Menyikapi Penguasa Yang Kejam

Catatan sejarah membuktikan, setiap pemberontakan yang tidak dibimbing oleh ilmu syar’i selalu melahirkan kerusakan dan berakhir dengan kekacauan yang lebih besar daripada kezaliman penguasa itu sendiri. Maka, sikap sabar sebagaimana diamanatkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya, mesti kita miliki ketika kita dihadapkan kepada pemerintahan yang zalim.

Lanjutkan membaca Menyikapi Penguasa Yang Kejam

Kewajiban Taat Kepada Pemerintah

Kewajiban taat kepada pemerintah merupakan salah satu prinsip Islam yang agung. Namun di tengah karut-marutnya kehidupan politik di negeri-negeri muslim, prinsip ini menjadi bias dan sering dituding sebagai bagian dari gerakan pro status quo. Padahal, agama yang sempurna ini telah mengatur bagaimana seharusnya sikap seorang muslim terhadap pemerintahnya, baik yang adil maupun yang zalim.

Lanjutkan membaca Kewajiban Taat Kepada Pemerintah

Membongkar Kesesatan Syi’ah

Serupa tapi tak sama. Barangkali ungkapan ini tepat untuk menggambarkan Islam dan kelompok Syi’ah. Secara fisik, memang sulit dibedakan antara penganut Islam dengan Syi’ah. Namun jika ditelusuri—terutama dari sisi akidah—perbedaan di antara keduanya ibarat minyak dan air. Sehingga tidak mungkin disatukan.

  Lanjutkan membaca Membongkar Kesesatan Syi’ah

Iman

‘Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu berkata kepada sahabatnya, “Marilah kita menambah iman!” Lalu mereka berzikir kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Hubaib bin Hamasah radhiallahu ‘anhu berucap, “Sesungguhnya iman bertambah dan berkurang.”

Ia ditanya, “Apakah tanda bertambah dan berkurangnya?”

Ia menjawab, “Jika kita mengingat dan takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala, maka itu tanda bertambahnya keimanan; dan jika kita lalai, lupa, dan menyia-nyiakan waktu, itu pertanda berkurangnya iman.”

Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata, “Seluruh keyakinan yang benar adalah keimanan.” (Maksudnya keyakinan yang mendorong amal saleh).

Mu’adz bin Jabal radhiallahu ‘anhu berkata, “Marilah duduk bersamaku untuk beriman (berzikir) sesaat.”

Al-Hasan al-Bashri rahimahullah bertutur, “Aku mencari jannah (surga) dengan keyakinan, lari dari neraka dengan keyakinan, menunaikan kewajiban dan sabar di atas kebenaran dengan keyakinan.” (maksudnya dengan iman)

‘Umar bin Abdul ‘Aziz rahimahullah menulis surat kepada ‘Adi bin ‘Adi, “Sesungguhnya iman mempunyai kewajiban-kewajiban, syariat-syariat, hukum-hukum, dan sunnah-sunnahnya. Barang siapa menyempurnakan perkara-perkara tersebut maka ia telah menyempurnakan keimanannya. Dan barang siapa tidak menyempurnakannya berarti ia belum menyempurnakan keimanannya. Jika aku masih diberi umur panjang, aku akan menjelaskan masalah ini kepadamu hingga kamu melaksanakannya. Jika aku mati, maka aku memang tidak bersemangat untuk bersama kalian.”

Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Bila keimanan bersemi dalam hati sesuai dengan tuntunan syariat niscaya hati rindu terbang ke jannah dan takut dari siksa neraka.”

Luqman berkata, “Amal tidak mampu tegak kecuali dengan iman. Barang siapa lemah keimanannya, maka lemah amalnya.”

Abdullah bin Ukaim rahimahullah bercerita, “Aku mendengar Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu berdoa, ‘Ya Allah, tambahkan keimanan, keyakinan, dan pemahamanku’.”

(Dari Fathul Bari karya Ibnu Rajab al-Hanbali, Maktabah Sahab)

Doa Pergi ke Masjid

 اللَّهُمَّ اجْعَلْ فِي قَلْبِي نُوْراً، وَفِي لِسَانِي نُورًا، وَفِي سَمْعِيْ نُوْرًا، وَفِي بَصَرِي نَوْرًا، وَمِنْ فَوْقِي نُوْرًا، وَمِنْ َتْحْتِي نُوْرًا، وَعَنْ يَمِيْنِي نُوْرًا، وَعَنْ شِمَالِي نُوْرًا، وَمِنْ أَمَامِي نُوْراً، وَمِنْ خَلْفِيْ نُوْراً، وَاجْعَلْ فيِ نَفْسِي نُوْراً، وَأَعْظِمْ لِي نُوْرًا، وَعَظِّمْ لِيْ نُوْرًا، وَاجْعَلْ لِيْ نُوْراً، وَاجْعَلْنِيْ نُوْرًا، اللَّهُمَّ أَعْطِنِي نُوْرًا، وَاجْعَلْ فِيْ عَصَبِي نُوْرًا، وَفِي لَحْمِيْ نُوْرًا، وَفِي شَعْرِي نُوْرًا، وَفِي بَشَرِيْ نُوْرًا

“Ya Allah, jadikanlah cahaya dalam hatiku, cahaya pada lisanku, cahaya pada pendengaranku, cahaya pada penglihatanku, cahaya di atasku, cahaya di bawahku, cahaya di kananku, cahaya di kiriku, cahaya di depanku, dan cahaya di belakangku. Jadikanlah pada diriku cahaya, besarkanlah untukku cahayanya, besarkanlah cahayaku, jadikanlah untukku cahaya, jadikanlah aku cahaya. Ya Allah, berikanlah aku cahaya, jadikanlah pada otakku cahaya, jadikanlah dalam dagingku cahaya, dalam darahku cahaya, dalam rambutku cahaya, dan dalam kulitku cahaya!” (HR. al-Bukhari 2/116 no. 6316 dan Muslim 1/526, 529, 530 no. 763)

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah—menukil perkataan para ulama—berkata, “Rasulullah n meminta cahaya kepada Allah subhanahu wa ta’ala untuk seluruh anggota badannya dan seluruh arah. Maksudnya adalah minta ditunjuki kepada kebenaran, keterangan, dan cahaya kebenaran. Sehingga beliau meminta cahaya untuk badan, perbuatan, segala keadaan, dan arah yang enam sehingga beliau tidak menyimpang sedikit pun dari kebenaran.” (Syarh Shahih Muslim, al-Imam an-Nawawi, 5/45)