Saat Pengabulan Do’a

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah)

Allah Yang Maha Rahman pasti mengabulkan doa-doa hamba-Nya, karena Dia Yang Maha Tinggi telah berfirman:

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwa Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi segala perintah-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kelurusan.” (Al-Baqarah: 186)

“Berdoalah kalian kepada-Ku niscaya Aku akan mengabulkan permohonan kalian.” (Ghafir: 60)
Selain adab-adab berdoa yang perlu diamalkan agar doa tersebut mustajab (dikabulkan), ada pula waktu, tempat, dan keadaan yang perlu diperhatikan saat berdoa. Sehingga diharapkan, doa itu akan di-ijabahi oleh Dzat Yang Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan doa. Di antara waktu, tempat, dan keadaan tersebut adalah:
1. Malam Qadar (Lailatul Qadar)
‘Aisyah x pernah bertanya kepada Rasulullah n: “Wahai Rasulullah, apa pendapatmu bila aku mengetahui kapan malam Qadar itu (mendapatkan malam Qadar), apa yang harus aku ucapkan?” Beliau menjawab:

“Ucapkanlah (doa): Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, mencintai pemaafan, maka maafkanlah aku.”1
2.    Berdoa di tengah malam dan di waktu sahur
Allah I berfirman menyebutkan sifat hamba-hamba-Nya yang beriman:

“Dan pada waktu akhir malam mereka meminta ampun.” (Adz-Dzariyat: 18)
Abu Hurairah z menyatakan bahwa Rasulullah n pernah bersabda:

“Rabb kita Yang Maha Tinggi turun setiap malam ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam yang akhir seraya berfirman: ‘Siapa yang berdoa kepada-Ku niscaya Aku mengabulkan doa-Nya. Siapa yang meminta kepada-Ku niscaya Aku berikan permintaannya. Siapa yang minta ampun kepada-Ku maka Aku akan mengampuninya’.”2
3. Di akhir shalat fardhu
Abu Umamah Al-Bahili z berkata: Pernah ada yang bertanya kepada Rasulullah n: “Wahai Rasulullah, doa apakah yang didengarkan (dikabulkan)?” Beliau menjawab:

“Doa yang dipanjatkan di tengah malam yang akhir dan di akhir shalat wajib.”3
Ulama berbeda pendapat tentang apa yang dimaksud dengan di akhir shalat fardhu, apakah maksudnya sebelum salam atau setelah salam dari shalat? Ibnul Qayyim berkata dalam kitabnya Zadul Ma’ad: “Di akhir shalat bisa jadi sebelum salam dan bisa jadi setelahnya. Adapun Syaikh kami (Ibnu Taimiyyah t) menguatkan pendapat yang menyatakan sebelum salam.”
Sedangkan Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin t berpandangan4 di akhir setiap shalat fardhu adalah sebelum salam, sehingga doa itu dipanjatkan setelah membaca tahiyyat akhir sebelum mengucapkan salam sebagai penutup ibadah shalat. Beliau berkata: “Riwayat yang menyebutkan adanya doa yang dibaca di akhir shalat maka berarti doa itu dibaca sebelum salam. Sedangkan dzikir yang dinyatakan untuk dibaca di akhir shalat maka maksudnya dzikir itu dibaca setelah selesainya shalat. Karena Allah I berfirman:

“Apabila kalian telah selesai dari mengerjakan shalat, berzikirlah kalian kepada Allah dalam keadaan berdiri, duduk ataupun berbaring di atas rusuk kalian.” (An-Nisa`: 103)
4. Antara adzan dan iqamah
Anas bin Malik z berkata: Rasulullah n bersabda:

“Doa yang tidak tertolak adalah (doa yang dipanjatkan) antara azan dan iqamah.”5
5. Ketika dikumandangkan adzan dan saat dirapatkannya barisan, berha-dapan dengan barisan musuh di medan tempur
Sahl bin Sa’d z berkata: Rasulullah n bersabda:

“Dua waktu/keadaan yang tidaklah tertolak doa yang dipanjatkan ketika itu atau jarang sekali ditolak, yaitu doa ketika diserukan panggilan shalat dan doa ketika peperangan saat merapat/mendekatnya sebagian mereka dengan sebagian yang lain (bertemu/berhadapan dengan musuh di medan perang, -pent.)”6
6. Suatu waktu di malam hari
Jabir z berkata: Rasulullah n bersabda:

“Sesungguhnya pada malam hari ada satu waktu yang tidaklah bersamaan dengan itu seorang muslim meminta kepada Allah satu kebaikan dari perkara dunia dan akhirat melainkan Allah akan memberikan perminta-annya tersebut, dan itu ada di setiap malam.” 7
7. Suatu waktu pada hari Jum’at
Abu Hurairah z berkata bahwasanya Rasulullah n menyebut hari Jum’at, beliau berkata:

“Di hari Jum’at itu ada satu saat/waktu bila bertepatan seorang hamba muslim melaksanakan shalat lalu ia minta kepada Allah I sesuatu melainkan Allah akan memberikan perminta-annya tersebut.”
Beliau mengisyaratkan dengan tangannya untuk menunjukkan singkatnya waktu tersebut.8
Ulama berbeda pendapat tentang batasan waktunya. Ada yang mengatakan waktunya adalah saat masuknya khatib ke masjid. Ada yang mengatakan ketika matahari telah tergelincir, ada yang mengatakan setelah Ashar, dan adapula yang mengatakan waktunya dari terbit fajar sampai terbit matahari. (Al-Minhaj, 6/379)
Namun dalam riwayat Abu Burdah bin Abi Musa Al-Asy’ari didapatkan penetapan waktunya. Abu Burdah berkata: Abdullah bin ‘Umar c berkata kepadaku: “Apakah engkau pernah mendengar ayahmu menyampaikan hadits dari Rasulullah n tentang waktu pada hari Jum’at tersebut?” Abu Burdah menjawab: “Iya, aku mendengar ayahku berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah n bersabda:

“Waktunya adalah antara imam duduk sampai ditunaikannya shalat (Jum’at).”9
8. Ketika sujud
Abu Hurairah z berkata: Rasulullah n bersabda:

“Paling dekatnya seorang hamba dengan Rabbnya adalah ketika ia sedang sujud maka perbanyaklah oleh kalian doa ketika sedang sujud.”10
9. Doa pada hari Arafah
Rasulullah n menyatakan dalam sabdanya:

“Sebaik-baik doa adalah doa pada hari Arafah.”11
10. Doa setelah berwudhu
‘Umar ibnul Khaththab z mengabarkan bahwa Nabi n bersabda:

“Tidak ada seorang pun dari kalian berwudhu lalu ia membaguskan wudhunya, kemudian berdoa:

‘Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali hanya Allah saja tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya,’ melainkan akan dibukakan baginya pintu-pintu surga yang delapan yang bisa ia masuki dari pintu mana saja yang ia inginkan.”12
11. Ketika membaca surah Al-Fatihah dan menghadirkan (meresapi/merenungi) bacaannya
Abu Hurairah z berkata: Aku pernah mendengar Nabi n bersabda: “Allah I berfirman: ‘Aku membagi shalat (yakni surah Al-Fatihah) antara Aku dan hamba-Ku menjadi dua bagian dan untuk hamba-Ku apa yang ia pinta.’
Apabila si hamba membaca:

Allah I  berfirman: ‘Hamba-Ku memuji-Ku.’
Bila si hamba membaca:

Allah I berfirman: ‘Hamba-Ku menyanjung-Ku.’
Bila si hamba membaca:

Allah I berfirman: ‘Hamba-Ku memuliakan/mengagungkan Aku.’
Bila si hamba membaca:

Allah I berfirman: ‘Ini antara Aku dan hamba-Ku dan bagi hamba-Ku ia dapatkan apa yang dimintanya.’
Bila si hamba membaca:

Allah I berfirman: “Ini untuk hamba-Ku dan untuk hamba-Ku apa yang ia pinta.”13
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.
(bersambung Insya Allah)
(Diringkas dari kitab Ad-Du’a` Mafhumuhu, Ahkamuhu, Akhtha`un Taqa’u Fihi, oleh Muhammad bin Ibrahim Alu Hamd, dibaca dan diberi ta’liq (catatan/komentar) oleh Samahatusy Syaikh Abdul ‘Aziz bin Abdillah bin Baz t)

Catatan Kaki:

1 HR. At-Tirmidzi no. 3513, kitab Ad-Da’awat, Ibnu Majah no. 3850, kitab Ad-Du’a`, bab Ad-Du’a` bil ‘Afwi wal ‘Afiyah. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi, Shahih Ibni Majah, Al-Misykat (no. 2091)
2 HR. Al-Bukhari no. 1145, kitab At-Tahajjud, bab Ad-Du’a` wash Shalah min Akhiril Lail; dan Muslim no. 1769, kitab Shalatul Musafirin, bab At-Targhib fid Du’a` wadz Dzikr fi Akhiril Lail wal Ijabah fihi
3 HR. At-Tirmidzi no. 3499, kitab Ad-Da’awat, dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi
4 Ketika menyampaikan durus (pelajaran) Zadul Ma’ad dalam majelis beliau yang diberkahi.
5 HR. At-Tirmidzi no. 212, kitab Mawaqitush Shalah ‘an Rasulillah n, bab Ma Ja`a fi Annad Du’a` La Yuraddu Bainal Adzan wal Iqamah. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Al-Irwa` (no. 244), Al-Misykat (no. 671)
6 HR. Abu Dawud no. 2540, kitab Al-Jihad, bab Ad-Du’a` ‘Indal Liqa‘, dishahihkan dalam Shahih Abi Dawud.
7 HR. Muslim no. 1767, kitab Shalatul Musafirin, bab Fil Laili Sa’atun Mustajab Fihad Du’a`
8 HR. Al-Bukhari no. 935, kitab Al-Jumu’ah, bab As-Sa’atul Lati fi Yaumil Jumu’ah; dan Muslim no. 1966, kitab Al-Jumu’ah, bab Fis Sa’atil Lati fi Yaumil Jumu’ah
9 HR. Muslim no. 1972
10 HR. Muslim no. 1083, kitab Ash-Shalah, bab Ma Yuqalu fir Ruku’i was Sujud
11 HR. At-Tirmidzi no. 33585, kitab Ad-Da’awat, bab Fid Du’a Yauma ‘Arafah, dihasankan dalam Ash-Shahihah no. 1503
12 HR. Muslim no. 552, kitab Ath-Thaharah, bab Adz-Dzikrul Mustahab ‘Aqibal Wudhu’
13 HR. Muslim no. 876, kitab Ash-Shalah, bab Wujubu Qira’atil Fatihah fi Kulli Rak’ah

Cara Menghafal Al-Qur`an

Bagaimana cara menghafal Al-Qur’an dengan baik agar hafalan tersebut tidak mudah hilang? Apakah boleh menggunakan mushaf Al-Qur’an dalam shalat untuk dibaca ketika selesai membaca Al-Fatihah, karena orang yang shalat tersebut tidak hafal surat yang hendak dibacanya? Demikian pula doa, apakah boleh menulisnya pada secarik kertas lalu dibaca saat membaca doa dalam shalat?

Jawab:
Fadhilatusy Syaikh Shalih Al-Fauzan t menjawab: “Tidak ada cara terbaik untuk menghafal Al-Qur’an kecuali dengan dua hal:
Pertama: Banyak membaca Al-Qur’an dan mengulang-ulangnya baik di dalam ataupun di luar shalat.1
Kedua: Mengamalkan Al-Qur’an, karena mengamalkannya akan mengan-tarkan kepada kokohnya hafalan Al-Qur’an tersebut di dalam dada dan terus mengingatkannya.
Adapun menulis doa-doa pada secarik kertas untuk dibaca dalam shalat anda maka saya tidak menganjurkan yang demikian itu. Tapi semestinya anda berdoa dengan apa yang mudah bagi anda dan dengan doa yang telah anda hafal. Sehingga tidak perlu memberat-beratkan diri dengan menuliskannya untuk kemudian dibaca, karena hal tersebut akan menyibukkan anda dari ibadah shalat yang sedang ditunaikan.
Masalah membaca Al-Qur’an dari mushaf ketika sedang shalat tidak ada larangannya bila memang orang tersebut tidak memiliki hafalan Al-Qur’an sedikit pun. Sebagian salaf telah memberikan rukhshah (keringanan) dalam masalah tersebut, dan ini merupakan madzhab sekelompok ahlul ilmi. Bila memang orang itu tidak mampu membaca dari hafalannya dan tidak punya hafalan Al-Qur’an, atau ia ingin mengerjakan shalat malam/tahajjud misalnya dan ingin memanjangkan bacaannya, maka yang seperti ini tidak ada larangannya karena adanya hajat/kebutuhan. Demikian pula dalam shalat tarawih, boleh membaca Al-Qur`an dengan melihat mushaf.” (Majmu’ Fatawa Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan, 1/114-115)

Catatan Kaki:

1 Karena Rasulullah n bersabda:
“Biasakanlah untuk terus membaca Al-Qur’an, karena demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sungguh dia (bacaan/hafalan Al-Qur’an) itu lebih cepat lepas/hilangnya daripada unta dari tali pengikat kakinya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya) -pent.

2 Rasulullah n bersabda:
“Orang yang membaca Al-Qur’an dalam keadaan ia mahir membacanya maka ia bersama safarah kiram bararah. Sedangkan orang yang membaca Al-Qur’an dalam keadaan tergagap-gagap dan terasa berat/sulit baginya maka ia mendapatkan dua pahala.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Safarah kiram bararah adalah para malaikat yang mulia, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah I:
“Dalam lembaran-lembaran yang dimuliakan, ditinggikan lagi disucikan. Yang berada di tangan para malaikat yang mencatat, yang mulia lagi berbakti.” (‘Abasa: 13-16) –pent.

Wanita di Bulan Puasa

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah)

Ramadhan sebentar lagi tiba. Perjalanan waktu yang banyak kita isi dengan berbagai rutinitas keseharian, tak terasa hampir membawa kita kepada bulan yang penuh berkah. Mari kita siapkan diri kita untuk memaksimalkan waktu Ramadhan sebagai bulan penuh ibadah.

Ramadhan telah datang. Insan beriman rindu dengan saat-saat penuh ibadah itu. Dan waktu pun berlalu dengan cepat. Bulan demi bulan, pekan demi pekan, hari demi hari, sehingga yang jauh pun semakin dekat saatnya.
Sudah sepantasanya kita bersiap untuk menyambutnya, seraya berharap kepada Ar-Rahman agar masih diperkenankan berjumpa dengannya.
Persiapan iman, fisik dan ilmu tentang puasa Ramadhan tak patut diabaikan agar tidak ada sesal mendalam ketika bulan itu telah berlalu begitu saja tanpa mendapatkan pengampunan dari Al-Ghaffar (Dzat Yang Maha Pengampun). Abu Hurairah z mengisahkan:

Nabi n naik ke atas mimbar lalu berkata: “Amin, amin, amin.” Ada yang bertanya kepada beliau: “Wahai Rasulullah, mengapa engkau tadi naik mimbar lalu mengatakan: “Amin, amin, amin.” Beliau menjawab: “Jibril u datang kepadaku lalu mengatakan: “Siapa yang mendapati bulan Ramadhan namun ia tidak diampuni hingga ia masuk ke dalam neraka maka semoga Allah menjauhkannya. Katakanlah: Amin. Aku pun mengatakan: “Amin.” … dan seterusnya. (HR. Ibnu Khuzaimah 3/192, Ahmad 2/246, 245, Al-Baihaqi 4/204 dari beberapa jalan dari Abu Hurairah z. Hadits ini shahih sebagaimana dalam Shifat Shaumin Nabi n fi Ramadhan, hal. 24)

Ramadhan Bulan Ibadah
Allah U memberikan kenikmatan kepada hamba-hamba-Nya dengan ditetap-kannya satu bulan yakni Ramadhan sebagai bulan yang sarat dengan kebajikan dan limpahan pahala. Sehingga setiap insan yang beriman kepada Allah U dan hari akhir tidak akan membiarkan Ramadhan berlalu begitu saja tanpa amal shalih. Tepatlah jika dikata-kan Ramadhan sebagai bulan ibadah, bulan untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Dengan demikian tidak sepantasnya Ramadhan dilewati dengan bermalas-malasan, tidur sepanjang siang, dengan alasan lemas tidak ada tenaga karena perut sedang kosong, sedang menahan lapar dan dahaga.
Ada sebagian muslimah yang bersung-guh-sungguh melakukan amalan ketaatan di bulan Ramadhan. Namun bila datang kebiasaan “bulanan”nya, ia jadi lemah semangat, malas dan tidak lagi giat dalam kebaikan seperti sedia kala. Padahal pintu-pintu kebaikan banyak terbentang di hadapannya. Bila ia tidak dapat puasa dan shalat, ia dapat mengerjakan amalan-amalan yang lain.
Di hadapannya ada doa yang kata Rasulullah n:

“Doa itu adalah ibadah.” (HR. At-Tirmidzi no. 2969, Ibnu Majah no. 3828. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi dan Shahih Ibni Majah)
Adapula dzikrullah seperti tasbih, tahmid, tahlil dan takbir, dalam hadits disebutkan:

“Tidaklah seorang manusia mengamalkan satu amalan yang lebih menyelamatkannya dari adzab Allah daripada dzikrullah.” (HR. Ahmad 5/239. Dishahihkan dalam Shahihul Jami’ no. 5644)
Sa’d bin Abi Waqqash z berkata: “Kami berada di dekat Nabi n, maka beliau bersabda:

“Apakah salah seorang dari kalian merasa lemah untuk memperoleh setiap harinya seribu kebaikan?” Bertanyalah seseorang di antara mereka yang duduk-duduk bersama beliau: “Bagaimana salah seorang dari kami dapat memperoleh seribu kebaikan?” Beliau menjawab: “Dia bertasbih kepada Allah seratus tasbih maka akan dicatat baginya seratus kebaikan atau dihapus darinya seratus kesalahan.” (HR. Muslim no. 6792)
Rasulullah n juga bersabda:

“Siapa yang mengucapkan ‘subhanallah wa bihamdihi’ dalam sehari 100 kali akan dihapuskan kesalahannya, walaupun kesalahan itu sebanyak buih lautan.” (HR. Muslim no. 6783)
Di hadapannya ada istighfar, permo-honan ampun dan taubat, di mana Rasulullah n telah memerintahkan:

“Wahai sekalian manusia, bertaubatlah kalian kepada Allah, karena sesungguhnya aku bertaubat dalam sehari 100 kali.” (HR. Muslim no. 6799)
Adapula sedekah yang kata Rasulullah n:

“Tidak ada seseorang yang bersedekah dengan sebiji kurma pun yang diperolehnya dari penghasilan yang baik/halal kecuali Allah mengambilnya dengan tangan kanan-Nya lalu Dia mengembangkan/menumbuhkannya sebagai-mana salah seorang dari kalian menjaga/merawat anak untanya hingga menjadi sebesar gunung atau lebih besar lagi.” (HR. Muslim no. 2340)
Termasuk pintu kebaikan yang dapat pula dilakukannya adalah membantu orang yang puasa, sebagaimana diisyaratkan dalam hadits Anas z:

“Kami bersama Nabi n, yang paling banyak di antara kami mendapatkan naungan dari terik matahari adalah yang berlindung dengan pakaian/kainnya. Adapun orang-orang yang berpuasa ketika itu mereka tidak melakukan apa-apa, sedangkan orang-orang yang berbuka (tidak puasa) mereka mengurusi hewan-hewan tunggangan, melakukan pekerjaan dan mencurahkan kesungguhan dan menangani beberapa urusan, maka Nabi n bersabda ketika itu: ‘Pada hari ini orang-orang yang berbuka berlalu dengan membawa pahala (yang besar)’.”1 (HR. Al-Bukhari no. 2890)
Dalam riwayat Muslim (no. 2617) disebutkan dengan lafadz:

“Kami bersama Nabi n dalam safar, di antara kami ada yang puasa dan ada pula yang berbuka (tidak puasa). Lalu kami singgah di suatu tempat pada hari yang panas, yang paling banyak mendapatkan naungan di antara kami adalah yang memiliki pakaian/kain. Di antara kami ada yang berlindung dari matahari dengan tangannya. Maka berjatuhanlah orang-orang yang berpuasa sementara orang-orang yang berbuka bangkit (untuk mengerjakan beberapa pekerjaan dan menolong orang-orang yang puasa). Mereka mendirikan bangunan/tenda-tenda dan memberi minum kepada hewan-hewan tunggangan. Rasulullah n pun bersabda: “Pada hari ini orang-orang yang berbuka berlalu dengan membawa pahala.”
Termasuk kebaikan yang dapat dilakukan adalah memberi makan kepada orang yang puasa. Nabi n bersabda:

“Siapa yang memberi makanan berbuka untuk seorang yang puasa maka ia mendapatkan semisal pahala orang yang puasa tanpa mengurangi sedikitpun pahala orang yang puasa tersebut.” (HR. Ahmad 4/114-115, At-Tirmidzi no. 807, Ibnu Majah no. 1746, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Shahih At-Tirmidzi dan Shahih Ibni Majah)

Hukum-hukum Puasa Ramadhan
Di antara muslimah mungkin ada yang belum sepenuhnya tahu bagaimana tuntunan yang benar ketika seseorang menjalani puasa Ramadhan. Karenanya berikut ini kami ingin berbagi sedikit pengetahuan tentang hukum-hukum yang berkaitan dengan puasa Ramadhan, semoga dapat memberi manfaat.
1. Berniat
Seseorang yang hendak berpuasa Ramadhan ia wajib berniat sejak malam hari atau sebelum terbit fajar berdasarkan sabda Nabi n:

“Siapa yang tidak meniatkan puasa sebelum terbit fajar maka tidak ada puasa baginya.” (HR. Abu Dawud  no. 2454, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Shahih Abi Dawud)

2. Waktu puasa
Allah I berfirman:

“Makan dan minumlah kalian sampai jelas bagi kalian benang putih dari benang hitam dari fajar.” (Al-Baqarah: 187)
Yang dimaksud dengan benang putih dan benang hitam diterangkan oleh Nabi n dengan sabda beliau:

“Yang demikian itu adalah hitamnya malam dan putihnya siang.” (HR. Al-Bukhari no. 1916 dan Muslim no. 2528)
Sahl bin Sa’d z berkata:

Tatkala turun ayat ini: “Makan dan minumlah kalian sampai jelas bagi kalian benang putih dari benang hitam”, maka seseorang bila hendak puasa ia mengikatkan benang putih dan benang merah pada kedua kakinya. Terus menerus ia minum dan menyantap makanannya sampai jelas baginya melihat perbedaan benang putih dari benang yang hitam. Setelahnya Allah I menurunkan ( kelanjutan ayat tersebut): “… dari fajar.” Hingga mereka pun tahu bahwa yang Allah maksudkan dalam ayat tersebut adalah malam dan siang (jelas terbitnya fajar dan berlalunya malam).” (HR. Al-Bukhari no. 1917 dan Muslim no. 2530)
Dengan demikian waktu puasa itu dimulai dari terbitnya fajar subuh, dan berakhir ketika kegelapan malam datang dari arah timur setelah tenggelamnya bulatan matahari, walaupun cahayanya masih tampak. Sebagaimana dinyatakan Rasulullah n:

“Apabila malam datang dari arah sana (timur) dan siang berlalu ke arah sana (barat), sedangkan matahari telah tenggelam berarti orang yang puasa telah berbuka (telah masuk waktu berbuka).” (HR. Al-Bukhari no. 1954 dan Muslim no. 2553)

3. Sahur
Rasulullah n bersabda:

“Pembeda antara puasa kita dan puasa ahlul kitab adalah makan sahur.”2 (HR. Muslim no. 2545)
Anas bin Malik z berkata: “Rasulullah n bersabda:

“Makan sahurlah kalian, karena sesungguhnya dalam sahur itu ada barakah.” (HR. Muslim no. 2544)
Yang paling utama untuk dimakan ketika sahur adalah kurma, sebagaimana sabda Rasulullah n:

“Sebaik-baik sahur seorang mukmin adalah kurma kering (tamar).” (HR. Abu Dawud  no. 2345, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Shahih Abi Dawud)
Disenangi mengakhirkan sahur sampai menjelang terbit fajar. Karena Nabi n dan Zaid bin Tsabit z pernah makan sahur bersama, setelah itu Nabi n bangkit untuk mengerjakan shalat. Anas bin Malik z bertanya kepada Zaid bin Tsabitz: “Berapa jarak waktu antara keduanya?”3 Zaid menjawab: “Sekadar bacaan limapuluh ayat.” (HR. Al-Bukhari no. 575 dan Muslim no. 2547)

4. Perkara yang wajib diting-galkan oleh orang yang puasa
Selain wajib meninggalkan makan dan minum serta jima’, seorang yang berpuasa harus pula meninggalkan ucapan dusta. Rasulullah n bersabda:

“Siapa yang tidak meninggalkan ucapan dusta dan berbuat dusta maka Allah tidak berhajat/tidak butuh dengan dia (sekedar) meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Al-Bukhari no. 1903)

5. Yang boleh dilakukan orang yang berpuasa
Di antara perkara yang boleh dilakukan ketika sedang berpuasa adalah:
q Bersiwak
Abu Hurairah z mengabarkan dari Nabi n:

“Seandainya tidak memberatkan bagi umatku niscaya aku akan memerintahkan mereka untuk bersiwak setiap kali berwudhu.” (HR. Al-Bukhari secara mu’allaq dalam Kitab Ash-Shaum dan Muslim no. 588)
Hadits di atas diberi judul oleh Al-Imam Al-Bukhari: Bab Siwak Ar-Rathbi wal Yabis Lish-Sha’im. Maknanya, siwak yang basah dan kering untuk orang yang sedang puasa. Al-Imam Al-Bukhari memberikan isyarat dengan judul yang beliau berikan ini untuk membantah pendapat yang memakruhkan bersiwak dengan siwak yang masih basah bagi orang yang sedang puasa, seperti pendapat Malikiyyah dan Asy-Sya’bi. (Fathul Bari, 4/202)
Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-’Asqalani t berkata: “(Hadits Abu Hurairah ini) mengandung kebolehan bersiwak di setiap waktu dan setiap keadaan.” (Fathul Bari, 4/202). Dengan demikian orang yang sedang berpuasa termasuk di dalamnya.
q Mendapati fajar dalam keadaan junub
‘Aisyah dan Ummu Salamah c mengabarkan bahwa Rasulullah n menemui waktu fajar dalam keadaan junub karena menggauli istrinya, kemudian beliau mandi dan puasa. (HR. Al-Bukhari no. 1925 dan Muslim no. 2584)
q Memasukkan air ke hidung (istinsyaq) namun tidak bersungguh-sungguh
Rasulullah n bersabda:

“Bersungguh-sungguhlah engkau dalam istinsyaq kecuali bila sedang berpuasa.” (HR. At-Tirmidzi no. 788, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Shahih At-Tirmidzi)
q Mencicipi makanan
Tidak apa-apa bagi orang yang berpuasa untuk mencicipi makanan guna mengetahui asin atau tidaknya, ataupun rasa lainnya. Demikian pula mengunyahkan makanan untuk anaknya, selama tidak ada sedikitpun dari makanan tersebut yang masuk ke kerongkongannya. Hal ini tersebut dalam beberapa atsar dari salaf berikut ini:
u Al-Imam Al-Bukhari t meriwayatkan secara mu’allaq (tanpa menyebutkan sanadnya) dalam Shahih-nya dengan shighat jazm perkataan Ibnu ‘Abbas c: “Tidak apa-apa seseorang mencicipi makanan dari bejana atau sedikit dari makanan.” (Kitab Ash-Shaum, bab Ightisal Ash-Sha`im4)
u Ibnu ‘Abbas c berkata: “Tidak apa-apa seseorang yang sedang berpuasa merasai cuka atau makanan lain selama tidak ada yang masuk ke kerongkongannya.” (Riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf, 3/47)
u Ma’mar berkata: “Aku pernah bertanya kepada Hammad tentang seorang wanita yang sedang puasa mencicipi kuah dari masakannya. Hammad berpendapat bahwa hal itu tidak apa-apa.” (Riwayat Abdurrazzaq dalam Al-Mushannaf, no. 7510)
u Al-Hasan Al-Bashri berpandangan tidak apa-apa orang yang puasa mencicipi madu, samin/mentega dan semisalnya kemudian mengeluarkannya (tidak menelan-nya). (Riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf, 3/47)
u Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah t pernah ditanya tentang mencicipi makanan bagi orang yang puasa. Beliau menjawab: “Mencicipi makanan bagi orang puasa makruh bila tanpa ada kebutuhan. Namun bila dilakukan tidaklah membatalkan puasa. Adapun bila ada keperluan maka hukumnya seperti hukum berkumur-kumur bagi orang puasa.” (Majmu’atul Fatawa libni Taimiyyah, 13/142)

q Memakai celak
Ada beberapa hadits yang menyebutkan masalah bercelak bagi orang yang sedang puasa. Namun semua hadits itu tidak lepas dari perbincangan. Karena itulah Al-Imam At-Tirmidzi t mengatakan: “Tidak ada satu hadits pun yang shahih dari Nabi n dalam bab ini.” (Sunan At-Tirmidzi, Kitab Ash-Shaum, bab Ma Ja`a fil Kuhli Lish-Sha`im)
Adapun mayoritas ahlul ilmi/jumhur berpandangan bahwa bercelak bagi orang yang puasa hukumnya mubah, sebagaimana diisyaratkan oleh Asy-Syaukani t dalam Nailul Authar (4/260).
‘Atha`, Ibrahim An-Nakha’i dan Az-Zuhri berkata: “Tidak apa-apa bercelak bagi orang yang puasa.” (Riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf, 3/46 dan riwayat Abdurrazzaq dalam Al-Mushannaf no. 7514, 7515)
Ibnu Hazm berpendapat dalam Al-Muhalla (4/326) bahwa bercelak tidak membatalkan puasa. Pendapat ini yang dikuatkan oleh Syai-khul Islam Ibnu Taimiyyah dan murid-nya, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah t.
6. Berbuka (Ifthar)
Beda halnya dengan sahur yang sunnah untuk diakhirkan, dalam berbuka (ifthar) dituntunkan untuk ta’jil (disegerakan). Karena Rasulullah n bersabda:

“Manusia terus menerus dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.” (HR. Al-Bukhari no. 1957 dan Muslim no. 2549)
Hal ini merupakan Sunnah Rasul n menyelisihi Yahudi dan Nasrani sebagaimana disabdakan Nabi n:

“Terus-menerus agama ini dzahir/tampak selama manusia menyegerakan berbuka, karena Yahudi dan Nasrani mereka mengakhirkan berbuka.” (HR. Abu Dawud  no. 2353, dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Abi Dawud dan Asy-Syaikh Muqbil dalam Al-Jami’ush Shahih Mimma Laisa fish Shahihain, 2/420)
Nabi n telah mencontohkan makanan yang beliau makan ketika berbuka seperti yang disampaikan Anas bin Malik z:

“Adalah Rasulullah n berbuka sebelum shalat Magh-rib dengan memakan beberapa butir kurma basah (ruthab), bila tidak ada ruthab beliau berbuka dengan kurma kering (tamar), bila tidak ada tamar beliau meneguk beberapa teguk air.” (HR. At-Tirmidzi, dihasankan Asy-Syaikh Muqbil di atas syarat Al-Bukhari dan Muslim, Al-Jami’ush Shahih Mimma Laisa fish Shahihain, 2/419-420)
Dan dituntunkan ketika berbuka membaca doa:

“Telah hilang dahaga dan telah basah urat-urat (hilang kekeringan yang disebabkan rasa haus) serta telah tetap pahala Insya Allah.” (HR. Abu Dawud no. 2357, dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Abi Dawud)
Demikian sedikit bekal yang dapat kami berikan kepada pembaca muslimah.
Wallahu a’lam bish-shawab.

Catatan Kaki:

1 Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-’Asqalani t berkata: “Bukanlah yang dimaksudkan di sini bahwa orang-orang yang puasa kurang pahalanya. Namun yang dimaukan adalah orang-orang yang berbuka memperoleh pahala dari pekerjaan mereka dan memperoleh semisal pahala orang yang berpuasa. Karena mereka melakukan kesibukan/pekerjaan mereka dan mengambil alih pekerjaan orang-orang yang sedang puasa.” (Fathul Bari, 6/104)
2 Sementara terdapat perintah beliau n agar kita menyelisihi ahlul kitab dan tidak tasyabbuh dengan mereka. Sehingga makan sahur ketika hendak puasa di keesokan harinya merupakan penyelisihan terhadap puasa yang dilakukan ahlul kitab.
3 Yakni jarak antara selesai makan sahur dengan mulainya shalat. Demikian kata Ibnu Hajar dalam Al-Fath, 4/138, Kitabush Shiyam Bab Qadru Kam baina Sahur wa Shalatil Fajr.
4 Dibawakan secara maushul (bersambung sanadnya sampai kepada Ibnu ‘Abbas z) oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf, 3/47

Sumayyah bintu Khayyat

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Abdirrahman bintu ‘Imran)

Keimanan terhadap agama Muhammad n menjanjikan segala kebahagiaan baginya. Janji yang takkan pernah diselisihi. Hingga dia pun rela menanggung segenap kepedihan siksa dunia yang menuntutnya keluar dari kebenaran yang digenggamnya. Dia lalui segalanya sampai akhir hayatnya.

Dia adalah seorang wanita yang memiliki kemuliaan, Sumayyah bintu Khayyath x. Dia seorang sahaya wanita milik Abu Hudzaifah bin Al-Mughirah bin Abdillah bin ‘Umar bin Makhzum. Tuannya kemudian menikahkan dirinya dengan seorang sekutu Bani Makhzum, bernama Yasir bin ‘Amir bin Malik.
Yasir sendiri bukanlah penduduk asli Makkah. Dia berasal dari Yaman. Awalnya, dia datang ke Makkah bersama dua orang saudaranya, Al-Harits dan Malik, dalam rangka mencari saudara laki-lakinya. Kemudian pulanglah Al-Harits dan Malik ke negeri Yaman, sementara Yasir menetap di Makkah. Di kota ini, dia kemudian bersekutu dengan Abu Hudzaifah bin Al-Mughirah.
Kepada Yasir dan Sumayyah, Allah I anugerahi mereka seorang anak laki-laki bernama ‘Ammar. ‘Ammar sendiri kemudian dimerdekakan Abu Hudzaifah.1 Namun Yasir dan putranya itu tetap bersama Abu Hudzaifah hingga Abu Hudzaifah meninggal.
Sampai suatu ketika Allah I datangkan cahaya Islam di negeri Makkah. ‘Ammar yang mula-mula menyambut dakwah Rasulullah n. Saat kembali ke hadapan ibu dan ayahnya, ‘Ammar begitu ingin agar mereka berdua juga masuk Islam. Dia pun mengajak ibu dan ayahnya untuk beriman kepada ajaran yang dibawa oleh Rasulullah n. Allah I pun membukakan pintu hati mereka berdua untuk menerima seruan itu, hingga berislamlah keluarga Yasir.
Saat itu, orang-orang yang menampakkan keislamannya dapat dihitung dengan jari. Mereka adalah Rasulullah n, Abu Bakr, ‘Ammar, Yasir, Sumayyah, Shuhaib, Bilal, dan Al-Miqdad. Rasulullah n mendapat perlindungan dari paman beliau, Abu Thalib bin ‘Abdil Muththalib, sementara Abu Bakr dilindungi oleh kaumnya. Selebihnya ditahan oleh kaumnya yang musyrik. Mereka disiksa dengan siksaan yang hebat, diberi pakaian dari besi, lalu dibiarkan terbakar panas terik matahari padang pasir. Mereka benar-benar merasakan siksaan yang dahsyat dari kaum musyrikin yang menghendaki mereka keluar dari agama Muhammad n. Keluarga Yasir disiksa oleh Bani Makhzum, kabilah Abu Hudzaifah di Bath-ha`.
Ketika itu, Rasulullah n berjalan di Bath-ha` bersama ‘Utsman bin ‘Affan z sembari menggamit tangan ‘Utsman. Tatkala melewati keluarga Yasir, Yasir pun berkata kepada Rasulullah n: “Wahai Rasulullah, sepanjang waktu demikian keadaannya.”
“Bersabarlah wahai keluarga Yasir, sesungguhnya tempat yang dijanjikan bagi kalian adalah surga,” jawab beliau n.
Di puncak beratnya siksaan itu, tatkala malam mulai tiba, Abu Jahl mendatangi Summayyah, lalu mencaci makinya dengan cercaan yang kotor. Dia ambil sebilah tombak, kemudian ditusukkannya ke kemaluan Sumayyah hingga meninggal. Tertumpahlah darah seorang wanita yang bertahan dalam keimanannya di tengah siksaan yang sedemikian beratnya. Dia telah meraih syahadah. Dialah syahidah pertama dalam Islam.
Sumayyah bintu Khayyath, semoga Allah I meridhainya….
Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.

Sumber Bacaan:
q Al-Ishabah, Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-’Asqalani (7/712)
q Al-Isti’ab, Al-Imam Ibnu ‘Abdil Barr (3/1136, 4/1863-1865)
q Ath-Thabaqatul Kubra, Al-Imam Ibnu Sa’d (3/233,246, 4/136, 8/264, 21/221)
q Shahih As-Sirah An-Nabawiyah, Ibrahim Al-’Ali (hal. 70-71)
q Tahdzibul Kamal, Al-Imam Al-Mizzi (21/218-219)

Catatan Kaki:

1 ‘Ammar adalah maula Abu Hudzaifah karena ibunya, Sumayyah, adalah hamba sahaya milik Abu Hudzaifah.

Berlatih Puasa

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu ‘Abdirrahman bintu ‘Imran)

Anak yang belum baligh memang tidak memiliki kewajiban untuk berpuasa Ramadhan. Namun, tentu tidak ada salahnya bila para orang tua mulai melatih mereka untuk berpuasa yang dengan latihan ini akan memberi banyak manfaat pada diri anak.

Ramadhan telah tiba kembali. Seluruh kaum muslimin menyongsong bulan ini dengan penuh kerinduan dan merenda harapan, semoga mendapatkan pahala yang berlipat dalam segala kebaikan yang ditunaikan. Mereka bersemangat menyambut perintah Allah I:

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (Al-Baqarah: 183)
Anak-anak kecil pun tak luput dari kegembiraan ini. Mereka berlomba-lomba untuk berpuasa. Orang tua pun turut meng-hasung mereka untuk menunaikan ibadah ini, bahkan terkadang dengan iming-iming hadiah bila berhasil menyelesaikan puasa hingga Ramadhan berakhir.
Namun, bagaimana sesungguhnya yang dilakukan para shahabat Rasulullah n terhadap anak-anak mereka yang belum baligh saat menghadapi perintah puasa? Adakah di antara mereka yang menyuruh anak-anak mereka berpuasa sebagaimana yang banyak dilakukan kaum muslimin sekarang ini?
Dikisahkan oleh seorang shahabiyah, Ar-Rubayyi’ bintu Mu’awwidz x tentang hal ini, ketika datang perintah puasa ‘Asyura`, puasa wajib sebelum difardhukannya puasa Ramadhan:

“Nabi n pernah mengutus seseorang pada pagi hari ‘Asyura ke kampung-kampung Anshar untuk memerintahkan: ‘Barangsiapa yang pagi hari itu dalam keadaan tidak berpuasa, hendaknya dia sempurnakan hari itu dengan puasa, dan barangsiapa yang pagi itu berpuasa, hendaknya melanjutkan puasanya.’ Maka kami pun menunaikan puasa ‘Asyura setelah itu, dan kami suruh anak-anak kami untuk berpuasa, dan kami buatkan untuk mereka mainan dari wol. Apabila mereka menangis karena minta makanan, kami berikan mainan itu. Demikian hingga tiba waktu berbuka.” (HR. Al-Bukhari, kitab Ash-Shaum bab Shaum Ash-Shibyan no. 1961 dan Muslim, kitab Ash-Shiyam bab Man Akala fi ‘Asyura’ falyakuffa Baqiyyata Yaumihi no. 1136)
Al-Hafizh Ibnu Hajar t menyebutkan bahwa dalam hadits ini terdapat hujjah disyariatkannya melatih anak-anak untuk berpuasa, karena siapa pun yang masuk dalam usia kanak-kanak sebagaimana yang disebutkan dalam hadits belumlah mukallaf (dibebani pelaksanaan syariat). Namun perintah untuk berpuasa itu semata sebagai latihan. (Fathul Bari, 4/257)
Demikian pula Al-Imam An-Nawawi t dalam penjelasan beliau tentang hadits ini. Beliau mengatakan bahwa hadits ini menunjuk-kan adanya latihan bagi anak-anak untuk melaksanakan ketaatan, membiasakan mereka untuk beribadah, namun mereka bukanlah mukallaf. Al-Qadhi mengatakan bahwa telah diriwayatkan dari ‘Urwah bahwa ketika anak-anak itu mampu berpuasa, maka mereka wajib berpuasa. Ini adalah pendapat yang keliru yang terbantah dengan hadits shahih:

“Pena (catatan amalan) diangkat dari tiga golongan, (di antaranya) dari anak kecil sampai dia ihtilam1.” Dalam riwayat yang lain: “Hingga dia baligh.”
Wallahu a’lam. (Al-Minhaj, 8/13)
Adapun mengenai batasan usia seorang anak mulai dilatih untuk berpuasa, ada perse-lisihan di dalam hal ini. Al-Imam Asy-Syaukani t mengatakan bahwa hadits ini menunjukkan disenanginya memerintahkan anak-anak berpuasa untuk melatih mereka apabila mereka mampu. Yang berpendapat seperti ini adalah sekelompok dari kalangan salaf, di antaranya Ibnu Sirin, Az-Zuhri, Asy-Syafi’i dan yang lainnya. Murid-murid Al-Imam Asy-Syafi’i berselisih dalam hal batasan usia seorang anak mulai diperintahkan untuk puasa. Di antaranya ada yang berpendapat tujuh tahun, ada pula yang berpendapat sepuluh tahun, dan ini pula yang dipegangi oleh Al-Imam Ahmad. Ada pula yang berpendapat duabelas tahun, demikian pendapat Ishaq. Sementara Al-Imam Al-Auza’i berpendapat, apabila seorang anak mampu berpuasa tiga hari berturut-turut dan dia tidak menjadi lemah dengan puasanya, maka diperintahkan untuk berpuasa. Pendapat yang masyhur dari kalangan Malikiyah, puasa tidaklah disyariatkan pada anak-anak. Namun pendapat ini terbantah dengan hadits di atas, karena sungguh sangat tidak mungkin Nabi n tidak mengetahui hal ini. (Nailul Authar, 4/250-251)
Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin t pernah ditanya, apakah anak-anak kecil di bawah usia limabelas tahun diperintahkan untuk berpuasa sebagaimana mereka diperintah shalat? Beliau t menjawab, “Ya. Anak-anak yang belum mencapai baligh diperintahkan untuk berpuasa jika mereka mampu, sebagaimana hal ini dilakukan pula oleh para shahabat g terhadap anak-anak mereka. Ahlul ilmi telah menyatakan pula bahwa wali memerintahkan anak-anak yang ada di bawah perwaliannya untuk berpuasa agar mereka terlatih dan terbiasa melakukannya, dan pokok-pokok agama Islam pun terbentuk dalam jiwa mereka sehingga menjadi tabiat pada diri mereka. Akan tetapi, apabila hal ini berat atau membahayakan mereka, maka mereka tidak diharuskan berpuasa.
Di sini saya juga memperingatkan tentang suatu permasalahan yang dilakukan oleh sebagian ayah atau ibu, yaitu melarang anak-anak mereka berpuasa, berbeda dengan apa yang dilakukan oleh para shahabat g. Mereka beranggapan, mereka melarang anak-anak berpuasa karena rasa sayang dan iba terhadap anak-anak. Padahal pada kenyataan-nya, kasih sayang terhadap anak-anak itu dilakukan dengan memerintahkan mereka untuk melaksanakan syariat Islam dan membi-asakan mereka terhadapnya. Tidak diragukan lagi, yang demikian ini merupakan pendidikan yang baik dan penjagaan yang sempurna. Telah tsabit dari Nabi n, beliau bersabda:

“Sesungguhnya seorang laki-laki adalah penanggung jawab terhadap keluarganya dan kelak akan ditanyai tentang tanggung jawabnya.”2

Maka yang selayaknya dilakukan oleh wali terhadap orang yang Allah jadikan di bawah perwaliannya, baik keluarga maupun anak-anak kecil, hendaknya dia bertakwa kepada Allah dalam mengurusi mereka dan memerintahkan mereka dengan segala sesuatu yang dia diperintahkan untuk memerintahkan-nya, berupa syariat Islam.” (Majmu’ Fatawa wa Rasa`il Fadhilatisy Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin, 19/83-84)
Berkaitan dengan hal ini, ada satu catatan penting yang diberikan oleh Fadhilatusy Syaikh Al-’Utsaimin t. Beliau pernah ditanya tentang seorang anak kecil yang ingin terus menunaikan puasa, sementara orang tuanya khawatir karena usianya yang masih kecil dan ditakutkan mengganggu kesehatan-nya. Beliau t menjawab, “Apabila dia masih kecil dan belum baligh, maka tidak diharuskan puasa. Akan tetapi jika dia mampu dan tidak merasa berat, maka dia diperintahkan untuk berpuasa. Dahulu para shahabat menyuruh anak-anak mereka berpuasa. Sampai-sampai jika ada di antara anak-anak itu menangis, mereka memberikan mainan untuk membuat mereka lupa. Namun jika memang hal ini benar-benar membahayakan, maka orang tua boleh melarangnya, karena Allah I melarang kita memberikan harta milik anak-anak kepada mereka karena khawatir akan rusaknya harta tersebut. Maka tentunya kekhawatiran akan bahaya yang menimpa badan lebih utama untuk dicegah. Akan tetapi, larangan tersebut bukan dengan cara yang keras, karena hal ini tidaklah layak dilakukan terhadap anak-anak pada saat mendidik mereka.” (Majmu’ Fatawa wa Rasa’il Fadhilatisy Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin, 19/83)
Demikian yang dapat terbaca dari teladan para shahabat g di saat menyong-song perintah berpuasa. Mereka menghasung anak-anak mereka untuk melaksanakan syariat Allah yang mulia, hingga syariat Allah nantinya menjadi sesuatu yang menyatu dalam diri mereka.
Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.

Catatan Kaki:

1 Ihtilam yang dimaksud di sini adalah baligh.
2 Dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhari, Kitab Al-Jumu’ah, Bab Al-Jumu’ah fil Qura wal Mudun (893) dan Muslim, Kitab Al-Imarah, Bab Fadhilatil Imamil ‘Adil wa ‘Uqubatil Ja`ir (1829)

Taubat dari Perbuatan Zina

Ada pemuda-pemudi melakukan zina beberapa waktu yang lalu. Keduanya ingin bertaubat. Pertanyaan:
a. Bagaimana taubatnya?
b. Haruskah keduanya menikah?
c. Bagaimana kalau orang tua wanita tetap tidak setuju?
d. Bagaimana nanti status anak keduanya?
Mohon bantuannya supaya mereka berdua dapat kembali ke jalan yang benar.
Ahmad Abdullah
ahm…@plasa.com

Jawab:
Oleh Al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad Al-Makassari

Cara Taubatnya
Keduanya bertaubat kepada Allah dengan taubat nasuha yaitu dengan memenuhi tiga syarat taubat yang disebut-kan oleh para ulama. Tiga syarat ini disimpulkan oleh para ulama dari Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Pertama, Keduanya harus menyesali perbuatan tersebut. Rasulullah n bersabda:

“Sesungguhnya penyesalan itu adalah  taubat.”1
Karena itu hendaklah keduanya menyesali apa yang telah mereka lakukan.
Kedua, melepaskan diri dan menjauh-kan diri sejauh-jauhnya dari perbuatan yang seperti itu. Tidak lagi mengulangi maupun mendekati apa-apa yang akan menyeret dan mengantar kepada perzinaan, seperti pergaulan bebas dengan wanita (pacaran), berbincang-bincang secara bebas dengan wanita yang bukan mahram, bercengke-rama, ikhtilath/ bercampurbaur. Semuanya adalah perkara yang diharamkan syariat untuk menutupi pintu perzinaan. Hendaknya keduanya menjauh-kan diri dari itu semua.
Ketiga, kemudian keduanya ber-’azam/ bertekad kuat untuk tidak mengulangi kembali perbuatannya tersebut. Juga beristighfar kepada Allah, memohon ampunan-Nya. Dalam hal ini ada hadits Abu Bakr Ash-Shiddiq tentang disyariat-kannya seseorang yang telah melakukan perbuatan maksiat untuk shalat dua rakaat lalu memohon ampunan kepada Allah.2

Haruskah Keduanya Menikah?
Keduanya tidak harus menikah. Namun tidak mengapa keduanya menikah dengan syarat: apabila wanita yang telah dizinai tersebut hamil karena perzinaan itu, maka tidak boleh menikahinya pada masa wanita itu masih hamil. Mereka harus menunggu sampai si wanita melahirkan bayinya, baru boleh menikahinya. Inilah pendapat yang benar yang disebutkan oleh ulama, yaitu bahwa wanita yang hamil karena perzinaan tidak boleh dinikahi sampai melahirkan. Karena di sana ada dalil yang menuntut adanya istibra` ar-rahim (pembebasan rahim) dari bibit seseorang. Karena itu rahim harus dibebaskan terlebih dahulu dengan cara menunggu sampai lahir, sehingga rahimnya bebas tidak ada lagi bibit di dalamnya. Setelah itu baru bisa meni-kahinya. Itu pun apabila keduanya bertaubat dari perzinaan.
Apabila wanita yang dizinainya tidak sampai hamil, maka pembebasan rahimnya dengan cara menunggu haid berikutnya. Setelah melakukan perzinaan kemudian dia haid. Dalam kasus yang seperti ini, boleh menikahinya setelah melewati satu kali masa haid, yang menunjukkan bahwa memang tidak ada bibit yang tersimpan dalam rahimnya. Dan tentunya ini apabila keduanya bertaubat dari perzinaan.
Adapun jika salah satu dari keduanya belum bertaubat dari perzinaan tersebut, sehingga salah satu dari keduanya masih berlaku padanya nama zaani (pezina) maka keduanya tidak boleh menikah. Dalilnya adalah firman Allah I:

“Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang mukmin.” (An-Nur: 3)
Maksudnya, seorang pezina diharam-kan menikah dan sebaliknya wanita pezina juga haram dinikahi. Jadi bolehnya menikah adalah apabila keduanya memang sudah bertaubat dari perzinaan tersebut, sehingga tidak lagi dinamakan lelaki pezina atau wanita pezina.

Bagaimana Status Anak Keduanya?
Ini tentunya kalau ditakdirkan bahwa wanita yang dizinai tersebut hamil akibat perzinaan tersebut. Status anak tersebut adalah anak yang lahir karena perzinaan. Anak ini tidak boleh dinasabkan pada lelaki yang berzina dengan ibunya, karena dia bukanlah ayahnya secara syariat. Oleh karena itu, sang anak dinasabkan kepada ibunya. Demikian pula tidak boleh saling waris-mewarisi. Juga seandainya anak tersebut wanita, maka laki-laki tersebut tidak boleh menjadi walinya dalam pernikahan dan juga bukan mahramnya sehingga tidak berlaku padanya hukum-hukum mahram. Sehingga laki-laki itu tidak boleh berkhalwat dengannya, tidak boleh melihat wajahnya, tidak boleh berjabat tangan dengannya, dan seterusnya. Satu-satunya hukum yang berlaku adalah bahwa si laki-laki tidak boleh menikahi anak hasil perzinaan tersebut, karena anak wanita itu berasal dari air maninya. Hanya ini satu-satunya hukum yang berlaku, sebagaimana diterangkan oleh para ulama. Wallahu a’lam bish-shawab.

Catatan Kaki:

1 HR. Ahmad, Ibnu Majah, Al-Hakim dan yang lainnya dari Abdullah ibnu Mas’ud z, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Ibni Majah (4252).
2 HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan yang lainnya, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Abi Dawud (1021).

Khutbah Jum’at Harus Berbahasa Arab?

Assalamua’laikum Saya mau tanya masalah khutbah Jum’at, apakah harus memakai bahasa Arab? Karena setahu saya khutbah itu pengganti dua rakaat.
Abdullah
apt…@tm.net

Jawab:
Oleh Al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad Al-Makassari

Dalam masalah ini terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama. Sebagian ulama mengatakan dipersyaratkan untuk memakai bahasa Arab, namun alasannya bukanlah karena khutbah adalah pengganti dua rakaat. Melainkan dalam rangka kelestarian khutbah yang berbahasa Arab, karena inilah yang dilakukan oleh Rasulullah n dan Al-Khulafa` Ar-Rasyidun sepeninggal beliau. Oleh karena itu harus mencontoh khutbah mereka dan ini harus dijaga, sehingga sebagian ulama mempersyaratkan hal ini.
Namun jika kita memperhatikan dalil ini, toh kalau ada yang beralasan harus berbahasa Arab karena khutbah itu sebagai pengganti dua rakaat, semuanya ini adalah lemah.
Rasulullah n berkhutbah mengguna-kan bahasa Arab, demikian juga Al-Khulafa` Ar-Rasyidun sepeninggal beliau, karena mereka adalah bangsa Arab dan mereka berkhutbah di hadapan kaum muslimin yang berbangsa Arab, yang merupakan bahasa mereka. Sementara tujuan khutbah adalah memberikan nasehat yang bermanfaat bagi agama mereka. Tentunya, suatu hal yang kita pahami dalam kaidah syariat ini adalah: suatu wasilah memiliki hukum sesuai dengan hukum dari tujuan yang hendak dicapai dengan wasilah itu. Ketika tujuannya adalah memberikan nasehat, maka nasehat ini tidak akan tersampaikan kecuali dengan bahasa yang mereka pahami. Sehingga mereka memakai bahasa Arab, karena itu adalah bahasa mereka.
Itulah sebabnya para nabi dan rasul diutus sesuai dengan bahasa kaum mereka. Setiap nabi dan rasul yang diutus, yang diturunkan wahyu kepada mereka, menyampaikan syariat sesuai dengan bahasa kaum tersebut. Karena kalau berbeda dengan bahasa kaum tersebut, tujuan diutusnya mereka dan tujuan dakwah tidak tercapai karena tidak dipahami. Ini yang pertama.
Yang kedua, Rasulullah n dan Al-Khulafa` Ar-Rasyidin berbahasa Arab, hal ini merupakan perbuatan Rasulullah n. Dan perbuatan Rasulullah n menurut kaidah ushul fiqih, puncaknya hanya menunjukkan istihbab dan tidak sampai menunjukkan wajib, apalagi sebagai suatu syarat. Sementara di sini tidak ada perintah Rasulullah n, apalagi pernyataan Rasulullah n bahwa khutbah tidak sah kecuali dengan bahasa Arab.
Adapun pernyataan bahwa khutbah adalah pengganti dua rakaat, ini adalah pendapat yang batil. Memang ada ulama yang berpendapat demikian. Namun ini adalah pendapat yang batil. Di kalangan Asy-Syafi’yyah pun, sebagaimana dikatakan An-Nawawi dalam Al-Majmu’, yang shahih adalah bahwa dua khutbah bukan pengganti dua rakaat shalat dzuhur, dan shalat Jum’at bukanlah shalat Dzuhur yang diqashar menjadi dua rakaat dan diganti dengan dua khutbah. Demikian pula yang diterangkan oleh Syaikhul Islam, Ibnul Qayyim dan yang lainnya. Dan yang membuktikan khutbah Jum’at bukanlah pengganti dua rakaat, adalah hadits:

“Barangsiapa mendapatkan satu rakaat shalat (bersama dengan imam dalam shalat jamaah) maka dia dianggap mendapat shalat itu secara utuh.” (Muttafaqun ‘alaih dari Abu Hurairah z)
Dan shalat Jum’at masuk dalam keumuman hadits ini.
Ada juga riwayat yang lain, meskipun ada pembicaraan, namun Asy-Syaikh Al-Albani menshahihkannya.

“Barangsiapa mendapatkan satu rakaat dari shalat Jum’at berarti dia mendapat shalat Jum’at secara utuh.”
Bila riwayat ini tidak shahih, hadits yang sebelumnya sudah cukup, dan itulah yang dipegangi para ulama.
Makna hadits tersebut adalah apabila seorang datang terlambat dan mendapati imam sudah dalam rakaat kedua, tapi masih sempat mendapatkan berdiri bersama imam pada rakaat kedua sebelum ruku’, atau minimal dia sempat ruku’ bersama imam pada rakaat yang kedua, maka dia dianggap mendapatkan shalat Jum’at, sehingga tinggal menambah satu shalat setelahnya. Jadi, dia dianggap mendapatkan shalat Jum’at padahal dia tidak hadir khutbah. Bila khutbah adalah pengganti dua rakaat, maka mestinya dia dianggap tidak ikut shalat Jum’at, karena tidak ikut khutbah. Bahkan hanya mendapatkan satu rakaat bersama imam. Padahal dalam hadits ini, satu rakaat saja yang dia dapatkan, sudah dianggap mendapatkan shalat Jum’at, bukannya shalat Dzuhur. Ini menunjukkan khutbah bukanlah pengganti dua rakaat.
Adapun atsar dari ‘Umar bin Al-Khaththab bahwa khutbah Jum’at adalah kedudukannya seperti dua rakaat shalat Dzuhur –merupakan pengganti dua rakaat– merupakan atsar yang lemah karena terputus jalur periwayatannya antara orang yang meriwayatkan dari ‘Umar dengan ‘Umar. Karena orang yang meriwayatkan dari ‘Umar tidaklah mendengar riwayat dari ‘Umar, sebagaimana diterangkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani.
Pendapat yang benar adalah pendapat yang dinyatakan Asy-Syaikh Ibnu Baz, Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin dan ulama yang lain bahwa khutbah Jum’at tidaklah dipersya-ratkan memakai bahasa Arab. Bahasa yang digunakan dalam khutbah Jum’at mengikuti bahasa jamaah yang mendengarkan khutbah. Apabila seseorang berkhutbah di hadapan jamaah yang berbahasa Indone-sia, maka yang diharuskan baginya adalah berkhutbah dengan bahasa Indonesia. Demikian pula seandainya di hadapan jamaah yang berbahasa Inggris, maka ia memakai bahasa Inggris. Kecuali jika dia menyebutkan ayat Al-Qur’an maka dia membacanya dengan bahasa Arab. Kalau dia menterjemahkannya saja tidaklah dianggap membaca Al-Qur’an, karena Al-Qur’an berbahasa Arab. Sehingga bila hanya membaca terjemahannya berarti bukan membaca Al-Qur’an.
Alasan yang menunjukkan bahwa ini adalah pendapat yang benar sudah kita terangkan di depan; bahwa tujuan khutbah adalah memberi mau’izhah/memberi nasehat tentang agama. Dan nasehat tidak mungkin tersampaikan kalau menggunakan bahasa Arab, karena mereka tidak mengerti sama sekali bahasa Arab sehingga khutbah itu tidak bermanfaat. Wallahu a’lam.

Catatan Kaki:

1 HR. Ahmad, Ibnu Majah, Al-Hakim dan yang lainnya dari Abdullah ibnu Mas’ud z, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Ibni Majah (4252).
2 HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan yang lainnya, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Abi Dawud (1021).

Jumlah Khutbah dalam Shalat Id

pa praktek khutbah Id sama dengan praktek khutbah Jum’at atau tidak?
Zalmi
085223xxxxxx

Jawab:
Oleh Al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad Al-Makassari

Bismillah.
Permasalahan ini diperselisihkan oleh ulama. Pendapat yang benar adalah pendapat yang mengatakan bahwa khutbah Id hanya satu khutbah. Dan ini adalah pendapat Asy-Syaikh Al-’Utsaimin dan guru besar kami Asy-Syaikh Muqbil rahima-humallah. Hal ini berdasarkan dzahir (yang terpahami secara langsung) dari hadits yang shahih dalam permasalahan ini, seperti hadits Ibnu ‘Umar z:

“Adalah Rasulullah n, Abu Bakr, ‘Umar, dan ‘Utsman g melaksanakan shalat Id sebelum khutbah.” (Muttafaq ‘alaih)
Dan yang lebih jelas lagi adalah hadits Jabir z, dia berkata:

“Aku menyaksikan shalat Id pada hari ‘Ied bersama Rasulullah n. Maka beliau memulai dengan shalat sebelum khutbah, tanpa adzan dan iqamat. Kemudian (seusai shalat) beliau berdiri bersandar pada Bilal z (berkhutbah) memerintahkan untuk bertakwa kepada Allah I dan menganjurkan kepada ketaatan, menasehati para shahabat dan memberi peringatan kepada mereka. Kemudian beliau mendatangi shaf para wanita, menasehati, dan memberi mereka peringatan.” (HR. Muslim)
Asy-Syaikh Al-’Utsaimin t berkata: “Barangsiapa mengamati hadits-hadits muttafaq ‘alaih dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim serta yang lainnya, maka akan jelas baginya bahwa Nabi n tidak melakukan khutbah Id kecuali hanya satu khutbah. Hanya saja setelah beliau menyampaikan khutbah pertama, beliau mendatangi shaf para wanita dan menasehati mereka. Jika ini hendak kita jadikan sebagai dalil disyariatkannya dua khutbah, maka ada kemungkinan. Akan tetapi tetap tidak bisa dibenarkan, karena beliau mendatangi shaf wanita dan berkhutbah di hadapan mereka disebabkan salah satu dari dua kemungkinan:
1. Karena khutbah yang beliau sampaikan tidak terdengar oleh mereka
2. Atau khutbah tersebut terdengar sampai ke tempat mereka, akan tetapi beliau ingin memberikan nasehat-nasehat khusus kepada mereka.” (Asy-Syarhul Mumti’, 5/191-192, cet. Muassasah Asam)
Beliau juga berkata dalam Majmu’ Rasa‘il (16/248): “Sunnah Rasulullah n pada khutbah Id adalah satu khutbah. Jika seorang (khatib) berkhutbah melalui mikrofon (pengeras suara), maka hendaklah dia mengkhususkan kaum wanita di akhir khutbahnya dengan nasehat tentang mereka. Dan apabila dia berkhutbah tanpa pengeras suara dan para wanita yang hadir tidak mendengar khutbahnya, maka hendaklah dia mendatangi shaf mereka untuk memberi nasehat khusus, didampingi oleh satu atau dua orang.”
Apa yang dikatakan oleh Asy-Syaikh Al-’Utsaimin t bahwa hendaklah dia mendatangi shaf para wanita untuk memberi nasehat khusus… dst, tentunya jika tidak dikhawatirkan adanya mafsadah dan fitnah terhadap diri sang khatib atau para wanita yang hadir atau yang lainnya. Sebagaimana hal ini ditegaskan oleh An-Nawawi dalam Syarh Muslim (6/144) dan Asy-Syaukani dalam Nailul Authar (3/305). Dan kekhawatiran tersebut sangat besar pada kondisi dan keadaan kaum muslimah di negeri ini, yang mana mereka menghadiri Id tanpa memakai hijab yang syar’i. Mereka mengenakan ‘busana-busana muslimah’1 yang menarik perhatian lelaki. Ditambah lagi aroma parfum-parfum mereka yang membangkitkan syahwat. Wajah-wajah mereka penuh polesan make up yang mempesona. Wa ilallahil musytaka (hanya Allah-lah tempat mengadu).
Sesungguhnya ada beberapa hadits yang menunjukkan dua khutbah, tetapi semuanya dha’if (lemah):
1. Hadits Jabir z bahwa Rasulullah n berkhutbah ‘Ied dengan berdiri kemudian beliau duduk lalu berdiri kembali (untuk khutbah kedua), diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunan-nya (1289). Namun pendalilan ini tertolak, karena haditsnya lemah. Dalam sanadnya terdapat perawi yang dha’if bernama Isma’il bin Muslim Al-Makki. Bahkan hadits ini dihukumi mungkar oleh Al-Albani dalam Dha’if Ibnu Majah. Karena riwayat yang benar dari hadits tersebut adalah bahwa itu pada khutbah Jum’at.
2. Hadits Sa’d bin Abi Waqqash, diriwayatkan oleh Al-Bazzar. Hadits ini sangat dha’if, karena dalam sanadnya terdapat perawi yang sangat dha’if bernama Abdullah bin Syabib, syaikh (guru) Al-Bazzar. Lihat Tamamul Minnah (348).
3. Hadits ‘Ubaidullah bin Abdillah bin ‘Utbah t, diriwayatkan oleh Asy-Syafi’i dalam Al-Umm (1/272). Hadits ini juga sangat lemah, karena syaikh Asy-Syafi’i yang bernama Ibrahim bin Muhammad bin Abi Yahya Al-Aslami matruk (ditinggalkan haditsnya karena tertuduh sebagai pendusta). Juga ‘Ubaidullah bin Abdillah bin ‘Utbah seorang tabi’in, sehingga terputus sanadnya antara dia dan Rasulullah n. Berarti hadits ini mursal dha’if.
Jadi hadits-hadits di atas tidak bisa dijadikan dalil untuk mengatakan bahwa khutbah ‘Ied adalah dua khutbah. Demikian pula, tidak benar berdalil meng-qiyas-kan (menyamakan) dengan khutbah Jum’at, karena bertentangan dengan dzahir hadits-hadits yang shahih sebagaimana telah diterangkan di awal pembahasan.
Wallahu a’lam bish-shawab.

Catatan Kaki:

1 Menurut istilah mereka, sebagai hasil bisikan setan untuk memperdaya putri-putri Adam u.

Menyambung dan Memperbaiki Hubungan Anak dan Orang Tua (bagian 2)

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah)

Wasiat kedua: Rebutlah kesempatan, karena berbakti kepada kedua orang tua memiliki keutamaan yang besar.
Abdullah bin Mas’ud z berkata:

“Aku bertanya kepada Rasulullah n: ‘Amalan apakah yang paling dicintai oleh Allah?’ Beliau menjawab: ‘Shalat pada waktunya.’ Aku bertanya lagi: ‘Kemudian apa?’ Beliau berkata: ‘Berbakti kepada kedua orang tua.’ Aku bertanya lagi: ‘Lalu apa?’ Beliau menjawab: ‘Berjihad di jalan Allah’.” Abdullah bin Mas’ud berkata: “Beliau memberitahukan hal itu kepadaku. Dan jika aku minta tambah niscaya beliau akan menambahkan untukku.”1
Al-Hafizh Ibnu Hajar menjelaskan: “Di dalam hadits ini terdapat faidah tentang keutamaan yang besar dalam berbakti kepada kedua orang tua dan amal kebajikan itu sebagiannya melebihi sebagian yang lain.” (Lihat Fathul Bari 2/14)
Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin t men-jelaskan: “Rasulullah n menjadikan berbakti kepada kedua orang tua didahulu-kan daripada martabat jihad di jalan Allah I.”(Syarh Riyadhis Shalihin, 1/691)
Wasiat ketiga: Pengorbanan kedua orang tuamu tidak bisa engkau bayar dengan apapun.
Abu Hurairah z berkata: Rasulullah n bersabda:

“Seorang anak tidak akan bisa membalas (pengorbanan) orang tuanya kecuali bila dia mendapati orang tuanya sebagai budak, lalu dia membelinya dan memerdekakannya.”2
Dari Abu Burdah:
ì
“Beliau menyaksikan Ibnu ‘Umar dan seseorang dari Yaman yang sedang thawaf di rumah Allah (Ka’bah) dalam keadaan menggendong ibunya di punggungnya. Dia berkata:
‘Aku menjadi ontanya yang ditunggangi                     Jika tunggangan untanya bisa terkejut maka saya tidak akan terkejut.’
Kemudian dia berkata: ‘Wahai Ibnu ‘Umar, bagaimana pendapatmu, apakah aku telah membalas kebaikannya?’ Beliau menjawab: ‘Belum, walaupun (seukuran) satu kali tarikan napas.’
Ibnu ‘Umar kemudian thawaf dan mendatangi Maqam Ibrahim serta shalat dua rakaat. Beliau lalu berkata: “Wahai Ibnu Abi Musa, sesungguhnya setiap dua rakaat menghapuskan dosa-dosa sebelumnya.”3
Dari Abdullah bin ‘Amr c, beliau berkata:

“Seseorang mendatangi Rasulullah n lalu berkata: ‘Aku mendatangimu untuk berbai’at untuk hijrah, dan aku tinggalkan kedua orang tuaku dalam keadaan mena-ngis.” Rasulullah n bersabda: “Kembalilah kamu kepada keduanya, dan buatlah mereka tertawa sebagaimana kamu membuatnya menangis.”4

Dari Abu Murrah, maula Ummu Hani` bintu Abu Thalib, bahwa dia berkendaraan bersama Abu Hurairah menuju kampungnya di ‘Aqiq. Ketika memasuki kampungnya, dia berteriak dengan suara yang sangat keras: “Atasmu keselamatan dan rahmat Allah, serta barakah-Nya atasmu wahai ibuku.” Lalu ibunya berkata: “Dan atasmu pula kesela-matan dan rahmat serta barakah dari Allah.” Abu Hurairah berkata lagi: “Semoga Allah merahmatimu (wahai ibuku) sebagaimana engkau telah mendidikku di masa kecil.” Dan ibunya pun berkata: “Wahai anakku, semoga Allah membalasmu dengan kebaikan dan meridhaimu sebagaimana engkau telah berbuat baik kepadaku.”
Wasiat keempat: “Hak ibumu harus engkau utamakan.”5
Dari Abu Hurairah z beliau berkata:

“Seseorang datang kepada Rasulullah lalu berkata: ‘Ya Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak untuk aku perlakukan dengan baik?’ Beliau menjawab: ‘Ibumu.’ Kemudian dia berkata: ‘Siapa lagi?’ Beliau menjawab: ‘Ibumu.’ Dia berkata: ‘Kemudian siapa?’ Beliau menjawab: ‘Ibumu.’ Dia berkata: ‘Kemudian siapa?’ Dia menjawab: ‘Bapakmu’.”6
Dari Ibnu ‘Abbas, bahwa seseorang mendatanginya lalu berkata: “Sesungguhnya aku telah meminang seorang wanita dan dia tidak mau menikah denganku. Dan ketika orang lain meminangnya dia mau menikah dengannya. Muncullah kecemburuanku kepadanya, lalu aku membunuhnya. Apakah aku memiliki pintu taubat?” Ibnu ‘Abbas bertanya: “Apakah ibumu masih hidup?” Orang itu menjawab: “Tidak.” Ibnu ‘Abbas berkata: “Kalau demikian bertaubatlah kepada Allah yang Maha Agung dan Mulia. Dekatkanlah dirimu kepada-Nya sesuai kesanggupanmu.” (‘Atha’ bin Yasar berkata:) Aku pergi dan bertanya kepada Ibnu ‘Abbas: “Kenapa engkau bertanya tentang ibunya, apakah masih hidup?” Ibnu ‘Abbas berkata: “Sesungguhnya aku tidak mengetahui ada sebuah amalan yang paling mendekatkan kepada Allah yang Maha Agung dan Mulia daripada berbuat baik kepada seorang ibu.”7
Wasiat kelima: “Kedua orang tuamu adalah surga atau nerakamu.”
Abu Hurarirah z berkata: Nabi n bersabda:

“Alangkah hinanya seseorang, alangkah hinanya seseorang, kemudian alangkah hina-nya seseorang.” Dikatakan kepada beliau: “Siapa dia ya Rasulullah?” Beliau menjawab: “Orang yang menjumpai salah satu orang tuanya atau keduanya dalam keadaan tua jompo namun dia tidak masuk ke dalam surga.”8
Dari Ubai bin Malik: Nabi n bersabda:

“Barangsiapa yang masih menjumpai kedua orang tuanya atau salah satunya, kemudian dia masuk neraka setelah itu, lalu Allah akan menjauhkannya.”9
Wasiat keenam: “Taatilah kedua orang tuamu dalam perkara yang bukan maksiat kepada Allah I.”
Mu’adz z berkata:

“Rasulullah n telah berwasiat kepada-ku dengan sepuluh kalimat. Beliau berkata: “Jangan kamu menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun sekalipun kamu dibunuh dan dibakar. Jangan kamu sekali-kali durhaka kepada kedua orang tuamu sekalipun dia memerintahkan kamu keluar dari keluarga dan hartamu. Jangan kamu meninggalkan shalat yang fardhu dengan sengaja. Barangsiapa meninggalkan shalat dengan sengaja, sungguh dia tidak akan mendapatkan jaminan Allah. Jangan sekali-kali kamu minum khamr karena sesungguh-nya khamr merupakan biang segala kekejian. Berhati-hatilah kamu dari kemaksiatan karena kemaksiatan itu akan menyebabkan datang-nya murka Allah. Jangan kamu lari dari medan tempur walaupun manusia binasa seluruhnya. Dan apabila manusia ditimpa oleh wabah kematian dan kamu berada di tengah mereka, maka tinggallah kamu padanya. Berikan nafkah kepada keluargamu dari usahamu dan jangan kamu mengangkat tongkatmu dari mereka (tidak mendidik mereka), dan tanamkan pada diri mereka rasa takut kepada Allah.”10
Ibnu ‘Umar c berkata:

“Aku mempunyai seorang wanita (istri) yang aku cintai. Namun ayahku (‘Umar) tidak menyukainya. Lalu ayahku memerintahkan aku untuk menceraikannya, namun aku tidak mau. Lalu hal itu kuceritakan kepada Nabi, beliau bersabda: “Hai Abdullah bin ‘Umar, ceraikan istrimu!”11
Dari Hanzhalah bin Khuwailid, dia berkata:

Di saat saya berada di sisi Mu’awiyah tiba-tiba datang kepadanya dua orang yang berselisih dalam perkara terbunuhnya ‘Ammar. Masing-masing mengatakan: “Aku yang membunuhnya.” Kemudian Abdullah berkata kepadanya: “Hendaklah kalian ber-dua bagus hatinya karena sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullah bersabda: (Abdullah bin Ahmad berkata: “Demikian yang diucapkan oleh bapakku yakni dari Rasu-lullah bersabda”): ‘Yang membunuh ‘Ammar adalah kelompok yang baghiyah (memerangi pemimpin yang sah)’.” Lalu Mu’awiyah ber-kata: “Apakah kamu tidak bisa melepaskan kamu dari orang gila ini wahai ‘Amr, kenapa kamu bersama kami? Dia berkata: “Sesung-guhnya bapakku telah melaporkanku kepada Rasulullah lalu beliau berkata kepadaku: “Taati bapakmu selama dia hidup dan jangan kamu memak-siatinya dan saya bersama kalian namun tidak ikut berperang.”12

Catatan Kaki:

1 HR. Al-Imam Al-Bukhari no. 5513 dan Muslim no. 85
2 HR. Al-Imam Muslim no. 1510.
3 HR. Al-Imam Al-Bukhari dalam Adabul Mufrad no. 11, dan Asy-Syaikh Al-Albani mengatakan: “Sanadnya shahih.” Lihat Shahih Adabul Mufrad hal. 36.
4 HR. Al-Imam An-Nasa`i no. , Abu Dawud no. 2166, Ibnu Majah no. 2772, Ahmad no. 6615 dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani di dalam kitab Shahih Adabul Mufrad no. 11, Shahih Sunan An-Nasa`i (3881), Al-Irwa` (1199), Shahihul Jami’ (892), Shahih Sunan Abu Dawud, no. 2205, dan Shahih Sunan Ibnu Majah, no. 2242.
5 HR. Al-Imam Al-Bukhari di dalam Adabul Mufrad no.14 dan Asy-Syaikh Al-Albani mengatakan hasan sanadnya
6 HR. Al-Imam Al-Bukhari no 5514 dan Muslim no. 2548.
7 HR. Al-Imam Al-Bukhari dalam kitab Adabul Mufrad no. 4 dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani di dalam Ash- Shahihah no. 2799 dan Shahih Al-Adabil Mufrad no.4
8 HR. Al-Imam Muslim no. 2551
9 HR. Al-Imam Ahmad no. 18254 dishahihkan oleh Asy-Syaikh Muqbil dalam kitab beliau Al-Jami’us Shahih, 5/190
10 HR. Al-Imam Ahmad no. 21060, dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani di dalam kitab Adabul Mufrad dari shahabat Abud Darda` z no. 14, Al-Irwa` (2026)
11 HR. Al-Imam At-Tirmidzi no. 1110 dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Muqbil dalam kitab Al-Jami’, 5/185
12 HR. Al-Imam Ahmad no. 6538 dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Muqbil di dalam kitab Al-Jami’ Ash-Shahih, 5/185

Kisah Nabi ‘Isa dan Ibunya (bagian 2)

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Harits Abrar)

Allah I telah menentukan kelahiran Nabi Isa u diiringi dengan berbagai kejadian yang luar biasa. Diantaranya beliau lahir tanpa perantara seorang bapak dan ketika masih bayi mampu berbicara sebagaimana orang dewasa. Keadaan ini menimbulkan sikap ghuluw (melampaui batas) orang-orang Nasrani kepada Nabi Isa u, bahkan menjadikan beliau sebagai tuhan (sesembahan). Di sisi lain, orang-orang Yahudi tidak mau beriman dengan apa yang ada pada Nabi Isa u. Sikap yang benar adalah mengimani apa yang ada pada Nabi Isa u dan tetap menempatkan beliau sebagaimana yang Allah tetapkan, yaitu sebagai salah satu Nabi dan Rasul-Nya.

Istri ‘Imran, seorang pembesar dan pemimpin yang berkedudukan tinggi di kalangan Bani Israil, pernah bernazar ketika melihat kehamilannya semakin jelas. Ia akan menyerahkan anak yang nanti dilahirkannya ini kepada Baitil Maqdis, sebagai pelayan bagi rumah Allah yang senantiasa siap sedia beribadah kepada Allah. Waktu itu, istri ‘Imran mengira, yang tengah dikandungnya adalah bayi laki-laki. Ketika melahirkan, dia meminta udzur kepada Allah sembari mengadukan keadaannya, sebagaimana Allah ceritakan:

“Wahai Rabbku, sesungguhnya aku melahirkan seorang anak perempuan. Dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu, dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan.” (Ali ‘Imran: 36)
Yakni, bahwa seorang laki-lakilah yang mempunyai kekuatan dan kemampuan menjadi pelayan bagi Baitil Maqdis.

“Dan sesungguhnya aku menamainya Maryam dan aku memohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada Engkau dari (gangguan) setan yang terkutuk.” (Ali ‘Imran: 36)
Dia menyerahkannya dalam perlin-dungan Allah dari musuhnya dan musuh anak keturunannya. Ini merupakan awal perlindungan dan pemeliharaan Allah kepadanya. Sebab itulah Allah menyem-purnakan perlindungan itu di dunia.

“Maka Rabbnya menerimanya dengan penerimaan yang baik”, artinya Allah menenangkan hati ibunya, sehingga di sisi Allah dia mendapat penerimaan yang sangat besar daripada laki-laki. Allah I berfirman:

“Dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Dia menjadikan Zakariya sebagai pemeliharanya.” (Ali ‘Imran: 37)
Di sini Allah menggabungkan pendi-dikan jasmani dan rohani bagi Maryam, di mana Dia mentakdirkan yang menjadi pemeliharanya adalah nabi yang mulia di kalangan Bani Israil ketika itu. Karena, ketika ibu Maryam membawanya kepada pengurus Baitul Maqdis, mereka berselisih tentang siapa yang berhak memelihara Maryam, karena dia adalah puteri pemim-pin mereka. Kemudian mereka melakukan undian dengan melemparkan pena mereka. Akhirnya yang terpilih menjadi pemelihara-nya adalah Nabi Zakariya sebagai rahmat baginya dan bagi Maryam.
Nabi Zakariya memelihara Maryam dengan sebaik-baiknya. Allah menolongnya dalam pemeliharaan itu dengan karamah yang besar dari sisi-Nya. Maryam tumbuh dengan sempurna sebagai wanita yang shalihah dan membenarkan (beriman). Dia senantiasa tekun beribadah kepada Rabbnya dan tidak pernah keluar dari mihrabnya. Tiap kali Nabi Zakariya menemui Maryam di mihrabnya, dia mendapati makanan di sisi Maryam. Nabi Zakariya bertanya, “Dari mana kamu memperoleh makanan ini?” Karena saat itu tidak ada pemelihara Maryam selain Nabi Zakariya sendiri. Allah I menerangkan jawaban Maryam:

“Makanan ini dari sisi Allah. Sesung-guhnya Allah memberi rizki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab.” (Ali ‘Imran: 37)
Maksudnya, rizki Allah itu datang dengan cara yang sudah diketahui sebagai-mana biasa atau dengan cara lain. Allah I Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Melihat hal ini, Nabi Zakariya segera teringat betapa Rabbnya Maha Lembut dan diapun segera mengharapkan rahmat-Nya. Nabi Zakariya pun berdoa kepada Allah memohon agar Dia menganugerahkan seorang anak kepadanya sebagai pewaris ilmu nubuwah yang ada pada dirinya dan menggantikannya memimpin dan mendidik serta membimbing Bani Israil.
Allah I berfirman mengisahkan:

“Kemudian Malaikat memanggil Zakariya ketika dia sedang berdiri melakukan shalat di mihrab (katanya): ‘Sesungguhnya Allah memberi berita gembira kepadamu dengan kelahiran Yahya, yang membenarkan kalimat yang datang dari Allah’.” (Ali ‘Imran: 39)
Kalimat yang dimaksud adalah Nabi ‘Isa u. Kemudian  (Dan menjadi ikutan), yakni kedudukannya sangat mulia di sisi Allah dan di tengah-tengah manusia, di mana Allah telah menanamkan pada dirinya akhlak yang terpuji dan ilmu-ilmu yang agung serta amalan yang shalih.  (Menahan diri), artinya, menjaga dirinya dengan perlindungan Allah dari berbagai kemaksiatan.
Allah mensifatinya sebagai seorang yang mendapat taufik kepada semua kebaikan dan perlindungan dari berbagai kekeliruan serta penyimpangan, di mana hal ini adalah puncak kesempurnaan seorang manusia. Nabi Zakariya merasa takjub akan berita ini. Allah I menyebutkan hal ini:

“Zakariya berkata: ‘Wahai Rabbku, bagaimana aku bisa mempunyai anak sedangkan isteriku adalah seorang yang mandul dan aku sendiri telah mencapai usia yang sangat tua?’ Dia berkata: ‘Demikianlah.’ Rabbmu berfirman: ‘Hal itu adalah mudah bagi-Ku. Dan Aku telah menciptakan kamu sebelum itu, padahal kamu belum ada sama sekali’.” (Maryam: 9)
Ini lebih menakjubkan daripada kehamilannya di saat usiamu sudah sangat tua dan dia dalam keadaan mandul. Karena kegembiraan dan besarnya keinginan beliau agar hal itu benar-benar terbukti dan lebih menenteramkan hatinya, beliau pun berdoa. Firman Allah I:

“Zakariya berkata: ‘Wahai Rabbku, berilah aku suatu tanda’.” (Maryam: 10)
Suatu tanda yang menunjukkan kepadaku akan kelahiran seorang anak bagiku. Allah I mengatakan:

“Tanda bagimu ialah bahwa kamu tidak berbicara dengan manusia selama tiga malam (padahal kamu sehat).” (Maryam: 10)

“Dan sebutlah (nama) Rabbmu sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah setiap pagi dan petang.” (Ali ‘Imran: 41)
Semua ini adalah ayat (tanda kekua-saan) Allah yang terbesar. Dia terhalang untuk berbicara padahal hal itu merupakan perbuatan yang mudah dilakukan setiap orang yang sehat sempurna. Namun di sini, dia tidak mampu berbicara dengan siapapun kecuali dengan isyarat, sedangkan lisannya senantiasa berzikir menyebut (nama) Allah, bertasbih, dan bertahmid. Pada saat itu semakin lengkaplah berita gembira yang datang dari Allah ini, dan beliau pun mengetahui bahwa hal ini pasti terjadi.
Tak lama kemudian isterinya melahir-kan seorang anak laki-laki yang diberi nama Yahya. Allah menumbuhkannya dengan cara yang menakjubkan. Di saat masih kecil, beliau sudah mulai belajar. Bahkan di usia itu pula beliau sudah mahir dengan berbagai cabang ilmu. Oleh sebab inilah Allah I mengatakan:

“Dan kami berikan kepadanya hikmah selagi dia masih kanak-kanak.” (Maryam: 12)
Bahkan ada yang berpendapat (berda-sarkan ayat ini), Allah telah mengangkat beliau menjadi nabi ketika dia masih kanak-kanak. Sebagaimana Allah telah meng-anugerahkan kepadanya ilmu yang agung, Allah juga memberinya anugerah dengan sifat-sifat yang sangat sempurna. Allah I berfirman:

“Rasa belas kasihan yang mendalam dari sisi Kami dan kesucian. Dan dia adalah seorang yang bertakwa. Dia banyak berbakti kepada kedua ibu bapaknya, dan bukanlah dia orang yang sombong lagi durhaka. Kesejahteraan atas dirinya pada hari dia dilahirkan dan pada hari dia meninggal dunia dan pada hari dia dibangkitkan kembali.” (Maryam: 13-15)
Yang tersirat dari sifat-sifat ini, bahwa beliau adalah orang yang sangat memper-hatikan hak-hak Allah, hak kedua ibu bapaknya dan hak-hak orang lain. Sesung-guhnya Allah pasti akan memperbaiki kesudahannya dalam semua keadaannya.
Adapun Maryam, dia menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur. Benar-benar menyerahkan diri untuk beribadah kepada Allah. Firman Allah I:

“Lalu ia membuat hijab (tabir yang menutupi) dari mereka.” (Maryam: 16)
Agar tidak ada seorangpun yang mengganggu kesibukannya beribadah. Kemudian Allah I mengutus Ruhul Amin yaitu Jibril kepadanya dalam bentuk seorang laki-laki yang sempurna. Maryam menyang-ka laki-laki itu ingin berbuat jahat terhadap dirinya. Diapun berkata:

“Sesungguhnya aku berlindung kepada Allah Yang Maha Pengasih dari (kejahatan)mu, jika kamu seorang yang bertakwa.” (Maryam: 18)
Maryam bertawassul kepada Allah agar Dia memelihara dan melindunginya. Dan iapun mengingatkan kepada orang (malaikat) itu kewajiban bertakwa bagi setiap muslim yang takut kepada Allah. Hal ini adalah sikap wara’ (hati-hati) yang tinggi dari Maryam yang mengkhawatirkan akan terjerumus ke dalam fitnah (perbuatan dosa). Kemudian Allah melepaskannya dari keadaan ini dan mensifatkannya sebagai seorang wanita yang mempunyai ‘iffah (kemuliaan) yang sempurna. Allah juga sebutkan bahwa dia adalah wanita yang tahu menjaga kehormatannya.
Allah I berfirman:

“Jibril berkata kepadanya: ‘Sesungguh-nya aku hanyalah seorang utusan Rabbmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci.’ Maryam berkata: ‘Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, padahal tidak seorang manusiapun menyentuhku dan aku bukan pula seorang pezina.’ Jibril berkata: ‘Demikianlah. Rabbmu berfirman: Hal tu adalah mudah bagi-Ku, dan agar Kami menjadikannya sebagai suatu tanda bagi manusia dan rahmat dari Kami’.” (Maryam: 19-21)
Yakni, sebagai rahmat dari Allah buat dirinya, buat engkau dan seluruh manusia.
Allah I melanjutkan firman-Nya:

“Hal itu adalah suatu perkara yang sudah ditetapkan.” (Maryam: 21)
Maka janganlah engkau merasa heran terhadap apa yang telah ditentukan dan ditakdirkan-Nya. Selanjutnya:

“Maka Maryam mengandungnya, lalu ia menyisihkan diri dengan kandungannya itu.” (Maryam: 22)
Maksudnya menyendiri di tempat yang jauh dari keramaian manusia. Firman Allah I:

“Ke tempat yang jauh.” (Maryam: 22)
Karena mengkhawatirkan tuduhan dan gangguan manusia. Allah I berfirman:

“Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksanya bersandar ke pangkal pohon kurma. Dia berkata: ‘Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti, lagi dilupakan’.” (Maryam: 23)
Ini diucapkannya karena dia menyada-ri bahwa ini akan menjadi sasaran omongan orang banyak dan mereka tentunya tidak akan mempercayai ucapannya. Dia tidak atau belum mengetahui apa yang akan Allah perbuat terhadap dirinya. Allah I berfirman:

“(Seorang malaikat) memanggilnya dari arah bawahnya.” (Maryam: 24)
Ketika itu dia berada di tempat yang lebih tinggi, sebagaimana firman Allah I dalam ayat yang lain:

“Kami melindungi keduanya di suatu dataran tinggi yang terdapat padang-padang rumput dan sumber-sumber air bersih yang mengalir.” (Al-Mu`minun: 50)
Firman Allah I:

“Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Rabbmu telah menjadikan anak sungai yang mengalir di bawahmu. Goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu.” (Maryam: 24-25)
Tanpa engkau perlu bersusah payah memanjatnya. Kemudian Allah I berfir-man:

“Niscaya pohon tu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu. Maka makanlah (kurma yang masak itu), dan minumlah (dari anak sungai itu) dan senangkanlah hatimu.” (Maryam: 25-26)
Yakni, bergembiralah dengan kelahiran puteramu ‘Isa u, agar hilang kesedihan dan rasa takutmu. Firman Allah I:

“Maka jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah: ‘Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Rabbku Yang Maha Pemurah’.” (Maryam: 26)
Yaitu diam, tidak berbicara. Dan ketika itu, hal ini adalah amalan yang telah diten-tukan bagi mereka, di mana mereka beriba-dah dengan berdiam diri, tidak berbicara sepanjang hari. Sebab itulah kemudian diterangkan dalam ayat berikutnya:

“Bahwa aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini.” (Maryam: 26)
Akhirnya tenanglah hatinya dan hilanglah kekhawatiran yang dia rasakan dalam dirinya.
Kemudian setelah habis masa nifas-nya, dia berbenah diri dan merasa cukup kuat setelah melahirkan ini (Kemudian dia membawa anak itu kepada kaumnya dengan menggendongnya), terang-terangan tanpa rasa takut dan tidak perduli dengan apa yang akan terjadi.
(Diambil dari Taisirul Lathifil Mannan karya Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di t)

Mandi yang Disunnahkan

(ditulis oleh: Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al-Atsari)

Dalam edisi-edisi yang telah lalu kita telah membahas tentang beberapa mandi yang diwajibkan, baik pewajibannya disepakati di kalangan ulama maupun yang diperselisihkan. Kami telah pula menying-gung di awal pembahasan tentang mandi bahwa selain mandi yang diwajibkan ada pula yang mandi disunnahkan/disenangi untuk dilakukan oleh seorang muslim. Berikut ini beberapa mandi mustahab yang dapat kami sebutkan dengan dalil-dalilnya.

Mandi sebelum Mengerjakan Dua Shalat Id (Idul Fithri dan Idul Adhha)
Tentang mandi Id ini tidak ada dalil yang shahih dari Rasulullah n (tidak ada hadits marfu’ yang shahih1), yang ada hanyalah dari ucapan shahabat dan tabi’in sebagaimana berikut ini:
Al-Baihaqi meriwayatkan dari jalan Asy-Syafi’i dari Zadzan, ia berkata: “Sese-orang bertanya kepada ‘Ali bin Abi Thalib z tentang mandi, maka beliau menjawab:

“Mandi setiap hari bila engkau inginkan.” Orang itu berkata: “Tidak (bukan itu yang kumaksudkan), tapi aku bertanya tentang mandi yang merupakan mandi yang disyariatkan.” ‘Ali menjawab: “Mandi pada hari Jum’at, mandi pada hari ‘Arafah, mandi pada hari Nahr (Idul Adhha) dan Idul Fithri.” (Dishahihkan sanadnya oleh Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Irwa`ul Ghalil, 1/176)
Asy-Syaikh Al-Albani t berkata: “Yang paling bagus untuk dijadikan sebagai dalil untuk menyatakan disenanginya mandi pada dua hari Id adalah riwayat Al-Baihaqi (di atas –pent.).” (Irwa`ul Ghalil, 1/176)
Nafi’ mengabarkan:

“Sungguh ‘Abdullah bin ‘Umar c mandi pada hari Idul Fithri sebelum berpagi-pagi berangkat menuju ke mushalla.” (Diriwayatkan oleh Al-Imam Malik 1/428, ‘Abdurrazzaq no. 5753 dengan sanad shahih)
Al-Firyabi meriwayatkan ucapan Sa’id ibnul Musayyab t berikut ini:

“Sunnah pada hari Idul Fitri ada tiga: berjalan menuju ke mushalla (lapangan tempat pelaksanaan shalat Id), makan sebelum keluar ke mushalla dan mandi.” (Dishahihkan sanadnya oleh Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Irwa`ul Ghalil, ketika membahas hadits no. 636, 3/104)
Ketika mengomentari ucapan ‘Urwah bin Az-Zubair dan Sa’id ibnul Musayyab yang masing-masingnya menyatakan ucapan senada: “Mandi pada hari Idul Fitri dan Idul Adha adalah sunnah”, Al-Imam Asy-Syafi’i t menyatakan: “Madzhab Sa’id dan ‘Urwah tentang mandi pada hari dua Id adalah sunnah, (maksudnya) bahwa mandi tersebut lebih baik, lebih harum dan lebih bersih, bahkan mandi ini dilakukan oleh orang-orang yang shalih. Bukan maksudnya kepastian bahwa mandi tersebut merupakan Sunnah Rasulullah n.” (Al-Umm, kitab Shalatul ‘Idain, Al-Ghuslu lil Idain)
Al-Imam An-Nawawi t berkata: “Termasuk mandi yang disunnahkan adalah mandi untuk dua Id. Mandi ini sunnah bagi setiap orang menurut kesepakatan yang ada, sama saja baik bagi laki-laki, wanita maupun anak-anak. Karena yang diinginkan dengan mandi ini adalah untuk berhias, sedangkan setiap mereka (laki-laki, wanita dan anak-anak) adalah orang yang patut untuk berhias (ketika hari Id). Berbeda dengan mandi Jum’at, yang tujuannya adalah menghilangkan aroma yang tak sedap sehingga mandi Jum’at hanya dikhu-suskan bagi orang yang akan menghadiri shalat Jum’at, menurut pendapat yang shahih.” (Al-Majmu’, 2/232)
Al-Imam Ibnu Qudamah t berka-ta: “Disenangi untuk bersuci/membersihkan diri dengan mandi untuk hari Id. Adalah Ibnu ‘Umar c biasa mandi pada hari Idul Fithri. Mandi ini diriwayatkan (juga) dari ‘Ali z. Yang berpendapat sunnahnya hal ini di antaranya ‘Alqamah, ‘Urwah, ‘Atha`, An-Nakha’i, Asy-Sya’bi, Qatadah, Abuz Zinad, Malik, Asy-Syafi’i dan Ibnul Mundzir….” (Al-Mughni, kitab Ash-Shalah, bab Shalatul Idain, masalah Yusta-habbu An Yatathahhar bil Ghusl lil ‘Idain)

Faedah
Ulama berbeda pendapat tentang waktu mandi Id, apakah dilakukan sebelum terbit fajar atau setelahnya?
Alasan ulama yang berpendapat bahwa mandi itu dilakukan setelah terbit fajar dan tidak boleh sebelumnya adalah karena mandi tersebut dilakukan untuk hari Id. Sehingga bila dilakukan sebelum masuk hari Id maka tidak teranggap, sebagai pengkiasan terhadap mandi Jum’at.
Sedangkan ulama yang membolehkan mandi sebelum fajar beralasan disunnah-kannya berpagi-pagi mengerjakan shalat Id. Dan hal itu secara umum tidak bisa direali-sasikan kecuali dengan mandi sebelum terbit fajar agar dapat berpagi-pagi menuju ke mushalla setelah mengerjakan shalat shubuh. (Al-Hawil Kabir, 2/483)
Namun karena tidak ada dalil yang menguatkan dalam masalah ini maka perkaranya lapang. Boleh mandi sebelum fajar ataupun setelahnya. Namun lebih utama kalau dikerjakan sebelum fajar. Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.
Al-Baji dalam Al-Muntaqa (1/316) berkata: “Bila seseorang menyegerakan mandi tersebut sebelum terbit fajar maka ada toleransi karena itu juga dekat dengan shalat Id. Juga karena mandi yang dilaku-kan sebelum fajar itu tidak hilang bekas-bekasnya dan tidak berubah kebersihannya.”
Al-Imam An-Nawawi membolehkan mandi Id dilakukan sebelum ataupun setelah fajar. Namun timbul permasalahan lain bila mandi itu dilakukan sebelum fajar: Apakah boleh dilakukan sepanjang malam itu atau pada tengah malam saja? Al-Imam An-Nawawi menguatkan pendapat yang menyatakan mandi tersebut hanya boleh dilakukan setelah lewat tengah malam, tidak boleh sebelum itu. (Al-Majmu’, 1/233-234)

Mandi setiap Selesai Senggama
Bila seorang suami selesai ‘menda-tangi’ istrinya, kemudian ingin meng-ulanginya (dengan istri tersebut ataupun dengan istrinya yang lain), maka disenangi baginya untuk berwudhu sebelumnya. Dalilnya hadits Rasulullah n:

“Apabila salah seorang dari kalian ‘mendatangi’ istrinya, kemudian ingin mengulanginya, hendaklah ia berwudhu [di antara kedua senggama tersebut] (dalam satu riwayat: sebagaimana wudhu untuk menger-jakan shalat) karena yang demikian lebih menyemangatkan dalam pengu-langan].” (HR. Muslim dalam Shahih-nya no. 705, namun tambahan yang ada dalam kurung [ ] adalah dari riwayat Abu Nu’aim dalam Ath-Thibb, 2/12/1. Lihat Adabuz Zafaf, hal. 35)
Namun bila ia mandi maka itu lebih utama, berdasarkan hadits Abu Rafi’ z. Ia mengisahkan bahwa Nabi n dalam satu malam pernah ‘mendatangi’ seluruh istrinya, dan beliau mandi setiap kali selesai dengan seorang istrinya. Abu Rafi’ berkata: “Aku pun bertanya kepada beliau:

“Wahai Rasulullah! Mengapa engkau tidak menjadikan mandi (janabahmu) hanya sekali mandi saja (yakni selesai dari semua senggama –pent.)? “ Beliau menjawab: “Mandi (setiap selesai senggama) ini lebih mensucikan, lebih bagus dan lebih bersih.” (HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya no, 219, An-Nasa`i dalam ‘Isyratun Nisa` no. 152 dan selain keduanya. Dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Shahih Abi Dawud)
Penulis ‘Aunul Ma’bud ‘ala Sunan Abi Dawud berkata: “Hadits Abu Rafi’ z ini menunjukkan disunnahkannya mandi sebelum mengulang senggama, dan tidak ada perbedaan pendapat dalam hal ini. An-Nasa`i berkata: ‘Tidak ada pertentangan antara hadits ini dengan hadits Anas bin Malik z2, karena Nabi n melakukan keduanya. Beliau melakukan hal ini dan melakukan pula yang selainnya.’ An-Nawawi berkata dalam Syarhu Muslim: ‘Beliau melakukan dua perkara tersebut dalam dua waktu yang berbeda.’ Apa yang dikatakan oleh An-Nasa`i dan An-Nawawi bagus sekali dan tidak ada pertentangan antara kedua hadits tersebut. Karena suatu waktu Rasulullah n meninggalkan mandi (ketika hendak mengulangi senggama) untuk menerangkan bahwa hal itu dibolehkan dan untuk memberikan keringanan pada umat beliau. Dan pada kesempatan yang lain beliau melakukan mandi di setiap pengulangan karena yang demikian itu lebih mensucikan dan lebih bersih.” (‘Aunul Ma’bud, kitab Ath-Thaharah, bab Fil Wudhu Liman Arada An Ya’uda)

Mandi sebelum Berihram untuk Haji atau Umrah
Seseorang yang hendak berihram untuk haji atau umrah disunnahkan untuk mandi, sebagaimana hal ini merupakan pandangan jumhur ulama (Ad-Darari, hal. 43). Dalilnya hadits Zaid bin Tsabit z:

“Ia pernah melihat Nabi n melepas pakaian (yang dikenakan sebelum berihram, untuk kemudian mengenakan pakaian ihram –pent.) untuk ihlal3 beliau dan mandi.” (HR. At-Tirmidzi no. 8304. Dihasankan dalam Irwa`ul Ghalil no. 149)
Di antara yang mendukung hadits di atas adalah riwayat yang diriwayatkan oleh Ad-Daraquthni, Al-Hakim dan Al-Baihaqi dari Ya’qub bin ‘Atha` dari bapaknya dari Ibnu ‘Abbas c, ia berkata: “Rasulullah n mandi, kemudian mengenakan pakaian (ihram)nya. Ketika tiba di Dzul Hulaifah, beliau shalat dua rakaat, kemudian duduk di atas untanya….”
Ucapan Ibnu ‘Umar c berikut ini pun menjadi pendukung bagi hadits di atas, di mana beliau menyatakan:

“Termasuk sunnah adalah seseorang mandi bila hendak berihram dan bila hendak masuk ke Makkah.” (Diriwayatkan oleh Ad-Daraquthni dan Al-Hakim. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Irwa`ul Ghalil no. 149)5
Asy-Syaikh Al-Albani t berkata: “Riwayat di atas –sekalipun mauquf6– namun ucapan Ibnu ‘Abbas c: ‘Termasuk sunnah’, menunjukkan bahwa yang beliau maksudkan adalah Sunnah Rasulullah n, sebagaimana hal ini ditetapkan dalam ilmu ushul fiqih. Karena itu, hadits (Zaid bin Tsabit) di atas dengan dua pendukungnya shahih, insya Allah I.” (Irwa`ul Ghalil, 1/179)
Al-Imam Al-Mawardi t berkata: “Disenangi bagi orang yang ingin ihram untuk haji dan umrah untuk mandi dari tempat miqatnya berdasarkan riwayat Jabir bin Zaid bin Tsabit dari ayahnya, bahwa-sanya Rasulullah n mandi untuk ihlalnya. Ja’far bin Muhammad meriwayatkan dari ayahnya g dari Jabir, ia berkata: ‘Ketika kami tiba di Dzul Hulaifah, Asma` bintu ‘Umais melahirkan Muhammad bin Abi Bakr, maka Nabi n memerintahkannya mandi untuk ihlalnya7.’ Sunnah mandi ketika hendak berihram ini berlaku umum, baik bagi laki-laki, wanita, orang/wanita yang suci maupun yang haid, karena Nabi n memerintahkan Asma` untuk mandi, padahal ia dalam keadaan nifas. Namun mandi ini tidaklah wajib hukumnya sehingga dianggap berdosa orang yang meninggal-kannya. Mandi ini hanyalah istihbab (mustahab) dan ikhtiyar (diberi pilihan untuk melakukan atau meninggalkannya).” (Al-Hawil Kabir, 4/73)
Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin t menyatakan bahwa setiap orang yang ingin melaksanakan ibadah haji dan umrah, hendaklah mandi, baik laki-laki, wanita, orang yang junub, yang tidak junub, wanita haid, nifas, anak kecil ataupun orang tua. Dan mandi di sini –karena disebut secara mutlak– yang dimaukan seperti mandi janabah. (Asy-Syarhul Mumti’, 3/181)

Mandi ketika Hendak Masuk ke Kota Makkah
Nafi’ t mengabarkan:

“Adalah Ibnu ‘Umar c bila masuk daerah paling rendah dari tanah Haram (Makkah), beliau berhenti dari talbiyah, kemudian beliau bermalam di Dzi Thuwa8. Lalu beliau mengerjakan shalat subuh di tempat tersebut dan mandi. Beliau menyam-paikan bahwa Nabi n dahulu melakukan hal itu.” (HR. Al-Bukhari no. 1573)
Atsar Ibnu ‘Umar c yang telah disebutkan ketika membahas mandi sebelum ihram9 juga menjadi dalil tentang sunnahnya mandi sebelum masuk Makkah.
Ibnul Mundzir t berkata, sebagaimana dinukil oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-’Asqalani t: “Mandi sebelum masuk Makkah adalah mustahab menurut pendapat seluruh ulama. Namun bila meninggalkannya (tidak mandi) tidaklah ada kewajiban membayar fidyah. Mayoritas mereka mengatakan: ‘Cukup baginya berwudhu’.” (Fathul Bari, 3/549)
Al-Imam Asy-Syaukani t berkata setelah membawakan hadits riwayat Al-Bukhari di atas: “Hadits ini menunjukkan istihbab mandi untuk masuk Makkah.” (Nailul Authar, 2/336)

Mandi pada Hari Arafah bagi Jamaah Haji yang akan Wuquf di Arafah
Yang menjadi dalil dalam hal ini adalah atsar dari ‘Ali bin Abi Thalib z yang telah disebutkan dalam pembahasan tentang mandi sebelum shalat Id10.
Al-Imam An-Nawawi t menyebut-kan disyariatkannya mandi ini bagi yang akan wuquf di Arafah. (Al-Majmu’, 8/114)
Mandi setelah Memandikan Mayat
Setelah memandikan jenazah, disunnahkan untuk mandi bagi yang memandikannya, menurut pendapat jumhur ulama11 (Al-Majmu’, 5/144). Dalilnya adalah sabda Nabi n:

“Siapa yang memandikan jenazah maka hendaklah ia mandi dan siapa yang memikul jenazah hendaklah ia berwudhu.”  (HR. Abu Dawud no. 3161 dan At-Tirmidzi no. 993, dishahihkan dalam Shahih Abu Dawud dan Shahih At-Tirmidzi)
Perintah Rasulullah n dalam hadits di atas tidaklah bermakna wajib. Hal ini sebagaimana diterangkan oleh atsar berikut:
1. Ibnu ‘Abbas c berkata:

“Tidak ada kewajiban mandi bagi kalian apabila kalian memandikan orang yang meninggal di antara kalian, karena mayat tidaklah najis. Cukup bagi kalian mencuci tangan-tangan kalian.” (Riwayat Ad-Dara-quthni, Al-Hakim dan Al-Baihaqi. Bila riwayat ini disandarkan atau di-rafa’-kan kepada Rasulullah n maka dhaif. Yang benar riwayat ini mauquf sampai Ibnu ‘Abbas c (yakni ucapan beliau). Lihat pembahasan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Adh-Dha’ifah no. 6302)
2. Atsar dari Ibnu ‘Umar c, ia menyatakan:
“Kami dulunya memandikan mayat, di antara kami ada yang mandi dan ada yang tidak mandi.” (HR. Ad-Daraquthni no. 191, Al-Khathib dalam Tarikh-nya, 5/424, dengan sanad yang shahih sebagaimana dinyatakan Al-Hafizh, kata Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ahkamul Jana`iz hal. 72)
Al-Imam Asy-Syaukani t berkata: “Yang berpendapat wajibnya mandi ini adalah Abu Hurairah, Al-Imamiyyah dan satu riwayat dari An-Nashir. Adapun jumhur ulama berpendapat mustahab (sunnah). Mereka mengatakan: ‘Perintah yang disebut-kan dalam hadits yang terdahulu12 dipaling-kan dari hukum wajib (kepada hukum sunnah) dengan dua hadits di atas13. Dan juga fatwa shahabat kepada Asma` bintu ‘Umais, istri Abu Bakar z, ketika selesai memandikan jenazah suami-nya. Ia berkata kepada para shahabat: ‘Hari ini sangat dingin dan aku sedang puasa. Apakah aku wajib mandi?’ Mereka menjawab: ‘Tidak.’ Diriwayatkan Al-Imam Malik dalam Al-Muwaththa`.” (Ad-Darari, hal. 42)

Mandi setelah Menguburkan Mayat Musyrik/Kafir
‘Ali bin Abi Thalib z mengabarkan bahwa ia mendatangi Nabi n untuk memberi kabar meninggalnya Abu Thalib. Nabi pun memerintahkannya:

“Pergilah untuk menguburkannya.” ‘Ali berkata: “Ia mati dalam keadaan musyrik.” Nabi mengulangi perintahnya: “Pergilah untuk menguburkannya.” Kata ‘Ali: “Tatkala selesai menguburkannya, aku  menemui Nabi maka beliau berkata kepadaku: ‘Mandilah’.” (HR. Ahmad, 1/97, Abu Dawud no. 3214, dan An-Nasa`i no. 2006. Dishahihkan dalam Shahih Sunan Abi Dawud dan Shahih Sunan An-Nasa`i)
Dalam hal ini ada yang berpandangan bahwa mandi ‘Ali bin Abi Thalib z yang disebutkan dalam hadits di atas adalah karena ia telah memandikan jenazah ayahnya Abu Thalib, sehingga mandinya disyariatkan karena sebab memandikan jenazah bukan karena menguburkan jenazah. Terlebih lagi pada akhir hadits ini ada tambahan dalam riwayat Ahmad dan lainnya:

“Adalah ‘Ali bila selesai memandikan mayat, ia pun mandi.”
Asy-Syaikh Al-Albani t menjawab: “Orang bisa mengatakan bahwa dzahir hadits ini justru menunjukkan disyariat-kannya mandi setelah menguburkan jenazah. Dan tentunya ini tidaklah bertentangan dengan lafadz tambahan yang ada pada akhir hadits. Karena tambahan tersebut adalah kalimat yang baru/terpisah dari kalimat sebelumnya, tidak ada hubungannya. Aku maksudkan, tidak ada dalil dalam hadits tersebut yang menunjukkan bahwa ‘Ali mandi hanyalah karena selesai memandikan jenazah berdasarkan perintah Nabi n kepada ‘Ali untuk mandi dalam hadits tersebut. Bahkan ini (mandi karena memandikan jenazah –pent.) adalah perkara lain sedangkan itu (mandi karena menguburkan jenazah –pent.) perkara yang lain lagi.” (Ahkamul Jana`iz, hal. 171)

Mandi setelah Siuman dari Pingsan
‘Ubaidullah bin Abdillah bin ‘Utbah mengisahkan:
“Aku pernah masuk menemui ‘Aisyah x, lalu aku berkata: ‘Tidakkah engkau mau mengabarkan kepadaku tentang sakit Rasulullah n?”

‘Aisyah menjawab: ‘Tentu. Saat Nabi n merasakan sakit yang parah, beliau bertanya: ‘Apakah orang-orang telah mengerjakan shalat?’ Kami menjawab: ‘Be-lum, mereka menantimu.’ Beliau bersabda: ‘Letakkan untukku air dalam bejana.’ ‘Aisyah berkata: ‘Kami pun menunaikan permintaan beliau, lalu beliau mandi. Beliau berupaya bangkit dengan susah payah hingga beliau pingsan. Kemudian beliau siuman dan bertanya: ‘Apakah orang-orang telah mengerjakan shalat?’ Kami menjawab: ‘Be-lum, mereka menanti-mu wahai Rasulullah.’ Beliau kembali me-minta: ‘Letakkan untukku air dalam bejana.’ ‘Aisyah berka-ta: ‘Beliau pun duduk lalu mandi. Kemudian beliau berupaya bangkit dengan susah payah hingga beliau pingsan. Beliau siuman dan bertanya: ‘Apakah orang-orang telah mengerjakan shalat?’ Kami menjawab: ‘Belum, mereka menantimu wahai Rasu-lullah.’ Beliau berkata: ‘Letakkan air untukku dalam bejana.’ Beliau pun duduk lalu mandi, kemudian kembali berupaya bangkit dengan susah payah, namun beliau pingsan lagi. Setelah siuman, beliau bertanya: ‘Apakah orang-orang telah mengerjakan shalat?’ Kami menjawab: ‘Belum, mereka menantimu wahai Rasulullah….” (HR. Al-Bukhari no. 687 dan Muslim no. 935)
Al-Imam An-Nawawi t berkata: “Ucapan ‘Aisyah x menukil sabda Rasulullah n: , kata ‘Aisyah: ‘Kami pun melakukannya lalu beliau mandi’, ini merupakan dalil sunnahnya mandi karena pingsan. Apabila seseorang pingsan berulang-ulang maka disenangi pula untuk mengulangi mandi setiap kali siuman. Namun bila seseorang tidak mandi kecuali setelah pingsan beberapa kali, maka hal itu cukup baginya (yakni dengan sekali mandi tersebut).
Al-Qadhi ‘Iyadh membawa pengertian  di sini kepada wudhu, karena pingsan itu membatalkan wudhu. Namun yang benar bahwa mandi yang dimaukan di sini adalah memandikan seluruh tubuh, kare-na demikianlah yang ditunjukkan oleh dzahir lafadz dan tidak ada penghalang yang mencegah dari pengertian seperti ini, sehingga mandi itu disenangi/ mustahab karena pingsan. Bahkan sebagian orang dalam madzhab kami mengatakan bahwa mandi ini wajib. Namun pendapat ini syadz/ganjil, dhaif/lemah.” (Al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim, 4/357)
Al-Imam Asy-Syaukani t setelah membawakan hadits di atas menyatakan: “Penulis membawakan hadits ini di sini sebagai dalil disunnahkannya mandi bagi orang yang siuman dari pingsan. Sungguh Nabi n telah melakukannya sebanyak tiga kali14, sementara beliau menderita sakit yang parah. Hal ini menunjukkan ditekankannya sunnah mandi ini.” (Nailul Authar, 1/340)
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Catatan Kaki:

1 Adapun hadits Ibnu ‘Abbas c yang bunyinya:

“Sesungguhnya Nabi n biasa mandi pada hari Idul Fithri dan Idul Adha.” (HR. Ibnu Majah no. 1315)
Kata Asy-Syaikh Al-Albani t, hadits ini dha’if, tidak tsabit. Lihat Irwa`ul Ghalil (1/175).
Demikian pula hadits Al-Fakah bin Sa’d:

“Sesungguhnya Rasulullah n biasa mandi mandi pada hari Jum’at, hari Arafah, hari Idul Fithri dan hari Nahar (Idul Adha).”  (HR. Ibnu Majah no. 1316. Asy-Syaikh Al-Albani t berkata: “Bahkan sanadnya maudhu’ (palsu).”)
2 Yaitu hadits:

“Sesungguhnya Nabi n berkeliling kepada istri-istri beliau (mendatangi mereka di kediaman masing-masing untuk jima’ –pent.) dengan satu kali mandi (di akhir jima’).” (HR. Muslim no. 706)
3 Ihlal adalah mengangkat/mengeraskan suara dengan mengucapkan talbiyah. (An-Nihayah)
4 Al-Imam At-Tirmidzi t setelah membawakan hadits di atas mengatakan: “Sekelompok ahlul ilmi menyenangi mandi ketika hendak berihram. Demikian Al-Imam Asy-Syafi’i berpendapat.” (Sunan At-Tirmidzi, kitab Al-Hajj ‘an Rasulillah n, bab Ma Ja`a fil Ightisal ‘Indal Ihram)
5 Al-Bazzar t dalam Kasyful Astar (juz 2, hal. 11) juga meriwayatkan riwayat Ibnu ‘Umar c di atas dengan lafadz:

“Termasuk sunnah adalah seseorang mandi bila hendak berihram.”
Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i t berkata tentang hadits ini: “Hadits ini hasan, para perawinya adalah rijal shahih, kecuali Al-Fadhl bin Ya’qub Al-Jazari, kata Abu Hatim: ‘Tempatnya ash-shidq.’ Al-Khathib berkata: ‘Ia shaduq’.” (Al-Jami’ Ash-Shahih Mimma Laisa fish Shahihain, 2/343)
6 Yakni ucapan shahabat.
7 Diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim dalam Shahih-nya dari hadits Jabir dan ‘Aisyah c.
8 Wadi yang terkenal, dekat dengan kota Makkah.
9 Yaitu atsar yang menyebutkan:
“Termasuk sunnah adalah seseorang mandi bila hendak berihram dan bila hendak masuk ke Makkah.”
10 ‘Ali z menyebutkan mandi yang disyariatkan ketika ada seseorang yang bertanya tentang mandi: “Mandi pada hari Jum’at, mandi pada hari ‘Arafah, mandi pada hari Nahr (Idul Adha) dan Idul Fithri.”
11 Karena memang ada perbedaan pendapat di kalangan ulama dalam masalah ini.
12 Yaitu hadits:
“Siapa yang memandikan jenazah maka hendaklah ia mandi, dan siapa yang memikul jenazah hendaklah ia berwudhu.”
13 Al-Imam Asy-Syaukani menyebutkan lafadznya.
14 Atau empat kali sebagaimana tersebut dalam hadits di atas

Meraih Keutamaan Lailaahaillallah

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah)

Konsekuensi
Konsekuensinya sangat banyak. Intinya adalah mengimplementasikan segala peribadatan baik dalam bentuk lahiriah ataupun batiniah hanya untuk Allah I saja, di antaranya:
Pertama: Melaksanakan tugas dan hikmah diciptakannya seluruh makhluk yang tersurat di dalam firman Allah I:

“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka menyembah-Ku.” (Adz-Dzariyat: 56)
Kedua: Menyembah hanya kepada Allah I semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun dari makhluk ini.

“Hanya kepada-Mulah kami menyem-bah dan hanya kepada-Mulah kami meminta.” (Al-Fatihah: 4)

“Dan sembahlah Allah dan jangan kalian menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.” (An-Nisa`: 36)
Ketiga: Berdoa dan meminta hanya kepada Allah I.

“Dan Rabbmu berfirman: Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kukabulkan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyom-bongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (Ghafir: 60)

“Jika kamu meminta maka mintalah kepada Allah dan jika kamu meminta tolong maka minta tolonglah kepada Allah.”3
Keempat: Memasrahkan segala urusan kepada Allah I serta menggan-tungkan segala hasil usaha kepada-Nya.

“Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (Al-Ma`idah: 23)
Kelima: Tumbuhnya rasa takut hanya kepada Allah I. Adapun rasa takut kepada selain-Nya tidak lebih dari takut yang bersifat tabiat, bukan ibadah.

“Sesungguhnya mereka itu tidak lain adalah setan yang menakut-nakuti (kalian) dengan kawan-kawannya (Orang-orang musyrik Quraisy). Karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (Ali ‘Imran: 175)
Keenam: Berlepas diri dari segala yang diagungkan selain Allah I.

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu.” (An-Nahl: 36)

“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah. Kami ingkari (kekafiran) mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian untuk selama-lamanya hingga kamu beriman kepada Allah saja.” (Al-Mumtahanah: 4)

“Bagi kalian agama kalian dan bagiku agamaku.” (Al-Kafirun: 6)

“Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: ‘Sesung-guhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu sembah, tetapi (aku menyem-bah) Dzat Yang menjadikanku; karena sesungguhnya Dia akan memberi hidayah kepadaku’.” (Az-Zukhruf: 26-27)
Ketujuh: Membersihkan amalan-amalan dari noda yang akan mengotori keikhlasan.

“Katakanlah: ‘Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: ‘Bahwa sesungguh-nya Ilah kamu itu adalah Ilah Yang Esa’. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya maka hendaklah ia mengerjakan amal shalih dan janganlah mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Rabbnya.” (Al-Kahfi: 110)
Rasulullah n bersabda: “Allah I berfirman:

“Aku adalah Dzat yang tidak butuh kepada sekutu, barangsiapa melakukan amalan dan dia menyekutukan Aku dengan selain-Ku, niscaya Aku akan meninggalkan-nya dan perbuatan syiriknya itu.”4
Kedelapan: Mencintai Allah I dan Rasul-Nya di atas segala kecintaan. Seandainyapun dia mencintai selain Allah I, dia mencintainya karena Allah I dan tidak keluar dari cinta manusiawi.

Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Ali ‘Imran: 31)
Semua konsekuensi ini sesungguhnya merupakan buah yang baik dan sebuah keutamaan bagi orang yang mengawali kehidupannya di atas kalimat, menjalankan rodanya di atasnya, dan menutup hidupnya dengan kalimat tersebut. Niscaya dia akan masuk ke dalam surga, terbebaskan dari neraka dan kekekalan di dalamnya, dengan seizin dari Rabbnya.

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Rabbnya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.” (Ibrahim: 24-25)
Al-Imam Al-Qurthubi dalam Tafsir-nya menjelaskan: Ibnu ‘Abbas c berkata: “Kalimat thayyibah (yang baik) dalam ayat ini maksudnya, dan pohon yang baik maksudnya seorang mukmin.”
Mujahid dan Ibnu Juraij berkata: “Kalimat thayyibah adalah iman.”
‘Athiyyah Al-‘Aufi dan Rabi’ bin Anas berkata: “(Kalimat thayyibah) adalah orang yang beriman itu sendiri.”
Al-Imam Ath-Thabari berkata: “Para ahli tafsir berbeda pendapat tentang apa yang dimaksud dengan kalimat thayyibah. Sebagian mereka mengatakan bahwa kalimat thayyibah adalah keimanan seorang mukmin. Kemudian beliau meriwayatkan dengan sanadnya sampai kepada Ibnu ‘Abbas: “(Firman Allah:)(Kalimat yang baik) maksudnya syahadat .  (Seperti pohon yang baik) artinya seorang mukmin. (Akarnya menancap) artinya ucapan  di hati seseorang yang beriman.  (Dan rantingnya setinggi langit) artinya amal orang yang beriman diangkat ke langit.”
Dan beliau meriwayatkan dengan sanadnya sampai kepada Rabi’ bin Anas, ia mengatakan: “Kalimat thayyibah adalah perumpamaan iman, karena iman merupa-kan kalimat yang baik. Dan akarnya menan-cap sehingga tidak akan hilang, maksudnya adalah keikhlasan. Dan rantingnya di langit adalah rasa takut kepada Allah I.”
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan: “Kalimat thayyibah adalah syahadat dan segala cabangnya.”
Rasulullah n bersabda:

“Barangsiapa menutup hidupnya dengan  maka dia akan masuk ke dalam surga.”5
Wallahu a‘lam.
(bersambung, insya Allah)

Catatan Kaki:

3 HR. Al-Imam Tirmidzi no. 2440 dari shahabat Ibnu ‘Abbas z.
4 HR. Al-Imam Muslim dari shahabat Abu Hurairah z.
5 HR. Abu Dawud no. 2709 dari shahabat Mu’adz bin Jabal z.

Tidak Boleh Menyebut Yahudi dengan ‘Israil’

Fatwa Asy-Syaikh Shalih bin Muhammad Al-Luhaidan
Ketua Majelis Qadha` Al-A’la (Majelis Kehakiman Tinggi Saudi Arabia)

Syaikh, kami memliki beberapa pertanyaan. Kami minta izin kepada Anda untuk menyebarkannya. Pertama, ada pertanyaan yang berbunyi:
“Kami mendengar di sebagian media adanya celaan kepada negeri kita ini (Saudi) dan pemerintahnya, khususnya di akhir-akhir ini. Hal ini terjadi setelah (kejadian) Israil menyerang Libanon. Beberapa komentar sangat kelewatan hingga mereka menjadikan negara Saudi, Israel dan Amerika adalah satu kelompok. Semuanya kafir dan saling berwala’ (berloyalitas). Apa komentar anda, sebab kami mengetahui bagaimana pemerintah kami mencintai Islam dan kaum Muslimin? (Pemerintah kami) juga mendakwahkan Islam yang benar lagi murni, bahkan di antara mereka (pemerintah) dan para ulama saling memberi nasihat dan musyawarah dalam agama.”

Beliau menjawab:
“Alangkah ngerinya apa yang keluar dari mulut mereka. Yang mereka ucapkan tidak lain adalah dusta. Tidak diragukan lagi bahwa kerajaan Saudi Arabia adalah yang menjadi target untuk disakiti oleh Amerika…
Bukankah mereka telah menyerang lembaga-lembaga amal dan bersemangat untuk menghentikan dan membekukan bantuan (kaum muslimin untuk muslimin). (Amerika) berlagak berbuat baik kepada kerajaan ini di harian-harian mereka yang terkenal. Semoga Allah merendahkan mereka dan menghancurkan berita-berita mereka.
Mereka (Amerika) ingin melecehkan ulama-ulama besar… Mereka menyatakan bahwa para ulama itu mendanai para teroris. Di antaranya sedekah yang diberikan kepada kaum muslimin yang lemah, yang diberikan oleh yayasan sosial.
(Maka) yang mengatakan bahwa Saudi bersama Yahudi dan Amerika, tidak lain hal itu diucapkan oleh orang yang di hatinya ada kedengkian terhadap aqidah ini dan para pemikulnya serta pembelanya. Kedengkian-kedengkian itu hanya akan menjerumuskan para pemiliknya kepada berbagai kehinaan dan kejelekan.
Tidak diragukan lagi, di dunia Islam tidak ada negara yang bisa memberikan bantuan melalui badan-badan dan lembaga-lembaga amal seperti yang dilakukan oleh negara ini. Baik secara pemerintahan atau pribadi.
Saya tidak suka kalau disebut “Israil (yang membantai -pent)”, sebab Israil adalah nama lain dari Nabi Allah, Ya’qub u.
Adapun mereka (yang membantai), adalah famili para babi dan monyet… (Yahudi).
Tidak diragukan lagi bahwa mereka adalah Yahudi, tapi mereka bukan Israil. Tapi mereka menggunakan nama itu.
Kemudian nama ini juga tercela bagi umat ini, yakni untuk menyebut dirinya dengan negara Islam atau dakwah Islam atau menjadikan tandanya adalah Islam.
Negara Yahudi menamakan dirinya dengan Israil, yakni menurut dasar keyahudian.
Tidak diragukan lagi bahwa setiap orang yang berakal di dunia ini, baik Nashrani di Barat maupun orang kafir di Timur, pasti tahu bahwa Amerika sangat gigih untuk melecehkan dunia Islam. Akan tetapi –tentu saja– Saudi-lah target utama mereka.
Alhamdulillah, karena kita berpegang teguh kepada agama kita yang benar dan kita menggigitnya –dengan gigi geraham kita– secara jujur serta mengikhlaskan amal kita untuk Allah, maka Allah menolong hamba-hamba-Nya yang beriman. Dan tidak ada penyebab terlambat datangnya pertolongan Allah melainkan karena para hamba menyia-nyiakan agama mereka.
Kita mohon kepada Allah agar menampakkan (hukuman) –dengan segera tanpa ditunda– terhadap Amerika yang akan membahagiakan kaum mukminin… Silahkan.”
Penanya: “Jazakallahu khairan, Syaikh.”

Ada yang bertanya:
“Yang kami hormati Asy-Syaikh Shalih bin Muhammad Al-Luhaidan, semoga Allah menjagamu dan menuntunmu. Tidak diragukan lagi bahwa Anda juga mengetahui kenyataan pahit yang dialami kaum muslimin di dunia Islam yang mana terjadi berbagai fitnah dan peperangan. Khususnya peperangan yang terjadi antara Yahudi dan kelompok Hizbullah yang merupakan kelompok Syi’ah di Libanon. Apa sikap seorang muslim terhadap peperangan ini? Sebab kita mendengar adanya ajakan untuk berjihad bersama mereka dan mendoakan kemenangan untuk mereka ketika qunut. Kaum muslimin menjadi bingung dalam hal ini. Apa pengarahan dari Anda?”

Beliau menjawab:
“Tidak diragukan lagi bahwa kelompok yang menamakan dirinya dengan Hizbullah (kelompok Allah -pent) adalah Hizbur Rafidhah (kelompok Rafidhah/Syi’ah). Dan Rafidhah telah diketahui (kesesatannya -pent) dan telah diketahui (sesatnya) manhaj (metode) mereka. Mereka hakekatnya menganggap mayoritas Ahlus Sunnah… (bahwa) semua Ahlus Sunnah adalah orang kafir. Ini adalah hal yang tidak samar bagi orang yang menelaah buku-buku mereka.
Kita berlindung kepada Allah agar jangan sampai kita menolong, membela,  dan membantu mereka yang itu akan membuat mereka semakin kuat. Mereka bagian dari Iran. Tidak ragu lagi (benarnya -pent) ucapan pemimpin Mesir: “Sesungguh-nya Syi’ah yang ada di negara ini dengan yang di Iran sama saja. Sebab, kecende-rungan dan loyalitas mereka kepada Iran.”
Namun, bila masyarakat tertimpa musibah hendaknya segera memperbaikinya menurut cara yang sesuai (syariat) dan bisa memperbaiki musibah itu.
Adapun apa yang menimpa Libanon secara umum, kalau tidak bisa dikatakan semua, dalangnya adalah kelompok ini. Mereka yang menamakan dirinya dengan kelompok Allah (Hizbullah), sebenarnya mereka adalah Hizbusy Syaithan (kelompok/partai Setan)! Sekian.”
(Fatwa ini adalah kutipan fatwa suara Asy-Syaikh Shalih Al-Luhaidan ketika menjawab dua pertanyaan saat Daurah Al-Imam Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz t. Lantas situs Ar-Radd mentranskripnya dan menyebarkannya di situsnya serta dikutip di Sahab.net. URL sumber http://www.sahab.net/forums/showthread.php?t=337317. Fatwa ini diterjemahkan oleh Abu Mu’awiyah M. Ali bin Ismail Al-Medani. Asy-Syariah mengambilnya dari website salafy.or.id)

Menyikapi Krisis Libanon

Kaum Muslimin Harus Kembali kepada Agamanya

Fatwa Al-’Allamah Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah

Pada masa ini telah banyak kejadian mengerikan yang menimpa kaum muslimin, disebabkan serangan dari musuh-musuh Allah dari segala arah. Perang di Afghanistan, perang di Irak, perang di Palestina, perang di Libanon. Namun yang kita dengar dan yang kita baca dari para penulis berita, semua hujatan ditumpahkan kepada musuh-musuh Allah tersebut. Yakni dengan menyatakan kekejian perbuatan mereka dan mengecam apa yang mereka perbuat.
Tentu hal ini adalah perkara yang tidak diragukan lagi. Namun apakah musuh yang kafir tersebut akan menahan diri dari perbuatannya dengan berbagai kecaman tersebut? Orang-orang kafir, sejak dulu kala selalu menghendaki agar Islam dihapuskan dari permukaan (bumi). Sebagaimana firman Allah:

“Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup.” (Al-Baqarah: 217)
Namun permasalahannya, apa yang telah disiapkan oleh kaum muslimin untuk menghadapi mereka dan mencegah sikap brutal mereka? Sesungguhnya yang wajib atas mereka (di antaranya):
1. Melihat kenyataan kaum muslimin dalam pengamalan agamanya. Sesungguh-nya apa yang menimpa kaum muslimin hanyalah karena mereka melalaikan agamanya. Dalam sebuah atsar disebutkan: “Jika orang yang mengenal-Ku berbuat maksiat kepada-Ku, maka Aku akan menjadikan orang yang tidak mengenal-Ku untuk menguasainya.”
Apa yang telah menimpa Bani Israil di saat mereka meninggalkan agama mereka dan membuat kerusakan di muka bumi? Allah menjadikan orang-orang kafir Majusi menguasai mereka sehingga merekapun memporak-porandakan isi kampung mereka, sebagaimana yang Allah sebutkan di awal surat Al-Isra`. Dan Allah mengancam mereka apabila tetap dalam keadaan demikian, Allah akan kembalikan kesengsaraan tersebut kepada mereka.
Maka kita harus mengoreksi kondisi kita, lantas mengoreksi apakah ada kekeliru-an dalam menjalankan agama kita? Sebab ketetapan dari Allah (Sunnatullah) tidaklah berubah. Sungguh Allah I berfirman:

“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (Ar-Ra’d: 11)
2. Hendaklah kita melakukan persiapan untuk menghadapi musuh kita, sebagaimana firman Allah I:

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan yang kamu mampu dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya.” (Al-Anfal: 60)
Yaitu dengan cara pembentukan pasukan dan persenjataan yang layak dan kekuatan yang dapat menaklukkan mereka.
3. Menyatukan kalimat kaum muslimin di atas aqidah, tauhid dan menegakkan hukum syariat, serta komitmen terhadap Islam dalam setiap perkara kita, baik dalam perkara muamalah, akhlak, berhukum dengan Kitabullah (Al-Qur‘an), melakukan amar ma’ruf dan nahi mungkar disertai mengajak kepada jalan Allah dengan ilmu dan penjelasan serta ikhlas. Allah I berfirman:

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai berai.” (Ali ‘Imran: 103)
Dan firman-Nya:

“Janganlah kamu berselisih, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Al-Anfal: 46)
Tidaklah mungkin terjadi persatuan bila berbeda dalam hal aqidah dan berbeda pula dalam maksud dan tujuan. Sampai aqidahnya benar dan tujuan disatukan, yaitu untuk menolong kebenaran dan untuk meninggikan kalimat Allah. Alangkah baiknya jika para khatib, para pemberi nasehat mengkonsentrasikan khutbah dan nasehat mereka dalam perkara-perkara ini. Di samping juga mengecam perbuatan musuh yang melampaui batas, menjelaskan tujuan-tujuan busuk mereka.
Sesungguhnya musuh Allah tersebut tidaklah memaksudkan untuk melemahkan kaum muslimin dan merampas kekayaan mereka saja. Namun maksud utama mereka adalah merusak aqidah kaum muslimin dan memalingkannya dari agama mereka, sampai mereka berhasil mengikis habis hingga ke akar-akarnya. Ini yang ingin aku peringatkan berkenaan tentang menyikapi krisis yang menimpa ini.
Allah senantiasa mengatakan kebe-naran dan membimbing ke jalan yang lurus. Shalawat serta salam Allah kepada Nabi kita Muhammad, keluarganya dan para shahabatnya.
(Ditranskrip oleh Al-Akh Ahmad Diwani dalam situs Sahab. URL sumber situs http://www.sahab.net/forums/showthread.php?t=337224, diterjemahkan oleh Al-Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal Al-Bugisi. Asy-Syariah mengambilnya dari website salafy.or.id)

Catatan Kaki:

1 Salah satu praktek perdagangan yang dilakukan dengan cara riba

Introspeksi Diri di bulan Ramadhan

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Ishaq Muslim Al-Atsari)

Shahabat yang mulia Abu Hurairah z berkata: Rasulullah n bersabda:

“Apabila datang Ramadhan, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu.”

Hadits di atas dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhari t dalam Shahih-nya kitab Ash-Shaum, bab Hal Yuqalu Ramadhan au Syahru Ramadhan no. 1898, 1899. Dikeluarkan pula dalam kitab Bad‘ul Khalqi, bab Shifatu Iblis wa Junuduhu no. 3277. Adapun Al-Imam Muslim t dalam Shahih-nya membawakannya dalam kitab Ash-Shaum, dan diberikan judul babnya oleh Al-Imam An-Nawawi, Fadhlu Syahri Ramadhan no. 2492.

Pintu Kebaikan Terbuka, Pintu Kejelekan Tertutup
Kedatangan Ramadhan akan disambut dengan penuh kegembiraan oleh insan beriman yang selalu merindukan kehadirannya dan menghitung-hitung hari kedatangannya. Banyak keutamaan yang dijanjikan untuk diraih dan didapatkan di bulan mulia ini, di antaranya seperti tersebut dalam hadits yang menjadi pembahasan kita dalam rubrik ‘Hadits’ kali ini. Dan keutamaan yang tersebut dalam hadits di atas didapatkan sejak awal malam Ramadhan yang mubarak sebagaimana tersebut dalam sabda Rasulullah n berikut ini:

“Apabila datang awal malam dari bulan Ramadhan, setan-setan dan jin-jin yang sangat jahat dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup tidak ada satu pintupun yang terbuka, sedangkan pintu-pintu surga dibuka tidak ada satu pintupun yang ditutup. Dan seorang penyeru menyerukan: ‘Wahai orang yang menginginkan kebaikan kemarilah. Wahai orang-orang yang menginginkan kejelekan tahanlah.’ Dan Allah memiliki orang-orang yang dibebaskan dari neraka, yang demikian itu terjadi pada setiap malam.” (HR. At-Tirmidzi dalam Sunan-nya no. 682 dan Ibnu Majah dalam Sunan-nya no. 1682, dihasankan Asy-Syaikh Albani t dalam Al-Misykat no. 1960)
Pada bulan yang penuh barakah ini, kejahatan di muka bumi lebih sedikit, karena jin-jin yang jahat dibelenggu dan diikat, sehingga mereka tidak bebas untuk menyebarkan kerusakan di tengah manusia sebagaimana hal ini dapat mereka lakukan di luar bulan Ramadhan. Di hari-hari itu kaum muslimin tersibukkan dengan ibadah puasa yang dengannya akan mematahkan syahwat. Juga mereka tersibukkan dengan membaca Al-Qur`an dan ibadah-ibadah lainnya. (Al-Mirqah, Asy-Syaikh Mulla ‘Ali Al-Qari pada ta’liq Al-Misykat 1/783, hadits no. 1961)
Ibadah-ibadah ini akan melatih jiwa, membersihkan dan mensucikannya. Allah I berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian, mudah-mudahan kalian bertakwa.” (Al-Baqarah: 183)
Karena amal shalih banyak dilakukan, demikian pula ucapan-ucapan yang baik berlimpah ruah, ditutuplah pintu-pintu jahannam dan dibuka pintu-pintu surga. (Shifatu Shaumin Nabiyyi n fi Ramadhan, hal. 18-19)
Makna ucapan Nabi n dalam hadits di atas   adalah setan itu dibelenggu. Dan yang dimaksudkan dengan setan di sini adalah  sebagaimana tersebut dalam hadits riwayat At-Tirmidzi dan Ibnu Majah. Kata  adalah bentuk jamak (lebih dari dua) dari kata  yaitu , maknanya yang sangat angkuh, durhaka, bertindak sewenang-wenang lagi melampaui batas (lihat An-Nihayah fi Gharibil Hadits). Sehingga yang dibelenggu hanyalah setan dari kalangan jin yang sangat jahat, adapun setan dari kalangan manusia tetap berkeliaran.
Kita perlu nyatakan hal ini, kata Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi‘i t, agar jangan sampai engkau mengatakan: “Kami mendapatkan beberapa perselisihan dan fitnah di bulan Ramadhan (lalu bagaimana dikatakan setan-setan itu dibelenggu sementara kejahatan tetap ada? -pent.).” Kita jawab bahwa yang dibelenggu adalah setan dari kalangan jin yang sangat jahat. Sedangkan setan-setan yang kecil dan setan-setan dari kalangan manusia tetap berkeliaran tidak dibelenggu. Demikian pula jiwa yang memerintahkan kepada kejelekan, teman-teman duduk yang jelek dan tabiat yang memang senang dengan fitnah dan pertikaian. Semua ini tetap ada di tengah manusia, tidak terbelenggu kecuali jin-jin yang sangat jahat. (Ijabatus Sa`il ‘ala Ahammil Masa`il, hal. 163)
Al-Imam Ibnu Khuzaimah t berkata dalam Shahih-nya (3/188): “Bab penyebutan keterangan bahwa hanyalah yang diinginkan Rasulullah n dalam sabdanya hanyalah jin-jin yang jahat, bukan semua setan. Karena nama setan terkadang diberikan kepada sebagian mereka (tidak dimaukan seluruhnya).”
Di bulan yang mubarak ini ada malaikat yang menyeru kepada kebaikan dan menyeru untuk mengurangi kejelekan sebagaimana dalam lafadz hadits:

“Wahai orang yang menginginkan kebaikan kemarilah. Wahai orang-orang yang menginginkan kejelekan tahanlah.”

Hadits-hadits tentang Keutamaan Ramadhan
Selain hadits di atas, banyak lagi hadits lain yang berbicara tentang keutamaan Ramadhan. Di antaranya akan kita sebutkan berikut ini:
1. Dari Abu Hurairah z ia berkata: Rasulullah n bersabda:

“Siapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan dalam keadaan iman dan mengharapkan pahala, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Al-Bukhari no. 1901 dan Muslim no. 1778)
2. Dari ‘Imran bin Murrah Al-Juhani z, ia berkata: Seseorang datang menemui Nabi n seraya berkata:

“Wahai Rasulullah, apa pendapat anda bila aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah saja dan aku bersaksi bahwa engkau adalah Rasulullah, aku mengerjakan shalat lima waktu, menunaikan zakat dan puasa di bulan Ramadhan, maka termasuk dalam golongan manakah aku?” Rasulullah menjawab: “Engkau termasuk golongan shiddiqin dan syuhada.” (HR. Al-Bazzar, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban dalam Shahih keduanya, dan lafadz yang disebutkan adalah lafadz Ibnu Hibban. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Shahih At-Targhib wat Tarhib no. 989)
3. Dari Abu Hurairah z, ia berkata: Rasulullah n bersabda:

“Telah datang pada kalian Ramadhan bulan yang diberkahi. Allah U mewajibkan atas kalian untuk puasa di bulan ini. Pada bulan Ramadhan dibuka pintu-pintu langit dan ditutup pintu-pintu neraka serta dibelenggu setan-setan yang sangat jahat. Pada bulan ini Allah memiliki satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Siapa yang diharamkan untuk mendapatkan kebaikan malam itu maka sungguh ia telah diharam-kan.” (HR. Ahmad, 2/385, An-Nasa`i no. 2106, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan An-Nasa`i. Lihat Shahih At-Targhib wat Tarhib no. 985, Al-Misykat no. 1962)
4. Dari Abu Hurairah z, ia berkata: Rasulullah n bersabda:

“Shalat lima waktu, Jum’at ke Jum’at berikutnya dan Ramadhan ke Ramadhan berikutnya adalah penghapus dosa di antara keduanya, apabila dijauhi dosa-dosa besar.” (HR. Muslim no. 549)
Cukuplah kiranya keutamaan bagi Ramadhan dengan Allah I memilihnya di antara bulan-bulan yang ada untuk Allah I turunkan kitab-Nya yang mulia di bulan berkah tersebut, di malam yang penuh kemuliaan. Allah I berfirman:

“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur`an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda antara yang haq dengan yang batil.” (Al-Baqarah: 185)

“Sesungguhnya Kami telah menurun-kan Al-Qur`an itu pada malam Qadar (malam kemuliaan).” (Al-Qadar: 1)

Puasa Semestinya membuahkan Takwa
Hikmah disyariatkannya puasa dinyatakan Allah I dalam firman-Nya:

“Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian, mudah-mudahan kalian bertak-wa.” (Al-Baqarah: 183)
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa‘di t berkata: “Perkara takwa yang dikandung puasa di antaranya:
q Orang yang puasa meninggalkan apa yang Allah I haramkan kepadanya berupa makan, minum, jima’ dan semi-salnya, sementara jiwa itu condong kepada perkara yang harus ditinggalkan tersebut. Semua itu dilakukan dalam rangka men-dekatkan diri kepada Allah I, mengharap-kan pahala-Nya. Ini termasuk takwa.
q Orang yang puasa melatih jiwanya untuk merasakan pengawasan Allah I (muraqabatullah), maka ia meninggalkan apa yang diinginkan jiwanya padahal ia mampu melakukannya, karena ia menge-tahui pengawasan Allah I terhadapnya.
q Puasa itu menyempitkan jalan setan, karena setan itu berjalan pada anak Adam seperti peredaran/aliran darah. Dan puasa akan melemahkan jalannya sehingga mengecilkan perbuatan maksiat.
q Orang yang puasa umumnya memperbanyak amalan ketaatan sementara amalan ketaatan termasuk perangai takwa.
q Orang yang kaya jika merasakan tidak enaknya lapar maka mestinya ia akan memberikan kelapangan/memberi derma kepada orang-orang fakir yang tidak berpunya. Ini pun termasuk perangai takwa. (Taisir Al-Karimir Rahman, hal. 86)
Dengan demikian sungguh tidaklah berlebihan bila kita katakan bahwa seharusnya momentum Ramadhan dija-dikan langkah awal untuk memperbaiki iman dan takwa kepada Allah I, untuk kemudian iman dan takwa itu terus dipupuk dan dirawat di bulan-bulan selanjutnya. Dan jangan dibiarkan terpisah dari jiwa dan raga hingga datang jemputan dari utusan Ar-Rahman (malaikat maut). Khususnya kita –penduduk negeri ini– seharusnya berkaca diri berkaitan dengan segala petaka yang menimpa negeri kita, demikian pula musibah yang datang terus menerus, lagi susul menyusul. Tidaklah semua ini menim-pa kita kecuali karena dosa-dosa kita dan jauhnya kita dari iman serta takwa kepada Al-Khaliq.

“Telah tampak kerusakan di daratan dan di lautan disebabkan karena perbuatan tangan/ulah manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar.” (Ar-Rum: 41)

“Dan apa saja musibah yang menimpa kalian maka hal itu disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri dan Allah memaafkan sebagian besar dari kesalahan-kesalahan kalian.” (Asy-Syura: 30)
Musibah yang menimpa negeri ini berupa gempa, tsunami, meletusnya gunung berapi, tanah longsor, semburan lumpur panas, dan sebagainya bukanlah karena kesialan penguasa/pemerintah sebagaimana tuduhan orang-orang dungu atau pura-pura dungu. Namun justru karena dosa-dosa yang ada di negeri ini. Terlepas apakah bencana ini karena rekayasa asing yang ingin menjatuhkan dan menghancurkan negeri ini sebagaimana analisa sebagian orang, atau murni musibah tanpa rekayasa, toh semuanya ditimpakan oleh Allah I sebagai teguran bagi kita agar kembali kepada-Nya. Bangkit dari lumpur hitam dosa dan maksiat, untuk kemudian bertaubat dan mohon ampun kepada-Nya.
Yang sangat disesalkan, di antara penduduk negeri ini banyak yang tidak sadar dari maksiat mereka dengan musibah yang menimpa. Mereka malah melakukan praktik-praktik kesyirikan, membuat sesajen penolak bala yang dipersembahkan kepada roh-roh penguasa laut, penguasa gunung, penguasa darat, dan sebagainya. Na’udzubillah min dzalik!!!
Sehubungan dengan momentum Ramadhan sebagai bulan untuk menambah iman dan takwa, serta terkait dengan banyaknya musibah yang menimpa negeri ini, bagus sekali untuk kita nukilkan nasihat dari Samahatusy Syaikh Ibnu Baz t berkenaan dengan musibah yang menimpa anak Adam, khususnya gempa bumi1. Mudah-mudahan nasehat ini bisa menjadi renungan bagi anak negeri ini.
Beliau t berkata: “Allah I Maha Memiliki hikmah Maha Mengetahui terhadap apa yang Dia putuskan dan tetapkan, sebagaimana Dia Maha Memiliki Hikmah lagi Maha Mengetahui dalam apa yang Dia syariatkan dan perintahkan. Dia mencipta-kan apa yang diinginkan-Nya berupa tanda-tanda kekuasaan-Nya. Dia tetapkan hal itu untuk menakut-nakuti hamba-Nya dan mengingatkan mereka tentang hak-Nya dan memperingatkan mereka dari kesyirikan, penyelisihan terhadap perintah-Nya dan melakukan larangan-Nya.”
Selanjutnya beliau menyatakan: “Tidaklah diragukan bahwa gempa yang terjadi pada hari-hari ini di banyak tempat/negeri merupakan sejumlah tanda-tanda kekuasaan Allah I, yang dengannya Allah I hendak menakut-nakuti hamba-hamba-Nya. Seluruh musibah gempa yang terjadi dan perkara lainnya yang membuat kemu-dharatan para hamba dan menyebabkan gangguan bagi mereka, adalah disebabkan kesyirikan dan maksiat.”

“Tidaklah satu kebaikan menimpamu melainkan itu dari Allah dan tidaklah satu kejelekan menimpamu melainkan karena ulah dirimu sendiri.” (An-Nisa`: 79)
Asy-Syaikh Ibnu Baz t berkata: “Yang wajib dilakukan oleh seluruh muslimin adalah bertaubat kepada Allah I, istiqamah di atas agamanya dan berhati-hati dari seluruh perkara yang dilarang berupa syirik dan maksiat. Sehingga mereka memperoleh pengampunan, kelapangan, keselamatan di dunia dan di akhirat dari seluruh kejelekan, dan Allah I menolak dari mereka seluruh musibah, lalu menganugerahkan kepada mereka setiap kebaikan. Sebagaimana Ia berfirman:

“Seandainya penduduk negeri itu beriman dan bertakwa niscaya Kami bukakan bagi mereka berkah dari langit dan bumi, akan tetapi mereka malah mendustakan maka Kami pun menyiksa mereka disebabkan apa yang dulunya mereka upayakan.” (Al-A’raf: 96)
Kemudian Syaikh menukilkan ucapan Al-’Allamah Ibnul Qayyim t: “Di sebagian waktu Allah I mengizinkan bumi untuk bernapas panjang. Ketika itu terjadilah gempa/goncangan yang besar, sehingga menimbulkan ketakutan pada hamba-hamba-Nya, lalu mereka kembali kepada Allah I dan mencabut diri dari maksiat, tunduk patuh kepada Allah I dan menyesali diri, sebagaimana ucapan sebagian salaf ketika terjadi gempa bumi: ‘Sesungguhnya Rabb kalian menegur kalian.’ Ketika terjadi gempa di kota Madinah, ‘Umar ibnul Khaththab z berkhutbah dan memberi nasehat kepada penduduk Madinah dan beliau berkata: ‘Kalau gempa ini terjadi lagi, aku tidak akan tinggal bersama kalian di Madinah ini.’
Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Abdullah bin Baz t menasehatkan: “Ketika terjadi gempa bumi dan tanda-tanda kekuasaan Allah I lainnya, gerhana, angin kencang dan banjir, yang wajib dilakukan adalah bertaubat kepada Allah I, tunduk menghinakan diri kepada-Nya dan memo-hon maaf/kelapangan-Nya serta memper-banyak mengingat-Nya dan istighfar pada-Nya. Sebagaimana ucapan Nabi n ketika terjadi gerhana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam Bukhari dan Al-Imam Muslim: “Apabila kalian melihat gerhana maka berlindunglah kalian dengan zikir/mengingat Allah, berdoa kepada-Nya dan istighfar.”
Disenangi pula untuk memberikan kasih sayang kepada fakir miskin dan bersedekah kepada mereka dengan dalil sabda Nabi n:

“Orang-orang yang menyayangi (memiliki sifat rahmah) akan dirahmati oleh Ar-Rahman. Sayangilah orang yang ada di bumi niscaya Yang di langit akan merahmati kalian.”2

“Siapa yang tidak menyayangi maka ia tidak akan disayangi/dirahmati.”3
Diriwayatkan dari ‘Umar bin Abdil ‘Aziz t bahwa beliau mengirim surat kepada gubernur-gubernurnya ketika terjadi gempa agar mereka bersedekah.
Termasuk sebab kelapangan dan keselamatan dari semua kejelekan adalah agar pemerintah bersegera mengambil tangan rakyatnya dan mengharuskan mereka untuk berpegang dengan kebenaran dan menjalankan syariat Allah I pada mereka serta amar ma’ruf nahi mungkar. Sebagaimana firman Allah I:

“Kaum mukminin dan mukminat sebagian mereka adalah wali/kekasih bagi sebagian yang lain. Mereka memerintahkan kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar, mereka menegakkan shalat, menunaikan zakat dan mentaati Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah yang akan dirahmati Allah.” (At-Taubah: 71)
Dan Nabi n bersabda:

“Siapa yang melepaskan seorang mukmin dari satu bencana/kesulitan dunia niscaya Allah akan melepaskannya dari satu bencana di hari kiamat. Siapa yang memberi kemudahan bagi orang yang sedang kesulitan niscaya Allah akan memberikan kemudahan baginya di dunia dan di akhirat. Siapa yang menutup kejelekan/cacat seorang muslim, Allah pun akan menutup cacatnya di dunia dan di akhirat. Dan Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya.”4

Demikian nasehat dari Asy-Syaikh Ibnu Baz –semoga Allah I merahmati beliau dengan rahmat-Nya yang luas dan melapangkan beliau di kuburnya, amin–. Semoga Allah I merahmati penduduk negeri ini dan menghilangkan musibah dari mereka serta memberi taufik kepada mereka agar bertaubat dan kembali kepada agama-Nya yang benar. Semoga penduduk negeri ini mengambil pelajaran yang berharga di bulan mubarak ini, bulan Ramadhan nan penuh keberkahan, menambah iman dan takwa mereka kepada Allah I hingga mereka menjadi , orang-orang yang dibebaskan dari api neraka. Allahumma amin.
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Meneladani Nabi dalam ber’iedul Fitri

(ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar ZA, Lc.)

Idul Fitri bisa memiliki banyak makna bagi tiap-tiap orang. Ada yang memaknai Idul Fitri sebagai hari yang menyenangkan karena tersedianya banyak makanan enak, baju baru, banyaknya hadiah, dan lainnya. Ada lagi yang memaknai Idul Fitri sebagai saat yang paling tepat untuk pulang kampung dan berkumpul bersama handai tolan. Sebagian lagi rela melakukan perjalanan yang cukup jauh untuk mengunjungi tempat-tempat wisata, dan berbagai aktivitas lain yang bisa kita saksikan. Namun barangkali hanya sedikit yang mau untuk memaknai Idul Fitri sebagaimana Rasulullah n “memaknainya”.

Idul Fitri memang hari istimewa. Secara syar’i pun dijelaskan bahwa Idul Fitri merupakan salah satu hari besar umat Islam selain Hari Raya Idul Adha. Karenanya, agama ini membolehkan umatnya untuk mengungkapkan perasaan bahagia dan bersenang-senang pada hari itu.
Sebagai bagian dari ritual agama, prosesi perayaan Idul Fitri sebenarnya tak bisa lepas dari aturan syariat. Ia harus didudukkan sebagaimana keinginan syariat.
Bagaimana masyarakat kita selama ini menjalani perayaan Idul Fitri yang datang menjumpai? Secara lahir, kita menyaksikan perayaan Hari Raya Idul Fitri masih sebatas sebagai rutinitas tahunan yang memakan biaya besar dan juga melelahkan. Kita sepertinya belum menemukan esensi yang sebenarnya dari Hari Raya Idul Fitri sebagaimana yang dimaukan syariat.
Bila Ramadhan sudah berjalan 3 minggu atau sepekan lagi ibadah puasa usai, “aroma” Idul Fitri seolah mulai tercium. Ibu-ibu pun sibuk menyusun menu makanan dan kue-kue, baju-baju baru ramai diburu, transportasi mulai padat karena banyak yang bepergian atau karena arus mudik mulai meningkat, serta berbagai aktivitas lainya. Semua itu seolah sudah menjadi aktivitas “wajib” menjelang Idul Fitri, belum ada tanda-tanda menurun atau berkurang.
Untuk mengerjakan sebuah amal ibadah, bekal ilmu syar’i memang mutlak diperlukan. Bila tidak, ibadah hanya dikerja-kan berdasar apa yang dia lihat dari para orang tua. Tak ayal, bentuk amalannya pun menjadi demikian jauh dari yang dimaukan syariat.
Demikian pula dengan Idul Fitri. Bila kita paham bagaimana bimbingan Rasu-lullah n dalam masalah ini, tentu berbagai aktivitas yang selama ini kita saksikan bisa diminimalkan. Beridul Fitri tidak harus menyiapkan makanan enak dalam jumlah banyak, tidak harus beli baju baru karena baju yang bersih dan dalam kondisi baik pun sudah mencukupi, tidak harus mudik karena bersilaturahim dengan para saudara yang sebenarnya bisa dilakukan kapan saja, dan sebagainya. Dengan tahu bimbingan Rasulullah n, beridul Fitri tidak lagi butuh biaya besar dan semuanya terasa lebih mudah.
Berikut ini sedikit penjelasan tentang bimbingan syariat dalam beridul Fitri.

Definisi Id (Hari Raya)
Ibnu A’rabi mengatakan: “Id1 dinama-kan demikian karena setiap tahun terulang dengan kebahagiaan yang baru.” (Al-Lisan hal. 5)
Ibnu Taimiyyah berkata: “Id adalah sebutan untuk sesuatu yang selalu terulang berupa perkumpulan yang bersifat massal, baik tahunan, mingguan atau bulanan.” (dinukil dari Fathul Majid hal. 289 tahqiq Al-Furayyan)
Id dalam Islam adalah Idul Fitri, Idul Adha dan Hari Jum’at.

Dari Anas bin Malik ia berkata: Rasulullah datang ke Madinah dalam keadaan orang-orang Madinah mempunyai 2 hari (raya) yang mereka bermain-main padanya. Rasulullah n berkata: “Apa (yang kalian lakukan) dengan 2 hari itu?” Mereka menjawab: “Kami bermain-main padanya waktu kami masih jahiliyyah.” Maka Rasulullah n bersabda: “Sesungguhnya Allah telah menggantikannya untuk kalian dengan yang lebih baik dari keduanya, yaitu Idul Adha dan Idul Fitri.” (Shahih, HR. Abu Dawud no. 1004, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani)

Hukum Shalat Id
Ibnu Rajab berkata: “Para ulama berbeda pendapat tentang hukum Shalat Id menjadi 3 pendapat:
Pertama: Shalat Id merupakan amalan Sunnah (ajaran Rasulullah n) yang dianjurkan, seandainya orang-orang meninggalkannya maka tidak berdosa. Ini adalah pendapat Al-Imam Ats-Tsauri dan salah satu riwayat dari Al-Imam Ahmad.
Kedua: Bahwa itu adalah fardhu kifayah, sehingga jika penduduk suatu negeri sepakat untuk tidak melakukannya berarti mereka semua berdosa dan mesti diperangi karena meninggalkannya. Ini yang tampak dari madzhab Al-Imam Ahmad dan pendapat sekelompok orang dari madzhab Hanafi dan Syafi’i.
Ketiga: Wajib ‘ain (atas setiap orang) seperti halnya Shalat Jum’at. Ini pendapat Abu Hanifah dan salah satu riwayat dari Imam Ahmad.
Al-Imam Asy-Syafi’i (sendiri) menga-takan dalam (buku) Mukhtashar Al-Muzani: “Barangsiapa memiliki kewajiban untuk mengerjakan Shalat Jum’at, wajib baginya untuk menghadiri shalat 2 hari raya. Dan ini tegas bahwa hal itu wajib ‘ain.” (Diringkas dari Fathul Bari Ibnu Rajab, 6/75-76)
Yang terkuat dari pendapat yang ada –wallahu a’lam– adalah pendapat ketiga dengan dalil berikut:

Dari Ummu ‘Athiyyah ia mengatakan: Rasulullah n memerintahkan kami untuk mengajak keluar (kaum wanita) pada (hari raya) Idul Fitri dan Idul Adha yaitu gadis-gadis, wanita yang haid, dan wanita-wanita yang dipingit. Adapun yang haid maka dia menjauhi tempat shalat dan ikut menyaksikan kebaikan dan dakwah muslimin. Aku berkata: “Wahai Rasulullah, salah seorang dari kami tidak memiliki jilbab?” Nabi menjawab: “Hendaknya saudaranya meminjamkan jilbabnya.” (Shahih, HR. Al-Bukhari dan Muslim, ini lafadz Muslim Kitabul ‘Idain Bab Dzikru Ibahati Khurujinnisa)
Perhatikanlah perintah Nabi n untuk pergi menuju tempat shalat, sampai-sampai yang tidak punya jilbab-pun tidak mendapatkan udzur. Bahkan tetap harus keluar dengan dipinjami jilbab oleh yang lain.
Shiddiq Hasan Khan berkata: “Perintah untuk keluar berarti perintah untuk shalat bagi yang tidak punya udzur… Karena keluarnya (ke tempat shalat) merupakan sarana untuk shalat dan wajibnya sarana tersebut berkonsekuensi wajibnya yang diberi sarana (yakni shalat).
Di antara dalil yang menunjukkan wajibnya Shalat Id adalah bahwa Shalat Id menggugurkan Shalat Jum’at bila keduanya bertepatan dalam satu hari. Dan sesuatu yang tidak wajib tidak mungkin menggugurkan suatu kewajiban.” (Ar-Raudhatun Nadiyyah, 1/380 dengan At-Ta’liqat Ar-Radhiyyah. Lihat pula lebih rinci dalam Majmu’ Fatawa, 24/179-186, As-Sailul Jarrar, 1/315, Tamamul Minnah, hal. 344)

Wajibkah Shalat Id Bagi Musafir?
Sebuah pertanyaan telah diajukan kepada Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, yang intinya: Apakah untuk Shalat Id disyaratkan pelakunya seorang yang mukim (tidak sedang bepergian)?
Beliau kemudian menjawab yang intinya: “Ulama berbeda pendapat dalam masalah ini. Ada yang mengatakan, disyaratkan mukim. Ada yang mengatakan, tidak disyaratkan mukim.”
Lalu beliau mengatakan: “Yang benar tanpa keraguan, adalah pendapat yang pertama. Yaitu Shalat Id tidak disyariatkan bagi musafir, karena Rasulullah n banyak melakukan safar dan melakukan 3 kali umrah selain umrah haji, beliau juga berhaji wada’ dan ribuan manusia menyertai beliau, serta beliau berperang lebih dari 20 peperangan, namun tidak seorangpun menukilkan bahwa dalam safarnya beliau melakukan Shalat Jum’at dan Shalat Id…” (Majmu’ Fatawa, 24/177-178)

Mandi Sebelum Melakukan Shalat Id

“Dari Malik dari Nafi’, ia berkata bahwa Abdullah bin Umar dahulu mandi pada hari Idul Fitri sebelum pergi ke mushalla (lapangan).” (Shahih, HR. Malik dalam Al-Muwaththa` dan Al-Imam Asy-Syafi’i dari jalannya dalam Al-Umm)
Dalam atsar lain dari Zadzan, seseorang bertanya kepada ‘Ali z tentang mandi, maka ‘Ali berkata: “Mandilah setiap hari jika kamu mau.” Ia menjawab: “Tidak, mandi yang itu benar-benar mandi.” Ali z berkata: “Hari Jum’at, hari Arafah, hari Idul Adha, dan hari Idul Fitri.” (HR. Al-Baihaqi, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Al-Irwa`, 1-176-177))

Memakai Wewangian

“Dari Musa bin ‘Uqbah, dari Nafi’ bahwa Ibnu ‘Umar mandi dan memakai wewangian di hari Idul fitri.” (Riwayat Al-Firyabi dan Abdurrazzaq)
Al-Baghawi berkata: “Disunnahkan untuk mandi di hari Id. Diriwayatkan dari Ali bahwa beliau mandi di hari Id, demikian pula yang sejenis itu dari Ibnu Umar dan Salamah bin Akwa’ dan agar memakai pakaian yang paling bagus yang dia dapati serta agar memakai wewangian.” (Syarhus Sunnah, 4/303)

Memakai Pakaian yang Bagus

Dari Abdullah bin Umar bahwa Umar mengambil sebuah jubah dari sutera yang dijual di pasar maka dia bawa kepada Rasulullah n, lalu Umar z berkata: “Wahai Rasulullah, belilah ini dan berhiaslah dengan pakaian ini untuk hari raya dan menyambut utusan-utusan.” Rasulullah n pun berkata: “Ini adalah pakaian orang yang tidak akan dapat bagian (di akhirat)….” (Shahih, HR. Al-Bukhari Kitabul Jum’ah Bab Fil ‘Idain wat Tajammul fihi dan Muslim Kitab Libas Waz Zinah)
Ibnu Rajab berkata: “Hadits ini menunjukkan disyariatkannya berhias untuk hari raya dan bahwa ini perkara yang biasa di antara mereka.” (Fathul Bari)

Makan Sebelum Berangkat Shalat Id

Dari Anas bin Malik ia berkata: Adalah Rasulullah tidak keluar di hari fitri sebelum beliau makan beberapa kurma. Murajja‘ bin Raja‘ berkata: Abdullah berkata kepadaku, ia mengatakan bahwa Anas berkata kepada-nya: “Nabi memakannya dalam jumlah ganjil.” (Shahih, HR Al-Bukhari Kitab Al-’Idain Bab Al-Akl Yaumal ‘Idain Qablal Khuruj)
Ibnu Rajab berkata: “Mayoritas ulama menganggap sunnah untuk makan pada Idul Fitri sebelum keluar menuju tempat Shalat Id, di antara mereka ‘Ali dan Ibnu ‘Abbas z.”
Di antara hikmah dalam aturan syariat ini, yang disebutkan oleh para ulama adalah:
a. Menyelisihi Ahlul kitab, yang tidak mau makan pada hari raya mereka sampai mereka pulang.
b. Untuk menampakkan perbedaan dengan Ramadhan.
c. Karena sunnahnya Shalat Idul Fitri lebih siang (dibanding Idul Adha) sehingga makan sebelum shalat lebih menenangkan jiwa. Berbeda dengan Shalat Idul Adha, yang sunnah adalah segera dilaksanakan. (lihat Fathul Bari karya Ibnu Rajab, 6/89)

Bertakbir Ketika Keluar Menuju Tempat Shalat

“Adalah Rasulullah n keluar di Hari Raya Idul Fitri lalu beliau bertakbir sampai datang ke tempat shalat dan sampai selesai shalat. Apabila telah selesai shalat beliau memutus takbir.” (Shahih, Mursal Az-Zuhri, diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dengan syawahidnya dalam Ash-Shahihah no. 171)
Asy-Syaikh Al-Albani berkata: “Dalam hadits ini ada dalil disyariatkannya apa yang diamalkan kaum muslimin yaitu bertakbir dengan keras selama perjalanan menuju tempat shalat walaupun banyak di antara mereka mulai menggampangkan sunnah (ajaran) ini, sehingga hampir-hampir menjadi sekedar berita (apa yang dulu terjadi). Hal itu karena lemahnya mental keagamaan mereka dan karena rasa malu untuk me-nampilkan sunnah serta terang-terangan dengannya. Dan dalam kesempatan ini, amat baik untuk kita ingatkan bahwa me-ngeraskan takbir di sini tidak disyariatkan padanya berpadu dalam satu suara seba-gaimana dilakukan sebagian manusia2…” (Ash-Shahihah: 1 bagian 1 hal. 331)

Lafadz Takbir
Tentang hal ini tidak terdapat riwayat yang shahih dari Nabi n –wallahu a’lam–. Yang ada adalah dari shahabat, dan itu ada beberapa lafadz.
Asy-Syaikh Al-Albani berkata: Telah shahih mengucapkan 2 kali takbir dari shahabat Ibnu Mas’ud z:

Bahwa beliau bertakbir di hari-hari tasyriq:

(HR. Ibnu Abi Syaibah, 2/2/2 dan sanadnya shahih)
Namun Ibnu Abi Syaibah menyebut-kan juga di tempat yang lain dengan sanad yang sama dengan takbir tiga kali. Demikian pula diriwayatkan Al-Baihaqi (3/315) dan Yahya bin Sa’id dari Al-Hakam dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, dengan tiga kali takbir.
Dalam salah satu riwayat Ibnu ‘Abbas disebutkan:

(Lihat Irwa`ul Ghalil, 3/125)

Tempat Shalat Id
Banyak ulama menyebutkan bahwa petunjuk Nabi n dalam shalat dua hari raya adalah beliau selalu melakukannya di mushalla.
Mushalla yang dimaksud adalah tempat shalat berupa tanah lapang dan bukan masjid, sebagaimana dijelaskan sebagian riwayat hadits berikut ini.

Dari Al-Bara’ Ibnu ‘Azib ia berkata: “Nabi pergi pada hari Idul Adha ke Baqi’ lalu shalat 2 rakaat lalu menghadap kami dengan wajahnya dan mengatakan: ‘Sesungguhnya awal ibadah kita di hari ini adalah dimulai dengan shalat. Lalu kita pulang kemudian menyembelih kurban. Barangsiapa yang sesuai dengan itu berarti telah sesuai dengan sunnah…” (Shahih, HR. Al-Bukhari Kitab Al-’Idain Bab Istiqbalul Imam An-Nas Fi Khuthbatil ‘Id)
Ibnu Rajab berkata: “Dalam hadits ini dijelaskan bahwa keluarnya Nabi n dan shalatnya adalah di Baqi’, namun bukan yang dimaksud adalah Nabi shalat di kuburan Baqi’. Tapi yang dimaksud adalah bahwa beliau shalat di tempat lapang yang bersambung dengan kuburan Baqi’ dan nama Baqi’ itu meliputi seluruh daerah tersebut. Juga Ibnu Zabalah telah menyebut-kan dengan sanadnya bahwa Nabi n shalat Id di luar Madinah (sampai) di lima tempat, sehingga pada akhirnya shalatnya tetap di tempat yang dikenal (untuk pelaksanaan Id, -pent.). Lalu orang-orang sepeninggal beliau shalat di tempat itu.” (Fathul Bari karya Ibnu Rajab, 6/144)

“Dari Abu Sa’id Al-Khudri ia mengatakan: Bahwa Rasulullah dahulu keluar di hari Idul Fitri dan Idhul Adha ke mushalla, yang pertama kali beliau lakukan adalah shalat, lalu berpaling dan kemudian berdiri di hadapan manusia sedang mereka duduk di shaf-shaf mereka. Kemudian beliau menasehati dan memberi wasiat kepada mereka serta memberi perintah kepada mereka. Bila beliau ingin mengutus suatu utusan maka beliau utus, atau ingin memerintahkan sesuatu maka beliau perintahkan, lalu beliau pergi.” (Shahih, HR. Al-Bukhari Kitab Al-’Idain Bab Al-Khuruj Ilal Mushalla bi Ghairil Mimbar dan Muslim)
Ibnu Hajar menjelaskan: “Al-Mushalla yang dimaksud dalam hadits adalah tempat yang telah dikenal, jarak antara tempat tersebut dengan masjid Nabawi sejauh 1.000 hasta.” Ibnul Qayyim berkata: “Yaitu tempat jamaah haji meletakkan barang bawaan mereka.”
Asy-Syaikh Al-Albani t berkata: “Nampaknya tempat itu dahulu di sebelah timur masjid Nabawi, dekat dengan kuburan Baqi’…” (dinukil dari Shalatul ‘Idain fil Mushalla Hiya Sunnah karya Asy-Syaikh Al-Albani, hal. 16)

Waktu Pelaksanaan Shalat

“Yazid bin Khumair Ar-Rahabi berkata: Abdullah bin Busr, salah seorang shahabat Nabi n pergi bersama orang-orang di Hari Idul Fitri atau Idhul Adha, maka ia menging-kari lambatnya imam. Iapun berkata: ‘Kami dahulu telah selesai pada saat seperti ini.’ Dan itu ketika tasbih.” (Shahih, HR. Al-Bukhari secara mua’llaq, Kitabul ‘Idain Bab At-Tabkir Ilal ‘Id, 2/456, Abu Dawud Kitabush Shalat Bab Waqtul Khuruj Ilal ‘Id: 1135, Ibnu Majah Kitab Iqamatush- shalah was Sunan fiha Bab Fi Waqti Shalatil ’Idain. Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud)
Yang dimaksud dengan kata “ketika tasbih” adalah ketika waktu shalat sunnah. Dan itu adalah ketika telah berlalunya waktu yang dibenci shalat padanya. Dalam riwayat yang shahih riwayat Ath-Thabrani yaitu ketika Shalat Sunnah Dhuha.
Ibnu Baththal berkata: “Para ahli fiqih bersepakat bahwa Shalat Id tidak boleh dilakukan sebelum terbitnya matahari atau ketika terbitnya. Shalat Id hanyalah diperbo-lehkan ketika diperbolehkannya shalat sunnah.” Demikian dijelaskan Ibnu Hajar. (Al-Fath, 2/457)
Namun sebenarnya ada yang berpen-dapat bahwa awal waktunya adalah bila terbit matahari, walaupun waktu dibencinya shalat belum lewat. Ini pendapat Imam Malik. Adapun pendapat yang lalu, adalah pendapat Abu Hanifah, Ahmad dan salah satu pendapat pengikut Syafi’i. (lihat Fathul Bari karya Ibnu Rajab, 6/104)
Namun yang kuat adalah pendapat yang pertama, karena menurut Ibnu Rajab: “Sesungguhnya telah diriwayatkan dari Ibnu Umar, Rafi’ bin Khadij dan sekelompok tabi’in bahwa mereka tidak keluar menuju Shalat Id kecuali bila matahari telah terbit. Bahkan sebagian mereka Shalat Dhuha di masjid sebelum keluar menuju Id. Ini menun-jukkan bahwa Shalat Id dahulu dilakukan setelah lewatnya waktu larangan shalat.” (lihat Fathul Bari karya Ibnu Rajab, 6/105)

Apakah Waktu Idul Fitri lebih Didahulukan daripada Idul Adha?
Ada dua pendapat:
Pertama, bahwa keduanya dilakukan dalam waktu yang sama.
Kedua, disunnahkan untuk diakhirkan waktu Shalat Idul Fitri dan disegerakan waktu Idul Adha. Itu adalah pendapat Abu Hanifah, Asy-Syafi’i dan Ahmad. Ini yang dikuatkan Ibnu Qayyim, dan beliau menga-takan: “Dahulu Nabi n melambatkan Shalat Idul Fitri serta menyegerakan Idul Adha. Dan Ibnu ‘Umar dengan semangat-nya untuk mengikuti sunnah tidak keluar sehingga telah terbit matahari dan bertakbir dari rumahnya menuju mushalla.” (Zadul Ma’ad, 1/427, Fathul Bari karya Ibnu Rajab, 6/105)
Hikmahnya, dengan melambatkan Shalat Idul Fitri maka semakin meluas waktu yang disunahkan untuk mengeluarkan zakat fitrah; dan dengan menyegerakan Shalat Idul Adha maka semakin luas waktu untuk menyembelih dan tidak memberatkan manusia untuk menahan dari makan sehing-ga memakan hasil qurban mereka. (lihat Fathul Bari karya Ibnu Rajab, 6/105-106)

Tanpa Adzan dan Iqamah

Dari Jabir bin Samurah ia berkata: “Aku shalat bersama Rasulullah 2 Hari Raya (yakni Idul Fitri dan Idul Adha), bukan hanya 1 atau 2 kali, tanpa adzan dan tanpa iqamah.” (Shahih, HR. Muslim)

Dari Ibnu Abbas c dan Jabir bin Abdillah Al-Anshari keduanya berkata: “Tidak ada adzan pada hari Fitri dan Adha.” Kemudian aku bertanya kepada Ibnu Abbas tentang itu, maka ia mengabarkan kepadaku bahwa Jabir bin Abdillah Al-Anshari mengatakan: “Tidak ada adzan dan iqamah di hari Fitri ketika keluarnya imam, tidak pula setelah keluarnya. Tidak ada iqamah, tidak ada panggilan dan tidak ada apapun, tidak pula iqamah.” (Shahih, HR. Muslim)
Ibnu Rajab berkata: “Tidak ada perbedaan pendapat di antara ulama dalam hal ini dan bahwa Nabi n, Abu Bakar dan ‘Umar c melakukan Shalat Id tanpa adzan dan iqamah.”
Al-Imam Malik berkata: “Itu adalah sunnah yang tiada diperselisihkan menurut kami, dan para ulama sepakat bahwa adzan dan iqamah dalam shalat 2 Hari Raya adalah bid’ah.” (Fathul Bari karya Ibnu Rajab, 6/94)
Bagaimana dengan panggilan yang lain semacam: Ash-shalatu Jami’ah?
Al-Imam Asy-Syafi’i dan pengikutnya menganggap hal itu sunnah. Mereka berdalil dengan: Pertama: riwayat mursal dari seorang tabi’in yaitu Az-Zuhri.
Kedua: mengqiyaskannya dengan Shalat Kusuf (gerhana).
Namun pendapat yang kuat bahwa hal itu juga tidak disyariatkan. Adapun riwayat dari Az-Zuhri merupakan riwayat mursal yang tentunya tergolong dha’if (lemah). Sedang-kan pengqiyasan dengan Shalat Kusuf tidaklah tepat, dan keduanya memiliki perbe-daan. Di antaranya bahwa pada Shalat Kusuf orang-orang masih berpencar sehingga perlu seruan semacam itu, sementara Shalat Id tidak. Bahkan orang-orang sudah menuju tempat shalat dan berkumpul padanya. (Fathul Bari, karya Ibnu Rajab, 6/95)
Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz t berkata: “Qiyas di sini tidak sah, karena adanya nash yang shahih yang menunjukkan bahwa di zaman Nabi n untuk Shalat Id tidak ada adzan dan iqamah atau suatu apapun. Dan dari sini diketahui bahwa panggilan untuk Shalat Id adalah bid’ah, dengan lafadz apapun.” (Ta’liq terhadap Fathul Bari, 2/452)
Ibnu Qayyim berkata: Apabila Nabi n sampai ke tempat shalat maka mulailah beliau shalat tanpa adzan dan iqamah dan tanpa ucapan “Ash-shalatu Jami’ah”, dan Sunnah Nabi adalah tidak dilakukan sesua-tupun dari (panggilan-panggilan) itu. (Zadul Ma’ad, 1/427)

Kaifiyah (Tata Cara) Shalat Id
Shalat Id dilakukan dua rakaat, pada prinsipnya sama dengan shalat-shalat yang lain. Namun ada sedikit perbedaan yaitu dengan ditambahnya takbir pada rakaat yang pertama 7 kali, dan pada rakaat yang kedua tambah 5 kali takbir selain takbiratul intiqal.
Adapun takbir tambahan pada rakaat pertama dan kedua itu tanpa takbir ruku’, sebagaimana dijelaskan oleh ‘Aisyah dalam riwayatnya:

“Dari Aisyah, ia berkata: Rasulullah bertakbir para (shalat) Fitri dan Adha 7 kali dan 5 kali selain 2 takbir ruku’.” (HR. Abu Dawud dalam Kitabush Shalat Bab At-Takbir fil ’Idain. ‘Aunul Ma’bud, 4/10, Ibnu Majah no. 1280, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Abani dalam Shahih Sunan Abu Dawud no. 1149)
Pertanyaan: Apakah pada 5 takbir pada rakaat yang kedua dengan takbiratul intiqal (takbir perpindahan dari sujud menuju berdiri)?
Ibnu Abdil Bar menukilkan kesepakat-an para ulama bahwa lima takbir tersebut selain takbiratul intiqal. (Al-Istidzkar, 7/52 dinukil dari Tanwirul ‘Ainain)
Pertanyaan: Tentang 7 takbir pertama, apakah termasuk takbiratul ihram atau tidak?
Dalam hal ini terjadi perbedaan pendapat:
Pertama: Pendapat Al-Imam Malik, Al-Imam Ahmad, Abu Tsaur dan diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas c bahwa 7 takbir itu termasuk takbiratul ihram. (lihat Fathul Bari karya Ibnu Rajab, 6/178, Aunul Ma’bud, 4/6, Istidzkar, 2/396 cet. Darul Kutub Al-Ilmiyyah)
Kedua: Pendapat Al-Imam Asy-Syafi’i, bahwa 7 takbir itu tidak termasuk takbiratul ihram. (Al-Umm, 3/234 cet. Dar Qutaibah dan referensi sebelumnya)
Nampaknya yang lebih kuat adalah pendapat Al-Imam Asy-Syafi’i. Hal itu karena ada riwayat yang mendukungnya, yaitu:

“Dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya, bahwa Rasulullah n bertakbir pada 2 hari raya 12 takbir, 7 pada rakaat yang pertama dan 5 pada rakaat yang terakhir, selain 2 takbir shalat.”(Ini lafadz Ath-Thahawi)
Adapun lafadz Ad-Daruquthni:

“Selain takbiratul ihram.”  (HR. Ath-Thahawi dalam Ma’ani Al-Atsar, 4/343 no. 6744 cet. Darul Kutub Al-Ilmiyyah, Ad-Daruquthni, 2/47-48 no. 20)
Dalam sanad hadits ini ada seorang perawi yang diperselisihkan bernama Abdullah bin Abdurrahman At-Tha‘ifi. Akan tetapi hadits ini dishahihkan oleh Al-Imam Ahmad, ‘Ali Ibnul Madini dan Al-Imam Al-Bukhari sebagaimana dinukilkan oleh At-Tirmidzi. (lihat At-Talkhis, 2/84, tahqiq As-Sayyid Abdullah Hasyim Al-Yamani, At-Ta’liqul Mughni, 2/18 dan Tanwirul ‘Ainain, hal. 158)
Adapun bacaan surat pada 2 rakaat tersebut, semua surat yang ada boleh dan sah untuk dibaca. Akan tetapi dahulu Nabi membaca pada rakaat yang pertama “Sabbihisma” (Surat Al-A’la) dan pada rakaat yang kedua “Hal ataaka” (Surat Al-Ghasyiah). Pernah pula pada rakaat yang pertama Surat Qaf dam kedua Surat Al-Qamar (keduanya riwayat Muslim, lihat Zadul Ma’ad, 1/427-428)

Apakah Mengangkat Tangan di Setiap Takbir Tambahan?
Terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama. Jumhur ulama berpen-dapat mengangkat tangan.
Sementara salah satu dari pendapat Al-Imam Malik tidak mengangkat tangan, kecuali takbiratul ihram. Ini dikuatkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Tamamul Minnah (hal. 349). Lihat juga Al-Irwa‘ (3/113).
Tidak ada riwayat dari Nabi n yang shahih dalam hal ini.
Kapan Membaca Doa Istiftah?
Al-Imam Asy-Syafi’i dan jumhur ulama berpendapat setelah takbiratul ihram dan sebelum takbir tambahan. (Al-Umm, 3/234 dan Al-Majmu’, 5/26. Lihat pula Tanwirul ‘Ainain hal. 149)

Khutbah Id
Dahulu Nabi n mendahulukan shalat sebelum khutbah.

“Dari Ibnu ‘Abbas ia berkata: Aku mengikuti Shalat Id bersama Rasulullah, Abu Bakr, ‘Umar dan ‘Utsman maka mereka semua shalat dahulu sebelum khutbah.” (Shahih, HR Al-Bukhari Kitab ‘Idain Bab Al-Khutbah Ba’dal Id)
Dalam berkhutbah, Nabi n berdiri dan menghadap manusia tanpa memakai mimbar, mengingatkan mereka untuk bertakwa kepada Allah I. Bahkan juga beliau mengingatkan kaum wanita secara khusus untuk banyak melakukan shadaqah, karena ternyata kebanyakan penduduk neraka adalah kaum wanita.
Jamaah Id dipersilahkan memilih duduk mendengarkan atau tidak, berda-sarkan hadits Nabi n:

Dari ‘Abdullah bin Saib ia berkata: Aku menyaksikan bersama Rasulullah Shalat Id, maka ketika beliau selesai shalat, beliau berkata: “Kami berkhutbah, barangsiapa yang ingin duduk untuk mendengarkan khutbah duduklah dan barangsiapa yang ingin pergi maka silahkan.” (Shahih, HR. Abu Dawud dan An-Nasa`i. Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud, no. 1155)
Namun alangkah baiknya untuk mendengarkannya bila itu berisi nasehat-nasehat untuk bertakwa kepada Allah I dan berpegang teguh dengan agama dan Sunnah serta menjauhi bid’ah. Berbeda ke-adaannya bila mimbar Id berubah menjadi ajang kampanye politik atau mencaci maki pemerintah muslim yang tiada menambah di masyarakat kecuali kekacauan. Wallahu a’lam.

Wanita yang Haid
Wanita yang sedang haid tetap mengikuti acara Shalat Id, walaupun tidak boleh melakukan shalat, bahkan haram dan tidak sah. Ia diperintahkan untuk menjauh dari tempat shalat sebagaimana hadits yang lalu dalam pembahasan hukum Shalat Id.

Sutrah Bagi Imam
Sutrah adalah benda, bisa berupa tembok, tiang, tongkat atau yang lain yang diletakkan di depan orang shalat sebagai pembatas shalatnya, panjangnya kurang lebih 1 hasta. Telah terdapat larangan dari Nabi n untuk melewati orang yang shalat. Dengan sutrah ini, seseorang boleh melewati orang yang shalat dari belakang sutrah dan tidak boleh antara seorang yang shalat dengan sutrah. Sutrah ini disyariatkan untuk imam dan orang yang shalat sendirian atau munfarid. Adapun makmum tidak perlu dan boleh lewat di depan makmum. Ini adalah Sunnah yang mayoritas orang meninggal-kannya. Oleh karenanya, marilah kita menghidupkan sunnah ini, termasuk dalam Shalat Id.

“Dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah n dahulu apabila keluar pada hari Id, beliau memerintahkan untuk membawa tombak kecil, lalu ditancapkan di depannya, lalu beliau shalat ke hadapannya, sedang orang-orang di belakangnya. Beliau melakukan hal itu di safarnya dan dari situlah para pimpinan melakukannya juga.” (Shahih, HR. Al-Bukhari Kitabush Shalat Bab Sutratul Imam Sutrah liman Khalfah dan Kitabul ‘Idain Bab Ash-Shalat Ilal harbah Yaumul Id. Al-Fath, 2/463 dan Fathul Bari karya Ibnu Rajab, 6/136)

Bila Masbuq (Tertinggal) Shalat Id, Apa yang Dilakukan?
Al-Imam Al-Bukhari membuat bab dalam Shahih-nya berjudul: “Bila tertinggal shalat Id maka shalat 2 rakaat, demikian pula wanita dan orang-orang yang di rumah dan desa-desa berdasarkan sabda Nabi: ‘Ini adalah Id kita pemeluk Islam’.”
Adalah ‘Atha` (tabi’in) bila ketinggalan Shalat Id beliau shalat dua rakaat.
Bagaimana dengan takbirnya? Menurut Al-Hasan, An-Nakha’i, Malik, Al-Laits, Asy-Syafi’i dan Ahmad dalam satu riwayat, shalat dengan takbir seperti takbir imam. (Fathul Bari karya Ibnu Rajab, 6/169)

Pulang dari Shalat Id Melalui Rute Lain saat Berangkat

Dari Jabir, ia berkata:” Nabi n apabila di hari Id, beliau mengambil jalan yang berbeda. (Shahih, HR. Al-Bukhari Kitab Al-’Idain Bab Man Khalafa Thariq Idza Raja’a…, Fathul Bari karya Ibnu Hajar, 2/472986, karya Ibnu Rajab, 6/163 no. 986)
Ibnu Rajab berkata: “Banyak ulama menganggap sunnah bagi imam atau selainnya, bila pergi melalui suatu jalan menuju Shalat Id maka pulang dari jalan yang lainnya. Dan itu adalah pendapat Al-Imam Malik, Ats-Tsauri, Asy-Syafi’i dan Ahmad… Dan seandainya pulang dari jalan itu, maka tidak dimakruhkan.”
Para ulama menyebutkan beberapa hikmahnya, di antaranya agar lebih banyak bertemu sesama muslimin untuk memberi salam dan menumbuhkan rasa cinta. (Fathul Bari karya Ibnu Rajab, 6/166-167. Lihat pula Zadul Ma’ad, 1/433)

Bila Id Bertepatan dengan Hari Jum’at

Dari Iyas bin Abi Ramlah Asy-Syami, ia berkata: Aku menyaksikan Mu’awiyah bin Abi Sufyan, dia sedang bertanya kepada Zaid bin Arqam: “Apakah kamu menyaksikan bersama Rasulullah, dua Id berkumpul dalam satu hari?” Ia menjawab: “Iya.” Mu’awiyah berkata: “Bagaimana yang beliau lakukan?” Ia menjawab: “Beliau Shalat Id lalu membe-rikan keringanan pada Shalat Jumat dan mengatakan: ‘Barangsiapa yang ingin mengerjakan Shalat Jumat maka shalatlah’.”

Dari Abu Hurairah, dari Nabi n bahwa beliau berkata: “Telah berkumpul pada hari kalian ini 2 Id, maka barangsiapa yang berkehendak, (Shalat Id) telah mencukupinya dari Jum’at dan sesungguhnya kami tetap melaksanakan Jum’at.” (Keduanya diriwa-yatkan Abu Dawud dan dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud no. 1070 dan 1073)
Ibnu Taimiyyah berkata: “Pendapat yang ke-3 dan itulah yang benar, bahwa yang ikut Shalat Id maka gugur darinya kewajiban Shalat Jum’at. Akan tetapi bagi imam agar tetap melaksanakan Shalat Jum’at, supaya orang yang ingin mengikuti Shalat Jum’at dan orang yang tidak ikut Shalat Id bisa mengikutinya. Inilah yang diriwayatkan dari Nabi dan para shahabatnya.” (Majmu’ Fatawa, 23/211)
Lalu beliau mengatakan juga bahwa yang tidak Shalat Jum’at maka tetap Shalat Dzuhur.
Ada sebagian ulama yang berpendapat tidak Shalat Dzuhur pula, di antaranya ‘Atha`. Tapi ini pendapat yang lemah dan dibantah oleh para ulama. (Lihat At-Tamhid, 10/270-271)

Ucapan Selamat Saat Hari Raya
Ibnu Hajar mengatakan: “Kami meri-wayatkan dalam Al-Muhamiliyyat dengan sanad yang hasan dari Jubair bin Nufair bahwa ia berkata: ‘Para shahabat Nabi n bila bertemu di hari Id, sebagian mereka mengatakan kepada sebagian yang lain:

“Semoga Allah menerima (amal) dari kami dan dari kamu.” (Lihat pula masalah ini dalam Ahkamul ‘Idain karya Ali Hasan hal. 61, Majmu’ Fatawa, 24/253, Fathul Bari karya Ibnu Rajab, 6/167-168)
Wallahu a’lam.

Catatan Kaki:

1 Id artinya kembali.
2 Karena Nabi tidak memberi contoh demikian dalam ibadah ini. Lain halnya –wallahu a’lam– bila kebersamaan itu tanpa disengaja.

Zakat Fitrah Pensuci Jiwa

(ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar ZA, Lc.)

Zakat Fitri, atau yang lazim disebut zakat fitrah, sudah jamak diketahui sebagai penutup rangkaian ibadah bulan Ramadhan. Bisa jadi sudah banyak pembahasan seputar hal ini yang tersuguh untuk kaum muslimin. Namun tidak ada salahnya jika diulas kembali dengan dilengkapi dalil-dalilnya.

Telah menjadi kewajiban atas kaum muslimin untuk mengetahui hukum-hukum seputar zakat fitrah. Ini dikarenakan Allah I mensyariatkan atas mereka untuk menunaikannya usai melakukan kewajiban puasa Ramadhan. Tanpa mempelajari hukum-hukumnya, maka pelaksanaan syariat ini tidak akan sempurna. Sebaliknya, dengan mempelajarinya maka akan sempurna realisasi dari syariat tersebut.

Hikmah Zakat Fitrah
Dari Ibnu Abbas c, ia berkata:

“Rasulullah n mewajibkan zakat fitrah sebagai penyuci bagi orang yang berpuasa dari perbuatan yang sia-sia dan kata-kata kotor serta sebagai pemberian makanan untuk orang-orang miskin.” (Hasan, HR. Abu Dawud Kitabul Zakat Bab. Zakatul Fitr: 17 no. 1609 Ibnu Majah: 2/395 K. Zakat Bab Shadaqah Fitri: 21 no: 1827 dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud)

Mengapa disebut Zakat Fitrah?
Sebutan yang populer di kalangan masyarakat kita adalah zakat fitrah. Mengapa demikian? Karena maksud dari zakat ini adalah zakat jiwa, diambil dari kata fitrah, yaitu asal-usul penciptaan jiwa (manusia) sehingga wajib atas setiap jiwa (Fathul Bari, 3/367). Semakna dengan itu Ahmad bin Muhammad Al-Fayyumi menjelaskan bahwa ucapan para ulama “wajib fitrah” maksudnya wajib zakat fitrah. (Al-Mishbahul Munir: 476)
Namun yang lebih populer di kalangan para ulama –wallahu a’lam– disebut  zakat fithri atau  shadaqah fithri. Kata Fithri di sini kembali kepada makna berbuka dari puasa Ramadhan, karena kewajiban tersebut ada setelah selesai menunaikan puasa bulan Ramadhan. Sebagian ulama seperti Ibnu Hajar Al-’Asqalani menerangkan bahwa sebutan yang kedua ini lebih jelas jika merujuk pada sebab musababnya dan pada sebagian penyebutannya dalam sebagian riwayat. (Lihat Fathul Bari, 3/367)

Hukum Zakat Fitrah
Pendapat yang terkuat, zakat fitrah hukumnya wajib. Ini merupakan pendapat jumhur ulama, di antara mereka adalah Abul Aliyah, Atha’ dan Ibnu Sirin, sebagaimana disebutkan Al-Imam Al-Bukhari. Bahkan Ibnul Mundzir telah menukil ijma’ atas wajibnya fitrah, walaupun tidak benar jika dikatakan ijma’. Namun, ini cukup menunjukkan bahwa mayoritas para ulama berpandangan wajibnya zakat fitrah.
Dasar mereka adalah hadits Nabi n:

Dari Ibnu Umar c ia mengatakan: “Rasulullah n menfardhukan zakat fitri satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum atas budak sahaya, orang merdeka, laki-laki, wanita, kecil dan besar dari kaum muslimin. Dan Nabi memerintahkan untuk ditunaikan sebelum keluarnya orang-orang menuju shalat (Id).” (Shahih, HR. Al-Bukhari, Kitabuz Zakat Bab Fardhu Shadaqatul Fithri 3/367, no. 1503 dan ini lafadznya. Diriwayat-kan juga oleh Muslim)
Dalam lafadz Al-Bukhari yang lain:

“Nabi memerintahkan zakat fitri satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum.” (HR. Al-Bukhari no. 1507)
Dari dua lafadz hadits tersebut nampak jelas bagi kita bahwa Nabi menfardhukan dan memerintahkan, sehingga hukum zakat fitrah adalah wajib.
Dalam hal ini, ada pendapat lain yang menyatakan bahwa hukumnya sunnah muakkadah (sunnah yang sangat dianjur-kan). Adapula yang berpendapat, hukumnya adalah hanya sebuah amal kebaikan, yang dahulu diwajibkan namun kemudian kewajiban itu dihapus. Pendapat ini lemah karena hadits yang mereka pakai sebagai dasar lemah menurut Ibnu Hajar. Sebabnya, dalam sanadnya ada rawi yang tidak dikenal. Demikian pula pendapat yang sebelumnya juga lemah. (Lihat At-Tamhid, 14/321; Fathul Bari, 3/368, dan Rahmatul Ummah fikhtilafil A`immah hal. 82)

Siapa yang Wajib Berzakat Fitrah?
Nabi n telah menerangkan dalam hadits sebelumnya bahwa kewajiban tersebut dikenakan atas semua orang, besar ataupun kecil, laki-laki ataupun perempuan, dan orang merdeka maupun budak hamba sahaya. Akan tetapi untuk anak kecil diwakili oleh walinya dalam mengeluarkan zakat. Ibnu Hajar mengatakan: “Yang nampak dari hadits itu bahwa kewajiban zakat dikenakan atas anak kecil, namun perintah tersebut tertuju kepada walinya. Dengan demikian, kewajiban tersebut ditunaikan dari harta anak kecil tersebut. Jika tidak punya, maka menjadi kewajiban yang memberinya nafkah, ini merupakan pendapat jumhur ulama.” (Al-Fath, 3/369; lihat At-Tamhid, 14/326-328, 335-336)
Nafi’ mengatakan:

“Dahulu Ibnu ‘Umar menunaikan zakat anak kecil dan dewasa, sehingga dia dulu benar-benar menunaikan zakat anakku.” (Shahih, HR. Al-Bukhari Kitabuz Zakat Bab 77, no. 1511, Al-Fath, 3/375)
Demikian pula budak hamba sahaya diwakili oleh tuannya. (Al-Fath, 3/369)

Apakah selain Muslim terkena Kewajiban Zakat?
Sebagai contoh seorang anak yang kafir, apakah ayahnya (yang muslim) berkewajiban mengeluarkan zakatnya? Jawabnya: tidak. Karena Nabi memberikan catatan di akhir hadits bahwa kewajiban itu berlaku bagi kalangan muslimin (dari kalangan muslimin). Walaupun dalam hal ini ada pula yang berpendapat tetap dikeluarkan zakatnya. Namun pendapat tersebut tidak kuat, karena tidak sesuai dengan dzahir hadits Nabi.

Apakah Janin Wajib Dizakati?
Jawabnya: tidak. Karena Nabi n mewajibkan zakat tersebut kepada  (anak kecil), sedangkan janin tidak disebut  (anak kecil) baik dari sisi bahasa maupun adat. Bahkan Ibnul Mundzir menukilkan ijma’ tentang tidak diwajib-kannya zakat fitrah atas janin. Walaupun sebetulnya ada juga yang berpendapat wajibnya atas janin, yaitu sebagian riwayat dari Al-Imam Ahmad dan pendapat Ibnu Hazm dengan catatan –menurutnya– janin sudah berumur 120 hari. Pendapat lain dari Al-Imam Ahmad adalah sunnah. Namun dua pendapat terakhir ini lemah, karena tidak sesuai dengan hadits di atas.

Wajibkah bagi Orang yang Tidak Mampu?
Ibnul Qayyim mengatakan bahwa: “Bila kewajiban itu melekat ketika ia mampu melaksanakannya kemudian setelah itu ia tidak mampu, maka kewajiban tersebut tidak gugur darinya. Dan tidak menjadi kewajibannya (yakni gugur) jika ia tidak mampu semenjak kewajiban itu mengenainya.” (Bada`i’ul Fawa`id, 4/33)
Adapun kriteria tidak mampu dalam hal ini, maka Asy-Syaukani menjelaskan: “Barangsiapa yang tidak mendapatkan sisa dari makanan pokoknya untuk malam hari raya dan siangnya, maka tidak berkewajiban membayar fitrah. Apabila ia memiliki sisa dari makanan pokok hari itu, ia harus mengeluarkannya bila sisa itu mencapai ukurannya (zakat fitrah).” (Ad-Darari, 1/365, Ar-Raudhatun Nadiyyah, 1/553, lihat pula Fatawa Al-Lajnah Ad-Da`imah, 9/369)

Dalam Bentuk Apa Zakat Fitrah dikeluarkan?
Hal ini telah dijelaskan dalam hadits yang lalu. Dan lebih jelas lagi dengan riwayat berikut:

“Dari Abu Sa’id z, ia berkata: ‘Kami memberikan zakat fitrah di zaman Nabi sebanyak 1 sha’ dari makanan, 1 sha’ kurma, 1 sha’ gandum, ataupun 1 sha’ kismis (anggur kering)’.” (Shahih, HR. Al-Bukhari Kitabuz Zakat no. 1508 dan 1506, dengan Bab Zakat Fitrah 1 sha’ dengan makanan.  Diriwayatkan juga oleh Muslim no. 2280)
Kata  (makanan) maksudnya adalah makanan pokok penduduk suatu negeri baik berupa gandum, jagung, beras, atau lainnya. Yang mendukung pendapat ini adalah riwayat Abu Sa’id yang lain:

“Ia mengatakan: ‘Kami mengeluarkan-nya (zakat fitrah) berupa makanan di zaman Rasulullah n pada hari Idul Fitri’. Abu Sa’id mengatakan lagi: ‘Dan makanan kami saat itu adalah gandum, kismis, susu kering, dan kurma’.” (Shahih, HR. Al-Bukhari, Kitabuz Zakat Bab Shadaqah Qablal Id, Al-Fath, 3/375 no. 1510)
Di sisi lain, zakat fitrah bertujuan untuk menyenangkan para fakir dan miskin. Sehingga seandainya diberi sesuatu yang bukan dari makanan pokoknya maka tujuan itu menjadi kurang tepat sasaran.
Inilah pendapat yang kuat yang dipilih oleh mayoritas para ulama. Di antaranya Malik (At-Tamhid, 4/138), Asy-Syafi’i dan salah satu riwayat dari Al-Imam Ahmad, Ibnu Taimiyyah (Majmu’ Fatawa, 25/69), Ibnul Mundzir (Al-Fath, 3/373), Ibnul Qayyim (I’lamul Muwaqqi’in, 2/21, 3/23, Taqrib li Fiqhi Ibnil Qayyim hal. 234), Ibnu Baz dan fatwa Al-Lajnah Ad-Da`imah (9/365, Fatawa Ramadhan, 2/914)
Juga ada pendapat lain yaitu zakat fitrah diwujudkan hanya dalam bentuk makanan yang disebutkan dalam hadits Nabi. Ini adalah salah satu pendapat Al-Imam Ahmad. Namun pendapat ini lemah. (Majmu’ Fatawa, 25/68)

Bolehkah Mengeluarkannya dalam Bentuk Uang?
Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama dalam hal ini.
Pendapat pertama: Tidak boleh mengeluarkan dalam bentuk uang. Ini adalah pendapat Malik, Asy-Syafi’i, Ahmad, dan Dawud. Alasannya, syariat telah menyebutkan apa yang mesti dikeluar-kan, sehingga tidak boleh menyelisihinya. Zakat sendiri juga tidak lepas dari nilai ibadah, maka yang seperti ini bentuknya harus mengikuti perintah Allah I. Selain itu, jika dengan uang maka akan membuka peluang untuk menentukan sendiri harganya. Sehingga menjadi lebih selamat jika menyelaraskan dengan apa yang disebut dalam hadits.
An-Nawawi mengatakan: “Ucapan-ucapan Asy-Syafi’i sepakat bahwa tidak boleh mengeluarkan zakat dengan nilainya (uang).” (Al-Majmu’, 5/401)
Abu Dawud mengatakan: “Aku mendengar Al-Imam Ahmad ditanya: ‘Bolehkah saya memberi uang dirham -yakni dalam zakat fitrah-?’ Beliau menjawab: ‘Saya khawatir tidak sah, menyelisihi Sunnah Rasulullah’.”
Ibnu Qudamah mengatakan: “Yang tampak dari madzhab Ahmad bahwa tidak boleh mengeluarkan uang pada zakat.” (Al-Mughni, 4/295)
Pendapat ini pula yang dipilih oleh Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, dan Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan (lihat Fatawa Ramadhan, 2/918-928)
Pendapat kedua: Boleh mengeluar-kannya dalam bentuk uang yang senilai dengan apa yang wajib dia keluarkan dari zakatnya, dan tidak ada bedanya antara keduanya. Ini adalah pendapat Abu Hanifah. (Al-Mughni, 4/295, Al-Majmu’, 5/402, Bada`i’ush-Shana`i’, 2/205, Tamamul Minnah, hal. 379)
Pendapat pertama itulah yang kuat.
Atas dasar itu bila seorang muzakki (yang mengeluarkan zakat) memberi uang pada amil, maka amil diperbolehkan menerimanya jika posisinya sebagai wakil dari muzakki. Selanjutnya, amil tersebut membelikan beras –misalnya– untuk muzakki dan menyalurkannya kepada fuqara dalam bentuk beras, bukan uang.
Namun sebagian ulama membolehkan mengganti harta zakat dalam bentuk uang dalam kondisi tertentu, tidak secara mutlak. Yaitu ketika yang demikian itu lebih bermaslahat bagi orang-orang fakir dan lebih mempermudah bagi orang kaya.
Ini merupakan pilihan Ibnu Taimiyyah. Beliau t mengatakan: “Boleh mengeluarkan uang dalam zakat bila ada kebutuhan dan maslahat. Contohnya, seseorang menjual hasil kebun atau tanamannya. Jika ia mengeluarkan zakat 1/10 (sepersepuluh) dari uang dirhamnya maka sah. Ia tidak perlu membeli korma atau gandum terlebih dulu. Al-Imam Ahmad telah menyebutkan kebolehannya.” (Dinukil dari Tamamul Minnah, hal. 380)
Beliau juga mengatakan dalam Majmu’ Fatawa (25/82-83): “Yang kuat dalam masalah ini bahwa mengeluarkan uang tanpa kebutuhan dan tanpa maslahat yang kuat maka tidak boleh …. Karena jika diperbolehkan mengeluarkan uang secara mutlak, maka bisa jadi si pemilik akan mencari jenis-jenis yang jelek. Bisa jadi pula dalam penentuan harga terjadi sesuatu yang merugikan… Adapun mengeluarkan uang karena kebutuhan dan maslahat atau untuk keadilan maka tidak mengapa….”
Pendapat ini dipilih oleh Asy-Syaikh Al-Albani sebagaimana disebutkan dalam kitab Tamamul Minnah (hal. 379-380)
Yang perlu diperhatikan, ketika memilih pendapat ini, harus sangat diperhatikan sisi maslahat yang disebutkan tadi dan tidak boleh sembarangan dalam menentukan, sehingga berakibat menggam-pangkan masalah ini.

Ukuran yang Dikeluarkan
Dari hadits-hadits yang lalu jelas sekali bahwa Nabi n menentukan ukuran zakat fitrah adalah 1 sha’. Tapi, berapa 1 sha’ itu?
Satu sha’ sama dengan  4 mud. Sedangkan 1 mud sama dengan 1 cakupan dua telapak tangan yang berukuran sedang.
Berapa bila diukur dengan kilogram (kg)? Tentu yang demikian ini tidak bisa tepat dan hanya bisa diukur dengan perkiraan. Oleh karenanya para ulama sekarangpun berbeda pendapat ketika mengukurnya dengan kilogram.
Dewan Fatwa Saudi Arabia atau Al-Lajnah Ad-Da`imah yang diketuai Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, wakilnya Asy-Syaikh Abdurrazzaq ‘Afifi dan anggotanya Abdullah bin Ghudayyan memperkirakan 3 kg. (Fatawa Al-Lajnah, 9/371)
Adapun Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin berpendapat sekitar 2,040 kg. (Fatawa Arkanil Islam, hal. 429)

Tentang Al-Bur atau Al-Hinthah
Ada perbedaan pendapat tentang ukuran yang dikeluarkan dari jenis hinthah (salah satu jenis gandum). Sebagian shaha-bat berpendapat tetap 1 sha’, sementara yang lain berpendapat ½ sha’.
Nampaknya pendapat kedua itu yang lebih kuat berdasarkan riwayat:

“Dari Hisyam bin Urwah dari ayahnya bahwa Asma’ binti Abu Bakar dahulu di zaman Nabi dia mengeluarkan (zakat) untuk keluarganya yang merdeka atau yang sahaya dua mud hinthah atau satu sha’ kurma dengan ukuran mud atau sha’ yang mereka pakai untuk jual beli.” (Shahih, HR. Ath-Thahawi dalam Ma’ani Al-Atsar, 2871, Ibnu Abi Syaibah dan Ahmad. Asy-Syaikh Al-Albani mengatakan: “Sanadnya shahih, sesuai syarat Al-Bukhari dan Mus-lim.” Lihat Tamamul Minnah hal.  387)
Ini merupakan pendapat Abu Hanifah dan yang dipilih oleh Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qayyim, dan di masa sekarang Al-Albani.

Waktu Mengeluarkannya
Menurut sebagian ulama bahwa jatuhnya kewajiban fitrah itu dengan selesainya bulan Ramadhan. Namun Nabi n menerangkan bahwa waktu pengeluaran zakat fitrah itu sebelum shalat sebagaimana dalam hadits yang lalu.

“Dan Nabi memerintahkan agar dilaksanakan sebelum orang-orang keluar menuju shalat.”
Dengan demikian, zakat tersebut harus tersalurkan kepada yang berhak sebelum shalat. Sehingga maksud dari zakat fitrah tersebut terwujud, yaitu untuk mencukupi mereka di hari itu.
Namun demikian, syariat memberikan kelonggaran kepada kita dalam penunaian zakat, di mana pelaksanaannya kepada amil zakat dapat dimajukan 2 atau 3 hari sebelum Id berdasarkan riwayat berikut ini:

“Dulu Abdullah bin Umar memberikan zakat fitrah kepada yang menerimanya1. Dan dahulu mereka menunaikannya 1 atau 2 hari sebelum hari Id.” (Shahih, HR. Al-Bukhari Kitabuz Zakat Bab 77 no. 1511 Al-Fath, 3/375)
Dalam riwayat Malik dari Nafi’:

“Bahwasanya Abdullah bin Umar menyerahkan zakat fitrahnya kepada petugas yang zakat dikumpulkan kepadanya, 2 atau 3 hari sebelum Idul Fitri.” (Al-Muwaththa`, Kitabuz Zakat Bab Waqtu Irsal Zakatil Fithri, 1/285. Lihat pula Al-Irwa` no. 846)
Sehingga tidak boleh mendahulukan lebih cepat daripada itu, walaupun ada juga yang berpendapat itu boleh. Pendapat pertama itulah yang benar, karena demikian-lah praktek para shahabat.

Bolehkan Mengeluarkan Zakat Fitrah Setelah Shalat Id?
Hal ini telah dijelaskan oleh hadits Rasulullah n berikut ini:

Dari Ibnu Abbas z ia mengatakan: “Rasulullah n mewajibkan zakat fitrah sebagai penyuci bagi orang yang berpuasa dari perbuatan yang sia-sia dan kata-kata kotor serta sebagai pemberian makanan bagi orang-orang miskin. Maka barangsiapa menunaikannya sebelum shalat (Id) maka itu zakat yang diterima. Dan barangsiapa yang menunaikannya setelah shalat, maka itu hanya sekedar sedekah dari sedekah-sedekah yang ada.” (Hasan, HR. Abu Dawud Kitabuz Zakat Bab Zakatul Fithr, 17 no. 1609, Ibnu Majah, 2/395 Kitabuz Zakat Bab Shadaqah Fithri, 21 no. 1827, dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud)
Ibnul Qayyim mengatakan: “Konse-kuensi dari dua2 hadits tersebut adalah tidak boleh menunda penunaian zakat sampai setelah Shalat Id; dan bahwa kewajiban zakat itu gugur dengan selesainya shalat. Inilah pendapat yang benar karena tiada yang menentang dua hadits ini dan tidak ada pula yang menghapus serta tidak ada ijma’ yang menghalangi untuk berpendapat dengan kandungan 2 hadits itu. Dan dahulu guru kami (Ibnu Taimiyyah) menguatkan pendapat ini serta membelanya.” (Zadul Ma’ad, 2/21)
Atas dasar itu, maka jangan sampai zakat fitrah diserahkan ke tangan fakir sete-lah Shalat Id, kecuali bila si fakir mewakil-kan kepada yang lain untuk menerimanya.

Sasaran Zakat Fitrah
Yang kami maksud di sini adalah mashraf atau sasaran penyaluran zakat.
Ada perbedaan pendapat di kalangan ulama dalam hal ini. Sebagian ulama mengatakan sasaran penyalurannya adalah orang fakir miskin secara khusus.
Sebagian lagi mengatakan, sasaran penyalurannya adalah sebagaimana zakat yang lain, yaitu 8 golongan sebagaimana tertera dalam surat At-Taubah 60. Ini merupakan pendapat Asy-Syafi’i, satu riwayat dari Ahmad, dan yang dipilih oleh Ibnu Qudamah (Al-Mughni, 4/314).
Dari dua pendapat yang ada, nampaknya yang kuat adalah pendapat yang pertama. Dengan dasar hadits Nabi yang lalu:

Dari Ibnu Abbas ia mengatakan: “Rasulullah n mewajibkan zakat fitrah sebagai penyuci bagi orang yang berpuasa dari perbuatan yang sia-sia dan kata-kata kotor serta sebagai pemberian makanan bagi orang-orang miskin.”
Ini merupakan pendapat yang dipilih oleh Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qayyim, Asy-Syaukani dalam bukunya As-Sailul Jarrar3 dan di zaman ini Asy Syaikh Al-Albani, dan difatwakan Asy-Syaikh Ibnu Baz, Ibnu Utsaimin, dan lain-lain.
Ibnul Qayyim mengatakan: “Di antara petunjuk beliau n, zakat ini dikhususkan bagi orang-orang miskin dan tidak membagi-kannya kepada 8 golongan secomot-secomot. Beliau tidak pula memerintahkan untuk itu serta tidak seorangpun dari kalangan shahabat yang melakukannya. Demikian pula orang-orang yang setelah mereka.” (Zadul Ma’ad, 2/21, lihat pula Majmu’ Fatawa, 25/75, Tamamul Minnah, hal. 387, As-Sailul Jarrar, 2/86, Fatawa Ramadhan, 2/936)
Atas dasar itu, tidak diperkenankan menyalurkan zakat fitrah untuk pemba-ngunan masjid, sekolah, atau sejenisnya. Demikian difatwakan oleh Al-Lajnah Ad-Da`imah (9/369).

Definisi Fakir
Para ulama banyak membicarakan hal ini. Terlebih, kata fakir ini sering bersanding dengan kata miskin, yang berarti masing-masing punya pengertian tersendiri. Pemba-hasan masalah ini cukup panjang dan mem-butuhkan pembahasan khusus. Namun di sini kami akan sebutkan secara ringkas pendapat yang nampaknya lebih kuat:
Al-Qurthubi dalam Tafsir-nya (8/168) menjelaskan bahwa para ulama berbeda pendapat dalam hal perbedaan antara fakir dan miskin sampai 9 pendapat.
Di antaranya, bahwa fakir lebih membutuhkan daripada miskin. Ini adalah pendapat Asy-Syafi’i dan jumhur sebagai-mana dalam Fathul Bari. (Dinukil dari Imdadul Qari, 1/236-237)
Di antara alasannya adalah karena Allah I lebih dahulu menyebut fakir daripada miskin dalam surat At-Taubah: 60.

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat…”
Tentu Allah I menyebutkan dari yang terpenting. Juga dalam surat Al-Kahfi: 79, Allah I berfirman:

“Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku bertujuan merusak bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera…”
Allah I menyebut mereka miskin padahal mereka memiliki kapal.
Jadi baik fakir maupun miskin sama-sama tidak punya kecukupan, walaupun fakir lebih kekurangan dari miskin.
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan dalam Tafsir-nya (341): “Fakir adalah orang yang tidak punya apa-apa atau punya sedikit kecukupan tapi kurang dari setengahnya. Sedangkan miskin adalah yang mendapatkan setengah kecukupan atau lebih tapi tidak memadai.”

Berapakah yang Diberikan kepada Mereka?
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di mengatakan (hal. 341): “Maka mereka diberi seukuran yang membuat hi-langnya kefakiran dan kemiskinan mereka.”
Maka diupayakan jangan sampai setiap orang miskin diberi kurang dari ukuran zakat fitrah itu sendiri.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan: “Pendapat yang paling lemah adalah pendapat yang mengatakan wajib atas setiap muslim untuk membayarkan zakat fitrahnya kepada 12, 18, 24, 32, atau 28 orang, atau semacam itu. Karena ini menyelisihi apa yang dilakukan kaum muslimin dahulu di zaman Rasulullah n, para khalifahnya, serta seluruh shahabat-nya. Tidak seorang muslimpun melakukan yang demikian di masa mereka. Bahkan dahulu setiap muslim membayar fitrahnya sendiri dan fitrah keluarganya kepada satu orang muslim.
Seandainya mereka melihat ada yang membagi satu sha’ untuk sekian belas jiwa di mana setiap orang diberi satu genggam, tentu mereka mengingkari itu dengan sekeras-kerasnya. Karena Nabi n menentu-kan kadar yang diperintahkan yaitu satu sha’ kurma, gandum, atau dari bur ½ atau 1 sha’, sesuai kadar yang cukup untuk satu orang miskin. Dan beliau jadikan ini sebagai makanan mereka di hari raya, yang mereka tercukupi dengan itu. Jika satu orang hanya memperoleh satu genggam, maka ia tidak mendapatkan manfaat dan tidak selaras dengan tujuannya.” (Majmu’ Fatawa, 25/73-74)

Bagaimana Hukum Mendirikan Semacam Badan Amil Zakat?
Telah diajukan sebuah pertanyaan kepada Al-Lajnah Ad-Da`imah tentang sebuah organisasi yang bernama Jum’iyyatul Bir di Jeddah, Saudi Arabia yang mengelola anak yatim dan bantuan kepada keluarga yang membutuhkan, menerima zakat dan menyalurkannya kepada orang-orang yang membutuhkan.
Al-Lajnah Ad-Da`imah menjawab: “Organisasi tersebut wajib untuk menya-lurkan zakat fitrah kepada orang-orang yang berhak sebelum diselenggarakan Shalat Id, tidak boleh menundanya dari waktu itu. Karena Nabi memerintahkan untuk disam-paikan kepada orang-orang fakir sebelum Shalat Id. Organisasi itu kedudukannya sebagai wakil dari muzakki (pemberi zakat), dan organisasi tersebut tidak diperkenankan untuk menerima zakat fitrah kecuali seukuran yang ia mampu untuk menyalur-kannya kepada orang-orang fakir sebelum Shalat Id. Dan tidak boleh pula membayar zakat fitrah dalam bentuk uang karena dalil-dalil syar’i menunjukkan wajibnya menge-luarkan zakat fitrah dalam bentuk makanan, juga tidak boleh berpaling dari dalil syar’i kepada pendapat seseorang manusia.
Apabila muzakki membayarkan kepada organisasi itu dalam bentuk uang untuk dibelikan makanan untuk orang-orang fakir, maka itu wajib dilaksanakan sebelum Shalat Id dan tidak boleh bagi organisasi itu untuk mengeluarkannya dalam bentuk uang.” (Fatawa Al-Lajnah, 9/379, ditandatangani Asy-Syaikh Ibnu Baz, Asy-Syaikh Abdurrazzaq Afifi, dan Asy-Syaikh Abdullah Ghudayyan. Lihat pula 9/389)
Akan tetapi pada asalnya zakat fitrah langsung diberikan oleh muzakki kepada yang berhak. (Fatawa Lajnah, 9/389)
Bila ia memberikannya kepada badan amil zakat maka harus diperhatikan minimalnya dua hal:
1. Mereka benar-benar orang yang mengetahui hukum sehingga tahu seluk-beluk hukum zakat dan yang berhak menerimanya.
2. Mereka adalah orang yang amanah, benar-benar menyampaikannya kepada yang berhak, sesuai dengan aturan syar’i.
Hal ini kami tegaskan karena di masa ini banyak orang yang tidak tahu hukum, lebih-lebih tidak sedikit yang tidak amanah. Ada yang mengambilnya tanpa hak dan ada yang menyalurkannya tidak tepat sasaran. Justru zakat itu dikembangkan atau untuk kesejahteraan organisasi/partainya. Atau terkadang dia menundanya, yang berarti menunda pemberian kepada orang yang sangat membutuhkan, walaupun terkadang melegitimasi perbuatan mereka dengan alasan-alasan ‘syar’i’ yang dibuat-buat.

Bolehkah Zakat (Secara Umum) Dikembangkan oleh Badan Amil Zakat?
Pertanyaan tentang ini telah diajukan kepada Al-Lajnah Ad-Da`imah, jawabnya:
Tidak boleh bagi wakil dari organisasi tersebut untuk mengembangkan harta zakat. Yang wajib dilakukan adalah menyalurkan-nya ke tempat-tempat yang syar’i yang telah disebut dalam nash (Al-Qur’an atau Hadits, -pent.) setelah mengecek (tempat) penya-lurannya kepada orang-orang yang berhak. Karena tujuan zakat adalah memenuhi kebutuhan orang-orang fakir dan melunasi hutang orang-orang yang berhutang. Sementara pengembangan harta zakat bisa jadi justru menyebabkan hilangnya maslahat ini, atau menundanya dalam waktu yang lama dari orang-orang yang berhak (sangat membutuhkannya segera, ed.) (Fatawa Al-Lajnah, 9/454 ditandatangani oleh Asy-Syaikh Ibnu Baz, Asy-Syaikh Abdurrazzaq Afifi, Asy-Syaikh Abdullah Ghudayyan, dan Asy-Syaikh Abdullah bin Qu’ud)

Tempat Ditunaikannya Zakat Fitrah
Sebuah pertanyaan ditujukan kepada Al-Lajnah Ad-Da`imah:
“Apakah saya boleh menunaikan zakat untuk keluarga saya di mana saya puasa Ramadhan di (Saudi Arabia) bagian timur sementara keluarga saya di (Saudi Arabia) bagian utara?”
Jawab: Zakat fitrah itu dikeluarkan di tempat seseorang berada. Namun jika wakil atau walinya mengeluarkannya di daerah tempat yang bersangkutan tidak ada di sana, maka diperbolehkan. (Fatawa Al-Lajnah, 9/384, ditandatangani oleh Asy-Syaikh Ibnu Baz, Asy-Syaikh Abdurrazzaq Afifi, Asy-Syaikh Abdullah Ghudayyan, dan Asy-Syaikh Abdullah bin Qu’ud. Lihat Fatawa Ramadhan, 2/943)
Wallahu a’lam bish-shawab.

Catatan Kaki:

1 Yang dimaksud adalah amil zakat, bukan fakir miskin. Lihat Fathul Bari (3/376) dan Al-Irwa` (3/335).
2 Sebelumnya beliau juga menyebutkan hadits lain yang semakna.
3 Lain halnya dalam bukunya Ad-Darari, di situ beliau berpendapat seperti Asy-Syafi’i.

Beberapa Kesalahan dalam Bulan Ramadhan

(ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar ZA, Lc.)

Islam, dalam banyak ayat dan hadits, senantiasa mengumandangkan pentingnya ilmu sebagai landasan berucap dan beramal. Maka bisa dibayangkan, amal tanpa ilmu hanya akan berbuah penyimpangan. Kajian berikut berupaya menguraikan beberapa kesalahan berkait amalan di bulan Ramadhan. Kesalahan yang dipaparkan di sini memang cukup ‘fatal’. Jika didiamkan terlebih ditumbuhsuburkan, sangat mungkin akan mencabik-cabik kemurnian Islam, lebih-lebih jika itu kemudian disirami semangat fanatisme golongan.

Penggunaan Hisab Dalam Menentukan Awal Hijriyyah
Nabi n telah memberikan bimbingan dalam menentukan awal bulan Hijriyyah dalam hadits-haditsnya, di antaranya:

“Dari Ibnu ‘Umar, bahwa Rasulullah n menjelaskan Ramadhan, maka beliau mengatakan: ‘Janganlah kalian berpuasa sehingga kalian melihat hilal dan janganlah kalian berbuka (berhenti puasa dengan masuknya syawwal, -pent.) sehingga kalian melihatnya. Bila kalian tertutup oleh awan maka hitunglah’.” (Shahih, HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Dan hadits yang semacam ini cukup banyak, baik dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim maupun yang lain.
Kata-kata  (Bila kalian tertutup oleh awan maka hitunglah) menurut mayoritas ulama bermadzhab Hanbali, ini dimaksudkan untuk membeda-kan antara kondisi cerah dengan berawan. Sehingga didasarkannya hukum pada penglihatan hilal adalah ketika cuaca cerah, adapun mendung maka memiliki hukum yang lain.
Menurut jumhur (mayoritas) ulama, artinya: “Lihatlah awal bulan dan genap-kanlah menjadi 30 (hari).”
Adapun yang menguatkan penafsiran semacam ini adalah riwayat lain yang menegaskan apa yang sesungguhnya dimaksud. Yaitu sabda Nabi yang telah lalu  (maka sempurnakan jumlah menjadi 30) dan riwayat yang semakna. Yang paling utama untuk menaf-sirkan hadits adalah dengan hadits juga. Bahkan Ad-Daruquthni meriwayatkan (hadits) serta menshahihkannya, juga Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya dari hadits Aisyah:

“Dahulu Rasulullah sangat menjaga Sya’ban, tidak sebagaimana pada bulan lainnya. Kemudian beliau puasa karena ru`yah bulan Ramadhan. Jika tertutup awan, beliau menghitung (menggenapkan) 30 hari untuk selanjutnya berpuasa.” (Dinukil dari Fathul Bari karya Ibnu Hajar)
Oleh karenanya, penggunaan hisab bertentangan dengan Sunnah Nabi dan bertolak belakang dengan kemudahan yang diberikan oleh Islam.

“Maukah kalian mengambil sesuatu yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik?” (Al-Baqarah: 61)

“Dari Abu Hurairah, dari Nabi n ia berkata: ‘Sesungguhnya agama ini adalah mudah. Dan tidak seorangpun memberat-beratkan dalam agama ini kecuali ia yang akan terkalahkan olehnya. Maka berusahalah untuk benar, mendekatlah, gembiralah dan gunakanlah pagi dan petang serta sedikit dari waktu malam’.” (Shahih, HR. Al-Bukhari, Kitabul Iman Bab Ad-Dinu Yusrun)
Sebuah pertanyaan diajukan kepada Al-Lajnah Ad-Da`imah atau Dewan Fatwa dan Riset Ilmiah Saudi Arabia:
Apakah boleh bagi seorang muslim untuk mendasarkan penentuan awal dan akhir puasa pada hisab ilmu falak, ataukah harus dengan ru`yah (melihat) hilal?
Jawab: …Allah I tidak membebani kita dalam menentukan awal bulan Qomariyah dengan sesuatu yang hanya diketahui segelintir orang, yaitu ilmu perbintangan atau hisab falak. Padahal nash-nash Al-Kitab dan As-Sunnah yang ada telah menjelaskan, yaitu menjadikan ru`yah hilal dan menyaksikannya sebagai tanda awal puasa kaum muslimin di bulan Ramadhan dan berbuka dengan melihat hilal Syawwal. Demikian juga dalam menetapkan Iedul Adha dan hari Arafah. Allah I berfirman:

“…Maka barangsiapa di antara kalian menyaksikan bulan hendaknya berpuasa.” (Al-Baqarah: 185)
Dan Allah I berfirman:

“Mereka bertanya tentang hilal-hilal. Katakanlah, itu adalah waktu-waktu untuk manusia dan untuk haji.” (Al-Baqarah: 189)
Nabi n bersabda:

“Jika kalian melihatnya, maka puasalah kalian. Jika kalian melihatnya maka berbu-kalah kalian. Namun jika kalian terhalangi awan, sempurnakanlah menjadi 30.”
Nabi n menjadikan tetapnya (awal) puasa dengan melihat hilal bulan Rama-dhan dan berbuka (mengakihiri Ramadhan) dengan melihat hilal Syawwal. Sama sekali Nabi tidak mengaitkannya dengan hisab bintang-bintang dan orbitnya (termasuk rembulan, -pent.). Yang demikian ini diamalkan sejak zaman Nabi n, para Khulafa` Ar-Rasyidin, empat imam, dan tiga kurun yang Nabi n persaksikan keutamaan dan kebaikannya.
Oleh karena itu, menetapkan bulan-bulan Qomariyyah dengan merujuk ilmu bintang dalam memulai awal dan akhir ibadah tanpa ru`yah adalah bid’ah, yang tidak mengandung kebaikan serta tidak ada landasannya dalam syariat….” (Fatwa ini ditandatangani oleh Asy-Syaikh Abdur-razzaq Afifi, Asy-Syaikh Abdullah bin Mani’, dan Asy-Syaikh Abdullah bin Ghudayyan. Lihat Fatawa Ramadhan, 1/61)
Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin t berkata: “Tentang hisab, tidak boleh beramal dengannya dan bersandar padanya.” (Fatawa Ramadhan, 1/62)
Tanya: Sebagian kaum muslimin di sejumlah negara, sengaja berpuasa tanpa menyandarkan pada ru`yah hilal dan mera-sa cukup dengan kalender. Apa hukumnya?
Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz menjawab: “Sesungguhnya Nabi n meme-rintahkan kaum muslimin untuk (mereka berpuasa karena melihat hilal dan berbuka karena melihat hilal maka jika mereka tertutup olah awan hendaknya menyempur-nakan jumlahnya menjadi 30) -Muttafaqun alaihi-
Dan Nabi n bersabda (yang artinya):
“Kami adalah umat yang ummi, tidak menulis dan tidak menghitung. Bulan itu adalah demikian, demikian, dan demikian.” –beliau menggenggam ibu jarinya pada ketiga kalinya dan mengatakan–: “Bulan itu begini, begini, dan begini –serta  mengisyaratkan dengan seluruh jemarinya–.”
Beliau maksudkan dengan itu bahwa bulan itu bisa 29 atau 30 (hari). Dan telah disebutkan pula dalam Shahih Al-Bukhari dari Abu Hurairah bahwa Nabi n bersabda (yang artinya):
“Puasalah kalian karena melihatnya dan berbukalah karena melihatnya. Jika kalian tertutupi awan hendaknya menyempurnakan Sya’ban menjadi 30 (hari).”
Nabi n juga bersabda (yang artinya):
“Jangan kalian berpuasa sehingga melihat hilal atau menyempurnakan jumlah. Dan jangan kalian berbuka sehingga melihat hilal atau menyempurnakan jumlah.”
Masih banyak hadits-hadits dalam bab ini. Semuanya menunjukkan wajibnya beramal dengan ru`yah, atau menggenap-kannya jika tidak memungkinkan ru`yah. Ini sekaligus menjelaskan tidak bolehnya ber-tumpu pada hisab dalam masalah tersebut.
Ibnu Taimiyyah1 telah menyebutkan ijma’ para ulama tentang larangan bersandar pada hisab dalam menentukan hilal-hilal. Dan inilah yang benar, tidak diragukan lagi. Allah Ilah yang memberi taufiq. (Fatawa Shiyam, hal. 5-6)
Pembahasan lebih rinci tentang hisab bisa dilihat kembali dalam Asy-Syariah edisi khusus Ramadhan tahun 2004.

Imsak sebelum Waktunya
Imsak artinya menahan. Yang dimak-sud di sini adalah berhenti dari makan dan minum dan segala pembatal saat sahur. Kapankah sebetulnya disyariatkan berhenti, ketika adzan tanda masuknya subuh atau sebelumnya, yakni adzan pertama sebelum masuknya subuh? Karena dalam banyak hadits menunjukkan bahwa subuh memiliki dua adzan, beberapa saat sebelum masuk dan setelahnya.
Asy-Syaikh Al-Albani t menga-takan: “Masalah ini, di mana banyak orang (meyakini) bahwa makan di malam hari pada saat puasa diharamkan sejak adzan pertama2 (yakni sebelum masuknya waktu subuh), yang adzan ini mereka sebut dengan adzan imsak, tidak ada dasarnya dalam Al-Qur`an, As-Sunnah dan dalam satu madzhabpun dari madzhab para imam yang empat. Mereka semua justru sepakat bahwa adzan untuk imsak (menahan dari pembatal puasa) adalah adzan yang kedua yakni adzan yang dengannya masuk waktu subuh. Dengan adzan inilah diharamkan makan dan minum serta melakukan segala hal yang membatalkan puasa. Adapun adzan pertama yang kemudian disebut adzan imsak, pengistilahan semacam ini bertentangan dengan dalil Al-Qur`an dan Hadits. Adapun Al-Qur`an, maka Rabb kita berfirman –dan kalian telah dengar ayat tersebut berulang-ulang–…

“Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.” (Al-Baqarah: 187)
Ini merupakan nash yang tegas di mana Allah I membolehkan bagi orang-orang yang berpuasa yang bangun di malam hari untuk melakukan sahur. Artinya, Rabb kita membolehkan untuk makan dan mengakhirkannya hingga ada adzan yang secara syar’i dijadikan pijakan untuk bersiap-siap karena masuk waktu fajar shadiq (yakni masuknya waktu subuh, -pent.). Demikian Rabb kita menerangkan.
Nabi n menegaskan makna ayat yang jelas ini dengan hadits yang diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim bahwa Nabi mengatakan:

“Janganlah kalian terkecoh oleh adzan Bilal, karena Bilal adzan di waktu malam.”3
Dalam hadits yang lain selain riwayat Al-Bukhari dan Muslim:

“Janganlah kalian terkecoh oleh adzan Bilal, karena Bilal adzan untuk membangun-kan yang tidur dan untuk menunaikan sahur bagi yang sahur. Maka makan dan minumlah kalian hingga Ibnu Ummi Maktum melan-tunkan adzan4….” (Fatawa Asy-Syaikh Al-Albani, hal. 344-345)
Ibnu Hajar (salah satu ulama besar madzhab Syafi’i) dalam Fathul Bari syarah Shahih Al-Bukhari (4/199) juga menging-kari perbuatan semacam ini. Bahkan beliau menganggapnya termasuk bid’ah yang mungkar.
Oleh karenanya, wahai kaum mus-limin, mari kita bersihkan amalan kita, selaraskan dengan ajaran Nabi kita, kapan lagi kita memulainya (jika tidak sekarang)? (Lihat pula Mu’jamul Bida’ hal. 57)
Di sisi lain, adapula yang melakukan sahur di tengah malam. Ini juga tidak sesuai dengan Sunnah Nabi, sekaligus berten-tangan dengan maksud dari sahur itu sendiri yaitu untuk membantu orang yang berpuasa dalam menunaikannya. Nabi n bersabda:

“Segeralah berbuka dan akhirkan sahur.” (Shahih, lihat Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 1773)

Dari Abu ‘Athiyyah ia mengatakan: Aku katakan kepada ‘Aisyah: Ada dua orang di antara kami, salah satunya menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur, sedangkan yang lain menunda berbuka dan memperce-pat sahur. ‘Aisyah mengatakan: “Siapa yang menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur?” Aku menjawab: “Abdullah bin Mas’ud.” ‘Aisyah lalu mengatakan: “Demi-kianlah dahulu Rasulullah n melakukannya.” (HR. At-Tirmidzi, Kitabush Shiyam Bab Ma Ja`a fi Ta’jilil Ifthar, 3/82, no. 702. Beliau menyatakan: “Hadits hasan shahih.”)

At-Tirmidzi mengatakan: Hadits Zaid bin Tsabit (tentang mengakhirkan sahur, -pent.) derajatnya hasan shahih. Asy-Syafi’i, Ahmad, dan Ishaq berpendapat dengannya. Mereka menyunnahkan untuk mengakhirkan sahur.” (Bab Ma Ja`a fi Ta`khiri Sahur)
Di antara kesalahan yang lain adalah:
qMengakhirkan adzan Maghrib dengan alasan kehati-hatian/ihtiyath (Mu’jamul Bida’, hal. 268)
qMembunyikan meriam untuk memberitahukan masuknya waktu shalat, sahur, atau berbuka. Al-Imam Asy-Syathibi menganggapnya bid’ah. (Al-I’tisham, 2/103; Mu’jamul Bida’, hal. 268)
qBersedekah atas nama roh dari orang yang telah meninggal pada bulan Rajab, Sya’ban, dan Ramadhan. (Ahka-mul Jana`iz, hal. 257, Mu’jamul Bida’, hal. 269)
Dan masih banyak lagi kesalahan lain, yang Insya Allah akan dibahas pada kesempatan yang lain.
Wallahu a’lam bish-shawab.

Catatan Kaki:

1 Lihat pula Majmu’ Fatawa (25/179)
2 Bila di masyarakat kita tandanya adalah dengan selain adzan, seperti sirine, petasan, atau yang lain yang tidak ada dasar syar’inya sama sekali.
3 Yakni sebelum masuk waktu subuh.
4 Karena Ibnu Ummi Maktum adzan setelah masuk waktu subuh.

Shaum Ramadhan Bersama Penguasa, Syi’ar Kebersamaan Umat Islam

(ditulis oleh: Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi, Lc.)

Taat kepada pemerintah dalam perkara kebaikan. Inilah salah satu prinsip agama yang kini telah banyak dilupakan dan ditinggalkan umat. Yang kini banyak dilakukan justru berupaya mencari keburukan pemerintah sebanyak-banyaknya untuk kemudian disebarkan ke masyarakat. Akibat buruk dari ditinggalkannya prinsip ini sudah banyak kita rasakan. Satu di antaranya adalah munculnya perpecahan di kalangan umat Islam saat menentukan awal Ramadhan atau Hari Raya.

Bulan suci Ramadhan merupakan bulan istimewa bagi umat Islam. Hari-harinya diliputi suasana ibadah; shaum, shalat tarawih, bacaan Al-Qur`an, dan sebagainya. Sebuah fenomena yang tak didapati di bulan-bulan selainnya. Tak ayal, bila kedatangannya menjadi dambaan, dan kepergiannya meninggalkan kesan yang mendalam. Tak kalah istimewanya, ternyata bulan suci Ramadhan juga sebagai salah satu syi’ar kebersamaan umat Islam. Secara bersama-sama mereka melakukan shaum Ramadhan; dengan menahan diri dari rasa lapar, dahaga dan dorongan hawa nafsu sejak terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari, serta mengisi malam-malamnya dengan shalat tarawih dan berbagai macam ibadah lainnya. Tak hanya kita umat Islam di Indonesia yang merasakannya. Bahkan seluruh umat Islam di penjuru dunia pun turut merasakan dan memilikinya.
Namun syi’ar kebersamaan itu kian hari semakin pudar, manakala elemen-elemen umat Islam di banyak negeri saling berlomba merumuskan keputusan yang berbeda dalam menentukan awal dan akhir bulan Ramadhan. Keputusan itu terkadang atas nama ormas, terkadang atas nama parpol, dan terkadang pula atas nama pribadi. Masing-masing mengklaim, keputusannya yang paling benar. Tak pelak, shaum Ramadhan yang merupakan syi’ar kebersamaan itu (kerap kali) diawali dan diakhiri dengan fenomena perpecahan di tubuh umat Islam sendiri. Tentunya, ini merupakan fenomena menyedihkan bagi siapa pun yang mengidamkan persatuan umat.
Mengapa hal ini bisa terjadi? Mungkin anda akan berkata: “Itu karena adanya perbedaan pendapat di antara elemen umat Islam, apakah awal masuk dan keluarnya bulan Ramadhan itu ditentukan oleh ru`yatul hilal (melihat hilal) ataukah dengan ilmu hisab?”. Bisa juga anda mengatakan: “Karena adanya perbedaan pendapat, apakah di dunia ini hanya berlaku satu mathla’ (tempat keluarnya hilal) ataukah masing-masing negeri mempunyai mathla’ sendiri-sendiri?”
Bila kita mau jujur soal penyebab pudarnya syi’ar kebersamaan itu, lepas adanya realita perbedaan pendapat di atas, utamanya disebabkan makin tenggelamnya salah satu prinsip penting agama Islam dari hati sanubari umat Islam. Prinsip itu adalah memuliakan dan menaati penguasa (pemerintah) umat Islam dalam hal yang ma’ruf (kebaikan).
Mungkin timbul tanda tanya: “Apa hubungannya antara ketaatan terhadap penguasa dengan pelaksanaan shaum Ramadhan?”
Layak dicatat, hubungan antara keduanya sangat erat. Hal itu karena:
1. Shaum Ramadhan merupakan syi’ar kebersamaan umat Islam, dan suatu kebersamaan umat tidaklah mungkin terwujud tanpa adanya ketaatan terhadap penguasa.
2. Penentuan pelaksanaan shaum Ramadhan merupakan perkara yang ma’ruf (kebaikan) dan bukan kemaksiatan. Sehingga menaati penguasa dalam hal ini termasuk perkara yang diperintahkan dalam agama Islam. Terlebih ketika penentuannya setelah melalui sekian proses, dari pengerahan tim ru‘yatul hilal di sejumlah titik di negerinya hingga digelarnya sidang-sidang istimewa.
3. Realita juga membuktikan, dengan menaati keputusan penguasa dalam hal pelaksanaan shaum Ramadhan dan penentuan hari raya ‘Idul Fithri, benar-benar tercipta suasana persatuan dan kebersa-maan umat. Sebaliknya, ketika umat Islam berseberangan dengan penguasanya, perpecahan di tubuh mereka pun sangat mencolok. Maka dari itu, menaati penguasa dalam hal ini termasuk perkara yang diperintahkan dalam agama Islam.
Rasulullah n bersabda:

“Barangsiapa menaatiku berarti telah menaati Allah. Barangsiapa menentangku berarti telah menentang Allah. Barangsiapa menaati pemimpin (umat)ku berarti telah menaatiku, dan barangsiapa menentang pemimpin (umat)ku berarti telah menen-tangku.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari shahabat Abu Hurairah z)
Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-’Asqalani berkata: “Di dalam hadits ini terdapat keterangan tentang kewajiban menaati para penguasa dalam perkara-perkara yang bukan kemaksiatan. Adapun hikmahnya adalah untuk menjaga persatuan dan kebersamaan (umat Islam), karena di dalam perpecahan terdapat kerusakan.” (Fathul Bari, juz 13, hal. 120)
Mungkin ada yang bertanya, “Adakah untaian fatwa dari para ulama seputar permasalahan ini?” Maka jawabnya ada, sebagaimana berikut ini:

Fatwa Para Ulama Seputar Shaum Ramadhan Bersama Penguasa
q Al-Imam Ahmad bin Hanbal berkata: “Seseorang (hendaknya) bershaum bersama penguasa dan jamaah (mayoritas) umat Islam, baik ketika cuaca cerah ataupun mendung.” Beliau juga berkata: “Tangan Allah I bersama Al-Jama’ah.” (Majmu’ Fatawa, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah juz 25, hal. 117)
q Al-Imam At-Tirmidzi berkata: “Sebagian ahlul ilmi menafsirkan hadits ini1 dengan ucapan (mereka): ‘Sesungguhnya shaum dan berbukanya itu (dilaksanakan) bersama Al-Jama’ah dan mayoritas umat Islam’.” (Tuhfatul Ahwadzi juz 2, hal. 37. Lihat Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah jilid 2, hal. 443)
q Al-Imam Abul Hasan As-Sindi berkata: “Yang jelas, makna hadits ini adalah bahwasanya perkara-perkara semacam ini (menentukan pelaksanaan shaum Ramadhan, berbuka puasa/Iedul Fithri dan Iedul Adha, -pen.) keputusannya bukanlah di tangan individu. Tidak ada hak bagi mereka untuk melakukannya sendiri-sendiri. Bahkan permasalahan semacam ini dikembalikan kepada penguasa dan mayoritas umat Islam. Dalam hal ini, setiap individu pun wajib untuk mengikuti penguasa dan mayoritas umat Islam. Maka dari itu, jika ada seseorang yang melihat hilal (bulan sabit) namun penguasa menolak persaksian-nya, sudah sepatutnya untuk tidak dianggap persaksian tersebut dan wajib baginya untuk mengikuti mayoritas umat Islam dalam permasalahan itu.” (Hasyiyah ‘ala Ibni Majah, lihat Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah jilid 2, hal. 443)
q Asy-Syaikh Al-Muhaddits Muham-mad Nashiruddin Al-Albani2 berkata: “Dan selama belum (terwujud) bersatunya negeri-negeri Islam di atas satu mathla’ (dalam menentukan pelaksanaan shaum Rama-dhan, -pen.), aku berpendapat bahwa setiap warga negara hendaknya melaksanakan shaum Ramadhan bersama negaranya (pemerintahnya) masing-masing dan tidak bercerai-berai dalam perkara ini, yakni shaum bersama pemerintah dan sebagian lainnya shaum bersama negara lain, baik mendahului pemerintahnya atau pun belakangan. Karena yang demikian itu dapat mempertajam perselisihan di tengah masyarakat muslim sendiri. Sebagaimana yang terjadi di sebagian negara Arab sejak beberapa tahun yang lalu. Wallahul Musta’an.” (Tamamul Minnah hal. 398)
q Beliau juga berkata: “Inilah yang sesuai dengan syariat (Islam) yang toleran, yang di antara misinya adalah memper-satukan umat manusia, menyatukan barisan mereka serta menjauhkan mereka dari segala pendapat pribadi yang memicu perpecahan. Syariat ini tidak mengakui pendapat pribadi –meski menurut yang bersangkutan benar– dalam ibadah yang bersifat kebersamaan seperti; shaum, Ied, dan shalat berjamaah. Tidakkah engkau melihat bahwa sebagian shahabat g shalat bermakmum di belakang shahabat lainnya, padahal sebagian mereka ada yang berpendapat bahwa menyentuh wanita, menyentuh kemaluan, dan keluarnya darah dari tubuh termasuk pembatal wudhu, sementara yang lainnya tidak berpendapat demikian?! Sebagian mereka ada yang shalat secara sempurna (4 rakaat) dalam safar dan di antara mereka pula ada yang mengqasharnya (2 rakaat). Namun perbe-daan itu tidaklah menghalangi mereka untuk melakukan shalat berjamaah di belakang seorang imam (walaupun berbeda pendapat dengannya, -pen.) dan tetap berkeyakinan bahwa shalat tersebut sah. Hal itu karena adanya pengetahuan mereka bahwa bercerai-berai dalam urusan agama lebih buruk daripada sekedar berbeda pendapat. Bahkan sebagian mereka mendahulukan pendapat penguasa daripada pendapat pribadinya pada momen berkumpulnya manusia seperti di Mina. Hal itu semata-mata untuk menghindari kesudahan buruk (terjadinya perpecahan) bila dia tetap mempertahankan pendapatnya. Sebagai-mana diriwayatkan oleh Al-Imam Abu Dawud (1/307), bahwasanya Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan z shalat di Mina 4 rakaat (Zhuhur, ‘Ashar, dan Isya’ -pen). Maka shahabat Abdullah bin Mas’ud z mengingkarinya seraya berkata: “Aku telah shalat (di Mina/hari-hari haji, -pen.) bersama Nabi n, Abu Bakr, ‘Umar dan di awal pemerintahan ‘Utsman 2 rakaat, dan setelah itu ‘Utsman shalat 4 rakaat. Kemudian terjadilah perbedaan di antara kalian (sebagian shalat 4 rakaat dan sebagian lagi 2 rakaat, -pen.), dan harapanku dari 4 rakaat shalat itu yang diterima adalah yang 2 rakaat darinya.”
Namun ketika di Mina, shahabat Abdullah bin Mas’ud justru shalat 4 rakaat. Maka dikatakanlah kepada beliau: “Engkau telah mengingkari ‘Utsman atas shalatnya yang 4 rakaat, (mengapa) kemudian engkau shalat 4 rakaat pula?!” Abdullah bin Mas’ud berkata: “Perselisihan itu jelek.” Sanadnya shahih. Diriwayatkan pula oleh Al-Imam Ahmad (5/155) seperti riwayat di atas dari shahabat Abu Dzar z.
Maka dari itu, hendaknya hadits dan atsar ini benar-benar dijadikan bahan renungan oleh orang-orang yang (hobi, -pen.) berpecah-belah dalam urusan shalat mereka serta tidak mau bermakmum kepada sebagian imam masjid, khususnya shalat witir di bulan Ramadhan dengan dalih beda madzhab. Demikian pula orang-orang yang bershaum dan berbuka sendiri, baik mendahului mayoritas kaum muslimin atau pun mengakhirkannya dengan dalih mengerti ilmu falaq, tanpa peduli harus berseberangan dengan mayoritas kaum muslimin. Hendaknya mereka semua mau merenungkan ilmu yang telah kami sampaikan ini. Dan semoga ini bisa menjadi obat bagi kebodohan dan kesombongan yang ada pada diri mereka. Dengan harapan agar mereka selalu dalam satu barisan bersama saudara-saudara mereka kaum muslimin, karena tangan Allah I bersama Al-Jama’ah.” (Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah jilid 2, hal. 444-445)
q Asy-Syaikh Al-Allamah Abdul Aziz bin Baz t pernah ditanya: “Jika awal masuknya bulan Ramadhan telah diumum-kan di salah satu negeri Islam semisal kerajaan Saudi Arabia, namun di negeri kami belum diumumkan, bagaimanakah hukum-nya? Apakah kami bershaum bersama kerajaan Saudi Arabia ataukah bershaum dan berbuka bersama penduduk negeri kami, manakala ada pengumuman? Demikian pula halnya dengan masuknya Iedul Fithri, apa yang harus kami lakukan bila terjadi perbedaan antara negeri kami dengan negeri yang lainnya? Semoga Allah I membalas engkau dengan kebaikan.”
Beliau menjawab: “Setiap muslim hendaknya bershaum dan berbuka bersama (pemerintah) negerinya masing-masing. Hal itu berdasarkan sabda Nabi n:

“Waktu shaum itu di hari kalian (umat Islam) bershaum, (waktu) berbuka adalah pada saat kalian berbuka, dan (waktu) berkurban/Iedul Adha di hari kalian berkurban.”
Wabillahit taufiq. (Lihat Fatawa Ramadhan hal. 112)
q Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin t ditanya: “Umat Islam di luar dunia Islam sering berselisih dalam menyikapi berbagai macam permasalahan seperti (penentuan) masuk dan keluarnya bulan Ramadhan, serta saling berebut jabatan di bidang dakwah. Fenomena ini terjadi setiap tahun. Hanya saja tingkat ketajamannya berbeda-beda tiap tahunnya. Penyebab utamanya adalah minimnya ilmu agama, mengikuti hawa nafsu dan terka-dang fanatisme madzhab atau partai, tanpa mempedulikan rambu-rambu syariat Islam dan bimbingan para ulama yang kesohor akan ilmu dan wara’-nya. Maka, adakah sebuah nasehat yang kiranya bermanfaat dan dapat mencegah (terjadi-nya) sekian kejelekan? Semoga Allah I memberikan taufiq dan penjagaan-Nya kepada engkau.”
Beliau berkata: “Umat Islam wajib bersatu dan tidak boleh berpecah-belah dalam beragama. Sebagaimana firman Allah I:

“Dia telah mensyariatkan bagi kalian tentang agama, apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wasiatkan kepadamu, Ibrahim, Musa, dan Isa, yaitu:’ Tegakkanlah agama dan janganlah kalian berpecah-belah tentangnya’.” (Asy-Syura: 13)

“Dan berpegang-teguhlah kalian semua dengan tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai-berai.” (Ali ‘Imran: 103)

“Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang berpecah-belah dan berselisih setelah keterangan datang kepada mereka, dan bagi mereka adzab yang pedih.” (Ali ‘Imran: 105)
Sehingga umat Islam wajib untuk menjadi umat yang satu dan tidak ber-pecah-belah dalam beragama. Hendak-nya waktu shaum dan berbuka mereka satu, dengan mengikuti keputusan lembaga/departemen yang menangani urusan umat Islam dan tidak bercerai-berai (dalam masalah ini), walaupun harus lebih tertinggal dari shaum kerajaan Saudi Arabia atau negeri Islam lainnya.” (Fatawa Fi Ahkamish Shiyam, hal. 51-52)
q Fatwa Al-Lajnah Ad-Da`imah Lil-Buhuts Al-‘Ilmiyyah wal-Ifta`: “…Dan tidak mengapa bagi penduduk negeri manapun, jika tidak melihat hilal (bulan tsabit) di tempat tinggalnya pada malam ke-30, untuk mengambil hasil ru`yatul hilal dari tempat lain di negerinya. Jika umat Islam di negeri tersebut berbeda pendapat dalam hal penentuannya, maka yang harus diikuti adalah keputusan penguasa di negeri tersebut bila ia seorang muslim, karena (dengan mengikuti) keputusannya akan sirnalah perbedaan pendapat itu. Dan jika si penguasa bukan seorang muslim, maka hendaknya mengikuti keputusan majelis/departemen pusat yang membidangi urusan umat Islam di negeri tersebut. Hal ini semata-mata untuk menjaga kebersamaan umat Islam dalam menjalankan shaum Ramadhan dan shalat Id di negeri mereka. Wabillahit taufiq, washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa alihi wa shahbihi wasallam.”
Pemberi fatwa: Asy-Syaikh Abdur Razzaq ‘Afifi, Asy-Syaikh Abdullah bin Ghudayyan, dan Asy-Syaikh Abdullah bin Mani’. (Lihat Fatawa Ramadhan hal. 117)
Demikianlah beberapa fatwa para ulama terdahulu dan masa kini seputar kewajiban bershaum bersama penguasa dan mayoritas umat Islam di negerinya. Semoga menjadi pelita dalam kegelapan dan ibrah bagi orang-orang yang mendambakan persatuan umat Islam.
Mungkin masih ada yang mengatakan bahwasanya kewajiban menaati penguasa dalam perkara semacam ini hanya berlaku untuk seorang penguasa yang adil. Adapun bila penguasanya dzalim atau seorang koruptor, tidak wajib taat kepadanya walaupun dalam perkara-perkara kebaikan dan bukan kemaksiatan, termasuk dalam hal penentuan masuk dan keluarnya bulan Ramadhan ini.
Satu hal yang perlu digarisbawahi dalam hal ini, jika umat dihadapkan pada polemik atau perbedaan pendapat, prinsip ‘berpegang teguh dan merujuk kepada Al-Qur`an dan Sunnah Rasulullah n’ haruslah senantiasa dikedepankan. Sebagaimana bimbingan Allah I dalam kalam-Nya nan suci:

“Dan berpegang-teguhlah kalian semua dengan tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai-berai.” (Ali ‘Imran: 103)
Al-Imam Al-Qurthubi berkata: “Allah I mewajibkan kepada kita agar berpegang teguh dengan Kitab-Nya (Al-Qur`an) dan Sunnah Nabi-Nya, serta merujuk kepada keduanya di saat terjadi perselisihan. Seba-gaimana Dia (juga) memerintahkan kepada kita agar bersatu di atas Al-Qur`an dan As-Sunnah baik secara keyakinan atau pun amalan…” (Tafsir Al-Qurthubi, 4/105)
Para pembaca yang mulia, bila anda telah siap untuk merujuk kepada Al-Qur`an dan As-Sunnah maka simaklah bimbingan dari Al-Qur`an dan As-Sunnah berikut ini:
Allah I berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan Rasul-Nya, dan Ulil Amri di antara kalian.” (An-Nisa`: 59)
Al-Imam An-Nawawi berkata: “Yang dimaksud dengan Ulil Amri adalah orang-orang yang Allah U wajibkan untuk ditaati dari kalangan para penguasa dan pemimpin umat. Inilah pendapat mayoritas ulama terdahulu dan sekarang dari kalangan ahli tafsir dan fiqih serta yang lainnya.”(Syarh Shahih Muslim, juz 12, hal. 222)
Adapun baginda Rasul n, maka beliau n seringkali mengingatkan umatnya seputar permasalahan ini. Di antaranya dalam hadits-hadits beliau berikut ini:
1. Shahabat ‘Adi bin Hatim z berkata:

“Wahai Rasulullah, kami tidak bertanya kepadamu tentang ketaatan (terhadap penguasa) yang bertakwa. Yang kami tanyakan adalah ketaatan terhadap penguasa yang berbuat demikian dan demikian (ia sebutkan kejelekan-kejelekannya).” Maka Rasulullah bersabda: “Bertakwalah kalian kepada Allah, dengarlah dan taatilah (penguasa tersebut).” (HR. Ibnu Abi ‘Ashim dalam Kitab As-Sunnah, dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Zhilalul Jannah Fitakhrijis Sunnah, 2/494, no. 1064)
2. Rasulullah n bersabda:

“Akan ada sepeninggalku nanti para imam/penguasa yang mereka itu tidak berpegang dengan petunjukku dan tidak mengikuti cara/jalanku. Dan akan ada di antara para penguasa tersebut orang-orang yang berhati setan namun berbadan manusia.” Hudzaifah berkata: “Apa yang kuperbuat bila aku mendapatinya?” Rasulullah n bersabda: “Hendaknya engkau mendengar dan menaati penguasa tersebut walaupun punggungmu dicambuk dan hartamu dirampas olehnya, maka dengar-kanlah (perintahnya) dan taatilah (dia).” (HR. Muslim dari shahabat Hudzaifah bin Al-Yaman, 3/1476, no. 1847)
3. Rasulullah n bersabda:

“Seburuk-buruk penguasa kalian adalah yang kalian benci dan mereka pun membenci kalian, kalian mencaci mereka dan mereka pun mencaci kalian.” Lalu dikatakan kepada Rasulullah: “Wahai Rasulullah, bolehkah kami memerangi mereka dengan pedang (memberontak)?” Beliau bersabda: “Jangan, selama mereka masih mendirikan shalat di tengah-tengah kalian. Dan jika kalian melihat mereka mengerjakan perbuatan yang tidak kalian sukai, maka bencilah perbuatannya dan jangan mencabut/meninggalkan ketaatan (darinya).” (HR. Muslim, dari shahabat ‘Auf bin Malik, 3/1481, no. 1855)
Para ulama kita pun demikian adanya. Mereka (dengan latar belakang daerah, pengalaman dan generasi yang berbeda-beda) telah menyampaikan arahan dan bimbingannya yang amat berharga seputar permasalahan ini, sebagaimana berikut:
q Shahabat Ali bin Abi Thalib z berkata: “Urusan kaum muslimin tidaklah stabil tanpa adanya penguasa, yang baik atau yang jahat sekalipun.” Orang-orang berkata: “Wahai Amirul Mukminin, kalau penguasa yang baik kami bisa menerimanya, lalu bagaimana dengan yang jahat?” Ali bin Abi Thalib berkata: “Sesungguhnya (walaupun) penguasa itu jahat namun Allah I tetap memerankannya sebagai pengawas keamanan di jalan-jalan dan pemimpin dalam jihad…” (Syu’abul Iman, karya Al-Imam Al-Baihaqi juz 13, hal.187, dinukil dari kitab Mu’amalatul Hukkam, karya Asy-Syaikh Abdus Salam bin Barjas hal. 57)
q Al-Imam Ibnu Abil ‘Iz Al-Hanafi berkata: “Adapun kewajiban menaati mereka (penguasa) tetaplah berlaku walau-pun mereka berbuat jahat. Karena tidak menaati mereka dalam hal yang ma’ruf akan mengakibatkan kerusakan yang jauh lebih besar dari apa yang ada selama ini. Dan di dalam kesabaran terhadap kejahatan mereka itu terdapat ampunan dari dosa-dosa serta (mendatangkan) pahala yang berlipat.” (Syarh Al-’Aqidah Ath-Thahawiyah hal. 368)
q Al-Imam Al-Barbahari berkata: “Ketahuilah bahwa kejahatan penguasa tidaklah menghapuskan kewajiban (menaati mereka, -pen.) yang Allah I wajibkan melalui lisan Nabi-Nya. Kejahatannya akan kembali kepada dirinya sendiri, sedangkan kebaikan-kebaikan yang engkau kerjakan bersamanya akan mendapat pahala yang sempurna insya Allah. Yakni kerjakanlah shalat berjamaah, shalat Jum’at dan jihad bersama mereka, dan juga berpartisipasilah bersamanya dalam semua jenis ketaatan (yang dipimpinnya).” (Thabaqat Al-Hanabilah karya Ibnu Abi Ya’la, 2/36, dinukil dari Qa’idah Mukhtasharah, hal. 14)
q Al-Imam Ibnu Baththah Al-Ukbari berkata: “Telah sepakat para ulama ahli fiqh, ilmu, dan ahli ibadah, dan juga dari kalangan Ubbad (ahli ibadah) dan Zuhhad (orang-orang zuhud) sejak generasi pertama umat ini hingga masa kita ini: bahwa shalat Jum’at, Idul Fitri dan Idul Adha, hari-hari Mina dan Arafah, jihad, haji, serta penyembelihan qurban dilakukan bersama penguasa, yang baik ataupun yang jahat.” (Al-Ibanah, hal. 276-281, dinukil dari Qa’idah Mukhtasharah hal. 16)
q Al-Imam Al-Bukhari berkata: “Aku telah bertemu dengan 1.000 orang lebih dari ulama Hijaz (Makkah dan Madinah), Kufah, Bashrah, Wasith, Baghdad, Syam dan Mesir….” Kemudian beliau berkata: “Aku tidak melihat adanya perbedaan di antara mereka tentang perkara berikut ini –beliau lalu menyebutkan sekian perkara, di antaranya kewajiban menaati penguasa (dalam hal yang ma’ruf)–.” (Syarh Ushulil I’tiqad Al-Lalika`i, 1/194-197)
q Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-’Asqalani berkata: “Di dalam hadits ini (riwayat Al-Bukhari dan Muslim, dari shahabat Abu Hurairah di atas, -pen.) terdapat keterangan tentang kewajiban menaati para penguasa dalam perkara-perkara yang bukan kemaksiatan. Adapun hikmahnya adalah untuk menjaga persatuan dan keber-samaan (umat Islam), karena di dalam perpecahan terdapat kerusakan.” (Fathul Bari, juz 13, hal. 120)
Para pembaca yang mulia, dari bahasan di atas dapatlah diambil suatu kesimpulan bahwasanya:
1. Shaum Ramadhan merupakan syi’ar kebersamaan umat Islam yang harus dipelihara.
2. Syi’ar kebersamaan tersebut akan pudar manakala umat Islam di masing-masing negeri bercerai-berai dalam mengawali dan mengakhiri shaum Ramadhannya.
3. Ibadah yang bersifat kebersamaan semacam ini keputusannya berada di tangan penguasa umat Islam di masing-masing negeri, bukan di tangan individu.
4. Shaum Ramadhan bersama penguasa dan mayoritas umat Islam merupakan salah satu prinsip agama Islam yang dapat memperkokoh persatuan mereka, baik si penguasa tersebut seorang yang adil ataupun jahat. Karena kebersamaan umat tidaklah mungkin terwujud tanpa adanya ketaatan terhadap penguasa. Terlebih manakala ketentuannya itu melalui proses ru‘yatul hilal di sejumlah titik negerinya dan sidang-sidang istimewa.
5. Realita membuktikan, bahwa dengan bershaum Ramadhan dan berhari-raya bersama penguasa (dan mayoritas umat Islam) benar-benar tercipta suasana persatuan dan kebersamaan umat. Sebaliknya ketika umat Islam berseberangan dengan penguasanya, suasana perpecahan di tubuh umat pun demikian mencolok. Yang demikian ini semakin menguatkan akan kewajiban bershaum Ramadhan dan berhari-raya bersama penguasa (dan mayoritas umat Islam).
Wallahu a’lam bish-shawab.

Surat Pembaca edisi 26

Kisah Nabi Isa Langsung Bagian 2
Pada edisi 25 rubrik Ibrah (kisah Nabi Isa), mengapa langsung bagian 2? Setahu saya bagian satunya belum dimuat. Mohon penjelasan.
08157xxxxxx

Untuk rubrik Ibrah edisi 25 kami memang telah melakukan kesalahan. Seharusnya bagian 1 dulu yang dimuat, namun kami memuat bagian 2 lebih dulu. Jazakumullah khairan atas masukannya. Untuk bagian 1 kami muat di edisi ini.

Jual Beli yang Dilarang
Ana baca sekilas tentang jual beli di Asy Syariah, kenapa tidak ada pembahasan tentang tempat jual beli yang dilarang, seperti di masjid karena sering dijumpai dari saudara kita menawarkan dan membawa pesanan barang di dalam masjid, mem-bayar utang dan transaksi seperti apakah yang dilarang?
085669xxxxxx

Setiap membahas sebuah tema kami ingin bisa dilakukan secara menyeluruh. Namun karena ruang yang terbatas, menyebabkan kami harus memilah mana yang perlu didahulukan. Semoga lain waktu harapan anda bisa terwujud.

Poin Keliru
Pada edisi 25 rubrik Mutiara Kata, poin ke-4 tentang doa dengan menghadap kiblat tapi dalil-dalil yang ditampilkan tidak mendukung?
081234xxxxx

Jazakumullah khairan atas masukan-nya. Yang benar adalah poin Mengangkat Tangan.

Nabi Isa Sudah Wafat?
Pada edisi 25 halaman 63 poin 5: …baik ketika beliau masih hidup maupun sesudah meninggalnya,…. Dari kalimat ini bisa dipahami bahwa Nabi Isa sudah wafat??
0818022xxxxxx

Yang benar adalah baik ketika beliau masih hidup maupun sesudah beliau diangkat ke langit. Jazakumullah khairan atas masukannya.

Ada Kata yang Hilang
Hal 67 ada kejanggalan kalimat pada kolom pertama paragraf pertama, tunduk setelah Allah adalah orang  Allah…
085227xxx

Pada kalimat tersebut ada kata yang hilang yaitu yang, sehingga kalimat yang benar adalah tunduk setelah Allah adalah orang  yang Allah… Jazakumullah khairan atas masukannya.

Judul Jangan Puitis
Mohon judul-judul rubrik Sakinah jangan terlalu puitis. Kami sekeluarga jadi malas membaca, kadang isinya jauh dari yang kami duga, sebaiknya yang menggam-barkan isi.
Abu Yakfi
Temanggung

Jazakumullah khairan atas masukan-nya.

Muat Kajian Bersama Masyayikh
Saya ingin usul bagaimana bila hasil kajian akbar bersama Masyayikh (ulama) dari Yaman dan Kuwait dimuat di majalah Asy Syariah.
Dahlan – Denpasar
081933xxxxxx

Masukan senada banyak diterima redaksi. Mudah-mudahan kami bisa mewujudkannya.