Pengadilan Terbuka Bagi Penghujat Allah dan RasulNya

Ali radhiallahu ‘anhu berkata,

لَوْ كَانَ الدِّيْنُ بِالرَّأْيِ لَكَانَ أَسْفَلُ الْخُفِّ أَوْلَى بِالْمَسْحِ مِنْ أَعْلاَهُ وَقَدْ رَأَيْتُ رَسُوْلَ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ يَمْسَحُ عَلَى ظَاهِرِ خُفَّيْهِ

“Seandainya yang menjadi tolok ukur di dalam agama ini adalah akal pikiran, niscaya bagian bawah khuf lebih pantas untuk diusap daripada bagian atasnya. Sungguh aku pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusap bagian atas dua khufnya.”

  Lanjutkan membaca Pengadilan Terbuka Bagi Penghujat Allah dan RasulNya

Akal Bukanlah Segalanya

وَيَسۡ‍َٔلُونَكَ عَنِ ٱلرُّوحِۖ قُلِ ٱلرُّوحُ مِنۡ أَمۡرِ رَبِّي وَمَآ أُوتِيتُم مِّنَ ٱلۡعِلۡمِ إِلَّا قَلِيلٗا ٨٥

“Mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah, ‘Ruh itu termasuk urusan Rabbku dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit’.” (al-Isra: 85)

  Lanjutkan membaca Akal Bukanlah Segalanya

Sihir Melenyapkan Aqidah

Sihir dan segala bentuknya adalah amalan yang sangat berbahaya bagi keutuhan akidah seorang muslim. Bahkan pada keadaan tertentu, ia bisa menyebabkan pelakunya keluar dari Islam (kafir). Ironisnya, sangat sedikit yang menyadari bahaya perbuatan ini. Bahkan akhir-akhir ini, dengan dukungan berbagai media massa, makin banyak orang yang menyukai perbuatan ini. Laa haula walaa quwwata illa billah.

  Lanjutkan membaca Sihir Melenyapkan Aqidah

Kedudukan Akal dalam Islam

Dalam Islam, akal memiliki posisi yang sangat mulia. Meski demikian, bukan berarti akal diberi kebebasan tanpa batas dalam memahami agama. Islam memiliki aturan untuk menempatkan akal sebagaimana mestinya. Bagaimanapun, akal yang sehat akan selalu cocok dengan syariat Allah subhanahu wa ta’ala, dalam permasalahan apa pun.

Lanjutkan membaca Kedudukan Akal dalam Islam

Penyembah Akal adalah pengikut Iblis

Ketika Nabi Adam ‘alaihissalam baru diciptakan, Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan malaikat dan Iblis untuk bersujud kepadanya. Malaikat mematuhi perintah Allah subhanahu wa ta’ala itu namun tidak demikian dengan Iblis. Dengan pemahaman akalnya, dia yang diciptakan Allah subhanahu wa ta’ala dari api merasa lebih mulia daripada Adam ‘alaihissalam yang diciptakan dari tanah. Allah subhanahu wa ta’ala pun murka dengan sikap Iblis tersebut. Inilah awal mula kesesatan akibat lebih mengedepankan akal dibanding nash. Dan perbuatan Iblis ini masih diikuti oleh sekelompok manusia sampai sekarang.

Lanjutkan membaca Penyembah Akal adalah pengikut Iblis

Mu’tazilah, Kelompok Sesat Pemuja Akal

Suatu ketika, Nurcholis Madjid pernah melontarkan gagasan untuk memaknai kalimat Laa ilaha illallah dengan ‘tidak ada tuhan selain Tuhan’. Sontak ide itu membuat geger muslimin Indonesia. Betapa tidak. Dengan idenya itu, dia telah memasukkan orang-orang kafir yang percaya dengan keberadaan Tuhan sebagai seorang muslim. Ini hanya satu contoh dari berbagai gagasan kontroversial para pemuja akal di Indonesia. Mereka tak lebih dari para pengekor ajaran Mu’tazilah, yang sudah muncul di masa al-Imam al-Hasan al-Bashri rahimahullah.

  Lanjutkan membaca Mu’tazilah, Kelompok Sesat Pemuja Akal

Gerakan Mengakali Syariat

Di penghujung tahun 2002, sebuah ormas Islam yang berpusat di Bandung mengeluarkan “fatwa” mati bagi seorang aktivis Jaringan Islam Liberal (JIL) yang dinilai telah melecahkan agama Islam, melecehkan kaum muslimin, dan melecehkan Allah. Siapa gerangan orang yang telah membuat kaum muslimin Indonesia begitu marah dan merasa dihinakan sedemikian rupa? Dialah Ulil Abshar Abdalla, tokoh utama JIL, kelompok yang suka mengkritisi syariat Islam tapi tidak pernah melakukan hal yang sama terhadap agama lain. Anak muda ini sekarang bisa dikatakan telah menjadi penerus tahta “mafia” gerakan penisbian (pengkaburan) syariat Islam di Indonesia.

Lanjutkan membaca Gerakan Mengakali Syariat

Dosa

Umar bin ‘Abdul Aziz rahimahullah berkata, “Aku tidak pernah berdusta saat aku mengetahui bahwa kedustaan merugikan pelakunya.” (Siyar A’lam an-Nubala, 5/121)

 

Ibn Syubrumah rahimahullah berkata,  “Aku heran terhadap orang yang memerhatikan makanannya dalam keadaan takut terhadap penyakit, akan tetapi dia tidak menjaga dari perbuatan dosa dalam keadaan takut ancaman neraka.” (Siyar A’lam an-Nubala, 6/348)

 

Thalq bin Habib rahimahullah berkata, “Sesungguhnya hak-hak Allah l itu lebih besar dari yang bisa hamba tunaikan dan nikmat Allah l itu lebih banyak dari yang bisa dihitung. Hendaknya seseorang itu bertobat di pagi dan sore hari.” (Siyar A’lam an-Nubala’, 4/602)

 

Syaqiq bin Ibrahim rahimahullah berkata, “Tanda tobat ialah menangis (menyesal) atas perbuatan (dosa) yang telah dilakukan dan takut akan terjatuh kembali ke dalam dosa (tersebut), tidak bergaul dengan orang-orang yang jahat, dan senantiasa bersama dengan orang-orang yang baik.” (Siyar A’lam an-Nubala, 9/315)