Hasad – Penyakit Umat Terdahulu yang Menjangkiti Kaum Muslimin (Akhlak)

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Abdulmu’thi, Lc.)

Hasad, bisa jadi adalah penyakit jiwa yang paling sering menjangkiti atau setidaknya pernah mendera kita tanpa disadari. Penyakit ini sesungguhnya adalah penyakit “tertua” yang menjadikan iblis membangkang kepada Allah l. Yang memilukan, penyakit ini kemudian banyak diwarisi kaum muslimin hingga sekarang.

Maha Suci Allah l yang telah membagi-bagi perangai para hamba-Nya sebagaimana Ia telah membagi-bagi rizki di antara mereka. Di antara manusia ada yang dianugerahi perangai yang baik, jiwa yang bersih dan cinta terhadap saudaranya apa yang ia cintai bagi dirinya berupa kebaikan. Ada pula jenis manusia yang jelek perangainya, kotor jiwanya serta tidak suka terhadap kebaikan yang diperoleh saudaranya.

 

Pengertian Hasad

Ulama berbeda-beda dalam mendefinisikan hasad. Namun inti ungkapan mereka, hasad adalah sikap benci dan tidak senang terhadap apa yang dilihatnya berupa baiknya keadaan orang yang tidak disukainya. (Majmu’ Fatawa, Ibnu Taimiyyah v, 10/111)

An-Nawawi t berkata: “Hasad adalah menginginkan hilangnya nikmat dari yang memperolehnya, baik itu nikmat dalam agama ataupun dalam perkara dunia.” (Riyadhush Shalihin, Bab Tahrimil Hasad, no. 270)

 

Sebab-sebab Terjadinya Hasad

Pada dasarnya, jiwa manusia memiliki tabiat menyukai kedudukan yang terpandang, dan tidak ingin ada yang menyaingi atau lebih tinggi darinya. Jika ada yang lebih tinggi darinya, ia pun sempit dada dan tidak menyukainya, serta ingin agar nikmat itu hilang dari saudaranya. Dari sini jelaslah bahwa hasad merupakan penyakit kejiwaan. Hasad merupakan penyakit kebanyakan orang. Tidak terbebas darinya kecuali segelintir manusia. Oleh karena itu dahulu dikatakan: “Tiada jasad yang bebas dari sifat hasad. Akan tetapi orang yang jelek akan menampakkan hasadnya, sedangkan orang yang baik akan menyembunyikannya.”

Al-Hasan Al-Bashri t pernah ditanya: “Apakah seorang mukmin itu (memiliki sifat) hasad?” Beliau t menjawab: “Begitu cepatnya engkau lupa (tentang kisah hasad) saudara-saudara Nabi Yusuf q. Namun sembunyikanlah hasad itu di dalam dadamu. Hal itu tidak akan membahayakanmu selagi tidak ditampakkan dengan tangan dan lisan.” (Majmu’ Fatawa, Ibnu Taimiyyah l, 10/125)

Sebab-sebab terjadinya hasad banyak sekali. Di antaranya permusuhan, takabur (sombong), bangga diri, ambisi kepemimpinan, jeleknya jiwa serta kebakhilannya.

Hasad yang paling dahsyat adalah yang ditimbulkan oleh permusuhan dan kebencian. Karena orang yang disakiti orang lain dengan sebab apapun, akan menumbuhkan kebencian dalam hatinya, serta tertanamnya api kedengkian dalam dirinya. Kedengkian itu menuntut adanya pembalasan, sehingga ketika musuhnya tertimpa bala` ia pun senang dan menyangka bahwa itu adalah pembalasan dari Allah l untuknya. Sebaliknya, jika yang dimusuhinya memperoleh nikmat, ia tidak senang. Maka, hasad senantiasa diiringi dengan kebencian dan permusuhan.

Adapun hasad yang ditimbulkan oleh kesombongan, seperti bila orang yang setingkat dengannya memperoleh harta atau kedudukan maka ia khawatir orang tadi akan lebih tinggi darinya. Ini mirip hasad orang-orang kafir terhadap Rasulullah n sebagaimana yang dikisahkan Allah l:

“Kalian tidak lain kecuali manusia seperti kita.” (Yasin: 15)
Yakni mereka heran dan benci bila ada orang yang seperti mereka memperoleh derajat kerasulan, sehingga mereka pun membencinya.
Demikian pula hasad yang ditimbulkan oleh ambisi kepemimpinan dan kedudukan. Misalnya ada orang yang tak ingin tertandingi dalam bidang tertentu. Ia ingin dikatakan sebagai satu-satunya orang yang mumpuni di bidang tersebut. Jika mendengar di pojok dunia ada yang menyamainya, ia tidak senang. Ia justru mengharapkan kematian orang itu serta hilangnya nikmat itu darinya. Begitu pula halnya dengan orang yang terkenal karena ahli ibadah, keberanian, kekayaan, atau yang lainnya, tidak ingin tersaingi oleh orang lain. Hal itu karena semata-mata ingin menyendiri dalam kepemimpinan dan kedudukan. Dahulu, ulama Yahudi mengingkari apa yang mereka ketahui tentang Nabi Muhammad n serta tidak mau beriman kepadanya, karena khawatir tergesernya kedudukan mereka.
Adapun hasad yang ditimbulkan oleh jeleknya jiwa serta bakhilnya hati terhadap hamba Allah l, bisa jadi orang semacam ini tidak punya ambisi kepemimpinan ataupun takabur (kesombongan). Namun jika disebutkan di sisinya tentang orang yang diberi nikmat oleh Allah l, sempitlah hatinya. Jika disebutkan keadaan manusia yang goncang serta susah hidupnya, ia bersenang hati. Orang yang seperti ini selalu menginginkan kemunduran orang lain, bakhil dengan nikmat Allah l atas para hamba-Nya. Seolah-olah manusia mengambil nikmat itu dari kekuasaan dan perbendaharaannya.
Demikianlah, kebanyakan hasad yang terjadi di tengah-tengah manusia disebabkan faktor-faktor tadi. Dan seringnya terjadi antara orang-orang yang hidup sejaman, selevel, atau antar saudara. Oleh karena itu, anda dapati ada orang alim yang hasad terhadap alim lainnya, dan tidak hasad terhadap ahli ibadah. Pedagang hasad terhadap pedagang yang lain. Sumber semua itu adalah ambisi duniawi, karena dunia ini terasa sempit bagi orang yang bersaing. (Lihat Mukhtashar Minhajul Qashidin, hal. 240-243)
Buah dari Sifat Hasad
Setiap orang yang lurus dan bijak akan mencela hasad dan berlindung diri kepada Allah l darinya. Lihatlah bagaimana Allah l telah menjauhkan Nabi-Nya Muhammad n dari sikap jelek ini, dan Allah l mencela ahlul kitab yang hasad terhadap manusia dalam hal keutamaan yang Allah l berikan kepada mereka. Allah l juga mencerca kaum munafik yang Allah l katakan tentang mereka:
“Jika kamu mendapat suatu kebaikan, mereka menjadi tidak senang karenanya. Dan jika kamu ditimpa oleh suatu bencana, mereka berkata: ‘Sesungguhnya kami sebelumnya telah memerhatikan urusan-urusan kami (tidak pergi berperang),’ dan mereka berpaling dengan rasa gembira.” (At-Taubah: 50)
Tidaklah setan dimurkai dan dikutuk oleh Allah l melainkan karena hasad dan sikap sombongnya terhadap Adam q. Hasad adalah awal kemaksiatan yang Allah l dimaksiati dengannya di langit –oleh Iblis– dan di bumi –oleh salah seorang anak Adam, ketika kurbannya tidak diterima. Ia lalu membunuh saudaranya yang diterima kurbannya.
Orang yang hasad selalu dirundung kegalauan melihat nikmat yang Allah l berikan kepada orang lain, seolah-olah azab yang menimpa dirinya. Rabbnya murka kepadanya, manusia pun menjauh darinya. Tidaklah anda melihatnya kecuali selalu bersedih hati menentang keputusan Allah l dan takdir-Nya. Seandainya ia mampu melakukan kebaikan niscaya ia tidak akan banyak beramal dan berpikir untuk menyusul orang yang dihasadi. Dan seandainya mampu melakukan kejelekan, pasti ia akan merampas nikmat saudaranya lalu menjadikan saudaranya itu fakir setelah tadinya kaya, bodoh setelah tadinya pintar, dan hina setelah tadinya mulia. (Lihat Ishlahul Mujtama’, hal. 103-104)
Hasad, Sifat Yahudi yang Menonjol
Orang yang banyak memerhatikan sejarah dan mencermati kondisi umat-umat yang ada, akhlak dan muamalah mereka, benar-benar akan ia dapati bahwa umat yang paling jelek akhlaknya dan paling jahat pergaulannya adalah bangsa Yahudi. Mereka adalah umat yang dikutuk, umat (yang suka) berdusta, melampaui batas, berbuat kefasikan, kemaksiatan, kekufuran dan penyimpangan. Suatu umat yang dibenci oleh manusia karena kerasnya hati mereka, dan dahsyatnya kedengkian serta hasad mereka. (Lihat Al-Fawa`id Al-Mantsurah, hal. 172, karya Asy-Syaikh Dr. Abdurrazzaq Al-Badr)
Asy-Syaikh Muhammad bin Salim Al-Baihani v berkata: “Tidaklah Al-Qur`an menyifati seseorang dengan sifat hasad, dari dahulu hingga sekarang, lebih dari bangsa Yahudi. Merekalah yang menyatakan tentang Thalut:
“Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripada dia, sedangkan dia pun tidak diberi kekayaan yang banyak?” (Al-Baqarah: 247)
Mereka menyatakan kepada Nabi Muhammad n bahwa Allah l tidaklah menurunkan sesuatu pun kepada manusia.
Mereka juga mengetahui kebenaran, namun kemudian mengingkarinya. Mereka berusaha menghalangi manusia dari kebenaran karena keangkuhan mereka di muka bumi dan karena mereka lebih menyukai kebutaan daripada petunjuk, serta membenci apa yang Allah l turunkan kepada Muhammad n. Namun Allah l mengandaskan harapan mereka dan meruntuhkan usaha mereka. Allah l berfirman:
“Sebagian besar ahli kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran.” (Al-Baqarah: 109) [Lihat Ishlahul Mujtama’, hal. 103-104)
Antara Hasad dan Ghibthah
Dari uraian yang telah disebutkan, jelaslah bahwa hasad adalah suatu sifat yang tercela karena pelakunya mengharapkan hilangnya nikmat yang Allah l berikan kepada orang lain, serta kebenciannya memperoleh nikmat tersebut. Adapun ghibthah adalah seseorang menginginkan untuk mendapatkan sesuatu yang diperoleh orang lain, tanpa menginginkan hilangnya nikmat tersebut dari orang itu. Yang seperti ini tidak mengapa dan tidak dicela pelakunya. Jika irinya dalam hal ketaatan maka pelakunya terpuji. Bahkan ini merupakan bentuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Jika irinya dalam perkara maksiat maka ini tercela, sedangkan bila dalam perkara-perkara yang mubah maka hukumnya juga mubah. (Lihat At-Tafsirul Qayyim, 1/167 dan Fathul Bari, 1/167)
Nabi n bersabda:
“Tidak ada hasad atau iri –yang disukai– kecuali pada dua perkara; (yaitu) seorang yang diberikan pemahaman Al-Qur`an lalu mengamalkannya di waktu-waktu malam dan siang; dan seorang yang Allah beri harta lalu menginfakkannya di waktu-waktu malam dan siang.” (HR. Muslim, Kitab Shalatil Musafirin wa Qashriha, no. 815, dari sahabat Ibnu ‘Umar c)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah t berkata:
“Jika ada yang mengatakan, mengapa Nabi n menamakannya dengan hasad, padahal orang tadi hanyalah menginginkan untuk diberi nikmat oleh Allah l?
Maka dijawab bahwa sumber keinginan ini adalah karena ia melihat orang lain diberi nikmat, serta ketidaksukaannya ada orang lain yang lebih unggul darinya. Jika tidak ada orang lain (yang memperoleh nikmat itu) niscaya dia juga tidak menginginkannya. Karena sumbernya adalah ketidaksukaannya untuk disaingi oleh orang lain (dalam kebaikan) maka dinamakanlah hasad…
Jiwa manusia tidaklah hasad kepada orang yang beramal pada sesuatu yang besar keletihannya, seperti jihad. Oleh karena itu, beliau n tidak menyebutkannya meskipun jihad fi sabilillah lebih utama dari orang yang menginfakkan hartanya…
Demikian pula, Nabi n tidak menyebutkan (dalam hadits ini) orang yang shalat, puasa, dan haji. Karena pada amalan-amalan ini biasanya manusia tidak mendapatkan manfaat (dari pelakunya), yang dengannya mereka mengagungkan orang tersebut dan menjadikannya sebagai pemimpin, sebagaimana manfaat yang diperoleh dari taklim dan infak.
Hasad asalnya hanyalah terjadi karena sesuatu yang diperoleh orang lain mendatangkan kepemimpinan. Oleh karena itu, orang yang beramal biasanya tidaklah dihasadi meskipun dia bernikmat-nikmat dengan makan, minum, dan nikah lebih banyak dari yang lain. Ini sangat berbeda dengan dua jenis orang tersebut (orang yang berlimu dan orang yang berinfak), keduanya sering dihasadi. Oleh karena itu, di tengah-tengah orang yang berilmu yang memiliki pengikut didapati sifat hasad yang tidak tidak didapatkan pada orang yang tidak seperti itu. Demikian pula orang yang memiliki pengikut disebabkan infaknya.
Orang yang berilmu akan memberi manfaat kepada manusia dengan santapan rohaninya, dan orang yang kaya akan memberikan manfaat kepada manusia dengan kebutuhan jasmani. Dan semua manusia membutuhkan apa yang menjadikan ruh (hati) dan badannya baik…
Inilah sahabat ‘Umar ibnul Khaththab z berkata: ‘Rasulullah n memerintahkan kami untuk bersedekah, bersamaan dengan saat di mana aku punya harta. Aku menyatakan: Hari ini aku akan saingi Abu Bakr jika aku bisa menyainginya pada suatu hari.’ ‘Umar berkata: ‘Aku datang membawa setengah hartaku.’ ‘Umar berkata lagi: ‘Nabi n mengatakan kepadaku, ‘Apa yang kau sisakan untuk keluargamu?’ Aku berkata, ‘Harta yang semisalnya.’ Lalu datanglah Abu Bakr membawa semua yang dimilikinya. Rasulullah n bertanya kepada Abu Bakr, ‘Apa yang kau sisakan untuk keluargamu?’ Dia menjawab, ‘Aku sisakan bagi mereka Allah dan Rasul-Nya.’ Maka aku (‘Umar) berkata: ‘Aku tidak akan menyaingimu dalam sesuatu pun selama-lamanya.’
Apa yang dilakukan ‘Umar adalah bentuk berlomba-lomba (dalam kebaikan) dan hasad yang diperbolehkan. Namun keadaan Abu Bakr lebih utama darinya, karena ia terbebas dari menyaingi orang lain secara mutlak. Ia tidak melihat kepada orang lain (ketika berinfak).
Demikian pula Nabi Musa q (seperti) dalam hadits Isra` Mi’raj. Muncul dalam dirinya keinginan menyaingi dan iri kepada Nabi Muhammad n, sehingga ketika Nabi Muhammad n melewati Nabi Musa q, Nabi Musa q menangis. Ia ditanya: ‘Apa yang menyebabkanmu menangis?’ Musa berkata: ‘Aku menangis karena ada seorang pemuda –yakni Nabi Muhammad n– yang diutus sepeninggalku, umatnya yang akan masuk surga lebih banyak daripada umatku’.” (Majmu’ Fatawa, Ibnu Taimiyyah v, 10/113-117)
Faedah Bersihnya Hati dari Sifat Hasad
Sesungguhnya, di antara tuntunan keimanan adalah seseorang mencintai kebaikan bagi saudaranya sebagaimana yang ia cintai untuk dirinya. Keimanan yang benar akan mendorong pemiliknya untuk menghiasi diri dengan akhlak yang terpuji dan mencegahnya dari terjerumus ke dalam lembah kehinaan. Nabi n bersabda:
“Janganlah kalian saling membenci, janganlah kalian saling hasad, dan janganlah kalian saling membelakangi. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (HR. Muslim, Kitabul Birri wash Shilah, bab no. 7, hadits no. 2559, dari jalan Anas bin Malik z)
Diriwayatkan dari Anas bin Malik z, dia berkata: “Dahulu kami duduk-duduk di sisi Nabi n. Lalu beliau n bersabda:
“Sekarang akan muncul kepada kalian dari jalan ini, seorang lelaki dari penghuni surga.”
Anas z berkata: “Lalu muncullah seorang lelaki dari kalangan Anshar, jenggotnya meneteskan air karena wudhu. Orang tersebut mengikatkan kedua sandalnya di tangan kirinya. Orang itu pun mengucapkan salam. Keesokan harinya, Nabi n mengucapkan yang seperti itu. Muncul lagi lelaki itu seperti pada kali yang pertama. Hari ketiga, Nabi n mengucapkan hal yang sama, dan muncul lagi lelaki itu seperti keadaannya yang pertama.
Tatkala Nabi n telah berdiri, lelaki itu diikuti oleh Abdullah bin ‘Amr bin Al-’Ash c. Kemudian Abdullah berkata: “Sesungguhnya aku bertengkar dengan ayahku, lalu aku bersumpah untuk tidak masuk kepadanya selama tiga (hari). Jika engkau mempersilakan aku tinggal di rumahmu hingga lewat tiga hari, maka akan aku lakukan. Lelaki itu berkata: “Ya.”
Anas berkata: “Adalah Abdullah –yakni bin ‘Amr– bercerita bahwa ia menginap bersamanya tiga malam.” Anas berkata lagi: “Ia tidak melihat lelaki itu shalat malam sedikitpun. Hanya saja bila ia terbangun dari tidurnya di malam hari dan menggerakkan (tubuhnya) di atas kasurnya, ia berdzikir kepada Allah dan bertakbir, sampai ia bangun untuk shalat fajar. Hanya saja, jika ia terbangun di malam hari, ia tidak berucap kecuali kebaikan. Abdullah berkata: ‘Tatkala tiga malam itu lewat, dan aku hampir-hampir menganggap remeh amalannya, aku berkata: ‘Wahai hamba Allah, (sebenarnya) tidak ada ketegangan dan pemboikotan antara aku dengan ayahku. Namun aku mendengar Rasulullah n berucap (tiga kali): ‘Sekarang akan muncul kepada kalian salah seorang penduduk surga.’ Lalu engkau muncul, tiga kali. Saya ingin tinggal menginap di tempatmu sehingga aku tahu apa amalanmu. Namun aku tidak melihat engkau banyak beramal. Apa gerangan yang menyebabkan kedudukanmu sampai seperti yang disabdakan Rasulullah n?’ Dia menjawab: ‘Tidak ada, kecuali yang kamu lihat.’ Abdullah berkata: ‘Aku pun meninggalkannya.’ Tatkala aku berpaling, ia memanggilku. Ia berkata: ‘Aku tidak punya amalan (yang menonjol) kecuali apa yang engkau lihat. Hanya saja aku tidak dapatkan dalam diriku kedengkian terhadap seorang pun dari kaum muslimin. Dan aku tidak hasad kepadanya atas kebaikan yang Allah l berikan kepadanya.’ Abdullah berkata: ‘Inilah hal yang menyampaikan engkau kepada kedudukan itu. Dan inilah yang tidak dimampui (susah dilaksanakan)’.” (HR. Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman, 12/8-9, no. 6181, dan Ahmad dalam Al-Musnad, dan dishahihkan oleh Al-‘Iraqi v dalam Al-Mughni ‘an Hamlil Asfar, 2/862, no. 3168)
Abdullah bin ‘Amr c berkata: “Kami mengatakan: ‘Wahai Rasulullah n, siapakah orang yang terbaik?’ Beliau n menjawab (yang artinya): ‘Orang yang memiliki hari yang mahmum dan lisan yang jujur.’ Kami berkata: ‘Kami telah tahu lisan yang jujur. Lalu apakah hati yang makhmum?’ Beliau n menjawab: ‘Hati yang bertakwa lagi bersih, tiada dosa dan hasad padanya…’.” (HR. Al-Baihaqi dalam Asy-Syu’ab no. 6180, dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani v dalam Ash-Shahihah no. 948)
Sepuluh Sebab Terhindar dari Kejahatan Orang yang Hasad
1. Berlindung kepada Allah l dari kejahatan orang yang hasad, dan membentengi diri dengan Allah l.
2. Bertakwa kepada Allah l dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Karena Allah l telah menjamin penjagaan bagi orang yang bertakwa. Allah l berfirman:
“Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudaratan kepadamu.” (Ali ‘Imran: 120)
3. Bersabar atas musuh, karena tidaklah seorang ditolong dari orang yang hasad dan musuhnya, sebagaimana orang yang bersabar atasnya dan bertawakal kepada Allah l.
4. Tawakal. Karena orang yang bertawakal kepada Allah l, Ia akan mencukupinya. Tawakal termasuk faktor terkuat yang dengannya seorang hamba menangkal apa yang tidak dia mampu berupa gangguan makhluk dan kedzalimannya.
5. Mengosongkan hati dari sibuk dan memikirkan orang yang hasad kepada dirinya. Setiap kali terbetik di benak, ia menepisnya dan memikirkan sesuatu yang lebih bermanfaat. Ia melihat bahwa di antara siksaan batin yang besar adalah sibuk memikirkan musuhnya.
6. Mengarahkan hatinya kepada Allah l dan ikhlas kepada-Nya, serta menjadikan kecintaan kepada Allah l dan keridhaan-Nya di tempat terbetiknya pikiran. Sehingga benaknya penuh dengan segala yang dicintai Allah l dan dzikir kepada-Nya. Orang yang seperti ini tidak akan ridha bila pikiran dan hatinya dipenuhi dengan memikirkan orang yang hasad dan dzalim kepadanya, serta memikirkan untuk membalasnya.
7. Bertaubat kepada Allah l dari segala dosa. Seseorang dikuasai musuh karena dosanya. Dan tidaklah seorang hamba disakiti kecuali karena dosa, baik yang ia ketahui maupun tidak. Dan dosa yang tidak dia ketahui jauh lebih berlipat daripada yang ia ketahui. Dosa yang ia lupakan lebih besar daripada yang ia ingat. Sungguh tiada sesuatupun yang lebih bermanfaat bagi hamba bila dia didzalimi dan disakiti lawannya daripada taubat yang tulus. Tanda kebahagiaannya adalah mengalihkan pikirannya untuk melihat dirinya, dosa dan cacatnya, sehingga ia pun sibuk untuk memperbaiki diri dan bertaubat.
8. Bersedekah dan berbuat baik semampunya. Karena hal itu memiliki pengaruh yang hebat dalam menangkal bencana, mata yang jahat, dan kejelekan orang yang hasad. Orang yang berbuat baik dan bersedekah kepada orang lain, hampir-hampir tidak pernah terkuasai oleh jahatnya hipnotis, hasad, dan yang menyakitkan. Jika ia terkena suatu kejahatan, ia akan diperlakukan lembut oleh Allah l dan akan memperoleh dukungan.
9. Yang paling berat adalah memadamkan api orang yang hasad dan dzalim serta menyakitinya, dengan berbuat baik kepadanya. Allah l berfirman:
“Dan tidaklah sama antara kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan) itu dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidaklah dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidaklah dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.” (Fushshilat: 34-35)
Perhatikanlah keadaan Nabi n ketika dipukul oleh kaumnya sampai berdarah. Beliau n mengusap darah itu seraya mengucapkan:
“Ya Allah, ampunilah kaumku, sesungguhnya mereka tidak mengetahui.”
Orang yang memaafkan orang lain dan berbuat baik kepada orang yang berbuat jelek kepadanya akan mendapatkan pertolongan dari Allah l. Sebagaimana sabda Nabi n kepada seorang sahabat yang mengadu kepada beliau tentang karib kerabatnya, di mana ia berbuat baik kepada mereka tetapi mereka berbuat jelek terhadapnya:
“Senantiasa ada penolong dari Allah selagi kamu di atas keadaan yang seperti itu.”
Di samping itu pula, manusia akan memujinya dan bergabung bersamanya menghadapi musuhnya.
10. Memurnikan tauhid. Makhluk-makhluk ini ada yang menggerakkannya. Tidaklah makhluk mendapatkan manfaat dan mudarat kecuali seijin Penciptanya. Jika seseorang memurnikan tauhid maka hilanglah ketakutan kepada selain Allah l dari hatinya. Musuhnya menjadi lebih ringan di matanya daripada ditakuti bersama Allah l. Akan keluar dari hatinya kesibukan memerhatikan musuhnya, lalu hatinya akan dipenuhi dengan cinta, takut, kembali, dan tawakal kepada Allah l. Ia memandang bahwa menggunakan pikirannya untuk memikirkan musuhnya adalah bentuk lemahnya tauhid. Karena, jika ia telah memurnikan tauhid, niscaya dalam hatinya ada kesibukan tersendiri. (Dinukil secara ringkas dari At-Tafsirul Qayyim lil Imam Ibnul Qayyim, hal. 585-594)
Wallahu a’lam.

Al-Akram dan Al-Karim

(ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar ZA)

Al-Akram adalah salah satu Al-Asma`ul Husna. Hal ini berdasarkan firman Allah l:

“Bacalah, dan Rabbmulah Al-Akram (Yang Maha Pemurah).” (Al-’Alaq: 3)
Dalam atsar Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Umar c disebutkan bahwa keduanya mengucapkan doa dalam sa’i antara Shafa dan Marwah:
“Wahai Rabb kami ampunilah dan rahmatilah, serta maafkanlah dari kesalahan yang Engkau ketahui, karena sesungguhnya Engkaulah Al-A’az (Yang Maha Mulia dan Perkasa) dan Al-Akram.” (Atsar riwayat Al-Baihaqi dalam As-Sunan, 5/95 dan Asy-Syaikh Al-Albani v mengatakan: Riwayat Ibnu Abi Syaibah (yakni dalam Al-Mushannaf) dengan sanad yang shahih dari keduanya. Lihat Manasik Al-Haj wal ‘Umrah hal. 28)
Nama Allah l yang lain adalah Al-Karim (الْكَرِيْمُ), sebagaimana tersebut dalam firman-Nya:
“Wahai Rabb kami ampunilah dan rahmatilah, serta maafkanlah dari kesalahan yang Engkau ketahui, karena sesungguhnya Engkaulah Al-A’az (Yang Maha Mulia dan Perkasa) dan Al-Akram.” (Atsar riwayat Al-Baihaqi dalam As-Sunan, 5/95 dan Asy-Syaikh Al-Albani v mengatakan: Riwayat Ibnu Abi Syaibah (yakni dalam Al-Mushannaf) dengan sanad yang shahih dari keduanya. Lihat Manasik Al-Haj wal ‘Umrah hal. 28)
Nama Allah l yang lain adalah Al-Karim (الْكَرِيْمُ), sebagaimana tersebut dalam firman-Nya:
Wahai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Rabbmu Al-Karim?” (Al-Infithar: 6)
Masing-masing dari Al-Akram dan Al-Karim berasal dari akar kata Al-Karam yang memiliki beberapa makna dalam penggunaannya.
Abu Hilal Hasan bin Abdullah Al-‘Askari mengatakan: “…Dan kata Al-Karam berkembang dalam beberapa bentuk, sehingga Allah l disebut Al-Karim dan maknanya adalah Al-’Aziz (Perkasa), dan itu termasuk shifat dzatiyyah (sifat yang senantiasa melekat pada-Nya). Di antara yang bermakna demikian adalah firman-Nya:
“Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Rabbmu Al-Karim?” (Al-Infithar: 6)
yakni Yang Maha Perkasa yang tidak bisa dikalahkan.
Dan Al-Karim juga bisa bermakna Al-Jawwad yakni Yang Maha Memberi tanpa diminta. Bila demikian, maka itu termasuk shifat fi’liyyah (sifat Allah l yang berkaitan dengan kehendak-Nya, kapan Ia berkehendak Ia akan melakukannya)….” (Al-Furuq hal. 143)
Dalam firman Allah l:
“Bacalah, dan Rabbmulah Al-Akram (Yang Maha Pemurah).” (Al-’Alaq: 3)
nama Al-Akram menurut Al-Qurthubi v sama dengan Al-Karim (Yang Maha Memberi). Adapun Al-Kalbi mengatakan: “Yakni Yang Maha Pemaaf atas kebodohan hamba-hamba-Nya, sehingga tidak segera menghukum mereka.”
Al-Qurthubi v mengatakan, makna yang pertama lebih tepat (di sini) karena ketika Allah l menyebutkan pada ayat sebelumnya tentang nikmat-nikmat-Nya, dengan itu Allah l menunjukkan kedermawanan-Nya. (Tafsir Al-Qurthubi, 20/119-120. Lihat pula 19/245)
Ibnu Manzhur dalam kamus Lisanul ‘Arab mengatakan: “Al-Karim termasuk sifat dan nama Allah l, artinya Yang banyak kebaikan-Nya, Yang Maha Memberi (tanpa diminta), yang tidak akan habis pemberian-Nya, Dialah Yang Maha Memberi secara mutlak.”
Az-Zajjaji mengatakan dalam buku Isytiqaq Asma`illah (hal. 174):
“Al-Karim berarti Al-Jawwad (Yang Maha Memberi tanpa diminta). Al-Karim juga berarti Al-‘Aziz (Yang Maha Perkasa) dan Ash-Shafuh (Yang Maha Pemaaf). Inilah tiga sisi makna kata Al-Karim dalam bahasa Arab. Boleh untuk menyifati Allah l dengan semuanya. Di mana bila yang dimaksudkan dengan kata Al-Karim adalah Pemberi dan Pemaaf maka ini berkaitan dengan maf’ul bihi (obyek), karena harus ada yang ada yang diberi dan dimaafkan. Dan bila yang dimaksudkan adalah Perkasa maka tidak mesti membutuhkan maf’ul.”
As-Sa’di v berkata: “Ar-Rahman, Ar-Rahim, Al-Barru, Al-Karim, Al-Jawwad, Ar-Ra`uf, dan Al-Wahhab. Nama-nama Allah l ini makna-maknanya saling berdekatan, semuanya menunjukkan bahwa Ar-Rabb (Allah l) bersifat kasih sayang, baik, dermawan dan memberi, dan menunjukkan keluasan rahmat serta pemberian-Nya yang menyeluruh kepada semua yang ada, sesuai dengan hikmah Allah, dan Ia khususkan kaum mukminin dengan bagian yang lebih sempurna.” (Taisir Al-Karimir Rahman hal. 946)
Berkaitan dengan nama Al-Akram, Ibnu Taimiyyah v menjelaskan ketika menafsirkan surat Al-’Alaq ayat 3-5:
“Allah l menamai dan menyifati diri-Nya dengan sifat Al-Karam dan bahwa dia adalah Al-Akram, setelah Ia beritakan bahwa Ia menciptakan. Hal ini untuk menerangkan bahwa Ia memberikan nikmat kepada para makhluk serta menyampaikan mereka kepada tujuan yang mulia….
Penciptaan menunjukkan awal mulanya dan pemberian-Nya menunjukkan akhirnya, seperti dalam surat Al-Fatihah:
“Segala puji Rabb  (Pencipta) sekalian alam.” Lalu mengatakan:
“Yang Maha Pengasih lagi Penyayang.”
Lafadz Al-Karam mencakup segala sesuatu yang baik dan terpuji, bukan dimaksudkan dengannya semata pemberian. Bahkan makna pemberian itu adalah pelengkap maknanya, karena berbuat yang baik kepada yang lain itu adalah merupakan kesempurnaan dan kebaikan. Sedangkan kedermawanan (Al-Karam) artinya adalah kebaikan yang banyak dan mudah… Dan Allah beritakan bahwa diri-Nya  adalah Al-Akram (kata) dengan bentuk (isim) tafdhil (akram/أَكْرَمُ yang berarti lebih dermawan) yang juga diberi alif dan lam ta’rif (al/ال, sehingga menjadi Al-Akram). Yang seperti ini menunjukkan bahwa Dialah satu-satu-Nya yang Paling Dermawan. Beda halnya bila dikatakan (وَرَبُّكَ أَكْرَمُ) (tanpa alif dan lam ta’rif pada kata Akram), bentuk kata yang seperti itu tidak menunjukkan pembatasan (sifat tersebut hanya pada Allah l).
Dan kata Al-Akram memberi faedah pembatasan (sifat sempurna tersebut hanya pada Allah l).
Juga Allah l tidak mengatakan “(Ia) lebih dermawan daripada ini….” Bahkan Allah l menyebutkannya secara mutlak (paling dermawan/lebih dermawan, tanpa perbandingan, pent.) untuk menerangkan bahwa Dialah yang paling dermawan secara mutlak tanpa dibandingkan dengan sesuatu (tertentu). Itu menunjukkan bahwa Dia memiliki sifat kedermawanan yang sampai pada puncaknya yang tiada lagi di atas-Nya dan tiada kekurangan pada-Nya.” (Al-Fatawa, 16/293-296, dengan diringkas)
Sumber Bacaan:
– Shifatullah k Al-Waridah fil Kitabi Was Sunnah, hal. 211
– Syarh Asma`ullah Al-Husna karya Sa’id Al-Qahthani, hal. 149
– Tafsir As-Sa’di, hal. 946
– Majmu’ Al-Fatawa karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah
– Al-Furuq Al-Lughawiyyah karya Abu Hilal Al-‘Askari
– Al-Jami’ li Ahkamil Qur`an (Tafsir Al-Qurthubi)

 

Pertolongan Allah Turun (perang Ahzab III)

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Harits Abrar Thalib)

Peperangan memanglah tipu daya. Maka strategi menjadi salah satu faktor kunci untuk memenanginya. Tak terkecuali apa yang dilakukan kaum muslimin dalam perang Ahzab ini. Dengan pertolongan Allah l kemudian muslihat yang jitu, mereka berhasil memorakporandakan barisan pasukan koalisi musyrikin dan Yahudi.Muslihat Nu’aim bin Mas’ud z

Allah k –segala puji hanya milik Allah l– berbuat apa saja yang Dia kehendaki. Dialah yang menghancurkan persekutuan musuh-musuh-Nya, menghinakan dan melemahkan kekuatan mereka.

Di antara yang Allah l jadikan sebab kehancuran mereka adalah datangnya seorang laki-laki Ghathafan bernama Nu’aim bin Mas’ud bin ‘Amir z. Dia datang kepada Rasulullah n, lalu berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya telah masuk Islam. Perintahkanlah saya berbuat sesuatu apa yang anda inginkan.”

Rasulullah n berkata kepadanya: “Engkau hanya sendirian. Lakukanlah muslihat untuk kami semampumu, karena perang itu adalah tipu daya.”

Dengan segera Nu’aim berangkat menuju perkampungan Bani Quraizhah di mana ia adalah teman mereka semasa jahiliah. Nu’aim masuk ke perkampungan mereka dalam keadaan mereka tidak mengetahui keislamannya. Kemudian dia berkata: “Wahai Bani Quraizhah, sesungguhnya kalian telah memerangi Muhammad n. Sementara jika orang-orang Quraisy mendapat kesempatan tentulah mereka manfaatkan. Jika tidak, niscaya mereka akan segera kembali ke kampung halaman mereka dan membiarkan kalian menghadapi Muhammad n. Sudah tentu dia (Muhammad n) akan menghabisi kalian.”

Mereka bertanya: “Lantas apa yang harus kami lakukan, wahai Nu’aim?”

Kata Nu’aim: “Kalian jangan mau berperang bersama Quraisy sampai mereka memberi jaminan.” Mereka pun berkata: “Sungguh, engkau telah memberikan saran yang tepat.”

Selanjutnya, Nu’aim datang menemui orang-orang Quraisy, katanya kepada mereka: “Kalian sudah tahu kecintaanku kepada kalian, juga nasihat-nasihatku.” Kata mereka: “Benar.”

Kata Nu’aim lagi: “Sebetulnya, orang-orang Yahudi menyesal melanggar perjanjian mereka dengan Muhammad n dan para sahabatnya. Mereka sudah mengirim utusan kepadanya (Muhammad n)) bahwa mereka meminta jaminan dari kalian agar kalian serahkan kepadanya, lantas mereka akan melobi kalian. Kalau mereka meminta jaminan kepada kalian, janganlah kalian berikan.”

Setelah itu, Nu’aim mendatangi orang-orang Ghathafan dan mengatakan kalimat yang sama dengan yang diucapkannya kepada yang lainnya.

Begitu masuk malam Sabtu bulan Syawwal, pasukan sekutu itu menemui tokoh-tokoh Yahudi dan mengatakan: “Kami bukan penduduk asli di sini, perbekalan dan sepatu khuf kami sudah rusak. Maka, marilah bangkit bersama kami agar kita bisa menumpas Muhammad n.”

Mendengar hal ini, orang-orang Yahudi mengatakan: “Sesungguhnya hari ini adalah hari Sabtu. Dan kalian sudah tahu apa yang menimpa para pendahulu kami ketika mereka mengada-adakan sesuatu pada hari itu. Namun demikian, kami juga tidak akan berperang bersama kalian sampai kalian memberi jaminan kepada kami.”

Ketika utusan itu datang menyampaikan hasilnya kepada mereka, orang-orang Quraisy berkata: “Sungguh, benar apa yang dikatakan Nu’aim.” Merekapun mengirim utusan lagi kepada orang-orang Yahudi dan mengatakan: “Sungguh, kami, demi Allah tidak akan menyerahkan apapun kepada kalian. Keluarlah bersama kami sampai dapat menghabisi Muhammad n.”

Orang-orang Quraizhah berkata pula: “Sungguh, benar apa yang dikatakan Nu’aim.” Lalu keduanya saling mengejek.

 

Tentara Sekutu Mulai Goyah

Kemudian, pada malam musim dingin yang berat itu Allah l kirimkan kepada kaum musyrikin ‘tentara’ berupa angin kencang, yang menerbangkan tenda-tenda serta memorakporandakan peralatan dan bekal mereka. Akhirnya mereka tidak lagi dapat bertahan lama di sana. Sementara tentara Allah l dari kalangan malaikat menggoncang bumi yang mereka pijak dan melemparkan rasa takut ke dalam hati mereka.

Al-Imam Ahmad v meriwayatkan dalam Musnad-nya dari Hudzaifah z, bahwa Rasulullah n bersabda:

‘Siapa yang mau mencari berita apa yang dilakukan mereka?’ Rasulullah n mensyaratkan bahwa dia harus kembali, niscaya Allah masukkan dia ke dalam surga. Namun tidak ada seorangpun yang berdiri. Kemudian Rasulullah n shalat malam itu, lalu menoleh kepada kami: ‘Siapa yang mau mencari berita apa yang dilakukan mereka, kemudian kembali?’ Rasulullah n mensyaratkan dia harus kembali, ‘Saya mohon kepada Allah agar dia menjadi temanku di dalam surga’.
Namun tidak ada juga yang bangkit berdiri, karena takut dan beratnya rasa lapar serta dingin yang menusuk tulang. Ketika tidak juga ada yang bangkit, Rasulullah n memanggilku. Tidak ada alasan bagiku untuk tidak berdiri ketika beliau memanggilku. Kata beliau: ‘Hai Hudzaifah, pergilah menyusup ke tengah-tengah mereka dan lihat apa yang mereka lakukan. Jangan melakukan tindakan apapun hingga engkau menemuiku.’
Akupun mulai menyusup ke tengah-tengah mereka, sementara angin dan tentara Allah l berbuat apa yang dia lakukan, sehingga periuk mereka berantakan. Demikian pula api dan tenda-tenda mereka. Abu Sufyan bin Harb berkata: ‘Wahai kaum Quraisy, hendaknya setiap orang dari kalian melihat siapa teman duduk di sebelahnya.’
Hudzaifah pun berkata: ‘Akupun segera mencekal tangan orang di sebelahku dan berkata: ‘Siapa engkau?’ Dia berkata: ‘Saya Fulan bin Fulan.’
Kemudian Abu Sufyan berkata: ‘Wahai sekalian Quraisy, sesungguhnya kalian demi Allah tidak berada di tempat yang tetap. Perbekalan sudah hancur dan Bani Quraizhah telah mengingkari (kesepakatan dengan) kita. Sudah sampai kepada kita berita yang tidak kita sukai. Dan kitapun sudah mendapati dari angin kencang ini apa yang kalian lihat. Demi Allah, periuk tidak lagi pada tempatnya, api juga padam, dan tenda-tenda kita roboh, maka berangkat (pulang) lah kalian, karena sesungguhnya aku akan berangkat.’
Setelah itu dia beranjak ke arah tunggangannya yang terikat dan duduk di atasnya. Setelah itu dia memukulnya dan melompat tiga kali, tidaklah dia melepaskan tali penambatnya melainkan dia sudah berdiri. Kalau bukan janji Rasulullah n agar ‘Jangan berbuat sesuatu, sampai menemuiku’, kalau aku mau pasti aku panah dia sampai mati.’
Kata Hudzaifah pula: ‘Kemudian aku kembali menemui Rasulullah n yang sedang shalat di kain selimut bergaris milik salah seorang istrinya. Ketika beliau melihatku, beliau memasukkan aku ke dalam kemahnya dan melemparkan ujung selimut itu kemudian rukuk dan sujud sementara beliau di dalamnya. Setelah selesai salam, aku pun menceritakan hasilnya kepada beliau.
Orang-orang Ghathafan yang juga mendengar tindakan Quraisy segera bersiap kembali ke kampung halaman mereka.”
Akhirnya, Allah l menghalau musuh-musuh-Nya dalam keadaan penuh kejengkelan. Mereka tidak memperoleh keuntungan apapun. Allah l menghindarkan kaum mukminin dari peperangan. Dia menepati janji-Nya, memuliakan tentara-Nya, menolong hamba-Nya dan menghancurkan pasukan sekutu sendirian. Kemudian Rasulullah n dan para sahabat kembali ke Madinah serta meletakkan senjata mereka.
Namun Jibril q menemui beliau yang sedang mandi di rumah Ummu Salamah dan berkata: “Engkau sudah meletakkan senjatamu? Sesungguhnya para malaikat belum meletakkan senjata mereka. Majulah menyerang mereka ini, yakni Bani Quraizhah. Maka Rasulullah n berseru:
“Siapa yang mendengar dan taat, maka janganlah dia shalat ‘Ashar kecuali di perkampungan Bani Quraizhah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu ‘Umar c)
Maka berangkatlah kaum muslimin secepatnya, sedangkan persoalan Bani Quraizhah adalah sebagaimana telah disinggung sebelumnya.
Dalam perang Khandaq ini, yang gugur sebagai syuhada dari kalangan kaum muslimin sekitar sepuluh orang.

Komentar dan Fatwa ‘Ulama Seputar Masalah Palestina

Asy-Syaikh Muhammad Basyir Al-Ibrahimi1 mengatakan:

“Sesungguhnya Palestina adalah titipan Nabi Muhammad kepada kita, amanah Umar bin Khaththab yang berada dalam tanggungan kita, serta perjanjian Islam yang terletak di leher-leher kita. Maka jika Yahudi mengambilnya dari kita sementara kita ini adalah sekumpulan (umat), benar-benar kita merugi.”

Beliau juga mengatakan:

“Alangkah meruginya Palestina…. Apakah orang yang tidak memilikinya yang menjualnya, dan orang yang tidak berhak terhadapnya yang membelinya? …. Alangkah terhinanya Palestina…

Mereka mengatakan: Sesungguhnya Palestina adalah tempat ibadah tiga agama samawi dan kiblat ketiga agama tersebut. Bila apa yang mereka katakan itu benar –dan itu memang benar– tentu orang yang paling berhak mendapatkan amanah terhadapnya adalah bangsa Arab. Karena mereka adalah kaum muslimin, di mana Islam menghendaki penghormatan terhadap kitab-kitab samawi dan ahli kitab serta mengharuskan beriman kepada seluruh nabi dan rasul. Islam juga menjamin pelaksanaan syiar Yahudi dan Nasrani. Bukankah Yahudi yang mendustakan para nabi dan membunuh mereka serta menyalib –menurut pengakuan mereka– Nabi ‘Isa yang benar, serta mengusir para sahabatnya dari Palestina, lagi kafir terhadap Nabi Muhammad setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan?” (Majalah Al-Basha`ir, edisi 22 tahun 1948 M, dinukil dari buku As-Salafiyyun wa Qadhiyatu Filistiin)

 

Asy-Syaikh Ahmad Syakir2 mengatakan:

“Sesungguhnya Inggris telah mewariskan besi (kekerasan) dan api (permusuhan) di Palestina untuk melindungi permasalahan yang merugikan dan untuk membela umat yang tidak akan tegak, serta tidak akan memiliki daulah (negara)….

Sesungguhnya orang-orang yang hina itu (Yahudi), telah Allah tetapkan pada mereka untuk selalu terusir. Nabi Muhammad telah mengusir mereka dari kota Madinah. Lalu Umar Al-Faruq mengusir mereka dari Hijaz. Kemudian muslimin mendiamkan mereka, bahkan melindungi mereka saat mereka tertekan dan lemah. Maka ketika mereka kembali kepada jalan hidup mereka, berupa kejahatan dan permusuhan, Allah pun akan mengembalikan pengusiran itu, sehingga mereka terusir oleh Jerman dan Italia dari negeri mereka. Dan akhir perjalanan mereka –insya Allah– adalah kaum muslimin akan mengusir mereka dari seluruh negeri Islam…

Dan sungguh tokoh petinggi Muhammad ‘Ali Alubah Basya dalam Muktamar kemarin mengatakan kalimat yang saya harap selalu kita ingat: ‘Hendaknya Yahudi mengetahui, jika mereka bergembira saat ini dengan kemenangan yang bersandar kepada ‘tombak’ yang bukan milik mereka, mereka niscaya akan kalah di saat ‘tombak’ ini hilang dari mereka. Peristiwa-peristiwa yang tercatat dalam sejarah telah banyak. Dan kesempatan akan datang, tidak diragukan lagi. Dan barangsiapa memberi peringatan maka dia telah mendapat hujjah…’.”

 

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

Pertanyaan: Bagaimanakah solusi untuk masalah Palestina yang semakin hari semakin rumit dan ganas?

Jawab: “Sesungguhnya seorang muslim demikian banyak tersakiti serta prihatin sekali dengan memburuknya masalah Palestina, dari keadaan yang buruk ke arah yang lebih buruk. Semakin hari semakin runyam. Sehingga sampailah pada kondisi (seperti) di masa-masa akhir ini, dengan sebab perselisihan negara-negara tetangganya dan tidak teguhnya mereka dalam satu barisan untuk menghadapi musuhnya, serta tidak konsistennya mereka dengan hukum Islam yang dengan itulah Allah kaitkan kemenangan mereka. Serta dengan itulah Allah janjikan pemeluknya untuk menggapai kekhilafahan dan kemapanan di muka bumi. Hal itu mengindikasikan bahaya besar dan dampak yang berbahaya bilamana negara-negara tetangga itu tidak segera menyatukan barisan mereka lagi dari awal, serta konsisten dengan hukum Islam dalam menghadapi masalah yang telah menjadi persoalan mereka dan persoalan dunia Islam seluruhnya ini.

Di antara yang perlu saya garisbawahi pada kesempatan ini bahwa masalah Palestina adalah masalah Islam, sejak awal hingga akhirnya. Namun musuh-musuh Islam berupaya kuat untuk menjauhkan masalah ini dari garis Islam dan memahamkan kepada kaum muslimin yang bukan bangsa Arab, bahwa itu hanya masalah orang Arab. Tidak ada kaitannya dengan non-Arab. Dan pada taraf ini, nampaknya mereka berhasil dalam upayanya. Oleh karena itu, saya menilai tidak mungkin (kita) sampai pada titik penyelesaian masalah tersebut kecuali dengan memandang bahwa itu adalah masalah Islam, dan dengan saling kerjasama antara sesama muslim dalam menyelamatkannya, serta berjihad melawan Yahudi dengan jihad yang Islami. Sehingga bumi (Palestina) dikembalikan kepada pemiliknya dan warga Yahudi itu pun pulang kembali ke negara asalnya. Sementara penduduk asli Yahudi tetap tinggal di negeri mereka di bawah hukum Islam, bukan hukum komunis atau sekuler. Dengan itu, kebenaran akan menang dan kebatilan akan terhina, serta pemilik negeri tersebut kembali ke negeri mereka di atas hukum Islam, bukan yang lain. Allah-lah yang memberi petunjuk.” (Diambil kumpulan fatwa beliau dengan sub judul Yajibu Tahkim Asy-Syar’i fil Khathifin)

Beliau mengatakan juga:

“Telah saya jelaskan di sana (surat kabar Al-Muslimun, 19/8/1415 H bertepatan dengan 20/1/1995 M) bahwa yang wajib dilakukan adalah berjihad melawan kaum musyrikin dari kalangan Yahudi dan yang lainnya bila ada kemampuan, hingga mereka masuk Islam atau membayar jizyah (semacam upeti) jika mereka memang pantas diambil jizyah dari mereka, sebagaimana ditunjukkan oleh ayat-ayat Al-Qur`an dan hadits-hadits Nabi. Namun ketika kaum muslimin tidak mampu untuk itu maka tidak mengapa dilakukan perjanjian damai yang menguntungkan kaum muslimin serta tidak menistakan mereka, dalam rangka mencontoh Nabi n baik dalam peperangan atau perdamaiannya, serta dalam rangka berpegang dengan dalil-dalil syar’i yang bersifat umum maupun khusus dalam masalah ini, serta berhenti padanya. Inilah jalan keselamatan serta jalan kebahagiaan dan kesejahteraan di dunia maupun akhirat.” (Majalah Al-Mujtama’ edisi 1140 tanggal 6/10/1415)

 

Pertanyaan: Apa hukumnya orang yang memasang bom pada tubuhnya, dengan tujuan membunuh sekelompok orang Yahudi?

Jawab: Pandangan saya –dan kami telah peringatkan masalah itu bukan hanya sekali– bahwa ini tidak benar, karena hal ini termasuk bunuh diri. Sementara Allah berfirman:

“Dan janganlah kalian membunuh diri kalian.” (An-Nisa`: 29)
Dan Nabi n bersabda:
“Barangsiapa yang membunuh dirinya dengan sesuatu maka dia akan diadzab dengannya di hari kiamat.”
(Seseorang hendaknya) berusaha untuk menjaga dirinya, dan apabila disyariatkan jihad maka hendaknya berjihad bersama muslimin. Sehingga apabila terbunuh maka alhamdulillah. Adapun dia membunuh dirinya dengan memasang ranjau/bom pada dirinya sehingga terbunuh bersama mereka atau melukai dirinya bersama mereka (adalah) salah, tidak diperbolehkan. Akan tetapi berjihad adalah bila disyariatkan jihad bersama muslimin. Adapun apa yang dilakukan pemuda-pemuda Palestina, maka itu salah, tidak boleh. Hanyalah yang wajib mereka lakukan adalah berdakwah kepada jalan Allah, taklim dan bimbingan serta nasihat tanpa melakukan perbuatan tersebut. (Dinukil dari buku Fatawa Al-A`immah Fin Nawazil Al-Mudlahimmah, hal. 179)
Fatwa Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi3
Tanya: Anda menjawab bahwa jihad terbagi menjadi dua, jihad thalab (yang bersifat menyerang –ofensif) dan anda telah menerangkannya dengan keterangan yang cukup, walhamdulillah. Tinggal bagian yang kedua, seandainya anda berkenan untuk menjawabnya –jazakumullah khairan.
Jawab: Adapun jihad daf’i (bersifat mempertahankan diri –defensif) yang telah dibicarakan ulama dan ditetapkan oleh mereka bahwa itu hukumnya fardhu ‘ain… Apa itu artinya? Yaitu musuh-musuh Islam menjajah salah satu negeri muslimin, maka wajib atas penduduk negeri itu bangkit membendung musuh ini dan mengusirnya dari negeri mereka. Dan hendaknya mereka terus melawan selama jumlah mereka tidak kurang dari setengah jumlah musuh yang memerangi dan menjajah. Bila jumlah mereka kurang dari jumlah ini, maka menjadi kewajiban negara tetangganya untuk ikut serta dalam jihad, dan itu menjadi fardhu ain atas mereka juga seluruh masyarakat Islam untuk bekerja sama dengan mereka semampunya. Akan tetapi mereka harus mempersiapkan segala sesuatunya. Mereka harus melakukan persiapan untuk mengusir musuh. Bukan seperti keadaan Palestina sekarang. Penduduk Palestina belum menggelar persiapannya. Bahkan masyarakat Arab Islam yang bertetangga dengannya juga belum melakukan persiapan untuk mengusir musuh-musuh Allah baik dari kalangan Yahudi dan yang lainnya. Yakni di saat Yahudi menjajah Palestina muncullah syiar-syiar jahiliah, nasionalisme, sosialisme, dan seterusnya, yang semestinya mereka bertaubat kepada Allah dari hal itu, dan kembali kepada-Nya agar berhak mendapatkan janji Allah berupa pertolongan-Nya atas musuh-musuh Allah. Tapi justru mereka menyambut ideologi-ideologi ini, nasionalisme, sosialisme, ba’ts dan seterusnya. Maka golongan-golongan seperti tidak akan mendapat kemenangan, dan jihad mereka tidak Islami. Oleh karena itu, jihad di Palestina sampai sekarang bukanlah jihad yang Islami, tetapi atas nama nasionalisme dan kebangsaan.4
Jika kaum muslimin kembali kepada jalan Allah dan bertaubat kepada-Nya lalu mereka mentarbiyah diri-diri mereka, anak-anak mereka dan pasukan mereka di atas tauhidullah yang murni serta terdidik di atas jihad demi menegakkan kalimat Allah supaya tinggi, ketika itulah insya Allah mereka dapat mengusir musuh itu.
Dan realita Palestina sekarang, (mereka) memerangi musuh yang cukup berbahaya ini, yang bersenjatakan teknologi tercanggih dan mutakhir dengan didukung negara-negara Eropa dan Amerika. Sementara Palestina tidak ada yang mendukung mereka, satu negarapun. Maka pandangan saya bahwa termasuk dari sikap terburu-buru dan tidak cerdas bila engkau perangi musuh tersebut dengan bebatuan (intifadha, ed.). Termasuk kebodohan yang ditolak Islam dan ditolak orang yang berakal (di mana) musuhmu bersenjatakan senjata yang paling ampuh dan canggih, pesawat tempur, tank, rudal, nuklir, dan seterusnya, sementara engkau tidak punya kecuali batu, dan engkau lawan dengannya.
Saya berpandangan, sekarang bila musuh menyerang rumah-rumah penduduk yang aman, serta keluarga mereka, maka wajib bagi mereka membela diri. Sampai-sampai saya ditanya oleh orang Palestina: “Bila mereka (musuh) menyerang kami, apa yang kami lakukan?” Saya jawab: “Perangi mereka jika mereka menyerangmu dan keluargamu. Lawan dengan segala yang engkau bisa, baik dengan batu atau tongkat, sampaipun dengan kuku-kuku dan gigi-gigimu.” Maka saya katakan rakyat Palestina ini, kalian jangan mencoba menyulut musuh ini sementara kalian dalam keadaan selemah-selemahnya. Dan pada derajat kelemahan terendah, janganlah kalian memanasi mereka. Mulailah dengan taklim, didiklah dengan manhaj Islam yang benar, niscaya Allah akan jadikan untuk kalian jalan keluar dan solusi. Allah berfirman:
“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar.” (Ath-Thalaq: 2)
Maka wajib bagi kalian untuk mengikhlaskan niat dan wajib mentarbiyah diri dan anak kalian di atas tauhidullah sehingga kalian mendapatkan hak kemenangan dari Allah. Lalu siapkan persenjataan ketika kalian angkat bendera jihad, niscaya Allah akan menolong kalian. Inilah yang mungkin aku katakan seputar jihad ini. Dan aku memohon kepada Allah tabaraka wa ta’ala agar memberikan taufiq-Nya kepada kaum muslimin untuk bertaubat kepada Allah dan kembali kepada-Nya, agar Allah angkat kehinaan ini dari mereka. Kejayaan, pertolongan dan lenyapnya kehinaan, itu semuanya tergadai dengan kembalinya mereka kepada jalan Allah secara benar, (jalan) yang dibawa oleh Nabi Muhammad. Bila ini terwujud, insya Allah kaum muslimin akan diberi mahkota kemenangan pada pertempuran manapun yang mereka lakukan melawan musuh Allah:
“Dan sekiranya orang-orang kafir itu memerangi kamu pastilah mereka berbalik melarikan diri ke belakang (kalah) kemudian mereka tiada memperoleh pelindung dan tidak (pula) menolong. Sebagai suatu sunnatullah yang telah berlaku sejak dahulu, kamu sekali-kali tiada akan menemukan perubahan bagi sunnatullah itu.” (Al-Fath: 22-23)
Ini adalah sunnatullah, tidak akan meleset selamanya, sunatullah al-kauniyyah (ketetapan Allah pada alam ini). Maka bila kita lakukan sunnah syar’iyyah (ketetapan Allah pada syariat-Nya) yang kita diminta melakukannya, niscaya akan datang sunnatullah al-kauniyyah yaitu janji Allah untuk menang terhadap musuh dan mendapatkan kemenangan di atas musuh.
Maka bila kalian sungguh-sungguh dalam memerangi Yahudi dan selain mereka, hendaknya memakai senjata ini, senjata aqidah. Setelah itu baru senjata fisik. Adapun sekarang, senjata iman lemah –tidak saya katakan tidak ada– lemah sekali, jauh dari tingkatan yang dimaukan. Sementara senjata fisik tidak ada. Kalau begitu, belum waktunya jihad… Adapun persatuan Arab yang berlandaskan nasionalisme Arab, kebangsaan jahiliah, (maka Nabi bersabda:) “Bukan dari golongan kami orang yang mengajak kepada ashabiah (fanatik kesukuan) atau berperang karena ashabiah”, atau berperang di bawah bendera ‘immiyyah (kesesatan). Bendera ‘immiyyah yang tergabung padanya Nasrani, Yahudi bila dia punya toleransi, masuk pula padanya komunis, masuk padanya sekuler. Ini bila kita angkat bendera kearaban. Orang yang mengangkat bendera ini apakah menjadi syahid?! Sekali-kali tidak! Orang yang berperang agar kalimat Allah menjadi tinggi itulah yang di jalan Allah. Demi Allah, Yahudi dan Nasrani benar-benar bertepuk tangan terhadap identitas kearaban karena mereka paham benar bahwa tidak akan mengalahkan mereka kecuali Islam yang Muhammad n datang membawanya. Islam yang dengannya terbukalah daerah-daerah di dunia ini. Islam yang dengannya pemelukya menang di atas segala bangsa dan agama….” (Kaset Aqwal ‘Ulama Fil Jihad Al-Mu’ashir)

1 Salah seorang anggota Jum’iyyah Ulama di Aljazair.
2 Seorang pakar hadits sekaligus hakim di Mesir.
3 Mantan Ketua Jurusan As-Sunnah pada Fakultas Hadits, Universitas Islam Madinah.
4 Anehnya, justru pada tahun 1946 Hasan Al-Banna berceramah di hadapan tim gabungan Amerika dan Inggris dalam urusan Palestina, yang di antara isinya: “…Sisi yang akan saya bicarakan adalah sebuah titik yang sederhana dari sisi pandang agama. Karena titik ini bisa jadi tidak dipahami oleh bangsa Barat. Oleh karena itu, saya hendak menjelaskannya dengan ringkas. Saya tetapkan bahwa permusuhan kami dengan Yahudi bukan dari sisi agama, karena Al-Qur`an menganjurkan untuk bersahabat dan berkawan dengan mereka. Dan Islam adalah syariat kemanusiaan sebelum syariat kebangsaan. Juga Al-Qur`an telah memuji mereka dan menjadikan antara kita dengan mereka ikatan… Ketika kami menentang hijrah Yahudi dengan segala kekuatan kami, adalah karena hal tersebut mengandung bahaya secara politis dan merupakan hak bagi kami, Palestina menjadi negara Arab.” (Ikhwanul Muslimin Ahdatsun Shana’at Tarikh)
Ternyata ideologi ini diwarisi Dr. Yusuf Al-Qaradhawi, di mana ia mengatakan: “Jihad kami melawan Yahudi bukan karena mereka Yahudi. Sebagian saudara yang menulis dalam masalah ini dan berbicara tentangnya menganggap bahwa kita memerangi Yahudi karena mereka itu Yahudi. Kami tidak memandang demikian. Sehingga kita tidak memerangi Yahudi disebabkan aqidah, namun kita memerangi mereka dikarenakan tanah. Kita tidak memerangi orang kafir karena mereka itu orang kafir, namun memerangi mereka karena mereka telah merampas tanah dan negeri kita serta mengambilnya dengan cara yang tidak benar.” (Majalah Ar-Rayah edisi 4696, 24 Sya’ban 1415 H, bertepatan 25 Januari 1995 M, dinukil dari buku Dhalalat Al-Qaradhawi hal. 8)

Akidah dan Amalan Yahudi yang Ditiru oleh Sebagian Kaum Muslimin

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Abdillah Abdurrahman Mubarak)

 

Kaum Yahudi adalah orang-orang kafir yang kebenciannya kepada kaum muslimin sangatlah besar. Allah berfirman:

“Sungguh engkau akan dapati orang yang paling keras permusuhannya kepada kalian adalah orang-orang Yahudi dan kaum musyrikin.” (Al-Ma`idah: 82)
Mereka adalah kaum yang dimurkai oleh Allah l. Mereka terus berupaya agar ada di antara kelompok kaum muslimin yang mengikuti mereka. Allah l berfirman:
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan ridha kepada kalian hingga kalian mengikuti agama mereka. ” (Al-Baqarah: 120)
Allah l melarang kita berloyalitas dengan mereka. Allah l berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menjadikan orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin (teman dekat kalian); sebagian mereka adalah pemimpin (teman dekat) bagi sebagian yang lain. Barangsiapa di antara kalian menjadikan mereka menjadi pemimpin (teman dekat), maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. ” (Al-Ma`idah: 51)
Rasulullah n mengajarkan kepada kita untuk senantiasa menyelisihi mereka. Beliau n bersabda (yang artinya):
“Panjangkanlah jenggot, selisihilah oleh kalian orang-orang Yahudi. ”
Beliau n bersabda pula (yang artinya):
“Shalatlah dengan memakai sandal kalian. Selisihilah Yahudi, karena mereka tidak shalat memakai sandal.”
Akan tetapi sudah merupakan sunnatullah, akan ada orang-orang yang mengikuti mereka. Beliau n berkata:
“Kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Hingga jika mereka masuk ke lubang dhabb niscaya kalian akan mengikutinya. ” Kami katakan: “Ya Rasulullah, apakah (yang dimaksud) Yahudi dan Nasrani?” Beliau berkata: “Siapa lagi (kalau bukan mereka)?” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Di antara amalan dan keyakinan Yahudi yang diikuti sebagian muslimin:
1. Ghuluw
Ghuluw artinya melampaui batas. Adapun dalam syariat, artinya adalah melampaui batas dalam memuji dan mencela.
Ghuluw terjadi dalam masalah aqidah, ibadah, muamalah, maupun adat. Allah l berfirman:
“Katakanlah: ‘Hai ahli kitab, janganlah kalian berbuat ghuluw (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agama kalian’.” (Al-Ma`idah: 77)
Di antara bentuk ghuluw kaum Yahudi adalah mengkultuskan dan menyembah manusia. Allah l berfirman tantang perbuatan Yahudi dan Nasrani:
“Mereka menjadikan ulama dan ahli ibadah mereka sebagai rabb selain Allah.” (At-Taubah: 31)
Mereka mengkultuskan ‘Uzair, sebagaimana firman Allah l:
“Orang-orang Yahudi berkata: ‘Uzair adalah anak Allah. ’ Orang-orang Nasrani berkata: ‘Al-Masih (Isa) adalah anak Allah.’ Itulah ucapan yang diucapkan mulut-mulut mereka, menyerupai ucapan orang-orang kafir sebelum mereka.” (At-Taubah: 30)
Kemudian muncul di kalangan muslimin orang-orang yang ghuluw terhadap Rasulullah n dan orang-orang shalih. Padahal Rasulullah n berkata:
”Janganlah kalian mengultuskan aku, sebagaimana orang-orang Nasrani mengultuskan Isa ibnu Maryam.”
Di kalangan umat ini ada kelompok Sufi yang mengkultuskan Rasulullah n, mengklaim bahwa beliau mengetahui ilmu ghaib. Bahkan sebagian mereka menyatakan semua makhluk diciptakan karena Nabi Muhammad n. Padahal Allah l menyatakan tentang hikmah diciptakannya jin dan manusia:
“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (Adz-Dzariyat: 56)
Demikian juga kelompok Syi’ah yang mengkultuskan orang-orang yang mereka anggap sebagai imam mereka. Di antara bentuk pengkultusan mereka adalah meyakini bahwa imam mereka ma’shum (terjaga dari kesalahan) dan mengetahui perkara ghaib.
Khomeini (tokoh Syiah) berkata: “Sesungguhnya termasuk perkara yang penting dalam madzhab kami, bahwasanya para imam memiliki kedudukan yang tidak bisa dicapai oleh malaikat muqarrabun (yang dekat) ataupun nabi yang diutus.”
Dalam kitab sesat mereka Al-Kafi disebutkan: “Bab: Para imam mengetahui apa yang telah dan akan terjadi, serta tidak ada sesuatupun yang tersembunyi bagi mereka.”
Inilah ucapan-ucapan kufur yang menunjukkan ghuluw kaum Syi’ah terhadap orang-orang yang mereka anggap sebagai imam.
2. Mentahrif Kalamullah
Tahrif maknanya memalingkan ucapan dari makna yang dzahir kepada makna lain yang tidak ditunjukkan oleh konteks kalimat, tanpa ada dalil yang menunjukkannya.
Tahrif ada dua macam: tahrif lafdzi dan tahrif maknawi.
Tafrif lafdzi ada tiga macam:
a. Mengubah harakat, seperti mereka mentahrif firman Allah l:
“Dan Allah telah berbicara kepada Musa secara langsung.” (An-Nisa`: 164)
mereka membacanya dengan me-nashab-kan lafzhul jalalah sehingga dibaca: اللهَ sehingga maknanya Nabi Musa lah yang berbicara kepada Allah l.
b. Menambah satu huruf, seperti tahrif yang dilakukan ahlul bid’ah terhadap kata: (naik di atas) mereka tahrif menjadi (menguasai).
c. Menambah satu kata, seperti tahrif yang mereka lakukan dalam firman Allah l: (Rabb-mu datang) menjadi وَجَاءَ أَمْرُ رَبِّكَ (perintah Rabb-mu datang).
Tahrif maknawi adalah mengubah makna suatu kata tanpa mengubah harakat atau lafadznya. Sebagai contoh mereka memaknakan:(tangan Allah l) dengan makna kekuatan Allah l.
Tahrif adalah perbuatan orang-orang Yahudi. Allah l berfirman tentang mereka:
“Di antara orang Yahudi ada yang mentahrif (menyelewengkan makna) firman Allah dari makna yang benar.” (An-Nisa`: 46)
Di antara bentuk tahrif Yahudi, ketika mereka diperintah untuk mengucapkan حِطَّةٌ (ampunilah) mereka malah mengucapkan حِنْطَةٌ (gandum).
Di kalangan umat ini muncul kelompok-kelompok yang men-tahrif firman Allah l untuk mendukung kebid’ahan dan aqidah mereka yang rusak, seperti Mu’tazilah, Asy’ariyah, Maturidiyah, dan ahlul bid’ah lainnya. Mereka melakukan tahrif lafdzi dan maknawi yang telah diterangkan di atas.
3. Menjadikan kuburan sebagai masjid
Di antara sebab dilaknatnya Yahudi dan Nasrani adalah menjadikan kuburan sebagai masjid. Rasulullah n bersabda:
“Allah melaknat Yahudi dan Nasrani karena mereka menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid.”
Rasulullah n memperingatkan umatnya dari perbuatan yang demikian. Beliau pernah berkata:
“Ya Allah, janganlah Engkau jadikan kuburanku sebagai berhala yang disembah.”
Namun muncul orang-orang Sufi dan semisal mereka –seperti Rafidhah dan lainnya– yang mengagungkan kuburan-kuburan dan menyembahnya. Mereka melakukan haul, thawaf, dan berbagai macam ritual yang tidak diajarkan oleh Rasulullah n.
Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan v berkata: “Di antara bentuk ghuluw kepada kuburan dan penghuni kubur adalah mendirikan bangunan di atas kuburan, memberinya lentera, meletakkan kelambu padanya, menulisi nisannya, mengapur (mengecatnya) serta bentuk ghuluw lainnya. Oleh karena itu, Rasulullah n melarang semua perbuatan ini.” (Syarh Masa`il Jahiliyyah, hal. 226)
4. Berloyalitas kepada musuh-musuh Allah l
Allah l berfirman tentang perbuatan Bani Israil (Yahudi):
“Kamu melihat kebanyakan dari mereka berwala’ (berloyalitas) kepada orang-orang yang kafir (musyrik). Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka persiapkan bagi diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka; dan mereka akan kekal dalam siksaan.” (Al-Ma`idah: 80)
Allah l telah mengharamkan berloyalitas dengan orang kafir. Allah l berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin (teman dekatmu); sebagian mereka adalah pemimpin (teman dekat) bagi sebagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu berwala’ (berloyalitas) kepada mereka (menjadikannya sebagai pemimpin atau teman dekat), maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (Al-Ma`idah:51)
Allah l melarang kaum muslimin melakukan perbuatan seperti Yahudi yaitu berloyalitas dan cinta kepada orang-orang kafir. Allah l berfirman:
“Janganlah orang-orang mukmin menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin (teman dekat) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barangsiapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka.” (Ali ‘Imran: 28)
Jelaslah bahwa memusuhi dan berlepas diri dari orang kafir dan agama mereka adalah wajib. Prinsip al-wala` wal bara` termasuk kewajiban dalam Islam yang paling besar.
Namun di umat ini ada Syi’ah Rafidhah dan kaum Sufi yang sering membuka hubungan dan ber-wala` dengan orang kafir. Mereka tidak segan-segan berkhianat untuk membantu orang kafir dalam menghadapi muslimin. Pengkhianatan yang pernah mereka lakukan merupakan satu di antara sekian banyak sejarah kelam mereka.
Seorang tokoh Rafidhah bernama Nashir At-Tushi membuat bait-bait syair menyanjung Al-Mu’tashim, salah seorang pemimpin dari Bani Abbasiyyah. Tetapi ketika pemimpin Tartar, Hulagu Khan punya kesempatan untuk membunuhnya, ia pun memberikan isyarat untuk membunuhnya. Pengkhianatan inipun melibatkan seorang Rafidhah lainnya yang bernama Ibnu Alqami. Dialah yang menyarankan Al-Mu’tashim untuk mengurangi pasukan sehingga Hulagu leluasa membunuhnya. (‘Aqidah Ahlus Sunnah wa Mafhumuha, hal. 65)
5. Sihir
Orang-orang Yahudi termasuk orang-orang yang menggunakan sihir, bahkan salah seorang mereka telah menyihir Rasulullah n. Mereka telah membuang apa yang dibawa para rasul, lalu beriman kepada kitab-kitab sihir, sebagaimana Allah l terangkan:
“Dan setelah datang kepada mereka seorang Rasul dari sisi Allah yang membenarkan apa (Kitab) yang ada pada mereka, sebagian orang-orang yang diberi Kitab (Taurat) melemparkan Kitab Allah ke belakang (punggung)-nya, seolah-olah mereka tidak mengetahui (bahwa itu adalah Kitab Allah). Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidaklah kafir (tidak mengerjakan sihir). Hanya setan-setanlah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia.” (Al-Baqarah: 101-102)
Amalan Yahudi yang kufur inipun diikuti oleh sebagian orang yang menisbatkan diri kepada Islam. Sebagian mereka mendalami ilmu sihir dan menjauhkan diri dari ilmu agama Allah l.
6. Beriman kepada sebagian ayat Allah l dan mengingkari sebagian yang lain.
Allah l berfirman menerangkan sebagian sifat Yahudi:
“Apakah kalian beriman kepada sebagian kitab dan mengingkari sebagiannya?” (Al-Baqarah: 85)
Mereka tidak beriman kecuali yang sesuai dengan hawa nafsu mereka. Padahal keimanan mereka kepada sebagian ayat Allah l tidaklah bermanfaat bagi mereka jika mendustakan yang lainnya.
Asy-Syaikh Shalih Fauzan v berkata: “Termasuk orang yang mengingkari sebagian ayat adalah orang yang menyatakan Al-Qur`an adalah makhluk, baik lafadz dan maknanya. Atau menyatakan: Lafadznya makhluk, adapun maknanya bukan; seperti ucapan Asy’ariyah. Ini semua adalah ucapan yang mendustakan Al-Qur`an. Barangsiapa yang menyatakan Al-Qur`an adalah makhluk, baik lafadz dan maknanya sebagaimana ucapan Jahmiyah; atau menyatakan bahwa lafadznya makhluk sedangkan maknanya dari Allah l, inipun kufur. Kecuali jika yang mengucapkannya adalah seorang muqallid (orang yang taklid) atau muta`awil (mentakwil) maka dia telah sesat. Karena Al-Qur`an adalah Kalamullah, baik lafadz dan maknanya. Huruf-huruf dan maknanya, semuanya adalah Kalamullah…” (Syarh Masa`il Jahiliyyah, hal. 170)
7. Ta’ashub (fanatik buta)
Di antara sifat Yahudi adalah ta’ashub kepada madzhab yang batil. Mereka berkata sebagaimana firman Allah l:
“Janganlah kalian percaya kecuali kepada orang yang mengikuti agama kalian.” (Ali ‘Imran: 73)
Dalam ayat lain:
“Kami beriman kepada kitab yang diturunkan kepada kami.” (Al-Baqarah: 91)
Yakni (beriman) kepada kitab yang turun kepada nabi-nabi kami saja.
Padahal kewajiban mereka adalah beriman kepada apa yang Allah l turunkan kepada nabi mereka dan nabi yang selain dari mereka. Hakikatnya, mereka pun tidak beriman kepada apa yang Allah l turunkan kepada nabi mereka. Oleh karena itu Allah l berfirman:
“Mengapa kalian membunuh nabi-nabi Allah?” (Al-Baqarah: 91)
Yakni, apakah yang Allah l turunkan kepada kalian adalah ajaran membunuh para nabi, seperti yang kalian lakukan?
Amalan Yahudi inipun diikuti oleh sebagian kaum muslimin. Sebagian mereka fanatik kepada madzhab atau kelompok tertentu tanpa ada dalil. Bahkan dalam hal yang menyelisihi dalil Al-Qur`an dan Sunnah Rasulullah n.
8. Hiyal (tipu muslihat)
Di antara amalan Yahudi yang tercela adalah melakukan hiyal dalam rangka menolak apa yang dibawa para rasul serta menyelamatkan kekufuran dan kesesatan mereka. Hal ini mereka lakukan karena tidak mampu menolak secara terang-terangan, sehingga mereka melakukan makar secara tersembunyi. Allah l berfirman tentang mereka:
“Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.” (Ali ‘Imran: 54)
Ketika Rasulullah n hijrah ke Madinah dan menang dalam perang Badr, orang Yahudi tidak mampu menghalangi manusia dari agama Nabi Muhammad n. Mereka pun melakukan hiyal dan makar. Sekelompok mereka berkata: “Masuk Islamlah kalian di awal siang, jika sudah di akhir siang murtadlah kalian dari Islam. Ucapkanlah oleh kalian: ‘Tidak kami dapati kebaikan di dalam agama Muhammad’, niscaya manusia mengikuti langkah kalian karena kalian adalah ahlul kitab. Allah l membongkar makar mereka ini dalam firman-Nya:
“Sekelompok ahli kitab (kepada sesamanya) berkata: ‘Perlihatkanlah (seolah-olah) kalian beriman kepada apa yang diturunkan kepada orang-orang beriman (sahabat-sahabat Rasul) pada permulaan siang dan ingkarilah ia pada akhirnya, supaya mereka (orang-orang mukmin) kembali (kepada kekafiran)’.” (Ali ‘Imran: 72)
Di antara bentuk hiyal dan makar Yahudi adalah ketika mereka dilarang mengambil ikan di hari Sabtu. Maka mereka memasang jaring (jala) di hari Jum’at dan mengambilnya setelah Sabtu. Allah l berfirman:
“Dan tanyakanlah kepada Bani Israil tentang negeri yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu, di waktu datang kepada mereka ikan-ikan (yang berada di sekitar) mereka terapung-apung di permukaan air, dan di hari-hari yang bukan Sabtu, ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah kami mencoba mereka disebabkan mereka berlaku fasik.” (Al-A’raf: 163)
Inilah beberapa aqidah dan amalan kaum Yahudi yang Allah l terangkan kepada kita, kami sebutkan agar kita menjauhinya. Hudzaifah z berkata: “Dahulu para sahabat bertanya kepada Rasulullah n tentang kebaikan, adapun aku bertanya kepadanya tentang kejelekan karena khawatir akan menimpaku.”
Seorang penyair berkata:
Aku kenal kejelekan bukan untuk melakukannya, namun untuk menjauhinya
Siapa yang tidak kenal kebaikan dari kejelekan, tentu akan terjerumus padanya
Sebetulnya masih banyak kesesatan yang dilakukan sebagian orang yang menisbatkan diri mereka kepada Islam, seperti ucapan sesat orang-orang Syi’ah bahwa Al-Qur`an telah diubah. Ini juga ucapan yang pernah dilontarkan kaum Yahudi (lihat kitab Lillah tsumma Litarikh).
Demikian juga talbis (mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan) yang banyak dilakukan ahlul bid’ah, merupakan warisan Yahudi. Allah l berfirman:
“Dan janganlah kalian campur adukkan yang haq dengan yang batil, dan janganlah kalian sembunyikan yang haq itu, sedang kalian mengetahuinya.” (Al-Baqarah: 42)
Mudah-mudahan apa yang kami tulis ini bermanfaat. Dan mudah-mudahan Allah l memberi taufiq kepada kita untuk menjauhi jalan-jalan kesesatan Yahudi dan orang kafir lainnya.
Wa akhiru da’wana anilhamdulillahi rabbil ‘alamin.

Kebencian Yahudi Terhadap Jibril, Malaikat yang Menjadi Wali Para Nabi

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Ubaidah Syafruddin)

قَالَ أَنَسٌ: قَالَ عَبْدُ اللهِ بْنُ سَلاَمٍ لِلنَّبيِّ n:
إِنَّ جِبْرِيْلَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ عَدُوُّ الْيَهُوْدِ مِنَ الْمَلاَئِكَةِ
Anas bin Malik z berkata: Abdullah bin Salam z berkata kepada Nabi n: “Sesungguhnya Jibril q adalah musuh bagi Yahudi dari kalangan malaikat.”
Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad dalam Musnad-nya (no. 12502, 12728, 13365), Al-Imam Al-Bukhari dalam Kitab Bad`ul Khalq bab Dzikru Malaikat, Kitab Ahaditsul Anbiya` (no. 3329), Kitab Manaqib Al-Anshar (no. 3911, 3938), Kitab Tafsir (no. 4480).
Hadits di atas merupakan bagian dari hadits yang lengkapnya sebagai berikut:
عَنْ أَنَسٍ قَالَ: سَمِعَ عَبْدُ اللهِ بنُ سَلاَمٍ بِقُدُوْمِ رَسُوْلِ اللهِ n وَهُوَ فِى أَرْضٍ يَخْتَرِفُ، فَأَتَى النَبِيَّ n فَقَالَ إِنِّى سَاِئَلُكَ عَنْ ثَلاَثٍ لاَ يَعْلَمُهُنَّ إِلاَّ نَبِيٌّ؛ فَمَا أَوَّلُ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ؟ وَمَا أَوَّلُ طَعَامِ أَهْلِ الْجَنَّةِ؟ وَمَا يَنْزِعُ الْوَلَدَ إِلَى أَبْيِهِ أَوْ إِلَى أُمِّهِ؟ قَالَ: أَخْبَرَنِى بِهِنَّ جِبْرِيْلُ آنِفاً. قَالَ: جِبْرِيْلُ؟ قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: ذَاكَ عَدُوُّ الْيَهُوْدِ مِنَ الْمَلاَئِكَةِ. فَقَرأَ هَذِهِ اْلآيَةَ: {مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِجِبْرِيلَ فَإِنَّهُ نَزَّلَهُ عَلَى قَلْبِكَ} أَمَّا أَوَّلُ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ فَنَارٌ تَحْشُرُ النَّاسَ مِنَ الْمَشْرِقِ إِلَى الْمَغْرِبِ، وَأَمَّا أَوَّلُ طَعَامِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَزِيَادَةُ كَبِدِ الْـحُوْتِ، وَإِذَا سَبَقَ مَاءُ الرَّجُلِ مَاءَ الْـمَرْأَةِ نَزَعَ الْوَلَدَ، وَإِذَا سَبَقَ مَاءُ الْـمَرْأَةِ نَزَعَتْ. قَالَ: أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّكَ رَسُوْلُ اللهِ، يَا رَسُوْلَ اللهِ، إِنَّ الْيَهُوْدَ قَوْمٌ بُهُتٌ، وَإِنَّهُمْ إِنْ يَعْلَمُوا بِإِسْلاَمِي قَبْلَ أَنْ تَسْأَلَهُمْ يَبْهَتُوْنِى. فَجَاءَتِ الْيَهُوْدُ، فَقَالَ النَّبِيُّ n: أَىُّ رَجُلٍ عَبْدُ اللهِ فِيْكُمْ؟ قَالُوا: خَيْرُنَا وَابْنُ خَيْرِنَا، سَيِّدُنَا وَابْنُ سَيِّدِنَا. قَالَ: أَرَأَيْتُمْ إِنَّ أَسْلَمَ عَبْدُ اللهِ بْنُ سَلاَمٍ؟ فَقَالُوا: أَعَاذَهُ اللهُ مِنْ ذَلِكَ. فَخَرَجَ عَبْدُ اللهِ فَقَالَ: أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ. فَقَالُوا: شَرُّنَا وَابْنُ شَرِّنَا. وَانْتَقَصُوْهُ، قَالَ: فَهَذَا الَّذِى كُنْتُ أَخَافُ، يَا رَسُوْلَ اللهِ
Dari Anas, dia berkata: “Abdullah bin Salam mendengar kedatangan Rasulullah n dan ia tengah berada di sebuah kebun sedang memetik buah (kurma). Datanglah ia kepada Nabi n dan berkata: ‘Sesungguhnya saya akan bertanya kepadamu tentang tiga hal, tidak ada yang mengetahuinya kecuali seorang nabi: Apa awal tanda datangnya hari kiamat? Makanan apakah yang pertama kali bagi penduduk Jannah (surga)? Apakah yang menyebabkan anak dapat serupa dengan ayah atau ibunya?’ Rasulullah n bersabda: ‘Baru saja Jibril memberitakan kepadaku (jawaban) tiga perkara itu.’ Abdullah bin Salam bertanya: ‘Jibril?!’ Beliau menjawab: ‘Iya.’ Maka ia berkata: ‘Itu adalah musuh Yahudi dari kalangan para malaikat.’ Kemudian beliau membaca ayat:
مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِجِبْرِيلَ فَإِنَّهُ نَزَّلَهُ عَلَى قَلْبِكَ
‘(Barangsiapa yang menjadi musuh Jibril maka Jibril itu telah menurunkannya (Al-Qur`an) ke dalam hatimu)1. Adapun awal tanda hari kiamat adalah munculnya api yang menghimpun manusia dari Masyriq (Timur) ke Maghrib (Barat). Adapun makanan yang pertama bagi penghuni Jannah adalah potongan yang menempel pada hati ikan. Apabila memancarnya air mani laki-laki mendahului air mani wanita maka anak yang akan lahir serupa dengan ayahnya (laki-laki), dan apabila air mani wanita mendahului maka anak yang akan lahir serupa dengan ibunya (wanita).’
Abdullah bin Salam berkata: ‘Aku bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah selain Allah dan aku bersaksi bahwa engkau adalah Rasulullah. Wahai Rasulullah, sesungguhnya orang-orang Yahudi adalah suatu kaum yang mengada-adakan kebohongan. Sesungguhnya jika mereka mengetahui keislamanku sebelum engkau bertanya kepada mereka, pasti mereka akan membuat kebohongan atas diriku.’ Datanglah orang-orang Yahudi. Nabi n pun bertanya: ‘Bagaimana menurut kalian seorang laki-laki yang bernama Abdullah?’ Mereka menjawab: “Dia orang yang terbaik di antara kami, anak seorang yang terbaik di antara kami, pemuka kami, anak seorang pemuka kami.’ Beliau bertanya: ‘Bagaimana pendapat kalian jika Abdullah bin Salam masuk Islam?’ Mereka menjawab: ‘Semoga Allah melindunginya dari perkara itu.’ Keluarlah Abdullah dan berkata:
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ
Kemudian mereka berkata: ‘Dia orang yang terburuk di antara kami dan anak seorang terburuk di antara kami,’ dan menjelek-jelekkannya. Abdullah berkata: ‘Inilah yang aku khawatirkan, wahai Rasulullah’.”
Penjelasan Jalur Periwayatan
Dalam Musnad Al-Imam Ahmad terdapat tiga jalan periwayatan dari sahabat Anas bin Malik z:
Pertama: dari Humaid bin Abi Humaid At-Thawil Abu ‘Ubaidah Al-Khuza’i Al-Bashri.
Dari Humaid ada tiga perawi yang meriwayatkan darinya. Mereka adalah: Hammad bin Salamah Abu Salamah Al-Bashri, Ismail bin Ibrahim Al-Asadi Abu Bisyr Al-Bashri, dan Muhammad bin Ibrahim As-Sulami Abu ‘Amr Al-Bashri.
Kedua: dari Abdul Aziz bin Shuhaib Abu Hamzah Al-Bashri.
Dari Abdul Aziz ada seorang perawi yang meriwayatkan darinya yaitu Abdul Warits bin Sa’id bin Dzakwan Al-‘Anbari.
Ketiga: dari jalan Tsabit bin Aslam Al-Bunani Abu Muhammad Al-Bashri.
Dari Tsabit bin Aslam terdapat seorang rawi yang meriwayatkan darinya yaitu Hammad bin Salamah Abu Salamah Al-Bashri. (lihat diagram 1)
Adapun dalam Shahih Al-Bukhari terdapat dua jalan periwayatan dari sahabat Anas bin Malik z.
Pertama: dari jalan Humaid bin Abi Humaid Ath-Thawil Abu Ubaidah Al-Khuza’i Al-Bashri.
Dari Humaid terdapat tiga perawi yang meriwayatkan darinya. Mereka adalah Marwan bin Mu’awiyah Abu Abdillah Al-Fazari Al-Kufi, Bisyr bin Mufadhal Ar-Raqasyi Abu Isma’il Al-Bashri, dan Abdullah bin Bakr Al-Bahili Abu Wahb Al-Bashri.
Kedua: dari Abdul Aziz bin Shuhaib Abu Hamzah Al-Bashri
Dari Abdul Aziz terdapat seorang perawi yang meriwayatkan darinya yaitu Abdul Warits bin Sa’id bin Dzakwan Al-‘Anbari. (lihat diagram 2)
Lafadz hadits yang tersebut pada pembahasan ini disebutkan Al-Imam Al-Bukhari t dalam Shahih-nya pada Bab Dzikru Al-Malaikat dengan bentuk mu’allaq2dengan lafadz yang singkat. Kemudian beliau meriwayatkan pada tempat yang lain dengan sanad yang bersambung dan lafadz yang sempurna seperti tersebut di atas.
Sebagaimana yang tersebut pada diagram periwayatan di atas, kita ketahui bahwa Humaid meriwayatkan dari Anas bin Malik. Terkadang periwayatan beliau dalam bentuk عَنْعَنَةٌ (seperti menggunakan lafadz عَنْ (dari)) sebagaimana riwayat dari jalan Hammad bin Salamah, Isma’il bin Ibrahim, Muhammad bin Ibrahim dan Marwan bin Mu’awiyah Al-Fazari, yang semua meriwayatkan dari Humaid. Dalam keadaan beliau seorang mudallis3 sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar t dalam kitabnya Taqrib At-Tahdizb (hal. 181, cet. Dar Ar-Rusyd).
Demikian pula Hammad, Syu’bah, Ibnu ‘Adi, Ibnu Sa’d, Ibnu Hibban, dan yang lainnya menyatakan bahwa Humaid adalah seorang mudallis. (lihat Tahdzibut Tahdzib, 1/494 – 495 cet. Muassasah Ar-Risalah)
Namun kesamaran riwayat beliau ini telah dipertegas dengan bentuk yang gamblang -menunjukkan ia mendengar langsung dari rawi di atasnya-, seperti yang terdapat pada riwayat dari jalan Bisyr bin Mufadhal dan Abdullah bin Bakr. Keduanya berkata: “Humaid telah memberitakan kepada kami, Humaid berkata: Anas bin Malik telah memberitakan kepada kami.”
Demikian pula pernyataan Al-Hafizh Abu Sa’id Al ‘Ala`i. Kalaupun dikatakan bahwa hadits-hadits yang diriwayatkan Humaid dari Anas adalah mudallasah (periwayatan dengan lafadz yang samar) akan tetapi telah jelas siapa yang menjadi perantara antara beliau dengan Anas (yaitu Tsabit bin Aslam), yang mana beliau adalah seorang yang tsiqah (dipercaya).
Penjelasan Mufradat Hadits
• Kalimat:
وَهُوَ فِى أَرْضٍ يَخْتَرِفُ
Artinya: ia berada di sebuah kebun sedang memetik buah (kurma). Lafadz ini terdapat pada riwayat dari jalan Abdullah bin Bakr, dari Hammad, dari Anas bin Malik. Yang mempertegas bahwa ia sedang berada di atas pohon kurma ialah riwayat yang tersebut dalam Musnad Al-Imam Ahmad, sebagaimana riwayat dari jalan Hammad dari Tsabit dan Humaid dari Anas bin Malik dengan lafadz:
وَهُوَ فِى نَخْلِهِ
Artinya: ia sedang berada di atas pohon kurma.
Dan Al-Hafizh menyebutkan dalam Fathul Bari (7/311) riwayat dalam Sunan Al-Baihaqi dengan lafadz:
وَأَنَا عَلَى رَأسِ نَخْلَةٍ
Artinya: dan saya berada di atas pohon kurma.
• Kalimat:
جِبْرِيْلُ
‘Ikrimah berkata bahwa nama جِبْرِيْلُ berasal dari kata جبر bermakna: عَبْدٌ (hamba), adapun إِيلُ bermakna الله, sehingga nama جِبْرِيْلُ bermakna عَبْدُ اللهِ (hamba Allah).
Pendapat ini juga disandarkan kepada Ibnu ‘Abbas c, hanya saja terdapat tambahan: “Setiap nama yang padanya ada kata-kata إِيلُ maknanya adalah Allah.”
Abdullah ibn Harits Al-Bashri, salah seorang tabi’in, menerangkan bahwa nama Allah إيل adalah nama yang menggunakan huruf Ibraniyyah.
‘Ali bin Hasan berkata: “Nama جِبْرِيْلُ sama dengan Abdullah, مِيكَائِيلُ sama dengan Ubaidullah, إِسْرَافِيْلُ sama dengan Abdurrahman. Dan setiap nama yang padanya ada kata إيل maka bermakna مُعَبَّدٌ لِلهِ : dihambakan kepada Allah.”
Ath-Thabari dan yang lainnya berkata: “Pada nama جِبْرِيْلُ terdapat beberapa bahasa:
Ahlul Hijaz (penduduk Hijaz) membacanya dengan: جِبْرِيْلُ dan inilah bacaan mayoritas qurra` (ahli qira`ah).
Bani Asad membacanya dengan جِبْرِيْن.
Sebagian Ahlu Najd, Tamim, Qais membaca dengan جَبْرَئِيْل, dan ini bacaan Al-Kisa`i dan Abu Bakr, dan yang dipilih oleh Abu ‘Ubaid.
Yahya bin Watsaf dan ‘Alqamah membacanya dengan جَبْراَئِيْل.
Yahya bin Adam membacanya dengan جَبْراَئِل.
Diriwayatkan dari Al-Hasan dan Ibnu Katsir, bahwa keduanya membaca dengan جَبْرِيْلُ.
Kemudian diriwayatkan dari Yahya bin Ya’mar membacanya dengan جَبْرَئِلُّ. (Fathul Bari, 8/205-206, cet. Darul Hadits)
Kemudian pada Fathul Bari (6/368), Al-Hafizh menyebutkan bahwa nama جِبْرِيْلُ terdapat13 bahasa:
جِبْرِيْلُ، جَبْرِيْلُ، جَبْرَئِيْلُ، جَبْرَئِلُ، جَبْرَئِلُّ، جَبْرَائِيْلُ، جَبْرَايِلُ، جَبْرَيْئِيْلُ، جَبْرَالُ، جَبْرَايِلُ، جَرِيْنُ، جِرِيْنُ، جَبْرَئِيْنُ
• Kalimat:
نَزَعَ الْوَلَدَ
bermakna جَذَبَهُ yang berarti menariknya. Maksudnya adalah penyerupaan, sebagaimana dalam riwayat yang lain (lihat pembahasan Asy-Syariah Vol. II/No. 24 hal. 87-90).
• Kalimat:
خَيْرُنَا وَابْنُ خَيْرِنَا، سَيِّدُنَا وَابْنُ سَيِّدِنَا
Pada riwayat yang lain terdapat lafadz عَالِمُنَا وَابْنُ عَاِلِمنَا (orang alim kami, dan anak dari orang alim kami) seperti pada riwayat Hammad dari Humaid dari Anas dalam Musnad Al-Imam Ahmad.
Juga dari jalan Al-Fazari dari Humaid dari Anas dengan lafadz:
وَأَخْبَرُنَا وَابْنُ أَخْبَرِنَا أَعْلَمُنَا وَابْنُ أَعْلَمِنَا
“Orang yang paling tahu di antara kami dan anak orang yang paling tahu di antara kami, orang yang paling berilmu di antara kami dan anak orang yang paling berilmu di antara kami.”
Dalam riwayat Bisyr dari Humaid dari Anas dengan lafadz:
أَفْضَلُنَا وَابْنُ أَفْضَلِنَا
“Orang yang paling utama di antara kami dan anak orang yang paling utama di antara kami.”
Al-Hafizh berkata: “Ada kemungkinan semua riwayat itu diucapkan, atau diucapkan sebagiannya dengan makna.” (Lihat Fathul Bari, 7/311)
• Kalimat:
بُهُتٌ
Dapat dibaca dengan men-dhammah huruf ba` dan ha`, atau dengan men-dhammah ba` dan mensukun ha`. Ini adalah bentuk jamak dari kata بَهِيْتٌ, seperti kata قُضُبٌ adalah bentuk jamak dari قَضِْيبٌ, dan kata قُلُبٌ adalah bentuk jamak dari قَلِيْبٌ.
Maknanya adalah perkara yang mencengangkan, yang disebabkan oleh hal-hal yang diada-adakan dari suatu kedustaan. Dinukil dari pendapat Al-Kirmani bahwa kata ini berasal dari بَهُوْتٌ.
Pada riwayat yang berasal dari jalan Abdul Warits, dari Abdul Aziz, dari Anas, ia berkata: “Telah datang Nabi n ke Madinah. Beliau n membonceng di belakang Abu Bakr z dan Abu Bakr z adalah orang tua yang dikenal (شَيْخٌ يُعْرَفْ) dan Nabi n adalah orang muda yang tidak dikenal (شَابٌّ لاَ يُعْرَف). Dari riwayat ini, secara dzahir dipahami bahwa Abu Bakr (Ash-Shiddiq, pent.) lebih tua daripada Nabi n. Namun perkaranya tidaklah demikian. Karena, sebagaimana yang tersebut dalam Shahih Muslim dari Mu’awiyah bahwa Abu Bakr meninggal dalam usia 63 tahun. Dan dalam riwayat ‘Aisyah, Rasulullah n meninggal juga dalam usia 63 tahun. Padahal didapatkan Abu Bakr masih hidup setelah meninggalnya Rasulullah n dua tahun lebih. Hal ini mengharuskan bahwa yang benar, umur Abu Bakr z lebih muda ketimbang Nabi n dengan selisih dua tahun lebih. Adapun makna kalimat Abu Bakr z adalah orang tua yang dikenal ialah beliau telah beruban dan seringnya beliau melewati orang-orang Madinah pada waktu safarnya di kala berdagang. Berbeda dengan Nabi n yang lama tidak melakukan safar dan belum banyak beruban. (Fathul Bari, 7/308-309)
Sebab-Sebab Kebencian Orang Yahudi terhadap Malaikat Jibril q
Ats-Tsa’labi menghikayatkan dari Ibnu ‘Abbas c tentang sebab kebencian orang Yahudi terhadap Jibril q. Yaitu, salah seorang nabi mereka memberitakan bahwa Bukhtanashar (Nebukadnezar, red.) akan menghancurkan Baitul Maqdis. Kemudian mereka mengutus seorang laki-laki untuk membunuhnya. Ketika dijumpainya (Bukhtanashar) adalah seorang pemuda yang lemah, maka Jibril menghalangi upaya laki-laki tadi untuk membunuhnya dan berkata kepada laki-laki tersebut: “Kalau Allah menghendaki untuk membinasakan kalian melalui tangannya (kekuatan Bukhtanashar), kalian tidak akan mampu mencegahnya. Dan jika Allah menghendaki bukan dia yang berbuat, maka dengan hak apakah kalian akan membunuhnya?” Maka laki-laki tadi meninggalkannya. Kemudian bertakbirlah Bukhtanashar dan memerangi mereka serta menghancurkan Baitul Maqdis. Karena itulah mereka membenci malaikat Jibril q. (lihat Fathul Bari, 8/207)
Al-Imam Ahmad, At-Tirmidzi, dan An-Nasa`i telah meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas c bahwa orang-orang Yahudi datang kepada Rasulullah n. Mereka berkata: “Wahai Abal Qasim (kunyah Rasulullah, pent.), kami akan bertanya kepadamu tentang lima perkara. Jika engkau memberitakan kepada kami perkara itu, kami akan memercayai bahwa engkau seorang nabi dan kami akan mengikutimu (masuk Islam). Di antara lima perkara yang ditanyakan adalah: Siapakah yang selalu datang kepadamu dari kalangan malaikat? Beliau menjawab: “Jibril, tidaklah Allah mengutus setiap nabi kecuali dia (Jibril) yang menjadi wali (penolongnya).” Merekapun menjawab: “Di sisi inilah kami tidak sependapat. Kalau saja penolongmu selain Jibril, pasti kami akan mengikutimu dan membenarkannya.” Maka Rasulullah n bertanya: “Apa yang menghalangi kalian untuk tidak membenarkannya?” Mereka menjawab: “Sesungguhnya dia adalah musuh kami.”
Pada riwayat yang lain mereka berkata: “Jibril yang turun dengan membawa peperangan, pembunuhan, dan adzab. Kalau saja yang menyertaimu adalah Mikail, dialah yang turun membawa rahmat, menumbuhkan tanaman, dan menurunkan hujan.” Kemudian Rasulullah n membaca ayat:
“Barangsiapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al-Qur`an) ke dalam hatimu.” (Al-Baqarah: 97) (lihat Fathul Bari 8/206)
Pada riwayat yang terakhir –jika shahih– yaitu kalau saja yang menolong Rasulullah n adalah Mikail q mereka akan masuk Islam. Dan kalau saja mereka mengetahui bahwa Mikail q juga membantu dalam sebuah peperangan bersama Rasulullah n, pasti mereka juga akan memusuhi Mikail q, dan tetap mereka berada pada tipu muslihat dan kebohongan yang diada-adakannya.
Dari Sa’d bin Abi Waqqash z beliau berkata: “Aku melihat dua orang laki-laki memakai baju putih di sebelah kanan dan sebelah kiri Rasulullah n pada perang Uhud. Aku sama sekali belum pernah melihat kedua orang itu sebelum maupun sesudahnya, yaitu Jibril q dan Mikail q.” (HR. Al-Bukhari no. 4054 dan Muslim no. 2306)
Inilah sesungguhnya karakter mereka, mengetahui kebenaran tapi tidak mengamalkan apa yang telah mereka ketahui. Perhatikanlah kisah tipu muslihat mereka terhadap Nabi Musa q ketika Allah l perintahkan untuk menyembelih sapi betina di mana hampir-hampir mereka tidak melaksanakannya. Demikian pula kebencian mereka yang luar biasa terhadap kebenaran dan pembawanya (Jibril dan para nabi) serta para pengikut kebenaran (kaum muslimin).
“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik.” (Al-Ma`idah: 82)
Secara umum, manusia yang paling besar permusuhannya kepada Islam dan kaum muslimin adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Bahkan mereka berusaha dengan segala daya dan upaya untuk mencapai tujuan mereka, yaitu memberikan mudarat kepada kaum muslimin. Semua itu disebabkan kebencian, kedengkian, dan hasad mereka yang luar biasa kepada kaum muslimin serta penentangan, kekufurannya terhadap kebenaran. (Tafsir As-Sa’di hal. 241)
Wallahu a’lam bish-shawab.

2 Mu’allaq adalah dibuangnya seorang perawi atau lebih pada sebuah sanad baik di awal atau semuanya dari awal hingga akhir oleh seorang mushannif (penulis atau pengumpul hadits seperti Al-Imam Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dan yang lainnya).
3  Mudallis adalah seorang rawi yang dikenal menggelapkan  sanad lalu meriwayatkan hadits dengan menyebut sanad dengan samar (tidak tegas) seperti lafadz عَنْ (dari) agar terkesan mendengar langsung dari rawi di atasnya, padahal sebenarnya tidak. Macam-macam tadlis dan sebab dicelanya perbuatan ini cukup banyak. Pembahasan lebih rinci, silakan lihat pada pelajaran Musthalah Hadits.

Mengenal Sifat Yahudi dan Nashara

(ditulias oleh: Al-Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal Al-Bugisi)

“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: ‘Sesungguhnya kami ini orang Nasrani.’ Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri.” (Al-Ma`idah: 82)

Penjelasan Beberapa Mufradat Ayat

“Sesungguhnya kamu dapati.” Huruf lam yang terdapat pada awal kata ini sebagai jawaban dari sumpah, yang memberi faedah penekanan atas kalimat tersebut. Demikian pula nun pada akhir kata yang di-tasydid, memberi penekanan yang sangat kuat akan kebenaran berita yang disebutkan Allah l.

Bentuk jamak dari qissis, yang berasal dari kata qassa, yang berarti mencari sesuatu dan menelitinya. Al-Qissis maknanya adalah seorang alim. Adapun dalam ayat ini, yang dimaksud adalah orang-orang yang mengikuti para ulama dan ahli ibadah. Adapun bentuk jamak qissis dalam bentuk jamak taksir adalah qasawisah (قَسَاوِسَة). Lafadz ini ada kemungkinan berasal dari bahasa Arab yang asli dan ada kemungkinan pula berasal dari bahasa Romawi di mana kemudian orang Arab menyerapnya sehingga menjadi bahasa mereka. Sebab dalam Al-Qur`an tidak ada bahasa lain kecuali bahasa Arab. (lihat Tafsir Al-Qurthubi)
Bentuk jamak dari rahib, yang berarti ahli ibadah. Tarahhub berarti beribadah di kuil peribadatan. (lihat Tafsir Al-Qurthubi dan Tafsir Al-Alusi)
Penjelasan Makna Ayat
Allah l mengatakan kepada Nabi-Nya n: “Engkau –wahai Muhammad– pasti akan mendapati manusia yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang membenarkanmu, mengikutimu, dan membenarkan apa yang engkau bawa kepada pemeluk Islam, adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik, para penyembah berhala yang menjadikan berhala-berhala tersebut sebagai sesembahan yang mereka sembah selain Allah l. Dan engkau mendapati orang yang paling dekat kecintaannya kepada orang-orang yang beriman yang membenarkan Allah l dan Rasul-Nya Muhammad n, adalah orang-orang yang mengatakan: ‘Kami adalah Nashara’, sebab di antara mereka ada yang mengikuti para ulama dan ahli ibadah, dan mereka tidak menyombongkan diri dari menerima kebenaran dan mengikutinya, serta tunduk kepadanya.” (Tafsir At-Thabari)
Allah l berfirman untuk menjelaskan salah satu dari dua kelompok yang paling dekat dengan kaum muslimin dalam sikap loyal dan kecintaan mereka, dan kelompok yang paling jauh dari mereka: “Engkau pasti mendapati bahwa manusia yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik.”
Dua kelompok ini adalah manusia yang paling keras permusuhannya secara mutlak terhadap Islam dan kaum muslimin serta yang paling sering mendatangkan kemudaratan bagi mereka, disebabkan sikap kesombongan, dengki, menentang dan kekufuran mereka.
Dan “Engkau pasti mendapati bahwa manusia yang paling dekat kecintaannya kepada orang-orang beriman adalah orang-orang yang berkata: ‘Kami adalah Nashara’.” Allah l menyebutkan beberapa sebab tentang hal itu. Antara lain, adanya para ulama yang zuhud dan para ahli ibadah di kuil-kuil peribadatan mereka.
Ilmu yang dibarengi sifat zuhud dan semangat ibadah merupakan perkara yang melembutkan hati dan meluluhkannya, serta menghilangkan sikap kasar dan keras. Oleh karenanya tidak ditemukan pada mereka sikap keras orang Yahudi dan kekasaran orang-orang musyrikin.
Dan di antaranya pula bahwa mereka tidak menyombongkan diri. Tidak terdapat pada mereka kesombongan dan congkak dari mengikuti kebenaran. Hal tersebut menyebabkan dekatnya mereka kepada kaum muslimin dan menimbulkan rasa cinta. Karena orang yang bersikap tawadhu’ (merendah diri) itu lebih dekat kepada kebaikan daripada orang yang sombong. (Taisir Al-Karimirrahman)
Dan pada ayat yang setelahnya, Allah l menjelaskan tentang kelunakan hati mereka untuk menerima kebenaran yang diturunkan Allah l kepada Rasul-Nya n:
“Dan apabila mereka mendengar apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu melihat mata mereka mengucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al-Qur`an) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri); seraya berkata: ‘Ya Rabb kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al-Qur`an dan kenabian Muhammad n)’.” (Al-Ma`idah: 83)
Siapakah Nashara yang Dimaksud Ayat Ini?
Terjadi perselisihan di kalangan para ulama tentang siapa yang dimaksud dengan kaum Nashara yang tersebut di dalam ayat ini.
Di antara mereka ada yang mengatakan bahwa mereka adalah Raja Najasyi dan para sahabatnya yang telah masuk Islam, tatkala kaum muslimin berhijrah pertama kali ke Habasyah dalam rangka menghindari gangguan kaum musyrikin. Ini merupakan pendapat Sa’id bin Jubair, Mujahid, Ibnu ‘Abbas, As-Suddi, dan yang lainnya.
Adapula yang mengatakan bahwa mereka adalah kaum yang beriman kepada syariat Nabi Isa q, yang setelah diutusnya Muhammad bin Abdillah n mereka lalu beriman dan mengikuti beliau. Di antara yang berpendapat seperti ini adalah Qatadah. Ia berkata: “Mereka adalah beberapa orang dari kalangan ahli kitab yang dahulu berada di atas syariat yang benar yang dibawa oleh Isa q. Mereka beriman dan merujuk kepadanya. Tatkala Allah l telah mengutus Nabi-nya Muhammad n, maka mereka membenarkan dan mengimaninya, serta meyakini bahwa apa yang beliau bawa adalah kebenaran, maka Allah l pun memuji mereka.” (Tafsir Ath-Thabari)
Namun At-Thabari t menguatkan bahwa ayat ini bersifat umum, meliputi setiap kaum Nashara yang luluh hatinya setelah sampai kebenaran kepadanya. Beliau mengatakan:
“Pendapat yang benar menurutku dalam hal ini adalah Allah l menyebutkan sifat satu kaum yang mereka mengatakan: ‘Kami adalah Nashara’, bahwa Nabi n mendapati mereka sebagai manusia yang paling dekat kecintaannya kepada orang-orang yang beriman kepada Allah l dan Rasul-Nya, dan Allah tidak menyebut nama-nama mereka. Sehingga ada kemungkinan yang dimaksud adalah para pengikut Najasyi, dan ada kemungkinan pula yang dimaksud adalah satu kaum yang mereka dahulu di atas syariat ‘Isa, lalu mereka menemukan Islam (yang dibawa oleh Muhammad n, pen.). Mereka kemudian masuk Islam tatkala mendengar Al-Qur`an dan meyakini bahwa itu adalah kebenaran, dan mereka tidak menyombongkan diri.”
Dan pendapat ini juga dikuatkan oleh Al-Alusi v dalam tafsirnya. (Tafsir Ath-Thabari, Tafsir Al-Alusi)
Antara Kesombongan Yahudi dan Kebodohan Nashara
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah t menjelaskan tentang sifat sombong yang menyebabkan kaum Yahudi melampaui batas dalam menolak kebenaran:
“Telah diketahui bahwa Ibrahim Al-Khalil q adalah pemimpin ahli tauhid kaum muslimin setelahnya, sebagaimana (Allah l) menjadikannya sebagai pemimpin dan imam, serta para rasul dari keturunan beliau datang setelahnya. Maka orang Yahudi dan Nashara pun membuat berbagai macam bid’ah yang menyebabkan mereka keluar dari agama Allah l yang mereka diperintahkan untuk mengikutinya, yaitu Islam dalam arti umum (yakni agama para rasul). Oleh karenanya kita diperintahkan untuk mengatakan:
“Tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalannya orang-orang yang engkau beri nikmat atas mereka, bukan jalan orang yang dimurkai dan bukan pula yang sesat.” (Al-Fatihah: 6-7)
Dan telah shahih dari Nabi n bahwa beliau bersabda:
“Yahudi itu dimurkai dan kaum Nashara adalah orang-orang yang sesat.” (HR. Tirmidzi dari ‘Adi bin Hatim z, dishahihkan Al-Albani v dalam Shahih Al-Jami’ no. 8202)
Masing-masing dari dua umat ini (Yahudi dan Nashara) telah keluar dari Islam. Dan salah satu dari dua lawan Islam (yaitu kesombongan dan kesyirikan) lebih mendominasi mereka. Orang Yahudi lebih didominasi sifat sombong dan sedikit kesyirikan pada mereka, sedangkan orang-orang Nashara didominasi perbuatan kesyirikan dan sedikit kesombongan pada mereka. Sungguh Allah l telah menjelaskan hal itu dalam kitab-Nya. Allah l berfirman tentang Yahudi:
“Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): Janganlah kamu menyembah selain Allah.” (Al-Baqarah: 83)
Dan ini merupakan pokok keislaman. Hingga firman-Nya:
“Dan telah Kami berikan bukti-bukti kebenaran (mukjizat) kepada ‘Isa putera Maryam dan Kami memperkuatnya dengan Ruhul Qudus. Apakah setiap datang kepada kalian seorang rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginan kalian lalu kalian angkuh; maka beberapa orang (di antara mereka) kalian dustakan dan beberapa orang (yang lain) kalian bunuh?” (Al-Baqarah: 87)
Lafadz yang berbentuk pertanyaan ini adalah sikap mengingkari perbuatan mereka dan celaan atas mereka, dan mereka dicela atas apa yang telah mereka lakukan. Setiap kali datang seorang rasul kepada mereka yang tidak sesuai dengan hawa nafsunya, mereka pun menyombongkan diri. Bahkan mereka membunuh sebagian nabi dan mendustakan sebagian yang lain. Inilah keadaan orang yang sombong yang tidak mau menerima sesuatu yang tidak sesuai dengan hawa nafsunya, karena Nabi n telah menafsirkan sombong dalam hadits yang shahih dengan makna menolak kebenaran dan merendahkan manusia. Dalam Shahih Muslim dari hadits Abdullah bin Mas’ud z, dia berkata: Nabi n bersabda:
“Tidaklah masuk neraka orang yang terdapat dalam hatinya seberat semut dari keimanan, dan tidaklah masuk surga orang yang dalam hatinya ada seberat semut dari kesombongan.”
Lalu ada seseorang bertanya: “Wahai Rasulullah, seseorang menyukai pakaiannya indah dan sandalnya bagus, apakah itu termasuk kesombongan?” Maka beliau menjawab: “Bukan. Sesungguhnya Allah itu Mahaindah dan menyukai keindahan, akan tetapi kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia.”
Bathar kebenaran artinya mengingkari dan menolaknya; dan ghamt terhadap manusia artinya menghinakan dan merendahkan mereka. Demikian pula Allah l menyebut kesombongan tersebut dalam firman-Nya:
“Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. Mereka, jika melihat tiap-tiap ayat (Ku), tidak beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka terus menempuhnya.” (Al-A’raf: 146)
Dan inilah keadaan orang yang tidak mengamalkan ilmunya bahkan mengikuti hawa nafsunya. Dialah orang yang menyimpang, sebagaimana firman-Nya:
“Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al-Kitab), kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu lalu dia diikuti oleh setan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan jika Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat) nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah.” (Al-A’raf: 175-176)
Dan ini seperti keadaan para ulama jahat. Allah l telah berfirman tatkala Musa q kembali kepada mereka:
“Sesudah amarah Musa menjadi reda, lalu diambilnya (kembali) luh-luh (Taurat) itu; dan dalam tulisannya terdapat petunjuk dan rahmat untuk orang-orang yang takut kepada Rabbnya.” (Al-A’raf: 154)
Maka orang-orang yang takut kepada Rabb-nya, berbeda keadaannya dengan orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya, sebagaimana firman-Nya:
“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal (nya).” (An-Nazi’at: 40-41)
Maka orang-orang sombong yang mengikuti hawa nafsunya, dipalingkan dari ayat-ayat Allah l sehingga mereka tidak mengilmui dan memahaminya. Tatkala mereka meninggalkan pengamalan terhadap apa yang telah mereka ketahui disebabkan kesombongan dan mengikuti hawa nafsu, maka mereka diberi hukuman dengan dihalangi dari ilmu dan pemahaman. Sebab ilmu akan memerangi orang yang bersikap sombong sebagaimana aliran air meninggalkan tempat yang tinggi.
Adapun orang-orang yang takut kepada Rabbnya, mereka mengamalkan apa yang mereka ketahui. Maka Allah l memberikan kepada mereka ilmu dan rahmat. Sebab barangsiapa mengamalkan apa yang dia ketahui maka Allah l mewariskan kepadanya ilmu yang dia tidak ketahui. Oleh karenanya, tatkala Allah l menyebutkan sifat kaum Nashara bahwa di antara mereka terdapat ahli ibadah dan orang yang berilmu, juga bahwa mereka tidak menyombongkan diri, maka mereka lebih dekat dengan orang-orang yang beriman (lalu beliau menyebutkan ayat di atas).
Tatkala pada mereka terdapat rasa takut dan tidak sombong, maka mereka lebih mendekati hidayah. Allah l menjelaskan keadaan orang yang telah menjadi muslim di antara mereka:
“Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu melihat mata mereka mengucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al-Qur`an) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri); seraya berkata: Ya Rabb kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama para saksi (atas kebenaran Al-Qur`an dan kenabian Muhammad n).” (Al-Ma`idah: 83)
Ibnu ‘Abbas c berkata: “Bersama para saksi” yaitu bersama Muhammad n dan umatnya. Sebab, kaum Nashara memiliki sikap sederhana dan ibadah, namun mereka tidak punya ilmu dan persaksian. Oleh karenanya, meskipun orang-orang Yahudi lebih jahat dari mereka -disebabkan kesombongan yang lebih besar, rasa takut yang sedikit, serta hati yang lebih keras-namun sesungguhnya kaum Nashara lebih jahat dari mereka, dari sisi bahwa mereka lebih besar kesesatannya dan lebih dominan kesyirikannya, serta lebih jauh dari sikap mengharamkan apa yang diharamkan Allah l dan Rasul-Nya. Dan Allah l telah menyifati mereka dengan perbuatan syirik yang mereka ada-adakan sebagaimana (Allah l) menyifati kaum Yahudi dengan kesombongan hawa nafsunya. Allah l berfirman:
“Mereka menjadikan orang-orang alim dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al-Masih putera Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Ilah Yang Maha Esa; tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (At-Taubah: 31)
Dan firman-Nya:
Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: “Hai ‘Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: ‘Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah.’?” ‘Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara-perkara ghaib.” (Al-Ma`idah: 116)
hingga firman-Nya:
“Yaitu: ‘Sembahlah Allah, Rabbku dan Rabb kalian’.” (Al-Ma`idah: 117)
Allah l telah menyebutkan ucapan mereka bahwa Al-Masih bin Maryam itu adalah satu di antara tiga (sesembahan), juga ucapan mereka bahwa Allah l telah mengangkat seorang anak; dalam banyak tempat dalam kitab-Nya. Dan Allah l menjelaskan besarnya kedustaan dan cercaan mereka terhadap Allah l serta ucapan mungkar mereka yang hampir saja langit-langit pecah, bumi terbelah, dan gunung-gunung menjatuhi mereka. Oleh karena itu, Allah l mengajak mereka dalam banyak tempat dalam firman-Nya agar tidak menyembah kecuali hanya kepada sesembahan yang satu. Seperti firman-Nya:
“Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al-Masih, `Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: ‘(Tuhan itu) tiga’, berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah sesembahan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah sebagai Pemelihara. Al-Masih sekali-kali tidak enggan menjadi hamba bagi Allah dan tidak (pula enggan) malaikat-malaikat yang terdekat (kepada Allah l). Barangsiapa yang enggan dari menyembah-Nya dan menyombongkan diri, nanti Allah akan mengumpulkan mereka semua kepada-Nya.” (An-Nisa`: 171-172)
Hal ini karena orang-orang yang menyekutukan-Nya dengan makhluk baik berupa manusia atau selainnya, maka mereka (yang disembah) menjadi musyrikin. Dan jadi sombonglah orang-orang yang mereka jadikan sekutu bagi-Nya dari kalangan jin dan manusia. Sebagaimana firman-Nya:
“Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.” (Al-Jin: 6)
Kemudian Allah l mengabarkan bahwa hamba-hamba-Nya tidak menyombongkan diri dari beribadah kepada-Nya, walaupun kaum musyrikin menyekutukan Allah l dengan diri mereka.
Demikian pula Allah l berfirman:
“Maka mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Al-Masih putera Maryam hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul dan ibunya seorang yang sangat benar, kedua-duanya biasa memakan makanan. Perhatikan bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka (ahli Kitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling (dari memerhatikan ayat-ayat Kami itu).” (Al-Ma`idah: 74-75)
dan firman-Nya:
“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: ‘Sesungguhnya Allah adalah Al-Masih putera Maryam’, padahal Al-Masih (sendiri) berkata: ‘Hai Bani Israil, sembahlah Allah Rabbku dan Rabb kalian’. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, niscaya Allah mengharamkan kepadanya surga dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.” (Al-Ma`idah:72)
Diterangkan oleh-Nya, Allah l memerintahkan kepada mereka dengan tauhid dan mencegah mereka dari menyekutukan-Nya, seperti apa yang mereka (Nashara) lakukan. Karena asal dari agama Yahudi adalah kesombongan maka Allah l menghukum mereka dengan kehinaan. Dicampakkan kepada mereka kehinaan di manapun mereka berada.
Dan karena asal dari agama Nashara kesyirikan disebabkan mereka menempuh banyak jalan menuju Allah l, maka Allah l pun menyesatkan mereka. Masing-masing dari kedua umat itu pun mendapatkan hukuman atas dosa yang mereka lakukan, berupa lawan dari tujuan mereka. Dan Allah l tidaklah berbuat zalim terhadap hamba-hamba-Nya. Sebagaimana yang terdapat dalam hadits:
“Orang-orang yang congkak dan sombong akan dikumpulkan pada hari kiamat nanti dalam bentuk semut-semut kecil, yang diinjak-injak oleh manusia dengan kaki mereka.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi dari Abdullah bin ‘Amr c, dihasankan Al-Albani v dalam Shahih Al-Jami’ no. 8040)
Demikian pula terdapat dalam hadits dari Umar bin Al-Khaththab z secara mauquf dan marfu’:
“Tidak seorang pun melainkan di kepalanya terdapat hikmah. Jika dia merendahkan diri (tawadhu’), maka dikatakan kepadanya: ‘Terangkatlah engkau, Allah telah mengangkat (derajatmu)’. Dan jika dia mengangkat kepalanya (sombong), maka dikatakan kepadanya: ‘Merugilah engkau, Allah telah merendahkan kamu’.”2
Allah l juga berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (Ghafir: 60)
Dan firman-Nya:
“(Bukan demikian) sebenarnya telah datang keterangan-keterangan-Ku kepada kamu lalu kamu mendustakannya dan kamu menyombongkan diri dan adalah kamu termasuk orang-orang yang kafir. Dan pada hari kiamat kamu akan melihat orang-orang yang berbuat dusta terhadap Allah, mukanya menjadi hitam. Bukankah dalam neraka Jahannam itu ada tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri? Dan Allah menyelamatkan orang-orang yang bertakwa karena kemenangan mereka, mereka tiada disentuh oleh azab (neraka dan tidak pula) mereka berduka cita.” (Az-Zumar: 59-61)
Oleh karenanya, mereka berhak mendapatkan kemarahan dan murka-Nya. Sedangkan kaum Nashara tatkala mereka memasuki pintu bid’ah, maka Allah l sesatkan mereka dari jalan-Nya. Sehingga mereka menjadi sesat dan menyesatkan orang banyak, serta mereka semakin tersesat dari jalan yang lurus. Dan sesungguhnya mereka melakukan bid’ah tersebut dengan tujuan mendekatkan diri kepada-Nya dan menyembah-Nya, maka Allah l menjauhkan mereka dari-Nya dan menyesatkan mereka, sehingga mereka menyembah selain-Nya. Maka camkanlah ini, semoga Allah l memberikan kepada kita petunjuk kepada jalan-Nya yang lurus.Jalan orang-orang yang Allah l beri nikmat kepada mereka, bukan jalan orang-orang yang dimurkai dan bukan pula jalan orang-orang yang sesat. (Lihat Majmu’ Al-Fatawa li Syaikhil Islam, 7/628)

1 Nashara dalam bahasa Arab adalah bentuk jamak dari kata Nashrani.
2 HR. Ath-Thabarani dari sahabat Ibnu ‘Abbas c, dan riwayat Al-Bazzar dan Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman dari sahabat Abu Hurairah z. Dihasankan Al-Albani v dalam Shahih Al-Jami’ no. 5675, dengan lafadz yang agak berbeda. Adapun riwayat ‘Umar z dengan lafadz tersebut di atas, kami belum mendapatkannya. Wallahu a’lam.

Dibalik Makar Khawarij dan Syi’ah

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin)

 

“Nenek moyang” Mossad (badan intelijen Yahudi) sesungguhnya sudah ada sejak zaman sahabat. Melalui provokasi agen Yahudi bernama Abdullah bin Saba`, lahirlah demonstrasi pertama dalam Islam berikut aksi teror yang berujung dengan wafatnya  Khalifah ‘Utsman z. Maka siapa pun yang menumbuhsuburkan demonstrasi menentang pemerintah Islam dan aksi-aksi terorisme, selain menebar fitnah atas kaum muslimin, ia juga tengah mempraktikkan cara-cara Yahudi dalam mengoyak persatuan umat.

Dalam lintasan sejarah, nama Abdullah bin Saba` sudah tak begitu asing didengar telinga kaum muslimin. Kiprahnya dalam tubuh umat ini telah menjadi bagian kelam sejarah umat Islam. Aksi-aksinya yang sedemikian jijik dan kotor telah menjerembabkan sebagian umat ke jurang kenistaan.
Abdullah bin Saba` adalah seorang Yahudi penduduk Shana’a, Yaman. Ibunya bernama Sauda` sehingga sering dia disebut dengan Ibnu Sauda`. Secara lahiriah, di hadapan kaum muslimin, dia menampilkan diri sebagai seorang yang bersosok keislaman. Namun senyatanya, apa yang meluncur dari lisan dan perbuatannya tak lebih dari seonggok kebid’ahan. (Lihat Taudhihu An-Naba` ‘an Mu`assis Asy-Syi’ah Abdillah bin Saba` baina Aqlam Ahli As-Sunnah wa Asy-Syi’ah wa Ghairihim, Abil Hasan Ali bin Ahmad bin Hasan Ar-Razihi, hal. 37)
Terjadinya gerakan demonstrasi besar-besaran dalam sejarah Islam, tiada lain didalangi Abdullah bin Saba`, seorang Yahudi yang menyimpan bara dendam terhadap kaum muslimin. Apa yang telah dilakukannya lantas menyuburkan pemahaman Khawarij pada sebagian kaum muslimin di masa kekhalifahan ‘Utsman bin ‘Affan z. Melalui aksi provokasinya, sebagian umat terpancing untuk melakukan aksi demonstrasi menentang ‘Utsman bin ‘Affan z yang berakhir dengan terbunuhnya beliau.
Asy-Syaikh Muhammad bin Abdulwahhab dalam Mukhtashar Sirah Ar-Rasul n (hal. 218) menyebutkan, pada tahun ke-35 H, sebagian penduduk Mesir dan yang sepaham dengan mereka, melakukan gerakan menentang terhadap pemerintahan ‘Utsman bin ‘Affan z. Adapun sumber fitnah dari semua itu adalah Abdullah bin Saba`, seorang Yahudi dari Shana’a. Secara zhahir dia menampakkan keislaman, namun dalam dirinya tersembunyi api dendam dan kekufuran. Hidupnya senantiasa berpindah dari satu negeri ke negeri lainnya dalam upaya menyebarkan dan menyusupkan pemahaman-pemahaman sesatnya, sehingga menyesatkan sebagian kaum muslimin. Dia selalu berpindah dari Hijaz, Bashrah, Kufah, dan Syam.
Ketika dia tak berhasil dengan apa yang menjadi tergetnya di negeri-negeri tersebut, lantas Abdullah bin Saba` hengkang menuju Mesir. Di negeri inilah dia bisa menyemai pemahaman-pemahaman sesatnya dan berhasil mengelabui sebagian umat sehingga terprovokasi. Ibnu Sauda` lantas melakukan gerakan propaganda anti ‘Utsman bin ‘Affan z.  Masyarakat dihasut agar menentang pemerintah. Fitnah dan api kebencian terhadap pemerintah disebar. Mendorong umat untuk menentang Allah l dan Rasul-Nya. Sehingga terjadilah musibah besar dengan pengepungan terhadap ‘Utsman bin ‘Affan z. Akhir dari peristiwa pengepungan tersebut, adalah terbunuhnya ‘Utsman bin ‘Affan z kala membaca Al-Qur`an. Semua ini dilakukan oleh kalangan Khawarij yang dipicu pemikiran dan aksi jahat sang Yahudi, Abdullah bin Saba`.
Inilah aksi terorisme terjahat yang dilakukan kelompok Khawarij pada kurun keemasan Islam. Aksi terorisme yang mereka lakukan didalangi seorang agen Yahudi berwajah Islam. Kelihaian agen Yahudi satu ini dalam melakukan infiltrasi ke dalam tubuh umat, menjadikan sebagian kaum muslimin terseret pada tindakan-tindakan terorisme menjijikkan.
Berawal dari sinilah pintu-pintu fitnah terbuka luas. Kaum muslimin diselimuti kabut kelam. Api fitnah tak kunjung memadam, terlebih manuver Abdullah bin Saba` senantiasa meruyak di tubuh umat. Yahudi asal Shana’a ini terus meniupkan racunnya ke dalam tubuh kaum muslimin. Satu di antara sekian banyak racun yang telah ditebar di tubuh umat, yaitu membangkitkan fanatisme buta terhadap keimamahan ‘Ali bin Abi Thalib z. Lalu bergulir menjadi sebuah aqidah (keyakinan) di kalangan Saba`iyah (para pengikut Abdullah bin Saba`), bahwa keimamahan yang pertama dipegang oleh ‘Ali bin Abi Thalib z dan berakhir pada Muhammad bin Al-Husain Al-Mahdi. Inilah keyakinan di kalangan Syi’ah yang merupakan keyakinan sesat. Kalangan Syiah meyakini hal itu sebagai bentuk aqidatu ar-raj’ah. (‘Aqa`idu Asy-Syi’ah, Asy-Syaikh Mahmud Abdulhamid Al-’Asqalani, hal 21)
Keyakinan terhadap keimamahan ini lahir dari bentuk dendam kesumat Abdullah bin Saba` terhadap Ahlu Sunnah wal Jamaah. Dendam ini hingga kini terus ditumbuhsuburkan oleh para pengikutnya dari kalangan Syi’ah Rafidhah. Karenanya, adalah sebuah kedustaan bila orang-orang Syi’ah dewasa ini bisa mengambil sikap permusuhan yang keras terhadap Yahudi. Bagaimana pun Syi’ah dan pemahamannya tidak akan bisa dilepaskan dari Yahudi. Becerminlah dari sejarah, wahai orang-orang yang berakal. Wallahu a’lam.

Yahudi Menggenggam Dunia

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin)

Kisah tentang Yahudi bukanlah sekedar bagian dari masa lalu. Di depan kita, kini juga membentang ancaman serius dari bangsa yang sesungguhnya dikaruniai beberapa kelebihan ini. Cakar-cakar zionisnya siap mencengkram kaum muslimin yang lalai atau tidak lagi memedulikan agamanya.

Asy-Syaikh Abdussalam bin Barjas t, dalam kitab beliau Al-Qaulul Mubin fi Hukmil Ihtiza`i bil Mu`minin, hal. 17, mengutip apa yang dimuat dalam Protokolat Yahudi pada butir XVII:
“Kita telah membantu dengan mengerahkan segalanya guna menghancurkan kehormatan tokoh-tokoh agama dari golongan al-ummiyyin (non Yahudi) di mata orang banyak. Dengan demikian kita telah berhasil mengacau misi mereka yang bisa saja menghambat strategi kita…” (dikutip dari Al-Khatharu Al-Yahudi “Brutukulat Hukama`i Shahyun” terjemah Muhammad Khalifah At-Tunisi, hal. 187)
Dikutip pula oleh Asy-Syaikh Abdussalam bin Barjas v bahwa tujuan ketiga, yaitu: “… menjelekkan citra Islam pada setiap individu kaum muslimin…” (Al-Qaulul Mubin, hal. 18)
Pembunuhan karakter adalah salah satu cara yang efektif guna memorakporandakan tatanan yang sudah berlaku. Apalagi di tengah kehidupan masyarakat yang menganut pola kepemimpinan terpusat. Manakala sang pemimpin sudah bisa dijatuhkan jati dirinya, maka bagai anak ayam kehilangan induk, tatanan masyarakat akan goncang karena kehilangan rujukan. Maka inilah yang disasar kaum Yahudi.
Apa yang dilakukan Yahudi ini adalah dalam rangka menjauhkan umat dari nilai-nilai agama. Sehingga ketika masyarakat sudah tidak peduli lagi terhadap agama, maka tentu akan lebih mudah untuk menghancurkan akidah dan akhlak masyarakat dengan beragam propagandanya.
Masalah kebebasan wanita adalah salah satu bahan propaganda Yahudi. Dengan keberhasilan memasukkan pemikiran-pemikirannya, para wanita menjadi terpengaruh dan berupaya untuk menjadi wanita yang sebebas-bebasnya tanpa ada aturan yang mengikatnya. Aturan agama pun akan dicemooh sebagai produk kadaluwarsa. Pada taraf ini, berhasillah propaganda Yahudi. Menjadikan seorang individu melakukan istihza` (olok-olok) terhadap syariat. Sementara di sisi lain, Islam membimbing dia untuk tidak melakukan perbuatan itu. Allah l berfirman:
“Katakanlah: ‘Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok? Tidak usah kamu minta maaf karena kamu kafir sesudah beriman…” (At-Taubah: 65-66)
Di dalam tubuh masyarakat Yahudi terdapat unsur pemahaman ekstrim dalam bidang politik kemasyarakatan yang arahnya mewujudkan negara Yahudi di tanah Palestina. Pemahaman, yang sekaligus gerakan, dikenal dengan zionisme. Istilah ini diambil dari sebuah nama gunung Zion di Al-Quds. Gerakan Zionis sangat berambisi mewujudkan haikal (candi) Sulaiman dan mendirikan kerajaan yang berpusat di Al-Quds. Melalui gerakan tersebut digagas untuk memerintah dunia.
Akar pemikiran zionisme bersumber dari ajaran Taurat yang diselewengkan yang dikenal dengan nama Talmud. Ajarannya membangkitkan fanatisme nasionalis sempit semata-mata untuk membangun negara dan peradaban Yahudi. Dari gerakan zionisme ini, lahirlah keputusan-keputusan berupa rencana induk membangun negara Yahudi yang menguasai dunia. “Protokolat Para Hakim Zionis” merupakan acuan pokok dalam menjalankan roda gerakan.    Zionisme memiliki banyak organisasi. Freemasonry merupakan satu dari gerakan Yahudi yang disemangati pemahaman zionisme.
Organisasi-organisasi zionisme berserak di setiap negara. Bentuknya pun beragam. Ada yang bergerak dalam bidang sosial seperti Rotary Club dan Lions Club. Ada pula yang bergerak dalam bidang politik, pendidikan, dan lainnya. Dalam bidang pendidikan, memberikan beasiswa (kepada pemuda Islam) untuk dididik di negara-negara kafir. Mereka membawa “kebebasan” berpikir dalam pijakan akal manusia yang teramat lemah.
Melalui gerakan zionisme, mereka berhasil meletakkan lobi Yahudi di pusaran elite politik Amerika Serikat (AS). Lobi Yahudi inilah yang memiliki peran dalam penentuan siapa yang pantas menjadi presiden AS. Sangat sulit sekali seorang calon presiden bisa lolos tanpa perkenan lobi Yahudi. Dengan mengendalikan keputusan-keputusan presiden AS, yang sebelumnya terpilih atas restu lobi, keberadaan negara Israel dan penduduknya dirasa aman. Juga melalui tangan presiden AS yang telah disetir, Yahudi melakukan tekanan-tekanan kepada negara-negara di dunia. Satu di antara yang mereka jejalkan adalah demokrasi. Melalui sistem ini, masa kepemimpinan kepala negara satu bangsa dibatasi. Apabila dalam pemantauan mereka, kepala negara tidak loyal kepada perintah, bahkan menentang ambisi Yahudi, maka diciptakanlah suasana sehingga kepala negara tersebut segera lengser. Pola semacam ini sering disebut dengan politik stick and carrot. Tidak mau ikut keputusan AS, yang disetir Yahudi, berarti diberi stick (tongkat sebagai simbol mendapat tekanan) dan bila kompromi dengan apa yang dimaukan AS, maka diberi carrot (wortel, sebagai simbol mendapat penghargaan).
Begitulah salah satu cara Yahudi menundukkan bangsa-bangsa di luar dirinya. Bagi Yahudi, bermain di tataran pemutarbalikan opini tidaklah terlalu sulit. Alat-alat propaganda mereka kuasai melalui berbagai media massa. Tujuannya satu; meyahudikan orang-orang di luar mereka. Dan ini merupakan watak kaum Yahudi yang begitu berambisi dan bernafsu untuk menjadikan siapa saja sebagai Yahudi.
“Dan mereka berkata: ‘Hendaklah kamu menjadi penganut agama Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk’. Katakanlah: ‘Tidak, bahkan (kami mengikuti) agama Ibrahim yang lurus. Dan bukanlah dia (Ibrahim) dari golongan orang musyrik’.” (Al-Baqarah: 135)
Menurut Ibnul Qayyim v, barangsiapa ber-millah al-hanifiyah wa at-tauhid, maka dia lebih utama dibanding yang mengikuti millah al-yahudiyyah wa an-nashraniyyah. Karena sesungguhnya al-hanifiyyah wa at-tauhid merupakan agama seluruh para nabi. Allah l tak akan menerima satu pun agama kecuali hanya agama (para nabi) tersebut. Agama tersebut selaras fitrah, yang Allah l fitrahkan atas para hamba-Nya. Barangsiapa di atas agama tersebut, berarti dia adalah orang yang mendapat petunjuk. (Bada`i’ Al-Fawa`id, hal. 1204)
Kaum Zionis tak henti-hentinya mempropagandakan program-programnya dalam rangka menghancurkan kaum muslimin, dengan cara mereka dijauhkan dari ajaran agamanya. Zionis Yahudi tak segan-segan untuk memerangi siapa saja yang menghalangi upaya mereka menggenggam dunia, sehingga zionis Yahudi-lah satu-satunya penguasa di alam raya ini. Zionis Yahudi memahami benar bahwa karena Islam-lah api perlawanan kaum muslimin terhadap makar mereka akan menyala. Itu terbukti saat terjadi Perang Salib. Karenanya, zionis Yahudi senantiasa akan melibas habis setiap upaya untuk tegaknya kehidupan Islami.
Demikianlah yang bisa dilihat di dunia Islam. Kaum muslimin dicekoki dengan kerusakan budaya. Kerusakan itu, satu di antaranya, tidak bisa lepas dari tangan kotor zionis dan antek-anteknya yang bergentayangan di negeri-negeri kaum muslimin. Mereka melakukan penetrasi budaya secara halus melalui pintu-pintu media massa. Mulai dari menanamkan pemikiran-pemikiran kufur kepada Allah l hingga perusakan akhlak secara sistematis.
Melalui sistem pendidikan, mereka baurkan antara pria dan wanita. Atas nama “kebebasan” memperoleh pendidikan, mereka koyak hijab muslimah. Tak ada lagi batas pergaulan antara pria dan wanita. Dari sini merembes berbagai bentuk deviasi (penyimpangan) akhlak, berseraknya perzinaan, kemesuman pergaulan muda-mudi, dan beragam dekadensi moral lainnya.
Bau busuk lainnya yang menyengat, melalui sistem pendidikan yang ada, adalah direndahkannya semua warisan luhur budaya Islam, membangkitkan fanatisme terhadap dunia Barat dan memicingkan mata terhadap Islam, merendahkan nilai para ulama serta mengelu-elukan para pemikir kafir dan para pengikutnya yang senantiasa membebek.
Maka, betapa pun dahsyat makar yang dilancarkan kaum zionis Yahudi terhadap kaum muslimin, selama umat Rasulullah n teguh bersikukuh di atas As-Sunnah, niscaya tipu daya kaum zionis Yahudi itu tak mampu meruntuhkan Islam. Inti perjuangan ini adalah seberapa kokoh kita memeluk As-Sunnah. Allah l tak akan membiarkan hamba-hamba-Nya yang selalu menghidupkan As-Sunnah dipermainkan musuh-musuh-Nya. Allah l akan menurunkan pertolongan-Nya. Karena sesungguhnya pertolongan Allah k itu amat dekat.
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk Jannah (surga), padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang bersamanya: ‘Bilakah datangnya pertolongan Allah?’ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan itu amat dekat.” (Al-Baqarah: 214)
Lantas, bersabarkah kita menantinya? Wallahu a’lam.

Wajah Buruk Yahudi

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin)

Potret Yahudi, di mata umat Islam, memang demikian kelam. Sejak jaman baheula hingga kini, kejahatan dan keculasannya teramat sulit untuk dilupakan. Saking banyaknya, bisa jadi daftar riwayat kekejiannya bakal memenuhi lemari sejarah.

Orang-orang Yahudi memandang bahwa mereka adalah umat pilihan Allah l. Mereka merasa diistimewakan dan dilebihkan atas seluruh umat pada zamannya, yaitu semasa Nabi Musa q.
Disebutkan oleh Abul Fida` Ismail Ibnu Katsir v dalam Tafsir-nya, bahwa dilebihkannya mereka atas umat-umat yang lalu pada masanya, yaitu dengan dikaruniai keutamaan diutusnya para rasul Allah l dari kalangan mereka, diturunkan kitab-kitab suci kepada mereka, dan diberinya mereka kerajaan.
Allah l berfirman berkenaan dengan keutamaan yang telah diberikan kepada mereka:
“Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu dan (ingatlah pula) bahwasanya Aku telah melebihkan kamu atas segala umat.” (Al-Baqarah: 47)
Kata al-yahudu (الْيَهُودُ), menurut Ibnu Manzhur dalam Lisanul ‘Arab, secara etimologi berasal dari kata hadu (هَادُوا) yang bermakna mereka telah bertaubat. Sepadan dengan itu, Ibnu Katsir t dalam Tafsir-nya mengungkapkan pula bahwa al-yahud adalah para pengikut Musa q. Mereka adalah orang-orang yang berhukum pada Taurat di zamannya. Kata al-yahud itu sendiri adalah at-tahawwudu (التَّهَوُّدُ) yang memiliki makna at-taubah. Sebagaimana Musa q berkata:
“Sungguh kami telah bertaubat kepada-Mu.” (Al-A’raf: 156)
Maka, penamaan mereka dengan al-yahud lantaran sikap taubat mereka. Adapun secara nasab, mereka digariskan kepada anak keturunan Ya’qub q.
Al-Qur`an sendiri banyak membongkar keculasan watak Yahudi. Walau mereka telah mendapatkan keutamaan dari Allah l. Namun karunia tersebut tidak disyukuri sebagaimana mestinya. Bahkan mereka menunjukkan sikap pembangkangan, arogan, dan durhaka kepada Allah l.
Mereka semestinya mengesakan Allah l namun justru menjadikan ‘Uzair sebagai anak Allah l. Lihatlah, bagaimana mereka berpaling dari apa yang mereka janjikan untuk bertauhid. Allah l membuka kedok watak mereka yang sebenarnya:
“Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): Janganlah kalian menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada ibu bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat, dan tunaikanlah zakat. Lantas kalian tidak memenuhi janji itu, kecuali sebagian kecil dari kalian, dan kalian selalu berpaling.” (Al-Baqarah: 83)
Kemudian, nyata sekali kebatilan agama Yahudi setelah mereka menjadikan ‘Uzair sebagai anak Allah l sebagaimana orang-orang Nasrani menjadikan Al-Masih sebagai anak Allah l. Firman-Nya:
“Orang-orang Yahudi berkata: ‘Uzair itu putera Allah’. Dan orang-orang Nasrani berkata: ‘Al-Masih putera Allah’. Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka. Mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah-lah mereka, bagaimana mereka bisa berpaling.” (At-Taubah: 30)
Tak cuma itu. Mereka pun melakukan penyimpangan tauhid dengan menjadikan para ulama (al-ahbar) dan orang-orang ahli ibadah (ar-ruhban) sebagai sesembahan selain Allah l.
“Mereka menjadikan orang-orang alim dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (mereka juga mempertuhankan) Al-Masih putera Maryam, padahal mereka hanya diperintah menyembah Ilah yang Esa, tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia. Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (At-Taubah: 31)
Menjelaskan ayat di atas, Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan menyatakan, bahwa para alim dan ahli ibadah tersebut merupakan kalangan Yahudi dan Nashara. Yahudi dan Nashara telah menjadikan para ulama dan orang-orang ahli ibadah dari kalangan mereka sebagai tuhan (sesembahan) selain Allah l. (I’anatul Mustafid bi Syarhi Kitabit Tauhid, hal. 120)
Termasuk yang menyebabkan mereka menjadi musuh Islam, adalah sikap Yahudi yang gemar mengubah ayat-ayat Allah l. Seperti disebutkan Ibnu Katsir t saat memberi penafsiran terhadap ayat:
“Dan di antara orang-orang Yahudi amat suka mendengar (perkataan/berita-berita) bohong dan amat suka mendengar perkataan-perkataan orang lain yang belum datang kepadamu. Mereka mengubah-ubah perkataan-perkataan (Taurat) dari tempat-tempatnya…” (Al-Ma`idah: 41)
Maka kata Ibnu Katsir t, bahwa yang dimaksud orang-orang Yahudi adalah mereka yang merupakan musuh-musuh Islam dan pemeluknya secara menyeluruh. Mereka mengubah-ubah firman Allah l dan menafsirkannya dengan tafsir yang bukan sebagaimana dimaksudkan oleh Allah l.
Sisi lain, kaum Yahudi pun melakukan penolakan terhadap Al-Qur`an. Ketika mereka diperintahkan untuk beriman kepada Al-Qur`an, mereka melakukan tindak pembangkangan dan arogansi secara menantang. Allah l berfirman:
“Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Berimanlah kepada Al-Qur`an yang diturunkan Allah’, mereka berkata: ‘Kami hanya beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami’. Dan mereka kafir kepada Al-Qur`an yang diturunkan sesudahnya, sedang Al-Qur`an itu adalah (Kitab) yang hak; yang membenarkan apa yang ada pada mereka. Katakanlah: ‘Mengapa kamu dahulu membunuh nabi-nabi Allah jika benar kamu orang-orang yang beriman?’.” (Al-Baqarah: 91)
Mereka tak hendak memancangkan keimanan di dalam hati mereka terhadap Al-Qur`an. Mereka sekedar mencukupkan diri sebatas pada Taurat dan Injil. Padahal Al-Qur`an telah mencakup dan membenarkan kitab-kitab yang datang sebelumnya, termasuk Taurat dan Injil yang ada pada mereka. Inilah bentuk kesombongan Yahudi. Pantas bila kemudian mereka mendapat laknat disebabkan sikap-sikap mereka yang tidak mau beriman dan bersikap melampaui batas:
“Telah dilaknat orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Dawud dan Isa putera Maryam. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas.” (Al-Ma`idah: 78)
Selain itu, mereka termasuk pula orang-orang yang mendapat murka dari Allah l:
“Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah.” (Ali ‘Imran: 112)
“Dan mereka mendapat murka setelah kemurkaan…” (Al-Baqarah: 90)
Kata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t saat menerangkan ayat-ayat di atas, bahwa (ayat-ayat tersebut) ini merupakan penjelas bahwasanya al-yahud dimurkai atas mereka. (Iqtidha` Ash-Shirath Al-Mustaqim, hal. 117)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t, dalam menjelaskan Yahudi sebagai kaum yang dimurkai, mengutip pula hadits yang dikeluarkan oleh Al-Imam At-Tirmidzi t. Hadits ini dihasankan Asy-Syaikh Muhammad Nashirudin Al-Albani v. Disebutkan dalam hadits tersebut:
“Sesungguhnya Yahudi dimurkai atas mereka, dan sesungguhnya Nashara adalah orang-orang yang sesat.” (HR. At-Tirmidzi no. 2953)
Itulah sosok Yahudi. Digambarkan secara transparan melalui Al-Qur`an dan As-Sunnah. Walau mereka telah memahami apa yang termaktub dalam kitab mereka, namun mata hati mereka tumpul untuk menerima kebenaran. Tak kalah sengitnya adalah sikap permusuhan mereka terhadap kaum muslimin. Permusuhan yang dilandasi keinginan mereka untuk menyatukan millah (nilai syariat) sesuai dengan yang mereka kehendaki.
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: ‘Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)’. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (Al-Baqarah: 120)
Allah l mengabarkan kepada Rasul-Nya, sesungguhnya orang-orang Yahudi dan Nasrani itu tidak akan pernah ridha (senang) kepadanya kecuali setelah mengikuti agama mereka. Karena sesungguhnya, mereka adalah orang-orang yang gencar menyeru (mengajak) orang-orang agar masuk ke dalam agama mereka. (Lihat Taisir Al-Karimi Ar-Rahman fi Tafsiri Kalam Al-Mannan karya Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di v dalam menafsirkan surat Al-Baqarah ayat 120)
Dipertegas oleh Al-Imam Al-Qurthubi v, bahwa seandainya engkau memberi apa yang mereka minta, mereka tetap saja belum senang kepadamu. Sesungguhnya, mereka akan merasa senang kala dirimu mau meninggalkan Islam dan mengikuti (agama) mereka. (Al-Jami’ li Ahkami Al-Qur`an, 2/507)
Mencermati pernyataan para ulama di atas, memberi asupan berupa peringatan betapa kerasnya tekad kaum Yahudi dan Nasrani untuk menggaet kaum muslimin keluar dari agamanya. Penjelasan para ulama di atas tentu saja tidak bisa hanya diperhatikan dengan memicingkan sebelah mata. Karena pergulatan dakwah di dunia nyata, pemurtadan terhadap kaum muslimin demikian marak.
Ini merupakan bukti bahwa permusuhan yang mereka lancarkan kepada kaum muslimin bukan sekedar faktor perebutan kekuasaan atau masalah kepemilikan atas status wilayah, namun lebih dari itu lantaran masalah agama.
Pendudukan wilayah Palestina oleh Yahudi bukan sekedar orang-orang Yahudi membutuhkan tempat untuk tinggal. Namun perjuangan mereka untuk merebut tanah Palestina adalah lantaran dilandasi idealisme keagamaan.
Maka gambaran-gambaran yang telah dipaparkan dalam tulisan ini hanya sebagian kecil dari yang bisa ditampilkan untuk melihat wajah buruk Yahudi.
Bercokolnya negara Israel di wilayah Palestina merupakan salah satu “permainan” tingkat global yang dipertontonkan kaum Yahudi. Aksi-aksinya yang sistematis dan didukung lobi zionis menjadikan daya gigit mereka terhadap musuh-musuhnya terasa lebih ampuh.
Tapi, benarkah mereka kokoh? Tidak. Mereka lemah, karena menjadikan pelindung (penolong) selain Allah l. Kekuatan yang mereka susun tak ubahnya bak sarang laba-laba. Walau nampak rapi tersistem, namun senyatanya lemah sekali. Sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba.
“Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui.” (Al-‘Ankabut: 41)
Tapi, kenapa kaum muslimin tetap tak berdaya menghadapi mereka? Ya, karena kaum muslimin masih karut marut. Masing-masing berjalan dengan pemahaman dan pikirannya sendiri-sendiri. Ada yang berjuang dan memiliki militansi yang tinggi, ternyata mereka berpaham Khawarij. Ada yang mencoba lebih lembut, berupaya menampilkan citra Islam yang damai dan sejuk, sehingga mengedepankan penataan spiritualitas, ternyata mereka penganut Sufi. Ada yang nampak cerdas, seakan mampu mengolah akal, ternyata mereka teracuni pemahaman Mu’tazilah. Ada yang berdakwah dengan menggiring penganutnya cinta kepada Rasulullah n dan ahlu baitnya, ternyata mereka berbendera Syi’ah Rafidhah.
Maka, untuk membingkai kembali bangunan kaum muslimin sehingga tertata secara baik, Rasulullah n telah memberikan solusi sebagaimana tergambar dalam hadits Ibnu ‘Umar c. Kata beliau, “Aku mendengar Rasulullah n bersabda:
“Apabila kalian terlibat jual beli ‘inah, kalian telah mengambil ekor-ekor sapi, kalian merasa senang dengan pertanian, dan kalian telah tinggalkan jihad, maka Allah akan timpakan atas kalian kehinaan. Tidak akan dicabut kehinaan tersebut hingga kalian kembali kepada agama kalian.” (Sunan Abi Dawud, no. 3458, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani v dalam Ash-Shahihah no. 11)
Kembali kepada agama dengan pemahaman yang telah diajarkan oleh Rasulullah n kepada para sahabatnya g. Memahami agama sebagaimana para salafush shalih telah memahaminya.
Menukil apa yang dinyatakan Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Abdillah bin Baz t, bahwa ittiba’ (mengikuti) syariat Allah l dan bersabar dalam mengikutinya merupakan salah satu sebab turunnya pertolongan Allah l kepada orang-orang yang beriman. Sebagaimana firman Allah l:
“Jagalah (agama) Allah, maka Allah akan menjagamu. Jagalah (agama) Allah, niscaya Allah akan di depanmu.” (HR. At-Tirmidzi, no. 2516. Hadits ini dishahihkan oleh Al-Albani t dalam Shahih Al-Jami’ no. 7957)
Barangsiapa menjaga Allah l, dengan menjaga agamanya, beristiqamah di atasnya, saling menasihati dengan kebenaran dan bersabar atasnya, Allah l akan menolong, meneguhkan, dan menjaga dia dari berbagai tipu daya. (Asbabu Nashrillah lil Mu`minin ‘ala A’da`ihim, hal. 7)
Demikianlah bimbingan Allah l dan Rasul-Nya dalam menghadapi tipu daya musuh-musuh Islam. Betapa pun segenap kekuatan telah dimiliki, namun pertolongan Allah l tetap diharapkan.
Wallahu a’lam.