Meretas Pendidikan Islami

Muncul kecenderungan yang kuat belakangan ini, maraknya pemberian nama berbau Islam oleh para orangtua muslim kepada anak-anak mereka. Dikatakan ”berbau Islam” di sini karena memang ada beberapa hal yang sejatinya masih perlu dikoreksi. Namun terlepas dari hal ini, nyata tersirat harapan besar  dari para orangtua bahwa anak-anak mereka kelak bisa menjadi anak yang shalih/shalihah. Apalagi, di tengah maraknya praktik kemaksiatan serta menjamurnya ”teknologi yang merusak” yang mengepung lingkungan anak-anak mereka, tentunya menjadikan harapan itu kian membumbung.
Namun demikian semua itu semestinya tak berhenti pada harapan. Orangtua sebagai penanggungjawab utama pendidikan anak-anaknya harus benar-benar menyuguhkan lingkungan yang kondusif agar harapan itu bisa terus tumbuh dan berbuah kenyataan.
Terciptanya lingkungan yang mampu menyemaikan keimanan anak-anak mereka, tentunya diperoleh melalui proses yang tidak mudah. Banyak hal yang mesti ditempuh orangtua. Keteladanan, kelembutan, nasihat, kiat memberi penghargaan dan hukuman…dsb, adalah beberapa aspek dasar pendidikan yang telah diajarkan dalam Islam. Semua itu cukup kita petik dari perjalanan hidup uswah kita Rasulullah n serta para sahabatnya. Tak perlu latah dengan mengambil sistem atau pola-pola pendidikan di luar Islam. Tak perlu repot-repot mengikuti seminar ”Menjadi Orangtua Sukses”, tak perlu pula melahap buku-buku psikologi yang mengupas pendidikan anak. Seluruhnya telah lengkap dalam ajaran Islam. Tinggal sejauh mana kita mampu menggali nilai-nilai tersebut serta menjabarkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Sekali lagi itu semua memang tidak mudah. Apalagi kita dihadapkan pada sistem pendidikan yang menonjolkan pola pikir sekulerisme dan materialisme. Agama yang semestinya dijadikan fondasi pendidikan malah dijadikan ”sampingan” kalau tidak bisa dikatakan sengaja dijauhkan. Pelajaran agama Islam dengan jam pelajaran yang minim dengan materi yang tidak menyentuh adalah sisi suram wajah pendidikan kita. Padahal, pendidikan bermuatan ruhiyah sebagaimana dalam konsep Islam terbukti mampu mencetak generasi Islam yang  kokoh yang berhasil membangun peradaban mulia saat Islam berada di masa keemasannya dahulu.
Sehingga amat naif jika ada orangtua, hanya dengan alasan “kualitas”,  sampai rela mengorbankan akidah anak-anaknya dengan menyekolahkannya ke sekolah-sekolah di bawah naungan yayasan Nasrani. Sementara pondok pesantren dan institusi pendidikan Islam lainnya malah dijauhkan dari anak-anak kita dengan alasan masa depan “suram”.
Pendidikan anak sendiri memang membincangkan masa depan mereka. Namun perkaranya bukan bagaimana agar mudah diserap oleh dunia kerja, namun arah dari terbentuknya akidah dan akhlak mereka.
Bukan masanya lagi kita harus minder dengan mengagung-agungkan pola pendidikan di luar Islam. Sudah saatnya kita sebagai orangtua memainkan peran kuncinya dalam meretas pendidikan Islami bagi anak-anak kita.

Surat Pembaca edisi 43

Cover Suram?

Mengapa cover depan Asy-Syariah selalu gelap? Bisakah dibuat lebih cerah/terang seperti di edisi emansipasi sehingga judul yang tertulis di bawah lebih jelas terbaca?

 

Ari, Semarang

081390786xxx

 

Jazakumullahu khair. Masukan anda sudah kami teruskan ke bagian ilustrasi, semoga ke depan bisa ditindaklanjuti.

 

Biografi Ibnu Taimiyah

Mohon dibahas biografi Ibnu Taimiyyah  t dan  kesalahahpahaman Ibnu Batutah kepada beliau ketika beliau membahas masalah sifat turunnya Allah k. Ibnu Batutah menyebarkan kesalahpahamannya kepada masyakarakat luas sehingga nama  harum Ibnu Taimiyyah t tercoreng.

 

Ahmad, Kebumen

081327450xxx

 

Tentang biografi Ibnu Taimiyah t berikut keutamaan beliau dalam tafsir dan hadits, serta tuduhan-tuduhan dusta yang dialamatkan kepada beliau, insya Allah akan menjadi tema utama di edisi 45, jadi pembaca mohon bersabar.

 

Thibbun Nabawi

Bagaimana kalau majalah Asy-Syariah memuat info praktis khusus tentang thibbun nabawi (pengobatan ala nabi) karena sunnah yang satu ini masih asing.

 

Fachruddin Limboro,Seram Barat

081343437xxx

 

Dalam beberapa edisi sebelumnya kami pernah menyinggung hal tersebut, meski tidak termuat dalam rubrik info praktis. Namun jika yang anda maksud adalah sajian secara khusus mungkin ini bisa menjadi pertimbangan kami ke depan, insya Allah.

 

Jumlah Nabi Palsu

Tolong sebutkan berapa jumlah nabi  palsu dari awal kemunculan s.d. akhir.

081361746xxx

 

Tentang jumlah nabi palsu tentunya tidak bisa dihitung karena demikian banyaknya. Namun jika pertanyaan anda dikaitkan dengan hadits riwayat Ahmad yang menyebutkan jumlahnya 27 (dalam riwayat lain 30) –empat di antaranya wanita- yang dimaksud di sini tentu bukan setiap orang yang mengaku nabi secara mutlak. Tapi nabi palsu yang memiliki kekuatan dan syubhat. Lihat penjelasan Ibnu Hajar t dalam Asy-Syariah edisi 41 halaman 17.

 

Lafadz Ayat Kurang

Edisi 42 halaman 62 tentang firman Allah k surat Hud lafadz ayat ada yang  kurang (inni tawakkaltu alallahi Rabbi wa rabbikum… ) Ashlahakumullah.

 

085292045xxx

Anda benar, jazakumullahu khairan atas masukannya.

 

Salah Ketik

Terdapat salah cetak pada kajian Sakinah Musyawarah dengan Istri pada edisi 41 halaman 75. Di sana tertulis Allah z yang seharusnya Allah k.

 

Abu Zulfa

Lubuk Linggau Sumsel

081373146xxx

 

Mohon maaf kesalahan seperti ini masih sering terulang. Namun Insya Allah itu bukan kesengajaan dari kami. Proses editing tentu telah diupayakan semaksimal mungkin namun sebagai manusia biasa, kesalahan dan kekhilafan tetap saja ada. Jazakumullahu khairan.