Titian Tuk Menundukkan Wajahku Dihadapan-Mu (bagian 1)

Wudhu Sebuah Titian

Shalat merupakan ibadah rutin yang kita kerjakan setiap hari, minimal lima kali sehari berupa shalat fardhu. Namun ibadah shalat ini tidaklah sah dan tidak akan bisa diterima di sisi Allah ‘azza wa jalla bila tidak dimulai dengan wudhu bagi orang yang sebelumnya berhadats, baik hadats kecil (semisal buang air kecil ataupun besar) maupun hadats besar (junub, haid, dan nifas). Sehingga sangat tepat sekali bila dikatakan wudhu merupakan sebuah titian untuk melaksanakan ibadah yang agung ini.

Wudhu merupakan salah satu syarat sahnya shalat, bahkan wudhu merupakan syarat yang paling besar dan agung. (Subulus Salam, 1/61)
Ulama telah bersepakat bahwa shalat itu tidak boleh ditegakkan oleh seseorang kecuali dengan berwudhu terlebih dahulu selama tidak ada udzur baginya untuk meninggalkannya. Namun bila memiliki udzur, ia bisa meninggalkannya.[1] (al-Ausath, 1/107)

Demikian pula pernyataan ijma’ oleh Ibnu Hazm rahimahullah dalam kitabnya al-Muhalla (1/71).

thaharah

Pengertian Wudhu

Definisi wudhu bila ditinjau dari sisi syariat adalah suatu bentuk peribadatan kepada Allah ‘azza wa jalla dengan mencuci anggota tubuh tertentu dengan tata cara yang khusus. (asy-Syarhul Mumti’, 1/148)

Pensyariatan Wudhu

Wudhu adalah suatu ibadah wajib yang ditetapkan oleh Allah ‘azza wa jalla di dalam Al-Qur’an dan ditetapkan oleh Rasul-Nya dalam hadits beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia. Allah ‘azza wa jalla berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِذَا قُمۡتُمۡ إِلَى ٱلصَّلَوٰةِ فَٱغۡسِلُواْ وُجُوهَكُمۡ وَأَيۡدِيَكُمۡ إِلَى ٱلۡمَرَافِقِ وَٱمۡسَحُواْ بِرُءُوسِكُمۡ وَأَرۡجُلَكُمۡ إِلَى ٱلۡكَعۡبَيۡنِۚ

“Wahai orang-orang yang beriman, apabila kalian hendak mengerjakan shalat, basuhlah wajah-wajah kalian dan tangan-tangan kalian sampai siku. Usaplah kepala-kepala kalian dan cucilah kaki-kaki kalian sampai mata kaki….” (al-Maidah: 6)

Ayat yang mulia di atas menetapkan adanya kewajiban wudhu di dalam agama ini bagi seseorang yang hendak mengerjakan shalat. (al-Muhalla, 1/71)
Selain ayat di atas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda yang mengandung pensyariatan wudhu bagi umat beliau:

لاَ يَقْبَلُ اللهُ صَلاَةَ أَحَدِكُمْ إِذَا أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّئَا

“Allah tidak akan menerima shalat salah seorang dari kalian, jika ia berhadats hingga ia berwudhu.” (Sahih, HR. al-Bukhari no. 135, 6954 dan Muslim no. 225)

لاَ يَقْبَلُ اللهُ صَلاَةً بِغَيْرِ طُهُوْرٍ وَلاَ صَدَقَةً مِنْ غُلُوْلٍ

“Allah tidak menerima shalat tanpa bersuci dan Dia tidak menerima sedekah dari hasil ghulul (mencuri harta rampasan perang sebelum dibagi).” (Sahih, HR. Muslim no. 224)

Bersuci

Keutamaan Wudhu

Banyak sekali hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyebutkan tentang keutamaan wudhu, di antaranya beliau bersabda, “Apabila seorang hamba yang muslim atau mukmin berwudhu, lalu ia mencuci wajahnya maka akan keluar dari wajahnya itu seluruh kesalahan yang dilihat oleh kedua matanya bersama air wudhu atau bersama akhir tetesan air wudhu. Apabila ia mencuci kedua tangannya maka akan keluar dari keduanya setiap kesalahan yang diperbuat oleh kedua tangannya bersama air atau bersama akhir tetesan air. Apabila ia mencuci kedua kakinya akan keluar setiap kesalahan yang dilangkahkan oleh kedua kakinya bersama air atau bersama akhir tetesan air. Hingga ia keluar/selesai dari wudhunya dalam keadaan suci dan bersih dari dosa-dosanya.” (Sahih, HR. Muslim no. 244)

مَنْ تَوَضَّئَا نَحْوَ وُضُوئِي هَذا ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَينِ لاَ يُحَدِّثُ فِيْهِمَا نَفْسَهُ غَفَرَ اللهُ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Siapa yang berwudhu seperti wudhuku ini kemudian ia shalat dua rakaat dan tidak terbetik di dalam hatinya selain dari perkara shalatnya, maka akan diampuni dosanya yang telah lalu[2].” (Sahih, HR. al-Bukhari no. 164 dan Muslim no. 226)

مَنْ تَوَضَّئَا فَأَحْسَنَ الْوُضُوْءَ خَرَجَتْ خَطَايَاهُ مِنْ جَسَدِهِ حَتَّى تَخْرُجَ مِنْ تَحْتِ أَظْفَارِهِ

“Siapa yang berwudhu dan ia membaguskan wudhunya, akan keluar kesalahan-kesalahannya dari tubuhnya hingga keluar dari bawah kuku-kukunya.” (Sahih, HR. Muslim no. 245)

إِنَّ أُمَّتِي يُدْعَوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ غُرًّا مُحَجَّلِيْنَ مِنْ أَثَرِ الْوُضُوْءِ

“Sesungguhnya umatku akan dipanggil pada hari kiamat nanti dalam keadaan ghurran muhajjalin[3] dari bekas wudhu.” (Sahih, HR. al-Bukhari no. 136 dan Muslim no. 246)

 

(Bersambung)

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Ishaq Muslim al-Atsari


[1] Contoh udzur yang dimaksud seperti tidak ada air yang bisa digunakan untuk wudhu sehingga di saat seperti ini, boleh seseorang meninggalkan wudhu dan menggantinya dengan tayammum.

[2] Al-Hafizh rahimahullah mengatakan, “Zhahir (tekstual) hadits ini menunjukkan pengampunan dosa tersebut umum, baik dosa besar maupun dosa kecil. Akan tetapi ulama mengkhususkan bahwa yang diampuni hanyalah dosa kecil karena adanya riwayat yang mengecualikan dosa besar.” (Fathul Bari, 1/327)

[3] Yakni bercahaya anggota-anggota wudhunya. (Fathul Bari, 1/297)

Jangan Kau Duakan Ibadahmu

Kesyirikan tidak hanya terjadi pada zaman jahiliah saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam belum diutus. Kesyirikan juga merebak di masa kini meski dikemas dengan bungkus baru. Kehati-hatian agar tidak terjatuh pada perbuatan syirik sangatlah penting karena Allah ‘azza wa jalla menyebut perbuatan ini sebagai dosa besar yang paling besar dan tidak akan memberi ampunan bagi pelakunya kecuali jika ia telah bertaubat.

Lanjutkan membaca Jangan Kau Duakan Ibadahmu

Peristiwa Yang Terjadi Sebelum Hijrah ke Madinah

Peperangan Bangsa Rum (Romawi) dan Persia

Secara ringkas, kami paparkan sebagian sejarah tentang bangsa Romawi dan Persia yang diceritakan oleh Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsir-nya (3/514—515). Beliau mengisahkan:

Bangsa Rum adalah keturunan al-‘Aish bin Ishaq bin Ibrahim, saudara sepupu Bani Israil. Dinamakan pula dengan Bani al-Ashfar. Mereka menganut agama orang-orang Yunani. Bangsa Yunani sendiri adalah keturunan Yafuts bin Nuh yang mereka adalah para penyembah bintang.

Bangsa Rum inilah yang membangun kota Damsyik (Damaskus) berikut tempat-tempat ibadahnya. Bangsa ini masih menganut agama mereka sampai datangnya ‘Isa al-Masih ‘alaihissalam, kira-kira selama 300 tahun. Setiap raja yang memerintah mereka, disebut “kaisar”.

Orang pertama yang masuk agama Nasrani dari raja-raja bangsa Rum adalah Konstantin. Namun kemudian orang-orang Nasrani berselisih paham, di mana kemudian para pendetanya (melalui konsili/pertemuan Nicea tahun 325 M, red.) merumuskan suatu undang-undang doktrin agama bagi negara dan mengubah agama Nabiyullah ‘Isa ‘alaihissalam. Mereka tambah dan kurangi agama Nabi ‘Isa ‘alaihissalam semau mereka (salah satu hasil “terpenting” adalah menetapkan Isa sebagai Tuhan melalui pemungutan suara, red.). Mereka juga membuat berbagai acara perayaan atau peringatan serta membagi tingkatan-tingkatan keuskupan atau kependetaan dalam beberapa tingkat seperti yang kita kenal sekarang ini (Paus, Uskup, dan sebagainya). Tak cuma itu, orang-orang Nasrani (Kristen) juga sangat keterlaluan dalam memuliakan dan mengagungkan kaisar. Yang jelas, mereka tetap memeluk agama tersebut hingga diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Setiap mati seorang kaisar, muncul kaisar penggantinya, sampai akhirnya datang masa pemerintahan Heraklius. Heraklius termasuk seorang raja yang cerdas dan cermat. Kekuasaannya cukup besar dan luas, sehingga Kisra Persia Sabur memusuhinya. Padahal kerajaannya lebih luas daripada Kaisar (Heraklius). Sabur sendiri merupakan penganut Majusi (penyembah api).

Bagian termasyhur dari sejarah ini adalah ketika Kisra pernah maju sendiri menghadapi Kaisar di negerinya, mengalahkan dan mengepungnya. Tidak ada kota yang tersisa kecuali Konstantinopel (sekarang Istanbul-Turki, red.) yang juga dikepung cukup lama.

Kisra sendiri merasa tidak sanggup menembus pertahanan di wilayah Konstantin ini, karena sebagian wilayahnya berdekatan dengan laut bebas dan sebagian lagi berada di daratan luas.

Sekian lama berselang, Kaisar kemudian mencoba sebuah tipu muslihat. Dia minta Kisra agar melepas wilayahnya dengan menjanjikan sejumlah harta dan beberapa persyaratan. Kisra pun memenuhi dan menuntut sejumlah harta yang demikian besar yang tidak mungkin dihimpun oleh seorang raja mana pun di muka bumi ini. Akhirnya Kaisar meminta agar dibolehkan keluar menuju beberapa wilayah kekuasaan Romawi untuk mengumpulkan harta tersebut. Kemudian dia memanggil seluruh pembesar agama dan kerajaannya serta berkata, “Aku akan keluar untuk suatu urusan yang telah diputuskan untuk aku laksanakan dengan sepasukan prajurit pilihan. Kalau aku kembali ke tengah-tengah kalian sebelum satu tahun, maka aku tetap raja kalian. Kalau aku tidak kembali dalam waktu tersebut, kalian boleh pilih, tetap mengakuiku sebagai raja atau mengangkat salah seorang dari kalian sebagai pengganti raja buat kalian.”

Mereka mengatakan, “Anda tetap raja kami dalam keadaan bagaimanapun.”
Akhirnya Kaisar berhasil keluar dan dengan cepat menuju kerajaan Persia. Dengan gerakan cepat bersama beberapa prajurit pilihannya, dia berhasil menghancurkan beberapa wilayah kerajaan Persia seperti Mada’in. Bahkan berhasil membunuh putra mahkota Persia, menawan para wanita dan istri-istri raja, merampas harta benda yang ada dan mengirimkan semua itu kepada Kisra. Tentu saja Kisra Persia yang menerimanya sangat terkejut dan berduka. Tekanannya terhadap pengepungan itu pun semakin keras.

Setelah merasa tidak sanggup menembus pertahanan Kaisar, Kisra Persia mencoba jalan lain melalui sungai Jaihun yang merupakan satu-satunya jalan menuju ke Konstantinopel.

Ketika hal ini diketahui Kaisar yang hendak memasuki Konstantinopel, ia pun melancarkan satu taktik jitu yang belum pernah dilakukan siapa pun sebelumnya. Dia mempersiapkan pasukan pengintai yang bersamanya di dekat alur sungai. Pasukan lain diperintahkannya untuk mengangkut jerami dan kotoran hewan kemudian dilemparkan ke sungai. Ketika benda-benda itu melewati Kisra, dia menyangka bahwa Kaisar dan pasukannya telah menyelam di arah depan, maka dia pun memerintahkan untuk mengejar.

Kaisar kemudian tiba di tengah-tengah pasukan induknya dan memerintahkan untuk bergegas dan menyelam. Mereka pun menyelam dan bergerak cepat. Akhirnya mereka lolos dari Kisra dan pasukannya, serta berhasil masuk Konstantinopel kembali. Tinggallah Kisra dalam keadaan penuh kebingungan dan terheran-heran, apa yang mereka kerjakan? Negeri Kaisar tidak berhasil ditundukkan, malah negeri sendiri diporak-porandakan oleh Kaisar. Inilah kemenangan Romawi terhadap kerajaan Persia yang terjadi dalam waktu sekitar sembilan tahun setelah mereka dikalahkan oleh Persia. Peristiwa pertempuran kedua negara super power ini terjadi di dekat wilayah jazirah Arab.

Firman Allah ‘azza wa jalla:

الٓمٓ ١  غُلِبَتِ ٱلرُّومُ ٢  فِيٓ أَدۡنَى ٱلۡأَرۡضِ وَهُم مِّنۢ بَعۡدِ غَلَبِهِمۡ سَيَغۡلِبُونَ ٣ فِي بِضۡعِ سِنِينَۗ لِلَّهِ ٱلۡأَمۡرُ مِن قَبۡلُ وَمِنۢ بَعۡدُۚ وَيَوۡمَئِذٖ يَفۡرَحُ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٤ بِنَصۡرِ ٱللَّهِۚ يَنصُرُ مَن يَشَآءُۖ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلرَّحِيمُ ٥

“Alif Laam Miim. Telah dikalahkan bangsa Rum, di negeri terdekat dan sesudah dikalahkan itu mereka akan menang, dalam beberapa tahun (lagi). Bagi Allah segala urusan sebelum dan sesudahnya. Dan pada hari itu kaum mukminin bergembira, karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang.” (ar-Rum: 1—5)

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, ayat ini turun ketika Raja (Kisra) Persia Sabur menguasai negeri Syam dan koloninya yang meliputi beberapa wilayah di jazirah Arab serta pedalaman negeri Romawi. Hal ini memaksa Heraklius, Raja Romawi menyingkir dan berlindung di Konstantinopel. (at-Tafsir, 3/512)

Al-Imam Ahmad, al-Baihaqi, at-Tirmidzi, dan Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma tentang ayat ini, dia mengatakan,

“Mereka (Romawi) dikalahkan dan (kemudian) mengalahkan. Kaum musyrikin sangat senang apabila orang-orang Persia berhasil mengalahkan orang-orang Romawi, karena Persia dan mereka sama-sama penyembah berhala. Sedangkan kaum muslimin menginginkan agar bangsa Romawi yang menaklukkan Persia karena mereka adalah orang-orang ahli kitab.”

Dalam riwayat at-Tirmidzi dari Niyar bin Mukarram al-Aslami radhiallahu ‘anhu dia mengatakan, “Ketika turun ayat-ayat ini, bangsa Persia berhasil mengalahkan bangsa Romawi. Kaum muslimin sangat menginginkan kemenangan ada di pihak Romawi, karena mereka ahlul kitab. Sedangkan kaum musyrikin sangat gembira dengan kemenangan Persia ini, karena mereka bukan ahli kitab dan tidak pula beriman dengan hari kemudian. Tatkala ayat ini turun, Abu Bakr radhiallahu ‘anhu membacakannya dengan lantang.”

Sebagian orang Quraisy yang mengetahui ini menantang, “Baik. Ini kesepakatan di antara kita. Temanmu itu menyangka bahwa Romawi akan mengalahkan Persia dalam waktu beberapa tahun. Maukah kamu, kita bertaruh masalah ini?”

Abu Bakr menjawab, “Boleh.”

Pertaruhan ini terjadi sebelum perkara ini dilarang. Orang-orang musyrik itu berkata kepada Abu Bakr, “Berapa tahun kita tetapkan? Yakni antara tiga sampai sembilan tahun. Sebutkan supaya kita jadikan putusan akhir.”

Kemudian mereka menetapkan waktu enam tahun.
Setelah berlalu enam tahun, belum juga tampak kemenangan itu, akhirnya taruhan Abu Bakr radhiallahu ‘anhu diambil oleh Quraisy. Namun masuk tahun ketujuh, terjadilah kemenangan itu. Disebutkan oleh perawi bahwa sebagian kaum muslimin mencela Abu Bakr radhiallahu ‘anhu yang membatasi hanya enam tahun, karena Allah ‘azza wa jalla menyatakan:

فِي بِضۡعِ سِنِينَۗ

“Dalam beberapa tahun.” (ar-Rum: 4)

Ketika itu, banyaklah orang yang masuk Islam.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah bersabda:

أَمَا إِنَّهُمْ سَيَغْلِبُونَ

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya mereka akan menang.”

Berita ini segera disampaikan oleh Abu Bakr radhiallahu ‘anhu kepada orang-orang Quraisy. Lalu mereka pun berkata, “Buatlah kesepakatan di antara kita dengan satu tempo. Kalau kami yang menang kami berhak mendapatkan sesuatu. Dan kalau kalian yang menang kalian berhak mendapatkan sesuatu pula.”

Maka Abu Bakr radhiallahu ‘anhu memberikan batasan bahwa Romawi akan menang dalam waktu lima tahun, namun ternyata belum juga terbukti. Hal ini juga beliau sampaikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau bersabda:

أَلَا جَعَلْتَهَا إِلَى دُونِ –أَرَاهُ قَالَ: الْعَشْرِ

“Apakah tidak engkau jadikan sampai masa di bawah—saya kira beliau menyebut— 10 tahun.”

Sa’id bin Jubair mengatakan الْبِضْعُ artinya bilangan yang ada di bawah sepuluh. Dan memang akhirnya pasukan Romawi menang. (Sebagaimana dikisahkan oleh Ibnu Katsir rahimahullah, wallahu a’lam).

Sebagian ulama ada yang menyebutkan bahwa kemenangan Romawi tersebut terjadi bertepatan dengan peristiwa Badr al-Kubra. Ada pula yang menyatakan hal itu pada masa Hudaibiyah. Wallahu a’lam.

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Muhammad Harits Abrar Thalib


Sumber bacaan:

  1. Tafsir Ibnu Katsir (jilid 3), Ibnu Katsir
  2. Zadul Ma’ad, Ibnul Qayyim
  3. Shahih as-Sirah an-Nabawiyyah, asy-Syaikh al-Albani
  4. Mukhtashar Siratur Rasul, asy-Syaikh Muhammad Ibnu Abdul Wahab

Hizbullah dan Hizbu Syaithan Perseteruan Tiada Akhir

Kebenaran dan kejahatan adalah dua kubu yang tidak mungkin bersatu. Kebenaran didukung oleh Allah ‘azza wa jalla sedangkan kejahatan didukung oleh setan dan pasukannya. Siapa yang mendukung setan maka dia menjadi musuh Allah ‘azza wa jalla dan dia tidak mungkin meraih kemenangan.

Lanjutkan membaca Hizbullah dan Hizbu Syaithan Perseteruan Tiada Akhir

Meluruskan Makna Wali Allah dan Mengenal Wali Syaithan

Di masyarakat, wali adalah gelar yang memiliki prestise tinggi. Orang yang dianggap sudah mencapai derajat wali, segala tindakan dan ucapannya bak titah raja, harus diterima dan dilaksanakan meski tak jarang melanggar syariat. Mestinya keadaan ini tidak terjadi bila masyarakat paham bahwa tidak semua orang yang dianggap sebagai wali adalah wali Allah ‘azza wa jalla.

Lanjutkan membaca Meluruskan Makna Wali Allah dan Mengenal Wali Syaithan

Khawarij, Kelompok Sesat Pertama dalam Islam

Laa hukma illa lillah (tiada hukum kecuali untuk Allah ‘azza wa jalla). Kata-kata ini haq adanya, karena merupakan kandungan ayat yang mulia. Namun jika kemudian ditafsirkan menyimpang dari pemahaman as-salafush shalih, kebatilanlah yang kemudian muncul. Bertamengkan kata-kata inilah, Khawarij, kelompok sempalan pertama dalam Islam, dengan mudahnya mengafirkan bahkan menumpahkan darah kaum muslimin.

Lanjutkan membaca Khawarij, Kelompok Sesat Pertama dalam Islam

Takut Kepada Allah

Abu ‘Ubaidah radhiallahu ‘anhu berkata, “Ketahuilah, berapa banyak orang memutihkan baju tetapi mengotori agama. Ketahuilah berapa banyak manusia memuliakan diri sendiri padahal ia hina. Gantilah amal-amal jelek yang telah lewat dengan amal-amal baik sekarang!” (Siyar A’lamin Nubala, 1/18)


Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berpesan, “Kalian dalam perjalanan malam dan siang, umur-umur berkurang, amal-amal tercatat, serta kematian datang dengan tiba-tiba. Siapa yang menanam kebaikan akan segera menuai kesenangan dan siapa yang menanam kejelekan akan segera menuai penyesalan. Setiap penanam mendapatkan apa yang ditanam. Yang telah menjadi bagiannya tidak akan meleset darinya, dan ketamakan tidak akan meraih apa yang tidak ditakdirkan. Siapa yang memberi kebaikan maka Allah subhanahu wa ta’ala akan memberinya kebaikan dan siapa yang menjaga diri dari kejelekan maka Allah subhanahu wa ta’ala akan menjaganya. Orang-orang bertakwa adalah pemimpin, ahli fiqih adalah penuntun, dan duduk bersama mereka adalah tambahan (ilmu).” (Siyar A’lamin Nubala, 1/497)


Qubaishah bin Qais al-’Anbari rahimahullah bertutur, “Adalah adh-Dhahhak bin Muzahim, bila datang waktu sore selalu menangis. Lalu ia ditanya, ‘Mengapa kamu menangis?’ Ia menjawab, ‘Aku tidak tahu apakah amalku naik (diterima di sisi Allah subhanahu wa ta’ala) pada hari ini.’” (Shifatush Shafwah, 4/150)


Al-Qasim bin Muhammad rahimahullah mengisahkan,”Kami pernah bepergian bersama Ibnul Mubarak dan banyak pertanyaan yang terlintas di benakku terhadap dirinya, apa yang menyebabkan lelaki ini dihormati hingga ia sangat populer di kalangan manusia? Jika ia shalat, puasa, jihad dan haji; kami juga shalat, puasa, jihad dan haji. Pada suatu perjalanan menuju Syam pada malam hari, kami makan malam di sebuah rumah. Tiba-tiba lampu mati. Seseorang berdiri mengambil lampu dan menyalakannya. Sejenak ia diam kemudian lampu menyala. Sesaat kemudian aku melihat wajah Ibnul Mubarak dan janggutnya basah dengan air mata. Batinku berkata, “Karena rasa takut itulah lelaki ini dihormati melebihi kami, barangkali ketika lampu dibawa, ia berjalan menuju kegelapan dan mengingat hari kiamat lalu menangis.” (Shifatush Shafwah, 4/140)


Ibnu Syaudzab rahimahullah, “Ketika Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu wafat, dia (Ibnu Syaudzab  rahimahullah) menangis. Ia ditanya mengapa menangis, ia menjawab, ‘Jauhnya perjalanan akhirat, sedikitnya bekal, dan perjalanan menanjak. Orang yang jatuh ke dalamnya bisa jadi jatuh ke dalam surga atau ke dalam neraka.’” (Siyar A’lamin Nubala, 1/694)

(Dipetik dari Aina Nahnu min Akhlaqis Salaf, hlm. 17—18)

Doa

َتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ 

“Semoga Allah menerima amal kami dan amal kalian.”

Jubair bin Nufair rahimahullah berkata, “Adalah para sahabat Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam, jika bertemu di hari ‘Ied saling mengucapkan kalimat di atas.” (HR. al-Mukamili, asy-Syaikh al-Albani menyatakan bahwa sanadnya sahih dalam Tamamul Minnah hlm. 355. Lihat juga Fathul Bari, 2/446)

Menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah, memulai kalimat tersebut bukanlah Sunnah Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam yang diperintahkan, namun bukan pula perkara yang dilarang. Sebagian ulama seperti al-Imam ِAhmad rahimahullah  membolehkannya, dan jika diucapkan kepada seseorang maka ia wajib menjawab. (Majmu’ Fatawa, 24/214 dan Ahkamul ‘Iedain, hlm. 25)