereka curahkan untuk mempelajari al-Qur’an dari segala sisinya, dan mereka tidak disibukkan oleh membaca kitab-kitab dan berita Ahlul Kitab.

Pesan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga diajarkan sahabat kepada murid-murid mereka, para tabiin. Dalam sebuah atsar disebutkan,

أَنَّ أَباَ قُرَّةٍ الْكِنْدِي أَتَى ابْنَ مَسْعُودٍ بِكِتَابٍ، فَقَالَ: إِنِّي قَرَأْتُ هَذَا بِالشَّامِ فَأَعْجَبَنِي، فَإِذَا هُوَ كِتَابٌ مِنْ كُتُبِ أَهْلِ الْكِتَابِ، فَقَالَ ابْنُ مَسْعُودٍ: إِنَّمَا أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِاتِّبَاعِهِمْ الْكُتُبَ وَتَرْكِهِمْ كِتَابَ اللهِ. فَدَعاَ بِطَسْتٍ وَمَاءٍ فَوَضَعَهُ فِيهِ وَأَمَاثَهُ بِيَدِهِ حَتَّى رَأَيْتُ سَوَادَ الْمِدَادِ

Abu Qurrah al-Kindi menjumpai Ibnu Mas’ud dengan membawa sebuah kitab. Abu Qurrah berkata, “Aku membaca kitab ini di Syam, aku pun terkagum, ternyata ini salah satu kitab dari kitabkitab Yahudi dan Nasrani!”

Ibnu Mas’ud berkata, “Sungguh umat-umat sebelum kalian binasa karena sibuk dengan kitab-kitab (yang telah bercampur dengan kebatilan, -pen.) dan meninggalkan Kitab Allah!”

Kemudian Ibnu Mas’ud minta didatangkan baskom berisi air dan beliau rendam kitab itu di dalamnya, beliau remas-remas hingga aku lihat air menghitam karena tinta.

 

Bukan Berarti Semua yang datang dari Ahlul Kitab Batil

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang Umar radhiallahu ‘anhu dan umatnya membaca atau menukil sebagian dari isi kitab yang datang dari ahli kitab tersebut, bukan karena beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingkari kebenaran yang kadang mereka sampaikan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang karena beliau telah membawa syariat yang sempurna yang telah cukup bagi umatnya sehingga tidak perlu mengambil alternatif lainnya.

Sebagai penutup para rasul, Allah ‘azza wa jalla menjadikan syariat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai penutup seluruh syariat. Sudah menjadi sebuah kepastian bahwasanya Allah ‘azza wa jalla menurunkan al-Qur’an sebagai kitab yang sempurna, menerangkan segala yang dibutuhkan, cocok di setiap zaman dan keadaan, dan dijaga kemurniannya hingga kiamat kelak.

Segala sesuatu dalam syariat nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah Allah ‘azza wa jalla terangkan dengan jelas dan terang seperti yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sabdakan dalam hadits di atas,

لَقَدْ جِئْتُكُمْ بِهَا بَيْضَاءَ نَقِيَّةً

“Sungguh aku telah datang kepada kalian dengan membawa agama yang putih bersih.”

Demikianlah al-Qur’an, tidak ada satu kebaikan pun kecuali al-Qur’an telah menyebutkannya, menjelaskannya, dan mendorong manusia untuk mencapainya. Tidak pula ada kejelekan kecuali al-Qur’an telah memperingatkan darinya dan menjelaskan tentang kejelekannya.

Semua kebaikan yang ada dalam kitab-kitab atau syariat yang telah lalu pun telah termuat dalam al-Qur’an sebagaimana ditunjukkan dalam firman Allah ‘azza wa jalla,

“Dan Kami telah turunkan kepadamu al-Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu. Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang….(al-Maidah: 48)

Alasan lain beliau melarang umat membaca buku-buku ahlul kitab, kekhawatiran beliau akan terjatuhnya umat ini dalam penyimpangan, menganggap kebenaran yang mereka bawa sebagai kebatilan, dan menganggap kebatilan yang mereka bawa sebagai kebenaran.

Pembaca rahimakumullah, hadits Jabir radhiallahu ‘anhu dalam majelis kali ini adalah salah satu dalil yang menunjukkan tidak diperbolehkanmya seorang membaca kitab Taurat dan Injil yang saat ini telah berubah jauh dari aslinya dan memuat kebatilan yang bersumber dari tangantangan manusia.

Secara lebih rinci, dalam masalah ini sesungguhnya ada dalil lain yang secara lahiriah menunjukkan bolehnya membaca Taurat dan Injil. Tentu saja sepintas dalil tersebut bertolak belakang dengan hadits Jabir. Oleh karena itu, ada baiknya kita ketengahkan dua kelompok dalil tersebut kemudian kita melihat cara mengompromikannya, wa billahit taufiq.

 

Dalil-Dalil yang Secara Lahiriah berisi Larangan Membaca Taurat dan Injil

Dalil pertama adalah hadits Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhuma tentang kisah Umar radhiallahu ‘anhu yang telah kita jelaskan takhrij haditsnya.

Dalil kedua,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: كَانَ أَهْلُ الْكِتَابِ يَقْرَءُونَ التَّوْرَاةَ بِالْعِبْرَانِيَّةِ وَيُفَسِّرُونَهَا بِالْعَرَبِيَّةِ لِأَهْلِ الْإِسْلَامِ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ: لَا تُصِدِّقُوا أَهْلَ  الْكِتَابَ وَلَا تُكَذِّبُوهُمْ، وَقُولُوا: آمَنَّا بِاللهِ وَمَا أُنْزِلَ الْآيَةُ

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhuma beliau berkata, “Dahulu Ahlul kitab membaca Taurat dengan bahasa Ibrani dan mereka tafsirkan dengan bahasa Arab kepada ahlul Islam (muslimin).” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jangan kalian percayai mereka jangan pula kalian dustakan namun katakanlah (seperti dalam ayat):

Katakanlah (hai orang-orang mukmin), ‘Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Ya’kub, dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Rabbnya. Kami tidakmembeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.’ (al-Baqarah: 136)

Hadits ini sahih, diriwayatkan oleh al-Bukhari melalui jalan Yahya bin Abi Katsir dari Abu Salamah dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu. (Fathul Bari 5/291 dan 8/170) Diriwayatkan pula oleh al-Baihaqi dalam Sunan al-Kubra (10/163).

Dalil ketiga,

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: يَا مَعْشَرَ الْمُسْلِمِينَ، كَيْفَ تَسْأَلُونَ أَهْلَ الْكِتَابِ وَكِتَابُكُمُ الَّذِي أُنْزِلَ عَلَى نَبِيِّهِ أَحْدَثُ الْأَخْبَارِ باِللهِ تَقْرَءُونَهُ لَمْ يشب وَقَدْ حَدَّثَكُمُ اللهُ أَنَّ أَهْلَ الْكِتَابِ بَدَّلُوا مَا كَتَبَ اللهُ وَغَيَّرُوا بِأَيْدِيهِمُ الْكِتَابَ، فَقَالُوا: هُوَ مِنْ عِنْدِ اللهِ، لِيَشْتَرُوا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا؛ أَفَلَا يَنْهَاكُمْ مَا جَاءَكُمْ مِنَ الْعِلْم عَنْ مُسَاءَلَتِهِمْ وَلاَ وَاللهِ مَا رَأَيْنَا مِنْهُمْ رَجُلًا قَطُّ يَسْأَلُكُمْ عَنِ الَّذِي أُنْزِلَ عَلَيْكُمْ

Dari Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma beliau berkata, “Wahai sekalian kaum muslimin, mengapa kalian bertanya kepada Ahlul Kitab sementara Kitab kalian (al-Qur’an) yang Allah turunkan kepada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah kitab yang terbaru (terakhir turun) dari sisi Allah, dan kalian membacanya, bukankah Allah telah mengabarkan bahwa Ahlul Kitab telah mengubahrubah syariat yang Allah wajibkan atas mereka, dan mereka ubah kitab Allah dengan tangan-tangan mereka kemudian mereka berkata (seperti yang Allah ‘azza wa jalla kabarkan). Apakah tidak ada ilmu yang datang kepada kalian yang melarang kalian dari bertanya-tanya kepada Ahlul Kitab? Tidak! Demi Allah, aku tidak pernah melihat salah satu dari mereka (Ahlul Kitab) bertanya kepada kalian tentang al-Qur’an! (Mengapa kalian justru bertanya kepada mereka? –pen)

Atsar Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma ini diriwayatkan al-Bukhari (Fathul Bari 5/291), dari guru beliau Yahya bin Bukair, diriwayatkan pula oleh Ibnu Abdil Barr dalam Jami Bayan al-‘Ilm (2/41).

Dalil keempat,

لَا تَسْأَلُوا أَهْلَ الْكِتَابِ فَإِنَّهُمْ لَنْ يَهْدُوكُمْ وَقَدْ ضَلُّوا

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu, beliau berkata, “Jangan kalian bertanya kepada Ahlul Kitab karena mereka tidak akan membimbing kalian bahkan mereka telah sesat.”

Atsar Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu ini diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Barr dalam Jami Bayan al-Ilm (2/41). Berkata Ibnu Hajar al-Asqalani, “Diriwayatkan oleh Abdur Razaq melalui jalan Huraits bin Dhahir, dan diriwayatkan pula oleh Sufyan ats-Tsauri melalui jalan ini dan sanad haditsnya hasan.” (Fathul Bari 6/334)

Atsar Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu ini sebenarnya diriwayatkan secara marfu’ dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam namun yang benar riwayatnya mauquf, Allahu a’lam.

 

Dalil-Dalil yang Secara Lahiriah Menunjukkan Bolehnya Membaca Taurat dan Injil

“Maka jika kamu (Muhammad) berada dalam keragu-raguan tentang apa yang Kami turunkan kepadamu, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca kitab sebelum kamu. Sesungguhnya telah datang kebenaran kepadamu dari Rabbmu, sebab itu janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu.” (Yunus: 94)

Berkatalah orang-orang kafir, “Kamu bukan seorang yang dijadikan Rasul.”  Katakanlah, “Cukuplah Allah menjadi saksi antaraku dan kamu dan antara orang yang mempunyai ilmu al-Kitab.” (ar-Ra’d: 43)

عَنْ أَبِي كَبْشَةَ السَّلُولِي، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو قَال: قَالَ رَسُولُ اللهِ : بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آَيَةً، وَحَدِّثُوا عَن بَنِي إِسْرَائِيلَ وَلَا حَرَجَ، وَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

Dari Abu Kabsyah as-Saluli dari Abdullah bin ‘Amr radhiallahu ‘anhuma beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sampaikan dariku walaupun satu ayat, sampaikan berita dari Bani Israil, tidak mengapa. Barang siapa berdusta atasku dengan sengaja, hendaknya dia menempatkan dirinya dalam neraka.” (HR. at-Tirmidzi, beliau katakan, “Hadits hasan sahih.”)

عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ قَالَ: لَقِيتُ عَبْدَ اللهِ بْنَ عَمْرِو بْنَ الْعَاصِ قُلْتُ: أَخْبِرْنِي عَنْ صِفَةِ رَسُولِ اللهِ فِي التَّوْرَاةِ. قَالَ: أَجَلْ، وَاللهِ، إِنَّهُ لَمَوصُوفٌ فِي التَّوْرَاةِ بِبَعْضِ صِفَتِهِ فِي الْقُرْآنِ: يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا، وَحِرْزًا لِلْأُمِّيِّيْنَ، أَنْتَ عَبْدِي وَرَسُولِي، سَمَّيْتُكَ الْمُتَوَكِّلَ، لَيْسَ بِفَظٍّ وَلَا غَلِيظٍ وَلاَ صَخَّابٍ فِي الْأَسْوَاقِ، وَلَا يَدْفَعُ بِالسَّيِّئَةِ السَّيِّئَةَ وَلَكِنْ يَعْفُو وَيَغْفِرُ، وَلَنْ يَقْبِضَهُ اللهُ حَتَّى يُقِيمَ بِهِ الْمِلَّةَ الْعَوْجَاءَ بِأَنْ يَقُولُوا: لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَيَفْتَحُ بِهَا أَعْيُنًا عُمْيًا وَأَذَانًا صُمًّا وَقُلُوبًا غُلْفًا.

Dari Atha’ bin Yasar, Aku bertemu dengan Abdullah bin Amr bin al-Ash radhiallahu ‘anhuma, aku bertanya, “Kabarkan kepadaku tentang sifat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam Taurat.”

Kata Abdullah bin Amr, “Baiklah, demi Allah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam disebut sifatnya dalam at-Taurat dengan sebagian sifat yang telah tersebut dalam al-Qur’an,  ‘Wahai nabi, sesungguhnya kami utus engkau sebagai saksi, pemberi kabar gembira, dan peringatan.’ (al- Ahzab: 45)

‘Juga sebagai pelindung bagi kaum yang ummi. Engkau adalah hamba-Ku dan Rasul-Ku. Aku beri nama engkau al-Mutawakkil, bukan seorang yang keras dan kasar, tidak pula berkata kotor di pasar-pasar, tidak membalas kejelekan dengan kejelekan tetapi memaafkan, dan Allah ‘azza wa jalla tidak mewafatkannya hingga Allah ‘azza wa jalla tegakkan dengan beliau agama dan manusia mengucapkan kalimat: Laa ilaahailallah… dengan diutusnya ia, Allah ‘azza wa jalla bukakan mata-mata yang buta, telinga telinga yang tuli dan hati-hati yang terkunci…’.”

Atsar ini diriwayatkan al-Bukhari di dua tempat dalam Shahih-nya, pertama dalam Kitab al-Buyu’ (Perdagangan) Bab “Dibencinya Sakhab/Membuat Kegaduhan/Berteriak dalam Pasar”; kedua dalam kitab at-Tafsir no. 4838 no. 2125. Lihat Fathul Bari (4/343), beliau keluarkan pula dalam al-Adabul Mufrad. Diriwayatkan pula oleh al-Imam Ahmad dalam al-Musnad (2/174 no. 6622).

 

Bagaimana Memahami Dalil-Dalil yang Sepertinya Berlawanan?

Dalil-dalil di atas secara lahiriah mengandung kontradiksi, walaupun pada hakikatnya tidak. Sebagian dalil menunjukkan dilarangnya membaca, mendengar berita-berita dari Bani Israil, dan apa yang ada dalam kitab mereka; sementara dalil-dalil lainnya secara lahiriah menunjukkan boleh.

Sebaik-baik jalan dalam memahami dalil-dalil di atas adalah menjamak (menggabungkan) semua dalil yang ada sehingga dengan demikian akan terkumpullah semua dalil.

Hukum membaca kitab yang ada pada ahlul kitab sangat tergantung dengan tiga perkara: kondisi sang pembaca, maksud dan tujuan sang pembaca, serta jenis berita yang ada pada ahlul kitab.

Ditinjau dari keadaan orang yang membaca, hukumnya berbeda antara orang yang memiliki ilmu yang kokoh dan orang yang jahil atau penuntut ilmu biasa.

Orang-orang yang rasikh (kokoh) dalam ilmunya, sangat mendalam dalam ilmu al-Qur’an dan as-Sunnah, serta mengerti syubhat (kerancuan) yang ada pada ahlul kitab; golongan inilah yang dikatakan boleh bagi mereka untuk menelaah Taurat dan Injil dari tinjauan pembacanya. Itu pun masih harus melihat tujuan dari dia membaca. Adapun mereka yang tidak tergolong sebagai ulama tidak diperbolehkan untuk membaca Taurat dan Injil.

Adapun ditinjau dari maksud atau tujuan membaca Taurat dan Injil, bagi mereka yang membacanya dengan tujuan mengagungkan apa yang ada dalam Taurat dan Injil (padahal di dalamnya mengandung kebatilan yang disisipkan manusia), atau hanya sekadar mengisi waktu sehingga menyibukkannya dari mempelajari al-Kitab dan as-Sunnah yang seperti ini haram atasnya membaca Taurat dan Injil.

Adapun mereka yang membaca dari kalangan ulama dengan maksud mengetahui kebatilan yang ada dalam kitab Taurat dan Injil yang telah diubah, memberikan peringatan kepada manusia dari kebatilan yang ada di dalamnya, atau untuk membantah Ahlul Kitab dalam rangka mendakwahi mereka untuk beriman kepada al-Qur’an, maka yang seperti ini diperbolehkan insya Allah, sebagaimana dilakukan sebagian ulama Islam seperti Ibnu Hazm, Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, dan lainnya.

Adapun dari sisi berita yang ada pada ahlul kitab, sesungguhnya berita Ahlul Kitab ada tiga jenis.

  1. Berita yang boleh dibenarkan dan boleh diriwayatkan, yaitu berita-berita yang ada pada kitab-kitab mereka dan sesuai dengan apa yang ada dalam syariat kita.
  2. Berita yang haram diriwayatkan kecuali dengan syarat penjelasan kebatilan dan kedustaannya, yaitu apa yang menyelisihi syariat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seperti ayat-ayat Taurat dan Injil yang berisi pelecehan dan celaan kepada para nabi dan rasul, serta semua berita yang didustakan al-Qur’an.
  3. Berita yang kita tawaqquf, yaitu berita yang didiamkan oleh syariat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jenis ketiga ini tidak dibenarkan dan tidak didustakan, boleh diriwayatkan dan disebut, hanya saja tidak untuk diyakini, tetapi sekadar sebagai pelengkap.

Dengan rincian tersebut tidak lagi ada pertentangan antara dalil-dalil dalam masalah ini. Walhamdulillah.

 

Fatwa Asy-Syaikh Shalih Al-Utsaimin tentang Hukum Membaca Injil

Asy-Syaikh Utsaimin ditanya, “Bolehkah seorang muslim menekuni (mempelajari) Injil agar dia bisa mengetahui firman Allah ‘azza wa jalla kepada hamba dan Rasul-Nya Isa alaihis sholatu wassalam?”

Beliau menjawab, “Tidak boleh menekuni (mempelajari) sesuatu pun dari kitab-kitab yang mendahului al-Qur’an, berupa Injil atau Taurat atau selain keduanya karena dua sebab:

  1. Sesungguhnya semua hal yang bermanfaat dalam (kitab-kitab terdahulu) telah Allah ‘azza wa jalla jelaskan dalam al-Qur’anul Karim.
  2. Sesungguhnya di dalam al-Qur’an telah terdapat perkara yang mencukupi dari semua kitab ini, berdasarkan firman-Nya,

“Dia menurunkan al-Kitab (al-Qur’an) kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya.” (Ali ‘Imran: 3)

Allah ‘azza wa jalla juga berfirman, “Dan Kami telah turunkan kepadamual-Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan.” (al-Ma’idah: 48)

Karena sesungguhnya semua yang ada dalam kitab-kitab terdahulu berupa kebaikan pasti ada dalam al-Qur’an. Adapun perkataan penanya bahwa dia ingin untuk mengetahui firman Allah ‘azza wa jalla kepada hamba dan Rasul-Nya ‘Isa, maka yang bermanfaat bagi kita darinya telah dikisahkan oleh Allah ‘azza wa jalla dalam al-Qur’an sehingga tidak perlu lagi untuk mencari selainnya.

Lebih-lebih Injil yang ada sekarang telah berubah, dan di antara bukti akan perubahan itu adalah bahwa dia (sekarang) ada empat Injil yang satu dengan yang lainnya saling bertentangan, bukan satu Injil sehingga tidak dapat dijadikan sandaran.

Adapun seorang penuntut ilmu yang memiliki ilmu yang dengannya dia bisa mengetahui yang benar dari kebatilan, maka tidak ada larangan (baginya) untuk mengetahuinya (Injil) untuk membantah apa yang terdapat di dalamnya berupa kebatilan dan untuk menegakkan hujah atas para penganutnya. (Majmu’ al-Fatawa)

Beberapa Faedah Hadits

  1. Hadits di atas menunjukkan kesempurnaan syariat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu al-Qur’an sebagai kitab terakhir dan Sunnah beliau, semua kebaikan telah ada dalam syariat yang beliau bawa.
  2. Bantahan sekaligus peringatan kepada mereka yang suka merujuk atau meneaah kitab-kitab ahlul bid’ah dan berpaling dari al-Qur’an dan as-Sunnah.

“Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (an-Nisa’: 65)

  1. Kewajiban bagi seluruh manusia beriman dan mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan seandainya Nabi Musa ‘alaihissalam masih hidup beliau harus mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  2. Ahlul kitab tidak beriman (kafir) hingga mau mengikuti Kitab al-Qur’an dan as-Sunnah, berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa seandainya Nabi Musa ‘alaihissalam masih hidup niscaya beliau mengikuti syariat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam hadits lain beliau bersabda,

وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لاَ يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ وَلَا نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

“Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya. Tidak ada seorang pun dari umat ini yang telah mendengar keberadaanku, baik Yahudi maupun Nasrani, yang mereka meninggal namun tidak beriman dengan apa yang aku sampaikan dengannya kecuali ia termasuk penghuni neraka.” (HR. Muslim no. 153 dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

  1. Bantahan bagi agama Syiah Rafidhah yang mengatakan adanya kitab baru selain al-Qur’an yang akan diterapkan di akhir zaman. Secara tegas Syi’ah Rafidhah meyakini bahwa Mahdi versi mereka akan berhukum dengan hukum baru bukan hukum Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dengan kitab yang baru.

Dalam kitab Biharul Anwar—salah satu referensi Rafidhah karya al-Majlisi (52/354) diriwayatkan sebuah berita palsu,

عَنْ أَبِي بَصِيرٍ قَالَ: قَالَ أَبُو جَعْفَرٍ: يَقُومُ الْقَّائِمُ بِأَمْرٍ جَدِيدٍ وَكِتَابٍ جَدِيدٍ وَقَضَاءٍ جَدِيدٍ عَلَى الْعَرَبِ ….

Dari Abu Bashir, telah berkata Abu Ja’far ‘alaihissalam, “Al-Qaaim (al-Mahdi) akan muncul dengan perkara yang baru, dengan kitab baru, dan dengan hukum/keputusan yang baru atas orang-orang ‘Arab….” (Biharul Anwar)

Tidak diragukan bahwa keyakinan Syiah seperti ini adalah keyakinan yang kufur. Jangankan Imam Mahdi, Nabi Musa ‘alaihissalam saja seandainya beliau masih hidup harus mengikuti syariat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan Nabi Isa yang turun di akhir zaman akan menegakkan hukum al-Qur’an dan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

  1. Hadits ini menunjukkan keutamaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena semua nabi dan rasul harus mengikuti syariat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan membela beliau.
  2. Menegaskan salah satu kaidah dalam menerima berita israiliat (berita yang berasal dari ahlul kitab) untuk tawaqquf dalam berita yang tidak ada kejelasan dalam syariat ini kedustaan atau kebenarannya.

Jika seorang dengan mudah menerima berita kemudian membenarkan atau menyalahkan, bisa jadi dia membenarkan yang salah atau mendustakan yang benar.

  1. Hadits ini mengandung perintah agar kita berhati-hati dari teman duduk yang tidak baik, demikian pula dalam memilih bacaan dan referensi-referensi ilmu syariat mengajarkan untuk kita selektif, lebih-lebih di zaman ini.
  2. Di antara bahaya membaca kitab-kitab terdahulu, Taurat dan Injil: bisa jadi di sana ada kebenaran kemudian kita dustakan atau sebaliknya ada kedustaan lalu kita benarkan, yang demikian itu karena kitab terdahulu telah terjadi banyak perubahan oleh tangan-tangan manusia sebagaimana Allah ‘azza wa jalla
  3. Peringatan bagi orang-orang yang bermudah-mudah melakukan studi perbandingan agama dengan menelaah kitab-kitab terdahulu yang sudah banyak penyimpangan, padahal dia tidak memiliki bekal ilmu yang cukup.
  4. Niat yang baik tidak cukup untuk menjadikan suatu amalan menjadi baik. Di samping niat yang baik, harus disertai dengan kesesuaian dengan bimbingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  5. Bersumpah dalam menyampaikan ilmu, memberikan fatwa atau nasihat-nasihat penting.
  6. Amar ma’ruf nahi munkar.
  7. Marah karena Allah ‘azza wa jalla dalam menyampaikan peringatan.
  8. Menggabungkan shalawat dan salam untuk selain Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana dalam hadits ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggabungkan shalawat dan salam untuk Nabi Musa ‘alaihissalam.
  9. Kaidah saddu adz-dzarai’, menutup celah-celah yang bisa mengantarkan kepada kejelekan.
  10. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengingkari bahwa ahli kitab terkadang menyampaikan sesuatu yang benar sebagaimana dalam sabda beliau,

فَيُخْبِرُوكُمْ بِحَقٍّ

“Mereka mengabarkan kepada kalian berupa kebenaran.”

Jadi, tidak ada persangkaan sama sekali bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menolak kebenaran yang dibawa oleh ahli kitab, hanya karena beliau melarang Umar bin Khaththab radhiallahu ‘anhu menukil sebagian yang datang dari mereka. Harus dibedakan antara masalah “menerima kebenaran”, dan masalah “dari siapa ilmu itu diambil atau dinukil.”

Sejelek apa pun ahlul bid’ah, masih mungkin ada kebaikan padanya. Namun, apakah kemudian kita duduk bermajelis dengan mereka untuk mencari kebenaran yang ada pada mereka? Tentu tidak!

Semua kebaikan telah ada pada Ahlus Sunnah wal Jamaah, dan kita diperintahkan untuk tidak duduk dengan ahlul bid’ah karena mafsadahnya lebih besar dari manfaatnya. Sahabat Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata,

لاَ تُجَالِسْ أَهْلَ الْأَهْوَاءِ فَإِنَّ مُجَالَسَتَهُمْ مُمْرِضَةٌ لِلْقَلْبِ

“Janganlah kalian bermajelis, bergaul dengan ahli bid’ah (para pengikut hawa nafsu) karena bermajelis dengan mereka membuat hati berpenyakit.”[2]

 

وَصَلّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ وَالْحَمْدُ رَبِّ الْعَالَمِينَ


[1] Sebagaimana telah kita bahas dalam “Kajian Utama” tentang perubahan yang terjadi dalam Taurat dan Injil.

[2] al-Ibanah al-Kubra, karya Ibnu Baththah (2/438 no. 371)

Siapakah ath-Thaifah al-Manshurah?

Al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar

 desert-rain

Al-Imam al-Bukhari rahimahullah (no. 7311) meriwayatkan sebuah hadits dari al-Mughirah bin Syu’bah radhiallahu ‘anhu, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

لا يَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِينَ، حَتَّى يَأْتِيَهُمْ أَمْرُ ا وَهُمْ ظَاهِرُونَ

“Pasti akan selalu ada sekelompok orang dari umatku yang senantiasa meraih kemenangan, sampai ketetapan dari Allah ‘azza wa jalla datang menghampiri mereka. Dan mereka pun tetap di atas kemenangannya.”

 

Hadits di atas juga diriwayatkan oleh al-Imam Muslim rahimahullah (no. 1921) dengan lafadz yang sedikit berbeda. Sebagian ulama hadits (Fathul Bari hadits no. 7311) menilai riwayat di atas termasuk tsulatsiyat (hanya dipisahkan oleh tiga perawi sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) di dalam Shahih al-Imam al-Bukhari. Mengapa dinilai tsulatsiyat, sementara jumlah perawi antara al-Bukhari dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ada empat?

Hadits ini didengar oleh al-Bukhari dari guru beliau yang bernama Ubaidullah bin Musa al-‘Absi al-Kufi rahimahullah. Ternyata beliau terhitung sebagai guru al-Bukhari yang telah berusia lanjut dan termasuk dalam generasi tabi’ut tabi’in.

Ubaidullah bin Musa mendengar hadits di atas dari seorang ulama tabi’in yang bernama Ismail bin Abi Khalid rahimahullah. Guru Ismail pun seorang kibar tabi’in bernama Qais bin Abi Hazim. Qais sendiri dinyatakan oleh ulama hadits sebagai seorang mukhadram, karena pernah merasakan masa jahiliah. Ketika beliau berangkat ke Madinah untuk berbaiat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, di tengah perjalanan beliau mendengar berita wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Al-Mughirah bin Syu’bah radhiallahu ‘anhu, sahabat yang meriwayatkan hadits ini, adalah salah seorang guru Qais bin Abi Hazim. Karena faktor kedekatan sanad inilah, sebagian ulama hadits menilai riwayat ini sebanding dan sejajar dengan riwayat tingkat tsulatsiyat.

Uniknya, seluruh perawi di dalam sanad al-Bukhari seluruhnya berasal dari kota Kufah. Wallahu a’lam.

 

Kedudukan Hadits

Hadits Thaifah di atas tidak hanya diriwayatkan oleh al-Mughirah radhiallahu ‘anhu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Selain beliau, sejumlah sahabat juga meriwayatkannya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Asy-Syaikh al-Muhaddits al-Albani rahimahullah (as-Silsilah ash-Shahihah nomer 270) menyebutkannya secara ringkas,

  1. Imran bin Hushain radhiallahu ‘anhu (ar-Ramahurmuzi dalam al-Muhaddits al-Fashil 1/6)
  2. Muawiyah bin Abi Sufyan radhiallahu ‘anhuma (al-Bukhari, Muslim, dan Ahmad)
  3. Tsauban radhiallahu ‘anhu Maula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (Muslim, Tirmidzi, Ahmad, Ibnu Majah, Abu Dawud, dan al-Hakim)
  4. Uqbah bin ‘Amir radhiallahu ‘anhu (Muslim)
  5. Qurrah al-Muzani radhiallahu ‘anhu (Ahmad)
  6. Abu Umamah radhiallahu ‘anhu (Ahmad)
  7. Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu (al-Hakim)

Walaupun ditemukan beberapa perbedaan lafadz, hadits di atas tetaplah mempunyai satu makna. Beberapa tambahan lafadz juga sangat membantu untuk memahami hadits tersebut secara lebih sempurna. Mudah-mudahan dengan memadukan seluruh lafadz dan beberapa hadits yang terkait, kita akan memperoleh gambaran nyata, siapakah yang layak disebut sebagai Thaifah Manshurah?

 

Makna Hadits

Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas adalah jaminan, kabar gembira, sekaligus hiburan. Kata-kata beliau adalah jaminan pasti bahwa siapa pun orangnya yang bertekad, bercita-cita, dan memiliki kesungguhan untuk memperjuangkan agama Allah ‘azza wa jalla, pertolongan-Nya akan selalu menyertai.

Hal ini sekaligus kabar gembira dan hiburan bagi mereka yang terkadang merasa terasing, dianggap aneh, bahkan merasa “sedikit” dalam jumlah, bahwa pengikut kebenaran memanglah demikian. Mereka pun selalu optimis, sebagai ath-Thaifah al-Manshurah (kelompok yang ditolong Allah ‘azza wa jalla) sekaligus al-Firqatun Najiyah (kelompok yang selamat).

Ya, ath-Thaifah al-Manshurah memang hanya segelintir orang, komunitasnya sedikit, dan sangat kecil apabila dibandingkan dengan jumlah kaum muslimin secara keseluruhan. Namun, kenyataan ini tentu tidak perlu membuat mereka bersedih, apalagi putus asa. Ingat-ingatlah selalu, janji Allah ‘azza wa jalla adalah benar. Dia akan selalu menolong dan membela. Lebih-lebih lagi, ath-Thaifah al-Manshurah akan tetap eksis sampai hari kiamat!

Ada pertanyaan yang terselip ketika membahas hadits ini. Beberapa riwayat sahih menyebutkan bahwa hari kiamat tidak akan terjadi sampai kondisi orang-orang yang tersisa adalah orang-orang yang jahat. Bahkan, sebuah riwayat mengatakan pada saat itu, tidak ada lagi orang yang menyebut-sebut nama Allah ‘azza wa jalla. Padahal di dalam hadits ini, ath-Thaifah al-Manshurah keberadaannya akan tetap bertahan sampai hari kiamat. Bagaimana ini?

Para ulama hadits, di antaranya adalah al-Imam an-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim, mencoba memadukan riwayat-riwayat tersebut. Hasilnya?

Ath-Thaifah al-Manshurah sebagai sekelompok orang yang memperjuangkan kebenaran akan terus eksis di setiap masa. Namun, mendekati kebangkitan kiamat, Allah ‘azza wa jalla akan mengirimkan angin lembut yang bertiup melewati ketiak setiap orang. Angin itu akan mencabut ruh mukmin dan mukminah sehingga tidak ada lagi yang tersisa hidup kecuali orang-orang jahat. Ringkasnya, keberadaan ath-Thaifah al-Manshurah yang disebut sampai hari kiamat berbangkit maksudnya adalah sampai menjelang datangnya kiamat.

Keterangan ini didukung oleh sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam riwayat Muslim (no. 2937) dari sahabat an-Nawwas bin Sam’an radhiallahu ‘anhu. Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

فَبَيْنَمَا هُمْ كَذَلِكَ إِذْ بَعَثَ اللهُ رِيحًا طَيِّبَةً، فَتَأْخُذُهُمْ تَحْتَ آبَاطِهِمْ، فَتَقْبِضُ رُوحَ كُلِّ مُؤْمِنٍ وَكُلِّ مُسْلِمٍ، وَيَبْقَى شِرَارُ النَّاسِ، يَتَهَارَجُونَ فِيهَا تَهَارُجَ الْحُمُرِ، فَعَلَيْهِمْ تَقُومُ السَّاعَةُ.

“Ketika manusia dalam kondisi semacam itu, Allah ‘azza wa jalla mengirimkan angin lembut yang bertiup di bawah ketiak mereka. Lalu angin tersebut mencabut ruh setiap mukmin dan mukminah. Kemudian yang tersisa hidup hanyalah orang-orang jahat. Mereka melakukan hubungan badan di hadapan orang lain, persis yang dilakukan keledai. Kepada orang-orang semacam itulah, hari kiamat akan dibangkitkan.”

 

Ath-Thaifah Al-Manshurah adalah Ahlul Hadits

Siapakah yang lebih mengerti dan memahami hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Jawabannya secara pasti dan tegas adalah para ulama hadits. Bukankah merekalah yang meriwayatkannya untuk kita? Bukankah merekalah yang menjadi mata rantai antara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai kepada kita? Apakah kita akan menyerahkan kepada orang-orang yang tidak berkompeten dan berwenang sama sekali, untuk memahami hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?

Marilah kita membaca dan merenungkan pernyataan para ulama besar di bawah ini tentang siapakah ath-Thaifah al-Manshurah itu.

Al-Imam al-Khatib al-Baghdadi rahimahullah menyebutkan beberapa keterangan ulama tentang mereka di dalam kitab beliau, Syaraf Ashabil Hadits (hlm. 59—62).

Al-Imam al-Bukhari rahimahullah menjelaskan, “Mereka adalah para ulama!”

Di lain kesempatan beliau menyatakan, “Mereka adalah Ashabul Hadits.”

Al-Imam Yazid bin Harun, Abdullah bin al-Mubarak, Ali bin Abdillah al-Madini, Ahmad bin Sinan, dan sejumlah ulama lainnya rahimahumullah mengatakan, “Mereka adalah Ashabul Hadits.”

Bahkan, secara tegas al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah mengatakan, “Seandainya yang dimaksud dengan ath-Thaifah al-Manshurah bukan Ashabul Hadits, aku tidak tahu lagi, siapakah mereka sesungguhnya?”

Kemudian, siapakah Ashabul Hadits itu?

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah (Syarah Shahih Muslim) menerangkan bahwa mereka memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Ada yang gagah berani berperang, kaum fuqaha, orang-orang yang menekuni bidang hadits, ahli-ahli zuhud, penegak amar ma’ruf nahi munkar, atau pelaku-pelaku kebaikan lainnya. Bisa saja mereka berada di dalam satu wilayah atau menyebar di berbagai penjuru bumi.

Barangkali kita bisa menyimpulkannya dengan mengutip ucapan al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah, “Yang dimaksud oleh al-Imam Ahmad rahimahullah di atas, ath-Thaifah al-Manshurah adalah Ahlus Sunnah wal Jamaah serta orang-orang yang berakidah dengan akidah ahlul hadits.”

Dengan demikian, apakah bisa diterima, jika orang yang mengejek dan menghina para ulama yang menekuni bidang hadits, mengaku sebagai bagian dari ath-Thaifah al-Manshurah? Apakah pantas seseorang mengaku sebagai ath-Thaifah al-Manshurah sementara ia menyebut ulama Ahlus Sunnah dengan “ulama buatan pemerintah”, “ulama haid dan nifas”, “ilama yang tidak mengerti fiqhul waqi (fikih kekinian)”, “ulama yang kerjaannya hanya di masjid dengan haddatsana (telah menyampaikan kepada kami) dan akhbarana (telah mengabarkan kepada kami)”, dan “ulama yang tidak menghargai dan tidak peduli dengan darah kaum muslimin”?

Apakah pantas orang yang mencela ulama seperti ini untuk disebut sebagai ath-Thaifah al-Manshurah, kelompok yang ditolong Allah ‘azza wa jalla?

 

Ath-Thaifah Al-Manshurah dan Jihad Fi Sabilillah

Hadits-hadits ath-Thaifah al-Manshurah diangkat sebagai isu panas oleh kaum jihadiyin takfiriyin (sejumlah orang yang melakukan aksi kekerasan, anarki, brutal, dan membabi buta dengan mengatasnamakan jihad fi sabilillah) untuk melegitimasi dan membenarkan aksi-aksi “jihad”. Mereka menukil hadits-hadits tentang ath-Thaifah al-Manshurah.

Namun, apakah mereka benar-benar mengamalkan hadits-hadits tersebut secara kaffah? Ataukah hanya sepenggalsepenggal saja?

Memang benar! Beberapa lafadz dan riwayat hadits menyebutkan bahwa salah satu ciri ath-Thaifah al-Manshurah adalah berperang dan berjihad di jalan Allah ‘azza wa jalla. Hal ini memang benar. Salah satunya adalah hadits Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu riwayat Muslim (no. 156). Akan tetapi, kita perlu secara tenang, cermat, dan jujur, mengajukan beberapa pertanyaan sederhana berikut ini.

Salah satu ciri ath-Thaifah al-Manshurah adalah berperang dan berjihad. Namun, jihad dengan pemahaman siapa? Jihad di bawah bendera siapa? Di setiap saat ataukah pada kondisi-kondisi tertentu? Siapakah yang menjadi objek atau sasaran perang dan jihad? Di setiap tempat ataukah di lokasi-lokasi tertentu saja? Masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang mesti terjawab sebelum berteriak-teriak “jihad”.

Jihad fi sabilillah adalah ibadah suci. Maka dari itu, pantas saja jika ciri ini disematkan untuk ath-Thaifah al-Manshurah. Namun, ingatlah kembali arahan dan bimbingan para ulama. Jihad fi sabilillah pun mesti dilandasi dengan ilmu, berdasarkan pemahaman Ahlus Sunnah dan Ahlul Hadits. Lihat saja sejarah Ahlul Hadits! Mereka pun tercatat sebagai kaum mujahidin. Mereka mengalirkan tinta dan darah demi agama Islam.

Jihad fi sabilillah tidak dilakukan dengan sembarangan, serampangan, asal-asalan, emosional, dan ngawur. Jihad fi sabilillah memiliki syarat-syarat yang harus dipenuhi. Wallahi wa billahi wa tallahi, seandainya jihad syar’i ditegakkan, engkau wahai para pencela Salafiyyin, akan menyaksikan betapa kecil dan kerdilnya dirimu. Engkau akan melihat singa-singa Allah ‘azza wa jalla berada di barisan terdepan. Engkau baru akan tersadar, ternyata dirimu tak bisa dibandingkan sedikit pun dengan Salafiyyin. Sebab, mereka tegak berdiri di atas ilmu. (Tentang jihad fi sabilillah, silahkan Anda membaca kembali Asy-Syari’ah pada edisi-edisi sebelumnya)

 

Pembuktian, Bukan Pengakuan!

Pasukan Panji Hitam, kelompok al-Jihad, organisasi al-Qaeda, atau apa pun namanya, bisa saja mereka menganggap dirinya sebagai bagian dari ath-Thaifah al-Manshurah. Untuk urusan mengaku-aku, siapa pun bisa melakukannya. Klaim dan mengklaim juga dapat dilakukan oleh setiap orang. Akan tetapi, apakah cukup sampai di situ saja?

Tidak! Semuanya menuntut pembuktian!

Kaum Yahudi dan Nasrani juga mengklaim bahwa merekalah penduduk surga. Benarkah demikian? Allah ‘azza wa jalla berfirman,

Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata, “Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi dan Nasrani.” Demikian itu (hanya) angan-angan mereka yang kosong belaka. Katakanlah, “Tunjukkan kebenaranmu jika kamu adalah orang-orang yang benar.” (al-Baqarah: 111)

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah ketika menjelaskan hadits Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma riwayat al-Bukhari dan Muslim, “Seandainya setiap orang diiyakan sesuai dengan pengakuannya, tentu setiap orang akan mengklaim darah dan harta orang lain. Akan tetapi, sumpah merupakan hak orang yang diklaim.”

“Hadits ini adalah kaidah besar di dalam kaidah-kaidah hukum syar’i. Kaidah ini menyebutkan bahwa klaim seseorang tidak bisa diterima begitu saja. Akan tetapi, butuh pembuktian atau pembenaran dari pihak yang diklaim.”

Bagi siapa saja yang mengaku dirinya sebagai bagian dari ath-Thaifah al-Manshurah, marilah mengukur dan menakar dirinya dengan sebuah jawaban dari asy-Syaikh Shalih al-Fauzan berikut ini (Irsyadul Bariyyah hlm. 34—35), “As-Salafiyyah adalah al-Firqatun Najiyah. Mereka adalah Ahlus Sunnah wal Jamaah. Mereka bukanlah hizb seperti yang sekarang ini terjadi dan disebut dengan hizb. Mereka adalah jamaah. Bersama-sama di atas as-Sunnah dan agama. Mereka adalah Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Pasti akan selalu ada, sekelompok orang dari umatku yang senantiasa meraih kemenangan di atas kebenaran. Tidak akan bermudarat atas mereka setiap usaha dari orang-orang yang menghina dan menyelisihi mereka.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, ‘Umat ini akan terpecah menjadi 73 kelompok. Semuanya di dalam neraka kecuali satu.’ Para sahabat bertanya, ‘Siapakah mereka, wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Orang-orang yang mengikuti aku dan para sahabatku seperti saat ini’.”

Asy-Syaikh al-Fauzan melanjutkan, “As-Salafiyyah adalah sejumlah orang yang berada di atas mazhab Salaf, sebagaimana ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat. Jadi, as-Salafiyyah bukanlah hizb seperti hizb-hizb zaman ini. As-Salafiyyah adalah jamaah yang telah ada sejak zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, turun-temurun dan akan selalu hidup. Mereka akan terus berada di atas alhaq, meraih kemenangan sampai hari kiamat sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Benarkah Anda telah mencontoh dan meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta para sahabat beliau dalam segala hal? Buktikanlah!

Wallahul Muwaffiq.