Para Petani dan Tuan-Tuan Kebun (2)

Demikianlah keadaan mereka. Di malam hari mereka sudah berencana untuk tidak memberi bagian sedikit pun kepada orang-orang yang miskin. Esok paginya, justru mereka sendiri yang menuai kerugian dan penyesalan. Tidak ada sisa yang dapat diharapkan dari kebun yang mereka rawat selama ini. Renungkanlah, bagaimana Allah Subhanahu wata’ala membalas rencana dan niat buruk mereka.

Kandungan Kisah

Kisah ini adalah sebuah perumpamaan yang dibuat oleh Allah Subhanahu wata’ala untuk orang-orang kafir Quraisy. Allah Subhanahu wata’ala telah memberi mereka nikmat yang sangat besar dengan mengutus Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada mereka. Tetapi, mereka menerimanya dengan sikap mendustakan, menolak, bahkan memerangi beliau. Itulah sebabnya Allah Subhanahu wata’ala mengatakan, “Sesungguhnya Kami menguji mereka sebagaimana Kami telah menguji para pemilik kebun, ketika mereka bersumpah bahwa mereka pasti akan memetik (hasil) nya di pagi hari.”Allah Subhanahu wata’ala berfirman bahwa sesungguhnya Dia telah menguji orangorang yang mendustakan kebaikan ini. Allah Subhanahu wata’ala memberi tempo kepada mereka dan memperbanyak mereka apa saja yang Dia kehendaki, berupa harta, anak, usia, dan lain-lain yang sesuai dengan hawa nafsu mereka. Tetapi itu bukan karena kemuliaan mereka di sisi Allah Subhanahu wata’ala, melainkan sebagai istidraj buat mereka dari arah yang tidak mereka sadari.

Jadi, tertipunya mereka dengan hal-hal tersebut sama seperti tertipunya para pemilik kebun tersebut, yaitu orangorang yang memiliki usaha bersama dalam kebun itu. Di saat kebun itu mulai ranum buahnya dan tumbuh pohonpohonnya serta tiba waktu panennya; dan mereka merasa yakin bahwa kebun itu di bawah kekuasaan serta sesuai dengan aturan mereka. Tidak pula ada yang menghalangi mereka memetik (hasil) kebun itu. Mereka pun bersumpah tanpa istitsna (mengucapkan Insya Allah, -red.) bahwa mereka pasti benar-benar akan memetik hasilnya di pagi hari. Mereka tidak sadar bahwa Allah Subhanahu wata’ala senantiasa mengawasi mereka. Bahkan, azab Allah Subhanahu wata’ala akan menggantikan mereka pada kebun itu dan mendahului mereka menuju kebun tersebut. Allah Subhanahu wata’ala berfirman dalam surat al-Qalam ayat 19—33,

فَطَافَ عَلَيْهَا طَائِفٌ مِّن رَّبِّكَ

Lalu kebun itu diliputi malapetaka (yang datang) dari Rabbmu.

Maksudnya, azab yang menimpa kebun itu datang pada malam hari;

وَهُمْ نَائِمُونَ

Ketika mereka sedang tidur,”

lalu menghancurkan dan merusaknya. Firman Allah Subhanahu wata’ala,

فَأَصْبَحَتْ كَالصَّرِيمِ

Maka jadilah kebun itu hitam seperti malam yang gelap gulita,

pohon-pohon dan buah-buahannya musnah serta kering, dalam keadaan mereka tidak mengetahui kejadian yang menyakitkan ini. Pagi harinya, mereka saling memanggil untuk berangkat memetik hasil kebun mereka. Sebagian dari mereka berkata kepada yang lain (sebagaimana dalam firman Allah Subhanahu wata’ala),

أَنِ اغْدُوا عَلَىٰ حَرْثِكُمْ إِن كُنتُمْ صَارِمِينَ () فَانطَلَقُوا

Pergilah di waktu pagi (ini) ke kebunmu jika kamu hendak memetik buahnya.

Maka pergilah mereka, menuju kebun itu,

وَهُمْ يَتَخَافَتُونَ

Dalam keadaan saling berbisikbisik,”

sesama mereka, tanpa didengar oleh orang lain. Kemudian Allah Subhanahu wata’ala menerangkan apa yang dibisikkan oleh mereka dengan sesama mereka,

أَن لَّا يَدْخُلَنَّهَا الْيَوْمَ عَلَيْكُم مِّسْكِينٌ

Pada hari ini janganlah ada seorang miskin pun masuk ke dalam kebunmu.”

Artinya, berangkatlah lebih pagi sebelum orang-orang bertebaran. Janganlah kamu memberi kesempatan orang-orang fakir dan miskin ikut masuk ke kebun itu bersama kamu. Karena besarnya ketamakan dan kekikiran mereka, mereka saling berbisik dan mengucapkan kalimat seperti ini, khawatir kalau ada orang yang mendengarnya lalu menyampaikannya kepada orang-orang miskin. Firman Allah Subhanahu wata’ala,

وَغَدَوْا

Dan berangkatlah mereka di pagi hari,

dalam keadaan yang sangat buruk ini, yaitu kaku, kasar, dan tidak mempunyai belas kasih sayang.

عَلَىٰ حَرْدٍ قَادِرِينَ

Dengan niat menghalangi (orangorang miskin) padahal mereka mampu (menolongnya),”

yaitu untuk menahan dan menghalangi hak Allah Subhanahu wata’ala, sambil merasa yakin akan kemampuan mereka bahwa mereka pasti akan memetik hasil kebun mereka. Firman Allah Subhanahu wata’ala,

فَلَمَّا رَأَوْهَا

Tatkala mereka melihat kebun itu,

sebagaimana keadaan yang disebutkan oleh Allah Subhanahu wata’ala, yaitu bagai malam yang gelap gulita;

قَالُوا

Mereka berkata,

dengan penuh rasa heran dan goncang;

إِنَّا لَضَالُّونَ

Sesungguhnya kita benar-benar orang-orang yang sesat (jalan);

yakni tersesat dari kebun itu, mungkin itu kebun lain (bukan milik mereka). Tetapi, setelah mereka memastikan itulah kebun yang mereka tuju, muncullah kesadaran (akal) mereka, lalu mereka berkata (sebagaimana dalam ayat),

بَلْ نَحْنُ مَحْرُومُونَ

Bahkan kita dihalangi,”

dari kebun ini (untuk memetik hasilnya). Akhirnya, mereka menyadari bahwa itu adalah sebuah hukuman, maka,

قَالَ أَوْسَطُهُمْ

Berkatalah seorang yang paling baik pikirannya di antara mereka,

yakni paling adil (lurus) dan paling baik jalan (hidupnya),

أَلَمْ أَقُل لَّكُمْ لَوْلَا تُسَبِّحُونَ

Bukankah aku telah mengatakan kepadamu, hendaklah kamu bertasbih (kepada Rabbmu)?

Artinya, mengapa kalian tidak bertasbih menyucikan Allah Subhanahu wata’ala dari segala sesuatu yang tidak layak bagi- Nya, bersyukur kepada-Nya atas kenikmatan yang telah dilimpahkan-Nya kepada kalian? Termasuk di sini ialah menyucikan Allah Subhanahu wata’ala dari anggapan bahwa kemampuan yang ada pada diri kamu itu adalah sesuatu yang bebas berdiri sendiri (lepas dari kekuasaan Allah Subhanahu wata’ala). Mengapakah kamu tidak mengucapkan;

إِنْ شَاءَ اللهُ

Jika Allah menghendaki,” dan menjadikan kehendakmu mengikuti (kehendak) Allah Subhanahu wata’ala? (Kalau kamu berbuat demikian), tentu tidak akan terjadi apa yang telah menimpamu. Mereka pun berkata (dalam ayat),

سُبْحَانَ رَبِّنَا إِنَّا كُنَّا ظَالِمِينَ

Mahasuci Rabb kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zalim.

Artinya, mereka memperbaiki (sikap mereka) sesudah itu, tetapi setelah kebun mereka hancur ditimpa oleh azab yang tidak akan terangkat lagi. Itulah sebuah ketaatan yang tidak ada gunanya setelah turunnya azab. Namun, mudah-mudahan tasbih dan pengakuan mereka bahwa mereka telah berbuat zalim, berguna bagi mereka untuk meringankan dosa serta menjadi tobat bagi mereka. Sebab itulah, mereka menyesal dengan penyesalan yang sangat dalam. Firman Allah Subhanahu wata’ala,

فَأَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ يَتَلَاوَمُونَ

Lalu sebagian mereka menghadapi sebagian yang lain seraya cela-mencela,

karena rencana yang mereka buat, yaitu menahan hak orang-orang fakir dan miskin. Tidak ada jawaban dari yang lain kecuali mengakui bahwa mereka bersalah dan berdosa. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

قَالُوا يَا وَيْلَنَا إِنَّا كُنَّا طَاغِينَ

Mereka berkata, Aduhai celakalah kita; sesungguhnya kita ini adalah orangorang yang melampaui batas,

baik terhadap hak Allah Subhanahu wata’ala maupun hak para hamba-Nya. Firman Allah Subhanahu wata’ala,

عَسَىٰ رَبُّنَا أَن يُبْدِلَنَا خَيْرًا مِّنْهَا إِنَّا إِلَىٰ رَبِّنَا رَاغِبُونَ

Mudah-mudahan Rabb kita memberikan ganti kepada kita dengan (kebun) yang lebih baik daripada itu; sesungguhnya kita mengharapkan ampunan dari Rabb kita.

Ayat ini menerangkan bahwa mereka berharap kepada Allah Subhanahu wata’ala agar memberi mereka ganti yang lebih baik dari kebun itu bahkan berjanji bahwa mereka akan berharap hanya kepada Allah Subhanahu wata’ala. Mereka mendesak meminta kepada-Nya di dunia. Ada pula yang berpendapat bahwa mereka mengharapkan pahalanya di akhirat. Wallahu alam.

Bagaimanapun, seandainya mereka memang seperti yang mereka katakan, maka secara zahir—ayat ini menunjukkan bahwa—Allah Subhanahu wata’ala menggantikan untuk mereka di dunia sesuatu yang lebih baik dari kebun yang hancur itu. Sebab, siapa saja yang berdoa kepada Allah Subhanahu wata’ala dengan jujur, bersandar, dan berharap kepada-Nya, pasti Allah Subhanahu wata’ala memberikan apa yang dimintanya. Kemudian Allah Subhanahu wata’ala berfirman, menjelaskan apa yang terjadi,

كَذَٰلِكَ الْعَذَابُ

Seperti itulah azab.

Artinya, itulah azab duniawi bagi mereka yang menjalankan sebab-sebab yang mengundangnya. Azab itu ialah Allah Subhanahu wata’ala mencabut dari hamba itu sesuatu yang dijadikannya sarana untuk berbuat dosa dan melampaui batas, serta lebih mengutamakan kehidupan dunia. Allah Subhanahu wata’ala akan melenyapkan sarana tersebut darinya di saat dia sangat membutuhkannya. Firman Allah Subhanahu wata’alal,

وَلَعَذَابُ الْآخِرَةِ أَكْبَرُ ۚ

Dan sesungguhnya azab akhirat lebih besar,” daripada azab dunia;

لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

Jika mereka mengetahui.

Sebab, apabila mereka mengetahuinya, hal itu akan mendorong mereka berhenti dari semua sebab yang akan mendatangkan azab dan siksa serta menghalangi pahala.1 Wallahul muwaffiq.

 

Beberapa Pelajaran dan Hikmah

1. Penyesalan selalu datang terlambat, tetapi kadang berguna bagi mereka yang diberi taufik untuk bertobat dan memperbaiki keadaan dirinya.

2. Di antara keistimewaan kisah Qur’ani sebagaimana pernah diuraikan adalah patut dijadikan pelajaran sepanjang masa.

3. Sebagian ahli tafsir menyebutkan bahwa tujuan pemaparan kisah ini ialah pertama karena di awal surat, Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

أَن كَانَ ذَا مَالٍ وَبَنِينَ () إِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِ آيَاتُنَا قَالَ أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ

Karena dia mempunyai (banyak) harta dan anak. Apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata, (Ini adalah) dongeng-dongengan orang-orang dahulu kala. (al-Qalam: 1415)

Maksudnya, karena Allah Subhanahu wata’ala memberinya harta, dia kufur kepada Allah Subhanahu wata’ala, padahal Allah Subhanahu wata’ala memberinya semua itu sebagai ujian, kalau dia memilih kekafiran niscaya Allah Subhanahu wata’ala menghancurkan hartanya, sebagaimana Dia menghancurkan tanaman tuan-tuan kebun itu ketika mereka melakukan ‘sedikit’ kemaksiatan. Dengan demikian, maka bagaimana pula mereka yang mengerjakan maksiat lebih besar? Seperti menentang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, tetap dalam kekafiran dan kedurhakaan?

4. Kisah ini menampakkan kepada kita bahwa Allah Subhanahu wata’ala menguji hamba- Nya tidak hanya dengan kesulitan, tetapi juga kesenangan. Ada yang lulus ketika menghadapi ujian berupa kesulitan, tetapi banyak juga yang gagal. Begitu pula kesenangan, ada yang berhasil menghadapinya, tetapi banyak juga yang gagal. Sebagian salaf mengatakan, “Ketika kami diuji dengan kesusahan, kami bisa bersabar. Tetapi, (ketika) diuji dengan kesenangan, kami tidak bisa bersabar.”

5. Kisah ini mengingatkan kita agar mau menerima nasihat, mengakui kesalahan, dan menyesali sikap meremehkannya.

6. Dalam kisah ini, ditampakkan bahwa tipu daya yang buruk itu justru menimpa pelakunya sendiri. Diperlihatkan pula bahwa teman sangat berpengaruh terhadap perilaku, baik ataupun buruk.

7. Menahan-nahan sedekah adalah sebab hilangnya kesenangan dan terjadinya kehancuran. Wallahu alam.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Harits

Para Petani dan Tuan -Tuan Kebun

Masih ingatkah Anda akan kisah tentang seorang petani dermawan? Seorang hamba yang saleh dan memahami arti syukur kepada Allah Subhanahu wata’ala. Di saat yang lain sedang kekeringan, sawah ladangnya diairi oleh air hujan yang khusus turun untuknya. Amalan apa yang dilakukannya? Bayangkan, sepertiga hasil panen, dia gunakan untuk modal menanam kembali, sepertiga lagi untuk dia dan keluarga yang ditanggungnya, serta sepertiga sisanya adalah untuk sedekah? Andaikata hasil panennya tiga ton, berarti satu ton diserahkannya untuk sedekah, kalikan dengan kelipatannya. Tentu, jumlah yang cukup besar, di saat tabiat manusia itu sangat kikir dan suka menahan harta. Tetapi, karena keikhlasannya, dia keluarkan sebesar itu demi mengharap ridha Allah Subhanahu wata’ala.

Ketulusan yang murni, sehingga karena itulah Allah Subhanahu wata’ala memberi balasan yang berlipat ganda. Namanya harum, menjadi sebutan di bumi dan di langit. Dia tidak perlu bersusah payah mencari air untuk menyirami tanamannya. Nun, di belahan bumi yang lain, masih sebuah kisah nyata yang dialami oleh sebagian anak Adam dan diabadikan— secara global—di dalam kitab suci paling mulia, ada kejadian yang sangat bertolak belakang dengan kisah petani yang tanahnya diberi hujan secara khusus dari langit. Kisah tentang beberapa tuan tanah dan kebun yang sangat kikir. Kisah ini sudah dikenal oleh masyarakat Arab (Quraisy) ketika itu. Menurut berita yang dinukil dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, mereka adalah sebagian dari orang-orang ahli kitab. Namun, itu bukan hal yang penting, karena yang jelas, kisah ini sudah pernah didengar oleh orang-orang Quraisy. Inilah kisah selengkapnya, wallahul muwaffiq.

Pemilik Kebun yang Saleh Dharwan, sebuah desa di belahan Yaman, ada yang mengatakan dekat kota Shan’a. Hiduplah di desa itu seorang lelaki tua yang saleh bersama tiga orang putranya. Dia bekerja sebagai petani, mengelola kebun kurma dan anggur yang cukup berhasil. Setiap musim panen, anggur dan kurma yang diperolehnya berlimpah. Tetapi, hasil tersebut bukan sematamata karena kepandaiannya mengelola kebun tersebut, melainkan murni karena karunia dan pertolongan Allah Subhanahu wata’ala. Lelaki tua itu sangat memahami bahwa di dalam kebun itu ada hak-hak lain yang harus ditunaikannya. Hak Allah Subhanahu wata’ala dan hak sesama manusia yang ada di sekelilingnya. Seperti biasa, di pagi yang cerah itu, lelaki tua itu berangkat ke kebunnya. Angin bertiup lembut, membelai wajahnya yang keriput. Dengan perlahan dia berjalan memasuki kebunnya dan berkeliling. Dia mulai memeriksa isi kebunnya, dari satu sudut ke sudut lainnya. Dia membayangkan alangkah senangnya orang-orang yang fakir dan miskin menikmati rezeki Allah Subhanahu wata’ala ini.

Itulah yang mungkin dipikirkannya. Hasil panen kebunnya memang selalu disiapkannya untuk berbagi dengan mereka yang membutuhkan. Setelah puas berkeliling, sambil bersyukur kepada Allah Subhanahu wata’ala, dia bersiap untuk kembali ke rumahnya. Tidak lama kemudian, musim panen pun tiba. Dengan penuh semangat, orang tua itu berangkat ke kebunnya. Setibanya di kebun yang rindang dan berbuah lebat itu, dia mulai memetik kurma dan anggur untuk kebutuhan keluarganya. Adapun sisanya, dia biarkan agar dapat diambil oleh mereka yang membutuhkan. Tentu saja masih cukup banyak. Keadaan ini berlanjut sejak dia masih muda hingga dia memasuki usia renta.

Melihat tindakan sang ayah yang selalu menyisakan hasil panennya untuk orang-orang yang fakir dan miskin dalam jumlah cukup besar, sebagian putranya menegur, “Ayah, kalau begini terus, kita bisa bangkrut. Kebutuhan kita semakin bertambah, tetapi ayah biarkan orangorang yang fakir dan miskin menikmati hasil panen yang kita usahakan dengan susah payah.” Ayah yang saleh itu menasihati dan mengingatkan mereka bahwa harta yang ada di tangan mereka saat ini bukan milik mereka, melainkan titipan Allah Subhanahu wata’ala agar Dia melihat bagaimana kita berbuat terhadap harta tersebut.

Dua di antara putranya ingin membantah dan menentang tetapi tidak berani. Ayah yang baik itu mengingatkan pula bahwa usianya sudah lanjut, merekalah yang akan meneruskan pengelolaan tanaman anggur tersebut. Dia menceritakan pula bahwa itu semua telah dilakukannya sejak masih muda. Allah Subhanahu wata’ala melipatgandakan hasilnya karena dia selalu berbagi dengan sesama. Dengan cara itulah panennya semakin bertambah. Sebagian putranya masih tetap tidak menerima uraian sang ayah. Hari-hari berlalu, sang ayah semakin tua dan mulai berkurang kekuatannya.

Di masa-masa ‘pensiun’ itu, dia selalu menasihati anak-anaknya agar jangan lupa berbagi dengan sesama. Sebab, apa yang ada di tangan kita, tidak murni milik kita atau hak kita. Di situ masih ada hak yang lain yang wajib kita tunaikan. Ada hak Allah Subhanahu wata’ala, dengan menzakatkan atau menyedekahkannya, dan ada hak sesama manusia yang tidak mampu. Allah Subhanahu wata’ala tidak memerlukan harta yang dititipkan-Nya kepada kita. Berapa pun yang kita zakatkan atau sedekahkan, itu tidak memberi keuntungan atau manfaat apa pun kepada Allah l. Akan tetapi keuntungan dan manfaat itu justru kembali kepada kita yang dititipi harta tersebut. Beberapa waktu kemudian, lelaki tua yang saleh itu meninggal dunia. Ketiga anak laki-lakinya sama-sama merasakan kesedihan ditinggal oleh ayah yang mereka hormati dan mereka cintai. Tetapi, itu tidak lama. Kini, mereka mulai berusaha menghidupi diri dan keluarga mereka.

Masing-masing telah mengambil bagian dari kebun anggur yang diwariskan oleh ayah mereka. Suatu kali, mereka berkumpul dan bermusyawarah bagaimana tindakan selanjutnya mengatur kebun tersebut. Setelah berbincang lama, mereka mulai membahas sikap ayah mereka yang menurut—sebagian—mereka salah. “Mulai musim panen ini, kita harus menghalangi orang-orang yang miskin itu ikut mengambil bagian. Keberadaan dan keikutsertaan mereka hanya mengurangi perolehan kita. Padahal kebutuhan kita semakin meningkat,” itulah usulan salah satu di antara mereka dan disepakati oleh salah seorang di antara mereka. Adapun yang ketiga, sejak tadi mendengarkan. Melihat kebulatan tekad mereka, dia mulai angkat bicara. “Lupakah kalian, apa yang dikatakan ayah kita sebelum beliau wafat? Kebun ini beliau kelola dengan cara seperti ini sejak beliau masih muda seperti kita.

Allah Subhanahu wata’ala lah yang menyuburkannya, sebagai karunia dan ujian, apakah disyukuri atau dikufuri nikmat tersebut. Janganlah kita melanggar nasihat ayah, meskipun beliau sudah meninggal dunia.” “Sudah. Kau diam saja. Kalau kau mau rugi, rugilah sendiri. Kami tetap tidak akan mengizinkan orang-orang yang miskin itu ikut menikmati hasil keringat kami,” kata yang satunya. Yang lain menyambung, “Kami akan berangkat ke kebun sejak dini hari, sebelum orang-orang yang miskin itu ikut bangun dan menyusul ke kebun kami.” Itulah rencana mereka.

Musim panen mulai tiba. Dua orang anak lelaki tua yang saleh itu sudah bersiap sejak dini hari, sebelum fajar menyingsing mereka harus sudah tiba di kebun dan segera memetik hasil kebun mereka. Sambil bersiap, mereka saling mengingatkan agar jangan sampai ada orang-orang yang miskin yang masuk ke kebun mereka. “Kita akan ke kebun dan memanen hasilnya,” kata mereka. Saudara mereka mengingatkan, ”Ucapkanlah insya Allah.” Tetapi , mereka tidak mengacuhkannya. Mereka berjalan dengan terburuburu dan melihat-lihat apakah ada yang mengetahui keadaan mereka? Tiba-tiba. Mereka terperanjat luar biasa. “Jangan-jangan kita salah jalan. Ini bukan kebun kita. Bukankah kemarin masih kita lihat hijau dan rimbun, serta siap dipanen?” kata salah seorang dari mereka. Saudara mereka yang bijak, yang selalu menasihati mereka berkata, “Itu memang kebun warisan ayah kita. Tetapi, kalian dihalangi memperoleh hasilnya. Bukankah aku sudah mengingatkan agar kalian bertasbih kepada Allah Subhanahu wata’ala?” Mereka memeriksanya, dan sadarlah mereka bahwa itu memang kebun mereka. Ternyata Allah Subhanahu wata’ala telah memberi balasan atas niat buruk mereka, yaitu ingin menghalangi orang-orang yang miskin memperoleh jatah mereka yang ada di dalam hasil kebun tersebut.

Mereka segera sadar dan menyesali sikap mereka, tetapi semua telah terjadi. Kebun mereka telah hancur luluh, tidak ada yang tersisa. Mereka gagal menikmati apa yang ingin mereka nikmati. Itu baru di dunia, bagaimana pula azab di akhirat yang lebih dahsyat? “Mahasuci Allah, sungguh kami telah menzalimi diri kami sendiri. Alangkah celakanya kami. Sungguh, kami telah melampaui batas. Mudah-mudahan Allah Subhanahu wata’ala memberi kami ganti yang lebih baik. Sungguh, kami benar-benar berharap kepada Allah Subhanahu wata’ala.” Demikianlah sepenggal kisah mereka. Penyesalan memang datang terlambat, tetapi masih terasa manfaatnya jika hal ini terjadi di dunia dan bisa diperbaiki. Seperti yang mereka alami. Sebagaimana telah dipaparkan di atas, kisah ini diabadikan oleh Allah Subhanahu wata’ala dalam Kitab-Nya yang mulia, yang tidak dihinggapi kebatilan, baik dari depan maupun dari belakang. Turun dari Yang Mahabijaksana lagi Maha Terpuji. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

إِنَّا بَلَوْنَاهُمْ كَمَا بَلَوْنَا أَصْحَابَ الْجَنَّةِ إِذْ أَقْسَمُوا لَيَصْرِمُنَّهَا مُصْبِحِينَ {} وَلَا يَسْتَثْنُونَ {} فَطَافَ عَلَيْهَا طَائِفٌ مِّن رَّبِّكَ وَهُمْ نَائِمُونَ {} فَأَصْبَحَتْ كَالصَّرِيمِ {} فَتَنَادَوْا مُصْبِحِينَ {} أَنِ اغْدُوا عَلَىٰ حَرْثِكُمْ إِن كُنتُمْ صَارِمِينَ {} فَانطَلَقُوا وَهُمْ يَتَخَافَتُونَ {} أَن لَّا يَدْخُلَنَّهَا الْيَوْمَ عَلَيْكُم مِّسْكِينٌ {} وَغَدَوْا عَلَىٰ حَرْدٍ قَادِرِينَ {} فَلَمَّا رَأَوْهَا قَالُوا إِنَّا لَضَالُّونَ {} بَلْ نَحْنُ مَحْرُومُونَ {} قَالَ أَوْسَطُهُمْ أَلَمْ أَقُل لَّكُمْ لَوْلَا تُسَبِّحُونَ {} قَالُوا سُبْحَانَ رَبِّنَا إِنَّا كُنَّا ظَالِمِينَ {}فَأَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ يَتَلَاوَمُونَ {} قَالُوا يَا وَيْلَنَا إِنَّا كُنَّا طَاغِينَ {} عَسَىٰ رَبُّنَا أَن يُبْدِلَنَا خَيْرًا مِّنْهَا إِنَّا إِلَىٰ رَبِّنَا رَاغِبُونَ {} كَذَٰلِكَ الْعَذَابُ ۖ وَلَعَذَابُ الْآخِرَةِ أَكْبَرُ ۚ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

“Sesungguhnya Kami telah mencobai mereka (musyrikin Makkah) sebagaimana Kami telah mencobai pemilik-pemilik kebun, ketika mereka bersumpah bahwa mereka sungguh-sungguh akan memetik (hasil)nya di pagi hari, Dan mereka tidak menyisihkan (hak fakir miskin), Lalu kebun itu diliputi malapetaka (yang datang) dari Rabbmu ketika mereka sedang tidur, Maka jadilah kebun itu hitam seperti malam yang gelap gulita. Lalu mereka panggil-memanggil di pagi hari, “Pergilah di waktu pagi (ini) ke kebunmu jika kamu hendak memetik buahnya.” Pergilah mereka saling berbisik. “Pada hari ini janganlah ada seorang miskin pun masuk ke dalam kebunmu”. Dan berangkatlah mereka di pagi hari dengan niat menghalangi (orangorang miskin) padahal mereka mampu (menolongnya). Tatkala mereka melihat kebun itu, mereka berkata, “Sesungguhnya kita benar-benar orang-orang yang sesat (jalan), bahkan kita dihalangi (dari memperoleh hasilnya).” Berkatalah seorang yang paling baik pikirannya di antara mereka, “Bukankah aku telah mengatakan kepadamu, hendaklah kamu bertasbih (kepada Rabbmu)?” Mereka mengucapkan, “Mahasuci Rabb kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zalim.” Lalu sebagian mereka menghadapi sebagian yang lain seraya cela-mencela. Mereka berkata, “Aduhai celakalah kita, sesungguhnya kita ini adalah orangorang yang melampaui batas.” Mudah-mudahan Rabb kita memberikan ganti kepada kita dengan (kebun) yang lebih baik daripada itu; sesungguhnya kita mengharapkan ampunan dari Rabb kita.” Seperti itulah azab (dunia). Dan sesungguhnya azab akhirat lebih besar jika mereka mengetahui.” (al-Qalam: 17—33)

Mahabenarlah Allah Subhanahu wata’ala dengan segala firman-Nya, dan tidak ada yang lebih benar perkataannya selain Allah Subhanahu wata’ala. Di dalam kisah ini terdapat pelajaran berharga sebagai bekal untuk menghadapi kedahsyatan suasana di seberang kematian. Keadaan yang saat itu tidak ada lagi gunanya harta dan anak, kecuali mereka yang datang membawa hati yang selamat. (insya Allah bersambung)

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Harits

Kisah Sapi Betina (2)

Bani Israil telah merasakan kepahitan akibat banyak bertanya dan menyalahi perintah nabi mereka yang mulia, Musa ‘alaihissalam. Setelah bersusah payah mencarinya, mereka menemukan juga sapi yang mereka ‘inginkan’. Tetapi, apa yang terjadi setelah kasus itu terbongkar?

Akhir Peristiwa

Allah  Subhanahu wata’ala berfirman,

وَإِذْ قَتَلْتُمْ نَفْسًا فَادَّارَأْتُمْ فِيهَا ۖ وَاللَّهُ مُخْرِجٌ مَّا كُنتُمْ تَكْتُمُونَ

“Dan (ingatlah), ketika kamu membunuh seorang manusia lalu kamu saling menuduh tentang itu. Allah hendak menyingkapkan apa yang selama ini kamu sembunyikan.” (al-Baqarah: 72)

Ayat ini, meskipun dibaca pada bagian akhir kisah, sebetulnya secara makna lebih dahulu dari semua yang telah lalu tentang urusan sapi betina ini. Sebab, perintah menyembelih sapi ini adalah karena adanya pembunuhan.1 Sebagian ahli tafsir menerangkan bahwa firman Allah  Subhanahu wata’ala وَاللَّهُ مُخْرِجٌ (Dan Allah hendak menyingkapkan) adalah jumlah i’tiradhiyah, faedahnya ialah menekankan bahwa pertikaian bani Israil tentang pembunuhan itu tidak ada gunanya. Sama saja bagi mereka, apakah akan menutup-nutupi atau menyembunyikannya dan saling menuduh satu sama lain, karena Allah  Subhanahu wata’ala akan menampakkannya.2 Kemudian Allah  Subhanahu wata’ala berfirman,

فَقُلْنَا اضْرِبُوهُ بِبَعْضِهَا ۚ كَذَٰلِكَ يُحْيِي اللَّهُ الْمَوْتَىٰ وَيُرِيكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

Lalu Kami berfirman, “Pukullah mayat itu dengan sebagian anggota sapi betina itu!” Demikianlah Allah menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati, dan memperlihatkan kepadamu tanda-tanda kekuasaan-Nya agar kamu mengerti.” (al-Baqarah: 73)

Bagian mana saja yang dipukulkan ke mayat itu, maka keajaiban atau mukjizat pasti terjadi. Seandainya ada manfaatnya bagi dunia dan akhirat kita dengan menyebutkan bagian yang mana dari tubuh sapi itu yang dipukulkan ke mayat tersebut, Allah  Subhanahu wata’ala tentu menerangkannya kepada kita di dalam al-Qur’an atau sunnah yang sahih dari Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam. Setelah sapi itu disembelih, salah satu bagian tubuhnya dipukulkan ke mayat itu. Dengan izin Allah Subhanahu wata’ala, orang itu hidup kembali,

كَذَٰلِكَ يُحْيِي اللَّهُ الْمَوْتَىٰ وَيُرِيكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

“Demikianlah Allah menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati, dan memperlihatkan kepadamu tanda-tanda kekuasaan-Nya agar kamu mengerti.”

Kembali Allah  Subhanahu wata’ala menampakkan kekuasaan-Nya kepada bani Israil secara khusus, dan kepada seluruh manusia. Sebagaimana Dia telah menghidupkan kembali orang yang mati itu, Dia juga akan menghidupkan kembali semua yang telah diwafatkan-Nya. Semua itu adalah perkara yang sangat mudah bagi Allah Subhanahu wata’ala. Bahkan, Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

مَّا خَلْقُكُمْ وَلَا بَعْثُكُمْ إِلَّا كَنَفْسٍ وَاحِدَةٍ ۗ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ

“Tidaklah Allah menciptakan dan membangkitkan kamu (dari dalam kubur) itu melainkan hanyalah seperti (menciptakan dan membangkitkan) satu jiwa saja. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Luqman: 28)

Diceritakan oleh ulama bahwa Nabi Musa ‘Alaihissalam menanyai orang tersebut, “Siapa yang telah membunuhmu?” “Kerabatku,” katanya, kemudian orang itu kembali menjadi mayat. Bani Israil kaget. Ternyata orangorang yang menuduh serta ingin menuntut balas dan diyat atas kematian saudara mereka, ternyata adalah orang-orang yang membunuhnya. Tetapi, sekali lagi mereka bertikai. Orang-orang yang tertuduh itu mengingkari perbuatan mereka. Allah  Subhanahu wata’ala berfirman,

ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُم مِّن بَعْدِ ذَٰلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً ۚ وَإِنَّ مِنَ الْحِجَارَةِ لَمَا يَتَفَجَّرُ مِنْهُ الْأَنْهَارُ ۚ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَشَّقَّقُ فَيَخْرُجُ مِنْهُ الْمَاءُ ۚ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

“Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal di antara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungaisungai darinya, dan di antaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air darinya, dan di antaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.” (al-Baqarah: 74)

Setelah melihat kejadian yang luar biasa itu, orang yang terbunuh hidup kembali dan menerangkan siapa yang membunuhnya, semestinya hati mereka menjadi lembut dan semakin takut kepada Allah Subhanahu wata’ala, tunduk serta menerima keputusan-Nya. Tetapi, tidak demikian halnya dengan mereka. Bani Israil bukannya semakin bertambah rasa takut di hati mereka, bahkan hati itu menjadi kaku dan keras. Sudah jelas siapa yang melakukan kejahatan tersebut, tetapi mereka menyangkal, bahkan bersumpah bahwa mereka tidak membunuhnya.

Wallahu a’lam. Dalam ayat di atas, Allah  Subhanahu wata’ala menerangkan tingkat kekerasan hati mereka yang jauh lebih keras dari sebuah batu. Tetapi, Allah  Subhanahu wata’ala menyucikan batu itu dari sifat dan watak bani Israil. Di antara batu itu ada yang memancarkan air, ada yang terbelah sehingga dilewati oleh air, dan ada yang jatuh karena takut kepada Allah Subhanahu wata’ala. Bahkan, Allah  Subhanahu wata’ala berfirman,

لَوْ أَنزَلْنَا هَٰذَا الْقُرْآنَ عَلَىٰ جَبَلٍ لَّرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُّتَصَدِّعًا مِّنْ خَشْيَةِ اللَّهِ ۚ وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

“Kalau sekiranya Kami menurunkan al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berpikir.” (al-Hasyr: 21)

Oleh sebab itu, alangkah celakanya hati yang kaku dan keras, bahkan melebihi batu. Padahal, sebuah gunung yang besar dan tinggi menjulang, akan lebur apabila al-Qur’an ini diturunkan kepadanya. Sebab, hati yang qasi (kaku, keras, dan beku) tidak akan mau menerima kebenaran, meskipun banyak bukti dan dalilnya. Inilah keadaan mereka, setelah melihat bukti nyata di depan mata, mereka tetap mengingkari, membantah, dan tidak mau tunduk. Sampai saat ini, sejak di masa wahyu ini turun, mereka selalu mengingkari kebenaran, padahal sudah jelas di depan mata mereka. Menurut az-Zajaj, kata “qasat” sama dengan “ghalizha” (kasar), “yabisat” (kering), dan “asiyat” (kaku, keras, beku).

Jadi, qasawatul qalbi artinya ialah hati yang telah kehilangan kelembutan, kasih sayang, dan ketundukan. Sifat keras ini bukanlah sifat keras yang terpuji, karena hati itu seharusnya adalah kuat tetapi bukan kasar, lembut tetapi bukan lemah. Seperti tangan yang memiliki kekuatan sekaligus kelembutan,bukan seperti tumit yang kering, tidak ada kelembutannya, meskipun memiliki kekuatan. Demikian menurut Ibnu Qutaibah rahimahullah yang dinukil oleh Syaikhul Islam rahimahullah dalam Majmu’ Fatawa (7/28—30). Ini adalah musibah yang sangat  besar yang menimpa seorang manusia, sebagaimana kata Malik bin Dinar rahimahullah, “Tidak ada hukuman paling berat yang menimpa seseorang daripada qasawah (kaku, keras, kasar, dan beku) hatinya.” Bahkan, Allah  Subhanahu wata’ala mengancam orangorang yang qasi hatinya, sebagaimana firman-Nya,

فَوَيْلٌ لِّلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُم مِّن ذِكْرِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ فِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ

‘Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.’ (az-Zumar: 22)

Orang yang celaka ini adalah orangorang yang tidak menjadi lembut hatinya karena mengingat Allah Subhanahu wata’ala, tidak pula tunduk, menjaga dan memahami. Tidak pula mau mengingat ayat-ayat-Nya, dan tidak merasa tenang mengingat-Nya. Bahkan, berpaling kepada yang lain, dan memilih yang lain.”

 

Beberapa Faedah dan Hikmah

Di dalam kisah ini terkandung banyak pelajaran yang berharga bagi orangorang yang beriman. Merekalah Ulul Albab yang dapat memetik hikmah dan pelajaran yang terdapat dalam ayat-ayat Allah Subhanahu wata’ala, baik yang ada di alam semesta dan diri mereka sendiri, maupun ayatayat yang terdapat dalam Kitab-Nya yang mulia, al-Qur’anul Karim. Allah  Subhanahu wata’ala berfirman,

لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِّأُولِي الْأَلْبَابِ

“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.” (Yusuf: 111)

Kisah yang — sepertinya — menampakkan kejelekan orang-orang yang menyertai Nabi Musa ‘Alaihissalam ini, adalah tamparan keras bagi orangorang Yahudi yang hidup di zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan yang bersama kita saat ini. Orang-orang Yahudi yang sangat membanggakan nenek moyang mereka serta ingin mengembalikan kemegahan dan kejayaan mereka, hendaklah bercermin dengan sejarah masa lalu mereka. Seandainya dikatakan bahwa mereka yang bersama Nabi Musa ‘Alaihissalam sudah bertobat dan dimaafkan oleh Allah Subhanahu wata’ala, maka itulah kemuliaan dan kelebihan mereka. Tetapi, tidak demikian halnya anak cucu mereka yang kufur kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam pada masa turunnya wahyu, lebih-lebih Yahudi di zaman ini. Wallahul musta’an. Di antara pelajaran berharga dari kisah ini ialah sebagai berikut.

1. Mukjizat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sekaligus bukti kenabian beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam, dengan menerangkan berita yang benar dan pasti tentang bani Israil.

2. Tidak boleh menyikapi perintah Allah  Subhanahu wata’ala dengan cara banyak tanya, tetapi hendaklah segera melaksanakannya sebisa dan sesegera mungkin.

3. Orang yang zalim dan jahat itu dibalas dengan menerima kebalikan dari apa yang diinginkannya. Seperti pelaku pembunuhan ini, dia terhalang dari warisan yang diperolehnya, malahan dihukum karena perbuatannya. Wallahu a’lam.

4. Kisah ini menunjukkan kepada kita bahwa kita pasti dibangkitkan, bahkan inilah yang disepakati oleh para nabi dan rasul ‘alaihimushshalatu wassalam.

5 . Suka meremehkan dan mempermainkan orang lain adalah sikap dan perbuatan orang-orang yang jahil, bahkan hendaknya kita berlindung dari kebodohan tersebut.

6. Tidak adanya adab bani Israil terhadap para nabi Allah, ‘alaihimush shalatu wassalam, bahkan tidak pula kepada Allah Subhanahu wata’ala.

7. Allah Maha Mengetahui apa yang ditampakkan dan disembunyikan oleh siapa pun, baik perkara yang umum maupun hal-hal yang sekecil apa pun.

8. Akal manusia, secerdas apa pun tidak berhak mengoreksi wahyu yang datang dari langit (termasuk di sini al-Qur’an dan as-Sunnah yang sahih). Lebih-lebih lagi jika pemikiran itu bersumber dari orang-orang yang ingkar kepada Allah  Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam.

9. Seorang muslim wajib menghadapi ketetapan syariat itu dengan sikap menerima dan berserah diri serta tunduk kepada Allah Subhanahu wata’ala dengan sukarela. Inilah tanda dan bukti keimanan.

10. Keutamaan umat (para sahabat) Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam yang tidak bersikap lancang dan ingkar sebagaimana sikap bani Israil terhadap para nabi mereka.

11. Tidak boleh bersikap tasyaddud karena akan menyusahkan diri mereka sendiri. Renungkan kembali kisah di atas, dan lihatlah bagaimana bani Israil dipersulit akibat bersikap memberatberatkan diri dan banyak bertanya.

12. Agama ini mudah, siapa mempersulit dirinya, pasti kalah.

13. Semua yang diperintahkan Allah  Subhanahu wata’ala kepada kita pasti mengandung kebaikan, baik kita mengetahui hikmahnya maupun tidak.

14. Melaksanakan perintah sejak pertama kali dikeluarkan adalah perbuatan yang terpuji. Hal inilah yang pernah ditanyakan oleh sahabat kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, “Amalan apakah yang paling utama?” Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

الصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا

“Shalat pada waktunya.”

15. Banyak tanya dan menyelisihi aturan para nabi Allah ‘alaihimush shalatu wassalam adalah sebagian sebab kebinasaan umat-umat terdahulu. Kebinasaan itu bisa terjadi berupa ditindas oleh musuh, kesempitan hidup, atau mendapat murka dan hukuman Allah Subhanahu wata’ala. Oleh sebab itu, kaum muslimin janganlah tertipu oleh keadaan lahiriah musuh-musuh Allah Subhanahu wata’ala, baik Yahudi, Nasrani, maupun orang-orang musyrik. Kemewahan, kesehatan, dan kekuatan mereka bukanlah bukti bahwa mereka dicintai oleh Allah Subhanahu wata’ala.

16. Bani Israil diuji oleh Allah  Subhanahu wata’ala dengan sapi dua kali. Yang pertama ketika mereka diuji sehingga menyembah patung anak sapi; dan kedua, diuji dengan perintah untuk menyembelihnya. Sapi sendiri dikenal sebagai salah satu di antara hewan-hewan yang sangat bodoh, sehingga sering menjadi tamsil. Kisah ini, menurut Ibnul Qayyim rahimahullah, terjadi setelah peristiwa patung anak sapi. Seakan-akan, perintah menyembelih sapi ini menyadarkan mereka bahwa makhluk yang bodoh ini tidak layak menjadi sesuatu yang disembah (diibadahi) bersama Allah Subhanahu wata’ala. Seekor sapi hanya pantas untuk membajak tanah. Faedah lainnya dari rangkaian kisah ini, menerangkan kepada kita betapa buruknya akhlak orang-orang Yahudi. Mereka mempunyai watak selalu berbuat curang, melanggar janji, dan khianat. Mereka juga selalu mendurhakai para nabi dan rasul yang diutus kepada mereka, tidak menghargai para rasul tersebut. Sebab itulah, Allah  Subhanahu wata’ala murka kepada mereka.

Penutup

Untuk kaum muslimin yang terpesona dengan gelar akademik yang diperolehnya dalam mempelajari Islam di negeri kafir, apakah orang-orang sejenis ini yang pantas diikuti dan dijadikan acuan untuk mengoreksi al-Qur’anul Karim dan ajaran Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam? Semoga Allah Subhanahu wata’ala memberi hidayah dan taufik kepada mereka. Karena itu pula, tidak selayaknya kaum muslimin menaruh kepercayaan kepada mereka, lebih-lebih dalam urusan agama, seperti yang dilakukan sebagian anak-anak kaum muslimin yang mempelajari agama Islam dari orangorang Yahudi dan Nasrani. Wallahul musta’an.

Apa yang menjadi sandaran mereka mempelajari Islam? Kitab yang ada di tangan mereka? Atau al-Qur’anul Karim yang ada di tangan kaum muslimin? Kalau al-Qur’anul Karim yang menjadi pegangan mereka dalam mempelajari Islam, apakah mereka lebih mengerti isi al-Qur’an daripada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang menerima langsung al-Qur’an sebagai wahyu Allah Subhanahu wata’ala? Atau apakah mereka lebih mengenal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam daripada para sahabat yang melihat langsung bagaimana Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam mempraktikkan isi al- Qur’an dalam kehidupan sehari-hari?

Asy-Syaikh Rahmatullah al-Hindi rahimahullah dalam Izh-harul Haq (1/61) menyebutkan bahwa ahli kitab (Yahudi dan Nasrani) tidak mempunyai sanad yang bersambung untuk Kitab Perjanjian Lama ataupun Baru yang ada pada mereka. Beliau melanjutkan, sebuah kitab samawi wajib diterima apabila lebih dahulu jelas pasti keasliannya dengan bukti yang sempurna dan lengkap bahwa kitab ini memang ditulis oleh seorang nabi tertentu, kemudian sampai ke tangan kita dengan sanad bersambung, tanpa perubahan apa pun. Penyandaran kepada sosok yang diberi ilham sematamata berdasarkan dugaan, tidak cukup memastikan bahwa kitab tersebut ditulis oleh nabi itu. Demikian pula sekadar pengakuan satu golongan tertentu bahwa itu ditulis oleh nabi tersebut, tidak dapat dijadikan dasar memastikan bahwa itu adalah kitab samawi. Beliau menyebutkan beberapa contoh kitab yang dinisbatkan kepada Nabi Musa, ‘Isa, Sulaiman, Ezra, dan lain-lain, yang justru diperselisihkan oleh golongan Katolik dan Protestan keabsahannya. Wallahu a’lam.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Harits

Kisah Sapi Betina

Samiri telah merasakan buah dari kejahatan dan kesesatannya di dunia. Seumur hidupnya, dia selalu berkata kepada orang lain, “Jangan sentuh saya,” karena setiap kali tubuhnya disentuh, dia merasa seperti terbakar. Itulah hukuman bagi orang-orang yang melakukan kesyirikan, bahkan mengajak orang lain ke dalam kesesatan. Menurut ulama, kisah ini terjadi sesudah dihancurkannya patung anak sapi yang disembah oleh sebagian besar bani Israil yang menyertai Nabi Musa ‘Alaihissalam. Hal itu agar semakin jelas betapa rendahnya sesuatu yang mereka sembah selain Allah Subhanahu wata’ala. Ketika sapi itu sebagai makhluk yang hidup, ia tidak berdaya ketika disembelih, lebih-lebih lagi jika ia hanya sebuah benda mati, kaku, dan bisu. Mungkin—Allahu a’lam—kisah penyembelihan sapi betina ini adalah

salah satu bentuk rahmat dan karunia Allah Subhanahu wata’ala kepada bani Israil. Dengan memerintahkan mereka menyembelih seekor sapi ini, akan tercabut sisa-sisa pengaruh kesyirikan dan kesesatan yang pernah mereka lakukan, yaitu menyembah patung anak sapi, serta menambah kokoh keyakinan mereka bahwa hanya Allah Subhanahu wata’ala satu-satunya yang berhak menerima peribadatan dalam bentuk apa pun. Kisah ini—kalau secara lengkap dan detail—bersumber dari sebagian cerita Israiliyat. Akan tetapi, kisah ini termasuk kisah-kisah yang boleh diriwayatkan, meskipun kebenaran ataupun kebatilannya tidak dapat kita akui secara mutlak.

Oleh sebab itu, kisah ini ataupun kisah-kisah Israiliyat lainnya harus dihadapkan kepada al-Qur’an dan as-Sunnah yang sahih. Apa saja yang di dalamnya sesuai dengan al-Qur’anul Karim dan as-Sunnah yang sahih, itulah yang benar, sedangkan yang tidak sesuai, itulah yang batil dan harus ditolak. Adapun riwayat yang menceritakan secara detail tentang kisah mereka dan sampai kepada kita adalah melalui as-Suddi, Abul ‘Aliyah, dan ‘Abidah as-Salmani rahimahumullah. Riwayatriwayat ini dikeluarkan oleh imam-imam kaum muslimin, seperti Ibnu Jarir ath- Thabari, Ibnu Abi Hatim, Ibnul Mundzir, dan al-Baihaqi rahimahumullah.

Awal Kejadian

Alkisah—menurut riwayat-riwayat tersebut—, di zaman dahulu, ketika bani Israil masih bersama Nabi Musa ‘Alaihissalam, hiduplah seorang hartawan dengan kekayaan yang berlimpah. Hartawan tersebut tidak mempunyai anak yang akan mewarisi hartanya. Tetapi, ada kerabatnya yang akan mewarisi hartanya apabila dia meninggal dunia. Pada suatu hari, hartawan itu ditemukan terbunuh dan jenazahnya tergeletak di depan rumah penduduk sebuah desa. Keesokan harinya, kerabat hartawan

itu tiba di desa tersebut dan melihat jenazah hartawan itu. Kerabatnya segera menjerit dan meratap. Dia memandangi orang-orang di sekitarnya dan menuduh merekalah yang membunuh hartawan itu. Tentu saja, mereka mengingkari. Warga menjadi marah. Akhirnya, mereka ribut dan hampir berkelahi. Salah seorang cerdik pandai di kalangan masyarakat di desa itu berusaha menengahi mereka, “Untuk apa kalian berkelahi dan saling membunuh? Bukankah di tengah-tengah kita ada Rasulullah Musa ‘Alaihissalam? Mari kita menanyakan urusan ini kepada beliau.” Mereka segera menemui Nabi Musa ‘Alaihissalam dan menceritakan apa yang baru saja terjadi. Nabi Musa Alaihissalam segera berdoa kepada Allah Subhanahu wata’ala meminta petunjuk tentang kejadian tersebut. Allah Subhanahu wata’ala mewahyukan kepada beliau agar menyampaikan kepada bani Israil bahwa Allah Subhanahu wata’ala memerintahkan mereka menyembelih seekor sapi. Tentu saja mereka heran, Nabi Musa ‘Alaihissalam tidak menyebutkan pelakunya, tetapi menyuruh mereka menyembelih seekor sapi. “Apakah kamu mau menjadikan kami bahan ejekan?” tanya mereka. “Aku berlindung kepada Allah (jangan sampai aku) termasuk orangorang yang jahil (bodoh),” kata Nabi Musa ‘Alahissalam.

Kemudian mereka bertanya kepada beliau, “Berapa usia sapi itu?” “Tidak muda, tidak pula tua.  Pertengahan di antara keduanya. Nah, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepada kalian!” kata beliau. Mereka masih juga bertanya, “Apa warna sapi itu?” “Kuning tua, menyenangkan orang yang melihatnya,” kata beliau. Kembali mereka berkata, “Bagaimana keadaan sapi itu? Semoga kami mendapat petunjuk, insya Allah.” “Sapi itu tidak pernah digunakan untuk bekerja membajak sawah, memberi minum tanaman, dan bersih dari cacat,” kata beliau menerangkan. “ Sekarang , barulah kamu menerangkan keadaan sapi itu dengan benar,” kata mereka. Setelah mendapatkan jawaban Nabi Musa ‘Alaihissalam itu, mereka pun berkeliling mencari sapi yang dimaksud. Itulah akibat kesalahan mereka sendiri. Seandainya mereka langsung mengerjakan perintah Allah Subhanahu wata’ala yang disampaikan oleh Nabi Musa ‘Alahissalam, tentu tidak akan memberatkan dan menyusahkan mereka.

Setelah hampir putus asa mencari sapi yang dimaksud, mereka tiba di sebuah desa tempat seorang anak yatim yang hidup sederhana bersama ibunya. Ayahnya wafat ketika anak itu masih kecil. Sebelum meninggal dunia, sang ayah pernah berdoa kepada Allah Subhanahu wata’ala agar memeliharakan sapinya. Itulah satusatunya kekayaan yang dimilikinya. Sapi itu dibiarkan begitu saja, tidak dilatih bekerja apa pun. Kulit sapi itu kuning tua, bersih tanpa ada warna lain sedikit pun, tidak tua dan tidak pula muda, benar-benar seperti yang diterangkan di dalam firman Allah Subhanahu wata’ala. Melihat sapi tersebut, mereka segera mendekati dan menawarnya.

Ternyata anak yatim itu tidak ingin menjualnya dengan harga biasa. Mereka terpaksa kembali menemui Nabi Musa ‘Alahissalam dan mengadukan hal__ itu. Keadaan itu seakan-akan sebagai hukuman atas sikap mereka yang enggan bersegera menjalan perintah. Akhirnya, mereka harus mau memenuhi harga yang ditetapkan anak itu, yaitu emas sebanyak yang menutupi kulit sapi tersebut. Dengan terpaksa, mereka membeli juga sapi itu dengan emas sebanyak yang diminta anak yatim tersebut.

Setelah sapi itu dibawa ke hadapan Nabi Musa ‘Alaihissalam, beliau memerintahkan sapi itu disembelih dan salah satu anggota tubuhnya dipukulkan ke jenazah tersebut. Dengan izin Allah Subhanahu wata’ala, jenazah itu pun hidup kembali. Nabi Musa ‘Alahissalam bertanya kepadanya, “Siapa yang membunuhmu?” “Dia ini,” kata orang itu sambil menunjuk ke arah kerabatnya, dan setelah itu dia pun kembali menjadi mayat.

Ternyata pelaku pembunuhan itu adalah kerabatnya sendiri, tetapi mereka mengingkarinya, “Demi Allah, kami tidak membunuhnya.” Demikianlah watak bani Israil, sampai saat ini. Itulah cerita yang dinukilkan para ulama kaum muslimin dari ahli kitab. Secara umum, kisah ini diabadikan oleh Allah Subhanahu wata’ala di dalam Kitab Suci-Nya, al-Qur’anul Karim. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تَذْبَحُوا بَقَرَةً ۖ قَالُوا أَتَتَّخِذُنَا هُزُوًا ۖ قَالَ أَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ () قَالُوا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّن لَّنَا مَا هِيَ ۚ قَالَ إِنَّهُ يَقُولُ إِنَّهَا بَقَرَةٌ لَّا فَارِضٌ وَلَا بِكْرٌ عَوَانٌ بَيْنَ ذَٰلِكَ ۖ فَافْعَلُوا مَا تُؤْمَرُونَ () قَالُوا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّن لَّنَا مَا لَوْنُهَا ۚ قَالَ إِنَّهُ يَقُولُ إِنَّهَا بَقَرَةٌ صَفْرَاءُ فَاقِعٌ لَّوْنُهَا تَسُرُّ النَّاظِرِينَ () قَالُوا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّن لَّنَا مَا هِيَ إِنَّ الْبَقَرَ تَشَابَهَ عَلَيْنَا وَإِنَّا إِن شَاءَ اللَّهُ لَمُهْتَدُونَ () قَالَ إِنَّهُ يَقُولُ إِنَّهَا بَقَرَةٌ لَّا ذَلُولٌ تُثِيرُ الْأَرْضَ وَلَا تَسْقِي الْحَرْثَ مُسَلَّمَةٌ لَّا شِيَةَ فِيهَا ۚ قَالُوا الْآنَ جِئْتَ بِالْحَقِّ ۚ فَذَبَحُوهَا وَمَا كَادُوا يَفْعَلُونَ () وَإِذْ قَتَلْتُمْ نَفْسًا فَادَّارَأْتُمْ فِيهَا ۖ وَاللَّهُ مُخْرِجٌ مَّا كُنتُمْ تَكْتُمُونَ () فَقُلْنَا اضْرِبُوهُ بِبَعْضِهَا ۚ كَذَٰلِكَ يُحْيِي اللَّهُ الْمَوْتَىٰ وَيُرِيكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya, “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina.” Mereka berkata, “Apakah kamu hendak menjadikan kami buah ejekan?” Musa menjawab, “Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang jahil.” Mereka menjawab, “Mohonkanlah kepada Rabbmu untuk kami, agar Dia menerangkan kepada kami, sapi betina apakah itu.” Musa menjawab, “Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang tidak tua dan tidak muda; pertengahan antara itu; maka kerjakanlah apa yang diperintahkan kepada kalian!” Mereka berkata, “Mohonkanlah kepada Rabbmu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami apa warnanya.

” Musa menjawab, “Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang kuning, yang kuning tua warnanya, lagi menyenangkan orangorang yang memandangnya.” Mereka berkata, “Mohonkanlah kepada Rabbmu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami bagaimana hakikat sapi betina itu, karena sesungguhnya sapi itu (masih) samar bagi kami dan sesungguhnya kami insya Allah akan mendapat petunjuk (untuk memperoleh sapi itu).” Musa berkata, “Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak pula untuk mengairi tanaman, tidak bercacat, dan tidak ada belangnya.” Mereka berkata, “Sekarang barulah kamu menerangkan hakikat sapi betina yang sebenarnya.” Kemudian mereka menyembelihnya dan hampir saja mereka tidak melaksanakan perintah itu. Dan (ingatlah), ketika kamu membunuh seorang manusia lalu kamu saling tuduh tentang itu. Dan Allah hendak menyingkapkan apa yang selama ini kamu sembunyikan.

Lalu Kami berfirman, “Pukullah mayat itu dengan sebagian anggota tubuh sapi betina itu!” Demikianlah Allah menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati, dan memperlihatkan kepadamu tanda-tanda kekuasaan-Nya agar kamu mengerti.” (al-Baqarah: 67—73)

Inilah kisah mereka yang dipaparkan oleh Allah Subhanahu wata’ala, dan pasti benar. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِ

Dan [ingatlah], ketika Musa berkata kepada kaumnya), yakni ingatlah wahai bani Israil ketika Musa berkata kepada kaumnya (firman Allah Subhanahu wata’ala);

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تَذْبَحُوا بَقَرَةً

(sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina).

Dalam ayat ini, Nabi Musa ‘Alaihissalam menerangkan bahwa Allah Subhanahu wata’alalah yang memerintahkan mereka menyembelih seekor sapi betina, bukan beliau. Semestinya, yang wajib mereka lakukan ialah segera mengerjakan perintah tersebut, bukan membantahnya. Akan tetapi, apa yang terjadi? Mereka justru mengucapkan kata-kata yang tidak beradab kepada Nabi yang mulia ini, (sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala),

قَالُوا أَتَتَّخِذُنَا هُزُوًا

“Apakah kamu hendak menjadikan kami buah ejekan?” atau tertawaan orang?

Subhanallah.Mengapa harus merasa heran terhadap perintah Allah Yang Maha Mengetahui? Seolah-olah dengan pernyataan ini, mereka merasa ragu, bagaimana mungkin dengan menyembelih seekor sapi akan hilang pertikaian di antara mereka, dan pelaku pembunuhan itu akan segera diketahui? Inilah kebiasaan mereka hingga saat ini, yang selalu menilai segala sesuatunya dengan akal dan kebendaan (materi). Sok logis. Apakah mereka lupa, bagaimana Allah Yang Mahakuasa membelah laut menjadi dua belas jalan kering yang dilalui oleh setiap kabilah bani Israil? Dan itu belum lama terjadi. Padahal, mereka juga sudah melihat sendiri beberapa kejadian luar biasa selama Nabi Musa q bersama mereka. Lebih dari itu, sikap memperolokolok orang lain adalah perbuatan orang yang tidak berakal atau kurang akalnya. Para Nabiyullah r adalah manusia yang paling jauh dari perilaku ini. Sebab itu pula, Nabi Allah Musa ‘Alaihissalam berkata (sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala),

أَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ

“Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang jahil.Seakan-akan Nabi Musa ‘Alaihissalam hendak mengatakan, “Aku berlindung kepada Allah Subhanahu wata’ala untuk mengatakan tentang Allah Subhanahu wata’ala sesuatu yang tidak diwahyukan kepadaku.” Selain itu, orang yang berakal tentu melihat bahwa termasuk aib yang sangat besar adalah meremehkan agama dan akal, serta mengolok-olok manusia seperti dia juga, walaupun dia dilebihkan dari orang lain. Wallahul muwaffiq.

Dan kata; بَقَرَةً (seekor sapi betina) pada ayat 67 ini berbentuk nakirah dalam susunan kalimat mutsbat (positif), sehingga pengertiannya bersifat mutlak, tidak ditentukan jenis, umur, warna, atau

keadaan yang lainnya. Artinya, seekor sapi betina yang mana saja mereka sembelih, sudah mencukupi, dan mereka tergolong orang-orang segera mematuhi perintah Allah Allah Subhanahu wata’ala, serta selesailah persoalan itu dengan segera. Akan tetapi, apa yang terjadi? Mereka justru mempersulit diri sendiri, maka Allah Subhanahu wata’ala menambah kesulitan tersebut. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

قَالُوا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّن لَّنَا مَا هِيَ ۚ

Mereka menjawab, “Mohonkanlah kepada Rabbmu untuk kami, agar Dia menerangkan kepada kami, sapi betina apakah itu.” (al-Baqarah: 68)

Nabi Musa ‘Alaihissalam pun berkata kepada mereka—sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala—,

إِنَّهُ يَقُولُ إِنَّهَا بَقَرَةٌ لَّا فَارِضٌ وَلَا بِكْرٌ عَوَانٌ بَيْنَ ذَٰلِكَ ۖ فَافْعَلُوا مَا تُؤْمَرُونَ

“Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang tidak tua dan tidak muda; pertengahan antara itu; maka kerjakanlah apa yang diperintahkan kepada kalian!”

Dalam ayat ini kembali Nabi Musa ‘alaihissalam menyandarkan bahwa yang menetapkan kriteria sapi itu adalah Allah Subhanahu wata’ala sendiri. Seharusnya, mereka segera bergerak mencari sapi dengan kriteria awal itu, karena masih mudah untuk didapatkan. Sekali lagi, lihatlah apa yang mereka lakukan? Mereka justru mempersulit diri sendiri, bukannya segera menjalankan perintah tersebut. Wallahul musta’an.

Mereka berkata—sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala—,

قَالُوا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّن لَّنَا مَا لَوْنُهَا

“Mohonkanlah kepada Rabbmu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami apa warnanya.” (al-Baqarah: 69)

Mereka semakin menambah kesulitan mereka sendiri dengan menanyakan warnanya. Perintah pertama sebetulnya sudah cukup jelas, bahkan Nabi Musa ‘Alahissalam mengingatkan agar mereka tidak

menyanggahnya. Namun, Nabi Musa ‘Alahissalam tetap menjawab—sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala—,

إِنَّهُ يَقُولُ إِنَّهَا بَقَرَةٌ صَفْرَاءُ فَاقِعٌ لَّوْنُهَا تَسُرُّ النَّاظِرِينَ

“Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang kuning, yang kuning tua warnanya, lagi menyenangkan orang-orang yang memandangnya.” (al-Baqarah: 69)

Beliau tetap menerangkan bahwa keadaan sapi itu benar-benar dari Allah Subhanahu wata’ala. Warna yang disebutkan adalah warna sapi yang paling bagus. Mereka mulai beranjak, tetapi kembali lagi mempersulit diri sendiri dengan bertanya—sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala—,

ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّن لَّنَا مَا هِيَ إِنَّ الْبَقَرَ تَشَابَهَ عَلَيْنَا وَإِنَّا إِن شَاءَ اللَّهُ لَمُهْتَدُونَ

“Mohonkanlah kepada Rabbmu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami bagaimana hakikat sapi betina itu, karena sesungguhnya sapi itu (masih) samar bagi kami dan sesungguhnya kami insya Allah akan mendapat petunjuk (untuk memperoleh sapi itu).” (al- Baqarah: 70)

Seolah-olah, menurut mereka, sapi seperti yang diterangkan itu belum jelas. Mereka ingin sapi yang dimaksud sudah tidak samar lagi sifat-sifatnya, maka mereka bertanya kembali. Seandainya mereka tidak mengucapkan, “Insya Allah,” niscaya keadaan mereka masih tetap dalam kebingungan mengenai sapi tersebut. Nabi Musa ‘Alahissalam menjawab— sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala—,

إِنَّهُ يَقُولُ إِنَّهَا بَقَرَةٌ لَّا ذَلُولٌ تُثِيرُ الْأَرْضَ وَلَا تَسْقِي الْحَرْثَ

“Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak pula untuk mengairi tanaman,” karena sapi itu dibiarkan dalam keadaan liar, tidak dilatih untuk bekerja.

مُسَلَّمَةٌ لَّا شِيَةَ فِيهَا

“Tidak bercacat, tidak ada belangnya,” yang mencampuri warna kuning tua tersebut.

Setelah mendapat keterangan ini, mereka pun berkata—sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala—,

قَالُوا الْآنَ جِئْتَ بِالْحَقِّ ۚ فَذَبَحُوهَا وَمَا كَادُوا يَفْعَلُونَ

“Sekarang barulah kamu menerangkan hakikat sapi betina yang sebenarnya.” Kemudian mereka menyembelihnya dan hampir saja mereka tidak melaksanakan perintah itu.

Perkataan mereka yang diceritakan oleh Allah Subhanahu wata’ala ini kepada kita menunjukkan seolah-olah—menurut mereka— penjelasan Nabi Musa ‘Alaihissalam di awal tidak lengkap dan tidak benar. Mahasuci Allah. Di awal, mereka mengira Nabi Musa ‘Alaihissalam mempermainkan mereka, membodoh-bodohi mereka. Padahal,

mereka mendengar bahwa Nabi Musa q menyebutkan bahwa perintah menyembelih sapi itu langsung dari Allah Subhanahu wata’ala. Kemudian, mereka sendiri yang meminta Nabi Musa berdoa kepada Allah Subhanahu wata’ala agar Allah Subhanahu wata’ala menerangkan sifat sapi tersebut. Sebetulnya, satu sifat saja (dari sapi tersebut) yang mereka tanyakan sudah cukup, dan itulah sebabnya Nabi Musa ‘Alaihissalammemperingatkan mereka agar tidak menyanggah perintah itu, hendaknya segera saja dikerjakan. Tetapi, itulah kebiasaan bani Israil sampai saat ini. Akibat pembangkangan mereka itu, hampir saja mereka tidak mau menyembelih sapi yang sudah ditemukan. Pada awal kisah ini, Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِ

“Dan [ingatlah], ketika Musa berkata kepada kaumnya,” yakni ingatlah wahai bani Israil, ketika Musa berkata kepada kaumnya (firman Allah Subhanahu wata’ala);

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تَذْبَحُوا بَقَرَةً

“Sesungguhnya Allah menyuruh kalian menyembelih seekor sapi betina.”

Tetapi, Allah Subhanahu wata’ala belum menerangkan sebabnya. Seakan-akan memancing minat orang-orang yang mau memerhatikan agar menunggu dan membacanya dengan saksama sampai selesai. Wallahu a’lam.

Kemudian, pada bagian akhir kisah ini Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَإِذْ قَتَلْتُمْ نَفْسًا فَادَّارَأْتُمْ فِيهَا ۖ وَاللَّهُ مُخْرِجٌ مَّا كُنتُمْ تَكْتُمُونَ () فَقُلْنَا اضْرِبُوهُ بِبَعْضِهَا ۚ كَذَٰلِكَ يُحْيِي اللَّهُ الْمَوْتَىٰ وَيُرِيكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

Dan (ingatlah), ketika kalian membunuh seorang manusia lalu kalian saling tuduh tentang itu. Dan Allah hendak menyingkapkan apa yang selama ini kamu sembunyikan. Lalu Kami berfirman, “Pukullah mayat itu dengan sebagian anggota sapi betina itu!” Demikianlah Allah menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati, dan memperlihatkan kepadamu tanda-tanda kekuasaan-Nya agar kamu mengerti.” (al-Baqarah: 72—73)

Ayat yang mulia ini, menjelaskan peristiwa apa yang sebetulnya terjadi, sehingga mereka diperintah untuk menyembelih seekor sapi. Seakan-akan hendak menerangkan pula kepada kaum mukminin sifat dan watak orang-orang Yahudi terhadap perintah Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya, agar mereka tidak meniru, lalu binasa seperti mereka. Setelah sapi itu disembelih, Allah Subhanahu wata’ala memerintahkan agar memukulkan sebagian anggota tubuh sapi itu kepada mayat yang mereka perselisihkan siapa pembunuhnya. Allah Subhanahu wata’ala tidak menerangkan bagian tubuh yang mana dipukulkan kepada mayat tersebut, karena itu bukan urusan kita dan tidak ada kepentingannya. Begitu pula pemaparannya, tidak secara lengkap sebagaimana yang dinukil oleh para ulama kaum muslimin, adalah juga karena

tidak banyak faedahnya. Kami menukilnya di sini untuk memudahkan alur cerita karena sudah begitu dikenal kaum muslimin. Dan, bagaimanapun, Kalam Allah Subhanahu wata’ala pastilah yang paling jelas dan benar.

(insya Allah bersambung; Akhir Peristiwa dan Beberapa Faedah)

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Harits

Bani Israil Menyembah Anak Sapi

Setelah berada di Bukit Thursina, Allah Subhanahu wata’ala menerangkan kepada Nabi Musa ‘alaihis salam bahwa Dia telah memberikan cobaan kepada bani Israil dan mereka pun disesatkan oleh Samiri. Nabi Musa ‘alaihis salam pun terkejut dan kecewa.

Begitu kembali dari Bukit Thur, beliau ‘alaihis salam melihat sebagian besar (sekitar 70.000 orang) bani Israil benar-benar melakukan kesyirikan, beribadah kepada patung anak sapi emas. Mereka meratap dan menari-nari di sekeliling patung itu, sehingga kemarahan beliau pun memuncak. Sambil melemparkan lembaran Taurat yang ada di tangannya ke tanah, beliau berkata sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala,

بِئْسَمَا خَلَفْتُمُونِي مِن بَعْدِي ۖ أَعَجِلْتُمْ أَمْرَ رَبِّكُمْ

“Alangkah buruknya perbuatan yang kamu kerjakan sesudah kepergianku! Apakah kamu hendak mendahului janji Rabbmu?” (al-A’raf: 150)

Tidak sampai di situ saja, beliau mengira bahwa saudaranya, Harun ‘alaihis salam, kurang maksimal dalam mengingatkan dan membimbing kaumnya, sehingga beliau mencari Nabi Harun ‘alaihis salam lalu menarik kepala dan janggut Nabi Harun ‘alaihis salam, seraya berkata sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala,

قَالَ يَا هَارُونُ مَا مَنَعَكَ إِذْ رَأَيْتَهُمْ ضَلُّوا ( ) أَلَّا تَتَّبِعَنِ ۖ أَفَعَصَيْتَ أَمْرِي

“Hai Harun, apa yang menghalangi kamu ketika kamu melihat mereka telah sesat, (sehingga) kamu tidak mengikuti aku? Apakah kamu telah (sengaja) mendurhakai perintahku?” (Thaha: 92-93)

Nabi Harun ‘alaihis salam pun berkata kepada saudaranya, sebagaimana dalam firman Allah Subhanahu wata’ala,

قَالَ يَا ابْنَ أُمَّ لَا تَأْخُذْ بِلِحْيَتِي وَلَا بِرَأْسِي ۖ إِنِّي خَشِيتُ أَن تَقُولَ فَرَّقْتَ بَيْنَ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَلَمْ تَرْقُبْ قَوْلِي

“Hai putra ibuku, janganlah kamu pegang jenggotku dan jangan (pula) kepalaku. Sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan berkata (kepadaku), ‘Kamu telah memecah antara bani Israil dan kamu tidak memelihara amanatku’.” (Thaha: 94)

Memang, Nabi Harun ‘alaihis salam tidak diam begitu saja dan membiarkan mereka melakukan kesyirikan. Namun, karena bani Israil yang menyembah patung anak sapi itu menganggapnya lemah, mereka hampir membunuh beliau.

Di sisi lain, orang-orang Yahudi dan Nasrani justru menganggap bahwa Nabi Harunlah yang membuatkan patung itu untuk bani Israil. Alangkah kejinya tuduhan mereka ini.

Sangat disayangkan pula sikap sebagian kaum muslimin. Di manakah sentimen keagamaan mereka terhadap salah seorang Nabi Allah Subhanahu wata’ala yang mulia? Relakah mereka Nabi Harun ‘alaihis salam yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu wata’ala dilecehkan begitu rupa dan dianggap sebagai pendukung kesyirikan?

Orang-orang Yahudi tidak pernah memuliakan para nabi dan rasul yang datang kepada mereka. Jangankan terhadap para nabi dan rasul, Allah Subhanahu wata’ala juga tidak lepas dari sikap pelecehan mereka.

Lebih menyedihkan lagi, adanya sebagian kaum muslimin yang ditokohkan, menganggap diamnya Nabi Harun ‘alaihis salam adalah sikap toleran terhadap perbedaan pendapat meskipun dalam urusan tauhid dan syirik. Tidakkah dia memerhatikan alasan Nabi Harun ‘alaihis salam Tidakkah dia membaca bahwa ketika itu Nabi Musa ‘alaihis salam sedang tidak ada bersama mereka? Tidakkah dia membayangkan seandainya Nabi Harun ‘alaihis salam menumpas orang-orang musyrik itu, lalu ditanya oleh Nabi Musa ‘alaihis salam setelah tiba di tengah-tengah bani Israil, apa yang terjadi dengan bani Israil? Ke mana 70.000 orang bani Israil lainnya? Apa jawaban yang akan beliau berikan kepada Nabi Musa ‘alaihis salam melihat bani Israil musnah?

Tidakkah dia memerhatikan bagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak memberi peluang sedikit pun kepada kesyirikan? Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mengizinkan penduduk Thaif masih menyimpan berhala pujaan  mereka meskipun hanya sehari? Tokoh itu pula yang menyatakan bahwa permusuhan kita dengan Yahudi bukan dalam urusan agama, tetapi tanah/wilayah. Semoga Allah Subhanahu wata’ala memberinya petunjuk agar bertobat.

Kepada anak-anak kaum muslimin yang tertipu oleh penampilan Yahudi dan Nasrani, masihkah mereka beriman kepada al-Qur’anul Karim? Tidakkah mereka yakin bahwa al-Qur’an ini menyempurnakan semua kitab agama yang terdahulu? Terhadap hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, mereka berani menolaknya kalau tidak sesuai dengan al-Qur’an, meskipun sanadnya sahih, tetapi mengapa terhadap kitab-kitab yang tidak jelas kebenarannya, keasliannya, bahkan tidak mempunyai sanad yang sahih sampai kepada nabi mereka, boleh diterima mentah-mentah, tidak dihadapkan kepada al-Qur’an untuk dinilai benar atau tidaknya? Bahkan, dijadikan acuan untuk menilai dan mengoreksi ajaran Islam?

Wallahul musta’an.

Bukankah dengan jelas Allah Subhanahu wata’ala berfirman, menceritakan upaya Nabi Harun ‘alaihis salam memberi peringatan agar bani Israil tidak berbuat syirik?

وَلَقَدْ قَالَ لَهُمْ هَارُونُ مِن قَبْلُ يَا قَوْمِ إِنَّمَا فُتِنتُم بِهِ ۖ وَإِنَّ رَبَّكُمُ الرَّحْمَٰنُ فَاتَّبِعُونِي وَأَطِيعُوا أَمْرِي () قَالُوا لَن نَّبْرَحَ عَلَيْهِ عَاكِفِينَ حَتَّىٰ يَرْجِعَ إِلَيْنَا مُوسَىٰ

“Dan sesungguhnya Harun telah berkata kepada mereka sebelumnya,“Hai kaumku, sesungguhnya kamu hanya diberi cobaan dengan anak lembu itu dan sesungguhnya Rabbmu ialah Allah yang Maha Pemurah, maka ikutilah aku dan taatilah perintahku.” Mereka menjawab,“Kami akan tetap menyembah patung anak lembu ini, hingga Musa kembali kepada kami.” (Thaha: 90—91)

Cukuplah Allah Subhanahu wata’ala menjadi saksi bahwa Nabi Harun ‘alaihis salam telah berusaha melarang dan mencegah mereka dengan sekeras-kerasnya.

Bagi orang-orang Yahudi dan Nasrani, kalau mereka beriman kepada Allah Subhanahu wata’ala dan memuliakan para nabi dari kalangan mereka, yang jelas-jelas penerus bapak moyang mereka -Ibrahim ‘alaihis salam– mereka semestinya mencabut tuduhan mereka terhadap Nabi Harun ‘alaihis salam. Sebab, bukan Nabi Harun ‘alaihis salam yang membuatkan patung anak sapi emas itu, bahkan beliau tidak pernah menyetujui perbuatan bani Israil yang menyembah patung anak sapi tersebut. Yahudi dan Nasrani juga harus meyakini dan menerima bahwa memang Samirilah yang menyesatkan bani Israil.

Hendaknya mereka lebih dahulu dapat membuktikan keaslian dan kemurnian kitab yang ada di tangan mereka, terutama dalam segi sanadnya. Rawi-rawinya harus bersih dari cacat sampai kepada nabi mereka, dan ini tidak mungkin mereka lakukan kecuali mengada-ada.

Sebab itu, kaum mukminin, baik dari kalangan ahli kitab yang masuk Islam maupun bukan, mereka sangat yakin bahwa kitab yang ada di tangan ahli kitab tidak lagi asli sebagaimana diturunkan kepada Nabi Musa dan ‘Isa ‘alaihimassalam. Oleh sebab itu, tidak mungkin kitab yang mereka anggap dari Nabi Musa dan ‘Isa ‘alaihimassalam tersebut dapat dijadikan acuan untuk mengoreksi al-Qur’an.

Bahkan, seharusnya al-Qur’an-lah yang mereka jadikan acuan untuk mengoreksi kitab-kitab tersebut. Dengan kenyataan tidak aslinya kitab yang ada di tangan mereka sebagaimana diterima oleh Nabi Musa dan ‘Isa ‘alaihimassalam, sudah tentu keraguan mereka tentang Samiri yang disebutkan dalam al-Qur’an tidak beralasan sama sekali.

Selain itu, apakah pantas seorang nabi yang mulia seperti Nabi Harun ‘alaihis salam menyetujui kesyirikan, bahkan mendukungnya dengan menyediakan sarananya? Mahasuci Allah, sungguh itu adalah tuduhan yang sangat keji. Siapa pun yang mengaku beriman, tentu memuliakan para nabi yang diutus oleh Allah ‘azza wa jalla.

Kita kembali kepada kisah ini.

Setelah menerima jawaban Nabi Harun ‘alaihis salam, Nabi Musa ‘alaihis salam berdoa kepada Allah Subhanahu wata’ala memintakan ampunan untuk dirinya dan saudaranya yang mulia ini, ‘alaihimassalam. Orang-orang yang tergoda ikut menyembah patung anak sapi itu akhirnya sadar, mereka merasa berdosa,

وَلَمَّا سُقِطَ فِي أَيْدِيهِمْ وَرَأَوْا أَنَّهُمْ قَدْ ضَلُّوا قَالُوا لَئِن لَّمْ يَرْحَمْنَا رَبُّنَا وَيَغْفِرْ لَنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Dan setelah mereka sangat menyesali perbuatannya dan mengetahui bahwa mereka telah sesat, mereka pun berkata, “Sungguh, jika Rabb kami tidak memberi rahmat kepada kami dan tidak mengampuni kami, pastilah kami menjadi orang-orang yang merugi.” (al-A’raf: 149)

Mereka pun datang menemui Nabi Musa ‘alaihis salam dan menanyakan cara bertobat dari dosa tersebut. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِ يَا قَوْمِ إِنَّكُمْ ظَلَمْتُمْ أَنفُسَكُم بِاتِّخَاذِكُمُ الْعِجْلَ فَتُوبُوا إِلَىٰ بَارِئِكُمْ فَاقْتُلُوا أَنفُسَكُمْ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ عِندَ بَارِئِكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ ۚ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

“Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya, “Hai kaumku, sesungguhnya kamu telah menganiaya dirimu sendiri karena kamu telah menjadikan anak lembu (sembahanmu), maka bertobatlah kepada Bari’ (Allah Yang Menjadikan) kamu dan bunuhlah dirimu. Hal itu lebih baik bagimu pada sisi Rabb yang menjadikan kamu; maka Allah akan menerima tobatmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.” (al-Baqarah: 54)

Ayat ini menerangkan bahwa Allah Subhanahu wata’ala menerima tobat mereka setelah mereka membunuh diri mereka. Ibnu Katsir rahimahullah menukilkan bahwa mereka yang bunuh diri itu hampir mencapai 70.000 orang. Kemudian, Allah ‘azza wa jalla berfirman,

قَالَ فَمَا خَطْبُكَ يَا سَامِرِيُّ ( ) قَالَ بَصُرْتُ بِمَا لَمْ يَبْصُرُوا بِهِ فَقَبَضْتُ قَبْضَةً مِّنْ أَثَرِ الرَّسُولِ فَنَبَذْتُهَا وَكَذَٰلِكَ سَوَّلَتْ لِي نَفْسِي ( ) قَالَ فَاذْهَبْ فَإِنَّ لَكَ فِي الْحَيَاةِ أَن تَقُولَ لَا مِسَاسَ ۖ وَإِنَّ لَكَ مَوْعِدًا لَّن تُخْلَفَهُ ۖ وَانظُرْ إِلَىٰ إِلَٰهِكَ الَّذِي ظَلْتَ عَلَيْهِ عَاكِفًا ۖ لَّنُحَرِّقَنَّهُ ثُمَّ لَنَنسِفَنَّهُ فِي الْيَمِّ نَسْفًا ( ) إِنَّمَا إِلَٰهُكُمُ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۚ وَسِعَ كُلَّ شَيْءٍ عِلْمًا ( ) كَذَٰلِكَ نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنبَاءِ مَا قَدْ سَبَقَ ۚ وَقَدْ آتَيْنَاكَ مِن لَّدُنَّا ذِكْرًا ( ) مَّنْ أَعْرَضَ عَنْهُ فَإِنَّهُ يَحْمِلُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وِزْرًا

Musa berkata, “Apakah yang mendorongmu (berbuat demikian), hai Samiri?” Samiri menjawab, “Aku mengetahui sesuatu yang mereka tidak mengetahuinya, maka aku ambil segenggam dari jejak rasul lalu aku melemparkannya, dan demikianlah nafsuku membujukku.” Musa berkata, “Pergilah kamu, maka sesungguhnya bagimu di dalam kehidupan di dunia ini (hanya dapat) mengatakan, ‘Janganlah menyentuh (aku).’ Dan sesungguhnya bagimu hukuman (di akhirat) yang kamu sekali-kali tidak dapat menghindarinya, dan lihatlah sesembahanmu itu yang kamu tetap menyembahnya. Sesungguhnya kami akan membakarnya, kemudian kami sungguh-sungguh akan menghamburkannya ke dalam laut (berupa abu yang berserakan). Sesungguhnya sesembahanmu hanyalah Allah, yang tidak ada sesembahan yang haq selain Dia. Pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu.” (Thaha: 95-98)

Meskipun singkat, ternyata kecintaan menyembah patung anak sapi itu benar-benar meresap ke dalam hati sebagian besar bani Israil. Oleh sebab itu, Nabi Musa ‘alaihis salam menghancurkan patung itu dengan membakarnya, lalu menghamburkannya ke dalam laut sambil disaksikan oleh seluruh bani Israil. Semua itu agar mereka melihat bahwa benda yang mereka sembah selain Allah Subhanahu wata’ala itu tidak berdaya apa-apa. Tidak mampu menyelamatkan dirinya sedikit pun, sehingga bagaimana mungkin dia dapat menyelamatkan orang-orang yang menyembahnya? Dengan lenyapnya wujud patung itu, hilang pula rasa cinta terhadap benda yang tidak memberi manfaat atau mudarat tersebut.

Ingat kembali kisah ‘Amr bin Jumuh radhiyallahu ‘anhu sebelum masuk Islam.

Alangkah lemah akal dan keyakinan orang-orang berbuat syirik, dan alangkah indahnya perumpamaan yang dibuat oleh Allah ‘azza wa jalla di dalam al-Qur’anul Karim,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٌ فَاسْتَمِعُوا لَهُ ۚ إِنَّ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِن دُونِ اللَّهِ لَن يَخْلُقُوا ذُبَابًا وَلَوِ اجْتَمَعُوا لَهُ ۖ وَإِن يَسْلُبْهُمُ الذُّبَابُ شَيْئًا لَّا يَسْتَنقِذُوهُ مِنْهُ ۚ ضَعُفَ الطَّالِبُ وَالْمَطْلُوبُ

“Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu menciptakannya. Jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah.” (al-Hajj: 73)

Jelaslah, semua yang diibadahi selain Allah ‘azza wa jalla, baik itu dari kalangan malaikat yang didekatkan maupun nabi yang diutus, tidak akan pernah mampu menciptakan sesuatu. Sudah tentu, selain dua golongan makhluk yang mulia ini tidak pula berdaya apa-apa. Adakah yang mau mengambil pelajaran?

Sekilas Tentang Samiri

Samiri ini, menurut sebagian ahli tarikh, adalah salah seorang bani Israil yang terasing di antara mereka. Ada pula yang berpendapat lain, dia termasuk penduduk Karman atau Bajarma, dan nama aslinya adalah Mikha, atau Musa bin Zhafar. Samiri adalah penisbatan kepada salah satu kabilah bani Israil.

Dahulu, Samiri bergaul dengan orang-orang yang menyembah patung anak sapi, sehingga cintanya kepada anak sapi benar-benar merasuk tulang. Setelah Fir’aun tenggelam dan bani Israil menyeberangi Laut Merah dengan selamat, mereka melewati sebuah negeri yang penduduknya menyembah anak sapi. Melihat keadaan penduduk tersebut, mereka pun berkata kepada Nabi Musa ‘alaihis salam, sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala,

قَالُوا يَا مُوسَى اجْعَل لَّنَا إِلَٰهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ

“Hai Musa, buatlah untuk kami satu sesembahan sebagaimana mereka mempunyai beberapa sesembahan.” (al-A’raf: 138)

Dari sinilah muncul ambisi Samiri untuk mengajak bani Israil menyembah patung anak sapi. Dia teringat ketika Jibril berada di depan pasukan Fir’aun menggiring mereka memasuki laut yang terbelah. Waktu itu Jibril berada di atas kendaraannya, dan Samiri melihat jejak kaki kuda Jibril tersebut.

Kemudian Samiri mengambil segenggam tanah bekas jejak kaki kuda itu dan menyimpannya dalam sebuah kantong. Ketika bani Israil melemparkan emas dan perhiasan mereka ke dalam api yang sedang berkobar melahap perhiasan tersebut hingga meleleh, Samiri melemparkan tanah  yang disimpannya ke tumpukan emas yang sudah meleleh dalam kobaran api itu sambil berkata, “Jadilah anak sapi!”

Dengan kekuasaan Allah Subhanahu wata’ala, cairan emas dan perhiasan itu menjadi patung seekor anak sapi yang mengeluarkan suara. Hal ini semakin membenamkan bani Israil ke dalam fitnah (ujian) karena kebodohan mereka. Menurut Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, patung itu bersuara karena angin yang masuk dari dubur sapi itu dan keluar dari mulut. Wallahu a’lam.

Bagaimana Samiri mengenali Jibril? Wallahu a’lam, sebagian orang menceritakan bahwa ketika Fir’aun membantai anak laki-laki bani Israil, ibu Samiri juga berusaha menyelamatkan putranya, seperti halnya ibu Nabi Musa ‘alaihis salam.

Samiri disembunyikan di dalam sebuah gua oleh ibunya lalu ditinggal pergi. Diceritakan mereka bahwa Allah Subhanahu wata’ala mengutus Jibril merawat bayi ini untuk satu urusan yang sudah ditentukan oleh Allah ‘azza wa jalla. Sejak saat itulah Samiri mengenal Jibril. Ketika bani Israil menyeberangi laut bersama Nabi Musa dan Harun alaihimassalam, Jibril berada di depan rombongan itu di atas kudanya.

Samiri mengenalinya, lalu mengambil bekas tapak kaki kuda Jibril yang membuat tanah yang diinjaknya menghijau.

Menurut sebagian ahli kitab, nama Samiri adalah penisbatan kepada kota Samirah yang dibangun seratus tahun sesudah Nabi Musa alaihis salam. Jadi, tidak mungkin yang menyesatkan bani Israil sehingga menyembah patung anak sapi salah seorang penduduk kota yang munculnya seratus tahun kemudian.

Dari sinilah mereka menganggap al-Qur’an salah dan mengatakan bahwa Nabi Harun alaihis salam -lah yang membuat patung tersebut. Semoga Allah Subhanahu wata’ala membinasakan mereka.

Di dalam kitab-kitab Israiliyat sendiri, dia mempunyai nama yang sama dengan Nabi Harun bin ‘Imran, saudara Nabi Musa alaihis salam, yaitu Harun as-Samiri.

Dari sini pula, entah karena sengaja atau karena kebodohan, mereka menuduh Nabi Harun-lah yang menyesatkan bani Israil. Wallahul musta’an.

Yang jelas, al-Qur’anul Karim menyebut nama ini, dan berarti tokoh ini ada, entah dengan nama sebagaimana yang termaktub dalam al-Qur’anul Karim, atau dengan nama dalam bahasa Ibrani lalu disesuaikan dengan dialek Arab.

Pelajaran dari Kisah Ini

Dari rangkaian kisah bani Israil bersama Nabi Musa dan Harun ‘alaihimassalam sampai mereka disesatkan oleh Samiri ini, dapat kita petik beberapa hikmah, di antaranya sebagai berikut.

  • Luasnya kasih sayang dan karunia Allah Subhanahu wata’ala kepada bani Israil, sehingga sudah sepantasnya mereka bersyukur dan semakin taat kepada-Nya.
  • Kebenaran itu tidak diukur berdasarkan jumlah yang banyak.
  • Orang yang lama terbenam dalam kebatilan dan baru sesaat meninggalkannya, sangat dikhawatirkan sisa-sisa kebatilan itu masih bersemayam di dalam hatinya.

Keadaan ini pernah dialami oleh para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Tetapi, setelah mendapat teguran keras dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, mereka tidak lagi mempunyai keinginan untuk melakukan kesyirikan itu. Inilah salah satu keutamaan para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

  • Orang-orang yang berbuat syirik sama sekali tidak memiliki hujah yang mendukung kesyirikan mereka.
  • Syirik adalah pelanggaran terhadap hak asasi paling utama, yaitu hak Allah ‘azza wa jalla. Sebab itu, para nabi yang diutus oleh Allah Subhanahu wata’ala selalu mengingatkan bahaya syirik ini dan melarang umatnya melakukan syirik. Tidak mungkin mereka melegalkan apalagi mendukung atau menyiapkan sarana kesyirikan, meskipun sekejap.
  • Rahmat Allah Subhanahu wata’ala terhadap umat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan tidak menetapkan syariat keharusan bunuh diri sebagai cara untuk bertobat.

Wallahu a’lam.

Ditulis Oleh : al Ustadz Abu Muhammad Harits

Nabi Musa ‘Alaihissalam Menerima Taurat

Menuju Bukit Thursina

Setelah Allah Subhanahu wata’ala menyempurnakan nikmat-Nya kepada bani Israil dengan menyelamatkan mereka dari musuh mereka dan memberi kekuasaan kepada mereka, Allah Subhanahu wata’ala hendak melengkapi kenikmatan tersebut dengan menurunkan sebuah kitab yang berisi hukum-hukum syariat dan keyakinan yang diridhai.

Allah Subhanahu wata’ala pun menjanjikan kepada Nabi Musa ‘Alaihissalam tiga puluh malam dan menggenapinya menjadi empat puluh malam. Semua itu agar Nabi Musa ‘Alaihissalam menyiapkan diri untuk menerima janji Allah Subhanahu wata’ala dan supaya turunnya kitab itu menimbulkan kesan dan kerinduan yang luar biasa dalam hati mereka.

Sebelum berangkat, Nabi Musa ‘Alaihissalam berpesan kepada Nabi Harun ‘Alaihissalam agar menggantikannya membimbing bani Israil. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَوَاعَدْنَا مُوسَىٰ ثَلَاثِينَ لَيْلَةً وَأَتْمَمْنَاهَا بِعَشْرٍ فَتَمَّ مِيقَاتُ رَبِّهِ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً ۚ وَقَالَ مُوسَىٰ لِأَخِيهِ هَارُونَ اخْلُفْنِي فِي قَوْمِي وَأَصْلِحْ وَلَا تَتَّبِعْ سَبِيلَ الْمُفْسِدِينَ

 “Dan telah Kami janjikan kepada Musa (memberikan Taurat) sesudah berlalu waktu tiga puluh malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi), lalu sempurnalah waktu yang telah ditentukan Rabbnya empat puluh malam. Dan berkata Musa kepada saudaranya, yaitu Harun, ‘Gantikanlah aku dalam (memimpin) kaumku, perbaikilah, dan janganlah kamu mengikuti jalan orang-orang yang membuat kerusakan’.” (al-A’raf: 142)

Sempurnalah waktu yang dijanjikan itu empat puluh hari, dan selama waktu tersebut Nabi Musa ‘Alaihissalam berpuasa siang dan malam. Kemudian, beliau  bergegas mendahului kaumnya menuju Bukit Thur dan meninggalkan Nabi Harun ‘Alaihissalam memimpin bani Israil, sementara di situ juga ada Samiri. Oleh sebab itulah, Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَمَا أَعْجَلَكَ عَن قَوْمِكَ يَا مُوسَىٰ

“Mengapa kamu datang lebih cepat daripada kaummu, hai Musa?” (Thaha: 83)

Mengapa kamu tidak datang bersama kaummu? Nabi Musa berkata (sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala),

قَالَ هُمْ أُولَاءِ عَلَىٰ أَثَرِي وَعَجِلْتُ إِلَيْكَ رَبِّ لِتَرْضَىٰ

“Itulah mereka sedang menyusuli aku dan aku bersegera kepada-Mu. Wahai Rabbku, agar Engkau ridha (kepadaku).” (Thaha: 84)

Sepeninggal Nabi Musa ‘Alaihissalam, bani Israil masih sabar menunggu selama beberapa hari. Sudah hampir sebulan, Nabi Musa ‘Alaihissalam belum juga kembali membawa Taurat yang dijanjikan. Mereka mulai gelisah, kembali mereka menghitung hari. Nabi Harun ‘Alaihissalam yang menggantikan saudaranya memimpin bani Israil berkata kepada bani Israil, “Hai bani Israil, kalian tidak halal memakan rampasan perang (ghanimah), sedangkan perhiasan bangsa Mesir yang kalian bawa adalah ghanimah. Kumpulkanlah dan timbunlah dalam tanah. Kalau Musa datang dan menghalalkannya, ambillah, tetapi kalau tidak, itu adalah sesuatu yang tidak boleh kalian makan.”

Mereka mengumpulkan dan menimbunnya dalam tanah. Datanglah Samiri membawa bekas jejak kaki kuda Jibril lalu melemparkannya ke tumpukan perhiasan tersebut. Dengan izin Allah Subhanahu wata’ala, tumpukan itu menjadi seekor anak lembu yang bersuara. Beberapa hari kemudian, keluarlah anak lembu itu. Begitu melihatnya, Samiri berkata kepada mereka, “Inilah ilah Musa dan kalian, tetapi dia lupa.” Akhirnya, mereka tirakat di sekitar anak lembu itu dan mulai beribadah kepadanya.

Nabi Harun ‘Alaihissalam dengan penuh kasih sayang terus mengingatkan mereka, “Hai kaumku, kalian sedang diuji dengan anak lembu itu. Ingatlah, Rabb kalian adalah Ar-Rahman. Ikutilah aku!” Dengan gigih, tanpa henti, Nabi Harun ‘Alaihissalam bersama mereka yang masih terjaga fitrahnya berusaha menyadarkan kaum mereka. Tetapi, bukannya sadar, mereka bahkan hampir membunuh Nabi Harun ‘Alaihissalam. Mereka menegaskan kepada Nabi Harun (sebagaimana dalam ayat),

قَالُوا لَن نَّبْرَحَ عَلَيْهِ عَاكِفِينَ حَتَّىٰ يَرْجِعَ إِلَيْنَا مُوسَىٰ

“Mereka menjawab, ‘Kami akan tetap menyembah patung anak lembu ini, hingga Musa kembali kepada kami’.” (Thaha: 91)

Akhirnya bani Israil terpecah. Sebagian dari mereka mengingkari perbuatan tersebut, yaitu Nabi Harun dan 12.000 orang bani Israil, selebihnya mengikuti Samiri, menari-nari di sekeliling anak lembu tersebut. Sementara itu, Nabi Musa ‘Alaihissalam sudah tiba di tempat yang dijanjikan oleh Allah Subhanahu wata’ala. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَلَمَّا جَاءَ مُوسَىٰ لِمِيقَاتِنَا

“Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan.” (al-A’raf: 143)

untuk menurunkan kitab kepadanya,

وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ

“dan Rabbnya mengajaknya berbicara (langsung),”

memberikan wahyu, perintah dan larangan. Dalam ayat ini sangat jelas bahwa Nabi Musa ‘Alaihissalam diajak bicara oleh Allah Subhanahu wata’ala, sesampainya beliau di Thursina. Nabi Musa ‘Alaihissalam mendengarnya dari Allah Subhanahu wata’ala, bahkan dalam ayat lain (an-Nisa’ ayat 164), Allah Subhanahu wata’ala mempertegasnya dengan mashdar muakkidah; . تَكْلِيماً Ayat ini membantah keyakinan mu’aththilah yang menolak adanya sifat-sifat Allah Subhanahu wata’ala. Sebagian mereka dengan berani mengubah harakat i’rab dalam firman Allah Subhanahu wata’ala (an-Nisa’ ayat 164) sehingga mengubah maknanya, yang mengajak bicara adalah Nabi Musa ‘Alaihissalam. Bahkan, ada pula di antara mereka yang menemui Abu ‘Amr Ibnul ‘Ala’— salah seorang ahli qiraah sab’ah (tujuh bacaan al-Qur’an)—agar membacanya dengan memfathahkan lafzhul jalalah sehingga menjadi wa kallamallaha Musa takliima (maknanya, Musa mengajak bicara Allah).

Abu ‘Amr menjawab, “Baiklah, anggaplah saya baca seperti yang kau inginkan, lalu bagaimana kau berbuat dengan firman Allah Subhanahu wata’ala,

وَلَمَّا جَاءَ مُوسَىٰ لِمِيقَاتِنَا وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ

“Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan, dan Rabbnya mengajaknya berbicara (langsung),” (al-A’raf: 143)

Seketika, terdiamlah orang Mu’tazilah itu. Sama seperti itu juga, bagaimana pula dia memahami firman Allah Subhanahu wata’ala,

إِذْ نَادَاهُ رَبُّهُ بِالْوَادِ الْمُقَدَّسِ طُوًى

“Tatkala Rabbnya memanggilnya di lembah suci, Lembah Thuwa.” (an- Nazi’at: 16)

Apakah dia akan menashabkan kata Rabb (memberi harakat fathah) pada kedua ayat yang mulia ini? Ayat-ayat ini menegaskan bahwa Nabi Musa ‘Alaihissalam mendengar Kalam Allah Subhanahu wata’ala langsung dari Allah Subhanahu wata’ala, bukan dari pohon, batu, atau yang lainnya. Seandainya Nabi Musa ‘Alaihissalam mendengar dari selain Allah Subhanahu wata’ala; dari pohon atau batu, atau yang lainnya, niscaya tidak ada kelebihan dan keutamaan beliau dari nabi yang lain, bahkan dari bani Israil. Mengapa? Karena bani Israil mendengar Kalam Allah Subhanahu wata’ala langsung dari Nabi Musa ‘Alaihissalam; seutama-utama manusia yang mendengar dari Allah Subhanahu wata’ala pada masa itu. Akan tetapi—menurut kaum Mu’tazilah—Nabi Musa ‘Alaihissalam mendengarnya bukan dari Allah Subhanahu wata’ala, melainkan dari pohon!?

Ayat ini menunjukkan pula bahwa Kalam Allah Subhanahu wata’ala itu adalah suara dan huruf, yang sesuai dengan kemuliaan dan kesempurnaan-Nya, bukan makna atau pikiran yang ada di dalam diri Allah Subhanahu wata’ala. Sebab, kalau Kalam Allah Subhanahu wata’ala adalah buah pikiran atau sesuatu yang ada di dalam diri Allah Subhanahu wata’ala, niscaya Nabi Musa ‘Alaihissalam tidak dapat mendengarnya, dan tidak akan digelari Kalimur Rahman.

Ibnu Hajar asy-Syafi’i rahimahullah dalam Syarah Shahih al-Bukhari menegaskan bahwa siapa yang menafikan suara dia harus menerima bahwa itu berarti Allah Subhanahu wata’ala tidak memperdengarkan Kalam- Nya kepada siapa saja, baik malaikat- Nya maupun para rasul-Nya, tetapi mengilhamkan kepada mereka Kalam tersebut.

Dalam bagian lain di kitab itu juga, beliau menegaskan bahwa suara adalah sifat Dzat-Nya, tidak serupa dengan suara makhluk-Nya. Wallahu a’lam.

Kita kembali kepada kisah ini. Setelah mendengar Kalam Allah Subhanahu wata’ala, menerima penghargaan yang demikian tinggi, dipilih oleh Allah Subhanahu wata’ala, Nabiyullah Musa ‘Alaihissalam semakin rindu kepada Allah Subhanahu wata’ala. Akhirnya, beliau berkata (sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala),

رَبِّ أَرِنِي أَنظُرْ إِلَيْكَ ۚ

“Wahai Rabbku, tampakkanlah (diri-Mu) kepadaku agar aku dapat melihat-Mu.”

Sebuah permintaan yang wajar dan bukan terlarang. Akan tetapi, tentu saja tidak di dunia. Oleh sebab itulah, Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

قَالَ لَن تَرَانِي وَلَٰكِنِ انظُرْ إِلَى الْجَبَلِ فَإِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهُ فَسَوْفَ تَرَانِي

“Allah berfirman, ‘Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tetapi lihatlah ke bukit itu. Jika ia tetap di tempatnya (seperti sediakala), niscaya kamu dapat melihat-Ku’.”

Dengan penuh ketundukan dan harap, Nabi Musa ‘Alaihissalam memandang gunung besar yang ada di dekatnya, apa yang terjadi? Ternyata gunung itu hancur luluh dan Nabi Musa ‘Alaihissalam pingsan. Itulah firman Allah Subhanahu wata’ala,

فَلَمَّا تَجَلَّىٰ رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَىٰ صَعِقًا

“Tatkala Rabbnya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan.”

Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

فَلَمَّا أَفَاقَ قَالَ سُبْحَانَكَ تُبْتُ إِلَيْكَ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُؤْمِنِينَ

“Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata, ‘Mahasuci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku adalah orang yang pertama-tama beriman’.” (al-A’raf: 143)

Setelah itu Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

قَالَ يَا مُوسَىٰ إِنِّي اصْطَفَيْتُكَ عَلَى النَّاسِ بِرِسَالَاتِي وَبِكَلَامِي فَخُذْ مَا آتَيْتُكَ وَكُن مِّنَ الشَّاكِرِينَ () وَكَتَبْنَا لَهُ فِي الْأَلْوَاحِ مِن كُلِّ شَيْءٍ مَّوْعِظَةً وَتَفْصِيلًا لِّكُلِّ شَيْءٍ فَخُذْهَا بِقُوَّةٍ وَأْمُرْ قَوْمَكَ يَأْخُذُوا بِأَحْسَنِهَا ۚ سَأُرِيكُمْ دَارَ الْفَاسِقِينَ

“Allah berfirman, ‘Hai Musa, sesungguhnya aku memilih (melebihkan) kamu dan manusia yang lain (di masamu) untuk membawa risalah-Ku dan untuk berbicara langsung dengan-Ku, sebab itu berpegang teguhlah kepada apa yang aku berikan kepadamu dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur.’ Dan telah Kami tuliskan untuk Musa pada luh-luh (Taurat) segala sesuatu sebagai pelajaran dan penjelasan bagi segala sesuatu.” (al-A’raf: 144—145)

Allah Subhanahu wata’ala memilih dan mengutamakan beliau dari sekalian manusia pada masa itu, tidak mencakup masa sebelum atau sesudahnya. Hal itu karena sebelum beliau, yang paling utama adalah Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam, sedangkan sesudah beliau adalah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam,.

Dalam riwayat yang sahih disebutkan bahwa salah satu keistimewaan Taurat adalah dia ditulis sendiri oleh Allah Subhanahu wata’ala dengan kedua Tangan-Nya yang mulia.

Wallahu a’lam.

(Insya Allah bersambung)

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Harits

Melintasi Laut Merah

 

Tentara Fir’aun semakin dekat. Bani Israil pun bertambah takut. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

فَلَمَّا تَرَاءَى الْجَمْعَانِ قَالَ أَصْحَابُ مُوسَىٰ إِنَّا لَمُدْرَكُونَ () قَالَ كَلَّا ۖ إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ () فَأَوْحَيْنَا إِلَىٰ مُوسَىٰ أَنِ اضْرِب بِّعَصَاكَ الْبَحْرَ ۖ فَانفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرْقٍ كَالطَّوْدِ الْعَظِيمِ

“Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut pengikut Musa,‘ Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul.’ Musa menjawab,‘Sekali-kali tidak akan tersusul. Sesungguhnya Rabbku bersamaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku.’ Lalu Kami wahyukan kepada Musa, ‘Pukullah lautan itu dengan tongkatmu.’ Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar.” (asy-Syu’ara: 61—63)

Itulah jawaban tegas Nabi Musa ‘alaihis salam. Tidak mungkin akan terjadi sesuatu yang kalian takutkan karena Allah Subhanahu wata’ala lah yang memerintahkanku membawa kalian ke sini. Allah Subhanahu wata’ala tidak akan menyalahi janji-Nya.

Ibnu Katsir rahimahullah menukil riwayat bahwa di barisan bani Israil itu ada Nabi Harun dan Yusya’ bin Nun. Di bagian belakang, ada salah seorang pengikut Fir’aun yang sudah beriman. Pengikut Fir’aun yang beriman itu bertanya, “Wahai Nabi Allah, apakah ke sini Allah Subhanahu wata’ala memerintahkan Anda membawa kami?”

“Ya,” jawab Nabi Musa ‘alaihis salam. Akhirnya, orang-orang yang beriman itu merasa tenang. Mereka yakin pertolongan Allah Subhanahu wata’ala akan segera tiba.

Fir’aun dan bala tentaranya semakin dekat. Pada saat itulah Allah Subhanahu wata’ala memerintahkan Nabi Musa ‘alaihis salam memukul laut itu dengan tongkatnya. Serta-merta, dengan izin Allah Subhanahu wata’ala, laut itu terbelah menjadi dua belas jalanan yang kering. Air laut yang terbelah itu masing-masing membentuk dinding setinggi gunung yang menjulang.

Melihat dua belas jalan membentang di hadapan mereka, sedangkan air laut membentuk dinding setinggi gunung memisahkan masing-masing jalan itu, bani Israil di bawah pimpinan Nabi Musa

dan Harun segera masuk ke celah-celah dinding ‘kaca’ dan melintasi jalan tersebut. Dua belas jalan itu sesuai dengan jumlah suku bani Israil, dan masing-masing sudah tahu jalan mana yang dilewati oleh sukunya.

Dinding-dinding air itu seolah-olah kaca tembus pandang, sehingga bani Israil dapat melihat saudaranya yang sedang berjalan di bagian yang lain.

Di belakang mereka, di tepi pantai Laut Merah, Allah Subhanahu wata’ala menggerakkan Fir’aun dan bala tentaranya mendekati laut yang masih mengering membentuk jalan. Fir’aun dan pasukannya yang tetap mengejar, segera menerobos masuk ke laut yang sudah membentuk jalan itu.

Sementara itu, Nabi Musa, Nabi Harun, dan bani Israil sudah tiba di seberang laut tersebut. Begitu seluruh bani Israil telah menapakkan kakinya di seberang -Fir’aun yang masih berada di tengah, demikian pula pasukannya, tidak ada yang tertinggal- muncullah rasa takut dalam hati Fir’aun dan pengikutnya. Tetapi, terlambat, untuk kembali sudah tidak mungkin, maju juga tidak.

Dalam keadaan demikian, dengan izin Allah Subhanahu wata’ala, laut itu pun bertaut kembali. Dinding-dinding ‘kaca’ yang tadi tegak menjulang setinggi gunung, bergerak sambil mengeluarkan suara kematian, mengempas dan membenamkan Fir’aun dan pasukannya ke dasarnya. Jerit kematian bersama ringkik kuda yang ketakutan tenggelam dalam deru air yang bergemuruh dahsyat. Tidak ada yang selamat. Semua tenggelam, mati. Keadaan pun menjadi sunyi, sepi. Di sela-sela riak dan gelombang Laut Merah itu….

Hal ini sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala,

وَجَاوَزْنَا بِبَنِي إِسْرَائِيلَ الْبَحْرَ فَأَتْبَعَهُمْ فِرْعَوْنُ وَجُنُودُهُ بَغْيًا وَعَدْوًا ۖ حَتَّىٰ إِذَا أَدْرَكَهُ الْغَرَقُ قَالَ آمَنتُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا الَّذِي آمَنَتْ بِهِ بَنُو إِسْرَائِيلَ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ () آلْآنَ وَقَدْ عَصَيْتَ قَبْلُ وَكُنتَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ () فَالْيَوْمَ نُنَجِّيكَ بِبَدَنِكَ لِتَكُونَ لِمَنْ خَلْفَكَ آيَةً ۚ وَإِنَّ كَثِيرًا مِّنَ النَّاسِ عَنْ آيَاتِنَا لَغَافِلُونَ

“Dan Kami memungkinkan bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir’aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka). Hingga bila Fir’aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia,‘Saya percaya bahwa tidak ada Ilah melainkan (Ilah) yang dipercayai oleh bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).’ Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami.” (Yunus: 90-92)

Ternyata, dalam keadaan panik, napas tinggal satu-satu, Fir’aun berusaha bertahan dan berkata, “Saya percaya bahwa tidak ada Ilah melainkan (Ilah) yang dipercayai oleh bani Israil,” tetapi ucapan itu tidak berguna, dia pun mati terbenam. Jasadnya ditemukan dalam keadaan terdampar di wilayah Mesir, kemudian diawetkan dan masih utuh hingga saat ini.

Demikianlah, bani Israil telah diselamatkan Allah Subhanahu wata’ala dari kehinaan dan kekejaman Fir’aun. Allah Subhanahu wata’ala menghancurkan musuh mereka bahkan memperlihatkan kepada mereka kebinasaan Fir’aun dan bala tentaranya yang tenggelam di Laut Merah. Tidak hanya itu, jasad Fir’aun yang telah kehilangan nyawa, Allah Subhanahu wata’ala tunjukkan dan Allah Subhanahu wata’ala abadikan agar menjadi pelajaran dan peringatan bagi orangorang yang datang sesudahnya.

Setelah melihat sendiri kehancuran musuh mereka, bani Israil merasa puas dan lega. Dengan penuh rasa syukur, Nabi Musa ‘alaihis salam membawa mereka meninggalkan tempat tersebut.

Nabi Musa membawa bani Israil menjauh dari tepi Laut Merah. Di depan, mulai tampak tanda-tanda kehidupan. Atap-atap rumah penduduk daerah itu mulai terlihat.

Di sebuah tempat, masih dalam perjalanan, mereka melihat penduduk negeri yang akan mereka lewati itu sedang tirakat, beribadah kepada berhalaberhala mereka.

Melihat perbuatan penduduk negeri itu, bani Israil berkata kepada Nabi Musa ‘alaihis salam, sebagaimana disebutkan oleh Allah Subhanahu wata’ala dalam firman-Nya,

قَالُوا يَا مُوسَى اجْعَل لَّنَا إِلَٰهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ ۚ قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ () إِنَّ هَٰؤُلَاءِ مُتَبَّرٌ مَّا هُمْ فِيهِ وَبَاطِلٌ مَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ () قَالَ أَغَيْرَ اللَّهِ أَبْغِيكُمْ إِلَٰهًا وَهُوَ فَضَّلَكُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ

“Hai Musa, buatlah untuk kami satu sesembahan sebagaimana mereka mempunyai beberapa sesembahan.” Musa menjawab,“Sesungguhnya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui. Sesungguhnya atas mereka itu, akan dihancurkan kepercayaan yang dianutnya dan akan batal apa yang selalu mereka kerjakan.” Musa menjawab, “Patutkah aku mencari satu sesembahan (ilah) untuk kamu selain Allah, padahal Dialah yang telah melebihkan kamu atas segala umat?” (al-A’raf: 138-140)

Mendengar teguran keras Nabi Musa ‘alaihis salam ini, mereka terdiam dan tidak jadi melanjutkan keinginan tersebut. Seandainya mereka tetap melanjutkan keinginan itu, pasti mereka ditimpa azab; dihancurkan, sebagaimana dalam ayat tersebut. Beliau mengingatkan mereka akan karunia Allah Subhanahu wata’ala yang telah menyelamatkan mereka dari kekejaman Fir’aun, bahkan memperlihatkan bagaimana Allah Subhanahu wata’ala membinasakan Fir’aun dan bala tentaranya, serta melebihkan mereka dari seluruh manusia pada masa itu.

Ribuan tahun kemudian, sebagian sahabat yang baru masuk Islam, ada yang meminta hal yang sama kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Abu Waqid al-Laitsi radhiyallahu ‘anhu menceritakan, “Kami berangkat bersama Rasululah Shallallahu ‘alaihi wasallam menuju Hunain, sementara kami baru saja meninggalkan kekafiran (baru masuk Islam) dan orang-orang musyrik mempunyai sebatang pohon sidr (bidara) yang selalu mereka i’tikaf (tirakat) di dekatnya. Mereka biasa menggantungkan senjata-senjata mereka di pohon itu, yang namanya Dzatu Anwath.

Kami pun melewati pohon seperti itu, lalu kami berkata,‘YaRasulullah, buatkanlah untuk kami Dzatu Anwath sebagaimana mereka mempunyai Dzatu Anwath.”

Serta-merta Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, ‘Allahu Akbar, sungguh ini (ucapan kalian ini) adalah sunnah (jalan hidup, kebiasaan), kalian telah berkata – demi yang jiwaku di Tangan-Nya- sebagaimana yang dikatakan bani Israil (dalam ayat),

يَا مُوسَى اجْعَل لَّنَا إِلَٰهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ ۚ قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ

‘Ya Musa, buatkanlah kami satu sesembahan sebagaimana mereka mempunyai beberapa sesembahan.’ Musa menjawab,‘Sesungguhnya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui. Sungguh, kalian benar-benar akan mengikuti jalan hidup orang-orang sebelum kalian’.”1

Benarlah sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam. Berita nubuwah yang tidak mungkin disanggah dengan akal secerdas apa pun. Berita yang keluar dari manusia terbaik, yang tidak berbicara dengan hawa nafsunya, bahwa dari kalangan umat ini pasti akan ada yang mengikuti cara hidup orangorang sebelum mereka, baik itu Yahudi dan Nasrani maupun Persia dan Romawi.

Akan tetapi, ada satu hal yang harus dicermati, bahwa meskipun hadits tersebut sahih, ada pula hadits lain yang juga sahih, yang menegaskan tidak semua umat beliau terjerumus melakukan perbuatan yang meniru orang-orang Yahudi, Nasrani, Romawi, dan Persia.

Itulah orang-orang yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wata’ala; orang-orang yang senantiasa berpegang teguh dengan Kitab Allah Subhanahu wata’ala dan sunnah Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam. (Insya Allah bersambung)

Oleh : al Ustadz Abu Muhammad Harits

———————————————————————–

1 HR. at-Tirmidzi (2180) dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani rahimahullah (Shahih Sunan at-Tirmidzi [1/235]).

Asiah, Masyithah, dan Terbelahnya Laut Merah

Keimanan tukang-tukang sihir itu bukannya membuat bangsa Qibthi beriman, melainkan semakin dendam dan jauh dari al-haq. Fir’aun sendiri semakin bertambah kekafiran dan keingkarannya.

Para pembesar kerajaan Fir’aun menghasut Fir’aun agar menghancurkan bani Israil. Allah Subhanahu wata’ala berfirman menceritakan makar mereka,

وَقَالَ الْمَلَاُ مِنْ قَوْمِ فِرْعَوْنَ اَتَدَرُمُوْسٰى وَقَوْمَهُ لِيُفْسِدُوا فِى الْاَرْضِ وَيَذَرَكَ وَاٰلِهَتَكَ ۗ قَالَ سَنُقَتِّلُ اَبْنَآءَهُمْ وَنَسْتَحْيِى نِسَآءَهُمْ  ۚ وَاِنَّا فَوْقَهُمْ قَاهِرُوْنَ۝

Berkatalah pembesar-pembesar dari kaum Fir’aun (kepada Fir’aun), “Apakah kamu membiarkan Musa dan kaumnya untuk membuat kerusakan di negeri ini (Mesir) serta meninggalkan kamu dan sesembahanmu?” Fir’aun menjawab“, Akan kita bunuh anak-anak lelaki mereka dan kita biarkan hidup perempuan-perempuan mereka; dan sesungguhnya kita berkuasa penuh di atas mereka.” (al-A’raf: 127)

Dalam ayat ini, Allah Subhanahu wata’ala menerangkan bahwa dengan tindakan kejamnya itu, Fir’aun merasa aman dari bani Israil.  Bangsa Qibthi (pribumi Mesir) tidak akan terancam dengan berkurangnya jumlah bani Israil, lebih-lebih lagi yang tersisa adalah kaum wanita dan orang-orang yang lemah, sehingga mudah untuk menindas mereka.

Demikianlah. Dalam keadaan diselimuti oleh ketakutan itu, bani Israil dibimbing oleh Nabi Musa alaihis salam agar semakin dekat kepada Allah Subhanahu wata’ala, merendahkan diri, dan selalu meminta pertolongan kepada-Nya dengan shalat dan sabar.

Akhirnya, Allah Subhanahu wata’ala mengirim hujan yang sangat lebat hingga menenggelamkan tanaman dan sawah ladang mereka, kemudian belalang yang memakan tanaman dan buah-buahan mereka. Hilang azab yang satu, datang azab berikutnya. Muncullah darah yang memenuhi rumah-rumah mereka. Air yang mereka timba dari sungai Nil tidak lagi jernih, tetapi berubah menjadi darah. Setelah itu, datang katak yang mengisi  bejana dan perabotan mereka, bahkan setiap kali mereka membuka tutup makanan mereka, yang ada adalah katak.

Semua itu tidak mengenai bani Israil sama sekali.

Setiap datang bencana yang sangat buruk ini, orang-orang kafir itu datang menemui Nabi Musa ‘alaihis salam dan meminta agar Nabi Musa ‘alaihis salam berdoa kepada Allah Subhanahu wata’ala supaya bencana itu dijauhkan dari mereka. Nabi Musa ‘alaihis salam memenuhi permintaan mereka dengan harapan mereka mau beriman. Berulang-ulang mereka meminta agar diselamatkan, dan berulang-ulang pula Nabi Musa ‘alaihis salam berdoa, tetapi mereka tidak juga beriman.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَلَمَّ وَقَعَ عَلَيْهِمُ الرِّجْزُ قَالُوْا يَا مُوْسَى ادْعُ لَنَارَبَّكَ بِمَا عَهِدَ عِنْدَكَ ۚ لَئِنْ كَشَفْتَ عَنَّا الرِّجْزَ لَنُؤْ مِنَنَّ لَكَ وَلَنُرْسِلَنَّ مَعَكَ بَنِى اِسْرَا ءِيْلَ۝ فَلَمَّ كَشَفْنَا عَنْهُمُ الرِّجْزَ اِلٰى اَجَلٍ هُمْ بَالِغُوهُ اِذَا هُمْ يَنْكُثُوْن۝ فَانْتَقَمْنَا مِنْهُمْ فَاَ غْرَقْنَا هُمْ فِي الْيَمِّ بِاَنَّهُمْ كَذَّبُوْا بِاٰيَاتِنَاوَكَانُوْا عَنْحهَا غَافِلِيْنَ۝

Dan ketika mereka ditimpa oleh azab (yang telah diterangkan itu) mereka pun berkata, “Hai Musa, mohonkanlah untuk kami kepada Rabbmu dengan (perantaraan) kenabian yang diketahui oleh Allah ada pada sisimu. Sesungguhnya jika kamu dapat menghilangkan azab itu dan pada kami, pasti kami akan beriman kepadamu dan akan kami biarkan bani Israil pergi bersamamu.” Setelah Kami hilangkan azab itu dari mereka hingga batas waktu yang mereka sampai kepadanya, tiba-tiba mereka mengingkarinya. Kemudian Kami menghukum mereka, maka Kami tenggelamkan mereka di laut disebabkan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka adalah orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami itu.” (al-A’raf: 134-136)

Itulah Fir’aun dan pengikutnya. Setiap datang ayat Allah Subhanahu wata’ala kepada mereka, semakin bertambah keingkaran mereka. Akhirnya, Allah Subhanahu wata’ala menghukum mereka dengan menenggelamkan mereka semua di Laut Merah.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

فَلَمَّآ اٰسِفُوْ نَا انْتَقَمْنَا مِنْهُمْ فَاَغْرَقْنَاهُمْ اَجْمَعِيْنَ۝ فَجَعَلْنَا هُمْ سَلَفً وَمَثَلاً لِلْاٰ خِرِيْنَ۝

Tatkala mereka membuat Kami murka, Kami menghukum mereka lalu Kami tenggelamkan mereka semuanya (dilaut), dan Kami jadikan mereka sebagai pelajaran dan contoh bagi orang-orang yang kemudian.” (az-Zukhruf : 55-56)

Kejadian yang mereka alami itu diceritakan oleh Allah Subhanahu wata’ala Yang Maha Benar perkataan-Nya, agar orang-orang yang mau mengambil pelajaran dan nasihat menjadikan keadaan mereka sebagai pelajaran dan nasihat, lalu menjaga dirinya dengan menaati Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya ‘alaihis salam.

Asiah dan Masyithah

Kemurkaan dan dendam Fir’aun semakin memuncak, lebih-lebih lagi setelah mengetahui pula istrinya Asiah bintu Muzahim beriman kepada bekas anak angkatnya, Musa bin ‘Imran ‘alaihumas salam. Setiap hari Asiah dijemur di bawah terik matahari. Tetapi, setiap kali dia ditinggal sendirian oleh Fir’aun, para malaikat datang menaunginya dengan sayap-sayap mereka.

Akhirnya, Fir’aun memerintahkan prajuritnya mencari batu besar untuk dilemparkan ke tubuh Asiah yang sedang dijemur.

“Tanyai dia, kalau dia tetap beriman, lemparkan batu itu ke tubuhnya. Kalau dia menarik ucapannya, dia adalah istriku.”

Asiah tetap berpegang dengan keimanannya. Fir’aun dan beberapa pembesarnya melihat ke arahnya yang tersenyum. Mereka terheran-heran, “Dia sudah gila rupanya. Kita menyiksa dia dengan hebat, dia malah tersenyum.”

Ahli tafsir menyebutkan bahwa Asiah tersenyum karena doanya dikabulkan Allah Subhanahu wata’ala, sebuah rumah sudah disediakan untuknya di dalam surga, dan diselamatkan dari keganasan Fir’aun dan para pengikutnya. Setelah itu, Allah Subhanahu wata’ala mencabut ruhnya, menyelamatkannya dari kekejaman Fir’aun. Batu besar yang disiapkan untuk meremukkan tubuh Asiah akhirnya dilemparkan juga, tetapi hanya menimpa seonggok jasad yang sudah kaku.

Menurut sebagian ahli tafsir, Asiah beriman karena mengetahui keimanan Masyithah, istri seorang pembesar kerajaan yang sudah beriman. Kisah Masyithah ini disebutkan dalam sebagian

kisah Isra’ Mi’raj Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, tetapi melalui jalur Hammad bin Salamah yang meriwayatkannya dari Atha’ bin Saib yang kacau hafalannya. Oleh karena itu, sebagian ulama, seperti asy-Syaikh al-Albani menganggapnya lemah, meskipun rawi lainnya tsiqah.

Masyithah adalah tukang sisir putrid Fir’aun. Suatu hari, sisir yang ada di tangannya terlepas dari tangannya. Masyithah segera menyebut nama Allah Subhanahu wata’ala. Mendengar ucapannya, putri Fir’aun bertanya, “Apakah kamu punya tuhan selain ayahku?”

“Rabbku, Rabb ayahmu, dan Rabb segala sesuatu adalah Allah Subhanahu wata’ala.”

Putri Fir’aun marah besar. Dia menampar Masyithah dan menyiksanya, lalu melaporkan keimanan Masyithah kepada ayahnya. Masyithah dibawa menghadap Fir’aun dalam keadaan sudah yakin akan menerima siksaan yang sangat kejam dari Fir’aun.

“Apakah kamu menyembah sesuatu selain aku?”

“Ya, aku menyembah Allah, Rabbmu dan Rabb segala sesuatu.”

Fir’aun pun mengikatnya dan menakuti-nakutinya dengan ular yang besar. Namun, Masyithah tidak goyah. Fir’aun jengkel dan mengancam akan menyembelih anaknya di hadapan Masyithah.

“Lakukan apa yang ingin kau lakukan,” tantang Masyithah.

Fir’aun semakin murka. Dengan bengis, satu demi satu anak Masyithah disembelih di hadapan Masyithah. Tetapi, hal itu tidak membuat Masyithah goyah, hingga Allah Subhanahu wata’ala mencabut ruhnya.

Setelah itu, Fir’aun memerintahkan pasukannya untuk membantai seluruh laki-laki, tua muda, besar, dan kecil dari kalangan bani Israil, serta membiarkan kaum wanita mereka tetap hidup.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَاَوْحَيْنَآ اِلٰى مُوْسٰ اَنْ اَسْرِ بِعِبَادِى اِنَّكُمْ مُتَّبَعُوْنَ۝

Dan Kami wahyukan (perintahkan) kepadaMusa,‘Pergilah dimalam hari dengan membawa hamba-hamba-Ku (baniIsrail), karena sesungguhnya kamu sekalian akan disusuli’.” (asy-Syu’ara : 52)

Begitu Fir’aun mengetahui bahwa permukiman bani Israil sudah kosong, dia segera memerintahkan pasukannya mengejar. Seluruh pasukan kerajaan Mesir dikerahkan untuk menangkap Nabi Musa ‘alaihis salam dan bani Israil. Bergeraklah mereka meninggalkan negeri Mesir, meninggalkan sawah ladang, kebun-kebun, gudang-gudang harta, dan kemewahan.

Sementara itu, Nabi Musa dan Harun ‘alaihimas salam bersama bani Israil sudah tiba di tepi Laut Merah. Sayup-sayup sudah terdengar pula derap kaki kuda bala tentara Fir’aun. Bani Israil mulai diselimuti rasa takut yang luar biasa. Berkali-kali mereka menoleh ke belakang. Tampaklah debu mulai membubung tinggi.

Mereka berteriak kepada Nabi Musa ‘alaihis salam, “Kita tersusul. Fir’aun pasti membasmi kita sampai habis.”

“Itu tidak akan pernah terjadi,” kata Nabi Musa ‘alaihis salam dengan tenang dan mantap. (insya Allah bersambung)

Ditulis oleh  Al-Ustadz Abu Muhammad Harits

Hikmah Islam dalam Halal dan Haram

Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu pernah menyampaikan, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah telah melarang kalian memakan daging hewan kurban lebih dari tiga hari. Maka, janganlah kalian makan (lebih dari tiga hari).” (HR. al-Bukhari no. 5573 dan Muslim no. 1969)

Seputar Sanad Hadits

Al-Qadhi rahimahullah menjelaskan, “Hadits ini, melalui riwayat Sufyan, memiliki ‘illah (cacat) menurut ahli hadits dalam hal rafa’nya (sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam). Sebab, para hafizh, murid-murid Sufyan tidak menyebutkannya secara rafa’.  Oleh karena itu, al-Bukhari rahimahullah tidak meriwayatkan hadits ini melalui jalan Sufyan akan tetapi meriwayatkannya dari jalan lain.

Ad-Daruquthni rahimahullah menjelaskan, ‘Riwayat ini termasuk wahm (kesalahan) Abdul Jabbar bin al-‘Ala’. Sebab, Ali al-Madini, Ahmad bin Hanbal, al-Qa’nabi, Abu Khaitsamah, Ishaq, dan yang lain meriwayatkan dari Sufyan bin Uyainah secara waqf (sampai kepada sahabat).

Hadits ini sahih secara rafa’ melalui az-Zuhri, namun bukan dari jalan Sufyan. Shalih, Yunus, Ma’mar, az-Zubaidi, dan Malik dari riwayat Juwairiyah, mereka semua meriwayatkan hadits ini dari az-Zuhri secara rafa.’ Ini adalah penjelasan ad-Daraquthni. Adapun matan hadits tetaplah sahih apa pun keadaannya. Wallahu a’lam.”

Makna Hadits

Hadits di atas dan hadits-hadits lain yang semakna menunjukkan tidak bolehnya menyimpan daging hewan kurban lebih dari tiga hari. Daging tersebut harus habis dikonsumsi dan dibagikan dalam waktu kurang dari tiga hari. Sejak dan hingga kapan hitungan tiga hari itu?

Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah menerangkan, “Ada kemungkinan, tiga hari itu terhitung dari hari menyembelih kurban. Bisa jadi juga, tiga hari tersebut terhitung dari hari Nahr (10 Dzulhijjah), meskipun waktu penyembelihannya tertunda sampai hari-hari Tasyriq, dan kemungkinan makna inilah yang paling dhahir dari sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Hukum ini pernah berlaku selama beberapa waktu. Hingga suatu saat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan bahwa hukum tersebut tidak lagi berlaku. Yang kemudian berlaku adalah bolehnya mengonsumsi, menyimpan, atau membagikan daging hewan kurban lebih dari tiga hari sejak saat menyembelihnya di hari Nahr. Berikut ini kami akan menyebutkan hadits-hadits yang mansukhah (telah dihapuskan hukumnya) dan hadits-hadits nasikhah (yang menghapus hukum sebelumnya dan yang berlaku seterusnya).

Hadits-Hadits Mansukhah (Telah Dihapus Hukumnya)

  1. Hadits Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Makanlah daging hewan kurban kalian dalam tiga hari saja.”
Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma makan dengan menggunakan minyak zaitun sebagai lauk setelah beliau meninggalkan Mina. (HR. Bukhari no. 5574)

  1. Hadits Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Janganlah ada orang makan daging hewan kurbannya lebih dari tiga hari.” (HR. Muslim no. 1970)

  1. Hadits Aisyah radhiallahu ‘anha. Beliau berkata, “Kami membuat dendeng dari daging hewan kurban dan menghidangkannya untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di Madinah.” Beliau lantas bersabda, ‘Jangan makan kecuali hanya dalam waktu tiga hari’.” (HR. al-Bukhari no. 5570)

 

Hadits-Hadits Nasikhah (yang Menghapus Hukum Sebelumnya dan yang Berlaku Seterusnya)

1. Hadits Buraidah radhiallahu ‘anhu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dahulu, aku melarang kalian mengonsumsi daging hewan kurban lebih dari tiga hari. Maka, (sekarang) kalian boleh menyimpannya sesuai keinginan kalian.” (HR. Muslim 977)

2. Hadits Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu, Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melarang untuk mengonsumsi daging hewan kurban lebih dari tiga hari. Setelah itu beliau bersabda, “Makanlah daging hewan kurban, jadikanlah bekal perjalanan dan simpanlah!” (HR. Muslim 1972)

3. Hadits Nubaisyah radhiallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, sungguhnya, aku dahulu melarang kalian untuk mengonsumsi daging hewan kurban lebih dari tiga hari supaya dapat mencukupi kalian. Kini, Allah subhanahu wa ta’ala telah memberikan kecukupan untuk kalian, maka makanlah, simpan, dan carilah pahala. Ketahuilah, sesungguhnya hari-hari ini (yakni hari–hari tasyriq) adalah hari makan, minum, dan zikir kepada Allah subhanahu wa ta’ala.” (HR. Abu Dawud no. 2796, an-Nasa’i no. 4237, dan Ibnu Majah no. 3160.Dinyatakan sahih oleh al-Wadi’i dalam ash-Shahihul Musnad [2/222] dan al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah [2575])

Larangan Itu Telah Dihapuskan

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah sebelum menyebutkan hadits di atas, membuat bab dengan judul “Keterangan tentang Larangan Mengonsumsi Daging Hewan Kurban di Atas Tiga Hari, di Awal Islam, dan Keterangan tentang Dihapuskannya Hukum Tersebut, serta Diperbolehkannya (Mengonsumsi Daging Hewan Kurban) Sampai Batas Waktu yang Diinginkan.”

Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Para ulama berselisih pandangan mengenai hukum yang ditunjukkan hadits-hadits ini.

Sebagian berpendapat, diharamkan untuk menyimpan dan makan daging hewan kurban lebih dari tiga hari. Hukum pengharaman ini masih tetap berlaku sebagaimana pendapat Ali dan Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma.

Sementara itu, mayoritas ulama menyatakan, diperbolehkan untuk makan dan menyimpan daging hewan kurban lebih dari tiga hari. Larangan yang ada telah dinasakh (dihapus) dengan hadits-hadits yang secara jelas menunjukkan nasakh, terutama hadits Buraidah radhiallahu ‘anhu. Ini termasuk contoh sunnah yang dinasakh dengan sunnah lainnya.

Sebagian ulama yang lain memandang, hal ini bukanlah nasakh. Akan tetapi pengharaman yang lalu dikarenakan adanya satu ‘illah (sebab). Pada saat ‘illah tersebut hilang maka berakhirlah pengharaman itu berdasarkan hadits Salamah dan ‘Aisyah radhiallahu ‘anhuma.

Ada pendapat lain, larangan pertama menunjukkan makruh bukan pengharaman. Mereka menjelaskan, hukum makruh masih berlaku hingga hari ini, namun tidak sampai pada tingkatan haram. Meskipun sebab seperti itu terjadi lagi hari ini, lantas berdatangan orang-orang lemah dari perdesaan dan manusia pun saling berbagi. Mereka memahami hal ini dari pendapat Ali dan Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma.”

Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah menyimpulkan, “Yang benar adalah larangan tersebut telah dinasakh (dihapus) secara mutlak, sehingga tidak ada lagi yang tersisa hukum makruh ataupun haram. Maka, saat ini diperbolehkan untuk menyimpan daging kurban hingga lebih dari tiga hari dan diperbolehkan makan hingga kapan pun yang ia mau, berdasarkan isi hadits Buraidah yang jelas dan hadits lainnya. Wallahu a’lam.” (Syarah an-Nawawi untuk hadits no. 1969)

Al-Imam asy-Syaukani rahimahullah mengatakan (Nailul Authar 3/496), setelah menukil perbedaan pendapat di atas, “Sungguh, setelah masanya ulama berbeda pendapat, para ulama telah berijma’ tentang diperbolehkannya makan dan menyimpan daging hewan kurban lebih dari tiga hari. Aku juga tidak mengetahui ada seorang ulama setelah mereka, yang tidak berpendapat seperti pendapat mereka.”

Nasakh, Bagian dari Hikmah Allah subhanahu wa ta’ala

Nasakh adalah dihapuskannya sebuah hukum dari dalil terdahulu (dalil yang mansukh) dan digantikan dengan hukum lain dari dalil yang terakhir (dalil yang nasikh).

Umat Islam memiliki kesepakatan tentang boleh dan terjadinya nasakh.Tidak hanya satu ulama yang menukil kesepakatan tersebut. Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Kaum muslimin seluruhnya bersepakat tentang adanya nasakh di dalam ahkam (hukum-hukum) Allah subhanahu wa ta’ala.” (Tafsir Ibnu Katsir [1/226])

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

يَمۡحُواْ ٱللَّهُ مَا يَشَآءُ وَيُثۡبِتُۖ وَعِندَهُۥٓ أُمُّ ٱلۡكِتَٰبِ ٣٩

“Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nyalah terdapat Ummul Kitab.” (ar-Ra’d: 39)

Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman,

۞مَا نَنسَخۡ مِنۡ ءَايَةٍ أَوۡ نُنسِهَا نَأۡتِ بِخَيۡرٖ مِّنۡهَآ أَوۡ مِثۡلِهَآۗ أَلَمۡ تَعۡلَمۡ أَنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٌ ١٠٦

“Apa saja ayat yang kami nasakhkan atau Kami jadikan (manusia) lupa terhadapnya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau sebanding dengannya.” (al-Baqarah: 106)

Ayat di atas menunjukkan bahwa hukum yang terkandung di dalam dalil penasakh pasti lebih baik. Baik itu lebih ringan, lebih berat, maupun seimbang.Perintah dan larangan Allah subhanahu wa ta’ala pastinya mengandung hikmah dan maslahat.Apabila hikmah dan maslahat telah berakhir dari dalil yang pertama kemudian hikmah dan maslahat tersebut berpindah ke yang lain, Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan untuk meninggalkan dalil pertama (yang telah berakhir maslahatnya) kepada dalil baru, yang mengandung maslahat untuk saat itu.

Dalil mansukh, saat masih berlaku, tentu mengandung maslahat dan hikmah.Dalil nasikh adalah dalil yang membawa maslahat dan hikmah setelah terjadinya nasakh. (Rihlatul Hajj hlm. 61)

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah menerangkan tentang hikmah nasakh (al-Ushul min ‘Ilmil Ushul). Di antaranya,

  1. Perhatian Islam terhadap kemaslahatan hamba dengan menetapkan hukum syariat yang bisa memberikan manfaat terbesar untuk dunia dan agama mereka.
  2. Perkembangan tahapan dalam penetapan hukun syariat sampai benar-benar sempurna.
  3. Ujian bagi hamba agar dapat menerima dan ridha dengan adanya perubahan satu hukum ke hukum lain.
  4. Ujian bagi hamba agar dapat bersyukur jika hukum yang menggantikan lebih mudah dan agar hamba dapat bersabar jika hukum yang menggantikan lebih berat.

Apakah Nasakh Menunjukkan al-Bada’?

Ada yang menganggap, adanya nasakh apakah tidak menunjukkan sifat al-Bada’ bagi Allah subhanahu wa ta’ala?

Al-Bada’ adalah sesuatu yang muncul kemudian tanpa ada ilmu sebelumnya.Al-Imam asy-Syinqiti rahimahullah menjelaskan, “Ketahuilah bahwa keberadaan nasakh tidak mengharuskan adanya al-Bada’ yaitu ar-ra’yu al-mutajaddid (pendapat yang baru muncul). Sebab, saat Allah subhanahu wa ta’ala menetapkan syariat yang pertama, Allah Maha Mengetahui bahwa Dia akan menasakhnya pada saat maslahat di dalamnya telah berakhir dan maslahat telah berpindah ke dalil penasakh. Sesuai dengan ilmu-Nya yang telah lalu bahwa Dia akan melakukannya. Sebagaimana halnya sakit setelah sehat atau sebaliknya.Kematian setelah kehidupan atau sebaliknya. Kefakiran setelah kaya atau sebaliknya, dan semisalnya.

Hal-hal ini bukanlah bentuk bada’, karena ilmu Allah subhanahu wa ta’ala telah lalu sebelumnya, Dia akan melakukannya pada waktunya sebagaimana zahirnya.” (al-Mudzakirah hlm. 122)

Nasakh Telah Dikenal Sejak Zaman Sahabat

Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma bercerita,

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggalkan Madinah pada tahun al-Fath di bulan Ramadhan. Beliau tetap berpuasa sampai tiba di daerah al-Kadid, kemudian beliau berbuka.” Ia berkata, yaitu az-Zuhri, “Dan para sahabat selalu mengikuti hukum yang terbaru dan hukum yang setelahnya.” (HR. Muslim no. 1113)

Bentuk Nasakh Dalam Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Al-Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan dari Abul ‘Ala’ bin asy-Syikhir, ia berkata,“Sesungguhnya Rasulullah, sebagian haditsnya menasakh hadits yang lain, sebagaimana ayat al-Qur’an menasakh ayat yang lain.”

An-Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Abul ‘Ala’ namanya Yazid bin Abdillah bin as-Syikhir (dengan mengkasrah Syin), beliau seorang tabi’in. Maksud al-Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan ucapan Abul ‘Ala’ adalah untuk menjelaskan bahwa hadits ‘Diwajibkan mandi karena keluar mani (sehingga seandainya tidak mengeluarkan mani pun tetap wajib mandi),’ telah mansukh. Pernyataan Abul ‘Ala, ‘Sunnah menasakh sunnah’ adalah benar.

Para ulama menerangkan, sunnah menasakh sunnah terjadi dengan empat bentuk,

  1. Sunnah mutawatir (yang banyak jalan periwayatannya) menasakh sunnah mutawatir
    2. Sunnah ahad (kebalikan dari mutawatir) menasakh sunnah ahad
  2. Sunnah mutawatir menasakh sunnah ahad
  3. Sunnah ahad menasakh sunnah mutawatir

Adapun tiga bentuk pertama bisa saja terjadi, tanpa adanya khilaf. Adapun bentuk keempat, menurut jumhur, tidak bisa terjadi. Sementara itu, sebagian ulama Zhahiriyah menyatakan bisa terjadi.

 

Cara Mengetahui Nasakh

Nasakh dapat diketahui dengan beberapa cara. Antara lain,

  1. Cara yang paling jelas adalah dengan adanya keterangan nasakh secara nash di dalam dalil.

Contohnya adalah hadits Buraidah radhiallahu ‘anhu dalam pembahasan kita kali ini, “Dahulu aku melarang kalian berziarah kubur, maka sekarang ziarah kuburlah! Dahulu, aku melarang kalian mengonsumsi daging hewan kurban lebih dari tiga hari. Maka, (sekarang) kalian boleh menyimpannya sesuai keinginan kalian.” (HR. Muslim no. 977)

  1. Melalui keterangan sahabat yang menjelaskan bahwa hukum yang berlaku terakhir adalah demikian.

Misalnya, ucapan Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, “Dahulu, harta warisan diberikan kepada anak, sedangkan wasiat diberikan kepada orang tua. Lalu, Allah subhanahu wa ta’ala menasakh hal tersebut sesuai yang Dia senangi. Allah subhanahu wa ta’ala menetapkan (harta warisan) untuk anak laki-laki dua kali bagian anak perempuan, untuk kedua orang tua masing-masing seperenam, untuk istri seperdelapan atau seperempat, dan untuk suami setengahnya atau seperempat.” (HR. al-Bukhari)

  1. Nasakh dapat diketahui melalui sejarah dan tarikh.
    Adapun contohnya sangat banyak.

Faedah Hadits

  1. Ketetapan hukum ada di tangan Allah subhanahu wa ta’ala.

Asy-Syaikh al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan. “Sebab, seluruh perkara ada di tangan Allah subhanahu wa ta’ala dan semua hukum hanyalah milik Allah subhanahu wa ta’ala. Karena, Dia adalah Rabb al-Malik. Allah subhanahu wa ta’ala berhak menetapkan syariat untuk hamba-hamba-Nya sesuai dengan hikmah dan rahmat-Nya.”(al-Ushul)

  1. Hukum yang ditetapkan Allah subhanahu wa ta’ala pasti membawa maslahat.
    Asy-Syaikh al-Utsaimin menerangkan, “Kemudian, hikmah dan rahmat Allah subhanahu wa ta’ala kepada hamba menjadikan-Nya menetapkan syariat untuk hamba, berdasarkan ilmu-Nya, hukum-hukum yang memberikan kemaslahatan secara dunia atau agama. Kemaslahatan itu sangat terkait dengan kondisi dan waktu. Bisa jadi, suatu hukum lebih memberikan maslahat dalam rentang waktu tertentu atau dalam kondisi tertentu. Sementara itu, di waktu dan kondisi yang lain, selain hukum tersebut lebih mendatangkan maslahat. Dan Allah, Mahaalim dan Mahahakim.” (al-Ushul)

3. Bolehnya mengonsumsi, menyimpan, atau membagikan daging kurban lebih dari tiga hari sejak disembelih di hari Nahr. Adapun larangan mengenai hal ini tidak lagi berlaku.

4. Teladan dari para sahabat di dalam berpegang dengan bimbingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

5. Cinta dan kasih sayang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umat ini.

6. Dalil keberadaan hukum yang dinasakh (dihapus) dalam Islam.

7. Keharusan untuk menerima dengan ridha semua hukum yang ditetapkan Islam, baik halal maupun haram.

Wallahul muwaffiq ila aqwamis sabil.

Ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar

 

Hakim yang Adil dan Bijaksana

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Dan (ingatlah kisah) Dawud dan Sulaiman, di waktu keduanya memberikan keputusan mengenai tanaman, karena tanaman itu dirusak oleh kambing-kambing kepunyaan kaumnya, dan Kami menyaksikan keputusan yang diberikan oleh mereka itu. Maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat); dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan hikmah dan ilmu, dan telah Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Dawud. Dan Kami lah yang melakukannya. Dan telah Kami ajarkan kepada Dawud membuat baju besi untuk kamu, guna memelihara kamu dalam peperanganmu. Maka hendaklah kamu bersyukur (kepada Allah). Dan (telah Kami tundukkan) untuk Sulaiman angin yang sangat kencang tiupannya yang berembus dengan perintahnya ke negeri yang Kami telah memberkahinya. dan adalah Kami Maha Mengetahui segala sesuatu. Dan Kami telah tundukkan (pula kepada Sulaiman) segolongan setan yang menyelam (ke dalam laut) untuknya dan mengerjakan pekerjaan selain daripada itu, dan adalah Kami memelihara mereka itu.” (al-Anbiya: 78—82)

Dalam ayat-ayat yang mulia ini, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman mengisahkan bagaimana keadilan dan kebijakan Nabi Dawud dan putranya, Sulaiman ‘alaihissalam, ketika keduanya memberi keputusan tentang sebidang kebun anggur yang dirusak oleh kambing milik kaumnya, yang tercerai-berai di malam hari tanpa ada seorang pun yang mengawasinya hingga merusak anggur-anggur tersebut.

Ibnu Katsir rahimahullah menukil dari Abu Ishaq, dari Murrah, dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu, tentang firman Allah subhanahu wa ta’ala ini. Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu mengatakan, “(Yaitu) kebun anggur yang mulai tumbuh, lalu dirusak oleh kambing-kambing tersebut.”

Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu melanjutkan, “Kemudian, Nabi Dawud ‘alaihissalam memutuskan agar kambing-kambing itu diserahkan kepada pemilik kebun anggur tersebut.”

Nabi Sulaiman ‘alaihissalam yang melihat peristiwa itu, berkata, “Bukan demikian, wahai Nabi Allah.”

“(Kalau begitu), bagaimana?” tanya Nabi Dawud.

Nabi Sulaiman ‘alaihissalam berkata, “Anda serahkan kebun anggur itu kepada pemilik kambing agar dia mengurusi kebun tersebut hingga kembali seperti semula, dan Anda serahkan kambing-kambing itu kepada pemilik kebun anggur ini agar dia memperoleh sesuatu dari kambing tersebut. Apabila anggur-anggur itu sudah kembali seperti semula, Anda serahkan kembali kebun anggur kepada pemiliknya, dan kambing-kambing itu kepada pemiliknya.”

Inilah maksud firman Allah subhanahu wa ta’ala:

“Maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat).”

Selain itu, agar kita tidak salah memahami—melalui ungkapan ini—seolah-olah ada bentuk merendahkan derajat Nabi Dawud ‘alaihissalam, Allah subhanahu wa ta’ala melanjutkan firman-Nya:

“Dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan hikmah dan ilmu.”

Bahkan, pada ayat-ayat selanjutnya, Allah subhanahu wa ta’ala menerangkan keutamaan yang dimiliki oleh kedua nabi Allah subhanahu wa ta’ala yang mulia ini.

Jadi, Nabi Dawud ‘alaihissalam memutuskan perkara dengan keadilan, sedangkan Nabi Sulaiman ‘alaihissalam memutuskannya dengan fadhl (karunia, keutamaan). Allah subhanahu wa ta’ala memberi pujian kepada Nabi Sulaiman ‘alaihissalam atas keputusan beliau yang sangat tepat, sebagai taufik dari Allah subhanahu wa ta’ala, karena Allah mencintai rifq (kelemahlembutan) dalam segala hal. Hal ini sebagaimana diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, beliau berkata, “Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

‘Sesungguhnya Allah Mahalembut, dan mencintai kelemahlembutan dalam segala hal’.”[1]

Kita pun tidak boleh lupa bahwa Nabi Sulaiman adalah putra Nabi Dawud ‘alaihissalam, sehingga setiap keutamaan yang diperoleh oleh Nabi Sulaiman ‘alaihissalam, tentu saja itu adalah keutamaan pula bagi Nabi Dawud ‘alaihissalam.

Seorang hakim, jika dia berijtihad, kemudian keliru dalam keputusannya, dia memperoleh satu pahala. Kalau dia benar, dia menerima dua pahala. Ini dijelaskan dalam hadits Abdullah bin Amr bin al-’Ash radhiallahu ‘anhuma, dari Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda:

“Apabila seorang hakim berijtihad, lalu dia benar, dia memperoleh dua pahala. Dan jika seorang hakim berijtihad, dan ternyata keliru, dia mendapat satu pahala.”[2]

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, dia mendengar Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Dahulu ada dua orang wanita bersama anak mereka masing-masing. Tiba-tiba datanglah seekor serigala membawa anak salah seorang dari mereka. Berkatalah seorang dari wanita itu kepada temannya, “Yang dibawa lari serigala adalah putramu.”

Yang lain membantah, “(Bukan). Yang dibawa serigala itu adalah putramu.”
Akhirnya, keduanya mengajukan perkara mereka kepada Nabi Dawud ‘alaihissalam. Lalu, beliau pun memutuskan perkara itu dengan memenangkan wanita yang lebih tua.

Kedua wanita itu keluar menemui Nabi Sulaiman bin Dawud ‘alaihissalam, lalu menceritakan perihal mereka. Setelah itu, Nabi Sulaiman ‘alaihissalam berkata kepada orang-orang, “Ambilkan untuk saya pisau agar saya bisa membagi dua anak ini untuk mereka.”

Tiba-tiba, wanita yang lebih muda berkata, “Jangan lakukan, semoga Allah merahmati Anda. Ini putranya.”

Nabi Sulaiman pun memenangkan perkara untuk wanita yang lebih muda ini.3
Akhirnya, Nabi Sulaiman ‘alaihissalam memutuskan bahwa anak itu adalah milik wanita yang lebih muda. Nabi Sulaiman ‘alaihissalam sama sekali tidak bermaksud sungguh-sungguh ingin membelah bayi itu. Akan tetapi, beliau ingin mengetahui lebih jelas. Ibu bayi yang sesungguhnya tentu tidak rela bayi itu mati. Dia lebih suka bayi itu tetap hidup terpelihara walaupun tidak berada di sisinya. Adapun yang bukan ibu si bayi, tentu tidak keberatan bayi itu dibelah dua, sebab dengan demikian, mereka berdua sama-sama kehilangan bayi.

Oleh sebab itulah, ketika menerima keputusan ini, wanita yang lebih tua dengan gembira menyetujui agar bayi itu dibelah dua, sedangkan yang lebih muda tidak. Naluri keibuan dan kasih sayangnya kepada sang putra mendorongnya untuk merelakan, biarlah bayi itu jauh dari sisinya, yang penting dia tetap hidup dan terawat, walaupun bukan di pangkuan ibu kandungnya.

Sambil meratap iba, wanita muda itu berkata, “Jangan, wahai Nabi Allah. Jangan lakukan, semoga Allah merahmati Anda, biarlah. Itu putranya, serahkanlah kepadanya!”

Perhatikanlah keputusan Nabi Sulaiman ‘alaihissalam, yang mengakui bahwa bayi itu anak wanita yang lebih muda. Dari sini dapat disimpulkan bahwa jika tanda-tanda sebuah kebohongan terlihat jelas, tidak dapat dijadikan dasar hukum terhadap orang yang mengakuinya. Ada tidaknya pengakuan itu sama saja. Artinya, perkataan si wanita yang lebih muda bahwa bayi itu milik wanita yang lebih tua, tidak dapat diterima, sehingga Nabi Sulaiman ‘alaihissalam justru memutuskan yang lebih mudalah yang benar.

Jadi, wanita yang lebih tua ini tidak menolak andaikata bayi itu memang dibelah dua, karena dia kini sebatang kara, kehilangan anak. Kemudian, dia pun ingin wanita muda itu juga sama seperti dia, kehilangan anaknya.
Akan tetapi, melihat kekhawatiran dan kasih sayang wanita muda itu kepada bayi tersebut, permohonannya agar bayi itu tetap hidup—walaupun di tangan ibu yang lain—daripada mati, justru memperkuat kesimpulan Nabi Sulaiman ‘alaihissalam, bahwa adanya kasih sayang kepada bayi itu merupakan salah satu bukti bahwa wanita muda ini adalah ibu si bayi. Beliau pun yakin, melalui sikap menggampangkan dari wanita yang lebih tua, bahkan sangat mendukung agar bayi itu dibelah dua, bahwa wanita yang lebih tua ini bukanlah ibu si bayi.

Oleh sebab itu, beliau pun mengambil bayi tersebut dan menyerahkannya kepada wanita yang lebih muda.

Jadi, keputusan yang dibuat Nabi Dawud ‘alaihissalam dengan memenangkan perkara wanita yang lebih tua adalah berdasarkan data-data yang terlihat (lahiriah), karena bayi itu ada di tangan wanita yang lebih tua.

Kadang-kadang, ujian yang diberikan, seperti yang dilakukan Nabi Sulaiman ‘alaihissalam itu amat diperlukan. Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memerintahkan ‘Ali radhiallahu ‘anhu untuk membunuh seorang laki-laki yang dikebiri (buah pelirnya) dengan tujuan hendak menampakkan kebersihan orang tersebut dari tuduhan dan menampakkan bahwa tuduhan yang muncul dari sekadar melihat tidaklah sepenuhnya benar.

Seperti itu pula yang terjadi dalam kisah penyembelihan Nabi Ismail oleh ayahandanya, Ibrahim ‘alaihissalam. Dikatakan bahwa dalam peristiwa ini, Allah subhanahu wa ta’ala ingin menguji Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, sejauh mana beliau menyambut dan siap melaksanakan perintah Allah ‘alaihissalam itu walaupun melalui mimpi. Wallahu a’lam.

Dalam kisah ini terlihat betapa tajam firasat Nabi Sulaiman ‘alaihissalam, dan alangkah jeniusnya beliau dalam menyimpulkan satu keputusan hukum melalui indikasi dan tanda-tandanya.

Di balik itu semua, yang harus diyakini adalah bahwa para nabi itu juga manusia biasa, seperti kita. Kadang, mereka memutuskan persoalan sebagaimana yang terlihat oleh mereka dengan ijtihad yang khusus dan bukan wahyu. Dari sinilah, pernah diriwayatkan oleh Ummu Salamah radhiallahu ‘anhu, beliau mengatakan, “Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّمَا أنا بَشَرٌ، وَإنَّكُمْ تَخْتَصِمُونَ إلَيَّ، وَلَعَلَّ بَعْضَكُمْ أَنْ يَكُونَ أَلْحَنَ بِحُجّتِهِ مِنْ بَعْضٍ، فَأَقْضِيَ لَهُ بِنَحْوِ مَا أَسْمَعُ، فَمَنْ قَضَيتُ لَهُ بِحَقِّ أَخِيهِ فَإِنَّما أَقْطَعُ لَهُ قِطْعَةً مِنَ النَّارِ

‘Saya hanya seorang manusia biasa, sementara kalian mengajukan perkara kalian kepada saya. Bisa jadi, sebagian kalian lebih pandai mengemukakan alasannya daripada yang lain, lalu saya memenangkan perkaranya sesuai dengan apa yang saya dengar. Oleh sebab itu, siapa yang saya menangkan perkaranya, dengan membawa hak saudaranya, berarti saya telah memberinya sepotong api neraka’.”4

Ibnu Daqiqil ‘Ied rahimahullah berkata, “Ini adalah dalil untuk memberlakukan hukum sesuai dengan data yang terlihat (lahiriah) sekaligus memperlihatkan kepada manusia bahwa Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sama seperti manusia lainnya. Meskipun ada perbedaan antara beliau dengan manusia biasa dalam hal penampakan terhadap perkara gaib yang diberikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala kepada beliau. Itu pun dalam hal-hal yang khusus, bukan hukum-hukum yang umum….”5

Artinya, bisa saja seorang nabi keliru dalam memutuskan sesuatu di antara umatnya. Akan tetapi, jika ijtihad itu keliru, Allah subhanahu wa ta’ala akan meluruskannya. Adapun dalam hal penyampaian ajaran, seorang nabi tidak akan keliru. Dengan demikian, hal ini tidak menggugurkan kemaksuman mereka sama sekali.
Alangkah jauhnya kita dibandingkan mereka, padahal kita mengaku mengikuti jalan mereka r. Sering, tanpa periksa, hanya dengan mengandalkan kepercayaan kita kepada yang membawa berita atau keterangan, kita memutuskan sebuah perkara, padahal masalahnya tidaklah demikian. Akhirnya, timbul perselisihan di antara sesama muslimin.

Satu hal yang dapat kita ambil pula dari kisah dua wanita ini ialah bahwa rasa dengki membuat hati menjadi mati. Karena dengki, wanita yang lebih tua kehilangan naluri keibuannya, sehingga rela mengorbankan bayi ‘tak berdosa’ demi memuaskan keinginan dirinya. Karena dengki pula setan yang terkutuk berusaha sekuat tenaganya menyeret manusia agar menemaninya di neraka. Karena dengki pula orang-orang Yahudi berusaha menghancurkan kaum muslimin, di antaranya dengan melepaskan kaum muslimin dari keyakinan mereka.
Semoga kisah ini bermanfaat.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Harits

[1] HR. al-Bukhari (5678).

[2] HR. al-Bukhari (7352) dan Muslim (1716).

 

Perjanjian Hudaibiyah

Perjanjian Hudaibiyah antara kaum muslimin dan musyrikin Quraisy akhirnya disepakati. Mulanya, butir-butir dalam perjanjian itu menuai penentangan dari sebagian sahabat karena lahiriahnya sangat merugikan kaum muslimin. Namun keyakinan yang kokoh akan janji Allah l menjadikan para sahabat menundukkan logika dan pendapat pribadinya. Terbukti, di kemudian hari dengan perjanjian itu, kaum musyrikin justru menangguk kerugian yang besar.

 

Kecemasan Quraisy

Pada edisi sebelumnya dikisahkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Budail bin Warqa’ Al-Khuza’i dari bani Khuza’ah untuk menegaskan kembali tujuan kaum muslimin datang ke Makkah bahwa mereka datang bukan untuk berperang namun untuk umrah……

Setelah mendengar ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Budail pun berangkat menemui Quraisy. Ketika tiba di hadapan mereka, dia berkata: “Kami datang dari laki-laki ini (yakni Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) dan kami sudah dengar apa yang dia ucapkan. Jika kalian mau, kami paparkan kepada kalian.” Orang yang paling dangkal pikirannya di antara mereka berkata: “Kami tidak butuh beritamu sedikitpun.” Sedangkan yang cerdik dari mereka mengatakan: “Ceritakan apa yang kau dengar.” Budail pun berkata: “Aku dengar dia mengatakan demikian, demikian.” Lalu dia menceritakan kepada Quraisy apa yang diucapkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

‘Urwah bin Mas’ud pun menimpali: “Wahai masyarakat Quraisy, bukankah kalian seperti anak (bagiku)?” Kata mereka: “Benar.” Katanya lagi: “Bukankah aku (seperti) ayah?” Kata mereka: “Benar.” Katanya pula: “Apakah kalian mencurigaiku?” Kata mereka: “Tidak.” Katanya: “Tidakkah kamu tahu bahwa sesungguhnya aku pernah mendorong penduduk ‘Ukkazh (membantu kalian) dan ketika mereka menolak, aku pun datang bersama istri dan anakku serta orang-orang yang mengikutiku.”

Kata mereka: “Benar.” Katanya lagi: “Sesungguhnya orang ini sudah menawarkan hal yang positif, maka terimalah dan biarkan aku menemuinya.”

Kata mereka: “Datangilah dia.”

‘Urwah pun berangkat menemui beliau dan mulai berbicara dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab seperti yang beliau katakan kepada Budail. Lalu kata ‘Urwah: “Hai Muhammad, apa pandanganmu kalau engkau menghabisi bangsamu, apakah engkau pernah mendengar ada orang yang memusnahkan keluarganya sendiri sebelum engkau? Kalau tidak, maka demi Allah, aku benar-benar melihat wajah-wajah dan orang-orang rendahan yang pantas akan lari dan meninggalkanmu.”

Berkatalah Abu Bakr radhiallahu ‘anhu: “Hisaplah kemaluan Latta. Apakah kami akan lari dan meninggalkannya?”

Kata ‘Urwah: “Siapa ini?” Kata mereka: “Abu Bakr.”

‘Urwah berkata: “Demi Yang jiwaku di tangan-Nya, kalau bukan karena engkau pernah membantuku, tidak aku biarkan engkau mengatakan ini, melainkan pasti aku balas.”

Dia pun mulai bicara dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan setiap kali dia bicara dia coba menyentuh janggut beliau. Dalam situasi itu, sahabat Al-Mughirah berdiri di dekat kepala Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan pedang di tangan serta mengenakan topi besi. Setiap kali ‘Urwah menjulurkan tangan ke arah janggut Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Al-Mughirah pun memukul tangan itu dengan hulu pedangnya dan berkata: “Jauhkan tanganmu dari janggut Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

‘Urwah menengadahkan kepalanya dan berkata: “Siapa ini?”

Para sahabat berkata: “Al-Mughirah bin Syu’bah.” Serta-merta ‘Urwah berkata: “Hai si curang. Bukankah aku yang membereskan urusan kecuranganmu?” Dahulu Al-Mughirah adalah teman mereka di masa jahiliah, lalu dia membunuh mereka, mengambil harta mereka, dan masuk Islam.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Adapun Islam, aku terima. Sedangkan harta, tidak ada urusanku padanya sedikit pun.”

Kemudian mulailah ‘Urwah memerhatikan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan matanya, dan menggumam: “Sungguh, tidaklah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meludah melainkan jatuh ke tangan salah seorang dari mereka, lalu dia gosokkan ke wajah dan kulitnya. Kalau beliau memerintahkan sesuatu, dengan segera mereka laksanakan perintahnya. Jika beliau berwudhu mereka hampir saling membunuh mengambil sisa wudhunya. Dan jika beliau bicara, mereka rendahkan suara serta tidak ada yang menajamkan pandangannya ke arah beliau karena menghormati beliau.”

‘Urwah pun kembali kepada teman-temannya dan berkata: “Hai kaumku, sungguh demi Allah, aku pernah mengunjungi para raja, Kaisar, Kisra, serta Najasyi (Negus). Demi Allah, tidak pernah kulihat sama sekali seorang raja yang diagungkan oleh para sahabatnya seperti para sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam memuliakan Muhammad (shallallahu ‘alaihi wa sallam). Tidaklah dia meludah melainkan jatuh ke tangan salah seorang dari mereka, lalu dia gosokkan ke wajah dan kulitnya. Kalau dia memberi perintah, mereka segera melaksanakan perintahnya. Jika dia berwudhu mereka hampir bunuh-bunuhan mengambil sisa wudhunya. Dan jika dia bicara, mereka rendahkan suara serta tidak ada yang menajamkan pandangannya ke arahnya karena menghormatinya. Sesungguhnya dia sudah menawarkan hal yang positif, maka terimalah.”

Berkatalah seorang laki-laki Bani Kinanah: “Biarkan aku mendatanginya.” Kata mereka: “Temuilah.” Setelah dia melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya, beliau berkata: “Ini si Fulan dari golongan yang menghormati budna (hewan korban), maka lepaskanlah.”

Lalu hewan-hewan korban itu dilepaskan dan utusan itu disambut oleh kaum muslimin yang sedang bertalbiyah (mengucapkan: Labbaika Allahumma labbaika). Setelah melihat hewan-hewan korban itu, dia berkata: “Maha Suci Allah, tidak sepantasnya mereka dihalangi dari Baitullah (Ka’bah).”

Dia pun kembali kepada teman-temannya dan berkata: “Aku melihat hewan-hewan korban sudah diberi tanda. Dan aku tidak sependapat kalau mereka dihalangi dari Baitullah.”

Lalu bangkitlah dari kalangan mereka seorang bernama Mikraz bin Hafsh, katanya: “Biarkan aku mendatanginya.” Kata mereka: “Datangilah.” Setelah dia melihat mereka, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Ini Mikraz, dia laki-laki yang jahat.” Dia pun mulai bicara dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika dia sedang berbicara, datanglah Suhail bin ‘Amr.

Suhail bin ‘Amr, delegasi Quraisy

Ketika Suhail bin ‘Amr tiba, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Semakin mudah urusan kalian,” Kemudian dia berkata: “Marilah tulis suatu ketetapan antara kami dan kalian.”

Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil seorang penulis. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Tulislah Bismillahirrahmanirrahim.” Kata Suhail: “Adapun Ar-Rahman, demi Allah aku tidak tahu apa ini, tapi tulislah ‘Bismikallahumma’ sebagaimana biasa kami menulis.” Kaum muslimin bersikeras: “Jangan tulis kecuali Bismillahirrahmanirrahim”, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Tulislah ‘Bismikallahumma’,” kemudian beliau menambahkan: “Inilah yang disepakati oleh Muhammad Rasul Allah.”

Suhail menukas: “Demi Allah, kalau kami tahu engkau adalah Rasul Allah, tentu tidaklah kami menghalangi engkau dari Baitullah dan tidak pula memerangimu. Tulislah Muhammad bin ‘Abdullah.”

Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Demi Allah, sungguh aku adalah Rasul Allah meskipun kalian mendustakanku. Tulislah Muhammad bin ‘Abdullah.”

Az-Zuhri menjelaskan: Itu karena beliau pernah mengatakan: “Tidaklah mereka memintaku satu perkara yang mereka agungkan padanya kehormatan Allah subhanahu wa ta’ala, melainkan aku berikan kepada mereka.”

Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya: “Yaitu agar kalian biarkan kami thawaf di Ka’bah.” Suhail segera menukas: “Demi Allah, (kalau demikian) tentulah orang-orang Arab akan mengatakan kami ditekan (kalah). (Tidak), tapi tahun depan.” Lalu keputusan ini dituliskan.

Kata Suhail: “Tidak ada yang datang kepadamu seorang laki-laki dari kami meskipun dia seiman denganmu melainkan harus kamu kembalikan kepada kami.”

Kaum muslimin pun gaduh: “Maha Suci Allah, bagaimana mungkin dia dikembalikan kepada kaum musyrikin padahal dia datang sebagai muslim.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya mengatakan: “Siapa yang mendatangi mereka dari pihak kita, semoga Allah menjauhkannya. Dan siapa yang datang kepada kita dari pihak mereka kita kembalikan kepada mereka, semoga Allah berikan kepadanya jalan keluar dan kelapangan.”

Secara ringkas, isi perjanjian itu antara lain ialah:

  1. Tidak saling menyerang antara kaum muslimin dan penduduk Makkah selama sepuluh tahun,
  2. Kaum muslimin masuk ke kota Makkah (‘umrah) pada tahun depan dan tidak membawa senjata kecuali pedang dalam sarungnya, serta senjata pengembara,
  3. Siapa saja yang datang ke Madinah dari penduduk Makkah harus dikembalikan ke Makkah,
  4. Dan siapa yang datang ke Makkah dari penduduk Madinah (muslim) tidak boleh dikembalikan ke Madinah,
  5. Kesepakatan ini disetujui kedua belah pihak dan tidak boleh ada pengkhianatan serta pelanggaran.

Termasuk dalam syarat perjanjian itu, siapa saja dari kabilah Arab lain, boleh masuk dalam perjanjian Quraisy atau Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka Khuza’ah masuk dalam perjanjian bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedangkan Banu Bakr bergabung dalam perjanjian itu di pihak Quraisy.

Dan perjanjian ini hanya berlaku bagi kaum laki-laki, tidak termasuk wanita.

Di saat mereka dalam keadaan demikian, datanglah Abu Jandal bin Suhail bin ‘Amr menyeret rantainya. Dia keluar dari bawah kota Makkah hingga kemudian melemparkan dirinya di tengah-tengah orang-orang muslim.

Melihat hal ini, Suhail berkata: “Hai Muhammad, inilah kesepakatan pertama. Kamu harus kembalikan dia kepadaku.”

Kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Kita belum menyelesaikan kesepakatan ini.”

Kata Suhail: “Demi Allah, kalau begitu aku tidak akan berdamai denganmu lagi dalam urusan apa pun selamanya.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berkata: “Kalau begitu, bolehkan dia saja untukku.”

“Aku tidak akan menyerahkannya kepadamu,” jawab Suhail.

Kata beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Bahkan lakukanlah (berikanlah).”

Katanya: “Aku tidak akan serahkan.”

Kata Mikraz: “Bahkan kami serahkan dia kepadamu.”1

Kata Abu Jandal: “Hai kaum muslimin, apakah aku akan dikembalikan kepada kaum musyrikin padahal aku datang sebagai muslim? Tidakkah kalian lihat apa yang kualami ini?”

Keadaannya memang mengenaskan, dia telah menerima siksaan yang sangat berat di jalan Allah subhanahu wa ta’ala.

‘Umar bin Al-Khaththab bercerita: “Aku pun menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata: ‘Bukankah anda Nabi Allah sebenar-benarnya?’.”

Kata beliau: “Benar.”

Aku katakan: “Bukankah kita ini di atas al-haq? Dan musuh kita dalam kebatilan?”

“Benar,” kata beliau.

Aku berkata lagi: “Kalau begitu, mengapa kita berikan kehinaan kepada agama kita?”

Kata beliau: “Sesungguhnya aku adalah Rasul Allah dan tidak mendurhakai-Nya. Allah pasti menolongku.”

Aku katakan: “Bukankah anda katakan kepada kami bahwa kita akan mendatangi Baitullah dan thawaf di sana?”

Kata beliau: “Benar. Tapi apakah aku katakan bahwa kita akan datang (thawaf) tahun ini?”

“Tidak,” jawabku.

Kata beliau: “Sesungguhnya engkau akan datang ke sana dan thawaf padanya.”

Kata ‘Umar pula: “Akupun menemui Abu Bakr. Dan aku katakan: ‘Hai Abu Bakr, bukankah beliau ini benar-benar Nabi Allah?’.”

Kata Abu Bakr: “Benar.”

Aku katakan: “Bukankah kita ini di atas al-haq dan musuh kita dalam kebatilan?”

“Benar,” jawabnya.

Aku berkata lagi: “Kalau begitu, mengapa kita berikan kehinaan kepada agama kita?”

Kata Abu Bakr: “Hai kamu. Sesungguhnya beliau benar-benar Rasul Allah dan tidak akan mendurhakai-Nya. Allah pasti menolong beliau. Berpeganglah dengan ucapannya, demi Allah, beliau di atas al-haq.”

Aku menukas: “Bukankah beliau katakan kepada kita bahwa kita akan mendatangi Baitullah dan thawaf di sana?”

Kata beliau: “Benar. Tapi apakah beliau mengatakan bahwa kita akan datang (thawaf) tahun ini?”

“Tidak,” jawabku.

Kata Abu Bakr: “Sesungguhnya engkau akan datang ke sana dan thawaf padanya.”

Kata ‘Umar: “Lalu aku pun melakukan amalan untuk (menebus) ucapan itu.”

Begitu selesai penulisan kesepakatan itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada para sahabatnya: “Berdirilah, sembelihlah korban kemudian bercukurlah.”

Kata (perawi): “Demi Allah, tidak ada seorang pun yang berdiri sampai beliau ucapkan tiga kali.”

Ketika tidak ada dari mereka yang berdiri seorang pun, beliau masuk menemui Ummu Salamah dan menceritakan apa yang beliau terima dari sikap kaum muslimin.

Kemudian Ummu Salamah berkata: “Wahai Nabi Allah, apakah anda suka hal itu (mereka melaksanakannya)? Keluarlah, jangan bicara dengan siapa pun lalu sembelihlah korban, panggil tukang cukurmu dan bercukurlah.”

Beliau pun keluar dan tidak bicara dengan siapa pun sampai melakukan saran Ummu Salamah tersebut. Beliau mulai menyembelih korbannya dan memanggil tukang cukurnya lalu bercukur.

Tatkala para sahabat melihat hal itu, mereka segera bangkit dan menyembelih korban mereka dan sebagian mencukur yang lain sampai hampir-hampir mereka bunuh-bunuhan karena menyesal (tidak segera melaksanakan perintah beliau).

Tak lama kemudian, datanglah para wanita yang sudah beriman kepada beliau. Di antaranya Ummu Kultsum bintu ‘Uqbah bin Abi Mu’ith. Lalu datang pula keluarganya menyusul dan meminta kepada beliau agar Ummu Kultsum diserahkan kepada mereka. Namun beliau tidak menyerahkannya kepada mereka.

Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan ayat:

“Hai orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepadamu perempuan-perempuan yang beriman, maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka; maka jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir. Mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka. Dan berikanlah kepada (suami-suami) mereka mahar yang telah mereka bayar. Dan tiada dosa atasmu mengawini mereka apabila kamu bayar kepada mereka maharnya. Dan janganlah kamu tetap berpegang pada tali (perkawinan) dengan perempuan-perempuan kafir.” (al-Mumtahanah: 10)

Pada waktu itu pula ‘Umar menceraikan kedua istrinya yang masih musyrik. Kemudian salah seorang dinikahi oleh Mu’awiyah bin Abi Sufyan dan yang lainnya dinikahi oleh Shafwan bin ‘Umayyah.

Setelah itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mulai bertolak kembali ke Madinah.

Saat kepulangan itulah turun surat (al-Fath 1-3):

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata, supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus, dan supaya Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat (banyak).”

Para sahabat pun bertanya: “Benarkah ini kemenangan, ya Rasulullah?”

“Ya,” sahut beliau. Kemudian kata mereka: “Selamat untuk engkau, ya Rasulullah. Tapi mana untuk kami?” Lalu Allah  ‘azza wa jalla turunkan (ayat 4):

“Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi, dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”

(bersambung, insya Allah)

Ditulis oelh: Al-Ustadz Abu Muhammad Harits Abrar Thalib

 

 

Pelajaran dari Kisah Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman

Barang siapa meninggalkan sesuatu karena Allah ‘azza wa jalla, niscaya Allah ‘azza wa jalla akan memberinya ganti dengan yang lebih baik.”

Inilah satu pelajaran penting yang bisa diambil dari kisah ini. Ketika Nabi Sulaiman ‘alaihissalam membunuh kuda-kudanya karena telah membuat lalai dari berzikir kepada Allah ‘azza wa jalla, Allah ‘azza wa jalla menggantinya dengan ditundukkannya angin dan setan bagi beliau.

Lanjutkan membaca Pelajaran dari Kisah Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman

Kisah Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman

Keyakinan dan pemikiran yang menyimpang dapat menguasai akal siapa pun dan mengurangi kecerdasannya, sampai dia mendapatkan sebab atau jalan yang diberkahi yang menerangkan kepadanya hakikat kebenaran dan membimbingnya untuk mengikuti kebenaran itu. Inilah keadaan Ratu Saba’ dan para pengikutnya. Mereka memiliki otak yang cerdas, tetapi mereka justru melakukan peribadatan kepada sesuatu yang tidak mampu memberi kemanfaatan dan kemudaratan. Setelah terjadi dialog dengan Nabi Sulaiman ‘alaihissalam, Ratu Saba’ akhirnya mau kembali kepada fitrahnya, yaitu beribadah kepada Allah.

Lanjutkan membaca Kisah Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman

Kisah Nabi Dawud dan Sulaiman

Kisah Nabi Dawud dan Sulaiman

Pernahkah kita berpikir, hewan-hewan yang ada di sekitar kita mengenal Allah ‘azza wa jalla dan suka memuji kepada-Nya? Dari kisah Nabi Sulaiman ‘alaihissalam ini, kita ketahui bahwa ternyata hewan juga mengenal Allah ‘azza wa jalla sebagai Rabbnya dan mereka suka bertasbih kepada-Nya. Yaitu dari kejadian burung Hud Hud yang melihat peribadatan Ratu Saba’ dan rakyatnya, yang tidak ditujukan kepada Allah ‘azza wa jalla, tetapi menyembah matahari.

Lanjutkan membaca Kisah Nabi Dawud dan Sulaiman

Kisah Nabi Yunus

Dalam berdakwah kepada kaumnya, Nabi Yunus ‘alahissalam menghadapi penentangan yang demikian keras. Sekian lama beliau berdakwah namun tidak juga membawa hasil. Keadaan ini membuat Nabi Yunus ‘alahissalam marah dan meninggalkan kaumnya. Allah subhanahu wa ta’ala pun menegurnya. Bagaimana akhir dari dakwah Nabi Yunus ‘alahissalam?  Lanjutkan membaca Kisah Nabi Yunus

Kisah Nabi Musa dan Nabi Harun (bagian 2)

Kisah Nabi Musa dan Nabi Harun ‘alaihimassalam banyak memberikan pelajaran berharga bagi umat sesudahnya. Allah subhanahu wa ta’ala menceritakan kisah tersebut di dalam Al-Qur’an juga agar umat Islam bisa mengambil pelajaran tersebut. Berikut ini beberapa pelajaran yang bisa dipetik.

Lanjutkan membaca Kisah Nabi Musa dan Nabi Harun (bagian 2)

Hikmah Dakwah Nabi Ibrahim; Bagian ke-2

Karena menghancurkan seluruh berhala milik kaumnya—hanya menyisakan patung yang paling besar—Nabi Ibrahim ‘alaihissalam pun ditangkap dan dibawa ke tengah lapangan. Namun sesungguhnya inilah yang diharapkan beliau agar dirinya bisa menegakkan hujjah (keterangan) di depan orang banyak.

Lanjutkan membaca Hikmah Dakwah Nabi Ibrahim; Bagian ke-2

Kisah Nabi Musa dan Nabi Harun

Siapakah yang mampu menolak ketetapan Allah ketika Ia menakdirkan lahirnya seorang nabi yang kemudian dibesarkan di lingkungan musuh besarnya. Dialah Musa ‘alaihissalam, nabi yang sempat mengenyam asuhan dari istri sang angkara murka, Fir’aun. Kisahnya yang agung banyak menghiasi lembar al-Qur’an serta memberikan banyak pelajaran berharga bagi umat nabi lain di kemudian hari.

Lanjutkan membaca Kisah Nabi Musa dan Nabi Harun

Kisah Nabi Syu’aib

Perbuatan maksiat yang dilakukan oleh seseorang yang sebenarnya tidak terdesak untuk melakukan perbuatan tersebut dosanya lebih besar daripada orang yang berbuat maksiat karena memang ia terdesak untuk berbuat demikian. Seperti umat Nabi Syu’aib ‘alaihissalam yang telah dikaruniai harta yang berlimpah namun mereka masih berbuat dosa dengan melakukan kecurangan dalam timbangan. Allah subhanahu wa ta’ala pun mengazab mereka dengan azab yang pedih.

Lanjutkan membaca Kisah Nabi Syu’aib

Nabi Luth dan Kaum Homoseks

Kisah Nabi Luth ‘alaihissalam ini seiring dengan kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Karena beliau adalah murid yang belajar kepada Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan kedudukannya seperti anak bagi Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Allah subhanahu wa ta’ala mengangkatnya menjadi nabi di masa Khalilullah Ibrahim ‘alaihissalam masih hidup, dan Allah subhanahu wa ta’ala mengutusnya ke negeri Saddom di Palestina. Masyarakat di sana, selain berbuat syirik kepada Allah subhanahu wa ta’ala juga melakukan perbuatan homoseks yang belum pernah ada seorang pun melakukan kekejian ini selain mereka.

Lanjutkan membaca Nabi Luth dan Kaum Homoseks