Misi Nabi Isa Turun ke Bumi

(ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar ZA, Lc.)

 

Nabi Isa q diturunkan ke muka bumi memang bukan dalam kapasitasnya sebagai rasul yang menyerukan syariat baru. Tidak pula menghapus syariat nabi terakhir Muhammad n. Lantas misi apa yang beliau emban?

Merujuk kepada hadits-hadits yang lalu, kita akan mengetahui misi Nabi Isa q ketika turunnya. Di antaranya:

1. حَكَمًا عَدْلًا, sebagai hakim yang adil.

Al-Imam An-Nawawi t menerangkan: “Yakni beliau turun sebagai hakim dengan (hukum) syariat ini, bukan turun sebagai nabi yang membawa risalah tersendiri atau syariat yang menghapus (syariat Nabi Muhamad n, -pent.). Bahkan beliau adalah salah seorang hakim di antara hakim-hakim umat ini. (Syarah Muslim, 2/366. Demikian pula Ibnu Hajar t menerangkan dalam Fathul Bari, 6/491)

Ibnu Abi Dzi’b mengatakan kepada Al-Walid bin Muslim, ketika menyampaikan hadits Abu Hurairah z, bahwa: “Nabi Isa mengimami/memimpin kalian dengan kitab Rabb kalian dan Sunnah Nabi kalian.” (Shahih Muslim 1/369-392 Kitabul Iman, Fi Nuzul Ibnu Maryam. Cet. Darul Ma’rifah)

2. يَكْسِرَ الصَّلِيبَ, memecah atau menghancurkan salib.

Ibnu Hajar t mengatakan: “Yakni membatalkan agama Nasrani, dengan cara menghancurkan salib dengan sebenar-benarnya, serta membatalkan apa yang diyakini oleh orang Nasrani tentang keagungannya.” (Fathul Bari, 6/491)

3. َيَقْتُلَ الْخِنْزِيرَ, membunuh babi.

Al-Imam An-Nawawi t mengatakan bahwa padanya terdapat dalil bagi pilihan madzhab kami (madzhab Asy-Syafi’i) dan madzhab mayoritas para ulama bahwa bila kita mendapati babi di negeri peperangan atau negeri aman sementara kita dapat membunuhnya maka hendaknya kita membunuhnya. (Syarhun Nawawi, 2/367)

4. يَضَعَ الْـجِزْيَةَ, meletakkan atau menggugurkan jizyah.

Jizyah adalah semacam upeti yang dibebankan kepada ahlul kitab yang hidup di tengah negeri muslimin, ketika mereka tidak mau memeluk agama Islam. Dengan itu, mereka boleh tinggal di negeri muslimin serta mendapatkan jaminan keamanan dari muslimin. Tapi dengan turunnya Nabi Isa  q maka Islam tidak lagi menerima jizyah, yang juga berarti tidak diterimanya lagi dari ahlul kitab kecuali Islam. Al-Imam An-Nawawi t mengatakan: “Makna yang benar adalah bahwa beliau tidak akan menerima jizyah, tidak menerima dari orang kafir kecuali Islam, dan orang kafir yang tetap ingin membayar jizyah, mereka tidak akan dilindungi. Bahkan beliau tidak akan menerima kecuali Islam atau kalau tidak, dibunuh. Demikian dikatakan Abu Sulaiman Al-Khaththabi t dan yang lain dari kalangan para ulama.” (Syarhun Nawawi, 2/367)

5. Mengajak orang untuk masuk Islam atau memerangi manusia demi Islam. Disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah z, Nabi n bersabda:
لَيْسَ بَيْنِي وَبَيْنَهُ نَبِيٌّ -يَعْنِي عِيسَى- وَإِنَّهُ نَازِلٌ فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَاعْرِفُوهُ رَجُلٌ مَرْبُوعٌ إِلَى الْحُمْرَةِ وَالْبَيَاضِ بَيْنَ مُمَصَّرَتَيْنِ كَأَنَّ رَأْسَهُ يَقْطُرُ وَإِنْ لَمْ يُصِبْهُ بَلَلٌ فَيُقَاتِلُ النَّاسَ عَلىَ الْإِسْلَامِ فَيَدُقُّ الصَّلِيبَ وَيَقْتُلُ الْخِنْزِيرَ وَيَضَعُ الْجِزْيَةَ وَيُهْلِكُ اللهُ فِي زَمَانِهِ الْـمِلَلَ كُلَّهَا إِلاَّ الْإِسْلَامَ وَيُهْلِكُ الْمَسِيحَ الدَّجَّالَ فَيَمْكُثُ فِي الْأَرْضِ أَرْبَعِينَ سَنَةً ثُمَّ يُتَوَفَّى فَيُصَلِّي عَلَيْهِ الْمُسْلِمُونَ
“Tidak ada antara aku dengan dia nabi –yakni Isa– dan ia pasti turun, dan bila kamu melihatnya maka ketahuilah dia. Seorang lelaki yang tingginya sedang, agak merah dan putih, antara dua pakaian yang berwarna agak kuning, seakan-akan kepalanya meneteskan air, walaupun tidak basah. Lalu ia memerangi manusia agar masuk Islam, menghancurkan salib, membunuh babi, menghilangkan jizyah, dan pada masanya, Allah hancurkan agama-agama seluruhnya kecuali Islam, dan ia membunuh Al-Masih Ad-Dajjal, lalu ia tinggal di bumi selama 40 tahun. Kemudian ia wafat lalu kaum muslimin menyalatinya.” (HR. Ahmad, Abu Dawud no. 4324, dan Ibnu Hibban. Dishahihkan oleh Ibnu Hajar t dalam Fathul Bari, 6/493 dan Al-Albani t dalam Ash-Shahihah no. 2182)

Turunnya Nabi Isa diAkhir Zaman Sebuah Akidah yang Wajib di Imani

(ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar ZA, Lc.)

 

Muara dari kisah Nabi Isa q masih samar bagi sebagian kaum muslimin. Terlebih hal ini terancukan oleh keyakinan Nasrani yang meyakini bahwa Isa telah wafat karena disalib. Bagaimana kisah sebenarnya dari nabi Isa q ini?

Siapakah Isa Al-Masih1?

Dia adalah Isa Ibnu (putra) Maryam, seorang hamba Allah (Abdullah) dan utusan-Nya (Rasulullah) serta Nabi-Nya. Hal itu sebagaimana diungkapkan oleh Nabi Isa q sendiri, seperti yang dikisahkan oleh Allah l dalam ayat-ayat Al-Qur`an:

“Berkata Isa: ‘Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al-Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi. Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup, serta berbakti kepada ibuku. Dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal, dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.’ Itulah Isa putera Maryam, yang mengatakan perkataan yang benar, yang mereka berbantah-bantahan tentang kebenarannya. Tidak layak bagi Allah mempunyai anak, Maha Suci Dia. Apabila Dia telah menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata kepadanya: ‘Jadilah,’ maka jadilah ia. Sesungguhnya Allah adalah Rabbku dan Rabbmu, maka sembahlah Dia oleh kamu sekalian. Ini adalah jalan yang lurus. Maka berselisihlah golongan-golongan (yang ada) di antara mereka. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang kafir pada waktu menyaksikan hari yang besar.” (Maryam: 30-37)
“Isa tidak lain hanyalah seorang hamba yang Kami berikan kepadanya nikmat (kenabian) dan Kami jadikan dia sebagai tanda bukti (kekuasaan Allah) untuk Bani Israil.” (Az-Zukhruf: 59)
“Al-Masih putera Maryam hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang membenarkan, kedua-duanya biasa memakan makanan. Perhatikan bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka (ahli Kitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling (dari memerhatikan ayat-ayat Kami itu).” (Al-Ma`idah: 75)
Ayat yang menegaskan demikian cukup banyak, apa yang disebutkan sudah cukup menjelaskan siapakah Nabi Isa q. Dalam hadits yang diriwayatkan dari Ubadah ibnush Shamit z juga disebutkan bahwa Nabi n bersabda:
“Barangsiapa bersaksi bahwa tiada ilah yang benar kecuali Allah satu-satu-Nya, tiada sekutu bagi-Nya, dan bahwa Muhammad hamba dan Rasul-Nya, dan bahwa Isa adalah hamba dan Rasul-Nya serta kalimat-Nya yang Allah lontarkan kepada Maryam, dan bahwa surga itu benar dan neraka itu benar, maka Allah akan memasukkannya ke dalam Al-Jannah sesuai dengan amalnya.” (Shahih, HR. Bukhari dan Muslim)
Dengan demikian, Nabi Isa q sama sekali tidak memiliki sifat-sifat ketuhanan, sehingga tidak berhak untuk diibadahi atau dipertuhankan. Sebagaimana juga beliau adalah seorang rasul yang berhak untuk mendapatkan hak-haknya sebagai rasul, sehingga harus diimani kerasulannya, dicintai dan dihormati yang semua itu tidak melebihi kedudukannya sebagai manusia. Tidak boleh pula dihinakan atau dilecehkan, lebih-lebih dikatakan sebagai anak zina.
Sifat Fisik Nabi Isa q
Beliau adalah seorang lelaki yang postur tubuhnya tidak tinggi tidak pula pendek, kulitnya kemerahan, dadanya bidang2, rambutnya lurus, melebihi ujung telinganya, telah beliau sisir dan memenuhi antara dua pundaknya3. Rambutnya meneteskan air seolah-olah baru keluar dari kamar mandi4.
Sikap yang benar terhadap Nabi Isa
Sesungguhnya Nabi yang mulia ini memiliki kedudukan yang tinggi dalam Islam. Namun tidak diketahui oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani atau mereka pura-pura bodoh terhadapnya dalam realita mereka, atau dalam keyakinan serta tulisan-tulisan mereka. Islam telah memenuhi kedudukan mulia tersebut, menetapkannya dengan sebaik-baiknya, serta menyempurnakannya. Islam juga bersikap obyektif dalam banyak ayat yang jelas dan mulia. Hanya apa yang ditetapkan Islam itulah yang dapat diterima oleh akal yang sehat, bukan selainnya. (Mauqiful Islam Min ‘Isa q, hal. 3)
Sikap yang benar terhadap Nabi Isa q adalah meyakini bahwa beliau adalah Hamba Allah dan Rasul-Nya. Allah l utus beliau kepada Bani Israil, ia tercipta dengan kalimat Allah l yang Allah l lontarkan kepada Maryam, beliau adalah salah satu Ulul ‘Azmi dari kalangan para Rasul, berbagai keistimewaan Allah l berikan kepadanya, Allah l ciptakan dengan sebuah kalimat-Nya yang ditujukan kepada Maryam yaitu kata ‘kun’ (jadilah), sehingga jadilah sebuah janin pada perut Maryam, wanita mulia lagi shalihah yang tidak pernah terjamah siapapun. Ia dapat berbicara saat bayinya, Allah l beri mukjizat berupa menghidupkan orang mati dengan izin Allah l, menyembuhkan orang dari penyakit sopak dan bisu, serta dapat memberi tahu apa yang dimakan oleh orang-orang dan apa yang disimpan di rumah mereka. (Sebagaimana tercantum dalam surat Ali Imran: 45-50)
Atas dasar segala keistimewaan yang ada tersebut maka kita mengimaninya, mencintai, dan menghormatinya. Namun dengan segala keistimewaan yang ada tersebut, beliau tetaplah sebagai manusia yang tidak memiliki sifat-sifat ketuhanan sehingga tidak boleh dipertuhankan, bukan Tuhan atau Anak Tuhan atau salah satu dari tiga unsur Tuhan.
Sikap ekstrem Nasrani
Orang-orang Nasrani yang mengaku sebagai pengikut Nabi Isa meyakini bahwa Nabi Isa adalah sebagai Tuhan atau Anak Tuhan, atau dia adalah Tuhan anak yang merupakan salah satu dari tiga unsur trinitas, yaitu Tuhan Bapak, Tuhan Anak, dan Ruhul Qudus. Masing-masing berbeda dari yang lain, akan tetapi ketiganya merupakan Tuhan yang satu.
Keyakinan semacam ini terhadap Nabi Isa q tentu keyakinan ekstrem, yang teramat keliru menurut agama Allah l yang dibawa para rasul, termasuk yang dibawa Nabi Isa q itu sendiri. Di mana keyakinan semacam ini artinya mendudukkan Nabi Isa q bukan pada tempatnya, melebihi posisinya sebagai seorang manusia. Nabi Isa sendiri sangat mengingkari keyakinan ini. Allah l menyatakan:Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: “Hai Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: ‘Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan/sesembahan selain Allah?’.” Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib. Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan) nya yaitu: ‘Sembahlah Allah, Rabbku dan Rabbmu’, dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan (angkat) aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu.” (Al-Ma`idah: 116-117)
Ini merupakan salah satu kekafiran dan kesesatan terbesar, karena hal itu merupakan puncak celaan terhadap kebesaran Allah l, keagungan serta rububiyah-Nya. Tidak ada selain Allah l melainkan makhluk-Nya yang tunduk kepada keagungan dan kebesaran-Nya, serta terbebani beban ibadah kepada-Nya. (Mauqiful Islam Min ‘Isa)
Allah l berfirman:
“Orang-orang Yahudi berkata: ‘Uzair itu putera Allah’ dan orang Nasrani berkata: ‘Al-Masih itu putera Allah.’ Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah-lah mereka; bagaimana mereka sampai berpaling?” (At-Taubah: 30)
“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: ‘Sesungguhnya Allah adalah Al-Masih putera Maryam’, padahal Al-Masih (sendiri) berkata: ‘Hai Bani Israil, sembahlah Allah Rabbku dan Rabbmu.’ Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang dzalim itu seorang penolong pun. Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: ‘Bahwasanya Allah adalah salah satu dari yang tiga’, padahal sekali-kali tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Ilah Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.” (Al-Ma`idah: 72-73)
“Dan mereka berkata: ‘Rabb Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak.’ Sesungguhnya kamu telah mendatangkan suatu perkara yang sangat mungkar, hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, bumi terbelah, dan gunung-gunung runtuh, karena mereka mendakwa Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak. Dan tidak layak bagi Rabb Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak. Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Rabb Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba.” (Maryam: 88-93)
Dalam Injil-pun terdapat bantahan terhadap aqidah ini. Di mana disebutkan di dalam seluruh kitab Injil bahwa Isa adalah putra Maryam dan menimpanya apa yang menimpa manusia. Di antaranya bahwa ia menjadi ada setelah ketiadaan, butuh makan dan minum, merasa letih dan ia tidur bahkan mati5, serta sifat-sifat kemanusiaan lainnya. (Dirasat fil Adyan, Su’ud Al-Khalaf hal. 136)
Terdapat pula ucapan-ucapan Nabi Isa q dalam Injil bahwa ia adalah seorang Rasul (utusan). Dalam Injil Matius (10/40) Nabi Isa mengatakan: ”Siapa yang menerima kalian berarti ia menerima aku, dan siapa yang menerima aku berarti menerima yang mengutusku.” (Dirasat fil Adyan, Su’ud Al-Khalaf, hal. 136)
Hal ini sesuai dengan apa yang disebutkan Allah l dalam Al-Qur`an:
“Al-Masih putera Maryam hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang membenarkan, kedua-duanya biasa memakan makanan. Perhatikan bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka (ahli Kitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling (dari memerhatikan ayat-ayat Kami itu).” (Al-Ma`idah: 75)
Ia juga mengajak untuk beribadah hanya kepada Allah l. Disebutkan dalam Injil Matius (4/10) bahwa Nabi Isa mengatakan: “Untuk Rabb sesembahanmu kamu melakukan sujud, dan hanya kepada-Nya kamu beribadah.” (Dirasat fil Adyan, Su’ud Al-Khalaf, hal. 138)
Dalam Injil Yohanes, Al-Masih mengatakan: “Inilah kehidupan yang abadi, yaitu agar mereka tahu bahwa Engkaulah sesembahan yang sesungguhnya, satu-satu-Nya, sedangkan Yesus Al-Masih, dialah yang Engkau utus.” (Dirasat fil Adyan, Su’ud Al-Khalaf, hal. 138)
Ini sesuai dengan apa yang Allah l kisahkan tentang Al-Masih bahwa beliau mengatakan:
“Sesungguhnya Allah, Rabbku dan Rabb kalian, karena itu sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus.” (Ali ‘Imran: 51)
Sikap tafrith (meremehkan) Kaum Yahudi terhadap Nabi Isa q
Allah l berfirman:
“Maka berselisihlah golongan-golongan (yang ada) di antara mereka. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang kafir pada waktu menyaksikan hari yang besar.” (Maryam: 37)
Dalam ayat tersebut, Allah l terangkan perbedaan pendapat manusia tentang Nabi Isa q, padahal telah Allah l terangkan dengan begitu jelas siapakah sebenarnya beliau. Ibnu Katsir t mengatakan ketika menafsirkan ayat tersebut: “Yakni ucapan Ahlul kitab saling berselisih tentang Nabi Isa setelah kejelasan siapakah sebenarnya beliau dan setelah jelasnya keadaan beliau, bahwa beliau adalah hamba Allah l dan Rasul-Nya dan kalimat-Nya yang Allah l lontarkan kepada Maryam serta roh dari-Nya. Maka sekelompok dari mereka, yaitu mayoritas Yahudi –semoga Allah melaknati mereka– menetapkan bahwa Isa adalah anak zina dan mereka mengatakan bahwa ucapan Isa (ketika bayi) adalah sihir. Sedangkan sekelompok yang lain (sebagian orang Nasrani, pent.), mengatakan: ‘Yang bicara itu sesungguhnya hanyalah Allah’, yang lain mengatakan: ‘Bahkan itu anak Allah’, yang lain mengatakan: ‘Itu adalah salah satu dari tiga unsur tuhan (trinitas)’. Yang lain mengatakan: ‘Dia adalah hamba Allah dan utusan-Nya’. Dan itulah kebenaran yang Allah l bimbing kaum mukminin kepadanya.” (Tafsir Al-Qur`anul ‘Azhim, 3/127)
Dalam surat An-Nisa ayat 156 disebutkan:
“Dan karena kekafiran mereka (terhadap ‘Isa), dan tuduhan mereka terhadap Maryam dengan kedustaan besar.”
Ditafsirkan oleh Ibnu Abbas c dan yang lain bahwa maksudnya adalah orang Yahudi menuduh Maryam berzina.
Ibnu Katsir t menjelaskan: “Dan itu sangat nampak dalam ayat, bahwa Yahudi menuduh putra Maryam dan Maryam dengan berbagai tuduhan besar, sehingga menganggap bahwa Maryam adalah pelacur dan mengandung anak hasil zina. Sebagian mereka menambahkan tuduhan bahwa ia melakukan zina dalam keadaan haid. Semoga Allah l timpakan pada mereka laknat-Nya yang berturut-turut, sampai hari kiamat.” (Tafsir Al-Qur`anul ‘Azhim, 1/574)
Ucapan orang-orang Yahudi itu tentu sangat berlebihan. Sebuah penghinaan yang sangat tidak pantas ditujukan pada manusia umumnya, lebih-lebih kepada seorang Nabi dan Rasul pilihan yang Allah l muliakan dengan berbagai kemuliaan, salah satu dari ulul azmi. Padahal beliau membenarkan kitab Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa q untuk kaum Yahudi.
Dalam hal ini, Yahudi berada pada kutub yang sangat berlawanan dengan ucapan orang Nasrani.
Allah l telah membantah bualan orang Yahudi itu dalam ayat-ayat-Nya mulia:“Dan ceritakanlah (kisah) Maryam di dalam Al-Qur`an, yaitu ketika ia menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur, maka ia mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus malaikat kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna. Maryam berkata: ‘Sesungguhnya aku berlindung darimu kepada Rabb Yang Maha Pemurah, jika kamu seorang yang bertakwa.’ Ia (Jibril) berkata: ‘Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Rabbmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci.’ Maryam berkata: ‘Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusia pun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina!’ Jibril berkata: ‘Demikianlah. Rabbmu berfirman: ‘Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan agar dapat Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami; dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan.’ Maka Maryam mengandungnya, lalu ia menyisihkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh.” (Maryam: 16-22)
Sampai pada firman Allah l:
“Maka Maryam membawa anak itu kepada kaumnya dengan menggendongnya. Kaumnya berkata: ‘Hai Maryam, sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang amat mungkar. Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina’, maka Maryam menunjuk kepada anaknya. Mereka berkata: ‘Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih dalam ayunan?’ Berkata Isa: ‘Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al-Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi. Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup; dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal, dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.’ Itulah Isa putera Maryam, yang mengatakan perkataan yang benar, yang mereka berbantah-bantahan tentang kebenarannya.” (Maryam: 27-34)
Dan masih banyak lagi ayat-ayat yang menerangkan hakikat penciptaan Isa.
Diangkatnya Nabi Isa q dan bahwa Beliau belum Wafat
Orang-orang Yahudi mengklaim bahwa mereka telah membunuh Nabi Isa q dan mereka berbangga dengan itu. Mereka berkeyakinan bahwa orang yang terbunuh dengan disalib adalah orang yang mendapatkan laknat Allah l. Tapi sungguh aneh dan disayangkan bahwa orang-orang Nasrani pun meyakini kematian Nabi Isa di tiang aslib. Ini semua karena kebodohan mereka akan hakikat apa yang terjadi pada Nabi Isa. Lebih dari itu, mereka meyakini bahwa beliau dengan kematiannya yang tersalib adalah sebagai penebus dosa-dosa anak manusia karena kesalahan Nabi Adam q. Padahal Allah l telah ampuni Adam jauh-jauh hari sebelum lahirnya Isa. Allah l berfirman:
“Kemudian Rabbnya memilihnya maka Dia menerima taubatnya dan memberinya petunjuk.” (Thaha: 122)
Allah l telah membantah semua itu melalui ayat-ayat-Nya yang mulia:
“Dan karena kekafiran mereka (terhadap ‘Isa), dan tuduhan mereka terhadap Maryam dengan kedustaan besar (zina), dan karena ucapan mereka: ‘Sesungguhnya Kami telah membunuh Al-Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah’, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Tidak ada seorang pun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya. Dan di hari Kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka.” (An-Nisa`: 156-159)
Di antara pengekor Yahudi dan Nasrani dalam hal kematian Isa adalah aliran Ahmadiyah-Qadyaniyyah yang telah divonis kafir oleh para ulama dan lembaga-lembaga Islam. Mereka meyakini demikian demi mencapai misi mereka, yaitu untuk menyatakan bahwa nanti yang dibangkitkan bukanlah Isa yang sesungguhnya karena ia telah wafat, tapi yang dibangkitkan adalah orang yang serupa Isa. Mereka maksudkan adalah pemimpin mereka yaitu Mirza Ghulam Ahmad Al-Qadyani. Mereka sempat berdalil dengan beberapa ayat yang dianggap oleh mereka mendukung keyakinan sesat mereka. Akan datang nanti, insya Allah, bantahannya.
Dari keterangan di atas nyatalah bahwa Isa belum meninggal, bahkan Allah l angkat menuju kepada-Nya. Allah l juga menyatakan:
“Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya. (Ingatlah), ketika Allah berfirman: ‘Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat. Kemudian hanya kepada Akulah kembalimu, lalu Aku memutuskan di antaramu tentang hal-hal yang selalu kamu berselisih padanya’.” (Ali ‘Imran: 54-55)
Mereka bermakar, yakni hendak membunuh Nabi Isa q dan memadamkan cahaya Allah l. Di antara yang menunjukkan bahwa beliau masih hidup adalah firman Allah l:
“Tidak ada seorang pun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya. Dan di hari Kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka.” (An-Nisa`: 159)
Ibnu Abbas c mengatakan bahwa maksudnya adalah beriman dengan Nabi Isa sebelum kematian beliau. (Riwayat Ibnu Jarir t dan sanadnya dishahihkan Ibnu Hajar t. Lihat Fathul Bari, 4/492)
Al-Hasan t mengatakan: “Maksudnya sebelum kematian Isa. Demi Allah, sungguh dia sekarang hidup di sisi Allah l, tapi bila beliau turun nanti semuanya akan beriman.” (Tafsir Ath-Thabari, dinukil dari Asyrathus Sa’ah hal. 346)
Turunnya Nabi Isa q dan Itu Sebagai Tanda Hari Kiamat
Tentang turunnya Nabi Isa q telah disebutkan oleh ayat Al-Qur`an yang sekaligus menunjukkan bahwa itu sebagai salah satu tanda hari kiamat. Di antara dalil yang menunjukkan demikian adalah:
“Isa tidak lain hanyalah seorang hamba yang Kami berikan kepadanya nikmat (kenabian) dan Kami jadikan dia sebagai tanda bukti (kekuasaan Allah) untuk Bani Israil. Dan kalau Kami kehendaki benar-benar Kami jadikan sebagai gantimu di muka bumi malaikat-malaikat yang turun temurun. Dan sesungguhnya Isa itu benar-benar adalah tanda bagi hari kiamat. Karena itu janganlah kamu ragu-ragu tentang kiamat itu dan ikutilah Aku. Inilah jalan yang lurus.” (Az-Zukhruf: 59-61)
“Dan sesungguhya Isa itu adalah tanda bagi hari kiamat”, maksudnya adalah bahwa turunnya Isa termasuk tanda-tanda hari kiamat, dan dengan itu diketahui bahwa kiamat sudah dekat. Demikian menurut penafsiran Ibnu Abbas, Mujahid, Qatadah, Adh-Dhahhak, dan As-Suddi. (Zadul Masir, 7/325, Al-Qurthubi, 16/105). Dan Ibnu Abbas c membacanya dengan لَعَلَمٌ yang berarti tanda.
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas c, dari Nabi n, tentang tafsir “Dan sungguh Isa itu adalah tanda bagi hari kiamat”, beliau n menyatakan:
“Itu adalah turunnya Isa bin Maryam sebelum hari kiamat.” (HR. Ibnu Hibban dalam Shahih-nya. Bab Al-Bayan bi anna Nuzul Isa ibni Maryam min A’lamis Sa’ah, 15/228 no. 6817)
Firman Allah l:
“Tidak ada seorang pun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya. Dan di hari Kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka.” (An-Nisa`: 159)
Telah lewat tafsir Al-Hasan t terhadap ayat ini.
Adapun hadits-hadits Nabi n, maka cukup banyak yang menunjukkan akan turunnya Isa bahkan sampai kepada derajat mutawatir, sebagaimana disebutkan oleh para ulama hadits dan yang lain, seperti Ibnu Jarir, Ath-Thabari, Ibnu Katsir, Shiddiq Hasan Khan, Anwar Syah Al-Kasymiri, Al-Azhim Abadi, Asy-Syaikh Al-Albani6, dan akan kita sebutkan nanti sebagian ucapan mereka. Dan di sini saya akan sebutkan sebagian hadits tersebut.
1. Dari Abu Hurairah z ia mengatakan: Rasulullah n bersabda:
“Demi Yang jiwaku ada di tangan-Nya, hampir-hampir akan turun di tengah-tengah kalian Ibnu (putra) Maryam, sebagai hakim yang adil. Ia memecahkan salib, membunuh babi, dan meletakkan (tidak memungut, pent.) jizyah, dan harta ketika itu melimpah tidak seorang pun menerimanya, sehingga satu sujud menjadi lebih baik daripada dunia dan apa yang ada padanya.” Abu Hurairah mengatakan: Bacalah bila kalian mau, ayat (artinya): Dan tidaklah seorang pun dari ahlul kitab kecuali akan benar-benar beriman kepadanya sebelum kematiannya, dan di hari kiamat nanti ia akan menjadi saksi bagi mereka.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 3264, 3/1272. Bab 50 Nuzul Isa bin Maryam r; Muslim no. 155, 1/135 Bab 71 Nuzul Isa bin Maryam Hakiman bi Syari’ati Nabiyyina Muhammad. Ini adalah lafadz Al-Bukhari)
2. Dari Abu Hurairah z ia mengatakan, Rasulullah n bersabda:
“Bagaimana kalian bila turun putra Maryam di tengah-tengah kalian dan imamnya dari kalian.” (HR. Al-Bukhari, Kitab Ahaditsul Anbiya` Bab 49 Nuzul Isa ibn Maryam no. 3449; Muslim Kitabul Iman 1/135 no. 390, Bab 71 Nuzul Isa bin Maryam Hakiman bi Syari’ati Nabiyyina Muhammad cet. Darul Ma’rifah)
Dari Jabir bin Abdillah c ia mengatakan: Aku mendengar Nabi  n bersabda:
“Masih tetap sekelompok dari umatku mereka berperang di atas kebenaran, mereka unggul sampai pada hari kiamat.” Beliau besabda: “Lalu turunlah Isa bin Maryam, lalu pemimpin kaum muslimin mengatakan: ‘Kemari, jadilah imam kami.’ Maka ia menjawab: ‘Sesungguhya sebagian kalian pemimpin atas sebagian yang lain sebagai kemuliaan Allah atas umat ini’.” (Shahih, HR. Muslim, 2/368 Bab 71 Nuzul Isa bin Maryam Hakiman bi Syari’ati Nabiyyina Muhammad; Ibnu Hibban, no. 6819, 15/231, Bab Al-Bayan bi Anna Imama Hadzihil Ummah ‘inda Nuzul ‘Isa bin Maryam Yakunu minhum duna an yakuna ‘Isa Imamahm fi Dzalika Az-Zaman)
Dari Hudzaifah bin Usaid Al-Ghifari z, ia berkata:
Rasulullah melihat kami dalam keadaan kami sedang saling mengingat, maka beliau mengatakan: “Sedang saling mengingatkan apa kalian? Mereka menjawab bahwa kami sedang saling mengingat hari kiamat. Beliau mengatakan: Kiamat tidak akan bangkit sehingga kalian melihat 10 tanda, lalu beliau menyebut: Asap, dajjal, binatang, terbitnya matahari dari barat, turunnya Isa bin Maryam, Ya`juj dan Ma`juj, 3 peristiwa tenggelamnya (suatu daerah, -pent) ke dalam bumi, di daerah barat, di daerah timur, dan di jazirah Arab, yang terakhir adalah api yang muncul dari negeri Yaman yang menggiring manusia ke tempat berkumpulnya mereka.” (Shahih, HR. Muslim, Kitabul Fitan Wa Asyrathus Sa’ah, Bab Fil Ayat Allati Takunu Qabla As-Sa’ah, 18/234 no. 7214. Cet. Darul Ma’rifah. Hadits ini diriwayatkan pula oleh yang lain)
Atas dasar dalil-dalil yang ada maka kaum muslimin bersepakat akan turunnya Nabi Isa q di akhir zaman, sebagaimana keterangan para ulama berikut ini:
Ibnu ‘Athiyyah t mengatakan: “Umat telah berijma’ atas apa yang terkandung dalam hadits yang mutawatir, bahwa Isa hidup di langit dan bahwa ia akan turun di akhir zaman. Lalu ia akan membunuh babi dan memecah salib, membunuh Dajjal, melimpahkan keadilan dan agama akan unggul –yaitu agama Nabi Muhammad n– dan beliau akan haji dan tinggal di bumi selama 24 tahun, dan dikatakan pula selama 40 tahun.” (Tafsir Al-Muharrar Al-Wajiz, 3/143)
As-Safarini t mengatakan: “Umat telah berijma’ akan turunnya Isa dan tidak ada yang menyelisihinya dari ahlu syariah (pengikut syariah). Yang mengingkari hanyalah para filosof dan atheis, yang tidak diperhitungkan penyelisihannya. Dan telah terdapat ijma’ pula bahwa ia turun dan berhukum dengan syariat Nabi Muhammad n bukan dengan syariat yang tersendiri saat turunnya.” (Lawami’ Al-Anwar, 2/94-95)
Di antara yang menukilkan ijma’ juga adalah Al-Munawi t dalam kitabnya Faidhul Qadir. (Lihat Iqamatul Burhan)
Dengan ini, maka hal ini menjadi aqidah muslimin. Aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah. Al-Azhim Abadi mengatakan: “Telah mutawatir berita dari Nabi n dalam hal turunnya Isa bin Maryam r dari langit dengan jasadnya ke bumi saat mendekati terjadinya kiamat. Dan ini adalah mazhab Ahlus Sunnah wal Jamaah.” (‘Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abi Dawud, 11/457)
Demikian pula kita dapati para ulama yang menuliskan aqidah Ahlus Sunnah, mereka menyebutkan bahwa keyakinan ini sebagai salah satu aqidah Ahlus Sunnah. Sebagai contoh, Al-Imam Ahmad bin Hanbal t dalam kitabnya Ushulus Sunnah, Al-Barbahari t dalam kitabnya Syarhus Sunnah, Abul Hasan Al-Asy’ari t dalam kitabnya Maqalat Islamiyyin, Ath-Thahawi  t dalam kitabnya ‘Aqidah Thahawiyyah, Ibnu Abi Zaid Al-Qairuwani  t dalam Risalah-nya, Abu Ahmad bin Husain Asy-Syafi’i t yang dikenal dengan Ibnul Haddad dalam kitab Aqidah-nya, serta Ibnu Qudamah t dalam Aqidah-nya.

1 Mengapa disebut Al-Masih? Dari kata “Ma-sa-ha” yang artinya menghapus atau mengusap. Ibnul Atsir t menjelaskan: Telah berulang-ulang penyebutan “Al-Masih q” dan penyebutan “Al-Masih Ad-Dajjal”. Adapun Isa dinamakan demikian karena beliau tidak pernah mengusap seorang yang cacat kecuali mesti sembuh. Pendapat lain: “Karena telapak kaki beliau tidak cekung”, atau “karena beliau lahir dari ibunya dalam keadaan diusap dengan minyak”, atau “karena beliau mengusap bumi” artinya memotong jarak yang jauh, atau artinya “yang sangat jujur”, atau “Dia dalam bahasa Ibrani disebut ‘Masyih’ lalu diarabkan menjadi ‘Masih’.”
Adapun Dajjal disebut Al-Masih, karena matanya yang satu terhapus, pendapat lain: “yang mengusap bumi artinya yang memotong jarak yang jauh”, “yang fisiknya jelek”. (An-Nihayah, 4/326-327)
2 Shahih, HR. Al-Bukhari dari Ibnu Abbas c.
3 Shahih, HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Umar c.
4 Shahih, HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah z.
5  Demikian tersebut dalam Injil. Adapun kaum muslimin meyakini bahwa beliau belum mati bahkan diangkat menuju kepada Allah l, sebagaimana akan kami jelaskan dalam pembahasan mendatang, insya Allah.
6 Bisa dilihat nukilan ucapan-ucapan mereka dalam kitab Asyrathus Sa’ah hal. 350-352.

Mengimani Isa Turun Sebuah Keniscayaan

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin)

Selain didasari keikhlasan, satu amal bisa diterima sebagai bentuk ibadah kepada Allah l (amal shalih), harus didasari pula bahwa amal tersebut selaras dengan Sunnah Rasulullah n. Seperti dinyatakan Al-Fudhail bin ‘Iyadh t saat menjelaskan pengertian ayat:

“Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (Al-Mulk: 2)

Maka, dijelaskan bahwa yang lebih baik amalnya adalah yang paling ikhlas dan paling benar. Karena sesungguhnya amal itu bila dilakukan secara ikhlas namun tidak dilakukan secara benar (sesuai As-Sunnah), maka tidak diterima amal tersebut. Begitu pula satu amal yang dilakukan secara benar (sesuai tuntunan As-Sunnah) namun tidak diiringi dengan keikhlasan, amal tersebut tetap tertolak. Satu amal diterima bila keikhlasan dan dilakukan secara benar tersebut menjadi landasannya. Yang dimaksud keikhlasan yaitu menjadikan (amal tersebut) hanya bagi Allah l. Sedangkan yang dimaksud dilakukan secara benar yaitu menjadikan amal tersebut berdasar atas As-Sunnah. Semua ini telah ditunjukkan berdasarkan firman Allah l:

“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Rabbnya.” (Al-Kahfi: 110) [Syarh Hadits Innamal A’malu bin Niyat, Ibnu Taimiyyah t, hal. 9-10]

Nyatalah, agar sebuah amal memiliki nilai di hadapan Allah l, tidak bisa cuma mencukupkan keikhlasan atau mencukupkan dengan mengikuti tuntunan As-Sunnah (tanpa diiringi keikhlasan). Keduanya, keikhlasan dan ittiba’ kepada Sunnah Rasulullah n merupakan syarat diterimanya amal seorang hamba.

Mengikuti As-Sunnah merupakan salah satu komponen yang tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan seorang muslim. Sebagaimana disebutkan dalam Syarhus Sunnah karya Al-Imam Al-Barbahari t: “Sesungguhnya Islam adalah As-Sunnah dan As-Sunnah adalah Islam. Tidak bisa tegak salah satu dari keduanya kecuali dengan yang lainnya.”

Disebutkan pula oleh Al-Imam Al-Barbahari t bahwa manusia tidaklah melakukan satu perbuatan bid’ah, hingga dia meninggalkan As-Sunnah yang semisalnya. Maka berhati-hatilah dari perkara-perkara baru yang diada-adakan dalam agama, karena sesungguhnya setiap perkara baru (dalam agama) adalah bid’ah. Setiap bid’ah itu sesat, dan setiap yang sesat dan pelakunya di neraka.

Betapa dahsyat akibat yang ditimbulkan dari seorang hamba yang meninggalkan As-Sunnah. Betapa tidak, ini menyangkut keselamatan dirinya di akhirat kelak.

Karenanya, Asy-Syaikh Muhammad bin Abdulwahhab t menjelaskan kewajiban setiap muslim yang mukallaf untuk mengenal Nabi-Nya. Maknanya, menurut Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin t, yaitu satu bentuk pengenalan yang menjadikan seorang muslim memiliki komitmen untuk menerima terhadap apa yang telah datang dari Rasulullah n, dalam bentuk petunjuk dan agama yang haq (benar), membenarkan terhadap apapun yang telah dikabarkannya, menunaikan atas apa yang diperintahkan dan menjauhi segala yang dicegahnya. Lantas, dia mau berhukum dengan syariatnya, dan ridha dengan segala ketetapan hukumnya. Allah k berfirman:

“Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikanmu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (An-Nisa`: 65)

Demikianlah semestinya komitmen seorang muslim terhadap agamanya. Dia akan senantiasa memateri sikap hidupnya di atas landasan Sunnah Nabi n. Setiap apa yang sah datang dari Nabi n senantiasa dikedepankan walau secara akal belum bisa dicerna, atau bahkan mungkin akan dirasa sebagai sesuatu yang bertentangan. Namun lantaran bentuk iltizam (komitmen) terhadap apa yang datang dari Nabi n begitu membaja dalam keyakinan di hatinya, rasa penentangan yang bersemi di akalnya, ia luluhkan. Akalnya ditundukkan di hadapan As-Sunnah. Rasa ketaatan ia bangun dalam kalbunya. Dia menyadari bahwa kemampuan akal yang ada pada dirinya memiliki keterbatasan-keterbatasan. Karenanya, ia menyadari benar bahwa tak semua perkara agama harus mampu dicerna akalnya. Kata Ali bin Abi Thalib z: “Andai agama ini atas dasar ra`yu (akal), maka sungguh mengusap bagian bawah khuf lebih utama dibanding mengusap bagian atasnya.”1

Dikatakan pula oleh Ibnu ‘Abbas c: “Sungguh, adalah Kitabullah dan Sunnah Rasulullah n. Barangsiapa berkata setelah itu dengan ra`yunya, maka saya tidak mengetahui apakah di dalam itu terkandung kebaikan atau kejelekan.”

Perhatikan pula apa yang diungkapkan oleh Ibnu Mas’ud z perihal keterpurukan akibat mengunggulkan ra`yu tatkala berbicara agama.

إِيَّاكُمْ وَأَرَأَيْتَ أَرَأَيْتَ، فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِأَرَأَيْتَ أَرَأَيْتَ، وَلَا تَقِيْسُوا شَيْئًا فَتَزِلُّ قَدَمٌ بَعْدَ ثُبُوتِهَا وَإِذَا سُئِلَ أَحَدُكُمْ عَمَّا لَا يَعْلَمُ فَلْيَقُلْ لَا أَعْلَمُ، فَإِنَّهُ ثُلُثُ الْعِلْمِ

“Hati-hatilah kalian dari (perkataan) ‘Apa pendapatmu, apa pendapatmu.’ Karena sesungguhnya kehancuran orang-orang sebelum kalian disebabkan oleh ‘Apa pendapatmu, apa pendapatmu.’ Janganlah kalian analogikan (dalam urusan agama) dengan sesuatu pun. Maka, kelak kamu bisa tergelincir setelah kokoh pijakanmu. Apabila di antara kalian ditanya tentang sesuatu yang tidak (kalian) ketahui, maka jawablah dengan mengatakan: ‘Saya tidak tahu.’ Karena menjawab dengan perkataan seperti itu adalah sepertiga ilmu.” (I’lamul Muwaqqi’in, Ibnul Qayyim t, hal. 53-54)

Peringatan dari Abdullah bin Mas’ud z merupakan salah satu bentuk dorongan, hendaknya seorang muslim menjauhi sumber malapetaka yang diakibatkan ra`yu, pendapat pribadi seseorang yang tak sejalan dengan Al-Qur`an dan As-Sunnah sebagaimana dipahami salafus shalih.

Secara lebih rinci, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah t dalam I’lamul Muwaqqi’in ‘an Rabbil ‘Alamin, menyebutkan ragam ra`yu yang batil. Beliau t di antaranya menyebutkan bahwa ra`yu yang batil adalah yang menyelisihi nash (Al-Qur`an dan As-Sunnah, -ed.). Selain itu, ra`yu batil pun bisa dikemas dalam bentuk perkataan (kalam) yang secara tematikal mengangkat pembicaraan tentang perkara agama dengan duga-duga dan zhan (sesuatu yang tidak pasti). Termasuk ra`yu yang batil manakala ra`yu (pemikiran) tersebut mengandung muatan meniadakan asma, sifat, dan perbuatan Allah l melalui cara analogi yang batil. Macam ra`yu batil lainnya yaitu pemikiran yang mengada-ada dalam urusan agama hingga melahirkan bid’ah.

Apa jadinya bila agama ini diwarnai pemikiran-pemikiran liar yang tidak terbimbing dengan pemahaman salafus shalih. Apa jadinya pula agama ini tatkala setiap individu pemeluknya bebas memberi tafsir dalam setiap perkara agama, tanpa diiringi kaidah-kaidah yang telah baku sebagaimana dilakukan salafus shalih. Maka, tak sepatutnya bagi seorang muslim meninggalkan ketentuan yang telah secara sah berdasar nash lalu mengambil pemikiran manusia, hanya karena pemikiran tersebut sejalan dengan akalnya.

“Dan tidak patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak pula bagi wanita mukminah, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh dia telah sesat, sesat yang nyata.” (Al-Ahzab: 36)

Menyikapi berbagai peristiwa yang bakal terjadi menjelang hari kiamat, yang didasari hadits-hadits yang dinyatakan shahih, bagi seorang muslim merupakan bagian dari wujud keimanan terhadap hal-hal ghaib. Ketundukan dan ketaatan dirinya lantaran i’tiqadnya yang lurus. Karenanya, tidaklah menjadi sesuatu yang sulit untuk mengimani bahwa menjelang akhir zaman kelak akan turun Isa q. Peristiwa turunnya Isa q telah dikabarkan secara kuat di dalam Al-Kitab dan As-Sunnah yang shahih lagi mutawatir. Demikian ini sebagai salah satu tanda dari tanda-tanda hari kiamat kubra (besar).

Allah l berfirman:

“Dan tatkala putra Maryam (Isa) dijadikan perumpamaan tiba-tiba kaummu (Quraisy) bersorak karenanya. Dan mereka berkata: ‘Manakah yang lebih baik, sesembahan-sesembahan kami atau dia (Isa)?’ Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja, sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar. Isa tidak lain hanyalah seorang hamba yang Kami berikan kepadanya nikmat (kenabian) dan Kami jadikan dia sebagai tanda bukti (kekuasaan Allah) untuk Bani Israil. Dan kalau Kami kehendaki benar-benar Kami jadikan sebagai gantimu di muka bumi malaikat-malaikat yang turun-temurun. Dan sesungguhnya (turunnya) Isa itu benar-benar pertanda akan datangnya hari kiamat. Karena itu janganlah kamu ragu-ragu tentang kiamat itu dan ikutilah Aku. Inilah jalan yang lurus.” (Az-Zukhruf: 57-61)

Inilah ayat yang memberitakan tentang Isa q, disebutkan di akhir ayat:

Maksudnya, turunnya Isa q sebelum hari kiamat merupakan pertanda telah dekatnya Kiamat. Ditunjukkan pula dengan qira`ah yang lain, yaitu dengan memfathah huruf ‘ain dan lam:

yang memiliki pengertian alamat (tanda) atas terjadinya kiamat. Ini merupakan qira`ah yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, Mujahid, dan yang selainnya dari kalangan imam ahli tafsir.

Kemudian firman Allah l:

“Dan karena ucapan mereka: ‘Sesungguhnya Kami telah membunuh Al-Masih, ‘Isa putra Maryam, Rasul Allah,’ padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan ‘Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) ‘Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah ‘Isa. Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat ‘Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Tidak ada seorangpun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (‘Isa) sebelum kematiannya. Dan di hari Kiamat nanti ‘Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka.” (An-Nisa`: 157-159)

Ayat di atas menunjukkan bahwa orang-orang Yahudi tidaklah membunuh ataupun menyalib ‘Isa q. Dari ayat tersebut justru terungkap bahwa Allah l telah mengangkatnya ke langit. Ini sebagaimana dijelaskan pula dalam firman-Nya:

“(Ingatlah), ketika Allah berfirman: ‘Hai ‘Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku…’.” (Ali ‘Imran: 55)

Juga terungkap dari ayat:

“Tidak ada seorangpun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (‘Isa) sebelum kematiannya.” (An-Nisa`: 159)

bahwa dari kalangan Ahli Kitab ada yang beriman kepada Isa q pada akhir zaman kelak hingga turunnya Isa (yang turun secara hakiki ke bumi) sebelum kematiannya. Ini seperti dijelaskan dalam hadits-hadits mutawatir yang shahih.

Dinyatakan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t saat ditanya berkenaan dengan wafat dan diangkatnya Isa, maka jawab beliau: “Alhamdulillah. Isa q masih hidup. Sungguh telah kuat dinyatakan dalam Ash-Shahih dari Nabi n, yang bersabda:

يَنْزِلُ فِيْكُمُ ابْنُ مَرْيَمَ حَكَمًا عَدْلًا وَإِمَامًا مُقْسِطًا فَيَكْسِرُ الصَّلِيْبَ وَيَقْتُلُ الْخِنْزِيرَ وَيَضَعُ الْجِزْيَةَ

‘Ibnu Maryam turun di tengah-tengah kalian sebagai hakim dan imam yang adil. Dia akan menghancurkan salib, membunuh babi, dan meletakkan jizyah’.”

Selanjutnya kata Ibnu Taimiyyah t, bahwa telah tetap dalam Ash-Shahih, Isa akan turun di menara putih di sebelah timur Damsyiq (Damaskus). Dia akan membunuh Dajjal. Maka, seseorang yang terpisah antara ruh dan jasad, tentulah jasadnya tidak turun dari langit. Dan apabila dihidupkan kembali tentu akan bangkit dari kubur. Adapun firman Allah l:

“(Ingatlah), ketika Allah berfirman: ‘Hai ‘Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku dan membersihkan kamu dari orang-orang kafir’.” (Ali ‘Imran: 55)

Ini merupakan dalil bahwa sesungguhnya dia bukan menjumpai kematian (al-maut). Sebab, jika yang dimaksud adalah kematian maka Isa sama dengan mukmin yang lainnya. Karena Allah l mengambil arwah orang-orang yang beriman dan menaikkannya ke langit. Dengan begitu, diketahuilah bahwa tidak ada lagi kekhususan bagi Isa q.

Dan firman-Nya:

“Dan membersihkan kamu dari orang-orang kafir.” (Ali ‘Imran: 55)

Andai ruh dan jasadnya terpisah, niscaya badannya ada di bumi sebagaimana para nabi lainnya atau yang selain nabi.

Sehingga jelaslah bahwa Isa telah diangkat Allah l dengan mengangkat tubuh dan ruhnya sekaligus, sebagaimana halnya Isa akan turun ke bumi dengan tubuh dan ruhnya, sebagaimana dijelaskan dalam hadits yang shahih. (Asyrathus Sa’ah, Yusuf Al-Wabil, hal. 343-344)

Perihal turunnya Isa q ke bumi dijelaskan pula dalam hadits-hadits yang shahih. Di antaranya disebutkan dalam Ash-Shahihain hadits dari Abu Hurairah z:

كَيْفَ أَنْتُمْ إِذَا نَزَلَ ابْنُ مَرْيَمَ فِيْكُمْ وَإِمَامُكُمْ مِنْكُمْ

“Bagaimana keadaan kalian nanti apabila putra Maryam telah turun di tengah-tengah kalian, sedangkan imam kalian adalah dari antara kalian sendiri.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Mengimani akan turunnya Isa q adalah akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah. Mengimaninya termasuk ushul (prinsip) dari prinsip-prinsip As-Sunnah (Ushulus Sunnah). Sebagaimana yang dinyatakan Al-Imam Ahmad bin Hambal t, bahwa prinsip-prinsip As-Sunnah pada kami yaitu berpegang teguh atas apa yang dipegangi oleh para sahabat Rasulullah n, mengikuti dan meneladani mereka, meninggalkan bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat. Kemudian beliau menyebutkan beberapa kalimat tentang akidah Ahlus Sunnah. Lantas beliau t berkata:

الدَّجَّالُ خَارِجٌ مَكْتُوبٌ بَيْنَ عَيْنَيْهِ (كَافِرٌ) وَالْأَحَادِيْثُ الَّتِي جَاءَتْ فِيهِ وَالْإِيْمَانُ بِأَنَّ ذَلِكَ كَائِنٌ وَأَنَّ عِيْسَى يَنْزِلُ فَيَقْتُلُهُ بِبَابِ لُدٍّ

“Dajjal akan muncul (di muka bumi ini), tertulis di antara kedua matanya ‘kafir’, dan (mengimani) hadits-hadits yang datang (membicarakan) tentangnya dan mengimani (pula) sesungguhnya yang demikian itu bakal terjadi, serta sesungguhnya Isa akan turun lantas akan membunuh Dajjal di Bab Ludd.” (Thabaqat Al-Hanabilah, 1/241-243, Al-Qadhi Al-Hasan bin Muhammad bin Abi Ya’la, dinukil dari Asyrathus Sa’ah, Yusuf Al-Wabil hal. 353)

Wallahu a’lam.


1 Karena yang terkena kotoran adalah bagian bawah khuf, sehingga menurut logika, tentunya bagian bawah khuf lebih utama untuk diusap. Namun Rasulullah n memberikan tuntunan untuk mengusap bagian atas khuf ketika berwudhu. Karena  agama ini tidaklah berlandaskan kepada akal, maka yang pantas hanyalah tunduk kepada bimbingan Rasulullah n.

Kisah Keruntuhan Salib

Satu lagi peristiwa besar yang menandai hari kiamat adalah turunnya Nabi Isa q ke muka bumi. Dari kacamata Islam, peristiwa ini merupakan salah satu bukti yang membongkar pandangan yang menyatakan bahwa Nabi Isa q telah wafat di tiang penyaliban sebagaimana terilusikan dalam keyakinan-keyakinan Nasrani. Demikian mengental keyakinan itu, sehingga hal itu terus terserukan dan didengungkan di atas mimbar-mimbar gereja mereka sampai sekarang. Jejak penyimpangan ini lantas tersimbolkan oleh patung salib yang dipasang di altar atau dinding rumah, ataupun menjadi liontin kalung mereka.

Sementara menurut akidah Islam, Isa bin Maryam e belumlah meninggal. Apa yang diyakini sebagai Isa, yang dalam terminologi Kristen disebut Yesus, adalah salah satu murid Isa yang wajahnya serupa Isa karena diserupakan Allah l. Isa, sejatinya diangkat ke langit untuk kemudian diturunkan ke muka bumi menjelang hari kiamat.

Namun demikian, Isa bin Maryam turun bukan dalam kapasitasnya sebagai nabi dengan membawa risalah sendiri serta menghapus syariat Muhammad n. Ia justru membenarkan kerasulan Muhammad n dan turun dengan mengemban sejumlah tugas, di antaranya menghancurkan salib, membunuh babi-babi, serta meletakkan hukum jizyah (upeti) bagi kafir dzimmi.

Setelah beliau turun di bumi, banyak dari para penyimpang ajaran tauhid yang dibawa beliau, yang kemudian beriman. Namun keimanan mereka tidaklah berarti apa-apa karena muncul secara terpaksa di saat tanda-tanda kiamat telah nampak dengan jelas. Selanjutnya, sebagaimana diwartakan dalam banyak hadits, Nabi Isa membunuh Dajjal di sebuah daerah di Palestina. Bagaimana detil kisahnya, pembaca dapat menelusurinya dalam Kajian Utama.

Pembaca, pembangkangan istri terhadap suami memang telah menjadi kisah ”klasik” di masa sekarang karena saking seringnya kita mendengar hal itu, baik dari tetangga sekitar, saudara, atau media massa. Biasanya hal ini terjadi karena suami kian tak berharga di mata istri. Banyak suami yang dicampakkan karena ketidakmampuannya memenuhi selera dan gaya hidup istri yang tinggi, ”karir” istri yang melejit meninggalkan suami, atau faktor-faktor lain yang semuanya dilambari minimnya kesa-daran beragama di tengah masyarakat kita.

Hal itu diperparah dengan perge-seran cara pandang (baca: semakin ditinggalkan ajaran agama) karena lebih mengedepankan falsafah kebebasan, kesetaraan jender atau emansipasi, nilai-nilai demokrasi, dan falsafah (rusak) Barat lainnya. Alhasil, keyakinan beragama kian larut karena demikian memuja serta silau dengan segala ”kemajuan” Barat.

Namun bagaimanapun Islam tetap menyuguhkan solusi manakala hal itu benar-benar terjadi. Solusi yang tak semata mengedepankan emosi karena dibimbing langsung oleh Rabb yang di atas langit melalui lisan Rasul-Nya. Apa saja yang mesti dilakukan oleh sang suami tatkala menjumpai keadaan istri yang demikian? Simak bahasannya dalam rubrik Mengayuh Biduk.

Simak pula rubrik-rubrik lain yang insya Allah juga sarat dengan muatan ilmu.

 

Surat Pembaca edisi 35

Permasalahan KB

Tolong di bahas permasalahan KB dan seluk beluknya, karena banyak ikhwan yang belum paham dan menganggap masalah ini haram hukumnya.

Abu Abdillah – Lampung

085292xxxxxx

 

Masalah pemakaian alat kontrasepsi pencegah kehamilan pernah disinggung pada rubrik Fatawa Al-Mar`ah Al-Muslimah edisi 21. Silakan dilihat kembali.

 

Surga dan Neraka

Mohon mengangkat tema mengenai surga dan neraka guna menambah semangat kita untuk istiqamah pada dien dan sunnah yang kita jalani ini.

Abu Harits – Pekanbaru

081378xxxxxx

 

Jazakumullah khairan atas masukannya.

 

Nabi Palsu

Ana sangat terkesan dengan pembahasan imam mahdi, pembahasannya sangat ilmiah dan banyak dari kaum muslimin yang mendapat hidayah dan terbuka mata hati mereka tentang siapa itu imam mahdi yang sebenarnya. Ana ada saran bagaimana kalau edisi berikutnya membahas tentang nabi palsu, sebab sekarang di Indonesia ini lagi marak adanya nabi palsu yang bernama Michael Muchdats dan banyak kaum muslimin yang tertipu.

Adi – Gresik

085649xxxxxx

 

Insya Allah bisa Anda dapatkan sedikit pembahasan tentang Al-Qiyadah Al-Islamiyah pada edisi kali ini.

 

 

Ibnu ‘Arabi

Setahu ana, Ibnu Arabi penganut paham sesat wihdatul wujud. Mengapa Asy-Syariah kerap mengambil riwayatnya (lebih tepat: ucapannya, red)? Siapa Ibnu Arabi yang dimaksud?

Kilat – Bekasi

 

Benar bahwa Ibnu ‘Arabi (ابْنُ عَرَبِي) penganut paham sesat wihdatul wujud bahkan termasuk penyerunya. Ibnu ‘Arabi ini namanya Abu Bakr Muhyiddin Muhammad bin Ali bin Muhammad Al-Hatimi Ath-Tha`i Al-Andalusi, meninggal pada tahun 638 H.

Adapun yang pernah kita nukil ucapannya adalah Ibnul ‘Arabi (ابْنُ الْعَرَبِي), seorang ulama yang terkenal. Perhatikan perbedaan penulisannya. Nama beliau adalah Abu Bakr Muhammad bin Abdullah bin Muhammad bin Abdullah Al-Mu’afiri Al-Andalusi Al-Isybili Al-Maliki. Beliau wafat pada tahun 543 H.

Jadi, meski mirip namanya, mereka adalah dua orang yang berbeda.

 

Cerminan Shalihah

Edisi 33, kenapa Cerminan Shalihahnya gak ada sementara di daftar halaman ada Asy-Syifa’ x?

Ummu Abdirrazaq – Stabat

081375xxxxxx

 

Afwan, ada kesalahan teknis dari kami. Kisah Asy-Syifa` x dalam rubrik Cerminan Shalihah sudah dimuat pada edisi 34. Jazakumullah khairan atas koreksinya.

 

 

Rasul Rabb semesta alam

Tolong jelaskan maksud kalimat “…Kembalilah kepada Islam yang dibawa oleh Rasul Rabb semesta alam…” di Asy-Syariah edisi 33 hal 33, bantahan singkat terhadap keyakinan syiah.

Ahmad – Jakarta

08562xxxxxx

 

Maksudnya adalah Rasul Allah, karena Rabb semesta alam adalah Allah. Ada beberapa pertanyaan senada tentang masalah ini, semoga bisa terwakili dengan jawaban ini. Jazakumullah khairan.