Kisah Dzulqarnain

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Harits Abrar Thalib)

Dzul Qarnain mendapat dua anugerah Allah yang tidak sembarang orang mendapatkannya, yaitu mendapat petunjuk untuk menempuh jalan-jalan keberhasilan sekaligus ia diberi kemampuan untuk menempuhnya. Maka jadilah ia seorang raja dengan kekuatan besar, mampu menaklukkan banyak wilayah, bahkan sampai ke belahan dunia yang demikian jauh.

Dzul Qarnain adalah seorang raja yang shalih. Allah I menganugerahinya jalan yang menumbuhkan kekuatan kerajaannya dan kemenangan-kemenangan yang belum pernah diberikan kepada siapapun selainnya. Allah I menyebutkan sejarah hidupnya yang menarik, kasih sayangnya, kekuatan dan luasnya kerajaan yang dipimpinnya hingga ke belahan bumi timur dan barat. Karena itulah Allah I mengatakan:

“Dan mereka bertanya kepadamu tentang Dzul Qarnain. Katakanlah: ‘Aku akan bacakan sejarahnya kepada kalian’.” (Al-Kahfi: 83)
Maksudnya, aku akan membacakan sebagian sejarah hidupnya. Telah kita ketahui bahwa semua yang Allah I kisahkan di dalam Kitab-Nya adalah berupa sejarah atau kisah yang paling baik dan paling bermanfaat bagi hamba-Nya. Allah I terangkan dalam ayat-ayat ini bahwa Dia telah menganugerahi Dzul Qarnain jalan kemudahan untuk mencapai segala sesuatu, yang dengan sebab atau jalan itu dia mendapatkan kekuatan kerajaannya, ilmu ketatanegaraan, dan pengaturan pasukan. Di mana dengan semua itu pula dia menundukkan berbagai bangsa.
Dianugerahkan pula kepadanya pasukan dalam jumlah besar serta semua sarana atau prasarana yang dibutuhkan. Namun demikian, dia tetap menjalani sebab-sebab yang ditunjukkan kepadanya oleh Allah I. Tidak setiap orang dianugerahi sebab yang berguna bagi dirinya. Dan tidak semua yang dianugerahi sebab ini dapat menjalaninya.
Dzul Qarnain memperoleh keduanya dengan sempurna: dia mendapatkan jalan atau sebab dan juga mampu menempuhnya. Bersama pasukannya dia menaklukkan daerah Afrika hingga pedalamannya, sampai mencapai bagian paling barat daerah pinggiran sebuah samudera.
Allah I berfirman:

“Dia melihat matahari terbenam di laut yang berlumpur hitam.” (Al-Kahfi: 86)
Dia melihat dengan matanya sendiri seakan-akan matahari itu terbenam ke dalam laut yang berwarna hitam. Maksudnya, dia telah menjelajahi hingga batas terjauh dari wilayah Afrika. Di sini, dia menemukan suatu bangsa yang penduduknya ada yang muslim dan ada yang kafir, ada yang berbudi dan ada yang jahat, berdasarkan firman Allah I:

“Kami berkata: ‘Hai Dzul Qarnain, kamu boleh menyiksa atau boleh berbuat baik kepada mereka’.” (Al-Kahfi: 86)
Maksud ayat ini, boleh jadi yang berbicara dengannya adalah salah seorang dari Nabi-nabi Allah I. Atau mungkin pula salah seorang ulama di sana. Atau mungkin pula pengertiannya adalah bahwa karena kekuasaannya, dia diberi pilihan. Jika bukan demikian, sebagaimana telah kita ketahui bahwa syariat tidaklah menganggap sama perbuatan baik dengan perbuatan yang buruk. Allah I berfirman mengisahkan ucapannya:

“Adapun orang yang aniaya, maka kami kelak akan mengadzabnya, kemudian dia dikembalikan kepada Rabbnya lalu Dia akan mengazabnya dengan adzab yang tiada taranya. Adapun orang-orang yang beriman dan beramal shalih, maka baginya pahala terbaik sebagai balasan dan akan kami titahkan kepadanya hal-hal yang mudah dari perintah-perintah kami.” (Al-Kahfi: 87-88)
Ini adalah bukti keadilannya, sekaligus menunjukkan bahwa dia adalah seorang raja yang shalih. Allah I berfirman:

“Kemudian dia menempuh suatu jalan.” (Al-Kahfi: 89)
Yakni, kemudian dia menjalani suatu sebab yang telah diberikan kepadanya, setelah penduduk daerah barat yang ditemuinya itu tunduk. Sampailah dia di suatu daerah di tepi lautan teduh, yaitu sekitar wilayah Cina. Di sinilah batas akhir sampainya para pembebas berbagai wilayah. Allah I mengisahkan:

“Dia mendapati matahari itu menyinari suatu bangsa yang Kami tidak menjadikan bagi mereka sesuatu yang melindunginya dari cahaya matahari itu.” (Al-Kahfi: 90)
Yakni, mereka tidak mempunyai sesuatu yang bisa melindungi mereka dari sengatan sinar matahari, baik itu pakaian ataupun rumah tempat tinggal dan menetap mereka. Artinya, dia mendapati bangsa yang ada di pedalaman daerah sebelah timur ini demikian terpencil dan terasing seperti binatang-binatang liar yang berlindung ke gua-gua, jauh dari hubungan dengan manusia lain. Mereka pada waktu itu sebagaimana yang Allah terangkan keadaannya.
Maksud dikisahkannya hal ini adalah untuk menunjukkan bahwa dia telah tiba di daerah yang belum pernah dijangkau oleh penjelajah manapun. Kemudian dia menempuh jalan lain lagi, yang memungkinkan dia untuk menjelajahi negeri-negeri dan menundukkan hamba-hamba Allah yang lain, dia mengarah ke utara:

“Hingga apabila dia telah sampai di antara dua buah gunung” (Al-Kahfi: 93), yaitu pertengahan antara dua buah gunung yang telah ada sejak Allah menciptakan bumi ini. Keduanya merupakan mata rantai dari pegunungan besar yang tinggi sambung menyambung di tempat yang luas itu. Yaitu suatu dataran tinggi sampai laut sebelah timur dan barat di daerah Turki. Demikianlah yang disepakati para ahli tafsir dan sejarawan Islam. Namun mereka memperselisihkan apakah rantai pegu-nungan itu termasuk gunung Kaukasus atau yang lain di daerah Azerbaijan. Atau gunung yang lain yang bersambung dengan tembok besar di Cina di sekitar wilayah Mongolia, dan ini yang terlihat secara lahiriah.
Bagaimanapun juga berdasar keterangan ini, di daerah yang diapit dua gunung itu, Dzul Qarnain menemukan suatu bangsa yang hampir tidak mengerti suatu bahasa pun, karena asingnya bahasa mereka dan susahnya mereka memahami bahasa bangsa lain. Allah I menyebutkan:

“Mereka berkata: `Hai Dzul Qarnain, sesungguhnya Ya`juj dan Ma`juj itu orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi’.” (Al-Kahfi: 94)
Ya`juj dan Ma`juj adalah sebuah bangsa besar yang berasal dari keturunan Yafuts bin Nuh, termasuk Turki dan yang lainnya. Sebagaimana disebutkan sifat dan keadaan mereka dengan jelas. Allah I menyebutkan pula:

“Maka dapatkah kami memberikan suatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka? Dzul Qarnain berkata: “Apa yang telah dikuasakan Rabbku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik…” (Al-Kahfi: 94-95)
Yakni dalam hal sarana, kekuatan dan kemampuan. Oleh karena itu:

“…maka tolonglah aku dengan kekuatan (manusia dan alat).” (Al-Kahfi: 95)
Maksudnya, bahwa bangunan besar ini demikian membutuhkan perhatian dan bantuan berupa kekuatan tenaga,

“Agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka.” (Al-Kahfi: 95), dan dia tidak mengatakan sadda. Karena yang membangun adalah kedua gunung itu, sedangkan dataran tinggi ada di antara kedua pembatas alami itu, yaitu di antara sambungan pegunungan itu. Setelah itu dia mulai menerangkan kepada mereka tentang cara atau alat-alat yang digunakannya. Allah menyebutkan penjelasan Dzul Qarnain ini dalam ayat:

“Berilah aku potongan-potongan besi.” (Al-Kahfi: 96)
Maksudnya, kumpulkanlah untukku bebagai potongan besi, besar kecil, dan jangan sisakan, dan tumpuklah di antara kedua gunung itu. Merekapun mengerjakan-nya. Akhirnya potongan-potongan besi itu terkumpul hampir sama tingginya dengan gunung-gunung tersebut. Demikianlah yang disebutkan dalam ayat:

“Hingga apabila besi itu telah sama rata dengan puncak kedua gunung itu. Dzul Qarnain berkata: “Tiuplah (api itu).” Hingga apabila besi itu sudah menjadi (seperti) api, diapun berkata: “Berilah aku tembaga (mendidih) agar aku tuangkan ke atas besi panas itu.” (Al-Kahfi: 96)
Dalam ayat ini dikisahkan Dzul Qarnain memerintahkan menggunakan tembaga yang dicairkan melalui pemba-karan, lalu dituangkan di antara potongan besi, hingga merekatkan satu dengan lainnya dan bersambung dengan kedua gunung itu. Dengan demikian tercapailah tujuan menahan Ya`juj dan Ma`juj. Oleh sebab itu dikatakan:

“Maka mereka tidak bisa mendakinya.” (Al-Kahfi: 97)
Yakni, mereka tidak sanggup untuk memanjat dinding tersebut. Dan firman Allah berikutnya, menyebutkan pula keterangan Dzul Qarnain:

“Dan mereka tidak bisa pula melubanginya. Dzul Qarnain berkata: `Ini adalah rahmat dari Rabbku’.” (Al-Kahfi: 97-98)
Maksudnya, Rabbku yang telah memberi taufik kepadaku mengerjakan pekerjaan besar dengan hasil yang bagus ini. Dia merahmati kalian dengan melindungi kamu dari kemudharatan yang ditimbulkan Ya`juj dan Ma`juj dengan semua sebab yang kalian sendiri tidak memiliki kemampuan untuk mewujudkannya.

“Maka apabila sudah datang janji Rabbku, Dia akan menjadikannya hancur luluh.” (Al-Kahfi: 98)
Artinya, pekerjaan besar ini, yang menjadi pembatas antara kalian dengan Ya`juj dan Ma`juj waktunya adalah sementara. Maka jika sudah tiba masanya, Allah I takdirkan berbagai jalan kekuatan, kesanggupan dan berbagai peralatan atau penemuan baru yang memungkinkan Ya`juj dan Ma`juj menyerbu wilayah bangsa-bangsa di sekitarnya. Bahkan mereka pun akan menyebar ke belahan bumi ini, ke timur dan barat. Sebagaimana Allah I terangkan pula dalam ayat lain:

“Hingga apabila dibukakan (tembok) Ya`juj dan Ma`juj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi.” (Al-Anbiya’: 96)
Dari arah manapun, tanpa ada yang dapat menahan mereka. Kata-kata (dari seluruh tempat yang tinggi) meliputi berbagai tempat yang ada, yang datar ataupun yang mendaki, yang rendah atau tinggi. Allah menyebutkan demikian, yakni dari tempat yang tinggi, dengan pengertian bahwa tentunya dari yang datar dan yang rendah sekalipun mereka pun akan lalui.
Disebutkan pula di dalam hadits-hadits dalam kitab Shahih Al-Bukhari dan Muslim yang mendukung keterangan yang dipaparkan dalam ayat ini, tentang sifat dan keadaan mereka. Dan sebagian ahli sejarah yang terdahulu juga menyebutkan keadaan mereka namun dengan berbagai pendapat (atsar) yang tidak ada sandarannya sama sekali (tidak jelas sanadnya), dan hanya menimbulkan polemik dan kebingungan sehingga menghalangi mereka untuk berdalil dengan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits Rasulullah n yang shahih serta bagaimana penerapan atau pengamalannya dalam kenyataan sehari-hari. Oleh sebab itu, hendaklah kita senantiasa berpegang dengan apa yang ditunjukkan oleh Al-Qur’an dan As-Sunnah serta meninggalkan apapun selain keduanya, karena hanya di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah inilah terdapat petunjuk, bimbingan, dan cahaya.
(Diambil dari Taisir Al-Lathifil Mannan karya Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di)

Mandi Janabah (2)

Melanjutkan pembahasan tentang mandi janabah edisi lalu, simak penjelasan berikut!

Seorang Wanita Tidak Harus Melepas Jalinan atau Kepangan Rambutnya

Tidak ada perbedaan cara mandi janabah antara laki-laki dan wanita1. Namun dalam hal ini, ada permasalahan yang berkaitan dengan rambut wanita. Bila si wanita sebelum mandi janabah menggelung atau menjalin rambutnya, apakah ia wajib melepas kepangan atau jalinannya ketika hendak mandi? Tentang ini, Ummul Mukminin Ummu Salamah radhiallahu ‘anha pernah meminta fatwa kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata:

“Ya Rasulullah, aku adalah wanita yang sangat kuat kepangan/jalinan rambutku, apakah aku harus melepaskannya saat mandi janabah?” Beliau menjawab: “Tidak perlu, namun cukup bagimu untuk menuangkan air tiga tuangan ke atas kepalamu, kemudian engkau curahkan air ke tubuhmu, maka engkau suci.”2

‘Aisyah radhiallahu ‘anha juga pernah mengingkari Abdullah bin ‘Amr radhiallahu ‘anhuma ketika sampai berita kepadanya bahwa Abdullah memerintahkan para wanita untuk melepaskan kepangan atau jalinan rambut mereka ketika mandi. ‘Aisyah radhiallahu ‘anha berkata: “Alangkah mengherankan Ibnu ‘Amr itu. Ia memerintahkan para wanita apabila mereka mandi agar melepaskan kepangan atau jalinan rambut mereka. Mengapa ia tidak perintahkan saja mereka agar mencukur rambut-rambut mereka? Sungguh dulu aku dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mandi dari satu bejana, ketika mandi itu aku tidak menambah dari sekedar menuangkan ke atas kepalaku tiga tuangan. (HR. Muslim no. 331)

Al-Imam Ahmad rahimahullah pernah ditanya, apakah wanita yang mandi janabah harus melepaskan jalinan atau kepangan rambutnya? Beliau menjawab, tidak wajib dengan dalil hadits Ummu Salamah radhiallahu ‘anha. (Al-Mughni, kitab Ath-Thaharah, masalah Wa Tanqudhul Mar`ah Sya’raha li Ghusliha minal Haidh wa Laisa ‘alaiha Naqdhuhu minal Janabah Idza Arwat Ushulaha)

Apakah Wajib Menggosok Anggota Tubuh ketika Mandi?

Menggosok anggota tubuh saat mandi diperselisihkan kewajibannya oleh ulama3. Dinukilkan wajibnya menggosok ini dari Al-Imam Malik4 dan mayoritas pengikutnya, Al-Muzani dari pengikut/murid Al-Imam Asy-Syafi’i.5 Mereka berdalil dengan hadits ‘Aisyah ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepadanya untuk mandi janabah. Kemudian beliau berkata di akhir perintah beliau tersebut:

“Wahai ‘Aisyah, basuh bagian kepalamu yang tersisa, lalu gosoklah kulitmu, dan ratakanlah.”
Mereka juga berdalilkan dengan hadits Abu Hurairah  radhiallahu ‘anhu:

“Sesungguhnya di bawah setiap rambut itu ada janabah, maka basuhlah rambut dan bersihkanlah kulit.”

Juga hadits yang berisi perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada wanita yang mandi haid untuk menggosok kepalanya dengan gosokan yang kuat, dengan membawa hadits ini kepada permasalahan menggosok tubuh saat mandi janabah.

Sementara pendapat kedua yang tidak mewajibkan penggosokan tubuh dipegangi oleh mayoritas ulama. Dan pendapat ini yang penulis kuatkan, wallahu ta’ala a’lamu bishshawab. Pendapat ini didasari dalil hadits Ummu Salamah radhiallahu ‘anha tentang tidak dibukanya kepangan rambut, di mana beliau menyampaikan bahwa cukup untuk dituangkan air saja sebanyak tiga kali tuangan pada waktu mandi janabah.

Dan hadits ini merupakan dalil yang kuat dalam permasalahan ini.
Sementara dalil yang dibawakan oleh pihak yang mewajibkan, yakni hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anha adalah hadits mursal, di mana pada sanadnya ada Abdullah bin ‘Ubaid bin ‘Umair. Dia tidak bertemu ‘Aisyah radhiallahu ‘anha. Sedangkan hadits Abu Hurairah  radhiallahu ‘anhu pada sanadnya ada Al-Harits bin Wajih, dan dia ini dha’if. Adapun hadits tentang menggosok kepala bagi wanita yang mandi haid hanyalah berlaku untuk mandi haid saja. Dan mengkiaskan mandi janabah terhadap pembersihan najis adalah kias yang amat jauh, sebagaimana pengkiasan tersebut juga menjadi hujjah bagi mereka yang mewajibkannya.

Ibnu Hazm rahimahullah mengatakan: “Tidak wajib bagi orang yang mandi (janabah) untuk menggosok anggota tubuhnya. Ini merupakan pendapat Sufyan Ats-Tsauri, Al-Auza’i, Ahmad bin Hanbal, Dawud, Abu Hanifah, dan Asy-Syafi’i.” (Al-Muhalla, 1/276)

Al-Imam Ash-Shan’ani rahimahullah berkata: “Ucapan ‘Aisyah: (kemudian beliau mencurahkan air), maknanya mengucurkan/mengalirkan/mencurahkan. Ini dijadikan dalil atas tidak wajibnya menggosok. Di samping memang istilah (ghusl/mandi) tidaklah masuk di dalamnya menggosok. Karena Maimunah menyatakannya dengan , sedangkan ‘Aisyah menyatakannya dengan , sedangkan maknanya satu. itu tidak masuk di dalamnya penggosokan, maka demikian pula …” (Subulus Salam, 1/141)

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata: “Madzhab kami menyatakan bahwa menggosok anggota badan saat mandi dan wudhu itu sunnah, tidak wajib. Seandainya seseorang menuangkan air ke atas tubuhnya hingga air itu sampai ke tubuhnya walaupun ia tidak menyentuh air dengan kedua tangannya, ia mencelupkan dirinya ke dalam air6 yang banyak, ia berdiri di bawah pancuran, atau di bawah curah hujan, dengan niat mandi janabah hingga air membasahi rambut dan kulitnya, maka hal itu mencukupi wudhu dan mandinya.

Demikian pendapat ulama seluruhnya kecuali Al-Imam Malik dan Al-Muzani. Karena keduanya mensyaratkan sahnya mandi dan wudhu bila disertai menggosok anggota tubuh yang dibasuh. Juga dengan alasan bahwa mandi itu adalah menjalan-kan tangan di atas tubuh sehingga orang yang berdiri di bawah curah hujan tidaklah ia dikatakan mandi. Al-Muzani berkata: “Karena dalam tayammum itu disyaratkan menjalankan tangan7, maka demikian pula dalam mandi dan wudhu.” (Al-Majmu’, 2/214)

Al-Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi rahimahullah berkata: “Tidaklah wajib menjalankan/mengedarkan tangan di atas tubuh ketika wudhu dan mandi, bila memang diyakini atau diduga kuat air sampai ke seluruh tubuh. Ini pendapat Al-Hasan, An-Nakha’i, Asy-Sya’bi, Hammad, Ats-Tsauri, Al-Auza’i, Asy-Syafi’i, Ishaq, dan Ashabur Ra`yi.” (Al-Mughni, kitab Ath-Tharahah, bab La Yajibu `alaihi Imraru Yadihi `ala Jasadihi fil Ghusl)

Hemat dalam Pemakaian Air

Umat sepakat bahwa tidak ada persyaratan kadar banyaknya air untuk wudhu dan mandi.8 Namun disenangi bagi seseorang untuk hemat dan tidak berlebih-lebihan dalam menggunakan air ketika wudhu dan mandinya. Anas bin Malik  radhiallahu ‘anhu berkata:

“Adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu dengan satu mud9 dan mandi dengan satu sha’ sampai lima mud.”10

Boleh Mandi Hanya Sekali Setelah Men-jima’i Beberapa Istri
Anas bin Malik  radhiallahu ‘anhu berkata:

“Adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengelilingi istri-istrinya (menjima’i mereka secara bergantian-pent.) dengan satu kali mandi.”11

Al-Imam Al-Hafizh Ibnul Qaththan menukilkan adanya ijma’ tentang suami yang menjima’i seorang istrinya secara berulang-ulang, atau menjima’i beberapa istrinya, boleh baginya untuk mandi sekali saja. (Al-Iqna’ fi Masa`ilil Ijma’, 1/99)

Namun berwudhu ketika akan mengulangi jima’ merupakan hal yang disenangi untuk diamalkan, sebagaimana telah dijelaskan pada edisi yang lalu. Dan demikian pula halnya mengulang mandi setelah menjima’i masing-masing istri, hal ini lebih baik dan lebih mensucikan. Sebagaimana ditunjukkan hadits Abu Rafi’ shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata:

“Sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam suatu hari mengelilingi istrinya (menggauli mereka satu persatu secara bergantian,-pent.), beliau mandi setelah menjima’i istri yang ini, dan mandi lagi setelah menjima’i istri yang satunya. Aku bertanya: “Wahai Rasulullah, tidakkah engkau mencukupkan dengan satu kali mandi (setelah menjima’i semua istri-pent.)?” Beliau menjawab:

“Yang demikian ini lebih suci, lebih baik, dan lebih mensucikan.”12

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Ditulis oleh: Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al-Atsari

—————————————————————————————————————————–

Catatan Kaki:

1 Al-Hawil Kabir 1/225, Al-Majmu’ 2/215

2 HR. Muslim no. 330

3 Al Iqna’ fi Masa`ilil Ijma’, 1/99

4 Al-Mudawwanah Al-Kubra 1/133, Adz-Dzakhirah 1/309

5 Bidayatul Mujtahid, hal. 41

6 Asy-Sya’bi, An-Nakha’i dan Al-Hasan berpendapat bila seseorang yang junub menyeburkan dirinya ke dalam air maka mencukupinya dari mandi janabah. (Al-Muhalla 1/277)

7 Namun pendapat yang benar, menjalankan tangan bukanlah syarat dalam tayammum (Al-Majmu’ 2/214).

8 Al-Majmu’ 2/219, Al Iqna’ fi Masa`ilil Ijma’, 1/100.

9 1 mud adalah ukuran sepenuh dua telapak tangan laki-laki yang sedang, sementara 1 sha sama dengan 4 mud.

10 HR. Al-Bukhari no. 201 dan Muslim no. 735

11 HR. Muslim no. 706 dan mandinya disini dilakukan ketika selesai jima yang akhir.

12 HR. Abu Dawud no. 219, dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Abu Dawud

 

Peristiwa Bi’r Ma’unah dan Awal Mula Qunut Nazilah

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Harits Abrar Thalib)

Sebuah peristiwa tragis kembali menimpa kaum muslimin. 70 shahabat pilihan yang merupakan para qurra` (ahli membaca Al-Qur`an, yakni ulama) dibantai dengan hanya menyisakan satu orang saja. Peristiwa ini mengguratkan kesedihan yang mendalam pada diri Rasulullah n. Beliaupun mendoakan kejelekan kepada para pelakunya selama satu bulan penuh. Inilah awal mula adanya Qunut, namun tentu saja bukan seperti yang dipahami oleh masyarakat kebanyakan di mana dilakukan terus menerus setiap Shalat Shubuh.

Pada bulan Shafar tahun keempat hijriah, peristiwa ini terjadi. Ketika itu datang Abu Barra` ‘Amir bin Malik menemui Rasulullah n di Madinah, kemudian oleh beliau diajak kepada Islam. Ia tidak menyambutnya, namun juga tidak menun-jukkan sikap penolakan.
Kemudian dia berkata: “Wahai Rasu-lullah, seandainya engkau mengutus shaha-bat-shahabatmu kepada penduduk Najd untuk mengajak mereka kepada Islam, aku berharap mereka akan menyambutnya.”
Beliau n berkata: “Aku meng-khawatirkan perlakuan penduduk Najd atas mereka.” Tapi kata Abu Barra`: “Aku yang menjamin mereka.”
Kemudian Rasulullah n mengutus 70 orang shahabat ahli baca Al-Qur`an, termasuk pemuka kaum muslimin pilihan. Mereka tiba di sebuah tempat bernama Bi`r Ma’unah, sebuah daerah yang terletak antara wilayah Bani ‘Amir dan kampung Bani Sulaim. Setibanya di sana, mereka mengutus Haram bin Milhan, saudara Ummu Sulaim bintu Milhan, membawa surat Rasulullah n kepada ‘Amir bin Thufail. Namun ‘Amir bin Thufail tidak menghiraukan surat itu, bahkan memberi isyarat agar seseorang membunuh Haram. Ketika orang itu menikamkan tombaknya dan Haram melihat darah, dia berkata: “Demi Rabb Ka’bah, aku beruntung.”
Kemudian ‘Amir bin Thufail menghasut orang-orang Bani ‘Amir agar memerangi rombongan shahabat lainnya, namun mereka menolak karena adanya perlindung-an Abu Barra`. Diapun menghasut Bani Sulaim dan ajakan ini disambut oleh ‘Ushaiyyah, Ri’l, dan Dzakwan. Merekapun datang mengepung para shahabat Rasu-lullah n lalu membunuh mereka kecuali Ka’b bin Zaid bin An-Najjar yang ketika itu terluka dan terbaring bersama jenazah lainnya. Dia hidup hingga terjadinya peristiwa Khandaq.
Ibnu Hajar t dalam Fathul Bari juga memaparkan kisah yang disebutkan Al-Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, antara lain beliau mengatakan:
“Bahwasanya ada perjanjian antara kaum musyrikin dengan Rasulullah n. Mereka adalah kelompok yang tidak ikut memerangi beliau. Diceritakan oleh Ibnu Ishaq dari para gurunya, demikian pula oleh Musa bin ‘Uqbah dari Ibnu Syihab, bahwa yang mengadakan perjanjian dengan beliau adalah Bani ‘Amir yang dipimpin oleh Abu Barra` ‘Amir bin Malik bin Ja’far si Pemain Tombak. Sedangkan kelompok lain adalah Bani Sulaim. Dan ‘Amir bin Thufail ingin mengkhianati perjanjian dengan para shahabat Rasulullah n. Diapun menghasut Bani ‘Amir agar memerangi para shahabat, namun Bani ‘Amir menolak, kata mereka: “Kami tidak akan melanggar jaminan yang diberikan Abu Barra`.” Kemudian dia menghasut ‘Ushaiyyah dan Dzakwan dari Bani Sulaim dan mereka mengikutinya membunuh para shahabat…” demikian secara ringkas.
Akhirnya Rasulullah n melakukan qunut selama sebulan mendoakan kejelekan terhadap orang-orang yang membunuh para qurra` shahabat-shahabat beliau di Bi`r Ma’unah. Belum pernah para shahabat melihat Rasulullah n begitu berduka dibandingkan ketika mendengar berita ini.
Al-Imam Al-Bukhari menceritakan dari Anas bin Malik z:

“Rasulullah n qunut selama satu bulan ketika para qurra` itu terbunuh. Dan aku belum pernah melihat Rasulullah n begitu berduka dibandingkan ketika kejadian tersebut.”
Ibnu Jarir meriwayatkan pula dalam Tarikh-nya, sebagaimana dinukil oleh Ibnul Qayyim dalam Zadul Ma’ad (3/247), bahwa pada saat pembantaian tersebut, ‘Amr bin Umayyah Adh-Dhamari dan Al-Mundzir bin ‘Uqbah bin ‘Amir tinggal di pekarangan kaum muslimin. Mereka tidak mengetahui adanya peristiwa pembantaian itu melainkan karena adanya burung-burung yang mengitari tempat kejadian tersebut. Akhirnya mereka melihat kenyataan yang memilukan tersebut.
Mereka berembug apa yang mesti dilakukan. ‘Amr bin Umayyah berpendapat sebaiknya mereka kembali untuk mencerita-kan kejadian pahit ini kepada Rasulullah n. Namun Al-Mundzir menolak dan lebih suka turun menyerang kaum musyrikin. Diapun turun dan menyerang hingga terbunuh pula. Akhirnya ‘Amr tertawan, namun ketika dia menyebutkan bahwa dia berasal dari kabilah Mudhar, ‘Amir memotong ubun-ubunnya dan membebaskannya.
‘Amr bin Umayyah pun pulang ke Madinah. Setibanya di Al-Qarqarah sebuah wilayah dekat Al-Arhadhiyah, sekitar 8 pos dari Madinah dia berhenti berteduh di bawah sebuah pohon. Kemudian datanglah dua laki-laki Bani Kilab dan turut berteduh di tempat itu juga. Ketika keduanya tertidur, ‘Amr menyergap mereka dan dia ber-anggapan bahwa ia telah membalaskan dendam para shahabatnya. Ternyata kedua-nya mempunyai ikatan perjanjian dengan Rasulullah n yang tidak disadarinya. Setelah tiba di Madinah, dia ceritakan semuanya kepada Rasulullah n dan beliau pun berkata:

“Sungguh kamu telah membunuh mereka berdua, tentu saya akan tebus keduanya.”1
Inilah antara lain yang juga menjadi penyebab terjadinya perang Bani An-Nadhir yang akan dikisahkan pada edisi mendatang, Insya Allah.
Dari kisah ini, ulama menyimpulkan bahwa qunut yang dilakukan oleh Rasulullah n hanyalah qunut nazilah. Dan itupun beliau lakukan selama satu bulan, mendoa-kan kejelekan terhadap Bani Lihyan, ‘Ushaiyyah dan lain-lain. Bukan terus-menerus sebagaimana dilakukan sebagian kaum muslimin hari ini.
Ini diriwayatkan juga oleh Al-Imam Ahmad dan lainnya dari hadits Anas bin Malik z:

“Bahwasanya Nabi n qunut selama satu bulan lalu meninggalkannya.”
Demikian pula yang disimpulkan oleh Ibnul Qayyim dalam pembahasan masalah qunut ini, lihat kitab Zaadul Ma’ad (1/273-285).
Terakhir, beliau mengatakan bahwa yang diriwayatkan dari shahabat tentang qunut ini ada dua, yaitu:
a. Qunut ketika ada musibah atau bencana yang menimpa (nazilah) seperti qunut yang dilakukan Ash-Shiddiq z ketika para shahabat memerangi Musaila-mah Al-Kadzdzab dan ahli kitab. Juga qunut yang dilakukan ‘Umar dan ‘Ali ketika menghadapi pasukan Mu’awiyah dan penduduk Syam.
b. Qunut yang mutlak, yang dimaksud adalah memanjangkan rukun shalat (seperti berdiri, sujud, dan lainnya) untuk berdoa dan memuji Allah I. Wallahu a’lam.

Catatan Kaki:

1 Lihat Tarikh Ath-Thabari 2/81, Tafsir Ibnu Katsir 1/429, 4/332.

Bolehkah Meminta Bantuan Jin?

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah An-Nawawi)

Jimat-jimat, penglaris, susuk pemikat, dan sebagainya adalah komoditi keghaiban yang laris diburu orang. Dari pejabat hingga rakyat jelata, dari yang bukan artis hingga selebritis, semuanya rela mengeluarkan dana ‘tidak terbatas’ –bahkan terkadang tumbal kematian kerabatnya– demi tujuan duniawi yang sejatinya tidak kekal. Padahal, jika mereka mau menyadari, apa yang dilakukannya itu tak lain adalah bentuk penghambaan kepada jin.

Aneh Tapi Nyata
Menyimak kisah atau mitos-mitos berkaitan dengan alam jin dan ‘pernak-pernik’-nya, yang banyak beredar di tengah masyarakat, jelas akan membuat kita miris. Pasalnya, kisah-kisah tadi sedikit banyak membuat masyarakat tertipu dan menjadi rancu. Yang mestinya urusan dan ilmunya hanya dimiliki Allah I, seolah menjadi ilmu yang bisa dimiliki oleh banyak orang. Parahnya, yang paling berhak untuk menyandang ‘ilmu’ pawang jin dan pawang alam ghaib menurut masyarakat umum adalah paranormal. Tidak ketinggalan pula dalam hal ini para kyai yang melelang ilmunya demi pangkat, pamor, dan harta benda duniawi. Demikianlah bila ilmu agama telah jauh dari kaum muslimin.
Sesuatu yang mustahil diilmui dan dilakukan oleh manusia menjadi sebuah ‘kenyataan’ pada hari ini. Mengetahui yang ghaib, menerka sesuatu yang tidak ada di hadapannya dan melukiskan setiap yang terlintas di dalam benak lalu menjadikannya sebagai ilmu yang diperjualbelikan banyak pihak. Sungguh aneh tapi nyata, mereka yang berani dan berlagak pintar dalam masalah ini menjadi orang yang mendapat sanjungan setinggi langit. Bahkan jika surga ada di tangan, niscaya akan diberikan kepada mereka.
Bisa terbang, kebal, memukul dari jarak jauh, berjalan di atas benang, tidak terbakar oleh api, bisa berjalan di atas air dan bisa muncul di mana saja sesuai yang diinginkan, seolah merupakan implementasi keghaiban kelas tinggi. Padahal para pelakunya tak lain adalah khadamah (budak) para setan dan orang-orang zindiq.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah t menjelaskan: “Banyak di antara mereka yang bisa terbang di udara, dan setan telah membawanya (ke berbagai tempat, -pent.), terkadang ke Makkah dan selainnya. Pada-hal dia adalah seorang zindiq, menolak shalat dan menentang perkara-perkara lain yang telah diwajibkan Allah I, serta menghalalkan segala yang telah diharamkan Allah I dan Rasul-Nya.
Setan bersedia membantunya karena kekafiran, kefasikan, dan maksiat yang dilakukannya. Kecuali bila dia beriman kepada Allah I dan Rasul-Nya, bertaubat dan konsisten dalam ketaatan kepada Allah I dan Rasul-Nya. (Jika dia demikian,) niscaya setan akan meninggalkannya dan segala ‘pengaruh’ pada dirinya akan hilang baik berupa penyampaian berita atau amalan-amalan lain. Dan aku mengenal banyak orang yang melakukan demikian di negeri Syam, Mesir, Hijaz dan Yaman.
Adapun di Jazirah, Iraq, Khurasan, dan Rum, lebih banyak dari apa yang terjadi di negeri Syam dan selainnya. Dan tentunya di negeri-negeri kafir dari kalangan kaum musyrikin dan ahli kitab tentu lebih banyak lagi.” (Majmu’ Fatawa, 11/250)
Tema alam jin kini juga kian laris dalam pentas sinetron atau film. Bahkan perkara-perkara ghaib menjadi sebuah pertunjukan yang bisa dipancaindrakan. Sungguh betapa liciknya Iblis dan bala tentaranya dalam mempergunakan kemajuan teknologi untuk menyesatkan dan menjadikan manusia kafir serta ingkar kepada Allah I. Media massa menjadi pelicin langkah mereka untuk menggiring umat Rasulullah n menuju Neraka Sa’ir. Propaganda demi propaganda yang dilakukan serta manuver-manuver penyesatan yang dilancarkan disambut dengan tangan terbuka dan dada yang lapang.

“Sesungguhnya dia (Iblis) menyeru para pengikutnya menuju Neraka Sa’ir.” (Fathir: 6)

Beribadah kepada Allah I adalah Hikmah Penciptaan Manusia dan Jin
Allah I menciptakan manusia dan jin untuk suatu hikmah yang besar dan mulia, yang akan mengangkat martabat mereka di sisi Allah I dan di hadapan seluruh makhluk. Hikmah yang karenanya diturunkan kitab-kitab dan diutus para nabi dan rasul, serta karenanya pula ditegakkan amanat jihad. Dengannya, seseorang akan masuk ke dalam Surga atau ke dalam Neraka, dan karenanya ditegakkan balasan atas seluruh perbuatan yang dilakukan.
Tahukah anda apa hikmah tersebut?
Hikmah diciptakannya manusia dan jin adalah apa yang telah disebutkan Allah I di dalam firman-Nya:

“Dan tidaklah aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka menyem-bah kepadaku.” (Adz-Dzariyat: 56)
Hikmah ini untuk menjelaskan apa yang telah difirmankan Allah I:

“Apakah manusia itu menyangka bahwa dia dibiarkan begitu saja?” (Al-Qiyamah: 36)

“Apakah kalian menyangka bahwa Kami menciptakan kalian sia-sia dan kalian tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (Al-Mu`minun: 115)
Al-Imam Mujahid, Al-Imam Asy-Syafi’i dan Abdurrahman bin Zaid bin Aslam mengatakan: “Sia-sia artinya tidak diperintah dan tidak dilarang.” (Tafsir Ibnu Katsir, 4/474 dan lihat Tafsir Ibnul Qayyim, hal. 504 serta Miftah Dar As-Sa’adah, 2/13)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah t menjelaskan: “Sungguh Allah I telah memberitakan bahwa Allah I menciptakan langit dan bumi serta segala apa yang ada di dalamnya dengan benar dan Allah I tidak menciptakan mereka sia-sia. Dan (mereka diciptakan sia-sia) merupakan dugaan orang-orang kafir.” (Majmu’ Fatawa, 16/174)
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin t berkata: “Barangsiapa menyimpang dari (jalan) Rabbnya dan menyombongkan diri dari beribadah kepada-Nya, maka sungguh dia telah melemparkan (menolak) hikmah dia diciptakan, di mana Allah I menciptakannya untuk beribadah. Dan perbuatannya dalam mempersaksikan bahwa Allah I menciptakannya adalah sia-sia belaka dan tidak berarti, meskipun dia tidak mengucapkannya secara langsung. Demikianlah kandungan sikap penyimpang-an dan kesombongannya dari taat kepada Allah I.” (Fatawa ‘Aqidah wa Arkanul Islam, hal. 83 masalah 59)
Jin dan Manusia Memiliki Tugas yang Sama
Dari keterangan di atas, jelaslah bahwa jin dan manusia memiliki tugas yang sama di hadapan Allah I. Suatu tugas yang bila dilaksanakan akan menjadikannya sebagai orang yang mulia di sisi-Nya dan menjadi orang yang paling adil, serta sebagai penegak keadilan di muka bumi. Sebaliknya, bila diabaikan akan menjadi orang yang celaka dan menjadi orang yang paling dzalim, serta sebagai penegak kedzaliman di muka bumi.
Ibnul Qayyim t mengatakan: “Allah I telah memberitakan bahwa tujuan penciptaan dan perintah adalah agar Allah I diketahui dengan nama dan sifat-sifat-Nya serta agar Allah I semata yang disembah, tidak disekutukan dengan sesuatupun. Dan agar manusia berbuat adil, yaitu keadilan yang langit dan bumi tegak karenanya. Sebagaimana firman Allah I:

“Dan sungguh Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan keterangan-keterangan dan Kami menurunkan kepada mereka al-kitab (Al-Qur`an) dan timbangan agar manusia berbuat adil.” (Al-Hadid: 25)
Allah I memberitakan bahwa Dia mengutus para rasul dan menurunkan Al-Kitab agar manusia berbuat adil. Dan keadilan yang paling besar adalah mentauhidkan Allah I. Ketauhidan juga merupakan puncak dan tonggak keadilan. Sesungguhnya kesyirikan itu adalah sebuah kedzaliman, sebagaimana firman Allah I:

“Sesungguhnya kesyirikan itu adalah kedzaliman yang paling besar.” (Luqman: 13)
Kesyirikan adalah kedzaliman terbesar, dan tauhid adalah keadilan yang paling besar. Maka segala hal yang akan menafikan maksud ini, yaitu tauhid, maka perkara itu merupakan dosa yang paling besar. (Al-Jawabul Kafi, hal. 109)
Tugas yang untuk itu diciptakan jin dan manusia adalah untuk menyembah Allah I dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun.

“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan untuk menyembah-Ku.” (Adz-Dzariyat: 56)

“Sembahlah Allah dan jangan kalian menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.” (An-Nisa`: 36)

“Wahai sekalian manusia, sembahlah Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (Al-Baqarah: 21)

“Janganlah kalian menjadikan tanding-an-tandingan bagi Allah.” (Al-Baqarah: 22)
Oleh karena itu, orang-orang yang tidak mau melaksanakan tugas ini divonis oleh Allah I sebagai orang yang sombong dan angkuh, serta divonis sebagai anggota dan bala tentara Iblis.

“Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan dirinya dari beribadah kepada-Ku akan masuk ke dalam neraka Jahnnam dalam keadaan hina.” (Ghafir: 60)

“Allah berfirman: ‘Keluarlah kamu dari surga sebagai orang terhina lagi terusir. Sesungguhnya orang-orang di antara mereka yang mengikuti kamu, benar-benar Aku akan mengisi neraka Jahannam dengan kamu semuanya’.” (Al-A’raf: 18)

“Allah berfirman: ‘Pergilah, barang-siapa di antara mereka yang mengikuti kamu maka sesungguhnya neraka Jahannam adalah balasanmu semua, sebagai satu pembalasan yang cukup’.” (Al-Isra`: 63)
Rasulullah n bersabda:

“Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air, lalu dari (tempat itu) dia mengutus bala tentaranya. Dan orang yang paling dekat kedudukannya di sisi Iblis adalah orang yang paling besar fitnah yang ditimbulkannya.”1

“Sesungguhnya Aku pasti akan meme-nuhi neraka Jahannam dengan jenis kamu dan dengan orang-orang yang mengikuti kamu di antara mereka semuanya.” (Shad: 85)

Tolong Menolong adalah Ibadah
Manusia di dalam menjalani hidupnya sebagai manusia sangat membutuhkan bantuan orang lain. Orang miskin butuh bantuan orang kaya, yang lemah butuh bantuan orang yang kuat, yang sakit butuh bantuan para dokter, dan begitu seterusnya. Karena itu, Allah I dengan kebijaksanaan-Nya telah meletakkan anjuran untuk saling menolong dalam perkara yang dicintainya dan mengharamkan untuk saling menolong dalam perkara yang dibenci. Ketergantungan dan keterkaitan ini telah dijelaskan oleh Allah I:

“Dan tolong menolonglah kalian dalam kebaikan dan ketakwaan dan jangan kalian tolong-menolong di dalam perbuatan dosa dan maksiat.” (Al-Ma`idah: 2)
Rasulullah n bersabda:

“Barangsiapa mengeluarkan seorang mukmin dari kesulitan dunia, maka Allah akan mengeluarkannya dari kesulitan dunia dan akhirat. Dan barangsiapa memberikan kemudahan kepada orang yang mengalami kesulitan, niscaya Allah akan memudahkan semua urusannya di dunia dan akhirat.”2

“Pertolongan Allah selalu menyertai seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya.”3
Dari ayat dan hadits di atas, sesung-guhnya sangat jelas bahwa tolong menolong di dalam kebaikan merupakan ibadah kepada Allah I. Dan karena sebuah ibadah, maka harus dibangun di atas dua dasar yaitu ikhlas dan meneladani Rasulullah n. Bila salah satu dari kedua dasar ini gugur, walaupun perbuatan itu bentuknya ibadah, niscaya tidak akan diterima oleh Allah I. Rasulullah n telah menjelaskan:

“Barangsiapa melakukan sebuah amalan yang tidak ada perintah dariku maka amalan tersebut tertolak.”4

Hukum Meminta Tolong kepada Selain Allah I
Dalam edisi yang telah lalu telah kita bahas hukum meminta tolong kepada selain Allah I. Dan kita jelaskan bahwa meminta tolong itu adalah sebuah ibadah, maka tidak boleh kita mengarahkan permintaan tersebut kepada selain Allah I.

“Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami meminta tolong.” (Al-Fatihah: 5)
Rasulullah n bersabda:

“Dan apabila kamu meminta maka mintalah kepada Allah, dan bila kamu meminta tolong maka minta tolonglah kepada Allah.” 5
Apakah larangan meminta tolong kepada selain Allah I, memang mutlak atau perlu dirinci?
Jawabannya perlu dirinci:
q Bila meminta tolong kepada selain Allah dalam perkara di mana tidak ada yang bisa melakukannya melainkan Allah I, maka meminta tolong kepada selain Allah I dalam masalah ini adalah syirik.
q Bila dalam perkara yang manusia itu sanggup untuk melakukannya maka hukumnya perlu juga untuk dirinci:
– bila dalam perkara yang baik, hal itu diperbolehkan sebagaimana dalil di atas.
– bila dalam perkara yang jahat, hal itu diharamkan. (Syarah Tsalatsatil Ushul, Ibnu ‘Utsaimin hal. 58)

Bolehkah Meminta Tolong kepada Jin?
Sesungguhnya inilah yang menjadi inti pembahasan kali ini, yaitu bagaimana hukum meminta tolong kepada jin? Apakah dalam pandangan agama diperbolehkan atau diharamkan? Jika hal itu diperbo-lehkan, apakah kita bisa meminta tolong dalam semua urusan atau dalam urusan tertentu saja?
Kita mengetahui bahwa Rasulullah n diutus kepada tsaqalain –jin dan manusia– menyeru mereka kepada jalan Allah I dan agar beribadah hanya kepada-Nya semata. Sehingga bila bangsa jin itu ingkar dan kafir kepada Allah I, menurut nash dan ijma’, mereka akan masuk ke dalam neraka. Dan bila mereka beriman kepada Allah I dan beriman kepada Rasulullah n, menurut jumhur ulama mereka akan masuk ke dalam surga. Dan jumhur ulama menegaskan pula bahwa tidak ada seorang rasul dari kalangan jin. Yang ada adalah pemberi peringatan dari kalangan mereka. (Majmu’ Fatawa, 11/169, Tuhfatul Mujib, hal. 364)
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin t menjelaskan: “Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menyebutkan bahwa meminta bantuan kepada jin ada tiga bentuk:
Pertama: Meminta bantuan dalam perkara ketaatan kepada Allah I, seperti menjadi pengganti di dalam menyampaikan ajaran agama. Contohnya, apabila sese-orang memiliki teman jin yang beriman dan jin tersebut menimba ilmu darinya. Maksud-nya, jin tersebut menimba ilmu dari kalangan manusia, kemudian setelah itu menjadikan jin tersebut sebagai da’i untuk menyampaikan syariat kepada kaumnya atau menjadikan dia pembantu di dalam ketaatan kepada Allah I, maka hal ini tidak mengapa.
Bahkan terkadang menjadi sesuatu yang terpuji dan termasuk dakwah kepada Allah I. Sebagaimana telah terjadi bahwa sekumpulan jin menghadiri majelis Rasulullah n dan dibacakan kepada mereka Al-Qur`an. Selanjutnya, mereka kembali kepada kaumnya sebagai pemberi peringatan. Di kalangan jin sendiri terdapat orang-orang yang shalih, ahli ibadah, zuhud dan ada pula ulama, karena orang yang akan memberikan peringatan semestinya mengetahui tentang apa yang dibawanya, dan dia adalah seseorang yang taat kepada Allah I di dalam memberikan peringatan tersebut.
Kedua: Meminta bantuan kepada mereka dalam perkara yang diperbolehkan. Hal ini diperbolehkan, dengan syaratwasilah (perantara) untuk mendapatkan bantuan jin tersebut adalah sesuatu yang boleh dan bukan perkara yang haram. (Perantara yang tidak diper-bolehkan) seperti bila-mana jin itu tidak mau memberikan bantuan melainkan dengan (men-dekatkan diri kepadanya dengan) menyembelih, sujud, atau selain-nya.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menyebutkan sebuah riwayat bahwa ‘Umar z terlambat datang dalam sebuah perjalanan hingga mengganggu pikiran Abu Musa z. Kemudian mereka berkata kepada Abu Musa z: “Sesungguhnya di antara penduduk negeri itu ada seorang wanita yang memiliki teman dari kalangan jin. Bagaimana jika wanita itu diperintahkan agar mengutus temannya untuk mencari kabar di mana posisi ‘Umar z?” Lalu dia melakukannya, kemudian jin itu kembali dan mengatakan: “Amirul Mukminin tidak apa-apa dan dia sedang memberikan tanda bagi unta shadaqah di tempat orang itu.” Inilah bentuk meminta pertolongan kepada mereka dalam perkara yang diperbolehkan.
Ketiga: Meminta bantuan kepada mereka dalam perkara yang diharamkan seperti mengambil harta orang lain, menakut-nakuti mereka atau semisalnya. Maka hal ini adalah sangat diharamkan di dalam agama. Kemudian bila caranya itu adalah syirik maka meminta tolong kepada mereka adalah syirik dan bila wasilah itu tidak syirik, maka akan menjadi sesuatu yang bermaksiat. Seperti bila ada jin yang fasik berteman dengan manusia yang fasik, lalu manusia yang fasik itu meminta bantuan kepada jin tersebut dalam perkara dosa dan maksiat. Maka meminta bantuan yang seperti ini hukumnya maksiat dan tidak sampai ke batas syirik. (Al-Qaulul Mufid hal. 276-277, Fatawa ‘Aqidah Wa Arkanul Islam hal. 212, dan Majmu’ Fatawa 11/169)
Asy-Syaikh Muqbil t mengatakan: “Ada-pun masalah tolong menolong dengan jin, Allah I telah menjelaskan di dalam firman-Nya:

“Dan tolong-menolonglah kalian di dalam kebaikan dan ketakwaan dan jangan kalian saling tolong menolong di dalam perbuatan dosa dan maksiat.” (Al-Ma`idah: 2)
Boleh ber-ta’awun (kerja sama) dengan mereka. Tetapi ada sesuatu yang harus kamu ketahui dulu tentang mereka, bahwa dia bukanlah setan yang secara perlahan membantumu namun kemudian menjatuhkan dirimu dalam perbuatan maksiat dan menyelisihi agama Allah I. Dan telah didapati, bukan hanya satu orang dari kalangan ulama yang dibantu oleh jin.” (Tuhfatul Mujib, hal. 371)
Al-Lajnah Ad-Da`imah (Lembaga Fatwa Kerajaan Saudi Arabia) menjelaskan: “Meminta bantuan kepada jin dan menjadi-kan mereka tempat bergantung dalam menunaikan segala kebutuhan, seperti mengirimkan bencana kepada seseorang atau memberikan manfaat, termasuk kesyi-rikan kepada Allah I dan termasuk bersenang-senang dengan mereka. Dengan terkabulkannya permintaan dan tertunaikannya segala hajat, termasuk dari katagori istimta’ (bersenang-senang) dengan mereka. Perbuatan ini terjadi dengan cara mengagungkan mereka, berlindung kepada mereka, dan kemudian meminta bantuan agar bisa tertunaikan segala yang dibutuhkannya. Allah I berfirman:

“Dan ingatlah hari di mana Allah menghimpun mereka semuanya dan Allah berfirman: ‘Wahai segolongan jin (setan), sesungguhnya kamu telah banyak menyesat-kan manusia.’ Kemudian berkatalah kawan-kawan mereka dari kalangan manusia: ‘Ya Rabb kami, sesungguhnya sebahagian dari kami telah mendapatkan kesenangan dari sebahagian yang lain dan kami telah sampai kepada waktu yang telah Engkau tentukan bagi kami’.” (Al-An’am: 128)

“Dan bahwasanya ada beberapa orang dari laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada laki-laki di antara jin kemudian jin-jin itu menambah kepada mereka rasa takut.” (Al-Jin: 6)
Meminta bantuan jin untuk mencela-kai seseorang atau agar melindungi-nya dari kejahatan orang-orang yang jahat, hal ini termasuk dari kesyirikan. Barangsiapa demikian keadaannya, niscaya tidak akan diterima shalat dan puasanya, berdasarkan firman Allah I:

“Jika kamu melakukan kesyirikan, niscaya amalmu akan terhapus.” (Az-Zumar: 65)
Barangsiapa diketahui melakukan demikian, maka tidak dishalatkan jenazah-nya, tidak diringi jenazahnya, dan tidak dikuburkan di pekuburan orang-orang Islam.” (Fatawa Al-Lajnah Ad-Da`imah, 1/162-163)

Kesimpulan
Meminta bantuan kepada jin adalah boleh dalam perkara yang bukan maksiat kepada Allah I. Namun demikian, kami memandang agar hal itu dihindari pada zaman ini, mengingat kebodohan yang sangat menyelimuti umat. Sehingga banyak yang tidak mengerti perkara yang mubah dan yang tidak mengandung maksiat, atau mana tata cara yang boleh dan tidak mengandung pelanggaran agama serta mana pula yang mengandung hal itu. Wallahu a’lam (ed). Sedangkan bila perkara itu bermaksiat, hukumnya bisa jatuh kepada tingkatan haram yaitu bermaksiat kepada Allah I, bahkan bisa juga menjadi kufur keluar dari agama.
Wallahu a’lam.

Catatan Kaki:

1 HR. Al-Imam Muslim no. 2813 dari shahabat Jabir bin Abdullah
2 HR. Al-Imam Muslim no. 2699 dari shahabat Abu Hurairah z
3 HR. Al-Imam Muslim no. 2699 dari shahabat Abu Hurairah z
4 HR. Al-Imam Muslim no. 1718 dari shahabat ‘Aisyah x
5 HR. Al-Imam At-Tirmidzi no. 2518 dan Al-Imam Ahmad no. 2804 dari shahabat Abdullah bin Abbas c

Batilnya Pemburu Hantu

(ditulis oleh: Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al-Atsari)

Abu Hurairah berkisah dalam sebuah hadits yang panjang:
Rasulullah n menugaskanku untuk menjaga zakat Ramadhan (berupa makanan, pent.). Tiba-tiba seseorang datang. Mulailah ia mengutil makanan zakat tersebut. Aku pun menangkapnya seraya mengancamnya: “Sungguh aku akan membawamu ke hadapan Rasulullah n untuk aku adukan perbuatanmu ini kepada beliau.” Orang yang mencuri itu berkata: “Aku butuh makanan, sementara aku memiliki banyak tanggungan keluarga. Aku ditimpa kebutuhan yang sangat.” Karena alasannya tersebut, aku melepaskannya. Di pagi harinya, Nabi n bertanya: “Wahai Abu Hurairah, apa yang diperbuat tawananmu semalam?” “Wahai Rasulullah, ia mengeluh punya kebutuhan yang sangat dan punya tanggungan keluarga. Aku pun menaruh iba kepadanya hingga aku melepaskannya,” jawabku. Rasulullah n bersabda: “Sungguh dia telah berdusta kepadamu dan dia akan kembali lagi.” (Di malam berikutnya) aku yakin pencuri itu akan kembali lagi karena Rasulullah n menyatakan: “Dia akan kembali.” Aku pun mengintainya, ternyata benar ia datang lagi dan mulai menciduk makanan zakat. Kembali aku menangkapnya seraya mengancam: “Sungguh aku akan membawamu ke hadapan Rasulullah n untuk aku adukan perbuatanmu ini kepada beliau.” “Biarkan aku karena aku sangat butuh makanan sementara aku memiliki tanggungan keluarga. Aku tidak akan mengulangi perbuatan ini lagi.” Aku kasihan kepadanya hingga aku melepaskannya. Di pagi harinya, Rasulullah n bertanya: “Wahai Abu Hurairah, apa yang diperbuat oleh tawananmu?” “Wahai Rasulullah, ia mengeluh punya kebutuhan yang sangat dan punya tanggungan keluarga, aku pun iba kepadanya hingga aku pun melepaskannya,” jawabku. Rasulullah n bersabda: “Sungguh dia telah berdusta kepadamu dan dia akan kembali lagi.” Di malam yang ketiga, aku mengintai orang itu yang memang ternyata datang lagi. Mulailah ia menciduk makanan. Segera aku menangkapnya dengan mengancam: “Sungguh aku akan membawamu ke hadapan Rasulullah n untuk aku adukan perbuatanmu ini kepada beliau. Ini untuk ketiga kalinya engkau mencuri, sebelumnya engkau berjanji tidak akan mengulangi perbuatanmu tetapi ternyata engkau mengulangi kembali.” “Lepaskan aku, sebagai imbalannya aku akan mengajarimu beberapa kalimat yang Allah akan memberikan manfaat kepadamu dengan kalimat-kalimat tersebut,” janji orang tersebut. Aku berkata: “Kalimat apa itu?” Orang itu mengajarkan: “Apabila engkau berbaring di tempat tidurmu, bacalah ayat Kursi: (Al-Baqarah: 255) hingga engkau baca sampai akhir ayat. Bila engkau membacanya maka terus menerus engkau mendapatkan penjagaan dari Allah dan setan sekali-kali tidak akan mendekatimu sampai pagi hari.” Aku pun melepaskan orang itu, hingga di pagi hari Rasulullah n kembali bertanya kepadaku: “Apa yang diperbuat tawananmu semalam?” Aku menjawab: “Wahai Rasulullah, ia berjanji akan mengajariku beberapa kalimat yang Allah akan memberikan manfaat kepadaku dengan kalimat-kalimat tersebut, akhirnya aku membiarkannya pergi.” “Kalimat apa itu?”, tanya Rasulullah. Aku berkata: “Orang itu berkata kepadaku: `Apabila engkau berbaring di tempat tidurmu, bacalah ayat Kursi dari awal hingga akhir ayat: ’. Ia katakan kepadaku: `Bila engkau membacanya maka terus menerus engkau mendapatkan penjagaan dari Allah dan setan sekali-kali tidak akan mendekatimu sampai pagi hari’.” Sementara mereka (para shahabat) merupakan orang-orang yang sangat bersemangat terhadap kebaikan1. Nabi n berkata: “Sungguh kali ini ia jujur kepadamu padahal ia banyak berdusta. Engkau tahu siapa orang yang engkau ajak bicara sejak tiga malam yang lalu, ya Abu Hurairah?.” “Tidak,” jawabku. “Dia adalah setan,” kata Rasulullah n.

Hadits di atas diriwayatkan Al-Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, kitab Al-Wakalah bab Idza Wakkala Rajulan Fatarakal Wakil Syai`an Fa’ajazahul Muwakkil fa Huwa Ja`iz no. 2311. Selain itu Al-Bukhari juga menyebutkan hadits di atas secara ringkas dalam kitab Bad`ul Khalqi, bab Shifatu Iblis wa Junudihi dan dalam kitab Fadha`ilul Qur`an, bab Fadhlu Shuratil Baqarah.
Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani t menyebutkan adanya tambahan dalam riwayat Abul Mutawakkil bahwa Abu Hurairah z ditugaskan menjaga kurma sedekah. Maka ia menemukan adanya bekas telapak tangan yang sepertinya telapak tangan itu telah mengambil kurma sedekah. Pada awalnya, Abu Hurairah z menga-dukan hal itu kepada Nabi n, maka Nabi berkata kepadanya:

“Bila engkau ingin menangkapnya, katakanlah: Maha Suci Dzat yang menunduk-kanmu kepada Muhammad.”
Abu Hurairah z berkata: “Aku pun mengucapkan demikian, maka tiba-tiba pencuri itu telah berdiri di hadapanku, maka aku dapat menangkapnya.” (Fathul Bari, 4/614)

Setan, Makhluk Allah yang Ghaib
Allah I menciptakan jin dari unsur yang berbeda dengan manusia. Manusia yang awal (Nabi Adam u) diciptakan dari tanah liat yang dibentuk, adapun anak turunannya diciptakan dari setetes air yang hina (mani). Adapun jin diciptakan dari api. Setan adalah dari bangsa jin yang jahat/ kafir, karena di antara jin ada yang beriman dan ada pula yang kafir sebagaimana manusia. Setan seperti halnya bangsa jin lainnya, merupakan makhluk Allah yang ghaib, artinya tidak tampak oleh mata kasar manusia. Mereka dapat melihat manusia namun tidak sebaliknya. Allah I berfirman:

“Dia (iblis) dan bala tentaranya melihat kalian (selalu mengamati kalian) dari arah yang kalian tidak dapat melihat mereka.” (Al-A’raf: 27)
Mujahid t dan Qatadah t berkata: “(Bala tentara Iblis) adalah jin dan para setan.” (Al-Jami’ li Ahkamil Qur`an 7/120, Ma’alimut Tanzil 2/129)
Setelah menyebutkan ayat:  , Al-Imam Al-Qurthubi t berkata: “Sebagian ulama berkata: ‘Dalam ayat ini terdapat dalil/ bukti bahwa jin itu tidak dapat dilihat’. Namun ada pula yang berpendapat mereka bisa dilihat. Karena jika Allah I berkehendak memperlihatkan mereka, Allah akan menyingkap (tabir yang menghalangi untuk melihat mereka) jasad-jasad mereka sehingga terlihat oleh mata. An-Nahas berpendapat dengan ayat ini bahwa jin tidak bisa terlihat mata manusia kecuali di masa kenabian sebagai bukti atas kenabian beliau n. Karena Allah U menciptakan mereka dengan bentuk penciptaan yang tidak bisa terlihat. Mereka hanya bisa dilihat bila mereka berubah ke bentuk lain (bukan bentuk aslinya).” (Al-Jami’ li Ahkamil Qur`an, 7/120)
Al-Imam Asy-Syafi`i t bahkan menyatakan dalam Manaqib-nya: “Siapa yang mengaku melihat jin, maka kami batalkan persaksiannya (tidak menerima persaksiannya, –pent.) terkecuali bila ia seorang nabi.”
Al-Hafizh t mengomentari: “Ucapan Al-Imam Asy-Syafi’i ini ditujukan kepada orang yang mengaku-aku melihat jin dalam bentuknya yang asli. Adapun kalau ada yang mengaku melihat jin setelah berubah ke berbagai bentuk hewan misalnya, maka tidaklah dianggap cacat persaksiannya. Sungguh banyak dan tersebar (mutawatir) berita-berita yang mengabarkan perubahan jin tersebut ke berbagai bentuk.” (Fathul Bari, 6/414)
Mungkin terlintas pertanyaan di benak kita, bagaimana mereka bisa berpindah ke bentuk lain atau berubah dari bentuk aslinya? Dalam hal ini ada atsar dari ‘Umarzyang dikeluarkan Ibnu Abi Syaibah t dan dishahihkan sanadnya oleh Al-Hafizh t dalam Fathul Bari (6/414): “Sesungguhnya Ghilan2 disebut di sisi ‘Umar, maka ia berkata: “Sungguh seseorang tidak mampu untuk berubah dari bentuknya yang telah Allah ciptakan. Akan tetapi mereka (para setan) memiliki tukang sihir seperti tukang sihir kalian. Maka bila kalian melihat setan itu, kumandangkanlah adzan.”
Adapun Nabi n tidaklah mustahil pernah melihat mereka dalam bentuk aslinya, sebagaimana beliau pernah melihat Jibril dalam wujud aslinya sebanyak dua kali. (Ruhul Ma’ani, 5/140)
Ulama ada yang mengatakan bahwa melihat setan dalam bentuk aslinya sebagaimana diciptakan merupakan kekhususan Nabi n. Adapun kalangan manusia selain beliau tidak dapat melihat setan dalam wujud aslinya, dengan dalil firman Allah: . (Fathul Bari, 1/718)
Namun ada pula yang berpendapat, bisa saja selain Nabi melihat setan bila Allah berkehendak untuk menampakkannya dalam wujud aslinya seperti kepada hamba-hamba-Nya yang diberi karamah3, karena ayat bisa dipahami dengan dua makna:
Pertama: Dari sisi bahwa kalian tidak dapat melihat jasad-jasad mereka. Sehingga maknanya, iblis dan bala tentaranya melihat kalian (selalu mengamati kalian) sementara kalian tidak dapat melihat mereka.
Kedua: Dari sisi bahwa kalian tidak mengetahui makar dan fitnah mereka. Sehingga maknanya, iblis dan bala tentaranya melihat kalian (selalu mengamati kalian) sementara kalian tidak mengetahui/ menyadari makar dan fitnah mereka. (Ruhul Ma’ani 5/141, An-Nukat wal ‘Uyun/Tafsir Al-Mawardi 2/216).
Al-Imam An-Nawawi t berkata: “Jin itu ada, dan terkadang sebagian manu-sia dapat melihat mereka. Adapun firman Allah I:  maka pemahamannya dibawa pada keumuman (yakni umumnya manusia memang tidak dapat melihat jin/ setan, –pent.), karena bila melihat mereka (jin/ setan) itu suatu hal yang mustahil, niscaya Nabi n tidak akan mengatakan apa yang beliau katakan bahwa beliau melihat setan tersebut dan bahwa beliau berkeinginan untuk mengikat setan itu agar dapat disaksikan para shahabat beliau seluruhnya dan bisa dipermainkan anak-anak kecil di Madinah.
Sementara Al-Qadhi berkata: ‘Dikatakan bahwa melihat jin dalam bentuk aslinya itu tidaklah mungkin berdasarkan zahir ayat, kecuali para Nabi –semoga Allah memberikan shalawat dan salam kepada mereka semuanya– dan juga orang yang diberi kemampuan di luar kebiasaan. Manusia hanya bisa melihat jin dalam bentuk yang bukan aslinya (bentuk penyamaran) sebagaimana keterangan yang disebutkan dalam atsar.’
Namun aku (Al-Imam An-Nawawi) katakan: Ini hanyalah sekedar dakwaan semata, dikarenakan bila dalil yang menjadi sandarannya tidak shahih maka dakwaan ini tertolak. Al-Imam Abu Abdillah Al-Mazari berkata: ‘Jin itu adalah jasad-jasad yang halus. Maka dimungkinkan ia berwujud dengan satu bentuk yang bisa diikat4, kemudian ia tertahan untuk kembali ke bentuk aslinya hingga ia bisa dipermainkan, dan sesungguhnya hal-hal keluarbiasaan memungkinkan yang selain itu’.” (Al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim, 5/32)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah t berkata: “Yang ada dalam Al-Qur`an, para jin itu melihat manusia sementara manusia tidak melihat mereka. Inilah yang benar, di mana mereka dapat melihat manusia dalam keadaan manusia ketika itu tidak melihat mereka. Namun ini tidaklah menunjukkan bahwa tidak ada seorang pun dari kalangan manusia yang dapat melihat mereka, bahkan sebaliknya terkadang mereka terlihat oleh orang-orang shalih bahkan juga oleh orang yang tidak shalih, akan tetapi manusia tidak dapat melihat mereka dalam seluruh keadaan.” (Majmu’ Fatawa Ibni Taimiyyah, 8/8)

Batilnya Pengakuan/ Perbuatan “Pemburu Hantu”
Menurut kabar yang kami terima, sekarang ini sedang marak acara yang berbau mistik di televisi, baik dalam bentuk film/ sinetron maupun semacam show/ pamer kemampuan ghaib. Tentunya para pemburu hantu –dukun atau disebut paranormal untuk menutupi kedoknya–, mendapat peran penting dalam acara-acara tersebut. Melalui acara mereka, setan atau hantu –menurut istilah mereka– dipublikasikan. Digambarkan bahwa paranormal adalah orang-orang sakti yang dapat memburu, menangkap dan membuat setan bertekuk lutut. Bila ada tempat yang berhantu maka didatangkanlah paranormal ke tempat tersebut.
Banyak hal yang nampak jelas kabatilannya dari praktek para pemburu hantu. Di antaranya, ada seseorang yang melukis jin yang diburu, dalam keadaan matanya tertutup. Terkadang mereka ditanya oleh penonton di rumah tentang penyakit mereka, dan mereka bisa mengetahui si penanya yang menanyakan sakitnya. Juga kemampuan mereka untuk memasukkan jin ke dalam tubuh manusia, dan kemampuan mereka membuat orang bisa melihat jin. Semua tidak lain terjadi dengan bantuan jin juga, walaupun mereka tentunya menggunakan bacaan-bacaan nampaknya Islami tapi kenyataannya bukan.
Namun untuk mencapai kemampuan yang seperti itu, tentu melalui proses dan tahapan yang mengandung hal-hal yang bertentangan dengan syariat, baik dalam syaratnya, atau tata caranya, atau bacaan-bacaan yang tidak dimengerti maknanya yang sangat mungkin mengandung hal yang menyelisihi hukum Islam. Oleh karena itu, para ulama melarang bacaan-bacaan yang seperti itu. Dan cukuplah untuk mengetahui kebatilan semua itu, bahwa para tabi’in dan tabi’ut tabi’in, generasi terbaik umat ini setelah shahabat, yang merupakan wali-wali Allah, tidak ada seorang pun di antara mereka yang mengklaim hal-hal tersebut. Wallahu a’lam.
Ahlul haq (orang yang berjalan di atas kebenaran), mengambil faedah dan beberapa pelajaran dari kisah Abu Hurairah z tersebut. Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-’Asqalani t menyebutkan beberapa faedahnya, di antaranya:
1. Terkadang setan mengetahui perkara yang bermanfaat bagi seorang mukmin.
2. Orang kafir, sebagaimana setan (yang juga kafir), terkadang sebagian ucapannya jujur kepada seorang mukmin. Namun kejujurannya itu tidak menjadikan-nya beriman.
3. Setan memiliki sifat suka berdusta, dan dia adalah seorang pendusta yang sebagian besar ucapannya tidak dapat dipercaya.
4. Setan terkadang bisa menyerupai bentuk tertentu sehingga memungkinkan untuk melihatnya. Adapun firman Allah I:

“Dia (iblis) dan bala tentaranya melihat kalian dari arah yang kalian tidak dapat melihat mereka,” hal ini khusus bila setan itu berada dalam rupa aslinya sebagaimana ia diciptakan. Dengan demikian mereka dapat menampakkan diri kepada manusia dengan syarat yang telah disebutkan.
5. Jin memakan makanan manusia, dan mereka bisa mengambil makanan yang tidak disebutkan nama Allah pada makanan tersebut. Mereka pun dapat berbicara dengan bahasa manusia.
6. Setan mencuri dan menipu.
7. Nabi n diperlihatkan perkara ghaib oleh Allah I sehingga beliau mengetahui bahwa yang mencuri makanan zakat yang dijaga oleh Abu Hurairah z selama tiga malam berturut-turut adalah setan. (Fathul Bari, 4/616-617)

Setan yang Rasulullah n Ingin Mengikatnya di Tiang Masjid
Rasulullah n pernah mengabarkan:

“Sesungguhnya Ifrit6 dari bangsa jin semalam mendatangiku dengan tiba-tiba (atau melompat di hadapanku) –atau Nabi mengucapkan kalimat yang semisal ini– untuk memutus shalatku. Maka Allah menjadikan aku dapat menguasainya. Semula aku ingin mengikatnya pada salah satu tiang masjid, sehingga di pagi hari kalian semua bisa melihatnya. Namun aku teringat ucapan saudaraku Sulaiman, ia pernah berdoa: “Wahai Rabbku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan (kekuasaan) yang tidak pantas didapatkan oleh seorang pun setelahku7.” Rauh (perawi hadits ini) berkata: “Nabi pun mengusirnya dengan hina.”8
Abu Ad-Darda` z pernah pula mengabarkan: “Rasulullah v berdiri untuk mengerjakan shalat. Kami mendengar beliau berkata: “Aku berlindung kepada Allah darimu.” Kemudian berkata tiga kali: “Aku melaknatmu dengan laknat Allah.” Beliau membentangkan tangannya seakan-akan menangkap sesuatu. Ketika beliau selesai shalat, kami bertanya: “Wahai Rasulullah, kami tadi mendengarmu mengucapkan sesuatu di dalam shalat yang sebelumnya kami belum pernah mendengar engkau mengucapkannya dan kami melihatmu membentangkan tanganmu.” Beliau menjawab keheranan para sahabatnya dengan menyatakan:

“Sesungguhnya musuh Allah, Iblis, datang dengan bola api yang hendak dia letakkan pada wajahku. Aku katakan: “Aku berlindung kepada Allah darimu”, tiga kali. Kemudian aku berkata: “Aku melaknatmu dengan laknat Allah yang sempurna yang pantas untuk engkau dapatkan”, tiga kali. Lalu aku ingin menangkapnya. Demi Allah, seandainya bukan karena doa saudara kami Sulaiman niscaya ia menjumpai pagi hari dalam keadaan terikat hingga dapat dipermainkan oleh anak-anak Madinah.”9
Dari dua hadits di atas, dapat kita pahami bahwa Nabi n mengurungkan maksud beliau untuk menangkap setan yang menganggu dan ingin mencelakakan beliau ketika shalat, dengan alasan beliau teringat dengan doa Nabi Sulaiman u. Kita ketahui, bahwa Allah I menundukkan para jin dan setan kepada Sulaiman sehingga mereka semua tunduk patuh kepada perintah Sulaiman, sebagaimana dalam ayat:

“Kemudian Kami tundukkan untuknya (Sulaiman) angin yang berhembus dengan baik menurut ke mana saja dia kehendaki. Dan Kami tundukkan pula untuknya setan-setan, semuanya ahli bangunan dan penyelam. Demikian pula setan lain yang terikat dalam belenggu.” (Shaad: 36-38)
Menggabungkan dua hadits di atas dengan kisah Abu Hurairah z yang dapat menangkap setan ketika setan mencuri makanan zakat yang dijaga Abu Hurairah z, beliau ingin membawanya ke hadapan Nabi n, mungkin dianggap rumit. Maka jawaban atas kerumitan ini dipaparkan Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-’Asqalani t sebagai berikut: “Dimungkinkan setan yang ingin diikat Nabi n itu adalah tokoh/ pimpinan para setan, sehingga bila berhasil menguasainya berarti dapat menguasai setan yang lainnya. Bila seperti ini, dapat menyamai apa yang diperoleh Nabi Sulaiman u berupa penundukan para setan untuk memenuhi keinginannya dan mengambil perjanjian dari mereka. Sementara yang dimaksud dengan setan dalam kisah Abu Hurairah bisa jadi setan yang merupakan qarin10 Abu Hurairah, atau setan lainnya, yang bukan tokoh/ pimpinannya. Atau bisa jadi setan yang ingin diikat oleh Nabi n tampak di hadapan beliau dengan sifat aslinya sesuai dengan penciptaannya, seperti halnya setan-setan yang berkhidmat/ mengabdi pada Sulaiman u berada dalam bentuk aslinya. Adapun setan yang dilihat Abu Hurairah berada dalam wujud manusia, sehingga memungkinkan bagi Abu Hurairah untuk menangkapnya, dan tidak ada unsur penyerupaan dengan kerajaan Sulaiman. (Fathul Bari, 9/ 71-72)
Sebagai penutup, kami himbau kaum muslimin secara umum agar tidak tertipu dengan acara para dukun alias paranormal berikut ocehan mereka. Dan jangan memberikan decak kagum pada mereka karena menganggap mereka memiliki kesaktian dengan keluarbiasaan yang dipamerkan. Yakinlah, mereka itu di atas kebatilan. Mereka berdusta, dan mereka adalah kawan-kawan setan sang pendusta besar! Bacakan ayat Kursi di hadapan mereka (diruqyah) agar kekuatan palsu mereka mental dan lumpuh dengan izin Allah I.
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Catatan Kaki:

1 Bisa jadi ucapan ini mudraj (selipan) dari ucapan sebagian perawinya. Perkataan ini dibawakan untuk meminta uzur kenapa Abu Hurairah melepaskan pencuri itu pada kali yang ketiga, yaitu karena ia –sebagaimana shahabat yang lain- begitu bersemangat mendapatkan pengajaran/ pengetahuan yang bermanfaat. (Fathul Bari, 4/615-616)
2 Ghilan atau Ghul adalah setan yang biasa menyesatkan musafir yang sedang berjalan di gurun. Mereka menampakkan diri dalam berbagai bentuk yang mengejutkan dan menakutkan sehingga membuat takut musafir tersebut. (Al-Qaulul Mufid ‘ala Kitabit Tauhid, 1/569)
3 Karamah adalah kejadian di luar kebiasaan, yang Allah I jalankan lewat tangan salah seorang wali-Nya dalam rangka membantunya pada perkara agama atau dunia, namun tidak disertai dengan nubuwwah (kenabian) bagi wali tersebut. Karena bila disertai dengan nubuwwah berarti mu’jizat bukan karamah. Seperti kisah Ashabul Kahfi yang tertidur di gua selama ratusan tahun sementara tubuh mereka tetap terjaga, tidak rusak binasa. Seperti pula kisah Maryam, ibu Nabi ‘Isa u, yang mendapatkan rizki dari Allah I berupa buah-buahan sementara ia beribadah dalam mihrabnya sehingga membuat heran Nabi Zakaria u dengan pernyataannya: (Dari mana engkau mendapatkan buah-buahan ini (wahai Maryam).) (Ali ‘Imran: 37) (Syarhul ‘Aqidah Al-Wasithiyyah, Muhammad Khalil Harras, hal. 253)
4 Lihat hadits tentang kisah Nabi r ingin mengikat setan di tiang masjid
5 Dalam riwayat lain ada tambahan: ( aku pun mencekiknya).
6 Ifrit adalah kalangan jin yang sombong, membangkang, durhaka, lalim lagi jahat (Al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim 5/32).
7 Al-Khaththabi berdalil dengan hadits ini untuk menyatakan pengikut Nabi Sulaiman dapat melihat jin-jin dalam bentuk dan penampilan mereka ketika jin-jin ini beraktivitas. Adapun tentang firman Allah : , maka, kata beliau, yang dimaukan adalah mayoritas atau dominannya keadaan anak Adam (manusia), mereka tidak dapat melihat jin.
8 HR. Al-Bukhari no. 461, 1210, 3284, 3423, 4808 dan Muslim no. 1209 dari Abu Hurairahz juga.
9 HR. Muslim no. 1211
10 Setan yang selalu menyertai dan mendampingi anak Adam dan setiap anak Adam ada qarin yang menyertainya.

Rasulullah Diutus Kepada Manusia dan Jin

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Karimah bin Jamal Al-Bugisi)

“Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al-Qur`an , maka tatkala mereka menghadiri pembacaan(nya) lalu mereka berkata: ‘Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)’. Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan. Mereka berkata: ‘Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al-Qur`an ) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus. Hai kaum kami, sambutlah (seruan)penyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari adzab yang pedih. Dan orang yang tidak menerima (seruan) orang yang menyeru kepada Allah maka dia tidak akan melepaskan diri dari adzab Allah di muka bumi dan tidak ada baginya pelindung selain Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata’.” (Al-Ahqaf: 29-32)

Penjelasan Beberapa Mufradat Ayat

Kami hadapkan, maknanya Kami mengarahkan dan mengutusnya kepadamu.

Kitab yang telah diturunkan sesudah Musa. Yang dimaksud kitab di sini adalah Al-Qur`an, yang sebelumnya mereka beriman dengan apa yang diturunkan kepada Musa u.
Atha` t berkata: Mereka sebelum-nya beragama Yahudi, kemudian masuk Islam. Oleh karenanya, disebutkan “diturunkan setelah Musa.”
Ibnu Abbas c berkata: Jin tersebut tidak mendengar tentang diutusnya Nabi Isa u, oleh karenanya disebutkan “diturunkan setelah Musa.”

Membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu Taurat.

Sambutlah penyeru kepada (jalan) Allah. Yang dimaksud penyeru di sini adalah Muhammad bin Abdullah n sebagai Rasul terakhir yang diutus kepada seluruh manusia dan jin. Di mana seluruh Nabi dan Rasul sebelumnya tidak diutus kepada jin dan manusia secara keseluruhan, sebagaimana akan dijelaskan nanti.

Sebab Turunnya Ayat
Diriwayatkan Al-Hakim dalam Mustadrak-nya (2/456) dengan sanadnya dari Zir bin Hubaisy, dari Abdullah bin Mas’ud z, ia berkata: Mereka (para jin) turun ke tempat Nabi n dalam keadaan beliau sedang membaca Al-Qur`an di sebe-lah pohon kurma. Tatkala mereka mende-ngarnya, merekapun diam dan berkata: “Diamlah kalian.” Mereka berjumlah sem-bilan, salah seorang dari mereka bernama Zuba’ah. Maka Allah I menurunkan firman-Nya ini.”
Al-Hakim berkata: Sanadnya shahih. Dan disetujui oleh Adz-Dzahabi. Diriwayat-kan pula oleh Al-Imam Al-Baihaqi melalui jalur Al-Hakim dengan sanad ini dalam Dala`il An-Nubuwwah (2/13). (Lihat Ash-Shahih Al-Musnad Min Asbabin Nuzul, oleh Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i t: 212)

Penjelasan Ayat
Al-Allamah Abdurrahman As-Sa’di t berkata: “Allah I telah mengutus Rasul-Nya Muhammad n kepada seluruh makhluk, manusia dan jin. Maka merupakan keharusan baginya untuk menyampaikan seluruh tugas dakwahnya sebagai Nabi dan Rasul. Kepada manusia, memungkinkan bagi Nabi n mendakwahi dan memberi peringatan kepada mereka. Adapun jin, maka Allah I mengarahkan mereka kepada beliau n dengan kekuasaan-Nya, dan mengutus kepada beliau “sekelompok jin untuk mendengarkan Al-Qur`an. Ketika mereka telah hadir, mereka berkata: “Diamlah kalian.” Maknanya yaitu: Mereka saling mengingatkan untuk diam.
“Ketika telah selesai” dan mereka telah menghafalnya serta memberi pengaruh pada mereka, “merekapun kembali kepada kaum-nya untuk memberi peringatan” berupa nasehat untuk (kaum) mereka dan menegak-kan hujjah Allah atas mereka. Allah memilih mereka untuk membantu Rasul-Nya n dalam menyebarkan dakwah untuk kalangan para jin. Mereka berkata: “Wahai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan sebuah kitab (yaitu Al-Qur`an) yang diturunkan setelah Musa.” Sebab, kitab Musa merupakan asal dari kitab Injil, sebagai sandaran bagi Bani Israil dalam hukum-hukum syariat. Sedangkan Injil hanyalah penyempurna dan mengubah sebagian hukum (dari kitab sebelumnya). “Membenarkan kitab-kitab sebelumnya,” yang mana kitab yang kami dengar ini “memberi petunjuk kepada kebenaran” dalam setiap berita dan pencarian, serta “membimbing ke arah jalan yang lurus” menuju Allah, yang sampai kepada surga-Nya, dengan mempelajari ilmu tentang Allah, hukum-hukum agama-Nya, dan hari pembalasan.
Ketika mereka telah memuji Al-Qur`an dan menjelaskan kedudukannya, mereka pun mengajak kaumnya untuk mengimani. Mereka berkata: “Wahai kaum kami, penuhilah panggilan penyeru kepada (jalan) Allah,” yang tidak mengajak kecuali kepada Rabb-nya. Dia tidak menyeru kalian kepada tujuan tertentu, tidak pula kepada hawa nafsu. Namun dia mengajak kepada Rabb kalian, agar Allah memberimu pahala dan menghilangkan setiap kejahatan dan apa-apa yang tidak disukai dari dirimu. Oleh karenanya, mereka mengatakan: “Allah mengampuni dosa kalian dan melindungi kalian dari adzab yang pedih.” Sehingga jika Allah melindungi kalian dari adzab yang pedih, maka tak ada lain setelah itu kecuali kenikmatan. Dan inilah balasan bagi yang menyambut penyeru kepada jalan Allah.
“Barangsiapa yang tidak memenuhi panggilan penyeru kepada jalan Allah, tidaklah menjadikan Allah tidak mampu (untuk menyiksanya) di muka bumi.” Karena sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Orang yang lari dari-Nya tidak akan dapat menghindar, dan Dia tidak pula bisa dikalahkan oleh sesuatupun.
“Dan mereka tidak mempunyai penolong selain-Nya. Mereka itulah yang berada dalam kesesatan yang nyata.” Kesesatan siapa lagi yang lebih besar daripada orang yang telah diseru para rasul dan telah sampai kepadanya peringatan dengan berbagai tanda kekuasaan-Nya serta hujjah yang mutawatir, namun kemudian dia berpaling dan membangkang?” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 783)

Rasulullah n Diutus untuk Seluruh Jin dan Manusia
Tidak ada perselisihan di kalangan kaum muslimin, satu kelompok pun, bahwa Allah I mengutus Rasul-Nya n kepada seluruh jin dan manusia. Sebagaimana telah diriwayatkan dalam Al-Bukhari dan Muslim dari hadits Jabir bin Abdullah z bahwa Rasulullah n bersabda:

“Aku telah diberikan lima hal yang tidak diberikan kepada seorangpun dari kalangan para nabi sebelumku: Aku diberi pertolongan dengan ditanamkannya rasa takut (pada musuh-musuhku) sejarak satu bulan perja-lanan. Dan telah dijadikan bagiku seluruh bumi sebagai masjid dan alat bersuci. Maka siapa saja di kalangan umatku yang mendapati waktu shalat, hendaklah dia shalat. Dan dihalalkan bagiku harta rampasan perang dan tidak dihalalkan kepada seorangpun sebelumku. Dan aku diberi syafaat dan adalah nabi sebelumku diutus kepada kaumnya secara khusus sedangkan aku diutus kepada seluruh an-naas.”
Ibnu ‘Aqil berkata: “Jin termasuk ke dalam penamaan an-naas secara bahasa.”
Ar-Raghib berkata: “An-Naas adalah jenis makhluk hidup yang berfikir dan berperasaan, dan jin termasuk yang berfikir dan berperasaan.”
Al-Jauhari berkata: “An-Naas termasuk dari kalangan jin dan juga manusia.” (Lihat Aakamul Mirjan, karya Badruddin Asy-Syibli, hal. 37)
Hal ini dikuatkan dengan riwayat yang berasal dari Bukhari dan Muslim dari hadits Abu Hurairah z bahwa Rasulullah n bersabda:

“Aku diutus kepada yang merah dan yang hitam.”
Mujahid bin Jabr menafsirkan hadits ini dengan makna jin dan manusia. (Lihat Tafsir Al-Qurthubi 16/217)
Dalam riwayat Muslim dengan lafadz:

“Aku diutus kepada seluruh makhluk.”
Ibnu Abdil Barr t berkata: Mereka tidak berbeda pendapat bahwa Muhammad n diutus kepada jin dan manusia sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Ini termasuk keistimewaan beliau dibandingkan para nabi, yakni dengan diutusnya beliau kepada seluruh jin dan manusia. Sedangkan yang lainnya tidak diutus kecuali hanya kepada kaumnya, demikian pula terhadap para nabi yang lainnya. Hal ini juga disebutkan Imamul Haramain dalam kitabnya Al-Irsyad saat membantah firqah (kelompok) Al-Isawiyyah: “Dan sungguh kami mengetahui secara pasti bahwa beliau diutus kepada dua tsaqalain (jin dan manusia).” (Lihat kitab Aakamul Mirjan, hal. 38)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah t berkata: “Allah U mengutus Muhammad kepada seluruh tsaqalain: jin dan manusia, dan mewajibkan kepada mereka beriman kepadanya dan kepada apa yang dibawanya serta mentaatinya. Juga agar mereka menghalalkan apa yang dihalalkan Allah dan Rasul-Nya n, mengharamkan apa yang diharamkan Allah dan Rasul-Nya n, mewajibkan apa yang diwajibkan Allah dan Rasul-Nya n, mencintai apa-apa yang dicintai Allah dan Rasul-Nya n, dan membenci apa-apa yang dibenci Allah dan Rasul-Nya n. Dan siapa saja dari kalangan jin dan manusia yang telah ditegakkan hujjah atasnya berupa risalah yang dibawa Muhammad n, namun dia tidak beriman kepadanya, maka dia berhak mendapatkan hukuman dari Allah I sebagaimana hukuman yang diberikan kepada orang-orang kafir yang yang para rasul diutus ke tengah-tengah mereka. Ini merupakan prinsip yang telah disepakati para shahabat, tabi’in, para imam kaum muslimin, dan seluruh kelompok muslimin, baik Ahlus Sunnah wal Jamaah maupun yang lainnya.” (Aakamul Mirjan, hal. 38)
Dan pada ayat yang ke-32 yang menyatakan “Dan orang yang tidak mene-rima (seruan) penyeru kepada Allah, maka dia tidak bisa melepaskan diri dari azab Allah di muka bumi dan tidak ada baginya pelin-dung selain Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata”, sangat jelas menunjukkan bahwa kalangan jin yang tidak beriman dengan apa yang dibawa Nabi n maka dia kafir.

Adakah Rasul dari Kalangan Jin?
Jumhur ulama baik dari kalangan Salaf maupun Khalaf menyatakan bahwa tidak satupun rasul yang diutus yang berasal dari kalangan jin, dan rasul hanya berasal dari kalangan manusia. Pendapat ini dinukil dari Ibnu ‘Abbas, Ibnu Juraij, Mujahid, Al-Kalbi, Abu ‘Ubaid, dan Al-Wahidi. Dan ayat ini merupakan salah satu dalil yang menunjukkan bahwa dari kalangan jin tidak terdapat rasul, namun yang ada hanyalah para pemberi peringatan. Ibnu ‘Abbas berkata: “Para rasul dari anak cucu Adam, dan dari kalangan jin adalah nudzur (para pemberi peringatan).”
Demikian pula firman Allah:

“Sesungguhnya Kami telah mem-berikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang sesudahnya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, ‘Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Daud. Dan (kami telah mengutus) rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu. Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung. (Mereka kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (An-Nisa`: 163-165)
Allah I berfirman tentang Ibrahim u:

“Dan Kami anugrahkan kepada Ibrahim, Ishak dan Ya’qub, dan Kami jadikan kenabian dan Al Kitab pada keturunannya, dan Kami berikan kepadanya balasannya di dunia; dan sesungguhnya dia di akhirat, benar-benar termasuk orang-orang yang shalih.” (Al-’Ankabut: 27)
Dalam ayat ini, Allah membatasi kenabian dan pemberian kitab setelah Ibra-him pada keturunannya. Dan tidak seorang-pun manusia yang mengatakan bahwa kena-bian dari kalangan jin pernah terjadi sebelum diutusnya Ibrahim, lalu terputus setelah beliau diutus. Demikian pula firman-Nya:

“Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu melainkan mereka sungguh memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar. Dan Kami jadikan sebahagian kamu cobaan bagi sebahagian yang lain. Maukah kamu bersabar? Dan adalah Rabbmu Maha Melihat.” (Al-Furqan: 20)
Dan firman-Nya:

“Kami tidak mengutus sebelum kamu melainkan orang laki-laki yang Kami berikan wahyu kepadanya di antara penduduk negeri. Maka tidakkah mereka bepergian di muka bumi lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka (yang mendus-takan rasul) dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memikirkannya?” (Yusuf: 109)
Semua dalil ini menguatkan pendapat jumhur yang menyatakan bahwa rasul seluruhnya dari kalangan manusia dan tidak satupun dari kalangan jin.
Ada sebagian ulama yang berpendapat bahwa dari kalangan jin terdapat rasul tersendiri sebagaimana manusia. Di antara nya adalah Adh-Dhahhak bin Muzahim, dan dia berdalil dengan firman Allah I:

“Hai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepadamu rasul-rasul dari golongan kamu sendiri, yang menyampaikan kepadamu ayat-ayat-Ku dan memberi peringatan kepadamu akan pertemuanmu dengan hari ini? Mereka berkata: ‘Kami menjadi saksi atas diri kami sendiri’. Kehidupan dunia telah menipu mereka, dan mereka menjadi saksi atas diri mereka sendiri, bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir.” (Al-An’am: 130)
Sisi pendalilan ayat ini bahwa lafadz: “Wahai sekalian jin dan manusia, bukankah telah datang kepadamu para rasul dari kalian”, dipahami bahwa dari manusia ada rasul dari kalangan mereka, maka demikian pula dari kalangan jin.
Namun pendalilan ini sangat lemah, sebab ayat ini tidak jelas menunjukkan atas apa yang dimaukan. Seperti firman Allah:

“Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing. Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan? Dari keduanya keluar mutiara dan marjan.” (Ar-Rahman: 19-22)
Padahal mutiara dan marjan tersebut hanyalah dikeluarkan dari laut yang asin dan bukan yang tawar. Dan ini adalah perkara yang jelas, sebagaimana disebutkan Ibnu Katsir t. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir: 2/178. Lihat pula kitab Al-Ilham Wal In’am Fi Tafsir Surah Al-An’am, karya Taqiyyuddin Al-Hilali, hal. 105)
Wallahu a’lam bish-shawab.

Manusia, Malaikat dan Jin Tidak Mengetahui yang Ghaib

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf)

Istilah “penampakan” kian akrab di telinga masyarakat kita akhir-akhir ini. Bagaimana pandangan syariat menyoroti hal ini? Bagaimana pula dengan keyakinan bahwa sebagian manusia bisa mengetahui hal-hal ghaib? Simak bahasan berikut!

Mempercayai hal-hal yang ghaib merupakan salah satu syarat dari benarnya keimanan. Allah I berfirman:

“Alif laam miim. Kitab (Al-Qur`an) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa. (Yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rizki yang Kami anugerahkan kepada mereka. Dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al-Qur`an) yang diturunkan kepadamu dan kitab-kitab yang telah diturunkan sebelum-mu. Serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Rabb mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.” (Al-Baqarah: 1-5)
Ghaib adalah segala sesuatu yang tersembunyi dan tidak terlihat oleh manusia, seperti surga, neraka dan apa yang ada di dalamnya, alam malaikat, hari akhir, alam langit dan yang lainnya yang tidak bisa diketahui manusia kecuali bila ada pemberitaan dari Allah I. (Lihat Tafsir Al-Qur`anul ‘Azhim, 1/53)
Alam jin dan wujud jin dalam bentuk asli seperti yang telah Allah I ciptakan adalah ghaib bagi kita. Namun golongan jin dapat berubah-ubah bentuk –dengan kekuasaan Allah I– dan amat mungkin bagi mereka melakukan penampakan, sehingga kita dapat melihatnya dalam wujud yang bukan aslinya. Allah I berfirman:

“Sesungguhnya ia (setan) dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka.” (Al-A’raf: 27)
Dari Abu As-Sa`ib, maula Hisyam bin Zuhrah, beliau bercerita bahwa dirinya pernah berkunjung ke rumah Abu Sa’id Al-Khudri z, katanya: “Aku mendapatinya tengah mengerjakan shalat, akupun duduk menunggunya hingga beliau selesai. Tiba-tiba aku mendengar adanya gerakan pada bejana tempat minum yang ada di pojok rumah. Aku menoleh ke arahnya dan ternya-ta ada seekor ular. Aku segera meloncat untuk membunuhnya, namun Abu Sa’id memberi isyarat kepadaku agar aku duduk. Ketika ia selesai dari shalatnya, ia menunjuk ke sebuah rumah yang ada di kampung itu sambil berkata: ‘Apakah engkau lihat rumah itu?’ ‘Ya,’ jawabku. Ia kemudian menutur-kan, ‘Dahulu yang tinggal di rumah itu adalah seorang pemuda yang baru saja menjadi pengantin. Kala itu kami berangkat bersama Rasulullah n ke Khandaq dan pemuda itupun ikut bersama kami. Saat tengah hari, pemuda itu meminta izin kepada Rasulullah n untuk pulang menemui istrinya. Rasulullah n mengizinkannya sambil berpesan: ‘Bawalah senjatamu karena aku khawatir engkau bertemu dengan orang-orang dari Bani Quraidhah.’ Pemuda itu mengambil senjatanya, kemudian pulang menemui istrinya. Setibanya di rumah, ternyata istrinya sedang berdiri di antara dua daun pintu. Ia mengarahkan tombaknya kepada istrinya untuk melukainya karena merasa cemburu karena istrinya berada di luar rumah. Istrinya berkata kepadanya: “Tahan dulu tombakmu, dan masuklah ke dalam rumah sehingga engkau akan tahu apa yang menyebabkan aku sampai keluar rumah!”
Pemuda itu masuk, dan ternyata terdapat seekor ular besar yang melingkar di atas tempat tidur. Pemuda itu lantas menghunuskan tombaknya dan menusuk-kannya pada ular tersebut. Setelah itu, ia keluar dan menancapkan tombaknya di dinding rumah. Ular itu (yang belum mati, red.) menyerangnya dan terjadilah pergumulan dengan ular tersebut. Tidak diketahui secara pasti mana di antara keduanya yang lebih dahulu mati, ular atau pemuda itu.’
Abu Sa’id z melanjutkan ceritanya: ‘Kami menghadap Rasulullah n dan melaporkan kejadian itu kepadanya dan kami sampaikan kepada beliau: ‘Mohonlah kepada Allah agar menghidupkannya demi kebahagiaan kami.’ Beliau menjawab: ‘Mohonlah ampun untuk shahabat kalian itu!’
Selanjutnya beliau bersabda: ‘Sesung-guhnya di Madinah terdapat golongan jin yang telah masuk Islam, maka jika kalian melihat sebagian mereka –dalam wujud ular– berilah peringatan tiga hari. Dan apabila masih terlihat olehmu setelah itu, bunuhlah ia, karena sebenarnya dia adalah setan.” (HR. Muslim no. 2236 dan 139 dari Abu Sa`ib, maula Hisyam bin Zuhrah)1
Para Rasul Tidak Mengetahui yang Ghaib
Telah disebutkan sebelumnya bahwa sekumpulan jin datang kepada Nabi n, kemudian mendengarkan bacaan Al-Qur`an. Ketika itu Nabi n tidak mengetahui kehadiran mereka kecuali setelah sebuah pohon memberitahunya –dan Allah I Maha Kuasa untuk menjadikan pohon dapat berbicara– seperti yang disebutkan Al-Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya dari shahabat Ibnu Mas’ud z. Ini menunjukkan bahwa beliau tidak mengetahui perkara ghaib kecuali yang telah Allah I kabarkan. (Nashihati li Ahlis Sunnah Minal Jin)
Allah I berfirman:

“Katakanlah: ‘Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak pula aku mengetahui yang ghaib dan tidak pula aku mengatakan kepada-mu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengetahui kecuali apa yang diwahyukan kepadaku.’ Katakanlah: ‘Apakah sama orang yang buta dengan orang yang melihat?’ Maka apakah kamu tidak memikirkannya?” (Al-An’am: 50)
Allah I juga berfirman:

“Katakanlah: ‘Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak pula menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku berbuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman’.” (Al-A’raf: 188)

Para Malaikat Tidak Mengetahui yang Ghaib
Kendatipun para malaikat adalah mahluk yang dekat di sisi Allah I, namun untuk urusan ghaib ternyata mereka pun tidak mengetahuinya. Allah I berfirman saat pertama kali hendak menciptakan manusia:

“Dan ingatlah ketika Rabbmu berfir-man kepada para malaikat: ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.’ Mereka berkata: ‘Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?’ Allah berfirman: ‘Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang kamu tidak ketahui.’ Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: ‘Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!’ Mereka menja-wab: ‘Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana’.” (Al-Baqarah: 30-32)

Kaum Jin Tidak Mengetahui yang Ghaib
Banyak sekali orang yang tertipu dan keliru kemudian mengira jika bangsa jin mengetahui yang ghaib, terutama bagi mereka yang terjun dalam kancah sihir dan perdukunan. Akibatnya, kepercayaan dan ketergantungan mereka terhadap jin sangatlah besar sehingga menggiring mereka kepada kekufuran.
Padahal Allah I dengan tegas telah mementahkan anggapan ini dalam firman-Nya:

“Maka tatkala Kami telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang menun-jukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka tatkala ia tersungkur, tahulah jin itu bahwa kalau sekiranya mereka mengetahui yang ghaib tentulah mereka tidak tetap dalam siksa yang menghinakan.” (Saba`: 14)

Manusia Tidak Dapat Mengetahui Alam Ghaib
Jika para rasul yang merupakan utusan Allah I dalam menyampaikan syariat-Nya kepada manusia tidak mengetahui hal yang ghaib sedikitpun, maka sudah tentu manusia secara umum tidak ada yang dapat mengetahui alam ghaib atau menjangkau batasan-batasannya. Allah I hanya memerintahkan agar mengimani perkara yang ghaib dengan keimanan yang benar.
Keyakinan seperti ini agaknya sudah mulai membias. Apalagi saat ini banyak sekali orang yang menampilkan dirinya sebagai narasumber untuk urusan-urusan yang ghaib, mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan terkait dengan masa depan seseorang, dari mulai jodoh, karir, bisnis, atau yang lainnya.
Kata ‘dukun’ barangkali sekarang ini jarang didengar dan bahkan serta merta mereka akan menolak bila dikatakan dukun. Dalihnya, apalagi kalau bukan seputar “Kami tidak meminta syarat-syarat apapun kepada anda”, “Kami tidak menyuruh memotong ayam putih”, dan sebagainya. Padahal praktek seperti itu adalah praktek dukun juga. Bedanya, dukun sekarang ini berpendidikan sehingga bahasa yang digunakannya pun bahasa-bahasa ilmiah, sehingga mereka jelas enggan disebut dukun.
Tak ada seorang pun yang dapat melihat dan mengetahui perkara ghaib, menentukan ini dan itu terhadap sesuatu yang belum dan akan terjadi di masa datang. Jika toh bisa, itu semata-mata bantuan dan tipuan dari setan, sehingga dusta bila itu dihasilkan dari latihan dan olah jiwa.                        Allah I berfirman:

“Dan sesungguhnya Iblis telah dapat membuktikan kebenaran sangkaannya terha-dap mereka lalu mereka mengikutinya, kecu-ali sebahagian orang-orang yang beriman. Dan tidak adalah kekuasaan Iblis terhadap mereka, melainkan hanyalah agar Kami dapat membedakan siapa yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat dari siapa yang ragu-ragu tentang hal itu. Dan Rabbmu Maha Memelihara segala sesuatu.” (Saba`: 20-21)
Ada pula sebagian manusia yang memiliki aqidah rusak, di mana mereka meyakini adanya sebagian orang yang keberadaannya ghaib dari pandangan manusia, dan biasanya identik dengan orang-orang yang dianggap telah suci jiwanya. Mereka mengistilahkannya dengan roh suci atau rijalul ghaib.
Ketahuilah bahwa tidak ada istilah manusia ghaib. Tidak ada pula istilah rijalul ghaib di tengah-tengah manusia. Rijalul ghaib itu tiada lain adalah jin. Allah I berfirman:

“Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlin-dungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.” (Al-Jin: 6) (Lihat Qa’idah ‘Azhimah, hal. 152)
Alam ghaib tetaplah ghaib, sesuatu yang tidak bisa diketahui dan dilihat manusia kecuali apa yang telah Allah I beritakan.
Allah I berfirman:

“(Dia adalah) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya.” (Al-Jin: 26-27)

Kunci-kunci Ghaib adalah Milik Allah I Semata
Sesungguhnya tak ada seorangpun yang mengetahui perkara ghaib dan hal-hal yang berhubungan dengannya, kecuali Allah I. Dan Allah I telah banyak menegaskan hal ini dalam Al-Qur`an. Allah I berfirman:

“Katakanlah: ‘Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah’, dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan.” (An-Naml: 65)
Allah I berfirman:

“Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat, dan Dialah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Luqman: 34)
Allah I juga berfirman:

“Yang demikian itu ialah Rabb Yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.” (As-Sajdah: 6)
Dalam ayat lainnya:

“Allah berfirman: ‘Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?’.” (Al-Baqarah: 33)
Banyak sekali dalil-dalil yang berhu-bungan dengan masalah ini. Namun mungkin yang disebutkan di sini, sudah dapat mewakili bahwa Allah I-lah yang mengetahui hal ihwal alam ghaib. Sedang-kan manusia, tak ada yang bisa mengetahui dan melihatnya kecuali apa-apa yang telah Allah I kuasakan.
Mudah-mudahan semua uraian-uraian di atas bermanfaat bagi kita semua. Amin yaa Mujiibas sa`iliin.
Wal ’ilmu ‘indallah.

Catatan Kaki:

1 Terjadi perbedaan pendapat dalam hal membunuh ular yang berada di rumah. Sebagian ulama berpendapat bahwa pemberian peringatan terlebih dahulu itu hanya berlaku di Madinah, adapun di tempat selainnya bisa langsung dibunuh. Ini adalah pendapat Al-Imam Malik, dan yang dikuatkan oleh Al-Maziri. Sebagian yang lain berpendapat bahwa pemberian peringatan terlebih dahulu bersifat umum, bukan hanya di Madinah. Kecuali ular Al-Abtar yakni yang berekor pendek dan Dzu Thufyatain, yang mempunyai dua garis lurus berwarna putih di punggungnya, boleh langsung dibunuh walaupun di rumah. (ed)

Berinteraksi dengan Jin

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf)

Jin memang diakui keberadaannya dalam syariat. Sayangnya, banyak masyarakat yang menyikapinya dengan dibumbui klenik mistis. Bahkan belakangan, tema jin dan alam ghaib menjadi salah satu komoditi yang menyesaki tayangan berbagai media.

Fenomena alam jin akhir-akhir ini menjadi topik yang ramai diperbincangkan dan hangat di bursa obrolan. Menggugah keinginan banyak orang untuk mengetahui lebih jauh dan menyingkap tabir rahasianya, terlebih ketika mereka banyak disuguhi tayangan-tayangan televisi yang sok berbau alam ghaib. Lebih parah lagi, pembahasan seputar itu tak lepas dari pemahaman mistik yang menyesatkan dan membahayakan aqidah. Padahal alam ghaib, jin, dan sebagainya merupakan perkara yang harus diimani keberadaannya dengan benar.
Membahas topik seputar jin sendiri sejatinya sangatlah panjang. Sampai-sampai guru kami Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi t mengatakan: “Bila ada seseorang yang menulisnya, tentu akan keluar menjadi sebuah buku seperti Bulughul Maram atau Riyadhus Shalihin, dilihat dari sisi klasifikasinya, yang muslim dan yang kafir, penguasaan jin dan setan, serta godaan-godaannya terhadap Bani Adam.”

Keagamaan Kaum Jin
Jin tak jauh berbeda dengan Bani Adam. Di antara mereka ada yang shalih dan ada pula yang rusak lagi jahat. Seperti firman Allah I menghikayatkan mereka:

“Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang shalih dan di antara kami ada (pula) yang tidak demikian halnya. Adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda.” (Al-Jin: 11)
Dalam ayat lain Allah I berfirman:

“Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang taat dan ada (pula) orang-orang yang menyimpang dari kebenaran.” (Al-Jin: 14)
Di antara mereka ada yang kafir, jahat dan perusak, ada yang bodoh, ada yang sunni, ada golongan Syi’ah, serta ada juga golongan sufi.
Diriwayatkan dari Al-A’masy, beliau berkata: “Jin pernah datang menemuiku, lalu kutanya: ‘Makanan apa yang kalian sukai?’ Dia menjawab: ‘Nasi.’ Maka kubawakan nasi untuknya, dan aku melihat sesuap nasi diangkat sedang aku tidak melihat siapa-siapa. Kemudian aku bertanya: ‘Adakah di tengah-tengah kalian para pengikut hawa nafsu seperti yang ada di tengah-tengah kami?’ Dia menjawab: ‘Ya.’
‘Bagaimana keadaan golongan Rafidhah yang ada di tengah kalian?” tanyaku. Dia menjawab: ‘Merekalah yang paling jelek di antara kami’.”
Ibnu Katsir t berkata: “Aku perlihatkan sanad riwayat ini pada guru kami, Al-Hafizh Abul Hajjaj Al-Mizzi, dan beliau mengatakan: ‘Sanad riwayat ini shahih sampai Al-A’masy’.” (Tafsir Al-Qur`anul ’Azhim, 4/451)

Mendakwahi Jin
Dakwah memiliki kedudukan yang sangat agung. Dakwah merupakan bagian dari kewajiban yang paling penting yang diemban kaum muslimin secara umum dan para ulama secara lebih khusus. Dakwah merupakan jalan para rasul, di mana mereka merupakan teladan dalam persoalan yang besar ini.
Karena itulah Allah I mewajibkan para ulama untuk menerangkan kebenaran dengan dalilnya dan menyeru manusia kepadanya. Sehingga keterangan itu dapat mengeluarkan mereka dari gelapnya kebodohan, dan mendorong mereka untuk melaksanakan urusan dunia dan agama sesuai dengan apa yang telah diperintahkan Allah I.
Dakwah yang diemban Nabi n adalah dakwah yang universal, tidak terbatas kepada kaum tertentu tetapi untuk seluruh manusia. Bahkan kaum jin pun menjadi bagian dari sasaran dakwahnya.
Al-Qur`an telah mengabarkan kepada kita bahwa sekelompok kaum jin men-dengarkan Al-Qur`an, sebagaimana tertera dalam surat Al-Ahqaf ayat 29-32. Kemudian Allah menyuruh Nabi kita n agar memberitahukan yang demikian itu. Allah I berfirman:

“Katakanlah (hai Muhammad): ‘Telah diwahyukan kepadaku bahwasanya: sekumpulan jin telah mendengarkan Al-Qur`an, lalu mereka berkata: ‘Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al-Qur`an yang menakjubkan’,” dan seterusnya. (Lihat Al-Qur`an surat Al-Jin: 1)
Tujuan dari itu semua adalah agar manusia mengetahui ihwal kaum jin, bahwa beliau n diutus kepada segenap manusia dan jin. Di dalamnya terdapat petunjuk bagi manusia dan jin serta apa yang wajib bagi mereka yakni beriman kepada Allah I, Rasul-Nya, dan hari akhir. Juga taat kepada Rasul-Nya dan larangan dari melakukan kesyirikan dengan jin.
Jika jin itu sebagai makhluk hidup, berakal dan dibebani perintah dan larangan, maka mereka akan mendapatkan pahala dan siksa. Bahkan karena Nabi n pun diutus kepada mereka, maka wajib atas seorang muslim untuk memberlakukan di tengah-tengah mereka seperti apa yang berlaku di tengah-tengah manusia berupa amar ma’ruf nahi mungkar dan berdakwah seperti yang telah disyariatkan Allah I dan Rasul-Nya. Juga seperti yang telah diserukan dan dilakukan Nabi n atas mereka. Bila mereka menyakiti, maka hadapilah serangannya seperti saat membendung serangan manusia. (Idhahu Ad-Dilalah fi ‘Umumi Ar-Risalah, hal. 13 dan 16)
Mendakwahi kaum jin tidaklah meng-haruskan seseorang untuk terjun menyelami seluk-beluk alam dan kehidupan mereka, serta bergaul langsung dengannya. Karena semua ini tidaklah diperintahkan. Sebab, lewat majelis-majelis ta’lim dan kegiatan dakwah lainnya yang dilakukan di tengah-tengah manusia berarti juga telah mendakwahi mereka.
Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi t berkata: “Bisa jadi ada sebagian orang mengira bahwa para jin itu tidak menghadiri majelis-majelis ilmu. Ini adalah sangkaan yang keliru. Padahal tidak ada yang dapat mencegah mereka untuk menghadirinya, kecuali di antaranya ada yang mengganggu dan ada setan-setan. Maka kita katakan:

“Ya Rabbku, aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan setan. Dan aku berlindung (pula) kepada Engkau ya Rabbku, dari kedatangan mereka kepadaku.” (Al-Mu`minun: 97-98) [lihat Nashihatii li Ahlis Sunnah Minal Jin]

Adakah Rasul dari Kalangan Jin?
Para ulama berselisih pendapat tentang masalah ini, apakah dari kalangan jin ada rasul, ataukah rasul itu hanya dari kalangan manusia? Sementara Allah I berfirman:

“Wahai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepadamu rasul-rasul dari golongan kamu sendiri yang menyam-paikan kepadamu ayat-ayat-Ku dan memberi peringatan kepadamu terhadap pertemuan-mu dengan hari ini?” Mereka berkata: ‘Kami menjadi saksi atas diri kami sendiri’. Kehidupan dunia telah menipu mereka, dan mereka menjadi saksi atas diri mereka sendiri bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir.” (Al-An’am: 130)
Sebagian ulama berdalil dengan ayat ini untuk menyatakan bahwa ada rasul dari kalangan jin. Juga berdalilkan dengan sebuah atsar (riwayat) dari Adh-Dhahhak ibnu Muzahim. Beliau mengatakan bahwa ada rasul dari kalangan jin. Yang berpendapat seperti ini di antaranya adalah Muqatil dan Abu Sulaiman, namun keduanya tidak menyebutkan sandaran (dalil)-nya. (Zadul Masir, 3/125)            Yang benar, wal ’ilmu ’indallah, tidak ada rasul dari kalangan jin. Dan pendapat inilah yang para salaf dan khalaf berada di atasnya. Adapun atsar yang datang dari Adh-Dhahhak, telah diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dalam Tafsir-nya (12/121). Namun di dalam sanadnya ada syaikh (guru) Ibnu Jarir yang bernama Ibnu Humaid yakni Muhammad bin Humaid Abu Abdillah Ar-Razi. Para ulama banyak membicarakan-nya, seperti Al-Imam Al-Bukhari telah berkata tentangnya: “Fihi nazhar (perlu ditinjau kembali, red.).” Al-Imam Adz-Dzahabi t berkata: “Dia, bersamaan dengan kedudukannya sebagai imam, adalah mungkarul hadits, pemilik riwayat yang aneh-aneh.” (Siyarul A’lam An-Nubala`, 11 / 530). Lebih lengkapnya silahkan pembaca merujuk kitab-kitab al-jarhu wa ta’dil.
Ibnu Katsir t berkata: “Tidak ada rasul dari kalangan jin seperti yang telah dinyatakan Mujahid dan Ibnu Juraij serta yang lainnya dari para ulama salaf dan khalaf. Adapun berdalil dengan ayat –yakni Al-An’am: 130–, maka perlu diteliti ulang karena masih terdapatnya kemung-kinan, bukan merupakan sesuatu yang sharih (jelas pendalilannya). Sehingga kalimat ‘dari golongan kamu sendiri’ maknanya adalah ‘dari salah satu golongan kamu’.” (Lihat Tafsir Al-Qur`anul ‘Azhim, 2/188)

Menikah dengan Jin
Menikah adalah satu-satunya cara terbaik untuk mendapatkan keturunan. Karena itulah Allah I mensyariatkannya untuk segenap hamba-hamba-Nya. Allah I berfirman:

“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang perempuan.”(An-Nuur: 32)
Kaum jin memiliki keturunan dan anak keturunannya beranak-pinak, sebagaimana manusia berketurunan dan anak keturunan-nya beranak-pinak. Allah I berfirman:

“Patutkah kalian mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain-Ku, sedangkan mereka adalah musuh kalian?” (Al-Kahfi: 50)
Kalangan kaum jin itu ada yang berjenis laki-laki dan ada juga perempuan, sehingga untuk mendapatkan keturunan merekapun saling menikah. Allah I berfirman:

“Tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni surga yang menjadi suami mereka) dan tidak pula oleh jin.” (Ar-Rahman: 56)
Artha’ah Ibnul Mundzir t berkata: “Dhamrah ibnu Habib pernah ditanya: ‘Apakah jin akan masuk surga?’ Beliau menjawab: ‘Ya, dan mereka pun menikah. Untuk jin yang laki-laki akan mendapatkan jin yang perempuan, dan untuk manusia yang jenis laki-laki akan mendapatkan yang jenis perempuan’.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya, 4/288)
Termasuk kasih sayang Allah I terhadap Bani Adam, Allah I menjadikan untuk mereka suami-suami atau istri-istri dari jenis mereka sendiri. Allah I berfirman:

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya. Dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang.” (Ar-Rum: 21)
Perkara ini, yakni pernikahan antara manusia dengan manusia adalah hal yang wajar, lumrah dan sesuai tabiat, karena adanya rasa cinta dan kasih sayang di tengah-tengah mereka. Persoalannya, mungkinkah terjadi pernikahan antara manusia dengan jin, atau sebaliknya jin dengan manusia?                        Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah t berkata: “Pernikahan antara manusia dengan jin memang ada dan dapat menghasilkan anak. Peristiwa ini sering terjadi dan populer. Para ulama pun telah menyebutkannya. Namun kebanyakan para ulama tidak menyukai pernikahan dengan jin.” (Idhahu Ad-Dilalah hal. 16) 1
Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi t mengatakan: “Para ulama telah berselisih pendapat tentang perkara ini sebagaimana dalam kitab Hayatul Hayawan karya Ad-Dimyari. Namun menurutku, hal itu diperbolehkan, yakni laki-laki yang muslim menikahi jin wanita yang muslimah. Adapun firman Allah I:

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepada-nya…” (Ar-Rum: 21),
maka –maknanya– ini adalah anugrah yang terbesar di mana manusia yang jenis laki-laki menikah dengan manusia yang jenis perempuan, dan jin laki-laki dengan jin perempuan.
Tetapi jika seorang laki-laki dari kalangan manusia menikah dengan seorang perempuan dari kalangan jin, maka kita tidak memiliki alasan dari syariat yang dapat mencegahnya. Demikian juga sebaliknya. Hanya saja Al-Imam Malik t tidak menyukai bila seorang wanita terlihat dalam keadaan hamil, lalu dia ditanya: “Siapa suamimu?” Dia menjawab: “Suamiku dari jenis jin.”
Saya (Asy-Syaikh Muqbil) katakan: “Memungkinkan sekali fenomena yang seperti ini membuka peluang terjadinya perzinaan dan kenistaan.” (Nashihatii li Ahlis Sunnah Minal Jin)

Meminta Bantuan Jin
Sangat rasional dan amatlah sesuai dengan fitrah bila yang lemah meminta bantuan kepada yang kuat, dan yang kekurangan meminta bantuan kepada yang serba kecukupan.
Manusia lebih mulia dan lebih tinggi kedudukannya daripada jin. Sehingga sangatlah jelek dan tercela bila manusia meminta bantuan kepada jin. Selain itu, bila ternyata yang dimintai bantuannya adalah setan, maka secara perlahan, setan itu akan menyuruh kepada kemaksiatan dan penyelisihan terhadap agama Allah I. Allah I berfirman:

“Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin. Maka jin-jin itu menambah ketakutan bagi mereka.” (Al-Jin: 6)
Ibnu Mas’ud z berkata: “Ada sekelompok orang dari kalangan manusia yang menyembah beberapa dari kalangan jin, lalu para jin itu masuk Islam. Sementara sekelompok manusia yang menyembahnya itu tidak mengetahui keislamannya, mereka tetap menyembahnya sehingga Allah I mencela mereka.” (Diambil dari Qa’idah ’Azhimah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah hal. 24)
Jin tidak mengetahui perkara yang ghaib dan tidak punya kekuatan untuk memberikan kemudharatan tidak pula mendatangkan kemanfaatan. Allah I berfirman:

“Maka tatkala Kami telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang menunjuk-kan kematiannya itu kepada mereka kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka tatkala ia telah tersungkur, tahulah jin itu bahwa kalau mereka mengetahui yang ghaib tentulah mereka tidak tetap dalam siksa yang menghinakan.” (Saba`: 14)
Jin tidak memiliki kemampuan untuk menolak mudharat atau memindahkannya. Jin tidak bisa mentransfer penyakit dari tubuh manusia ke dalam tubuh binatang. Demikian pula manusia, tidak punya kemampuan untuk itu. Allah I berfirman:

“Dan tidak adalah kekuasaan Iblis terhadap mereka, melainkan hanyalah agar Kami dapat membedakan siapa yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat dari siapa yang ragu-ragu tentang itu. Dan Rabbmu Maha Memelihara segala sesuatu. Katakanlah: ‘Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai sesembahan) selain Allah, mereka tidak memiliki (kekuasaan) seberat zarrahpun di langit dan di bumi. Dan mereka tidak mempunyai suatu sahampun dalam (penciptaan) langit dan bumi dan sekali-kali tidak ada di antara mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya’.” (Saba`: 21-22)

Gangguan Jin
Secara umum, gangguan jin merupakan sesuatu yang tidak diragukan lagi keberadaannya, baik menurut pemberitaan Al-Qur`an, As-Sunnah, maupun ijma’. Allah I berfirman:

“Dan jika setan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Fushshilat: 36)
Rasulullah n bersabda:

“Sesungguhnya setan menampak-kan diri di hadapanku untuk memutus shalatku. Namun Allah memberikan kekuasaan kepadaku untuk menghadapinya. Maka aku pun membiarkannya. Sebenarnya aku ingin mengikatnya di sebuah tiang hingga kalian dapat menontonnya. Tapi aku teringat perkataan saudaraku Sulaiman u: ‘Ya Rabbi anugerahkanlah kepada-ku kerajaan yang tidak dimiliki seorang pun sesudahku’. Maka Allah mengusirnya dalam keadaan hina.” (HR. Al-Bukhari no. 4808, Muslim no. 541 dari Abu Hurairah z)
Suatu ketika Rasulullah n sedang mendirikan shalat, lalu didatangi setan. Beliau memegangnya dan mencekiknya. Beliau bersabda:

“Hingga tanganku dapat merasakan lidahnya yang dingin yang menjulur di antara dua jariku: ibu jari dan yang setelahnya.” (HR. Ahmad, 3/82-83 dari Abu Sa’id Al-Khudri z)
Diriwayatkan dari ‘Utsman bin Abil ‘Ash z, ia berkata:

“Wahai Rasulullah, setan telah menjadi penghalang antara diriku dan shalatku serta bacaanku.” Beliau n bersabda: “Itulah setan yang bernama Khanzab. Jika engkau merasakannya, maka berlindunglah kepada Allah darinya dan meludahlah ke arah kiri tiga kali.” Aku pun melakukannya dan Allah telah mengusirnya dari sisiku. (HR. Muslim no. 2203 dari Abul ’Ala`)
Gangguan jin juga bisa berupa masuknya jin ke dalam tubuh manusia yang diistilahkan orang sekarang dengan kesu-rupan atau kerasukan.                    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah t berkata: “Keberadaan jin merupakan perkara yang benar menurut Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya serta kesepakatan salaful ummah dan para imamnya. Demikian pula masuknya jin ke dalam tubuh manusia adalah perkara yang benar dengan kesepakatan para imam Ahlus Sunnah wal Jamaah. Allah I berfirman:

“Orang-orang yang makan (mengam-bil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila.” (Al-Baqarah: 275)
Dan dalam hadits yang shahih dari Nabi n:

“Sesungguhnya setan itu berjalan di dalam diri anak Adam melalui aliran darah.”
Tidak ada imam kaum muslimin yang mengingkari masuknya jin ke dalam tubuh orang yang kesurupan. Siapa yang mengingkarinya dan menyatakan bahwa syariat telah mendustakannya, berarti dia telah mendustakan syariat itu sendiri. Tidak ada dalil-dalil syar’i yang menolaknya.” (Majmu’ul Fatawa, 24/276-277, diambil dari tulisan Asy-Syaikh Ibnu Baz, Idhahul Haq)
Ibnul Qayyim juga telah panjang lebar menerangkan masalah ini. (Lihat Zadul Ma’ad, 4/66-69)

Golongan yang Mengingkari Masuknya Jin ke dalam Tubuh Manusia (Kesurupan)
a. Kaum orientalis, musuh-musuh Islam yang tidak percaya kecuali kepada hal-hal yang bisa diraba panca indra.
b. Para ahli filsafat dan antek-anteknya, mereka mengingkari keberadaan jin. Maka secara otomatis merekapun mengingkari merasuknya jin ke dalam tubuh manusia.
c. Kaum Mu’tazilah, mereka mengakui adanya jin tetapi menolak masuknya jin ke dalam tubuh manusia.
d. Prof. Dr. ‘Ali Ath-Thanthawi, guru besar Universitas Al-Azhar, Kairo. Ia mengingkari dan mendustakan terjadinya kesurupan karena jin dan menganggap hal itu hanyalah sesuatu yang direkayasa (lihat artikel Idhahul Haq fi Dukhulil Jinni Fil Insi, Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz t)
e. Dr. Muhammad Irfan. Dalam surat kabar An-Nadwah tanggal 14/10/1407 H, menyatakan bahwa: “Masuknya jin ke dalam tubuh manusia dan bicaranya jin lewat lisan manusia adalah pemahaman ilmiah yang salah 100%.” (Idhahul Haq)
f. Persatuan Islam (PERSIS). Dalam Harian Pikiran Rakyat tanggal 5 September 2005, mengeluarkan beberapa pernyataan yang diwakili Dewan Hisbahnya, sebagai berikut: “Poin 7 …Tidak ada kesurupan jin, keyakinan dan pengobatan kesurupan jin adalah dusta dan syirik.”
Semua pengingkaran atas kemampuan masuknya jin ke dalam tubuh manusia adalah batil. Hanya terlahir dari sedikitnya ilmu akan perkara-perkara yang syar’i dan terhadap apa yang ditetapkan ahlul ilmi dari kalangan Ahlus Sunnah Wal Jamaah.             Abdullah bin Ahmad bin Hambal berkata: “Aku pernah berkata pada ayahku: ‘Sesungguhnya ada sekumpulan kaum yang berkata bahwa jin tidak dapat masuk ke tubuh manusia yang kerasukan.’ Maka ayahku berkata: ‘Wahai anakku, tidak benar. Mereka itu berdusta. Bahkan jin dapat berbicara lewat lidahnya’.” (Idhahu Ad-Dilalah, atau lihat Majmu’ul Fatawa, 19/10)
Berikut ini pernyataan para mufassir (ahli tafsir) berkenaan dengan firman Allah I:

“Orang-orang yang makan riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila.” (Al-Baqarah: 275)         q Al-Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari t mengatakan: “Yakni bahwa orang-orang yang menjalankan praktek riba ketika di dunia, maka pada hari kiamat nanti akan bangkit dari dalam kuburnya seperti bangkitnya orang yang kesurupan setan yang dirusak akalnya di dunia. Orang itu seakan kerasukan setan sehingga menjadi seperti orang gila.” (Jami’ Al-Bayan Fi Tafsir Al-Qur`an, 3/96)
q Al-Imam Al-Qurthubi t mene-gaskan: “Ayat ini adalah argumen yang mementahkan pendapat orang yang mengingkari adanya kesurupan jin dan menganggap yang terjadi hanyalah faktor proses alamiah dalam tubuh manusia serta bahwa setan sama sekali tidak dapat merasuki manusia.” (Al-Jami’ li Ahkamil Qur`an, 3/355)
q Al-Imam Ibnu Katsir t berkata: “Yakni mereka tidak akan bangkit dari kuburnya pada hari kiamat melainkan seperti bangkitnya orang yang kesurupan setan saat setan itu merasukinya.” (Tafsir Al-Qur`anul ‘Azhim, 1/359)

Penyebab Kesurupan
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah t menjelaskan bahwa masuknya jin pada tubuh manusia bisa jadi karena dorongan syahwat, hawa nafsu dan rasa cinta kepada manusia, sebagaimana yang terjadi antara manusia satu sama lainnya. Terkadang -atau bahkan mayoritasnya- juga karena dendam dan kemarahan atas apa yang dilakukan sebagian manusia seperti buang air kecil, menuangkan air panas yang mengenai sebagian mereka, serta membu-nuh sebagian mereka meskipun manusia tidak mengetahuinya.
Kalangan jin juga banyak melakukan kedzaliman dan banyak pula yang bodoh, sehingga mereka melakukan pembalasan di luar batas. Masuknya jin ke tubuh manusia terkadang disebabkan keisengan sebagian mereka dan tindakan jahat yang dilakukan-nya. (Idhahu Ad-Dilalah Fi ‘Umumi Ar-Risalah, hal. 16)
Bagaimana kita menghindari gangguan-gangguan itu?
Ibnu Taimiyah t menjelaskan: “Adapun  orang yang melawan permusuhan jin dengan cara yang adil sebagaimana Allah dan Rasul-Nya perintahkan, maka dia tidak mendzalimi jin. Bahkan ia taat kepada Allah dan Rasul-Nya dalam menolong orang yang terdzalimi, membantu orang yang kesusahan, dan menghilangkan musibah dari orang yang tertimpanya, dengan cara yang syar’i dan tidak mengandung syirik serta tidak mengandung kedzaliman terhadap makhluk. Yang seperti ini, jin tidak akan mengganggunya, mungkin karena jin tahu bahwa dia orang yang adil atau karena jin tidak mampu mengganggunya. Tapi bila jin itu dari kalangan yang sangat jahat, bisa jadi dia tetap mengganggunya, tetapi dia lemah. Untuk yang seperti ini, semestinya ia melindungi diri dengan membaca ayat Kursi, Al-Falaq, An-Nas (atau bacaan lain yang semakna, ed), shalat, berdoa, dan semacam itu yang bisa menguatkan iman dan menjauhkan dari dosa-dosa…” (Idhahu Ad-Dilalah, hal. 138)
Pembaca, demikian yang dapat kami paparkan di sini, mudah-mudahan dapat mewakili apa yang belum lengkap penjelasannya.
Wal’ilmu ’indallah.

Catatan Kaki:

1 Di antara ulama yang berpendapat terlarangnya hal itu adalah Asy-Syaikh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi t. Beliau mengatakan: “Saya tidak mengetahui dalam Kitabullah maupun Sunnah Rasulullah n adanya dalil yang menunjukkan bolehnya pernikahan antara manusia dan jin. Bahkan  yang bisa dijadikan pendukung dari dzahir ayat adalah tidak bolehnya hal itu.” (Adhwa`ul Bayan, 3/321)
Badruddin Asy-Syibli dalam bukunya Aakamul Mirjan mengemukakan bahwa sekelompok tabi’in membenci pernikahan jin dengan manusia. Di antara mereka adalah Al-Hasan, Qatadah, Az-Zuhri, Hajjaj bin Arthah, demikian pula sejumlah ulama Hanafiyah.

Perbedaan antara Jin, Setan dan Iblis

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf)

Tema Jin, Setan, dan Iblis masih menyisakan kontroversi hingga kini. Namun yang jelas, eksistensi mereka diakui dalam syariat. Sehingga, jika masih ada dari kalangan muslim yang meragukan keberadaan mereka, teramat pantas jika diragukan keimanannya.

Sesungguhnya Allah I telah mengutus nabi kita Muhammad n dengan risalah yang umum dan menyeluruh. Tidak hanya untuk kalangan Arab saja namun juga untuk selain Arab. Tidak khusus bagi kaumnya saja, namun bagi umat seluruhnya. Bahkan Allah I mengutusnya kepada segenap Ats-Tsaqalain: jin dan manusia.
Allah I berfirman:

“Katakanlah: `Wahai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua.” (Al-A’raf: 158)
Rasulullah n bersabda:

“Adalah para nabi itu diutus kepada kaumnya sedang aku diutus kepada seluruh manusia.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Jabir bin Abdillah z)
Allah I juga berfirman:

“Dan ingatlah ketika Kami hadapkan sekumpulan jin kepadamu yang mendengar-kan Al-Qur`an. Maka ketika mereka menghadiri pembacaannya lalu mereka berkata: ` Diamlah kamu (untuk mendengar-kannya)’. Ketika pembacaan telah selesai, mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan. Mereka berkata: `Wahai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al-Qur`an) yang telah diturunkan setelah Musa, yang membenar-kan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan jalan yang lurus. Wahai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepas-kan kamu dari azab yang pedih. Dan orang yang tidak menerima (seruan) orang yang menyeru kepada Allah, maka dia tidak akan lepas dari azab Allah di muka bumi dan tidak ada bagi-nya pelindung selain Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata’.” (Al-Ahqaf: 29-32)

Jin Diciptakan Sebelum Manusia
Tak ada satupun dari golongan kaum muslimin yang mengingkari keberadaan jin. Demikian pula mayoritas kaum kuffar meyakini keberadaannya. Ahli kitab dari kalangan Yahudi dan Nashrani pun mengakui eksistensinya sebagaimana pengakuan kaum muslimin, meski ada sebagian kecil dari mereka yang mengingkari-nya. Sebagaimana ada pula di antara kaum muslimin yang menging-karinya yakni dari kalangan orang bodoh dan sebagian Mu’tazilah.
Jelasnya, keberadaan jin merupakan hal yang tak dapat disangkal lagi mengingat pemberitaan dari para nabi sudah sangat mutawatir dan diketahui orang banyak. Secara pasti, kaum jin adalah makhluk hidup, berakal dan mereka melakukan segala sesuatu dengan kehendak. Bahkan mereka dibebani perintah dan larangan, hanya saja mereka tidak memiliki sifat dan tabiat seperti yang ada pada manusia atau selainnya. (Idhahu Ad-Dilalah fi ’Umumi Ar-Risalah hal. 1, lihat Majmu’ul Fatawa, 19/9)
Anehnya orang-orang filsafat masih mengingkari keberadaan jin. Dan dalam hal inipun Muhammad Rasyid Ridha telah keliru. Dia mengatakan: “Sesungguhnya jin itu hanyalah ungkapan/ gambaran tentang bakteri-bakteri. Karena ia tidak dapat dilihat kecuali dengan perantara mikroskop.” (Nashihatii li Ahlis Sunnah minal Jin oleh Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi t)
Jin lebih dahulu diciptakan daripada manusia sebagaimana dikabarkan Allah I dalam firman-Nya:

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas.” (Al-Hijr: 26-27)
Karena jin lebih dulu ada, maka Allah I mendahulukan penyebutannya daripada manusia ketika menjelaskan bahwa mereka diperintah untuk beribadah seperti halnya manusia. Allah I berfirman:

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyem-bah-Ku.” (Adz-Dzariyat: 56)

Jin, Setan, dan Iblis
Kalimat jin, setan, ataupun juga Iblis seringkali disebutkan dalam Al-Qur`an, bahkan mayoritas kita pun sudah tidak asing lagi mendengarnya. Sehingga eksistensinya sebagai makhluk Allah I tidak lagi diragukan, berdasarkan Al-Qur`an dan As-Sunnah serta ijma’ ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah. Tinggal persoalannya, apakah jin, setan, dan Iblis itu tiga makhluk yang berbeda dengan penciptaan yang berbeda, ataukah mereka itu bermula dari satu asal atau termasuk golongan para malaikat?
Yang pasti, Allah I telah menerangkan asal-muasal penciptaan jin dengan firman-Nya:

“Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas.” (Al-Hijr: 27)
Juga firman-Nya:

“Dan Dia menciptakan jin dari nyala api.” (Ar-Rahman: 15)
Rasulullah n bersabda:

“Para malaikat diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari nyala api, dan Adam diciptakan dari apa yang disifatkan kepada kalian.” (HR. Muslim no. 2996 dari ’Aisyah x)
Adapun Iblis, maka Allah I berfirman tentangnya:

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: ‘Sujudlah kamu kepada Adam’, maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin…” (Al-Kahfi: 50)
Ibnu Katsir t berkata: “Iblis mengkhianati asal penciptaannya, karena dia sesungguhnya diciptakan dari nyala api, sedangkan asal penciptaan malaikat adalah dari cahaya. Maka Allah I mengingatkan di sini bahwa Iblis berasal dari kalangan jin, dalam arti dia diciptakan dari api. Al-Hasan Al-Bashri berkata: ‘Iblis tidak termasuk malaikat sedikitpun. Iblis merupakan asal mula jin, sebagaimana Adam sebagai asal mula manusia’.” (Tafsir Al-Qur`anul ’Azhim, 3/94)
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di t mengatakan: “Iblis adalah abul jin (bapak para jin).” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 406 dan 793)
Sedangkan setan, mereka adalah kalangan jin yang durhaka. Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi t pernah ditanya tentang perbedaan jin dan setan, beliau menjawab: “Jin itu meliputi setan, namun ada juga yang shalih. Setan diciptakan untuk memalingkan manusia dan menyesat-kannya. Adapun yang shalih, mereka berpegang teguh dengan agamanya, memiliki masjid-masjid dan melakukan shalat sebatas yang mereka ketahui ilmunya. Hanya saja mayoritas mereka itu bodoh.” (Nashihatii li Ahlis Sunnah Minal Jin)

Siapakah Iblis?1
Terjadi perbedaan pendapat dalam hal asal-usul iblis, apakah berasal dari malaikat atau dari jin.
Pendapat pertama menyatakan bahwa iblis berasal dari jenis jin. Ini adalah pendapat Al-Hasan Al-Bashri t. Beliau menyatakan: “Iblis tidak pernah menjadi golongan malaikat sekejap matapun sama sekali. Dan dia benar-benar asal-usul jin, sebagaimana Adam adalah asal-usul manusia.” (Diriwayatkan Ibnu Jarir dalam tafsir surat Al-Kahfi ayat 50, dan dishahihkan oleh Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya.)
Pendapat ini pula yang tampaknya dikuatkan oleh Ibnu Katsir, Al-Jashshash dalam kitabnya Ahkamul Qur‘an (3/215), dan Asy-Syinqithi dalam kitabnya Adhwa`ul Bayan (4/120). Penjelasan tentang dalil pendapat ini beliau sebutkan dalam kitab tersebut. Secara ringkas, dapat disebutkan sebagai berikut:
1.    Kema’shuman malaikat dari perbuatan kufur yang dilakukan iblis, sebagaimana firman Allah:

“…yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (At-Tahrim: 6)

“Mereka itu tidak mendahului-Nya dengan perkataan, dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya.” (Al-Anbiya`: 27)
2.    Dzahir surat Al-Kahfi ayat 50

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: ‘Sujudlah kamu kepada Adam’, maka sujudlah mereka kecuali iblis. Dia adalah dari golongan jin, lalu ia mendurhakai perintah Rabbnya.”
Allah menegaskan dalam ayat ini bahwa iblis dari jin, dan jin bukanlah malaikat. Ulama yang memegang pendapat ini menyatakan: “Ini adalah nash Al-Qur`an yang tegas dalam masalah yang diperselisihkan ini.” Beliau juga menyatakan: “Dan hujjah yang paling kuat dalam masalah ini adalah hujjah mereka yang berpendapat bahwa iblis bukan dari malaikat.”
Adapun pendapat kedua yang menyatakan bahwa iblis dari malaikat, menurut Al-Qurthubi, adalah pendapat jumhur ulama termasuk Ibnu ‘Abbas. Alasannya adalah firman Allah:

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: ‘Sujudlah kamu kepada Adam,’ maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.” (Al-Baqarah: 34)
Juga ada alasan-alasan lain berupa beberapa riwayat Israiliyat.
Pendapat yang kuat adalah pendapat yang pertama, insya Allah, karena kuatnya dalil mereka dari ayat-ayat yang jelas.
Adapun alasan pendapat kedua (yakni surat Al-Baqarah ayat 34), sebenarnya ayat tersebut tidak menunjukkan bahwa iblis dari malaikat. Karena susunan kalimat tersebut adalah susunan istitsna` munqathi’ (yaitu yang dikecualikan tidaklah termasuk jenis yang disebutkan).
Adapun cerita-cerita asal-usul iblis, itu adalah cerita Israiliyat. Ibnu Katsir menyatakan: “Dan dalam masalah ini (asal-usul iblis), banyak yang diriwayatkan dari ulama salaf. Namun mayoritasnya adalah Israiliyat (cerita-cerita dari Bani Israil) yang (sesungguhnya) dinukilkan untuk dikaji –wallahu a’lam–, Allah lebih tahu tentang keadaan mayoritas cerita itu. Dan di antaranya ada yang dipastikan dusta, karena menyelisihi kebenaran yang ada di tangan kita. Dan apa yang ada di dalam Al-Qur`an sudah memadai dari yang selainnya dari berita-berita itu.” (Tafsir Ibnu Katsir, 3/94)
Asy-Syinqithi menyatakan: “Apa yang disebutkan para ahli tafsir dari sekelompok ulama salaf, seperti Ibnu ‘Abbas dan selainnya, bahwa dahulu iblis termasuk pembesar malaikat, penjaga surga, mengurusi urusan dunia, dan namanya adalah ‘Azazil, ini semua adalah cerita Israiliyat yang tidak bisa dijadikan landasan.” (Adhwa`ul Bayan, 4/120-121)

Siapakah Setan?2
Setan atau Syaithan () dalam bahasa Arab diambil dari kata () yang berarti jauh. Ada pula yang mengatakan bahwa itu dari kata () yang berarti terbakar atau batal. Pendapat yang pertama lebih kuat menurut Ibnu Jarir dan Ibnu Katsir, sehingga kata Syaithan artinya yang jauh dari kebenaran atau dari rahmat Allah I (Al-Misbahul Munir, hal. 313).
Ibnu Jarir menyatakan, syaithan dalam bahasa Arab adalah setiap yang durhaka dari jin, manusia atau hewan, atau dari segala sesuatu.
Demikianlah Allah I berfirman:

“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia).” (Al-An’am: 112)
(Dalam ayat ini) Allah menjadikan setan dari jenis manusia, seperti halnya setan dari jenis jin. Dan hanyalah setiap yang durhaka disebut setan, karena akhlak dan perbuatannya menyelisihi akhlak dan perbuatan makhluk yang sejenisnya, dan karena jauhnya dari kebaikan. (Tafsir Ibnu Jarir, 1/49)
Ibnu Katsir menyatakan bahwa syaithan adalah semua yang keluar dari tabiat jenisnya dengan kejelekan (Tafsir Ibnu Katsir, 2/127). Lihat juga Al-Qamus Al-Muhith (hal. 1071).
Yang mendukung pendapat ini adalah surat Al-An’am ayat 112:

“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia).” (Al-An’am: 112)
Al-Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Dzar z, ia berkata: Aku datang kepada Nabi n dan beliau berada di masjid. Akupun duduk. Dan beliau menyatakan: “Wahai Abu Dzar apakah kamu sudah shalat?” Aku jawab: “Belum.” Beliau mengatakan: “Bangkit dan shalatlah.” Akupun bangkit dan shalat, lalu aku duduk. Beliau berkata: “Wahai Abu Dzar, berlindunglah kepada Allah dari kejahatan setan manusia dan jin.” Abu Dzar berkata: “Wahai Rasulullah, apakah di kalangan manusia ada setan?” Beliau menjawab: “Ya.”
Ibnu Katsir menyatakan setelah menyebutkan beberapa sanad hadits ini: “Inilah jalan-jalan hadits ini. Dan semua jalan-jalan hadits tersebut menunjukkan kuatnya hadits itu dan keshahihannya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/172)
Yang mendukung pendapat ini juga hadits Nabi n dalam riwayat Muslim:

“Anjing hitam adalah setan.”
Ibnu Katsir menyatakan: “Maknanya –wallahu a’lam– yaitu setan dari jenis anjing.” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/173)
Ini adalah pendapat Qatadah, Mujahid dan yang dikuatkan oleh Ibnu Jarir, Ibnu Katsir, Asy-Syaukani dan Asy-Syinqithi.
Dalam masalah ini ada tafsir lain terhadap ayat itu, tapi itu adalah pendapat yang lemah. (ed)
Ketika membicarakan tentang setan dan tekadnya dalam menyesatkan manusia, Allah I berfirman:

“Iblis menjawab: ‘Beri tangguhlah aku sampai waktu mereka dibangkitkan’, Allah berfirman: ‘Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh.’ Iblis menjawab: ‘Karena Engkau telah menghukumiku tersesat, aku benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian aku akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” (Al-A’raf: 14-17)
Setan adalah turunan Iblis, sebagaimana firman Allah I:

“Patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah Iblis itu sebagai pengganti (Allah) bagi orang-orang yang dzalim.” (Al-Kahfi: 50)
Turunan-turunan Iblis yang dimaksud dalam ayat ini adalah setan-setan. (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 453)

Penggambaran Tentang Jin
Al-jinnu berasal dari kata janna syai`un yajunnuhu yang bermakna satarahu (menutupi sesuatu). Maka segala sesuatu yang tertutup berarti tersembunyi. Jadi, jin itu disebut dengan jin karena keadaannya yang tersembunyi.
Jin memiliki roh dan jasad. Dalam hal ini, Syaikhuna Muqbil bin Hadi t mengatakan: “Jin memiliki roh dan jasad. Hanya saja mereka dapat berubah-ubah bentuk dan menyerupai sosok tertentu, serta mereka bisa masuk dari tempat manapun. Nabi n memerintahkan kepada kita agar menutup pintu-pintu sembari beliau mengatakan: ‘Sesungguhnya setan tidak dapat membuka yang tertutup’. Beliau memerintahkan agar kita menutup bejana-bejana dan menyebut nama Allah I atasnya. Demikian pula bila seseorang masuk ke rumahnya kemudian membaca bismillah, maka setan mengatakan: ‘Tidak ada kesempatan meng-inap’. Jika seseorang makan dan meng-ucapkan bismillah, maka setan berkata: ‘Tidak ada kesempatan menginap dan ber-santap malam’.” (Nashihatii li Ahlis Sunnah Minal Jin)
Jin bisa berujud seperti manusia dan binatang. Dapat berupa ular dan kala-jengking, juga dalam wujud unta, sapi, kambing, kuda, bighal, keledai dan juga burung. Serta bisa berujud Bani Adam seperti waktu setan mendatangi kaum musyrikin dalam bentuk Suraqah bin Malik kala mereka hendak pergi menuju Badr. Mereka dapat berubah-ubah dalam bentuk yang banyak, seperti anjing hitam atau juga kucing hitam. Karena warna hitam itu lebih signifikan bagi kekuatan setan dan mempunyai kekuatan panas. (Idhahu Ad-Dilalah, hal. 19 dan 23)
Kaum jin memiliki tempat tinggal yang berbeda-beda. Jin yang shalih bertempat tinggal di masjid dan tempat-tempat yang baik. Sedangkan jin yang jahat dan merusak, mereka tinggal di kamar mandi dan tempat-tempat yang kotor. (Nashihatii li Ahlis Sunnah Minal Jin)
Tulang dan kotoran hewan adalah makanan jin. Di dalam sebuah hadits, Rasulullah n berkata kepada Abu Hurairah z:

“Carikan beberapa buah batu untuk kugunakan bersuci dan janganlah engkau carikan tulang dan kotoran hewan.” Abu Hurairahzberkata: “Aku pun membawakan untuknya beberapa buah batu dan kusimpan di sampingnya. Lalu aku menjauh hingga beliau menyelesaikan hajatnya.”
Aku bertanya: “Ada apa dengan tulang dan kotoran hewan?”
Beliau menjawab: “Keduanya termasuk makanan jin. Aku pernah didatangi rombongan utusan jin dari Nashibin, dan mereka adalah sebaik-baik jin). Mereka meminta bekal kepadaku. Maka aku berdoa kepada Allah untuk mereka agar tidaklah mereka melewati tulang dan kotoran melainkan mereka mendapatkan makanan.” (HR. Al-Bukhari no. 3860 dari Abu Hurairah z, dalam riwayat Muslim disebutkan : “Semua tulang yang disebutkan nama Allah padanya”, ed)

Gambaran Tentang Iblis dan Setan
Iblis adalah wazan dari fi’il, diambil dari asal kata al-iblaas yang bermakna at-tai`as (putus asa) dari rahmat Allah I.
Mereka adalah musuh nomer wahid bagi manusia, musuh bagi Adam dan keturunannya. Dengan kesombongan dan analoginya yang rusak serta kedustaannya, mereka berani menentang perintah Allah I saat mereka enggan untuk sujud kepada Adam.
Allah I berfirman:

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: ‘Sujudlah kamu kepada Adam,’ maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Ia enggan dan takabur, dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.” (Al-Baqarah: 34)                Malah dengan analoginya yang menyesatkan, Iblis menjawab:

“Aku lebih baik darinya: Engkau ciptakan aku dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah.” (Al-A’raf: 12)
Analogi atau qiyas Iblis ini adalah qiyas yang paling rusak. Qiyas ini adalah qiyas batil karena bertentangan dengan perintah Allah I yang menyuruhnya untuk sujud. Sedangkan qiyas jika berlawanan dengan nash, maka ia menjadi batil karena maksud dari qiyas itu adalah menetapkan hukum yang tidak ada padanya nash, mendekatkan sejumlah perkara kepada yang ada nashnya, sehingga keberadaannya menjadi pengikut bagi nash.
Bila qiyas itu berlawanan dengan nash dan tetap digunakan/ diakui, maka konse-kuensinya akan menggugurkan nash. Dan inilah qiyas yang paling jelek!
Sumpah mereka untuk menggoda Bani Adam terus berlangsung sampai hari kiamat setelah mereka berhasil menggoda Abul Basyar (bapak manusia) Adam dan vonis sesat dari Allah I untuk mereka. Allah I mengingatkan kita dengan firman-Nya:

“Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga. Ia menanggalkan pakaian kedua-nya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman.” (Al-A’raf: 27)            Karena setan sebagai musuh kita, maka kita diperintahkan untuk menjadi musuh setan. Allah I berfirman:

“Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuhmu, karena sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (Fathir: 6)
Allah I berfirman:

“Patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain-Ku, sedangkan mereka adalah musuhmu? Amat buruklah Iblis itu sebagai pengganti (Allah) bagi orang-orang yang dzalim.” (Al-Kahfi: 50)
Semoga kita semua terlindung dari godaan-godaannya. Wal ’ilmu ’indallah.

Catatan Kaki:

1 Tambahan dari redaksi
2 Tambahan dari redaksi

Alam Ghaib dalam Sorotan

(ditulis oleh: Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi, Lc.)

Penglihatan manusia tentu tidak bisa menjangkau benda yang berada di balik tembok. Contoh kecil di atas menunjukkan betapa indera manusia mempunyai keterbatasan. Oleh karena itu, teramat naif jika ada orang-orang yang menolak hal-hal ghaib dengan mendewakan panca inderanya.

Merunut sejarahnya, secara psikologis, umat manusia –sejak dahulu kala– mempunyai keingintahuan yang besar terhadap segala sesuatu yang bersifat ghaib, khususnya bila berkaitan dengan peristiwa dan kejadian di masa datang. Saking pena-sarannya, terkadang mereka menyempatkan (baca: mengharuskan) diri untuk menda-tangi tukang ramal; baik dari kalangan ahli nujum, dukun, ataupun ’orang pintar’. Ada kalanya dengan cara mengait-ngaitkan sesuatu yang dilihat ataupun didengar, dengan kesialan atau keberhasilan nasib yang akan dialaminya (tathayyur). Dan ada kalanya pula dengan meyakini ta’bir (takwil)  mimpi yang diramal oleh orang pintar –menurut mereka. Tragisnya, orang yang dianggap mengerti akan hal ini justru mendapatkan posisi kunci di tengah masyarakatnya dan meraih gelar kehor-matan semacam orang pintar dan ahli supranatural. Bahkan gelar kebesaran ‘wali’ pun acap kali disematkan untuk mereka. Wallahul musta’an.
Kondisi semacam ini tidak hanya terjadi pada masyarakat awam yang identik dengan buta huruf dan penduduk pedesaan semata. Namun kalangan ‘intelektual’ dan modernis pun ternyata turut terkontaminasi dengan itu semua. Tidaklah mengherankan jika kemudian berbagai macam ‘ilmu’ yang konon dapat menyingkap perkara-perkara ghaib meruak ke permukaan dan banyak dipelajari oleh sebagian masyarakat, meskipun dalam prakteknya kerap kali harus bekerja sama dengan jin (baca: setan).
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alusy Syaikh berkata: “Yang paling banyak terjadi pada umat ini adalah pemberitaan jin kepada kawan-kawannya dari kalangan manusia tentang berbagai peristiwa ghaib di muka bumi ini1. Orang yang tidak tahu (proses ini, -pen) menyangka bahwa itu adalah kasyaf dan karamah. Bahkan banyak orang yang tertipu dengannya dan beranggapan bahwa pembawa berita ghaib (dukun, paranormal, orang pintar dll, -pen) tersebut sebagai wali Allah, padahal hakekatnya adalah wali setan. Sebagai-mana firman Allah I:

“Dan (ingatlah) akan suatu hari ketika Allah I mengumpulkan mereka semua, (dan Allah I berfirman): ‘Hai golongan jin (setan), sesungguhnya kalian telah banyak menyesat-kan manusia’, lalu berkatalah kawan-kawan mereka dari kalangan manusia: ‘Ya Rabb kami, sesungguhnya sebagian dari kami telah mendapat kesenangan dari sebagian (yang lain) dan kami telah sampai pada waktu yang telah Engkau tentukan’. Allah I berfirman: ‘Neraka itulah tempat tinggal kalian, dan kalian kekal abadi di dalamnya, kecuali bila Allah I menghendaki (yang lain).’ Sesung-guhnya Rabb-mu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (Al-An’am: 128) (Fathul Majid, hal. 353)

Rahasia Alam Ghaib
Alam ghaib menyimpan rahasia tersendiri. Rahasia alam ghaib, ada yang Allah khususkan untuk diri-Nya semata dan tidak diberitakan kepada seorang pun dari hamba-Nya, sebagaimana dalam firman-Nya:

“Dan hanya di sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib. Tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan dia mengetahui apa yang ada di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula). Dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidaklah ada sesuatu yang basah atau pun yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (Al-An’am: 59)
Tentang hal ini, Nabi Nuh u berkata, sebagaimana dalam firman Allah:

“Dan aku tidak mengatakan kepada kalian (bahwa): ‘Aku mempunyai gudang-gudang rizki dan kekayaan dari Allah, dan aku tiada mengetahui yang ghaib’.” (Hud: 31)
Demikian pula Nabi Muhammad n diperintahkan Allah untuk mengatakan:

“Katakanlah: ‘Aku tidak mampu menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku berbuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman.” (Al-A’raf: 188)
Di antara perkara ghaib yang Allah I khususkan untuk diri-Nya semata adalah apa yang terkandung dalam firman-Nya:

“Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya semata pengetahuan tentang (kapan terjadinya) hari kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang bisa mengetahui (dengan pasti) apa yang akan dia dapatkan di hari esok. Dan tiada seorang pun yang bisa mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Luqman: 34)
Hal ini sebagaimana yang dinyatakan Rasulullah n ketika ditanya Malaikat Jibril tentang kapan terjadinya hari kiamat:

“…termasuk dari lima perkara (ghaib) yang tidak diketahui kecuali oleh Allah semata. Kemudian Nabi membaca ayat (dari surat Luqman tersebut,-pen.).” (HR Al-Bukhari dalam Shahih-nya no. 50, dari shahabat Abu Hurairah z)
Al-Imam Al-Qurthubi berkata: “Berdasarkan hadits ini, tidak ada celah sedikit pun bagi seorang pun untuk mengetahui (dengan pasti) salah satu dari lima perkara (ghaib) tersebut. Dan Nabi telah menafsirkan firman Allah Al-An’am: 59 (di atas) dengan lima perkara ghaib (yang terdapat dalam Luqman: 34, -pen.) tersebut, sebagaimana yang terdapat dalam Shahih (Al-Bukhari, -pen.).” (Fathul Bari, karya Al-Hafizh Ibnu Hajar 1/150-151)
Di antara perkara ghaib, ada yang diberitakan Allah I kepada para Rasul yang diridhai-Nya, termasuk di antaranya Nabi Muhammad n. Allah berfirman:

“(Dialah Allah I) Yang Maha Mengetahui perkara ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang perkara ghaib itu, kecuali yang Dia ridhai dari kalangan Rasul.” (Al-Jin: 26-27)

“Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepada kalian perkara-perkara ghaib, akan tetapi Allah memilih siapa saja yang dikehendaki-Nya di antara para Rasul-Nya.” (Ali `Imran: 179)
Maka dari itulah, perkara ghaib tidak mungkin diketahui secara pasti dan benar kecuali dengan bersandar pada keterangan dari Allah dan Rasul-Nya. Lalu bagaimana-kah dengan orang-orang yang mengaku mengetahui perkara ghaib tanpa bersandar kepada keterangan dari keduanya?
Al-Imam Al-Qurthubi t berkata: “Barangsiapa mengaku bahwa dirinya mengetahui perkara ghaib tanpa bersandar kepada keterangan dari Rasulullah n, maka dia adalah pendusta dalam pengakuannya tersebut.” (Fathul Bari, karya Al-Hafizh Ibnu Hajar, 1/151)
Apakah jin (setan) mengetahui perkara ghaib? Jawabannya adalah: Tidak. Jin tidak mengerti perkara ghaib, sebagaimana yang Allah nyatakan:

“Maka tatkala Kami telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang menunjuk-kan kepada mereka (tentang kematiannya) itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka tatkala ia telah tersungkur, tahulah jin itu bahwa kalau sekiranya mereka mengetahui perkara ghaib tentulah mereka tidak akan berada dalam kerja keras (untuk Sulaiman) yang menghinakan.” (Saba`: 14)
Adapun apa yang mereka beritakan kepada kawan-kawannya dari kalangan manusia (dukun, paranormal, orang pintar, dll.) tentang perkara ghaib, maka itu semata-mata dari hasil mencuri pendengaran di langit2. Sebagaimana firman Allah I:

“Dan Kami menjaganya (langit) dari tiap-tiap setan yang terkutuk. Kecuali setan yang mencuri-curi (berita) yang dapat didengar (dari malaikat) lalu dia dikejar oleh semburan api yang terang.” (Al-Hijr: 17-18)

Hikmah Tertutupnya Tabir Alam Ghaib bagi Umat Manusia
Para pembaca, tidaklah Allah memutuskan dan menentukan suatu perkara kecuali (pasti) selalu ada hikmah di baliknya. Demikian pula halnya dengan alam ghaib, yang tabirnya tertutup bagi umat manusia. Di antara hikmahnya adalah sebagai ujian bagi umat manusia, apakah mereka termasuk orang yang beriman dengan perkara ghaib yang Allah dan Rasul-Nya beritakan tersebut, ataukah justru mengingkarinya?!
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin berkata: “Bahwasanya alam barzah (kubur) termasuk perkara ghaib yang tidak bisa dijangkau oleh panca indera. Jika bisa dijangkau oleh panca indera, niscaya tidak ada lagi fungsi keimanan terhadap perkara ghaib (yang Allah dan Rasul-Nya beritakan, -pen.), dan tidak ada lagi perbe-daan antara orang-orang yang mengimani-nya dengan yang mengingkarinya.” (Syarh Tsalatsatil Ushul, hal. 109)
Di antara hikmahnya pula adalah untuk keseimbangan hidup umat manusia antara suka dan duka, cemas dan harapan di dalam mengarungi kehidupan dunia ini. Cobalah anda renungkan, bagaimanakah jika seandainya setiap orang mengetahui semua yang akan terjadi? Tentu kehidupan-nya akan sangat kacau dan tidak menda-patkan ketentraman. Bagaimana tidak?! Ketika seseorang mengetahui dengan pasti bahwa akhir hidupnya adalah menderita, baik karena ditimpa penyakit kronis, kecelakaan, dibunuh, dan lain sebagainya. Tentu hidupnya akan diselimuti dengan duka dan kecemasan. Si sakit misalnya, ketika mengetahui dengan pasti bahwa dia akan mati karena sakitnya itu (dengan izin Allah I) dan tidak ada lagi harapan untuk hidup, tentunya keputus-asaanlah yang selalu merundungnya. Akan tetapi ketika dia tidak mengetahuinya dengan pasti, maka harapan untuk menikmati hari esok masih terbentang di hadapannya dan proses pengobatan pun akan selalu diupaya-kannya.
Ketika umat manusia mengetahui segala yang terjadi di alam ghaib, bisa melihat malaikat dan jin (setan) dalam wujud aslinya, bisa mengetahui orang-orang yang diadzab di kubur dan sejenisnya, niscaya ketenangan hidup tidak akan didapatkannya. Demikian pula ketika masing-masing orang mengetahui dengan pasti apa yang tersimpan di hati selainnya, maka kehidupan ini akan terasa sebagai belenggu yang memberatkan. Karena berbagai keburukan yang ada pada hati masing-masing orang dapat dirasakannya.
Di lain kondisi, ketika seseorang mengetahui dengan pasti bahwa dia selalu beruntung, niscaya hal itu bisa menjadikan dia sombong dan bersikap semena-mena terhadap sesamanya. Tidaklah Allah menutup tabir rahasia alam ghaib kepada kita, kecuali karena kasih sayang dan kebijaksanaan-Nya yang tiada tara. Sehingga sudah seharusnya bagi kita untuk mensyukuri apa yang ditentukan-Nya tersebut.

Fenomena Umat tentang Alam Ghaib
Para pembaca, tentunya anda sering mendengar info seputar alam ghaib dan berbagai peristiwanya. Lebih-lebih belakangan ini, ketika ‘misteri alam ghaib’ benar-benar dipromosikan dan dijadikan ajang komoditi bisnis yang cukup menjanjikan. Dengan sekian bumbu klenik dan racikan mistiknya, maka tersajilah aneka menu yang kental dengan bau syirik dan khurafat. Tak luput…akhirnya televisi, surat kabar, dan media cetak/elektronik lainnya pun menjadi publik mediator modernnya.
Sementara di lain pihak, ada orang-orang yang mengingkari perkara ghaib. Dasar pemikiran mereka bertumpu pada keilmuan (baca: akal) semata tanpa mempe-dulikan norma-norma keimanan. Nyaris, sikap mengedepankan akal daripada dalil sam’i baik dari Al-Qur`an maupun hadits Nabi n menjadi simbol mereka. Tak pelak, akhirnya terjerumus pula ke dalam jurang kesesatan dikarenakan pengingkaran mereka terhadap perkara-perkara ghaib yang telah diberitakan Allah I dan Rasul-Nya tersebut. Mereka terbagi menjadi tiga kelompok2:
1. Orang-orang yang mengingkari semua perkara ghaib, termasuk adanya Allah I Pencipta alam semesta ini. Mereka adalah kaum atheis (komunis) dari kalangan Dahriyyah (yang menyatakan bahwa alam semesta ini tercipta dengan sendirinya, -pen.). Demikian pula orang-orang yang menapak jejak mereka dari kalangan atheis Sufi semacam Ibnu Arabi At-Tha`i penulis kitab Fushusul Hikam dan cs-nya yang mengklaim bahwa wujud ini hanya satu, dan hakekat wujud-nya Allah adalah semua yang ada di alam semesta ini (yakni menyatu dengan makhluk), yang hakekat dari pemikiran tersebut adalah peniadaan Dzat Allah I. Kemudian mereka campakkan Rasulullah n dan apa yang beliau bawa, dengan suatu estimasi bahwa kewalian lebih baik dari kenabian dan khatimul auliya` (penutup para wali) lebih utama dari khatimul anbiya` (penutup para Nabi), bahkan dari semua Nabi.
2. Ahlul wahmi wat takhyil, yaitu orang-orang yang menyatakan bahwasanya para Nabi telah memberitakan tentang Allah I, hari kiamat, surga dan neraka, bahkan malaikat, dengan gambaran yang tidak sesuai dengan kenyataannya. Para Nabi tersebut menggambarkan kepada manusia (tentang semua itu) dari khayalan mereka; bahwa Allah I bertubuh besar, tubuh manusia akan dibangkitkan di hari kiamat, manusia akan mendapat kenikmatan dan merasakan adzab, padahal kenyataannya tidak demikian. Kedustaan ini, mereka (para Nabi) lakukan demi kamashlahatan umat, karena tidak ada cara yang lebih menda-tangkan mashlahat dalam mendakwahi mereka kecuali dengan cara tersebut. Inilah pemikiran Ibnu Sina dan yang sejalan dengannya.
3. Ahlut tahrif wat ta`wil, yaitu orang-orang yang menyatakan bahwasanya para Nabi tidaklah memaksudkan (baca: memberitakan) kecuali sesuatu yang memang benar adanya, hanya saja kenyataan yang sebenarnya dari semua itu adalah apa yang bisa dijangkau oleh akal. Inilah pemikiran ahli kalam dan selainnya dari kalangan Mu’tazilah, Kullabiyyah, Salimiyyah, Karramiyyah, Syi’ah dll.
Dari sini, jelaslah bagi kita bahwa sikap mengedepankan akal atas dalil sam’i baik dari Al-Qur`an maupun hadits Nabi n dalam permasalahan semacam ini tidak bisa dibenarkan, bahkan sangat berbahaya. Asy-Syahrastani berkata: “Ketahuilah, bahwa-sanya syubhat pertama yang menimpa makhluk adalah syubhat iblis -la’natullah-. Pemicunya adalah mengedepankan akal daripada nash, dan mengekor hawa nafsu untuk menentang perintah Allah I serta kesombongannya terhadap bahan yang Allah ciptakan darinya (yakni api) atas bahan yang Allah ciptakan darinya Adam u (tanah liat).” (Al-Milal wan Nihal, hal. 14)
Bahkan perumpaan akal yang ‘didewakan’ itu; “Laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang yang dahaga, tetapi bila didatangi ‘air itu’, dia tidak mendapatinya sedikit pun Dan didapatinya (ketetapan) Allah di sisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya. Atau laksana kegelapan yang gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, dan di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih bertindih. Apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barangsiapa yang tiada diberi petunjuk Allah I tiadalah dia mempunyai cahaya sedikit pun.” (An-Nur: 39 dan 40)
Hal ini sebagaimana pengakuan Abu Abdillah Ar-Razi, salah seorang tokoh mereka (Mu’tazilah):
Kesudahan mengedepankan akal adalah belenggu.3
Dan kebanyakan upaya (hasil pemikiran) para intelek itu adalah kesesatan
Ruh-ruh kami terasa amat liar di dalam tubuh-tubuh kami
Dan hasil dari kehidupan dunia kami adalah gangguan dan siksaan (batin)
Tidaklah didapat dari penelitian yang kami lakukan sepanjang masa
Melainkan kumpulan statemen-statemen (yang tak menentu)
Aku (Ar-Razi) telah memperhatikan dengan seksama berbagai seluk-beluk ilmu kalam dan metodologi filsafat, maka kulihat semua itu tidaklah dapat menyembuhkan orang yang sakit dan tidak pula memuaskan orang yang dahaga, dan (ternyata) metode yang paling tepat adalah metode Al-Qur`an.” (Lihat Dar`u Ta’arudhil Aqli Wan Naqli, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah 1/160)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Engkau akan mendapati keba-nyakan para intelek di bidang ilmu kalam, filsafat dan bahkan tasawuf, yang tidak mengindahkan apa yang dibawa Rasulullah n, sebagai orang-orang yang bingung. Sebagaimana yang dikatakan Asy Syahrastani:
“Sungguh aku telah keliling ke ma’had- ma’had (filsafat) tersebut
Dan seluruh pandanganku tertuju kepada mercusuar-mercusuarnya
Namun, tak kulihat padanya kecuali orang yang bingung sambil bertopang dagu
Dan orang yang menyesal sambil menggemertakkan giginya.”
(Dar`u Ta’arudhil Aqli Wan Naqli, 1/159)

Sikap Ahlus Sunnah wal Jamaah Terhadap Alam Ghaib
Para pembaca, Islam adalah rahmat bagi semesta alam. Agama sempurna dan penyempurna bagi ajaran para Nabi sebelum Nabi Muhammad n, agama yang telah memadukan antara konsep keilmuan yang benar dengan konsep keimanan yang lurus. Keilmuan yang berasaskan keimanan, dan keimanan yang ditunjang oleh keilmuan.
Adapun keilmuan semata tanpa mempedulikan norma-norma keimanan, maka kesudahannya adalah kebinasaan, sebagaimana halnya orang-orang Yahudi dan yang sejenisnya. Demikian pula keimanan (termasuk di dalamnya amalan) semata tanpa mempedulikan keilmuan, kesudahannya adalah kesesatan, sebagai-mana halnya orang-orang Nashrani dan yang sejenisnya. Perpaduan antara dua konsep inilah yang menjadikan Islam sebagai agama wasathan (adil dan pilihan) dan bersih dari segala bentuk sikap berlebihan.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Oleh karena itu, di antara para imam penulis kitab hadits yang menggu-nakan metode penyusunan berdasarkan babnya, ada yang memulai penyusunannya dengan (menyebutkan hadits-hadits tentang) pokok keilmuan dan keimanan. Sebagai-mana yang dilakukan Al-Imam Al-Bukhari dalam kitab Shahih-nya, yang mana beliau memulainya dengan Kitab Bad`il Wahyi (awal mula turunnya wahyu); yang merinci tentang kondisi turunnya ilmu dan iman kepada Rasulullah n, kemudian mengiringi-nya dengan Kitabul Iman yang merupakan asas keyakinan terhadap apa yang dibawa beliau n, setelah itu diiringi dengan Kitabul Ilmi yang merupakan perangkat untuk mengenal apa yang dibawa Rasulullah n, demikianlah tertib penyusunan yang hakiki. Begitu pula Al-Imam Abu Muhammad Ad-Darimi…” (Majmu’ Fatawa 2/4)
Para pembaca, alam ghaib ibarat alam yang gelap gulita, sedangkan Al-Qur`an dan hadits Nabi n ibarat dua cahaya yang terang benderang. Dengan dua cahaya itulah berbagai peristiwa dan kejadian di alam ghaib tersebut menjadi jelas dan terang. Atas dasar itulah, setiap pribadi muslim wajib untuk mengembalikannya kepada firman Allah (Al-Qur`an) dan petunjuk Rasulullah n (Al-Hadits).
Bila demikian, berarti semua perkara ghaib haruslah ditimbang dengan timbangan Islam yaitu; Al-Qur`an dan Al-Hadits dengan pemahaman para shahabat Nabi n. Jika perkara ghaib (baca: yang dianggap ghaib) ternyata tidak ada keterangannya di dalam Al-Qur`an dan Al-Hadits, maka keberadaannya tidak boleh diimani dan diyakini. Dan jika perkara ghaib tersebut diterangkan di dalam Al-Qur`an dan Al-Hadits, baik berkaitan dengan peristiwa-peristiwa di masa lampau maupun di masa datang, serta berbagai keadaan di akhirat dll, maka keberadaannya harus diimani dan diyakini, walaupun pandangan mata dan akal kita tidak menjangkaunya.
Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di berkata: “Iman kepada perkara ghaib ini mencakup keimanan kepada semua yang Allah I dan Rasul-Nya n beritakan dari peristiwa-peristiwa ghaib di masa lampau dan di masa yang akan datang, berbagai keadaan di hari kiamat, dan tentang hakekat sifat-sifat Allah I.” (Taisir Al Karimirrahman hal. 24)
Beriman dengan (adanya) perkara ghaib yang diberitakan Allah I dan Rasul-Nya merupakan salah satu ciri orang yang bertaqwa. Sedangkan tidak beriman dengan perkara ghaib tersebut merupakan ciri orang kafir atau ahli bid’ah. Allah I berfirman:

“Alif laam miim. Kitab (Al-Qur`an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa. (Yaitu) mereka yang beriman kepada perkara ghaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian rizki yang Kami anugerahkan kepada mereka.” (Al-Baqarah: 1-3)
Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di t berkata: “Hakekat iman adalah keyakinan yang sempurna terhadap semua yang diberitakan para Rasul, yang mencakup ketundukan anggota tubuh kepadanya. Iman yang dimaksud di sini bukanlah yang berkaitan dengan perkara yang bisa dijangkau panca indra, karena dalam perkara yang seperti ini tidak berbeda antara muslim dengan kafir. Akan tetapi permasalahannya berkaitan dengan perkara ghaib yang tidak bisa kita lihat dan saksikan (saat ini). Kita mengimaninya, karena (adanya) berita yang datang dari Allah I dan Rasul-Nya n. Inilah keimanan yang membedakan antara muslim dengan kafir, yang mengandung kemurnian iman kepada Allah dan Rasul-Nya n. Maka, seorang mukmin (wajib) mengimani semua yang diberitakan Allah dan Rasul-Nya baik yang dapat disaksikan oleh panca inderanya maupun yang tidak dapat disaksikannya. Baik yang dapat dijangkau oleh akal dan nalarnya maupun yang tidak dapat dijangkaunya.
Hal ini berbeda dengan kaum zanadiqah (yang menampakkan keislaman dan menyembunyikan kekafiran, -pen.) dan para pendusta perkara ghaib (yang telah diberitakan Allah I dan Rasul-Nya n). Dikarenakan akalnya yang bodoh lagi dangkal serta jangkauan ilmunya yang pendek, akhirnya mereka dustakan segala apa yang tidak diketahuinya. Maka rusaklah akal-akal (pemikiran) mereka itu, dan bersihlah akal-akal (pemikiran) kaum mukminin yang selalu berpegang dengan petunjuk Allah I.” (Taisir Al-Karimir Rahman hal. 23)
Al-Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi t berkata: “(Setiap muslim, -pen.) wajib beriman kepada semua yang diberitakan Nabi n dan apa yang dinukil secara shahih dari beliau n, baik perkara tersebut dapat dilihat mata maupun yang bersifat ghaib. Kita mengetahui (baca; meyakini) bahwa semua itu benar, baik yang dapat dijangkau akal maupun yang tidak bisa dijangkau dan tidak dimengerti hakekat maknanya.” (Syarh Lum’atul I’tiqad, karya Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, hal. 101)

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin berkata: “Berbagai macam berita yang diriwayatkan secara shahih dari Nabi n maka benar keberadaannya dan wajib dipercayai, baik dapat dirasakan oleh panca indera kita maupun yang bersifat ghaib, baik yang dapat dijangkau oleh akal kita maupun yang tidak.” (Syarh Lum’atul I’tiqad, hal. 101)
Demikianlah manhaj (prinsip) yang benar di dalam menyikapi alam ghaib dan berbagai peristiwanya. Siapa saja yang berprinsip dengannya, maka dia beruntung dan berada di atas jalan yang lurus. Sebagaimana firman Allah n:

“Maka orang-orang yang beriman kepadanya (Nabi Muhammad n), memu-liakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepa-danya (Al-Qur`an), mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Al-A’raf: 157)

“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al-Qur`an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al-Kitab (Al-Qur`an) dan tidak pula mengetahui apakah iman, tetapi Kami menjadikan Al Qur`an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengannya siapa saja yang Kami kehendaki dari hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (Yaitu) jalan Allah I yang kepunyaan-Nya segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa hanya kepada Allah-lah kembali segala urusan.” (Asy-Syura: 52-53)

Penutup
Para pembaca, dari bahasan di atas dapatlah diambil kesimpulan bahwa:
1. Setiap muslim wajib beriman dengan (adanya) alam ghaib dan semua peristiwanya yang diberitakan Allah I dan Rasul-Nya. Baik yang dapat dijangkau oleh akal dan panca indra maupun yang tidak.
2. Mengedepankan akal dalam permasalahan semacam ini merupakan pangkal kesesatan.
3. Setiap muslim wajib memahami berita yang datang dari Allah I dan Rasul-Nya tentang alam ghaib dan peristiwanya, dengan pemahaman para shahabat Rasulullah (as-salafush shalih), karena ia merupakan jalan yang lurus. Dan tidak dengan pemahaman ahli kalam, filsafat, atheis sufi, dan bahkan atheis dahriyyah yang menyesatkan.
Wallahu a’lam bish-shawab.

Catatan Kaki:

1 Kondisinya, setiap satu berita yang benar diiringi dengan seratus berita dusta. Sebagaimana hadits Aisyah yang diriwayatkan Al-Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya no. 3210, 3288, 5762, 6213, 7561 dan Al-Imam Muslim dalam Shahih-nya no. 2228.
2 Sebagaimana diterangkan dalam catatan kaki no. 1, hal. 5
2 Diringkas dari Dar`u Ta’arudhil Aqli Wan Naqli, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah 5/3-4, 6/3-4, dan 1/8-13.
3 Yakni tidak menemukan solusi dari masalah yang dibahasnya.