Pembatal-pembatal Wudhu

Pembahasan tentang pembatal-pembatal wudhu termasuk persoalan yang di dalamnya terdapat perbedaan pendapat para ulama. Dalam prinsip Ahlus Sunnah, perbedaan yang demikian termasuk sesuatu yang lumrah dan biasa terjadi. Karenanya diperlukan sikap lapang dada untuk menerima perbedaan pendapat tersebut, selama masing-masing berpegang pada dalil yang ada.

Lanjutkan membaca Pembatal-pembatal Wudhu

Bila Kuburan Diagungkan (2)

Bagian ke-2


Bagi sebagian kaum muslimin, kuburan telah menjadi tempat yang istimewa. Bagaimana tidak, di sejumlah kuburan, terutama bila yang dikubur dianggap sebagai orang saleh dan kuburannya dianggap keramat, berduyun-duyun orang dari berbagai tempat datang untuk menyampaikan hajat kepadanya. Lanjutkan membaca Bila Kuburan Diagungkan (2)

Sururiyyah Musuh ‘Ulama

Sekilas bila seseorang memandang kepada penampilan dan dakwah Sururiyah, dia akan menyimpulkan bahwa dakwah ini adalah dakwah Ahlus Sunnah. Lebih-lebih bila mendengar pengakuan mereka dengan mengangkat nama Ahlus Sunnah. Sungguh mereka jauh dari Ahlus Sunnah dan pengakuan mereka tidak lebih dari ungkapan penyair.

Setiap orang mengaku punya hubungan dengan Laila

Namun Laila mengingkari hal itu.

Lanjutkan membaca Sururiyyah Musuh ‘Ulama

Ciri-ciri ‘Ulama

Mengenal ciri-ciri ulama yang benar adalah sangat penting. Karena di negeri kita, banyak orang yang hanya karena pandai berbicara dan melawak, bisa dianggap sebagai ulama. Padahal tak jarang di antara mereka setelah memiliki pengikut banyak kemudian berubah haluan menjadi seorang politikus.

Lanjutkan membaca Ciri-ciri ‘Ulama

Ulama Pewaris Nabi

Warisan merupakan barang berharga yang ditinggalkan oleh orang yang meninggal dunia kepada orang-orang yang masih hidup. Saking berharganya sampai sering terjadi pertumpahan darah di antara ahli waris memperebutkan warisan tersebut. Namun ada warisan yang demikian berharga tetapi jarang manusia memperebutkannya.

Lanjutkan membaca Ulama Pewaris Nabi

Ulama Pelita dalam Kegelapan

Ulama adalah manusia yang memiliki kedudukan demikian mulia. Ia merupakan pembimbing bagi segenap manusia menuju jalan lurus. Ia juga penerang di saat manusia berada di kegelapan. Bila keberadaan mereka semakin sedikit, semakin kacaulah kehidupan manusia. Seperti keadaan sekarang, kekacauan terjadi di mana-mana karena semakin sedikit orang berilmu ada di tengah manusia.

Lanjutkan membaca Ulama Pelita dalam Kegelapan

Melecehkan ‘Ulama, Kebiasaan Yahudi dan Ahlul Bid’ah

Aktivitas ulama dalam berdakwah, amar ma’ruf nahi munkar, meneliti hadits, dsb, sering dituding sebagai bentuk ketidakpekaan dalam menyikapi kondisi kekinian umat. Repotnya, mereka yang menuding justru sibuk dengan parpol dan segala tetek bengeknya.

Lanjutkan membaca Melecehkan ‘Ulama, Kebiasaan Yahudi dan Ahlul Bid’ah

Surat Pembaca edisi 12

Kritik Redaksi

Saya ingin memberikan sedikit kritikan terhadap antum sekalian yaitu pada edisi sebelumnya yaitu pada bab ibrah di mana di sana dicantumkan bahwa “PERTEMUAN ANTARA NABI MUSA DAN NABI HARUN” tapi kok pembahasannya tentang Nabi Musa pada waktu kecilnya. Mungkin itu saja kritikan dari saya, semoga pada edisi yang mendatang tidak ada lagi kesalahan dari redaksi. Biiznillah.

Ahmad Abu Ahmad

saifulxxx@sahab.cc

  • Jawaban Redaksi:

Jazakumullahu khairan katsiran atas kritikannya.

Kesesatan Agama Yahudi dan Nashrani

Asy-Syariah yang terhormat, saya harap bisa dibahas topik tentang kesesatan agama Yahudi dan Nashrani yang ada sekarang (Yahudi dan Nashrani yang selamat hanya yang ikut Nabi Musa dan Isa) karena kitab-kitab mereka sudah tidak orisinil lagi, kemudian disempurnakan oleh Al Qur’an, berdasarkan informasi-informasi yang ada dalam Al Qur’an. Ini penting untuk mendakwahi mereka, semoga diakomodasi pada edisi depan. Jazakallahu khairan.

Esa Amertha

the1xxx@telkom.net

  • Jawaban Redaksi:

Alhamdulillah, apa yang Anda usulkan telah dibahas pada edisi 11/Vol. 1 1425 H.

Semoga Asy Syariah Istiqamah

Ana sangat bersyukur dengan adanya dakwah Salaf di Indonesia ini. Ana berharap semoga Allah Ta’ala senantiasa mengistiqamahkan hati kita dalam meniti jalan da’wah ini.Amien. Jazakumullahu khairan katsira atas partisipasi antum semua dalam menyampaikan dakwah ini ke semua pihak.

Misbach Faikar At-Taufiq

misxxx@plasa.com

Adab Menuntut Ilmu

Saya suka majalah Asy Syariah. Apakah pernah dibahas tentang adab-adab ta’lim? Kalo belum, saya usul agar diulas.

Iqbal Sofyan

iqbxxx@yahoo.com

  • Jawaban Redaksi:

Insya Allah suatu saat kami akan membahasnya. Jazakallah khairan atas usulnya.

Asy Syariah di Jakarta

Kok ana nyari majalah yang baru udah habis ya. Untuk ngedapetin gimana dan di mana? Ana tinggal di kawasan Pulogadung, Jaktim.

Rofiq Hidayat Puspaningrum

rofiqxxx@yahoo.com

  • Jawaban Redaksi:

Anda bisa menghubungi agen kami di Jaktim: Al-Bataavi Jl. Radar AURI 43 Cibubur, Jakarta Timur Hp. 08129030726

Tanya Jawab di Situs

Ustadz, semoga Allah merahmati Anda. Ana mau usul, bagaimana kalau seluruh pertanyaan yang di kirimkan ke redaksi dijawab dan ditampilkan di situs, karena ana merasa mungkin pertanyaan-pertanyaan yang ditanyakan oleh ikhwan-ikhwan lain juga dialami oleh ana. Juga melihat porsi tanya jawab di majalah sangat sedikit.

Handoko
andxxx@plasa.com

  • Jawaban Redaksi:

Semoga kami bisa segera merealisasikan usul anda. Jazakallah khairan.

Makna ulama

السلام عليكم و رحمة الله و بركاته

Di negeri muslim terbesar di dunia ini, kata ulama banyak diinterpretasikan sebagai sosok tua yang memiliki banyak pengikut, memiliki “kelebihan” tertentu, dan bila menjelang pemilu ia banyak di-sowani tokoh-tokoh politik untuk minta restu dan dukungan. Bila datang ke suatu tempat, berbondong-bondong orang datang untuk melihatnya, mencium tangannya, dan minta “berkah” darinya. Apa yang dikatakan selalu diikuti tanpa sedikitpun ada pertanyaan apalagi bantahan.

Bagi sebagian muslimin lainnya, yaitu dari kalangan yang merasa dirinya terpelajar, kemunculan orang-orang yang mengusung dakwah Islamiyah dengan metode yang sedikit lebih ‘ilmiah’ dan retorika menawan –terlebih bila banyak diselipi lelucon–, akan dengan mudah diterima oleh mereka. Sang da’i pun langsung ditahbiskan sebagai ulama.

Kritikan yang muncul kepada tokoh ini akan ditanggapi oleh pengikutnya sebagai sikap mau menang sendiri dan iri hati terhadap keberhasilan tokoh tersebut. Meski di belakang hari diketahui sang “ulama” tersebut telah meniti karir baru sebagai seorang politikus, bahkan ada yang terang-terangan menyatakan dirinya ingin menjadi presiden.

Ulama, dalam sebuah ayat diterangkan, mereka adalah orang yang paling takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Mengapa? Karena mereka adalah orang yang paling paham tentang Allah subhanahu wa ta’ala, paling paham tentang kebesaran kekuasaan-Nya, tentang al-jannah (surga), dan an-naar (neraka), tentang balasan yang akan diterima dari tiap amal seseorang, dan hal-hal lain yang tidak dipahami oleh kebanyakan manusia. Lantas, apa jadinya umat ini bila memiliki ulama seorang politikus atau seorang yang berambisi menjadi presiden?

Inilah realita yang banyak muncul di sekeliling kita. Ketidaktahuan umat akan makna ulama yang benar banyak menggiring manusia ke jalan kesesatan. Akibatnya, banyak perilaku umat yang sebenarnya telah keluar dari koridor syariat dianggap sebagai sebuah amal ibadah, bahkan dianggap sebagai jihad. Sebabnya karena mereka mengikuti orang yang tidak pantas untuk diikuti, namun oleh mereka dianggap sebagai ulama.

Pembaca, inilah kajian utama majalah kita edisi ini, yaitu pembahasan seputar ulama menurut pandangan Ahlus Sunnah. Apa ciri-ciri ulama yang hakiki itu? Tentunya dari pembahasan ini nantinya tidak ada lagi pembaca yang dengan mudah memberi gelar ulama kepada seseorang hanya semata disebabkan aktivitas dakwah yang dilakukannya.

Berikutnya ingin kami sampaikan kepada segenap pembaca sebuah berita yang sebenarnya kami pun merasa berat untuk menyampaikan. Berkaitan dengan rencana pemerintah yang dalam waktu dekat akan menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), berimbas pada kenaikan harga barang-barang lain, termasuk juga harga kertas.

Kami telah mendapat kabar dari pihak percetakan bahwa mereka telah menetapkan kepastian kenaikan harga cetak majalah. Kemungkinan kenaikan tersebut mulai berlaku awal tahun 2005. Selain kenaikan biaya cetak, kami juga harus menghadapi kenaikan-kenaikan di bidang lain, di antaranya adalah biaya pengiriman majalah. Karenanya, mau tidak mau kami pun berencana menaikkan harga Asy Syariah menjadi Rp 6.000,00 (Jawa) dan Rp 7.000,00 (luar Jawa). Kami harap pembaca memakluminya.

Kami beritahukan pula, untuk edisi kali ini kami terpaksa menghilangkan halaman berwarna agar biaya cetak bisa sedikit berkurang, sehingga sisa biaya yang ada bisa untuk mengantisipasi harga-harga di bidang lain yang sudah mulai naik. Insya Allah setelah harga Asy Syariah benar-benar naik, halaman berwarna akan kembali kami munculkan.

Harapan kami, kenaikan harga itu tidak semata untuk menyesuaikan dengan tuntutan biaya produksi semata. Namun kami ingin kenaikan harga itu juga diiringi dengan makin bagusnya pelayanan kami kepada pembaca, sehingga kenaikan harga itu tidak lagi dirasakan sebagai sesuatu yang memberatkan. Mudah-mudahan demikian. Wallahu a’lam.

والسلام عليكم و رحمة الله و بركاته

Hakikat Umur Kita

 

Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata,

“Wahai anak Adam, (masa) siangmu adalah tamumu, maka berbuat baiklah terhadapnya. Karena sungguh, jika engkau berbuat baik kepadanya, niscaya dia akan pergi dengan memujimu. Apabila engkau berbuat buruk terhadapnya maka dia akan pergi dengan mencercamu, begitu pula dengan malammu.”

“Wahai anak Adam, injaklah bumi ini dengan kakimu. Sungguh, sekecil apa pun dia, pasti bakal menguburmu. Sesungguhnya engkau itu senantiasa sedang mengurangi usiamu, sejak engkau dilahirkan dari perut ibumu.”

“Wahai anak Adam, engkau dapati pagimu berada di antara dua waktu, yang keduanya tak mungkin meninggalkanmu, yakni bahayanya malam dan bahayanya siang. Sampai engkau mendatangi negeri akhirat, yang bisa jadi engkau datang ke al-jannah (surga) dan bisa jadi engkau ke an-nar (neraka). Maka siapakah yang lebih besar bahayanya daripada dirimu sendiri?”

“Wahai anak Adam, engkau hanyalah (laksana) hari-hari yang setiap kali berlalu satu hari maka hilanglah pula sebagian dari dirimu.”

(Mawa’izh Lil Imam al-Hasan al-Bashri, hlm. 35)