Masyarakat Madinah

Kedatangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di Madinah menimbulkan ketidaksenangan kalangan Yahudi yang tinggal di negeri tersebut. Masuk Islamnya tokoh mereka Abdullah bin Salam dan turunnya syariat tentang perpindahan kiblat adalah sebagian persoalan yang memicu gesekan dengan kaum muslimin. Puncaknya, beberapa kabilah besar mereka seperti bani Nadhir, bani Qainuqa’, dan bani Quraizhah menyatakan perang dengan umat Islam setelah sebelumnya mengkhianati perjanjian damai yang telah dibuat.

  Lanjutkan membaca Masyarakat Madinah

Tokoh-tokoh Penyeru Penyatuan Agama

Ironis memang, ketika didapati sebagian “muslimin” yang menisbatkan dirinya kepada Islam menyambut baik seruan penyatuan agama, paling bersemangat menghadiri seminar-seminarnya, serta paling tinggi suaranya. Bahkan mengalahkan kegigihan orang-orang kafir dalam menyuarakannya. Yang menyedihkan, di antara mereka adalah ‘tokoh’ yang suaranya sangat didengar umat.

Lanjutkan membaca Tokoh-tokoh Penyeru Penyatuan Agama

Batasan Toleransi

Toleransi selama ini terbukti cukup ‘sakti’ dan banyak memakan korban dari umat Islam yang memang hidup di tengah masyarakat yang majemuk. Toleransi kerap kali dijadikan sebagai pembenar untuk melegalkan perbedaan dan perselisihan meskipun hal tersebut sudah menyentuh prinsip-prinsip agama. Bagaimana sesungguhnya konsep toleransi dalam Islam?

  Lanjutkan membaca Batasan Toleransi

Sinkretisme Agama

Bagaimana jadinya jika Islam, Yahudi, dan Nasrani disatukan di bawah satu payung akidah? Yang terbayang di benak umat Islam yang masih berakal barangkali adalah sebuah permisalan laksana minyak dengan air, dua senyawa di muka bumi yang tak mungkin bersatu selama-lamanya. Namun inilah ide setan kesekian kalinya yang tengah dirumuskan para perusak agama saat ini, dan ironisnya justru kaum musliminlah yang selalu menjadi target untuk dipaksa menelan ide setan ini mentah-mentah.

  Lanjutkan membaca Sinkretisme Agama

Yahudi dan Nasrani adalah Orang-orang Kafir

Bagi seorang muslim, kekafiran Yahudi dan Nasrani merupakan perkara yang telah jelas. Namun oleh para penyeru penyatuan agama, kekafiran mereka dibuat kabur sehingga ada orang Islam yang menganggap mereka sama dengan kaum muslimin. Berikut ini penjelasan dari asy-Syaikh Muhammad Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah bahwa Yahudi dan Nasrani adalah kafir sehingga seorang muslim tidak boleh bersikap loyal kepada mereka, sekalipun dalam hal memberi salam lebih dahulu.

  Lanjutkan membaca Yahudi dan Nasrani adalah Orang-orang Kafir

Surat Pembaca edisi 10

Belajar Agama Cukup Lewat Situs?

Saya sangat tertarik dengan situs “Asy-Syariah”. Terus terang selama ini saya tidak tahu madzhab apa yang saya anut. Tetapi dengan adanya situs ini, hati saya menjadi terbuka. Cukupkah saya mempelajari atau menjadi anggota hanya dengan mempelajarinya lewat situs ini?

Sjachrul HP
mahendra_…@yahoo.com

  • Jawaban Redaksi:

Alhamdulillah, barakallahu fikum.  Dakwah yang dikembangkan majalah ini adalah dakwah As-Sunnah yakni madzhab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Madzhab sendiri muncul di masa-masa belakangan (muta’akhirin). Sehingga para imam madzhab seperti Al-Imam Malik, Al-Imam Asy-Syafi’i, Al-Imam Ahmad, maupun Abu Hanifah rahimahumullah tidak mengenal model madzhab sebagaimana yang dipahami umat saat ini. Mereka dalam banyak riwayat, bahkan meminta murid-muridnya untuk tidak mengambil pendapat mereka jika pendapat tersebut bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah.

Mempelajari ilmu agama tentu saja jauh lebih baik jika kita dapat menghadiri majelis taklim (tentunya yang mendakwahkan Al Qur’an dan As Sunnah menurut pemahaman salaful ummah) secara langsung. Sebagaimana ulama-ulama terdahulu yang menempuh perjalanan jauh dalam waktu berbulan-bulan hanya untuk mendapatkan satu hadits. Dengan adanya bimbingan seorang guru atau ustadz, kita akan lebih terbimbing dan lebih mudah dalam memahami ilmu-ilmu agama.

Mempelajari ilmu agama, sedikit tetapi rutin memang lebih baik daripada jarang mengikuti taklim. Namun akan lebih baik lagi jika kita mampu meningkatkan frekuensi kehadiran kita di majelis taklim semaksimal kita.

Bahasa Standar

Redaksi hafizhakumullah, ana ingin memberikan sedikit kritikan, bagaimana kalau bahasa kajiannya dibuat standar orang-orang awam seperti kita. Karena selama ini ana merasa ketika membaca majalah ini kurang begitu memahami jalannya pembahasan yang ada pada majalah tersebut…
Jazakumullah atas dimuatnya uneg-uneg ana.

Abu Ayyub

abuayyub…@yahoo.com

  • Jawaban Redaksi:

Barakallahu fikum.

Kami memang mengusahakan untuk memakai bahasa yang semudah mungkin, hanya saja kami masih menghadapi kendala pada beberapa istilah yang sulit dicari padanan katanya dalam bahasa Indonesia. Selain itu, redaksi hadits atau kalimat yang berupa komentar dari para ulama memang diterjemahkan semirip mungkin, meski bagi sebagian orang kemudian hal ini dipahami sangat letterlijk atau tekstual. Karena ini menyangkut ilmu agama yang pertanggungjawabannya di akhirat sangat besar, mau tidak mau kita harus menonjolkan sikap kehati-hatian. Jangan sampai terjemahan hadits atau ucapan ulama tersebut melenceng dari maksud dan substansi aslinya.

Namun Insya Allah kami terus mengusahakan untuk bisa lebih baik. Jazakumullahu khairan katsiran.

Pesan Bundel

Saya termasuk suka membaca majalah Asy-Syariah, apalagi dibubuhi dengan dalil dengan teks bahasa Arab. Bisa tidak saya memesan dalam bentuk bundel dari edisi pertama? Syukron katsiran ala musa’adatikum.

Akim

akim_76…@yahoo.com

  • Jawaban Redaksi:

Afwan, untuk sementara waktu kami belum bisa menyediakan bundel majalah. Mungkin antum bisa langsung menanyakan ke agen terdekat apabila mereka menyediakannya. Sebagai catatan, kami mengijinkan bagi para pembaca untuk memfotocopy majalah apabila memang tidak didapati lagi sisa majalah.

Racun Pluralisme Agama

السلام عليكم ورحمة الله و بركاته

 

Teologi Pluralis. Isme yang menghusung ide penyatuan berbagai agama yang ada di muka bumi ini, sejatinya telah lama digagas oleh sejumlah ‘tokoh Islam’ beberapa abad silam. Belakangan, ide nyleneh ini meruak lagi di tengah umat. Lagi-lagi, yang berada di balik upaya pengkaburan agama ini adalah orang-orang yang selama ini ditokohkan oleh umat.

Jadilah ide ini tumbuh bak jamur di musim hujan. Hampir tak ada polemik yang meramaikan media massa saat itu. Yang menentang terpaksa ‘kalah’ tertelan mesin opini yang tentu saja digerakkan oleh mereka yang anti Islam.
Situasi yang tidak kondusif bagi para pembela Islam itu diperparah dengan maraknya kasus bom di tanah air. Aksi-aksi kekerasan yang tak bisa dipungkiri dilakukan oleh oknum-oknum pemeluk Islam, benar-benar dimanfaatkan secara maksimal oleh kelompok pro-pluralisme. Berbagai peristiwa itu dan kian mendapat tempatnya kalangan Islam ‘moderat’ (baca: orang-orang tak paham Islam), kemudian dijadikan momentum untuk makin mengukuhkan berbagai gagasan dan upaya untuk mencari kesamaan persepsi (termasuk dalam hal ini prinsip aqidah) di antara berbagai pemeluk agama yang ada. Semua ajaran agama mengajarkan kebaikan, tidak ada agama yang mengajarkan umatnya untuk membunuh sesama, adalah secuil propaganda ‘manis’ yang banyak ditelan mentah-mentah oleh umat.

Di sisi lain, beberapa interest group (kelompok pemerhati) yang menghusung ide ini kian intensif menjual dagangannya baik dalam seminar, forum dialog, pernyataan di sejumlah media massa, ataupun dalam bentuk ritus berupa doa bersama, renungan perdamaian, dan sebagainya.

Jadilah, menurut mereka, semua agama sama, semua mengajarkan kebaikan, tidak perlu ada klaim ajaran yang paling benar, istilah kafir hanya akan memicu pertumpahan darah, dan sebagainya.

Berbagai kemasan indah propaganda itu seolah menafikan banyak ayat dalam Al Qur’an yang secara jelas menyebut dan memposisikan orang-orang kafir.

Ironinya, orang-orang Islam sendiri yang paling bersemangat dan paling lantang menyuarakan dan ‘mendakwahkan’ gagasan gila ini. Faktanya, dalam menggawangi isme ini, mereka yang digelari ‘guru bangsa’ itu tak segan-segan mengeluarkan berbagai dalil ngawur dan fatwa instant untuk meyakinkan umat.
Siapa saja para tokoh yang terlibat konspirasi besar untuk meruntuhkan aqidah Islam ini? Lalu bagaimana kita harus menyikapi ‘agama’ baru ini? Jawabannya dapat pembaca simak dalam Kajian utama. Di dalamnya, juga dikupas batasan-batasan toleransi dalam Islam. Karena kita tahu, toleransi yang selama ini banyak diterapkan secara salah kaprah oleh kaum muslimin merupakan pintu gerbang utama masuknya isme ini, sekaligus menjadi senjata andalan para ‘pendekar pluralisme’.

Di Lembar Sakinah, Rubrik Mengayuh Biduk mengangkat peran domestik kaum istri/ibu dalam rumah tangga. Sebuah tugas nan mulia yang diemban mereka, namun dikampanyekan secara negatif oleh kaum feminis dan aktivis perempuan anti Islam.

Untuk Ramadhan kali ini, mungkin kami hanya sedikit menampilkan kajian yang mengangkat seputar Ramadhan dan shalat Ied. Tapi, insya Allah kami tetap berupaya memberikan sajian terbaik kepada anda, pembaca.

Selamat menyimak!

 

والسلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Bekerja dan Beramal

Al-Imam Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata,

Wahai saudaraku, hendaknya engkau memiliki pekerjaan dan penghasilan yang halal yang kamu peroleh dengan tanganmu. Hindari memakan atau mengenakan kotoran-kotoran manusia (maksudnya pemberian manusia, –ed.). Sebab, sesungguhnya orang yang memakan kotoran manusia, laksana orang yang memiliki sebuah kamar di bagian atas, sedangkan yang di bawahnya bukan miliknya. Ia selalu takut terjatuh dan kamarnya roboh. Karena itu, orang yang memakan kotoran-kotoran manusia akan berbicara sesuai hawa nafsu. Dia merendahkan dirinya di hadapan manusia karena khawatir mereka akan menghentikan (bantuan) untuknya.

Wahai saudaraku, jika menerima sesuatu dari manusia, engkau pun memotong lisanmu (bungkam, tidak berani bicara di saat wajib menegur mereka). Engkau akan memuliakan sebagian orang dan merendahkan yang lain, padahal ada balasan yang akan menimpamu di hari kiamat. Maka dari itu, harta yang diberikan oleh seseorang kepadamu hakikatnya adalah kotorannya. Tafsir dari ‘kotorannya’ adalah pembersihan amalannya dari dosa-dosa.

Jika menerima sesuatu dari manusia, saat mereka mengajakmu kepada kemungkaran engkau pun menyambutnya. Jadi, orang yang memakan kotoran manusia bagaikan orang yang memiliki sekutu-sekutu dalam suatu perkara yang mau tidak mau dia akan menjadi bagian dari mereka.

Wahai saudaraku, kelaparan dan ibadah yang sedikit itu lebih baik daripada engkau kenyang dengan kotoran-kotoran manusia sekalipun banyak beribadah. Sungguh, telah sampai kepada kami bahwa Rasulullah n bersabda, “Andai salah seorang dari kalian mengambil seutas tali lalu mengumpulkan kayu bakar dan memikulnya di belakang punggungnya, niscaya lebih baik baginya daripada terus-menerus meminta kepada saudaranya atau mengharap darinya.”

(Dinukil dari kitab Mawa’izh lil Imam Sufyan ats-Tsauri, hlm. 82—84)