Kisah Khidir Bersama Nabi Musa

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Harits Abrar)

 

Disebutkan bahwa kisah ini bermula ketika Nabi Musa u mengajar Bani Israil berbagai ilmu. Mereka merasa kagum dengan keluasan ilmunya. Di saat itu ada yang bertanya kepadanya: “Wahai Nabi Allah, adakah di dunia ini seseorang yang lebih berilmu daripada engkau?”
Nabi Musa u mengatakan, “Tidak.” Jawaban ini didasari pengetahuan yang ada pada beliau, sekaligus sebagai dorongan mereka agar menimba ilmu yang ada pada beliau. Namun Allah I segera mengabar-kan kepada beliau bahwa ada seorang hamba-Nya yang ada di daerah pertemuan dua laut, mempunyai ilmu yang tidak ada pada Nabi Musa u dan hal-hal yang luar biasa.
Akhirnya muncullah keinginan beliau untuk bertemu dan menambah ilmu yang ada padanya dari hamba Allah tersebut. Dan beliau memohon agar Allah I mengizin-kannya. Kemudian Allah I menerangkan kepada beliau tempat di mana Khidhr1 berada, dan memerintahkan agar beliau membawa bekal seekor ikan. Lalu dikatakan kepadanya: “Apabila engkau kehilangan ikan itu, maka dia berada di tempat tersebut.”
Beliaupun berangkat dan akhirnya bertemu. Dan kisah ini Allah sebutkan selengkapnya di dalam surat Al-Kahfi:

“Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya: ‘Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun’. Maka tatkala mereka sam-pai ke pertemuan dua buah laut itu, mereka lalai akan ikannya, lalu ikan itu melompat mengambil jalannya ke laut itu. Maka tatkala mereka berjalan lebih jauh, berkatalah Musa kepada muridnya: ‘Bawalah kemari makanan kita; sesungguhnya kita telah merasa letih ka-rena perjalanan kita ini’. Muridnya menja-wab: ‘Tahukah kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka sesung-guhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak adalah yang melupakan aku untuk menceritakannya kecuali setan dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali.’ Musa berkata: ‘Itulah (tempat) yang kita cari’. Lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula. Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami. Musa berkata kepada Khidhr: ‘Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?’ Dia menjawab: ‘Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku. Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mem-punyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?’ Musa berkata: ‘Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai seorang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam satu urusanpun’. Dia berkata: ‘Jika kamu meng-ikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu’. Maka berjalanlah keduanya, hingga tatkala keduanya menaiki perahu lalu Khidhr melubanginya. Musa berkata: ‘Mengapa kamu melubangi perahu itu yang akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya?’ Sesungguhnya kamu telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar. Dia (Khidhr) berkata: ‘Bukankah aku telah berkata: ‘Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama dengan aku.’ Musa berkata: ‘Janganlah kamu menghukum aku karena kelupaanku dan janganlah kamu membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku’. Maka berjalanlah keduanya; hingga tatkala keduanya berjumpa dengan seorang anak, maka Khidhr membunuhnya. Musa berkata: ‘Mengapa kamu bunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan suatu yang mungkar’. Khidhr berkata: ‘Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa sesung-guhnya kamu tidak akan dapat sabar bersa-maku?’ Musa berkata: ‘Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah (kali) ini, janganlah kamu membolehkan aku menyer-taimu, sesungguhnya kamu sudah cukup memberikan uzur padaku’. Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding ru-mah yang hampir roboh, maka Khidhr menegakkan dinding itu. Musa berkata: ‘Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu’. Khidhr berkata: ‘Inilah perpisahan antara aku dengan kamu. Aku akan memberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya. Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku bertujuan merusak-kan bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas setiap bahtera. Dan adapun anak itu maka kedua orang tuanya adalah orang-orang mukmin, dan kami khawatir bahwa dia akan men-dorong kedua orang tuanya itu kepada kese-satan dan kekafiran. Dan kami menghendaki, supaya Rabb mereka mengganti anak lain bagi mereka, yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya). Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, se-dangkan ayahnya adalah seorang yang shalih, maka Rabbmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Rabbmu; dan tidaklah aku melakukannya menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya’.” (Al-Kahfi: 60-82)

Beberapa Pelajaran Penting
1. Kisah ini sarat dengan berbagai keutamaan ilmu dan disyariatkannya rihlah (berkelana) mencari ilmu. Dan diterangkan pula dalam kisah ini bahwa ilmu adalah perkara yang sangat penting. Nabi Musa u melakukan perjalanan yang sangat jauh untuk menuntut ilmu dan merasakan keletihan. Beliau lebih suka meninggalkan Bani Israil agar nantinya dapat mengajar dan membimbing mereka, dan memilih berangkat mencari tambahan ilmu.
2. Diterangkan dalam kisah ini bahwa tahap awal dalam menuntut ilmu hendak-nya dimulai dari yang paling utama kemu-dian berikutnya. Karena sesungguhnya seseorang yang menambah ilmu dengan usahanya sendiri lebih penting daripada dia meninggalkannya karena semata-mata sibuk mengajar. Hendaklah dia kerjakan keduanya sekaligus, mengajar sambil tetap belajar.
3. Bolehnya mengangkat seorang pelayan dalam perjalanan atau ketika bermukim (tidak bepergian) untuk memu-dahkan urusan dan ketenangan, sebagai-mana dilakukan oleh Nabi Musa u.
4. Seorang musafir yang menuntut ilmu, berjihad, ataupun untuk melaksanakan suatu ketaatan, apabila memang terdapat kemaslahatan yang nyata untuk disampai-kan kepada yang lain, ke mana dan apa yang dicarinya, maka lebih baik mencerita-kannya daripada merahasiakannya.
Ini mengandung berbagai manfaat. Di samping untuk mempersiapkan diri, juga sebagai dorongan untuk mengerjakan amalan yang utama ini. Sebagaimana yang beliau katakan di dalam ayat tersebut:

“Aku tidak akan berhenti sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun.” (Al-Kahfi: 60)
Dan tatkala Rasulullah n dalam peristiwa perang Tabuk, beliau mengabarkan banyak tujuannya kepada manusia. Padahal biasanya apabila ingin memerangi suatu kaum, beliau rahasiakan maksud dan tujuan beliau untuk suatu kemaslahatan.
5. Bolehnya menisbahkan suatu kejahatan, sebab-sebabnya dan kekurangan kepada setan. Dengan dalil perkataan pembantu Nabi Musa u kepadanya, sebagaimana difirmankan Allah I:

“Dan tidaklah ada yang membuat saya lupa mengingatnya kecuali setan.” (Al-Kahfi: 63)
6. Boleh menceritakan apa yang dirasakan oleh diri sendiri kepada orang lain, seperti letih, lapar atau dahaga dan tabiat manusiawi lainnya. Dengan syarat, jujur dalam mengucapkannya dan bukan didorong oleh kejengkelan atau tidak suka terhadap semua keadaan tersebut. Hal ini berdasarkan firman Allah I tentang perkataan Nabi Musa u:

“Sungguh kita telah merasa letih dengan perjalanan kita ini.” (Al-Kahfi: 62)
7. Diajarkan kepada kita dalam kisah ini untuk mengambil seorang pembantu yang cerdas dan rajin agar bisa menyem-purnakan semua urusan yang diinginkan. Dan sangat dianjurkan untuk memberi makan seorang pembantu dari apa yang dimiliki atau memakannya bersama-sama. Karena lafadz ayat (bawalah kemari makanan kita), artinya (makanan) untuk semuanya. Diambil dari pengertian ayat ini bahwa pertolongan itu diperoleh seseorang sesuai dengan sejauh mana dia menjalankan hal-hal yang disyariatkan. Dan barangsiapa yang amalannya sesuai dengan apa yang diridhai oleh Allah I, niscaya dia akan ditolong dengan sesuatu yang belum tentu diterima oleh orang lain. Hal ini adalah karena firman Allah I tentang ucapan Nabi Musa u  (Sungguh kita telah merasa letih dengan perjalanan kita ini) menunjukkan perjalanan yang telah melampaui pertemuan dua buah laut itu. Sedangkan perjalanan yang pertama mereka tempuh, beliau belum mengeluhkannya meskipun sudah demikian jauhnya.
8. Hamba Allah yang ditemui oleh Nabi Musa u bukanlah seorang nabi. Khidhr hanyalah seorang hamba yang shalih yang mempunyai ilmu dan senantiasa mendapat ilham (dari Allah). Ini juga berdasarkan sebutan Allah dan pujian-Nya, di mana Allah menyebut Khidhr sebagai seorang hamba yang istimewa dan mempunyai ilmu, serta sifat-sifat yang baik lainnya. Allah tidak menyebutnya sebagai nabi atau rasul. Adapun perkataan Khidhr yang disebutkan Allah I di akhir kisah ini:

“Dan tidaklah aku melakukannya menurut kehendakku sendiri.” (Al-Kahfi: 82)
Ungkapan tersebut tidaklah menunjuk-kan bahwa beliau adalah seorang nabi.
Kalimat tersebut tidak lain hanyalah menyatakan bahwa semua itu adalah ilham dan bimbingan dari Allah. Hal ini mungkin saja terjadi pada orang-orang yang kedudukannya bukan nabi. Sebagaimana Allah I berfirman:

“Dan Rabbmu telah mewahyukan kepada lebah itu…” (An-Nahl: 68)
Dan:

“Dan telah Kami wahyukan kepada ibu Musa…” (Al-Qashash: 7)
9. Dalam kisah ini diterangkan bahwa ilmu yang diajarkan kepada para hamba-Nya ada dua jenis:
Pertama: Ilmu yang diusahakan, yang dapat difahami oleh seseorang dengan mempelajarinya dan bersungguh-sungguh mendapatkannya.
Kedua: Ilmu yang berupa ilham laduni, sebagai hadiah yang dianugerahkan Allah kepada hamba-hamba-Nya, dengan dalil:

“Dan telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.” (Al-Kahfi: 65)
Dan Khidhr mendapat bagian sangat banyak dari ilmu jenis yang kedua ini.
10. Dalam kisah ini diterangkan kepada kita agar mempunyai adab sopan santun dan bersikap lemah lembut terhadap guru atau pendidik, sebagaimana dicon-tohkan oleh Nabi Musa. Firman Allah I:

“Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?” (Al-Kahfi: 66)
Dalam ayat itu disebutkan cara Nabi Musa u mengeluarkan tutur kata yang sangat santun dan seakan-akan sedang meminta pendapat. Seakan-akan beliau menyebutkan: “Apakah engkau bersedia memberi izin kepada saya, ataukah tidak?” Di sini beliau tampakkan betapa butuhnya beliau kepada (calon) gurunya tersebut. Beliau belajar dari Khidhr dan mempunyai keinginan besar untuk mendapatkan ilmu yang ada pada gurunya.
Hal ini berbeda dengan orang-orang yang sombong dan kasar, yang merasa tidak butuh kepada ilmu seorang guru atau pendidik. Dan sesungguhnya tidak ada yang lebih bermanfaat bagi seorang murid atau pencari ilmu, selain menunjukkan sangat butuhnya kepada ilmu yang ada pada gurunya dan berterima kasih atas bimbingan serta didikannya.
11. Dalam kisah ini, digambarkan sikap tawadhu’ (rendah hati). Seorang yang kedudukannya sangat mulia mau belajar menimba ilmu dari seorang yang keduduk-annya berada di bawahnya. Tidak kita sangsikan lagi bahwa Nabi Musa u jauh lebih mulia dari Khidhr. Jadi, dari kisah ini (diambil pelajaran) bolehnya seorang yang berkedudukan tinggi menimba ilmu yang tidak dikuasainya kepada orang yang mahir dalam ilmu tersebut, meskipun orang yang mahir itu berada di bawahnya dalam ilmu.
Nabi Musa u adalah salah seorang Rasul Ulul ‘Azmi yang telah Allah berikan ujian dan ilmu yang tidak diberikan-Nya kepada yang lain. Namun dalam ilmu yang khusus ini, hanya Khidhr yang memilikinya. Oleh sebab itulah betapa besarnya antusias-me beliau untuk mempelajarinya dari Khidhr.
Dengan demikian, sangat jelas wajib-nya kita sandarkan bahwa ilmu ini ataupun berbagai karunia dan keutamaan lainnya, semua adalah karunia dan rahmat Allah. Bahkan wajib mengakui dan bersyukur kepada Allah atas semua kenikmatan itu, sebagaimana diisyaratkan dalam perka-taan Nabi Musa u kepada Khidhr dalam ayat tersebut:  (supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu).
12. Dijelaskan dalam kisah ini, bahwa ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang membimbing pemiliknya kepada kebaikan. Demikian pula halnya ilmu-ilmu yang mengandung bimbingan dan hidayah atau petunjuk menuju jalan kebaikan dan meng-ingatkan agar menjauhi jalan yang buruk atau yang mengarah kepadanya, semuanya adalah ilmu yang bermanfaat. Sedangkan yang selain itu, boleh jadi hanya akan menimbulkan madharat atau tidak berguna sama sekali. Inilah yang diisyaratkan dalam ayat tadi:  (supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu).
13. Diajarkan pula kepada kita dari kisah ini, bahwa seseorang yang tidak sang-gup bersabar dalam menyertai guru atau pendidiknya, atau tidak memiliki kekuatan untuk tetap tsabat (teguh) dalam menempuh jalan mencari ilmu, maka dia bukanlah termasuk orang yang dikatakan pantas untuk menerima ilmu. Barangsiapa tidak mempu-nyai kesabaran untuk menuntut ilmu, niscaya dia tidak akan mendapatkannya. Sebaliknya, siapa yang sanggup bersabar dan membiasakan diri menghadapi suatu permasalahan, niscaya dia akan memper-oleh semua yang ingin dicapainya. Dan Khidhr telah memberikan penjelasan kepada Nabi Musa u bahwa beliau tidak akan sanggup bersabar untuk mengetahui ilmu khusus yang ada padanya.
Adapun hal-hal yang dapat men-dukung seseorang bersabar menghadapi sesuatu adalah pengetahuan terhadap permasalahan itu, manfaat, buah atau hasilnya. Barangsiapa tidak mengetahui beberapa perkara ini, akan sulit baginya untuk bersabar. Allah I berfirman menceritakan perkataan Khidhr kepada Nabi Musa u:

“Dan bagaimana kamu dapat bersabar terhadap sesuatu yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu.” (Al-Kahfi: 68)
14. Dalam kisah ini, dianjurkan berhati-hati dan teliti serta tidak terburu-buru menghukumi suatu permasalahan sampai yang diinginkan atau yang dimaksud benar-benar jelas.
15. Dalam kisah ini terdapat dalil disyariatkannya menyandarkan suatu keada-an yang akan terjadi kepada kehendak Allah (masyi`atullah), seperti disebutkan dalam ayat:

“Insya Allah engkau akan dapati aku sebagai seorang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam suatu urusan-pun.” (Al-Kahfi: 69)
16. ‘Azam (keinginan yang kuat) untuk melaksanakan sesuatu tidaklah sama dengan pelaksanaannya. Dan Nabi Musa u memang ber-azam untuk sabar namun beliau tidak melaksanakannya.
17. Pelajaran lain dari kisah ini, apabila seorang pendidik melihat adanya kemas-lahatan dengan menerangkan kepada muridnya agar tidak bertanya tentang suatu permasalahan hingga dia (pendidik itu) sendiri yang menerangkan masalah itu kepadanya (maka hendaknya dia lakukan). Dan sesungguhnya kemaslahatan itu senan-tiasa mengikuti. Sebagaimana halnya bila seorang murid mempunyai pemahaman kurang sempurna, hendaknya guru melarang muridnya memberatkan diri untuk meneliti suatu permasalahan sedemikian rupa dan bertanya tentang persoalan yang tidak ada kaitannya dengan topik yang diajarkan.
18. Bolehnya mengendarai sebuah kapal jika memang tidak membahayakan.
19. Diterangkan pula dalam kisah ini bahwa seorang yang lupa tidak pantas dihukum, baik terlupa (melanggar) hak Allah atau hak hamba-hamba-Nya. Kecuali apa-bila pelanggaran itu menimbulkan kerusak-an atau kerugian harta benda. Maka da-lam permasalahan ini perlu adanya dhiman (ganti rugi), termasuk orang yang lupa. Allah I berfirman tentang perkataan Nabi Musa u kepada Khidhr:

“Janganlah kamu menghukumku karena kelupaanku.” (Al-Kahfi: 73)
20. Dalam berinteraksi dengan sesa-ma manusia, sepantasnya seseorang mela-kukan sesuatu yang dapat menimbulkan sikap toleran dan pemaafan mereka. Janganlah membebani mereka dengan sesu-atu yang mereka tidak mampu melaku-kannya, sangat memberatkan, atau bahkan menghancurkan mereka. Kalau ini terjadi, tentu akan menjadi pemicu bagi mereka untuk menjauh. Bahkan hendaknya dia juga mempunyai sikap memudahkan (urusan orang), agar semua urusannya juga mudah.
21. Semua permasalahan itu terjadi berdasarkan kenyataan lahiriahnya. Dan berangkat dari hal ini pula ditegakkan hukum-hukum duniawi dalam berbagai persoalan. Dikatakan demikian, karena kita lihat sikap Nabi Musa u mengingkari tindakan Khidhr merusak kapal yang mereka tumpangi dan membunuh seorang remaja, berdasarkan ketentuan umum yang berlaku. Dan beliau tidak melihat kepada perjanjian yang disepakatinya bersama Khidhr untuk tidak bertanya dan membantah semua tindakannya sampai Khidhr sendiri yang memulai memberikan penjelasan.
22. Dalam kisah ini kita dapatkan juga keterangan yang jelas tentang kaidah penting dalam syariat Islam ini, yaitu bolehnya mencegah terjadinya kejahatan yang besar dengan melakukan kejahatan yang lebih ringan, dan keharusan menjaga kemaslahat-an yang lebih besar meskipun akibatnya kehilangan kemaslahatan yang lebih kecil. Jadi, pembunuhan yang dilakukan Khidhr jelas kejahatan. Namun apabila anak itu tetap hidup sampai dewasa dan menyesat-kan kedua ibu bapaknya, maka ini adalah kejahatan yang jauh lebih besar.
Bila anak itu dibiarkan tetap hidup meskipun kelihatan baik secara lahiriah, namun keberadaan ibu bapaknya dalam agama mereka jauh lebih baik lagi. Oleh karena itulah Khidhr membunuhnya sesudah Allah mengilhamkan kepadanya hakekat keadaan anak tersebut. Dengan demikian ilham batin yang diterima Khidhr mempunyai kedudukan yang sama seperti keterangan yang nyata bagi orang lain.
Kaidah lainnya adalah tentang tindak-an manusia terhadap harta orang lain. Bila dilakukan dengan cara yang mengandung maslahat dan jauh dari kerusakan, maka hal ini dibolehkan meskipun tanpa izin. Meskipun perbuatannya itu merugikan, seperti perbuatan Khidhr yang merusak kapal yang ditumpanginya untuk menye-lamatkan kapal itu dari rampasan seorang raja dzalim ketika itu. Dan masih banyak faedah lain yang berada di bawah kaidah-kaidah ini.
23. Bolehnya bekerja di lautan sebagai-mana juga bolehnya bekerja di daratan, karena adanya ayat:

“Mereka bekerja di laut…” (Al-Kahfi: 79)
24. Faedah lainnya, membunuh termasuk dosa-dosa besar.
(bersambung, insya Allah edisi depan: Siapakah Khidhr?)


1 Disebutkan dalam Al-Mughni fi Dhabthi Asma`ir Rijal karya Muhammad bin Thahir Al-Hindi (hal. 93): Khidhr: bisa diucapkan dengan memfathahkan huruf kha atau mengkasrahkannya, dan mensukun huruf dhadh (yakni Khadhr atau Khidhr, ed) atau memfathahkannya (yakni Khadhar atau Khidhar, ed) atau mengkasrahkannya (Khadhir atau Khidhir, ed)

Mandi Janabah (2)

Edisi lalu telah membahas sebagian hal yang berkaitan dengan orang junub. Berikut ini beberapa permasalahan yang masih tersisa tentang janabah.

  1. Membaca Al-Qur`an

Ahlul ilmi berselisih pendapat tentang boleh tidaknya seorang yang junub membaca al-Qur`an. Mayoritas ulama dari empat madzhab (jumhur ulama) berpendapat tidak boleh. Pendapat ini diriwayatkan dari ‘Umar ibnul Khaththab, ‘Ali bin Abi Thalib dan selain keduanya. Diriwayatkan pula pendapat ini dari Al-Hasan Al-Bashri, Qatadah, An-Nakha’i dan selain mereka. Al-Imam Malik berpendapat, wanita haid boleh membaca al-Qur`an sesuai keinginannya, dan orang yang junub dibolehkan membaca dua ayat dan semisalnya. Sementara Abu Hanifah berpandangan hanya dibolehkan bila membacanya tidak sempurna satu ayat.1 (Al-Muhalla, 1/95, Al-Majmu’ 2/182, Al-Mughni kitab Ath-Thaharah Fashl Yuhramu ‘alal Junub Qira‘ah Ayah, Nailul Authar 1/317, Fatwa Lajnah Ad-Da‘imah 4/106-108, Majmu’ Fatawa Asy-Syaikh Ibnu Baz 10/208-211)

Adapun mereka yang melarang sama sekali bagi orang junub untuk membaca al-Qur`an berdalil dengan hadits ‘Ali radhiallahu ‘anhu, ia berkata:

“Rasulullah n keluar dari WC, lalu beliau membaca al-Qur`an dan makan bersama kami. Dan tidak ada sesuatu yang menghalangi beliau dari al-Qur`an kecuali janabah.”2

Namun hadits ini dhaif (lemah). Al-Imam Asy-Syaukani menyatakan hadits ini diperbincangkan keshahihannya (mutakallam fihi), dan juga dari sisi marfu’ atau mauqufnya (Nailul Authar 1/317). Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah mendhaifkannya dalam Dha’if Kutubus Sunan dan Irwa`ul Ghalil no. 485.

Mereka yang melarang juga berdalil dengan hadits:

“Orang yang haid dan junub tidak boleh membaca sedikit pun dari al-Qur`an.”3

Ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Ishaq Muslim Al-Atsari

——————————————————————————————————————————–

Catatan kaki

1 Al-Imam Ibnu Hazm menyatakan bahwa semua pendapat ini salah, karena tidak didukung oleh dalil dari al-Qur`an, tidak pula dari as-Sunnah baik yang shahih ataupun dhaif, tidak ada pula ijma’, ataupun ucapan shahabat ataupun dari qiyas. Karena sebagian ataupun satu ayat adalah bagian dari al-Qur`an juga tanpa diragukan, lalu mengapa ada pembedaan satu ayat boleh sedangkan lebih dari satu ayat tidak boleh? Demikian pula pembedaan yang mereka lakukan antara wanita haid dengan orang junub. Wanita haid boleh membaca al-Qur`an dengan alasan masa haid itu panjang. Perkara ini mustahil karena bila baca al-Qur`an itu haram bagi wanita haid maka tidak dibolehkan baginya membacanya sepanjang masa haidnya. Sedangkan bila baca al-Qur`an halal baginya maka tidak ada maknanya berhujjah dengan panjangnya masa haid. (Al-Muhalla 1/95)

2 HR. An-Nasa`i no. 260, Abu Dawud no. 229 dan yang lainnya.

3 HR. At-Tirmidzi no. 131 dan Ibnu Majah no. 595, 596.

4 HR. Abu Dawud no. 17. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani, Ash-Shahihah no. 834

5 Telah disebutkan haditsnya secara lengkap.

6 HR. Al-Atsram dan Ad-Daraquthni secara muttashil, dan Al-Imam Malik dalam Al-Muwaththa` secara mursal. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Al-Irwa` no. 122.

7 HR. Al-Bukhari no. 2990 dan Muslim no. 4816.

8 HR. Al-Bukhari no. 290 dan Muslim no. 702

9 HR. Muslim no. 689.

10 HR. Muslim no. 705.

11 Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 263

 

 

Peristiwa Mata Air Raji’

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Harits Abrar)

 

Sebuah tragedi terjadi atas kaum muslimin. Sejumlah utusan Rasulullah n dibantai musuh-musuh Islam akibat pengkhianatan yang dilakukan sekelompok kaum yang mengaku-aku telah berIslam.

Setelah perang Uhud usai, kaum musyrikin Quraisy tetap bertahan sehingga dikira akan bersiap menyerang Madinah. Hal ini dirasa cukup menyulitkan posisi kaum muslimin. Maka Rasulullah n pun meng-utus pasukan untuk mengintai gerak-gerik musyrikin Quraisy.
Di kalangan musyrikin sendiri, mereka justru saling mencela dan meminta Abu Sufyan kembali menyiapkan pasukan untuk menyerang Rasulullah n dan para shahabatnya. Ketika berita ini sampai kepada Rasulullah n dan para shahabat, mereka mengucapkan kalimat yang menunjukkan besarnya keimanan dan keyakinan mereka kepada Allah I, sebagaimana firman Allah I:

“(Yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: ‘Sesungguh-nya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka’. Perkataan itu justru menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.” (Ali ‘Imran: 173)
Pada bulan Shafar, datanglah utusan dari masyarakat ‘Adlal dan Al-Qarah yang mengaku telah masuk Islam. Mereka meminta agar diutus orang-orang yang bisa mengajarkan Islam dan membacakan Al-Qur`an untuk mereka. Al-Imam Al-Bukhari meriwayatkan bahwa Rasulullah n me-ngirim sepuluh orang dengan dipimpin Martsad bin Abi Martsad Al-Ghanawi1, disertai pula Khubaib bin ‘Adi.
Setibanya di Ar-Raji’, sebuah perairan milik kabilah Hudzail, di pinggiran Hijaz, kaum ‘Adlal dan Al-Qarah malah berkhianat. Mereka berteriak memanggil orang-orang Hudzail yang akhirnya datang mengepung mereka kemudian membantai sebagian besar utusan Rasulullah n. Tinggallah Khubaib dan Zaid bin Datsinah menjadi tawanan. Keduanya dibawa ke Makkah dan dijual kepada orang-orang Quraisy yang para pemimpin mereka banyak terbunuh oleh keduanya di Badr.
Al-Imam Al-Bukhari mengisahkan dalam Shahih-nya (dalam Fathul Bari 7/473) dari Abu Hurairah z:
Nabi n mengirim satu pasukan mata-mata dan mengangkat ‘Ashim bin Tsabit sebagai pimpinan. Dia adalah kakek ‘Ashim bin ‘Umar bin Al-Khaththab. Merekapun berangkat hingga tiba di antara ‘Usfan dan Makkah. Ternyata berita ini dibocorkan kepada Bani Lihyan, yang lantas membuntuti mereka dengan seratus pasukan panah. Hingga ketika mereka tiba di satu tempat, mereka dapati pada bekas rombongan ‘Ashim biji-biji kurma yang dibawa dari Madinah. Kata mereka: “Ini adalah kurma Madinah.” Merekapun mengejar hingga berhasil menemukan rombongan ‘Ashim.
Sementara rombongan ‘Ashim berlin-dung di Fadfad. Akhirnya datanglah pasukan Bani Lihyan mengepung mereka dan berkata: “Kalian berhak membuat kesepakat-an dan perjanjian. Jika kalian turuti kami maka kami tidak akan membunuh seorang-pun dari kalian.”
Kata ‘Ashim: “Adapun aku, tidak akan menerima perlindungan orang kafir. Ya Allah, sampaikan tentang kami kepada Nabi-Mu.”
Maka merekapun memerangi rombong-an ‘Ashim hingga dia terbunuh dari tujuh korban yang ada, akibat serangan panah. Tinggallah Khubaib dan Zaid serta seorang lagi. Lalu merekapun menerima kesepakatan dan perjanjian, setelah itu merekapun ikut dengan pasukan Bani Lihyan.
Setelah pasukan itu menguasai Khu-baib dan teman-temannya, mereka melepas tali busur mereka, mengikat Khubaib dan dua temannya. Shahabat yang ketiga tadi berkata: “Ini adalah pengkhianatan pertama.” Dan dia menolak ikut mereka. Akhirnya pasukan itu menyeretnya namun dia tetap menolak. Maka merekapun membunuhnya.
Pasukan itu akhirnya membawa Khu-baib dan Zaid kemudian menjualnya di Makkah. Khubaib dibeli Bani Al-Harits bin ‘Amir bin Naufal di mana Khubaib pernah membunuh Al-Harits pada waktu perang Badr. Akhirnya dia tinggal bersama mereka sebagai tawanan, sampai mereka sepakat untuk membunuhnya. (Ketika ditawan), Khubaib meminjam pisau cukur kepada salah satu anak perempuan Al-Harits untuk membersihkan diri. Wanita itu pun meminjamkannya.
Wanita itu mengatakan: “Aku sempat lupa dengan anakku yang masih kecil. Dia (anak si wanita itu, red.) masuk mendekati Khubaib dan oleh Khubaib diletakkan di atas pahanya. Ketika aku melihatnya, aku sangat ketakutan dan ini diketahui Khubaib, sedangkan di tangannya tergenggam pisau cukur itu. Diapun berkata: “Apakah engkau takut kalau aku membunuh anak ini? Tidak mungkin aku melakukannya, Insya Allah.”
Wanita itu setelah itu selalu berkata: “Aku belum pernah melihat tawanan yang lebih baik dari Khubaib. Aku pernah melihat-nya memakan segenggam anggur, padahal ketika itu di Makkah tidak ada buah-buahan, sedangkan dia terbelenggu dengan rantai besi. Ternyata itu tidak lain adalah rizki yang Allah berikan kepadanya.
Kemudian mereka keluar menjauhi daerah Al-Haram (Makkah) untuk membu-nuh Khubaib.
Khubaib berkata: “Biarkan aku mengerjakan shalat dua rakaat.” Setelah itu dia menoleh kepada mereka, dan berkata: “Kalau bukan karena khawatir kalian meng-anggap  aku takut mati, tentu aku tambah lagi.” Dialah yang pertama memberikan contoh (sunnah) shalat dua rakaat sebelum dibunuh. Kemudian dia berkata: “Ya Allah, hitunglah jumlah mereka.” Lalu dia berkata lagi:
Aku tidak pernah peduli ketika aku terbunuh sebagai muslim
Di bagian manapun tubuhku jatuh terbunuh karena Allah
Itu untuk membela Dzat Allah2, dan kalau Dia kehendaki
Tentu Dia berkahi salah satu anggota tubuhku yang terputus
Kemudian bangkitlah ‘Uqbah bin Al-Harits lalu membunuhnya. Kemudian orang-orang Quraisy mengirim utusan untuk men-cari satu bagian tubuh ‘Ashim yang mereka ketahui bahwa ia yang membunuh pembesar mereka di Badr. Kemudian Allah mengirim-kan serombongan lalat atau lebah seperti naungan yang melindungi ‘Ashim dari utusan-utusan tersebut sehingga mereka tidak dapat mendekatinya.”
Ibnu Hajar t menerangkan, ketika Khubaib berdoa dengan kalimat tersebut, tidak ada yang selamat dari mereka kecuali orang yang menjatuhkan dirinya tiarap di atas tanah. Beliau nukil dari Ibnu Ishaq dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan yang menyertai ayahnya Abu Sufyan ketika itu, bahwa beliau mengatakan: “Ayahku melempar-kanku ke atas tanah, khawatir terkena doa itu.”
Dan beliau nukilkan pula dari riwayat Abil Aswad bahwa Jibril datang kepada Nabi n menceritakan keadaan mereka. Lalu beliaupun menyampaikannya kepada para shahabat.
Ibnul Qayyim menceritakan bahwa ketika itu Abu Sufyan menawarkan kepada Khubaib, katanya: “Bagai-mana, apakah engkau senang kalau Muhammad yang kami tawan dan lehernya ditebas sedangkan engkau tinggal di tengah-tengah keluargamu?” Kata Khubaib: “Tidak, demi Allah. Tidaklah aku senang meskipun aku bersama keluargaku namun Muham-mad (n) ada di tempat lain dan dia tertusuk duri.”

Beberapa Faedah Kisah Ini
Ibnu Hajar menerangkan beberapa faedah dari kisah yang ada dalam hadits ini, di antaranya:
–    Bolehnya menepati perjanjian kesepakatan dengan kaum musyrikin
–    Menahan diri tidak membunuh anak-anak mereka
–    Adanya karamah para wali
–    Bolehnya mendoakan kejelekan untuk kaum musyrikin secara umum
–    Bolehnya shalat ketika akan dibunuh
–    Bolehnya mendendangkan syair ketika akan dibunuh.
Dan ini menunjukkan kekuatan keyakinan Khubaib dan keteguhannya terhadap Islam.
Dari sini kita lihat pula bagaimana kaum musyrikin sangat menghormati dan mengagungkan tanah haram (Makkah), semoga Allah tetap menjaga dan memulia-kannya. Wallahu a’lam.


1 Demikian Ibnul Qayyim menyebutkan bahwa yang diangkat menjadi pimpinan adalah Martsad bin Abi Martsad Al-Ghanawi z, namun wallahu a’lam yang lebih tepat adalah seperti yang tersebut dalam hadits berikutnya.
2 Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah menerangkan dalam Bada`i’ul Fawa`id (2/7-8) bahwa konteks seperti  maknanya adalah , yaitu hal itu kutempuh di jalan Allah (dalam ketaatan dan keridhaan-Nya). Demikian pula kata Al-’Allamah Ibnu ‘Utsaimin dalam Syarah Bulughul Maram ketika menjelaskan hadits ‘Aisyah (no. 6770) dari Kitabush Shiyam, lafadz . (ed)

Benarkah Syafaat Diminta Kepada Selain Allah?

Banyak hal tentang syafaat yang disalahpahami oleh umat. Bahasan lanjutan ini akan mengupas lebih dalam bagaimana sesungguhnya hakikat syafaat.

        Para ulama memasukkan masalah syafaat dalam pembahasan akidah. Orang-orang yang menyelewengkannya dengan cara menyimpangkan hakikat syafaat, bakal disikapi dengan keras. Di antara mereka yang menyelewengkannya, ada yang ifrath (berlebihan) dalam memaknainya hingga terjatuh dalam syirik besar. Ada juga yang menempuh jalan tafrith (meremehkan permasalahan), bahkan menyimpangkannya hingga terjatuh dalam sikap menolak beberapa bentuk syafaat.

        Berdasarkan hal ini, para ulama menyebutkan kaidah-kaidah yang terkait dengan syafaat di dalam kitab mereka. Di antaranya:

  • Al-Imam Ahmad rahimahullah mengatakan,

“Beriman dengan syafaat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan beriman dengan adanya satu kaum yang telah masuk neraka dan terbakar hingga menjadi arang, kemudian mereka diperintah menuju sebuah sungai yang berada di pintu surga—seperti yang disebutkan dalam riwayat tentang hal ini—dan (kita mengimani) bagaimana dan kapan terjadinya. Tentang urusan ini, kita hanya beriman dan mempercayai.” (Ushulus Sunnah karya al-Imam Ahmad hlm. 32)

  • Abu Ja’far ath-Thahawi rahimahullah mengatakan,

“Syafaat yang dipersiapkan untuk mereka kelak adalah haq (benar adanya), sebagaimana halnya disebutkan oleh hadits-hadits.” (Lihat matan al-’Aqidah ath-Thahawiyah, masalah ke-41)

  • Abu Utsman Ismail bin Abdur Rahman ash-Shabuni rahimahullah berkata,

“Ahli agama dan Ahlus Sunnah mengimani syafaat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk pelaku dosa dari kalangan orang-orang yang bertauhid dan pelaku dosa besar (lainnya), sebagaimana telah diberitakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits yang sahih.” (Lihat ‘Aqidatus Salaf Ashabil Hadits hlm. 76)

  • Ibnu Qudamah al-Maqdisi rahimahullah mengatakan,

“Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam akan memberikan syafaat kepada para pelaku dosa besar yang telah masuk neraka agar mereka bisa keluar setelah mereka terbakar dan menjadi arang, kemudian masuk ke dalam surga. Para nabi, orang-orang yang beriman, dan malaikat juga akan memberikan syafaat (dengan seizin Allah). Allah subhanahu wata’ala berfirman,

          وَلَا يَشۡفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ٱرۡتَضَىٰ وَهُم مِّنۡ خَشۡيَتِهِۦ مُشۡفِقُونَ ٢٨

        Dan mereka tidak akan sanggup memberikan syafaat melainkan untuk orang yang Allah ridhai; dan mereka selalu berhati-hati karena takut kepada Allah.” (al-Anbiya: 28)

        Adapun orang-orang kafir tidak akan bisa merasakan syafaat pemberi    syafaat.” (Syarah Lum’atil I’tiqad, hlm. 128)

        Para ulama Ahlus Sunnah mengimani bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam akan memberikan syafaat untuk seluruh umat pada hari kiamat nanti dalam bentuk syafaat yang menyeluruh. Beliau juga akan memberikan syafaat untuk pelaku dosa di antara umat beliau hingga mengeluarkan mereka dari neraka setelah menjadi arang. (Lihat ‘Aqa`id A`immatis Salaf, hlm. 113)

        Mengapa ketika berbicara tentang syafaat, para ulama menitikberatkan pembahasan pada masalah syafaat untuk pelaku dosa besar?

        Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah menjawabnya dengan mengatakan, “Ibnu Katsir dan pensyarah kitab ath-Thahawiyah mengatakan bahwa maksud ulama salaf meringkas pembahasan masalah syafaat terbatas pada syafaat untuk pelaku dosa besar adalah untuk membantah Khawarij dan Mu’tazilah yang mengikuti konsep mereka (karena dua kelompok ini mengingkari syafaat tersebut, -ed.)’.” (Syarah Lum’atil I’tiqad hlm. 129)

Milik Siapakah Syafaat?

        Syafaat adalah milik Allah semata. Semua urusan tentang syafaat kembali kepada Allah. Dialah yang akan memberikan izin kepada siapa yang dikehendaki-Nya untuk mendapatkan syafaat dan memberikannya. Allah subhanahu wata’ala berfirman,

        قُلْ لِلَّهِ الشَّفَاعَةُ جَمِيعًا

        “Katakan bahwa syafaat itu semuanya milik Allah.” (az-Zumar: 44)

        Ibnul Jauzi rahimahullah mengatakan, “Seseorang tidak akan sanggup memilikinya kecuali dengan kehendak-Nya. Seseorang juga tidak bisa memberikan syafaat kecuali dengan izin-Nya.” (Zadul Masir hlm. 1232)

        Berdasarkan hal ini, meminta syafaat kepada selain pemiliknya merupakan kesyirikan yang sangat besar. Orang yang memintanya kepada selain Allah kelak akan terhalangi mendapatkannya di sisi-Nya. Sebab, yang mendapatkan syafaat adalah orang yang bersih dari kesyirikan dan diridhai oleh Allah.

Apakah Hamba Akan Bisa Memberikan Syafaat?

        Telah dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam Sunnahnya bahwa syafaat bisa diberikan oleh selain Allah, namun tetap tidak terlepas dari kehendak Allah dan harus memenuhi syaratnya. Mereka adalah para nabi, malaikat, orang-orang yang beriman, dan anak-anak terhadap kedua orang tuanya.

        Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

        فَيَقُولُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: شَفَعَتِ الْمَلاَئِكَةُ وَشَفَعَ النَّبِيُّونَ وَشَفَعَ الْمُؤْمِنُونَ وَلَمْ يَبْقَ إِلاَّ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ

        Allah ‘azza wa jalla berfirman, “Malaikat akan memberikan syafaat, para nabi memberikan syafaat, dan kaum mukminin akan memberikan syafaat, dan tidak tersisa kecuali milik Dzat yang paling penyayang.”[1]

        Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

        إِنَّ مِنْ أُمَّتِي مَنْ يَشْفَعُ لِلْفِئَامِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَشْفَعُ لِلْقَبِيْلَةِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَشْفَعُ لِلْعُصْبَةِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَشْفَعُ لِلرَّجُلِ حَتَّى يَدْخُلُوا الْجَنَّةَ

        “Sesungguhnya di antara umatku ada yang akan memberikan syafaat kepada sekelompok orang. Di antara mereka ada juga yang akan memberikan syafaat kepada sebuah kabilah. Di antara mereka ada yang memberikan syafaat kepada al-‘ushbah[2]. Di antara mereka ada yang akan memberikan syafaat kepada satu orang, sehingga mereka masuk surga.”[3]

        Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

        مَا مِنَ النَّاسِ مِنْ مُسْلِمٍ يُتَوَفَّى لَهُ ثَلاَثٌ لَمْ يَبْلُغْنَ الْحنث إِلاَّ أَدْخَلَهُ اللهُ الْجَنَّةَ بِفَضْلِ رَحْمَتِهِ إِيَّاهُمْ

        “Tidaklah seorang muslim ditinggal mati oleh tiga anaknya yang belum balig kecuali Allah akan memasukkannya ke dalam surga dengan sebab keutamaan rahmat-Nya terhadap mereka.”[4]

        Semua hadits yang menjelaskan tentang syafaat memperkuat bahwa di antara hamba-hamba Allah ada yang akan memberikan syafaat di sisi-Nya.

Syarat Mendapatkan Syafaat

        Syafaat dibutuhkan oleh setiap hamba ketika menghadapi kegentingan hidup di dunia maupun di akhirat nanti. Kebutuhan terhadap syafaat menyebabkan sebagian manusia terjatuh dalam kesyirikan, yakni ketika mereka memintanya kepada selain Allah. Mereka tidak mengetahui bahwa perbuatan yang mereka lakukan itu justru akan menjadi penghalang mendapatkan syafaat.

        Ada dua syarat bagi seseorang untuk mendapatkan syafaat dan memberikan syafaat di sisi Allah.

  1. Orang yang akan memberikan syafaat mendapatkan izin dari Allah.

        Tanpa izin-Nya, tidak ada seorang pun yang sanggup memberikan syafaat di sisi Allah. Allah subhanahu wata’ala berfirman,

          مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ

        “Tidak ada seorang pun yang memberikan syafaat di sisi-Nya kecuali dengan seizin-Nya.” (al-Baqarah: 255)

        Syafaat di sisi Allah tidaklah seperti syafaat satu makhluk kepada makhluk lain yang bisa diberikan meski tidak diizinkan.

  1. Orang yang akan mendapatkan syafaat diridhai oleh Allah.

        Allah tidak meridhai kekufuran dan kesyirikan, tetapu meridhai keimanan dan ketauhidan.

        Allah subhanahu wata’ala berfirman,

          وَلاَ يَشْفَعُونَ إِلاَّ لِمَنِ ارْتَضَى

        “Dan mereka tidak akan memberikan syafaat melainkan kepada orang yang telah Allah ridhai.” (al-Anbiya: 28)

          وَلاَ يَرْضَى لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ

        “Dan Allah tidak meridhai kekufuran bagi hamba-hamba-Nya.” (az-Zumar: 7)

        Allah subhanahu wata’ala telah menghimpun kedua syarat ini dalam firman-Nya,

          وَكَمْ مِنْ مَلَكٍ فِي السَّمَوَاتِ لاَ تُغْنِي شَفَاعَتُهُمْ شَيْئًا إِلاَّ مِنْ بَعْدِ أَنْ يَأْذَنَ اللهُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَرْضَى

        “Betapa banyak malaikat yang ada di langit, syafaat mereka tidak berguna sedikit pun kecuali setelah Allah mengizinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridhai.” (an-Najm: 36)

        (lihat Syarah al-‘Aqidah ath-Thahawiyah karya asy-Syaikh Shalih Fauzan [hlm. 21], al-Qaulul Mufid Syarah Kitab at-Tauhid karya asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin [1/437], Kasyfus Syubhat karya asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, Qurratu ‘Uyunil Muwahhidin karya asy-Syaikh Abdur Rahman bin Hasan [hlm. 154], Syarah Lum’atul I’tiqad [hlm. 130])

Manusia dan Syafaat

Dalam urusan syafaat manusia digolongkan menjadi tiga kelompok:

  1. Kaum yang ghuluw (berlebihan) dalam menetapkan adanya syafaat.

        Sehingga mereka memintanya dari orang yang telah mati, kuburan, patung, batu, dan pepohonan.

Allah subhanahu wata’ala berfirman,

          وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللهِ مَا لاَ يَضُرُّهُمْ وَلاَ يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلاَءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللهِ

       “Dan mereka menyembah selain Allah sesuatu yang tidak bisa memberikan mudarat dan manfaat kepada mereka, dan mereka mengatakan, “Mereka (yang disembah itu) adalah pensyafaat kami di sisi Allah.” (Yunus: 18)

          مَا نَعْبُدُهُمْ إِلاَّ لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللهِ زُلْفَى

“Kami tidak menyembah mereka melainkan agar mereka mendekatkan diri kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” (az-Zumar: 3)

 

  1. Kaum yang berlebihan menafikan syafaat, seperti Mu’tazilah dan Khawarij.

        Mereka menafikan adanya syafaat untuk para pelaku dosa besar. Mereka berani menyelisihi sesuatu yang dalilnya telah mutawatir dari al-Qur’an dan as-Sunnah.

  1. Kaum yang berada di tengah-tengah.

        Mereka menetapkan adanya syafaat sesuai dengan ketentuan Allah dan Rasul-Nya, tanpa tafrith dan ifrath. Mereka adalah Ahlus Sunnah. (lihat Syarah al-’Aqidah ath-Thahawiyah karya asy-Syaikh Shalih Fauzan, hlm. 21)

Ibnu Abil ‘Izzi menjelaskan bahwa dalam urusan syafaat, manusia terbagi menjadi tiga (golongan) pendapat:

  1. Musyrikin, Nasrani, Sufi yang ghuluw (berlebih-lebihan) terhadap guru-guru mereka, dan selainnya.

Mereka meyakini bahwa syafaat orang yang mereka agungkan di sisi Allah bagaikan syafaat di dunia.[5]

  1. Mu’tazilah dan Khawarij.

Mereka mengingkari syafaat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan selainnya untuk pelaku dosa besar.

  1. Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Mereka menetapkan adanya syafaat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan selain beliau untuk pelaku dosa besar. Mereka juga menetapkan bahwa tidak ada yang bisa memberikan syafaat kecuali dengan izin Allah. (Syarah al-‘Aqidah ath-Thahawiyah hlm. 235)

Macam-Macam Syafaat

Para ulama menyebutkan bahwa syafaat secara umum ada dua macam:

  1. Syafaat manfiyah, syafaat yang ditiadakan oleh al-Qur’an, yaitu syafaat yang mengandung kesyirikan.

        Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan, “Allah telah meniadakan segala hal yang dijadikan tempat bergantung kaum musyrikin selain-Nya. Allah meniada-kan dari selain-Nya, segala bentuk kepemi-likan, bagian atau bantuan untuk Allah. Sehingga tidak tersisa lagi melainkan syafaat.

        Allah menjelaskan bahwa syafaat tidak bermanfaat kecuali yang mendapat izin-Nya. Firman Allah,

        وَلاَ يَشْفَعُونَ إِلاَّ لِمَنِ ارْتَضَى

 “Mereka tidak bisa memberikan manfaat kecuali kepada siapa yang diridhai-Nya.”

        Syafaat jenis inilah yang disangka oleh kaum musyrikin (bahwa mereka akan mendapatkannya). Padahal mereka tidak akan mendapatkannya pada hari kiamat, sebagaimana telah ditiadakan oleh al-Qur’an.

        Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memberitakan bahwa beliau datang menghadap Allah kemudian bersujud dan bertahmid. Beliau tidak memulai dengan (meminta) syafaat. Kemudian dikatakan kepada beliau, “Angkat kepalamu. Katakanlah, engkau akan didengar. Mintalah, engkau akan diberi. Mintalah syafaat, engkau akan diberikan.”

        Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata, “Siapakah yang paling berbahagia dengan syafaatmu?”

        Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Orang yang mengucapkan La ilaha illallah dengan penuh keikhlasan dari dalam hatinya.”

        Itulah syafaat untuk orang yang ikhlas dengan izin Allah. Syafaat itu tidak akan diberikan untuk orang yang menyekutukan Allah. Hakikatnya, Allah sajalah yang akan memberikan keutamaan kepada orang yang ikhlas. Allah akan mengampuni mereka melalui doa orang yang telah diizinkan untuk memberikan syafaat yang bertujuan untuk memuliakannya dan mendapatkan kedudukan yang terpuji.

        Jadi, syafaat yang ditiadakan oleh al-Qur’an adalah syafaat mengandung kesyirikan. Oleh karena itu, Allah menetapkan adanya syafaat dalam banyak ayat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga telah menjelaskan bahwa syafaat tidak akan didapat melainkan untuk orang yang bertauhid dan ikhlas.” (Lihat Majmu’ Fatawa [1/116] dan al-Kalam ‘ala Haqiqatil Islam hlm. 116—121)

  1. Syafaat mutsbatah, yaitu syafaat yang ditetapkan adanya oleh al-Qur’an untuk orang-orang yang bertauhid.

Syafaat ini ada dua bentuk, umum dan khusus.

  1. Syafaat yang bersifat khusus

        Khusus di sini artinya hanya dimiliki oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan tidak dimiliki oleh para nabi dan rasul selain beliau.

  • Syafaat al-‘Uzhma atau al-Kubra, yaitu syafaat untuk seluruh manusia pada hari mahsyar.

        Hadits tentangnya diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dan Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu. Dalam syafaat ini, para rasul (selain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam) berlepas diri dan tidak sanggup memberikannya. Itulah maqaman mahmuda (kedudukan yang terpuji) bagi imam para rasul sebagaimana yang telah dijanjikan oleh Allah dalam al-Qur’an. Tidak ada sedikit pun yang menentang masalah ini, baik Khawarij maupun Mu’tazilah.

  • Syafaat untuk penduduk surga agar masuk ke dalamnya.

        Setelah melewati shirath (titian) dan sampai ke surga, mereka menemukannya dalam keadaan tertutup. Mereka mencari siapa yang akan memberikan syafaat agar pintu surga dibuka. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meminta kepada Allah untuk memberikan syafaat kepada mereka. (lihat al-Qaulul Mufid Syarah Kitab at-Tauhid 1/426)

  1. Syafaat yang bersifat umum

        Makna umum di sini adalah dimiliki oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, para nabi dan rasul selain beliau, serta kaum mukminin.

  • Syafaat untuk para pelaku maksiat dari umat beliau yang berhak masuk neraka agar tidak memasukinya.
  • Syafaat beliau untuk ahli tauhid yang bermaksiat dan telah masuk ke dalam neraka agar bisa keluar darinya.

        Hadits yang menjelaskan syafaat ini mutawatir dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sungguh, para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersepakat (ijma) tentang hal tersebut. Demikian pula pula seluruh Ahlus Sunnah. Setiap orang yang mengingkarinya akan dicap sebagai pelaku bid’ah dan disikapi dengan keras lagi tegas. Syafaat inilah yang ditentang oleh Khawarij dan Mu’tazilah, serta ahli bid’ah yang mengikuti langkah mereka.

  • Syafaat untuk mengangkat derajat kaum mukminin di dalam surga.

        Syafaat ini tidak ditentang oleh Mu’tazilah dan Khawarij.

        Yang jelas, semua jenis syafaat di atas hanya akan diberikan kepada orang-orang yang bertauhid, yang tidak menjadikan selain Allah sebagai wali (penolong) dan syafi’ (pembela). Allah subhanahu wata’ala berfirman,

        وَأَنْذِرْ بِهِ الَّذِينَ يَخَافُونَ أَنْ يُحْشَرُوا إِلَى رَبِّهِمْ لَيْسَ لَهُمْ مِنْ دُونِهِ وَلِيٌّ وَلاَ شَفِيعٌ

        “Dan berikanlah peringatan kepada orang yang takut untuk dibangkitkan ke hadapan Rabb mereka, yang mereka tidak memiliki penolong dan pembela selain Allah.” (al-An’am: 51)

        (Lihat Fathul Majid [hlm. 244—252], Syarah al-’Aqidah ath-Thahawiyah karya Ibnu Abil ‘Izzi [hlm. 232], al-Qaulul Mufid [1/426], ‘Aqaid Aimmatis Salaf [hlm. 113])

Syafaat di Sisi Allah Tidak Sama dengan Syafaat di Antara Makhluk

        Dari keterangan di atas, jelaslah bahwa syafaat di sisi Allah memiliki tujuan dan syarat. Apabila syarat tersebut tidak dipenuhi, seseorang tidak akan mendapatkan syafaat dan tidak bisa memberikannya kepada orang lain. Kedua syarat tersebut adalah:

  1. Orang tersebut diridhai oleh Allah untuk mendapatkannya.

Yang akan mendapatkan keridhaan Allah adalah orang yang beriman dan bertauhid.

  1. Mendapatkan izin Allah

Yang mendapat izin Allah untuk memberikan syafaat hanyalah orang yang beriman dan bertauhid.

        Adapun syafaat di kalangan manusia bisa dilakukan oleh siapa pun, ada izin atau tidak, diridhai atau tidak. Berdasarkan hal ini, tidak diperbolehkan mengkiaskan syafaat di sisi Allah dengan syafaat di antara makhluk. Syafaat yang ada di sisi Allah tidak boleh diminta kepada makhluk manapun, seagung apapun kedudukan dan tingkatannya: malaikat, nabi, wali, kuburan-kuburan, dan sebagainya.

        Syafaat di antara makhluk kepada makhluk yang lain ada dua macam:

  1. Syafaat yang baik, yaitu syafaat dalam hal-hal yang baik, bermanfaat, dan diperbolehkan (mubah).

        Syafaat ini terwujud dengan cara menjadikan seseorang sebagai perantara untuk menyampaikan kebutuhannya kepada orang tertentu. Bolehnya hal ini telah dijelaskan oleh Allah subhanahu wata’ala dalam firman-Nya,

          مَنْ يَشْفَعْ شَفَاعَةً حَسَنَةً يَكُنْ لَهُ نَصِيبٌ مِنْهَا

        “Barang siapa memberikan pembelaan yang baik, dia akan mendapatkan bagian (pahala) darinya.” (an-Nisa: 85)

        Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

        اشْفَعُوا تُؤْجَرُوا وَيَقْضِي اللهُ عَلَى لِسَانِ رَسُولِهِ مَا شَاءَ

        “Berikanlah pembelaan kalian (yang baik), kalian akan diberikan pahala dan Allah akan memutuskan melalui lisan Rasul-Nya apa yang dikehendaki-Nya.” (HR. al-Bukhari no. 1432 dan Muslim no. 2627)

        Ini adalah bentuk syafaat yang baik, berpahala, dan bermanfaat bagi kaum muslimin agar hajat mereka tertunaikan dan apa yang mereka cari terwujudkan, tanpa ada unsur menzalimi dan melampaui batas hak orang lain.

  1. Syafaat yang jelek, yaitu menjadi perantara dalam hal-hal yang diharamkan oleh

        Misalnya, syafaat untuk menggugurkan hukuman bagi orang yang berhak menerimanya. Orang yang melakukan pembelaan seperti ini mendapatkan laknat dari Allah, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,

        لَعَنَ اللهُ مَنْ آوَى مُحْدِثَاً

    “Allah melaknat orang-orang yang melindungi pelaku kejahatan.” (HR. Muslim no. 1566)

        Termasuk syafaat yang jelek adalah syafaat dalam hal mengambil hak orang lain untuk kemudian diberikan kepada yang tidak berhak. Allah subhanahu wata’ala berfirman,

          مَنْ يَشْفَعْ شَفَاعَةً سَيِّئَةً يَكُنْ لَهُ كِفْلٌ مِنْهَا

   “Barang siapa memberikan syafaat (pembelaan) yang jelek, dia akan mendapatkan bagian (dosa) atasnya.” (an-Nisa: 85) (Syarah al-’Aqidah ath-Thahawiyah karya asy-Syaikh Shalih Fauzan [hlm. 21])

Makna Hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu

        Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,

        يَا رَسُولَ اللهِ، مَنْ أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِكَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ؟

        “Ya Rasulullah, siapakah yang paling beruntung dengan syafaat engkau kelak pada hari kiamat?”

        قَالَ: لَقَدْ ظَنَنْتُ أَنْ لاَ يَسْأَلُنِي عَنْ هَذَا الْحَدِيثِ أَحَدٌ أَوْلَى مِنْكَ لِحِرْصِكَ عَلَى الْحَدِيثِ

   Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sungguh, aku telah menyangka bahwa tidak ada seseorang yang lebih dahulu bertanya tentang ini kecuali engkau, karena semangatmu mencari hadits.”

        قَالَ: إِنَّ أَسْعَدَ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ: لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ؛ خَالِصًا مِنْ قَلْبِ نَفْسِهِ

    Beliau bersabda, “Orang yang paling beruntung dengan syafaatku kelak adalah yang mengucapkan La ilaha illallah dengan penuh keikhlasan dari dalam hatinya.” (HR. al-Bukhari no. 99 dan 6570)

        Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan, “Ucapan beliau ‘Orang yang mengucapkan La ilaha illallah’ mengecualikan orang yang menyekutukan Allah; dan ucapan beliau ‘dengan penuh keikhlasan’ mengecualikan orang-orang yang munafik dalam mengucapkannya.” (Lihat Fathul Bari 1/236)

        Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan, “Kaum musyrikin tidak mendapatkan syafaat sedikitpun, karena mereka tidak mengucapkan La ilaha illallah

        (Sabda beliau ‘dengan penuh keikhlasan’) mengecualikan orang yang mengucapkan kalimat La ilaha illallah karena kemunafikan, mereka tidak mendapatkan syafaat sedikitpun…

        Sabda beliau ‘dengan penuh keikhlasan’ artinya selamat (akidahnya) tanpa dikotori sedikitpun oleh sifat riya (ingin pamer dalam beramal) dan sum’ah (memperdengarkan amalnya dengan harapan mendapatkan pujian dari orang lain). Ini adalah gambaran persaksian (terhadap La ilaha illallah) dengan penuh keyakinan.” (Lihat al-Qaulul Mufid 1/440)

        Wallahu a‘lam.

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Usamah Abdur Rahman bin Rawiyah

 

 


            [1] HR. Muslim no. 183 dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu dalam hadits yang panjang tentang ru’yatullah.

          [2] Al-‘ushbah adalah satu kelompok yang berjumlah 10—40 orang. (an-Nihayah, -ed.)

          [3] HR. at-Tirmidzi dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu dan dihukumi hasan oleh asy-Syaikh Muqbil dalam kitab asy-Syafa’ah (hlm. 195).

          [4] HR. al-Bukhari dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu no. 1248.

Hadits ini diriwayatkan juga dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu oleh al-Bukhari (no. 1251) dan Muslim (no. 2632).

Hadits ini diriwayatkan pula dari Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu oleh al-Bukhari (no. 1249) dan Muslim (no. 2633).

          [5] Maksudnya, semacam perantara di dunia. Misalnya, orang yang ingin bertemu raja membutuhkan perantara yang dekat dengan raja tersebut. Demikian pula kepada Allah subhanahu wata’ala, menurut mereka. Wallahu a’lam. (-ed.)

Petunjuk Bagi Orang-orang yang Bingung (Terhadap Buku Ahlul Kitab dan Orang2 yang sesat)

Sahabat yang mulia bernama Jabir bin Abdillah radhiyallahu anhu menuturkan,

       أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكِتَابٍ أَصَابَهُ مِنْ بَعْضِ أَهْلِ الْكُتُبِ .فَقَرَأَهُ النَّبِيُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَغَضِبَ فَقَالَ: أَمُتَهَوِّكُوْنَ[1] فِيْهَا يَا ابْنَ الْخَطَّابِ؟ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَقَدْ جِئْتُكُمِ بِهَا بَيْضَاءَ نَقِيَّةً، لاَ تَسْأَلُوْهُمْ عَنْ شَيْءٍ فَيُخْبِرُوكُمْ بِحَقٍّ فَتُكَذِّبُوْا بِهِ أَوْ بِبَاطِلٍ فَتُصَدِّقُوْا بِهِ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ مُوْسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ كَانَ حَيًّا مَا وَسِعَهُ إِلاَّ أَنْ يَتَّبِعَنِي

        Umar ibnul Khaththab radhiyallahu anhu datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membawa sebuah kitab yang diperolehnya dari sebagian ahli kitab.

        Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membacanya lalu beliau marah seraya bersabda, “Apakah engkau termasuk orang yang bingung, wahai Ibnul Khaththab? Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh aku telah datang kepada kalian membawa agama yang putih bersih.

        Janganlah kalian menanyakan sesuatu kepada mereka (ahli kitab), sehingga mereka mengabarkan al-haq (kebenaran) kepada kalian lantas kalian mendustakannya. Atau mereka mengabarkan satu kebatilan lantas kalian membenarkannya.

        Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya Musa alaihis salam masih hidup, niscaya tidaklah boleh baginya kecuali mengikuti aku.”

 

        Hadits ini diriwayatkan al-Imam Ahmad dalam Musnad-nya 3/387 dan ad-Darimi dalam “Mukadimah” kitab Sunan-nya no. 436. Demikian pula Ibnu Abi ‘Ashim asy-Syaibani dalam as-Sunnah no. 50.

        Hadits ini dihukumi hasan oleh imam ahlul hadits pada zaman ini, asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah, dalam Zhilalul Jannah fi Takhrij as-Sunnah dan Irwa’ul Ghalil no. 1589.

Dalam riwayat ad-Darimi hadits di atas disebutkan dengan lafadz,

       أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رضي الله عنه أَتَى رَسُوْلَ اللهَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِنُسْخَةٍ مِنَ التَّوْرَاةِ، فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ الله،ِ هَذِهِ نُسْخَةٌ مِنَ التَّوْرَاةِ. فَسَكَتَ فَجَعَلَ يَقْرَأُ وَوَجْهُ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَغَيَّرُ. فَقَالَ أَبُوْ بَكْرٍ: ثَكِلَتْكَ الثَّوَاكِلُ[2]، مَا تَرَى مَا بِوَجْهِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ فَنَظَرَ عُمَرُ إِلَى وَجْهِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : أَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ غَضَبِ اللهِ وَغَضَبِ رَسُوْلِهِ، رَضِيْنَا بِاللهِ رَبًّا وَبِالْإِسْلاَمِ دِيْنًا وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَوْ بَدَا لَكُم مُوْسَى فَاتَّبَعْتُمُوْهُ وَتَرَكْتُمُوْنِي لَضَلَلْتُمْ عَنْ سَوَاءِ السَّبِيْلِ، وَلَو كَانَ حَيًّا وَأَدْرَكَ نُبُوَّتِي لاَتَّبَعَنِيْ

      Umar ibnul Khaththab radhiyallahu anhu datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membawa salinan dari kitab Taurat. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, ini salinan dari kitab Taurat.”

        Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diam. Umar mulai membacanya dalam keadaan wajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berubah. Melihat hal itu, Abu Bakr berkata kepada Umar, “Betapa ibumu kehilanganmu, tidakkah engkau melihat perubahan pada wajah Rasulullah?”

        Umar melihat wajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu berkata, “Aku berlindung kepada Allah dari kemurkaan Allah dan Rasul-Nya. Kami ridha Allah sebagai Rabb kami, Islam sebagai agama kami, dan Muhammad sebagai Nabi kami.”

        Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, seandainya Musa alaihis salam muncul kepada kalian kemudian kalian mengikutinya dan meninggalkan aku, sungguh kalian telah sesat dari jalan yang lurus. Seandainya Musa masih hidup dan menemui masa kenabianku, niscaya ia akan mengikutiku.”

Sikap Seorang Muslim terhadap Berita-Berita Ahli Kitabs

        Berita-berita yang datang dari ahli kitab—Yahudi atau Nasrani—dan tidak ada keterangannya dalam syariat, tidak boleh kita pastikan kebenaran atau kedustaannya. Berita itu bisa jadi benar atau haq, bisa jadi pula dusta atau batil. Jika kita benarkan, dikhawatirkan itu adalah batil. Apabila kita dustakan, dikhawatirkan itu adalah haq. Jadi, dua keadaan ini bisa menjatuhkan kita ke dalam dosa.

        Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia Abu Hurairah radhiyallahu anhu mengabarkan,

        كَانَ أَهْلُ الْكِتَابِ يَقْرَؤُوْنَ التَّوْرَاةَ بِالْعِبْرَانِيَّةِ وَيُفَسِّرُوْنَهَا بِالْعَرَبِيَّةِ لِأَهْلِ الْإِسْلاَمِ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لاَ تُصَدِّقُوْا أَهْلَ الْكِتَابِ وَلاَ تُكَذِّبُوْهُمْ، وَقُوْلُوْا : {آمَنَّا بِاللهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا …} الآية

        Ahli kitab membaca Taurat dalam bahasa Ibrani dan menafsirkannya dengan bahasa Arab uorang-orang Islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian membenarkan ahli kitab, jangan pula mendustakannya. Katakanlah, ‘Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan pada kami…’. (al-Baqarah: 136) (HR. al-Bukhari dalam Shahih-nya no. 4485)

        Tentang sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Janganlah kalian membenarkan ahli kitab, jangan pula mendustakannya,”

        Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah menjelaskan, “Berita yang mereka kabarkan itu mengandung kemungkinan benar dan kemungkinan salah. Karena itu, jangan sampai beritanya benar lantas kalian mendustakannya, atau beritanya dusta lalu kalian membenarkannya. Kalian pun terjatuh dalam dosa. Tidak ada larangan mendustakan mereka dalam urusan yang diselisihi oleh syariat kita. Tidak pula ada larangan membenarkan mereka dalam urusan yang disepakati oleh syariat kita. Demikian penjelasan al-Imam asy-Syafi’i.” (Fathul Bari 8/214)

        Kita dilarang bertanya tentang urusan agama kepada ahli kitab. Karena itulah, Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,

        كَيْفَ تَسْأَلُوْنَ أَهْلَ الْكِتَابِ عَنْ شَيْءٍ وَ كِتَابُكُمُ الَّذِي أُنْزِلَ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ أَحْدَثُ. تَقْرَؤُوْنَهُ مَحْضًا لَمْ يُشَبْ، وَقَدْ حَدَّثَكُمْ أَنَّ أَهْلَ الْكِتَابِ بَدَّلُوْا كِتَابَ اللهِ وَغَيَّرُوْهُ وَكَتَبُوْا بِأَيْدِيْهِم الْكِتَابَ وَقَالُوْا: هُوَ مِنْ عِنْدِ اللهِ لِيَشْتَرُوْا بِهِ ثَمَنًا قَلِيْلاً؛ لاَ يَنْهَاكُمْ مَا جَاءَكُمْ مِنَ الْعِلْمِ عَنْ مَسْأَلَتِهِمْ، لاَ وَاللهِ، مَا رَأَيْنَا مِنْهُمْ رَجُلاً يَسْأَلُكُمْ عَنِ الَّذِي أُنْزِلَ عَلَيْكُمْ

        “Bagaimana kalian bertanya kepada ahli kitab tentang sesuatu, sementara kitab kalian yang diturunkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah kitab yang paling akhir (turun dari sisi Allah)? Kalian membacanya dalam keadaan murni, tidak bercampur (dengan kepalsuan). Allah telah menyampaikan (keterangan) kepada kalian bahwa ahli kitab telah mengganti dan mengubah-ubah Kitabullah.

       “Mereka menulis kitab itu dengan tangan mereka (mereka mengarang sendiri) kemudian mereka mengatakan, ‘Ini (yang mereka tulis) diturunkan dari sisi Allah.’ Mereka melakukannya untuk memperoleh keuntungan yang sedikit.

       “Tidakkah ilmu yang datang kepada kalian melarang kalian bertanya kepada mereka? Tidak, demi Allah! Kami tidak melihat seorang pun dari mereka yang bertanya kepada kalian tentang apa yang diturunkan kepada kalian.” (HR. al-Bukhari no. 7363, “Kitab al-subhanahu wa ta’ala’tisham bil Kitab was Sunnah”, “Bab Qaulin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: La Tas’alu Ahlal Kitab ‘an Syai’in”)

        Dengan kalimat, “Tidak, demi Allah! Kami tidak melihat seorang pun dari mereka yang bertanya kepada kalian tentang apa yang diturunkan kepada kalian,” seakan-akan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma hendak menyatakan, “Mereka ahli kitab tidak pernah menanyakan tentang sesuatu pun kepada kalian, sementara mereka tahu bahwa kitab kalian tidak ada penyimpangan/perubahan. Mengapa kalian justru bertanya kepada mereka sedangkan kalian benar-benar mengetahui bahwa kitab mereka telah diubah dari aslinya?” (Fathul Bari 13/621)

        Abdur Razzaq ash-Shan’ani rahimahullah meriwayatkan dalam Mushannaf-nya[3] (no. 19212) dari jalan Huraits bin Zhuhair, ia berkata, “Abdullah (yakni Ibnu Mas‘ud) berkata,

        لاَ تَسْأَلُوْا أَهْلَ الْكِتَابِ عَنْ شَيْءٍ فَإِنَّهُمْ لَنْ يَهْدُوْكُمْ وَقَدْ أَضَلُّوا أَنْفُسَهُمْ، فَتُكَذِّبُوْنَ بِحَقٍّ أَوْ تُصَدِّقُوْنَ بِبَاطِلٍ

     “Janganlah kalian bertanya tentang sesuatu kepada ahli kitab karena sesungguhnya mereka tidak akan memberikan petunjuk kepada kalian. Mereka sendiri telah menyesatkan diri mereka. (Apabila kalian bertanya kepada mereka kemudian mereka menjawab pertanyaan kalian, dikhawatirkan) kalian akan mendustakan yang haq atau membenarkan yang batil.”

        Apabila ada yang menyatakan bahwa larangan bertanya kepada ahli kitab ini seakan-akan bertentangan dengan perintah Allah subhanahu wa ta’ala dalam firman-Nya,

          فَسۡ‍َٔلِ ٱلَّذِينَ يَقۡرَءُونَ ٱلۡكِتَٰبَ مِن قَبۡلِكَ

    “Maka tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca al-Kitab sebelummu.” (Yunus: 94)

        Jawabannya, ayat ini tidak bertentangan dengan larangan yang tersebut dalam hadits. Sebab, yang dimaksud oleh ayat ini adalah bertanya kepada ahli kitab yang telah beriman. Adapun larangan yang tersebut dalam hadits adalah larangan bertanya kepada ahli kitab yang belum beriman. (Fathul Bari 13/408)

Peringatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Agar Tidak Membaca Buku Ahli Kitab

        Dalam al-Qur’an Allah subhanahu wa ta’ala mengabarkan bahwa ahli kitab telah mengubah-ubah kitab mereka. Semula kitab mereka adalah kalamullah yang diturunkan dari atas langit, namun karena ulah para pendeta Yahudi dan Nasrani bercampurlah kalamullah tersebut dengan ucapan manusia. Bahkan, kalamullah itu sendiri mereka ubah dan pindahkan dari tempatnya. Karena itu, kitab mereka tidak lagi murni sebagaimana keadaan saat awal diturunkan. Kitab mereka telah tercampur dengan kepalsuan dan kedustaan, susah untuk dipisahkan mana yang haq dan mana yang batil.

        Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

        فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هَذَا مِنْ عِنْدِ اللهِ لِيَشْتَرُوا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا فَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيهِمْ وَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا يَكْسِبُونَ

        Maka kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang menulis al-Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya, “Ini dari Allah,” untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, karena apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, karena apa yang mereka kerjakan[4]. (al-Baqarah: 79)

        Al-Imam ath-Thabari rahimahullah berkata, “Yang Allah maksudkan dengan firman-Nya ini adalah orang-orang Yahudi Bani Israil yang telah melakukan tahrif terhadap Kitabullah. Mereka menulis sebuah kitab berdasarkan penakwilan/penafsiran menyimpang yang mereka buat, menyelisihi apa yang Allah subhanahu wa ta’ala turunkan kepada Nabi Musa ‘alaihis salam.

        Kemudian orang-orang Yahudi tersebut menjual kitab karangan mereka itu kepada suatu kaum yang tidak memiliki ilmu tentang penakwilan tersebut. Kaum tersebut tidak memiliki pengetahuan tentang apa yang terdapat dalam Taurat. Orang-orang Yahudi itu menjualnya kepada orang-orang bodoh yang tidak mengetahui apa yang terdapat dalam kitabullah. Mereka melakukan hal ini karena ingin mendapatkan dunia yang rendah.” (Jami’ul Bayan fi Ta`wil Ayil Qur’an 1/422)

        Al-Imam al-Baghawi rahimahullah menyebutkan bahwa pendeta-pendeta Yahudi itu khawatir kehilangan sumber penghidupan dan kepemimpinan mereka ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah. Mereka lalu melakukan tipu daya untuk menyimpangkan orang-orang Yahudi agar tidak beriman kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

        Mereka telah memahami ciri-ciri beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam yang disebutkan dalam Taurat bahwa beliau memiliki wajah dan rambut yang bagus, kedua matanya seperti bercelak, perawakannya sedang, tidak terlalu tinggi, tidak pula pendek. Mereka lalu mengubah sifat-sifat tersebut dan menggantinya dengan “tinggi, miring matanya, dan keriting rambutnya”. Saat orang-orang bodoh yang tidak mengerti Taurat bertanya tentang ciri-ciri nabi yang terakhir kepada para pendeta ini, mereka akan membacakan apa yang telah mereka tulis.

        Akhirnya, orang-orang bodoh tersebut menemukan bahwa ciri-ciri nabi yang akhir itu berbeda dengan ciri-ciri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akibatnya, mereka mendustakan beliau.” (Ma’alimut Tanzil, 1/54—55)

        Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

        مِنَ الَّذِينَ هَادُوا يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ

    “Mereka (orang-orang Yahudi) mengubah perkataan dari tempat-tempatnya.” (an-Nisa: 46)

        Ayat di atas menunjukkan bahwa sifat orang-orang Yahudi suka mengganti dan mengubah-ubah makna Taurat dari tafsir yang sebenarnya. (Jami‘ul Bayan fi Ta`wil Ayil Qur’an 4/121)

        Perubahan yang mereka lakukan bisa berupa lafadz atau makna, bisa jadi pula pada kedua hal tersebut sekaligus. Mereka mengubah hakikat yang ada, menempatkan al-haq di atas al-batil, dan menentang al-haq itu. (Taisir al-Karimir Rahman, hlm. 181)

        Diriwayatkan bahwa sambil membawa sebuah mushaf, Ka‘b al-Ahbar pernah menemui Umar ibnul Khaththab radhiyallahu anhu yang ketika itu menjabat Amirul Mukminin. Ia berkata, “Wahai Amirul Mukminin, dalam mushaf ini tertulis Taurat. Apakah aku boleh membacanya?”

        Umar menjawab, “Jika memang engkau yakin itu adalah Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa ‘alaihis salam pada hari Thursina, silakan membacanya. Jika tidak, jangan membacanya.” (Syarhus Sunnah 1/271)

        Karena bercampurnya al-haq dengan al-batil inilah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingkari perbuatan Umar rahimahullah yang memegang Taurat sebagaimana tersebut dalam hadits yang menjadi pembahasan kita. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan kepada Umar,

        أَمُتَهَوِّكُوْنَ فِيْهَا يَا ابْنَ الْخَطَّابِ؟ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَقَدْ جِئْتُكُمِ بِهَا بَيْضَاءَ نَقِيَّةً

        “Apakah engkau termasuk orang yang bingung, wahai Ibnul Khaththab? Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh aku telah datang kepada kalian membawa agama yang putih bersih.”

        Di samping itu, syariat yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah sangat memadai sehingga umat beliau tidak lagi membutuhkan syariat lain atau syariat umat terdahulu. Umat ini tidak lagi membutuhkan nabi dan rasul lain setelah diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di tengah-tengah mereka. Kalaupun para nabi dan rasul terdahulu masih hidup dan menemui masa kenabian beliau, niscaya para nabi dan rasul tersebut akan mengikuti beliau dan tunduk pada syariat yang beliau bawa.

        Karena itulah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Umar radhiyallahu anhu,

        وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَوْ أَنَّ مُوْسَى كَانَ حَيًّا مَا وَسِعَهُ إِلاَّ أَنْ يَتَّبِعَنِي

        “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya Musa ‘alaihis salam masih hidup, niscaya tidak boleh kecuali mengikutiku.”

Kitab Suci Yahudi dan Nasrani Tidak Lagi Asli

        Allah subhanahu wa ta’ala tidak memberikan jaminan penjagaan atas kalam-Nya yang termaktub dalam kitab Taurat dan Injil, sebagaimana jaminan penjagaan yang diberikan-Nya kepada al-Qur’an,

        إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُوْنَ

        “Sesungguhnya, Kami-lah yang menurunkan adz-Dzikra (al-Qur’an) dan sungguh Kami-lah yang akan menjaganya.” (al-Hijr: 9)

        Karena penjagaan Allah ini, al-Qur’an tidak akan dapat dipalsukan selama-lamanya sampai kelak diangkat kembali dari lembaran dan dada manusia (dari hafalan mereka) menjelang hari kiamat. Adapun kitab samawi lainnya, seperti Taurat dan Injil, tidak selamat dari pemalsuan.

        Karena itu, wajar apabila kita katakan bahwa kitab-kitab yang dipegang ahli kitab telah dipalsukan oleh para rahib dan pendeta mereka. Hal ini ini berdasarkan kabar dari Allah subhanahu wa ta’ala sendiri melalui al-Qur’an, dari hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari atsar, dan dari bukti-bukti sejarah, serta pertentangan dan keganjilan-keganjilan yang ada di dalam Taurat dan Injil sendiri.

        Dalam kitabnya, al-Fishal fil Milal wal Ahwa’ wan Nihal, Ibnu Hazm rahimahullah menyebutkan secara panjang lebar sejarah Bani Israil sejak wafatnya Nabi Musa ‘alaihis salam untuk membuktikan bahwa kitab Taurat tidak lagi asli, tetapi telah diubah-ubah.

        Disebutkan bahwa sepeninggal Nabi Musa ‘alaihis salam, Bani Israil dipimpin oleh Yusya’ bin Nun selama 31 tahun dan tetap istiqamah berpegang dengan agama. Selanjutnya, mereka dipimpin Fainuhas ibnul ‘Azar bin Harun selama 25 tahun, juga masih istiqamah di atas agama. Setelah Fainuhas wafat, seluruh Bani Israil murtad dari agama mereka dan menyembah berhala secara terang-terangan. Sejak itulah mereka dipimpin oleh penguasa-penguasa kafir. Meski diselingi oleh kepemimpinan penguasa yang beriman, mereka lebih dominan dikuasai oleh penguasa kafir yang berkubang dalam kekafiran dan penyembahan terhadap berhala[5].

        Ibnu Hazm rahimahullah berkata, “Sejak Bani Israil memasuki tanah yang disucikan (Palestina) sepeninggal Musa ‘alaihis salam sampai masa pemerintahan raja mereka, Syawul, mereka meninggalkan keimanan dan terang-terangan menyembah berhala sebanyak tujuh kali.”

        Beliau rahimahullah juga berkata, “Perhatikanlah, kitab apa yang masih tertinggal bersama dengan kekufuran yang terus-menerus dan menolak keimanan selama masa yang panjang[6] di sebuah negeri yang kecil. Sementara itu, ketika itu tidak ada seorang pun di muka bumi yang berada di atas agama mereka dan mengikuti kitab mereka selain mereka sendiri.” (al-Fishal 1/215)

        Berikut ini beberapa contoh kedustaan yang terdapat dalam Taurat.

        Di dalam Taurat dihikayatkan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Ini Adam, ia telah menjadi seperti salah satu dari Kami dalam mengetahui kebaikan dan kejelekan….”

        Ibnu Hazm menyatakan, ucapan ini menunjukkan mereka meyakini bahwa ilah atau sesembahan itu lebih dari satu, dan Adam termasuk ilah tersebut[7].

        Disebutkan pula dalam Taurat, “Ketika manusia telah banyak memenuhi muka bumi dan lahir putri-putri Adam, maka saat putra-putra Allah melihat putri-putri Adam yang cantik, putra-putra Allah pun memperistri sebagian mereka.”

        Ibnu Hazm membantah kedustaan mereka ini dengan menyatakan bahwa ucapan tersebut adalah kedunguan dan kedustaan yang besar. Mereka menjadikan Allah memiliki anak laki-laki yang menikahi putri-putri Adam, yang berarti Allah dan Adam berbesanan. Mahasuci Allah dari kedustaan ini[8].

        Selain itu, di dalam Taurat yang mereka pegangi disebutkan bahwa Nabi Luth ‘alaihis salam digauli oleh dua putrinya secara bergantian saat beliau telah renta, setelah dibuat mabuk dengan diberi minum khamr. Akibatnya, kedua putrinya hamil dari hasil hubungan dengan ayahnya.

        Kita berlindung kepada Allah dari tuduhan keji mereka yang membuat gemetar kulit orang-orang beriman yang mengetahui hak-hak para nabi[9].

        Ibnul Qayyim rahimahullah mendustakan ucapan orang-orang Yahudi bahwa lembaran-lembaran yang bertuliskan Taurat yang ada di belahan bumi timur dan barat saling bersesuaian. Ibnul Qayyim berkata, “Ini adalah kedustaan yang nyata. Sebab, Taurat yang berada di tangan orang-orang Nasrani berbeda dengan Taurat yang berada di tangan orang-orang Yahudi. Taurat yang ada di tangan Samiri berbeda pula dengan keduanya. Demikian pula Injil, sebagiannya berbeda dengan yang lain dan saling bertentangan.”

        Ibnul Qayyim melanjutkan, “Taurat yang berada di tangan orang-orang Yahudi memuat tambahan, perubahan, dan pengurangan yang kentara bagi orang-orang yang mendalam ilmunya. Mereka (orang yang berilmu) yakin secara pasti bahwa hal itu tidak terdapat dalam Taurat yang diturunkan oleh Allah kepada Musa ‘alaihis salam. Demikian pula Injil yang berada di tangan orang-orang Nasrani. Di dalamnya terdapat tambahan, perubahan, dan pengurangan yang tidak bisa disembunyikan dari orang-orang yang ilmunya mendalam. Mereka yakin secara pasti bahwa hal itu tidak terdapat dalam Injil yang diturunkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala kepada al-Masih Isa ‘alaihis salam.” (Hidayatul Hayara fi Ajwibatil Yahudi wan Nashara, hlm. 101)

        Al-‘Allamah asy-Syaikh Rahmatullah bin Khalilur Rahman al-Kairanawi al-Hindi rahimahullah menyebutkan beberapa bukti bahwa kitab Taurat dan Injil yang ada sekarang bukanlah Taurat dan Injil yang pernah diturunkan kepada Nabi Musa ‘alaihis salam dan Nabi Isa ‘alaihis salam.

        Di antaranya, beliau menyebutkan fakta sejarah berkenaan dengan Taurat bahwa Taurat yang ada sekarang terputus sanadnya sebelum zaman Raja Yusya’ bin Amun yang berkuasa pada 638 SM. Naskah (manuskrip) bertuliskan Taurat yang didapatkan setelah 18 tahun ia berkuasa tidak bisa dijadikan sandaran karena naskah itu dibuat-buat oleh al-Kahin Hilqiyya. Selain tidak bisa dijadikan sandaran, secara umum naskah itu hilang sebelum Bukhtanashar menaklukkan negeri Palestina pada 587 SM.

        Seandainya kita anggap naskah itu tidak hilang, ketika Bukhtanashar menguasai Palestina tentu ia akan memusnahkan Taurat dan seluruh Kitab Perjanjian Lama hingga tidak tersisa. Orang-orang Yahudi berdalih bahwa Uzara telah menulis sebagian lembaran Taurat di Babil, namun yang ditulisnya ini pun hilang ketika Anthaikhus IV menaklukkan Palestina.

        Ketika Suraya berkuasa antara 175—163 SM, ia berencana memusnahkan agama Yahudi dan mewarnai Palestina dengan ajaran helenisme Yunani. Ia pun menjual jabatan-jabatan pendeta Yahudi, membunuh sejumlah 40—80 juta pendeta Yahudi, merampas barang-barang yang ada di seluruh tempat ibadah Yahudi, beribadah kepada sesembahannya dengan menyembelih babi dan menyalakan api di atas tempat penyembelihan orang Yahudi, serta memerintahkan 20 ribu tentara untuk mengepung dan akhirnya menyerbu al-Quds pada hari Sabtu ketika orang-orang Yahudi berkumpul untuk mengerjakan shalat. Mereka merampas al-Quds, meruntuhkan rumah dan pagar-pagar, menyalakan api di dalamnya serta membunuh semua orang yang ada di dalamnya sampai pun para wanita dan anak-anak. Tidak ada yang selamat pada hari itu kecuali orang yang lari ke gunung-gunung atau bersembunyi dalam gua.” (Mukhtashar Kitab Izh-harul Haq, hlm. 20—21)

        Demikian pula keberadaan Injil yang dipegangi orang-orang Nasrani. Injil ditulis jauh setelah diangkatnya Nabi ‘Isa ‘alaihis salam, baik Injil yang konon katanya ditulis oleh Yohanes yang kemudian disebut Injil Yohanes, Injil Markus, Injil Lukas, maupun Injil Matius. Cukuplah sebagai bukti ketidakotentikan Injil tersebut bahwa ada empat Injil ini yang isinya terdapat pertentangan satu sama lain. Injil-Injil itu bukanlah Injil yang pernah diturunkan kepada Nabi Isa ‘alaihis salam.

        Asy-Syaikh Rahmatullah al-Hindi berkata, “Kitab samawi (yang diturunkan dari langit) yang wajib kita terima adalah kitab yang ditulis dengan perantara salah seorang nabi, dan sampai kepada kita dengan sanad yang bersambung tanpa ada perubahan dan penggantian. Adapun kitab yang disandarkan kepada seseorang yang memiliki ilham dengan semata-mata persangkaan dan dugaan, tidaklah cukup untuk menetapkan bahwa kitab tersebut adalah karya orang itu, sekalipun ada satu atau beberapa kelompok yang mengaku-aku penyandaran tersebut.

        Tidakkah engkau lihat bahwa kitab-kitab Perjanjian Lama yang disandarkan kepada Musa, Uzra, Isy’aya`, Irmiya, dan Sulaiman ‘alaihis salam?! Tidaklah ada satu dalil pun yang tsabit (pasti benar) menunjukkan kesahihan penyandarannya kepada mereka karena hilangnya sanad yang bersambung atas kitab-kitab tersebut.

        Tidakkah engkau lihat juga bahwa kitab-kitab Perjanjian Baru yang lebih dari 70 (buah) disandarkan kepada Isa, Maryam, Hawariyun dan pengikut mereka?! Kelompok-kelompok Nasrani yang ada sekarang telah sepakat tentang ketidaksahihan penyandaran kitab-kitab tersebut kepada Isa dan lainnya. Kitab-kitab itu justru termasuk kedustaan yang dibuat-buat. Berikutnya, ada kitab yang wajib diterima oleh menurut penganut Katolik, namun wajib ditolak menurut orang-orang Yahudi dan penganut Protestan….” (Mukhtashar Kitab Izh-harul Haq, hlm.19)

        Dengan demikian, dari fakta-fakta yang ada semakin pasti bahwa kitab-kitab yang dipegangi oleh Yahudi dan Nasrani bukanlah Taurat dan Injil yang disebutkan dalam al-Qur’anul Karim sehingga kita tidak wajib menerimanya. Kitab-kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru tersebut ditempatkan sebagai berikut:

  • Setiap riwayat yang terdapat di dalamnya, apabila dibenarkan oleh al-Qur’anul Karim, riwayat tersebut diterima dengan yakin. Kita membenarkannya tanpa rasa berat.\
  • Namun, apabila riwayatnya didustakan al-Qur’an, kita menolaknya dengan yakin pula. Kita mesdustakannya tanpa keberatan.
  • Apabila al-Qur’an mendiamkannya—tidak membenarkan dan tidak mendustakan—, kita pun mendiamkannya. Kita tidak membenarkannya, tidak pula mendustakannya.

        Al-Qur’anul Karim adalah penjaga bagi kitab-kitab sebelumnya. Maksudnya, al-Qur’an menampakkan al-haq yang terdapat dalam kitab-kitab sebelumnya dan mendukungnya, serta menampakkan kebatilan yang ada di dalam kitab-kitab tersebut dan menolaknya.

        Ulama Islam yang membantah isi Taurat dan Injil serta menampakkan kedustaan serta perubahan yang ada di dalamnya, tidaklah menujukan bantahannya kepada Taurat dan Injil yang diturunkan oleh Allah kepada Musa ‘alaihis salam dan Isa ‘alaihis salam. Yang dibantah adalah kisah dan riwayat-riwayat yang dikumpulkan dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru sepanjang beberapa kurun, yang dikatakan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai wahyu dan ilham. Sungguh, Taurat yang diturunkan oleh Allah kepada Musa hanya satu, Injil yang diturunkan kepada ‘Isa hanya satu pula. Bagaimana bisa sekarang didapatkan ada tiga Taurat yang berbeda dan ada empat Injil yang juga berbeda?[10]” (Mukhtashar Kitab Izh-harul Haq, hlm. 35—37)

        Wallahul musta’an.

Sikap yang Benar Terhadap Buku Ahlul Bid’ah

        Melihat Umar radhiyallahu anhu memegang lembaran yang bertuliskan Taurat sudah membuat wajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berubah karena marah. Padahal kitab Taurat merupakan salah satu kitab samawi, Kalamullah yang diturunkan Allah subhanahu wa ta’ala dari langit, meski kemudian diubah-ubah dan diganti oleh Yahudi. Bagaimana kiranya jika beliau shallallahu ‘alaihi wasallam melihat buku-buku yang jelas tidak diturunkan dari langit, dan isinya justru bertentangan dengan al-Qur’an dan as-Sunnah? Bagaimana kira-kira kemarahan beliau bila melihat kita membolak-balik buku tersebut dan membacanya? Apalagi ingin menyelami kebenaran yang—katanya—ada atau mungkin ada di dalamnya? Tentu saja kemurkaan beliau jauh lebih besar lagi. Wallahul musta’an.

        Bisa jadi, buku-buku yang ditulis ahlul bid’ah dan pengekor hawa nafsu itu memiliki satu atau beberapa titik nilai kebenaran. Akan tetapi, kebenaran apa yang bisa diharapkan apabila ia dibalut dan diselimuti oleh sekian banyak kebatilan? Bukankah buku-buku yang selamat dari kebatilan masih banyak? Buku-buku yang ditulis oleh ulama Ahlus Sunnah juga masih menggunung? Mengapa harus mempersulit diri dengan menyelami samudra kebatilan nan pekat karena ingin mendapatkan sebutir kecil mutiara kebenaran?

        Abu Zur’ah ar-Razi rahimahullah pernah memperingatkan seseorang untuk tidak membaca buku tulisan al-Harits al-Muhasibi dengan menyatakan, “Hati-hati engkau dari buku-buku ini, karena ini adalah buku-buku bid’ah dan kesesatan. Engkau wajib berpegang dengan atsar (hadits atau Sunnah Nabi) karena di dalamnya engkau akan mendapatkan kecukupan.”

        Ternyata orang itu berkelit dengan mengatakan, “Dalam buku-buku ini ada ibrah/pelajaran.”

        Apa jawaban Abu Zur’ah rahimahullah? Beliau menegaskan, “Siapa yang tidak mendapatkan ibrah dalam Kitabullah, niscaya tidak ada baginya ibrah dalam buku-buku ini.” (al-Mizan 2/165)

        Memberi peringatan (tahdzir) terhadap kitab-kitab yang memuat kebid’ahan dan kesesatan merupakan manhaj as-Salafus Shalih dengan mencontoh Rasul yang mulia shallallahu ‘alaihi wasallam ketika mengingkari perbuatan Umar ibnul Khaththab rahimahullah. Tahdzir ini bertujuan menjaga manhaj kaum muslimin dari mudarat dan bahaya yang terkandung dalam buku-buku tersebut. Tidak termasuk perbuatan zalim saat seorang muslim menasihati saudaranya untuk menjauhi buku-buku yang demikian karena ingin agar saudaranya terhindar dari mudarat, dengan semata menyebutkan kejelekan buku tersebut tanpa menyinggung kebaikannya. (Manhaj Ahlis Sunnah wal Jama’ah fi Naqdir Rijal wal Kutub wath Thawaif, hlm. 128, karya asy-Syaikh Prof. Dr. Rabi‘ bin Hadi al-Madkhali)

        Al-Imam Ibnu Muflih rahimahullah berkata, “Asy-Syaikh Muwaffaquddin rahimahullah menyebutkan larangan melihat buku-buku ahlul bid’ah. Beliau mengatakan, ‘Generasi salaf melarang bermajelis dengan ahlul bid’ah, melarang melihat buku-buku mereka, dan mendengar ucapan mereka’.” (al-Adabus Syar’iyah, 1/251)

        Asy-Syaikh Prof. Dr. Rabi’ bin Hadi al-Madkhali berkata menukilkan ucapan al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah, “Setiap buku yang menyelisihi as-Sunnah tidak boleh dilihat dan dibaca. Justru yang diizinkan oleh syariat adalah menghapus dan memusnahkannya.”

        Kemudian Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan, “Para sahabat telah membakar seluruh mushaf yang menyelisihi mushaf Utsman karena kekhawatiran akan timbulnya perselisihan di tengah-tengah umat. Bagaimana kiranya apabila mereka melihat buku-buku ini, yang menciptakan perselisihan dan perpecahan di kalangan umat….”

        Ibnul Qayyim berkata lagi, “Maksud dari semua ini, buku-buku yang mengandung kedustaan dan bid’ah wajib dimusnahkan dan dipunahkan. Memusnahkannya lebih utama daripada menghancurkan alat-alat lagu dan musik serta bejana-bejana yang berisi khamr. Sebab, bahaya buku-buku ini lebih besar daripada bahaya alat-alat musik. Karena itu, tidak ada ganti rugi terhadap buku-buku tersebut sebagaimana tidak ada ganti rugi dalam penghancuran bejana-bejana khamr.” (Manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah fi Naqdir Rijal wal Kutub wath Thawa’if, hlm. 134)

        Wallahu a’lam bish-shawab.

Ditulis oleh al-Ustadz Muslim Abu Ishaq al-Atsari

 

 


          [1] Ibnu ‘Aun mengatakan bahwa dia bertanya kepada al-Hasan, “Apa yang dimaksud dengan مُتَهَوِّكُوْنَ ?”

          Al-Hasan menjawab, “Orang-orang yang bingung.”

          Demikian disebutkan al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman (1/132), sebagaimana dinukilkan dalam al-Irwa’ (6/38). Al-Imam al-Baghawi rahimahullah menyebutkan bahwa makna sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut adalah apakah kalian bingung dalam ber-Islam? Kalian tidak mengetahui agama kalian hingga harus mengambil agama tersebut dari Yahudi dan Nasrani? (Syarhus Sunnah 1/271)

          [2] Artinya, betapa ibumu kehilanganmu. Orang yang mengucapkan hal ini seakan-akan mendoakan kematian lawan bicaranya karena jeleknya perbuatan atau ucapannya.

Bisa jadi, ia mengucapkannya untuk menyatakan, “Apabila engkau berbuat/berucap demikian, kematian lebih baik bagimu agar engkau tidak menambah kejelekan lagi.”

Bisa jadi pula, ucapan ini termasuk lafadz-lafadz yang biasa diucapkan orang Arab tanpa dimaksudkan sebagai doa, seperti ucapan mereka تربت يداك dan قاتلك الله. (an-Nihayah, hlm. 123)

          [3] Al-Hafizh Ibnu Hajar menilai sanadnya hasan (Fathul Bari 13/408).

        [4] Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullah menyatakan bahwa dalam ayat ini dan yang sebelumnya ada peringatan agar tidak mengganti, mengubah, dan menambahi syariat. Maka dari itu, semua orang yang mengganti, mengubah, atau mengadakan hal baru (bid’ah) dalam agama Allah yang bukan bagian dari agama dan terlarang dalam agama, ia masuk dalam ancaman yang keras dan azab yang pedih tersebut.” (al-Jami’ li Ahkamil Qur’an 1/9)

          [5] al-Fishal fil Milal wal Ahwa’ wan Nihal, 1/ 213—215

          [6] Lebih dari 114 tahun.

[7] al-Fishal 1/146.

[8] al-Fishal 1/147

          [9] al-Fishal 1/161

[10] Karena terbatasnya lembaran rubrik ini, kami tidak dapat memaparkan semuanya. Pembaca yang ingin mendapatkan penjelasan lebih jauh dipersilakan membaca kitab-kitab seperti al-Fishal fil Milal wal Ahwa’ wan Nihal karya Ibnu Hazm, al-Jawab ash-Shahih liman Baddala Dinal Masih karya al-Imam Ibnu Taimiyah, Hidayatul Hayara fi Ajwibatil Yahudi wan Nashara karya al-Imam Ibnul Qayyim, Izharul Haq karya asy-Syaikh Rahmatullah al-Hindi atau Mukhtasarnya.

Kelancangan Ahlul Kitab Terhadap Kitab Suci-Nya

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal Al-Bugisi)

 

“Sesungguhnya ada segolongan di antara mereka yang memutar-mutar lidahnya membaca Al Kitab, supaya kamu mengira yang dibacanya itu sebagian dari Al Kitab, padahal ia bukan dari Al Kitab dan mereka mengatakan: ‘Ini (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah’, padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah, sedang mereka mengetahui.” (Ali ‘Imran: 78)

Penjelasan Mufradat Ayat

Di antara mereka, yaitu kaum Yahudi yang ada di sekitar kota Madinah. Sebab, kata ganti “mereka” di sini kembali ke firman Allah I sebelumnya yang menjelaskan tentang keadaan mereka. (Tafsir Ath-Thabari, 3/323)

Memutar-mutar lidahnya, yaitu mereka men-tahrif (mengubahnya), sebagaimana dinukil dari Mujahid, Asy-Sya’bi, Al-Hasan, Qatadah, dan Rabi’ bin Anas. Demikian pula yang diriwayatkan Al-Bukhari dari Ibnu ‘Abbas bahwa mereka mengubah dan menghilangkannya, dan tidak ada seorang-pun dari makhluk Allah I mampu meng-hilangkan lafadz kitab dari kitab-kitab Allah. Namun mereka mengubah dan mentakwil-nya bukan di atas penakwilan sebenarnya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 1/377, lihat pula Tafsir Ath-Thabari, 3/324)
Qatadah t berkata: “Mereka adalah Yahudi, musuh Allah I. Mereka mengubah kitab Allah I, membuat bid’ah di dalamnya, kemudian mengira bahwa itu dari sisi Allah I.” (Tafsir Ath-Thabari, 3/324)
Adapun dalam qira`ah (bacaan) Abu Ja’far dan Syaibah dibaca dengan “yulawwuun”, yang menunjukkan makna lebih sering dalam mengerjakan hal tersebut. (Tafsir Al-Qurthubi, 4/121)

Penjelasan Makna Ayat
Al-’Allamah Abdurrahman As-Sa’di t berkata menjelaskan ayat ini: “Allah I mengabarkan bahwa di antara ahli kitab ada yang mempermainkan lisannya dengan Al-Kitab, yaitu memalingkan dan mengubah dari maksud sebenarnya. Dan ini mencakup mengubah lafadz dan maknanya. Padahal tujuan dari adanya Al-Kitab adalah untuk memelihara lafadznya dan tidak mengubah-nya, serta memahami maksud dari ayat tersebut dan memahamkannya. Mereka justru bertolak belakang dengan hal ini. Mereka memahamkan selain apa yang diinginkan dari Al-Kitab, baik dengan sindiran maupun terang-terangan. Adapun secara sindiran terdapat pada firman-Nya (agar kalian menyang-kanya dari Al-Kitab) yaitu mereka memutar-mutar lisannya dan memberikan kesan kepadamu bahwa itulah maksud dari kitab Allah I. Padahal bukan itu yang dimaksud. Adapun yang secara terang-terangan, terdapat pada firman-Nya:

“Dan mereka mengatakan bahwa itu dari sisi Allah, padahal bukan dari sisi Allah. Mereka mengada-ada atas nama Allah dengan kedustaan dalam keadaan mereka menge-tahui.”
Dan ini lebih besar dosanya daripada orang yang mengada-ada atas nama Allah I tanpa ilmu. Mereka ini berdusta atas nama Allah I, kemudian menggabungkan antara menghilangkan makna yang haq dan menetapkan makna yang batil, dan mendu-dukkan lafadz yang menunjukkan kebenaran untuk dibawa kepada makna yang batil, dalam keadaan mereka mengetahui.” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 136)
Ibnu Katsir t berkata: “Allah I mengabarkan tentang Yahudi –laknat Allah atas mereka– bahwa di antara mereka ada suatu kelompok yang mengubah-ubah kalimat dari tempatnya dan mengganti firman Allah serta menghilangkannya dari maksud sebenarnya untuk memberi kesan kepada orang-orang jahil bahwa itu terdapat dalam kitab Allah. Mereka menisbahkannya kepada Allah. Mereka berdusta dalam keadaan mereka mengeta-hui dari diri mereka sendiri bahwa mereka berdusta dan mengada-adakan semua itu. Oleh karenanya Allah mengatakan: “dan mereka berdusta atas nama Allah dalam keadaan mereka mengetahui.” (Tafsir Ibnu Katsir, 1/377)
Ath-Thabari t berkata: “Allah jalla tsana`uhu memaksudkan bahwa di antara ahli kitab, yaitu kaum Yahudi dari Bani Israil yang ada di sekitar Rasulullah n di masanya, mempermainkan lisan mereka dengan Al-Kitab agar kalian menyangkanya dari kitab Allah dan yang diturunkan-Nya. Padahal apa yang lisan mereka permainkan adalah kitab Allah yang telah mereka ubah dan ada-adakan. Dan mereka kesankan bahwa apa yang telah mereka permainkan dengan lisan mereka dengan mengubah, berdusta, dan berbuat kebatilan, lalu mereka masukkan dalam kitab Allah, bahwa itu berasal dari sisi Allah. Padahal itu bukan dari apa yang diturunkan Allah kepada salah seorang dari nabinya. Namun hal tersebut merupakan sesuatu yang mereka ada-adakan dari diri mereka sendiri, dusta atas nama Allah. Mereka sengaja berdusta atas nama Allah, dan bersaksi atasnya dengan kebatilan dan menyertakan sesuatu yang tidak termasuk kitab Allah ke dalamnya, hanya karena mengharapkan kekuasaan dan kehidupan dunia yang rendah nilainya.” (Tafsir Ath-Thabari, dengan sedikit diringkas, 3/323-324)

Kitab Taurat dan Injil yang Telah Berubah1
Allah I berfirman:
“Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al-Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: ‘Ini dari Allah’, (dengan maksud) untuk memper-oleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan.” (Al-Baqarah: 79)

“Hai Rasul, janganlah kamu disedihkan oleh orang-orang yang bersegera (mem-perlihatkan) kekafirannya, yaitu di antara orang-orang yang mengatakan dengan mulut mereka: ‘Kami telah beriman’, padahal hati mereka belum beriman; dan (juga) di antara orang-orang Yahudi. (Orang-orang Yahudi itu) amat suka mendengar (berita-berita) bohong dan amat suka mendengar perkataan-perkataan orang lain yang belum pernah datang kepadamu; mereka mengubah perkataan-perkataan (Taurat) dari tempat-tempatnya. Mereka mengatakan: ‘Jika diberikan ini (yang sudah diubah-ubah oleh mereka) kepada kamu, maka terimalah, dan jika kamu diberi yang bukan ini, maka hati-hatilah.’ Barangsiapa yang Allah menghen-daki kesesatannya, maka sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak sesuatu pun (yang datang) dari Allah. Mereka itu adalah orang-orang yang Allah tidak hendak mensucikan hati mereka. Mereka mendapat kehinaan di dunia dan di akhirat mereka mendapat siksaan yang besar.” (Al-Maidah: 41)
Ayat-ayat Allah U yang mulia ini menjelaskan kepada kita, apa yang telah diperbuat Ahli Kitab terhadap kitab-kitab mereka berupa perubahan, penambahan, dan membawa makna-makna yang terdapat dalam kitab Allah tersebut kepada yang bukan pemahaman sebenarnya. Mereka melaku-kannya untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah dan untuk mendapatkan sebagian kehidupan dunia yang hina. Mereka melakukannya dalam keadaan mengetahui kebenaran tersebut, namun menyembunyi-kan dan menampakkan sebaliknya di hadapan manusia. Allah I berfirman:
“Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al-Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.” (Al-Baqarah: 146)
Namun adanya perubahan tersebut bukan berarti bahwa semua yang terdapat dalam kitab Taurat ataukah Injil telah mengalami perubahan secara keseluruhan. Bahkan di dalam keduanya itu masih banyak terdapat ayat-ayat yang merupakan teks asli dari kitab Allah U, yang jika seseorang Nasrani atau Yahudi mengimani ayat-ayat tersebut dengan keimanan yang sebenar-benarnya, niscaya mereka akan beriman dengan apa yang dibawa Rasulullah n berupa wahyu Al-Qur`an Al-Karim. Hal ini telah dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah t, beliau berkata:
“Demikian pula dikatakan: jika lafadz-lafadz khabar diubah sedikit, tidaklah mencegah bahwa kebanyakan lafadznya tidak terjadi perubahan. Apalagi jika di dalam Al-Kitab itu sendiri ada yang menunjukkan sesuatu yang telah diubah itu. Dan dikatakan pula bahwa apa-apa yang telah diubah dari lafadz-lafadz Taurat dan Injil, maka dalam Taurat dan Injil itu sendiri ada yang menjelaskan sesuatu yang telah berubah tersebut.”
Lalu beliau melanjutkan perkataan-nya: “Sesungguhnya, perubahan yang ada hanya sedikit dan kebanyakannya tidak berubah. Dan pada yang tidak berubah terdapat lafadz-lafadz yang jelas dan sangat nampak maksudnya yang menjelaskan kesalahan yang menyelisihinya, dan memiliki penguat-penguat yang banyak yang membenarkan sebagian terhadap sebagian yang lainnya. Berbeda dengan sesuatu yang telah berubah, sesungguhnya lafadznya sedikit dan nash-nash Al-Kitab membantah-nya. Sehingga (Al-Kitab) ini berkedudukan seperti kitab-kitab hadits yang dinukil dari Nabi n, di mana terdapat beberapa hadits yang lemah di dalam Sunan Abu Dawud, At-Tirmidzi, atau selainnya. Maka dalam hadits-hadits shahih dari Nabi n ada yang menjelaskan lemahnya riwayat tersebut.
Bahkan di dalam Shahih Muslim terdapat sedikit lafadz yang keliru, yang mana hadits-hadits yang shahih bersama Al-Qur`an ada yang menjelaskan kekeliruan tersebut. Seperti apa yang diriwayatkan bahwa Allah menciptakan bumi pada hari Sabtu dan menjadikan penciptaan makhluk dalam tempo tujuh hari, di mana hadits ini telah dijelaskan para imam ahli hadits seperti Yahya bin Ma’in, Abdurrahman bin Mahdi, Al-Bukhari dan selainnya bahwa hadits ini keliru, dan bahwa itu bukan dari perkataan Nabi n. Bahkan Al-Bukhari menjelaskan dalam Tarikh Kabir bahwa ini adalah perkataan Ka’b Al-Ahbar, sebagaimana telah dirinci pada pembahasannya. Dan Al-Qur`an juga menunjukkan kesalahan ini dan menjelaskan bahwa penciptaan terjadi selama enam hari. Dan telah terdapat dalam hadits shahih bahwa akhir pen-ciptaan pada hari Jum’at, maka awal penciptaan terjadi pada hari Ahad.
Demikian pula yang diriwayatkan bahwa Rasulullah n shalat kusuf (gerhana) dengan dua atau tiga ruku’, maka sesungguhnya yang tsabit dan mutawatir dari Nabi n dalam dua kitab Shahih (Al-Bukhari dan Muslim) dan selainnya dari hadits ‘Aisyah, Ibnu ‘Abbas, Abdullah bin ‘Amr, dan yang lainnya bahwa beliau shalat pada satu rakaat dengan dua ruku’. Oleh karenanya Al-Imam Al-Bukhari tidak mengeluarkan hadits lain kecuali hadits ini.”
Lalu beliau berkata lagi: “Demikian pula jika terjadi perubahan pada sebagian lafadz kitab-kitab terdahulu, maka dalam kitab itu sendiri ada yang menjelaskan kekeliruannya. Dan telah kami jelaskan bahwa kaum muslimin tidaklah mengklaim bahwa seluruh salinan (Al-Kitab) yang ada di dunia dari zaman Nabi n dengan setiap bahasa dari Taurat, Injil, dan Zabur telah diubah lafadz-lafadznya. Sesungguhnya saya tidak mengetahui ada yang meng-ucapkan demikian baik dari ulama salaf, meskipun dari kalangan mutaakhirin (orang belakangan) bisa jadi ada yang mengata-kannya. Sebagaimana di kalangan umat belakangan ada yang membolehkan ber-istinja (bersuci) dengan setiap salinan Taurat dan Injil yang ada di dunia. Maka ucapan ini dan yang semisalnya bukanlah ucapan pendahulu dan para imam umat ini.” (Daqa`iq At-Tafsir, 2/57-59. Lihat pula Al-Jawab Ash-Shahih Liman Baddala Dinal Masih, 2/442-444)
Apa yang disebutkan Syaikhul Islam ini dibuktikan kebenarannya oleh Al-Qur`an dan As-Sunnah. Al-Qur`an Al-Karim dalam banyak tempat banyak menjadikan isi Taurat dan Injil sebagai hujjah atas ahli kitab untuk membenarkan apa yang dibawa Rasulullah n. Silahkan baca surah Al-Ma`idah, mulai dari ayat 46-50. Demikian pula firman Allah U:
“Semua makanan adalah halal bagi Bani Israil melainkan makanan yang diharamkan oleh Israil (Ya’qub) untuk dirinya sendiri sebelum Taurat diturunkan. Katakanlah: ‘(Jika kamu mengatakan ada makanan yang diharamkan sebelum turun Taurat), maka bawalah Taurat itu, lalu bacalah dia jika kamu orang-orang yang benar’.” (Ali Imran: 93)
Demikian pula yang diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim, dari Abdullah bin ‘Umar bahwa beberapa orang Yahudi datang kepada Nabi n dengan membawa seorang lelaki dari mereka dan seorang wanita yang keduanya telah berbuat zina. Maka Rasulullah n bertanya kepada mereka: “Apa yang kalian lakukan terhadap orang yang berzina di antara kalian?” Mereka menjawab: “Kami melumuri wajahnya dengan arang2 dan memukulnya.” Rasulul-lah n berkata: “Apakah kalian tidak menemu-kan hukum rajam dalam Taurat?” Mereka menja-wab: “Kami tidak mendapati sedi-kitpun (tentang rajam).” Abdul-lah bin Sallam berkata kepada mereka: “Kalian telah berdusta, datangkanlah Taurat jika kalian jujur.” Salah seorang guru mereka yang mengajari mereka meletakkan telapak tangannya di atas ayat rajam (dengan maksud menutupinya, red.). Lalu diapun mulai membaca ayat yang sebelum dan sesudahnya, dan tidak membaca ayat rajam. (Abdullah bin Sallam) melepaskan tangannya dari ayat rajam dan bertanya: “(Ayat) apa ini?” Tatkala mereka melihat itu merekapun menjawab: “Itu ayat rajam.” Maka Rasulullah n memerintahkan agar keduanya dirajam3. Maka keduanya pun dirajam di dekat tempat jenazah yang ada di dekat masjid. Ibnu ‘Umar berkata: “Aku melihat (yang dirajam tersebut) berusaha menghindar, melindungi dirinya dari bebatuan (yang dilemparkan kepadanya hingga ia tewas).” (HR. Al-Bukhari, 8/4556 dan Muslim no. 1699)
Bagi siapa yang melihat kitab Injil sekarang ini, masih sangat banyak ajaran-ajaran asli yang berasal dari ajaran Nabi ‘Isa u, yang apabila mereka memahami-nya dengan pemahaman yang jernih, niscaya akan membawa kepada keyakinan akan kebenaran Islam yang dibawa Rasulullah n.
Di antara-nya adalah apa yang disebutkan dalam Injil, kitab Ulangan 6:4: “Dengarlah hai orang Israil, Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu satu.”
Dan dalam kitab Yesaya 45:5-6: “Akulah Tuhan dan tidak ada yang lain.”
Demikian pula dalam Yoha-nes 17:3: “Inilah hidup yang kekal, yaitu mereka mengenal Engkau, satu-satu-Nya yang benar dan mengenal Yesus4 yang telah engkau utus.”
Demikian pula di dalam kitab Injil yang terdapat larangan membuat patung, dalam kitab keluaran 20:4-5: “Janganlah membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku Tuhan, Allahmu adalah Allah yang cemburu.”
Bahkan anjuran untuk berkhitan pun disebutkan dalam Injil mereka, seperti yang disebutkan dalam Kitab Kejadian 17:13: “Orang yang lahir di rumahmu dan orang yang engkau beli dengan uang harus disunat,” lalu pada ayat ke-14 disebutkan: “Dan orang yang tidak disunat, yakni laki-laki yang tidak dikerah kulit khatannya, maka orang itu harus dilenyapkan dari tengah masyarakatnya. Ia telah mengingkari perjanjian-Ku.”
Demikian pula dijelaskan bahwa Nabi ‘Isa u hanyalah diutus secara khusus untuk Bani Israil, dan tidak lebih dari itu. Seperti yang disebutkan dalam Matius 10:5-6: “Kedua belas murid itu diutus Yesus dan ia berpesan kepada mereka: ‘Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota Samaria, melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.” Dan dalam Matius 15:24 disebutkan: “Jawab Yesus: ‘Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israil’.”
Seluruh perkara ini dibenarkan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya n dalam banyak haditsnya. Oleh karenanya, setelah diutusnya Rasulullah n sebagai Nabi dan Rasul penghabisan, maka beliau diutus untuk seluruh umat manusia. Sehingga tidak diperkenankan lagi bagi seorangpun dari kalangan umat ini untuk menjadikan petunjuk kecuali apa yang telah dibawa Muhammad bin Abdullah n. Sebagaimana diriwayatkan Al-Imam Muslim dari hadits Abu Hurairah z, bahwa Rasulullah n bersabda:
“Demi Allah yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah mendengar tentangku seorangpun dari umat ini, apakah dia seorang Yahudi ataukah Nasrani, lalu dia mati dan tidak mengimani apa yang dengannya aku telah diutus, melainkan dia tergolong penduduk neraka.” (HR. Muslim dan Ahmad)
Wallahu’alam bish-shawab.


1 Adapun hukum membaca Taurat dan Injil, silakan lihat pembahasan Rubrik Hadits edisi ini.
2 Ada pula yang menafsirkannya: Kami menyiramnya dengan air panas. Dalam riwayat lain: Kami mempermalukan mereka dan mereka dicambuk.
3 Dalam riwayat lain bahwa Rasulullah n berkata: “Sesungguhnya aku menghukuminya berdasarkan apa yang terdapat dalam Taurat.”
4 Maksudnya adalah Nabi ‘Isa u.

Kitab Fadha’il A’mal dalam Timbangan As-Sunnah

Bagi yang mengenal Jamaah Tabligh, kelompok yang ‘berdakwah’ keliling dari masjid ke masjid, besar kemungkinan akan mengetahui Kitab Fadha`il al-A’mal, buku wajib yang dipegangi dan dijadikan rujukan kelompok tersebut dalam ‘berdakwah’. Bagi para ‘pendakwah’ mereka ataupun orang-orang yang ‘berlatih dakwah’ bersamanya, kedudukan kitab tersebut di sisi mereka setara dengan kitab Shahih (al-Bukhari dan Muslim).

Membicarakan Fadha`il al-A’mal, kitab yang ditulis Muhammad Zakaria al-Kandahlawi, tentu tidak bisa dilepaskan dari pembahasan sebuah kelompok Sufi yang para pengikutnya kini semakin menjamur di berbagai negara, termasuk Indonesia. Kelompok inilah yang dikenal dengan nama Jamaah Tabligh.

Hubungan yang erat di antara keduanya adalah karena Jamaah Tabligh menjadikan kitab ini sebagai salah satu sandaran dalam mengamalkan rutinitas harian mereka. Kitab tersebut dibaca pada beberapa waktu sehabis shalat fardhu atau dijadikan sebagai taklim akhir malam sebelum tidur, tergantung kesempatan yang diberikan masjid setempat. Bisa pula tergantung waktu yang memungkinkan bagi mereka untuk melakukannya secara rutin.

Hal ini menunjukkan demikian pentingnya peranan kitab ini dalam membentuk fikrah dan akidah seorang tablighi (pengikut Jamaah Tabligh –red.). Sebab, apa yang mereka dengarkan tentu akan diupayakan untuk diwujudkan menjadi suatu amalan dalam berislam.

Oleh karena itu, kami memandang perlu untuk menjelaskan kepada umat tentang kedudukan kitab ini berdasarkan timbangan as-Sunnah. Kami juga menganggap perlu memperingatkan umat dari berbagai kesalahan dan penyimpangan yang terdapat dalam pembahasan kitab tersebut.

Secara umum, kitab ini banyak memuat hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang lemah, palsu, bahkan tidak ada asalnya. Banyak pula penukilan perkataan kaum Sufi yang jika seseorang meyakini hal tersebut, dapat menjerumuskannya kepada kesesatan dan penyimpangan. Wal ‘iyadzu billah.

Asy-Syaikh Hamud bin Abdullah at-Tuwaijiri rahimahullah berkata dalam kitabnya, al-Qaulul Baligh fit Tahdzir min Jama’ah at-Tabligh (hlm. 11—12),

“Kitab terpenting bagi orang yang menjadi tablighi adalah kitab Tablighi Nishab (Fadha`il al-A’mal), yang ditulis salah seorang pemimpin mereka, Muhammad Zakaria al-Kandahlawi. Mereka memiliki perhatian yang demikian besar terhadap kitab ini. Mereka mengagungkannya sebagaimana Ahlus Sunnah mengagungkan kitab Shahih (al-Bukhari dan Muslim), dan kitab-kitab hadits lainnya. Para tablighiyin telah menjadikan kitab kecil ini sebagai sandaran dan referensi, baik bagi orang India maupun bangsa ajam (non-Arab) lainnya yang mengikuti ajaran mereka.

Dalam kitab ini termuat berbagai kesyirikan, bid’ah, khurafat, dan banyak sekali hadits palsu serta lemah. Jadi, hakikatnya, ini adalah kitab yang jahat, sesat, dan fitnah. Kaum tablighiyin telah menjadikannya sebagai referensi untuk menyebarkan bid’ah dan kesesatannya, melariskan serta menghiasinya di hadapan kaum muslimin yang awam, sehingga mereka lebih sesat jalannya dari hewan ternak.”[1]

 

Adapun secara rinci, maka pembahasan kami bagi menjadi beberapa subbahasan sebagai berikut.

Pertama: Al-Kandahlawi dan Takhrij Haditsnya

Sebagaimana yang telah kita sebutkan, kitab ini memuat banyak hadits lemah, mungkar, palsu, bahkan tidak ada asalnya. Terkadang sebagian riwayat tersebut diketahui penulisnya.

Namun, sangat disayangkan, takhrij hadits itu tidak diterjemahkan ke dalam bahasanya. Kitab ini ditulis dalam bahasa Urdu (salah satu bahasa resmi di Asia Selatan, -red.), kemudian dibaca mayoritas kaum muslimin yang tidak mengerti bahasa Arab. Mereka pun menganggap baik kitab ini dan menyangka bahwa semuanya boleh dijadikan sebagai hujah. Selanjutnya mereka membaca lalu menjadikannya sebagai keyakinan. Akhirnya, terjerumuslah mereka dalam penyimpangan dan kesesatan.

Demikian pula ketika kitab ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan Malaysia, tidak diterjemahkan takhrij haditsnya. Ini menyebabkan para tablighi dan simpatisannya membaca kitab tersebut tanpa membedakan antara hadits-hadits yang bisa diterima dan yang tertolak. Berikut ini akan kami sebutkan beberapa contoh tentang apa yang kami sebutkan.

  1. Disebutkan dalam kitab Fadha`il al-A’mal, “Bab Fadhilah adz-Dzikr”[2] hadits dari ‘Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَمَّا أَذْنَبَ آدَمُ الذَّنْبَ الَّذِي أَذْنَبَهُ، رَفَعَ رَأْسَهُ إِلَى السَّمَاءِ فَقَالَ: أَسْأَلُكَ بِحَقِّ مُحَمَّدٍ. فَقَالَ: تَبَارَكَ اسْمُكَ لَمَّا خَلَقْتَنِي رَفَعْتُ رَأْسِي إِلَى عَرْشِكَ فَإِذَا فِيْهِ مَكْتُوبٌ: لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللهِ، فَعَلِمْتُ أَنَّهُ لَيْسَ أَحَدٌ أَعْظَمَ عِنْدَكَ قَدْرًا عَمَّنْ جَعَلْتَ اسْمَهُ مَعَ اسْمِكَ. فَأَوْحَى اللهُ إِلَيْهِ: يَا آدَمُ إِنَّهُ آخِرُ النَّبِيِّيْنَ مِنْ ذُرِّيَّتِكَ وَلَوْ لاَ هُوَ مَا خَلَقْتُكَ [3]

Ketika Adam telah berbuat dosa, ia pun mengangkat kepalanya ke atas langit kemudian berdoa, “Aku meminta kepada-Mu berkat wasilah Muhammad, ampunilah dosaku.”

Allah berfirman kepadanya, “Siapakah Muhammad (yang engkau maksud)?”

Adam menjawab, “Mahaberkah nama-Mu ketika engkau menciptakan aku, akupun mengangkat kepalaku melihat Arsy-Mu. Ternyata di situ tertulis ‘Laa ilaaha illallah Muhammadun Rasulullah’. Aku pun mengetahui bahwa tidak seorang pun yang lebih agung kedudukannya di sisi-Mu daripada orang yang telah engkau jadikan namanya bersama dengan nama-Mu.”

Allah berfirman kepadanya, “Wahai Adam, sesungguhnya dia adalah nabi terakhir dari keturunanmu. Kalaulah bukan karena dia, niscaya Aku tidak akan menciptakanmu.”

Hadits ini diterjemahkan begitu saja tanpa penerjemahan takhrij hadits yang disebutkan al-Kandahlawi.

Dia berkata setelah itu, “Diriwayatkan oleh ath-Thabarani dalam ash-Shaghir, al-Hakim, Abu Nu’aim, al-Baihaqi yang keduanya dalam kitab ad-Dala`il, Ibnu ‘Asakir dalam ad-Durr. Dalam Majma’ az-Zawa`id (disebutkan), diriwayatkan ath-Thabarani dalam al-Ausath dan ash-Shaghir, dalam (sanad)-nya ada yang tidak aku kenal. Aku berkata, ‘Hadits ini dikuatkan oleh hadits lain yang masyhur, “Kalau bukan karena engkau, aku tidak menciptakan jagad raya ini’.” Al-Qari berkata dalam al-Maudhu’at, “Hadits ini palsu.”

Cobalah Pembaca perhatikan. Hadits ini pada hakikatnya telah diketahui oleh penulisnya sebagai hadits yang tidak bisa dijadikan hujjah, bahkan tidak dikuatkan dengan adanya jalan (sanad) lain. Namun, ucapan ini tidak diterjemahkan sehingga para pembaca kitab ini menyangka bahwa hadits ini bisa diamalkan.

Rincian kedudukan hadits ini bisa dilihat dalam kitab Silsilah al-Ahadits adh-Dha’ifah (1/25) dan kitab at-Tawassul mulai hlm. 105, dst. Kedua kitab tersebut karya al-’Allamah Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah. Beliau menghukumi hadits tersebut sebagai hadits palsu.

  1. Disebutkan pula pada bab yang sama[4] dalam kitab tersebut, hadits dari Anas radhiyallahu ‘anhu bahwa Abu Bakr ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam keadaan bersedih.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepadanya, “Mengapa aku melihatmu bersedih?”

Ia menjawab, “Wahai Rasulullah, semalam aku berada di sisi anak pamanku, si Fulan yang telah meninggal dunia.”

Rasul bertanya, “Apakah engkau mentalqinnya dengan Laa ilaaha illallah?”

Ia menjawab, “Telah kulakukan, wahai Rasulullah.”

Beliau bertanya, “Ia mengucapkannya?”

Ia menjawab, “Ya.”

Beliau bersabda, “Telah wajib baginya surga.”

Abu Bakr bertanya lagi, “Wahai Rasulullah, bagaimana jika orang yang masih hidup mengucapkan kalimat itu?”

Beliau bersabda, “Kalimat itu merontokkan dosa-dosa mereka. Kalimat itu merontokkan dosa-dosa mereka.”

Hadits ini pun disebutkan tanpa diterjemahkan takhrijnya. Padahal al-Kandahlawi mengomentari hadits tersebut dengan mengatakan, “Diriwayatkan oleh Abu Ya’la, dalam sanadnya terdapat Za`idah bin Abi Raqqad, dihukumi tsiqah (dianggap tepercaya, -red.) oleh al-Qawariri, namun dihukumi lemah oleh al-Imam al-Bukhari dan yang lainnya[5]. Demikian yang terdapat dalam Majma’ az-Zawa`id[6].”

Perkataan ini tertulis dalam bahasa Arab sehingga tidak pernah dibaca oleh para pembacanya.

  1. Disebutkan pula pada bab yang sama[7] hadits Abdullah bin Abi Aufa radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Barang siapa mengucapkan

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، أَحَدًا صَمَدًا لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ، وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

Allah akan menuliskan baginya dua juta kebaikan.”

Hadits ini diterjemahkan pula maknanya tanpa menerjemahkan komentarnya yang mengatakan, “Diriwayatkan oleh ath-Thabarani, demikian disebutkan dalam at-Targhib dan Majma’ az-Zawa`id. Dalam sanadnya terdapat seorang rawi bernama Faid Abul Warqa, ia ditinggalkan haditsnya (matruk).”

Hal yang seperti ini sangat banyak kita dapatkan dalam kitab ini.

Kedua: Hadits Lemah, Palsu, Bahkan Tidak Ada Asalnya

Di samping poin pertama yang kami sebutkan, di dalam kitab ini pun banyak sekali termuat hadits yang lemah, palsu, bahkan tidak ada asalnya dalam kitab-kitab sunnah, tanpa ada komentar sedikit pun. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah melarang umatnya meriwayatkan satu ucapan kemudian menisbahkannya kepada beliau tanpa ada penelitian tentang kebenaran riwayat tersebut atau menukilkan pendapat para ulama yang dijadikan sebagai sandaran dalam menghukumi suatu riwayat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

فَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ‌

“Barang siapa berdusta atas namaku dengan sengaja, hendaklah dia mempersiapkan tempat duduknya dalam neraka.” (HR. al-Bukhari, Muslim dan lainnya, diriwayatkan lebih dari seratus sahabat radhiyallahu ‘anhum)

كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

“Cukuplah seseorang dianggap berdusta dengan mengatakan segala yang didengarnya.” (HR. Muslim dalam “Muqaddimah” Shahih-nya)

Ketika  menyebutkan beberapa hal yang menjadi kritikan atas Jamaah Tabligh, Syaikhuna Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i rahimahullah mengatakan,

“Mereka membacakan hadits-hadits yang lemah, palsu, dan tidak ada asalnya. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Hindarilah banyak memberitakan hadits dariku. Barang siapa menisbahkan (sesuatu) kepadaku, hendaklah mengucapkan kebenaran atau kejujuran. Barang siapa mengada-ada sesuatu atasku yang tidak aku ucapkan, hendaklah dia persiapkan tempat duduknya dalam neraka’. (HR. Ahmad dari Abu Qatadah)[8]

Berikut ini akan kami sebutkan pula beberapa contoh tentang hal ini.

  1. Disebutkan dalam “Bab Fadhilah Shalat”, hlm. 288, hadits yang berbunyi,

“Shalat akan membuat mulut setan menjadi hitam dan akan mematahkan punggungnya.” (Jami’us Shaghir)

Dalam kitab al-Jami’ush Shagir berbunyi demikian (yang artinya), “Shalat itu menghitamkan wajah setan dan sedekah itu akan mematahkan punggungnya.”

Hadits ini sangat lemah. Dalam sanadnya terdapat seorang rawi bernama Abdullah bin Muhammad bin Wahb al-Hafizh. Ad-Daraquthni berkata tentangnya, “Matruk (ditinggalkan haditsnya).”

Di samping itu, ada perawi lain bernama Zafir bin Sulaiman. Adz-Dzahabi berkata tentangnya, “Lemah sekali.”

Hadits ini dihukumi sangat lemah oleh al-Albani dalam Dha’if al-Jami’ ash-Shagir no. 3560.

  1. Disebutkan dalam “Bab Fadhilah adz-Dzikr” hlm. 432, ia berkata, “Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda,

 “Berpikir sesaat lebih baik daripada beribadah enam puluh tahun.”

Padahal hadits ini palsu sebagaimana diterangkan oleh al-Albani dalam Silsilah al-Ahadits adh-Dha’ifah (1/173). Adapun riwayat yang sahih dengan lafadz,

لَقِيَامُ رَجُلٍ فِي سَبِيْلِ اللهِ سَاعَةً أَفْضَلُ مِنْ عِبَادَةٍ سِتِّيْنَ سَنَةً

Seseorang berdiri di jalan Allah sesaat lebih afdal dari beribadah selama enam puluh tahun.” Hadits ini dihukumi sahih oleh Al-Albani dalam ash-Shahihah (4/1901).

  1. Demikian pula yang disebutkan dalam “Bab Fadhilah al-Qur`an” (hlm. 644) bahwa barang siapa mengkhatamkan al-Qur`an di siang hari, malaikat akan mendoakannya hingga malam hari; dan barang siapa menamatkannya di awal malam, para malaikat mendoakannya hingga pagi hari.

Padahal hadits ini pun lemah sebagaimana telah diterangkan oleh al-’Allamah al-Albani dalam Silsilah al-Ahadits adh-Dha’ifah (10/4591).

Ketiga: Membawa Pemahaman Sufi

Kitab ini banyak sekali menukil pemikiran kaum Sufi yang dapat menjerumuskan kaum muslimin dalam berbagai penyimpangan, seperti kerusakan akidah, sikap ekstrem dalam beribadah, dan semisalnya.

Oleh karena itu, sangatlah wajar jika kitab ini menjadi buku pegangan seorang tablighi, karena Jamaah Tabligh merupakan kelompok yang dibangun di atas empat tarekat Sufi: Naqsyabandiyah, Jusytiyah, Sahrawardiyah, dan Qadiriyah.[9]

Berikut ini, akan kami nukilkan pula beberapa perkataan yang dinukilkan dari kaum Sufi.

Disebutkan pada “Bab Fadhilah Shalat” (hlm. 316—317), al-Kandahlawi berkata,

Asy-Syaikh Abdul Wahid rah. a[10], seorang sufi yang masyhur, mengatakan bahwa pada suatu hari beliau didatangi rasa kantuk yang luar biasa sehingga tertidur sebelum menyelesaikan zikir malam itu. Di dalam mimpinya beliau melihat seorang gadis berpakaian sutera hijau yang amat cantik, sementara seluruh tubuh hingga kakinya sibuk berzikir.

Gadis tersebut bertanya kepada beliau, adakah keinginan beliau untuk memilikinya? Dia mencintai beliau, kemudian dibacanya beberapa bait syair.

Setelah bangun dari tidurnya, beliau bersumpah bahwa beliau tidak akan tidur pada malam hari. Diriwayatkan bahwa selama 40 tahun beliau shalat shubuh dengan wudhu shalat isya.

 Dalam kisah ini, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:

  1. Allah ‘azza wa jalla telah melarang kita berbuat ghuluw (berlebih-lebihan) dalam beribadah dan memerintah kita untuk beribadah kepada-Nya sesuai dengan kemampuan.

Jadi, agama ini menghendaki agar seorang muslim mengerjakan ibadah tersebut dalam keadaan giat, sehingga ibadah tersebut dikerjakan dengan khusyuk dan sesempurna mungkin. Apabila ia mengantuk, dianjurkan baginya beristirahat hingga rasa kantuk tersebut hilang.

Diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dia berkata,

Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memasuki masjid, ternyata ada sebuah tali yang terbentang di antara dua tiang.

Beliau bertanya, “Tali apa ini?”

Mereka menjawab, “Tali ini milik Zainab[11]. Jika lesu (berdiri untuk shalat), dia bergantung dengannya.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Lepaskan (tali) itu. Hendaklah salah seorang kalian shalat di saat giatnya. Jika lesu, hendaklah ia tidur.”

Demikian pula yang diriwayatkan dari hadits Aisyah radhiallahu ‘anha bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِذَا نَعَسَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ يُصَلِّي فَلْيَرْقُدْ حَتَّى يَذْهَبَ عَنْهُ النَّوْمُ، فَإِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا صَلىَّ وَهُوَ نَاعِسٌ لاَ يَدْرِي لَعَلَّهُ يَذْهَبُ يَسْتَغْفِرُ فَيَسُبُّ نَفْسَهُ ‌

“Jika salah seorang kalian mengantuk saat sedang shalat, hendaklah ia tidur sampai hilang rasa kantuknya. Sebab, jika salah seorang kalian shalat dalam keadaan mengantuk, sungguh dia tidak mengetahui, bisa jadi dia hendak beristighfar, tetapi tanpa sadar justru mencerca dirinya sendiri.” (Muttafaq ‘alaihi)

 

b. Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Di antara petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam melaksanakan shalat malam adalah yang beliau sebutkan dalam hadits yang diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amr bin al-’Ash radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَحَبُّ الصِّيَامِ إِلَى اللهِ صِيَامُ دَاوُدَ وَكَانَ يَصُوْمُ يَوْمًا وَيُفْطِرُ يَوْمًا، وَأَحَبُّ الصَّلاَةِ إِلَى اللهِ صَلاَةُ دَاوُدَ كَانَ يَنَامُ نِصْفَ اللَّيْلِ وَيَقُوْمُ ثُلُثَهُ وَيَنَامُ سُدُسَهُ‌

“Puasa yang paling dicintai Allah adalah puasa Dawud u. Beliau berpuasa sehari dan berbuka sehari. Shalat yang paling dicintai Allah adalah shalat Dawud alaihis salam, beliau tidur di pertengahan malam, bangun di sepertiga malam, dan tidur seperenam malam.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Disebutkan pula dalam kitab ini, hlm. 484, dari Syaikh Waliyullah yang berkata dalam kitab Qaulul Jamil,

“Ayah saya telah berkata bahwa ketika saya baru belajar suluk, dalam satu nafas dianjurkan supaya membaca Laa ilaaha illallah sebanyak dua ratus kali.

Syaikh Abu Yazid Qurthubi berkata, ‘Saya mendengar bahwa barang siapa membaca kalimat Laa ilaaha illallah sebanyak 70.000 kali, ia akan terbebas dari api neraka.’

Setelah mendengar hal itu, saya membaca untuk istri saya sesuai dengan nishab[12] tersebut. Tidak lupa, saya juga membaca untuk nishab diri saya sendiri.

Di dekat saya, tinggal seorang pemuda yang terkenal sebagai ahli kasyaf[13]. Dia juga kasyaf tentang surga dan neraka. Namun, saya agak meragukan kebenarannya.

Suatu ketika, pemuda tersebut ikut makan bersama kami. Tiba-tiba ia berkata dan meminta kepada saya sambil berteriak, katanya, “Ibu saya masuk neraka, dan telah saya saksikan keadaannya.”

Melihat kegelisahan pemuda tersebut, saya berpikir untuk mem-acakan baginya satu nishab bacaan saya untuk menyelamatkan ibunya, di samping juga untuk mengetahui kebenaran mengenai kasyaf-nya. Saya membacanya sebanyak 70.000 kali sebagai nishab yang saya baca untuk diri saya itu, guna saya hadiahkan kepada ibunya. Saya meyakini dalam hati bahwa ibunya pasti selamat. Tidak ada yang mendengar niat saya ini kecuali Allah subhanahu wa ta’ala.

Setelah beberapa waktu, pemuda tersebut berteriak, “Wahai paman, wahai paman, ibu saya telah bebas dari api neraka.”

Dari pengalaman itu, saya memperoleh dua manfaat (1) Saya menjadi yakin tentang keutamaan membaca Laa ilaaha illallah sebanyak 70.000 kali, karena sudah terbukti kebenarannya; (2) Saya menjadi yakin bahwa pemuda tersebut benar-benar seorang ahli kasyaf.”

Cobalah perhatikan kisah ini. Jika seorang muslim membaca dan meyakini cerita khurafat ini, maka dia akan terjatuh ke dalam berbagai penyimpangan, di antaranya:

  • Menetapkan wirid tertentu dengan bilangan yang telah ditetapkan, lalu menyebutkan keutamaannya, yang semuanya tidak bersumber dari pembawa syariat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ini jelas merupakan bid’ah yang jahat dan menyesatkan. (Silakan baca kembali Majalah Asy-Syariah I/No. 07/1425 H/2004, Bid’ahnya Dzikir Berjamaah)
  • Apa yang disebut sebagai ahli kasyaf adalah dusta belaka. Sebab, tidak seorang pun dapat mengetahui nasib seseorang di akhirat, apakah dia pasti masuk ke dalam surga atau neraka, kecuali yang dikabarkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala kepada hamba yang dikehendaki-Nya dari kalangan para rasul-Nya. Firman-Nya,

عَٰلِمُ ٱلۡغَيۡبِ فَلَا يُظۡهِرُ عَلَىٰ غَيۡبِهِۦٓ أَحَدًا ٢٦ إِلَّا مَنِ ٱرۡتَضَىٰ مِن رَّسُولٖ فَإِنَّهُۥ يَسۡلُكُ مِنۢ بَيۡنِ يَدَيۡهِ وَمِنۡ خَلۡفِهِۦ رَصَدٗا ٢٧

“(Dialah) Yang Mengetahui yang gaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang gaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya, sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya.” (al-Jin: 26—27)

Penukilan-penukilan yang seperti ini banyak sekali terdapat dalam kitab Fadha`il al-A’mal karya Muhammad Zakaria tersebut. Karena itu, hendaklah kaum muslimin berhati-hati dari kitab ini.

Hendaknya kaum muslimin mencari kitab-kitab yang jauh lebih selamat, yang bisa mengantarkan seseorang untuk mengamalkan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, seperti kitab Shahih al-Bukhari pada “Kitab ar-Raqa‘iq”, “Kitab al-Adab”, dan yang semisalnya. Demikian pula Shahih Muslim pada “Kitab adz-Dzikr” dan “Kitab al-Bir wash Shilah wal Adab”, dan kitab-kitab sunnah yang lainnya. Atau seperti kitab Riyadhus Shalihin, karya an-Nawawi; kitab al-Kalim ath-Thayyib karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah[14]. Masih banyak lagi kitab-kitab sunnah yang jauh lebih baik dan selamat dari berbagai penyimpangan.

Wallahu a’lam.

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal al-Bugisi

 

 

 

[1] al-Qaulul Baligh, hlm. 11—12

[2] Hlm. 497, versi bahasa Indonesia, terbitan Ash-Shaff, Yogyakarta, Sya’ban 1421 H.

[3] Dalam cetakan tersebut terdapat kekurangan dalam penukilan lafadz Arabnya, disempurnakan oleh penulis dari referensi lainnya.

[4]  Hadits no. 32, hlm. 503

[5] Al-Imam al-Bukhari tidak hanya menghukuminya lemah, tetapi lebih dari itu, munkarul hadits. Apabila al-Imam al-Bukhari menghukumi seorang rawi dengan hukum ini, maksudnya adalah tidak dihalalkan mengambil riwayat dari perawi tersebut, sebagaimana yang telah diriwayatkan Ibnul Qaththan bahwa al-Imam al-Bukhari berkata, “Semua yang aku tetapkan sebagai munkarul hadits maka tidak halal mengambil riwayat darinya.” (Mizanul I’tidal, 1/119, biografi Aban bin Jabalah al-Kufi)

[6] Fadhilah Dzikr, hlm. 504.

[7] Hlm. 507, hadits ke-35

[8] Al-Makhraj minal Fitnah, hlm. 96

[9] Al-Qaulul Baligh fit Tahdzir min Jama’ah at-Tabligh, Hamud at-Tuwaijiri, hlm. 11

[10] Demikian tertulis, maksudnya radhiallahu anhu.

[11] Terjadi silang pendapat tentang Zainab yang dimaksud dalam hadits ini. Ada yang mengatakan Zainab bintu Jahsy, salah seorang Ummul Mukminin. Ada pula yang mengatakan Hamnah bintu Jahsy, yang memiliki nama lain Zaenab. Sebab, semua anak perempuan Jahsy dipanggil dengan nama Zainab. (Dalil al-Falihin, 1/287)

[12]  Nishab artinya bagian.

[13] Ahli kasyaf adalah seseorang yang mampu melihat segala hal gaib, karena hijab telah diangkat darinya. Begitulah anggapan mereka, namun hakikatnya semua itu adalah bohong belaka.

[14] Yang keduanya telah di-takhrij dan di-tahqiq hadits-haditsnya oleh al-’Allamah Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah.

 

Buku-Buku Sesat Perusak Agama Umat

Buku (agama) adalah pengikat ilmu. Adagium demikian memang tidak ada yang mengingkarinya. Namun, tak semua yang ada di buku adalah ilmu dan tak semua buku layak dibaca. Sebab, di tengah-tengah kita, banyak bertebaran buku-buku ‘agama’ yang justru menyesatkan.

Awas Buku-Buku Sesat!

Bertebarannya beragam buku sesat di tengah-tengah umat merupakan bahaya laten yang mesti diwaspadai. Terlebih jika buku-buku itu dikemas dan diberi judul menarik serta berkesan ilmiah. Tanpa terasa, pembaca pun akan terbawa, terpola oleh isi buku, dan ujung-ujungnya terjerumus ke dalam kesesatan.

Pasalnya, buku-buku sesat merupakan salah satu media paling efektif yang digunakan oleh musuh-musuh Islam untuk merusak agama umat dan menyesatkan mereka dari jalan kebenaran.

Asy-Syaikh Muhammad bin Nashir al-’Uraini rahimahullah berkata, “Sesungguhnya, di antara media terkuat yang mereka gunakan untuk menyebarkan pemikiran menyimpang dan menyesatkan hamba-hamba Allah adalah buku-buku yang dihiasi dengan judul-judul menarik untuk mengesankan kepada para pembaca bahwa ia baik, padahal isinya racun yang mematikan.” (at-Tahdzir Minat Tasarru’ fit Takfir, hlm. 51)

Mungkin Anda terheran-heran, seraya bergumam, “Apalah arti sebuah buku, benda yang tak mampu berbicara apalagi berceramah. Mungkinkah ia menjadi salah satu media paling efektif untuk merusak agama umat?”

Sebagai jawabannya, simaklah keterangan berikut:

  1. Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah (ketika menjelaskan kronologi terjadinya kesesatan di muka bumi, –pen.) berkata, “ … Hingga sampailah pada awal abad ke-3 Hijriah, ketika kaum muslimin dipimpin Khalifah Abdullah al-Ma`mun (salah seorang khalifah Bani ‘Abbasiyah,-pen.). Dia mencintai ilmu. Majelisnya selalu diramaikan oleh para pakar dari berbagai disiplin ilmu. Sampai akhirnya (beliau terpengaruh dengan sebagian mereka,-pen.) dan terkondisikan untuk gandrung dengan hal-hal yang berbau akal (mengedepankan logika).

Dia akhirnya memerintahkan penerjemahan buku-buku sesat Yunani kuno. Bahkan, demi programnya ini, ia datangkan para penerjemah dari berbagai negeri hingga terciptalah terjemahan dalam bahasa Arab. Akibatnya kaum muslimin disibukkan dengan (membaca) buku-buku sesat tersebut.

Al-Ma`mun sendiri yang memprakarsai program tersebut semakin larut dan terbawa buku-buku sesat itu hingga majelisnya pun didominasi gerombolan Jahmiyah (yang banyak mengandalkan akal dalam memahami agama,-pen.) yang pada masa Khalifah al-Amin, kakak al-Ma`mun, justru menjadi buronan. Ada yang tertangkap kemudian dipenjara, ada pula yang dibunuh.

Orang-orang inilah yang meracuni dan membisikkan bid’ah Jahmiyah ke telinga dan hati al-Ma`mun, hingga merasuklah bid’ah itu pada dirinya dan dianggap sebagai kebaikan. Bahkan, dia mengajak manusia kepada bid’ah tersebut dan menghukum siapa saja yang tidak menyambut ajakannya.” (ash-Shawa’iq al-Mursalah, 1/148)

  1. Al-Khatib al-Baghdadi meriwayatkan dengan sanadnya sampai kepada al-Fadhl bin Ziyad.

Ia berkata, “Aku bertanya kepada Abu Abdillah (al-Imam Ahmad) tentang al-Karabisi dan pemikiran yang ia lontarkan.

Muka beliau pun tampak masam seraya mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu berkata, “Orang ini telah menyuarakan pemikiran Jahmiyah … Sesungguhnya kesesatan yang menimpa mereka itu disebabkan buku-buku sesat yang mereka susun. Mereka tinggalkan atsar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya, kemudian mendalami buku-buku sesat tersebut.” (Manhaj Ahlis Sunnah wal Jama’ah fi Naqdir Rijal wal Kutub wath Thawaif karya asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi ‘Umair al-Madkhali hlm. 132)

Pembaca, dari keterangan di atas dapatlah diambil pelajaran yang sangat berharga bahwa buku-buku sesat sangat berbahaya bagi umat. Buku-buku tersebut merusak agama umat dan dapat menjerumuskan mereka ke dalam kesesatan. Sampai-sampai al-Ma`mun yang ketika itu menjabat khalifah dan sejak kecil hafal al-Qur`an menjadi sesat akibat buku-buku sesat Yunani Kuno dan buku-buku sesat karya tokoh-tokoh Jahmiyah pada masanya.

Sikap Ahlus Sunnah Wal Jamaah Terhadap Buku-buku Sesat

Setiap muslim berkewajiban untuk membentengi dirinya dari kesesatan dan segala bentuk medianya. Allah subhanahu wa ta’ala  berfirman,

قُلۡ يَٰٓأَهۡلَ ٱلۡكِتَٰبِ لَا تَغۡلُواْ فِي دِينِكُمۡ غَيۡرَ ٱلۡحَقِّ وَلَا تَتَّبِعُوٓاْ أَهۡوَآءَ قَوۡمٖ قَدۡ ضَلُّواْ مِن قَبۡلُ وَأَضَلُّواْ كَثِيرٗا وَضَلُّواْ عَن سَوَآءِ ٱلسَّبِيلِ ٧٧

“Katakanlah, ‘Hai ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agama kalian. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat sebelumnya (sebelum kedatangan Nabi Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka telah tersesat dari jalan yang lurus.” (al-Ma`idah: 77)

 

Demikian pula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana dikatakan oleh sahabat Hudzaifah bin al-Yaman radhiallahu ‘anhu,

“Orang-orang (para sahabat) selalu bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kebaikan. Adapun aku selalu bertanya kepada beliau tentang kejelekan, karena aku khawatir kejelekan itu akan menimpaku.

Aku pun berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami dahulu tenggelam dalam kehidupan jahiliyah dan kejelekan, kemudian Allah menganugerahkan kepada kami kebaikan (Islam) ini. Apakah setelah kebaikan ini akan ada kejelekan?’

Beliau bersabda, ‘Ya.’

Aku pun berkata, ‘Dan apakah setelah kejelekan itu akan ada kebaikan lagi?’

Beliau bersabda, ‘Ya, namun padanya terdapat kesuraman (pergeseran dalam agama).’

Aku berkata, ‘Apa bentuk kesuraman itu?’

Beliau bersabda, ‘Adanya suatu kaum yang berprinsip dengan selain Sunnahku dan mengambil petunjuk dengan selain petunjukku. Engkau mengetahui apa yang datang dari mereka dan bisa mengingkari.’

Aku pun berkata, ‘Apakah setelah adanya kebaikan itu akan ada kejelekan lagi?’

Beliau bersabda, ‘Ya, munculnya sekelompok dai yang berada di pintu-pintu Jahannam. Barang siapa menyambut ajakan mereka, niscaya mereka akan melemparkannya ke dalam Jahannam itu.’

Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, apa nasihatmu jika aku mendapati kondisi seperti itu?’

Beliau bersabda, ‘Berpegangteguhlah dengan jamaah kaum muslimin dan imam (pemimpin) mereka.’

Aku berkata, ‘Bagaimana jika mereka (kaum muslimin) tidak mempunyai jamaah dan imam?’

Beliau bersabda, ‘Hendaknya engkau tinggalkan semua kelompok-kelompok (yang menyeru kepada kesesatan) itu, walaupun engkau terpaksa harus menggigit akar pohon, sampai kematian mendatangimu dalam keadaan engkau seperti itu.’ (HR. al-Bukhari, no. 7084 dan Muslim no. 1847, dengan lafadz Muslim)

Adapun para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah seperti yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam gambarkan dalam sabdanya,

يَحْمِلُ هَذَا الْعِلْمَ مِنْ كُلِّ خَلَفٍ عُدُولُهُ، يَنْفَوْنَ عَنْهُ تَحْرِيفَ الْغَالِينَ، وَانْتِحَالَ الْمُبْطِلِينَ، وَتَأْوِيلَ الْجَاهِلِينَ

“Ilmu agama ini akan terus dibawa oleh orang-orang adil (terpercaya) dari tiap-tiap generasi, yang selalu berjuang membersihkan agama ini dari pemutarbalikan pemahaman agama yang dilakukan orang-orang yang menyimpang, kedustaan orang-orang sesat yang mengatasnamakan agama, dan penakwilan agama yang salah yang dilakukan oleh orang-orang jahil.” (HR. al-Khathib al-Baghdadi dalam Syaraf Ash-habil Hadits hlm. 11; asy-Syaikh al-Albani menukilkan penilaian sahih dari al-Imam Ahmad dan al-’Ala`i dalam Misykatul Mashabih)

Karena itu, ketika merasakan adanya bahaya terselubung dari buku-buku sesat tersebut, mereka tampil untuk membentengi umat dari kesesatan-kesesatannya.

Hal itu bisa dilihat dari sikap dan pernyataan mereka berikut ini:

  1. Al-Imam Ibnu Muflih rahimahullah berkata,

“Asy-Syaikh Muwaffaquddin Ibnu Qudamah rahimahullah melarang (umat, -pen.) membaca buku-buku ahlul bid’ah. Beliau berkata, ‘Dahulu salafus shalih melarang duduk-duduk bersama ahlul bid’ah, membaca buku mereka, dan mendengarkan ucapan mereka’.” (al-Adab asy-Syar’iyah, dinukil dari kitab Manhaj Ahlis Sunnah wal Jama’ah fi Naqdir Rijal wal Kutub wath Thawaif hlm. 132)

  1. Al-Marrudzi rahimahullah berkata,

Aku sampaikan kepada al-Imam Ahmad, “Aku telah meminjam sebuah buku yang di dalamnya banyak sekali kejelekan. Setujukah Anda apabila aku merobek atau membakarnya?”

Beliau menjawab, “Ya.”

Aku pun membakarnya. (ath-Thuruq al-Hukmiyah, karya Ibnul Qayyim hlm. 282)

  1. Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melihat di tangan ‘Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu, sebuah buku yang disadur dari Taurat. Ketika itu ‘Umar merasa takjub akan kesesuaiannya dengan al-Qur`an. Memerahlah wajah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (karena marah) hingga akhirnya ‘Umar membawa buku tersebut lalu memasukkannya ke dalam tungku.

Bagaimana halnya seandainya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat buku-buku yang ditulis sepeninggal beliau yang menyelisihi kandungan al-Qur`an dan as-Sunnah? Wallahul Musta’an.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah memerintahkan siapa saja yang menulis sesuatu dari beliau selain al-Qur`an agar menghapusnya, walaupun akhirnya beliau mengizinkan penulisan as-Sunnah dan tidak mengizinkan selain itu. Semua buku yang menyelisihi Sunnah Nabi tidaklah diperbolehkan. Sepantasnya buku-buku tersebut dihapus atau dimusnahkan karena demikian berbahaya bagi umat.

Para sahabat pernah membakar seluruh mushaf yang menyelisihi mushaf ‘Utsmani karena kekhawatiran mereka akan perselisihan umat. Bagaimanakah apabila mereka melihat buku-buku sesat yang dapat menjerumuskan umat kepada perselisihan dan perpecahan?!”

Kemudian Ibnul Qayyim melanjutkan perkataannya,

“Maksud kami, buku-buku yang mengandung kedustaan dan kebid’ahan itu harus dimusnahkan. Memusnahkannya lebih utama daripada memusnahkan alat-alat musik dan bejana-bejana khamar. Sebab, bahaya buku-buku itu jauh lebih besar daripada bahaya alat-alat musik dan bejana khamar. Tidak ada denda bagi yang memusnahkannya, sebagaimana pula tidak ada denda bagi siapa saja yang memecahkan bejana-bejana khamar dan merusak tempat-tempat penyimpanan khamar lainnya.” (ath-Thuruq al-Hukmiyah hlm. 282)

  1. Al-Hafizh Sa’id bin ‘Amr al-Bardza’i berkata,

“Aku telah menyaksikan Abu Zur’ah ar-Razi ditanya tentang al-Harits al-Muhasibi dan buku-buku karya tulisnya. Beliau menjawab, ‘Hati-hatilah engkau dari buku-buku itu, karena ia merupakan buku-buku bid’ah dan sesat. Cukuplah bagimu hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena engkau akan mendapati (di dalam hadits-hadits itu) apa yang memuaskanmu.’

Kemudian disampaikanlah kepada Abu Zur’ah bahwa di dalam buku-buku itu terdapat ibrah (pelajaran berharga). Beliau pun menjawab, ‘Barang siapa tidak bisa mendapatkan ibrah dari al-Qur`an maka dia tidak akan bisa mendapatkan ibrah dari buku-buku tersebut.’

Apakah telah sampai pada kalian bahwa al-Imam Sufyan ats-Tsauri, al-Imam Malik, dan al-Imam al-Auza’i pernah menulis buku-buku semacam ini? Betapa cepatnya umat manusia condong kepada kepada kebid’ahan!” (Mizanul I’tidal fi Naqdir Rijal karya al-Imam adz-Dzahabi, 1/431)

  1. Al-Imam Adz-Dzahabi rahimahullah berkata,

“Itu baru semacam al-Harits! Lalu bagaimanakah jika Abu Zur’ah melihat buku-buku para mutaakhirin, seperti kitab al-Quut karya Abu Thalib? Itu baru buku semacam al-Quut!

Bagaimanakah jika beliau melihat kitab Bahjatul Asrar karya Ibnu Jahdham dan kitab Haqaiq at-Tafsir karya as-Sulami?! Sungguh, akan copot jantungnya.

Bagaimanakah jika beliau melihat karya Abu Hamid ath-Thusi (al-Ghazali) yang tidak jauh dari itu dan sarat dengan hadits-hadits palsu di dalam kitab Ihya’ Ulumiddin?

Bagaimanakah jika beliau melihat kitab al-Ghunyah karya Abdul Qadir?

Bagaimana pula jika beliau melihat Fushushul Hikam dan al-Futuhat al-Makkiyah?! (Mizanul I’tidal, 1/431)

  1. Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali berkata,

“Semoga Allah merahmati al-Imam adz-Dzahabi. Bagaimana seandainya beliau melihat kitab semacam ath-Thabaqat karya asy-Sya’rani, Jawahirul Ma’ani dan Bulughul Amani fi Faidhi Abil ‘Abbas at-Tijani karya ‘Ali bin Harazim al-Fasi, Khazinatul Asrar karya Muhammad Haqqi an-Nazili, Nurul Abshar karya asy-Syablanji, Syawahidul Haq fi Jawazi al-Istighatsah bi Sayyidil Khalqi dan kitab Jami’ Karamatil Auliya karya an-Nabhani?!

Bagaimanakah jika beliau melihat kitab Tablighi Nishab dan buku karangan tokoh-tokoh tarekat Sufi selainnya?!

Bagaimanakah jika beliau melihat karya-karya al-Ghazali masa kini yang menyerang Sunnah Nabi, melecehkan para pembawanya dan para pemuda Salafi yang berpegang teguh dengannya, serta menikam mereka dengan tuduhan-tuduhan yang sangat keji dan julukan-julukan yang sangat jelek?!

Bagaimanakah beliau jika melihat karya-karya al-Maududi dan segala bentuk penyimpangannya, baik dalam hal akidah, akal, dan suluk?!

Bagaimanakah jika beliau melihat karya-karya al-Qaradhawi yang membela ahlul bid’ah dan memperjuangkan kebid’ahan, bahkan mempromosikan prinsip-prinsip kebid’ahan tersebut? Yusuf al-Qaradhawi sejalan dengan al-Ghazali masa kini, bahkan lebih berbahaya!

Bagaimanakah jika beliau melihat sekelompok dai pada zaman kita ini, yang justru mendalami buku-buku sesat, bahkan memperjuangkan dan membela kelompok-kelompok sesat dan tokoh-tokohnya dari kalangan ahlul bid’ah?!

Bagaimanakah jika beliau melihat karya-karya Sa’id Hawwa dalam hal kesufian dan politik yang jauh menyimpang?!

Bagaimanakah jika beliau melihat karya-karya al-Kautsari dan murid-muridnya, Abu Ghuddah dkk., dari kalangan gembong (bid’ah, -pen.) yang sangat fanatik kepada sufi dan mazhab?!

Bagaimanakah jika beliau melihat karya-karya al-Buthi dan sejenisnya dari musuh-musuh as-Sunnah, musuh-musuh madrasah tauhid, dan madrasah Ibnu Taimiyah?!

Bagaimanakah jika beliau melihat umat ini bahkan kalangan pemudanya yang condong kepada tauhid tetapi tidak mengerti manhaj salaf, bahkan tidak mengerti al-Qur’an dan as-Sunnah, dan justru menyambut baik buku-buku yang menyesatkan tersebut?!

Duhai kiranya… Adakah orang-orang yang tampil membantah buku-buku sesat tersebut dengan misi membentengi agama dan akidah para pemuda dari kesesatan buku-buku itu?!

Duhai kiranya… Adakah orang-orang yang menjaga agama ini dari bidikan panah tokoh-tokoh sesat itu dan tuduhan-tuduhan keji mereka yang sangat keterlaluan?! (Manhaj Ahlis Sunnah wal Jama’ah fi Naqdir Rijal wal Kutub wath Thawaif hlm. 132)

  1. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata ketika menjelaskan hadits yang diriwayatkan Abdul Malik bin Harun,

“Akan tetapi, hadits ini juga diriwayatkan oleh para ulama yang menulis tentang amalan-amalan pagi dan petang, seperti Ibnu Sunni dan Abu Nu’aim. Di dalam buku-buku semacam ini banyak sekali hadits-hadits palsu yang tidak boleh dijadikan sandaran dalam syariat, menurut kesepakatan ulama.

Hadits ini juga diriwayatkan Abusy Syaikh al-Ashbahani di dalam kitabnya Fadhail A’mal, dan di dalam kitab ini juga terdapat hadits-hadits dusta dan palsu yang cukup banyak.” (al-Qa’idah al-Jalilah fit Tawassul wal Wasilah hlm. 164—165)

Masih banyak lagi buku-buku yang diperingatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam tulisan dan fatwa beliau. Hal itu semata-mata untuk membentengi umat dari berbagai kesesatan.

  1. Para imam Islam sepanjang masa juga senantiasa berpegang teguh dengan prinsip ini. Bahkan, mereka tak segan-segan menulis buku bantahan terhadap buku-buku sesat itu. Lihatlah apa yang ditulis al-Imam Ahmad bin Hanbal dalam kitabnya ar-Raddu ‘Alal Jahmiyyati waz Zanadiqah.

Lihatlah bantahan al-Imam ad-Darimi terhadap Bisyr al-Marisi, juga bantahan Ibnu Abdil Hadi -salah seorang murid Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah- terhadap as-Subki.

Adapun bantahan-bantahan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah terhadap ahlul bid’ah tidak terhitung banyaknya. Beliau benar-benar seperti pedang terhunus bagi mereka. Lihatlah kitabnya ar-Raddu ‘alal Akhna’i dan ar-Raddu ‘alal Bakri, bantahannya terhadap Imamul Haramain dalam kitab Dar’u Ta’arudhil ‘Aqli wan Naqli, bantahan terhadap ar-Razi dalam kitab Talbisul Jahmiyyah, dan bantahannya terhadap al-Ghazali dan Ibnul Muthahhar dalam kitab Minhajus Sunnah.

Demikianlah secara berkesinambungan hingga zaman kita ini, para ulama as-Sunnah selalu mengangkat tinggi bendera as-Sunnah dan membelanya, memerangi bid’ah, memperingatkan (umat) dari ahlul bid’ah dan buku-buku mereka.

Segala puji hanya milik Allah yang telah menjadikan di zaman kita ini orang-orang yang menjaga kemurnian agama dan membela akidah salafiyah sehingga tidak tercemari oleh berbagai kotoran.

Perhatikanlah kitab-kitab asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah, penuh dengan bantahan-bantahan terhadap ahlul bid’ah. Perhatikanlah bantahan beliau terhadap al-Kautsari dan muridnya, Abdul Fattah Abu Ghuddah, serta ash-Shabuni dalam hal sifat-sifat Allah! Anda akan mendapatinya dengan jelas di dalam kitab Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah.

Al-Mu’allimi juga membantah al-Kautsari dalam kitab at-Tankil.

Perhatikan pula bantahan-bantahan asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah terhadap ahlul bid’ah, seperti bantahannya terhadap Abu Ghuddah di dalam mukadimah kitab al-’Aqidah ath-Thahawiyah dan kitab beliau Kasyfun Niqab, juga bantahan beliau terhadap Muhammad al-Buthi. Kaset-kaset beliau pun penuh dengan diskusi tentang ahlul bid’ah serta membongkar tipu daya dan kerancuan-kerancuan mereka.

Demikian pula bantahan-bantahan asy-Syaikh Shalih al-Fauzan terhadap ahlul bid’ah, seperti bantahan beliau terhadap al-Buthi dalam kitab as-Salafiyyah dan bantahan beliau terhadap ash-Shabuni.

Bantahan-bantahan asy-Syaikh al-‘Allamah Hamud at-Tuwaijiri rahimahullah terhadap ahlul bid’ah pun sangat banyak. Di antaranya kitab ar-Raddul Qawi ‘Alal Mujrimil Atsim, al-Qaulul Baligh Fit Tahdzir Min Jama’atit Tabligh, dan al-Ihtijaj Bil Atsar ‘Ala Man Ankara al-Mahdi al-Muntazhar.

Lihatlah apa yang telah ditulis oleh asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali dalam menyingkap akidah Sayyid Quthub dan bantahan terhadap orang-orang yang berlebihan terhadapnya dalam empat kitab yang sangat berharga: (1) Adhwa Islamiyah ‘Ala ‘Aqidati Sayyid Quthub wa Fikrihi, (2) Matha’in Sayyid Quthub Fi Ash-habi Rasulillah shallallahu ‘alaihi wa sallam, (3) al-‘Awashim Mimma Fi Kutubi Sayyid Quthub Minal Qawashim, dan (4) al-Haddul Fashil Bainal Haqqi wal Bathil.

Masih banyak lagi ulama selain mereka yang membongkar buku-buku sesat, siang dan malam, baik secara sembunyi dan terang-terangan, dengan mengharap pahala dari Allah azza wa jalla. (Untuk lebih rincinya, silakan lihat Majalah Asy Syariah, edisi “al-Jarh wat Ta’dil”)

Prinsip Al-Muwazanah, Sebuah Metode Sesat yang Mengatasnamakan Ahlus Sunnah

Belakangan ini marak al-muwazanah, sebuah metode dalam mengkritisi buku-buku dan yang lainnya. Metode ini mengharuskan penyebutan kebaikan di samping penyebutan kesalahan/kesesatannya. Metode ini diusung para tokoh Sururiyah semacam Salman al-’Audah dalam bukunya Akhlaqud Da’iyah dan Ahmad bin Abdurrahman ash-Shuwayyan dalam bukunya Manhaj Ahlis Sunnah Wal Jama’ah fi Taqwiimir Rijali wal Muallafat, serta para pengekornya.

Dengan metode bid’ah ini, terlindungilah para penyeru kesesatan dan buku-buku sesat mereka. Umat pun bingung, karena tidak adanya ketegasan dalam menyikapi para penyeru kesesatan dan buku-buku sesat mereka itu.

Berikut ini fatwa para ulama tentang prinsip sesat al-muwazanah:

  1. Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz

Beliau ditanya tentang manhaj Ahlus Sunnah dalam mengkritik ahlul bid’ah dan buku-buku mereka. Apakah harus menyebutkan kebaikan dan kejelekan-kejelekan mereka sekaligus, ataukah hanya menyebutkan kejelekannya saja?

Beliau menjawab, “Yang dikenal dari perkataan ulama adalah mengkritik kejelekan (kesesatan) dalam rangka peringatan (tahdzir); menjelaskan kesalahan-kesalahan yang ada pada mereka (ahlul bid’ah dan buku-buku mereka,-pen.) dalam rangka memperingatkan (umat,-pen.) dari kesalahan-kesalahan tersebut. Adapun hal-hal yang baik, semuanya tahu dan bisa diterima. Namun, tujuannya adalah memperingatkan (umat,-pen.) dari kesesatan-kesesatan mereka. Jahmiyah, Mu’tazilah, Syi’ah Rafidhah, dan sejenisnya.

Adapun jika mendesak untuk disebutkan sisi kebenaran yang ada pada mereka, boleh disebutkan. Demikian juga bila ada yang bertanya, ‘Apa sisi kebenaran yang ada pada mereka? Sisi mana saja yang sama dengan Ahlus Sunnah?’ Apabila yang ditanya mengetahui hal tersebut, boleh dia menyebutkannya. Namun, tujuan utama dan terpenting dari ini semua adalah menjelaskan kebatilan yang ada pada mereka agar si penanya berhati-hati dari kebatilan tersebut dan tidak condong kepada mereka.” (Manhaj Ahlis Sunnah wal Jama’ah fi Naqdir Rijal wal Kutub wath Thawa`if, hlm. 8)

  1. Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz juga ditanya, “Ada orang-orang yang mewajibkan al-muwazanah. (Menurutnya) apabila engkau mengkritik dan memperingatkan umat dari seorang ahlul bid’ah karena kebid’ahannya, engkau harus menyebutkan kebaikan-kebaikannya pula, agar tidak menzalimi-nya!”

Beliau menjawab, “Tidak. Tidak harus demikian, tidak harus demikian! Sebab, jika engkau membaca buku-buku Ahlus Sunnah, niscaya engkau akan mendapati bahwa tujuan mereka itu adalah dalam rangka peringatan (tahdzir).

Bacalah buku-buku al-Imam al-Bukhari: Khalqu Af’alil ‘Ibad, “Kitabul Adab” dari Shahih al-Bukhari; as-Sunnah karya Abdullah bin al-Imam Ahmad, Kitab at-Tauhid karya Ibnu Khuzaimah, bantahan ‘Utsman bin Sa’id Ad-Darimi terhadap ahlil bid’ah, dan sebagainya.

Mereka menyebutkan (kebatilan-kebatilan ahlul bid’ah) dalam rangka memperingatkan umat darinya. Tujuannya tidaklah untuk menyebutkan kebaikan-kebaikan mereka, tetapi memperingatkan (umat) dari kebatilan mereka.

Adapun kebaikan-kebaikan mereka tidaklah bermanfaat bagi orang yang telah kafir. Jika bid’ahnya dari jenis bid’ah yang menyebabkan kekafiran, sirnalah kebaikannya. Jika bid’ahnya tidak menyebabkan kekafiran, dia berada pada kondisi yang membahayakan.

Jadi tujuan dari itu semua adalah menerangkan kesesatan dan kesalahan yang umat wajib diperingatkan darinya.” (Manhaj Ahlis Sunnah wal Jama’ah fi Naqdir Rijal wal Kutub wath Thawaif hlm. 9)

  1. Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz al-Muhammad as-Salman berkata,

“Ketahuilah, semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberikan taufik kepada kita dan seluruh kaum muslimin, belum pernah ada sejarahnya seorang pun dari kalangan Salafus Shalih baik dari kalangan sahabat ataupun tabi’in yang mengagungkan ahlul bid’ah, mencintai mereka, dan mengajak orang untuk mencintai mereka.

Sebab, ahlul bid’ah adalah orang-orang yang berpenyakit hati. Siapa saja yang bergaul atau berhubungan dengan mereka, dikhawatirkan terjangkiti penyakit yang membahayakan itu. Seseorang yang berpenyakit dapat menularkan penyakitnya pada orang sehat, tetapi tidak sebaliknya. Maka dari itu, hati-hatilah, dan hati-hatilah dari seluruh ahlul bid’ah….” (Manhaj Ahlis Sunnah Wal Jama’ah fi Naqdir Rijal wal Kutub wath Thawaif hlm. 9—10)

  1. Ketika ditanya tentang prinsip al-muwazanah, asy-Syaikh Shalih al-Fauzan menjawab,

“Jika engkau sebutkan kebaikan-kebaikan mereka, berarti engkau telah mengajak orang untuk mengikuti mereka. Jangan! Jangan engkau sebutkan (kebaikan-kebaikan mereka)! Sebutkanlah kesalahan/kesesatan yang ada pada mereka saja. Sebab, sesungguhnya engkau tidaklah berkewajiban untuk mempelajari keadaan mereka dan meluruskannya… Tugasmu adalah menerangkan kesesatan yang ada pada mereka agar mereka bertobat darinya dan agar orang-orang berhati-hati (dari kesesatan tersebut).

Adapun apabila engkau sebutkan kebaikan-kebaikan mereka, niscaya mereka akan berterima kasih padamu seraya mengatakan, ‘Semoga Allah membalasimu dengan kebaikan, dan inilah yang kami inginkan…’.” (Manhaj Ahlis Sunnah Wal Jama’ah fi Naqdir Rijal wal Kutub wath Thawaif hlm. 10)

  1. Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali benar-benar telah membantah prinsip sesat al-muwazanah ini hingga akar-akarnya dalam kitab beliau Manhaj Ahlis Sunnah Wal Jama’ah fi Naqdir Rijal wal Kutub wat Thawaif.

Penutup

Dari bahasan di atas dapatlah diambil kesimpulan bahwasanya:

  1. Buku-buku sesat dengan beragam jenisnya harus selalu diwaspadai, karena merupakan bahaya laten yang dapat merusak agama umat dan memalingkan mereka dari kebenaran.
  2. Kewajiban untuk membentengi diri dari segala jenis kesesatan, termasuk kesesatan yang terkandung dalam buku-buku sesat yang beredar di tengah-tengah umat.
  3. Di antara bentuk pembentengan diri dari buku-buku sesat adalah tidak membacanya, tidak membelinya, tidak meminjamnya; ataupun dengan memusnahkannya.
  4. Para ulama adalah pewaris para nabi. Di antara tugas mereka adalah membentengi umat dari buku-buku sesat, dengan cara memperingatkannya ataupun menulis secara khusus bantahan terhadap buku-buku sesat tersebut.
  5. Prinsip al-muwazanah di dalam menyikapi tokoh, buku, ataupun kelompok merupakan prinsip bid’ah. Dengan prinsip ini, ahlul bid’ah dan kesesatan mereka menjadi terlindungi. Akibatnya umat menjadi bingung dalam menyikapi para penyeru kebatilan dan karya tulis mereka.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Ditulis oleh Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi, Lc

 

Surat Pembaca Edisi 21

Ukuran Diperbesar

Assalamu’alaikum. Bagaimana kalau ukuran majalah Asy Syariah diperbesar seperti majalah An-Nashihah, biar terkesan lebih ‘berani’ (tidak cupet) dan lebih bersaing jika dipajang di toko.

Abbas–Manado 085240xxxxxx

 Jawaban Redaksi

Jazakumullah khairan atas usulan antum. Sementara ini, Redaksi lebih cenderung untuk mempertahankan ukuran majalah yang ada. Banyak perubahan teknis yang harus dipertimbangkan bila hendak berubah ukuran.

——————————————————————————————————————————————-

Rubrik Dibukukan

Tolong dibukukan Rubrik “Mengayuh Biduk” dan “Permata Hati”. Insya Allah akan lebih bermanfaat. Barakallahu fikum wa jazakumullahu khairan katsiran. 028579xxxxx

Jawaban Redaksi

Memang ada rencana, insya Allah, untuk membukukan sebagian isi majalah, utamanya dari rubrik yang sama. Jazakumullahu khairan katsiran.

——————————————————————————————————————————————

Tauhid Asma & Sifat

Mohon dibahas masalah tauhid asma & sifat sebagai topik utama. Menurut saya, ini adalah salah satu topik penting.

Mufid–Purwokerto 085227xxxxxx

Jawaban Redaksi

Jazakumullahu khairan katsiran. Insya Allah kami pertimbangkan.

——————————————————————————————————————————————-

Pembahasan Istilah Hadits

Mohon dibahas mengenai apa itu hadits mauquf, mutawatir, dan sebagainya. Jazakumullah khairan. 081804xxxxxx

Jawaban Redaksi

Beberapa istilah hadits pernah kita bahas secara ringkas dalam Majalah Asy Syariah edisi 05 Vol. 1 dalam Rubrik “Khazanah”. Silakan dilihat kembali.

——————————————————————————————————————————————-

Mengapa Bantahan Terus?

Mengapa tema utama majalah Asy Syariah berisi bantahan terus? Abdullah

Jawaban Redaksi

Ini termasuk kewajiban amar ma’ruf nahi mungkar yang dianjurkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Di antara anjuran beliau adalah hadits Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu yang insya Allah telah kita ketahui, yang artinya, “Siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya. Apabila tidak mampu, maka dengan lisannya. Apabila tidak mampu, maka dengan hatinya; dan itu adalah selemah-lemah iman.”

Di samping itu, ini adalah salah satu prinsip Islam. Sebagian ulama berkata kepada al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah, “Berat bagi saya untuk mengatakan bahwa si Fulan demikian, si Anu demikian.”

Al-Imam Ahmad rahimahullah menjawab, “Apabila engkau diam, saya juga diam (tidak menerangkan keadaannya), kapan orang yang jahil (tidak berilmu/tidak tahu) akan tahu mana hadits yang sahih dan mana yang cacat?”

Kenyataannya, majalah-majalah yang ada sekarang jarang sekali yang melakukan kewajiban ini. Karena itu, kami merasa berkewajiban untuk mengamalkan perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tersebut.

Buku, Racun Atau Ilmu?

السلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Belakangan, kutipan tulisan “ilmuwan” Barat semakin banyak dijumpai dalam artikel atau buku-buku agama yang ditulis oleh mereka yang pernah mengenyam bangku perguruan tinggi ‘Islam’ atau yang terlanjur disebut ‘cendekiawan’ muslim negeri ini.

Fenomena yang terus menggejala dalam beberapa tahun terakhir ini seolah menyiratkan betapa sebagian umat Islam masih minder dengan perbendaharaan ilmu Islam. Khazanah Islam dianggap tidak memadai hingga dirasa perlu menggunakan ‘dalil-dalil’ Barat yang konon lebih dinamis dan lebih peka dengan perkembangan jaman. Atau kemungkinan kedua, mereka justru kurang mengerti Islam karena sebagian besar masa pendidikannya dicekoki oleh pemikiran-pemikiran di luar Islam yang sekuler.

Jadi, ‘bisa dimaklumi’ jika mereka kemudian sangat ‘berani’ mengeluarkan pemikiran kontroversial meski pengetahuan fiqih Islamnya dipertanyakan. Mereka juga berani mengotak-atik redaksi ayat atau hadits meski ilmu bahasa arab mereka sangat dangkal.

Itu tadi adalah ekstrem kiri. Sebaliknya, bertebaran juga buku-buku yang dipenuhi ayat al-Qur’an atau hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun juga menyesatkan. Barangkali akan muncul pertanyaan, bagaimana mungkin menyesatkan padahal di dalamnya termuat ayat al-Qur’an dan hadits-hadits?

Inilah yang masih banyak disalahpahami masyarakat. Mereka umumnya tertipu dengan banyaknya hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang memenuhi sebuah buku. Padahal jamak diketahui, tak semua hadits itu sahih. Banyak hadits lemah, hadits palsu, bahkan yang tidak ada asalnya sama sekali bertebaran “menghiasi” buku-buku di sekitar kita.

Kita juga tahu, betapa banyak kelompok di dalam dan luar (yang mengatasnamakan) Islam. Dan buku, logikanya akan menjadi corong pembenaran masing-masing kelompok. Kalau sudah begini, menjadi ‘wajar’ jika ayat atau hadits-hadits yang dimuat adalah ayat dan hadits ‘pilihan’, artinya ayat dan hadits-hadits yang mendukung pemahaman kelompok tersebut.

Caranya, ayat atau hadits—sahih ataupun tidak—dipotong-potong, ditempatkan tidak sebagaimana mestinya (dengan mengabaikan peristiwa yang melatarbelakangi turunnya ayat/asbabun nuzul dan sebab terjadinya hadits/asbabul wurud, juga digabungkan dengan hadits-hadits yang sejatinya tidak berhubungan dengan konteks masalah.

Selain itu, ayat atau hadits bakal dipahami secara ngawur dengan alasan kontekstual, disesuaikan dengan perkembangan jaman, demi mengakomodasi problem kekinian, atau cara-cara lain yang menyimpang dari pemahaman sahabat radhiyallahu ‘anhum, murid-murid terdekat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang paling mengerti apa yang dimaukan oleh beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan ayat dan hadits tersebut.

Atau yang paling ekstrem, adalah menciptakan hadits-hadits palsu untuk mengokohkan ide-ide kesesatan mereka. Padahal jika hadits palsu itu sudah menyentuh masalah prinsip, yakni akidah, tak ayal kesesatan yang dihasilkan pun berlipat-lipat.

Karena itu, jika masih ada yang berupaya menolerir buku-buku itu dengan alasan toleransi, “kebenaran bukan monopoli satu pihak”, apalagi cuma alasan “kebebasan berekspresi” (meminjam istilah para pembela pornografi dan pornoaksi), keimanannya patut dipertanyakan. Pasalnya, tegas-tegas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengecam orang-orang yang berdusta atas nama diri beliau.

Maka dari itu, jika kebenaran telah nyata di hadapan kita, tidak ada alasan lagi untuk membela kesalahan. Apalagi jika hanya berdalih bahwa yang menulis adalah tokoh idolanya atau orang-orang yang seide dengan kelompok atau partainya, kemudian justru membelanya mati-matian.

Galibnya, parameter buku yang baik bukanlah karena best seller, atau asal “sejuk” atau “bisa diterima semua kalangan” dan sejenisnya. Parameternya adalah al-Qur’an dan as-Sunnah sesuai dengan pemahaman sahabat radhiyallahu ‘anhum.

Pembaca, bahasan tentang ziarah kubur, gambar makhluk bernyawa, dan alat kontrasepsi adalah beberapa tema menarik yang bisa Anda kaji di lembar Sakinah. Dengan tiada berpanjang kata lagi, kami persilakan Anda menyimak sajian kami!

والسلام عليكم ورحمة الله و بركاته