Ketika Dakwah Menjadi Komoditi

“Semua bisa jadi uang.” Pola pikir semacam ini bisa jadi tengah menjangkiti masyarakat kita. Setidaknya tengara demikian dapat dilihat ketika kultur sosial dan kesetiakawanan di antara anggota masyarakat telah tergantikan dengan nilai uang. Tak ada tolong menolong jika tidak didahului perjanjian “siapa dibayar berapa”. Agama yang sejatinya memiliki batasan tersendiri pun tak luput dari incaran para pemilik modal. Walhasil, agama pun menjadi komoditi baru yang menjanjikan mesin uang.
Dakwah, misalnya. Ia bukan lagi media untuk menyampaikan al haq dan mengingatkan umat akan bahaya kebatilan. Namun telah bergeser menjadi industri hiburan. Jadilah banyak kita lihat belakangan ini, ‘dakwah’ yang dikemas dengan konser musik, ‘dakwah’ dengan format lawak, hingga apa yang disebut sinetron ‘dakwah’.
Karena menjadi hiburan, materi jelas nomor dua. Standar yang digunakan adalah rating, marketable, atau parameter-parameter materialis lainnya. Tak heran jika acara-acara yang disebut dakwah itu justru dijejali dengan artis-artis yang tidak diketahui jelas bagaimana akhlak dan kesehariannya (apalagi soal keilmuan mereka). Yang penting bagaimana menarik sebanyak mungkin pemirsa sekaligus pemasang iklan.
Persoalannya sendiri bukan bagaimana “mereformasi” tayangan-tayangan tersebut. Tapi bagaimana kita menelaah kembali metode dakwah yang selama ini banyak dipraktekkan di tengah masyarakat kita. Bisa dibenarkan kah dakwah dengan format sinetron/ film, dakwah dalam bentuk cerita fiksi, dakwah dengan musik, dan sebagainya? Pertanyaan ini patut dikemukakan mengingat kita selama ini terlalu mudah menempelkan label Islami pada contoh-contoh di atas. Karena film/drama, atau sejenisnya adalah persoalan tersendiri. Demikian juga dengan musik, cerita fiksi, adalah substansi yang memang perlu dibahas tersendiri. Karena jika sikap latah ini tidak direm, tidak mustahil suatu saat akan muncul istilah pacaran Islami, minuman keras Islami, dan sejenisnya. Yang disebut pertama barangkali telah menjadi kosakata baru dalam khazanah bahasa kita.
Alasan klasik yang selalu dikemukakan para pemasar “dakwah plus” atau “dakwahtainment” itu biasanya adalah bagaimana agar umat ini lebih bisa menerima. Dalam bahasa yang lebih lugas, jika dakwah disampaikan secara lebih gaul atau lebih “menarik”, maka akan menjamin lebih banyak “yang ngaji”.
Taruhlah, semua itu didasari niat baik. Tapi tujuan yang baik tidak berarti menghalalkan segala cara. Apalagi jika kemudian melanggar rambu-rambu syariat. Karena Rasulullah n juga berdakwah. Dan yang menolak dakwah beliau pada awalnya justru lebih banyak dari yang menerima. Dan apakah karena itu kita dengan seenaknya menyebut bahwa dakwah Rasulullah n telah gagal? Rasulullah n dianggap kurang pintar mengemas dakwah, dan semacamnya? Na’udzubillah.
Jumlah juga bukan ukuran kesuksesan sebuah dakwah. Pengajian yang dijejali pengunjung tidak otomatis menjadikan dakwah da’inya pasti benar. Karena tidak sedikit di antara ‘da’i-da’i’ terkenal di tengah umat saat ini yang hanya pandai mengolah kata, menjual popularitas, hingga melucu. Soal perbendaharaan dalil atau latar belakang keilmuan, menjadi pertanyaan besar bagi kita semua.
Sebelum mengakhiri, ada hal penting yang perlu kami sampaikan kepada anda, pembaca. Berkenaan dengan kenaikan harga BBM yang berimbas pada kenaikan biaya cetak dan biaya lainnya, kami pun dengan terpaksa berencana menaikkan harga majalah mulai edisi depan. Berapa kenaikan tersebut belum bisa kami sampaikan karena fluktuatifnya perubahan di lapangan. Namun kami berusaha ‘mengimbangi’ kenaikan harga tersebut dengan penambahan suplemen mulai edisi ini.
Tema pertama yang kami angkat adalah soal penentuan awal Ramadhan dan 1 Syawal. Tema ini memang terkesan ‘klasik’ karena menjadi perbincangan yang selalu berulang setiap tahun. Namun dengan ini kami berharap, silang pendapat yang tidak disertai dalil yang kokoh, bisa ‘berakhir’ sampai di sini.
Suplemen yang tak kalah ‘seru’ adalah fatwa tentang aksi teror bom yang belakangan kian menjadi-jadi di tanah air. Semoga apa yang kami suguhkan kepada anda pembaca, bisa menjadi penyejuk dan mencerahkan hati kita untuk selalu berjalan di atas ash-shiratal mustaqim. Selamat membaca!

Menahan Pandangan Mata

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Zulfa Husein Al-Atsariyyah)

Menundukkan pandangan di tengah bertebarnya kerusakan di sekitar kita memang bukan soal mudah. Keimanan lah yang kemudian menjadi filter terhadap apa-apa yang dilihat oleh mata.

Saudariku muslimah…
Tercatat dalam lembaran mushaf yang mulia firman Rabbmu Yang Maha Suci:

Katakanlah (wahai Nabi) kepada laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan sebagian pandangan mata mereka dan memelihara kemaluan mereka. Yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat.” Dan katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan sebagian pandangan mata mereka dan memelihara kemaluan mereka….” (An-Nur: 30-31)
Ayat yang agung di atas mungkin sering terlewati begitu saja saat lisan ini bergerak membaca Kitabullah. Tidak hanya sekali atau dua kali. Bisa jadi kita telah puluhan kali membacanya namun karena diri kita kosong dari pengamalan atau barangkali karena tidak paham dengan apa yang kita baca, menjadikan kita belum mengamalkan ayat mulia di atas.
Alhasil, karena tidak ada pengamalan, pandangan mata ini tidak pernah kita jaga. Bahkan kita biarkan mata ini liar memandang apa saja yang dia inginkan tanpa ada rasa segan dan takut  kepada Sang Penguasa langit, bumi dan apa yang ada di antara keduanya. Dua mata yang merupakan nikmat Allah I ini kita pakai untuk melihat yang haram, melihat laki-laki yang bukan mahram, melihat gambar-gambar yang mengumbar aurat, melihat ini dan itu. Wallahu al-musta’an (Allah I sajalah yang dimintai pertolongan).
Kita simak bagaimana penjelasan ulama dalam masalah menahan pandangan ini dan setelahnya semoga kita diberi taufik untuk mengamalkan apa yang telah kita ketahui. Amin…
Al-Imam Ath-Thabari t berkata dalam tafsirnya: “Allah Yang Maha Tinggi sebutan-Nya, berfirman kepada Nabi-Nya Muhammad r:  (Katakanlah kepada laki-laki yang beriman) kepada Allah I dan kepadamu, ya Muhammad (Hendaklah mereka menahan pandangan mata mereka). Allah I memerintahkan agar mereka menahan pandangan mereka dari apa yang ingin mereka lihat sementara hal tersebut termasuk terlarang untuk dipandang. (dan memelihara kemaluan mereka) untuk terlihat oleh orang yang tidak halal memandangnya dengan cara menutup kemaluan tersebut dengan pakaian yang dapat menutupinya dari pandangan mata mereka. (yang demikian itu lebih suci bagi mereka) Allah I menyatakan bahwa menahan pandangan dari melihat apa yang tidak halal dipandang dan menjaga kemaluan dari terlihat oleh pandangan mata orang lain adalah lebih suci bagi mereka di sisi Allah I dan lebih utama….” Demikian pula yang Allah I perintahkan kepada kaum mukminat. (Jami’ul Bayan fi Ta`wilil Qur`an, 9/302-303)
Al-Qadhi Abu Bakar Ibnul ‘Arabi t menyatakan memandang apa yang tidak dihalalkan secara syar’i dinamakan zina, sehingga haram memandang perkara tersebut.  (Ahkamul Qur’an , 3/1366)
Rasulullah r telah bersabda:

“Sesungguhnya Allah menetapkan atas anak Adam bagiannya dari zina1, dia akan mendapatkannya, tidak mustahil. Maka zinanya mata dengan memandang (yang haram) dan zinanya lisan dengan berbicara, sementara jiwa itu berangan-angan dan berkeinginan. Sedangkan kemaluan yang membenarkan semua itu atau mendustakannya.” (HR. Al-Bukhari no. 6243 kitab Al-Isti’dzan, bab Zinal Jawarih dunal Farj dan Muslim no. 2657 kitab Al-Qadar, bab Quddira ‘ala Ibni Adam Hazhzhuhu minaz Zina wa Ghairihi dari Abu Hurairah z)
Dalam lafadz lain disebutkan:

“Ditetapkan atas anak Adam bagiannya dari zina, akan diperoleh hal itu, tidak mustahil. Kedua mata itu berzina dan zinanya  dengan memandang (yang haram). Kedua telinga itu berzina dan zinanya dengan mendengarkan (yang haram). Lisan itu berzina dan zinanya dengan berbicara (yang diharamkan). Tangan itu berzina dan zinanya dengan memegang. Kaki itu berzina dan zinanya dengan melangkah (kepada apa yang diharamkan). Sementara hati itu berkeinginan dan berangan-angan, sedangkan kemaluan yang membenarkan semua itu atau mendustakannya.” (HR. Muslim no. 2657)
Pernyataan Rasulullah r bahwa zina  mata dengan memandang kepada apa yang tidak halal merupakan dalil yang jelas tentang keharaman perkara tersebut, sekaligus peringatan dari hal tersebut. Telah dimaklumi bahwa pandangan mata merupakan penyebab jatuhnya seseorang kepada perbuatan zina. Karena lelaki yang banyak memandang kecantikan seorang wanita terkadang menjadi faktor yang menyebabkan ia jatuh cinta kepada si wanita sehingga ia binasa karenanya. Maka pandangan adalah pos pengantar kepada zina. Berkata Muslim ibnul Walid Al-Anshari:

Aku peroleh untuk hatiku satu pandangan yang menyenangkan mataku
Namun ternyata pandangan itu menjadi kesengsaraan dan bencana bagiku
Tidaklah berlalu padaku sesuatu yang lebih berbahaya daripada hawa nafsu
Maha Suci lagi Maha Tinggi Dzat yang telah menciptakan hawa nafsu
(Adhwa`ul Bayan, Al-Imam Asy-Syinqithi t, 6/191)
Sebagaimana tidak halal bagi lelaki memandang kepada seorang wanita (ajnabiyyah/ non mahram), demikian pula wanita tidak halal memandang seorang lelaki. Karena keterkaitan lelaki dengan wanita sama dengan keterkaitan wanita dengan lelaki, keinginan/ tujuan lelaki terhadap wanita sama dengan keinginan/ tujuan wanita terhadap lelaki. (Ahkamul Qur’an , 3/1367)
Al-Imam An-Nawawi t berkata: “Makna dari hadits di atas (hadits Abu Hurairah) adalah anak Adam itu ditetapkan bagiannya dari zina, maka di antara mereka ada yang melakukan zina secara hakiki dengan memasukkan kemaluannya ke dalam kemaluan yang haram (bukan pasangan yang sah, pent.).
Dan di antara mereka ada yang zinanya majazi dengan memandang yang haram, mendengar perbuatan zina dan hal-hal yang mengantarkan kepada zina, atau dengan sentuhan tangan di mana tangannya meraba wanita yang bukan mahramnya atau menciumnya, atau kakinya melangkah untuk menuju ke tempat berzina, atau untuk melihat zina atau untuk menyentuh wanita non mahram atau untuk melakukan pembicaraan yang haram dengan wanita non mahram dan semisalnya, atau ia memikirkan dalam hatinya.
Maka semuanya ini termasuk zina yang majazi. Sementara kemaluannya membenarkan semua itu atau mendustakannya, maknanya terkadang ia merealisasikan zina tersebut dengan kemaluannya dan terkadang ia tidak merealisasikannya dengan tidak memasukkan kemaluannya ke dalam kemaluan yang haram sekalipun dekat dengannya.” (Syarhu Shahih Muslim, 16/206)
Ibnu Qayyim Al-Jau-ziyyah t ber-kata: “Pandangan mata adalah asal dari seluruh peta-ka yang menimpa seorang insan. Dari pandangan mata melahirkan lintasan di hati. Lintasan di hati melahirkan pikiran, kemudian timbul syahwat. Dari syahwat lahir keinginan kuat yang akan menjadi kemantapan yang kokoh, dari sini pasti akan terjadi perbuatan di mana tidak ada seorang pun yang dapat mencegah dan menahannya. Karena itulah dinyatakan: “Bersabar menahan pandangan itu lebih mudah daripada bersabar menanggung kepedihan setelahnya.”
Seorang penyair berkata:
Setiap kejadian berawal dari pandangan
dan api yang besar itu berasal dari
percikan api yang dianggap kecil
Berapa banyak pandangan mata itu mencapai ke hati pemiliknya
seperti menancapnya anak panah di antara busur dan tali busurnya
Selama seorang hamba membolak-balikkan pandangannya menatap manusia,
dia berdiri di atas bahaya
(Pandangan adalah) kesenangan yang membinasakannya, hunjaman yang memu-dharatkan.
Maka tidak ada ucapan selamat datang terhadap kesenangan yang justru mendatangkan bahaya. (Ad-Da`u wad Dawa`, hal. 234)
Dari penjelasan ringkas di atas, engkau wahai saudariku, telah tahu bahayanya mengumbar pandangan mata dan engkau pun tahu perintah Rabbmu dalam perkara ini. Maka apa lagi yang menahanmu untuk menahan pandangan matamu dari perkara yang haram? Jangan engkau berkata, aku cuma iseng, aku tidak me-masukkan ke hati dari apa yang aku lihat, aku tidak me-mikirkannya, dan sebagainya, dan sebagainya. Takutlah kepada Allah U yang telah berfirman:

“Dia mengetahui pandangan mata yang khianat2 dan apa yang disembunyikan di dalam dada.” (Ghafir: 19)
Dan ingatlah engkau adalah hamba yang dhaif (lemah), siapa yang bisa memberikan jaminan bahwa engkau akan selamat dari tergelicir kepada perkara yang nista?
Wallahu al-musta’an. Semoga Allah I menjaga kita semua. Amin…
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.


1 Yakni zina itu tidak hanya diistilahkan dengan apa yang diperbuat oleh kemaluan, bahkan memandang apa yang haram untuk dipandang dan selainnya juga diistilahkan zina. (Fathul Bari, 11/28)

2 Khianatnya mata adalah mencuri pandang ke arah apa-apa yang tidak halal  dipandang. Mujahid t berkata menafsirkan ayat ini: “Pandangan mata kepada apa yang Allah I larang.” (Ma’alimut Tanzil/ Tafsir Al-Baghawi, 4/83)

Mengafani Jenazah

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Zulfa Husein Al-Atsariyyah)

 

Ketika mayat selesai dimandikan, ia pun wajib dikafani. Bagaimana cara mengafani menurut syariat? Jawabannya ada di bahasan berikut.

Kematian adalah suatu kepastian. Kita ataupun orang-orang di sekitar kita mesti akan menemuinya karena Allah I telah menetapkan:

“Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian.” (Ali Imran: 185)
Rasulullah r sendiri telah mengingatkan kita untuk memperbanyak mengingat mati dalam titahnya yang agung:

“Perbanyaklah kalian mengingat penghancur kelezatan.” (Kata perawi) yang dimaksud beliau r adalah kematian.1
Seorang muslim yang meninggal dunia punya hak yang harus ditunaikan oleh kaum muslimin yang masih hidup sebagai kewajiban kifayah yang bila sudah ditunaikan oleh sekelompok orang akan menggugurkan kewajiban bagi yang lain. Kewajiban yang dimaksud di sini adalah si mayat dimandikan, dikafani, dishalatkan, dan dikuburkan. Hal-hal yang berkaitan dengan memandikan mayat telah dibahas dalam edisi sebelum ini, selanjutnya masalah mengafani mayat.

Mengafani Mayat
Setelah mayat dimandikan, ia wajib dikafani karena adanya perintah Nabi r yang tersebut dalam kisah seseorang yang sedang wuquf di Arafah, tiba-tiba ia jatuh dari hewan tunggangannya yang seketika itu menginjaknya hingga ia meninggal dunia. Nabi r pun memerintahkan para shahabatnya:

“Mandikanlah dia dengan air dan daun bidara. Dan kafani dalam dua pakaian/ kain….”2
Al-Imam An-Nawawi t ketika mensyarah (menjelaskan) hadits Aisyah x:

“Rasulullah r dikafani dalam tiga kain yang putih Suhuliyyah.”3
Beliau berkata: “Dalam hadits ini dan hadits Mush’ab bin Umair4 yang terdahulu serta selain kedua hadits ini, menunjukkan wajibnya mengafani mayat. Ini merupakan kesepakatan kaum muslimin.” (Syarh Shahih Muslim, 7/8)
Ibnul Qaththan t berkata: “Sunnah yang disepakati berkaitan dengan orang yang meninggal dari kalangan muslimin adalah mereka itu dimandikan dan dikafani. Ulama sepakat wajibnya mayat itu dimandikan dan dikafani apabila ia telah baligh, selama ia tidak gugur sebagai syahid, atau terbunuh secara dzalim atau meninggal dalam hukum qishash.” (Al-Iqna’ fi Masail Al-Ijma’ , 1/182)
Kafan tersebut atau biayanya diambil dari harta pokok si mayat5 dengan dalil hadits Khabbab ibnul Aratt z. Ia mengisahkan bahwa ketika Mush’ab bin Umair z gugur dalam perang Uhud, ia tidak meninggalkan kecuali namirah, sejenis kain wol bergaris-garis yang biasa diselimutkan ke tubuh. Bila mereka menutupi kepalanya dengan namirah tersebut, tampaklah kedua kakinya. Dan bila mereka menutupi kedua kakinya, tampak kepalanya. Melihat hal itu Rasulullah n memerintahkan mereka untuk menutupi bagian kepala sedangkan kedua kakinya yang terbuka ditutupi tumbuhan bernama idzkhir sejenis rumput-rumputan yang wangi (Syarh Shahih Muslim 7/7)6.
Nabi n memerintahkan agar Mush’ab z dikafani dengan namirahnya dan beliau tidak menyuruh shahabat lain untuk mengeluarkan harta mereka guna keperluan kafan Mush’ab z. Para fuqaha berkata: “Kafan mayat wajib diambil dari harta yang ditinggalkannya. Namun bila ia tidak memiliki harta, maka yang menanggung keperluan pengafanannya adalah orang yang wajib menafkahinya ketika ia hidup.” (Syarhu Shahih Muslim 7/8, Nailul Authar 4/46, Taudhihul Ahkam 3/173)
Sepantasnya kafan yang dipakai untuk menutupi mayat itu panjang dan lebar sehingga dapat menutupi seluruh tubuhnya (Al-Majmu’, 5/154) sebagaimana ditunjukkan dalam hadits Jabir bin Abdillah z:

“Suatu hari Nabi n berkhutbah, lalu beliau menyebut seseorang dari kalangan shahabat beliau yang telah meninggal, orang itu dibungkus dengan kafan yang tidak panjang/ lapang dan dikuburkan pada malam hari. Maka Nabi n pun mencerca bila jenazah seseorang dikuburkan pada malam hari sampai jenazah itu selesai dishalatkan. Kecuali bila seseorang terpaksa melakukan hal tersebut. Nabi n bersabda: “Bila salah seorang dari kalian mengafani saudaranya maka hendaklah ia membaguskan kafannya.”7
Yang dimaksud dengan membaguskan kafan di sini, kata ulama adalah kafan itu berwarna putih, bersih, tebal, dapat menutupi, serta pertengahan sifatnya -tidak berlebih-lebihan/ mewah dan tidak pula jelek. Sehingga membaguskan kafan bukan maksudnya berlebihan-lebihan dan megah-megahan. (Syarhus Sunnah 5/315, Al-Majmu’, 5/155, Subulus Salam 2/154, Ahkamul Janaiz, Asy-Syaikh Al-Albani , hal. 77)
Ada beberapa perkara yang disunnahkan berkaitan dengan kain kafan:
1. Berwarna putih, karena Nabi r bersabda:

“Pakailah kain yang berwarna putih dari pakaian kalian, karena pakaian putih adalah sebaik-baik pakaian kalian, dan kafanilah orang yang meninggal di kalangan kalian dalam kain putih.”8
2. Tiga lembar, dengan dalil hadits Aisyah x:

“Sesungguhnya Rasulullah r dikafani dalam tiga kain Yamaniyyah berwarna putih Suhuliyyah dari bahan katun. Tidak ada di antara lembar kafan itu gamis (baju) dan tidak ada imamah (surban), beliau dimasukkan (dibungkus) ke dalam semua kafan itu.”9
Tidak boleh menambah kafan lebih dari tiga lembar karena menyelisihi apa yang telah dilakukan Rasulullah r dan juga perbuatan demikian berarti menyia-nyiakan/ membuang harta sementara kita dilarang melakukan yang demikian itu. Orang yang masih hidup dari kalangan keluarga yang ditinggalkan si mayat tentunya lebih utama untuk mendapatkan kelebihan kain tersebut daripada digunakan secara berlebihan (sebagai kafan), apatah lagi bila kainnya bagus/ mewah/ mahal. Semoga Allah merahmati Abu Bakar Ash-Shiddiq z, ketika Aisyah x, putrinya, berkomentar tentang kain yang disediakannya untuk kafannya nanti: “Kain ini telah usang”. Abu Bakar menanggapi dengan pernyataannya: “Sungguh orang yang masih hidup lebih pantas untuk memakai kain yang baru.” (Ar-Raudhatun Nadiyyah dengan Ta’liqat Ar-Radhiyyah, 1/85).
Bila tidak ada kain kafan kecuali hanya selembar maka mencukupi dan telah tertunaikan kewajiban, karena Nabi r pernah mengafani paman beliau, Hamzah z, dengan satu kain/ pakaian. (Syarhus Sunnah 5/314, Tharhu At-Tatsrib fi Syarhi At-Taqrib 3/915)

Jumlah Kafan bagi Wanita
Mayat wanita dalam hal ini sama dengan laki-laki, sunnah untuk dikafani dengan tiga lembar kafan, karena tidak ada dalil yang membedakannya dengan lelaki. Adapun hadits Laila bintu Qais Ats-Tsaqafiyyah tentang pengafanan putri Nabi n dengan lima kain kafan, kata Asy-Syaikh Al-Albani t tidaklah shahih sanadnya, karena ada rawi bernama Nuh bin Hakim Ats-Tsaqafi. Dia adalah rawi yang majhul sebagaimana dinyatakan Al-Hafizh Ibnu Hajar t dan selainnya. Dan juga dalam hadits tersebut ada ‘illat (penyakit/ cacat) yang lain sebagaimana diterangkan oleh Az-Zaila’i dalam Nashbur Rayah. (Ahkamul Janaiz , hal. 85)
Demikian pula tambahan lafadz yang dimasukkan sebagian perawi dalam kisah dimandikannya jenazah Zainab bintu Rasulullah x:

“Maka kami mengafaninya dalam lima kain.”
merupakan tambahan yang syadz (ganjil) atau mungkar sebagaimana diterangkan secara panjang lebar oleh Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Adh-Dha’ifah (12/752-754). Setelahnya, beliau t berkata: “Yang wajib dari sisi fiqhiyyah adalah berhenti pada hadits ‘Aisyah x yang terdahulu bahwasanya Nabi r dikafani dengan tiga kain, dan tidak menambah lebih dari tiga, dalam rangka mengikuti sunnah dan menjaga harta. Alangkah bagusnya atsar yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah (3/259) dengan sanad yang shahih dari Rasyid bin Sa’d, ia berkata: “Umar t berkata: “Seorang lelaki dikafani dalam tiga kain dan jangan kalian melebihkannya karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat melampaui batas.”
Abu Bakr Ash-Shiddiq z pun dikafani dengan tiga kain. Dan tidak diragukan dalam hal ini bahwa wanita sama dengan lelaki, karena asalnya demikian sebagaimana hal ini diketahui dari sabda Nabi r :

“Hanyalah wanita itu saudara kandungnya lelaki.”
Hadits ini shahih, di-takhrij dalam Al-Misykat (441), Shahih Abi Dawud (234), dan selain keduanya. (Adh-Dha’ifah, 12/754-755)
Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin t berkata tentang permasalahan jumlah kain kafan untuk wanita: “Hukum asal dalam perkara syar’iyyah laki-laki sama dengan wanita, kecuali bila ada dalil yang menunjukkan perbedaan10. Maka bila ada dalil yang menyatakan pengkhususan dalam hukum (misalnya khusus untuk laki-laki, pent.) niscaya hukum tersebut berlaku khusus tidak berlaku bagi yang lain. Namun bila tidak ada dalil, maka laki-laki dan wanita itu sama.” (Asy-Syarhul Mumti’, 2/520-521)
Al-’Allamah Shiddiq Hasan Khan t berkata: “Memperbanyak kafan dan berlebih-lebihan dalam harganya bukanlah perkara yang terpuji, karena seandainya tidak ada keterangan dari syariat bahwa mayat itu harus dikafani, niscaya perbuatan tersebut termasuk membuang-buang harta, karena kafan itu tidak memberikan manfaat kepada si mayat dan tidak pula kembali kemanfaatannya kepada orang yang hidup.” (Ar-Raudhatun Nadiyyah dengan Ta’liqat Ar-Radhiyyah, 1/436)
Namun dalam hal ini, banyak ahlul ilmi yang menyenangi agar seorang wanita dikafani dengan lima lembar kafan, tidak lebih, bila memang dibutuhkan untuk lebih menutupi tubuhnya, sebagaimana dinyatakan oleh Ibnul Mundzir t: “Mayoritas ahlul ilmi yang kami hafal dari mereka berpandangan wanita dikafani dengan lima kain kafan. Hal ini disenangi karena wanita semasa hidupnya harus ekstra dalam menutup tubuhnya daripada lelaki karena auratnya yang lebih dari lelaki.” Lima kain ini berupa kain yang disarungkan ke bagian aurat dan sekitarnya, dira’ (baju) dipakaikan ke tubuhnya, kerudung, dan dua kain yang diselimutkan ke seluruh tubuhnya sebagaimana mayat lelaki. (Al-Mughni, 2/173)

Jumlah Kafan Anak Kecil
Adapun anak kecil cukup dikafani dalam selembar kain, namun tidak apa-apa bila dikafani dalam tiga lembar kain. Demikian dikatakan oleh Ishaq bin Rahuyah, Sa’id ibnul Musayyab, Ats-Tsauri, Ashabur Ra`yi, dan selain mereka (Al-Mughni 2/171).
Bila yang meninggal itu adalah anak perempuan yang belum haid/ baligh maka kata Al-Hasan Al-Bashri t, ia dikafani dengan satu kain kafan ataupun tiga lembar kafan. Dikisahkan oleh Ayyub bahwa putri Anas bin Sirin meninggal dunia dalam usia mendekati haid. Maka Ibnu Sirin memerintahkan mereka untuk mengafaninya dengan satu kerudung dan dua kain yang diselimutkan ke seluruh tubuhnya. (Al-Mushannaf , Ibnu Abi Syaibah, 3/263-264)

3. Salah satu dari kafan itu berupa kain bergaris-garis bila memang mudah didapatkan, karena Nabi r bersabda:

“Bila salah seorang dari kalian meninggal sementara dia mendapati sesuatu (kelapangan) maka hendaklah ia dikafani dalam kain yang bergaris-garis.”11

4. Kafan tersebut diberi wewangian berupa bukhur (dupa yang wangi) sebanyak tiga kali, dengan dalil sabda Nabi r:

“Apabila kalian mewangi-wangikan mayat maka wangikanlah sebanyak tiga kali.”12
(Penjelasan tentang perkara yang disunnahkan dalam kafan ini bisa dilihat di Al-Majmu’, 5/155-156, Al-Mughni 2/169, Al-Muhalla 3/339-341, Nailul Authar 4/49-51 dll)

Cara Mengafani Mayat
Setelah kafan diberi wangi-wangian sehingga aroma semerbaknya menempel pada kain, kafan yang paling bagus dan paling lebar/ lapang dibentangkan kemudian diberi hanuth13. Menyusul kain kedua diletakkan di atas kain pertama lalu diberi hanuth dan kapur barus. Demikian pula kain ketiga yang akan bersentuhan langsung dengan tubuh mayat. Setelahnya mayat diangkat dalam keadaan tertutup kain dan diletakkan di atas kain kafan yang paling atas (dari tiga lapis kain yang telah disusun) dalam keadaan terlentang, di mana kain kafan yang tersisa pada bagian kepalanya lebih panjang daripada pada bagian kedua kakinya. Kemudian disiapkan kapas yang diberi hanuth dan kapur barus lalu dimasukkan di antara dua belahan pantat si mayat dengan cara yang lembut untuk menahan keluarnya sesuatu dari duburnya yang beraroma tidak sedap, lalu diikat di atasnya dengan kain perca yang dibelah ujungnya seperti celana pendek. Diambil lagi kapas yang diberi hanuth dan kapur barus lalu diletakkan di atas mulut si mayat, dua lubang hidung, dua mata, dua telinga, anggota-anggota sujudnya yaitu dahi dan hidung, telapak tangan, dua lutut dan dua telapak kaki, dan seluruh lubang yang ada di anggota tubuhnya, termasuk lukanya yang berlubang bila ada untuk mencegah darah/ nanah yang mungkin keluar hingga mengotori kafan. Rambut dan jenggot si mayat diberi kapur barus pula. Kemudian bagian kain kafan yang tersisa di sisi kiri si mayat ditekuk/ dilipat ke sisi kanan tubuh mayat, lalu kain yang di sisi kanan ditekuk ke sisi kiri tubuh mayat sehingga mayat benar-benar terbungkus/ diselimuti dalam kafannya, atau sebaliknya sisi kanan kafan terlebih dulu ditekuk baru sisi kiri. Hal yang sama juga dilakukan pada lembar kafan yang kedua dan ketiga. Terakhir, kain yang tersisa di bagian kepala mayat dikumpulkan, lalu ditekuk ke bagian atas wajah mayat agar kain pada bagian wajah tidak tersingkap karena tiupan angin misalnya. Sedangkan kain yang tersisa pada bagian kaki ditekuk ke bagian atas kedua kaki mayat. Dan bisa diikat bila khawatir kafannya terbuka/ terbongkar namun bila hendak dimasukkan ke kuburannya, ikatan tersebut dibuka. (Al-Hawil Kabir 3/21-23, Al-Majmu’ 5/157- 161, Al-Mughni 2/169, Asy-Syarhul Mumti’ 2/517- 519)


1  HR. An-Nasa’i no. 1824 kitab Al-Janaiz, bab Katsratu Dzikril Maut, Tirmidzi no. 2307 kitab Az-Zuhud ‘an Rasulillah r, bab Ma Ja’a fi Dzikril Maut, dan selain keduanya. Asy-Syaikh Al-Albani t berkata tentang hadits ini dalam Shahih Sunan Nasa’i dan Shahih Sunan Tirmidzi: “Hasan shahih”.
2 HR. Al-Bukhari no. 1265 dalam Shahih-nya, kitab Al-Janaiz, bab Al-Kafan fi Tsaubaini dan Muslim no. 1206, kitab Al-Hajj, bab Ma Yuf’alu bil Muhrim idza Maata.
3 Nama kain yang dinisbahkan (disandarkan) kepada sebuah tempat/ kota di Yaman yang bernama Suhul atau kain putih bersih dari katun (Al-Hawil Kabir 3/21, Syarhus Sunnah 5/313, Al-Majmu 5/152, Tharhu At-Tatsrib fi Syarhi At-Taqrib 3/914, Fathul Bari 3/174)
4 Yang dikafani dengan namirahnya karena hanya harta itu yang ia tinggalkan.
5 Demikian pendapat ‘Atha`, Az-Zuhri, ‘Amr bin Dinar, dan Qatadah. Ibrahim An-Nakha’i t berkata: “Yang lebih dahulu disisihkan dari harta si mayat (sebelum dibagikan kepada ahli warisnya, pent.) adalah keperluan kafannya, kemudian keperluan untuk membayar hutangnya, kemudian penunaian wasiatnya.” Sufyan Ats-Tsauri t berkata: “Ongkos penggalian kubur dan biaya memandikan mayat sama dengan hukum kafan, diambil dari pokok harta si mayat.” (HR. Al-Bukhari secara mu’allaq dalam Shahih-nya, kitab Al-Janaiz, bab Al-Kafanu min jami’il mal, Fathul Bari 3/174-175)
6 Lihat haditsnya dalam Shahih Al-Bukhari no. 1276 kitab Al-Janaiz, bab Idza lam Yajid kafanan illa ma yuwari ra’sahu au qadamaihi ghaththa ra`sahu dan Muslim no. 940, kitab Al-Janaiz, bab Fi kafanil mayyit.
7 HR. Muslim no. 943, bab Fi tahsini kafanil mayyit
8 HR. Abu Dawud no. 4061, At-Tirmidzi no. 2810 dan ia berkata: Hadits hasan shahih. Asy-Syaikh Muqbil t dalam Al-Jami’ush Shahih (2/249) berkata: “Hadits ini hasan di atas syarat Muslim.”
9 HR. Al-Bukhari no. 1264 bab Ats-Tsiyabul bidh lil kafani dan Muslim no. 941 bab Fi kafanil mayyit, sedangkan lafadz yang ada dalam kurung dari riwayat Al-Imam Ahmad.
10 Sementara dalil yang menunjukkan perbedaan jumlah kafan wanita dengan laki-laki lemah seperti diterangkan di atas.
11 HR. Abu Dawud no. 3150, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Shahih Abi Dawud. Beliau berkata dalam Ahkamul Janaiz ketika membahas hadits ini: “Ini sanad yang shahih menurutku, demikian pula menurut Al-Mizzi t. Adapun Al-Hafidz dalam At-Talkhis berkata: “Isnadnya hasan”. Hadits ini memiliki jalan lain yang diriwayatkan Al-Imam Ahmad t dari Abu Az-Zubair dari Jabir dengan lafadz:
“Siapa yang mendapatkan kelapangan, maka hendaklah ia dikafani dengan kain yang bergaris-garis.”
12 HR. Ahmad 3/331, Al-Hakim berkata: Shahih di atas syarat Muslim. Adz-Dzahabi t menyepakati Al-Hakim. Kata Asy-Syaikh Al-Albani t: “Keberadaan hadits ini memang seperti yang dinyatakan keduanya. Al-Imam An-Nawawi t juga menshahihkannya dalam Al-Majmu’ 5/196.” (Ahkamul Janaiz hal. 84)
13 Sejenis wangi-wangian yang biasa diberikan kepada mayat secara khusus. (Al-Majmu’ 5/157)

Khaulah Bintu Tsa’labah

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu ‘Abdirrahman Anisah bintu ‘Imran)

 

Betapa kegalauan itu menguasai dirinya. Kepada Rasul-Nya dia tuturkan segalanya, mengharap jalan keluar atas kesempitan yang dihadapinya. Pengaduannya berujung kemuliaan, ketika Allah I yang di atas ‘Arsy mendengarnya.

Wanita itu bernama Khaulah bintu Tsa’labah bin Ashram bin Fihr bin Tsa’labah bin Ghanmin bin ‘Auf x. Dia disunting oleh anak pamannya, Aus bin Ash-Shamit bin Ashram bin Fihr bin Tsa’labah bin Ghanmin bin Salim bin ‘Auf bin Al-Khazraj Al-Anshari z saudara ‘Ubadah bin Ash-Shamit z.
Dalam perjalanan kehidupannya di sisi Aus bin Ash-Shamit, tercatat sebuah peristiwa berkenaan dengan dirinya yang terabadikan dalam Kitabullah. Dengan sebab peristiwa itu, Allah U menurunkan ayat-ayat tentang zhihar1.
Bermula ketika Aus bin Ash-Shamit z datang menemui Khaulah. Saat itu, Khaulah membalas perkataan Aus bin Ash-Shamit dengan sesuatu ucapan. Aus bin Ash-Shamit pun berang dan mengatakan pada istrinya, “Engkau bagiku seperti punggung ibuku!”
Inilah zhihar yang terucap dari lisan Aus bin Ash-Shamit z pada istrinya. Khaulah pun resah. Dia mengerti, pada masa jahiliyah, zhihar berarti haramnya seorang istri bagi suaminya.
Setelah itu, Aus pun keluar dan duduk sesaat bersama kaumnya. Lalu dia pulang dan hendak mendatangi Khaulah. Melihat suaminya menginginkan dirinya, Khaulah pun berujar, “Jangan! Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, jangan kau dekati diriku sementara engkau telah mengucapkan perkataanmu tadi, sampai Allah U dan Rasul-Nya memutuskan perkara yang terjadi di antara kita.”
Aus bin Ash-Shamit tidak surut dengan perkataan Khaulah. Dia meloncat menerkam Khaulah. Khaulah pun menolaknya hingga dapat mengalahkannya sebagaimana seorang wanita mengalahkan seorang laki-laki yang telah lemah dan renta. Lalu Khaulah mendorongnya menjauh dari dirinya, kemudian segera keluar menemui Rasulullah r.
Di hadapan Rasulullah r, Khaulah duduk sembari mengisahkan apa yang dialami dan didapatkannya dari suaminya. Mendengar penuturan Khaulah, Rasulullah r pun mengatakan, “Wahai Khaulah, anak pamanmu itu seorang laki-laki yang telah lanjut. Maka bertakwalah kepada Allah U tentang permasalahan dirinya.”
Terus-menerus Khaulah mengadu. Pengaduan Khaulah didengar oleh Rabbnya dari atas ‘Arsy-Nya. Allah U  pun memberikan jalan keluar dari kesempitan yang dihadapinya.
Usai turun ayat dari sisi Allah U, Rasulullah r pun berkata, “Wahai Khaulah, Allah U telah menurunkan wahyu tentang dirimu dan suamimu.”
Kisah Khaulah, pengaduannya kepada Rabb-Nya, semua tercantum dalam kalam Rabbul ‘alamin, dalam awal surah Al-Mujadalah.

“Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan padamu tentang suaminya, dan mengadukan keadaannya kepada Allah, dan Allah mendengar percakapan kalian berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Orang-orang yang menzhihar istrinya di antara kalian, bukanlah istri mereka itu ibu mereka. Ibu-ibu mereka adalah wanita yang melahirkan mereka, dan sesungguhnya mereka mengucapkan suatu perkataan yang mungkar dan dusta. Dan sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun. Orang-orang yang menzhihar istri mereka, kemudian hendak menarik kembali apa yang diucapkannya, maka wajib atasnya memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami istri itu bercampur. Demikianlah yang diajarkan kepada kalian, dan Allah mengetahui apa yang kalian perbuat. Barangsiapa yang tidak mendapatkan budak, maka wajib atasnya berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum keduanya bercampur. Barangsiapa yang tidak mampu, wajib atasnya memberi makan enam puluh orang miskin. Demikianlah, agar kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan itulah hukum-hukum Allah, dan bagi orang-orang kafir ada siksaan yang sangat pedih.” (Al-Mujadalah: 1-4)
Rasulullah r berkata pada Khaulah, “Suruhlah dia memerdekakan seorang budak.” Khaulah menjawab, “Demi Allah, wahai Rasulullah, dia tidak memiliki seorang budak pun yang bisa dia merdekakan.” “Kalau begitu, hendaknya dia berpuasa selama dua bulan berturut-turut,” kata beliau. “Demi Allah,” jawab Khaulah, “Dia seorang yang telah renta, tidak memiliki kemampuan untuk itu.” Rasulullah r pun berkata, “Hendaknya dia beri makan enam puluh orang miskin dengan satu wasq kurma.” “Wahai Rasulullah, dia tidak punya,” jawab Khaulah. “Kami akan membantunya dengan setandan kurma,” kata beliau. Khaulah pun menyambut, “Wahai Rasulullah, aku akan membantunya dengan setandan lagi.” “Engkau benar dan telah berbuat kebaikan. Pergilah dan sedekahkanlah semua ini, kemudian berbuat baiklah terhadap anak pamanmu itu.” Khaulah pun segera melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Rasulullah r.
Inilah kisah seorang wanita yang dimuliakan oleh Rabbnya. Dari atas tujuh langit Allah U mendengar pengaduannya, hingga ‘Aisyah x mengatakan, “Maha suci Dzat yang pendengaran-Nya meliputi segala sesuatu. Sungguh aku dengar ucapan Khaulah bintu Tsa’labah, sementara sebagian perkataannya tersamar bagiku, ketika dia mengadukan suaminya kepada Rasulullah r dengan menuturkan, “Wahai Rasulullah, dia telah menikmati masa mudaku, dan telah lahir banyak anak dari perutku. Hingga saat telah tua usiaku dan aku tak lagi dapat melahirkan, dia menzhiharku. Ya Allah, sesungguhnya aku mengadu kepada-Mu.” Terus-menerus Khaulah mengadu, hingga Jibril membawa turun ayat-ayat ini.”
Kemuliaan dari sisi Allah U tak kan dapat dipungkiri oleh siapa pun. Bahkan di kemudian hari, kemuliaan itu senantiasa tetap menjadi milik Khaulah bintu Tsa’labah x. Hingga suatu hari, ketika ‘Umar bin Al-Khaththab z yang kala itu telah menjabat sebagai Amirul Mukminin keluar bersama rombongannya, lewatlah seorang wanita tua. Wanita itu menghentikan ‘Umar. ‘Umar pun berhenti, lalu keduanya berbincang-bincang. Melihat hal itu, seseorang berkata keheranan, “Wahai Amirul Mukminin, engkau hentikan jalannya rombongan hanya karena wanita tua ini?!” “Celaka engkau,” jawab ‘Umar, “Tahukah kamu, siapa dia? Dia ini wanita yang Allah dengar pengaduannya dari atas tujuh langit. Dialah Khaulah bintu Tsa’labah yang Allah turunkan tentangnya:

“Demi Allah,” kata ‘Umar lagi, “Seandainya dia menghentikanku hingga malam, aku tidak akan beranjak meninggalkannya kecuali untuk shalat, dan setelah itu aku akan kembali lagi padanya.”
Khaulah bintu Tsa’labah, semoga Allah U meridhainya….
Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.

Sumber Bacaan:
q    Al-Ishabah, karya Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-’Asqalani (7/618-620)
q    Al-Isti’ab, karya Al-Imam Ibnu ‘Abdil Barr (4/1830-1832)
q    Ath-Thabaqatul Kubra, karya Al-Imam Ibnu Sa’d (8/378-380)
q    Shahih Sunan Ibnu Majah


1 Zhihar adalah perkataan seorang suami terhadap istrinya: “Engkau seperti punggung ibuku” atau mahram lainnya selain ibu, atau ucapan “Engkau haram bagiku”.

Kejujuran

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu ‘Abdirrahman Anisah bintu ‘Imran)

Kejujuran harus ditanamkan sejak kecil. Untuk itu jelas dibutuhkan keteladanan orang tua dalam hal ini. Namun yang terjadi, tanpa disadari orang tua justru memposisikan diri sebagai guru dalam hal kebohongan atau ketidakjujuran.

Sebuah sisi yang kini banyak terlalaikan sepanjang perjalanan membimbing seorang anak adalah kejujuran. Kadang terjadi, orang tua tidak memberikan teguran ketika melihat si anak berbohong kepada temannya. Terkadang pula justru orang tua memberikan contoh buruk kepada si anak dengan berbuat dusta. Bahkan yang lebih parah lagi, orang tua menyuruh si anak untuk berbohong demi keuntungan atau kesenangan orang tuanya.
Mungkin tak asing lagi, orang tua yang tidak berkenan menerima seorang tamu yang datang untuk kepentingan tertentu, untuk berkelit dia berpesan kepada anaknya, “Katakan saja, ayah dan ibu sedang tidak ada di rumah.” Sementara dia bersembunyi di kamar tidurnya. Atau di waktu lain, sang ibu memanggil anaknya pulang bermain, “Ayo pulang, Nak! Ibu kasih kue nanti di rumah.” Ternyata sepulang bermain, tak sepotong kue pun diberikan. Juga terkadang orang tua menyuruh si anak melakukan sesuatu dengan iming-iming hadiah. Namun ketika si anak melaksanakan perintah orang tuanya, tak sesuatu pun yang didapat, atau bahkan kemarahan semata yang dihadapi bila si anak menagih janji. Alhasil, anak belajar berdusta dan ingkar janji justru dari orang tua mereka sendiri.
Kepada Allah U sajalah kita mohon pertolongan dari kerusakan semacam ini. Padahal semestinya orang tua membimbing, mengarahkan dan mengajarkan pada anak-anak untuk senantiasa jujur, dalam ucapan maupun perbuatan, serta menjauhi kedustaan dan ingkar janji.
Allah U memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya agar senantiasa berbuat jujur:

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan jadilah kalian bersama orang-orang yang jujur.” (At-Taubah: 119)
Jujurlah kalian dan berpeganglah selalu dengan kejujuran, niscaya kalian termasuk orang-orang yang jujur dan akan selamat dari kebinasaan, serta Allah U berikan kelapangan dan jalan keluar dalam berbagai urusan kalian. (Tafsir Ibnu Katsir 4/160)
Banyak sudah peringatan dari dusta yang disampaikan oleh Rasulullah n. Di antaranya beliau katakan bahwa dusta akan menggiring si pendusta untuk berbuat berbagai kejelekan. Demikian yang beliau kabarkan dalam hadits Abdullah bin Mas’ud z:

“Sesungguhnya kejujuran membimbing pada kebaikan, dan kebaikan akan membimbing ke surga. Dan seseorang senantiasa jujur dan membiasakan untuk jujur hingga dicatat di sisi Allah sebagai seorang yang jujur. Dan sesungguhnya dusta membimbing pada kejahatan, dan kejahatan akan membimbing ke neraka. Dan seorang hamba senantiasa berdusta dan membiasakan untuk dusta hingga dicatat di sisi Allah sebagai seorang pendusta.” (HR. Al-Bukhari no. 6094 dan Muslim no. 2607)
Hadits mengandung anjuran agar seseorang berupaya membiasakan diri untuk jujur dan menjadikan kejujuran sebagai tujuan dan perhatiannya. Di samping itu, ada peringatan dari kedustaan dan sikap menggampangkan dusta, karena apabila seseorang biasa bermudah-mudah dalam dusta, maka dia akan sering berdusta hingga dikenal dengannya. Dan seseorang akan dicatat di sisi Allah U sebagai orang yang jujur bila dia membiasakannya, atau sebagai pendusta bila ia terbiasa dengannya. (Syarh Shahih Muslim 16/160)
Dinyatakan pula oleh Rasulullah n bahwa dusta termasuk ciri orang munafik, sebagaimana dikabarkan Abu Hurairah z:

“Tanda orang munafik itu ada tiga: bila bicara dia dusta, bila berjanji dia mengingkari, dan bila diberi amanah dia mengkhianati.” (HR. Al-Bukhari no. 33 dan Muslim no. 107)
Berdusta demikian buruk akibatnya. Terlebih lagi berdusta pada anak-anak akan membuka pintu kejelekan yang luas, karena nantinya anak akan menirunya, hingga mereka biasa berbicara dusta dan mengingkari janjinya. (Nashihati lin Nisaa‘, hal. 40) Selain itu, anak akan kehilangan kepercayaan kepada orang tuanya, sehingga nantinya mereka pun tidak lagi membenarkan orang tuanya dalam berbagai hal. (Fiqh Tarbiyatil Abna‘, hal 240)
Dengan gamblang Rasulullah n melarang seorang ibu berdusta kepada anaknya. Ini dikisahkan oleh ‘Abdullah bin ‘Amir bin Rabi’ah Al-’Adawi z:

Suatu hari ibuku memanggilku, sementara Rasulullah r sedang duduk di rumah kami. Ibuku berkata, “Mari sini, aku akan memberimu sesuatu.” Rasulullah r pun bertanya pada ibuku, “Apa yang akan kau berikan padanya?” Ibuku menjawab, “Aku akan memberinya kurma.” Lalu beliau berkata pada ibuku, “Seandainya engkau tidak memberinya sesuatu, niscaya dicatat atasmu sebuah kedustaan.” (HR. Abu Dawud no. 4991, dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani t)
Kisah ini menunjukkan bahwa setiap perkataan yang ditujukan kepada anak-anak ketika mereka menangis misalnya, baik untuk bergurau atau untuk membohongi si anak bahwa nanti akan diberi sesuatu atau ditakut-takuti dengan sesuatu, adalah haram dan termasuk kedustaan.
Walaupun maksudnya sekedar untuk bergurau dan bercanda, seseorang tetap tidak diperbolehkan mengatakan sesuatu yang dusta, karena Rasulullah n mengancam orang yang berdusta dalam candanya, sebagaimana disampaikan oleh Bahz bin Hakim dari ayahnya dari kakeknya:

Saya mendengar Nabi n bersabda: “Binasalah orang yang berbicara untuk membuat orang-orang tertawa dengan ucapannya, lalu dia berdusta. Binasalah dia, binasalah dia!” (HR. At-Tirmidzi no. 2315, dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani t)
Dapat dipahami dari ucapan Rasulullah n ini, tidak mengapa bila seseorang membuat orang-orang tertawa dengan ucapan yang jujur. (Tuhfatul Ahwadzi 6/497)
Rasulullah n sendiri bukanlah orang yang tidak pernah bercanda. Namun canda beliau tidak pernah lepas dari kebenaran. Abu Hurairah z mengisahkan bahwa para shahabat pernah bertanya kepada Rasulullah n:

“Wahai Rasulullah, engkau bercanda dengan kami?” Maka beliau pun menjawab, “Sesungguhnya aku tidak mengatakan kecuali kebenaran.” (HR. At-Tirmidzi no. 1990, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani t)
Oleh karena itu, orang tua tidak boleh bergurau dengan gurauan yang dusta, juga harus melarang dan menegur apabila mengetahui anak-anak mereka bergurau dengan kata-kata yang dusta.
Kisah-kisah tentang kejujuran dapat pula diceritakan pada anak untuk memberikan gambaran kepada mereka bahwa kejujuran senantiasa akan membawa kebaikan. Sebuah kisah indah tentang kejujuran dituturkan oleh Ka’ab bin Malik z, ketika dia tertinggal dari perang Tabuk tanpa satu uzur pun, sementara segala perlengkapan perang telah dia persiapkan. Kisah ini tertulis di dalam Ash-Shahihain (HR. Al-Bukhari no. 4418 dan Muslim no. 2769)
Ka’ab bin Malik menceritakan, ketika ada kabar Rasulullah n sudah kembali dari peperangan itu, dia pun merasa gelisah. Terlintas dalam hatinya untuk berdusta kepada Rasulullah n untuk menghindari kemurkaan beliau. Namun Ka’ab yakin, dia tidak akan bisa selamat dari kemurkaan beliau selama-lamanya, hingga dia pun bertekad untuk berkata jujur.
Setiba dari peperangan, seperti kebiasaan Rasulullah n setiap pulang dari safar, beliau masuk masjid dan shalat dua rakaat. Setelah itu, orang-orang yang tidak ikut dalam peperangan mengajukan uzur masing-masing dan bersumpah di hadapan Rasulullah n. Beliau pun menerima pengakuan yang nampak dari mereka, membai’at dan memohonkan ampun bagi mereka dan menyerahkan isi hati mereka kepada Allah U.
Hingga datanglah Ka’ab. Ketika Rasulullah n bertanya tentang uzurnya, Ka’ab menyatakan, “Wahai Rasulullah, andaikan aku duduk di hadapan selainmu dari kalangan ahlu dunia, tentu aku berpikiran untuk dapat keluar dari kemarahannya dengan mengajukan suatu uzur, lagipula aku pandai berdebat. Akan tetapi, demi Allah, aku tahu, seandainya hari ini kukatakan padamu kebohongan yang membuatmu ridha padaku, sungguh Allah I akan membuatmu marah padaku. Dan bila kukatakan padamu perkataan jujur yang membuatmu marah padaku, sungguh dengan itu kuharapkan kesudahan yang baik dari Allah U. Demi Allah, aku tidak memiliki uzur apa pun. Demi Allah, tak pernah diriku sekuat dan semudah seperti saat aku tertinggal dari peperangan bersamamu.”    Rasulullah n pun bersabda, “Orang ini telah bicara jujur. Bangkitlah, sampai Allah berikan keputusan tentangmu.”
Waktu terus bergulir. Rasulullah n melarang setiap orang berbicara dengan Ka’ab dan dua orang shahabat lain yang diberi keputusan serupa. Dunia pun terasa sempit bagi Ka’ab. Tak ada seorang pun yang mau menyapanya. Siapa pun, di mana pun. Bahkan Rasulullah n pun enggan bertatap pandang dengannya.
Inilah yang harus dia jalani, hingga lima puluh malam lamanya. Keesokan harinya, usai shalat subuh di atas rumahnya, Ka’ab duduk sembari merasakan kesempitan hatinya. Tiba-tiba terdengar seseorang berseru padanya dari kejauhan, “Wahai Ka’ab bin Malik, bergembiralah!” Ka’ab pun tersungkur sujud. Dia tahu, kelapangan itu telah datang. Ternyata ketika shalat Subuh, Rasulullah n telah mengumumkan di hadapan para shahabat bahwa Allah I menerima taubat Ka’ab dan dua orang temannya. Orang-orang pun berdatangan menyatakan kegembiraannya.
Setelah itu, Ka’ab datang menghadap Rasulullah n. Beliau menyambut dengan wajah yang begitu bersinar bagai rembulan karena rasa gembira, “Bergembiralah dengan kebaikan yang kau dapat hari ini, semenjak engkau dilahirkan ibumu.” Ka’ab bertanya, “Apakah ini darimu, wahai Rasulullah, ataukah dari Allah?” “Tidak, bahkan ini dari Allah U.”
AllahU turunkan ayat 117-119 dari surat At-Taubah.
Saat itu Ka’ab mengatakan, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah menyelamat-kanku dengan kejujuranku. Dan termasuk taubatku, aku tidak akan berbicara kecuali dengan jujur seumur hidupku.”
Ka’ab menceritakan, “Demi Allah, aku tak pernah bersengaja bicara dusta semenjak kukatakan hal itu pada Rasulullah n sampai hari ini, dan sungguh aku berharap agar Allah U tetap menjagaku sepanjang sisa umurku.”
Dia juga mengatakan, “Demi Allah, tidaklah Allah memberikan nikmat pada diriku setelah memberikan petunjuk padaku untuk berislam, yang lebih besar daripada kejujuranku pada Rasulullah n, sehingga aku tidak berdusta pada beliau dan binasa seperti binasanya orang-orang yang berdusta.”
Inilah sebuah teladan yang memberikan pelajaran besar bagi anak untuk menanamkan kejujuran dalam dirinya, walaupun untuk mengakui kesalahan.
Demikianlah, tak ada jalan lain bagi orang tua, kecuali berbenah diri dengan mulai membiasakan untuk berkata dan berbuat jujur. Jujur terhadap Allah I dan jujur pula terhadap manusia, sehingga terus membiasakan diri untuk jujur setahap demi setahap sampai kejujuran itu menjadi akhlak kita, sebagaimana dalam hadits yang disampaikan oleh Ibnu Mas’ud z di atas.
Begitu pulalah pada anak, orang tua harus membiasakan anak-anaknya untuk jujur dalam ucapan, perbuatan maupun dalam penunaian janji, diiringi dengan upaya untuk menjauhkan mereka dari segala kedustaan. Semoga dengan itu, mereka akan menuai kebahagiaan di dunia ini dan di negeri yang kekal abadi. Wallahu a’lam.

Satu Permisalam Bergaul yang Ma’ruf

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Zulfa Husein Al-Atsariyyah)

 

Berkeluarga bukanlah sekedar hidup bersama dalam satu rumah. Ibarat menanam, banyak hal yang bisa dilakukan suami/ istri agar apa yang mereka tanam senantiasa tumbuh dan terus berbuah.

Di satu kampung dari perkampungan di Yaman, pernah ada sebelas orang wanita duduk berkumpul, mereka sepakat untuk menceritakan sifat dan keadaan suami-suami mereka. Mereka pun saling berjanji untuk tidak menyembunyikan sedikitpun keadaan suami mereka. Apa gerangan yang mereka kisahkan?
Wanita yang pertama berkata: “Suamiku ibarat daging unta yang kurus kering di atas puncak gunung yang tidak mudah didaki. Sementara daging itu sendiri tidaklah gemuk di mana dapat mengundang hasrat untuk memindahkannya.”1
Wanita kedua berkata: “Tidak akan kusebarkan berita suamiku karena bila kuceritakan tentangnya, aku khawatir aku akan terus berbicara tanpa meninggalkan satu pun dari cerita tentang dirinya. Bila aku mengingatnya, yang aku ingat adalah urat yang menggembung dan tampak pada wajah, tubuh, dan perutnya.”2
Wanita ketiga berkata: “Suamiku terlalu tinggi. Bila aku bicara (mendebatnya dalam satu perkara atau menceritakan celanya) ia akan mentalakku dan bila aku diam (bersabar dengan keadaanku) aku dibiarkannya tergantung (seperti wanita yang tidak memiliki suami namun tidak pula menjanda).”
Wanita keempat berkata: “Suamiku seperti malam di Tihamah3, tidak panas, tidak pula sangat dingin, tidak menakutkan dan tidak pula menjemukan.”4
Wanita kelima berkata: “Suamiku, bila masuk rumah seperti macan kumbang5, bila keluar rumah seperti singa, dan ia tidak pernah bertanya tentang apa yang diberikan dan diamanahkannya.”6
Wanita yang keenam berkata: “Suamiku bila makan banyak dan menyantap semua hidangan tanpa menyisakan. Bila minum sampai habis, bila berbaring, ia berselimut sendirian (menjauh dari istrinya), dan ia tidak pernah memasukkan telapak tangannya untuk mengetahui kesedihanku (guna berupaya menghilangkannya).”7
Wanita yang ketujuh berkata: “Suamiku dungu –atau tidak mampu menggauli wanita (impoten)– sangat keterlaluan dungunya. Semua penyakit (cacat/ cela) ada padanya. Bila engkau mengajaknya bicara ia akan melukai kepala atau badanmu, atau melukai kepala dan badanmu sekaligus.”8
Wanita yang kedelapan berkata: “Suamiku usapan dan sentuhannya seperti sentuhan kelinci dan wanginya seperti wangi zarnab (sejenis tumbuhan yang semerbak baunya).”9
Wanita yang kesembilan berkata: “Suamiku, rumahnya tinggi (seperti rumah para tokoh/ pembesar sehingga selalu dituju para tamu), dia menyandang pedang yang panjang (karena posturnya yang tinggi), banyak debunya10 dan rumahnya dekat dengan tempat pertemuan.”11
Wanita yang kesepuluh berkata: “Suamiku Malik. Siapakah Malik. Alangkah agung dan mulianya dia. Malik lebih baik daripada mereka semua (para suami yang telah diceritakan keadaannya/ sifatnya). Ia memiliki unta yang banyak yang menderum di pekarangannya dan ada sedikit yang digembalakan12. Bila unta-unta ini mendengar suara mizhar (alat yang dibunyikan untuk menyambut tamu) mereka pun yakin bahwa mereka akan mati (disembelih sebagai jamuan untuk tamu).”
Wanita yang kesebelas berkata: “Suamiku Abu Zar’in. Siapakah Abu Zar’in. Dia menggerakkan kedua telingaku dengan perhiasan13. Dia penuhi kedua lenganku (beserta seluruh tubuhku) dengan lemak (gemuk). Dia memuliakanku hingga aku merasa diriku begitu mulia hingga aku berbangga diri. Dia mendapati aku hidup dengan keluargaku (yang fakir) dengan hanya memiliki sedikit kambing yang kami gembalakan di tepi gunung. Lalu (setelah menikahiku) ia menjadikan aku hidup dalam kemewahan memiliki kuda dan unta, sawah ladang, dan selainnya. Di sisinya aku berbicara tanpa pernah dijelek-jelekkan dan dibantah. Aku tidur di pagi hari tanpa ada yang membangunkan (karena semua pekerjaan telah ditangani oleh para pembantu). Aku pun minum sampai puas.
Ibu Abu Zar’in, siapakah ibu Abu Zar’in. Tempat perabot dan perlengkapannya besar lagi penuh, rumahnya pun luas.
Putra Abu Zar’in, siapakah putra Abu Zar’in. Tempat berbaringnya seperti tikar anyaman dari pelepah kurma14 dan mengenyangkannya dzira’ (bagian hasta) kambing (betina berusia 4 bulan).”15
Putri Abu Zar’in, siapakah putri Abu Zar’in. Dia taat/ berbakti kepada ayah dan ibunya, sempurna tubuhnya (atau gemuk berisi) dan membuat marah madunya (karena iri melihat kelebihannya).”
Budak perempuan Abu Zar’in, siapakah budak perempuannya Abu Zar’in. Dia tidak menyebarkan pembicaraan kami, tidak berkhianat dalam mengurusi makanan kami, dan tidak memenuhi rumah kami dengan ranting/ sampah”.16
Ummu Zar’in melanjutkan kisahnya: “(Suatu hari) Abu Zar’in keluar dari rumah di saat susu-susu dalam periuk dan bejana diolah untuk diambil saripatinya. Lalu ia berjumpa dengan seorang wanita bersama dua anak laki-lakinya yang laksana dua ekor macan. Keduanya asyik bermain dengan dua delima (yang dilemparkan) dari bawah pinggang si wanita17. Abu Zar’in pun mentalakku dan menikahi wanita itu. Setelah bercerai dengannya, aku menikah dengan seorang lelaki yang bagus bentuk dan penampilannya. Ia menunggangi kuda yang bagus lagi pilihan yang berjalan tanpa merasa letih. Ia memegang tombak dari negeri Khath (untuk berperang). Ia mendatangkan ke kandang ternak harta yang banyak (berupa unta dan selainnya) untukku18. Dan ia memberiku sepasang dari setiap yang berlalu19. Ia berkata: “Makanlah wahai Ummu Zar’in dan berilah makanan itu kepada keluargamu.”20
Ummu Zar’in berkata: “Seandainya aku kumpulkan segala sesuatu yang diberikannya kepadaku niscaya tidak mencapai bejana Abu Zar’in yang paling kecil sekalipun.”21
Kisah yang cukup panjang di atas, dituturkan oleh Aisyah x kepada suaminya yang mulia, Rasulullah r22. Dengan sabar dan tanpa jemu, beliau r mendengarkannya dan selesai istrinya berkisah, beliau menyatakan:

“Aku bagimu seperti Abu Zar’in bagi Ummu Zar’in.”23
Apa yang dilakukan oleh Rasulullah r ini menggambarkan bagusnya pergaulan beliau terhadap istrinya24. Sementara memang dalam hidup berkeluarga, masing-masing dituntut untuk bergaul dengan pasangannya dengan cara yang baik, yang dapat mengikat cinta dan melanggengkan kebersamaan. Allah I telah memerintahkan dalam firman-Nya:

“Bergaullah kalian (wahai para suami) dengan mereka (para istri) dengan cara yang ma’ruf.” (An-Nisa`: 19)
Al-Hafizh Ibnu Katsir t menafsirkan bahwa Allah I menuntunkan kepada seorang suami untuk berbicara yang baik dengan istrinya, berbuat yang baik dan berpenampilan yang baik sesuai kemampuannya, sebagaimana seorang suami menyenangi hal itu untuk dilakukan oleh sang istri. Allah I menyatakan:

“Mereka (para istri) punya hak yang sebanding dengan kewajiban mereka dengan cara yang ma’ruf.” (Al-Baqarah: 228) (Al-Mishbahul Munir fi Tahdzib Tafsir Ibni Katsir, Asy-Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri, hal. 281)
Dalam ayat di atas, Allah I menetapkan adanya hak seorang istri terhadap suaminya seperti halnya suami punya hak yang harus ditunaikan istrinya. Maka masing-masing melaksanakan apa yang semestinya mereka tunaikan untuk pasangannya dengan cara yang ma’ruf. (Mahasinut Ta’wil, Al-Imam Al-Qasimi t, 2/175)
Bandingkan satu contoh pergaulan Rasulullah r dengan istri beliau di atas dengan kekakuan sebagian suami ketika bermuamalah dengan istrinya. Tidak ada senda gurau, tidak ada cerita yang bisa mengikat cinta, dan tidak ada perhatian terhadap pembicaraan pasangannya. Apalagi mau melakukan seperti yang dilakukan Rasulullah r, duduk sejenak mendengarkan cerita istri. Padahal perbuatan yang mungkin dianggap kecil ini dapat menjadi media untuk menunjukkan kecintaan kepada pasangan hidup sebagaimana Rasulullah r ingin menunjukkan rasa cinta beliau kepada Aisyah x. Hal seperti ini jelas akan mendekatkan hati dan melekatkan cinta di antara suami istri.
Bila seorang suami enggan duduk sejenak bercengkerama dengan istrinya dengan alasan terlalu sibuk, banyak hal yang lebih penting yang harus diurusi dan sebagainya, maka seharusnya ia melihat sosok Rasulullah r. Hari-hari beliau juga sarat dengan kesibukan, menyampaikan risalah dari Allah I, mengajari manusia, memimpin negeri dan umat, menegakkan kalimat Allah I di muka bumi dengan jihad fi sabilillah dan sebagainya, namun beliau menyempatkan duduk mendengar cerita istrinya yang panjang. Kesan apa lagi yang bisa ditangkap kecuali betapa baiknya pergaulan beliau terhadap istrinya. Sementara kita dituntut untuk menjadikan beliau sebagai suri teladan.

“Sungguh telah ada bagi kalian pada diri Rasulullah r uswah hasanah bagi orang yang mengharapkan pertemuan dengan Allah dan hari akhir serta banyak mengingat Allah.” (Al-Ahzab: 21)
Mungkin terlintas pertanyaan di benak, bukankah para wanita itu menceritakan aib suami mereka, lalu mengapa kisah seperti itu disampaikan Aisyah x kepada Rasulullah r, bukankah ini ghibah? Maka dijawab, ini bukanlah ghibah karena Rasulullah r membiarkan istrinya terus berkisah, seandainya hal itu terlarang dan mungkar niscaya beliau r tidak akan diam dari kemungkaran, walaupun itu diperbuat oleh kerabatnya yang paling dekat dan orang yang paling dikasihinya. Apa yang diceritakan Aisyah x adalah pembicaraan yang mubah, yang tidak ada di dalamnya perkara yang terlarang.
Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani t menjelaskan bahwa menghikayatkan orang yang tidak tertentu bukanlah termasuk ghibah yang dilarang. Cerita yang disampaikan Aisyah x sama dengan bila seseorang berkata: “Di kalangan manusia itu ada seorang yang jelek”. Aisyah x menceritakan kisah para wanita yang majhul (tidak diketahui siapa mereka) dan siapa suami mereka, dan juga tidak diketahui apakah mereka berislam atau tidak sehingga bisa diberlakukan kepada mereka hukum tentang ghibah. Dengan demikian tidak ada keberatan mendengar kisah mereka karena tidak ada yang merasa tersakiti dan terzhalimi. (Fathul Bari 9/332-333) Al-Imam An-Nawawi t juga menyatakan yang semakna dengan penjelasan ini (Syarhu Shahih Muslim 15/222). Namun, bila ada seorang wanita pada hari ini menceritakan tentang suaminya dalam perkara yang tidak disukai oleh suaminya maka ini jelas merupakan ghibah yang diharamkan, kecuali ia melakukannya dalam rangka meminta fatwa atau mengadukan kedzaliman kepada pihak yang berkepentingan.

Faidah yang Dipetik dari Hadits Ummu Zar’in
Hadits Ummu Zar’in di atas mendapat perhatian di kalangan ahlul ilmi karena di dalamnya banyak terdapat faidah syar’iyyah, sehingga mereka mencantumkannya dalam kitab-kitab mereka atau memuatnya dalam kitab khusus atau menulis syarah/ penjelasan dari lafadz-lafadznya.
Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani t mengumpulkan beberapa faidah tersebut, di antaranya:
q    Bolehnya menceritakan umat terdahulu untuk mengambil pelajaran
q    Dalam hadits di atas ada anjuran bagi para istri untuk bersikap setia kepada suami-suami mereka, membatasi pandangan mata mereka hanya kepada suami dan mensyukuri kebaikan yang diberikan suami.
q    Bolehnya berlebih-lebihan dalam mensifatkan sesuatu asalkan tidak dijadikan sebagai suatu kebiasaan karena hal itu justru akan menjadikan muru`ah seseorang cacat.
q    Cinta itu bisa menutupi keburukan seperti terlihat pada cinta Ummu Zar’in kepada Abu Zar’in yang telah berbuat jelek kepadanya dengan menceraikannya. Namun kejelekan itu tidaklah mencegah Ummu Zar’in untuk berlebih-lebihan menceritakan kebaikan Abu Zar’in dan menyanjungnya sampai melampaui batas.q    Bolehnya menggambarkan kecantikan seorang wanita dan keelokannya di hadapan seorang lelaki asalkan wanita tersebut majhul (tidak diketahui siapa dia). Yang terlarang hanyalah menceritakan keindahan wanita tertentu di hadapan lelaki atau menceritakan perkara yang lelaki tidak boleh melihatnya dari seorang wanita (yang bukan mahramnya).
q    Penyerupaan dengan sesuatu tidaklah mengharuskan kesamaan dari semua sisi karena Nabi r berkata kepada Aisyah x: “Aku bagimu seperti Abu Zar’in bagi Ummu Zar’in”, yakni sama dalam hal cinta, kedekatan dan semisalnya. Bukan sama dalam hal kemegahan, punya anak, punya pembantu, dan sebagainya.
q    Bolehnya mengambil contoh dengan orang yang memiliki keutamaan dari setiap umat karena Ummu Zar’in menggambarkan bagaimana indahnya pergaulan Abu Zar’in terhadap dirinya. Maka Nabi r pun mengambil contoh dengannya.
q    Didapatkan dari hadits ini tentang keberadaan para wanita bila mereka ngobrol maka yang mendominasi obrolan mereka adalah cerita tentang lelaki. Beda halnya dengan lelaki karena yang mendominasi obrolan mereka adalah hal yang berkaitan dengan penghidupan dan mata pencaharian. (Fathul Bari 9/332-333)
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.


1 Orang-orang enggan membawa daging itu ke rumah mereka bahkan membiarkannya di tempatnya.
Wanita ini hendak menggambarkan sedikitnya kebaikan pada diri suaminya. Tubuhnya kurus dan lemah, juga memiliki akhlak yang buruk, sombong, takabbur, suka mengangkat dirinya lebih dari kadarnya.
2 Wanita ini mengisyaratkan banyaknya aib pada diri suaminya. Namun ia tidak ingin membahasnya karena jika dibicarakan akan panjang dan tidak akan ada selesainya.
3 Tihamah merupakan negeri yang panas, tidak ada angin dingin yang berhembus di sana. Pada malam harinya, deburan ombak lautnya begitu tenang, suhu udaranya sedang, sehingga malam di Tihamah menyenangkan bagi penduduknya karena dapat menghilangkan kelelahan yang mereka alami akibat teriknya panas di siang hari.
4 Wanita ini menggambarkan bagusnya pergaulan suaminya, pertengahan keadaannya dan selamat batinnya sehingga ia merasakan nikmatnya hidup di sisi suaminya tanpa ada kekhawatiran dan ketakutan.
5 Macan kumbang dikatakan sebagai hewan yang pemalu, sedikit kejahatannya dan banyak tidurnya. Sementara singa adalah hewan yang giat berburu.
6 Sifat yang disebutkan oleh si wanita tentang suaminya mengandung dua kemungkinan, bisa jadi pujian dan bisa jadi celaan.
Pujian dari sisi ia mensifati suaminya sebagai macan kumbang karena ketika masuk rumah mesti menerjangnya (menggaulinya), yang menunjukkan ia dicintai oleh si suami di mana suaminya mesti tidak sabar bila melihatnya, ataupun ia menutup mata dari kekurangan yang ada dalam rumahnya dan tidak pernah menghukumi istrinya karena kekurangan yang ada. Adapun di tengah manusia dia sigap dan pemberani seperti singa. Ia memberikan kepada keluarganya makanan, minuman dan pakaian, tanpa pernah bertanya tentang pemberiannya setelah itu. Ia selalu berlapang hati dan memaafkan kekurangan yang didapati dari istrinya.
Atau si wanita memaksudkan dengan ungkapannya tersebut untuk menggambarkan sifat jelek suaminya, di mana si suami tidak pernah melakukan ‘pendahuluan’ sebelum jima’ tapi langsung menerjang. Jelek akhlaknya, suka memukul istri dan tidak peduli dengan keadaan istri dan anak-anaknya.
7 Wanita ini mensifati suaminya dengan sifat yang tercela bagi seorang lelaki yaitu banyak makan dan minum, dan sedikit menggauli istri.
8 Maksudnya, bila aku membantahnya dalam satu perkara ia akan memukul kepalaku hingga luka atau tubuhku hingga berdarah atau ia lakukan kedua-duanya.
9 Wanita ini menggambarkan indahnya sifat suaminya, bagus akhlaknya, lembut budi pekertinya, selalu necis, bersih dan wangi.
10 Suaminya sangat dermawan, banyak tamu yang mendatanginya hingga ia sering menyembelih hewan dan memasaknya sebagai jamuan bagi tamu-tamunya. Karena seringnya memasak, banyak debu yang dihasilkan. Ia juga dermawan pada keluarganya.
11 Wanita ini menggambarkan suaminya sebagai seorang tokoh yang dermawan, berakhlak mulia dan baik pergaulannya dengan istri.
12 Karena kebanyakannya dipersiapkan untuk disembelih guna memuliakan tamu.
13 Yakni Abu Zar’in memenuhi kedua telinga Ummu Zar’in dengan berbagai jenis perhiasan dari emas, mutiara dan semisalnya.
14 Tidak butuh tempat yang besar.
15 Tidak banyak makan dan minumnya.
16 Dia seorang yang pembersih dan selalu membersihkan rumah majikannya tanpa membiarkan kotoran ada di dalamnya.
17 Sebagian ahlul ilmi mengatakan, makna dari lafadz ini adalah kedua pantat wanita itu besar sehingga bila ia berbaring terlentang di atas punggungnya, badan yang dekat dengan pantatnya terangkat, tidak menyentuh bumi hingga ada celah yang bisa dilewati buah delima.
18 Dia pergi berperang, pulang dengan membawa kemenangan dan ghanimah, hingga ia bisa mendatangkan hewan ternak yang banyak.
19 Dalam riwayat Muslim: “dari setiap yang disembelih”. Ummu Zar’in hendak menggambarkan banyaknya pemberian yang diberikan suaminya kepadanya hingga ketika memberi ia tidak hanya memberi satu.
20 Ummu Zar’in menggambarkan bagaimana ketokohan/ kepemimpinan suaminya, keberanian, keutamaan, kemurahan dan kedermawanannya. Namun di hati Ummu Zar’in, ia tetap tidak sebanding dengan Abu Zar’in. Karena Abu Zar’in adalah suaminya yang pertama hingga cintanya kepada Abu Zar’in tetap menetap di hatinya sebagaimana dikatakan:

“Tidaklah cinta itu kecuali untuk kekasih yang pertama.”
Catatan: Semua penjelasan makna hadits yang tercantum di atas dinukilkan secara ringkas dari Fathul Bari, 9/312-331 dan Syarhu Shahih Muslim 15/212-221
21 HR. Al-Bukhari no. 5189, kitab An-Nikah, bab Husnil Mu’asyarah ma’al Ahl dan Muslim no. 2448 kitab Fadha`ilus Shahabah, bab Dzikr Hadits Ummu Zar’in
22 Di selain Ash-Shahihain disebutkan Nabi r lah yang bercerita kepada Aisyah x, sehingga kisah ini marfu’ seluruhnya, lihat keterangan Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani t tentang hal ini dalam Fathul Bari, 9/310-311.
23 Dalam satu riwayat ada tambahan:

“….hanya saja Abu Zar’in akhirnya mentalak Ummu Zar’in sedangkan aku tidak akan mentalakmu.”
24 Dan ini yang dijadikan judul bab oleh Al-Imam Al-Bukhari t di mana beliau menempatkan hadits ini dalam Shahih-nya, pada kitab An-Nikah, bab “Baiknya pergaulan (suami) terhadap istrinya”

Asy Syaikh Albani Rahimahullah Membantah Para pelaku Jihad Palsu (Membantah Para Pelaku Penculikan dan Pengeboman Atas Nama Jihad)

Siapakah Asy-Syaikh Al-Albani t?
Al-’Allamah Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz t ditanya tentang hadits:

“Sesungguhnya Allah akan mengutus bagi umat ini di penghujung tiap seratus tahun, orang yang memperbaharui agama mereka.” (HR. Abu Dawud no. 4291, dan hadits ini shahih)
Beliau t ditanya: “Siapakah pembaharu di abad ini?”
Beliau t menjawab: “Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, dialah pembaharu abad ini menurut dugaan saya. Dan Allah I-lah yang lebih tahu.”
Al-’Allamah Asy-Syaikh Muham-mad bin Shalih Al-’Utsaimin t ditanya tentang orang yang menuduh Asy-Syaikh Al-Albani dengan tuduhan berpaham Murji’ah (satu aliran sesat yang menganggap dosa besar tidak berpengaruh negatif terhadap iman, -pent), maka beliau menjawab:
“Orang yang menuduh Al-Albani dengan tuduhan paham Murji’ah maka dia telah keliru. Mungkin karena dia tidak tahu siapa Al-Albani, atau dia tidak tahu apa itu Murji’ah.
Al-Albani adalah salah seorang dari Ahlus Sunnah –semoga Allah I memberinya rahmat–. Ia membela Ahlus Sunnah. Dia seorang imam dalam ilmu hadits, saya tidak tahu ada seorangpun yang dapat menan-dinginya di masa ini. Namun sebagian manusia –saya mohon keselamatan dari Allah I– menyimpan kedengkian dalam qalbunya bila melihat seseorang diterima (umat) maka ia mulai menyindirnya. Bagaikan orang-orang munafiq yang menyindir orang-orang yang bersedekah dari kaum mukminin, dan menyindir orang-orang yang tidak mendapatkan kecuali sesuatu yang sedikit dengan jerih payah mereka. Mereka menyindir orang yang bersedekah dalam jumlah banyak dan orang fakir yang bersedekah.
Al-Albani –semoga Allah I merahma-tinya–, aku mengenalinya dari buku-bukunya. Dan aku mengenalinya dengan bermajlis dengan beliau beberapa kali. Dia berakidah salaf, manhajnya bersih. Tapi sebagian orang hendak mengkafirkan hamba-hamba Allah I (umat) dengan sesuatu yang Allah I tidak kafirkan mereka dengannya, lalu menganggap –secara dusta, palsu dan kebohongan yang nyata– siapa saja yang menyelisihinya dalam cara pengkafiran seperti ini sebagai golongan Murji’ah. Oleh karenanya jangan kalian dengar ucapan itu, dari siapapun keluarnya.” (Diambil dari Fatawal ‘Ulama Al-Akabir, buah karya Abdul Malik Ramdhani)

Asy-Syaikh Al-Albani t Membantah Pelaku Jihad Palsu: Para Pelaku Penculikan dan Pengeboman
Atas dasar kejadian akhir-akhir ini berupa peledakan (bom) di negeri-negeri Islam, kami mengemukakan pandangan dari Asy-Syaikh Al-Albani tentang masalah ini, dalam rangka menjelaskan hukum syar’i yang benar, yang berdasarkan ilmu yang kokoh, untuk menerangi jalan di depan orang yang mempunyai syubhat (kerancuan) dan kesamaran seputar masalah hukum-hukum jihad, dan sebagai bantahan kepada orang yang menisbatkan/ mengatasnamakan perbuatan yang salah itu kepada manhaj Salafush Shalih.
Yang mulia Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani t –seorang Muhaddits (ahli hadits) negeri-negeri Islam dan seorang yang sangat alim pada masa ini– ditanya pada tanggal 29 Jumadal Ula 1416 H yang bertepatan dengan tanggal 23 Oktober 1995.
(Sumber: Kaset dengan judul ‘Di antara Manhaj Khawarij’)

Pertanyaan:
Pada akhir-akhir ini, wahai Syaikh!! Terutama berbagai bencana dan fitnah yang terjadi, yang kini dengan cara peledakan-peledakan yang merenggut nyawa puluhan manusia, kebanyakan mereka dari orang-orang yang tidak berdosa, dan di antara mereka adalah para wanita, anak-anak dan orang-orang seperti yang engkau ketahui. Dan ketika kami mendengar sebagian manusia yang terpandang, mereka mencela diamnya sebagian ulama dan pemberi fatwa dari para Syaikh yang besar, dan tidak adanya pengingkaran atas perbuatan semacam ini yang tentunya tidak Islami. Dan kami beritahukan kepada orang-orang tersebut tentang pendapat para ulama dan pendapat Anda dalam masalah ini, mereka menolaknya dengan kebodohan terhadap perkataan ulama atau perkataan Anda, dan dengan alasan tidak adanya kaset-kaset yang tersebar untuk menjelaskan kebenaran di dalam masalah ini. Oleh karena itu kami lontarkan sebuah pertanyaan dengan susunan yang tegas sehingga manusia mengetahui pandangan Anda dan pendapat orang yang Anda nukilkan darinya. Maka terangkanlah kebenaran di dalam perkara ini supaya kebenaran ini diketahui oleh setiap muslim, barangkali Asy-Syaikh telah mendengar apa yang terjadi sekarang, ataukah kami akan menjelaskan sebagian dari apa yang terjadi?

Jawaban Asy-Syaikh Al-Albani t:
(Yang pertama: Mukadimah; Penjelasan Asy-Syaikh bahwa perbuatan ini merupakan kejahatan yang tidak disyariatkan dan dilakukan di atas kebodohan, hawa nafsu dan prinsip-prinsip yang rusak)
“Sesungguhnya segala puji milik Allah kami memuji-Nya, meminta pertolongan-Nya, meminta ampunan-Nya dan kami berlindung kepada Allah dari kejelekan jiwa-jiwa kami dan dari keburukan amal-amal kami. Barangsiapa yang Allah beri hidayah kepadanya maka tidak ada yang bisa menyesatkannya. Dan barangsiapa yang Allah sesatkan maka tidak ada yang mem-berinya hidayah. Dan aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah saja yang tidak ada sekutu bagi-Nya dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (Ali ‘Imran: 102)

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan darinya Allah menciptakan isterinya; dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (An-Nisa: 1)

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar. Niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (Al-Ahzab: 70-71)
Amma ba’du,
Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kalamullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad n. Adapun sejelek-jelek perkara adalah perkara yang baru (di dalam perkara agama, pent.), dan setiap perkara yang baru adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat, dan kesesatan kem-balinya ke neraka.
Engkau, –semoga Allah I membalasmu dengan kebaikan– telah mengisyaratkan bahwa kami telah berbicara dalam masalah ini. Dan engkau telah menyebutkan bahwa mereka menolak dengan kebodohan tanpa ilmu. Apabila suatu penjelasan berasal dari orang yang diperkirakan mempunyai ilmu, kemudian dihadapi oleh orang yang tidak berilmu dengan membantahnya dan menolaknya, maka apa faedahnya membicarakan masalah ini?
Namun kami akan menjawab untuk orang yang mempunyai syubhat (yaitu dengan menganggap perbuatan yang mereka lakukan ini merupakan sesuatu yang boleh menurut syariat) dan bukanlah untuk memuaskan pengikut hawa nafsu dan orang yang bodoh. Akan tetapi untuk memuaskan orang yang ragu untuk menerima bahwa perbuatan yang dilakukan oleh orang-orang yang melampaui batas tersebut merupakan perkara yang tidak disyariatkan.
Sebelum masuk pada perincian, sudah seharusnya bagiku untuk mengingatkan –dan peringatan itu bermanfaat bagi kaum muslimin– tentang perkataan ulama:

“Perkara yang dibangun di atas sesuatu yang rusak maka perkara itu juga rusak.”
Sebagai permisalan, shalat yang tidak dibangun di atas thaharah (kesucian), maka itu bukanlah shalat. Kenapa? Karena tidak tegak di atas azas syarat yang telah disebutkan oleh Peletak syariat yang bijaksana, pada semisal sabda Rasulullah n:

“Tidak ada shalat bagi orang yang tidak berwudhu.”1
Bagaimanapun seseorang yang shalat tanpa berwudhu, maka shalat yang dibangun di atas sesuatu yang rusak itu juga rusak. Dan contoh-contoh semacam ini di dalam  syariat banyak dan banyak sekali.”
(Yang kedua: Penjelasan Asy-Syaikh tentang haramnya memberontak kepada penguasa yang muslim dengan anggapan kafirnya mereka)
“Maka kami selalu mengingatkan bahwa memberontak kepada para penguasa –walaupun mereka telah dipastikan kekafirannya– tidak secara mutlak disyariatkan. Karena jika memang pemberontakan mesti dilakukan, tetap harus sesuai syariat. Seperti shalat yang baru saja kami katakan seharusnya dilakukan di atas thaharah yaitu wudhu. Dan kami berhujjah pada masalah seperti ini dengan semisal firman Allah I:

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.” (Al-Ahzab: 21)
(Yang ketiga: Asy-Syaikh mencoba ‘mengalah’ dengan anggapan para penentang, lalu beliau membantah mereka)
“Sesungguhnya kondisi yang dialami oleh kaum muslimin sekarang ini di bawah hukum sebagian penguasa –anggaplah mereka atau kekafiran mereka merupakan kekafiran yang jelas dan gamblang seperti kekafiran kaum musyrikin–, apabila kita anggap seperti ini. Maka kami katakan sesungguhnya keadaan di mana kaum muslimin hidup sebagai rakyat dalam naungan para penguasa tersebut –dan anggap kita katakan mereka kafir dalam rangka mengikuti alur Jamaatut Takfir secara lafadz bukan secara makna, karena kami dalam masalah tersebut mempunyai perincian yang sangat diketahui–, maka kami katakan bahwa sesungguhnya kehidupan yang dijalani kaum muslimin sekarang di bawah hukum para penguasa tersebut tidaklah terlepas dari kehidupan yang dijalani oleh Rasulullah n dan para shahabatnya yang mulia pada masa yang dikenal dalam istilah para ulama dengan periode Makkah.
Sungguh Rasulullah n hidup di bawah hukum thaghut yang kafir, musyrik, dan yang menolak dengan tegas untuk menyambut dakwah Rasulullah agar mereka mengatakan kalimatul haq –Laa ilaaha illallah– sampai-sampai paman beliau Abu Thalib di akhir kehidupannya berkata kepada Rasulullah n: “Seandainya aku tidak khawatir dicerca kaumku, benar-benar aku akan menyejukkan pandanganmu (yakni akan masuk Islam).”
Mereka, orang-orang kafir yang menampakkan kekafirannya yang menentang dakwah Nabi mereka, yang Rasulullah n hidup di bawah hukum dan aturan mereka, beliau tidak mengatakan kepada mereka kecuali “Sembahlah Allah saja yang tidak ada sekutu baginya.”
Kemudian datang periode Madinah, lalu hukum syariat turun secara berturut-turut dan dimulailah peperangan antara kaum muslimin dan musyrikin sebagaimana telah diketahui dari sirah/ sejarah nabi.
Adapun dalam periode pertama –periode Makkah– tidak ada pemberontakan sebagaimana yang sekarang dilakukan oleh banyak kaum muslimin pada sejumlah negeri Islam. Maka pemberontakan ini tidaklah di atas petunjuk Rasul yang kita diperintahkan untuk meneladaninya, lebih khusus pada ayat:

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.” (Al-Ahzab: 21)
(Yang keempat: Asy-Syaikh menguatkan dengan kejadian-kejadian masa kini dan menetapkan hukum syar’i yang benar)
“Sekarang sebagaimana kita dengar di Aljazair, di sana ada dua kelompok, dan saya memanfaatkannya sebagai kesempatan, jika engkau atau salah satu hadirin mengetahui dengan jelas jawaban dari soal berikut:
Saya katakan: Saya mendengar dan membaca, di sana ada dua kelompok kaum muslimin yang memusuhi penguasa di sana. Satu kelompok misalnya “Jabhatul Inqaadz (FIS)”, dan saya kira di sana ada juga Jamaatut Takfir.”
Maka dikatakan kepada Asy-Syaikh: “Jaisyul Inqaadz inilah yang bersenjata bukannya Jabhatul (Inqaadz).”
Asy-Syaikh berkata: “Akan tetapi bukankah ada kaitan dengan Jabhatul (Inqaadz)?”
Dikatakan kepada Asy-Syaikh: “Ia terpisah darinya, yaitu sebuah kelompok garis keras.”
Asy-Syaikh berkata: “Kalau begitu ini musibah yang lebih besar! Saya ingin mengklarifikasi tentang keberadaan lebih dari satu jamaah Islam dan masing-masing mem-punyai jalan dan manhaj dalam memberontak kepada penguasa. Coba kamu bayangkan, seandainya penguasa ini telah dikalahkan, dan salah satu kelompok dari kelompok-kelompok yang mengumumkan keislamannya dan peperangannya terhadap penguasa yang kafir –menurut anggapan mereka– berhasil menang. Apakah dua kelompok yang ada ini akan bersepakat –lebih-lebih apabila ada kelompok lain– dan mereka akan menegakkan hukum Islam yang mereka berperang atas namanya? Namun yang akan terjadi justru perselisihan di antara mereka.
Sebagai penguat, sekarang apa yang ada di Afghanistan. Di mana perang tersebut diproklamirkan di atas jalan Islam dan untuk memerangi komunisme!! Maka hampir-hampir mereka tidak menghabisi komunisme –sementara kelompok-kelompok ini dahulu ada di tengah-tengah peperangan– tiba-tiba sebagian mereka berbalik menjadi musuh atas sebagian yang lain.
Oleh karena itu, barangsiapa yang menyelisihi petunjuk Rasulullah n maka niscaya akan merugi. Dengan demikian, petunjuk Nabi n tentang penegakan hukum Islam dan pendirian negara Islam yang benar untuk menegakkan hukum Islam di negara tersebut, hanyalah bisa terwujud dengan dakwah.”
(Yang kelima: Asy-Syaikh menje-laskan tentang jalan yang benar untuk memperbaiki negara-negara Islam)
“Oleh karena itu, barangsiapa  menyelisihi petunjuk Rasulullah n niscaya  akan merugi pada akhirnya. Dengan demikian, petunjuk Nabi n tentang penegakan hukum Islam dan pendirian negara Islam yang benar untuk menegakkan hukum Islam di negara tersebut hanyalah bisa terwujud dengan dakwah. Yang pertama, dakwah tauhid dan membimbing kaum muslimin dengan didasari Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Dan ketika kami isyaratkan prinsip yang penting ini dengan dua kalimat ringkas, yaitu harus dengan tashfiyah (pembersihan) dan tarbiyah (pendidikan). Dan tentu, tidaklah kami maksudkan dengan keduanya bahwasanya supaya berjuta-juta kaum muslimin itu menjadi umat yang satu. Hanyalah yang kami maksudkan: Bahwa barangsiapa ingin mengamalkan Islam dengan sebenar-benarnya, dan ingin membuat sarana-sarana yang akan membuka jalan baginya dalam menegakkan hukum Allah I di muka bumi ini, maka dia harus mencontoh Rasulullah n, baik dalam hukum maupun cara penegakannya.
Dengan ini kami katakan: Bahwasanya apa yang terjadi di Aljazair atau di Mesir adalah menyelisihi Islam. Karena Islam memerintahkan untuk melakukan tashfiyah dan tarbiyah. Saya katakan: tashfiyah dan tarbiyah, berdasarkan alasan yang telah diketahui oleh ulama.
Dan sekarang kita berada di abad yang kelimabelas (hijriyah). Kita mewarisi agama Islam ini sesuai dengan apa yang datang kepada kita setelah berabad-abad lamanya. Kita tidak mewarisi Islam sebagaimana Allah I turunkan pada qalbu Nabi n. Dan oleh karena itu, Islam yang membuahkan hasil pada generasi awal adalah Islam yang akan menghasilkan buahnya di generasi akhir. Sebagaimana sabda Rasulullah n:

“Umatku laksana hujan, tidak diketahui kebaikan berada pada awal atau akhirnya.”2
Apabila umat Islam menginginkan kehidupannya penuh dengan kebaikan seperti yang diisyaratkan oleh Rasulullah n pada hadits ini dan hadits lain yang lebih terkenal, yaitu sabda beliau:

“Senantiasa akan ada sekelompok dari umatku yang berada di atas kebenaran, tidak memadharatkan mereka orang yang menyelisihi mereka sampai datang keputusan Allah.”3
Saya katakan (lagi): Kami tidak maksudkan dengan dua kalimat ini (tashfiyah dan tarbiyah) bahwa jutaan dari kaum muslimin sudah harus menerapkan Islam secara murni dan mendidik diri-diri mereka di atas Islam yang murni ini. Namun kami maksudkan, bagi mereka yang menginginkan kebenaran hendaknya mereka mendahulukan pendidikan pada diri-diri mereka. Kemudian dilanjutkan dengan pendidikan bagi mereka yang di bawah kekuasaannya. Dan seterusnya…, dan seterusnya…, sehingga sampailah perkara ini (tashfiyah dan tarbiyah) kepada penguasa, yang tidak mungkin meluruskan, memperbaiki, atau menurunkannya kecuali dengan urutan/ tahapan yang syar’i dan rasional ini.
(Yang keenam: Penjelasan Asy-Syaikh tentang tercelanya perpecahan, pertentangan dan perbedaan serta penjelasan tentang rusaknya aksi memberontak dan peledakan, dan bahwa hal tersebut menyelisihi tujuan dan cara-cara syar’i)
“Dengan ini kami mengatakan bahwasanya tindakan-tindakan pemberon-takan dan kudeta yang dilakukan, sampai pun jihad di Afghanistan, kami tidak mendukung hal tersebut, atau pesimis terhadap hasil akhirnya ketika kami mendapatkan mereka terpecah menjadi lima kelompok, dan sekarang yang berkuasa dan yang menentangnya adalah orang-orang sufi sebagaimana diketahui.
Maksudnya, bahwasanya sebagian dalil-dalil Al-Qur’an menunjukkan perpecahan adalah kelemahan, yang Allah I menyebut-kan di antara sebab-sebab pembunuhan adalah pertentangan dan perselisihan.

“Dan janganlah kalian termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (Ar-Rum: 31-32)
Oleh karena itu apabila kaum muslimin terpecah menjadi kelompok-kelompok, tidak mungkin mereka menang. Karena perpecahan ini hanyalah tanda kelemahan bagi mereka.
Oleh karena itu wajib bagi Ath-Thaifah Al-Manshurah (golongan yang tertolong) yang ingin menegakkan negara Islam dengan benar, hendaknya mereka mewujudkan sebuah kalimat yang saya anggap sebagai kata hikmah di masa ini dari salah seorang da’i yang telah mengucapkannya, namun para pengikutnya tidak mengikuti dia. Yaitu perkataannya: “Dirikanlah negara Islam pada qalbu kalian, niscaya akan ditegakkan negara Islam di bumi kalian.”
Maka kami sekarang menyaksikan bahwasanya… –saya tidak mengatakan (anggota) kelompok-kelompok yang mela-kukan pemberontakan-pemberontakan ini–, bahkan saya bisa katakan bahwasanya kebanyakan pemimpin dari kelompok-kelompok ini, mereka tidaklah menerapkan ucapan hikmah ini; yang bermakna apa yang kita katakan dengan dua kata: tashfiyah dan tarbiyah. Sebagian mereka tidak melaksa-nakan tashfiyah (pembersihan) Islam dari hal-hal (di luar Islam) yang masuk dalam (ajaran) Islam yang tidak boleh dijadikan sandaran baik perkara aqidah, ibadah, atau akhlak. Mereka tidak menerapkan tashfiyah pada diri-diri mereka, terlebih lagi untuk merealisasikan tarbiyah pada kerabat mereka.
Maka darimana mereka akan mewujudkan tashfiyah dan tarbiyah pada kelompok yang mereka pimpin dan bersama mereka memberontak terhadap pemerintah?! Saya katakan, apabila kita mengetahui secara rinci kalimat itu (Apa-apa yang dibangun di atas sesuatu yang rusak maka hal tersebut adalah rusak), maka jawaban kita sangat jelas: bahwasanya apa yang terjadi di Aljazair dan Mesir serta yang lainnya adalah bukan saatnya, ini yang pertama; dan menyelisihi syariat Islam, baik tujuan maupun cara mereka, ini yang kedua. Namun harus ada perincian pada pertanyaan tersebut.”
(Yang ketujuh: Ucapan terakhir dari Asy-Syaikh dalam menjelaskan hukum jihad yang benar)
“Kami mengetahui bahwasanya Allah I –dengan keadilan dan hikmah-Nya– telah melarang pasukan muslimin terdahulu untuk menyerang kaum wanita. Maka Allah I melarang membunuh para wanita dan anak-anak, bahkan melarang membunuh para pendeta yang sedang berkonsentrasi untuk beribadah pada tuhan-tuhan mereka –seperti yang mereka sangka– padahal mereka di atas kesyirikan dan kesesatan. Allah Yang Maha Bijaksana melarang para pemimpin kaum muslimin untuk mengarahkan serangan kepada mereka. Hal tersebut dalam rangka merealisasikan prinsip dari prinsip-prinsip Islam yang ada, yaitu firman Allah I dalam Al-Qur’an:

“Ataukah belum diberitakan kepadanya apa yang ada pada lembaran-lembaran Musa? Dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji ? (Yaitu) bahwasanya orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang diusahakannya.” (An-Najm: 36-39)
Sehingga membunuh anak-anak tersebut, para wanita dan laki-laki yang tidak berperang di antara kedua belah pihak, dilarang oleh Islam. Dan sesungguhnya telah ada di sebagian hadits-hadits: “Bahwasanya Nabi n melihat manusia sedang mengerumuni sesuatu. Kemudian beliau bertanya, maka mereka menjawab: ‘Dia adalah seorang wanita yang terbunuh.’ Maka Nabi n bersabda:

“Tidaklah sepantasnya wanita itu ikut berperang.”
Dan dari sini kita bisa mengambil dua hukum yang saling berhadapan: Yang pertama; telah lewat penjelasannya, yaitu tidak boleh membunuh wanita dalam peperangan karena wanita tidak boleh berperang. Namun hukum yang kedua; yaitu apabila kita mendapatkan sebagian wanita ikut berperang di pasukan musuh, maka pada saat itu boleh bagi kaum muslimin untuk memerangi atau membunuh wanita tersebut yang telah ikut serta bersama para laki-laki dalam berperang.
Apabila pertanyaannya sekarang adalah ketika mereka menjebak –sebagaimana kata mereka– beberapa kendaraan, kemudian meledakkannya maka pecahan-pecahan ini akan menimpa kepada orang yang sama sekali tidak bersalah secara hukum syar’i. Maka yang demikian ini bukanlah merupakan ajaran Islam sama sekali. Akan tetapi kita katakan: Ini baru merupakan bagian kecil dari sesuatu yang besar. Yang paling berbahaya adalah pemberontakan ini, yang telah berlangsung beberapa tahun, dan tidaklah bertambah perkaranya kecuali kejelekan. Oleh karena itu kami katakan: Hanyalah amalan-amalan itu tergantung pada penutupnya, dan penutup dari suatu amalan tidak akan baik kecuali apabila ditegakkan di atas Islam, dan segala sesuatu yang di bangun di atas sesuatu yang menyelisihi Islam maka tentu tidak akan membuahkan kecuali kehancuran dan kebinasaan.” [Sumber: www.alalbany.net]

Hukum Membunuh Turis Kafir
Dalam ceramah yang lain, Asy-Syaikh Al-Albani t berkata: “Apabila seorang kafir –sebagaimana dalam pertanyaan– dari kalangan turis/pelancong mereka tidaklah masuk ke negeri kita yang Islam kecuali dengan seijin pemerintah yang muslim. Oleh karena itu tidak boleh untuk berbuat jahat terhadap mereka karena mereka statusnya adalah mu’ahad4. Kemudian seandainya terjadi –dan sudah terjadi bukan hanya sekali– seorang muslim berbuat jahat kepada mereka maka akibatnya dia (si muslim ini) akan dibunuh atau bahkan juga yang lain atau akan dipenjara atau… atau… Maka tidak dihasilkan faidah Islami dari kejahatan terhadap darah turis ini di negeri muslim. Bahkan menyelisihi hadits yang tadi disebutkan:

“Barangsiapa membunuh seorang mu’ahad di selain waktunya (yakni dalam jaminan keamanannya), maka dia tidak akan mencium bau surga… (sampai akhir hadits).”
Demikianlah fatwa Asy-Syaikh Al-Albani t yang bisa kami nukilkan, semoga dapat mengobati kerinduan kita kepada kebenaran.
Wallahu a’lam.


1 Shahih, HR. Ahmad, Abu Dawud, Al-Baihaqi dan Al-Hakim dari Abu Hurairah z. (Shahihul Jami’ no. 7514, lihat pula Al-Irwa’ no. 81 dan Al-Misykat no. 404)

2 Shahih, HR. At-Tirmidzi dan Ahmad. Asy-Syaikh Al-Albani mengatakan: Hasan Shahih. (Shahih Sunan At-Tirmidzi, no. 2869)

3 Shahih, HR. Al-Bukhari dan Muslim

4  Mu’ahad adalah orang yang dijamin keamanannya oleh pemerintah muslim.

5 Asy-Syaikh membaca  , tapi dalam Sunan Abu Dawud (no. 2760) dan Sunan An-Nasa‘i (no. 4761) dengan lafadz . Barangkali Asy-Syaikh keliru melafadzkan hadits tersebut. Hadits ini sendiri dishahihkan oleh beliau dalam Shahih Sunan Abu Dawud.

Penentuan Awal Ramadhan dan ‘Ied

Penentuan awal Ramadhan dan 1 Syawal  selalu menjadi topik hangat yang dibicarakan kalangan masyarakat kita. Karena dari sini acap muncul perdebatan sengit di antara sebagian kaum muslimin. Penjelasan Asy-Syaikh Al-Albani t tentang hal tersebut berikut ini, insya Allah I akan menambah ilmu dan wawasan kita.
“Puasa adalah hari ketika manusia berpuasa, dan berbuka (yakni Iedul Fithri) adalah hari ketika manusia berbuka, dan Iedul Adh-ha adalah hari ketika manusia menyembelih (hewan kurban).”
Asy-Syaikh Al-Albani t berkata setelah menyebutkan takhrij hadits ini dalam Ash-Shahihah (no. hadits 224):
At-Tirmidzi t berkata mengomentari hadits ini: “Sebagian ahli ilmu menafsirkan hadits ini dengan mengatakan: Tidak lain makna hadits ini adalah bahwa puasa dan berbuka (yakni Iedul Fithri) bersama jamaah dan kebanyakan manusia.”
Ash-Shan’ani t berkata dalam Subulus Salam (2/72): “Dalam hadits ini terdapat dalil bahwa yang teranggap sebagai waktu Ied adalah kesepakatan manusia. Dan orang yang sendirian mengetahui masuknya Ied dengan ru`yah maka wajib baginya menyesuaikan dengan yang lain dan harus mengikuti ketentuan mereka dalam masalah shalat, berbuka (yakni Iedul Fithri), dan melaksanakan penyembelihan (hewan kurban).”
Ibnul Qayyim t juga menyebutkan makna hadits ini dalam Tahdzib As-Sunan (3/214), beliau berkata: “Dan (di antara makna hadits ini) disebutkan: Dalam hadits ini terdapat bantahan terhadap orang yang berpendapat bahwa barangsiapa yang mengetahui munculnya bulan (yakni hilal) melalui hisab tempat-tempat bulan maka boleh baginya untuk berpuasa dan berbuka (yakni masuk Iedul Fithri), tidak bersama-sama dengan orang yang tidak menge-tahuinya. Dikatakan juga (di antara makna hadits ini): Bahwa orang yang sendirian menyaksikan munculnya hilal namun hakim tidak menganggap persaksiannya, maka penglihatannya terhadap hilal itu tidaklah menjadikan dia berpuasa, sebagaimana juga tidak menyebabkan manusia (yang lain) untuk berpuasa.”
Abul Hasan As-Sindi, dalam Hasyiyah beliau terhadap Sunan Ibnu Majah, berkata setelah menyebutkan hadits Abu Hurairah z yang diriwayatkan At-Tirmidzi ini: “Yang nampak, maknanya adalah bahwa tidak boleh bagi pribadi-pribadi untuk masuk dan menyendiri dalam perkara-perkara ini (yakni mulai berpuasa, masuk Iedul Fithri, dan Iedul Adh-ha). Bahkan perkara ini dikembalikan kepada pemerintah (penguasa) dan jamaah. Dan setiap pribadi wajib mengikuti pemerintah dan jamaah. Atas dasar ini, bila ada seseorang yang melihat hilal namun persaksiannya ditolak penguasa, orang tersebut tidak sepantasnya menetapkan (sendiri) perkara-perkara ini (yakni mulai berpuasa, masuk Iedul Fithri, dan Iedul Adh-ha) sedikitpun. Dan orang tersebut wajib mengikuti jamaah dalam hal ini.”
Saya (Asy-Syaikh Al-Albani t) katakan: “Dan ini adalah makna yang secara langsung dipahami dari hadits tersebut. Hal ini diperkuat dengan perbuatan Aisyah x yang berhujjah dengan hadits ini terhadap perbuatan Masruq yang meninggalkan berpuasa hari Arafah karena khawatir bahwa hari itu adalah hari Iedul Adh-ha. Maka ‘Aisyah x menjelaskan kepada Masruq bahwa ru`yahnya (persaksiannya terhadap hilal) tidaklah teranggap dan dia wajib mengikuti jamaah. ‘Aisyah x berkata:

“An-Nahr (yakni Iedul Adh-ha) adalah hari ketika manusia menyembelih (hewan kurban), dan berbuka (yakni Iedul Fithri) adalah hari ketika manusia berbuka.”
Saya (Asy-Syaikh Al-Albani t)) katakan: “Dan inilah hal yang sesuai dengan syariat (Islam) yang mudah ini, yang di antara tujuannya adalah mengumpulkan manusia dan menyatukan barisan mereka serta menjauhkannya dari setiap pendapat pribadi yang menyebabkan terpecahnya persatuan mereka. Syariat ini tidak menganggap sah pendapat pribadi –meskipun itu benar menurut sisi pandangnya– dalam ibadah jama’i (yang dilakukan bersama-sama) seperti puasa, hari-hari raya, dan shalat jamaah.
Tidakkah engkau lihat para shahabat g, sebagian mereka tetap shalat di belakang sebagian yang lain? Padahal di antara mereka ada yang berpendapat bahwa menyentuh wanita, menyentuh kemaluan, dan keluarnya darah merupakan pembatal wudhu, sedang-kan sebagian yang lain tidak berpendapat seperti itu. Juga di antara mereka ada yang tetap shalat secara sempurna (tidak qashar) ketika safar, namun ada pula yang shalat secara qashar. Perbedaan pendapat di kalangan mereka ini tidaklah menghalangi mereka untuk bersatu dalam shalat di belakang satu imam, dan mereka mengang-gap shalat tersebut sah. Hal itu karena didasari pengetahuan mereka bahwa berpecah-belah dalam agama lebih buruk daripada perbedaan dalam sebagian pendapat.
Sampai-sampai sebagian shahabat -dalam masalah tidak menganggap sah pendapat yang menyelisihi pendapat penguasa dalam perkumpulan terbesar seperti di Mina– secara mutlak tidak mengamalkan pendapat pribadi mereka dalam perkumpulan itu, untuk menghindari terjadinya suatu kejelekan karena mengamalkan pendapat pribadi mereka.
Al-Imam Abu Dawud t meriwayatkan (1/307) bahwa ‘Utsman z shalat di Mina empat rakaat. Lalu Abdullah bin Mas’ud z berkata: “Aku shalat bersama Nabi n dua rakaat, dan bersama Abu Bakr juga dua rakaat, demikian pula bersama ‘Umar dua rakaat, juga bersama ‘Utsman di awal kepemimpinannya. Namun setelah itu ‘Utsman menyempurnakan shalatnya (yakni shalat empat rakaat). Kemudian jalan menjadi terpecah belah bagi kalian. Aku sangat berharap bahwa aku mempunyai dua rakaat yang diterima (oleh Allah I) daripada empat rakaat.” Namun setelah itu Ibnu Mas’ud shalat empat rakaat! Maka dikatakan kepadanya: “Engkau menyalahkan ‘Utsman, tapi engkau tetap shalat empat rakaat?” Ibnu Mas’ud menjawab: “Perselisihan itu jelek.” Dan sanad kisah ini shahih.
Al-Imam Ahmad t juga meriwayatkan (5/155) yang seperti itu dari Abu Dzar, semoga Allah I meridhai mereka semua.
Hendaknya hadits ini dan juga atsar di atas, diperhatikan oleh orang-orang yang senantiasa berpecah dalam shalat mereka dan tidak mau mengikuti sebagian imam masjid. Lebih khusus lagi dalam shalat witir ketika Ramadhan, dengan alasan bahwa imam-imam itu menyelisihi madzhab mereka!
Juga hendaknya diperhatikan oleh orang-orang yang mengaku mengetahui ilmu falak yang kemudian berpuasa sendirian dan berbuka (yakni masuk Iedul Fithri) sendirian pula, baik mendahului atau terlambat dari jamaah kaum muslimin, dengan menganggap sah pendapatnya dan ilmunya, tanpa memperhatikan bahwa dia telah keluar (memisahkan diri) dari jamaah kaum muslimin.
Hendaknya mereka memperhatikan ilmu yang telah kita sebutkan ini, agar mereka mendapatkan obat dari kejahilan dan ketertipuan yang ada pada diri mereka. Sehingga mereka menjadi satu barisan bersama kaum muslimin, saudara-saudara mereka. Karena sesungguhnya tangan Allah I di atas jamaah.
(Diambil dari Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah jilid 1 juz 1 no. 224, hal. 443-445)

Alkohol dalam Obat dan Parfum

Banyak pertanyaan seputar alkohol yang masuk ke meja redaksi, kaitannya dengan obat, kosmetika, atau pun lainnya. Berikut ini penjelasan Al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad Al-Makassari.

Alhamdulillah, para ulama besar abad ini telah berbicara tentang permasalahan alkohol1, maka di sini kita nukilkan fatwa-fatwa mereka sebagai jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan.
Terdapat perbedaan ijtihad di antara mereka dalam memandang permasalahan ini. Asy-Syaikh Ibnu Baz t berpendapat bahwa sesuatu yang telah bercampur dengan alkohol tidak boleh dimanfaatkan, meskipun kadar alkoholnya rendah, dalam arti tidak mengubahnya menjadi sesuatu yang memabukkan. Karena hal ini tetap masuk dalam hadits

“Sesuatu yang banyaknya memabukkan, maka sedikitnyapun haram.”2
Ketika beliau ditanya tentang obat-obatan yang sebagiannya mengandung bahan pembius dan sebagian lainnya mengandung alkohol, dengan perbandingan kadar campuran yang beraneka ragam, maka beliau menjawab: “Obat-obatan yang memberi rasa lega dan mengurangi rasa sakit penderita, tidak mengapa digunakan sebelum dan sesudah operasi. Kecuali jika diketahui bahwa obat-obatan tersebut dari “Sesuatu yang banyaknya memabukkan” maka tidak boleh digunakan berdasarkan sabda Nabi r :

“Sesuatu yang banyaknya memabukkan, maka sedikitnyapun haram.”
Adapun jika obat-obatan itu tidak memabukkan dan banyaknya pun tidak memabukkan, hanya saja berefek membius (menghilangkan rasa) untuk mengurangi beban rasa sakit penderita maka yang seperti ini tidak mengapa.”(Majmu’ Fatawa, 6/18)
Juga ketika beliau ditanya tentang parfum yang disebut  (cologne), beliau berkata: “Parfum  (cologne) yang mengandung alkohol tidak boleh (haram) untuk digunakan. Karena telah tetap (jelas) di sisi kami berdasarkan keterangan para dokter yang ahli di bidang ini bahwa parfum jenis tersebut memabukkan karena mengandung “spiritus” yang dikenal. Oleh sebab itu, haram bagi kaum lelaki dan wanita untuk menggunakan parfum jenis tersebut…
Kalau ada parfum jenis cologne yang tidak memabukkan maka tidak haram menggunakannya. Karena hukum itu berputar sesuai dengan ‘illah-nya3, ada atau tidaknya ‘illah tersebut (kalau ‘illah itu ada pada suatu perkara maka perkara itu memiliki hukum tersebut, kalau tidak ada maka hukum itu tidak berlaku padanya).” (Majmu’ Fatawa , 6/396 dan 10/38-39)
Dan yang lebih jelas lagi adalah jawaban beliau pada Majmu’ Fatawa (5/382, dan 10/41) beliau berkata: ”Pada asalnya segala jenis parfum dan minyak wangi yang beredar di khalayak manusia hukumnya halal. Kecuali yang diketahui mengandung sesuatu yang merupakan penghalang untuk mengguna-kannya, karena ‘sesuatu’ itu memabukkan atau banyaknya memabukkan atau karena ‘sesuatu’ itu adalah najis, dan yang sema-camnya…
Jadi, jika seseorang mengetahui ada parfum yang mengandung ‘sesuatu’ berupa bahan memabukkan atau benda najis yang menjadi peng-halang untuk menggunakannya, maka diapun meninggalkannya (tidak menggu-nakanya) seperti cologne. Karena telah tetap (jelas) di sisi  kami berdasarkan persaksian para dokter (yang ahli di bidang ini) bahwa parfum ini tidak terbebas dari bahan memabukkan karena mengandung ‘spiritus’ berkadar tinggi, yang merupakan bahan memabukkan, sehingga wajib untuk ditinggalkan (tidak digunakan). Kecuali jika ditemukan ada parfum jenis ini yang terbebas dari bahan memabukkan (maka tentunya tidak mengapa untuk digunakan). Dan jenis-jenis parfum yang lain sebagai gantinya, sekian banyak yang dihalalkan oleh Allah I, walhamdulillah.
Demikian pula halnya, segala macam minuman dan makanan yang mengandung bahan memabukkan, wajib untuk diting-galkan. Kaidahnya adalah: “Sesuatu yang banyaknya memabukkan maka sedikitnya pun haram”, sebagaimana sabda Rasulullah n:

“Sesuatu yang banyaknya memabukkan, maka sedikitnyapun haram.”
Dan hanya Allah I lah yang memberi taufik.”
Demikian pula yang terpahami dari fatwa  guru kami Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i t (dalam Ijabatus Sa`il hal. 697) bahwa pendapat beliau sama dengan pendapat gurunya yaitu Asy-Syaikh Ibnu Baz t ketika ditanya tentang cologne. Beliau menjawab (tanpa rincian) bahwa tidak boleh meng-gunakannya dan tidak boleh mem-perjualbelikannya, berdasarkan hadits Anas bin Malik z:

“Rasulullah n melaknat 10 jenis orang karena khamr: yang memprosesnya (membuatnya), yang minta dibuatkan, yang meminumnya, yang membawanya, yang dibawakan untuknya, yang menghidang-kannya, yang menjualnya, yang makan (menikmati) harga penjualannya, yang membelinya dan yang dibelikan untuknya.”4
Sementara itu, Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin t dan Asy-Syaikh Al-Albani t berpendapat bahwa pada permasa-lahan ini ada rincian, sebagaimana yang akan kita simak dengan jelas dari fatwa keduanya.
Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin t dalam Asy-Syarhul Mumti’ (6/178) cetakan Darul Atsar, berkata: “Bagaimana menurut kalian tentang sebagian obat-obatan yang ada pada masa ini yang mengandung alkohol, terkadang digunakan pada kondisi darurat?
Kami nyatakan: Menurut kami, obat-obatan ini tidak memabukkan seperti mabuk yang diakibatkan oleh khamr, melainkan hanya berefek mengurangi kesadaran penderita dan mengurangi rasa sakitnya. Jadi ini mirip dengan obat bius yang berefek menghilangkan rasa sakit (sehingga penderita tidak merasakan sakit sama sekali) tanpa disertai rasa nikmat dan terbuai.
Telah diketahui bahwa hukum yang bergantung pada suatu ‘illah5, jika ‘illah tersebut tidak ada maka hukumnya pun tidak ada. Nah, selama ‘illah suatu perkara dihukumi khamr adalah “memabukkan”, sedangkan obat-obatan ini tidak mema-bukkan, berarti tidak termasuk kategori khamr yang haram. Wallahu a’lam. Wajib bagi kita untuk mengetahui perbedaan antara pernyataan: “Sesuatu yang banyaknya memabukkan maka sedikitnya pun haram” dengan pernyataan: “Sesuatu yang mema-bukkan dan dicampur dengan bahan yang lain maka haram.” Karena pernyataan yang pertama artinya minuman itu sendiri (adalah merupakan khamr), apabila anda minum banyak tentu anda mabuk, dan apabila anda minum sedikit maka anda tidak mabuk, namun Rasulullah n mengatakan “Sedikitnyapun haram.” (Kenapa demikian padahal yang sedikit tersebut tidak memabukkan?) Karena itu merupakan dzari’ah (artinya bahwa yang sedikit itu merupakan wasilah/ perantara yang akan menyeret pelakunya sampai akhirnya dia minum banyak, sehingga diharamkan). Adapun mencampur dengan bahan lain dengan perbandingan kadar alkoholnya sedikit sehingga tidak menjadikan bahan tersebut memabukkan maka yang seperti ini tidak mengubah bahan tersebut menjadi khamr (yang haram). Jadi ibaratnya seperti benda najis yang jatuh ke dalam air (tapi kadar najisnya sedikit) dan tidak menajisi (merusak kesucian) air tersebut (karena warna, bau, ataupun rasanya tidak berubah) maka air tersebut tidak menjadi najis karenanya (tetap suci dan mensucikan).”
Asy-Syaikh Al-Albani t ketika ditanya tentang berbagai parfum atau minyak wangi yang mengandung alkohol, maka beliau menjawab: “Apabila kadar alkohol yang terkandung di dalamnya menjadikan parfum-parfum yang harum itu sebagai cairan yang memabukkan, dalam arti kalau diminum oleh seorang pecandu khamr dan ternyata memberi pengaruh seperti pengaruh khamr (yaitu mengakibatkan dia mabuk, maka parfum-parfum tersebut hukumnya tidak boleh (haram untuk digunakan). Adapun jika kadar alkoholnya sedikit (dalam arti tidak mengubah parfum-parfum tersebut menjadi memabukkan) maka hukumnya boleh. (Kaset Silsilatul Huda wan Nur)
Kemudian kita akhiri pembahasan ini dengan fatwa Asy-Syaikh Al-Albani t yang sangat rinci. Beliau t berkata: “Untuk memahami makna hadits:

“Sesuatu yang banyaknya memabukkan maka sedikitnya pun haram.”
Mari kita mendatangkan contoh: Kalau ada 1 liter air yang mengandung 50 gram bahan memabukkan yang kita namakan alkohol, maka cairan ini –yang tersusun dari air dan alkohol– berubah menjadi mema-bukkan. Namun jika seseorang minum sedikit maka dia tidak akan mabuk. Lain halnya jika dia minum dengan kadar yang lazim diminum oleh seseorang maka dia akan mabuk, dengan demikian menjadilah yang sedikit tadi haram. Sebaliknya, kalau ada 1 liter air mengandung 5 gram alkohol (misalnya). Jika seseorang minum 1 liter air tersebut sampai habis dia tidak mabuk, maka yang seperti ini halal untuk diminum.
Selanjutnya, apakah boleh bagi seorang muslim mengambil 1 liter air kemudian menumpahkan 5 gram alkohol ke dalamnya dengan alasan bahwa 5 gram alkohol tersebut tidak mengubah 1 liter air yang ada menjadi memabukkan?
Jawabannya: Tidak boleh. Kenapa tidak boleh? Karena tidak boleh bagimu untuk memiliki bahan yang memabukkan yang merupakan inti dari khamr, yaitu alkohol. Jadi kegiatan mencampur alkohol dengan bahan lain tidak boleh dalam syariat Islam…
Telah kami nyatakan bahwa obat-obatan yang ada di apotek-apotek pada masa ini –bahkan boleh jadi kebanyakannya– mengandung alkohol, atau tertera padanya tulisan perbandingan kadar alkoholnya: 5 gram, 10 gram… Apakah kita mengatakan bahwa obat-obatan ini jika diminum seorang sehat ataupun sakit dengan kadar yang banyak dan ternyata dia mabuk, berarti tidak boleh digunakan karena memabukkan, meskipun dia hanya menelan 1 sendok saja? Inilah yang dimaksudkan dengan hadits “Sesuatu yang banyaknya memabukkan maka sedikitnya pun haram.” Adapun jika perbandingan alkoholnya sedikit –dalam arti berapapun yang dia minum tidak menjadikannya mabuk– maka boleh menggunakannya, meskipun dia minum banyak.
Namun perkara lain (yang penting untuk diingat) sama dengan apa yang telah saya sebutkan sebelumnya, bahwa obat-obatan yang mengandung alkohol dengan perbandingan yang tidak melanggar syariat sesuai dengan rincian yang disebutkan, tidak boleh bagi seorang apoteker muslim untuk meracik obat yang seperti itu. Karena tidak boleh ada alkohol di rumah seorang muslim ataupun di tempat kerjanya. Haram baginya untuk membelinya atau membuatnya sendiri. Dan ini perkara yang jelas karena Rasulullah n bersabda:

“Allah melaknat 10 jenis orang karena khamr…”7
Seorang apoteker yang hendak meracik obat dan mencampurnya dengan alkohol yang memabukkan itu, baik dengan cara membuat alkohol sendiri (dengan proses pembuatan tertentu) atau membeli alkohol yang sudah jadi, termasuk dalam salah satu dari 10 jenis orang yang dilaknat dalam hadits tersebut.
Lain halnya apabila seseorang membeli obat yang sudah jadi, dengan kadar alkohol yang rendah yang tidak menjadikan banyaknya obat tersebut memabukkan, maka ini boleh.” (Kaset Silsilatul Huda wan Nur)
Dan kami memandang bahwa pendapat Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsamin t dan Asy-Syaikh Al-Albani t, lebih dekat kepada kebenaran.
Wallahu a’lam.


1 Perlu diketahui bahwa alkohol (alkanol) ada beberapa golongan. Di antaranya etanol (inilah yang dijadikan sebagai zat pelarut, bahan bakar, atau zat asal untuk preparat-preparat farmasi, dan sebagian besar digunakan untuk minuman keras), spiritus, dsb., sebagaimana diterangkan dalam buku-buku kimia dan farmasi.
2 Diriwayatkan oleh Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dari Jabir bin Abdillah c. Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Muqbil Al-Wadi’i dalam Ash-Shahihul Musnad (1/160-161). Dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani, dan beliau menshahihkannya dengan syawahidnya dari beberapa shahabat yang lain (Al-Irwa‘, 8/42-43).
3 ‘Illah suatu hukum adalah sebab penentu suatu perkara memiliki hukum tersebut.
4 Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (1318) dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Muqbil t dalam kitabnya Ash-Shahihul Musnad (1/57) dan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Tirmidzi. Hadits yang semakna dengan hadits ini juga diriwayatkan dengan lafadz  (Allah melaknat…) dari Ibnu ‘Umar c, oleh Ath-Thahawi, Al-Hakim, dan yang lainnya, dishahihkan oleh Al-Albani dengan keseluruhan jalan-jalannya dalam Al-Irwa` (5/365-367).
5 Lihat catatan kaki no. 3
6 Lihat haditsnya secara lengkap pada fatwa Asy-Syaikh Muqbil di halaman sebelumnya.

Al-Imam Ash Shan’ani

(ditulis oleh: Al-Ustadz Zainul Arifin)

 

Beliau adalah Muhammad bin Isma’il bin Shalah bin Muhammad Al-Husani, Al-Kahlani kemudian Ash-Shan’ani, Abu Ibrahim ‘Izzuddin (yang membuat jaya agama ini) yang terkenal dengan Al-Amir, sebagaimana seluruh pendahulu-pendahulu beliau. Beliau adalah mujtahid negeri Yaman.
Beliau dilahirkan di kota Kahlan pada tahun 1099 H (1688 M), kemudian bersama ayahnya beliau pindah ke Shan’a. Di sanalah beliau tumbuh dan mengambil ilmu dari para ulamanya. Kemudian beliau menuju ke Makkah dan di sanalah beliau sibuk dengan menuntut ilmu hadits kepada ulama besar yang ada di sana. Dan beliau menampakkan kesungguhannya serta cenderung untuk mencukupkan diri dengan dalil yang ada. Beliau lari menjauh dari taqlid dan menyeru umat tentang batilnya pendapat fiqhiyyah yang tidak berdasarkan dalil. Adalah hijrah beliau kepada al-haq dan berdakwah kepadanya menjadi sebab beliau ditimpa banyak cobaan dari orang-orang yang jahil.
Beliau mengambil ilmu dari banyak guru, di antaranya: Zaid bin Muhammad bin Al-Hasan, Shalah bin Al-Husain Al-Akhfasi, Abdullah bin ‘Ali Al-Wazir, ‘Ali bin Muhammad Al-’Ansi.

Pujian Ulama terhadap Beliau
Al-Imam Asy-Syaukani t berkata: “(Beliau adalah) imam besar, mujtahid mutlak, mempunyai banyak karangan… beliau unggul dalam segala bidang ilmu dan mengungguli rekan-rekannya, dan tidak ada bandingannya dalam kepemimpinan ilmu di Shan’a.” (Al-Badru Ath-Thali’, 2/133)

Akidah Beliau t
Beliau t berada di atas akidah salafus shalih. Ini merupakan perkara yang diketahui lagi masyhur tentang beliau t, dalam hal peranannya yang baik dan kesung-guhannya yang besar untuk menolong As-Sunnah, membela para penjaganya, serta membantah kebid’ahan dan hawa nafsu.
Bukti terbaik tentang hal ini adalah banyaknya kitab-kitab beliau yang beliau khususkan dalam bab yang besar ini (yakni akidah), terutama kitab beliau Tath-hirul I’tiqad ‘an Adranil Ilhad. Dalam kitab ini, beliau mematahkan syubhat-syubhat para penyembah kubur dan membantah kebatilan mereka, lalu menolong al-haq dan menjelaskannya dengan sebaik-baik penjelasan.
Beliau menemui gangguan yang berat dari kaum serta kerabat beliau dalam menempuh jalan ini.
Beliau telah menulis sekitar 100 karangan, antara lain:
q    Taudhihul Afkar, Syarh Tanqihul Anzhar, 2 jilid tentang musthalah hadits.
q    Minhatul Ghaffar, hasyiah (catatan kaki) atas (kitab) Dhau`un Nahar Lil Jalal.
q    Tathhirul I’tiqad ‘An Adranil  Ilhad.
q    Syarh Al-Jamiu’s Shaghir li As-Suyuthi, 4 jilid.
q    Ar-Raddu ‘Ala Man Qala Bi Wihdatil Wujud.
q    Daiwanu Syi’r.
q    Subulus Salam, dan lain-lain.

Beliau meninggal pada tahun 1182 H (1768 M) di Shan’a.

(Diambil dari Subulus Salam, hal. 8 cet. Maktabah Al-Hayah, dan Al-Inshaf fi Haqiqatil Auliya)

Makan Ala Islam

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Usamah bin Rawiyah An-Nawawi)

 

Apa yang kita lakukan bila menjumpai makanan yang tidak kita disukai? Bolehkah kita mengucapkan sesuatu untuk menunjukkan ketidaksukaan kita? Pembahasan berikut masih melanjutkan adab-adab seputar makan, termasuk cara bersikap terhadap makanan yang kita tidak suka.

Ada beberapa hal dari pembahasan yang telah lewat yang belum disampaikan. Maka dalam pembahasan ini penulis ingin melengkapinya walaupun sesungguhnya belum secara menyeluruh. Mungkin perlu diangkat sebagai pelengkap dalam pemba-hasan terakhir ini, di antaranya adalah sebagai berikut:
1.    Makan Bila Shalat akan Didirikan
Termasuk dari rahmat dan kasih sayang Allah I bagi setiap orang yang beriman adalah adanya keringanan dan kemudahan yang telah diberikan oleh Allah I di dalam pembebanan syariat-Nya. Ini sebagai bukti apa yang telah dijelaskan-Nya di dalam firman-Nya:

“Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (Al-Baqarah: 286)

“Allah menginginkan dari kalian kemudahan dan tidak menginginkan bagi kalian kesulitan.” (Al-Baqarah: 185)
Rasulullah n bersabda:

“Agama itu mudah dan tidak ada seorangpun yang memaksakan diri melainkan akan dikalahkan (tidak akan sanggup).”1
Keringanan dan kemudahan yang diberikan oleh Allah I kepada setiap hamba-Nya bertujuan untuk mengeluarkan mereka dari kesulitan yang menimpanya. Di antara kemudahan dan keringanan itu adalah apabila makanan telah dihidangkan dan dia sangat menginginkannya alias lapar maka dia berhak untuk memakannya walaupun shalat telah didirikan. Hal ini termasuk rukhshah dan udzur untuk meninggalkan shalat secara berjamaah.

Pertanyaan: Bolehkah kita menda-hulukan hak diri kita di hadapan hak Allah I? Bukankah hak Allah I lebih didahulukan daripada hak manusia?
Jawab: Memang hak dasar adalah setiap hamba harus lebih mendahulukan hak Allah I daripada hak manusia. Namun dalam permasalahan ini telah dijelaskan oleh Rasulullah n di dalam sabda beliau:

“Apabila telah hadir makan malam dan shalat telah didirikan maka dahulukanlah makan malam.”2
Lalu bagaimana hukumnya bila kita menemukan keadaan demikian?
Menurut jumhur ulama, sebagaimana dinukilkan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar t, bahwa perintah ini menunjukkan mustahab (sunnah). Namun setelah itu mereka berselisih. Di antara mereka ada yang memberikan persya-ratan yaitu bila dia sangat membutuhkannya saat itu, sebagaimana hal ini masyhur di kalangan Asy-Syafi’iyyah dan Al-Ghazali menambahkan, yaitu apabila makanan tersebut menjadi rusak bila tidak dimakan.
Sebagian mereka tidak memberikan syarat sedikitpun. Ini adalah ucapan Al-Imam Ats-Tsauri, Al-Imam Ahmad dan Ishaq dan pendapat ini yang telah dipraktekkan oleh Ibnu Umar c. Sementara Ibnu Hazm t memiliki pendapat yang berlebihan dalam hal ini, yaitu dia mengatakan batal shalatnya.
Ibnu Mundzir t meriwayatkan dari Al-Imam Malik t bahwa beliau berpendapat, seseorang harus mendahulukan shalat bila makanan tersebut adalah ringan. Adapun para pengikutnya, mereka memberikan rincian yaitu mengerjakan shalat bila dirinya tidak terlalu terkait dengan makanan tersebut, atau bila dirinya terkait dengan makanan, tapi tidak membuat shalatnya tergesa-gesa,  maka jangan mengakhirkan shalatnya.tapi bila membuat shalatnya tergesa-gesa, maka dia mendahulukan makanannya dan disunnahkan baginya untuk mengulangi shalatnya.” (lihat Fathul Bari, 2/188)
Al-Imam Al-Bukhari t di dalam Shahih-nya meriwayatkan amalan Ibnu Umar secara mu’allaq: “Ibnu Umar mengerjakan makan malamnya dahulu.”
Nafi’ maula (bekas budak) Ibnu ‘Umar menjelaskan amalan majikannya dalam riwayat Al-Imam Al-Bukhari t: “Apabila Ibnu ‘Umar dihidangkan makanan malam dan shalat telah didirikan maka beliau tidak mendatangi shalat sampai beliau selesai, dan beliau mendengar bacaan imam.”3
Al-Imam Al-Bukhari t juga meriwayatkan ucapan Abu Darda’ z secara mu’allaq di dalam Shahih-nya: “Termasuk kefaqihan seseorang adalah dia mendahulukan hajatnya kemudian dia melaksanakan shalat dalam keadaan hatinya kosong (tidak memikirkan hajat itu -ed).”
Dari dalil-dalil di depan, kita bisa menyimpulkan bahwa untuk mempraktekkan nash tersebut ada beberapa hal yang sangat penting:
Pertama: Makanan tersebut telah dihidangkan
Kedua: Dia sangat menginginkan alias lapar
Ketiga: Dia sanggup untuk menyantapnya, artinya bukan dalam keadaan dia berpuasa atau makanan tersebut memudharatkan dirinya.
Demikianlah gambaran kasih sayang Allah I kepada setiap hamba-Nya dan kasih sayang-Nya untuk kemaslahatan hamba itu sendiri.
Demikian pula bentuk keringanan yang diberikan oleh Islam. Dan bukan termasuk keringanan di dalam Islam bila seseorang mencari-cari keringanan dari ucapan para ulama, lalu mengambil yang paling mudah yang mencocoki hawa nafsunya, sekalipun salah dan menyelisihi dalil.
Tentu cara seperti ini tidak akan bisa diterima oleh seorang muslim yang berakal jernih. Bahkan ini termasuk bermain-main dengan syariat, mengikuti hawa nafsu, lari dari hukum syariat, kelemahan iman, dan mengikuti bisikan setan.
Al-Imam Asy-Syathibi t mengata-kan: “Mencari-cari keringanan kecende-rungannya selalu diikuti oleh hawa nafsu. Sementara syariat melarang untuk mengikuti hawa nafsu, dan sikap seperti ini menyelisihi prinsip yang telah disepakati, yaitu firman Allah I:

“Jika kalian berselisih dalam satu permasalahan maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya.” (An-Nisa`: 59)
Maka tidak boleh mengembalikannya kepada hawa nafsu.”

2.    Menutup Makanan dan Bejana
Sebuah adab yang mulia demi kemaslahatan manusia dan sungguh tidak ada satupun yang luput melainkan telah disampaikan oleh pembawa syariat yaitu Rasulullah n. Dan kesalahan itu terjadi dari manusia itu sendiri karena kekurangan yang ada pada mereka.
Di antara adab yang dituntunkan oleh Rasulullah n kepada kita adalah menutup bejana dan makanan. Rasulullah n telah menyebutkan beberapa hikmah padanya:
Pertama:

“Dari Jabir, dari Rasulullah n bahwa beliau bersabda: “Tutuplah bejana kalian, ikat tutup gentong, tutuplah pintu dan matikan lentera karena sesungguhnya setan tidak akan masuk ke dalam gentong, tidak membuka pintu dan tidak membuka bejana, dan kalau sekiranya salah seorang tidak menemukan sesuatu melainkan kayu diletakkan padanya dan dia menyebut nama Allah maka lakukanlah juga, karena sesungguhnya tikus akan membakar rumah dan penghuninya.”4
Mafhum hadits di atas, bila semuanya dalam keadaan terbuka maka setan akan masuk melaluinya.
Kedua: Sebuah hikmah yang belum diketahui oleh pakar ilmu kedokteran, yaitu apa yang telah disebutkan dalam hadits:

Dari Jabir bin Abdullah berkata aku telah mendengar Rasulullah n bersabda: “Tutuplah bejana kalian, dan ikatlah tutup gentong kalian karena di dalam satu tahun ada satu malam di antaranya di mana wabah turun. Dan tidaklah wabah tersebut melewati bejana yang tidak ditutup, atau gentong yang tidak tertutup melainkan akan turun padanya wabah tersebut.”5
Ketiga: Dengan ditutup, makanan atau bejana tersebut akan terpelihara dari kotoran-kotoran dan serangga yang kerap kali menyebabkan mudharat. Oleh karena itu Rasulullah n dengan penuh ketegasan memerintahkan untuk menutupnya, meskipun dengan tangkai kayu sebagaimana dalam hadits di atas.

Pertanyaan: Apakah kulkas termasuk penutup bagi makanan yang dimasukkan ke dalamnya dengan tanpa penutup? Dan apakah kita akan selamat dari bahaya yang disebutkan di atas?
Jawab: Jawaban terhadap pertanyaan ini dari dua sisi pandang yaitu:
Pertama: Tidak termasuk penutup, karena yang dimaksudkan dengan adanya kulkas adalah mendinginkan dan mengawet-kan makanan. Adapun penutup yang langsung, terdapat padanya hikmah-hikmah syariat.
Kedua: Ya, termasuk penutup, dari sisi bahwa kedua-duanya yaitu penutup langsung maupun kulkas merupakan penjaga dari segala yang diperingatkan oleh Rasulullah n. Dan insya Allah inilah pendapat yang kuat. (Lihat kitab Adab Ath-Tha’am fis Sunnah Al-Muthahharah karya Al-Harits bin Zaidan Al-Mazidi, hal. 12)

3.    Tidak Boleh Menghina Makanan
Semua yang kita makan dan minum merupakan rizki yang datang dari Allah I maka tidak boleh bagi kita menghina sedikitpun apa yang telah diberikan Allah I. Rasululah n mengajarkan kepada kita suatu adab yang mulia, yaitu ketika tidak menyukai makanan yang dihidangkan sebagaimana dalam hadits:

“Abu Hurairah berkata: “Rasulullah n tidak pernah mencerca makanan sama sekali. Bila beliau menginginkan sesuatu beliau memakannya dan bila tidak suka beliau meninggalkannya.”6
4.    Jangan Tidur Sebelum Membasuh Tangan
Ini juga termasuk dari sekian adab yang dibimbingkan oleh Rasulullah n kepada kita semua. Dan kita yakin bahwa dalam setiap bimbingan ada hik-mah dan barakah padanya. Sebagai-mana dalam hadits:

“Dari Abu Hurairah ia berkata: Rasulullah n bersabda: “Barangsiapa tertidur dan di tangannya terdapat lemak (kotoran bekas makan) dan dia belum mencucinya lalu dia tertimpa oleh sesuatu, maka janganlah dia mencela melainkan dirinya sendiri.”7
5.    Berdoa Selesai Makan
Adab Islami dalam tata cara makan yang telah diajarkan oleh Rasulullah n yaitu memulai dengan menyebut nama Allah I dengan mengucapkan “Bismillah” sebagai-mana dalam pembahasan yang telah lalu. Dan kita dianjurkan juga untuk menutupnya dengan menyebut nama Allah I sebagai bentuk syukur dan sebagai bentuk mengingat keutamaan Allah I dan rizki-Nya kepada kita.

Dari Sahl bin Mu’adz bin Anas Al-Juhani, dari bapaknya, dari Nabi n, beliau bersabda: “Barangsiapa memakan makanan dan dia me-ngatakan: ‘Segala puji milik Allah yang telah memberiku makan, dan memberikanku rizki dengan tanpa ada daya dan kekuatan dariku,’ maka akan diampuni dosanya.”8
Apakah ada doa yang lain yang bisa dibaca setelah makan?
Ada doa selain ini dan boleh dibaca selama doa tersebut benar datang dari Rasulullah n.

Penutup
Demikianlah beberapa dari sekian adab makan Islami yang telah diajarkan oleh Rasulullah n kepada kita. Semua maslahatnya akan kembali kepada kita.
Semoga Allah I memberikan kekuatan dan keistiqamahan dalam menjalankan Sunnah Rasulullah n dan memberikan kemudahan kepada kita untuk berjalan menuju kemulian hidup dunia dan akhirat. Amin.


1 Diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari no. 38 dari shahabat Abu Hurairah z

2 Hadits ini datang dari beberapa shahabat Nabi, di antaranya ‘Aisyah, Anas bin Malik dan Abdullah bin ‘Umar, dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhari no. 671, 672, 673 dan 674, Al-Imam Muslim no. 557, 558, 559 dan 560 dan selain mereka berdua.

3 Dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhari no. 672

4 Dikeluarkan oleh Al-Imam Muslim no. 2012 dan Ibnu Majah no. 3401

5 Dikeluarkan oleh Al-Imam Muslim no. 2014

6 Dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dan Al-Imam Muslim

7 Dikeluarkan oleh Al-Imam Abu Dawud no. 3852, Al-Imam Ibnu Majah no. 3297 dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani di dalam kitab Shahih Sunan Abu Dawud no. 3262, Shahih Sunan Ibnu Majah no. 2666, di dalam Al-Misykat no. 4219 dan di dalam kitan Ar-Raudh no. 823

8 Dikeluarkan oleh Abu Dawud no. 4023, Ibnu Majah no. 3285 dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani di dalam kitab Shahih Sunan Abu Dawud no. 3394, di dalam Shahih Sunan Ibnu Majah no. 2656, di dalam kitab Al-Irwa’ no. 1989, Ta’liq Ar-Raghif 3/100 dan di dalam kitab Takhrij Al-Kalimut Thayyib 187.

Kisah Nabi Ayyub

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Harits Abrar)

Salah satu pelajaran penting yang bisa diambil dari kisah ini adalah bahwa kesabaran yang dimiliki seorang hamba ketika menghadapi sebuah musibah, akan senantiasa menghasilkan kebaikan. Karena memang sudah menjadi kepastian dari Allah I bahwa ketika seorang hamba mampu bersikap sabar atas sebuah musibah yang menimpanya, maka Allah I akan memberikan banyak kebaikan kepadanya. Sebagaimana Nabi Ayyub u yang ditimpa penyakit kulit yang demikian hebat, namun beliau senantiasa bersabar dan ridha dengan apa yang menimpanya. Akhirnya Allah I pun menyembuhkannya dan mengganti musibah itu dengan berbagai kenikmatan.

Al-Imam Al-Qurthubi t dalam tafsirnya menukilkan dari Ibnu ‘Abbas c bahwa Nabi Ayyub u dinamakan demikian karena beliau selalu kembali (dari kata ) kepada Allah I segenap keadaannya.
Beliau u termasuk nabi dari keturunan Bani Israil dan hamba Allah yang pilihan. Allah I menyebut namanya dalam Kitab-Nya dan memuji dengan pujian yang baik, terutama terhadap kesabarannya dalam menghadapi ujian yang beliau alami.

Ujian Nabi Ayyub u
Allah I berfirman:

“Dan (ingatlah kisah) Ayyub, ketika ia menyeru Rabbnya: ‘(Ya Rabbku), sesung-guhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Rabb Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang’. Maka Kamipun memper-kenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah.” (Al-Anbiya`: 83-84)
Dalam dua ayat yang mulia ini, Allah U memerintahkan Nabi-Nya n agar mengingat Nabi Ayyub u ketika beliau berdoa kepada Rabbnya:

“Sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Rabb Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.”
Doa tersebut dikabulkan oleh Allah I yang kemudian melepaskan beliau dari semua musibah yang menimpa beliau. Allah I berfirman:

“Hantamkanlah kakimu!”1
Beliaupun menghantamkan kakinya, lalu memancarlah mata air yang segar. Kemudian dikatakan kepada beliau, “Minumlah dari air itu dan mandilah!”
Setelah itu Allah I memberikan keluarga beliau kepada beliau dan yang seperti mereka sebagai rahmat serta peringatan bagi orang-orang yang mengabdikan diri kepada Allah I, karena hanya merekalah yang dapat memetik manfaat dari semua peringatan ini.
Makna ini pula yang disebutkan oleh Allah I dalam ayat lain. Firman Allah I:

“Dan ingatlah hamba Kami Ayyub, ketika ia menyeru Rabbnya: ‘Sesungguhnya aku diganggu setan dengan kepayahan dan siksaan’.” (Shaad: 41)
Ibnu Katsir t menceritakan dalam tafsirnya, Nabi Ayyub u diuji melalui tubuhnya. Ada yang menyebut-kan berupa pe-nyakit lepra yang menyerang selu-ruh tubuhnya tan-pa menyisakan seujung jarumpun dari tubuhnya. Tidak ada yang selamat dari ang-gota tubuhnya kecuali hati dan lisannya, yang dengan keduanya beliau berdzikir mengingat Allah U. Akhirnya se-mua orang merasa jijik dan mengasingkan beliau di tempat terpencil, jauh dari keramaian manusia. Tidak ada harta dunia yang tersisa pada beliau kecuali isterinya, yang dengan setia masih mencintai dan merawat beliau. Namun beliau sempat merasakan satu hal yang tidak menyenangkan dari isterinya sehingga beliau bersumpah untuk mencam-buknya seratus kali.
Setelah Allah I menyembuhkan beliau, Allah I merahmati keduanya. Kemudian Allah I perintahkan beliau untuk mengambil seratus batang rumput, lalu memukul isterinya dengan rumput tersebut sebagai pelaksanaan sumpahnya. Allah I berfirman:

“Dan ambillah dengan tanganmu seikat (rumput), maka pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah.”2
Dalam kejadian ini, terdapat dalil bahwa kaffaratul yamin (tebusan sumpah) belum disyariatkan dalam agama-agama sebelum kita. Dan kedudukan sumpah ini sama seperti nadzar bagi mereka, artinya harus ditunaikan secara sempurna. Dalam peristiwa ini juga terdapat dalil bahwa orang yang tidak sanggup untuk mene-rima hukuman had karena kelemahan atau hal-hal lainnya (sakit dan sebagainya), boleh mengganti dengan sesuatu yang setara nilainya. Sebab, tujuan diberlakukannya hukuman had itu bukanlah untuk meru-sak atau membina-sakan.
Demikianlah penderitaan Nabi Ayyub u. Dan ini telah diisyaratkan oleh Rasulullah n dalam hadits Sa’d bin Abi Waqqash z:

“Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling berat ujiannya?” Kata beliau: “Para Nabi, kemudian yang seperti mereka dan yang seperti mereka. Dan seseorang diuji sesuai dengan kadar dien (keimanannya). Apabila diennya kokoh, maka berat pula ujian yang dirasakannya; kalau diennya lemah, dia diuji sesuai dengan kadar diennya. Dan seseorang akan senantiasa ditimpa ujian demi ujian hingga dia dilepaskan berjalan di muka bumi dalam keadaan tidak mempunyai dosa.” (Shahih, HR. At-Tirmidzi)

Beberapa Pelajaran Penting
Asy-Syaikh Asy-Syinqithi t dalam tafsirnya (4/514) menerangkan bahwa dalam ayat-ayat tersebut muncul satu pertanyaan, bagaimana bisa dikatakan Nabi Ayyub u sebagai orang yang sabar sebagaimana dalam firman Allah I:

“Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar.”3
Padahal beliau mengatakan, sebagai-mana dalam firman Allah I:

“Sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Rabb Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.”
Dan firman-Nya:

“Sesungguhnya aku diganggu setan dengan kepayahan dan siksaan.”
Ucapan beliau  (Aku telah ditimpa penyakit), bukanlah keluhan, karena Allah sudah menyatakan beliau adalah orang yang sabar:  (Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar). Bahkan ucapan beliau ini tidak lain adalah doa. Karena mengeluhkan sesuatu yang dirasakan itu dilakukan kepada makhluk bukan kepada Allah I, sedangkan doa tidaklah menggugurkan rasa ridha terhadap musibah yang dialami. Apalagi Allah I menyatakan:  (Maka Kami perkenankan seruannya itu).4 Dan ijabah terjadi karena adanya suatu doa, bukan keluhan.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah t menerangkan (Al-Fatawa, 22/382): “Doa itu tidak disyariatkan kosong begitu saja, tetapi harus disertai pujian. Adapun pujian atau sanjungan dengan hanya semata-mata menyebutkan sanjungan adalah disyariatkan, tidak makruh. Dan sanjungan atau pujian itu sendiri mengandung tujuan atau maksud suatu doa. Maka apabila seseorang yang berdoa memuji atau menyanjung yang diserunya dengan sesuatu yang mengandung tercapainya tujuannya, berarti dia telah sempurna dalam menyebutkan apa yang diinginkannya.
Hal ini seperti yang diucapkan oleh Nabi Ayyub u, sebagaimana firman Allah I:

“Sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Rabb Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.”
Ucapan beliau itu lebih indah dan sempurna daripada kalimat  (Rahmatilah aku).
Doa beliau:

“Sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Rabb Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang”, datang dalam bentuk berita yang mengandung permintaan. Dan ini merupakan salah satu etika dalam berdoa dan meminta. Menerangkan keadaan dan kebutuhan adalah permintaan yang tampak melalui keadaan lahiriah. Ini lebih sempurna dalam menerangkan dan lebih jelas dalam hal maksud dan keinginan.”
(diambil dari Taisir Al-Lathifil Mannan fi Khulashah Tafsiril Qur’an karya Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di t)


1 Al Qur`an surat Shaad ayat 42.

2 Al Qur`an surat Shaad ayat 44.

3 Al Qur`an surat Shaad ayat 44.

4 Al Qur`an surat Al-Anbiya` ayat 84.

Seputar Masalah Mandi

(ditulis oleh: Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al-Atsari)

Mandi wajib tentu bukan sesuatu yang asing bagi mereka yang telah memasuki usia baligh. Namun masih banyak hal seputar mandi wajib yang disalahpahami oleh umat. Apa saja itu? Simak pembahasannya melalui kajian berseri mulai edisi ini!

Mandi merupakan perkara yang dikenal/ akrab di kalangan setiap orang, karena mandi termasuk bagian dari rutinitas sehari-hari. Paling tidak aktivitas ini dilakukan dua kali sehari, pagi dan sore. Namun ada mandi yang ditentukan oleh aturan syariat, ada yang hukumnya wajib dan ada yang sunnah. Inilah yang dinamakan mandi syar’i. Adapun mandi syar’i, pengertiannya adalah menggunakan air yang suci yang dikenakan ke seluruh tubuh dengan cara khusus dengan memenuhi syarat dan rukun-rukun yang ada. (Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah, 31/94, Taudhihul Ahkam 1/366). Mandi syar’i inilah yang disebutkan dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah. Allah I berfirman:

“Jika kalian junub maka bersucilah (mandilah).” (Al-Maidah: 6)

“Dan janganlah kalian mendekati mereka (para istri) sampai mereka suci, maka bila mereka telah bersuci…” (Al-Baqarah: 222)
Yakni mandi.
Adapun dari As-Sunnah, seperti sabda Rasulullah n:

“Apabila seorang laki-laki telah duduk di antara empat cabang seorang wanita1, kemudian ia bersungguh-sungguh terha-dapnya, maka sungguh telah wajib mandi.” (HR. Al-Bukhari no. 291, kitab Al-Ghusl, bab Idza’l Taqal Khitanani dan Muslim no. 348, kitab Al-Haidh, bab Naskh “Al-Ma’u minal Ma’i” wa Wujubul Ghusl bil Tiqa’i Khitanaini)

Sebab-sebab yang Mewajibkan Mandi
Al-Imam An-Nawawi t berkata: “Ada empat keadaan yang disepakati yang mewajibkan seorang untuk mandi, yaitu masuknya hasyafah (kepala) dzakar2 ke dalam farji (kemaluan wanita/ vagina), keluar mani, haid dan nifas” (Al-Majmu’ 2/149). Al-Imam Al-Mawardi t menyatakan, laki-laki dan wanita berserikat dalam dua dari empat perkara yang mewajibkan mandi tersebut (yaitu bertemunya dua khitan dan keluar mani), adapun dua perkara yang lainnya (haid dan nifas) khusus bagi wanita (Al-Hawil Kabir, 1/208). Demikian pula yang dinyatakan Al-Imam Al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah (2/9)

1.    Bertemunya dua khitan
Masuknya kemaluan seorang suami ke dalam kemaluan istrinya, mewajibkan mandi bagi keduanya, baik mengeluarkan mani ataupun tidak. Demikian pendapat jumhur ulama dari kalangan shahabat, tabi’in, dan para imam setelah mereka.
Pendapat ini yang dipegangi Sufyan Ats-Tsauri, Malik, Abu Hanifah, Syafi’i, Ahmad, Ishaq dan sebagian pengikut madzhab Zhahiriyyah. Al-Imam At-Tirmidzi t berkata: “Ini merupakan pendapat mayoritas ahlul ‘ilmi dari kalangan shahabat Nabi n, para fuqaha tabi’in, dan orang-orang yang setelahnya.” Beliau juga berkata: “Mayoritas ahlul ‘ilmi beramal dengan amalan ini.” (Sunan Tirmidzi 1/73 dan 74, Syarhu Ma’anil Atsar 1/73, Al-Muhalla 1/249, Syarhu Shahih Muslim 4/36)
Adapun sejumlah ahlul ilmi lain dari kalangan shahabat serta jumhur shahabat Anshar g, dan orang-orang setelah mereka seperti ‘Atha bin Abi Rabah, Abu Salamah bin Abdirrahman bin Auf, Hisyam bin ‘Urwah, Al-A’masy dan sebagian pengikut madzhab Zhahiriyyah, demikian pula sebagian penduduk Hijaz, dinukilkan dari Al-Imam Asy-Syafi’i t, beliau berkata: “Adapun sebagian penduduk Hijaz telah menyelisihi kami dalam masalah ini, mereka mengatakan: ‘Tidak wajib mandi (bila seseorang jima’) sampai ia mengeluarkan mani’.
Mereka, ahlul ‘ilmi yang berpendapat tidak wajib mandi bila tidak keluar mani, berdalil dengan hadits riwayat Az-Zuhri dari Abu Sa’id Al-Khudri z, ketika seseorang bertanya kepada Rasulullah n: ‘Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu tentang seorang laki-laki yang tergesa-gesa mengakhiri jima’ dengan istrinya sementara ia belum mengeluarkan mani, apakah ada kewajiban (mandi) baginya?’. Beliau n menjawab:

“Hanyalah air itu dicurahkan karena keluar air3 (yakni mandi itu hanyalah diwajibkan karena keluar mani, –pent.).“ (HR. Muslim no. 343 kitab Al-Haidh, bab Al-Ma’u minal Ma’i)
Abu Sa’id Al-Khudri z juga menga-barkan bahwa Nabi n bersabda:

“Apabila terputus senggamamu atau engkau tidak mengeluarkan mani, maka tidak ada kewajiban mandi bagimu, yang wajib bagimu adalah berwudhu.” (HR. Muslim no. 345 kitab Al-Haidh, bab Al-Ma’u minal Ma’i)
Zaid bin Khalid Al-Juhani mengabarkan bahwa ia pernah bertanya kepada Utsman bin Affan z: “Apa pendapatmu, bila se-orang lelaki menggauli istrinya namun ia ti-dak mengeluarkan mani?” Utsman menja-wab:

“Ia berwudhu sebagaimana wudhunya untuk shalat dan (sebelumnya) ia mencuci kemaluannya.”
Kemudian Utsman z berkata:

“Aku mendengar hal ini dari Rasulullah n.”
Zaid berkata: “Aku juga menanyakan hal ini kepada Ali bin Abi Thalib, Az-Zubair ibnul Awwam, Thalhah bin Ubaidillah, dan Ubai bin Ka’b g. Mereka semua meme-rintahkan demikian (sebagaimana yang dinyatakan Utsman z).” (HR. Al-Bukhari no. 292 bab Ghusli Ma Yushibu min Farjil Mar’ah dan Muslim no. 347 bab Al-Ma’u minal Ma’i) [Syarhul Ma’anil Atsar 1/68-79, Al-Muhalla 1/249, Al-Hawil Kabir 1/208, Al-Majmu’ 2/154, Fathul Bari 1/497, Subulus Salam 1/131, Nailul Authar 1/310, As-Sailul Jarrar 1/272]
Namun yang rajih (kuat) dalam hal ini, wallahu a’lamu bish-shawab, adalah pendapat jumhur ulama, berdalil dengan hadits Abu Hurairahz, bahwasanya Nabi n bersabda:

“Apabila seorang laki-laki telah duduk di antara empat cabang seorang wanita kemudian ia bersungguh-sungguh padanya4 maka sungguh telah wajib mandi”. (HR. Al-Bukhari no. 291 bab Idzal Taqa Al-Khitanani dan Muslim no. 348 bab Naskh “Al Ma’u minal Ma’i” wa Wujubul Ghusl biltiqa’i Khitanaini)
Hadits ini, dari jalan perawi yang bernama Mathar, ada tambahan lafadz:

“Sekalipun tidak inzal (keluar mani).” (HR. Muslim no. 348)
Dalam riwayat Abu Dawud disebutkan dengan lafadz:

“Apabila seorang laki-laki telah duduk di antara empat cabang seorang wanita kemudian ia memasukkan khitan(nya, –pent.) dengan khitan (istrinya, –pent.), maka sungguh telah wajib mandi.” (Sunan Abi Dawud no. 216 kitab Ath-Thaharah bab Fil Iksal, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Shahih Sunan Abi Dawud)
Dan makna hadits ini sebagaimana dinyatakan ahlul ‘ilmi, perintah wajibnya mandi karena jima’ tidak tergantung dengan keluarnya mani. Bahkan kapanpun hasyafah (pucuk dzakar) masuk ke dalam farji hingga tersembunyi, telah wajib mandi bagi laki-laki dan wanita tersebut. (Syarhu Shahih Muslim 4/41)
Aisyah x mengabarkan: “Ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah n tentang seseorang yang menggauli istrinya kemudian ia lemah/ tidak bisa mengeluarkan mani. Apakah wajib bagi keduanya mandi?” Rasulullah n menjawab dalam keadaan Aisyah ketika itu duduk di dekat beliau:

“Aku melakukan hal itu, aku dan dia ini (yakni Aisyah, –pent.), kemudian kami mandi5.” (HR. Muslim no. 350 bab Naskh “Al Ma’u minal Ma’i” wa Wujubul Ghusl bil Tiqa’i Khitanaini)
Dan sabda Rasulullah n:

“Apabila bertemu dua khitan, sungguh telah wajib mandi.” (HR. Ahmad 6/239, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Ash-Shahihah no. 1261)
Adapun hadits  yang dipakai oleh pendapat kedua6 merupakan hukum yang berlaku di awal Islam kemudian hukumnya dihapus (mansukh) (Ad-Dararil Mudhiyyah hal. 37, Ats-Tsamarul Mustathab fi Fiqhis Sunnah wal Kitab, bab Mujibat Ghusl, masalah Massul Khitan, Taudhihul Ahkam, 1/371).
Hal ini disampaikan oleh Ubay bin Ka’b z diriwayatkan Al-Imam Abu Dawud t dalam Sunan-nya no. 215 kitab Ath-Thaharah, bab Fil Iksal, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud, dari Sahl bin Sa’d, ia berkata: “Ubay bin Ka’b z menceritakan kepadaku bahwa fatwa yang dulunya mereka nyatakan yaitu  adalah rukhshah (keringanan) yang diberikan Rasulullah n di awal Islam. Kemudian setelahnya Rasulullah n meme-rintahkan mereka untuk mandi (setelah jima’ walaupun tidak keluar mani, –pent.).”
Abu Musa Al-Asy’ari z berkata: “Sekelompok shahabat dari kalangan Muhajirin dan Anshar berselisih pendapat. Shahabat dari kalangan Anshar berkata: ‘Tidak wajib mandi kecuali bila keluar mani dengan memancar’. Shahabat dari kalangan Muhajirin berkata: ‘Bahkan bila telah bercampur (suami dengan istrinya) sungguh telah wajib mandi’. Abu Musa berkata: “Aku akan menjadi penengah bagi kalian dalam masalah ini. Aku pun bangkit menuju ke kediaman Aisyah x dan meminta izin kepadanya untuk masuk. Aisyah pun mengizinkan. Maka aku bertanya kepadanya: “Wahai ibu, aku ingin bertanya kepadamu tentang sesuatu namun aku malu.” Aisyah menjawab: “Jangan engkau malu untuk bertanya kepadaku sebagaimana engkau (tidak malu untuk) bertanya kepada ibumu yang telah melahirkanmu. Sedangkan aku adalah ibumu.” Aku pun bertanya: “Apa yang mewajibkan mandi?” Aisyah menjawab: “Engkau bertanya kepada orang yang tepat, yang mengetahui perkara ini dengan sebenarnya. Rasulullah n telah bersabda:

“Apabila seorang laki-laki duduk di antara empat cabang seorang wanita, dan khitan yang satu menyentuh khitan yang lain7 maka sungguh telah wajib mandi.” (HR. Muslim no. 349 bab Naskh “Al-Ma’u minal Ma’i” wa Wujubul Ghusl bil Tiqa’i Khitanaini)
Al-Imam Al-Mawardi t berkata: “Diriwayatkan dari Mahmud bin Labid, ia berkata: ‘Aku pernah bertanya kepada Zaid bin Tsabit tentang seseorang yang mema-sukkan dzakarnya (ke dalam farji istrinya, –pent.) namun ia tidak inzal (apa yang harus dilakukannya, –pent.)?’ Zaid menjawab: ‘Orang itu mandi (janabah)’. Aku berkata: ‘Ubay dulunya mengatakan orang yang demikian tidak harus mandi’. Zaid kembali menjawab: ‘Ubay menarik kembali penda-patnya tersebut (ruju’) sebelum ia meninggal’. Riwayat ini menunjukkan bahwa pendapat tidak wajib mandi tersebut mansukh karena tidak boleh (tidak mungkin) seorang shahabat menarik pendapatnya dari satu nash kecuali setelah ia mengetahui nash tersebut dihapus”. (Al-Hawil Kabir 1/210-211, Syarh Ma’anil Atsar 1/73)
Selain Ubay bin Ka’ab z, ada beberapa shahabat lain yang ruju’ dari pendapat semula dan menyepakati pendapat jumhur, namun ada pula yang tidak mencabut pendapatnya. (Al-Majmu’ 2/154)
Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani t berkata: “Jumhur ulama berpendapat bahwa hadits  dihapus hukumnya. Adapun Ibnu Abbas c mentakwil hadits ini, ia berkata: “Hanyalah Nabi n menyatakan:  dalam perkara ihtilam.” (At-Talkhishul Habir, 1/203)
Ibnu Abi Syaibah t dan selainnya meriwayatkan dari Ibnu Abbas c bahwasanya beliau membawa pemahaman hadits  kepada bentuk yang khusus yaitu jima’ yang terjadi dalam mimpi (ihtilam). Ini merupakan penakwilan yang menjamak antara dua hadits tanpa saling mempertentangkannya. Dan hukum yang seperti ini terus berlaku tanpa diragukan. (Fathul Bari 1/495-496)
Di samping adanya hadits, atsar dan penerangan ahlul ‘ilmi yang menunjukkan naskh ini, hadits-hadits tentang mandi setelah jima’ meskipun tidak keluar mani -seperti di antaranya hadits ‘Aisyah atau hadits Abu Hurairah8- itu lebih rajih daripada hadits “Al- ma’u minal Ma’i”. Karena hadits tentang mandi setelah jima’ meskipun tidak keluar mani adalah manthuq (diucapkan secara lisan/ tekstual), sedangkan meninggalkan mandi bila tidak keluar mani dari hadits “Al-ma’u minal ma’i” diperoleh dari mafhum (apa yang dipahami dari hadits, bukan dari pernyataan tegas dari lisan Rasulullah n, -pent.). Dan yang manthuq dalam hal ini pengamalan/perbuatan dikedepankan daripada yang mafhum sekalipun mafhum mencocoki al-bara`ah al ashliyyah. Allah I sendiri berfirman:

“Jika kalian junub maka bersucilah (mandilah).” (Al-Maidah: 6)
Al-Imam Asy-Syafi’i t berkata: “Bahasa Arab menunjukkan bahwa (kata) janabah (junub) itu dipakai untuk menunjukkan makna jima’ secara hakiki walaupun tidak inzal9.” [Fathul Bari 1/495-496, Subulus Salam 1/132, Nailul Authar 1/310, Ats-Tsamarul Mustathab, bab Mujibat Ghusl, masalah Massul Khitan]
Al-Imam Asy-Syafi’i t dalam Ikhtilaful Hadits berkata: “Hadits ‘Al ma’u minal Ma’i’ tsabit akan tetapi hadits ini mansukh.” (Fathul Bari 1/497)
Al-Imam Al-Bukhari t berkata: “Mandi (setelah jima’ bila tidak keluar mani, -pent.) adalah lebih hati-hati10 dan ini adalah keputusan yang paling akhir11.” (Kitab Al-Ghusl, bab Ghusli Ma Yushibu min Farjil Mar’ah setelah hadits no. 293, Al-Imam Muslim t juga meriwayatkan hadits Ubay ini dalam Shahih-nya no. 346)
Adapun Al-Imam Ibnul Mundzir t (wafat tahun 318 H) dalam kitabnya Al-Ausath (2/81), beliau mengatakan: “Aku tidak mengetahui adanya khilaf dari kalangan ahlul ‘ilmi pada hari ini, tentang wajibnya mandi apabila telah masuk dzakar seorang suami dalam farji istrinya walaupun tidak keluar maninya.” Demikian pula Al-Hafizh Ibnul Qaththan t (wafat tahun 628 H) dalam kitabnya Al-Iqna’ fi Masa`ilil Ijma’ 1/97.
Faidah
Sebagian ulama mengatakan bahwa kewajiban mandi dengan bertemunya dua khitan itu disyaratkan bila tidak ada penghalang di antara dua kemaluan tersebut, sehingga bila ada penghalang tidaklah diwajibkan mandi. Namun yang lainnya berpendapat tetap diwajibkan mandi karena sabda Rasulullah n: maknanya umum, dan bersungguh-sungguh itu tetap bisa dilakukan walau ada penghalang. Ada lagi pendapat yang merinci, dengan menyatakan bila penghalang itu tipis yang dengannya kenikmatan jima’ bisa dirasakan dengan sempurna maka wajib mandi, namun bila penghalangnya tidak tipis maka tidak wajib mandi. (Al-Hawil Kabir 1/212, Syarhu Shahih Muslim 4/41, Asy-Syarhul Mumti’ 1/220)
Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin t berkata, pendapat yang merinci ini lebih dekat kepada kebenaran, dan untuk lebih hati-hati sebaiknya mandi. (Asy-Syarhul Mumti’, 1/220)
2.    Keluar mani
Allah I berfirman:

“Jika kalian junub maka bersucilah (mandilah).” (Al-Maidah: 6)
Yang dimaksud dengan junub adalah orang yang keluar mani dengan memancar dari kemaluannya dan ia merasakan nikmatnya (Asy-Syarhul Mumti’ 1/216). Rasulullah n bersabda:

“Hanyalah air itu dicurahkan karena keluar air (yakni mandi itu hanyalah diwajibkan karena keluar mani, –pent.).” (HR. Muslim no. 343 kitab Al-Haidh, bab Al-Ma’u minal Ma’i)12
Dzahir hadits di atas menunjukkan wajibnya mandi karena keluar mani, baik keluarnya dengan memancar disertai rasa nikmat ataupun tidak.
Memang dalam permasalahan ini kita dapati ahlul ilmi berbeda pendapat. Sehingga baik perintah yang mewajibkan mandi ini secara umum di setiap keluar mani walau tanpa disertai syahwat dengan sebab apapun, yang merupakan pendapat Al-Imam Asy-Syafi’i dan yang lainnya (Al-Hawil Kabir 1/212, Al-Majmu 1/160, Al-Muhalla 1/252), ataupun mandi hanya diwajibkan bila keluarnya dengan syahwat, yang merupakan pendapat jumhur ahlul ilmi dan para fuqaha (Al-Mughni 1/128, Majmu Al-Fatawa 21/296, Ats-Tsamarul Mustathab bab Mujibat Ghusl, masalah Khurujul Mani bi Syahwatin, Asy-Syarhul Mumti’ 1/216), mereka mensyaratkan dua hal untuk mewajibkan mandi karena keluar mani:
Pertama: keluarnya mani dengan memancar.
Kedua: merasakan nikmat saat keluarnya.
Dengan demikian, bila mani itu keluar dari orang yang sedang terjaga (tidak tidur) dengan tidak terasa nikmat dan tidak memancar maka tidak wajib mandi menurut pendapat ini. Dalilnya hadits ‘Ali z bahwasanya Rasulullah n bersabda:

“Apabila engkau memancarkan mani, mandilah dari janabah. Namun bila tidak memancar, engkau tidak perlu mandi.” (HR. Ahmad dalam Musnad, 1/107. Asy-Syaikh Al-Albani t menghasankannya dalam Ats-Tsamarul Mustathab fi Fiqhis Sunnah wal Kitab bab Mujibat Ghusl, masalah Khurujul Mani bi Syahwatin dan dalam Irwa`ul Ghalil 1/162 beliau berkata: “Hadits ini sanadnya hasan atau shahih”, sementara lafadz:

“Apabila engkau memancarkan air (mani), mandilah!” sebagaimana yang diriwayatkan Abu Dawud dan yang selainnya, dishahihkan oleh beliau dalam Irwa`ul Ghalil no.125)
Al-Imam Asy-Syaukani t berkata: “Al-Hadzfu (dalam hadits tersebut) maknanya terlempar/ memancar, dan tidaklah datang sifat yang demikian terkecuali dikarenakan syahwat. Oleh karena itu, Al-Majdu Ibnu Taimiyah mengatakan: “Di sini ada perhatian bahwasanya mani yang keluar tanpa syahwat, baik karena sakit ataupun dingin, tidak wajib mandi.” (Nailul Authar 1/308) Dan pendapat inilah yang penulis pilih, wallahu ‘allam bish-shawab.
Adapun bila mani itu keluar dengan memancar (syahwat) yang diiringi dengan lesu/ lemahnya badan, sama saja baik keluarnya karena jima’ atau karena ihtilam, ataupun karena sebab lain dari seorang lelaki atau seorang wanita, maka ulama sepakat orang tersebut harus mandi. (Al-Iqna’ fi Masa‘ilil Ijma’, Al-Imam Al-Hafidz Ibnul Qaththan, 1/97)
Dan apabila mani itu keluar dari orang yang tidur maka wajib mandi secara mutlak, karena orang yang sedang tidur tidak dapat merasakan dan membedakannya. Kenyataan yang kita dapatkan, banyak orang ketika bangun dari tidurnya, ia mendapatkan bekas mani tersebut (basah) di sekitar pakaiannya namun ia tidak ingat apakah ia ihtilam (mimpi senggama) atau tidak.
Ketika Ummu Sulaim x, istri Abu Thalhah z, datang menemui Nabi n dan bertanya:

“Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah tidak malu (dari menerangkan) kebenaran. Apakah wajib bagi wanita untuk mandi apabila ia ihtilam13?” Rasulullah n menjawab: “Iya, bila ia melihat air (mani saat terjaga dari tidurnya, –pent.)”. (HR. Al-Bukhari no. 282, kitab Al-Ghusl, bab Idza Ihtalamatil Mar’ah dan Muslim no. 313 kitab Al-Haidh, bab Wujubul Ghusl alal Mar’ah bi Khurujil Mani minha)
Hal ini menunjukkan wajibnya mandi bila seseorang bangun dari tidurnya karena mendapati pakaiannya basah karena air mani, baik menyadari/ merasakan keluarnya atau tidak, dan sama saja baik ia ingat mimpinya atau tidak, karena orang yang tidur terkadang lupa.
Dalam hal ini, tidak ada perbedaan pendapat dari ahlul ‘ilmi bahwa wanita sama dengan lelaki, bila si wanita ihtilam dan mendapati (pakaiannya) basah karena keluar mani saat ia terjaga dari tidurnya, maka ia wajib mandi (Al-Iqna’ fi Masa`ilil Ijma’, 1/98)
Aisyah x menyampaikan bahwa: “Rasulullah n pernah ditanya tentang seorang lelaki yang ketika bangun dari tidur mendapati (di sekitar pakaian dalamnya, –pent.) basah  namun ia tidak ingat apakah ia ihtilam. Beliau bersabda: “Orang itu mandi”. Beliau juga ditanya tentang seseorang yang mimpi ia ihtilam namun ia tidak mendapatkan basah di sekitarnya. Beliau berkata: “Tidak ada kewajiban mandi baginya.” (HR. Abu Dawud no. 236, kitab Ath-Thaharah bab Fir Rajul Yajidul Billah fi Manamihi, At-Tirmidzi no. 113 bab Fiman Yastayqizhu Fayara Balalan wa La Yadzkuru Ihtilaman, dll. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Shahih Sunan Abi Dawud dan Shahih Sunan At-Tirmidzi)
Al-Imam Ibnul Qaththan t berkata: “Telah sepakat ahlul ilmi yang kami hafal, bahwasanya bila seorang lelaki mimpi ihtilam atau mimpi melakukan jima’ namun ketika terjaga dari tidurnya ia tidak mendapati basah (mani) maka tidak ada kewajiban mandi baginya, tidak pula wajib berwudhu.” (Al-Iqna’ fi Masa`ilil Ijma’, 1/99)

Faidah
Orang yang bangun tidur dan mendapati di sekitar pakaiannya basah, maka ia tidak lepas dari salah satu keadaan berikut:
Pertama: Ia yakin yang keluar itu mani, maka ketika itu wajib mandi, baik ia ingat ihtilamnya atau tidak.
Kedua: Ia yakin yang keluar itu bukanlah mani tapi madzi, maka ia tidak wajib mandi namun cukup membasuh bagian tubuhnya yang terkena, karena madzi itu najis, hukumnya sama dengan hukum kencing.
Ketiga: Ia tidak tahu, apakah yang keluar itu mani atau madzi. Pada keadaan ini, bila ia ingat bahwa ia telah ihtilam maka ia menganggap yang keluar itu adalah mani. Karena Rasulullah n ketika ditanya tentang mandinya seorang wanita yang ihtilam, beliau mengiyakan bila wanita tersebut melihat air mani. Bila ia tidak bermimpi, tapi sebelumnya ia berpikir tentang jima’ atau sebelumnya ia bermesraan dengan istrinya, maka yang sering terjadi itu adalah madzi, karena keluarnya tidak dirasakan. Dengan demikian ia hanya mencuci bagian tubuh atau pakaiannya yang terkena. Namun bila ia tidak berpikir tentang jima’ dan ia tidak melakukan hal-hal yang mengantarkan kepada jima’, maka ada dua pendapat di kalangan ulama. Ada yang mengatakan wajib mandi demi kehati-hatian seperti pendapat ‘Atha`, Asy Sya’bi, An-Nakha’i dan Ahmad. Mayoritas ahlul ilmi yang lain berpendapat tidak wajib mandi sampai ia yakin bahwa basah yang didapatkannya itu adalah karena keluarnya mani. (Syarhus Sunnah 2/9, Al-Mughni 1/130, Asy-Syarhul Mumti’, 1/217-218, Taudhihul Ahkam 1/373)

(bersambung, insya Allah)


1 Ulama berbeda pendapat dalam menerangkan apa yang dimaksud dengan empat cabang ini. Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud dalam hadits ini adalah dua tangan dan dua kaki si wanita. Ada yang mengatakan dua kaki dan dua pahanya. Ada pula yang mengatakan dua betis dan dua pahanya. Ada yang berpendapat dua paha dan dua sisi kemaluannya. Pendapat lain mengatakan dua paha dan dua ujung dari bagian sisi kemaluannya dan terakhir ada yang berpendapat empat sisi kemaluannya. Al-Qadhi ‘Iyadh menguatkan pendapat yang terakhir sedangkan Ibnu Daqiqil Ied memilih pendapat yang pertama. Beliau beralasan: “Karena pendapat yang menerangkan bahwa empat cabang itu adalah dua tangan dan dua kaki lebih dekat kepada hakikat atau hal ini merupakan hakikat ketika duduk. Pernyataan ini merupakan kinayah (kiasan) dari jima’, maka Nabi n mencukupkan dengan kiasan ini dari menyebut jima’ secara terang-terangan.” (Fathul Bari 1/493, Syarhu Shahih Muslim 4/40, Al-Majmu’ 2/155)

2 Adapun masuknya hasyafah pada farji wanita, apabila yang dimaksud di sini tidak mengeluarkan mani, maka permasalahan ini diperselisihkan. Selengkapnya, lihat penjelasan lebih lanjut.

3 Dalam sabda Nabi n  , air yang disebutkan pertama adalah air untuk mandi sedangkan air yang kedua adalah mani. (Fathul Bari 1/496)

4 Bersungguh-sungguh di sini adalah kiasan dari memasukkan kemaluan. (Fathul Bari 1/493)

5 Dalam hadits ini menunjukkan bolehnya menyebut perkara yang semisal ini di hadapan istri bila ada maslahat dan tidak menyakitkan. Nabi n hanyalah menyampaikan demikian agar lebih mengena/ meyakinkan di jiwa si penanya. (Syarhu Muslim 4/42)

6  Yang mengatakan tidak wajib mandi karena bersenggama kecuali bila keluar mani.

7 Ulama berkata: “Maknanya dzakar seseorang telah masuk ke dalam farji istrinya”. Karena ulama telah sepakat, jika seseorang meletakkan dzakarnya di atas khitan istrinya dan ia tidak memasukkan dzakarnya tersebut maka tidak wajib mandi baginya, baik bagi si suami maupun bagi istrinya. (Syarhu Shahih Muslim 4/42, Al-Majmu’ 2/149, Al-Hawil Kabir 1/211).
8 Yaitu hadits:

9 Sementara dalam ayat disebutkan orang yang junub diperintah untuk mandi.

10 Seandainya tidak ada nash yang menunjukkan naskh dan tidak bisa ditarjih di antara dalil yang ada, maka mandi itu lebih hati-hati bagi agama seorang hamba. (Fathul Bari 1/496)

11 Paling akhir dari dua perkara dari penetap syariat atau dari ijtihad para imam. (Fathul Bari 1/496)

12 Mungkin timbul pertanyaan di benak pembaca, bukankah hadits ini mansukh dengan keterangan yang telah disebutkan ketika membahas wajibnya mandi karena bertemunya dua khitan, lalu kenapa dalam pembahasan berikutnya tetap dibawakan sebagai dalil?
Maka jawabannya, bahwa manthuq hadits Abu Sa’id z ini tidaklah terhapus dengan hadits Abu Hurairah z:
karena inzal (keluarnya mani) memang mengharuskan dan mewajibkan mandi, dengan demikian yang mansukh hanyalah mafhumnya. (Taudhihul Ahkam 1/371)

13 Dalam riwayat Ahmad disebutkan bahwa Ummu Sulaim x berkata:

“Wahai Rasulullah, apabila dalam mimpinya seorang wanita melihat suaminya menggaulinya, apakah ia harus mandi?”

 

Kekalahan Akibat Kelalaian (Perang Uhud bagian 3)

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Harits Abrar Thalib)

 

Perang Uhud benar-benar pertempuran yang dahsyat. Rasulullah n sempat terluka di bagian pipi dan gigi beliau ada yang tanggal. Kaum muslimin sempat patah semangat ketika setan meniupkan berita bahwa beliau telah meninggal. Pada pertempuran ini pula salah satu pahlawan Islam, Hamzah bin AbdulMuththalib z, gugur.

Keadaan pribadi Nabi n juga sangat menyedihkan. Apalagi kaum musyrikin betul-betul dendam kepada beliau. Beberapa prajurit musyrikin berusaha mendekati beliau, ada yang berhasil memecahkan topi baja beliau sehingga melukai kepala dan menembus pipi beliau serta memecahkan gigi seri beliau. Al-Imam Al-Bukhari t menceritakan dalam Shahih-nya:

(Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Allah menerima taubat mereka..).1 Humaid dan Tsabit berkata, dari Anas bahwasanya Nabi n luka berdarah kepala beliau pada perang Uhud, lalu berkata: “Bagaimana mungkin beruntung satu kaum yang melukai Nabi mereka. Maka turunlah ayat: (Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu).”Ibnu Hajar t mengatakan (Al-Fath, 7/457): Adapun hadits (riwayat) Humaid (Ath-Thawil), disambungkan sanadnya oleh Al-Imam Ahmad, At-Tirmidzi dan An-Nasa`i dari beberapa jalan dari Humaid. Ibnu Ishaq sendiri dalam kitab Al-Maghazi mengatakan: “Telah bercerita kepada saya Humaid Ath-Thawil dari Anas, katanya: “Gigi seri Nabi n pada waktu perang Uhud, dan wajah beliau luka sehingga mengalirlah darah di wajah beliau. Mulailah beliau mengusap darah yang mengalir di wajahnya seraya berkata:

“Bagaimana beruntung suatu kaum yang menodai wajah Nabi mereka dengan darah, padahAl-dia mengajak mereka kembali kepada Rabb mereka U”, maka turunlah ayat (128 surat Ali ‘Imran).”
Adapun hadits (riwayat) Tsabit disambungkan sanadnya oleh Al-Imam Muslim dari riwayat Hammad bin Salamah dari Tsabit dari Anas bahwa Nabi n berkata pada peristiwa Uhud dalam keadaan darah mengalir di wajah beliau:

Bagaimana beruntung suatu kaum yang melukai Nabi mereka dan memecahkan gigi serinya, padahAl-dia mengajak mereka kepada Allah. Maka Allah U menurunkan firman-Nya:  (Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu)”. Kemudian Ibnu Hajar t menukilkan riwayat Ibnu Hisyam dalam hadits Abu Sa’id Al-Khudri bahwasanya ‘Utbah bin Abi Waqqash-lah yang memecahkan gigi dan bibir Rasulullah n bagian bawah, sedangkan ‘Abdullah bin Syihab Az-Zuhri melukai kening Nabi n, dan ‘Abdullah bin Qami`ah melukai pelipis beliau sehingga lingkar besi topi baja beliau menembus wajah beliau. Ibnu Ishaq sebagaimana dinukil Ibnu Hajar t menceritakan ucapan Sa’d bin Abi Waqqashzyang mengatakan: “Belum pernah saya berambisi membunuh seseorang sama sekali sebagaimana ambisi saya untuk membunuh saudara saya sendiri ‘Utbah karena perlakuannya terhadap Nabi n pada waktu Uhud.” Ibnul Qayyim t menceritakan (dalam kitab Az-Zaad 3/198) bahwa ketika sedang berkecamuknya pertempuran, syaithan berteriak bahwa Muhammad n telah terbunuh.2 Ibnu Qami`ah setelah berhasil melukai Rasulullah n kembali kepada pasukan musyrikin dan mengatakan bahwa dia telah membunuh Muhammad n, padahal dia hanya berhasil melukai kepala beliau.Hal ini menyebabkan semangat sebagian kaum muslimin semakin merosot untuk melanjutkan pertempuran. Sebagian dari mereka melarikan diri, sebagian lagi bertempur hingga gugur sebagai syuhada`. Dan satu persatu sahabat-sahabat Rasulullah n berguguran. Imam Bukhari meriwayatkan pula:

“Dari ‘Aisyah x, katanya: “Pada waktu perang Uhud, mulanya kaum musyrikin berhasil dikalahkan, maka berteriaklah Iblis yang dilaknat oleh Allah: “Hai hamba Allah, yang terakhir dari kalian.” Maka kembalilah barisan pertama mereka sehingga bergabung dengan yang terakhir (mengepung kaum muslimin). Hudzaifah melihat, ternyata ayahnya Al-Yaman, diapun berteriak: “Hai hamba Allah itu ayahku, ayahku.”Kata ‘Aisyah: “Mereka mengepungnya lalu membunuhnya.” Kata Hudzaifah: “Semoga Allah mengampuni kamu.”Abu Dawud Ath-Thayalisi t meriwayatkan dari ‘Aisyah bahwa Abu Bakr kalau teringat peristiwa Uhud menceritakan bahwa itu adalah hari-harinya Thalhah bin ‘Ubaidillah. Saya termasuk orang pertama yang kembali mendekati Rasulullah n. Saya lihat ada seseorang bertempur membela Rasulullah n. Ternyata Thalhah yang bertempur dengan hebat hingga putus jari-jarinya. Dia berkata: “Hiss.” Nabi n berkata kepadanya: “Seandainya kau ucapkan Bismillah, niscaya para malaikat akan mengangkatmu sedangkan orang banyak melihat.” (Al-Fath 7/451)

Gugurnya Hamzah bin ‘Abdil Muththalib z
Al-Imam Al-Bukhari t meriwayatkan dalam Shahih-nya
Dari Ja’far bin ‘Amr bin Umayyah Adh-Dhamri, katanya: “Saya berangkat bersama ‘Ubaidullah bin ‘Adi bin Khiyar. Ketika tiba di Himsh, ‘Ubaidullah bin ‘Adi berkata kepada saya: “Maukah kamu bertemu Wahsyi, lalu kita tanyakan dia tentang pembunuhan terhadap Hamzah?” Saya berkata: “Ya.” Wahsyi ketika itu tinggal di Himsh. Lalu kamipun bertanya tentang dia. Dikatakan kepada kami bahwa dia di bawah naungan rumahnya seakan-akan dia hamit3.Kami menemuinya hingga berdiri di dekatnya, lalu kami ucapkan salam kepadanya dan diapun membalas salam kami. Waktu itu ‘Ubaidullah melilitkan sorbannya sehingga yang dilihat Wahsyi hanyalah mata dan kedua kakinya. Dia berkata: “Hai Wahsyi, kamu kenal saya?” Wahsyi memandangnya kemudian ia berkata: “Tidak, demi Allah. Hanya saja saya tahu ‘Adi bin Khiyar menikah dengan seorang wanita bernama Ummu Qital bintu Abil ‘Ish, lalu melahirkan seorang putera di Makkah. Dan saya mencarikan susuan untuk anak itu. Saya membawa anak itu dan ibunya, lalu saya berikan kepada wanita itu. Seakan-akan saya melihat kedua kakimu.”‘Ubaidullah membuka sorbannya, lalu berkata: “Maukah kamu ceritakan tentang terbunuhnya Ham-zah?”Kata Wahsyi: “Ya. Sesungguhnya Hamzah telah membunuh Thu’aimah bin ‘Adi bin Khiyar dalam perang Badr. Lalu berkatalah majikan saya Jubair bin Muth’im kepada saya: “Kalau kamu bunuh Hamzah sebagai balasan atas pamanku, maka kamu bebas.”Maka ketika orang-orang berangkat tahun ‘ainain –sebuah  gunung setentang Uhud yang dipisahkan sebuah lembah– saya ikut bersama mereka.Ketika mereka telah berbaris, keluarlah Siba’, dia berkata: “Siapa yang maju bertanding?”Lalu keluarlah Hamzah bin ‘Abdil Muththalib menyambut tantangannya, katanya: “Hai Siba’, hai putera Ummu Anmar, pemotong buzhur4, apakah kamu me-nentang Allah dan Rasul-Nya n?”Ke-mudian Hamzah menyerangnya dan berhasil membu-nuhnya. Lalu saya bersembunyi mengintai Hamzah di bawah sebuah batu besar. Setelah dia mendekat ke arah saya, saya lemparkan tombak saya tepat menembus perutnya. Itulah kematiannya.Setelah orang-orang kembali, sayapun ikut bersama mereka. Sayapun tinggal di Makkah sampai Islam tersebar di sana. Kemudian saya keluar menuju Thaif. Merekapun mengirim utusan kepada Rasulullah n, lalu dikatakan kepada saya bahwa beliau tidak menghardik dan menyakiti para utusan.”Sayapun berangkat bersama mereka hingga bertemu dengan Rasulullah n. Setelah melihat saya beliau bertanya: “Engkau Wahsyi?”Saya berkata: “Ya.” Kata beliau: “Engkau yang membunuh Hamzah?”Saya berkata: “Itulah berita yang sampai kepada anda.”Beliau berkata lagi: “Bisakah engkau jauhkan wajahmu dari saya?”5 Sayapun keluar. Setelah Rasulullah n wafat, muncullah Musailamah Al-Kadzdzab (Si Pendusta).6 Saya bertekad akan keluar menghadapinya. Mudah-mudahan saya dapat membunuhnya sebagai tebusan atas terbunuhnya Hamzah.7 Maka saya keluar bersama kaum muslimin. Kemudian terjadilah sebagaimana yang terjadi. Ternyata ada seseorang berdiri di rekahan sebuah dinding seakan-akan seekor unta kelabu yang kusut rambutnya, lantas saya lemparkan tombak tepat menembus kedua dadanya hingga ke tulang belikatnya. Lalu melompatlah seseorang dari Anshar8 lalu mene-bas kepalanya.”Kata rawi: “’Abdullah bin Al-Fadhl9 berkata: “Sulaiman bin Yasar menceritakan kepada saya bahwa dia mendengar ‘Abdillah bin ‘Umar berkata: “Seorang budak wanita berkata dari atas balkon sebuah rumah: “Tolong, Amirul Mukminin (yakni Musailamah) dibunuh seorang budak hitam (Wahsyi).”
Beberapa ahli tarikh menceritakan kekalahan ini dan menerangkan bahwa kaum muslimin yang tewas dalam perang Uhud adalah sekitar tujuh puluh orang.
(bersambung, insya Allah)


1 Al-Quran surat Ali ‘Imran ayat 128.

2 Lihat juga Tafsir Ibnu Katsir t ketika menerangkan ayat 144 surat Ali ‘Imran.

3 Maksudnya hitam dan gemuk.

4 Wanita yang bekerja mengkhitan perempuan. Dan kalimat ini adalah ejekan yang sangat menyakitkan bagi yang mendengarnya. Wallahu a’lam.

5 Yakni, jangan sampai melihat Rasulullah n, wallahu a’lam.

6 Yang mengaku-aku Nabi.

7 Dalam riwayat lain dia menyatakan: “Saya telah membunuh sebaik-baik manusia (setelah Rasulullah n), dan sejahat-jahat manusia (yaitu Musailamah). Wallahu a’lam.

8 Yaitu ‘Abdullah bin Zaid bin ‘Ashim Al-Mazini.

9 Ibnu ‘Abbas bin Rabi’ah bin Al-Harits bin ‘Abdil Muththalib Al-Hasyimi Al-Madini, dari kalangan tabi’in kecil (setingkat Az-Zuhri atau yang semasa dengan beliau). Wallahu a’lam.

Tawassul, Syubhat dan Bantahannya bagian 3

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah)

Salah satu alasan yang sering dikemukakan oleh orang-orang yang membolehkan tawassul adalah dengan menyerupakan Allah I seperti Raja atau pejabat tinggi, yang tidak membolehkan sembarang orang menemui atau meminta sesuatu secara langsung kepadanya. Ada ajudan-ajudan atau perantara yang akan menyampaikan permintaan orang-orang kepada raja atau pejabat tinggi tersebut. Demikian pula ketika meminta sesuatu kepada Allah I, maka harus melalui perantara agar lebih mudah dikabulkan. Benarkah alasan yang dikemukakan mereka ini?

Demikianlah, ahli kebatilan tidak akan henti-hentinya menjadi pemangsa para pengikut kebenaran, yang ujung-ujungnya adalah apa yang telah dijelaskan oleh Allah U di dalam firman-Nya:

“Sesungguhnya setan bagi kalian adalah musuh, maka jadikanlah mereka sebagai musuh, dan sesungguhnya setan menyeru para pengikutnya untuk menjadi penghuni neraka Sa’ir.” (Fathir: 6)
Ibnu Katsir t menjelaskan: “Kemudian Allah I menjelaskan tentang permusuhan iblis kepada Bani Adam, Allah mengatakan: “Sesungguhnya setan itu bagi kalian adalah musuh maka jadikanlah mereka sebagai musuhmu.” Maknanya adalah Iblis dengan terang-terangan memusuhi kalian (manusia), maka musuhilah mereka dengan permusuhan yang keras. Selisihilah dan dustakanlah segala yang menjadi tipu muslihatnya, karena dia menyeru para pengikutnya ke dalam Neraka Sa’ir.” Artinya bahwa dia (Iblis) bermaksud menyesatkan kalian sehingga kalian masuk bersamanya ke dalan adzab yang pedih. Demikianlah permusuhannya yang nyata.
Kita meminta kepada Allah Yang Maha Kuat dan Maha Perkasa agar menjadikan kita sebagai musuh-musuh para setan dan memberikan kita rizki untuk mengikuti kitab-Nya dan mengikuti jalan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah I berkuasa terhadap apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah yang pantas untuk menerima doa.” (Tafsir Ibnu Katsir dalam tafsir surat di atas)
Bila seorang muslim mengetahui tujuan penyesatan iblis dan bala tentaranya dari kalangan manusia dan jin, maka sepantasnya  ia mempersiapkan senjata untuk memerangi mereka. Juga membentengi diri dengan membuat tameng yang kokoh dari serangan mereka. Tidak ada senjata serta tameng yang paling ampuh dan kokoh melainkan ilmu syariat. Sekuat apapun pertahananmu bila tidak bersenjata-kan ilmu syariat mesti akan lumpuh di hadapan kebatilan dan terjerat dengan syhubhat-syubhatnya. Inilah kandungan isyarat Rasulullah n ketika melepaskan Mu’adz z ke Negeri Yaman:

“Sesungguhnya kamu akan mendatangi ahli kitab maka hendaklah yang pertama kali kamu serukan kepada mereka adalah syahadat Lailahaillallah.”
Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin v mengatakan: “Oleh karena itu ketika Rasulullah n mengutus Mu’adz ke negeri Yaman, beliau berkata: ‘Sesungguhnya engkau akan mendatangi ahli kitab.’ (Rasulullah n mengatakan) demikian agar Mu’adz bersiap-siap menghadapi mereka dan mengilmui hujjah yang dimiliki mereka sehingga beliau bisa membantah kebatilan yang ada pada mereka.” (Syarah Kasyfus Syubuhat hal. 24)
Kita berlindung kepada Allah I agar tidak menyesatkan kita setelah Dia memberikan hidayah-Nya dan mengajarkan ilmu. Di antara syubhat-syubhat ahli kebatilan dalam masalah tawassul adalah:

Syubhat Ketiga: Mengkiaskan antara Khaliq yaitu Allah I dengan Makhluk
Mereka mengatakan: “Bertawassul dengan dzat atau kedudukan orang shalih merupakan satu perkara yang dituntut (diperlukan) dan diperbolehkan, karena perkaranya sesuai dengan praktek dan realita hidup. Contohnya, bila seseorang memiliki keperluan dan hajat pada seorang raja atau menteri atau pembesar, dia tidak bisa langsung mengha-dapnya. Dia harus melalui para ajudan-ajudan jika urusannya ingin segera bisa terselesaikan. Begitu juga kaitannya dengan Allah I. Kami ini adalah orang yang berdosa dan tidak pantas bagi kami untuk meminta kepada-Nya dengan langsung, melainkan harus dengan orang-orang shalih dan orang-orang yang dekat di sisi-Nya seperti para Malaikat, para nabi, orang-orang shalih dan selain mereka. Bila mereka berdoa akan cepat terkabulkan, dan bila meminta syafaat akan cepat diterima. Bukankah suatu hal yang sangat pantas bila kita meminta melalui mereka dengan menyebut kedudukan mereka ketika kita berdoa dan semoga Allah I menyegerakan pengabulannya sebagai bentuk pemuliaan Allah I kepada orang-orang yang shalih tersebut?”
Bantahan:
Sungguh sebuah syubhat yang sangat mudah untuk dibantah dan dihancurkan, tak ubahnya seperti sarang laba-laba yang ditiup angin. Bantahannya bisa dari beberapa sisi:
Pertama, pengkiasan antara Allah I dengan makhluk adalah qiyas batil, dan qiyas batil adalah batil (tidak bisa dipakai).
Kedua, menyamakan antara Allah I dengan makhluk termasuk dari pengingkaran terhadap firman-firman Allah I di dalam Al-Qur`an:

“Tidak ada sesuatu yang serupa dengan Allah Dia Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Asy-Syura: 11)
Al-Imam Al-Qurthubi v di dalam Tafsir-nya menjelaskan: “Yang diyakini dalam bab ini adalah bahwa Allah I dengan ketinggian nama-Nya dalam Kemahabesaran, Keagungan-Nya, Maha Bagus nama-Nya dan Maha Tinggi sifat-sifat-Nya, tidak menyerupai makhluknya sedikitpun dan makhluk-Nya tidak menyerupai-Nya sedikitpun.” (Tafsir Al-Qurthubi ketika menafsirkan ayat ini)

“Dan janganlah kalian menjadikan bagi Allah permisalan-permisalan (tandingan-tandingan).” (An-Nahl: 74)
Ibnu Katsir v menjelaskan: “Janganlah kalian menjadikan bagi Allah I tandingan-tandingan, penyerupa-penyerupa, atau permisalan-permisalan.”
Ketiga, bila menyerupakan antara Allah I dengan malaikat, para nabi dan rasul, atau menyerupakan dengan para pemimpin yang adil seperti Abu Bakar dan ‘Umar, termasuk perbuatan kesyirikan. Bagaimana jika menyerupakan Allah I dengan raja-raja yang dzalim di muka bumi ini? Bagaimana hal ini akan masuk akal dan diterima oleh fitrah, sementara kalian mengakui keagungan Allah I? Sungguh sangat bertentangan dengan pengakuan kalian bahwa kalian memuliakan dan mengagungkan Allah I.
Keempat, Al-‘Iz bin Abdus Salam1 mengatakan di dalam kitab Al-Wasithah (hal. 5): “Barangsiapa yang menetapkan para nabi atau para ulama sebagai perantara antara Allah dengan makhluk-Nya, sebagai-mana seorang ajudan antara raja dan rakyatnya, dengan keyakinan bahwa mereka (para nabi dan ulama tersebut) akan bisa mengangkat segala hajatnya kepada Allah, dan bahwa Allah memberikan rizki kepada setiap hamba-Nya dan membela mereka dengan melalui perantara tersebut, maknanya adalah bahwa makhluk meminta kepada mereka (para perantara tersebut) dan para perantara tersebut meminta kepada Allah sebagaimana halnya seorang ajudan kepada seorang raja, dikarenakan mereka lebih dekat kemungkinannya untuk di kabulkan. Maka barangsiapa menetapkan perantara dalam bentuk ini, dia adalah seorang yang musyrik dan wajib baginya untuk dimintai taubat. Dan jika dia bertaubat (maka diterima) dan jika dia tidak mau bertaubat maka harus dibunuh. Mereka adalah orang-orang yang menyerupakan Allah I dengan makhluk, dan menjadikan tandingan-tandingan bagi Allah I.”

Syubhat Keempat: Mengkiaskan “Tawassul dengan Dzat” dengan “Tawassul dengan Amal Shalih”
Mereka (ahli kebatilan) mengatakan: “Kalian wahai Ahlus Sunnah, telah menjelaskan tentang disyariatkannya tawassul dengan amal shalih. Jika tawassul dengan amal shalih diperbolehkan, maka bertawassul dengan orang shalih -yang darinya muncul amal shalih- akan lebih boleh lagi, dan bahkan lebih disyariatkan dan tidak boleh untuk diingkari.”

Bantahan:
Bantahan syubhat ini dari dua sisi:
Pertama, qiyas seperti ini dalam permasalahan ibadah adalah batil.2 Perumpamaan pengkiasan batil ini sama de-ngan orang yang mengatakan: “Apabila seseorang boleh bertawassul dengan amal shalihnya, maka bertawassul dengan amal para nabi dan para wali tentu lebih boleh lagi.” Tentu hal ini adalah batil dan tidak ada hasil dari sebuah kebatilan melainkan kebatilan pula.
Kedua, di samping pengkiasan ini adalah batil, Ahlus Sunnah dahulu maupun sekarang berkeyakinan bahwa seseorang boleh bertawassul dengan amal shalihnya, namun tidak boleh bertawassul dengan amal shalih orang lain. Kalau saja dengan amal shalih orang lain tidak diperbolehkan, apalagi bertawassul dengan kedudukan dan dzat orang lain.

Hadits-hadits Maudhu’ (Palsu) dalam Masalah Tawassul
Salah satu di antara penyebab kekufuran, kesyirikan dan kebid’ahan serta segala bentuk kesesatan kaum muslimin di dalam agama adalah tersebarnya hadits-hadits dha’if (lemah) dan maudhu’ (palsu). Dari sini kita mengetahui betapa besar amalan ulama ahli hadits, yang dahulu maupun sekarang, dalam menjaga kemurnian Islam dan menyelamatkan kaum muslimin dari kesesatan. Demikianlah bukti janji Allah I di dalam Al-Qur`an:

“Sesungguhnya Kami yang telah menurunkan Ad-Dzikr (Al-Qur’an) dan Kami Yang akan menjaganya.” (Al-Hijr: 9)
Juga bukti kebenaran sabda Rasulullah n:

“Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, niscaya Allah akan memberikan kefaqihan di dalam agama. Dan sesungguhnya aku adalah sebagai pembagi (harta shadaqah) dan yang memberi adalah Allah. Terus menerus (sebagian) dari umat ini (Islam) tegak di atas perintah Allah, tidak akan membahayakan mereka siapapun yang menyelisihi mereka sampai datang keputusan Allah.”
Oleh karena itu tidak ada seorangpun yang mencaci-maki ahli hadits dan merendahkan kedudukan mereka kecuali dia memang seorang ahli kebatilan. Al-Imam Abu ‘Utsman Isma’il bin Abdurrahman Ash-Shabuni t yang meninggal pada tahun 449 H mengatakan: “Tanda-tanda kebid’ahan atas para pelakunya nampak jelas. Dan tanda-tanda ahli bid’ah yang paling kentara adalah sangat keras permusuhan mereka terhadap para pembawa bendera As-Sunnah. Sangat keras penghinaan dan pelecehan mereka, dan mereka memberikan gelar-gelar (yang buruk) seperti kaku, jahil, dzahiriyyah (hanya beragama dengan konteks nash saja), dan musyabbihah (orang yang menyerupakan Allah I dengan makhluk).” Beliau membawakan sanadnya sampai kepada Ahmad bin Sinan Al-Qaththan, ia berkata: “Tidak ada seorangpun dari ahli bid’ah di dunia ini, kecuali dia membenci ahli hadits.”3
Di antara hadits-hadits maudhu’ tersebut adalah:
Pertama:

“Bertawassullah kalian dengan jah-ku (kedudukanku), karena kedudukanku di sisi Allah adalah besar.” Atau “Apabila kalian meminta kepada Allah, maka mintalah dengan jahku karena sesungguhnya jahku di sisi Allah adalah besar.”
Kedudukan Hadits:
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t berkata: “Hadits ini memiliki kedustaan, dan tidak terdapat dalam kitab ulama Islam yang bisa dijadikan sandaran di dalam menghukumi hadits ini oleh para ulama ahli hadits. (Hadits ini juga) tidak disebutkan oleh seorangpun dari ahli hadits. Meskipun demikian, kedudukan beliau di sisi Allah I memang sangat besar dibandingkan para nabi yang lain.” (Qa’idah Jalilah Fi Tawassul wal Wasilah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah hal. 168)
Di dalam kitab Iqtidha’ Shirathil Mustaqim hal. 415, Syaikhul Islam berkata tentang hadits ini: “Mereka (ahli bid’ah) mengatakan: ‘Sesungguhnya kami bertawas-sul kepada Allah dengan (jah) para nabi dan wali’, dan mereka meriwayatkan hadits maudhu’ (palsu): ‘Apabila kalian meminta kepada Allah, maka mintalah kalian dengan jah-ku karena sesungguhnya jah-ku di sisi Allah adalah luas (besar)’.”
Asy-Syaikh Al-Albani t mengatakan: “Hadits ini batil dan tidak memiliki asal-usul sanad sedikitpun di dalam kitab-kitab hadits. Namun diriwayatkan oleh sebagian orang yang jahil tentang As-Sunnah.” (Kitab At-Tawassul karya beliau hal. 127)
Beliau juga mengatakan: “Hadits ini tidak memiliki asal-usul sanad.” (Silsilah Al-Ahadits Adh-Dha’ifah wal Maudhu’ah, 1/76 no. 22)

Kedua:

“Apabila kalian mendapatkan kesulitan dalam urusan kalian maka hendaklah kalian (meminta kepada) Allah melalui penghuni kuburan.” Atau “Mintalah kalian kepada penghuni kuburan agar terbebaskan dari malapetaka.”
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah v berkata: “Hadits ini termasuk hadits yang diada-adakan atas nama Rasulullah n menurut ijma’ (kesepakatan) ulama ahli hadits. Tidak pernah diriwayatkan oleh seorangpun dari ulama ahli hadits, dan tidak didapatkan di dalam kitab-kitab hadits yang menjadi rujukan.” (Majmu’ Fatawa Syakhul Islam Ibnu Taimiyah, 11/293)
Al-Imam Ibnul Qayyim t berkata (ketika beliau menjelaskan perkara-perkara yang menyebabkan terjatuhnya para penyembah kuburan ke dalam fitnah): “Di antaranya hadits Rasulullah n yang dibuat di atas kepalsuan, yang telah dibuat oleh para penyembah kuburan dari para pengagung kuburan Rasulullah n yang menyelisihi agama beliau dan apa yang beliau bawa. Juga seperti hadits: “Apabila kalian menemukan kesulitan di dalam urusan kalian maka hendaklah kalian menghadap ahli kubur.” Juga seperti hadits: “Kalau seseorang bersangka baik terhadap sebuah batu maka batu itu akan memberinya manfaat.” (Ighatsatul Lahafan, Ibnul Qayyim, 1/243)

Ketiga:
Hadits dari Anas bin Malik ketika Fathimah bintu Asad bin Hasyim -ibu Ali bin Abi Thalib- meninggal, beliau (Rasulullah n) memanggil Usamah bin Zaid, Abu Ayyub Al-Anshari, ‘Umar bin Al-Khaththab dan budak berkulit hitam untuk menggali lubang. Ketika selesai, Rasulullah n masuk ke dalamnya dan tidur terlentang lalu bersabda:

“Allah Dzat yang menghidupkan dan mematikan dan Dzat yang Maha hidup dan tidak akan mati, ampunilah ibuku Fathimah bintu Asad dan talqinkan hujahnya dan luaskan kuburannya karena hak nabi Engkau dan hak para nabi sebelumku karena sesungguhnya engkau dzat Yang Maha Penyayang.”
Asy-Syaikh Al-Albani t mengatakan: “Hadits ini dha’if, diriwayatkan oleh Ath-Thabrani di dalam Al-Kabir, 24/351-352 dan di dalam Al-Ausath, 1/152-153.” (Silsilah Al-Ahadits Adh-Dha’ifah wal Maudhu’ah 1/79 no. 23)

Keempat: Dari hadits Abu Sa’id Al-Khudri z:

“Barangsiapa yang keluar dari rumahnya untuk menunaikan shalat lalu berkata: “Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepada Engkau dan dengan hak para peminta dan aku meminta dengan hak langkahku ini. Sesungguhnya aku tidak keluar untuk berbuat jahat, sombong, riya’ (melakukan sesuatu karena ingin dilihat) dan tidak pula karena sum’ah (melakukan sesuatu karena ingin didengar). Aku keluar karena takut murka-Mu dan mengharap ridha-Mu dan aku meminta kepada-Mu agar melindungiku dari adzab Neraka dan agar engkau mengampuni dosa-dosaku, sesungguhnya karena tidak ada yang akan mengampuni dosa melainkan Engkau (ganjarannya) Allah akan mengahadap orang tersebut dengan Wajah-Nya dan akan dimintakan ampun oleh tujuh puluh ribu malaikat.”
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t berkata: “Sesungguhnya telah diriwayatkan dari Nabi dikeluarkan oleh Ibnu Majah, namun sanadnya tidak bisa dipakai sebagai hujjah.” (Majmu’ Fatawa, 1/255)
Hadits ini juga dilemahkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani t dengan mengatakan: “Secara global, hadits ini lemah dari jalannya. Dan salah satu darinya lebih lemah dari yang lain dan telah dilemahkan oleh Al-Bushiri, Al-Mundziri dan para imam selain beliau. Dan barangsiapa yang menghasankannya maka sungguh dia telah wahm (salah, lalai) atau dia bermudah-mudah.” (Silsilah Adh-Dha’ifah, 1/88 no. 24).

Kelima: Dari ‘Umar bin Al-Khaththab:

Ketika Nabi Adam berbuat kesalahan, dia berkata: “ Wahai Rabbku, aku meminta dengan hak Muhammad agar engkau mengampuni dosaku.” Lalu Allah berfirman: “Bagaimana kamu mengetahui Muhammad sedangkan Aku belum menciptakan dia?” Adam berkata: “Wahai Rabbku, ketika engkau menciptakanku dan Engkau tiupkan ruh dari-Mu, Engkau mengangkat kepalaku dan aku melihat di tiang-tiang ‘Arsy tertulis ‘Laa ilaha illallah Muhammadun Rasulullah’ maka aku mengetahui bahwa tidaklah Engkau menggandengkan nama dengan nama-Mu melainkan orang tersebut yang paling Engkau cintai.” Lalu Allah berfirman: “Aku telah mengampunimu. Kalau bukan karena Muhammad, niscaya Aku tidak akan menciptakanmu.”
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t berkata: “Periwayatan Al-Hakim terhadap hadits ini merupakan perkara yang diingkari oleh para ulama terhadap beliau. Beliau sendiri mengatakan di dalam kitab Al-Madkhal Ila Ma’rifati Ash-Shahih min As-Saqim: “Abdurrahman bin Zaid bin Aslam meriwayatkan hadits-hadits maudhu’ dari bapaknya. Dan tidak tersembunyi lagi bagi orang-orang yang ahli dalam bidang ini, bila dia mendalaminya akan memahami demikian.” Aku berkata: “Abdurrahman bin Zaid bin Aslam lemah dengan kesepakatan ahli hadits.” (Qa’idah Jalilah Fi Tawassul wal Wasilah hal. 69)
Hadits ini telah dihukumi maudhu’ (palsu) oleh Asy-Syaikh Al-Albani t di dalam kitab Silsilah Adh-Dha’ifah (1/91 no. 25). Beliau mengatakan: “Kesimpulannya, hadits ini tidak memiliki asal dari Rasulullah n. Tidak salah bila dua imam yang mulia yaitu Adz-Dzahabi dan Al-Asqalani menghu-kuminya batil.”

Keenam:
Dari Umayyah bin Abdullah bin Khalid bin Usaid ia berkata:

“Adalah Rasulullah n membuka peperangan beliau dengan doa para fuqara dari kalangan Muhajirin.”
Asy-Syaikh Al-Albani t berkata: “Dengan demikian jelaslah bahwa hadits tersebut lemah dan tidak bisa dipakai berhujjah. Kalaupun hadits ini shahih, tidaklah menunjukkan seperti apa yang terkandung makna dalam hadits Umar dan hadits Al-‘Ama (orang yang buta) tentang tawassul dengan doa orang shalih.” (At-Tawassul karya beliau hal. 112)
Masih banyak lagi hadits maudhu’ dan lemah yang dijadikan sebagai hujjah oleh para pengikut kebatilan untuk menguatkan perbuatan batil mereka. Namun kita tetap menyakini bahwa tidak ada satupun dalil yang mendukung sebuah kebatilan. Bahkan yang ada adalah dalil-dalil dari Al-Qur`an dan As-Sunnah yang shahih memerangi kebatilan dan pelakunya, dan Allah U telah membongkar jalan-jalan dan niat mereka agar nampak jelas di hadapan wali-wali Allah I.
Semoga Allah U tetap memberikan kita keistiqamahan di jalan As-Sunnah dan menyelamatkan kaum muslimin dari segala kebatilan dan seruan ahli batil.
Wallahu a’lam.


1 Begitu yang dinukil penulis, sebagai bentuk amanah ilmiah kami nukilkan apa adanya. Namun wallahu a’lam, yang benar adalah Al-Wasithah salah satu karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. (pen)
2 Lihat kitab At-Tawassul karya Asy-Syaikh Al-Albani t, hal. 145
3 Lihat kitab ‘Aqidatus Salaf Ash-habil Hadits, hal. 116.

Kebatilan Manhaj Dakwah Hizbiyah

(ditulis oleh: Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al-Atsari)

 

Ibnu Abbas c menyatakan bahwa ketika Rasulullah r mengutus Mu’adz bin Jabal z ke Yaman, beliau bersabda:

“Sesungguhnya engkau akan mendatangi satu kaum dari kalangan ahlul kitab, maka jadikanlah awal yang engkau dakwahkan kepada mereka adalah kalimat laa ilaaha illallah1 -dalam satu riwayat: (awal yang engkau dakwahkan adalah) agar mereka mentauhidkan Allah-. Bila mereka menaatimu dalam perkara itu, maka beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah mewajibkan atas mereka shalat lima waktu sehari semalam. Bila mereka menaatimu dalam perkara itu, maka sampaikanlah kepada mereka bahwa Allah mewajibkan atas mereka sedekah (zakat yang wajib) yang diambil dari orang-orang kaya mereka lalu diberikan kepada orang-orang fuqara di kalangan mereka. Bila mereka menaatimu dalam perkara itu, maka hati-hatilah engkau dari harta-harta mereka yang berharga /terbaik. Dan hati-hatilah dari doanya orang yang terdzalimi, karena tidak ada hijab/ penghalang antara doanya itu dengan Allah.”
Hadits yang berbicara tentang manhaj dakwah ilallah (metode berdakwah/ mengajak manusia kepada Allah I) di atas dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya (dengan Fath Syarhu Shahih Al-Bukhari) no. 1395 dan juga dalam beberapa tempat lain pada kitab Shahih-nya. Al-Imam Muslim dalam Shahih-nya (dengan Al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim) no. 121, 122, 123. Diriwayatkan pula oleh Al-Imam An-Nasa`i dalam Sunan-nya no. 2435 dan Abu Dawud dalam Sunan-nya no. 1584 serta selain mereka.
Hadits di atas menerangkan tahapan-tahapan yang wajib ditempuh seorang da’i yang mengajak manusia kepada agama Allah U. Pertama kali yang wajib dia dakwahkan adalah permasalahan tauhid dan mengesakan Allah U saja dalam peribadatan, menjauhi kesyirikan yang kecil maupun yang besar, sehingga yang harus ia dakwahkan adalah mengajak manusia kepada syahadah laa ilaaha illallah wa anna Muhammadan Rasulullah. Yang dimaukan dengan syahadah ini adalah segala macam ibadah itu merupakan hak yang hanya pantas diberikan kepada Allah I semata. Tidak ada sesuatu pun yang pantas diibadahi walau sedikit, baik dia malaikat yang dekat maupun nabi yang diutus, baik dia seorang lelaki yang shalih, ataupun batu, pohon, mentari maupun rembulan. Sehingga tidak ada yang diseru kecuali hanya Allah U saja, tidak ada yang dimintai pertolongan ketika bahaya maupun dalam keadaan aman kecuali hanya Dia, dan tidak ada tempat seorang hamba bertawakal kecuali hanya kepada-Nya, dan tidak ada yang ditakuti dan ditujukan harapan kecuali Dia. Dengan demikian, syahadah ini tidak hanya sekedar ucapan lisan akan tetapi harus mengetahui maknanya, mengamalkan kandungannya, dan harus menyempurnakan syarat-syaratnya.
Adapun syahadah Muhammad Rasu-lullah, tidak pula sekedar diucapkan lisan pula tapi harus mengetahui maknanya dengan membenarkan apa yang dikabarkan oleh Rasulullah r, menaati apa yang beliau perintahkan, menjauhi apa yang beliau larang dan cerca, serta beribadah kepada Allah U dengan apa yang beliau syariatkan, bukan dengan hawa nafsu dan bukan pula dengan mengada-ada. (Mudzakkiratul Hadits An-Nabawi fil ‘Akidah wal Ittiba’, Syaikh Muhaddits Asy-Syaikh Dr. Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali, hal. 9-10)

Dakwah adalah Ibadah
Mengajak manusia ke jalan Allah U merupakan ibadah yang agung yang diperintahkan oleh Allah I. Dia Yang Maha Suci berfirman:

“Siapakah yang lebih baik ucapannya daripada orang yang mengajak (manusia) kepada Allah dan dia beramal shalih dan menyatakan; sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah I).” (Fushshilat: 33)
Orang yang berdakwah kepada Allah U merupakan pewaris para nabi dalam tugas-tugas mereka, sebagaimana Allah U menyatakan hal ini kepada penutup dan pemimpin para nabi:

“Katakanlah (wahai Nabi): ‘Inilah jalanku, aku menyeru (manusia) kepada Allah di atas ilmu, demikian pula orang yang mengikutiku (dari kalangan para da’i ilallah). Maha suci Allah dan aku tidaklah termasuk orang-orang musyrik’.”
Perlu diketahui, bahwa diterima atau tidaknya ibadah kepada Allah U, apapun bentuk dan macam ibadah tersebut, tergantung dua syarat: pertama, ikhlas karena Allah U saja; kedua, mutaba’ah (mengikuti) Rasulullah r. Bila terkumpul dua perkara ini dalam satu amalan, barulah amalan tersebut dikatakan sebagai amal shalih yang Allah U nyatakan dalam firman-Nya:

“…maka siapa yang berharap perjumpaan dengan Rabbnya, hendaklah ia melakukan amal shalih dan janganlah ia menyekutukan Rabbnya dalam peribadatan dengan seorang/ satu makhluk pun.” (Al-Kahfi: 110)
Orang yang meninggalkan keikhlasan dalam beribadah maka ia musyrik, sedangkan orang yang tidak mau mengikuti Rasulullah r, maka ia mubtadi’ (ahlul bid’ah).
Bila telah diketahui bahwa dakwah merupakan ibadah, maka seorang da’i harus memperhatikan dua syarat tersebut ketika ia menunaikan tugas dakwahnya sehingga amalnya tersebut teranggap sebagai amal shalih yang diterima. (Al-Hujajul Qawiyyah ‘ala anna Wasa`ilad Da’wah Tauqifiyyah, Asy-Syaikh Dr. Abdus Salam bin Barjas, hal. 18)

Mengikuti Rasulullah r (Mutaba’ah terhadap Sunnah Beliau) adalah Jalan Keselamatan
Orang yang berdakwah kepada Allah U mungkin bisa ikhlas dalam dakwahnya, semata-mata karena Allah U, tidak mencampurinya dengan niatan/ tujuan lain. Namun metode dan tata caranya, mereka mengada-adakan sendiri, tidak mengikuti dan mencontoh praktek dakwah Rasulullah r. Padahal mengikuti beliau merupakan jalan keselamatan, karena Allah U telah meme-rintahkan:

“Apa yang diberikan oleh Rasulullah kepada kalian maka ambillah. Dan apa yang beliau larang kalian darinya maka tinggalkanlah.” (Al-Hasyr: 7)
Al-Imam Az-Zuhri t berkata: “Ulama kita yang telah terdahulu menya-takan: berpegang teguh dengan As-Sunnah itu adalah keselamatan.” (Diriwayatkan oleh Al-Lalikai, no. 15, 136, 137)
Al-Imam Malik t berkata: “As-Sunnah adalah safinah (perahu) Nuh, siapa yang menaikinya dia akan selamat dan siapa yang tertinggal (tidak menaikinya) dia akan tenggelam.” (Tarikh Baghdad 7/336, Tarikh Dimasyq 14/9, sebagaimana dalam Lammud Durril Mantsur minal Qaulil Ma`tsur fil I’tiqad was Sunnah, hal. 106)
Al-Imam Ahmad t berkata: “Siapa yang meninggal di atas Islam dan As-Sunnah maka ia meninggal di atas kebaikan seluruhnya.” (Al-Manaqib, Ibnul Jauzi, hal. 180, sebagaimana dalam Lammud Durril Mantsur, hal. 106)

Manhaj Dakwah ilallah itu Tauqifiyyah2 di atas Manhaj Nubuwwah
Dari keterangan yang telah lewat dapat kita pahami bahwa seorang da’i tidak boleh mereka-reka sendiri cara dakwahnya. Ia harus mencontoh metode/ cara atau manhaj dakwah Rasulullah r. Bila ia membuat jalan/ cara baru dalam berdakwah maka sama artinya ia menganggap bahwa Nabi r kurang dalam penyampaian risalah dan beliau tidak pandai menggunakan wasilah (sarana) yang akan memberi banyak faedah dan pengaruh. (ta’liq terhadap Al-Ajwibatul Mufidah ‘an As`ilah Al-Manahijil Jadidah, Asy-Syaikh Jamal bin Al-Furaihan Al-Haritsi hal. 43)
Dia menganggap ada yang kurang dari agama yang dibawa oleh Nabi r, sementara Allah I menyatakan:

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku atas kalian dan Aku telah ridha Islam sebagai agama kalian.” (Al-Ma`idah: 3)
Hadits tentang pengutusan Mu’adz t sebagai da’i ke negeri Yaman di atas, secara jelas dan gamblang menunjukkan bahwa manhaj dakwah ilallah itu tauqifiyyah. Karena bila dibolehkan menggunakan metode baru atau metode sendiri dalam berdakwah, niscaya Mu’adz paling pantas untuk melakukannya karena beliau lebih mumpuni daripada ribuan da’i yang ada pada saat ini.
Karena itu, yang pertama kali harus didakwahkan seorang da’i kepada mad’u (obyek dakwah)-nya adalah tauhid, mengajak manusia untuk mengesakan Allah I dan membersihkannya dari segala bentuk kesyirikan. Ini merupakan Sunnah Rasulullah r baik secara amalan (‘amalan) maupun pengajaran (ta’liman). Selama 10 tahun tinggal di Makkah, dakwah beliau berpusat untuk mengajak kaumnya kepada tauhid/ ibadah kepada Allah I tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun. Adapun secara ta’lim (pengajaran) sebagaimana tersebut dalam hadits di atas:

“…maka jadikanlah awal yang engkau dakwahkan kepada mereka adalah kalimat laa ilaaha illallah3 -dalam satu riwayat: (awal yang engkau dakwahkan adalah) agar mereka mentauhidkan Allah-. Bila mereka menaatimu dalam perkara itu….”
Dan demikianlah keadaan para rasul dalam berdakwah. Tidak ada awal yang mereka perintahkan dan serukan kepada manusia kecuali tauhid. (At-Tauhid Awwalan Ya Du’atal Islam, Al-Imam Al-Albani, hal. 5-6)
Setelah Rasulullah r hijrah ke Madinah bersama para shahabatnya, tegaklah daulah Islamiyyah di atas dukungan para shahabat Muhajirin dan Anshar. Dan di atas asas/pondasi tauhid, perhatian beliau kepada tauhid semakin bertambah. Sementara ayat-ayat Al-Qur`an yang berbicara tentang tauhid terus turun. Demikian pula bimbingan kenabian seputar masalah tauhid juga menyebar (di antara manusia). Namun beliau tidak merasa cukup dengan semua itu. Bahkan beliau membai’at para pembesar/tokoh shahabat untuk tidak menyekutukan Allah I. Beliau mengirim surat ke berbagai penjuru negeri dan kepada para penguasa/ raja untuk mengajak mereka mentauhidkan Allah I. Beliau mempersiapkan pasukan jihad untuk meninggikan kalimat tauhid, dan sebelum mengobarkan peperangan beliau membimbing para panglima perang berikut tentaranya untuk mengajak musuh kepada tauhid. Beliau mengirim da’i-da’i ke berbagai negeri untuk mengajak kepada tauhid, sebagaimana Mu’adz diutus ke negeri Yaman dan sebagainya. (secara ringkas dari Manhajul Anbiya‘ fid Da’wah ilallah fihil Hikmah wal ‘Aql, Syaikhul Muhaddits Dr. Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali, hal. 81-87)
Asy-Syaikh Al-Albani t, tokoh terkemuka dalam bidang hadits (imam ahli hadits) di jaman ini, berkata: “Rasul kita r merupakan uswah hasanah (teladan yang baik) dalam mengobati problema kaum muslimin di jaman kita ini, dan demikian pula di setiap waktu dan masa. Hal itu menuntut kita untuk memulai dengan apa yang Nabi kita r mulai, yaitu pertama kali: memperbaiki akidah/ keyakinan yang rusak dari kaum muslimin; kedua: memperbaiki ibadah mereka, dan ketiga: suluk (adab/ akhlak) mereka. Namun urutan ini tidaklah saya maksudkan untuk memisahkan perkara yang awal dari perkara yang lainnya. Sehingga yang didakwahkan hanyalah perkara yang paling penting (sementara pelaksanaan perkara lain tidak diacuhkan), kemudian yang penting, kemudian yang di bawahnya. Namun yang aku inginkan di sini hanyalah agar para da’i mementingkan dan memperhatikan dengan sangat perkara akidah.” (At-Tauhid Awwalan Ya Du’atal Islam, hal. 5)
Asy-Syaikh Ahmad bin Yahya An-Najmi hafizhahullah seorang ulama terkemuka dan juga mufti (ahli fatwa) di negeri-negeri selatan Kerajaan Saudi ‘Arabia menyebutkan tentang manhaj dakwah para rasul yang tersebut dalam Al-Qur`an, di mana para rasul ini mengawali dakwah mereka dengan tiga perkara yang merupakan asas akidah:
Pertama: Tauhid, yaitu menyerahkan peribadatan kepada Allah I yang Mahatunggal, tidak kepada selainnya berupa sesembahan-sesembahan yang diada-adakan oleh manusia.
Kedua: Iman kepada hari akhir dan hal-hal yang tercakup di dalamnya, berupa hisab, jaza‘ (balasan), surga dengan berbagai kenikmatannya, dan neraka dengan berbagai adzabnya.
Ketiga: Iman kepada risalah yang diturunkan dari langit dan mengimani bahwa para rasul seluruhnya membimbing kepada Allah I dan kepada jalan-Nya. Pembimbing itu bukanlah apa yang dibuat-buat oleh nenek moyang, bukan yang diikrarkan oleh tukang ramal dan bukan pula yang dianut oleh  masyarakat umum. Dalil dari tiga perkara ini terdapat dalam kisah-kisah yang Allah I sebutkan untuk kita dalam surat-surat Makkiyah (yang diturunkan di Makkah) yang berisi pembicaraan antara para rasul tersebut dengan umat mereka, dan juga penetapan Al-Qur‘an terhadap asas ini serta penunjukan dalil aqliyyah, kauniyyah, dan selainnya.” (Al-Mauridul ‘Udzb Az-Zulal, hal. 61)
Asy-Syaikh ‘Athiyyah Muhammad Salim berkata: “Adapun dalam masalah materi dakwah, maka yang awal disampaikan kepada mad’u adalah perbaikan akidah. Karena akidah ini merupakan asas dalam amalan, sebagaimana Nabi r lakukan ketika tinggal di Makkah. Setelah itu perkara yang paling penting, kemudian perkara yang penting berikutnya berupa hal yang wajib diamalkan dengan kesepakatan kaum muslimin, atau perkara yang wajib dijauhi. Dan dalam berdakwah, seorang da’i jangan disibukkan dengan perkara yang mandub (sunnah) sehingga yang wajib malah terlalaikan. Dan jangan sibuk dengan memberi peringatan dari yang makruh sementara yang haram terabaikan…” (Dharuratud Da’wah Ilallah wa Atsaruha, hal. 53)
Dalam manhaj dakwahnya kepada manusia seluruhnya, Rasulullah r mengajak mereka untuk beriman kepada Allah I, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir dengan metode yang jelas, gamblang, mudah dan selaras dengan fitrah manusia. Beliau r mulai dakwahnya dengan mengajak manusia beriman kepada Allah I sebagai sesembahan yang diibadahi, tidak ada sekutu baginya.

“Dan ilallah kalian adalah ilaah yang satu, tidak ada ilaah kecuali Dia Yang Maha Pengasih lagi Penyayang.” (Al-Baqarah: 163)

“Katakanlah (wahai Nabi): Aku hanyalah seorang manusia seperti kalian, yang diwahyukan kepadaku bahwasanya ilaah kalian itu adalah ilaah yang satu. Maka siapa yang berharap bertemu dengan Rabbnya, hendaklah ia beramal dengan amalan shalih dan janganlah ia menyekutukan dalam peribadatan kepada Rabbnya dengan seorang pun.” (Al-Kahfi: 110) (Manhajul Qur`an fid Da’wah ilal Iman, Dr. ‘Ali bin Muhammad Nashir Al-Faqihi, guru besar Universitas Islam Madinah dan pengajar di Masjid Nabawi, hal. 10-11)

Wasilah Dakwah pun Tauqifiyyah
Sebagaimana manhaj dakwah itu sifatnya tauqifiyyah, demikian pula wasilah (sarana) yang digunakan dalam berdakwah, sifatnya tauqifiyyah di atas manhaj nubuwwah bukan ijtihadiyyah. Sehingga tidak halal bagi seseorang untuk membuat cara baru yang tidak diizinkan oleh Allah dan tidak dilaksanakan oleh Rasulullah r dan para shahabat beliau, dikarenakan:
1.    Allah U telah menyempurnakan agama ini.
2.    Allah U mewajibkan untuk menaati Rasulullah r, di mana Allah menggandengkan kebahagiaan hamba dengan menaatinya dan kesengsaraan hamba bila mendurhakainya.

“Dan siapa yang menaati Allah dan Rasul-Nya maka mereka itu bersama orang-orang yang Allah berikan kenikmatan kepada mereka dari kalangan para nabi, shiddiqin, syuhada dan shalihin, mereka itulah sebaik-baik teman.” (An-Nisa`: 69)

“Dan siapa yang bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya maka baginya neraka jahannam, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.” (Al-Jin: 23)
3. Rasulullah r telah menerangkan semua kebaikan dan telah melarang dari semua kejelekan, beliau menghalalkan semua yang baik dan mengharamkan yang buruk.
Rasulullah r bersabda:

“Tidaklah Allah mengutus seorang nabi pun kecuali wajib atasnya untuk menunjuki umatnya kepada kebaikan yang dia ketahui untuk mereka dan melarang mereka dari kejelekan yang dia ketahui untuk mereka.” (HR. Muslim dengan Al-Minhaj no. 4753)
Dari beberapa alasan di atas, kita pastikan bahwa Nabi r telah menerangkan kepada umat beliau wasilah-wasilah dakwah, baik dengan ucapan atau dengan perbuatan, atau dengan kedua-duanya. Karena bagaimana mungkin Nabi r menerangkan adab buang hajat dan semisalnya sementara wasilah-wasilah dakwah yang pilar Islam tidak akan tegak kecuali dengannya, lantas beliau tinggalkan penjelasannya? Keterangan Nabi r tentang wasilah tersebut merupakan jalan syar’i yang dapat membimbing orang yang sesat dan memberi hidayah kepada orang yang tidak mengetahui jalan. Dengan jalan inilah Nabi r mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya. Dan jalan ini pula yang ditempuh oleh para shahabat sepeninggal beliau r, demikian pula orang-orang yang mengikuti mereka dengan kebaikan. Maka apa yang menjadikan baik perkara mereka, itu pula yang menjadikan baik perkara kita, sebagaimana kata Al-Imam Malik t: “Tidak akan baik perkara/ keadaan orang-orang yang akhir dari umat ini kecuali dengan apa yang membaikkan generasi awalnya.” (secara ringkas dari Al-Hujajul Qawiyyah ‘ala anna Wasa`ilad Da’wah Tauqifiyyah, hal. 45-60)
Bila demikian halnya, mengapa para da‘i itu mengambil wasilah yang tidak ditetapkan oleh syariat, sementara apa yang ditetapkan syariat itu mencukupi untuk mencapai tujuan dakwah kepada Allah I, yaitu membuat taubat orang yang bermaksiat dan memberi hidayah kepada orang yang sesat?
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t pernah ditanya tentang sekumpulan orang yang berkumpul untuk melakukan dosa besar seperti membunuh jiwa, membegal di jalanan, mencuri, minum khamr dan selainnya. Kemudian ada seorang syaikh yang dikenal dengan kebaikan dan mengikuti As-Sunnah ingin mencegah mereka dari perbuatan dosa tersebut. Dan baginya tidak ada cara  untuk merealisasikan tujuan tersebut kecuali mengumpulkan mereka untuk memperdengarkan nyanyian-nyanyian penyanyi dengan syair-syair yang mubah, yang didendangkan dan dilantunkan disertai tabuhan rebana yang tidak memakai gemerincing. Ketika Syaikh tersebut melakukan hal ini, banyak di antara mereka yang bertaubat. Orang yang tadinya tidak shalat, tidak menunaikan zakat, bahkan ia mencuri, akhirnya taubat. Ia menjaga diri dari yang syubhat, menunaikan kewajiban agama dan menjauhi perkara yang diharamkan. Apakah cara dakwah yang dilakukan oleh Syaikh ini dibolehkan karena adanya maslahat yang diperoleh, sementara memang tidak mungkin mendakwahi mereka kecuali dengan cara seperti ini?
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah t memberikan jawaban yang panjang. Beliau menegaskan kesempurnaan agama ini dan menekankan untuk berpegang teguh kepada Al-Qur‘an dan As-Sunnah. Beliau mene-rangkan bahwa syariat itu tidaklah melalaikan satu wasilahpun dari wasilah-wasilah dakwah yang dengannya seorang yang sesat bisa mendapatkan hidayah Allah I.
Kemudian beliau t menyatakan: “Syaikh yang disebutkan ingin mengajak orang-orang yang berkumpul untuk melakukan dosa besar itu bertaubat, namun tidak memungkinkan bagi si Syaikh merealisasikan tujuan tersebut kecuali dengan jalan/ cara bid’ah. Hal ini menunjukkan Syaikh tersebut jahil/ tidak mengetahui jalan atau cara-cara syar’i yang akan membuat ahlul maksiat bertaubat, atau Syaikh tersebut orang yang lemah yang tidak mampu untuk melaksanakan cara yang syar’i tersebut. Karena Rasulullah r, para shahabat dan tabi’in, telah mendakwahi orang-orang yang lebih jelek dari mereka (para pelaku dosa besar yang berkumpul itu). Di mana mereka (Rasulullah r, para shahabat, dan tabi’in) menghadapi orang-orang kafir, fasik dan ahli maksiat dengan cara-cara syar’i, yang dengannya Allah I memberikan kecukupan sehingga tidak melakukan cara-cara bid’ah. Tidak boleh dikatakan bahwa dalam cara-cara syar’i yang diajarkan oleh Allah I kepada Rasul-Nya tidak ada tata cara yang bisa membuat pelaku maksiat bertaubat. Karena telah diketahui secara pasti tanpa perlu pembuktian dan diketahui dari penukilan yang mutawatir bahwa ada orang-orang kafir, fasik dan pelaku maksiat yang bertaubat dengan cara dakwah yang syar’i. Sementara tidak ada yang dapat menghitung jumlah mereka yang bertaubat ini kecuali Allah I, dan mereka ini tidaklah dikumpul-kan dengan cara bid’ah (seperti yang dilakukan syaikh tersebut, –pent.) Bahkan para shahabat Muhajirin dan Anshar dari kalangan as-sabiqunal awwalun, dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam kebaikan –sementara mereka adalah sebaik-baik wali Allah I yang bertak-wa dari kalangan umat ini–. Mereka semuanya bertaubat kepada Allah I dengan cara dakwah yang syar’i bukan dengan cara bid’ah.
Dan di penjuru negeri kaum muslimin dan daerah-daerah mereka, baik dahulu maupun sekarang, dipenuhi orang-orang yang bertaubat kepada Allah I dan takut kepada-Nya, dan mereka melaku-kan apa yang Allah I cintai dan ridhai dengan cara dakwah yang syar’i, bukan dengan cara-cara bid’ah. Dengan demikian tidak mungkin dikatakan bahwa pelaku maksiat tidak dapat bertaubat kecuali dengan cara yang bid’ah tersebut.
Bahkan yang semestinya dikatakan adalah bahwa Syaikh tersebut jahil tentang cara-cara dakwah yang syar’i, tidak mampu mewujudkannya, tidak adanya ilmu Al-Kitab dan As-Sunnah pada dirinya yang bisa ia sampaikan dan perdengarkan kepada mereka, berupa perkara-perkara yang akan menjadikan Allah I mengampuni mereka. Sehingga karena kejahilan dan kelemahan tersebut, si Syaikh berpaling dari cara yang syar’i menuju cara yang bid’ah. Bisa jadi tujuannya baik, karena ia seorang yang beragama dan bisa jadi  bertujuan meraih kepemimpinan di hadapan mereka dan mengambil harta mereka secara batil…” (Majmu’ Al-Fatawa, 11/620-624)

Kebatilan Manhaj Dakwah Hizbiyyah
Dakwah hizbiyyah yang mengajak manusia kepada kelompok, partai, atau organisasinya tanpa didasari Al-Qur‘an dan As-Sunnah dengan pemahaman as-salafus shalih, seperti dakwah Firqah Ikhwanul Muslimin, Firqah Jama’atut Tabligh, Firqah Jama’atul Jihad, Firqah Hizbut Tahrir dan firqah-firqah yang lain, merupakan dakwah yang batil karena menyelisihi manhaj nubuwwah. Mereka tidak mem-perhatikan dakwah yang bertujuan me-murnikan akidah/ tauhid. Bahkan tauhid merupakan perkara yang di-abaikan, atau mereka simpangkan menurut selera hawa nafsu mereka. Sehingga banyak anggota mereka yang bertahun-tahun di kelompok tersebut tidak mengerti mana tauhid mana syirik, bahkan ia berkubang dalam kesyirikan.
Belum lagi wasilah yang mereka gunakan dalam berdakwah dengan memakai sarana bid’ah, maksiat dan kemungkaran seperti dengan menggunakan musik, nyanyian, gamelan, sandiwara, masuk ke parlemen dan sebagainya, yang ini jelas menyimpang dari wasilah yang syar’i. Orang yang berbuat seperti ini jelas tidak akan selamat, bahkan ia akan jatuh ke jurang kebinasaan. Karena apa yang ia ada-adakan itu adalah bid’ah, maksiat dan kemungkaran yang diharamkan dalam agama ini.
Firqah Ikhwanul Muslimin sebagai permisalan, mereka memusatkan dakwah mereka untuk mendirikan daulah (negara) dan mengembalikan khilafah sebagaimana dikatakan oleh muassis (pendiri)-nya, Hasan Al-Banna, dalam Majmu’atur Rasail-nya (hal. 178): “Islam adalah agama, daulah, mushaf dan pedang.” Setelahnya ia mengucapkan beberapa kalimat, kemudian menyatakan: “Karena itulah Ikhwanul Muslimun menjadikan fikrah khilafah dan upaya untuk mengembalikan khilafah tersebut sebagai pokok dalam manhaj mereka.”
Dan karena itulah mereka ramai-ramai membuat partai politik untuk bisa masuk ke parlemen, dengan harapan bisa memperjuangkan Islam versi mereka lewat lembaga tersebut. Sebagaimana bisa kita saksikan perbuatan yang bid’ah dan mungkar ini di seluruh negeri kaum muslimin, tidak terlepas pula di negeri kita ini.
Asy-Syaikh Ahmad bin Yahya An-Najmi hafizhahullah berkata membantah ucapan Hasan Al-Banna di atas: “Ungkapan/ pernyataan seperti ini –walaupun mengan-dung kebenaran, dalam artian agama memang tidak akan tegak kecuali dengan adanya daulah yang melindunginya dan menegakkan hukum-hukum Allah I di dalamnya– namun kita tidaklah dibebani untuk berdakwah guna mendirikan daulah. Yang dibebankan kepada kita hanyalah berdakwah mengajak manusia kepada agama yang haq, yang tegak di atas tauhid, yang merupakan makna laa ilaaha illallah, di mana tidaklah para rasul itu diutus, tidaklah kitab-kitab suci diturunkan dan pedang-pedang dihunuskan kecuali karena hendak menetapkan tauhid ini dan mengamal-kannya.
Tidaklah surga dan neraka diciptakan melainkan karena hendak memberikan balasan kepada orang-orang yang mengamalkan tauhid dan membalas orang-orang yang menolak tauhid. Inilah dakwah para rasul, dan tidak diketahui ada seorang nabi pun atau seorang rasul pun yang mengajak/ berdakwah guna mendirikan khilafah. Allah U telah mengisahkan berita-berita mereka kepada kita, dan menjelaskan jalan mereka kepada kita, dan memerin-tahkan kita untuk mencontoh jejak mereka. Allah I berfirman:

“Mereka itulah orang-orang yang diberi hidayah oleh Allah, maka contohlah oleh kalian petunjuk mereka.” (Al-An’am: 90)
Allah I tidak akan menerima dakwah yang tidak ditegakkan di atas asas yang dijalani oleh para nabi, dari rasul yang awal Nuh u sampai rasul yang akhir dan penutup para nabi, Muhammad r.” (Al-Mauridul ‘Udzb Az-Zulal, hal. 185-186)
Firqah Jama’atut Tabligh contoh yang kedua. Mereka memiliki manhaj tersendiri dalam berdakwah dan memiliki enam ushul, asas dan pokok sebagai rujukan yang disebutkan al-ushulus sittah. Salah satunya adalah merealisasikan kalimat thayyibah, Laa Ilaaha Illallah Muhammadan Rasulullah (tauhid). Namun tauhid yang mereka maukan di sini adalah pembicaraan seputar tauhid rububiyyah, dan meninggalkan tauhid uluhiyyah serta tauhid asma wash shifat. Karena mereka memiliki pegangan yang pokok dari metode jamaah mereka dalam menjalankan manhajnya, yaitu segala sesuatu yang menyebabkan orang lari, menyebabkan perpecahan dan perselisihan di antara dua orang, harus dihindarkan. Sehingga ketika berbicara tauhid mereka hanya memen-tingkan rububiyyah, karena akan diterima oleh semua kalangan, bahkan oleh orang kafir sekalipun (bahkan Iblis pun menerima tauhid ini dengan pengakuannya bahwa Allah adalah pencipta dan pengatur).
Sedangkan tauhid uluhiyyah/ ibadah dan asma wa shifat, ditinggalkan karena akan membuat perpecahan dan perselisihan (menurut mereka).” (Al-Quthbiyyah Hiyal Fitnah Fa’rifuha, Abu Ibrahim bin Sulthan Al-’Adnani, hal. 4-5)
Firqah Hizbut Tahrir dengan teriakannya hendak mengembalikan khilafah Islamiyyah guna menegakkan hukum dan syariat Islam, mereka pun mementingkan terjun ke dunia politik dengan membentuk partai politik demi merebut dan meraih kekuasaan, walaupun yang berkuasa itu pemerintah kaum muslimin.
Hal ini karena Hizbut Tahrir memang sebuah partai politik, walaupun katanya berasaskan akidah Islam (dalam tanda petik). Hal ini dikemukakan dalam buku Hizbut Tahrir yang berjudul The Method to Re-Establish the Khilafah oleh Syabab Hizbut Tahrir Inggris dan diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh pengikut Hizbut Tahrir di Indonesia dengan judul Bagaimana Membangun Kembali Negara Khilafah dalam bab kelima sub bab Pembentukan Partai Politik. Mereka menyatakan: “…perkara utama umat saat ini adalah reunifikasi negeri-negeri Islam ke dalam satu pemerintahan Islam dengan kembali tegaknya Negara Khilafah.
Akar dari segala kemungkaran yang menjadi sumber segala bentuk kemungkaran yang lain adalah kekufuran berikut sistem kufurnya, sementara itu pangkal dari segala kemakrufan yang akan mengembalikan setiap bentuk kemakrufan dan menghidupkan Din al-Islam secara total adalah negara khilafah. Negara Khilafahlah yang akan kembali menegakkan Islam dalam seluruh aspek kehidupan dan mengemban dakwah Islam ke seluruh dunia. Karena itu, partai politik itu harus berjuang menegakkan Negara Khilafah dan mengemban dakwah Islam ke seluruh dunia. Partai harus melakukan langkah-langkah nyata untuk mengembalikan tegaknya Negara Khilafah. Jadi, partai itu harus memiliki pemahaman dalam masalah, misalnya, sistem pemerin-tahan, ekonomi, sosial kemasyarakatan, pendidikan, dan aturan-aturan yang telah Islam turunkan. Tanpa itu semua, partai tidak akan mampu menegakkan negara Khilafah.” (hal. 109)
Kemudian kita bertanya kepada firqah-fiqah yang sesat dan menyesatkan ini: Jika cara, manhaj dan metode tersebut baik dan paling bagus, kenapa Rasulullah r dan para shahabatnya g sebagai generasi terbaik umat ini tidak melakukannya dan tidak memberikan contohnya kepada umat ini? Ataukah kita akan mengatakan bahwa  Rasulullah r dan para shahabatnya g kurang wawasan? Atau contoh dan penjelasan mereka dianggap masih kurang, sehingga kita yang jelek ini perlu menambah-nambahi dengan sesuatu? Ataukah bahkan kita mengatakan bahwa mereka telah berkhianat, karena tidak menyampaikan kepada kita sehingga agama ini perlu penyempurnaan dari sisi kita? Ma’aadzallah, haatuu burhanakum inkuntum shadiqiin! (Allah sajalah tempat berlindung. Datangkanlah dalil kalian, bila kalian memang orang-orang yang benar!) Lihatlah beberapa contoh penyimpangan manhaj dakwah hizbiyyah di atas, di antara sekian banyak contoh yang tidak dapat disebutkan di sini.
Padahal sungguh, andaikan mereka tahu bahwa diberlakukannya hukum syariat, ditegakkannya hudud, berdirinya daulah Islamiyyah, dijauhinya keharaman dan ditunaikannya kewajiban, semua itu termasuk hak-hak tauhid dan penyempurnanya. Semua perkara itu mengikuti tauhid. Lalu bagaimana bisa perkara-perkara pengikut tauhid ini diperhatikan/ diutamakan, sementara tauhid sebagai perkara yang pokok disia-siakan?” (Ad-Da ‘wah Ilallah baina At-Tajammu’il Hizbi wat Ta’awun Asy-Syar’i, Asy-Syakh Ali Hasan Al-Halabi, hal. 37)
Belum lagi wasilah yang mereka gunakan untuk berdakwah merupakan wasilah yang bid’ah. Mereka berdakwah dengan mengajak orang untuk dzikir bersama, mendendangkan nasyid, sandiwara, film, musik dan wasilah yang semisalnya, yang tidak pernah dicontohkan oleh Salafus Shalih.
Sesungguhnya dalam perkara yang Allah I perbolehkan telah cukup, sehingga tidak perlu menengok kepada apa-apa yang dilarang dan diharamkan-Nya. Dia telah mencukupkan untuk kita dalam syariat-Nya hal-hal yang kita butuhkan dalam kehidupan ini, berupa agama-Nya yang lurus lagi mudah yang tersampaikan lewat lisan Rasulullah r. Sehingga tidak ada lagi alasan untuk mencenderungi setiap kebatilan dan keharaman yang memudharatkan. (Ighatsatul Lahafan, 2/69)
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.


1 Tidak ada ilaah (sesembahan) yang berhak/ patut untuk disembah kecuali hanya Allah I

2 Baku, paten sesuai nash yang ada, tidak diperkenankan berijtihad di dalamnya.
3 Tidak ada ilaah (sesembahan) yang berhak/ patut untuk disembah kecuali hanya Allah U.

Menempuh Jalan Diatas Ridha Allah

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal Al-Bugisi)

 

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.” (Al-Ma`idah: 35)

Penjelasan Beberapa Mufradat Ayat

Al-Wasilah (perantara). Sebagian mufassirin menafsirkan bahwa yang dimaksud adalah al-qurbah (pendekatan diri), sebagaimana yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas c dan ini (juga merupakan) pendapat Mujahid, Abu Wa`il, Al-Hasan, Qatadah, Abdullah bin Katsir, As-Suddi, dan yang lainnya rahimahumullah.
Qatadah t berkata: “(Maknanya yaitu) mendekatkan dirilah kepada-Nya dengan ketaatan dan beramal dengan sesuatu yang mendatangkan keridhaan-Nya.”
Ibnu Katsir t menerangkan bahwa tidak ada perselisihan di kalangan mufassirin tentang makna (kata) ini. Beliau lalu menambahkan bahwa wasilah juga memiliki makna sesuatu yang ditempuh untuk mencapai maksud (tujuan). Demikian pula wasilah adalah satu nama bagi kedudukan tertinggi dalam jannah, yaitu kedudukan Rasulullah n dan rumahnya. Dan ini merupakan tempat di dalam jannah yang terdekat dari Arsy.
Lalu beliau menyebutkan hadits yang diriwayatkan Al-Bukhari dari Jabir bin Abdullah z bahwa beliau berkata: Rasulullah n bersabda:

“Barangsiapa yang setelah adzan berdoa: ‘Ya Allah, Rabb yang memiliki pangilan yang sempurna (panggilan tauhid, pen) dan shalat yang (hendak) ditegakkan, berikanlah al-wasilah kepada Muhammad dan keutamaan, bangkitkanlah dia pada kedudukan terpuji yang telah engkau janjikan’, dia berhak mendapatkan syafaatku pada hari kiamat.”
Diriwayatkan dalam Shahih Muslim dari hadits Abdullah bin ‘Amr bin Al-’Ash c bahwa beliau mendengar Nabi n bersabda:

“Jika kalian mendengar muadzin maka ucapkanlah seperti apa yang dia ucapkan, kemudian bershalawatlah kepadaku, karena sesungguhnya barangsiapa yang bershalawat kepadaku satu kali maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali. Kemudian mintalah kepada Allah untukku al-wasilah, karena sesungguhnya itu merupakan kedudukan di dalam surga yang tidak sepantasnya didapatkan kecuali bagi seorang dari hamba-hamba Allah, dan aku berharap akulah yang meraihnya. Maka barangsiapa yang memohonkan (kepada Allah) untukku wasilah, maka halal atasnya syafaat.” (lihat Tafsir Ibnu Katsir, 2/53-54)

Penjelasan Makna Ayat
Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di t berkata dalam menafsirkan ayat ini:
“Ini adalah perintah dari Allah I kepada hamba-hamba-Nya kaum mukminin dengan sesuatu yang menjadi konsekuensi iman  berupa takwa kepada Allah I dan berhati-hati dari kemarahan dan kemurkaan-Nya.Yakni dengan cara seorang hamba bersungguh-sungguh semampu dia menjauhi segala apa yang mendatangkan kemurkaan Allah I dari berbagai kemaksiatan hati, lisan dan anggota tubuh, baik secara dzahir maupun batin. Juga meminta pertolongan kepada Allah I agar mampu mening-galkannya, agar dia selamat dari kemurkaan Allah I dan siksaannya.”

“Dan tempuhlah al-wasilah menuju jalan-Nya,” (maknanya) yaitu mendekatkan diri kepada-Nya, mendapatkan tempat di sisi-Nya, cinta kepada-Nya. Itu semua dilakukan dengan cara menunaikan berbagai kewajiban yang terkait dengan hati seperti cinta hanya untuk dan karena Allah I, rasa takut, berharap, kembali pada-Nya dan berta-wakkal. Demikian pula (kewajiban yang terkait) dengan jasmani, seperti membayar zakat dan menunaikan ibadah haji. Juga amalan yang berupa satu rangkaian ibadah seperti shalat dan semisalnya, serta berbagai bacaan dzikir.
Demikian pula berbuat baik kepada sesama makhluk, baik dengan harta, ilmu dan kedudukan, jasmani, dan saling menasehati sesama hamba Allah I. Semua jenis amalan ini bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah I. Senantiasa para hamba itu mendekatkan diri kepada Allah I sehingga Allah I mencintainya. Bila Allah I mencintainya maka pendengarannya, penglihatannya, gerakan tangannya, dan langkah kakinya senantiasa terbimbing oleh Allah I, sehingga Allah I-pun mengabulkan permohonannya.
Kemudian Allah I mengkhususkan di antara jenis ibadah yang mendekatkan kepada Allah I tersebut adalah berjihad di jalan-Nya. Yaitu mengerahkan segala kemam-puan dalam memerangi orang-orang kafir dengan harta, jiwa, pikiran, lisan, dan beramal untuk menolong agama Allah I dengan segala kemampuan yang dimiliki seorang hamba. Sebab, jenis ini termasuk ketaatan yang paling mulia dan cara utama dalam mendekatkan diri (kepada-Nya). Karena orang yang mampu menegakkannya, maka dia akan lebih mampu lagi menegakkan yang lainnya.

“Semoga kalian menjadi orang-orang yang beruntung.” (Maknanya yaitu kalian akan menjadi orang yang beruntung) bila kalian bertakwa kepada Allah I dengan meninggalkan maksiat dan mencari al-wasilah menuju kepada Allah I dengan mengerjakan berbagai ketaatan, dan berjihad di jalan-Nya dengan harapan mendapatkan ridha-Nya. Al-Falah adalah kemenangan dan keberutungan dengan segala sesuatu yang dicari dan diinginkan, serta selamat dari segala yang ditakuti. Hakekatnya adalah kebahagiaan abadi dan kenikmatan yang berkesinam-bungan. (Taisiir Al-Kariim Ar-Rahman, hal. 230)

Tujuan Menghalalkan Segala Cara?
Mungkin ada di antara sebagian kaum muslimin yang ingin menjadikan ayat ini sebagai hujjah untuk membenarkan berbagai macam perbuatan atau cara-cara yang menyelisihi Al-Qur`an dan As-Sunnah, dengan alasan bahwa apabila tujuan yang dikehendaki itu syar’i, maka cara apapun yang dilakukan untuk menuju kesana pun menjadi syar’i. Lalu menggunakan kaedah ushul yang umum yang menyebutkan bahwa al-wasa`il lahaa ahkaamul maqaashid (perantara itu memiliki hukum sama dengan maksud dan tujuannya). Lalu dimunculkanlah suatu kaedah yang mereka sebut “Tujuan mengha-lalkan segala cara” atau dengan bahasa yang diperhalus “Demi kemaslahatan dakwah.”
Ketahuilah wahai kaum muslimin, sesungguhnya kaedah “Tujuan menghalalkan segala cara” atau “Demi kemaslahatan dakwah” merupakan perkataan batil, yang dijadikan sebagai jembatan melakukan berbagai macam kesesatan dan penyim-pangan dari syariat Allah I dengan bersem-bunyi di belakang jubah agama dan mengatasnamakannya.
Sesungguhnya ucapan ini bukan termasuk ajaran yang dibawa oleh Rasulullah n. Namun lebih masyhur ucapan ini berasal dari kaum kafir barat sekuler yang mereka memang tidak memiliki pondasi agama. Berbeda dengan kaum muslimin yang diatur oleh agama dan syariat Allah I. Maka tidak boleh kaum muslimin menempuh suatu cara dalam agama kecuali dengan cara-cara yang syar’i pula. Allah I berfirman:

“Katakanlah: ‘Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik’.” (Yusuf: 108)
Adapun mereka yang menjadikan tolok ukur kebenaran (adalah sesuatu yang bersumber) dari kelompoknya, maka mereka menganggap bolehnya seseorang menggunakan segala macam cara yang mungkin dilakukan demi kemaslahatan dakwah –menurut anggapan mereka– sehingga terjatuhlah orang-orang di antara mereka ke dalam berbagai pelang-garan terhadap syariat Allah I. Ada yang masuk ke parlemen dengan alasan dakwah. Ada lagi yang mendendangkan nasyid-nasyid bid’ah dan menjadikannya sebagai sarana dakwah. Ada pula yang membai’at para pengikutnya dengan alasan sebagai sarana dalam mengikat perjanjian seorang muslim di atas agamanya. Ada lagi yang menjadikan dzikir jama’i (dzikir bersama) sebagai sarana menambah keimanan.
Sebagian lain ada yang kerjanya di atas mimbar hanya bercerita kisah, pengalaman spiritual, atau dongeng dan mimpi-mimpi, lalu dijadikan sabagai sarana dakwah pula. Dan masih banyak lagi model-model bid’ah yang dijadikan sebagai sarana dalam berdakwah.
Ketahuilah –semoga Allah merahmati kita semua– bahwa lafadz al-wasilah dalam ayat di atas, atau al-wasa`il dalam kaedah ushul tersebut, maksudnya bukanlah segala macam cara, meskipun itu diharamkan. Karena jika demikian maksudnya, berarti telah meruntuh-kan nash-nash syariat dan beramal dengan hawa nafsu yang semakin menjauhkan dari jalan Allah U. Namun maksud dari wasilah tersebut adalah wasilah yang memiliki ketentuan-ketentuan sebagai berikut:
1. Wasilah tersebut tetap bernaung di bawah maksud dan ketentuan syariat
2. Tidak menyelisihi Al-Qur`an dan As-Sunnah.
3. Sesuai dengan qiyas yang shahih, bukan qiyas yang fasid (salah).
4. Tidak meninggalkan maslahat yang lebih utama. (lihat ‘Ibarat Muhimmah, Bazmul, hal. 6. Lihat pula kitab Al-Hujajul Qawiyyah, Abdus Salam bin Barjas, hal. 109)
Cukuplah di sini saya sebutkan fatwa sekaligus nasehat dari Syaikhuna Muqbil t ketika beliau ditanya tentang adanya sebagian kaum muslimin yang masuk menjadi pegawai sehingga terpaksa menjatuhkannya ke dalam sebagian perbuatan maksiat, dan mereka membolehkan hal itu (yakni menjadi pegawai) dengan alasan maslahat dakwah.
Maka beliau menjawab: “Maslahat dakwah merupakan perkara yang luas di mana setan menyeru kebanyakan manusia untuk menuju kepadanya. (Namun) Allah I mengatakan kepada Rasul-Nya n:

“Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan. Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka.” (Al-Ghasyiyah: 21-22)
Dan firman-Nya:

“Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepada-mu.” (Hud: 112)
Juga Nabi n menyatakan:

“Katakanlah: Aku beriman kepada Allah, lalu engkau istiqamah.” (HR. Muslim dari Sufyan bin Abdillah Ats-Tsaqafi)
Kaum musyrikin dahulu, mereka sangat berkeinginan agar Nabi n mau bersama mereka.

“Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu).” (Al-Qalam: 9)
Mereka berkeinginan agar Nabi n bersama mereka, dan itu lebih ringan bagi mereka daripada sesembahan dan agama mereka beliau rendahkan. Namun Nabi n enggan dan berkata: “Wahai sekalian manusia, ucapkanlah ‘Laailaaha illallah’ kalian akan mendapatkan kemenangan.”
Kemaksiatan tidak akan menjadi sebab pertolongan. Kita tidak boleh berbuat seenaknya dalam agama Allah I. Nabi n bersabda:

“Tidakkah kalian diberi pertolongan dan rizki melainkan karena sebab orang-orang lemah dari kalian?!”(HR. Al-Bukhari dari Sa’d bin Abi Waqqash z)
Maka hendaklah kita mengamalkan berbagai sebab dan pertolongan dari sisi Allah I. Sedangkan mereka yang selalu menden-dangkan pemikiran tersebut, apakah mereka dalam keadaan seperti ini? Mereka sudah berjalan bertahun-tahun lamanya, apa yang telah mereka hasilkan untuk Islam? Dan apa yang mereka sanggup kerjakan? Berbagai peraturan perundang-undangan yang diimpor dari Amerika, Rusia, Prancis. Lalu setelah itu  kamu datang dan dihadapkan kepadamu satu masalah: Harus sesuai undang-undang…, harus sesuai peraturan. Sedang-kan Allah U berfirman dalam kitabnya yang mulia:

“Tentang sesuatu apapun kamu berselisih maka putusannya (terserah) kepada Allah.” (Asy-Syura: 10)
Dan firman-Nya:

“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (Al-Ma`idah: 50)
Kita tidaklah mampu menolong diri kita. Boleh jadi ketika kita melakukan kemaksiatan justru akan menjadi sebab kekalahan. Bila seseorang masuk bersama mereka, baru saja dia bekerja selama lima atau enam bulan, gaji mulai meningkat, berbagai cara penipuan terbuka lebar, dan setan membuka kesempatan, begitu seterusnya. Baru beberapa lama ternyata dia telah terlantar dan goncang.
Maka kami katakan: Wahai saudaraku sekalian, kemaksiatan akan selalu diikuti kemaksiatan lainnya. Sungguh dahulu telah menjadi sebab kekalahan kaum muslimin pada perang Hunain disebabkan kebanggaan sebagian mereka (dengan jumlah yang banyak).

“Dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari ke belakang dengan bercerai-berai.” (At-Taubah: 25)
Kemudian Allah I menurunkan ketenangan kepada mereka. Allah I berfirman pada peristiwa perang Uhud:

“Dan sesungguhnya Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kamu, ketika kamu membunuh mereka dengan izin-Nya sampai pada saat kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu dan mendurhakai perintah (Rasul) sesudah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai. Di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan di antara kamu ada orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kamu dari mereka…” (Ali Imran: 152)
Maka kemaksiatan, wahai (saudaraku) fillah, akan menjadi sebab kehinaan dan timbulnya perasaan takut.
Silahkan orang-orang yang tertipu itu pergi ke Amerika dan ke Rusia, lalu tanyakan  kepada mereka: Apakah mereka takut kepada orang-orang yang komitmen dengan agamanya dari para pahlawan kebangkitan Islam atau mereka takut kepada para jenderal, para pemimpin, atau para raja? Terhadap siapa mereka takut? Mereka tidak takut kepada tank-tank milik kita dan tidak pula takut kepada pesawat dan persenjataan kita. Mereka takut kepada Islam dan orang-orang yang komitmen dengan Islam. Mereka ingin menjadikan kita goncang dan terpental (dari Islam). Ini seperti yang aku katakan kepada kalian, merupakan trik-trik orang yang guncang dan terlantar. Mereka memiliki trik-trik yang jitu untuk menarik para pemuda menuju harta. Sementara Nabi n diberi pertolongan oleh Allah I dalam keadaan beliau faqir. Beliau pernah mengikat batu di atas perutnya. Nabi n bersabda:

“Barangsiapa yang mempersiapkan pasukan dalam keadaan sulit (perang Tabuk-pen) maka baginya jannah.”
Sedangkan orang yang terlena dengan gaji bulanannya dan hartanya, maka dia tidak akan mampu mempersiapkan pasukan dalam keadaan sulit atau pun terdorong untuk berinfak. Maka sepantasnya seorang penuntut ilmu mengetahui bahwa apa yang ada di sisi Allah I itu lebih baik dan kekal. Akan dikatakan kepada Ahlul Qur’an (pada hari kiamat) sebagaimana yang terdapat dalam hadits Abdullah bin ‘Amr bin Al-’Ash c:

“Bacalah, dan terus naik (ke tingkatan jannah yang atas, pen.) dan bacalah dengan tartil. Sesungguhnya kedudukanmu terdapat pada akhir ayat yang engkau baca.”
Atau yang semakna.
Demikianlah wahai saudaraku, tidak sepantasnya mereka mempengaruhi kita. Allah I berfirman:

“Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (Al-Qashash: 83) [Ijabatus Sa`il, hal. 277-279. Lihat pula jawaban Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam terhadap syubhat yang membolehkan ikut pemilu dengan alasan agar musuh Islam tidak menguasainya, dalam kitab Mafasidul Intikhabat hal. 245-247]
Semoga Allah I memelihara kita dari berbagai macam fitnah yang dzahir maupun yang batin.
Wallahu a’lam.

Wasilah Dakwah dalam Pandangan ‘Ulama

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Abdillah Afifuddin)

Seringkali, orang melihat kebaikan sebuah metode dakwah hanya dari satu sisi, yaitu ia memberi pengaruh yang baik bagi banyak orang. Namun mayoritas dari mereka tidak menyadari, bahwa di balik setitik nilai positif dari sebuah metode dakwah hasil olah pikir manusia itu, ia memiliki berbagai sisi negatif yang siap mengancam. Karena sebuah metode dakwah yang tidak dituntunkan oleh syariat, dipastikan ia memiliki lebih banyak sisi negatif daripada nilai positifnya.

Cara-cara berdakwah telah demikian beragam muncul di tengah masyarakat. Setiap tokoh atau kelompok dakwah seakan berlomba menciptakan cara berdakwah yang mampu mengundang banyak minat kaum muslimin untuk mengikuti seruannya. Bagaimana para Ulama Ahlus Sunnah memandang kemunculan berbagai metode dakwah baru itu?
Keterangan terbaik tentang masalah ini adalah apa yang diuraikan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah t ketika beliau menjawab pertanyaan:
“Ada sekelompok orang yang sepakat untuk melakukan dosa besar, baik membunuh, menyamun, mencuri, mabuk-mabukan, ataupun yang semisalnya. Kemudian ada seorang Syaikh yang dikenal baik dan mengikuti As-Sunnah hendak mencegah niat jelek orang-orang tadi. Namun upaya ini tidak akan terwujud kecuali dengan mengumpulkan orang-orang tersebut dalam acara sima’ (nasyid) dengan menggunakan duff (rebana) tanpa bunyi-bunyian dan nyanyian sang penyanyi dengan syair-syair mubah tanpa gadis biduanita untuk tujuan ini.
Tatkala ia berbuat demikian, ada sejumlah orang dari mereka yang bertaubat. Yang tadinya tidak shalat, mencuri, dan tidak zakat berubah meninggalkan perkara syubhat, menunaikan perkara wajib dan menjauhi perkara haram.
Apakah boleh bagi Syaikh tadi untuk membuat acara sima’ sebagaimana gam-baran di atas karena adanya maslahat yang dicapai, dalam keadaan tidak memungkinkan untuk mendak-wahi orang-orang tadi kecuali dengan cara demikian?”
Maka beliau t menjawab:
“Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin. Prinsip dasar untuk menjawab pertanyaan ini dan yang semisalnya adalah:
1. Perlu diketahui bahwa Allah I mengutus Muhammad n dengan membawa petunjuk dan agama yang benar untuk Allah menangkan di atas semua agama dan cukuplah Allah sebagai saksi.
Allah I telah menyempurnakan agama ini untuk beliau dan umatnya, sebagaimana dalam firman-Nya:

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (Al-Ma`idah: 3)
2. Allah I memberi kabar gembira dengan kebahagiaan bagi siapa saja yang menaati Rasulullah n, dan memberi kabar berupa kesengsaraan bagi siapa yang bermaksiat kepada beliau n. Allah I berfirman:

“Dan barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang shalih. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (An-Nisa: 69)
Juga firman-Nya:

“Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya baginyalah neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.” (Al-Jin: 23)
3. Allah I memerintahkan kepada makhluknya untuk mengembalikan apa yang mereka perselisihkan dalam masalah agama kepada wahyu-Nya, sebagaimana firman-Nya:

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur`an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (An-Nisa`: 59)
4. Allah Imemberitakan bahwa dakwah Rasulullah n adalah dakwah kepada Allah dan kepada Shirathal Musta-qim. Hal ini sebagaimana firman-Nya:

“Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata.” (Yusuf: 108)
Juga firman-Nya:

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (Yaitu) jalan Allah yang kepunyaan-Nya segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa kepada Allah-lah kembali semua urusan.” (Asy-Syura: 52-53)
5. Allah I memberitakan bahwa Rasulullah n beramar ma’ruf nahi mungkar, menghalalkan yang thayyib dan mengha-ramkan yang khabits, sebagaimana dalam firman-Nya:

“Dan rahmat-Ku Mahaluas meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami”. (Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al-Qur`an), mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Al-A’raf: 156-157)
6. Allah I telah memerintahkan Rasul-Nya dengan segala kebaikan dan melarang-nya dari segala kemungkaran. Menghalalkan setiap perkara yang baik dan mengharamkan setiap perkara yang jelek.
Telah tsabit (pasti) dalam kitab Ash-Shahih bahwa Nabi n bersabda:

“Tidaklah Allah mengutus seorang Nabi melainkan menjadi keharusannya untuk menunjuki umat kepada segenap kebaikan yang dia ketahui untuk mereka dan melarang mereka dari segenap kejelekan yang dia ketahui untuk mereka.”
Telah tsabit pula riwayat dari ‘Irbadh bin Sariyyah z, dia berkata: Rasul n pernah menasehati kami dengan sebuah nasihat yang membuat hati bergetar dan mata berlinang. Kami (para shahabat) berkata: “Wahai Rasulullah, (apa yang anda sampaikan) seolah-olah adalah pengarahan dari seseorang yang hendak berpisah. Lalu apa yang engkau wasiatkan kepada kami?” Maka beliau berkata:

“Saya wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, mendengar dan menaati (penguasa). Sesungguhnya siapa saja yang hidup sepeninggalku dia akan menyaksikan banyak perselisihan. Karenanya, hendaklah kalian berpegang teguh dengan Sunnahku dan Sunnah Al-Khulafa Ar-Rasyidin sepeninggalku yang mendapat petunjuk. Peganglah Sunnahku dan gigitlah ia dengan gigi geraham. Hati-hatilah kalian dengan perkara (agama) yang diada-adakan, karena setiap bid’ah adalah sesat.”
Telah tsabit pula, bahwa beliau n bersabda (yang artinya): “Tidaklah aku meninggalkan sesuatu yang bisa menjauhkan kalian dari neraka melainkan telah aku ceritakan pada kalian.”
Beliau juga bersabda:

“Aku tinggalkan kalian di atas (jalan) yang putih, malamnya bagaikan siangnya. Tidak ada (seorangpun) yang menyimpang darinya sepeninggalku melainkan dia akan binasa.”
Dalil-dalil yang menunjukkan prinsip agung ini sangatlah banyak  dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah, dan disebutkan oleh para ulama dalam buku-buku mereka dengan judul Kitab Al-I’tisham bil Kitab was Sunnah, sebagaimana yang disebutkan oleh Al-Imam Al-Bukhari, Al-Baghawi, dan yang selain mereka.
Barangsiapa berpegang teguh dengan Al-Kitab dan As-Sunnah, maka dia termasuk wali-wali Allah yang bertakwa, hizbullah yang beruntung dan pasukan-Nya yang selalu menang.
Sebagian ulama Salaf, seperti Al-Imam Malik t dan lainnya, pernah mengatakan: “As-Sunnah bagaikan kapal Nabi Nuh, siapa yang menaikinya dia selamat dan siapa yang tertinggal (tidak menaikinya) maka dia tenggelam.”
Al-Imam Az-Zuhri t pernah berkata: “Para ulama kita yang dahulu pernah mengatakan: ‘Berpegang teguh dengan As-Sunnah adalah keselamatan’.”
Bila prinsip ini telah diketahui, maka cara yang dengannya Allah I menunjuki orang yang sesat, membimbing orang yang menyimpang dan membuat ahli maksiat bertaubat, haruslah dengan Al-Kitab dan As-Sunnah, yang dengannya Allah I mengutus Rasulullah n. Kalau seandainya cara tersebut kurang mencukupi untuk hal ini, berarti agama (yang dibawa) Rasul adalah kurang dan perlu disempurnakan.
Perlu diketahui bahwa amalan-amalan shalih (pasti) diperintahkan oleh Allah I, baik berupa perintah wajib atau mustahab; dan amalan-amalan jelek (pasti) dilarang oleh Allah I.
Sebuah amalan bila mengandung maslahat dan mafsadah, maka Allah Maha Hikmah. Bila maslahatnya lebih dominan daripada mafsadahnya maka Dia pun mensyariatkannya. Namun bila mafsadahnya lebih dominan daripada maslahatnya maka hal tersebut tidak Dia syariatkan, bahkan dilarang. Hal ini sebagaimana disebutkan di dalam firman-Nya:

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah: 216)
Juga firman-Nya:

“Mereka bertanya kepadamu tentang khamr dan judi. Katakanlah: ‘Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya’.” (Al-Baqarah: 219)
Oleh karena itulah Allah I mengha-ramkan keduanya (khamr dan perjudian) setelah itu.
Demikianlah, setiap amalan yang dipandang seseorang dapat mendekatkan diri kepada Allah I namun tidak disyariatkan oleh Allah I dan Rasul-Nya, maka pasti mudharatnya lebih besar daripada manfaat-nya. Kalau seandainya manfaatnya lebih besar daripada mudharatnya, tentu tidak akan diabaikan oleh Allah I. Sebab Allah I Maha Hikmah, tidak akan mengabaikan kemaslahatan-kemaslahatan agama, dan tidak pula meluputkan kaum mukminin dari segala yang dapat mendekatkan diri kepada Rabbul ‘Alamin.
Bila prinsip ini telah jelas, maka kita bertanya kepada sang penanya: Sesung-guhnya Syaikh tersebut bermaksud untuk membuat taubat sejumlah orang yang sepakat untuk berbuat dosa besar. Namun hal itu (keinginan Syaikh tersebut) tidak mungkin (terwujud) kecuali dengan cara-cara bid’ah yang disebutkan tadi. Ini semua menunjukkan bahwa Syaikh tadi jahil tentang cara-cara dakwah yang syar’i yang dengan itu para ahli maksiat bertaubat atau (Syaikh tadi) tidak mampu menerapkannya. Sebab Rasulullah n, para shahabatnya, para tabi’in, dahulu mereka mendakwahi orang-orang yang lebih jelek dari orang-orang yang didakwahi oleh Syaikh tadi, baik itu orang kafir, orang fasik, maupun ahli maksiat, dengan menggunakan cara-cara yang syar’i, tidak memerlukan cara-cara bid’ah.
Tidak boleh dikatakan: “Cara-cara syar’i yang Allah mengutus Rasulullah n dengannya tidak ada yang bisa membuat ahli maksiat bertaubat.” Sebab telah diketahui dengan pasti dari penukilan yang mutawatir bahwa umat yang jumlahnya tidak terhitung (hanya Allah I yang mampu menghitungnya) telah bertaubat dari kekufuran, kefasikan, dan kemaksiatan dengan cara-cara yang syar’i, tidak dengan cara perkumpulan bid’ah seperti yang disebutkan tadi.
Bahkan generasi awal umat ini dari kalangan Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik – dalam keadaan mereka sebagai sebaik-baik wali Allah I yang bertakwa dari kalangan umat ini– mereka bertaubat kepada Allah I dengan cara-cara yang syar’i, tidak dengan cara yang bid’ah. Negeri-negeri kaum musli-min dan pedalaman-pedalamannya, baik dahulu maupun sekarang dipenuhi oleh orang yang bertaubat kepada Allah I, bertak-wa kepada-Nya, dan melaksa-nakan apa yang dicintai dan diri-dhai oleh Allah I dengan cara-cara syar’i, tidak de-ngan cara bid’ah tadi….” sampai akhir penjelasan beliau yang ber-harga ini. (Maj-mu’ Al-Fatawa, 11/620-631)
Samahatusy Syaikh Abdul ‘Aziz bin  Abdullah bin Baz t, salah satu ulama besar masa kini juga menjelaskan
: “Telah dimaklumi bahwa pedoman-pedoman (dalam dakwah) ini telah dilaksanakan oleh Nabi kita Muhammad n pertama kali di Makkah, kemudian di Madinah. Tidak akan baik akhir umat ini kecuali dengan apa yang membuat baik generasi awalnya, sebagaimana hal ini dikatakan oleh ahlu ilmi wal iman. Di antaranya adalah Al-Imam Malik bin Anas t, beliau mengucapkan kalimat ini dan diterima oleh ulama sezamannya dan ulama setelahnya. Mereka semua menyepakatinya…
Maknanya, apa yang telah membuat baik generasi awal umat ini yaitu dengan mengikuti Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya n, cara ini pula yang akan membuat baik generasi akhir umat ini sampai hari kiamat.
Barangsiapa hendak memperbaiki masyarakat Islam atau masyarakat lain di dunia ini selain dengan cara, wasilah, dan pedoman-pedoman yang telah membuat baik generasi awal umat ini, maka dia telah salah dan berucap tanpa kebenaran.
Tidak ada jalan lain untuk memperbaiki umat manusia dan menegakkan mereka di atas jalan yang lurus kecuali dengan jalan yang ditempuh oleh Nabi kita Muhammad n, kemudian jalan yang ditempuh oleh para sha-habat yang mu-lia, kemudian para tabi’in yang mengikuti mereka dengan baik sampai hari ini.” Demi-kian penjelasan beliau t. Lihat Fatawa Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz, 1/249.

Cara-cara Dakwah Menurut Manhaj Salaf
Wasilah dakwah Islamiyyah Salafiyyah sangatlah banyak, amat mencukupi untuk menyebarkan agama ini, membimbing dan menunjuki segenap umat manusia yang memiliki latar belakang dan karakter yang beragam.
Dakwah Salafiyyah tidak membutuhkan wasilah-wasilah bid’ah yang menjamur di tengah-tengah kaum muslimin belakangan ini. Karena mereka yakin bahwa cara-cara syar’i yang dicontohkan oleh Rasulullah n dan para shahabatnya adalah cara yang tepat dan cepat dalam berdakwah kepada Allah I.
Di antara wasilah dakwah Nabawiyyah adalah:
1. Khutbah-khutbah
Khutbah ini meliputi khutbah Jumat maupun khutbah ‘Ied. Dengan wasilah ini sang da’i bisa memberikan pengarahan kepada umatnya, baik dalam masalah akidah, tauhid, ibadah, akhlak, maupun muamalah yang dibutuhkan umat. Dia juga bisa meluruskan beragam paham dan aliran yang menyim-pang dan membahayakan umat.
2. Halaqah-halaqah ilmu
Ini adalah wasilah yang senantiasa digunakan oleh para ulama dahulu maupun sekarang. Dengan cara ini sang da’i bisa mengkaji secara mendalam berbagai bidang ilmu syar’i. Dia bisa memberi kajian tafsir, hadits, akidah, tauhid, manhaj, fikih, akhlak dan yang lainnya. Dengan cara ini para mad’u (orang yang didakwahi) bisa mendalami secara mendalam pula kajian-kajian di atas.
Dalam halaqah ilmu akan muncul tanya jawab dan diskusi ilmiah, yang dengan itu orang-orang yang hadir dapat menambah wacana dan wawasan keilmuan yang syar’i.
3. Fatwa-fatwa ulama
Dengan wasilah ini, segenap kaum muslimin dapat menyampaikan segala macam problem yang mereka hadapi, baik yang berkaitan dengan masalah agama maupun masalah dunia. Dengan wasilah ini para ulama dan para da’i dapat membimbing dan meluruskan umat di atas syariat Islam yang murni.
Dengan cara ini pula akan terjadi interaksi antara ulama dengan umatnya, yang dengan itu akan semakin erat hubungan antara keduanya. Dan inilah salah satu kunci kesuksesan membentuk generasi Islam Rabbani.
4. Jihad fi Sabilillah
Dengan syarat dan ketentuan yang sesuai dengan syariat, jihad adalah cara efektif untuk menyebarkan ajaran Islam ke seluruh penjuru dunia. Hal ini sangat nampak pada sejarah Islam masa lalu yang mencapai zaman keemasan. Islam tersebar ke Timur dan Barat dunia melalui amalan besar ini, jihad fi sabilillah.
Masih banyak lagi cara-cara syar’i Rabbani untuk penyebaran Islam melalui dakwah ilallah. Setiap orang yang mengkaji, menelaah dan memperhatikan Al-Qur`an, sejarah Nabi n dan sejarah Salafus Shalih akan mengetahui dengan jelas permasalahan ini. Dan dia akan yakin bahwa cara-cara syar’i sangat mencukupi kebutuhan dakwah Islamiyyah Salafiyyah sepanjang masa dan tempat. Wallahul muwaffiq.

Apakah Wasilah-wasilah Modern Masa Kini Terlarang?
Prinsip bahwa wasilah dakwah adalah tauqifiyyah tidak berarti menghalangi para da’i ilallah untuk menggunakan alat-alat modern atau cara-cara masa kini yang terus ada dan berkembang. Hanya saja hal-hal tersebut harus ditimbang dari sudut syar’i. Kalau tidak ada pelanggaran syariat maka tidak mengapa dan masuk dalam kaidah besar para ahli fiqih yang berbunyi:

“Wasilah itu mempunyai hukum sama dengan tujuan.”
Namun bila di dalamnya terdapat mudharat atau pelanggaran syariat, maka tidak boleh digunakan dan dakwah Islamiy-yah Salafiyyah tidak kenal bahkan mengecam kaidah Yahudiyyah dan Ikhwaniyyah:

“Tujuan menghalalkan segala cara.”
Bila pada wasilah tadi terdapat dua fungsi, yang satu untuk perkara syar’i dan yang satunya untuk perkara haram, maka sang da’i dapat menggunakannya untuk kepentingan yang syar’i saja.
Di antara sarana masa kini yang dapat digunakan untuk penyebaran dakwah Salafiyyah Nabawiyyah adalah:
1. Majalah, buletin, selebaran, radio, dan penerbitan kitab
Fadhilatusy Syaikh Rabi bin Hadi Al-Madkhali hafizhahullah wa syafaahu di dalam sambutannya untuk penerbitan majalah Manabirul Huda Al-Jazair menjelaskan:
“…Sesungguhnya sebab yang paling besar dan kuat untuk merealisasikan tujuan-tujuan (yang mulia) tersebut adalah dengan menggunakan wasilah-wasilah yang disya-riatkan dan mengarahkannya untuk mema-hamkan umat, khususnya para pemuda, seperti kitab, kaset, selebaran, majalah, dan radio, sehingga pemahaman yang lurus ini sampai kepada setiap individu umat dan kepada setiap keluarga.
Dengan syarat, orang-orang yang menanganinya adalah ahli ilmu yang bermanfaat, yang bertakwa, dan ikhlas karena Allah Rabbul ‘alamin…”
Perlu juga ditambahkan pada penerbitan majalah:
1.    Tidak menerima iklan yang murni untuk bisnis, seperti iklan madu, minyak gosok, minyak wangi, warung sate, dan yang semisalnya.
2.    Tidak boleh me-muat gambar-gambar yang menunjukkan sisi duniawi yang glamour, seperti gambar-gambar gedung pencakar langit yang menggambarkan keme-gahan sebuah kota metro-politan, apalagi gambar makhluk bernyawa yang jelas keharamannya.
3.    Bukan untuk tujuan komersial murni. Kalau tujuan utama adalah dakwah ilallah, namun ada sisi keuntungan duniawi dari hasil penjualannya maka tidaklah mengapa.
4.    Pengurusnya harus laki-laki. Adapun para wanita maka dapat dialokasikan ke bagian khusus kewanitaan dengan syarat tetap di bawah kepengurusan laki-laki.
Demikian ringkasan penjelasan Syaikhuna Abdurrahman Al-’Adani hafizha-hullah wa syafaahu (semoga Allah menjaga dan menyembuhkan beliau), ketika penulis bertanya langsung kepada beliau di Masjid Mazra’ah, Dammaj, Yaman, semasa penulis masih belajar di Darul Hadits. Wallahul muwaffiq.
2.  Pembentukan Ma’had (Pondok Pesantren)
Wasilah ini sesungguhnya sudah ada di zaman ulama dahulu. Bahkan sebagian ulama ada yang secara khusus menulis buku bertema “sejarah madrasah.”
Demikian pula para ulama di masa sekarang, baik dengan sistem mulazamah –dan ini yang banyak manfaatnya– ataupun dengan sistem klasifikasi per kelas dengan target dan waktu tertentu. Target dan waktu ini bukanlah untuk membatasi waktu menun-tut ilmu, namun sebagai persiapan untuk masuk ke jenjang beri-kutnya secara bertahap. Seperti yang dilakukan para ulama besar di zamannya ketika mendiri-kan Jami’ah Islamiyyah Madinah.
Wasilah ini terma-suk yang dibolehkah oleh Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi dalam sambutan beliau untuk majalah Al-Jazair.
Penulis pernah ber-tanya kepada Asy-Syaikh Abdurrahman Al-’Adani tentang dirasah (penga-jaran) di madrasah dengan sistem klasikal (dibuat per kelas). Beliau menjawab: “Tidak ada larangan dalam hal ini, sebab para ulama dahulu pernah melakukannya. Dan dirasah di masjid-masjid afdhal (lebih utama).” Demikian khulashah (ringkasan) jawaban beliau. Jazahullah khairan.
Masih banyak lagi contoh-contoh wasilah dakwah masa kini yang mungkin dapat digunakan. Yang penting adalah tidak ada unsur pelanggaran syariat di dalamnya.
Akhirul kalam, semoga tulisan ini menjadi pencerahan wawasan terhadap dakwah Islamiyyah Salafiyyah dan mudah-mudahan dapat diambil manfaatnya oleh penulis sendiri dan segenap kaum muslimin. Wallahu a’lam bish-shawab.

Berdakwah Seperti Rasulullah

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Abdillah Afifuddin)

Bila kita melihat sepintas kepada aktivitas dakwah Islam yang ada, akan nampak adanya kegairahan yang demikian tinggi melanda para aktivis dakwah dengan sebuah tujuan yang tentu mulia: menegakkan agama Allah I. Saking bergairahnya, tak sedikit di antara mereka yang senantiasa melakukan inovasi dalam dakwah agar aktivitas dakwahnya diterima umat. Ada yang berdakwah lewat nyanyian, musik, lawakan, sinema elektronik (sinetron), cerita-cerita fiktif, dan seterusnya. Ada lagi yang lebih “serius”, di antaranya ada yang suka melakukan pengeboman di sana-sini, dakwah lewat parlemen, atau berseru kian kemari mengajak umat mendirikan Khilafah Islamiyyah. Mari kita timbang semua itu dengan pembahasan berikut ini.

Tidak syak (diragukan) lagi bahwa dakwah ilallah adalah amalan yang mulia lagi agung dalam agama ini. Namun realita umat Islam masa kini dalam mengarungi “samudra” dakwah sangatlah memilukan. Terlalu banyak penyimpangan terhadap rambu-rambu dakwah, segala cara dan upaya dilakukan tanpa kontrol, bahkan dengan terang-terangan mengedepankan slogan “Tujuan membolehkan segala macam wasilah (cara).” Slogan milik kelompok sempalan Ikhwanul Muslimin inilah yang kini marak di medan dakwah. Sungguh sangat ironis!!
Lalu bagaimana sesungguhnya konsep Salafus Shalih dalam berdakwah? Metode apa saja yang mereka gunakan?

Dakwah adalah Ibadah
Perlu diketahui bersama bahwa dakwah adalah amalan ibadah kepada Allah U, dengan beberapa argumentasi sebagai berikut:
1. Dakwah adalah tugas para Nabi dan Rasul
Para nabi dan rasul diutus oleh Allah I untuk mendakwahkan satu prinsip: “Beribadah hanya kepada Allah I tanpa berbuat syirik.” Allah I berfirman:

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut itu’.” (An-Nahl: 36)
2. Dakwah adalah perintah Allah I kepada Rasulullah n. Allah I berfirman:

“Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik.” (An-Nahl: 125)
3. Dakwah adalah perintah Allah I kepada umat Islam dan tanda keberuntungan mereka. Allah I berfirman:

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar. Merekalah orang-orang yang beruntung.” (Ali ‘Imran: 104)
4. Dakwah adalah jalan yang ditempuh Rasulullah n dan para pengikutnya. Allah I berfirman:

“Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata.” (Yusuf: 108)
5. Dakwah dalam bentuk amar ma’ruf nahi mungkar adalah upaya untuk mengangkat umat Islam menjadi umat terbaik. Allah I berfirman:

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (Ali Imran: 110)
6. Para da’i ilallah adalah orang yang terbaik ucapannya. Allah I berfirman:

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang shalih dan berkata: ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?’.” (Fushshilat: 33)

Uraian di atas menunjukkan kepada kita bahwa dakwah adalah amalan yang dicintai dan diridhai oleh Allah I, karena dakwah merupakan salah satu perintah-Nya, menjadi sunnah para Nabi dan Rasul serta para pengikutnya, dan ada keutamaan besar bagi orang yang melakukannya (da’i). Ini selaras dengan definisi ibadah yang dikemukakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah t:
“(Ibadah adalah) sebuah nama yang mencakup segala sesuatu yang dicintai dan diridhai oleh Allah I baik ucapan maupun perbuatan, yang lahir maupun yang batin.”

Ibadah Harus dengan Dua Syarat Asasi
Para ulama menyebutkan bahwa ibadah tidak akan diterima oleh Allah I melainkan harus memenuhi dua syarat asasi, yaitu:
1. Ikhlas
Allah I berfirman:

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus.” (Al-Bayyinah: 5)
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari, Al-Imam Muslim dan yang lainnya, (semua) dari jalan Yahya bin Sa’id Al-Anshari dari Muhammad bin Ibrahim At-Taimi dari ‘Alqamah bin Waqqash Al-Laitsi dari Umar bin Al-Khaththab z bahwa Rasulullah n bersabda:

“Sesungguhnya (sah tidaknya) amalan itu tergantung dengan niatnya dan setiap orang akan mendapatkan (pahala amalnya) sesuai dengan niatnya.”
Hadits ini adalah barometer untuk menilai semua perkara batin dan niat, sementara ikhlas adalah martabat (posisi) tertentu pada niat.
2. Ittiba’ (Mengikuti) ar-Rasul n
Yaitu bahwa sebuah amalan harus sesuai dengan Sunnah Rasulullah n. Allah I berfirman:

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.” (Al-Hasyr: 7)
Bila tidak, maka amal tersebut pasti tertolak sebagai disebutkan di dalam hadits ‘Aisyah x yang diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim:

“Barangsiapa mengerjakan suatu amalan yang tidak ada contohnya dari kami (tidak ada Sunnahnya) maka amalan tersebut tertolak (tidak diterima).”
Karena itu, di dalam berdakwah haruslah diniati dengan ikhlas karena Allah I semata. Jangan melakukan dakwah untuk kelompoknya (hizb-nya), partainya, atau untuk kepentingan diri sendiri. Dalam berdakwah harus pula sesuai dengan contoh dari Rasulullah n, baik dalam hal materi dakwah (apa dulu yang harus didakwahkan), tujuan, maupun konsep dan wasilah (cara) dakwah itu sendiri.

Cara Dakwah adalah Tauqifiyyah
Dari dua prinsip di atas, yaitu prinsip dakwah adalah ibadah dan prinsip ibadah harus disertai rasa ikhlas dan mengikuti Sunnah Rasulullah n, para ulama menyata-kan bahwa wasilah (cara) dakwah adalah tauqifiyyah yakni harus dengan contoh dari Rasulullah n dan para shahabatnya. Tidak boleh bagi siapapun untuk mem-buat wasilah dakwah sesuai dengan hawa nafsunya, sesuai dengan hizb, golong-an, partainya, atau masyarakat tempat ia berada.
Prinsip di atas akan semakin gamblang bila ditambah argumentasi-argumentasi berikut:
a. Allah I telah menyempurnakan agama ini, sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (Al-Ma`idah: 3)
Maka segala permasalahan yang berkaitan dengan agama dan keduniaan yang dibutuhkan oleh umat manusia, semua telah dibahas dalam agama ini, baik secara nash Al-Quran dan As-Sunnah maupun dalil-dalil umum, yang merupakan suatu kaidah yang mencakup beragam permasalahan baik masalah akidah, tauhid, ibadah, dakwah, akhlak, maupun muamalah.
Sehingga kaum muslimin pada khususnya tidak perlu lagi ideologi-ideologi Dajjal dari Barat dan Timur dalam urusan agama dan dunia mereka. Wallahul muwaffiq.
b. Allah I telah mewajibkan kepada umat manusia dan kaum muslimin pada khususnya untuk menaati Rasu-lullah n dan mengaitkan kebahagiaan seseorang dengan sikap taat pada Rasulullah n tersebut. Seba-liknya, Allah I melarang manusia untuk bermaksiat kepada beliau n dan mengaitkan sikap tersebut dengan keseng-saraan bagi orang yang melakukannya.
Banyak ayat yang menerangkan tentang prinsip agung ini, di antaranya yaitu:

“Dan barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang shalih. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (An-Nisa`: 69)
Dan firman-Nya:

“Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya baginyalah neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.” (Al-Jin: 23)
Maka, konsekuensi dari ketaatan ini adalah kita menaati dan mengamalkan Sunnah-sunnah beliau, termasuk di dalamnya Sunnah beliau di dalam berdakwah kepada Allah I.
c. Rasulullah n telah memerintahkan umat ini untuk mengerjakan segala kebaikan dan melarang dari setiap kejelekan, menghalalkan untuk mereka segala perkara yang thayyib (baik) dan melarang dari perkara yang khabits (jelek). Ini merupakan sifat kena-bian Rasulullah n, sebagaimana disebut-kan dalam firman Allah I:

“Yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka.” (Al-A’raf: 157)
Allah I juga berfirman tentang Nabi-Nya:

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (Yaitu) jalan Allah yang kepunyaan-Nya segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa kepada Allah-lah kembali semua urusan.” (Asy-Syura: 52-53)
Di dalam Shahih Muslim disebutkan hadits dari Abdullah bin ‘Amr c, bahwa Rasulullah n bersabda:

“Tidaklah Allah mengutus seorang nabi melainkan menjadi kewajibannya untuk menunjuki umatnya segala kebaikan yang dia ketahui untuk mereka, dan melarang mereka dari segenap kejelekan yang dia ketahui untuk mereka.”
Bila tiga prinsip di atas telah dipahami, maka kita dengan mantap bisa memastikan bahwa Rasulullah n telah menjelaskan kepada umatnya wasilah-wasilah dakwah baik dalam bentuk ucapan, perbuatan maupun keduanya. Bagaimana mungkin Rasulullah n dengan demikian jelas memaparkan kepada umatnya tentang adab-adab buang hajat, namun sama sekali tidak menyinggung masalah wasilah dakwah yang mana agama ini tidak tegak dan lurus tanpa amalan tersebut (dakwah)?
Penjelasan-penjelasan dan praktek beliau inilah yang harus dijadikan sebagai konsep baku secara syar’i dalam berdakwah dan memilih wasilah dakwah. Dengan cara inilah orang-orang yang menyimpang diluruskan, orang-orang yang bingung dalam beragama diberi bimbingan.
Cara inilah yang ditempuh Rasulullah n untuk mengeluarkan umat manusia dari kegelapan kekufuran, kesyirikan, kebid’ahan, dan kemaksiatan menuju cahaya ilmu, tauhid, As-Sunnah, dan ketaatan kepada Allah I.
Jalan inilah yang ditempuh oleh para shahabat yang mulia, para tabi’in, dan para ulama Ahlus Sunnah sepanjang masa di manapun mereka berada. Bahkan mereka bersikap sangat keras dalam mengingkari siapa saja yang menyelisihi prinsip ini atau mengada-adakan cara baru dalam hal yang mulia ini.
Tidak ada jalan lain untuk mewujudkan masyarakat yang Islami seperti yang pernah terjadi di masa shahabat melainkan dengan wasilah-wasilah syar’i dan upaya-upaya yang selaras dengan Manhaj Salaf. Hal ini sebagaimana pernah ditegaskan oleh Al-Imam Malik t:

“Tidak ada (cara) yang bisa memperbaiki keadaan akhir umat ini kecuali dengan (cara) yang telah membuat baik generasi awal (umat ini).”
Menambah-nambahi prinsip syar’i di atas dengan wasilah-wasilah baru (baca: bid’ah) yang tidak ada contohnya dari Rasulullah n berarti berupaya untuk menambahi syariat Islam yang telah sempurna dan ini merupakan tindakan yang keluar dari jalan kaum mukminin. Allah I dalam firman-Nya memberi ancaman:

“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (An-Nisa`: 115)
Amalan ini sia-sia lagi tertolak, sebagaimana disebutkan dalam Ash-Shahihain, hadits dari ‘Aisyah x bahwa Rasulullah n bersabda:

“Barangsiapa yang mengada-adakan dalam agama ini perkara yang bukan bagian darinya (dari agama), maka amalan tersebut tertolak.”
Ringkas kata, dakwah ilallah terdiri dari dua unsur, yaitu tujuan (ghayah)


Mengenal Kaidah Dakwah Salaf

(ditulis oleh: Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi, Lc.)

Berangkat dari ilmu dan pola pikir yang benar. Itulah bekal yang harus dimiliki oleh orang-orang yang terjun ke dunia dakwah. Karena dari sini, seorang da’i akan terlihat bagaimana akidahnya, akhlaknya, atau hal-hal lain yang terkait dengan agamanya. Tanpa pijakan yang benar lagi kokoh, seorang da’i bisa tersesat sekaligus menyesatkan orang lain.

Berkembangnya berbagai aliran dan sekte sesat, baik yang baru atau sekedar berganti baju, belakangan ini cukup mengusik kehidupan umat Islam. Reaksi pun muncul dari masyarakat. Namun kebanyakannya menyikapi semua itu dengan emosi atau mengedepankan sikap curiga dengan dalih kewaspadaan. Sehingga, dengan informasi yang sangat terbatas atau setengah-setengah, sebagian kaum muslimin cenderung ‘pukul rata’ dengan dalil-dalil keumuman. Asal tidak umum, atau melakukan tata cara ibadah yang dianggap tidak lazim, penampilannya nganeh-anehi, dan sebagainya, bisa dipastikan bakalan dicurigai.
Tak ayal ketika gaung dakwah Salafiyyah mulai membahana di berbagai penjuru tanah air, sebagian kaum muslimin justru pasang kuda-kuda “waspada dan curiga”. Terlebih setelah tahu penampilan orang-orangnya sepintas mirip dengan orang-orang yang diidentifikasikan sebagai teroris; Usamah bin Laden, Imam Samudra, Amrozi, dan yang sejenisnya. Padahal antara keduanya sangat jauh berbeda, ibarat air dengan minyak yang tak mungkin bisa bersatu. Karena dakwah Salafiyyah adalah warisan Rasulullah n, sedangkan gerakan teroris adalah warisan kaum Khawarij, musuh Rasulullah n.
Dakwah Salafiyyah adalah dakwah yang mulia lagi suci. Sebuah dakwah (seruan) yang mengajak seluruh umat manusia untuk memahami dan menjalani agama Islam sebagaimana para shahabat Rasulullah n (As-Salafush Shalih) -yang merupakan generasi terbaik umat ini- memahami dan menjalaninya. Dakwah ini menyeru untuk mengikuti prinsip-prinsip mereka dalam berilmu, beramal, berjihad, berhubungan dengan penguasa, beramar ma’ruf dan nahi mungkar, bermasyarakat dan berbagai aktivitas kehidupan lainnya.
Setiap pribadi muslim hakekatnya sangat butuh untuk mengenal dan berprinsip dengan prinsip para shahabat. Dan semakin besar nilai kebutuhan itu ketika Allah U meridhai dan menjamin kesuksesan bagi orang-orang yang meneladani dan mengikuti jejak mereka. Sebagaimana dalam firman-Nya:

“Dan orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) dari kalangan shahabat Muhajirin dan Anshar, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. Dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal abadi di dalamnya. Itulah kesuksesan yang agung.” (At-Taubah: 100)
Semakin besar pula nilai kebutuhan itu ketika Rasulullah n memerintahkan umatnya untuk berpegang teguh dengan sunnah mereka. Sebagaimana dalam sabda beliau n:

“Sesungguhnya siapa saja di antara kalian yang hidup sepeninggalku nanti, niscaya akan melihat perselisihan yang begitu banyak (dalam memahami agama ini). Oleh karena itu wajib bagi kalian untuk berpegang teguh dengan Sunnah (jalan)-ku dan Sunnah Al Khulafa’ Ar Rasyidin yang terbimbing. Gigitlah ia dengan gigi-gigi geraham kalian (maksudnya, bepeganglah erat-erat dengannya, -pen)…(Shahih, HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ad-Darimi, Ibnu Majah dan lainnya dari shahabat Al-‘Irbadh bin Sariyah. Lihat Irwa`ul Ghalil, hadits no. 2455)
Bahkan semakin lebih besar lagi nilai kebutuhan itu ketika Allah U mengancam orang-orang yang menentang Rasulullah n dan menempuh jalan selain jalan para shahabat. Sebagaimana dalam firman-Nya:

“Dan barangsiapa menentang Rasul setelah jelas baginya petunjuk, dan mengikuti selain jalan orang-orang yang beriman1, Kami biarkan ia leluasa bergelimang dalam kesesatan dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (An Nisaa`: 115)
Mungkin di antara para pembaca ada yang tidak sabar, seraya bergumam: “Seperti apakah prinsip mereka itu? Kami ingin segera mengenalnya dan berprinsip dengannya, agar berbahagia di dunia dan di akhirat.”
Para pembaca, bila demikian keadaan-nya maka perhatikanlah prinsip-prinsip dakwah Salafiyyah berikut ini dengan seksama -semoga petunjuk Allah U selalu mengiringi kita semua-:
1. Beriman dengan enam rukun iman:
q    Iman kepada Allah U, yaitu meyakini bahwa Allah U  satu-satunya Pencipta, Pengatur dan Pemilik alam semesta beserta semua isinya (tauhid ar-rububiyyah). Dialah satu-satunya Dzat yang berhak diibadahi, tiada sekutu bagi-Nya (tauhid al-uluhiyyah). Dia Maha memiliki nama-nama dan sifat-sifat yang mulia lagi sempurna (tauhid al-asma` was shifat). Setiap nama dan sifat Allah U yang terdapat di dalam Al-Qur`an dan hadits Rasulullah n yang shahih, maka harus ditetapkan dan diartikan sesuai dengan makna asalnya tanpa diubah dan diseleweng-kan kepada arti lainnya, dan tanpa memba-yangkan hakekatnya. Adapun hakekat dari itu semua, maka sesuai dengan keagungan dan kemuliaan-Nya, tidak sama dengan sifat makhluk-Nya, dan hanya Allah U yang Maha Mengetahui hakekatnya. Dia beristiwa` (berada di atas) ‘Arsy, bukan di mana-mana. Sedangkan ilmu dan pengawasan-Nya meliputi segala sesuatu, tidak ada sesuatu pun yang terluput dari-Nya. Semua yang dikehendaki-Nya pasti terjadi dan semua yang tidak dikehendaki-Nya tidak akan terjadi. Dia turun ke langit dunia sesuai dengan keagungan dan kemuliaan-Nya (tidak serupa dengan satu makhluk pun) setiap sepertiga malam terakhir untuk menyambut permohonan para hamba-Nya. Dia Maha Tunggal, tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dia tidak menampakkan diri-Nya di dunia ini karena kehendak dan hikmah-Nya. Dan di akhirat kelak orang-orang beriman dapat melihat-Nya dengan mata kepala mereka (bukan mata hati) tanpa berdesak-desakan. Bahkan melihat wajah Allah U ketika itu merupakan puncak dari seluruh kenikmatan akhirat.
q    Iman kepada para malaikat Allah U, yaitu meyakini bahwa para malaikat itu benar-benar ada dan berfisik. Allah U menciptakan mereka dari cahaya, dalam rangka untuk beribadah kepada-Nya dan menjalankan segala tugas yang dibebankan kepada mereka.
q    Iman kepada kitab-kitab Allah U, yaitu meyakini bahwa Allah U telah menu-runkan kitab-kitab suci kepada beberapa Rasul-Nya sebagai petunjuk bagi umat manusia. Di antaranya; Zabur yang diturun-kan kepada Nabi Dawud u, Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa u, Injil yang diturunkan kepada Nabi Isa u dan Al-Qur`an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad n. Kitab suci yang paling mulia adalah Al-Qur`an, ia merupakan Kalamullah (firman Allah I) bukan makhluk. Sungguh sesat kelompok Jahmiyyah dan Mu’tazilah yang menyatakan Al-Qur`an itu makhluk. Demikian pula Asy’ariyyah dan sejenisnya yang menyatakan bahwa kandungannya saja yang kalamullah, sedangkan hurufnya adalah makhluk. Barangsiapa mengatakan bahwa Al-Qur`an itu makhluk maka dia telah kafir.
q    Iman kepada para rasul (utusan) Allah I, yaitu meyakini kebenaran semua nabi dan rasul yang diutus Allah U kepada umat manusia, baik yang namanya disebutkan oleh Allah I ataupun yang tidak disebutkan. Tidak boleh berlebihan di dalam memuliakan mereka dan tidak boleh pula melecehkan mereka. Semuanya adalah hamba Allah I, yang Allah I muliakan seba-gai pengemban risalah-Nya kepada umat manusia. Mereka diutus kepada umatnya masing-masing, kecuali Rasulullah n yang diutus kepada seluruh umat manusia hingga hari kiamat. Beliau n adalah nabi terakhir yang diutus Allah I di muka bumi ini. Barangsiapa meyakini adanya nabi setelah beliau n, maka dia telah kafir.
q    Iman kepada hari kiamat, yaitu meyakini semua yang diberitakan Allah I dan Rasul-Nya tentang segala peristiwa setelah kematian; seperti adanya adzab dan nikmat kubur, adanya pertanyaan dua malaikat di kubur, dibangkitkannya umat manusia dari kuburnya (hari kiamat) dan dikumpulkan di padang mahsyar dalam keadaan tidak berpakaian, tidak berkhitan dan tidak beralas kaki, adanya hisab atas segala apa yang telah dikerjakan di dunia, adanya timbangan amalan, pemberian catatan amal dengan tangan kanan bagi yang diridhai Allah I dan dengan tangan kiri bagi yang dimurkai Allah I, setiap hamba akan berdialog langsung dengan Allah I tanpa penerjemah, adanya jembatan di hari kiamat yang lebih tipis dari helai rambut manusia, adanya telaga Rasulullah n di hari kiamat, adanya syafaat Rasulullah n, para nabi dan rasul lainnya, para malaikat serta orang-orang yang beriman (dan tidaklah bermanfaat satu syafaat pun bagi orang kafir dan musyrik selain syafaat kubra Rasulullah n di padang mahsyar yang berkaitan dengan penyegeraan hisab), keyakinan bahwa jannah (surga) dan naar (neraka) telah diciptakan oleh Allah dan sudah ada saat ini, keyakinan bahwa orang-orang beriman akan melihat Allah I pada hari kiamat -dengan demikian jelasnya- tanpa berdesak-desakan (ketika melihat-Nya), serta keyakinan bahwa kematian didatangkan pada hari kiamat dalam bentuk kambing gemuk lalu disembelih di antara jannah dan naar, sehingga masing-masing dari penduduk jannah dan naar tidak lagi mengalami kema-tian, dan secara berkesinambungan akan merasakan balasan yang setimpal, baik berupa nikmat ataupun adzab.
q    Iman kepada takdir Allah U, yaitu meyakini bahwa segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini merupakan ketentuan (takdir) dari Allah U. Tidak ada sesuatu pun yang terluput dari-Nya baik yang telah,  sedang, ataupun yang akan terjadi. Semua kejadian itu telah ditentukan oleh Allah U dan telah dicatat pula dalam Al-Lauhul Mahfuzh. Segala sesuatu yang terjadi berupa kebaikan dan keburukan, keimanan dan kekafiran, ketaatan dan kemaksiatan, semua-nya atas kehendak Allah U, takdir-Nya dan penciptaan-Nya. Allah U mencintai kebaikan, keimanan dan ketaatan tersebut sebagai-mana Dia membenci keburukan, kekafiran dan kemaksiatan. Setiap hamba Allah U mempunyai kemampuan, pilihan, dan kehen-dak untuk melakukan suatu perbuatan baik dari jenis ketaatan maupun kemaksiatan, namun itu semua mengikut kepada keinginan dan kehendak Allah U. Tidak seperti Jabriyyah yang mengatakan bahwa seorang hamba dipaksa dalam berbuat dan dia tidak mempunyai kemampuan, pilihan dan kehendak sama sekali. Tidak pula seperti Qadariyyah yang mengatakan bahwa seorang hamba mempunyai kehendak mutlak atas semua perbuatannya, seorang hambalah yang menciptakan perbuatan dirinya (bukan atas takdir Allah U), sehingga keinginan dan kehendak seorang hamba sama sekali tidak terkait dengan keinginan dan kehendak Allah I. Allah I telah membantah dua kelompok sesat tersebut dalam sebuah firman-Nya:

“Dan kalian tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali jika dikehendaki Allah, Rabb semesta alam.”(At-Takwiir: 29)
Dalam ayat ini Allah U menetapkan adanya kehendak bagi hamba, sebagai bentuk bantahan terhadap Jabriyyah. Dan Allah U jadikan kehendak hamba itu mengikut kepada kehendak Allah U, sebagai bentuk bantahan terhadap Qadariyyah.
2. Sebuah keimanan harus diwujudkan dalam bentuk keyakinan, ucapan, dan perbuatan. Ia akan bertambah dengan ketaatan dan akan berkurang dengan kemaksiatan. Bukanlah suatu keimanan bila hanya diwujudkan dalam bentuk ucapan dan perbuatan tanpa adanya suatu keyakinan, karena ini adalah keimanan orang munafik. Bukan pula suatu keimanan bila hanya dalam bentuk wawasan tanpa adanya ucapan dan perbuatan, karena ini adalah keimanan orang kafir. Bukan pula suatu keimanan bila hanya dalam bentuk keyakinan dan ucapan tanpa perbuatan, karena ini adalah keimanan kelompok sesat Murji`ah.
3. Tidak mengkafirkan seorang pun dari kaum muslimin kecuali jika melakukan salah satu dari pembatal keislaman. Adapun pelaku dosa besar -di bawah dosa syirik- maka tidak dikafirkan. Jika meninggal dunia dan belum bertaubat dari dosanya, maka dia di bawah masyi`ah (kehendak) Allah I. Jika Allah U berkehendak untuk mengampuninya -secara langsung- maka dia mendapatkan ampunan dan akan masuk jannah tanpa diadzab, dan jika Allah U berkehendak untuk meng-adzabnya maka dia akan diadzab terlebih dahulu dan tempat kembalinya adalah jannah. Tidak seperti Khawarij yang mengkafirkannya, dan tidak pula seperti Murji`ah yang meyakini bahwa pelaku dosa besar -di bawah dosa syirik tersebut- adalah mukmin yang sempurna imannya.
4. Wajibnya menaati pemerintah kaum muslimin yang adil ataupun yang jahat, selama tidak memerintahkan kepada kemaksiatan. Jika memerintahkan kepada kemaksiatan maka tidak boleh ditaati (dalam perkara tersebut), namun masih berkewajiban menaatinya dalam perkara lainnya yang bukan kemaksiatan. Disyariatkan jihad bersamanya, walaupun dia seorang yang jahat. Boleh membayar shadaqah kepadanya (untuk disalurkan kepada yang berhak). Demikian pula boleh shalat Jum’at dan shalat berjamaah di belakangnya, tanpa harus diulangi. Barangsiapa mengulanginya maka dia tergolong mubtadi’ (pelaku bid’ah).
5. Tidak boleh memberontak kepada pemerintah kaum muslimin walaupun dia seorang yang jahat. Berbeda dengan prinsip sesat Khawarij yang mengkafirkan dan mewajibkan memberontak kepadanya. Berbeda pula dengan prinsip sesat Mu’tazilah yang mewajibkan memberontak, walaupun dia tidak kafir. Barangsiapa memberontak, maka dia telah menghancurkan tongkat kesa-tuan kaum muslimin. Bila meninggal dunia dalam keadaan demikian, maka mening-galnya dalam keadaan jahiliyyah.
6. Tidak boleh memvonis seorang pun dari Ahlul Kiblah (kaum muslimin) sebagai penduduk naar atau jannah, kecuali yang telah diberitakan Allah I dan Rasul-Nya.
7. Siapa saja dari kaum muslimin yang meninggal dunia dalam keadaan bertauhid, maka berhak dishalati dan dimintakan ampunan kepada Allah U, walaupun dia pelaku dosa besar.
8. Wajibnya menjaga hati dan lisan dari membenci, mencela atau melecehkan para shahabat Rasulullah n. Karena mereka adalah generasi terbaik umat ini, bahkan manusia terbaik setelah para nabi dan rasul. Barangsiapa membenci, mencela atau melecehkan salah seorang dari mereka maka dia mubtadi’, hingga benar-benar bertaubat dan mendoakan kebaikan untuk shahabat tersebut.
9. Shahabat terbaik adalah Abu Bakr Ash Shiddiq, kemudian ‘Umar bin Al-Khaththab, kemudian ‘Utsman bin ‘Affan, kemudian ‘Ali bin Abi Thalib, kemudian yang tersisa dari 10 orang yang diberitakan Rasulullah n sebagai penduduk jannah (yaitu Sa’d bin Abi Waqqash, Thalhah bin ‘Ubaidillah, ‘Abdurrahman bin ‘Auf, Abu ‘Ubaidah bin Al-Jarrah, Zubair bin Al-Awwam, dan Sa’id bin Zaid bin ‘Amr bin Nufail), kemudian Ahlu Badr (yang ikut dalam perang Badr) dari kalangan Muhajirin, kemudian Ahlu Badr dari kalangan Anshar, kemudian Ahlu Uhud (yang ikut dalam perang Uhud), kemudian Ahlu Bai’at Ridwan (yang ikut dalam Bai’at Ridwan) di Hudaibiyyah.
10. Yang berhak menjadi khalifah sepeninggal Rasulullah n adalah Abu Bakr Ash-Shiddiq, kemudian ‘Umar bin Al-Khaththab, kemudian ‘Utsman bin ‘Affan, kemudian ‘Ali bin Abi Thalib. Barangsiapa menolak kekhilafahan salah seorang dari mereka atau menyatakan bahwa yang paling berhak menjadi khalifah sepeninggal Rasulullah n adalah ‘Ali bin Abi Thalib, maka dia sesat dan menyesatkan.
11. Wajibnya mencintai ahlul bait (keluarga nabi) yang beriman, baik dari generasi shahabat ataupun setelah mereka. Tidak seperti kelompok sesat An-Nawashib yang beragama dengan membenci ahlul bait, dan tidak pula seperti kelompok sesat Syi’ah Rafidhah yang berlebihan di dalam mencintai mereka. Ahlul bait mencakup para istri nabi dan semua Bani Hasyim yang beriman. Tidak seperti yang dinyatakan kelompok sesat Syi’ah Rafidhah yang memanipulasi istilah ahlul bait untuk orang-orang tertentu saja yang mereka kehendaki. (Lihat Rubrik Manhaji, Asy Syari’ah edisi lalu)
12. Generasi terbaik setelah para shahabat adalah generasi tabi’in (murid-murid shahabat), kemudian generasi tabi’ut tabi’in (murid-murid tabi’in) sebagaimana yang diberitakan Rasulullah n.
13. Karamah (keluar-biasaan) para wali benar-benar ada, yang demikian sebagai wujud pemuliaan Allah U kepada mereka. Para wali Allah I adalah orang-orang yang beriman dan bertakwa, bukan para pelaku kesyirikan atau kemaksiatan. Bukan pula orang-orang yang berpromosi mengetahui ilmu ghaib, pamer kekebalan tubuh atau atraksi kebolehan dengan berjalan di atas air. Para wali Allah I adalah orang-orang yang tawadhu’ (rendah hati) dan selalu menjaga batasan-batasan syariat agama. Walau demikian, tidak ada seorang wali pun yang lebih utama dari nabi atau rasul.
14. Allah U dengan segala hikmah-Nya menciptakan para setan yang pekerjaannya membisikkan kebatilan kepada anak cucu Adam, para setan itu bisa mempengaruhi siapa saja yang dikehendaki Allah U dan tidak mampu mempengaruhi siapa saja yang tidak dikehendaki-Nya.
15. Sihir benar-benar ada (di dunia ini) dan hukumnya haram. Para tukang sihir tidaklah mampu menyihir seseorang kecuali dengan kehendak Allah U, dan mereka tidak akan mampu melakukan sihir tersebut bila tidak dikehendaki-Nya. Barangsiapa melaku-kan praktek sihir dan meyakini bahwa sihir itu dapat membahayakan atau menda-tangkan manfaat tanpa kehendak Allah U, maka dia telah kafir kepada Allah U.
16. Meyakini adanya tanda-tanda hari kiamat yang diberitakan Rasulullah n dalam hadits-haditsnya yang shahih, seperti; munculnya Dajjal di akhir jaman, munculnya Al-Imam Mahdi, turunnya Nabi Isa u dari langit, adanya Ya’juj dan Ma’juj, dan yang lainnya.
17. Ketika terjadi perselisihan, kembali kepada Al-Qur`an dan Sunnah Rasulullah n dengan pemahaman salaf (para shahabat Rasulullah n). Jauh dari sikap mendahulu-kan hawa nafsu, taqlid buta, fanatisme golongan, dan sikap mendahulukan akal.
18. Amar ma’ruf dan nahi mungkar merupakan suatu kewajiban dan amalan mulia dalam agama. Bukanlah termasuk amar ma’ruf dan nahi mungkar ataupun jihad, perbuatan memberontak terhadap pemerintah muslim yang jahat. Demikian pula peledakan-peledakan bom, teror, agitasi, demonstrasi dan hujatan-hujatan di atas mimbar atau dengan tulisan. Amar ma’ruf dan nahi mungkar kepada pemerintah dilakukan dengan pemberian nasehat, baik dengan ucapan (secara langsung) ataupun dengan surat (perantara), tanpa diiringi niatan menentang, membangkang, atau memberontak. Bahkan mendoakannya agar mendapatkan bimbingan, taufiq dan hidayah dari Allah U di dalam memimpin umat.
19. Persatuan adalah rahmat sedang-kan perpecahan adalah adzab. Persatuan hakiki adalah yang dibangun di atas Al-Qur`an dan Sunnah Rasulullah n dengan pemahaman salaf, bukan persatuan yang dibangun di atas kepentingan pribadi, partai, organisasi, kelompok, madzhab ataupun yang lainnya.
20. Menegakkan syi’ar-syi’ar Islam seperti; shalat Jum’at, shalat berjamaah, dan shalat Ied. Demikian pula saling menasehati dan saling membantu dalam kebaikan dan ketakwaan, serta tidak saling membantu dalam perbuatan dosa dan kekejian.
21. Wajib menerima dan mengikuti semua yang datang dari Rasulullah n.
22. Mencintai orang-orang yang ber-upaya meniti jejak Rasulullah n dan para shahabatnya serta berteguh diri di atasnya (terlebih bila dari kalangan ulama). Demikian pula membenci orang-orang yang menyelisihi/ menentang ajaran Rasulullah n (terlebih para penyeru dari kalangan mereka), dan meninggalkan debat dengan mereka.
23. Keharusan memperteguh diri di saat mendapatkan ujian; yaitu bersabar ketika ditimpa musibah, bersyukur ketika mendapat kemudahan, dan ridha terhadap takdir buruk yang telah ditentukan oleh Allah U.
24. Berhias dengan akhlak mulia, berbudi pekerti luhur, berbakti kepada kedua orang tua, menyambung tali silaturrahim, berbuat baik dengan tetangga, dan seje-nisnya. Demikian pula tidak sombong, berbangga diri, semena-mena, dzalim, melecehkan manusia dan lain sebagainya dari akhlak tercela.
Para pembaca, demikianlah di antara prinsip-prinsip dakwah Salafiyyah yang dapat kami sajikan. Walaupun sajian ini sifatnya global (tanpa disertai dalil, karena terbatasnya ruang rubrik), namun besar harapan kami semoga dapat menjadi pelita dalam kegelapan dan embun penyejuk bagi pencari kebenaran, serta sebagai penyirna bagi berbagai macam anggapan buruk tentang dakwah Salafiyyah. Sehingga terpatrilah dalam hati sanubari wasiat dan petuah:
q Al-Imam Al-Auza’i t: “Wajib bagimu untuk mengikuti jejak salaf walaupun orang-orang menolakmu, dan hati-hatilah dari pemahaman/ pendapat tokoh-tokoh (sesat) itu walaupun mereka mengemasnya dengan kata-kata (yang indah).” (Asy-Syari’ah, Al-Imam Al-Ajurri t, hal. 63)
q Al-Imam Abu Hanifah t: “Wajib bagi-mu untuk mengikuti jejak salaf, dan hati-hatilah dari segala yang diada-adakan dalam agama, karena ia bid’ah.” (Shaunul Manthiq, Al-Imam As-Suyuthi, hal. 332)
q Al-Imam As-Sam’ani t: “Syi’ar Ahlus Sunnah adalah mengikuti manhaj (prinsip) salaf dan meninggalkan segala yang diada-adakan (dalam agama).” (Al-Intishar li Ahlil Hadits, karya Muhammad bin ‘Umar Bazmul, hal. 88)
q Al-Imam Asy-Syathibi t: “Segala apa yang menyelisihi manhaj (prinsip) salaf adalah sesat.” (Al-Muwafaqat 3/284, dinukil dari Al-Mirqat fii Nahjis Salaf, hal. 57)

Sumber Bacaan:
1. Ushulus Sunnah, Al-Imam Ahmad bin Hanbal.
2. ‘Aqidatus Salaf Ash-habil Hadits, Al-Imam Abu ‘Utsman Isma’il Ash-Shabuni.
3. Al-’Aqidah Ath-Thahawiyyah, Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi.
4. Lum’atul I’tiqad, Al-Imam Muwaffaquddin Ibnu Qudamah.
5. Al-’Aqidah Al-Wasithiyyah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.
6. Min Ushuli ‘Aqidati Ahlis Sunnah wal Jama’ah, Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan.
7. Kitabut Tauhid, Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan.
8. Mu’amalatul Hukkam, Asy-Syaikh Abdus Salam Barjas.


1 Al-Imam Ibnu Abi Jamrah Al-Andalusi berkata: “Para ulama telah menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan orang-orang yang beriman dalam firman-Nya di atas adalah para shahabat Rasulullah n.” (Al Mirqat Fii Nahjis salaf, hal. 36-37)