Surat Pembaca edisi 23

Kontradiktif?
Saya orang yang baru belajar agama Islam yang murni. Di majalah Asy-Syariah no. 21, hal. 8, poin 8, kok kontradiktif penjelasannya dengan Asy-Syariah no. 22 hal. 59. Mohon penjelasan.
081328xxxxxx

Bila diperhatikan dengan seksama, sebenarnya permasalahan yang disebutkan bisa dipahami dengan mudah. Mungkin memerlukan sedikit ketenangan, ketelitian dan kesabaran dalam membaca.
Telah diisyaratkan pada akhir Rubrik Ibrah edisi 21 bahwa pembahasan tersebut akan bersambung. Dan Rubrik Ibrah edisi 22 merupakan lanjutan dan pembahasan yang lebih mendalam dari pemaparan Rubrik Ibrah pada edisi 21.
Pada edisi 21, penulis menerjemahkan pembahasan dari Taisir Al-Lathifil Mannan karya Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di secara utuh, berikut pendapat yang beliau pilih tentang hakekat Khadhir u, apakah beliau itu nabi atau wali. Dan Asy-Syaikh As-Sa’di memilih pendapat bahwa Khadhir adalah wali.
Adapun pada edisi 22, setelah sedikit melanjutkan pemaparan dari Asy-Syaikh As-Sa’di, penulis membahas beberapa masalah yang terkait dengan Khadhir u secara lebih rinci. Permasalahan tersebut meliputi: nasab Khadhir u, apakah beliau itu nabi atau wali, masih hidup atau tidak. Penulis memaparkan seluruh pendapat para ulama dalam permasalahan-permasalahan tersebut, kemudian menyebutkan pendapat yang paling kuat berdasarkan dalil yang ada, sekaligus ulama yang menetapkan pendapat tersebut.
Insya Allah permasalahannya jelas. Jazakumullah khairan.

Ilmu Laduni
Harap dijelaskan lebih detail pada edisi mendatang (supaya pembaca tidak bingung) tentang dua jenis ilmu dalam kisah Khadhir dan Musa poin (hal. 59 Vol. 2 no. 21) apa bedanya dengan ilmu laduni versi kaum sufi.
085227xxxxxx

Jazakumullah khairan. Insya Allah sudah tercakup dalam penjelasan rubrik Ibrah edisi 22. Yang dimaksud Asy-Syaikh As-Sa’di dengan ilmu laduni di sini (di mana beliau berpendapat Khadhir u adalah wali, sebagaimana disebutkan pada edisi 21) adalah pemahaman yang diberikan Allah kepada seseorang. Adapun menurut pendapat bahwa Khadhir u adalah nabi (sebagaimana pendapat para ulama yang lain, yang dipaparkan penulis pada edisi 22), maka yang dimaksud adalah wahyu. Silahkan dilihat kembali.

Teliti Huruf Kapital
Mohon diteliti pada vol. II/No. 22/1427H/2006, hal. 70, Al-Hijr: 32-35, penulisan huruf “e” pada tulisan “engkau” seharusnya tertulis “Engkau” memakai huruf besar/ kapital, karena ditujukan pada Allah I.
Ibnu Yusuf
081325xxxxxx

Jazakumullah khairan atas koreksinya.

Zakat Profesi
Bagaimana kalau Asy-Syariah membahas tuntas zakat penghasilan dan profesi, sebagai dasar ilmiah untuk masyarakat umumnya.
Abu Faishal
08562xxxxxx

Saran antum kita pertimbangkan. Semoga Allah memudahkan kami untuk membahasnya. Jazakumullah khairan.

Aqidah dan Fenomena “Penampakan”

Peri cantik yang bisa mengabulkan segala permintaan, tuyul-tuyul yang lucu tapi sakti, putri duyung, siluman ular atau serigala, drakula penghisap darah, dan lainnya, adalah makhluk-makhluk yang jauh dari kehidupan nyata kita sehari-hari. Namun kini, mereka menjadi santapan rutin bagi yang sering menghabiskan waktunya di depan televisi.
Repotnya, semua itu juga dikonsumsi oleh anak-anak yang pola pikirnya mudah terbentuk dengan apa yang ia lihat dan ia dengar. Terlebih, sebagian besarnya adalah sosok-sosok yang mewakili “kebenaran.” Tak ayal, selain mengaduk emosional mereka, sosok-sosok rekaan itu juga menyusupi akidahnya.
Pertanyaannya, benarkah mereka benar-benar ada dalam kacamata syariat? Pertanyaan ini patut mengemuka karena fenomena ‘keghaiban’ semacam di atas, bukan muncul satu atau dua tahun belakangan. Namun telah ada sejak lama, bahkan mungkin ribuan tahun silam.
Fenomena demikian memang perlu disikapi secara kritis. Serta merta menolak bahkan menafikan semua makhluk “lelembut” jelas bukan sikap yang bijak. Bahkan bisa menggiring kita untuk tidak mempercayai hal-hal ghaib, di mana hal itu merupakan salah satu pokok keimanan di dalam Islam.
Yang kita butuhkan adalah mendudukkan permasalahan ini sesuai dengan dalil. Karena kita memang banyak dihadapkan dengan beberapa makhluk rekaan “produk” film atau cerita fiktif yang sejatinya memang tidak ada. Atau kalau toh memang benar ada, gambaran `fisik’-nya masih perlu dipertanyakan.
Kajian yang kami suguhkan memang masih bersifat global sehingga bisa jadi belum bisa menuntaskan rasa ingin tahu anda, pembaca. Karena, jika semua fenomena alam ghaib di sekitar kita harus dikupas semuanya, maka jelas tidak akan cukup satu atau dua edisi. Namun bisa berpuluh-puluh edisi kami suguhkan kepada anda ‘hanya’ untuk tema yang satu ini.
Di Sakinah, tema ta’ziyah menjadi salah satu tema unggulan kami. Tema ini kami angkat mengingat banyak sekali amalan yang berkaitan dengan ta’ziyah, berikut amalan-amalan ‘derivat’-nya, yang tidak ada tuntunannya sama sekali dalam syariat. Juga sedikit kami singgung dalam rubrik Wanita dalam Sorotan, pendapat-pendapat madzhab Syafi’i berkaitan dengan hal tersebut. Ini tak lain dalam rangka menjernihkan pola pikir masyarakat yang acap menisbatkan amalannya sebagai fiqih dari madzhab Syafi’i namun sejatinya bukan, bahkan bertentangan.
Selain ta’ziyah, tema gambar atau tiruan makhluk bernyawa masih mengisi lembar Sakinah edisi ini. Kami berharap, agar tema-tema yang disuguhkan secara berseri ini bisa lebih memahamkan kepada anda, pembaca, mengenai hukum-hukum syariat yang bisa jadi masih sangat asing di dalam benak anda.
Pembaca, ilmu memang tidak akan pernah habis digali. Oleh karena itu, kami pun berharap, anda tidak pernah bosan membuka lembar demi lembar majalah sarat ilmu ini, agar senantiasa kita mendapat petunjuk dan hidayah dari Allah I. Sekali lagi, kebenaran datangnya dari Allah I, jika ada kesalahan maka itu semata-mata dari kami.
Selamat membaca!

Menjahui Kecintaan Terhadap Kekuasaan

Sufyan Ats-Tsauri t menulis surat kepada ‘Abbad bin ‘Abbad Al-Khawwash t:
Amma ba’du. Sesungguhnya engkau hidup di zaman yang para shahabat Nabi n berlindung agar tidak menemui zaman itu. Padahal mereka memiliki ilmu yang tidak kita miliki dan mereka memiliki kekokohan yang tidak kita miliki. Maka bagaimana ketika kita mendapati zaman ini dengan sedikitnya ilmu kita, sedikitnya kesabaran kita, sedikitnya penolong dalam kebaikan, rusaknya manusia, dan kotoran dunia?
Oleh karena itu, hendaknya engkau berpegang pada generasi awal, dan peganglah erat-erat. Hendaknya engkau mempunyai sifat khumul (tidak ingin disebut dan dikenal), karena sesungguhnya sekarang adalah zaman khumul. Hendaknya engkau ber-uzlah dan sedikit bergaul dengan manusia. Karena dahulu bila manusia bertemu, mereka saling mengambil manfaat. Adapun hari ini, yang seperti itu sudah hilang. Dan keselamatan adalah dengan meninggalkan mereka, menurut pendapat kami.
Jauhilah umara, janganlah mendekati mereka dan bergaul dengan mereka sedikit pun. Hati-hatilah, jangan sampai engkau terpedaya, sehingga dikatakan kepadamu: “Engkau bisa memberi pembelaan, dan menghindari atau menolak kedzaliman.” Sesungguhnya itu adalah tipu daya Iblis. Yang seperti ini hanyalah dipakai oleh qurra (ulama) yang jahat sebagai tangga.
Dahulu dikatakan: “Takutlah kalian dari fitnah ahli ibadah yang bodoh dan fitnah alim yang jahat, karena fitnah keduanya merupakan fitnah bagi setiap orang.”
Adapun masalah dan fatwa yang engkau dapatkan, ambillah dan janganlah melampaui mereka dalam hal itu. Dan berhati-hatilah engkau agar tidak seperti seseorang yang suka bila perkataannya diamalkan, disebarkan, atau didengarkan; yang bila hal itu semua tidak didapatnya, akan diketahui apa yang ada dalam dirinya.
Dan jauhilah kecintaan terhadap kekuasaan, karena sesungguhnya ada seseorang yang lebih cinta kekuasaan daripada emas dan perak. Padahal cinta kekuasaan merupakan pintu yang rumit, yang tidak bisa diketahui kecuali oleh ulama yang benar-benar ahli. Maka periksalah dirimu dan beramallah dengan niat. Ketahuilah, sesungguhnya sudah dekat kepada manusia suatu perkara, di mana seseorang lebih menginginkan kematian (daripada menemui perkara itu). Wassalam.
(diambil dari Min Washaya As-Salaf, hal.19-25)