Hakekat Tawakal

(ditulis oleh: Al-Allamah Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah)

Bertawakal kepada Allah l ada dua macam:
Pertama, bertawakal kepada-Nya dalam memperoleh kebutuhan dan bagiannya dari dunia yang dilakukan seorang hamba, atau dalam rangka menghindari hal-hal yang tidak dia sukai dan musibah-musibah duniawi .
Kedua, bertawakal kepada-Nya dalam memperoleh apa yang Allah l sukai dan ridhai, berupa iman, yakin, jihad dan berdakwah kepada Allah l.
Keutamaan antara keduanya tidak bisa diperhitungkan kecuali oleh Allah l.
Ketika seorang hamba melakukan tawakal jenis yang kedua kepada Allah l dengan sungguh-sungguh, Allah l akan memberikan kecukupan secara sempurna kepadanya pada jenis tawakal yang pertama. Dan ketika melakukan tawakal jenis yang pertama kepada-Nya tanpa jenis yang kedua, Allah akan memberinya kecukupan juga. Akan tetapi ia tidak memperoleh hasil dari tawakal orang yang bertawakal pada perkara yang Allah cintai dan ridhai.
Tawakal kepada-Nya yang paling besar adalah tawakal dalam hal hidayah dan memurnikan tauhid serta mengikuti Rasul dan memerangi pengikut batil. Ini merupakan tawakal para rasul dan pengikut mereka yang khusus.
Tawakal terkadang terwujud karena terpaksa dan terpepet, di mana seorang hamba tidak mendapatkan tempat berlindung melainkan dengan tawakal. Seperti halnya ketika jalan-jalan sudah menjadi sempit, jiwanya terasa sempit dan ia yakin bahwa tiada tempat berlindung dari ketetapan Allah kecuali dengan kembali kepada-Nya. Maka dalam keadaan semacam ini, jalan keluarnya sama sekali tidak akan meleset darinya.
Terkadang, tawakal muncul bukan karena terpepet, tetapi memang ia menghendakinya. Jika pada tawakal tersebut ada sarana yang akan menyampaikan kepada tujuannya, maka (dilihat), bila:
q sarana tersebut termasuk sesuatu yang diperintahkan oleh Allah, maka menjadi tercela bila sarana tersebut ditinggalkan (sementara dia berdalih dengan tawakal, pent).
q (sebaliknya) bila dia menjalankan sarana tersebut dan meninggalkan tawakal, maka iapun tercela dengan tidak bertawakal. Karena tawakal adalah wajib berdasarkan kesepakatan umat dan nash dari Al-Qur`an. Dan yang wajib adalah melaksanakan dan menggabungkan antara keduanya.
q Apabila sarana tersebut tergolong sesuatu yang haram maka dia haram untuk melaksanakannya. Sehingga baginya, sarana untuk mencapai tujuannya tinggal satu yaitu tawakal, tiada lagi selainnya. Karena tawakal itu sendiri termasuk sebab atau sarana terkuat untuk mencapai tujuan dan untuk menghindarkan dari sesuatu yang tidak diinginkan. Bahkan, secara mutlak, tawakal termasuk sarana yang terkuat dari seluruh sarana yang ada.
q Bila sarana tersebut tergolong perkara yang mubah, maka perlu dilihat. Apakah dengan melaksanakannya akan melemahkan tawakal anda atau tidak?
– Bila melemahkannya dan membuat buyar konsentrasi qalbumu serta memencarkan tekadmu, maka lebih baik meninggalkan sarana tersebut.
– Tetapi bila tidak melemahkannya maka lebih baik melakukannya. Karena hikmah Dzat Yang Maha Hikmah menghendaki terkaitnya antara (sebab) dan musababnya, sehingga jangan meninggalkan hikmah-Nya selama memungkinkan untuk melakukannya. Terlebih ketika anda melakukannya dalam rangka ibadah, sehingga dengan itu anda melakukan ibadah qalbu dengan bertawakal dan ibadah anggota badan dengan menempuh sarana (pendukung tercapainya tujuan) yang engkau niatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Dan realisasi tawakal adalah dengan melakukan sarana-sarana yang diperintahkan. Orang yang tidak melakukan sarana tersebut maka tawakalnya tidak sah. Sebagaimana melakukan sarana yang akan menyampaikan kepada kebaikan akan merealisasikan harapannya, maka orang yang tidak melakukan sarana tersebut berarti harapannya sekedar angan-angan. Sebagaimana orang yang tidak melaksanakannya berarti tawakalnya hanya kelemahan, dan kelemahannya menjadi tawakal.
Rahasia tawakal dan hakikatnya adalah bersandarnya qalbu kepada Allah l semata. Sehingga seseorang yang menempuh sebab-sebab penunjang tidaklah dianggap menodai tawakal, selama qalbunya tidak bersandar kepada sebab tersebut atau cenderung kepadanya.
Sebagaimana tidak bermanfaat ucapan seseorang: “Aku bertawakal kepada Allah l,” namun dia bersandar kepada selain Allah l, cenderung kepadanya serta memasrahkan kepercayaannya kepadanya. (Memang) tawakalnya lidah berbeda dengan tawakalnya qalbu. Sebagaimana juga taubatnya lidah bersamaan dengan tetapnya qalbu (dalam dosa) adalah sama. Begitu juga taubatnya qalbu tanpa lidah mengucapkannya adalah sesuatu yang lain pula.
Atas dasar itu, maka ungkapan seorang hamba: “Aku bertawakal kepada Allah,” sementara qalbunya bersandar kepada selain-Nya, sama dengan ucapannya: “Aku bertaubat kepada Allah” sementara ia tetap dalam maksiatnya dan melakukannya.
(Al-Fawa`id, hal. 98-99, diterjemahkan oleh Qomar ZA)

Sunnah-sunnah Fithrah (Masalah Khitan)

Pembaca yang semoga dirahmati Allah l,Rasul kita yang mulia –semoga shalawat dan salam tercurah pada beliau- pernah bersabda sebagaimana tersampaikan lewat sahabatnya yang mulia Abu Hurairah z:
اَلْفِطْرَةُ خَمْسٌ – أَوْ خَمْسٌ مِنَ الْفِطْرَةِ – اَلْخِتَانُ وَ الاِسْنِحْدَادُ وَ نَتْفُ الإِبْطِ وَ تَقْلِيْمُ الأََظْفَارِ وَ قَصُّ الشَّارِبِ
“Perkara fithrah itu ada lima –atau lima hal berikut ini termasuk dari perkara fithrah- yaitu khitan, istihdad (menghilangkan rambut yang tumbuh di sekitar kemaluan), mencabut bulu ketiak, menggunting kuku, dan memotong  kumis. (HR. Bukhari no. 5889 , 5891, 6297 dan Muslim no. 597)
Kelima perkara yang disebutkan dalam hadits ini merupakan beberapa perkara kebersihan yang diajarkan oleh Islam.
Pertama: memotong qulfah (kulit penutup) zakar yang bila dibiarkan (tidak dihilangkan) akan menjadi sebab terkumpulnya najis dan kotoran di daerah tersebut hingga menimbulkan  berbagai penyakit dan luka.
Kedua: mencukur rambut yang tumbuh di sekitar kemaluan, baik di daerah qubul ataupun dubur, karena bila dibiarkan rambut tersebut akan bercampur dengan kotoran dan najis (seperti kencing, kotoran, dsb), serta bisa menyebabkan thaharah syar`iyyah (seperti wudhu) tidak bisa sempurna.
Ketiga: menggunting kumis, bila dibiarkan terus tumbuh akan menperjelek wajah. Memanjangkannya juga berarti tasyabbuh (menyerupai) dengan Majusi (para penyembah api).
Keempat: menggunting kuku, bila dibiarkan akan terkumpul kotoran di bawahnya hingga bercampur pada makanan, akibatnya timbullah penyakit. Dan juga bisa menghalangi kesempurnaan thaharah (wudhu) karena kuku yang panjang akan menutup sebagian ujung jari.
Kelima: mencabut bulu ketiak yang bila dibiarkan akan menimbulkan bau yang tak sedap.
Kesimpulannya, menghilangkan perkara-perkara yang disebutkan ini merupakan mahasin (kebagusan/keindahan) Islam, yang Islam datang dengan kebersihan dan kesucian, dengan pengajaran dan pendidikan, agar seorang muslim berada di atas keadaan yang terbaik/terbagus dan bentuk yang paling indah. (Taisirul `Allam, 1/78)

Makna Fithrah
Mayoritas ulama berpendapat bahwa yang dimaukan dengan fithrah di sini adalah sunnah, demikian dikatakan Al-Imam Al-Khaththabi t dan selainnya. Maknanya, kata mereka, perkara-perkara yang disebutkan dalam hadits di atas termasuk sunnah-sunnah para nabi. Adapula yang berpendapat makna fithrah adalah agama, demikian pendapat yang dipastikan oleh Abu Nu`aim t dalam Al-Mustakhraj.
Berkata Abu Syamah t: «Asal makna fithrah adalah penciptaan pada awal permulaannya. Dari makna ini, Allah l dinyatakan dalam ayat Al-Qur>an sebagai:
فاطر السماوات و الأرض,
Maksudnya adalah Dzat yang mengawali penciptaan langit dan bumi (tanpa ada contoh sebelumnya, pent.). Demikian pula dalam sabda Rasulullah n:
كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ)
Artinya: Setiap anak yang lahir, ia dilahirkan di atas fithrah. Maknanya: si anak  dilahirkan di atas perkara yang Allah l mengawali penciptaan si anak dengannya. Dalam hadits ini ada isyarat kepada firman Allah l:
فطرة الله التى فطر الناس عليها
“Fithrah Allah yang Dia menciptakan manusia di atas fithrah tersebut.” (Ar-Rum: 30)
Maknanya: setiap orang seandainya dibiarkan semenjak lahir hingga bisa memandang dengan pikirannya (tanpa dikotori dan dinodai oleh pengaruh-pengaruh dari luar) niscaya akan mengantarkannya ke agama yang benar yaitu tauhid. Yang memperkuat makna ini adalah firman Allah sebelumnya:
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّيْنِ اللهِ حَنِيْفًا , فطرة الله التى فطر الناس عليها
“Tegakkanlah wajahmu kepada agama Allah yang hanif (lurus, condong kepada tauhid dan meninggalkan kesyirikan). (Demikianlah) fthrah Allah yang Dia menciptakan manusia di atas fithrah tersebut.”
Makna di atas juga diisyaratkan oleh kelanjutan hadits, yaitu:
كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ  فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ وَ يُنَصِّرَانِهِ
“Maka kedua orang tuanya yang menjadikan anak tersebut Yahudi atau Nasrani (memalingkan si anak dari fithrahnya, pent.)”
Dengan demikian yang dimaksudkan dengan fithrah dalam hadits yang menjadi pembahasan kita adalah perkara-perkara yang disebutkan dalam hadits ini yang bila dikerjakan maka pelakunya disifati dengan fithrah yang Allah memfithrahkan para hamba di atasnya, menekankan mereka untuk menunaikannya, dan menyukai untuk mereka agar mereka berada di atas sifat yang paling sempurna dan bentuk/penampilan yang paling tinggi/mulia.”
Al-Qadhi Al-Baidhawi t berkata: “Fithrah ini merupakan sunnah yang terdahulu yang dipilih oleh para nabi dan disepakati oleh syariat. Seakan-akan fithrah ini merupakan perkara yang sudah seharusnya menjadi tabiat/perangai di mana mereka diciptakan di atas tabiat/perangai tersebut.” (Lihat Fathul Bari 10/417, Al-Minhaj 3/139, Tharhut Tatsrib fi Syarhit Taqrib 1/234-235, Nailul Authar 1/161)
Perkara fithrah ini bila dilakukan akan membaguskan penampilan seseorang dan membersihkannya, sebaliknya bila ditinggalkan dan tidak dihilangkan apa yang semestinya dihilangkan akan menjelekkan rupa dan memburukkan penampilan seseorang. Dia akan dianggap kotor dan tercela. (Tharhut Tatsrib fi Syarhit Taqrib 1/235)

Apakah  Fithrah Sebatas Lima Perkara Ini?
Perkara fithrah tidak sebatas lima perkara ini, hal ini diketahui dengan lafadz: مِن dari kalimat خَمْسٌ مِنَ الْفِطْرَةِ yang menunjukkan tab`idh artinya sebagian, (Ihkamul Ahkam fi Syarhi `Umdatil Ahkam, kitab Ath-Thaharah, bab fil Madzi wa Ghairihi).
Terlebih lagi telah datang dalam hadits-hadits lain, adanya tambahan selain lima perkara tersebut, seperti dalam hadits `Aisyah x yang dikeluarkan oleh Imam Muslim t disebutkan ada 10 hal yang termasuk perkara fithrah yaitu istihdad, mencabut bulu ketiak, menggunting kuku, memotong  kumis, memanjangkan jenggot, siwak, berkumur-kumur, memasukkan air ke hidung (istinsyaq), mencuci ruas-ruas jari dan istinja (cebok). Dengan demikian penyebutan bilangan 5 atau 10 tidak berarti meniadakan tambahan, demikian ucapan mayoritas ulama ushul. (Tharhut Tatsrib fi Syarhit Taqrib 1/236)

Hukum Lima Perkara Fithrah Ini
Ulama berbeda pendapat tentang hukum kelima perkara fithrah yang disebutkan dalam hadits ini, ada yang mengatakan sunnah, adapula yang berpendapat wajib. Namun yang kuat dari pendapat yang ada, wallahu a`lam, lima perkara tersebut ada yang hukumnya wajib dan adapula yang sunnah. Al-Imam An-Nawawi t berkata ketika menerangkan hadits Aisyah tentang 10 hal yang termasuk perkara fithrah: “Mayoritas perkara yang disebutkan dalam hadits tentang fithrah tidaklah wajib menurut ulama, sebagiannya diperselisihkan kewajibannya seperti khitan, berkumur-kumur, dan istinsyaq. Dan memang tidak ada penghalang atau tidak ada yang mencegah untuk menggandengkan perkara wajib dengan selain yang wajib sebagaimana penggandengan  ini tampak pada firman Allah l:
كلوا من ثمره إذا أثمر و آتوا حقه يوم حصاده
“Makanlah buah-buahan hasil panen kalian apabila telah berbuah dan tunaikanlah haknya (zakatnya) pada hari dipetik hasilnya.” (Al-An`am: 141)
Mengeluarkan zakat tanaman (apabila mencapai nishabnya) hukumnya wajib sementara memakan hasil tanaman itu tidaklah wajib, wallahu a`lam.” (Al-Minhaj, 3/139)
Kita akan sebutkan hukum masing-masing dari lima perkara tersebut dalam perincian pembahasannya berikut ini:

1. KHITAN
Imam Malik, Abu Hanifah, dan sebagian pengikut Imam Syafi`i berpendapat khitan itu sunnah, tidak wajib. Adapun Imam Syafi`i, Ahmad dan sebagian Malikiyyah berpendapat hukumnya wajib. Pendapat yang kedua inilah yang rajih/kuat di sisi penulis disebabkan ketika ada seseorang yang baru masuk Islam, Rasulullah n memerintahkan kepadanya:
أَلْقِ عَنْكَ شَعْرَ الْكُفْرِ وَ اخْتَتِنْ
“Buanglah darimu rambut kekufuran dan berkhitanlah.” (HR. Abu Daud no. 356, dihasankan Syaikh Albani t  dalam Ash-Shahihah no. 2977 dan Irwaul Ghalil no. 79)
Penulis ‘Aunul Ma’bud (syarah Sunan Abu Daud) menyatakan perintah Rasulullah n dalam hadits di atas menunjukkan wajibnya khitan bagi orang yang masuk Islam dan hal itu merupakan tanda keislamannya.
Syaikh Albani t berkata: “Yang rajih/kuat di sisi kami, hukum khitan adalah wajib, demikian madzhab jumhur ulama seperti Malik, Syafi`i, dan Ahmad. Pendapat ini yang dipilih oleh Ibnul Qayyim. Beliau  membawakan 15 sisi pendalilan yang menunjukkan wajibnya khitan. Walaupun satu persatu dari sisi-sisi tersebut tidak dapat mengangkat perkara khitan kepada hukum wajib namun tidak diragukan bahwa pengumpulan sisi-sisi tersebut dapat mengangkatnya. Dikarenakan tidak cukup tempat untuk membawakan semua sisi, maka aku cukupkan dua sisi di antaranya:
Pertama: Firman Allah l:
ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيْمَ حَنِيْفاً
“Kemudian Kami wahyukan kepadamu, (Ikutilah millah Ibrahim yang hanif).”
Sementara khitan termasuk millahnya Nabi Ibrahim u sebagaimana dalam hadits Abu Hurairah z yang disebutkan dalam kitab Ibnul Qayyim t tersebut. Sisi ini merupakan argumen yang paling bagus, sebagaimana dikatakan Al-Baihaqi t yang  dinukilkan oleh Al-Hafizh t (10/281).
Kedua: Khitan merupakan syiar Islam yang paling jelas dan paling nampak yang dengannya dibedakan antara seorang muslim dengan seorang Nasrani, sampai-sampai hampir tidak dijumpai ada di kalangan kaum muslimin yang tidak berkhitan. (Tamamul Minnah, hal. 69)

Khitan bagi Wanita
Seperti halnya lelaki, wanita pun disyariatkan berkhitan (Al-Mughni, kitab Ath-Thaharah, fasl Hukmul Khitan) sebagaimana ditunjukkan dalam hadits-hadits berikut ini:
1. Ummu `Athiyyah Al-Anshariyyah x mengabarkan bahwa di Madinah ada seorang wanita yang biasa mengkhitan, Nabi n berpesan kepadanya:
أشمي و لاَ تَنْهَكِي , فَإِنَّ ذلِكَ أَحْظَى لِلْمَرْأَةِ وَ أَحَبَّ إِلَى الْبَعْلِ
“Potonglah tapi jangan dihabiskan (jangan berlebih-lebihan dalam memotong bagian yang dikhitan) karena yang demikian itu lebih terhormat bagi si wanita dan lebih disukai/dicintai oleh suaminya.” (HR. Abu Daud no. 5271, dishahihkan dalam Shahih Abi Daud dan Ash-Shahihah no. 721)
2. Nabi n bersabda:
إِذَا الْتَقَى الْخِتَانَانِ فَقَدْ وَجَبَ الْغُسْلُ
“Apabila bertemu dua khitan, sungguh telah wajib mandi.” (HR. Ahmad 6/239, dishahihkan Syaikh Albani رحمه الله تعالى dalam Ash Shahihah no. 1261)
3. Beliau n juga bersabda:
إِذَا جَلَسَ بَيْنَ شُعَبِهَا الأرْبَع , وَ مَسَّ الْخِتَانُ الْخِتَانَ  فَقَدْ وَجَبَ الْغُسْلُ
“Apabila seorang laki-laki duduk di antara empat cabang seorang wanita dan khitan yang satu menyentuh khitan yang lain maka sungguh telah wajib mandi.” (HR.  Muslim no. 349)
Asy-Syaikh Albani t berkata, “Ketahuilah, khitan wanita adalah perkara yang dikenal di kalangan salaf, berbeda halnya dengan apa yang disangka oleh orang yang tidak berilmu. Beberapa atsar berikut ini menunjukkan hal tersebut”. Kemudian beliau t menyebutkan tiga atsar:
1. Al-Hasan berkata: `Utsman bin Abil ‘Ash z diundang untuk menghadiri jamuan makan. Lalu ditanyakan, “Tahukah engkau undangan makan untuk acara apakah ini? Ini acara khitan anak perempuan!”. `Utsman berkata:
هذَا شَيْءٌ مَا كُنَّا نَرَاهُ عَلَى عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم . فَأَبَى أَنْ يَأْكُلَ
“Ini perkara yang tidak pernah kami lihat di masa Rasulullah n.” `Utsman pun menolak untuk menyantap hidangan.
2. Dikeluarkan oleh Al-Bukhari  dalam Al-Adabul Mufrad no.1245 (dan didhaifkan oleh beliau dalam Dhaif Adabul Mufrad), Ummul Muhajir berkata, “Aku dan para wanita dari kalangan Romawi menjadi tawanan perang. Maka `Utsman menawarkan agar kami mau masuk Islam, namun tidak ada di antara kami yang berislam kecuali aku dan seorang wanita lainnya. `Utsman pun memerintahkan, “Khitanilah kedua wanita ini dan sucikanlah keduanya”. Setelah itu jadilah aku berkhidmat kepada `Utsman”.
3. Dikeluarkan  oleh Al-Bukhari  dalam Al-Adabul Mufrad no.1247 (dan dihasankan oleh beliau dalam Shahih Adabul Mufrad), Ummu ‘Alqamah mengabarkan:
أَنَّ بَنَاتَ أَخِي عَائِشَةَ خُتِنَّ فَقِيْلَ لِعَائِشَةَ : أَلاَ نَدْعُو لَهُنَّ مَنْ يُلْهِيْهُنَّ ؟ قَالَتْ : بَلَى , فَأَرْسَلْتُ إِلَى عُدَي فَأَتَاهُنَّ فَمَرَّتْ عَائِشَةُ فِي الْبَيْتِ فَرَأَتْهُ يَتَغَنَّى وَيُحَرِّكُ رَأْسَهُ طَرْبًا – وَكَانَ ذَا شَعْرٍ كَثِيْرٍ – فَقَالَتْ : أُفٍّ , شَيْطَان ! أَخْرِجُوهُ , أَخْرِجُوهُ.
“Anak-anak perempuan dari saudara laki-laki ‘Aisyah dikhitan, maka ditanyakan kepada ‘Aisyah, «Bolehkah kami memanggil seseorang yang dapat menghibur mereka?”‘Aisyah mengatakan, “Ya, boleh.” Maka aku mengutus seseorang untuk memanggil ‘Uday, lalu dia pun mendatangi anak-anak perempuan itu. Kemudian lewatlah ‘Aisyah di rumah itu dan melihatnya sedang bernyanyi sambil menggerak-gerakkan kepalanya, sementara dia mempunyai rambut yang lebat. ‘Aisyah pun berkata, “Cih, syaithan! Keluarkan dia, keluarkan dia!”(Lihat Ash-Shahihah 2/348-349)
Yang perlu jadi perhatian, ada perbedaan hukum khitan lelaki dengan hukum khitan bagi wanita, walaupun ada pendapat di kalangan ulama yang menyamakan (sama-sama wajib). Tampak perbedaan hukum tersebut dalam hadits Syaddad bin Aus z berikut ini:
اَلْخِتَانُ سُنَّةٌ لِلرِّجَالِ مُكَرَّمَةٌ لِلنِّسَاءِ
“Khitan itu sunnah bagi lelaki dan pemuliaan bagi wanita.”
Namun kata Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani t hadits ini tidak tsabit, karena datang dari riwayat Hajjaj bin Arthah, sementara ia tidak bisa dijadikan sebagai hujjah, dikeluarkan hadits ini oleh Imam Ahmad dan Al-Baihaqi. Namun ada syahid (pendukung) dari hadits yang dikeluarkan oleh Ath-Thabrani dalam Musnad Asy-Syamiyyin, dari jalan Sa`id bin Bisyr dari Qatadah dari Jabir bin Zaid dari Ibnu Abbas c, namun Sa`id ini diperselisihkan. Abusy Syaikh dan Al-Baihaqi  mengeluarkannya dari sisi lain dari Ibnu `Abbas c. Al-Baihaqi juga mengeluarkannya dari hadits Abu Ayyub z. (Fathul Bari, 10/419)
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin t menyatakan telah  terjadi perselisihan pendapat dalam hukum khitan, dan pendapat yang paling dekat dengan kebenaran menyatakan bahwa khitan itu wajib bagi laki-laki dan sunnah bagi wanita. Perbedaan hukum khitan antara laki-laki dan perempuan itu dikarenakan khitan pada laki-laki mengandung maslahat yang berkaitan dengan syarat shalat dan termasuk perkara thaharah (bersuci). Apabila kulup (kulit yang menutupi ujung zakar) tidak dihilangkan, maka air kencing yang keluar tertahan dan terkumpul di kulup tersebut hingga berakibat peradangan pada bagian tersebut, ataupun keluar tanpa sengaja bila zakar itu bergerak, sehingga menajisi. Adapun pada wanita, tujuan khitan adalah meredakan syahwatnya, bukan untuk menghilangkan kotoran. (Majmu` Fatawa wa Rasail Fadhilatusy Syaikh Muhammad ibnu Shalih Al-`Utsaimin 11/117, Asy-Syarhul Mumti` 1/110)
Dengan demikian khitan hanya wajib bagi laki-laki, tidak wajib bagi wanita. Pendapat ini juga yang dipilih oleh Al-Imam Muwaffaquddin Ibnu Qudamah Al-Maqdisi (Asy-Syarhul Mumti`, 1/109)

Hukum Orang yang Tidak Mau Dikhitan
Berkata Al-Haitsami: “Yang benar jika diwajibkan bagi kita khitan, lalu ditinggalkan tanpa udzur maka pelakunya fasik. Namun pahamilah bahwasanya pembicaraan di sini hanya ditujukan pada anak laki-laki tanpa menyertakan anak perempuan. Laki-laki difasikkan bila meninggalkan khitan tanpa udzur dan lazim dari sebutan fasik tersebut bahwa perbuatan itu termasuk dosa besar.” (Az-Zawajir  2/162)

Bagian yang Dikhitan
Khitan pada anak laki-laki dilakukan dengan cara memotong kulup (qulfah) atau kulit yang menutupi ujung zakar. Minimal menghilangkan apa yang menutupi ujung zakar dan disenangi  untuk mengambil seluruh kulit di ujung zakar tersebut. Sedangkan pada wanita, dilakukan dengan memotong kulit di bagian paling atas kemaluan di atas vagina yang berbentuk seperti  biji atau jengger ayam jantan. Yang harus dilakukan pada khitan wanita adalah memotong ujung kulit dan bukan memotong habis bagian tersebut. (Al-Majmu Syarhul Muhadzdzab 1/349, Fathul Bari 10/420, Nailul Authar 1/162, 165)
Ibnu Taimiyyah t ketika ditanya mengenai khitan wanita, beliau memberikan jawaban bahwa wanita dikhitan dengan memotong kulit yang paling atas yang berbentuk seperti jengger ayam jantan. (Majmu’ Fatawa, 21/114)

Faidah
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin t mengatakan, pelaksanaan khitan itu seharusnya dilakukan oleh seorang dokter yang ahli (atau tenaga kesehatan lainnya, pent.) yang mengetahui bagaimana cara mengkhitan. Bila seseorang tidak mendapatkannya maka ia bisa mengkhitan dirinya sendiri jika memang mampu melakukannya dengan baik. Nabi Ibrahim u ةengkhitan dirinya sendiri. Orang yang mengkhitan boleh melihat aurat yang dikhitan walaupun usia yang dikhitan telah mencapai sepuluh tahun, kebolehan ini dikarenakan adanya kebutuhan. (Asy-Syarhul Mumti`, 1/110)

Waktu Khitan
Ada perbedaan pendapat tentang kapan waktu disyariatkannya khitan. Jumhur ulama berpendapat tidak ada waktu khusus untuk melaksanakan khitan. (Nailul Authar, 1/165)
Al-Imam Al-Mawardi t menjelaskan, untuk melaksanakan khitan ada dua waktu, waktu yang wajib dan waktu yang mustahab (sunnah). Waktu yang wajib adalah ketika seorang anak mencapai baligh, sedangkan waktu mustahab sebelum baligh. Boleh pula melakukannya pada hari ketujuh setelah kelahiran. Juga disunnahkan untuk tidak mengakhirkan pelaksanaan khitan dari waktu mustahab kecuali karena ada uzur. (dinukil dari Fathul Bari, 10/421)
Ibnul Mundzir t mengatakan, “Tidak ada larangan yang ditetapkan oleh syariat yang berkenaan dengan waktu pelaksanaan khitan ini, juga tidak ada batasan waktu yang menjadi rujukan dalam pelaksanaan khitan tersebut, begitu pula sunnah yang harus diikuti. Seluruh waktu diperbolehkan. Tidak boleh melarang sesuatu kecuali dengan hujjah dan kami juga tidak mengetahui adanya hujjah bagi orang yang melarang khitan anak kecil pada hari ketujuh.” (dinukil dari Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab, 1/352)
Namun Asy-Syaikh Albani t menyebutkan dua hadits yang menunjukkan adanya pembatasan waktu khitan:
Pertama: Dari Jabir c, ia menyatakan Rasulullah n mengaqiqahi cucu beliau Al-Hasan dan Al-Husein, dan mengkhitan keduanya pada hari ketujuh.
Kedua: Dari Ibnu Abbas c, ia berkata, “Ada tujuh perkara yang sunnah dilakukan pada hari ketujuh seorang bayi, yaitu diberi nama, dikhitan…”
Kemudian beliau menyatakan walaupun kedua hadits di atas memiliki kelemahan, akan tetapi kedua hadits ini saling menguatkan karena makhraj kedua hadits ini berbeda dan tidak ada dalam sanadnya rawi yang tertuduh berdusta. Kalangan Syafi`iyyah mengambil hadits ini hingga mereka menganggap sunnah dilakukan khitan pada hari ketujuh dari kelahiran seorang anak, sebagaimana disebutkan dalam Al-Majmu` (1/307) dan selainnya. Batas tertinggi dilakukannya khitan adalah sebelum seorang anak baligh. Ibnul Qayyim t berkata: “Tidak boleh bagi si wali menunda dilakukannya khitan  anak (yang dibawah perwaliannya) sampai si anak melewati masa baligh.” (Tamamul Minnah, hal. 68)
Lebih afdhal/utama bila khitan ini dilakukan ketika anak masih kecil, karena lebih cepat sembuhnya dan agar si anak tumbuh di atas keadaan yang paling sempurna. (Ar-Raudhatul Murbi` Syarhu Zaadil Mustaqni`  1/35, Al-Mulakhash Fiqhiy, karya Syaikh Shalih Fauzan 1/34)
Wallahu ta`ala a`lam bishawwab.

Catatan Kaki:

1 Adapun pada dubur ada perselisihan ulama tentangnya dan insya Allah akan kami jelaskan nantinya.

2 Yaitu hadits:  ((اَلْفِطْرَةُ خَمْسٌ – أَوْ خَمْسٌ مِنَ الْفِطْرَةِ – …))

Lafaz haditsnya sebagaimana berikut:
((عَشْرٌ مِنَ الْفِطْرَةِ : قَصُّ الشَّارِبِ وَ إِعْفَاءُ اللِحْيَةِ وَ السَّوَاكِ وَ اسْتِنْشَاقُ الْمَاءِ وَ قَصُّ الْأَظْفَارِ  وَ غَسْلُ الْبَرَاجِمِ وَ نَتْفُ الْإِبْطِ  وَ حَلْقُ الْعَانَةِ وَ انْتِقَاصُ الْمَاءِ))
قال زَكَرِيّاء : قال مصعب : وَ نَسِيْتُ الْعَاشرة . إِلاَّ أن تكون المضمضة.
“Sepuluh perkara berikut ini termasuk perkara fithrah yaitu memotong kumis, memanjang jenggot, siwak, istinsyaq, memotong kuku, mencuci ruas-ruas jari, mencabut bulu ketiak, mencukur rambut kemaluan dan istinja”.
Zakariyya berkata: Mush`ab berkata, «Aku lupa yang kesepuluh, kecuali kalau dimasukkan madhmadhah (berkumur-kumur)  (HR. Muslim no. 603)

4    Kitab Tuhfatul Maudud. Hadits yang dimaksud adalah berikut ini:
اخْتَتَنَ إِبْرَاهِيُْ عَلَيْهِ  السَّلاَم بَعْدَ ثَمَانِيْنَ سَنَةًِ
«Nabi Ibrahim عليه السلام ‘berkhitan setelah berusia delapan puluh tahun.» (HR. Al-Bukhari no. 3356 dan Muslim no. 6093)

5     Syaikh Ibnu `Utsaimin t menyampaikan bahwa khitan merupakan pembeda antara muslimin dan orang-orang Nasrani sehingga orang-orang yang gugur dari kalangan muslimin di medan peperangan bisa dikenali dengan khitan. Para ulama mengatakan bahwa khitan adalah pembeda antara muslim dan kafir, maka khitan itu wajib dikarenakan adanya kewajiban membedakan diri dengan orang kafir dan haram menyerupai  mereka, berdasarkan sabda Nabi n:
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
«Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka.” (Majmu` Fatawa wa Rasail Fadhilatusy Syaikh Muhammad ibnu Shalih Al-`Utsaimin, 11/117)

6 Maknanya: bila dipotong habis bagian yang dikhitan tersebut niscaya si wanita akan lemah syahwatnya (kehilangan daya seksualnya), hingga ia tidak berharga di sisi suaminya. Sebaliknya, bila bagian khitannya dibiarkan begitu saja, tidak sedikit pun diambil, niscaya si wanita sangat kuat syahwatnya. Kalau bagian tersebut diambil sedikit dan sisanya dibiarkan, maka yang demikian ini akan memberikan keseimbangan.   (Tuhfatul Maudud, hal. 164)

7 Yaitu bagian yang dikhitan dari kemaluan lelaki dan kemaluan wanita. Imam Ahmad t mengomentari hadits ini, «Dalam hadits ini ada dalil/bukti bahwa para wanita juga dikhitan.” (Tuhfatul Maudud, hal. 166)

8 Imam Ahmad t berkata setelah menyebutkan hadits ini, “Dalam hadits ini ada keterangan bahwa para wanita biasa berkhitan.” (Al-Mughni, kitab Ath-Thaharah, fasl Hukmul Khitan)

9 Kata Syaikh Albani t tentang atsar ini , «Dikeluarkan  oleh Ath-Thabrani dalam Al-Mu`jamul Kabir (3/7/2) dari jalan Abu Hamzah Al`Aththar. Abu Hamzah ini namanya Ishaq bin Ar-Rabi`, kedudukannya hasanul hadits sebagaimana dinyatakan Abu Hatim. Semua rawi atsar ini ditsiqahkan, apabila Al-Hasan Al-Bashri benar mendengarnya dari `Utsman berarti sanad atsar ini hasan. Muhammad bin Ishaq  meriwayatkannya dari Thalhah bin Ubaidillah dari Kuraiz dari Al-Hasan, tanpa penyebutan “khitan anak perempuan”. Ath-Thabrani juga mengeluarkannya, demikian pula Imam Ahmad (4/217), dan sanadnya jayyid seandainya tidak ada `an`anahnya Ibnu Ishaq padahal dia seorang mudallis. Karena itulah Al-Haitsami memu`alkan atsar ini karenanya (yakni menyatakan atsar ini ada illat/penyakit yang mencacati untuk diterimanya satu pengkabaran, karena Ibnu Ishaq meriwayatkannya dengan `an`anah, pent.)”. (Ash-Shahihah ,2/348)

10     Sunnah di sini, kata Ibnul Qayyim t, adalah thariqah/jalan. Bila dikatakan: “Aku menetapkan sunnah ini baginya”, maknanya: Aku mensyariatkannya. Dengan demikian makna: ((اَلْخِتَانُ سُنَّةٌ لِلرِّجَالِ )) adalah khitan itu disyariatkan bagi para lelaki, bukan maksudnya khitan itu tidak wajib.  Yang perlu menjadi perhatian, kata sunnah berarti jalan yang diikuti apakah hukumnya wajib atau mustahab (tidak wajib) berdasarkan sabda Nabi n: ((مَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي )) , artinya: Siapa yang benci terhadap sunnahku maka ia bukan termasuk golonganku. (Tuhfatul Maudud, hal. 155)

11     Hadits ini didhaifkan pula oleh Syaikh Albani t dalam Dhaiful Jami` no. 2938. Seandainya shahih niscaya hadits ini menjadi dalil yang jelas untuk membedakan laki-laki dengan wanita dalam masalah khitan (Asy-Syarhul Mumti`, 1/111).

12     Ibnul Qayyim t menyebutkan dalam Tuhfatul Maudud (hal. 155) bahwa hadits ini diriwayatkan dari Ibnu Abbas c dengan sanad yang dhaif/lemah, yang mahfuzh adalah hadits ini mauquf (ucapan Ibnu Abbas c bukan ucapan Rasulullah n.

13     Bagian ini diistilahkan dengan clitoris.

14  Berada di atas tempat masuknya zakar ketika jima` (Asy-Syarhul Mumti`, 1/109)

15 Bila sudah dewasa ia belum dikhitan, misalnya karena baru masuk Islam.

16      Karena pada saat baligh seorang anak telah diwajibkan untuk thaharah dan shalat (Taisirul `Allam, 1/79)

17      Adapun riwayat yang pertama, diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam Al-Mu`jamush Shaghir (hal. 185) dengan sanad yang rijalnya tsiqah, akan tetapi di dalam sanadnya ada Muhammad bin Abi As-Sariyyi Al-Asqalani, diperbincangkan dari sisi hafalannya. Dan juga ada Al-Walid bin Muslim yang suka melakukan tadhis taswiyyah, sementara riwayat ini ia bawakan dengan `an`anah.  (Tamamul Minnah, hal. 67-68). Sedangkan riwayat yang kedua, diriwayatkan Ath-Thabrani dalam Al-Ausath (1/334/562). Al-Haitsami berkata dalam Al-Majma` (4/59), “Rijalnya tsiqat”. Adapun Al-Hafizh dalam Fathul Bari (9/83) mengatakan, “ Dikeluarkan Ath-Thabrani dalam Al-Ausath dan pada sanadnya ada kelemahan.” (Tamamul Minnah, hal. 68)

Kisah Ashhabul Kahfi

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Harits Abrar Thalib)

Kisah ini begitu kesohor. Dengan kekuasaan-Nya, Allah l menidurkan sekelompok pemuda yang berlindung di sebuah gua selama 309 tahun. Apa hikmah di balik ini semua?

Ashhabul Kahfi adalah para pemuda yang diberi taufik dan ilham oleh Allah l sehingga mereka beriman dan mengenal Rabb mereka. Mereka mengingkari keya-kinan yang dianut oleh masyarakat mereka yang menyembah berhala. Mereka hidup di tengah-tengah bangsanya sembari tetap menampakkan keimanan mereka ketika berkumpul sesama mereka, karena khawatir akan gangguan masyarakatnya. Mereka mengatakan:
رَبُّنَا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ لَنْ نَدْعُوَ مِنْ دُونِهِ إِلَهًا لَقَدْ قُلْنَا إِذًا شَطَطًا
“Rabb kami adalah Rabb langit dan bumi, kami sekali-kali tidak akan menyeru Rabb selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang jauh.” (Al-Kahfi: 14)
Yakni, apabila kami berdoa kepada selain Dia, berarti kami telah mengucapkan suatu شَطَطًا (perkataan yang jauh), yaitu perkataan palsu, dusta, dan zalim.
Allah l menyebutkan perkataan mereka selanjutnya:
هَؤُلاَءِ قَوْمُنَا اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ آلِهَةً لَوْلاَ يَأْتُونَ عَلَيْهِمْ بِسُلْطَانٍ بَيِّنٍ فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللهِ كَذِبًا
“Kaum kami ini telah mengambil sesembahan-sesembahan selain Dia. Mereka mereka tidak mengajukan alasan yang terang (tentang keyakinan mereka?) Siapakah yng lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah?” (Al-Kahfi: 15)
Ketika mereka sepakat terhadap persoalan ini, mereka sadar, tidak mungkin menampakkannya kepada kaumnya. Mereka berdoa kepada Allah l agar memudahkan urusan mereka:
آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا
“Wahai Rabb kami, berilah kami rahmat dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami.” (Al-Kahfi: 10)
Mereka pun menyelamatkan diri ke sebuah gua yang telah Allah l mudahkan bagi mereka. Gua itu cukup luas dengan pintu menghadap ke utara sehingga sinar matahari tidak langsung masuk ke dalamnya. Kemudian mereka tertidur dengan perlindungan dan pegawasan dari Allah selama 309 tahun. Allah l buatkan atas kaum mereka pagar berupa rasa takut meskipun mereka sangat dekat dengan kota tempat mereka tinggal. Allah l sendiri yang menjaga mereka selama di dalam gua. Allah l berfirman:
وَنُقَلِّبُهُمْ ذَاتَ الْيَمِينِ وَذَاتَ الشِّمَالِ
“Dan Kami bolak-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri.” (Al-Kahfi: 18)
Demikianlah agar jasad mereka tidak dirusak oleh tanah. Setelah tertidur sekian ratus tahun lamanya, Allah l membangunkan mereka لِيَتَسَاءَلُوا (agar mereka saling bertanya), dan supaya mereka pada akhirnya mengetahui hakekat yang sebenarnya. Allah l berfirman:
قَالَ قَائِلٌ مِنْهُمْ كَمْ لَبِثْتُمْ قَالُوا لَبِثْنَا يَوْمًا أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ قَالُوا رَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَا لَبِثْتُمْ فَابْعَثُوا أَحَدَكُمْ بِوَرِقِكُمْ هَذِهِ إِلَى الْمَدِينَةِ
“Berkatalah salah seorang dari mereka: ‘Sudah berapa lama kalian menetap (di sini)?’ Mereka menjawab: ‘Kita tinggal di sini sehari atau setengah hari.’ Yang lain berkata pula: ‘Rabb kalian lebih mengetahui berapa lamanya kalian berada (di sini). Maka suruhlah salah seorang di antara kalian pergi ke kota membawa uang perakmu ini’.” (Al-Kahfi: 19)
Di dalam kisah ini terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah yang nyata. Di antaranya:
1. Walaupun menakjubkan, kisah para penghuni gua ini bukanlah ayat Allah yang paling ajaib. Karena sesungguhnya Allah l mempunyai ayat-ayat yang menakjubkan yang di dalamnya terdapat pelajaran berharga bagi mereka yang mau memerhatikannya.
2. Sesungguhnya siapa saja yang berlindung kepada Allah, niscaya Allah l melindunginya dan lembut kepadanya, serta menjadikannya sebagai sebab orang-orang yang sesat mendapat hidayah (petunjuk). Di sini, Allah l telah bersikap lembut terhadap mereka dalam tidur yang panjang ini, untuk menyelamatkan iman dan tubuh mereka dari fitnah dan pembunuhan masyarakat mereka. Allah menjadikan tidur ini sebagai bagian dari ayat-ayat (tanda kekuasaan)-Nya yang menunjukkan kesempurnaan kekuasaan Allah dan berlimpahnya kebaikan-Nya. Juga agar hamba-hamba-Nya mengetahui bahwa janji Allah itu adalah suatu kebenaran.
3. Anjuran untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat sekaligus mencarinya. Karena sesungguhnya Allah mengutus mereka adalah untuk hal itu. Dengan pembahasan yang mereka lakukan dan pengetahuan manusia tentang keadaan mereka, akan menghasilkan bukti dan ilmu atau keyakinan bahwa janji Allah adalah benar, dan bahwa hari kiamat yang pasti terjadi bukanlah suatu hal yang perlu disangsikan.
4. Adab kesopanan bagi mereka yang mengalami kesamaran atau ketidakjelasan akan suatu masalah ilmu adalah hendaklah mengembalikannya kepada yang mengetahuinya. Dan hendaknya dia berhenti dalam perkara yang dia ketahui.
5. Sahnya menunjuk wakil dalam jual beli, dan sah pula kerjasama dalam masalah ini. Karena adanya dalil dari ucapan mereka dalam ayat:
فَابْعَثُوا أَحَدَكُمْ بِوَرِقِكُمْ هَذِهِ إِلَى الْمَدِينَة
“Maka suruhlah salah seorang di antara kamu pergi ke kota membawa uang perakmu ini.” (Al-Kahfi: 19)
6. Boleh memakan makanan yang baik dan memilih makanan yang disenangi atau sesuai selera, selama tidak berbuat israf (boros atau berlebihan) yang terlarang, berdasarkan dalil:
فَلْيَنْظُرْ أَيُّهَا أَزْكَى طَعَامًا فَلْيَأْتِكُمْ بِرِزْقٍ مِنْهُ
“Hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah dia membawa makanan itu untukmu.” (Al-Kahfi: 19)
7. Melalui kisah ini kita dianjurkan untuk berhati-hati dan mengasingkan  diri atau menjauhi tempat-tempat yang dapat menimbulkan fitnah dalam agama. Dan hendaknya seseorang menyimpan rahasia sehingga dapat menjauhkannya dari suatu kejahatan.
8. Diterangkan dalam kisah ini betapa besar kecintaan para pemuda yang beriman itu terhadap ajaran agama mereka. Dan bagaimana mereka sampai melarikan diri, meninggalkan negeri mereka demi menyelamatkan diri dari segenap fitnah yang akan menimpa agama mereka, ‘awaid(???)mereka pada Allah l.
9. Disebutkan dalam kisah ini betapa luasnya akibat buruk dari kemudaratan dan kerusakan yang berbuah kebencian dan upaya meninggalkannya (???). Dan sesungguhnya jalan ini adalah jalan yang ditempuh kaum mukminin.
10. Bahwa firman Allah l:
قَالَ الَّذِينَ غَلَبُوا عَلَى أَمْرِهِمْ لَنَتَّخِذَنَّ عَلَيْهِمْ مَسْجِدًا
“Orang-orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata: ‘Sungguh kami tentu akan mendirikan sebuah rumah ibadah di atas mereka’.” (Al-Kahfi: 21)
Di dalam ayat ini terdapat dalil bahwa masyarakat di mana mereka hidup (setelah bangun dari tidur panjang) adalah orang-orang yang mengerti agama. Hal ini diketahui karena mereka sangat menghormati para pemuda itu sehingga sangat berkeinginan membangun rumah ibadah di atas gua mereka. Dan walaupun ini dilarang –terutama dalam syariat agama kita– tetapi tujuan diceritakannya hal ini adalah sebagai keterangan bahwa rasa takut yang begitu besar yang dirasakan oleh para pemuda tersebut akan fitnah yang mengancam keimanannya, serta masuknya mereka ke dalam gua telah Allah  l gantikan sesudah itu dengan keamanan dan penghormatan yang luar biasa dari manusia. Dan ini adalah ‘awaid(???) Allah  l terhadap orang yang menempuh suatu kesulitan karena Allah, di mana Dia jadikan baginya akhir perjalanan yang sangat terpuji.
11. Pembahasan yang berbelit-belit dan tidak bermanfaat adalah suatu hal yang tidak pantas untuk inhimak, berdasarkan firman Allah l:
فَلَا تُمَارِ فِيهِمْ إِلَّا مِرَاءً ظَاهِرًا
“Karena itu janganlah kamu (Muhammad) bertengkar tentang keadaan mereka, kecuali pertengkaran lahir saja.” (Al-Kahfi: 22)
12. Faedah lain dari kisah ini bahwasanya bertanya kepada yang tidak berilmu tentang suatu persoalan atau kepada orang yang tidak dapat dipercaya, adalah perbuatan yang dilarang. Karena Allah l menyebutkan:
وَلَا تَسْتَفْتِ فِيهِمْ مِنْهُمْ أَحَدًا
“Dan jangan pula bertanya mengenai mereka (para pemuda itu) kepada salah seorang di antara mereka itu.” (Al-Kahfi: 22)

Al Awwal dan Al Aakhir

(ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar  ZA, Lc)

Di antara Al-Asma`ul Husna (nama-nama Allah yang sangat baik) adalah Al-Awwal (اْلأَوَّلُ) dan Al-Akhir (اْلآخِرُ) sebagaimana termaktub dalam firman Allah berikut ini:
هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ.
“Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Al-Hadid: 3)
Sebagaimana disebutkan pula dalam hadits Nabi n sekaligus keterangan beliau tentang maknanya, berikut ini:
Suhail mengatakan: “Dahulu Abu Sha-lih memerintahkan kami apabila seseorang di antara kami hendak tidur agar berbaring di atas sisi kanannya, lalu mengucapkan:
اللَّهُمَّ رَبَّ السَّمَاوَاتِ وَرَبَّ اْلأَرْضِ وَرَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ، فَالِقَ الْحَبِّ وَالنَّوَى وَمُنْزِلَ التَّوْرَاةَ وَاْلإِنْجِيْلَ وَالْفُرْقَانَ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ شَيْءٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ، اللَّهُمَّ أَنْتَ اْلأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ وَأَنْتَ اْلآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُوْنَكَ شَيْءٌ، اقْضِ عَنَّا الدَّيْنَ وَأَغْنِنَا مِنَ الْفَقْرِ
“Ya Allah Rabb sekalian langit dan bumi dan Rabb ‘Arsy yang agung Rabb kami dan Rabb segala sesuatu, Allah yang menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan. Yang menurunkan Taurat, Injil dan Al-Qur`an, Aku berlindung dari kejahatan segala sesuatu yang Engkaulah yang menguasai ubun-ubunnya. Ya Allah engkaulah Al-Awwal yang tiada sesuatu sebelum-Mu, dan engkaulah Al-Akhir yang tiada sesuatu setelah-Mu, Engkaulah Yang Zhahir Yang tiada sesuatu di atas-Mu dan engkau Al-Bathin, tiada yang lebih dekat dari-Mu sesuatupun, lunasilah hutang kami dan cukupilah kami dari kefakiran.” Dan Abu Shalih meriwayatkan ini dari Abu Hurairah z dari Nabi n. (Shahih, HR. Muslim no. 2713)
Makna Al-Awwal adalah Dzat yang tiada sesuatu sebelum-Nya, sehingga nama ini menunjukkan kedahuluan Allah. Dan kedahuluan Allah itu bersifat mutlak bukan kedahuluan yang relatif (nisbi), semacam bila dikatakan: Ini lebih awal dibanding yang setelahnya, dan ada yang lain sebelumnya. Sehingga nama Allah Al-Awwal menunjukkan bahwa segala sesuatu selain-Nya baru ada setelah sebelumnya tiada.
Hal ini menuntut seorang hamba agar memerhatikan keutamaan Rabbnya dalam setiap nikmat, baik berupa nikmat agama ataupun dunia, di mana sebab dan musababnya berasal dari Allah l.
Makna Al-Akhir adalah Dzat yang tiada sesuatu setelah-Nya. Nama Allah l ini menunjukkan keabadian-Nya dan kekekalan-Nya. Dan ini menunjukkan bahwa Dia merupakan tujuan dan tempat bergantung yang seluruh makhluk menuju kepada-Nya dengan ibadah, harapan, rasa takut dan seluruh keperluan mereka.
Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin t mengatakan: “Dan janganlah dipahami bahwa ini menunjukkan batas akhir-Nya. Karena ada juga hal-hal yang abadi (lainnya) namun berupa makhluk, seperti al-jannah (surga) dan an-nar (neraka). Atas dasar itu, maka Al-Akhir mengandung makna bahwa Ia meliputi segala sesuatu, tiada kesudahan bagi keakhiran-Nya.
Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di mengatakan: “Perhatikanlah makna-makna yang agung ini yang menunjukkan keesaan Rabb Yang Maha Agung dalam hal kesempurnaan dan liputan-Nya yang mutlak. Baik yang berkaitan dengan liputan waktu, yaitu pada nama-Nya Al-Awwal dan Al-Akhir, maupun yang berkaitan dengan tempat yaitu pada nama-Nya Azh-Zhahir dan Al-Bathin.
Ibnul Qayyim menjelaskan:
Keawalan Allah l mendahului keawalan segala sesuatu dan keakhiran-Nya tetap setelah keakhiran segala sesuatu. Sehingga makna keawalan-Nya adalah kedahuluan-Nya atas segala sesuatu, dan makna keakhiran-Nya adalah kekekalan-Nya setelah segala sesuatu… Poros empat nama ini adalah pada makna liputan, yaitu dua liputan, yang berkaitan dengan waktu dan tempat… Maka segala yang mendahului, itu berakhir pada kedahuluan Allah l, dan segala yang berakhir maka kembali kepada keakhiran Allah l. Sehingga dua nama tersebut meliputi segala sesuatu yang awal dan akhir… Tiada sesuatu yang awal melainkan Allah mendahuluinya dan tiada sesuatu yang akhir melainkan Allah l setelahnya. Sehingga Al-Awwal artinya kedahuluan-Nya dan Al-Akhir artinya keabadian-Nya….” (Thariqul Hijratain hal. 27)
Pengaruh nama Al-Awwal dan Al-Akhir
Pengaruh dua nama tersebut pada jiwa seorang hamba sebagaimana dikatakan Ibnul Qayyim: “Maka perhatikanlah buah ibadah dari dua nama ini dan bagaimana keduanya mengharuskan pasrah yang sempurna kepada Allah l semata, serta membuahkan rasa butuh yang terus menerus kepada Allah l tanpa selain-Nya, dan bahwa semua urusan bermula dari-Nya dan kembali kepada-Nya….” (Thariqul Hijratain, hal. 20)

Sumber Bacaan:
– Shifatullah  Al-Waridah fil Kitabi was Sunnah
– Syarh Al-Wasithiyyah, karya Ibnu ‘Utsaimin
– Syarh Al-Wasithiyyah, karya Muhammad Al-Harras
– Syarh An-Nuniyyah,  karya Muhammad Al-Harras
– Thariqul Hijratain, karya Ibnul Qayyim
– dll.

Perang Khandaq (Perang Ahzab) bagian 1

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Harits Abrar Thalib)

Untuk kesekian kalinya orang-orang Yahudi yang hidup aman di sisi Rasulullah n kembali berbuat makar. Mereka menghasut musyrikin Quraisy dan kabilah Arab lainnya untuk menyerang Madinah. Tak hanya itu, mereka juga menikam pasukan kaum muslimin dari belakang.
Peristiwa ini terjadi pada bulan Syawal tahun kelima hijriyah, menurut pendapat yang paling tepat. Karena sebagian ulama berbeda pendapat tentang waktu terjadinya peristiwa besar ini. Ibnu Hazm berpendapat bahwa kejadian ini terjadi pada tahun keempat hijriyah. Sedangkan ulama lainnya seperti Ibnul Qayyim merajihkan bahwa peristiwa ini terjadi tahun kelima hijriyah. (Zadul Ma’ad, 3/269-270)
Di antara sebab peristiwa ini ialah seperti yang diceritakan oleh Ibnul Qayyim (Zadul Ma’ad, 3/270). Beliau mengatakan:
Ketika orang-orang Yahudi melihat kemenangan kaum musyrikin atas kaum muslimin pada perang Uhud, dan mengetahui janji Abu Sufyan untuk memerangi muslimin pada tahun depan (sejak persitiwa itu), berangkatlah sejumlah tokoh mereka seperti Sallam bin Abil Huqaiq, Sallam bin Misykam, Kinanah bin Ar-Rabi’, dan lain-lain ke Makkah menjumpai beberapa tokoh kafir Quraisy untuk menghasut mereka agar memerangi Rasulullah n. Bahkan mereka menjamin akan membantu dan mendukung kaum Quraisy dalam rencana itu.
Quraisy pun menyambut hasutan itu.
Setelah itu, tokoh-tokoh Yahudi tadi menuju Ghathafan dan beberapa kabilah Arab lainnya untuk menghasut mereka. Maka disambutlah hasutan itu oleh mereka yang menerimanya.
Kemudian, keluarlah Quraisy yang dipimpin Abu Sufyan dengan 4.000 personil, diikuti Bani Salim, Bani Asad, Bani Fazarah, Bani Asyja’, dan Bani Murrah. Orang-orang Ghthafan juga keluar dipimpin ‘Uyainah bin Hishn. Mereka bertolak menuju Madinah dengan kekuatan 10.000 orang.
Mendengar persiapan mereka, Rasulullah n bermusyawarah dengan para shahabat sebagaimana kebiasaan beliau menghadapi berbagai persoalan. Dalam musyawarah itu, Salman menyarankan agar bertahan di Madinah dan membuat parit perlindungan di sekitarnya. Usulan ini disambut oleh Rasulullah n dan para shahabat lainnya.
Merekapun mulai bekerja siang malam menggali parit itu. Bahkan Rasulullah n ikut serta mencangkul, mengangkat pasir dan seterusnya. Demikian diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya dari Al-Barra` z:
رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْخَنْدَقِ وَهُوَ يَنْقُلُ التُّرَابَ حَتَّى وَارَى التُّرَابُ شَعْرَ صَدْرِهِ وَكَانَ رَجُلاً كَثِيرَ الشَّعْرِ وَهُوَ يَرْتَجِزُ بِرَجَزِ عَبْدِ اللهِ:
اللَّهُـمَّ لـَوْلاَ أَنْـتَ مَا اهْتَدَيْنَا وَلاَ تَصَدَّقْنَـا وَلاَ صَلَّيْنـَا
فَأَنْـزِلَـنْ سَكِيـنَةً عَلَيْنَــا وَثَـبِّتِ اْلأَقْدَامَ إِنْ لاَقَيْنـَا
إِنَّ اْلأَعْـدَاءَ قَـدْ بَغَوْا عَلَيْنـَا إِذَا أَرَادُوا فِتْنـَةً أَبـَيْنـَا
يَرْفَعُ بِهَا صَوْتَهُ
“Saya melihat Rasulullah n pada peristiwa Khandaq sedang mengangkut tanah sampai tanah itu menutupi bulu dada beliau. Dan beliau adalah laki-laki yang lebat bulu dadanya. Ketika itu beliau melantunkan syair Abdullah bin Rawahah sambil menyaringkan suaranya:
“Ya Allah kalau bukan karena Engkau niscaya kami tidak mendapat petunjuk
Tidak bersedekah dan tidak pula shalat
Maka turunkanlah ketenangan atas kami
Dan kokohkan kaki kami ketika bertemu (musuh)
Sesungguhnya musuh-musuh telah menzalimi kami
Bila mereka menginginkan fitnah, tentu kami menolaknya”
Dalam riwayat Ahmad dan An-Nasa`i, dari Abu Sukainah z dari salah seorang shahabat Nabi n lainnya dengan sanad yang jayyid, disebutkan:
لَمَّا أَمَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِحَفْرِ الْخَنْدَقِ عَرَضَتْ لَهُمْ صَخْرَةٌ حَالَتْ بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ الْحَفْرِ فَقَامَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَخَذَ الْمِعْوَلَ وَوَضَعَ رِدَاءَهُ نَاحِيَةَ الْخَنْدَقِ وَقَالَ: تَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلاً لاَ مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِهِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ. فَنَدَرَ ثُلُثُ الْحَجَرِ وَسَلْمَانُ الْفَارِسِيُّ قَائِمٌ يَنْظُرُ فَبَرَقَ مَعَ ضَرْبَةِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَرْقَةٌ ثُمَّ ضَرَبَ الثَّانِيَةَ وَقَالَ: تَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلاً لاَ مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِهِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ. فَنَدَرَ الثُّلُثُ اْلآخَرُ فَبَرَقَتْ بَرْقَةٌ فَرَآهَا سَلْمَانُ ثُمَّ ضَرَبَ الثَّالِثَةَ وَقَالَ: تَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلاً لاَ مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِهِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ. فَنَدَرَ الثُّلُثُ الْبَاقِي وَخَرَجَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخَذَ رِدَاءَهُ وَجَلَسَ، قَالَ سَلْمَانُ: يَا رَسُولَ اللهِ رَأَيْتُكَ حِينَ ضَرَبْتَ مَا تَضْرِبُ ضَرْبَةً إِلاَّ كَانَتْ مَعَهَا بَرْقَةٌ. قَالَ لَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَا سَلْمَانُ، رَأَيْتَ ذَلِكَ؟ فَقَالَ: إِي، وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ يَا رَسُولَ اللهِ. قَالَ: فَإِنِّي حِينَ ضَرَبْتُ الضَّرْبَةَ اْلأُولَى رُفِعَتْ لِي مَدَائِنُ كِسْرَى وَمَا حَوْلَهَا وَمَدَائِنُ كَثِيرَةٌ حَتَّى رَأَيْتُهَا بِعَيْنَيَّ. قَالَ لَهُ مَنْ حَضَرَهُ مِنْ أَصْحَابِهِ: يَا رَسُولَ اللهِ، ادْعُ اللهَ أَنْ يَفْتَحَهَا عَلَيْنَا وَيُغَنِّمَنَا دِيَارَهُمْ وَيُخَرِّبَ بِأَيْدِينَا بِلاَدَهُمْ. فَدَعَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِذَلِكَ. ثُمَّ ضَرَبْتُ الضَّرْبَةَ الثَّانِيَةَ فَرُفِعَتْ لِي مَدَائِنُ قَيْصَرَ وَمَا حَوْلَهَا حَتَّى رَأَيْتُهَا بِعَيْنَيَّ. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ ادْعُ اللهَ أَنْ يَفْتَحَهَا عَلَيْنَا وَيُغَنِّمَنَا دِيَارَهُمْ وَيُخَرِّبَ بِأَيْدِينَا بِلاَدَهُمْ. فَدَعَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِذَلِكَ. ثُمَّ ضَرَبْتُ الثَّالِثَةَ فَرُفِعَتْ لِي مَدَائِنُ الْحَبَشَةِ وَمَا حَوْلَهَا مِنَ الْقُرَى حَتَّى رَأَيْتُهَا بِعَيْنَيَّ. قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَ ذَلِكَ: دَعُوا الْحَبَشَةَ مَا وَدَعُوكُمْ، وَاتْرُكُوا التُّرْكَ مَا تَرَكُوكُمْ
“Ketika Nabi n memerintahkan penggalian khandaq, ternyata ada sebongkah batu sangat besar menghalangi penggalian itu. Lalu Rasulullah n bangkit mengambil kapak tanah dan meletakkan mantelnya di ujung parit, dan berkata: “Telah sempurnalah kalimat Rabbmu (Al-Qur`an) sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat mengubah-ubah kalimat-kalimat-Nya dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” Terpecahlah sepertiga batu tersebut. Salman Al-Farisi ketika itu sedang berdiri memandang, dia melihat kilat yang memancar seiring pukulan Rasulullah n. Kemudian beliau memukul lagi kedua kalinya, dan membaca: “Telah sempurnalah kalimat Rabbmu (Al-Qur`an) sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat mengubah-ubah kalimat-kalimat-Nya dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” Pecah pula sepertiga batu itu, dan Salman melihat lagi kilat yang memancar ketika Rasulullah n memukul batu tersebut.
Rasulullah n memukul sekali lagi dan membaca: “Telah sempurnalah kalimat Rabbmu (Al-Qur`an) sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat mengubah-ubah kalimat-kalimat-Nya dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” Dan untuk ketiga kalinya, batu itupun pecah berantakan. Kemudian beliau mengambil mantelnya dan duduk.
Salman berkata: “Wahai Rasulullah, ketika anda memukul batu itu, saya melihat kilat memancar.”
Rasulullah n berkata kepadanya: “Wahai Salman, engkau melihatnya?”
Kata Salman: “Demi Dzat Yang mengutus anda membawa kebenaran. Betul, wahai Rasulullah.”
Rasulullah n bersabda: “Ketika saya memukul itu, ditampakkan kepada saya kota-kota Kisra Persia dan sekitarnya serta sejumlah kota besarnya hingga saya melihatnya dengan kedua mata saya.”
Para shahabat yang hadir ketika itu berkata: “Wahai Rasulullah, doakanlah kepada Allah agar membukakannya untuk kami dan memberi kami ghanimah rumah-rumah mereka, dan agar kami hancurkan negeri mereka dengan tangan-tangan kami.” Maka Rasulullah n pun berdoa.
“Kemudian saya memukul lagi kedua kalinya, dan ditampakkan kepada saya kota-kota Kaisar Romawi dan sekitarnya hingga saya melihatnya dengan kedua mata saya.”
Para shahabat berkata: “Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar membukakannya untuk kami dan memberi kami ghanimah rumah-rumah mereka, dan agar kami hancurkan negeri mereka dengan tangan-tangan kami.” Maka Rasulullah n pun berdoa.
“Kemudian pada pukulan ketiga, ditampakkan kepada saya negeri Ethiopia dan desa-desa sekitarnya hingga saya melihatnya dengan kedua mata saya.” Lalu beliau berkata ketika itu: “Biarkanlah Ethiopia (Habasyah) selama mereka membiarkan kalian, dan tinggalkanlah Turki selama mereka meninggalkan kalian.”
Sepeninggal Rasulullah n, terjadilah apa yang diberitakan oleh beliau. Kedua negara adikuasa masa itu berhasil ditaklukkan kaum muslimin, dengan izin Allah.
Ketika kaum musyrikin sampai di kota Madinah, mereka terkejut melihat pertahanan yang dibuat kaum muslimin. Belum pernah hal ini terjadi pada bangsa Arab. Akhirnya mereka membuat perkemahan mengepung kaum muslimin. Tidak terjadi pertempuran berarti di antara mereka kecuali lemparan panah dan batu. Namun sejumlah ahli berkuda musyrikin Quraisy, di antaranya ‘Amr bin ‘Abdi Wadd, ‘Ikrimah dan lainnya berusaha mencari jarak lompat yang lebih sempit. Beberapa orang berhasil menyeberangi parit. Merekapun menantang para pahlawan muslimin untuk perang tanding.
‘Ali bin Abi Thalib z menyambut tantangan tersebut. ‘Ali berkata: “Wahai ‘Amr, kau pernah menjanjikan kepada Allah, bahwa tidak seorangpun lelaki Quraisy yang menawarkan pilihan kepadamu salah satu dari dua hal melainkan kau terima hal itu darinya.”
Kata ‘Amr: “Betul.”
Kata ‘Ali: “Maka sungguh, saya mengajakmu kepada Allah dan Rasul-Nya, serta kepada Islam.”
‘Amr menukas: “Aku tidak membutuhkan hal itu.”
Kata ‘Ali pula: “Kalau begitu saya menantangmu agar turun (bertanding).”
Kata ‘Amr: “Wahai anak saudaraku, demi Allah. Aku tidak suka membunuhmu.”
‘Ali menjawab tegas: “Tapi saya demi Allah, ingin membunuhmu.”
‘Amr terpancing, diapun turun dan membunuh kudanya, lalu menghadapi ‘Ali.
Mulailah keduanya saling serang, tikam menikam dengan serunya. Namun pedang ‘Ali bin Thalib berhasil membunuh ‘Amr. Akhirnya para prajurit berkuda kafir Quraisy lainnya melarikan diri. (bersambung)

Kekokohan Agama dengan Menyempurnakan Pondasinya

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah An-Nawawi)

 

Belajar dari Keberhasilan
Mengkaji jejak keberhasilan umat terdahulu dalam mengangkat dan menyebarkan syiar-syiar Islam adalah sesuatu yang mulia. Karena belajar dari sebuah keberhasilan dan berupaya untuk meneladaninya juga merupakan keberhasilan.
Para nabi dan rasul telah berhasil menjalankan amanat dan tugas dari Allah l. Betapa banyak hati yang tertutup menjadi terbuka dengan hidayah, sirnanya kekufuran dan keingkaran kepada Allah l, runtuhnya kekuasaan ajaran iblis,  serta hancurnya hukum-hukum thagut yang sebelumnya bercokol.
Masa kegemilangan itupun berlalu, kejayaan itu di masa sekarang bagaikan fatamorgana dalam bayangan teriknya matahari di padang sahara, yang bila didekati hilang begitu saja. Dimanakah letak rahasia kejayaan mereka? Dan di manakah letak dan penyebab kegagalan kita?
Kedua pertanyaan ini butuh jawaban.
Ada dua rahasia dan sebab keberhasilan perjuangan di masa lampau dalam mengibarkan panji-panji tauhid, merombak kebusukan keyakinan jahiliyah terhadap Allah l, penyelewengan yang sangat parah, dan bercokolnya kesesatan di benak setiap insani, keberhasilan dalam menumbangkan dan meruntuhkan tahta thagutiyyah, Fir’aunisme, Majusiyyah, Shabi’iyyah dan dinasti-dinasti jahiliyah. Keberhasilan menghidupkan hati yang sudah mati, mengetuk gendang telinga yang sudah tuli dan membuka mata yang sudah buta sebelum membuka dan menaklukkan berbagai negeri.
Pertama: Kemurnian perjuangan yang dibangun di atas keikhlasan semata-mata mencari wajah Allah l.
Inilah rahasia pertama dan utama landasan keberhasilan perjuangan mereka. Landasan  yang merupakan sumber kekuatan dan keberanian dalam menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi. Ia merupakan sumber munculnya sikap tabah dalam menghadapi segala bentuk ujian dan rintangan dalam mengemban amanat Allah l.
Dengan keikhlasan, semua beban hidup yang berat akan menjadi ringan, yang besar akan menjadi kecil dan yang sulit akan menjadi mudah. Intisari ikhlas itulah kalimat tauhid “Laa Ilaha illallah.” Keikhlasan merupakan landasan pengabdian para nabi dan rasul kepada Allah l. Allah l di dalam banyak ayat menjelaskan:
إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ فَاعْبُدِ اللهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ
“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al-Kitab kepadamu dengan benar, maka sembahlah Allah dengan mengikhlaskan agama bagi-Nya.” (Az-Zumar: 2)
قُلْ إِنِّي أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ اللهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ. وَأُمِرْتُ لِأَنْ أَكُونَ أَوَّلَ الْمُسْلِمِينَ
“Katakanlah (hai Muhammad) sesungguhnya aku diperintahkan untuk menyembah Allah dengan mengikhlaskan agama bagi-Nya. Dan aku diperintahkan untuk menjadi orang yang pertama kali menyerahkan dirinya.” (Az-Zumar: 11-12)
قُلِ اللهَ أَعْبُدُ مُخْلِصًا لَهُ دِينِي
“Katakanlah: Aku menyembah kepada Allah dengan mengikhlaskan baginya agamaku.” (Az-Zumar: 14)
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ
“Dan tidaklah mereka diperintahkan melainkan agar mereka menyembah hanya kepada Allah dengan mengikhlaskan bagi Allah agama yang lurus.” (Al-Bayyinah: 5)
وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ مُوسَى إِنَّهُ كَانَ مُخْلَصًا وَكَانَ رَسُولًا نَبِيًّا
“Dan ingatlah di dalam kitab tentang nabi Musa sesungguhnya dia adalah orang yang ikhlas dan beliau adalah seorang rasul dan nabi.” (Maryam: 51)
Masih teringat dalam benak kita kekejaman dan keangkuhan Fir’aun, sebuah kekejaman yang tiada tara yaitu dengan membunuh anak laki-laki yang menurut dia akan membahayakan tahta kekufuran yang berada dalam kaki dan taring keberingasannya. Angkuh sampai menobatkan dan memproklamirkan dirinya sebagai tuhan sesembahan semesta alam.
فَحَشَرَ فَنَادَى. فَقَالَ أَنَا رَبُّكُمُ الْأَعْلَى
“Lalu dia mengumpulkan (bala tentaranya) lalu menyeru:  Aku adalah tuhan kalian yang tinggi.” (An-Nazi’at: 23-24)
Keberingasan dan keangkuhannya tidak memberinya manfaat dalam menyebarkan manuver-manuver kufurnya. Sebagian bala tentaranya harus jujur mengakui kebenaran kerasulan Nabi Musa. Sekali lagi kemenangan, keberhasilan, kejayaan bersama orang yang ikhlas.
Kedua: Mereka tidak keluar dalam berjuang dari jalur dan garis yang telah ditetapkan Allah l.
Sikap ketundukan dan siap menerima titah adalah jalan keberhasilan para nabi dan rasul serta orang-orang yang mengikuti langkah mereka di setiap masa. Mereka berjalan dalam jalur Ilahi, berkata dalam batasan pengajaran-Nya, diam dan bergerak dalam bimbingan-Nya. Mereka tidak mengolah dan merancang bagaimana cara menyelamatkan umat dari segala bentuk kerusakan dan kebiadaban hidup dan dari kekejaman para penentang dan musuh-musuh mereka dengan keluar dari bimbingan wahyu.
Mereka yakin bahwa kemenangan akan diraih melalui jalan yang telah digariskan oleh Allah l dan kegagalan karena menyelisihi perintahnya. Mereka  meyakini bahwa Allah l telah menciptakan bagi hamba jalan yang akan mendatangkan kemaslahatan dan telah memperingatkan dari jalan yang akan memudaratkan.
Jika Allah l memerintahkan untuk melakukan sesuatu berarti dalam perintah-nya terdapat maslahat hidup bagi mereka di dunia dan di akhirat dan bila Allah l melarang untuk melakukan sesuatu berarti dalam larangan itu kemudaratan dunia dan akhirat.
Allah l membenci kesyirikan, karena kesyirikan tersebut akan mengantarkan kepada malapetaka hidup di dunia dan akhirat. Allah l mengharamkan kebid’ahan karena mengandung kerusakan di dalam mengejar maslahat hidup dunia dan akhirat.
Allah mengharamkan khamr, judi, mencuri, berzina, membunuh tanpa alasan yang benar, memakan harta orang lain dengan cara yang tidak benar, berbuat kezaliman, durhaka kepada kedua orang tua, berdusta, menipu, curang dalam timbangan dan sebagainya, karena perbuatan tersebut akan mengantarkan kepada kebinasaan dunia dan azab di akhirat.
Tugas perombakan yang dilakukan oleh para nabi dan Rasul dan para pengikut mereka tidak keluar dari koridor wahyu. Jalan wahyu bukanlah jalan yang penuh taburan bunga dan siraman bau yang semerbak. Akan tetapi penuh dengan duri dan sengatan yang berbisa.
Ujian datang silih berganti, rintangan datang bertubi-tubi menghunjam qalbu dan raga orang-orang yang melewatinya. Demikian dahsyatnya hingga menyesakkan dada. Allah l berkisah tentang ucapan mereka dalam situasi yang genting tersebut dalam sebuah firman-Nya:
أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللهِ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللهِ قَرِيبٌ
“Apakah kalian mengira akan masuk ke dalam surga sementara belum datang kepada kalian (ujian) yang telah menimpa orang-orang sebelum kalian, (mereka) ditimpa oleh berbagai penyakit, marabahaya dan kegoncangan sampai-sampai Rasulullah dan orang-orang yang beriman bersamanya mengatakan: ‘Kapan pertolongan Allah datang?’ (Allah) menjawab: ‘Sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.’” (Al-Baqarah: 214)
Al-Imam Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan dalam Tafsir-nya: “Allah l memberitakan bahwa Dia pasti akan menguji hamba-hamba-Nya dengan berbagai penyakit, malapetaka, dan segala yang memberatkan hidup sebagaimana Allah l perbuat atas orang sebelum mereka. Ini merupakan ketetapan sunnah-Nya yang tidak akan berubah dan terevisi. Barangsiapa menegakkan agama-Nya dan syariat-Nya, Dia pasti akan mengujinya dan jika dia bersabar atas keputusan Allah l tersebut dan tidak peduli dengan kesengsaraan yang terjadi di jalan Allah l maka dia adalah orang yang jujur dan telah mendapatkan kebahagiaan yang sempurna serta kepemimpinan yang tinggi.
Barangsiapa menjadikan fitnah manusia bagaikan azab Allah l dalam bentuk dia terhalangi untuk melangsungkan usahanya dan dipalingkan oleh ujian dari tujuannya maka dia adalah orang yang berdusta dalam keimanannya. Karena bukan iman bila hanya perhiasan dan angan-angan belaka serta hanya sekedar pengakuan sehingga amalnya yang akan membenarkan atau mendustakannya… Kemudian karena kerasnya ujian dan sempitnya dada (dalam memikulnya), Rasulullah dan orang-orang yang menyertainya dalam keimanan berkata: “Kapan datang pertolongan Allah?”, maka di saat kemudahan datang setelah kesempitan dan ketika kesempitan menjadi luas Allah berfirman: “Ketahuilah sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.” Demikianlah, setiap orang yang menegakkan kebenaran mesti akan diuji. Tatkala ujian itu dahsyat dan berbahaya dan dia bersabar dan tabah hati niscaya ujian itu akan berubah menjadi nikmat serta kesulitan menjadi kemudahan. Dan setelah itu datangnya pertolongan atas musuh-musuh dan tersembuhkannya hati dari segala yang dirasakan.” (Tafsir As-Sa’di hal. 79)
Pergolakan demi pergolakan pun terjadi dan segala kenyataan pahit harus ditelan. Perjalanan sunnatullah yang demikian tidaklah menjadikan mereka melepaskan kebenaran menuju sebuah kemenangan, kejayaan, dan keberhasilan.
Mustahil akan mendapatkan kejayaan bila dengan cara potong kompas, yaitu meninggalkan tuntunan Rasulullah n dan menguburnya. Keharusan mengikuti tuntunan syariat menuju kemuliaan, kejayaan dan kemenangan telah dijelaskan oleh Allah l dalam banyak firman-Nya di antaranya:
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
“Katakanlah: Jika kalian benar-benar cinta kepada Allah maka ikutilah aku niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian dan Allah Maha pengampun dan Maha Penyayang.” (Ali ‘Imran: 31)
Al-Hasan Al-Bashri berkata: “Bentuk cinta mereka kepada Allah l adalah ittiba’ mereka kepada tuntunan Rasulullah n.”1
Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Hatim di dalam Tafsir beliau (2/204) dari Abu Darda` beliau berkata (dalam menafsirkan kata)  ‘Ikutilah aku’: “(Ikutilah aku) dalam kebaikan, ketaqwaan, tawadhu’, dan merendah diri.”
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللهَ وَالْيَوْمَ اْلآخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيرًا
“Sungguh telah ada bagi kalian pada diri Rasulullah suri tauladan yang baik (yaitu) bagi orang yang mengharapkan Allah dan hari akhir dan bagi orang yang banyak mengingat Allah.” (Al-Ahzab: 21)
Rasulullah n bersabda:
مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa yang mengada-ada dalam urusan kami maka dia tertolak.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat Al-Imam Muslim, beliau bersabda:
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa yang melakukan amalan yang tidak ada perintah dariku amalan tersebut tertolak.”

Memetik Buah Dua Kalimat Syahadat, Sebagai Pondasi Islam
Teramat ironis jika ada orang yang telah mengikrarkan dua kalimat syahadat sebagai pondasi bangunan agama dan keyakinannya, namun terus meneus berlumuran dan berkubang dalam kemaksiatan. Padahal nilai besar dan buah yang agung yang bakal dipetik dari kalimat ini adalah sesuatu yang tidak bisa dimungkiri.
Para dedengkot kekufuran dan kesyi-rikan di masa lalu, berubah menjadi orang yang paling baik di dalam agama ini setelah mereka mengikrarkan dua kalimat syahadat. Mereka telah berhasil memetik nilai-nilai keimanan yang benar dalam pengikraran mereka. Sehingga keimanan mereka kepada Allah l dan kepada Rasulullah n menjadi kuat dan kokoh. Keimanan yang benar kepada Allah l dan rasul-Nya dan pengamalan yang bersih dari noda-noda yang mengotorinya, kepatuhan dan ketundukan yang sempurna menjadi amaliyah yang besar dalam kehidupan para shahabat.
Nilai-nilai keimanan yang akan dipetik melalui dua kalimat syahadat adalah:
1.    Membentuk kepribadian yang ikhlas atau bertauhid.
2.    Pengabdian yang murni kepada Allah l.
3.    Ibadah yang tidak keluar dari garis syariat.
4.    Ketundukan, kepatuhan dalam mentaati Allah l dan Rasul-Nya.
5.    Kecintaan yang hakiki kepada Allah l dan rasul-Nya.
6.    Mensyukuri segala yang terkait dengan pengutusan Rasulullah n. (lihat Syarah Ushul Iman hal. 19 dan 28)
Memetik nilai-nilai yang mulia dalam kedua kalimat ini sangat ditopang dengan kebagusan pemahaman dan pengamalan terhadap Islam secara menyeluruh. Para shahabat terdahulu mereka bisa memetik nilai-nilai mulia dengan begitu mudah dan tepat dikarenakan kebersihan dan kemurnian ilmu yang mereka timba dari lisan Rasulullah n. Berarti bila seseorang ingin memetik nilai-nilai kemuliaan dari dua kalimat ini maka harus pula menempuh jalan yang telah mereka tempuh dalam memahami dan mengamalkan Islam secara menyeluruh. Itulah jalan Salafus shalih umat ini.

Kesempurnaan Islam dengan Menyempurnakan Landasannya
Segenap kaum muslimin telah memaklumi bahwa sebuah bangunan bila tidak didirikan di atas pondasi yang kuat akan cepat runtuh dan hancur. Begitu juga bangunan Islam bila tidak dibangun di atas landasan yang kokoh dan kuat akan cepat runtuh. Namun keruntuhan yang bersifat duniawi tidak sama dengan keruntuhan yang bersifat ukhrawi karena keruntuhan yang bersifat duniawi adalah sementara sedangkan keruntuhan yang bersifat ukhrawi adalah abadi yang akan berakhir dengan ancaman dan murka dari Allah l. Jika keruntuhan bangunan duniawi saja akan mengakibatkan kerugian yang besar, maka keruntuhan ukhrawi jauh lebih besar  lagi kerugiannya.
أَفَمَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَى تَقْوَى مِنَ اللهِ وَرِضْوَانٍ خَيْرٌ أَمْ مَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَى شَفَا جُرُفٍ هَارٍ فَانْهَارَ بِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ وَاللهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
“Apakah orang-orang yang mendirikan bangunannya di atas dasar takwa kepada Allah dan keridhaan-Nya itu yang baik ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengannya ke dalam neraka Jahannam? Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (At-Taubah: 109)
Rasululah n bersabda:
بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلىَ خَمْسٍ؛ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ وَإِقَامِ الصَّلاَةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَحَجِّ الْبَيْتِ وَصَوْمِ رَمَضَانَ
“Islam dibangun di atas lima landasan (yaitu) bersaksi kepada kalimat Laa ilaha illallah dan Muhammad adalah Rasulullah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, haji ke Baitullah dan puasa pada bulan Ramadhan.”
Ibnu Rajab menjelaskan: “Yang dimaksud dengan permisalan bahwa Islam dibangun di atas tiang-tiang ini adalah tidak akan kokoh (bangunan Islam) melainkan dengannya. Adapun bagian-bagian Islam yang lain bagaikan penyempurna suatu bangunan. Jika salah satu dari penyempurna tersebut kurang niscaya bangunannya akan kurang pula namun bangunan tersebut tetap berdiri dan tidak akan runtuh. Berbeda halnya jika landasan yang lima ini runtuh, Islam akan sirna apabila kelima landasan ini hilang dengan tidak ada keraguan lagi. Demikian juga akan hilang bila hilang dua kalimat syahadat. Yang dimaksud dengan dua kalimat syahadat adalah iman kepada Allah dan Rasul-Nya.” (Jami’ul Ulum wal Hikam hal. 62)

Syarat-syarat Kekokohan Pondasi
Dari sini kita mengetahui bahwa kesempurnaan agama seseorang dan segala bangunan yang berdiri di atasnya sangat tergantung pada kekokohan pondasi bangunan tersebut. Syarat agar landasan itu kokoh terlalu banyak dan landasan bangunan Islam adalah dua kalimat syahadat dan kekokohan bangunan ada pada kesanggupan untuk menyempurnakan syarat-syaratnya.
Wahb bin Munabbih menggambarkan sebagaimana dalam riwayat Al-Imam Al-Bukhari: “Setiap kunci memiliki gigi-gigi, dan kunci surga adalah Laa Ilaha illallah.”
Beliau juga berkata: “Gigi-gigi kunci tersebut adalah syaratnya, jika engkau membawa kunci yang memiliki gigi niscaya akan terbuka pintunya dan jika tidak memiliki gigi tidak akan dibuka bagimu.” (lihat Tuhfatul Murid hal. 2)
Laa Ilaha illallah memiliki syarat-syarat yang harus dipenuhi bagi setiap pengikrarnya. Semua syarat tersebut tidak diharuskan untuk dihafal akan tatapi cukup untuk diamalkan kandungannya walaupun tidak dihafal. (lihat Tuhfatul Murid hal. 3)
Syarat-syaratnya terhimpun dalam bait syair dibawah ini:
عِلْمٌ يَقِيْنٌ وَإِخْلاَصٌ وَصِدْقُكَ مَع
مَحَبَّةٍ وَانْقِيَادٍ وَالْقَبُولِ لَهَا
Ilmu, yakin dan ikhlas berikut kejujuranmu bersama.
Cinta, ketundukan dan kepasrahan menerimanya.

Syarat pertama: Mengilmui makna kalimat Laa Ilaha illallah
Maknanya adalah mengilmui dan mewujudkan di dalam amal karena tidak cukup hanya mengilmui maknanya lalu tidak mengamalkannya. Bukankah orang kafir Quraisy di masa silam lebih mengetahui maknanya dibanding kaum muslimin di masa sakarang? Namun pengetahuan mereka tentang kalimat yang agung ini tidak menjadikan mereka beriman disebabkan mereka tidak mau mengamalkan apa yang mereka ketahui. Hal tersebut nampak ketika Rasulullah n menyeru mereka agar mengucapkan Laa Ilaha illallah sembari mereka menyangkal.
أَجَعَلَ اْلآلِهَةَ إِلَهًا وَاحِدًا إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ
“Apakah dia (Rasulullah) akan menja-dikan tuhan-tuhan (ini) menjadi satu tuhan? Sesungguhnya ini perkara yang sangat mengherankan.” (Shad: 5)
Tentang syarat ini telah disebutkan Allah l di dalam firman-Nya:
إِلَّا مَنْ شَهِدَ بِالْحَقِّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ
“Kecuali bagi orang yang memper-saksikan kebenaran dan mereka menge-tahuinya.” (Az-Zukhruf: 86)
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ
“Maka ketahuilah bahwa tidak ada sesembahan yang benar melainkan Allah.” (Muhammad: 19)
Diriwayatkan dari Utsman bin ‘Affan, Rasulullah n bersabda:
مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ
“Barangsiapa yang meninggal dan dia mengetahui kalimat La ilaha illallah akan masuk ke dalam surga.2”

Syarat kedua: Yakin terhadap makna yang dikandungnya.
Keyakinan yang akan menghilangkan keraguan pada diri seorang muslim. Artinya, yang mengucapkannya meyakini kebenaran, kandungan, dan konsekuensi kalimat tersebut, dengan keyakinan yang pasti dan bukan dengan zhan (praduga) belaka.
Allah l berfirman:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللهِ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu padanya dan mereka berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa-jiwa mereka, merekalah orang-orang yang jujur.” (Al-Hujurat: 15)
Di dalam ayat ini Allah l mensyaratkan kejujuran iman orang-orang yang beriman kepada Allah l dengan tidak ada keraguan padanya. Karena ragu dalam keimanan merupakan sifatnya orang-orang munafiq.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah z, Rasulullah n bersabda:
مَنْ لَقِيْتَ مِنْ وَرَاءِ هَذَا الْحَائِطِ يَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ مُسْتَيْقِنًا بِهَا قَلْبُهُ فَبَشِّرْهُ بِالْجَنَّةِ
“Barangsiapa yang engkau jumpai di belakang tembok ini, yang mempersaksikan bahwa tidak ada sesembahan yang benar melainkan Allah, dengan penuh keyakinan dalam hati maka berikanlah kabar gembira dengan surga.”3

Ketiga: Ikhlas
Keikhlasan yang akan memadamkan segala gejolak kesyirikan, kemunafikan, riya’ (ingin dilihat) dan sum’ah (ingin didengar/populer). Karena ikhlas dalam pandangan agama adalah membersihkan amalan dengan niat yang baik dari segala noda-noda kesyirikan.
فَاعْبُدِ اللهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ
“Maka sembahlah Allah dengan mengikhlaskan agama bagi-Nya.” (Az-Zumar: 2)
Dari Abu Hurairah ia berkata: Telah bersabda Rasulullah n:
أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ
“Orang yang paling berbahagia dengan syafa’atku kelak pada hari kiamat adalah orang yang mengucapkan Lailahaillallah dengan penuh keikhlasan dari hatinya.”4
Dari ‘Itban bin Malik ia berkata: Telah bersabda Rasulullah:
إِنَّ اللهَ حَرَّمَ عَلىَ النَّارِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ يَبْتَغِي بِذَلِكَ وَجْهُ اللهِ
“Sesungguhnya Allah telah mengha-ramkan neraka bagi orang yang megucapkan Lailahaillallah semata-mata mencari wajah Allah.”5

Keempat: Jujur
Kejujuran yang akan menghilangkan sifat dusta. Artinya, orang yang mengucapkan kalimat Laa Ilaha illallah harus dibenarkan oleh hatinya, karena jika dia mengucapkannya dengan lisan lalu hatinya tidak membenarkan apa yang diucapkan maka dia adalah orang munafiq dan pendusta.
Allah l berfirman:
الم .أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ. وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ
“Alif Lam Mim. Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan mengucapkan kami beriman lalu tidak diuji. Dan sungguh Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, agar Allah benar-benar mengetahui siapa di antara mereka yang jujur dan siapa yang berdusta.”6 (Al-’Ankabut: 1-2)
Diriwayatkan dari Anas, ia berkata: Rasulullah n bersabda:
مَا مِنْ أَحَدٍ يَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ صَادِقًا مِنْ قَلْبِهِ إِلاَّ حَرَّمَهُ اللهُ عَلىَ النَّارِ
“Tidaklah seseorang bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar melainkan Allah dan Muhammad adalah rasul Allah dengan penuh kejujuran dalam hatinya, melainkan Allah akan mengharamkan neraka atasnya.”6

Kelima: Cinta
Artinya cinta terhadap kalimat yang besar ini dengan segala konsekuensinya dan mencintai pula orang yang mengamalkan maknanya beserta syarat-syaratnya, juga membenci para penentangnya.
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللهِ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ
“Dan di antara manusia ada orang yang menjadikan selain Allah sebagai tandingan-tandingan (di mana) mereka cinta kepadanya sebagaimana cintanya kepada Allah, sedangkan orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah.” (Al-Baqarah: 165)
Orang yang bertauhid akan mencintai Allah dengan kecintaan yang murni. Sebaliknya, orang yang menyekutukan Allah l akan mencintai Allah l namun bersamaan dengan itu juga mencintai selain Allah l sebagaimana cintanya kepada Allah l. Dan tentu hal ini akan menafikan ketauhidannya.

Keenam: Ketundukan
Ketundukan dan pasrah diri dalam melaksanakan segala konsekuensi kalimat tersebut dengan cara menolak semua jenis kesyirikan yang akan membatalkan ketauhidan.
وَمَنْ يُسْلِمْ وَجْهَهُ إِلَى اللهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى
“Dan barangsiapa yang memasrahkan wajahnya kepada Allah dan dia dalam berbuat baik, maka sugguh dia telah berpegang dengan tali yang kokoh.” (Luqman: 22)

Ketujuh: Menerima
Artinya menerima kalimat tersebut  dan kandungannya, dengan lisan dan hatinya, beserta segala konsekuensinyadengan menghilangkan sikap penolakan apa yang dituntut oleh kalimat tauhid tersebut.
إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ يَسْتَكْبِرُونَ. وَيَقُولُونَ أَئِنَّا لَتَارِكُوا آلِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَجْنُونٍ
“Sesungguhnya mereka jika diserukan untuk mengucapkan kalimat Laa ilaha illallah mereka menyombongkan diri. Dan mereka seraya berkata: Bagaimana kami akan meninggalkan tuhan-tuhan kami karena (seruan) seorang yang gila.” (Ash-Shaffat: 35-36) [lihat ‘Aqidah Tauhid hal. 53-57 karya Asy-Syaikh Shalih Fauzan, Al-Qaulul Mufid fi Adillati At-Tauhid hal. 28-33 karya Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Al-Yamani, Laa Ilaha illallah Ma’naha wa Makanaha wa Muqtadhaha hal. 14-15, karya Asy-Syaikh Shalih Fauzan, Tuhfatul Murid Syarh Al-Qaulil Mufid hal. 2, karya Nu’man Al-Watr]
Pembaca yang budiman, demikianlah gambaran kecil tentang syarat kalimat tauhid yang merupakan intisari dakwah para nabi dan karenanya diturunkan kitab-kitab. Maka jika kita menginginkan kekokohan dalam agama, sempurnakanlah pondasi bangunan Islam tersebut. Demikianlah makna ucapan Ibnu Rajab Al-Hambali sebagaimana di atas. Wallahu a’lam.

Catatan Kaki:

1 Ucapan ini dibawakan oleh Ibnu Abi Hatim di dalam Tafsir beliau (2/204), dan riwayat yang semacamnya juga dorowayatkan oleh Al-Imam Ath-Thabari (3/232) dan Al-Lalikai (1/70).
2 Dikeluarkan oleh Imam Muslim no. 26

1 Ucapan ini dibawakan oleh Ibnu Abi Hatim di dalam Tafsir beliau (2/204), dan riwayat yang semisalnya juga diriwayatkan oleh Al-Imam Ath-Thabari (3/232) dan Al-Lalikai (1/70).
2 HR. Al-Imam Muslim no. 26
3 HR. Al-Imam Muslim no. 31
4 HR. Al-Imam Al-Bukhari no. 99
5 HR. Al-Imam Al-Bukhari no. 415 dan Al-Imam Muslim no. 263
6 HR. Al-Imam Al-Bukhari no. 128 dan Al-Imam Muslim no. 32

Syubhat Seputar Pinjam Meminjam Ribawi

(ditulis oleh: Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al-Atsari)

Diriwayatkan dari ‘Ali bin Abi Thalib z secara marfu’:
كُلُّ قَرْضٍ جَرَّ مَنْفَعَةً فَهُوَ رِبًا
“Setiap pinjaman yang membawa manfaat keuntungan adalah riba.”

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani berkata: “Hadits ini diriwayatkan oleh Haris ibnu Abi Usamah (dalam Musnad-nya, 1/500 no. 437, pen.) dan di dalam sanadnya ada seorang rawi yang gugur periwayatannya (saqith). Dan hadits ini memiliki syahid (pendukung) yang dhaif pula dari Fadhalah bin ‘Ubaid yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi (di dalam As-Sunanul Kubra, 5/350 dan Ma’rifatus Sunan wal Atsar, 4/391, pen.). Pendukung lainnya adalah hadits mauquf, diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Abdullah bin Salam z((lihat Bulughul Maram, Kitabul Buyu’, Bab As-Salam wal Qardh war Rahn, hadits no. 812, -pen).” Al-Hafizh juga mengatakan dalam At-Talkhish (3/997): “Dalam sanad hadits ini ada Sawar ibnu Mush’ab, dia adalah rawi yang matruk (yang ditinggalkan haditsnya).”
Hadits ini didhaifkan pula oleh Ibnul Mulaqqin dalam Khulashah Al-Badrul Munir (2/78), Abdul Haq di dalam Al-Ahkam, Ibnu Abdil Hadi dalam At-Tanqih (3/192) dan Al-Imam Al-Albani t dalam Irwa`ul Ghalil (5/236, hadits no. 1398).
Ketahuilah, setiap pinjam meminjam yang mendatangkan keuntungan teranggap riba. Salah satu argumentasinya adalah hadits di atas. Namun karena haditsnya dhaif, tentunya kita tidak boleh memakainya sebagai hujjah. Hanya saja makna hadits di atas terpakai, diperkuat oleh ushul syariat dan telah dinukilkan adanya ijma’ (kesepakatan) para ulama dalam masalah ini. Sebagaimana dinukilkan oleh Imam Ibnu Hazm Al-Andalusi t (dan yang lainnya) bahwa setiap pinjam meminjam yang di dalamnya dipersyaratkan sebuah keuntungan, penambahan kualitas ataupun kuantitas, termasuk riba. Pinjam meminjam pada asalnya adalah perbuatan kebaikan di mana seseorang memberikan kepada yang lain suatu barang atau uang, untuk nantinya dikembalikan yang sama pada waktu yang telah disepakati. Namun manakala ada penambahan dalam pengembalian atau dikembalikan dengan sesuatu yang lebih bagus/baik, terjadilah riba. (Al-Muhalla bil Atsar, 6/348, dan dalam Maratibul Ijtima’, hal. 165)
Dalam hal ini ada beberapa syubhat yang beredar di tengah kaum muslimin yang sengaja disebarkan oleh ahlus syubhat yang dipandang tokoh oleh sebagian orang. Kami nukilkan secara ringkas beberapa syubhat tersebut berikut jawabannya dari kitab Syarhul Buyu’ war Riba Min Kitabid Darari (hal. 146-148) yang ditulis guru kami Asy-Syaikh Abdurrahman bin ‘Umar bin Mar’i Al-’Adnani hafizhahullah.
Beliau hafizhahullah menyatakan ada pihak-pihak yang tidak menganggap riba pinjam meminjam (qardh) yang memberi faedah. Dalam hal ini mereka menggunakan dua sudut pandang:
Pertama: Riba yang diharamkan hanyalah riba jahiliah, yaitu riba dalam hutang piutang. Misalnya, seseorang menghutangi orang lain dengan perjanjian akan dibayar dalam tempo tertentu, namun ternyata sampai tempo yang ditentukan orang yang berhutang belum melunasinya. Akibatnya si pemberi piutang memberi denda dengan jumlah tertentu yang harus dibayarkan bersama hutang, sehingga bertambahlah jumlah hutang dari orang yang berhutang tersebut (istilahnya: engkau bayar sekarang atau hutangmu bertambah).
Adapun pembayaran tambahan yang telah disebutkan (dipersyaratkan) di awal akad pinjam meminjam, mereka mengatakan bahwa itu bukan riba yang diharamkan.
Mereka yang berpendapat seperti ini di antaranya Muhammad Rasyid Ridha penulis Tafsir Al-Manar dan murid Muhammad Abduh, serta diikuti oleh ‘Abdurrazzaq As-Sanhawuri, seorang “pakar” hukum di masa ini. Mereka menguatkan pendapat mereka dengan beberapa dalil/perkara berikut ini:
1.    Gambaran riba jahiliah yang ayat-ayat Al-Qur`an diturunkan tentangnya hanyalah berupa ‘engkau bayar sekarang (ketika sudah jatuh tempo) atau hutangmu bertambah’.
Jawaban terhadap dalil mereka ini adalah:
a. Hal ini tidak bisa diterima, karena sebenarnya riba jahiliah itu memiliki dua bentuk:
Bentuk pertama: Bentuk yang masyhur yaitu ‘engkau bayar sekarang (ketika sudah jatuh tempo) atau hutangmu bertambah’
Bentuk kedua: Penetapan adanya tambahan pembayaran/pengembalian (ziyadah) dari jumlah yang semestinya dibayarkan sejak di awal akad. Bentuk seperti ini adalah riba jahiliah, disebutkan dalam Ahkamul Qur`an (1/563-564) karya Al-Imam Al-Jashshash.
b. Kalaupun dianggap bahwa ayat-ayat tentang riba yang ada dalam surah Al-Baqarah hanya mencakup bentuk yang pertama, namun sebenarnya ayat tersebut juga bisa dijadikan sebagai dalil akan haramnya ziyadah yang dipersyaratkan di awal akad. Karena kedua bentuk ini sama-sama menerima ziyadah hanya bila telah jatuh tempo.
c. Ziyadah yang dipersyaratkan dalam akad hutang piutang khususnya pada mata uang (dinar/emas dan dirham/perak) serta yang serupa dengan keduanya sebagai alat pembayaran seperti uang kertas, memang tidak dinyatakan keharamannya oleh ayat-ayat yang berbicara tentang riba. Namun demikian, pengharamannya disebutkan dalam As-Sunnah.
Untuk lebih jelasnya perhatikanlah contoh berikut ini: Bila seseorang datang ke bank lalu berkata, “Berikan pinjaman kepada saya sebesar Rp. 100.000,-.” Pihak bank mengatakan, “Kami akan memenuhi permintaan anda namun kami catat dalam pembukuan kami jumlah Rp. 120.000,- sampai akhir tahun.”
Memang ayat-ayat tentang riba tidak menunjukkan keharaman bentuk seperti ini, namun hadits-hadits Nabi n menunjukkan secara jelas keharamannya. Dalam hadits tentang enam macam barang yang terkena hukum riba disebutkan:
الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ وَالْبُرُّ بِالْبُرّ ِوَالشَّعِيْرُ بِالشَّعِيْرِ وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ وَالْمِلْحُ بِالْمِلْحِ، مِثْلاً بِمِثْلٍ، يَدًا بِيَدٍ، فَمَنْ زَادَ أَوِ اسْتَزْدَادَ فَقَدْ أَرْبَى
“Emas dengan emas, perak dengan perak, burr (satu jenis gandum) dengan burr, sya’ir (satu jenis gandum juga) dengan sya’ir, kurma dengan kurma dan garam dengan garam, harus sama timbangannya, dan tangan dengan tangan (serah terima di tempat). Barangsiapa menambah atau minta tambah berarti dia jatuh dalam riba.” (HR. Muslim no. 1587)
Bila pihak bank memberikan pinjaman Rp. 100.000,- kepada orang tersebut namun dicatat jumlahnya Rp. 120.000,- hingga waktu setahun, berarti pihak yang berhutang dan yang memberi piutang tidak berpegang dengan dua ketetapan yang disebutkan dalam hadits di atas yaitu: مِثْلاً بِمِثْلٍ، يَدًا بِيَدٍ (harus sama timbangannya dan tangan dengan tangan (serah terima di tempat). Mereka yang melakukan muamalah seperti ini berarti telah mengumpulkan dua macam riba, riba fadhl dan riba nasi`ah.
2.    Menurut mereka, riba jahiliah dilarang karena mengambil ziyadah dari pokok harta (yang dipinjamkan). Hal itu terjadi karena tertundanya pembayaran hutang kepada pihak yang memberi piutang, bukan disebabkan ingin memberikan kemanfaatan kepada si pemberi hutang.
Dijawab: Sebab yang disebutkan ini juga ada pada akad pinjam meminjam yang mensyaratkan pembayaran tambahan (ziyadah).
3.    Muhammad Rasyid Ridha berdalil juga dari sisi bahasa. Ia berkata, “Huruf alif dan lam
adalah lil-’ahd, sehingga riba yang dilarang dan dicerca adalah riba yang dikenal, dimaklumi dan diketahui kalangan orang-orang jahiliah yaitu ‘engkau bayar (ketika sudah jatuh tempo) atau hutangmu bertambah’.
Dijawab: Kalaulah dianggap alif dan lam yang ada pada kata riba tersebut lil-’ahd, yakni Rabb kita menyebutkan (dalam ayat) keharaman riba atas sesuatu yang tertentu yang biasa dilakukan orang-orang jahiliah, maka As-Sunnah telah menyebutkan keharaman bentuk riba yang lain (tidak hanya yang disebutkan dalam ayat Al-Qur`an). Sehingga lafadz riba menjadi sebuah hakikat syariat di mana didudukkan pada seluruh bentuk riba. Apalagi memang di antara mereka ada yang mengatakan, “Riba adalah lafadz yang global, penafsirannya disebutkan dalam As-Sunnah.”
4.    Muhammad Rasyid Ridha juga berdalil dengan akal. Ia berkata, “Ancaman yang keras dan cercaan yang demikian menikam tidaklah mungkin diberikan kecuali kepada dosa-dosa yang besar. Bila ada seseorang menukar 1 real perak dengan 4 real perak dengan serah terima yang ditunda sampai waktu tertentu, apakah bisa diterima oleh akal bahwa perbuatan seperti ini dikenakan ancaman yang disebutkan dalam ayat-ayat yang melarang riba berupa diperangi oleh Allah l dan Rasul-Nya? Yang bisa diterima oleh akal hanyalah bila bentuknya seperti bentuk yang awal yaitu ‘engkau bayar (ketika sudah jatuh tempo) atau hutangmu bertambah’.
Jawabannya: Menggunakan akal dan pendapat dalam perkara yang telah disebutkan nash-nya secara syar’i adalah sesuatu yang sia-sia. Sungguh keumuman dalil dari Al-Qur`an dan As-Sunnah telah mencakup hal yang ditolak tersebut.
5.    Muhammad Rasyid Ridha pun berdalil bahwa riba jahiliah adalah riba yang menyebabkan kerusakan, kemudaratan, meruntuhkan rumah-rumah, dan memutuskan silaturahim.
Dijawab: Mensyaratkan tambahan pembayaran/pengembalian di awal akad justru lebih besar dan lebih tampak kezalimannya daripada tambahan yang ditetapkan setelah jatuh tempo. Karena dalam riba jahiliah, seseorang memberi satu pinjaman kepada orang lain untuk dikembalikan dalam tempo sebulan misalnya. Ketika telah jatuh tempo, orang yang meminjamkan berkata kepada pihak yang dipinjami, “Engkau bayar sekarang atau hutangmu bertambah (didenda).” Sehingga persyaratan tambahan di awal akad tentunya lebih tampak dan lebih jelas kezalimannya.
Kemudian, apa yang dianggap masuk akal oleh Muhammad Rasyid Ridha justru bertentangan dengan nash dan tidak sepantasnya ditanyakan “Mengapa?” dan “Bagaimana?” kepada nash. Karena Allah l berfirman:
إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا
“Hanyalah ucapan kaum mukminin bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Allah dan Rasul-Nya menghukumi (memutuskan perkara) di antara mereka, mereka akan mengatakan, ‘Kami dengar dan kami taat’.” (An-Nur: 51)
6.    Muhammad Rasyid Ridha berargumen dengan ucapan-ucapan ulama untuk membatasi riba yang dilarang hanyalah ‘engkau bayar atau hutangmu bertambah’. Di antara ulama yang disebutkannya adalah Malik, Ath-Thabari, Al-Qurthubi, Ath-Thahawi, Asy-Syathibi, Ibnu Rusyd, Al-Mawardi, An-Nawawi, dan Ibnu Hajar Al-Haitsami.
Jawabannya: Dalam hal ini ada perbedaan antara membatasi bentuk dengan membatasi hukum. Tatkala ulama yang disebutkan di atas menyebutkan hal itu, yang mereka maukan adalah menerangkan tentang riba yang masyhur dan dikenal/dimaklumi yaitu riba ‘engkau bayar atau hutangmu bertambah’. Bukanlah maksud mereka untuk membatasi hukum riba hanya pada bentuk seperti ini. Beda halnya dengan apa yang dipegangi oleh Muhammad Rasyid Ridha. Dan ketahuilah, pada sebagian ucapan ulama yang disebutkan justru didapatkan bantahan terhadap pendapat Muhammad Rasyid Ridha, di mana mereka menyatakan bahwa ini adalah bentuk riba jahiliah dan Nabi n telah menerangkan bentuk-bentuk riba lain yang diharamkan seperti riba fadhl dan riba nasi`ah.

Kedua: Membatasi riba hanya dalam jual beli saja. Adapun dalam pinjam meminjam, riba (qardh) tidaklah berlaku. Mereka berdalil sebagaimana berikut:
1.    Ayat-ayat riba menyebutkan secara global dan ditafsirkan oleh hadits-hadits Rasulullah n. Namun dalam hadits tersebut hanya disebutkan jual beli dan tidak ada penyebutan qardh.
Jawabannya: Telah disebutkan adanya ijma’ (kesepakatan ulama) tentang berlakunya riba dalam qardh.
2.    Mereka berdalil dengan penukilan dari fuqaha dan ulama Hanafiah yang membatasi riba hanya dalam jual beli.
Jawabannya: Telah disebutkan penukilan yang lain dari ulama dan fuqaha tersebut tentang penetapan adanya riba dalam qardh sebagaimana dalam jual beli.
3.    Mereka berdalil bahwa sebagian fuqaha Hanafiah menjadikan qardh sebagai analogi dari berderma, sehingga tidak terjadi riba di dalamnya. Karena yang namanya riba hanya berlangsung pada sesuatu yang di dalamnya ada penggantian.
Jawabannya: Para fuqaha tersebut walaupun mereka menjadikan qardh sebagai perbuatan derma pada awalnya, namun pada akhirnya mereka menjadikannya perlu penggantian, yang berarti riba bisa terjadi di dalamnya. Mereka menyatakan hal ini secara jelas.
Adapun ucapan mereka bahwa qardh adalah berderma, bila memang tujuannya untuk memberikan manfaat dan berbuat baik. Sedangkan qardh yang disyaratkan adanya ziyadah di dalamnya maka maksud atau tujuannya adalah meminta penggantian. Adanya syarat ‘minta tambah’ ini menjadikan muamalah tersebut sama dengan jual beli, bukan lagi semata-mata qardh. Karena qardh hanyalah ditegakkan untuk tujuan berbuat ihsan dan memberi manfaat bagi yang dipinjami. Beda halnya dengan qardh yang ada syarat ‘minta tambah’. Qardh yang seperti ini bukan bertujuan berbuat ihsan dan memberi manfaat tapi tujuannya meminta ganti, mendapat untung dan ziyadah.
4.    Mereka berdalil dengan hadits-hadits yang menunjukkan bolehnya pengembalian dengan tambahan dalam masalah qardh, seperti hadits:
خَيْرُكُمْ أَحْسَنُكُمْ قَضَاءً
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik pembayarannya.”
Jawabannya: Hadits seperti ini dibawa pemahamannya kepada qardh yang tidak ada persyaratan minta tambah dalam pengembalian. Sebagaimana orang yang meminjamkan telah berbuat ihsan kepada orang yang dipinjami, maka disyariatkan pula bagi orang yang dipinjami untuk berbuat ihsan kepada orang yang meminjamkan. Allah l berfirman:
هَلْ جَزَاءُ اْلإِحْسَانِ إِلاَّ اْلإِحْسَانُ
“Tidaklah balasan kebaikan (perbuatan ihsan) melainkan kebaikan pula (perbuatan ihsan pula).” (Ar-Rahman: 60)
Maka hal ini masuk dalam permasalahan membalas kebaikan dengan kebaikan pula.

Demikian beberapa syubhat yang ada dalam pinjam meminjam (qardh) yang mengandung unsur riba. Sebagai akhir, bagus sekali untuk kita nukilkan di sini nasihat dari Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan Alu Fauzan hafizhahullah. Beliau berkata, “Wajib bagi seorang muslim untuk memerhatikan dan berhati-hati dari qardh (pinjam meminjam) yang mensyaratkan adanya tambahan. Hendaklah ia mengikhlaskan niatnya dalam qardh tersebut dan juga dalam melakukan amal shalih yang lain. Karena tujuan dari qardh ini bukanlah untuk menambah harta secara hakiki, namun hanyalah untuk menambah harta secara maknawi yaitu taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah l dengan memenuhi hajat orang-orang yang membutuhkan dan hanya menginginkan pengembalian yang sesuai dengan besarnya pinjaman (tanpa ada syarat minta tambah atau syarat mendapatkan kemanfaatan lainnya, pent.). Bila yang seperti ini menjadi tujuan dalam qardh niscaya Allah l akan menurunkan barakah (keberkahan), penambahan/pertumbuhan dan kebaikan pada harta.” (Al-Mulakhkhash Al-Fiqhiyyah, 2/53)
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Catatan Kaki:

1  Al-Imam Ash-Shan’ani berkata: “Hadits ini tidak ditemukan dalam Shahih Al-Bukhari pada bab Al-Istiqradh. Al-Hafizh juga tidak menisbahkannya kepada Al-Bukhari dalam kitabnya At-Talkhish…. Seandainya hadits ini ada dalam Shahih Al-Bukhari, tentu beliau tidak akan menghilangkan penisbahannya kepada Al-Bukhari.” (Subulus Salam, 3/82)

2  Nama lengkapnya Sawar ibnu Mush’ab Al-Hamdani Al-Kufi Abu Abdillah Al-A’ma Al Mu`adzdzin. Al-Bukhari mengatakan bahwa dia munkarul hadits. An-Nasa`i dan yang selainnya mengatakan bahwa dia matruk. Sedangkan Abu Dawud mengatakan bahwa dia adalah rawi yang tidak bisa dipercaya. (Mizanul I’tidal, 3/343)

3  Sama saja baik minta tambah (ziyadah) di sini dinamakan keuntungan, faedah, hadiah, atau berupa izin menempati sebuah rumah bagi yang meminjamkan atau izin mengendarai mobil sekalipun selama ziyadah, hadiah,  ataupun manfaat ini diberikan sebagai persyaratan. Demikian dinyatakan oleh Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan Alu Fauzan hafizhahullah dalam kitab beliau Al-Mulakhkhash Al-Fiqhiyyah (2/52).

4 Al-Hafizh Abul Hasan Ibnul Qaththan t: “Para ulama bersepakat bahwa persyaratan pengembalian hutang dengan tambahan atau yang lebih baik daripada pinjaman tersebut adalah perkara yang haram, tidak dihalalkan.” (Al-Iqna’ fi Masa`il Al-Ijma’, 2/196)
Demikian pula Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni, dan Ibnul Mundzir dalam Al-Ijma’.

Perang Terhadap Pelaku Riba

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal Al-Bugisi)

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kalian orang-orang yang beriman. Jika kalian tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangi kalian. Dan jika kalian bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagi kalian pokok harta kalian; kalian tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.” (Al-Baqarah: 278-279)

Penjelasan mufradat ayat:
ذَرُوا
Maknanya: “Tinggalkanlah.” Yaitu tinggalkan mencari sesuatu dari yang kalian miliki sebagai modal kalian, sebelum menghasilkan riba.
فَأْذَنُوا
Pada lafadz ayat ini terdapat dua bacaan. Yang pertama dengan huruf dzal yang di-fathah dan ini merupakan bacaan kebanyakan ahli qira`ah. Sebagian ada yang membaca فَآذِنُوا dengan huruf alif yang dipanjangkan dan dzal yang di-kasrah. Ini merupakan bacaan Hamzah dan ‘Ashim dalam Ibnu ‘Ayyasy (lihat Tafsir Al-Alusi). Berdasarkan bacaan yang pertama, maknanya adalah yakini dan ketahuilah. Sedangkan berdasarkan bacaan yang kedua bermakna sampaikan dan kabarkanlah kepada mereka bahwa kalian memerangi mereka (para pemakan riba). Ibnu Jarir At-Thabari menguatkan makna yang pertama.
بِحَرْبٍ
Maknanya adalah peperangan yang mengantarkan kepada pembunuhan. Adapula yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah musuh. (Lihat Tafsir Al-Qurthubi)
رُؤُوْسُ أَمْوَالِكُمْ
“Pokok harta kalian.” Yang dimaksud adalah harta yang dimiliki oleh seseorang yang masih ada di tangan orang lain sebagai pinjaman, maka boleh bagi pemilik harta untuk mengambil modal (harta)nya itu. Adapun keuntungan yang dihasilkan dari riba, maka tidak boleh bagi dia untuk mengambilnya sedikitpun.

Penjelasan Makna Ayat
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di t berkata: “Tatkala Allah menyebutkan tentang orang-orang yang memakan riba dan merupakan perkara yang dimaklumi bahwa kalau seandainya mereka orang-orang mukmin dengan keimanan yang memberi manfaat, tentu tidak akan muncul (perbuatan) dari mereka apa yang telah nampak pada mereka itu. Lalu Allah l menyebut keadaan kaum mukminin dan pahala mereka. Allah l menyebut mereka dengan keimanan dan melarang mereka dari memakan hasil riba jika mereka benar-benar sebagai mukmin. Mereka inilah orang-orang yang menerima nasihat dari Rabb mereka dan tunduk terhadap perintah-Nya. Allah l memerintahkan mereka agar bertakwa, dan di antara bentuk ketakwaan tersebut adalah agar mereka meninggalkan apa yang tersisa dari harta riba, yaitu muamalah (transaksi) yang sedang berlangsung pada saat itu. Adapun yang telah lalu, maka barangsiapa yang menerima nasihat, Allah l akan memaafkan apa yang telah lalu. Sedangkan orang yang tidak peduli akan nasehat dari Allah l dan tidak menerimanya, sesungguhnya dia telah menyelisihi Rabb-nya dan memerangi-Nya dalam keadaan dia lemah, tidak memiliki kekuatan untuk memerangi Yang Maha Perkasa dan Maha Bijaksana, yang memberi kesempatan kepada orang yang zalim (untuk bertaubat, pen.) namun Dia tidaklah membiarkannya. Sehingga jika Allah l hendak menyiksa, maka Dia menyiksanya dengan siksaan yang kuat dan tidak lemah sedikitpun. Jika kalian bertaubat dari bermuamalah dengan cara riba, maka kalian boleh mengambil modal dasar dari harta kalian dan kalian tidak menzalimi orang yang bermuamalah dengan kalian dengan cara mengambil tambahan yang merupakan hasil riba. Kalian juga tidak dizalimi dengan mengurangi modal dasar kalian.” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman)
Berkenaan tentang ayat ini, Rasulullah n menjelaskan tatkala beliau berdiri di hadapan para shahabatnya pada haji wada’, di mana beliau bersabda:
أَلاَ إِنَّ كُلَّ رِبًا مِنْ رِبَا الْجَاهِلِيَّةِ مَوْضُوْعٌ، لَكُمْ رُؤُوْسُ أَمْوَالِكُمْ لاَ تَظْلِمُونَ وَلاَ تُظْلَمُونَ
“Ketahuilah, sesungguhnya setiap riba dari riba jahiliyyah adalah batil, bagi kalian modal dasar dari harta yang kalian miliki. Kalian tidak menzalimi dan tidak pula dizalimi.” (HR. At-Tirmidzi, Abu Dawud, dan Ibnu Majah dari sahabat ‘Amr bin Al-Ahwash. Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Abu Dawud, no. 3087)

Hukuman bagi Pelaku Riba
Pada bahasan tafsir di edisi yang lalu, telah disebutkan dalil tentang haramnya riba. Riba termasuk di antara dosa yang sangat besar yang mendatangkan kebinasaan bagi pelakunya. Ini merupakan perkara yang telah disepakati umat ini. Al-Imam Asy-Syaukani t mengatakan ketika mengomentari ayat ini: “Ayat ini menunjukkan bahwa memakan hasil riba dan bekerja dengan menghasilkan riba termasuk di antara dosa besar. Tidak ada perselisihan dalam hal ini.” (lihat Tafsir Fathul Qadir, karya Al-Imam Asy-Syaukani)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah t berkata: “Adapun riba, maka pengharamannya di dalam Al-Qur’an lebih keras.” Lalu beliau menyebut ayat ini dan berkata: “Nabi n menyebut riba di antara dosa-dosa besar, sebagaimana yang diriwayatkan dalam Shahihain (Al-Bukhari dan Muslim) dari hadits Abu Hurairah z.” (Majmu’ Al-Fatawa, jilid 29 hal. 23)
Berkenaan dengan hukuman pelaku riba di dunia, maka ayat ini telah menjelaskan bahwa Allah Jalla jalaluhu telah menyatakan perang, yang mengantarkan kepada pembunuhan. Oleh karenanya para ulama menjelaskan bahwa barangsiapa telah mendapatkan penjelasan tentang haramnya hasil riba, namun tidak mengindahkannya, maka hukumnya adalah dibunuh. Telah diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas z bahwa beliau berkata: “Barangsiapa yang tetap berada di atas amalan ribanya dan tidak melepaskan diri darinya, maka wajib atas pemimpin kaum muslimin untuk meminta dia bertaubat. Jika ia melepaskan dirinya (maka ia selamat dari hukuman) dan jika tidak, maka pemimpin kaum muslimin memenggal lehernya.”
Al-Hasan Al-Bashri dan Muhammad bin Sirin juga berkata: “Demi Allah, sesungguhnya para pemberi pinjaman uang (yang menerapkan riba, ed.) adalah para pemakan riba dan sesungguhnya mereka telah mengetahui adanya pernyataan perang dari Allah l dan Rasul-Nya. Jika kaum muslimin memiliki pemimpin yang adil yang meminta mereka bertaubat di mana jika mereka bertaubat (maka mereka selamat) dan jika tidak, maka mereka ditebas dengan pedang.”
Demikian pula yang dinukilkan dari Qatadah dan Rabi’ bin Anas t. (lihat Tafsir Ibnu Katsir)
Ibnu Khuwairiz Mandad –ulama dari kalangan Malikiyyah– berkata: “Kalau sekiranya sebuah penduduk negeri sepakat untuk menghalalkan riba, maka mereka telah menjadi murtad. Hukum terhadap mereka sama seperti hukum terhadap orang-orang yang murtad. Jika mereka tidak menghalalkannya, boleh bagi penguasa memerangi mereka. Tidakkah engkau melihat Allah telah memberikan izin untuk itu dalam firman-Nya: “Maka yakinlah akan peperangan (terhadap mereka) dari Allah dan Rasul-Nya.” (lihat Tafsir Al-Qurthubi)

Riba Termasuk Perbuatan Zalim
Di dalam ayat yang mulia ini juga menjelaskan bahwa bermuamalah dengan cara riba termasuk salah satu bentuk kezaliman terhadap yang lainnya. Dari sisi inilah riba itu diharamkan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menguraikan permasalahan ini, di mana beliau berkata:
“Sesungguhnya perkara-perkara yang diharamkan dalam syariat, kembali kepada perkara kezaliman. Baik terhadap hak Allah l dan ada kalanya terhadap hak seorang hamba atau hak hamba-hamba-Nya. Setiap kali seorang berbuat zalim terhadap hak para hamba, maka hamba (yang berbuat zalim itu) itu telah menzalimi dirinya sendiri dan tidak sebaliknya. Maka setiap dosa yang dikerjakan termasuk dalam bentuk kezaliman hamba tersebut terhadap diri sendiri. Orang yang pertama mengakui hal ini adalah bapak seluruh manusia (Adam u), tatkala ia menerima beberapa kalimat dari Rabb-nya, maka ia berkata:
قَالاَ رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Keduanya berkata: ‘Ya Rabb kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi’.” (Al-A’raf: 23)
Dalam kalimat ini terdapat pengakuan terhadap dosa yang telah dilakukannya dan meminta kepada Rabb-nya dengan menampakkan sikap sangat butuh serta berharap maghfirah dan rahmat-Nya. Maghfirah (permohonan ampun) adalah bentuk menghilangkan kesalahan, sedangkan rahmat adalah menurunkan kebaikan. Ini berkenaan tentang menzalimi diri sendiri, bukan menzalimi orang lain. Musa u juga mengatakan tatkala menyebutkan seseorang yang tergolong dari musuhnya:
فَقَضَى عَلَيْهِ قَالَ هَذَا مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ عَدُوٌّ مُّضِلٌّ مُّبِين ٌقَالَ رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي فَاغْفِرْ لِي فَغَفَرَ لَهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
“Dan matilah musuhnya itu. Musa berkata: ‘Ini adalah perbuatan setan, sesungguhnya setan adalah musuh yang menyesatkan lagi nyata (permusuhannya).’ Musa berdoa: ‘Ya Rabbku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri karena itu ampunilah aku.’ Maka Allah mengampuninya, sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Qashash: 15-16)
Ia mengakui akan perbuatannya yang menzalimi dirinya sendiri dari kejahatan yang ia lakukan terhadap orang lain, yang ia tidak diperintah untuk melakukannya.Yunus u juga mengatakan:
لاَ إلَهَ إلاَّ أَنْتَ سُبْحَانَكَ إنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ
“Tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.” (Al-Anbiya`: 87)
Dalam hadits yang shahih disebutkan bahwa doa yang pernah Nabi n ajarkan kepada Abu Bakr z agar berdoa dalam shalatnya:
اللَّهُمَّ إنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي ظُلْمًا كَثِيرًا وَلاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إلاَّ أَنْتَ فَاغْفِرْ لِي مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِك وَارْحَمْنِي إنَّك أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
“Ya Allah, sesungguhnya aku telah menzalimi diriku dengan kezaliman yang banyak dan tidak ada yang mengampuni segala dosa kecuali Engkau, maka ampunilah aku dengan ampunan dari sisi-Mu dan rahmatilah aku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Muttafaq ‘alaihi)
Doa ini sesuai dengan doa Nabi Adam u dalam hal mengakui kezaliman terhadap diri sendiri dan meminta ampunan dan rahmat-Nya. Demikian pula Nabi n apabila telah berada di atas kendaraannya, beliau mengucapkan hamdalah, tasbih dan takbir, lalu berkata:
لاَ إلَهَ إلاَّ أَنْتَ سُبْحَانَك ظَلَمْت نَفْسِي فَاغْفِرْ لِي
“Tiada Ilah yang berhak disembah kecuali Dia, Maha Suci Engkau. Aku telah menzalimi diriku sendiri, maka ampunilah aku.”
Lalu beliau tertawa.1 Hadits ini mahfuzh dari hadits Ali bin Abi Thalib z.
Jika demikian halnya, maka kezaliman itu ada dua macam: Melalaikan al-haq dan melampaui batas, sebagaimana yang telah saya terangkan bukan di satu tempat. Maka meninggalkan kewajiban merupakan kezaliman, sebagaimana halnya melakukan perkara haram juga kezaliman. (Majmu’ Al-Fatawa, 29/277-278)

Bertaubat dari Muamalah Riba
Al-Imam Al-Qurthubi t berkata: “Para ulama kita berkata: Sesungguhnya cara bertaubat dari orang yang di tangannya terdapat harta yang haram, jika dari hasil riba, maka hendaklah dia kembalikan kepada yang telah dia ambil ribanya. Ia harus mencari orang tersebut jika dia tidak mengetahui keberadaannya. Jika ia telah putus asa (setelah berusaha keras) untuk menemukannya, maka hendaklah ia sedekahkan harta tersebut atas nama orang itu. Jika ia mengambilnya dengan cara zalim, maka hendaklah ia melakukan hal yang sama terhadap orang yang pernah dizaliminya. Jika tersamarkan olehnya, sehingga dia tidak mengetahui berapa jumlah harta yang haram dibanding yang halal yang ada di tangannya, maka hendaklah ia berusaha mengetahui kadar apa yang ada di tangannya dari harta yang harus dikembalikannya, sampai dia tidak ragu lagi bahwa apa yang tersisa di tangannya telah bersih. Lalu dia kembalikan harta yang telah dia pisahkan dari miliknya tersebut kepada orang yang pernah dia zalimi (hartanya) atau yang dia ambil riba darinya. Jika telah putus asa dalam mencari orang tersebut, maka dia bersedekah dengan harta tersebut atas nama orang itu.
Jika telah menumpuk kezaliman yang ada dalam tanggungannya dan dia mengetahui bahwa dia wajib mengembalikan sesuatu yang dia tidak mampu membayar selamanya karena demikian banyak jumlahnya, maka cara bertaubatnya adalah dia melepaskan semua apa yang ada di tangannya, baik kepada orang-orang miskin atau kepada sesuatu yang mendatangkan kemaslahatan bagi kaum muslimin. Sampai tidak ada lagi yang tertinggal di tangannya kecuali yang paling minimal berupa pakaian yang dapat menutupinya dalam shalat. Yaitu yang menutup auratnya, antara pusar sampai lututnya. Juga yang mencukupi kebutuhan makanannya dalam sehari, karena itulah yang boleh baginya untuk dia mengambil dari harta orang lain dalam kondisi darurat, walaupun orang yang diambil barangnya tersebut merasa benci.” (lihat Tafsir Al-Qurthubi dalam menjelaskan ayat ini dalam permasalahan yang ke-36)

Masalah: Hukum pelaku riba yang meninggalkan harta riba untuk ahli warisnya
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah t ditanya tentang seseorang yang bermuamalah dengan cara riba, lalu meninggalkan harta dan seorang anak, dalam keadaan anak tersebut mengetahui keadaan ayahnya. Apakah harta tersebut halal bagi anaknya sebagai warisan atau tidak?
Maka beliau menjawab:
“Adapun kadar jumlah yang diketahui oleh si anak bahwa itu hasil riba maka hendaklah ia keluarkan (dari harta warisan), dengan mengembalikan kepada para pemilik harta tersebut jika memungkinkan. Jika tidak maka ia sedekahkan. Sedangkan yang tersisa, tidak diharamkan atasnya. Namun pada kadar yang masih tersamarkan (apakah termasuk bagian dari riba atau tidak, pen.), disukai baginya untuk meninggalkannya. Jika tidak, wajib untuk diarahkan guna melunasi hutang atau menafkahi keluarga. Dan jika sang ayah memperolehnya dengan cara muamalah riba yang dibolehkan oleh sebagian para ahli fiqih, maka boleh bagi ahli waris tersebut untuk memanfaatkannya. Jika bercampur antara harta yang halal dan yang haram sementara tidak diketahui kadar masing-masing darinya, maka dia membaginya menjadi dua bagian.” (Majmu’ Al-Fatawa, 29/307)
Demikian pula Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz t, pernah ditanya tentang seseorang yang meninggal yang di masa hidupnya dia bermuamalah dengan cara riba. Apakah ada cara yang syar’i bagi kerabatnya yang hidup dan ingin menebus dosanya yang meninggal?
Beliau menjawab: “Disyariatkan bagi ahli warisnya agar menentukan secara teliti kadar yang masuk ke dalam hartanya dari hasil riba lalu dia sedekahkan atas nama yang meninggal dan mendoakannya dengan maghfirah dan ampunan.” (lihat Al-Fatawa Al-Islamiyyah, 2/hal. 387, yang disusun oleh Muhammad bin Abdul Aziz Al-Musnad)

Catatan Kaki:

1 Yang dimaksud tertawa disini adalah tersenyum, sebagaimana yang disebutkan oleh Aisyah x dalam riwayat Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitabul Adab, Bab At-tabassum wadh dhahik.

Sistem Murabahah

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad Afifuddin)

Di antara sistem akad jual beli yang cukup banyak ditemukan pada bank-bank adalah apa yang mereka sebut dengan istilah murabahah. Sistem transaksi ini sering dijumpai di bank-bank yang mengatasnamakan dirinya “Bank Islam.” Banyak kaum muslimin yang terlena dengan embel-embel Syariah atau nama-nama berbahasa Arab pada produk-produknya. Sehingga jarang di antara mereka yang memerhatikan atau mempertanyakan dengan seksama sistem transaksi yang terjadi.
Maka menerangkan masalah seperti ini dipandang lebih wajib daripada sistem-sistem riba yang berlaku di bank-bank konvensional, sebab amat sedikit kaum muslimin yang mengetahuinya.
Istilah tersebut di atas sesungguhnya telah ada dan diulas oleh para ahli fiqih sejak dahulu. Namun kini istilah tersebut dipakai untuk sebuah hakekat permasalahan yang tidak sama dengan apa yang dahulu mereka ulas. Di kalangan ahli fiqih dikenal sebuah transaksi dengan istilah “jual beli amanah.” Disebut demikian karena seorang penjual wajib jujur dalam menyebutkan harga sebuah barang kepada seorang pembeli.
Transaksi ini ada 3 jenis:
1.    Murabahah
Gambarannya adalah ‘Amr –misalkan– membeli HP seharga Rp. 500 ribu lalu dia jual dengan keuntungan Rp. 100 ribu –misalkan–.
2.    Wadhi’ah.
Gambarannya adalah seseorang membeli sepeda seharga Rp. 1.000.000,- kemudian karena terdesak kebutuhan, maka dijualnya dengan harga Rp. 900.000,-
3.    Tauliyah
Gambarannya adalah seseorang membeli barang seharga Rp. 10.000,- lalu dijual dengan harga yang sama.
Transaksi-transaksi di atas diperboleh-kan dengan kesepakatan para ulama, kecuali poin satu (murabahah) di mana sebagian kecil ulama memakruhkannya. Namun yang rajih adalah boleh dan ini adalah pendapat mayoritas ulama.
Adapun sistem murabahah yang terjadi di bank-bank “Islami”, gambarannya sebagai berikut:
1.    Calon pembeli datang ke bank, dia berkata kepada pihak bank: “Saya bermaksud membeli mobil X yang dijual di dealer A dengan harga Rp. 90 juta. Pihak bank lalu menulis akad jual beli mobil tersebut dengan pemohon, dengan mengatakan: “Kami jual mobil tersebut kepada anda dengan harga Rp. 100 juta, dengan tempo 3 tahun.” Selanjutnya bank menyerahkan uang Rp. 90 juta kepada pemohon dan berkata: “Silahkan datang ke dealer A dan beli mobil tersebut.”
Transaksi di atas dilakukan di kantor bank.
2.    Sama dengan gambaran pertama, hanya saja pihak bank menelpon showroom dan berkata “Kami membeli mobil X dari anda.” Selanjutnya pembayarannya dilakukan via transfer, lalu pihak bank berkata kepada pemohon: “Silahkan anda datang ke showroom tersebut dan ambil mobilnya.”
Hukum transaksi ini adalah haram sebab pihak bank menjual sesuatu yang belum dia terima.
3.    Sama dengan gambaran sebelum-nya, hanya saja pihak bank datang langsung ke showroom membeli mobil tersebut dan berkata kepada pihak showroom: “Berikan mobil ini kepada si fulan (pemohon).”
Sementara, akad jual beli dengan tambahan keuntungan antara pihak bank dan pemohon sudah purna sebelum pihak bank berangkat ke showroom.
Hukum transaksi inipun haram, sebab pihak bank menjual sesuatu yang tidak dia miliki.
Hakekat akad ini adalah pihak bank menjual nominal harga barang (90 juta) dibayar dengan nominal harga jual (100 juta) dengan formalitas sebuah mobil, dan ini adalah riba fadhl.
4.    Sama dengan yang sebelumnya, hanya saja pihak bank datang ke showroom membeli mobil tersebut dan berkata: “Biarkan mobil ini di sini sebagai titipan.” Lalu pihak bank mendatangi pemohon dan mengatakan: “Pergi dan ambil mobil tersebut di showroom.”
Hukum akad ini juga haram, sebab Rasulullah n melarang jual beli barang hingga barang tersebut dipindahkan oleh sang pedagang ke tempat mereka sendiri. Maka transaksi di atas termasuk menjual sesuatu yang belum diterima.
5.    Seorang pemohon datang ke bank dan dia butuh sebuah barang, maka pihak bank mengatakan: “Kami akan mengusahakan barang tersebut.” Bisa jadi sudah ada kesepakatan tentang keuntungan bagi pihak bank, mungkin pula belum terjadi. Lalu pihak bank datang ke toko dan membeli barang selanjutnya dibawa ke halaman bank, kemudian terjadilah transaksi antara pemohon dan pihak bank.
Pada akad di atas, pihak bank telah memiliki barang tersebut dan tidak dijual kecuali setelah dipindahkan dan dia terima barang tersebut. Hukum transaksi ini dirinci:
–    bila akadnya dalam bentuk keha-rusan (tidak bisa dibatalkan) maka haram, karena termasuk menjual sesuatu yang tidak dia miliki.
–    bila akadnya tidak dalam bentuk keharusan dan bisa dibatalkan oleh pihak penjual atau pembeli, maka masalah ini ada khilaf di kalangan ulama masa kini:
a.    Mayoritas ulama sekarang membo-lehkan transaksi tersebut, sebab tidak me-ngandung pelanggaran-pelanggaran syar’i. Ini adalah fatwa Asy-Syaikh Ibnu Ibn Baz, Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan dan Al-Lajnah Ad-Da`imah.
b.    Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin mela-rang transaksi ini dengan alasan bahwa akad tersebut adalah tipu daya menuju riba, dan beliau memasukkan akad ini ke dalam sistem ‘inah bahkan lebih parah lagi.
Hakekatnya adalah pinjam meminjam uang dengan bunga, di tengah-tengahnya ada sebuah barang sebagai formalitas. Kenyataan yang ada, pihak bank sendiri tidak akan mau dengan cara ini. Dia pasti membuat perjanjian-perjanjian, saksi-saksi, dan jaminan-jaminan atas barang tersebut.
Gambaran kelima di atas hampir tidak dijumpai di bank-bank yang ada, kecuali dengan bentuk keharusan (tidak bisa dibatalkan).
Maka transaksi di atas juga tidak diperbolehkan dan kita harus berhati-hati dari sistem-sistem yang diberlakukan oleh bank manapun. Wallahu a’lam bish-shawab. (Syarhul Buyu’, hal. 90 -92)

Multi Level Marketing (MLM)

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad Afifuddin)

Masyarakat mungkin tak asing lagi dengan nama-nama seperti CNI, Tianshi, Sophie Martin, Amway, Forever Young, DXN, Oriflame, Ahad.Net, K-Link, dan lain sebagainya. Apa yang disebut tadi adalah nama-nama perusahaan MLM besar yang ada di negeri ini. Bagaimana sebenarnya hukum MLM menurut Islam? Simak kupasannya!

Di antara sistem bisnis yang cukup marak belakangan ini adalah MLM. Sudah banyak perusahaan yang bergerak di bidang ini. Maka layaknya persaingan bisnis, mereka juga menawarkan hal-hal yang menggiurkan kepada pebisnis atau calon anggota (member), serta cukup aktif dalam mengajak masyarakat untuk bergabung dengan mereka.
Dengan slogan menjadi jutawan dalam sekejap, akhirnya banyak kaum muslimin yang terpikat atau kepincut oleh pinangan mereka. Yang terasa amat ironis, ketertarikan itu tidak dibarengi dengan pemahaman syar’i yang memadai. Bahkan mereka cenderung tidak ambil peduli sistem tersebut. Yang dipikirkan adalah bagaimana penghasilan mereka bisa berlipat dengan cepat.
Mulanya, sistem MLM ini berasal dari pihak musuh Islam Yahudi-Zionis, orang-orang kafir yang tidak terikat dengan syariat agama Allah, menghalalkan segala cara untuk menimbun kekayaan, serta jenis orang kafir yang sangat terkenal dengan muamalah riba.
Pada kesempatan kali ini kita akan “berkenalan” dengan PT. Ahad.Net yang cukup lama malang melintang di bidang MLM serta sangat kental dengan nuansa “Islami” pada istilah-istilah yang mereka gunakan, untuk melihat sejauh mana penyimpangannya dari syariat Islam. Sengaja MLM ini yang kita jadikan contoh, mengingat banyaknya pihak yang terpesona dengan keislamiannya.
Bila merujuk kepada buku panduan sistem insentif ukhuwah yang dikeluarkan oleh PT. Ahad.Net Internasional, pada awal pembahasannya (hal. 5) sangat jelas, bahwa perusahaan ini membangun sistem insentifnya dengan sistem jaringan atau yang dikenal dengan sistem piramida.
Semua bab yang tertuang dalam panduan ini dari mulai rabat penghasilan, hadiah, manfaat, asuransi, dan lain-lain dibangun di atas sistem sistem piramida tersebut. Lebih gamblang lagi dipaparkan dalam buku panduan ini peringkat-peringkat mitra niaga Ahad.Net dari yang terendah Prawira Pratama sampai yang tertinggi (Adhiwira Kencana) (hal. 9). Menilik pengakuan pihak Ahad.Net, kenaikan peringkat ini bersifat kualitatif terukur dalam beberapa indikator yang tertuang dalam sistem aktif (amanah, kaffah, taqwa, istiqamah, dan fathanah) (hal. 13)
Namun jika kita buka lembaran-lembaran berikutnya dari buku panduan ini, akan nampak bahwa persyaratan kenaikan peringkat tersebut ditentukan oleh keaktifan mitra niaga dalam menjual produk Ahad.Net dan keahlian dia dalam mengembangkan jaringan-jaringan piramida (mendapatkan jaringan mitra muda) (hal. 42-45)
Walhasil, diakui atau tidak, sadar atau pura-pura tidak tahu, sistem pengembangan jaringan jaringan (piramida) adalah syarat mutlak berdirinya sebuah MLM. Tanpa jaringan tersebut, sebuah perusahaan MLM tidak bisa berjalan. Wallahul musta’an.
Lalu ada apa dengan Sistem Piramida?
Syaikhuna Abu Abdirrahman Abdul-lah bin Mar’i Al-‘Adani hafizhahullah, ketika datang ke Indonesia pada Daurah Asatidzah ke-11 th. 2006 di Yogyakarta pernah ditanya tentang masalah ini.
Jawaban beliau (secara makna):
“Sistem ini adalah produk Yahudi untuk memakan harta manusia dengan cara batil. Sistem ini haram karena padanya terdapat kezaliman, memudaratkan pihak lain, memakan harta orang dengan cara yang batil dan segudang mafsadah lainnya.”
Lalu beliau menyebutkan bahwa Lajnah Daimah KSA menyatakan keha-raman sistem ini1, wallahul muwaffiq.
Pada MLM ini juga terdapat asuransi dari PT. Asuransi Takaful Keluarga (PT. ATK), pada hal-hal berikut:
1.    Asuransi Jiwa Kecelakaan Diri Standar (AJDKS)
Asuransi ini diberikan kepada seluruh mitra niaga yang mengalami musibah meninggal dunia karena kecelakaan (hal. 21).
Ketentuannya di antaranya:
a.    Masa berlaku asuransi ini semenjak permohonan asuransinya disetujui PT. ATK, minimal tiga minggu setelah data formulir pendaftaran diterima perusahaan, dengan ditandai penerimaan Kartu Kemitraan Permanen (KKM). (hal. 21)
b.    Nilai pertanggungan max. 3 juta rupiah.

Dari rincian di atas nampak bahwa asuransi di atas sangat berorientasi bisnis dari dua sisi:
1). Masa berlaku asuransi
Jangka waktu antara seseorang jadi mitra niaga dan persetujuan PT. ATK cukup lama. Pada waktu-waktu itu mitra niaga telah mengeluarkan nominal untuk Angka Insentif Pribadi (AIP) dan Angka Insentif Kelompok (AIK) bila dia telah memiliki jaringan, jumlahnya bervariasi tergantung keaktifan masing-masing mitra. Dan angka tersebut terus berlangsung hingga sang mitra mencapai peringkat tertinggi atau tetap pada peringkat pemula.
Bila mitra tidak mengalami kecelakaan apapun semasa masa pertanggungan, maka angka tersebut (sebagaian atau seluruhnya) menjadi milik PT. ATK.
Bila sang mitra meningal karena kecelakaan sebelum KKM diterima, maka tidak ada biaya pertanggungan dari PT. ATK sebab masa asuransi belum berlaku.
Bila sang mitra meninggal karena kecelakaan beberapa waktu setelah menerima KKM, maka PT. ATK yang harus mengeluarkan biaya pertanggungan yang mungkin nominalnya lebih besar dari AIP/AIK mitra (baca: setoran mitra).

2.    Asuransi Jiwa Al-Khajrot Plus (AJAP)
Asuransi ini lebih kental lagi aroma bisnisnya dilihat dari ketentuan yang mereka buat, di antaranya:
a.    Peningkatan nilai manfaat AJAP yang diberikan sejalan dengan nilai manfaat mitra niaga.
b.    Asuransi ini diberikan khusus untuk mitra niaga berperingkat prawira pratama sampai dengan adhiwira kencana.
c.    Memenuhi persyaratan AIP kumulatif minimal pertahun.
d.    Ajap diberikan maks. satu bulan setelah peringkat dicapai dan berlaku saat disetujui PT. ATK.
e.    Persentase biaya pertanggungan sesuai dengan peringkat. (hal. 22-27)

3.    Asuransi Kesehatan Asy-Syifa (AKAS)
Asuransi ini sama dengan sebelumnya, lihat syarat-syarat berikut:
a.    Peringkat Prawira Madya sampai dengan Adhiwira Kencana
b.    Memenuhi AIP kumulatif minimal pertahun.
c.    Asuransi diajukan maksimal tiga bulan setelah peringkat dicapai dan berlaku saat disetujui PT. ATK.
d.    Persentase biaya pertanggungan sesuai dengan peringkat (hal. 27-29)

Dengan menelaah sistem asuransi yang mereka tetapkan, dapat kita pastikan bahwa asuransi tersebut murni bisnis berspekulasi tinggi dengan tingkat pertaruhan cukup parah. Silahkan periksa kembali fatawa ulama tentang asuransi yang telah kami uraikan sebelumnya. Wallahul muwaffiq.

Pada Ahad.Net juga terdapat “hadiah” yang bila kita cermati dengan seksama, sistem pemberian hadiah ala Ahad.Net sejatinya adalah “bunga” menurut bank konvensional. Mengapa demikian? Mari kita lihat ketentuan yang mereka buat berikut ini:
a.    Hadiah Bulanan Insentif Tijarah (HBIT)
Syaratnya adalah:
1.    AIP min Rp 20.000 maks Rp 30.000. Jika lebih dari angka maksimal maka yang diperhitungkan adalah angka maksimal (yakni 30 ribu).
2.    Peringkat mitra niaga pemula sampai dengan peringkat Adhiwira Kencana.
3.    Hadiah ini diberikan kepada mitra niaga yang memiliki ketrampilan menjual (selling skill) di atas rata-rata.
4.    Hadiah ini diberikan dengan catatan: Pengiriman data transaksi pembelanjaan tidak terlambat dikirimkan oleh mitra salur.
5.    Batas maksimum insentif tijarah yang dapat diperoleh mitra niaga adalah 75 % dari Nilai Insentif Pribadi (NIP). (hal. 33-37)
Intinya adalah semakin banyak produk terjual ditambah dengan peringkat yang tinggi maka semakin besar nilai hadiah yang diterima. Sama halnya dengan menyimpan uang di bank, semakin besar uang yang ditabung semakin besar pula bunganya. Di sinilah letak pertaruhan (baca: perjudian) pada HBIT, betul-betul bisnis murni, lihat saja perhitungan hadiah pada hal. 36-37. Wallhul musta’an.
b.    Hadiah Bulanan Insentif Syahriyah (HBIS)
Yang satu ini lebih parah lagi sebab langsung berkaitan dengan sistem piramida. Lihat ketentuannya:
1.    Hadiah ini diberikan sebagai “penghargaan” atas penjualan dan pengem-bangan jaringan yang dilakukan oleh mitra niaga.
2.    Memenuhi AIP minimum ber-dasarkan peringkat mitra niaga yang bersangkutan.
3.    Persentase Insentif Syahriah diten-tukan berdasarkan Angka Insentif Kelompok (AIK) yang dihitung secara akumulasi sejak mitra niaga bergabung bersama Ahad.Net2.
4.    Insentif Syahriah merupakan pen-jumlahan persentase mitra niaga dikalikan dengan NIP dan selisih persentase mitra niaga dengan mitra muda langsung dikalikan NIK-nya.
5.    Bila mitra niaga belum memiliki mitra muda langsung maka dia tidak mendaptkan perhitungan selisih persentase dengan mitra mudanya.
6.    Bila Mitra Niaga telah memiliki jaringan namun tidak memenuhi AIP minimum maka perhitungan hanya diperoleh dari perkalian persentase mitra niaga dengan NIP-nya saja. (hal. 38-40)

Benar-benar pertaruhan (perjudian) yang sangat profesional. Apakah seperti ini yang namanya hadiah? Ataukah justru lebih parah dari ‘bunga’ bank?
Ya, lebih parah dari ‘bunga’ bank sebab tidak hanya ‘bunga’ yang ditilap namun harta orang lain (baca: mitra muda) yang dia caplok dengan tanpa hak. Wallahul musta’an. Terlebih melihat sistem ‘belanja’ cerdik yang mereka buat, sungguh sangat jelas sisi pertaruhan bisnisnya (hal. 41-42).

Demikian pula dengan apa yang mereka istilahkan dengan:
1.    Hadiah Bulanan Insentif Jamaah (HBIJ). (hal. 43-49)
2.    Hadiah Bulanan Insentif Ukhuwah Awaliyah (HBIUA). (hal. 50-52)
3.    Hadiah Bulanan Insentif Ukhuwah Kholifah (HBIUK). (hal. 53-61)
4.    Hadiah tahunan (HT). (hal. 61-63)
Semuanya dengan sistem hampir sama dengan sebelumnya atau lebih parah. Wallahul musta’an.
Begitu pula pada pembahasan “manfaat khusus” baik itu berupa HP, sepeda motor, mobil, rumah, ataupun haji. Semuanya menggunakan sistem sejenis dengan sebelumnya (hal. 65-61).
Jika demikian kenyataan yang ada pada MLM Ahad.Net yang bisa dikatakan “paling Islami”, bagaimana kiranya dengan MLM-MLM lainnya?
Maka, kita nasihatkan kepada segenap kaum muslimin agar mereka berhati-hati dengan semua jenis MLM yang ada, hendaknya kita memerhatikan sisi kehalalan sebuah usaha untuk mencapai rezeki yang barokah walaupun sedikit jumlahnya, serta jangan sampai tertipu dengan gemerlapnya rupiah yang dilambaikan oleh usaha-usaha yang melanggar aturan syar’i, sebab kebinasaan dan kesengsaraan akhirat yang bakal ditunainya.3

Catatan Kaki:

1 Penyebutan ini saat beliau ditanya oleh Al-Akh Muhammad bin Ja’far Al-Kampari pada majelis di tempat persinggahan syaikh.
2 Angka ini dihitung bila mitra niaga punya jaringan, dia dapat perhitungan dari AIK mitra muda langsungnya, artinya perhitungan AIK adalah kumulatif berjalan. (hal. 3)
3 Sengaja tidak kita uraikan dengan dalil-dalilnya sebab telah lewat pada penjelasan sebelumnya atau pada volume sebelumnya. Ini adalah praktik dari sebuah kaidah.