Adab-adab Doa

Ketahuilah wahai saudariku, semoga Allah subhanahu wa ta’ala merahmatimu! Doa merupakan senjata orang-orang yang beriman. Sehingga seorang hamba tidak patut meninggalkan doa kepada Rabbnya. Apatah lagi telah ada perintah dan janji dari-Nya:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدۡعُونِيٓ أَسۡتَجِبۡ لَكُمۡۚ

“Berdoalah kalian kepada-Ku niscaya Aku akan mengabulkan permohonan kalian.” (al-Ghafir: 60)

Namun perlu kita perhatikan untuk berdoa itu ada adab-adabnya yang tidak boleh diabaikan bila memang diinginkan doa itu mustajab. Beberapa di antara adab tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Menjauhi makanan, minuman dan pakaian yang diperoleh dari hasil yang haram. Dalam hadits Abu Hurairah rahimahullah disebutkan:

Kemudian Rasulullah menyebutkan seorang lelaki yang telah menempuh perjalanan yang panjang, dalam keadaan kusut masai lagi berdebu. Ia membentangkan kedua tangannya ke langit seraya berdoa: “Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku!” Sementara makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan ia diberi makan dari yang haram, lalu dari mana doanya akan dikabulkan ? (HR. Muslim no. 2343 kitab Az-Zakah, bab Qabulush Shadaqah minal Kasbith Thayyib)

 

  1. Mengikhlaskan doa hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala sebagaimana Dia Yang Maha Suci berfirman:

فَٱدۡعُواْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ

“Berdoalah kalian kepada Allah dalam keadaan mengikhlaskan agama untuk-Nya.” (al-Ghafir: 14)

 

  1. Tawassul kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan amalan shalih yang pernah dilakukan sebagaimana kisah tiga orang yang terperangkap dalam gua, tidak bisa keluar darinya, kemudian masing-masingnya berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan menyebut amalan shalih yang pernah mereka lakukan hingga akhirnya Allah subhanahu wa ta’ala pun memerintahkan batu yang menutupi mulut gua tersebut agar bergeser hingga mereka bertiga dapat keluar darinya. (lihat HR. Bukhari no. 3465, kitab Ahaditsul Anbiya’, bab Haditsul Ghar dan Muslim no. 6884, kitab At-Taubah, bab Qishshah Ashabil Ghar Ats-Tsalatsah wat Tawassul bi Shalihil A‘mal)

 

  1. Menghadap kiblat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mendoakan umatnya, beliau berdoa dengan mengangkat tangan sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut ini: ‘Amr ibnul ‘Ash rahimahullah berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca firman Allah subhanahu wa ta’ala tentang doa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam:

Wahai Rabbku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan banyak manusia maka siapa yang mau mengikutiku berarti ia termasuk golonganku.

Nabi ‘Isa  ‘alaihissalam berkata:

“Jika Engkau mengazab mereka maka sungguh mereka adalah hamba-hamba-Mu dan jika Engkau mengampuni mereka maka sesungguhnya Engkau adalah Maha Perkasa lagi memiliki hikmah.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengangkat kedua tangannya seraya berdoa:

“Ya Allah! Umatku, umatku. Dan beliau menangis.” (HR. Muslim no. 489, kitab Al-Iman, bab Du‘an Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam li Ummatihi wa Buka’uhu Syafaqatan ‘alaihim)

Di antara faedah yang didapatkan dari hadits di atas kata Al-Imam An-Nawawi rahimahullah adalah disenanginya mengangkat kedua tangan ketika berdoa. (Al-Minhaj, 3/74)

 

  1. Membentangkan kedua tangan dengan dalil sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala malu bila seorang hamba-Nya membentangkan kedua tangannya untuk memohon kebaikan kepada-Nya lalu ia mengembalikan kedua tangan itu dalam keadaan hampa/gagal.” (HR. Ahmad 5/438, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 1757)

 

  1. Meminta kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan menyebut nama-nama-Nya yang indah (Al-Asma’ul Husna), Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَلِلَّهِ ٱلۡأَسۡمَآءُ ٱلۡحُسۡنَىٰ فَٱدۡعُوهُ بِهَاۖ

“Milik Allah-lah Al-Asma’ul Husna, maka berdoalah kalian dengan menyebut nama-nama tersebut.” (al-A’raf: 180)

  1. Berdoa dengan doa-doa yang ma’tsur (ada atsarnya) dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  2. Meminta dengan penuh kesungguhan dan penuh harapan. Shahabat yang mulia Abu Hurairah rahimahullah berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Janganlah sekali-kali salah seorang dari kalian berdoa dengan mengatakan: “Ya Allah, ampunilah aku bila Engkau mau, rahmatilah aku bila Engkau mau.” Namun seharusnya ia bersungguh-sungguh (menghiba) dalam permintaannya (kepada Allah), karena sesungguhnya tidak ada yang dapat memaksa-Nya.

Dalam satu lafadz: …akan tetapi hendaklah ia bersungguh-sungguh dalam permintaannya dan membesarkan harapannya. Karena sesungguhnya tidaklah memberatkan Allah (atau tidaklah Allah subhanahu wa ta’ala menganggap besar) sesuatu yang diberikannya.” (HR. Bukhari no. 6339, kitab Ad-Da‘awat, bab Li Ya‘zimal Mas’alah Fainnahu La Mukraha lahu dan Muslim no. 6752 , kitab Adz-Dzikr wad Du‘a, bab Al-‘azmu bid Du‘a wa laa Yaqul In Syi’ta)

  1. Menghadirkan hati dan meyakini doanya akan diijabahi. Abu Hurairah rahimahullah mengabarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Berdoalah kalian kepada Allah dalam keadaan kalian yakin akan dikabulkan. Ketahuilah Allah tidak akan mengabulkan doa dari hati yang lalai lagi main-main.” (HR. At-Tirmidzi no. 3479. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 594 dan Shahih Tirmidzi)

  1. Mengulang-ulang doa dengan dalil potongan dari hadits Ibnu Mas‘ud rahimahullah yang panjang:

“Adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bila berdoa beliau berdoa tiga kali dan bila meminta beliau minta tiga kali.”(HR. Muslim no. 4625, kitab Al-Jihad was Sair, bab Ma Laqiyan Nabiyyu shallallahu ‘alaihi wa sallam min Adzal Musyrikin wal Munafiqin)

  1. Tidak berdoa dengan sesuatu yang mengandung dosa atau pemutusan silaturahim, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Terus menerus dikabulkan permintaan seorang hamba selama ia tidak berdoa dengan sesuatu yang mengandung dosa dan pemutusan silaturahim.” (HR. Muslim no. 6871, bab Bayanu Annahu Yustajabu Lid Da‘i Ma Lam Ya‘jal…)

  1. Seorang mukmin tidak sepantasnya bersikap terburu-buru, ingin segera terkabul doanya dan merasa begitu lambatnya doanya dikabulkan, hingga keluar omongan dari lisannya: “Aku telah berdoa namun doaku belum juga dikabulkan.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Dikabulkan doa salah seorang dari kalian selama ia tidak terburu-buru (ingin segera dikabulkan doanya, -pent.) hingga ia berkata: “Aku telah berdoa, namun belum juga dikabulkan.” (HR. Bukhari, kitab Ad-Da‘awat, bab Yustajabu lil ‘Abd Ma Lam Ya‘jal dan Muslim no. 6869, kitab Adz-Dzikr wad Du’a, bab Bayanu Annahu Yustajabu lid Da‘i Ma Lam Ya‘jal fa Yaqulu: Da‘awtu falam Yustajab Li)

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

“Terus menerus dikabulkan doa seorang hamba selama ia tidak meminta perkara yang mengandung dosa dan pemutusan silaturahim, dan selama ia tidak terburu-buru (minta disegerakan). Ada yang bertanya: “Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud dengan terburu-buru (isti`jal) ?” Beliau menjawab: “Orang yang terburu-buru itu berkata: “Sungguh aku telah berdoa namun aku belum melihat doaku dikabulkan.” Lalu ketika itu ia merasa capek berdoa dan jenuh dan ia pun meninggalkan doa (tidak mau lagi berdoa kepada Allah-pent.)”(HR. Muslim 6871, kitab Adz-Dzikr wad Du’a, bab Bayanu Annahu Yustajabu lid Da‘i Ma Lam Ya‘jal fa Yaqulu: Da‘awtu falam Yustajab Li))

  1. Memperbanyak doa karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Apabila salah seorang dari kalian meminta maka hendaklah ia memperbanyak permintaannya karena dia sedang meminta kepada Rabbnya.” (HR. Ibnu Hibban no. 2403, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 1325)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

“Siapa yang menyenangkannya bila Allah mengabulkan doanya ketika ia ditimpa kesempitan dan bencana, maka hendaklah ia memperbanyak doa ketika dalam keadaan lapang/senang.” (HR. At-Tirmidzi no. 3382, kitab Ad-Da‘awat, bab Ma Ja`a Annad Da‘watal Muslim Mustajabah. Dishahihkan dalam Ash-Shahihah no. 593 dan Shahih At-Tirmidzi)

Demikian beberapa adab doa yang dapat kami haturkan untukmu, wahai saudariku. Wallahu ta‘ala a‘lam bish-shawab.

Ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Zulfa Husein Al-Atsariyyah

 

Buang Angin, Wajibkah Beristinja?

Apabila keluar angin dari dubur seseorang, apakah ia wajib beristinja’ (cebok)?

Jawab:
Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin t menjawab:
“Keluar angin dari dubur termasuk pembatal wudhu berdasarkan sabda Rasulullah n:

Janganlah ia berpaling (membatalkan shalatnya) sampai ia mendengar suara (angin keluar dari duburnya) atau ia mendapatkan bau.1
Akan tetapi keluarnya angin ini tidaklah mewajibkan istinja’, yakni tidak wajib membasuh kemaluan karena tidak ada sesuatu yang keluar yang mengharuskan untuk dicuci. Dengan demikian keluarnya angin hanya membatalkan wudhu seseorang sehingga cukup baginya untuk berwudhu, yakni membasuh wajahnya disertai berkumur-kumur dan memasukkan air ke dalam hidung serta mengeluarkannya (madhmadhah dan istinsyaq), mencuci kedua tangan sampai siku, mengusap kepala dan dua telinga, berikutnya mencuci kedua kaki sampai mata kaki. Perlu aku ingatkan di sini tentang satu masalah yang tersamarkan bagi kebanyakan orang yaitu sebagian orang buang air kecil atau buang air besar sebelum datangnya waktu shalat, kemudian ia beristinja’.
Maka ketika tiba waktu shalat dan ia ingin berwudhu, ia menyangka harus mengulangi istinja’nya dan mencuci kemaluan untuk kedua kalinya. Perbuatan seperti ini jelas tidak benar, karena bila seseorang telah mencuci kemaluannya setelah keluarnya kotoran maka tempat keluarnya kotoran tersebut telah bersih/suci. Bila telah bersih/suci berarti tidak perlu lagi diulangi pencuciannya, karena maksud dari istinja’ atau istijmar (bersuci dengan menggunakan batu kerikil) yang syar‘i dengan syarat-syaratnya yang ma‘ruf (dikenal) adalah pembersihan tempat keluarnya kotoran (qubul atau dubur), bila telah suci maka tidak akan kembali menjadi najis terkecuali keluar lagi kotoran yang berikutnya.” (Majmu’ Fatawa wa Rasa`il Fadhilatusy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin 4/112,113)

Catatan Kaki:

1 Rasulullah r bersabda demikian ketika diadukan pada beliau tentang seseorang yang ketika shalat merasa telah berhadats (buang angin).
Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya. (pent.)

Haid Seorang Wanita

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Zulfa Husein Al-Atsariyyah)

Dalam edisi perdana dari majalah kesayangan kita ini, kami pernah membahas tentang darah yang keluar dari kemaluan wanita, termasuk di antaranya darah haid. Namun pembahasan yang kami paparkan saat itu adalah pembahasan ringkas sehingga ada beberapa permasalahan yang sengaja kami tinggalkan. Dalam edisi kali ini kami tergerak untuk mengangkat beberapa permasalahan yang tidak sempat kami bahas dalam edisi perdana yang telah lewat atau hanya sempat kami singgung sedikit, dengan harapan dapat menambah faedah kepada para pembaca yang semoga dirahmati Allah.

Haid adalah ketetapan Allah I bagi anak perempuan Adam
Allah I menetapkan wanita yang normal dan telah baligh mesti mengalami haid, yang dengan haid tersebut wanita tertahan untuk melakukan beberapa ibadah kepada Allah I. Haid inilah yang membuat Ummul Mukminin ‘Aisyah x menangis karena menganggap haid akan menahannya untuk melangsungkan ibadah haji yang akan ditunaikan bersama suaminya Rasulullah r. ‘Aisyah x menuturkan:

“Kami pergi (meninggalkan Madinah), tidak ada persangkaan kami kecuali untuk melaksanakan ibadah haji. Maka tatkala kami berada di Sarif,1 aku haid. Rasulullah r datang menemuiku, ketika itu aku sedang menangis. Rasulullah r bersabda: “Kenapa engkau menangis, apakah engkau haid?” “Ya,” jawabku. Beliau bersabda: “Sesungguhnya haid itu merupakan perkara yang telah Allah tetapkan bagi anak-anak perempuan Adam. Tunaikanlah apa yang ditunaikan oleh orang yang berhaji hanya saja engkau jangan thawaf di Baitullah (sampai engkau suci dari haid, barulah diperkenankan thawaf-pent.).”2
Hadits di atas memberikan faedah bahwa haid pada awalnya dialami oleh anak-anak perempuan Adam bahkan dialami oleh Hawa sebagaimana riwayat yang dibawakan Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani t dalam Fathul Bari (1/519) yang dikeluarkan oleh Al-Hakim dan Ibnul Mundzir dengan sanad yang shahih dari Ibnu Abbas c, ia berkata:

“Sesungguhnya permulaan haid dialami oleh Hawa setelah ia turun dari surga.”
Adapun riwayat yang disandarkan oleh Al-Hafizh t kepada Abdurrazzaq Ash-Shan‘ani dan Al-Hafizh menshahihkan sanad-nya sampai kepada Ibnu Mas‘ud t:

“Dahulu para lelaki dan wanita dari kalangan Bani Israil melakukan shalat bersama-sama. Maka ada seorang wanita mengintip seorang lelaki, Allah pun menimpakan haid kepada mereka (para wanita Bani Israil) dan melarang mereka dari mendatangi masjid-masjid.”
Kata Ad-Dawudit: “Tidak ada per-tentangan di antara kedua riwayat ini3 karena wanita-wanita Bani Israil termasuk anak-anak perempuan Adam.” Al-Hafizh berkata: “Memungkinkan untuk menjamak (mengumpul-kan kedua riwayat) dengan menyatakan bahwa haid tersebut umum menimpa seluruh anak perempuan Adam (termasuk wanita-wanita Bani Israil) hanya saja Allah I menimpakan haid kepada wanita-wanita Bani Israil dengan waktu yang panjang (lagi sangat deras, –pent.) sebagai hukuman bagi mereka. Dengan demikian riwayat Ibnu Mas`ud t ini tidaklah menunjukkan wanita Bani Israil yang pertama kali mengalami haid.” (Fathul Bari, 1/519)

Perbedaan di antara tiga agama dalam bermuamalah dan bergaul dengan wanita haid
Anas bin Malik t berkata:

“Kebiasaan orang-orang Yahudi bila wanita di kalangan mereka haid maka mereka tidak mau makan bersamanya dan tidak mau berkumpul dengannya di dalam rumah. Para sahabat Nabi r pun bertanya kepada Nabi tentang hal itu maka Allah I menurunkan ayat: “Mereka bertanya kepadamu tentang darah haid, maka katakanlah bahwa darah haid itu adalah kotoran (najis) maka jauhilah (jangan menggauli) para istri ketika haidnya (di tempat keluarnya darah/farji)…” sampai akhir ayat. Rasulullah r berkata: “Lakukanlah segala sesuatu (dengan istri kalian saat ia haid) kecuali jima'(tidak boleh kalian lakukan, -pent.).”4
‘Aisyah x mengabarkan:

“Adalah Rasulullah r menyuruhku maka aku pun mengenakan pakaian/kain (yang menutupi aurat dan sekitarnya) lalu beliau mubasyarah5 denganku dalam keadaan aku haid.”6
Cukuplah dua hadits di atas memberikan gambaran kepada kita akan adanya perbedaan muamalah yang diajarkan Islam dengan agama lain terhadap wanita yang sedang haid. Lihatlah orang-orang Yahudi, mereka memandang wanita haid itu kotor lagi najis sehingga mereka memisahkan dan mengucilkan wanita ketika sedang haid. Mereka anggap wanita haid itu badan, pakaian, dan tempat tidurnya najis sehingga mereka enggan makan bersama wanita haid dan berkumpul bersamanya di dalam rumah sebagaimana ditunjukkan dalam hadits Anas bin Malik t di atas.
Lihat pula orang-orang Nasrani, mereka berada di kutub yang berlawanan dengan orang-orang Yahudi. Bila orang-orang Yahudi bersikap keras dan kaku, maka Nasrani sebaliknya bermudah-mudah dan meremehkan hingga mereka menghalalkan menjima’i wanita yang sedang haid walaupun darah haid yang najis sedang mengalir dari kemaluan si wanita. Adapun Islam berada di pertengahan antara sikap ghuluw dan meremehkan karena Islam adalah agama yang adil dalam seluruh perkara. Islam memandang yang najis dari wanita haid hanyalah pada tempat keluarnya darah, adapun bagian tubuhnya yang lain, keringat dan pakaiannya tetap suci sehingga seorang suami boleh melakukan mubasyarah dengan istrinya yang sedang haid, berkumpul dengannya dalam rumah bahkan sekamar setempat tidur, melakukan segala sesuatu bersamanya,7 yang harus dihindarinya hanyalah kemaluan istrinya, tidak boleh ia menggaulinya sampai istrinya suci dari haid. Allah I berfirman:

“Mereka bertanya kepadamu tentang darah haid, maka katakanlah bahwa darah haid itu adalah kotoran (najis) maka jauhilah (jangan menggauli) para istri ketika haidnya (di tempat keluarnya darah/farji).” (Al-Baqarah: 222)
Rasulullah r pun bersabda:
.
“Lakukanlah segala sesuatu (dengan istri kalian saat ia haid) kecuali jima’ (tidak boleh kalian lakukan, -pent.)”.
‘Abdullah bin Sa‘ad Al-Anshari t berkata:

“Wahai Rasulullah, apa yang halal bagiku dari istriku ketika ia sedang haid?”. Rasulullah menjawab: “Dihalalkan bagimu apa yang ada di atas kain (penutup aurat/kemaluannya).”9
Lihatlah Rasulullah r yang telah memberikan contoh nan agung dalam pergaulan suami istri. Beliau memanggil istrinya yang sedang haid untuk tidur bersamanya,10 membaca Al-Qur`an di pangkuan istrinya11, membiarkan istrinya menyisir rambut beliau12 dan beliau menyuruh istrinya untuk menutupkan kain ke tempat keluarnya darah lalu bermesraan dengannya13, yang beliau hindari hanyalah jima’. (Taudlihul Ahkam min Bulughil Maram, 1/454-455)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah t berkata dalam fatwanya: “…dibolehkan seorang suami untuk istimta` (bersenang-senang) dengan istrinya yang sedang haid atau nifas pada bagian yang ada di atas kain (penutup sekitar tempat keluarnya darah, –pent.). Sama saja apakah si suami bersenang-senang dengan istrinya melalui bibir, tangan, atau kakinya. Seandainya ia menggauli istrinya pada bagian perutnya hingga ia mengeluarkan mani maka hal ini dibolehkan. Namun bila ia istimta` dengan dua paha istrinya, tentang boleh tidaknya ada perselisihan pendapat di kalangan ulama, wallahu a`lam.” (Majmu` Fatawa, 21/624)

Kapankah seorang suami dibolehkan mencampuri istrinya yang telah suci dari haid?
Allah I mengharamkan seorang suami untuk menggauli istrinya yang sedang haid pada kemaluannya sampai si istri suci dari haidnya, Allah I menyatakan dalam Tanzil-Nya:

“Mereka bertanya kepadamu tentang darah haid, maka katakanlah bahwa darah haid itu adalah kotoran (najis) maka jauhilah (jangan menggauli) para istri ketika haidnya (di tempat keluarnya darah/farji) dan janganlah kalian mendekati (jima’) dengan mereka sampai mereka suci. Maka apabila mereka telah suci, campurilah mereka di tempat yang Allah perintahkan kepada kalian.” (Al-Baqarah: 222)
Al-Imam Al-Alusi Al-Baghdadi t menerangkan tentang firman Allah I : “Menurut Abu Hanifah adalah berhentinya darah. Adapun menurut madzhab Syafi‘iyyah, yang dimaksud dalam ayat di atas adalah mandi setelah berhentinya darah. Mereka mengatakan: ‘Yang menunjukkan hal ini adalah bacaan Hamzah, Al-Kisa`i dan ‘Ashim dari riwayat Ibnu ‘Abbas: -dengan tasydid- yakni , yang dimaksudkan dengan kata ini adalah (mereka mandi)’. Beliau menyatakan shighah mubalaghah dari lafaz memberikan faedah thaharah yang sempurna dan tentunya thaharah yang sempurna dari haid adalah dengan mandi.” (Ruhul Ma‘ani, 2/177)
Al-Imam Al-Bahgawi t menerang-kan: adalah (Ma‘alimut Tanzil,1/145)
Dalam Al-Mughni, Al-Imam Ibnu Qudamah t menyatakan: “Apabila telah berhenti darah haidnya maka si istri tidak boleh dijima’ sampai ia mandi. Kesimpulannya, menggauli wanita haid sebelum ia mandi suci hukumnya haram, walaupun darahnya telah berhenti menurut pendapat mayoritas ahlul ilmi. Ibnul Mundzir t berkata: “Hal ini seperti ijma` dari mereka (ahlul ilmi)”. (Kitab Ath-Thaharah, mas’alah: Fain Inqatha`a Damuha Fala Tutha’u Hatta Taghtasila)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah t berkata: “Adapun wanita haid yang telah berhenti darahnya, maka suaminya tidak boleh mencampurinya sampai ia mandi apabila memang ia mampu untuk itu. Jika tidak, ia tayammum sebagaimana ini madzhab jumhur ulama seperti Ahmad dan Syafi`i.” (Majmu` Fatawa, 21/625)
Ahlu dzahir berpandangan bahwa yang dimaksud dengan bila mereka telah mencuci kemaluan mereka. Namun pendapat ini tidak teranggap, kata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah t karena kata tathahhur dalam Al-Qur`an maknanya adalah mandi sebagaimana Allah I berfirman:

“Dan jika kalian junub maka mandilah.” (Al-Ma`idah: 6)
Tathahhur yang dikaitkan dengan haid sama dengan tathahhur yang dikaitkan dengan janabah. (Majmu‘ Fatawa , 21/626)
Kesimpulan dalam masalah ini adalah tidak boleh mencampuri wanita haid pada kemaluannya apabila ia telah suci dari haidnya sampai ia mandi.

Cara membersihkan pakaian/kain yang terkena darah haid
Bila pakaian yang dipakai terkena darah haid maka dibersihkan bagian yang terkena darah dengan dikerik menggunakan ranting (bila darahnya mengering) atau dengan ujung-ujung jari, lalu dicuci/digosok dengan air dan daun sidr (bidara) atau dengan sabun atau pencuci/pembersih yang semisalnya. Kemudian barulah bagian lain dari pakaian itu dicuci. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah r:

“Keriklah dengan ranting dan cucilah dengan air dan daun sidr.”14
Rasulullah r bersabda:

“Apabila pakaian salah seorang dari kalian terkena darah haid hendaklah ia menggosoknya dengan ujung-ujung jarinya kemudian hendaklah ia mencucinya dengan air…”15
‘Aisyah x mengabarkan:

“Adalah salah seorang dari kami berhaid, kemudian ia menggosok darah yang menempel pada pakaiannya ketika ia telah suci dari haidnya lalu ia mencuci pakaian tersebut dan membasuh seluruh bagiannya, kemudian ia shalat mengenakan pakaian tersebut (ketika telah kering, –pent.).”16
Membasuh seluruh pakaian setelah dibersihkannya bagian yang terkena darah selain didapatkan dari pengabaran ‘Aisyah x di atas juga telah datang tuntunannya dari Nabi r, sebagaimana disebutkan dalam riwayat lain dari hadits Asma’ bintu Abu Bakar Ash-Shiddiq  x, Rasulullah r mengatakan dalam hadits tersebut:

“…Kemudian gosoklah dengan air lalu cucilah seluruh pakaian tersebut. Setelah itu engkau bisa shalat menggunakannya (bila telah kering, -pent.).”
Asy-Syaikh Al-Albani t berkata: “Dalam riwayat ini ada tambahan: (), dan ini merupakan tambahan yang penting. Karena tambahan ini menjelaskan bahwa ucapan Nabi dalam riwayat Hisyam: () bukanlah dimaksudkan mencuci bagian pakaian yang terkena darah (saja) akan tetapi seluruh bagian dari pakaian tersebut.” (Ash-Shahihah, 1/602)
Bila pakaian telah dibersihkan namun masih tampak noda darah yang sukar dihi-langkan, maka tidak menjadi masalah sebagai-mana ditunjukkan dalam hadits berikut ini:

“Khaulah bintu Yasar pernah datang menemui Nabi r, ia bertanya: “Wahai Rasulullah, aku tidak memiliki pakaian kecuali hanya satu, dan aku mengenakannya ketika sedang haid sehingga pakaian itu terkena darah haid, lalu apa yang harus kuperbuat?” Rasulullah r menjawab: “Apabila engkau telah suci , cucilah pakaian tersebut, kemudian engkau boleh shalat menggunakannya”. Khaulah bertanya lagi: “Sekalipun darah yang menempel pada pakaian tersebut tidak keluar (tidak bisa hilang nodanya)”. Rasulullah menjawab: “Cukup bagimu pencucian darah tersebut (dengan air) dan tidak bermudharat bagimu bekasnya.”17,18
Penulis Taudhihul Ahkam berkata: “Pakaian dan semisalnya apabila telah dicuci dari darah haid, kemudian masih tersisa bekas warna darah (nodanya) pada pakaian atau badan maka tidaklah bekas itu memudharatkan dalam kesempurnaan tathahhur dan tidak memudharatkan kesahan shalat dan semisalnya.” (1/191)
Demikian tambahan pembahasan tentang haid yang dapat kami haturkan untuk pembaca, semoga bermanfaat bagi kami khususnya dan bagi pembaca secara umum, wa billahit taufiq.
Wallahu ta‘ala a‘lam bish-shawab.

Catatan Kaki:

1 Tempat yang berdekatan dengan kota Makkah, jarak antara keduanya sekitar 10 mil (Fathul Bari, 1/520)
2 HR. Bukhari no. 294, kitab Al-Haidh, bab Al-Amru bin Nufasai’i Idza Nufisna dan Muslim, kitab Al-Hajj, bab Bayanu Wujuhil Ihram wa Annahu Yajuzu Ifradul Hajji wat Tamattu‘
3 Yakni riwayat Ibnu Mas‘ud t di atas dengan hadits:
4 HR. Muslim no. 692, kitab Al-Haidh, bab fi Qaulillahi ta‘ala
5 Melakukan pergaulan suami istri selain jima’.
6 HR. Bukhari no. 300, kitab Al-Haidh, bab Mubasyaratul Haidh dan Muslim no. 677, kitab Al-Haidh, bab Mubasyaratur Rajul Al-Haidh Fawqal Izar
7 Al-Imam Al-Hafizh Ibnul Qaththan t berkata: “Umat sepakat akan sucinya (tubuh) wanita haid dan boleh menidurinya apabila ia menutupi kemaluannya. Mereka sepakat keringat wanita haid itu suci, sebagaimana mereka sepakat boleh bagi suaminya untuk makan dan minum bersamanya.” (Al-Iqna’ fi Masa`ilil Ijma’, 1/103-104)
8 adalah sebutan untuk tempat keluarnya darah haid (yaitu kemaluan). Dikhususkannya perintah untuk menjauhi tempat keluarnya darah merupakan dalil bolehnya mubasyarah pada bagian tubuh yang selainnya. (Al-Mughni, kitab Ath-Thaharah, mas’alah: Wa Yastamti‘u minal Haidh Bima Dunal Farj)
9 HR. Abu Dawud no. 212, kitab Ath-Thaharah, bab Fil Madzi, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Shahih Abi Dawud dan Asy-Syaikh Muqbil t dalam Al-Jami‘us Shahih Mimma Laisa fish Shahihain, 1/549
10 Ummu Salamah x mengisahkan: “Tatkala aku sedang berbaring bersama Nabi r dalam satu kain, tiba-tiba aku haid maka akupun pergi dengan perlahan lalu mengambil pakaian yang biasa kupakai ketika haid. Rasulullah yang melihat hal itu bertanya: “Apakah engkau haid?” Aku menjawab: “Iya.” Beliau lalu memanggilku maka akupun berbaring bersama beliau dalam satu selimut.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
11 Aisyah x berkata: “Nabi r pernah membaca Al-Qur`an sementara kepalanya berada di pangkuanku padahal aku dalam keadaan haid.” (HR. Bukhari dan Muslim)
12 Masih dari kabar ‘Aisyah x, ia berkata: “Aku pernah menyisir rambut Rasulullah n dalam keadaan aku haid.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
13 Sebagaimana ditunjukkan dalam hadits ‘Aisyah
14 HR. Abu Dawud no. 363, kitab Ath-Thaharah, bab Al-Mar’ah Taghsilu Tsaubahal Ladzi Talbasuhu fi Haidhiha, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 300 dan Asy-Syaikh Muqbil dalam Al-Jami‘ush Shahih, 1/550
15 HR. Al-Bukhari no. 307, kitab Al-Haidh, bab Ghuslu Damil Mahidh dan Muslim no. 673, kitab Ath-Thaharah, bab Najasatud Dam wa Kaifiyatu Ghuslihi
16 HR. Al-Bukhari no. 308
17 Yakni tidak mengurangi kesucian pakaianmu. (Taudlihul Ahkam, 1/190)
18 HR. Abu Dawud no. 365, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 298

Fathimah bintu Al-Khaththab

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu ‘Abdirrahman Anisah bintu ‘Imran)

Bagaimana takkan meluap amarah ‘Umar bin Al-Khaththab z, manakala mengetahui saudari kandungnya telah keluar dari agama nenek moyangnya, dan memilih beriman kepada Muhammad r. Sementara dirinya memerangi agama Muhammad r. Namun ternyata suatu saat, keimanan wanita itu membuka pintu hati ‘Umar bin Al-Khaththab z untuk menerima cahaya kebenaran.

Wanita itu bernama Fathimah bintu Al-Khaththab bin Nufail bin ‘Abdil ‘Uzza bin Riyah bin ‘Abdillah bin Qarth bin Razzah bin ‘Adi bin Ka’b x. Ibunya bernama Hantamah bintu Hasyim bin Al-Mughirah bin ‘Abdillah bin ‘Umar bin Makhzum. Dia adalah saudari kandung ‘Umar bin Al-Khaththab z. Dia dipersunting oleh seorang pemuda bernama Sa’id bin Zaid bin ‘Amr bin Nufail z.
Ketika Rasulullah r mulai menyeru manusia untuk meninggalkan penyembahan terhadap berhala dan mentauhidkan Allah I semata, Fathimah bintu Al-Khaththab x bersama suaminya menyambut seruan itu. Mereka berdua masuk Islam sebelum Rasulullah r memulai dakwah beliau di kediaman Al-Arqam bin Abil Arqam. Seperti halnya kaum muslimin yang lain pada saat itu, Fathimah dan suaminya pun menyembunyikan keislaman mereka, karena khawatir akan gangguan kaum musyrikin. Ketika itu, seorang shahabat, Khabbab bin Al-’Arat z biasa mendatangi Fathimah dan suaminya untuk membacakan ayat-ayat Al-Qur`an yang diturunkan.
Suatu hari, ‘Umar bin Al-Khaththab keluar dengan menghunus pedangnya untuk membunuh Rasulullah z dan para shahabat beliau. Dia diberitahu bahwa mereka tengah berkumpul di sebuah rumah di bukit Shafa. Jumlah mereka sekitar 40 orang laki-laki dan perempuan. Di antara mereka ada paman Rasulullah r , Hamzah bin ‘Abdil Muththalib, Abu Bakr bin Abi Quhafah Ash-Shiddiq, dan Ali bin Abi Thalib g. Saat itu, para shahabat masih tinggal bersama Rasulullah r, belum ada yang berangkat hijrah ke negeri Habasyah.
Di tengah jalan, ‘Umar bertemu Nu’aim bin ‘Abdillah, salah seorang dari Bani ‘Adi bin Ka’b1 yang telah masuk Islam namun masih menyembunyikan keislamannya. Nu’aim bertanya, “Hendak ke mana engkau, ‘Umar?” “Aku ingin mencari Muhammad, orang yang murtad dari agamanya itu, yang telah memecah belah Quraisy, membodoh-bodohkan mereka, menghina agama mereka dan mencaci maki sesembahan mereka! Aku ingin membunuhnya!”
Mendengar jawaban ‘Umar, Nu’aim pun berkata, “Engkau telah tertipu oleh dirimu sendiri, wahai ‘Umar! Apakah engkau mengira Bani ‘Abdi Manaf2 akan membiarkanmu berjalan di atas bumi ini, sementara engkau telah membunuh Muhammad? Mengapa engkau tidak melihat keluargamu sendiri dan mengurusi mereka?” kata Nu’aim. “Siapa keluargaku?” “Iparmu, Sa’id bin Zaid bin ‘Amr, dan adikmu, Fathimah bintu Al-Khaththab. Demi Allah, mereka berdua telah masuk Islam dan mengikuti Muhammad. Urusilah mereka!”
Betapa terkejutnya ‘Umar. Segera dia kembali menemui saudari serta iparnya. Ketika itu, Khabbab bin Al-Arat z sedang bersama mereka membawa shahifah3 yang di dalamnya tertulis surah Thaha yang dia bacakan kepada Fathimah dan suaminya. Begitu mendengar suara ‘Umar, Khabbab pun segera bersembunyi di salah satu ruangan dalam rumah itu. Fathimah pun mengambil shahifah itu dan menyembunyikannya di balik pahanya. Ternyata saat mendekat ke rumah, ‘Umar sempat mendengar bacaan Khabbab. Ketika masuk, dia pun bertanya, “Suara bisik-bisik apa yang kudengar tadi?” Mereka berdua menjawab, “Engkau tidak mendengar apa pun!” ‘Umar pun menukas, “Iya! Demi Allah, aku telah diberi tahu bahwa kalian berdua mengikuti agama Muhammad.”
Tangan ‘Umar melayang memukul iparnya, Sa’id bin Zaid. Bangkitlah Fathimah untuk mencegah ‘Umar hingga akhirnya pukulan ‘Umar pun mengenainya. Kepala Fathimah terluka, darah pun mengucur dari luka itu. Saat itu, Fathimah berkata, “Ya, kami telah masuk Islam dan kami telah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Lakukanlah apa pun yang engkau mau!”
Menyaksikan darah mengucur dari luka adik perempuannya, ‘Umar pun menyesal. Dia pun berkata, “Berikan padaku shahifah yang baru saja kudengar kalian membacanya. Aku ingin melihat apa yang dibawa oleh Muhammad.” “Aku khawatir engkau akan merusaknya,” jawab Fathimah. “Jangan khawatir,” kata ‘Umar. Dia pun berjanji akan mengembalikan shahifah itu kepada Fathimah seusai membacanya. Mendengar ucapan ‘Umar, muncullah keinginan Fathimah agar ‘Umar masuk Islam. Dia pun berkata pada ‘Umar, “Wahai saudaraku, sesungguhnya engkau najis di atas kesyirikanmu, dan tidak pantas menyentuh shahifah ini.” ‘Umar pun segera bangkit untuk mandi. Lalu Fathimah memberikan shahifah yang tertulis di dalamnya surat Thaha itu padanya. ‘Umar membacanya. Tatkala membaca awal surat Thaha itu, ‘Umar berucap, “Alangkah bagusnya ucapan ini! Alangkah mulianya!”
Mendengar ucapan ‘Umar, Khabbab keluar dari persembunyiannya menemui ‘Umar sembari mengatakan, “Wahai ‘Umar! Demi Allah, sungguh aku mengharapkan agar Allah mengkhususkanmu dengan doa Nabi-Nya. Karena kemarin aku mendengar beliau berdoa, ‘Ya Allah, kuatkanlah Islam dengan salah seorang yang lebih Engkau cintai, Abu Jahal atau ‘Umar bin Al-Khaththab’.”
“Wahai Khabbab, tunjukkan padaku di mana Muhammad agar aku bisa mendatanginya,” pinta ‘Umar. “Beliau ada di salah satu rumah di bukit Shafa bersama para shahabatnya.”
‘Umar pun segera mengambil pedangnya serta menghunusnya, kemudian menuju tempat Rasulullah z dan para shahabatnya berada. Sesampai di sana, ‘Umar menggedor pintu rumah itu. Mendengar suara ‘Umar, salah seorang shahabat bangkit dan mengintip dari celah-celah pintu. Dia melihat ‘Umar dengan pedang terhunus. Cepat-cepat dia kembali menemui Rasulullah n sambil ketakutan, “Wahai Rasulullah, itu ‘Umar dengan pedang terhunus!”
Hamzah bin ‘Abdil Muththalib z berujar, “Izinkan dia masuk. Kalau dia datang untuk menginginkan kebaikan, kita akan berikan kepadanya. Kalau dia menginginkan kejelekan, kita akan membunuhnya dengan pedangnya sendiri.” Rasulullah r bersabda, “Izinkan dia.” Lalu Rasulullah r bangkit menghadapinya. Beliau mencengkeram ujung rida` ‘Umar dan menariknya dengan cengkeraman yang kuat sembari mengatakan, “Untuk apa engkau datang, wahai Ibnul Khaththab? Demi Allah, aku lihat engkau tidak juga berhenti sampai Allah turunkan bencana padamu.”
“Wahai Rasulullah,” kata ‘Umar, “Aku datang kepadamu untuk beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, juga kepada apa yang datang dari sisi Allah.”
Mendengar hal itu, Rasulullah r dan orang-orang yang ada di dalam rumah itu pun bertakbir hingga takbir mereka terdengar oleh orang-orang yang ada di Masjidil Haram. Keislaman ‘Umar bin Al-Khaththab t pun disambut dengan penuh suka cita oleh para shahabat. Mereka mengetahui, dengan keislaman ‘Umar setelah keislaman Hamzah, mereka akan semakin kokoh. Karena mereka berdua akan membela Rasulullah n dan bersama kaum muslimin menghadapi musuh mereka dari kalangan musyrikin.
Inilah sepenggal kisah hidup seorang wanita mulia, yang melalui dirinya Allah I ….
bersambung ke hal. 94
…….bukakan pintu hati seorang laki-laki mulia untuk menerima Islam, yang begitu berarti bagi Rasulullah r dan seluruh kaum muslimin. Fathimah bintu Al-Khaththab, semoga Allah I meridhainya ….

Sumber Bacaan:
v Al-Ishabah, karya Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-’Asqalani (8/62)
v Al-Isti’ab, karya Al-Imam Ibnu ‘Abdil Barr (4/1892)
v    As-Sirah An-Nabawiyyah, karya Al-Imam Ibnu Hisyam (2/187-190)
v    Ath-Thabaqatul Kubra, karya Al-Imam Ibnu Sa’d (8/267)
v    Mukhtashar Siratir Rasul, karya Al-Imam Muhammad bin ‘Abdil Wahhab (hal. 93-94)

Catatan Kaki:

1 Bani ‘Adi bin Ka’b adalah kabilah ‘Umar bin Al-Khaththab z
2 Bani ‘Abdi Manaf adalah kabilah Rasulullah n
3 Lembaran-lembaran Al-Qur`an

Muraqabah

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu ‘Abdirrahman Anisah bintu ‘Imran)

Kita, sebagai orang tua, tentu tidak bisa memantau setiap detil tingkah laku anak. Sehingga menjadi kemestian bagi kita untuk memahamkan kepada anak bahwa ia senantiasa berada di dalam pengawasan Rabbnya.

Anak, dengan bertambah luasnya lingkup pergaulan, bertambah pula saat-saat dia tak bersama ayah atau ibunya. Dia akan mulai menjelajah lingkungannya, berbaur dengan teman-temannya atau pun dengan orang lain di sekelilingnya.
Dalam keadaan demikian, terkadang didapati anak yang biasa nampak penurut di hadapan orang tuanya, begitu manis dan jarang berbuat ulah, namun ketika lepas dari pengawasan orang tua, dia menjadi ‘berani’ berulah, bahkan berbuat segala sesuatu yang terlarang. Seolah dia merasa merdeka dan bebas dari pengawasan.
Tentu tak ada yang menginginkan hal itu terjadi. Namun tentunya harus ada sesuatu yang dilakukan agar anak tak selalu mencari ‘jalan belakang’ untuk berbuat kenakalan. Sementara sulit atau bahkan tidak memungkinkan jika orang tua harus terus-menerus mengarahkan pandangannya pada segala tingkah anak-anaknya.
Oleh karena itu, semestinya diajarkan kepada anak bahwa senantiasa ada pengawasan yang senantiasa menyertai dirinya, di mana pun dia berada. Sehingga walaupun si anak jauh dari orang tua, tetap ada yang mengawasi tindak-tanduknya. Tidak lain dan tidak bukan, yang mengawasi dirinya adalah Allah I, Dzat Maha Mengetahui. Dia harus mengenal muraqabah.
Muraqabah kepada Allah I adalah mengetahui bahwa Allah I mengetahui segala yang dia lakukan, baik berupa ucapan, perbuatan, ataupun keyakinan.(Syarh Riyadhush Shalihin 2/218)
Ini pula yang diajarkan oleh Luqman Al-Hakim kepada anaknya dalam nasihatnya:

“Wahai anakku, sesungguhnya jika ada sesuatu perbuatan seberat biji sawi dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan membalasnya. Sesungguhnya Allah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui.” (Luqman: 16)
Nasihat Luqman ini berisi anjuran untuk muraqabatullah (merasakan pengawasan Allah I) dan melakukan ketaatan kepada Allah I, apa pun yang mungkin untuk dilakukan, serta ancaman dari perbuatan jelek, sedikit ataupun banyak. (Taisirul Karimir Rahman, hal. 649)
Bila kita menyimak ucapan Rasulullah r tatkala beliau menjelaskan tentang ihsan, maka kita akan mendapati pula anjuran agar senantiasa muraqabah dan merasa takut kepada Allah I. Dalam hadits Jibril yang diriwayatkan oleh ‘Umar bin Al-Khaththab t , beliau ditanya oleh Jibril u:

“Beritahukan padaku tentang ihsan!” Beliau r pun menjawab, “Engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Apabila engkau tidak dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Muslim no. 8)
Seseorang selayaknya beribadah kepada Allah I seakan-akan dia melihat-Nya, karena ini menunjukkan keikhlasannya kepada Allah U serta kekokohan amalannya dalam mengikuti Rasulullah r. Seseorang yang beribadah kepada Allah I dengan gambaran yang seperti ini pastilah di dalam hatinya ada rasa cinta dan pengagungan kepada Allah I yang dapat mendorongnya untuk memperbaiki dan mengokohkan amalannya.
Apabila seseorang tidak dapat beribadah seperti gambaran ini, maka hendaknya dia beribadah kepada Allah I dengan jalan muraqabah dan rasa takut kepada Allah I. Dan tentu saja ibadah kepada Allah I karena pengharapan itu lebih sempurna daripada ibadah karena rasa takut. (Syarh Riyadhush Shalihin, 1/327)
Demikianlah, hingga perlu ditanamkan pada diri sang anak bahwa Allah I senantiasa mengetahui segala perbuatan hamba-Nya, yang nampak maupun yang tersembunyi. Allah I mengetahui segalanya tanpa terkecuali.
Apabila seorang hamba mengetahui kesempurnaan ilmu Allah I, maka akan berbuah muraqabah dan rasa takut yang sempurna kepada Allah U. (Syarh Al-’Aqidah Al-Wasithiyah, Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, hal. 150)
Di dalam Kitab-Nya, Allah I banyak menyebutkan tentang pengawasan-Nya dan ilmu-Nya terhadap segala sesuatu. Sebagaimana dalam firman-Nya:

“Dan Allah Maha Mengawasi segala sesuatu.” (Al Ahzaab: 52)
Dalam ayat yang lain Allah I berfirman:

“Apakah mereka mengira bahwa Kami tidak mendengar rahasia dan bisikan-bisikan mereka? Sebenarnya Kami mendengar, dan utusan-utusan Kami selalu mencatat di sisi mereka.” (Az-Zukhruf: 80)
Dalam ayat ini disebutkan bahwa malaikat-malaikat Allah I yang mulia senantiasa mencatat di sisi mereka segala yang mereka lakukan dan catatan amalan itu akan senantiasa terjaga hingga mereka datang pada hari kiamat nanti, lalu mereka akan mendapati di hadapan mereka segala amalan yang dulu mereka lakukan, dan Allah I tidaklah berbuat dzalim pada siapa pun.(Taisirul Karimir Rahman, hal. 770)
Demikian pula dalam firman-Nya:

“Pada hari ketika mereka dibangkitkan oleh Allah seluruhnya, lalu Allah memberitakan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Allah mencatat amal perbuatan itu, sementara mereka telah melupakannya. Dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu. Tidakkah engkau perhatikan bahwa sesungguhnya Allah mengetahui segala yang ada di langit dan segala yang ada di bumi ? Tiada pembicaraan rahasia di antara tiga orang, kecuali Dialah yang keempatnya, dan tiada pembicaraan rahasia di antara lima orang, kecuali Dialah yang keenamnya. Dan tiada pula pembicaraan di antara orang yang kurang dari itu atau lebih banyak, kecuali Dia ada bersama mereka di manapun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitakan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Al-Mujadilah: 6-7)
Allah I berfirman pula:

“Sesungguhnya tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi Allah, baik di bumi maupun di langit.” (Ali ‘Imran: 5)
Di ayat yang lain Allah I berfirman:

“Dan di sisi-Nyalah kunci-kunci hal yang ghaib, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia, dan Dia mengetahui segala sesuatu yang ada di daratan ataupun di lautan, dan tak satu pun daun yang jatuh kecuali Dia mengetahuinya, dan tak ada satu biji pun yang berada di kegelapan bumi, tidak pula sesuatu yang basah maupun yang kering, kecuali hal itu ada dalam kitab yang nyata.” (Al-An’am: 59)
Para ulama menga-takan, jika dedaunan yang jatuh saja Allah I mengetahuinya, maka bagaimana pula kiranya dengan dedaunan yang Dia tumbuhkan dan Dia ciptakan! Tentu Allah U lebih mengetahuinya. (Syarh Riyadhush Shalihin 1/220)
Begitu pula kita gambarkan, sebuah biji kecil yang terkubur di dasar lautan, dia berada dalam lima kegelapan. Kegelapan pertama adalah gelapnya tanah yang menguburnya, kegelapan kedua adalah gelapnya air lautan, kegelapan ketiga adalah gelapnya malam, kegelapan keempat adalah gelapnya gumpalan mendung, dan kegelapan kelima adalah gelapnya hujan yang turun. Lima kegelapan meliputi di atas biji kecil tadi, sementara Allah U mengetahuinya. Demikian juga tidak ada sesuatu pun yang basah maupun yang kering, kecuali telah tertulis dengan gamblang dan jelas di sisi Rabb semesta alam ini.
Jika demikian luasnya ilmu Allah I, maka seorang yang beriman tentunya harus merasakan pengawasan Allah I, merasa takut kepada-Nya dalam keadaan tersembunyi, sebagaimana dia pun merasa takut kepada-Nya dalam keadaan terang-terangan. Bahkan seorang yang mendapatkan taufik dari Allah I adalah orang yang menjadikan rasa takutnya kepada Allah I tatkala dalam keadaan yang tersembunyi lebih besar dan lebih kuat daripada rasa takutnya tatkala dalam keadaan terang-terangan, karena takut kepada Allah dalam keadaan tersembunyi itu lebih kuat keikhlasannya karena tak ada seorang pun di sisinya. Sementara rasa takut kepada Allah dalam keadaan terang-terangan terkadang muncul riya` dalam hatinya atau keinginan dilihat oleh orang lain. (Syarh Riyadhush Shalihin, 1/220-221)
Sebuah teladan dalam hal ini dapat disaksikan dari diri seorang penggembala yang ditemui oleh ‘Abdullah bin ‘Umar c dalam perjalanannya ke Makkah. ‘Abdullah bin Dinar yang menyertai perja-lanan itu mencerita-kan, “Aku pernah pergi bersama Ibnu ‘Umar ke Mekkah. Kami sempat berhenti seje-nak untuk beristirahat. Saat itu, turun seorang penggembala kambing dari gunung. Ibnu ‘Umar bertanya padanya, “Engkaukah penggembala kambing-kambing ini?” “Benar,” jawabnya.
Ibnu ‘Umar berkata lagi, “Juallah padaku seekor kambingmu!” Dia pun menjawab, “Saya ini hanya seorang budak.”
“Katakan saja pada tuanmu bahwa kambing itu dimakan serigala!” kata Ibnu ‘Umar. “Lalu di manakah Allah…?” demikian jawabnya.
Ibnu ‘Umar mengulang jawaban si penggembala, “Lalu di manakah Allah…?” Ibnu ‘Umar pun menangis. Kemudian Ibnu ‘Umar membeli budak itu lalu memerdekakannya. (Siyar A’lamin Nubala`, 3/216)
Inilah yang perlu ditanamkan, agar anak-anak tak ‘salah jalan’. Merasakan pengawasan Rabbnya akan menjadi kendali yang akan menahan langkahnya dari keburukan dan akan mendorong langkahnya menuju kebaikan.
Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.

Membina Keharmonisan Suami Istri (bagian 1)

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Zulfa Husein Al-Atsariyyah)

Jima’ (hubungan seksual) dalam kehidupan sepasang suami istri tentu menjadi hal yang teramat lazim. Bahkan terkadang, bagi sebagian orang, permasalahan jima’ sering menjadi faktor yang cukup besar bagi terciptanya kehidupan rumah tangga yang harmonis. Sehingga tentu saja bukan sesuatu yang tabu atau apalagi porno bila kita membicarkan masalah ini, selama masih dalam bimbingan syariat dan banyak manfaat yang bisa kita ambil.

Allah I berfirman:

“Istri-istri kalian adalah (seperti) tanah tempat kalian bercocok-tanam, maka datangilah tanah tempat kalian bercocok-tanam itu bagaimana saja kalian kehendaki.” (Al-Baqarah: 223)
Dalam ayat lain, Dia Yang Maha Tinggi berfirman:

“Mereka (para istri) itu adalah pakaian bagi kalian dan kalian adalah pakaian bagi mereka.” (Al-Baqarah: 187)
Dari dua ayat yang mulia di atas, Allah I menggambarkan hubungan yang terjalin antara seorang wanita dengan seorang lelaki yang terikat dalam ikatan suci pernikahan. Karena memang dengan menikah menjadi bolehlah apa yang semula tidak boleh dan menjadi halal apa yang semula haram. Istri adalah ladang bagi suaminya yakni ladang untuk melahirkan anak-anak suami dan menumbuhkan benih keturunan suami sehingga dari kata “ladang” ini ada kinayah1 dari hubungan badan/jima’ karena dengan jima’ seorang suami bisa mendapatkan keturunan dari istrinya. (An-Nukat wal ‘Uyun Tafsir Al-Mawardi, 1/284).
Sekaligus istri merupakan pakaian bagi suaminya sebagaimana suami adalah pakaian istrinya. Bercampurnya masing-masing dari suami istri dengan pasangannya diistilahkan dengan pakaian. Karena melekat, menempel dan bercampurnya tubuh keduanya serupa dengan menempelnya pakaian pada tubuh. Bisa pula dimaknakan bahwa masing-masing menjadi penutup bagi pasangannya dari apa yang tidak halal. Ada pula yang mengatakan bahwa masing-masing menjadi penutup bagi pasangannya dari pandangan manusia ketika berlangsung hubungan jima’ antara keduanya. Abu ‘Ubaid berkata: “Wanita/istri itu dikatakan sebagai libas, firasy, dan izar bagimu (yakni istri adalah pakaian, tempat tidur, dan sarungmu).” Ar-Rabi‘ berkata: “Para istri adalah tempat berbaring kalian dan kalian adalah selimut bagi mereka.” Mujahid mengatakan: “Istri adalah tempat ketenangan bagi kalian yakni sebagian kalian menjadi ketenangan bagi yang lain.” (Al-Jami‘ li Ahkamil Qur`an, 2/211-212).
Perlu diketahui, termasuk di antara tujuan yang agung dari sebuah pernikahan adalah masing-masing dari suami istri menjaga kehormatan diri pasangannya agar tidak terjatuh kepada perbuatan keji dan nista seperti melihat sesuatu yang diharamkan, berselingkuh, atau yang lebih parah lagi melakukan zina. Upaya keduanya untuk memenuhi “hasrat” pasangannya akan diberi pahala oleh Allah I sebagaimana dalam hadits Rasulullah r:

“Dan pada jima’ yang dilakukan oleh salah seorang dari kalian dengan istrinya (atau pada kemaluan salah seorang dari kalian) ada (bernilai) sedekah.” Para shahabat bertanya (dengan heran): “Wahai Rasulullah, apakah salah seorang dari kami melampiaskan syahwatnya lalu ia diberi pahala dalam pemenuhan syahwatnya tersebut?” Rasulullah menjawab keheranan mereka dengan ucapan beliau: “Apa pendapat kalian, seandainya ia meletakkan kemaluannya itu pada yang haram, bukankah ia mendapatkan dosa karenanya? Maka demikian pula bila ia meletakkan kemaluannya pada yang halal, ia mendapatkan pahala karenanya.”2
Kata Al-Imam An-Nawawi t: “Dalam hadits ini ada dalil bahwa perkara mubah bisa bernilai ibadah dengan niat yang baik. Maka jima’ menjadi ibadah bila seseorang meniatkan untuk memenuhi hak istrinya dan bergaul dengannya dengan cara yang ma`ruf sebagaimana yang diperintahkan Allah I, ia niatkan untuk mendapatkan anak yang shalih, menjaga kehormatan dirinya atau kehormatan istrinya (dari berbuat zina) dan untuk mencegah keduanya dari melihat kepada yang haram, atau berpikir tentangnya, atau berkeinginan melakukannya, ataupun tujuan-tujuan baik lainnya.” (Al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim, 7/93)
Sepatutnya bagi suami untuk mencukupi hajat istrinya sebagai bentuk pergaulan dengan cara yang ma‘ruf sebagaimana dinyatakan dalam ayat:

“Dan mereka (para istri) memiliki hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma`ruf, akan tetapi para suami memiliki satu tingkatan kelebihan daripada istrinya.” (Al-Baqarah: 228)
Dan juga dalam ayat:

“Dan bergaullah kalian dengan mereka (para istri) secara patut.” (An-Nisa’: 19)
Di sisi lain, istri pun wajib memenuhi hasrat suami kepada dirinya dan sekali-kali ia tidak boleh menolak ajakan suaminya ke tempat tidur tanpa alasan yang diperkenankan syariat. Bila si istri melakukannya, ia jatuh ke dalam dosa besar sebagaimana dinyatakan dalam sabda Rasul yang agung r:

“Apabila seorang suami memanggil istrinya ke tempat tidurnya3, namun si istri enggan untuk datang (memenuhi ajakan suaminya) maka para malaikat melaknat si istri sampai pagi hari.4 Dalam satu riwayat: … sampai si istri mau kembali.”5
Dalam riwayat Al-Imam Muslim disebutkan Rasulullah r bersabda:

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidak ada seorang lelaki pun yang mengajak istrinya ke tempat tidur namun si istri menolak ajakan suami, melainkan yang di langit marah/murka terhadapnya, sampai suami ridha padanya.” (HR. Muslim no. 3525)
Al-Imam An-Nawawi t berkata: “Hadits ini merupakan dalil haramnya istri untuk menolak ajakan suami ke tempat tidurnya tanpa ada uzur syar’i. Haid bukanlah termasuk uzur untuk menolak ajakan suami karena suami tetap punya hak untuk istimta’ (bersenang-senang) dengan istrinya pada bagian atas sarung (yang menutupi tempat keluarnya darah haid, -pent.).6 Makna hadits ini adalah laknat terus diterima si istri sampai hilang kemaksiatan dengan terbitnya matahari dan suami sudah merasa tidak membutuhkan jima’ lagi, atau laknat itu berakhir dengan taubatnya si istri dan ia mau kembali ke tempat tidur suaminya.” (Al-Minhaj, 10/249)

Adab-adab Syar‘i dalam Jima’
Sebagai ladang dan pakaian bagi suami, suami diberi keleluasaan untuk “mendatangi” istrinya sekehendaknya dan dengan cara yang ia sukai karena Allah I sendiri menyatakan:

“Maka datangilah tanah tempat kalian bercocok-tanam itu bagaimana saja kalian kehendaki.”
Namun, perlu diketahui setiap perkara yang berlangsung dalam kehidupan manusia telah ditetapkan ketentuan dan adab-adabnya oleh syariat. Demikian pula dalam perkara hubungan suami istri, di sana ada aturan, ketentuan dan larangan yang tidak boleh dilanggar oleh setiap insan yang beriman kepada Allah I dan Rasul-Nya r. Beda halnya dengan orang yang tidak mengenal Allah I dan syariat-Nya yang mulia, mereka hidup tanpa mengenal aturan syar‘i, tidak tahu adab Islami. Jangankan mau mengamalkan adab dalam berhubungan suami istri, bagaimana beradab kepada Allah I dan Rasul-Nya pun mereka buta atau pura-pura buta.
Berikut ini sedikit penjelasan bagi orang yang mau mengamalkan adab-adab syar‘i dalam hubungan suami istri:
Pertama: Hubungan suami istri (jima’) hanya boleh dilakukan ketika istri dalam keadaan suci, tidak sedang haid atau nifas. Karena Allah I berfirman:

“Mereka bertanya kepadamu tentang darah haid, maka katakanlah bahwa darah haid itu adalah kotoran (najis) maka jauhilah (jangan menggauli) para istri ketika haidnya (di tempat keluarnya darah/farji).” (Al-Baqarah: 222)
Anas bin Malik t berkata:

“Kebiasaan orang-orang Yahudi bila wanita di kalangan mereka haid maka mereka tidak mau makan bersamanya dan tidak mau berkumpul dengannya di dalam rumah. Para shahabat Nabi r pun bertanya kepada Nabi tentang hal itu maka Allah I menurunkan ayat: “Mereka bertanya kepadamu tentang darah haid, maka katakanlah bahwa darah haid itu adalah kotoran (najis) maka jauhilah (jangan menggauli) para istri ketika haidnya (di tempat keluarnya darah/farji)” sampai akhir ayat. Rasulullah r berkata: “Lakukanlah segala sesuatu (dengan istri kalian saat ia haid) kecuali jima’ (tidak boleh kalian lakukan, -pent.)” Sampailah hal itu kepada orang-orang Yahudi, mereka pun berkata: “Tidaklah orang ini (Rasulullah, -pent.) membiarkan satu urusan kita melainkan pasti dia selisihi.” Usaid bin Hudhair dan ’Abbad bin Bisyr datang menemui Rasulullah r, keduanya berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya orang-orang Yahudi mengatakan ini dan itu (mengadukan ucapan Yahudi sebagaimana yang telah disebutkan-pent). Apakah tidak sekalian kita jima’i saja istri-istri kita ketika haid?” Mendengar hal itu berubahlah wajah Rasulullah r hingga keduanya menyangka beliau marah kepada keduanya. Keduanya pun keluar dari tempat Rasulullah r. Datanglah hadiah berupa susu untuk Nabi r, maka beliau mengirim orang untuk mengantarkan susu itu untuk Usaid dan’Abbad agar keduanya meminum susu tersebut. Dari situ tahulah keduanya bahwa Rasulullah tidak marah kepada mereka berdua.”7
Kedua: Jima’ tidak boleh dilakukan ketika kedua suami istri atau salah satunya sedang berihram8 (muhrim) atau sedang puasa.
Allah I berfirman:

“(Musim) haji itu adalah beberapa bulan yang diketahui, maka barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji maka ia tidak boleh melakukan rafats…” (Al-Baqarah: 197)
Rafats () adalah jima’9 dan pendahuluannya, baik berupa perkataan maupun perbuatan. (Taisir Al-Karimir Rahman, hal. 91)
Allah I juga berfirman:

“Dihalalkan bagi kalian pada malam hari bulan puasa untuk bercampur dengan istri-istri kalian (melakukan rafats), mereka itu adalah pakaian bagi kalian dan kalian pun adalah pakaian bagi mereka.” (Al-Baqarah: 187)
Dalam ayat di atas, Allah I membolehkan jima’ pada malam hari puasa. Hal ini menunjukkan jima’ tersebut dilarang dilakukan pada siang hari ketika seseorang sedang berpuasa. Al-Hafizh Ibnu Katsir t berkata: “Suami dan istri masing-masing bercampur dengan yang lain, saling bersentuhan dan tidur bersama, maka cocok sekali diberikan keringanan bagi para suami untuk melakukan jima’ dengan istrinya pada malam hari Ramadhan (sementara siang harinya dilarang karena sedang berpuasa, -pent.), agar tidak memberatkan dan menyulitkan mereka.” (Al-Mishbahul Munir fi Tahdzib Tafsir Ibni Katsir, hal. 134)
Abu Hurairah z berkisah:

“Tatkala kami sedang duduk-duduk di sisi Nabi r tiba-tiba datang seorang lelaki, ia berkata: “Wahai Rasulullah, saya binasa.” “Kenapa engkau?” tanya Rasulullah. “Saya menggauli istriku dalam keadaan saya puasa,” jawabnya. “Apakah engkau mendapatkan budak untuk dimerdekakan,” tanya Rasulullah. “Tidak,” jawabnya. “Apakah engkau mampu berpuasa dua bulan berturut-turut?” tanya Rasu-lullah lagi. “Tidak mampu,” jawab-nya. “Apakah eng-kau bisa mem-berikan makan 60 orang miskin ?” tanya Rasulullah. “Tidak,” jawabnya. Nabi r pun tinggal beberapa saat, tatkala kami dalam keadaan demikian didatangkanlah kepada Nabi r satu keranjang berisi kurma, beliau berkata: “Di mana orang yang bertanya tadi?” Orang itu menjawab: “Saya.” Nabi bersabda: “Ambillah sekeranjang kurma ini lalu bersedekahlah dengannya.” “Apakah saya harus menyedekahkan kurma ini kepada orang yang lebih fakir dariku wahai Rasulullah? Demi Allah, tidak ada keluarga di antara dua ujung/tepi10 kota Madinah yang lebih fakir daripada keluargaku,” kata lelaki tersebut. Mendengar hal itu Nabi r tertawa hingga terlihat gigi taring beliau kemudian beliau bersabda: “Berilah makan keluargamu dengan kurma ini.”11
Ketiga: Berdoa ketika melakukannya sebagaimana doa yang diajarkan oleh Rasulullah r:

“Dengan nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari syaitan dan jauhkanlah syaitan dari apa yang Engkau rizkikan kepada kami.”
Kata Nabi r:

“Bila Allah menetapkan adanya anak dari hasil hubungan antara keduanya niscaya syaitan tidak akan dapat memudharatkannya selama-lamanya.”12
Keempat: Di antara per-masalahan yang banyak dita-nyakan berka-itan dengan jima’ adalah masalah boleh tidaknya suami istri melepas seluruh pakaiannya ketika jima dan boleh tidaknya melihat aurat pasangannya. Yang benar dalam hal ini adalah boleh suami istri tidak berbusana di hadapan pasangannya dan masing-masing halal (boleh) melihat aurat yang lain, berdasarkan hadits Mu‘awiyah bin Haidah yang akan kami sebutkan dalam edisi mendatang Insya Allah.
Wallahu ta‘ala a‘lam bish-shawab. (bersambung, insya Allah)

Catatan Kaki:

1 Kinayah adalah ibarat, kiasan, sindiran, yakni penggunaan kata-kata yang tidak terang-terangan.
2 HR. Muslim no. 2326, kitab Az-Zakah, bab Bayanu Anna Ismash Shadaqah Yaqa‘u ‘ala Kulli Nau‘in minal Ma‘ruf
3 Yakni mengajaknya untuk jima’ (Fathul Bari, 9/365)
4 Tidaklah berarti di sini istri boleh menolak ajakan suaminya untuk jima’ pada siang hari. Adapun dikhususkan penyebutan ajakan jima’ di malam hari (sebagaimana yang terkandung dalam hadits di atas) karena lebih kuatnya keinginan berjima’ di malam hari dibanding siang hari. (Fathul Bari, 9/365)
5 HR. Al-Bukhari no. 5193, kitab An-Nikah, bab Idza Batatil Mar`ah Muhajiratan Firasya Zaujiha dan Muslim no. 3524 kitab An-Nikah, bab Tahrimu Imtina’iha min Firasyi Zaujiha
6 Dalam hal ini ada sabda Rasulullah r: , artinya: “Lakukanlah segala sesuatu (dengan istri kalian saat ia haid) kecuali nikah/jima’ (yakni memasukkan zakar ke dalam farji, tidak boleh kalian lakukan).”
7 HR. Muslim no. 692, kitab Al-Haidh, bab fi Qaulillahi ta‘ala
8 Karena di antara larangan yang harus ditinggalkan oleh orang yang sedang berihram adalah jima’ sampai ia tahallul dari ihramnya.
9 Demikian pendapat Ibnu ‘Abbas, ‘Atha’, Mujahid, Sa‘id bin Jubair, Thawus, Salim bin Abdillah, ‘Amr bin Dinar, Al-Hasan, Qatadah, Az-Zuhri, Adl-Dlahhak, Ibrahim An-Nakha‘i, As-Sudi, ‘Atha’ Al-Khurasani, dan Muqatil bin Hayyan (Al-Mishbahul Munir fi Tahdzib Tafsir Ibni Katsir, hal. 133-134)
10 Labataiha adalah harratani, dan Madinah berada di antara harrataini. Makna harrah sendiri adalah tanah yang bercampur dengan bebatuan hitam. (Al-Minhaj, 7/226)
11 HR. Al-Bukhari no. 1936, kitab Ash-Shaum, bab Idza Jama‘a fi Ramadhan wa Lam Yakun Lahu Syai’un Fa Tushaddiqa ‘alaihi Fal Yukaffir dan Muslim no. 2590, kitab Ash-Shiyam, bab Taghlizh Tahrimil Jima’ fi Nahari Ramadhan ‘alash Sha’im…
12 HR. Al-Bukhari no. 5165, kitab An-Nikah, bab Ma Yaqulu Ar-Rajulu Idza Ata Ahlahu dan Muslim no. 3519, kitab An-Nikah, bab Ma Yustahabbu An Yaqulahu ‘Indal Jima’

Antara Berbakti kepada Orang Tua dan Menuntut Ilmu

Saya punya keinginan untuk belajar di pondok pesantren tetapi orang tua melarang, apa yang harus dilakukan?
08154xxxxxxx@satelindogsm.com

Dijawab oleh Al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad Al-Makassari:

Tatkala menuntut ilmu1 merupakan jihad, bahkan lebih utama dari jihad fi sabilillah (berlaga di medan jihad), kita akan mengawali permasalahan dengan hadits Abdullah bin ‘Amr c, ketika datang seorang lelaki menemui Rasulullah n meminta izin untuk berjihad fi sabilillah. Rasulullah n bertanya kepadanya: “Apakah kedua orang tuamu masih hidup?” Dia menjawab: “Ya.” Rasulullah n pun mengatakan:

“Pada kedua orang tuamulah engkau berjihad (bersungguh-sungguh berbakti).” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Majah yang dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Abi Dawud (no. 2528) disebutkan: “Ada seorang lelaki datang kepada Rasulullah n ingin ikut berjihad, sementara kedua orang tuanya menangis. Maka Rasulullah n mengatakan:

“Kembalilah engkau kepada keduanya, dan buatlah keduanya tertawa sebagaimana engkau telah membuat keduanya menangis.”
Berdasarkan hadits ini, jumhur ulama mengatakan bahwa seorang anak haram untuk berangkat jihad jika kedua orang tuanya atau salah satu dari keduanya melarangnya, dengan syarat kedua orang tuanya muslim. Karena birrul walidain (berbakti kepada keduanya) adalah fardhu ‘ain (kewajiban bagi setiap muslim yang tidak bisa diwakili orang lain), sedangkan jihad adalah fardhu kifayah (kewajiban bagi sebagian kaum muslimin, jika ada sebagian yang telah menunaikannya maka gugur kewajiban yang lain). Adapun jika jihad tersebut hukumnya fardhu ‘ain maka jihad didahulukan, karena mashlahatnya –yaitu untuk membela Islam dan kaum muslimin– lebih besar dibandingkan birrul walidain yang maslahatnya hanya untuk kedua orang tua. (Lihat Syarhu Muslim karya An-Nawawi (16/89), Fathul Bari (6/140-141), Nailul Authar (7/221) dan Subulus Salam (4/66))
Al-Hafizh berkata dalam Fathul Bari (6/141): “Hadits ini merupakan dalil haramnya melakukan safar tanpa izin orang tua, karena jihad saja demikian. Apalagi kalau hanya safar biasa. Lain halnya dengan safar dalam rangka menuntut ilmu yang fardhu ‘ain2, maka hal ini boleh meskipun tanpa izin. Adapun safar untuk menuntut ilmu yang sifatnya fardhu kifayah3 maka ada perbedaan pendapat di kalangan ulama.”
Kita memandang bahwa pendapat terbaik dalam hal ini adalah fatwa guru besar kami Asy-Syaikh Muqbil Al-Wadi’i t dan fatwa Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahumallah.
Syaikhuna Al-Wadi’i t berkata: “Waspadalah, waspadalah! Jangan sampai kedua orang tuamu menghalangi engkau dari menuntut ilmu yang bermanfaat. Karena kebanyakan orang tua, kalbu mereka dipenuhi cinta dunia. Tinjauan mereka sangat sempit, karena terbatas hanya pada masa depan anak di dunia ini.
Dalam Masa`il Ibnu Hani (jilid hal.164), dia berkata: “Aku mendengar Abu Abdillah –yaitu Al-ImamAhmad t– ditanya tentang seseorang yang pamit kepada orang tuanya untuk safar menuntut hadits dan (ilmu) yang bermanfaat baginya. Beliau t menjawab: “Jika berangkat untuk menuntut ilmu yang bermanfaat, saya memandang tidak mengapa seseorang melakukan hal itu meskipun tanpa izin orang tua.”
Saya bukannya mengajak anda untuk durhaka kepada orang tua dan memutuskan hubungan dengan keduanya, melainkan agar anda mengutamakan perkara yang lebih bermanfaat bagi Islam dan kaum muslimin. Akan tetapi kalau keduanya membutuhkan anda untuk mencarikan nafkah, atau untuk mengurusi mereka, maka tidak boleh menelantarkan mereka, berdasarkan hadits:

“Pada keduanyalah engkau berjihad.” (An-Nushul Amin li Thalabatil ‘Ilmi wa Sa`iris Salafiyyin min Kalamil Imam Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i, hal. 60-61)
Asy-Syaikh Al-‘Utsaimin t ketika ditanya tentang seseorang yang dihalangi oleh kedua orang tuanya untuk berangkat menuntut ilmu, beliau menjawab: “Jika ada tuntutan yang sifatnya darurat (terpaksa) untuk mendampingi keduanya, maka tinggal bersamanya afdhal (lebih utama), dan dia bisa menuntut ilmu bersamaan dengan mendampingi keduanya. Karena birrul walidain lebih diutamakan dibanding jihad fi sabilillah (yang hukumnya fardhu kifayah, pen). Sedangkan menuntut ilmu merupakan jihad, berarti birrul walidain didahulukan jika orang tua membutuhkan keberadaan anaknya. Adapun jika keduanya tidak membutuhkan keberadaannya, dan dia akan lebih leluasa serta lebih maksimal dalam menuntut ilmu jika berangkat, tidak mengapa dia berangkat (meskipun tanpa seizin keduanya). Namun jangan sampai lupa hak orang tuanya, dengan pulang menjenguk keduanya dan terus berusaha meyakinkan mereka akan pentingnya menuntut ilmu, sampai mereka mengerti hal itu. Lain halnya jika seorang anak mengetahui bahwa orang tuanya membenci ilmu syar’i (ilmu agama). Orang tua yang seperti itu tidak memiliki hak untuk ditaati. Dan tidak semestinya seorang anak minta izin kepada mereka jika hendak berangkat menuntut ilmu, karena yang mendorong keduanya untuk menghalangi anaknya adalah kebencian dia terhadap ilmu syar’i.” (Kitabul ‘Ilmi, hal. 155)
Semoga Allah I memberi taufik kepada para orang tua untuk mendukung dan membantu anak-anak mereka dalam menuntut ilmu, serta menyadari bahwa dengan itu mereka telah berpartisipasi untuk kejayaan agama ini dan kemaslahatan kaum muslimin. Dan itu lebih baik bagi mereka dibandingkan dunia dan seisinya.
Allahul muwaffiq ila sawa`is sabil. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

Catatan Kaki:

1 Ilmu yang dibicarakan di sini adalah ilmu syar’i (ilmu agama), bukan ilmu dunia.
2 Yaitu ilmu akidah dan tauhid, mempelajari hal-hal yang harus diimani, cara mentauhidkan Allah I dalam beribadah, serta hal apa saja yang merupakan pembatal-pembatal keislaman seseorang, seperti syirik dan lainnya.  Demikian pula mempelajari ilmu tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah I untuk mengenal Allah I. Juga mempelajari hukum-hukum syariat yang diwajibkan bagi setiap orang, semisal shalat, dan yagn terkait dengannya seperti wudhu dan lainnya.
3 Yaitu ilmu yang tidak harus dipelajari oleh setiap orang, seperti ilmu nahwu-sharaf, ilmu ushul fiqih, dan lainnya.

Redaksi tidak bisa menjawab langsung pertanyaan yang dikirim melalui sms. Karena banyaknya pertanyaan yang masuk, tidak setiap pertanyaan bisa dimuat jawabannya dalam Rubrik Problema Anda. Mohon maklum.

Mentadabburi Al-Qur’an

(ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar ZA)

Allah I menurunkan Al-Qur`an agar manusia mentadabburi ayat-ayatnya, memahami maknanya, mengingat, dan mengamalkannya.
Allah I berfirman:

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan agar mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” (Shad: 29)
Karena Al-Qur`an tidak memberikan petunjuk dan bimbingan kecuali kepada yang terbaik. Allah I menyatakan:

“Sesungguhnya Al-Qur`an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus.” (Al-Isra: 9)
Atas dasar itu pula maka Allah I mencela orang-orang yang tidak mentaddaburi Al-Qur`an. Dia I berfirman:

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur`an ataukah hati mereka terkunci?” (Muhammad: 24)
Al-Imam Al-Ajuri t menerangkan: “Barangsiapa mentadaburi ayat-ayat (tanda-tanda kekuasaan) Allah I dan firman-Nya, dia akan mengenal Allah I, besarnya kekuasaan dan kemampuan-Nya, mengenal besarnya keutamaan-Nya terhadap kaum mukminin, mengenal apa yang Allah I wajibkan atasnya berupa ibadah-ibadah. Sehingga ia mewajibkan atas dirinya kewajiban tersebut dan ia berhati-hati dari apa yang diperingatkan oleh Rabb yang Maha Mulia. Sehingga ia pun bersemangat untuk melaksanakan apa yang dianjurkan oleh Allah I. Barangsiapa demikian keadaannya ketika membaca Al-Qur`an dan ketika mendengarkannya dari yang lain, sungguh Al-Qur`an akan menjadi penyembuh (obat) baginya. Ia akan merasa cukup walau tanpa harta, merasa mulia walau tanpa keluarga, tenang dari sesuatu yang ditakuti oleh yang lain. Ketika mulai membaca surat-surat Al-Qur`an, keinginan-nya ialah kapan ia bisa mengambil pelajaran dari apa yang dia baca. Keinginannya bukanlah kapan ia bisa menyelesaikan bacaannya. Akan tetapi yang selalu menjadi keinginannya adalah kapan aku bisa memahami perintah-perintah Allah I, kapan aku bisa menjaga diri sehingga aku bisa mengambil pelajaran, karena membaca Al-Quran adalah ibadah yang tidak bisa dilakukan dengan kelalaian qalbu. Dan Allah I-lah yang memberi taufik untuk itu.” (Akhlaq Hamalatil Qur`an, dinukil dari Ziyadatul Iman wa Nuqshanuhu, hal. 180)
Ibnul Qayyim t menjelaskan pula tentang manfaat mentadabburi ayat-ayat Al-Qur`an. Beliau berkata: “Secara global, tidak ada sesuatu yang lebih bermanfaat bagi qalbu daripada membaca Al-Qur`an dengan penuh tadabbur dan tafakur (memahami dan merenungi ayat Al-Qur`an). Karena Al-Qur`an meliputi segala kedudukan orang yang berjalan menuju kepada Allah I, keadaan orang yang beramal dan kedudukan orang yang alim. Al-Qur`an mewariskan cinta, rindu, harap, taubat, tawakal, ridha, berserah diri, sabar, dan seluruh keadaan yang membuat hidupnya hati dan menyempurnakannya. Demikian pula Al-Qur`an memperingatkan dari seluruh sifat dan perbuatan tercela yang dengannya qalbu akan rusak dan binasa.
Maka seandainya orang-orang mengetahui faidah  membaca Al-Qur`an dengan mentadabburinya, tentu mereka akan tersibukkan dengannya dari apapun selainnya. Bila ia membacanya dengan tafakur sehingga melewati sebuah ayat yang ia butuhkan untuk menyembuhkan qalbunya, ia pun akan mengulanginya sampaipun seratus kali, meski dilakukan semalam suntuk. Sesungguhnya membaca satu ayat saja dengan penuh tafakur dan memahaminya, lebih baik daripada membaca Al-Qur`an dan mengkhatam-kannya tanpa tadabbur dan tanpa memahami. Lebih bermanfaat bagi qalbu untuk menghasilkan iman dan merasakan manisnya Al-Qur`an. (Lihat Miftah Daris Sa’adah hal. 204, dinukil dari Ziyadatul Iman wa Nuqshanuhu, hal. 183)
Ibnul Qayyim juga menjelaskan bagaimana seseorang dapat mengambil manfaat dari ayat-ayat Al-Qur`an. Beliau jelaskan dalam kitabnya Al-Fawa‘id hal. 9, dengan judul Syuruthul Intifa’ bil Qur`an (Syarat-syarat mengambil manfaat dari Al-Qur`an). Lengkapnya: “Bila engkau ingin mengambil manfaat dari Al-Qur`an maka konsentrasikan qalbumu ketika membaca dan mendengarkannya. Tujukan pendengar-anmu kepada bacaan itu. Hadirkan dirimu, seakan-akan engkau hadir di hadapan orang yang sedang berbicara kepadamu. Karena Al-Qur`an merupakan pembicaraan dari Allah I kepadamu melalui lisan Rasul-Nya n. Allah I berfirman:

“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai qalbu, atau yang menggunakan pendengarannya, sedangkan dia menyaksikannya.” (Qaf: 37)
Hal itu karena kesempurnaan pengaruh Al-Qur`an tergantung pada:
1.    Yang memberi pengaruh.
2.    Tempat yang bisa menerimanya.
3.    Syarat untuk mendapatkan pengaruh itu.
4.    Tiadanya penghalang.
Maka ayat di atas telah menerangkan itu semua, dengan lafadznya yang ringkas namun dengan keterangan yang jelas dan menunjukkan maksudnya. Firman Allah I:

“Sesungguhnya dalam hal itu ada peringatan,” adalah isyarat kepada apa yang telah lalu dari awal surat hingga ayat ini. Inilah yang dimaksud dengan hal yang pertama yaitu yang memberikan pengaruh.
Adapun:

“Bagi orang yang memiliki qalbu,” ini artinya tempat yang menerima. Yang dimaksud dengan qalbu di sini adalah qalbu yang hidup yang memahami apa yang datang dari Allah.

“Al-Qur`an itu tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab yang memberi keterangan, supaya dia (Muhammad) memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup (hatinya) dan supaya pastilah (ketetapan azab) terhadap orang-orang kafir.” (Yasin: 69-70)
Yakni hidup kalbunya.
Adapun firman Allah I:

“Atau yang menggunakan pendengar-annya,” yakni mengarahkan pendengaran dan telinganya kepada apa yang dikatakan kepadanya. Ini merupakan syarat untuk mendapatkan pengaruh dari sebuah penjelasan.
Sedangkan firman-Nya:

“Sedangkan dia menyaksikannya,” yakni qalbunya menyaksikan dan hadir, tidak lalai. Ibnu Qutaibah mengatakan: “Yakni ia mendengarkan kitab Allah I dalam keadaan kalbunya menyaksikan dan memahami, tidak lalai, dan tidak lupa. Ini merupakan isyarat harus dihilangkannya penghalang untuk mendapatkan pengaruh itu, yaitu lalainya qalbu dan tidak menghadirkan (perhatian) ketika mende-ngarkan firman-firman itu, tidak memahami apa yang dikatakan kepadanya dan tidak memperhatikan ayat-ayat itu.
Maka apabila pengaruh itu ada, yaitu Al-Qur`an, tempat yang menerima juga ada, yaitu qalbu yang hidup. Demkian pula syarat itu didapati yaitu konsentrasi dalam mendengarkan, serta hilangnya penghalang yaitu kesibukan qalbu dan lalainya dari makna pembicaraan yang diarahkan kepadanya sehingga mengarah kepada yang lain, maka tentu pengaruh Al-Qur`an dan manfaat darinya akan diperoleh.
Wallahu a’lam.

Menyambung dan Memperbaikai Hubungan Anak dan Orang Tua (bagian 1)

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah An-Nawawi)

Orang tua mana yang tidak sedih dan terluka hatinya manakala melihat buah hatinya yang ia rawat sejak kecil kini telah tumbuh menjadi duri dalam daging baginya. Si anak kini pandai membantah omongan orang tua, pandai memaki, bahkan tak segan untuk menyakiti. Sedih? Sudah pasti. Namun sang orang tua pun barangkali lalai, ketika dia berangan-angan memiliki anak yang shalih dan berbakti, harapannya itu tidak disertai upaya untuk memberikan pendidikan yang Islami kepada anak-anaknya. Ia tak mempedulikan bagaimana pendidikannya, bagaimana teman-temannya, bagaimana akhlaknya, dan sebagainya, hingga tak disadari si anak pun telah berubah menjadi “musuh” baginya.

Tidak sedikit orang tua yang menge-luhkan perihal anaknya yang jahat. Atau merasakan kehidupan yang serba tidak menentu karena harus menanggung beban mental dan rasa malu berkepanjangan karena ulah anak-anaknya.
Banyak cara yang kemudian mereka tempuh demi memperbaiki kelakuan anaknya. Bahkan tidak sedikit yang melaku-kan ‘potong kompas’ seperti datang ke para-normal untuk bisa ‘menjinakkan’ jiwa sang anak yang telah rusak. Mereka dilanda kepu-tusasaan karena merasakan betapa anaknya telah menjadi tuan yang memperbudak hidupnya, serta menjadi penjajah yang memeras keringat dan tenaganya.
Keseharian mereka diwarnai ucapan-ucapan kotor yang keluar dari mulut sang anak hingga caci maki yang demikian menghunjam kalbu orang tuanya. Sudah bukan hal yang aneh lagi jika belakangan ini kita mendengar ada anak yang tega mendaratkan pukulan dan tendangan ke tubuh dua insan yang lemah itu. Bahkan sampai menghabisi nyawa kedua orang tuanya dikarenakan tidak mendapat ijin untuk berbuat maksiat. Bayangkan jika hal itu terjadi pada anak anda. Siapa yang harus disalahkan dan menjadi kambing hitam, anak ataukah kita sebagai orang tua?
Di sisi lain, tidak sedikit orang tua yang tidak mempedulikan anak-anaknya. Mereka dibiarkan bagaikan binatang liar yang tidak memiliki aturan. Dibiarkan tidak terdidik dan tidak berpendidikan sehingga malang melintang nasib seorang anak di bawah asuhan dan buaian setan.
Bagi orang tua yang tidak bertanggung jawab seperti ini, bisa jadi yang ada di benak mereka adalah, bila syahwat tertunaikan, selesailah gejolak, tantangan, serta beban hidup. Selebihnya, hidup menjadi ‘milik’ masing-masing. Artinya, kedua orang tua dalam dunianya dan anak berada dalam dunia yang lain.
Asy-Syaikh Muqbil t di dalam Muqaddimah beliau terhadap salah satu kitab karya putri beliau menjelaskan: “Manusia dalam urusan kaum wanita terbagi menjadi tiga golongan:
Pertama: “Golongan yang melepas-kan ikatan dan aturan hidup sehingga dia pergi tanpa mahramnya, campur baur di tempat sekolah/kuliah mereka, bekerja di kantor atau di rumah sakit-rumah sakit, dan selainnya dari pekerjaan-pekerjaan duniawi sehingga urusan kaum muslimin menjadi carut marut dan kebarat-baratan.
Kedua: Melalaikan kaum wanita dengan tidak memberikan pendidikan kepada mereka. Membiarkan mereka bagaikan binatang. Tidak mengetahui apa saja yang telah diwajibkan Allah I dan hidupnya terkubang dalam fitnah, menyelisihi perintah Allah I, bahkan dia tampil merusak keluarganya sendiri dan menyambut segala seruan (kemaksiatan).
Ketiga: Mereka memperhatikan pendidikan kaum wanita dalam batasan-batasan yang tidak keluar dari Al-Qur`an dan As-Sunnah sebagai implementasi dari firman Allah I:

“Hai orang-orang yang beriman jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu.” (At-Tahrim: 6)
Dan sabda Rasulullah n:

“Setiap kalian adalah pemimpin dan kalian akan dimintai pertanggungjawaban tentang kepemimpinan kalian.”1 (Nashihati lin Nisa`, hal. 7-8)
Kerusakan hidup berumah tangga sendiri disebabkan banyak hal, di antaranya:
Pertama: Seorang suami sebagai pimpinan rumah tangga menyia-nyiakan tanggung jawabnya sehingga mengakibatkan anggota keluarganya berjalan sendiri-sendiri dengan tanpa ada aturan dan hukum yang mengikat. Ini merupakan penyebab yang pertama dan paling utama.
Kedua: Seorang istri melalaikan tanggung jawabnya sebagai pemimpin dan guru bagi anaknya. Sehingga pendidikan dan kasih sayang yang semestinya didapatkan oleh anak hilang dan pudar. Hal ini disebab-kan banyak faktor, di antaranya adalah munculnya konsep emansipasi/kesetaraan gender di mana wanita dituntut untuk ‘maju’ dengan berkarir setinggi mungkin. Terlebih, keberanian seperti ini yakni meninggalkan kewajibannya yang asasi dan tanggung jawabnya yang besar, justru ditopang dorongan sang suami. Akhirnya anak ‘dididik dan dibesarkan’ oleh seorang pembantu/baby sitter. Tidak mengherankan jika lahiriah dan batiniahnya merupakan jelmaan sang pembantu.
Ketiga: Munculnya anak-anak yang durhaka kepada Allah I dan Rasul-Nya serta kepada kedua orang tuanya. Sehingga kerap kali sang anak harus menelanjangkan perasaan kedua orang tuanya dan ‘mence-tak’ aib hidup berumah tangga. Karena rasa malu yang sangat dan berkepanjangan tidak mustahil seorang bapak kemudian tega menghabisi nyawa anaknya dan menum-pahkan darahnya.
Keempat: Masuknya media elektronik modern ke dalam rumah di mana itu menjadi salah satu perusak tatanan hidup berkeluarga. Banyaknya tayangan atau tontonan yang berbau porno, sedikit atau banyak, memberikan pengaruh yang mendalam bagi anggota keluarga. Mereka pun akhirnya melampiaskannya kepada orang-orang terdekat atau yang lemah dari kalangan mereka sendiri. Seorang bapak menodai anak kandungnya sendiri, seorang anak menodai ibunya, paman menodai kesucian keponakannya, dan seterusnya, adalah sekelumit potret bagaimana dampak itu dirasakan dalam sebuah tatanan keluarga.
Kelima: Lingkungan yang jahat dan jelek
Fenomena hidup seperti ini akan bisa dibaca oleh setiap orang yang memiliki akal dan ilmu yang benar.

Wahai Anak, Dengarkan Wasiat Allah I dan Rasulmu
Anak yang shalih adalah anak yang menggembirakan dan menjadikan kedua orang tuanya ridha. Rasulullah n bersabda:

“Ridha Rabb berada di keridhaan orang tua, dan murka Rabb berada di atas kemurkaan mereka.”2
Dia berusaha menunaikan hajat kedua orang tuanya dalam batasan-batasan agama. Berperilaku sopan dan santun, beradab, bertutur kata lemah lembut dan penuh kasih sayang, serta menjadi penyejuk mata kedua orang tuanya. Semuanya ini diharuskan bagimu, wahai anak, karena:
1.    Besarnya hak kedua orang tua
2.    Hak kedua orang tua adalah kedua setelah hak Allah I dan Rasul-Nya.
3.    Kelemahan di atas kelemahan yang ditanggung oleh seorang ibu mulai dari mengandung hingga melahirkannya
4.    Rasulullah n menjadikan martabat berbakti kepada kedua orang tua di atas martabat jihad di jalan Allah I. (Lihat Syarh Riyadhus Shalihin, Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin, 1/691)
Inilah wasiat Allah I dan Rasul, maka dengarkanlah:
Wasiat pertama: “Menjunjung tinggi hak kedua orang tua dan hak keduanya di bawah hak Allah I dan Rasul-Nya.”

“Dan sembahlah Allah dan jangan kalian menyekutukan-Nya dengan sesuatupun dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, kepada karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat, dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan kepada budak yang kalian miliki. Dan sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang angkuh lagi sombong.” (An-Nisa`: 36)
Ibnu Katsir menjelaskan: “Allah I yang Maha Mulia memerintahkan agar beribadah hanya kepada Allah I semata dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Dialah yang telah menciptakan, memberi rizki, memberi nikmat dan keutamaan atas seluruh makhluk dalam segala situasi dan kondisi. Maka Dialah yang berhak mereka sembah dan tidak menyekutukan-Nya dengan suatu makhluk pun. Sebagaimana sabda Rasulullah n kepada Mu’adz bin Jabal:
‘Tahukah kamu hak-hak Allah atas para hamba?’ Dia menjawab: ‘Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.’ Beliau bersabda: ‘Agar mereka menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.’ Kemudian beliau berkata: ‘Tahukah kalian hak hamba atas Allah jika mereka melakukan hal itu? Allah tidak akan mengadzab mereka.”
Kemudian Allah I mewasiatkan agar berbuat baik kepada kedua orang tua karena sesungguhnya Allah I telah menjadikan mereka berdua sebagai sebab keluarnya kamu dari tidak ada menjadi ada dan Allah I sering menggandengkan ibadah kepada-Nya dengan berbuat baik kepada kedua orang tua, seperti firman-Nya:

“Agar kamu bersyukur kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu.” (Luqman: 14)
Dan seperti firman-Nya:

“Dan Rabbmu telah memerintahkan agar kalian tidak menyembah melainkan kepada-Nya dan berbuat baik kepada kedua orang tua.” (Al-Isra`: 23)
Kemudian Allah I menganjurkan berbuat baik kepada keluarga, laki-laki atau perempuan, sebagaimana disebutkan dalam hadits:
“Bersedekah kepada fakir miskin adalah shadaqah dan bersedekah kepada karib kerabat adalah shadaqah dan menyambung silaturrahmi.”

“Dan Kami telah mewasiatkan kepada manusia agar mereka berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Dan jika keduanya memaksamu untuk menyekutukan-Ku dan kamu tidak memiliki ilmu tentangnya, maka janganlah kamu mentaati keduanya. Kepada-Ku kalian akan dikembalikan dan Aku akan memberitahukan kepada kalian apa yang telah kalian perbuat.” (Al-’Ankabut: 8)
Al-Imam Al-Qurthubi menjelaskan: “Berbuat baiklah kalian kepada mereka berdua dengan segala bentuk kebaikan. Ulama berkata: ‘Orang yang paling berhak untuk kamu mensyukurinya dan berbuat baik kepadanya, terus-menerus berbuat baik, taat kepadanya dan tunduk setelah Allah I, adalah orang Allah I sebutkan setelah perintah untuk taat dan mensyukuri-Nya, yakni kedua orang tua.’ Allah I berfirman: ‘Agar kamu bersyukur kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu’.
Diriwayatkan oleh Syu’bah dan Husyaim Al-Wasithi, dari Ya’la bin ‘Atha`, dari bapaknya, dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash, dia berkata: Rasulullah n bersab-da: ‘Keridhaan Allah tergantung pada keri-dhaan kedua orang tua dan kebencian Rabb tergantung dari kebencian kedua orang tua’.”

“Dan Rabbmu telah memerintahkan kepadamu agar kamu tidak menyembah kecuali hanya kepada-Nya dan berbuat baik kepada kedua orang tua. Dan apabila keduanya telah lanjut usia atau salah satu dari keduanya, maka janganlah kamu mengatakan kepada mereka berdua “ah” dan jangan kamu menghardiknya, dan katakanlah ucapan yang baik. Rendahkan sayap kehinaanmu di hadapan keduanya dan katakanlah: ‘Ya Rabbku, berikanlah kepada keduanya kasih sayang sebagaimana dia berdua telah memeliharaku semenjak kecilku’.” (Al-Isra: 23-24)
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di mengatakan: “Allah I meme-rintahkan untuk menyembah-Nya semata dan tidak ada sekutu bagi-Nya yaitu masuk di bawah perbudakan ibadah kepada-Nya, tunduk terhadap segala perintah dan larangan-Nya dengan penuh kecintaan, menghinakan diri, keikhlasan dalam semua ibadah, baik yang bersifat lahiriah ataupun batiniah. Allah I melarang perbuatan kesyi-rikan baik syirik kecil ataupun besar, tidak kepada malaikat, manusia wali, dan tidak pula makhluk Allah I selain mereka. Mereka tidak sanggup memberikan manfaat kepada diri mereka dan tidak bisa menolak mudarat, tidak bisa mematikan dan menghidupkan, serta tidak bisa membangkitkan.
Kewajiban yang jelas adalah meng-ikhlaskan ibadah kepada Dzat yang Maha sempurna dari segala sisi dan bagi-Nya pengawasan yang sempurna yang tidak ada satupun sekutu bagi-Nya dan tidak ada seorangpun yang membantu-Nya.
Setelah perintah untuk menyembah-Nya dan melaksanakan hak-hak-Nya, Allah I memerintahkan untuk menunaikan hak-hak hamba, diawali dari yang paling dekat kemudian yang setelahnya. Firman Allah I:

“Kepada kedua orang tua, maka berbuat baiklah”, artinya berbuat baiklah kamu kepada mereka dengan bahasa yang baik, berbicara dengan lemah lembut, menaati perintah keduanya dan menjauhi larangan mereka, memberikan nafkah kepada keduanya, memuliakan orang yang terkait hubungan dengan keduanya, menyambung silaturrahmi yang tidak memungkinkan tersambungkan melainkan dengan keduanya. Berbuat baik kepada keduanya memiliki dua lawan, yaitu berbuat jelek dan tidak mau berbuat baik. Dan kedua-duanya terlarang.”

“Dan Kami telah berwasiat (agar berbuat baik) kepada kedua orang tua (di mana ibunya) telah mengandungnya dalam kelemahan di atas kelemahan dan menyapihnya selama dua tahun (oleh karena itu) bersyukurlah kalian kepada-Ku dan kepada kedua orang tua kalian dan kepada-Ku kalian akan dikembalikan.”(Luqman:14)
(bersambung, insya Allah)

Catatan Kaki:

1 HR. Al-Imam Al-Bukhari no 844 dan Al-Imam Muslim no. 3408 dari shahabat Abdullah bin Umar.
2 HR. At-Tirmidzi no. 1821 dari Abdullah bin ‘Amr c, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani di dalam Ash-Shahihah no. 516. Dan diriwayatkan pula oleh Al-Imam Al-Bukhari di dalam Al-Adabul Mufrad no. 2, dan Asy-Syaikh Al-Albani di dalam kitab Shahih wa Dha’if Al-Adabil Mufrad mengatakan: Hasan mauquf dan telah shahih secara marfu’.

Kisah Nabi Isa dan Ibunya

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Harits Abrar Thalib)

Dengan kekuasaan Allah I, lahirlah ‘Isa dari rahim Maryam yang tidak pernah disentuh oleh seorang laki-lakipun.

Tatkala mereka melihat hal ini (Maryam mempunyai bayi), padahal mereka tahu bahwa Maryam belum menikah, mereka pun memastikan bahwa anak itu tentunya lahir dari hubungan yang tidak benar. Allah I menceritakan:

“Kaumnya berkata: ‘Hai Maryam, sungguh kamu benar-benar telah melakukan sesuatu yang amat mungkar. Hai saudara perempuan Harun, ayahmu bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sama sekali bukanlah pezina.’ Maka Maryam menunjuk kepada anaknya.” (Maryam: 27-29)
Sebagaimana dia diperintahkan. Lalu berkatalah orang-orang yang mengingkari Maryam (sebagaimana firman Allah I):

“Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih dalam ayunan?” (Maryam: 29)
Ketika itu Nabi ‘Isa u baru berusia beberapa hari sejak dilahirkan ibunya. Firman Allah I menerangkan bagaimana Nabi ‘Isa menjawab pertanyaan mereka:

“Sesungguhnya aku ini hamba Allah. Dia memberiku Al-Kitab (Injil) dan menjadikan aku seorang Nabi. Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkahi di mana saja aku berada. Dia memerintahkan kepadaku untuk mendirikan shalat dan menunaikan zakat selama aku hidup. Dan (memerintahkan pula agar) aku berbakti kepada ibuku dan Dia tidak menjadikan aku orang yang sombong lagi celaka. Kesejah-teraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal, dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.” (Maryam: 30-33)
Perkataan yang diucapkan saat beliau masih sebagai bayi yang baru lahir ini, merupakan salah satu tanda kekuasaan Allah I, sekaligus bukti kerasulan beliau. Dan beliau hanyalah seorang hamba Allah I. Tidak seperti yang dipahami oleh orang-orang Nasrani (Kristen).
Akhirnya terlepaslah ibunya dari tuduhan buruk ini. Karena seandainya Maryam mendatangkan seribu saksi atas kesuciannya dalam keadaan seperti ini, belum tentu manusia akan menerima pembelaannya. Akan tetapi ucapan ini keluar dari Nabi ‘Isa u yang masih dalam buaian, sehingga hilanglah semua keraguan yang ada di dalam hati siapapun.
Setelah kejadian ini, manusia pun terbagi menjadi tiga golongan.
Golongan pertama: yang beriman dan membenarkan ucapan beliau serta tunduk kepadanya setelah dia menjadi nabi. Mereka inilah yang beriman dengan sebenarnya.
Golongan kedua: yang melampaui batas, yaitu orang-orang Nasrani. Mereka mengemukakan suatu pernyataan yang sudah dikenal, yaitu memposisikan Nabi ‘Isa u sebagai Rabb. Maha Suci Allah I dari ucapan dusta mereka.
Golongan ketiga: yang mengingkari dan menentangnya, yaitu orang-orang Yahudi. Mereka melemparkan tuduhan kepada ibunya. Padahal Allah I telah membersihkannya dari tuduhan itu dengan sebersih-bersihnya.
Oleh karena itulah, Allah I berfirman:

“Maka berselisihlah golongan-golongan yang ada di antara mereka. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang kafir pada waktu menyaksikan hari yang besar (kiamat).” (Maryam: 37)
Ketika Allah I mengutusnya kepada Bani Israil, sebagian ada yang beriman kepadanya, namun banyak pula yang mengingkarinya. Beliau memperlihatkan kepada mereka ayat-ayat Allah I dan berbagai keajaiban. Beliau membuat bentuk (burung) dari tanah lalu meniupnya, maka jadilah seekor burung yang hidup dengan seizin Allah I. Dia menyembuhkan orang yang buta sejak lahirnya, orang yang berpenyakit sopak (belang), serta menghidupkan orang mati dengan seizin Allah I. Beliau juga mengabarkan kepada Bani Israil apa yang mereka makan dan mereka simpan di rumah-rumah mereka.
Namun demikian, musuh-musuh beliau justru ingin membunuhnya. Maka Allah I menjadikan kemiripan (fisik) pada salah seorang Hawariyyin1 (shahabatnya -yakni yang khianat) atau orang lain. Allah I mengangkat beliau kepada-Nya serta menyucikannya dari upaya pembunuhan. Akhirnya mereka menangkap orang yang diserupakan Allah I sebagai Nabi ‘Isa, lalu membunuh dan meletakkannya di tiang salib. Mereka telah melakukan dosa dan kejahatan yang sangat besar.
Orang-orang Nasrani (Kristen) mem-benarkan dan mempercayai hal ini, bahkan meyakini bahwa mereka telah membunuh dan menyalibnya. Namun Allah I menyu-cikan beliau dari semua keadaan ini, firman Allah I:

“Padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak pula menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh) adalah orang yang diserupakan dengan ‘Isa bagi mereka.” (An-Nisa 157)
Nabi ‘Isa u berdakwah di tengah-tengah Bani Israil, mengabarkan berita gembira akan risalah dan kedatangan Nabi Muhammad n. Namun setelah Nabi Muhammad n datang kepada mereka padahal mereka telah mengenalnya (melalui Taurat dan Injil) sebagaimana mengenal anak-anak mereka sendiri, ()  mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata). Ucapan ini pula yang mereka katakan tentang Nabi ‘Isa u. Allah I berfirman:

“Maka berkatalah orang-orang kafir di antara mereka: ‘Ini tidak lain melainkan sihir yang nyata’.” (Al-Ma`idah: 110)

Beberapa Pelajaran dari Kisah Ini
1. Nadzar itu telah disyariatkan sejak umat sebelum kita. Nabi n bersabda mengenai masalah ini:

“Barangsiapa bernadzar untuk taat kepada Allah maka hendaklah dia menaati-Nya. Dan barangsiapa bernazar hendak durhaka kepada Allah, maka janganlah dia mendurhakai-Nya.” (Shahih, HR. Al-Bukhari dari ‘Aisyah x)
2. Termasuk kenikmatan yang Allah I berikan kepada seseorang adalah dia berada di bawah pengawasan atau pemeliharaan orang yang shalih. Karena seorang pembimbing dan pengawas mempunyai pengaruh sangat besar dalam kehidupan orang yang dibimbing dan yang berada di bawah pengawasannya. Baik akhlak maupun adab sopan santunnya. Karena itulah diperintahkan bagi para pendidik atau pembimbing untuk memperhatikan pendidikan yang baik, selalu memberikan dorongan untuk berakhlak yang baik, dan memperingatkan agar menjauhi akhlak yang buruk kepada orang yang dibimbingnya.
3. Adanya karamah para wali Allah I. Dalam kisah ini, Allah I memberikan kemuliaan (karamah) kepada Maryam dengan beberapa perkara:
q Allah I memberinya jalan untuk berada di bawah bimbingan dan pengawasan Nabi Zakariya u setelah terjadi perselisihan mengenai urusannya.
q Allah I memuliakannya dengan rizki yang selalu datang dari Allah I untuk dirinya tanpa suatu sebab yang wajar.
q    Allah I memuliakannya dengan adanya ‘Isa u yang dilahirkannya dan ucapan malaikat kepadanya, juga perkataan Nabi ‘Isa u yang masih dalam buaian, yang kesemua itu menenteramkan hatinya. Jadi, terkumpul dalam masalah ini karamah seorang wali dan mu’jizat seorang Nabi.
4. Dikisahkan beberapa ayat (tanda kekuasaan) Allah I yang demikian besar yang Allah I berikan kepada Nabi ‘Isa u. Seperti menghidupkan orang mati, menyembuhkan penyakit buta serta sopak, dan sebagainya.
5. Kemuliaan yang Allah I berikan kepada Nabi ‘Isa u dengan menjadikan Hawariyin dan para pembela, baik ketika beliau masih hidup maupun sesudah meninggalnya, yang menyebarluaskan dakwah dan membela agamanya. Oleh karena itu, bertambahlah pengikutnya. Di antara mereka ada yang tetap beragama dengan lurus, yaitu mereka yang beriman kepadanya secara hakiki, beriman pula kepada para Rasul.
Di antara mereka ada pula yang menyimpang, yaitu orang-orang yang melampaui batas terhadapnya. Merekalah mayoritas manusia yang mengaku-aku sebagai pengikut Nabi ‘Isa, padahal sesungguhnya mereka adalah orang yang paling jauh darinya.
6. Allah I memuji Maryam sebagai seorang wanita yang sempurna sikap tashdiq-nya (beriman dan membenarkan). Yakni, dia membenarkan dan beriman kepada semua firman (kalimat) Rabbnya, Kitab-Kitab-Nya, dan dia termasuk orang-orang yang taat. Sifat ini tentu saja menunjukkan pula bahwa dia adalah seorang wanita yang mempunyai ilmu yang kokoh (rasikh), ibadah yang tidak pernah berhenti, dan khusyu’ (tunduk) kepada Allah I. Dan Allah I telah memilih dan melebihkannya di atas sekalian wanita di dunia ini.
7. Diterangkannya kisah ini atau berita lainnya kepada Nabi Muhammad n secara terperinci dan sesuai dengan kenyataannya, merupakan bukti-bukti risalah dan tanda-tanda kenabian beliau n. Sebagaimana firman Allah I:

“Yang demikian itu adalah sebagian dari berita ghaib yang Kami wahyukan kepada kamu (hai Muhammad).” (Ali ‘Imran: 44)

(Diambil dari Taisirul Lathifil Mannan karya Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di t)

Catatan Kaki:

1 Hawariyyun adalah sahabat-sahabat Nabi ‘Isa u yang berjumlah duabelas orang. Wallahu a’lam. (pen)

Al-Ahad

(ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar ZA)

Salah satu Asma`ul Husna (nama-nama Allah I yang sangat baik) adalah Al-Ahad (Yang Maha Esa). Hal itu berdasarkan dalil-dalil dari Kitab dan Sunnah Nabi n. Di antaranya adalah firman Allah I:

“Katakanlah Dialah Allah yang Maha Esa.” (Al-Ikhlas: 1)
Adapun dalam hadits Nabi n, terdapat dalam hadits Qudsi yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah z dari Nabi n bahwa Allah I berfirman:

“Adapun cercaan anak Adam terhadap-Ku maka ucapannya bahwa Allah telah menjadikan untuk diri-Nya seorang anak, padahal Aku adalah Allah Yang Maha Esa dan yang menjadi tempat bergantung. Aku tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tiada bagi-Ku tandingan seorangpun.” (HR. Al-Bukhari)
Dalam hadits yang lain, dari Buraidah z:

“Bahwa Rasulullah n mendengar seorang berkata; Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu dengan aku bersaksi bahwa Engkaulah Allah, tiada ilah yang benar kecuali Engkau Yang Maha Esa, dijadikan tempat bergantung oleh hamba-hamba-Nya.” (HR. At-Tirmidzi)
Makna Al-Ahad (Yang Maha Esa) antara lain:
1.    Yang tiada yang menyerupainya, sebagaimana dikatakan oleh Al-Baihaqi.
2.    Yang Maha tunggal, seperti dikatakan oleh Ibnul Atsir.
Bisa dilihat dalam buku Shifatullah ‘Azza wa Jalla Al-Waridah fil Kitabi was Sunnah hal. 42.
Sehingga Al-Ahad adalah yang tiada tandingan bagi-Nya dan tiada sekutu bagi-Nya, dalam Uluhiyyah-Nya, Ketuhanan-Nya, dan dalam Rububiyyah-Nya, serta dalam Asma` dan Sifat-Nya (nama-nama dan sifat-sifat-Nya).
Dia Maha Tunggal dalam Rububiyyah-Nya, sehingga tiada sekutu bagi-Nya dalam kerajaan-Nya, tidak ada yang dapat melawan dan mengalahkan-Nya. Dia Maha Tunggal dalam Dzat, nama, dan sifat-sifat-Nya. Tidak ada sesuatupun yang menyerupai-Nya.
Dia Maha Tunggal dalam Uluhiyah-Nya sehingga tiada sesuatu pun yang berhak diibadahi kecuali Dia, dan tidak ada yang berhak mendapatkan ibadah kecuali Dia. (Lihat Ma’arijul Qabul, 1/136)
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di t mengatakan: “Al-Ahad yakni Yang menyendiri dengan segala kesempur-naan, keagungan, kebesaran, keindahan, pujian, hikmah, rahmah dan selainnya dari sifat-sifat kesempurnaan. Sehingga tidak ada yang menyerupai dan menyamai-Nya dalam satu sisi pun dari sisi-sisi yang ada.
Maka Dia Yang Maha Tunggal dalam kehidupan-Nya, sifat qayyumiyah-Nya, ilmu-Nya, kekuatan-Nya, kebesaran-nya, keindahan-Nya, pujian terhadap-Nya, hikmah-Nya, rahmah-Nya, dan sifat-sifat lain. Dia memiliki sifat-sifat itu pada puncak kesempurnaan.” (Lihat Bahjatu Qulubil Abrar, dinukil dalam kitab Syarh Asma` Allah Al-Husna fi Dhau`il Kitab was Sunnah, hal. 167)
Di antara nama Allah I juga adalah (Yang Maha Esa). Hal itu berdasarkan dalil dari Al-Quran di antaranya:

“Sesungguhnya Allah adalah Ilah Yang Maha Esa.” (An-Nisa: 171)

“(Lalu Allah berfirman): ‘Kepunyaan siapakah kerajaan pada hari ini?’ Kepunyaan Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan.” (Ghafir: 16)
Adapun dalam hadits Nabi n, di antaranya sabda Nabi n dalam doa-doa dan dzikirnya:

“Tiada Ilah yang benar kecuali Allah satu-satu-Nya, tiada sekutu bagi-Nya.”
Al-Baihaqi menyatakan: “Al-Wahid artinya Yang Maha Tunggal atau Esa, yang tetap menyendiri dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Dikatakan pula artinya Yang tidak terbagi dalam Dzat-Nya, tidak ada yang menyerupainya dan tiada sekutu bagi-Nya. Dan ini merupakan sifat yang dengan Dzat-Nya Allah I berhak memilikinya.” (Lihat Shifatullah U Al-Waridah fil Kitab was Sunnah, hal. 265)

Mandi yang Syar’i

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Ishaq Muslim Al-Atsari)

Dalam Islam, dikenal beberapa aktivitas mandi yang merupakan bagian dari syariat. Sebagian besarnya bahkan diwajibkan. Apa saja itu?

Telah disebutkan pada edisi-edisi sebelumnya bahwa bertemunya dua khitan dan keluarnya mani merupakan dua faktor yang mewajibkan mandi. Dalam hal ini tidak dibedakan antara laki-laki ataupun perempuan. Ada pula dua sebab lain yang mewajibkan mandi namun hanya khusus bagi wanita dan tidak terjadi pada lelaki yaitu:
Pertama: berhentinya darah haid.
Kedua: berhentinya darah nifas. (Al-Hawil Kabir, 1/208)

Mandi karena Berhentinya Darah Haid
Kewajiban mandi karena berhentinya darah haid ini ditunjukkan dalam firman Allah I:

“Mereka bertanya kepadamu tentang darah haid, maka katakanlah bahwa darah haid itu adalah kotoran (najis). Maka jauhilah (jangan menggauli) para istri ketika haidnya (di tempat keluarnya darah/farji). Dan janganlah kalian mendekati (menjima’i) mereka hingga mereka suci. Maka apabila mereka telah suci (mandi), campurilah mereka di tempat yang Allah perintahkan kepada kalian.” (Al-Baqarah: 222)
Yang dimaksud dengan firman Allah I: adalah (mereka telah mandi). Demikian yang dinyatakan Al-Imam Al-Baghawi t dalam Ma’alimut Tanzil (1/145).
Sisi pendalilan dari ayat di atas, seorang istri harus menyerahkan dirinya bila suaminya ingin berjima’ dengannya setelah suci dari haid. Namun jima’ tidak boleh dilakukan hingga si istri mandi dari haidnya1. Kaidah yang ada, bila suatu kewajiban tidak bisa sempurna ditegakkan kecuali dengan suatu perkara yang menyempurnakannya, maka penyempurna kewajiban itu menjadi wajib karenanya. (Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab, 2/168)
Fathimah bintu Abi Hubaisy x pernah datang meminta fatwa kepada Rasulullah n. Ia berkata:

“Wahai Rasulullah, aku seorang wanita yang ditimpa istihadhah, maka aku tidak suci. Apakah aku harus meninggalkan shalat?”
Rasulullah n menjawab:

“Engkau tidak boleh meninggalkan shalat, karena darah yang keluar itu hanyalah darah dari urat bukan darah haid. Maka apabila datang haidmu tinggalkanlah shalat dan apabila haidmu telah berlalu cucilah darah darimu (mandilah) kemudian shalatlah.”2
Al-Imam Al-Hafizh Ibnul Qaththan t berkata: “Apabila wanita haid telah suci dan berhenti darahnya, dia wajib mandi. Dan tidak ada perselisihan pendapat di antara ahlul ilmi dalam masalah ini.” (Al-Iqna’ fi Masa`ilil Ijma’, 1/104)

Mandi karena Berhentinya Darah Nifas
Darah nifas hukumnya sama dengan darah haid. Sehingga bila diwajibkan mandi setelah selesai haid, diwajibkan pula mandi setelah selesai nifas. Perkara ini merupakan ijma’ di kalangan ulama (Al-Iqna’ fi Masa`ilil Ijma’, 1/107-108).
Dengan demikian, darah nifas adalah sejenis dengan darah haid. Karena itulah Nabi n sendiri mengistilahkan haid dengan kata nifas, seperti disebutkan dalam hadits ‘Aisyah x berikut ini:

“Kami keluar (meninggalkan Madinah), tidak ada keinginan kami kecuali untuk melaksanakan ibadah haji. Maka tatkala kami berada di Sarif3, aku haid. Rasulullah n masuk menemuiku, ketika itu aku sedang menangis. Rasulullah n bersabda: ‘Kenapa engkau menangis, apakah engkau nifas (yakni haid)?’ ‘Ya’, jawabku.”4
Al-Imam Ibnu Hazm t berkata: “Wanita nifas dan haid adalah sesuatu yang satu (sama hukumnya, –pent.).” Beliau mengisyaratkan hadits di atas dan selainnya. (Al-Muhalla, masalah no. 184, 1/273)

Faedah 1
Bagaimana bila ada wanita yang melahirkan anak tapi tidak melihat keluarnya darah?
Dalam hal ini, ada perbedaan pendapat di kalangan ulama. Ada yang mengatakan wajib mandi karena anak tercipta dari air mani ayah dan ibunya. Demikian pendapat Ibnu Suraij dan madzhab Al-Imam Malik5. (Al-Majmu’, 2/170)
Allah I berfirman:

“Maka hendaklah manusia memper-hatikan dari apakah ia diciptakan? Ia diciptakan dari air yang terpancar, yang keluar dari antara tulang sulbi dan dada.” (Ath-Thariq: 5-7)
Yakni tulang sulbi laki-laki dan dada wanita. (Al-Mishbahul Munir fi Tahdzib Tafsir Ibni Katsir, hal. 1500)
Allah I juga berfirman:

“Sesungguhnya Kami menciptakan manusia dari nuthfah amsyaj.” (Al-Insan: 2)
yakni mani laki-laki dan mani wanita. maknanya bercampur. Ibnu ‘Abbas, Al-Hasan, Mujahid, dan Ar-Rubayyi’ mengatakan: “Mani laki-laki dan mani wanita bercampur di dalam rahim maka darinyalah terbentuk anak.” (Ma’alimut Tanzil, 1/395). Maka apabila si wanita melahirkan sementara anak yang lahir itu juga tercipta dari air maninya, berarti si wanita telah mengeluarkan maninya (inzal), sedangkan inzal mewajibkan mandi, maka demikian pula persalinannya mewajibkan mandi. (Al-Hawil Kabir, 1/217)
Namun peristiwa semacam ini (mela-hirkan tanpa keluarnya darah nifas) jarang sekali terjadi. (Asy-Syarhul Mumti’, 1/223)
Adapula yang mengatakan tidak wajib mandi, karena tidak ada sesuatu yang mewajibkan mandi. Sebab, nifas adalah darah, padahal di sini tidak ada darah. Berarti tidak ada kewajiban mandi. Demikian pendapat dalam madzhab Abu Hanifah dan sebagian ahlul ilmi yang lain.

Faedah 2
Adapun darah yang keluar ketika seorang wanita sedang hamil, pada perte-ngahan ataupun akhir masa kehamilannya, namun tidak disertai rasa sakit akan melahirkan, tidaklah terhitung darah nifas. Sehingga si wanita tetap mengerjakan shalat dan puasa Ramadhan, dan tidak diharam-kan baginya sesuatupun sebagaimana yang diharamkan terhadap wanita yang sedang nifas. (Asy-Syarhul Mumti’, 1/223)

Cara Mandi Haid atau Nifas
Tata cara mandi bagi wanita yang telah suci dari haid atau nifas ditunjukkan dalam hadits ‘Aisyah x berikut ini:

Asma`6 pernah bertanya kepada Nabi n tentang mandi haid. maka beliau bersabda: “Salah seorang dari kalian mengambil airnya dan daun sidrnya lalu ia bersuci7 dan membaguskan bersucinya8. Kemudian ia tuangkan air ke atas kepalanya lalu ia gosok dengan kuat hingga mencapai pangkal-pangkal rambut. Kemudian ia tuangkan lagi air di atas tubuhnya. Begitu selesai, ia mengambil secarik kain (atau kapas) yang diberi misik (wewangian) lalu bersuci dengannya.” Asma` bertanya: “Bagaimana cara ia bersuci dengannya?” Nabi menjawab: “Subhanallah, bersucilah dengannya.” Aisyah berkata –dengan ucapan yang pelan/bisik-bisik (yang bisa didengar oleh orang yang diajak bicara namun tidak dapat didengar oleh yang lain, pent.)–: “Ikutilah bekas darah dengan kain tersebut.”9

Mandi yang Diperselisihkan Wajibnya
Di antara mandi syar’i yang diperse-lisihkan kewajibannya adalah memandikan mayat, mandi orang kafir yang baru masuk Islam, dan mandi Jum’at.

q Memandikan Jenazah
Pembicaraan di sini ditujukan kepada orang hidup, bukan kepada orang mati. Karena tidak lagi dibebankan kewajiban seorang mukallaf terhadap orang yang telah meninggal. Sehingga yang menjadi perma-salahan di sini apakah memandikan mayat adalah wajib atau tidak, bagi orang yang hidup10.
Permasalahan inilah yang termasuk diperselisihkan kalangan ulama. Adapun penukilan ijma’ (kesepakatan ulama) yang disebutkan oleh Al-Imam An-Nawawi t dalam Al-Majmu’ (5/112) tidaklah tepat. Perselisihan pendapat dalam masalah ini masyhur di kalangan madzhab Malikiyyah. Sampai-sampai Al-Imam Al-Qurthubi t menguatkan pendapat yang menyatakan hukumnya sunnah. Namun jumhur ulama berpendapat wajib. Dan Ibnul ‘Arabi t membantah orang yang berpendapat dengan selain pendapat jumhur ini. (Fathul Bari, 3/156).
Adapun yang rajih dalam masalah ini adalah wajibnya memandikan mayit. Di antara dalil yang menunjukkan jenazah itu wajib dimandikan adalah:
Ibnu ‘Abbas c berkata:

“Ketika seseorang sedang wuquf di Arafah, tiba-tiba ia jatuh dari hewan tung-gangannya yang seketika itu menginjaknya (sampai patah lehernya hingga ia meninggal). Nabi n memerintahkan para shahabatnya: ‘Mandikanlah dia dengan air dan daun bidara…’.”11
Demikian pula hadits Ummu ‘Athiyyah x. Shahabiyyah yang biasa memandikan jenazah para wanita ini berkata:

“Rasulullah n masuk menemui kami ketika putri beliau (Zainab) wafat. Beliau memerintahkan: ‘Mandikanlah dia tiga kali, lima kali atau lebih, bila kalian pandang perlu, dengan air dan daun sidr…’.”12
Ibnul Mundzir t menyatakan: “Ulama sepakat bahwa mayat dimandikan seperti mandi janabah.” (Al-Ijma’, hal. 42, sebagaimana dinukil dalam Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Muyassarah, 1/181)

q Mandi Orang Kafir yang baru Masuk Islam
Al-Imam Ahmad bin Hambal t dan orang-orang yang sependapat dengan beliau menyatakan wajibnya mandi bagi orang kafir yang masuk Islam secara mutlak.
Sementara Al-Imam Asy-Syafi’i t berpandangan tidak wajib, tapi hanya mustahab/sunnah. Kecuali bila dia dalam keadaan junub ketika kafirnya, maka ia wajib mandi ketika masuk Islam, baik ia telah mandi di masa kafirnya ataupun belum.
Adapun Abu Hanifah tidak mewajib-kan mandi ketika itu, karena sekian banyak orang yang masuk Islam (di masa Nabi n). Seandainya diperintahkan mandi kepada setiap orang yang masuk Islam, niscaya akan dinukilkan beritanya kepada kita dengan penukilan yang mutawatir atau dzahir. Juga, alasan pendapat ini adalah ketika Nabi n mengutus Mu’adz ke negeri Yaman sebagai da’i kepada penduduk negeri tersebut yang mereka adalah dari kalangan ahlul kitab, Nabi tidak berpesan kepada Mu’adz agar memerintahkan mandi kepada ahlul kitab yang menerima ajakan dakwah untuk masuk Islam. Seandainya mandi itu wajib, niscaya Nabi akan perintahkan, karena mandi merupakan awal kewajiban dalam Islam sebelum orang yang masuk Islam itu mengerjakan kewajiban yang lain. (Al-Mughni Kitab Ath-Thaharah, masalah Wa Idza Aslamal Kafir, Subulus Salam, 1/134, At-Ta’liqat Ar-Radhiyyah ‘alar Raudhatun Nadiyyah, 1/188-189)
Namun yang penulis pandang rajih dalam perselisihan ini adalah pendapat yang mewajibkan, dengan dalil hadits Qais bin ‘Ashim z:

“Dia masuk Islam, maka Nabi n memerintahkannya untuk mandi dengan air dan daun sidr.”13
Demikian pula hadits Abu Hurairah z tentang masuk Islamnya Tsumamah bin Atsal z, di mana Nabi n memerintah-kannya untuk mandi.14 Asal hadits ini ada dalam Ash-Shahihain, namun di dalam-nya tidak ada penyebutan perintah mandi, tapi Tsumamah sendiri yang ingin melakukannya.
Ibnu Qudamah Al-Maqdisi t berkata: “Jika seorang kafir berislam, dia wajib mandi. Baik ia kafir pada asalnya atau karena murtad, baik telah mandi sebe-lum keislamannya atau belum, serta sama saja baik ada perkara yang mewajibkan mandi dalam masa kekafirannya ataupun tidak. Demikian madzhab Al-Imam Malik, Abu Tsaur, dan Ibnul Mundzir.” (Al-Mughni, Kitab Ath-Thaharah, masalah Wa Idza Aslamal Kafir)

q Mandi Jum’at
Mandi pada hari Jum’at ini dilakukan sehubungan dengan pelaksanaan shalat Jum’at, bukan mandi karena hari itu adalah hari Jum’at. Pendapat inilah yang dipegangi oleh Ibnu Hazm dan yang berpandangan seperti beliau.
Mandi Jum’at ini juga diperselisihkan kewajibannya oleh ahlul ilmi. Jumhur ulama dari kalangan salaf dan khalaf serta fuqaha di penjuru negeri berpendapat mandi ini mustahab. Dalil mereka yang paling kuat sebagaimana disebutkan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-’Asqalani t dalam At-Talkhishul Habir (2/585) adalah hadits riwayat Al-Imam Muslim (no. 1985) yang menyebutkan sabda Nabi n:

“Siapa yang berwudhu lalu memba-guskan wudhunya, kemudian ia mendatangi pelaksanaan shalat Jum’at, ia mendengarkan khutbah dan diam, maka akan diampuni dosanya antara hari itu dengan Jum’at berikutnya ditambah tiga hari. Dan siapa yang mengusap kerikil (ketika sedang mendengar khutbah, –pent.) sungguh ia telah berbuat sia-sia yang tercela.”
Namun kata Al-Hafizh t: “Dalam hadits ini tidak ada yang menunjukkan ditiadakannya kewajiban mandi. Sementara hadits ini diriwayatkan dari sisi yang lain dalam Ash-Shahihain dengan lafadz: 15. Dimungkinkan penyebutan wudhu di sini bagi orang yang telah melaksanakan mandi sebelum pergi, lalu ia perlu untuk mengulangi wudhunya.” (Fathul Bari, 2/467)
Yang rajih dalam masalah ini menurut penulis adalah bahwa mandi Jum’at itu wajib16, dengan dalil hadits-hadits Nabi n berikut ini:

“Mandi pada hari Jum’at wajib bagi setiap orang yang muhtalim.”17
Al-Hafizh Ibnu Hajar t berkata: “Wajib di sini dengan makna lazim secara pasti.” (Fathul Bari 1/468)
Rasulullah n juga bersabda:

“Apabila salah seorang dari kalian datang untuk shalat Jum’at, maka hendaklah ia mandi.”18

“Kewajiban kepada Allah I yang harus ditunaikan setiap muslim adalah agar si muslim mandi satu hari dalam setiap tujuh hari (yakni mandi di satu hari itu wajib dilakukan, sementara di hari lain tidak ada kewajiban, –pent.) 19
Ibnu ‘Umar c menceritakan: “Tatkala ‘Umar ibnul Khaththab z sedang berdiri menyampaikan khutbah pada hari Jum’at, tiba-tiba masuklah seorang shahabat Nabi n dari kalangan Muhajirin yang awal (masuk Islam, yaitu ‘Utsman bin Affan z). ‘Umar pun menyerunya: “Hari apakah ini?” Shahabat itu menjawab: “Aku tersibukkan dengan satu urusan hingga aku belum sempat kembali kepada keluargaku sampai akhirnya aku mendengar adzan berkumandang. Aku pun tidak menambah kecuali hanya berwudhu (lalu datang ke masjid ini, –pent.).” ‘Umar berkata: “Wudhu juga20! Sementara engkau tahu bahwa Rasulullah n memerintahkan untuk mandi.”21
Ibnul Mundzir t menghikayatkan dari Ishaq ibnu Rahawaih t bahwasanya kisah ‘Umar dan ‘Utsman c di atas menunjukkan wajibnya mandi (Jum’at), bukan menunjukkan tidak wajibnya. Hal ini dilihat dari sisi bahwa ‘Umar sampai meninggalkan khutbahnya dan sibuk mene-gur ‘Utsman (yang meninggalkan mandi Jum’at) di hadapan orang banyak. Bila meninggalkan mandi itu mubah, niscaya ‘Umar tidak melakukan hal itu. Adapun ‘Utsman tidak kembali untuk mandi karena sempitnya waktu, yang mana bila ia tetap kembali untuk mandi niscaya akan kehi-langan Jum’at, atau kemungkinan lain ia telah mandi (di awal siang)22.” (Fathul Bari, 2/465, Nailul Authar, 1/326)
Al-Imam Ash-Shanani t berkata: “Di samping hadits-hadits yang menunjukkan wajibnya mandi Jumat lebih sha-hih, hadits-hadits itu juga dikeluarkan oleh As-Sab’ah (yaitu Al-Imam Ahmad, Al-Bu-khari, Muslim, Abu Dawud, At-Tir-midzi, An-Nasa`i, dan Ibnu Majah rahimahumullah, –pent.). Beda halnya dengan hadits Samurah bin Jundab z23 (yang menjadi dalil bagi pendapat yang mengatakan mandi Jum’at tidak wajib, –pent.). Hadits ini tidak dikeluarkan oleh Al-Bukhari dan Muslim. Sehingga yang lebih hati-hati bagi seorang mukmin adalah ia tidak meninggalkan mandi Jumat.”
Al-Imam Ash-Shan’ani juga menyata-kan bahwa kewajiban mandi pada hari Jum’at ini lebih kuat/tegas permasalahannya daripada kewajiban sejumlah masalah fiqhiyyah yang diperselisihkan. (Subulus Salam, 1/136)
Al-Imam Asy-Syaukani t berkata: “Dengan ini, jelaslah bagimu bahwa dalil-dalil yang dipakai oleh jumhur untuk menyatakan tidak wajibnya mandi Jum’at tidak bisa terangkat dan tidak mungkin menjamak (mengumpulkan) antara dalil-dalil tersebut dengan hadits-hadits yang menyatakan wajib.” Beliau juga menekan-kan bahwa hadits-hadits yang menyatakan wajib lebih rajih (kuat) daripada hadits-hadits yang menetapkan tidak wajibnya. (Nailul Authar, 1/326)
Asy-Syaikh Al-Albani t berkata: “Kesimpulan dalam masalah ini adalah hadits-hadits yang secara jelas mengandung kewajiban mandi Jum’at, memiliki hukum yang lebih (kokoh) dibandingkan hadits-hadits yang memberikan faedah istihbab. Sehingga tidak ada pertentangan antara keduanya. Yang wajib adalah mengambil ziyadah (tambahan, yaitu bahwa mandi Jum’at tersebut wajib, –pent.) yang terkandung di dalamnya.” (Tamamul Minnah, hal. 120).
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab wal ‘ilmu ‘indallah.

Catatan Kaki:

1 Di kalangan ahlul ilmi ada yang berpendapat tidak harus mandi ketika akan digauli oleh suaminya. Bahkan hanya sekedar selesai dari masa haid boleh langsung digauli oleh suaminya. Namun yang rajih dan tentunya lebih aman adalah pendapat wajibnya mandi terlebih dahulu. Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.
2 HR. Al-Bukhari no. 228 dan pada beberapa tempat lain dalam kitab Shahih-nya. Diriwayatkan pula oleh Al-Imam Muslim no. 751.
3 Tempat yang berdekatan dengan kota Makkah, jarak antara keduanya sekitar 10 mil (Fathul Bari, 1/520)
4 HR. Al-Bukhari no. 294 dan Muslim no. 2911.
5 Sementara Al-Imam Ahmad memiliki dua pendapat dalam masalah ini.
6 Wanita yang bertanya ini adalah Asma` bintu Syakal x. Adapula yang mengatakan namanya Asma` bintu Yazid ibnus Sakan, wallahu a’lam. (Al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim, 3/241)
7 Dalam hadits di atas, dua kali didapatkan Nabi n memerintahkan untuk tathahhur (bersuci). Al-Qadhi ‘Iyadh t berkata: “At-Tathahhur (bersuci) yang awal adalah bersuci (bersih-bersih) dari najis dan apa yang terkena darah haid.” Namun yang dzahir, kata Al-Imam An-Nawawi t, yang dimaukan dengan tathahhur yang awal adalah wudhu sebagaimana nash yang menyebutkan tentang tata cara mandi Nabi n. (Al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim, 3/240)
8 Membaguskan bersuci adalah dengan menyempurnakan tata caranya. (Al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim, 3/240)
9 HR. Muslim no. 748
10 Wajib bagi orang yang hidup untuk memandikan mayat karena tidak ada kewajiban yang berkaitan dengan tubuh bagi orang yang sudah meninggal. (Ad-Dararil Mudhiyyah, 1/187)
11 HR. Al-Bukhari no. 1265 dan Muslim no. 1206
12 HR. Al-Bukhari no. 1253 dan Muslim no. 939
13 HR. Abu Dawud no. 355, At-Tirmidzi no. 605 dan selainnya. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Shahih At-Tirmidzi, Shahih Abi Dawud, Irwa`ul Ghalil no. 128. Dishahihkan pula oleh Asy-Syaikh Muqbil t dalam Al-Jami‘ush Shahih 1/547. Beliau mengatakan bahwa rijal hadits ini seluruhnya tsiqah/orang-orang terpercaya.
14 HR. Al-Baihaqi (1/171). Asy-Syaikh Al-Albani t berkata dalam Irwa`ul Ghalil ketika menyebutkan syahid (penguat) untuk hadits no. 128: “Hadits ini sanadnya hasan menurut syarat Al-Bukhari dan Muslim.”
15 Seperti hadits:
“Siapa yang mandi pada hari Jum’at, dan ia bersuci dengan apa yang ia mampu, kemudian meminyaki rambutnya (dengan wewangian) atau memakai wangi-wangian, lalu berangkat menuju ke masjid (tempat pelaksanaan shalat Jum’at) dan ia tidak memisahkan antara dua orang yang sedang duduk, setelahnya ia pun mengerjakan shalat (sunnah) dengan apa yang telah ditetapkan baginya, dan apabila imam telah keluar dari tempatnya menuju ke tempat khutbah ia diam mendengar khutbah sang imam, (bila ia melakukan semua itu, pent.) akan diampuni dosanya antara hari itu (Jum’at) dengan Jum’at yang lain (berikutnya).” (HR. Al-Bukhari no. 910)
16 Dihikayatkan wajibnya mandi ini dari sebagian shahabat. Ini merupakan pendapat ahlu dzahir. Dihikayatkan pula pendapat ini oleh Ibnul Mundzir dari Al-Imam Malik, Al-Khaththabi dari Al-Hasan Al-Bashri, dan Malik. Ibnul Mundzir juga menghikayatkan dari Abu Hurairah, ‘Ammar dan selain keduanya. Ibnu Hazm menghikayatkannya dari ‘Umar dan sekelompok shahabat serta orang-orang setelah mereka. Dihikayatkan pula dari Ibnu Khuzaimah. (Nailul Authar, 1/324)
Pendapat ini pula yang dipegangi oleh guru kami yang mulia Fadhilatusy Syaikh Al-Muhaddits Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i, semoga Allah merahmati beliau dengan rahmat yang luas dan menempatkan beliau di negeri kemuliaan-Nya.
Yang perlu diketahui bahwa mandi Jum’at ini hanya diwajibkan kepada laki-laki yang telah baligh lagi berakal. Karena merekalah yang diwajibkan menghadiri shalat Jum’at. Demikian kata Ibnu ‘Umar sebagaimana diriwayatkan Al-Imam Al-Bukhari dalam kitab Shahih-nya. Rasulullah n bersabda:

“Wajib bagi setiap muhtalim (laki-laki yang telah baligh) mendatangi shalat Jum’at dan wajib bagi orang yang datang shalat Jum’at untuk mandi.” (HR. Abu Dawud. Kata Asy-Syaikh Muqbil dalam kitabnya Al-Jami`ush Shahih: “Hadits ini shahih, para perawinya shahih kecuali syaikh (gurunya) Abu Dawud, dan ia tsiqah (terpercaya).”).
Adapun wanita dan anak-anak serta orang yang diberi uzur meninggalkan shalat Jum’at tidaklah wajib untuk mandi Jumat.
17 HR. Al-Bukhari no. 879 dan Muslim no. 1954
18 HR. Bukhari no. 877 dan Muslim no. 1953
19 HR. Al-Bukhari no. 898 dan Muslim no. 1960. Ibnu Daqiqil ‘Ied t berkata: “Hadits ini secara jelas menunjukkan perintah untuk mandi. Sementara dzahir dari perintah adalah wajib, dan terdapat pula hadits lain yang secara jelas menyebutkan lafadz wajib…”. (Ihkamul Ahkam, Kitab Ash-Shalah, bab Al-Jumu’ah)
20 Yakni engkau mencukupkan dirimu dengan berwudhu, sementara mandi engkau tinggalkan. Dengan begitu, telah luput keutamaan darimu.
21 HR. Al-Bukhari no. 878 dan Muslim no. 1953
22 Kemungkinan kedua ini dikuatkan oleh hadits Humran bin Aban, maula ‘Utsman, yang mengabarkan bahwa ia yang meletakkan air untuk mandi ‘Utsman. Dan tidak lewat satu hari pun kecuali `Utsman mandi. Ibnu Hazm berkata: “Telah tsabit dengan sanad yang paling shahih bahwasanya ‘Utsman mandi setiap hari, sementara hari Jum’at merupakan salah satu dari hari-hari yang ada tanpa diragukan lagi… (berarti ‘Utsman pun melakukan mandi pada hari Jum’at –pent.) (Al-Muhalla, 2/21)
23 Yaitu hadits:

“Siapa yang berwudhu pada hari Jum’at maka bagus sekali dan siapa yang mandi maka mandi itu lebih utama.”

Beberapa Kisah Setelah Perang Bani Nadhir

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Harits Abrar Thalib)

Berikut ini beberapa paparan peristiwa dalam perjalanan hidup Rasulullah dan para shahabatnya yang kita bisa mengambil banyak pelajaran darinya. Di antaranya kisah Juwairiyah bintu Al-Harits, wanita yang paling banyak membawa berkah bagi kaumnya dan kisah disyariatkannya tayamum.

Perang Dzatu Riqa’ atau Perang Najd terjadi di bulan Jumadil Ula tahun keempat Hijriyah. Rasulullah n berangkat sendiri memimpin pasukan berjumlah 400 orang. Namun setelah bertemu dengan pasukan dari Ghathafan, tidak terjadi pertempuran, hanya saja beliau shalat bersama para sahabatnya, shalat khauf. Demikian dinukil oleh Ibnul Qayyim dari Ibnu Ishaq dan sejumlah ahli sejarah.
Ibnul Qayyim mengulas bahwa pendapat ini keliru (menyatakan waktu itulah terjadinya shalat khauf-pen). Sehingga kemudian beliau dalam Zaadul Ma’ad (3/253) menyatakan: “Yang benar, mengalihkan kisah perang Dzatu Riqa’ dari tempat ini, sampai pada masa setelah (menguraikan) kisah perang Khandaq bahkan setelah peristiwa Khaibar.”
Adapun perang Dumatul Jandal yang juga dipimpin Rasulullah n terjadi tahun kelima Hijriyah. Sebabnya, beliau mendengar ada sejumlah pasukan yang ingin mendekati Madinah, sedangkan jarak antara mereka dengan Madinah sekitar perjalanan lima belas hari, demikian juga jarak mereka ke Damaskus. Rasulullah n berangkat dengan 1000 pasukan, disertai penunjuk jalan dari Bani ‘Udzrah yang bernama Madzkur. Ketika sudah mulai mendekat ternyata mereka menuju ke arah barat. Dan mereka menemukan jejak-jejak unta dan kambing, lalu mereka menyerang ternak tersebut serta penggembalanya, beberapa orang terbunuh dan yang lainnya melarikan diri.
Berita ini sampai kepada penduduk Dumatul Jandal, merekapun lari bercerai berai. Rasulullah n turun di pekarangan mereka dan tidak menemukan seorangpun. Beliau tinggal di sana beberapa hari mengirim sejumlah pasukan ekspedisi, membagi-bagi pasukan, namun tidak mendapatkan apapun. Kemudian Rasulullah n kembali ke Madinah. Pada kejadian inilah beliau mengadakan kesepakatan dengan ‘Uyainah Bin Hishn.
Sementara perang Al-Muraisi’ atau perang Bani Mushthaliq terjadi pada bulan Sya’ban tahun kelima Hijriyah.Sebabnya, Al-Harits bin Abi Dhirar bin Al-Mushthaliq bertolak bersama kaumnya dan siapa saja yang mampu dari kalangan Arab untuk memerangi Rasulullah n. Maka beliau mengutus Buraidah bin Al-Hushaib Al-Aslami mencari berita tentang mereka. Dia bertemu dengan Al-Harits sendiri, kemudian mengajaknya bicara. Akhirnya Buraidah kembali kepada Rasulullah n dan men-ceritakan perihal mereka. Maka Rasulullah n menganjurkan kaum muslimin untuk segera berangkat.
Ternyata, sejumlah munafikin ikut serta dalam peristiwa ini, padahal dalam peperangan sebelumnya mereka tidak pernah ikut. Rasulullah n mengangkat Zaid bin Haritsah sebagai pengganti di Madinah. Namun ada pula yang mengatakan Abu Dzar atau Numailah bin ‘Abdillah Al-Laitsi.
Rasulullah n berangkat pada hari Senin. Berita ini sampai kepada Al-Harits bin Abi Dinar sementara mata-mata yang dikirimnya untuk mengintai gerak-gerik kaum muslimin telah terbunuh. Akhirnya mereka dicekam ketakutan, demikian pula orang-orang Arab yang menyertai mereka. Sementara pasukan Rasulullah n sendiri telah sampai di mata air Al-Muraisi’.
Dalam perang ini, dua isteri Rasulullah n ikut serta yaitu Ummu Salamah dan ‘Aisyah c. Setelah itu Rasulullah n menyergap mereka dan berhasil menawan anak-anak dan wanita mereka serta merampas harta mereka. Demikian diceritakan di dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari ‘Abdullah bin ‘Umar c:

“Sesungguhnya Nabi n menyergap Bani Al-Mushthaliq ketika mereka lengah dan memberi minum ternak-ternak mereka. Beberapa orang terbunuh, dan beliau menawan anak-anak mereka dan pada waktu itulah tertawan pula Juwairiyah.”
Juwairiyah binti Al-Harits ketika itu tertawan dan menjadi jatah Tsabit bin Qais, namun wanita itu berusaha menebus dirinya dan meminta bantuan Rasulullah n.
Al-Imam Ahmad dan Abu Dawud menceritakan hal ini dalam Sunan dan Musnad dari ‘Aisyah x:

“Juwairiyah binti Al-Harits bin Al-Mushthaliq jatuh sebagai bagian Tsabit bin Qais bin Syammas atau anak pamannya. Lalu dia berusaha menebus dirinya. Juwairiyah seorang wanita yang manis dan menarik. Dia datang meminta bantuan Rasulullah n untuk menebus dirinya. Tatkala dia tiba di depan pintu, saya melihatnya dan tidak senang (karena cemburu). Saya tahu bahwa Rasulullah n tentu juga melihat apa yang kulihat.
Diapun berkata: “Ya Rasulullah, saya adalah Juwairiyah bintu Al-Harits. Persoalanku sudah anda ketahui dan saya jatuh sebagai jatah Tsabit bin Qais bin Syammas, tapi saya ingin menebus diri saya. Maka saya pun datang meminta bantuan anda dalam urusan ini.”
Rasulullah n berkata: “Maukah kamu yang lebih baik daripada itu?”
Kata Juwairiyah: “Apa itu, ya Rasulullah?”
Kata beliau: “Saya tunaikan tebusanmu, dan saya menikahimu.”
Diapun berkata: “Saya lakukan.”
Kata ‘Aisyah: “Ketika kaum muslimin mendengar bahwa Rasulullah n telah menikahi Juwairiyah, merekapun segera melepaskan tawanan yang ada di tangan mereka. Dan mereka membebaskan tawanan itu, kata mereka:”Ipar-ipar Rasulullah n.”
Dan kami tidak pernah melihat seorang wanita yang paling banyak membawa berkah bagi kaumnya dibandingkan Juwairiyah. Karena dia, akhirnya dibebaskan seratus keluarga Bani Al-Mushthaliq.”
Ibnul Qayyim menukil dari Ibnu Sa’d yang mengatakan bahwa dalam perang ini juga terjadi peristiwa jatuhnya kalung ‘Aisyah x yang membuat pasukan muslimin tertahan di tempat yang tidak ada airnya, lalu turunlah ayat tayammum (surat Al-Ma`idah ayat 6). Demikian yang dirajihkan oleh syaikh kami Yahya bin ‘Ali Al-Hajuri hafizhahullahu setelah menukil sejumlah pendapat ‘ulama di antaranya Ibnu Hajar dalam Fathul Bari, Adz-Dzahabi dan lain-lainya.1
Kisah tentang tayammum ini juga menunjukkan keutamaan keluarga Abu Bakr Ash-Shiddiqz. Al-Imam Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya dari ‘Aisyahx:

Dia berkata: “Kami berangkat bersama Rasulullah n dalam sebagian perjalanannya (safarnya). Ketika tiba di Baida` atau Dzatul Jaisy, putuslah kalungku. Maka Rasulullah n berhenti untuk mencarinya, dan rombongan pun ikut berhenti bersama beliau padahal mereka tidak singgah di tempat yang ada airnya. Kemudian sebagian orang datang menemui Abu Bakr dan mengatakan: “Tidakkah kau lihat apa yang dilakukan ‘Aisyah, dia menahan Rasulullah n dan rombongan sementara mereka tidak mempunyai air.”
Lalu Abu Bakr datang, sementara Rasulullah n sedang tidur meletakkan kepalanya di atas pahaku. Dia berkata: “Kamu tahan Rasulullah n dan rombongan sementara mereka tidak mempunyai air.” Abu Bakr menusukkan tangannya ke pinggangku, namun tidak ada yang menghalangiku begerak selain posisi Rasulullah n di atas pahaku. Keesokan harinya Rasulullah n bangun dalam keadaan tidak ada air. Allah pun menurunkan ayat tayammum. Kemudian mereka semua bertayammum. Lalu berkatalah Usaid bin Hudhair: “Ini bukan berkah yang pertama dari kalian, wahai keluarga Abu Bakr.”
Setelah itu kami bangunkan unta yang membawaku, ternyata kalung itu di bawahnya.”

Catatan Kaki:

1 Lihat Ahkamu At-Tayammum (Tata Cara dan Tuntunan Lengkap Tayammum hal. 79)

Meraih Keutamaan Lailaahaillallah

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah An-Nawawi)

Kesyirikan, kata sebagian orang, hanyalah sebatas menyembah patung atau berhala. Mereka pun kemudian merasa sebagai orang yang senantiasa bertauhid. Padahal, di jarinya melingkar jimat penolak bala, di hatinya tumbuh pengagungan yang berlebihan kepada tokoh tertentu, keseharian mereka dipenuhi ritual-ritual ‘persembahan’, dan ‘tak lupa’ menjadikan dukun sebagai pelarian. Sesempit inikah kalimat La ilaha illallah yang mereka pahami?

Banyak orang mengira bahwa agama bisa dipakai untuk mencapai tujuan-tujuan yang bersifat keduniaan. Tak heran jika kemudian berlomba-lomba orang ingin menjadi tokoh agama, kyai, ustadz, habib, dan sebagainya dalam rangka mendapatkan apa yang diinginkannya. Selanjutnya agama dijadikan alat untuk meraih popularitas, jabatan, kekuasaan, materi, dan berbagai kesenangan dunia lainnya.
Berbagai ambisi ini, sangat mungkin akan menggiring pelakunya untuk meng-halalkan segala cara. Hanya bermodal pan-dai berpidato, hapal sedikit ayat Al-Qur`an dan hadits, ia pun berani ceramah di mana-mana. Tak sedikit pula yang berusaha mendompleng tokoh yang sudah terkenal demi mendapatkan keuntungan yang sebenarnya sangat sedikit. Atau ada yang berani membayar mahal tokoh tertentu agar “dagangan” yang ia jajakan bisa laku di masyarakat.
Di masa kini, upaya memperoleh kekayaan dengan menjual agama bukan hal baru lagi. Yang menjadi korban tentu saja umat yang tidak tahu apa-apa. Kebodohan mereka dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, demi memuaskan nafsu sesaat. Mereka adalah orang-orang yang tidak takut kepada Allah I, orang-orang yang telah menjadi budak dunia dan hawa nafsu.
Di sisi lain, banyaknya orang yang berambisi mendapatkan dunia dengan mengatasnamakan agama ini, memuncul-kan pula persaingan di antara mereka sendiri. Jegal menjegal pun kerap terjadi. Tuding-menuding, saling menyalahkan, menganggap dirinya benar, bukan sesuatu yang aneh lagi. Kesombongan telah merasuki jiwa-jiwa mereka. Dalam keadaan ini, lagi-lagi kaum musliminlah yang akan menjadi korban.
Tidakkah mereka mendengar peringatan Allah I:

“Itulah orang-orang yang membeli kehidupan dunia dengan (kehidupan) akhirat, maka tidak akan diringankan siksa mereka dan mereka tidak akan ditolong.” (Al-Baqarah: 86)

“Mereka itulah orang-orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk dan siksa dengan ampunan, maka alangkah beraninya mereka menentang api neraka.” (Al-Baqarah: 175)
Demikianlah kehidupan seseorang yang tidak berpijak pada kalimat . Matanya tertutup untuk melihat ke depan yaitu negeri akhirat. Tertutup telinganya untuk mendengar peringatan-peringatan Allah I dan Rasul-Nya. Tertutup mata hatinya untuk mengkaji dan memahami ayat-ayat Allah I. Mereka tak ubahnya binatang ternak, bahkan lebih sesat dari itu. Yang ada adalah pelampiasan syahwat birahi dan syahwat perut. Yang tergambar dalam benaknya adalah bagaimana meraih dunia sebanyak-banyaknya.

Kedudukan
Kalimat ini senantiasa dikumandang-kan oleh kaum muslimin dalam adzan, iqamat, khutbah, atau percakapan mereka. Kalimat yang dengannya tegak langit dan bumi, diciptakannya seluruh makhluk, diutusnya para rasul, diturunkannya kitab-kitab dan diletakkannya syariat. Dengan sebab kalimat itu pula ditegakkannya timbangan dan catatan-catatan amal, serta ditegakkannya (kehidupan) surga atau neraka.
Dengan kalimat , manusia terbagi menjadi mukmin dan kafir. Di atas kalimat itu ada penciptaan, perintah, pahala, dan ancaman. Itulah kalimat yang karenanya diciptakan seluruh makhluk dan hak-haknya, adanya pertanyaan dan hisab. Di atas kalimat itu pula ada pahala dan adzab.
Di atasnya ditegakkannya kiblat, didirikannya agama dan dihunuskannya pedang-pedang jihad. Kalimat   merupakan hak Allah I atas seluruh hamba. Ini adalah sebuah kalimat Islam, kunci negeri keselamatan. Dan tentang kalimat inilah orang yang terdahulu maupun yang terakhir akan ditanya. Tidak akan bergeser dua kaki anak Adam di hadapan Allah I sampai ditanya dua permasalahan. Pertama: Apa yang dulu kalian sembah? Kedua: Bagaimana tanggapan kalian terhadap para rasul yang diutus.
Jawaban yang pertama adalah dengan merealisasikan kalimat , mengilmui, mengakui, dan mengamal-kannya. Jawaban kedua adalah dengan merealisasikan makna syahadat Muham-mad Rasulullah n, mengilmui, tunduk dan taat. (Zadul Ma’ad, 1/2)
Kalimat  adalah kalimat pemisah antara kekufuran dan Islam. Ini adalah kalimat ketakwaan dan ‘urwatul wutsqa (tali yang kokoh) yang dijadikan oleh Nabi Ibrahim u sebagai kalimat yang kekal pada anak keturunannya, sebagaimana firman Allah I:

“(Dan Nabi Ibrahim u menjadikannya) kalimat yang abadi pada anak keturunannya agar mereka kembali.” (Az-Zukhruf: 28)
Allah I telah mengangkat persaksian dengan kalimat atas diri-Nya, berikut para malaikat, ahli ilmu dari hamba-hamba-Nya, sebagaimana firman Allah I:

“Allah mempersaksikan bahwa tidak ada sesembahan yang benar melainkan Dia (dan ikut bersaksi) para malaikat dan orang-orang yang diberikan ilmu (bersaksi) dengan penuh keadilan, tidak ada sesembahan yang benar melainkan Dia yang Maha Mulia dan Maha Bijaksana.” (Ali ‘Imran: 18) [Lihat Majmu’atut Tauhid, hal. 105-167]
Kalimat ini merupakan kalimat yang menunjukkan keikhlasan dan persaksian yang benar, dakwah yang benar dan per-nyataan bara` (berlepas diri) dari kesyirikan. Karena kalimat inilah makhluk diciptakan. Allah I berfirman:

“Tidaklah aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka menyem-bah-Ku.” (Adz-Dzariyat: 56)
Karena kalimat ini pula para nabi dan rasul diutus, serta kitab-kitab diturunkan. Sebagaimana firman Allah I:

“Dan tidaklah Kami mengutus sebelum-mu seorang rasulpun, kecuali Kami wahyu-kan kepadanya bahwa tidak ada sesembahan yang benar melainkan Aku, maka sembahlah Aku.” (Al-Anbiya: 25)
Allah I berfirman:

“Allah menurunkan para malaikat dengan (membawa) wahyu dengan perintah-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya yaitu: ‘Maka peringatkan olehmu sekalian bahwa tidak ada sesembahan yang benar melainkan Aku, maka bertaqwalah kalian kepada-Ku’.” (An-Nahl: 2)
Sufyan bin ‘Uyainah berkata: “Tidak ada nikmat yang paling besar yang diberikan kepada seorang hamba daripada Allah I mengajarkan kepada mereka makna . Sesungguhnya kalimat bagi penduduk surga, seperti air yang dingin bagi penduduk dunia.” (Kalimatul Ikhlas karya Ibnu Rajab, hal. 52-53 )
Kalimat yang barangsiapa mengucap-kannya akan terpelihara hartanya, darahnya. Dan barangsiapa enggan mengucapkannya maka darah dan hartanya halal untuk ditumpahkan dan dirampas. Di dalam Shahih Muslim, Rasulullah n bersabda: “Barangsiapa mengucapkan dan ingkar kepada sesembahan selain Allah I maka haram hartanya (untuk dirampas) dan darahnya (untuk ditumpahkan) serta hisabnya ada di sisi Allah I.”
Kalimat adalah kalimat yang pertama kali dituntut bagi orang kafir ketika dia masuk Islam. Karena ketika Nabi n mengutus Mu’adz bin Jabal z ke negeri Yaman, beliau berkata:
“Sesungguhnya kamu akan mendatangi Ahli kitab (Yahudi dan Nasrani). Maka hendaklah yang pertama kali kamu serukan kepada mereka adalah persaksian kepada kalimat .”
Dari sinilah kita mengetahui betapa besar kedudukandalam agama dan kita mengetahui pentingnya dalam kehidupan. Kalimat ini adalah kewajiban pertama kali atas setiap hamba karena kalimat ini merupakan asas dibangunnya seluruh amalan. (Laa ilaha illallah Ma’naha wa Makanatuha, hal. 6-9)

Keutamaan Kalimat
Kalimat  memiliki keutama-an yang besar dan kedudukan yang tinggi. Barangsiapa mengucapkannya dengan jujur, Allah I akan memasukkannya ke dalam surga. Dan barangsiapa yang mengucap-kannya dengan penuh kedustaan (secara lahiriah saja) maka dia munafiq, darah dan hartanya terjaga akan tetapi hisabnya di sisi Allah I.
Kalimat  adalah sebuah kalimat yang ringkas, sedikit hurufnya, ringan dalam ucapan akan tetapi berat dalam timbangan. Di antara dalil yang menunjukkan demikian adalah:
Hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam Malik (no. 449) dan At-Tirmidzi (no. 3509) dari shahabat Ibnu ‘Umar c secara marfu’1:

“Seutama-utama doa adalah doa pada hari ‘Arafah dan sebaik-baik perkataan yang diucapkan olehku dan oleh para nabi sebelumku adalah:

Di antara hadits yang menunjukkan beratnya kalimat dalam tim-bangan adalah sabda Rasulullah n:

“Seseorang dari umatku dipanggil di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat, lalu dihamparkan di hadapannya 99 lembaran (kesalahan) dan setiap satu lembar (besarnya) sepanjang mata memandang. Kemudian dikatakan kepadanya: ‘Apakah kamu akan mengingkarinya?’ Dia berkata: ‘Tidak, wahai Rabb.’ Dikatakan kepadanya: ‘Apakah para pencatat kami telah berbuat dzalim terhadapmu?’ Kemudian dikatakan kepadanya: ‘Apakah engkau memiliki kebaikan untuk menandinginya?’ Orang tersebut ketakutan dan mengatakan: ‘Tidak ada.’ Lalu dikatakan kepadanya: ‘Kamu memiliki kebaikan-kebaikan di sisi Kami dan tidak ada kedzaliman atasmu.’ Lalu dikeluarkan sebuah kartu yang di dalamnya terdapat persaksian terhadap kalimat Laa ilaha illallah dan Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya. Dia berkata: ‘Wahai Rabbku, apa arti kartu ini dibandingkan hamparan lembar (dosa-dosaku) ini?’ Dikatakan kepadanya: ‘Kamu tidak akan terdzalimi.’ Kemudian lembaran-lembaran itu diletakkan pada sebuah daun timbangan dan kartu itu dalam daun timbangan lainnya. Lalu terangkatlah lembaran-lembaran tersebut dan kartu itu menjadi berat.”2
Ibnu Rajab dalam kitabnya Kalimatul Ikhlas (hal. 54-66) menyebutkan banyaknya keutamaan kalimat :
“Kalimat merupakan harga surga. Barangsiapa yang di akhir hayatnya (mengucapkan) kalimat maka dia akan masuk ke dalam surga, selamat dari api neraka. Kalimat ini akan menyebabkan adanya pengampunan dan kebaikan yang paling tinggi. Kalimat ini akan mengha-puskan dosa-dosa dan kesalahan, akan memperbahurui iman yang tumbuh di dalam hati dan akan mengangkat catatan-catatan dosa. Kalimat akan membakar hijab-hijab sehingga seseorang bisa sampai kepada Allah I.
Kalimat inilah yang para pengucapnya dibenarkan oleh Allah I. Kalimat ini merupakan ucapan para nabi yang paling utama, dzikir yang paling afdhal. Sebuah amalan yang paling utama dan yang paling banyak kelipatannya, sebanding dengan membebaskan budak-budak. Sebuah kalimat yang akan menjaga seseorang dari setan, yang akan memberikan rasa aman dari kengerian kubur dan kengerian padang Mahsyar. Kalimat yang merupakan syi’ar orang-orang yang beriman bila mereka dibangkitkan dari kubur mereka. Termasuk keutamaannya adalah dibukakan bagi para pengucapnya pintu surga yang delapan, dan dia masuk dari pintu mana pun yang dia inginkan. Termasuk keutamaannya adalah jika pengucapnya masuk ke dalam neraka karena dia melanggar hak-hak kalimat ini, mereka mesti akan keluar darinya.”

Makna
Kenapa kita harus membahas lagi kalimat ? Bukankah kita telah mengucapkannya setiap saat dan kita meyakini bahwa Allah I satu-satunya Dzat yang wajib disembah? Lalu apa faedah yang kita ambil dari pembahasan ini?
Pembaca yang budiman, pertanyaan seperti ini kerap kali muncul karena beberapa hal:
1. Kejahilan tentang kandungan kalimat , maknanya, konsekuensi-konsekuensinya, dan segala perkara yang akan membatalkannya.
2. Ketidaktahuan tentang dasar dan tujuan dakwah para nabi dan rasul yang semuanya bertujuan menyerukan kepada kalimat
3. Tidak melihat fenomena kaum muslimin di penjuru dunia, di mana mayo-ritas mereka melanggar makna kalimat tersebut atau melanggar hak-haknya.
4. Dia sendiri tidak bisa memetik kan-dungan kalimat  dalam hidupnya.
5. Berkuasanya hawa nafsu dan penyimpangan pada dirinya, sehingga merasa terganggu bila mendengar seruan kepada kalimat .
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Hasan bin Muhammad bin Abdul Wahhab dalam kitab Qurratu ‘Uyun Al-Muwahhidin (hal. 61) mengatakan: “Ucapan Rasulullah n: ‘Hendaklah yang pertama kali engkau serukan kepada mereka adalah agar mereka mempersaksikan kalimat .’ Mereka mengucapkan kalimat , namun jahil tentang makna yang dimaukan kalimat tersebut, yaitu mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah I semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan meninggalkan segala bentuk penyembahan kepada selain-Nya.
Oleh karena itu ucapan  mereka tidak memberikan manfaat kepada mereka sedikitpun karena kejahilan mereka tentang makna kalimat ini, sebagaimana situasi ini telah menimpa kebanyakan umat Islam saat ini. Mereka mengucapkannya, namun bersamaan dengan itu mereka menyekutukan Allah I dengan selain-Nya, seperti orang-orang yang telah mati, makhluk ghaib, thagut-thagut, dan monumen-monumen.
Mereka melakukan perbuatan yang membatalkan kalimat  dan menetapkan apa yang dinafikan olehnya berupa segala bentuk kesyirikan baik secara i’tiqad (keyakinan), ucapan maupun amal mereka. Mereka melakukan perbuatan yang menafikan apa yang ditetapkan oleh kalimat berupa keharusan meng-ikhlaskan peribadatan hanya untuk Allah I. Mereka menyangka bahwa makna  hanyalah tidak ada yang sanggup menciptakan kecuali Allah I (padahal lebih luas dari itu). Ini merupakan sikap membebek kepada ahli kalam dari kalangan Al-Asy’ariyyah dan selain mereka.
Padahal (makna yang mere-ka yakini itu) merupakan tauhid Rububiyyah yang diyakini pula oleh kaum musyrikin. Namun keyakinan ini tidaklah memasukkan mereka ke dalam Islam, sebagaimana firman Allah I:

Katakanlah: “Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui?” Mereka (kaum musyri-kin, red.) akan menjawab: “Kepunyaan Allah.” Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak ingat?” Katakanlah: “Siapakah Yang empunya langit yang tujuh dan yang mempunyai ‘Arsy yang besar?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.” Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak bertakwa?” Katakanlah: “Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya, jika kamu mengetahui?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.” Katakanlah: “(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu?” (Al-Mu’minun: 84-89)

“Katakanlah: ‘Siapakah yang memberi rizki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?’ Maka mereka akan menjawab: ‘Allah.’ Maka katakanlah: ‘Mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?’.” (Yunus: 31)
Dalam memaknakan kalimat   manusia terbagi menjadi tiga golongan:
Golongan pertama: Orang-orang yang bersikap melampaui batas (ifrath) dalam memaknakannya (dengan memasuk-kan sesuatu yang bukan kandungan kalimat itu sebagai makna kalimat itu). Sehingga mereka tidak sanggup mengamalkan isi kandungan kalimat  karena terjatuh pada sikap memberatkan diri dalam beragama, seperti makna di kalangan kaum Sufiyah.
Golongan kedua: Orang-orang yang bersikap meremehkan (tafrith) makna  sehingga memaknakannya hanya sebatas tauhid Rububiyyah, seperti makna menurut ahli kalam dan yang semadzhab dengan mereka.
Golongan ketiga: Orang-orang dari kalangan Ahlus Sunnah wal Jamaah, mereka adalah golongan wasath (tengah-tengah) antara dua golongan di atas.
Lalu apakah makna kalimat menurut Ahlus Sunnah? Maknanya adalah: Tidak ada sesembahan yang diibadahi dengan benar melainkan Allah I.
Lalu apakah konsekuensi makna  ini?  Insya Allah akan kita bahas edisi mendatang.

Catatan Kaki:

1. Dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani di dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi no. 2837, Al-Misykat 2598, At-Ta’liq Ar-Raghib (2/242) dan Ash-Shahihah no. 1503
2 HR. Al-Imam Ahmad no. 6699, At-Tirmidzi no.2563, Ibnu Majah no. 4290, dan Hakim dari shahabat Abdullah bin ‘Amar bin ‘Ash. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani di dalam kitab Shahih Sunan Ibnu Majah no. 3469, Al-Misykat no. 5559, Ash-Shahihah no. 135, dan Ta’liq Ar-Raghib 2/240-241

Kejujuran dalam Jual Beli

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Ishaq Muslim Al-Atsari)

Abu Hurairah z mengisahkan:
“Rasulullah n melewati setumpuk makanan. Beliau pun memasukkan tangannya ke dalam tumpukan tersebut hingga jari-jemari beliau menyentuh bagian yang basah. ‘Apa yang basah ini, wahai pemilik makanan?’ tanya beliau. Penjualnya menjawab: ‘Makanan itu basah karena terkena hujan, wahai Rasulullah.’ Rasulullah n bersabda: ‘Mengapa engkau tidak meletakkan bagian yang basah ini di atas hingga manusia dapat melihatnya? Siapa yang menipu maka ia bukan dariku’.”

Dalam lafadz lain:

“Siapa yang menipu kami maka ia bukan dari kami.”
Hadits di atas diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim dalam kitab Shahih-nya no. 280, 279, Kitabul Iman, bab Qaulun Nabi n: “Man Ghasysyana Falaisa Minna”. Diriwayatkan pula oleh Al-Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya no. 1315, Kitab Al-Buyu’, bab Ma Ja`a fi Karahiyatil Ghisy fil Buyu’, dan selainnya.
Dalam riwayat Abu Dawud dalam Sunan-nya no. 3452, Kitab Al-Buyu’, bab An-Nahyu ‘anil Ghisy disebutkan dengan lafadz:

“Rasulullah n melewati seseorang yang sedang berjualan makanan. Beliau pun bertanya kepada penjual tersebut: ‘Bagai-mana engkau berjualan?’ Penjual itu lalu mengabarkan kepada beliau. Lalu Allah mewahyukan kepada beliau: ‘Masukkanlah tanganmu ke dalam tumpukan makanan yang dijual pedagang tersebut.’ Ketika beliau melakukannya, ternyata beliau dapatkan bagian bawah/bagian dalam makanan tersebut basah. Maka Rasulullah n bersabda: “Bukan termasuk golongan kami orang yang menipu.” (Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Shahih Sunan Abi Dawud, Shahih At-Targhib wat Tarhib no. 1765)
Dalam An-Nihayah fi Gharibil Hadits disebutkan makna lafadz adalah bukan termasuk akhlak kami, bukan pula sunnah kami. Al-Imam An-Nawawi t menyebutkan bahwa ada yang memaknakan dengan makna orang yang berbuat demikian ia tidak berada di atas perjalanan hidup kami yang sempurna dan petunjuk kami. Namun Sufyan bin ‘Uyainah t membenci ucapan orang yang menafsirkannya dengan: “Tidak di atas petunjuk kami.” Beliau memaksudkan hal ini agar kita menahan diri dari mentakwil/menafsirkan lafadz tersebut, dan membiarkan apa adanya agar lebih masuk/menghunjam ke dalam jiwa dan lebih tajam dalam memberikan cercaan atas perbuatan tersebut. (Al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim, 2/291)
Adapun Syaikhul Islam Ibnu Tai-miyyah, beliau memiliki ucapan yang masyhur tentang hal ini: “Tidak mengapa dijatuhkan padanya ancaman jika memang terkumpul syarat-syarat dan tidak ada faktor-faktor yang menghalanginya.”

Pemahaman Hadits
Ketika Rasulullah n melewati sebuah pasar, beliau mendapatkan penjual ma-kanan yang menumpuk bahan makanan-nya. Bisa jadi seperti tumpukan biji-bijian, ada yang di atas ada yang di bawah. Bahan makanan yang di atas tampak bagus, tidak ada cacat/rusaknya. Namun ketika mema-sukkan jari-jemari beliau ke dalam tumpukan bahan makanan tersebut, beliau dapatkan ada yang basah karena kehujanan (yang berarti bahan makanan itu ada yang cacat/rusak). Penjualnya meletakkannya di bagian bawah agar hanya bagian yang bagus yang dilihat pembeli. Rasulullah n pun menegur perbuatan tersebut dan mengecam demikian kerasnya. Karena hal ini berarti menipu pembeli, yang akan menyangka bahwa seluruh bahan makanan itu bagus.
Seharusnya seorang mukmin mene-rangkan keadaan barang yang akan dijualnya, terlebih lagi apabila barang tersebut memiliki cacat ataupun aib. Sebagaimana sabda beliau n:

“Seorang muslim itu saudara bagi muslim yang lain. Dan tidak halal bagi seorang muslim menjual suatu barang kepada saudaranya sementara barang itu ada cacat/ rusaknya kecuali ia harus menerang-kannya kepada saudaranya (yang akan membeli tersebut).” (HR. Ibnu Majah no. 2246. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah dan Irwa`ul Ghalil no. 1321)
Juga sebagaimana sabda beliau n:

“Tidak halal bagi seseorang menjual barang dagangan yang ia ketahui padanya ada cacat/rusak kecuali ia beritahukan (kepada pembeli, -pent.).” (HR. Ahmad, Ibnu Majah, Ath-Thabrani dalam Al-Kabir dan Al-Hakim. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wat Tarhib no. 1775)
Ketika dia tidak menerangkannya, berarti dia telah melakukan ghisy (penipuan) seperti yang beliau peringatkan dan beliau kecam.

Jual Beli yang tidak Beroleh Barakah
Praktek tipu menipu dalam jual beli atau perdagangan sepertinya telah menjadi suatu kelaziman. Nilai kejujuran merupakan sesuatu yang teramat mahal harganya, karena jarang didapatkan pedagang yang jujur dan lurus. Wallahul musta’an.
Menurut orang-orang yang materialis, yang suka berburu keuntungan dunia, kejujuran hampir identik dengan kerugian. Bukan rugi karena hartanya habis atau dagangannya tidak dapat untung sama sekali, tapi rugi karena untungnya sedikit atau tidak seberapa. Sementara teori mereka adalah mengeluarkan biaya sekecil mungkin untuk mendapatkan pemasukan sebesar-besarnya. Mereka terapkan teori ini dalam usaha dagang mereka, sehingga mereka menargetkan untuk meraih keuntungan yang berlipat. Akibatnya, segala cara mereka lakukan untuk melariskan dagangan mereka, walaupun cara tersebut diharamkan Allah I, seperti dusta, penipuan, dan menyembu-nyikan keadaan barang. Padahal Rasulullah n telah bersabda:

“Penjual dan pembeli itu diberi pilihan (antara meneruskan jual beli atau membatal-kannya, -pent.) selama keduanya belum berpisah –atau beliau berkata: sampai keduanya berpisah–. Bila keduanya jujur dan menjelaskan (keadaan barang –pent.) maka keduanya diberkahi dalam jual belinya, namun bila keduanya menyembunyikan dan berdusta akan dihilangkan keberkahan jual beli keduanya.” (HR. Al-Bukhari no. 2079 dan Muslim no. 3836)
Watsilah ibnul Asqa’ z berkata:

“Dahulu Rasulullah n keluar menemui kami sedangkan kami adalah para pedagang. Beliau bersabda: ‘Wahai sekalian pedagang, hati-hati kalian dari dusta’.” (HR. Ath-Thabrani dalam Al-Kabir. Kata Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wat Tarhib no. 1793: Shahih li ghairi)
Sumpah dusta pun sering terucap dari lisan pedagang yang dijerat oleh semangat materialis. Walaupun tampaknya sumpah dusta itu menambah harta/memberi keun-tungan, namun hakikatnya sumpah itu menghilangkan barakah. Sebagaimana sabda Rasulullah n:

“Sumpah (dalam jual beli, –pent.) itu melariskan barang dagangan namun menghilangkan barakahnya.” (HR. Al-Bukhari no. 2087 dan Muslim no. 4101)
Dalam satu riwayat:

“Hati-hati kalian dari banyak ber-sumpah dalam jual beli, karena sumpah itu melariskan dagangan kemudian menghilang-kan barakahnya.” (HR. Muslim no. 4102, Kitab Al-Musaqah, Bab An-Nahyu ‘anil Halifi fil Bai’)
Al-Imam An-Nawawi t mengata-kan: “Bersumpah tanpa ada kebutuhan adalah makruh. Termasuk (bersumpah tanpa ada kebutuhan) adalah bersumpah dalam rangka melariskan barang dagangan, yang terkadang pembeli tertipu dengan sumpah tersebut.” (Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim, 11/46)
Demikian pula mengurangi takaran dan timbangan barang yang dijual kepada pembeli, termasuk perbuatan menipu. Padahal menipu seperti ini jelas menyakiti kaum mukminin yang terjerat dalam tipuan tersebut. Sementara Allah I telah mengan-cam orang yang melakukan perbuatan menyakiti kaum mukminin ini dalam firman-Nya:

“Dan orang-orang yang menyakiti kaum mukminin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sungguh orang-orang itu telah memikul buhtan (kebohongan) dan dosa yang nyata.” (Al-Ahzab: 58)
Ibnu ‘Abbas c mengisahkan:

“Tatkala Nabi n datang ke Madinah, penduduk Madinah merupakan orang yang paling buruk dalam melakukan takaran (dalam jual beli) maka Allah U pun menurunkan ayat: ‘Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang berbuat curang.’ Mereka pun membaikkan takaran setelah itu.” (HR. Ibnu Majah no. 2223, Ibnu Hibban dalam Shahih-nya dan Al-Baihaqi, dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Shahih Ibnu Majah, Shahih At-Targhib wat Tarhib no. 1760)
Perbuatan tidak jujur/curang dalam jual beli, khususnya dalam mengurangi takaran dan timbangan, mendapatkan ancaman azab seperti yang disebutkan dalam hadits Ibnu ‘Umar c berikut:

“Rasulullah n menghadap pada kami seraya berkata: ‘Wahai sekalian Muhajirin, ada lima perkara (yang aku khawatir) bila menimpa kalian, dan aku berlindung kepada Allah jangan sampai kalian mendapatkan perkara itu. (Pertama) Tidaklah tampak fahisyah (perbuatan keji) pada suatu kaum sama sekali lalu mereka melakukannya dengan terang-terangan, melainkan akan  tersebarlah penyakit tha’un dan kelaparan di kalangan mereka, yang belum pernah menimpa para pendahulu mereka yang telah lalu. (Kedua) Tidaklah mereka mengu-rangi takaran dan timbangan melain-kan mereka tentu diazab dengan ditimpakan paceklik, kesulitan makan-an dan kezaliman penguasa terhadap mereka… dst’.” (HR. Ibnu Majah no. 4019, Al-Bazzar, dan Al-Baihaqi. Dihasankan dalam Shahih Ibnu Majah, Shahih At-Targhib wat Tarhib no. 1761 dan Ash-Shahihah no. 106)
Perdagangan yang curang seperti inilah yang luput dari keberkahan, sebagaimana kata Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-’Asqalani t: “Barakah bagi pembeli dan penjual diperoleh bila terpenuhi syarat jujur dan menjelaskan keadaan barang. Sebaliknya, bila ada unsur dusta dan menyembunyikan sesuatu yang seharusnya diterangkan akan menghilang-kan barakah.” (Fathul Bari, 4/394)
Dengan demikian, kejujuran dan menerangkan keadaan barang apa adanya merupakan suatu kemestian bagi penjual maupun pembeli, seperti kata Al-Imam An-Nawawi t: “Masing-masing menerang-kan kepada temannya hal-hal yang memang perlu dijelaskan, berupa cacat dan semisal-nya pada barang dagangan. Demikian pula dalam permasalahan harga. Dan dia harus jujur dalam penjelasan tersebut.” (Al-Minhaj, 10/416-417)

Anjuran bagi Para Pedagang untuk Berlaku Jujur dan Ancaman bila Berbuat Dusta serta Peringatan dari Sumpah Palsu dalam Jual Beli
Berikut ini kita bawakan beberapa hadits yang berisi anjuran bagi pedagang untuk berlaku jujur dan ancaman dari dusta. Semoga dapat menjadi nasehat bagi mereka dan kita semua.
Shahabat yang mulia Abu Sa’id Al-Khudri z menyampaikan sabda Nabi n:

“Pedagang yang jujur lagi dipercaya itu bersama para nabi, shiddiqin dan syuhada.” (HR. At-Tirmidzi no. 1209, kata Asy-Syaikh Al-Albani tentang hadits ini dalam Shahih At-Targhib wat Tarhib no. 1782: Shahih lighairi)
Ibnu ‘Umar c berkata: “Rasulullah n bersabda:

“Pedagang yang dipercaya, jujur, muslim/beragama Islam, ia bersama para syuhada pada hari kiamat.” (HR. Ibnu Majah no. 2139, dinyatakan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wat Tarhib no. 1783: Hasan shahih, dan Ash-Shahihah no. 34531)
Isma’il bin ‘Ubaid bin Rifa’ah menyampaikan hadits dari bapaknya dari kakeknya c:

“Kakeknya pernah keluar bersama Rasulullah n ke mushalla (tanah lapang –red.). Beliau melihat manusia sedang berjual beli. Beliau pun berseru: ‘Wahai sekalian pedagang!’ Mereka menjawab seruan Rasulullah n tersebut dan mengangkat leher-leher dan pandangan mata mereka kepada beliau. Rasulullah n pun bersabda: ‘Sesung-guhnya para pedagang itu dibangkitkan pada hari kiamat sebagai orang-orang fajir/jahat, kecuali orang/pedagang yang bertakwa kepada Allah, berbuat baik dan jujur’.”2 (HR. At-Tirmidzi no. 1210, ia berkata: Hadits hasan shahih. Asy-Syaikh Al-Albani berkata tentang hadits ini dalam Shahih At-Targhib wat Tarhib no. 1785: Shahih lighairi; dan Ash-Shahihah no. 994)
Abdurrahman bin Syibl z berkata: “Aku pernah mendengar Rasulullah n bersabda:

Sesungguhnya para pedagang itu adalah orang-orang fajir. Mereka berkata: “Wahai Rasulullah, bukankah Allah telah menghalalkan jual beli?” Beliau menjawab: “Ya (memang Allah menghalalkan jual beli), namun mereka itu suka bersumpah tapi mereka pun berbuat dosa dan mereka berbi-cara tapi mereka berdusta.” (HR. Ahmad dan Al-Hakim. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wat Tarhib no. 1786 dan Ash-Shahihah no. 366)
Adapun peringatan dari bersumpah dalam jual beli telah disebutkan dalam beberapa hadits berikut ini:
Abu Dzar z menyampaikan bahwa Nabi n bersabda:

“Tiga golongan yang Allah tidak akan mengajak bicara mereka pada hari kiamat, tidak akan melihat mereka, tidak akan mensucikan mereka, dan untuk mereka azab yang pedih.” Rasulullah n membacanya tiga kali. Abu Dzar berkata: “Merugi mereka itu. Siapakah mereka wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Orang/laki-laki yang musbil (memanjangkan pakaiannya sampai ke bawah mata kaki), orang yang mengungkit-ungkit pemberian, dan orang yang melariskan barang dagangannya dengan sumpah dusta.” (HR. Muslim no. 289)
Abu Sa’id Al-Khudri z berkata:

“Seorang A’rabi (Arab pedalaman) lewat membawa seekor kambing, maka aku berkata: ‘Apakah engkau mau menjual kambingmu seharga tiga dirham?” A’rabi itu menjawab: ‘Tidak, demi Allah.’ Kemudian ia menjualnya (dengan harga tersebut). Lalu aku ceritakan hal itu kepada Rasulullah n maka beliau bersabda: ‘Ia telah menjual akhiratnya dengan dunianya (yakni untuk memperoleh dunianya)’.” (HR. Ibnu Hibban dalam Shahih-nya, dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wat Tarhib no. 1792)
Di antara faedah yang bisa kita ambil dari pembahasan hadits Abu Hurairah yang kita bawakan di awal pembahasan:
1.    Haramnya melariskan barang dagangan dengan sesuatu yang mengandung unsur penipuan. Perbuatan menipu adalah haram dengan kesepakatan umat, karena bertentangan dengan sifat ketulusan (niat baik).
2.    Pemimpin/penguasa bertanggung jawab untuk mengawasi pasar dan memberikan hukuman kepada orang-orang yang menipu hamba-hamba Allah dan memakan harta mereka dengan cara batil.
3.    Sengaja melakukan penipuan akan memberikan kemudharatan/bahaya dan kerugian yang besar kepada perekonomian umat Islam. Hal ini menyebabkan pelakunya menjadi musuh umat Islam yang ditujukan kepadanya doa kebinasaan dan kejelekan. (‘Aridhatul Ahwadzi bi Syarhi Shahih At-Tirmidzi, Ibnul ‘Arabi, 6/45)
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Catatan Kaki:

1 Faedah: Asy-Syaikh Al-Albani berkata dalam Ash-Shahihah (7/1338): “Inilah yang menenangkan jiwaku pada akhirnya dan melapangkan dadaku setelah sebelumnya aku melemahkan/mendhaifkan hadits ini dalam sebagian takhrijat. Ya Allah, ampunilah aku!!!”
2 Al-Qadhi berkata: “Termasuk kebiasaan para pedagang adalah berbuat tadlis (pemalsuan) dalam muamalah dan melariskan barang dagangannya dengan melakukan sumpah dusta dan semisalnya. Karena itu Rasulullah n menghukumi mereka sebagai orang-orang fajir. Dan beliau mengecualikan pedagang yang menjaga diri dari perkara-perkara yang diharamkan, berlaku baik dalam sumpahnya dan jujur dalam ucapannya.” (Tuhfatul Ahwadzi, Kitab Al-Buyu’, bab Ma Ja`a fit Tujjar wa Tasmiyatun Nabiyyi n Iyyahum)

Jual Beli Sesuai Tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (4)

 SYARAT KELIMA

Akad jual beli dari pemilik barang atau yang menggantikan posisinya

Dalilnya adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَأۡكُلُوٓاْ أَمۡوَٰلَكُم بَيۡنَكُم بِٱلۡبَٰطِلِ إِلَّآ أَن تَكُونَ تِجَٰرَةً عَن تَرَاضٖ مِّنكُمۡۚ وَلَا تَقۡتُلُوٓاْ أَنفُسَكُمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِكُمۡ رَحِيمٗا ٢٩

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memakan harta di antara kalian dengan cara yang batil kecuali berupa perdagangan yang diadakan atas keridhaan masing-masing di antara kalian. Dan janganlah kalian membunuh diri-diri kalian. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih terhadap kalian.” (an-Nisa`: 29)

Karena itu tidak diperbolehkan mengurusi harta orang lain tanpa seizin pemiliknya. Juga dengan dalil hadits:

        “Janganlah engkau menjual sesuatu yang bukan milikmu (tidak ada padamu).” (HR. Ahmad 3/401, 403 dan Ashhabus Sunan dengan sanad shahih, lihat Al-Irwa` no. 1292)

Adapun pihak yang menggantikan posisi pemilik, terbagi menjadi 2 kategori:

  1. Pihak yang diizinkan secara syar’i, yaitu wali.

        Wali ini dibagi menjadi 2 macam:

  1.  Wali khusus, yaitu pihak yang mengurusi harta anak kecil/yatim, orang gila, atau orang yang tidak bisa mengelola hartanya.
  2.  Wali umum, yaitu pemerintah. Mereka mengurusi hal-hal berikut:

                –    Harta benda yang tidak diketahui pemiliknya.

                –    Harta anak yatim yang tidak mem-punyai wali khusus yang mengurusi hartanya.

                –    Menjual harta/aset seseorang yang telah wajib membayar hutangnya jika yang bersangkutan tidak mau menjual hartanya untuk memenuhi kewajibannya

3.  Pihak yang diizinkan oleh sang pemilik barang/harta.

        Mereka terdiri dari 3 jenis:

  1.  Al-Wakil, yaitu seseorang yang mengurusi harta orang lain semasa hidupnya dengan izinnya.
  2.  Al-Washi, yaitu seseorang yang mengurusi harta orang lain sepeninggalnya dengan izin atau wasiat darinya. Dalam masalah ini ada catatan:

                –    Harta yang diurusi tidak boleh lebih dari sepertiganya

                –    Diperbolehkan bagi salah seorang ahli waris untuk menjadi al-washi

       3. Pengurus harta wakaf, yaitu seseorang yang mengurus harta wakaf sesuai dengan kemaslahatannya. Orang yang seperti ini ada 2 jenis:

                – Diberi izin oleh pewakaf.

                – Diberi izin oleh pemerintah.

Masalah 44: Jika ada seseorang datang lalu mengambil barang dagangan orang lain dan menjual barang tersebut di depan sang pemilik. Kemudian dia menyerahkan uangnya kepada sang pemilik dalam keadaan sang pemilik diam saja, tidak menyetujui dan tidak pula mengingkari. Apakah jual belinya sah?

Ada perbedaan pendapat di kalangan para ulama:

  1. Jumhur ulama berpendapat jual belinya tidak sah.
  2. Ibnu Abi Laila berpendapat jual belinya sah.

Yang rajih adalah pendapat jumhur ulama, karena sang pemilik tidak memberinya izin. Adapun sikap diamnya tidaklah menunjukkan keridhaan atau persetujuannya.

 

Masalah 45: Jual beli fudhuli (orang yang melakukan tindakan spekulasi)

Fudhuli adalah seseorang yang tidak memiliki barang, dan tidak pula diizinkan dalam akad oleh sang pemilik barang.

Jika seorang Fudhuli membeli atau menjual barang untuk seseorang tanpa seizin pemiliknya, bagaimana hukumnya?

Dalam masalah ini ada perbedaan pendapat:

  1.  Asy-Syafi’i dan satu riwayat dari Ahmad menyatakan batalnya akad jual beli tersebut.
  2.  Jumhur ulama berpendapat bahwa akad itu tergantung izin orang lain tersebut. Kalau dia mengizinkan maka sah, kalau tidak maka tidak sah.

Yang rajih adalah pendapat jumhur ulama, dengan dasar hadits ‘Urwah Al-Bariqi radhiallahu ‘anhu, dia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberiku 1 dinar agar aku membelikan beliau seekor kambing. (Dengan uang itu) aku belikan 2 ekor kambing, lalu aku jual salah satunya dengan harga 1 dinar. Lalu aku bawa kambing dan 1 dinar tadi kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka diceritakan kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam perkara kambing tersebut, dan beliaupun berdoa:

“Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberkahimu pada perdaganganmu.” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah, dihasankan Asy-Syaikh Muqbil dalam Ash-Shahihul Musnad, 2/79)

Dalam hadits di atas, ‘Urwah Al-Bariqi melakukan 2 tindakan fudhuli sekaligus:

  1.  Membeli 2 ekor kambing, padahal dia diperintahkan untuk membeli 1 ekor kambing.
  2.  Menjual salah satunya.

 

 

Beberapa Masalah Seputar Makelar/Broker

  1. Apa hukum upah makelar?

Jumhur ulama berpendapat bahwa hal itu diperbolehkan, dengan dasar hadits Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma riwayat Al-Imam Al-Bukhari, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang orang kota menjualkan barang orang dusun. Maka Thawus bertanya kepada Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma: “Apa maksudnya?” Beliau menjawab:

        “Tidak boleh (orang kota) jadi makelarnya (orang dusun).”

Sisi pendalilannya, jika orang kota dilarang menjadi makelar orang dusun, berarti orang kota boleh menjadi makelar orang kota, orang dusun boleh menjadi makelar orang dusun, dan orang dusun boleh menjadi makelar orang kota.

  1. Apa hukumnya mengambil upah yang diberikan perusahaan dagang tertentu (supplier) kepada karyawan bagian pembelian dari perusahaan lain?

Tidak diperbolehkan mengambil upah/uang tersebut kecuali dengan izin dari perusahaan yang menugasinya. Wallahu a’lam. Demikian jawaban dari Syaikhuna Abdurrahman Al-‘Adani hafizhahullah. Lihat juga Fatwa Al-Lajnah (13/126).

  1.  Karyawan bagian pembelian barang sebuah perusahaan datang kepada perusahaan dagang lainnya (perusahaan pemasok barang/supplier), lalu dia meminta kepada perusahaan tersebut agar menaikkan harga barang dalam catatan notanya. Apa hukumnya?

Jawab: Perbuatan di atas sangat jelas keharamannya, dan termasuk memakan harta orang dengan kebatilan. Juga mengandung unsur menipu/membohongi perusahaannya sendiri.

  1. Si A memberikan uang kepada si B sejumlah Rp.100.000 untuk membeli sebuah barang. Lalu si B membelinya dengan harga Rp.80.000
    Si B tidak boleh mengambil sisa uang itu kecuali dengan izin si A. Begitu pula kalau si A menyuruh si B untuk menjual barang dengan harga Rp.80.000 lalu si B menjualnya dengan harga Rp.100.000 maka si B tidak diperkenankan mengambil kelebihan uang tersebut kecuali seizin si A.
  2. Bolehkah menentukan upah makelar dengan 5%, 10%, atau semisalnya?
    Masalah ini dijawab oleh Al-Lajnah Ad-Da`imah (13/129-130): “Bila memang ada kesepakatan antara makelar, penjual dan pembeli, bahwa makelar akan mendapatkan komisi dari penjual atau pembeli atau dari keduanya dengan prosentase tertentu, maka diperbolehkan. Tidak ada batasan tertentu dalam hal ini. Ini tergantung kesepakatan dan kerelaan dari pihak yang memberikan komisi tersebut. Namun seyogyanya hal itu masih dalam batas keumuman yang ada di masyarakat, untuk memberikan manfaat kepada makelar atas upaya dan usaha yang dia kerahkan dalam menyelesaikan akad antara penjual dan pembeli. Juga tidak ada unsur merugikan penjual atau pembeli dengan tambahan yang di luar kebiasaan. Wabillahit taufiq.”

Ketua: Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Wakil: Asy-Syaikh Abdul Aziz Alu Syaikh, Anggota: Asy-Syaikh Bakr Abu Zaid dan Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan.

SYARAT KEENAM

Barang yang diperjualbelikan harus diketahui dengan cara dilihat atau dengan kriteria/spesifikasinya


Masuk pula dalam syarat ini: harga dan tempo harus diketahui. Syarat ini dijadikan oleh sebagian ulama sebagai syarat ketujuh.

Kalimat ‘dengan cara dilihat’, mencakup barang yang harus dilihat keseluruhannya dan barang yang bisa dilihat sebagiannya untuk mewakili lainnya.
Termasuk di sini adalah yang mungkin diketahui dengan mencium, mendengar, dan merasakannya.

Masalah 46: Menjual barang tidak di tempat, yang tidak dilihat sebelumnya dan tidak diketahui spesifikasinya.

Ada perbedaan pendapat di kalangan ulama:

  1.  Jumhur ulama berpendapat tidak sah dan tidak diperbolehkan, karena ada unsur gharar (penipuan). Mereka berhujjah dengan hadits-hadits yang melarang hal tersebut, juga dengan ayat:

        “Kecuali berupa perdagangan yang diadakan atas keridhaan masing-masing di antara kalian.”

Sementara tidak mungkin tercapai kata saling ridha pada jual beli sesuatu yang tidak diketahui jenisnya.

  1. Abu Hanifah, satu riwayat Ahmad, satu pendapat Asy-Syafi’i, dan yang dirajihkan Ibnu Taimiyyah, Asy-Syaukani dalam As-Sail, serta Ibnu Utsaimin. Mereka berpendapat bahwa jual belinya sah, dan sang pembeli punya khiyar (pilihan) untuk melihat barang tersebut. Mereka berhujjah dengan atsar ‘Utsman bin ‘Affan radhiallahu ‘anhu dalam masalah ini.

Yang rajih adalah pendapat jumhur ulama. sedangkan atsar ‘Utsman bin ‘Affan diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dengan sanad yang dha’if. Wallahu a‘lam, lihat fatwa Al-Lajnah Ad-Da`imah (13/86-87).

Masalah 47: Jual beli barang tidak di tempat namun diketahui spesifikasinya.

Ada perbedaan pendapat di kalangan ulama:

  1.  Yang mashyur dari madzhab Asy-Syafi’i, satu riwayat dari Ahmad, dan pendapat yang dipilih Asy-Syaukani dalam As-Sail, bahwa jual beli tersebut tidak sah.
  2.  Ibrahim An-Nakha’i, Al-Hasan Al-Bashri, Asy-Sya’bi, Makhul, Al-Auza’i, Ats-Tsauri, dan Ashabur Ra`yi berpedapat bahwa jual belinya sah, dan sang pembeli punya hak khiyar (memilih untuk meneruskan atau membatalkan) baik barangnya sesuai dengan kriteria ketika dilihat ataupun tidak.
  3.  Malik, Ahmad, Ibnu Sirin, Ayyub, Ishaq, Abu Tsaur, Ibnul Mundzir, Azh-Zhahiriyah, dan mayoritas ahlul Madinah berpendapat bahwa jual belinya sah, dan sang pembeli punya hak khiyar bila barang tersebut tidak sesuai dengan spesifikasi yang ditawarkan. Bila sesuai, maka dia tidak punya hak khiyar.
    Pendapat terakhir inilah yang shahih dengan dasar hadits tentang masalah jual beli sistem salam[1]. Wallahu a’lam.

Masalah 48: Jual beli sampel/contoh

Maksudnya, sang penjual membawa contoh barang yang hendak dijual, kemudian ditaruh di tokonya atau etalase, di mana barang serupa masih banyak di gudang. Jika ada pembeli datang dan membeli salah satu satu barang, maka dia ambilkan di gudang.

Dalam hal ini ada perbedaan pendapat di antara ulama:

  1.  Yang mashyur dalam madzhab Hambali adalah jual beli tersebut batil. Karena sang pembeli tidak melihat barang sesungguhnya sewaktu akad.
  2.  Syafi’iyah berpendapat boleh bila contoh yang dipajang termasuk barang yang dijual. Misalnya, ia memajang 1 gelas kaca, sedangkan di gudang ada 11 barang lainnya. Bila dia menjual 1 lusin gelas tadi maka sah, tapi kalau tidak mau menjual contohnya maka tidak sah.
  3.  Malikiyah, Hanafiyah, satu riwayat dari Ahmad, dan yang dirajihkan oleh As-Sa’di dan Ibnu ‘Utsaimin: Jual belinya sah. Dan inilah yang shahih, wallahu a‘lam.

Masalah 49:Jual beli dengan orang buta

Ada perbedaan pendapat di kalangan ulama:

  1.  Ulama Syafi’iyah menyatakan tidak sah, sebab barang yang dijual harus dilihat.
  2.  Jumhur ulama berpendapat jual belinya sah. Adapun untuk mengetahui barang bisa dengan cara meraba, mencium, merasakan atau dengan gambaran yang disebutkan orang lain yang dia ridha.

Pendapat ini yang benar, dengan dasar keumuman ayat:

        “Padahal Allah telah menghalalkan jual beli.” Wallahu a‘lam.

Masalah 50: Jual beli dengan nomor

Maksudnya sang penjual mencantumkan harga masing-masing pada barang itu sendiri berikut dengan nomornya.

Jawab: Bila sang penjual dan pembeli mengetahui harga yang tergantung berupa nomor pada barang tersebut, maka diperbolehkan tanpa ada perbedaan pendapat.

Termasuk Syarat Jual Beli adalah Harga dan Tempo Diketahui

Dalil untuk persyaratan tempo adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِذَا تَدَايَنتُم بِدَيۡنٍ إِلَىٰٓ أَجَلٖ مُّسَمّٗى فَٱكۡتُبُوهُۚ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya.” (al-Baqarah: 282)

Juga dengan kesepakatan ulama yang dinukil oleh Ibnu Abdil Barr, begitu pula An-Nawawi dengan ucapannya: “Para ulama sepakat bahwa tidak diperbolehkan jual beli dengan harga tertentu sampai pada tempo yang tidak diketahui.”

Masalah 51: Hukum tempo sampai panen atau dapat gaji bulanan
Ada perbedaan pendapat di kalangan ulama:

  1.  Jumhur ulama berpendapat tidak sah jual beli dengan cara pembayaran seperti ini. Sebab, gaji atau panen kadang terlambat atau bahkan tidak ada sama sekali.
    2.    Malik, Abu Tsaur, dan satu riwayat dari Ahmad, membolehkan sistem tempo dengan cara di atas. Sebab, secara kebiasaan waktunya diketahui yaitu akhir/awal bulan/tahun.
    Yang rajih adalah pendapat kedua. Wallahu a‘lam.

Masalah 52: Hukum tempo hingga ada kemudahan

Ada perbedaan pendapat di kalangan ulama:

  1.  Jumhur ulama berpendapat tidak sah. Sebab tidak diketahui kapan tercapainya kemudahan.
  2.  Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hazm, dipilih oleh Ash-Shan’ani dan yang dirajihkan Ibnu ‘Utsaimin, bahwa sistem tersebut diperbolehkan, dengan dalil berikut:
  3.  Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

“Dan apabila ia memiliki kesusahan maka diberi tangguh hingga ia mendapatkan kemudahan.”

  1. Hadits ‘Aisyah, riwayat At-Tirmidzi (4/404), Ahmad (6/147) bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membeli 2 baju dari orang Yahudi, hingga waktu maisarah (kemudahan).

Hadits ini dimasukkan Asy-Syaikh Muqbil dalam Shahihul Musnad 2/488-489 dan beliau berkata: “Hadits shahih atas syarat Syaikhain.”

Yang rajih adalah pendapat kedua. Dan masalah ini menunjukkan kuatnya pendapat yang dirajihkan pada masalah sebelumnya, karena waktu kemudahan lebih tidak dapat dipastikan lagi. Wabillahit taufiq.

Adapun alasan persyaratan ‘Harga harus diketahui nilai/ukurannya’ adalah sebagai berikut:
a.    Jual beli dengan harga yang tidak diketahui termasuk sistem gharar (penipuan). Dan hal itu terlarang, sebagaimana telah dibahas sebelumnya.

b. Mengakibatkan tidak tercapainya syarat ‘saling ridha’ antara penjual dan pembeli, karena masing-masing menginginkan harga yang sesuai.

Masalah 53: Jual beli dengan harga “seperti yang dijual/dibeli si fulan”

Gambarannya, sang pembeli berkata kepada sang penjual: “Berapa harga barang ini?” dan dijawab: “Seperti yang dijual si fulan”, atau “Seperti harga pasaran”, atau yang semisalnya, dalam keadaan sang pembeli tidak mengetahui harga pasarnya.
Masalah-masalah ini ada perbedaan pendapat:

  1.  Jumhur ulama berpendapat, tidak sah karena harga tidak diketahui (ada unsur gharar).
  2.  Satu sisi pendapat Ahmad yang dipilih oleh Ibnu Taimiyyah dan Ibnul Qayyim: diperbolehkan dan harganya dipatok berdasarkan harga pasar barang tersebut.

Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah berkata: “Masalah ini dan yang semisalnya yang dikatakan tidak diketahui atau diketahui, harus dilihat hakikatnya. Bila diyakini ada unsur gharar maka dilarang. Kalau tidak ada maka hukum asalnya adalah boleh.”

Yang rajih adalah pendapat kedua dengan rincian dari As-Sa’di. Sehingga bila harga pasar baku/tidak berubah-ubah, maka tidak mengapa. Wallahu a‘lam.

Demikian uraian singkat tentang perniagaan dalam Islam, bila persyaratan di atas terpenuhi maka sahlah akad jual beli itu. Namun bila salah satunya tidak terpenuhi, maka berubah menjadi jual beli yang terlarang.

Bila masalah-masalah di atas dipahami, maka pada edisi berikutnya kita akan membahas seputar masalah khiyar dan riba untuk melengkapi pembahasan edisi ini, insya Allah. Wallahul muwaffiq.

Ditulis oleh: Al-Ustadz Muhammad Afifuddin

Maraji’:
        1.    Syarah Buyu’ min Kitab Ad-Darari, karya Syaikhuna Abdurrahman Al-‘Adani.

  1.  Fatwa Al-Lajnah Ad-Da`imah, Kibarul Ulama Kerajaan Saudi Arabia.

[1]  Sistem salam yaitu seseorang memberikan uang di majelis transaksi, dengan syarat nanti penjual memberikan barang sesuai yang dipesan, sampai waktu tertentu.

 

Jual Beli Sesuai Tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (3)

SYARAT KEEMPAT

Barang yang diperjualbelikan dapat diserahterimakan

Banyak sistem jual beli terlarang yang tidak memenuhi persyaratan ini, dan hampir seluruhnya masuk dalam kategori:

  1. Jual beli gharar

Yang dimaksud dengan gharar adalah yang tidak diketahui akibatnya. Sistem jual beli ini haram hukumnya dengan dalil al-Qur`an, as-Sunnah dan kesepakatan para ulama secara global. Adapun ayat yang menerangkannya adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِنَّمَا ٱلۡخَمۡرُ وَٱلۡمَيۡسِرُ وَٱلۡأَنصَابُ وَٱلۡأَزۡلَٰمُ رِجۡسٞ مِّنۡ عَمَلِ ٱلشَّيۡطَٰنِ فَٱجۡتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ ٩٠

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kalian mendapat keberuntungan.” (al-Ma`idah: 90)

Juga firman-Nya:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَأۡكُلُوٓاْ أَمۡوَٰلَكُم بَيۡنَكُم بِٱلۡبَٰطِلِ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian saling memakan harta sesama kalian dengan jalan yang batil…” (an-Nisa`:29)

Adapun dari As-Sunnah, di antaranya hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu:

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual beli dengan sistem gharar.” (HR. Muslim no. 1153)

Para ulama telah bersepakat bahwa hukum asal sistem gharar adalah haram. Namun mereka berbeda pendapat pada beberapa kasus dan rinciannya.

Masalah 33: Ada dua perkara yang dikecualikan dari sistem gharar ini:

  1. Sesuatu yang harus terbeli dan tidak mungkin dihindarkan. Contohnya jual beli rumah dengan pondasinya, atau jual beli kambing yang sedang hamil.
  2. Terdapat gharar namun relatif ringan, dan ketentuannya dikembalikan kepada kebiasaan masyarakat setempat.

Contohnya:
– Sewa menyewa bulanan/tahunan dengan penanggalan hijriyah, yang terkadang sebulan berjumlah 30 hari dan terkadang 29 hari.

– WC umum yang bayar, terkadang airnya terpakai banyak, terkadang sedikit.

Para ulama bersepakat bahwa gharar yang sedikit ini dimaafkan dan dimaklumi. Wallahu a’lam bishshawab.

 

Masalah 34: Kuis Berhadiah

Gambarannya, penyelenggara kuis menjual kartu berhadiah yang berisi pertanyaan atau semisalnya. Lalu jawaban yang benar dikumpulkan dan diundi, dan pemenangnya diumumkan serta berhak mendapatkan hadiah yang telah disediakan.

Hukum masalah ini adalah haram. Karena mengandung unsur gharar dan pertaruhan (judi). Orang yang ikut akan dihadapkan pada dua kemungkinan, yaitu menang atau kalah.

Adapun pemberian hadiah atas jawaban yang benar dari pertanyaan yang diajukan tanpa membeli kupon/kartu, hukum asalnya adalah mubah. Namun tidak sepantasnya seorang thalibul ilmi (penuntut ilmu) mengikuti perkembangan masalah seperti ini, baik melalui majalah, radio, TV dan semisalnya. Karena perbuatan tersebut mengurangi muru`ah (harga diri) dan membuang waktu untuk perkara yang belum pasti kemanfaatannya. Wabillahit taufiq.

Masalah 35: Hadiah yang ada pada barang dagangan

Masalah ini ada dua bentuk. Dan keduanya merupakan kaidah untuk menghukumi masalah lain yang semisal.

  1. Bila sang pembeli dihadapkan pada dua pilihan (taruhan) antara untung atau rugi, maka hal ini tidak diperbolehkan. Ada dua contoh dalam hal ini:
  2. Sebuah barang dijual dengan harga lebih mahal dari sebelumnya, di dalamnya terdapat kupon berhadiah langsung atau diundi. Terkadang hadiahnya murahan dan terkadang pula mahal.
  3. Seseorang membeli sebuah barang –dalam jumlah besar– yang ada kupon berhadiahnya yang sebenarnya tidak dia butuhkan. Dia memborong barang tersebut hanya karena ingin mendapatkan hadiah yang dijanjikan/disediakan.
  4. Bila sang pembeli dihadapkan pada satu pilihan, antara keuntungan atau keselamatan (tidak rugi), maka diperbolehkan. Contohnya:
  5. Sebuah barang dijual dengan harga normal seperti biasanya, dan di dalamnya terdapat kupon atau hadiah langsung.
  6. Sang pembeli membeli barang tersebut secara normal untuk kebutuhan sehari-hari. Lalu dia mendapatkan kupon atau hadiah langsung di dalamnya. Wallahul muwaffiq.

Masalah 36:Jual beli ikan yang masih di dalam air

Jual beli ikan yang masih ada di lautan, danau atau sungai besar adalah haram, dengan beberapa alasan:

  1. Ikan tersebut tidak bisa diserahkan.
  2. Tidak diketahui sifat-sifat dari sisi ukuran dan jenisnya.
  3. Ada unsur gharar dan taruhan.

Termasuk dalam masalah ini adalah sistem jual beli ikan di tambak dengan cara sampling (mengambil contoh). Maksudnya, sang petambak atau pembeli mengambil/menjaring sejumlah ikan di tambak. Ikan yang terjaring dijadikan contoh/tolak ukur untuk ikan-ikan yang ada di tambak tersebut secara keseluruhan. Sistem ini diharamkan karena beberapa sebab:

  1. Ada unsur taruhan dan gharar.
  2. Tidak diketahui secara pasti ukuran semua ikan yang ada di tambak. Bisa jadi lebih kecil dari sampelnya, dan mungkin pula lebih besar.
  3. Tidak diketahui jumlah ikan yang ada di tambak. Bisa jadi sangat banyak, bisa jadi pula hanya sedikit.

Faedah: Diperbolehkan jual beli ikan yang masih di dalam air dengan tiga syarat:

  1.  Ikan tersebut berpemilik.
  2. 2. Mungkin dan mudah diambil, seperti di kolam kecil.
  3. Airnya bening sehingga ikan tersebut bisa terlihat dengan sangat jelas dan transparan. Wallahu a’lam.

Masalah 37: Sistem habalil habalah

Ada dua gambaran tentang sistem ini:

  1. Penjual dan pembeli sepakat bah-wa uang pembelian hewan tersebut diserahkan setelah hewan tersebut melahirkan, atau anak hewan tersebut melahirkan.

Yang tidak diketahui di sini adalah waktu pembayarannya. Adapun barangnya telah diketahui, yaitu hewan tadi atau anaknya atau cucunya.

Ketidakjelasan waktu pembayaran punya andil besar dalam penentuan harga. Bisa jadi, saat jatuh pembayaran harganya lebih mahal atau mungkin lebih murah.

  1. Penjual dan pembeli sepakat untuk jual beli apa yang ada di perut hewan tersebut atau yang ada di perut anaknya nanti.

Yang tidak diketahui di sini adalah barangnya. Jual beli hewan yang masih di perut induknya adalah haram menurut kesepakatan ulama. Dalilnya adalah hadits Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma:

“Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari jual beli habalil habalah.” (HR. Muslim no. 1514)

Dalam Ash-Shahihain (Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim) diriwayat-kan dari Ibnu ‘Umar bahwa orang-orang jahiliyah dahulu biasa melakukan jual beli daging unta sampai habalil habalah. Yaitu, unta betina tadi melahirkan anaknya, lalu anaknya tadi bunting dan melahirkan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang hal tersebut. (HR. Al-Bukhari no. 2143 dan Muslim no. 1514)

Di antara sebab-sebab keharamannya adalah:

  1.  Tidak diketahui sifatnya
  2.  Tidak jelas, hewan tersebut hidup atau mati

        radhiallahu ‘anhuma.    Tidak diketahui jenisnya

  1.  Tidak bisa diserahkan barangnya

Wallahu a’lam.

 

Masalah 38: Sistem munabadzah dan mulamasah

Gambaran munabadzah adalah seseorang melemparkan bajunya–misalnya– kepada lelaki lain tanpa melihat barang tadi. Dan hal itu dijadikan sebagai akad jual beli mereka.

Ada beberapa perkara yang tergolong dalam sistem munabadzah ini:

  1.  Barang yang dilempar itulah yang diperjualbelikan.
  2.  Tindakan melempar barang tersebut dijadikan sebagai tanda selesainya akad jual beli dan tidak ada lagi khiyar (pilihan) bagi sang pembeli.
  3.  Yang dimaksud dengan sistem munabadzah adalah sistem hashat (lempar batu), yang akan dijelaskan nanti insya Allah.

Adapun mulamasah adalah jual beli dengan sistem meraba/memegang barang yang dijual tanpa melihatnya. Ada beberapa gambaran lain yang juga tergolong dalam mulamasah:

  1.  Barang yang dipegang adalah yang diperjualbelikan.
  2.  Tindakan memegang barang dijadikan syarat dan tidak ada khiyar.
  3.  Jual beli dengan istilah sekarang: ‘Pegang barang harus dibeli’.
  4.  Sang pembeli memegang/meraba barang dagangan dan dia tidak melihatnya karena tertutup atau keadaan gelap. Lalu sang penjual berkata: “Saya jual barang itu dengan harga sekian, dengan syarat rabaanmu sebagai ganti pandanganmu. Dan tidak ada khiyar bagimu kalau kamu sudah melihatnya.”

Semua sistem munabadzah dan mulamasah di atas adalah haram, karena:

  1. Ada unsur gharar
  2. Ada unsur taruhan (judi)

radhiallahu ‘anhuma. Ada unsur ketidaktahuan jenis dan nilai barang.

Dasarnya adalah hadits Abu Sa’id Al-Khudri dalam Ash-Shahihain:

        “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang sistem mulamasah dan munabadzah dalam jual beli.”

Masalah 39: Sistem hashat (lempar batu)

Sistem ini ada beberapa jenis dan gambaran, di antaranya:

  1.  Sang pembeli melempar dengan kerikil/batu kepada tumpukan/kumpulan baju, misalnya. Baju mana yang terkena batu, maka itulah yang terbeli dengan harga yang disepakati sebelumnya. Ini adalah sistem jahiliyah dahulu.
  2.  Seseorang membeli sebidang tanah dari sang penjual di tempat yang luas. Keduanya sepakat bahwa sang pembeli melempar batu, dan tempat jatuhnya batu itulah yang dijadikan batas tanah yang terbeli, dengan harga yang sudah disepakati sebelumnya.
  3.  Menjadikan lemparan batu sebagai tanda selesainya akad dan tidak ada khiyar bagi pembeli.
  4.  Seseorang membeli sesuatu dari penjual, lalu sang penjual meraup kerikil dengan tangannya dan berkata: “Berikan uang kepada saya sejumlah kerikil ini.”

Jual beli dengan semua gambaran di atas adalah haram menurut kesepakatan para ulama. Ibnu Qudamah menukilkan bahwa tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang masalah ini. Dasarnya adalah hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu:

        “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual beli sistem hashat dan yang ada unsur gharar.” (HR. Muslim no. 1513)

Wallahul muwaffiq.

Faedah: Termasuk jual beli yang terlarang karena adanya unsur gharar adalah:

  1. Susu yang ada di puting (ambing) sapi atau kambing sebelum diperah.
  2. Budak yang kabur dan tidak diketahui rimbanya. Demikian pula hewan yang kabur.
  3. Burung yang sedang terbang di udara, yang bukan miliknya, atau miliknya namun burung tadi tidak terbiasa kembali ke sarangnya.
  4. Rampasan perang yang belum dibagi. Termasuk dalam hal ini adalah shadaqah atau hadiah dari pemerintah atau pihak lain, yang belum diterima.
  5. Bulu yang masih ada di badan hewan yang masih hidup, kecuali bila langsung dipangkas, atau jarak antara akad dan memangkas tidak terlalu lama.
  6. Barang yang diperjualbelikan dalam jumlah besar dengan beragam jenis, ukuran dan kualitas, dalam keadaan tertutup dan tidak terlihat barangnya.

Masalah 40: Jual beli sesuatu yang tertanam dalam tanah, seperti wortel, bawang merah, bawang putih dan semisalnya

Ada perbedaan pendapat di kalangan para ulama:

  1. Jumhur ulama berpendapat tidak diperbolehkan, hingga dicabut dan dilihat oleh sang pembeli. Alasannya karena ada unsur jahalah (ketidaktahuan) dan gharar.
  2. Malik, Al-Auza’i, Ishaq, satu riwayat dari Ahmad, dan pendapat yang dipilih oleh Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qayyim, Asy-Syaikh As-Sa’di, Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin dan sejumlah ulama lainnya, bahwa hal ini diperbolehkan. Alasannya:
  3. Para ahli tanaman tersebut dapat mengetahui dengan baik tanaman yang ada di dalam tanah. Biasanya mereka melihat bagian atas yang tampak untuk mengetahui yang ada di dalam tanah.
  4. Kalaupun terjadi gharar yang ringan atau sesuatu yang tidak mungkin dielakkan, maka hal itu dimaafkan.

        radhiallahu ‘anhuma. Terdapat hal yang sangat memberatkan pemilik tanaman yang berjumlah besar itu. Karena mereka membutuhkan alat yang dapat menjaga tanaman tersebut setelah dicabut atau dipanen agar tidak rusak. Terkadang mereka tidak mendapatkannya. Juga akan berakibat penjual dipermainkan oleh sang pembeli, misalnya sudah dicabut ternyata tidak jadi dibeli. Ujungnya, kalau tidak ada alat untuk menjaganya dari kerusakan adalah hancurnya tanaman tersebut.

Yang rajih adalah dirinci:

– Bila yang disebutkan oleh pendapat kedua adalah terjadi dan nyata, maka tidak mengapa dan tidak termasuk jual beli yang memiliki unsur gharar.

– Bila tidak benar dan tidak nyata, maka wajib dicabut hingga terlihat oleh sang pembeli.

Ini adalah rincian dari Asy-Syaukani dalam As-Sailul Jarrar. Wallahu a’lam.

Jual Beli Buah-buahan

Dalam masalah ini ada 2 bagian:

  1. Yang disepakati oleh para ulama tentang ketidakbolehannya, yaitu jual beli buah-buahan yang belum tercipta.

Termasuk dalam masalah ini adalah:

Masalah 41: Jual beli Sistem Mu’awamah/Sinin

Yaitu menjual hasil sawah/kebun untuk beberapa tahun ke depan dalam satu akad. Hal ini terlarang, karena ada unsur gharar dan taruhan. Begitu juga menjual buah-buahan yang belum tumbuh. Insya Allah akan dirinci pada poin kedua.
Adapun dasar pelarangan sistem mu’awamah adalah hadits Jabir radhiallahu ‘anhu:

        “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang …. dan melarang sistem mu’awamah.” (HR. Muslim, 1536/85)

Yang perlu diperhatikan adalah bahwa yang terlarang di sini adalah jual beli dzat buahnya. Adapun bila yang diperjualbelikan adalah sifatnya maka tidak mengapa, karena masuk dalam sistem salam.

Sistem salam adalah menyerahkan uang pembayaran di muka dalam majelis akad untuk membeli suatu barang dengan sifat yang diketahui, tidak ada unsur gharar padanya, dengan jumlah yang diketahui, takaran/timbangan yang diketahui dan waktu serah terima barang yang diketahui pula. Mudah-mudahan ada pembahasan khusus tentang sistem ini pada edisi lain, insya Allah.

  1.  Yang masih diperselisihkan ulama adalah buah-buahan yang sudah tumbuh namun belum tampak matang:
  2.  Jumhur ulama berpendapat tidak boleh diperjualbelikan secara mutlak hingga nampak matang. Mereka berhujjah dengan keumuman hadits yang melarang hal ini. Di antaranya hadits Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma:

        “Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual beli buah-buahan hingga nampak matang, beliau melarang penjual dan pembeli.” (Muttafaqun ‘alaih)

Hadits semakna juga diriwayatkan dari Anas radhiallahu ‘anhu (Muttafaqun ‘alaih) dan Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu (HR. Muslim, 1538/58).

  1. Ibnu Hazm berpendapat dibolehkannya jual beli buah-buahan yang belum bertangkai, walaupun dengan syarat dibiarkan di tangkainya. Adapun bila sudah bertangkai, maka tidak diperbolehkan hingga nampak matang.

        radhiallahu ‘anhuma.    Sejumlah ulama seperti Asy-Syaikh Ibnu Baz dan Asy-Syaikh Abdurrazzaq ‘Afifi dalam Fatwa Al-Lajnah Ad-Da`imah (14/82-83, no. 3476), berpendapat diperbolehkan jual beli buah-buahan yang belum tampak matang dengan dua syarat:

                –    Dipanen waktu itu juga.

                –    Ada unsur kemanfaatan, seperti untuk makanan ternak atau semisalnya.

Jumhur ulama menyepakati syarat yang kedua ini, kecuali Ibnu Abi Laila dan Sufyan Ats-Tsauri.

Yang rajih adalah pendapat ketiga. Karena hukum itu berjalan bersama ‘illat (sebab)nya, ada atau tidaknya. ‘Illat (sebab) pelarangannya adalah seperti yang disebutkan dalam hadits Zaid bin Tsabit radhiallahu ‘anhu (HR. Abu Dawud no. 3372 dengan sanad yang shahih, lihat Shahih Abu Dawud no. 3372), yaitu bahwa para shahabat dahulu berjual beli buah-buahan sebelum nampak matang. Tatkala datang waktu panen, sang pembeli datang untuk mengambil buah-buahannya. Ternyata buah tersebut sudah rusak terkena hama, maka terjadilah keributan di antara mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda sebagai musyawarah yang beliau tawarkan:

“Kalau tidak (mau berhenti), hendak-nya kalian jangan jual beli buah-buahan kecuali bila nampak matang.”

Dengan adanya dua persyaratan di atas, tidak ada lagi keributan yang dikha-watirkan. Wallahul muwaffiq.

Masalah 42: Membeli buah-buahan yang belum nampak matang dari penjual di kiosnya

Masalah ini tidak termasuk pembahasan di atas. Karena masalah di atas adalah buah-buahan yang belum nampak matang yang masih ada di pohonnya. Adapun bila sudah ada di kios atau di tangan penjual, maka boleh diperjualbelikan, baik buah-buahan yang sudah matang ataupun belum. Hujjahnya adalah hadits Anas radhiallahu ‘anhu:

        “Bagaimana pendapatmu bila Allah menahan buah tersebut? Bagaimana salah seorang kalian menghalalkan harta saudaranya tanpa hak?!” (Muttafaqun ‘alaih)

Faedah: Ketentuan matangnya buah-buahan tergantung jenis buahnya juga. Misalnya, tanda matangnya korma adalah memerah atau menguning.

Masalah 43: Jual beli buah-buahan yang telah matang

Jumhur ulama berpendapat diperbo-lehkan, baik langsung dipanen atau dibiarkan di pohonnya untuk beberapa waktu. Karena tidak termasuk larangan hadits di atas.

Jual Beli Barang yang Belum Diterima

Para ulama –kecuali ‘Atha` dan ‘Utsman Al-Butti– bersepakat bahwa seseorang yang membeli makanan lalu menjualnya kepada orang lain sebelum makanan tadi dia terima adalah haram. Dengan dasar hadits Jabir radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

        “Bila engkau membeli makanan maka janganlah engkau jual hingga engkau terima sepenuhnya.” (HR. Muslim no. 1529)

 

Masalah 44: Apakah larangan di atas khusus untuk makanan saja?

Ada perbedaan pendapat di kalangan ulama:

  1.  Larangan tersebut umum meliputi semua barang dagangan, baik berupa makanan, atau aqar (tanah dan rumah), atau sesuatu yang berpindah (kendaraan), atau lainnya. Ini adalah pendapat Ibnu ‘Abbas, Jabir bin Abdillah, Asy-Syafi’i, Ats-Tsauri, Muhammad bin Al-Hasan, satu riwayat dari Ahmad, dan yang dipilih oleh Ibnu Hazm dan dirajihkan oleh Ibnul Qayyim dan Ibnu ‘Utsaimin.
  2.  Larangan tersebut untuk barang-barang yang ditakar atau ditimbang. Adapun yang selain itu diperbolehkan. Ini adalah pendapat ‘Utsman, Sa’id bin Al-Musayyib, Al-Hakam bin ‘Utbah, Ibrahim An-Nakha’i, Al-Auza’i, Ahmad, Ishaq dan pendapat yang masyhur dari madzab Hambali.
  3.  Larangan tersebut umum, kecuali aqar (rumah dan tanah). Ini adalah pendapat Abu Hanifah dan Abu Yusuf.
  4.  Larangan tersebut hanya pada makanan dan minuman. Ini adalah pendapat Malik, Abu Tsaur dan yang dirajihkan oleh Ibnul Mundzir.

Yang rajih adalah pendapat pertama, dengan beberapa dalil berikut:

  1.  Hadits Zaid bin Tsabit radhiallahu ‘anhu:

“Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang menjual barang dagangan di tempat dibelinya, hingga dipindahkan oleh pedagang ke tempat mereka.” (HR. Abu Dawud no. 3499 dengan sanad yang hasan)

Lafadz bersifat umum, mencakup semua barang yang diperjualbelikan.

  1.  Hadits Hakim bin Hizam radhiallahu ‘anhu:

“Bila engkau membeli sesuatu, maka janganlah engkau jual hingga engkau menerimanya.” (HR. Ahmad, 3/402, dengan sanad yang dha’if, namun menjadi hasan dengan hadits Zaid bin Tsabit radhiallahu ‘anhu di atas)

Lafadz mencakup semua barang yang diperjualbelikan. Wallahul muwaffiq.

Perkecualian dalam Jual Beli

Maksudnya adalah menjual barang dengan mengecualikan sesuatu darinya. Masalah ini memiliki dua bagian:

  1.  Sesuatu yang dikecualikan adalah perkara yang diketahui. Misalnya, menjual 10 baju kecuali satu baju yang berwarna merah.

Dinukil adanya kesepakatan ulama bahwa masalah ini diperbolehkan, karena tidak ada unsur gharar di dalamnya.

  1.  Sesuatu yang dikecualikan tidak diketahui (majhul). Ada perbedaan pendapat dalam hal ini:
  2.  Jumhur ulama berpendapat tidak diperbolehkan
  3.  Malik membolehkannya

Yang rajih adalah pendapat jumhur ulama, dengan dasar hadits Jabir radhiallahu ‘anhu:

        “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang perkecualian dalam jual beli, yakni mengecualikan sesuatu yang majhul (tidak diketahui).” (HR. Muslim, 1536/85)

Juga ada alasan bahwa tidak diketahuinya sesuatu yang dikecualikan akan berakibat tidak diketahuinya barang yang diperjualbelikan. Sehingga hal ini termasuk dalam ‘jual beli sesuatu yang tidak diketahui’. Dan ini tidak diperbolehkan karena ada unsur gharar dan taruhan.

Misalnya seseorang menjual rumah yang memiliki 4 kamar. Lalu dia mengecuali-kan satu kamar tanpa ditentukan kamar yang mana. Hal ini akan mengakibatkan tidak diketahuinya kamar yang hendak diperjualbelikan. Wallahul muwaffiq.

Najsy dalam Jual Beli

Najsy ialah menaikkan harga barang dari seseorang yang tidak ingin membelinya.

Ada beberapa alasan seseorang melakukan hal tersebut, di antaranya:

  1.  Menguntungkan sang penjual. Untuk hal ini, biasanya sudah ada kesepakatan sebelumnya.
  2.  Merugikan sang pembeli. Terkadang sang pembeli sangat membutuhkan barang tersebut, sehingga dia rela merogoh koceknya semahal apapun.
  3.  Menampakkan kekayaannya di depan para saudagar besar.
  4.  Hanya ingin main-main.

Semua tujuan di atas adalah haram. Para ulama bersepakat bahwa pelakunya telah bermaksiat dengan perbuatan itu.

Bentuk najsy yang terlarang cukup banyak, di antaranya:

  1.  Sang penjual memberitahu dengan berdusta bahwa dia membeli barang tersebut dengan harga lebih mahal dari yang sebenarnya. Misalnya sang penjual berkata: “Saya membeli barang ini Rp. 1000, hendaknya kamu beri laba kepadaku.” Padahal dia membelinya dengan harga Rp. 500.
  2.  Pelakunya adalah sang penjual sendiri. Gambarannya: Penjual menaruh barang kepada seseorang. Lalu dia mendatanginya layaknya pembeli, dan menaikkan/meninggikan harganya untuk kemaslahatannya.

        radhiallahu ‘anhuma.    Sang pelaku memuji dan menyanjung barang tersebut setinggi langit, hingga sang pembeli tertipu.

  1.  Sang penjual menaikkan harga barang setinggi mungkin sebagai persiapan menghadapi ‘perang tawar-menawar barang’. Lalu sang penjual menurunkan sedikit harganya setelah ‘perang sengit’. Padahal dia telah memperoleh keuntungan yang besar. Hal ini diharamkan menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.
  2.  Sang penjual berdusta bahwa dia kulakan barang tersebut lebih mahal dari penawaran sang pembeli.
  3.  Iklan barang di berbagai media cetak atau elektronik dengan sifat yang berlebihan dan ada unsur dusta, sehingga membuat konsumen sangat tertarik untuk membelinya walau dengan harga yang sangat mahal.

Semua jenis najsy di atas adalah haram, termasuk dalam hadits Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma:

        “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari najsy.” (Muttafaqun ‘alaih)

Bersambung syarat ke 5

 

 

Jual Beli Sesuai Tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (2)

SYARAT KETIGA

Barang yang diperjualbelikan harus halal dan ada unsur kemanfaatan yang mubah

Pada pembahasan syarat ini akan diuraikan benda/barang yang haram diperjualbelikan untuk dihindari. Sedangkan perkara yang mubah, tidak mungkin dapat diuraikan karena banyaknya. Sebab hukum asal sesuatu adalah halal untuk diperjualbelikan, kecuali bila ada dalil yang mengharamkannya.

Jual Beli Khamr

Khamr adalah segala sesuatu yang memabukkan, baik terbuat dari anggur, tomat atau bahan-bahan lainnya, apapun namanya, baik dulu maupun sekarang. Jual beli khamr adalah haram menurut kesepakatan para ulama, berdasarkan hadits:

Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala mengharamkan jual beli khamr dan bangkai.” (Muttafaqun ‘alaih dari Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu)

Pendapat yang membolehkannya adalah batil dan nyleneh. Demikian pula pendapat Abu Hanifah yang membolehkan seorang muslim mewakilkan jual beli khamrnya kepada kafir dzimmi. Semuanya batil dan bertentangan dengan hadits di atas.

Kejanggalan: Dalam Shahih Al-Bukhari diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhu, beliau berkata: “Si fulan telah menjual khamr.” Maka ‘Umar bin Al-Khaththab radhiallahu ‘anhu berkata: “Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memerangi si Fulan.”

Disebutkan dalam Shahih Muslim dan lainnya bahwa si fulan tersebut adalah shahabat Samurah bin Jundub radhiallahu ‘anhu. Bagaimana dengan perbuatan beliau ini?

Jawabannya: Para ulama menyebutkan beberapa udzur untuk shahabat tadi, di antaranya:

  1.  Beliau mengambil khamr tadi dari upeti Ahli Kitab, lalu beliau jual lagi kepada mereka.
  2.  Beliau tahu keharaman khamr, namun tidak tahu keharaman jual beli khamr.
    3.    Beliau menjual sari anggur kepada seseorang yang kemudian mengolahnya menjadi khamr.
  3.  Beliau telah mengolahnya menjadi cuka, lalu menjual cuka tersebut.

Jual Beli Bangkai

Bangkai adalah semua hewan yang mati dengan sendirinya tanpa disembelih dengan cara yang syar’i.

Para ulama telah sepakat bahwa bangkai tidak boleh diperjualbelikan, dengan dasar hadits yang telah lewat pada masalah khamr.

Termasuk dalam kategori bangkai adalah bagian-bagian tubuh hewan yang merupakan inti kehidupan seperti: daging, otak, lemak (gajih) serta tulang.

Masalah 10: Hukum menjual bulu hewan yang telah menjadi bangkai

Para ulama telah sepakat bahwa boleh menggunakan dan memperjualbelikan bulu hewan yang masih hidup.

Adapun hewan yang telah menjadi bangkai, maka mereka berbeda pendapat:

  1. Jumhur ulama berpendapat: Boleh diperjualbelikan.
  2. Asy-Syafi’i dan ‘Atha` berpendapat: Tidak boleh diperjualbelikan.
    Yang rajih adalah pendapat jumhur, dengan dasar firman Allah subhanahu wa ta’ala:

وَمِنۡ أَصۡوَافِهَا وَأَوۡبَارِهَا وَأَشۡعَارِهَآ أَثَٰثٗا وَمَتَٰعًا إِلَىٰ حِينٖ

“(Dia jadikan pula) dari bulu domba, bulu onta dan bulu kambing, alat-alat rumah tangga dan perhiasan (yang kamu pakai) sampai waktu (tertentu).” (an-Nahl: 80)

Ayat ini umum dan mencakup hewan yang masih hidup ataupun yang telah mati.
Juga dengan dasar hadits:

“Sesungguhnya yang diharamkan adalah memakannya.”

Sehingga boleh dipergunakan kecuali daging, tulang, gajih (lemak), dan yang semisalnya.

Masalah 11: Bolehkah menjual kulit bangkai sebelum disamak?

Perlu diketahui bahwa kulit bangkai adalah najis. Adapun kulit hewan yang disembelih dengan cara yang syar’i, maka suci dan boleh dipergunakan tanpa disamak. Adapun tentang kulit bangkai yang belum disamak, para ulama berbeda pendapat:

  1. Jumhur ulama berpendapat bahwa itu termasuk dalam kategori bangkai. Mereka berhujjah dengan hadits:

“Sesungguhnya Allah mengharamkan jual beli beli khamr dan bangkai.”

  1.  Abu Hanifah, Az-Zuhri, Al-Laits dan yang dipilih oleh Al-Imam Al-Bukhari dalam Shahihnya, berpendapat boleh diperjualbelikan dengan dasar hadits:

“Kenapa tidak kalian manfaatkan?” (HR. Abu Dawud, no. 4120-4121. Lihat Ash-Shahihah no. 2163 dari Maimunah)

Yang rajih adalah pendapat jumhur. Wallahu a’lam. Adapun hadits Maimunah di atas, pengertiannya dibawa kepada masalah kulit bangkai yang telah disamak.

Masalah 12: Kulit bangkai yang telah disamak

Ada perbedaan pendapat di kalangan ulama:

  1. Jumhur ulama berpendapat boleh diperjualbelikan.
  2. Ahmad dan Malik berpendapat tidak boleh diperjualbelikan.
    Yang rajih adalah pendapat jumhur dengan dasar hadits:

“Bila kulit telah disamak, maka telah suci.” (HR. Muslim dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma)

 

Jual Beli Babi

Para ulama telah bersepakat bahwa babi haram diperjualbelikan, dengan dasar hadits:

“Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala mengharamkan jual beli beli khamr, bangkai, dan babi.” (Muttafaqun ‘alaih, dari Jabir radhiallahu ‘anhu)

Keharaman ini juga berlaku untuk kulit dan bulu babi, menurut pendapat yang rajih. Dan ini adalah pendapat jumhur ulama.

Masalah 13: Apakah diperbolehkan beternak babi atau memeliharanya?

Hal ini tidak diperbolehkan menurut kesepakatan para ulama.

Jual Beli Patung

Yang dimaksud dengan patung di sini adalah segala sesuatu yang disembah selain Allah subhanahu wa ta’ala yang memiliki bentuk, baik terbuat dari besi, kayu ataupun batu, dan yang lainnya.

Jual beli patung tidak diperbolehkan secara mutlak dengan dasar hadits:

“Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala mengharamkan jual beli beli khamr, bangkai, babi, dan patung.” (Muttafaqun ‘alaih, dari Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu)

Masalah 14: Jual beli patung untuk dimanfaatkan serpihan-serpihannya

Bila telah dihancurkan maka diperbolehkan menjual atau membeli serpihan-serpihannya, sebab dia tidak lagi dalam bentuk patung. Adapun bila masih dalam wujud patung maka ada perbedaan pendapat di kalangan fuqaha:

  1. Jumhur ulama berpendapat tidak diperbolehkan.
  2. Sebagian ulama dari kalangan Syafi’iyah membolehkannya.
    Yang rajih adalah pendapat jumhur, karena masuk pada keumuman larangan hadits di atas. Wallahu a’lam.

Masalah 15: Hukum jual beli mainan anak-anak (boneka)

Dalam hal ini ada rinciannya yaitu:

Apabila mainan tersebut mirip dengan insan yang hakiki, bisa bersuara dan bisa menangis, atau hal-hal lain yang menyerupai ciptaan Allah subhanahu wa ta’ala, maka tidak boleh diperjualbelikan. Bila tidak terdapat hal-hal di atas, maka jumhur ulama memperbolehkannya, dengan dasar hadits A’isyah radhiallahu ‘anha (Muttafaqun ‘alaih), bahwasanya dia radhiallahu ‘anha  biasa bermain dengan boneka-boneka wanita, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa memanggil teman-teman wanita ‘Aisyah untuk bermain dengannya.

Dalam riwayat Abu Dawud dan An-Nasa`i disebutkan bahwa Aisyah radhiallahu ‘anha membuat mainan kuda yang memiliki dua sayap dari sobekan kain. Wallahu a’lam.

Jual Beli Anjing

Para ulama berbeda pendapat tentang jual beli anjing:

  1. Jumhur berpendapat bahwa anjing tidak boleh diperjualbelikan secara mutlak, baik anjing kecil (anak anjing) atau anjing besar, anjing untuk berburu ataupun tidak.
    Mereka berhujjah dengan hadits:

“Nabi melarang dari harga anjing.” (Muttafaqun ‘alaih dari Abu Mas’ud Al-Anshari radhiallahu ‘anhu, HR. muslim dari jabir radhiallahu ‘anhu, HR. Al-Bukhari dari Abu Juhaifah radhiallahu ‘anhu)

  1. Abu Hanifah berpendapat diper-bolehkan jual beli anjing secara mutlak. Pendapat ini tidak berdasarkan dalil, bahkan bertolak belakang dengan hadits di atas.
  2. Jabir, ‘Atha`, dan Ibrahim An-Nakha’i berpendapat tidak diperbolehkan jual beli anjing, kecuali anjing untuk berburu. Mereka berhujjah dengan lafadz tambahan pada hadits di atas dalam riwayat An-Nasa`i (7/309, no. 4669):

“Kecuali anjing berburu.”

Yang rajih –wallahu a’lam– adalah pandapat jumhur, berdasarkan nash hadits di atas. Adapun lafadz tambahan pada hadits di atas yang menyebutkan pengecualian, derajatnya dha’if. Bahkan An-Nasa`i sendiri menyatakan mungkar. Di antara ulama ahli hadits yang mendha’ifkan adalah An-Nasa`i, At-Tirmidzi, Ad-Dara-quthni. Bahkan An-Nawawi dalam syarah muslim dan Al-Majmu’ menyatakan: “Tambahan ini dha’if, dan ini adalah kesepakatan ahli hadits. Wallahu a’lam.”

Termasuk yang tidak diperbolehkan adalah menyewakan anjing. Karena sewa- menyewa termasuk bab jual beli, sementara anjing merupakan hewan yang haram diperjualbelikan, sama halnya dengan babi.

Masalah 16: Hukum jual beli hewan yang telah dimumi atau diawetkan

Tidak boleh memperjualbelikan hewan yang telah dimumi, baik dalam bentuk burung ataupun yang lainnya, baik dari hewan yang halal dipelihara ataupun yang haram dipelihara. Alasannya adalah:

  1. Termasuk celah/pintu menuju kesyirikan.
  2. Penyebab tersebar luasnya gambar makhluk hidup.
  3. Menyia-nyiakan harta.
  4. Termasuk tindakan pemborosan (tabdzir/israf).

Demikian kesimpulan secara ringkas fatwa dari Al-Lajnah Ad-Da`imah (Komisi Fatwa Dewan Ulama Besar Kerajaan Saudi Arabia) yang diketuai Asy-Syaikh Ibnu Baz, Wakil: Asy-Syaikh Abdur Razzaq Afifi, Anggota: Asy-Syaikh Abdullah bin Ghudayyan (11/715, no. fatwa 5350). Ini juga merupakan fatwa ‘Permata Yaman’ Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i rahimahullah.

Jual Beli Kucing

Ada perbedaan pendapat di kalangan para ulama:

  1. Jumhur berpendapat, boleh memperjualbelikan kucing
  2. Tidak diperbolehkan jual beli kucing. Ini adalah pendapat Abu Hurairah, Mujahid, Thawus, Jabir bin Zaid, Azh-Zhahiriyah, satu riwayat dari Ahmad. Dan ini adalah pendapat yang dipilih oleh Ibnul Qayyim, Ibnu Rajab, dan dirajihkan oleh Ash-Shan’ani serta Asy-Syaukani.

Permasalahan ini sesungguhnya kembali kepada derajat hadits Jabir radhiallahu ‘anhu, riwayat Muslim (no. 1569):

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari harga anjing dan kucing.”

Para ulama berbeda pendapat tentang derajatnya.

Al-Imam Ahmad, Ibnu Abdil Barr, Al-Khaththabi, Ibnul Mundzir dan selain mereka berpendapat hadits ini dha’if. At-Tirmidzi menyatakan sanadnya goncang (mudhtharib). Adapula yang menyatakan mauquf, yakni ucapan Jabir radhiallahu ‘anhu dan bukan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sebagian ulama yang lain meyakini keshahihannya.

Jual Beli Darah

Para ulama berbeda pendapat, apakah yang dimaksud dengan larangan jual beli beli darah? Apakah upah dari bekam (pengobatan untuk mengeluarkan darah kotor) ataukah jual beli darah itu sendiri?

Yang rajih dari penjelasan para ulama adalah larangan jual beli darah itu sendiri, dengan dalil firman Allah subhanahu wa ta’ala:

حُرِّمَتۡ عَلَيۡكُمُ ٱلۡمَيۡتَةُ وَٱلدَّمُ

“Diharamkan atas kalian (memakan) bangkai dan darah…” (al-Ma`idah: 3)

Adapun hadits yang melarang jual beli darah, diriwayatkan dari shahabat Abu Juhaifah radhiallahu ‘anhu, riwayat Al-Bukhari (no. 2238). Disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Mengharamkan harga darah.”

Jual beli darah hukumnya haram dengan kesepakatan para ulama, demikian dinukil Al-Hafizh.

Faedah: Dikecualikan dari hukum darah adalah hati dan jantung, dengan dasar hadits Ibnu ‘Umar, riwayat Ahmad (2/97), Ibnu Majah (1037), Al-Baihaqi dalam Al-Kubra (1/254), yang dirajihkan oleh Abu Zur’ah dan Abu Hatim bahwa ucapan ini mauquf (ucapan Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma) namun dihukumi marfu’ (sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam). Lihat Al-Maqashidul Hasanah (36) hal. 67.

Masalah 17: Memindahkan darah dari satu jasad ke jasad lain (donor darah)

Hal ini termasuk dalam keharaman di atas. Tidak diperbolehkan makan darah, baik langsung dengan mulut, lewat infus, atau dengan cara lainnya. Kecuali dalam keadaan darurat maka diperbolehkan, dengan syarat sang pendonor tidak menjual darahnya kepada pihak yang membutuhkan. Juga tidak mensyaratkan bayaran baik secara dzahir maupun batin.

Syarat secara dzahir sangat jelas. Adapun secara batin ialah kebiasaan masyarakat setempat. Misalnya setiap ada orang yang donor darah pasti diberi sejumlah uang, jika tidak dia pasti marah.

Ini adalah fatwa Al-Lajnah Ad-Da`imah no. 8096, yang diketuai Asy-Syaikh Ibnu Baz, Wakil: Asy-Syaikh Abdur Razzaq Afifi, Anggota: Asy-Syaikh Abdullah bin Ghudayyan.

Dalilnya adalah hadits di atas. Juga hadits Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma:

“Sesungguhnya jika Allah subhanahu wa ta’ala mengharamkan atas suatu kaum memakan sesuatu, Allah subhanahu wa ta’ala juga mengharamkan atas mereka harganya.” (HR. Ahmad, 3/370 dan Abu Dawud no. 3488. Dishahihkan Asy-Syaikh Muqbil dalam Ash-Shahihul Musnad 1/471)

Masalah 18: Jual beli misk

Misk adalah darah yang berkumpul pada pusar kijang setelah dia berlari kencang, lalu diikat beberapa saat hingga terlepas dari badan kijang tersebut. Dari inilah kemudian dibuat minyak wangi misk. Sehingga asal misk adalah darah.
Apakah misk itu suci atau boleh diperjualbelikan?

Ada perbedaan pendapat di kalangan para ulama:

  1. Al-Hasan Al-Bashri dan ‘Atha` memakruhkan jual beli misk.
  2. Jumhur ulama berpendapat boleh diperjualbelikan dan suci.

Al-Hafizh dalam Al-Fath pada penjelasan hadits no. 2101 menjelaskan:

“Hadits ini menunjukkan bolehnya jual beli misk dan hukumnya suci, sebab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memuji dan menyukainya. Di sini terdapat bantahan terhadap ulama yang memakruhkannya, sebagaimana dinukil dari Al-Hasan Al-Bashri, ‘Atha` dan yang lainnya. Kemudian perbedaan pendapat ini berakhir, dan tetaplah ijma’ (kesepakatan ulama) atas sucinya misk dan kebolehan memperjualbelikannya.”

Jual Beli Perkara yang Diharamkan

Yang dimaksud dengan perkara yang diharamkan di sini meliputi 2 hal:

  1. Barang yang diharamkan untuk dimakan ataupun dimanfaatkan, seperti babi dan patung.
  2. Barang yang diharamkan untuk dimakan, namun bisa diambil manfaatnya.

Masalah 19: Bagaimana dengan perkara yang boleh dijual namun tidak boleh dimakan, seperti keledai peliharaan, bighal, dan budak?

Jawab: Bila dijual dengan tujuan untuk dimakan, maka hukumnya haram, masuk pada hadits Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma di atas. Bila dijual untuk diambil manfaatnya, maka diperbolehkan. Wallahu a’lam.

Dalam bab ini terdapat masalah yang cukup banyak, di antaranya jual beli pupuk yang terbuat dari kotoran.

Pupuk sendiri ada 2 jenis:

  1. Terbuat dari kotoran hewan, seperti kambing, sapi dan lain-lain.
    Bagi ulama yang berpendapat bahwa kotoran hewan tidak najis, maka memperbolehkan jual beli kotoran unta, sapi, kambing, dan lain sebagainya untuk pupuk tanah.
  2. Terbuat dari kotoran manusia, yang merupakan najis.
    Pendapat yang rajih, insya Allah, adalah diperbolehkan jual beli kotoran manusia untuk pupuk. Ini adalah satu pendapat madzhab Maliki, Abu Hanifah, Ibnu Hazm, dan pendapat ini yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, yang berhujjah dengan keumuman ayat:

وَأَحَلَّ ٱللَّهُ ٱلۡبَيۡعَ

“Dan Allah menghalalkan jual beli.” (al-Baqarah: 275)

Masalah 20: Jual beli alat-alat musik

Jumhur ulama menyatakan keharamannya karena dalil-dalil yang tegas menunjukkan keharaman alat-alat musik. Asy-Syaikh Al-Albani mempunyai risalah khusus tentang masalah ini, lengkap dengan dalil dan bantahannya terhadap syubhat yang membolehkannya.

Di antara ulama yang tergelincir dan membolehkan jual beli alat-alat musik adalah Ibnu Hazm dan Abu Turab Azh-Zhahiri. Asy-Syaikh Hamud At-Tuwaijiri telah membantahnya dalam risalah khusus dengan bantahan tuntas dan memuaskan. Wabillahit Taufiq.

Faedah: Bila alat-alat musik telah dihancurkan atau dipecahkan, maka jumhur ulama berpendapat tidak boleh diperjualbelikan untuk diambil manfaatnya. Wallahu a’lam.

Masalah 21: Jual beli minyak atau pelumas yang najis

Misalnya gajih pada bangkai bila dileburkan, masih melekat sifat najisnya. Tentang hukumnya, ada perbedaan pendapat di kalangan ulama:

  1. Abu Hanifah dan Laits membolehkannya.
  2. Jumhur ulama mengharamkannya. Dan inilah pendapat yang rajih dengan dasar hadits Jabir radhiallahu ‘anhu:

“Tidak boleh (jual beli gajih bangkai), dia haram.” (Muttafaqun ‘alaih)

Juga hadits yang telah lewat:

“Sesungguhnya Allah mengharamkan jual beli khamr dan bangkai.”

Faedah: Adapun minyak yang kejatuhan benda najis, maka yang rajih, insya Allah, adalah boleh diperjualbelikan dan disucikan dengan cara:

–    Ditambahkan minyak yang cukup banyak

–    Dimasak hingga mendidih

–    Dijemur dan diangin-anginkan hingga hilang najisnya.

Masalah 22: Jual beli binatang buas

Binatang buas dalam masalah ini ada 2 macam:

  1. Yang bisa dipakai untuk berburu

Jumhur ulama membolehkan jual belinya dalam rangka diambil manfaatnya untuk berburu, dan boleh pula dipelihara sebab tidak ada ancaman bagi orang-orang yang memeliharanya.

  1. Tidak bisa dipakai berburu

Jumhur ulama berpendapat tidak boleh diperjualbelikan, dengan dua alasan:

–    Larangan dari semua binatang buas yang bertaring

–    Menyia-nyiakan harta

Lihat Fatwa Al-Lajnah Ad-Da`imah no. 18564, Ketua: Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz Alu Syaikh, Anggota: Asy-Syaikh Bakr Abu Zaid, Asy-Syaikh Shalih Fauzan, dan Asy-Syaikh Abdullah Al-Ghudayyan.

Masalah 23: Jual beli monyet

Monyet termasuk hewan yang haram dimakan. Dalil terkuat adalah bahwa Allah subhanahu wa ta’ala mengubah bentuk orang-orang Yahudi menjadi monyet.

Adapun masalah jual beli monyet, maka Al-Lajnah Ad-Da`imah (no. 18564) berfatwa: “Tidak diperbolehkan jual beli kucing, monyet, anjing dan binatang buas yang bertaring/yang berkuku tajam yang sejenisnya. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang dan menegurnya. Juga hal ini termasuk menyia-nyiakan harta, sedangkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang perbuatan tersebut.” Ketua: Asy-Syaikh Ibnu Baz, Wakil: Asy-Syaikh Abdul Aziz Alu Syaikh, Anggota: Asy-Syaikh Bakr Abu Zaid, Asy-Syaikh Shalih Fauzan, dan Asy-Syaikh Abdullah Al-Ghudayyan. Wallahu a‘lam.[1]

Masalah 24: Jual beli burung

Burung diklasifikasikan oleh para ulama menjadi dua, yaitu:

  1.  Yang bisa diambil manfaat dari warna atau suaranya yang indah.

Jumhur ulama berpendapat boleh memperjualbelikannya, karena melihat atau mendengarkan suara burung adalah perkara yang mubah. Tidak ada dalil yang melarangnya. Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada saudara Anas yang masih kecil:

“Wahai Abu ‘Umair, apa yang dilakukan oleh si Nughair (burung kecil miliknya)…”

Pendapat ini yang dikuatkan oleh Al-Lajnah Ad-Da`imah (fatwa no. 18248) Ketua: Asy-Syaikh Ibnu Baz, Wakil: Asy-Syaikh Abdul Aziz Alu Syaikh, Anggota: Asy-Syaikh Bakr Abu Zaid, Asy-Syaikh Shalih Fauzan, dan Asy-Syaikh Abdullah Al-Ghudayyan.

  1.  Yang tidak ada manfaatnya.

Jumhur ulama tidak memperbolehkan. Namun bila ada unsur kemanfaatan yang lain, seperti untuk bulu panah dan yang semisalnya maka diperbolehkan. Wallahu a’lam.

 

Masalah 25: Jual beli hasyarat (serangga, hewan kecil)

Tentang hal ini juga ada rinciannya:

  1. Tidak ada unsur kemanfaatannya, seperti: Kumbang kelapa, kalajengking, ular berbisa, tikus, dan yang semisalnya.

Hewan seperti di atas tidak boleh diperjualbelikan karena tidak ada unsur manfaat. Juga termasuk menyia-nyiakan harta. Bahkan sebagiannya termasuk hewan yang diperintahkan untuk dibunuh, karena membahayakan.

  1. Ada unsur kemanfaatannya seperti: cacing untuk memancing ikan, lintah untuk menyerap darah kotor akibat gigitan anjing, atau yang semisalnya.

Yang rajih di antara pendapat ulama adalah boleh diperjualbelikan untuk kemanfaatan tersebut. Ini adalah pendapat mazhab hanbali dan pendapat yang shahih pada madzhab Syafi’i.

Masalah 26: Jual beli ulat sutra dan benihnya

Ada perbedaan pendapat di kalangan ulama:

  1. Jumhur berpendapat boleh, karena dia adalah hewan yang suci.
  2. Abu hanifah berpendapat tidak boleh. Dalam riwayat lain disebutkan, boleh bila disertai sutranya. Bila tidak, maka tidak boleh diperjualbelikan karena termasuk serangga yang tidak ada kemanfatannya.

Yang rajih adalah pendapat jumhur ulama dan tidak ada yang melarangnya kecuali abu hanifah saja.

Masalah 27: Jual beli lebah

Ada perbedaan pendapat di kalangan ulama:

  1. Jumhur ulama berpendapat boleh, karena suci dan bermanfaat.
  2. Abu Hanifah berpendapat tidak boleh, kecuali dengan madunya.
    Yang rajih adalah pendapat jumhur ulama.

Masalah 28: Jual beli lebah dalam sarangnya

Bila diketahui jumlahnya berdasarkan pengalaman seorang ahli atau dilihat dari keluar masuknya, maka diperbolehkan. Bila tidak diketahui, maka sebagian ulama melarangnya karena termasuk jual beli sesuatu yang majhul (tidak diketahui).

Masalah 29: Jual beli ular

Tidak diperbolehkan, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk membunuhnya.

Bila telah dibunuh, apakah boleh diperjualbelikan? Jawabannya: Tetap tidak boleh, karena termasuk kategori bangkai, sementara bangkai tidak boleh diperjualbelikan.

Masalah 30: Jual beli perkara mubah yang ada unsur keharamannya, seperti sepeda yang ada musiknya, mobil yang ada gambar makhluk bernyawa, dan yang semisalnya.

Dalam masalah ini ada rinciannya:

  1. Bila yang dituju dalam jual beli adalah perkara yang haram tersebut, seperti musik atau gambar bernyawanya, maka hukumnya haram.
  2. Bila yang dituju adalah barang-barang yang mubah, maka diperbolehkan. Dengan syarat, menghilangkan perkara yang haram tadi, dengan mencongkel alat musiknya atau merusak gambarnya.

Masalah 31: Jual beli majalah atau koran yang ada gambar makhluk bernyawa

Masalah ini ada 2 macam:

  1.  Majalah atau surat kabar yang penuh dengan gambar wanita telanjang atau semi telanjang.

Jual beli majalah seperti ini hukumnya haram, sebab gambar itulah yang dijadikan sajian utamanya. Juga merupakan jalan menuju kepada tindakan keji dan kejahatan, sekaligus termasuk perbuatan tolong-menolong di atas dosa dan permusuhan. Demikian fatwa Al-Lajnah Ad-Da`imah (no 8321 dan 14816).

  1. Majalah atau surat kabar harian atau yang berisikan berita politik dan yang semisalnya.

Asy-Syaikh Ibnu Baz dan Asy-Syaikh Ibnul ‘Utsaimin menjelaskan bahwa hal ini tidak mengapa. Karena gambar (makhluk bernyawa) tersebut bukanlah sajian utamanya, bukan pula maksud dia membelinya.

Rincian di atas dikomentari oleh Syaikhuna Abdurrahman Al-‘Adani dengan ucapannya: “Rincian yang bagus.” Wallahul muwaffiq.

Jual Beli Air

Diriwayatkan oleh Ahmad (3/417 dan 4/138), Abu Dawud (no. 3478), An-Nasa`i (no. 4662), dan At-Tirmidzi (no. 1271) dengan sanad yang dishahihkan Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i dalam Shahihul Musnad (1/100) dari Iyas bin Abdullah:

“Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual beli sisa air.”

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahihnya (1565) dari Jabir radhiallahu ‘anhu dengan lafadz yang semakna. Diriwayatkan juga dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu (Muttafaqun ‘alaih) dengan lafadz:

“Tidak boleh dihalangi dari kelebihan air sehingga menghalangi kelebihan rerumputan.”

Maksudnya, janganlah melarang orang memberi minum ternaknya, karena akan berakibat mereka terhalang menggembalakan ternaknya di sana. (Karena mereka tidak tidak bisa menggembalakan ternak kecuali bila mendapatkan air untuk ternaknya itu, ed). Wallahu a’lam.

Masalah jual beli air ada perincian di kalangan ulama sebagai berikut:

  1. Air yang telah ditampung oleh seseorang dalam jerigen, gentong, tandon, atau tempat-tempat yang lain

Ada perbedaan pendapat di kalangan ulama:

  1. Sebagian Syafi’iyah berpendapat, air yang tertampung dalam sebuah tempat, maka si empunya lebih berhak atas air tersebut daripada orang lain. Hanya saja air itu tidak boleh dimiliki dan dijual.
  2. Ibnu Hazm melarang jual beli air secara mutlak, berpegang dengan dzahir hadits di atas.
  3. Jumhur ulama menyatakan kebolehannya, dengan dasar hadits Az-Zubair bin Al-’Awwam radhiallahu ‘anhu, riwayat Al-Bukhari:

“Sungguh salah seorang di antara kalian mengambil talinya, lalu memikul seikat kayu kering di atas punggungnya kemudian menjualnya hingga Allah menahan wajahnya dengan itu, lebih baik daripada mengemis (meminta-minta) kepada orang yang entah diberi ataukah tidak.”

Hadits ini menunjukkan bolehnya berjual beli idzkhir (nama sejenis tanaman), padahal idzkhir termasuk kategori al-kala`. Demikian pula air jika sama-sama sudah ditampung di tempatnya. Keduanya masuk dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Manusia[2] berserikat (kongsi) dalam 3 perkara: air, rumput/tetumbuhan, dan api.”

Yang rajih adalah pendapat jumhur ulama. Atas dasar ini, bila ada seseorang yang datang ke padang pasir luas dan tak bertuan, lalu dia menemukan mata air, sumur atau yang semisalnya kemudian dipagari sebagai tanda kepemilikannya, lalu dia pasang pompa air, pipa dan peralatan lainnya, maka dia boleh menjualnya.

  1. Danau dan sungai besar

Air seperti ini tidak boleh dimiliki dan diperjualbelikan, karena semua orang berhak atas air itu. Sampai-sampai kalangan Syafi’iyah menyatakan: “Jual beli air yang demikian hanya menghambur-hamburkan harta.”

 

Masalah 32: Sungai kecil dan mata air yang mengalir di perbukitan/ pegunungan

Air seperti ini tidak boleh diperjual belikan, karena semua orang berhak atasnya. Yang paling berhak adalah yang paling dekat dengan air tersebut. Dia boleh menyirami tanaman dan mengairi sawahnya hingga mencapai kedua mata kakinya, lalu dialirkan ke tetangganya. Dengan dasar hadits Az-Zubair radhiallahu ‘anhu, riwayat Al-Bukhari dan lainnya:

“Airi (sawahmu) wahai Zubair, hingga air kembali ke al-jadr[3] lalu alirkan ke tetanggamu.”

Kembalinya air sampai ke al-jadr diukur oleh para ulama adalah setinggi kedua mata kaki.

  1. Sumur dan mata air yang mengalir dari tanah berpemilik

Ada perbedaan pendapat di kalangan ulama:

  1. Satu riwayat dari Ahmad, satu sisi pendapat dari Syafi’iyah, dan ini adalah pendapat sejumlah ulama dan dinisbatkan kepada jumhur ulama: Boleh dimiliki dan diperjualbelikan, sedangkan orang lain tidak mempunyai hak, selain pemiliknya.
  2. Riwayat lain dari Ahmad, dzahir madzhab Hambali, dan satu sisi pendapat Syafi’iyah. Dan ini adalah pendapat yang dipegang oleh kalangan ulama ahli tahqiq: Tidak boleh dimiliki dan diperjualbelikan. Namun si empunya lebih berhak atas air tersebut. Dia ambil secukupnya untuk keluarga, tanaman dan hewan ternaknya, lalu diberikan kepada orang lain.

Pendapat inilah yang rajih, karena keumuman hadits di atas yang melarang jual beli sisa air. Namun ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:

– Bila dia yang menggali sumur itu hingga memancarkan air dan mengeluarkan biaya untuk itu, dia boleh melarang orang lain untuk mengambil air dari sumurnya sampai kembali biaya yang dikeluarkannya. Ini adalah fatwa Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i.

– Bila sumur tadi tidak mencukupi kebutuhan dia sehari-hari, dia diperbolehkan melarang orang yang datang untuk mengambil airnya. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya melarang jual beli sisa air, sementara dalam kondisi ini tidak ada air yang tersisa.

–  Bila sumur tadi berada di dalam rumah, sedangkan keluar masuknya orang lain akan membuat keluarganya terlihat atau merasa keberatan, dia boleh melarang orang untuk masuk kecuali pada waktu-waktu tertentu.

Wallahu a’lam bish-shawab.

(Bersambung syarat ke 4….)

[1]  Dalam masalah ini ada pendapat lain yang membolehkan jual beli monyet jika bisa dimanfaatkan, seperti untuk jaga toko. (Syarhul Buyu’, hal .18, -ed)

[2]  Hadits ini dengan lafadz tersebut yaitu an-naas (manusia) dihukumi syadz (ganjil/keliru) oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah. Riwayat yang benar adalah dengan lafadz al-muslimun (kaum muslimin). Lihat Al-Irwa` (6/6-8). –ed

[3]  Makna al-jadr adalah pangkal pohon korma atau penahan air, -ed.

 

Jual Beli Sesuai Tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (1)

Salah satu bentuk interaksi antar manusia yang paling sering dijumpai adalah jual beli. Oleh karena itulah, Islam mengatur ini semua agar terwujud tatanan kehidupan yang sarat dengan keadilan.

Termasuk rahmat Allah subhanahu wa ta’ala kepada segenap umat manusia adalah dihalalkannya jual beli di kalangan mereka dalam rangka melestarikan komunitas Bani Adam hingga hari penghabisan. Serta melanggengkan hubungan antar mereka sebagai makhluk yang membutuhkan orang lain. Lalu bagaimanakah jual beli yang sesuai petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu?

Secara global, kajian berikut akan mengupas pokok-pokok kaidah dalam masalah ini disertai beberapa rincian seperlunya. Wallahul muwaffiq lishshawab.

Definisi bai’ (Jual Beli)

Secara bahasa adalah pertukaran harta dengan harta.

Secara syariat, makna  bai) telah disebutkan beberapa definisinya oleh para fuqaha (ahli fiqh). Definisi terbaik adalah: Pertukaran/pemilikan harta dengan harta berdasarkan saling ridha melalui cara yang syar’i. (Syarah Buyu’,hal.1)

Hukum Jual Beli

Hukum asal jual beli adalah halal dan boleh, hingga ada dalil yang menjelaskan keharamannya. Dalil kebolehannya adalah al-Qur`an, hadits, dan ijma’ ulama.
Dalil dari al-Qur`an di antaranya firman Allah subhanahu wa ta’ala:

وَأَحَلَّ ٱللَّهُ ٱلۡبَيۡعَ وَحَرَّمَ ٱلرِّبَوٰاْۚ

“Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba…” (al-Baqarah: 275)

Adapun hadits, di antaranya sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

        “Sesungguhnya jual beli itu dengan sama-sama ridha.” (HR. Ibnu Majah no. 2185, dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu, dari jalan Abdul ‘Aziz bin Muhammad, dari Dawud bin Shalih Al-Madani, dari ayahnya, dari Abu Sa’id. Sanadnya shahih, lihat Al-Irwa` 1283)

Para ulama di sepanjang masa dan di belahan dunia manapun telah sepakat tentang bolehnya jual beli. Bahkan ini merupakan kesepakatan segenap umat, sebagaimana dinukil oleh Al-Imam An-Nawawi.

Syarat-syarat Jual Beli

Jual beli dianggap sah secara syar’i bila memenuhi beberapa persyaratan berikut:

  1. Keridhaan kedua belah pihak (penjual dan pembeli).
  2. Yang melakukan akad jual beli adalah orang yang memang diperkenankan menangani urusan ini.
  3. Barang yang diperjualbelikan harus halal dan ada unsur kemanfaatan yang mubah.
  4. Barang yang diperjualbelikan dapat diserahterimakan.
  5. Akad jual beli dilakukan oleh pemilik barang atau yang menggantikan kedudukannya (yang diberi kuasa).
  6. Barang yang diperjualbelikan ma’lum (diketahui) dzatnya, baik dengan cara dilihat atau dengan sifat dan kriteria (spesifikasinya).

Masing-masing syarat di atas mengandung sekian banyak permasalahan yang terkaitan dengan jual beli. Jika dirinci, akan diketahui mana mekanisme yang diperbolehkan dan mana yang terlarang secara syar’i. Bila telah tuntas uraiannya, yang tersisa hanya beberapa bab saja dalam masalah jual beli, seperti bab Khiyarat dan Riba.

Karena keterbatasan lembar majalah ini, maka akan kami uraikan seperlunya dan kami sebutkan masalah-masalah yang masyhur saja, bi idznillahi ta’ala (dengan izin Allah subhanahu wa ta’ala).

SYARAT PERTAMA

Keridhaan Kedua Belah Pihak

Dalil persyaratan ini disebutkan dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَأۡكُلُوٓاْ أَمۡوَٰلَكُم بَيۡنَكُم بِٱلۡبَٰطِلِ إِلَّآ أَن تَكُونَ تِجَٰرَةً عَن تَرَاضٖ مِّنكُمۡۚ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kailan saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan saling ridha di antara kalian.” (an-Nisa`: 29)

Juga dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

        “Sesungguhnya jual beli itu dengan keridhaan.”

Akal yang sehatpun menerima persyaratan ini. Karena jika tidak ada persyaratan ini, maka masing-masing orang akan saling mendzalimi dan bertindak melampaui batas terhadap orang lain.

Masalah 1: Jual beli orang yang dipaksa

Jumhur ulama berpendapat bahwa jual beli orang yang dipaksa hukumnya tidak sah. Mereka berhujjah dengan ayat dan hadits di atas, juga dengan hadits berikut:

Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala memaafkan dari umatku tindakan kesalahan, kealpaan, dan keterpaksaan.” (HR. Ibnu Majah 2045 dan Al-Baihaqi dalam Al-Kubra 7/356-357 dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma dengan sanad hasan karena banyak penguatnya. Lihat Nashbur Rayah, 4/64-66, dan Al-Maqashidul Hasanah hal. 369-371, no. 528)

Termasuk faedah dalam bab ini adalah jual beli seseorang karena malu, sebab tidak terwujud persyaratan keridhaan padanya.

Masalah 2: Jual beli orang yang bergurau

Misalnya, ada orang bergurau dengan orang lain, dia berkata: “Saya jual mobilku kepadamu dengan harga Rp. 500 ribu.” Jual beli seperti ini tidak sah, karena tidak ada niatan jual beli dan juga tidak ada keridhaan dari sang penjual.
Kita bisa mengetahui sang penjual sedang bergurau dengan qarinah (tanda/bukti-bukti). Bila tidak ada tanda-tanda gurauan, maka jual belinya sah. Sang penjual harus bisa mendatangkan bukti-bukti yang kuat bahwa dia tengah bergurau.

Masalah 3: Jual beli dengan orang yang tengah membutuhkan (uang)

Ada perbedaan pendapat di kalangan para ulama tentang masalah ini:

  1.  Jumhur ulama berpendapat, jual beli seperti ini sah namun makruh. Sebab, umumnya orang yang sedang butuh akan menjual barangnya dengan harga murah.
  2.  Al-Imam Ahmad, dikuatkan oleh Al-Imam Asy-Syaukani, berpendapat, haram hukumnya jual beli dengan orang yang sedang butuh. Beliau berhujjah dengan hadits:

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual beli orang yang sedang butuh.”

  1.  Syaikhul Islam (Ibnu Taimiyyah) berpendapat, jual belinya sah tanpa ada hukum makruh. Sebab, jika dilarang membeli barang orang yang tengah membutuhkan tadi, justru akan menambah mudharat (kesusahan) bagi yang bersangkutan.
    Yang rajih (pendapat yang kuat), insya Allah, adalah pendapat Ibnu Taimiyyah. Karena, hadits yang dijadikan hujjah untuk melarang sanadnya dha’if. Hadits itu diriwayatkan oleh Sa’id bin Manshur, Abu Dawud dan Al-Baihaqi, dari jalan seorang syaikh dari Bani Tamim, dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu.

Sanad ini didha’ifkan karena tidak diketahui siapa syaikh di atas. Meski ada penguat lain dari shahabat Hudzaifah bin Al-Yamanz, yang diriwayatkan oleh Sa’id bin Manshur, namun dalam sanadnya ada perawi yang bernama Kautsar bin Hakim, di mana dia matruk (ditinggalkan hadits–nya). Sanadnya juga terputus antara Makhul dan Hudzaifah. Wallahu a’lam.

Ijab Qabul dalam Jual Beli

Termasuk dalam persyaratan pertama ini adalah masalah-masalah yang berkaitan dengan ijab qabul. Ijab adalah ucapan penjual: “Saya jual”, sedangkan qabul adalah ucapan pembeli: “Saya terima.”

Masalah 4: Apakah disyaratkan lafadz-lafadz tertentu dalam jual beli?

Ada perbedaan pendapat di kalangan ulama:

  1. Pendapat Al-Imam Asy-Syafi’i dan satu pendapat dalam madzhab Ahmad: Tidak sah jual beli kecuali dengan lafadz ijab dan qabul. Mereka beralasan bahwa ridha adalah perkara batin, dan kita tidak mungkin tahu adanya keridhaan dengan semata-mata perbuatan tanpa lafadz. Diamnya sang penjual terkadang karena kelalaiannya, dianggap akadnya main-main, atau diam untuk melihat sejauh mana sang pembeli mematok harganya.

Yang mendekati pendapat ini adalah pendapat Ibnu Hazm: Tidak sah kecuali dengan lafadz “Saya jual” atau “Saya beli”.

  1. Pendapat Abu Hanifah, satu pendapat dalam madzhab Ahmad, dan satu sisi pendapat Syafi’iyah: Jual belinya tetap sah dengan tindakan tanpa lafadz tertentu dalam perkara-perkara yang sering terjadi padanya jual beli, dengan ketentuan barangnya remeh, tidak besar, atau mahal.

Menurut mereka, jual beli barang yang besar atau mahal tidak sah kecuali dengan lafadz ijab dan qabul.

  1. Pendapat Malik, Ahmad, sejumlah ahli tahqiq dari kalangan Syafi’iyah, seperti Ar-Ruyani. Pendapat ini juga dikuatkan oleh Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qayyim, Ash-Shan’ani, dan Asy-Syaukani: Jual beli sah dengan apa saja yang dianggap oleh masyarakat sebagai jual beli, baik dengan lafadz atau dengan perbuatan.

Pendapat inilah yang rajih, sebab masalah ini tidak ditentukan batasannya secara syar’i atau bahasa Arab. Sehingga dikembalikan kepada kebiasaan masyarakat setempat. Kaidah umum menyatakan bahwa segala sesuatu yang tidak ditentukan batasannya secara syar’i atau bahasa, maka dikembalikan kepada kebiasaan masyarakat.

Masalah 5: Bila masalah di atas telah dipahami, jual beli mu’athah yang disebutkan dalam kitab-kitab fiqh adalah sah.

Gambaran mu’athah adalah: Pembeli memberikan uang kepada penjual dan mengambil barang tanpa lafadz ijab qabul.

Mu’athah ini bisa dari sang penjual. Misalnya, pembeli berkata: “Apakah kamu menjual barang ini kepadaku dengan harga sekian?” Lalu penjual memberikan barang-nya tanpa mengucapkan lafadz: “Saya terima.”

Mu’athah juga bisa dari sang pembeli. Misalnya, sang penjual berkata: “Maukah kamu membeli barang ini dengan harga sekian?” Lalu sang pembeli mengeluarkan uang dan mengambil barang tadi tanpa lafadz ijab qabul.

Masalah 6: Bila sang pembeli berkata kepada penjual dalam bentuk pertanyaan: “Apakah engkau menjual barangmu ini?” Lalu penjual mengatakan: “Saya terima.”

Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan para ulama bahwa akad ini tidak sah, karena tidak diketahui keridhaan sang pembeli. Demikian yang dinukilkan Ibnu Qudamah dan yang lainnya.

 

Masalah 7: Jual beli dalam bentuk janji

Misalnya, sang penjual berkata: “Maukah engkau membeli barang ini dengan harga sekian?” Pembeli berkata: “Nanti akan saya beli.”

Janji seperti ini tidak dianggap sebagai akad jual beli, bagaimanapun bentuknya. Penjual tidak diharuskan menyimpan barang tadi (artinya dia boleh menjualnya kepada orang lain). Pembeli pun tidak diharuskan membeli barang tadi, walaupun telah menyerahkan DP (downpayment,persekot/uang muka). Wallahu a’lam.

 

Jual Beli Menggunakan Alat-alat Modern Masa Kini

Termasuk dalam bab ini adalah jual beli dengan piranti masa kini.

Masalah 8: Jual beli lewat telepon

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah pernah menyebutkan satu masalah: Jika ada dua orang yang saling berbicara dari tempat jauh, satu sama lain tidak saling melihat, yang terdengar hanyalah suaranya saja dan pembicaraannya adalah masalah akad jual beli, maka akadnya adalah sah.

Demikian pula lewat telepon. Dengan syarat, aman dari penipuan suara. Jika terjadi penipuan, maka dikembalikan kepada kaidah-kaidah umum jual beli.

Masalah 9: Jual beli lewat telegram, faksimili, atau Short Message Service (SMS)

masalah ini masuk dalam permasalahan jual beli lewat tulisan yang diperbincangkan para fuqaha.

  1.  Kalangan Syafi’iyah dan Hanabilah berpendapat tidak boleh. Karena adanya kemungkinan penipuan, kecuali bagi yang tidak mampu seperti orang bisu.
  2.  Kalangan Hanafiyah, Malikiyah, dan pendapat sejumlah ahli tahqiq dari kalangan Syafi’iyah dan Hanabilah, bahwa jual belinya tetap sah, bila kedua belah pihak saling mempercayai dan aman dari penipuan. Umumnya, alat-alat ini sendiri terpercaya di kalangan masyarakat.

Pendapat inilah yang rajih (kuat). Karena yang dimaksud dalam jual beli adalah keridhaan. Dan keridhaan bisa dengan lafadz atau perbuatan, seperti tulisan. Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan kita untuk menulis hutang piutang dan mendahulukan tulisan daripada gadai, dalam firman-Nya:

وَإِن كُنتُمۡ عَلَىٰ سَفَرٖ وَلَمۡ تَجِدُواْ كَاتِبٗا فَرِهَٰنٞ مَّقۡبُوضَةٞۖ

“Jika kamu dalam perjalanan (dan bermuamalah tidak secara tunai) sedangkan kalian tidak memperoleh seorang penulis, maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang).” (al-Baqarah: 283)

Perhatian: Ini semua dengan satu syarat penting, yakni barang-barang yang dibeli tidak termasuk barang-barang yang disyaratkan harus diserah terimakan di tempat. Pembahasan masalah ini, insya’ Allah, dalam bab Riba.

Faedah: Saya (penulis) pernah bertanya kepada Syaikhuna (guru saya) Abu Abdillah Abdurrahman Mar’i Al-’Adani hafizhahullahu wa syafaahu sewaktu di Yaman, di Masjid Mazra’ah perumahan keluarga di Dammaj, tentang masalah jual beli lewat internet (secara online). Beliau menjawab (secara makna): “Tidak apa-apa, selama barang yang dibeli tersebut tidak termasuk barang yang harus diserah terimakan di tempat.” Wallahu a’lam.

SYARAT KEDUA

Orang yang melakukan akad adalah orang yang diperbolehkan menangani urusan tersebut

Dalam hal ini adalah seorang yang berakal dan baligh. Dengan syarat ini, ada beberapa orang yang diperbincangkan para ulama tentang akad jual beli mereka. Di antaranya adalah:

  1. Orang Gila

Para ulama telah sepakat bahwa akad jual beli orang gila tidaklah sah. Demikian pula orang yang sedang pingsan, dengan dasar hadits:

“Pena (takdir) diangkat dari 3 orang….”

Namun bila penyakit gilanya tidak menentu (kadang kambuh, kadang normal), maka di saat gila, tidak sah akad jual belinya. Dan di saat dia sadar, maka akadnya sah.

  1. Orang yang sedang Mabuk

Ada dua keadaan:

  1.  Mabuk secara menyeluruh (hilang ingatan)

Ada perbedaan pendapat di kalangan para ulama:

–    Jumhur ulama berpendapat, tidak sah jual belinya, karena hilang ingatan dan akalnya.

–    Kalangan Hanafiyah, Syafi’iyah dan satu riwayat dari Ahmad berpendapat sah, sebagai hukuman atasnya. Mereka juga beralasan: Siapa yang tahu dia itu mabuk? Jangan-jangan dia hanya berpura-pura saja.

Yang rajih adalah pendapat jumhur, karena keadaan dia seperti orang gila, maka masuk pada hadits di atas.

2.  Mabuk tidak menyeluruh (tidak hilang ingatannya)

Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan para ulama, bahwa jual belinya sah.

  1. Anak Kecil

        Ada 2 keadaan:

  1.  Belum mumayyiz (memahami dan membedakan)

                Tidak ada perbedaan pendapat tentang ketidaksahan akad jual belinya.

2.  Telah mumayyiz

Ada perbedaan pendapat di kalangan para ulama:

  1. Asy-Syafi’i dan Abu Tsaur berpendapat: Tidak sah jual belinya walaupun seizin walinya.
  2. Jumhur ulama berpendapat: Bila dengan izin dari sang wali, maka sah.

Mereka mensyaratkan, anak kecil itu tidak tertipu dengan tingkat penipuan yang parah. Bila hal ini terjadi, maka sang wali punya hak untuk meminta kembali barang yang dijual dari sang pembeli. Pada kasus seperti ini tidak sah akad jual belinya.

Faedah: Al-Imam Ahmad dan Ishaq bin Rahawaih membolehkan anak kecil berjual beli barang-barang yang remeh walaupun tanpa seizin wali. Adapun barang-barang yang mahal/besar, maka harus dengan izin wali. Wallahu a’lam bishshawab.

(bersambung bagian 2. “Syarat ke 3”)

Jual Beli Agama Ditengah Derasnya Badai Fitnah dan Mahalnya Sebuah Hidayah

Mahalnya Sebuah Hidayah

Bila menengok tatanan kehidupan umat manusia di masa jahiliyah, niscaya akan didapati potret kehidupan yang multi krisis. Sebuah kehidupan, yang umat manusianya dirundung kegalauan spiritual dan kepincangan intelektual. Tingkah polahnya sangat jauh dari norma-norma agama yang luhur dan fitrah suci. Sementara corak kehidupannya adalah kebejatan akhlaq dan dekadensi moral. Sehingga kesyirikan –yang merupakan dosa paling besar di sisi Allah– merajalela. Demikian pula pembunuhan, kezhaliman, perzinaan dan berbagai macam bentuk kemaksiatan lainnya tumbuh subur bak jamur di musim hujan. Tak ayal, bila masa itu kemudian dikenal dengan masa jahiliyah.

Di kala umat manusia berada dalam kegersangan hati dan haus akan siraman rohani inilah, Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang mengutus Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, membawa petunjuk ilahi dan agama yang benar serta kitab suci al-Qur`an. Dengan sebuah misi mulia: mengentaskan umat manusia dari jurang kejahiliyahan yang gelap gulita menuju cahaya Islam yang terang benderang. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

هُوَ ٱلَّذِيٓ أَرۡسَلَ رَسُولَهُۥ بِٱلۡهُدَىٰ وَدِينِ ٱلۡحَقِّ لِيُظۡهِرَهُۥ عَلَى ٱلدِّينِ كُلِّهِۦ وَلَوۡ كَرِهَ ٱلۡمُشۡرِكُونَ

“Dialah (Allah subhanahu wa ta’ala) yang telah mengutus Rasul-Nya dengan (membawa) petunjuk dan agama yang benar, agar Allah subhanahu wa ta’ala memenangkan agama tersebut atas semua agama yang ada, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukainya.” (ash-Shaff: 9)

يَٰٓأَهۡلَ ٱلۡكِتَٰبِ قَدۡ جَآءَكُمۡ رَسُولُنَا يُبَيِّنُ لَكُمۡ كَثِيرٗا مِّمَّا كُنتُمۡ تُخۡفُونَ مِنَ ٱلۡكِتَٰبِ وَيَعۡفُواْ عَن كَثِيرٖۚ قَدۡ جَآءَكُم مِّنَ ٱللَّهِ نُورٞ وَكِتَٰبٞ مُّبِينٞ ١٥ يَهۡدِي بِهِ ٱللَّهُ مَنِ ٱتَّبَعَ رِضۡوَٰنَهُۥ سُبُلَ ٱلسَّلَٰمِ وَيُخۡرِجُهُم مِّنَ ٱلظُّلُمَٰتِ إِلَى ٱلنُّورِ بِإِذۡنِهِۦ وَيَهۡدِيهِمۡ إِلَىٰ صِرَٰطٖ مُّسۡتَقِيمٖ ١٦

“Hai Ahli Kitab, telah datang kepada kalian Rasul kami, menjelaskan kepada kalian banyak dari al-Kitab yang kalian sembunyikan dan banyak pula yang dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepada kalian cahaya dari Allah dan kitab yang menerangkan (al-Qur`an). Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya kepada jalan keselamatan. Dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari kegelapan menuju cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” (al-Ma`idah: 15-16)

Namun hidayah itu sangat mahal harganya. Tak setiap orang bisa mendapatkannya. Karena itu, Allah memerintahkan para hamba untuk selalu memohon hidayah tersebut dalam setiap rakaat shalat mereka. Dengan sebuah lantunan doa dan harapan:

ٱهۡدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ ٦

“Tunjukilah kami jalan yang lurus.” (al-Fatihah: 6)

Bahkan tatkala hidayah ilahi telah didapatkan, Allah subhanahu wa ta’ala perintahkan pula para hamba untuk memohon keteguhan hati (istiqamah) di atasnya. Karena tak setiap orang yang telah mendapatkan hidayah tersebut dapat istiqamah di atasnya.Allah perintahkan dengan sebuah lantunan doa:

رَبَّنَا لَا تُزِغۡ قُلُوبَنَا بَعۡدَ إِذۡ هَدَيۡتَنَا وَهَبۡ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحۡمَةًۚ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡوَهَّابُ ٨

“Wahai Rabb kami, janganlah Engkau sesatkan hati-hati kami setelah Engkau beri kami hidayah dan karuniakanlah kepada kami kasih sayang dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau adalah Dzat Yang Maha Pemberi.” (ali ‘Imran: 8)

Betapa mahalnya nikmat hidayah tersebut. Oleh karenanya, Allah subhanahu wa ta’ala selalu mengingatkan para hamba untuk mensyukurinya, dengan berpegang teguh terhadap agama-Nya dan tidak bercerai-berai. Sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:

وَٱعۡتَصِمُواْ بِحَبۡلِ ٱللَّهِ جَمِيعٗا وَلَا تَفَرَّقُواْۚ وَٱذۡكُرُواْ نِعۡمَتَ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ إِذۡ كُنتُمۡ أَعۡدَآءٗ فَأَلَّفَ بَيۡنَ قُلُوبِكُمۡ فَأَصۡبَحۡتُم بِنِعۡمَتِهِۦٓ إِخۡوَٰنٗا وَكُنتُمۡ عَلَىٰ شَفَا حُفۡرَةٖ مِّنَ ٱلنَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنۡهَاۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمۡ ءَايَٰتِهِۦ لَعَلَّكُمۡ تَهۡتَدُونَ ١٠٣

“Dan berpegang teguhlah kalian dengan tali (agama) Allah secara bersama-sama dan jangan bercerai-berai. Ingatlah akan nikmat Allah yang telah dicurahkan kepada kalian, ketika kalian dahulu bermusuhan lalu Allah menyatukan hati-hati kalian sehingga kalian menjadi bersaudara dengan nikmat tersebut, dan (juga) kalian dahulu berada di tepi jurang neraka lalu Allah selamatkan kalian darinya. Demikianlah Allah subhanahu wa ta’ala menerangkan tanda-tanda kekuasaan-Nya kepada kalian agar kalian mendapat hidayah.” (ali ‘Imran: 103)

Badai Fitnah yang Menghempaskan

Seiring dengan mahalnya hidayah ilahi yang tak didapat oleh setiap hamba Allah, ternyata kehidupan dunia ini tak pernah lengang dari fitnah dan ujian. Badai fitnah dan hempasannya yang amat kuat merupakan suatu realita yang harus dihadapi oleh setiap anak manusia, terlebih seorang muslim. Militansinya akan selalu diuji. Eksistensi keimanannya pun akan senantiasa digoyang. Semua itu untuk membuktikan siapa yang tergolong jujur dalam keimanannya dan siapa pula yang berdusta. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتۡرَكُوٓاْ أَن يَقُولُوٓاْ ءَامَنَّا وَهُمۡ لَا يُفۡتَنُونَ ٢ وَلَقَدۡ فَتَنَّا ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡۖ فَلَيَعۡلَمَنَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ صَدَقُواْ وَلَيَعۡلَمَنَّ ٱلۡكَٰذِبِينَ ٣

“ Apakah manusia mengira mereka dibiarkan berkata: ‘Kami telah beriman’ sedangkan mereka tidak diuji? Sungguh Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka agar Allah subhanahu wa ta’ala melihat siapakah orang-orang yang jujur (dalam keimanannya) dan siapa (pula) yang berdusta.” (al-’Ankabut: 2-3)

Para pembaca yang mulia, bagaimanakah datangnya badai fitnah itu?
Datangnya fitnah itu ibarat potongan-potongan malam. Tatkala datang sepotong darinya, maka keadaan pun menjadi gelap. Dan setiap kali datang potongan berikutnya semakin gelap pula keadaannya. Demikianlah seterusnya, kegelapan di atas kegelapan. Hingga seseorang benar-benar merasa kesulitan untuk membedakan mana yang haq dan mana yang batil. Mana yang halal dan mana yang haram. Wallahul Musta’an. Hal ini sebagaimana yang disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Bergegaslah kalian untuk beramal, (karena akan datang) fitnah-fitnah ibarat potongan-potongan malam. Di pagi hari seseorang dalam keadaan beriman dan sore harinya dalam keadaan kafir. Di sore hari dalam keadaan beriman dan keesokan harinya dalam keadaan kafir. Dia menjual agamanya dengan sesuatu dari (gemerlapnya) dunia ini.” (HR. Muslim no.118, dari shahabat Abu Hurairah rahimahullah)

Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi Al Madkhali hafizhahullah berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seorang yang jujur lagi terpercaya telah memberitakan kepada kita dalam banyak haditsnya, termasuk hadits Abu Hurairah rahimahullah (diatas-pen) tentang munculnya berbagai macam fitnah di tengah umat ini. Dan benar-benar telah terjadi berbagai macam fitnah besar yang sangat kuat hempasannya terhadap aqidah dan manhaj (prinsip beragama) umat Islam, mencabik-cabik keutuhan mereka, menyebabkan pertumpahan darah di antara mereka dan menjatuhkan kehormatan mereka. Bahkan benar-benar telah menjadi kenyataan (pada umat ini) sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“ Sungguh kalian akan mengikuti jalan/jejak orang-orang sebelum kalian (Yahudi dan Kristen-pen) sejengkal dengan sejengkal dan sehasta dengan sehasta[1]. Sampai-sampai jika mereka masuk ke liang binatang dhab (sejenis biawak yang hidup di padang pasir-pen) pasti kalian akan mengikutinya.”

Beliau juga berkata: “Di negeri-negeri kaum muslimin, saat ini telah bermunculan berbagai macam fitnah, seperti komunis, liberal, sekuler, ba’ts (sosialis), dan demokrasi dengan segala perangkatnya. Kelompok sesat Syi’ah Rafidhah dan Khawarij pun semakin gencar menghembuskan racun-racun yang dahulu disembunyikannya. Sebagaimana pula telah muncul kelompok sesat Qadiyaniyyah dan Baha`iyyah.” (Haqiqah Al-Manhaj Al-Wasi’ ‘Inda Abil Hasan, hal. 2)

Para pembaca yang mulia, dari keterangan di atas jelaslah bagi kita bahwa badai fitnah yang menghempaskan itu terkadang dalam bentuk iming-iming harta dan dunia (fitnah syahawat), dan terkadang pula dalam bentuk kerancuan berfikir (fitnah syubuhat) yang dihembuskan oleh para penyeru kesesatan. Hanya Allah-lah satu-satunya tempat berlindung dari kedua jenis fitnah tersebut, baik yang tampak maupun yang tidak tampak.

Fenomena Fitnah di Era Globalisasi

Era globalisasi dan industrialisasi kian hari semakin pesat. Laju modernisasi yang kerap kali bertajuk ‘pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK)’ terus bergulir sesuai dengan visi dan misinya. Sarana informasi, komunikasi, dan transportasi pun kian hari semakin mengglobal, yang menjadikan dunia ini bak sebuah kampung yang mudah untuk berinteraksi dan berkomunikasi. Fenomena ini, tentunya memberikan kemudahan tersendiri bagi umat manusia dalam melakukan berbagai aktivitasnya. Namun di sisi lain, tak bisa dipungkiri mempunyai dampak negatif yang cukup serius bagi moralitas mereka.

Hal ini nampak jelas bila kita mencermati salah satu saja dari jargon era globalisasi dan industrialisasi semisal Pasar Bebas yang kondisinya semakin hari semakin ‘menggila’. Para mafia dan preman berdasi pun tak ketinggalan untuk meramaikannya. Sehingga tak mengherankan bila dunia bisnis dan perdagangan industri saat ini banyak diwarnai oleh kasus-kasus kelabu (bahkan kelam) yang tidak selaras dengan fitrah suci dan norma-norma agama yang murni.

Fenomena di atas, galibnya sudah dimengerti oleh khalayak ramai. Namun di sana ada juga Pasar Bebas yang sejatinya sama-sama berdiri di balik ‘kecanggihan’ IPTEK dan tidak diketahui oleh kebanyakan orang, namun efeknya demikian besar bagi eksistensi keimanan seorang muslim. Tahukah anda, pasar bebas apakah itu? Ia adalah pasar bebas ideologi dan syahwat. Pasar bebas yang hakekatnya adalah perang pemikiran (ghazwul fikri), dengan umat Islam sebagai sasaran bidiknya.

Di pasar bebas yang satu inilah, ekspor-impor ideologi sesat sekaligus transfernya dapat dilakukan dengan begitu mudah. Demikian pula promosi syahwat, baik dalam bentuk wanita dengan segala aksennya ataupun hingar bingarnya fitnah dunia yang selainnya. Cukuplah televisi, parabola dan internet sebagai perwakilan global dari IPTEK yang menjadi mediator aktif bagi proyek ekspor-impor ideologi sesat dan syahwat tersebut. Hal ini semakin meyakinkan bahwa era globalisasi dan industrialisasi modern dengan laju arusnya yang sangat deras ini, setahap demi setahap dapat ‘menggerus’ agama, manhaj (prinsip beragama), dan harga diri umat Islam.

Para pembaca yang budiman, ketika genderang ghazwul fikri telah ditabuh via ‘pasar bebasnya’, maka tak ayal kesyirikan dengan berbagai merknya muncul di permukaan. Kesesatan dengan segala aksesorisnya pun meruak. Demikian pula kemurtadan dari agama Islam terus berlangsung, seiring dengan semakin gencarnya fitnah syahwat. Tentunya, ini merupakan petaka yang dapat mengancam eksistensi umat Islam di penjuru dunia.

Atas dasar itulah nampaknya posisi kita di era globalisasi ini benar-benar berada di persimpangan jalan. Persimpangan jalan antara fitnah syubhat dan fitnah syahwat. Sebuah posisi yang cukup mencemaskan. Pernahkah kita merenungkannya?! Pernahkah kita memikirkan keselamatan diri kita?! Ataukah justru kita terlena dan larut dengan laju fitnah yang amat deras arusnya itu?! Na’udzu billahi min dzalik.

Ketika Fitnah Syahwat Mengitari Kita

Fitnah syahwat (harta dan dunia) merupakan realita kehidupan yang tidak bisa dipungkiri. Bahkan keindahannya yang menggoda, merupakan bagian dari sunnatullah. Namun itu semua tak ada artinya bila dibandingkan dengan kenikmatan di negeri akhirat. Sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ ٱلشَّهَوَٰتِ مِنَ ٱلنِّسَآءِ وَٱلۡبَنِينَ وَٱلۡقَنَٰطِيرِ ٱلۡمُقَنطَرَةِ مِنَ ٱلذَّهَبِ وَٱلۡفِضَّةِ وَٱلۡخَيۡلِ ٱلۡمُسَوَّمَةِ وَٱلۡأَنۡعَٰمِ وَٱلۡحَرۡثِۗ ذَٰلِكَ مَتَٰعُ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۖ وَٱللَّهُ عِندَهُۥ حُسۡنُ ٱلۡمَ‍َٔابِ ١٤ ۞قُلۡ أَؤُنَبِّئُكُم بِخَيۡرٖ مِّن ذَٰلِكُمۡۖ لِلَّذِينَ ٱتَّقَوۡاْ عِندَ رَبِّهِمۡ جَنَّٰتٞ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَا وَأَزۡوَٰجٞ مُّطَهَّرَةٞ وَرِضۡوَٰنٞ مِّنَ ٱللَّهِۗ وَٱللَّهُ بَصِيرُۢ بِٱلۡعِبَادِ ١٥

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada segala apa yang diingini (syahawat), yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak berupa emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak,dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; Dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). Katakanlah: ‘Maukah aku kabarkan kepada kalian apa yang lebih baik dari itu semua?’ Bagi orang-orang yang bertakwa (kepada Allah subhanahu wa ta’ala), di sisi Rabb mereka ada jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya. Dan (mereka dikaruniai) istri-istri yang disucikan dan keridhaan Allah subhanahu wa ta’ala. Dan Allah Maha Melihat akan para hamba-Nya.” (ali ‘Imran: 14-15)

Para pembaca yang mulia, cobalah amati apa yang ada di sekitar anda! Benarkah di sana ada fitnah syahawat? Orang yang bijak pasti akan mengatakan: ‘Benar’. Terlebih dengan semakin derasnya arus globalisasi yang kerap kali mengemas keangkaramurkaan dengan isu modernisasi dan kekinian. Bagaimana tidak?!

Slogan hidup ‘Time is money’ (waktu adalah uang) telah bercokol pada otak kebanyakan orang, termasuk umat Islam. Rumor kemiskinan dan penderitaan karena berpegang teguh dengan agama sering kali didengungkan. Sehingga tak jarang bila segala sesuatunya diukur dengan harta. Bahkan keberhasilan dan kesuksesan hidup pun mulai diteropong dari sisi yang satu ini, tanpa melirik lagi kepada kampung akhirat. Padahal di sanalah sesungguhnya keberhasilan dan kesuksesan hakiki akan terbukti. Wallahul Musta’an.

Pornografi dan pornoaksi telah menjadi hak asasi yang diperjuangkan. Wanita pekerja seks komersial dengan praktek prostitusinya berkeliaran di mana-mana. Bahkan dunia kampus pun telah mereka rambah, walaupun dengan identitas ‘ayam kampus’.

Kasak-kusuk perselingkuhan dengan segala liku-likunya sering menimpa rumah tangga. Hingar bingarnya kehidupan malam di bar/kafe/diskotik dengan pesta dansa dan dentingan gelas-gelas minuman keras mewarnai hari-hari sebagian kawula muda. Kriminalitas pun sering kali terjadi, yang tak jarang motifnya adalah urusan dunia. Hal ini mengingatkan kita akan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“ Sesungguhnya di antara tanda (datangnya) hari kiamat adalah dicabutnya ilmu agama dan tampak (tersebarnya) kebodohan, merajalelanya perzinaan dan diminumnya (baca: dipestakannya) minuman khamr. Kaum lelaki semakin berkurang, sementara kaum wanita semakin bertambah. Sampai-sampai lima puluh orang wanita dikepalai oleh satu orang lelaki.” (HR. Muslim no. 2671,dari shahabat Anas bin Malik z)

Dalam riwayat Muslim lainnya (no. 2672) dari shahabat Abdullah bin Mas’ud dan Abu Musa Al-Asy’ari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Dan banyak terjadi padanya al-harj, al-harj adalah pembunuhan.”

Demikianlah realita fitnah syahawat yang mengitari kita. Hempasannya tidak hanya menerpa orang awam atau anak jalanan semata. Bahkan orang berilmu pun nyaris terancam ketika orientasi hidupnya adalah dunia. Di mana ada ‘lahan basah’ dia pun ada di sana, walaupun harus mengikuti keinginan big bosnya yang kerap kali tak sesuai dengan hati nuraninya.

Syahdan, ketika hawa nafsu telah membelenggu fitrah sucinya maka ayat-ayat Allah (agama) dia jual dengan harga yang murah. Manhaj (prinsip agamanya) pun dia korbankan demi meraih kelayakan hidup atau kemapanan ekonomi. Dengan tegas Allah subhanahu wa ta’ala memperingatkan orang-orang berilmu dari perbuatan tersebut, sebagaimana dalam firman-Nya:

إِنَّ ٱلَّذِينَ يَكۡتُمُونَ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلۡكِتَٰبِ وَيَشۡتَرُونَ بِهِۦ ثَمَنٗا قَلِيلًا أُوْلَٰٓئِكَ مَا يَأۡكُلُونَ فِي بُطُونِهِمۡ إِلَّا ٱلنَّارَ وَلَا يُكَلِّمُهُمُ ٱللَّهُ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ وَلَا يُزَكِّيهِمۡ وَلَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٌ ١٧٤ أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ ٱشۡتَرَوُاْ ٱلضَّلَٰلَةَ بِٱلۡهُدَىٰ وَٱلۡعَذَابَ بِٱلۡمَغۡفِرَةِۚ فَمَآ أَصۡبَرَهُمۡ عَلَى ٱلنَّارِ ١٧٥

“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu Al-Kitab, dan menjualnya dengan harga yang sedikit (murah), mereka itu sebenarnya tidak memakan (tidak menelan) ke dalam perutnya melainkan api. Allah subhanahu wa ta’ala tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat, tidak akan menyucikan mereka dan bagi mereka siksa yang pedih. Mereka itulah orang-orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk dan (membeli) siksa dengan ampunan. Alangkah beraninya mereka menghadapi api neraka!”(al-Baqarah: 174-175)

Para pembaca yang mulia, sesungguhnya agama Islam tidak melarang seseorang untuk mencari sumber penghidupan. Namun jangan sampai itu semua melupakannya untuk mencari kebahagiaan negeri akhirat. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَٱبۡتَغِ فِيمَآ ءَاتَىٰكَ ٱللَّهُ ٱلدَّارَ ٱلۡأٓخِرَةَۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ ٱلدُّنۡيَاۖ وَأَحۡسِن كَمَآ أَحۡسَنَ ٱللَّهُ إِلَيۡكَۖ وَلَا تَبۡغِ ٱلۡفَسَادَ فِي ٱلۡأَرۡضِۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلۡمُفۡسِدِينَ ٧٧

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagian) negeri akhirat. Dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi, dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu. Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (al-Qashash: 77)

Menjual Agama, Pangkal Kehinaan

Para pembaca yang mulia, menjual agama dan manhaj merupakan puncak terburuk dari tenggelamnya seseorang ke dalam badai fitnah. Dan merupakan suatu kesepakatan bahwasanya menjual agama (apapun alasannya) adalah tercela. Bahkan merupakan pangkal kehinaan dan kemurtadan. Dalam banyak ayat-Nya Allah subhanahu wa ta’ala mencela orang-orang yang menjual agamanya. Di antaranya, firman Allah subhanahu wa ta’ala:

أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ ٱشۡتَرَوُاْ ٱلضَّلَٰلَةَ بِٱلۡهُدَىٰ فَمَا رَبِحَت تِّجَٰرَتُهُمۡ وَمَا كَانُواْ مُهۡتَدِينَ ١٦

“Merekalah orang-orang yang telah membeli kesesatan dengan petunjuk, maka tidaklah beruntung perdagangan mereka itu dan mereka itu bukanlah orang-orang yang mendapat hidayah.” (al-Baqarah: 16)

إِنَّ ٱلَّذِينَ ٱشۡتَرَوُاْ ٱلۡكُفۡرَ بِٱلۡإِيمَٰنِ لَن يَضُرُّواْ ٱللَّهَ شَيۡ‍ٔٗاۖ وَلَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٞ ١٧٧

“Sesungguhnya orang-orang yang membeli kekafiran dengan keimanan sekali-kali tidak akan memudharatkan Allah sedikit pun dan bagi mereka adzab yang pedih.” (ali ‘Imran: 177)

وَمَن يَبۡتَغِ غَيۡرَ ٱلۡإِسۡلَٰمِ دِينٗا فَلَن يُقۡبَلَ مِنۡهُ وَهُوَ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ ٨٥ كَيۡفَ يَهۡدِي ٱللَّهُ قَوۡمٗا كَفَرُواْ بَعۡدَ إِيمَٰنِهِمۡ وَشَهِدُوٓاْ أَنَّ ٱلرَّسُولَ حَقّٞ وَجَآءَهُمُ ٱلۡبَيِّنَٰتُۚ وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلظَّٰلِمِينَ ٨٦ أُوْلَٰٓئِكَ جَزَآؤُهُمۡ أَنَّ عَلَيۡهِمۡ لَعۡنَةَ ٱللَّهِ وَٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ وَٱلنَّاسِ أَجۡمَعِينَ ٨٧

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi. Bagaimana Allah akan menunjuki suatu kaum yang kafir (murtad) sesudah mereka beriman, serta mengakui bahwa Rasul itu (Muhammad) benar-benar rasul, dan keterangan-keterangan pun telah sampai kepada mereka? Allah tidak menunjuki orang-orang yang zhalim. Mereka itu, balasannya ialah bahwasanya laknat Allah ditimpakan kepada mereka, (demikian pula) laknat para malaikat dan manusia seluruhnya.” (ali ‘Imran: 85-87)

Dengan demikian, betapa tercelanya orang-orang yang menjual agamanya. Di dunia jerih payahnya sia-sia. Bahkan mendapatkan laknat dari Allah, para malaikat dan manusia seluruhnya. Sedang-kan di akhirat, dia termasuk orang-orang merugi dan menuai adzab yang pedih. Tentunya, hal ini berbeda dengan keadaan orang-orang yang berteguh diri di atas keimanan hingga akhir hayatnya. Mereka mendapatkan kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat. Sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:

إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُواْ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسۡتَقَٰمُواْ تَتَنَزَّلُ عَلَيۡهِمُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ أَلَّا تَخَافُواْ وَلَا تَحۡزَنُواْ وَأَبۡشِرُواْ بِٱلۡجَنَّةِ ٱلَّتِي كُنتُمۡ تُوعَدُونَ ٣٠ نَحۡنُ أَوۡلِيَآؤُكُمۡ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَفِي ٱلۡأٓخِرَةِۖ وَلَكُمۡ فِيهَا مَا تَشۡتَهِيٓ أَنفُسُكُمۡ وَلَكُمۡ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ ٣١  نُزُلٗا مِّنۡ غَفُورٖ رَّحِيمٖ ٣٢

“Sesungguhnya orang-orang yang menyatakan: ‘Rabb-ku adalah Allah,’ kemudian berteguh diri di atasnya (istiqamah), para malaikat akan turun kepadanya (ketika sakratul maut) seraya mengatakan: ‘Janganlah kalian merasa takut dan jangan pula bersedih. Bergembiralah dengan jannah yang telah dijanjikan Allah untuk kalian’. Kami Pelindung kalian dalam kehidupan dunia dan di akhirat. Di dalamnya kalian akan memperoleh segala apa yang kalian inginkan dan memperoleh (pula) apa yang kalian minta. Sebagai hidangan dari Allah Dzat Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Fushshilat: 30-32)

Sehingga tak mengherankan bila Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang mewanti-wanti para hamba-Nya yang beriman agar tidak meninggalkan dunia ini kecuali dalam keadaan di atas agama Islam. Sebagaimana dalam firman-Nya subhanahu wa ta’ala:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ ١٠٢

“Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kalian kepada Allah dengan sebenar-benar takwa dan janganlah sekali-kali meninggal dunia melainkan sebagai pemeluk agama Islam.” (ali ‘Imran: 102)

Saatnya Kembali kepada Allah subhanahu wa ta’ala

Para pembaca yang mulia, mengingat betapa mahalnya nilai hidayah di tengah kuatnya badai fitnah baik syubuhat maupun syahawat, maka sudah saatnya bagi kita untuk kembali kepada Allah. Kembali kepada-Nya dengan memegang erat-erat agama Islam dan meniti jejak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya, kemudian bersatu di atasnya. Itulah satu-satunya jalan keselamatan di dunia dan di akhirat. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَٱعۡتَصِمُواْ بِحَبۡلِ ٱللَّهِ جَمِيعٗا وَلَا تَفَرَّقُواْۚ وَٱذۡكُرُواْ نِعۡمَتَ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ إِذۡ كُنتُمۡ أَعۡدَآءٗ فَأَلَّفَ بَيۡنَ قُلُوبِكُمۡ فَأَصۡبَحۡتُم بِنِعۡمَتِهِۦٓ إِخۡوَٰنٗا وَكُنتُمۡ عَلَىٰ شَفَا حُفۡرَةٖ مِّنَ ٱلنَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنۡهَاۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمۡ ءَايَٰتِهِۦ لَعَلَّكُمۡ تَهۡتَدُونَ ١٠٣

“Dan berpegang teguhlah kalian dengan tali (agama) Allah secara bersama-sama dan jangan bercerai-berai. Ingatlah nikmat Allah yang telah dicurahkan kepada kalian, ketika kalian dahulu bermusuhan lalu Allah menyatukan hati-hati kalian sehingga kalian menjadi bersaudara dengan nikmat tersebut, dan (juga) kalian dahulu berada di tepi jurang neraka lalu Allah selamatkan kalian darinya. Demikianlah Allah menerangkan tanda-tanda kekuasaan-Nya kepada kalian agar kalian mendapat hidayah.” (ali ‘Imran: 103)

وَٱتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمۡ تَهۡتَدُونَ

“Dan ikutilah dia (Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam) supaya kalian mendapatkan petunjuk.” (al-A’raf: 158)

فَإِنۡ ءَامَنُواْ بِمِثۡلِ مَآ ءَامَنتُم بِهِۦ فَقَدِ ٱهۡتَدَواْۖ

“Jika mereka beriman seperti apa yang kalian (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya) beriman dengannya, sungguh mereka akan mendapatkan hidayah.” (al-Baqarah: 137)

Akhir kata, semoga ampunan, taufiq dan hidayah ilahi selalu mengiringi kita selama hayat masih dikandung badan.

رَبَّنَا ٱغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسۡرَافَنَا فِيٓ أَمۡرِنَا وَثَبِّتۡ أَقۡدَامَنَا وَٱنصُرۡنَا عَلَى ٱلۡقَوۡمِ ٱلۡكَٰفِرِينَ

“Wahai Rabb kami ampunilah dosa-dosa kami dan tindak-tanduk kami yang keterlaluan dalam urusan kami, dan teguhkanlah pendirian kami, serta tolonglah kami atas kaum yang kafir.” (ali ‘Imran: 147)

Wallahu a’lam bish-shawab.

Ditulis oleh: Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi

 [1] Ini merupakan permisalan tentang betapa kuatnya kecenderungan umat ini dalam mengikuti jejak orang Yahudi dan Kristen. Bila mereka melangkah sejengkal, umat ini pun mengikutinya sejengkal langkah pula. Dan bila mereka melangkah sehasta, umat ini pun akan mengikutinya sehasta pula. Sampai-sampai ketika mereka masuk ke liang binatang dhab (yang hakekatnya tidak bisa dimasuki oleh manusia), umat Islam pun akan mengikutinya.