Pemimpin Rumah Tangga yang Dirahmati

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah subhanahu wa ta’ala merahmati seorang suami yang bangun malam menegakkan shalat malam, lalu ia membangunkan istrinya hingga sang istri shalat. Apabila sang istri enggan, ia percikkan (usapkan) air ke wajahnya. Sungguh, Allah subhanahu wa ta’ala juga merahmati seorang istri yang bangun malam untuk mengerjakan shalat malam lalu ia membangunkan suaminya. Apabila sang suami enggan, ia usapkan air ke wajah suaminya.”

 

Takhrij Hadits

Hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu ini diriwayatkan Abu Dawud, di dua tempat dalam kitabnya as-Sunan.

  1. Dalam kitab at-Tathawwu’ bab “Qiyamul Lail” (Kitab Shalat Sunnah bab “Shalat Malam”) no. 1308.
  2. Dalam kitab al-Witr bab “al-Hats ‘ala Qiyamil Lail” (Kitab Shalat Witir bab “Anjuran Shalat Malam”) no. 1450, melalui jalan gurunya Muhammad bin Basyar dari Yahya bin Sa’id al-Qaththan dari Ibnu ‘Ajlan dari al-Qa’qa’ bin Hakim dari Abu Shalih dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu.

Melalui jalan Ibnu Qaththan ini, hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad rahimahullah dalam al-Musnad (2/250), Ibnu Majah rahimahullah no. 1336, an-Nasai rahimahullah (3/205), Ibnu Khuzaimah rahimahullah no. 1148, Ibnu Hibban rahimahullah no. 2567, al-Hakim rahimahullah (1/309), dan al-Baihaqi rahimahullah (2/501).

Al-Mundziri rahimahullah berkata, “… Dalam sanadnya ada Muhammad bin ‘Ajlan, ia dinyatakan tsiqah (tepercaya) oleh al-Imam Ahmad, Yahya bin Ma’in, Abu Hatim ar-Razi, al-Bukhari menjadikannya sebagai syahid (penguat), al-Imam Muslim mengeluarkan haditsnya dalam mutaba’at (sebagai penguat), dan sebagian ulama lain membicarakannya.”[1]

Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah menyatakan hadits ini sahih dalam Shahih Sunan Abu Dawud (no. 1181).

 

Di Antara Sifat Suami Dambaan

Setiap insan berharap akan hadirnya pendamping hidup. Bagi seorang muslimah, sebelum datangnya peminang, pasti di benaknya terbayang pertanyaan sekaligus harapan tentang sifat-sifat suami ideal yang akan menjadi penyejuk hatinya.

Hamba-hamba Allah subhanahu wa ta’ala yang taat selalu memohon kepada Allah subhanahu wa ta’ala pendamping yang menyejukkan hati itu, sebagaimana dalam doa yang selalu mereka panjatkan,

“Wahai Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri (pasangan hidup) kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (al-Furqan: 74)

Hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu menjadi salah satu jawaban atas pertanyaan: Bagaimanakah suami ideal yang diharapkan menjadi pendamping yang menyejukkan hati?

Dia adalah suami yang selalu mengajak istrinya menaati Allah subhanahu wa ta’ala sebagaimana sebaliknya, istri yang ideal dan menyejukkan pandangan mata adalah istri yang terus membantu dan mengajak sang suami menaati Allah subhanahu wa ta’ala. Suasana bantu-membantu di atas ketakwaan menjadi salah satu asas bagi suami dalam membangun rumah tangganya sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala firmankan,

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (al-Maidah: 2)

Apa yang digambarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits di atas adalah contoh dari figur pendamping yang baik. Setiap yang membaca hadits ini tentu tertegun dan berdecak kagum menyaksikan sebuah pemandangan yang sangat menakjubkan. Betapa indahnya seandainya suasana ini terwujud dalam rumah tangga kita semua. Semoga.

Lihat apa yang dilakukan sang suami! Di tengah gulitanya malam ia terjaga. Tangannya segera meraih air wudhu, berdiri di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala, membaca ayat demi ayat al-Qur’an. Setelah tenggelam dalam lautan munajat di tengah keheningan, suami yang saleh itu tidak mencukupkan kebaikan hanya untuk dirinya, dia bangunkan sang istri hingga menyusulnya beribadah. Saat sang istri enggan, usapan air kasih sayang mengenai wajahnya, hingga sang istri pun terbangun mengikuti jejak suaminya.

Dalam hadits di atas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Bila sang istri enggan, ia percikkan air ke wajahnya.”

Al-Imam Ahmad rahimahullah di dalam Musnad (2/247) menukilkan ucapan Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah tentang makna hadits. Sufyan rahimahullah berkata,

“Bukan (tidak harus) dipercikkan air ke wajahnya, namun diusapkan.”

Asy-Syaikh Ahmad Syakir rahimahullah menerangkan, “Maksud perkataan Sufyan adalah menafsirkan kata النَّضْحُ dalam hadits ini. Pada asalnya kata النَّضْحُ bermakna memercikkan air, namun Sufyan ingin menjelaskan bahwa dalam konteks hadits ini bukan itu yang dimaksud. Sebab, percikan mungkin saja akan mengganggu seorang yang tidur dan membangunkannya dalam keadaan terkejut. Akan tetapi, maksudnya ialah mengusap dengan air, sebagai bentuk kelembutan bagi orang yang tidur dan penyemangat dari rasa malas.” Allahu a’lam.

Suami yang demikian sungguh besar pahala yang dia raih. Banyak sisi kebaikan untuknya sebagaimana ditunjukkan oleh hadits tersebut.

  1. Allah subhanahu wa ta’ala merahmati dirinya sebagaimana dalam hadits ini,

“Allah subhanahu wa ta’ala merahmati seorang suami yang bangun malam untuk mengerjakan shalat malam lalu ia bangunkan istrinya, hingga sang istri shalat. Bila sang istri enggan, ia usapkan air ke wajahnya.”

  1. Ketika dia mengajak sang istri berbuat taat, ia pun akan memperoleh pahala istri yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala istrinya sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Barang siapa memberikan contoh yang baik dalam Islam, dia mendapat pahalanya dan pahala orang-orang yang mengamalkannya setelah dirinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun.”

  1. Allah subhanahu wa ta’ala akan mencatat mereka berdua, suami dan istri, sebagai hamba-hamba- Nya yang banyak berzikir kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Apabila seorang bangun di waktu malam lalu ia bangunkan istrinya kemudian keduanya shalat dua rakaat, niscaya keduanya akan dicatat sebagai orang yang banyak berzikir kepada Allah subhanahu wa ta’ala.”

 

Jagalah Diri Kalian dan Keluarga Kalian dari Api Neraka

Hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu yang demikian agung ini juga mengingatkan kita akan sebuah tugas yang Allah subhanahu wa ta’ala embankan atas orang-orang yang beriman untuk menjaga diri dan keluarganya dari api neraka. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (at-Tahrim: 6)

Jika shalat sunnah saja sang suami demikian bersemangat membangunkan sang istri, tentu dalam perkara yang wajib suami yang saleh lebih bersemangat dalam membimbing keluarganya.

Suami yang menyejukkan hati tidak kenal putus asa dalam mengajari keluarganya tauhid, dan memperingatkan mereka dari kesyirikan, terus membimbing mereka untuk mengenal Allah subhanahu wa ta’ala, sifat-sifat-Nya, serta membimbing keluarganya untuk mengenal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan hak-hak beliau.

Semua itu dia lakukan dengan penuh kesabaran dan semangat sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala perintahkan dalam firman-Nya,

“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.” (Thaha: 132)

Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman,

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran, serta nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.” (al-‘Ashr: 1—3)

 

Rumah dalam Pandangan Suami Ideal

Pelajaran lain yang dapat kita ambil dari hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, sebagai sebuah faedah besar yang tidak boleh luput dari perhatian: Suami yang saleh adalah yang memiliki pandangan bahwa rumah bukan sekadar tempat menunaikan hajat makan, minum, beristirahat, bersenang-senang dengan keluarga, atau memenuhi kebutuhan biologis.

Bukan ini tujuan utama seorang suami saleh membangun keluarga dan menempati sebuah rumah tempat tinggal dan memimpin rumah tangga. Suami yang saleh adalah sosok yang memimpin keluarganya untuk bersama-sama memandang bahwa rumah ialah tempat menabur benih-benih kebaikan guna menggapai kebahagiaan dunia dan akhirat.

Suami yang ideal selalu berupaya menjadikan rumahnya penuh dengan suasana ibadah, tarbiyah (pendidikan) di atas manhaj nubuwwah untuk keluarganya, sebagaimana tampak dalam hadits di atas. Sang suami dengan penuh kasih sayang membangunkan sang istri untuk bangun malam, shalat tahajud, bermunajat kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Jika sang istri enggan usapan kasih pun mengusap wajah sang istri dengan air sejuk, hingga terbangun untuk berdiri di hadapan Rabbul ‘alamin.

Banyak sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjukkan akan hal ini, yakni seorang suami harus memandang rumah bukan sekadar tempat berteduh dan menunaikan beragam hajat, namun di antara yang terpenting bagaimana mewujudkan suasana ibadah dan ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dalam rumah dan keluarganya.

Dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian sebagai kuburan-kuburan, sesungguhnya setan lari dari rumah yang dibacakan padanya surat al-Baqarah.” ( HR. Muslim [1/539] no. 780)

Dalam hadits lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Bacalah surat al-Baqarah karena sungguh mengambilnya adalah berkah dan meninggalkannya adalah kerugian, dan tukang-tukang sihir tidak mampu menghadapinya.” (HR. Muslim no. 804)

Dua hadits di atas adalah bimbingan kepada kita agar tidak menjadikan rumah seperti pekuburan, tidak ada shalat[2], tidak ada bacaan al-Qur’an dan zikir. Namun, hendaknya rumah dimakmurkan dengan ibadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Di samping memakmurkan rumah dengan zikir dan shalat sunnah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengajarkan agar para suami membersihkan rumah-rumahnya dari perkara yang memalingkan dari zikir dan ibadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala, seperti patung dan gambar-gambar makhluk bernyawa, juga alat-alat musik serta media-media yang menjadi sebab kerusakan dan berpalingnya seorang dan keluarganya dari jalan Allah subhanahu wa ta’ala.agi kaum lelaki, memakmurkan

Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, Ummul Mukminin, beliau pernah membeli numraqah berhiaskan gambar-gambar, maka ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihatnya beliau berdiri di depan pintu dan tidak berkenan masuk ke dalam rumah. Aisyah menangkap ketidaksukaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tampak dalam wajahnya.

Aku pun berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku bertobat kepada Allah dan Rasul- Nya, dosa apa yang aku lakukan?’

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, ‘Mengapa ada numraqah (bergambar) ini, apa yang dimaukan?’

Aku berkata, ‘Aku membelinya agar engkau duduk di atasnya.’

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya para pembuat gambar-gambar ini pada hari kiamat akan disiksa, dikatakan padanya: Hidupkanlah apa yang dahulu kalian buat (berupa patung dan gambar makhluk bernyawa, -pen.).’

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, ‘Sesungguhnya rumah yang di dalamnya ada gambar-gambar tidak akan dimasuki malaikat’.” (HR. al-Bukhari no. 2105)

 

Suasana Ibadah di Rumah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Apa yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sabdakan tentang sepasang suami istri yang Allah subhanahu wa ta’ala rahmati, beliau amalkan pula bersama ummahatul mukminin. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak cukupkan ibadah untuk diri beliau sendiri, namun beliau bangunkan keluarganya agar beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Aisyah radhiallahu ‘anha pernah bercerita tentang kehidupan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengerjakan shalat malam sementara Aisyah tidur melintang di hadapan beliau. Apabila tersisa shalat witir, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membangunkan Aisyah, hingga Aisyah menunaikan witir.” (Muttafaq ‘alaih)

Dalam sebagian riwayat Muslim dikatakan,

“Dan apabila tersisa shalat witir beliau bersabda, ‘Bangunlah engkau dan shalat witirlah, wahai Aisyah’.”

Aisyah radhiallahu ‘anha juga bercerita tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila telah masuk sepuluh hari terakhir Ramadhan beliau kencangkan ikat pinggang, beliau hidupkan malamnya dan beliau bangunkan keluarganya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Suatu malam Saudah bintu Zam’ah radhiallahu ‘anha, salah seorang ummahatul mukminin shalat di belakang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Meskipun telah berumur, gemuk serta berat badannya, beliau terus bersemangat beribadah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di pagi harinya Saudah berkata,

“Wahai Rasulullah, semalam aku shalat di belakangmu, aku rukuk bersama rukukmu (yang cukup panjang, -pen.) hingga aku pegang hidungku, khawatir seandainya darah menetes dari hidungku!” (karena beratnya tubuh Saudah, -pen.).

Mendengar perkataan Saudah, sang istri, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam pun tertawa. Kisah ini diriwayatkan Ibnu Sa’d dalam ath-Thabaqat al-Kubra (8/54), perawi-perawinya tsiqah, hanya saja hadits ini mursal.

Allahu Akbar, suasana ibadah dan kasih sayang demikian tampak dalam kisah ini. Tawa Rasul pun memecah keheningan, menghangatkan suasana keluarga beliau yang penuh dengan berkah.

Ya Allah, kami memohon kepada-Mu dengan nama-nama-Mu yang husna (Mahaindah), dan sifat-sifat-Mu yang Mahaagung, mudahkanlah kami meneladani Nabi-Mu. Mudahkanlah kami menapakkan kedua kaki yang penuh dengan dosa ini ke dalam jannah-Mu, menatap Wajah-Mu yang mulia, dan berjumpa dengan khalil-Mu, Muhammad bin Abdillah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

Faedah-Faedah Hadits

  1. Siapa pun yang mendapatkan kebaikan hendaknya senang apabila kebaikan itu juga diperoleh saudaranya, lebih-lebih orang yang sangat dekat dengannya, seperti istri dan anakanaknya.
  2. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membimbing umatnya untuk mengerjakan shalat malam.
  3. Anjuran agar suami istri saling membantu dalam mengerjakan shalat malam. Sampai-sampai sang istri boleh menggunakan cara terbaik untuk itu, yaitu dengan mengusapkan air ke wajah suaminya, demikian pula sebaliknya.
  4. Dikhususkan penyebutan wajah, karena wajahlah bagian yang sangat peka sehingga lebih mudah untuk terbangun.
  5. Disebutkannya air dalam hadits dalam membangunkan tidak berarti harus dengan air, sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membangunkan Aisyah radhiallahu ‘anha dengan perkataan beliau,
  6. “Bangunlah engkau dan shalat witirlah, wahai Aisyah!”
  7. Intinya, baik suami maupun istri berupaya membangunkan pasangan hidupnya dengan penuh kelembutan, dengan cara yang baik dan diridhai.
  8. Hadits ini menetapkan sifat rahmat bagi Allah subhanahu wa ta’ala, dan bahwasanya Allah subhanahu wa ta’ala merahmati hamba-Nya.
  9. Keutamaan shalat malam sebagai sebab rahmat Allah subhanahu wa ta’ala.
  10. Disyariatkan mewujudkan suasana ibadah dalam rumah tangga, lebihlebih atas seorang suami yang memiliki tanggung jawab lebih atas istrinya
  11. Hadits ini menunjukkan bahwa syariat untuk kaum laki-laki pada asalnya juga berlaku untuk kaum wanita selama tidak ada dalil yang membedakan keduanya.
  12. Islam tidak mengajari umatnya untuk shalat semalam suntuk, tetapi mengajarkan keseimbangan.

 

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc


 

[1] Seperti perkataan al-‘Uqaili, “Yadhtharibu fi Haditsi Nafi’ (Dia goncang dalam hadits Nafi’).”

[2] Bagi kaum lelaki, memakmurkan rumah dengan shalat tentulah yang dimaksud shalat sunnah. Adapun shalat lima waktu, kaum lelaki wajib menunaikannya berjamaah di masjid. Allahu a’lam.

Hukum Mengumandangkan Adzan di Telinga Bayi Saat Lahir

 

Adzan

Abu Rafi’ radhiallahu ‘anhu berkisah,

“Aku menyaksikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengumandangkan azan seperti azan untuk shalat di telinga al-Hasan bin Ali ketika dilahirkan Fathimah.”

 

Seputar Hadits

Hadits di atas dikeluarkan oleh al-Imam Ahmad (6/9), Abu Dawud (5105), at-Tirmidzi, (1/286), al- Hakim (3/179), al-Baihaqi (9/305), dan Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir (1/121/2). Seluruh jalur riwayat, madar-nya (pusat perputaran hadits) kembali kepada jalur Sufyan dari ‘Ashim dari Ubaidullah dari Abu Rafi’. (Irwa’ul Ghalil, 1173)

Artinya, masing-masing ulama di atas meriwayatkan hadits Abu Rafi’ ini di dalam kitab-kitab mereka dengan jalur berbeda-beda. Akan tetapi, jalur periwayatan tersebut kembalinya kepada Sufyan juga.

Siapakah Sufyan yang dimaksud? Sufyan ats-Tsauri dan Sufyan bin ‘Uyainah sama-sama meriwayatkan hadits dari ‘Ashim bin Ubaidillah. Akan tetapi, di dalam sanad ini yang dimaksud adalah Sufyan bin Sa’id ats-Tsauri.

Seputar Perawi Hadits

Dengan demikian, sanad hadits di atas yang perlu dibahas lebih mendetail adalah jalur Sufyan dari ‘Ashim dari Ubaidullah dari Abu Rafi’.

  • Abu Rafi’, sahabat yang meriwayatkan hadits di atas. Nama beliau diperselisihkan oleh ulama hadits. Ada yang mengatakan nama beliau Ibrahim, Aslam, Tsabit, dan ada pula yang berpendapat namanya Hurmuz. Abu Rafi’ termasuk maula (budak yang dimerdekakan) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  • Ubaidullah adalah putra Abu Rafi’. Beliau terhitung tabi’in yang meriwayatkan hadits dari para sahabat, di antaranya adalah ayahnya, Abu Hurairah, dan Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhum. Bahkan, beliau termasuk juru tulis Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu. Beliau dinilai tsiqah oleh para ulama semisal Abu Hatim, al-Khathib, Ibnu Hibban, dan Ibnu Sa’d.
  • ‘Ashim bin Ubaidullah bin ‘Ashim bin Umar bin Khaththab al-‘Adawi al- Madani.

Sejumlah ulama menilai ‘Ashim sebagai perawi dha’if (lemah). Bahkan, al-Imam al-Bukhari dan Abu Hatim rahimahumallah menilai beliau munkarul hadits. Al-Imam an-Nasa’i rahimahullah mengatakan, ”Kami tidak mengetahui al-Imam Malik rahimahullah meriwayatkan hadits dari seorang perawi dha’if yang masyhur kedha’ifannya selain dari ‘Ashim bin Ubaidillah. Al-Imam Malik rahimahullah meriwayatkan satu buah hadits darinya.”

  • Sufyan bin Sa’id bin Masruq ats-Tsauri, Abu Abdillah al-Kufi.

Beliau digelari Amirul Mukminin dalam bidang hadits. Sebuah gelar kelas tinggi yang menunjukkan derajat dan kedudukan beliau di kalangan ahli hadits. Gelar tersebut disematkan untuk beliau oleh sekian banyak ulama, semacam Syu’bah, Sufyan bin Uyainah, Abu ‘Ashim, Yahya bin Ma’in, dan beberapa yang lain. (Tahdzibut Tahdzib, pada biografi masing-masing)

Derajat Hadits Abu Rafi’

Al-Imam Tirmidzi rahimahullah setelah membawakan hadits Abu Rafi’ di atas mengatakan, ”Hadits ini hasan sahih.”

Asy-Syaikh al-Albani (Irwa’ul Ghalil 1173) berkomentar, “Demikianlah pendapat beliau. Padahal, para ulama sepakat menghukumi ‘Ashim bin Ubaidillah dha’if. Penilaian tertinggi untuk ‘Ashim adalah la ba’sa bihi (tidak mengapa). Itu pun yang mengucapkannya al-‘Ijli, sementara beliau termasuk ulama mutasahilin (mudah menilai tsiqah).”

Oleh sebab itu , al-Hafizh menegaskan di dalam at-Taqrib tentang kedha’ifan ‘Ashim ini. Adz-Dzahabi juga menyebutkan ‘Ashim di dalam adh-Dhu’afa. Beliau mengatakan, “Al- Imam Malik rahimahullah dan yang lainnya mendha’ifkannya.”

Adz-Dzahabi rahimahullah juga mengomentari penilaian al-Hakim terhadap hadits ini “Sanadnya sahih”, dengan mengatakan, “Ashim adalah perawi dha’if.

Asy-Syaikh al-Albani sendiri semula menyatakan hadits Abu Rafi’ ini hasan (Irwa’ul Ghalil no. 1173). Akan tetapi, di kemudian hari beliau rujuk dan menyatakan hadits ini dha’if (Shahih al-Kalimit Thayyib hlm. 162 dan Silsilah Dha’ifah 6121)

Beliau mengatakan, “… Dahulu saya menyatakan hasan hadits Abu Rafi’ di dalam al-Irwa’ (4/400/1173). Sekarang—walhamdulillah—kitab as- Syu’ab karya al-Baihaqi telah dicetak. Di sana saya menemukan sanadnya dan telah jelas bagi saya kedudukannya yang sangat lemah. Oleh sebab itu, saya menyatakan rujuk dari menilai hadits tersebut hasan.

Hadits Abu Rafi’ pun kembali dha’if sebagaimana seharusnya dari sanad hadits. Hal ini hanyalah salah satu dari puluhan contoh yang membuat saya berpendapat bahwa ilmu itu tidak bersifat jumud (kaku). Saya akan tetap terus membahas dan melakukan penelitian sampai kematian mendatangi saya. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.”

Apakah sebelum asy-Syaikh al-Albani ada ulama hadits yang menyatakan hadits ini dha’if?

Ada. Al-Imam Ibnul Mulaqqin (al- Badrul Munir 9/348) menjelaskan, “Ibnu Hibban mengkritik ‘Ashim yang meriwayatkan hadits ini (hadits Abu Rafi’) dan hadits lainnya. Ibnul Qaththan juga menghukumi hadits ini mu’all (memiliki cacat) karena ‘Ashim. Bahkan, beliau mengatakan, ‘Sungguh, dia adalah dha’iful hadits, munkar, dan mudhtarib’.

Hadits ini juga disebutkan oleh al-Imam adz-Dzahabi rahimahullah sebagai salah satu hadits munkar yang diriwayatkan oleh ‘Ashim. (Mizanul I’tidal 4/274)

Wallahu a’lam, kesimpulannya, hadits Abu Rafi’ adalah dha’if.

 

Pendapat Ulama dalam Masalah Ini

Sebagian kaum muslimin memang melakukan amalan azan di telinga bayi saat baru dilahirkan. Bahkan, ada anggapan jika bayi tidak diazani, setan akan menjerumuskannya ke dalam kesesatan. Namun, seperti apakah pendapat para ulama dalam hal ini?

Fuqaha mazhab Syafi’i berpendapat bahwa dianjurkan azan di telinga bayi ketika lahir. Fuqaha mazhab Hanafi dan Hanbali juga berpendapat demikian.

Al-Imam Ibnu ‘Abidin rahimahullah (seorang ulama Hanafi) mengomentari pendapat al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah, “Sebab, riwayat sahih (hadits Abu Rafi’) yang tidak bertabrakan dengan dalil lain menjadi sebuah mazhab bagi seorang mujtahid, meskipun ia sendiri tidak menyatakan dengan tegas.”

Al-Imam Ibnu Qudamah rahimahullah (seorang ulama Hanbali) mengatakan,

“Sebagian ulama mengatakan disunnahkan bagi orang tua untuk mengumandangkan azan di telinga anaknya ketika baru lahir.” Setelah itu Ibnu Qudamah membawakan hadits Abu Rafi’. (al-Mughni 13/401, Mausu’ah Kuwaitiyah 2/373)

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah juga menyebutkan hadits Abu Rafi’ di atas di dalam kitab beliau al-Adzkar. Setelah itu beliau mengatakan, “Sejumlah ulama dari mazhab kami (Syafi’i) berpendapat disunnahkan azan di telinga kanan bayi dan iqamat di telinga kirinya.”

Hadits Abu Rafi’ di atas juga disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah di dalam kitab al-Kalimuth Thayyib dan Ibnul Qayyim di dalam kitab Tuhfatul Maudud. Bahkan, Ibnul

Qayyim rahimahullah membuat judul untuk hadits ini, “Disunnahkan azan di telinga kanan bayi dan iqamat di telinga kirinya.”

Jika kita memerhatikan lebih cermat dan teliti, setiap ulama yang berpendapat azan di telinga bayi ketika lahir hukumnya sunnah pasti berdalil dan beralasan dengan hadits Abu Rafi’ di atas. Padahal, kita telah membaca bersama kesimpulan bahwa hadits Abu Rafi’ adalah hadits yang dha’if.

Asy-Syaikh Abdul Muhsin al-‘Abbad (Syarah Sunan Abi Dawud 5105) menyimpulkan, “Jika di dalam pembahasan atau bab ini (azan di telinga bayi) tidak ada hadits kecuali hadits Abu Rafi’ ini—sementara di dalam sanadnya terdapat seorang perawi dha’if yaitu ‘Ashim bin Ubaidillah—tidak ada satu pun dalil yang bisa digunakan sebagai hujah dalam masalah ini.”

Apakah beliau memiliki salaf dalam pendapat ini?

Al-Imam Malik rahimahullah berpendapat bahwa azan di telinga bayi ketika lahir hukumnya makruh. Bahkan, beliau menilainya sebagai perbuatan bid’ah. (Mausu’ah Kuwaitiyah 2/373)

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin (Liqa Bab Maftuh) juga menilai hadits Abu Rafi’ dhaif.

Mungkinkah Ulama Berpendapat dengan Hadits Dha’if?

Terkadang muncul pertanyaan, “Jika memang hadits Abu Rafi’ dha’if, mengapa bisa ulama sebanyak itu berpendapat sunnahnya azan di telinga bayi dan berhujah dengan hadits Abu Rafi’?”

Hal semacam ini sangat mungkin terjadi. Orang yang mempelajari dan mendalami disiplin ilmu fikih pasti sering menemukan contoh semacam ini. Terkadang seorang ulama memegang pendapat yang bertentangan dengan hadits sahih karena hadits sahih itu belum sampai kepadanya. Ada pula seorang ulama berpendapat dengan hadits dha’if disebabkan tidak mengetahui sisi dha’ifnya. Jelasnya, ilmu Allah radhiallahu ‘anhuma yang diwariskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk kita sangatlah luas, sementara yang kita ketahui hanya sedikit.

Setelah menjelaskan kelemahan hadits Abu Rafi’, al-Mubarakfuri (Tuhfatul Ahwadzi 1514) mengatakan, “Bagaimana mungkin amalan ulama berdasarkan hadits ini, sementara hadits ini dha’if? Saya menjawab, benar. Hadits ini memang dha’if. Akan tetapi, menjadi kuat dengan hadits al-Husain bin Ali radhiallahu ‘anhuma yang diriwayatkan oleh Abu Ya’la al-Maushili dan Ibnu as-Sunni.”

Barangkali, inilah sebabnya mengapa para ulama berdalil dengan hadits Abu Rafi’. Sebab, ada beberapa riwayat yang dianggap bisa mendukung dan memperkuat hadits Abu Rafi’.

Adakah Hadits Lain yang Menguatkan Hadits Abu Rafi’?

Sebagian ulama yang berhujah dengan hadits Abu Rafi’ menyebutkan dua hadits lain untuk menguatkan dan mendukung hadits Abu Rafi’. Bagaimanakah derajat kedua hadits tersebut?

  1. Hadits al-Husain bin Ali radhiallahu ‘anhuma, dikeluarkan oleh Abu Ya’la di dalam al-Musnad (4/1602), Ibnus Sunni di dalam ‘Amalul Yaum (200/617), dan Ibnu ‘Asakir (16/182/2). Semuanya melalui jalur Yahya bin al-‘Ala ar-Razi, dari Marwan bin Salim, dari Thalhah bin Ubaidillah al-‘Uqaili, dari al-Husain bin Ali. Lafadz hadits al-Husain radhiallahu ‘anhu,

“Barang siapa lahir anaknya lalu ia mengumandangkan azan di telinga kanan dan iqamat di telinga kiri, Ummu as-Shibyan (setan) tidak akan memudaratkannya.”

Asy-Syaikh al-Albani menilai, “Sanad hadits ini maudhu’ (palsu). Yahya bin al-‘Ala dan Marwan bin Salim adalah pemalsu hadits.”

  1. Hadits Ibnu Abbas, dikeluarkan oleh al-Baihaqi di dalam Syu’abul Iman (no. 8620) melalui jalur Muhammad bin Yunus, dari al-Hasan bin ‘Amr bin Saif as-Sadusi, dari al-Qasim bin Muthayyib, dari Manshur bin Shafiyyah, dari Abu Ma’bad, dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma,

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengumandangkan azan untuk al-Hasan bin Ali saat lahir. Beliau azan di telinga kanan dan iqamat di telinga kiri.”

Akan tetapi, di dalam sanad hadits ini pun terdapat dua perawi pemalsu hadits, yaitu al-Hasan bin ‘Amr dan Muhammad bin Yunus. Jadi, hadits ini pun derajatnya maudhu’ (palsu). (Silsilah adh-Dha’ifah no. 312 dan 6121)

Jelaslah sudah bahwa hadits Abu Rafi’ tetap dihukumi dha’if. Sebab, dua hadits yang disebutkan sebagai penguat malah lebih parah lagi derajatnya. Kedua hadits tersebut sama-sama palsu.

Wallahu a’lam.

 

Bagaimanakah Seharusnya?

Sebagian kalangan bersikukuh melakukan amalan ini. Alasannya, setan akan lari terbirit-birit ketika mendengar azan. Memang benar, ada sebuah hadits yang menunjukkan hal itu (hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu riwayat al-Bukhari no. 608 dan Muslim no. 389). Hanya saja, azan yang dimaksud adalah azan syar’i yang berlandaskan hadits sahih. Padahal, kita telah membaca bersama bahwa hadits azan untuk bayi lahir adalah dha’if.

Ada juga yang beralasan ingin memperdengarkan kalimat-kalimat baik untuk pertama kali di pendengaran bayi. Hanya saja, Islam mendidik dan membimbing kita untuk beramal dan beribadah berdasarkan hujah dan dalil yang kuat. Adakah hujah yang kuat untuk mengumandangkan azan di telinga bayi? Lagi pula, apakah bayi tersebut memang benar-benar bisa mendengar azan?

Bahkan, ada yang beralasan dengan tindakan Umar bin Abdul Aziz rahimahullah yang melakukan amalan ini. Jawabannya, al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah (at-Talkhis al-Habir) menyatakan, “(Pertama) saya tidak melihatnya musnad (sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam). Kedua, seandainya pun benar Umar bin Abdul Aziz rahimahullah melakukannya, tidaklah bisa diterima sebagai hujah. Sebab, ibadah harus berdasarkan al-Qur’an dan as-Sunnah.”

Berdasarkan sedikit keterangan di atas, kita menyatakan bahwa azan di telinga bayi ketika lahir tidaklah dituntunkan oleh Islam. Sebab, tidak ditemukan dalil dan hujah yang bisa dijadikan sebagai landasan beramal.

Kita masih bisa memaklumi sebagian kaum muslimin yang masih melakukan amalan ini. Barangkali mereka belum mengetahui bahwa hadits yang dijadikan landasan adalah hadits lemah. Maka dari itu, tugas kita ialah menjelaskannya. Masalahnya, setelah seorang muslim mengetahui hadits dalam hal ini lemah, atas dasar apa ia tetap melakukannya?

Wallahul muwaffiq.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar ibnu Rifai

Sosok Yang Suci Bukan Syarat Penguasa Negeri

Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّهُ سَتَكُونُ أُمَرَاءُ تَعْرِفُونَ وَتُنْكِرُونَ فَمَنْ أَنْكَرَ فَقَدْ بَرِئَ وَمَنْ كَرِهَ فَقَدْ سَلِمَ، وَلَكِنْ مَنْ رَضِيَ وَتَابَعَ. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، أَفَلَا نُقَاتِلُهُمْ؟ قَالَ: لَا، مَا صَلَّوْا لَكُمُ الْخَمْسَ

“Sungguh akan ada pemimpin-pemimpin yang kalian kenal (kebaikan mereka, -pen.) dan kalian ingkari (kemaksiatan mereka, -pen.). Barang siapa mengingkari kemaksiatannya, dia terlepas dari tanggung jawab; dan barang siapa membencinya, dia selamat, tetapi (yang berdosa adalah) mereka yang ridha dan ikut.” Sahabat bertanya, “Bolehkah kami memerangi mereka?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidak boleh, selama mereka mengerjakan shalat lima waktu bersama kalian.”

Takhrij Hadits

Hadits dengan lafadz di atas diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad rahimahumallah dalam al-Musnad (6/295), melalui jalan Yazid dari Hisyam bin Hassan dari al-Hasan dari Dhabbah bin Mihshan dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha. Sanad hadits ini sahih, semua perawinya termasuk perawi al-Bukhari dan Muslim kecuali Dhabbah bin Mihshan, dia perawi Muslim. Hadits diriwayatkan pula oleh Ibnu Abi Syaibah rahimahumallah dalam al-Mushannaf (15/71), at-Tirmidzi rahimahumallah no. 2265, Abu Ya’la al-Mushili rahimahumallah no. 6980, dan Abu ‘Awanah melalui jalan Yazid bin Harun. At-Tirmidzi rahimahumallah berkata, “Hadits ini hasan sahih.” Hadits Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha ini diriwayatkan pula oleh al-Imam Muslim dalam Shahih-nya 3/1481, Abu Dawud no. 4760, Abu ‘Awanah (4/471, 473), ath-Thabarani dalam al-Kabir No.95/VIII/1434 H/2013 43 (23/761, 762), al-Baihaqi dalam as- Sunan al-Kubra (3/367) dan (8/158), serta al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah no. 2459, semua melalui jalan Hisyam bin Hassan.

Shahabiyah Perawi Hadits

Ummu Salamah radhiyallahu ‘anhua adalah Ummul Mukminin, Ibunda Kaum Mukminin, Hindun binti Abu Umayyah, Hudzaifah bin al-Mughirah al-Qurasyiah al- Makhzumiyyah. Kuniah beliau ialah Ummu Salamah, lebih masyhur dari namanya, Hindun. Beliau termasuk shahabiyah yang masuk Islam di awal-awal dakwah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, hijrah bersama suaminya Abu Salamah ke Habasyah sebagaimana keduanya juga hijrah ke Madinah. Abu Salamah, suami pertamanya adalah putra dari bibi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, sekaligus saudara sesusuan beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam. Abu Salamah meninggal dalam PerangUhud pada 3 H. Selesai masa ‘iddah, pada 4 H, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menikahi Beliau wafat di kota Madinah tahun 62 H. Ummu Salamah adalah istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang terakhir meninggal, semoga Allah Subhanahu wata’ala meridhainya.

Makna Hadits

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan sebuah perkara gaib dari Allah Subhanahu wata’ala terkait dengan apa yang akan menimpa kaum muslimin. Kemudian terbukti apa yang beliau kabarkan. Muncul umara (penguasa/ pemimpin) kaum muslimin yang melakukan kemungkaran dan kezaliman, di samping ada kebaikan-kebaikan pada diri mereka. Menaati penguasa kaum muslimin dalam perkara yang ma’ruf termasuk salah satu prinsip Ahlus Sunnah wal Jamaah, sebagaimana hal ini ditunjukkan oleh dalil-dalil al-Kitab dan as-Sunnah. Kita tentu berharap, yang menjadi pemimpin dan penguasa kaum muslimin adalah seorang yang adil dan istiqamah di atas Islam, sebagaimana umat ini pernah merasakannya, seperti al-Khulafa ar-Rasyidin: Abu Bakr ash-Shiddiq, Umar bin al-Khaththab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abu Thalib, demikian pula Mu’awiyah bin Abi Sufyan , di masa tabi’in, seperti Umar bin Abdul Aziz rahimahumallah, sebagaimana umat ini akan dipimpin oleh seorang yang adil di akhir zaman, yakni Imam Mahdi.

Akan tetapi, jika yang menjadi penguasa negeri kaum muslimin adalah pelaku berbagai kemungkaran (ahlul maksiat) dan sering berbuat zalim, masihkah mereka dianggap sebagai penguasa muslimin yang sah? Apakah tetap wajib bagi kita menaati mereka dalam hal-hal yang ma’ruf? Hadits Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha menjadi jawaban atas dua pertanyaan ini. Mereka masih sebagai pemimpin kaum muslimin. Mereka masih memiliki hak untuk ditaati dalam perkara yang ma’ruf. Perhatikan hadits Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha di atas. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam membimbing umat untuk tetap taat dan tidak memerangi pemimpin selama mereka masih menegakkan shalat, selama mereka masih muslim walaupun melakukan berbagai kemungkaran yang kita ingkari. As-Sindi rahimahumallah menjelaskan beberapa lafadz hadits Ummu Salamah. Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ( تَعْرِفُونَ وَتُنْكِرُون ) “kalian mengetahui dan kalian mengingkari,” maknanya (akan ada penguasa-penguasa) yang kalian mengenal beberapa perbuatan baik mereka dan mengingkari sebagian perbuatan buruk mereka (menyelisihi syariat).”

(Maksudnya, ada kebaikan pada penguasa kalian sebagaimana halnya ada keburukan pada mereka, -pen.). Sabda beliau, ( فَمَنْ أَنْكَرَ ) “barang siapa mengingkari,” maksudnya mengingkari perbuatan buruk mereka dengan lisan, sungguh dia telah terbebas dari ikatan kewajiban untuk nahi mungkar. Barang siapa tidak mengingkari dengan lisan, namun ada kebencian dalam hatinya, diajuga selamat dari kebinasaan. Akan tetapi, barang siapa ridha dengan tingkah laku mereka yang mungkar dan mencocokinya, dia binasa atau berserikat dengan mereka dalam kejelekan. Demikian penjelasan as-Sindi rahimahumallah.

Menasihati dengan lisan yang dimaksud adalah menasihati penguasa muslim dengan lisan secara sembunyisembunyi, tidak terang-terangan di hadapan umum semacam demonstrasi atau orasi di atas mimbar. Hal ini dituntunkan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabda beliau,

مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِذي سُلْطَانٍ بِأَمْرٍ فَلَا يُبْدِ لَهُ عَلَانِيَةً وَلَكِنْ لِيَأْخُذْ بِيَدِهِ فَيَخْلُوَ بِهِ فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ وَإِلَّا كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ لَهُ

“Barang siapa ingin menasihati pemimpin, janganlah menampakkannya secara terang-terangan. Akan tetapi, hendaknya ia membawanya lalu menyepi dengannya (untuk menasihatinya). Jika diterima, itulah yang diharapkan. Jika tidak, dia telah menunaikan kewajiban yang ditanggungnya.” (Dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam takhrij kitab as- Sunnah no. 1097)

Demikianlah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengajari kita mengingkari keburukan penguasa dan menasihati mereka tidak dengan terang-terangan sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menasihatkan dengan tegas dalam hadits yang mulia ini. Kemaksuman Bukan Syarat Sahnya Seorang Penguasa Sering menjadi bahan perdebatan bahwa kezaliman penguasa, seperti korupsi, dst., adalah perkara yang membolehkan rakyat untuk melakukan pemberontakan dan melepaskan diri dari ketaatan, bahkan mengingkari kepemimpinan mereka. Semua ini adalah persangkaan batil, bagian dari bisikan-biskan iblis dan bala tentaranya.

Kemaksuman bukanlah syarat sahnya seorang sebagai waliyul amr, sebagaimana kemaksuman bukan syarat berlakunya hak mereka untuk ditaati dalam perkara yang ma’ruf. Mereka yang membolehkan pemberontakan kepada penguasa kaum muslimin dengan semata-mata kezaliman penguasa telah menyelisihi nash-nash al-Kitab dan as-Sunnah. Mereka yang tidak mengakui kepemimpinan penguasa dengan sebab kemaksiatan-kemaksiatan tersebut juga telah jatuh dalam kesalahan, padahal mereka—para penguasa—masih menegakkan shalat, masih muslim. Banyak dalil menetapkan perkara ini. Di antaranya ialah hadits Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha yang ada di hadapan kita. Demikian pula sabda-sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berikut.

• Disebutkan dalam Shahih Muslim, sahabat Auf bin Malik radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

خِيَارُ أَئِمَّتِكُمْ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ، وَيُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ، وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمْ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ. قِيلَ: يَا رَسُولَ اللهِ أَفَلَا نُنَابِذُهُمْ بِالسَّيْفِ؟ فَقَالَ: لَا مَا أَقَامُوا فِيكُمْ الصَّلَاةَ، وَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْ وُلَاتِكُمْ شَيْئًا تَكْرَهُونَهُ، فَاكْرَهُوا عَمَلَهُ، وَلَا تَنْزِعُوا يَدًا مِنْ طَاعَةٍ

“Sebaik-baik penguasa (pemerintah) kalian adalah pemerintah yang kalian sayangi mereka dan mereka menyayangi kalian. Kalian senantiasa mendoakan kebaikan untuk mereka, mereka pun mendoakan kebaikan untuk kalian. (Adapun) sejahat-jahat pemerintah adalah mereka yang kalian membencinya, dan mereka membenci kalian, kalian melaknat mereka dan mereka melaknat kalian.”

Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bolehkah kami memerangi mereka dengan pedang?” Beliau berkata, “Tidak boleh, selama mereka menunaikan shalat. Apabila kalian melihat perkara yang kalian benci dari penguasa kalian, bencilah perbuatan mungkar mereka dan jangan kalian mencabut ketaatan kepada mereka.”

• Diriwayatkan pula oleh al-Imam Muslim rahimahumallah dalam Shahihnya dari sahabat Hudzaifah Ibnul Yaman radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

يَكُونُ بَعْدِي أَئِمَّةٌ لَا يَهْتَدُونَ بِهُدَايَ، وَلَايَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِي، وَسَيَقُومُ فِيهِمْ رِجَالٌ قُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الشَّيَاطِينِ فِي جُثْمَانِ إِنْسٍ. قَالَ: قُلْتُ كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُولَ اللهِ إِنْ أَدْرَكْتُ ذَلِكَ؟ قَالَ: تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلْأَمِيرِ وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ وَأُخِذَ مَالُك،َ فَاسْمَعْ وَأَطِعْ

“Akan muncul sepeninggalku para pemimpin yang tidak mengambil petunjuk dengan petunjukku dan tidak mengambil sunnah dengan sunnahku. Akan ada pula di tengahtengah mereka orang-orang yang berhati setan namun berbadan manusia.”

Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu bertanya, “Apa yang harus saya lakukan, wahai Rasulullah, jika saya menjumpai hal itu?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Engkau tetap mendengar dan taat kepada pemimpin, walaupun punggungmu dipukul dan hartamu dirampas, tetaplah mendengar dan taat.”

Dalam hadits ini, tampak bahwa penguasa muslim ketika itu melakukan banyak kemungkaran berupa penyelisihan syariat, sebagaimana mereka melakukan tindak aniaya. Namun Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tetap memerintahkan kita untuk mendengar dan taat dalam perkara yang ma’ruf.

• Dalam hadits yang lain dalam Shahih al-Bukhari dan Muslim, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ رَأَى مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلْيَصْبِرْ عَلَيْهِ فَإِنَّهُ مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ شِبْرًا فَمَاتَ إِلّاَ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً

“Barang siapa melihat sesuatu yang dibenci (tidak disukai) dari pemimpinnya, hendaklah ia bersabar atasnya. Sebab, barang siapa memisahkan diri dari jamaah satu jengkal lantas mati, itu adalah kematian jahiliah.” ( Mutafaq ‘alaih, dan ini adalah lafadz al-Imam Muslim rahimahumallah)

• Al-Imam al-Bukhari rahimahumallah meriwayatkan hadits dalam Shahihnya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ بَعْدِي أَثَرَةً وَأُمُورًا تُنْكِرُونَهَا. قَالُوا: فَمَا تَأْمُرُنَا، يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: أَدُّو إِلَيْهِمْ حَقَّهُمْ وَسَلُوا اللهَ حَقَّكُمْ

“Sesungguhnya sepeninggalku, kalian akan melihat sikap (penguasa) yang mementingkan diri sendiri dan banyak perkara yang kalian mengingkarinya.” Para sahabat bertanya, “Apa yang akan engkau perintahkan kepada kami, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Tunaikanlah hak mereka dengan baik dan mohonlah hak kalian kepada Allah Subhanahu wata’ala.”

An-Nawawi rahimahumallah berkata “Dalam hadits ini ada perintah untuk selalu mendengar dan taat, meskipun yang menjadi pemimpin berlaku zalim dan berbuat aniaya. Ketaatan yang menjadi haknya tetap harus ditunaikan, tidak boleh memberontak kepadanya dan melepaskan ketaatan kepadanya. Adapun kezaliman yang menimpa kalian, kembalilah selalu kepada Allah Subhanahu wata’ala dalam menyingkirkannya, demikian pula hak-hak kalian yang tertahan serahkanlah urusannya kepada Allah Subhanahu wata’ala.” (Syarh Shahih Muslim dengan beberapa perubahan)

Akidah Ulama Ahlus Sunnah dalam Masalah Ini

Beberapa hadits yang telah lalu menunjukkan bahwasanya kemaksuman bukan syarat sahnya seorang menjadi penguasa muslim. Demikian pula bukan syarat untuk ditaatinya seorang penguasa muslim, keberadaan mereka sebagai sosok yang selalu lurus di jalan Allah Subhanahu wata’ala. Mereka tidaklah maksum. Di atas akidah inilah, ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah berkeyakinan. Mereka tidak mensyaratkan sahnya waliyul amr sebagai seorang yang istiqamah dalam agama, sebagaimana hal itu bukan syarat untuk ditaatinya mereka dalam perkara yang ma’ruf.

• Al-Imam Abu Ja’far ath-Thahawi al-Hanafi rahimahumallah menjelaskan, di antara prinsip akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah “Kami tidak memandang bolehnya memberontak kepada para pemimpin dan pemerintah kami, meskipun mereka berbuat zalim, dan Kami tidak mendoakan kejelekan atas mereka. Kami tidak melepaskan diri dari ketaatan kepada mereka dan kami memandang ketaatan kepada mereka adalah ketaatan kepada Allah Subhanahu wata’ala sebagai suatu kewajiban, selama yang mereka perintahkan bukan kemaksiatan. Kami mendoakan untuk mereka kebaikan dan keselamatan.” (al-Aqidah ath-Thahawiyah)

• Al – Imam al – Ajurri rahimahumallah mengatakan, “Siapa saja yang menjadi pemimpinmu, dari bangsa Arab atau bukan, berkulit hitam atau putih, atau berasal dari bangsa non-Arab sekalipun, taatilah dalam perkara yang tidak mengandung kemaksiatan kepada Allah Subhanahu wata’ala, walaupun hakmu dizalimi, punggungmu dipukul, kehormatanmu dilanggar, dan hartamu dirampas…. Akan tetapi, bersabarlah!” (asy-Syari’ah lil Imam al-Ajurri)

• Al-Imam al-Qurthubi rahimahumallah menerangkan, “Yang menjadi pegangan mayoritas ulama ialah bahwa bersabar untuk tetap taat kepada pemimpin yang jahat itu lebih utama daripada memberontaknya, karena melepaskan ketaatan dan melakukan pemberontakan terhadapnya berarti mengubah keamanan dengan ketakutan, menumpahkan darah, dan memberi peluang kepada orangorang yang jahat, menebar bahaya bagi kaum muslimin, dan menciptakan kerusakan di muka bumi.” (al-Jami’ li Ahkamil Qur’an)

• Al-Imam ash-Shan’ani rahimahumallah dalam kitabnya, Subulus Salam, berkata, “Lafadz-lafadz hadits menunjukkan bahwa barang siapa memberontak kepada pemimpin yang telah disepakati oleh umat Islam dalam sebuah wilayah (negara), dia berhak dibunuh kerena telah menyusupkan kerusakan kepada masyarakat, sama saja apakah pemimpin tersebut seorang yang zalim atau adil. Dalam haditshadits lain dijelaskan, selama mereka menegakkan shalat dan selama kalian tidak melihat kekufuran yang nyata.” (Subulus Salam, 3/261)

Peringatan!

Keyakinan Ahlus Sunnah di atas tidak berarti bahwa Ahlus Sunnah membenarkan dan menyetujui kemungkaran para penguasa. Sama sekali tidak!

Bermudah-Mudah Memberikan Vonis Kafir

]Hadits Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha dan sabda-sabda Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam lainnya menunjukkan bahwa selagi para penguasa dalam keislaman, mereka adalah penguasa sah yang wajib kita taati dalam perkara yang ma’ruf, walaupun mereka bermaksiat, zalim, dan aniaya. Adapun jika yang menjadi penguasa, yang memerintah adalah orang-orang kafir, saat itu tidak ada lagi ketaatan. Boleh bagi kaum muslimin mengadakan pemberontakan, mengadakan kudeta kekuasaan untuk menggulingkan penguasa kafir dan menggantinya dengan penguasa muslim, tentu setelah kaum muslimin mempersiapkan kekuatan yang dengan itu insya Allah tujuan kudeta tercapai, dan setelah menempuh jalan yang paling mudah dan bermaslahat bagi kaum muslimin dalam menggulingkan penguasa kafir tersebut. Dalam sebuah riwayat, Ubadah bin ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu berkata,

بَايَعْنَا رَسُولَ اللهِ عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ  فِي الْمَنْشَطِ وَالْمَكْرَهِ، وَأَنْ لَا نُنَازِعَ الْأَمْرَ أَهْلَهُ، إِلاَّ أَنْ تَرَوْا كُفْراً بَوَاحاً عِنْدَكُمْ مِنَ اللهِ فِيهِ بُرْهَانٌ

Kami berbaiat (bersumpah setia) kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam untuk mendengar dan taat (kepada penguasa/pemimpin kaum muslimin) baik dalam keadaan senang atau susah dan tidak memberontak. (Rasulullah bersabda,) “Kecuali jika kalian melihat dari para penguasa kekufuran yang nyata, yang kalian memiliki bukti di sisi Allah Subhanahu wata’ala.”

Perhatian!

Penting pula kita ungkapkan di sini meskipun sekadar isyarat, di antara tindakan berbahaya dalam masalah menentukan sikap kepada penguasa adalah tasarru’ (bermudah-mudah dan tergesa) memberikan vonis kufur. Bahkan, yang sungguh menyedihkan, di antara para aktivis pergerakan bukan hanya bermudah-mudah memberi vonis kafir kepada kepala negara. Lebih dari itu, dengan sembrono mereka memberikan hukum kafir kepada semua aparatur pemerintah dan menetapkan negara tersebut sebagai negara kafir. Allahul musta’an.

Memutuskan hukum kafir atas seseorang adalah hukum syariat yang benar-benar harus dibangun di atas ilmu. Apalagi menilai satu negeri sebagai negeri kafir. Yang berbicara masalah tersebut adalah orang-orang yang berilmu, memiliki hujah yang kuat di sisi Allah Subhanahu wata’ala. Selain itu, vonis kafir tersebut tidak boleh ditujukan kepada siapa pun kecuali setelah semua sempurna syuruth at-takfir (syaratsyarat pengafiran) dan telah hilang semua mawani’ takfir (faktor yang menghalangi pengafiran). Bisa jadi, ada orang yang secara lahiriah melakukan perbuatan kekufuran, namun tidak bisa dihukumi kafir karena adanya (penghalangpenghalang) vonis kafir, atau tidak terpenuhinya syarat-syarat pengkafiran.

Khatimah

Sesungguhnya banyak syubhat (kerancuan) berpikir beberapa golongan yang menginginkan kerusakan di muka bumi—baik yang menisbatkan dirinya kepada Islam, atau agen-agen Yahudi dan sejenisnya yang terus berupaya merusak kekuatan kaum muslimin— dengan melakukan upaya pemberontakan kepada penguasa sah kaum muslimin. Di antara syubhat mereka, kebanyakan penguasa kaum muslimin saat ini bukan dari Quraisy, padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

قُرَيْشٌ وُلَاةُ النَّاسِ فِي الْخَيْرِ وَالشَّرِّ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

“Quraisy adalah pemimpinpemimpin bagi manusia baik dalam kebaikan, demikian pula dalam kejelekan, hingga hari kiamat.”

Betapa dangkalnya pemahaman agama mereka. Mereka mengambil sebagian ayat dan membuang sebagian lainnya.

أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ ۚ فَمَا جَزَاءُ مَن يَفْعَلُ ذَٰلِكَ مِنكُمْ إِلَّا خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَىٰ أَشَدِّ الْعَذَابِ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

“Apakah kamu beriman kepada sebagian al-Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian dari padamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.” (al-Baqarah: 85)

Benar, sabda Rasulullah n menetapkan bahwa Quraisy adalah pemimpin manusia, baik dalam kebaikan maupun dalam keburukan. Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memilih Abu Bakr ash- Shiddiq z sebagai khalifah sepeninggal beliau. Namun, harus kita ingat, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang mengabarkan bahwa pemimpin dari Quraisy, beliau pula yang memerintahkan kita untuk taat kepada penguasa muslim, walaupun bukan dari Quraisy. Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أُوصِيْكُم بِتَقْوَى اللهَ وَالسَمْعُ وَالطَاعَة وَاِنْ كَانَ عَبْدَا حَبَشِيَا

“Aku wasiatkan kepada kamu semua supaya bertakwa kepada Allah Subhanahu wata’ala, dan patuh serta taat walaupun yang memimpin kamu adalah seorang budak Habsyi.” (HR. Ahmad)

Dalam riwayat al-Imam Muslim rahimahumallah, Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu menyebutkan,

إِنَّ خَلِيلِي أَوْصَانِي أَنْ أَسْمَعَ وَأُطِيعَ وَإِنْ كَانَ عَبْدًا مُجَدَّعَ الْأَطْرَافِ

“Sesungguhnya kekasihku (Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam) memberi wasiat kepadaku supaya patuh dan taat walaupun yang memimpin adalah seorang hamba yang cacat (hina).” (HR. Muslim, 9/367, no. 3420)

Inilah sebagian jawaban dari beberapa kerancuan yang menyebar di tengah manusia di tengah-tengah keburukan dan musibah akhir zaman. Sungguh, tidak ada jalan keluar darinya kecuali dengan selalu berdoa kepada Allah Subhanahu wata’ala serta kembali kepada al- Kitab dan as-Sunnah dengan pemahaman salaful ummah.

وَصَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ وَالْحَمْدُ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc

Menggenggam Bara Kesabaran

Berdasarkan wahyu ilahi, lebih dari seribu tahun yang lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengabarkan sebuah kenyataan di akhir zaman dalam sabda beliau,

يَأْتِيْ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيْهِمْ عَلَى دِيْنِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الجَمْرِ

“Akan tiba suatu masa pada manusia, siapa di antara mereka yang bersikap sabar demi agamanya, ia ibarat menggenggam bara api.”

Seputar Hadits Hadits di atas diriwayatkan oleh al-Imam at-Tirmidzi (2/42) dan Ibnu Baththah di dalam al-Ibanah (1/173/2) dari sahabat mulia, Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu. Sanad hadits di atas memang dhaif,hanya saja ditemukan beberapa hadits lain yang bisa menguatkannya. Setelah menjelaskan hadits-hadits penguat, asy-Syaikh al-Albani (Silsilah Shahihah 2/682)

menerangkan, ”Kesimpulannya, hadits di atas dihukumi shahih tsabit dengan adanya haditshadits penguat. Sebab, tidak ada satu pun perawi di seluruh jalur periwayatan hadits yang patut dicurigai. Apalagi at- Tirmidzi dan ulama lainnya menyatakan hadits ini hasan. Wallahu a’lam.

Hadits di atas termasuk salah satu keajaiban dalam kitab Sunan karya al-Imam at-Tirmidzi. Sebab, hadits ini adalah satu-satunya sanad tsulatsi (antara Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan penulis kitab hanya dipisahkan oleh tiga perawi) di dalam Sunan at-Tirmidzi. Bayangkan saja! Al-Imam at- Tirmidzi meninggal dunia pada tahun 279 H. Lebih dari 200 tahun jarak antara beliau dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, tetapi sanad beliau sangat indah, hanya dipisahkan oleh tiga perawi saja. Tidak seluruh kitab-kitab hadits memuat sanad tsulatsi. Di dalam Shahih al-Bukhari terdapat 22 sanad tsulatsi. Adapun dalam Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, dan Sunan an-Nasa’i tidak terdapat satu pun sanad tsulatsi. Ada lima sanad tsulatsi di dalam Sunan Ibnu Majah. Yang paling banyak, sanad tsulatsi ditemukan di dalam al-Musnad karya al-Imam Ahmad, sebanyak 331 sanad. (Tahqiqur Raghbah lil Khudair)

Menggenggam Bara Api?

Sebagai bentuk kesempurnaan iblagh risalah (penjelasan tugas kerasulan), Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam seringkali menjelaskan sesuatu dengan contoh nyata yang disaksikan di dalam kehidupan seharihari. Dengan demikian, maksud dari risalah dan nubuwah dapat dimengerti dan dipahami dengan baik. Salah satu contohnya adalah hadits Anas bin Malik di atas. Beliaum memberitakan tentang kondisi pengikut setia beliau di akhir zaman, yang mesti berkorban besar demi berdiri kokoh di atas kebenaran. Masa-masa yang dipenuhi dengan godaan syahwat dan syubhat, kejahilan yang semakin merata, ilmu yang dicabut dengan wafatnya para ulama, dan semakin lemahnya semangat untuk mencari kebenaran hakiki. Dalam kondisi semacam itu, seorang hamba yang bertekad menegakkan dinul islam secara utuh dan kaffah harus menjalani hari-hari sulit. Sulit dan beratnya menggenggam kebenaran diibaratkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan sulit dan beratnya menggenggam bara api. Nas’alullahul i’anah.

Al-Imam al-Munawi rahimahumallah (Faidhul Qadir 6/590) menjelaskan hadits di atas, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan perumpamaan tentang sesuatu yang abstrak dengan hal yang nyata. Artinya, seorang hamba yang bersikap sabar untuk melaksanakan hukum-hukum al-Qur’an dan as-Sunnah, pasti akan merasakan permusuhan dan kebencian dari kalangan ahlul bid’ah dan kelompok-kelompok sesat. Hal ini disamakan dengan seseorang yang menggenggam bara api dengan telapak tangannya, bahkan lebih dahsyat lagi. Hadits ini termasuk mukjizat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebab, beliau memberitakan tentang sesuatu yang bersifat gaib dan kemudian benar-benar terjadi.”

Ath-Thibi rahimahumallah (Marqatil Mafatih 15/307) menjelaskan, “Makna hadits di atas, sebagaimana halnya seseorang yang menggenggam bara api tidak mampu bersabar karena tangannya akan terbakar, demikianlah pula seorang hamba yang ingin menegakkan agama sepenuhnya. Ia akan merasa kesulitan untuk tetap tegar di atas agamanya. Sebab, maksiat lebih dominan dan mayoritas manusia adalah para pelaku maksiat. Demikian pula kefasikan telah menyebar, ditambah lagi dengan lemahnya keimanan.”

Bukan Sebatas Berita

Apakah hadits ini hanya sebatas berita saja? Tidak! Alangkah sayang dan cintanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada umat ini. Beliau mewariskan sebuah nasihat emas untuk umat agar mereka benar-benar mempersiapkan diri sebaik-baiknya di dalam menghadapi kenyataan pahit ini. Jangan terkejut! Jangan kaget! Jangan bersedih! Melewati hari-hari di dunia dalam keterasingan demi menegakkan al-Qur’an dan as-Sunnah adalah sebuah kepastian yang tidak dapat dihindari.

Jika Anda dibenci, dimusuhi, dijauhi, dan dikucilkan hanya karena ingin menjalankan ibadah sesuai tuntunan al-Qur’an, as-Sunnah, dan pemahaman Salafus Shalih, berbahagialah. Tidak perlu berkecil hati dan tidak usah bergundah gulana. Mengapa harus berkecil hati? Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda di dalam hadits Abu Hurairah

بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ

“Islam mulai dalam keadaan terasing. Islam pasti akan kembali terasing sebagaimana permulaannya. Maka, Thuba untuk mereka yang terasing.” (HR. Muslim)

An-Nawawi rahimahumallah (dalam Syarah Shahih Muslim) menyebutkan beberapa penafsiran dari kata Thuba. Ada yang mengartikannya dengan kebahagiaan, penyejuk mata, kebaikan, surga, sebuah pohon di dalam surga, dan beberapa makna lain. Lalu an-Nawawi rahimahumallah menyimpulkan, Semua pendapat di atas sangat mungkin untuk dipahami dari hadits di atas. Wallahu a’lam.

Berbahagialah Anda yang hidup dalam keterasingan karena memilih hidup di dunia sebagaimana yang dituntunkan oleh Allah Subhanahu wata’ala dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Kehidupan yang telah dijalani dan diteladankan pula oleh para sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in, dan para pengikut mereka dengan baik.

Para Nabi Pun Merasakan

Seberat dan sesulit apapun cobaan dan ujian yang mesti dihadapi oleh seorang muslim demi menegakkan tauhid dan as-Sunnah, hakikatnya masih belum seberapa jika dibandingkan dengan cobaan yang pernah dihadapi dan dirasakan oleh para nabi. Ya, para nabi lebih berat cobaannya. Mereka didustakan oleh kaumnya, diusir, diancam, disakiti secara fisik, dituduhdengan keji, bahkan tidak sedikit dari mereka yang dibunuh. Oleh sebab itu, sering-seringlah membaca kisah para nabi dan rasul di dalam berdakwah menyampaikan kebenaran. Sungguh, membaca kisah-kisah mereka akan menyejukkan hati, terkhusus kisah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَإِذْ يَمْكُرُ بِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِيُثْبِتُوكَ أَوْ يَقْتُلُوكَ أَوْ يُخْرِجُوكَ ۚ وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللَّهُ ۖ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ

“Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu, membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya.” (al-Anfal: 30)

Jika Anda diancam untuk dipenjarakan, diusir, bahkan dibunuh hanya karena Anda ingin menegakkan agama Islam sesuai dengan tuntunan Rasulullah n, janganlah bersedih dan berkecil hati. Sungguh, Allah pasti membela hamba-Nya yang ingin membela agama-Nya!

Pandangan Manusia Umumnya Adalah Dunia, Jangan Terpukau!

Salah satu faktor yang dapat membantu seorang muslim untuk tetap kokoh, tegar, dan tabah di atas kebenaran adalah tidak terpukau dan silau dengan kehidupan duniawi di sekelilingnya. Biarlah “keindahan” duniawi mereka kejar dengan penuh ambisi dan nafsu angkara. Adapun baginya, kehidupan akhirat lebih baik. Umar bin al-Khaththab (Shahih Muslim no. 1479) pernah menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam ruang khusus beliau. Melihat kesederhanaan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan bekas tikar kasar yang tampak terlihat di pinggang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, Umar radhiyallahu ‘anhu pun menangis.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada Umar tentang sebab dia menangis. Umar lalu menyampaikan kepada Rasulullah tentang kehidupan Raja Persia dan Raja Romawi yang penuh dengan kesenangan dan kelezatan duniawi. Sementara itu, beliau adalah seorang hamba terpilih dan utusan Allah Subhanahu wata’ala. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam lalu bersabda,

أَمَا تَرْضَى أَنْ تَكُونَ لَهُمَا الدُّنْيَا وَلَكَ الْآخِرَةُ

“Apakah engkau tidak ridha? Dunia untuk mereka sementara kenikmatan di akhirat nanti untukmu?”

Benar. Seorang muslim yang sungguh-sungguh ingin mencontoh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pasti merasakan kesempitan duniawi. Bukankah memang dunia adalah penjara bagi seorang mukmin? Namun,kesempitan duniawi itu tidaklah berarti setitik pun dibandingkan ketenteraman jiwa selama hidup di dunia dan kebahagiaan hakiki di surga Allah Subhanahu wata’ala kelak. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ ۚ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ

“Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan di dunia untuk Kami cobai mereka dengannya.Dan karunia Rabbmu adalah lebih baik dan lebih kekal.” (Thaha: 131)

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahumallah menjelaskan ayat di atas, “Allah lberfirman kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, ‘Janganlah engkau terpukau dengan mereka, kaum yang berlebihan materi dan hidup dalam kemewahan, dan yang semisal mereka. Sebab, semua itu hanyalah bunga-bunga kehidupan yang akan sirna dan kenikmatan yang sementara. Kami hanya ingin menguji mereka, dan alangkah sedikitnya hamba- Ku yang pandai bersyukur’.”

Sikap Seorang Muslim

Ketika hati terasa sempit dan dada menjadi sesak karena menyaksikan pahitnya ujian dan cobaan di dunia. Ia ingin mengamalkan ajaran Islam seutuhnya, namun ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan. Sikap apa yang harus dipilih oleh seorang muslim dalam kenyataan semacam ini? Ia tidak boleh putus asa dari rahmat Allah Subhanahu wata’ala. Ia harus yakin dan berprasangka baik bahwa Allah Subhanahu wata’ala pasti membalas dengan ganjaran terbaik. Ia harus tetap beribadah semaksimal mungkin dan memperbanyak doa kepada Allah Subhanahu wata’ala. Di balik setiap kesulitan pasti ada kemudahan. Demi Allah, Dia tidak akan menyelisihi janji Nya.

Sebagai khatimah, marilah kita resapi nasihat indah penyejuk jiwa dari asy- Syaikh Abdurrahman as-Sa’di berikutini. Setelah menerangkan hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu di atas (dalam Bahjah Qulubil Abrar), beliau menutup kajian hadits dengan menyimpulkan, “Dalam kondisi semacam ini, seorang mukmin hanyalah bisa berdoa,

لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ، حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الوَكِيْلُ،عَلَى اللهِ تَوَكَّلْنَا، اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ، وَإِلَيْكَ الْمُشْتَكَى وَأَنْتَ الْمُسْتَعَانُ وَبِكَ الْمُسْتَغَاثُ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ العَلِيِّ العَظِيْم

“Tidak ada usaha dan kekuatan selain dengan izin Allah. Cukuplah Allah bagi kami, Dialah sebaik-baik Dzat yang dipasrahi (urusan), kepada Allah sajalah kami bertawakal. Ya Allah, milik-Mulah segala pujian, kepada-Mulah tempat mengadu, Engkaulah Dzat yang dimintai pertolongan, kepada-Mulah diminta kebebasan dari kesempitan. Tidak ada usaha dan kekuatan selain dengan izin Allah, Yang Mahatinggi dan Mahaagung.”

Kemudian, ia berusaha sesuai dengan kemampuannya untuk menegakkan keimanan, nasihat, dan dakwah. Ia berusaha untuk bersikap qanaah dengan hasil yang sedikit jika tidak memungkinkan hasil yang banyak. Ia juga berusaha untuk menghilangkan keburukan dan meminimalkannya, jika selain itu tidak memungkinkan.

Barang siapa bertakwa kepada Allah Subhanahu wata’ala, pasti Dia akan menunjukkan jalan keluar untuknya. Barang siapa bertawakal kepada Allah Subhanahu wata’ala, Allah Subhanahu wata’ala cukup untuknya. Barang siapa bertakwa kepada Allah Subhanahu wata’ala, pasti Allah Subhanahu wata’alaakan memudahkan seluruh urusannya.”

Wallahul muwaffiq ila ahdas sabil.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar bin Rifai

Karamah Wali Bagian dari Mukjizat Nabi

وَعَنْ أَبِي مُحَمَّدٍ عَبْدِ الرَحْمَنِ بْنِ أَبِي بَكْرٍ الصِدِّيقِ أَنَّ أَصْحَابَ الصُّفَّةِ كَانُوا أُنَاسًا فُقَرَاءَ، وَأَنَّ النَّبِيَّ قَالَ مَرَّةً: مَنْ كَانَ عِنْدَهُ طَعَامُ اثْنَيْنِ فَلْيَذْهَبْ بِثَالِثٍ، وَمَنْ كَانَ عِنْدَهُ طَعَامُ أَرْبَعَةٍ فَلْيَذْهَبْ بِخَامِسٍ بِسَادِسٍ-أَوْ كَمَا قَالَ. وَأَنَّ أَبَا بَكْرٍ جَاءَ بِثَلَاثَةٍ، وَانْطَلَقَ النَّبِيُّ بِعَشْرَةٍ، وَأَنَّ أَبَا بَكْرٍ تَعَشَّى عِنْدَ النَّبِيِّ ثُمَّ لَبِثَ حَتَّى صَلَّى الْعِشَاءَ، ثُمَّ رَجَعَ، فَجَاءَ بَعْدَ مَا مَضَى مِنَ اللَّيْلِ مَا شَاءَ اللهُ. قَالَتْ لَهُ امْرَأَتُهُ: مَا حَبَسَكَ عَنْ أَضْيَافِكَ؟ قَالَ: أَوَ مَا عَشَيْتِهِمْ؟ قَالَتْ: أَبَوْا حَتَّى تَجِيءَ وَقَدْ عُرِضُوا عَلَيْهِمْ. قَالَ: فَذَهَبْتُُ أَنَا فَاخْتَبَأْتُ، فَقَالَ: يَا غُنْثَرُ، فَجَدَعَ وَسَبَّ، وَقَالَ: كُلُوْا لاَ هَنِيئًا، وَاللهِ لاَ أَطْعَمُهُ أَبَدًا. قَالَ: وَاَيْمُ اللهِ مَا كُنَّا نَأْخُذُ مِنْ لُقْمَةٍ إِلاَّ رَبَا مِنْ أَسْفَلِهَا أَكْثَرُ مِنْهَا حَتَّى شَبِعُوا، وَصَارَتْ أَكْثَرَ مِمَّا كَانَتْ قَبْلَ ذَلِكَ. فَنَظَرَ إِلَيْهَا أَبُو بَكْرٍ فَقَالَ مِالْرَأَتِهِ: يَا أُخْتَ بَنِي فِرَاسٍ مَا هَذَا؟ قَالَتْ: لاَ وَقُرَّةِ عَيْنِي لَهِيَ الْآنَ أَكْثَرُ مِنْهَا قَبْلَ ذَلِكَ بِثَلَاثِ مَرَّاتٍ! فَأَكَلَ مِنْهَا أَبُو بَكْرٍ وَقَالَ: إِنَّمَا كَانَ ذَلِكَ مِنَ الشَّيْطَانِ,يَعْنِي يَمِيْنَهُ.ثُمَّ أَكَلَ مِنْهَا لُقْمَةً، ثُمَّ حَمَلَهَا إِلَى النَّبِيِّ فَأَصْبَحْتُ عِنْدَهُ، وَكَانَ بَيْنَنَا وَبَيْنَ  قَوْمٍ عَهْدٌ، فَمَضَى الْأَجَلُ، فَتَفَرَّقْنَا اثْنَيْ عَشَرَ رَجُلًا، مَعَ كُلِّ رَجُلٍ مِنْهُمْ أُنَاسٌ، اللهُ أَعْلَمُ كَمْ مَعَ كُلِّ رَجُلٍ، فَأَكَلُوا مِنْهَا أَجْمَعُونَ

Dari Abu Muhammad Abdurrahman bin Abu Bakr ash-Shiddiq, ia berkata bahwa sesungguhnya ahli Shuffah adalah kaum yang fakir. Suatu saat Nabi n bersabda, “Siapa yang memiliki makanan untuk dua orang hendaknya membawa orang yang ketiga. Dan siapa yang memiliki makanan untuk empat orang hendaknya membawa orang kelima atau keenam—demikian kurang lebih sabda be liau.” Selanjutnya Abdurrahman berkata bahwa Abu Bakr (ketika itu) membawa tiga orang, sedangkan Nabi membawa sepuluh orang. Abu Bakr makan malam bersama Rasulullah n kemudian tetap tinggal hingga shalat isya, dan kembali setelah berlalu malam sesuai yang Allah kehendaki. Istri Abu Bakr bertanya, “Apa yang menahanmu pulang untuk makan bersama tamu-tamumu?” Abu Bakr berkata, “Bukankah kalian sudah memberi mereka makan malam?” Istrinya menjawab, “Mereka menolak makan sampai engkau datang, padahal makanan sudah dihidangkan.” Abdurrahman berkata, “Aku pun pergi dan bersembunyi. Ayahku (Abu Bakr) berkata kepadaku, ‘Wahai bodoh!’ Abu Bakr mencela dan memaki. Kemudian ia berkata kepada keluarganya, ‘Makanlah kalian dengan tidak nikmat! Demi Allah, aku tidak akan memakannya selamanya’.” Abdurrahman berkata, “Demi Allah, tidaklah kami mengambil sesuap hidangan kecuali muncul dari bawah makanan lebih banyak dari sesuap yang diambil, hingga semua kenyang sementara hidangan lebih banyak dari sebelumnya. Abu Bakr pun melihat hidangan. Lalu berkata kepada istrinya, ‘Wahai saudara perempuan bani Firas, apa ini?’ Istri Abu Bakr berkata, ‘Betapa sejuknya mataku (yakni demi Allah), sungguh makanan ini tiga kali lipat lebih banyak.’ Abu Bakr pun makan, (padahal sebelumnya telah bersumpah untuk tidak makan, –pen.), kemudian berkata, ‘Sesungguhnya hal itu—yakni sumpahnya—dari setan.’ Lalu Abu Bakr memakannya satu suapan dan dibawanya kepada Nabi n, hingga hidangan itu pada pagi harinya di sisi Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam.” Abdurrahman berkata, “Sebelumnya kami memiliki janji dengan sebuah kaum. Tibalah waktu bertemu. Kami pun berpencar menjadi dua belas orang, masing-masing bersama serombongan—Allah Yang Mahatahu berapa orang bersama mereka. Semua makan dari hidangan Abu Bakr.

 

Takhrij Hadits

Hadits dengan lafadz di atas disepakati oleh al-Bukhari dan Muslim rahimahumallah. Al-Bukhari meriwayatkannya dalam Shahih-nya, Kitab Mawaqit ash-Shalah (Waktu-Waktu Shalat) bab “Begadang Bersama Tamu”, dari gurunya, Abu an- Nu’man, dari Mu’tamir bin Sulaiman, dari ayahnya, Sulaiman, dari Abu Utsman, dari Abdurrahman bin Abu Bakr. Diriwayatkan pula oleh al-Imam Muslim rahimahullah dalam Shahih-nya, Kitab al-Asyribah (3/1627 no. 2057) dari tiga guru beliau, Ubaidullah bin Muadz al-Anbari, Hamid bin Umar al- Bakrawi, dan Muhammad bin Abdul A’la al-Qaisi, dari Mu’tamir, dari Sulaiman, dari Abdurrahman bin Abi Bakr. Dalam sebagian riwayat al-Bukhari (10/443) disebutkan, Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu berkata kepada putranya,

دُونَكَ أَضْيَافَكَ فَإِنِّي مُنْطَلِقٌ إِلَى النَّبِيِّ فَافْرَغْ مِنْ قُرَاهُمْ قَبْلَ أَنْ أَجِيءَ. فَانْطَلَقَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ فَأَتَاهُمْ بِمَا عِنْدَهُ، فَقَالَ: اطْعَمُوا. فَقَالُوا :  أَيْنَ رَبُّ مَنْزِلِنَا؟ قَالَ: اطْعَمُوا.قَالُوا:  مَا نَحْنُ بِآكِلِينَ حَتَّى يَجِيءَ رُبُّ مَنْزِلِنَا. قَالَ: اقْبَلُوا عَنَّا قُرَاكُمْ فَإِنَّهُ إِنْ جَاءَ وَلَمْ تَطْعَمُوا لَنَلْقِيَنَّ مِنْهُ. فَأَبَوْا فَعَرَفْتُ أَنَّهُ يَجِدُ عَلَيَّ، فَلَمَّا جَاءَ تَنَحَّيْتُ عَنْهَ، فَقَالَ: مَا صَنَعْتُمْ فَأَخْبِرُوهُ. فَقاَلَ: يَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ. فَسَكَتُّ، ثُمَّ قَالَ: يَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ. فَسَكَتُّ، فَقَالَ: يَا غُثَرُ، أَقْسَمْتُ عَلَيْكَ  إِنْ كُنْتَ تَسْمَعُ صَوْتِي لَمَا جِئْتَ. فَخَرَجْتُ فَقُلْتُ: سَلْ أَضْيَافَكَ. فَقَالُوا: صَدَقَ، أَتَانَا بِهِ. فَقَال: إِنَّمَا انْتَظَرْتُمُونِي، وَاللهِ لاَ أَطْعَمُهُ اللَّيْلَة. فَقَالَ : الْآخَرُونَ: وَاللهِ، لاَ نَطْعَمُهُ حَتَّى تَطْعَمَ قَالَ: وَيْلَكُمْ مَا لَكُمْ تَقْبَلُونَ عَنَّا قُرَاكُمْ, هَاتِ طَعَامَكَ. فَجَاءَ بِهِ فَوَضَعَ يَدَهُ فَقَالَ: بِسْم اللهِ، الْأُوْلَى مِنَ الشَّيْطَانِ، فَأَكَلَ وَأَكَلُو

Abu Bakr berkata kepada Abdurrahman, “Muliakan tamumu, karena aku akan pergi ke tempat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Suguhkanlah jamuan untuk mereka sebelum aku pulang.” Abdurrahman bergegas menyuguhkan makanan yang ia miliki dan berkata, “Silakan kalian memakannya.” Mereka berkata, “Di mana tuan rumah kita?” Abdurrahman berkata, “Ayolah kalian makan!” Mereka menjawab, “Kami tidak akan memakannya sampai tuan rumah kita datang.” Abdurrahman berkata, “Terimalah jamuan kami. Jika ia pulang dan kalian belum memakannya, ia akan marah kepada kami.” Mereka tetap enggan memakannya. Saya tahu bahwa Abu Bakr akan marah kepadaku. Ketika Abu Bakr datang, aku bersembunyi. Abu Bakr berkata, “Apa yang kalian perbuat?” Para tamu pun memberi tahu Abu Bakr. (Tahulah Abu Bakr bahwa tamunya belum makan malam, -pen.) Abu Bakr berkata, “Wahai Abdurrahman!” Abdurrahman diam (ketakutan). Abu Bakr mengulangi, “Wahai Abdurrahman!” Abdurrahman tetap diam. Abu Bakr lalu berkata, “Wahai orang bodoh! Aku bersumpah, jika kamu mendengar suaraku ketika aku datang, kamu harus keluar.” Aku (Abdurrahman) keluar dan berkata, “Tanyakan kepada tamumu (apa yang terjadi).” Mereka berkata, “Ia benar. Ia telah menghidangkan kepada kami jamuan (namun kami menolaknya hingga engkau datang, –pen.). Abu Bakr berkata, “Kalian hanya menungguku? Demi Allah, aku tidak akan memakannya malam ini.” Para tamu mengatakan, “Demi Allah, kami tidak akan memakannya sampai engkau (wahai Abu Bakr) memakannya.” Abu Bakr berkata, “Betapa terlalu kalian ini. Mengapa kalian tidak mau menerima jamuan kami? Hidangkan segera jamuannya!” Kemudian dibawalah makanan, lalu Abu Bakr letakkan tangannya pada makanan lantas berkata, “Bismillah. Yang pertama tadi (yakni sumpah untuk tidak makan, -pen.) dari setan.” Abu Bakr memakannya dan mereka pun memakannya.

Dalam riwayat lain dalam Shahih Bukhari (6/442) dikatakan: Abu Bakr bersumpah tidak akan memakan jamuan. Istrinya juga bersumpah tidak memakannya. Salah seorang tamu atau para tamu bersumpah mereka tidak akan makan kecuali jika Abu Bakr memakan hidangan. (Karena dihadapkan kepada sumpah para tamu) berkatalah Abu Bakr, “(Sumpahku) ini dari setan.” Abu Bakr meminta hidangan dikeluarkan lalu memakannya. Para tamu juga memakannya. Ketika mereka makan, tidaklah satu suap yang diangkat kecuali muncul dari bawahnya makanan yang lebih banyak dari yang diambil. Abu Bakr berseru kepada istrinya, “Wahai saudari bani Faras, apa ini?” Istrinya menjawab, “Betapa sejuknya mataku, hidangan itu sekarang sungguh lebih banyak daripada sebelum kita memakannya.” Kemudian mereka memakannya. Dibawalah makanan (yang bertambah banyak tersebut keesokan hari) kepada Nabi n. Ia sebutkan bahwa Nabi n pun ikut memakannya.

Abu Bakr ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, Wali Allah Termulia setelah Para Nabi & Rasul

Ahlus Sunnah wal Jamaah meyakini bahwa Abu Bakr ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu adalah manusia paling mulia setelah nabi dan rasul. Al-Imam Ahmad bin Hanbal t (241 H) berkata, “Sebaik-baik umat ini setelah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Abu Bakr ash-Shiddiq z, (kemudian) Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu, lalu Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu. Ketiganya didahulukan sebagaimana para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah mendahulukan mereka, tanpa berselisih tentangnya.” (Ushul as-Sunnah, al-Imam Ahmad) Berbeda halnya dengan agama Syiah (Rafidhah). Agama yang satu ini justru menyelisihi kesepakatan umat. Mereka merendahkan Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu, bahkan mengafirkannya. Abu Bakr lahir di tengah keluarga terhormat di kota Makkah pada 573 M, dua tahun enam bulan setelah tahun gajah. Namanya Abdullah bin Utsman bin ‘Amir al-Qurasyi at-Taimi. Lebih terkenal dengan kuniahnya, Abu Bakr, meskipun tidak memiliki putra bernama Bakr.

Di masa jahiliah, beliau adalah orang yang sangat terpandang di tengah kaumnya. Sebelum kenabian, beliau telah bersahabat dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam diutus oleh Allah Subhanahu wata’ala, beliaulah laki-laki dewasa pertama yang beriman. Beliau mendapat gelar ash- Shiddiq karena keimanannya yang sangat tinggi dan kepercayaan kepada Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam yang tidak tercampuri oleh keraguan. Di antara kemuliaan Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu, ia selalu menyertai kekasih Allah Subhanahu wata’ala dalam suka dan duka, baik di Makkah maupun sesudahnya. Dalam perjalanan hijrah, Allah Subhanahu wata’ala memilihnya menyertai Nabi dan kekasih-Nya. Semua peperangan bersama Rasul dia ikuti, termasuk Perang Badar, hingga akhir peperangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, Perang Tabuk. Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu adalah sahabat yang paling beliau cintai, sebagaimana halnya Aisyah radhiyallahu ‘anhuma, putri Abu Bakr ash-Shiddiq adalah wanita yang paling beliau cintai.

Saat sakit menjelang wafat, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyerahkan keimaman shalat kepada Abu Bakr, sebagai isyarat bahwa beliaulah sahabat termulia. Demikianlah sahabat memahaminya. Sepeninggal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, kaum muslimin bersepakat membaiat beliau sebagai khalifah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Kehidupan beliau dihiasi dengan perjuangan, pengorbanan, dan pembelaan terhadap Islam hingga wafat pada 13 H. Allah Subhanahu wata’ala memuliakan Abu Bakr dengan dimakamkan di samping Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, dan akan bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam serta para nabi di jannah-Nya, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang sahih.

Karamah Wali

Kisah hidangan Abu Bakr yang bertambah banyak adalah salah satu dalil yang menetapkan adanya karamah para wali. Makanan Abu Bakr bertambah setiap kali diambil, bahkan lebih banyak dari suapan yang diangkat. Allahu Akbar! Karamah adalah kejadian luar biasa yang diberikan oleh Allah Subhanahu wata’ala kepada para wali-Nya, seperti mukjizat. Hanya saja, karamah tidak diiringi oleh pengakuan kenabian, tidak pula diiringi tantangan kepada manusia. Karamah wali-wali Allah Subhanahu wata’ala ditetapkan berdasarkan al-Qur’an, as Sunnah, dan ijma’. Kisah Ashabul Kahfi adalah salah satu dalil al-Qur’an tentang adanya karamah. Ashabul Kahfi adalah tujuh pemuda beriman yang berjuang untuk selalu istiqamah di atas iman. Ketika mereka jujur dalam keimanan, Allah Subhanahu wata’ala memberikan sekian banyak kemuliaan. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

نَّحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَهُم بِالْحَقِّ ۚ إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى

“Kami ceritakan kisah mereka kepadamu (Muhammad) dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Rabb mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk.” (al-Kahfi: 13)

Allah Subhanahu wata’ala menjaga mereka dengan kejadian yang sungguh luar biasa. Inilah karamah Ashabul Kahfi. Mereka tidur di dalam gua selama 309 tahun. Tidak makan, tidak minum, rambut dan kuku tidak bertambah panjang, tubuh segar sehat wal afiat. Allah Subhanahu wata’ala menjaga mata mereka dengan selalu berkedip sehingga orang yang melihatnya menyangka mereka terjaga padahal tidur. Allah Subhanahu wata’ala menjaga pula tubuh mereka dari kerusakan.

Allah Subhanahu wata’ala membolak-balikkan ke kanan dan kiri. Tubuh mereka utuh seperti sedia kala, sehingga ketika mereka bangun—setelah tidur panjang selama tiga abad—tidak melihat ada satu keanehan dan kejanggalan pun pada tubuh mereka. Mereka menyangka hanya tidur sesaat. Kisah Dzulqarnain juga menjadi dalil lain adanya karamah. Hamba Allah Subhanahu wata’ala yang saleh ini diberi karamah, di antaranya dimudahkan membuat benteng yang menghalangi Ya’juj dan Ma’juj hingga menjelang hari kiamat. Adapun dalil adanya karamah dalam hadits bisa kita baca dalam banyak riwayat sahih, termasuk kisah Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu yang baru kita lalui. Karamah, Bagian dari Mukjizat Ketika membahas mukjizat para nabi dalam kitab-kitab Dalail an-Nubuwah, para ulama tidak lupa menyebutkan hadits-hadits tentang karamah waliwali Allah Subhanahu wata’ala. Al-Imam Abu Bakr Ja’far bin Muhammad al-Firyabi t (301 H) misalnya, memasukkan kisah hidangan Abu Bakr yang sedang kita bahas ini dalam kitabnya, Dalail an-Nubuwah.

Para ulama memasukkan karamah dalam kitab Dalail an-Nubuwah karena karamah wali-wali Allah Subhanahu wata’ala adalah bagian dari mukjizat nabi, yakni bukti kenabian. Mengapa demikian? Sebab, seseorang tidaklah mungkin menjadi wali Allah Subhanahu wata’ala dan mendapatkan karamah serta kemuliaan-kemuliaan di sisi-Nya, kecuali jika mengikuti jejak nabi dan rasul. Bukankah Allah Subhanahu wata’ala berfirman tentang hal ini dalam al-Qur’an? Perhatikan firman Allah Subhanahu wata’ala berikut,

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Katakanlah, “Jika kamu (benarbenar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Ali ‘Imran: 31)

Ayat ini tegas menunjukkan bahwasanya kecintaan Allah Subhanahu wata’ala, tidaklah diperoleh kecuali dengan mengikuti jalan Rasulullah n. Dalam sebuah hadits Qudsi, Allah Subhanahu wata’ala berfirman, “Barang siapa memusuhi wali-Ku, Aku umumkan perang terhadapnya. Tidaklah hamba- Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa-apa yang Aku wajibkan kepadanya. Senantiasa hamba-Ku itu mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya. Apabila Aku mencintainya, Aku akan menjadi pendengaran yang ia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, menjadi tangannya yang ia gunakan untuk memukul, dan menjadi kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia meminta pasti Aku beri, jika ia meminta perlindungan, niscaya Aku lindungi.” (HR . al-Bukhari)

Pelajaran dari Kisah Hidangan Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu

1. Hadits ini memuat dalil tentang keutamaan Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu dan bahwasanya beliau termasuk wali Allah Subhanahu wata’ala. Bahkan, beliau adalah wali Allah Subhanahu wata’ala yang paling afdal setelah para nabi, sebagaimana yang disepakati oleh Ahlus Sunnah wal Jamaah.

2. Anjuran untuk memberi makan kepada fuqara, walaupun dengan menyertakan mereka untuk makan bersama. Memberi makan fuqara adalah salah satu amalan ahlul jannah ketika mereka di dunia. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan.” (al-Insan: 8)

3. Seorang yang mengajak kepada kebaikan hendaknya bersemangat untuk menerapkan lebih dahulu pada dirinya, sebagai teladan yang baik. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam membawa sepuluh ahli shuffah untuk menghadiri hidangan beliau.

4. Hadits ini memberikan gambaran keadaan sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dari kalangan ahli shuffah yang sangat bersahaja dan sabar dalam kemiskinan mereka.

5. Anjuran untuk memerhatikan keadaan orang-orang miskin.

6. Abu Bakr memiliki hidangan di rumah, namun beliau lebih memilih makan bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Ini menunjukkan kebersamaan beliau dengan Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam dan semangatnya untuk menghadiri hidangan orang-orang yang mulia dan memiliki keutamaan.

7. Bolehnya mengundang orang miskin untuk makan walaupun tidak menyertai makan bersama mereka, dengan syarat ada orang yang menggantikan kedudukannya sebagai pengundang untuk berkhidmat kepada tamu undangan. Hal ini seperti yang dilakukan oleh Abu Bakr ash-Shiddiq yang mewakilkan kepada putranya, Abdurrahman dan keluarganya.

8. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam terkadang makan malam selepas shalat isya.

9. Bolehnya begadang bersama keluarga atau tamu jika ada keperluan, seperti membahas ilmu.

10. Di balik kelembutan Abu Bakr, beliau seorang yang sangat berwibawa dan tegas memimpin keluarga serta mendidik putra-putrinya.

11. Di antara sebab berkah Allah Subhanahu wata’ala dalam makanan adalah berjamaah ketika makan dan mengucapkan basmalah sebelumnya.

12. Seorang anak menceritakan kisah ayahnya dengan hanya menyebut nama atau kuniah, seperti yang dilakukan oleh Abdurrahman bin Abu Bakr saat mengisahkan ayahnya, bukanlah bentuk kedurhakaan.

13. Bolehnya makan hingga kenyang.

14. Bolehnya menyimpan hidangan malam hingga pagi hari. Wallahu alam.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal

Membantah Hujah Praktik Mut’ah

عَنْ عَلِيٍّ أَنَّهُ سَمِعَ ابْنَ عَبَّاسٍ يُلَيِّنُ فِي مُتْعَةِ النِّسَاءِ فَقَالَ: مَهْلًا يَا ابْنَ عَبَّاسٍ، فَإِنَّ رَسُولَ اللهِ, نَهَى عَنْهَا يَوْمَ خَيْبَرَ وَعَنْ لُحُومِ الْحُمُرِ الْإِنْسِيَّةِ

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu pernah mendengar Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma bersikap lunak tentang praktik mut’ah atas kaum wanita. Lalu, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu pun menegur, “Hati-hati, wahai Ibnu Abbas! Sebab, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah melarang praktik mut’ah pada Perang Khaibar. Demikian juga, beliau melarang untuk mengonsumsi keledai peliharaan.”

 

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu Membolehkan Mut’ah?

Awalnya, Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma memang memperbolehkan nikah mut’ah (HR. al-Bukhari no. 5116 dan Muslim no. 1407). Namun, beliau diingkari oleh para sahabat, seperti Abdullah bin Umar, Abdullah bin az- Zubair, dan tentu saja Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, sebagaimana halnya riwayat di atas. Dalam beberapa riwayat diterangkan bahwa pendapat Ibnu Abbas itu pun hanya dalam keadaan darurat, sebagaimana halnya hukum darah, bangkai, dan daging babi. Hanya saja, sebagian orang bermudah-mudah dengan fatwa tersebut. Akhirnya, Ibnu Abbas pun rujuk dan mencabut fatwa tersebut.

Abu ‘Awanah (al-Mustakhraj, no. 4057) meriwayatkan dengan sanad yang sahih dari ar-Rabi’ bin Sabrah, beliau berkata, “Sebelum meninggal dunia, Ibnu Abbas telah rujuk dari fatwa tersebut.” Lalu, apakah termasuk sikap adil, menisbatkan satu pendapat kepada seseorang, sementara ia sendiri telah rujuk dan mencabut pendapat tersebut?

 

Satu dari Dosa Syiah

Na’udzu billah minal hawa wal bida’! Benar-benar sebuah kejahatan dan kekejian besar! Agama diperalat sebagai alat pembenaran untuk melakukan sebuah dosa nista. Dengan iming-iming praktik mut’ah, sudah sekian banyak kaum  muda menjadi korban paham Syiah yang menyesatkan. Setumpuk hadits palsu tentang pahala dan derajat tinggi bagi pelaku mut’ah tanpa malu dan rasa takut kepada Allah Subhanahu wata’ala disodorkan kepada kaum muda. Kejahilan akan hakikat Islam semakin memperparah kondisi mereka. Akhirnya? “Saya benar-benar menyesal! Lebih baik mati daripada hidup seperti ini. Saya menyangka praktik mut’ah adalah bagian dari syariat Islam. Ternyata, dusta kaum Syiah belaka!” sesal seorang pemuda.

Mut’ah sendiri artinya bentuk akad dengan seorang wanita untuk berhubungan suami istri, baik dalam jangka waktu tertentu maupun tidak, asalkan tidak lebih dari empat puluh lima hari, tanpa ada keharusan menafkahi, tidak menyebabkan saling mewarisi, tidak mengharuskan nasab, dan tanpa masa iddah. Bahkan, kalangan Syiah tidak mensyaratkan adanya wali dan saksi.

 

Takhrij Hadits

Hadits di atas diriwayatkan oleh al- Imam al-Bukhari (no. 1407), al-Imam Muslim (no. 4216), Ahmad (1/79), an-Nasa’i (6/125), at-Tirmidzi (no. 1121), dan Ibnu Majah (1961), lafadz hadits di atas adalah lafadz al-Imam Muslim rahimahumullah. Hadits di atas diriwayatkan dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam oleh Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, sahabat yang dihormati, dimuliakan, dan dijunjung tinggi oleh seluruh kaum muslimin, termasuk oleh kaum Syiah. Bahkan, menurut Syiah, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu dianggap sebagai junjungan tertinggi mereka. Lantas mengapa mereka tidak meneladani Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu yang menegaskan bahwa praktik mut’ah telah diharamkan sampai hari kiamat?

Kemudian, siapakah perawi yang menyambung mata rantai sanad hadits di atas? Tidak lain putra kandung Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu sendiri yang bernama Muhammad bin Ali bin Abi Thalib, yang lebih dikenal dengan Muhammad bin al-Hanafiyyah. Siapakah perawi yang berikutnya? Dua orang perawi. Kedua-duanya adalah putra kandung Muhammad bin al- Hanafiyyah, cucu Ali bin Abi Thalib. Pertama, Al-Hasan bin Muhammad bin Ali bin Abi Thalib; yang kedua adalah Abdullah bin Muhammad bin Ali bin Abi Thalib. Bagi kaum Syiah yang mengaku cinta kepada Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, buktikan kecintaan itu dengan meneladani beliau dan anak cucu beliau g yang telah melarang praktik mut’ah!

 

Hadits-Hadits tentang Mut’ah

Riwayat dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam tentang praktik mut’ah memang berbeda-beda. Ada sebagian riwayat menunjukkan tentang haramnya praktik mut’ah, namun ada juga riwayat yang secara jelas menerangkan bolehnya praktik mut’ah. Di sini salah satu letak keanehan kaum Syiah! Mereka berargumen dengan hadits-hadits yang membolehkan praktik mut’ah, padahal mereka sendiri mencela dan menolak kitab-kitab hadits yang meriwayatkan tentang bolehnya praktik mut’ah. Bagi mereka dan yang sependapat, hanya hadits-hadits yang membolehkan praktik mut’ah saja yang diterima. Sementara itu, seorang muslim yang berusaha memahami hadits dengan bimbingan ulama, dengan mudahnya memahami riwayat-riwayat tersebut.

Jika riwayat-riwayat tersebut direkonstruksi dengan sejarah, kesimpulan akhirnya akan sejalan dengan keterangan al-Imam an Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim. Beliau mengatakan, “Pendapat yang benar dan dipilih, pengharaman dan pembolehan nikah mut’ah masing-masing terjadi sebanyak dua kali. Sebelum peristiwa Khaibar dihalalkan, kemudian pada saat perang Khaibar diharamkan. Lalu ketika terjadi Fathu Makkah—termasuk Perang Authas karena bersambung—, nikah mut’ah diperbolehkan lagi. Akan tetapi, tiga hari kemudian, nikah mut’ah diharamkan untuk selamanya sampai hari kiamat.” Sahabat Rabi’ bin Sabrah radhiyallahu ‘anhu berkata,

أَمَرَنَا رَسُولُ اللهِ, بِالْمُتْعَةِ عَامَ الْفَتْحِ حِينَ  دَخَلْنَا مَكَّةَ، ثُمَّ لَمْ نَخْرُجْ مِنْهَا حَتَّى نَهَانَا عَنْهَا

“Pada tahun Fathu Makkah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengizinkan kami untuk melakukan mut’ah ketika kami memasuki kota Makkah. Kemudian, tidaklah kami keluar meninggalkan kota Makkah kecuali dalam keadaan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengharamkannya untuk kami.” (HR. Muslim no. 1406)

Pada saat itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ، إِنِّي قَدْ كُنْتُ أَذِنْتُ لَكُمْ فِي ا سْالِْتِمْتَاعِ مِنَ النِّسَاءِ، وَإِنَّ اللهَ قَدْ حَرَّمَ ذَلِكَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، فَمَنْ كَانَ عِنْدَهُ مِنْهُنَّ شَيْءٌ فَلْيُخَلِّ سَبِيلَهُ وَ تَأْخُذُوا مِمَّا آتَيْتُمُوهُنَّ شَيْئًا

“Wahai manusia, sesungguhnya dahulu aku pernah mengizinkan kalian untuk melakukan mut’ah atas kaum wanita. Sesungguhnya Allah telah Subhanahu wata’ala mengharamkan mut’ah sampai hari kiamat. Barang siapa masih terikat mut’ah dengan wanita, tinggalkanlah dia dan janganlah kalian mengambil kembali barang yang telah diberikan.”

 

Ijma’ Ulama

Selain itu, seluruh ulama kaum muslimin telah sepakat tentang haramnya praktik mut’ah. Jadi, siapa pun yang berpendirian bolehnya praktik mut’ah, sama artinya dengan menyelisihi ijma’ kaum muslimin. Ibnu Hubairah rahimahullah menegaskan, “Alim ulama telah berijma’ bahwa nikah mut’ah hukumnya batil. Tidak ada sedikit pun perselisihan di antara mereka.” Al-Qurthubi rahimahullah menyatakan, “Seluruh riwayat bersepakat bahwa masa diperbolehkannya nikah mut’ah tidaklah terlalu lama. Kemudian, setelah itu nikah mut’ah diharamkan. Berikutnya, ulama salaf dan khalaf telah berijma’ tentang diharamkannya nikah mut’ah, kecuali kaum Rafidhah yang tidak perlu dianggap.” (Taudhihul Ahkam, karya Alu Bassam 5/294)

Selain beliau berdua, masih banyak lagi ulama yang menyatakan bahwa praktik mut’ah diharamkan secara ijma’, antara lain al-Jashash rahimahullah (Tafsir 2/153), Ibnul Mundzir rahimahullah (Majmu’ Syarhil Muhadzab, 16/254), Ibnu Abdil Barr rahimahullah (al-Istidzkar, 16/294), al-Maziri rahimahullah (al-Mu’lim, 2/131), al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah (Syarah Muslim 9/181), dan al-Hamadzani rahimahullah (al- I’tibar, hlm. 177).

 

Apakah Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu yang Melarang Mut’ah?

Sebuah riwayat dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu diriwayatkan oleh al-Imam Muslim (no. 1405).

Beliau mengatakan,

فَعَلْنَاهُمَا مَعَ رَسُولِ اللهِ, ثُمَّ نَهَانَا عَنْهُمَا  عُمَرُ فَلَمْ نَعُدْ لَهُمَا

“Kami melakukan keduanya (mut’ah dan haji tamattu’) di masa Rasulullah. Kemudian Umar melarang kami untuk melakukannya. Sejak itu, kami tidak mengulanginya lagi.”

Kaum Syiah bersandar kepada riwayat Jabir di atas untuk mempertahankan praktik mut’ah. Alasan mereka, bukan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam yang melarang, melainkan Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Lihatlah bagaimana mereka memaksakan pendapat! Padahal ketika Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu diangkat sebagai Amirul Mukminin (Ibnu Majah, 1963), beliau menyampaikan khutbah, “Sesungguhnya, dahulu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memang mengizinkan kita selama tiga hari untuk melakukan mut’ah, tetapi setelah itu beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam mengharamkannya. Demi Allah, tidaklah aku mengetahui ada seseorang yang melakukan mut’ah dalam keadaan dia muhshan kecuali pasti akan aku rajam dia dengan batu.

Kecuali jika dia mampu mendatangkan empat saksi yang memberikan kesaksian bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah menghalalkannya setelah diharamkan.” Ath-Thahawi rahimahullah (Ma’anis Sunan, 2/258) mengatakan, “Inilah Umar yang telah melarang mut’ah untuk kaum wanita di hadapan para sahabat yang lain  dan beliau tidak diingkari. Hal ini menunjukkan bahwa para sahabat sepakat dengan beliau untuk melarang mut’ah. Kesepakatan mereka ini—untuk melarang mut’ah—adalah dalil bahwa hukum diperbolehkannya mut’ah telah dihapus, sekaligus sebagai hujah.” Sebagian Ulama Membolehkan?

Di dalam beberapa referensi, memang disebutkan beberapa nama sahabat dan tabi’in yang memperbolehkan praktik mut’ah. Sebut saja Abdullah bin Mas’ud, Mu’awiyah, Abu Sa’id, Salamah dari kalangan sahabat, Amr bin Huraits, Thawus, dan Sa’id bin Jubair rahimahumullah dari kalangan tabi’in. Hanya saja, semua riwayat dari mereka tidak terlepas dari dua kemungkinan:

1. Mereka telah rujuk dan mencabut pendapat tersebut, atau

2. Diriwayatkan melalui sanad yang lemah. Al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah membahas riwayat-riwayat tersebut secara rinci dalam kitab beliau Fathul Bari (10/216—218) dengan keterangan yang memuaskan. Walhamdulillah.

 

Ayat Mut’ah dalam Al-Qur’an?

Syiah masih juga memperjuangkan praktik mut’ah dengan menukil firman Allah Subhanahu wata’ala di dalam surat an-Nisa’ ayat 24,

فَمَا اسْتَمْتَعْتُم بِهِ مِنْهُنَّ فَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ فَرِيضَةً ۚ

“Maka istri-istri yang telah kamu nikmati (campur) di antara mereka, berikanlah kepada mereka mut’ahnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban.”

Mayoritas ahli tafsir menerangkan bahwa ayat di atas berkenaan dengan akad nikah yang biasa dikenal, bukan praktik mut’ah. Maksudnya, jika salah seorang di antara kalian menikahi seorang wanita, hendaknya ia menyerahkan mahar untuknya. Memang ada beberapa ahli tafsir yang menyatakan bahwa ayat ini terkait dengan praktik mut’ah. Akan tetapi, mereka sendiri menegaskan bahwa hukum mut’ah telah mansukh (gugur) dengan hadits-hadits yang sahih. Wallahu a’lam.

Selain ayat di atas, kalangan Syiah juga menyebutkan beberapa ayat al- Qur’an yang diklaim sebagai landasan dari praktik mut’ah. Ayat-ayat tersebut antara lain; al-Baqarah: 236, al- Baqarah: 241, al-Ahzab: 28, dan al-Ahzab: 49.

Cukuplah sebagai jawaban untuk mereka, pernyataan tegas az-Zujjaj (Syarah an-Nasa’i karya al-Atyubi 28/), “Sesungguhnya, sebagian kalangan telah terjatuh dalam kesalahan fatal berkenaan ayat ini karena kebodohan mereka terhadap lughah (bahasa Arab).”

 

Seorang Pemuda dan Rasulullah

Sebagai bukti lain kejahatan kaum Syiah dalam praktik mut’ah, mereka sendiri—terutama kalangan tokoh dan pimpinan Syiah—akan merasa keberatan jika praktik mut’ah itu dilakukan terhadap keluarga mereka, baik ibu, istri, putri, saudara perempuan, maupun bibi mereka. Semakin jelaslah bahwa praktik mut’ah adalah praktik zina yang dilakukan atas nama agama. Na’udzu billah min dzalik. Simaklah hadits Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu berikut ini, yang dikeluarkan oleh al- Imam Ahmad rahimahullah dan dinyatakan sahih oleh al-Albani. Seorang pemuda datang menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam untuk meminta izin agar diperbolehkan melakukan perbuatan zina.

Dengan penuh kasih sayang, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengarahkan cara berpikir pemuda tersebut. Beliau bertanya, “Relakah engkau jika hal itu terjadi pada ibumu? Relakah engkau jika hal itu terjadi pada putrimu? Relakah engkau jika hal itu terjadi pada saudara perempuanmu? Relakah engkau jika hal itu terjadi pada bibimu (dari jalur ayah)? Relakah engkau jika hal itu terjadi pada bibimu (dari jalur ibu)?” Setiap kali Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya, pemuda itu pasti menjawab, “Tentu tidak! Demi Allah! Allah Subhanahu wata’ala menjadikanku sebagai tebusan Anda.”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Kalau begitu, orang-orang pun tidak rela jika hal itu terjadi pada ibu, putri, saudara perempuan, dan bibi mereka!” Oleh karena itu, siapa pun yang berpendapat tentang bolehnya praktik mut’ah, apakah ia bisa menerima jika praktik mut’ah dilakukan kepada ibu, putri, atau saudara perempuannya??? Masih banyak lagi sisi-sisi buruk dan jahat dari praktik mut’ah yang tidak dapat diuraikan dalam pembahasan ringkas ini, baik secara sosial kemasyarakatan, kesehatan, tatanan keluarga, ekonomi, pelecehan kaum wanita, dan lain-lain. Namun, sedikit keterangan di atas sebenarnya telah lebih dari cukup untuk menegaskan haramnya praktik mut’ah. Bagi orang yang berakal, tentunya! Wallahul muwaffiq.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar bin Rifai

Amalan-Amalan Perisai Api Neraka

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَثَلِي كَمَثَلِ رَجُلٍ اسْتَوْقَدَ نَارًا فَلَمَّا أَضَاءَتْ مَا حَوْلَهَا جَعَلَ الْفَرَاشُ وَهَذِهِ الدَّوَابُّ الَّتِي فِي النَّارِ يَقَعْنَ فِيهَا وَجَعَلَ يَحْجُزُهُنَّ وَيَغْلِبْنَهُ فَيَتَقَحَّمْنَ فِيهَا. قَالَ: فَذَلِكُمْ مَثَلِي وَمَثَلُكُمْ أَنَا آخِذٌ بِحُجَزِكُمْ عَنِّ النَّارِ؛ هَلُمَّ عَنْ النَّارِ! هَلُمَّ عَنِ النَّارِ! فَتَغْلِبُونِي تَقَحَّمُونَ فِيهَا

“Permisalan diriku adalah seperti orang yang menyalakan api. Ketika api telah menyinari apa yang ada di sekelilingnya, berdatanganlah anai-anai dan hewanhewan yang berjatuhan ke dalamnya. Sementara itu, orang ini terus berusaha menghalangi mereka dari api, namun serangga-serangga itu mengabaikannya hingga berjatuhan ke dalamnya.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Itulah permisalan diriku dan diri kalian (umatku). Aku menarik ikat-ikat pinggang kalian untuk menyelamatkan dari neraka (seraya berseru,), ‘Jauhilah neraka! Jauhilah neraka!’ Namun, kalian (kebanyakan umatku) tidak menghiraukanku dan menerjang berjatuhan ke dalamnya.”

Takhrij Hadits

Hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu di atas diriwayatkan oleh al-Imam Muslim rahimahullah dalam ash-Shahih Kitabul Fadhail(4/1789 no. 2284), dan al-Imam Ahmad rahimahullah dalam al- Musnad (no. 27333), dari jalan Abdurrazaq bin Hammam, dari Ma’mar bin Rasyid, dari Hammam bin Munabbih, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Silsilah (rantai) rawi ini disepakati kesahihannya oleh al-Bukhari dan Muslim rahimahumallah dan terdapat dalam shahifah (lembaran) Hammam bin Munabbih, yaitu lembaran yang semua haditsnya diriwayatkan melalui sanad Abdurrazaq bin Hammam ash-Shan’ani, dari Ma’mar bin Rasyid, dari Hammam bin Munabbih, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah mengeluarkan semua hadits shahifah dalam al-Musnad (2/312—319).

Sementara itu, Syaikhain, yakni al-Bukhari dan Muslim rahimahumallah, hanya meriwayatkan sebagian dari haditshadits shahifah, termasuk di dalamnya hadits di atas. Sanad ini tidak diragukan kesahihannya. Al-Bukhari dan Muslim rahimahumallah mengeluarkan sanad ini dalam Shahih keduanya. Dua perawi menyertai Hammam bin Munabbih dalam meriwayatkan dari Abdurrazzaq. Mereka adalah:

1. Al-A’raj Abdurrahman bin Hurmuz, diriwayatkan oleh al-Bukhari rahimahullah dalam ash-Shahih (no. 6483) dan at-Tirmidzi rahimahullah dalam as-Sunan (no. 2874).

2. Yazid bin al-Asham Abu ‘Auf al- Kufi, dikeluarkan oleh al-Imam Ahmad rahimahullah dalam al-Musnad.

Semangat Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam Menyelamatkan Manusia dari Kebinasaan

Duhai, betapa indahnya permisalan yang disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Permisalan beliau sangat mendalam dan penuh arti. Tentu saja, bagi orang-orang yang berakal dan memiliki kalbu. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ ۖ وَمَا يَعْقِلُهَا إِلَّا الْعَالِمُونَ

“Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tiada memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.” (al-Ankabut: 43)

Permisalan dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menunjukkan semangat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam membimbing umatnya agar mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat, serta menyelamatkan mereka dari jurang kebinasaan. An-Nawawi rahimahullah dalam al- Minhaj memberikan judul bab bagi hadits ini, bab “Syafaqatuhu ‘ala ummatihi wa mubalaghatuhu fi tahdzirihim mimma yadhurruhum. (Bab “Kasih Sayang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Umatnya dan Kesungguhan Beliau Memberi Peringatan dari Segala Hal yang Membahayakan Mereka).”

Manusia Terbagi Menjadi Dua: Selamat dan Celaka Meskipun Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah memperingatkan umat dari neraka dengan penuh kesungguhan, telah mengorbankan segala upaya siang dan malam, tetapi tetap saja sebagian mereka tidak taat dan memilih jalan kebinasaan. Perhatikan permisalan yang dibuat oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Di saat api menyala, anai-anai atau serangga sejenisnya bersikeras menuju kebinasaan. Ia berusaha keras mengusir dan menjauhkan serangga-serangga itu dan menyelamatkan mereka dari api. Tetapi, mereka tidak menghiraukannya, justru terus menerjang sehingga banyak yang berjatuhan ke dalam api dan sedikit yang terselamatkan. Demikian pula manusia di hadapan syariat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka terbagi menjadi dua golongan. Satu golongan selamat dan golongan lainnya lebih mencintai kebinasaan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلاَّ مَنْ أَبَى. قَالُوا: وَمَنْ يَأْبَى يَا رَسُولَ اللهِ؟ مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى

“Semua umatku akan masuk jannah, kecuali mereka yang enggan.” Sahabat bertanya, “Siapa yang enggan, wahai Rasulullah?” “Orang yang taat kepadaku akan masuk jannah, dan orang yang memaksiatiku sungguh telah enggan (masuk jannah).”

An – Nawawi rahimahullah berkata , “Maksud hadits di atas, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyerupakan terjatuhnya orang-orang jahil dan menyimpang dalam neraka akhirat karena kemaksiatan-kemaksiatan dan syahwat padahal beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam telah melarang mereka, seperti terjatuhnya anai-anai ke dalam api dunia karena hawa nafsu dan ketidakmampuan membedakan (api dan bukan api). Keduanya (baik manusia yang melakukan kemaksiatan maupun anai-anai yang memilih api) sama-sama bersemangat atas kebinasaan dirinya.” (Syarah Shahih Muslim) Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

فَرِيقًا هَدَىٰ وَفَرِيقًا حَقَّ عَلَيْهِمُ الضَّلَالَةُ ۗ إِنَّهُمُ اتَّخَذُوا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاءَ مِن دُونِ اللَّهِ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُم مُّهْتَدُونَ

“Sebagian diberi-Nya petunjuk dan sebagian lagi telah pasti kesesatan bagi mereka. Sesungguhnya mereka menjadikan setan-setan sebagai pelindung (mereka) selain Allah, dan mereka mengira bahwa mereka mendapat petunjuk.” (al-A’raf: 30)

Semangat Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam Memperingatkan Umatnya dari Neraka

Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam menyeru umatnya untuk menjauhkan diri dari neraka. Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

هَلُمَّ عَنِ النَّارِ، هَلُمَّ عَنْ النَّارِ

“Jauhilah neraka! Jauhilah neraka!”

Seruan beliau semisal dengan firman Allah Subhanahu wata’ala,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (at-Tahrim: 6)

Saudaraku, di antara semangat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menjauhkan manusia dari neraka ialah beliau mengabarkan tentang neraka, sifat-sifatnya, dan sifat para penghuninya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melihat neraka dalam beberapa kesempatan. Di antara kesempurnaan nasihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau mengabarkan sifat-sifat neraka kepada umatnya agar mereka takut dan menghindar. Akan tetapi, kebanyakan manusia mengabaikan peringatan itu. Sebagai misal, al-Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan sebuah hadits yang menunjukkan bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah melihat neraka, sekaligus memperingatkan apa yang beliau lihat, yaitu pedihnya azab neraka. Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Terjadi gerhana matahari di masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau pun shalat (gerhana) bersama manusia.

Beliau berdiri lama seperti membaca surat al-Baqarah, kemudian rukuk dengan lama. Setelah itu, beliau bangkit dan berdiri lama, lebih pendek dari yang pertama. Kemudian beliau rukuk dengan lama, tetapi lebih pendek dari rukuk yang pertama. Kemudian beliau sujud, lalu bangkit berdiri lama, tetapi lebih pendek dari rakaat pertama. Kemudian beliau rukuk dengan lama, tetapi lebih pendek dari rakaat pertama. Kemudian beliau bangkit dan berdiri lama tetapi lebih ringan dari sebelumnya, lalu rukuk dengan lama, tetapi lebih ringan dari yang awal. Kemudian sujud dan menyelesaikan shalatnya saat matahari telah muncul (shalat gerhana dalam hadits ini adalah dengan dua rukuk setiap rakaatnya, -red.).

Kemudian beliau berkata, ‘Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua dari sekian tanda kekuasaan Allah Subhanahu wata’ala. Terjadinya gerhana atas keduanya bukanlah karena kematian atau kelahiran seseorang. Apabila kalian melihat gerhana, berzikirlah kepada Allah Subhanahu wata’ala (shalatlah)!’ Para sahabat berkata, ‘Wahai Rasulullah, kami melihat engkau di tempat berdirimu (ketika shalat gerhana) seakanakan mengambil sesuatu, kemudian kita melihat engkau menghindar dari sesuatu? (Apa yang terjadi wahai Rasulullah?)’

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda , ‘Sesungguhnya aku melihat jannah (surga), maka aku memegang seuntai anggur. Andai aku mengambilnya, sungguh kalian akan makan darinya selama dunia ini masih ada. Aku juga melihat neraka yang aku belum pernah melihat pemandangan seperti ini dan aku melihat kebanyakan penghuninya adalah wanita.’ Sahabat bertanya, ‘Apa sebabnya, wahai Rasulullah?’ ‘Mereka berbuat kekufuran,’ Sahabat bertanya, ‘Apakah kekufuran kepada Allah Subhanahu wata’ala?’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Kekufuran kepada suami yakni dengan mengingkari kebaikannya. Seandainya engkau (suami) berbuat baik kepada salah seorang istri seumur hidupmu kemudian dia melihat satu kejelekan darimu, dia akan berkata, ‘Belum pernah aku melihat satu kebaikan pun darimu’.” ( HR. Muslim dalam ash-Shahih no. 907)

Hadits tentang shalat gerhana di atas menjadi salah satu dalil dari sekian banyak dalil bahwa neraka sudah ada saat ini dan bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah melihatnya.

Semangat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam Mengajarkan Amalan yang Menyelamatkan dari Neraka

Di samping menyebutkan sifat neraka dan memperingatkan umat darinya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sangat bersemangat mengajarkan amalan-amalan yang dapat menyelamatkan manusia darinya. Semua ini adalah bentuk kasih sayang yang besar dan tulus kepada manusia. Pada hakikatnya, semua amalan kebaikan, meski sedikit, akan menjadi benteng dari api neraka, insya Allah. Siapa yang melakukan amalan kebaikan walau seberat zarah, dia akan melihat balasan baik atas amalannya. Demikian janji Allah Subhanahu wata’ala dalam firman-Nya,

فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ

“Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.” (az-Zalzalah: 7)

 

Amalan Khusus yang Menjadi Sebab Keselamatan dari Api Neraka

Secara khusus, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah menyebutkan beberapa amalan sebagai benteng dari api neraka. Di antara amalan-amalan tersebut adalah:

1. Mentauhidkan Allah Subhanahu wata’ala dan menjauhkan diri dari kesyirikan

Inilah pokok keselamatan dari azab Allah Subhanahu wata’ala di dunia dan di akhirat. Tauhid adalah fondasi semua amalan. Amalan seseorang tidak akan diterima tanpa tauhid. Disebutkan dalam sebuah hadits,

عَنْ مُعَاذٍ قَالَ أَنَا رَدِيفُ النَّبِيِّ فَقَالَ: يَا مُعَاذُ.  قُلْتُ: لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ. ثُمَّ قَالَ مِثْلَهُ ثَلَاثًا: هَلْ تَدْرِي مَا حَقُّ اللهِ عَلَى الْعِبَادِ؟ قُلْتُ: لَا. قَالَ حَقُّ اللهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلَا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا. ثُمَّ سَارَ سَاعَةً فَقَالَ: يَا مُعَاذُ. قُلْتُ: لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ. قَالَ: هَلْ تَدْرِي مَا حَقُّ الْعِبَادِ عَلَى ا إِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ؟ أَنْ لَا يُعَذِّبَهُمْ

Dari Muadz bin Jabal z, beliau berkata, “Suatu saat saya dibonceng Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam di atas keledai. Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya, ‘Wahai Muadz.’ Saya menjawab, ‘Aku selalu menyambutmu.’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallammengatakan hal itu tiga kali (dan saya jawab tiga kali juga). Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan, ‘Tahukah engkau apa hak Allah Subhanahu wata’ala atas para hamba?’ Saya menjawab, ‘Tidak.’ Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan, ‘Hak Allah Subhanahu wata’ala atas para hamba adalah mereka mengibadahi-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun.’ Kemudian beliau berjalan beberapa saat, dan berkata, ‘Wahai Mu’adz.’ Dijawab, ‘Aku selalu menyambutmu.’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya, ‘Tahukah kamu, apa hak mereka atas Allah Subhanahu wata’ala apabila mereka melakukannya? Allah Subhanahu wata’ala tidak akan mengazab mereka’.” (HR. al-Bukhari no. 6267)

Hadits Muadz radhiyallahu ‘anhu di atas menunjukkan betapa pentingnya seseorang memberikan curahan waktu dan upaya untuk mengenal tauhid dan syirik, kemudian mengamalkannya sepanjang hayat. Seorang muslim harus memahami dengan benar hal-hal yang membahayakan tauhidnya dan yang menyuburkan pohon tauhid dalam hatinya. Tidak ada jalan lain untuk mendapatkannya kecuali dengan terus meminta kepada Allah Subhanahu wata’ala dan menempuh sebab-sebabnya, di antaranya adalah menuntut ilmu.

2 . Menjaga shalat lima waktu beserta syarat, rukun, dan kewajibannya, seperti wudhu, rukuk, dan sujud.

Dalil bahwa amalan ini termasuk benteng neraka adalah sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,

مَنْ حَافَظَ عَلَى الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ عَلَى وُضُوئِهَا وَمَوَاقِيتِهَا وَرُكُوعِهَا وَسُجُودِهَا يَرَاهَا حَقًّا عَلَيْهِ حُرِّمَ عَلَى النَّارِ

“Barang siapa menjaga shalat lima waktu, menjaga wudhunya, menjaga waktu-waktunya, menjaga rukukrukuknya, dan menjaga sujud-sujudnya, yakin bahwa shalat adalah hak Allah Subhanahu wata’ala atasnya, dia diharamkan dari neraka.” (HR. Ahmad no. 17882 dari Hanzhalah al-Asadi radhiyallahu ‘anhu)

3. Berbakti kepada kedua orang tua

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

رَغِمَ أَنْفُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ. قِيلَ: مَنْ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: مَنْ أَدْرَكَ أَبَوَيْهِ عِنْدَ الْكِبَرِ أَحَدَهُمَا أَوْ كِلَيْهِمَا فَلَمْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ

“Celaka, kemudian celaka, kemudian celaka.” Beliau ditanya, “Siapa yang celaka, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Orang yang menjumpai masa tua dari salah satu atau kedua orang tuanya, tetapi dia tidak masuk surga.” (HR. Muslim no. 2881 dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

4. Menjaga shalat sunnah empat rakaat sebelum dan sesudah zuhur

Ummu Habibah radhiyallahu ‘anha, istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ حَافَظَ عَلَى أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ وَأَرْبَعٍ بَعْدَهَا حَرُمَ عَلَى النَّارِ

‘Barang siapa menjaga empat rakaat sebelum zuhur dan empat rakaat sesudahnya, haram atasnya neraka’.” (HR. Abu Dawud no. 1269 dan dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al- Albani)

5. Berlindung kepada Allah Subhanahu wata’ala dari azab neraka

Anas bin Malik zberkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ سَأَلَ اللهَ الْجَنَّةَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ قَالَتِ الْجَنَّةُ: اللَّهُمَّ أَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ. وَمَنِ اسْتَجَارَ مِنَ النَّارِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ قَالَتِ النَّارُ: اللَّهُمَّ أَجِرْهُ مِنَ النَّارِ

“Barang siapa meminta jannah (surga) kepada Allah Subhanahu wata’ala tiga kali, jannah akan berkata, ‘Ya Allah, masukkan dia ke dalam jannah!’ Barang siapa meminta perlindungan kepada Allah Subhanahu wata’ala dari neraka, neraka pun berkata, ‘Ya Allah, lindungilah dia dari neraka!’.” (HR. at- Tirmidzi no. 2572, dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani)

Di antara doa memohon perlindungan dari neraka adalah doa yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallamsaat tasyahud akhir sebelum salam, yaitu:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ

“Ya Allah, aku berlindung kepada- Mu dari siksa neraka Jahanam, dari siksa kubur, dari ujian hidup dan mati, serta dari godaan Dajjal.” (HR. Muslim, Abu ‘Awanah, an-Nasai, dan Ibnul Jarud dalam al-Muntaqa. Lihat Irwaul Ghalil no. 350)

6. Dekat, lembut dengan kaum mukminin, dan berakhlak mulia

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِمَنْ يَحْرُمُ عَلَى النَّارِ أَوْ بِمَنْ تَحْرُمُ عَلَيْهِ النَّارُ؟ عَلَى كُلِّ قَرِيبٍ هَيِّنٍ سَهْلٍ

“Maukah kukabarkan kepada kalian tentang siapa yang diharamkan atas neraka? Yaitu setiap muslim yang dekat (dengan kaum mukminin), tenang, dan mudah (lembut akhlak dan sifatnya).” (HR. at-Tirmidzi dalam as-Sunan no. 2488. At-Tirmidzi berkata, “Hasanun gharib,” dan hadits ini dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani)

Betapa besar keutamaan ahlak yang baik dan kelembutan. Namun, subhanallah, di akhir zaman ini kebanyakan manusia bersikap kasar, termasuk terhadap kerabat dekatnya yang muslim, bahkan kepada orang tuanya sendiri. Semoga Allah Subhanahu wata’ala memperbaiki diri kita. Amin.

7. Bersedekah dan bertutur kata yang baik

Adi bin Hatim radhiyallahu ‘anhu berkata,

كُنْتُ عِنْدَ رَسُولِ اللهِ فَجَاءَهُ رَجُلَانِ أَحَدُهُمَا  يَشْكُو الْعَيْلَةَ وَالْآخَرُ يَشْكُو قَطْعَ السَّبِيلِ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ: أَمَّا قَطْعُ السَّبِيلِ فَإِنَّهُ لَا :  يَأْتِي عَلَيْكَ إِلَّا قَلِيلٌ حَتَّى تَخْرُجَ الْعِيرُ إِلَى مَكَّةَ بِغَيْرِ خَفِيرٍ، وَأَمَّا الْعَيْلَةُ فَإِنَّ السَّاعَةَ لَا تَقُومُ حَتَّى يَطُوفَ أَحَدُكُمْ بِصَدَقَتِهِ لَا يَجِدُ مَنْ يَقْبَلُهَا مِنْهُ، ثُمَّ لَيَقِفَنَّ أَحَدُكُمْ بَيْنَ يَدَيْ اللهِ لَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَهُ حِجَابٌ وَلَا تَرْجُمَانٌ يُتَرْجِمُ لَهُ ثُمَّ لَيَقُولَنَّ لَهُ: أَلَمْ أُوتِكَ مَالًا؟ فَلَيَقُولَنّ بَلَى. ثُمَّ لَيَقُولَنَّ: أَلَمْ أُرْسِلْ إِلَيْكَ رَسُولًا؟ فَلَيَقُولَنَّ: بَلَى. فَيَنْظُرُ عَنْ يَمِينِهِ فَلَا يَرَى إِلَّا النَّارَ ثُمَّ يَنْظُرُ عَنْ شِمَالِهِ فَلَا يَرَى إِلَّا النَّارَ فَلْيَتَّقِيَنَّ أَحَدُكُمْ النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ، فَإِنْ لَمْ يَجِدْ فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ

Suatu saat aku berada di sisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Tiba-tiba datang dua lelaki, yang pertama mengeluhkan kemiskinan dan yang kedua mengeluhkan gangguan perampok di perjalanan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Adapun perampok, sesungguhnya tidak lama lagi datang (waktu) yang rombongan dari Makkah keluar (melakukan safar) tanpa perlindungan (maksudnya aman, -red.). Adapun kemiskinan, (ketahuilah) sesungguhnya hari kiamat tidak akan tegak hingga (datang saat) salah seorang di antara kalian berkeliling hendak memberi sedekah, tetapi tidak dia dapati orang yang mau menerimanya. Sungguh, kalian (semua) akan berdiri di hadapan Allah Subhanahu wata’ala, tidak ada hijab antara Allah Subhanahu wata’ala dan dirinya, tidak ada pula orang yang menerjemahkan untuknya. Kemudian Allah Subhanahu wata’ala berfirman kepadanya, ‘Bukankah Aku telah memberimu harta?’ Dia berkata, ‘Benar.’ Kemudian Allah Subhanahu wata’ala berfirman, ‘Bukankah Aku telah mengutus rasul kepadamu?’ Dia menjawab, ‘Benar.’ Kemudian dia melihat di sisi kanannya, dia tidak melihat selain neraka. Kemudian dia melihat sebelah kirinya, dia pun tidak melihat selain neraka. Maka dari itu, jagalah diri kalian dari neraka walaupun dengan separuh kurma (yang dia sedekahkan). Jika tidak bisa, dengan tutur kata yang baik.” (HR. al-Bukhari no. 1413)

Bahkan, dalam hadits lain, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengisahkan berita yang sangat menakjubkan. Beliau kabarkan kisah seorang wanita pezina yang diselamatkan oleh Allah Subhanahu wata’ala dari neraka dengan sebab memberi minum seekor anjing yang kehausan. Jika perbuatan baik kepada hewan saja dibalasi dengan kebaikan, bagaimana halnya kebaikan dan derma untuk seorang muslim?

8. Mata yang menangis karena takut kepada Allah Subhanahu wata’ala, mata yang terjaga di jalan Allah l, dan mata yang menunduk dari apa yang diharamkan oleh Allah Subhanahu wata’ala.

Ini termasuk amalan yang dijadikan oleh Allah Subhanahu wata’ala sebagai benteng dari neraka. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda,

عَيْنَانِ لَا تَمَسُّهُمَا النَّارُ، عَيْنٌ بَكَتْ مِنْ خَشْيَةِ ا ،َّهللِ وَعَيْنٌ بَاتَتْ تَحْرُسُ فِي سَبِيلِ اللهِ

“Dua mata yang tidak akan disentuh oleh neraka: mata yang menangis takut kepada Allah Subhanahu wata’ala dan mata yang terbuka di malam hari, berjaga dalam jihad fi sabililah.” (HR. at-Tirmidzi no. 1639 dari hadits Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma)

ثَلَاثَةٌ لاَ تَرَى أَعْيُنُهُمُ النَّارَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: عَيْنٌ بَكَتْ مِنْ خَشْيَةِ اللهِ وَعَيْنٌ حَرَسَتْ فِي سَبِيلِ اللهِ وَعَيْنٌ غَضَّتْ عَنْ مَحَارِمِ اللهِ

“Tiga mata yang tidak akan melihat neraka pada hari kiamat: Mata yang menangis karena takut kepada Allah Subhanahu wata’ala, mata yang terjaga dalam jihad fi sabilillah, dan mata yang menundukkan dari apa yang Allah Subhanahu wata’ala haramkan.” (Lihat ash-Shahihah no. 2673)

9. Berjihad fi sabilillah

Ayat-ayat al-Qur’an dan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam banyak menyebutkan besarnya pahala dan keutamaan jihad fi sabilillah. Di antara keutamaannya, Allah Subhanahu wata’alal menyelamatkan pelakunya dari api neraka. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنِ اغْبَرَّتْ قَدَمَاهُ فِي سَبِيلِ اللهِ حَرَّمَهُ اللهُ عَلَى النَّارِ

“Orang yang kedua kakinya dipenuhi debu karena berjihad di jalan Allah Subhanahu wata’ala, Allah Subhanahu wata’ala mengharamkan atasnya neraka.” (HR. al-Bukhari no. 907 dari Abu ‘Abs Abdurrahman bin Jabr bin ‘Amr al-Anshari radhiyallahu ‘anhu)

10. Bersabar mengemban amanat Allah Subhanahu wata’ala yang berupa anakanak perempuan, mendidik, dan menafkahi mereka

Memiliki anak perempuan bukan kekurangan, apalagi kehinaan, sebagaimana halnya orang-orang jahiliah dahulu merasa hina dengan kelahirannya. Anak perempuan adalah karunia besar dari Allah Subhanahu wata’ala. Barang siapa mengemban amanat ini, sungguh mereka akan menjadi benteng dari api neraka. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ كَانَ لَهُ ثَلَاثُ بَنَاتٍ، فَصَبَرَ عَلَيْهِنَّ وَأَطْعَمَهُنَّ وَسَقَاهُنَّ وَكَسَاهُنَّ مِنْ جِدَتِهِ كُنَّ لَهُ حِجَابًا مِنْ النَّارِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barang siapa memiliki tiga anak perempuan, kemudian dia bersabar atas mereka, memberikan makan, minum, dan pakaian untuk mereka dari usahanya, sungguh mereka akan menjadi penghalang baginya dari api neraka pada hari kiamat.” (Sahih, HR. Ibnu Majah no. 3669 dari hadits ‘Uqbah bin Amir radhiyallahu ‘anhu) Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan,

دَخَلَتْ امْرَأَةٌ مَعَهَا ابْنَتَانِ لَهَا تَسْأَلُ فَلَمْ تَجِدْ عِنْدِي شَيْئًا غَيْرَ تَمْرَةٍ فَأَعْطَيْتُهَا إِيَّاهَا، فَقَسَمَتْهَا بَيْنَ ابْنَتَيْهَا وَلَمْ تَأْكُلْ مِنْهَا ثُمَّ قَامَتْ فَخَرَجَتْ,فَدَخَلَ النَّبِيُّ, عَلَيْنَا فَأَخْبَرْتُهُ فَقَالَ: مَنِ ابْتُلِيَ  مِنْ هَذِهِ الْبَنَاتِ بِشَيْءٍ كُنَّ لَهُ سِتْرًا مِنَ النَّارِ

“Seorang perempuan dengan dua anak perempuannya masuk (ke rumahku) meminta-minta, tetapi dia tidak mendapatkan di sisiku selain sebutir kurma. Kuberikan kurma itu kepadanya. Dia belah sebiji kurma untuk kedua putrinya dan dia sendiri tidak memakan kurma tersebut. Kemudian pergilah wanita itu. Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam datang, kukabarkan kejadian ini. Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian bersabda, ‘Barang siapa diuji dengan anak-anak perempuan, sungguh mereka akan menjadi pelindung dari neraka’.” (HR. al-Bukhari no. 1418)

Demikian beberapa amalan yang disebutkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai benteng dari api neraka. Semoga Allah Subhanahu wata’ala memudahkan kita dalam mengamalkan dan memperoleh keutamaannya, insya Allah.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc

Masuk Islamlah, Untukmu Dua Pahala

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لاَ يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ، وَلاَ نَصْرَانِيٌّ، ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ، إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

Demi Dzat, yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, tidak ada seorang pun dari umat ini, Yahudi atau Nasrani, yang mendengar tentang diriku lantas mati dalam keadaan tidak beriman dengan risalah yang aku bawa, kecuali pasti ia termasuk penduduk neraka.

Hadits di atas diriwayatkan oleh al-Imam Muslim rahimahullah di dalam Shahihnya (no. 153) dari gurunya, Yunus bin Abdil ‘A’la. Beliau berkata, “Ibnu Wahb telah mengabarkan kepada kami; ‘Amr mengabarkan bahwa Abu Yunus memperoleh hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.” Abu Yunus namanya Sulaim bin Jubair. Beliau adalah maula (mantan budak) Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Selain perawi di dalam Shahih Muslim, beliau juga perawi di dalam al-Adabul Mufrad karya al-Bukhari rahimahullah, Sunan Abu Dawud, dan Jami at-Tirmidzi. ‘Amr yang dimaksud di dalam sanad ini adalah ‘Amr bin al-Harits bin Ya’qub bin Abdillah al-Anshari, maula Qais, Abu Umayyah. Beliau termasuk dalam jajaran perawi di dalam kutubus sittah. Ibnu Wahb adalah Abdullah bin Wahb bin Muslim al-Qurasyi, maula Quraisy. Abu Muhammad al-Mishri al-Faqih. Beliau termasuk perawi di dalam kutubus sittah. Yunus bin ‘Abdil ‘A’la bin Maisarah bin Hafs ash-Shadafi. Selain al-Imam Muslim rahimahullah, an-Nasa’i dan Ibnu Majah rahimahumallah juga menyebutkan beliau sebagai perawi di dalam Sunan.

Kedudukan Hadits di dalam Islam

Asy – Syaikh al – Albani rahimahullah memberikan penjelasan mengenai hadits di atas yang diriwayatkan melalui jalur lain (Ibnu Mandah, 1/44), “Hadits ini begitu jelasnya menerangkan; siapa pun orangnya, ia mendengar tentang Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam dan risalah yang beliau bawa, sampai kepadanya sesuai dengan yang diturunkan oleh Allah Subhanahu wata’ala untuk Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, lantas tidak beriman kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, neraka adalah tempat kembalinya. Dalam hal ini, tidak ada bedanya antara Yahudi, Nasrani, Majusi, atau pemeluk agama lain. Saya yakin, andai saja ada kesempatan bagi orang-orang kafir untuk menelaah prinsip pokok, akidah, dan ibadah yang diajarkan oleh Islam, niscaya banyak di antara mereka yang bergegas memeluk Islam dengan berbondong-bondong.

Hal ini sebagaimana yang telah terjadi di awal sejarah Islam. Duhai indah rasanya, jika negaranegara Islam mau mengirimkan juru dakwah yang menyerukan Islam ke negara-negara Barat. Yang dimaksud ialah juru dakwah yang benar-benar mengerti tentang hakikat Islam dan hal-hal lain yang dianggap sebagai bagian dari Islam (padahal bukan), seperti berbagai khurafat, bidah, dan kedustaan. Hal ini tentu sangat baik jika disampaikan kepada madu. Agenda semacam ini membutuhkan seorang juru dakwah yang menguasai ilmu al-Qur’an, sunnah yang sahih, dan beberapa bahasa asing secara baik. Hal ini adalah sesuatu yang cukup sulit, hampir-hampir tidak dapat dipenuhi. Jadi, cita-cita ini memang menuntut banyak persiapan yang berat. Mudahmudahan mereka mau melakukannya.” (ash-Shahihah, 1/241) Benar sekali harapan asy-Syaikh al-Albani rahimahullah.

Ibnu Katsir rahimahullah meriwayatkan sebuah atsar, “Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu menunjuk Ibnu Abbas c sebagai pengganti untuk Amirul Haj pada musim haji. Saat itu, Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkesempatan untuk menyampaikan khutbah. Di dalam khutbah tersebut, Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma membaca surat al-Baqarah (dalam riwayat lain, surat an-Nur) lalu menafsirkannya dengan seindahindahnya. Andai saja tafsir itu didengar oleh orang-orang Romawi, Turki, dan Dailam (sebuah kota di wilayah Persia, dekat Laut Kaspia), pasti mereka masuk Islam.” (Tafsir ath-Thabari [1/81], al- Fasawi dalam Tarikh [1/495])

Mereka Pun Masuk Islam

Demikianlah, sejarah telah mencatat dengan apik dan indah tentang kisah masuk islamnya orang-orang Yahudi dan Nasrani. Yakni, mereka yang memperoleh hidayah dari Allah Subhanahu wata’ala. Sebab, di dalam Taurat dan Injil yang asli, terdapat ayat-ayat yang memberitakan tentang kedatangan nabi terakhir, nabi penutup. Ciri-ciri tentang nabi tersebut disebutkan secara lengkap di dalam Taurat dan Injil. Begitu lengkapnya, sampai Allah Subhanahu wata’ala menggambarkan tentang pengetahuan mereka sebagaimana mereka mengenal anak kandungnya sendiri. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءَهُمْ ۖ وَإِنَّ فَرِيقًا مِّنْهُمْ لَيَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al-Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Sesungguhnya sebagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui. (al-Baqarah: 146)

Di dalam kisah perjalanan Salman al-Farisi radhiyallahu ‘anhu untuk menjemput hidayah, pendeta Nasrani terakhir yang diangkat Salman sebagai guru juga berpesan dalam wasiatnya,

أَيْ بُنَيَّ، وَاللهِ مَا أَعْلَمُهُ أَصْبَحَ عَلَى مَا كُنَّا عَلَيْهِ أَحَدٌ مِنَ النَّاسِ آمُرُكَ أَنْ تَأْتِيَهُ، وَلَكِنَّهُ قَدْ أَظَلَّكَ زَمَانُ نَبِيٍّ هُوَ مَبْعُوثٌ بِدِينِ إِبْرَاهِيمَ يَخْرُجُ بِأَرْضِ الْعَرَبِ مُهَاجِرًا إِلَى أَرْضٍ بَيْنَ حَرَّتَيْنِ بَيْنَهُمَا نَخْلٌ، بِهِ عَلَامَاتٌ لَا تَخْفَى يَأْكُلُ الْهَدِيَّةَ وَلَا يَأْكُلُ الصَّدَقَةَ، بَيْنَ كَتِفَيْهِ خَاتَمُ النُّبُوَّةِ، فَإِنْ اسْتَطَعْتَ أَنْ تَلْحَقَ بِتِلْكَ الْبِلَادِ فَافْعَلْ

Wahai anakku, demi Allah, tidak ada lagi satu orang pun tersisa yang melaksanakan ajaran Nasrani secara murni sehingga aku bisa menyuruhmu ke sana. Akan tetapi, telah dekat denganmu diutusnya seorang nabi yang membawa ajaran seperti ajaran Ibrahim. Nabi tersebut akan muncul dari tanah Arab. Ia akan berhijrah menuju sebuah negeri yang terletak di antara dua gugusan gunung yang dipenuhi dengan kebun-kebun kurma. Nabi tersebut memiliki ciri-ciri yang tidak tersembunyi; mau memakan hadiah, tidak memakan sedekah, dan ada cap kenabian di antara dua pundaknya. Jika engkau mampu untuk berangkat menuju negeri tersebut, lakukanlah! (HR. Ahmad [5/441—444])

Abdullah bin Salam radhiyallahu ‘anhu adalah sahabat Nabi n. Dahulu, beliau termasuk pendeta dan ahli agama di kalangan Yahudi yang sangat dihormati dan disegani. Pada saat Rasulullah tiba di kota Madinah, Abdullah bin Salam radhiyallahu ‘anhu sangat berbahagia. Sebab, kedatangan nabi terakhir itu telah diberitakan di dalam Taurat. Namun, untuk memastikannya, Abdullah bin Salam terlebih dahulu menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam secara langsung dan ingin mengajukan beberapa pertanyaan. Sebab, hanya benar-benar seorang nabi yang mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Al – Imam al – Bukhari rahimahullah meriwayatkan di dalam Shahih-nya (no. 3082) dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu. Saat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam baru tiba di kota Madinah, Abdullah bin Salam radhiyallahu ‘anhu segera datang menemui. Ia menyampaikan,

إِنِّي سَائِلُكَ عَنْ ثَلَاثٍ لَا يَعْلَمُهُنَّ إِلَّا نَبِيٌّ قَالَ: مَا أَوَّلُ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ، وَمَا أَوَّلُ طَعَامٍ يَأْكُلُهُ أَهْلُ الْجَنَّةِ، وَمِنْ أَيِّ شَيْءٍ يَنْزِعُ الْوَلَدُ إِلَى أَبِيهِ وَمِنْ أَيِّ شَيْءٍ يَنْزِعُ إِلَى أَخْوَالِهِ؟

Sungguh, aku ingin bertanya kepadamu tentang tiga hal. Tidak ada yang mengetahuinya kecuali nabi saja. Apakah tanda pertama hari kiamat, apakah makanan pertama yang disantap penduduk surga, dan bagaimanakah proses kemiripan seorang anak kepada ayahnya atau keluarga ibunya?

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian menjawab ketiga pertanyaan tersebut. Setelah selesai menjawab, Abdullah bin Salam radhiyallahu ‘anhu lantas mengucapkan kalimat syahadat. Subhanallah! Demikianlah keimanan yang dibangun di atas fondasi kejujuran. Tidak ada gengsi dan tidak mengenal malu atau takut.

Keimanan Musa dan Isa e kepada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam

Seluruh nabi dan rasul diperintahkan oleh Allah Subhanahu wata’ala untuk membela, menolong, dan membenarkan syariat yang diemban oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Bahkan, Allah Subhanahu wata’ala telah mengambil sumpah dan perjanjian dari seluruh nabi dan rasul. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ النَّبِيِّينَ لَمَا آتَيْتُكُم مِّن كِتَابٍ وَحِكْمَةٍ ثُمَّ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مُّصَدِّقٌ لِّمَا مَعَكُمْ لَتُؤْمِنُنَّ بِهِ وَلَتَنصُرُنَّهُ ۚ قَالَ أَأَقْرَرْتُمْ وَأَخَذْتُمْ عَلَىٰ ذَٰلِكُمْ إِصْرِي ۖ قَالُوا أَقْرَرْنَا ۚ قَالَ فَاشْهَدُوا وَأَنَا مَعَكُم مِّنَ الشَّاهِدِينَ

(Ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi, Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan bersungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya. Allah berfirman, Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu? Mereka menjawab, Kami mengakui. Allah berfirman, Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu. (Ali Imran: 81)

Asy – Syaikh as – Sa ’ di rahimahullah menerangkan di dalam Tafsir-nya, “Dengan demikian, telah diketahui bahwa Muhammad n adalah penutup para nabi. Seandainya seluruh nabi bertemu dengan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, mereka diwajibkan untuk beriman kepada beliau, mengikuti, dan membelanya. Jadi, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah imam, pemimpin, dan panutan mereka.”  Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah marah saat melihat Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu membawa selembar kertas Taurat. Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَفِيْ شَكٍّ أَنْتَ يَا ابْنَ الخَطَّابِ؟ أَلَمْ آتِnبِهَا بَيْضَاءَ نَقِيَّةً؟ لَوْ كَانَ أَخِيْ مُوْسَى حَيًّا مَا وَسِعَهُ إِلاَّ اتِّبَاعِيْ

Apakah engkau sedang mengalami keraguan, wahai putra al-Khaththab? Bukankah yang aku bawa adalah ajaran yang putih bersih? Seandainya saudaraku Musa masih hidup, tentu ia tidak diperkenankan kecuali memang harus mengikutiku! ( HR. Ahmad [3/387] dengan sanad yang hasan, Irwaul Ghalil no. 1589)

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah membuat sebuah judul di dalam Shahih Muslim bab “Turunnya Isa bin Maryam dengan Berhukum Berdasarkan Syariat Nabi Kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam”. Setelah itu, al-Imam Muslim rahimahullah menyebutkan beberapa hadits tentang hal-hal yang akan dilakukan oleh Nabi Isa ‘Alaihisslam di akhir zaman. Di antaranya, mematahkan salib, membunuh anjing, menghapuskan jizyah, dan bentuk-bentuk keadilan lainnya. Bahkan, sebagai bukti keutuhan janji Nabi Isa bin Maryam ‘Alaihisslam kepada Allah Subhanahu wata’ala, saat shalat akan ditegakkan, pemimpin kaum muslimin meminta kepada Nabi Isa ‘Alaihisslam untuk menjadi imam. Namun, beliau menolak dan meminta agar dari mereka saja yang menjadi imam shalat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

كَيْفَ أَنْتُمْ إِذَا نَزَلَ ابْنُ مَرْيَمَ فِيكُمْ وَإِمَامُكُمْ مِنْكُمْ

Bagaimanakah keadaan kalian, ketika Ibnu Maryam turun sementara imam shalat berasal dari kalian? (HR. al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Dua Pahala Untuk Mereka

Sungguh demi Allah Subhanahu wata’ala, Islam sangat menghargai dan memberikan apresiasi tinggi kepada seorang pemeluk agama ahli kitab yang kemudian beriman kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam dan memeluk Islam. Allah Subhanahu wata’ala menjanjikan dua pahala untuknya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda di dalam hadits Abu Musa radhiyallahu ‘anhu riwayat al-Bukhari dan Muslim,

ثَلَاثَةٌ يُؤْتَوْنَ أَجْرَهُمْ مَرَّتَيْنِ؛ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ فَآمَنَ بِهِ الْكِتَابِ آمَنَ بِنَبِيِّهِ وَأَدْرَكَ النَّبِيَّ فَآمَنَ بِهِ وَاتَّبَعَهُ وَصَدَّقَهُ فَلَهُ أَجْرَانِ، وَعَبْدٌ مَمْلُوكٌ أَدَّى حَقَّ اللهِ تَعَالَى وَحَقَّ سَيِّدِهِ فَلَهُ أَجْرَانِ، وَرَجُلٌ كَانَتْ لَهُ أَمَةٌ فَغَذَّاهَا فَأَحْسَنَ غِذَاءَهَا ثُمَّ أَدَّبَهَا فَأَحْسَنَ أَدَبَهَا ثُمَّ أَعْتَقَهَا وَتَزَوَّجَهَا فَلَهُ أَجْرَانِ

Ada tiga jenis hamba yang akan diberi dua pahala: (1) Seorang pemeluk ahli kitab, ia beriman kepada nabinya lalu menemui Nabi Muhammad dan beriman kepada beliau, mengikuti dan membenarkannya, maka ia beroleh dua pahala; (2) Seorang hamba sahaya yang menunaikan hak Allah Subhanahu wata’ala dan majikannya, ia pun beroleh dua pahala; (3) Seorang hamba yang memiliki budak perempuan, ia memberikan makanan dengan baik dan mendidiknya dengan adab yang baik setelah itu ia nikahi, orang seperti ini pun mendapat dua pahala.

Lebih Mahal Daripada Unta Merah

Pembahasan di atas dapat disimpulkan menjadi beberapa poin besar:

1. Islam adalah agama terakhir yang diturunkan Allah Subhanahu wata’alauntuk umat manusia. Karena tu, setelah datangnya Islam, agama-agama samawi sebelumnya pun otomatis terhapus dan gugur.

2. Islam adalah satu-satunya agama yang diridhai Allah Subhanahu wata’ala.

3. Seluruh nabi dan rasul diharuskan oleh Allah Subhanahu wata’ala untuk beriman, mengikuti dan membela Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.

4. Setiap pemeluk ahli kitab yang beriman dan masuk Islam, maka ia akan beroleh pahala sebanyak dua kali.

5. Keutamaan mendakwahi pemeluk ahli kitab dan pemeluk agama lainnya. Namun, untuk mendakwahi mereka diperlukan bekal yang cukup dan matang dari segala segi dan sisi. Adapun metode, cara, dan bekal untuk mendakwahi mereka telah dijelaskan ulama secara lengkap. Oleh sebab itu, marilah kita bersungguh-sungguh mempelajari agama Islam dengan baik dan berusaha

mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Selanjutnya, kita dapat mendakwahkannya kepada orang lain. Ingat-ingatlah selalu sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam riwayat al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu,

فَوَاللهِ لَأَنْ يَهْدِيَ اللهُ بِكَ رَجُلًا وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ يَكُونَ لَكَ حُمْرُ النَّعَمِ

Demi Allah, Allah Subhanahu wata’ala memberikan hidayah kepada seseorang melalui sebab dirimu, lebih baik untukmu dibandingkan unta merah. Wallahul muwaffiq.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar ibnu Rifai

Hukum Isbal

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَا أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ مِنَ الْإِزَارِ فَفِي النَّارِ

“Sarung yang berada di bawah kedua mata kaki, ada di dalam neraka (kaki tersebut).”

Sarung, celana, jubah, atau yang semisal, biasanya dikenakan oleh kaum musbil hingga menutupi mata kaki. Kebiasaan yang perlu dikritisi secara tinjauan syariat Islam. Mengapa hal “remeh” semacam ini dibahas? Itulah kesempurnaan ajaran Islam. Cara berpakaian pun ada aturannya.

Takhrij Hadits

Hadits dengan lafadz di atas diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 5450), an-Nasa’i (no. 5330), dan Ahmad (2/498), dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Seluruhnya dari riwayat Syu’bah, dari Sa’id al-Maqburi, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Hadits lain yang lafadznya senada cukup banyak, antara lain,

1. Hadits Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma riwayat ath-Thabarani dalam al-Kabiir (3/138).

2. Hadits Hudzaifah bin al-Yaman radhiyallahu ‘anhu riwayat an-Nasa’i dan Ibnu Majah (no. 3572).

3. Hadits Aisyah radhiallahu ‘anha riwayat Ahmad (6/59, 254, 257).

4. Hadits Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu riwayat Ahmad dan lainnya. (ash- Shahihah, no. 2037) Isbal dan Musbil Isbal artinya menggunakan pakaian yang menutupi mata kaki, baik dalam bentuk sarung, celana, maupun jubah. Musbil adalah sebutan untuk orang yang melakukan isbal. Isbal telah menjadi pandangan sehari-hari dari kalangan kaum muslimin. Ada yang sama sekali tidak mengerti tentang keharamannya, ada yang sekadar mengikuti mode dan tren, juga ada yang tidak menaruh perhatian sedikit pun tentang hal ini.

Sebenarnya, bagaimanakah hukum isbal itu? Hukuman apa yang diancamkan atas kaum musbil? Apakah hal ini termasuk masalah furu’—menurut kalangan tertentu—, sehingga tidak layak untuk diperdebatkan? Benarkah hal ini hanya masalah adat dan budaya orang Arab yang tidak berlaku di negeri kita, Indonesia? Adakah perbedaan antara musbil yang sombong dan musbil yang tidak sombong? Simaklah penjelasan ringkas berikut ini, barakallahu fikum.

 

Hukum Isbal

Isbal hukumnya haram, bahkan dapat dikategorikan sebagai kabair (dosa besar). Hukum ini berlandaskan pada keterangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam hadits Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu riwayat Muslim (no. 106) dan lainnya, “Ada tiga golongan manusia pada hari kiamat nanti. Allah Subhanahu wata’ala tidak berbicara kepada mereka, tidak memandang ke arah mereka, juga tidak menyucikan mereka. Untuk mereka azab yang pedih.” Kata-kata ini diulang sebanyak tiga kali oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Sampai-sampai para sahabat bertanya, “Siapakah ketiga golongan tersebut, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab,

الْمُسْبِلُ وَالْمَنَّانُ وَالْمُنَفِّقُ سِلْعَتَهُ بِالْحَلِفِ الْكَاذِبِ

“Orang musbil, orang yang selalu mengungkit-ungkit kebaikan, dan orang yang menjual barang dagangan dengan sumpah palsu.” (Fatwa al-Utsaimin, Nur ‘alad Darb)

Artinya, masalah isbal bukanlah masalah kecil. Tidak tepat juga jika masalah isbal dinilai sebagai masalah furu’. Anggapan sebagian kalangan bahwa masalah isbal hanyalah adat dan budaya orang Arab juga tidak benar. Ternyata, isbal termasuk dosa besar sesuai dengan sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Hukum isbal hanya berlaku untuk kalangan laki-laki. Sebab, ada hukum tersendiri bagi kaum wanita. Kekhususan hukum ini untuk kaum laki-laki telah dinukilkan ijma’ ulama oleh Ibnu Raslan dalam Syarah Sunan. (Aunul Ma’bud, Syarah Sunan Abi Dawud)

 

Apakah Isbal Hanya Berlaku untuk Sarung?

Sesuai lafadz hadits di atas, seolaholah, zahirnya menunjukkan hukum isbal hanya berlaku untuk sarung saja. Benarkah demikian? Al-Imam al-Bukhari rahimahullah memberi judul bab untuk hadits di atas bab “Pakaian yang Berada di Bawah Mata Kaki Akan Masuk Neraka.” Kemudian al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan, ”Demikianlah, al-Bukhari rahimahullah menyebutkan secara mutlak dan tidak memberikan taqyid (pembatasan) dengan ‘sarung’ sebagaimana yang terdapat di dalam lafadz hadits. Ini adalah isyarat bahwa hukum isbal berlaku secara umum baik untuk sarung, jubah, maupun pakaian lainnya. Sepertinya, al-Bukhari rahimahullah mengisyaratkan pada lafadz hadits Abu Sa’id radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Malik, Abu Dawud, an-Nasa’i, dan Ibnu Majah; yang dinyatakan sahih oleh Abu Awanah dan Ibnu Hibban.” (Fathul Bari, Syarah Shahih al-Bukhari) Hukum isbal yang tidak hanya terbatas pada sarung juga dapat dipahami dari hadits-hadits lain tentang isbal yang disebutkan pada kajian kita ini.

 

Musbil Tanpa Disertai Sikap Sombong

Ada sekelompok orang yang kurang bisa menerima hukum isbal secara mutlak. Alasan mereka adalah sebuah hadits dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 3665) dan Muslim (no. 2085) dari sahabat Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ مِنَ الْخُيَلَاءِ لَمْ يَنْظُرِ اللهُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barang siapa menyeret pakaiannya (melebihi mata kaki) karena sombong, Allah Subhanahu wata’ala tidak akan memandangnya pada hari kiamat nanti.”

Kata mereka, “Larangan isbal hanya berlaku untuk orang yang sombong saja! Jika tidak disertai sikap sombong, tidak mengapa.” Jika berdasarkan ilmu kita berbicara, bukan hawa nafsu; jika di atas sikap hormat kepada hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam kita berhukum, tidak dengan menurutkan kesenangan hati; jika tidak mengambil sikap seenaknya kita sendiri, menerima satu hadits dan menolak hadits yang lain, walau tidak diakui secara lisan; tentu setiap hadits dapat diposisikan sebagaimana mestinya. Lihat dan teladanilah sikap para ulama. Mengenai hal ini, mereka merincinya menjadi dua masalah.

 1. Musbil disertai sikap sombong

Orang semacam inilah yang dimaksud oleh hadits Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu di atas. Orang seperti inilah yang diancam dalam sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, “Ada tiga golongan manusia pada hari kiamat nanti. Allah Subhanahu wata’ala tidak berbicara kepada mereka, tidak memandang ke arah mereka, dan tidak menyucikan mereka. Untuk mereka azab yang pedih.”

2. Musbil tanpa diikuti oleh sikap sombong

Orang semacam ini siksanya di bawah tingkatan siksa jenis orang pertama. Orang seperti inilah yang dimaksud dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu di atas. Orang semacam inilah yang diancam dalam sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, “Sarung yang berada di bawah kedua mata kaki, ada di dalam neraka.” (Fatwa al-Utsaimin, Nur ‘alad Darb)

Pendapat para ulama di atas didukung oleh sebuah riwayat dari Abu Sa’id radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 4093), an-Nasa’i (no. 9714—9717), Ibnu Majah (no. 3573), dan yang lain, dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam ash-Shahihah (no. 2017). Di dalam riwayat tersebut, dua keadaan di atas disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam secara berbeda dalam satu konteks. Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَا كَانَ أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ فَهُوَ فِي النَّارِ، مَنْ جَرَّ إِزَارَهُ بَطَرًا لَمْ يَنْظُرِ اللهُ إِلَيْهِ

“Pakaian yang berada di bawah mata kaki, ada di dalam neraka. Barang siapa menyeret pakaiannya (melebihi mata kaki) karena sombong, Allah Subhanahu wata’ala tidak akan memandangnya.”

Jadi, sabda Nabi, “Barang siapa menyeret pakaiannya (melebihi mata kaki) karena sombong, Allah Subhanahu wata’ala tidak akan memandangnya”, tidak berarti apabila isbal tidak disertai sikap sombong maka boleh. Bukan seperti itu hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dipahami! Hal lain yang perlu dicermati juga adalah Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu. Beliau adalah sahabat yang meriwayatkan hadits larangan isbal dengan disertai sikap sombong. Bagaimanakah praktik Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu dalam hal ini? Bukankah beliau lebih layak untuk diteladani dalam memahami hadits tersebut? Ternyata, Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma yang meriwayatkan hadits tentang larangan musbil dengan disertai sikap sombong, pada praktiknya menggunakan kain sarung di atas mata kaki, bahkan di pertengahan betis. Al-Imam Muslim rahimahullah (no. 2086) meriwayatkan dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu, beliau bercerita, “Aku pernah bertemu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, sedangkan kain sarungku turun. Lantas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menegur, ‘Wahai Abdullah, tinggikan kain sarungmu!’ Aku pun mengangkatnya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tetap mengatakan, ‘Naikkan lagi!’ Aku pun mengangkatnya lebih tinggi. Setelah itu, aku selalu menjaga kain sarungku dalam posisi seperti itu.” Ada yang bertanya, “Sampai batas mana?” Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma menjawab,  “Sampai pertengahan betis.” Bagaimana dengan Atsar tentang Abu Bakr ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu? Sekelompok kecil orang di atas ternyata masih berusaha mencari alasan dan pembenaran, walau sangat dipaksakan. Kata mereka, “Abu Bakr juga terkadang musbil dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyatakan kepada beliau, ‘Sungguh, engkau tidak termasuk yang melakukan isbal dengan disertai sikap sombong’. Mereka memahami, “Jadi, larangan itu hanya berlaku pada orang musbil yang bersikap sombong. Jika tidak, boleh-boleh saja!” Pembaca, semoga Allah Subhanahu wata’ala menjaga Anda, marilah kita mencermati hadits tentang Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu lebih dekat. Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu berkata,

إِنَّ أَحَدَ شِقَّيْ ثَوْبِي يَسْتَرْخِي إِلَّا أَنْ أَتَعَاهَدَ إِنَّكَ لَسْتَ : ذَلِكَ مِنْهُ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ تَصْنَعُ ذَلِكَ خُيَلَاءَ

“Sungguh, salah satu bagian pakaianku selalu turun, namun aku selalu menjaganya agar tidak turun.” Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya engkau tidak termasuk yang melakukannya karena sikap sombong.” (HR. al- Bukhari no. 5447)

Ada beberapa hal yang harus dicermati tentang keadaan Abu Bakr di atas:

1. Tidak ada faktor kesengajaan isbal dari Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu.

2. Upaya Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu untuk selalu menaikkan kembali pakaiannya jika turun menutupi mata kaki.

3. Yang terkadang turun menutupi mata kaki Abu Bakr adalah salah satu sisi pakaiannya. Artinya, sisi pakaian yang lain berada di atas mata kaki.

4. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam merekomendasi Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu sebagai orang yang tidak sombong. Pertanyaannya, ”Apakah riwayat tentang Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu dapat disamakan dengan kaum musbil yang dengan sengaja telah melakukan isbal? Apakah mereka selalu berusaha menaikkan celana jika mulai menutupi mata kaki? Siapa yang merekomendasi mereka bebas dari sikap sombong?” Praktik Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan Para Sahabat Lihatlah praktik para sahabat dalam hal ini. Abu Ishaq bertutur, “Aku pernah melihat beberapa orang sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka menggunakan sarung sampai di tengah betis, di antaranya Ibnu Umar, Zaid bin Arqam, Usamah bin Zaid, dan al-Bara’ bin ‘Azib .” (Majma’ az- Zawaid)

Beberapa saat sebelum Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu meninggal dunia, seorang pemuda datang menjenguk untuk mendoakan dan menghibur Umar radhiyallahu ‘anhu. Ketika pemuda itu mohon izin, Umar melihat pakaiannya menutupi mata kaki. Umar pun menegur, “Wahai anak saudaraku, angkatlah pakaianmu. Itu lebih bersih dan bisa menambah takwa kepada Allah Subhanahu wata’ala!” (HR. al-Bukhari no. 3424)

Hudzaifah bin al-Yaman radhiyallahu ‘anhuma bercerita, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah memegang otot betisku dan bersabda,

هَذَا مَوْضِعُ الْإِزَارِ، فَإِنْ أَبَيْتَ فَأَسْفَلُ، فَإِنْ أَبَيْتَ، فَلاَ حَقَّ لِلْإِزَارِ فِيْ الْكَعْبَيْنِ

‘Di sinilah letak sarung. Jika engkau tidak ingin, bisa di bawahnya sedikit. Jika engkau masih juga tidak ingin, tidak ada hak untuk sarung berada tepat pada mata kaki’.” (HR. at-Tirmidzi dalam Syamail Muhammadiyah dan dinyatakan sahih oleh al-Albani no. 99)

Sebagai penutup, marilah kita meresapi kata-kata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam di bawah ini. Ubaid bin Khalid al-Muharibi berkisah, “Saat aku berjalan di kota Madinah, tiba-tiba seseorang berkata dari belakangku, ‘Angkatlah pakaianmu! Sungguh, itu bisa menambah takwamu’.” Ternyata, orang tersebut adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Aku menjawab, “Wahai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, hanya sekadar burdah putih.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَمَا لَكَ فِيَّ أُسْوَةٌ؟

“Apakah engkau tidak ingin meneladani diriku?” Aku pun memerhatikan sarung beliau, ternyata sampai di pertengahan betis. (HR. at-Tirmidzi dalam Syamail Muhammadiyah dan dinyatakan sahih oleh al-Albani no. 97)

Sekarang, kita bisa menyampaikan kepada siapa saja yang bertanya tentang hukum isbal, “Apakah engkau tidak ingin meneladani diri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam? Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menggunakan pakaian di atas mata kaki, bahkan hingga di tengah betis.” Wallahu a’lam.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar ibnu Rifai

Pembelaan Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz Terhadap Hadits-Hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam

Pada tahun 1420 H, umat kehilangan dua alim rabbani: asy- Syaikh al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin al-Albani dan asy-Syaikh al-Walid Abdul Aziz bin Baz. Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, nama yang tidak asing di tengah kaum muslimin. Harum nama beliau. Dunia Islam menyaksikan perjuangan beliau dalam membela Islam dan kaum muslimin. Adapun celaan yang tertuju kepada beliau hanyalah riak-riak di tengah luasnya samudra. Cukuplah biografi beliau dan sanjungan alam Islam sebagai bantahan bagi mereka yang dengan lancang mencela orang yang telah menghabiskan waktunya untuk membela Islam.

Meninggal pada usia 90 tahun, pada hari Kamis, Muharram 1420 H. Seusai shalat Jum’at, jenazah dishalati di Masjidil Haram bersama duka yang mendalam dan awan kelabu yang menyelimuti kalbu kaum muslimin. Shalat gaib juga ditegakkan di Masjid Nabawi dan masjid-masjid jami’ di Kerajaan Arab Saudi, hari itu. Umat kehilangan lagi sosok ulama mujaddid. Demikianlah zaman berlalu. Satu demi satu ulama meninggalkan dunia hingga kejahilan semakin merebak. Manusia pun akan menjadikan pemimpinpemimpin dan tokoh-tokoh mereka dari kalangan orang-orang yang jahil sebagaimana disabdakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sebuah hadits,

إِنَّ اللهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ صُدُورِ الرِّجَالِ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِمَوْتِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يَبْقَ عَالِمٌ، اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالاً، فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

“Sesungguhnya Allah Subhanahu wata’ala tidak mencabut ilmu dengan serta-merta dari dada-dada manusia, namun Allah Subhanahu wata’ala mencabut ilmu dengan wafatnya ulama. Karena itu, ketika tidak ada lagi seorang yang ‘alim, manusia lantas mengangkat pemimpin mereka dari kalangan orang-orang jahil, mereka ditanya dan memberikan fatwa (di atas kejahilan), mereka pun sesat dan menyesatkan.”

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah termasuk pemuka ulama yang sangat gigih menyebarkan akidah Islam dan membela dakwah Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hal ini tampak dalam amaliah beliau, ceramah-ceramah dan fatwa fatwa beliau, serta kitab-kitab yang beliau tinggalkan. Beliau gigih membela tauhid dan memerangi syirik. Hidup beliau penuh dengan pembelaan kepada Allah l dan Rasul-Nya, Islam, sahabat, dan pembelaan terhadap akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Asy-Syaikh Ibnu Baz dan Ilmu Hadits

Keilmuan beliau sangat mendalam. Hafal al-Qur’an sebelum baligh, kemudian beliau tekun duduk di hadapan para pembesar ulama di zaman itu. Kebutaan total yang menimpa di usia 20 tahun tidak membuatnya surut dalam menimba ilmu, bahkan mendorong beliau untuk menambah semangat. Allah Subhanahu wata’ala membukakan pintu-pintu ilmu untuknya. Jadilah beliau—dengan izin Allah Subhanahu wata’ala—seorang ulama. Semua menyaksikan keluasan ilmu asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz. Di samping ilmu akidah, tafsir, fikih, dan cabang-cabang lain, perhatian beliau kepada hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam demikian kuat. Disebutkan dalam biografinya, beliau menghafal haditshadits Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim. Semangat beliau dalam menyebarkan hadits Nabi n dan bertafaqquh dalam cabang ilmu ini juga tampak kental dalam banyak pelajaran yang beliau sampaikan kepada para penuntut ilmu. Beliau mengajarkan Kutubus Sittah (Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abi Dawud, Sunan at-Tirmidzi, Sunan an-Nasai, dan Sunan Ibnu Majah).

Beliau juga mengajarkan Musnad al- Imam Ahmad, Muwaththa’ al-Imam Malik, Sunan ad-Darimi, Shahih Ibnu Hibban, as-Sunan al-Kubra lin Nasai, Bulughul Maram, Muntaqal Akhbar, bersama dengan pelajaran-pelajaran lain yang tekun beliau ajarkan kepada para penuntut ilmu dalam akidah, tafsir, faraidh (ilmu waris), fikih, dan cabang ilmu lainnya. Semua orang yang adil dalam menilai akan berdecak kagum mengucapkan masya Allah la quwwata illa billah, ketika melihat bagaimana ketajaman beliau menjelaskan makna hadits-hadits sahih sesuai dengan pemahaman salafush saleh, dengan ungkapan yang mudah, ringkas, dan padat.

At-Tuhfatul Karimah fi Bayani Ba’dhil Ahadits al-Maudhu’ah was Saqimah

Di samping bersemangat menyebarkan hadits Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam yang sahih dengan pemahaman salaful ummah, perhatian beliau juga tertuju kepada hadits-hadits dha’if dan maudhu’ (palsu) yang banyak tersebar di tengah muslimin. Beliau tidak tinggal diam. Lengan baju beliau singsingkan untuk menjelaskan kepada umat apa yang tidak sahih dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam atau bahkan dipalsukan atas nama beliau. Di antara karya beliau yang menunjukkan semangat mengikuti jejak salaful ummah dan imam-imam Ahlus Sunnah dalam membersihkan haditshadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dari kedustaan kaum pendusta dan tercampurnya sabda-sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan riwayat-riwayat yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, adalah risalah berjudul at-Tuhfatul Karimah fi Bayan Ba’dhil Ahadits al-Maudhu’ah was Saqimah2 berisi kumpulan hadits maudhu’ (palsu) dan lemah. Di awal risalah, beliau berkata, “Segala puji bagi Allah, Dzat yang telah memuliakan kita dengan agama Islam, Dzat yang telah menjadikan Islam sebagai agama yang paling sempurna, Dzat yang telah menjaga kitab-Nya yang mulia,

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (Hijr: 9)

Allah Subhanahu wata’ala memudahkan untuk agama ini keberadaan ulama yang kokoh dalam ilmu, para pembela yang membersihkan agama ini dari penyimpangan orang yang melampaui batas, takwil orang-orang jahil, dan makar orang-orang yang berpenyakit lagi memiliki permusuhan. Allah Subhanahu wata’ala menjaga pula sunnah Nabi kita Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan kegigihan ahlul ilmi dan iman, orang-orang yang jujur lagi tepercaya. Mereka jelaskan kepada umat mana hadits-hadits yang sahih dan cacat, mana pula hadits-hadits yang hasan dan lemah.

Mereka terjun dalam medan (jihad ini), meneliti keadaan para perawi yang menukil hadits. Tampaklah mana perawi yang tsiqah (tepercaya), jujur, memiliki hafalan, amanah, dan bagus dalam periwayatan serta kuat dalam pemahaman. Tampak pula siapakah perawi yang muttaham (tertuduh berdusta) atau memang pendusta, yang jelek hafalannya, atau sangat banyak salahnya karena hafalannya yang menjadi kacau, atau sebab lainnya. Itu semua mereka jelaskan sebagai bentuk nasihat kepada umat….

Inilah sebuah risalah sederhana, berisi keterangan sebagian haditshadits maudhu’ dan dha’if, sengaja saya kumpulkan agar saya benar-benar berada di atas ilmu tentang hadits-hadits tersebut. Saya bisa mengambil manfaatnya pertama kali, dan semoga saudara saya juga dapat mengambil manfaatnya.” (Majmu’ Fatawa) Asy-Syaikh kemudian mulai menyebutkan hadits-hadits lemah dan palsu yang beliau urutkan sesuai huruf hijaiyah untuk memudahkan para pencari hadits mengambil manfaatnya.

Beberapa Hadits Dha’if & Maudhu’ yang Diterangkan asy-Syaikh Abdul Aziz Bin Baz

Untuk menyempurnakan faedah, berikut ini dua buah hadits, maudhu’ dan dha’if beserta keterangan asy- Syaikh Ibnu Baz dari risalah at-Tuhfatul Karimah dan fatwa beliau.

1. Hadits maudhu’ tentang anjuran berdoa kepada penghuni kubur.

Diriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِذَا تَحَيَّرْتُمْ فِي الْأُمُورِ فَاسْتَعِينُوا بِأَهْلِ الْقُبُورِ

“Jika kalian mendapat kesusahan dalam urusan-urusan kalian, mintalah pertolongan kepada penghuni-penghuni kubur.”

Riwayat ini adalah salah satu syubhat kaum sufi quburi (pengagung kuburan). Mereka gembar-gemborkan hadits ini untuk melegalisasi praktik-praktik kesyirikan yang sering mereka lakukan di kuburan-kuburan yang mereka anggap mulia.3 Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz  pernah ditanya, “(Wahai Syaikh) sebagian manusia berkata, memohon kepada mayit di kubur mereka adalah perkara yang boleh dengan dalil hadits, ‘Jika kalian mendapat kesusahan dalam perkaraperkara kalian, mintalah pertolongan kepada penghuni-penghuni kubur.’ Sahihkah hadits ini atau tidak?” Beliau menjawab bahwa hadits ini termasuk hadits-hadits yang dipalsukan atas nama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana diperingatkan oleh banyak ulama, di antaranya adalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah.

Beliau berkata dalam Majmu’ Fatawa (1/356), setelah menyebutkan hadits ini, “Hadits ini dusta, dibuat-buat atas nama Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Ini adalah kesepakatan ulama yang mengerti hadits-hadits beliau. Tidak ada seorang ulama pun meriwayatkan hadits ini, bahkan hadits ini tidak ada dalam kitab-kitab hadits yang dijadikan sandaran.”

Hadits yang dipalsukan atas nama Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam ini bertentangan dengan kandungan al-Kitab dan as-Sunnah tentang kewajiban memurnikan ibadah hanya untuk Allah Subhanahu wata’ala dan diharamkannya mempersekutukan Allah Subhanahu wata’ala. Tidaklah diragukan bahwasanya berdoa (memohon) kepada orang-orang yang telah mati, beristighatsah (memohon pertolongan di kala kesempitan) kepada mereka, serta berbondong mengharap kepada mereka dalam kesempitan dan kesusahan termasuk kesyirikan terbesar, sebagaimana berdoa kepada mereka di masa lapang juga termasuk kesyirikan.4

Di saat tertimpa kesempitan, kaum musyrikin terdahulu mengikhlaskan doa untuk Allah Subhanahu wata’ala (mereka lupa ilah-ilah yang lain, seperti al-Latt, al-‘Uzza, dst, mereka hanya ingat kepada Allah Subhanahu wata’ala, -pen.). Namun, ketika kesempitan itu telah tersingkap, mereka kembali lagi melakukan kesyirikan, sebagaimana dalam firman-Nya,

فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ

“Apabila mereka naik kapal, mereka mendoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya; tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah).” (al-Ankabut: 65)

Ayat-ayat al-Qur’an yang semisal dengan ini sangatlah banyak. (Semuanya menunjukkan bahwa kaum musyrikin terdahulu memurnikan doa kepada Allah Subhanahu wata’ala di saat kesempitan, setelah mendapatkan kelapangan mereka kembali kepada ilah selain Allah Subhanahu wata’ala, -pen.) Adapun kaum musyrikin saat ini (seperti mereka yang mendatangi makam-makam para wali, memohon kepadanya, atau menjadikannya sebagai perantara -pen.), kesyirikan mereka tidak kenal waktu, baik di masa lapang maupun di masa sempit. Bahkan, di masa sempit, kesyirikan itu semakin bertambah (yakni ketergantungan mereka kepada para penghuni kubur menjadi berlipat, -pen.). Kita berlindung kepada Allah Subhanahu wata’ala. …

(Mereka berdoa kepada selain Allah Subhanahu wata’ala, padahal doa hanyalah hak Allah Subhanahu wata’ala, -pen.) Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus….” (al-Bayyinah: 5)

Allah Subhanahu wata’ala juga berfirman,

فَادْعُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

“Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ibadah kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai(nya).” (al-Mukmin: 14)

Dalam ayat lain, Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِن دُونِهِ مَا يَمْلِكُونَ مِن قِطْمِيرٍ {} إِن تَدْعُوهُمْ لَا يَسْمَعُوا دُعَاءَكُمْ وَلَوْ سَمِعُوا مَا اسْتَجَابُوا لَكُمْ ۖ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُونَ بِشِرْكِكُمْ ۚ وَلَا يُنَبِّئُكَ مِثْلُ خَبِيرٍ

“… Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari. Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. Dan di hari kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu dan tidak ada yang dapat memberikan keterangan kepadamu sebagaimana yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui.” (Fathir: 13—14)

Ayat ini sifatnya umum, mencakup semua yang diibadahi selain Allah Subhanahu wata’ala, baik para nabi, orang-orang saleh, maupun yang lainnya. Allah l telah menjelaskan bahwa doa kaum musyrikin yang ditujukan kepada mereka (orang-orang yang telah mati) adalah kesyirikan. Allah l juga menjelaskan bahwa perbuatan tersebut adalah kekufuran. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَمَن يَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ لَا بُرْهَانَ لَهُ بِهِ فَإِنَّمَا حِسَابُهُ عِندَ رَبِّهِ ۚ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ

“Dan barang siapa berdoa (menyembah ilah yang lain) di samping Allah, padahal tidak ada suatu dalil pun baginya tentang itu, maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Rabbnya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung.” (al-Mukminun: 117)

Ayat-ayat yang menunjukkan wajibnya mengikhlaskan ibadah hanya untuk Allah Subhanahu wata’ala semata, kewajiban mengarahkan doa hanya kepada-Nya dan bukan pada yang lainnya, sangatlah banyak dan pasti diketahui oleh orangorang yang mentadabburi al-Qur’an dan membacanya untuk mencari petunjuk. Demikian pula ayat yang menunjukkan diharamkannya beribadah kepada selain Allah Subhanahu wata’ala berupa orang yang sudah mati, patung-patung, berhala, pepohonan, bebatuan, dan lainnya. Hanya kepada Allah Subhanahu wata’ala lah tempat memohon pertolongan, la haula wa la quwwata illa billah. (Majmu’ Fatawa asy-Syaikh bin Baz dan Fatawa Nurun ‘Ala ad-Darb)

2. Hadits dhaif tentang tidak diterimanya shalat orang yang pakaiannya musbil.

وَإِنَّ اللهَ تَعَالَى لاَ يَقْبَلُ صَلَاةَ رَجُلِ مُسْبِلٍ إِزَارَهُ

“Dan Allah tidak akan menerima shalat seseorang yang musbil (menjulurkan kainnya di bawah mata kaki).” Menjulurkan kain di bawah mata kaki bagi kaum lelaki adalah hal yang dilarang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Hadits-hadits dengan tegas melarangnya secara umum, baik menjulurkan karena sombong maupun tidak. Bahkan, al-Imam adz-Dzahabi asy- Syafi’i rahimahullah memasukkannya dalam kitab al-Kabair (dosa-dosa besar). Di kalangan ulama terja i perbincangan tentang hukum shalat orang yang memakai kain di bawah mata kaki, apakah sah shalatnya? Asy-Syaikh Ibnu Baz t berkata, “Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 638 (1/172) dan no. 4086 (4/ 57) dari Musa bin Ismail, dari Aban, dari Yahya, dari Abu Ja’far, dari ‘Atha’, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

“Suatu saat ada orang shalat dalam keadaan musbil (menjulurkan sirwalnya di bawah mata kaki). Ketika itu Rasul n berkata, ‘Pergilah engkau, ulangi wudhumu!’ Ia pergi lalu datang kembali. Rasul mengulangi lagi sabdanya, ‘Pergilah engkau, ulangi wudhumu!’ Bertanyalah seseorang, ‘Wahai Rasulullah mengapa engkau perintahkan dia berwudhu kemudian engkau diam?’ Rasul n pun bersabda,

إِنَّهُ كَانَ يُصَلِّي وَهُوَ مُسْبِلٌ إِزَارَهُ ، وَإِنَّ اللهَ تَعَالَى لاَ يَقْبَلُ صَلَاةَ رَجُلٍ مُسْبِلٍ إِزَارَهُ

‘Sungguh, ia tadi shalat dalam keadaan musbil, dan Allah Subhanahu wata’alatidak akan menerima shalat seseorang yang menjulurkan kainnya di bawah mata kaki.’ Tentang hadits ini, al-Imam an- Nawawi rahimahullah dalam Riyadhus Shalihin berkata, ‘Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud sesuai dengan syarat al- Imam Muslim’.” Saya (asy-Syaikh Ibnu Baz) katakan, “Ini adalah wahm (kekeliruan) al-Imam an-Nawawi rahimahullah. Sanad ini sebenarnya tidak sesuai dengan syarat al-Imam Muslim. Sanad ini justru dha’if (lemah) karena ada dua illat (cacat) di dalamnya.

1. Hadits ini datang dari riwayat Abu Ja’far—tanpa menyebut nasabnya—dan ia majhul (tidak dikenal).

2. Hadits ini adalah riwayat Yahya bin Abi Katsir dari Abu Ja’far dengan ‘an’anah, padahal Yahya adalah seorang yang mudallis, dan jika seorang mudallis tidak terang-terangan mendengar haditsnya (dari sang guru), haditsnya tidak bisa dijadikan hujah, kecuali jika

berada dalam Shahihain. Seandainya hadits ini sahih, makna yang terkandung adalah ancaman keras agar seorang tidak lagi melakukan isbal. Adapun shalatnya tetaplah sah karena Rasul n tidak memerintahkannya mengulangi shalat. Yang beliau perintahkan adalah mengulangi wudhunya. Tidak diterimanya shalat dalam hadits, tidak mesti berkonsekuensi batalnya shalat. Contohnya adalah sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,

مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

“Barang siapa mendatangi dukun lalu ia bertanya kepadanya tentang sesuatu, sungguh tidak akan diterima shalatnya selama empat puluh hari.” (HR . Muslim dalam Shahih-nya)

(Dalam hadits ini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menafikan diterimanya shalat orang yang datang kepada dukun dan bertanya walaupun tidak memercayainya). Tentang hadits ini, al-Imam an-Nawawi rahimahullah menukilkan adanya ijma’ (kesepakatan ulama) bahwa dia tidak diperintahkan mengulangi shalatnya, namun pahalanya hilang (yakni shalat yang dilakukan tidak berpahala selama 40 hari). Ini sebagai hukuman sekaligus peringatan. Yang serupa dengan ini ada dalam banyak hadits. Ini semua menunjukkan bahwa tidak diterimanya shalat orang yang musbil maksudnya adalah (hilang pahalanya) dan tidak mengharuskan batalnya shalat, karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak memerintahnya untuk mengulangi shalat. Demikian pula dalam hadits Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak memerintahnya mengulangi (shalat). Yang beliau perintahkan untuk diulangi adalah wudhunya…

Bisa jadi, wudhu itu akan meringankan dosa. Semua makna ini tentu saja jika hadits di atas sahih. Bisa jadi, hadits di atas dijadikan dalil tidak sahnya shalat (orang yang musbil) karena tidak adanya perkara yang memalingkan makna ini, seperti sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam,

يَقْبَلُ اللهُ صَلَاهَ أَحَدِكُمْ إِذَا أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ

“Allah tidak menerima shalat di antara kalian jika berhadats hingga dia berwudhu.” (Muttafaq ‘alaihi)

Hadits Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu yang kita isyaratkan sebelum ini dikeluarkan oleh Abu Dawud dengan no. 637 (1/172) dengan sanad yang sahih. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ أَسْبَلَ إِزَارَهُ فِي صَلَاتِهِ خُيَلَاءَ فَلَيْسَ مِنَ اللهِ فِي حِلٍّ وَلاَ حَرَامٍ

‘Barang siapa menjulurkan kainnya (di bawah mata kaki) karena sombong, Allah Subhanahu wata’ala tidak mengurusinya baik di tanah halal atau haram.

Setelah meriwayatkan hadits ini, Abu Dawud rahimahullah mengatakan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh al-Jama’ah secara mauquf dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Asy-Syaikh Ibnu Baz mengatakan,

Mauquf yang seperti ini memiliki hukum marfu’ karena kandungannya adalah perkara yang tidak mungkin berasal dari ra’yu (pendapat seseorang), sebagaimana diketahui dari perkataan ulama ushul fiqih dan musthalah hadits. Wa billahit taufiq.” (Majmu’ Fatawa Syaikh Bin Baz)

Khatimah

Pembaca rahimakumullah, demikian sepenggal penjelasan asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz di antara peninggalanpeninggalan beliau yang sangat banyak. Selebihnya, pembaca dipersilakan merujuk kepada risalah at-Tuhfatul Karimah fi Baya ba’dhil Ahadits al-Maudhu’ah was Saqimah, dan karya beliau lainnya. Apa yang sedikit ini semoga memberikan manfaat kepada kita, dan mengingatkan kepada para pencela asy- Syaikh Abdul Aziz yang telah beruban dalam membela Islam dan akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah. Semoga Allah Subhanahu wata’ala merahmati dan mengampuni kita semua dan beliau, kemudian mengumpulkan kita semua di dalam jannah-Nya.

Amin.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar Ibnu Rifai

Kriteria Imam dalam Shalat

Sahabat mulia, Malik bin al-Huwairits radhiyallahu ‘anhu bercerita,

أَتَيْنَا النَّبِيَّ, وَنَحْنُ شَبَبَةٌ مُتَقَارِبُونَ فَأَقَمْنَا عِنْدَهُ عِشْرِينَ لَيْلَةً فَظَنَّ أَنَّا اشْتَقْنَا أَهْلَنَا  وَسَأَلَنَا عَمَّنْ تَرَكْنَا فِي أَهْلِنَا فَأَخْبَرْنَاهُ وَكَانَ رَفِيقًا رَحِيمًا فَقَالَ: ارْجِعُوا إِلَى أَهْلِيكُمْ فَعَلِّمُوهُمْ وَمُرُوهُمْ وَصَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي وَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلَاةُ فَلْيُؤَذِّنْ لَكُمْ أَحَدُكُمْ ثُمَّ لِيَؤُمَّكُمْ أَكْبَرُكُمْ

“Kami pernah datang menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Saat itu, kami semua pemuda sebaya. Kami pun bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam selama 20 hari 20 malam. Setelah memandang bahwa kami telah merindukan keluarga, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada kami tentang keluarga yang kami tinggalkan. Kami pun menceritakannya kepada beliau. Ternyata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang penuh kasih sayang dan kelembutan. Setelah itu beliau bersabda, ‘Pulanglah ke keluarga kalian. Tinggallah di antara mereka, ajari dan perintahkan mereka (untuk melaksanakan Islam). Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku melaksanakan shalat. Jika waktu shalat telah tiba, salah seorang di antara kalian hendaknya mengumandangkan azan untuk kalian dan yang paling tua di antara kalian menjadi imam’.”

Kedudukan Hadits Malik bin al- Huwairits radhiyallahu ‘anhu

Hadits di atas, dengan tambahan lafadz ( وَصَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي ), dikeluarkan oleh al-Imam al-Bukhari rahimahullah di tiga tempat dalam Shahih al-Bukhari,

1. Kitab al-Azan (no. 631)

2. Kitab al-Adab (no. 6008)

3. Kitab Akhbarul Ahad (no. 7246)

Ketiga riwayat tersebut bersumber dari jalur Ayyub dari Abu Qilabah dari Malik bin al-Huwairits radhiyallahu ‘anhu. Mengenai sahabat yang meriwayatkan hadits di atas, beliau adalah Abu Sulaiman Malik bin al-Huwairits bin Asyam bin Zabalah bin Hasyis. Beliau berasal dari suku Sa’d bin Laits bin Bakr bin Abdu Manat bin Kinanah. Beliau menetap di Bashrah hingga wafatnya pada 74 H. Malik bin al-Huwairits radhiyallahu ‘anhu memiliki beberapa hadits di dalam Shahih al- Bukhari, seluruhnya berkenaan dengan tata cara shalat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Peristiwa datangnya Malik bin al- Huwairits radhiyallahu ‘anhu bersama rombongan dari suku Laits disebutkan oleh sebagian ahli sejarah terjadi pada tahun al- Wufud (tahun kedatangan utusan secara bergelombang dari berbagai negeri untuk menyatakan keislaman). Ibnu Sa’d rahimahullah menyatakan bahwa peristiwa tersebut terjadi sebelum Perang Tabuk yang terjadi pada bulan Rajab tahun 9 H. (Fathul Bari, 13/292—293)

Pandangan Ulama tentang Hadits Ini

Ash-Shan’ani rahimahullah menyatakan, “Hadits ini adalah landasan yang kuat untuk menyatakan bahwa apa yang dilakukan dan yang diucapkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam shalat adalah bayan (penjelasan) tentang perintah shalat yang masih mujmal (global) di dalam al-Qur’an.” (Subulus Salam) Asy-Syaukani rahimahullah berkata, “Hadits ini menjelaskan tentang wajibnya seluruh perbuatan dan ucapan di dalam shalat yang tsabit (sahih) dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Yang mendukung hal ini adalah tata cara tersebut merupakan bentuk bayan (penjelasan) terhadap firman Allah Subhanahu wata’ala yang masih mujmal (global) dari ayat,

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ

‘Dan dirikanlah shalat.’ (al- Baqarah: 43)

Perintah di atas adalah perintah al- Qur’an yang menunjukkan wajib. Dan bayan (penjelasan) untuk bentuk mujmal (global) yang wajib juga dihukumi wajib.” (Nailul Authar 2/175)

Adapun sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam,

وَصَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي

“Dan shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku melaksanakan shalat,”

diterangkan oleh al-Imam Ibnu Hibban rahimahullah, “ (Kalimat ini) adalah bentuk perintah yang mencakup segala hal yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam shalatnya. Hal-hal yang dikecualikan oleh ijma’ atau riwayat, maka tidak ada dosa bagi yang meninggalkannya di dalam shalat. Adapun yang tidak dikecualikan oleh ijma’ atau riwayat, maka hal itu adalah perintah yang tidak boleh ditinggalkan oleh kaum muslimin seluruhnya, apa pun alasannya.” (al- Ihsan, 3/286)

Beberapa Hukum dan Faedah dari Hadits Malik bin al-Huwairits radhiyallahu ‘anhu

Ada banyak hukum dan faedah yang dapat dipetik dari hadits Malik bin al-Huwairits radhiyallahu ‘anhu antara lain,

1. Semangat setiap muslim untuk menyampaikan ilmu dan kebenaran.

Al – Imam al – Bukhari rahimahullah memberikan judul bab untuk hadits di atas di salah satu pembahasannya, “Motivasi Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Utusan Suku Abdul Qais Agar Mereka Menghafalkan Iman dan Ilmu lalu Menyampaikannya kepada Masyarakat Mereka.” Malik bin al-Huwairits radhiyallahu ‘anhu  berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berpesan kepada kami, ‘Pulanglah kepada keluarga kalian dan ajarkanlah ilmu kepada mereka’.”

2. Azan dan iqamat disyariatkan untuk shalat saat sedang safar.

Hukum ini diambil dari sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pada hadits di atas,

وَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلَاةُ فَلْيُؤَذِّنْ لَكُمْ أَحَدُكمْ

“Jika waktu shalat telah tiba, hendaknya salah seorang di antara kalian mengumandangkan azan untuk kalian.”

Al-Imam Bukhari rahimahullah membuat judul untuk hadits di atas pada salah satu pembahasannya, bab “Azan dan Iqamat bagi Musafir Apabila Mereka Berjamaah”. Dalil lain adalah hadits Abu Qatadah rahimahullah dalam riwayat Muslim (no. 681) yang secara panjang mengisahkan salah satu safar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Dalam perjalanan tersebut, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat tertidur sampai matahari terbit. Kemudian Bilal Shallallahu ‘alaihi wasallam mengumandangkan azan. Dalil berikutnya adalah hadits ‘Uqbah bin ‘Amir Shallallahu ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2203), beliau pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

يَعْجَبُ رَبُّكُمْ مِنْ رَاعِي غَنَمٍ فِي رَأْسِ شَظِيَّةٍ بِجَبَلٍ يُؤَذِّنُ بِالصَّلَاةِ وَيُصَلِّي فَيَقُولُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: انْظُرُوا إِلَى عَبْدِي هَذَا، يُؤَذِّنُ وَيُقِيمُ الصَّلَاةَ يَخَافُ مِنِّي، قَدْ غَفَرْتُ لِعَبْدِي وَأَدْخَلْتُهُ الْجَنَّةَ

“Rabb kalian kagum terhadap seorang penggembala kambing yang berada di puncak bukit. Ia mengumandangkan azan dan melaksanakan shalat. Lalu Allah Shallallahu ‘alaihi wasallam berfirman, ‘Lihatlah hamba- Ku ini. Ia mengumandangkan azan dan melaksanakan shalat karena takut kepada-Ku. Sungguh, Aku telah memberikan ampunan untuknya dan Aku akan memasukkannya ke dalam surga’.”

Al-Imam Abu Dawud rahimahullah membuat judul untuk hadits di atas, bab “Azan di Saat Safar.” Hadits ini dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam ash-Shahihah (1/65).

3. Bersikap kasih sayang dan lembut kepada sesama manusia.

Al – Imam al – Bukhari rahimahullah memberikan judul untuk hadits di atas pada salah satu pembahasannya, bab “Bersikap Rahmat kepada Binatang dan Manusia”. Faedah ini dipahami dari keterangan Malik bin al-Huwairits radhiyallahu ‘anhu yang menilai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,

وَكَانَ رَفِيقًا رَحِيمًا

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang penuh kasih dan kelembutan.”

Al-Hafizh Ibnu Hajar radhiyallahu ‘anhu menerangkan bahwa ada dua riwayat di dalam Shahih al-Bukhari untuk lafadz

,(رَفِيقًا)

رَفِيقًا) ), dengan huruf fa’ kemudian qaf

رَقِيقًا) ), dengan huruf qaf kemudian qaf lagi. Adapun di dalam riwayat Muslim hanya dengan lafadz ( رَقِيقًا ), dengan huruf qaf kemudian qaf lagi. Namun, kedua lafadz tersebut satu makna.

4. Keterangan tentang salah satu kriteria imam shalat.

Adapun kriteria seorang muslim yang berhak menjadi imam telah dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam  dalam sebuah hadits secara berurutan. Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

يَؤُمُّ الْقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللهِ، فَإِنْ كَانُوا فِي الْقِرَاءَةِ سَوَاءً فَأَعْلَمُهُمْ بِالسُّنَّةِ، فَإِنْ كَانُوا فِي السُّنَّةِ سَوَاءً فَأَقْدَمُهُمْ هِجْرَةً، فَإِنْ كَانُوا فِي الْهِجْرَةِ سَوَاءً فَأَقْدَمُهُمْ سِلْمًا، وَلَا يَؤُمَّنَّ الرَّجُلُ الرَّجُلَ فِي سُلْطَانِهِ وَلَا يَقْعُدْ فِي بَيْتِهِ عَلَى تَكْرِمَتِهِ إِلَّا بِإِذْنِهِ

“Yang berhak menjadi imam shalat untuk suatu kaum adalah yang paling pandai dalam membaca al-Qur’an. Jika mereka setara dalam bacaan al- Qur’an, (yang menjadi imam adalah) yang paling mengerti tentang sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Apabila mereka setingkat dalam pengetahuan tentang sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, (yang menjadi imam adalah) yang paling pertama melakukan hijrah. Jika mereka sama dalam amalan hijrah, (yang menjadi imam adalah) yang lebih dahulu masuk Islam.” (HR. Muslim no. 673 dari Abu Mas’ud al-Anshari radhiyallahu ‘anhu) Dalam riwayat lain, ada tambahan lafadz,

فَإِنْ كَانُوا فِي الْهِجْرَةِ سَوَاءً فَلْيَؤُمَّهُمْ أَكْبَرُهُمْ سِنًّا

“Jika mereka sama dalam amalan hijrah, (yang menjadi imam adalah) yang paling tua di antara mereka.”

Dengan demikian, yang paling berhak menjadi imam shalat secara berurutan adalah;

1. Yang paling pandai membaca al-Qur’an. Jika sama-sama pandai,

2. Yang paling mengerti tentang sunnah Nabi radhiyallahu ‘anhu. Jika sama-sama mengerti,

3. Yang paling pertama melaksanakan hijrah. Jika sama dalam hal hijrah,

4. Yang lebih dahulu masuk Islam. Jika bersama masuk Islam,

5. Yang lebih tua.

Selanjutnya, yang dimaksud dengan al-aqra’, apakah yang paling baik bacaannya ataukah yang paling banyak hafalannya? Jawabannya adalah yang paling baik bacaannya. Maknanya, yang bacaannya sempurna dengan pengucapan huruf sesuai dengan makhrajnya. Adapun keindahan suara bukanlah syarat. Jika ada dua orang;

1. Bacaan al-Qur’annya sangat baik.

2. Bacaannya baik, namun tidak sebaik orang pertama, hanya saja ia lebih menguasai fikih tentang shalat dibandingkan dengan orang pertama. Dalam hal ini, orang kedua lebih berhak untuk menjadi imam shalat. Pembahasan ini tidak berlaku jika pada pelaksanaan shalat berjamaah di sebuah masjid telah ditunjuk imam tetap, maka imam tetap tersebut yang paling berhak selama tidak ada uzur.

(asy-Syarhul Mumti’, Ibnu Utsaimin)

5. Riwayat ahad dapat diterima meskipun di dalam masalah akidah.

Hal ini berseberangan dengan yang diyakini oleh kaum Mu’tazilah. Al-Imam al-Bukhari rahimahullah menamakan sebuah bab untuk hadits di atas pada salah satu pembahasannya, bab “Keterangan tentang Diperbolehkannya Khabar dari Satu Orang yang Jujur Tepercaya dalam Masalah Azan, Shalat, Puasa, Kewajiban- Kewajiban Islam, dan Masalah Ahkam.”

6. Perjuangan dakwah Islam tidak pernah lepas dari peran dan andil para pemuda.

Di dalam hadits di atas, suku Laits mengutus kaum muda untuk mempelajari syariat Islam agar dapat diajarkan kembali kepada masyarakatnya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman tentang Ashabul Kahfi,

إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى

“Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Rabb mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk.” (al-Kahfi: 13)

Ibnu Katsir rahimahullah menerangkan, “Allah Subhanahu wata’ala menjelaskan (tentang Ashabul Kahfi) bahwa mereka adalah para pemuda. Kaum muda lebih mudah menerima al-haq (kebenaran) dan lebih cepat mengikuti jalan kebaikan dibandingkan dengan kaum tua. Sebab, kaum tua telah terlalu jauh dan tenggelam di dalam agama kebatilan. Oleh sebab itu, kalangan sahabat yang menyambut seruan Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya didominasi oleh kaum muda. Adapun kalangan tua Quraisy, mayoritas mereka tetap memilih agama nenek moyang. Hanya sedikit saja dari kalangan tua yang masuk Islam.” Di dalam ayat lain, tentang dakwah Nabi Musa ‘Alaihissalam, Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

فَمَا آمَنَ لِمُوسَىٰ إِلَّا ذُرِّيَّةٌ مِّن قَوْمِهِ عَلَىٰ خَوْفٍ مِّن فِرْعَوْنَ وَمَلَئِهِمْ أَن يَفْتِنَهُمْ ۚ

“Maka tidak ada yang beriman kepada Musa, selain pemuda-pemuda dari kaumnya (Musa) dalam keadaan takut bahwa Fir’aun dan pemuka-pemuka kaumnya akan menyiksa mereka.” (Yunus: 83)

Ibnu Katsir rahimahullah menerangkan, “Allah Subhanahu wata’ala memberikan kabar, meskipun Nabi Musa ‘Alaihissalam membawa ayat-ayat yang kuat, argumen-argumen pasti, dan alasan-alasan yang jelas, tetap saja kaumnya tidak beriman kecuali sedikit sekali. Yang sedikit itu adalah kaum dzurriyah, yaitu kaum muda. Itu pun masih dibayangi oleh kecemasan dan kekhawatiran dari makar Fir’aun dan pengikutnya yang berusaha mengembalikan mereka kepada kekufuran sebagaimana dahulu.”

Mudah-mudahan beberapa pelajaran dari hadits Malik bin al-Huwairits radhiyallahu ‘anhu di atas bermanfaat.

Wallahul muwaffiq.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar Ibnu Rifai

Memilih Teman Duduk

 Dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّمَا مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السُّوءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رَيْحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الْكِيْرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيْحًا خَبِيثَةً


“Permisalan teman duduk yang saleh dan teman duduk yang buruk seperti penjual misik dan pandai besi. Adapun penjual misik, boleh jadi ia memberimu misik, engkau membeli darinya, atau setidaknya engkau akan mencium bau harumnya. Adapun pandai besi, boleh jadi akan membuat bajumu terbakar atau engkau mencium bau yang tidak enak.”

 

Takhrij Hadits

Hadits di atas diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari  dalam ash-Shahih (no. 2101 dan 5534), Muslim t (8/37—38), Ibnu Hibban rahimahullah dalam Shahih-nya, al-Baihaqi rahimahullah dalam Syu’abul Iman, dan Ahmad rahimahullah (4/404—405), semua melalui jalan Abu Burdah rahimahullah, dari Abu Musa rahimahullah, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah menyebutkan jalan-jalan lain yang dapat dirujuk dalam kitab beliau, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah, hadits no. 3214.

 

Makna Hadits

Ada perkara penting yang kurang mendapat perhatian. Mengabaikan hal ini bisa menjadi bahaya laten dan bom waktu bagi yang tidak memedulikannya.

Perkara itu adalah memilih teman duduk. Wajib bagi kita memilih teman-teman yang baik, yang akan membantu kita dalam ketaatan. Demikian pula, wajib bagi kita menjauhkan diri dari orangorang fasik, ahlul bid’ah, para pemilik pemikiran-pemikiran menyimpang, dan pengikut hawa nafsu yang akan menjauhkan kita dari ketaatan kepada Allah Subhanahu wata’ala. Ini faedah penting yang tersurat dalam hadits Abu Musa al-Asy’ari rahimahullah. Ketika menyebutkan hadits ini, al-Baihaqi t memberikan judul bab “Menjauhkan Diri dari Kaum yang Fasik, Ahlul Bid’ah, dan Siapa Saja yang Tidak Membantumu untuk Berbuat Taat kepada Allah Subhanahu wata’ala.”

Demikianlah yang semestinya kita tempuh, memilih sahabat yang baik sebagaimana diwasiatkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Sahabat sangat memengaruhi orang yang diiringinya, dan tabiat teman dekat benar- benar menguasai tabiat temannya. Oleh karena itu, semakna dengan hadits Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, banyak sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang melarang kita berdekatan dengan orang-orang kafir dan tinggal bersama mereka.

Banyak kasus orang tua dikagetkan ketika dahulu sang anak demikian santun, beradab kepada orang tua, lembut dalam tutur kata, namun selepas pendidikannya di bangku kuliah, sang anak lantas durhaka kepada keduanya. Kasar, kaku, dan suka menyakiti. Jangankan tinggal serumah untuk berbuat ihsan kepada keduanya di saat kepayahan keduanya, ucapan terima kasih pun berat untuk terucap. Bahkan, di antara yang pernah terjadi, sang anak begitu mudah memberi vonis kafir kepada keduanya karena tidak mau ikut ideologinya. Lantas ia pergi meninggalkan keduanya dengan dalih berjihad dengan jalan yang dia anggap mengantarkan ke surga, padahal jalan yang ia tempuh jauh dari bimbingan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Kita dikejutkan beberapa waktu lalu dengan peristiwa-peristiwa pengeboman, termasuk di beberapa tempat wilayah Kerajaan Arab Saudi. Penulis mendapat kisah dari sebagian da’i yang mendapat tugas dari pemerintah Arab Saudi untuk memberikan pengarahan di penjarapenjara kepada para pelaku pengeboman. Sungguh, pelaku-pelaku tersebut bukan orang idiot. Mereka cerdas otaknya, bahkan mahasiswa perguruan tinggi, di samping punya semangat keislaman.

Hanya saja, mereka tidak belajar di bawah bimbingan tangan para ulama. Di antara mereka ada yang belajar dari dunia maya, mengunjungi situssitus Khawarij, dan berkawan dengan orang-orang berpemahaman takfir. Sungguh, di antara mereka ada yang memiliki seorang ibu yang sudah renta di rumahnya, ditinggal telantar untuk berjihad—menurut anggapan mereka— dengan melakukan peledakan di negeri Islam. Sangat menyedihkan. Tampaknya, setiap kita wajib mulai berbenah ketika mengingat sabda Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam dari sahabat Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu,

إِنَّمَا مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السُّوءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ

“Permisalan teman duduk yang saleh dan teman duduk yang buruk itu seperti penjual misik dan pandai besi.”

Dalam hadits ini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan timbangan dalam hal memilih teman. Kita diingatkan tentang timbangan tersebut, sebuah neraca yang sudah mulai pudar di zaman ini.

 

Kisah Thalq bin Habib rahimahullah

Nama ini tidak asing bagi para penuntut ilmu. Seorang pemuka tabi’in, Thalq bin Habib al-‘Anazi al-Bashri. Hadits-haditsnya diriwayatkan oleh al- Imam Muslim dalam ash-Shahih, Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, Ibnu Majah, dan lainnya rahimahumullah. Tahukah Anda bahwa dahulu beliau terpengaruh dengan mazhab Khawarij yang mereka terjatuh pada pemahaman mengafirkan para pelaku dosa besar? Mereka berkeyakinan bahwa pelaku dosa besar, seperti orang yang bunuh diri, kekal di dalam neraka. Mereka pun tidak meyakini adanya syafaat untuk pelaku dosa besar sehingga dikeluarkan dari neraka.

Dalam sebuah perjalanan, ketika Thalq bin Habib bersama kawan-kawan sepemahaman melakukan perjalanan haji atau umrah, Allah Subhanahu wata’ala menyelamatkan Thalq dari paham takfir tatkala bermajelis dengan sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, seorang ulama dari generasi sahabat, generasi terbaik umat ini.

Kisah beliau diriwayatkan oleh alImam Ahmad rahimahullah dalam al-Musnad. Dalam kisah tersebut Thalq bin Habib rahimahullah berkata,

كُنْتُ مِنْ أَشَدِّ النَّاسِ تَكْذِيبًا بِالشَّفَاعَةِ حَتَّى لَقِيتُ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللهِ فَقَرَأْتُ عَلَيْهِ كُلَّ آيَةٍ ذَكَرَهَا اللهُ عَزَّ وَجَلَّ فِيهَا خُلُودُ أَهْلِ النَّارِ، فَقَالَ :  يَا طَلْقُ، أَتُرَاكَ أَقْرَأَ لِكِتَابِ اللهِ مِنِّي وَأَعْلَمَ بِسُنَّةِ رَسُولِ اللهِ, فَاتُّضِعْتُ لَهُ؟ فَقُلْتُ: لَا،  وَاللهِ، بَلْ أَنْتَ أَقْرَأُ لِكِتَابِ اللهِ مِنِّي وَأَعْلَمُ بِسُنَّتِهِ مِنِّي. قَالَ: فَإِنَّ الَّذِي قَرَأْتَ أَهْلُهَا هُمُ الْمُشْرِكُونَ، وَلَكِنْ قَوْمٌ أَصَابُوا ذُنُوبًا فَعُذِّبُوا بِهَا ثُمَّ أُخْرِجُوا، صُمَّتَا-وَأَهْوَى بِيَدَيْهِ إِلَى أُذُنَيْهِ-إِنْ لَمْ أَكُنْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ يَقُولُ يَخْرُجُونَ مِنْ النَّارِ؛ وَنَحْنُ نَقْرَأُ مَا تَقْرَأُ

Dahulu aku termasuk orang yang paling keras pengingkarannya terhadap adanya syafaat (yakni syafaat bagi pelaku dosa besar untuk keluar dari neraka, -pen.), hingga (Allah Subhanahu wata’ala mudahkan) aku berjumpa dengan sahabat Jabir bin Abdillah z. Di hadapannya, aku bacakan semua ayat yang Allah Subhanahu wata’ala firmankan dalam al-Qur’an tentang kekekalan penghuni neraka (yakni Thalq memahami mereka yang sudah masuk neraka tidak mungkin mendapat syafaat untuk keluar termasuk pelaku dosa besar, -pen.). Seusai membacakan ayat-ayat tersebut Jabir berkata, “Wahai Thalq, apakah engkau menyangka dirimu lebih paham terhadap al-Qur’an dariku? Dan apakah engkau anggap dirimu lebih tahu tentang sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dariku?” Thalq menjawab, “Tidak demi Allah, bahkan engkau lebih paham terhadap Kitab Allah dan lebih mengetahui tentang sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam daripada aku.” Jabir berkata, “Wahai Thalq, sesungguhnya semua ayat yang engkau baca tentang (kekekalan ahli neraka) mereka adalah musyrikin (orang-orang yang mati dalam keadaan musyrik.) Akan tetapi (yang mendapatkan syafaat adalah) kaum yang melakukan dosa besar (dari kalangan muslimin) yang diazab di neraka, kemudian mereka dikeluarkan darinya.” Jabir lalu menunjuk kepada dua telinganya dan berkata, “Sungguh tuli kedua telinga ini jika aku tidak mendengar dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sabda beliau, ‘Mereka (pelaku dosa besar) keluar dari neraka (setelah diazab),’ sedangkan kita membaca ayat-ayat al-Qur’an.”

Lihatlah manfaat besar ketika seorang duduk bersama ulama, duduk dengan seorang yang baik. Membuahkan faedah besar yang dipetik seumur hidup, bahkan sesudahnya. Thalq bin Habib rahimahullah diselamatkan dari pemahaman yang salah tentang pelaku dosa besar.

 

Faedah yang Sayang Jika Dilewatkan

Dalam kisah Thalq bin Habib, ada sebuah faedah yang tidak ingin kita lewatkan. Faedah yang terulang, namun perlu selalu diingatkan, yaitu wajibnya kembali kepada para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hal memahami al-Kitab dan as- Sunnah. Faedah itu ada dalam pertanyaan Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu dan jawaban Thalq bin Habib rahimahullah.

Jabir radhiyallahu ‘anhu berkata, “Wahai Thalq, apakah engkau menyangka dirimu lebih paham terhadap al-Qur’an dariku? Dan apakah engkau anggap dirimu lebih tahu tentang sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dariku?” Thalq menjawab, “Tidak, demi Allah, bahkan engkau lebih paham terhadap Kitab Allah dan lebih mengetahui tentang sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.”

Percakapan yang sangat indah. Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu mengingatkan kepada Thalq sebelum beliau menjelaskan syubhat (kerancuan) berpikir yang ada pada diri Thalq. Beliau ingatkan bahwa para sahabat adalah orang yang paling mengerti al-Kitab dan as-Sunnah. Ini pula yang disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ketika beliau mengabarkan akan adanya perselisihan dan perpecahan umat di akhir zaman. Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam membimbing umatnya untuk berpegang teguh dengan sunnah beliau dan sunnah al-Khulafaar-Rasyidin, serta memerintah mereka untuk mengikuti jalan sahabat, generasi terbaik yang telah diridhai oleh Allah Subhanahu wata’ala. Ketika Thalq menyadari hal itu dan mau mendengar perkataan Jabir, selamatlah beliau dari pemikiran Khawarij.1

 

Meninggalkan Majelis Ahlul Bid’ah

Di antara pokok penting yangm terkandung dari hadits Abu Musa radhiyallahu ‘anhu— dan ini termasuk pokok Ahlus Sunnah wal Jamaah—adalah wajibnya meninggalkan ahlul bid’ah dan majelis mereka. Pokok ini ditunjukkan oleh banyak dalil al-Kitab dan as-Sunnah. Di antaranya adalah firman Allah Subhanahu wata’ala,

وَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِينَ يَخُوضُونَ فِي آيَاتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّىٰ يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ ۚ وَإِمَّا يُنسِيَنَّكَ الشَّيْطَانُ فَلَا تَقْعُدْ بَعْدَ الذِّكْرَىٰ مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

 “Dan apabila kamu melihat orangorang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika setan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu sesudah teringat (akan larangan itu).” (al-An’am: 68)

Al-Imam asy-Syaukani rahimahullah (wafat 1250 H) berkata dalam tafsirnya, Fathul Qadir, “Dalam ayat ini ada nasihat (peringatan) yang agung bagi orang yang masih saja membolehkan duduk bersama ahli bid’ah yang biasa mengubah Kalam Allah, mempermainkan Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam, serta memahami al-Qur’an dan as-Sunnah sesuai dengan hawa nafsu mereka yang menyesatkan dan sesuai dengan bid’ah-bid’ah mereka yang rusak. Sungguh jika seseorang tidak dapat mengingkari mereka dan tidak mampu mengubah keadaan mereka, ia harus meninggalkan majelis mereka. Hal itu mudah baginya dan tidak sulit. Bisa jadi, para ahli bid’ah memanfaatkan hadirnya seseorang di majelis mereka, meskipun ia dapat terhindar dari syubhat yang mereka lontarkan, tetapi mereka dapat mengaburkannya kepada orang-orang awam.

Jadi, hadirnya seseorang dalam majelis ahli bid’ah adalah kerusakan yang lebih besar daripada sekadar kerusakan yang berupa mendengarkan kemungkaran. Kami telah melihat di majelis-majelis terlaknat ini—yang banyak sekali jumlahnya—dan kami bangkit untuk membela kebenaran, melawan kebatilan semampu kami, dan mencapai puncak kemampuan kami.

Barang siapa mengetahui syariat yang suci ini dengan sebenar-benarnya, dia akan mengetahui bahwa bermajelis dengan orang yang bermaksiat kepada Allah Subhanahu wata’ala bisa jadi akan melakukan hal-hal yang diharamkan. Lebih-lebih lagi bagi orang yang belum mapan  ilmunya tentang al-Qur’an dan as- Sunnah, sangat mungkin terpengaruhdengan kedustaan-kedustaan mereka  berupa kebatilan yang sangat jelas  lalu kebatilan tersebut akan tertanam di dalam hatinya sehingga sangat sulit mencari penyembuh dan pengobatannya, meskipun ia telah berusaha sepanjang hidupnya. Ia akan menemui Allah l dengan kebatilan yang ia yakini tersebut sebagai kebenaran, padahal itu adalah sebesar-besar kebatilan dan sebesarbesar kemungkaran.” (Fathul Qadir)

Karena pentingnya pokok ini, menjauhkan diri dari ahlul bid’ah dan majelis-majelis mereka, para ulama memasukkan masalah ini dalam pokok keyakinan Ahlus Sunnah wal Jama’ah, demikian pula ulama ahlul hadits mencantumkan bab-bab khusus terkait pokok yang agung ini.

1. Al-Imam Abu Dawud as-Sijistani rahimahullah (wafat 275 H), membuat sebuah bab dalam Sunan Abi Dawud (4/198) dengan judul “Mujanabatu Ahlil Ahwa’ wa Bughdhuhum” (bab “Menjauhi Pengikut Hawa Nafsu dan Membenci Mereka”).

2. Al-Imam Ibnu Baththah al-Akburi rahimahullah (wafat 387 H), dalam kitabnya al-Ibanah (2/429) mencantumkan sebuah bab berjudul “at-Tahdzir min Shuhbati Qaumin Yumridhunal Quluba wa Yufsidunal Imaan” (bab “Peringatan dan Ancaman dari Bergaul dengan Kaum yang Dapat Membuat Hati Menjadi Sakit dan Merusak Iman”).

3. Al-Imam al-Baihaqi rahimahullah (wafat 458 H) dalam Kitabul I’tiqad membuat sebuah bab berjudul “an-Nahyu ‘an Mujalasati Ahlil Bida” (bab “Larangan Bermajelis dengan Ahlul Bid’ah”).

4. Al-Imam al-Baghawi rahimahullah (wafat 516 H) dalam Syarhus Sunnah (1/219) menyebutkan bab “Mujanabah Ahlil Ahwa” (bab “Menjauhi Pengikut Hawa Nafsu”).

5. Al-Imam Al-Mundziri rahimahullah (wafat 656 H), dalam kitabnya at-Targhib wat Tarhib (3/378) membuat bab “at-Tarhib min Hubbil Asyrar wa Ahlil Bida” (“Ancaman Mencintai Orang- Orang yang Melakukan Kejelekan dan Bid’ah”).

6. Al-Imam an-Nawawi asy-Syafi’i rahimahullah (wafat 676 H) dalam kitabnya, al-Adzkar, menyebutkan bab “at-Tabarri min Ahlil Bid’ah wal Ma’ashi” (bab “Berlepas Diri dari Ahlul Bida’ dan Pelaku Maksiat”). Hal yang semisal ini banyak kita jumpai dalam kitab-kitab hadits dan kitab-kitab i’tiqad Ahlus Sunnah wal Jamaah.

 

Manusia dan Media

Ketika kita berbicara teman duduk, bukan manusia saja yang perlu diwaspadai. Termasuk media-media yang dahulu tidak terbayang akan menjadi teman dalam kesendirian. Sang anak bersendiri dengan ponsel di tangannya berselancar mengarungi samudra dunia maya. Teman duduk ini bisa menjadi bahaya laten muncul dan berkembangnya pemikiranpemikiran sesat, paham takfir, dan semisalnya. Seandainya pemerintah atau pihakpihak yang terkait mampu menutup situs-situs yang membahayakan akidah dan akhlak, tentu hal ini termasuk tugas dan kewajiban mereka. Semoga Allah Subhanahu wata’ala memperbaiki diri-diri kita, masyarakat kita, pemerintah kita, dan memberikan rezeki berupa teman duduk yang baik, yang membantu kita dalam hal ketaatan dan membantu kita menjauhi kejelekan.

Walhamdulillah, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ala alihi wa shahbihi ajma’in.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc.

Bersikaplah Adil, Wahai Suami!

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, bersabda,

مَنْ كَانَ لَهُ امْرَأَتَانِ فَمَالَ إِلَى إِحْدَاهُمَا جَاءَ يَوْمَ القِيَامَةِ وَشِقُّهُ مَائِلٌ

“Siapa saja orangnya yang memiliki dua istri lalu lebih cenderung kepada salah satunya, pada hari kiamat kelak ia akan datang dalam keadaan sebagian tubuhnya miring.”

Takhrij Hadits Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2133), an-Nasa’i (2/157), Tirmidzi (1/213), ad-Darimi (2/143), Ibnu Majah (1969), Ibnu Abi Syaibah (2/66/7), Ibnul Jarud (no. 722), Ibnu Hibban (no. 1307), al-Hakim (2/186), al-Baihaqi (7/297), ath-Thayalisi (no. 2454), dan Ahmad (2/347, 471) melalui jalur Hammam bin Yahya, dari Qatadah, dari an-Nadhr bin Anas, dari Basyir bin Nuhaik, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhuma.

Di dalam Sunan at-Tirmidzi, hadits di atas diriwayatkan dengan lafadz,

إِذَا كَانَ عِنْدَ الرَّجُلِ امْرَأَتَانِ فَلَمْ يَعْدِلْ بَيْنَهُمَا جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَشِقُّهُ سَاقِطٌ

“Apabila seorang laki-laki memiliki dua istri namun tidak berlaku adil di antara keduanya, pada hari kiamat kelak ia akan datang dalam keadaan sebagian tubuhnya miring.”

Asy-Syaikh al-Albani mengatakan, “Al-Hakim menghukumi hadits ini sahih berdasarkan syarat asy-Syaikhain (al-Bukhari & Muslim). Adz-Dzahabi dan Ibnu Daqiqil ‘Ied sepakat dengan al-Hakim, sebagaimana dinukilkan oleh al-Hafizh dalam at-Talkhis (3/201) dan beliau pun menyepakatinya.

Al-Hafizh  menambahkan bahwa al-Imam at-Tirmidzi menghukumi hadits ini gharib padahal beliau sendiri menyatakannya sahih. Abdul Haq mengatakan, ‘Hadits ini tsabit, namun ada cacatnya, yaitu Hammam sendirian meriwayatkannya.’

Asy-Syaikh al-Albani mengatakan, “Cacat semacam ini tidak membuat hadits menjadi lemah. Oleh karena itu, para ulama secara berturut-turut menyatakannya sahih.” (Silsilah ash- Shahihah no. 2017, al-Albani)

Islam Menjunjung Nilai-Nilai Keadilan 

Islam sangat menjunjung nilai-nilai keadilan. Bahkan, keadilan menjadi salah satu pilar penting bagi seorang hamba untuk mewujudkan bangunan Islam. Sikap adil, menurut asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah, adalah menunaikan hak-hak yang wajib dan memenuhi hak bagi yang memilikinya.

Ada juga yang memaknai adil sebagai sikap menentukan hukum sesuai dengan Kitabullah dan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,, bukan semata-mata berdasarkan akal pikiran. Dalam memutuskan perkara, keadilan mesti menjadi landasan berpijak. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu menceritakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, bersabda,

إِذَا حَكَمْتُمْ فَاعْدِلُوْا

“Apabila kalian memutuskan hukum maka bersikaplah adil!” (Dinyatakan hasan oleh al-Albani dalam ash-Shahihah [no. 469])

Bahkan, bagi orang tua, sikap adil haruslah mendasari setiap perhatian kepada anaknya. Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhu pernah bercerita, “Aku pernah diberi sesuatu oleh ayahku. ‘Amrah bintu Rawahah (ibunya) lantas berkata (kepada ayahku), ‘Aku tidak rela (dengan pemberian ini) sampai engkau meminta persaksian dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,.’ Lantas ayahku menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, dan  menyampaikan, ‘Sesungguhnya aku memberi sesuatu kepada salah seorang anakku, anak dari ‘Amrah bintu Rawahah.

Amrah menuntutku untuk meminta Anda sebagai saksi, wahai Rasulullah.’ Rasulullah bertanya, ‘Apakah engkau memberi seluruh anakmu seperti yang engkau berikan kepada anak itu?’ Ayahku menjawab, ‘Tidak.’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, bersabda,

فَاتَّقُوا اللهَ وَاعْدِلُوا بَيْنَ أَوْلَادِكُمْ

‘Bertakwalah kalian kepada Allah dan bersikaplah adil di antara anakanak kalian!’

Akhirnya ayahku pulang dan mengambil kembali pemberian itu.” (HR. Bukhari 5/2587)

Mengenai bentuk-bentuk keadilan, asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al- ‘Utsaimin rahimahullah pernah menjelaskannya berkenaan dengan ayat Allah Subhanahu wata’ala di dalam surat an-Nahl, yaitu firman-Nya,

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

 “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberi kepada kaum kerabat. Dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.”(an-Nahl: 90)

Beliau rahimahullah menerangkan , “Kewajiban hamba adalah bersikap adil terhadap diri sendiri, keluarga, dan orangorang yang berada di bawah tanggung jawabnya. Bersikap adil terhadap diri sendiri artinya tidak memaksakan diri untuk melakukan hal-hal yang tidak diperintahkan oleh Allah Subhanahu wata’ala.

Bahkan, ia pun harus memerhatikan diri sendiri saat melakukan kebaikan, dengan cara tidak melakukannya melebihi batas kemampuan. Oleh sebab itu, saat Abdullah bin Amr bin al-Ash radhiyallahu ‘anhuma menyatakan, ‘Aku akan berpuasa terus dan tidak akan berbuka. Aku akan shalat malam terus dan tidak akan tidur’, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, memanggilnya dan melarang hal itu. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

 ‘Sesungguhnya dirimu sendiri memiliki hak, Rabbmu juga memiliki hak, dan keluargamu pun memiliki hak. Maka dari itu, berikanlah hak masing-masing.’

Demikian juga seorang suami, ia harus bersikap adil di tengah-tengah keluarga. Siapa saja yang memiliki lebih dari satu istri, ia harus bersikap adil di antara para istrinya. Sebab, seorang suami yang lebih cenderung kepada salah satu istri, ia akan datang pada hari kiamat dalam keadaan miring sebelah tubuhnya.

Sikap adil juga wajib diwujudkan di antara anak-anak. Jika Anda memberi satu real kepada salah seorang di antara mereka, berikan juga senilai itu kepada yang lain. Jika engkau memberi dua real kepada anak laki-laki, berikanlah satu real kepada anak perempuan. Jika engkau memberikan satu real kepada anak laki-laki, berikanlah setengah real kepada anak perempuan.

Bahkan, ulama salaf memerhatikan sikap adil di antara anak-anak dalam hal ciuman. Jika ia mencium anaknya yang masih kecil sementara kakaknya ada di situ, ia pun menciumnya juga. Jadi, ia tidak membeda-bedakan di antara mereka dalam hal ciuman.

Demikian juga dalam hal berbicara, Jangan sampai Anda berbicara dengan seorang anak dengan nada yang kasar, sedangkan kepada anak yang lain dengan nada yang lembut. Sikap adil harus juga dijunjung kepada orang-orang yang berhubungan dengan kita. Jangan Anda berpihak kepada seseorang hanya karena ia adalah kerabat, orang kaya, orang fakir, atau seorang teman. Jangan berpihak kepada seseorang, semua orang sama kedudukannya.

Sesungguhnya para ulama rahimahumullah mengatakan, ‘Harus bersikap adil kepada dua orang yang sedang berseteru, jika mereka berhukum kepada seorang hakim, dalam hal tutur kata, perhatian, pembicaraan, tempat duduk, dan cara masuknya. Jangan engkau memandang kepada salah satunya dengan pandangan marah, namun kepada yang lain dengan pandangan senang.

Jangan engkau berbicara dengan nada lembut kepada salah seorang di antara mereka, namun kepada yang lain sebaliknya. Jangan sampai Anda bertanya kepada salah seorang di antara mereka, ‘Apa kabarmu? Apa kabar keluargamu? Bagaimana kabar anak-anakmu?’, namun orang kedua engkau biarkan tanpa pertanyaan. Bersikaplah adil di antara keduanya. Sampai serinci ini. Demikian juga dalam hal tempat duduk. Jangan Anda mempersilakan salah seorang darinya duduk dekat di sebelah kananmu sementara yang lain berada jauh darimu.

Namun, posisikan mereka berdua di hadapanmu dalam garis yang sama. Bahkan, jika ada seorang muslim bertengkar dengan orang kafir di hadapan seorang hakim, ia harus bersikap adil di antara keduanya dalam pembicaraan, cara memandang, dan posisi duduk. Jangan sampai ia mengatakan kepada si muslim, ‘Kemarilah!’ sementara si kafir diposisikan jauh. Namun, ia harus memberikan tempat yang sama. Kesimpulannya, sikap adil harus dijunjung dalam segala hal. (Syarah Riyadhus Shalihin, al-Utsaimin)

Bersikap Adil kepada Istri

Asy-Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad menerangkan makna hadits di atas, “… Dengan bersikap adil kepada para istri dalam hal giliran bermalam, nafkah, dan pergaulan. Adapun perasaan yang ada di dalam hati, hal ini di luar kemampuan manusia dan dikembalikan kepada Allah Subhanahu wata’ala. Meski demikian, seorang suami tidak boleh bersikap lebih cenderung kepada istri yang paling ia sayangi dan cintai. Ia harus bersikap adil dalam hal giliran bermalam, nafkah, dan segala sesuatu yang ia mampu.

Adapun perasaan di hati, tidak ada yang mampu menentukannya selain Allah k. Akan tetapi, tidak sepantasnya seorang suami lebih condong kepada salah seorang istrinya. Yang seharusnya ia lakukan adalah memenuhi hak masingmasing tanpa menyakiti istri yang lain.

Membagi di antara istri dilakukan sebatas kemampuan yang ia miliki. Jika ada kecenderungan kepada salah seorang istri, hendaknya ia tetap bertakwa kepada Allah Subhanahu wata’ala agar sikap tersebut tidak mendorongnya untuk menghilangkan atau mengurangi hak istri lainnya, atau hanya memberikan sedikit saja dari hak mereka padahal ia mampu. Kewajiban suami adalah bersikap adil dan seimbang di antara para istri.”

Asy – Syaikh Abdu l Muhsin melanjutkan, “Abu Dawud membawakan hadits Abu Hurairah z di atas untuk menunjukkan bahwa balasan yang diperoleh seorang hamba sesuai dengan jenis amalan yang ia perbuat. Pada hari kiamat kelak, ia datang dengan sebelah tubuh yang miring karena saat di dunia ia lebih condong kepada salah seorang istri. Hal ini berlaku pada hal-hal yang sebenarnya ia mampu untuk bersikap adil, namun ia justru bersikap tidak sepantasnya. Orang semacam ini akan datang pada hari kiamat kelak dengan sebelah tubuh yang miring.” (Syarah Abu Dawud, al-Abbad)

Oleh sebab itu, seorang muslim yang memiliki lebih dari seorang istri harus benar-benar berjuang untuk bersikap adil. Alangkah beratnya hukuman dari Allah Subhanahu wata’ala yang harus dijalani pada hari kiamat nanti apabila sikap adil tersebut tidak diupayakan dengan maksimal. Dalam hal-hal yang dapat diberlakukan sikap adil, seorang suami harus mampu memberikannya.

Apabila kepada salah seorang istri ia dapat bersikap romantis dengan kata-kata dan wajah berseri, kepada istri yang lain pun harus bersikap demikian. Memberikan waktu senggang untuk berbincangbincang harus dapat terwujud kepada semua istri. Hadiah tidak hanya diberikan kepada salah seorang istri, namun kepada seluruh istri. Demikian pula halnya perhatian kepada anak-anaknya, haruslah sama antara anak dari istri yang satu dengan istri lainnya.

Perhatikanlah teladan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,! Betapa pun dirasa berat, beliau tetap berjuang untuk bersikap adil. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, tetap memerhatikan waktu menggilir meskipun beliau sedang sakit. Padahal keadaan beliau benar-benar payah.

Al – Imam al – Bukhari rahimahullah meriwayatkan dari ‘Aisyah x bahwa pada saat sakit yang berujung wafatnya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam selalu menanyakan,

أَيْنَ أَنَا غَدًا، أَيْنَ أَنَا غَدًا؟

“Di manakah aku besok? Di manakah aku besok?”

Beliau berharap di rumah Aisyah radhiyallahu ‘anha. Istri-istri beliau yang lain pun mengizinkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berada di rumah ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha sampai meninggalnya. Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata kepada Urwah bin az-Zubair rahimahullah, “Dahulu, Rasulullah tidak melebihkan salah seorang di antara kami (para istri) dalam jadwal giliran bermalam.

Dahulu, kebiasaan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, jarang sekali hari berlalu kecuali beliau pasti berkeliling di antara kami semua. Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam mendekati tiap istri tanpa berhubungan sampai pada istri yang memiliki giliran lalu menginap (bermalam) di sana. Ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan, ”Kami tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat di antara ulama  tentang wajibnya menggilir dan kesamaan waktu untuk menggilir di antara para istri.”

Adapun dalam hal besar kecilnya rasa cinta dan ketertarikan untuk berhubungan badan, hal ini di luar kemampuan hamba. sebagaimana tercelanya orang yangmmemakai dua potong pakaian kedustaan.m(al-Minhaj, 14/336)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan permisalanmseperti dalam hadits di atas agar paramperempuan menjauhi perbuatan tersebut,mkarena akibat yang ditimbulkannyamtidaklah remeh. Perbuatan itu bisammerusak hubungan suami dengan simmadu yang dipanas-panasi dan bisanmembuat kebencian di antara keduanya,nsehingga perbuatan tersebut seperti sihir yang bisa memisahkan antara suami dan istrinya. (Fathul Bari 9/394—395) Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Ditulis oleh Al-Ustadz Mukhtar bin Rifai

Jika Penguasa Mengakhirkan Waktu Sholat

Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadaku,

يَا أَبَا ذَرٍّ، إِنَّهُ سَيَكُونُ عَلَيْكُمْ أُمَرَاءُ يُؤَخِّرُونَ الصَّ ةَالَ عَنْ مَوَاقِيتِهَا فَإِنْ أَنْتَ أَدْرَكْتَهُمْ فَصَلِّ الصَّ ةَالَ لِوَقْتِهَا-وَرُبَّمَا قَالَ: فِي رَحْلِكَ-ثُمَّ ائْتِهِمْ فَإِنْ وَجَدْتَهُمْ قَدْ صَلُّوا كُنْتَ قَدْ صَلَّيْتَ وَإِنْ وَجَدْتَهُمْ لَمْ يُصَلُّوا صَلَّيْتَ مَعَهُمْ فَتَكُونُ لَكَ نَافِلَةً.

“Wahai Abu Dzar, sungguh akan muncul di tengah kalian penguasa-penguasa yang mengakhirkan shalat dari waktu-waktunya. Jika engkau dapatkan mereka, shalatlah engkau pada waktunya.’ -atau beliau mengatakan-, ‘Shalatlah di rumahmu, kemudian datangilah mereka. Jika kalian dapatkan mereka sudah selesai menunaikan shalat, engkau telah tunaikan shalat sebelumnya. Seandainya engkau dapatkan mereka belum shalat, shalatlah bersama mereka dan shalat itu adalah nafilah (sunnah) bagimu’.”

Takhrij Hadits

Hadits Abu Dzar al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu dengan lafadz di atas diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad rahimahullah dalam  al-Musnad (5/169) melalui jalan Isma’il bin Ibrahim bin Miqsam yang dikenal dengan Ibnu ‘Ulayyah, dari Shalih bin Rustum Abu ‘Amir al-Khazzaz, dari Abu‘Imran al-Jauni, dari Abdullah bin Shamit dari sahabat Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu.

Hadits Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu diriwayatkan pula oleh al-Imam Muslim rahimahullah dalam Shahih-nya (1/448 no. 648), Abu Dawud dalam Kitab Shalat bab “Idza Akhkhara al-Imam ash-Shalah ‘anil Waqti” (“Jika Imam mengakhirkan Shalat dari Waktunya”) no. 431, at-Tirmidzi (1/232 no. 176), an-Nasai no. 858, Ibnu Majah no. 1257, ad-Darimi no. 1229 bab “ash-Shalah Khalfa man Yuakhkhiru ash-Shalah ‘an Waqtiha” (“Shalat di Belakang Orang yang Mengakhirkan Shalat dari Waktunya), dan ath-Thahawi (1/263), semua meriwayatkan melalui jalan Abu ‘Imranal-Jauni dari Abdullah bin ash-Shamit dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu.

Tentang hadits ini, at-Tirmidzi rahimahullah berkata,“Haditsun hasanun (hadits ini hasan).” Beliau juga berkata, “Dan dalam bab ini diriwayatkan pula dari Abdullah bin Mas’ud dan ‘Ubadah bin ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu.”

Hadits Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu memiliki banyak syawahid sebagaimana disebutkan oleh at-Tirmidzi, di antaranya,

Pertama: Hadits Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, an-Nasai, dan Ibnu Majah secara marfu’, diriwayatkan pula secara mauquf oleh al-Imam Ahmad dan Muslim. Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,

قَالَ لِي رَسُولُ اللهِ صل الله عليه وسلم : كَيْفَ بِكُمْ إِذَا أَتَتْ عَلَيْكُمْ أُمَرَاءُ يُصَلُّونَ الصَّلاَةَ لِغَيْرِ مِيقَاتِهَا؟ قُلْتُ: فَمَا تَأْمُرُنِي إِنْ أَدْرَكَنِي ذَلِكَ، يَا رَسُولَ اللهِ ؟ قَالَ : صَلِّ الصَّلَاةَ لِمِيقَاتِهَا، وَاجْعَلْ صَلَاتَكَ مَعَهُمْ سبحة.

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepadaku, ‘Apa yang kalian lakukan seandainya datang kepada kalian  penguasa-penguasa yang mengakhirkan shalat, tidak pada waktunya? Aku menjawab, ‘Wahai Rasulullah, apa yang engkau perintahkan kepadaku seandainya zaman itu menjumpaiku?’ Rasululah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Shalatlah engkau pada waktunya, dan jadikanlah shalatmu bersama mereka sebagai amalan sunnah’.” (Dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud)

Kedua: Hadits Ubadah bin ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan Abu Dawud dan Ibnu Majah. Dari Ubadah bin Shamit radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

قَالَ رَسُولُ اللهِ صل الله عليه وسلم : إِنَّهَا سَتَكُونُ عَلَيْكُمْ بَعْدِي أُمَرَاءُ تُشْغِلُهُمْ أَشْيَاءُ عَنِ الصَّلاَةِ لِوَقْتِهَا حَتَّى يَذْهَبَ وَقْتُهَا ، فَصَلُّوا الصَّلَاةَ لِوَقْتِهَا.فَقَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللهِ، أُصَلِّي مَعَهُمْ؟ قَالَ: نَعَمْ، إِنْ شِئْتَ.

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,‘Sungguh sepeninggal ku akan ada ditengah kalian penguasa yang oleh berbagai urusan hingga melalaikan shalat pada waktunya hingga habis waktunya, maka shalatlah kalian pada waktunya.’ Salah seorang sahabat bertanya,‘Wahai Rasulullah, apakah aku shalat bersama mereka?’ Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,‘Ya, jika engkau suka’.” (Dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud)

Ketiga: Hadits Syaddad bin Aus radhiyallahu ‘anhu. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

سَيَكُونُ مِنْ بَعْدِي أَئِمَّةٌ يُمِيتُونَ الصَّلَاةَ عَنْ مَوَا قِيتِهَا فَصَلُّوا الصَّلَاةَ لِوَقْتِهَا وَاجْعَلُوا صَلَا تَكُمْ مَعَهُمْ سبحة

“Akan ada sepeninggalku penguasa-penguasa yang mematikan shalat dari waktu-waktunya, maka shalatlah kalian pada waktunya dan jadikanlah shalat kalian bersama mereka sebagai shalat sunnah.” (HR. Ahmad, 4/124)

Berita Gaib yang Terwujud

Perkara gaib adalah mutlak milik Allah Subhanahu wata’ala. Tidak ada yang mengetahui sedikit pun dari perkara gaib di antara makhluk-makhluk-Nya, baik malaikat, nabi, maupun rasul, apalagi selain mereka. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَعِندَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ ۚ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ ۚ وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ

Dan pada sisi Allahlah kunci-kunci semua yang gaib, tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri. Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (al-Lauh al-Mahfuz).” (al-An’am: 59)

Adapun apa yang diberitakan para rasul tentang perkara gaib, bukan karena mereka mengetahui perkara gaib, namun mereka kabarkan berdasar wahyu Allah Subhanahu wata’ala yang Allah Subhanahu wata’ala wahyukan kepada mereka. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَىٰ غَيْبِهِ أَحَدًا () إِلَّا مَنِ ارْتَضَىٰ مِن رَّسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِن بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا

“(Dia adalah Rabb) yang mengetahui yang gaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang gaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya.” (al-Jin: 26-27)

Hadits Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu termasuk berita-berita gaib yang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kabarkan sebagai salah satu mukjizat dan tanda kenabian. Beliau kabarkan munculnya penguasa-penguasa yang mengakhirkan shalat, berita itu pun terjadi.

Makna Mengakhirkan Shalat

Apa maksud sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, “Mereka mengakhirkan shalat?” Apakah makna mereka mengakhirkan shalat hingga keluar dari waktunya secara keseluruhan, seperti mengakhirkan shalat ashar hingga tenggelam matahari dan masuk waktu Maghrib? Atau maknanya mengakhirkan shalat dari awal waktu (waktu ikhtiyar) dan menunaikannya di akhir waktu (waktu idhthirar)?

Sebagaimana diketahui bahwa waktu shalat ada dua: (1) waktu ikhtiyar, yaitu awal waktu yang seorang muslim seharusnya melaksanakan shalat di waktu tersebut; (2) waktu idhthirar yaitu waktu yang masih diperbolehkan seseorang menunaikan shalat dalam keadaan darurat (memiliki uzur).

Shalat isya dan ashar misalnya, keduanya memiliki dua waktu tersebut. Waktu ikhtiyar untuk shalat isya adalah sejak masuk waktu isya’ hingga pertengahan malam, adapun selepas pertengahan malam hingga terbit fajar adalah waktui dhthirar. Waktu ikhtiyar untuk shalat ashar dimulai semenjak bayangan sesuatu sama dengan dirinya hingga bayangan sesuatu tersebut menjadi dua kali lipat dirinya. Adapun waktu idhtirar dimulai sejak bayangan sesuatu dua kali dirinya hingga tenggelam matahari.

Kita kembali kepada hadits Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, dalam hadits ini Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyifati para penguasa yang akan datang dengan sebuah sifat,

سَيَكُونُ عَلَيْكُمْ أُمَرَاءُ يُؤَخِّرُونَ الصَّلاَةَ عَنْ مَوَاقِيتِهَا

“Sungguh akan muncul di hadapan kalian penguasa-penguasa yang mengakhirkan shalat dari waktu-waktunya.”

Maksud dari sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, “Mereka mengakhirkan shalat.” Adalah mengakhirkan shalat dari waktu ikhtiyar dan melakukannya di waktu idhthirar, bukan maknanya mengakhirkan hingga keluar waktu shalat dan masuk waktu shalat berikutnya.

An-Nawawi rahimahullah menerangkan, maksud sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam haditshadits ini

( يُؤَخِّرُونَ الصَّ ةَالَ عَنْ وَقْتِهَا)

“mereka mengakhirkan shalat dari waktunya”, yakni waktu ikhtiyar, bukan maksudnya mereka mengakhirkan hingga habis waktunya. Riwayat-riwayat yang dinukilkan tentang penguasa-penguasa yang telah lalu, yang mereka lakukan adalah mengakhirkan shalat dari waktu yang ikhtiyar dan tidak ada satu pun dari mereka mengakhirkannya hingga habis semua waktu. Oleh karena itu, berita-berita Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam tentang penguasa yang mengakhirkan shalat ini dibawa kepada kenyataan yang telah terjadi.” (al-Minhaj dan al-Majmu’ [3/48])

Apa Yang Kita Lakukan Jika Penguasa Mengakhirkan Shalat dari Waktu Ikhtiyar?

Hadits Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu adalah nash yang memutuskan permasalahan ini; kita diperintahkan untuk shalat tepat pada waktunya, yakni di waktu ikhtiyar walaupun secara munfarid di rumah, kemudian shalat kembali berjamaah bersama penguasa di akhir waktu. Semua ini untuk menjaga persatuan umat.

Al-Allamah al-Albani rahimahullah berkata, “Jika sudah menjadi kebiasaan para penguasa mengakhirkan shalat dari waktu ikhtiyar, keharusan seorang muslim adalah tetap shalat pada waktunya di rumahnya kemudian (mengulangi) shalat bersama penguasa ketika mereka shalat. Shalat kedua ini adalah sunnah baginya….” (Lihat ats-Tsamaral-Mustathab [1/86])

An-Nawawi rahimahullah berkata, “Dalam hadits ini (ada faedah) bahwasanya jika seorang penguasa mengakhirkan shalat dari waktu yang awal (dan melakukannya di akhir waktu) disunnahkan bagi makmum untuk melakukan shalat di awal waktu secara munfarid (bersendiri) kemudian mengulangi shalat bersama dengan imam….” (al-Minhaj)

Apa Hikmahnya?

Perintah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam di atas mengandung hikmah yang sangat besar, di antaranya menjaga ijtima’ul kalimah (persatuan kaum muslimin).

Asy-Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad hafizhahullah menerangkan, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan bahwasanya akan muncul sepeninggal beliau penguasa-penguasa yang mereka mengakhirkan shalat dari waktunya, kemudian beliau memberikan arahan (bimbingan) kepada orang yang (mau) mengikuti petunjuk beliau agar ia melakukan shalat pada waktunya kemudian melakukannya berjamaah bersama penguasa, dengan itu tercapailah dua keutamaan, keutamaan shalat di awal waktu, serta keutamaan persatuan umat dan merapatkan barisan. (Muhadharah Syarah Sunan Abi Dawud)

Persatuan dan Meninggalkan Perpecahan adalah Pokok Penting dalam Agama

Ayat-ayat al-Qur’an dan haditshadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menunjukkan pokok yang sangat agung ini. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Dan berpeganglah kalian semua pada tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepada kalian ketika kalian dahulu (masa jahiliah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hati kalian, lalu menjadilah kalian karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kalian telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kalian darinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kalian, agar kalian mendapat petunjuk.” (Ali Imran: 103)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ اللهَ يَرْضَى لَكُمْ ثَلَا ثًا، أَنْ تَعْبُدُوهُ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئاً، وَأَنْ تَعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا، وَأَنْ تُنَاصِحُوا مِنْ وَلاَّهُ اللهُ أَمْرَكُمْ

“Sesungguhnya Allah ridha bagi kalian tiga hal : kalian beribadah hanya kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan apapun, kalian berpegang teguh dengan tali Allah semuanya dan tidak berpecah-belah, kalian menasihati orang yang Allah menjadikannya sebagai penguasa kalian….” (HR. Ahmad)

Ayat-ayat dan hadits-hadits yang menetapkan pokok ini sangat banyak di dalam al-Qur’an, namun betapa banyak umat Islam yang lupa akan pokok yang agung ini, hingga umat pun bercerai-berai dalam firqah-firqah yang demikian banyak.

Hanya dengan kembali kepada al-Kitab dan as-Sunnah dengan pemahaman sahabat sajalah umat akan kembali bersatu.

Menaati Penguasa dalam Perkara yang Ma’ruf, Sebab Persatuan Umat

Hadits Abu Dzar al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu adalah salah satu hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang memerintahkan atau menganjurkan setiap insan muslim menjaga persatuan di bawah penguasa muslim dan tidak melakukan perkara-perkara yang menyebabkan perpecahan di kalangan kaum muslimin dengan menentang penguasa muslim.

Sebagaimana dimaklumi, keberadaan penguasa (waliyul amri) adalah perkara yang sangat mendesak dan harus ada, untuk mengurusi perkara-perkara agama seperti puasa, ied, haji, dan jihad fi sabilillah, demikian pula untuk tertanganinya urusan dunia kaum muslimin.

Karena pentingnya pemimpin, para sahabat memandang untuk segera menetapkan kekhilafahan sebelum memakamkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebelum berkobar fitnah karena kekosongan kepemimpinan, terpilihlah Abu Bakr ash-Shiddiq z sebagai khalifah dengan ijma’ (kesepakatan) seluruh sahabat radhiyallahu ‘anhum. Sejarah pun mencatat betapa besar jasa Abu Bakr ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu dalam meredam badai fitnah yang menimpa umat pasca-wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.1

Tanpa penguasa, kaum muslimin tidak akan terurusi urusan dunia sebagaimana tidak akan terurusi urusan agama mereka, bahkan sudah barang tentu kekacauan dan ketidakstabilan akan muncul dengan dahsyat. Kemudian, keberadaan penguasa tidak akan berarti dan maslahat tidak akan terwujud kecuali jika mereka ditaati, tentunya dalam perkara yang ma’ruf.

Oleh karena itulah menaati pemerintah termasuk salah satu pokok-pokok penting akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ ۖ

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kalian.” (an- Nisa: 59)2

Beribadah Bersama Pemerintah

Termasuk bentuk ketaatan yang diperintahkan adalah menunaikan ibadah yang sifatnya jama’i bersama mereka seperti shalat, puasa, hari raya dan jihad, meskipun mereka adalah penguasa yang fasik.

Beribadah bersama penguasa meskipun mereka fasik adalah salah satu pokok keyakinan Ahlus Sunnah wal Jamaah sebagaimana dinukilkan dalam kitab-kitab akidah salaf.

AL Imam al Barbahari rahimahullah (329 H) berkata, “Haji dan jihad terus berlangsung bersama pemimpin (penguasa/pemerintah). Dan shalat Jum’at di belakang mereka boleh.”

Al-Hafizh Abu Bakr Ahmad bin Ibrahim al-Isma’ili rahimahullah (371 H) berkata, “Ahlul hadits (Ahlus Sunnah wal Jamaah) berkeyakinan (boleh dan sahnya) shalat Jum’at dan selainnya di belakang seluruh penguasa muslim yang baik atau jahat; karena Allah Subhanahu wata’ala telah memerintahkan shalat Jum’at untuk kita datangi dengan perintah yang mutlak3, dan Allah Maha Mengetahui bahwa para penegak shalat Jum’at di antara mereka ada yang fasik dan jahat, namun Allah Subhanahu wata’ala tidak mengkhususkan waktu tertentu, tidak pula mengecualikan perintah tersebut.4

Maksud ucapan al-Isma’ili, seandainya shalat di belakang pemerintah yang jahat tidak boleh dan tidak perlu dipenuhi seruannya, niscaya perintah Allah Subhanahu wata’ala tidak bersifat mutlak. Dua nukilan di atas kiranya cukup untuk menunjukkan kesepakatan Ahlus Sunnah dalam pokok yang agung ini, dan seandainya perkataan imam-imam Ahlus Sunnah kita nukilkan sebagian besarnya niscaya akan menjadi sebuah pembahasan yang sangat panjang.

Puasa dan Ied bersama Pemerintah

Di antara ibadah yang dilakukan bersama pemerintah adalah shaum (puasa) dan hari raya sebagaimana telah dibahas pada rubrik-rubrik yang lain. Kami tambahkan di sini beberapa hal. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ، وَالْفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ، وَالْأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَ.

“Hari berpuasa adalah hari yang manusia berpuasa, hari berbuka adalah hari yang manusia berbuka,  dan hari menyembelih adalah hari yang manusia menyembelih.” (HR. at-Tirmidzi, dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah 1/389 no. 224)

At-Tirmidzi rahimahullah berkata setelah meriwayatkan hadits, “Sebagian ahul ilmi menafsirkan hadits ini: Makna hadits bahwasanya puasa dan berbuka adalah bersama jamaah (muslimin) dan mayoritas manusia.”

Ash-Shan’ani rahimahullah berkata dalam kitabnya Subulus Salam (72/2),“Dalam hadits ini ada dalil bahwasanya yang dijadikan patokan penentuan ied adalahmenyesuaikan dengan manusia  (bersama penguasa), dan seseorang yang bersendiri melihat hilal ied wajib atasnya tetap menyesuaikan manusia serta mengikuti keputusan masyarakat dalam shalat, berbuka, dan menyembelih.”

Asy-Syaikh al-Albani berkata, “Makna inilah5 yang dipahami dari hadits. Diperkuat bahwasanya Aisyah radhiyallahu ‘anha berhujah dengan makna ini kepada Masruq6 ketika suatu saat Masruq tidak melakukan puasa Arafah (yang ditentukan penguasa ketika itu) hanya karena kekhawatiran (janganjangan) hari itu adalah hari nahr (ied). Aisyah radhiyallahu ‘anha menjelaskan kepadanya bahwa pendapatnya (yakni Masruq) tidak dianggap (dalam masalah ini), (muslimin). Beliau lalu berkata,

النَّحْرُ يَوْمَ يَنْحَرُ النَّاسُ، وَالْفِطْرُ يَوْمَ يُفْطِرُ النَّاسُ

“Hari nahr adalah hari yang manusia menyembelih kurban-kurban mereka dan hari berbuka adalah hari yang manusia berbuka’.” (Riwayat ini jayyid sanadnya dengan riwayat sebelumnya)

Al-Albani rahimahullah selanjutnya berkata, “Inilah makna yang sesuai dengan syariat yang penuh kebaikan yang salah satu tujuannya adalah mempersatukan manusia dan merapatkan shaf-shaf mereka serta menjauhkan umat dari semua perkara yang memecah belah persatuan berupa pendapat-pendapat pribadi (golongan).

Syariat tidak menganggap pendapat pribadi dalam ibadah-ibadah jama’i -meskipun benar menurut pendapatnya- seperti puasa, penetapan ied, dan shalat jamaah. Tidakkah Anda perhatikan bagaimana para sahabat? Mereka shalat di belakang sahabat lainnya dalam keadaan ada di antara mereka yang berpendapat menyentuh wanita, zakar, dan keluarnya darah membatalkan wudhu sedangkan lainnya tidak menganggapnya membatalkan wudhu; di antara mereka ada yang menyempurnakan shalat dalam safar, di antara mereka ada yang mengqasharnya; sungguh perbedaan mereka ini tidak menghalangi mereka untuk bersatu di belakang satu imam dan menganggap sahnya shalat bersamanya (meskipun ada perbedaan-perbedaan tersebut), karena mereka mengetahui bahwasanya perpecahan dalam agama lebih jelek dari perbedaan dalam sebagian pendapat.

Bahkan, sampai sebagian mereka benar-benar tidak memedulikan pendapat pribadinya yang menyelisihi al-Imam al-A’zham (amirul mukminin) dalam perkumpulan yang besar seperti (berkumpulnya seluruh kaum muslimin dalam ibadah haji) di Mina, mereka (sahabat) benar-benar meninggalkan pendapat pribadi di saat berkumpulnya manusia. Semua itu untuk menghindari akibat buruk yang mungkin terjadi dengan sebab mengamalkan pendapat pribadi.

Abu Dawud rahimahullah meriwayatkan (dalam Sunan-nya [1/307]) bahwa Utsman shalat di Mina empat rakaat. Berkatalah Ibnu Mas’ud mengingkari perbuatan Utsman, “Aku shalat bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam (di Mina) dua rakaat (yakni diqashar), bersama Abu Bakr dua rakaat, bersama Umar juga dua rakaat, bersama Utsman di awal pemerintahannya juga demikian. Namun, kemudian ia sempurnakan (empat rakaat)….” Akan tetapi, Ibnu Mas’ud tetap shalat empat rakaat (di belakang Utsman). Beliau pun ditanya, “Engkau salahkan Utsman, tetapi engkau shalat di belakangnya?!”

Ibnu Mas’ud menjawab,

الْخِلَافُ شَرٌّ

“Perselisihan itu kejelekan.”

Yang semisal dengan ini diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad rahimahullah (5/155) dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, semoga Allah Subhanahu wata’ala meridhai segenap sahabat. Renungkanlah hadits ini dan atsar sahabat yang telah disebutkan, wahai orang yang terus-menerus bercerai-berai dalam shalat-shalat mereka dan tidak mau bermakmum kepada imam-imam masjid, seperti shalat witir di bulan Ramadhan dengan alasan imam-imam masjid berbeda mazhabnya dengan mazhab mereka!

Sebagian mereka merasa bangga dengan ilmu falak, lalu berpuasa dan beridul fitri mendahului atau lebih akhir dari jamaah kaum muslimin (bersama pemerintahnya). Ia lebih menganggap pendapatnya dan amalannya tanpa memedulikan penyelisihannya terhadap kaum muslimin dan pemerintahnya.

Hendaknya mereka merenungkan ilmu apa yang saya sebutkan. Semoga mereka mendapatkan obat atas kejahilan dan ujub yang bersarang dalam dada mereka.

Semoga mereka mau menjadi satu shaf  bersama saudara-saudaranya kaum muslimin, karena Tangan Allah bersama jamaah.” (Diringkas dengan beberapa perubahan dari Silsilah ash-Shahihah). Wallahu a’lam.

Berjuta Cinta dalam Bayang-Bayang Pedang

Dari Abdullah bin Umar rahimahumullah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

بُعِثْتُ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ بِالسَّيْفِ حَتىَّ يُعْبَدَ اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ وَجُعِلَ رِزْقِيْ تَحْتَ ظِلِّ رُمْحِيْ وَجُعِلَ الذُّلُّ وَالصِّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِيْ وَمَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Aku diutus menjelang hari kebangkitan dengan pedang supaya hanya Allah semata yang di ibadahi, tiada sekutu bagi-Nya. Rezekiku diletakkan di bawah naungan pedangku. Kerendahan dan kehinaan ditetapkan bagi siapa saja yang menyelisihi perintahku. Barang siapa menyerupai suatu kaum, ia termasuk bagian dari mereka.”

Benarkah Islam agama yang penuh rahmah dan kasih sayang? Benarkah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan cinta dan kedamaian kepada umat manusia? Jika memang benar, mengapa kehidupan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dipenuhi dengan cerita perang dan pertempuran? Itulah sebuah syubhat yang diungkap untuk mencitrakan Islam sebagai agama yang buas dan penuh kebencian. Maka dari itu, hadits di atas hanya sebagian penggalannya yang dibahas untuk sedikit menjawab syubhat tersebut.

Hadits tersebut dikeluarkan oleh al-Imam Ahmad (no. 5114, 5115, 5667), al-Khatib dalam al-Faqih wal Mutafaqqih (2/73), dan Ibnu Asakir (1/19/96) dari jalan Abdurrahman bin Tsabit bin Tsauban dari Hassan bin ‘Athiyyah dari Abu Munib al-Jarasyi.

Asy-Syaikh al-Albani menjelaskan dalam Jilbab Mar’ah Muslimah (203— 204), “Hadits ini sanadnya hasan. Mengenai Ibnu Tsauban, memang ada pembicaraan, namun tidak memudaratkan. Al-Imam al-Bukhari rahimahumullahtelah menyebutkan sebagian dari hadits di atas secara mu’allaq di dalam Shahihnya (6/75).”

Al-Hafizh rahimahumullah menjelaskan dalam syarahnya, “Hadits ini adalah bagian dari hadits yang dikeluarkan oleh al- Imam Ahmad dari jalan Abu Munib… dan hadits ini mempunyai penguat yang mursal dengan sanad yang hasan, dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah dari jalan al-‘Auza’i dari Sa’id bin Jabalah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam secara keseluruhan.”

Tujuan Berperang

Perang, dalam perspektif Islam, memiliki tujuan dan cita-cita mulia, antara lain:
1. Membebaskan manusia dari peribadahan kepada makhluk menuju peribadahan kepada Allah Subhanahuwata’ala , Dzat yang menciptakan dan memberikan rezeki untuk mereka. Allah Subhanahuwata’ala berfirman,

وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّىٰ لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ لِلَّهِ

“Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dans upaya agama itu semata-mata untuk Allah.” (al- Anfal: 39)

2. Menghapuskan kezaliman dan mengembalikan setiap hak kepada pemiliknya. Allah Subhanahuwata’ala berfirman,

أُذِنَ لِلَّذِينَ يُقَاتَلُونَ بِأَنَّهُمْ ظُلِمُوا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ نَصْرِهِمْ لَقَدِيرٌ

“Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha kuasa menolong mereka itu.” (al-Hajj: 39)

الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِن دِيَارِهِم بِغَيْرِ حَقٍّ إِلَّا أَن يَقُولُوا رَبُّنَا اللَّهُ ۗ

“(Yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, selain karena mereka berkata,‘Rabb kami hanyalah Allah’.” (al-Hajj: 40)

3. Menghinakan orang-orang kafir, menghukum, dan melemahkan kekuatan mereka. Allah Subhanahuwata’ala berfirman,

قَاتِلُوهُمْ يُعَذِّبْهُمُ اللَّهُ بِأَيْدِيكُمْ وَيُخْزِهِمْ وَيَنصُرْكُمْ عَلَيْهِمْ وَيَشْفِ صُدُورَ قَوْمٍ مُّؤْمِنِينَ () وَيُذْهِبْ غَيْظَ قُلُوبِهِمْ ۗ وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَىٰ مَن يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

“Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu. Allah akan menghinakan mereka, menolong kamu dari mereka, dan melegakan hati orang-orang yang beriman,serta Allah akan menghilangkan panas hati orang orang mukmin. Dan Allah menerima taubat orang-orang yang dikehendaki- Nya. Allah Maha Mengetahui lagi Maha bijaksana.” (at-Taubah: 14-15) (al-Mulakhas Fiqhi, al-Fauzan, 1/379—380)

Beberapa Adab dalam Berperang

Sebagai bukti bahwa Islam mengajarkan cinta kasih, tidak asal membunuh, dan tidak menekankan kebencian, adalah adab-adab yang dibimbingkan oleh Rasulullah n pada setiap peperangan. Di antaranya adalah,

1. Islam selalu menawarkan pilihan pilihan sebelum berperang, yaitu masuk Islam atau membayar jizyah (semacam upeti) dengan mereka tetap menjalankan agama masing-masing.

Di dalam hadits Buraidah radhiyallahu anhu, beliau bercerita, “Dahulu, kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika mengangkat seorang panglima untuk sebuah pasukan perang, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu memberikan wasiat secara khusus untuk bertakwa kepada Allah Subhanahuwata’ala dan berbuat baik kepada kaum muslimin yang menyertainya. Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan,

“Berperanglahdengan menyebut nama Allah Subhanahuwata’ala  di jalan- Nya! Perangilah orang-orang yang kufur terhadap Allah Subhanahuwata’ala! Janganlah kalian berbuat ghulul (mengambil harta rampasan perang sebelum dibagi), berkhianat, mencincang jasad musuh, dan janganlah membunuh anak-anak. Jikaengkauberjumpamusuhdarikaum musyrikin, tawarkan kepada mereka tiga hal. Apa pun yang mereka pilih darimu, terimalahdantahanlahdirimu dari mereka.” (Shahih Muslim, 1731)

Ketiga hal tersebut adalah: masuk Islam, membayar jizyah, atau berperang. Sama juga dengan pesan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu sebelum menyerang benteng Khaibar. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

انْفُذْ عَلَى رِسْلِكَ حَتَّى تَنْزِلَ بِسَاحَتِهِمْ ثُمَّ

“Berangkatlah dengan hati-hati hingga engkau berada didepan benteng mereka. Kemudian, ajaklah mereka ke dalam Islam! Sampaikan kepada mereka akan kewajiban mereka terhadap hak Allah Subhanahuwata’ala . Demi Allah, (seandainya) Allah Subhanahuwata’ala memberikan hidayah kepada seseorang melalui sebab dirimu, itulebih baik bagimu daripada unta merah.”(HR. al-Bukhari no. 2942, Muslimno. 2406)

2. Islam tidak mengajarkan untuk berharap bertemu dengan musuh. Namun, jika telah berjumpa haruslah bersabar. Di dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لا تَمَنَّوْا لِقَاءَ الْعَدُوِّ فَإذَِا لَقِيتُمُوهُمْ فَاصْبِرُوا

“Janganlah kalian berharap-harap bertemu dengan musuh. Akan tetapi, jika kalian telah bertemu dengan musuh,bersabarlah!” (HR. al-Bukhari no. 3025 dan Muslim no. 1741)

3. Dilarang membunuh kaum wanita dan anak-anak. Ibnu Umar radhiyallahu anhu bercerita tentang seorang wanita yang ditemukan terbunuh dalam sebuah peperangan yang diikuti oleh Rasululllah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingkari pembunuhan terhadap kaum wanita dan anak-anak (HR. al-Bukhari no. 3013 dan Muslim no. 1745).

4. Dilarang berbuat khianat, mencincang ,dan mencacat jasad musuh, serta ghulul (mengambil harta rampasan perang sebelum dibagi).
Dalilnya adalah hadits Buraidah radhiyallahu anhu pada poin pertama.

5. Dilarang membunuh musuh yang dalam keadaan tidak berdaya.

Hal ini sebagaimana yang diriwayatkan saat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beristirahat di bawah naungan sebuah pohon dalam Perang Dzatur Riqa’. Datang seorang musuh dengan menghunus pedang sedangkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang tertidur. Saat Nabi terbangun, orang itu bertanya, “Apakah engkau takut kepadaku?” Jawab Nabi, “Tidak!” Orang itu bertanya lagi, “Siapa yang akan menghalangiku dari membunuhmu?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Allah Subhanahuwata’ala.” Seketika itu, pedang yang ia bawa terjatuh lalu diambil oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu beliau balik bertanya, “Siapakah yang akan menghalangiku dari membunuhmu?”Lalu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajaknya masuk Islam. Ia menolak, tetapi berjanji untuk tidak lagi ikut memerangi kaum muslimin. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membiarkannya pergi.

Orang itu kembali ke kaumnya dan mengatakan, “Aku datang kepada kalian setelah bertemu dengan manusia terbaik.” (HR. al- Bukhari no. 4139 dan Muslim no. 843)

Latar Belakang Perang di Masa Nabi n Sejarah perang di masa Nabi Muhammad n selalu diawali oleh sikap-sikap kaum musyrikin yang mengganggu ketenteraman kaum muslimin, pengkhianatan mereka, dan kezaliman mereka. Perang terjadi setelah tiga belas tahun lamanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kaum muslimin bersabar atas kezaliman dan kejahatan kaum musyrikin selama di Makkah. Berikut ini beberapa latar belakang perang yang terjadi pada masa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

1. Perang Badar

Semua berawal dari rongrongan kaum musyrikin Quraisy yang berusaha membuat makar untuk menghancurkan kaum muslimin. Mereka mengirim suratsurat kepada kaum musyrikin di Yatsrib (Madinah) untuk berusaha menekan, memerangi, dan mengusir kaum muslimin dari kota Madinah. Mereka diancam akan dibunuh dan perempuan-perempuan mereka akan dihalalkan jika tidak memerangi kaum muslimin. Kaum muslimin pun berusaha balas menekan. Di antara bentuknya adalah melakukan penghadangan terhadap kafilah-kafilah dagang kaum musyrikin Quraisy.

Hingga suatu saat, kafilah dagang yang dipimpin oleh Abu Sufyan berhasil lepas dari pengintaian kaum muslimin. Ia pun mengirimkan berita kepada kaum musyrikin di Makkah tentang usaha penghadangan kaum muslimin. Berangkatlah kurang lebih 1.000 orang pasukan dengan perlengkapan dan peralatan perang, di atas keangkuhan dan kesombongan. Sementara itu, kaum muslimin hanya membawa perlengkapan dan peralatan seadanya, itu pun dengan jumlah pasukan kurang lebih tiga ratus orang. Terjadilah peperangan yang kemudian dimenangi oleh kaum muslimin.

2. Perang Bani Nadhir

Bermula dari kedatangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ke bani Nadhir untuk menghitung/ menentukan tebusan atas kesalahan seorang sahabat yang membunuh dua orang Yahudi. Namun, orangorang bani Nadhir justru berencana mempergunakan kesempatan tersebut untuk membunuh Rasulullah n secara diam-diam. Akan tetapi, malaikat Jibril  memberitahukan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang rencana mereka.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bergegas kembali ke Madinah lalu memerintahkan Muhammad bin Maslamah untuk menyampaikan kepada bani Nadhir agar mereka segera meninggalkan tempat mereka dalam waktu sepuluh hari. Jika tidak, mereka akan diperangi. Karena hasutan dari orang-orang Yahudi lainnya, mereka pun menolak tawaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka justru mempersiapkan diri untuk berperang melawan kaum muslimin.

Setelah dikepung selama enam malam, bani Nadhir kemudian menyerah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusir mereka dari Madinah dan memberikan kemurahan sehingga mereka bisa membawa barang dan harta, selain senjata. Allah Subhanahuwata’ala menceritakan hal ini dalam surat al-Hasyr.

3. Perang Ahzab Perang ini terjadi karena persekongkolan dan makar jahat kaum musyrikin Makkah, kabilah Ghathafan, kaum Yahudi, dan kabilah-kabilah lainnya. Mereka bersepakat untuk bersatu dan bersama-sama menyerang kota Madinah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bermusyawarah dengan para sahabat untuk menentukan strategi di dalam menghadapi pasukan gabungan tersebut. Jadi, Perang Ahzab adalah perang yang terjadi karena kaum muslimin membela diri dan mempertahankan kota Madinah.

4. PerangBaniQuraizhah Bani Quraizhah adalah kabilah Yahudi yang melakukan pengkhianatan terhadap kaum muslimin. Pada saat kaum muslimin sedang sibuk melawan pasukan gabungan dalam Perang Ahzab di sebelah utara Madinah, bani Quraizhah yang berada di sebelah selatan Madinah malah menyatakan perang.

Padahal, tidak ada yang menghalangi antara bani Quraizhah dengan lokasi perlindungan kaum wanita dan anak-anak kaum muslimin. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersedih, pun para sahabatnya. Setelah Allah Subhanahuwata’ala memberikan kemenangan kepada kaum muslimin dalam peristiwa Perang Ahzab, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berangkat menuju tempat tinggal bani Quraizhah untuk menghukum mereka atas pengkhianatan yang mereka lakukan.

5. Perang Mu’tah

Perang ini terjadi karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam marah saat mendengar utusan beliau, sahabat al-Harits bin ‘Amr, yang membawa surat untuk penguasa negeri Basra malah dibunuh dan dipenggal kepalanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirimkan pasukan terdiri dari 3.000 orang dengan pimpinan secara bergantian Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abi Thalib, dan Abdullah bin Rawahah. Itu pun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan untuk menyampaikan tawaran Islam kepada mereka terlebih dahulu. Jika menolak, mereka boleh diperangi.

Bahkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan, “Berperanglahkaliandengannama Allah Subhanahuwata’ala  dandijalan Allah Subhanahuwata’ala. Bunuhlah orangy angm elakukank ekufurank epada Allah Subhanahuwata’ala. Janganlah kalian menipu dan mencuri harta rampasan perang. Jangan pula membunuh anak-anak, kaum wanita, dan orang-orang tua. Janganlah kalianmerusak tempat ibadahmereka, menebangpohonkurma, danpohon apapun,serta janganlah merobohkan bangunan!”

6. Fathu Makkah

Inilah peristiwa penaklukan kota Makkah. Bermula dari pengkhianatan kaum musyrikin Quraisy yang secara diam-diam membantu sekutu mereka, bani Bakr, untuk menyerang bani Khuza’ah. Padahal Khuza’ah adalah sekutu kaum muslimin. Sementara itu, dalam Perjanjian Hudaibiyah telah disepakati masa gencatan senjata. Ternyata, orangorang bani Bakr telah membunuh lebih dari dua puluh orang bani Khuza’ah. Khuza’ah lalu menyampaikan berita itu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bergeraklah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat untuk menaklukan kota Makkah.

Setelah kota Makkah ditaklukkan, apa yang beliau lakukan? Beliau mengatakan kepada kaum Quraisy yang dahulu memusuhi dan memerangi kaum muslimin, “Pada hari ini tidak ada cercaan terhadap kalian. Bubarlah, karenakalianadalah orang-orang yang bebas!”

Sungguh Sangat Berbeda!

Sungguh sangat berbeda! Peperangan yang dikenal dan terjadi pada masa jahiliah adalah peperangan yang dipenuhi oleh kekejaman, kekerasan, perampokan, penghancuran kehormatan, pemusnahan ladang dan kebun, pembunuhan terhadap anak-anak, tanpa kasih sayang dan rasa perikemanusiaan.
Adapun Islam, peperangan adalah sarana untuk menebarkan kasih sayang dan keadilan, menolong orang-orang yang terzalimi, dan menegakkan kalimat Allah Subhanahuwata’ala sehingga peribadahan benarbenar menjadi hanya untuk Allah Subhanahuwata’ala.

Lihatlah adab-adab berperang yang diajarkan oleh Islam. Betapa rahmat dan penuh cinta! Bandingkanlah! Selama tidak lebih dari delapan tahun peperangan yang dijalankan di masa hidup Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, korban terbunuh hanya sebatas 1.000 orang dari kalangan kaum muslimin, kaum musyrikin, Yahudi, dan Nasrani.

Dengan rentang waktu yang relatif singkat dan korban jiwa yang relatif kecil, kaum muslimin mampu menundukkan hampir seluruh Jazirah Arab dan menciptakan keamanan serta ketenteraman. Adapun peperangan di zaman jahiliah sangat jauh berbeda. Korban begitu banyak, dilatarbelakangi oleh dendam dan benci, penuh ketakutan dan tidak berakhir.

Misalnya, perang antara bani Bakr dan kabilah Taghlib yang terjadi selama empat puluh tahun dengan korban sekitar 70.000 orang! Atau perang antara Aus dan Khazraj yang terjadi hampir seratus tahun. Sungguh sangat berbeda! Bandingkanlah dengan peperangan yang dilakukan dan dijalani oleh kaum kafir Barat! Dalam Perang Dunia Pertama, yang hanya berlangsung kurang lebih selama empat tahun, minimalnya ada 40 juta orang tewas.

Mayoritasnya adalah warga sipil yang tidak terlibat dalam peperangan secara langsung. Sekitar 9 juta orang tewas akibat kekurangan pangan, kelaparan, pembunuhan massal, dan terlibat secara tidak langsung dalam pertempuran. Dalam perang ini, senjata kimia digunakan untuk pertama kalinya, pemboman atas warga sipil dari udara dilakukan, dan banyak pembunuhanmassal.

Bandingkan juga dengan Perang Dunia Kedua! Perang terbesar dalam sejarah manusia yang melibatkan kaum kafir Barat yang hanya terjadi dalam waktu enam tahun, telah memakan korban 70 juta orang tewas, mayoritasnya masyarakat sipil. Dalam dua perang dunia ini, mencuat nama-nama penjahat perang semacam Hitler, Mussolini, Lenin, Stalin, dan lainnya. Demikian juga kejahatankejahatan yang tercatat dalam sejarah hitam dunia. Tokyo dibom bakar oleh sekutu yang mengakibatkan 90.000 orang tewas akibat kebakaran hebat di seluruh kota.

Hiroshima dan Nagasaki dibom atom yang mengakibatkan korban dan kerugian besar. Hal-hal yang sangat tidak beradab dan tidak berperikemanusiaan telah dipertontonkan oleh kaum kafir Barat. Atau juga kejahatan yang dilakukan oleh Slobodan Milosevic yang melakukan genosida (pembantaian etnis secara massal) terhadap kaum muslimin di Bosnia.

Belum lagi kejahatan kaum kafir Barat terhadap kaum muslimin di Afghanistan, Palestina, Chechnya, dan banyak daerah lain. Sebelumnya lagi, dalam catatan Perang Salib. Sejarah telah mencatat kekejaman dan kejahatan yang dilakukan oleh kaum Salibis terhadap kaum
muslimin.

Pembunuhan terhadap wanita dan anak-anak, pembakaran masjid dan bangunan lainnya, pemerkosaan, tindakan keji dan bengis, serta perbuatan bengis lainnya. Kita harus bertanya, “Siapakah yang patut dianggap sebagai kaum yang jahat dan tidak berperikemanusiaan? Siapa pula yang pantas dinilai sebagai kaum yang penuh rahmat dan kasih sayang? Kaum muslimin yang mengajarkan adab adab penuh cinta dan kasih sayang di dalam berperang; ataukah kaum kafir Barat yang menghancurkan nilai-nilai kemanusiaan?” Alhamdulillah, Islam adalah agama yang mengajarkan rahmat dan kasih sayang.

Al-Qur’an, sunnah, dan sejarah Nabi Muhammad n menjadi bukti hal tersebut. Meskipun ada kelompok kelompok atau individu-individu yang melakukan kejahatan lalu menisbatkan dirinya kepada Islam, sesungguhnya Islam berlepas diri dari mereka. Wallahulmusta’an, walhamdulillah
Rabbil ‘alamin.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar Ibn Rifa’i

Doa dalam Khutbah Jum’at

وَعَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدُبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صل الله عليه وسلم كَانَ يَسْتَغْفِرُ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ كُلَّ جُمُعَةٍ

“Dari Samurah bin Jundub radhiyallahu ‘anhu,“Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam senantiasa memintakan ampun bagi orang-orang mukmin, muslimin, dan muslimat setiap hari Jum’at.”

Takhrij Hadits

Hadits ini diriwayatkan al-Bazzar dalam Musnad-nya (2/307-308) Kasyful Astar. Al-Bazzar rahimahullah meriwayatkan dari Khalid bin Yusuf bin Khalid, dari bapaknya -Yusuf bin Khalid-, dari Ja’far bin Sa’d bin Samurah, dari Khubaib bin Sulaiman bin Samurah, dari ayahnya Sulaiman bin Samurah, dari Samurah bin Jundub radhiyallahu ‘anhu.

Al-Bazzar rahimahullah berkata, “Saya tidak tahu hadits ini dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam selain dengan sanad ini.” Melalui jalan Ja’far bin Sa’d bin Samurah pula ath-Thabarani rahimahullah meriwayatkan dalam al-Kabir (7/264 no. 7079) dengan lafadz,

كاَنَ النَّبِيُّ صل الله عليه وسلم يَسْتَغْفِرُ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَلِلْمُسْلِمِينَ وَلِلْمُسْلِمَاتِ كُلَّ يَوْمِ جُمُعَةٍ

“Adalah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam senantiasa memintakan ampunan bagi mukminin, mukminat, muslimin, dan muslimat.”

Sanad hadits Samurah radhiyallahu ‘anhu dipenuhi dengan perawi-perawi lemah.

1. Khalid bin Yusuf bin Khalid

“Dha’if (lemah),” demikian dikatakan oleh adz-Dzahabi dalam Mizanul I’tidal (2/649).

2. Yusuf bin Khalid bin ‘Umair as-Samti

Ibnu Ma’in rahimahullah dalam Tarikh ad-Duri (2/684), “Kadzdzab, zindiq la yuktabu haditsuhu (Tukang dusta, zindiq tidak boleh ditulis haditsnya).”
Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata dalam al-‘Ilal (2/101), “Kadzdzab. Khabits, ‘Aduwullahi ta’ala (Tukang dusta, busuk, musuh Allah Subhanahu wata’ala).”

Ibnu Hajar rahimahullah berkata dalam Taqrib, “Tarakuuhu, kadzdzabahu Ibnu Ma’in.” (Ulama meninggalkannya, dan Ibnu Ma’in menyatakannya sebagai pendusta)

Al-Haitsami rahimahullah dalam Majma’ (2/190) berkata, “Dalam sanad al-Bazzar terdapat seorang perawi bernama Yusuf bin Khalid as-Samti, seorang yang dha’if.”

3. Ja’far bin Sa’d bin Samurah bin Jundub al-Fazari

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah dalam at-Taqrib berkata, “Laisabil Qawiy (bukan orang yang kuat).”

4. Khubaib bin Sulaiman bin Samurah

Dia dinyatakan majhul oleh Ibnu Hajar rahimahullah dalam at-Taqrib. Adz-Dzahabi rahimahullah (al-Mizan 2/649) berkata, “Laa Yu’raf wa Qad Dhu’if (dia tidak dikenal, dan ia didhaifkan/dinyatakan lemah).”

5. Sulaiman bin Samurah bin Jundub al-Fazari

Al-Hafizh Abul Hasan al-Qaththan rahimahullah berkata, “Laa tu’raf lahul hal (Dia tidak dikenal keadaannya).” (Bayanul Wahm wal Iham, 5/138)

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah dalam at-Taqrib berkata, “Maqbul.”
Dari tinjauan sanad, kita dapatkan bahwa hadits ini sangat lemah, bahkan batil, tidak dapat dijadikan sebagai hujah.

 

Apakah Doa Khatib untuk Kebaikan Kaum Muslimin Sunnah dalam Khutbah?

Sering kita mendengar khatib selalu berdoa memohonkan ampun atau doa kebaikan lainnya bagi kaum mukminin dan mukminat. Sebagian khatib kita dapatkan tidak berdoa dalam khutbahnya.

Muncullah sebuah pertanyaan, apakah seorang khatib disunnahkan untuk selalu mendoakan kaum muslimin? Atau apakah doa khatib bukan sesuatu yang disyariatkan? Hadits Samurah bin Jundub radhiyallahu ‘anhu adalah dalil yang tegas, nash yang menunjukkan disyariatkannya imam mendoakan kaum mukminin, bahkan menunjukkan merutinkan doa untuk kaum mukminin pada hari Jum’at, saat berkhutbah, kalau seandainya hadits ini tidak dha’if. Namun telah kita lalui bahwa hadits Samurah sangat lemah dan tidak bisa dijadikan sandaran, sehingga butuh akan dalil lain.

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah memberikan keterangan dalam Syarhul Mumti’ ketika menjelaskan perkataan penulis Zaad al-Mustaqni’, “(Dan hendaknya khatib) mendoakan kaum muslimin.”

Syaikh berkata, “(Maksudnya) disunnahkan pula (bagi khatib) dalam khutbah mendoakan kaum muslimin, pemerintah, dan rakyatnya, (alasannya) karena waktu tersebut adalah saat yang sangat diharapkan terkabulnya doa, dan doa untuk kaum muslimin tidak diragukan adalah kebaikan. Oleh karena itu, fuqaha menganggap sunnah doa bagi kaum muslimin.”

Boleh jadi ada yang menyanggah, “Alasan bahwa waktu tersebut adalah waktu yang mustajab, dan doa bagi kaum muslimin adalah maslahat yang sangat besar, (dua alasan yang mendasari disunnahkannya doa untuk kaum muslimin ini) sudah ada di zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, namun ternyata beliau tidak melakukannya1 maka (yang semestinya dikatakan) adalah meninggalkan doa tersebut; karena seandainya perkara ini termasuk yang disyariatkan niscaya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melakukannya.

Oleh karena itu, dibutuhkan dalil khusus yang menunjukkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam selalu mendoakan kaum muslimin (dalam khutbah Jum’at). Jika dalil khusus tersebut tidak ada maka kita tidak mengatakan bahwa doa tersebut termasuk sunnah khutbah, maksimalnya kita katakana bahwa mendoakan kaum muslimin dalam khutbah adalah jaiz (boleh). Diriwayatkan dalam sebuah hadits,

أَنَّ النَّبِيَّ صل الله عليه وسلم كَانَ يَسْتَغْفِرُ لِلْمُؤْمِنِينَ فِي كُلِّ جُمُعَةٍ

“Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam senantiasa mendoakan kaum mukminin setiap Jum’at.”

Seandainya hadits ini sahih maka hadits ini adalah dalil dalam masalah ini, dan kita katakan bahwa mendoakan kaum muslimin termasuk sunnah dalam khutbah. Namun, seandainya hadits ini tidak sahih, kita katakan bahwa mendoakan kaum mukminin (dalam khutbah) adalah perkara yang boleh. Hanya saja, hal ini tidak dijadikan sebagai sunnah yang selalu dilakukan, karena jika selalu dilakukan, manusia akan menyangka bahwa hal ini termasuk sunnah….(asy-Syarhul Mumti’, 5/65-66, dengan sedikit perubahan)

 

Dalil-Dalil Lain Disyariatkannya Doa bagi Khatib

Ulama Syafi’iyah, demikian pula fuqaha Hanabilah memandang bahwa doa khatib pada hari Jum’at untuk kebaikan kaum muslimin adalah perkara yang mustahab. Zahirnya ini pula yang dipilih Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah.

Meskipun hadits Samurah bin Jundub radhiyallahu ‘anhu dha’if, namun ada dalil lain tentang disyariatkannya doa secara umum.

Al Imam al Baihaqi rahimahullah menyebutkan hadits-hadits yang menunjukkan disyariatkannya doa bagi khatib dalam kitabnya as-Sunan al-Kubra (3/210). Beliau memberinya judul, “Bab Mayustadallubihi‘alaan yad’uwa fi khutbatihi.” Artinya, bab tentang nash-nash yang dijadikan dalil atas disyariatkannya khatib berdoa dalam khutbahnya.

Dalam bab tersebut, beliau meriwayatkan hadits Umarah bin Ru’aibah radhiyallahu ‘anhu.

عَنْ عُمَارَةَ بْنِ رُوَيْبَةَ قَالَ: رَأَى بِشْرَ بْنَ مَرْوَانَ رَافِعًا يَدَيْهِ فَقَالَ: قَبَّحَ اللهُ هَاتَيْنِ الْيَدَيْنِ، لَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صل الله عليه وسلم مَا يَزِيدُ عَلَى أَنْ يَقُولَ بِيَدِهِ هَكَذَا-وَأَشَارَ بِأَصْبِعِهِ الْمَسْبَحَةَ

“Dari ‘Umarah bin Ru’aibah radhiyallahu ‘anhu, beliau melihat Bisyr bin Marwan mengangkat kedua tangannya (ketika berkhutbah) lalu beliau berkata,“Semoga Allah menjelekkan dua tangan itu, sungguh aku melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak lebih dari memberikan isyarat demikian,” ‘Umarah mengisyaratkan jari telunjuk.

Kemudian al-Baihaqi meriwayatkan hadits Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu beliau berkata,

مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صل الله عليه وسلم شَاهِرًا يَدَيْهِ قَطُّ يَدْعُو عَلَى مِنْبَرِهِ وَلاَ عَلَى غَيْرِهِ وَلَكِنْ رَأَيْتُهُ يَقُولُ هَكَذَا وَأَشَارَ بِالسَّبَابَةِ وَعَقَدَ الْوُسْطَى بِالْإِبْهَامِ

“Tidak pernah sama sekali aku melihat Rasululah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengangkat kedua tangannya berdoa di atas mimbar tidak pula di atas lainnya, namun aku melihat beliau mengisyaratkan telunjuknya dan menggenggam jari tengah dan ibu jari.”

Al-Baihaqi rahimahullah berkata, “Maksud (penyebutan) dua hadits ini adalah menetapkan (disyariatkannya) doa dalam khutbah, kemudian sunnah dalam doa khutbah untuk tidak mengangkat kedua tangan, dan mencukupkan isyarat dengan telunjuk….”(Sunan al-Kubra, 3/210)

Hadits Umarah bin Ru’aibah radhiyallahu ‘anhu shahih, diriwayatkan oleh al-Imam Muslim (873), an-Nasai (3/108), Abu Dawud (no. 1104), at-Tirmidzi (no. 515), dan Ibnu Majah (no. 1103).

Hadits Sahl bin Sa’d dikeluarkan pula oleh Abu Dawud (no. 1105) dengan kelemahan dalam sanadnya, namun dikuatkan oleh hadits Umarah bin Ru’aibah radhiyallahu ‘anhu. Asy-Syaikh al-Albani dalam Irwa’ul Ghalil (3/77) menyatakan hadits Sahl sebagai hadits hasan.

Apakah Khatib Mengangkat Dua Tangan Saat Berdoa?

Tidak ada satu riwayat pun menyatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengangkat kedua tangan beliau dalam berdoa ketika khutbah Jum’at selain saat memohon turun hujan (istisqa’) atau memohon dihentikan hujan (istisha’).

Riwayat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengangkat kedua tangan saat memohon hujan atau mohon dihentikan hujan dalam khutbah banyak disebutkan dalam kitab-kitab hadits baik Shahihain atau lainnya.

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, “Paceklik (kekeringan) menimpa manusia di zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, hingga suatu saat, ketika Shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri di atas mimbar berkhutbah di hari Jum’at datang seorang Arab badui dari arah yang menghadap mimbar, dari pintu yang menghadap ke arah Darul Qadha’.2 Ketika itu beliau sedang berdiri berkhutbah.

Ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, harta benda binasa, keluarga kelaparan, kuda-kuda binasa, kambing-kambing binasa, ternak-ternak binasa, dan jalan-jalan terputus, maka berdoalah kepada Allah Subhanahu wata’ala untuk kami agar Dia menurunkan hujan’.”
(Anas radhiyallahu ‘anhu berkata), “Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengangkat kedua tangan beliau untuk berdoa, hingga saya bisa melihat putih ketiaknya,

اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا

“Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami.”

Orang-orang pun mengangkat tangan-tangan mereka berdoa bersama beliau.”

(Tidak disebutkan bahwa beliau membalik rida’ [selendang] tidak pula disebutkan beliau berbalik menghadap kiblat) (Berkata Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu), “Demi Allah, kami sama sekali tidak melihat segumpal awan pun di langit, tidak pula pelangi, dan sungguh langit ketika itu bersih seperti kaca.”

Anas radhiyallahu ‘anhu berkata, “Lalu dari balik bukit muncul awan seperti perisai. Ketika sampai ke tengah-tengah langit, awan itu menyebar, kemudian turun hujan. Demi Dzat yang jiwaku ada di Tangan-Nya belum lagi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menurunkan kedua tangannya –saat berdoa- datanglah awan bergulung-gulung laksana gunung, dan belum lagi beliau turun dari mimbar kecuali hujan telah turun dengan lebat hingga air hujan berjatuhan dari jenggot Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.”

(Dalam satu riwayat: Maka bertiuplah angin membawa awan, lalu awan itu berkumpul, langit pun mengembangkan awan yang tidak membawa hujan. “Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam turun dari mimbar mengerjakan shalat. Lalu kami keluar sambil mencebur ke air hingga kami tiba di rumah (karena begitu lebatnya hujan) hampir-hampir seseorang tidak dapat sampai ke rumahnya.”

(Kota Madinah pun) dituruni hujan pada hari itu, esoknya, esok lusa, dan hari-hari berikutnya sampai hari Jum’at berikutnya tanpa henti. Sehingga, saluran-saluran air kota Madinah penuh air.”

Berkata Anas radhiyallahu ‘anhu selanjutnya, “Demi Allah, kami tidak melihat matahari selama enam hari.”

Pada hari Jum’at berikutnya, seorang badui yang dahulu atau badui lainnya datang ke masjid dari pintu yang sama. Ketika itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam juga sedang berdiri berkhutbah, dia berkata, ‘Wahai Rasulullah, rumah-rumah roboh, jalan-jalan terputus, dan binatang-binatang ternak binasa, para musafir tidak dapat bepergian, jalan-jalan terhalang, harta benda pun tenggelam, maka berdoalah kepada Allah Subhanahu wata’ala agar menahan hujan itu untuk kami.’

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pun tersenyum, kemudian mengangkat kedua tangan beliau dan berdoa,‘Ya Allah, (hujanilah) sekeliling kami, namun jangan atas kami. Ya Allah, turunkanlah hujan di atas puncak-puncak gunung dan dataran tinggi, di perut-perut lembah dan tempat-tempat tumbuhnya tumbuh-tumbuhan.’

Tidaklah beliau menunjukkan kedua tangan beliau ke suatu awan melainkan awan tersebut terbelah seperti lubang bulat yang luas, terbelah seperti terbelahnya kain.”

Anas radhiyallahu ‘anhu berkata, “Saya lihat awan menyingkir di sekitar Madinah ke kanan dan ke kiri seperti kumpulan kambing. Turunlah hujan di sekeliling kami, tetapi tidak diturunkan sedikit pun di dalam kota Madinah. Sehingga, kami dapat keluar dan berjalan di bawah sinar matahari.”

Allah Subhanahu wata’ala menampakkan kepada manusia mukjizat Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam dan mengabulkan doanya. Lembah Qanah mengalir selama sebulan. Tidak ada seorang pun dari suatu daerah kecuali ia menceritakan hujan lebat (di kota Madinah tahun itu.)3

Khatib Mengangkat Telunjuk ketika Berdoa

Dari hadits Umarah bin Ru’aibah dan Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhuma, diambil faedah bahwa khatib cukup memberikan isyarat telunjuk saat berdoa dalam khutbah Jum’at.

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin pernah ditanya tentang mengangkat dua tangan saat khatib berdoa, demikian pula mengangkat telunjuk ketika berdoa dan ketika nama Allah Subhanahu wata’ala disebut.

Jawaban beliau, “Tentang mengangkat kedua tangan saat berdoa dalam khutbah, para sahabat mengingkari Bisyr bin Marwan saat ia berkhutbah dan mengangkat kedua tangannya. Ya, telah sahih riwayat kedatangan badui saat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berkhutbah, sang badui berkata, ‘Wahai Rasulullah, harta-harta musnah, jalan-jalan terputus, dan berdoalah kepada Allah Subhanahu wata’ala agar Dia menurunkan hujan.’ Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengangkat kedua tangannya berdoa,

اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا

“Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami.”

Dari riwayat-riwayat ini menjadi terang bahwasanya,
1. Mengangkat kedua tangan dalam khutbah Jum’at disyariatkan ketika meminta hujan (istisqa) atau memohon dihentikan hujan (istishha’).

2. Manusia ketika itu mengangkat kedua tangan bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam saat doa istisqa’. Ini adalah dalil bahwa makmum yang mendengarkan khutbah hanya mengangkat kedua tangan dalam doa istisqa’, (dan istishha’).

3. Jika khatib berdoa dengan doa selain istisqa maka khatib tidak mengangkat kedua tangan, demikian pula makmum tidak mengangkat kedua tangan mereka.4

Tentang mengangkat telunjuk ketika berdoa, amalan ini dilakukan dalam duduk tasyahhud,… mengisyaratkan telunjuk juga datang dalilnya dalam khutbah Jum’at atau saat beliau berdoa, selain doa istisqa’. Adapun apa yang dilakukan keumuman manusia yang mereka mengisyaratkan telunjuk setiap kali imam menyebut nama Allah Subhanahu wata’ala dengan maksud mengagungkan Allah Subhanahu wata’ala, maka saya tidak tahu ada dalil dalam masalah ini.”5

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Doa imam saat sesudah naiknya (ke mimbar) tidak ada asalnya (yakni dalilnya), dan dibenci imam mengangkat kedua tangannya saat berdoa dalam khutbah dan ini pendapat yang paling sahih dari dua pendapat Hanabilah, karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam hanya mengisyaratkan telunjuknya ketika berdoa, adapun dalam istisqa maka beliau mengangkat kedua tangannya, ketika beliau meminta hujan di atas mimbar.”6

Wallahu ta’ala a’lam

Ditulis oleh : Al-Ustadz Abu Isma’il Muhammad Rijal
————————————————
1. Yakni tidak ada dalil sahih yang tegas bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa dalam khutbah.
2. Darul Qadha’ adalah rumah Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Dinamai Darul Qadha’ karena rumah ini dijual untuk membayar utangUmar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu, dan al-qadha’ sendiri bermakna menunaikan atau membayar.
3. Kisah istisqa’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam shalat Jum’at diriwayatkan banyak ahlul hadits dalam kitab-kitab mereka dengan lafadz yang beragam, dan apa yang kita sebutkan dalam tulisan ini diambil dari Muhtashar Shahih al-Bukhari (1/282—284) karya asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, beliau mengumpulkan lafadz-lafadz yang berserakan dalam satu kisah.
4. Karena tidak ada dalil yang menunjukkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengangkat kedua tangannya dalam khutbah Jum’at selain doa istisqa. Tidak adanya penukilan sahabat padahal shalat Jum’at terjadi berulang-ulang dihadapan seluruh sahabat demikian pula factor pendorong untuk menukilkan berita yang semacam ini sangat kuat, menunjukkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mengangkat kedua tangan beliau dalam shalat Jum’at melainkan dalam istisqa dan istishha’. Demikian pula pengingkaran sahabat terhadap Bisyr bin Marwan dalam riwayat Muslim menguatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memang tidak mengangkat kedua tangan, wallahu ta’ala a’lam.
5. Majmu’ Fatawa wa Rasail (16/67).
6. Ikhtiyarat Fiqhiyyah.

Perkara Haram adalah Apa yang diharamkan oleh Allah dan Rasulnya

إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيۡكُمُ ٱلۡمَيۡتَةَ وَٱلدَّمَ وَلَحۡمَ ٱلۡخِنزِيرِ وَمَآ أُهِلَّ بِهِۦ لِغَيۡرِ ٱللَّهِۖ فَمَنِ ٱضۡطُرَّ غَيۡرَ بَاغٖ وَلَا عَادٖ فَلَآ إِثۡمَ عَلَيۡهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٞ رَّحِيمٌ ١٧٣

“Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut(nama) selain Allah.” (al-Baqarah: 173)

Penjelasan Mufradat Ayat

Bangkai

Mayoritas qurra’ membacanya dengan nashab (memfathah huruf ta’). Namun, sebagian mereka membaca dengan rafa’ (mendhammah ta’)—dengan alasan إِنَّمَا adalah isim maushul/kata sambung sebagai mubtada’ dan الْمَيْتَةَ sebagai khabar. Makna maitah (bangkai) adalah terlepasnya ruh (nyawa) dari jasad hewan tanpa proses penyembelihan yang syar’i.

Darah
Darah yang dimaksud adalah darah yang mengalir dari urat leher saat hewan disembelih. Ini sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala,

قُل لَّآ أَجِدُ فِي مَآ أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَىٰ طَاعِمٖ يَطۡعَمُهُۥٓ إِلَّآ أَن يَكُونَ مَيۡتَةً أَوۡ دَمٗا مَّسۡفُوحًا أَوۡ لَحۡمَ خِنزِيرٖ فَإِنَّهُۥ رِجۡسٌ أَوۡ فِسۡقًا أُهِلَّ لِغَيۡرِ ٱللَّهِ بِهِۦۚ فَمَنِ ٱضۡطُرَّ غَيۡرَ بَاغٖ وَلَا عَادٖ فَإِنَّ رَبَّكَ غَفُورٞ رَّحِيمٞ ١٤٥

“Katakanlah, ‘Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, selain bangkai, darah yang mengalir, atau daging babi’.” (al-An’am: 145)

Daging babi

Ayat ini mengkhususkan keharaman babi pada dagingnya, meskipun seluruh bagian hewan ini juga haram. Sebab, keumuman apa saja dari hewan yang boleh dimakan (dagingnya), maka seluruh bagian anggota badannya mengikuti hukumnya (hukum daging). Berbeda halnya dengan pendapat mazhab Zhahiriyah yang hanya mengharamkan dagingnya.

“Dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah.”

Makna ihlal adalah mengeraskan suara. Al-Alusi rahimahullah mengatakan, “Menurut kebanyakan ahli bahasa, kata ihlal berasal dari melihat hilal. Akan tetapi, telah menjadi suatu kebiasaan, ketika hilal terlihat, mereka mengeraskan suara dengan bertakbir. Dari sinilah munculnya penamaan ihlal. Selanjutnya, nama ini dipakai untuk menyebut tindakan mengeraskan suara meskipun untuk urusan selain melihat hilal (seperti menyembelih hewan dengan menyebut nama selain Allah subhanahu wa ta’ala).

Kemudian beliau menjelaskan pendapat bahwa yang dimaksud dengan “disebut nama selain Allah” secara lahiriah adalah patung dan selainnya. Para ulama, seperti Atha’, Makhul, asy-Sya’bi, al-Hasan, dan Sa’id bin al-Musayyab rahimahumullah berpendapat bahwa makna “disebut nama selain Allah” adalah patung saja. Mereka memubahkan sembelihan orang Nasrani yang menyembelih dengan menyebut nama al-Masih, walaupun pendapat ini bertentangan dengan apa yang telah disepakati oleh umat bahwa sembelihan tersebut adalah haram hukumnya.

Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma menerangkan bahwa makna أُهِلَّ dalam ayat ini adalah menyembelih. Mujahid rahimahullah mengatakan bahwa maknanya adalah hewan yang disembelih untuk selain Allah subhanahu wa ta’ala. Abul ‘Aliyah rahimahullah juga mengatakan bahwa maknanya adalah sembelihan yang disebut nama selain Allah subhanahu wa ta’ala. (Dinukil dari Maktabah Syamilah)

Asy-Syaukani rahimahullah mengatakan, “Termasuk makna ihlal adalah ihlal shabiy, yaitu jeritan seorang bayi di saat lahir.” (Fathul Qadir, 1/314)

 

Makna dan Tafsir Ayat

Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullah menerangkan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala menghendaki agar orang-orang yang beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya tidak mengharamkan atas diri mereka sesuatu yang tidak diharamkan oleh-Nya, seperti mengharamkan bahirah, saibah, dan yang lain. “Oleh karena itu, makanlah hal-hal tersebut, karena Aku (Allah subhanahu wa ta’ala) tidak mengharamkan atas kalian selain bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang ketika disembelih disebut nama selain-Ku.”

Al-Alusi rahimahullah mengatakan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala mengharamkan bangkai. Makna pengharaman di sini meliputi memakannya dan memanfaatkannya (dalam bentuk lain). Adapun penyandaran kata haram kepada bangkai (zat sesuatu)—sementara itu, istilah haram adalah bagian dari hukum-hukum syariat yang menjadi salah satu sifat mukallaf, dan tidak ada kaitannya dengan zat sesuatu—mengandung isyarat tentang haramnya memanfaatkan bangkai (dalam bentuk apa pun), kecuali apabila terdapat dalil yang mengkhususkannya, seperti penyamakan kulit bangkai hewan (sebagaimana dalam hadits).

“Menyamak kulit bangkai itu ialah penyembelihan atau penyuciannya.” (HR. Ahmad dari Salamah bin Muhabbiq radhiallahu ‘anhu)

Termasuk yang dihukumi seperti hukum bangkai adalah sesuatu yang dipotong dari tubuh hewan dalam keadaan ia masih hidup. Hal ini seperti disebutkan oleh hadits Abu Waqid al-Laitsi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sesuatu yang dipotong dari binatang dalam keadaan ia masih hidup, maka itu adalah bangkai.” (HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi)

Yang dikeluarkan dari hukum bangkai adalah belalang dan ikan, sebagaimana dalam hadits Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Telah dihalalkan untuk kita dua bangkai dan dua darah. Dua bangkai itu ialah belalang dan ikan, adapun dua darah itu ialah hati dan limpa.” (Dinukil dari Maktabah Syamilah)

 

Di Antara Hal yang Diharamkan

Dalam ayat ini terdapat hukum haramnya keumuman bangkai hewan, selain yang dikecualikan, baik oleh dalil dari ayat maupun hadits. Di antaranya adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala,

أُحِلَّ لَكُمۡ صَيۡدُ ٱلۡبَحۡرِ وَطَعَامُهُۥ مَتَٰعٗا لَّكُمۡ وَلِلسَّيَّارَةِۖ وَحُرِّمَ عَلَيۡكُمۡ صَيۡدُ ٱلۡبَرِّ مَا دُمۡتُمۡ حُرُمٗاۗ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ ٱلَّذِيٓ إِلَيۡهِ تُحۡشَرُونَ ٩٦

“Dihalalkan bagimu binatang buruan laut.” (al-Maidah: 96)

Di antaranya adalah hadits Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma Dihalalkan untuk kita dua bangkai dan dua darah.” (HR. Ahmad dan yang lain)

Hadits Jabir radhiallahu ‘anhu diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim, dalam perihal ikan ambar—salah satu jenis ikan paus. Dalam sebuah peperangan,pasukan muslimin di bawah kepemimpinan Abu Ubaidah radhiallahu ‘anhu, tengah mengalami kelaparan. Tiba-tiba mereka mendapati bangkai ikan laut yang belum pernah terlihat sebesar itu, namanya ikan ambar. Setengah bulan mereka makan darinya.

Adapun bangkai yang dimaksud dalam ayat di atas adalah bangkai hewan darat dan bangkai hewan laut. Mayoritas ulama berpendapat kepada bolehnya memakan seluruh jenis hewan laut, baik yang hidup (segar) maupun yang mati (bangkai). Sebagian ulama berpendapat, diharamkannya sebagian hewan laut sama dengan apa yang diharamkan dari hewan darat. Dengan demikian, sebagian mereka, seperti Ibnu Habib, tawaquf (tidak bisa menentukan pendapat) tentang hukum memakan babi laut. Ibnu Qasim rahimahullah berkata, “Saya menjauhinya meskipun tidak berpendapat tentang haramnya.”

Para ulama sepakat bahwa darah itu haram. Hanya saja, keumuman hukum yang terdapat dalam ayat di atas terkait dengan ayat lain, yaitu firman Allah subhanahu wa ta’ala,

 “Atau darah yang mengalir.” (al-An’am: 145)

Sebab, darah yang bercampur/menyatu dengan daging tidak haram hukumnya. Al-Qurthubi rahimahullah berkata, “Ini adalah ijma’.” Hal ini sebagaimana terdapat dalam hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, beliau memasak daging dan tampak warna kuning pada permukaan periuk karena darah (yang menyatu dengan daging). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memakannya dan tidak mengingkarinya.
Dihikayatkan oleh al-Qurthubi rahimahullah adanya kesepakatan umat (para ulama) tentang haramnya lemak babi. Banyak ulama yang menyebutkan bahwa lemak termasuk bagian dari daging. Beliau juga menyebutkan adanya kesepakatan para ulama bahwa seluruh bagian dari babi adalah haram kecuali bulunya (yakni tidak najis, -red.) karena diperbolehkan untuk dijadikan sebagai perhiasan.

Adapun yang dimaksud dengan haramnya memakan hewan yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah subhanahu wa ta’ala, seperti menyembelih dengan menyebut nama Latta, Uzza, apabila yang menyembelih adalah penyembah berhala; atau menyebut api apabila yang menyembelih adalah Majusi. Tidak ada perbedaan hukum terkait diharamkannya hal yang seperti ini atau yang semisalnya.

Yang serupa pula hukumnya adalah sembelihan dari kalangan orang-orang yang berkeyakinan terhadap orang yang sudah mati (bisa memberi pengaruh terhadap peristiwa di dunia, baca: para pengagung/penyembah kuburan). Mereka melakukan penyembelihan di atas kuburan. Hal ini termasuk bagian menyembelih dengan menyebut nama selain Allah subhanahu wa ta’ala. Tidak ada perbedaan antara hal ini dengan penyembelihan untuk berhala. (Lihat Fathul Qadir 1/313—314, cet. Darul Wafa’)

 

Penghalalan & Pengharaman, Hak Allah subhanahu wa ta’ala & Rasul-Nya
Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin dalam penjelasan beliau terhadap kitab Bulughul Maram, menyebutkan salah satu faedah hadits Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, “Telah dihalalkan untuk kita dua bangkai dan dua darah”, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berkuasa dalam hal menghalalkan atau mengharamkan selain dengan izin Allah subhanahu wa ta’ala.

Oleh karena itu, tatkala beliau melarang seseorang yang makan bawang bombai atau bawang putih untuk hadir di masjid, orang-orang berkata, “Telah diharamkan, telah diharamkan.”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berkata,

“Wahai manusia, tidak boleh bagiku untuk mengharamkan apa yang telah dihalalkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala untukku. Akan tetapi, itu adalah sebuah tanaman yang aku tidak menyukai baunya.” (HR. Muslim)

Maknanya adalah, “Bukan dariku pengharaman itu, tetapi dari Allah subhanahu wa ta’ala.”

Oleh karena itu, kita semua memahami, apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menghalalkan atau mengharamkan sesuatu berarti Allah subhanahu wa ta’ala telah mengizinkannya. Bukan pula maknanya bahwa ketika beliau menghalalkan atau mengharamkan sesuatu, lantas kita boleh menanyakan kepada beliau, mana dalil bahwa Allah subhanahu wa ta’ala telah mengharamkannya. Cukuplah sabda beliau sebagai dalil. Kita tahu bahwa apa pun yang dihalalkan atau diharamkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah dengan izin Allah subhanahu wa ta’ala, seperti pada hadits,

“Wahai manusia, tidak boleh bagiku untuk mengharamkan apa yang telah dihalalkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala untukku. Akan tetapi, itu adalah sebuah tanaman yang aku tidak menyukai baunya.” (HR. Muslim)

Hadits di atas menunjukkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, utusan Allah subhanahu wa ta’ala, tidak berkuasa untuk mengharamkan sesuatu. Hal ini juga ditunjukkan oleh al-Qur’an, seperti firman Allah subhanahu wa ta’ala,

 وَلَوۡ تَقَوَّلَ عَلَيۡنَا بَعۡضَ ٱلۡأَقَاوِيلِ ٤٤ لَأَخَذۡنَا مِنۡهُ بِٱلۡيَمِينِ ٤٥  ثُمَّ لَقَطَعۡنَا مِنۡهُ ٱلۡوَتِينَ ٤٦ فَمَا مِنكُم مِّنۡ أَحَدٍ عَنۡهُ حَٰجِزِينَ ٤٧

“Dan seandainya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, niscaya benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya, kemudian benar-benar Kami potong urat nadi jantungnya. Maka sekali-kali tidak ada seorang pun dari kamu yang menghalangi (Kami) dari pemotongan urat nadi itu.” (al-Haqqah: 44—47)

Ini berarti bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terjaga dari mengada-ada terhadap Allah subhanahu wa ta’ala. Artinya, apabila Allah subhanahu wa ta’ala tidak mengizinkan beliau untuk menghalalkan atau mengharamkan sesuatu, beliau tidak akan menghalalkan atau mengharamkannya. (Dinukil dari Fath Dzil Jalali wal Ikram 1/123)

Hal ini menerangkan kepada kita bahwa pengharaman sesuatu bukan hanya semata-mata yang diharamkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam al-Qur’an, namun meliputi juga apa yang diharamkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda-sabda beliau (hadits). Di antaranya adalah semua binatang buas yang bertaring, burung yang berkaki penyambar, keledai negeri (piaraan), dan yang lain.

Demikian pula segala sesuatu yang najis, sebagaimana kaidah yang ditetapkan oleh para ulama, yaitu “Setiap yang najis itu haram, namun tidak setiap yang haram itu najis”. Dalilnya adalah ayat yang tersebut dalam surat al-An’am: 145 di atas.

Wallahu a’lam bish-shawab.

 

Iman Kepada Takdir Tidak Meniadakan Ikhtiar

Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma mengisahkan kala Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu melakukan perjalanan menuju Syam. Ketika sampai di Sargh1, beliau ditemui oleh para amir kota-kota wilayah Syam2, Abu Ubaidah dan para sahabatnya3. Mereka mengabarkan bahwa wabah tha’un sedang melanda Syam.

Umar berkata, “Kumpulkan kepadaku sahabat muhajirin yang pertama!”4 Umar memberitahukan kepada mereka bahwa wabah tha’un telah berjangkit di Syam lalu meminta pendapat mereka. Ternyata sahabat Muhajirin berselisih pendapat.

Sebagian mereka berkata, “Engkau pergi untuk suatu urusan dan kami tidak sepakat jika engkau kembali.” Sebagian lain berkata, “Bersama engkau masih banyak rakyat dan para sahabat. Kami tidak sepakat jika engkau membawa mereka menuju wabah tha’un.”

Umar berkata, “Tinggalkanlah aku. Tolong panggilkan sahabat-sahabat Anshar!” Aku pun memanggil mereka. Ketika dimintai pertimbangan, mereka juga bersikap dan berbeda pendapat seperti halnya orang-orang Muhajirin.

Umar berkata, “Tinggalkanlah aku!” Lalu ia berkata, “Panggilkan sesepuh Quraisy yang dahulu hijrah pada waktu penaklukan (Fathu Makkah) dan sekarang berada di sini!” Aku pun memanggil mereka. Mereka ternyata tidak berselisih. Mereka semua berkata, “Menurut kami, sebaiknya engkau kembali bersama orang-orang dan tidak mengajak mereka mendatangi wabah ini.”

(Setelah mendengar berbagai pendapat –pen.) Umar berseru di tengah-tengah manusia (berijtihad memutuskan apa yang beliau anggap mendekati kebenaran –pen.), “Sungguh aku akan mengendarai tungganganku untuk pulang esok pagi. Hendaknya kalian mengikuti!”

Abu Ubaidah bin Jarrah radhiallahu ‘anhu bertanya, “Apakah untuk menghindari takdir Allah?”

Umar menjawab, “Kalau saja bukan engkau yang mengatakan itu, wahai Abu Ubaidah (tentu aku tidak akan heran –pen.). Ya, kita lari dari satu takdir Allah menuju takdir Allah yang lain. Apa pendapatmu seandainya engkau mempunyai seekor unta yang turun di sebuah lembah yang memiliki dua lereng, salah satunya subur dan yang kedua tandus. Jika engkau menggembalakannya di tempat yang subur, bukankah engkau menggembalakannya dengan takdir Allah? Begitu pun sebaliknya. Kalau engkau menggembalakannya di tempat yang tandus, bukankah engkau menggembalakannya juga dengan takdir Allah?” (Demikian pula, apa yang kita putuskan tidak lepas dari takdir Allah, sebagaimana yang dilakukan penggembala yang mengarahkan kambingnya dari tanah yang tandus menuju tanah yang subur tidak lepas dari takdir Allah –pen.)

Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata, “Tiba-tiba datanglah Abdurrahman bin ‘Auf, yang sebelumnya tidak hadir karena keperluannya. Ia berkata, ‘Sungguh aku memiki ilmu tentang masalah ini. Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ بِأَرْضٍ فَلَا تَقْدَمُوا عَلَيْهِ، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلَا تَخْرُجُوا فِرَاراً مِنْهُ

‘Jika engkau mendengar wabah tha’un di sebuah negeri, maka janganlah kalian memasukinya. Dan seandainya wabah tha’un terjadi di negeri yang engkau tinggali, janganlah engkau meninggalkan negerimu karena lari dari tha’un’.”
Ibnu Abbas berkata, “(Begitu mendengar hadits tersebut), Umar memuji Allah lalu meninggalkan majelis.”

Takhrij Hadits

Riwayat Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma dikeluarkan al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab ath-Thib (Pengobatan), “Bab Tentang Penyakit Tha’un” (10/178 no. 5729 dengan Fathul Bari). Lihat pula no. 5730 dan 6973.
Diriwayatkan pula oleh al-Imam Muslim dalam ash-Shahih, Kitab As-Salam (4/1740 no. 2219), Abu Dawud dalam as-Sunan, Kitab Jenazah, “Bab Keluar dari Penyakit Tha’un” (no. 3103), al-Imam Ahmad dalam al-Musnad (1/194), Malik dalam al-Muwaththa’, dan Ibnu Sa’d dalam ath-Thabaqat al-Kubra.

Penjelasan Hadits

Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma mengabarkan kepada kita perjalanan Amirul Mukminin, Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu menuju Syam bersama rombongan sahabat di masa kekhilafahan beliau.

Badruddin Mahmud bin Ahmad al-‘Aini (wafat 855 H) rahimahullah berkata, “Perjalanan tersebut terjadi pada bulan Rabi’ul Akhir tahun 18 H. Adapun Khalifah bin Khayyath (wafat 240 H) menyebutkan bahwa keluarnya Umar menuju Syam kali itu terjadi di tahun 17 H untuk melihat keadaan rakyat dan para gubernur. Sebelumnya, di tahun 16 H, Umar juga pernah pergi ke Syam, yaitu ketika Abu Ubaidah ‘Amir bin al-Jarrah radhiallahu ‘anhu mengepung Baitul Maqdis (hingga dikuasai oleh kaum muslimin). Penduduk Baitul Maqdis menginginkan sulh (perjanjian damai) dilakukan oleh Umar sendiri. Oleh karena itu, pergilah beliau (menuju Syam) untuk tujuan tersebut. (Umdatul Qari, 21/283)5

Di tengah perjalanan, datang berita bahwa tha’un tengah melanda Syam. Umar bin al-Khaththab zdan para sahabat bermusyawarah merumuskan kebijakan menyikapi berita tersebut. Terjadi perbedaan pandangan di antara sahabat. Masing-masing memiliki ijtihad, apakah tetap melanjutkan perjalanan masuk ke Syam atau kembali ke Madinah. Dari musyawarah yang cukup panjang dan dengan segenap pertimbangan, Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu berijtihad memutuskan kembali ke Madinah bersama sahabat. Beliau radhiallahu ‘anhu merajihkan pendapat kebanyakan sahabat yang ternyata mencocoki sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dibawakan oleh Abdurrahman bin Auf radhiallahu ‘anhu.

Saudaraku, semoga Allah subhanahu wa ta’ala merahmati Anda. Tha’un adalah penyakit yang mewabah secara merata, menimpa wilayah tertentu, dengan takdir Allah subhanahu wa ta’ala. Tha’un memakan korban yang sangat banyak.

Tha’un yang terjadi di zaman Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu, yang dikisahkan dalam riwayat Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu terkenal sebagai tha’un ‘Amwas, nama sebuah kota di wilayah Palestina yang berjarak lebih kurang enam mil dari kota Ramallah.6

Menurut pendapat jumhur, Tha’un ‘Amwas terjadi pada tahun 18 H. Akibat wabah tersebut, sekitar 25 hingga 30 ribu muslimin meninggal. Termasuk di antara mereka adalah sahabat Abu Ubaidah ‘Amir bin al-Jarrah radhiallahu ‘anhu, salah seorang dari sepuluh sahabat yang mendapat jaminan jannah (masuk surga) dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tha’un ‘Amwas termasuk salah satu tanda kiamat yang telah dikabarkan sebelumnya oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya:

اعْدَدْ سِتًّا بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ: مَوْتِي، ثُمَّ فَتْحَ بَيْتِ الْمَقْدِسِ، ثُمَّ مَوْتَانِ يَأْخُذُ فِيْكُمْ كَقُعَاصِ الْغَنَمِ …

“Nantikan enam perkara sebelum hari kiamat: Kematianku, kemudian ditaklukkannya Baitul Maqdis, lalu kematian besar menimpa kalian seperti penyakit Qu’ash7 pada kambing ….” (HR. al-Bukhari dalam ash-Shahih, Kitab Jizyah, no. 3176 dari Auf bin Malik radhiallahu ‘anhu)8

Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Tanda kiamat yang disebut dalam hadits ini terwujud pada Tha’un ‘Amwas di masa kekhilafahan Umar, sesudah direbutnya Baitul Maqdis.” (Fathul Bari 6/278)

Iman Kepada Takdir, Pokok Keimanan

Kisah perjalanan Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu kita fokuskan dalam pembahasan ini untuk menunjukkan bagaimana sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beriman kepada takdir. Mereka memahami bahwa iman kepada takdir tidak bermakna putus asa dan lari dari usaha.

Perhatikan kisah di atas. Ketika Abu Ubaidah radhiallahu ‘anhu bertanya kepada Umar, “Apakah engkau akan lari dari takdir Allah subhanahu wa ta’ala dengan kembali ke Madinah?” Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu menjawab dengan sebuah permisalan yang indah tentang seorang penggembala yang selalu berusaha mencari tempat yang paling banyak rumputnya untuk hewan gembalaannya. Jika ia dapatkan dua lahan, yang satu gersang dan yang lain subur, tentu ia akan mengarahkan unta atau kambingnya menuju lahan yang subur. Semua itu tidak luput dari takdir Allah subhanahu wa ta’ala.

Iman kepada takdir adalah salah satu pokok keimanan yang ditunjukkan oleh Al-Qur’an, as-Sunnah, dan kesepakatan kaum mukminin. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu dengan qadar.” (al-Qamar: 49)

Hakikat iman kepada takdir adalah mengimani ilmu Allah subhanahu wa ta’ala yang Mahasempurna. Ilmu Allah subhanahu wa ta’ala meliputi segala sesuatu: yang belum terjadi, yang sedang terjadi, yang telah terjadi, dan yang tidak terjadi. Seandainya sesuatu yang tidak terjadi itu terjadi, Allah Mahatahu bagaimana terjadinya. Dengarlah firman Allah subhanahu wa ta’ala tentang penduduk neraka yang kekal di dalamnya ketika mengharapkan kembali ke alam dunia. Allah Mahatahu apa yang akan mereka lakukan seandainya dikembalikan ke dunia:

Dan jika kamu (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, lalu mereka berkata, “Kiranya kami dikembalikan (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Rabb kami, serta menjadi orang-orang yang beriman”, (tentulah kamu melihat suatu peristiwa yang mengharukan). Tetapi, (sebenarnya) telah nyata bagi mereka kejahatan yang mereka dahulu selalu menyembunyikannya. Sekiranya mereka dikembalikan ke dunia, tentulah mereka kembali kepada apa yang mereka telah dilarang mengerjakannya. Dan sesungguhnya mereka itu adalah pendusta-pendusta belaka. (al-An’am: 27—28)

Demikianlah ilmu Allah subhanahu wa ta’ala. Tidak ada sedikit pun yang luput dari ilmu-Nya. Berdasarkan ilmu yang sempurna itu, Allah subhanahu wa ta’ala menulis segala sesuatu yang akan terjadi di Lauhul Mahfuzh, 50 ribu tahun sebelum Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan langit dan bumi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كَتَبَ اللهُ مَقَادِيرَ الْخَلَائِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ

“Allah mencatat takdir-takdir makhluk-makhluk-Nya 50.000 tahun sebelum Dia ciptakan langit-langit dan bumi.” (HR. Muslim, Kitab al-Qadar, no. 2653 dari Abdullah bin ‘Amr radhiallahu ‘anhuma)

Apa yang telah tercatat dalam Lauhul Mahfuzh terjadi dengan rinci, satu per satu. Semua dengan penciptaan dari Allah subhanahu wa ta’ala dan di bawah kehendak-Nya. Tidak ada satu pun yang terlepas dari ilmu, kehendak, dan penciptaan Allah subhanahu wa ta’ala. Allahu Akbar.

Tidak Beriman, Orang yang Mengingkari Takdir

Pengingkar takdir bukanlah golongan orang yang beriman. Amalan mereka sia-sia dan tidak diterima oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Oleh karena itu, ketika sahabat Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma mendengar berita munculnya Qadariyah—yaitu kaum yang mengingkari takdir, yang ditokohi oleh Ma’bad al-Juhani—di Bashrah, dengan tegas Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma berkata:

فَإِذَا لَقِيتَ أُولَئِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنِّي بَرِيءٌ مِنْهُمْ وَأَنَّهُمْ بُرَآءُ مِنِّي، وَالَّذِي يَحْلِفُ بِهِ عَبْدُ اللهِ بْنُ عُمَرَ، لَوْ أَنَّ لِأَحَدِهِمْ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا فَأَنْفَقَهُ، مَا قَبِلَ اللهُ مِنْهُ حَتَّى يُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ

“Jika engkau berjumpa dengan mereka (Qadariyah), kabarkanlah bahwasanya aku berlepas diri dari mereka dan mereka berlepas diri dariku. Demi Dzat yang Abdullah bin Umar bersumpah dengan-Nya, seandainya salah seorang dari mereka memiliki emas sebesar Gunung Uhud lalu diinfakkan, sungguh Allah tidak akan menerimanya hingga ia beriman kepada takdir.”

Di atas keyakinan inilah para sahabat berpijak. Di atas akidah inilah salafus shalih bersandar. Al-Imam Ibnu Majah rahimahullah meriwayatkan kisah Ibnu Dailami rahimahullah saat ia mengadukan kegelisahan hatinya mengenai takdir kepada para sahabat radhiallahu ‘anhum hingga mendapatkan jawaban yang sangat menyejukkan.

Ibnu Dailami rahimahullah berkata, “Ada sesuatu yang tidak baik dalam diriku tentang takdir. Aku sangat khawatir hal ini merusak agama dan urusanku. Aku pun datang kepada Ubai bin Ka’b radhiallahu ‘anhu dan bertanya, ‘Wahai Abul Mundzir, sungguh dalam diriku ada bisikan yang kurang baik tentang takdir. Aku mengkhawatirkan agamaku dan urusanku. Nasihati aku tentang hal itu, semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberikan manfaat kepadaku dengannya.’

Ubai radhiallahu ‘anhu berkata, ‘(Wahai Ibnu Dailami, janganlah engkau bimbang dengan takdir). Seandainya Allah mengazab penduduk langit-langit dan bumi-Nya, sungguh Ia tidak menzalimi hamba-Nya. Demikian pula, seandainya Allah subhanahu wa ta’ala merahmati mereka (memasukkan mereka ke dalam jannah-Nya), sungguh rahmat-Nya melebihi amalan-amalan mereka.9 Seandainya engkau memiliki emas sejumlah Gunung Uhud yang engkau infakkan fi sabilillah, amalanmu tidak akan diterima hingga engkau beriman kepada takdir. Hingga engkau yakin bahwa apa yang telah ditakdirkan akan menimpamu tidak akan meleset darimu, dan apa yang ditakdirkan tidak menimpamu tidak akan menimpamu. Sungguh, seandainya engkau mati dalam keadaan tidak beriman kepada takdir, engkau akan masuk ke dalam neraka. (Wahai Ibnu Dailami), kalau engkau mau, pergilah kepada saudaraku, Abdullah bin Mas’ud dan bertanyalah.’

Aku pun mendatangi Ibnu Mas’ud dan bertanya kepadanya. Ternyata, ia menjawab seperti jawaban Ubai. Lalu Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata, ‘Coba engkau datangi Hudzaifah!’

Aku pun mendatangi beliau. Aku tanyakan masalahku. Beliau menjawab seperti jawaban Ibnu Mas’ud. Kemudian Hudzaifah berkata, ‘Cobalah engkau datangi Zaid bin Tsabit, tanyakan kepadanya!’

Aku pun bertanya kepada Zaid, lalu beliau berkata, ‘Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَوْ أَنَّ اللهَ عَذَّبَ أَهْلَ سَمَوَاتِهِ وَأَهْلَ أَرْضِهِ لَعَذَّبَهُمْ وَهُوَ غَيْرُ ظَالِمٍ لَهُمْ، وَلَوْ رَحِمَهُمْ لَكَانَتْ رَحْمَتُهُ خَيْرًا لَهُمْ مِنْ أَعْمَالِهِمْ. وَلَوْ كَانَ لَكَ مِثْلُ أُحُدٍ ذَهَبًا أَوْ مِثْلُ جَبَلِ أُحُدٍ تُنْفِقُهُ فِي سَبِيلِ اللهِ مَا قَبِلَهُ مِنْكَ حَتَّى تُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ كُلِّهِ. فَتَعَلَّمْ أَنَّ مَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ. وَمَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ. وَأَنَّكَ إِنْ مُتَّ عَلَى غَيْرِ هَذَا دَخَلْتَ النَّارَ

“Sungguh, seandainya Allah mengazab penduduk langit-langit-Nya dan bumi-Nya sungguh Dia mengazab tanpa menzalimi hamba-Nya. Demikian pula, seandainya Allah merahmati mereka (memasukkan mereka ke jannah-Nya), sungguh rahmat-Nya melebihi amalan-amalan mereka. Seandainya engkau memiliki emas sebesar Gunung Uhud yang engkau infakkan fi sabilillah, amalanmu tidak akan diterima hingga engkau beriman kepada takdir seluruhnya dan engkau meyakini bahwa apa yang telah ditakdirkan akan menimpamu tidak akan meleset darimu, apa yang ditakdirkan tidak menimpamu tidak akan mengenaimu. Sungguh, seandainya engkau mati tanpa beriman kepada takdir, engkau akan masuk ke dalam neraka.” (Muqaddimah Sunan Ibnu Majah, Bab al-Qadar, no. 77, disahihkan oleh al-Albani rahimahullah)

Renungilah jawaban para sahabat yang mulia saat Ibnu Dailami bertanya tentang takdir! Semua memiliki keyakinan yang sama tentang takdir. Sebuah keyakinan yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Di antara hadits yang menunjukkan takdir Allah subhanahu wa ta’ala adalah hadits Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya, setiap orang di antara kalian dikumpulkan penciptaannya dalam rahim ibunya selama empat puluh hari dalam bentuk nuthfah (air mani), kemudian menjadi ‘alaqah (segumpal darah) selama waktu itu juga, kemudian menjadi mudhghah (segumpal daging) selama itu juga. Setelah itu, diutuslah seorang malaikat kepadanya, kemudian meniupkan ruh kepadanya. Malaikat itu diperintahkan menulis empat kalimat: rezekinya, ajalnya, amalnya, dan nasib celaka atau keberuntungannya. Demi Allah, Dzat yang tiada sesembahan yang haq selain-Nya, sesungguhnya ada di antara kalian yang melakukan amalan penduduk surga hingga antara dirinya dan surga tinggal sejarak satu hasta. Namun, karena takdir yang telah ditetapkan atas dirinya, dia melakukan amalan penduduk neraka sehingga masuk ke dalamnya. Dan sesungguhnya, ada seseorang di antara kalian yang melakukan amalan penduduk neraka, dan amal itu mendekatkannya ke neraka sehingga jarak antara dia dan neraka hanya kurang satu hasta. Namun, karena takdir yang telah ditetapkan atas dirinya, dia melakukan amalan penduduk surga sehingga dia masuk ke dalamnya.”

Iman kepada Takdir Tidak Bermakna Mengabaikan Ikhtiar

Takdir bukan maknanya seseorang malas menempuh usaha. Ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjukkan pokok yang agung ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَعْجِزْ، فَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ: لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا؛ وَلَكِنْ قُلْ: قَدَّرَ اللهُ وَمَا شَاءَ فَعَلَ.

Bersemangatlah kamu menempuh apa yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah, dan jangan sekali-kali kamu malas. Jika sesuatu menimpamu, janganlah kamu katakan, “Seandainya dahulu aku lakukan ini dan itu, niscaya akan demikian dan demikian.” Namun, katakanlah, “Ini adalah takdir Allah, apa yang Ia kehendaki pasti terjadi.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membimbing umatnya untuk bersemangat berikhtiar, menempuh usaha yang bermanfaat dalam urusan dunia dan agama. Perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya untuk berusaha, beliau gabungkan dengan iman kepada takdir. Ini menunjukkan bahwa iman kepada takdir tidak bertentangan dengan usaha.

Benar, penduduk jannah (surga) telah ditetapkan, tidak akan meleset dari apa yang telah ditentukan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Demikian pula, penduduk neraka telah Dia tentukan, dan pasti mereka akan memasukinya. Namun, bersamaan dengan itu Allah subhanahu wa ta’ala memerintah kita untuk beramal. Sungguh, seorang yang jujur dalam beramal akan Dia mudahkan jalan menuju jannah-Nya. Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala adalah Dzat Yang Mahaadil, tidak menzalimi hamba-Nya. Sahabat Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu berkata:

Kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sedang menggores-gores tanah, ketika beliau mengangkat wajah ke langit lalu bersabda, “Tidak ada seorang pun di antara kalian melainkan telah diketahui—dalam riwayat Waki’: telah ditentukan—tempatnya di neraka dan tempatnya di Jannah.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah berarti kita bersandar saja (dengan takdir dan tidak beramal)?” Rasulullah bersabda, “Tidak, beramallah kalian, karena masing-masing akan dimudahkan kepada apa yang telah ditentukan untuknya.”10

Dalam riwayat lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan firman Allah subhanahu wa ta’ala:

“Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar.” (al-Lail: 5—10)

Mengapa Manusia Membedakan Urusan Dunia dan Akhirat?
Orang-orang yang malas beribadah, saat diingatkan tentang surga dan neraka, dengan enteng mengatakan, “Bukankah surga dan neraka sudah ditakdirkan? Apalah artinya beramal? Toh, seandainya aku beramal saleh tetapi neraka telah ditakdirkan untukku, akan sia-sia semua amalan. Sebaliknya, kalau aku malas beribadah namun surga telah ditakdirkan untukku, niscaya surga tidak akan lari dariku”

Saudaraku, ungkapan di atas sesungguhnya bisikan dan was-was setan. Dalam urusan akhirat, manusia dibujuk untuk meninggalkan amalan dan bersandar kepada takdir. Namun, dalam urusan dunia, setan terus mengembuskan syahwat dunia sehingga seorang berambisi terhadapnya dan melupakan negeri akhirat. Siang malam keringat diperas, semua kekuatan dicurahkan untuk mengais emas dan perak.

Sungguh sangat mengherankan! Dalam urusan akhirat, mereka meninggalkan ikhtiar. Namun, dalam urusan dunia, mereka sadar bahwa duduk di rumah dan bersandar kepada takdir tanpa usaha adalah bentuk kebodohan.
Dua sikap yang bertolak belakang ini sungguh mengherankan. Seharusnya manusia tidak membedakan urusan dunia dan akhirat dalam hal beriman terhadap takdir dan menempuh usaha. Sebagaimana ia berusaha mendapatkan rezeki di dunia, yang semuanya telah ditakdirkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, demikian pula seharusnya ia berusaha menempuh amalan yang menyelamatkan dirinya dari neraka dan melakukan amalan saleh demi kebahagiaannya di akhirat, yang semua itu juga telah ditakdirkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Beberapa Faedah Riwayat Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma

Perjalanan Amirul Mukminin, Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu, menyimpan banyak faedah dalam masalah akidah, ushul fiqih, hukum-hukum, dan adab. Berikut ini di antaranya.

  1. Seorang pemimpin hendaknya keluar untuk melihat sendiri keadaan rakyatnya.
  2. Perjalanan Umar radhiallahu ‘anhu adalah teladan dalam ketawadhuan. Beliau termasuk al-Khulafa’ ar-Rasyidin yang mendapat pujian dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan, beliau telah dijamin sebagai ahlul jannah. Namun, kemuliaan itu tidak menghalangi beliau untuk keluar melihat keadaan rakyatnya. Demikianlah seharusnya seorang pemimpin.
  3. Ketika pemimpin melihat sendiri keadaan rakyatnya, hal ini akan membuat takut musuh Allah subhanahu wa ta’ala dan ahlul fasad (pembuat kerusakan) sehingga mereka segera menghentikan kezaliman.
  4. Berkumpul dengan ulama, sebagaimana amir-amir Syam menjumpai Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu.
  5. Pentingnya musyawarah untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi, sebagaimana hal ini diperintahkan oleh Al-Qur’an dan dicontohkan oleh Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  6. Mendahulukan ahlul fadhl (orang-orang yang memiliki keutamaan dalam hal ilmu dan amal) dalam bermusyawarah.
  7. Menempatkan manusia sesuai kedudukan mereka. Kaum Muhajirin lebih mulia daripada kaum Anshar, dan kaum Anshar lebih mulia daripada sahabat yang baru masuk Islam ketika Fathu Makkah.
  8. Disyariatkan munazharah (diskusi ilmiah), sebagaimana yang terjadi antara Umar radhiallahu ‘anhu dan Abu Ubaidah Amir bin al-Jarrah radhiallahu ‘anhu. Melalui diskusi yang penuh adab, akan teranglah perkara yang samar dan tampaklah kebenaran.
  9. Adanya tarjih (menguatkan satu pendapat dari beberapa pendapat yang diperselisihkan, dengan memerhatikan faktor-faktor penguat yang mengitarinya).
    Dalam kisah ini, Umar radhiallahu ‘anhu memilih pendapat kembali ke Madinah, karena pendapat ini disepakati sesepuh Quraisy yang tentu memiliki banyak pengalaman sebagai orang tua, di samping pendapat ini adalah pendapat mayoritas Muhajirin dan Anshar.
  10. Hadits di atas menunjukkan kefaqihan dan keutamaan Umar radhiallahu ‘anhu dalam hal ilmu.

Hal ini dilihat dari sisi bahwa ijtihad beliau sesuai dengan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dibawa oleh Abdurrahman bin Auf radhiallahu ‘anhu setelah berjalannya musyawarah.

  1. Imam (khalifah) memutuskan perselisihan di kalangan umat dalam masalah ijtihadiah, sebagaimana Amirul Mukminin Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu memutuskan untuk kembali ke Madinah setelah adanya perbedaan pendapat dan memerintahkan rakyatnya mengikuti beliau.11
  2. Khilaf (perbedaan pendapat) dalam masalah ijtihadiah tidak menyebabkan terputusnya hubungan (boikot) atau saling mencela dan mengeluarkan pihak yang lain dari lingkaran Ahlus Sunnah, sebagaimana fenomena menyedihkan ini terjadi di sekitar kita. Allahul musta’an.
  3. Di antara sebab terjadinya khilaf di antara ulama adalah tidak sampainya dalil sehingga ulama terpaksa untuk berijtihad.
  4. Bolehnya ijtihad di saat safar atau peperangan.
  5. Boleh jadi suatu ilmu tidak diketahui oleh seorang yang alim.

Lihatlah Umar beserta sahabat Muhajirin dan Anshar. Mereka tidak mendengar hadits yang didengar oleh Abdurrahman ibnu Auf radhiallahu ‘anhu.

  1. Tetap mengambil ilmu meskipun dari orang yang lebih muda atau lebih rendah tingkat keilmuannya.
  2. Hadits ahad adalah hujjah dan wajib diamalkan.

Dalam kisah di atas, seluruh sahabat—yang tidak diragukan adalah ahlul halli wal ‘aqdi—bersepakat menerima berita Abdurrahman bin Auf radhiallahu ‘anhu, padahal beliau meriwayatkan hadits di atas seorang diri. Ini sekaligus bantahan terhadap Mu’tazilah dan sejalan dengan mereka dari kalangan para pengingkar hadits ahad.12

  1. Dipakainya qiyas dalam pengambilan hukum. Tentu saja dengan syarat-syaratnya, di antaranya tidak adanya nash.

Dalam kisah ini Umar mengiaskan masalah yang sedang dihadapi dengan seorang penggembala di hadapan dua lembah, yang satu gersang dan yang lain subur.
19. Semangat untuk kembali kepada al-haq (kebenaran) ketika terjadi perselisihan.

Jika ada nash, tidak ada lagi ijtihad, siapa pun orangnya. Jika telah datang dalil, yang ada hanyalah berserah diri kepada dalil tersebut.

  1. Al-Qur’an dan hadits adalah ilmu.

Hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh Abdurrahman bin Auf radhiallahu ‘anhu, “Aku memiliki ilmu.” Yang beliau maksud adalah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

  1. Menyampaikan ilmu ketika safar.
  2. Hadits ini juga menunjukkan sebuah masalah penting yang diyakini oleh para sahabat dan generasi salaf, yaitu beriman kepada takdir.
  3. Tidak ada sesuatu yang keluar dari takdir Allah subhanahu wa ta’ala. Masuk ke Syam atau tidak, semuanya dengan takdir.
  4. Iman kepada takdir tidak meniadakan usaha, sebagaimana halnya Umar memilih kembali ke Madinah, seperti penggembala unta berusaha menggiring untanya menuju lembah yang subur.
  5. Wali-wali Allah subhanahu wa ta’ala tidaklah ma’shum (terbebas dari kesalahan). Ketika berijtihad, mereka terkadang sesuai dengan al-haq, terkadang pula menyelisihinya.
  6. Wali-wali Allah subhanahu wa ta’ala tidak mengetahui urusan gaib.

Umar bin al-Khaththab, sahabat Muhajirin, dan sahabat Anshar radhiallahu ‘anhum, tidak mengetahui terjadinya tha’un ‘Amwas. Demikian pula, mereka tidak mengetahui ilmu yang diketahui oleh Abdurrahman bin ‘Auf sehingga mereka pun harus berijtihad.

  1. Wali-wali Allah subhanahu wa ta’ala selalu terikat dengan syariat: Al-Kitab dan as-Sunnah.

Lihatlah tiga orang yang dijamin masuk surga,: Umar bin al-Khaththab, Abu Ubaidah ‘Amir bin al-Jarrah, dan Abdurrahman bin ‘Auf, yang disebut namanya dalam hadits ini. Semuanya tunduk kepada hadits Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, demikian pula kaum Muhajirin dan Anshar yang juga merupakan wali-wali Allah subhanahu wa ta’ala.

  1. Terjadinya Tha’un ‘Amwas di masa Umar bin al-Khaththab adalah salah satu tanda kenabian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  2. Tidak memasuki negeri yang terjadi wabah tha’un di sana.
  3. Orang yang berada di dalam negeri yang terjadi tha’un padanya tidak boleh keluar karena lari dari tha’un.
  4. Mafhum dari sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, jika seorang keluar bukan karena lari dari tha’un, hal ini diperbolehkan.
  5. Menjauhkan diri dari sebab-sebab kebinasaan dan menempuh sebab-sebab keselamatan.
    33. Berbahagia dengan nikmat ilmu dan memuji Allah subhanahu wa ta’ala atas nikmat tersebut.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Katakanlah, “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (Yunus: 58)

Wallahu a’lam.

 Ditulis oleh al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc

Catatan Kaki:

1 Sargh adalah daerah di pinggiran Syam, di wadi (lembah) Tabuk.

2 Kota-kota Syam adalah Palestina, Jordania, Himsh, Damaskus, dan Qansirin.

3 Yakni Khalid bin al-Walid, Yazid bin Abi Sufyan, Syarahil bin Hasanah, dan Amr bin al-‘Ash radhiallahu ‘anhum.

4 Sahabat Muhajirin yang pertama adalah mereka yang shalat menghadap dua kiblat, Baitul Maqdis dan Ka’bah.

5 Jumhur ahli sejarah menyebutkan bahwa tahun dibukanya Baitul Maqdis dan kehadiran Umar untuk melakukan sulh adalah tahun 17 H.

6 Lihat Mu’jam al-Buldan (4/157).

7 Qu’ash adalah penyakit yang menimpa hewan, menyebabkan cairan mengalir dari hidung hewan tersebut dan mengakibatkannya mati mendadak. Lihat an-Nihayah (4/88) dan Fathul Bari (6/278).

8 ‘Auf radhiallahu ‘anhu berkata, “Ketika perang Tabuk, aku mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di tenda yang terbuat dari kulit. Beliau bersabda, ‘Nantikan enam perkara….’ dst.”

9 Maksudnya, janganlah engkau bimbang dengan takdir. Penduduk neraka sudah ditakdirkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, demikian pula penduduk jannah. Semua manusia telah Dia takdirkan tempatnya di surga atau neraka. Hendaknya keimananmu kepada takdir tidak membawamu su’uzhan (berburuk sangka) kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Allah subhanahu wa ta’ala tidak menzalimi hamba-Nya.

10 HR. at-Tirmidzi no. 2219 dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu. At-Tirmidzi berkata, “Hadits ini hasan sahih.”

11 Penentuan hilal Ramadhan dan Syawal, misalnya. Hendaknya masyarakat mengikuti keputusan waliyul amr (pemerintah), sehingga persatuan muslimin lebih terwujud dan kokoh, tidak terjadi pertikaian yang menyebabkan kelemahan di tubuh muslimin.

12 Lihat kembali pembahasan “Agungkan Sunnah, Penuhi Seruan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam”, Majalah Asy Syariah Vol. VI/no. 63/1431 H/2010.

 

Kesan Indah dalam Teguran

Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, beliau berkisah:

جَاءَ أَعْرَابِيٌّ فَبَالَ فِي طَائِفَةِ الْمَسْجِدِ فَزَجَرَهُ النَّاسُ فَنَهَاهُمْ النَّبِيُّ فَلَمَّا قَضَى بَوْلَهُ أَمَرَ النَّبِيُّ بِذَنُوبٍ مِنْ مَاءٍ فَأُهْرِيقَ عَلَيْهِ

“Seorang Arab badui datang. Ia lantas buang air kecil di salah satu sudut masjid. Orang-orang berusaha untuk menghalangi, namun Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam justru melarang mereka. Setelah ia selesai dari hajatnya, Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk menyediakan seember air. Kemudian, air tersebut diguyurkan ke tempat (buang air kecil) tersebut.”

Derajat Hadits

Hadits di atas diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari (no. 221) dan Muslim (no. 284 & 285).

Dalam riwayat Abu Dawud (ash-Shahihah, 380) ditambahkan lafadz yang menyebutkan, “Lalu orang badui tersebut berdoa, ‘Ya Allah, berikanlah rahmat untuk diriku dan Muhammad. Janganlah engkau merahmati orang lain selain kami.’ Nabi Muhammad menyatakan, ‘Sungguh, engkau telah mempersempit sesuatu yang luas’.”

Makna Hadits

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata menjelaskan hadits ini, “Pada umumnya, watak asli orang-orang Arab dari pedalaman (badui) adalah kaku dan jahil terhadap hukum-hukum Allah subhanahu wa ta’ala. Apa yang ada di dalam hadits Anas radhiallahu ‘anhu ini adalah salah satu contohnya. Seorang Arab badui masuk ke Masjid Nabi di kota Madinah. Saat itu, Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat sedang berada di dalam masjid. Orang badui tersebut lalu berjalan menuju salah satu sudut masjid, kemudian duduk dan buang air kecil. Perbuatan itu dianggap sebagai kesalahan besar oleh para sahabat. Mereka pun berteriak ingin menghalanginya. Akan tetapi, Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam malah melarang mereka, karena kelemahlembutan dan perhatian beliau terhadap orang jahil. Dengan hal ini, beliau sekaligus memberi pengajaran kepada umat agar mereka menyelesaikan berbagai persoalan dengan cara hikmah dan lemah lembut. Bisa jadi, jika orang badui tersebut dilarang, ia akan bangkit berdiri (sebelum selesai hajatnya) dan benda najis justru akan mengenai pakaian dan badannya, serta tercecer pada beberapa tempat di dalam masjid. Bahkan, ia akan mengalami gangguan karena menghentikan hajatnya secara terpaksa.

Setelah menyelesaikan hajatnya dan hilanglah hal-hal yang dikhawatirkan di atas, Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintah para sahabat menghilangkan bekas kencingnya dengan membersihkan tempat tersebut. Beliau  shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan tempat itu diguyur dengan menggunakan seember air.

Al-Imam Muslim rahimahullah menambahkan riwayat, “Setelah itu Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada orang badui tersebut, ‘Sesungguhnya, masjid tidaklah pantas untuk membuang air atau kotoran. Masjid hanyalah untuk berzikir kepada Allah subhanahu wa ta’ala, shalat, dan membaca Al-Qur’an.’ Atau sebagaimana yang disabdakan beliau.

Di dalam Shahih al-Bukhari, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintah para sahabat untuk membiarkannya. Setelah itu, beliau  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya, kalian diutus untuk memberi kemudahan. Kalian tidaklah diutus untuk menimbulkan kesusahan.” (Tanbihul Afham 1/87—88)

Asy-Syaikh Alu Bassam menerangkan alasan sikap lemah lembut Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap orang badui tersebut, yaitu agar nasihat dan pelajaran lebih mudah diterima saat beliau sampaikan. (Taisirul ‘Allam 1/88)

Menumbuhkan Mental Seorang Penasihat

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Ketahuilah, sesungguhnya pembahasan ini, yaitu amar ma’ruf nahi mungkar, telah sering diabaikan semenjak dahulu. Hanya sedikit yang tersisa. Kewajiban ini adalah urusan besar. Dengannya, urusan menjadi tegak dan kokoh, karena jika keburukan telah banyak menyebar, siksa akan dirasakan oleh orang baik dan orang jahat. Apabila mereka tidak mencegah perbuatan zalim, telah dekat masanya Allah subhanahu wa ta’ala akan menurunkan siksa secara merata. Hendaknya orang-orang yang menyelisihi perintah-Nya berhati-hati akan ditimpakan kepada mereka ujian atau azab yang pedih. Semestinya, para pencari akhirat dan pengejar ridha Allah subhanahu wa ta’ala memerhatikan kewajiban ini karena manfaatnya sangat besar. Lebih-lebih saat sebagian besar amar ma’ruf nahi mungkar telah hilang. Hendaknya ia mengikhlaskan niat dan tidak merasa takut terhadap orang yang ia ingkari karena kedudukannya amat tinggi.

Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Dan sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya.” (al-Hajj: 40)

Dan barang siapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (Ali Imran: 101)

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (al-Ankabut: 69)

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, “Kami telah beriman”, dan mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (al-Ankabut: 2—3)

Ketahuilah, pahala yang diperoleh itu sesuai dengan kadar kesulitan. Hendaknya, ia tidak meninggalkan kewajiban ini dengan alasan persahabatan, hubungan kasih sayang, sengaja mengelak, mencari muka, atau mempertahankan kedudukan. Sebab, persahabatan dan hubungan kasih sayang menghadirkan kehormatan dan hak. Sebagai bentuk haknya, ia memberinya nasihat, membimbingnya kepada kemaslahatan akhirat, dan menyelamatkan dirinya dari mudarat.

Teman dan kekasih adalah orang yang berusaha memperbaiki urusan akhiratnya meskipun menyebabkan dunianya berkurang. Adapun musuh adalah orang yang berupaya melenyapkan atau mengurangi urusan akhiratnya meskipun dengan itu ia memperoleh gambaran manfaat di dunia. Sesungguhnya, Iblis lah musuh kita, sedangkan para nabi adalah kekasih kaum mukminin karena usaha mereka untuk kemaslahatan akhirat dan hidayah mereka.

Kita memohon, agar Allah Yang Mahamulia mencurahkan taufik kepada kita, orang-orang tercinta, dan kaum muslimin secara keseluruhan sehingga memperoleh keridhaan-Nya. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala mencurahkan kedermawanan dan rahmat-Nya untuk kita. Wallahu a’lam.

Pelaksana amar ma’ruf nahi mungkar sendiri semestinya bersikap lemah lembut agar lebih memungkinkan meraih tujuan. Al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah pernah berpetuah, “Barang siapa menegur saudaranya secara diam-diam, ia telah memberikan untuknya nasihat dan menghiasi dirinya. Adapun seseorang yang menegur saudaranya secara terbuka (di muka umum), ia telah membuat saudaranya malu dan merasa buruk.”

Di antara bentuk amar ma’ruf nahi mungkar yang diremehkan oleh sebagian besar kaum muslimin adalah ketika seseorang menyaksikan orang lain menjual barang dagangan yang memiliki cacat atau semisalnya. Ia tidak mengingkarinya, tidak juga memberitahu si pembeli tentang cacat tersebut. Ini adalah kesalahan fatal. Para ulama telah menjelaskan bahwa orang yang mengetahuinya wajib mengingkari si penjual dan memberitahu si pembeli. Wallahu a’lam. (Syarah Shahih Muslim 2/24)

Agar Teguran Dirasakan Indah

Seorang muslim, pelaku dakwah, mesti mempertimbangkan banyak sisi dalam menjalani kehidupan pribadi seorang muslim, terutama dalam mengajak atau menegur. Berikut ini beberapa hal yang dapat kami sajikan.

  1. Teguran dan nasihat harus dilandasi asas kelembutan. Dengan demikian, pihak yang dinasihati atau ditegur akan benar-benar merasakan niat baik dari pihak yang memberi nasihat. Dengan asas kelembutan dan kasih sayang, nasihat dan teguran akan mudah diterima, mengena dalam hati, dan membuahkan berkah.
    Abu Umamah radhiallahu ‘anhu meriwayatkan, “Ada seorang pemuda menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, apakah Anda mengizinkan saya untuk berbuat zina?’ Para sahabat pun spontan bersuara. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bersabda, ‘Mendekatlah kemari!’ Pemuda itu lalu mendekat dan duduk di hadapan Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian bertanya, ‘Relakah engkau jika hal itu terjadi pada ibumu?’ Ia menjawab, ‘Tentu tidak, Allah menjadikan saya sebagai tebusanmu.’ Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Tentu demikian juga orang lain. Mereka tidak rela hal itu terjadi pada ibu mereka. Relakah engkau jika perbuatan tersebut terjadi pada putrimu?’ Ia menjawab, ‘Tentu tidak, Allah menjadikan saya sebagai tebusanmu.’ Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Tentu demikian juga orang lain. Mereka tidak rela hal itu terjadi pada putri mereka. Relakah engkau jika perbuatan tersebut terjadi pada saudara perempuanmu?’

(Ibnu Auf menambahkan, Rasulullah juga menyebut bibi [dari ayah dan ibu])
Pemuda itu selalu menjawab, ‘Tentu tidak, Allah menjadikan saya untuk tebusanmu.’
Kemudian Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan telapak tangan beliau di atas dada si pemuda, lalu mendoakannya:

اللَّهُمَّ طَهِّرْ قَلْبَهُ وَاغْفِرْ ذَنْبَهُ وَحَصِّنْ فَرْجَهُ

‘Ya Allah, sucikanlah hatinya, ampunilah dosanya, dan jagalah kemaluannya.’
Setelah itu, tidak ada sesuatu yang lebih ia benci daripada perbuatan zina.”
(HR. Ahmad 3/285, lihat ash-Shahihah, 1/645 no. 370)

Perhatikanlah! Kita dapat menyaksikan cara yang ditempuh oleh Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mengobati “penyakit” sang pemuda. Beliau  shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukannya dengan penuh kelembutan, kasih sayang, dan cinta. Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengambil sikap kasar, tidak pula menghadapinya dengan hati keras. Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam justru berbicara melalui akal sehat si pemuda, berusaha menguatkan ruh kebaikan pada dirinya, dan memadamkan api syahwat darinya.

Pembaca…
Pada kesempatan lain, seseorang datang menemui Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam sambil berkata, “Wahai Rasulullah, binasalah aku!” Rasulullah bertanya, “Apakah yang membuat dirimu binasa?” Ia menjawab, “Aku telah menggauli istriku pada siang hari bulan Ramadhan, padahal aku sedang berpuasa.” Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu memerintahkan agar ia memerdekakan seorang budak. Orang itu berkata, “Aku tidak punya.” Lantas, Rasulullah memerintahkannya untuk berpuasa selama dua bulan berturut-turut. Ia mengatakan, “Aku tidak akan mampu.” Kemudian, Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkannya untuk memberi makan enam puluh orang miskin. Ia berkata, “Aku tidak mampu.” Orang itu lalu duduk. Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu datang membawa sekeranjang kurma lalu bersabda, “Terimalah ini dan bersedekahlah dengannya!”

Ia berkata,

أَعَلَى أَفْقَرَ مِنِّي يَا رَسُولَ اللهِ؟ وَاللهِ مَا بَيْنَ لَابَتَيْهَا أَهْلُ بَيْتٍ أَفْقَرُ مِنِّي

“Apakah untuk orang yang lebih fakir dariku, wahai Rasulullah? Demi Allah, di antara dua gunung ini tidak ada keluarga yang lebih fakir daripada kami.”

Rasulullah pun tertawa hingga terlihat geraham beliau. Beliau  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Berikanlah untuk makan keluargamu sendiri!”

Hadits di atas, yang diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 1936) dan Muslim (no. 1111), hendaknya menjadi pegangan setiap muslim dalam hidupnya. Dalam kelembutan, ada samudra kebaikan. Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam pun tertawa, bukan tertawa biasa. Sebab, geraham beliau pun terlihat. Mengapa? Orang itu datang sambil mengatakan, “Binasalah aku!” Akan tetapi, ia pulang membawa keberuntungan. Bagaimana, jika salah seorang dari kita yang mengalaminya? Mungkin dengan mudah kita menyalahkan orang tersebut. Mungkin dengan ringan kita akan memperolok-olok dirinya. Atau bahkan, kita akan menghinanya hanya karena ia terjatuh dalam kesalahan. Hendaknya seorang muslim tidak merasa senang ketika saudaranya terjatuh dalam kesalahan. Sebaliknya, ia justru berusaha memperbaiki saudaranya sebagaimana halnya ia ingin dirinya baik.

Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Seseorang tidak boleh menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar melainkan jika ia memiliki tiga perangai: lemah lembut dalam mengajak dan melarang, bersikap adil dalam mengajak dan melarang, serta berilmu tentang apa yang diajak dan dilarangnya.” (al-Wara’, al-Imam Ahmad hlm. 166)

Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي الْأَمْرِ كُلِّهِ وَيُعْطِي عَلَيْهِ مَا لَا يُعْطِي عَلَى الْعُنْفِ

“Sesungguhnya Allah adalah Dzat Yang Mahalembut. Ia mencintai kelembutan dalam setiap hal. Ia akan memberikan (kebaikan) pada kelembutan sesuatu yang tidak Ia berikan pada kekerasan.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Sebagai bentuk kelembutan, ia menjaga harga diri dan kehormatan saudaranya yang muslim dengan memberi nasihat atau teguran secara baik dan tidak menceritakan kesalahannya ke sana-kemari. Al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah pernah memberikan petuah, “Barang siapa menegur saudaranya secara diam-diam, ia telah memberinya nasihat dan menghiasi dirinya. Adapun seseorang yang menegur saudaranya secara terbuka, ia telah membuat saudaranya malu dan merasa buruk.” (Syarah Shahih Muslim, an-Nawawi 2/24)

Lain halnya jika saudaranya melakukan kesalahan secara terang-terangan, merasa bangga, mengulanginya setelah ditegur, dan memberikan dampak buruk yang besar, ia dapat menegurnya secara terbuka agar khalayak umum dapat berhati-hati dan menghindarinya. Wallahu a’lam.

  1. Yang harus diperhatikan juga dalam amar ma’ruf nahi mungkar adalah penguasaan tentang kondisi orang, tabiat, watak masyarakat, dan waktu. Dengan demikian, cara penyampaian dan metode pelaksanaan akan sesuai dengan kadar dan kemampuan. Cara penyampaian kepada orang awam tentu berbeda dengan cara penyampaian kepada orang yang terpelajar. Demikian juga antara orang pandai dan orang jahil.

Abbas al-Anbari berkisah, “Aku pernah berjalan bersama Abu Abdillah (al-Imam Ahmad) di kota Basrah. Lalu aku mendengar seseorang berkata kepada orang lain, ‘Wahai anak zina!’ Orang itu pun membalas, ‘Apa anak zina!?’ Aku pun berhenti, sementara Abu Abdillah terus berjalan. Lalu, al-Imam Ahmad menoleh ke arahku, ‘Wahai Abul Fadhl, ayo terus jalan!’ Aku mengatakan, ‘Kita telah mendengar (apa yang mereka ucapkan), kita wajib (mengingatkan).’ Al-Imam Ahmad segera menjawab, ‘Peristiwa tadi tidak termasuk’.” (al-Amru bil Ma’ruf, al-Khallal hlm. 114)

Saat itu, al-Imam Ahmad tidak mengingatkan pelaku (yang mengucapkan kata-kata kotor) karena orang itu berasal dari kalangan rendahan.

  1. Saat menegur atau menyampaikan nasihat, pertimbangkanlah baik buruknya, maslahat dan mafsadahnya. Akankah memunculkan kebaikan, ataukah justru melahirkan kemungkaran yang lebih parah?

Ibnul Qayyim rahimahullah (I’lamul Muwaqqi’in 3/4) menjelaskan, “Sesungguhnya, Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menetapkan syariat untuk umatnya dalam hal mengingkari kemungkaran, dengan tujuan munculnya kebaikan yang dicintai oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya. Apabila konsekuensi dari mengingkari satu bentuk kemungkaran adalah menimbulkan kemungkaran yang lebih besar lagi dan lebih dimurkai oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya, tidak diperkenankan untuk mengingkarinya meskipun Allah subhanahu wa ta’ala membencinya dan membenci pelakunya. Siapa saja yang memerhatikan berbagai peristiwa yang pernah terjadi dalam Islam, baik besar maupun kecil, ia pasti menemukan bahwa ajaran semacam ini telah diabaikan.

Demikian juga kurangnya kesabaran dalam mengingkari kemungkaran sehingga ia berusaha menghilangkannya dengan tergesa-gesa. Akhirnya, usahanya justru menimbulkan kemungkaran yang jauh lebih parah. Sungguh, Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyaksikan kemungkaran terbesar di Makkah, namun beliau  shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak dapat mengubahnya.

Bahkan, sekalipun Makkah telah dibukakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala untuk beliau dan menjadi negeri Islam, ditambah keinginan kuat beliau untuk mengubah letak Ka’bah dengan mengembalikannya pada posisi fondasi Ibrahim. Akan tetapi, itu semua beliau  shallallahu ‘alaihi wa sallam urungkan, padahal beliau mampu. Beliau  shallallahu ‘alaihi wa sallam khawatir hal itu akan menimbulkan kemungkaran yang lebih parah, yaitu penolakan dari Quraisy, sementara mereka baru saja masuk ke dalam Islam dan baru beberapa saat terlepas dari kekafiran.”

Faedah Hadits

Hadits ini mengandung beberapa faedah. Kami menukilkannya dari penjelasan asy-Syaikh Muhammad al-Utsaimin rahimahullah dalam kitab Syarah Bulughul Maram, dengan beberapa perubahan.

  1. Orang jahil tidak dapat diajak berbicara sebagaimana orang pandai, namun mereka disikapi dengan kelembutan. Orang Arab badui tersebut menyangka bahwa sudut masjid yang lapang itu seperti tempat lapang biasa, dapat digunakan untuk buang air kecil.
  2. Keumuman watak masyarakat pedalaman adalah kejahilan. Sama halnya dengan masyarakat pedalaman, orang yang tidak aktif menghadiri majelis ilmu dan majelis ulama, seringnya akan mengalami kejahilan.
  3. Bertindak segera dalam mencegah kemungkaran. Sebab, para sahabat cepat-cepat mencegah kemungkaran dan melarang orang badui tersebut.
  4. Apabila satu bentuk kemungkaran tidak hilang melainkan dengan memunculkan kemungkaran yang lebih besar, untuk sementara boleh tidak diingkari. Artinya, kemungkaran itu didiamkan hingga tiba waktu yang tepat. Dalilnya adalah sikap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang para sahabat yang hendak menghentikan hajat orang badui tersebut. Penjelasannya telah diterangkan di atas.
  5. Tanah akan menjadi suci dengan menuangkan air di atasnya, tidak perlu menggalinya, seperti yang dikerjakan oleh sebagian orang. Cukup dengan menuangkan air pada tempat yang terkena najis, tanah pun menjadi suci. Namun, jika najis itu berbentuk benda, seperti tinja, benda najis tersebut dihilangkan baru kemudian dituangkan air pada tempatnya.
  6. Untuk menyucikan najis yang mengenai tanah tidak ditentukan jumlah tuangan air atasnya.
  7. Air seni manusia hukumnya najis. Oleh sebab itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan perintah untuk menyucikannya. Ada riwayat yang menjelaskan ancaman siksa untuk orang yang tidak membersihkan atau menyucikan diri dari air seni.
  8. Salah satu syarat sah shalat adalah kesucian tempat. Masjid adalah tempat melaksanakan shalat. Jika kesucian tempat bukan termasuk syarat shalat, tentu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan memerintah para sahabat untuk menuangkan air pada tempat tersebut.
  9. Tidak diperbolehkan meletakkan benda najis dalam masjid. Demikian juga membuang sampah di masjid meskipun sampah tersebut benda yang suci karena masjid harus dibersihkan dari kotoran dan sampah.
  10. Menjaga kesucian masjid adalah wajib hukumnya.
  11. Indahnya akhlak, metode pengajaran, dan hikmah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  12. Bagusnya cara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi penjelasan. Beliau membimbing, tidak pantas benda kotor dan najis berada di dalam masjid. Masjid dibangun untuk melaksanakan ibadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala, seperti shalat, zikir, dan yang semisalnya.
  13. Aktivitas keduniaan tidak seharusnya dilakukan di dalam masjid. Masjid tidak boleh digunakan untuk kegiatan jual beli, mengumumkan kehilangan barang, atau melakukan profesi usaha. Contoh mudahnya, seorang penjahit diharamkan bekerja menjahit di dalam masjid karena masjid dibangun hanyalah untuk mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Semoga ringkasnya pembahasan ini tidak mengurangi manfaat yang diperoleh. Mudah-mudahan semakin bertambahnya ilmu dan pengalaman, beriring dengan perjalanan waktu, Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan kita sebagai hamba yang selalu berhias dengan sifat hikmah dan kelembutan. Sesungguhnya Allah Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Wallahu a’lam.

Ditulis oleh Al-Ustadz Mukhtar Ibnu Rifai

Agungkan Sunnah, Penuhi Seruan Rasulullah

Ad-Darimi[1] rahimahullah meriwayatkan dari Miqdam bin Ma’dikarib radhiallahu ‘anhu:

أَنَّ رَسُولَ الله حَرَّمَ أَشْيَاءَ يَوْمَ خَيْبَرٍ، الْحِمَارَ وَغَيْرَهُ ثُمَّ قَالَ: لَيُوشِكُ الرَّجُلُ مُتَّكِئًا عَلَى أَرِيكَتِه يُحَدَّثُ بِحَدِيْثِي فَيَقُولُ: بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ كِتَابُ اللهِ، مَا وَجَدْنَا فِيهِ مِنْ حَلَالٍ اسْتَحْلَلْنَاهُ وَمَا وَجَدْنَاهُ فِيهِ مِنْ حَرَامٍ حَرَّمْنَاهُ. أَلَاوَإِنَّ مَا حَرَّمَ رَسُولُ الله فَهُوَ مِثْلُ مَا حَرَّمَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengharamkan beberapa perkara pada hari khaibar, yaitu keledai dan lainnya. Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Telah dekat (munculnya) seseorang, ia bertelekan di atas dipannya, disampaikan kepadanya haditsku, (namun dia menolaknya) seraya berkata, ‘(Cukuplah) di antara kita dan kalian Kitabullah. Apa yang kita dapatkan dalam Kitabullah halal kita halalkan, dan apa yang kita dapatkan di dalamnya haram kita haramkan’.” (Kemudian Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,) “Ketahuilah, sesungguhnya apa yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam haramkan sama dengan apa yang Allah haramkan.”

 

Takhrij Hadits

Ad-Darimi rahimahullah meriwayatkan hadits ini dalam Muqaddimah Sunannya, Bab “As-Sunnah Qadhiyatun ‘ala Kitabillah” no. 590 dari Asad bin Musa dari Mu’awiyah bin Shalih dari al-Hasan bin Jabir dari Miqdam bin Ma’dikarib radhiallahu ‘anhu.

Guru beliau, Asad bin Musa, adalah Ibnu Ibrahim bin al-Walid bin Abdil Malik al-Umawi. Asadus-Sunnah (singanya sunnah), demikian ia dijuluki. Ibnu Hajar rahimahullah menyatakan, “Shaduq, Yughrib (jujur namun sering meriwayatkan halhal yang aneh).”

Tentang Mu’awiyah bin Shalih bin Hudair al-Hadhrami al-Himshi. Abu Zur’ah ar-Razi dan an-Nasa’i rahimahumallah berkata, “Tsiqah (tepercaya).” (al-Jarh wat-Ta’dil [8/382])

Al-’Ijli rahimahullah berkata, “Tsiqah.” (Tarikh ats-Tsiqat hlm. 432)

Sedangkan Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Shaduq lahu auham (jujur namun memiliki beberapa kekeliruan).”

Adapun al-Hasan bin Jabir al-Lakhmi al-Kindi, Ibnu Hibban rahimahullah menyebutkannya dalam ats-Tsiqat (4/125). Sedangkan Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Maqbul.” (Haditsnya diterima jika ada penguat, jika tidak, maka lemah); dan hadits ini termasuk hadits yang memiliki penguat-penguat.

Melalui jalan Mu’awiyah bin Shalih dari al-Hasan bin Jabir dari Miqdam bin Ma’dikarib radhiallahu ‘anhu, at-Tirmidzi rahimahullah meriwayatkan dalam Sunan-nya, Kitab “Al-Ilmu bab Ma Naha ‘anhu An Yuqala ‘ala Haditsin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam” no. 2664. Demikian pula Ibnu Majah rahimahullah dalam Muqaddimah Sunan-nya “Bab Ta’zhimu Haditsi Rasulillah shallallahu ‘alaihi wa sallam wat Taghlizh ‘ala Man ‘Aradhahu” no. 12.

Adapun Abu Dawud rahimahullah, beliau meriwayatkan hadits Miqdam bin Ma’dikarib radhiallahu ‘anhu dalam As-Sunan “Kitab As-Sunnah bab Fi Luzumi As-Sunnah” no. 4604—dengan sanad yang semua rawinya tsiqah—dari gurunya, Abdul Wahhab bin Najdah dari Abu ‘Amr bin Katsir bin Dinar dari Harits bin ‘Utsman dari Abdurrahman bin Abi ‘Auf dari Miqdam bin Ma’dikarib radhiallahu ‘anhu secara marfu’ (sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) dengan lafadz:

أَلَا إِنِّي أُوْتِيْتُ الْكِتَابَ وَمِثْلَهُ مَعَهُ، أَلَا يُوْشِكُ رَجَلٌ شَبْعَانُ عَلَى أَرِيكَتِه يَقُولُ: عَلَيْكُمْ بِهَذَا الْقُرْآنِ. فَمَا وَجَدْتُمْ فِيهِ مِنْ حَلَالٍ فَأَحِلُّوهُ وَمَا وَجَدْتُمْ فِيهِ مِنْ حَرَامٍ فَحَرِّمُوهُ؛ أَلَا لَا يَحِلُّ لَكُمْ لَحْمُ الْحِمَارِ الْأَهْلِي وَلَا كُلُّ ذِي نَابٍ مِنَ السبعِ الْحَدِيثَ

“Ketahuilah, sesungguhnya aku diberi Al-Kitab dan yang semisalnya bersamanya (yakni Al-Hadits). Ketahuilah, telah dekat (munculnya) seorang yang kenyang di atas dipannya berkata, ‘(Cukuplah) kalian dengan Al-Qur’an ini (tidak perlu pada hadits Nabi–pen.). Apa yang kalian dapatkan dalam Al-Qur’an halal maka halalkanlah, dan apa yang kalian dapatkan di dalamnya haram maka haramkanlah’.” (Kemudian Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda), “Ketahuilah, tidak halal bagi kalian daging himar peliharaan, tidak halal pula semua yang bertaring dari hewan buas …” (Al-Hadits)

Hadits Miqdam bin Ma’dikarib radhiallahu ‘anhu memiliki syawahid (penguat) dari hadits Abu Rafi’ al-Anshari radhiallahu ‘anhu[2] dan hadits Jabir radhiallahu ‘anhu.

Hadits Miqdam radhiallahu ‘anhu sahih dengan semua jalan dan syawahidnya. Asy-Syaikh al-Albani rahimahullah mensahihkannya dalam Shahih at-Tirmidzi. Walhamdulillah.

 

Makna Hadits

Ada berita dan bimbingan dalam sabda yang agung ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitakan akan munculnya pengingkar sunnah. Mereka menolak hadits-hadits Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan melemparnya ke belakang punggung dengan sombong sebagaimana digambarkan; kaum yang kenyang dan bertelekan di atas dipan-dipan[3].

Dalam upayanya mengingkari sunnah, mereka berkata, “(Cukuplah) kalian dengan Al-Qur’an ini, apa yang kalian dapatkan dalam Al-Qur’an halal maka halalkanlah, dan apa yang kalian dapatkan di dalamnya haram maka haramkanlah.” Adapun hadits-hadits Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka picingkan mata dan mereka berpaling darinya.

Merekalah yang lebih dikenal sebagai Qur’aniyyun atau inkarus sunnah. Dengan ucapan yang batil ini, mereka tidak sadar akan banyaknya ayat Al-Qur’an yang dengan tegas memerintahkan mereka untuk berpegang teguh pada sabdasabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antaranya firman Allah subhanahu wa ta’ala:

وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمۡ عَنۡهُ فَٱنتَهُواْۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ ٧

“Dan apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah, dan bertakwalah kalian kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya.” (al-Hasyr: 7)

Saudaraku, jika bukan dari sabda-sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari mana kita akan mengerti tata cara shalat? Dari mana kita mengerti tata cara haji? Dari mana pula kita mengerti rincian-rincian dari apa yang disebutkan dalam Al-Qur’an secara mujmal (global)? Orang yang berakal sehat tentu akan menjawab, “Kita hanya akan mengerti itu semua dari sabda-sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam!”

Suatu hari, sahabat ‘Imran bin al-Hushain radhiallahu ‘anhu[4] berada di sebuah majelis bersama murid-muridnya. Tiba-tiba seseorang berkata, “Jangan kau sampaikan kepada kami kecuali Al-Qur’an!”

‘Imran radhiallahu ‘anhu berkata, “Dekatkan orang ini kepadaku!” Kemudian ‘Imran radhiallahu ‘anhu berkata kepadanya, “Wahai fulan, apa pendapatmu, seandainya kau dan teman-temanmu dihadapkan pada Al-Qur’an, akankah kau dapatkan di dalamnya shalat dzuhur empat rakaat, shalat ashar empat rakaat, shalat maghrib tiga rakaat dengan men-jahar-kan bacaan pada dua rakaat (pertama)? Apa pula pendapatmu seandainya kau dan teman-temanmu dihadapkan pada Al-Qur’an, akankah kau dapatkan thawaf (mengelilingi Ka’bah) itu tujuh putaran? Demikian pula (sa’i di) Shafa dan Marwah (tujuh kali)?”

Kemudian Imran bin al-Hushain radhiallahu ‘anhu berkata:

أَيْ قَوْمُ، خُذُوا عَنَّا، فَإِنَّكُمْ وَاللهِ، إِنْ لَا تَفْعَلُوا لَتَضِلُّنَّ

“Wahai kaum, ambillah dari kami (hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), karena kalian—demi Allah—seandainya tidak melakukannya pasti akan tersesat.” Kisah ini diriwayatkan al-Khatib al-Baghdadi rahimahullah dalam al-Kifayah (hlm. 38) dari beberapa jalan dari al-Hasan al-Bashri rahimahullah.

Serupa dengan ucapan Imran bin al-Hushain radhiallahu ‘anhu, al-Hakim rahimahullah dalam Ma’rifah ‘Ulumul Hadits (hlm. 65) dan al-Khatib rahimahullah dalam al-Kifayah (hlm. 49) meriwayatkan dari al-Auza’i rahimahullah, dia berkata, Ayub as-Sikhtiyani rahimahullah berkata:

إِذَا حَدَّثْتَ الرَّجُلَ بِالسُّنَّةِ فَقَالَ: دَعْنَا مِنْ هَذَا وَحَدِّثْنَا مِنَ الْقُرْآنِ؛ فَاعْلَمْ أَنَّهُ ضَالٌّ مُضِلٌّ

“Jika engkau sampaikan sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada seseorang, namun dia (justru) berkata, ‘Tinggalkan ini, sampaikan saja kepada kami Al-Qur’an!’, ketahuilah sesungguhnya dia adalah orang yang sesat dan menyesatkan!”

Betapa banyak syariat Islam diterangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits-haditsnya. Betapa banyak pula ayat-ayat Al-Qur’an dirinci dalam sabda-sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka tidak ada keraguan sedikitpun bahwasanya menolak hadits-hadits Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bermakna meruntuhkan Islam, serta pelakunya sesat dan menyesatkan.

Di samping berisi berita, hadits Miqdam radhiallahu ‘anhu mengandung bimbingan bagi umat ini untuk berhati-hati dari kaum tersebut—atau yang sepaham dengan mereka—dan berusaha membentengi diri dari kesesatan mereka, tentu dengan selalu berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala agar dilindungi dari segala fitnah. Wabillahit taufiq.

 permata

Kedudukan Sunnah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam

Sebelum kita berbicara lebih jauh tentang Sunnah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, ada satu hal yang perlu kita dudukkan yaitu: Apa yang dimaksud dengan sunnah dalam pembahasan kita?

Sunnah yang kita kehendaki bukanlah sunnah yang didefinisikan dalam ilmu ushul fiqh sebagai “Perkara yang jika dilakukan akan mendapat pahala dan jika ditinggalkan tidak berdosa,” atau yang diistilahkan pula dengan mustahab.

Namun, sunnah yang kita maksudkan adalah ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam secara umum, yaitu risalah yang beliau bawa, baik Al-Qur’an ataupun Al-Hadits. Sunnah dengan makna inilah yang disebut dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِيْ فَلَيْسَ مِنّيِ

“Barangsiapa membenci sunnahku (yakni ajaranku baik Al-Qur’an atau Hadits, pen.) maka dia bukan dari golonganku.” (HR. Muslim dalam ash-Shahih no. 1401 dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu)

Allah subhanahu wa ta’ala turunkan Al-Qur’an kepada Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Allah subhanahu wa ta’ala perintahkan beliau untuk menerangkannya kepada manusia dengan sabda-sabda beliau yaitu Al-Hadits. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَأَنزَلۡنَآ إِلَيۡكَ ٱلذِّكۡرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيۡهِمۡ

“Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur’an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka.” (an-Nahl: 44)

Demikianlah tugas Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam . Membacakan kepada manusia apa yang Allah subhanahu wa ta’ala wahyukan kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa Al-Qur’an dan Al-Hadits, sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala ingatkan nikmat ini dalam firman-Nya:

لَقَدۡ مَنَّ ٱللَّهُ عَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِينَ إِذۡ بَعَثَ فِيهِمۡ رَسُولٗا مِّنۡ أَنفُسِهِمۡ يَتۡلُواْ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمۡ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ وَإِن كَانُواْ مِن قَبۡلُ لَفِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٍ ١٦٤

“Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, serta mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah (Al-Hadits). Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (Ali Imran: 164 )

Jadi, semua yang datang dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam baik Al-Qur’an maupun Al-Hadits, adalah sunnah (ajaran) beliau yang wajib diagungkan dan dimuliakan. Tidak boleh bagi siapa pun meremehkan apalagi membencinya. Hal itu karena sunnah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah wahyu Allah subhanahu wa ta’ala, sebagaimana dalam firman-Nya:

وَمَا يَنطِقُ عَنِ ٱلۡهَوَىٰٓ ٣ إِنۡ هُوَ إِلَّا وَحۡيٞ يُوحَىٰ ٤

“Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (an-Najm: 3—4)

Demikian pula wajib bagi kita mengagungkan sunnah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan ittiba’ (mengikuti) sunnah beliau sebagai bukti kecintaan kepada-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

قُلۡ إِن كُنتُمۡ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِي يُحۡبِبۡكُمُ ٱللَّهُ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۚ وَٱللَّهُ غَفُورٞ رَّحِيمٞ ٣١

Katakanlah (wahai Nabi), “Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Ali ‘Imran: 31)

Bahkan Allah subhanahu wa ta’ala bersumpah dengan diri-Nya, bahwa seseorang tidaklah beriman hingga menjadikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai hakim (pemutus perkara) atas segala hal yang diperselisihkan.[5] Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

        فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤۡمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيۡنَهُمۡ ثُمَّ لَا يَجِدُواْ فِيٓ أَنفُسِهِمۡ حَرَجٗا مِّمَّا قَضَيۡتَ وَيُسَلِّمُواْ تَسۡلِيمٗا ٦٥

“Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (an-Nisa: 65)

        Jika telah jelas kemuliaan dan keagungan sabda-sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka semua yang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sabdakan adalah syariat yang wajib diagungkan dan wajib diamalkan, meskipun tidak tersebut dalam Al-Qur’an.

Mari kita kembali pada hadits Miqdam radhiallahu ‘anhu. Beliau memberitakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengharamkan daging himar pada perang Khaibar. Pengharaman ini wajib diterima meskipun tidak terdapat dalam Al-Qur’an. Beliau mengharamkan pula semua yang bertaring dari hewan buas seperti singa, harimau, dan sejenisnya. Pengharaman ini pun wajib diagungkan dan diterima, meskipun Al-Qur’an tidak menyebutkannya, karena apa yang diharamkan oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam sama dengan apa yang diharamkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam Kitab-Nya, sebagaimana ditegaskan sendiri oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

أَلَا وَإِنَّ مَا حَرَّمَ رَسُولُ الله فَهُوَ مِثْلُ مَا حَرَّمَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ

“Ketahuilah, sungguh apa yang diharamkan Rasulullah seperti apa yang diharamkan Allah ‘azza wa jalla.”

 

Pengagungan Salaf terhadap Sunnah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam

Para sahabat radhiallahu ‘anhum adalah teladan dalam mengagungkan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik di masa hidup beliau maupun sesudah wafatnya. Demikian pula generasi terbaik berikutnya, tabi’in, atba’ut tabi’in, dan orang-orang yang berjalan di atas jalan mereka.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Sungguh pada generasi pendahulu (salaf) umat ini, pengingkaran dan kemarahan mereka demikian hebat kepada orang yang menolak hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan ra’yu (akal), qiyas, istihsan (anggapan baik), atau ucapan manusia—siapa pun orangnya—, … bahkan, mereka meng-hajr (memutuskan hubungan) dengan pelakunya. Bahkan, generasi pendahulu (salaf) dari umat ini tidaklah membenarkan melainkan wajibnya tunduk, berserah diri, serta mendengar dan taat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Tidak pernah terbetik dalam benak-benak salaf untuk tawaqquf (menunda menerima sunnah) hingga ada pengamalan, qiyas (analogi), atau ucapan fulan dan fulan yang mencocoki sunnah (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam). Bahkan yang mereka lakukan adalah mengamalkan firman Allah subhanahu wa ta’ala:

وَمَا كَانَ لِمُؤۡمِنٖ وَلَا مُؤۡمِنَةٍ إِذَا قَضَى ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥٓ أَمۡرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ ٱلۡخِيَرَةُ مِنۡ أَمۡرِهِمۡۗ وَمَن يَعۡصِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدۡ ضَلَّ ضَلَٰلٗا مُّبِينٗا ٣٦

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguh dia telah sesat, sesat yang nyata.” (al-Ahzab: 36)[6]

Suatu hari—sebagaimana dikisahkan oleh Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu—Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat dengan mengenakan alas kaki. Di tengah shalatnya beliau melepasnya. Seketika itu pula, para sahabat ikut melepas sandal-sandal mereka. Seusai shalat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Apa gerangan yang membuat kalian melepas sandal-sandal kalian?”

Mereka berkata, “Wahai Rasulullah, kami melihat engkau melepas alas kaki, kami pun melepas alas kaki-alas kaki kami.”[7]

Demikianlah para sahabat radhiallahu ‘anhum. Dengan segera mereka mengikuti Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam segala gerak-geriknya, karena pengagungan mereka terhadap sunnah serta karena keimanan bahwasanya tidak ada kebahagiaan dan keselamatan kecuali dengan mengikuti segala yang dibawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 sandal-jadul

Akibat yang Allah subhanahu wa ta’ala Timpakan bagi Pengingkar Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Mengingkari sunnah adalah alamat kebinasaan dan petaka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَثَلِي كَمَثَلِ رَجُلٍ اسْتَوْقَدَ نَارًا فَلَمَّا أَضَاءَتْ مَا حَوْلَهَا جَعَلَ الْفَرَاشُ وَهَذِهِ الدَّوَابُّ الَّتي في النَّارِ يَقَعْنَ فِيهَا وَجَعَلَ يَحْجُزُهُنَّ وَيَغْلِبْنَهُ فَيَتَقَحَّمْنَ فِيهَا. قَالَ: فَذَلِكُمْ مَثَلِي وَمَثَلُكُمْ، أَنَا آخِذٌ بِحُجَزِكُمْ عَنِ النَّارِ، هَلُمَّ عَنِ النَّارِ، هَلُمَّ عَنْ النَّارِ، فَتَغْلِبُونِي تَقَحَّمُونَ فِيهَا

“Permisalan diriku seperti orang yang menyalakan api. Ketika api telah menyinari apa yang ada di sekelilingnya berdatanganlah serangga-serangga beterbangan mendekati api, sementara orang ini berusaha menghalangi dari api namun hewan-hewan itu (tidak menghiraukan) bahkan menerobosnya, hingga mereka berjatuhan ke dalamnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Itulah permisalan diriku dan diri kalian. Aku mengambil ikat-ikat pinggang kalian untuk menyelamatkan dari neraka, ‘Jauhilah neraka! Jauhilah dari neraka!’ Tetapi kalian (kebanyakan umatku tidak menghiraukanku) bahkan menerobosnya, dan kalian berjatuhan ke dalam neraka.”[8]

Saudaraku, meskipun apa yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sampaikan adalah perkara yang disunnahkan seperti puasa Senin-Kamis, siwak, atau perkara mustahab lainnya, namun yang harus selalu kita ingat dan kita tanyakan pada diri kita adalah, “Siapa yang mengucapkan sabda ini dan dari mana sabda ini bersumber?”

Jawabnya adalah, “Ini adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang bersumber dari wahyu Allah subhanahu wa ta’ala!”

Seorang yang selalu sadar hakikat ini, dia akan jauh dari sikap mengolok-olok ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meskipun itu perkara yang mustahab, dan meskipun dia belum mampu melaksanakannya karena lemahnya iman yang ada pada dirinya.

Namun kini, kita menyaksikan perkara yang menyedihkan. Bukan perkara mustahab saja yang dilecehkan. Bahkan perkara wajib pun menjadi bahan cemoohan. Wanita berkerudung—apa lagi yang bercadar—diejek dan ditertawakan. Sementara wanita-wanita fasik yang tidak berbaju—bahkan di antara mereka wanita-wanita kafir—justru menjadi pujaan. Allahul musta’an, kepada Allah subhanahu wa ta’ala sajalah kita mengadu, dan hanya kepada-Nyalah kita merintih kepedihan ini.

Pelecehan kain di atas mata kaki dan jenggot adalah lembaran lain dari sejumlah kesedihan kita akan jauhnya umat dari ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Meskipun terkadang kita masih memberikan alasan pada kebanyakan kaum muslimin, mungkin mereka tidak tahu bahwa Nabi mereka shallallahu ‘alaihi wa sallam berjenggot lebat. Mungkin mereka tidak paham tatkala membaca Al-Qur’an bahwa jenggot adalah sunnah nabi-nabi sebelum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seperti firman Allah subhanahu wa ta’ala tatkala mengisahkan Musa dan Harun ‘alaihimassalam:

قَالَ يَبۡنَؤُمَّ لَا تَأۡخُذۡ بِلِحۡيَتِي وَلَا بِرَأۡسِيٓۖ إِنِّي خَشِيتُ أَن تَقُولَ فَرَّقۡتَ بَيۡنَ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ وَلَمۡ تَرۡقُبۡ قَوۡلِي ٩٤

Harun menjawab, “Wahai putra ibuku, janganlah kamu pegang jenggotku dan jangan (pula) kepalaku. Sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan berkata (kepadaku), ‘Kamu telah memecah antara Bani Israil dan kamu tidak memelihara amanatku’.” (Thaha: 94)

Hanya doa dan permohonan kepada-Nya, semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberi hidayah atas umat ini dan semoga Allah subhanahu wa ta’ala muliakan negeri ini dengan mengagungkan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Wahai orang-orang yang meremehkan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, hendaknya kalian takut akan akibat buruk yang akan menimpa kalian jika tidak segera bertaubat dan kembali kepada jalan yang lurus. Al-Imam Ahmad rahimahullah berkata, “Aku heran terhadap suatu kaum yang mengerti sanad hadits dan kesahihannya, akan tetapi mereka lebih mengutamakan pendapat Sufyan. Padahal Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

فَلۡيَحۡذَرِ ٱلَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنۡ أَمۡرِهِۦٓ أَن تُصِيبَهُمۡ فِتۡنَةٌ أَوۡ يُصِيبَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٌ ٦٣

“… maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa fitnah (cobaan) atau ditimpa azab yang pedih.” (an-Nur: 63)

Kemudian al-Imam Ahmad rahimahullah berkata, “Tahukah kalian apa itu fitnah? Fitnah itu adalah syirik. Bisa jadi dengan sebab dia menolak sebagian sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, muncul dalam hatinya penyimpangan hingga dia binasa karenanya.”[9]

 

Slogan-Slogan yang Mencampakkan Sunnah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam

Berpegang pada sunnah Rasul di zaman yang penuh fitnah ini ibarat seorang menggenggam bara api. Sebagaimana digambarkan dalam hadits Abu Dzar al-Ghifari radhiallahu ‘anhu.

Pengingkaran terhadap sunnah banyak terjadi di sekitar kita. Qur’aniyun atau kelompok Inkarus sunnah adalah salah satu model para pengingkar sunnah yang jauh-jauh hari telah diperingatkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits al-Miqdam bin Ma’dikarib radhiallahu ‘anhu.

Model pengingkaran sunnah sangat beragam. Ada yang terang-terangan sebagaimana mereka yang tersebut dalam hadits Miqdam radhiallahu ‘anhu. Ada pula pengingkaran terselubung berupa syubhat (kerancuan) dan slogan yang diembuskan di tengah umat untuk menjauhkan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari sanubari kaum muslimin.

Tetapi anehnya, pengingkaran tersebut seringkali justru terucap dari orang-orang Islam yang ditokohkan atau melalui institusi-institusi yang membawa bendera Islam.

Sesungguhnya, banyak faktor yang mendorong mereka menjatuhkan dirinya ke dalam fitnah yang berbahaya ini. Boleh jadi karena kebodohan terhadap sunnah, atau mereka telah terbelenggu dalam penjara fanatisme mazhab, atau sengaja mereka korbankan sunnah demi kepentingan politik, atau bahkan ada di antara mereka yang memang menjadi corong orang-orang kafir dan munafik, para pengagung orientalis yang demikian gencar berusaha menjauhkan umat Islam dari sunnah Rasulullahn.

Saudaraku, di kesempatan ini mari kita simak beberapa slogan atau syubhat yang bertujuan mengikis pengagungan sunnah dari diri seorang muslim, yang berujung pada meninggalkan sunnah Rasul. Dengan memohon taufik dari Allah subhanahu wa ta’ala, syubhat-syubhat tadi akan kita paparkan berikut sebagian dari bantahannya. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala menyelamatkan kita dari makar dan tipudaya setan.

 syiah-sesat

Pertama: Mencela sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai pembawa risalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Cara ini ditempuh orang-orang Rafidhah (Syi’ah), munafik, dan yang membebek di belakang mereka. Mereka masih gentar dan takut mencela langsung Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tetapi mereka punya makar yang sangat busuk di tengah-tengah umat yaitu melunturkan kepercayaan umat kepada generasi terbaik, pembawa Al-Qur’an dan Al-Hadits.

Celaan demi celaan pun dilontarkan kepada para sahabat, terlebih sahabat yang banyak meriwayatkan hadits seperti Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu. Jika kepercayaan kepada pembawa risalah telah luntur, niscaya akan muncul keraguan terhadap apa yang mereka bawa, Al-Qur’an dan Al-Hadits.

Untuk menjawab syubhat ini, cukup kita katakan: Para sahabat adalah generasi terbaik yang telah Allah subhanahu wa ta’ala ridhai dengan nash Al-Qur’an, demikian pula sabda-sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun pencacatan kalian, ini adalah kebatilan.

Bacalah ayat berikut dan silakan kalian memilih untuk beriman atau kafir kepada firman Allah subhanahu wa ta’ala:

وَٱلسَّٰبِقُونَ ٱلۡأَوَّلُونَ مِنَ ٱلۡمُهَٰجِرِينَ وَٱلۡأَنصَارِ وَٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُم بِإِحۡسَٰنٖ رَّضِيَ ٱللَّهُ عَنۡهُمۡ وَرَضُواْ عَنۡهُ وَأَعَدَّ لَهُمۡ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي تَحۡتَهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدٗاۚ ذَٰلِكَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ ١٠٠

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (at-Taubah: 100)

 

Kedua: Mengedepankan fanatisme kelompok/mazhab daripada hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (taqlid).

Penyakit fanatisme kelompok/mazhab seringkali membawa seseorang menolak sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang terang-terangan menyelisihi paham kelompok dan mazhabnya. Dia enggan atau bahkan risih mengamalkan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah jelas kesahihannya, hanya karena tidak ada dalam mazhab atau ucapan imam-imam mazhabnya.

Di antara bantahannya, kita katakan bahwa tidak ada seorang pun yang maksum kecuali para nabi dan rasul. Adapun imam-imam mazhab, mereka tidaklah maksum. Bahkan mereka sendiri telah mengingatkan umat agar membuang pendapat-pendapat mereka jika menyelisihi sunnah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam.[10]

 

Ketiga: Membuat umat ragu akan kebenaran sanad[11] dan keotentikan kitab-kitab hadits seperti Shahih al-Bukhari.

Orientalis atau pengikut hawa nafsu yang memuja mereka memunculkan syubhat di tengah umat bahwasanya sanad hadits adalah buatan orang belakangan di abad kedua atau ketiga, seperti al-Bukhari dan yang sezaman dengan beliau. Adapun rawi-rawi antara al-Bukhari dan Rasul hanyalah tokoh-tokoh fiktif.

Studi-studi kritis tentang Shahih al-Bukhari pun digelar, tidak lain untuk membawa umat ini meragukan hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika Shahih al-Bukhari saja dijatuhkan lalu bagaimana dengan kitab-kitab hadits lainnya?

Cukup sebagai bantahan kita katakan bahwa umat Islam telah bersepakat akan kesahihan Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim. Adapun para akademisi yang mencoba-coba mengkritisi kedua kitab ini adalah anak-anak jahil. Siapa mereka dan siapa al-Imam al-Bukhari rahimahullah? Siapa mereka dan siapa al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah?

Adapun sanad, sesungguhnya sejak sahabat masih hidup—di masa tabi’in— sanad telah dipakai untuk menyaring berita yang bersumber dari orang-orang yang jujur atau pendusta. Muhammad bin Sirin rahimahullah berkata, “Dahulu mereka tidak menanyakan sanad, namun ketika fitnah telah terjadi (yaitu pembunuhan ‘Utsman bin ‘Affan radhiallahu ‘anhu di tahun 35 H, pen.) mereka bertanya, ‘Sebutkan rawi-rawi kalian!’ Untuk dilihat, jika Ahlus Sunnah maka haditsnya diterima, sedangkan jika yang meriwayatkan ahlul bid’ah maka hadits mereka tidak diambil.”[12]

 

Keempat: Perkataan Mu’tazilah, ahli kalam (filsafat), dan yang sepaham dengan mereka bahwasanya hadits ahad[13] tidak dipakai untuk menetapkan aqidah.

Demikian syubhat ini dilontarkan Mu’tazilah dan orang-orang yang mengadopsi kesesatan itu di zaman kita. Asy-Syaikh al-Albani rahimahullah berkata, “(Bahkan) sebagian ‘da’i-da’i Islam’ pada hari ini, dengan terang-terangan menyatakan tidak bolehnya mengambil perkara aqidah dari hadits-hadits ahad. Bahkan (mereka menyatakan) haram hukumnya!!”[14]

Tidak diragukan dengan syubhat ini, puluhan ribu hadits akan tertolak karena tergolong hadits-hadits ahad. Syubhat ini ibarat rumah laba-laba yang tidak memiliki kekuatan sedikitpun. Cukuplah sebagai bantahannya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Mu’adz bin Jabal radhiallahu ‘anhu seorang diri ke negeri Yaman untuk mendakwahkan Islam, baik aqidah, ibadah, muamalah, atau akhlak.15 Apakah kalian akan mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengkhianati risalah karena hanya mengutus Muadz seorang diri? Apakah kalian juga akan mengatakan bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam gegabah dengan mengutus Muadz seorang diri mendakwahkan aqidah di tengah-tengah komunitas ahlul kitab?

 

Kelima: Perkataan yang sering terlontar dari mulut sebagian orang bodoh ketika disampaikan kepadanya sebuah hadits, dia berkata, “Ini kan hanya masalah furu’ (cabang), bukan ushul (pokok),” atau berkata, “Ini hanyalah kulit dan bukan inti/buah/substansi.”

Sangat disayangkan ucapan dengan nada meremehkan sunnah ini muncul dari orang-orang yang katanya sudah belajar “Islam”, menyandang titel dan gelar akademik doktor atau profesor. Hendaknya mereka mengaca kepada sahabat ketika mereka dengan serta-merta melepas sandal-sandal mereka tatkala melihat Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam melepasnya. Demi Allah! Tidak terbetik sedikitpun dalam diri sahabat perkataan, “Ini furu’ bukan ushul!”

Kaum muslimin, semoga Allah subhanahu wa ta’ala merahmati kita. Demikian sebagian syubhat yang diembuskan setan untuk menggeserkan kaki-kaki manusia dari ittiba’ (mengikuti) sunnah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka berhati-hatilah dari jerat-jerat setan tersebut. Sabarlah dalam menegakkan sunnah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam dada-dada ini. Sesungguhnya saat berjumpa dengan Allah subhanahu wa ta’ala telah dekat!! Masing-masing kita akan ditanya, sudahkah kita memenuhi seruan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam?

وَيَوۡمَ يُنَادِيهِمۡ فَيَقُولُ مَاذَآ أَجَبۡتُمُ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ٦٥

Dan (ingatlah) hari (di waktu) Allah menyeru mereka, seraya berkata, “Apakah jawabanmu kepada para rasul?” (al-Qashash: 65)

Walhamdulillahi Rabill ‘alamin. Washallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam.

 

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc.


[1] Beliau adalah Abu Muhammad Abdullah bin Abdirrahman bin al-Fadhl bin Bahram ad-Darimi. Ad-Darimi merupakan nisbat kepada Bani Darim bin Malik. Beliau lahir pada tahun 181 H dan wafat 255 H, setahun sebelum wafatnya al-Bukhari.

[2] Dalam Sunan Abi Dawud (5/12 no. 4605), al-Musnad (6/8).

[3] Al-Baghawi mengatakan bahwa yang dimaksud dengan sifat ini adalah orang-orang hidup mewah, senantiasa berada di rumah mereka dan tidak mau menuntut ilmu. (at-Taisir bi Syarhil Jami’ ash-Shaghir, al-Munawi)

[4] Beliau adalah ‘Imran bin Hushain bin ‘Ubaid al-Khuza’i, Abu Nujaid radhiallahu ‘anhu. Masuk Islam pada tahun Khaibar (7 H) dan meninggal tahun 52 H di Bashrah.

[5] Menjadikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai hakim terwujud dengan mendatangi beliau di kala hidupnya dan kembali kepada sunnahnya sesudah wafatnya.

[6] Lihat I’lamul Muwaqi’in (3/46)

[7] Shahih, diriwayatkan Abu Dawud dalam As-Sunan “Kitab ash-Shalah” no. 650

[8] HR. Muslim dalam ash-Shahih, “Kitabul Fadha’il” (no. 2284) dan Ahmad dalam al-Musnad (no. 2733) dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu.

[9] Ucapan al-Imam Ahmad rahimahullah ini dinukil Syaikhul Islam rahimahullah dalam Kitabut Tauhid alladzi Huwa Haqqullah ‘alal ‘Abid.

[10] Silakan lihat riwayat-riwayat al-Imam Abu Hanifah, Malik, Asy-Syafi’i, dan Ahmad rahimahumullah di Muqaddimah Shifat Shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karya asy-Syaikh al-Albani rahimahullah hlm. 45—55.

[11] Sanad adalah rantai periwayat-periwayat hadits yang menghubungkan kepada nash hadits. Silakan buka kembali Asy-Syariah Vol. VI/No. 61/1431 H/2010 “Terjaganya Kemurnian Islam” yang membahas secara rinci tentang ilmu sanad.

[12] Diriwayatkan al-Imam Muslim rahimahullah dalam Muqaddimah Shahih-nya (1/13)

[13] Yaitu hadits yang diriwayatkan satu, dua, tiga orang, atau lebih selama tidak mencapai derajat mutawatir.

[14] Al-Hadits Hujjatun Binafsihi fil ‘Aqaidi wal Ahkam, al-Albani, hlm. 38.