Tayammum (3)

Islam adalah agama yang mudah dan ringan. Salah satu bukti kemudahannya adalah syariat tayammum sebagai pengganti wudhu menggunakan air. Pembahasan tayammum dalam berbagai kitab fiqih sebenarnya cukup panjang, tetapi kami mencoba membahasnya dengan ringkas agar mudah dicernam tanpa menafikan patokan-patokan ilmiah sebuah ilmu. Meski demikian, ternyata pembahasan ini masih dirasa panjang sehingga kami memuatnya secara berseri dalam beberapa edisi. Melanjutkan pembahasan tayammum edisi yang lalu, berikut ini adalah pembahasan yang terakhir.

  Lanjutkan membaca Tayammum (3)

Perang Uhud: Awal Pertempuran

Para sahabat adalah orang-orang yang memiliki keimanan paling tinggi dibanding manusia lainnya. Ini terbukti ketika Perang Uhud hendak berkecamuk, mereka serta-merta menyatakan diri ingin ikut dalam perang tersebut. Tak terkecuali anak-anak yang masih di bawah umur. Namun, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam belum membolehkan mereka ikut berperang.

Lanjutkan membaca Perang Uhud: Awal Pertempuran

Apa yang Bisa Menjadi Perantara dalam Doa

Seseorang yang berdoa kepada Allah ‘azza wa jalla tentu mengharapkan doanya akan dikabulkan. Demikian besar harapan agar doanya itu terkabul, sampai ada orang yang menjadikan orang yang telah mati sebagai perantara untuk menyampaikan doanya itu kepada Allah ‘azza wa jalla. Dia berkeyakinan, dengan adanya perantara itu, doanya akan lebih besar kemungkinannya terkabul karena orang yang menjadi perantara (menurutnya) dahulu adalah orang yang saleh.

Inilah alasan yang dikemukakan oleh orang-orang yang suka berziarah ke makam tokoh-tokoh tertentu. Bagaimana syariat melihat praktik semacam ini?

  Lanjutkan membaca Apa yang Bisa Menjadi Perantara dalam Doa

Sayyid Quthb, Pencela Sahabat Nabi radhiallahu ‘anhum

Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

        لاَ تَسُبُّوا أَصْحَابِي، فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ

“Janganlah kalian mencela sahabat-sahabatku. Seandainya salah seorang dari kalian menginfakkan emas semisal Gunung Uhud, niscaya tidak mencapai (tidak bisa menyamai) infak satu mud salah seorang dari mereka dan tidak pula setengahnya.”

Lanjutkan membaca Sayyid Quthb, Pencela Sahabat Nabi radhiallahu ‘anhum

Keutamaan Sahabat dalam Al-Qur’an

 

وَٱلسَّٰبِقُونَ ٱلۡأَوَّلُونَ مِنَ ٱلۡمُهَٰجِرِينَ وَٱلۡأَنصَارِ وَٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُم بِإِحۡسَٰنٖ رَّضِيَ ٱللَّهُ عَنۡهُمۡ وَرَضُواْ عَنۡهُ وَأَعَدَّ لَهُمۡ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي تَحۡتَهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدٗاۚ ذَٰلِكَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ ١٠٠

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka jannah (surga-surga) yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (at-Taubah: 100)

  Lanjutkan membaca Keutamaan Sahabat dalam Al-Qur’an

Sahabat

Pengertian sahabat adalah siapa saja yang bertemu Nabi Muhammad n dalam keadaan beriman dengannya dan meninggal di atas Islam.

 

Penjelasan

(yang bertemu)

Termasuk dalam hal ini adalah siapa saja yang pernah bertemu Nabi n baik lama maupun sebentar, yang meriwayatkan hadits dari beliau maupun tidak, yang berperang bersama beliau maupun tidak, dan orang yang sekilas melihat beliau walaupun tidak bermajelis dengannya, serta orang yang tidak melihat beliau karena cacat, seperti buta.

 

(dalam keadaan beriman)

Dengan definisi ini, terkecualikan siapa saja yang bertemu dengan beliau dalam keadaan kafir, walaupun setelah itu masuk Islam, apabila tidak berjumpa dengan beliau pada waktu yang lain.

 

(dengannya)

Siapa saja yang berjumpa dengan beliau tetapi beriman dengan selain beliau, berarti tidak termasuk sahabat. Contohnya, mereka yang berjumpa dengan beliau dari kalangan ahli kitab yang mukmin sebelum beliau diangkat menjadi nabi.

 

(meninggal di atas Islam)

Orang yang berjumpa beliau dalam keadaan iman kemudian murtad dan meninggal dalam keadaan murtadsemoga Alah ‘azza wa jalla melindungi kita darinyatidak termasuk sahabat.

Contohnya, Ubaidillah bin Jahsy, suami Ummu Habibah, yang masuk Islam lalu masuk Kristen saat berada di Ethiopia dan meninggal dalam keadaan Kristen. Demikian pula Abdullah bin Khathal dan Rabi’ah bin Umayyah bin Khalaf yang murtad setelah masuk Islam.

 

Adapun orang yang murtad lalu kembali masuk Islam sebelum meninggal, baik bertemu Nabi lagi maupun tidak, dia termasuk sahabat. Inilah pendapat yang benar dan menjadi patokan.

Tentang yang bertemu lagi dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak ada perbedaan. Adapun yang tidak bertemu lagi, yang benar tetap disebut sahabat. Sebab, ahli hadits bersepakat menganggap Asy’ats bin Qais termasuk sahabat dan meriwayatkan hadits-haditsnya dalam kitab Shahih maupun Musnad, padahal dia termasuk orang yang murtad lalu kembali ke Islam pada masa kekhalifahan Abu Bakr.

(diringkas dari Muqaddimah al-Ishabah fi Tamyizis Shahabah, karya Ibnu Hajar oleh al-Ustadz Qomar Sua’idi, Lc)

Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu Digugat

Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu adalah sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang paling sering digugat oleh musuh-musuh Islam dengan mencari berbagai titik kelemahan beliau. Hal ini tidak mengherankan karena beliau adalah sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jadi, apabila umat bisa dibuat ragu terhadap beliau, akan ada sejumlah besar hadits yang dianggap meragukan oleh umat ini. Inilah tujuan utama mereka.

Lanjutkan membaca Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu Digugat

Hadits tentang Keutamaan Para Shahabat

Hadits Tentang Keutamaan Para Sahabat

 

  1. Keutamaan Abu Bakr ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu

Dari Abdullah (bin Mas’ud) radhiallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda,

لَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا خَلِيلا مِنْ أُمَّتِي لَاتَّخَذْتُ أَبَا بَكْرٍ

“Seandainya aku menjadikan salah seorang dari umat ini sebagai kekasih, niscaya aku akan menjadikan Abu Bakr (sebagai kekasih).” (Sahih, HR. Muslim no. 2383)

 

Dari Amru bin al-‘Ash radhiallahu ‘anhu,

أَنَّ رَسُولَ اللهِ بَعَثَهُ عَلَى جَيْشِ ذَاتِ السَّلَاسِلِ .فَأَتَيْتُهُ فَقُلْتُ :أَيُّ النَّاسِ أَحَبُّ إِلَيْكَ؟ قَالَ :عَائِشَةُ .قُلْتُ :مِنَ الرِّجَالِ؟ قَالَ :أَبُوهَا .قُلْتُ :ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ :عُمَرُ .فَعَدَّ رِجَال

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutusnya pada Perang Dzatus Salasil. Ketika itu aku mendatangi beliau dan bertanya “Siapakah manusia yang paling engkau cintai?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “‘Aisyah.”

Aku bertanya lagi, “Kalau dari kalangan laki-laki?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Ayahnya (Abu Bakr).”

Aku bertanya lagi, “Kemudian siapa lagi?”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Umar (bin al-Khaththab).” Kemudian (setelah itu) disebut beberapa laki-laki. (Sahih, HR. Muslim no. 2384)

 

  1. Keutamaan ‘Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu

Dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata,

وُضِعَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ عَلَى سَرِيرِهِ، فَتَكَنَّفَهُ النَّاسُ يَدْعُونَ وَيُثْنُونَ وَيُصَلُّونَ عَلَيْهِ قَبْلَ أَنْ يُرْفَعَ وَأَنَا فِيهِمْ، قَالَ :فَلَمْ يَرُعْنِي إِلَّا بِرَجُلٍ قَدْ أَخَذَ بِمَنْكِبِي مِنْ وَرَائِي، فَالْتَفَتُّ إِلَيْهِ، فَإِذَا هُوَ عَلِيٌّ فَتَرَحَّمَ عَلَى عُمَرَ، وَقَالَ :مَا خَلَّفْتَ أَحَدًا أَحَبَّ إِلَيَّ أَنْ أَلْقَى اللهَ بِمِثْلِ عَمَلِهِ مِنْكَ، وَايْمُ اللهِ إِنْ كُنْتُ لَأَظُنُّ أَنْ يَجْعَلَكَ اللهُ مَعَ صَاحِبَيْكَ، وَذَاكَ أَنِّي كُنْتُ أُكَثِّرُ أَسْمَعُ رَسُولَ اللهِ يَقُولُ :جِئْتُ أَنَا وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ، وَدَخَلْتُ أَنَا وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ، وَخَرَجْتُ أَنَا وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ؛ فَإِنْ كُنْتُ لَأَرْجُو أَوْ لَأَظُنُّ أَنْ يَجْعَلَكَ اللهُ مَعَهُمَا

“Umar radhiallahu ‘anhu diletakkan di atas pembaringannya (saat terbunuhnya beliau). Para sahabat berkumpul mengelilinginya, berdoa, memuji, dan melakukan shalat jenazah untuk beliau. Aku berada di antara mereka.”

Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma melanjutkan, “Tidaklah mengejutkanku kecuali seseorang yang memegang pundakku dari belakang. Aku menoleh, ternyata orang tersebut adalah ‘Ali. Dia berdoa memohon rahmat untuk Umar.

Ali berkata (kepada jenazah Umar), ‘Tidak ada seorang pun yang ingin aku gantikan untuk bertemu Allah ‘azza wa jalla dengan seperti amalannya, daripada engkau. Demi Allah, aku sungguh mengharap Allah ‘azza wa jalla menjadikanmu bersama kedua sahabatmu.

Sesungguhnya, aku sering mendengar Rasulullah bersabda, (Aku datang bersama Abu Bakr dan Umar. Aku masuk bersama Abu Bakr dan Umar. Aku keluar bersama Abu Bakr dan Umar.) Aku berharap semoga Allah ‘azza wa jalla menjadikanmu bersama keduanya’.” (Sahih, HR. Muslim no. 2389)

 

Dari Abu Sa’id al-Khudri zberkata,

بَيْنَا أَنَا نَائِمٌ رَأَيْتُ النَّاسَ يُعْرَضُونَ عَلَيَّ وَعَلَيْهِمْ قُمُصٌ، مِنْهَا مَا يَبْلُغُ الثَّدْيَ، وَمِنْهَا مَا يَبْلُغُ دُونَ ذَلِكَ، وَمَرَّ عَلَيَّ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ وَعَلَيْهِ قُمِيصٌ يَجُرُّهُ. قَالُوا: مَاذَا أَوَّلْتَ ذَلِكَ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: الدِّينُ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ketika tidur, aku bermimpi melihat manusia berkumpul memakai gamis. Di antara mereka ada yang memakainya sampai ke dada. Ada pula yang memakai hingga di bawahnya. ‘Umar bin al-Khaththab leewat memakai gamis hingga terseret ke tanah.”

Para sahabat bertanya, “Apa yang engkau takwilkan dari mimpi ini, wahai Rasulullah?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Ad-din (agama).” (Sahih, HR. Muslim no. 2390)

 

  1. Keutamaan ‘Utsman bin ‘Affan radhiallahu ‘anhu

أَنَّ عَائِشَةَ قَالَتْ: كَانَ رَسُولُ اللهِ مُضْطَجِعًا فِي بَيتِي كَاشِفًا عَنْ فَخِذَيْهِ أَوْ سَاقَيْهَ فَاسْتَأْذَنَ أبَوُ بَكْرٍ فَأَذِنَ لَهُ وَهُوَ عَلَى تِلكَ الْحَالِ فَتَحَدَّثَ، ثُمَّ اسْتَأْذَنَ عُمَرُ فَأَذِنَ لَهُ وَهُوَ كَذَلِكَ فَتَحَدَّثَ، ثُمَّ اسْتَأْذَنَ عُثْمَانُ فَجَلَسَ رَسُولُ اللهِ وَسَوَى ثِيَابَهَ قَالَ مُحَمَّدٌ: وَلَا أَقُولُ ذَلِكَ فِي يَوْمٍ وَاحِدٍ فَدَخَلَ فَتَحَدَّثَ، فَلَمَّا خَرَجَ قَالَتْ عَائِشَةُ: دَخَلَ أَبُو بَكْرٍ فَلَمْ تَهْتَشَّ لَهُ وَلَمْ تُبَالِهِ، ثُمَّ دَخَلَ عُمَرُ فَلَمْ تَهْتَشَّ لَهُ وَلَمْ تُبَالِهِ، ثُمَّ دَخَلَ عُثْمَانُ فَجَلَسْتَ وَسَوَيْتَ ثِيَابَكَ. فَقَالَ: أَلَا أَسْتَحِي مِنْ رَجُلٍ تَسْتَحِي مِنْهُ الْمَلاَئِكَةُ؟

Sesungguhnya ‘Aisyah berkata, “Suatu saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berbaring miring di rumahku dalam keadaan tersingkap paha atau betisnya. Tiba-tiba Abu Bakr meminta izin (untuk sebuah keperluan) kepada beliau, Dia diizinkan, dalam keadaan beliau seperti itu. Abu Bakr lantas menceritakan (keperluannya).

Lantas ‘Umar meminta izin kepada beliau. Dia diizinkan, dalam keadaan beliau seperti itu. ‘Umar pun menceritakan(keperluannya).

Kemudian ‘Utsman meminta izin kepada beliau. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun duduk lantas merapikan pakaiannya.

Muhammad (bin Abi Harmalah—perawi) berkata, “Aku tidak mengatakan bahwa ini terjadi pada satu hari.”

Kemudian ‘Utsman pun masuk dan menceritakan (keperluannya). Setelah ‘Utsman keluar, ‘Aisyah berkata, “Abu Bakr masuk dan engkau tidak bergerak, tidak peduli dengan keadaanmu. Kemudian ‘Umar datang, engkau juga tidak bergerak dan tidak peduli dengan keadaanmu. Namun, ketika ‘Utsman masuk, engkau segera duduk dan merapikan pakaianmu.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidakkah aku malu kepada seseorang yang para malaikat pun malu kepadanya?” (Sahih, HR. Muslim no. 2401)

 

  1. Keutamaan ‘Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu

Dari Sahl bin Sa’ad radhiallahu ‘anhu (berkata),

        أَنَّ رَسُولَ اللهِ قَالَ يَوْمَ خَيْبَرَ: لَأُعْطِيَنَّ هَذِهِ الرَّايَةَ غَدًا رَجُلًا يَفْتَحُ اللهُ عَلَى يَدَيْهِ، يُحِبُّ اللهَ وَرَسُولَهُ وَيُحِبُّهُ اللهُ وَرَسُولُهُ.

قَالَ :فَبَاتَ النَّاسُ يَدُوكُونَ لَيْلَتَهُمْ أَيُّهُمْ يُعْطَاهَا. فَلَمَّا أَصْبَحَ غَدَوْا عَلَى رَسُولِ اللهِ وَكُلُّهُمْ يَرْجُو أَنْ يُعْطَاهَا .فَقَالَ :أَيْنَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ؟ فَقَالُوا :هُوَ يَا رَسُولَ اللهِ يَشْتَكِي عَيْنَيْه  .قَالَ: فَأَرْسِلُوا إِلَيْهِ. فَأُتِيَ بِهِ فَبَصَقَ رَسُولُ اللهِ فِي عَيْنَيْهِ، وَدَعَا لَهُ فَبَرَأَ حَتَّى كَأَنْ لَمْ يَكُنْ بِهِ وَجَعٌ، فَأَعْطَاهُ الرَّايَةَ،

 فَقَالَ عَلِيٌّ: يَا رَسُولَ اللهِ، أُقَاتِلُهُمْ حَتَّى يَكُونُوا مِثْلَنَا، قَالَ :انْفُذْ عَلَى رِسْلِكَ حَتَّى تَنْزِلَ بِسَاحَتِهِمْ ثُمَّ ادْعُهُمْ إِلَى الْإِسْلاَمِ، وَأَخْبِرْهِمْ بِمَا يَجِبُ عَلَيْهِمْ مِنْ حَقِّ اللهِ فِيهِ، فَوَاللهِ، لأَنْ يَهْدِيَ اللهُ بِكَ رَجُلاً وَاحِدًا خَ لَكَ مِنْ أَنْ يَكُونَ لَكَ حُمْرُ النَّعَم

Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda pada hari peperangan Khaibar, “Aku akan memberi bendera perang ini kepada laki-laki yang Allah ‘azza wa jalla akan memberi kemenangan melalui tangannya. Dia mencintai Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya. Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya pun mencintainya.”

Sahl berkata bahwa para sahabat bermalam dan membicarakan masalah ini. Mereka menerka-nerka, siapa di antara mereka yang akan diberi bendera tersebut. Tatkala pagi, mereka bersegera menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seluruhnya berharap untuk diberi bendera tersebut. Rasullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Di manakah Ali bin Abi Thalib?”

Para sahabat menjawab, “Dia sedang sakit mata, wahai Rasulullah.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Utuslah (seorang utusan) kepadanya (untuk memanggilnya).”

Datanglah dia (utusan) bersama Ali. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meludahi kedua matanya (Ali) yang sakit lantas mendoakannya. Sembuhlah (Ali) hingga seakan-akan tidak pernah sakit. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi bendera itu kepadanya.

Ali berkata, “Wahai Rasulullah, aku akan memerangi mereka hingga mereka menjadi seperti kita.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Berangkatlah dengan hati-hati hingga engkau turun di medan pertempuran mereka. Serulah mereka agar memeluk Islam. Beritahu mereka tentang hak Allah ‘azza wa jalla apa yang diwajibkan atas mereka. Demi Allah, sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla memberi petunjuk kepada seseorang melalui perantaraanmu, lebih baik daripada memiliki unta merah.” (Sahih, HR. Muslim no. 2406)

 

  1. Keutamaan Sa’d bin Abi Waqqash radhiallahu ‘anhu

Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, ia berkata,

أَرِقَ النَّبِيُّ ذَاتَ لَيْلَةٍ فَقَالَ :لَيْتَ رَجُلًا صَالِحًا مِنْ أَصْحَابِي يَحْرُسُنِي اللَّيْلَةَ .إِذْ سَمِعْنَا صَوْتَ السِّلَاحِ .قَالَ :مَنْ هَذَا؟ قَالَ :سَعْدٌ، يَا رَسُولَ اللهِ، جِئْتُ أَحْرُسُكَ .فَنَامَ النَّبِيُّ حَتَّى سَمِعْنَا غَطِيطَهُ

Suatu malam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak bisa tidur. Beliau bersabda, “Aku berharap ada seorang laki-laki saleh dari sahabatku yang akan menjagaku malam ini.”

Aisyah berkata, “Ketika itu kami mendengar suara senjata (yang dibawa seseorang).”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Siapakah ini?”

Sa’d bin Abi Waqqash radhiallahu ‘anhu berkata, “Sa’ad, wahai Rasulullah. Aku datang untuk menjagamu.”

Aisyah berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun tidur sampai aku mendengar dengkuran beliau.” (Sahih, HR. Muslim no. 2410)

 

  1. Keutamaan az-Zubair bin al-Awwam radhiallahu ‘anhu

Perawi berkata, aku mendengar Jabir berkata,

نَدَبَ النَّبِيُّ النَّاسَ يَوْمَ الْخَنْدَقِ فَانْتَدَبَ الزُّبَيْرُ، ثُمَّ نَدَبَهُمْ فَانْتَدَبَ الزُّبَيْرُ، ثُمَّ نَدَبَهُمْ فَانْتَدَبَ الزُّبَيْرُ ثَلَاثًا؛ فَقَالَ :لِكُلِّ نَبِيٍّ حَوَارِي؛ وَحَوَارِيَّ الزُّبَيْرُ

Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyeru dan memberi semangat kepada para sahabat pada hari Perang Khandaq. Az-Zubair menyambut seruan tersebut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyeru lagi kepada para sahabat. Az-Zubair kembali menyambut seruan tersebut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyeru lagi kepada para sahabat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap nabi mempunyai Hawari (penolong), dan hawariku adalah az-Zubair.” (Sahih, HR. Muslim no. 2414)

 

  1. Keutamaan Ummul Mukminin Khadijah bintu Khuwailid radhiallahu ‘anha

Aku (perawi) mendengar Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata,

        أَتَى جِبْرِيلُ النَّبِيَّ، فَقَالَ :يَا رَسُولَ اللهِ، هَذِهِ خَدِيجَةُ قَدْ أَتَتْكَ مَعَهَا إِنَاءٌ فِيهِ إِدَامٌ، أَوْ طَعَامٌ أَوْ شَرَابٌ، فَإِذَا هِيَ أَتَتْكَ، فَاقْرَأْ عَلَيْهَا السَّلَامَ مِنْ رَبِّهَا عَزَّ وَجَلَّ وَمِنِّيِ، وَبَشِّرْهَا بِبَيْتٍ فِي الْجَنَّةِ مِنْ قَصَبٍ لَا صَخَبَ فِيهِ وَلَا نَصَبَ

Malaikat Jibril pernah datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, inilah Khadijah datang kepadamu sembari membawa tempat yang berisi lauk pauk, makanan atau minuman. Jika dia datang kepadamu, sampaikan kepadanya salam dari Rabbnya ‘azza wa jalla dan dariku. Kemudian sampaikan berita gembira untuknya tentang sebuah rumah di surga yang terbuat dari mutiara (atau emas dan permata), tanpa ada hiruk pikuk dan kepayahan di dalamnya.” (Sahih, HR. Muslim no. 2430)

 

Wallahu a’lam.

Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Adalah Orang-orang Pilihan

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendakwahkan ajaran Islam, hanya segelintir orang yang mau mengikuti ajakan beliau. Sebagian besar manusia justru menentang beliau dengan permusuhan yang demikian keras. Orang-orang yang mau menerima ajakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itulah para sahabat. Mereka adalah umat yang memiliki keimanan yang paling tinggi kepada Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya.

Namun sayang, kini kaum muslimin banyak melupakan dan tidak mau berteladan kepada mereka. Padahal mereka adalah umat yang banyak mendapat pujian dari Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena memiliki banyak keutamaan yang tidak dimiliki oleh umat lainnya.

Lanjutkan membaca Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Adalah Orang-orang Pilihan

Kedudukan Para Sahabat di Sisi Allah dan Rasul-Nya serta Kaum Mukminin

Sesungguhnya para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mempunyai kedudukan yang tinggi di sisi Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya serta di sisi kaum mukminin.

Allah ‘azza wa jalla telah memuji mereka dalam al-Qur’anul Karim, mengabarkan keridhaan-Nya kepada mereka dan keridhaan mereka kepada Allah ‘azza wa jalla.

 

Firman Allah ‘azza wa jalla,

          كُنتُمۡ خَيۡرَ أُمَّةٍ أُخۡرِجَتۡ لِلنَّاسِ تَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَتَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَتُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِۗ وَلَوۡ ءَامَنَ أَهۡلُ ٱلۡكِتَٰبِ لَكَانَ خَيۡرٗا لَّهُمۚ مِّنۡهُمُ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ وَأَكۡثَرُهُمُ ٱلۡفَٰسِقُونَ ١١٠

        “Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh yang ma’ruf, mencegah yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentu itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (Ali ‘Imran: 110)

 

          وَكَذَٰلِكَ جَعَلۡنَٰكُمۡ أُمَّةٗ وَسَطٗا لِّتَكُونُواْ شُهَدَآءَ عَلَى ٱلنَّاسِ وَيَكُونَ ٱلرَّسُولُ عَلَيۡكُمۡ شَهِيدٗاۗ

        “Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kalian (umat Islam), sebagai umat yang adil dan pilihan agar kalian menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas perbuatan) kalian.” (al-Baqarah: 143)

 

Al-Khathib al-Baghdadi rahimahullah berkata, “Lafadz ini (di atas) walaupun sifatnya umum, namun yang dimaksud adalah orang-orang tertentu (yaitu para sahabat). Ada yang berpendapat bahwa ini hanya berkaitan dengan para sahabat.”

لَّقَدۡ رَضِيَ ٱللَّهُ عَنِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ إِذۡ يُبَايِعُونَكَ تَحۡتَ ٱلشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمۡ فَأَنزَلَ ٱلسَّكِينَةَ عَلَيۡهِمۡ وَأَثَٰبَهُمۡ فَتۡحٗا قَرِيبٗا ١٨

        “Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon. Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka, lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat waktunya.” (al-Fath: 18)

 

وَٱلسَّٰبِقُونَ ٱلۡأَوَّلُونَ مِنَ ٱلۡمُهَٰجِرِينَ وَٱلۡأَنصَارِ وَٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُم بِإِحۡسَٰنٖ رَّضِيَ ٱللَّهُ عَنۡهُمۡ وَرَضُواْ عَنۡهُ

        “Orang-orang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha pada mereka dan mereka pun ridha pada Allah.” (at-Taubah: 100)

 

          وَٱلسَّٰبِقُونَ ٱلسَّٰبِقُونَ ١٠  أُوْلَٰٓئِكَ ٱلۡمُقَرَّبُونَ ١١ فِي جَنَّٰتِ ٱلنَّعِيمِ ١٢

        “Dan orang-orang yang paling dahulu beriman, merekalah yang paling dahulu (masuk al-jannah). Mereka itulah orang yang didekatkan (kepada Allah). Dalam al-jannah yang penuh dengan kenikmatan.” (al-Waqi’ah: 1012)

 

          يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِيُّ حَسۡبُكَ ٱللَّهُ وَمَنِ ٱتَّبَعَكَ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ٦٤

        “Hai Nabi, cukuplah Allah (menjadi pelindung) bagimu dan bagi orang-orang mukmin yang mengikutimu.” (al-Anfal: 64)

 

          لِلۡفُقَرَآءِ ٱلۡمُهَٰجِرِينَ ٱلَّذِينَ أُخۡرِجُواْ مِن دِيَٰرِهِمۡ وَأَمۡوَٰلِهِمۡ يَبۡتَغُونَ فَضۡلٗا مِّنَ ٱللَّهِ وَرِضۡوَٰنٗا وَيَنصُرُونَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥٓۚ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلصَّٰدِقُونَ ٨

وَٱلَّذِينَ تَبَوَّءُو ٱلدَّارَ وَٱلۡإِيمَٰنَ مِن قَبۡلِهِمۡ يُحِبُّونَ مَنۡ هَاجَرَ إِلَيۡهِمۡ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمۡ حَاجَةٗ مِّمَّآ أُوتُواْ وَيُؤۡثِرُونَ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ وَلَوۡ كَانَ بِهِمۡ خَصَاصَةٞۚ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفۡسِهِۦ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ٩

        “(Juga) bagi para orang-orang faqir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan(Nya), mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar.

Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (al-Hasyr: 89)

 

Ayat-ayat lainnya cukup banyak tentang keutamaan dan kedudukan mereka.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri telah memuji para sahabat dan menjelaskan keutamaan mereka dalam banyak haditsnya. Di antaranya adalah sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,

        خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِيْ، ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ، ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ، ثُمَّ يَجِيئُ قَوْمٌ تَسْبِقُ شَهَادَةُ أَحَدِهِمْ يَمِيْنَهُ وَيَمِيْنُهُ شَهَادَتَهُ

“Sebaik-baik manusia (generasi) adalah yang hidup di abadku, kemudian generasi berikutnya, kemudian generasi berikutnya. Setelah itu akan datang suatu kaum yang persaksiannya mendahului sumpahnya dan sumpahnya mendahului persaksiannya.” (HR. al-Bukhari no. 3650 dari ‘Imran bin Hushain radhiallahu ‘anhu, dan Muslim no. 4533 dari Ibnu Mas’ud, ‘Imran bin Hushain, dan Abu Hurairah radhiallahu ‘anhum)

 

لاَ تَسُبُّوا أَصْحَابِيْ، لاَ تَسُبُّوا أَصْحَابِيْ، فَوَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ، لَوْ أَنْفَقَ أَحَدُكُمْ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا أَدْرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلاَ نَصِيْفَهُ

“Janganlah mencela para sahabatku, janganlah mencela para sahabatku! Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya (Demi Allah), kalaul salah seorang dari kalian berinfak emas sebesar Gunung Uhud, niscaya tidak akan menyamai infak salah seorang dari mereka (para sahabat) yang hanya sebesar cakupan tangan atau setengahnya.” (HR. al-Bukhari no. 3673 dan Muslim no. 2540, dari Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu)

 

Abdullah bin ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata, “Janganlah kalian mencela para sahabat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sungguh, keberadaan salah seorang dari mereka bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam walau sesaat, lebih baik daripada ibadah salah seorang dari kalian sepanjang hidupnya.” (Syarh ath-Thahawiyyah hlm. 532, asy-Syaikh al-Albani rahimahullah berkata, “Sahih”)

 

Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata, “Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla melihat kepada hati segenap hamba-Nya. Didapatilah hati Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai hati yang terbaik di antara hati para hamba. Oleh karena itu, Allah ‘azza wa jalla memilih dan mengutusnya untuk mengemban risalah-Nya.

Kemudian Allah ‘azza wa jalla melihat kepada hati para hamba, maka didapatilah hati para sahabat Nabi sebagai hati-hati terbaik (setelah hati Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam), sehingga Allah ‘azza wa jalla jadikan mereka sebagai para pembela Nabi-Nya, siap bertempur di atas agamanya. Segala yang dipandang baik oleh para sahabat, maka di sisi Allah subhanahu wa ta’ala adalah baik; dan segala yang dipandang buruk oleh mereka, buruk pula di sisi Allah subhanahu wa ta’ala.” (Syarh ath-Thahawiyyah, hlm. 532, asy-Syaikh al-Albani rahimahullah berkata bahwa hadits ini hasan mauquf, diriwayatkan oleh ath-Thayalisi, Ahmad, dan yang lainnya dengan sanad yang hasan, dinyatakan sahih oleh al-Hakim dan disepakati oleh adz-Dzahabi)

 

Al-Imam ath-Thahawi rahimahullah (ketika menjelaskan prinsip Ahlus Sunnah wal Jamaah) berkata, “Kami mencintai para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak berlebihan dalam mencintai salah seorang dari mereka, dan tidak pula berlepas diri (bara’) terhadap siapa pun dari mereka.

Kami membenci siapa saja yang membenci para sahabat dan yang menjelek-jelekkan mereka. Tidaklah kami menyebut mereka kecuali dengan kebaikan.

Kecintaan kepada mereka adalah bagian dari agama, iman, dan ihsan. Adapun kebencian terhadap mereka adalah kekufuran, kemunafikan, dan perbuatan yang melampaui batas.” (Syarh ath-Thahawiyyah, hlm. 528)

 

Setelah menyebutkan ayat-ayat dan hadits-hadits seputar kedudukan dan keutamaan para sahabat, al-Khathib al-Baghdadi rahimahullah berkata, “Hadits-hadits yang semakna dengan ini cukup banyak. Semuanya sesuai dengan apa yang terdapat di dalam al-Qur’an. Semua itu membuktikan tentang kesucian para sahabat, kepastian keadilan dan kebersihan mereka.

Dengan adanya rekomendasi untuk mereka dari Allah subhanahu wa ta’ala, Dzat Yang Maha Mengetahui segala yang tersembunyi, sungguh tidak seorang pun dari mereka yang butuh rekomendasi siapa pun dari makhluk di muka bumi ini.

 

Para sahabat akan senantiasa berada dalam posisi yang mulia ini. Kecuali apabila salah seorang dari mereka benar-benar terbukti melakukan kemaksiatan dengan sengaja, gugurlah keadilan (rekomendasi) tersebut.

Akan tetapi, Allah subhanahu wa ta’ala telah membersihkan diri mereka dari perbuatan tersebut, bahkan mengangkat derajat mereka di sisi-Nya. Kalaulah nash-nash pujian dari Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya untuk mereka ini tidak ada, amalan-amalan mereka, seperti hijrah, jihad, membela agama Allah subhanahu wa ta’ala, mengorbankan nyawa dan harta, siap bertempur melawan orang tua dan anak mereka (karena agama), saling menasihati dalam urusan agama, serta kuatnya iman dan keyakinan mereka, sudah menunjukkan secara yakin tentang keadilan dan kesucian mereka serta menjadi bukti bahwa mereka lebih utama dari semua pemberi rekomendasi dari generasi yang setelah mereka selama-lamanya. Inilah pendapat keseluruhan ulama dan fuqaha yang diperhitungkan ucapannya.” (al-Kifayah, hlm. 96)

 

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Di antara prinsip Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah bersihnya hati dan lisan mereka terhadap para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini sebagaimana yang Allah ‘azza wa jalla sebutkan dalam firman-Nya,

          وَٱلَّذِينَ جَآءُو مِنۢ بَعۡدِهِمۡ يَقُولُونَ رَبَّنَا ٱغۡفِرۡ لَنَا وَلِإِخۡوَٰنِنَا ٱلَّذِينَ سَبَقُونَا بِٱلۡإِيمَٰنِ وَلَا تَجۡعَلۡ فِي قُلُوبِنَا غِلّٗا لِّلَّذِينَ ءَامَنُواْ رَبَّنَآ إِنَّكَ رَءُوفٞ رَّحِيمٌ ١٠

        “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa, ‘Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan sudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang’.” (al-Hasyr: 10)

 

Juga menaati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya, ‘Janganlah mencela para sahabatku, janganlah mencela para sahabatku! Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya (Allah), kalaulah salah seorang dari kalian berinfak emas sebesar Gunung Uhud, niscaya tidak akan menyamai infak salah seorang dari mereka (para sahabat) yang hanya sebesar cakupan dua telapak stangan atau setengahnya’, menerima segala yang terdapat dalam al-Qur’an, as-Sunnah dan ijma’ tentang keutamaan dan martabat mereka, berlepas diri dari prinsip Syi’ah Rafidhah yang membenci dan mencela mereka, serta dari prinsip Nawashib yang menyakiti Ahlul Bait (keluarga Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam) dengan perkataan dan perbuatannya.

 

Ahlus Sunnah Wal Jamaah menahan diri dari apa yang terjadi di antara para sahabat (berupa fitnah), dengan mengatakan, Sesungguhnya riwayat-riwayat tentang kejelekan mereka ada yang palsu, ada yang ditambah dan dikurangi, serta diubah-ubah dari yang sebenarnya.

Adapun yang terjadi dengan sebenarnya, mereka mendapatkan uzur dalam permasalahan tersebut. Di antara mereka ada yang berijtihad dan benar ijtihadnya, ada pula yang berijtihad, namun keliru ijtihadnya.

 

Barang siapa memerhatikan perjalanan hidup mereka dan segala keutamaan yang Allah subhanahu wa ta’ala karuniakan kepada mereka dengan ilmu dan bashirah, pasti dia akan mengetahui dengan penuh keyakinan bahwa mereka adalah makhluk terbaik setelah para nabi. Tidak ada yang menyamai mereka, baik dahulu maupun di masa yang akan datang.

Mereka adalah generasi pilihan umat ini, sebaik-baik umat dan yang paling mulia di sisi Allah ‘azza wa jalla.” (al-‘Aqidah al-Wasithiyyah, hlm. 142151)

 

(Diterjemahkan dari kitab Matha’in Sayyid Quthb fi Ash-habi Rasulillah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “al-Fashluts Tsani: Makanatu Ashhabir Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam ‘indallahi wa Rasulihi wal Mu’minin,” hlm. 5256, karya Prof. Dr. Rabi’ bin Hadi al-Madkhali, oleh al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi)

 

Buah karya asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali