Ketika Untaian Kalamullah Sekedar Jadi Hiasan

Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan al-Qur’an adalah sebagai petunjuk bagi manusia. Agar tujuan ini bisa terealisasi, al-Qur’an tidak bisa hanya sekadar dijadikan pajangan. Sayangnya justru perbuatan ini yang banyak dilakukan manusia. Salah satunya melalui apa yang dinamakan seni kaligrafi.

Lanjutkan membaca Ketika Untaian Kalamullah Sekedar Jadi Hiasan

Wanita Bekerja Diluar Rumah

Saya bekerja dari pukul 07.00—13.00 WIB dan saya biasa berangkat kerja sendiri. Suami saya bekerja mulai pukul 08.00 WIB. Yang ingin saya tanyakan:

  1. Selama 1 jam setelah saya berangkat kerja, di rumah hanya ada suami dan pembantu yang ditemani anak-anak saya yang masih kecil. Apakah hal ini dibolehkan oleh syariat?

  2. Apakah dengan menitipkan anak selama saya bekerja termasuk menyia-nyiakan tanggung jawab saya sebagai seorang ibu?

  3. Apakah benar tindakan suami saya yang membiarkan saya bekerja di luar rumah?

Saya sangat mengharapkan jawaban agar saya tidak terlampau jauh terjerumus dalam kemaksiatan.

(Ummu Fulan – Jakarta)

Lanjutkan membaca Wanita Bekerja Diluar Rumah

Menggapai Satu Kemuliaan

Diakui atau tidak, salah satu sebab kerusakan yang merebak di masyarakat adalah tampilnya wanita dengan memamerkan auratnya. Pintu kerusakan pun kian lebar dengan dukungan teknologi yang kian mudah dan murah. Aurat wanita selain dapat ‘dinikmati’ secara langsung, juga dapat melalui media seperti foto, VCD, hingga dunia maya. Pelecehan seksual, perselingkuhan, seks bebas, pemerkosaan, maraknya prostitusi adalah sekelumit persoalan sekaligus mata rantai dari dampak yang ditimbulkannya.

Lanjutkan membaca Menggapai Satu Kemuliaan

Kekufuran Istri Berbuah Petaka

Panas setahun dihapus hujan sehari. Ungkapan ini terasa pas untuk menggambarkan bagaimana sikap kebanyakan istri terhadap suaminya. Kebaikan suami yang demikian banyak, berubah menjadi tak bernilai ketika suami berbuat salah. Sikap enggan untuk mensyukuri kebaikan suami ini termasuk penyebab mayoritas penghuni neraka adalah wanita.

  Lanjutkan membaca Kekufuran Istri Berbuah Petaka

Siapa Saja Mahram Itu

Ada beberapa pertanyaan yang masuk seputar permasalahan muhrim, demikian para penanya menyebutnya, padahal yang mereka maksud adalah mahram. Perlu diluruskan bahwa muhrim dalam bahasa Arab adalah مُحْرِمٌ , mimnya di-dhammah, yang maknanya adalah orang yang berihram dalam pelaksanaan ibadah haji sebelum tahallul. Adapun mahram bahasa Arabnya adalah ,مَحْرَمٌ mimnya di-fathah.

Lanjutkan membaca Siapa Saja Mahram Itu

Cinta yang Tak Mungkin Terbalas

Kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah.

Begitu bunyi ungkapan yang menggambarkan betapa besar kasih sayang orang tua kepada anak-anaknya. Demikianlah realitasnya. Betapapun besarnya balas budi seorang anak, ia tidak akan mampu menyamai apa yang telah diberikan orang tua kepadanya. Sudah sepantasnya seorang anak berbuat baik dan menaati perintah orang tua, selama mereka tidak memerintahkan kepada kemaksiatan.

Lanjutkan membaca Cinta yang Tak Mungkin Terbalas

Nabi Luth dan Kaum Homoseks

Kisah Nabi Luth ‘alaihissalam ini seiring dengan kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Karena beliau adalah murid yang belajar kepada Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan kedudukannya seperti anak bagi Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Allah subhanahu wa ta’ala mengangkatnya menjadi nabi di masa Khalilullah Ibrahim ‘alaihissalam masih hidup, dan Allah subhanahu wa ta’ala mengutusnya ke negeri Saddom di Palestina. Masyarakat di sana, selain berbuat syirik kepada Allah subhanahu wa ta’ala juga melakukan perbuatan homoseks yang belum pernah ada seorang pun melakukan kekejian ini selain mereka.

Lanjutkan membaca Nabi Luth dan Kaum Homoseks

Bila Pengkafiran Menjadi Sebuah Fenomena

Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَيُّمَا رَجُلٍ قَالَ لِأَخِيْهِ: يَا كَافِرُ، فَقَدْ بَاءَ بِهَا أَحَدُهُمَا، فَإِنْ كَانَ كَمَا قَالَ وَإِلاَّ رَجَعَتْ عَلَيْهِ

“Apabila seseorang menyeru kepada saudaranya, ‘Wahai orang kafir,’ maka sungguh akan kembali sebutan kekafiran tersebut kepada salah seorang dari keduanya. Bila orang yang disebut kafir itu memang kafir, maka sebutan itu pantas untuknya. Bila tidak, maka sebutan kafir itu kembali kepada yang mengucapkan.” (Sahih, HR. al-Bukhari no. 6104 dan Muslim no. 60)

Lanjutkan membaca Bila Pengkafiran Menjadi Sebuah Fenomena

Kerancuan Seputar Hukum Selain dengan Hukum Allah

وَمَن لَّمۡ يَحۡكُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡكَٰفِرُونَ ٤٤

“Barang siapa yang tidak berhukum dengan apa yang diturunkan oleh Allah maka mereka itulah orang-orang yang kafir.” (al-Maidah: 44)

  Lanjutkan membaca Kerancuan Seputar Hukum Selain dengan Hukum Allah

Sihir di Sekitar Kita

Sihir berkedok ‘pengobatan spiritual’, ‘transfer bioenergi’, ‘penggalian jatidiri’, ‘ruwat’, ‘ilmu khodam’, ‘daya laduni’, dan sejenisnya, kian menjamur di negeri ini. Sebutan untuk sang pakar pun kian ‘ilmiah’, bukan lagi dukun/orang pintar, tetapi juga supranaturalis, ahli metafisika dan geopati, paranormal, penghusada, dan sebagainya. Bahkan tak sedikit yang menyandang gelar doktor walau cuma honoris causa—itu pun diduga palsu. Meski tak semua bentuk pengobatan alternatif yang ada menggunakan klenik mistis, tetapi kehati-hatian tetap harus kita kedepankan.

Lanjutkan membaca Sihir di Sekitar Kita

Bom Bunuh diri dalam Timbangan Syariat

Semangat tetapi tanpa ilmu, penyakit inilah yang banyak menjangkiti kalangan aktivis dan pemuda Islam. Lahirlah kemudian berbagai macam aksi kekerasan yang mengatasnamakan agama. Penyanderaan, bom bunuh diri, penyerangan terhadap warga negara dan kepentingan asing, serta pemberontakan terhadap pemerintah muslim, adalah sederet contoh tindakan yang dibungkus dengan nama jihad. Akibatnya, jihad yang syar’i justru dipandang sebelah mata oleh umat.

Lanjutkan membaca Bom Bunuh diri dalam Timbangan Syariat

Hujjah Lemah Paham Takfiriyah

Persoalan takfir ternyata merupakan pembahasan yang rumit. Di dalamnya terdapat syubhat-syubhat (pengaburan) yang dimunculkan para pengusung mazhab ini. Karena itu, dibutuhkan ilmu agama yang mendalam untuk membantahnya. Tidak ada yang bisa melakukannya selain para ulama yang terbimbing.

  Lanjutkan membaca Hujjah Lemah Paham Takfiriyah

Mewaspadai Fitnah Takfir

Sikap mudah mengafirkan sesama muslim banyak berjangkit di kalangan umat. Yang paling menonjol adalah pengkafiran terhadap pemerintah muslim karena mereka tidak menerapkan hukum Islam. Tak sedikit di antara mereka yang menjadikan sikap ini sebagai tanda militan atau tidaknya seorang muslim. Siapa yang tidak mengafirkan pemerintah muslim yang tidak berhukum dengan hukum Islam, maka masih diragukan militansinya.

  Lanjutkan membaca Mewaspadai Fitnah Takfir

Surat Pembaca edisi 8

Asy Syariah Mengambil Majalah Salafy Sebagai Rujukan?

Kepada Redaksi Majalah Asy Syariah yang dirahmati Allah ‘azza wa jalla. Di sini ana mau menyampaikan beberapa usul/saran:

  1. Pada Rubrik Jejak ana rasa sudah cukup bagus, hanya saja terlalu diringkas. Usul saya supaya Rubrik Jejak tidak terlalu diringkas walaupun harus bersambung tiap edisi.
  2. Melihat kondisi kaum muslimin yang kebanyakan hubbud-dunya dan terlalu takut kematian, bagaimana kalau dalam Majalah Asy Syariah dibuat kolom (rubrik?) sirah shahabat yang menceritakan sepak terjang mereka dalam peperangan melawan orang-orang kafir atau dalam kata lain memuat cerita peperangan misalnya perang Badr, dan lain-lain.
  3. Sebagai kritikan: Mengapa pada Asy Syariah edisi 05 pada Rubrik Kajian Utama masih diambil rujukan Majalah Salafy yang kita ketahui tentang majalah tersebut sekarang ini. Bisa jadi orang yang belum paham bisa menjadikan majalah itu sekarang sebagai bacaan. Syukran katsiran. Sekian usul ana dan orang-orang yang seperti ana yang ingin mengambil ibrah dari para shahabat radhiallahu ‘anhum, sebagaimana telah ada (Rubrik) Ibrah nabi-nabi terdahulu dalam Asy-Syariah. Ana doakan Asy Syariah tetap istiqamah dalam menyebarkan dakwah yang mulia ini. Barakallahu fikum.

Abu Hafshah Akbar Al-Anshari – Poso

  • Jawaban Redaksi:

Tentang Rubrik Jejak, memang akan terus bersambung memaparkan peristiwa demi peristiwa yang dialami Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabat beliau radhiallahu ‘anhum, insya Allah. Adapun peristiwa peperangan yang dilakukan oleh Rasulullah dan para shahabat beliau, insya Allah akan datang pembahasannya pada rubrik ini juga, sesuai dengan urutan waktu perjalanan dakwah Islam.

Tentang kritikan antum bahwa kami masih mengambil rujukan dari Majalah Salafy, tidaklah demikian keadaannya. Kami belum dan tidak pernah mengambil Majalah Salafy sebagai rujukan. Bila antum cermati kembali, kami mengambil nukilan dari majalah tersebut dalam rangka membantah pendapat yang dibawakan di sana, dan bukan mengambilnya sebagai rujukan.

Bahasan Tentang Firqah dan Ciri Ulama Salaf

Pada edisi yang lalu telah dibahas dan dijelaskan tentang kesesatan kaum Khawarij dan Syi’ah serta golongan-golongan dalam Syi’ah. Untuk edisi mendatang saya mengharapkan agar dibahas tentang manhaj-manhaj yang lain seperti Mu’tazilah, Jahmiyyah, Qadariyyah dan lain-lain, terutama Sururiyyah dan Ikhwanul Muslimin yang terus melanda muslimin Indonesia. Juga  dibahas tentang bagaimana ciri-ciri ulama salaf atau salafiyyun. Dan lebih lengkap lagi kalau dikupas tentang firqah dan bid’ah, tentunya tidak langsung semuanya akan tetapi secara proporsional. Jazakumullah khairan katsira.

Miftahudin – Jakarta Timur

  • Jawaban Redaksi:

Insya Allah kita akan membahas tentang firqah-firqah tersebut pada edisi-edisi mendatang satu persatu di Rubrik Manhaji. Adapun tentang ciri-ciri ulama salaf, insya Allah akan ada pembahasan tersendiri dalam Rubrik Kajian Utama. Ikuti terus sajian kami.

Penulisan Teks Arab

Usul: bagaimana kalau setiap kalimat seperti ayat/hadits/atsar semuanya disertakan bahasa Arabnya?

Abu Muhammad 6281221xxxxx@telkomsel.com

  • Jawaban Redaksi:

Tentang teks Arab, kami berusaha sebisa mungkin untuk menulis semuanya dengan lengkap. Namun jumlah halaman majalah yang memang terbatas terkadang membuat kami kurang leluasa untuk menuliskannya, sehingga sementara kami prioritaskan pada penulisan teks ayat Al Qur’an terlebih dahulu.

Paham Takfiriyyah

السلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Pembaca, di penghujung bulan Mei 2004 ini, terjadi lagi sebuah peristiwa yang membuat dada kita sesak. Di kota industri minyak Khobar, Saudi Arabia, terjadi sebuah penyerangan terhadap pemukiman para pekerja minyak yang menewaskan sejumlah pekerjanya. Sebagian besar yang tewas adalah pekerja asing dari berbagai negara. Pihak berwenang Saudi Arabia kini sedang mengejar para pelaku yang diindikasi sebagai gerakan Islam “garis keras”.

Bukan kali ini saja peristiwa serupa terjadi di negeri Saudi. Beberapa kali terjadi peristiwa teror dengan melakukan pengeboman ataupun penyerangan bersenjata. Dari berbagai kejadian, sasaran utama para penyerang umumnya tempat-tempat yang banyak terdapat fasilitas asing ataupun orang asing.

Gerakan-gerakan teror ini tidak hanya terjadi di luar negeri, namun di negeri kita pun ada. Suatu ketika kita pernah diributkan dengan peristiwa pengeboman gereja di berbagai tempat. Tak dapat dielak, kaum musliminlah yang dituduh sebagai pelakunya. Suatu ketika pula, kurang lebih dua setengah tahun lalu, terjadi peristiwa teror yang sampai disebut sebagai tragedi, yaitu pengeboman sebuah kafe di Bali yang menewaskan sekitar 180 orang. Sebagian besar yang mati adalah orang-orang asing.

Kita tidak menutup mata bahwa orang-orang kafir pun banyak yang melakukan teror. Bahkan jumlahnya bisa jadi lebih banyak. Namun kita juga tak bisa memungkiri bahwa di kalangan umat Islam pun ada orang-orang yang melakukan gerakan demikian, seperti pada kejadian-kejadian tersebut.

Bagaimanapun, dalam pandangan Ahlus Sunnah wal Jamaah, gerakan teror yang seperti itu tidak bisa dibenarkan, meskipun yang menjadi sasaran adalah orang kafir. Lebih-lebih dalam peristiwa yang sudah-sudah, kaum muslimin pun ikut menjadi korban.

Mengapa mereka memiliki sikap demikian? Inilah orang-orang yang memiliki paham takfiriyyah, yaitu orang-orang yang amat mudah mengkafirkan sesama muslim hanya dengan sebab suatu dosa. Sikap ini muncul didasari oleh ekstrimitas mereka dalam memandang sebuah kemungkaran. Didasari sikap ini, muncullah berbagai sikap ekstrim lain dari mereka.Karena itu, mereka tak segan-segan menjadikan kaum muslimin yang tidak sepemikiran dengan mereka untuk ikut dijadikan sasaran teror.

Sikap mereka yang paling menonjol adalah mengkafirkan pemerintah muslim yang tidak menerapkan hukum Islam. Merekapun mengkafirkan siapa saja yang tidak mau mengkafirkan pemerintah tersebut. Sebab dalam ajaran agama ini memang terdapat satu kaidah bahwa siapa yang tidak mengkafirkan orang kafir maka dia pun kafir. Dengan kaidah yang benar namun dipahami dan dipraktekkan secara keliru itu, muncullah banyak kerusakan yang diakibatkan oleh mereka.

Pembaca, demikian sedikit ilustrasi untuk mengantarkan pada pembahasan kajian utama kali ini. Mengapa mereka mudah mengkafirkan sesama muslim, pandangan syariat terhadap bom bunuh diri, syubhat-syubhat yang mereka miliki, sejarah kemunculan mereka, siapa tokoh-tokohnya dan perkara-perkara lain yang berkaitan dengan paham takfiri kami bahas dalam edisi ini. Kami berharap pembaca akan mendapatkan pemahaman yang benar terhadap fenomena takfir ini sehingga bisa membentengi diri agar tidak terjerumus dalam pemahaman mereka. Bagaimanapun, pengikut paham ini tidak semakin berkurang namun makin bertambah, mulai dari yang “lembut” seperti yang dilakukan orang-orang LDII maupun yang radikal seperti yang melakukan gerakan teror itu.

Nah pembaca, selamat menikmati sajian kami.  Wallahu a’lam.

والسلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Akhir Perjalanan Ahli Bid’ah

Abu Qilabah rahimahullah berkata, “Tidak ada seseorang yang mengadakan suatu kebid’ahan melainkan suatu saat dia akan menganggap halal menghunus pedang (menumpahkan darah kaum muslimin atau memberontak kepada pemerintah).” (al-I’tisham 1/112, ad-Darimi, 1/58 no. 99)

  Lanjutkan membaca Akhir Perjalanan Ahli Bid’ah