Antara Penghargaan dan Hukuman

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu ‘Abdirrahman bintu ‘Imran)

Berhasil mendidik anak, tentu sangat diharapkan oleh orangtua, pengajar, ataupun setiap individu yang berkompeten dalam masalah pendidikan anak. Berbagai kiat ditempuh. Di antaranya dengan memberikan penghargaan dalam keberhasilan dan hukuman dalam kesalahan yang dilakukannya. Namun, sejauh mana langkah ini akan menunjang keberhasilan, kita perlu mendapat bimbingan dari orang-orang yang berilmu. Nukilan tulisan Asy-Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu hafizhahullah tentang permasalahan ini dari kitab beliau, Nida` ilal Murabbiyyin wal Murabbiyyat, memberikan penjelasan dan faedah yang sangat berharga bagi kita.

Keberhasilan kita sebagai seorang pendidik tidaklah bersandar pada hukuman fisik. Bahkan hal itu dilakukan seminimal mungkin, sesuai dengan kebutuhan. Pemberian penghargaan justru lebih dikedepankan daripada pemberian hukuman, karena hal ini akan lebih memotivasi anak untuk belajar serta menyemaikan keinginan untuk mendapat tambahan pendidikan dan pengajaran.
Beda halnya dengan hukuman. Hukuman akan meninggalkan pengaruh buruk dalam jiwa si anak, yang akhirnya justru menjadi penghalang baginya untuk memahami serta mencerna ilmu yang diberikan. Selain itu juga akan mengubur optimisme dan keberaniannya. Betapa banyak terjadi, seorang anak keluar dari sekolah karena melihat beragam kekasaran dan kedzaliman yang dilakukan oleh sebagian gurunya. Lebih dari itu, mereka biasa menyebut gurunya yang keras dan kasar dengan sebutan ‘orang dzalim’.
Karena itu, hendaknya kita dahulukan segala bentuk pemberian penghargaan sebelum memberikan hukuman, karena sebenarnya inilah asalnya.

Berbagai Bentuk Penghargaan
1. Pujian
Sewajarnya kita memuji anak bila melihatnya berperilaku baik atau bersungguh-sungguh. Kita bisa sampaikan, misalnya, “Bagus, semoga Allah k memberikan berkah kepadamu!” atau “Memang Fulan ini anak yang paling baik!” ataupun ucapan-ucapan baik yang sejenis. Ucapan ini akan memotivasi anak, menguatkan jiwanya, juga memberikan pengaruh yang sangat baik dalam dirinya. Hal ini akan mendorongnya untuk mencintai orang yang mendidiknya. Terbuka pula pikirannya untuk terus belajar.
Di samping itu, dalam waktu yang sama akan memotivasi anak lain untuk mencontoh si anak yang dipuji dalam adab, perilaku, atau kesungguhannya, agar memperoleh pujian pula. Ini lebih baik daripada memberikan hukuman fisik pada mereka.

2. Penghargaan secara materi
Anak memiliki tabiat menyukai hadiah. Biasanya mereka begitu ingin mendapatkannya. Karena itu, layak kiranya jika kita berikan apa yang mereka sukai ini pada kesempatan tertentu.
Anak yang rajin, berakhlak baik, melaksanakan kewajiban shalat atau perbuatan baik lainnya, kemudian mendapat hadiah, akan merasa gembira dan puas dengan apa yang didapatkannya.

3. Doa
Semestinya pula kita berikan motivasi kepada anak yang rajin, beradab atau rajin menegakkan shalat dengan mendoakannya, misalnya kita doakan:
وَفَّقَكَ اللهُ، أَرْجُو لَكَ مُسْتَقْبِلاً بَاهِرًا
“Semoga Allah memberikan taufik kepadamu, mudah-mudahan masa depanmu cerah.”
Kepada seorang anak yang biasa lalai atau berperilaku jelek, kita bisa mendoakan:
أَصْلَحَكَ اللهُ وَهَدَاكَ
“Semoga Allah k memperbaiki dirimu dan memberi petunjuk kepadamu.”

4. Menuliskan namanya di papan
Jika kita seorang pendidik di sebuah sekolah, kita bisa pula memasang semacam papan pengumuman di tempat yang mudah dilihat. Di situ ditulis nama-nama anak sesuai kelebihannya, baik dalam perilaku, kesungguhan, kebersihan, dan yang lainnya. Pengumuman semacam ini akan menjadi motivasi bagi yang lainnya untuk mencontoh mereka, sehingga nama mereka juga akan ditulis di papan tersebut.

5. Menunjukkan kebaikannya
Ketika anak mampu dengan baik menerangkan suatu pelajaran di depan kelas, menyampaikan hafalan, memecahkan suatu soal, atau membacakan salah satu surat Al-Qur`an, kita bisa menepuk bahunya untuk memotivasinya sambil mengatakan:
بَارَكَ اللهُ فِيْكَ
“Semoga Allah l memberi berkah kepadamu!”

6. Menganggap diri kita bagian dari mereka
Bila kita ingin memberikan penghargaan pada anak-anak yang memiliki kelebihan, bisa pula dengan menyatakan bahwa kita merupakan bagian dari mereka. Ini akan menjadi penghargaan besar bagi mereka. Rasulullah n pernah bersabda:
لَوْ لاَ الْهِجْرَةُ لَكُنْتُ امْرَأً مِنَ الْأَنْصَارِ
“Seandainya bukan karena hijrah, tentu aku akan menjadi salah seorang dari kaum Anshar.” (HR. Al-Bukhari no. 7244)

7. Wejangan
Penghargaan pada seorang anak yang baik bisa pula berupa wejangan kepada anak-anak dan pendidik yang lain untuk berbuat baik pada si anak. Ini merupakan motivasi bagi anak itu sendiri maupun bagi anak-anak yang lain, sehingga mereka pun akan mencontoh kesungguhan dan akhlaknya.

8. Wejangan pada keluarga si anak
Kita bisa pula menulis surat untuk keluarga anak yang ingin kita berikan penghargaan, berisi kebaikan-kebaikan si anak dan pujian untuknya. Ini akan mendorong keluarganya untuk memperlakukan si anak dengan baik, serta mendorong si anak untuk terus berperilaku terpuji.
Semestinya pula kita menanyakan, bagaimana akhlak dan perilaku anak-anak di rumahnya, dan penjagaan mereka terhadap shalat lima waktu. Bagi anak laki-laki, tentunya bisa dengan membuat lembaran yang diisi oleh walinya maupun imam masjid, sehingga dapat diketahui penunaian shalat jamaah mereka.

9. Membantu anak yang kekurangan
Cara lain yang dapat kita tempuh adalah menyeleksi beberapa anak untuk mengumpulkan sedekah bagi anak lain yang membutuhkan pakaian, bahan makanan, buku-buku, atau alat sekolah. Kita sendiri turut ambil bagian dalam kegiatan ini,

agar anak-anak mau mengikuti. Lalu kita sampaikan ucapan terima kasih kepada anak-anak yang telah memberikan bantuan di depan teman-teman mereka untuk memotivasi mereka semuanya, agar nantinya mereka tergerak untuk bersedekah dan memperoleh pahala di sisi Allah k, karena Allah l akan mengganti harta yang mereka infakkan. Kita ingatkan pada mereka firman Allah l:
ﯼ ﯽ ﯾ ﯿ ﰀ ﰁﰂ ﰃ ﰄ ﰅ
“Dan segala sesuatu yang kalian infakkan, maka Allah akan menggantinya, dan Dia sebaik-baik Pemberi rizki.” (Saba`: 39)
Bisa pula kita sisihkan sebagian infak untuk membeli hadiah bagi anak yang rajin, yang taat pada pengajar maupun orangtuanya, yang bersih pakaiannya, ataupun anak yang baik perilakunya.

Hukuman Fisik
Sebaliknya, kita hendaknya menjauhi bentuk-bentuk hukuman fisik, karena ini membahayakan, baik bagi diri si anak ataupun bagi diri kita sendiri. Selain itu juga membuang-buang waktu. Terkadang malah si anak mendapat mudarat karena pukulan yang mengenainya, yang membuahkan ketakutan si anak pada diri kita. Bahkan kadang permasalahannya berkembang lebih jauh, sehingga pendidik yang melakukan hukuman fisik itu harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan pengadilan serta wali si anak. Semua ini berawal dari hukuman fisik.
Oleh karena itu, penggunaan hukuman fisik hendaknya dijauhi, kecuali dalam keadaan yang benar-benar memaksa. Misalnya mendidik anak-anak bandel yang tidak mempan dengan cara selain hukuman fisik, atau untuk menjaga kewibawaan serta kelancaran jalannya kegiatan belajar mengajar. Tentu saja setelah didahului dengan nasihat dan pengarahan kepada anak-anak, namun mereka tak juga berhenti. Ini ibarat pepatah Arab, “Obat yang paling akhir diberikan adalah kay1.”

Bentuk-bentuk Hukuman yang Dilarang
Jika kita suatu waktu merasa perlu memberikan hukuman pada anak, kita harus menghindari bentuk-bentuk hukuman seperti di bawah ini:
1. Tamparan
Tamparan atau pukulan di wajah bisa mengenai mata atau telinga. Bahkan kadang menyebabkan rusaknya salah satu indera. Akibatnya terkadang si pengajar harus menanggung akibat perbuatannya di pengadilan serta membayar ganti rugi. Oleh karena itulah Rasulullah n melarang memukul wajah:
إِذَا ضَرَبَ أَحَدُكُمْ خَادِمَهُ فَلْيَتَّقِ الْوَجْهَ
“Bila salah seorang di antara kalian memukul pembantunya, hendaknya menghindari memukul wajah.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Shahih Al-Adabil Mufrad no. 130)

2. Kekerasan yang melampaui batas
Pengajar yang biasa memberikan pukulan keras bisa jadi akan dijuluki ‘pengajar yang dzalim’ oleh murid-muridnya. Ini cukup menjadi kejelekan bagi dirinya.
Rasulullah n pernah bersabda:
مَنْ يُحْرَمِ الرِّفْقَ يُحْرَمِ الْخَيْرَ
“Barangsiapa terhalang dari kelembutan, dia akan terhalang dari seluruh kebaikan.” (HR. Muslim no. 2592)
إِنَّ الرِّفْقَ لاَ يَكُوْنُ فِي شَيْءٍ إِلاَّ زَانَهُ، وَلاَ يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلاَّ شَانَهُ
“Sesungguhnya tidaklah kelembutan itu ada pada sesuatu, kecuali pasti menghiasinya. Dan tidaklah kelembutan itu hilang dari sesuatu, kecuali akan menjelekkannya.” (HR. Muslim no. 2594)
3. Caci-makian
Caci-makian justru akan membuat anak semakin jauh dan menyimpang. Bahkan bisa jadi nantinya membuat si anak semakin senang berbuat dosa. Anak juga akan ‘belajar’ mencaci-maki, lalu dipraktikkan di hadapan teman sekolahnya atau saudaranya di rumah. Kitalah yang akan bertanggung jawab bila terjadi demikian. Dalam hadits yang shahih, Rasulullah n bersabda:
مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ
“Barangsiapa membuat suatu sunnah yang jelek, maka dia menanggung dosanya dan dosa orang-orang yang ikut melakukannya, tanpa terkurangi dosa mereka sedikit pun.” (HR. Muslim no. 1017)

4. Memukul saat emosi meluap
Abu Mas’ud z pernah mengisahkan, “Aku pernah mencambuk budakku. Tiba-tiba kudengar suara di belakangku, “Ketahuilah, wahai Abu Mas’ud!” Namun aku tak bisa memahami ucapan itu karena emosi. Ketika mendekat, tahulah aku, ternyata itu suara Rasulullah n. Beliau mengatakan, “Ketahuilah, wahai Abu Mas’ud! Ketahuilah, wahai Abu Mas’ud!” Segera kulemparkan cambuk di tanganku. Beliau pun berkata:
اعْلَمْ أَبَا مَسْعُوْدٍ، أَنَّ اللهَ أَقْدَرُ عَلَيْكَ مِنْكَ عَلَى هَذَا الْغُلاَمِ
“Ketahuilah, wahai Abu Mas’ud! Sesungguhnya Allah lebih mampu memberikan hukuman kepadamu daripada dirimu terhadap budak ini!”
Aku pun mengatakan, “Aku tak akan lagi memukul budak setelah ini selama-lamanya.” (HR. Muslim no. 1659)

5. Menendang
Kadang tendangan mengenai organ tubuh yang penting sehingga membahayakan jiwa anak. Pertanggungjawaban pun dituntut. Akhirnya kesudahannya hanyalah penyesalan di saat tak ada gunanya lagi penyesalan, sementara kita pun tahu bahwa menendang itu bukan perangai manusia.
6. Kemurkaan
Kita harus bisa mengendalikan emosi dan memahami kekhasan masa kanak-kanak, sehingga kita bisa memaklumi segala tingkah mereka. Kita pun harus ingat, bagaimana tingkah kita semasa kanak-kanak dulu yang mungkin malah lebih jelek lagi. Dengan begitu, amarah pun akan reda dan kita akan bisa menahan diri.
Rasulullah n pernah bersabda:
لَيْسَ الشَّدِيْدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيْدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ
“Orang yang kuat itu bukanlah orang yang menang bergulat, namun orang yang kuat itu yang mampu menguasai dirinya ketika marah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim no. 2609)
Jangan pula kita menghukum anak ketika amarah memuncak agar tidak menyakiti si anak sehingga berbuntut akibat yang buruk.

Hukuman yang Mendidik
Di sana ada bentuk-bentuk hukuman yang mendidik, yang layak kita terapkan. Di antaranya:
1. Nasihat dan bimbingan
Ini merupakan metode dasar dalam mendidik dan mengajari anak yang tak dapat ditinggalkan. Metode ini telah ditempuh oleh sang pendidik yang agung (Rasulullah n, pen.) terhadap anak-anak kecil maupun orang dewasa.
Penerapan metode ini pada anak-anak dilakukan oleh Rasulullah n ketika melihat seorang anak yang tangannya menjelajahi makanan yang terhidang saat itu. Lalu beliau pun mengajarinya tata-cara makan yang benar:
يَا غُلاَمُ، سَمِّ اللهَ وَكُلْ بِيَمِيْنِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيْكَ
“Nak, sebutlah dulu nama Allah, makan dengan tangan kananmu, dan makan dari makanan yang dekat denganmu.” (HR. Al-Bukhari no. 5376 dan Muslim no. 2022)
Tak seorang pun mengatakan, metode ini hanya memberikan pengaruh yang minim pada anak-anak.
Adapun nasihat dan bimbingan beliau

pada orang-orang yang telah dewasa lebih banyak lagi contoh yang menunjukkan pengaruhnya. Seperti kisah A`rabi yang diceritakan oleh Anas bin Malik z: Suatu ketika, kami sedang berada di masjid bersama Rasulullah n. Tiba-tiba datang seorang A`rabi, lalu dia berdiri dan buang air kecil di dalam masjid. Para sahabat menyergah, “Hus! Hus!”
Rasulullah n mengatakan, “Jangan kalian putuskan kencingnya! Biarkan dia dulu!” Para sahabat pun membiarkannya sampai selesai buang air. Setelah itu, Rasulullah n memanggil dan menasihatinya:
إِنَّ هَذِهِ الْمَسَاجِدَ لاَ تَصْلُحُ لِشَيْءٍ مِنْ هَذَا الْبَوْلِ وَلاَ القَذَرِ، إِنَّمَا هِيَ لِذِكْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالصَّلاَةِ وَقِرَاءَةِ القُرْآنِ- أَوْ كَمَا قَالَ رَسُوْلُ اللهِ n.
“Sesungguhnya masjid-masjid ini tidak pantas untuk buang air kecil ataupun buang kotoran. Masjid-masjid ini hanyalah untuk dzikir kepada Allah, untuk shalat, dan membaca Al-Qur`an.” Atau sebagaimana yang beliau katakan.
Kemudian beliau menyuruh seseorang untuk mengambil setimba air, lalu dituangkan pada bekas kencing tersebut. (HR. Al-Bukhari no. 219 dan Muslim no. 285)

2. Wajah masam
Kadangkala boleh pula kita menunjukkan wajah masam pada anak-anak bila melihat mereka gaduh. Ini lebih baik daripada membiarkan mereka berbuat gaduh, setelah keterlaluan baru memberi hukuman kepada mereka.

3. Teguran keras
Biasanya bila kita menegur dengan keras anak yang berbuat salah, dia akan berhenti berbuat kesalahan dan duduk kembali dengan penuh adab. Metode ini diterapkan pula oleh Rasulullah n saat melihat seseorang yang menggiring unta hadyu (hewan kurban bagi jamaah haji) dalam perjalanannya berhaji dan tidak mau menungganginya. Beliau mengatakan, “Tunggangi hewan itu!” Orang itu menyangka bahwa hewan hadyu tidak boleh ditunggangi, hingga ia pun menjawab, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya ini hewan hadyu!” Setelah dua atau tiga kali, akhirnya beliau menghardiknya, “Tunggangi hewan itu! Celaka kamu!” (HR. Al-Bukhari no. 6160 dan Muslim no. 1322)

4. Menghentikan perbuatan anak
Jika anak ribut berbicara dalam pelajaran, kita bisa menghentikannya dengan suara keras. Rasulullah n pernah mengatakan pada seseorang yang bersendawa di hadapan beliau:
كُفَّ عَنَّا جُشَاءَكَ
“Hentikan sendawamu di hadapan kami!” (HR. At-Tirmidzi no. 2478, dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi)

5. Memalingkan wajah
Ketika anak berbohong, memaksa minta sesuatu yang tak layak, atau berbuat kesalahan yang lain, boleh kita palingkan wajah darinya, agar si anak tahu kemarahan kita dan menghentikan perbuatannya.

6. Mendiamkan
Boleh pula kita mendiamkan anak yang melakukan kesalahan seperti meninggalkan shalat, menonton film, atau perbuatan-perbuatan yang tidak beradab lain. Paling lama waktunya tiga hari, karena Rasulullah n bersabda:
لاَ يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ
“Tidak halal bagi seorang muslim jika ia mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari.” (HR. Al-Bukhari no. 6064 dan Muslim no. 2559)

7. Cercaan
Jika anak melakukan dosa besar, kita boleh mencercanya bila nasihat dan bimbingan tidak lagi berpengaruh.

8. Duduk qurfusha`2
Anak yang malas atau bandel bisa dihukum dengan menyuruhnya duduk qurfusha` sambil mengangkat kedua tangannya ke atas. Posisi seperti ini akan membuatnya capai dan menjadi hukuman baginya. Ini jauh lebih baik daripada kita memukulnya dengan tangan atau tongkat.

9. Hukuman orangtua
Bila murid terus-menerus mengulang kesalahannya setelah diberi nasihat, kita bisa menulis surat untuk walinya dan menyerahkan kepada wali untuk menghukumnya. Dengan cara ini, akan sempurna kerjasama antara sekolah dengan keluarga dalam mendidik anak.

10. Menggantungkan cambuk
Bisa pula kita gantungkan cambuk di dinding, sehingga anak mudah melihatnya dan merasa takut mendapatkan hukuman. Rasulullah n pernah bersabda:
عَلِّقُوا السَّوْطَ حَيْثُ يَرَاهُ أَهْلُ الْبَيْتِ، فَإِنَّهُ لَهُمْ أَدَبٌ
“Gantungkanlah cambuk di tempat yang mudah dilihat anggota keluarga, karena demikian ini merupakan pendidikan bagi mereka.” (HR. Ath-Thabarani, dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no. 1447)
Namun bukanlah yang diinginkan di sini untuk memukul, karena beliau tidak memerintahkan demikian.

11. Pukulan ringan
Bila metode lain tidak membuahkan hasil, kita boleh memukul dengan pukulan ringan, terutama ketika memerintahkan mereka menunaikan shalat jika telah berumur sepuluh tahun. Rasulullah n bersabda:
مُرُوا أُوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِيْنَ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ، وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ
“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk shalat ketika berumur tujuh tahun dan pukullah mereka bila enggan melakukannya pada usia sepuluh tahun, dan pisahkanlah tempat tidur di antara mereka.” (HR. Ahmad, dikatakan oleh Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Shahih Al-Jami’ish Shaghir no. 5744: “Hadits ini hasan.”)
Inilah catatan penting bagi kita dalam memberikan hukuman dan penghargaan pada anak. Diiringi doa dan permohonan pada Rabb semesta alam, semoga terwujud keinginan kita agar anak-anak menjadi penyejuk mata.
Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.

(Dinukil dengan beberapa perubahan dari kitab Nida` ilal Murabbiyyin wal Murabbiyat li Taujihil Banin wal Banat, hal. 83-98)

Catatan kaki:

1 Kay adalah cara pengobatan menggunakan besi panas yang ditempelkan pada tempat yang sakit.

2 Duduk qurfusha` adalah duduk dengan menekuk kedua kaki, telapak kaki menempel di tanah dan paha menempel ke perut.

Pukulan Dalam Rangka Mendidik

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah)

Memukul istri tak mesti harus diterjemahkan sebagai “kekerasan dalam rumah tangga”. Karena hal itu kadang justru diperlukan dalam rangka mendidik. Tentu saja di sini tetap diperhatikan batasannya agar tidak melampaui batas.

Ada kalanya perbaikan satu kesalahan membutuhkan sedikit sikap keras, karena dalam hal ini memang ada tipe manusia yang tidak mau lurus dari penyimpangannya kecuali bila disikapi dengan keras. Ada istri yang tidak mempan dengan nasihat, ia tak jua mau kembali dari kebengkokannya, tetap dalam pembangkangan dan nusyuznya. Tidak pula hajr membawa perubahan pada dirinya. Di saat seperti inilah dibutuhkan cara lain untuk memperbaikinya, yaitu dengan pukulan.
Dan perbaikan istri dengan cara pukulan ini bukanlah sebagai penghinaan atasnya, bukan pula balas dendam atau penyiksaan. Tapi yang diinginkan di sini adalah pukulan dalam rangka mendidik, memperbaiki dan meluruskan. Pukulan yang dibarengi rasa kasih sayang suami kepada sang istri. Bukan pukulan yang keras hingga membuat istri lari dari suaminya, menumbuhkan kebencian, dan memupus rasa cinta. Sekalipun pukulan ini pahit, namun bagi seorang wanita hancurnya rumah tangga lebih terasa pahit dan menyakitkan.
Pukulan yang dalam bahasa Arabnya disebut Adh-Dharb dimaknakan oleh para fuqaha dengan makna yang umum, yaitu nama dari suatu perbuatan yang menyakitkan yang ditujukan pada tubuh, baik meninggalkan bekas ataupun tidak, tanpa memerhatikan alat pukul yang digunakan. (Tabyinul Haqa`iq Syarhu Kanzud Daqa`iq, Az-Zailaghi, 3/156)
Pukulan itu ada yang diistilahkan dharb mubarrih dan ada dharb ghairu mubarrih.
1. Dharb mubarrih, adalah pukulan yang keras hingga dikhawatirkan akan mematahkan tulang, menghilangkan nyawa, atau mencacati anggota tubuh serta memburukkannya. Pukulan yang seperti ini dilarang oleh syariat dan termasuk perkara yang diharamkan.
2. Dharb ghairu mubarrih, adalah pukulan ringan yang tidak mengucurkan darah serta tidak dikhawatirkan menimbulkan kebinasaan jiwa atau cacat pada tubuh, patah tulang, dan sebagainya.
Pukulan jenis kedua ini menurut syariat boleh diberikan kepada istri yang berbuat nusyuz, bermaksiat, dan melakukan pelanggaran syariat, setelah dilakukan mau’izhah dan hajr. (An-Nusyuz, Asy-Syaikh Shalih bin Ghanim As Sadlan, hal. 42)
Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani t menjelaskan, bila seorang suami terpaksa memukul istri maka pukulan tersebut tidak boleh sampai membuat cacat, tapi hendaklah ia memukul dengan pukulan yang ringan sehingga tidak membuat si istri menjauh ataupun dendam kepada suaminya. (Fathul Bari, 9/377)

Dalil Bolehnya Pukulan
Dibolehkannya memukul istri yang tidak taat setelah ditempuh cara nasihat dan hajr ini ditunjukkan oleh Al-Qur`an, As Sunnah, ijma’, dan akal.
Dalam Al-Qur`an, Allah k berfirman:
“Dan istri-istri yang kalian khawatirkan nusyuz mereka maka berilah mau’izhah kepada mereka, boikotlah mereka di tempat tidur dan pukullah mereka….” (An-Nisa`: 34)
Al-Imam Al-Qurthubi t berkata, “Allah l memerintahkan agar perbaikan istri dimulai pertama kali dengan mau’izhah kemudian dengan hujran. Bila kedua cara ini tidak manjur maka dilakukan pukulan, karena pukulan inilah yang dapat memperbaiki si istri serta membawanya untuk memenuhi hak suami. Pukulan dalam ayat ini adalah pukulan dalam rangka mendidik, bukan pukulan mubarrih. Pukulan yang tidak memecahkan tulang dan tidak menjelekkan anggota tubuh seperti dengan meninju dan semisalnya. Karena tujuan dari pukulan di sini adalah untuk perbaikan, bukan yang selainnya. Sehingga tidak disangsikan lagi, bila pukulan yang dilakukan oleh sang suami mengantarkan kepada kebinasaan istrinya, wajib baginya menanggungnya.” (Tafsir Al-Qurthubi, 5/112)
Rasulullah n bersabda saat menyampaikan khutbah dalam haji Wada`:
فَاتَّقُوا اللهَ فِي النِّسَاءِ, فَإِنَّكُمْ أَخَذْتُمُوْهُنَّ بِأَمَانِ اللهِ, وَاسْتَحْلَلْتُمْ فُرُوْجَهُنَّ بِكَلِمَةِ اللهِ، وَلَكُمْ عَلَيْهِنَّ أَنْ لاَ يُوْطِئْنَ فُرُشَكُمْ أَحَدًا تَكْرَهُوْنَهُ, فَإِنْ فَعَلْنَ ذَلِكَ فَاضْرِبوُهُنَّ ضَرْبًا غَيْرَ مُبَرِّحٍ
“Bertakwalah kalian kepada Allah dalam perkara para wanita (istri), karena kalian mengambil mereka dengan amanah dari Allah dan kalian menghalalkan kemaluan mereka dengan kalimat Allah. Hak kalian terhadap mereka adalah mereka tidak boleh membiarkan seseorang yang kalian benci untuk menginjak (menapak) di hamparan (permadani) kalian. Jika mereka melakukan hal tersebut1 maka pukullah mereka dengan pukulan yang tidak mencacati.” (HR. Muslim no. 2941)
Semula, Rasul yang mulia n bertitah:
لاَ تَضْرِبُوا إِمَاءَ اللهِ
“Janganlah kalian memukul hamba-hamba perempuan Allah.”
Datanglah Umar ibnul Khaththab z menghadap beliau sembari mengadu:
ياَ رَسُوْلَ اللهِ، إِنَّ النِّسَاءَ ذَئِرْنَ عَلَى أَزْوَاجِهِنَّ
“Wahai Rasulullah! Sungguh para istri telah berbuat durhaka kepada suami-suami mereka.”
Mendengar pengaduan ini Rasulullah n memberi izin kepada para suami untuk memukul istri mereka. Namun ternyata setelahnya banyak wanita datang menemui istri-istri Rasulullah n guna mengadukan suami-suami mereka. Maka kata beliau n:
لَقَدْ طَافَ بِآلِ مُحَمَّدٍ نِسَاءٌ كَثِيْرٌ يَشْكُوْنَ أَزْوَاجَهُنَّ، لَيْسَ أُولَئِكَ بِخِيَارِكُمْ
“Sungguh banyak wanita berkeliling di keluarga Muhammad guna mengadukan suami-suami mereka. Bukanlah para suami yang memukul istri dengan keras itu orang yang terbaik di antara kalian.” (HR. Abu Dawud no. 2145, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Shahih Abi Dawud)
Kata Rasul n, mereka bukanlah orang yang terbaik, karena suami yang terbaik tidak akan memukul istrinya. Justru ia bersabar dengan kekurangan yang ada pada istrinya. Kalaupun ia ingin memberi (pukulan) “pendidikan” kepada istrinya, ia tidak akan memukulnya dengan keras yang akan membuatnya mengadu/mengeluh. (‘Aunul Ma’bud, Kitab An-Nikah, bab Fi Dharbin Nisa`)
Dalam Al-Ifshah disebutkan bahwa ulama sepakat tentang bolehnya seorang suami memukul istrinya bila berbuat nusyuz setelah sebelumnya dinasihati dan di-hajr.
Dengan demikian, pensyariatan memukul istri bukan perkara yang diingkari oleh akal atau fitrah. Bahkan pukulan diperlukan manakala terjadi kerusakan dalam rumah tangga dan terjadi pelanggaran akhlak. Namun pukulan dilakukan hanyalah bila suami memandang si istri akan menyesal dan bertaubat dari kesalahannya bila dipukul. Dan yang perlu diingat selalu, seorang suami diperintah untuk berlaku lembut kepada istrinya, tidak mendzaliminya. Allah k berfirman:
“Bergaullah kalian dengan para istri secara patut. Bila kalian tidak menyukai mereka maka bersabarlah karena mungkin kalian tidak menyukai sesuatu padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (An-Nisa`: 19)
Rasulullah n menetapkan:
أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا, وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ
“Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya, dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istri-istrinya.” (HR. At-Tirmidzi no. 1162. Lihat Ash-Shahihah no. 284)

Yang Patut Jadi Perhatian!
Islam menetapkan batasan-batasan dan syarat-syarat dalam pelaksanaan pukulan sehingga tidak keluar dari tujuan pembolehannya yaitu untuk memperbaiki, meluruskan, dan mendidik. Bukan untuk membalas dendam, menghinakan dan merendahkan. Pukulannya pun harus pukulan yang tidak meninggalkan cacat. Dengan menggunakan sapu tangan misalnya, atau dengan siwak2, dengan tangan ataupun dengan tongkat yang ringan. Tidak boleh melampaui batas, tidak boleh sampai mengucurkan darah, mematahkan tulang, merusak anggota tubuh dan tidak diperkenankan memukul bagian tubuh yang merupakan tempat kebagusan, keindahan, dan kecantikan si istri seperti daerah wajahnya.
Rasul yang mulia n bersabda:
لاَ يَجْلِدْ أَحَدُكُمُ امْرَأَتَهُ جِلْدَ الْعَبْدِ ثُمَّ يُجَامِعُهَا فِي آخِرِ الْيَوْمِ
“Janganlah salah seorang dari kalian mencambuk istrinya seperti mencambuk seorang budak, kemudian ternyata di akhir hari ia menggauli istrinya.” (HR. Al-Bukhari no. 5204 dan Muslim no. 7120)
Al-Imam An-Nawawi t berkata, “Dalam hadits ini ada larangan memukul istri tanpa alasan terpaksa untuk memberi ‘pendidikan’.” (Al-Minhaj, 17/186)
Dengan demikian, seorang suami yang berakal tidak akan berlebih-lebihan dalam memukul istrinya, kemudian beberapa waktu setelahnya ia menggaulinya. Karena jima’ hanyalah baik dilakukan bila disertai kecondongan jiwa dan keinginan untuk bergaul dengan baik. Sementara orang yang dipukul secara umum akan menjauh dari orang yang memukulnya. (Fathul Bari, 9/377)
Rasulullah n menasihatkan kepada sahabatnya, Laqith bin Shabirah z, ketika mengadukan kejelekan lisan istrinya:
لاَ تَضْرِبْ ظَعِيْنَتَكَ كَضَرْبِكَ أُمَيَّتَكَ
“Janganlah engkau memukul istrimu seperti memukul budak perempuanmu.” (Penggalan dari hadits yang diriwayatkan Abu Dawud no. 142, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Shahih Abi Dawud)
Larangan memukul wajah disebutkan dalam hadits berikut ini:
وَلاَ تَضْرِبِ الْوَجْهَ وَلاَ تُقَبِّحْ وَلاَ تَهْجُرْ إِلاَّ فِي الْبَيْتِ
“Janganlah engkau memukul wajah (istrimu), jangan menjelekkannya3, dan jangan memboikotnya (mendiamkannya) kecuali di dalam rumah.” (HR. Abu Dawud no. 2142 dan selainnya, dishahihkan Asy-Syaikh Muqbil t dalam Al-Jami’ush Shahih, 3/86)
Demikian juga hadits:
إِذَا قَاتَلَ أَحَدُكُمْ أَخاَهُ فَلْيَجْتَنِبِ الْوَجْهَ
“Apabila salah seorang dari kalian memukul saudaranya4 maka hendaknya ia menjauhi wajah.” (HR. Muslim no. 6594)
Dalam riwayat lain:
فلاَ يَلْطِمَنَّ الْوَجْهَ
“…maka jangan sekali-kali ia menampar wajah.” (HR. Muslim no. 6597)
Al-Imam Al-Qasimi t berkata, “Para fuqaha mengatakan, ‘Dharban ghaira mubarrih adalah pukulan yang tidak melukai si istri, tidak mematahkan tulangnya, tidak membuat bekas yang jelek pada tubuhnya dan tidak boleh diarahkan pada wajah karena wajah tempat terkumpulnya kecantikan. Pukulan tersebut juga harus berpencar pada tubuhnya (tidak diarahkan hanya pada satu tempat, pent.). Tidak boleh satu tempat dipukul terus menerus, agar tidak menimbulkan bahaya yang besar pada bagian tubuh tersebut. Di antara fuqaha ada yang menyatakan, ‘Sepantasnya pukulan dilakukan dengan menggunakan sapu tangan yang dililit atau dengan tangan si suami, tidak boleh dengan cambuk dan tongkat.’ ‘Atha` berkata, ‘Pukulan dengan siwak’.” (Tafsir Al-Qasimi, 3/104)
Bila si istri telah menaati suaminya, tak ada celah bagi sang suami untuk menyakiti istrinya.
“Namun bila kemudian mereka menaati kalian, tidak boleh bagi kalian mencari-cari jalan untuk menyusahkan mereka. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (An-Nisa`: 34)
Maksudnya, bila mereka tidak lagi berbuat nusyuz setelah diberikan “pendidikan” ini dengan kembali taat dalam seluruh perkara yang diinginkan dari mereka sebatas yang dibolehkan Allah k, maka setelah itu tidak ada jalan bagi para suami untuk mencela mereka dan menyakiti dengan pukulan dan hujran.
إِنَّ اللهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيْرًا
“Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar”, maka hati-hatilah kalian, takutlah kepada-Nya. Ayat ini merupakan ancaman kepada para suami dari melakukan kedzaliman terhadap para istri tanpa ada sebab. Karena para wanita tidak punya kemampuan untuk menolak kedzaliman kalian dan lemah untuk membela diri terhadap kalian. Karenanya, ingatlah Allah Maha Tinggi, Maha Memaksa, Maha Besar, dan Maha Mampu untuk bisa memberikan balasan kepada orang yang mendzalimi para wanita dan berbuat melampaui batas terhadap mereka. Maka janganlah kalian tertipu dengan keberadaan kalian yang lebih tinggi/lebih berkuasa daripada mereka dan lebih besar derajatnya dibanding mereka.

Karena sesungguhnya Allah k lebih tinggi dan lebih mampu daripada kalian terhadap mereka. Ditutupnya ayat yang mulia ini dengan dua nama, العَلِيُّ الْكَبِيْرُ, Maha Tinggi dan Maha Besar, sangatlah tepat. (Tafsir Al-Qasimi, 3/105)
Cukuplah seorang suami meluruskan istrinya dengan jiwa yang bersih, terlepas dari hawa nafsu dan kebencian. Terlepas dari pembalasan dendam dan permusuhan. Yang demikian itu dapat menjadi penjamin hilangnya “penyakit” dan cepatnya “kesembuhan.” (An-Nusyuz, hal. 46)

Syubhat dan Bantahan
Musuh-musuh Islam tak henti-hentinya melekatkan citra buruk terhadap Islam karena agama ini membolehkan memukul istri di mana mereka menganggap hal itu sebagai penghinaan kepada kaum wanita. Maka kita katakan kepada mereka, “Memang syariat Islam membolehkan memukul istri. Akan tetapi perlu ditanyakan kapan pukulan dibolehkan? Dan kepada siapa?”
Tentunya pukulan dilakukan bila tidak didapatkan lagi cara lain. Nasihat dan hajr sudah tidak bisa mengembalikan si istri dari maksiatnya. Bila demikian, manakah yang lebih baik: membiarkan si istri dalam penyimpangannya, berbolak balik dalam kerusakan dan kemungkaran, yang pada akhirnya akan menggoncangkan rumah tangga dan memecah belah keutuhannya? Ataukah mengambil tangannya untuk dituntun kepada kebaikan? Bila tidak bisa dinasihati dengan baik-baik maka di-hajr. Jika tidak berpengaruh juga maka barulah ‘diobati’ dengan pukulan. Manakah yang lebih baik, si istri dipukul dengan pukulan ringan untuk mengembalikannya kepada kelurusan, ataukah membiarkannya hingga akhirnya diambil keputusan cerai yang dengannya akan tercerai berailah keutuhan keluarga? (An-Nusyuz, hal. 47)
Wallahul musta’an, jawabannya tentu jelas bagi orang yang berpandangan lurus dan dapat berpikir dengan sehat.
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Catatan kaki:

1 Mempersilakan orang yang tidak kalian sukai masuk dan duduk di dalam rumah kalian, baik orang itu laki-laki ajnabi (bukan mahram istri), atau wanita, atau salah seorang dari mahram istri. Hukum masalah ini menurut fuqaha, kata Al-Imam An-Nawawi t, adalah tidak halal bagi istri mengizinkan seorang lelaki atau seorang wanita, seorang mahram ataupun bukan mahramnya, untuk masuk ke rumah suaminya, kecuali orang yang sepengetahuannya atau menurut keyakinannya tidak dibenci oleh suaminya. Karena memang hukum asal dalam hal ini adalah haramnya masuk ke rumah seseorang hingga ada izin/perkenan dari yang punya rumah atau orang yang diberi kepercayaan untuk memberi izin, atau diketahui bahwa si empunya rumah ridha menurut kebiasaan yang ada dan semisalnya. Kalau timbul keraguan, apakah si empunya ridha atau tidak serta tidak bisa dikuatkan salah satunya, tidak pula didapatkan tanda-tanda atau petunjuk, maka tidak halal masuk ke rumahnya dan tidak boleh pula diberikan pengizinan. Wallahu a’lam. (Al-Minhaj, 8/413)

2 ‘Atha` t berkata, “Aku berkata kepada Ibnu ‘Abbas c, “Apa yang dimaksud pukulan ghairul mubarrih?” Ibnu Abbas c menjawab, “Memukul dengan siwak dan semisalnya.” (Tafsir Al-Qurthubi, 5/113)

3 Yakni mengucapkan pada istri ucapan yang buruk, mencaci makinya atau mengatakan padanya, “Semoga Allah k menjelekkanmu”, atau yang semisalnya. (‘Aunul Ma’bud, Kitab An-Nikah, bab Fi Haqqil Mar`ah ‘ala Zaujiha)

4 Memukul anaknya atau istrinya atau orang lain karena suatu sebab yang dibolehkan.

Mengingat Mati

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah)

Hidup di dunia ini tidaklah selamanya. Akan datang masanya kita berpisah dengan dunia berikut isinya. Perpisahan itu terjadi saat kematian menjemput, tanpa ada seorang pun yang dapat menghindar darinya. Karena Ar-Rahman telah berfirman:
“Setiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati, dan Kami menguji kalian dengan kejelekan dan kebaikan sebagai satu fitnah (ujian), dan hanya kepada Kami lah kalian akan dikembalikan.” (Al-Anbiya`: 35)
“Di mana saja kalian berada, kematian pasti akan mendapati kalian, walaupun kalian berada di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” (An-Nisa`: 78)
Kematian akan menyapa siapa pun, baik ia seorang yang shalih atau durhaka, seorang yang turun ke medan perang ataupun duduk diam di rumahnya, seorang yang menginginkan negeri akhirat yang kekal ataupun ingin dunia yang fana, seorang yang bersemangat meraih kebaikan ataupun yang lalai dan malas-malasan. Semuanya akan menemui kematian bila telah sampai ajalnya, karena memang:
“Seluruh yang ada di atas bumi ini fana (tidak kekal).” (Ar-Rahman: 26)
Mengingat mati akan melembutkan hati dan menghancurkan ketamakan terhadap dunia. Karenanya, Rasulullah n memberikan hasungan untuk banyak mengingatnya. Beliau bersabda dalam hadits yang disampaikan lewat sahabatnya yang mulia Abu Hurairah z:
أَكْثِرُوْا ذِكْرَ هَاذمِ اللَّذَّاتِ
“Perbanyaklah kalian mengingat pemutus kelezatan (kematian).” (HR. At-Tirmidzi no. 2307, An-Nasa`i no. 1824, Ibnu Majah no. 4258. Asy-Syaikh Al-Albani t berkata tentang hadits ini, “Hasan shahih.”)
Dalam hadits di atas ada beberapa faedah:
– Disunnahkannya setiap muslim yang sehat ataupun yang sedang sakit untuk mengingat mati dengan hati dan lisannya, serta memperbanyak mengingatnya hingga seakan-akan kematian di depan matanya. Karena dengannya akan menghalangi dan menghentikan seseorang dari berbuat maksiat serta dapat mendorong untuk beramal ketaatan.
– Mengingat mati di kala dalam kesempitan akan melapangkan hati seorang hamba. Sebaliknya, ketika dalam kesenangan hidup, ia tidak akan lupa diri dan mabuk kepayang. Dengan begitu ia selalu dalam keadaan bersiap untuk “pergi.” (Bahjatun Nazhirin, 1/634)
Ucapan Rasulullah n di atas adalah ucapan yang singkat dan ringkas, “Perbanyaklah kalian mengingat pemutus kelezatan (kematian).” Namun padanya terkumpul peringatan dan sangat mengena

sebagai nasihat, karena orang yang benar-benar mengingat mati akan merasa tiada berartinya kelezatan dunia yang sedang dihadapinya, sehingga menghalanginya untuk berangan-angan meraih dunia di masa mendatang. Sebaliknya, ia akan bersikap zuhud terhadap dunia. Namun bagi jiwa-jiwa yang keruh dan hati-hati yang lalai, perlu mendapatkan nasihat panjang lebar dan kata-kata yang panjang, walaupun sebenarnya sabda Nabi n:
أَكْثِرُوْا ذِكْرَ هَاذمِ اللَّذَّاتِ
“Perbanyaklah kalian mengingat pemutus kelezatan (kematian).”
disertai firman Allah k:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ
“Setiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati,” sudah mencukupi bagi orang yang mendengar dan melihat.
Alangkah bagusnya ucapan orang yang berkata:
اذْكُرِ الْمَوْتَ تَجِدُ رَاحَةً، فِي إِذْكَارِ الْمَوْتِ تَقْصِيْرُ الْأَمَلِ
“Ingatlah mati niscaya kau kan peroleh kelegaan, dengan mengingat mati akan pendeklah angan-angan.”
Adalah Yazid Ar-Raqasyi t berkata kepada dirinya sendiri, “Celaka engkau wahai Yazid! Siapa gerangan yang akan menunaikan shalat untukmu setelah kematianmu? Siapakah yang mempuasakanmu setelah mati? Siapakah yang akan memintakan keridhaan Rabbmu untukmu setelah engkau mati?”
Kemudian ia berkata, “Wahai sekalian manusia, tidakkah kalian menangis dan meratapi diri-diri kalian dalam hidup kalian yang masih tersisa? Duhai orang yang kematian mencarinya, yang kuburan akan menjadi rumahnya, yang tanah akan menjadi permadaninya dan yang ulat-ulat akan menjadi temannya… dalam keadaan ia menanti dibangkitkan pada hari kengerian yang besar. Bagaimanakah keadaan orang ini?” Kemudian Yazid menangis hingga jatuh pingsan. (At-Tadzkirah, hal. 8-9)
Sungguh, hanya orang-orang cerdas cendikialah yang banyak mengingat mati dan menyiapkan bekal untuk mati. Sahabat yang mulia, putra dari sahabat yang mulia, Abdullah bin ‘Umar c mengabarkan, “Aku sedang duduk bersama Rasulullah n tatkala datang seorang lelaki dari kalangan Anshar. Ia mengucapkan salam kepada Rasulullah n, lalu berkata, ‘Ya Rasulullah, mukmin manakah yang paling utama?’ Beliau menjawab, ‘Yang paling baik akhlaknya di antara mereka.’
‘Mukmin manakah yang paling cerdas?’, tanya lelaki itu lagi. Beliau menjawab:
أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا, أُولَئِكَ أَكْيَاسٌ
“Orang yang paling banyak mengingat mati dan paling baik persiapannya untuk kehidupan setelah mati. Mereka itulah orang-orang yang cerdas.” (HR. Ibnu Majah no. 4259, dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Ash-Shahihah no. 1384)
Al-Imam Al-Qurthubi t berkata, “Ad-Daqqaq berkata, ‘Siapa yang banyak mengingat mati, ia akan dimuliakan dengan tiga perkara: bersegera untuk bertaubat, hati merasa cukup, dan giat/semangat dalam beribadah. Sebaliknya, siapa yang melupakan mati ia akan dihukum dengan tiga perkara: menunda taubat, tidak ridha dengan perasaan cukup dan malas dalam beribadah. Maka berpikirlah, wahai orang yang tertipu, yang merasa tidak akan dijemput kematian, tidak akan merasa sekaratnya, kepayahan, dan kepahitannya. Cukuplah kematian sebagai pengetuk hati, membuat mata menangis, memupus kelezatan dan menuntaskan angan-angan. Apakah engkau, wahai anak Adam, mau memikirkan dan membayangkan datangnya hari kematianmu dan perpindahanmu dari tempat hidupmu yang sekarang?” (At-Tadzkirah, hal. 9)
Bayangkanlah saat-saat sakaratul maut mendatangimu. Ayah yang penuh cinta berdiri di sisimu. Ibu yang penuh kasih juga hadir. Demikian pula anak-anakmu yang besar maupun yang kecil. Semua ada di sekitarmu. Mereka memandangimu dengan pandangan kasih sayang dan penuh kasihan. Air mata mereka tak henti mengalir membasahi wajah-wajah mereka. Hati mereka pun berselimut duka. Mereka semua berharap dan berangan-angan, andai engkau bisa tetap tinggal bersama mereka. Namun alangkah jauh dan mustahil ada seorang makhluk yang dapat menambah umurmu atau mengembalikan ruhmu. Sesungguhnya Dzat yang memberi kehidupan kepadamu, Dia jugalah yang mencabut kehidupan tersebut. Milik-Nya lah apa yang Dia ambil dan apa yang Dia berikan. Dan segala sesuatu di sisi-Nya memiliki ajal yang telah ditentukan.
Al-Hasan Al-Bashri t berkata, “Tidaklah hati seorang hamba sering mengingat mati melainkan dunia terasa kecil dan tiada berarti baginya. Dan semua yang ada di atas dunia ini hina baginya.”
Adalah ‘Umar bin Abdil ‘Aziz t bila mengingat mati ia gemetar seperti gemetarnya seekor burung. Ia mengumpulkan para ulama, maka mereka saling mengingatkan akan kematian, hari kiamat dan akhirat. Kemudian mereka menangis hingga seakan-akan di hadapan mereka ada jenazah. (At-Tadzkirah, hal. 9)
Tentunya tangis mereka diikuti oleh amal shalih setelahnya, berjihad di jalan Allah l dan bersegera kepada kebaikan. Beda halnya dengan keadaan kebanyakan manusia pada hari ini. Mereka yakin adanya surga tapi tidak mau beramal untuk meraihnya. Mereka juga yakin adanya neraka tapi mereka tidak takut. Mereka tahu bahwa mereka akan mati, tapi mereka tidak mempersiapkan bekal. Ibarat ungkapan penyair:
Aku tahu aku kan mati namun aku tak takut
Hatiku keras bak sebongkah batu
Aku mencari dunia seakan-akan hidupku kekal
Seakan lupa kematian mengintai di belakang
Padahal, ketika kematian telah datang, tak ada seorangpun yang dapat mengelak dan menundanya.
“Maka apabila telah tiba ajal mereka (waktu yang telah ditentukan), tidaklah mereka dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak pula mereka dapat mendahulukannya.” (An-Nahl: 61)
“Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan kematian seseorang apabila telah datang ajal/waktunya.” (Al-Munafiqun: 11)
Wahai betapa meruginya seseorang yang berjalan menuju alam keabadian tanpa membawa bekal. Janganlah engkau, wahai jiwa, termasuk yang tak beruntung tersebut. Perhatikanlah peringatan Rabbmu:
“Dan hendaklah setiap jiwa memerhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).” (Al-Hasyr: 18)
Al-Hafizh Ibnu Katsir t menjelaskan ayat di atas dengan menyatakan, “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, dan lihatlah amal shalih apa yang telah kalian tabung untuk diri kalian sebagai bekal di hari kebangkitan dan hari diperhadapkannya kalian kepada Rabb kalian.” (Al-Mishbahul Munir fi Tahdzib Tafsir Ibni Katsir, hal. 1388)
Janganlah engkau menjadi orang yang menyesal kala kematian telah datang karena tiada berbekal, lalu engkau berharap penangguhan.
“Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepada kalian sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kalian, lalu ia berkata, ‘Wahai Rabbku, mengapa Engkau tidak menangguhkan kematianku sampai waktu yang dekat hingga aku mendapat kesempatan untuk bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang shalih?’.” (Al-Munafiqun: 10)
Karenanya, berbekallah! Persiapkan amal shalih dan jauhi kedurhakaan kepada-Nya! Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

BOLEHKAH BER-KB UNTUK KEPENTINGAN TARBIYAH ANAK?

Tanya: Apakah dibolehkan menggunakan obat pencegah kehamilan untuk mengatur/menjarangkan kehamilan dengan tujuan agar dapat mendidik anak yang masih kecil?

Jawab:
Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah menjawab, “Tidak boleh menggunakan obat pencegah kehamilan kecuali dalam keadaan darurat, apabila memang pihak medis/dokter menyatakan kehamilan berisiko pada kematian ibu.
Namun menggunakan obat pencegah kehamilan dengan tujuan menunda sementara kehamilan yang berikutnya, tidaklah terlarang bila memang si ibu membutuhkannya. Misalnya karena kondisi kesehatannya tidak memungkinkan untuk hamil dalam interval waktu yang berdekatan, atau bila si ibu hamil lagi akan memudaratkan anak/bayinya yang masih menyusu. Dengan ketentuan, obat tersebut tidak memutus/menghentikan kehamilan sama sekali, tapi hanya sekedar menundanya. Bila memang demikian tidaklah terlarang sesuai dengan kebutuhan yang ada, dan tentunya setelah mendapat saran dari dokter spesialis kandungan.” (Al-Muntaqa min Fatawa Fadhilatisy Syaikh Shalih bin Fauzan, 3/175)

 

KAPANKAH ANAK DIAJARI AGAMA?

Tanya: Pada usia berapa anak sudah harus saya ajarkan tentang perkara agama?

Jawab:
Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah menjawab, “Pengajaran terhadap anak sudah harus dimulai ketika mereka telah mencapai usia tamyiz1. Tentunya dimulai dengan tarbiyah diniyah (pendidikan agama), berdasarkan sabda Nabi n:
مُرُوا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِيْنَ، وَاضْرِبُوْهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ، وَفَرِّقُوْا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ
“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk mengerjakan shalat ketika mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka bila pada usia sepuluh tahun tidak mengerjakan shalat, serta pisahkanlah mereka di tempat tidurnya.”2
Bila anak telah mencapai usia tamyiz, orangtuanya diperintah untuk mengajarinya dan mentarbiyahnya di atas kebaikan, dengan mengajarinya Al-Qur`an dan hadits-hadits yang mudah. Mengajarinya hukum-hukum syariat yang cocok dengan usia si anak, misalnya bagaimana cara berwudhu

3 Tidak patuh dan taat kepada perintah beliau n. Sementara Allah k telah memerintahkan dalam firman-Nya:
وَمَا ءَاتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا
“Apa yang didatangkan oleh Rasul kepada kalian maka ambillah dan apa yang beliau larang maka berhenti (tinggalkan)lah.” (Al-Hasyr: 7)
Rasulullah n sendiri bersabda:
ماَ نَهَيْتُُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوهُ وَمَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ
“Apa yang aku larang kalian darinya, tinggalkanlah. Dan apa yang aku perintahkan kepada kalian maka kerjakanlah semampu kalian.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim) –pent.
4 HR.Al-Bukhari dan Muslim

Sebarkan Salam

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah)

Abdullah bin ‘Amr ibnil ‘Ash c, salah seorang sahabat Rasulullah n memberitakan, “Ada seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah n, ‘Perangai Islam yang manakah yang paling baik?’ Beliau n menjawab:
تُطْعِمُ الطَّعَامَ وَتَقْرَأُ السَّلاَمَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَعَلَى مَنْ لَمْ تَعْرِفْ
“Engkau memberi makan (kepada orang yang membutuhkan, pent.) serta mengucapkan salam kepada orang yang engkau kenal dan tidak engkau kenal.” (HR. Al-Bukhari no. 6236 dan Muslim no. 159)
Pada kesempatan lain, Rasulullah n bersabda:
لاَ تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا, وَلاَ تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا, أَوَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوْهُ تَحَابَبْتُمْ؟ أَفْشُوا السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ
“Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman, dan kalian tidak dikatakan beriman hingga kalian bisa saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan terhadap satu amalan yang bila kalian mengerjakannya kalian akan saling mencintai? Yaitu sebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Muslim no. 192)
Dalam dua hadits di atas terdapat hasungan yang besar untuk menyebarkan salam kepada kaum muslimin seluruhnya, yang dikenal ataupun yang tidak. Dan salam merupakan syiar kaum muslimin yang membedakan mereka dengan nonmuslim. Salam merupakan sebab awal tumbuhnya kedekatan hati dan kunci yang mengundang rasa cinta. Dengan menyebarkannya berarti menumbuhkan kedekatan hati di antara kaum muslimin, selain untuk menampakkan syiar mereka yang berbeda dengan orang-orang selain mereka. (Al-Minhaj 2/224, 225, Syarhu Riyadhish Shalihin, Ibnu ‘Utsaimin t, 3/6)
Bila salam terucap dari seorang lelaki kepada lelaki lain atau antara sesama wanita, atau lelaki kepada wanita yang merupakan mahramnya dan sebaliknya wanita mengucapkan salam kepada lelaki dari kalangan mahramnya, tidaklah menjadi permasalahan. Bahkan mereka dihasung untuk mengamalkan dua hadits di atas. Yang menjadi tanya adalah: bolehkah laki-laki mengucapkan salam kepada wanita ajnabiyyah (bukan mahramnya) dan sebaliknya?
Untuk menjawabnya, kita baca hadits-hadits yang akan disebutkan berikut ini:
Abdullah bin Maslamah menyebutkan riwayat dari Ibnu Abi Hazim, dari bapaknya, dari Sahl z. Sahl z berkata:
كُنَّا نَفْرَحُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ. قُلْتُ لِسَهْلٍ: وَلِمَ؟ قَالَ: كَانَتْ لَنَا عَجُوْزٌ تُرْسِلُ إِلَى بُضَاعَةَ -نَخْلِ بِالْمَدِيْنَةِ– فَتَأْخُذُ مِنْ أُصُوْلِ السِّلْقِ فَتَطْرُحُهُ فِي قِدْرٍ وَتُكَرْكِرُ حَبَّاتٍ مِنْ شَعِيْرٍ, فَإِذَا صَلَّيْنَا الْجُمُعَةَ انْصَرَفْنَا وَنُسَلِّمُ عَلَيْهَا, فَتُقَدِّمُهُ إِلَيْنَا, فَنَفْرَحُ مِنْ أَجْلِهِ, وَمَا كُنَّا نَقِيْلُ وَلاَ نَتَغَدَّى إِلاَّ بَعْدَ الْجُمُعَةِ
“Kami merasa senang pada hari Jum’at.” Aku (Abu Hazim) bertanya kepada Sahl, “Kenapa?” Sahl menjawab, “Kami punya (kenalan) seorang wanita tua, ia mengirim orang ke Budha’ah –sebuah kebun yang ada di Madinah– lalu ia mengambil pokok pohon silq (semacam sayuran, pent.) dan dimasukkannya ke dalam bejana (yang berisi air, pent.), dimasak sampai matang. Kemudian ia mengadon biji-bijian dari gandum. Bila kami selesai dari shalat Jum’at, kami pergi ke tempat wanita tersebut dan mengucapkan salam kepadanya. Lalu ia menghidangkan masakan tersebut kepada kami maka kami bergembira karenanya1. Tidaklah kami tidur siang dan tidak pula makan siang kecuali setelah Jum’atan.” (HR. Al-Bukhari no. 6248)
Aisyah x berkata, “Rasulullah n bersabda:
يَا عَائِشَةَ، هَذا جِبْرِيْلُ يَقْرَأُ عَلَيْكِ السَّلاَمَ. قَالَتْ: قُلْتُ: وَعَلَيْهِ السَّلاَمَ وَرَحْمَةُ اللهِ, تَرَى مَا لاَ نَرَى
“Wahai Aisyah! Ini Jibril, ia mengirim salam untukmu2.” Aisyah menjawab, “Wa ‘alaihis salam wa rahmatullah.3 Engkau (wahai Rasulullah) dapat melihat apa yang tidak kami lihat4.” (HR. Al-Bukhari no. 6249 dan Muslim no. 6251)
Al-Imam Al-Bukhari t memberi judul dua hadits di atas dengan bab Taslimur Rijal ‘alan Nisa` wan Nisa` ‘alar Rijal, artinya “Laki-laki mengucapkan salam kepada wanita dan wanita mengucapkan salam kepada laki-laki.”
Ummu Hani` Fakhitah bintu Abi Thalib x, saudara kandung ‘Ali bin Abi Thalib z, yang berarti misan Rasulullah n, mengabarkan: “Aku mendatangi Nabi n pada hari Fathu Makkah dalam keadaan beliau sedang mandi, sementara putri beliau, Fathimah x menutupi beliau dengan kain5. Aku mengucapkan salam kepada beliau6. Beliau pun bertanya:
مَنْ هذِهِ؟ فَقُلْتُ: أَنَا أُمُّ هَانِئٍ بِنْتُ أَبِي طَالِبٍ. فَقاَلَ: مَرْحَبًا بِأُمِّ هَانِئٍ
“Siapa yang datang ini?” “Saya Ummu Hani` bintu Abi Thalib,” jawabku. “Marhaban Ummu Hani`,” sambut beliau. (HR. Al-Bukhari no. 357 dan Muslim no. 1666)
Asma` bintu Yazidx menyampaikan:
أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ n مَرَّ فِي الْمَسْجِدِ يَوْمًا وَعُصْبَةٌ مِنَ النِّسَاءِ قُعُوْدٌ, فَأَلْوَى بِيَدِهِ بِالتَّسْلِيْمِ
“Suatu hari Rasulullah n lewat di masjid dan sekumpulan wanita tengah duduk. Beliau pun melambaikan tangan sebagai pengucapan salam.”7 (HR. At-Tirmidzi no. 2697, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Shahih At-Tirmidzi)
Abdullah ibnuz Zubair c berkata mengomentari jual beli atau pemberian yang diberikan oleh bibinya, Aisyah bintu Abi Bakr x8:
“Demi Allah! Aisyah harus berhenti dari apa yang dilakukannya9 atau aku sungguh akan memboikotnya.” Ketika disampaikan ucapan Ibnuz Zubair ini kepada Aisyah, ia berkata, “Apa benar Ibnuz Zubair (Abdullah) berkata demikian?”
“Ya,” jawab mereka.
“Kalau begitu, demi Allah! Aku bernadzar tidak akan mengajak bicara Ibnuz Zubair selama-lamanya,” kata Aisyah dengan kesal.
Ketika sudah berlangsung lama hajrnya (diamnya) Aisyah kepadanya, Ibnuz Zubair meminta bantuan kepada orang lain untuk menjadi perantara yang mengishlah antara dia dan bibinya. Namun Aisyah menolaknya, “Tidak demi Allah! Aku tidak akan menerima seorang pun yang menjadi perantaranya agar aku kembali mengajaknya bicara dan aku tidak akan melanggar nadzarku.”
Tatkala panjang lagi keadaan seperti itu bagi Ibnuz Zubair, ia pun mengajak bicara Al-Miswar bin Makhramah dan Abdurrahman ibnul Aswad bin Abdi Yaghuts, keduanya dari Bani Zuhrah.10 Ibnuz Zubair berkata kepada keduanya, “Aku meminta kepada kalian berdua dengan nama Allah agar kalian berdua memasukkan aku ke tempat Aisyah (hingga dapat bertemu muka dengannya) karena tidak halal baginya bernadzar memutuskan hubungan denganku.”
Al-Miswar dan Abdurrahman pun datang ke rumah Aisyah dalam keadaan menyelubungi tubuh mereka dengan rida`, bersama mereka berdua ada Ibnuz Zubair. Mereka minta izin masuk ke rumah Aisyah. Keduanya mengucapkan salam kepada Aisyah, “Assalamu ‘alaiki wa rahmatullahi wa barakatuh, bolehkah kami masuk?” tanya mereka.
(Setelah menjawab salam mereka) Aisyah berkata mempersilakan mereka (dari balik hijab), “Masuklah kalian.”
“Kami semuanya?” tanya mereka.
“Iya, kalian semua silakan masuk,” sahut Aisyah. Dan Aisyah tidak tahu kalau di antara keduanya ada Ibnuz Zubair. Ketika mereka sudah masuk ke kediaman Aisyah, Ibnuz Zubair masuk ke balik hijab untuk bertemu muka dengan bibinya (sementara Al-Miswar dan Abdurrahman tetap di balik hijab karena mereka bukanlah mahram Aisyah). Lalu ia merangkul Aisyah dan mulai meminta dengan bersumpah agar Aisyah mau berbicara lagi dengannya dan ia menangis. Al-Miswar dan Abdurrahman juga mulai angkat suara meminta dengan bersumpah agar Aisyah mau mengajak bicara keponakannya dan menerima maafnya.
Keduanya berkata, “Sebagaimana yang telah anda ketahui bahwa Nabi n melarang hajr seperti yang anda lakukan ini, karena beliau bersabda, ‘Tidak halal bagi seorang muslim menghajr saudaranya lebih dari tiga malam’.”
Tatkala mereka terus-menerus mengingatkan Aisyah akan keutamaan menyambung silaturahim, memaafkan, dan menahan marah serta dosanya bila memutuskan silaturahim, mulailah Aisyah berbicara kepada keduanya dalam keadaan menangis. Aisyah berkata, “Aku telah bernadzar. Dan nadzar itu perkaranya berat.”
Namun terus menerus keduanya memohon kepada Aisyah hingga akhirnya Aisyah mau berbicara dengan Ibnuz Zubair. Dan untuk menebus nadzarnya, ia membebaskan 40 orang budak. Bila ia mengingat nadzarnya setelah itu, ia menangis hingga air matanya membasahi kerudungnya.” (HR. Al-Bukhari no. 6073, 6074, 6075)
Berikut ini penjelasan para ulama tentang permasalahan yang menjadi pembicaraan kita:
1. Al-Imam Al-Qurthubi t, “Mengucapkan salam kepada para wanita dibolehkan, terkecuali bila wanita itu masih muda karena dikhawatirkan fitnah bila berbicara dengan mereka dengan adanya bujuk rayu setan atau pandangan mata yang khianat (lirikan mata yang diharamkan). Adapun bila wanita itu sudah lanjut usia maka bagus mengucapkan salam pada mereka karena aman dari fitnah. Ini merupakan pendapat ‘Atha` dan Qatadah, dan dipegangi oleh Al-Imam Malik serta sekelompok ulama rahimahumullah.” (Al-Jami’ li Ahkamil Qur`an, 5/195)
2. Al-Imam An-Nawawi t berkata, “Seorang lelaki ajnabi boleh mengucapkan salam kepada wanita ajnabiyyah bila jumlah wanita tersebut lebih dari satu (sekelompok wanita). Namun bila wanita tersebut hanya seorang diri maka yang boleh mengucapkan salam kepadanya adalah sesama wanita, suaminya, tuannya (bila si wanita berstatus budak) dan mahramnya, baik si wanita itu cantik atau tidak cantik.
Adapun lelaki ajnabi diberikan perincian.
– Bila si wanita itu sudah tua tidak mendatangkan selera lelaki terhadapnya, maka disenangi bagi lelaki ajnabi untuk mengucapkan salam kepadanya. Demikian pula sebaliknya si wanita disenangi untuk mengucapkan salam kepada lelaki tersebut. Siapa di antara keduanya yang mengucapkan salam terlebih dahulu maka yang satunya wajib menjawabnya.
– Apabila wanita itu masih muda atau sudah tua namun masih mengundang hasrat, maka tidak boleh lelaki ajnabi mengucapkan salam kepadanya, dan sebaliknya si wanita pun demikian. Siapa di antara keduanya mengucapkan salam kepada yang lain (baik si lelaki ataukah si wanita) maka ia tidak berhak mendapatkan jawaban dan dibenci membalas salam tersebut. Yang demikian ini merupakan mazhab kami dan mazhab jumhur. Rabi’ah berkata, ‘Laki-laki tidak boleh mengucapkan salam kepada wanita (ajnabiyyah) dan sebaliknya wanita tidak boleh mengucapkan salam kepada laki-laki (ajnabi).’ Namun ini pendapat yang keliru. Orang-orang Kufah berkata, ‘Tidak boleh laki-laki mengucapkan salam kepada wanita bila tidak ada mahram si wanita di situ.’ Wallahu a’lam.” (Al-Minhaj, 14/374)
3. Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani t berkata, “Laki-laki boleh mengucapkan salam kepada wanita atau sebaliknya11 apabila aman dari fitnah.” Al-Halimi berkata, “Adalah Nabi n aman dari fitnah karena beliau ma’shum (terjaga dari berbuat dosa). Maka siapa yang meyakini dirinya dapat selamat dari fitnah, silakan ia mengucapkan salam (kepada lawan jenisnya, pent.). Bila tidak, maka diam lebih selamat.” Ibnu Baththal berkata dari Al-Muhallab, “Salam laki-laki terhadap wanita dan sebaliknya, dibolehkan apabila aman dari fitnah. Pengikut mazhab Maliki membedakan antara wanita yang masih muda dengan yang sudah tua dalam rangka menutup jalan menuju kerusakan12. Adapun Rabi’ah melarang secara mutlak. Orang-orang Kufah berkata, ‘Tidak disyariatkan kepada wanita untuk memulai mengucapkan salam kepada laki-laki karena mereka dilarang mengumandangkan adzan, iqamah, dan mengeraskan bacaan di dalam shalat. Dikecualikan dalam hal ini bila laki-laki tersebut adalah mahram si wanita, karena boleh baginya mengucapkan salam kepada mahramnya.”
Al-Hafizh t berkata lagi menukilkan ucapan Al-Mutawalli, “Bila seorang lelaki mengucapkan salam kepada istrinya atau wanita dari kalangan mahramnya atau budak perempuannya maka hukumnya sama dengan seorang lelaki mengucapkan salam kepada lelaki lain. Namun bila si wanita adalah ajnabiyyah (non mahram) maka perlu ditinjau dahulu. Kalau si wanita berparas cantik, dikhawatirkan laki-laki akan terfitnah dengannya sehingga tidak disyariatkan memulai mengucapkan salam kepadanya ataupun menjawab salamnya. Bila salah seorang dari mereka (si laki-laki atau si wanita) mengucapkan salam terlebih dahulu kepada yang lain maka makruh menjawabnya. Namun kalau si wanita sudah tua di mana laki-laki tidak akan terfitnah dengannya maka boleh mengucapkan salam kepadanya.”
Apabila berkumpul dalam satu majelis sejumlah laki-laki dan sejumlah wanita, boleh bagi kedua belah pihak mengucapkan salam bila memang aman dari fitnah. (Fathul Bari, 11/41, 42-43)
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin t memberikan keterangan, “Mengucapkan salam kepada wanita yang merupakan mahram adalah perkara sunnah. Sama saja baik itu istri, saudara perempuan, bibi, ataupun keponakan perempuan. Adapun wanita ajnabiyyah, tidak boleh mengucapkan salam kepadanya kecuali bila wanita tersebut sudah tua dan aman dari fitnah. Bila tidak aman maka tidak boleh mengucapkan salam kepadanya. Namun bila seseorang mendatangi rumahnya dan mendapatkan di rumahnya ada wanita yang dikenali lalu ia mengucapkan salam maka tidak apa-apa asalkan aman dari fitnah. Demikian pula, wanita boleh mengucapkan salam kepada laki-laki ajnabi dengan syarat aman dari fitnah.” (Syarh Riyadhis Shalihin, 3/29)
Ketika ditanyakan kepada Asy-Syaikh Abdullah bin Humaid t tentang hukum mengucapkan salam kepada wanita ajnabiyyah, beliau t menyatakan tidak apa-apa mengucapkannya dari kejauhan, tanpa berjabat tangan. Dan si wanita menjawabnya, karena suara wanita bukanlah aurat. Kecuali bila si lelaki menikmati suaranya (senang mendengar suara tersebut, merasa lezat karenanya dan menikmatinya), maka dalam keadaan seperti ini hukumnya haram. Karena si lelaki berarti terfitnah dengan wanita ajnabiyyah tersebut.” (Dari siaran radio acara Nurun ‘alad Darb, sebagaimana dinukil dalam Fatawa Al-Mar`ah Al-Muslimah, 2/965, 966)

Faedah:
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin t berkata, “Bila ada seseorang menukilkan salam dari orang lain untukmu, maka engkau menjawabnya dengan ucapan, ‘Alaihis salam.’ Namun apakah wajib bagimu menyampaikan pesan bila ada yang berkata, ‘Sampaikan salamku kepada si Fulan,’ ataukah tidak wajib?
Ulama memberikan perincian terhadap permasalahan ini.
Jika engkau diharuskan menyampaikannya maka wajib engkau sampaikan salam tersebut, karena Allah k berfirman:
“Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk menunaikan amanah kepada orang yang berhak menerimanya.” (An-Nisa`: 58)
Berarti engkau sekarang memikul kewajiban tersebut.
Adapun bila orang itu berpesan kepadamu, ‘Sampaikan salamku kepada si Fulan,’ lalu ia diam tanpa ada ucapannya yang mengharuskanmu menyampaikan salamnya tersebut; Atau ketika dipesani demikian engkau berkata, ‘Iya, kalau aku ingat,’ atau ucapan yang semisal ini, maka tidak wajib bagimu menyampaikannya terkecuali bila engkau ingat.
Namun yang paling bagus, janganlah seseorang membebani orang lain dengan titipan salam ini, karena terkadang menyusahkan orang yang diamanahi. Hendaknya ia berkata, ‘Sampaikan salamku kepada orang yang menanyakanku.’ Ini ungkapan yang bagus. Adapun bila seseorang dibebankan maka tidaklah bermanfaat, karena terkadang ia malu darimu hingga mengatakan, ‘Iya, aku akan menyampaikannya,’ kemudian dia lupa atau berlalu waktu yang panjang atau semisalnya (hingga salam itu tidak tersampaikan).” (Syarh Riyadhish Shalihin, Ibnu ‘Utsaimin t, 3/19)
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Catatan kaki:

1 Para sahabat bergembira dengan hidangan tersebut karena dulunya mereka bukanlah orang-orang yang berpunya, kecuali setelah Allah k bukakan rizki untuk mereka dengan kemenangan-kemenangan dalam peperangan yang dengannya mereka beroleh ghanimah. Allah l berfirman:
“Dan ghanimah-ghanimah yang banyak yang mereka ambil.” (Al-Fath: 19)
Dengan kemenangan-kemenangan tersebut banyaklah harta, setelah sebelumnya mayoritas sahabat adalah dari kalangan fuqara. (Syarah Riyadhis Shalihin, 3/29-30)
2 Malaikat tentunya tidak dikatakan berjenis laki-laki sebagaimana mereka tidak dikatakan berjenis perempuan. Karena mereka adalah makhluk yang berbeda dengan manusia, walaupun Allah l menyebutkan mereka dengan lafaz tadzkir (jenis laki-laki). Lalu kenapa Al-Imam Al-Bukhari t memasukkan hadits ini sebagai dalil tentang laki-laki mengucapkan salam kepada wanita? Jawabannya: Jibril q mendatangi Nabi n dalam bentuk seorang laki-laki.” (Fathul Bari, 11/42)
3 Hadits ini menunjukkan bolehnya laki-laki ajnabi mengirim salam untuk wanita ajnabiyyah yang shalihah, apabila tidak dikhawatirkan menimbulkan mafsadah (fitnah). (Al-Minhaj, 15/207)
4 Karena ketika itu Aisyah x tidak melihat keberadaan Jibril q.
5 Hal ini menunjukkan bolehnya seorang laki-laki mandi sementara di situ ada wanita dari kalangan mahramnya, asalkan auratnya tertutup dari si wanita. Juga menunjukkan bolehnya anak perempuan menutupi ayahnya ketika si ayah sedang mandi, baik menutupinya dengan kain atau selainnya. (Al-Minhaj, 5/239)
6 Ini menjadi dalil bahwa suara wanita bukanlah aurat dan bolehnya wanita mengucapkan salam kepada laki-laki yang bukan mahramnya sementara mahram si lelaki ada di tempat tersebut. (Al-Minhaj, 5/238)
7 Al-Imam An-Nawawi t berkata setelah menyebutkan hadits ini, “Lafadz ini dibawa kepada pemahaman bahwa Rasulullah n mengumpulkan lafadz salam dengan lisan dan isyarat dengan tangan (mengucapkan salam disertai melambaikan tangan sebagai isyarat, pent.). Dan yang memperkuat pengertian ini adalah riwayat Abu Dawud, di sana disebutkan: فَسَلَّمَ عَلَيْنَاlalu beliau mengucapkan salam kepada kami.” (Riyadhus Shalihin, hal. 275)

Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin t menambahkan, “Karena salam dengan tangan saja (sekedar memberi isyarat dengan tangan, tanpa diucapkan lafadznya dengan lisan, pent.) adalah perbuatan yang terlarang, dilarang oleh Nabi n. Adapun mengumpulkan keduanya tidak apa-apa, khususnya lagi bila yang disalami berada pada posisi yang jauh. Ia butuh melihat isyarat tangan hingga ia tahu bahwa saudaranya telah mengucapkan salam kepadanya, atau yang disalami adalah seorang yang tuli, tidak bisa mendengar, dan semisalnya. Dalam keadaan seperti ini, orang yang mengucapkan salam boleh menggabungkan ucapan salam dengan lisan dan isyarat dengan tangan.”
Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin t juga menyatakan, “Tidaklah diragukan bahwa perkara-perkara yang dijadikan sebagai pengganti salam merupakan penyelisihan terhadap As-Sunnah. Karena yang diajarkan As-Sunnah adalah seseorang mengucapkan salam dengan lisannya. Namun bila suaranya (ucapan salamnya, pent.) tidak terdengar, ia boleh menyertainya dengan isyarat tangan hingga menjadi perhatian orang yang posisinya jauh atau orang yang tuli.” (Syarh Riyadhis Shalihin, 3/20-21)
8 Ibu Abdullah adalah Asma` bintu Abi Bakr c, saudara perempuan Aisyah x.
9 Kebiasaan Aisyah x, beliau tidak pernah menahan sesuatu yang berupa rizki Allah l untuknya melainkan disedekahkannya. Sekali waktu beliau menjual barang miliknya lalu harganya disedekahkan. Maka keponakannya ini mengkritik apa yang dilakukannya.
10 Bani Zuhrah adalah dari kalangan suku Quraisy, dan merupakan akhwal (paman dari pihak ibu) Rasulullah n.

11 Sebagaimana ditunjukkan dalam hadits-hadits di atas.
12 Argumen mereka adalah hadits Sahl z yang sudah kami bawakan di atas. Di antaranya Sahl berkata, “Kami punya (kenalan) seorang wanita tua….”

Sementara laki-laki yang mengunjungi si wanita tua ini dan yang dijamunya bukanlah mahramnya.

 

Umamah bintu Abil ‘Ash

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu ‘Abdirrahman bintu ‘Imran)

Bagaimana takkan bahagia merasakan kasih sayang seorang yang begitu mulia, menjadi panutan seluruh manusia. Kisah buaian sang kakek dalam shalat menyisakan faedah besar bagi kaum muslimin di seluruh dunia.

Zainab, putri sulung Rasulullah n, disunting pemuda Quraisy, Abul ‘Ash bin Ar-Rabi’ bin ‘Abdil ‘Uzza bin ‘Abdi Syams bin ‘Abdi Manaf bin Qushay Al-Qurasyi namanya. Allah l menganugerahi mereka dua orang anak, Umamah dan ‘Ali.
Sepanjang masa kecilnya, Umamah bin Abil ‘Ash benar-benar merasakan kasih sayang sang kakek, Rasulullah n. Hingga suatu kali, para sahabat tengah duduk di depan pintu rumah Rasulullah n. Ternyata beliau muncul dari pintu rumahnya sembari menggendong Umamah kecil. Beliau shalat sementara Umamah tetap dalam gendongannya. Jika beliau ruku’, beliau letakkan Umamah. Bila beliau bangkit, beliau angkat kembali Umamah. Begitu seterusnya hingga beliau menyelesaikan shalatnya.
Suatu hari, Rasulullah n pernah mendapatkan hadiah. Di antaranya berupa seuntai kalung. Rasulullah n memungutnya. “Aku akan memberikan kalung ini pada seseorang yang paling kucintai di antara keluargaku,” kata beliau waktu itu. Para istri beliau pun saling berbisik, yang akan memperoleh kalung itu pastilah ‘Aisyah x.
Ternyata Rasulullah n memanggil Umamah, sang cucu. Beliau pakaikan kalung itu di leher Umamah. “Berhiaslah dengan ini, wahai putriku!” kata beliau. Lalu beliau usap kotoran yang ada di hidung Umamah.
Ketika Abul ‘Ash meninggal, dia wasiatkan Umamah pada Az-Zubair ibnul ‘Awwam z. Tahun terus berganti. Pada masa pemerintahan ‘Umar ibnul Khaththab z, ‘Ali bin Abi Thalib z meminang Umamah. Az-Zubair ibnul ‘Awwam z pun menikahkan ‘Ali dengan Umamah. Namun dalam pernikahan ini Allah l tidak memberikan seorang anak pun kepada mereka.
‘Ali bin Abi Thalib z pernah meminta Al-Mughirah bin Naufal Al-Harits bin ‘Abdil Muththalib Al-Hasyimi z agar bersedia menikah dengan Umamah bila dia telah wafat. ‘Ali pun berpesan pula kepada Umamah, bila dia meninggal nanti, dia ridha jika Umamah menikah dengan Al-Mughirah.
Subuh hari, 17 Ramadhan, 40 tahun setelah hijrah. Allah l takdirkan Umamah harus berpisah dengan suaminya. ‘Ali bin Abi Thalib z, terbunuh oleh seorang Khawarij bernama ‘Abdurrahman ibnu Muljam dengan tikaman pedangnya.
Selesai masa iddahnya, Umamah mendapatkan pinangan Mu’awiyah bin Abi Sufyan c. Umamah pun segera mengutus seseorang untuk memberitahukan hal ini kepada Al-Mughirah bin Naufal. “Kalau engkau mau, kau serahkan urusan ini padaku,” jawab Al-Mughirah. Umamah pun mengiyakan. Lalu Al-Mughirah meminang Umamah pada Al-Hasan bin ‘Ali bin Abi Thalib c yang kemudian menikahkan Al-Mughirah dengan Umamah.
Allah l karuniakan pada mereka seorang anak, Yahya ibnul Mughirah namanya. Namun tidak lama hidup bersisian dengan Al-Mughirah, Umamah bintu Abil ’Ash meninggal di masa pemerintahan Mu’awiyah bin Abi Sufyan c.
Umamah bintu Abil ‘Ash, semoga Allah l meridhainya ….
Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.

KEUTAMAAN HARI ‘ASYURA

Jama’ah Jum’at yang mudah-mudahan senantiasa dirahmati Allah l, Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah l. Yaitu dengan senantiasa bersemangat dalam mempelajari agama-Nya serta mengamalkannya. Karena dengan bertakwa kepada-Nya, Allah l akan menambahkan kepada kita ilmu yang bermanfaat serta memberikan kepada kita bimbingan dan petunjuk-Nya. Allah l berfirman:
“Dan bertakwalah kepada Allah, maka Allah akan mengajarkan kepada kalian ilmu dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (Al-Baqarah: 282)
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah, Ketahuilah, bahwasanya Allah l dalam banyak firman-Nya telah menceritakan kepada kita tentang kisah para nabi dan rasul-Nya. Dan Allah l telah memberitakan kepada kita bahwa pada kisah-kisah tersebut mengandung pelajaran yang sangat berharga bagi orang-orang yang mau merenungkannya. Hal ini sebagaimana tersebut dalam firman-Nya:
“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu (yaitu para nabi) terdapat pengajaran orang-orang yang mempunyai akal. Al-Qur`an itu bukanlah cerita yang dibuatbuat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, serta sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Yusuf: 111)
Hadirin rahimakumullah, Di antara kisah penting yang Allah l sebutkan adalah kisah tentang Nabi- Nya, Musa q. Bahkan kisah ini Allah
l sebutkan secara berulang-ulang dalam berbagai surat dalam Al-Qur`an. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya kisah ini untuk diketahui dan dipelajari. Kisah ini menceritakan tentang binasanya seorang penguasa dzalim yang diberi gelar Fir’aun. Disebutkan dalam kisah tersebut, Fir’aun adalah penguasa yang berbuat semena-mena dan dzalim kepada sebagian penduduknya. Dia bagi penduduknya menjadi dua golongan untuk kemudian memperlakukannya dengan tidak adil. Dia muliakan golongan yang berasal dari bangsanya dengan diberi kebebasan untuk melakukan apa yang mereka suka. Dan dia hinakan golongan lainnya, yaitu yang berasal dari Bani Israil yang pada saat itu mereka adalah sebaik-baik manusia. Terlebih setelah sampai berita kepada Fir’aun akan datangnya seorang dari keturunan Bani Israil yang akan menjadi sebab runtuhnya kekuasaannya. Segeralah dia mengutus orang-orangnya untuk membunuh setiap bayi laki-laki dari Bani Israil yang dilahirkan pada masa itu. Hal ini sebagaimana tersebut dalam firman-Nya:

“Sesungguhnya Fir’aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya bergolonggolongan, menindas segolongan dari mereka (yaitu Bani Israil), menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuannya. Sesungguhnya Fir’aun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Al-Qashash: 4) Ketika Musa q lahir pada waktu itu, ibunya pun mengkhawatirkan keselamatan putranya. Namun Allah l menghendaki Musa q selamat dari kedzaliman Fir’aun dan bala tentaranya. Bahkan Musa q akhirnya hidup di tengah-tengah keluarga Fir’aun. Makan dan minum serta berpakaian juga mengendarai kendaraan sebagaimana yang digunakan oleh keluarga Fir’aun. Begitulah kekuasaan Allah l, sehingga orang yang akan dijadikan sebagai sebab
runtuhnya kekuasaan Fir’aun, justru hidup dan besar di lingkungan keluarganya. Saudara-saudaraku kaum muslimin rahimakumullah, Sesungguhnya pertolongan Allah l kepada wali-wali-Nya dari kalangan orang-orang yang beriman adalah pertolongan yang akan datang pada setiap masa dan setiap tempat di manapun mereka berada. Dengan pertolongan tersebut, Allah l tampakkan kebenaran dan Allah l hinakan kebatilan. Disebutkan dalam kisah tersebut, bahwa kemudian Allah l menjadikan Musa q sebagai rasul-Nya. Namun ketika Allah l
mengutus Musa q untuk mendakwahi Fir’aun dan pengikutnya serta memerintahkan mereka untuk beriman kepada Allah l dan Rasul-Nya, Fir’aun pun menolaknya bahkan dengan sombongnya mengatakan:
“Akulah tuhan kalian yang maha tinggi.” Allah l menyebutkan dialog antara Musa q dengan Fir’aun dalam firman-Nya:
Fir’aun bertanya: “Siapa Rabb semesta alam itu?” Musa menjawab: “Rabb Pencipta langit dan bumi dan apa-apa yang di antara keduanya (itulah Rabbmu), jika kamu sekalian (orang-orang yang) memercayai- Nya.” Berkata Fir’aun kepada orang-orang sekelilingnya (dengan nada mengejek): “Apakah kalian tidak mendengarkan?” Musa berkata (pula): “(Dia adalah) Rabb kalian dan Rabb nenek-nenek moyang kalian yang dahulu.” Fir’aun berkata: “Sesungguhnya Rasul kalian yang diutus kepada kalian benar-benar orang gila.” Musa berkata: “Rabb yang menguasai timur dan barat serta apa yang ada di antara keduanya, (itulah Rabb kalian) jika kalian mempergunakan akal.” Fir’aun berkata: “Sungguh jika kamu menyembah Ilah selainku, benar-benar aku akan menjadikan kamu salah seorang yang dipenjarakan.” (Asy-Syu’ara: 23-29) Hadi r in yang mudah-mudahan dirahmati Allah l, Di dalam ayat tersebut, Allah l tampakkan kebenaran yang dibawa oleh utusan-Nya dengan hujjah dan keterangan yang sangat jelas. Adapun Fir’aun, tidaklah keluar dari mulutnya kecuali kata-kata ejekan dan ancaman serta tuduhan yang tidak berlandaskan bukti. Sehingga ketika Fir’aun mengatakan kepada pengikutnya dengan menuduh Musa q sebagai orang yang gila, Allah l tampakkan bahwa Fir’aun dan para pengikutnyalah yang sesungguhnya adalah orang-orang yang tidak berakal.

Karena mereka mengingkari sesuatu yang sangat jelas kebenarannya yang mereka tidak bisa membantahnya. Demikianlah pertolongan Allah l kepada orang-orang yang bertakwa. Allah l karuniakan kepada mereka ilmu sehingga bisa mengungkap kebatilan serta  mematahkan tuduhan yang dilontarkan tanpa bukti sehingga tampaklah siapa yang di atas kebenaran dan siapa yang mengikuti hawa nafsu. Ma’asyiral muslimin rahimakumullah, Disebutkan pula dalam kisah tersebut, bahwa ketika Fir’aun tetap di atas kekafiran
dan kesesatannya, Allah l perintahkan Musa q untuk meninggalkan negeri tersebut. Namun ketika Fir’aun mengetahui hal itu, dia memerintahkan pasukannya untuk mengejar Musa q dan pengikutnya. Hal ini sebagaimana firman-Nya:
“Maka Fir’aun dan bala tentaranya dapat menyusuli mereka di waktu matahari terbit. Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikutpengikut Musa: “Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul.” Musa menjawab: “Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Rabbku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” Lalu Kami wahyukan kepada Musa: “Pukullah lautan itu dengan tongkatmu.” Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar. Dan di sanalah Kami dekatkan
golongan yang lain (yaitu Fir’aun dan kaumnya). Dan Kami selamatkan Musa dan seluruh orang-orang yang besertanya. Dan Kami tenggelamkan golongan yang lain itu (Fir’aun dan bala tentaranya). Sesungguhnya pada yang demikian itu r-benar merupakan suatu tanda yang besar namun kebanyakan mereka tidaklah beriman.” (Asy-Syu’ara`: 60-67)
Hadirin rahimakumullah, Di dalam sebagian kisah Nabi Musa q dan Fir’aun tersebut, kita bisa mendapatkan beberapa pelajaran. Diantaranya adalah:
1. Bahwa orang-orang yang beriman akan diuji dengan musuh-musuhnya dari kalangan orang-orang munafik dan orang-orang kafir. Hal itu untuk menampakkan siapa yang benar-benar kokoh imannya serta siapa yang lemah imannya atau bahkan menyembunyikan kekafiran di dalam hatinya.
2. Bahwa kebatilan meskipun didukung kekuatan sebesar apapun, tidak akan bisa mengalahkan kebenaran. Allah l pasti akan menampakkan kebenaran dan akan menghancurkan kebatilan. Maka orang-orang yang mengetahui dirinya di atas kebenaran harus yakin bahwa Allah l akan menjaga serta memenangkannya. Barangsiapa sabar dan kokoh di atas agama Allah l, niscaya akan mendapat pertolongan dan kemenangan dari Allah l.
3. Bahwa kemenangan akan datang bersama kesabaran dan bahwa bersama kesulitan akan datang jalan keluar. Ma’asyiral muslimin rahimakumullah, Akhirnya, mudah-mudahan Allah l senantiasa memberikan kepada kita taufiq dan hidayah-Nya untuk senantiasa mempelajari firman-firman-Nya. Sehingga kita bisa memahami dan mengambil pelajaran dari ayat-ayat-Nya yang kita baca.

KHUTBAH KEDUA

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah, Marilah kita senantiasa bertakwa kepada Allah l dan senantiasa mengambil pelajaran dari kemenangan-kemenangan yang diraih oleh wali-wali Allah l. Di antaranya adalah kemenangan yang Allah l karuniakan kepada Nabi-Nya yaitu Musa q. H a d i r i n j a m a a h J u m ’ a t rahimakumullah, Perlu diketahui, bahwa kisah diselamatkannya Musa q bersama pengikutnya serta ditenggelamkannya Fir’aun dan bala tentaranya, terjadi pada hari yang kesepuluh dari bulan Muharram. Itulah hari
yang kemudian dikenal dengan nama hari ‘Asyura. Hari tersebut merupakan hari yang diberi keutamaan dan dimuliakan sejak dahulu kala. Sehingga Nabi Musa q berpuasa pada hari tersebut sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah l. Hal ini sebagaimana hadits yang disebutkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim, bahwa sahabat ‘Abdullah ibn Abbas c berkata:
قَدِمَ الْمَدِيْنَةَ فَوَجَدَ اليَهُوْدَ صِيَمًا n أَنََّ رَسُوْلَ اللهِ
مَا هَذَا :n يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ فَقَالَ لَهُمْ رَسُوْلُ الله
الْيَوْمُ الَّذِي تَصُوْمُوْنَهُ؟َ فَقَالُوْا: هَذَا يَوْمٌ عَظِيْمٌ،
أَنْجَى اللهُ فِيْهِ مُوْسَى وَقَوْمَهُ وغَرَّقَ فِرْعَوْنَ وَقَوْمَهُ
فَصَامَهُ مُوْسَى شُكْرًا فَنَحْنُ نَصُوْمُهُ. فَقَالَ رَسُوْلُ
فَنَحْنُ أَحَقُّ وَأَوْلَى بِمُوْسَى مِنْكُمْ. فَصَامَهُ :n الله
وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ. n رَسُوْلُ الله
Bahwasanya ketika masuk kota Madinah, Rasulullah n mendapatkan orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura. Maka Rasulullah n berkata kepada mereka:
“Ada apa dengan hari ini sehingga kalian berpuasa padanya?” Mereka mengatakan: “Ini adalah hari yang agung, hari yang Allah selamatkan Musa dan kaumnya padanya serta Allah tenggelamkan Fir’aun dan pasukannya. Maka berpuasalah Musa sebagai bentuk rasa syukur dan kamipun ikut berpuasa padanya.” Maka Rasulullah n berkata: “Kalau demikian, kami lebih berhak dan lebih pantas untuk bersama Musa daripada kalian.” Maka berpuasalah Rasulullah n pada hari tersebut serta memerintahkan para sahabatnya untuk melakukan puasa pada hari itu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dari hadits tersebut, kita dapatkan pelajaran bahwa para nabi adalah orang-orang yang menjadikan kemenangan sebagai sesuatu yang patut disyukuri, yaitu dengan menampakkan bahwa kemenangan datangnya adalah dari Allah l. Dan manusia adalah makhluk yang lemah serta membutuhkan pertolongan Allah l sehingga mendorong dirinya untuk beribadah dengan ikhlas kepada-Nya. Maka Nabi Musa q berpuasa pada hari tersebut. Begitu pula nabi kita Muhammad n. Sehingga tidak semestinya hari kemenangan itu justru dijadikan sebagai hari yang dirayakan untuk menampakkan kebanggaan atas kemampuan dan kekuatan bangsanya. Sehingga dirayakan dengan pesta-pesta dan foya-foya. Atau dengan mengadakan acara-acara hiburan serta petunjukan-pertunjukan yang sarat kemaksiatan. Namun semestinya hari tersebut mengingatkan akan kenikmatan Allah l sehingga mendorong untuk menjalankan dan menegakkan syariat-Nya.

H a d i r i n j a m a a h J u m ’ a t rahimakumullah,
Disebutkan dalam Shahih Muslim, bahwa Nabi n ditanya tentang puasa ‘Asyura, beliau n menjawab:

يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَضِيَةَ
“Puasa tersebut menghapus dosa satu tahun yang telah lalu.” (HR. Muslim) Namun untuk menghindari keserupaan dengan ibadah orang-orang Yahudi dan Nashara, Nabi kita n memerintahkan pada umatnya untuk berpuasa pula pada
Shahih-nya dari sahabat Ibnu ‘Abbas c bahwasanya beliau berkata:
يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ وَأَمَرَ n حِ صَامَ رَسُوْلُ الله
بِصِيَامِهِ، قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ
فَإِذَا كَانَ :n الْيَهُوْدُ والنَّصَارَى. فَقَالَ رَسُوْلُ الله
الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللهُ صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ. قَالَ:
n فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفّيَِ رَسُوْلُ الله
Ketika Rasulullah n berpuasa pada hari ‘Asyura dan memerintahkan para sahabatnya untuk berpuasa pada hari tersebut, mereka (para sahabat) berkata: “Wahai Rasulullah, hari ini (‘Asyura) adalah hari yang diagungkan orang-orang Yahudi dan Nashara.” Maka Nabi n berkata: “Jika aku menjumpai tahun yang akan datang, insya Allah aku akan berpuasa pula pada hari yang kesembilannya.” Abdullah ibnu ‘Abbas c berkata: “Namun sebelum datang tahun berikutnya, Rasulullah sudah wafat.” (HR. Muslim)
Hadirin rahimakumullah, Dari hadits-hadits tersebut, dapat kita pahami bahwa kaum muslimin disunnahkan untuk berpuasa pada hari yang  kesembilan dan kesepuluh pada bulan Muharram, hari yang dikenal dengan Tasu’a dan ‘Asyura. Bahkan sebagian ulama  menyebutkan disyariatkannya pula untuk berpuasa pada hari setelahnya yaitu hari yang kesebelas, dalam rangka menyelisihi orang-orang Yahudi dan Nashara. Wallahu a’lam bishshawab.

Mudah-mudahan Allah l memberikan taufiq-Nya kepada kita semua untuk melakukan puasa pada hari tersebut, dan mudah-mudahan kita mendapatkan keutamaan yang telah Allah l janjikan.

 

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ
مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِ .ْنيَ اللَّهُمَّ أَعِزَّ
اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِ .ْنيَ
وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّينِ, وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِينَ.
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمينَ في كُلِّ مَكانٍ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِ والْمُسْلِماتِ, وَالْمُؤْمِنِ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّهُ سَمِيْعٌ
مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي
اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ .عِبَادَ اللهِ … إِنَّ اللهَ
يَأمُرُ بِالْعَدْلِ والْإِحْسَانِ وإيْتَاءِ ذِي القُرْبى ويَنْهى
عَن الْفَحْشَاءِ والْمُنْكَرِ والْبَغِي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ
تَذَكَّرُوْنَ، فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ الْجَلِيْلَ يَذْكُرْكُمْ
واشْكُرُوْه عَلىَ النِّعَمِ يَزِدْكُمْ، ولَذِكْرُ اللهِ أكْبَرُ
واللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.

HUKUM BERDIRI UNTUK MENYAMBUT

Pertanyaan: Seseorang masuk dalam keadaan saya di suatu majelis. Para hadirin kemudian berdiri, namun saya tidak berdiri. Haruskah saya berdiri? Apakah orang yang berdiri berdosa?

Jawab:
Anda tidak harus berdiri menyambut orang yang datang. Namun hal ini termasuk akhlak yang mulia. Barangsiapa yang berdiri untuk menjabat tangannya dan menuntunnya –terlebih lagi tuan rumah dan para pemuka– maka ini merupakan akhlak yang mulia. Sungguh Nabi n telah berdiri menyambut Fathimah x (putri beliau n, red), demikian juga Fathimah x berdiri menyambut kedatangan beliau. Para sahabat berdiri atas perintah Nabi n untuk menyambut Sa’d bin Mu’adz z ketika dia datang untuk menghukumi Bani Quraizhah. Thalhah bin Ubaidillah z berdiri di hadapan Nabi n ketika Ka’b bin Malik z datang pada peristiwa diterimanya taubat beliau oleh Allah l.

Thalhah menjabat tangannya, mengucapkan selamat kepadanya kemudian duduk. Ini merupakan akhlak yang mulia, dan perkaranya lapang. Yang dingkari adalah berdiri untuk mengagungkan. Adapun berdiri untuk menyambut tamu yang datang dalam rangka memuliakannya, menjabat tangannya, atau memberi salam hormat, ini merupakan perkara yang disyariatkan. Adapun dia berdiri untuk mengagungkan sedangkan yang lain duduk, atau dia berdiri ketika ada yang masuk tanpa menyambut atau menjabat tangannya, ini tidak pantas. Yang lebih keras (pelarangannya) adalah berdiri untuk mengagungkannya dalam keadaan (yang diagungkan itu) duduk, bukan untuk menjaga tapi semata untuk mengagungkan.

Berdiri ada tiga macam: Pertama: berdiri terhadap seseorang dalam keadaan orang itu duduk, seperti orang-orang ajam (non Arab) mengagungkan raja dan pembesar mereka. Hal ini tidak diperbolehkan, sebagaimana diterangkan Nabi n. Oleh karena itu, Nabi n memerintahkan para sahabat untuk duduk ketika beliau n mengimami shalat sambil duduk. Nabi n memerintahkan mereka untuk duduk
dan shalat bersama beliau sambil duduk.
Ketika mereka berdiri, Nabi n mengatakan: “Hampir-hampir kalian mengagungkan aku sebagaimana orang-orang ajam mengagungkan pembesar mereka.”
Kedua: berdiri untuk kedatangan atau kepergian seseorang, tanpa menyambut atau menjabat tangannya, namun semata-mata untuk mengagungkannya. Hal ini minimalnya makruh. Dahulu para sahabat g tidak berdiri untuk Nabi n ketika beliau masuk kepada mereka, ketika mereka mengetahui ketidaksukaan beliau n terhadap hal itu. Ketiga: berdiri untuk orang yang datang untuk menjabat tangannya atau menuntunnya untuk menempatkannya pada tempat tertentu, atau mendudukkannya pada tempatnya, atau yang serupa dengan itu.
Hal ini tidak mengapa, bahkan termasuk Sunnah (Rasulullah n, red) sebagaimana telah lalu. (Dimuat dalam majalah Al-Arabiyyah dalam kolom Is`alu Ahla Adz-Dzikr, dari Fatawa wa Maqalat Ibn Baz, jilid 6)

HUKUM BERTEPUK TANGAN

(oleh: Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz Rahimahullahu)

Pertanyaan: Apa hukum bertepuk tangan bagi laki-laki pada momen tertentu dan pertemuan-pertemuan?

Jawab:
Bertepuk tangan dalam pertemuanpertemuan merupakan perbuatan jahiliah. Pendapat yang paling ringan menyatakan hukumnya makruh. Dan yang lebih nyata dari dalil-dalil yang ada adalah bahwa hal itu haram, karena kaum muslimin dilarang menyerupai orang-orang kafir. Sungguh Allah l berfirman menyebutkan sifat orang kafir penduduk Makkah:
“Shalat mereka di sekitar Baitullah itu, tidak lain hanyalah siulan dan tepukan tangan.” (Al-Anfal: 35)
Para ulama berkata: الْمُكَاءُ adalah siulan sedangkan التَّصْدِيَةُ adalah tepuk tangan. Dan yang sunnah bagi seorang mukmin ketika melihat atau mendengar sesuatu yang mengagumkan atau yang dia ingkari adalah mengucapkan Subhanallah (Maha Suci Allah) atau Allahu Akbar (Allah Maha Besar), sebagaimana hal ini shahih dari Nabi n dalam banyak hadits. Dan disyariatkan tepuk tangan khusus bagi wanita ketika mereka mengingatkan sesuatu dalam shalat, atau ketika mereka shalat bersama laki-laki dan imamnya lupa. Ketika itu disyariatkan bagi wanita untuk mengingatkan dengan tepukan tangan. Adapun laki-laki mengingatkan imam dengan tasbih (ucapan Subhanallah) sebagaimana hal ini shahih dari Sunnah Nabi n. Dari sini diketahui bahwa tepuk tangan bagi lelaki adalah perbuatan menyerupai orang kafir dan wanita. Keduanya merupakan hal yang dilarang bagi kaum lelaki. Allah sajalah yang memberi taufiq. (Disebarkan dalam Fatawa beliau pada kolom Is`alu Ahla Adz-Dzikr yang beliau keluarkan dalam majalah bulanan Al-Arabiyyah, diambil dari Fatawa wa Maqalat Ibn Baz, jilid 6)

Kekayaan dan Kemiskinan Hakiki

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Abdul Jabbar)

Harta benda merupakan bagian dari rizki yang telah ditetapkan oleh Allah k atas setiap hamba. Sebagian dilebihkan atas sebagian yang lain. Sehingga muncullah sebutan kaya dan miskin. Akan tetapi, siapakah sebenarnya orang yang disebut kaya atau miskin? Rasulullah n bersabda:
لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى
النَّفْسِ
“Bukanlah kekayaan itu dari banyaknya harta, akan tetapi kekayaan itu adalah rasa cukup yang ada di dalam hati.” (HR.Al-Bukhari no. 6446 dan Muslim no.1051 dari Abu Hurairah z)
Al-Hafizh Ibnu Hajar t berkata dalam penjelasannya terhadap hadits ini: “Alhasil, orang yang disifati dengan ghina an-nafs (kekayaan jiwa) adalah orang yang qana’ah terhadap apa yang Allah k rizkikan kepadanya. Dia tidak tamak untuk menumpuk-numpuk harta tanpa ada kebutuhan. Tidak pula dia meminta-minta kepada manusia dengan mendesak. Dia merasa ridha dengan apa yang diberikan Allah k kepadanya, seakan-akan ia terus-menerus merasa cukup. Sedangkan orang yang disifati dengan faqru an-nafs (kefakiran jiwa) adalah kebalikannya. Karena dia tidak qana’ah terhadap apa yang diberikan kepadanya. Dia selalu rakus untuk menimbun kekayaan, dari arah mana saja. Kemudian, bila dia tidak mendapatkan apa yang ia cari, ia akan merasa sedih dan menyesal. Seakan-akan dia adalah orang yang tidak memiliki harta Karena dia tidak merasa cukup dengan apa yang diberikan kepadanya, sehingga seakan-akan dia bukan orang yang kaya.” (Fathul Bari, 2/277)

Demikian pula, Rasulullah n telah menyebutkan orang yang pada hakikatnya miskin, seperti dalam sabda beliau n:
لَيْسَ الْمِسْكِ الَّذِي يَطُوفُ عَلَى النَّاسِ تَرُدُّهُ
اللُّقْمَةُ وَاللُّقْمَتَانِ وَالتَّمْرَةُ وَالتَّمْرَتَانِ، وَلَكِنَّ
الْمِسْكِينَ الَّذِي لَا يَجِدُ غِنًى يُغْنِيهِ وَلاَ يُفْطَنُ لَهُ
فَيُتَصَدَّقُ عَلَيْهِ وَلَا يَقُومُ فَيَسْأَلُ النَّاسَ
“Bukanlah orang yang miskin itu orang yang meminta-minta kepada manusia untuk diberi satu atau dua suap makanan, dan satu atau dua butir kurma. Akan tetapi orang yang miskin itu adalah orang yang tidak memiliki (rasa cukup dalam hatinya yang membuat dirinya tidak meminta-minta kepada orang lain) dan orang yang tidak menyembunyikan keadaannya, sehingga orang bersedekah kepadanya tanpa dia
meminta-minta.” (HR. Al-Bukhari no.1479 dan Muslim no. 1472 dari Abu Hurairah z)
Al-Hafizh Ibnu Hajar t berkata: “Kecukupan dalam hati akan tumbuh dengan keridhaan terhadap qadha Allah l dan berserah diri terhadap ketetapan-Nya, meyakini bahwa apa yang ada di sisi Allah l adalah lebih baik dan kekal, sehingga membawa dirinya berpaling dari tamak
dan rakus serta meminta-minta kepada manusia.” (Fathul Bari, 2/277)
Wallahu a’lam bish-shawab.

Perjanjian Hudaibiyah (bagian 3)

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Harits)

Abu Bashir dan Kelompoknya Tiba-tiba datanglah Abu Bashir, salah seorang Quraisy di mana dia telah masuk Islam. Namun pihak Quraisy mengirim dua orang untuk menangkapnya. Kata mereka: “Ini termasuk kesepakatan yang engkau buat dengan kami, serahkan dia kepada dua orang ini.”
Keduanya pun akhirnya pergi dengan membawa Abu Bashir. Ketika tiba di Dzul Hulaifah, dua orang yang menangkapnya turun untuk makan kurma mereka. Abu Bashir berkata kepada salah seorang dari mereka: “Demi Allah, sungguh aku lihat pedangmu ini sangat bagus, hai Fulan.”
Diapun menghunusnya, lalu berkata:
“Ya, demi Allah, benar-benar pedang ini sangat bagus. Sungguh, aku sudah pernah mencobanya berkali-kali.” Kata Abu Bashir: “Tunjukkanlah agar aku dapat melihatnya.” Orang itu menyerahkan pedangnya. Abu Bashir pun memantapkan pegangannya lalu secepat kilat menebaskan pedang itu kepadanya hingga dia mati. Sementara yang satunya lantas lari hingga tiba di Madinah dan masuk masjid. Kata Rasulullah n: “Sungguh laki-laki ini melihat sesuatu yang menakutkan.” Ketika sampai di hadapan Nabi n, dia berkata: “Temanku dibunuh dan aku pun pasti mati.” Tak lama, datanglah Abu Bashir dan berkata: “Wahai Nabi Allah, sungguh Allah l telah menyempurnakan jaminan anda dan anda telah mengembalikan saya kepada mereka. Kemudian Allah l selamatkan saya dari mereka.”

Nabi n berkata: “Kecewa ibunya (di sini maknanya bukan celaan, ed.), dia menyalakan api peperangan. Seandainya ada yang menangkapnya.” Mendengar ini, dia pun tahu bahwa beliau akan mengembalikannya kepada musyrikin. Lalu pergilah dia hingga tiba di tepi pantai. Tak lama, bergabunglah Abu Jandal in Suhail menyusul Abu Bashir. Setelah itu, tidak ada satu pun dari Quraisy yang telah masuk Islam melainkan bergabung dengan Abu Bashir hingga terkumpullah beberapa orang. Demi Allah, tidaklah mereka dengar ada satu kafilah dagang Quraisy yang menuju Syam, melainkan mereka hadang, mereka bunuh, dan mereka rampas hartanya. Akhirnya Quraisy pun mengirim utusan kepada Nabi n menuntut beliau demi Allah dan dengan kasih sayang, agar menyatakan bahwa siapa yang datang menemuinya maka dia aman. N a b i n m e n g u t u s o r a n g menemui mereka. Kemudian Allah l menurunkan:
وَهُوَ الَّذِي كَفَّ أَيْدِيَهُمْ عَنْكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ عَنْهُمْ
بِبَطْنِ مَكَّةَ مِنْ بَعْدِ أَنْ أَظْفَرَكُمْ عَلَيْهِمْ
(Dan Dialah yang menahan tangan mereka dari (membinasakan) kamu dan (menahan) tangan kamu dari (membinasakan) mereka di tengah kota Makkah sesudah Allah memenangkan kamu atas mereka) sampai pada:
الْحَمِيَّةَ حَمِيَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ

(kesombongan (yaitu) kesombongan jahiliah), dan kesombongan jahiliah itu ialah bahwa mereka tidak mau mengakui beliau sebagai Nabi Allah, tidak menerima penulisan Bismillahirrahmanirrahim, serta menghalangi beliau dari Ka’bah. Kisah Salamah bin Al-Akwa’ z “Kami tiba di Hudaibiyah bersama Rasulullah n. Jumlah kami ketika itu sekitar 1.400 dengan lima puluh ekor kambing kurban yang tidak  digembalakan (diberi minum). Rasulullah n duduk di tepi sebuah perigi. Bisa jadi beliau berdoa ataukah meludah padanya, hingga airnya meluap. Kamipun memberi minum dan minum dari air itu. Kemudian Rasulullah n memanggil kami untuk berbai’at di bawah sebuah pohon. Aku berbai’at kepada beliau pada barisan pertama orang yang berbai’at, kemudian beliau membai’at dan membai’at lagi hingga barisan tengah manusia, beliau berkata: “Hai Salamah, berbai’atlah.” Aku katakan: “Saya sudah berbai’at pada barisan pertama, ya Rasulullah.” Kata beliau: “(Ini) juga.” Beliau melihatku telanjang yakni tidak bersenjata, lalu memberiku sebuah perisai. Kemudian membai’at sampai pada barisan terakhir rombongan itu, beliau berkata: “Berbai’atlah kepadaku, wahai Salamah.” Aku katakan: “Saya sudah berbai’at kepada anda, ya Rasulullah, di bagian pertama dan pertengahan rombongan.” Kata beliau: “(Ini) juga.” Lalu aku berbai’at kepada beliau untuk ketiga kalinya. Kemudian beliau berkata kepadaku: “Hai Salamah, mana perisai yang aku berikan kepadamu?” Aku katakan: “Ya Rasulullah, saya bertemu pamanku ‘Amir yang tidak punya perisai, lantas saya berikan kepadanya.” Rasulullah n tertawa mendengarnya dan berkata: “Sungguh, kamu seperti kata orang dahulu: ‘Ya Allah, berikan untukku seorang kekasih yang dia lebih aku cintai daripada diriku sendiri’.” Selanjutnya, kaum musyrikin mengirim utusan kepada kami untuk berdamai hingga berjalanlah sebagian kami pada sebagian lainnya dan kami pun berdamai. Aku sendiri dahulu mengiringi Thalhah bin ‘Ubaidullah, memberi minum dan merawat kudanya serta melayaninya. Aku makan makanannya, aku sudah meninggalkan keluarga dan hartaku karena berhijrah kepada Allah l dan Rasul-Nya n. Setelah berdamai, kami dan penduduk Makkah berbaur satu sama lain. Aku mendekati sebuah pohon dan memangkas duri-durinya, lalu berbaring di bawahnya. Kemudian datanglah empat orang musyrikin dari penduduk Makkah, hendak menyerang Rasulullah n. Aku membenci mereka dan berpindah ke pohon lain. Mereka menggantungkan senjata mereka dan berbaring. Ketika mereka dalam keadaan demikian, tiba-tiba ada yang berseru dari arah bawah lembah: “Hai para muhajirin. Ibnu Zanim terbunuh.” Aku segera menghunus pedangku untuk menekan keempat orang itu dalam keadaan mereka sedang tidur. Akupun mengambil senjata dan menjadikannya terkumpul di tanganku. Aku berkata: “Demi Yang memuliakan wajah Muhammad, tidak ada satupun dari kalian yang mengangkat kepalanya melainkan aku tebas kepalanya.”
Aku pun membawa mereka kepada Rasulullah n. Dan datanglah pamanku membawa seorang laki-laki Bani ‘Ablah bernama Mikraz, digiringnya kepada Rasulullah n di atas kuda yang diberi pelana bersama 70 musyrikin. Rasulullah n memandangi mereka dan berkata:
“Biarkan mereka, tentu mereka memulai kekejian dan mengulanginya.” Rasulullah n memaafkan mereka, lalu Allah l menurunkan:
وَهُوَ الَّذِي كَفَّ أَيْدِيَهُمْ عَنْكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ عَنْهُمْ
بِبَطْنِ مَكَّةَ مِنْ بَعْدِ أَنْ أَظْفَرَكُمْ عَلَيْهِمْ
(Dan Dialah yang menahan tangan mereka dari (membinasakan) kamu dan (menahan) tangan kamu dari (membinasakan) mereka di tengah kota Makkah sesudah Allah memenangkan kamu atas mereka) seluruh ayat ini.

Kemudian kami bertolak menuju Madinah dan singgah di satu tempat. Antara kami dan Bani Lihyan dipisahkan oleh sebuah gunung, di mana mereka ketika itu masih musyrik. Kemudian Rasulullah n memintakan ampun bagi siapa pun yang mendaki gunung tersebut malam itu sebagai pengintai untuk Nabi n dan para sahabatnya. Kata Salamah: “Malam itu, aku pun mendakinya dua atau tiga kali.” Kami akhirnya tiba di Madinah. Rasulullah n mengirim kendaraannya bersama Rabah bujang Rasulullah n, dan aku menyertainya. Aku berangkat bersamanya dengan kuda Thalhah menggiringnya untuk memberinya minuman dengan tunggangan itu. K e e s o k a n h a r i n y a , t e r n y a t a Abdurrahman Al-Fazari menyergap kendaraan Rasulullah n itu lalu menggiring dan membunuh penggembalanya. Akupun
berkata: “Hai Rabah, ambil kuda ini, sampaikan kepada Thalhah dan laporkan kepada Rasulullah n bahwa musyrikin telah menyergap kendaraannya yang digembalakan.” Kemudian aku berdiri di atas bukit kecil menghadap ke arah Madinah lalu berseru tiga kali: “Toloong.” Aku pun mengejar rombongan musyrikin itu lalu menghujani mereka dengan panah sambil mendendangkan rajaz (syair):
Akulah Ibnul Akwa’ hari ini adalah hari binasanya orang yang hina Ada salah seorang dari mereka menyusul. Aku pun menyerang kendaraannya dengan panah sampai menembus pundak kendaraannya. Aku katakan: “Ambillah itu.” Akulah Ibnul Akwa’ hari ini adalah hari binasanya orang yang hina Demi Allah, aku terus memanah dan menyerang mereka. Jika ada kuda yang datang, aku duduk di bawah pohon kemudian memanah dan memukulnya. Hingga setelah gunung itu menyempit, mereka masuk ke bagian yang sempit, akupun mendakinya dan melempari mereka dengan batu. Aku tetap mengikuti mereka demikian hingga tidaklah Allah l ciptakan unta yang jadi kendaraan Rasulullah n melainkan aku tinggalkan di belakangku. Dan mereka pun membiarkan aku dengannya. Kemudian aku ikuti mereka dan melempari mereka sampai mereka melemparkan 30 helai burdah dan 30 batang tombak untuk meringankan. Dan tidaklah mereka membuang sesuatu melainkan aku jadikan tanda penunjuk jalan dari batu agar diketahui oleh Rasulullah n dan para sahabatnya. Hingga ketika mereka tiba di bagian sempit lembah itu, ternyata mereka sudah didatangi oleh Fulan bin Badr Al-Fazari. Merekapun duduk dan makan siang. Akupun duduk di atas bukit kecil, kata si Al-Fazari: “Apa yang kulihat ini?” Kata mereka: “Kami mendapat kesulitan.
Demi Allah, kami tidak dapat lolos sejak gelap tadi, dia melempari kami sampai habis semua yang ada di tangan kami.”
Katanya: “Bangkitlah empat orang dari kalian menghadapinya.” Lalu naiklah empat orang ke atas bukit. Ketika mereka mencapai jarak tepat bicara denganku, akupun berkata: “Kalian kenal aku?” Kata mereka: “Tidak, siapa kamu?” “Aku adalah Salamah bin Al-Akwa’,” jawabku.
“Demi Yang memuliakan wajah Muhammad n, tidaklah aku kejar salah seorang dari kalian melainkan pasti aku dapat menangkapnya, dan tidak satupun dari kalian bisa menangkapku.” Salah seorang berkata: “Aku kira (demikian).” Lalu mereka kembali dan aku tetap di tempat itu hingga melihat kuda-kuda Rasulullah n di sela-sela pohon. Yang pertama adalah Al-Akhram Al-Asadi disusul oleh Abu Qatadah Al-Anshari dan berikutnya Al-Miqdad bin Al-Aswad Al- Kindi. Aku pun kemudian memegang tali kendali Al-Akhram, sementara mereka telah melarikan diri. Aku katakan: “Hai Akhram, hati-hati dari mereka, jangan sampai mereka membunuh salah seorang kalian hingga Rasulullah n dan para sahabatnya menyusul.” Katanya: “Hai Salamah, kalau engkau beriman kepada Allah l dan hari kemudian dan tahu bahwa surga dan neraka itu haq, maka jangan halangi aku mati syahid.”

Aku pun membiarkannya dan bertemulah dia dengan ‘Abdurrahman itu. Dia pun membunuh kuda ‘Abdurrahman, sedangkan ‘Abdurrahman balas menikam Al-Akhram lalu membunuhnya. Kemudian Abdurrahman pindah ke atas kuda Al-Akhram. Abu Qatadah, prajurit berkuda Rasulullah n berhasil mengejar ‘Abdurrahman kemudian menikamnya lantas membunuhnya. Demi Yang memuliakan wajah Muhammad n, sungguh, aku mengejar mereka dengan berlari sampai aku tidak melihat lagi di belakangku para sahabat Muhammad n bahkan debu jejak mereka. (Aku kejar mereka) hingga mereka membelok ke jalanan gunung yang di situ ada mata air bernama Dzu Qarad sebelum matahari terbenam untuk minum karena kehausan. Mereka melihat ke arahku yang berlari di belakang mereka. Aku lantas menghalau mereka dari mata air itu. Akhirnya mereka tidak minum setetespun dari mata air itu. Mereka pun keluar dan mengalami kesulitan di jalan sempit di bukit itu. Aku pun tetap mengejar dan berhasil menyusul salah seorang dari mereka. Kemudian aku menikamnya dengan panah, tepat mengenai ujung pundaknya, aku katakan:
“Rasakanlah: Akulah Ibnul Akwa’ hari ini adalah hari binasanya orang yang hina Orang itu berkata: “Malangnya ibunya. Engkaukah Al-Akwa’ yang tadi pagi sampai siang ini?” Aku katakan: “Ya, wahai musuh dirinya sendiri. Akulah Al-Akwa’ yang sejak tadi pagi.”
Mereka pun melepaskan dua kuda di atas lembah itu. Aku pun membawa keduanya lalu menggiringnya kepada Rasulullah n. Aku disusul oleh ‘Amir yang membawa bejana berisi susu bercampur air dan satu lagi berisi air bersih. Aku pun berwudhu dan minum lalu menemui Rasulullah n yang berada di atas mata air yang aku usir mereka dari sana. Ternyata beliau sudah mengambil unta yang aku selamatkan dari musyrikin serta semua tombak dan burdah. Juga Bilal yang menyembelih unta yang aku bebaskan dari musuh tadi, ternyata dia memanggang hati dan punuknya untuk Rasulullah n. Aku berkata: “Wahai Rasulullah, biarkan saya memilih seratus dari mereka, lalu menyusul musuh itu, sehingga tidak satupun dari mereka yang menyampaikan berita melainkan saya bunuh dia.” Mendengar ini, Rasulullah n tertawa hingga terlihat gerahamnya di balik cahaya api itu, kata beliau: “Hai Salamah, apa kau yakin dapat melakukannya?” Aku katakan: “Ya. Demi Yang memuliakan anda.” Kata beliau: “Sesungguhnya sekarang mereka dijamu di Ghathafan.” Kemudian datanglah seseorang dari Ghathafan, katanya: “Si Fulan menyembelih ternak besar untuk mereka. Tapi ketika mereka mengulitinya, mereka melihat debu membumbung, kata mereka: “Musuh datang.” Akhirnya mereka melarikan diri. Keesokan harinya, Rasulullah n berkata: “Sebaik-baik pekuda kita hari ini adalah Abu Qatadah dan sebaik-baik pasukan jalan kaki kita hari ini adalah Salamah.” Rasulullah n memberi aku dua saham; saham prajurit berkuda dan pejalan kaki, beliau menggabungkannya untukku. Setelah itu, beliau memboncengku di atas Al-‘Adhba` (nama unta beliau) pulang ke Madinah. Ketika kami dalam perjalanan, salah seorang sahabat Anshar yang belum pernah kalah berlari cepat mengatakan: “Adakah yang mau berlomba sampai Madinah?” Dia mengulangi tantangannya. Mendengar tantangannya, aku pun berkata: “Apa kamu tidak menghargai orang terhormat dan segan kepada orang mulia?” Katanya: “Tidak, kecuali Rasulullah n.” Aku berkata: “Ya Rasulullah, demi bapak dan ibuku tebusannya, izinkan saya membalap orang ini.” Kata
beliau: “Kalau kau mau (silakan).” Aku katakan: “Larilah.” Aku pun menekuk dua kakiku dan mulai berlari kencang. Aku menahan nafas melewati satu atau dua dataran tinggi. Kemudian aku melepaskannya agar tidak kelelahan. Kemudian aku mengejar di belakangnya dan menahan nafas ketika di satu atau dua dataran tinggi. Selanjutnya, aku naik hingga menyusulnya. Lalu aku menusuk pundaknya, sambil aku katakan: “Demi Allah, engkau kalah.” Katanya: “Ya, aku kira (demikian).” Aku pun mengalahkannya sampai ke Madinah. Wallahu a’lam.

Larangan Menahan Baju dan Rambut

(ditulis oleh: Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al-Atsari)

Setelah sebelumnya disinggung sejumlah hal yang berkaitan dengan pakaian dalam shalat, edisi kali ini akan mengupas beberapa larangan saat menunaikan ibadah shalat, di antaranya menahan baju dan rambut.

Larangan Menahan Baju dan Rambut (mengikatnya) Ibnu ‘Abbas c mengabarkan dari Rasulullah n sabda beliau:
أُمِرْنَا أَنْ نَسْجُدَ عَلَى سَبْعَةِ أَعْظَمٍ وَلاَ نَكُفَّ
ثَوْبًا وَلاَ شَعْرًا
“Kita diperintah untuk sujud di atas tujuh tulang dan kita tidak boleh menahan pakaian dan rambut (ketika sedang mengerjakan shalat).” (HR. Al-Bukhari no. 810, 815, 816 dan Muslim no. 1095)
Dalam lafadz yang lain disebutkan:
وَلاَ نَكْفِتَ الثِّيَابَ وَالشَّعْرَ
“Dan kami tidak boleh menggabungkan/ mengumpulkan pakaian dan rambut.” (HR. Al-Bukhari no. 812 dan Muslim no. 1098)
Makna لاَ نَكْفِتَ الثِّيَابَ وَالشَّعْرَ disebutkan dalam An-Nihayah adalah menggabungkan dan mengumpulkannya agar tidak tersebar.

Yang diinginkan di sini adalah mengumpulkan pakaian dengan kedua tangan ketika ruku’ dan sujud1.
Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani t mengatakan, “Secara dzahir larangan ini berlaku di waktu seseorang hendak shalat2.
Demikian pendapat yang dicondongi oleh Ad-Dawudi. Dalam bab yang nanti akan dijelaskan, Al-Imam Al-Bukhari t memberi judul hadits ini dengan, “Bab La Yakuffu Tsaubahu fis Shalah”, artinya “Tidak boleh seseorang menahan pakaiannya di dalam shalat.” Judul yang diberikan Al- Imam Al-Bukhari t ini memperkuat pendapat tersebut (larangan hanya khusus bila dikerjakan karena ingin shalat, pent.).
Namun ulama lain, ‘Iyadh t menolak pendapat tersebut dengan menyatakan bahwa pendapat seperti itu menyelisihi apa yang dipegangi oleh jumhur ulama, karena mereka membenci hal itu dilakukan oleh orang yang shalat, baik ia melakukannya dalam shalat atau sebelum masuk dalam pekerjaan shalatnya3.

Namun mereka sepakat, kalaupun seseorang melakukannya tidaklah merusak shalatnya. Akan tetapi, Ibnul Mundzir t menghikayatkan dari Al-Hasan t, bahwa siapa yang melakukannya wajib mengulangi shalatnya. Di antara hikmah pelarangan tersebut adalah bila seseorang mengangkat pakaian dan rambutnya karena tidak ingin bersentuhan dengan tanah, ia menyerupai orang yang sombong.” (Fathul Bari,
2/383)

Hikmah yang lain, kata ulama, adalah karena semestinya rambut ikut sujud ketika orang yang shalat itu sujud, sehingga harus dibiarkan terurai, jangan ditahan jatuhnya ke tanah. Karena itulah, Rasulullah n memisalkan orang yang menahan rambutnya seperti orang yang shalat dalam keadaan kedua tangannya terikat ke belakang pundaknya. (Al-Minhaj, 4/432)
Al-Imam An-Nawawi t berkata, “Dalam satu riwayat dari Ibnu ‘Abbas c disebutkan: ‘Ia pernah melihat Abdullah ibnul Harits shalat dalam keadaan rambutnya dijalin dari belakang kepalanya4, maka Ibnu ‘Abbas c bangkit dan mulai melepaskan jalinan tersebut. Ketika Abdullah selesai dari shalatnya, ia menghadap ke Ibnu ‘Abbas c seraya berkata, ‘Apa yang anda lakukan dengan rambutku?’ Ibnu ‘Abbas
c berkata, ‘Aku pernah mendengar Rasulullah n bersabda:
إِنَّمَا مَثَلُ هَذَا مَثَلُ الَّذِي يُصَلِّي وَهُوَ مَكْتُوْفٌ
“Hanyalah permisalan orang yang dipilin/diikat rambutnya itu seperti orang yang shalat dalam keadaan terikat kedua tangannya di belakang pundaknya5.”
Al-Imam An-Nawawi t juga mengatakan, “Ulama sepakat tentang dilarangnya seseorang shalat dalam keadaan pakaiannya disingsingkan/diangkat, lengan bajunya disingsingkan atau semisalnya, rambutnya dipilin, atau rambutnya dimasukkan di bawah sorban6, atau selainnya. Semua ini terlarang dengan kesepakatan ulama, dan hukumnya karahah tanzih (makruh, tidak sampai haram). Bila seseorang shalat dalam keadaan demikian, maka sungguh ia telah berbuat jelek dalam shalatnya, namun shalatnya tetap sah.
Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Ath- Thabari t berargumen tentang hal ini dengan kesepakatan ulama. Ibnul Mundzir t menghikayatkan dari Al-Hasan Al-Bashri t tentang keharusan mengulang shalat bila seseorang melakukan perbuatan yang dilarang tersebut. Kemudian jumhur berpendapat larangan tersebut berlaku mutlak bagi orang yang shalat, baik ia sengaja melakukannya karena hendak mengerjakan shalat7 ataupun keadaannya memang demikian sebelum ia mengerjakan shalat.” (Al-Minhaj, 4/430, 431, 432)
Ibnul Atsir t berkata dalam An- Nihayah, “Makna hadits ini8 adalah bila seseorang membiarkan rambutnya terurai, niscaya rambut itu akan jatuh ke bumi/tanah ketika ia sujud, maka ia akan diberi pahala sujud dengan rambutnya tersebut. Namun bila rambut itu dipilin, jadilah maknanya rambut itu dibiarkan tidak ikut sujud dan Nabi n menyerupakannya dengan orang yang sujud dalam keadaan terikat kedua lengannya karena kedua lengan tersebut tidak menyentuh tanah di saat sujud.”
Alasan dilarangnya perbuatan tersebut juga ditunjukkan dalam hadits Abu Rafi’ z, maula Rasulullah n. Abu Rafi’ pernah melewati Al-Hasan bin ‘Ali c yang sedang shalat dalam keadaan jalinan rambutnya ditekuk ke tengkuknya, maka Abu Rafi’ z melepaskannya (mengurainya). Al- Hasan z pun menoleh kepadanya dengan marah. Abu Rafi’ z berkata, “Menghadaplah ke shalatmu dan jangan marah karena aku pernah mendengar Rasulullah n bersabda:

ذَلِكَ كِفْلُ الشَّيْطَانِ
“Pilinan rambut itu adalah tempat duduknya setan.” (HR. Abu Dawud no. 646 dan At-Tirmidzi no. 384, dihasankan Al-Imam Al-Muhaddits Al-Albani t dalam Shahih Abi Dawud dan Shahih At-Tirmidzi) Al-Imam At-Tirmidzi t berkata, “Perkara ini diamalkan di sisi ahlul ilmi, yaitu mereka membenci seorang lelaki shalat dalam keadaan rambut kepalanya dipilin.” (Sunan At-Tirmidzi, bab Ma Ja`a fi Karahiyati Kaffisy Sya’ra fish Shalah)
Al-Imam Al-Baihaqi t mengatakan sebagaimana dinukil Al-Imam Al-Albani t dalam Ashlu Shifati Shalatin Nabi
n, “Kami meriwayatkan kemakruhan hal tersebut dari Umar, Ali, Hudzaifah, dan Abdullah bin Mas’ud g.” (2/746) Al-Imam Ibnu Hazm t berkata, “Tidak halal seorang yang shalat menggabungkan pakaiannya atau mengumpulkan rambutnya dengan tujuan karena hendak shalat9
berdasarkan hadits Rasulullah n.” (Al- Muhalla 2/318) Al-Imam Al-Muhaddits Al-Albani t berkata, “Tampaknya hukum ini khusus
bagi laki-laki, tidak berlaku bagi wanita10, sebagaimana dinukilkan oleh Asy-Syaukani t dari Al-’Iraqi t.” (Ashlu Shifati Shalatin Nabi n, 2/743)
Al-’Iraqi t berkata, “Hukum ini khusus bagi laki-laki, tidak bagi wanita. Karena rambut mereka (para wanita) adalah aurat, wajib ditutup di dalam shalat. Bila ia melepaskan ikatan rambutnya bisa jadi rambutnya tergerai dan sulit untuk menutupinya hingga membatalkan shalatnya. Dan juga, akan menyulitkannya bila harus melepaskan rambutnya tatkala hendak shalat. Nabi n sendiri telah memberikan
keringanan kepada kaum wanita untuk tidak melepaskan ikatan rambut mereka ketika mandi wajib, padahal (hal ini) sangat perlu
untuk membasahi seluruh rambut mereka di saat mandi tersebut.” (Nailul Authar 2/440)
Dalam hal ini kita jumpai dan saksikan, banyak kaum muslimin yang jatuh dalam perbuatan yang dilarang ini. Mereka biasa
menggulung (melinting) lengan bajunya saat hendak berwudhu dan ketika hendak shalat lengan baju tersebut tidak diturunkan kembali,
namun dibiarkan tetap tergulung. Semua itu mereka lakukan karena ketidaktahuan mereka tentang hukum agamanya. Wallahul
musta’an. Larangan isytimal ash-shamma` Isytimal ash-shamma` adalah cara berpakaian/menutup tubuh dengan menyelimuti/menyelubungi seluruh tubuh termasuk tangan dengan satu kain, tanpa ada satu sisi dari kain tersebut yang terangkat sehingga tidak ada celah/lubang untuk mengeluarkan tangan (berarti tangan terbungkus di bawah/di dalam pakaian). (Al-Minhaj 14/302, Fathul Bari 1/618)
Larangan isytimal ash-shamma` ini disebutkan dalam hadits Abu Sa’id Al- Khudri z berikut ini:
عَنِ اشْتِمَالِ الصَّمَّاءِ n نَهَى رَسُولُ اللهِ
“Rasulullah n melarang dari isytimal ash-shamma`.” (HR. Al-Bukhari no. 367)
Isytimal ash-shamma` ini dilarang karena menahan seseorang untuk melaksanakan perkara yang disyariatkan di dalam shalat secara sempurna. Bila ditakdirkan ada sesuatu yang menyergapnya ketika itu, ia tidak mungkin dapat bersegera menolaknya karena kedua tangannya terbungkus di dalam kain/pakaiannya11. Berpakaian dengan model isytimal ash-shamma` ini jelas menyelisihi firman Allah k:

يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ
“Wahai anak Adam kenakanlah zinah12 kalian setiap kali menuju masjid.” (Al- A’raf: 31) karena memakai zinah dengan model demikian mengandung kekurangan/ ketidaksempurnaan. (Asy-Syarhul Mumti’,1/460)
Larangan isbal Isbal adalah memanjangkan kain/ celana hingga melampaui atau menutupi mata kaki. Seorang lelaki tidak boleh shalat dalam keadaan menyeret pakaiannya atau memanjangkan pakaian bawahnya karena sombong/mengangkat diri. Batasan panjang pakaian laki-laki memang hanya sampai di atas kedua mata kakinya, tidak boleh sama sekali turun dari batasan tersebut, baik pakaiannya itu berupa sirwal, sarung, jubah, atau yang lainnya. Beda halnya dengan wanita, bila keluar rumah/di depan laki-laki yang bukan mahramnya ia harus menutup tubuhnya sampai ke dua telapak
kakinya13. (Al-Muhalla 2/391,392) Rasulullah n bersabda:
لاَ يَنْظُرُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلَى مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ خُيَلاَءَ
“Allah l pada hari kiamat nanti tidak akan melihat kepada orang yang menyeret pakaiannya karena berlaku sombong.” (HR.Al-Bukhari no. 5783 dan Muslim no. 5420)
Dan telah datang larangan shalat dalam keadaan memanjangkan kain/ celana (musbilul izar) dan ancamannya secara khusus. Dari Abu Hurairah z, beliau menceritakan bahwa ada seseorang yang shalat dalam keadaan musbilul izar, maka Rasulullah n mengatakan padanya, “Pergilah dan berwudhulah!” Orang itu pun pergi berwudhu, lalu datang kembali. Rasulullah n mengatakan lagi, “Pergilah dan  berwudhulah!” Maka ada seseorang yang bertanya, “Wahai Rasulullah, mengapa anda perintahkan dia untuk berwudhu?”
Beliau pun tidak mengatakan apa-apa lagi, kemudian beliau bersabda:
إِنَّهُ كَانَ يُصَلِّي وَهُوَ مُسْبِلٌ إِزَارَهُ، وإِنَّ اللهَ لاَ يَقْبَلُ

“Sesungguhnya dia tadi shalat dalam keadaan memanjangkan kainnya dan sesungguhnya Allah tidak menerima shalat seseorang yang memanjangkan kainnya.” (HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya no. 638 dan 4086, dishahihkan oleh Asy- Syaikh Ahmad Syakir t dalam Tahqiq wa Ta’liq terhadap Al-Muhalla Ibnu Hazm t, 4/102)
Ibnul Qayyim t mengatakan, “Sisi pendalilan hadits ini –wallahu a’lam– bahwasanya isbalul izar merupakan perbuatan maksiat, dan setiap orang yang melakukan maksiat diperintahkan untuk berwudhu serta shalat, karena wudhu akan memadamkan apa yang terbakar oleh maksiat.” (Tahdzibus Sunan, 6/50)

Faedah
Ibnul ‘Arabi t berkata sebagaimana dinukilkan secara ringkas oleh Al-Hafizh t dalam Fathul Bari (10/325), “Tidak boleh seseorang mmelebihkan pakaiannya dari mata kakinya lantas berkata, ‘Aku memanjangkannya bukan karena sombong.’ Karena larangan yang ada di dalam hadits terkadang mencakupnya secara lafadz. Dan tidak boleh bagi orang yang tercakup dalam lafadz secara hukum untuk mengatakan, ‘Aku tidak menjalankan larangan yang ada dalam hadits tersebut karena alasan/sebab yang dinyatakan dalam hadits tidak ada padaku’, karena semua ini merupakan pengakuan yang tidak bisa diterima. Bahkan dengan ia sengaja memanjangkan bagian bawah pakaiannya menunjukkan sifat takaburnya.” Al-Hafizh t berkata setelahnya, “Kesimpulannya, isbal melazimkan menyeret pakaian. Sementara menyeret pakaian melazimkan sifat sombong, walaupun pemakainya tidak bertujuan untuk berlaku sombong. Yang  menguatkan hal ini adalah adits yang diriwayatkan secara marfu’ oleh Ahmad bin Mani’ dari jalan lain dari Ibnu ‘Umar c:
إِياَّكَ وَجَرَّ الْإِزَارِ فَإِنَّ جَرَّ الْإِزَارِ مِنَ الْمَخِيْلَةِ
“Hati-hati engkau dari menyeret kainmu, karena menyeret kain termasuk kesombongan.”
Larangan dan dibencinya sadl dalam shalat Abu Hurairah z berkata:
عَنِ السَّدْلِ فِي الصَّلاَة n نَهَى رَسُولُ اللهِ
“Rasulullah n melarang dari sadl di dalam shalat.”14 (HR. At-Tirmidzi no. 378, Abu Dawud, dll, dihasankan Asy- Syaikh Al-Albani t dalam Shahih At-Tirmidzi, Shahih Abi Dawud, Al- Misykat no. 764)
A l – I m a m A s y – S y a u k a n i  berkata: Abu ‘Ubaid dalam Gharib-nya menyatakan, “Sadl adalah seseorang menjulurkan (membiarkan terjuntai) pakaiannya (isbal) tanpa menggabungkan dua sisinya di hadapannya, karena bila ia menggabungkannya tidaklah dikatakan
sadl.”
Penulis An-Nihayah berkata, “Sadl adalah seseorang berselimut dengan pakaiannya dan memasukkan kedua tangannya dari dalam, lalu ia ruku’ dan sujud dalam keadaan demikian.” Makna ini dikenakan juga pada gamis dan pakaian lainnya. Pengertian lain dari sadl adalah seseorang meletakkan bagian tengah izarnya di atas kepalanya serta menjulurkan/melepaskan dua ujungnya ke kanan dan kirinya tanpa meletakkannya pada dua pundaknya. A l – J a u h a r i t b e r k a t a , “Seseorang mensadl pakaiannya yakni menjulurkannya.”
Al-Khaththabi t menjelaskan, “Sadl adalah menjulurkan pakaian hingga mengenai bumi/tanah.”
Dengan pengertian ini berarti sadl dan isbal sama. Al-‘Iraqi t berkata, “Dimungkinkan yang dimaukan dengan sadl adalah sadl rambut. Di antaranya disebutkan

dari hadits Ibnu ‘Abbas c: ‘Sesungguhnya Nabi n mensadl jambul rambutnya15.’ Dalam hadits Aisyah x disebutkan, ‘Ia mensadl cadarnya dalam keadaan muhrim/berihram16’, yakni menjulurkannya. (Sehingga dari beberapa pengertian di atas, pent.) tidak mengapa membawa
hadits larangan melakukan sadl kepada seluruh makna tersebut apabila makna sadl memang musytarik (berserikat) di antara makna itu, dan membawa yang musytarik kepada seluruh maknanya merupakan mazhab yang kuat. Dan sungguh telah diriwayatkan bahwa sadl ini merupakan perbuatan Yahudi. Al-Khallal dalam Al-‘Ilal dan Abu ‘Ubaid dalam Al- Gharib meriwayatkan dari Abdurrahman bin Sa’id bin Wahb, dari bapaknya, dari Ali bin Abi Thalib z, bahwasanya Ali keluar dan melihat orang-orang shalat dalam keadaan men-sadl pakaian mereka. Ali pun berkata, “Seakan-akan mereka itu orang Yahudi yang keluar dari quhr mereka.” Kata Abu Ubaid, “Quhr adalah tempat
belajar mereka yang mereka biasa berkumpul di situ.” Penulis Al-Ilmam berkata, “Quhr adalah tempat belajar mereka yang mereka
biasa berkumpul di situ.” Di dalam Al- Qamus dan An-Nihayah disebutkan dengan fuhr bukan quhr. (Nailul Authar 2/10)
Namun pengertian sadl sendiri yang dikenal di kalangan ahli fiqih (fuqaha) adalah memakai pakaian/kain di atas dua pundak, kedua ujungnya dibiarkan terjuntai, tidak dikembalikan ke atas dua pundak. Akan tetapi bila model pakaiannya memang dipakai dengan cara seperti itu, maka tidak apa-apa seperti qaba` (mantel atau semacam pakaian luar). Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
t menyatakan apabila qaba` diletakkan di atas dua pundak tanpa memasukkan dua lengannya bukanlah termasuk sadl, dengan kesepakatan para ulama. Ini tidak termasuk sadl yang dibenci, dan pakaian ini bukanlah pakaian Yahudi. (Asy-Syarhul Mumti’ 1/459, Ghidza`ul Albab 2/156) Al-Imam Asy-Syaukani t berkata “Hadits di atas menunjukkan diharamkannya sadl di dalam shalat, karena di sini maknanya larangan yang hakiki. Ibnu ‘Umar c, Mujahid, Ibrahim An-Nakha’i, Ats-Tsauri, dan Asy-Syafi’i rahimahumullah membencinya di dalam ataupun di luar shalat. Al-Imam Ahmad t mengatakan bahwa dibencinya hanya dalam shalat. Jabir bin Abdillah z, ‘Atha`, Al-Hasan, Ibnu Sirin, Makhul, dan Az-Zuhri rahimahumullah, semuanya mengatakan tidak apa-apa melakukan sadl. Diriwayatkan hal ini dari Al-Imam Malik t.
Namun sebagaimana yang anda pahami, apabila hadits yang mengharamkannya itu shahih maka tidak ada yang dapat menyimpangkan dari keharaman ini, karena tidak adanya dalil yang dapat memalingkan dari keharaman tersebut.” (Nailul Authar 2/10)
Larangan menutup mulut, hidung, dan wajah Termasuk yang dilarang adalah meletakkan kain di atas mulut dan hidung, karena Nabi n:
نَهَى أَنْ يُغَطِّيَ الرَّجُلُ فَاهُ
“Nabi n melarang seseorang menutup mulutnya.”17 (HR. Abu Dawud no. 643, dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Shahih Abi Dawud)
Al-Khaththabi t mengatakan, “Termasuk kebiasaan orang Arab adalah menutup mulut mereka dengan sorban. Oleh karena itu, mereka dilarang melakukan perbuatan ini di dalam shalat. Kecuali ketika menguap, ia harus menutup mulutnya karena adanya hadits yang menyebutkan tentang hal ini.” (‘Aunul Ma’bud, kitab Ash-Shalah, bab As-Sadl fish Shalah)
Dibenci bila seseorang menutup wajahnya di dalam shalat karena penutup wajah tersebut akan menjadi penghalang wajahnya ketika sujud. Dikecualikan dalam hal ini adalah kaum wanita bila di sekitarnya ada laki-laki yang bukan mahramnya, maka ia harus menutup wajahnya walaupun saat mengerjakan shalat. Demikian pula apabila dibutuhkan karena satu sebab, maka perkara yang dimakruhkan ini boleh dilakukan sepanjang ada kebutuhan. Seperti bersin hingga ia terpaksa menutup wajahnya, seseorang menguap di dalam shalatnya maka ia boleh menutup mulutnya untuk menahan kuapan tersebut, atau di sekitarnya tercium aroma busuk yang akan mengganggunya dalam shalat sehingga ia butuh penutup hidung, juga bila ia sedang menderita selesma (flu), maka ia boleh meletakkan kain di daerah hidungnya untuk menahan ingus yang keluar. (Asy-Syarhul Mumti’ 1/460)

Shalat memakai pantalon Al-Imam Al-Muhaddits Al-Albani t berkata, “Pada pakaian/celana pantalon ada dua musibah: Musibah pertama: Orang yang memakai pakaian/celana ini telah menyerupai orang kafir, karena kaum muslimin dulunya memakai sirwal yang lapang dan longgar, di mana celana sirwal ini masih terus dipakai di Suriah dan Lebanon. Kaum muslimin tidak mengenal celana pantalon kecuali setelah mereka dijajah oleh orang-orang kafir. Kemudian ketika para penjajah ini telah pergi, mereka meninggalkan pengaruhnya
yang buruk, yang kemudian diikuti oleh kaum muslimin karena kebodohan mereka. Musibah kedua: Celana pantalon ini bila dikenakan akan membentuk aurat, sementara aurat laki-laki antara lutut dan pusar. Orang yang sedang shalat wajib baginya untuk menjauhi perbuatan maksiat kepada Allah l, karena ia hendak bersujud kepada-Nya. Lalu bagaimana jadinya bila ia sujud dalam keadaan kedua belah pantatnya membentuk di balik pantalonnya. Bahkan engkau lihat kemaluannya juga membentuk!!! Bagaimana orang yang seperti ini shalat dan berdiri di hadapan Rabbul ‘Alamin?
Yang aneh, kebanyakan pemuda muslim mengingkari pakaian ketat yang dikenakan wanita karena memperlihatkan bentuk tubuh mereka, namun melupakan dirinya sendiri.
Karena ia justru terjatuh dalam perbuatan yang ia ingkari. Tidak ada perbedaan antara wanita yang memakai pakaian ketat hingga menampakkan lekuk tubuhnya dengan pria yang mengenakan pantalon yang juga membentuk pantatnya. Pantat laki-laki dan perempuan sama-sama aurat.” (Dinukil dari ta’liq kitab Al-Qaulul Mubin fi Aktha`il Mushallin, hal. 22-23)
Adapun bila pantalon itu lebar, tidak ketat, dan tidak tipis sehingga menerawang auratnya terhadap orang yang di belakangnya maka sah shalat dengan memakainya. Dan yang afdhal bila di atas pantalon itu dipakai gamis/jubah (baju panjang) yang menutupi antara pusar sampai lutut dan panjangnya sampai setengah betis atau sampai di atas mata kaki, karena yang demikian itu lebih sempurna dalam menutup aurat. Namun apabila menerawang karena tipisnya sehingga menampakkan auratnya terhadap orang yang di belakangnya, maka batal shalatnya. Dan apabila hanya membentuk kemaluannya saja, maka dibenci shalatnya, terkecuali bila dia tidak mendapatkan pakaian yang lainnya. (Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, Asy-Syaikh Ibnu Baz t 10/414 dan jawaban Fatwa Al-Lajnah Ad-Da`imah lil Buhuts Al-‘Ilmiyyah wal Ifta` nomor 2003)
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab, wal ‘ilmu ‘indallah.

Catatan Kaki:

1 Ia menarik bajunya hingga terangkat atau melipatnya hingga terangkat. (Asy-Syarhul Mumti’, 1/460)
Menahan baju contohnya seperti seseorang mengambil ujung pakaiannya, lalu ia masukkan ke dalam ikat pinggang atau tali
celananya. Sedangkan menahan rambut contohnya seseorang mengambil bagian yang terurai dari rambutnya lalu dipilinnya
untuk digabungkan dengan rambut di atas kepala atau ia mengikatnya dengan benang, karet, atau yang semisalnya. (At-
Ta’liqat Ar-Radhiyyah ‘ala Ar-Raudhatin Nadiyyah, 1/256)
2 Maksudnya seseorang menarik/menggulung/melipat pakaian yang dikenakannya dan mengikat rambutnya karena hendak
mengerjakan shalat.
3 Ulama mengatakan, “Tidak ada perbedaan antara ia melakukannya tatkala hendak shalat karena shalat tersebut, atau ia
melakukannya sebelum mengerjakan shalat. Misalnya ia sedang bekerja, ia menarik/menggulung/melipat lengan bajunya
atau bagian bawah celananya, kemudian ketika hendak shalat ia membiarkan lengan bajunya tetap tergulung/terlipat, maka
kita katakan kepadanya, “Lepaskan lipatan/gulungan lengan bajumu.” (Asy-Syarhul Mumti’, 1/461)
4 Rambutnya dipilin kemudian ujung-ujung rambut disatukan dengan pangkalnya.

5 HR. Muslim no. 1101
6 Rambut bagian bawah yang semestinya tidak tertutupi oleh sorban tapi dipaksakan untuk dimasukkan ke dalam sorban
karena tidak ingin rambutnya terkena tanah ketika sujud.
7 Ia sengaja menyingsingkan baju atau lengan bajunya misalnya karena khawatir ketika sujud bajunya akan terkena kotoran.
Hal ini jelas merupakan suatu bentuk kesombongan.
8 Yang dimaksud adalah hadits:

9 Telah diterangkan bahwa sama saja baik ia melakukannya karena hendak shalat ataupun bukan karena hendak shalat.
10 Maksudnya, wanita tidak terlarang shalat dalam keadaan rambutnya dipilin, karena larangan yang ada hanya berlaku untuk
laki-laki.
11 Termasuk dalam makna isytimal ash-shamma`, bila seseorang memakai gamis lantas tidak memasukkan kedua lengannya
ke dalam lengan gamis tersebut. (Asy-Syarhul Mumti’, 1/460)

12 Zinah adalah sesuatu yang dikenakan untuk berhias/memperindah diri seperti pakaian. (Mukhtarush Shihah, hal. 139).
13 Al-Imam At-Tirmidzi, Abu Dawud, dan Ibnu Majah meriwayatkan dari hadits Ibnu ‘Umar c bahwasanya ketika Nabi n
bersabda:
مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ خُيَلاَءَ لَمْ يَنْظُرِ اللهُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Siapa yang menyeret pakaiannya (menjulurkannya sampai tanah/di bawah mata kaki, pent.) karena sombong (isbal) maka
Allah l tidak akan melihatnya pada hari kiamat.”
Mendengar hal itu, berkatalah Ummu Salamah x:
فَكَيْفَ تَصْنَعُ النِّسَاءُ بِذُيُوْلِهِنَّ؟ قَالَ: يُرْخِيْنَهُ شِبْرًا. قَالَتْ: إِذًا تَنْكَشِفُ أَقْدَامُهُنَّ. قَالَ: يُرْخِ ذِرَاعًا وَلاَ يَزِدْنَ
“Lalu bagaimana yang harus diperbuat oleh wanita dengan ekor-ekor (ujung/bagian bawah) pakaian mereka?” Beliau berkata:
“Hendaklah mereka menurunkannya sejengkal (dari betis, pent.).” Ummu Salamah x berkata: “Bila demikian, masih
terlihat telapak kaki mereka.” Beliau berkata: “Turunkan satu hasta dan jangan lebih.” (Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani
t dalam Shahih At-Tirmidzi, Shahih Abi Dawud dan Shahih Ibni Majah)
Ath-Thibi dalam Syarhul Misykat (9/2898) menerangkan bahwa ketika Ummu Salamah x mendengar hadits ini:
إِزَارُ الْمُؤْمِنِ إِلىَ أَنْصَافِ سَاقَيْهِ، لاَ جُنَاحَ عَلَيْهِ فِيْمَا بَيْنَهُ وَبَ الْكَعْبَ ،ْنيِ وَمَا أَسْفَلَ ذَلِكَ فِي النَّارِ
“Kain/pakaiannya seorang mukmin sampai setengah kedua betisnya. Dan tidak ada dosa baginya dalam apa antara dia
dan dua mata kakinya (bila menambahkan sampai di atas mata kaki). Sedangkan apa yang di bawah batasan tersebut (bila
dipanjangkan sampai di bawah mata kaki) akan diadzab dalam neraka).” (HR. Ahmad 3/5 dan selainnya. Kata Asy-Syaikh
Muqbil t dalam Ash-Shahihul Musnad Mimma Laisa Fish Shahihain, hadits no. 410, 1/346, “Hadits ini hasan di atas
syarat Muslim.”)
Ia menyangka bahwa hukum ini mencakup dirinya (wanita). Maka Rasulullah n menerangkan kepadanya bahwa hukum ini
khusus bagi laki-laki, sedangkan kaum wanita mereka menurunkan pakaian mereka satu hasta. Al-Hafizh Ibnu Hajar t
dalam Fathul Bari menyebutkan yang semisal ini.

14 Hadits ini didhaifkan oleh sebagian ahlul hadits. Dan di antara yang melemahkannya adalah Al-Imam Ahmad dan Abu
Dawud rahimahumallah. (lihat Tuhfatul Ahwadzi Syarhu Jami’it At-Tirmidzi, Kitabus Shalah bab Ma Ja`a fi Karahiyatis Sadl
fish Shalah)

15 Diriwayatkan Al-Bukhari no. 5917dan Muslim no. 2336
16 Diriwayatkan Abu Dawud dalam Sunan-nya no. 1833
17 Guru besar kami Asy-Syaikh Muqbil t mendhaifkan hadits ini karena seorang perawi yang bernama Hasan ibnu
Dzakwan.

 

 

 

 

 

 

 

Menyembunyikan Ilmu Akhlak Jahiliyah

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman)

Sampaikan kebenaran meski itu pahit. Ungkapan ini rasanya sudah teramat sering diungkap para dai di tengah umat ini. Namun praktiknya amat jauh dari “teori”-nya. Betapa banyak dai yang tak berani menyuarakan al-haq karena khawatir kedudukannya di tengah masyarakat terancam, khawatir kehilangan simpatisan, khawatir distop suplai dananya, khawatir “ukhuwah” rusak dan umat lari dari dakwah (partai)-nya, dan dalih lainnya yang dibuat-buat.

Sering kali kita mendengar bila seseorang berbicara tentang fenomena dan aktualita kejahatan, kerusakan moral dan kehancuran peradaban hidup, dia mengacu kepada kehidupan jahiliah. Hal ini dilakukan untuk mengingatkan kaum muslimin tentang berbagai kerusakan hidup di masa jahiliah agar tidak dicontoh dan diteladani. Akan tetapi sangat disayangkan:
a. Berapa di antara para penyeru kemerdekaan dari praktik jahiliah yang sesungguhnya mengerti rincian hidup jahiliah?
b. Berapa di antara mereka yang mengetahui ilmu untuk menyelamatkan diri dari kungkungan kehidupan jahiliah tersebut?
Yang mengetahui Sunnah Rasulullah n dan amalan para sahabat?
c. Dan berapa orang di antara mereka secara jujur terbebas dari praktik-praktik hidup jahiliah?
d. Dan berapakah dari mereka yang menjalani hidup benar-benar di atas tuntunan hidup Rasulullah n?
P e r t a n y a a n – p e r t a n y a a n  i n i sesungguhnya sebagai koreksi diri bagi setiap da’i penyeru umat agar sadar dan menyadari bahwa perilaku jahiliah telah menghampiri diri, keluarga bahkan anak keturunannya. Bahkan telah mengetuk gendang pendengarannya serta membuka mata hatinya. Oleh karena itu, langkah apakah yang telah anda siapkan untuk membebaskan diri anda darinya? Di sinilah letak tingginya nilai ilmu agama, yang akan menjawab tantangan serta menghindarkan dari marabahaya. Di antara langkahnya adalah harus mengilmui segala ragam dan perilaku jahiliah untuk menyelamatkan diri darinya. Berikut ini beberapa bentuk akhlak jahiliah:

1. Menganggap bahwa menyelisihi p e m i m p i n m e r u p a k a n s e b u a h keutamaan.
2. Berdoa kepada para wali atau orang shalih.
3. Taqlid buta.
4. Berhujjah tentang sebuah kebenaran dengan banyaknya pengikut.
5. Berhujjah tentang sebuah kebenaran dengan apa yang dilakukan para pendahulu.
6. Berlebih-lebihan dalam menyikapi orang-orang yang terpandang.
7. Keyakinan mereka bahwa apa yang dilakukan oleh para tukang sihir dan dukun adalah sebuah karamah.
8. Menamakan tauhid sebagai syirik.
9. Berdusta kepada Allah l dan mendustakan kebenaran.
10. Fanatik di atas kebatilan yang mereka anut.
11. Menghalangi orang dari jalan Allah l.
12. Menyandarkan agama mereka di atas khurafat.
13. Menyembunyikan kebenaran yang telah mereka ketahui.
14. Menyombongkan diri di atas kebenaran.
15. Menyembelih untuk selain Allah l.
16. Beribadah di sisi kuburan dan sebagainya.

Terlalu banyak jika disebutkan ciri dan perilaku hidup mereka yang sangat rusak. Bila dijabarkan semuanya, niscaya tidak akan mencukupi dalam pembahasan singkat ini. Bila kita mencoba menyelami kehidupan masyarakat jahiliah dan kehidupan muslimin sekarang ini, lalu kita mencoba membandingkan, niscaya kita akan menemukan banyak kesamaan. Kita akan sampai kepada sebuah kesimpulan yang tidak berlebihan bahwa “tidak ada yang membedakan akhlak sebagian kaum muslimin dan orang-orang jahiliah di masa silam selain identitas beragama dan melantunkan kalimat La ilaha illallah.”
Dalam pembahasan akhlak jahiliah, ada sebuah risalah yang ditulis oleh Al- Imam Muhammad bin Abdul Wahhab t dengan judul Masa`ilul Jahiliyati Lati Khalafa fiha Rasulullah Ahlal Jahiliyyah. Risalah ini memuat 128 masalah jahiliah yang beliau simpulkan dari Al-Qur`an dan As-Sunnah serta ucapan para ulama. Tujuannya, memperingatkan kaum muslimin agar mereka meninggalkan berbagai perkara jahiliah itu karena demikian bahayanya. (Syarh Masa`il Jahiliah karya Asy-Syaikh Shalih Fauzan, hal. 8)

Di antara sekian akhlak jahiliah adalah MENYEMBUNYIKAN KEBENARAN DI ATAS ILMU (DENGAN SENGAJA).
Ahli Kitab dan Menyembunyikan Ilmu Kaum inilah yang banyak diangkat oleh Allah l di dalam Al-Qur`an terkait dengan akhlak dan tabiat yang jelek ini. Kedengkian mereka terhadap kebenaran yang dibawa Rasulullah n sangatlah masyhur. Kelicikan dan makar jahat mereka terhadap para pengikut kebenaran laksana malam bagaikan siangnya, artinya bukan perkara rahasia lagi. Bentuk kedengkian mereka telah banyak diingatkan oleh Allah l di dalam Al-Qur`an. Di antaranya:
“Orang-orang kafir dari ahli Kitab dan orang-orang musyrik tiada menginginkan diturunkannya sesuatu kebaikan kepadamu dari Rabbmu. Dan Allah menentukan siapa yang dikehendaki-Nya (untuk diberi) rahmat-Nya (kenabian); dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (Al- Baqarah: 105)
“Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia. Dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. Yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka serta melampaui batas.” (Ali ‘Imran: 112)

“Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi Kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan.” (Ali ‘Imran: 186)
“Sebagian besar ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki (yang timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka maafkan dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Al-Baqarah: 109)
“Segolongan dari ahli Kitab ingin menyesatkan kamu, padahal mereka (sebenarnya) tidak menyesatkan melainkan dirinya sendiri dan mereka tidak menyadarinya.” (Ali ‘Imran: 69)
Akhlak mereka dalam menyembunyikan ilmu disebutkan pula oleh Allah l di dalam Al-Qur`an:
“Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah kami beri Al-Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.” (Al-Baqarah: 146)
“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu Al-Kitab dan menjualnya dengan harga yang sedikit (murah), mereka itu sebenarnya tidak memakan (tidak menelan) ke dalam perutnya melainkan api. Dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat dan tidak menyucikan mereka. Dan bagi mereka siksa yang amat pedih.” (Al-Baqarah: 174)
ٱ“Hai ahli kitab, mengapa kamu mencampuradukkan yang haq dengan yang batil serta menyembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahuinya?” (Ali ‘Imran: 71)
“Sesungguhnya di antara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al-Kitab, supaya kamu menyangka yang  dibacanya itu sebagian dari Al-Kitab, padahal ia bukan dari Al- Kitab. Dan mereka mengatakan: ‘Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah’, padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah sedangkan mereka mengetahui.” (Ali ‘Imran: 78)

“Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi Kitab (yaitu): ‘Hendaklah kamu menerangkan isi Kitab itu kepada manusia dan janganlah kamu menyembunyikannya.’ Lalu mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung mereka dan mereka menukarnya dengan harga yang sedikit. Amat buruklah tukaran yang mereka terima.” (Ali ‘Imran:187)
“Apakah kamu tidak melihat orang-orang yang telah diberi bagian dari Al-Kitab (Taurat)? Mereka membeli (memilih) kesesatan (dengan petunjuk) dan mereka bermaksud supaya kamu tersesat (menyimpang) dari jalan (yang benar). Dan Allah lebih mengetahui (daripada kamu) tentang musuh-musuhmu. Dan cukuplah Allah menjadi pelindung (bagimu). Dan cukuplah Allah menjadi penolong (bagimu).”
(An-Nisa`: 44-45)

Peringatan demi peringatan kita lalui di dalam Al-Qur`an agar jangan sekali-kali kita mengikuti langkah dan akhlak mereka. Ibnu Katsir t berkata: “Janganlah kalian menyembunyikan pengetahuan yang ada pada kalian tentang Rasul-Ku dan apa yang dibawanya, sementara kalian mengetahui hal itu tertulis di dalam kitab-kitab yang ada di tangan kalian.” (Tafsir Ibnu Katsir, 1/109) Mungkinkah orang-orang Islam akan mengikuti akhlak dan langkah Yahudi dan Nasrani dalam masalah ini, yaitu menyembunyikan kebenaran padahal mereka telah mengetahuinya? Muslimin Mengikuti Akhlak Mereka Tanpa ada keraguan sedikitpun bahwa kaum muslimin telah mengikuti langkah, perilaku, dan akhlak mereka. Bagi orang yang memiliki sedikit landasan ilmu pengetahuan, lalu mencoba menggali keadaan kaum muslimin, niscaya akan menemukan berbagai macam corak hidup yang diambil dari orang-orang kafir serta corak hidup yang
tidak diajarkan oleh Rasulullah n. Tidak terbatas dalam permasalahan akhlak semata, bahkan dalam perkara mendasar dalam
agama, seperti dalam berbagai keyakinan dan bentuk peribadatan. Karena hal ini sangat mungkin menimpa kaum yang beriman, Allah l pun di dalam banyak ayat memperingatkan agar kita tidak meniru mereka. Di antaranya:
1. Allah l menjelaskan tentang hakikat jati diri mereka, seperti di dalam surat Al-Ma`idah ayat 18-19 dan At- Taubah ayat 30-34.
2. Allah l menerangkan sikap mereka terhadap Islam dan kaum muslimin, seperti di dalam surat Al-Baqarah ayat 105 dan 135.3. Allah l menerangkan tentang berbagai usaha dan makar mereka dalam memalingkan kaum muslimin dari agamanya, seperti di dalam surat Al-Baqarah ayat 109.4. Allah l menyebutkan di antara sifat mereka adalah menyembunyikan kebenaran, seperti di dalam surat Al-Baqarah ayat 146.5. Allah l membongkar hasad dan dendam mereka terhadap kaum muslimin dan apa yang mereka sembunyikan dalam dada-dada mereka, seperti di dalam surat Al-Baqarah ayat 109.
6. Allah l menyebutkan tentang penghinaan mereka terhadap syi’ar-syi’ar Islam, seperti di dalam surat Al-Ma`idah ayat 5. Rasulullah n di dalam banyak hadits juga telah mengingatkan hal ini.
1. Beliau n melarang menyerupai mereka dan memerintahkan untuk menyelisihi mereka dalam semua urusan agama. Orang yang menyerupai mereka, tentu dia termasuk bagian mereka. “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, dia termasuk dari mereka.”1

2. Rasulullah n memberitakan bahwa kaum muslimin benar-benar akan mengikuti langkah orang sebelum mereka, sedikit demi sedikit.
لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا
بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا جُحْرَ ضَبٍّ لَدَخَلْتُمُوهُ.
قَالُوا: الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى؟ قَال: فَمَنْ؟
“Kalian benar-benar akan mengikuti orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta. Sehingga sekalipun mereka masuk ke lubang dhabb niscaya kalian akan mengikutinya.” Mereka berkata: “Apakah mereka adalah Yahudi dan Nasrani?” Beliau bersabda: “Siapa lagi kalau bukan mereka?”2
Rasulullah n bersabda:
لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَلْحَقَ حَيٌّ مِنْ أُمَّتِي
بِالْمُشْرِكِ وَحَتَّى يَعْبُدَ فِئَامٌ مِنْ أُمَّتِي الْأَوْثَانَ
“Tidak akan terjadi hari kiamat hingga sekelompok dari umatku mengikuti peribadatan kaum musyrikin dan hingga umatku menyembah patung-patung.”3

Berdasarkan hal ini, sangatlah jelas bahwa siapa saja dari kaum muslimin yang meninggalkan kebenaran dan berpaling darinya –entah disebabkan kedudukan, harta benda duniawi, atau karena hawa nafsu– berarti serupa dengan sikap Yahudi terhadap kebenaran. Karena ulama-ulama Bani Israil makan dari orang kaya mereka. Tatkala diutusnya Rasulullah n, mereka mengetahui bahwa dia adalah pembawa kebenaran. Karena itulah mereka mengingkari dan kafir kepada beliau. Mereka menyembunyikan apa yang telah mereka ketahui dari Bani Israil pendahulu mereka. Mereka menolak kebenaran yang mereka ketahui karena imbalan sandang pangan dari orang-orang kaya. Mereka menyembunyikannya agar bantuan orang-orang kaya tersebut tetap mengalir kepada diri mereka. (Shawarif ‘Anil Haq hal. 27) Abul Muzhaffar As-Sam’ani t berkata: “Firman Allah l:
‘Janganlah kalian membeli ayat-ayat- Ku dengan harta benda yang sedikit.’ (Al- Baqarah: 41) hal itu karena para ulama dan pendeta (mereka) memiliki kebiasaan mendapatkan gaji dari orang kaya dan orang-orang jahil mereka. Mereka khawatir imbalan itu hilang dari mereka jika mereka beriman kepada Rasulullah n. Mereka menyembunyikan sifat dan nama beliau. Inilah makna ayat (ini) menjual ayat-ayat dengan harga yang sedikit.” (Tafsir Al-Qur`an, 1/22)
Alasan Mereka Menyembunyikan Kebenaran Kenapa mereka begitu semangat menyembunyikan kebenaran? Ada beberapa perkara yang mendorong mereka untuk menyembunyikan kebenaran yang telah mereka ketahui.

Pertama: Mengikuti hawa nafsu.
“Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan Al-Kitab (Taurat) kepada Musa, dan Kami telah menyusulinya (berturutturut) setelah itu dengan rasul-rasul. Dan telah Kami berikan bukti-bukti kebenaran (mukjizat) kepada ‘Isa putra Maryam dan Kami memperkuatnya dengan Ruhul Qudus.
Apakah setiap datang kepadamu seorang rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu menyombong, maka beberapa orang (di antara mereka) kamu dustakan dan beberapa orang (yang lain) kamu bunuh?” (Al-Baqarah: 87)

“Sesungguhnya Kami telah mengambil perjanjian dari Bani Israil dan telah Kami utus rasul-rasul kepada mereka. Tetapi setiap datang seorang rasul kepada mereka membawa apa yang tidak diingini oleh hawa nafsu mereka, (maka) sebagian dari rasul-rasul itu mereka dustakan dan sebagian yang lain mereka bunuh.” (Al-Ma`idah: 70)

Kedua: Mencari maslahat dunia.
“Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya kami berikan kepada mereka balasan perbuatan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia serta sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (Hud: 15-16)
Rasulullah n bersabda:
تَعِسَ عَبْدُ الدِّيْنَارِ، تَعِسَ عَبْدُ الدِرْهَمِ، تَعِسَ
عَبْدُ الْخَمِيْصَةِ، تَعِسَ عَبْدُ الْخَمِيْلَةِ، إِنْ أُعْطِيَ
رَضِيَ وَإِنْ لُمْ يُعْطَ سَخِطَ
“Celaka budak dinar, celaka budak dirham, celaka budak khamishah, celaka budak khamilah. Jika dia diberi dia ridha, dan jika tidak diberi dia benci marah.”4
Ketiga: Mencari ridha manusia. Rasulullah n bersabda:
مَنِ الْتَمَسَ رِضَا اللهِ بِسُخْطِ النَّاسِ رَضِيَ اللهُ
عَنْهُ وَأَرْضَى عَنْهُ النَّاسَ، وَمَنِ الْتَمَسَ رِضَا
النَّاسِ بِسُخْطِ اللهِ سَخِطَ اللهُ عَلَيْهِ وَأَسْخَطَ
عَلَيْهِ النَّاسَ
“Barangsiapa mencari ridha Allah l dengan kemurkaan manusia maka Allah l akan meridhainya dan Allah l menjadikan manusia ridha kepadanya. Dan barangsiapa mencari ridha manusia dengan kebencian Allah l maka Allah l akan memurkainya serta menjadikan manusia
murka kepadanya.”5
Ibnu Katsir t berkata: “Mereka menyembunyikan kebenaran agar kedudukan yang mereka miliki tidak hilang, juga berbagai macam hadiah dan pemberian yang mereka peroleh dari bangsa Arab atas pengagungan mereka terhadap nenek moyang bangsa Arab. Mereka takut Tuhan melaknat mereka jika mereka menampakkan kebenaran yang mereka ketahui, kemudian diikuti oleh banyak orang yang berakibat bangsa Arab meninggalkan mereka. Itulah yang menjadi alasan mereka menyembunyikan kebenaran, yaitu agar apa yang mereka dapatkan tetap ada, padahal itu adalah imbalan yang sedikit. Akhirnya mereka melelang diri mereka dengannya. Mereka
tidak mau menerima petunjuk, mengikuti kebenaran, membenarkan Rasul dan beriman dengan apa yang dibawanya dari sisi Allah
l. Mereka tukar dengan imbalan yang sedikit. Sungguh mereka telah celaka dan merugi di dunia dan di akhirat.” (Tafsir Ibnu Katsir 1/257)
Abul Wafa` bin ‘Aqil Al-Hambali t berkata: “Cinta kepada kedudukan, condong kepada dunia, berbanggabangga, bermegah-megahan dengannya, menyibukkan diri dengan kelezatan dan segala yang menjurus kepada kemasyhuran, bukan lagi melihat hujjah serta apa yang diinginkan oleh akal dan pengetahuan.

Perbuatan seperti ini menjadi sebab-sebab yang akan memalingkan dari kebenaran. Dan itu adalah sebuah kemestian.” (Al- Wadhih fi Ushulil Fiqh, 1/522) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah t berkata: “Para pencari kedudukan –walaupun dengan cara batil– akan senang dengan kalimat yang mengandung pengagungan dirinya, sekalipun dengan kebatilan. Dan dia akan marah dengan kalimat yang mencelanya, sekalipun kalimat itu adalah benar. Adapun orang yang beriman, akan ridha terhadap kalimat yang haq walaupun terhadap dirinya, atau yang akan menggugat dirinya. Dan dia membenci kebatilan walaupun kebatilan itu mendukungnya. Atau dia akan menentang
kebatilan itu karena Allah l mencintai kebenaran, kejujuran, dan keadilan, serta membenci kalimat dusta dan kedzaliman.” (Majmu’ Fatawa 10/600)

Kewajiban Kita bila Melihat Akhlak Ini
Kita mengetahui bahwa menyembunyikan kebenaran adalah salah satu dari sekian ciri khas orang-orang kafir secara umum, serta pada kaum Yahudi dan Nasrani secara khusus. Maka setiap ulama dan para pencari kebenaran berkewajiban untuk mengingkarinya serta menjelaskan kepada umat bahwa sikap menolak kebenaran dan menyembunyikannya merupakan perbuatan orang-orang yang dilaknat oleh Allah l serta dilaknat oleh segenap makhluk-Nya.
“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan  petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al-Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat melaknati.” (Al-Baqarah: 159)

Asy-Syaikh As-Sa’di t menjelaskan:
“Sesungguhnya Allah l telah mengangkat perjanjian dari ahli ilmu agar mereka menjelaskan kepada manusia ilmu Al-Kitab yang telah diturunkan oleh Allah l dan agar mereka tidak menyembunyikannya. Dan barangsiapa meremehkannya, maka sungguh dia telah menghimpun dua bentuk kerusakan, yaitu menyembunyikan ilmu serta melakukan penipuan terhadap kaum muslimin.” (Tafsir As-Sa’di hal. 59)
Wallahu a’lam.

Catatan Kaki:

1 HR. Al-Imam Ahmad dalam Musnad beliau (no. 4309) dari sahabat Ibnu ‘Umar c.
2 HR. Al-Imam Al-Bukhari no. 7320 dan Al-Imam Muslim no. 2669 dari sahabat Abu Sa’id Al-Khudri z.
3 HR. Al-Imam Ahmad dalam Musnad-nya, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ad-Darimi dari sahabat Tsauban z. Dan asalnya ada dalam riwayat Al-Imam Muslim no. 2889.
4 HR. Al-Imam Al-Bukhari no. 2887 dari sahabat Abu Hurairah z.
5 HR. Al-Imam At-Tirmidzi no. 2419 dari sahabat ‘Aisyah x, dan dishahihkan oleh Al-Albani t dalam Shahihul Jami’ no. 6097

 

Hukum Mengingkari Ba’ts

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Abdillah Abdurrahman Mubarak)

Hukum Mengingkari Ba’ts Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab t mengatakan: “Barangsiapa mengingkari ba’ts berarti dia telah kafir.
Allah l berfirman:

“Orang-orang yang kafir mengatakan bahwa mereka sekali-kali tidak akan dibangkitkan. Katakanlah: ‘Bahkan, demi Rabbku, benar-benar kalian akan dibangkitkan, kemudian akan diberitakan kepada kalian apa yang telah kalian kerjakan. Yang demikian itu adalah mudah bagi
Allah’.” (At-Taghabun: 7) [Lihat Al-Ushul Ats-Tsalatsah] Asy-Syaikh Hafizh bin Ahmad Al-Hakami t berkata: “Dia (yakni orang yang mengingkari ba’ts) telah kafir kepada Allah l, kepada kitab-kitab dan para rasul-Nya.” (A’lamus Sunnah Al-Mansyurah,hal. 96)
Bantahan terhadap Orang yang Mengingkari Ba’ts Kita nyatakan kepada orang yang mengingkari ba’ts tersebut:
1. Masalah ba’ts ini telah mutawatir penukilannya dari para nabi dan rasul di dalam kitab-kitab yang Allah l turunkan dan telah diterima oleh umat. Bagaimana kalian mengingkarinya sementara kalian justru menerima penukilan filosof dan pemikir yang menyimpang? Padahal penukilan mereka tidaklah sampai derajat penukilan berita adanya ba’ts, tidak dalam cara penyampaiannya ataupun kenyataan yang terjadi.
2. Perkara ba’ts telah dipersaksikan oleh akal akan kemungkinannya. Hal ini terbukti dari beberapa sisi:
a. Semua orang tidaklah mengingkari bahwa dia diciptakan dari tidak ada. Dzat yang menciptakannya dari tidak ada, adalah Mahakuasa untuk mengembalikannya sebagaimana menciptakan dia dari tidak ada. Sebagaimana Allah l berfirman:
“Dan Dialah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikan (menghidupkan)nya kembali, dan menghidupkan kembali itu adalah lebih mudah bagi-Nya.” (Ar-Rum: 27)
Allah l berfirman:
“Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati, sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya.” (Al-Anbiya`: 104)
b. Seluruh manusia tidak mengingkari tentang besarnya penciptaan langit dan bumi, karena keduanya adalah makhluk yang besar serta indah bentuknya. Dzat yang telah menciptakan keduanya adalah Mahakuasa untuk menciptakan manusia dan mengembalikan mereka (hidup) setelah mati.

Allah l berfirman:

“Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan manusia akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Ghafir: 57)

Allah l berfirman:
“Dan apakah mereka tidak memerhatikan bahwa sesungguhnya Allah yang menciptakan langit dan bumi dengan tidak merasa payah dalam menciptakannya, Maha Kuasa untuk menghidupkan orang-orang mati? Ya, (bahkan) sesungguhnya dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Al-Ahqaf: 33)

Allah l berfirman:
“Dan tidaklah Dzat yang menciptakan langit dan bumi itu berkuasa menciptakan yang serupa dengan itu? Benar, Dia berkuasa. Dan Dialah Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui. Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: ‘Jadilah!’ Maka terjadilah ia.” (Yasin: 81-82)

c. Semua orang yang punya penglihatan bisa menyaksikan tanah yang tandus tidak bisa menumbuhkan tanaman. Ketika turun hujan, ia menjadi subur dan tumbuh tanaman-tanaman di atasnya setelah mati. Dzat yang telah menghidupkan tanah setelah matinya adalah Mahakuasa untuk menghidupkan manusia yang telah mati serta membangkitkannya.
Allah l berfirman:
“Dan di antara tanda-tanda-Nya (ialah) bahwa kau lihat bumi kering dan gersang. Maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak dan subur. Sesungguhnya Dzat yang menghidupkannya, pastilah dapat menghidupkan yang mati. Sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Fushshilat: 39)
3. Masalah ba’ts ini telah dipersaksikan oleh indera dan kenyataan akan kemungkinannya. Sebagaimana yang Allah l kabarkan kepada kita tentang adanya kejadian-kejadian pernah dihidupkannya makhluk setelah mati oleh Allah l. Allah l berfirman:
“Atau apakah (kamu tidak memerhatikan) orang yang melalui suatu negeri yang (dindingnya) telah roboh menutupi atapnya. Dia berkata: ‘Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah hancur?’ Maka Allah mematikan orang tersebut seratus tahun, kemudian menghidupkannya kembali. Allah bertanya: ‘Berapakah lamanya kamu tinggal di sini?’ Ia menjawab: ‘Saya tinggal di sini sehari atau setengah hari.’ Allah berfirman: ‘Sebenarnya kamu telah tinggal di sini seratus tahun lamanya. Lihatlah makanan dan minumanmu yang belum berubah; dan lihatlah keledai kamu (yang telah menjadi tulang-belulang); Kami akan menjadikan kamu tanda kekuasaan Kami bagi manusia; dan lihatlah kepada tulang belulang keledai itu, kemudian Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging.’ Maka tatkala telah nyata kepadanya (bagaimana Allah menghidupkan yang telah mati) diapun berkata: ‘Saya yakin bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu’.” (Al-Baqarah: 259)

4. Hikmah menghendaki adanya ba’ts setelah kematian, agar setiap jiwa mendapatkan balasan atas apa yang telah dilakukannya. Kalaulah tidak ada ba’ts niscaya penciptaan manusia hanyalah sia-sia, tidak ada nilai dan hikmahnya. Tidak ada perbedaan antara manusia dan hewan ternak dalam kehidupan ini. Allah l berfirman:
“Apakah kalian mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kalian secara main-main (sia-sia) dan bahwa kalian tidak akan  dikembalikan kepada Kami? Maka Maha Tinggi Allah, Raja yang sebenarnya; tidak ada sesembahan yang haq selain Dia, Rabb (yang mempunyai) ‘Arsy yang mulia.” (Al-Mu`minun: 115-116)
Allah l berfirman:
“Sesungguhnya hari kiamat itu akan datang. Aku merahasiakan (waktunya) agar tiap-tiap diri mendapatkan balasan atas apa yang telah dilakukannya.” (Thaha: 15)
Allah l berfirman:
“Mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sumpahnya yang sungguh-sungguh:
‘Allah tidak akan akan membangkitkan orang yang mati.’ (Tidak demikian), bahkan (pasti Allah akan membangkitkan mereka), suatu
janji yang benar dari Allah, akan tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui. Agar Allah menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu, agar orang-orang kafir itu mengetahui bahwasanya mereka adalah orang-orang yang berdusta. Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: ‘Kun (jadilah)’, maka jadilah ia.” (An-Nahl: 38-40)
Allah l berfirman:
“Orang-orang yang kafir mengatakan bahwa mereka sekali-kali tidak akan dibangkitkan. Katakanlah: ‘Bahkan, demi Rabbku, benar-benar kamu akan dibangkitkan, kemudian akan diberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.’ Yang demikian itu adalah mudah bagi
Allah.” (At-Taghabun: 7) [Diringkas dari Syarh Al-Ushuluts Tsalatsah karya Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al- ‘Utsaimin t] Demikianlah sekelumit pembahasan tentang masalah ba’ts yang merupakan salah satu permasalahan aqidah yang harus diketahui dan diimani seorang muslim.
Mudah-mudahan Allah l senantiasa memberi taufiq kepada kita untuk selalu istiqamah dalam mencari al-haq dan mengamalkannya.
Walhamdulillah.

Beriman Adanya Kebangkitan Setelah Kematian

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Abdillah Abdurrahman Mubarak)

Orang baik ataupun jahat sama-sama akan menuai hasil perbuatannya selama di dunia di hari perhitungan nanti. Secara akal sehat, mereka takkan mungkin dibiarkan mati begitu saja tanpa adanya balasan atas mereka. Sehingga orang-orang yang baik tidak mungkin mendapat ganjaran yang sama dengan mereka yang jahat.

Hari kiamat adalah hari yang sangat dahsyat. Allah l dan Rasul-Nya n telah memberitakan dahsyatnya hari tersebut di dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah. Allah l berfirman:
“Hai manusia, bertakwalah kepada Rabbmu. Sesungguhnya goncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat dahsyat. (Ingatlah) pada hari (ketika) kalian melihat kegoncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya dan wanita yang hamil gugur kandungannya, kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi adzab Allah itu sangat sangat keras.” (Al-Haj:1-2) Diriwayatkan dari Aisyah xbahwa Rasulullah n bersabda:
تُحْشَرُونَ حُفَاةً عُرَاةً غُرْلًا. قَالَتْ عَائِشَةُ: فَقُلْتُ:
يَا رَسُولَ اللهِ، الرِّجَالُ وَالنِّسَاءُ يَنْظُرُ بَعْضُهُمْ إِلَى
بَعْضٍ؟ فَقَالَ: الْأَمْرُ أَشَدُّ مِنْ أَنْ يُهِمَّهُمْ ذَاكِ
“Kalian akan dikumpulkan pada hari kiamat nanti dalam keadaan tidak memakai alas kaki, tidak berpakaian, dan belum dikhitan.” Aisyah x berkata: “Wahai Rasulullah, kaum pria dan wanita sebagian mereka akan melihat yang lainnya.” Rasulullah berkata: “Keadaan ketika itu
lebih dahsyat, mereka tidak lagi memikirkan hal itu.” (HR. Al-Bukhari no. 6572, Muslim no. 2859)
Di hari kiamat akan terjadi beberapa peristiwa yang harus diimani seorang muslim. Al-Imam Ath-Thahawi t berkata:
“Kami beriman adanya ba’ts (kebangkitan setelah mati), balasan amal, ditampakkannya amalan, hisab, membaca catatan amal,
(juga beriman) adanya pahala dan siksa, serta shirath dan mizan.” (Al-‘Aqidah
Ath-Thahawiyyah) A l – I m a m A s h – S h a b u n i t menyatakan: “Ahlud din dan sunnah beriman akan adanya kebangkitan setelah mati di
hari kiamat serta mengimani segala yang telah diberitakan oleh Allah l tentang dahsyatnya hari yang haq tersebut….” Ba’ts (Kebangkitan)
Di antara kejadian yang akan terjadi di hari kiamat adalah ba’ts. Ba’ts adalah dihidupkannya kembali seluruh manusia yang telah mati pada hari kiamat. (Syarh Lum’atul I’tiqad hal. 115)

Ibnu Taimiyyah t menerangkan:
“Yang dimaksud di sini adalah dihidupkannya orang-orang yang telah mati dan keluarnya mereka dari kubur mereka untuk mendapatkan
keputusan di hari kiamat.” (Tanbihatus Saniyah hal. 225) Dalil akan adanya ba’ts (kebangkitan) adalah Al-Qur`an, As-Sunnah, dan ijma’.
Allah l berfirman:
“Dan dengarkanlah (seruan) pada hari penyeru (malaikat) menyeru dari tempat yang dekat. (Yaitu) pada hari mereka mendengar teriakan dengan sebenarbenarnya. Itulah hari keluar (dari kubur).” (Qaf: 41-42)
Allah l berfirman:
“Tidaklah orang-orang itu menyangka, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan pada suatu hari yang besar, (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Rabb semesta alam?” (Al- Muthaffifin: 4-6)
Allah l berfirman:
“Dari bumi (tanah) itulah, Kami menjadikan kalian, kepadanya Kami akan mengembalikan kalian, dan darinya Kami akan mengeluarkan kalian di kali yang lain.” (Thaha: 55)
Allah l berfirman:
“Dan Allah menumbuhkan kalian dari tanah dengan sebaik-baiknya, kemudian Dia mengembalikan kalian ke dalam tanah serta mengeluarkan kalian (darinya pada hari kiamat) dengan sebenar-benarnya.” (Nuh:17-18)
Dari Jabir z, Rasulullah n bersabda:
يُبْعَثُ كُلُّ عَبْدٍ عَلَى مَا مَاتَ عَلَيْهِ
“Setiap hamba akan dibangkitkan sesuai dengan keadaannya ketika meninggal.” (HR. Muslim no. 2878)
Dari Ibnu ‘Umar c, Rasulullah n bersabda:
إِذَا أَنْزَلَ اللهُ بِقَوْمٍ عَذَابًا أَصَابَ الْعَذَابُ مَنْ كَانَ
فِيهِمْ ثُمَّ بُعِثُوا عَلَى أَعْمَالِهِمْ
“Jika Allah menginginkan siksa pada suatu kaum, niscaya adzab-Nya mengenai orang yang bersama mereka, kemudian mereka akan dibangkitkan sesuai dengan amalan mereka.” (HR. Al-Bukhari no. 6575, Kitabul Fitan, Bab Idza Anzalallahu bi Qaumin ‘Adzaban)
Ayat-ayat dan hadits di atas adalah sebagian dari dalil-dalil tentang adanya ba’ts (hari manusia dihidupkan kembali). Dan kaum muslimin sepakat akan adanya ba’ts.
Setiap Orang akan Dibangkitkan Sesuai Keadaannya ketika Mati Hadits-hadits yang shahih dari Rasulullah n menunjukkan akan hal tersebut, yakni setiap orang akan dibangkitkan sesuai dengan keadaannya ketika meninggal.
Rasulullah n bersabda:
يُبْعَثُ كُلُّ عَبْدٍ عَلَى مَا مَاتَ عَلَيْهِ
“Setiap hamba akan dibangkitkan sesuai dengan keadaannya ketika meninggal.” (HR. Muslim no. 2878, Kitabul Jannah wa Shifati Na’imiha wa Ahliha, Bab Al-Amru bi Husni Zhan billahi Ta’ala ‘indal Maut)
Beliau n juga menyatakan tentang seseorang yang terluka di medan perang:
وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا يُكْلَمُ أَحَدٌ فِي سَبِيلِ اللهِ
-وَاللهُ أَعْلَمُ بِمَنْ يُكْلَمُ فِي سَبِيلِهِ- إِلَّا جَاءَ يَوْمَ
الْقِيَامَةِ وَاللَّوْنُ لَوْنُ الدَّمِ وَالرِّيحُ رِيحُ الْمِسْكِ

“Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, tidaklah ada seorang yang terluka di jalan Allah –Allah Maha Tahu siapa yang terluka di jalan-Nya– kecuali dia akan datang di hari kiamat dalam keadaan terluka, warnanya warna darah namun baunya bau misk.” (HR. Al-Bukhari no. 2593, Kitabul Jihad was Sair, Bab Man Yujrahu fi Sabilillah ‘Azza wa Jalla dan Muslim, no. 1876, Kitabul Imarah, Bab Fadhlul
Jihad wal Khuruj fi Sabilillah) Beliau n berkata tentang seseorang yang meninggal dalam keadaan ihram:
اغْسِلُوهُ بِمَاءٍ وَسِدْرٍ وَكَفِّنُوهُ فِي ثَوْبَيْهِ وَلَا تُخَمِّرُوا
رَأْسَهُ فَإِنَّ اللهَ يَبْعَثُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مُلَبِّيًا
“Mandikanlah dia dengan air dan daun bidara, kafanilah dia dengan dua pakaian ihramnya, janganlah kalian menutup kepalanya, karena Allah akan membangkitkan dia dalam keadaan bertalbiyah.” (HR. Muslim no. 1206, Kitabul Hajj, Bab Ma Yuf’alu bil Muhrim idza Mata)
Manusia Dibangkitkan ketika Malaikat Israfil Meniup Sangkakala yang Kedua Allah l berfirman:
ٱ“Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah semua makhluk yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi maka mereka pun berdiri menunggu (putusannya masing-masing).” (Az-Zumar: 68)
Asy-Syaikh Al-Hakami t berkata: “Dalam ayat ini disebutkan dua tiupan sangkakala, yang pertama untuk kematian dan yang kedua dibangkitkannya makhluk setelah kematian.” (A’lamus Sunnah Al- Mansyurah hal. 97)
Allah l berfirman:
“Dan ditiuplah sangkalala, maka tiba-tiba mereka keluar dengan segera dari kuburnya (menuju) kepada Rabb mereka.” (Yasin: 51)
Tiupan ini adalah tiupan sangkalala yang kedua, sebagaimana dalam hadits Abdullah bin ‘Amr c:
ثُمَّ يُنْفَخُ فِيهِ أُخْرَى فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُونَ
“Kemudian ditiuplah sangkakala untuk kali berikutnya. Maka manusia pun berdiri menunggu (keputusan).” (HR. Muslim no. 2940)
Manusia Dibangkitkan Kembali dari Tulang Ekornya Al-Imam Ibnul Abil ‘Izzi t berkata: “Pendapat salaf dan jumhur orang-orang
yang berakal adalah bahwa jasad manusia berubah dari satu keadaan ke yang lainnya. Menjadi tanah, kemudian Allah l bangkitkan kembali. Sebagaimana adanya perubahan pada penciptaan jasad tersebut di kehidupannya yang pertama, dari setetes mani kemudian menjadi segumpal darah kemudian menjadi segumpal daging, kemudian menjadi daging dan tulang sampai akhirnya menjadi satu jasad yang sempurna. Demikian pula Allah l kembalikan dia di kehidupan yang kedua setelah seluruh jasadnya punah kecuali pangkal tulang
ekornya. Telah disebutkan dalam kitab Ash-Shahih, Nabi n berkata:
كُلُّ ابْنِ آدَمَ يَبْلَى إِلَّا عَجَبُ الذَّنْبِ، مِنْهُ خُلِقَ
وَمِنْهُ يُرَكَّبُ
“Semua jasad bani Adam akan punah kecuali ‘ajabu dzanbi (pangkal tulang ekor), darinya ibnu Adam diciptakan dan darinya jasadnya akan kembali disusun….” (Lihat Syarh Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyah hal. 410) Ba’ts adalah Mengembalikan Jasad yang telah Hancur, Bukan Penciptaan Jasad yang Baru Allah l berfirman:

“Dan dialah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikan (menghidupkan)nya kembali, dan menghidupkan kembali itu adalah lebih mudah bagi-Nya. Dan bagi-Nyalah sifat yang Maha Tinggi di langit dan di bumi; dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Ar-Rum: 27)

Allah l berfirman:
“Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati. Sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya.” (Al-Anbiya`: 104)

A llah l berfirman:
“Dan ia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa akan kejadiannya; ia berkata: ‘Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh?’ Katakanlah: ‘Ia akan dihidupkan oleh Dzat yang menciptakannya kali yang pertama. Dan Dia Maha mengetahui tentang seluruh makhluk’.” (Yasin: 78-79)
Di dalam hadits qudsi, Allah l berfirman:
وَلَيْسَ أَوَّلُ الْخَلْقِ بِأَهْوَنَ عَلَيَّ مِنْ إِعَادَتِهِ
“Tidaklah penciptaan yang pertama lebih mudah bagi-Ku daripada mengembalikannya.”(HR. Al-Bukhari no. 4973)
Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin t berkata ketika menjelaskan perkataan Ibnu Taimiyah t: “Dikembalikan ruh-ruh kepada jasadnya”: “(Ini) dalil bahwa ba’ts adalah mengembalikan jasad yang pernah ada bukan menciptakan jasad yang baru akan tetapi mengembalikan jasad yang telah punah dan berubah. Karena jasad manusia berubah menjadi tanah, tulang manusia menjadi lapuk. Kemudian Allah l satukan kembali tubuh yang telah bercerai tersebut hingga menjadi jasad yang sempurna kemudian dikembalikanlah semua ruh kepada jasad-jasadnya. Adapun orang yang menyangka akan adanya penciptaan jasad yang baru, sangkaan ini batil, terbantahkan oleh Al-Qur`an dan As-Sunnah serta akal.” (Lihat Syarh Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah karya Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin t) Wallahu a’lam.

Keluarnya Ya’juj dan Ma’juj Pertanda Dekatnya Hari Kiamat

Dari Zainab bintu Jahsyin x bahwa Nabi n bangun dari tidurnya seraya berkata: “La ilaha illallah, celakalah orang-orang Arab, karena keburukan yang telah dekat. Telah terbuka pada hari ini dari dinding Ya`juj dan Ma`juj seperti ini.” –dan Sufyan (seorang perawi) melingkarkan tangannya dalam bentuk angka sepuluh– Kemudian saya (Zainab) berkata: “Ya Rasulullah, apakah kita akan binasa meskipun bersama kita ada orang-orang shalih? Beliau menjawab: “Ya, ketika al-khabats semakin banyak jumlahnya.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad rahimahullahu dalam Musnad-nya no. 26145, 26148; Al-Imam Al-Bukhari rahimahullahu dalam Kitab Ahaditsul Anbiya` no. 3346, Kitabul Manaqib no. 3598, Kitab Ath-Thalaq secara mu’allaq, Kitabul Fitan no. 7059, 7135; Al-Imam Muslim rahimahullahu dalam Kitabul Fitan wa ‘Asyrathus Sa’ah no. 7164-7168; Al-Imam At-Tirmidzi rahimahullahu dalam Kitabul Fitan ‘an Rasulillah no. 2187; Al-Imam Ibnu Majah rahimahullahu dalam Kitabul Fitan no. 3953.

Jalur Periwayatan Hadits

Hadits ini juga diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiallahuanhu, seperti yang disebutkan Al-Imam Al-Bukhari dalam Kitabul Fitan no. 7059.

Adapun riwayat dari Zainab bintu Jahsyin radhiallahuanha, terjadi perselisihan dalam jalur periwayatannya. Para rawi murid-murid Sufyan bin ‘Uyainah yang meriwayatkan dari beliau seperti ‘Amr bin Muhammad An-Naqid (dalam Shahih Muslim), Malik bin Isma’il (dalam Shahih Al-Bukhari), Sa’id bin Manshur (dalam Sunan-nya), Qutaibah dan Harun bin Abdillah (dalam riwayat Al-Isma’ili), Al-Qa’nabi (dalam riwayat Abu Nu’aim dan Musnad Musaddad), meriwayatkan hadits ini tanpa menyebutkan tambahan rawi Habibah bintu Ummu Habibah1.

Dalam Shahih Al-Bukhari terdapat riwayat dari ‘Uqail bin Khalid Al-Aili, Syu’aib bin Abi Hamzah Al-Umawi, Muhammad bin Abi ‘Atiq, semuanya meriwayatkan dari Az-Zuhri dan tidak ada dalam sanadnya penyebutan Habibah bintu Ummu Habibah. Dalam Shahih Muslim diriwayatkan dari jalan Yunus bin Yazid Al-Aili, ‘Uqail bin Khalid, dan Shalih bin Kaisan, semuanya dari Az-Zuhri, tanpa menyebutkan Habibah. Sementara pada riwayat yang lain, Al-Imam Muslim meriwayatkan dari jalan Abu Bakr bin Abi Syaibah, Sa’id bin ‘Amr Al-Asy’atsi, Zuhair bin Harb, Muhammad bin Yahya bin Abi ‘Umar. Keempat rawi ini semuanya meriwayatkan dari Sufyan, dari Az-Zuhri. Al-Imam Muslim berkata: “Dalam meriwayatkannya, mereka menambahkan seorang rawi yang bernama Habibah bintu Ummu Habibah, dari Ummu Habibah.” Al-Imam At-Tirmidzi meriwayatkan dari jalan Sa’id bin Abdirrahman, Muhammad bin Ahmad Al-Qaisi, Abdullah bin Az-Zubair Al-Qurasyi, ‘Ali bin Abdillah Al-Bashri, semuanya dari Sufyan bin ‘Uyainah. Al- Imam At-Tirmidzi berkata: “Sufyan telah membaguskan (periwayatan) hadits ini.” Abu Nu’aim juga meriwayatkan dalam kitabnya Al-Mustakhraj, dari jalan Al- Humaidi. Beliau berkata dalam riwayatnya: “Dari Habibah bintu Ummu Habibah, dari ibunya (Ummu Habibah)…” Dan disebutkan di akhir perkataan beliau: “Sufyan telah berkata: Aku menghafal (mendapatkan) hadits ini dari Az-Zuhri, ada empat orang wanita, semuanya telah melihat Nabi sallahu’alaihi wassallam.

Dua dari istrinya, yaitu Ummu Habibah dan Zainab bintu Jahsyin, dan dua rabibah (anak tiri beliau n) yaitu Zainab bintu Abi Salamah dan Habibah bintu Ummu Habibah.” Al-Imam An-Nasa`i meriwayatkan dari jalan Ubaidullah bin Sa’id, sedangkan Al- Imam Ibnu Majah dari jalan Abu Bakr bin Abi Syaibah, Al-Isma’ili dari riwayat Al-Aswad bin ‘Amir; mereka semua meriwayatkan dari Ibnu ‘Uyainah dan menambahkan Habibah dalam meriwayatkannya. Diagram periwayatan yang tidak menyebutkan rawi Habibah bintu Ummu Habibah:
Diagram periwayatan yang menambahkan adanya Habibah bintu Ummu Habibah: Al-Isma’ili meriwayatkan dari jalan Harun bin Abdillah, ia berkata: “Al-Aswad bin ‘Amir telah berkata kepadaku: Bagaimana hadits ini dihafal dari Ibnu ‘Uyainah? Kemudian beliau Ibnu ‘Uyainah menyebutkan kepada Al-Aswad bin ‘Amir riwayat yang tidak terdapat padanya Habibah dan beliau berkata: “Akan tetapi Az-Zuhri telah memberitakan kepada kami dari Urwah, dari empat wanita, semuanya telah berjumpa dengan Nabi Sallallahu’alaihi wassallam, sebagian mereka dari yang sebagian lain….” Al-Imam Ad-Daraquthni berkata: “Saya mengira bahwa Sufyan terkadang meriwayatkan hadits ini dengan menyebut Habibah dan terkadang tidak menyebutnya.” Al-Imam An-Nawawi berkata: “Pada sanad hadits di atas terkumpul empat shahabiyah, dua istri Rasulullah sallallahu’alaihi wassallam (Ummu Habibah dan Zainab bintu Jahsyin) dan dua anak tiri beliau sallallahu’alaihi wassallam (Zainab bintu Ummu Salamah dan Habibah bintu Ummu Habibah).
Sebagian mereka meriwayatkan dari sebagian yang lain. Dan saya tidak mengetahui ada sebuah hadits yang terkumpul padanya empat shahabiyah yang sebagian meriwayatkan dari sebagian yang lain kecuali hadits ini.” (Lihat Fathul Bari, 13/15-16 cet. Darul Hadits, Al-Minhaj, 18/211-213)
Makna Hadits
مِنْ نَوْمِهِ اسْتَيْقَظَ
“Bangun dari tidurnya.” Pada riwayat yang lain terdapat tambahan: مُحْمَرًّا وَجْهُهُ (memerah wajahnya). Dalam riwayat yang lain, Rasulullah sallallahu’alaihi wassallam keluar pada suatu hari dalam keadaan terkejut dan memerah wajahnya. Al-Hafizh t berkata: “Yang menyebabkan memerahnya wajah beliau n adalah karena keterkejutannya.”

وَيْلٌ لِلْعَرَبِ مِنْ شَرٍّ قَدِ اقْتَرَبَ
“Celakalah orang-orang Arab dari keburukan yang telah dekat.” Dalam hadits ini disebutkan orang Arab secara khusus karena waktu itu merekalah yang paling banyak memeluk agama Islam. Adapun yang dimaksud dengan keburukan yaitu apa yang terjadi sepeninggal beliau berupa pembunuhan ‘Utsman bin ‘Affan z yang disusul fitnah-fitnah berikutnya. Sehingga keadaan orang-orang Arab di
antara umat manusia seperti santapan yang diperebutkan. Al-Qurthubi berkata: “Kemungkinan, maksud keburukan di sini
adalah apa yang diisyaratkan dalam hadits Ummu Salamah: ‘Apa gerangan fitnahfitnah yang turun pada malam hari ini? Dan apa gerangan perbendaharaan Allah yang turun?’ Kemudian Rasulullah n pun mengisyaratkan penaklukan negeri-negeri sehingga berlimpah ruahlah harta di tangan mereka, sehingga terjadilah saling berlomba yang menghantarkan kepada fitnah.”

فُتِحَ الْيَوْمَ مِنْ رَدْمِ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ
“Telah terbuka pada hari ini dari dinding Ya`juj dan Ma`juj.” Yang dimaksud dengan الرَّدْمُ artinya السَّدُ yaitu dinding yang dibangun oleh Dzulqarnain. Al-Kasa`i berkata: “Huruf sin di sini boleh di-dhammah ( السُّدُ ) atau di-fathah ( السَّدُ ) dan maknanya sama.” Abu ‘Amr ibnul ‘Ala` berkata: “Apabila dinding itu ciptaan Allah l maka dengan mendhammah, dan apabila buatan bani Adam maka dengan mem-fathah.”
Ya`juj wa Ma`juj adalah dari bani Adam. Mereka adalah dua kabilah (bangsa) dari anak keturunan Yafits bin Nuh. Di antara yang berpendapat demikian adalah Wahb dan selainnya. Al-Imam An-Nawawi dan yang lainnya mengisyaratkan sebuah cerita bahwa ada yang berkata (yakni Ka’b Al-Ahbar): “Mereka dari anak Adam dari selain Hawa (red). Nabi Adam ‘alaihissalam tidur lalu mimpi basah dan tercampurlah air maninya dengan tanah dan lahirlah darinya Ya`juj dan Ma`juj.” Al-Hafizh berkata: “Ini adalah pendapat yang sangat mungkar. Tidak ada
asal-usulnya kecuali dari ahli kitab.” Disebutkan juga dalam fatwa Asy- Syaikh Muhyiddin bahwa Ya`juj dan Ma`juj adalah keturunan Adam namun bukan dari Hawa, dan itulah pendapat jumhur ulama, sehingga mereka itu saudara kita sebapak. Al-Hafizh menyatakan: “Kami tidak mengetahui pendapat ini dari seorang ulama salaf kecuali Ka’b Al-Ahbar. Dan hal ini terbantah dengan hadits marfu’ yang
menyebutkan bahwa Ya`juj dan Ma`juj adalah keturunan Nuh, sedangkan Nuh –tidak dipungkiri lagi– adalah keturunan Adam dan Hawa.
Ada juga yang berpendapat bahwa mereka dari bangsa At-Turk. Di antara yang berpendapat demikian adalah Adh- Dhahhak. Ada pula yang menyatakan bahwa Ya`juj dari bangsa At-Turk sedangkan Ma`juj dari Ad-Dailam. Al-Hafizh rahimahullahu berkata: “Telah disebutkan satu riwayat bahwa seorang nabi tidaklah mimpi basah. Maka bagaimana dikatakan Ya`juj dan Ma`juj berasal dari perpaduan air mani Nabi Adam ‘alaihissalam dengan tanah? Jawabannya, riwayat yang menyatakan bahwa seorang nabi tidak mimpi basah ialah bahwa seorang nabi tidak melihat dalam tidurnya bersetubuh. Sehingga kemungkinan yang terjadi adalah terpancarnya air mani saja. Dan yang seperti ini dimungkinkan sebagaimana kencing. Pendapat pertama yang kuat untuk dijadikan pegangan. Kalau tidak, di manakah keberadaan mereka saat terjadinya banjir besar (yang menimpa kaum Nuh ‘alaihissalam)?”
Kebanyakan pendapat menyatakan bahwa nama Ya`juj dan Ma`juj merupakan nama ‘ajam (bukan dari bahasa Arab), walaupun ada yang menyatakannya berasal dari bahasa Arab. Dari pendapat yang menyatakan kedua lafadz ini dari bahasa Arab, terjadi perselisihan terhadap asal kata Ya`juj dan Ma`juj. Ada yang mengatakan dari kata أَجِيْجُ النَّارِ yaitu nyala/jilatan api (bergejolak). Ada yang mengatakan dari kata الْأَجَّةُ yaitu bercampur atau sangat panas. Ada pula yang mengatakan dari kata الْأَجُّ yaitu yang cepat larinya. Yang lain mengatakan dari الْأُجَاجُ yaitu air yang sangat asin.

Wazan (timbangan kata dalam bahasa Arab) Ya`juj dan Ma`juj adalah يَفْعُولُ وَمَفْعُولُ dan inilah yang nampak dari qiraah ‘Ashim dan yang lainnya. Ada yang mengatakan فَاعُولُ dari يَجَّ dan مَجَّ sehingga dibaca يَاجُوجُ مَاجُوجُ . Ada yang mengatakan kata مَاجُوجُ berasal dari kata مَاجَ yaitu bergerak. Dan semua asal kata yang disebutkan di atas sesuai dengan keadaan mereka. Pendapat yang menyatakan bahwa ia berasal dari kata: مَاجَ yaitu bergerak, dikuatkan oleh ayat:
“Kami biarkan mereka (Ya`juj dan Ma`juj) di hari itu bercampur-aduk antara satu dengan yang lain.” (Al-Kahfi: 99) Hal itu terjadi ketika mereka keluar dari dalam dinding. Adapun yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Adi, Ibnu Abi Hatim, Ath-Thabarani dalam Al-Ausath, dan Ibnu Mardawaih dari hadits Hudzaifah yang menyebutkan sifat mereka bahwa Rasulullah n bersabda: “Ya`juj itu umat dan Ma`juj itu umat. Setiap umat terdapat 400 ribu orang. Tidaklah meninggal salah seorang dari mereka hingga melihat seribu laki-laki dari keturunannya,
semuanya telah bersenjata.” Al-Hafizh menyatakan hadits ini maudhu’ (palsu). Ibnu Abi Hatim mengatakan: “Mungkar, dalam sanadnya terdapat seorang rawi yang bernama Yahya bin Sa’id Al- ‘Aththar, dia adalah seorang yang sangat lemah. Namun pada sebagian jalan terdapat penguat yang shahih, seperti pada riwayat Ibnu Hibban dari sahabat Ibnu Mas’ud radhiallahuanhu, Rasulullah sallahu ‘alaihi wassalam bersabda: “Sesungguhnya keturunan yang ditinggalkan salah seorang dari Ya`juj dan Ma`juj paling sedikit seribu orang.”
Al-Hakim meriwayatkan dari Abul Jauza` Aus bin Abdillah Ar-Raba’i Al-Bashri dari Ibnu Abbas c, bahwa Ya`juj dan Ma`juj sejengkal-sejengkal, dua jengkal dua jengkal, dan yang paling tinggi tiga jengkal, dan mereka adalah anak keturunan Adam. (Fathul Bari, 13/130-131) وَعَقَدَ سُفْيَانُ بِيَدِهِ عَشَرَةً “Sufyan melingkarkan jari membentuk angka sepuluh.” Pada sebagian riwayat dari Yunus dari Az-Zuhri disebutkan beliau melingkarkan kedua jarinya, yaitu ibu jari dengan yang setelahnya (jari telunjuk). (Dalam program dan kitab: … tanpa menyebutkan melingkarkan kedua jarinya) Dalam hadits Abu Hurairah z terdapat tambahan: “Dan Wuhaib melingkarkan tangannya membentuk angka sepuluh.” (Dalam program dan kitab: angka sembilan puluh) Al-Imam An-Nawawi berkata: “Adapun riwayat Sufyan dan Yunus, pada keduanya terjadi kesesuaian dalam hal makna. Adapun riwayat dari Abu Hurairah z menyelisihi, karena bentuk lingkaran sembilan puluh lebih sempit daripada sepuluh.” Al-Qadhi berkata: “Kemungkinan, hadits Abu Hurairah lebih dahulu. Atau yang dimaksud dengan dekat di sini hanyalah sebagai permisalan dan bukan hakikat pembatasan.” Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata: “Makna membentuk lingkaran sepuluh yaitu dengan meletakkan ujung telunjuk jari yang kanan pada ruas bagian atas ibu jari bagian dalam. Adapun membentuk lingkaran sembilan puluh yaitu dengan meletakkan ujung telunjuk jari kanan pada pangkalnya. Ibnu At-Tin menukilkan dari Ad-Dawudi bahwa caranya adalah dengan meletakkan telunjuk jari pada pertengahan ibu jari.”
أَنَهْلِكُ وَفِينَا الصَّالِحُونَ
“Apakah kita akan binasa meskipun bersama kita ada orang-orang shalih?” Pada sebagian riwayat terdapat lafadz: Zainab bintu Jahsyin x berkata: “Wahai Rasulullah, apakah Allah l akan mengadzab kami….” Lafadz “bersama kita ada orang-orang shalih” seolah-olah ini diambil dari ayat:

“Tetapi Allah tidak akan menghukum mereka selama engkau (Muhammad) ada di antara mereka.” (Al-Anfal: 33)

إِذَا كَثُرَ الْخَبَثُ
“Ketika al-khabats semakin banyak jumlahnya.” Jumhur ulama menafsirkannya dengan makna kefasikan dan kejahatan. Ada yang berpendapat maknanya adalah zina secara khusus. Pendapat lain mengatakan: anak-anak zina. Al-Imam An-Nawawi t berkata: “Yang nampak dalam hal ini adalah kemaksiatan secara mutlak.” Ibnul ‘Arabi berkata: “Lafadz ini menjelaskan bahwa orang yang baik bisa binasa dengan binasanya orang yang buruk, apabila orang yang jelek itu tidak diubah. Atau apabila diubah namun tidak bermanfaat dan orang yang buruk itu terus melakukan amalan jeleknya. Hingga hal itu tersebar dan semakin banyak, sehingga kerusakan merata. Di saat itulah kebinasaan menimpa kepada yang sedikit maupun yang banyak, kemudian masing-masing akan dibangkitkan sesuai dengan niatnya. Seolah-olah dipahami dari terbukanya dinding seukuran yang disebutkan, apabila terus terjadi maka lubang itu menjadi lebar di mana mereka (Ya`juj dan Ma`juj) dapat keluar. Lafadz ini juga menunjukkan bahwa dia (Zainab) mengetahui bahwa keluarnya Ya`juj dan Ma`juj pada manusia akan menjadi sebab kebinasaan hidup manusia secara keseluruhan.” (Fathul Bari, 13/134) Keluarnya Ya`juj dan Ma`juj adalah perkara yang ditetapkan berdasarkan Al-Qur`an dan As-Sunnah. Allah l berfirman:
“Hingga apabila dibukakan tembok (dinding) Ya`juj dan Ma`juj serta mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi dan telah dekatlah kedatangan janji yang benar (hari berbangkit).” (Al- Anbiya: 96-97)

Nabi n bersabda:
إِنَّهَا لَنْ تَقُومَ حَتَّى تَرَوْنَ قَبْلَهَا عَشْرَ آيَاتٍ –
فَذَكَرَ الدُّخَانَ وَالدَّجَّالَ وَالدَّابَّةَ وَطُلُوعَ الشَّمْسِ
وَيَأَجُوجَ n مِنْ مَغْرِبِهَا وَنُزُولَ عِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ
وَمَأْجُوجَ وَثَلَاثَةَ خُسُوفٍ خَسْفٌ بِالْمَشْرِقِ وَخَسْفٌ
بِالْمَغْرِبِ وَخَسْفٌ بِجَزِيرَةِ الْعَرَبِ وَآخِرُ ذَلِكَ نَارٌ
تَخْرُجُ مِنَ الْيَمَنِ تَطْرُدُ النَّاسَ إِلَى مَحْشَرِهِمْ
“Sesungguhnya kiamat tidak akan tiba sampai kalian melihat sepuluh tanda. Kemudian beliau menyebutkan kabut, dajjal, binatang yang bisa berbicara, terbitnya matahari dari barat, turunnya Isa bin Maryam, keluarnya Ya`juj dan Ma`juj, tiga khusuf: di timur, barat, dan di  jazirah arab, yang terakhir (kesepuluh) keluarnya api dari Yaman menggiring manusia ke tempat berkumpulnya mereka.” (HR. Muslim no. (2901)(39) dari hadits Hudzaifah bin Usaid Al-Ghifari z)

Keluarnya mereka –yang merupakan tanda hari kiamat– belumlah terjadi sekarang, namun tanda-tanda keluarnya telah ada sejak jaman Nabi n. Disebutkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim bahwa Nabi n bersabda:
فُتِحَ الْيَوْمَ مِنْ رَدْمِ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ مِثْلُ هَذِهِ
وَحَلَّقَ بِإِصْبَعَيْهِ الْإِبْهَامِ وَالَّتِي تَلِيهَا
“Telah mulai terbuka hari ini dari dinding Ya`juj dan Ma`juj sebesar (lubang) ini.” Rasulullah membuat lingkaran dengan dua jarinya, ibu jari dan jari telunjuk. (HR. Al-Bukhari dari Zainab bintu Jahsyin x)
[Lum’atul ‘Itiqad, hal. 108-109] Wallahu a‘lam bish-shawab.

Catatan Kaki:

1 Habibah bintu Ummu Habibah ini adalah Habibah bintu Ubaidullah bin Jahsyin. Beliau termasuk yang ikut hijrah ke
Habasyah (Ethiopia). Ayahnya beragama Nasrani dan meninggal di Habasyah. Sedangkan ibunya (Ummu Habibah) tetap
memeluk Islam dan kemudian dinikahi Nabi n sehingga beliau menjadi anak tiri (rabibah) Nabi n, sekaligus sebagai
keponakan Zainab. Karena Zainab bintu Jahsyin adalah saudara kandung ayah Habibah, maka (Zainab bintu Jahsyin) adalah
bibi Habibah dari pihak ayah (‘ammah).

Ya’juj dan Ma’juj, Bangsa Perusak dan Kebinasaannya

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal Al-Bugisi)

“Hingga apabila dibukakan (dinding) Ya`juj dan Ma`juj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi. Dan telah dekatlah kedatangan janji yang benar (hari berbangkit), maka tiba-tiba terbelalaklah mata orang-orang yang kafir. (Mereka berkata): ‘Aduhai, celakalah kami, sesungguhnya kami adalah dalam kelalaian tentang ini, bahkan kami adalah orang-orang yang dzalim’.” (Al-Anbiya`: 96-97)

Penjelasan Beberapa Mufradat Ayat “Dibukakan.” Dibaca dengan takhfif tanpa tasydid. Sebagian membacanya dengan tasydid ( فُتِّحَتْ ). Ini adalah bacaan Ibnu ‘Amir, Abu Ja’far, dan Ya’qub. (Tafsir Al-Baghawi) Dan yang dimaksud terbuka di sini adalah dinding yang menghalangi keluarnya Ya`juj dan Ma`juj.
Jumhur ulama membacanya tanpa hamzah ( يَاجُوجُ وَمَاجُوجُ ), adapun qira`ah ‘Ashim dengan hamzah yang disukun. Terjadi perselisihan apakah kedua nama ini berasal dari bahasa Arab ataukah bukan. Yang berpendapat bahwa keduanya dari bahasa Arab, mereka mengatakan bahwa keduanya berasal dari kata ajja ( أَجَّ ), yang berarti berkobar. Atau dari kata ujaaj ( ,(أُجَاجٌ yang berarti air yang sangat asin. Atau dari kata al-ajj ( الْأَجُّ ), yang berarti melangkah dengan cepat. Atau Ma`juj berasal dari kata maaja ( مَاجَ ) yang berarti goncang. Setiap dari akar kata ini memiliki kesesuaian dengan sifat kaum Ya`juj dan Ma`juj tersebut. ” (Asyrathus Sa’ah, Yusuf Al-Wabil hal. 365-366)

Hadab adalah tempat yang tinggi, seperti gunung dan tempat-tempat yang tinggi lainnya. Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas dan Mujahid bahwa beliau membacanya dengan lafadz ( جَدَثٍ ), dengan huruf jim dan di akhirnya adalah tsa` yang berarti kuburan. (Tafsir Al-Alusi dan Al-Baghawi) “Janji yang benar.” Yang dimaksud dengan janji yang benar di sini adalah hari kiamat. Ini menunjukkan bahwa keluarnya Ya`juj dan Ma`juj merupakan penanda semakin dekatnya hari kiamat. Oleh karenanya, Rasulullah sallallahu’alaihi wassallam menyebutkan keluarnya mereka dengan tanda-tanda hari kiamat besar lainnya. Beliau bersabda:
لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَرَوْا عَشْرَ آيَاتٍ؛ طُلُوعَ
الشَّمْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا، وَيَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ، وَالدَّابَّةَ،
وَثَلَاثَةَ خُسُوفٍ: خَسْفٌ بِالْمَشْرِقِ وَخَسْفٌ
بِالْمَغْرِبِ وَخَسْفٌ بِجَزِيرَةِ الْعَرَبِ، وَنَارٌ تَخْرُجُ مِنْ
قَعْرِ عَدَنَ تَسُوقُ النَّاسَ أَوْ تَحْشُرُ النَّاسَ فَتَبِيتُ
مَعَهُمْ حَيْثُ بَاتُوا وَتَقِيلُ مَعَهُمْ حَيْثُ قَالُوا
“Tidak akan tegak hari kiamat sampai kalian melihat sepuluh tanda: terbitnya matahari dari tempat terbenamnya, Ya`juj dan Ma`juj,  keluarnya binatang, tiga khusuf: di timur, di barat, dan di jazirah Arab, api yang keluar dari negeri Aden (kota di Yaman) yang menggiring manusia atau mengumpulkan manusia, di malam dan siang hari tetap bersama mereka di manapun mereka berada.” (HR. At-Tirmidzi no.
2183)
Penjelasan Ayat Al-Allamah Abdurrahman As-Sa’di  berkata:
“(Ayat) ini merupakan peringatan dari Allah subhanahuwata’ala kepada manusia ketika mereka masih tetap berada di atas kekufuran dan kemaksiatan,  bahwa sesungguhnya telah dekat terbukanya dinding Ya`juj dan Ma`juj. Keduanya adalah kabilah yang besar dari keturunan Adam. Dzulqarnain telah menutup mereka dengan dinding ketika dikeluhkan kepadanya tentang perbuatan merusak mereka di muka bumi. Pada akhir zaman nanti, dinding tersebut akan terbuka. Lalu mereka keluar menuju manusia dengan keadaan dan sifat yang Allah subhanahuwata’ala sebutkan
dari setiap tempat yang tinggi, yaitu al-hadab. Lantas bergerak dengan cepat. Maka ini menunjukkan jumlah mereka yang sangat banyak bersamaan dengan gerakan mereka yang cepat di muka bumi. Apakah tubuhtubuh mereka yang bergerak cepat atau dengan sesuatu yang Allah k ciptakan untuk mereka berupa sebab-sebab yang bisa ‘mendekatkan yang jauh dan memudahkan yang sulit’. Mereka menguasai manusia dan mengalahkan mereka di dunia. Tidak seorang pun mampu memerangi mereka. “Dan semakin dekatlah janji yang benar”
yaitu hari kiamat yang Allah subhanahuwata’ala janjikan kedatangannya dan janji-Nya adalah benar dan pasti. Maka pada hari itu engkau melihat pandangan orang-orang kafir menjadi terbelalak disebabkan rasa takut dan ngeri yang meliputi mereka serta berbagai goncangan yang menakutkan, yang dahulu mereka tidak mengetahui akibat dari pelanggaran dan dosa mereka. Merekapun berseru dengan kebinasaan, kesengsaraan,
serta penyesalan terhadap apa yang telah lewat. Dan mereka mengatakan: ‘Sungguh kami telah lalai dari hari yang besar ini, kami masih terus tenggelam (dalam kelalaian), dan bersenang-senang dengan kelalaian dunia, sampai keyakinan (ajal) menjemput kami. Lalu kami mendatangi hari kiamat, yang kalau seseorang mati disebabkan karena menyesal tentu dia akan mati.’ “Bahkan kami dahulu termasuk orang-orang yang dzalim”, mereka pun telah mengakui perbuatan dzalim mereka dan keadilan Allah subhanahuwata’ala terhadap mereka. Di saat itulah mereka diperintahkan menuju neraka, bersama apa yang mereka sembah.” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman)
Ayat ini menjelaskan tentang salah satu tanda kiamat besar yang akan terjadi di akhir zaman. Allah subhanahuwata’ala memperlihatkan sebuah kejadian besar yang belum pernah mereka alami sebelumnya. Di antara kejadian besar tersebut adalah keluarnya dua bangsa yang memiliki banyak keturunan yang melakukan perbuatan-perbuatan yang belum pernah disaksikan oleh manusia sebelumnya. Mereka itulah yang disebut dengan bangsa Ya`juj dan Ma`juj. (Lihat Adhwa`ul Bayan, Asy- Syinqithi, 4/131)
Siapa dan Di Manakah Mereka? Ada yang mengatakan bahwa mereka berasal dari keturunan Adam, bukan dari Hawa. Sebab tatkala Adam dalam keadaan junub, air maninya bercampur dengan tanah, sehingga Allah subhanahuwata’ala menciptakan Ya`juj dan Ma`juj darinya. Namun pendapat ini tidak dibangun di atas hujjah yang shahih. Al Hafizh Ibnu Hajar t berkata: “Kami tidak melihat pendapat ini dari seorang pun dari kalangan salaf, kecuali dari Ka’b Al-Ahbar. Dan hal ini terbantahkan dengan hadits yang marfu’ bahwa mereka berasal dari keturunan Nuh q. Dan telah dipastikan bahwa Nuh berasal dari keturunan Hawa.” (Fathul Bari, 13/107) Ibnu Katsir t juga berkata: “Ini adalah pendapat yang sangat aneh terlebih tidak disertai dengan dalil. Baik secara ‘aqli (rasio) maupun naqli (riwayat). Dan apa-apa yang dinukilkan sebagian ahlul kitab tidak bisa dijadikan sandaran di sini, yang diketahui bahwa mereka meriwayatkan hadits-hadits palsu.” (Tafsir Ibnu Katsir, 3/105) Hal ini juga dikuatkan dengan hadits yang diriwayatkan Al-Imam Al-Bukhari t dari Abu Sa’id Al-Khudri z  bahwa Rasulullah sallallahu’alaihi wassallam bersabda: “Allah subhanahuwata’ala berfirman: “Wahai Adam.” Ia menjawab: “Aku penuhi panggilan-Mu dan kebaikan seluruhnya pada kedua tangan-Mu.” Lalu Allah subhanahuwata’ala berfirman: “Keluarkanlah pasukan penghuni neraka.” Adam bertanya: “Berapa banyak pasukan penghuni neraka?” (Allah subhanahuwata’ala) berfirman: “Dari setiap seribu keluarkan 999 (dan satu ke dalam surga).” Maka di saat itu anak kecil beruban dan setiap wanita hamil akan mengeluarkan kandungannya, dan engkau melihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal mereka tidak mabuk, akan tetapi adzab Allah yang demikian pedih. (para sahabat) bertanya: “Lalu bagaimana kami dari satu (yang selamat) tersebut?” Nabi n menjawab: “Bergembiralah, karena sesungguhnya satu orang dari kalian dan seribu orang dari Ya`juj dan Ma`juj.” (HR. Al-Bukhari no. 3170) Adapun keberadaan mereka, telah disebutkan dalam ayat yang lain. Tatkala Allah k menjelaskan apa yang dilakukan Dzulqarnain terhadap mereka untuk menghalangi kejahatan yang mereka lakukan terhadap manusia. Firman-Nya: “Hingga apabila dia telah sampai di antara dua buah gunung, dia mendapati di hadapan keduanya, suatu kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraan. Mereka berkata: ‘Hai Dzulqarnain, sesungguhnya Ya`juj dan Ma`juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka?’ Dzulqarnain berkata: ‘Apa yang telah dikuasakan oleh Rabbku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik, maka bantulah aku dengan kekuatan (manusia dan alat-alat), agar aku membuatkan dinding antara kalian dan mereka, berilah aku potongan-potongan besi.’ Hingga apabila besi itu telah sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, berkatalah Dzulqarnain: ‘Tiuplah (api itu).’ Hingga apabila besi itu sudah menjadi (merah seperti) api, diapun berkata: ‘Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar kutuangkan ke atas besi panas itu.’ Maka mereka tidak bisa mendakinya dan mereka tidak bisa (pula) melubanginya. Dzulqarnain berkata: ‘Ini (dinding) adalah rahmat dari Rabbku, maka apabila sudah datang janji Rabbku Dia akan menjadikannya hancur luluh; dan janji Rabbku itu adalah benar’.” (Al-Kahfi: 93-98) Dari firman Allah subhanahuwata’ala ini, ada beberapa hal yang menjelaskan tentang keadaan mereka: – Mereka adalah bangsa yang melakukan kerusakan di muka bumi. Dijelaskan dalam hadits yang diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amr c bahwa Rasulullah sallallahu’alaihi wassallam bersabda:

إِنَّ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ مِنْ وَلَدِ آدَمَ وَلَوْ أُرْسِلُوا

لَأَفْسَدُوا عَلَى النَّاسِ مَعَايِشَهُمْ وَلَنْ يَمُوتَ مِنْهُمْ

رَجُلٌ إِلاَّ تَرَكَ مِنْ ذُرِّيَّتِهِ أَلْفًا فَصَاعِدًا

“Sesungguhnya Ya`juj dan Ma`juj dari keturunan Adam. Sekiranya mereka dilepas niscaya mereka akan merusak kehidupan manusia. Dan tidak mati salah seorang dari mereka melainkan ia meninggalkan dari keturunannya seribu atau lebih.” (HR. Ath-Thabarani dalam Al-Kabir dan Al-Ausath) Al-Haitsami t menyatakan: “Para perawinya terpercaya.” (Majma’ Az- Zawa`id, 8/6) Al-Hafizh t berkata: “Diriwayatkan oleh ‘Abd bin Humaid dari hadits Abdullah bin Salam dengan sanad yang shahih.” (Fathul Bari, 13/106) Namun Ibnu Katsir t berkata setelah menyebutkan hadits yang diriwayatkan oleh Ath-Thabarani t tersebut: “Ini adalah hadits gharib. Dan ada kemungkinan hadits ini dari perkataan Abdullah bin ‘Amr dari zamilatain (dua buah kitab yang beliau dapatkan pada perang Yarmuk yang di dalamnya berisi berita-berita Israiliyat).” Juga diriwayatkan dari hadits Abu Sa’id Al-Khudri z bahwa Rasulullah sallallahu’alaihi wassallam bersabda: “Akan terbuka (dinding) Ya`juj dan Ma`juj sehingga mereka keluar sebagaimana yang difirmankan Allah ‘dari setiap ketinggian mereka bergerak dengan cepat’. Lalu mereka menguasai bumi. Dan kaum muslimin menjauhi mereka sehingga tinggallah kaum muslimin di kampung dan benteng-benteng mereka, lalu mereka kumpulkan hewanhewan ternak bersama mereka. Sehingga tatkala mereka (Ya`juj dan Ma`juj) lewat di sebuah danau, mereka pun meminum (air) nya hingga tidak menyisakan sedikitpun. Maka orang yang terakhir dari mereka melewati bekasnya, lalu salah seorang dari mereka berkata: ‘Di tempat ini tadi ada air.’ Lalu merekapun mengalahkan penduduk bumi, lalu salah seorang dari mereka berkata: ‘Mereka ini penduduk bumi, kita telah selesai dari mereka. Maka kita akan mengalahkan penghuni langit.’
Sampai salah seorang dari mereka ada yang melemparkan tombaknya1 ke langit lalu kembali dalam keadaan berlumuran darah, lalu mereka berkata: “Kami telah membunuh penghuni langit.” Di saat mereka dalam keadaan demikian, seketika Allah k mengirim binatang-binatang seperti ulat, lalu masuk ke leher-leher mereka. Mereka pun mati seperti matinya belalang, saling bertumpuk satu dengan yang lain. Sehingga kaum muslimin pun tidak mendengar lagi tentang perbuatan mereka. Lalu mereka mengatakan: ‘Siapakah orang yang mau
mengorbankan dirinya untuk melihat apa yang mereka lakukan?’ Salah seorang dari mereka lalu keluar dengan siap merelakan dirinya untuk dibunuh oleh Ya`juj dan Ma`juj. Ternyata dia mendapati mereka (Ya`juj dan Ma`juj) sudah menjadi bangkai. Diapun berseru: ‘Bergembiralah, telah binasa musuh kalian.’ Manusia pun keluar lalu melepaskan hewan ternak mereka. Maka merekapun tidak  mempunyai makanan kecuali daging-daging mereka (Ya`juj dan Ma`juj), sehingga menjadikan mereka gemuk seperti gemuk yang paling sempurna dari tumbuhan yang pernah ia makan.” (HR. Ibnu Majah no. 4079. Dishahihkan Al-Albani t dalam Shahih Ibnu Majah)

– Mereka terisolir di antara dua gunung, dan benteng yang mengisolir itu berasal dari besi yang bercampur dengan tembaga. Namun tidak diketahui secara persis di daerah mana keberadaan dinding tersebut. Ada beberapa riwayat yang menyebutkan tentang hal ini, namun riwayat tersebut terdapat kelemahan dalam sanadnya. Al- Hafizh t juga menyebutkan sebuah kisah tentang Khalifah Al-Watsiq yang mengirim sebagian utusannya untuk meneliti dinding tersebut, namun beliau menyebutkan riwayat ini tanpa sanad. Wallahu a’lam. (Tafsir
Ibnu Katsir, 3/105) Al-Lajnah Ad-Da`imah ditanya:

“Siapakah Ya`juj dan Ma`juj? Dan di negeri manakah mereka? Apakah mereka ada di muka bumi?” Al-Lajnah menjawab: “Ya`juj dan Ma`juj adalah keturunan Adam dari anak Yafits bin Nuh q. Mereka tinggal di benua Asia bagian selatan Cina. Dan mereka ada di muka bumi seperti anak cucu Adam lainnya. Mereka adalah orang-orang yang memiliki kekuatan, merusak di muka bumi. Allah subhanahuwata’ala berfirman menjelaskan sifat perjalanan Dzulqarnain menuju ujung timur dan apa yang beliau lakukan berupa perbaikan dalam perjalanan tersebut (lalu Al-Lajnah menyebut ayat 89-99 dari surat Al-Kahfi). (Lihat Fatawa Al-Lajnah Ad-Da`imah, 3/149-150) Samahatus Syaikh Ibn Baz t juga ditanya tentang Ya`juj dan Ma`juj. Beliau menjawab: “Mereka berasal dari keturunan Adam, akan keluar pada akhir zaman. Mereka tinggal di arah timur. Bangsa At- Turk (Mongol) termasuk dari mereka, lalu mereka dibiarkan di luar dinding (benteng yang dibuat  zulqarnain), dan tinggallah Ya`juj dan Ma`juj di balik dinding tersebut. Sedangkan bangsa Mongol di luar dinding. Ya`juj dan Ma`juj termasuk dari bangsa timur, ujung timur. Dan mereka akan keluar pada akhir zaman dari Cina dan sekitarnya, setelah keluarnya Dajjal dan turunnya Isa bin Maryam n. Sebab, mereka dibiarkan tinggal di sana tatkala Dzulqarnain membangun benteng, sehingga mereka berada di baliknya, sedangkan bangsa Mongol dan Tartar di luar benteng. Dan jika Allah subhanahuwata’ala menghendaki keluarnya mereka kepada manusia, maka mereka keluar dari tempat mereka dan menyebar di muka bumi, lalu berbuat kerusakan. Lantas Allah subhanahuwata’ala kirimkan ulat-ulat kepada mereka di leher-leher mereka, sehingga merekapun mati seperti matinya satu jiwa seketika itu juga, sebagaimana yang telah shahih dari hadits-hadits Rasulullah sallallahu’alaihi wassallam. Dan Isa bin Maryam q bersama kaum muslimin membentengi diri dari mereka, sebab mereka keluar pada zaman Isa q setelah keluarnya Dajjal.” (Fatawa Asy- Syaikh Ibn Baz, 5: As`ilah Mutafarriqah wa Ajwibatuha, pertanyaan ketiga)

Faedah
Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin t ditanya:
“Telah menyebar makalah dari Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di t bahwa beliau berpendapat tentang telah munculnya Ya`juj dan Ma`juj dan bahwa mereka itu adalah penduduk Cina. Dan setelah merujuk ke tafsir beliau maka jelas bahwa Ya`juj dan Ma`juj akan keluar pada akhir zaman dan mereka melakukan perusakan di muka bumi, dan bahwa keluarnya mereka termasuk di antara tanda-tanda hari kiamat yang besar. Apakah Asy-Syaikh telah rujuk dari pendapatnya yang pertama ataukah beliau memiliki dua pendapat? Dan anda sendiri, apa yang anda kuatkan dalam masalah ini? Jazakumullah khairan.
Beliau menjawab: “Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di t adalah syaikh kami. Dan apa yang dinisbahkan kepada beliau –bahwa Ya`juj dan Ma`juj adalah penduduk Cina dan yang berada di belakang pegunungan Qoqaz (Kaukasus2)– telah membuat kisruh. Sebenarnya beliau t tidak mengucapkan sesuatu kecuali berdasarkan dalil yang dibangun di atas Al-Kitab dan As-Sunnah, serta mengikuti ucapan orang sebelumnya (salaf, red.). Namun para pengikut hawa nafsu mencari-cari alasan yang lemah seperti lemahnya sarang labalaba untuk mengotori kehormatan orang yang telah Allah subhanahuwata’ala beri keutamaan. Sehingga mereka hasad dan dengki kepada beliau. Syaikh kami tersebut t tidak pernah menyatakan bahwa Ya`juj dan Ma`juj yang keluar pada akhir zaman adalah yang telah muncul sekarang. Dan tidak mungkin hal itu diucapkan oleh seorang yang berakal, terlebih lagi seorang alim yang termasuk paling alim di zaman itu –semoga Allah subhanahuwata’ala merahmati beliau. Beliau hanya mengatakan bahwa Ya`juj dan Ma`juj itu ada. Dan Al-Qur`an menjelaskan hal tersebut. Allah subhanahuwata’ala berfirman tentang Dzulqarnain (lalu beliau menyebut ayat-ayat dalam surat Al-Kahfi yang tersebut di atas, lalu berkata): “Jadi, mereka ada atau tidak ada? Tentu mereka ada, mereka merusak di muka bumi….” (dari kaset Silsilah Liqa` Babil Maftuh, kaset no. 60, sisi yang kedua) Wallahu a’lam bish-shawab.

Catatan kaki:

1 Dalam riwayat lain, HR. Ibnu Majah no. 4080, dengan anak panah. (red)

2 Memang ada yang berpendapat bahwa pegunungan inilah yang merupakan “benteng” dimaksud. Deretan pegunungan ini
memanjang tanpa celah dari laut Hitam hingga laut Kaspia sepanjang lebih dari 1.200 km. Kecuali pada bagian kecil dan
sempit yang disebut celah Darial (terletak di negara Georgia) sepanjang kurang lebih 100 meter. Pada bagian celah itulah
diduga penghalang dari Ya`juj dan Ma`juj itu dibangun. Wallahu a’lam.

 

 

Kisah Dzulqarnain dalam Surat Al-Kahfi

Kisah Dzulqarnain telah diterangkan Al-Qur`an secara panjang lebar dalam Surat Al-
Kahfi ayat 83-101. Berikut adalah penjelasannya.

“Mereka akan bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Dzulqarnain. Katakanlah: ‘Aku akan bacakan kepadamu cerita tentangnya.’ Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepadanya di (muka) bumi, dan Kami telah memberikan kepadanya jalan (untuk mencapai) segala sesuatu, maka diapun menempuh suatu jalan. Hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbenam matahari, dia melihat matahari terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam, dan dia mendapati di situ segolongan umat. Kami berkata: ‘Hai Dzulqarnain, kamu boleh menyiksa atau boleh berbuat kebaikan terhadap mereka.’ Berkata Dzulqarnain: ‘Adapun orang yang aniaya, maka kami kelak akan mengadzabnya, kemudian dia dikembalikan kepada Rabbnya, lalu Dia mengadzabnya dengan adzab yang tidak ada taranya. Adapun orang-orang yang beriman dan beramal shalih, maka baginya pahala yang terbaik sebagai balasan, dan akan kami titahkan kepadanya (perintah) yang mudah dari perintah-perintah kami’.”
(Al-Kahfi: 83-88)

Dahulu, ahli kitab atau kaum musyrikin bertanya kepada Rasulullah sallallahu’alahiwassallam tentang kisah Dzulqarnain. Allah subhanahuwata’ala memerintahkan beliau untuk mengatakan:
“Aku akan bacakan kepadamu cerita tentangnya.”
Cerita yang mengandung berita yang memberi kecukupan dan pembicaraan yangmengagumkan. Maksudnya, aku akan bacakan kepada kalian tentang Dzulqarnain, yang bisa menjadi ibrah (pelajaran). Adapun hal-hal lain yang tidak menjadi pelajaran, beliau tidak membacakannya kepada mereka.

“Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepadanya di (muka) bumi.” Maksudnya, Allah subhanahuwata’ala berikan kekuasaan dan memantapkan pengaruhnya di segenap penjuru bumi, dan ketundukan mereka kepadanya.

“Dan Kami telah memberikan kepadanya jalan (untuk mencapai) segala sesuatu, maka diapun menempuh suatu jalan.” Maksudnya, Allah subhanahuwata’ala memberikan sebab-sebab yang menyampaikan kepada kedudukan yang dicapainya itu. Sebab-sebab itu membantunya untuk menaklukkan berbagai negeri, memudahkannya mencapai tempat-tempat yang paling jauh yang didiami manusia. Dia menggunakan sebab-sebab
yang telah Allah subhanahuwataa’la berikan itu, sesuai dengan fungsinya. Karena tidak setiap orang yang mempunyai sebuah sebab, kemudian dia (mau) menjalaninya. Dan tidak setiap orang mempunyai kemampuan untuk menjalani sebab itu. Sehingga, ketika terkumpul antara kemampuan untuk menjalani sebab yang hakiki dan (kemauan) menjalaninya, tercapailah tujuan. Dan bila keduanya (kemampuan dan kemauan) atau salah satunya tidak ada, maka tujuan tidak akan tercapai. Sebab-sebab yang Allah subhanahuwata’ala berikan kepada Dzulqarnain tidak diberitakan oleh Allah subhanahuwata’ala maupun Rasul-Nya sallallahu’alaiiwassallam kepada kita. Tidak pula berita-berita itu dinukilkan para ahli sejarah kepada kita dengan penukilan yang meyakinkan. Maka, tidak ada yang pantas bagi kita kecuali diam dan tidak melihat pada apa yang disebutkan para penukil kisah Israiliyat dan yang semacamnya. Hanya saja kita tahu secara global bahwa sebab-sebab tersebut kuat dan banyak, baik sebab internal maupun eksternal. Dengan sebab-sebab itu, dia mempunyai pasukan yang besar, banyak personil dan perlengkapannya, serta diatur dengan baik. Dengan pasukan tersebut, dia mampu mengalahkan musuh-musuh, memudahkannya untuk sampai ke belahan timur, barat maupun segenap penjuru bumi. Allah subhanahuwata’ala memberikan sebab kepadanya yang mengantarkannya sampai ke tempat terbenamnya matahari, hingga dia melihat matahari dengan mata kepala seakan-akan matahari itu tenggelam di lautan yang hitam. Dan ini biasa bagi orang yang hanya ada air (lautan) antara dia dan ufuk terbenamnya matahari. Dia melihat bahwa matahari tenggelam ke dalam laut itu, meskipun dia berada pada puncak ketinggian. Di sana, yakni di tempat terbenamnya matahari tersebut, Dzulqarnain menemukan sekelompok manusia. “Kami berkata: ‘Hai Dzulqarnain, kamu boleh menyiksa atau boleh berbuat kebaikan terhadap mereka’.” Yakni, engkau bisa mengadzab mereka dengan pembunuhan, pukulan, atau menawan mereka dan semacamnya. Atau engkau berbuat baik kepada mereka. Dzulqarnain diberi dua pilihan, karena –yang nampak– kaum itu adalah orang kafir atau fasik, atau mereka memiliki sebagian sifat-sifat tersebut. Karena bila mereka adalah kaum yang beriman bukan orang fasik, tentu Allah subhanahuwata’ala tidak memberikan keringanan bagi Dzulqarnain untuk mengadzab mereka. Ini menunjukkan bahwa Dzulqarnain memiliki assiyasah asy-syar’iyyah yang menjadikannya berhak dipuji dan disanjung, karena taufiq yang Allah l berikan kepadanya. Dia lalu berkata: “Aku akan menjadikan mereka dua bagian: “Adapun orang yang aniaya.” Yakni kafir.  “Maka Kami kelak akan mengadzabnya, kemudian dia dikembalikan kepada Rabbnya, lalu Dia mengadzabnya dengan adzab yang tidak ada taranya.” Yakni, orang yang aniaya akan mendapatkan dua hukuman, hukuman di dunia dan di akhirat. “Adapun orang-orang yang beriman dan beramal shalih, maka baginya pahala yang terbaik sebagai balasan.” Yakni sebagai balasannya, dia akan mendapatkan surga kedudukan yang baik di sisi Allah subhanahuwata’ala pada hari kiamat.

“Dan akan Kami titahkan kepadanya (perintah) yang mudah dari perintah-perintah Kami.” Yakni, Kami akan berbuat baik kepadanya, berlemah lembut dalam tutur kata, dan Kami permudah muamalah baginya. Ini menunjukkan bahwa Dzulqarnain termasuk raja yang shalih, wali Allah subhanahuwata’ala yang adil lagi berilmu, di mana dia menepati keridhaan Allah dengan memperlakukan setiap orang sesuai dengan kedudukannya.

“Kemudian dia menempuh jalan (yang lain). Hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbit matahari (sebelah Timur) dia mendapati matahari itu menyinari segolongan umat yang Kami tidak menjadikan bagi mereka sesuatu yang melindunginya dari (cahaya) matahari itu, demikianlah. Dan sesungguhnya ilmu Kami meliputi segala apa yang ada padanya. Kemudian dia menempuh suatu jalan (yang lain lagi). Hingga apabila dia telah sampai di antara dua buah gunung, dia mendapati di hadapan kedua bukit itu suatu kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraan. Mereka berkata: ‘Hai Dzulqarnain, sesungguhnya Ya`juj dan Ma`juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka?’ Dzulqarnain berkata: ‘Apa yang telah dikuasakan oleh Rabbku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik, maka tolonglah aku dengan kekuatan (manusia dan alat-alat), agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka, berilah aku potongan-potongan besi.’ Hingga apabila besi itu telah sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, berkatalah Dzulqarnain: ‘Tiuplah (api itu).’ Hingga apabila besi itu sudah menjadi (merah seperti) api, diapun berkata: ‘Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar kutuangkan ke atas besi panas itu.’ Maka mereka tidak bisa mendakinya dan mereka tidak bisa (pula) melubanginya. Dzulqarnain berkata: ‘Ini (dinding) adalah rahmat dari Rabbku, maka apabila telah datang janji Rabbku Dia akan menjadikannya hancur luluh; dan janji Rabbku itu adalah benar’.” (Al-
Kahfi: 89-98)

Maksudnya, Dzulqarnain mendapati matahari terbit di atas komunitas manusia yang tidak memiliki pelindung dari sinar matahari. Bisa jadi karena mereka tidak menyiapkan tempat tinggal, karena mereka masih liar, tidak beradab, dan nomaden. Atau bisa juga karena matahari selalu berada di atas mereka, tidak pernah tenggelam. Sebagaimana hal ini terjadi di wilayah Afrika Timur bagian selatan. Dzulqarnain telah sampai kepada suatu tempat yang belum pernah diketahui penduduk bumi, terlebih pernah mereka datangi (secara fisik) dengan tubuh mereka. Namun demikian, ini semua terjadi dengan takdir Allah subhanahuwata’ala kepada Dzulqarnain dan pengetahuannya terhadap hal itu. Oleh karena itu, Allah subhanahuwata’ala berfirman:
“Demikianlah. Dan sesungguhnya ilmu Kami meliputi segala apa yang ada padanya.” (Al-Kahfi: 91)
Maksudnya, Kami mengetahui kebaikan dan sebab-sebab agung yang ada padanya, dan ilmu Kami bersamanya, kemanapun ia
menuju dan berjalan.
“Kemudian dia menempuh suatu jalan (yang lain lagi). Hingga apabila dia telah sampai di antara dua buah gunung, dia mendapati di hadapan keduanya suatu kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraan.” (Al-Kahfi: 92-93)
Para ahli tafsir berkata: Dzulqarnain pergi dari arah timur menuju ke utara.

Sampailah dia di antara dua dinding penghalang. Kedua dinding penghalang itu adalah rantai pegunungan yang dikenal pada masa itu, yang menjadi penghalang antara Ya`juj dan Ma`juj dengan manusia. Di hadapan kedua gunung itu, dia menemukan suatu kaum yang hampir-hampir tidak bisa memahami pembicaraan, karena asingnya bahasa mereka dan tidak cakapnya akal dan hati mereka. Dan Allah subhanahuwata’ala telah memberi Dzulqarnain sebab-sebab ilmiah yang dengannya bahasa kaum itu menjadi bisa dipahami dan dia memahamkan mereka. Dia bisa berbicara kepada mereka dan mereka bisa berbicara kepadanya. Mereka kemudian mengeluhkan kejahatan Ya`juj dan Ma`juj kepada Dzulqarnain. Mereka merupakan dua umat yang besar dari keturunan Adam ‘alaihissalam.
Kaum itu berkata: “Sesungguhnya Ya’juj dan Ma’juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi.” (Al-Kahfi: 94)
yaitu dengan melakukan pembunuhan, perampokan, dan lain-lain. “Maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu….” (Al-Kahfi: 94) maksudnya upah. “Supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka?” (Al-Kahfi: 94) Hal ini menunjukkan ketidakmampuan mereka untuk membangun dinding penghalang, dan mereka mengetahui kemampuan Dzulqarnain untuk membangunnya. Mereka pun memberikan upah kepadanya untuk melakukannya. Mereka menyebutkan sebab yang mendorong hal itu, yaitu perusakan Ya`juj dan Ma`juj di bumi. Dzulqarnain bukanlah orang yang tamak, dia tidak memiliki keinginan terhadap harta dunia. Namun dia juga tidak meninggalkan perbaikan keadaan rakyat. Bahkan tujuannya adalah perbaikan. Sehingga dia memenuhi permintaan mereka karena kemaslahatan yang terkandung di dalamnya. Dia tidak mengambil upah dari mereka. Dia bersyukur kepada Rabbnya atas
kekokohan dan kemampuannya. Dzulqarnain berkata kepada mereka:
“Apa yang telah dikuasakan oleh Rabbku kepadaku adalah lebih baik.” (Al-Kahfi: 95) Maksudnya, lebih baik daripada apa yang kalian berikan kepadaku. Aku hanyalah meminta kalian untuk membantuku dengan kekuatan tangan-tangan kalian.
“Agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka.” (Al-Kahfi: 95) Yakni sebagai penghalang agar mereka tidak melintasi kalian. “Berilah aku potongan-potongan besi.” (Al-Kahfi: 96)
Merekapun memberinya. “Hingga apabila besi itu telah sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu.” (Al-Kahfi: 96) yaitu dua gunung yang antara keduanya dibangun penghalang. “Berkatalah Dzulqarnain: ‘Tiuplah (api itu)’.” (Al-Kahfi: 96) Maksudnya, nyalakanlah dengan nyala yang besar. Gunakanlah alat tiup agar nyalanya membesar, sehingga tembaga itu meleleh. Tatkala tembaga itu meleleh, yang hendak dia tuangkan di antara potongan-potongan besi, “Berilah aku tembaga agar kutuangkan ke atas besi panas itu.” (Al-Kahfi: 96) Maksudnya, tembaga yang mendidih. Aku tuangkan tembaga yang meleleh ke atasnya. Maka dinding penghalang itu menjadi luar biasa kokoh. Terhalangilah manusia yang berada di belakangnya dari kejahatan Ya`juj dan Ma`juj. “Maka mereka tidak bisa mendakinya dan mereka tidak bisa (pula) melubanginya.” (Al-Kahfi: 97) Maksudnya, mereka tidak memiliki kemampuan dan kekuatan untuk mendakinya karena tingginya penghalang itu. Tidak pula mereka bisa melubanginya karena kekokohan dan kekuatannya. Setelah melakukan perbuatan baik dan pengaruh yang mulia, Dzulqarnain menyandarkan nikmat itu kepada Pemiliknya. Dia berkata: “Ini (dinding) adalah rahmat dari Rabbku.” (Al-Kahfi: 98) Maksudnya, merupakan karunia dan kebaikan-Nya terhadapku. Inilah keadaan para khalifah yang shalih. Bila Allah subhanahuwata’ala memberikan nikmat-nikmat yang mulia kepada mereka, bertambahlah syukur, penetapan, dan pengakuan mereka akan nikmat Allah subhanahuwata’ala. Sebagaimana ucapan Sulaiman ‘alaihissallam ketika singgasana Ratu Saba` tiba di hadapannya dari jarak yang sedemikian jauh: “Ini termasuk karunia Rabbku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya).” (An-Naml: 40)

Ini berbeda dengan orang yang congkak, sombong, dan merasa tinggi di muka bumi. Nikmat-nikmat yang besar menjadikan mereka bertambah congkak dan sombong. Sebagaimana ucapan Qarun ketika Allah subhanahuwata’ala memberinya perbendaharaan yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat. Dia berkata: “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku.” (Al-Qashash: 78) Ucapan Dzulqarnain: “Maka apabila sudah datang janji Rabbku, Dia akan menjadikannya hancur luluh; dan janji Rabbku itu adalah benar.” (Al-Kahfi: 98) Maksudnya, waktu keluarnya Ya`juj dan Ma`juj. “Dia akan menjadikannya….” (Al-Kahfi: 98) Maksudnya, menjadikan dinding penghalang yang kuat dan kokoh itu (hancur luluh), dan runtuh. Ratalah dinding itu dengan tanah. “Dan janji Rabbku itu adalah benar.”(Al-Kahfi: 98) “Kami biarkan mereka di hari itu bercampur aduk antara satu dengan yang lain.” (Al-Kahfi: 99) Bisa jadi dhamir (kata ganti mereka) kembali kepada Ya`juj dan Ma`juj –ketika mereka keluar kepada manusia– karena banyaknya jumlah mereka dan meliputi seluruh permukaan bumi, sehingga mereka berbaur satu sama lain. Sebagaimana firman Allah subhanahuwata’ala:

“Hingga apabila dibukakan (dinding) Ya`juj dan Ma`juj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi.” (Al-Anbiya`: 96)
Bisa juga kata ganti tersebut kembali kepada seluruh makhluk pada hari kiamat. Mereka berkumpul pada hari itu dalam keadaan banyak sehingga bercampur-aduk antara satu dengan yang lain….” (Diambil dari Taisir Al-Karimirrahman karya Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di, hal. 486-487)

Munculnya Ad-Dukhan

Munculnya asap pada akhir zaman merupakan salah satu tanda kiamat besar yang ditunjukkan oleh dalil Al-Kitab dan As-Sunnah. Dalil-dalil tentang hal ini dari Al- Qur`an adalah:
“Maka tunggulah hari ketika langit membawa asap yang nyata, yang meliputi manusia. Inilah adzab yang pedih.” (Ad-Dukhan: 10-11) Maknanya, tunggulah orang-orang kafir itu –wahai Muhammad – pada hari di mana langit mendatangkan asap yang nyata lagi jelas, yang menutupi serta meliputi manusia. Ketika itu, dikatakan kepada mereka: “Inilah adzab yang pedih”, sebagai celaan dan cercaan keras terhadap mereka. Atau sebagian mereka mengucapkan kalimat ini kepada yang lain.1

Tentang apa yang dimaksud dengan ad-dukhan ini, apakah sudah terjadi atau merupakan tanda yang masih ditunggu terjadinya, ada dua pendapat ulama:
1. Ad-dukhan ini adalah apa yang menimpa kaum Quraisy berupa kesempitan hidup dan kelaparan yang terjadi ketika Nabi sallallahu’alaihiwassallam mendoakan kejelekan bagi mereka karena tidak mau memenuhi dakwah beliau. Mereka melihat sesuatu seperti asap di langit.
Pendapat inilah yang dipegang Abdullah bin Mas’ud radhiallahu’anhu, dan diikuti sekelompok salaf. Beliau radhiallahu’anhu berkata: “Ada lima perkara yang telah berlalu: Al-lizam2, Romawi, albathsyah, bulan, dan asap.” Ketika seorang lelaki dari Kindah berbicara tentang ad-dukhan: “Sesungguhnya ad-dukhan akan datang (menjelang) hari kiamat, mengambil pendengaran dan penglihatan orang-orang munafiq,” marahlah Ibnu Mas’ud radhiallahu’anhu. Beliau berkata: “Barangsiapa yang berilmu, berbicaralah. Dan barangsiapa yang tidak berilmu, ucapkanlah: ‘Allah lebih tahu.’ Karena mengucapkan ‘Aku tidak tahu’ ketika memang tidak tahu merupakan bagian ilmu. Allah subhanahuwata’ala berkata lepada Nabi-Nya:
“Katakanlah (hai Muhammad): ‘Aku tidak meminta upah sedikitpun kepadamu atas dakwahku; dan bukanlah aku termasuk orang-orang yang mengada-adakan’.” (Shad: 86)

Sesungguhnya Quraisy senantiasa mengulur-ulur waktu untuk masuk Islam, maka Nabi Sallallahu’alaihiwassallam mendoakan kejelekan bagi mereka. Beliau Sallallahu’alaihiwassallam berkata:
اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَيْهِمْ بِسَبْعٍ كَسَبْعِ يُوسُفَ
“Ya Allah, tolonglah aku atas mereka dengan tujuh (tahun) sebagaimana tujuh (tahun paceklik) Yusuf.” Maka mereka dihukum satu tahun hingga binasa, memakan bangkai dan tulang, dan seseorang bisa melihat sesuatu seperti asap di antara langit dan bumi.”3 Pendapat ini dikuatkan oleh Ibnu Jarir Ath-Thabari, kemudian beliau mengatakan: “Karena Allah –yang Maha Mulia pujian- Nya– mengancam musyrikin Quraisy dengan
asap, dan bahwa firman-Nya kepada Nabi- Nya Muhammad sallahu’alahiwassallam:
“Maka tunggulah hari ketika langit membawa asap yang nyata.” (Ad-Dukhan:10) berada pada konteks pembicaraan Allah subhanahuwata’ala terhadap orang-orang kafir Quraisy, dan cercaan-Nya terhadap kesyirikan mereka terhadap-Nya, dengan firman-Nya:
“Tidak ada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menghidupkan dan Yang mematikan. (Dialah) Rabbmu dan Rabb bapak-bapakmu yang terdahulu. Tetapi mereka bermain-main dalam keraguraguan.” (Ad-Dukhan: 8-9)
Kemudian Allah l meneruskannya dengan firman-Nya kepada Nabi-Nya sallallahu’alaihiwassallam:
“Maka tunggulah hari ketika langit membawa asap yang nyata.” (Ad-Dukhan:10) yang merupakan perintah kepada beliau Sallallahu’alaihiwassallam untuk bersabar, hingga datang adzab-Nya kepada mereka. Hal ini juga merupakan ancaman bagi kaum musyrikin. Hal itu merupakan ancaman bagi mereka, maka Allah subhanahuwaa’ala timpakan kepada mereka. Ini lebih dekat (kepada kebenaran) daripada Allah subhanahuwata’ala tunda lalu Dia timpakan kepada selain mereka.4

2. Asap ini merupakan salah satu tanda yang masih ditunggu, dan belum terjadi. Hal ini akan terjadi mendekati datangnya hari kiamat. Pendapat inilah yang dipegang Ibnu ‘Abbas dan sebagian sahabat dan tabi’in. Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Abdullah bin Abi Mulaikah5, dia berkata: “Suatu hari, aku bersama Ibnu Abbas di waktu pagi. Dia berkata: ‘Aku tidak tidur tadi malam hingga subuh.’ Aku bertanya: ‘Mengapa?’
Dia berkata: ‘Mereka mengatakan, bintang Dzu Dzanbin telah terbit. Aku khawatir ad-dukhan telah muncul, maka aku tidak tidur hingga subuh’.” Ibnu Katsir berkata: “Ini adalah sanad yang shahih sampai kepada Ibnu Abbas habrul ummah, penerjemah Al-Qur`an. Dan begitu pula pendapat orang yang menyepakatinya dari kalangan sahabat dan tabi’in seluruhnya, bersamaan dengan adanya hadits-hadits yang shahih maupun hasan dan selainnya… yang mengandung kecukupan dan dalil yang jelas bahwa addukhan adalah salah satu tanda yang belum terjadi, dan sekaligus juga itulah dzhahir Al-Qur`an. Allah subhanahuwata’ala berfirman: “Maka tunggulah hari ketika langit membawa asap yang nyata.” (Ad-Dukhan:
10)

Maksudnya, yang nyata dan jelas, bisa dilihat semua orang. Adapun yang ditafsirkan Ibnu Mas’ud radhiallahu’anhu itu adalah bayangan yang dilihat mata mereka karena lapar dan kesengsaraan yang sangat. Begitu pula firman-Nya:“Yang meliputi manusia.” (Ad-Dukhan: 11) Maksudnya, menutupi dan mencakup mereka. Kalaulah hal itu suatu bayangan yang hanya dilihat penduduk musyrikin Makkah, tentu Allah subhanahuwata’ala tidak akan berfirman “yang meliputi manusia.” Dan disebutkan dalam Ash-Shahihain bahwa Rasulullah sallallahu’alaihi wassallam berkata kepada Ibnu Shayyad: “Aku menyembunyikan sesuatu untukmu.” Dia berkata: “Ad-Dukh.” Beliau sallallahu’alaihi wassallam bersabda: “Tetaplah di tempatmu. Engkau tidak akan melampaui batasmu.” Nabi sallallahu’alaihi wassallam menyembunyikan terhadapnya:“Maka tunggulah hari ketika langit membawa asap yang nyata.” (Ad-Dukhan:10)

Dalam hadits ini ada dalil ad-dukhan adalah sesuatu yang belum terjadi dan masih ditunggu, karena Ibnu Shayyad adalah seorang Yahudi Madinah. Padahal kisah ini tidaklah terjadi kecuali setelah beliau hijrah ke Madinah. Selain itu, hadits-hadits shahih menyebutkan bahwa ad-dukhan merupakan tanda-tanda kiamat yang besar, sebagaimana akan dijelaskan. Adapun penafsiran Ibnu Mas’ud radhiallahu’anhu, itu merupakan ucapan beliau saja. Dan sesuatu yang marfu’ (diriwayatkan sampai kepada Nabi sallallahu’alaihi wassallam) didahulukan atas setiap yang mauquf (diriwayatkan sampai kepada sahabat)….

Sebagian ulama mengompromikan riwayat-riwayat ini dengan menyatakan bahwa itu adalah dua asap. Salah satunya sudah terjadi, sedangkan yang kedua –yang muncul menjelang hari kiamat– belum. Yang sudah muncul adalah yang dilihat oleh bangsa Quraisy layaknya asap, namun bukan asap hakiki, yang terjadi ketika munculnya tanda-tanda hari kiamat.

Al-Qurthubi t berkata: “Mujahid rahimahullahu berkata: ‘Ibnu Mas’ud radhiallahuanhu dahulu berkata: Itu adalah dua asap. Salah satunya telah terjadi. Adapun yang belum terjadi, asapnya akan memenuhi antara langit dan bumi. Asap itu akan menyebabkan seorang yang beriman akan terkena semacam selesma (flu), sedangkan orang kafir akan tembus pendengarannya’.”
(Diambil dari Asyrathus Sa’ah, hal.383-388)

Catatan Kaki:

1 Tafsir Al-Qurthubi (16/130), Tafsir Ibnu Katsir (7/235-236).
2 Yaitu yang disebutkan dalam surat Al-Furqan ayat 77:
“Padahal kalian sungguh telah mendustakan-Nya? Karena itu kelak (adzab) pasti (menimpa kalian).”
Yakni akan terjadi adzab yang pasti, yang membinasakan mereka sebagai buah dari pendustaan mereka. Yang dimaksud di
sini adalah pembunuhan dan penawanan terhadap kaum kafir Quraisy ketika perang Badr. Lihat Tafsir Ibnu Katsir (6/143
dan 305), Syarh Shahih Muslim karya An-Nawawi (17/143).
3 Shahih Al-Bukhari, Kitabut Tafsir, Surat Ar-Rum (8/511, bersama Al-Fath) dan Bab Yaghsyan Nas Hadza Yaumun ‘Azhim (8/571, bersama Al-Fath), Shahih Muslim, Kitab Shifatul Qiyamah wal Jannah wan Nar, Bab Ad-dukhan (17/140-141,bersama Syarh An-Nawawi).
4 Tafsir Ath-Thabari (25/114).
5 Dia adalah Abdullah bin Ubaidullah bin Abi Mulaikah Zuhair bin Abdillah bin Jad’an At-Taimi Al-Makki, salah seorang hakim dan muadzin pada pemerintahan Ibnuz Zubair. Dia meriwayatkan dari Abdullah yang empat. Dia seorang yang tsiqah dan banyak haditsnya, meninggal tahun 117 H. Lihat Tahdzibut Tahdzib (5/306-307).

 

Tiga Khusuf

Makna Khusuf Dikatakan خَسَفَ الْمَكَانُ (suatu tempat mengalami khusuf) bila tempat itu tenggelam dan hilang ke dalam bumi1. Di antara penggunaan kata tersebut dengan makna demikian adalah firman Allah subanahuwata’ala: “Maka Kami benamkanlah (Qarun) beserta rumahnya ke dalam bumi.” (Al-Qashash: 81)

Tiga khusuf yang merupakan tanda-tanda hari kiamat disebutkan dalam hadits-hadits yang menyebutkan tanda-tanda yang besar. Di antaranya adalah hadits Hudzaifah bin Usaid radhiallahu’anhu bahwasanya Rasulullah sallallahu’alaihiwassallam bersabda:
إِنَّ السَّاعَةَ لَنْ تَقُومَ حَتَّى تَرَوْا عَشْرَ آيَاتٍ…
وَثَلَاثَةُ خُسُوفٍ؛ خَسْفٌ بِالْمَشْرِقِ وَخَسْفٌ
بِالْمَغْرِبِ وَخَسْفٌ فِي جَزِيْرَةِ الْعَرَبِ
“Sesungguhnya kiamat tidak akan terjadi hingga kalian melihat sepuluh tanda… (disebutkan di antaranya) tiga khusuf: khusuf di timur, di barat, dan di Jazirah Arab.”2

Juga hadits dari Ummu Salamah x, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah salallahu’alaihiwassalam bersabda:
سَيَكُونُ بَعْدِي خَسْفٌ بِالْمَشْرِقِ وَخَسْفٌ
بِالْمَغْرِبِ وَخَسْفٌ فِي جَزِيرَةِ الْعَرَبِ. قُلْتُ: يَا
رَسُولَ اللهِ، أَيُخْسَفُ وَفِيهَا الصَّالِحُونَ؟ قَالَ لَهَا
إِذَا أَكْثَرَ أَهْلُهَا الْخَبَثَ :n رَسُولُ اللهِ
“Akan terjadi sepeninggalku tiga khusuf, khusuf di timur, di barat dan di Jazirah Arab.” Aku berkata: “Wahai Rasulullah, apakah akan ditenggelamkan ke dalam bumi padahal di bumi itu ada orang-orang yang shalih?” Rasulullah salallahu’alaihiwassalam berkata kepadanya: “Bila penduduknya banyak melakukan alkhabats.”3

Apakah Tiga Khusuf ini Sudah Terjadi?

Tiga khusuf ini belum terjadi, sebagaimana juga belum nampak satupun tanda-tanda kiamat besar yang lain. Meskipun demikian, sebagian ulama berpendapat bahwa hal ini telah terjadi, sebagaimana pendapat Asy-Syarif Al-Barzanji.4 Namun yang benar, tanda-tanda kiamat besar belum terjadi satupun, hingga sekarang. Hanya saja memang terjadi beberapa khusuf di beberapa tempat dan masa yang berbeda, yang merupakan tanda-tanda kecil akan terjadinya kiamat. Tiga khusuf ini terjadi dalam skala besar dan merata, mencakup banyak tempat di bumi, di timur, barat, dan Jazirah Arab. Ibnu Hajar rahimahullahu berkata: “Terjadi khusuf di beberapa tempat, namun mungkin yang dimaksud dengan tiga khusuf ini lebih
dari apa yang telah terjadi. Seperti, lebih besar skalanya, baik luas wilayah ataupun ukurannya.”5
Yang menguatkan hal ini adalah apa yang disebutkan dalam hadits bahwasanya tiga khusuf ini terjadi hanya bila di kalangan manusia banyak terjadi al-khabats dan tersebar kemaksiatan. Wallahu a’lam.

(Diambil dari Asyrathus Sa’ah hal. 381-382, karya Yusuf bin Abdullah bin Yusuf Al-Wabil)

Catatan Kaki:

1 Lihat Tartib Al-Qamus Al-Muhith (2/55) dan Lisanul ‘Arab (9/67).
2 Shahih Muslim, Kitabul Fitan wa Asyrathus Sa’ah (18/27-28, bersama Syarh An-Nawawi).
3 HR. Ath-Thabarani dalam Al-Ausath, sebagaimana dikatakan Al-Haitsami dalam Majma’ Az-Zawa`id (8/11) dan dia
berkata: “Sebagiannya ada dalam Ash-Shahih. Dalam sanadnya ada Hakim bin Nafi’, dia dianggap tsiqah oleh Ibnu Ma’in
namun dianggap lemah oleh selainnya. Adapun perawi lainnya tsiqah.”
4 Lihat Al-Isya’ah (hal. 49).
5 Fathul Bari (13/84).