Boikot Produk Yahudi

(ditulis oleh: Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi)

Tak bisa dimungkiri, negara-negara muslim kini dibanjiri produk-produk niaga dari perusahaan multinasional yang dikuasai Yahudi. Namun ada hal lebih besar yang mesti diwaspadai. Yakni, “produk” mereka yang bersentuhan dengan syariat. Jangan sampai, misalnya, kita berada di “garda terdepan” dalam kampanye boikot produk niaga Yahudi -yang masih perlu dibahas tentang perlu atau tidaknya-, namun justru menjadi pengawal demokrasi, sistem politik yang mewadahi beragam kaidah rusak ala Yahudi.

Siapa Yang Tak Kenal Yahudi?!
Yahudi adalah kaum yang terkutuk, karakternya pun amat buruk. Curang, licik, angkuh dan zalim. Dengan bermodalkan karakter yang buruk ini, dilengkapi kelihaian mengotak-atik otak, terbentuklah mereka sebagai bangsa yang ‘usil’. Tak hanya manusia biasa yang mereka usili, para rasul yang senantiasa membimbing mereka pun kerap kali menjadi obyek usilan mereka. Allah l berfirman:
“Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan Al-Kitab (Taurat) kepada Musa. Dan telah Kami susulkan (berturut-turut) sesudah itu rasul-rasul. Dan telah Kami berikan bukti-bukti kebenaran (mukjizat) kepada ‘Isa putra Maryam dan Kami memperkuatnya dengan Ruhul Qudus (Malaikat Jibril). Apakah setiap kali datang kepada kalian seorang Rasul membawa sesuatu (ajaran) yang tidak sesuai dengan keinginan kalian, lalu kalian bersikap angkuh? Maka beberapa orang (di antara mereka) kalian dustakan dan beberapa orang (yang lain) kalian bunuh?!” (Al-Baqarah: 87)
Bahkan Allah l, Dzat Yang Maha Suci lagi Maha Kuasa tak luput pula dari ulah usil mereka. Allah l berfirman:
“Orang-orang Yahudi berkata: ‘Tangan Allah terbelenggu’, sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu, dan merekalah yang dilaknat disebabkan apa yang mereka katakan itu. (Tidak demikian), tetapi kedua tangan Allah terbuka; Dia menafkahkan sesuai dengan kehendak-Nya.” (Al-Ma`idah: 64)
Subhanallah… Betapa bejat dan bobroknya kaum Yahudi. Tak heran bila Allah l timpakan kepada mereka kenistaan, kehinaan, kemurkaan, dan kutukan, sebagaimana dalam firman-Nya l:
“Lalu ditimpakanlah kepada mereka kenistaan dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah. Hal itu (terjadi) karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi yang memang tidak dibenarkan. Demikian itu karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas.” (Al-Baqarah: 61)
“Tetapi sebenarnya Allah telah mengutuk mereka karena keingkaran mereka. Maka sedikit sekali dari mereka yang beriman.” (Al-Baqarah: 88)
Sikap Yahudi terhadap Islam dan kaum muslimin juga demikian buruk. Bahkan merekalah orang yang paling keras permusuhannya terhadap Islam dan kaum muslimin. Permusuhan itu mereka gulirkan secara estafet sejak awal masa keislaman dan terus akan berlanjut hingga akhir zaman nanti. Allah l berfirman:
“Sesungguhnya kamu akan dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik.” (Al-Ma`idah: 82)
Tiada tujuan lain dari permusuhan yang keras itu melainkan untuk mengeluarkan kaum muslimin dari agama Islam yang haq dan menyeret mereka kepada agama dan hawa nafsu Yahudi. Allah l berfirman:
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani sekali-kali tidak akan rela kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka.” (Al-Baqarah: 120)

Awas Produk Yahudi!
Para pembaca yang mulia, mengingat betapa kuatnya daya tarik Yahudi terhadap umat ini, maka Allah l memerintahkan hamba-hamba-Nya yang beriman untuk berlepas diri (bara`) dari kaum Yahudi dan memboikot pemikiran-pemikiran produk mereka. Allah l berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menjadikan orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin-pemimpin, sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barangsiapa di antara kalian menjadikan mereka sebagai pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (Al-Ma`idah: 51)
Bahkan Allah l mengancam siapa saja yang mengikuti agama dan hawa nafsu Yahudi (dan Nasrani) dengan ancaman yang keras, sebagaimana dalam firman-Nya l:
“Jika kamu mengikuti hawa nafsu mereka (Yahudi dan Nasrani) setelah datang kepadamu ilmu (kebenaran), maka Allah tiada menjadi Pembela dan Penolong bagimu.” (Al-Baqarah: 120)
Rasulullah n pun telah memperingatkan umatnya dari cara/jalan/produk kaum Yahudi ini. Sebagaimana dalam sabda beliau n:
“Sungguh kalian benar-benar akan mengikuti cara/jalan orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Sampai-sampai bila mereka masuk ke liang dhabb (binatang sejenis biawak yang hidup di padang pasir, pen.), niscaya kalian pun akan mengikuti mereka.” Kami berkata: “Wahai Rasulullah, apakah mereka itu orang-orang Yahudi dan Nasrani?” Beliau menjawab: “Siapa lagi kalau bukan mereka?” (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari sahabat Abu Sa’id Al-Khudri z. Lihat Al-Lu`lu` wal Marjan, hadits no. 1708)
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin t ketika menerangkan hadits Abu Waqid Al-Laitsi z (yang semakna dengan hadits di atas)1, berkata: “Sabda Rasulullah n ini bukanlah persetujuan dari beliau (untuk mengikuti cara/jalan/produk Yahudi dan Nasrani, pen). Akan tetapi, sebagai bentuk peringatan dari beliau n.” (Al-Qaulul Mufid, 1/202)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah t ketika menjelaskan hadits Anas bin Malik z:
“Lakukanlah apa saja (terhadap istri kalian yang sedang haid, pen.) kecuali jima’.” (HR. Muslim, Kitabul Haidh, hadits no. 302)
mengatakan: “Hadits ini menunjukkan bahwa apa yang Allah l syariatkan kepada Nabi-Nya mengandung bentuk penyelisihan yang banyak terhadap kaum Yahudi. Bahkan semua perkara yang ada pada mereka berusaha diselisihi oleh beliau n. Hingga berkatalah kaum Yahudi: ‘Orang ini (yakni Nabi n) tidaklah mendapati sesuatu pada kami kecuali pasti dia selisihi.”2 (Iqtidha` Ash-Shirathil Mustaqim, 1/214-215, lihat pula pada hal. 365)

Mengenali Produk Yahudi
Para pembaca yang mulia, produk Yahudi yang harus diwaspadai dan diboikot adalah yang berkaitan dengan pemikiran mereka dalam hal aqidah, ibadah, akhlak, dan muamalah. Karena hal-hal tersebut sangat berbahaya bagi agama kaum muslimin. Di antara produk-produk tersebut adalah:

1. Menjadikan kubur nabi atau orang-orang shalih sebagai masjid/tempat ibadah.
Rasulullah n bersabda:
“Allah melaknat kaum Yahudi dan Nasrani, mereka menjadikan kubur-kubur para nabi mereka sebagai masjid/tempat ibadah.” (HR. Muslim, no. 530, dari Ummul Mukminin ‘Aisyah x)
Al-Imam Asy-Syafi’i v berkata: “Aku tidak menyukai (yakni mengharamkan) sikap pengagungan terhadap seseorang hingga kuburnya dijadikan sebagai masjid/tempat ibadah, karena khawatir menjadi fitnah baginya dan bagi orang-orang sepeninggalnya.” (Al-Umm, 1/278)

2. Melecehkan para nabi dan ulama
Allah l berfirman:
“Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan Al-Kitab (Taurat) kepada Musa. Dan telah Kami susulkan (berturut-turut) sesudah itu rasul-rasul. Dan telah Kami berikan bukti-bukti kebenaran (mukjizat) kepada ‘Isa putra Maryam dan Kami memperkuatnya dengan Ruhul Qudus (Malaikat Jibril). Apakah setiap kali datang kepada kalian seorang Rasul membawa sesuatu (ajaran) yang tidak sesuai dengan keinginan kalian, lalu kalian bersikap angkuh? Maka beberapa orang (di antara mereka) kalian dustakan dan beberapa orang (yang lain) kalian bunuh?!” (Al-Baqarah: 87)

Sikap ini diwarisi oleh ahlul bid’ah, sebagaimana yang dikatakan Al-Imam Ismail bin Abdurrahman Ash-Shabuni v: “Tanda dan ciri utama ahlul bid’ah adalah permusuhan, penghinaan, dan pelecehan yang luar biasa terhadap para pembawa hadits Nabi n (yakni para ulama).” (‘Aqidatus Salaf Ash-habil Hadits, hal.116)3

3. Dengki terhadap orang-orang yang beriman
Allah l berfirman:
“Sebagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kalian kepada kekafiran setelah kalian beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata kebenaran bagi mereka.” (Al-Baqarah: 109)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah v berkata: “Dalam ayat ini Allah l mencela orang-orang Yahudi, karena kedengkian mereka terhadap kaum mukminin yang berada di atas petunjuk dan ilmu (yang benar). Penyakit ini pun menimpa kalangan orang berilmu dan yang lainnya. Yaitu dengan mendengki orang-orang yang Allah l beri petunjuk, baik berupa ilmu yang bermanfaat atau pun amal shalih. Ini merupakan akhlak yang tercela dan akhlak orang-orang yang dimurkai Allah l.” (Iqtidha` Ash-Shirathil Mustaqim, 1/83)

4. Kikir ilmu dan harta
Allah l berfirman:
“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri. (Yaitu) orang-orang yang kikir dan menyuruh orang lain untuk berbuat kikir, serta menyembunyikan karunia Allah yang telah diberikan-Nya kepada mereka.” (An-Nisa`: 36-37)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah v berkata: “Dalam ayat ini Allah l menyifati orang-orang Yahudi dengan sifat kikir; yakni kikir ilmu dan harta. Walaupun sebenarnya konteks ayat ini lebih mengarah kepada kekikiran mereka dalam hal ilmu…”
Di tempat yang lain beliau berkata: “Allah l menyifati orang-orang yang mendapat murka ini (Yahudi), bahwa mereka (mempunyai kebiasaan) menyembunyi-kan ilmu. Terkadang karena kikir untuk menyampaikannya, terkadang karena tendensi dunia, dan terkadang pula karena rasa khawatir kalau ilmu yang disampaikan itu akan menjadi hujjah atas mereka (bumerang).” (Lihat Iqtidha` Ash-Shirathil Mustaqim, 1/83-84)

5. Tidak mau mengikuti kebenaran kalau bukan dari kelompoknya, dalam kondisi mengetahui bahwa itu adalah kebenaran
Allah l berfirman:
“Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Berimanlah kepada Al-Qur`an yang diturunkan Allah’, mereka berkata: ‘Kami hanya beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami’. Dan mereka kafir kepada Al-Qur`an yang diturunkan sesudahnya padahal Al-Qur`an itu adalah (kitab) yang haq; yang membenarkan apa yang ada pada mereka.” (Al-Baqarah: 91)
Allah l sebutkan ayat di atas setelah firman-Nya:
“Padahal sebelumnya mereka senantiasa memohon (kedatangan nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka laknat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu.” (Al-Baqarah: 89)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah v berkata: “Dalam ayat ini, Allah l menyifati orang-orang Yahudi bahwa mereka adalah orang-orang yang mengetahui kebenaran. Namun manakala yang menyampaikannya bukan dari kelompok mereka, maka tidak diikutinya. Mereka tidak mau menerima kebenaran kecuali yang datang dari kelompoknya semata, padahal mereka yakin bahwa hal itu semestinya harus diikuti.” (Iqtidha` Ash-Shirathil Mustaqim, 1/86)

6. Mengubah-ubah perkataan (kebenaran) dari tempat yang sebenarnya
Allah l berfirman:
“Yaitu orang-orang Yahudi, mereka mengubah perkataan (kebenaran) dari tempat-tempatnya.” (An-Nisa`: 46)
Di antara contoh perbuatan kaum Yahudi ini adalah apa yang Allah l sebutkan pada lanjutan ayat di atas:
“Mereka berkata: ‘Kami mendengar, tetapi kami tidak mau menurutinya.’ Dan (mereka mengatakan pula): ‘Dengarlah’ sedangkan kamu sebenarnya tidak mendengar apa-apa. Dan (mereka mengatakan pula): ‘Rai’na’ dengan memutar-mutar lidahnya dan mencela agama. Sekiranya mereka mengatakan: ‘Kami mendengar dan patuh, dan dengarlah, dan perhatikanlah kami’, tentulah itu lebih baik bagi mereka dan lebih tepat, akan tetapi Allah mengutuk mereka, karena kekafiran mereka. Mereka tidak beriman kecuali iman yang sangat tipis.” (An-Nisa`: 46)4
Demikianlah beberapa produk Yahudi yang harus dijauhi dan diboikot. Semoga Allah l menjaga kaum muslimin dari semua makar-makar Yahudi.

Produk Instan Yahudi Untuk Menghancurkan Dunia
Pada tahun 1897 M, kota Basel (Swiss) menjadi tuan rumah pertemuan akbar Yahudi Dunia. Lebih dari 300 tokoh Yahudi hadir dalam pertemuan yang dipimpin oleh Theodore Hertzl, seorang wartawan Yahudi kelahiran Hongaria. Mereka datang sebagai duta dari 50 organisasi Yahudi dunia, untuk menggodok trik-trik Yahudi dalam menyikapi perseteruan dunia, dengan mengacu kepada ajaran-ajaran yang terdapat pada kitab Talmud yang mereka agungkan. Targetnya, untuk menghancurkan seluruh kekuasaan di dunia ini dan mendirikan kembali kerajaan dunia Dawud Raya.
Pertemuan akbar ini berhasil menelurkan 24 butir keputusan penting, yang kemudian hari dalam bahasa Arab dikenal dengan sebutan ‘Protokolat Hukama Shuhyun’. Di antara isinya adalah sebagai berikut:
q Kita harus menjerumuskan umamiyyin (orang-orang non Yahudi) ke dalam kehinaan dengan skenario dari kita. Para aktor lapangannya adalah kader-kader dari kalangan guru, pembantu, babysitter, dan wanita-wanita penghibur (artis).
q Demi teraihnya sebuah tujuan, kita harus menggunakan cara-cara suap, penipuan, dan khianat, tanpa keraguan sedikitpun.
q Kita kelabui umat manusia dengan mendengungkan slogan-slogan: ‘kebebasan, persamaan, dan persaudaraan’, dan menjadikan mereka terikat dengan slogan-slogan tersebut, agar mudah bagi kita untuk melakukan segala sesuatu yang kita inginkan.
q Kita akan memilihkan untuk kaum non Yahudi para pemimpin yang bermental budak dan tidak berpengalaman dalam memimpin.
q Kita akan kuasai media massa, karena ia merupakan senjata ampuh untuk mempropagandakan segala keinginan.
q Kita harus menebar permusuhan antara penguasa dengan rakyatnya sehingga penguasa itu seperti seorang buta yang kehilangan tongkatnya5, dan mau tidak mau meminta bantuan kita untuk melanggengkan kedudukannya.
q Kita tampilkan di hadapan rakyat yang terzalimi sebagai pembela mereka, dengan target agar mereka menjadi bagian dari kita dan menjadi para pendukung di kemudian hari.
q Kita akan ciptakan krisis ekonomi global dengan segala cara yang memungkinkan.
q Kita akan terus tebarkan slogan hak asasi, karena ia dapat mencetak masyarakat yang berani melanggar hak Allah l dan segala aturan-Nya.
q Kita harus hancurkan keimanan yang ada dalam sanubari umat manusia dan kita kosongkan dari benak mereka adanya Allah l. Kemudian kita gantikan dengan berbagai-macam kegiatan yang bersifat duniawi (seperti cabang-cabang olahraga), dan mempersiapkannya dalam skala internasional dengan segala macam promosinya, agar umat manusia tidak berkesempatan lagi untuk kembali kepada ajaran agamanya dan tidak menyadari keberadaan musuhnya dalam pertempuran global ini.
q Kamilah yang menciptakan sistem pemilu dan hukum mayoritas (demokrasi), agar kami leluasa dalam memilih pemimpin yang kami kehendaki.6
q Kami akan menggunakan cara-cara kudeta dan pemberontakan, bila itu yang terbaik.
(Untuk lebih rincinya, lihat Al-Yahudiyyah wal Masihiyyah, karya Dr. Muhammad Dhiya`ur-rahman Al-A’zhami, hal. 217-225, dan Al-Mausu’ah Al-Muyassarah fil Adyan wal Madzahib Al-Mu’ashirah, terbitan WAMY, hal. 332-337)

Pekik Peringatan Untuk Kaum Yahudi
Imam al-jarh wat ta’dil abad ini, Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali –hafizhahullah–, dari kota suci Makkah Al-Mukarramah mengumumkan tantangannya kepada kaum Yahudi yang sombong dan semena-mena itu. Beliau sampaikan tantangan tersebut dalam sebuah makalah yang ditayangkan dalam situs www.rabee.net, dengan judul Shaihatu Nadzir yang artinya: ‘Pekik (peringatan) dari seorang pemberi peringatan’. Beliau awali tantangan tersebut dengan sapaan:
“Kepada umat yang dimurkai Allah……..
Kepada umat yang rendah lagi hina, yang Allah timpakan kepada mereka kerendahan dan kehinaan, karena kekafiran dan pembunuhan mereka terhadap para Nabi…..…”
Kemudian beliau mengatakan: “Inilah di antara karekter bejat kalian yang mendatangkan kenistaan, kehinaan dan kemurkaan dari Allah l. Kalian tidak pernah mulia sampai hari ini dan bahkan hingga hari kiamat, kecuali bila kalian mau berpegang dengan tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia. Kalian adalah orang-orang yang tidak mempunyai iman dan aqidah, kalian adalah orang-orang yang tidak mempunyai kejantanan dan keberanian. Sejak dahulu kalian berperang dari balik layar, sementara perseteruan di antara kalian pun amat dahsyat. Sungguh sifat-sifat kalian yang buruk amat banyak sekali, di antaranya; khianat, tidak menepati janji, juru fitnah (provokator), pengompor api peperangan, dan berjalan dengan menebar kerusakan di muka bumi. Setiap kali kalian mengobarkan api peperangan, maka Allah berkuasa untuk memadamkannya. Sungguh sejarah kalian amat hitam, semua umat manusia mengetahuinya.
Kepada mereka, aku dan setiap muslim yang jujur menyampaikan: “Jangan kalian sombong, jangan kalian semena-mena, dan jangan kalian tertipu oleh apa yang kalian raih dari kemenangan yang palsu sementara ini! Karena demi Allah, kalian tidak pernah menang terhadap pasukan Nabi besar Muhammad n, dan terhadap aqidah tauhid Laa Ilaha Illallah yang dibawa oleh beliau n. Kalian pun tidak akan pernah menang melawan pasukan Islam yang dipimpin oleh panglima Khalid bin Al-Walid, Abu ‘Ubaidah bin Al-Jarrah, Sa’d bin Abi Waqqash, ‘Amr bin Al-’Ash, dan An-Nu’man bin Muqrin yang telah terbentuk di atas aqidah dan manhaj Nabi besar Muhammad n, membina pasukannya di atas aqidah dan manhaj beliau n dan memimpin mereka semata-mata untuk meninggikan kalimat Allah l di muka bumi. Pasukan Islam yang tidak tertandingi oleh pasukan Kisra (raja Persia) dan Kaisar (raja Romawi) yang jauh lebih kuat dan lebih handal daripada kalian. Sungguh, kalian tidak akan menang terhadap pasukan Islam yang seperti ini keadaannya, aqidahnya, manhajnya dan tujuannya.
Hari ini kalian boleh merasa menang, karena memang yang kalian hadapi adalah pasukan khaluf (pengganti yang jelek). (Sebagaimana dalam firman Allah l, pen.):
“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” (Maryam: 59)
Kalian hanya bisa menang ketika melawan pasukan yang mayoritasnya tidak beraqidah dengan aqidah Nabi besar Muhammad n dan para sahabatnya, tidak bermanhaj dengan manhaj Nabi Muhammad n dan pasukannya, serta tujuan berjihadnya tidak seperti tujuan jihad mereka.”7

Penutup
Para pembaca yang mulia, dari bahasan di atas dapatlah diambil beberapa kesimpulan berikut ini:
q Yahudi adalah kaum terkutuk dan berkarakter buruk.
q KaumYahudi adalah orang yang paling keras permusuhannya terhadap Islam dan kaum muslimin. Tiada tujuan lain dari permusuhan yang keras itu melainkan untuk mengeluarkan (memurtadkan) kaum muslimin dari agama Islam yang haq dan menyeret mereka kepada agama dan hawa nafsu Yahudi.
q Produk-produk Yahudi dalam hal aqidah, ibadah, akhlak, dan muamalah amat berbahaya bagi aqidah kaum muslimin. Maka dari itu, Allah l dan Rasul-Nya memerintahkan kepada kita semua untuk berlepas diri dari Yahudi dan memboikot seluruh paham/ideologi produk mereka.

q Kaum muslimin harus menyadari bahwa ambisi kaum Yahudi untuk menguasai dunia ini sangatlah besar sekali. Mereka menempuh semua cara untuk mewujudkannya. Sehingga sudah seharusnya bagi kaum muslimin untuk memperhitungkan 24 butir keputusan penting Protokolat Yahudi yang sasaran utamanya adalah kaum muslimin.
q Tidak ada strategi terbaik untuk menghadapi makar dan permusuhan keras kaum Yahudi kecuali dengan kembali kepada agama Rasulullah n yang murni. Beraqidah dengan aqidah Rasulullah n dan para sahabatnya, bermanhaj dengan manhaj beliau n dan pasukannya, serta bercita-cita untuk meninggikan kalimat Allah di muka bumi ini.
q Sejarah telah membuktikan, bahwa kaum Yahudi, bahkan yang jauh lebih kuat dan lebih handal dari mereka, tak mampu menghadapi pasukan Islam yang seperti ini keadaannya, dan barulah musuh-musuh Islam itu menang manakala mayoritas kaum muslimin jauh dari agama Rasulullah n yang murni, menyia-nyiakan shalat, dan memperturutkan hawa nafsu. Wallahul Musta’an.
Akhir kata, semoga Allah l mempersatukan seluruh elemen kaum muslimin dalam satu barisan, dan di atas satu pijakan; yaitu agama Islam yang murni, warisan Rasulullah n dan para sahabatnya. Dengan selalu menjadikan Al-Qur`an, Sunnah Rasulullah n dan pemahaman para sahabat g sebagai referensi utama dalam menyelesaikan segenap problematika. Sehingga terwujudlah janji Allah l:

 


 

1 HR. At-Tirmidzi, Kitabul Fitan, hadits no. 2180

2 Betapa anehnya perkataan pendiri Ikhwanul Muslimin, Hasan Al-Banna (tentang kasus Palestina): “Untuk itu, kami menetapkan bahwa permusuhan kami dengan Yahudi bukanlah permusuhan agama. Karena Al-Qur`an telah menganjurkan untuk bergabung dan berkawan dekat dengan mereka. Dan Islam merupakan syariat kemanusiaan sebelum menjadi syariat kebangsaan. Al-Qur’an pun telah memuji mereka dan menjadikan antara kita dengan mereka keterkaitan yang kuat.” (Al-Ikhwanul Muslimun Ahdatsun Shana’at Tarikh, 1/409-410. Lihat Al-Quthbiyyah Hiyal Fitnah Fa’rifuha, hal. 59)

3 Untuk lebih rincinya, lihat rubrik Manhaji Vol. 1 edisi 12/1425 H/2005, dengan judul Melecehkan Ulama, Kebiasaan Yahudi dan Ahlul Bid’ah.

4 Untuk lebih rincinya lihat Iqtidha’ Ash-Shiratil Mustaqim, 1/87-88.

5 Dalam poin ini kelompok sempalan Hizbut Tahrir (HT) –disengaja atau tidak, disadari atau tidak– telah mengadopsi produk Yahudi di atas dan menjadikannya sebagai salah satu prinsip penting kelompoknya. Sebagaimana yang dikatakan oleh pendiri HT, Taqiyuddin An-Nabhani: “Oleh karena itu, menyerang seluruh bentuk interaksi yang berlangsung antar sesama anggota masyarakat guna memengaruhi masyarakat tidaklah cukup. Kecuali dengan menyerang seluruh bentuk interaksi yang berlangsung antara penguasa dengan rakyatnya dan harus digoyang dengan kekuatan penuh, dengan cara diserang sekuat-kuatnya dengan penuh keberanian.” (Lihat Mengenal HT, hal. 24, Terjun Ke Masyarakat, hal.7)

Kenikmatan yang Terabaikan

Sejarah bergantinya zaman dari zaman jahiliah ke zaman Islam adalah sejarah bergantinya masa perpecahan dan permusuhan kepada masa persatuan dan persaudaraan. Era jahiliah adalah masa perpecahan dan pertikaian. Masyarakat jahiliah adalah masyarakat liar yang tidak terpimpin. Tanpa aturan, tanpa kepemimpinan. Siapa yang kuat dia yang menang.
Mereka terkotak-kotak dalam berbagai suku dan kabilah, yang masing-masing merasa lebih kuat dan lebih hebat dari yang lainnya. Mereka dikuasai oleh sifat ashabiyah (fanatisme) golongan. Mereka akan membela golongannya masing-masing, benar ataupun salah. Oleh karena itu, pertikaian tidak dapat dihindarkan. Peperangan terus berlangsung hingga berpuluh-puluh tahun, bahkan beratus-ratus tahun lebih. Seperti perang Da’is wal Ghabra yang disebabkan hanya karena masalah sepele, pertikaian dalam pacuan kuda. Namun akibat pertikaian tersebut menimbulkan peperangan yang berlangsung 40 tahun lebih. Mereka turun-temurun mewariskan dendam dan hutang darah, sehingga anak cucu mereka lahir dan dibesarkan dalam keadaan memusuhi serta membenci musuh nenek moyangnya, padahal mereka tidak tahu-menahu apa sebabnya.
Demikian pula peperangan dan pertikaian yang terjadi antara suku Aus dan Khazraj yang berlangsung lama. Sehingga manusia ketika itu mengatakan mustahil mereka akan berdamai selama-lamanya. Namun anggapan mereka keliru. Bagi Allah l, hal itu semuanya mudah dan Allah Maha Kuasa untuk berbuat apapun sekehendak-Nya. Ternyata setelah Allah mengutus Rasul-Nya n, menurunkan Kitab-Nya dan mereka masuk Islam, hati-hati mereka luluh dan dapat bersatu padu dalam agama Islam ini. Maka, datanglah zaman yang berbeda. Zaman persaudaraan, keteraturan, ketentraman, dan perdamaian.
Dengan demikian, di samping mereka mendapatkan kenikmatan Islam yaitu kenikmatan berupa selamatnya mereka dari adzab Allah, mereka juga mendapatkan kenikmatan di dunia ini berupa kenikmatan ukhuwah dan persaudaraan. Allah l ingatkan dua kenikmatan besar ini dalam ayat-Nya:
“Dan berpeganglah kalian semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai berai. Dan ingatlah akan nikmat Allah kepada kalian ketika kalian dahulu (masa jahiliah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hati-hati kalian. Lalu karena nikmat Allah jadilah kalian sebagai orang-orang yang bersaudara. Dan kalian telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kalian darinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kalian, agar kalian mendapat petunjuk.” (Ali ‘Imran: 103)
Kenikmatan besar ini tidak bisa dibeli dengan harta dunia. Tidak bisa pula diupayakan dengan cara apapun, kecuali dengan cara yang telah digariskan oleh Allah l dan Rasul-Nya n. Karena kenikmatan ini berasal dari Allah l, maka tidak mungkin kita mengupayakannya kecuali dengan mencari jalan keridhaan Allah l. Allah l berfirman:
“Dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kalian membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kalian tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Al-Anfal: 63)
Oleh karena itu, ketika kaum muslimin meninggalkan agamanya dan keluar dari jalannya, berkuranglah kenikmatan ukhuwah tersebut berbanding lurus dengan jauhnya mereka dari jalan Islam. Semakin jauh mereka meninggalkan agama Allah, semakin besar pula perpecahan yang terjadi di tengah mereka. Untuk itu, upaya mengajak kaum muslimin untuk kembali kepada tauhid dan ajaran Sunnah Nabinya n adalah upaya untuk merajut kembali persatuan umat Islam. Tidak ada jalan lain untuk merajut kembali kenikmatan ukhuwah kecuali dengan menebarkan dakwah ini, tanpa ta’ashshub (fanatik) terhadap siapapun. Tanpa ada tarikan hawa nafsu, maupun kepentingan-kepentingan pribadi atau golongan.
Upaya-upaya menyatukan umat Islam dengan mematikan amar ma’ruf nahi mungkar, tidak boleh saling salah-menyalahkan, adalah upaya mengekalkan dan membiarkan perpecahan. Begitu juga upaya yayasan-yayasan pemberi dana bantuan untuk menjinakkan hati-hati manusia dan menyatukannya dalam satu barisan, dalam keadaan akidah mereka berbeda-beda, adalah kebodohan dan melupakan apa yang Allah l firmankan pada ayat di atas:
“Walaupun kalian membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kalian tidak dapat mempersatukan hati mereka.”
Apalagi upaya untuk meleburkan semua pemahaman atau sinkretisme agama. Semua upaya itu sama ujungnya, mematikan amar ma’ruf nahi mungkar dan membiarkan perpecahan.
Oleh karena itu, para ulama mengatakan:
“Persatuan adalah rahmat dan perpecahan adalah adzab.”
Allah l berfirman:
“Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia. Dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepada kalian agar kalian bertakwa.” (Al-An’am: 153)
Kita lanjutkan sejarah persatuan dan perpecahan. Zaman Rasul n dan para sahabat merupakan zaman persatuan, zaman ukhuwah, zaman rahmat, dan terus berlangsung seperti itu. Hingga muncul kelompok-kelompok sempalan, kaum Syi’ah Rafidhah dan kaum Khawarij. Kaum Syi’ah Rafidhah keluar dari ajaran Nabinya n kepada ajaran ghuluw, menuhankan ‘Ali bin Abi Thalib z dan mengkafirkan sahabat-sahabat yang lain. Sedangkan Khawarij adalah kaum reaksioner, pemberontak, yang mengkafir-kafirkan kaum muslimin dengan sebab dosa-dosa besar. Robeklah tirai persatuan dan ukhuwah yang telah dirajut oleh Rasulullah n. Terjadilah pertumpahan darah dan peperangan sesama kaum muslimin. Kenikmatan yang telah Allah l berikan berangsur-angsur sirna.
Demikianlah sunnatullah. Jika suatu kenikmatan tidak disyukuri maka Allah l akan mencabutnya kembali.
“Dan (ingatlah juga), tatkala Rabb kalian memaklumkan: ‘Sesungguhnya jika kalian bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepada kalian, dan jika kalian mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih’.” (Ibrahim: 7)
Karena sebagian besar atau kebanyakan kita melupakan kenikmatan yang besar ini dan mengabaikan penyebab datangnya kenikmatan ini, maka jangan salahkan siapapun ketika terjadi perpecahan dan pertikaian kembali di antara kita. Jangan salahkan kecuali diri kita sendiri. Karena sesungguhnya Allah l tidak akan mengubah satu kenikmatan yang telah diberikan pada suatu kaum kecuali ketika mereka sendiri yang menyebabkan tercabutnya kenikmatan itu.
“Yang demikian (siksaan) itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan mengubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada sesuatu kaum, hingga kaum itu mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al-Anfal: 53)
Tidak ada cara lain kecuali merajut kembali ukhuwah Islam dengan benang-benang tauhid dan sunnah. Tata kembali bangunan ukhuwah yang telah rusak dengan pondasi iman dan ketakwaan. Ajaklah seluruh kaum muslimin untuk bersatu di dalamnya. Mudah-mudahan Allah l menyempurnakan kembali kenikmatan yang pernah diberikan kepada salafus shalih.

Sabar Saat Mendapat Musibah

Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri v berkata:
“Kebaikan yang tiada kejelekan padanya adalah bersyukur ketika sehat wal afiat, serta bersabar ketika diuji dengan musibah. Betapa banyak manusia yang dianugerahi berbagai kenikmatan namun tiada mensyukurinya. Dan betapa banyak manusia yang ditimpa suatu musibah akan tetapi tidak bersabar atasnya.”  (Mawa’izh Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri, hal. 158)

Beliau v juga berkata:
“Tidaklah seorang hamba menahan sesuatu yang lebih besar daripada menahan al-hilm (kesantunan) di kala marah dan menahan kesabaran ketika ditimpa musibah.” (Mawa’izh Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri, hal. 62)

Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri v berkata:
“Tiga perkara yang merupakan bagian dari kesabaran; engkau tidak menceritakan musibah yang tengah menimpamu, tidak pula sakit yang engkau derita, serta tidak merekomendasikan dirimu sendiri.” (Mawa’izh Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri, hal. 81)

Yahudi, Musuh Abadi

Yahudi, di mata umat Islam, selama ini menjadi “istilah” yang menyimbolkan keculasan dan kelicikan. Sehingga tidaklah heran jika kemudian muncul anekdot: “bukan Yahudi namanya kalau tidak licik”. Di masa lalu, rekam jejaknya sebagai sebuah bangsa memang banyak meninggalkan goresan dan kepedihan dalam catatan sejarah Islam. Pembunuhan atas sejumlah nabi, pengkhianatan terhadap Rasulullah n yang menyulut sejumlah peperangan, lahirnya agama Syiah Rafidhah, adalah sekelumit peristiwa di mana Yahudi menjadi aktor utamanya.

Di masa sekarang pun, sejumlah peristiwa politik besar yang terjadi di pelbagai belahan dunia juga tak lepas dari tangan-tangan Yahudi. Terlebih jika itu sudah menyangkut kepentingan umat Islam. Pendudukan atas tanah Palestina adalah contoh paling nyatanya.

Tak hanya rajin mengipasi bara permusuhan. Jaring Yahudi juga menjerat umat dengan beragam pemikiran merusak yang disusupkan ke tengah umat. Cara paling mudah dan efektif adalah dari dalam Islam sendiri yakni melalui orang-orang yang (sengaja) ditokohkan. Mereka umumnya adalah produk cuci otak setelah belajar “Islam” ke negara-negara Barat. Maka janganlah heran jika lantas lahir “pemikir” Islam tapi tak pernah shalat atau “intelektual” Islam tapi tak mengerti bahasa Arab terlebih tafsir dan hadits.

Islam dan pemeluknya yang dicitrakan sebagai teroris dan serba terbelakang, adalah juga buah perang opini yang dilancarkan Yahudi dan konco-konconya. Muara dari semua itu tak lain menjadikan umat fobi sekaligus minder terhadap agamanya sendiri.

Bagaimana sesungguhnya sepak terjang Yahudi dalam sorotan syariat selama ini? Pembaca bisa menelusurinya di Kajian Utama dan beberapa artikel lain.

Pembaca, berdandan adalah hal yang teramat lekat dengan wanita. Tak sepenuhnya salah memang. Namun ketika syariat telah membingkainya, maka perilaku alamiah ini mesti didudukkan secara semestinya. Islam memang menuntut wanita untuk berhias. Namun itu dilakukan dalam rangka memupuk kecintaan suami. Bukan untuk tebar pesona yang selama ini jamak dilakukan para wanita.

Anomali yang terjadi, istri bisa sangat cantik di luar rumah namun tidak demikian halnya di dalam rumah. Ketika pergi berbelanja, misalnya, mereka bisa memakai lebih dari lima jenis kosmetik di wajahnya, parfum yang baunya bisa tercium dari jarak belasan meter, hingga mengenakan baju seksi yang mengundang hasrat lelaki. Namun di depan suaminya ia justru berpakaian apa adanya. Wajahnya ‘dibedaki’ jelaga sementara ‘parfum’-nya adalah bau bumbu dapur. Bagaimana kita semestinya memaknai berhias (tabarruj) itu? Pembaca bisa mengkajinya dalam rubrik Wanita dalam Sorotan.

Pembaca, kian meningkat dan meluasnya kasus kekerasan dalam rumah tangga membuat kami tergugah untuk memberikan sumbangsih dalam bentuk nasihat. Memang, karena keterbatasan ruang, hal itu tidak bisa dipaparkan kasus per kasus. Namun artikel yang terangkum dalam rubrik Mengayuh Biduk ini insya Allah memberikan banyak manfaat bagi kita agar kita bisa menyelesaikan segala sesuatunya dengan bimbingan agama, berupaya mencari titik temu dengan terlebih dahulu mengurai akar persoalan, tidak memperturutkan emosi, serta tidak terburu-buru menempuh jalur hukum. Alih-alih melalui jalan pintas semisal ‘keberanian’ menggugat cerai, sebagaimana hal ini acap direkomendasikan kalangan aktivis perempuan.

Terakhir, sebagaimana senantiasa disinggung pada setiap edisi, pembaca juga bisa menjelajahi artikel lainnya yang tak kalah menarik. Selamat mengkaji!

 

Surat Pembaca edisi 32

Ana Marlina Susanti dari STEI TAZKIA Bogor. Ana mau nanya, kalau ana mau ngirim artikel ke majalah Asy-Syariah caranya bagaimana? Terus syaratnya apa aja? Terima kasih.

Marlina Susanti

soe_xxxxx@yahoo.com

 

Redaksi minta maaf kepada seluruh pembaca yang mengirim pertanyaan serupa. Sekali lagi, dengan pertimbangan misi ilmiah yang kami emban, redaksi hanya menerima artikel untuk rubrik Info Praktis dan Surat Pembaca. Itu pun, dalam beberapa edisi terakhir tidak bisa tampil karena lebih memprioritaskan artikel-artikel utama. Di meja redaksi sendiri telah menumpuk artikel-artikel Info Praktis yang masuk dalam ‘daftar tunggu’. Jadi kami harap pembaca bisa memakluminya. Jazakumullahu khairan.

 

Minta Penjelasan

Pada edisi 31 pada hal. 57 kolom kanan paragraf ke-2, ana menemukan kalimat: … mencukur kumis sampai habis adalah perbuatan mencincang…dst. Ana merasa kalimat tersebut sangat janggal. Mohon penjelasan dari redaksi.

Ahmad

0815786xxxxx

 

Memang nampaknya dalam teks yang tertulis kurang sebuah kata yang menjelaskan maksudnya. Seharusnya ‘mencincang rambut’. Kami menggunakan istilah demikian karena dalam sebagian riwayat hadits -walaupun dari sisi sanadnya ada kelemahan- ada istilah مُثْلَةُ الشَّعْرِ (mutslah terhadap rambut). Istilah ini ada kesamaan dengan mutslah bil hayawan (mutslah terhadap hewan) atau mutslah bil qatil (mutslah terhadap mayat), yang berarti mencincang hewan atau mayat. Sehingga mutslah terhadap rambut kami terjemahkan dengan ‘mencincang rambut’.

Jawaban dari surat pembaca ini sekaligus merupakan koreksi. Jazakumullah khairan.

 

Salafy=Agen Yahudi?

Pada sebuah majalah -ana tidak perlu sebut namanya karena terlalu rendah jika disebutkan di majalah yang sarat ilmu ini-, ada tuduhan bahwa Salafy adalah agen Yahudi. Bagaimana tanggapan redaksi mengenai hal ini?

Abu Salma

Purworejo

 

Salaf adalah sebutan bagi generasi pendahulu Islam yakni generasi sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in, serta para imam yang mengikuti jejak dan pemahaman mereka dengan baik. Mereka adalah generasi terbaik yang paling mengerti ajaran-ajaran Islam serta paling bersih dari intepretasi atau tafsir menyimpang yang muncul belakangan.

Maka sepatutnya kita dituntut menjadi salafi, yakni muslim yang menisbatkan dirinya pada metodologi mereka dalam segala ucapan, amalan, maupun pemahaman. Dengan catatan, kita dalam taraf berupaya karena kita tidak akan mampu menyamai keimanan para sahabat dan generasi salaf lainnya. Jadi yang perlu digarisbawahi di sini, kita berbuat tidak sekedar dibakar api semangat namun kosong ilmu. Seperti mengebom sana mengebom sini tapi nyatanya yang disasar bukan orang kafir karena yang jadi korban juga kaum muslimin sendiri.

Jawaban redaksi tentang pertanyaan di atas singkat saja. Silakan pembaca merenungi tema majalah edisi kali ini. Pembaca bisa menilai sendiri benarkah tuduhan itu dan sedangkal apakah mereka yang melontarkan tuduhan tersebut?

Apalagi sumbernya bukan dari orang yang adil/ tsiqah, tetapi justru dari orang fasiq (pezina). Sebagai tambahan, silakan mendengarkan rekaman ceramah Al-Ustadz Abu Karimah Askari yang telah membahasnya di Masjid Ibnu Taimiyyah, Cemani, Solo.