Manusia Berhak Atas Nikmat Allah

(ditulis oleh: Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah)

 

Ketika kita mendapatkan sebuah hasil yang baik, kadang terlintas dalam benak kita bahwa itu memang sudah semestinya dan adalah hak kita mendapatkannya karena kita telah membuat perencanaan, pengorganisasian, lalu bekerja keras melakukannya. Benarkah seperti itu?

Sebab tidak datangnya pertolongan, hidayah, atau nikmat yang sempurna adalah karena seseorang sebagai media bertempatnya pertolongan tersebut memang tidak pantas mendapatkan pertolongan dan nikmat. Di mana seandainya nikmat mendatanginya ia akan mengatakan: “Ini memang hakku, aku mendapatkannya karena aku memang pantas dan aku memang berhak.” Seperti Allah l ceritakan:

“Qarun berkata: ‘Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku’.” (Al-Qashash: 78)
Maksudnya, “Bahwa saya mengetahui Allah l memang tahu bahwa saya berhak mendapatkannya dan pantas.”
Al-Farra` menerangkan bahwa maksudnya: “Aku mendapatkannya karena aku memang punya kelebihan, bahwa aku memang pantas dan berhak terhadap nikmat tersebut di mana Engkau memberikannya kepadaku.”
Muqatil menerangkan, dia mengatakan: “(Maksudnya) itu karena kebaikan yang Allah l ketahui ada pada diriku.”
Abdullah bin Al-Harits bin Naufal (seorang shalih yang sempat melihat Nabi di masa kecilnya), ia menyebutkan tentang (Nabi) Sulaiman bin Dawud dan kerajaan yang diberikan kepadanya. Lalu ia membaca ayat:
“Qarun berkata: ‘Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku’.” (Al-Qashash: 78)
Maksudnya, “Bahwa saya mengetahui Allah l memang tahu bahwa saya berhak mendapatkannya dan pantas.”
Al-Farra` menerangkan bahwa maksudnya: “Aku mendapatkannya karena aku memang punya kelebihan, bahwa aku memang pantas dan berhak terhadap nikmat tersebut di mana Engkau memberikannya kepadaku.”
Muqatil menerangkan, dia mengatakan: “(Maksudnya) itu karena kebaikan yang Allah l ketahui ada pada diriku.”
Abdullah bin Al-Harits bin Naufal (seorang shalih yang sempat melihat Nabi di masa kecilnya), ia menyebutkan tentang (Nabi) Sulaiman bin Dawud dan kerajaan yang diberikan kepadanya. Lalu ia membaca ayat:
“Qarun berkata: ‘Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku’.” (Al-Qashash: 78)
Yakni, Nabi Sulaiman q memandang apa yang Allah l berikan kepadanya merupakan keutamaan Allah l dan karunia-Nya kepadanya dan bahwa Allah l dengan itu tengah mengujinya sehingga beliau mensyukurinya. Adapun Qarun, ia memandang bahwa pemberian itu karena dirinya sendiri dan ia memang berhak terhadap pemberian itu.
Demikian pula seperti terdapat dalam firman Allah l:
“Dan jika Kami merasakan kepadanya sesuatu rahmat dari Kami sesudah dia ditimpa kesusahan, pastilah dia berkata: ‘Ini adalah hakku, dan aku tidak yakin bahwa hari kiamat itu akan datang. Dan jika aku dikembalikan kepada Rabbku maka sesungguhnya aku akan memperoleh kebaikan pada sisi-Nya’. Maka Kami benar-benar akan memberitakan kepada orang-orang kafir apa yang telah mereka kerjakan dan akan Kami rasakan kepada mereka azab yang keras.” (Fushshilat: 50)
Yakni maksudnya, “Aku berhak mendapatkannya dan aku pantas. Jadi hakku terhadapnya seperti hak seorang pemilik barang terhadap barangnya.”
Adapun seorang mukmin, ia memandang bahwa itu merupakan milik Rabbnya, kebaikan dari Allah l yang Dia karuniakan kepada hamba-Nya tanpa hamba tersebut memiliki hak terhadapnya. Bahkan itu merupakan sedekah Allah l yang Allah l sedekahkan kepada hamba-Nya. Dan bila Allah l berkehendak, maka merupakan hak-Nya untuk tidak menyedekahkannya. Seandainya Dia menghalangi sedekah tersebut kepadanya, tidak berarti Allah l menghalanginya dari sesuatu yang ia berhak mendapatkannya. Bila ia tidak merasa demikian, ia akan merasa bahwa dirinya pantas dan berhak, sehingga ia merasa takjub dengan dirinya. Dengan nikmat itu, ia menjadi melampaui batas dan sombong serta lancang terhadap yang lain. Sehingga itu membuatnya senang dan bangga. Seperti yang Allah l ceritakan:
“Dan jika Kami rasakan kepada manusia suatu rahmat (nikmat) dari Kami, kemudian rahmat itu Kami cabut darinya, pastilah dia menjadi putus asa lagi tidak berterima kasih. Dan jika Kami rasakan kepadanya kebahagiaan sesudah bencana yang menimpanya, niscaya dia akan berkata: ‘Telah hilang bencana-bencana itu dariku’; sesungguhnya dia sangat gembira lagi bangga.” (Hud: 9-10)
Allah l cela dia karena sikap putus asa dan ingkarnya saat ujian dengan kesusahan dan Allah l cela dia karena sikap senang dan bangganya saat ujian dengan nikmat, ia tukar pujiannya kepada Allah l, syukur dan sanjungannya kepada-Nya saat Allah singkap darinya cobaan dengan ucapannya: “Musibah telah hilang dariku.” padahal seandainya ia mengatakan: “Allah l telah hilangkan musibah dariku dengan rahmat dan karunia-Nya”, tentu Allah l tidak akan cela dia bahkan ia terpuji dengan ucapan seperti itu. Namun ia telah lalai dari Sang Pemberi nikmat yang menyingkap musibahnya serta menganggap musibah itu hilang dengan sendirinya lalu ia berbangga dan senang.
Bila Allah l telah ketahui hal semacam ini dari seorang hamba maka itu merupakan sebab terbesar akan terabaikannya dari pertolongan dan ketidakpedulian Allah l, karena nikmat yang sempurna tak pantas bertempat padanya, sebagaimana firman Allah l:
“Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa-apa. Kalau kiranya Allah mengetahui kebaikan ada pada mereka, tentulah Allah menjadikan mereka dapat mendengar. Dan jikalau Allah menjadikan mereka dapat mendengar, niscaya mereka pasti berpaling juga, sedang mereka memalingkan diri (dari apa yang mereka dengar itu).” (Al-Anfal: 22-23)
Allah l beritakan bahwa mereka sebagai media bertempatnya nikmat tidak dapat menerima nikmat tersebut. Di samping tidak menerima, mereka juga memiliki penghalang lain yang menghambat sampainya nikmat itu kepada mereka yaitu berpalingnya mereka dari kebaikan tersebut bila mereka benar-benar mengetahuinya.
Di antara hal yang perlu diketahui bahwa sebab-sebab terabaikannya seseorang dari pertolongan atau hidayah, di samping tetapnya jiwa pada penciptaan asalnya lalu dibiarkannya pada keadaan yang demikian, juga memang ada dari dan dalam dirinya.
Sementara sebab datangnya taufiq dari Allah l adalah karena Allah l ciptakan dirinya siap untuk menerima nikmat. Sehingga sebab-sebab taufiq itu dari Allah  l dan merupakan karunia dari-Nya. Dialah penciptanya, dan Allah Maha Hikmah lagi Maha Tahu.
(diterjemahkan dan diringkas oleh Qomar ZA dari kitab Al-Fawa`id karya Ibnul Qayyim t, hal. 227-229)

Al-Jamil

(ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar, ZA)

 

Di antara Al-Asma`ul Husna adalah Al-Jamil (اَلْجَمِيْلُ ) Yang Maha Indah. Nama Allah Al-Jamil ini terdapat dalam hadits Nabi n:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ. قاَلَ رَجُلٌ: إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً. قَالَ: إِنَّ اللهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ، الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“Tidak akan masuk surga siapa saja yang dalam kalbunya ada (walaupun) seberat semut kecil dari kesombongan.” Maka seseorang mengatakan: ‘Bahwa ada seseorang suka bila baju dan sandalnya bagus.” Nabi menjawab: “Sesungguhnya Allah Maha Indah dan mencintai keindahan, kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia.” (Shahih, HR. Muslim, Kitab Al-Iman Bab Tahrimul Kibir wa Bayanuhu, dari Abdullah bin Mas’ud z)

Ibnul Qayyim mengatakan pada beberapa bait syairnya:

Dan Dia Maha Indah sebenar-benarnya, bagaimana tidak!

Padahal seluruh keindahan alam adalah

Sebagian dari pengaruh keindahan-Nya

Maka Rabbnya lebih utama dan lebih pantas, menurut yang berpengetahuan

Keindahan-Nya pada dzat, sifat, perbuatan serta nama-Nya, dengan bukti!

Tiada sesuatupun yang menyerupai dzat dan sifat-Nya

Maha Suci Dia dari kedustaan sang pendusta

 

Asy-Syaikh Muhammad Khalil Harras menerangkan:

“Adapun Nama Al-Jamil maka itu adalah nama-Nya yang berasal dari kata Al-Jamaal yang berarti keindahan yang banyak. Sifat keindahan yang tetap bagi Allah l adalah keindahan yang mutlak, yang benar-benar keindahan. Karena sesungguhnya keindahan wujud ini dengan beraneka warna dan ragamnya adalah sebagian buah keindahan-Nya. Sehingga Allah l lebih utama tentunya dalam memiliki sifat keindahan dari segala sesuatu yang indah. Karena Pemberi keindahan kepada alam ini pasti berada pada puncak sifat keindahan. Dialah Yang Maha Indah pada Dzat-Nya, nama-Nya, sifat-Nya, dan perbuatan-Nya.

Keindahan Dzat-Nya, merupakan sesuatu yang tidak mungkin bagi hamba untuk mengungkapkannya sedikitpun atau menjangkau sebagian hakikatnya. Namun cukup bagimu bahwa penghuni surga dengan segala kenikmatan abadi yang mereka ada padanya dan keanekaragaman kelezatan serta kebahagiaan yang tidak terkira. Bila mereka melihat Rabb mereka dan menikmati keindahan-Nya, mereka lupa dengan segala apa yang mereka berada padanya. Kenikmatan yang mereka ada padanya terasa lenyap. Mereka berharap seandainya mereka terus berada pada keadaan ini. Dan tiada sesuatu yang lebih mereka sukai daripada larut dalam menyaksikan keindahan ini. Mereka juga memperoleh keindahan dari keindahan Allah l yang menambah keindahan mereka. Mereka tinggal dalam kerinduan yang abadi untuk melihat-Nya sehingga mereka berbahagia dengan hari al-mazid (ditambahnya nikmat dengan melihat Allah l) dengan kebahagiaan yang hampir-hampir kalbu mereka terbang karenanya.

Adapun keindahan nama-nama Allah l, maka seluruh nama Allah l adalah sangat indah. Bahkan merupakan sebaik-baik dan seindah-indah nama secara mutlak. Seluruh nama-Nya menunjukkan kesempurnaan pujian-Nya, keagungan-Nya, keindahan-Nya, serta kebesaran-Nya. Tidak ada padanya yang tidak baik dan tidak indah, selama-lamanya.

Adapun keindahan sifat, maka seluruh sifat-Nya adalah sifat-sifat kesempurnaan dan keagungan, sifat-sifat sanjungan dan pujian. Bahkan merupakan seluas-luasnya sifat dan paling sempurna pengaruh dan kaitannya. Lebih-lebih sifat kasih sayang, kebaikan, kemurahan, kedermawanan, dan pemberian nikmat.

Adapun keindahan perbuatan, maka perbuatan Allah l berkisar antara perbuatan baik yang terpuji dan tersyukuri. Dan perbuatan adil-Nya yang terpuji karena sesuai dengan hikmah dan pujian. Tiada kesia-siaan dalam perbuatannya, tiada kebodohan, kecurangan atau kedzaliman. Bahkan seluruhnya baik, kasih sayang, lurus, berpetunjuk, adil dan hikmah. Allah l berfirman (menceritakan ucapan Hud):

“Sesungguhnya aku bertawakal kepada Allah Rabbku dan Rabbmu. Tidak ada suatu binatang melatapun melainkan Dia-lah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Rabbku di atas jalan yang lurus.” (Hud: 56)

Dan hal itu karena kesempurnaan perbuatan-Nya mengikuti kesempurnaan dzat dan sifat-Nya. Karena perbuatan adalah buah dari sifat. Sedangkan sifat-Nya sebagaimana kami katakan adalah sifat yang paling sempurna. Maka tidak diragukan bahwa perbuatannya adalah perbuatan yang paling sempurna.

 

Buah Mengimani Nama Allah Al-Jamil

Asy-Syaikh As-Sa’di t mengatakan: “Ibadah yang muncul dengan nama Al-Jamil adalah tumbuhnya rasa cinta dan penghambaan kepada-Nya. Seorang hamba juga akan memberikan untuk-Nya kecintaannya yang murni. Sehingga kalbunya akan senantiasa bertasbih dalam taman-taman ilmu tentang-Nya serta medan keindahan-Nya. Ia akan berbahagia dengan apa yang dia dapatkan berupa buah keindahan dan kesempurnaan-Nya, karena sesungguhnya Allah Maha Agung dan Mulia.”

 

Sumber Bacaan:

Syarh Nuniyyah Ibnul Qayyim karya Al-Harras

Shifatullah Al-Waridah fil Kitab was Sunnah karya Alwi As-Saqqaf

Syarh Asma`ullahi Al-Husna karya Sa’id Al-Qahthani

 

Kisah Ashhabis Sabti

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Harits)

 

Turunnya Azab

Sedikit demi sedikit mulai bertambah mereka yang ikut menangkap ikan tersebut. Sementara orang-orang yang menasihati terus berulang-ulang mengingatkan mereka. Bahkan mengancam: “Kamu masih juga melakukannya, wahai musuh-musuh Allah. Demi Allah, kami tidak akan bertetangga lagi dengan kalian dalam satu desa.” Akhirnya mereka membagi desa itu dengan sebuah tembok.

Tatkala mereka tidak mau memerhatikan nasihat orang-orang yang melarang perbuatan buruk tersebut, bahkan terus menerus tenggelam dalam penyelewengan dan pelanggaran:

“Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat.” (Al-A’raf: 165)
Yaitu orang-orang yang melakukan amar ma’ruf nahi munkar; Kami selamatkan mereka dari azab. Demikianlah ketetapan (sunnah) Allah l terhadap hamba-hamba-Nya; apabila siksaan itu turun, selamatlah orang-orang yang melakukan amar ma’ruf nahi munkar.
Allah l berfirman:
“Dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zalim.” (Al-A’raf: 165)
Yaitu mereka yang melakukan pelanggaran di hari Sabtu tersebut:
“Siksaan yang keras.” (Al-A’raf: 165)
Yakni yang menyakitkan.
“Disebabkan mereka selalu berbuat fasik.” (Al-A’raf: 165)
Kemudian Allah l terangkan azab yang ditimpakan kepada mereka itu dengan firman-Nya:
“Maka tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa yang mereka dilarang mengerjakannya, Kami katakan kepadanya: ‘Jadilah kamu kera yang hina’.” (Al-A’raf: 166)
Merekapun menjadi kera-kera yang hina, padahal sebelumnya mereka adalah manusia yang terhormat.
Keesokan harinya, orang-orang yang beriman tidak melihat seorangpun keluar dari balik tembok tersebut. Tidak terdengar aktivitas mereka seperti biasa. Akhirnya, mereka memasuki pintu pembatas kampung tersebut dan melihat kenyataan yang menyedihkan. Seorang pria berikut istri dan anaknya telah berubah menjadi kera. Mulailah mereka masuk menemui kera-kera yang dahulunya adalah orang-orang yang mereka kenal.
“Wahai Fulan, bukankah sudah aku peringatkan kepadamu azab Allah? Bukankah… bukankah?” Tapi tak ada sahutan, yang ada hanya tangis. Sebagian kera yang mendekat mencium pakaian orang yang datang dan dia mengenalnya, maka kera itupun menangis. Demikian dikisahkan oleh Ibnu Jarir t dalam Tafsir-nya. Wallahu a’lam.
Beberapa Faedah Kisah Ini
1. Kisah yang terkandung dalam ayat ini dan yang semakna, menegaskan kebenaran Nubuwwah Nabi Muhammad n. Sebab, kisah-kisah seperti ini, yang bercerita tentang Bani Israil, tidak ada seorangpun yang mengetahuinya kecuali melalui berita dari Allah l, sementara mereka (ahli kitab) menutup-nutupinya.
2. Apabila Allah l memberi nikmat kepada satu umat lalu mereka berpaling dari mensyukurinya, niscaya mereka ditimpa petaka pertama kali kemudian menerima azab.
3. Pentingnya amar ma’ruf nahi munkar, di mana Allah l selamatkan orang-orang yang mencegah kemungkaran dan membinasakan orang-orang yang berbuat kemungkaran dan tidak mau berhenti darinya.
4. Kisah ini juga memberikan pelajaran kepada kita betapa pentingnya amar ma’ruf nahi munkar.
Amar ma’ruf nahi munkar itu sendiri mempunyai tiga tingkatan sebagaimana diuraikan oleh Asy-Syinqithi t (Adhwa`ul Bayan, 1/408), yaitu:
a. Iqamatul hujjah (menegakkan hujjah) Allah l terhadap makhluk-Nya, sehingga mereka tidak punya alasan untuk berkilah. Sebagaimana firman Allah l:
“(Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu.”
b. Lepasnya orang yang memerintahkan kebaikan dari tanggung jawab. Sebagaimana firman Allah l tentang orang-orang shalih di kalangan masyarakat yang melanggar hari Sabtu tersebut:
“Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Rabb kamu.” (Al-A’raf: 164)
Juga firman Allah l:
“Maka berpalinglah kamu dari mereka, dan kamu sekali-kali tidak tercela.” (Adz-Dzariyat: 54)
Maka ini menunjukkan bahwa sekiranya dia tidak keluar dari tanggung jawab tersebut, tentulah dia tercela.
c. Berharap agar yang diperintah mendapatkan manfaat, sebagaimana firman Allah l:
“Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Rabbmu, dan supaya mereka bertakwa.” (Al-A’raf: 164)
Firman Allah l:
“Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.” (Adz-Dzariyat: 55)
Kita tentu masih ingat dengan sabda Rasulullah n tentang amar ma’ruf nahi munkar ini. Al-Imam Ahmad, Al-Bukhari, dan At-Tirmidzi rahimahumullah meriwayatkan dari An-Nu’man bin Basyir c, dia berkata: “Rasulullah n bersabda:
مَثَلُ الْقَائِمِ عَلَى حُدُودِ اللهِ وَالْوَاقِعِ فِيهَا كَمَثَلِ قَوْمٍ اسْتَهَمُوا عَلَى سَفِينَةٍ فَأَصَابَ بَعْضُهُمْ أَعْلَاهَا وَبَعْضُهُمْ أَسْفَلَهَا، فَكَانَ الَّذِينَ فِي أَسْفَلِهَا إِذَا اسْتَقَوْا مِنَ الْمَاءِ مَرُّوا عَلَى مَنْ فَوْقَهُمْ فَقَالُوا: لَوْ أَنَّا خَرَقْنَا فِي نَصِيبِنَا خَرْقًا وَلَمْ نُؤْذِ مَنْ فَوْقَنَا. فَإِنْ يَتْرُكُوهُمْ وَمَا أَرَادُوا هَلَكُوا جَمِيعًا، وَإِنْ أَخَذُوا عَلَى أَيْدِيهِمْ نَجَوْا وَنَجَوْا جَمِيعًا
“Perumpamaan orang yang menjaga hudud (batas-batas hukum) Allah l dan orang yang melanggarnya, seperti suatu kaum yang mengundi bagiannya di atas sebuah kapal. Sebagian mereka menempati bagian atas dan yang lain di bagian bawahnya. Lalu orang-orang yang berada di bagian bawahnya apabila ingin minum, melewati orang-orang yang ada di sebelah atas. Maka berkatalah mereka: ‘Seandainya kita lubangi bagian kita (di bawah) ini, dan kita tidak mengganggu orang-orang di atas kita.’ Maka apabila mereka (yang di atas) membiarkan orang-orang di bawah itu (melubangi dasar kapal) dan apa yang mereka inginkan, niscaya mereka binasa (tenggelam) semua. Dan apabila mereka menahan tangan mereka (agar tidak melubangi kapal), niscaya mereka selamat dan selamat pula semuanya.”
Al-Mubarakfuri t mengatakan tentang syarah hadits ini: “Seandainya orang-orang yang fasik itu dicegah dari kefasikan mereka, niscaya dia (yang fasik itu) selamat, dan mereka semua juga selamat dari azab Allah l. Tapi jika mereka membiarkan dia berbuat fasik, niscaya mereka ditimpa azab dan binasa karena kesialan yang dilakukan orang fasik tersebut. Inilah makna firman Allah l:
ﯱ ﯲ ﯳ ﯴ ﯵ ﯶ ﯷ ﯸﯹ
“Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu.” (Al-Anfal: 25)
Yakni juga menimpa kamu secara merata disebabkan sikap mudahanah yang kamu lakukan.
Padahal sikap mudahanah ini termasuk perkara yang diharamkan, karena Allah l berfirman:
ﯗ ﯘ ﯙ ﯚ ﯛ
“Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu).” (Al-Qalam: 9)
Mudahanah artinya menyetujui penyimpangan dan kesesatan yang dianut dan dilakukan oleh semua orang yang menyimpang, baik dari kalangan orang kafir, ahli bid’ah maupun pelaku kemaksiatan. Jadi, anda mengakui kesesatan itu dengan sikap menyetujui atau ikut dalam aktivitas mereka.
Sikap seperti ini jelas tidak layak dimiliki seorang muslim. Bahkan ujian ini banyak dialami kaum muslim sehingga mereka merasakan kehinaan dalam hidup dan kehidupan mereka. Padahal semestinya dia bangga dan berani menampakkan keyakinan dan keimanan yang dimilikinya, menyelisihi perilaku kebanyakan masyarakatnya. Terlebih lagi bagi seorang da’i yang mengajak manusia kepada Allah l.
Asy-Syaikh Abdur Razzaq ‘Afifi t ketika menerangkan prinsip al-wala` wal bara` menguraikan bahwasanya termasuk sikap loyal (muwalah) kepada orang-orang kafir adalah mudahanah, mudarah, dan mujamalah dengan mereka atas dasar agama. Inilah yang dialami kebanyakan kaum muslimin dewasa ini. Bahkan inilah faktor internal yang menjadi sebab kekalahan mereka. Di mana mereka melihat musuh-musuh Allah l unggul dalam kekuatan materi sehingga membuat mereka terkagum-kagum.
Menurut mereka –yang tertipu ini– musuh-musuh tersebut adalah simbol kekuatan dan teladan. Akhirnya mereka mulai secara perlahan meninggalkan upaya mempelajari dien mereka karena sikap mujamalah (basa-basi) terhadap orang-orang kafir itu, agar jangan dikatakan fanatik. Alangkah benar sabda Rasulullah n yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari t dari Abu Sa’id Al-Khudri z:
لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ سَلَكُوا جُحْرَ ضَبٍّ لَسَلَكْتُمُوهُ. قُلْنَا: يَا رَسُولَ اللهِ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى؟ قَالَ: فَمَنْ؟
“Sungguh-sungguh, kamu pasti akan mengikuti jalan (hidup) orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, bahkan seandainya mereka masuk ke lubang dhab (sejenis biawak), pasti kamu juga mengikutinya.” Kami bertanya: “Wahai Rasulullah, (apakah mereka) Yahudi dan Nashara?” Kata beliau: “Siapa lagi?”
Mudahanah ini bermula dari persoalan kecil yang beranjak sedikit demi sedikit kepada hal-hal yang besar hingga –na’udzu billahi­– berujung kepada kemurtadan. Ini adalah salah satu upaya setan menggelincirkan manusia. Maka hendaklah kaum muslimin berhati-hati terhadap diri dan keluarganya. Camkanlah, bahwa dia lebih tinggi dan mulia apabila dia menjalankan manhaj Allah l dan mengikat dirinya dengan syariat Allah l serta tuntutan aqidah-Nya.
Kisah ini menjadi peringatan bagi kita bagaimana Allah l mengazab orang-orang yang melakukan pelanggaran terhadap apa yang dilarang-Nya dengan melakukan muslihat (hilah). Sebagaimana Dia menyiksa tuan-tuan kebun (ash-habul jannah) yang melakukan muslihat agar tidak bersedekah. Demikian pula dalam kisah ini.
Rasulullah n mengingatkan kita dalam sabdanya dari hadits Abu Hurairah z:
لَا تَرْتَكِبُوا مَا ارْتَكَبَ الْيَهُودُ فَتَسْتَحِلُّوا مَحَارِمَ اللهِ بِأَدْنَى الْحِيَلِ
“Janganlah kamu melakukan apa yang telah dilakukan oleh orang-orang Yahudi, sehingga kamu menghalalkan apa-apa yang diharamkan Allah dengan serendah-rendah muslihat.”
Rasulullah n juga mengingatkan kita dalam hadits lainnya:
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُم
“Siapa yang meniru-niru suatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka.”
Beliau n bersabda dalam hadits Jabir z:
إِنَّ اللهَ وَرَسُولَهُ حَرَّمَ بَيْعَ الْخَمْرِ وَالْمَيْتَةِ وَالْخِنْزِيرِ وَالْأَصْنَامِ. فَقِيلَ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَرَأَيْتَ شُحُومَ الْمَيْتَةِ فَإِنَّهَا يُطْلَى بِهَا السُّفُنُ وَيُدْهَنُ بِهَا الْجُلُودُ وَيَسْتَصْبِحُ بِهَا النَّاسُ؟ فَقَالَ: لَا، هُوَ حَرَامٌ. ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللهِ n عِنْدَ ذَلِكَ: قَاتَلَ اللهُ الْيَهُودَ، إِنَّ اللهَ لَمَّا حَرَّمَ شُحُومَهَا جَمَلُوهُ ثُمَّ بَاعُوهُ فَأَكَلُوا ثَمَنَهُ
“Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya mengharamkan jual beli khamr, bangkai, babi, dan berhala (arca, patung, dan sebagainya).” Lalu dikatakan kepada beliau: “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapat anda tentang gajih (lemak) bangkai? Karena dipakai untuk mengecat perahu, meminyaki kulit, dan dipakai untuk penerangan oleh manusia.” Maka beliau bersabda: “Tidak. Hal itu (yakni menjualnya) tetap haram.” Ketika itu Rasulullah n bersabda: “Semoga Allah membinasakan orang-orang Yahudi. Sesungguhnya Allah, ketika mengharamkan gajih atas mereka, mereka mencairkannya dan menjualnya kemudian memakan harganya (hasil penjualan itu).”
Mudah-mudahan Allah l memberi taufik kepada kita, untuk meninggalkan sikap minder terhadap orang-orang kafir, lalu bersemangat menjalankan perintah Allah l dan menjauhi larangan-Nya dengan penuh keikhlasan. Wallahu a’lam.

Shalat Magrib

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Ishaq Musilm Al-Atsari)

 

Awal dan Akhir Waktu Shalat Maghrib

Awal waktu maghrib adalah ketika matahari tenggelam. Yang teranggap dalam tenggelamnya matahari adalah hilangnya bulatannya, dan ini jelas sekali di daerah gurun. Adapun di tempat yang memiliki bangunan dan di puncak-puncak gunung, yang teranggap adalah tidak terlihat sedikitpun cahaya matahari di atas ujung dinding dan puncak-puncak gunung serta telah datang gelap dari arah timur. Adapun akhir waktu maghrib adalah saat hilangnya syafaq.1 (Al-Majmu’ 3/33, Asy-Syarhul Kabir lil Rafi’i 1/370, Raudhatu Ath-Thalibin 1/208).

Hal ini ditunjukkan dalam hadits Abdullah bin ‘Amr ibnul ‘Ash c:

وَوَقْتُ صَلاَةِ الْمَغْرِبِ إِذَا غَابَتِ الشَّمْسُ مَا لَمْ يَسْقُطِ الشَّفَقُ

“Waktu shalat maghrib adalah bila matahari telah tenggelam selama belum jatuh/hilang syafaq.” (HR. Muslim no. 1388)

Demikian pula dalam hadits Abu Hurairah z:

وَإِنَّ أَوَّلَ وَقْتِ الْمَغْرِبِ حِيْنَ تَغْرُبُ الشَّمْسُ وَإِنَّ آخِرَ وَقْتِهَا حِيْنَ يَغِيْبُ الْأُفُقُ

“Awal waktu shalat maghrib adalah ketika matahari tenggelam dan akhir waktunya ketika tenggelam ufuk.” (HR. At-Tirmidzi no. 151 dan selainnya. Al-Imam Al-Albani berkata: “Sanadnya shahih menurut syarat Al-Bukhari dan Muslim”, Ats-Tsamarul Mustathab 1/56 dan Ash-Shahihah no. 1696)

Salamah ibnul Akwa’ z berkata:

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ n كَانَ يُصَلِّي الْمَغْرِبَ إِذَا غَرَبَتِ الشَّمْسُ وَتَوَارَتْ بِالْحِجَابِ

“Rasulullah n mengerjakan shalat maghrib ketika matahari tenggelam dan tersembunyi/tertutup dari pandangan.” (HR. Al-Bukhari no. 561 dan Muslim no. 1438)

Dalam permasalahan awal waktu ini terjadi kesepakatan di kalangan ulama. Namun untuk akhir waktu maghrib, ada perbedaan pendapat.

Sebagian ahlul ilmi berpendapat bahwa maghrib hanya memiliki satu waktu, dengan dalil hadits Jibril yang mengimami Rasulullah n dalam dua hari. Dalam dua hari tersebut Jibril mengerjakan shalat maghrib hanya di satu waktu (hari kedua sama waktunya dengan hari pertama) yaitu ketika matahari tenggelam, saat orang yang berpuasa berbuka dari puasanya. Ini merupakan pendapat Ibnul Mubarak, Malik, Al-Auza’i, dan Asy-Syafi’i. (Al-Majmu’ 3/33, At-Tahdzib lil Baghawi 2/10, Asy-Syarhul Kabir lil Rafi’i 1/370, Al-Mughni Kitab Ash-Shalah, Mas`alah Wa Idza Ghabatisy Syamsu Wajabatil Maghrib…, Al-Mabsuth 1/134, Nailul Authar 1/447 ).

Namun hadits-hadits yang shahih menunjukkan bahwa waktu shalat maghrib dipanjangkan sampai hilangnya syafaq. Ini adalah pendapat lama (qadim) dari Al-Imam Asy-Syafi’i t. Pendapat inilah yang dishahihkan oleh sekelompok Syafi’iyyah dan dipilih serta dibela oleh An-Nawawi t dalam Al-Majmu’. Ini juga merupakan pendapat Ats-Tsauri, Abu Hanifah, Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur, dan ashabur ra`yi. Sementara hadits Jibril hanyalah menunjukkan waktu utama dikerjakannya shalat maghrib dan sebagai pengabaran. (Al-Majmu’ 3/34, At-Tahdzib lil Baghawi 2/10, Raudhatu Ath-Thalibin 1/209, Al-Mughni Kitab Ash-Shalah, Mas`alah Wa Idza Ghabatisy Syamsu Wajabatil Maghrib…, Ats-Tsamarul Mustathab 1/60)

Ibnu Hazm t mengomentari pendapat yang mengatakan maghrib hanya satu waktunya dengan mengatakan, “Ini merupakan pendapat yang jelas/tampak sekali kontradiksinya, tanpa ada burhan (dalil).” Ibnu Hazm juga mengatakan bahwa pendapat ini batal dari beberapa sisi. (Al-Muhalla, 2/200,203)

 

Bersegera Mengerjakan Shalat Maghrib

Rafi’ ibnu Khadij z mengabarkan:

كُنَّا نُصَلِّي الْمَغْرِبَ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ n فَيَنْصَرِفُ أَحَدُنَا وَإِنَّهُ لَيُبْصِرُ مَوَاقِعَ نَبْلِهِ

“Kami shalat maghrib bersama Rasulullah n, lalu salah seorang dari kami berlalu (setelah mengerjakan shalat maghrib) dan ia masih bisa melihat tempat jatuhnya anak panahnya.” (HR. Al-Bukhari no. 559 dan Muslim no. 1439)

Kata Al-Imam An-Nawawi t, “Makna hadits ini adalah Rasulullah n menyegerakan shalat maghrib di awal waktunya dengan semata-mata tenggelamnya matahari, hingga kami selesai dari shalat dan salah seorang dari kami melempar anak panahnya dari busurnya, maka ia masih dapat melihat tempat jatuhnya anak panah tersebut, karena masih adanya cahaya/belum gelap gulita.” (Al-Minhaj, 5/138)

Disenangi bersegera melaksanakan shalat maghrib ini sebelum munculnya bintang-bintang. Nabi n bersabda:

لاَ تَزَالُ أُمَّتِي بِخَيْرٍ– أَوْ عَلَى الْفِطْرَةِ- مَا لَمْ يُؤَخِّرُوا الْمَغْرِبَ حَتَّى تَشْتَبِكَ النُّجُوْمُ

“Terus menerus umatku dalam kebaikan –atau: di atas fithrah– selama mereka tidak mengakhirkan shalat maghrib hingga munculnya bintang-bintang.” (HR. Ahmad 4/147, Abu Dawud no. 418. Al-Imam Al-Albani berkata, “Hadits ini shahih dari banyak jalan.” Lihat Ats-Tsamarul Mustathab 1/61)

Adapun kelompok sesat Rafidhah justru menyelisihi hadits di atas. Mereka menganggap mustahab mengakhirkan shalat maghrib sampai munculnya bintang-bintang. (Al-Hawil Kabir 2/19, Nailul Authar 1/448)

Namun penyegeraan ini tidaklah berarti bahwa setelah adzan maghrib langsung iqamah dan tidak boleh mengerjakan shalat dua rakaat sebelumnya. Karena justru Nabi n pernah bersabda:

بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلاَةٌ، بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلاَةٌ، لِمَنْ شَاءَ

“Di antara dua adzan2 ada shalat, di antara dua adzan ada shalat, bagi siapa yang mau mengerjakannya.” (HR. Al-Bukhari no. 624 dan Muslim no. 1937)

Dalam satu riwayat disebutkan Rasulullah n bersabda:

صَلُّوْا قَبْلَ الْمَغْرِبِ رَكْعَتَيْنِ، صَلُّوْا قَبْلَ الْمَغْرِبِ رَكْعَتَيْنِ، لِمَنْ شَاءَ

“Shalatlah sebelum maghrib dua rakaat, shalatlah sebelum maghrib dua rakaat, bagi siapa yang mau mengerjakannya.” (HR. Al-Bukhari no. 1183)

Rasulullah n mengatakan: “Bagi siapa yang mau mengerjakannya”, karena beliau tidak suka orang-orang menjadikannya sebagai suatu sunnah yang ditetapkan.

 

Tidak Boleh Menamakan Shalat Maghrib dengan Nama Isya

Tidak disukai menamakan maghrib dengan isya3 sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang A’rab (badui). (Al-Majmu’ 3/39, Nailul Authar 1/455)

Karena Rasulullah n bersabda:

لاَ تَغْلِبَنَّكُمُ الْأَعْرَابُ عَلَى اسْمِ صَلاَتِكُمُ الْمَغْرِبِ. قال: وَتَقُوْلُ الْأَعْرَابُ: هِيَ الْعِشَاءُ

“Jangan sekali-kali orang-orang A’rab mengalahkan kalian dalam penamaan shalat maghrib kalian ini.” Beliau mengatakan, “Orang-orang A’rab menamakan shalat maghrib dengan shalat isya.” (HR. Al-Bukhari no. 563)

As-Sindi berkata, “Seakan-akan yang diinginkan dalam hadits ini dan yang semisalnya adalah larangan dari memperbanyak penggunaan bahasa A’rabi (bahasa orang badui). Di mana bahasa A’rab ini sampai mengalahkan nama yang syar’i, sehingga menjadi sedikit penggunaan nama syar’i di tengah manusia dan nama dari A’rab malah banyak tersebar.” (Hasyiyatus Sindi li Shahihil Al-Bukhari 1/107)

Wallahu a’lam bish-shawab.

 

(bersambung insya Allah)

Waktu-waktu Shalat

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Ishaq Muslim Al-Atsari)

 

3. SHALAT ASHAR

 

Shalat Wustha adalah Shalat Ashar

Allah k memerintahkan kepada kaum muslimin untuk menjaga shalat lima waktu yang mereka kerjakan siang dan malam. Terlebih lagi shalat ashar sebagaimana dinyatakan dalam firman-Nya:

“Jagalah oleh kalian shalat-shalat lima waktu dan shalat wustha, serta berdirilah karena Allah dengan taat/khusyuk.” (Al-Baqarah: 238)
Al-Hafizh Ibnu Katsir t berkata, “Allah l memerintahkan untuk menjaga shalat-shalat pada waktunya, menjaga batasan-batasannya, serta mengerjakannya pada waktunya.” Al-Hafizh melanjutkan, “Allah l mengkhususkan shalat wustha di antara shalat-shalat yang ada dengan menambah penekanannya.” (Tafsir Al-Qur`anil ‘Azhim, 1/379)
Ulama berselisih pendapat tentang shalat yang disebut dengan shalat wustha1. Al-Imam Asy-Syaukani t menyebutkan sampai 17 pendapat, dan merajihkan pendapat yang mengatakan shalat ashar karena dalil-dalil yang ada. (Nailul Authar 1/437,438)
Al-Imam Al-Baghawi t menyatakan, “Kebanyakan ulama berpendapat shalat wustha adalah shalat ashar. Hal ini diriwayatkan oleh sekelompok sahabat Rasulullah n. Ini merupakan pendapat ‘Ali, Abdullah bin Mas’ud, Abu Ayyub, Abu Hurairah, dan Aisyah g2. Dengan ini pula Ibrahim An-Nakha’i, Qatadah, dan Al-Hasan berpendapat.” (Ma’alimut Tanzil, 1/164)
Inilah pendapat yang kuat karena adanya hadits Rasulullah n yang beliau ucapkan ketika hari perang Ahzab:
مَلَأَ اللهُ قُبُوْرَهُمْ وَبُيُوْتَهُمْ نَارًا كَمَا شَغَلُوْنَا عَنِ الصَّلاَةِ الْوُسْطَى حَتَّى غَابَتِ الشَّمْسُ
“Semoga Allah memenuhi kuburan dan rumah-rumah mereka dengan api sebagaimana mereka telah menyibukkan kita dari mengerjakan shalat wustha (pada waktunya) hingga matahari tenggelam.” (HR. Al-Bukhari no. 2931 dan Muslim no. 1419)
Dalam riwayat Muslim (no. 1424) dan selainnya disebutkan, Rasulullah n menyatakan:
شَغَلُوْنَا عَنِ الصَّلاَةِ الْوُسْطَى صَلاَةِ الْعَصْرِ
“Mereka telah menyibukkan kita dari mengerjakan shalat wustha (pada waktunya), shalat ashar.”
Al-Imam At-Tirmidzi t menyatakan ini merupakan pendapat mayoritas ulama dari kalangan sahabat Nabi n dan selain mereka. (Sunan At-Tirmidzi 1/117)
Keutamaan Shalat Ashar dan Shalat Fajar
Jarir bin Abdillah z berkata, “Kami sedang berada di sisi Nabi n suatu malam, lalu beliau melihat ke bulan yang sedang purnama seraya berkata:
“Sesungguhnya kelak kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan purnama ini, kalian tidak akan berdesak-desakan dalam melihat-Nya. Maka jika kalian mampu untuk tidak terluputkan3 dari mengerjakan shalat sebelum matahari terbit dan sebelum matahari tenggelam, hendaklah kalian melakukannya.” Lalu beliau membaca ayat: “Dan bertasbihlah memuji Rabbmu sebelum matahari terbit dan sebelum tenggelamnya4.” (HR. Al-Bukhari no. 554 dan Muslim no. 1432)
Al-Khaththabi t berkata, “Hadits ini menunjukkan bahwa melihat Allah l bisa diharapkan bagi orang yang menjaga dua shalat ini.” (Fathul Bari, 2/46)
Rasulullah n pernah pula bersabda:
لَنْ يَلِجَ النَّارَ أَحَدٌ صَلَّى قَبْلَ طُلُوْعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوْبِهَا – يَعْنِي الْفَجْرَ وَالْعَصْرَ
“Tidak akan masuk neraka seseorang yang shalat sebelum matahari terbit dan sebelum tenggelam.” Yang beliau maksudkan adalah shalat fajar dan shalat ashar. (HR. Muslim no. 1434)
Dalam hadits lain beliau menegaskan:
مَنْ صَلَّى الْبَرْدَيْنِ دَخَلَ الْجَنَّةَ
“Siapa yang shalat bardain (fajar dan ashar) ia akan masuk surga.” (HR. Al-Bukhari no. 574 dan Muslim no. 1436)
Al-Khaththabi t berkata, “Dua shalat ini dinamakan bardain karena keduanya dikerjakan pada waktu siang yang dingin, dan keduanya merupakan dua ujung siang saat udara enak dan telah hilang hawa yang panas.” (Fathul Bari, 2/71)
Abu Hurairah z berkata bahwasanya Rasulullah n bersabda:
يَتَعَاقَبُوْنَ فِيْكُمْ مَلاَئِكَةٌ بِالَّليْلِ وَمَلاَئِكَةٌ بِالنَّهَارِ، وَيَجْتَمِعُوْنَ فِي صَلاَةِ الْفَجْرِ وَصَلاَةِ الْعَصْرِ، ثُمَّ يَعْرُجُ الَّذِيْنَ بَاتُوْا فِيْكُمْ، فَيَسْأَلُهُمْ – وَهُوَ أَعْلَمُ بِهِمْ-: كَيْفَ تَرَكْتُمْ عِبَادِيْ؟ فَيَقُوْلُوْنَ: تَرَكْنَا وَهُمْ يُصَلُّوْنَ وَأَتَيْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّوْنَ
“Saling berganti di tengah kalian malaikat malam dan malaikat siang. Mereka berkumpul dalam shalat fajar dan shalat ashar. Kemudian naiklah malaikat yang telah bermalam di tengah kalian, lalu Allah bertanya kepada mereka –dan Allah lebih tahu daripada mereka–, ‘Bagaimana kalian meninggalkan hamba-hamba-Ku?’ Mereka menjawab, ‘Kami tinggalkan mereka dalam keadaan mereka mengerjakan shalat. Dan kami datang kepada mereka dalam keadaan mereka mengerjakan shalat’.” (HR. Al-Bukhari no. 555 dan Muslim no. 1430)
Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani t berkata, “Dalam hadits ini ada isyarat agungnya dua shalat ini (ashar dan fajar). Karena pada dua shalat tersebut berkumpul dua kelompok malaikat, sedangkan di selain dua shalat ini hanya berkumpul satu kelompok malaikat. Hadits ini juga menunjukkan mulianya dua waktu yang disebutkan (waktu ashar dan fajar).” (Fathul Bari, 2/50)
Awal Waktu Ashar
Awal masuknya waktu shalat ashar adalah dengan berakhirnya waktu shalat zhuhur. (Al-Majmu’ 3/30, At-Tahdzib lil Baghawi 2/9, Asy-Syarhul Kabir lil Rafi’i 1/368,369, Al-Hawil Kabir 2/16, Mughnil Muhtaj 1/249, Asy-Syarhul Mumti’ 2/107)
Dalam hadits Jabir bin Abdillah Al-Anshari x disebutkan:
أَنَّ النَّبِيَّ n جَاءَهُ جِبْرِيْلُ q فَقَالَ: قُمْ فَصَلِّهِ. فَصَلَّى الظُّهْرَ حِيْنَ زَالَتِ الشَّمْسُ، ثُمَّ جَاءَهُ الْعَصْرُ فَقَالَ: قُمْ فَصَلِّهِ. فَصَلَّى الْعَصْرَ حِيْنَ صَارَ ظِّلُ كُلِّ شَيْءٍ مِثْلَهُ– أََوْ قَالَ: صَارَ ظِلُّهُ مِثْلَهُ –
Nabi n didatangi oleh malaikat Jibril q. Jibril berkata, “Bangkitlah lalu shalatlah waktu ini.” Maka Rasulullah shalat zhuhur ketika matahari telah tergelicir. Kemudian Jibril datang lagi kepada Rasulullah pada waktu ashar, lalu berkata, “Bangkitlah, kerjakanlah shalat.” Rasulullah pun mengerjakan shalat ashar tatkala bayangan segala sesuatu sama dengan sesuatu tersebut –atau Jabir berkata, “…ketika bayangannya sama dengannya.” (HR. Ahmad 3/330-331 dan selainnya. Al-Hakim berkata, “Hadits ini shahih masyhur,” dan disepakati oleh Adz-Dzahabi. Kata Al-Imam Al-Albani, “Hadits ini sebagaimana dikatakan oleh Al-Hakim dan Adz-Dzahabi.”- Ats-Tsamarul Mustathab fi Fiqhis Sunnah wal Kitab, 1/58)
Ini merupakan pendapat Al-Imam Malik, Asy-Syafi’i, Ahmad, dan jumhur ulama. Adapun Abu Hanifah berpandangan bahwa shalat ashar belum masuk waktunya hingga bayangan sesuatu/benda panjangnya dua kali dari panjang bendanya. Namun pendapatnya menyelisihi atsar dan menyelisihi manusia, bahkan murid-muridnya tidak menyepakatinya. (Al-Mughni Kitab Ash-Shalah, fashl Yastaqirru Wujubish Shalah bima Wajabat bihi, Al-Minhaj 5/125, At-Tahdzib lil Baghawi 2/9, Fathul Bari 2/36).
Al-Qurthubi t berkata sebagaimana dinukil Al-Hafizh Ibnu Hajar t dalam Fathul Bari (2/36), “Orang-orang seluruhnya menyelisihi pendapat Abu Hanifah dalam hal ini, sampaipun murid-muridnya yang mengambil ilmu/pendapatnya. Namun datang sekelompok orang setelah mereka yang membela pendapat Abu Hanifah. Orang-orang ini mengatakan, “Telah tsabit perintah untuk ibrad (dalam shalat zhuhur) dan ibrad ini tentunya tidak tercapai kecuali setelah hilangnya panas yang sangat. Sementara panas yang sangat tersebut tidak dapat hilang/berlalu di negeri itu kecuali setelah bayangan sesuatu benda dua kali dari panjang bendanya. Sehingga awal waktu ashar adalah saat panjang bayangan benda dua kali dari panjang bendanya.”
Namun bagaimana pun mereka membelanya, pendapat ini tetap lemah.
Akhir Waktu Ashar
Adapun akhir waktu ashar adalah selama matahari belum menguning dan belum jatuh sisinya yang awal –sebagai waktu ikhtiyar–, atau matahari belum tenggelam –sebagai waktu darurat–5. (Al-Majmu’ 3/31, Al-Mabsuth 1/134, Raudhatu Ath-Thalibin 1/208, Mughnil Muhtaj 1/249, Al-Muhalla 2/197, Nailul Authar 1/430, Asy-Syarhul Mumti’ 2/109)
Sebagaimana disebutkan dalam hadits Abdullah bin ‘Amr ibnul ‘Ash c bahwa ketika Rasulullah n ditanya tentang waktu shalat ashar, beliau menjawab:
وَوَقْتُ صَلاَةِ الْعَصْرِ مَا لَمْ تَصْفَرَّ الشَّمْسُ وَيَسْقُطْ قَرْنُهَا الْأَوَّلُ
“Waktu shalat ashar selama matahari belum menguning dan sebelum jatuh (tenggelam) sisinya yang awal.” (HR. Muslim no. 1388)
Demikian pula hadits Abu Hurairah z yang telah lewat, Rasulullah n bersabda:
وَإِنَّ أَوَّلَ وَقْتِ صَلاَةِ الْعَصْرِ حِيْنَ يَدْخُلُ وَقْتُهَا وَإِنَّ آخِرَ وَقْتِهَا حِيْنَ تَصْفَرُّ الشَّمْسُ
“Awal waktu shalat ashar adalah ketika masuk waktunya dan akhir waktunya saat matahari menguning.” (HR. At-Tirmidzi no. 151 dan selainnya. Al-Imam Al-Albani berkata: “Sanadnya shahih menurut syarat Al-Bukhari dan Muslim”, Ats-Tsamarul Mustathab 1/56 dan Ash-Shahihah no. 1696)
Juga ditunjukkan oleh sabda Rasulullah n:
مَنْ أَدْرَكَ مِنَ الصُّبْحِ رَكْعَةً قَبْلَ أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ فَقَدْ أَدْرَكَ الصُّبْحَ، وَمَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنَ الْعَصْرِ قَبْلَ أَنْ تَغْرُبَ الشَّمْسُ فَقدْ أَدْرَكَ الْعَصْرَ
“Siapa yang mendapati satu rakaat subuh sebelum matahari terbit maka sungguh ia telah mendapatkan shalat subuh. Dan siapa yang mendapati satu rakaat ashar sebelum matahari tenggelam maka sungguh ia telah mendapatkan shalat ashar.” (HR. Al-Bukhari no. 579 dan Muslim no. 1373)
Disenangi Shalat Ashar di Awal Waktu
Disenangi bersegera mengerjakan shalat ashar ini sebagaimana yang biasa dilakukan oleh Rasulullah n. Seperti disebutkan dalam hadits Anas bin Malik z:
أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ n كَانَ يُصَلِّي الْعَصْرَ وَالشَّمْسُ مُرْتَفِعَةٌ حَيَّةٌ، فَيَذْهَبُ الذَّاهِبُ إِلىَ الْعَوَالِي، فَيَأْتِي الْعَوَالِي وَالشَّمْسُ مُرْتَفِعَةٌ
“Adalah Rasulullah n biasa mengerjakan shalat ashar dalam keadaan matahari tinggi masih bersih warnanya (belum menguning atau berubah). Lalu selesai shalat seseorang pergi ke kampung yang berada di sekitar kota Madinah6. Ia tiba di kampung tersebut dalam keadaan matahari masih tinggi.” (HR. Al-Bukhari no. 550 dan Muslim no. 1407)
Aisyah x juga mengabarkan:
كَانَ رَسُوْلُ اللهِ n يُصَلِّي الْعَصْرَ وَالشَّمْسُ لَمْ تَخْرُجْ مِنْ حُجْرَتِهَا
“Adalah Rasulullah n biasa mengerjakan shalat ashar dalam keadaan (cahaya) matahari belum keluar dari kamarnya.” (HR. Al-Bukhari no. 544 dan Muslim no. 1382)
Abu Barzah Al-Aslami z mengabarkan, “Rasulullah n mengerjakan shalat ashar. Selesai shalat ashar, salah seorang dari kami kembali ke rumahnya di ujung kota Madinah dalam keadaan matahari masih putih bersih/masih terasa panasnya.” (HR. Al-Bukhari no. 547 dan Muslim no. 1460)
Anas bin Malik z berkata, “Rasulullah n shalat ashar mengimami kami. Ketika selesai, datang seseorang dari Bani Salamah menemui beliau seraya berkata, ‘Wahai Rasulullah, kami ingin menyembelih unta kami dan kami senang bila engkau turut hadir.’ Beliau menjawab, ‘Iya.’ Rasulullah pun pergi dan kami ikut menyertai beliau. Kami dapati unta belum disembelih, lalu disembelihlah unta itu kemudian dipotong-potong lalu dimasak. Setelah matang kami menyantapnya. Semua itu terjadi dalam keadaan matahari belum tenggelam.” (HR. Muslim no. 1413)
Al-Imam An-Nawawi t berkata, “Yang dimaukan dengan hadits-hadits ini dan yang setelahnya adalah bersegera mengerjakan shalat ashar di awal waktunya. Karena tidak mungkin seseorang dapat pergi setelah shalat ashar ke tempat yang jaraknya 2 atau 3 mil dalam keadaan matahari masih putih bersih belum berubah kekuningan dan semisalnya, kecuali bila ia mengerjakan ashar ketika bayangan sesuatu/benda sama dengan bendanya. Hampir-hampir hal ini tidak terjadi kecuali pada hari-hari yang panjang.” (Al-Minhaj, 5/124)
Larangan Mengakhirkan Ashar di Waktu Isfirar7
Tidak boleh bersengaja mengakhirkan shalat ashar sampai waktu isfirar sesaat sebelum matahari tenggelam terkecuali karena udzur.8 (Al-Mughni Kitab Ash-Shalah, fashl La Yajuzu Ta`khirul Ashri ‘an Waqtil Ikhtiyar lighairi ‘Udzrin, Syarhu Muntaha Al-Iradat 1/134, At-Tahdzib lil Baghawi 2/9, Al-Muhalla, 2/197, Nailul Authar 1/431).
Karena Nabi n bersabda:
تِلْكَ صَلاَةُ الْمُنَافِقِ، يَجْلِسُ يَرْقُبُ الشَّمْسَ حَتَّى إِذَا كَانَ بَيْنَ قَرْنَيْ الشَّيْطَانِ قَامَ، فَنَقَرَهَا أَرْبَعًا لاَ يَذْكُرُ اللهَ إِلاَّ قَلِيْلاً
“Itu adalah shalat orang munafik. Ia duduk menunggu matahari, hingga ketika matahari telah berada di antara dua tanduk setan9 ia bangkit untuk shalat. Lalu ia mematuk dalam shalatnya10 sebanyak empat kali, dalam keadaan ia tidak mengingat (berzikir) kepada Allah kecuali sedikit.” (HR. Muslim no. 1411)
Al-Imam At-Tirmidzi t menukilkan tentang dibencinya mengakhirkan shalat ashar dari Abdullah ibnul Mubarak, Asy-Syafi’i, Ahmad, dan Ishaq. (Sunan At-Tirmidzi 1/107)
Ancaman bagi Orang yang Luput dari Shalat Ashar
Yang dimaksud dengan luput dari shalat ashar adalah mengakhirkan waktunya dari waktu yang diperbolehkan tanpa udzur. Dalam hal ini Rasulullah n bersabda:
الَّذِي تَفُوْتُهُ صَلاَةُ الْعَصْرِ كَأَنَّمَا وُتِرَ أَهْلُهُ وَمَالُهُ
“Orang yang terluputkan dari shalat ashar seakan-akan ia ditimpa musibah pada keluarga dan hartanya (sehingga ia tidak punya keluarga dan harta lagi).” (HR. Al-Bukhari no. 552 dan Muslim no. 1416)
Faedah
Dinukilkan dari Al-Qadhi Husain, Ash-Shaidalani, Al-Imam Al-Haramain, Ar-Ruyani, dan selain mereka, “Ashar memiliki lima waktu; waktu fadhilah (utama), waktu ikhtiyar (pilihan), waktu jawaz (dibolehkan) tanpa karahah/dibenci, waktu jawaz disertai karahah/dibenci, dan waktu udzur. Waktu fadhilah adalah dari awal masuk waktu ashar sampai bayangan seseorang panjangnya satu setengah kali dari orang tersebut. Waktu ikhtiyar adalah sampai bayangan benda dua kali panjang bendanya. Waktu jawaz tanpa karahah yaitu sampai isfirar (menguning) matahari. Waktu jawaz disertai karahah yaitu saat isfirar hingga matahari tenggelam. Waktu udzur adalah waktu zhuhur bagi orang yang menjamak ashar dengan shalat zhuhur karena safar atau karena hujan.” (Al-Majmu’ 3/31,32, Asy-Syarhul Kabir lil Rafi’i 1/369, Raudhatu Ath-Thalibin 1/208)
Orang yang Meninggalkan Shalat Ashar
Abu Malik berkata, “Kami bersama Buraidah ibnul Hushaib Al-Aslami z dalam satu peperangan pada hari mendung (berawan). Maka ia berkata, “Bersegeralah kalian mengerjakan shalat ashar karena Nabi n pernah bersabda:
مَنْ تَرَكَ صَلاَةَ الْعَصْرِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ
“Siapa yang meninggalkan shalat ashar (dengan sengaja) maka sungguh telah batal amalnya.” (HR. Al-Bukhari no. 553)
Mendapatkan Satu Rakaat Shalat Ashar Sebelum Matahari Tenggelam
Abu Hurairah z menyampaikan hadits Rasulullah n:
إِذَا أَدْرَكَ أَحَدُكُمْ سَجْدَةً مِنْ صَلاَةِ الْعَصْرِ قَبْلَ أَنْ تَغْرُبَ الشَّمْسُ فَلْيُتِمَّ صَلاَتَهُ
“Apabila salah seorang dari kalian mendapatkan satu sujud (satu rakaat) dari shalat ashar sebelum matahari tenggelam maka hendaknya ia menyempurnakan shalatnya.” (HR. Al-Bukhari no. 556 dan Muslim no. 1373)

1 Kata Al-’Allamah Manshur bin Yunus bin Idris Al-Huti t, ahli fiqih Hanabilah di zamannya, “Wustha maknanya utama dan pertengahan di antara shalat nahariyah (yang dikerjakan siang hari) dan shalat lailiyah (yang dikerjakan pada malam hari), atau pertengahan di antara dua shalat ruba’iyah (shalat yang berjumlah empat rakaat yaitu zhuhur dan isya).” (Syarhu Muntaha Al-Iradat, 1/134)
2 Juga pendapat Ibnu ‘Umar, Ibnu ‘Abbas, Abu Sa’id Al-Khudri, Ubai bin Ka’b, Samurah bin Jundab, Abdullah bin ‘Amr ibnul ‘Ash, Hafshah, Ummu Salamah, Abidah As-Salmani, Adh-Dhahhak, Al-Kalbi, Muqatil, Abu Hanifah, Ahmad, Dawud, Ibnul Mundzir, dan selain mereka. (Al-Minhaj 5/130, Al-Mughni Kitab Ash-Shalah, fashl Ma Shalatul Wustha, Nailul Authar 1/437)
3 Di sini ada kinayah, harusnya mempersiapkan diri dan tidak membiarkannya lalai seperti tertidur dan sebagainya. (Fathul Bari, 2/45)
4 Qaf: 39
5 Makna waktu darurat adalah seseorang terpaksa mengakhirkannya dari waktu ikhtiyar. Misalnya seseorang menderita luka-luka yang membuatnya tersibukkan dari mengerjakan shalat ashar karena membalut luka-lukanya, dalam keadaan ia sebenarnya bisa mengerjakan shalat ashar tersebut sebelum isfirar (cahaya menguning), namun ia akan menemui kesulitan/kepayahan. Maka bila ia mengakhirkan shalat asharnya beberapa saat sebelum datangnya shalat maghrib, berarti ia telah menunaikan shalat ashar pada waktunya. Ia tidak berdosa karena masih ada waktu darurat. (Asy-Syarhul Mumti’ 2/109)
6 Kampung yang paling jauh dari Madinah jaraknya 8 mil dan yang paling dekat 2 mil. Sebagiannya ada yang berjarak 3 mil dari Madinah. (Al-Minhaj, 5/124)
7 Matahari telah berwarna kekuning-kuningan.
8 Udzur yang dimaksud adalah seperti wanita yang baru mandi suci dari haid/nifasnya, orang kafir yang baru masuk Islam saat tersebut, anak kecil yang baru baligh pada waktu tersebut, orang gila/pingsan yang baru sadar, orang tidur yang baru bangun, atau orang sakit yang baru sembuh. (Al-Mughni Kitab Ash-Shalah, fashl La Yajuzu Ta`khirul ‘Ashri ‘an Waqtil Ikhtiyar lighairi ‘Udzrin )
9 Setan memosisikan dua tanduknya agar matahari persis di antara dua tanduknya ketika tenggelam dan terbit, karena orang-orang kafir pada waktu itu sujud kepada matahari yang sebenarnya mereka sujud kepada setan. (Nailul Authar 1/432)
10 Mengerjakannya dengan terburu-buru/tergesa-gesa tanpa menyempurnakan kekhusyukan, tanpa thuma`ninah, dan menyempurnakan bacaan zikir-zikir. Yang dimaksudkan dengan mematuk adalah bergerak dengan cepat seperti mematuknya burung. (Al-Minhaj, 5/126)

Penakhlukan Yahudi Khaibar

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Harits)

 

Makkah Menanti Berita

Ibnul Qayyim t mengisahkan, dari Musa bin ‘Uqbah bahwa Quraisy mengadakan pertaruhan besar ketika mendengar keberangkatan Rasulullah n ke Khaibar. Di antara mereka ada yang mengatakan: “Muhammad (n dan para sahabatnya akan menang.” Ada pula yang mengatakan: “Dua sekutu dan Yahudi Khaibar akan menang.”

Waktu itu, Hajjaj bin ‘Ilath As-Sulami telah masuk Islam dan ikut dalam penaklukan Khaibar. Istrinya adalah Ummu Syaibah, saudari Bani ‘Abdid Dar bin Qushay. Hajjaj adalah seorang hartawan besar. Dia mempunyai simpanan kekayaan di tanah Bani Sulaim. Setelah Nabi n menaklukkan Khaibar, Hajjaj mengatakan: “Sesungguhnya saya mempunyai emas pada istri saya. Kalau dia dan keluarganya tahu keislaman saya, niscaya habis harta saya. Maka izinkanlah saya (mengambilnya). Saya akan mempercepat perjalanan mendahului berita ini. Dan pasti saya kabarkan sesuatu bila saya tiba, untuk menyelamatkan harta dan jiwa saya.”

Rasulullah n mengizinkannya. Setibanya di Makkah, dia berkata kepada istrinya: “Sembunyikan aku dan kumpulkan seluruh hartaku. Karena aku ingin membeli ghanimah Muhammad (n) dan para sahabatnya. Mereka telah dikalahkan, harta mereka telah dirampas. Muhammad (n) telah ditawan, dan para sahabatnya telah meninggalkannya. Orang-orang Yahudi bersumpah akan membawa dia ke Makkah kemudian membunuhnya sebagai balasan atas pembunuhan yang dilakukannya di Madinah.”

Akhirnya berita itu tersebar di seantero Makkah. Mendengar berita ini, kaum muslimin semakin tertekan dan berduka cita. Sementara musyrikin menampakkan sukacita dan kebahagiaan mereka.

Sampailah berita ini kepada ‘Abbas z, paman Rasulullah n. Diapun ingin berdiri dan keluar, tapi punggungnya terasa lemah, tidak mampu berdiri. Dia memanggil putranya Qutsam, yang mirip dengan Rasulullah n. Mulailah dia bersenandung dengan suara keras agar tidak dilecehkan oleh musuh-musuh Allah l:

Buah hatiku Qutsam, buah hatiku Qutsam

Mirip si pemilik hidung tinggi (mancung)

Nabi Rabbku Pemilik kenikmatan

Meski tidak disenangi mereka yang tak senang

Lalu berkumpullah beberapa orang di depan rumahnya, baik yang muslim maupun musyrik. Ada yang menampakkan kegembiraan, mengejek dan ada yang seperti mati karena kesedihan dan petaka.

Ketika kaum muslimin mendengar senandung ‘Abbas z dan ketabahannya, tenanglah jiwa mereka. Sedangkan musyrikin mengira ada berita lain yang sampai kepadanya. Kemudian ‘Abbas mengutus pelayannya kepada Hajjaj, dan berkata: “Temui dia, dan katakan kepadanya: ‘Celaka kamu, berita apa yang kau bawa, dan apa yang kau ucapkan ini. Yang Allah l janjikan itu lebih baik dari beritamu ini’.”

Setelah bujang itu berbicara dengannya, Hajjaj berkata kepadanya: “Sampaikan salamku kepada Abul Fadhl, dan katakan kepadanya: ‘Hendaknya dia temui aku di sebagian rumahnya hingga aku mendatanginya. Karena ada berita yang menyenangkannya’.”

Begitu tiba di pintu rumah, bujang itu berkata: “Gembiralah, wahai Abul Fadhl.” Seketika ‘Abbas z melompat gembira seolah-olah dia belum pernah terkena musibah sama sekali, lalu dia mencium kening bujangnya. Lalu bujang itu menyampaikan perkataan Hajjaj. Mendengar ini, ‘Abbas langsung membebaskan bujang itu, lalu berkata: “Ceritakan apa katanya.”

Bujang itu berkata: “Hajjaj mengatakan: ‘Temui aku di sebagian rumahmu sampai dia datang siang nanti’.”

Setelah Hajjaj datang dan berduaan dengannya, dia minta agar beritanya dirahasiakan untuk sementara. ‘Abbas setuju. Lalu kata Hajjaj: “Aku datang setelah Rasulullah n berhasil menaklukkan Khaibar, merampas harta benda mereka dan berlaku pada mereka pembagian Allah l. Sesungguhnya Rasulullah n telah memilih Shafiyyah bintu Huyai untuk pribadi beliau dan menikahinya. Tapi aku kemari untuk mengambil hartaku. Aku ingin mengumpulkan dan membawanya pergi. Dan aku sudah minta izin kepada Rasulullah n mengucapkan apa yang telah aku sebarkan, lalu beliau izinkan. Maka rahasiakan selama tiga hari, kemudian sebarkanlah apa yang kau mau.”

Istri Hajjaj selesai mengumpulkan harta bendanya kemudian dia bersiap untuk kembali ke Madinah. Setelah lewat tiga hari, ‘Abbas menemui istri Hajjaj dan berkata: “Apa yang dilakukan suamimu?”

Wanita itu berkata: “Sudah pergi.” Dia melanjutkan: “Semoga Allah l tidak membuatmu berduka cita, wahai Abul Fadhl. Sungguh menyusahkan kami juga apa yang menimpamu.”

‘Abbas z segera menimpali: “Betul. Allah l tidak akan membuatku berduka. Dan tidak terjadi –segala puji bagi Allah l– kecuali apa yang aku sukai. Allah l telah memberi kemenangan kepada Rasul-Nya terhadap Khaibar. Dan telah terjadi pembagian Allah l atas mereka. Rasulullah n memilih Shafiyyah untuk dirinya. Kalau engkau ada keperluan dengan suamimu, susullah dia.”

Wanita itu menukas: “Saya kira, demi Allah, anda jujur.”

Kata ‘Abbas z: “Demi Allah, aku jujur. Kenyataannya sebagaimana yang aku utarakan.”

Dia bertanya lagi: “Siapa yang menyampaikan berita ini kepadamu?”

“Yang menyampaikan kepadamu apa yang aku sampaikan kepadamu.”

Kemudian ‘Abbas pergi dan mendatangi majelis pemuka Quraisy. Begitu mereka melihat ‘Abbas, mereka berkata: “Demi Allah, ini betul-betul ketabahan, wahai Abul Fadhl. Tidaklah menimpamu melainkan kebaikan.”

Kata ‘Abbas: “Betul, segala puji bagi Allah. Tidak ada yang menimpaku kecuali kebaikan. Hajjaj telah menceritakan kepadaku demikian, demikian. Dia minta aku menyembunyikan berita ini selama tiga hari karena satu keperluan.”

Akhirnya Allah l kembalikan kesedihan dan kesusahan yang dialami kaum muslimin kepada orang musyrikin. Lalu keluarlah kaum muslimin dari rumah-rumah mereka menemui ‘Abbas. Setelah mereka mendengar berita ‘Abbas, wajah merekapun berseri-seri.1

 

Membagi Rampasan Khaibar

Usai peperangan, Rasulullah n membagi Khaibar menjadi 36 saham masing-masing terdiri dari 100 saham sehingga semuanya berjumlah 3600 saham. Untuk Rasulullah n dan kaum muslimin separuhnya. Adapun separuhnya untuk segala kepentingan kaum muslimin.

Kata Al-Baihaqi t: “Hal ini karena Khaibar dibebaskan tidak seluruhnya dengan kekerasan. Ada sebagiannya yang diperoleh dengan perdamaian.”

Tetapi Ibnul Qayyim t merajihkan bahwa Khaibar seluruhnya dibebaskan dengan kekerasan. Seandainya ada sebagian yang diperoleh dengan perdamaian, tentu Rasulullah n tidak mengusir orang-orang Yahudi itu dari Khaibar. Tatkala beliau bertekad mengusir mereka, orang-orang Yahudi itu berkata: “Kami lebih tahu tentang tanah Khaibar daripada kalian. Biarkan kami mengelolanya, separuh hasilnya untuk kalian.”

Ini merupakan bukti kuat bahwa Khaibar ditaklukkan dengan kekerasan.

 

Kedatangan Ja’far z dari Habasyah

Dalam peristiwa ini, datanglah putera paman beliau Ja’far bin Abi Thalib z dan teman-temannya disertai orang-orang Asy’ariyyin; Abu Musa dan teman-temannya.

Abu Musa z menceritakan:

Sampailah kepada kami berita keluarnya Rasulullah n, ketika kami masih di Yaman. Kamipun berangkat hijrah kepada beliau –saya dengan dua orang saudara– bersama 50 orang lebih dari kabilahku naik kapal. Tapi kami terdampar di kerajaan Najasyi, dan ternyata kami bertemu dengan Ja’far beserta teman-temannya. Dia berkata: “Sesungguhnya Rasulullah n mengutus kami dan memerintahkan kami menetap di sini, maka tinggallah bersama kami.”

Maka kamipun tinggal di sana hingga datang berita takluknya Khaibar. Ketika Khaibar jatuh, kamipun tiba di Madinah. Rasulullah n memberi kami saham dan beliau tidak membagi saham kepada siapapun yang tidak ikut serta dalam perang Khaibar ini, selain kepada para penumpang kapal bersama Ja’far dan teman-temannya.

Begitu melihat Ja’far dan rombongannya, Rasulullah n menyambut dan mencium keningnya seraya berkata:

وَاللهِ مَا أَدْرِي بِأَيّهِمَا أَفْرَحُ بِفَتْحِ خَيْبَرَ أَمْ بِقُدُومِ جَعْفَرٍ؟

“Demi Allah, aku tidak tahu mana yang lebih menggembirakanku, pembukaan Khaibar ataukah datangnya Ja’far?”2

Dalam peristiwa ini, Rasulullah n diberi hadiah daging panggang oleh seorang wanita Yahudi. Wanita itu adalah istri Salam bin Misykam. Ketika beliau n mencicipinya, daging itu bercerita kepada beliau bahwa dia dibubuhi racun. Maka beliau segera memuntahkannya.

Selain Rasulullah n, ada sahabat yang ikut makan daging tersebut, yaitu Bisyr bin Al-Bara` bin Ma’rur. Beliau gugur setelah memakan daging itu, sedangkan wanita itu kemudian dihukum mati. Demikian diterangkan Ibnu Qayyim t.

 

Faedah yang Diambil dari Peristiwa Khaibar

Beberapa faedah atau hikmah yang dapat dipetik dari penaklukan Khaibar ini, di antaranya:

1. Pembagian ghanimah, untuk pasukan berkuda tiga bagian, sedangkan pejalan kaki satu bagian.

2. Bila seorang prajurit menemukan makanan, dia boleh memakannya dan tidak masuk dalam khumus (1/5 harta yang harus dibagi).

3. Diharamkannya daging keledai jinak, dan sahih diriwayatkan bahwa alasan pengharamannya karena rijs (najis).

4. Boleh melakukan musaqah (memelihara tanaman orang lain dengan upah sebagian dari hasil buahnya, ed.) dan muzara’ah (mengolah tanah orang lain dengan upah sebagian hasilnya), sebagaimana Rasulullah n mempekerjakan Yahudi Khaibar mengolah tanah tersebut.

5. Bolehnya melakukan akad perdamaian dengan syarat.

6. Ahli dzimmah (yang menerima jaminan), bila melanggar syarat yang ditetapkan, maka tidak ada lagi jaminan atas mereka.

Wallahu a’lam.


1 HR. Ahmad (3/138), sanadnya sahih. Demikian menurut pentahqiq Zadul Ma’ad (3/339).

2 HR. Ath-Thabarani dalam Al-Ausath dan Ash-Shaghir (7, 8), dan dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani.

Bakhil Terhadap Karunia Allah

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Abdulmu’thi, Lc.)

 

Bakhil atau kikir tak sebatas berhubungan dengan materi. Perangai ini juga berkaitan dengan keimanan seseorang.

Orang yang rendah dan hina tidak akan risih dengan kehinaan yang disandangnya. Contoh yang sangat nyata adalah keadaan orang-orang yang bakhil di mana mereka jatuh di mata Allah l serta dibenci oleh manusia. Oleh karena itu seorang muslim yang baik akan menjauhkan dirinya dari perangai kebakhilan yang tidak membawa manfaat sedikitpun bagi dunianya, terlebih untuk akhiratnya. Kebakhilan sangat bertentangan dengan kesempurnaan iman sebagaimana sabda Nabi n:
لاَ يَجْتَمِعُ الشُّحُّ وَالْإِيْمَانُ فِي قَلْبِ عَبْدٍ أَبَدًا
“Tidak akan berkumpul kebakhilan dan keimanan pada hati seorang hamba selama-lamanya.” (HR. An-Nasa`i dan Al-Hakim dari Abu Hurairah z, dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani  t dalam Shahih Al-Jami’ no. 7616)
As-Sindi t menjelaskan: “Yakni tidak sepantasnya bagi mukmin menggabungkan antara iman dan kebakhilan karena kebakhilan merupakan sesuatu yang paling jauh dari keimanan.” (Sunan An-Nasa`i wa Hasyiatil Imam As-Sindi vol. VI/320)
Pengertian Bakhil (Kikir) dan Macam-macamnya
Bakhil adalah mencegah sesuatu yang seharusnya diberikan menurut ketentuan syariat dan secara etika kesopanan. Misalnya sesuatu yang wajib diberikan menurut ketentuan syariat adalah menunaikan zakat dan nafkah kepada keluarga. Sedangkan contoh secara etika kesopanan adalah tidak menyempitkan dalam pemberian nafkah dan tidak menuntut pada sesuatu yang remeh. (Lihat Mukhtashar Minhajul Qasidin hal. 66 cet. Dar ‘Ammar)
Merujuk kepada definisi bakhil tadi maka macam kebakhilan sangatlah banyak. Ada yang bakhil dengan ilmunya, tenaganya, pikirannya, lisannya, hartanya, dan yang lainnya. Allah l telah memuji orang yang dijauhkan dari kebakhilan dirinya dalam firman-Nya:
“Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Al-Hasyr: 9)
Diterangkan Asy-Syaikh As-Sa’di t: “Dipelihara dari kekikiran jiwa mencakup dijaganya jiwa itu dari kekikiran pada seluruh yang diperintahkan. Seorang hamba manakala dijaga dari kekikiran jiwanya, maka dirinya akan bermurah hati untuk melaksanakan perintah-perintah Allah l dan Rasul-Nya. Ia akan melakukannya dengan (sepenuh) ketaatan dan ketundukan serta dalam keadaan berlapang dada. Jiwanya (juga) akan mudah meninggalkan larangan Allah l meskipun jiwa menyukainya dan mengajak serta menoleh kepadanya. Orang yang jiwanya dijaga dari kekikiran akan mudah mencurahkan harta di jalan Allah l dan untuk mencari ridha-Nya. Dengan demikian, ia akan mendapat keberuntungan. Berbeda dengan orang yang tidak dijaga dirinya dari kebakhilan, bahkan diuji dengan kebakhilan terhadap kebaikan, yang merupakan pokok dari kejelekan.” (Taisir Al-Karimir Rahman hal. 851 cet. Ar-Risalah)
Sebab-sebab Munculnya Kebakhilan terhadap Harta dan Cara Menangkalnya
Ketahuilah bahwa sebab munculnya kebakhilan adalah cinta harta. Dan cinta kepada harta ada dua sebab:
Pertama: Cinta dengan syahwat (kesenangan jiwa) yang tidak akan kesampaian kepadanya kecuali dengan harta, di samping adanya angan-angan yang panjang.
Kedua: Mencintai dzat dari harta itu sendiri. Ada dari manusia yang memiliki harta yang cukup untuk sepanjang hidupnya (di dunia) seandainya dia menggunakannya pada perkara yang wajar dan bahkan masih tersisa beribu-ribu bersamanya. Sementara (terkadang) dia sudah tua dan tidak punya anak, tetapi dirinya tidak mau mengeluarkan (dari hartanya) sesuatu yang wajib atasnya. Tidak pula dia mau untuk bersedekah yang bermanfaat baginya. Padahal jika ia mati, hartanya akan diambil oleh musuhnya atau akan hilang jika hartanya ditimbun. Penyakit seperti ini (hampir) tidak bisa diharapkan kesembuhannya. (Mukhtashar Minhajul Qasidin, Ibnu Qudamah hal. 267)
Al-Imam Ibnu Hibban t berkata: “Orang yang berakal tatkala diberi oleh Allah l harta di dunia yang fana ini dan mengetahui (akan) lenyapnya harta darinya serta berpindah kepada yang lainnya dan tahu bahwa harta tidak bermanfaat baginya di akhirat kecuali apa yang ia suguhkan berupa amal shalih, hendaknya ia bersungguh-sungguh untuk menunaikan hak-hak pada hartanya serta melaksanakan yang wajib pada jalan-jalannya, dengan mengharapkan pahala di kemudian hari dan (mendapatkan) sebutan yang baik di dunia. Karena kedermawanan akan mendatangkan kecintaan dan pujian, sebagaimana kebakhilan mendatangkan celaan dan kebencian. Tidak ada kebaikan pada harta kecuali dengan adanya kedermawanan….” (Raudhatul ‘Uqala` hal. 235)
Perhatikanlah firman Allah l berikut:
“Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Ali ‘Imran: 180)
Renungilah ayat ini, bagaimana Allah l telah menyebutkan hal-hal yang menjadikan seorang hamba tidak bakhil terhadap apa yang diberikan oleh Allah l.
Pertama: Allah l mengabarkan bahwa apa yang ada pada hamba merupakan keutamaan dan nikmat dari Allah l, bukan milik hamba. Bahkan kalau bukan keutamaan dan kebaikan Allah l niscaya tidak akan sampai kepadanya nikmat itu. Oleh karena itu, orang yang yakin bahwa apa yang ada di tangannya (dari harta) adalah nikmat dari Allah l, niscaya dia tidak akan mencegah (dari memberikan) nikmat yang tidak akan membahayakannya. Bahkan (dengan memberikannya) akan mendatangkan manfaat baginya pada hati dan hartanya, bertambah keimanannya, serta dijaganya dari bencana.
Kedua: Apa yang dimiliki hamba (nanti) semuanya kembali kepada Allah l dan akan diwarisi oleh Allah l. Sehingga tidak ada manfaat untuk kikir terhadap sesuatu yang akan hilang darimu dan berpindah kepada selainmu.
Ketiga: Allah l mengetahui seluruh amalan kalian. Konsekuensi dari hal ini adalah adanya balasan yang baik atas kebaikan, serta adanya siksaan atas kejelekan. Dengan ini, orang yang dalam hatinya ada keimanan sekecil apapun tidak akan absen dari berinfak dengan sesuatu yang akan mendapatkan pahala. Dia juga tidak akan ridha dengan kebakhilan yang mendatangkan siksa.” (Lihat Taisir Al-Karimir Rahman hal. 158-159)
Kebakhilan Penyakit yang Berbahaya
Penyakit yang menimpa badan seseorang dengan berbagai macamnya tidak lebih berat dari penyakit yang menerpa hatinya. Karena kerugian yang ditimbulkan dari jenis penyakit ini sangat kompleks. Yang terbesarnya adalah terkikisnya keimanan dan terhambatnya seseorang untuk sampai kepada surga Allah l. Manakala penyakit yang menimpa badan tidak bisa disembuhkan di dunia, maka akan selesai dengan kematian. Sedangkan penyakit hati, bila di dunia ini tidak segera disembuhkan maka akan dia bawa di alam kuburnya dan akhirat nanti. Jika demikian lalu mengapa kebanyakan orang jika badannya terkena penyakit berusaha untuk mengobatinya meski harus menghabiskan harta bendanya, sementara jika hatinya dihinggapi penyakit-penyakit kronis semacam bakhil, sombong, suka kepada kemaksiatan dan bermalas-malasan dalam menjalankan ketaatan, jarang yang berusaha menyembuhkannya?!
Inilah Nabi kita Muhammad n berlindung dari kebakhilan. Padahal beliau berada pada puncak keimanan. Hal itu menandakan betapa penyakit ini harus selalu diwaspadai. Nabi n dalam sebuah doanya mengatakan:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْهَرَمِ وَالْبُخْلِ
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, kemalasan, sikap pengecut, kepikunan, dan kebakhilan.” (HR. Muslim)
Pernah suatu saat Nabi n bertanya kepada Bani Salimah, tentang siapa pemimpin mereka. Maka mereka menjawab: “Pemimpin kami adalah Judd bin Qais, hanya saja kami menilainya orang yang bakhil.” Nabi n bersabda: “Penyakit mana yang lebih besar daripada kebakhilan? Bahkan pemimpin kalian adalah ‘Amr bin Al-Jamuh.” Adalah ‘Amr dahulu membuatkan walimah bagi Nabi n bila beliau n menikah. (Shahih Al-Adab Al-Mufrad no. 227)
Ancaman untuk Orang yang Bakhil
Janganlah seseorang mengira jika ia bakhil dengan apa yang wajib dicurahkan kepada orang lain bahwa itu bagus buat mereka, bahkan itu jelek bagi mereka, baik terhadap agama atau dunia mereka. Allah l berfirman:
“Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat.” (Ali ‘Imran: 180)
Di antara hukumannya di dunia akan ditimpakan paceklik, tertahannya hujan, dikutuk oleh Nabi n, dicabutnya barakah pada hartanya serta dibinasakan (hartanya), juga memperoleh kebencian dari makhluk. Nabi n bersabda:
مَا مَنَعَ قَوْمٌ الزَّكَاةَ إِلَّا ابْتَلَا هُمُ اللهُ بِالسِّنِيْنَ
“Tidaklah suatu kaum mencegah (dari memberikan) zakat kecuali Allah akan menguji mereka dengan paceklik.” (HR. Ath-Thabarani, lihat Shahih At-Targhib no. 758)
Nabi n juga bersabda (yang artinya):
“Tidak ada hari yang manusia berada di pagi hari kecuali turun dua malaikat, salah satunya berkata: ‘Ya Allah, berilah ganti bagi orang yang berinfak’; dan yang lainnya mengatakan: ‘Ya Allah, berilah kebinasaan kepada orang yang bakhil’.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Adapun ancaman di hari akhirat sungguh lebih dahsyat. Di antaranya bahwa hartanya akan dijadikan lempengan yang panas lalu diseterikakan pada lambung, dahi, dan punggungnya. Allah l berfirman:
“Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak serta tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih. Pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka Jahannam, lalu dibakar dengannya dahi, lambung, dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: ‘Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu’.”  (At-Taubah: 34-35)
Harta yang tidak ia keluarkan zakatnya kalau itu berupa unta, sapi, dan kambing maka nanti di padang Makhsyar akan menanduk dan menginjak-injak pemiliknya, dari awal hingga akhir. Terus menerus, pada suatu hari yang ukurannya 50.000 tahun, sampai diputuskan di antara para hamba seperti dalam riwayat Al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu Hurairah z.
Disebutkan pula di antara siksaannya bahwa hartanya akan dijadikan ular yang melilit lehernya dan memakan tubuhnya. (Lihat Shahih At-Targhib no. 751 dan 754)
Demikianlah nasib orang yang tidak mensyukuri pemberian Allah l, bukanlah ketenangan dunia yang didapat dan bukan pula kenikmatan atau akhirat yang digapai.
Orang yang Paling Bakhil
Kebakhilan bertingkat-tingkat. Ada yang bakhil pada dirinya dan menyuruh orang untuk bakhil, bahkan memuji dan membela orang yang bakhil. Allah l berfirman:
“(Yaitu) orang-orang yang kikir, dan menyuruh orang lain berbuat kikir, dan menyembunyikan karunia Allah yang telah diberikan-Nya kepada mereka. Dan Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir siksa yang menghinakan.” (An-Nisa`: 37)
Termasuk orang yang paling bakhil adalah yang bakhil dengan salam. Nabi n bersabda:
أَعْجَزُ النَّاسِ مَنْ عَجَزَ عَنِ الدُّعَاءِ وَأَبْخَلُ النَّاسِ مَنْ بَخِلَ بِالسَّلَامِ
“Manusia yang paling lemah ialah yang melemah dari memohon (kepada Allah), dan manusia yang paling bakhil ialah yang bakhil dengan salam.” (HR. Ath-Thabarani dalam Al-Ausath, dan dinyatakan sanadnya bagus dan kuat oleh Al-Mundziri t)
Maksudnya, orang yang paling lemah pikirannya dan buta penglihatan hatinya adalah orang yang lemah dari meminta kepada Allah l, terutama di saat kesulitan. Hal itu karena ia telah meninggalkan perintah Allah l (untuk memohon kepada-Nya) dan meremehkan sesuatu yang tidak ada kesulitan padanya. Demikian pula orang yang paling bakhil adalah yang bakhil dengan salam terhadap kaum mukminin yang ia temui, bak yang ia kenal maupun yang tidak. Padahal yang demikian tidak membutuhkan banyak modal, namun besar pahalanya. Tidak ada yang meremehkan yang seperti ini kecuali orang yang bakhil dengan kebaikan dan mencegah dirinya dari mendapat pahala. Orang seperti ini dikatakan paling bakhil, karena orang yang bakhil dengan hartanya masih ada sisi kewajaran karena harta umumnya disukai oleh jiwa. Adapun mengucapkan salam tidak perlu mengeluarkan biaya. (Lihat Faidhul Qadir, 1/710-711)
Nabi n bersabda:
الْبَخِيْلُ الَّذِي ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ
“Orang yang bakhil adalah yang aku disebut di sisinya lalu dia tidak bershalawat kepadaku.” (Shahih Sunan At-Tirmidzi no. 3546)
Ini adalah kebakhilan yang paling jelek. Padahal bila dia bershalawat kepada Nabi n sekali shalawat, Allah l akan bershalawat kepadanya sepuluh shalawat. Adakah orang yang lebih bakhil daripada orang yang bakhil atas dirinya untuk tidak mendapat pahala?
Hikayat Orang-orang Bakhil
Manusia dalam segala halnya ada yang cenderung berlebih-lebihan dan ada pula yang meremehkan. Sangat jarang yang bersikap tengah-tengah. Tidak terkecuali dalam menyikapi harta benda. Ada dari mereka yang memubadzirkan hartanya sehingga habis hartanya dan terpaksa meminta-minta. Adapula yang sangat kikir sampai-sampai dirinya sendiri tidak mendapat bagian dari hartanya, apalagi orang lain.
Disebutkannya beberapa contoh dari orang-orang yang bakhil oleh ulama dalam kitab-kitab mereka adalah untuk dijadikan ibrah (pelajaran) bahwa kebakhilan setidaknya telah menjadikan lembaran sejarah seseorang menjadi tercoreng. Hal ini akan mendorong orang untuk menjauhi perangai yang tercela ini.
q Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas c bahwa dahulu ada seorang lelaki bangsawan Arab yang bernama Hajib. Dia seorang yang bakhil. Ia tidak mau menyalakan api di malam hari (untuk penerang) karena tidak ingin ada orang yang melihat api yang dinyalakan, lalu mengambil manfaat dari cahayanya. Jika ia ingin menyalakan api, ia pun menyalakannya. Namun bila ada orang yang ikut memanfaatkan cahaya apinya, ia pun memadamkannya.
q Ada seorang lelaki paling jeleknya biasa menyapu masjid-masjid dan mengumpulkan debu masjid, lalu ia membuat debu tadi menjadi batu bata. Dia ditanya: “Untuk apa batu bata ini?” Ia menjawab: “Ini debu yang diberkahi dan aku ingin (kalau mati) mereka menjadikan bata-bata itu di atas liang lahatku.” Tatkala orang ini mati, dijadikanlah bata itu di atas lahatnya. Dan bata itu lebih, sehingga sisa bata itu mereka buang di rumah. Tatkala turun hujan, batu bata itu terbelah hancur. Ternyata di dalamnya ada uang emas. Lalu orang-orang pergi ke kuburan orang tersebut dan mengambil batu batanya. Ternyata seluruh batu bata itu berisi penuh uang emas miliknya.
q Dahulu ada seorang yang bakhil mempunyai dua anak laki-laki dan satu perempuan. Ketika ia sakit keras dikerumuni oleh keluarganya, ia berkata kepada salah seorang anak laki-lakinya yang akan dikhususkan dengan pemberian untuk tidak beranjak keluar. Sang ayah mengatakan kepadanya bahwa ia punya uang seribu dinar di suatu tempat. Jika ia mati maka anak laki-laki ini yang akan mengambilnya. Ketika orang ini sakit keras, sang anak pergi dan mengambil harta itu. Ternyata sang ayah sembuh sementara harta sudah di tangan anak laki-lakinya. Ia memintanya namun sang anak tidak memberinya. Tatkala sang anak sakit keras dan hampir mati, sang ayah meminta dengan sangat agar hartanya diberikan karena khawatir harta akan hilang sia-sia. Sang anak akhirnya menunjukkan tempat disimpannya harta itu. Lalu sang ayah mengambilnya. Pada suatu saat sang ayah sakit keras maka anak tadi meminta ditunjukkan tempat penimbunan harta itu. Tetapi sang ayah tidak mau menunjukkannya dan ia mati, sedangkan hartanya lenyap tidak diketahui. (Lihat Mukhtashar Minhajul Qasidin hal. 264 dan Shaidul Khathir, Ibnul Jauzi hal. 608-612, cet. Dar Ibnu Khuzaimah)
Hikayat orang-orang bakhil sangat panjang. Cukup bagi kita untuk mengetahui seberapa mengerikannya hukuman atas orang yang bakhil dan celaan yang terus menerus atas mereka. Ini balasan terhadap orang yang tidak syukur nikmat. Sebagai orang muslim kita yakin akan janji Allah l dan Rasul-Nya bahwa orang yang memberikan hartanya untuk kebaikan niscaya Allah l memberi ganti yang lebih baik. Allah l berfirman:
“Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya.” (Saba`: 39)
Nabi n bersabda:
مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ
“Shadaqah tidak akan mengurangi harta.” (HR. Muslim)
Sejarah telah membuktikan bahwa orang yang mengimani firman Allah l dan sabda Nabi n tersebut lalu mengamalkannya maka Allah l berkahi hartanya dan dijaga dari kejahatan. Sehingga hartanya terus bertambah dan namanya senantiasa harum. Tetapi jika sebaliknya, maka Allah l cabut barakah dari hartanya serta dilenyapkan-Nya. Ada yang habis hartanya karena dicuri, kebanjiran, untuk berobat, ditipu, dan yang lainnya. Ini baru sebagian hukuman dunia, dan di akhirat tentunya lebih dahsyat. Orang yang berakal tentu bisa melihat jalan mana yang sekiranya akan ditempuh.
Akhirul kalam, hanya kepada Allah l kita memohon agar Ia menjadikan kita orang yang mensyukuri nikmat-Nya dan agar tidak menjadikan dunia sebagai puncak tujuan kita. Wallahu a’lam bish-shawab.

Menuntut Hak dengan Menghancurkan Hak, Tabiat Manusia

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman)

 

Sudah menjadi tabiatnya, manusia lebih sering menuntut daripada menunaikan apa yang menjadi kewajibannya. Bahkan jika hak mereka telah terpenuhi sekalipun, tak tergambar rasa syukur sedikitpun pada sebagian mereka.

Manusia dan Asal Kejadiannya
Tidak ada yang memungkiri bahwa manusia berasal dari setetes air yang hina, jijik, dan kotor. Allah l menguji dengan penciptaan dari air yang kotor ini, apakah manusia itu akan mau ingat asal muasalnya lalu merenunginya, ataukah dia lupa lalu tertipu dengan dirinya sendiri? (Tafsir As-Sa’di hal. 833)
Juga agar manusia sadar dan tidak menyombongkan diri di hadapan Allah l.
“Dia telah menciptakan manusia dari mani, tiba-tiba ia menjadi pembantah yang nyata.” (An-Nahl: 4)
“Dan apakah manusia tidak memerhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setetes air (mani) maka tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata!” (Yasin: 77)
Telah diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari t (no. 3208 dan 6594) serta Muslim t (no. 2643) dari sahabat Abdullah bin Mas’ud z:
إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا نُطْفَةً، ثُمَّ يَكُونُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُونُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ
“Setiap orang dari kalian dihimpun penciptaannya di dalam perut ibunya 40 hari menjadi mani, kemudian menjadi darah seperti itu juga, dan kemudian menjadi daging seperti itu juga.”
Manusia dan Tabiatnya
Di dalam Al-Qur`an Allah l telah menjelaskan tabiat buruk manusia agar mereka berusaha keluar dari tabiat tersebut lalu memperbaiki diri. Berusaha menjadi orang yang selalu berada dalam bimbingan ilmu Islam. Hal ini tidak bertentangan dengan keterangan Allah l bahwa mereka diciptakan di atas fitrah. Di antara tabiat-tabiat tersebut adalah:
a. Berkeluh kesah, kikir, dan rakus.
“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah dan apabila mendapat kebaikan ia amat kikir,  kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat.” (Al-Ma’arij: 19-22)
“Dan apabila Kami memberikan nikmat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri; tetapi apabila ditimpa malapetaka, maka ia banyak berdoa.” (Fushshilat: 51)
Rasulullah n bersabda:
لَوْ كَانَ لِابْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ ماَلٍ لاَبْتَغَى وَادِيًا ثَالِثًا وَلَا يَمْلَأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلاَّ التُّرَابُ
“Dan jika anak Adam memiliki dua lembah emas niscaya dia akan mencari yang ketiga dan tidak ada yang menuntaskan keinginannya kecuali tanah.”1
b. Selalu menzalimi dirinya lagi jahil
“Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah l).” (Ibrahim: 34)
“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung. Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.” (Al-Ahzab: 72)
“Ketahuilah, sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup.” (Al-‘Alaq: 6-7)
c. Banyak ingkar
“Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Rabbnya.” (Al-‘Adiyat: 6)
d. Tergesa-gesa
“Manusia telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa. Kelak akan Aku perIihatkan kepadamu tanda-tanda azab-Ku. Maka janganlah kamu minta kepada-Ku mendatangkannya dengan segera.” (Al-Anbiya`: 37)
e. Tidak berterima kasih
“Adapun manusia apabila Rabbnya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: ‘Rabbku telah memuliakanku.’ Adapun bila Rabbnya mengujinya lalu membatasi rizkinya maka dia berkata: ‘Rabbku telah menghinakanku’.” (Al-Fajr: 15-16)
Manusia Menuntut Hak
Dengan kejelekan tabiatnya, akan bisa dibayangkan apa yang akan diperbuat manusia saat menuntut kemerdekaan dan semua hak tanpa memerhatikan kewajiban dan hak orang lain. Dia mengharapkan haknya dipenuhi oleh Allah l, namun dia justru bermaksiat kepada-Nya. Dia mengharapkan kecintaan dari semua pihak, tetapi dia sendiri menzalimi orang lain, dan begitu seterusnya. Jika setiap manusia tidak berusaha meluruskan sifat-sifat dan tabiatnya niscaya ia akan terus berada dalam kerusakan. Sehingga jika akhirnya manusia harus merasakan akibatnya, janganlah sekali-kali mengambinghitamkan orang lain.
“Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri.” (An-Nisa`: 79)
فَمَنْ وَجَدَ خَيْرًا فَلْيَحْمَدِ اللهَ وَمَنْ وَجَدَ غَيْرَ ذَلِكَ فَلَا يَلُومَنَّ إِلَّا نَفْسَهُ
“Maka barangsiapa yang menemukan balasannya adalah kebaikan, hendaklah dia memuji Allah. Barangsiapa yang menjumpai balasannya adalah selain itu (kejelekan) maka janganlah dia mencela melainkan dirinya sendiri.”2
Manusia Diciptakan untuk Menuntut Hak?
Manusia diciptakan oleh Allah l untuk sebuah tujuan yang agung dan besar, mulia dan tinggi. Karena tujuan inilah Allah  l mengutus para rasul, menurunkan kitab-kitab-Nya, menciptakan langit dan bumi, surga dan neraka, menentukan adanya hari hisab, ganjaran kebaikan dan timbangan amal. Tujuan yang mulia ini telah disebutkan oleh Allah l di dalam kitab-Nya:
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (Adz-Dzariyat: 56)
Karena tujuan inilah Allah l telah mempersiapkan ganjaran yang besar atas jerih payahnya dalam mengemban tugas di dunia ini. Beribadah merupakan kewajiban yang besar di hadapan Allah l sekaligus merupakan hak Allah l yang paling besar. Jika manusia menuntut hak-haknya, maka janganlah ia menutup mata dari hak Penciptanya. Manusia wajib mengutamakan hak-hak Allah l dari hak selain-Nya. Rasulullah n pernah bertanya kepada Mu’adz bin Jabal z:
يَا مُعَاذُ، أَتَدْرِي مَا حَقُّ اللهِ عَلَى الْعِبَادِ وَمَا حَقُّ الْعِبَادِ عَلىَ اللهِ؟ قُلْتُ: اللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ: حَقُّ اللهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلَا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا
“Hai Muadz, tahukah engkau apa hak Allah atas hamba dan apa hak hamba atas Allah?” Aku menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Beliau berkata: “Hak Allah atas hamba-Nya adalah mereka menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun.”3
“Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia.” (Al-Isra`: 23)
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun.”  (An-Nisa`: 36)
“Katakanlah: ‘Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Rabbmu  yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia’.” (Al-An’am: 151)
Allah l Mengutus Para Nabi untuk Menyampaikan Hak Allah l
Allah l mengutus para nabi dan rasul dengan satu misi, memberitahu segenap hamba-hamba Allah l akan besarnya hak Allah l, serta jangan sekali-kali mereka menghancurkan dan menyia-nyiakannya.
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu’.” (An-Nahl: 36)
Jenis hak inilah yang ditentang oleh kebanyakan orang. Oleh karena inilah, Allah l mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitab-Nya.
“Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: ‘Bahwasanya tidak ada Ilah (yang hak) melainkan Aku maka sembahlah Aku olehmu sekalian’.” (Al-Anbiya`: 25)
Asy-Syaikh As-Sa’di t mengatakan: “Allah l telah memberitahukan bahwa hujjah-Nya telah tegak di hadapan seluruh umat. Tiada satupun dari umat terdahulu ataupun belakangan melainkan Allah l telah mengutus kepada mereka seorang rasul, yang semuanya berada di atas satu dakwah dan satu agama, yaitu beribadah hanya kepada Allah l tiada sekutu bagi-Nya.” (Tafsir As-Sa’di hal. 393)
Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab t berkata dalam Kitab At-Tauhid: “Bahwa agama para nabi adalah satu.”
Manusia Memiliki Hak Atas Pencipta-Nya
Allah l telah mempersiapkan berbagai hak bagi hamba-hamba-Nya yang melaksanakan tugas dalam memenuhi hak Allah l. Namun hak ini –sebagaimana yang telah disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t–: “Orang yang taat berhak mendapatkan ganjaran adalah pemberian hak yang merupakan keutamaan dan nikmat dari Allah l, bukan sebuah bentuk timbal balik sebagaimana yang berlaku pada makhluk. Sebagian orang mengatakan tidak ada istilah pemberian hak, akan tetapi sebuah janji, dan janji-Nya adalah benar. Adapula sebagian orang yang menetapkan hak lebih dari makna yang telah ditunjukkan oleh Al-Qur`an dan As-Sunnah (seperti):
“Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman.” (Ar-Rum: 47)
Akan tetapi Ahlus Sunnah mengatakan Dialah Allah yang telah mewajibkan atas diri-Nya untuk memberikan rahmat dan hak. Tidak ada seorangpun dari makhluk-Nya yang mewajibkan-Nya.” (Fathul Majid hal. 41)
Allah l telah berjanji dan Dia tidak akan mengingkari janji untuk memenuhi hak-hak bagi orang yang taat kepada-Nya:
“Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal shalih, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikit.” (An-Nisa`: 124)
“Adapun orang-orang yang beriman dan beramal shalih, maka baginya pahala yang terbaik sebagai balasan dan akan Kami titahkan kepadanya (perintah) yang mudah dari perintah-perintah Kami.” (Al-Kahfi: 88)
“Dan orang-orang yang beriman dan beramal shalih, benar-benar akan Kami hapuskan dari mereka dosa-dosa mereka dan benar-benar akan Kami beri mereka balasan yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan.” (Al-‘Ankabut: 7)
Mu’tazilah, Jabriyyah, Qadariyyah, dan Hak
Tidak ada seorangpun yang telah mencium bau As-Sunnah meragukan kesesatan mereka dalam agama dan (menganggap) mereka dari kalangan kaum muslimin. Mereka tersesat karena sesatnya jalan mereka dalam beragama. Pada edisi-edisi yang telah lewat telah dibahas dengan tuntas –alhamdulillah– siapakah Mu’tazilah, Qadariyyah, dan Jabriyyah berikut paham-paham mereka.
Dalam hal hak, Qadariyyah dan Mu’tazilah mengatakan: “Wajib bagi Allah l untuk menunaikan hak bagi makhluk-Nya, karena hamba itu sendiri yang memilih ketaatan kepada-Nya tanpa Dia menjadikan mereka taat.” Artinya, hamba-hamba ini wajib untuk mendapatkan balasan sekalipun Allah l tidak mewajibkan atas diri-Nya.
Jabriyyah menyatakan: “Allah l tidak mewajibkan atas diri-Nya (memberikan) rahmat, karena Allah-lah satu-satunya yang berkuasa dan berbuat dalam kekuasaan-Nya. Maka tidak ada hak bagi seorang hamba atas Allah l, namun ini disebutkan hanya dalam bahasa kiasan.”
Adapun ahlul haq dari kalangan Ahlus Sunnah mengatakan: “Allah l telah menjanjikan akan membalas mereka, tanpa ada seorangpun dari makhluk-Nya yang mewajibkan atas Allah l. Dan Dialah yang menentukan rahmat bagi siapa yang dikehendaki-Nya, dan Dialah yang mewajibkan atas diri-Nya sendiri.” (Fathul Majid hal. 41)
Manusia Menuntut Hak, Melanggar Hak
Hak yang ditanggung manusia teramat banyak. Semua hak ini terhimpun dalam wujud ketaatan kepada Allah l. Artinya, jika manusia itu menaati segala aturan Allah l, perintah-Nya mereka kerjakan dan larangan-larangan-Nya mereka tinggalkan, niscaya dia telah melepaskan dirinya dari kewajiban. Dia telah berbuat sesuatu yang besar untuk mendapatkan haknya.
1. Manusia melanggar hak Allah l
Yakni dengan melakukan berbagai bentuk kesyirikan dalam beribadah kepada-Nya, kekufuran dengan berbagai macam coraknya, kemaksiatan dengan berbagai macam warnanya. Padahal Allah l menjelaskan:
“Seandainya mereka mempersekutukan Allah niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” (Al-An’am: 88)
Telah diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dalam Adabul Mufrad (no.18), Ibnu Majah (no. 3034) dan disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ (no. 7339) dan Al-Irwa` (7/89-91) dengan syahid-syahid (pendukung-pendukung)nya, serta dihasankan dalam Shahih Al-Adabul Mufrad (no. 14), dari sahabat Abud Darda` z, Rasulullah n bersabda:
لَا تُشْرِكْ بِاللهِ شَيْئًا وَإِنْ قُطِّعْتَ وَحُرِّقْتَ
“Janganlah kamu menyekutukan Allah sedikitpun walaupun kamu dipotong dan dibakar.”
2. Manusia Melanggar Hak Rasulullah n
Yakni dengan melanggar segala bimbingannya, menentang segala perintahnya, menyelisihi sunnah-sunnahnya, serta mengambil petunjuk selain dari petunjuk beliau.
Rasulullah n bersabda dalam riwayat Al-Imam Al-Bukhari (no. 7280) dari sahabat Abu Hurairah z:
كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، وَمَنْ يَأْبَى؟ قَالَ: مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ، وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى
“Setiap umatku akan masuk surga kecuali orang yang enggan.” Mereka bertanya: “Siapa yang enggan itu, ya Rasulullah?” Beliau bersabda: “Barangsiapa taat kepadaku maka dialah yang mau masuk surga dan barangsiapa yang memaksiatiku maka dialah yang enggan.”
3. Manusia melanggar hak agamanya
Dengan melanggar segala aturan dan merusak kesempurnaannya. Padahal Allah l menjelaskan:
“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (Ali Imran: 19)
“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Ali Imran: 85)
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (Al-Ma`idah: 3)
Saudaraku…
Hak apakah yang engkau tuntut, sementara hak Allah l, rasul dan agama-Nya engkau runtuhkan? Tunaikanlah kewajibanmu sebelum menuntut dan membela hakmu. Hakmu pasti terpenuhi jika engkau melaksanakan kewajiban dengan pengajaran Rasulullah n.
Wallahu a’lam.

Teori Evolusi Melanggar Hak Allah dan Rosulnya

(ditulis oleh: Al-Ustadz Muhammad Rijal, Lc.)

 

Dari kebebasan berpikir berlandas kekufuran muncullah teori evolusi.1 Hak-hak Allah l dan rasul- rasul-Nya, bahkan seluruh manusia dilecehkan oleh teori ini. Berita Allah l dan Rasul-Nya n tentang penciptaan Adam dan Hawa pun ditolak. Anehnya, teori ini tetap bertahan dan tersebar di tengah kaum muslimin melalui kurikulum-kurikulum pendidikan. Sabda Rasulullah n berikut perlu kita renungkan sebagai timbangan syariat yang memutuskan kebatilan teori ini.

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ z عَنِ النَّبِيِّ n قَالَ: خَلَقَ اللهُ آدَمَ وَطُولُهُ سِتُّوْنَ ذِرَاعًا ثُمَّ قَالَ: اذْهَبْ فَسَلِّمْ عَلَى أُولَئِكَ مِنَ الـْمَلاَئِكَةِ فَاسْتَمِعْ مَا يُحَيُّوْنَكَ تَحِيَّتَكَ وَتَحِيَّةَ ذُرِّيَّتكَ. فَقَالَ: السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ. فَقَالُوْا: السَّلاَمُ عَلَيْكَ وَرَحْمَةُ اللهِ. فَزَادُوهُ وَرَحْمَةُ اللهِ، فَكُلُّ مَنْ يَدْخُلُ الْـجَنَّةَ عَلَى صُورَةِ آدَمَ، فَلَمْ يَزَلِ الْـخَلْقُ يَنْقُصُ حَتَّى الْآنَ
Dari Abu Hurairah z, dari Nabi n, beliau bersabda: “Allah menciptakan Adam dan tingginya 60 dzira’ (hasta). Kemudian Allah berfirman kepada Adam: ‘Pergilah, ucapkan salam kepada mereka para malaikat. Lalu dengarlah salam mereka kepadamu, sebagai salammu dan salam keturunanmu!’  Maka Adam berkata: ‘Assalamu’alaikum.’ Malaikat-malaikat Allah menjawab: ‘Assalaamu’alaika warahmatullah’ –mereka menambahnya dengan ‘warahmatullah’. Maka semua orang yang masuk jannah (tinggi badannya) seperti Adam. Dan manusia terus menerus berkurang (ketinggiannya) hingga saat ini.”
Takhrij Hadits
Hadits ini shahih dan tergolong hadits-hadits muttafaqun ‘alaihi. Al-Imam Abdurrazzaq bin Hammam Ash-Shan’ani meriwayatkannya dalam Al-Mushannaf, Kitabul Jami’ Bab Kaifa As-Salam war Radd (10/384, no. 19435) dari jalan Ma’mar bin Rasyid dari Hammam bin Munabbih dari Abu Hurairah z.2
Melalui jalan Abdurrazzaq, imam-imam ahlul hadits mengeluarkan hadits Abu Hurairah z. Di antara mereka adalah Al-Imam Ahmad bin Hanbal t dalam Al-Musnad (2/315). Demikian pula Al-Imam Al-Bukhari t di dua tempat dalam Shahih-nya, Kitab Al-Anbiya` r, Bab Khalqu Adam Shalawatullahi ‘alaihi wa Dzurriyatihi (no. 3326) dan dalam Kitab Al-Isti`dzan, Bab Bad`us Salam (11/3, no. 6227), dengan syarah Ibnu Hajar Al-‘Asqalani t), juga dalam Al-Adabul Mufrad (no. 978). Adapun Al-Imam Muslim t, beliau meriwayatkannya dalam Ash-Shahih Kitab Al-Jannah wa Shifatu Na’imiha wa Ahliha (17/178, dengan syarah An-Nawawi t), juga diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah t dalam Kitab At-Tauhid (1/93-94), Ibnu Hibban t dalam Shahih-nya (no. 6162), Ibnu Mandah  t dalam Ar-Radd ‘alal Jahmiyah (hal. 41-42), dan Al-Baihaqi t dalam Al-Asma` wash Shifat (hal. 289-290).
Selain dari jalan Abdurrazzaq, hadits ini juga diriwayatkan At-Tirmidzi t dalam As-Sunan (no. 3368), An-Nasa`i t dalam ‘Amalu Al-Yaum wal Lailah (no. 218 dan 220), Ibnu Hibban t dalam Shahih-nya (no. 6167), Al-Hakim t dalam Al-Mustadrak (1/64), dan Al-Baihaqi t dalam Al-Asma` wash Shifat (hal. 324-325). Semuanya dari jalan Al-Harits bin Abi Dzubab dari Sa’id bin Abi Sa’id Al-Maqburi dari Abu Hurairah z.
Lafadz hadits yang kita sebutkan adalah lafadz Al-Bukhari t dalam Shahih-nya Kitab Al-Anbiya`.
Makna Hadits
Hadits ini menerangkan penciptaan Adam q dalam bentuk yang sempurna, fisik, dan akalnya.
Dari sisi fisik, Allah l ciptakan beliau dengan kesempurnaan badan dan anggota tubuh. Adam q diciptakan dengan tinggi 60 hasta, sebagaimana sabda Rasulullah n:
خَلَقَ اللهُ آدَمَ وَطُولُهُ سِتُّوْنَ ذِرَاعًا
“Allah menciptakan Adam, dan tingginya 60 dzira’ (hasta).”
Adapun dari sisi akal dan rohani, Allah l ciptakan Adam dalam keadaan memiliki akal sempurna, mampu mengenal dan memahami, sebagaimana ditunjukkan hadits Abu Hurairah z ini. Di mana Allah l memerintahkan Adam q menuju sekelompok malaikat lalu mengucapkan salam kepada mereka serta memerhatikan jawaban malaikat atas salam yang diucapkannya.
Hadits ini juga menunjukkan bahwa Adam q tidak seperti keturunannya dalam proses penciptaan. Allah l ciptakan dengan ketinggian 60 hasta tanpa tahapan yang dilalui sebagaimana anak keturunannya, di mana mereka mengalami perkembangan dimulai dari nutfah (air mani) kemudian ‘alaqah (segumpal darah) kemudian mudhghah (segumpal daging). Sebagaimana hal ini Allah l firmankan di awal surat Al-Mu`minun3, dan Rasulullah n sabdakan dalam hadits Abdullah bin Mas’ud z tentang proses terbentuknya manusia dalam rahim ibunya.
Rasulullah n mengabarkan bahwa ketinggian Adam tidak berlanjut pada seluruh keturunannya. Sebagaimana dinyatakan dalam hadits ini, keturunan Adam q akan terus berkurang tinggi tubuhnya hingga mencapai ketinggian yang kita saksikan pada umat Nabi Muhammad n.4
Faedah berikutnya dari hadits ini, Rasulullah n mengabarkan bahwa ahlul jannah akan masuk ke dalamnya dengan ketinggian 60 hasta, serupa dengan bapak mereka Adam q. Dalam hadits lain Rasulullah n bersabda:
إِنَّ أَوَّلَ زُمْرَةٍ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ عَلَى صُوْرَةِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ، وَالَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ عَلَى أَشَدِّ كَوْكَبٍ دُرِّيٍّ فِي السَّمَاءِ إِضَاءَةً، لاَ يَبُوْلُونَ وَلاَ يَتَغَوَّطُونَ وَلاَ يَتْفُلُوْنَ وَلاَ يَمْتَخِطُونَ، أَمْشَاطُهُمُ الذَّهَبُ وَرَشْحُهُمُ الْمِسْكُ وَمَجَامِرُهُم الْأَلُوَّةُ وَأَزْوَاجُهُمْ الْحُوْرُ الْعِينُ عَلَى خَلْقِ رَجُلٍ وَاحِدٍ عَلىَ صُورَةِ أَبِيهِ آدَمَ سِتُّونَ ذِرَاعًا فِي السَّماءِ
“Sesungguhnya rombongan pertama yang masuk jannah seperti bulan di malam purnama, dan rombongan berikutnya bercahaya seperti bintang-bintang yang sangat gemerlap laksana mutiara di langit. Mereka tidak kencing, tidak buang air besar, tidak meludah, tidak pula membuang ingus. Sisir-sisir mereka dari emas, keringat mereka misik, dan pengasapan mereka adalah al-aluwwah (kayu gaharu). Istri-istri mereka adalah Al-Hurul ‘Iin (bidadari-bidadari bermata jeli), dengan perawakan yang serupa sama dengan bapak mereka Adam, setinggi 60 hasta.”5
Ayat-ayat Al-Qur`an tentang Kesempurnaan Penciptaan Adam
Pembaca rahimakumullah (semoga Allah l merahmati Anda), di samping hadits Abu Hurairah z di atas, ayat-ayat Al-Qur`an telah menerangkan kesempurnaan penciptaan Adam dan keturunannya. Allah l berfirman:
“Sungguh Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (At-Tin: 4)
Asy-Syaikh Abdurrahman Nashir As-Sa’di t berkata tentang ayat ini: “Maksudnya, Allah  l telah ciptakan manusia dengan penciptaan yang sempurna. Serasi susunan anggota badannya, memiliki tubuh tegak, tidak terluput sedikitpun dari apa yang dibutuhkan, baik perkara lahir atau batin.” (Taisir Al-Karimir Rahman, 7/648)
Dari Ayat-ayat Al-Qur`an dan hadits-hadits Rasulullah n tentang Adam baik berkaitan dengan proses penciptaan, bentuk fisik atau waktu penciptaannya6, dapat dipahami bahwa Allah l menciptakan Adam dengan sempurna. Allah l juga memuliakan beliau dengan berbagai kemuliaan. Di antara kemuliaan tersebut:
Pertama: Allah l ciptakan Adam dengan kedua tangan-Nya, sebagaimana ditunjukkan dalam firman Allah l:
“Allah berfirman: ‘Hai Iblis, apa yang menghalangimu sujud kepada (Adam) yang Aku ciptakan dengan kedua tangan-Ku? Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?’.” (Shad: 75)
Kedua: Allah l ajarkan ilmu nama-nama segala sesuatu kepada Adam, sebagaimana firman-Nya:
“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya. Kemudian mengemukakannya kepada Malaikat lalu berfirman: ‘Sebutkanlah (oleh kalian) kepada-Ku nama benda-benda itu jika kalian memang orang-orang yang benar!’.” (Al-Baqarah: 31)
Ibnu Katsir t berkata: “Dalam ayat ini ada kemuliaan Adam atas malaikat, dengan apa yang Allah l khususkan untuknya berupa ilmu nama-nama segala sesuatu yang tidak (diberikan) untuk malaikat.” (Tafsir Ibnu Katsir (1/94))
Ketiga: Allah l perintahkan malaikat untuk sujud kepadanya. Allah l berfirman:
“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para Malaikat: ‘Sujudlah kalian kepada Adam.’ Maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah dia termasuk golongan orang-orang yang kafir.” (Al-Baqarah: 34)
Tiga kemuliaan ini disebutkan Rasulullah n dalam hadits syafaat yang masyhur, ketika manusia berada di Mahsyar mendatangi Adam q. Mereka berkata kepadanya:
خَلَقَكَ اللهُ بِيَدِهِ وَأَسْجَدَ لَكَ مَلاَئِكَتَهُ وَعَلَّمَكَ أَسْمَاءَ كُلَّ شَيءٍ
“Allah telah menciptakanmu dengan tangan-Nya, memerintahkan malaikat-malaikat-Nya untuk sujud kepadamu, serta mengajarkan kepadamu nama-nama segala sesuatu.”7
Keempat: Allah l tempatkan Adam dan Hawa di jannah-Nya, sebelum Allah l turunkan ke muka bumi karena dosa yang dilakukan keduanya. Allah l berfirman:
“Dan Kami berfirman: ‘Hai Adam, diamilah oleh kamu dan istrimu jannah ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim’.” (Al-Baqarah: 35)
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin t berkata: “Di antara faedah-faedah ayat ini adalah Allah l memberikan nikmat kepada Adam dan Hawa, di mana Allah l tempatkan keduanya dalam jannah.” (Tafsir Surat Al-Baqarah, 1/130)
Jannah yang ditempati Adam q adalah Jannatul khuldi yang akan dimasuki anak keturunannya dari kalangan orang-orang yang beriman setelah hari kebangkitan, sesudah mereka melewati Ash-Shirath (jembatan), bukan jannah yang lain. Inilah yang ditunjukkan dzahir Al-Kitab dan As-Sunnah. Ibnul Qayyim t berkata dalam Mimiyah-nya8:
فَحَيَّ عَلىَ جَنَّاتِ عَدْنٍ فَإِنَّهَا
مَنَازِلُكَ الْأُولَى وَفِيهَا الْـمُخَيَّمُ
Maka kemarilah menuju jannah ‘Adn! Sesungguhnya dia adalah * Tempat tinggalmu pertama, dan di dalamnya ada kemah-kemah
Maksud ucapan Ibnul Qayyim: “Tempat tinggalmu pertama” dalam bait syair di atas, bahwasanya jannah yang akan dimasuki kaum muslimin setelah hari kebangkitan adalah jannah yang pertama kali dahulu ditempati Adam q bapak manusia.
Teori Darwin, Pelecehan terhadap Hak Rasul-rasul Allah l dan Manusia
Di tengah maraknya kampanye hak asasi manusia, ada hal yang seharusnya kita tanyakan kepada mereka para pejuang HAM, dan tentunya pertanyaan ini juga untuk kita masing-masing: sudahkah hak Allah l dan rasul-rasul-Nya kita penuhi? Atau justru slogan hak asasi manusia dijadikan sebagai alat untuk mengesampingkan hak Allah l dan Rasul-Nya n?
Ketika kita tilik, ternyata HAM telah disalahgunakan untuk menggeser hak-hak Allah l dan Rasul-Nya n. Sebagai misal, di saat Allah l telah menetapkan syariat berkaitan dengan hukum waris, di mana Allah l menentukan bahwa bagian anak perempuan separuh dari anak laki-laki, maka dengan dalih pembelaan hak dan keadilan, sebagian manusia menyalahkan hukum Allah l dan Rasul-Nya n. Mereka mengatakan bahwa hukum waris Islam tidak adil, hukum waris Islam tidak lagi relevan di zaman emansipasi, tidak lagi cocok untuk masyarakat modern dan berkembang seperti saat ini.
Kebebasan berpikir tanpa batasan syariat adalah contoh lain dari bentuk pelecehan terhadap hak-hak Allah l dan Rasul-Nya n. Kebebasan ini menghasilkan pemikiran dan teori-teori yang menyelisihi syariat Allah l serta menolak kabar dari Allah l dan Rasul-Nya n. Penyelisihan ini tidak boleh dibela atau dibiarkan dengan dalih kebebasan berpikir dan berekspresi. Bahkan sebaliknya, teori-teori ini harus diperangi dan dihukumi dengan timbangan syar’i.
Para pembaca rahimakumullah (semoga Allah l merahmati Anda sekalian). Hadits Abu Hurairah z dan ayat-ayat di atas menunjukkan kemuliaan Adam q yang wajib kita yakini. Demikian kewajiban seorang mukmin ketika mendengar ayat-ayat Allah l dan hadits-hadits Rasulullah n. Tetapi kemuliaan Adam q telah dilecehkan dengan kelancangan manusia yang tidak beriman kepada Allah l dan Rasul-Nya n. Bukan hanya Adam q, bahkan seluruh nabi dan Bani Adam dilecehkan oleh teori evolusi yang dicetuskan pemikirnya, seorang kafir, Charles Darwin, dalam tulisannya On The Origin of Species by Means of Natural Selection (th. 1859 M), dan pendahulu-pendahulunya. Dalam teorinya ini, dia nyatakan bahwa manusia pertama bukanlah sosok manusia sempurna yang memiliki kesempurnaan akal dan badan.
Kita tidak terlalu heran jika teori ini berasal dari orang kafir yang tidak mau mengenal Allah l dan Rasul-Nya n, bahkan berpaling dari al-haq serta merasa bangga dengan ilmu yang ada pada mereka. Yang sangat disayangkan dan disesalkan, jika ada seorang muslim menganggap teori ini sebagai perkara biasa dan tidak menyangkut soal akidah. Lebih ironis lagi ketika teori evolusi dan pemikiran yang dibangun di atasnya dimasukkan dalam kurikulum pendidikan yang notabene dikonsumsi kaum muslimin tanpa adanya penyaringan dan pengingkaran. Akankah hal ini juga dibiarkan dengan dalih kebebasan berpikir dan perlindungan hak asasi atau hak intelektual?
Berikut kita nukilkan bagaimana pemikiran Darwin dipaparkan dalam mata pelajaran biologi sebagai kurikulum pendidikan yang diajarkan kepada generasi muslim, tanpa adanya pengingkaran, bahkan terkesan memberi penghormatan pada tokoh-tokoh pencetus teori ini serta menolerir pemikiran yang dibawanya. Dikatakan dalam buku tersebut: Charles Robert Darwin (1809-1882) adalah seorang ilmuwan Inggris. Dalam mengemukakan teori evolusinya, ia bertumpu pada sejumlah data yang didapatnya dari penelitian antara lain dari pulau Galapagos. Data yang dikemukakannya jauh lebih lengkap dari tokoh evolusi sebelumnya seperti Lamarck, Buffon, maupun Erasmus Darwin. Oleh karena itu, Darwin digelari sebagai “Bapak Evolusi” …… teori evolusi menyatakan bahwa semua spesies yang ada di bumi ini berasal dari spesies-spesies sebelumnya, sehingga manusia pun mestinya berasal dari spesies yang sudah ada sebelum manusia. …… Gorila dan Simpanse diduga merupakan primata yang paling erat hubungan kekerabatannya dengan manusia, berdasarkan kenyataan bahwa susunan Hb (hemoglobin) kedua primata hanya mempunyai sedikit perbedaan dengan manusia. Primata primitif diduga telah ada kira-kira 75 juta tahun yang lalu. Dari primata primitif radiasi evolusinya mengarah ke berbagai macam bentuk, dan dari salah satu di antara jalur evolusinya dihasilkan manusia.9
Tanpa ada pengingkaran, baik dalam buku ini atau dari para pemangku mata pelajaran biologi, siswa dipersilakan mencerna teori ini dan menikmatinya sebagai sebuah ilmu!
Para pembaca, semoga Allah l rahmati kita semua. Tidakkah kita merasa iba kepada generasi muslim yang dijejali teori-teori kufur seperti ini? Sesungguhnya telah menjadi kewajiban bagi kita untuk membela hak-hak Allah l dan Rasul-Nya n sebagaimana salafus shalih dan ulama-ulama Ahlus Sunnah bangkit mengungkapkan kecemburuan mereka ketika musuh-musuh Allah l berusaha memadamkan syariat-Nya.
Asy-Syaikh Abdurrahman Nashir As-Sa’di t berkata: “Kisah (Adam q) yang sangat agung ini Allah l sebutkan dalam kitab-Nya di banyak tempat dengan sangat jelas tanpa keraguan. Kisah ini termasuk seagung-agung kisah yang disepakati seluruh rasul, diturunkan dalam kitab-kitab samawi, dan diyakini seluruh pengikut para nabi, baik dari orang-orang yang telah lalu atau yang akan datang. Hingga muncullah pada zaman-zaman terakhir sekelompok orang zindiq yang mengingkari semua apa yang dibawa oleh para rasul, bahkan mengingkari keberadaan Pencipta. Mereka tidak menetapkan ilmu kecuali ilmu-ilmu alam yang bisa dicapai pikiran-pikiran mereka yang sangat picik.
Dibangun di atas paham yang sangat jauh dari hakikat syariat dan akal sehat inilah, mereka mengingkari (Adam dan Hawa) dan apa yang Allah l dan Rasul-Nya n beritakan tentang keduanya. Mereka meyakini bahwa manusia dahulu adalah sesosok hewan kera atau yang semisal dengannya, hingga berevolusi menjadi manusia seperti keadaan saat ini. Mereka tertipu dengan teori-teori rusak yang dibangun di atas sangkaan-sangkaan akal yang menyimpang.
Demi mengagungkan teori ini mereka tinggalkan seluruh ilmu yang shahih, lebih khusus ilmu-ilmu yang datang kepada mereka dari jalan rasul-rasul Allah l. Benarlah atas mereka apa yang dikabarkan Allah l:
“Maka tatkala datang kepada mereka rasul-rasul (yang diutus kepada) mereka dengan membawa keterangan-keterangan, mereka merasa senang dengan pengetahuan yang ada pada mereka dan mereka dikepung oleh azab Allah yang selalu mereka perolok-olokkan itu.” (Ghafir: 83)
Perkara mereka sangatlah jelas bagi kaum muslimin dan semua orang yang menetapkan adanya Al-Bari` (Dzat yang menciptakan, yaitu Allah l). Semua mengetahui bahwa mereka adalah kelompok yang paling sesat.” (Qashashul Anbiya` hal. 22-23)
Para pembaca rahimakumullah. Apa yang tertuang dalam teori evolusi benar-benar penyelewengan dan pengingkaran atas semua kabar Allah l dan Rasul-Nya n. Dalam teori evolusi, manusia pertama digambarkan sebagai sosok yang sangat jelek, makhluk kera yang tidak mampu tegak berdiri. Penggambaran ini jelas telah melecehkan hadits-hadits Rasulullah n yang mengabarkan kesempurnaan penciptaan Adam q. Teori evolusi menggambarkan manusia pertama sebagai manusia purba atau kera yang primitif. Tidak mampu berbicara dan tidak mengenal ilmu, karena akal yang belum berkembang, baru kemudian berevolusi (berkembang) seiring dengan berjalannya waktu dan berlalunya masa.
Dia terwujud dan tinggal di dunia –bukan di jannah– memperjuangkan nasibnya, bertarung melawan alam dengan segala kekurangannya, badan yang bungkuk, otak yang bebal, mulut yang gagap tak pandai bicara hingga dia mati. Kemudian keturunannya melanjutkan perjuangan bapaknya. Berjuang di tengah kerasnya alam hingga kesempurnaan tubuh diperoleh dengan bertahap. Mulailah badannya tegak, akalnya mampu berpikir dan mulutnya pun berbicara dengan bahasa yang dipahami.
Para pembaca rahimakumullah, bandingkanlah teori ini dengan kabar-kabar Allah l dan Rasul-Nya n yang demikian gamblang. Adakah seorang muslim ridha hak-hak Allah l dan Rasul-Nya n dihinakan dengan teori-teori seperti ini?
Di Antara Pengaruh Teori Darwin terhadap Sebagian Kaum Muslimin
Seorang muslim seharusnya mengetahui sejauh mana teori evolusi menyimpang dari syariat Allah Yang Maha Agung. Teori ini telah melecehkan Adam q dan seluruh keturunannya. Lebih dari itu, teori ini jelas-jelas menentang Allah Rabbul ‘alamin (penguasa semesta alam). Tetapi yang sangat mengherankan justru ketika seorang muslim terpengaruh dengan teori ini, lalu menjadikannya sebagai bahan kajian. Padahal berita Allah l dan Rasul-Nya n berkenaan dengan penciptaan Adam sangat jelas. Menyedihkan memang ketika seorang muslim terpengaruh dengan teori ini, sementara kabar Allah l dan Rasul-Nya n tidak dia ketahui bahkan dipertentangkan dan disejajarkan dengan teori nyleneh evolusi.
Tentang hal ini, Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di t berkata: “Akan tetapi (beberapa pengaruh) mazhab dahriyin10 telah masuk kepada sebagian kaum muslimin. Muncul sekelompok (muslimin) di zaman ini menafsirkan sujud malaikat kepada Adam (dengan penafsiran yang menyelisihi syariat). Makna (sujud menurut mereka) adalah bahwa Allah l menundukkan alam ini kepada Adam. Demikian pula hasil bumi, bahan tambang dan sejenisnya, telah Allah l tundukkan untuk Bani Adam. Inilah makna sujud malaikat (kepada Adam).
Seorang yang beriman kepada Allah  l dan hari akhir tidak meragukan bahwa penafsiran ini berakar dari teori (evolusi) yang jahat. Penafsiran ini adalah bentuk penyelewengan terhadap kitab Allah l. Tidak ada bedanya antara penyelewengan ini dengan penyelewengan kaum Bathiniyah dan Qaramithah. Seandainya kisah (sujud malaikat kepada Adam) ditakwilkan (diselewengkan maknanya) kepada makna ini, sungguh penyimpangan serupa akan ditujukan pula kepada kisah-kisah lain dalam Al-Qur`an.
Dengan sebab (penafsiran sesuai hawa nafsu) ini, berubahlah Al-Qur`an yang sebelumnya penjelas bagi segala sesuatu, menjadi sekadar simbol-simbol yang memungkinkan bagi musuh-musuh Islam melakukan apa saja terhadap Al-Qur`an (berupa penyimpangan-penyimpangan makna). Maka Al-Qur`an pun ditolak dan hidayahnya pun berubah menjadi penyesat, rahmatnya berubah menjadi azab. Maha suci Engkau (ya Allah), sesungguhnya ini adalah kedustaan yang nyata.” (Qashashul Anbiya`, hal. 23)
Wahai Manusia, Tunaikanlah Hak Allah l dan Rasul-Nya n
Pengingkaran terhadap syariat Allah l dan Rasul-Nya n, baik berupa perintah dan larangan atau berita dan kabar, adalah bentuk pengingkaran hak-hak Allah l dan Rasulullah n.
Teori evolusi dan pemahaman yang dibangun di atasnya adalah contoh pengingkaran syariat yang wajib kita ingkari, bukan malah dibela dan dipelihara dengan dalih kebebasan berpikir dan berkreasi. Apalagi dijadikan sebagai kurikulum yang dikonsumsi generasi muslim tanpa pengingkaran. Wallahul musta’an.
Manusia rame-rame mengusung slogan hak asasi manusia, tetapi mereka melupakan hak Allah l dan Rasul-Nya n, disadari atau tidak. Lihatlah, kesyirikan dengan berbagai jenis dan ragamnya begitu marak, dibiarkan bahkan dilindungi undang-undang dengan dalih budaya yang harus dilestarikan atau menghormati hak leluhur, dan alasan-alasan lainnya. Tempat-tempat keramat yang sarat dengan penyimpangan dijadikan sebagai cagar budaya, kesyirikanpun tumbuh subur dan berkembang bak jamur di musim hujan. Mereka lupa dengan hak Allah l yang sangat agung –yaitu tauhid– di saat mereka kumandangkan pemenuhan hak asasi manusia. Tidakkah mereka ingat untuk apa mereka diciptakan? Rasulullah n bersabda kepada Mu’adz bin Jabal z:
حَقُّ اللهِ عَلىَ الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلَا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا
“Hak Allah atas hamba-Nya adalah mereka beribadah kepada Allah saja dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun.” (HR. Al-Bukhari)11
Allah l memiliki hak atas seluruh manusia. Demikian pula manusia memiliki hak-hak yang wajib kita penuhi, sesuai dengan manzilah (kedudukan) mereka. Rasul-rasul Allah memiliki hak, kedua orangtua memiliki hak, tetangga memiliki hak. Demikian pula manusia seluruhnya. Bahkan hewan-hewan juga memiliki hak. Tetapi haruslah diyakini bahwa hak-hak tersebut hanya syariat Allah l-lah yang menjamin dan menjaganya, bukan undang-undang buatan manusia atau ketentuan adat yang menguasai tatanan sebuah masyarakat.
Pembaca rahimakumullah. Di akhir pembahasan ini, marilah kita memohon kepada Allah l semoga Allah k mengembalikan kaum muslimin kepada shirathal mustaqim. Teriring sebuah nasihat kepada kaum muslimin terutama para pendidik untuk memerhatikan apa yang diucapkan dan disampaikan, sesuaikah dengan syariat atau justru berseberangan dengannya? Hal ini tidaklah terwujud kecuali jika mereka mau menempuh kewajiban menuntut ilmu syariat dan bertanya kepada ulama rabbani, yang benar-benar berjalan di atas jalan Rasulullah n dan sahabat-sahabat beliau. Wallahu a’lam bish-shawab, wa shallallahu ‘ala Muhammadin wa alihi wa shahbihi ajma’in. Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin.12

1 Evolusi diartikan sebagai perkembangan makhluk hidup secara berangsur-angsur dari bentuk yang sederhana ke bentuk yang lebih sempurna. Misalnya, manusia berasal dari kera yang berkembang.
2 Faedah: Rantai sanad ini terkenal dengan shahifah Hammam bin Munabbih, yaitu shahifah (lembaran) yang semua haditsnya diriwayatkan dari jalan Abdurrazzaq bin Hammam Ash-Shan’ani dari Ma’mar bin Rasyid dari Hammam bin Munabbih dari Abu Hurairah z. Sanad ini disepakati keshahihannya oleh Al-Bukhari dan Muslim. Al-Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkan semua hadits shahifah dalam Musnad beliau. Lihat Musnad Al-Imam Ahmad (2/312-319). Sementara Syaikhain, Al-Bukhari dan Muslim hanya meriwayatkan sebagian hadits shahifah, termasuk di dalamnya hadits tentang penciptaan Adam q.
3 Lihat Al-Mukminun ayat 13-14
4 Hadits ini menunjukkan kepalsuan hadits tentang kisah ‘Auj bin ‘Unuq, anak Adam yang hidup hingga zaman nabi Nuh q yang memiliki ketinggian 3333 sepertiga hasta. Kisah ini dikeluarkan Abu Syaikh dalam kitab beliau Al-’Azhamah, dan tentang kepalsuannya diterangkan Ibnul Qayyim dalam kitab beliau Al-Manarul Munif.
5 HR. Al-Bukhari (no.3327), Muslim (8/146), dan Ibnu Majah (no. 4333), dari hadits Abu Hurairah z. Lihat takhrij hadits ini dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah (7/3/1472, no. 3519).
6 Tentang waktu penciptaan Adam, Rasulullah n bersabda:
وَخُلِقَ آدَمُ q فِي آخِرِ سَاعَةٍ مِنْ سَاعَاتِ الْجُمْعَةِ فِيْمَا بَيْنَ الْعَصْرِ إِلَى اللَّيلِ
“Dan Allah ciptakan Adam q di pengujung waktu dari waktu-waktu Jum’at, di antara ‘Ashar dan malam hari.” (HR. Muslim, 4/2149)7 Hadits di atas adalah bagian dari hadits syafaat yang panjang diriwayatkan Al-Bukhari (4/404) dan Ahmad (3/166) dari hadits Anas bin Malik z.
8 Qashidah mimiyah yang disebutkan Ibnul Qayyim di awal kitab Hadil Arwah (hal. 23), Thariq Al-Hijratain (hal. 50-55), dan Madarijus Salikin (3/200-201).9 Dari buku pelajaran Biologi untuk SMP, Drs. Slamet Prawirohartono dan Prof. Dr. Ir. Siti Sutarmi, M.Sc., edisi ketiga tahun 1991, Penerbit Erlangga, hal. 106-111.
10 Yaitu orang-orang yang mengingkari adanya pencipta. Mereka menganggap bahwa hidup dan mati terjadi karena perputaran masa semata. Sebagaimana Allah l berfirman tentang mereka dalam Surat Al-Jatsiyah ayat 24.
11 HR. Al-Bukhari no. 285612 Faedah-faedah hadits Abu Hurairah z: (1) Hadits ini menetapkan sifat Al-Kalam bagi Allah l. (2) Orang yang berjalan mengucapkan salam kepada orang yang duduk, sebagaimana Adam mengucapkan salam kepada malaikat (3) Boleh dalam menjawab salam dengan ucapan: “Assalaamu’alaikum” (mendahulukan kata As-Salam) dan tidak disyaratkan untuk mengakhirkannya dengan ucapan “Wa’alaikumus salam” (4) Disunnahkan dalam menjawab salam dengan jawaban yang lebih sempurna, sebagaimana jawaban malaikat kepada Adam. (5) Penduduk jannah masuk ke dalamnya dalam keadaan sempurna dan hilang semua sifat kurang mereka di dunia seperti cacat, buta, pendek tubuh, hitam kulit, dan sifat-sifat kurang lainnya.
Dengan rahmat Allah l kita memohon kepada-Nya semoga Allah l masukkan kita ke dalam Firdaus-Nya yang kekal dan mengalir di bawahnya sungai-sungai. Faedah-faedah lain dari hadits dapat dilihat pada beberapa maraji’, di antaranya Fathul Bari (11/3-7) dan Syarh Shahih Muslim (17/178) Al-Imam An-Nawawi. Wallahu a’lam bish-shawab.

Islam Menjunjung Tinggi Hak Asasi Manusia

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu ‘Awanah Jauhari, Lc.)

 

“Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak di antara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan di muka bumi.” (Al-Ma`idah: 32)

Sesungguhnya Islam adalah syariat yang sangat indah. Keindahannya jauh lebih tinggi dari apa yang mampu diibaratkan oleh para sastrawan ahli olah lisan. Namun keindahan ini hanya dapat dirasakan dan disibak (diungkap) oleh orang yang mencermati berbagai untaian hukum Islam dengan cara yang benar. Jauh dari berbagai penghalang, kerancuan, dan godaan setan.
Para ahli fiqih (fuqaha) menyimpulkan bahwa hukum-hukum dalam syariat Islam semuanya berkisar pada penjagaan lima perkara besar yang sangat vital bagi kehidupan manusia, yaitu:
1. Menjaga agama
2. Menjaga jiwa (nyawa)
3. Menjaga harta
4. Menjaga kehormatan (harga diri)
5. Menjaga akal
Penjelasan Mufradat Ayat
“Oleh sebab itu.”
ﭓ dalam bahasa Arab termasuk ism isyarah (kata tunjuk). Kata tunjuk ini kembali kepada pembahasan yang ada pada ayat-ayat sebelumnya, yaitu kisah pembunuhan yang terjadi pada anak Nabi Adam q.
Al-Imam Asy-Syaukani t menyatakan: “Dan artinya bahwa berita tentang dua anak Adam itulah yang menyebabkan kewajiban1 yang telah disebut terhadap Bani Israil.” (Fathul Qadir, 2/40, cet. Darul Khair)
Dari potongan ayat ini, kita dapat memetik faedah bahwa kita harus menjauhkan diri dari perbuatan yang jelek. Jangan sampai kita menjadi teladan dalam kejelekan. Rasulullah n bersabda dalam hadits Ibnu Mas’ud z:
لَيْسَ مِنْ نَفْسٍ تُقْتَلُ ظُلْمًا إِلَّا كَانَ عَلَى ابْنِ آدَمَ الْأَوَّلِ كِفْلٌ مِنْ دَمِهَا لِأَنَّهُ أَوَّلُ مَنْ سَنَّ الْقَتْلَ
“Tidak ada jiwa yang terbunuh dengan cara yang zalim (tidak dibenarkan syariat) kecuali atas anak Adam yang pertama (mendapatkan) bagian tanggungan (dosa) dari darah orang yang terbunuh tersebut. Karena dia (anak Adam) adalah orang yang pertama kali mencontohkan pembunuhan (dengan cara yang tidak benar).” (HR. Al-Bukhari, Kitabul Anbiya` 1, Kitab Ad-Diyat 2, Kitabul I’tisham 15; Muslim, Kitabul Qasamah 27; At-Tirmidzi, Kitabul ‘Ilm 14; An-Nasa`i, Bab At-Tahrim 1; Ibnu Majah, Kitab Ad-Diyat, 1; Ahmad bin Hanbal, juz 1 hal. 383, 430, 433)
“Kami tetapkan.”
Ibnu Katsir t mengatakan: “Artinya, Kami syariatkan dan Kami beritahukan kepada mereka.” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/45, cet. Maktabah Al-‘Ulum wal Hikam)
“Bani Israil.”
Mereka adalah anak keturunan Nabi Ya’qub q. Al-Imam Asy-Syaukani t mengatakan: “Para ahli tafsir sepakat bahwa Israil adalah Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim r, dan artinya adalah hamba Allah l. Karena Isra dalam bahasa mereka artinya hamba, sedangkan Il adalah Allah l.”
Dari penjelasan ini, kita harus berhati-hati, meskipun kita membenci orang Yahudi dan kebencian ini adalah suatu hal yang diperintahkan agama, tetapi jangan sampai salah ucap. Sehingga kita mencela Israel dengan mengatakan “Israel biadab…” dst, karena Israel atau Israil yang lebih tepat adalah Nabi Ya’qub q. Na’udzu billah (Kita berlindung kepada Allah l) bila kita sampai terjatuh dalam perbuatan mencela seorang nabi. Ini adalah suatu kekafiran. Sehingga, bila kita mau mengungkapkan kekesalan terhadap mereka, langsung saja kita sebut ‘Yahudi’. Ini lebih menyelamatkan kita, Insya Allah.2
Para ahli tafsir juga menyebutkan mengapa disebut Bani Israil pada ayat ini secara khusus. Al-Imam Asy-Syaukani t mengatakan: “Dan disebutkan Bani Israil secara khusus karena topik pembahasan ayat-ayat ini dalam rangka menyebutkan kejahatan-kejahatan mereka, dan mereka adalah umat pertama yang mendapat ancaman dari pembunuhan jiwa. Dan dikeraskan hukum tersebut bagi mereka karena mereka banyak menumpahkan darah dan membunuh para nabi.” (Fathul Qadir, 2/40, cet. Darul Khair)
Perlu dipahami, meskipun ayat ini berkenaan dengan mereka, orang Yahudi, namun juga berlaku bagi umat Islam ini. Al-Imam Al-Baghawi t dalam tafsirnya menyebutkan riwayat dari Sulaiman bin ‘Ali: “Aku bertanya kepada Al-Hasan Al-Bashri t: ‘Wahai Abu Sa’id, apakah ayat ini juga bagi kita, sebagaimana dahulu bagi Bani Israil?’ Beliau menjawab: ‘Ya, demi Allah, yang tidak ada sesembahan yang benar kecuali dia. Darah Bani Israil tidak lebih mulia daripada darah kita (kaum muslimin, pent.)’.” (Tafsir Al-Baghawi, 2/25, cet. Maktabah Ahmad Al-Baz, Makkah)
“Barangsiapa yang membunuh seorang manusia.”
Para ahli ushul fiqih telah menegaskan bahwa مَنْ adalah lafadz yang menunjukkan umum. Demikian pula kata ﭛ   adalah nakirah fi siyaq asy-syarth, yaitu kalimat nakirah (bebas, tidak tertentu) dalam susunan kalimat syarat, yang bermakna umum. Perincian masalah ini bisa dirujuk dalam pembahasan masalah fiqih.
Yang ingin kita tonjolkan di sini adalah bahwa hukum Islam adalah hukum yang adil. Tidak membedakan ras, bangsa, martabat atau status sosial. Siapa yang melanggar maka ia akan ditindak tegas. Maka siapa yang membunuh dengan cara yang tidak benar, ia akan mendapatkan hukuman. Dan siapa yang dizalimi, dia akan dibela. Allah l menyatakan:
“Dan tidak layak bagi seorang mukmin membunuh seorang mukmin (yang lain), kecuali karena tersalah (tidak sengaja).” (An-Nisa`: 92)
Dalam hadits ‘Aisyah x disebutkan:
أَنَّ قُرَيْشًا أَهَمَّهُمْ شَأْنُ الْـمَرْأَةِ الَّتـِي سَرَقَتْ فِي عَهْدِ النَّبِيِّ n فِي غَزْوَةِ الْفَتْحِ فَقَالُوا: مَنْ يُكَلِّمُ فِيهَا رَسُولَ اللهِ n؟ فَقَالُوا: وَمَنْ يَجْتَرِئُ عَلَيْهِ إِلَّا أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ، حِبُّ رَسُولِ اللهِ n. فَأُتِيَ بِهَا رَسُولُ اللهِ n فَكَلَّمَهُ فِيهَا أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ فَتَلَوَّنَ وَجْهُ رَسُولِ اللهِ n فَقَالَ: أَتَشْفَعُ فِي حَدٍّ مِنْ حُدُودِ اللهِ؟ فَقَالَ لَهُ أُسَامَةُ: اسْتَغْفِرْ لِي يَا رَسُولَ اللهِ. فَلَمَّا كَانَ الْعَشِيُّ قَامَ رَسُولُ اللهِ n فَاخْتَطَبَ فَأَثْنَى عَلَى اللهِ بِمَا هُوَ أَهْلُهُ ثُمَّ قَالَ: أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ، وَإِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الضَّعِيفُ أَقَامُوا عَلَيْهِ الْحَدَّ، وَإِنِّي وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا. ثُمَّ أَمَرَ بِتِلْكَ الْمَرْأَةِ الَّتِي سَرَقَتْ فَقُطِعَتْ يَدُهَا
Bahwa orang-orang Quraisy terkacaukan dengan masalah wanita3 yang mencuri pada zaman Nabi n pada perang Fathu Makkah (Pembebasan Kota Makkah). Maka mereka bertanya-tanya: “Siapa yang akan melobi Rasulullah n berkaitan dengan masalah wanita ini?” Maka mereka mengatakan: “Tidak ada yang berani melobi Rasulullah n tentangnya, kecuali Usamah bin Zaid, orang yang dicintai Rasulullah n.” Lalu dihadirkanlah wanita tersebut, maka Usamah melobi Rasulullah n. Lalu berubahlah raut muka Rasulullah n yang mulia dan beliau berkata: “Apakah engkau akan memberikan pertolongan pada hukuman had yang telah ditentukan oleh Allah?” Usamah kemudian menjawab: “Mohonkanlah ampunan bagiku, wahai Rasulullah.” Sore harinya, Rasulullah n berdiri dan mulai berkhutbah. Beliau memuji Allah dengan pujian yang pantas untuknya, seraya mengatakan: “Amma ba’du. Sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah apabila ada orang yang mulia di antara mereka yang mencuri, mereka tinggalkan (tidak dihukum). Namun bila ada orang yang lemah di antara mereka yang mencuri maka mereka tegakkan hukuman atasnya. Demi Dzat yang diriku berada di Tangan-Nya, kalau seandainya Fathimah bintu Muhammad mencuri, niscaya akan aku potong tangannya.” Kemudian beliau memerintahkan agar tangan wanita itu dipotong. (HR. Al-Bukhari, Kitab Fadha`il Ashhabin Nabi 18, Kitabul Anbiya` 54, Kitabul Hudud 12; Muslim, Kitabul Hudud 8, 9; Abu Dawud, Kitabul Hudud 4; At-Tirmidzi, Kitabul Hudud 6; An-Nasa`i, Kitab As-Sariq 5, 6; Ibnu Majah, Kitabul Hudud, 6; Ad-Darimi, Kitabul Hudud, 6; Ahmad bin Hanbal, juz 3/286,295; 5/409; 6/329)
“Tanpa jiwa.”
Maksudnya, menurut Ibnu ‘Athiyyah t dalam tafsirnya, “Dia tidak membunuh orang lain sehingga berhak dibunuh. Dan Allah l telah haramkan jiwa seorang mukmin kecuali dengan satu di antara tiga hal yaitu: kafir setelah beriman (murtad, pent.), berzina setelah menikah, membunuh jiwa orang lain dengan zalim dan melampaui batas.” (Al-Muharrar Al-Wajiz, 2/182, cet. Darul Kutub Al-Ilmiah)
Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud z, Rasulullah n menyatakan:
لَا يَحِلُّ دَمُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَنِّي رَسُولُ اللهِ إِلَّا بِإِحْدَى ثَلَاثٍ؛ الثَّيِّبُ الزَّانِي، وَالنَّفْسُ بِالنَّفْسِ، وَالْتَارِكُ لِدِينِهِ الْمُفَارِقُ لِلْجَمَاعَةِ
“Tidaklah halal darah seorang muslim yang bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah dan bahwa aku adalah utusan Allah, kecuali dengan satu di antara tiga perkara: orang yang sudah menikah berzina, orang yang membunuh orang lain maka dibunuh (qishash), dan orang yang meninggalkan agama dan memisahkan diri dari jamaah (murtad).” (HR. Al-Bukhari, Kitabud Diyat 6; Muslim, Kitabul Qasamah, 25; Abu Dawud, Kitabul Hudud 1; At-Tirmidzi, Kitabul Hudud 15; An-Nasa`i, Bab At-Tahrim 5, 11, 14; Ad-Darimi, Kitab As-Siyar 11; Ahmad bin Hanbal 1/61,63,65,70, 163,382,428,444,465; 6/181, 214)
“Atau kerusakan di bumi.”
Al-Imam Asy-Syaukani t berkata tentang tafsir kalimat ini: “Telah diperselisihkan tentang apa maksud kerusakan yang disebutkan dalam ayat ini. Ada yang mengatakan kesyirikan, dan ada yang mengatakan merampok di perjalanan. Dan lahiriah susunan kalimat Al-Qur`an menunjukkan bahwa semua yang bisa dikatakan sebagai kerusakan di muka bumi maka itulah maksudnya. Kesyirikan merupakan kerusakan di muka bumi. Merampok di perjalanan juga kerusakan di muka bumi. Menumpahkan darah, menginjak-injak, melecehkan kehormatan, dan mencuri harta adalah kerusakan di muka bumi. Menghancurkan bangunan, merusak tanaman, dan mengeringkan sungai adalah merusak di muka bumi. Dengan ini diketahui bahwa semua ini merupakan kerusakan di muka bumi.” (Fathul Qadir, 2/40)
Jadi, orang ini membunuh dengan cara yang tidak dibenarkan oleh agama, maka perbuatan jelek ini sangat dicela dalam agama Islam dan diancam dengan ancaman yang keras. Allah l berfirman:
“Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutuknya serta menyediakan azab yang besar baginya.” (An-Nisa`: 93)
Nabi n menjelaskan:
إِذَا الْتَقَى الْمُسْلِمَانِ بِسَيْفَيْهِمَا فَقَتَلَ أَحَدُهُمَا صَاحِبَهُ فَالْقَاتِلُ وَالْمَقْتُولُ فِي النَّارِ
“Apabila dua orang muslim bertemu (berkelahi) dengan pedang mereka berdua, lalu salah satunya membunuh yang lain, maka yang membunuh dan yang dibunuh di neraka.” (HR. An-Nasa`i, Bab Tahrimul Qatl 29; Ibnu Majah, Kitabul Fitan 11, dari sahabat Abu Bakrah z)
Beliau n juga bersabda:
مَنْ قَتَلَ مُعَاهَدًا فِي غَيْرِ كُنْهِهِ حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ
“Siapa yang membunuh orang kafir mu’ahad (yang memiliki perjanjian damai) pada selain waktu yang diperbolehkan membunuhnya (yaitu ketika di luar perjanjian), Allah haramkan surga baginya (pembunuh tersebut).” (HR. Ahmad dalam Musnad-nya, juz 5/36, 38,50,51,52; Ibnu Majah, Kitabud Diyat 32, dari Abu Bakrah z)
Maka ayat ini mengisyaratkan bahwa pembunuhan hanya diperbolehkan ketika ada sebab yang mengharuskannya. Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di t mengatakan: “Dan ayat ini menunjukkan bahwa pembunuhan itu diperbolehkan dengan salah satu di antara dua sebab, yaitu membunuh jiwa dengan sengaja dengan cara yang tidak dibenarkan agama, maka orang tersebut boleh dibunuh apabila dia mukallaf (baligh dan berakal) dan setingkat, serta bukan ayah dari yang terbunuh. Yang kedua, dia membuat kerusakan di bumi dengan merusak agama atau jiwa atau harta manusia, seperti orang-orang kafir yang murtad dan menyerang, serta para penyeru bid’ah yang tidak bisa ditangkal kejelekannya kecuali dengan dibunuh. Demikian juga para perampok di jalan dan sejenis mereka, dari orang-orang yang mengacaukan manusia dengan membunuh atau mengambil harta mereka.” (Tafsir As-Sa’di, hal. 252, cet. Darus Salam)
“Maka seolah-olah ia membunuh seluruh manusia.”
Para ahli tafsir berbeda pendapat tentang makna penyerupaan dalam ayat ini. Ibnul Jauzi t menyimpulkan pendapat mereka dengan menyatakan: “Dan pada firman Allah ﭢ  ﭣ   ﭤ  ﭥ    ada lima pendapat:
1. Bahwa dia mendapat dosa orang yang membunuh semua manusia. Ini adalah pendapat Al-Hasan Al-Bashri dan Az-Zajjaj.
2. Dia masuk neraka dengan sebab membunuh seorang muslim, sama seandainya dia membunuh seluruh manusia. Ini dikatakan oleh Mujahid dan ‘Atha`. Al-Imam Ibnu Qutaibah mengatakan: ‘Ia disiksa sebagaimana orang yang membunuh seluruh manusia.’
3. Bahwasanya wajib (ditegakkan) atasnya qishash seperti bila ia membunuh manusia seluruhnya. Ini dikatakan oleh Ibnu Zaid.
4. Dianjurkan bagi seluruh manusia untuk membantu keluarga korban sehingga mereka mampu membalas, sebagaimana bila orang tersebut membunuh keluarga mereka. Ini disebutkan oleh Abu Ya’la.
5. Barangsiapa membunuh nabi atau pemimpin yang adil maka seolah-olah ia membunuh seluruh manusia. Ini diriwayatkan ‘Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas.” (Zadul Masir fi ‘Ilmit Tafsir, 2/202, cet. Maktabah Darul Baz, Makkah)
Pendapat-pendapat ini semuanya bisa diambil karena tidak saling bertentangan dan bisa dicakup oleh ayat. Demikian menurut Ibnul Jauzi t dan Al-Imam Asy-Syaukani t. Walhasil, ini menunjukkan betapa jelek perbuatan membunuh dalam pandangan Islam, sehingga Islam memberikan hukuman yang berat bagi pelakunya.
“Dan siapa yang menghidupkannya.”
Tentang kalimat ini juga ada lima pendapat:
1. Menyelamatkan dari kebinasaan. Ini diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud dan Mujahid.
2. Meninggalkan pembunuhan yang dilarang. Ini riwayat Ibnu Abi Thalhah dari Ibnu ‘Abbas, dan satu riwayat dari Mujahid.
3. Keluarga korban memaafkan pembunuh dari qishash. Ini dikatakan oleh Al-Hasan Al-Bashri, Ibnu Zaid, dan Ibnu Qutaibah.
4. Melarang dan mencegah dari pembunuhan.
5. Membantu keluarga korban untuk terwujudnya qishash. Kedua pendapat ini disebutkan oleh Abu Ya’la.
“Maka dia seolah-olah menghidupkan seluruh manusia.”
Al-Hasan Al-Bashri t dan Ibnu Qutaibah t mengatakan: “Maka ia mendapatkan pahala orang yang menghidupkan seluruh manusia.” Sedangkan Al-Mawardi t mengatakan: “Maknanya, maka seluruh manusia mesti berterima kasih kepadanya sebagaimana bila dia menghidupkan mereka.” (Zadul Masir, 2/203)
Penutup
Demikianlah salah satu paparan yang menunjukkan bahwa Islam menjunjung tinggi hak manusia untuk hidup. Bebas menghirup udara di dunia ini, sebagaimana yang digariskan oleh Sang Pencipta. Namun manakala dia melanggar aturan Penciptanya, maka dengan hukum dan ketentuan-Nya pula orang tersebut dienyahkan dari muka bumi demi kemaslahatan orang banyak. Allah l menyatakan:
“Dan dalam qishaash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa.” (Al-Baqarah: 179)
Wallahu a’lam.

1 Yaitu kewajiban qishash dan yang berkaitan dengannya.
2 Bahkan ini adalah fatwa dari Asy-Syaikh Al-Luhaidan. (ed)
3 Dalam satu riwayat disebutkan bahwa wanita ini dari Bani Makhzum, suku yang berkedudukan tinggi. –pent.