Waktu Shalat Jumat

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Ishaq Muslim Al-Atsari)

 

Selesai sudah pembahasan kita tentang waktu shalat fardhu yang lima waktu. Berikut ini kita akan membahas tentang waktu shalat Jum’at yang juga merupakan shalat yang wajib ditunaikan oleh kaum laki-laki di masjid.

Pendapat mayoritas ulama, waktu shalat Jum’at adalah bila matahari telah tergelincir seperti halnya waktu shalat zhuhur. Hal ini ditunjukkan dalam hadits-hadits berikut ini:

Dari Iyas bin Salamah ibnul Akwa’ dari ayahnya, ayahnya berkata:

كُنَّا نُجَمِّعُ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ n إِذَا زَالَتِ الشَّمْسُ ثُمَّ نَرْجِعُ نَتَتَبَّعُ الْفَيْءَ

“Kami shalat Jum’at bersama Rasulullah n apabila matahari telah tergelincir. Kemudian (selesai shalat) kami kembali ke tempat kami dengan mengikuti bayangan (benda/pohon dan sebagainya, pent.)” (HR. Al-Bukhari no. 4168 dan Muslim no. 1989)

Anas bin Malik z berkata:

أَنَّ النَّبِيَّ n كَانَ يُصَلِّي الْجُمُعَةَ حِيْنَ تَمِيْلُ الشَّمْسُ

“Sungguh Nabi n biasa shalat Jum’at ketika matahari miring (condong ke barat, pent.)” (HR. Al-Bukhari no. 904)

Jabir bin Abdillah z berkata:

كُنَّا نُصَلِّي مَعَ رَسُوْلِ اللهِ n ثُمَّ نَرْجِعُ فَنُرِيْحُ نَوَاضِحَنَا. قَالَ حَسَنٌ: فَقُلْتُ لِجَعْفَرٍ: فِي أَيِّ سَاعَةٍ تِلْكَ؟ قَالَ: زَوَالَ الشَّمْسِ

“Kami shalat bersama Rasulullah n kemudian kami kembali lalu mengistirahatkan unta-unta kami.” Hasan1 berkata, “Aku bertanya kepada Ja’far2, ‘Waktunya kapan itu?’ Ja’far menjawab, ‘Saat matahari tergelincir’.” (HR. Muslim no. 1986)

Al-Hafizh Ibnu Hajar t berkata, “Dalam hadits (Anas) didapatkan bahwa yang menjadi kebiasaan Nabi n adalah mengerjakan shalat Jum’at apabila matahari telah tergelincir.” (Fathul Bari, 2/499)

Al-Imam Al-Baghawi t berkata, “Dalam hadits ini ada dalil disegerakannya shalat Jum’at. Apabila seseorang menunaikannya sebelum zawal (tergelincir matahari) maka tidaklah dibolehkan, sebagaimana sebagian mereka berpendapat demikian.” (Syarhus Sunnah, 4/239)

Al-Imam An Nawawi t mengatakan, “Hadits-hadits ini menampakkan tentang penyegeraan shalat Jum’at. Malik, Abu Hanifah, Asy-Syafi’i dan jumhur ulama dari kalangan sahabat dan tabi’in serta orang-orang yang datang setelah mereka mengatakan, ‘Tidak boleh dilaksanakan shalat Jum’at kecuali setelah matahari tergelincir (zawal)’.”

Tidak ada yang menyelisihi hal ini kecuali Ahmad ibnu Hanbal dan Ishaq. Keduanya membolehkan shalat Jum’at sebelum zawal. Al-Qadhi berkata, “Diriwayatkan dalam masalah ini beberapa pendapat dari para sahabat. Namun tidak ada sedikitpun yang shahih kecuali pendapat yang dipegangi jumhur3. Jumhur mengarahkan hadits-hadits ini kepada makna mubalaghah (penekanan yang sangat) dalam menyegerakan shalat Jum’at. Mereka sampai mengakhirkan makan dan tidur siang pada hari Jum’at ini sampai selesai mengerjakan shalat Jum’at, karena mereka menyenangi untuk bersegera mendatangi masjid untuk menanti shalat Jum’at. Seandainya sebelumnya mereka tersibukkan dengan sesuatu dari perkara itu, mereka khawatir terluputkan dari shalat Jum’at, atau luput dari bersegera mendatangi shalat Jum’at.” (Al-Minhaj, 6/387)

At-Tirmidzi t berkata, “Inilah yang disepakati oleh kebanyakan ahlul ilmi bahwa waktu shalat Jum’at adalah jika matahari tergelincir seperti waktu zhuhur. Ini merupakan pendapat Asy-Syafi’i, Ahmad, dan Ishaq. Sebagian mereka berpandangan shalat Jum’at itu boleh juga bila ditunaikan sebelum zawal. Al-Imam Ahmad berkata, ‘Siapa yang mengerjakan shalat Jum’at sebelum zawal maka tidak dipandang ia harus mengulangi shalatnya’.” (Sunan At-Tirmidzi, 2/8)

Al-Mubarakfuri mengatakan, “Yang zahir yang dicondongi adalah pendapat jumhur bahwa tidak boleh mengerjakan shalat Jum’at kecuali setelah tergelincirnya matahari. Adapun pandangan sebagian mereka tentang bolehnya shalat Jum’at sebelum zawal, maka tidak ada hadits shahih yang sharih (jelas) yang menunjukkannya. Wallahu a’lam.” (Tuhfatul Ahwadzi, kitab Al-Jumu’ah, bab Ma Ja`a fi Waqtil Jumu’ah, hadits no. 503)

Ibnu Hazm t berkata, “Shalat Jum’at itu adalah zhuhurnya hari Jum’at. Tidak boleh ditunaikan kecuali setelah zawal, dan akhir waktunya sama dengan akhir waktu zhuhur pada hari-hari yang lainnya.” (Al-Muhalla bil Atsar, 3/244)

Al-Imam Al-Bukhari t membuat satu bab dalam Shahih-nya yang berjudul bab Waqtul jumu’ah idza zalatisy syamsu (waktu Jum’at apabila matahari telah tergelincir).

Az-Zarqani dalam Syarhul Muwaththa’ (1/40) mengatakan, “Waktu Jum’at apabila matahari tergelincir sebagaimana shalat zhuhur menurut jumhur. Sebagian imam (ulama) telah berpendapat ganjil dengan membolehkan penunaian Jum’at sebelum zawal. Al-Imam Malik t berargumen dengan perbuatan ‘Umar dan ‘Utsman c karena keduanya termasuk Al-Khulafa Ar-Rasyidun yang kita diperintah untuk mencontoh mereka.”

Perbuatan ‘Umar dan ‘Utsman c yang dimaksud adalah seperti yang ditunjukkan dalam dua atsar yang diriwayatkan oleh Al-Imam Malik t dalam kitabnya, Al-Muwaththa` (no. 13 dan no. 14) berikut ini:

Abu Suhail bin Malik dari bapaknya, dia mengatakan:

كُنْتُ أَرَى طِنْفِسَةً لِعَقِيْلِ بْنِ أَبِي طَالِبٍ يَوْمَ الْجُمُعَةِ، تُطْرَحُ إِلَى جِدَارِ الْمَسْجِدِ الْغَرْبِي، فَإِذَا غَشِيَ الطِّنْفِسَةَ كُلَّهَا ظِلُّ الْجِدَارِ، خَرَجَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ وَصَلَّى الْجُمُعَةَ

“Aku melihat permadani milik ‘Aqil bin Abi Thalib dibentangkan ke dinding sebelah barat masjid An-Nabawi. Apabila seluruh permadani itu telah diliputi oleh bayangan dinding, keluarlah ‘Umar ibnul Khaththab (yang ketika itu sebagai khalifah, pent.) dan mengerjakan shalat Jum’at (mengimami orang-orang, pent.).”

Ibnu Abi Salith mengabarkan:

أَنَّ عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانَ صَلَّى الْجُمُعَةَ بِالْمَدِيْنَةِ وَصَلَّى الْعَصْرَ بِمَلَلٍ. قَالَ مَالِكٌ: وَذَلِكَ لِلتَّهْجِيْرِ وَسُرْعَةِ السَّيْرِ

“Utsman bin Affan shalat Jum’at di Madinah dan shalat ashar di Malal4.” Malik berkata, “Hal itu karena shalat Jum’at dilaksanakan di waktu hajirah (tengah hari setelah zawal) dan cepatnya perjalanan (sehingga Utsman mencapai Malal di waktu ashar setelah mengerjakan shalat Jum’at di Madinah, pent.).”

Al-Hafizh Ibnu Hajar t berkata tentang riwayat Abu Suhail dari bapaknya di atas, “Sanadnya shahih. Atsar ini jelas menunjukkan bahwa ‘Umar z keluar untuk mengimami manusia dalam shalat Jum’at setelah zawal. Namun sebagian mereka memahami sebaliknya (yaitu sebelum zawal). Namun pemahaman ini tidak bisa dituju terkecuali bila dianggap permadani Aqil tersebut dibentangkan di luar masjid, namun ini amatlah jauh dari kemungkinan. Yang zahir justru permadani tersebut dibentangkan di dalam masjid. Berdasarkan hal ini, berarti keluarnya ‘Umar z lebih mundur sedikit dari waktu zawal. Dalam hadits As-Saqifah dari Ibnu Abbas c berkata:

فَلَمَّا كَانَ يَوْمُ الْجُمُعَةِ وَزَالَتِ الشَّمْسُ خَرَجَ عُمَرُ وَجَلَسَ عَلَى الْمِنْبَرِ

“Maka tatkala datang hari Jum’at dan matahari telah tergelincir, keluarlah Umar dan duduk di atas mimbar (untuk khutbah Jum’at sebelum mengerjakan shalat Jum’at).” (Fathul Bari, 2/498)

Az-Zarqani berkata, “Masing-masing dari perbuatan ‘Umar dan ‘Utsman menunjukkan awal waktu Jum’at adalah dari saat zawal sebagaimana shalat zhuhur.” (Syarhul Muwaththa’, 1/42)

Atsar dari para sahabat yang mendukung pendapat ini, antara lain:

Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dari jalan Abu Ishaq bahwasanya:

أَنَّهُ صَلَّى خَلْفَ عَلِيٍّ الْجُمُعَةَ بَعْدَ مَا زَالَتِ الشَّمْسُ

“Ia shalat Jum’at di belakang Ali bin Abi Thalib z setelah matahari tergelincir.”5

Ibnu Abi Syaibah juga meriwayatkan dari jalan Abu Razin, ia berkata:

كُنَّا نُصَلِّي مَعَ عَلِيٍّ الْجُمُعَةَ فَأَحْيَانًا نَجِدُ فَيْئًا وَأَحْيَانًا لاَ نَجِدُ

“Kami shalat Jum’at bersama Ali bin Abi Thalib z maka terkadang kami mendapati fai’6 namun terkadang pula kami tidak mendapatinya.”

Al-Hafizh Ibnu Hajar t berkata “Riwayat ini dibawa pada pemahaman disegerakannya (shalat Jum’at) persis ketika zawal (sehingga belum didapatkan fai’) atau diakhirkan sedikit setelah zawal (sehingga didapati fai’).” (Fathul Bari, 2/498)

Mengerjakan shalat Jum’at di waktu zawal ini juga dilakukan An-Nu’man bin Basyir z yang ketika itu menjadi gubernur di negeri Kufah pada awal pemerintahan Yazid bin Mu’awiyah. Diriwayatkan hal ini oleh Ibnu Abi Syaibah, juga dari Simak bin Harb dengan sanad yang shahih. Simak berkata:

كَانَ النُّعْمَانُ بْنُ بَشِيْرٍ يُصَلِّي بِنَا الْجُمُعَةَ بَعْدَ مَا تَزُوْلُ الشَّمْسُ

“Adalah An-Nu’man bin Basyir shalat Jum’at mengimami kami setelah matahari tergelincir.”

Ada pula riwayat dari sahabat yang menyelisihi pendapat yang mengatakan waktu Jum’at adalah saat zawal. Seperti yang diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah dari jalan Abdullah bin Salimah, ia berkata:

صَلَّى بِنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ مَسْعُوْدٍ  z الْجُمُعَةَ ضُحىً، وَقَالَ: خَشِيْتُ عَلَيْكُمُ الْحَرَّ

“Abdullah bin Mas’ud z shalat Jum’at mengimami kami di waktu dhuha dan ia berkata, ‘Aku khawatir kalian kepanasan’.”

Abdullah bin Salimah ini rawi yang shaduq, namun berubah hafalannya ketika tua, demikian kata Syu’bah dan selainnya.

Adapula riwayat dari jalan Sa’id bin Suwaid, ia berkata:

صَلَّى بِنَا مُعَاوِيَةُ z الْجُمُعَةَ ضُحىً

“Mu’awiyah z shalat Jum’at mengimami kami di waktu dhuha.”

Sa’id ini disebutkan oleh Ibnu ‘Adi dalam Adh-Dhu’afa`.

Sebagian Hanabilah (pengikut mazhab Hambali) berdalil dengan sabda Rasulullah n:

إِنَّ هذَا يَوْمٌ جَعَلَهُ اللهُ عِيْدًا لِلْمُسْلِمِيْنَ

“Sesungguhnya ini adalah hari (yakni hari Jum’at, pent.) yang Allah jadikan sebagai hari raya bagi kaum muslimin.”

Mereka menyatakan Rasulullah n menamakan hari Jum’at sebagai hari raya berarti dibolehkan mengerjakan shalat Jum’at di waktu pelaksanaan shalat hari raya Idul Fithri dan Idul Adha. Namun penamaan hari Jum’at sebagai hari raya tidaklah mengharuskan seluruh hukum hari raya berlaku atasnya. Buktinya, kalau pada hari raya Idul Fithri dan Idul Adha diharamkan puasa secara mutlak, beda halnya dengan hari Jum’at. (Fathul Bari, 2/498)

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin t menyatakan bahwa yang afdal/utama dari berbagai pendapat itu adalah waktu Jum’at itu setelah zawal, sesuai pendapat kebanyakan ulama. (Asy-Syarhul Mumti’, 5/33)

Dengan demikian, pendapat yang kuat dan kami condongi adalah sebagaimana pendapat jumhur. Shalat Jum’at itu awal waktunya sama dengan waktu shalat zhuhur. Demikian pula akhir waktunya. Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

 

Disenanginya Menyegerakan Shalat Jum’at apabila telah Masuk Waktunya

Salamah ibnul Akwa’ z berkata:

كُنَّا نُصَلِّي مَعَ رَسُوْلِ اللهِ n الْجُمُعَةَ فَنَرْجِعُ وَمَا نَجِدُ لِلْحَيْطَانِ فَيْئًا نَسْتَظِلُّ بِهِ

“Kami pernah shalat Jum’at bersama Rasulullah n, lalu kami kembali ke tempat kami (selesai mengerjakan Jum’at) dalam keadaan kami tidak mendapati bayangan tembok/dinding yang bisa kami jadikan naungan.” (HR. Muslim no. 1990)

Dalam hadits ini bukan berarti tidak ada bayangan sama sekali dari tembok/dinding itu sehingga dipahami bahwa matahari belum zawal saat itu. Karena yang dinyatakan tidak ada atau dinafikan oleh Salamah hanyalah bayangan yang bisa dijadikan naungan, yang mencukupi untuk berteduh dari panas. Sementara tembok/dinding mereka pendek dan negeri mereka berada di tengah dari matahari, sehingga tidak tampak bayangan yang bisa dijadikan tempat berteduh di sana kecuali setelah waktu yang panjang dari berlalunya zawal. Ini jelas menunjukkan shalat Jum’at langsung dilaksanakan ketika zawal (tanpa penangguhan waktu). Di samping juga menunjukkan ringkasnya khutbah Jum’at yang disampaikan sebelum shalat. (Al-Majmu’ 4/381, Al-Minhaj 6/387,388, Al-Muhalla 3/247)

Abdullah bin Maslamah menyebutkan riwayat dari Ibnu Abi Hazim dari bapaknya, dari Sahl bin Sa’d z, ia berkata:

كُنَّا نَفْرَحُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ. قُلْتُ لِسَهْلٍ: وَلِمَ؟ قَالَ: كَانَتْ لَنَا عَجُوْزٌ تُرْسِلُ إِلَى بُضَاعَةَ -نَخْلٍ بِالْمَدِيْنَةِ– فَتَأْخُذُ مِنْ أُصُوْلِ السِّلْقِ فَتَطْرُحُهُ فِي قِدْرٍ وَتُكَرْكِرُ حَبَّاتٍ مِنْ شَعِيْرٍ، فَإِذَا صَلَّيْنَا الْجُمُعَةَ انْصَرَفْنَا وَنُسَلِّمُ عَلَيْهَا، فَتُقَدُّمُهُ إِلَيْنَا، فَنَفْرَحُ مِنْ أَجْلِهِ وَمَا كُنَّا نَقِيْلُ وَلاَ نَتَغَدَّى إِلاَّ بَعْدَ الْجُمُعَةِ

“Kami merasa senang pada hari Jum’at.” Aku (Abu Hazim) bertanya kepada Sahl, “Kenapa?” Sahl menjawab, “Kami punya (kenalan) seorang wanita tua. Ia mengirim orang ke Budha’ah –sebuah kebun yang ada di Madinah– lalu ia mengambil pokok pohon silq (semacam sayuran, pent.) dan dimasukkannya ke dalam bejana (yang berisi air, pent.), dimasak hingga matang. Kemudian ia mengadon biji-bijian dari gandum. Bila kami selesai dari shalat Jum’at, kami pergi ke tempat wanita tersebut dan mengucapkan salam kepadanya. Lalu ia menghidangkan masakan tersebut kepada kami, sehingga kami bergembira karenanya7. Tidaklah kami qailulah8 dan tidak pula makan siang kecuali setelah shalat Jum’at.” (HR. Al-Bukhari no. 6248)

Anas bin Malik z berkata:

كُنَّا نُبَكِّرُ بِالْجُمُعَةِ وَنَقِيْلُ بَعْدَ الْجُمُعَةِ

“Kami tabkir (bersegera datang ke masjid) untuk menanti pelaksanaan shalat Jum’at dan kami qailulah setelah shalat Jum’at.” (HR. Al-Bukhari no. 905)

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani t menyatakan, “Zahir riwayat Anas ini menunjukkan bahwa mereka (para sahabat) mengerjakan shalat Jum’at di awal siang9. Akan tetapi thariqah jam’i10 lebih utama daripada menganggap adanya pertentangan (di antara nash yang ada sehingga salah satunya ada yang ditinggalkan, pent.). Telah ditetapkan dalam penjelasan yang telah lewat bahwa istilah tabkir dipakai untuk menunjukkan pengerjaan sesuatu di awal waktu, atau dikedepankan dari yang lainnya. Inilah yang dimaukan di sini11. Maknanya, mereka mendahulukan pelaksanaan shalat Jum’at sebelum tidur siang. Berbeda dengan kebiasaan mereka di selain hari Jum’at dalam melaksanakan shalat zhuhur di hari yang panas. Mereka biasanya tidur siang dahulu kemudian baru mengerjakan shalat karena adanya pensyariatan ibrad (menunda shalat hingga waktu yang tidak terlalu panas).”

Kemudian Al-Hafizh berkata, “Akan datang dalam judul bab setelah ini pengibaratan tabkir dan yang dimaukan adalah shalat di awal waktu, dan ini memperkuat apa yang kami nyatakan. Az-Zain ibnul Munayyir dalam Al-Hasyiyah, ‘Al-Bukhari menafsirkan hadits Anas yang kedua12 dengan hadits Anas yang pertama13, sebagai isyarat bahwa tidak ada ta’arudh (saling bertentangan) di antara keduanya.” (Fathul Bari, 2/499)

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.


1 Hasan bin ‘Ayyasy, salah seorang perawi hadits ini.
2 Ja’far bin Muhammad yang meriwayatkan hadits ini dari bapaknya, dari Jabir bin Abdillah z.
3 Sebagaimana dalam Al-Ikmal (3/254).
4 Sebuah tempat yang terletak antara Makkah dan Madinah sejauh 17 mil dari Madinah. (An-Nihayah)
5 Kata Al-Hafizh dalam Fathul Bari (2/498), “Sanadnya shahih.”
6 Bayangan benda yang tampak ketika matahari tergelincir (zawal).
7 Para sahabat bergembira dengan hidangan tersebut karena dulunya mereka bukanlah orang-orang yang berpunya, kecuali setelah Allah k membukakan rezeki untuk mereka dengan kemenangan-kemenangan dalam peperangan yang dengannya mereka beroleh ghanimah. Allah k berfirman:
“Dan ghanimah-ghanimah yang banyak yang mereka ambil.” (Al-Fath: 19)
Dengan kemenangan-kemenangan tersebut banyaklah harta, setelah sebelumnya mayoritas sahabat adalah dari kalangan fuqara. (Syarah Riyadhus Shalihin, 3/29-30)
8 Al-Azhari berkata: “Qailulah menurut orang-orang Arab adalah istirahat di tengah hari walaupun tidak sampai tidur. Dalilnya firman Allah k:
“Penghuni-penghuni surga pada hari itu paling baik tempat tinggalnya dan paling indah tempat istirahatnya/tempat qailulah.” (Al-Furqan: 24)
Sementara di dalam surga penghuninya tidak pernah tidur. (Syarhus Sunnah, 4/241)
9 Sementara dalam hadits Anas z yang lain disebutkan Nabi n biasa shalat Jum’at ketika matahari telah condong ke barat.
10 Menggabungkan nash sehingga semuanya diamalkan, tidak ada nash yang ditinggalkan. –pent.
11 Bukan maknanya shalat Jum’at tersebut dikerjakan di awal siang/sebelum zawal.
12 Yaitu hadits:
كُنَّا نُبَكِّرُ بِالْجُمُعَةِ وَنَقِيْلُ بَعْدَ الْجُمُعَةِ
“Kami tabkir (bersegera datang ke masjid) untuk menanti pelaksanaan shalat Jum’at dan kami qailulah setelah shalat Jum’at.”
13 Yaitu hadits:
أَنَّ النَّبِيَّ n كَانَ يُصَلِّي الْجُمُعَةَ حِيْنَ تَمِيْلُ الشَّمْسُ
“Nabi n biasa shalat Jum’at ketika matahari miring (condong ke barat, pent.)”

Adab Ketika Sakit

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abul ‘Abbas Muhammad Ihsan)

 

Allah l dengan sifat hikmah dan keadilan-Nya menimpakan berbagai ujian dan cobaan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman pada khususnya, dan seluruh makhluk pada umumnya.

Di antara bentuk ujian dan cobaan itu adalah adanya berbagai jenis penyakit di zaman ini, karena kemaksiatan dan kedurhakaan umat terhadap Allah l dan Rasul-Nya n.

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (Ar-Rum: 41)

Islam adalah agama yang sempurna, yang menuntut seorang muslim agar tetap menjaga keimanannya dan status dirinya sebagai hamba Allah l.

Seorang muslim akan memandang berbagai penyakit itu sebagai:

1. Ujian dan cobaan dari Allah l.

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (Al-Mulk: 2)

“Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (Al-Anbiya`: 35)

Ibnu Katsir t berkata dalam tafsirnya tentang ayat ini: “Kami menguji kalian, terkadang dengan berbagai musibah dan terkadang dengan berbagai kenikmatan. Maka Kami akan melihat siapa yang bersyukur dan siapa yang kufur (terhadap nikmat Allah l), siapa yang sabar dan siapa yang putus asa (dari rahmat-Nya). Sebagaimana perkataan Ali bin Abi Thalhah, dari Ibnu Abbas c: ‘Kami akan menguji kalian dengan kejelekan dan kebaikan, maksudnya yaitu dengan kesempitan dan kelapangan hidup, dengan kesehatan dan sakit, dengan kekayaan dan kemiskinan, dengan halal dan haram, dengan ketaatan dan kemaksiatan, dengan petunjuk dan kesesatan; kemudian Kami akan membalas amalan-amalan kalian’.”

Ujian dan cobaan akan datang silih berganti hingga datangnya kematian.

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu?” (Al-Baqarah: 214)

Ibnu Katsir t berkata: “(Ujian yang akan datang adalah) berbagai penyakit, sakit, musibah, dan cobaan-cobaan lainnya.”

Bila demikian, maka sikap seorang muslim tatkala menghadapi berbagai ujian dan cobaan adalah senantiasa berusaha sabar, ikhlas, mengharapkan pahala dari Allah l, terus-menerus memohon pertolongan Allah l sehingga tidak marah dan murka terhadap taqdir yang menimpa dirinya, tidak pula putus asa dari rahmat-Nya.

 

2. Penghapus dosa.

Seandainya setiap dosa dan kesalahan yang kita lakukan mesti dibalas tanpa ada maghfirah (ampunan)-Nya ataupun penghapus dosa yang lain, maka siapakah di antara kita yang selamat dari kemurkaan Allah l? Sehingga, termasuk hikmah dan keadilan Allah l bahwa Dia menjadikan berbagai ujian dan cobaan itu sebagai penghapus dosa-dosa kita.

“Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk.” (Hud: 114)

Diriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri dan Abu Hurairah c, dari Nabi n beliau bersabda:

مَا يُصِيبُ الْمُسْلمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلاَّ كَفَّرَ اللهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidaklah menimpa seorang muslim kelelahan, sakit, kekhawatiran, kesedihan, gangguan dan duka, sampai pun duri yang mengenai dirinya, kecuali Allah akan menghapus dengannya dosa-dosanya.” (Muttafaqun alaih)

Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin t berkata dalam Syarh Riyadhish Shalihin (1/94): “Apabila engkau ditimpa musibah maka janganlah engkau berkeyakinan bahwa kesedihan atau rasa sakit yang menimpamu, sampaipun duri yang mengenai dirimu, akan berlalu tanpa arti. Bahkan Allah l akan menggantikan dengan yang lebih baik (pahala) dan menghapuskan dosa-dosamu dengan sebab itu. Sebagaimana pohon menggugurkan daun-daunnya. Ini merupakan nikmat Allah l. Sehingga, bila musibah itu terjadi dan orang yang tertimpa musibah itu:

a. mengingat pahala dan mengharapkannya, maka dia akan mendapatkan dua balasan, yaitu menghapus dosa dan tambahan kebaikan (sabar dan ridha terhadap musibah).

b. lupa (akan janji Allah l), maka akan sesaklah dadanya sekaligus menjadikannya lupa terhadap niat mendapatkan pahala dari Allah l.

Dari penjelasan ini, ada dua pilihan bagi seseorang yang tertimpa musibah: beruntung dengan mendapatkan penghapus dosa dan tambahan kebaikan, atau merugi, tidak mendapatkan kebaikan bahkan mendapatkan murka Allah l karena dia marah dan tidak sabar atas taqdir tersebut.”

 

3. Kesehatan adalah nikmat Allah l yang banyak dilupakan.

Ibnu Abbas c berkata, Rasulullah n bersabda:

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيْهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ

“Dua kenikmatan yang kebanyakan orang terlupa darinya, yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR. Al-Bukhari)

Betapa banyak orang yang menyadari keberadaan nikmat kesehatan ini, setelah dia jatuh sakit. Sehingga musibah sakit ini menjadi peringatan yang berharga baginya. Setelah itu dia banyak bersyukur atas nikmat Allah l tersebut. Itulah golongan yang beruntung.

 

Adab-adab Syar’i ketika Sakit

Di antara bukti kesempurnaan Islam, Rasulullah n menuntunkan adab-adab yang baik ketika seorang hamba tertimpa sakit. Sehingga, dalam keadaan sakit sekalipun, seorang muslim masih bisa mewujudkan penghambaan diri kepada Allah l. Di antara adab-adab tersebut adalah:

1. Sabar dan ridha atas ketentuan Allah l, serta berbaik sangka kepada-Nya.

Dari Abu Yahya Shuhaib bin Sinan z, Rasulullah n bersabda:

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرٌ لَهُ، وَإِذَا أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرٌ لَهُ

“Sungguh menakjubkan urusan orang yang beriman. Sesungguhnya semua urusannya baik baginya, dan sikap ini tidak dimiliki kecuali oleh orang yang mukmin. Apabila kelapangan hidup dia dapatkan, dia bersyukur, maka hal itu kebaikan baginya. Apabila kesempitan hidup menimpanya, dia bersabar, maka hal itu juga baik baginya.” (HR. Muslim)

Dari Jabir z, bahwasanya Nabi n bersabda:

لاَ يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلاَّ وَهُوَ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِاللهِ تَعَالَى

“Janganlah salah seorang di antara kalian itu mati, kecuali dalam keadaan dia berbaik sangka kepada Allah l.” (HR. Muslim)

 

2. Berobat dengan cara-cara yang sunnah atau mubah dan tidak bertentangan dengan syariat.

Diriwayatkan dari Abud Darda` z secara marfu’:

إِنَّ اللهَ خَلَقَ الدَّاءَ وَالدَّوَاءَ فَتَدَاوَوْا وَلاَ تَدَاوَوْا بِحَرَامٍ

“Sesungguhnya Allah menciptakan penyakit dan obatnya. Maka berobatlah kalian, dan jangan berobat dengan sesuatu yang haram.” (HR. Ad-Daulabi. Asy-Syaikh Al-Albani menyatakan sanad hadits ini hasan. Lihat Ash-Shahihah no. 1633)

Juga diriwayatkan dari Abu Hurairah z bahwa Nabi n bersabda:

مَا أَنْزَلَ اللهُ مِنْ دَاءٍ إِلاَّ أَنْزَلَ لَهُ شِفَاءً، عَلِمَهُ مَنْ عَلِمَهُ وَجَهِلَهُ مَنْ جَهِلَهُ

“Tidaklah Allah menurunkan satu penyakit pun melainkan Allah turunkan pula obat baginya. Telah mengetahui orang-orang yang tahu, dan orang yang tidak tahu tidak akan mengetahuinya.” (HR. Al-Bukhari. Diriwayatkan juga oleh Al-Imam Muslim dari Jabir z)

Di antara bentuk pengobatan yang sunnah adalah:

a. Madu dan berbekam

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas c bahwa Nabi n bersabda:

الشِّفَاءُ فِي ثَلَاثَةٍ: شُرْبَةِ عَسَلٍ، وَشِرْطَةِ مُحَجِّمٍ، وَكَيَّةِ نَارٍ، وَأَنَا أَنْهَى عَنِ الْكَيِّ –وَفِي رِوَايَةٍ: وَلاَ أُحِبُّ أَنْ أَكْتَوِي

“Obat itu ada pada tiga hal: minum madu, goresan bekam, dan kay1 dengan api, namun aku melarang kay.” (HR. Al-Bukhari)

Dalam riwayat lain: “Aku tidak senang berobat dengan kay.”

b. Al-Habbatus sauda` (jintan hitam)

Dari Usamah bin Syarik z dia berkata, Rasulullah n bersabda:

الْحَبَّةُ السَّوْدَاءُ شِفَاءٌ مِنْ كُلِّ دَاءٍ إِلاَ السَّامَ

“Al-Habbatus Sauda` (jintan hitam) adalah obat untuk segala penyakit, kecuali kematian.” (HR. Ath-Thabarani. Dikatakan oleh Asy-Syaikh Al-Albani t bahwa sanadnya hasan, dan hadits ini punya banyak syawahid/pendukung)

c. Kurma ‘ajwah

Dari Aisyah x, dari Nabi n:

فِي عَجْوَةِ الْعَالِيَةِ أَوَّلُ الْبُكْرَةِ عَلىَ رِيْقِ النَّفَسِ شِفَاءٌ مِنْ كُلِّ سِحْرٍ أَوْ سُمٍّ

“Pada kurma ‘ajwah ‘Aliyah yang dimakan pada awal pagi (sebelum makan yang lain) adalah obat bagi semua sihir atau racun.” (HR. Ahmad. Asy-Syaikh Al-Albani t menyatakan hadits ini sanadnya jayyid (bagus). Lihat Ash-Shahihah no. 2000)

d. Ruqyah

Yaitu membacakan surat atau ayat-ayat Al-Qur’an atau doa-doa yang tidak mengandung kesyirikan, kepada orang yang sakit. Bisa dilakukan sendiri maupun oleh orang lain.

Allah l berfirman:

“Dan Kami turunkan dari Al-Qur`an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Al-Isra`: 82)

Asy-Syaikh As-Sa’di t dalam tafsirnya berkata: “Al-Qur`an itu mengandung syifa` (obat) dan rahmat. Namun kandungan tersebut tidak berlaku untuk setiap orang, hanya bagi orang yang beriman dengannya, yang membenarkan ayat-ayat-Nya, dan mengilmuinya. Adapun orang-orang yang zalim, yang tidak membenarkannya atau tidak beramal dengannya, maka Al-Qur`an tidak akan menambahkan kepada mereka kecuali kerugian. Dan dengan Al-Qur`an berarti telah tegak hujjah atas mereka.”

Obat (syifa`) yang terkandung dalam Al-Qur`an bersifat umum. Bagi hati/ jiwa, Al-Qur`an adalah obat dari penyakit syubhat, kejahilan, pemikiran yang rusak, penyimpangan, dan niat yang jelek. Sedangkan bagi jasmani, dia merupakan obat dari berbagai sakit dan penyakit.

Dari Abu Abdillah Utsman bin Abil ‘Ash z:

أَنَّهُ شَكَا إِلَى رَسُولِ اللهِ n وَجَعًا يَجِدُ فِي جَسَدِهِ، فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللهِ n: ضَعْ يَدَكَ عَلىَ الَّذِي يَأْلَمُ مِنْ جَسَدِكَ وَقُلْ: بِسْمِ اللهِ -ثَلَاثًا-؛ وَقُلْ سَبْعَ مَرَّاتٍ: أَعُوذُ بِعِزَّةِ اللهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ

Dia mengadukan kepada Rasulullah n tentang rasa sakit yang ada pada dirinya. Rasulullah n berkata kepadanya: “Letakkanlah tanganmu di atas tempat yang sakit dari tubuhmu, lalu bacalah: بِسْمِ اللهِ (tiga kali), kemudian bacalah tujuh kali:

أَعُوذُ بِعِزَّةِ اللهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ

‘Aku berlindung dengan keperkasaan Allah dan kekuasaan-Nya, dari kejelekan yang aku rasakan dan yang aku khawatirkan’.” (HR. Muslim)

Dari Aisyah x bahwasanya Nabi n menjenguk sebagian keluarganya (yang sakit) lalu beliau mengusap dengan tangan kanannya sambil membaca:

اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ أَذْهِبِ الْبَأْسَ، اشْفِ، أَنْتَ الشَّافِي لاَ شِفَاءَ إِلاَّ شِفَاءُكَ، شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا

“Ya Allah, Rabb seluruh manusia, hilangkanlah penyakit ini. Sembuhkanlah, Engkau adalah Dzat yang Maha Menyembuhkan. (Maka) tidak ada obat (yang menyembuhkan) kecuali obatmu, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit.” (Muttafaqun ‘alaih)

Atau berobat dengan cara-cara yang mubah, misalkan berobat ke dokter atau orang lain yang memiliki keahlian dalam pengobatan seperti ramuan, refleksi, akupunktur, dan sebagainya.

Adapun berobat kepada tukang sihir atau dukun, atau dengan cara-cara perdukunan semacam mantera yang mengandung unsur syirik, atau rajah-rajah yang tidak diketahui maknanya, maka haram hukumnya, dan bisa menyebabkan seseorang keluar (murtad) dari Islam. Dari Mu’awiyah ibnul Hakam z, dia berkata: Aku berkata:

يَا رَسُولَ اللهِ، إِنِّي حَدِيثُ عَهْدٍ بِالْجَاهِلِيَّةِ وَقَدْ جَاءَ اللهُ تَعَالَى بِالْإِسْلاَمِ وَمِنَّا رِجَالًا يَأْتُونَ الْكُهَّانَ. قَالَ: فَلاَ تَأْتِهِمْ

“Wahai Rasulullah, aku baru saja meninggalkan masa jahiliah. Dan sungguh Allah telah mendatangkan Islam. Di antara kami ada orang-orang yang mendatangi para dukun.” Rasulullah n bersabda: “Janganlah engkau mendatangi mereka (para dukun).” (HR. Muslim)

Dari Shafiyyah bintu Abi ‘Ubaid, dari sebagian istri Nabi n, Nabi n bersabda:

مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ فَصَدَّقَهُ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِينَ يَوْمًا

“Barangsiapa mendatangi peramal, kemudian dia bertanya kepadanya tentang sesuatu lalu dia membenarkannya, maka tidak akan diterima shalatnya selama 40 hari.” (HR. Muslim)

 

3. Bila sakitnya bertambah parah atau tidak kunjung sembuh, tidak diperbolehkan mengharapkan kematian.

Dari Anas z dia berkata: Rasulullah n bersabda:

لاَ يَتَمَنَّيَنَّ أَحَدُكُمْ الْمَوْتَ لِضُرٍّ أَصَابَهُ، فَإِنْ كَانَ لاَ بُدَّ فَاعِلًا فَلْيَقُلْ: اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مَا كَانَتِ الْحَيَاةُ خَيْرًا لِي وَتَوَفَّنِي إِذَا كَانَتِ الْوَفَاةُ خَيْراً لِي

“Janganlah salah seorang kalian mengharapkan kematian karena musibah yang menimpanya. Apabila memang harus melakukannya, maka hendaknya dia berdoa:

اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مَا كَانَتِ الْحَيَاةُ خَيْرًا لِي وَتَوَفَّنِي إِذَا كَانَتِ الْوَفَاةُ خَيْراً لِي

‘Ya Allah, hidupkanlah aku bila kehidupan itu adalah kebaikan bagiku dan wafatkanlah aku bila kematian itu adalah kebaikan bagiku’.” (Muttafaqun ‘alaih)

 

4. Apabila dirinya mempunyai kewajiban (seperti hutang, pinjaman, dll), atau amanah yang belum dia tunaikan, atau kezaliman terhadap hak orang lain yang dia lakukan, hendaknya dia bersegera menyelesaikannya dengan yang bersangkutan, bila memungkinkan.

Bila tidak memungkinkan, karena jauh tempatnya, atau belum ada kemampuan, atau sebab lainnya, hendaknya dia berwasiat (kepada ahli warisnya) dalam perkara tersebut. Allah l berfirman:

“Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya.” (Al-Mu`minun: 8)

Dari Abu Huraiah z, dari Nabi n, beliau bersabda:

مَنْ كَانَتْ عِنْدَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيْهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ مِنْ شَيْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ قَبْلَ أَنْ لاَ يَكُونَ دِيْنَارٌ وَدِرْهَمٌ، إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ

“Barangsiapa berbuat kezaliman terhadap saudaranya, baik pada harga dirinya atau sesuatu yang lain, hendaknya dia minta agar saudaranya itu menghalalkannya (memaafkannya) pada hari ini, sebelum (datangnya hari) yang tidak ada dinar maupun dirham. Apabila dia memiliki amal shalih, akan diambil darinya sesuai kadar kezalimannya (lalu diberikan kepada yang dizaliminya). Apabila dia tidak memiliki kebaikan-kebaikan, akan diambil dari kejelekan orang yang dizalimi lalu dipikulkan kepadanya.” (HR. Al-Bukhari)

Dari Jabir z, dia berkata:

لَمَّا حَضَرَ أُحُدٌ دَعَانِي أَبِي مِنَ اللَّيْلِ فَقَالَ: ماَ أُرَانِي إِلاَّ مَقْتُولاً فِي أَوَّلِ مَنْ يُقْتَلُ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ n وَإِنِّي لاَ أَتْرُكُ بَعْدِي أَعَزَّ عَلَيَّ مِنْكَ غَيْرَ نَفْسِ رَسُولِ اللهِ n وَإِنَّ عَلَيَّ دَيْنًا فَاقْضِ وَاسْتَوْصِ بِإِخْوَتِكَ خَيْرًا. فَأَصْبَحْنَا فَكَانَ أَوَّلَ قَتِيلٍ

“Sebelum terjadi perang Uhud, ayahku memanggilku pada malam harinya. Dia berkata: ‘Tidak aku kira kecuali aku akan terbunuh pada golongan yang pertama terbunuh di antara para sahabat Rasulullah n. Dan sesungguhnya aku tidak meninggalkan setelahku orang yang lebih mulia darimu, kecuali Rasulullah n. Sesungguhnya aku mempunyai hutang maka tunaikanlah. Nasihatilah saudara-saudaramu dengan baik.’ Tatkala masuk pagi hari, dia termasuk orang yang pertama terbunuh.” (HR. Al-Bukhari)

 

5. Disyariatkan segera menulis wasiat dengan saksi dua orang lelaki muslim yang adil. Bila tidak didapatkan karena safar, boleh dengan saksi dua orang ahli kitab yang adil.

Allah l berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, apabila salah seorang kamu menghadapi kematian, sedang dia akan berwasiat, maka hendaklah (wasiat itu) disaksikan oleh dua orang yang adil di antara kamu, atau dua orang yang berlainan agama dengan kamu, jika kamu dalam perjalanan di muka bumi lalu kamu ditimpa bahaya kematian.” (Al-Ma`idah: 106)

Dari Ibnu Umar c, dari Nabi n, beliau berkata:

مَا حَقَّ امْرُؤٌ مُسْلِمٌ يَبِيْتُ لَيْلَتَيْنِ وَلَهُ شَيْءٌ يُرِيدُ أَنْ يُوصِيَ فِيهِ إِلاَّ وَوَصَّيْتُهُ عِنْدَ رَأْسِهِ. وَقَالَ ابْنُ عُمَرَ c: مَا مَرَّتْ عَلَيَّ لَيْلَةٌ مُنْذُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ n قَالَ ذَلِكَ إِلاَّ وَعِنْدِي وَصِيَّتِي

“Tidak berhak seorang muslim melalui dua malam dalam keadaan dia memiliki sesuatu yang ingin dia wasiatkan kecuali wasiatnya berada di sisinya.”

Dan Ibnu Umar c berkata: “Tidaklah berlalu atasku satu malam pun semenjak aku mendengar Rasulullah n berkata demikian, kecuali di sisiku ada wasiatku.” (Muttafaqun ‘alaih)

Ibnu Abdil Bar t berkata (At-Tamhid, 14/292): “Para ulama bersepakat bahwa wasiat itu bukan wajib, kecuali bagi orang yang memiliki tanggungan-tanggungan yang tanpa bukti, atau dia memiliki amanah yang tanpa saksi. Apabila demikian, dia wajib berwasiat. Tidak boleh dia melalui dua malam pun kecuali sungguh telah mempersaksikan hal itu.

Diperbolehkan baginya mewasiatkan sebagian harta yang ditinggalkan, maksimal sepertiganya. Tidak boleh lebih dari itu. Bahkan Ibnu Abbas c berkata: “Aku senang bahwa orang mengurangi dari jumlah 1/3 menjadi ¼ dalam hal wasiat. Nabi n bersabda: ‘Sepertiga itu banyak’.” (HR. Ahmad, Al-Bukhari, Muslim dan Al-Baihaqi)

Wasiat tersebut tidak boleh untuk ahli waris yang berhak mendapatkan warisan, kecuali dengan kerelaan dari seluruh ahli waris lainnya. Rasulullah n bersabda:

إِنَّ اللهَ قَدْ أَعْطَى كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّهُ فَلاَ وَصِيَّةَ لِوَارِثٍ

“Sesungguhnya Allah telah memberi setiap yang memiliki hak akan haknya, maka tidak ada wasiat untuk ahli waris.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi, dihasankan oleh Al-Albani dalam Al-Irwa`)

Ibnu Mundzir t berkata (Al-Ijma’ hal. 100): “Para ulama sepakat bahwa tidak ada wasiat untuk ahli waris kecuali para ahli waris (yang lain) memperbolehkannya.”

Ibnu Katsir t berkata (Tafsir Al-Qur`anil ‘Azhim, 1/471): “Ketika wasiat itu adalah rekayasa dan jalan untuk memberi tambahan kepada sebagian ahli waris, serta mengurangi dari sebagian mereka, maka wasiat itu haram hukumnya, berdasarkan ijma’ dan dengan Al-Qur`an:

“(Wasiat itu) tidak memberi mudarat (kepada sebagian pihak). (Allah menetapkan yang demikian itu sebagai) syariat yang benar-benar dari Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun.” (Al-Ma`idah: 12)

Adapun wasiat yang bertentangan dengan Al-Qur`an dan As-Sunnah, maka wasiat tersebut batil dan tidak boleh dilaksanakan. Dari Aisyah x, dia berkata: Rasulullah n bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa yang mengada-adakan perkara baru pada urusan (agama) ku ini apa yang tidak berasal darinya, maka hal itu tertolak.” (Muttafaqun ‘alaih)

6. Berwasiat agar jenazahnya diurus dan dikuburkan sesuai As-Sunnah

Asy-Syaikh Al-Albani t berkata (Ahkamul Jana`iz, hal. 17-18): “Ketika adat kebiasaan yang dilakukan mayoritas kaum muslimin pada masa ini adalah bid’ah dalam urusan agama, lebih-lebih dalam masalah jenazah, maka termasuk perkara yang wajib adalah seorang muslim berwasiat (kepada ahli warisnya) agar jenazahnya diurus dan dikuburkan sesuai As-Sunnah, untuk mengamalkan firman Allah l:

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”2

Oleh karena itulah, para sahabat g mewasiatkan hal tersebut. Atsar-atsar dari mereka (dalam hal ini) banyak sekali. Di antaranya:

a. Dari Amir bin Sa’d bin Abi Waqqash, bahwa ayahnya (yakni Sa’d bin Abi Waqqash z) berkata ketika sakit yang mengantarkan kepada wafatnya:

أَلْحِدُوا لِي لَحْدًا وَانْصِبُوا عَلَيَّ نَصْبًا اللَّبِنَ كَمَا صُنِعَ بِرَسُولِ اللهِ n

“Buatlah liang lahat untukku, dan tegakkanlah atasku bata sebagaimana dilakukan demikian kepada Rasulullah n.”

b. Dari Abu Burdah dia berkata: Abu Musa z mewasiatkan ketika hendak meninggal: “Apabila kalian berangkat membawa jenazahku maka cepatlah dalam berjalan. Jangan mengikutkan (jenazahku) dengan bara api. Sungguh jangan kalian membuat sesuatu yang akan menghalangiku dengan tanah. Janganlah membuat bangunan di atas kuburku. Aku mempersaksikan kepada kalian dari al-haliqah (wanita yang mencukur gundul rambutnya karena tertimpa musibah), as-saliqah (wanita yang menjerit karena tertimpa musibah), dan al-khariqah (wanita yang merobek-robek pakaiannya karena tertimpa musibah).” Mereka bertanya: “Apakah engkau mendengar sesuatu dari Nabi n tentang hal itu?” Dia menjawab: “Ya, dari Rasulullah n.” (Diriwayatkan oleh Ahmad 4/397, Al-Baihaqi 3/395, dan Ibnu Majah, sanadnya hasan)

Al-Imam An-Nawawi t berkata dalam Al-Adzkar: “Disunnahkan baginya dengan kuat untuk mewasiatkan kepada mereka (ahli waris) untuk menjauhi adat kebiasaan yang berupa bid’ah dalam pengurusan jenazah. Dan dikuatkan perkara tersebut (dengan wasiat).”

Wallahu a’lam bish-shawab.


1 Besi dibakar, lalu ditempelkan pada urat yang sakit.

Menelan Pahitnya Ujian Dalam Beraqidah demi kehidupan Hakiki

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Abdillah Abdurrahman Mubarak)

 

Semua orang tidak pernah menduga dan mengharapkan adanya gangguan dan rintangan yang menghalangi jalan hidupnya kecil maupun besar, sedikit maupun banyak, dan ringan ataupun berat. Terlebih di saat dia ingin bertaqarrub kepada Allah l, mengemban tugas di mana dia diciptakan untuk itu, berharap tidak ada yang akan mengganggu, menyakiti, dan mencelanya. Hanya saja itu semua sekadar harapan dan keinginan. Sunnatullah telah mendahului harapan dan keinginannya bahkan telah mendahului penciptaan kita, sunnatullah yang tidak akan berubah dan berganti. Catatan hidup di lauhil mahfudz tidak akan mengalami pergantian dan perombakan, sebuah ketetapan yang pasti terjadi:

إِنَّ اللهَ قَدَّرَ مَقَادِيرَ الْخَلْقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ بِخَمْسِيْنَ أَلْفَ سَنَةٍ

“Sesungguhnya Allah telah menentukan seluruh takdir makhluk lima ribu tahun sebelum menciptakan langit dan bumi.” (HR. Muslim no. 2653 dari sahabat Abdullah bin ‘Amr bin Al-’Ash c)

Allah l berfirman:

“Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi? Bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah Kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah.” (Al-Hajj: 70)

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam Kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (Al-Hadid: 22)

Sunnatullah yang telah memastikan adanya ujian dan cobaan bagi orang yang melaksanakan syariat dan mengikuti kebenaran. Dengan ujianlah akan nampak orang yang benar-benar jujur dan orang yang berdusta.

“Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka. Maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (Al-‘Ankabut: 1-3)

Saudaraku, camkan kalimat-kalimat ini:

“Allah l telah memberitakan tentang kesempurnaan hikmah-Nya. Dan hikmah Allah l tidak menentukan bahwa setiap orang yang mengatakan dan mengaku dirinya beriman, akan selalu berada dalam satu kondisi, selamat dari ujian dan cobaan dan tidak datang menghampirinya segala perkara yang akan mengganggu iman dan segala cabangnya. Jika hal itu terjadi (artinya orang-orang yang mengaku beriman tidak diuji, pent.) tentu tidak bisa dipisahkan antara orang yang jujur dan orang yang berdusta, serta antara orang yang benar dan orang yang salah. Sungguh sunnatullah telah berjalan dalam kehidupan orang-orang terdahulu dari umat ini. Allah l menguji mereka dengan kesenangan, malapetaka, kesulitan, kemudahan, segala yang disenangi dan tidak disenangi, kaya dan fakir, kemenangan musuh dalam sebagian kondisi, memerangi mereka dengan ucapan dan perbuatan, serta berbagai ujian lainnya. Segala bentuk ujian ini kembali kepada: ujian syubuhat yang akan mengempas aqidah, dan syahwat yang akan menodai keinginan. Barangsiapa yang ketika datang fitnah syahwat, imannya tetap kokoh dan tidak goncang, maka kebenaran yang ada pada dirinya menghalau fitnah tersebut. Ketika datang fitnah syahwat dan segala seruan kepada perbuatan maksiat dan dosa, dorongan untuk berpaling dari perintah Allah l dan Rasul-Nya, dia berusaha mengaplikasikan konsekuensi iman dan bertarung melawan syahwatnya. Ini menunjukkan kejujuran dan kebenaran imannya.

Namun barangsiapa yang ketika fitnah syubhat datang memengaruhi hatinya dengan memunculkan keraguan dan kerancuan, dan ketika fitnah syahwat menghampirinya  lalu dia terseret pada perbuatan maksiat atau mendorongnya untuk meninggalkan kewajiban, ini menunjukkan tidak jujur dan tidak benarnya iman yang ada pada dirinya.” (As-Sa’di dalam Tafsir-nya hal. 576)

 

Surga dan Ujian

Allah l berfirman:

“Apakah kalian mengira bahwa kalian akan masuk surga, padahal belum datang kepada kalian (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kalian? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: ‘Bilakah datangnya pertolongan Allah?’ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.“ (Al-Baqarah: 214)

Tidak ada seorangpun yang pernah membayangkan jika ternyata surga beriringan dengan ujian dan rintangan besar, banyak lagi berat. Tempat kenikmatan yang hakiki dan abadi diliputi dengan perkara-perkara yang tidak menyenangkan. Rasulullah n dalam hal ini menegaskan:

حُجِبَتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ وَحُجِبَتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ

“Neraka diliputi oleh berbagai macam syahwat dan surga diliputi oleh berbagai macam perkara yang tidak disukai.” (HR. Al-Bukhari no. 6006 dan Muslim no. 2823 dari sahabat Abu Hurairah z)

 

Hijrah ke Habasyah, Simbol Kekejaman Musyrikin

Para sahabat Nabi g yang telah mendapatkan kemuliaan dari Allah l di dunia dan di akhirat –bahkan sebagiannya mendapatkan jaminan masuk surga– juga tidak luput dari berbagai ujian. Menggali perjalanan hidup mereka akan mendapatkan buah yang matang lagi harum dan lezat. Meski untuk bisa memetiknya harus melangkahi duri-duri nan tajam dan jurang yang curam lagi berbahaya. Selain itu, bila hati sedang hidup ketika menggali perjalanan hidup mereka, niscaya mata ini akan berlinangan air mata.

Hijrah pertama kali ke Habasyah merupakan salah satu usaha untuk meringankan beban yang mereka hadapi di saat mengikrarkan diri sebagai pemeluk agama baru yang dibawa oleh Rasulullah n. Puncak dari keberingasan dan kekejaman mereka rasakan, sehingga mereka menginginkan ketentraman dan ketenangan dalam menjalankan ajaran agama baru tersebut. Mereka mencari tempat yang akan mengantarkan mereka kepada ketenangan dalam beragama. Lalu terisyaratlah negeri asing: Habasyah.

Mulai tahun keempat dari kenabian, kekejaman kaum kafir kian hari bertambah dan memuncak. Sampai kemudian pada tahun kelima dari kenabian beliau, bertepatan dengan bulan Rajab, dengan penuh rahasia di waktu malam, mereka keluar menuju laut dan menyewa dua perahu. Mereka lalu berlayar menuju negeri yang telah diisyaratkan. Mereka yang berhijrah berjumlah 12 orang pria dan empat wanita. Rombongan dipimpin oleh ‘Utsman bin ‘Affan z. Mereka mendapatkan ketentraman dan ketenangan hidup di negeri hijrah. Namun akankah ujian itu berakhir?

Berita Makkah menghebohkan para muhajirin ini di saat Rasulullah n mengumandangkan kalam ilahi (surat An-Najm) di Baitullah Al-Haram. Mereka mengira bahwa kafir Quraisy telah memeluk agama yang dibawa Rasulullah n. Ternyata sekembalinya ke negeri kelahiran, dugaan itu meleset. Orang-orang kafir menjadikan kembalinya mereka ini sebagai momen emas untuk melampiaskan keberingasan dan kekejamannya. Sehingga Rasulullah n mengisyaratkan kepada para sahabatnya untuk melakukan hijrah ke Habasyah untuk kedua kalinya. Hijrah yang kedua ini menghadapi kesulitan dan risiko yang hebat. Karena kaum kafir Quraisy berjaga dan bersiap-siap menghadang perjalanan mereka. Namun semuanya ada di tangan Yang Maha Kuasa. Tiada sedikitpun mereka bisa berbuat seperti yang mereka rencanakan. Allah l menghendaki yang lain. Hijrah kedua kalinya ini terdiri dari 83 orang pria dan 18 atau 19 orang wanita. Tidak berhenti sampai di sini ujian menimpa mereka. Di negeri hijrah, kafir Quraisy telah merancang berbagai macam makar agar Najasyi menyerahkan kaum muslimin kepada mereka. Beberapa bentuk hadiah mereka kirim beserta dua ahli hujjah (ahli debat) Quraisy, ‘Amr bin Al-’Ash dan Abdullah bin Abu Rabi’ah sebelum keduanya masuk Islam. Namun sungguh tipu daya mereka tidak bisa mengalahkan bantuan Allah l terhadap kaum mukminin ketika itu. (Lihat Fathul Bari 7/215 dan Ar-Rahiqul Makhtum hal. 67-70)

Di atas ujian ini, Allah l memuji mereka dari atas tujuh lapis langit. Pujian semerbak yang tidak akan bisa ditukar oleh apapun juga. Mereka membeli surga dengan kesabaran dan ketabahan mereka dalam menghadapi segala risiko beriman kepada Allah l dan Rasul-Nya n. Menukar surga dengan pengorbanan yang besar, lahir dan batin.

“Dan Kami cabut segala macam dendam yang berada di dalam dada mereka; mengalir di bawah mereka sungai-sungai dan mereka berkata: ‘Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk. Sesungguhnya telah datang rasul-rasul Rabb kami, membawa kebenaran.’ Dan diserukan kepada mereka: ‘Itulah surga yang diwariskan kepadamu, disebabkan apa yang dahulu kamu kerjakan’.” (Al-A’raf: 43)

“Dan itulah surga yang diwariskan kepada kamu disebabkan amal-amal yang dahulu kamu kerjakan.” (Az-Zukhruf: 72)

“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.” (Al-Baqarah: 207)

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur`an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (At-Taubah: 111)

Demikianlah. Surga didapatkan dengan berbagai macam ujian dan cobaan, rintangan, dan gangguan. Asy-Syaikh As-Sa’di t mengatakan: “Allah l memberitakan bahwa Dia pasti akan menguji hamba-hamba-Nya dengan kesenangan, malapetaka, dan kesulitan sebagaimana telah Dia lakukan atas orang-orang sebelum mereka. Ujian ini merupakan sunnatullah yang terus berlangsung, tidak akan berubah dan berganti. Barangsiapa yang melaksanakan ajaran agama dan syariat-Nya, pasti Dia akan mengujinya. Jika dia bersabar atas perintah Allah l dan tidak peduli dengan segala rintangan yang terjadi di jalan-Nya, maka dialah orang jujur yang telah memperoleh kebahagiaan yang sempurna. Dan itulah jalan menuju sebuah kepemimpinan. Namun barangsiapa menjadikan ujian dari manusia bagaikan siksa Allah l, seperti dia terhalangi untuk melaksanakan ketaatan karena gangguan tersebut, menghalanginya dari meraih tujuannya, maka dia berdusta dalam pengakuan keimanan. Karena iman bukan sekadar hiasan, angan-angan, dan pengakuan. Amallah yang akan membenarkan atau mendustakannya.”

Semua ini menuntut agar kita memiliki kesiapan untuk menerima berbagai macam ujian dengan bermacam-macam bentuk dan kadarnya. Terkadang sebuah perkara sangat tidak disukai oleh diri kita, ternyata mengandung kebaikan yang banyak. Seperti apa yang telah disebutkan oleh Allah l di dalam firman-Nya:

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah: 216) [Lihat Bahjatun Nazhirin 1/184]

Orang yang beriman tidak lagi memiliki pilihan melainkan bersabar terhadap malapetaka yang menimpanya dan bersyukur jika ujian tersebut berbentuk kesenangan dan kegembiraan. Rasulullah n bersabda:

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَلِكَ لِأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sangat mengherankan urusan orang-orang yang beriman di mana semua urusannya adalah baik dan hal itu tidak didapati melainkan oleh orang yang beriman. (Yaitu) apabila dia mendapatkan kesenangan, dia bersyukur; maka itu adalah kebaikan bagiannya. Dan apabila ditimpa malapetaka, dia bersabar; maka itu adalah sebuah kebaikan bagiya.” (HR. Muslim no. 2999 dari sahabat Abu Yahya Suhaib bin Sinan z)

 

Aqidah, Pondasi Kesabaran, dan Kesabaran Pondasi Keberhasilan

Rasulullah n berdakwah di kota Makkah selama 13 tahun, memperbaiki kerusakan aqidah dan moral. Dengan keuletan dan keberanian beliau menghadapi segala tantangan dan risiko, serta pengorbanan yang tidak terhitung, akhirnya beberapa orang dengan hidayah dari Allah l masuk ke dalam agama yang dibawanya. Di antaranya istri beliau Ummul Mukminin Khadijah bintu Khuwailid x, maula beliau Zaid bin Haritsah bin Syarahil Al-Kalbi z, anak paman beliau ‘Ali bin Abi Thalib z, dan teman dekat beliau, Abu Bakr z. Mereka masuk Islam di awal permulaan dakwah. Setelah itu Abu Bakr ikut andil memegang amanat yang besar ini. Melalui tangannya, masuk Islamlah ‘Utsman bin ‘Affan Al-Umawi z, Az-Zubair bin Al-’Awwam z, Abdurrahman bin Auf z, Sa’d bin Abi Waqqash z, dan Thalhah bin Ubaidillah At-Taimi z.

Demikianlah perjalanan dakwah kepada aqidah yang benar. Tidak semudah apa yang dibayangkan. Tugas yang menuntut pengorbanan besar dan tidak sedikit. Usaha dakwah kepada aqidah yang dilakukan oleh Rasulullah n menyebabkan mereka bersabar menghadapi berbagai macam ujian di atas Islam. Dengan kesabaran dan keuletan serta keikhlasan, orang yang mendapatkan hidayah hari demi hari kian bertambah, baik dari kalangan budak atau orang merdeka. Seperti Bilal bin Rabah Al-Habsyi z, Amin (kepercayaan) umat ini Abu ‘Ubaidah ‘Amir bin Al-Jarrah z, Abu Salamah bin Abdul Asad z, Arqam bin Abi Arqam z, ‘Utsman bin Mazh’un z dan dua saudara beliau, Qudamah z dan Abdullah z, ‘Ubaidah bin Al-Harits z, Sa’id bin Zaid Al-’Adawi z dan istrinya Fathimah x saudari ‘Umar bin Al-Khaththab, Khubbab bin Art z, Abdullah bin Mas’ud Al-Hudzali z, dan selain mereka. Mereka masuk agama tauhid dengan penuh rahasia. Hal itu terjadi karena keberingasan dan kekejaman kafir Quraisy terhadap siapa saja yang menganut agama baru yang dibawa oleh Rasulullah n.

Pondasi aqidah yang mereka pijak melahirkan keikhlasan, kesabaran, keberanian, kesungguhan dalam mengemban amanat Ilahi. Dengan semuanya itu, Allah l mencatat kemuliaan bagi mereka di dunia dan di akhirat. Mereka mendapatkannya dengan ujian yang susul-menyusul. (lihat dengan ringkas dengan beberapa tambahan Ar-Rahiqul Makhtum hal. 53)

 

Bersabarlah, Engkau Akan Mulia

Mereka telah berlalu dengan ujian mulai dari awal mengikrarkan ketauhidan sampai ajal menjemput. Itulah sunnatullah yang pasti terjadi dan ketetapan yang tidak akan berubah. Bila engkau bersabar, maka kemuliaan, keberhasilan, dan kemenangan di pengujung kehidupan menanti.

“Katakanlah: ‘Hai hamba-hamba-Ku yang beriman bertakwalah kepada Rabbmu.’ Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (Az-Zumar: 10)

إِنَّكُمْ سَتَلَقَّوْنَ بَعْدِي أَثَرَةً فَاصْبِرُوا حَتَّى تَلَقَّوْنِي عَلىَ الْحَوْضِ

“Sesungguhnya kalian akan menjumpai sikap mengutamakan kepentingan pribadi, maka bersabarlah kalian sampai kalian berjumpa denganku di Al-Haudh (telaga).”  (HR. Al-Bukhari no. 3508 dan Muslim no. 1845 dari sahabat Abu Yahya Usaid bin Hudhair z)

‘Alqamah berkata (ketika menjelaskan firman Allah l: “Dan barangsiapa beriman kepada Allah niscaya Dia akan menunjukinya.” (Ath-Thaghabun: 11): “Dia adalah seseorang yang ditimpa musibah dan mengetahui kalau itu datangnya dari Allah l, lalu dia ridha dan menerima.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, Ibnu Abi Hatim, dan telah diriwayatkan sepertinya dari Ibnu Mas’ud z)

‘Umar bin Al-Khaththab z berkata: “Kami menjumpai kebagusan hidup dengan kesabaran.” (Diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari t secara mu‘allaq dan Al-Imam Ahmad t dengan sanadnya dalam kitab Az-Zuhd hal. 117 dengan sanad yang shahih sebagaimana dinyatakan Al-Hafizh Ibnu Hajar t dalam Fathul Bari, 11/303). Wallahu a’lam.

Meraih Ridha Allah dan CintaNya dalam Hidup Bertetangga

(ditulis oleh: Al-Ustadz Muhammad Rijal, Lc.)

 

Rasulullah n bersabda:

خَيْرُ الْأَصْحَابِ عِنْدَ اللهِ خَيْرُهُمْ لصَاحِبِهِ وَخَيْرُ الْجِيْرَانِ عِنْدَ اللهِ خَيْرُهُمْ لِجَارِهِ

“Sebaik-baik sahabat di sisi Allah l adalah mereka yang terbaik kepada sahabatnya dan sebaik-baik tetangga di sisi Allah l adalah mereka yang terbaik pada tetangganya.”

Takhrij Hadits

Hadits yang mulia ini diriwayatkan oleh Al-Imam At-Tirmidzi dalam As-Sunan, Kitab Al-Birr Wash-shilah Bab Ma Ja`a Fi Haqqil Jiwar (1/353) no. 1944, Ad-Darimi dalam As-Sunan (2/215) no. 2441, Ibnu Hibban dalam Ash-Shahih no. 518 dan 519, Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (2/101) dan (4/164), Ahmad bin Hanbal dalam Al-Musnad (2/167-168), Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad Bab Khairul Jiran no. 115, Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman no. 9541, dan Ibnu Bisyran dalam Al-’Amali (1/143).

Hadits di atas berasal dari jalan Haiwah bin Syuraih dan Ibnu Lahi’ah, keduanya dari Syurahbil bin Syarik, dari Abu Abdirrahman Al-Hubuli, dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-’Ash1 z, dari Nabi n. Melalui dua perawi ini2 semua meriwayatkan hadits Ibnu ‘Amr z, kecuali At-Tirmidzi, Al-Bukhari, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim. Mereka hanya menyebutkan Haiwah bin Syuraih tanpa menyertakan Ibnu Lahi’ah.

Hadits ini shahih, wallahu a’lam. Adapun kelemahan pada Ibnu Lahi’ah, tidak membahayakan karena dia meriwayatkan bersama Haiwah bin Syuraih At-Tamimi Al-Mishri.3 Dishahihkan oleh Ibnu Hibban, Al-Hakim, dan disepakati oleh Adz-Dzahabi. Demikian pula Ibnu Bisyran menshahihkannya, dan dihasankan oleh At-Tirmidzi rahimahumullah.

Al-Hakim An-Naisaburi berkata: “Shahih ‘ala syarthi Asy-Syaikhain (Hadits ini shahih sesuai syarat dua Syaikh, yakni Al-Bukhari dan Muslim).”4

At-Tirmidzi berkata: “Haditsun hasanun gharib (Hadits ini hasan gharib).”

Ibnu Bisyran5 berkata: “Haditsun shahihun wa isnaduhu kulluhum tsiqat (Hadits ini shahih dan sanadnya semuanya rawi-rawi tepercaya).”

Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani t menshahihkannya dalam Ash-Shahihah (1/211) no. 103.

 

Islam Mengatur Adab Bertetangga

Sebagai makhluk sosial, mustahil bagi kita hidup menyendiri tanpa tetangga atau orang lain. Oleh karenanya, Allah l memerintahkan kita saling membantu di atas kebaikan dan takwa. Allah l berfirman:

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (Al-Ma`idah: 2)

Hadits Abdullah bin ‘Amr z yang ada di hadapan kita, adalah sekian dari sabda Rasulullah n yang mengajarkan seorang muslim dalam berakhlak dan bermuamalah dengan tetangganya.6

Tetangga adalah orang terdekat dalam kehidupan. Tidaklah seseorang keluar dari rumah melainkan dia lewati tetangganya. Di saat dirinya membutuhkan bantuan, tetanggalah orang pertama yang dia ketuk pintunya. Bahkan di saat dia meninggal bukan kerabat jauh yang diharapkan mengurus dirinya, tetapi tetanggalah yang dengan tulus bersegera menyelenggarakan pengurusan jenazahnya.

Begitu penting dan mulianya tetangga, Islam datang mengajarkan adab-adab bertetangga. Allah l berfirman:

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.” (An-Nisa`: 36)

Cukuplah ayat ini sebagai hujah atas manusia untuk mereka selalu berbuat baik dan berakhlak mulia kepada tetangga.

Pembaca rahimakumulah, sejenak kita simak beberapa faedah dari hadits Abdullah bin ‘Amr z. Rasulullah n mendorong umatnya untuk berbuat baik kepada tetangga dengan segala bentuk kebaikan.

Sabda ini juga memberikan faedah bahwa manusia bertingkat-tingkat dalam berbuat baik kepada tetangga. Semakin baik seseorang kepada tetangga, semakin mulia dan tinggi pula derajatnya di sisi Allah l.

Dalam hadits ini ada isyarat yang sangat lembut untuk berlomba dalam berbuat baik kepada tetangga agar menjadi yang terbaik di sisi Allah l. Demikianlah dunia, di atas kefanaannya, Allah l jadikan dia sebagai ladang beramal dan berlomba meraih kedekatan di sisi Allah l.

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan. (Al-Ma`idah: 35)

Bagaimana Berbuat dan Berakhlak Baik pada Tetangga?

Pertanyaan yang penting ini tidaklah terjawab kecuali dengan menapaki perjalanan hidup Rasulullah n, sebagai teladan terbaik dalam segala sisi kehidupan. Allah l berfirman:

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Al-Ahzab: 21)

Ayat ini adalah kaidah dalam kita mengarungi samudera kehidupan termasuk di dalamnya hidup bertetangga.

Pembaca rahimakumullah, seorang dikatakan berbuat baik dan memiliki adab mulia kepada tetangga jika dia wujudkan dua pokok penting, yang keduanya ditunjukkan dan dicontohkan Rasulullah n.

Pertama: Menahan diri dari segala bentuk kezaliman dan perkara yang mendatangkan mudarat kepada tetangga.

Kedua: Berbuat baik dan menempuh segala sebab syar’i yang mendatangkan kebaikan bagi tetangga.

Asy-Syaikh Abdul Muhsin Al-’Abbad hafizhahullah berkata: “Hak tetangga adalah hak-hak yang sangat ditekankan atas tetangganya. Hadits-hadits telah datang begitu banyak, memberi dorongan untuk memuliakan tetangga sekaligus mengancam dari menyakiti tetangga atau menimpakan kemudaratan kepadanya… Memuliakan tetangga terwujud dengan menyampaikan kebaikan kepada mereka dan selamatnya mereka dari kejelekannya.” (diringkas dari risalah Fathu Al-Qawiyyil Matin Fi Syarhil Arba’in Wa Tatimmatil Khamsin, hal. 62-63)

 

Meninggalkan Segala Bentuk Kezaliman dan Perkara yang Memudaratkan Tetangga

Pembaca, semoga Allah l merahmati kita, pokok pertama ini ditunjukkan sabda Rasulullah n:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمَ الْآخِرْ فَلَا يُؤْذِ جَارَهُ

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka janganlah dia sakiti tetangganya.”7

Jeleknya hubungan bertetangga sering kita saksikan, terlebih di akhir zaman di tengah rusaknya agama dan tatanan kehidupan.

Rasulullah n mengabarkan bahwa hal tersebut adalah satu dari sekian banyak tanda dekatnya hari kiamat. Rasulullah n bersabda:

لاَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتَّى يَظْهَرَ الفُحْشُ وَالتَّفَاحُشُ وَقَطِيْعَةُ الرَّحِمِ وَسُوْءُ الْمُجَاوَرَةِ

“Tidak akan tegak hari kiamat hingga tampak perzinaan, perbuatan-perbuatan keji, pemutusan silaturrahmi, dan jeleknya hubungan bertetangga.”8

Apa yang Rasulullah n kabarkan benar-benar menjadi kenyataan. Perzinaan mewabah bahkan dilegalkan. Manusia berlomba saling menjatuhkan dan memutus tali kekerabatan. Rusaknya hubungan bertetangga dan jeleknya muamalah di antara mereka pun terwujud dan tampak nyata.

Seseorang tidak lagi mengenal tetangga yang hanya berbatas tembok. Jangankan untuk memerhatikan kebutuhan dan keadaannya, mengucap salam dan bertegur sapa pun menjadi hal yang sulit dijumpai.

Kezaliman pada tetangga dengan berbagai ragamnya sangat banyak terjadi. Bahkan membunuh tetangga sering kita dengar di sejumlah berita. Allahu akbar! Benarlah sabda Rasulullah n empat belas abad silam:

لَا تَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتَّى يَقْتُلَ الرَّجُلُ جَارَهُ وَأَخَاهُ وَأَبَاهُ

“Hari kiamat tidak akan dibangkitkan hingga seseorang membunuh tetangga, saudara, dan bapaknya.”9

 

Zalim Kepada Tetangga Lebih Berat di Sisi Allah l

Allah l telah mengharamkan atas hamba-Nya segala bentuk kezaliman. Tetapi kezaliman kepada tetangga jauh lebih berat di sisi Allah l daripada kezaliman kepada selain mereka. Miqdad bin Al-Aswad z salah seorang sahabat Rasulullah n menuturkan:

سَأَلَ رَسُولُ اللهِ n أَصْحَابَهُ عَنِ الزِّنَى، قَالُوا: حَرَامٌ حَرَّمَهُ اللهُ وَرَسُولُهُ. فَقَالَ: لَأَنْ يَزْنِيَ الرَّجُلُ بِعَشْرِ نِسْوَةٍ أَيْسَرُ عَلَيْهِ مِنْ أَنْ يَزْنِيَ بِامْرَأَةِ جَارِهِ. وَسَأَلَهُمْ عَنِ السَّرِقَةِ، قَالُوا: حَرَامٌ حَرَّمَهَا اللهُ عَزَّ وَجَلَّ وَرَسُولُهُ. فَقَالَ: لَأَنْ يَسْرِقَ مِنْ عَشْرَةِ أَهْلِ أَبْيَاتٍ أَيْسَرُ عَلَيْهِ مِنْ أَنْ يَسْرِقَ مِنْ بَيْتِ جَارِهِ

Rasulullah n bertanya kepada para sahabat tentang zina? Mereka mengatakan: “Zina itu haram, telah diharamkan Allah l dan Rasul-Nya n.” Kemudian beliau bersabda: “Sungguh seseorang berzina dengan sepuluh wanita lebih ringan baginya daripada berzina dengan istri tetangganya.” Kemudian Rasulullah n bertanya: “Apa pendapat kalian tentang mencuri?” Mereka menjawab: “Allah dan Rasul-Nya telah mengharamkannya, mencuri adalah haram.” Maka Rasulullah n bersabda: “Sungguh seseorang mencuri dari sepuluh rumah lebih ringan atasnya daripada mencuri dari rumah tetangganya.”10

Di kesempatan lain, Rasulullah n mengabarkan bahwa menyakiti tetangga adalah sebab terjerumusnya seseorang dalam neraka meskipun dia adalah ahli ibadah. Abu Hurairah z berkata:

قِيْلَ لِلنَّبِيِّ n: يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّ فُلاَنَةَ تَقُومُ اللَّيْلَ وَتَصُومُ النَّهَارَ وَتَفْعَلُ وَتَصَدَّقُ وَتُؤْذِي جِيْرَانَهَا بِلِسَانِهَا. فَقَالَ رَسُولُ اللهِ n: لاَ خَيْرَ فِيْهَا، هِيَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ

Dikatakan kepada Nabi n: “Wahai Rasulullah sesungguhnya fulanah senantiasa melakukan shalat malam, berpuasa di siang hari, banyak beribadah dan bersedekah, tetapi dia selalu menyakiti tetangganya dengan lisannya.” Maka Rasulullah n bersabda: “Tidak ada kebaikan pada dirinya, dia termasuk penghuni neraka.”11

Bahkan dalam sabda yang lain Rasulullah n meniadakan keimanan dari orang yang berbuat zalim kepada tetangganya. Abu Syuraih z meriwayatkan bahwa Rasulullah n bersabda:

وَاللهِ لاَ يُؤْمِنُ، وَاللهِ لاَ يُؤْمِنُ، وَاللهِ لاَ يُؤْمِنُ. قِيْلَ: وَمَنْ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: الَّذِي لاَ يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ

“Demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman!” Rasul ditanya: “Siapa wahai Rasulullah?” Beliau bersabda: “Seseorang yang tetangganya tidak merasa aman dari keburukannya.”12

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin t berkata: “Dalam hadits ini terdapat dalil akan haramnya berbuat zalim kepada tetangga, baik dalam bentuk perkataan atau perbuatan. Di antara kezaliman dalam bentuk perkataan adalah memperdengarkan kepada tetangga suara yang mengganggu, seperti radio, televisi, atau suara sejenis yang mengganggu. Sesungguhnya hal ini tidaklah halal, meskipun yang diperdengarkan adalah bacaan Al-Qur`an, (selama itu) mengganggu tetangga berarti dia telah berbuat zalim. Maka tidak halal baginya untuk melakukannya.13

Adapun (kezaliman dalam bentuk) perbuatan, seperti membuang sampah di sekitar pintu tetangga, mempersempit pintu masuknya, atau perkara semisalnya yang merugikan tetangga. Termasuk dalam hal ini adalah jika seseorang memiliki pohon kurma atau pohon lain di sekitar tembok tetangga, ketika dia menyirami, (airnya berlebih hingga) melampaui tetangganya. Ini pun sesungguhnya termasuk kezaliman yang tidak halal baginya.” (Syarh Riyadhis Shalihin, 2/178)

Meninggalkan kezaliman atas tetangga adalah pokok yang sangat penting dalam bermuamalah dengan tetangga. Semoga Allah l selamatkan kita dari segala bentuk kezaliman yang pada hakikatnya adalah kegelapan di hari kiamat. Rasululah n bersabda:

الظُّلْمُ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Kezaliman adalah kegelapan pada hari kiamat.”14

 

Berbuat Baik Kepada Tetangga dan Menempuh Segala Sebab yang Mendatangkan Kebaikan Kepadanya

Dalil bagi pokok kedua adalah sabda Rasulullah n:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَومِ الْآخِرِ فَلْيُحْسِنْ إِلَى جَارِهِ

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka berbuat baiklah kepada tetangganya.”15

Allah l memerintahkan kita berbuat baik dan mencintai orang-orang yang berbuat baik. Allah l berfirman:

“Dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (Al-Baqarah: 195)

Berbuat baik tidak terbatas pada manusia, bahkan kepada hewan, syariat Islam pun memerintahkannya.16

Di samping perintah yang bersifat umum, secara khusus Islam memerintahkan kita untuk berbuat baik kepada tetangga. Bahkan Rasulullah n menegaskan bahwa ihsan kepada mereka termasuk dari iman dan syarat kesempurnaan iman. Rasulullah n bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka muliakanlah tetangganya.”

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin t berkata: “Hadits ini menunjukkan wajibnya memuliakan tetangga, berdasar sabda Rasulullah n (yang artinya): ‘Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka muliakanlah tetangganya’.”

Memuliakan dalam hadits ini bersifat mutlak (mencakup segala bentuk pemuliaan). Maka (perlu) dikembalikan kepada ‘urf (adat kebiasaan yang berlaku di masyarakat). Terkadang pemuliaan terwujud dengan cara mengunjungi tetangga, mengucapkan salam dan bertamu kepada mereka, bisa jadi dengan cara memberinya hadiah-hadiah. Masalah ini dikembalikan kepada ‘urf. (Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyah hal. 201-203)

Keterangan Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin t sangat berharga dalam hidup bertetangga dan bermasyarakat. Adat masyarakat yang baik dan tidak bertentangan dengan syariat seharusnya diperhatikan dalam mewujudkan keharmonisan hidup bertetangga, terlebih jika adat tersebut memberi nilai positif bagi dakwah tauhid.

Sebagai misal, dalam adat masyarakat Jawa, dikenal adanya bahasa halus yang digunakan sebagai bentuk penghormatan yaitu “krama inggil”. Biasanya bahasa ini digunakan untuk mengajak bicara orang yang lebih tua atau dihormati. Maka termasuk ikram (memuliakan) kepada tetangga –allahu a’lam– adalah mengajak bicara mereka dengan bahasa “krama”, sebagai bentuk penghormatan, apalagi tetangga yang sudah berumur.

Demikian pula adat-adat lain, selama adat tersebut tidak menyelisihi syariat dan termasuk perbuatan baik maka adat tersebut masuk dalam bentuk pemuliaan yang disebut secara mutlak dalam sabda Rasulullah n. Wallahu a’lam.

Pembaca rahimakumullah, di pengujung pembahasan pokok kedua ini, perlu kiranya kita menengok beberapa bentuk pemuliaan yang disabdakan Rasulullah n dalam hadits-haditsnya yang mulia. Di antara bentuk pemuliaan adalah:

a. Membantu kebutuhan pokok tetangga yang membutuhkan jika dia memiliki kelebihan.

Membantu kebutuhan pokok tetangga seperti makan jika mereka kelaparan atau pakaian jika mereka telanjang hukumnya wajib, apabila dia memiliki kelebihan. Ini berdasarkan sabda Rasulullah n:

لَيْسَ الْمُؤْمِنُ الَّذِيْ يَشْبَعُ وَجَارُهُ جَائِعٌ إِلَى جَنْبِهِ

“Tidaklah beriman seorang yang kenyang sementara tetangganya lapar di sisinya.”17

Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani t berkata: “Dalam hadits ini ada dalil yang jelas tentang haramnya orang kaya membiarkan tetangga-tetangganya dalam keadaan lapar. Oleh karena itu wajib atasnya menyuguhkan kepada mereka sesuatu yang bisa menghilangkan lapar. Demikian pula memberi pakaian jika mereka telanjang dan yang semisalnya dari kebutuhan-kebutuhan yang dharuri (bersifat pokok).

Dalam hadits ini terdapat peringatan bahwasanya ada kewajiban lain pada harta selain zakat. Maka janganlah orang-orang kaya menyangka telah bebas dari kewajiban hanya dengan mengeluarkan zakat setiap tahunnya. Bahkan ada kewajiban-kewajiban lain atas mereka dalam situasi dan kondisi tertentu yang wajib mereka tunaikan. Jika tidak, mereka akan masuk dalam ancaman Allah l:

“Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih. Pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka Jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: ‘Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu’.” (At-Taubah: 34-35) [Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, 1/280-281]

b. Mempersilakan tetangga memasang kayu pada temboknya selama tidak merugikan.

Rasulullah n bersabda:

لَا يَمْنَعَنَّ أَحَدُكُمْ جَارَهُ أَنْ يَغْرِزَ خَشَبةً فِيْ جِدَارِهِ

“Jangan sekali-kali salah seorang di antara kalian menghalangi tetangganya untuk memasang kayu di temboknya.”18

Makna hadits ini sebagaimana diterangkan Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin t: “Jika tetanggamu hendak mengatapi rumahnya dan (dia perlu) meletakkan kayu pada tembokmu, maka tidak boleh bagimu melarangnya. Karena (keberadaan) kayu tersebut tidak membahayakan, bahkan akan memperkuat (tembok) dan mencegah aliran air dengannya.

Terlebih (konstruksi) bangunan tempo dulu di mana rumah-rumah dibangun dengan tanah yang dipadatkan, maka keberadaan kayu justru akan mencegah mengalirnya air hujan pada tembok ….”19

Permasalahan memasang kayu serupa dengan keputusan Amirul Mukminin ‘Umar bin Al-Khaththab z ketika terjadi sengketa antara Muhammad bin Maslamah z dan tetangganya.

Ketika itu (Muhammad bin Maslamah z) bermaksud mengalirkan air menuju kebunnya akan tetapi terhalangi kebun tetangganya (sehingga air tidak mungkin dialirkan kecuali harus melewati kebun tersebut). Tetangga Muhammad bin Maslamah z (bersikeras) menghalanginya untuk membuat aliran di atas tanah kebun miliknya. Maka keduanya mengangkat permasalahan kepada Umar bin Al-Khaththab z. ‘Umar berkata: “Demi Allah jika engkau menghalangi, aku akan mengalirkan air melalui perutmu, dan aku perintahkan dia untuk mengalirkan air.”

(Keputusan ini) karena mengalirkan air melalui tanah kebun tidaklah merugikan, bahkan kebun yang dilaluinya akan mendapat manfaat dengan aliran tadi. Terkecuali jika memang si pemilik kebun hendak membangun bangunan di atas tanahnya dan tidak memungkinkan untuk mengalirkan air di atasnya, maka tidak mengapa baginya untuk melarang. (Syarh Riyadhish Shalihin, 2/179-180)

c. Memberi hadiah kepada tetangga, seperti memperbanyak kuah ketika memasak.

Memberi hadiah atau bingkisan kepada tetangga termasuk kebaikan yang diwasiatkan Rasulullah n. Saling memberi hadiah adalah salah satu sebab di antara sebab-sebab terwujudnya cinta dan kasih sayang. Sampai-sampai beliau n berwasiat kepada Abu Dzar Al-Ghifari z:

يَا أَبَا ذَرٍّ، إِذَا طَبَخْتَ مَرَقَةً فَأَكْثِرْ مَاءَ الْمَرَقَةِ وَتَعَاهَدْ جِيرَانَكَ أَوِ اقْسِمْ فِي جِيرَانِكَ

“Wahai Abu Dzar, jika engkau memasak gulai, perbanyaklah kuahnya, perhatikan tetanggamu, dan bagilah untuk tetanggamu.”20

Demikian beberapa teladan Rasulullah n dalam berbuat baik kepada tetangga. Tiga contoh di atas bukanlah pembatasan mengingat banyaknya bentuk ihsan (berbuat baik). Maka seharusnya seorang muslim berusaha mewujudkan hal ini dengan berbagai bentuk kebaikan, baik ucapan atau perbuatan, seperti memenuhi undangan, memberikan nasihat, berdakwah, berziarah (berkunjung), menjenguk di kala sakit atau menutup aib-aib, juga segala bentuk kebaikan menurut adat yang berlaku selama tidak bertentangan dengan syariat Allah l.

Pembaca rahimakumulah, ketahuilah bahwa berbuat baik kepada tetangga termasuk pokok dakwah yang diserukan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Asy-Syaikh Abdurrahman Nashir As-Sa’di t berkata: “Dan di antara pokok-pokok Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah …. mereka memerintahkan yang ma’ruf dan melarang kemungkaran, sesuai yang dituntunkan syariat. Mereka memerintahkan berbakti kepada orangtua, menyambung kekerabatan, dan berbuat baik kepada tetangga.” (Muqaddimah Al-Qaulus Sadid Syarh Kitabit Tauhid hal.35)

Begitu besar hak tetangga hingga Jibril q senantiasa mewasiatkan kepada Rasulullah n tentang tetangga. Beliau bersabda:

مَا زَالَ جِبْرِيْلُ يُوْصِيْنِي بِالْجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ

“Senantiasa Jibril mewasiatiku dengan tetangga hingga aku menyangka bahwa tetangga akan mewarisi.”21

 

Akhlak Mulia adalah Keharusan dalam Dakwah

Akhlak mulia sangat dibutuhkan dalam hidup bertetangga dan bermasyarakat, bahkan dia adalah keharusan dalam dakwah. Dakwah Rasulullah n adalah dakwah yang dipenuhi kelembutan dan kasih sayang. Rasulullah n adalah sosok yang sangat lembut dan dekat dengan umatnya. Bahkan rumah beliau n selalu terbuka tanpa penjaga pintu, tidak sebagaimana kebiasaan raja-raja dunia. Allah l memuji akhlak Rasulullah n dalam firman-Nya:

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (Al-Qalam: 4)

Dakwah akan diberkahi dengan tauhid dan akhlakul karimah. Janganlah akhlak yang buruk justru menjadi sebab manusia lari dari kebenaran. Sungguh menggembirakan kala kita mendengar banyak ma’had-ma’had (pondok-pondok pesantren, red.) Ahlus Sunnah berdiri di negeri yang sedang dilanda berbagai badai fitnah. Namun perlu diingat bahwa perkembangan tadi harus dihiasi dengan akhlak mulia. Jalinlah hubungan baik dengan masyarakat terutama tetangga. Berziarahlah (berkunjunglah) kepada mereka dengan adab-adab Islam. Jangan menjadikan kaum muslimin yang awam akan agama sebagai musuh. Justru mereka merupakan lahan dakwah yang membutuhkan tetesan kasih sayang.

Pembaca rahimakumullah, kita akhiri majelis ini dengan sebuah wasiat bagi seluruh muslimin untuk bertakwa kepada Allah l dan kembali menelaah serta meneladani akhlak Rasulullah n. Inilah jalan kebahagiaan dan kejayaan. Inilah jalan kemenangan dan manhaj kehidupan, untuk menggapai ridha Allah l dan cinta-Nya. Wallahu a’lam.

Washallalahu ‘ala Muhammad wa alihi wa shahbihi. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin.

Silahturahim, Keindahan Akhlak Islam

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.” (An-Nisa`: 36)

 

Mukadimah

Syariat Islam sungguh indah. Ia mengajarkan adab nan tinggi dan akhlak yang mulia. Menghormati yang lebih tua, menyayangi yang lebih muda, dan selalu berusaha menjaga keutuhan keluarga. Membersihkan berbagai noda di dada yang akan merusak hubungan sesama manusia yang satu keluarga. Menyantuni yang tidak punya dan tidak iri dengki kepada yang kaya.

Silaturahim adalah resep mustajab untuk ini semua. Bahkan Rasulullah n menjelaskan bahwa silaturahim termasuk inti dakwah Islam, sebagaimana diriwayatkan Abu Umamah, dia berkata: Amr bin ‘Abasah As-Sulami zberkata:

فَقُلْتُ: بِأَيِّ شَيْءٍ أَرْسَلَكَ؟ قَالَ: أَرْسَلَنِي بِصِلَةِ الْأَرْحَامِ وَكَسْرِ الْأَوْثَانِ وَأَنْ يُوَحَّدَ اللهُ لاَ يُشْرَكَ بِهِ شَيْءٌ

Aku berkata: “Dengan apa Allah mengutusmu?” Rasulullah n menjawab: “Allah mengutusku dengan silaturahim, menghancurkan berhala dan agar Allah ditauhidkan, tidak disekutukan dengan-Nya sesuatupun.” (HR. Muslim, Kitab Shalatul Musafirin, Bab Islam ‘Amr bin ‘Abasah, no. 1927)

An-Nawawi t menjelaskan hadits ini dengan menyatakan: “Dalam hadits ini terdapat dalil yang sangat jelas untuk memotivasi silaturahim. Karena Nabi n mengiringkannya dengan tauhid dan tidak menyebutkan bagian-bagian Islam yang lain kepadanya (‘Amr). Beliau hanya menyebutkan yang terpenting, dan beliau awali dengan silaturahim.” (Syarh Shahih Muslim, 5/354-355, cet. Darul Mu`ayyad)

 

Makna Silaturahim

Silaturahim berasal dari bahasa Arab, yaitu dari kata صِلَةٌ dan الرَّحِمُ . Kata صِلَةٌ adalah bentuk mashdar (gerund) dari kata وَصَلَ- يَصِلُ, yang berarti sampai, menyambung. Ar-Raghib Al-Asfahani berkata: “وَصَلَ – الْاِتِّصَالُ yaitu menyatunya beberapa hal, sebagian dengan yang lain.” (Al-Mufradat fi Gharibil Qur`an, hal. 525)

Adapun kata الرَّحِمُ, Ibnu Manzhur berkata: “الرَّحِمُ adalah hubungan kekerabatan, yang asalnya adalah tempat tumbuhnya janin di dalam perut.” (Lisanul ‘Arab)

Jadi, silaturahim artinya adalah menyambung tali persaudaraan kepada kerabat yang memiliki hubungan nasab.

 

Penjelasan Ayat

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun.”

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di t menjelaskan: “Allah l memerintahkan hamba-Nya untuk beribadah kepada-Nya saja, tiada sekutu bagi-Nya. Yaitu masuk dalam penghambaan diri kepada-Nya dan taat terhadap perintah dan larangan-Nya, dengan kecintaan, ketundukan, dan ikhlas untuk-Nya pada semua jenis ibadah, lahiriah maupun batiniah, serta melarang dari menyekutukan sesuatu dengan-Nya. Baik syirik kecil maupun besar, baik dengan malaikat, nabi, wali, ataupun makhluk lainnya yang tidak memiliki bagi diri mereka sendiri manfaat, mudarat, kematian, kehidupan, maupun pembangkitan. Bahkan yang menjadi keharusan (kewajiban) yang pasti adalah mengikhlaskan ibadah bagi Dzat yang memiliki kesempurnaan dari segala sisi, yang milik-Nya lah segala pengaturan. Tidak ada yang menandingi-Nya. Tidak ada yang membantu-Nya.”

Setelah Allah l memerintahkan untuk beribadah kepada-Nya dan menunaikan hak-Nya, Allah l memerintahkan untuk menunaikan hak-hak hamba-Nya secara berurutan (sesuai skala prioritas), yang lebih dekat dan seterusnya. Maka Allah l mengatakan:

“Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak.”

Artinya, berbuat baiklah kalian kepada mereka dengan ucapan yang mulia, tutur kata yang lembut, dan perbuatan yang baik, dengan menaati perintah mereka berdua dan menjauhi larangan mereka, memberikan nafkah kepada mereka, memuliakan orang yang memiliki hubungan dengan mereka berdua, dan menyambung tali silaturahim, yang mana tidak akan ada kerabat bagimu kecuali dengan perantaraan mereka berdua.

Berbakti kepada kedua orangtua memiliki dua lawan, yaitu berbuat jelek (durhaka) dan tidak berbuat baik. Kedua hal ini terlarang.

“(Dan kepada) karib kerabat.”

Yakni, berbuat baiklah juga kepada mereka. Kerabat di sini meliputi semuanya, yang dekat ataupun jauh. Berbuat baik kepada mereka dengan perkataan dan perbuatan, serta tidak memutuskan silaturahim dengan mereka, baik dalam bentuk perkataan maupun perbuatan.

“(Dan kepada) anak-anak yatim.”

Anak yatim yaitu orang yang ditinggal mati ayah mereka dalam keadaan masih kecil. Mereka punya hak atas kaum muslimin. Baik anak yatim tersebut termasuk kerabat atau bukan. Bentuk perbuatan baik terhadap mereka yaitu dengan menanggung biaya hidup mereka, berbuat baik dan melipur derita mereka, mendidik mereka dengan pendidikan terbaik, dalam urusan agama maupun dunia.

“(Dan kepada) orang-orang miskin.”

Yaitu orang-orang yang tertahan dengan kebutuhan mereka sehingga tidak mendapatkan kecukupan untuk diri mereka dan orang yang mereka tanggung. Bentuk perbuatan baik kepada mereka adalah dengan menutupi kekurangan mereka, membantu mereka sehingga tercukupi kebutuhannya. Juga dengan mengajak orang lain untuk melakukan hal tersebut dan melakukan apa yang mampu untuk dilakukan.

“(Dan kepada) tetangga yang dekat.”

Artinya, kerabat yang rumahnya dekat dengan kita. Sehingga dia mempunyai dua hak atas kita, hak sebagai kerabat dan hak sebagai tetangga. Perbuatan baik di sini dikembalikan kepada adat yang berlaku.

Demikian juga dengan:

“Tetangga yang jauh.”

Yaitu tetangga yang tidak mempunyai hubungan kekerabatan. Dalam hal ini, tetangga yang lebih dekat pintunya lebih besar pula haknya. Sehingga dianjurkan bagi seseorang untuk selalu memerhatikan tetangganya, dengan memberikan hadiah, shadaqah, dengan dakwah, kesopanan, baik dalam ucapan maupun perbuatan. Juga tidak menyakitinya, baik dengan ucapan maupun perbuatan.

“(Dan kepada) teman sejawat.”

Ada yang mengatakan bahwa maksudnya adalah teman dalam perjalanan. Ada juga yang mengatakan maksudnya adalah istri. Ada yang mengatakan maksudnya teman secara mutlak. Dan mungkin pendapat (terakhir) ini lebih benar, karena mencakup teman di rumah, di perjalanan, serta istri.

Sehingga, seorang teman memiliki kewajiban terhadap temannya lebih daripada hak Islamnya, untuk membantunya dalam urusan agama maupun dunia, menasihatinya, menepati janji terhadapnya, ketika senang ataupun susah, ketika sedang bersemangat ataupun malas. Hendaknya ia mencintai untuk temannya apa yang dia sukai untuk dirinya, dan membenci apa yang ia benci untuk dirinya. Semakin lama pergaulan dengannya, semakin besar pula haknya.

“(Dan kepada) ibnu sabil.”

Yaitu orang asing di negeri lain, yang membutuhkan bantuan materi ataupun tidak. Ia punya hak atas kaum muslimin, karena dia sangat butuh atau karena dia berada di negeri asing. Dia memerlukan bantuan agar sampai ke tempat tujuannya atau tercapai sebagian maksud dan cita-citanya. Juga dengan memuliakan dan menemaninya agar tidak kesepian.

“(Dan kepada) hamba sahayamu.”

Yaitu apa yang kalian miliki, baik dari kalangan Bani Adam atau dari hewan. Perbuatan baik di sini yaitu dengan mencukupi kebutuhan mereka dan tidak membebani sesuatu yang memberatkan mereka. Membantu mereka melaksanakan hal yang menjadi tanggung jawab mereka. Mendidik mereka untuk kemaslahatan mereka.

Maka barangsiapa yang melaksanakan perintah-perintah Allah l dan syariat-Nya, berhak mendapatkan pahala yang besar dan pujian yang indah. Sedangkan orang yang tidak melaksanakan perintah-perintah tersebut, dialah orang yang menjauh dari Rabb-Nya dan tidak taat terhadap perintah-perintah-Nya, tidak rendah hati kepada makhluk-Nya. Bahkan dia adalah orang yang sombong terhadap hamba Allah l, teperdaya dengan dirinya dan bangga dengan ucapannya.

Oleh karena itulah Allah l berfirman:

“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong….”

Maksudnya, sesungguhnya Allah l tidak mencintai orang yang teperdaya dengan dirinya, sombong terhadap hamba Allah l.

“…dan membangga-banggakan diri.”

Yakni, memuji dirinya dan menyanjungnya untuk membanggakan dan menyombongkan dirinya kepada hamba Allah l. (Tafsir As-Sa’di, hal. 191-192, cet. Darus Salam)

Dari ayat dan penafsiran di atas, kita bisa berbuat baik kepada seluruh hamba-Nya. Terlebih kepada kerabat-kerabat dekat yang juga muslim, mereka memiliki hak-hak yang banyak atas kita. Rasulullah n bersabda:

إِنَّ اللهَ كَتَبَ الْإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ

“Sesungguhnya Allah mewajibkan perbuatan baik kepada segala sesuatu.” (HR. Muslim dari Abu Ya’la Syaddad bin Aus z)

 

Targhib (Motivasi)

Allah l melengkapi perintah untuk menyambung tali silaturahim dengan memberikan janji dan ancaman. Di antara janji-janji tersebut adalah:

1. Surga adalah balasan bagi orang yang menyambung tali silaturahim.

Allah l mengatakan:

“Dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan, dan mereka takut kepada Rabbnya dan takut kepada hisab yang buruk.” (Ar-Ra’d: 21)

‘Allamatul Qashim Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di t menyatakan:

“Dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan.”

Ini umum meliputi semua perkara yang Allah l perintahkan untuk menyambungnya, baik berupa iman kepada-Nya dan kepada Rasul-Nya n, mencintai-Nya dan mencintai Rasul-Nya n, taat beribadah kepada-Nya semata dan taat kepada Rasul-Nya. Termasuk juga, menyambung kepada bapak dan ibu dengan berbuat baik kepada mereka, dengan perkataan dan perbuatan, tidak durhaka kepada mereka. Juga, menyambung karib kerabat, dengan berbuat baik kepada mereka dalam bentuk perkataan dan perbuatan. Juga menyambung dengan para istri, teman, dan hamba sahaya, dengan memberikan hak mereka secara sempurna, baik hak-hak duniawi ataupun agama.” (Tafsir As-Sa’di, hal. 481, cet. Darus Salam)

Kemudian dalam ayat 22-24 dari surat Ar-Ra’d ini, Allah l memberitahukan:

“Orang-orang itulah1 yang mendapat tempat kesudahan (yang baik), (yaitu) surga `Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, istri-istri dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan): ‘Salamun ‘alaikum bima shabartum’. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.”

Rasulullah n juga memberikan penjelasan yang sama sebagaimana dalam hadits dari Abu Ayyub Khalid bin Zaid Al-Anshari z:

يَا رَسُولَ اللهِ، أَخْبِرْنِي بِعَمَلٍ يُدْخِلُنِي الْجَنَّةَ وَيُبَاعِدُنِي مِنَ النَّارِ. فَقَال النَّبِيُّ n: تَعْبُدُ اللهَ وَلاَ تُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا، وَتُقِيْمُ الصَّلاَةَ، وَتُؤْتِي الزَّكَاةَ، وَتَصِلُ الرَّحِمَ

“Seseorang berkata: ‘Ya Rasulullah, beritahukan kepadaku amalan yang akan memasukkan aku ke surga dan menjauhkanku dari neraka.” Nabi n mengatakan: “Engkau beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan sesuatu dengan-Nya, menegakkan shalat, menunaikan zakat, dan menyambung silaturahim’.” (HR. Al-Bukhari, 3/208-209, Muslim no. 13)

 

2. Shadaqah kepada kerabat berpahala ganda.

Dari Salman bin ‘Amr z, dari Nabiyullah Muhammad n, beliau berkata:

الصَّدَقَةُ عَلىَ الْمِسْكِينِ صَدَقَةٌ، وَعَلَى ذِي الرَّحِمِ ثِنْتَانِ؛ صَدَقَةٌ وَصِلَةٌ

“Shadaqah kepada orang miskin itu satu shadaqah. Dan shadaqah kepada kerabat itu dua shadaqah; shadaqah dan penyambung silaturahim.” (HR. At-Tirmidzi no. 685, Abu Dawud no. 2335, An-Nasa`I 5/92, Ibnu Majah no. 1844. At-Tirmidzi mengatakan hadits ini hasan. Ibnu Hibban menshahihkannya)

 

3. Orang yang menyambung tali silaturahim akan dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya.

Dari Anas z, bahwa Rasulullah n bersabda:

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأُ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Siapa yang ingin dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, hendaknya ia menyambung tali silaturahimnya.” (HR. Al-Bukhari 10/348, Muslim no. 2558, Abu Dawud no. 1693)

 

Tarhib (Ancaman)

Di samping janji-janji, syariat juga melengkapi perintah untuk bersilaturahim dengan ancaman-ancaman keras bagi yang memutuskannya. Di antara ancaman-ancaman tersebut adalah:

1. Laknat Allah l dan tempat kembali yang buruk (neraka) bagi yang memutus tali silaturahim.

Allah l mengatakan dalam surat Ar-Ra’d ayat 25:

“Orang-orang yang merusak janji Allah setelah diikrarkan dengan teguh dan memutuskan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan dan mengadakan kerusakan di bumi, orang-orang itulah yang memperoleh kutukan dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk (Jahannam).”

Hal ini ditegaskan oleh Rasulullah n sebagaimana dalam hadits dari Abu Muhammad Jubair bin Muth’im z, bahwa beliau n bersabda:

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعٌ. قَالَ سُفْيَانُ فِي رِوَايَتِهِ: يَعْنِي قَاطِعَ رَحِمٍ

“Tidak akan masuk surga, orang yang memutuskan.”

Sufyan Ats-Tsauri t mengatakan dalam riwayatnya: “Maksudnya, orang yang memutuskan tali silaturahim.” (HR. Al-Bukhari 10/347 dan Muslim no. 2556)

 

2. Dijadikan buta dan tuli.

Allah l berfirman:

“Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan silaturahim kalian? Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka.” (Muhammad: 22-23)

Ayat ini merupakan ancaman bagi orang yang memutuskan tali silaturahim, sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah n dalam hadits dari Abdullah bin Mas’ud z, beliau n bersabda:

إِنَّ اللهَ خَلَقَ الْخَلْقَ حَتَّى إِذَا فَرَغَ مِنْهُمْ قَامَتِ الرَّحِمُ فَقَالَتْ: هَذَا مَقَامُ الْعَائِذِ بِكَ مِنَ الْقَطِيْعَةِ. قاَلَ: نَعَمْ، أَمَا تَرْضَيْنَ أَنْ أَصِلَ مَنْ وَصَلَكِ وَأَقْطَعَ مَنْ قَطَعَكِ؟ قَالَتْ: بَلىَ. قَالَ: فَذَلِكِ لَكِ. ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللهِ n: اقْرَؤُوا إِنْ شِئْتُمْ: ﭾ  ﭿ  ﮀ  ﮁ  ﮂ  ﮃ   ﮄ  ﮅ  ﮆ  ﮇ  ﮈ  ﮉ  ﮊ  ﮋ  ﮌ   ﮍ    ﮎ  ﮏ  ﮐ

“Sesungguhnya Allah menciptakan makhluk. Setelah selesai dari mereka, berdirilah Ar-Rahim (rahim) dan mengatakan: ‘Inilah kedudukan (makhluk) yang minta perlindungan kepada-Mu dari diputus hubungan.’ Allah mengatakan: ‘Ya. Tidakkah engkau puas (bahwa) Aku akan menyambung siapa yang menyambungmu, dan memutus siapa yang memutusmu?’ Ar-Rahim mengatakan: ‘Ya.’ Allah menyatakan: ‘Itu bagimu’.”

Kemudian Rasulullah n mengatakan: “Bacalah bila kalian mau:

“Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan silaturahim kalian? Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka.” (Muhammad: 22-23) [HR. Al-Bukhari 10/349, 13/392 dan Muslim no. 2554]

 

3. Orang yang memutuskan tali silaturahim segera mendapatkan azab di dunia dan akhirat.

Dari Abu Bakrah z, dia mengatakan: Rasulullah n bersabda:

مَا مِنْ ذَنْبٍ أَجْدَرُ أَنْ يُعَجِّلَ اللهُ تَعَالَى لِصَاحِبِهِ الْعُقُوبَةَ فِي الدُّنْيَا مَعَ مَا يَدَّخِرُ لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِثْلُ الْبَغْيِ وَقَطِيْعَةِ الرَّحِمِ

“Tidak ada dosa yang pantas untuk disegerakan hukumannya oleh Allah bagi pelakunya di dunia bersamaan dengan (hukuman) yang disimpan untuknya di akhirat, daripada kezaliman dan pemutusan silaturahim.” (HR. Ahmad, 5/36, Abu Dawud, Kitabul Adab (43) no. 4901, dan ini lafadz beliau, At-Tirmidzi dalam Shifatul Qiyamah no. 1513, dan beliau mengatakan hadits ini shahih, Ibnu Majah dalam Kitab Az-Zuhd bab Al-Baghi, no. 4211)

 

Menyambung Silaturahim Bukan Sekadar Membalas

Banyak orang yang mengakrabi saudaranya setelah saudaranya mengakrabinya. Mengunjungi saudaranya setelah saudaranya mengunjunginya. Memberikan hadiah setelah ia diberi hadiah, dan seterusnya. Dia hanya membalas kebaikan saudaranya. Sedangkan kepada saudara yang tidak mengunjunginya –misalnya– tidak mau dia berkunjung. Ini belum dikatakan menyambung tali silaturahim yang sebenarnya. Yang disebut menyambung tali silaturahim sebenarnya adalah orang yang menyambung kembali terhadap orang yang telah memutuskan hubungan kekerabatannya. Hal ini dijelaskan Rasulullah n dalam hadits Abdullah bin ‘Amr c, dari beliau n:

لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ وَلَكِنَّ الْوَاصِلَ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا

“Bukanlah penyambung adalah orang yang hanya membalas. Tetapi penyambung adalah orang yang apabila diputus rahimnya, dia menyambungnya.” {HR. Al-Bukhari, Kitabul Adab bab (15) Laisal Washil bil Mukafi, no. 5991}

Ibnu Hajar t mengatakan: “Peniadaan sambungan tidak pasti menunjukkan adanya pemutusan. Karena mereka ada tiga tingkatan: (1) orang yang menyambung, (2) orang yang membalas, dan (3) orang yang memutuskan. Orang yang menyambung adalah orang yang melakukan hal yang lebih dan tidak diungguli oleh orang lain. Orang yang membalas adalah orang yang tidak menambahi pemberian lebih dari apa yang dia dapatkan. Sedangkan orang yang memutuskan adalah orang yang diberi dan tidak memberi. Sebagaimana terjadi pembalasan dari kedua pihak, maka siapa yang mengawali berarti dialah yang menyambung. Jikalau ia dibalas, maka orang yang membalas dinamakan mukafi` (pembalas). Wallahu a’lam.” (Fathul Bari, 10/427, cet. Dar Rayyan)

Orang yang terus berbuat baik kepada kerabat mereka meskipun mereka berbuat jelek kepadanya, tidak akan rugi sedikit pun. Bahkan akan selalu ditolong oleh Allah l. justru kerabat yang tidak mau membalas kebaikan itulah yang mendapat dosa yang besar akibat perbuatan mereka. Seperti dalam hadits Ibnu Mas’ud z: Ada seseorang berkata kepada Nabi Muhammad n:

يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ لِي قَرَابَةً أَصِلُهُمْ وَيَقْطَعُونِي وَأُحْسِنُ إِلَيْهِمْ وَيُسِيئُونَ إِلَيَّ وَأَحْلِمُ عَنْهُمْ وَيَجْهَلُونَ عَلَيَّ. فَقَالَ: لَئِنْ كُنْتَ كَمَا قُلْتَ فَكَأَنَّمَا تُسِفُّهُمُ الْمَلَّ وَلاَ يَزَالُ مَعَكَ مِنَ اللهِ ظَهِيٌر عَلَيْهِمْ مَا دُمْتَ عَلَى ذَلِكَ

“Wahai Rasulullah, aku mempunyai kerabat dan aku sambung mereka, tetapi mereka memutuskanku. Aku berbuat baik kepada mereka tetapi mereka berbuat jelek terhadapku. Aku bersabar terhadap mereka, tetapi mereka selalu berbuat jahil kepadaku.” Maka Rasulullah n bersabda: “Jika engkau seperti yang engkau katakan, maka seolah-olah engkau melemparkan abu panas ke wajah mereka dan pertolongan Allah tetap bersamamu menghadapi mereka selama engkau seperti itu.” (HR. Muslim, Kitabul Birr wash-Shilah, bab Silaturahim wa tahrimu qathi’atiha, no. 6472)

 

Silaturahim kepada Kerabat Non Muslim

Allah l telah berfirman:

“Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (Al-Mumtahanah: 8)

‘Allamatul Qashim Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di t menjelaskan: “Artinya, Allah l tidak melarang kalian dari kebaikan, silaturahim, dan membalas kebaikan serta berlaku adil terhadap kerabat kalian dari kalangan kaum musyrikin atau yang lain. Hal ini bila mereka tidak mengobarkan peperangan dalam agama terhadap kalian, tidak mengusir kalian dari rumah-rumah kalian. Maka tidak mengapa kalian berhubungan baik dengan mereka dalam keadaan seperti ini, tidak ada kekhawatiran dan kerusakan padanya.”

Abul Fida` Ismail bin Katsir t menafsirkan ayat ini dengan membawakan hadits dari Asma` bintu Abu Bakr Ash-Shiddiq c, dia mengatakan:

قَدِمَتْ أُمِّي وَهِيَ مُشْرِكَةٌ فِي عَهْدِ قُرَيْشٍ …. فَأَتَيْتُ النَّبِيَّ n فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ أُمِّي قَدِمَتْ وَهِيَ رَاغِبَةٌ، أَفَأَصِلُهَا؟ قَالَ: نَعَمْ، صِلِي أُمَّكِ

“Ibuku datang dalam keadaan masih musyrik, di waktu perjanjian damai yang disepakati orang Quraisy. Maka aku datang kepada Rasulullah n dan bertanya: ‘Wahai Rasulullah, ibuku datang dan ia ingin berbuat baik. Bolehkah aku berbuat baik kepadanya?’ Rasulullah n berkata: ‘Ya, berbuat baiklah kepada ibumu’.” (HR. Ahmad 6/344, Al-Bukhari, Kitabul Adab bab (7) no. 5978 dan 5979, Muslim Kitabuz Zakat (50) no. 2322)

Jadi jelaslah bahwa berbuat baik kepada kerabat adalah suatu hal yang disyariatkan, meskipun dia non-muslim. Dengan syarat, dia bukan orang yang memerangi agama kita, dan tentunya tidak ada loyalitas dalam hati kita terhadap agamanya. Justru kita harapkan dengan sikap dan perilaku kita yang baik kepada orang semacam ini, menjadi sebab datangnya hidayah dalam hati kerabat kita tersebut, sehingga ia masuk Islam dan meninggalkan kekafirannya.

Wallahul hadi ila sawa`is sabil.


1 Yang memiliki sifat-sifat yang disebutkan dalam beberapa ayat sebelumnya.

Perselisihan dan Adabnya

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Abdul Mu’thi, Lc.)

 

Al-Khilaf (perselisihan pendapat) dalam perkara agama memang jamak terjadi bahkan di kalangan sahabat Rasulullah n sekalipun. Namun demikian hal itu berbeda dengan yang selama ini dipahami banyak orang yang justru menjauh dari upaya mencari kebenaran dengan dalih “ini adalah masalah khilafiyah”.

Al-khilaf (perselisihan pendapat) di antara manusia adalah perkara yang sangat mungkin terjadi. Yang demikian karena kemampuan, pemahaman, wawasan dan keinginan mereka berbeda-beda. Namun perselisihan masih dalam batas wajar manakala muncul karena sebab yang masuk akal, yang bukan bersumber dari hawa nafsu atau fanatik buta dengan sebuah pendapat. Meski kita memaklumi kenyataan ini, namun (perlu diingat bahwa) perselisihan pada umumnya bisa menyeret kepada kejelekan dan perpecahan. Oleh karena itu, salah satu tujuan dari syariat Islam yang mudah ini adalah berusaha mempersatukan persepsi umat dan mencegah terjadinya perselisihan yang tercela. Tetapi, karena perselisihan merupakan realita yang tidak bisa dihindarkan dan merupakan tabiat manusia, Islam telah meletakkan kaidah-kaidah dalam menyikapi masalah yang diperselisihkan, berikut orang-orang yang berselisih, serta mencari cara yang tepat untuk bisa sampai kepada kebenaran yang seyogianya hal ini menjadi tujuan masing-masing pribadi. Para salaf (generasi awal) umat Islam telah terbukti sangat menjaga adab di saat khilaf, sehingga tidak menimbulkan perkara yang jelek, karena mereka selalu komitmen dengan adab-adab khilaf. (Kata pengantar Dr. Mani’ bin Hammad Al-Juhani terhadap kitab Adabul Khilaf hal. 5)

 

Macam-macam Khilaf

Adapun macam khilaf adalah sebagai berikut.

1. Ikhtilaf tanawwu’. Yaitu suatu istilah mengenai beragam pendapat yang bermacam-macam namun semuanya tertuju kepada maksud yang sama, di mana salah satu pendapat tidak bisa dikatakan bertentangan dengan yang lainnya. Semisal perbedaan ahli tafsir dalam menafsirkan Ash-Shirath Al-Mustaqim dalam surat Al-Fatihah. Ada yang menafsirkannya dengan Al-Qur`an, Islam, As-Sunnah, dan Al-Jama’ah. Semua pendapat ini benar dan tidak bertentangan maksudnya.

Demikian pula orang yang membaca tasyahhud dengan yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud z, dia memandang bolehnya membaca tasyahhud yang lain seperti yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas c dan lainnya. Perbedaan yang seperti ini tidak tercela. Namun bisa menjadi tercela manakala perbedaan seperti ini dijadikan sebab atau alat untuk menzalimi orang lain.

2. Ikhtilaf tadhad. Yaitu suatu ungkapan tentang pendapat-pendapat yang bertentangan di mana masing-masing pendapat orang yang berselisih itu berlawanan dengan yang lainnya, salah satunya bisa dihukumi sebagai pendapat yang salah. Misalnya dalam satu perkara, ada ulama yang mengatakan haram dan ulama yang lain mengatakan halal.

Dalam perselisihan semacam ini tidak boleh bagi seseorang untuk mengambil pendapat tersebut menurut keinginan (hawa nafsu)nya, tanpa melihat akar masalah yang diperselisihkan dan pendapat yang dikuatkan oleh dalil.

3. Ikhtilaf afham. Yaitu perbedaan dalam memahami suatu nash. Hal ini boleh namun dengan beberapa syarat di antaranya: Ia harus berpijak di atas jalan Ahlus Sunnah wal Jamaah, tidak banyak menyelisihi apa yang Ahlus Sunnah di atasnya, kembali kepada yang haq ketika terbukti salah, dan hendaknya ia termasuk orang yang telah memiliki kemampuan untuk berijtihad.

(Hujajul Aslaf, Abu Abdirrahman dan Al-Qaulul Hasan fi Ma’rifatil Fitan, Muhammad Al-Imam)

 

Penyebab Perbedaan Pendapat di antara Ulama

Suatu hal yang telah kita ketahui bersama bahwa tidak ada seorang ulama pun –yang tepercaya keilmuan, amanah, dan ketaatannya– sengaja menyelisihi apa yang ditunjukkan oleh dalil Al-Qur`an dan As-Sunnah. Karena orang yang sejatinya alim, niscaya yang menjadi penunjuk jalannya adalah kebenaran. Namun para ulama bisa saja terjatuh ke dalam kesalahan saat menyebutkan suatu hukum syariat. Kesalahan pasti bisa terjadi, karena manusia pada dasarnya lemah ilmu dan pemahamannya. Pengetahuannya pun terbatas, tidak bisa meliputi seluruh perkara.

Sebab terjadinya perselisihan pendapat di kalangan ulama dalam suatu hukum sendiri di antaranya sebagai berikut:

1. Karena dalil belum sampai kepadanya.

Hal ini tidak hanya terjadi setelah zaman para sahabat. Bahkan di zaman mereka pun pernah terjadi. Seperti tersebut dalam Shahih Al-Bukhari bahwa Amirul Mukminin ‘Umar bin Al-Khaththab z melakukan safar menuju Syam. Di tengah perjalanan dikabarkan kepadanya bahwa di Syam tengah terjadi wabah tha’un. ‘Umar menghentikan perjalanannya dan bermusyawarah dengan para sahabat. Mereka berselisih pendapat. Ada yang mengusulkan untuk pulang dan ada yang berpendapat terus melanjutkan. Ketika mereka tengah bermusyawarah, datang Abdurrahman bin ‘Auf yang tadinya tidak ikut musyawarah karena ada suatu keperluan. Abdurrahman mengatakan: “Saya memiliki ilmu tentang ini. Saya mendengar Rasulullah n bersabda:

إِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ فِي أَرْضٍ فَلاَ تَقْدُمُوا عَلَيْهِ وَإِذَا وَقَعَ وَأَنْتُمْ فِيْهَا فَلاَ تَخْرُجُوا فِرَارًا مِنْهُ

“Jika kalian mendengar di suatu negeri ada tha’un maka janganlah kalian memasukinya. Dan jika terjadi di tempat yang kalian ada di sana maka janganlah keluar (dari daerah tersebut, red.) untuk lari darinya.” (Lihat Shahih Al-Bukhari no. 5729)

2. Adakalanya hadits telah sampai kepada seorang alim namun dia belum percaya (penuh) kepada yang membawa beritanya. Dia memandang bahwa hadits itu bertentangan dengan yang lebih kuat darinya. Sehingga dia mengambil dalil yang menurutnya lebih kuat.

3. Hadits telah sampai kepada seorang alim namun dia lupa.

4. Dalil telah sampai kepadanya namun ia memahaminya tidak sesuai dengan yang diinginkan. Misalnya kalimat “أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاء” artinya: Atau kalian menyentuh perempuan, dalam surat Al-Ma`idah ayat 6. Sebagian ulama mengatakan bahwa sekadar seorang lelaki menyentuh perempuan batal wudhunya. Sebagian lainnya mengatakan bahwa yang dimaksud dengan menyentuh di sini adalah jima’ (bersetubuh) sebagaimana pendapat Ibnu ‘Abbas c. Pendapat inilah yang benar, dengan landasan adanya riwayat bahwa Nabi n mencium sebagian istrinya lalu berangkat menuju shalat dan tidak berwudhu.

5. Telah sampai dalil kepadanya dan dia sudah memahaminya, namun hukum yang ada padanya telah mansukh (dihapus) dengan dalil lain yang menghapusnya. Sementara dia belum tahu adanya dalil yang menghapusnya.

6. Telah datang kepadanya dalil namun ia meyakini bahwa dalil itu ditentang oleh dalil yang lebih kuat darinya, dari nash Al-Qur`an, hadits, atau ijma’ (kesepakatan ulama).

7. Terkadang sebabnya karena seorang alim mengambil hadits yang dhaif (lemah) atau mengambil suatu pendalilan yang tidak kuat dari suatu dalil.

(Diringkas dari risalah Al-Khilaf Bainal Ulama, Asbabuhu wa Mauqifuna minhu bersama Kitabul Ilmi karya Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin t)

 

Sikap Kita terhadap Perselisihan yang Ada

Perlu diketahui bahwa yang dimaksud dengan khilaf yang memiliki bobot dan dianggap adalah perbedaan pendapat ulama yang tepercaya secara keilmuan dan ketaatannya. Bukan mereka yang dianggap atau mengaku ulama namun sebenarnya bukan ulama. Bukan pula khilaf antara ahlul bid’ah seperti Khawarij, Syi’ah, dan lainnya dengan Ahlus Sunnah. Sikap kita terhadap perselisihan ulama adalah:

1. Kita yakin bahwa khilaf mereka bukan karena menyengaja menentang dalil, namun karena sebab-sebab yang sudah kita sebutkan di atas serta sebab lain yang belum disebutkan.

2. Kita mengikuti pendapat yang lebih kuat dari sisi dalil. Karena Allah l tidaklah mewajibkan untuk mengikuti ucapan seseorang kecuali hanya Rasulullah n, baik jiwa ini menyukainya atau tidak. Adapun selain Rasulullah n, tidak ada jaminan terbebas dari kesalahan. Sehingga apa yang sesuai dengan hujjah dari pendapat mereka, itulah yang kita ambil dan ikuti. Sedangkan yang tidak sesuai dengan hujjah maka kita tinggalkan. Sebagaimana wasiat para imam untuk meninggalkan pendapat mereka yang menyelisihi dalil. Di sisi lain, meski kita dapatkan dari mereka adanya pendapat yang salah, ini bukanlah suatu celah untuk menjatuhkan mereka. Usaha untuk sampai kepada kebenaran telah mereka tempuh, namun mereka belum diberi taufiq untuk mendapatkannya. Jika mereka salah dengan pendapatnya –setelah usaha maksimal– maka tidak ada celaan atas mereka. Bahkan mereka mendapatkan satu pahala. Semestinya tertanam dalam jiwa kita sikap hormat dan memuliakan para ulama serta mendoakan rahmat dan ampunan bagi mereka. (Lihat Kitabul ‘Ilmi karya Asy-Syaikh Muhammad Al-‘Utsaimin t)

 

Bolehkah Mengingkari Pihak Lain dalam Permasalahan yang Sifatnya Khilafiyah?

Ada dua hal yang harus dibedakan yaitu, masalah-masalah khilafiyah dan masalah-masalah ijtihadiyah.

Masalah khilafiyah lebih umum sifatnya daripada masalah ijtihadiyah. Karena masalah khilafiyah (perbedaan pendapat) ada yang sifatnya bertentangan dengan dalil dari Al-Qur`an, hadits, atau ijma’. Permasalahan khilafiyah yang seperti ini harus diingkari.

Berbeda dengan permasalahan ijtihadiyah yang memang tidak ada nash atau dalil dalam permasalahan tersebut. Dalam masalah ijtihadiyah (yakni yang muncul karena ijtihad pada masalah yang memang diperkenankan berijtihad padanya), seseorang memiliki keluasan padanya. Manakala dia mengambil suatu pendapat yang ia pandang lebih kuat, maka yang menyelisihinya tidak boleh mencela.

Sebagai misal dalam masalah khilafiyah -untuk membedakan antara keduanya- adalah pendapat sebagian ulama yang membolehkan pernikahan tanpa wali nikah. Pendapat ini salah karena bertentangan dengan hadits Nabi n:

لَا نِكَاحَ إِلاَّ بِوَلِيٍّ

“Tidak ada nikah kecuali dengan wali.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan lainnya. Asy-Syaikh Al-Albani t menshahihkannya dalam Al-Irwa` no. 1839)

Ini dinamakan masalah khilafiyah.

Adapun contoh masalah ijtihadiyah seperti bersedekap atau meluruskan tangan setelah bangkit dari ruku’, di mana tidak ada nash yang sharih (jelas) yang menunjukkan posisi tangan setelah ruku’. Wallahu a’lam.

Al-Imam Ibnul Qayyim t menyatakan: “Ucapan mereka (sebagian orang) bahwa masalah-masalah khilafiyah tidak boleh diingkari, ini tidaklah benar. Karena pengingkaran adakalanya tertuju kepada ucapan atau pendapat, fatwa, atau amalan. Adapun yang pertama, jika suatu pendapat menyelisihi sunnah atau ijma’ yang telah menyebar maka wajib untuk diingkari menurut kesepakatan (ulama). Meskipun pengingkaran tidak secara langsung, namun menjelaskan lemahnya pendapat ini dan penyelisihannya terhadap dalil juga merupakan bentuk pengingkaran. Adapun masalah amalan jika ia menyelisihi sunnah atau ijma’ maka wajib diingkari sesuai dengan derajat pengingkaran. Bagaimana seorang ahli fiqih mengatakan bahwa tidak ada pengingkaran pada masalah yang diperselisihkan, padahal ulama dari semua golongan telah menyatakan secara tegas batalnya keputusan hakim jika menyelisihi Al-Qur`an atau As-Sunnah, meskipun keputusan tadi telah mengikuti atau mencocoki pendapat sebagian ulama?! Adapun bila dalam suatu permasalahan tidak ada dalil dari As-Sunnah atau ijma’ dan ada jalan (bagi ulama) untuk berijtihad dalam hal ini, (maka benar) tidak boleh diingkari orang yang mengamalkannya, baik dia seorang mujtahid atau yang mengikutinya….” (I’lamul Muwaqqi’in, 3/252)

Permasalahan ijtihadiyah jangan sampai menjadi sebab perpecahan di tengah-tengah kaum muslimin, seberapapun besarnya permasalahan. Karena jika demikian, kaum muslimin justru akan bercerai berai, tidak punya kekuatan dan menjadi permainan setan dari kalangan jin dan manusia, serta menjadi umpan yang empuk bagi para musuh Islam. Sebagian orang tidak memerhatikan jenis ikhtilaf yang seperti ini, sehingga mereka menyangka bahwa setiap permasalahan yang diperselisihkan oleh ulama dijadikan dasar untuk memberikan loyalitas karenanya atau memusuhi yang menyelisihinya. Sikap yang seperti ini akan memicu berbagai kerusakan dan kebencian yang hanya Allah l yang mengetahuinya. Hendaklah semboyan kita dalam permasalahan seperti ini adalah berlapang dada, yang mana salafus shalih berlapang dada padanya. Adalah Al-Imam Ahmad t berpendapat keharusan berwudhu karena keluar darah dari hidung dan karena berbekam. Maka Al-Imam Ahmad ditanya: “Bagaimana jika seorang imam shalat lalu keluar darinya darah dan tidak berwudhu, apakah anda bermakmum di belakangnya?” Beliau menjawab: “Bagaimana saya tidak mau shalat di belakang Al-Imam Malik dan Sa’id bin Musayyib?!” Yakni bahwa Al-Imam Malik dan Sa’id rahimahumallah berpendapat tidak wajibnya berwudhu karena keluar darah. (Adabul Khilaf, Hujajul Aslaf dan Al-Qawa’id Al-Fiqhiyah)

 

Dianjurkan untuk Keluar dari Lingkup Perselisihan

Ulama fiqih menyebutkan suatu kaidah yang penting yang seyogianya dijadikan pegangan yaitu:

يُسْتَحَبُّ الْخُرُوْجُ مِنَ الْخِلاَفِ

“Dianjurkan untuk keluar dari perselisihan.”

Puncak yang dicapai dari kaidah ini adalah kehati-hatian dalam beragama dan menumbuhkan sikap saling mencintai serta menyatukan hati, dengan cara melepaskan diri dari perselisihan pada perkara yang kemudaratannya ringan. Apabila meninggalkan sebagian hal yang disunnahkan akan menyampaikan kepada maslahat yang lebih dominan dan menutup pintu khilaf, maka perkara sunnah ditinggalkan.

Sebagaimana Nabi n membatalkan rencana untuk memugar Ka’bah dan menjadikannya dua pintu. Karena Nabi n memandang bahwa membiarkan Ka’bah seperti itu lebih besar maslahatnya, di mana banyak orang Quraisy yang baru masuk Islam dikhawatirkan akan punya anggapan bahwa Nabi n tidak menghormati kesucian Ka’bah. Dikhawatirkan nantinya mereka bisa murtad dari agama karenanya.

Demikian pula sahabat Ibnu Mas’ud  zmengingkari Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan z di saat ia shalat dengan tetap seperti ketika bermukim (tidak qashar) dalam bepergian. Namun Ibnu Mas’ud tetap shalat di belakang ‘Utsman dengan tidak meng-qashar dan mengikuti khalifah. Ibnu Mas’ud z berkata: “Perselisihan itu jelek.”

Oleh karena itu sejak dahulu ulama telah sepakat tentang sahnya shalat orang yang bermazhab Syafi’i di belakang orang yang bermazhab Hanafi. Demikian pula sebaliknya, sekalipun mereka berselisih tentang batal atau tidaknya wudhu seseorang bila menyentuh perempuan.

Kemudian yang perlu diperhatikan, dalam perkara yang diperselisihkan keharamannya maka jalan keluarnya adalah dengan meninggalkannya. Sedangkan perkara yang diperselisihkan tentang wajibnya maka jalan keluarnya adalah dengan dikerjakan.

Namun tingkatan untuk dianjurkan keluar dari area khilaf berbeda-beda sesuai dengan kuat atau lemahnya dalil. Yang menjadi ukuran adalah kuatnya dalil yang menyelisihi. Jika dalil yang menyelisihi lemah maka tidak dianggap, terlebih jika menjaga kaidah ini (karena dalil yang lemah) bisa menyampaikan kepada meninggalkan sunnah yang telah kuat.

Sebagai misal, bila ada yang mengatakan bahwa mengangkat tangan dalam shalat menjadikan batal shalatnya. Pendapat seperti ini tidak perlu dihiraukan karena bertentangan dengan hadits-hadits yang kuat dalam permasalahan ini.

Kemudian juga yang perlu diperhatikan bahwa jangan sampai karena menjaga kaidah ini kita menyelisihi ijma’. Jadi untuk bisa dijalankan kaidah tadi adalah dengan melihat kuatnya dalil orang yang khilafnya teranggap. Adapun bila khilafnya jauh dari dalil syariat atau merupakan suatu pendapat yang ganjil maka tidak dianggap. Orang yang pengambilan dalilnya kuat maka khilafnya dianggap meskipun derajatnya di bawah orang yang diselisihinya. (Diringkas dari Al-Qawa’id Al-Fiqhiyyah karya Ali Ahmad An-Nadawi dari hal. 336-342)

 

Adab yang harus Diperhatikan untuk Mengobati Perselisihan yang Terjadi di Antara Ahlus Sunnah

Pertama: Niatan yang tulus dan ingin mencari kebenaran. Seorang penuntut ilmu seharusnya bersikap obyektif. Ini mudah secara teori namun susah dalam praktik. Karena tidak sedikit orang yang lahiriahnya seolah menyeru kepada kebenaran, padahal sejatinya dia sedang mengajak kepada dirinya atau membela dirinya dan syaikhnya. Mungkin hal ini yang menjadikan sebagian orang ketika membantah dan berdiskusi tidak bisa ilmiah, namun semata ingin menjatuhkan lawannya (yang menyelisihinya) dengan mengangkat masalah pribadi dan menggunakan bahasa celaan. Hendaklah masing-masing menjadikan Al-Qur`an dan hadits sebagai hakim yang memutuskan di antara mereka. Allah l berfirman:

“Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (An-Nisa`: 59)

Kedua: Bertanya kepada ulama Ahlus Sunnah. Allah l berfirman:

“Maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui.” (Al-Anbiya`: 7)

Ketiga: Menghindarkan perselisihan beserta penyulutnya semampu mungkin.

Hal ini bisa terwujudkan dengan:

1. Berbaik sangka terhadap ulama dan para penuntut ilmu serta mengutamakan ukhuwah Islamiah di atas segala kepentingan.

2. Apa yang dinyatakan/keluar dari mereka atau disandarkan kepada mereka dibawa kepada kemungkinan yang baik.

3. Bila keluar dari mereka sesuatu yang tidak bisa dibawa kepada penafsiran yang baik maka dicarikan alasan yang paling tepat. Hal ini bukan dimaksudkan untuk menyatakan bahwa ulama itu ma’shum atau tidak bisa salah, namun sebagai bentuk berbaik sangka kepada ulama.

4. Koreksi diri serta tidak memberanikan diri menyalahkan ulama kecuali setelah penelitian yang mendalam dan kehati-hatian yang panjang.

5. Membuka dada untuk menerima segala kritikan dari saudaramu dan menjadikannya sebagai acuan untuk ke depan yang lebih baik.

6. Menjauhkan diri dari perkara yang bisa menimbulkan fitnah dan huru-hara.

7. Komitmen dengan adab-adab Islam dalam memilih kata-kata yang bagus serta menjauhkan kata-kata yang tidak pantas.

(Lihat Adabul Khilaf, Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid hal. 44-47 dan An-Nush-hul Amin Asy-Syaikh Muqbil)

 

Contoh Penerapan Adabul Khilaf di Masa Salaf

Di antara sahabat Ibnu ‘Abbas c dengan Zaid bin Tsabit z terjadi perselisihan pendapat tentang masalah yang berkaitan dengan hukum waris, di mana ia berpendapat bahwa kedudukan kakek itu seperti ayah, bisa menggugurkan saudara-saudara mayit dari mendapatkan warisan. Sementara sahabat Zaid z berpendapat bahwa saudara-saudara mayit tetap mendapat warisan bersama adanya kakek. Ibnu ‘Abbas c sangat yakin bahwa pendapat Zaid z salah, sampai-sampai Ibnu ‘Abbas c berkeinginan untuk menantangnya bermubahalah (saling berdoa agar Allah l memberi laknat kepada yang salah) di sisi Ka’bah.

Pada suatu saat, Ibnu ‘Abbas c melihat Zaid z mengendarai kendaraannya. Maka dia pun mengambil kendali kendaraan Zaid dan menuntunnya. Zaid z berkata: “Lepaskan, wahai anak paman Rasulullah!” Ibnu ‘Abbas c menjawab: “Seperti inilah yang kita diperintahkan untuk melakukan (penghormatan) kepada ulama dan pembesar kita.”

Zaid z berkata: “Perlihatkan kepadaku tanganmu!” Ibnu ‘Abbas c mengeluarkan tangannya. Lalu Zaid z menciumnya, seraya mengatakan: “Seperti inilah kita diperintahkan untuk menghormati keluarga Nabi.”

Ketika Zaid z meninggal dunia, Ibnu ‘Abbas mengatakan: “Seperti inilah –yakni wafatnya ulama– (caranya) ilmu itu lenyap. Sungguh pada hari ini telah terkubur ilmu yang banyak.” (Adabul Khilaf hal. 21-22)

 

Penutup

Telah terang atas kita rambu-rambu dalam menyikapi perbedaan pendapat di antara ulama Ahlus Sunnah. Yang tak kalah pentingnya bahwa kita hendaknya selalu memohon kepada Allah l untuk ditunjuki kepada kebenaran pada perkara yang diperselisihkan. Kita yakin bahwa kita lemah dalam segala sisinya. Hawa nafsu sering kita kedepankan sehingga jalan kebenaran seolah tertutup di hadapan kita. Kita menghormati para pendahulu kita yang telah mendahului kita dalam iman dan amal serta mendoakan kebaikan untuk mereka.

“Wahai Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah mendahului dengan keimanan, dan janganlah Engkau jadikan pada hati kami kedengkian kepada orang-orang yang beriman, wahai Rabb kami sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (Al-Hasyr: 10)

Wallahu a’lam.

Mengobati Penyakit Menyimpang dengan Meneladani Rasulullah

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Abdul Mu’thi, Lc.)

 

Merebaknya tindak kejahatan serta perbuatan asusila dengan berbagai macam ragamnya  semestinya membuat kita tidak sekadar mengelus dada. Sudah saatnya kita kembali kepada ajaran agama yang benar.

Melihat dari kacamata adab Islami, banyak sekali perilaku masyarakat yang menyimpang dari jalan yang benar. Disadari atau tidak, pergeseran dari nilai-nilai agama itu sebagai akibat dari menjauhnya umat dari Al-Qur`an dan As-Sunnah. Sehingga mereka tidak memiliki filter untuk membedakan mana yang dari Islam dan mana yang bukan. Hal ini diperparah dengan jarangnya orang yang memiliki perhatian untuk merombak situasi yang semrawut ini. Bahkan didapati orang yang justru berkampanye untuk melestarikannya dengan berbagai dalih, di antaranya kebebasan berekspresi.

Seorang tua manakala melihat perilaku anaknya yang menyimpang, terkadang hanya menanggapi dengan bahasa dingin: “Lumrah,” atau “Dulu kita waktu masih muda juga seperti itu,” atau kalimat yang semisal. Padahal dari sinilah masa depan suatu bangsa ditentukan. Sehingga pembangunan di berbagai bidang tidak akan banyak berguna manakala mentalitas dan moralitas umat tidak dibangun. Ini merupakan tugas berat yang dipikul oleh pemerintah dan ahlul ilmi, yang menuntut langkah cepat dan tepat sebelum segala sesuatunya terlambat.

Kejahatan moral tidak bisa dianggap enteng karena akan bisa menggoncang stabilitas bangsa dan salah satu jembatan menuju masa depan di akhirat yang suram. Tidak heran jika sekarang ada orang yang mengeluhkan perilaku jelek tetangganya, seorang istri mengeluh karena dimaki suaminya, seorang ayah diperlakukan yang tidak sewajarnya oleh anaknya dan segudang keluhan. Akankah kondisi seperti ini dibiarkan berlarut-larut sehingga jumlah korban semakin bertambah?!! Atau akan ada langkah perbaikan, yang tidak akan terwujud kecuali dengan kembali kepada Al-Qur`an dan As-Sunnah? Demikian pula dengan meneladani Rasulullah n dalam bergaul di tengah-tengah masyarakatnya sehingga tercapai kehidupan yang harmonis. Allah l berfirman:

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu.” (Al-Ahzab: 21)

Kita akan dapatkan pada diri Rasulullah n keteladanan pada berbagai sisi. Beliau n bisa mendudukkan orang pada tempatnya masing-masing. Dari sisi hubungan dengan masyarakat, Nabi n adalah seorang yang rendah hati. Tidak membedakan yang kaya dan yang miskin. Terhadap anak kecil, Nabi n menyayangi, sedangkan terhadap orang tua beliau n menghormati. Beliau n sangat sayang kepada manusia dan sangat sedih akan perkara yang menyusahkan mereka. Beliau n ikut berbahagia bersama kebahagiaan mereka dan ikut mengentaskan derita yang dialami mereka. Beliau n sangat penyabar dan tidak membalas kejahatan orang terhadap dirinya, bahkan beliau n memaafkan.

Di tengah-tengah keluarga, beliau n seorang yang terbaik terhadap istri-istri dan anak-anaknya. Nabi n mendidik keluarganya untuk cinta kebaikan dan amal ketaatan, sekaligus mengingkari serta menasihati berbagai perilaku yang keliru. Beliau n tidak menyia-nyiakan hak anak dan istrinya, sangat bertanggung jawab akan kewajibannya. Sehingga beliau n berpesan agar memerhatikan hak mereka serta memperingatkan dengan sabdanya:

كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُضَيِّعَ مَنْ يَقُوتُ

“Cukup seseorang berbuat dosa manakala menyia-nyiakan orang yang menjadi tanggungannya.” (HR. Ahmad dll, Asy-Syaikh Al-Albani t menghasankannya dalam Shahih Al-Jami’)

Sedangkan hubungan dengan dunia luar, Nabi n sangat menjaga perjanjian yang diikat bersama mereka. Tidak berkhianat dan tetap menjunjung tinggi etika. Hal seperti ini yang menjadikan musuh salut, lalu tidak sedikit dari mereka yang akhirnya tertarik dengan Islam. Inilah pelajaran yang berharga dari kehidupan Rasulullah n. Dengan akhlak beliau n, orang yang sudah masuk Islam semakin cinta dengan keislamannya, dan yang kafir tertarik untuk masuk Islam. Sudahkah kita mencontoh Rasulullah n? Tentu jawabannya ada pada diri kita masing-masing.

Suatu hal yang sangat disayangkan, jika ada sebagian orang yang mengaku mengikuti Rasulullah n dan Salaf Shalih, namun belum tercermin dalam perilaku di tengah masyarakatnya. Bukan tidak ada, orang yang setelah mengenal kebaikan (ngaji) justru sikapnya terhadap orangtuanya berubah. Yang tadinya santun, menjadi kaku pergaulannya. Tidak mau mengucapkan salam dan menyapa kepada orang lain. Acuh tak acuh dengan lingkungannya. Sungguh sikap-sikap tersebut dan semisalnya sangat jauh dari tuntunan Nabi n, sekaligus menjadikan manusia fobi dengan syariat ini.

Kalau ada yang berdalih bahwa mereka itu orang awam dan ahli maksiat sehingga kita sikapi seperti itu, jawabannya bahwa justru karena mereka awam maka seharusnya kita bimbing mereka kepada kebaikan dengan nasihat dan perilaku kita yang baik. Bukan malah menjadikan mereka buta bahkan antipati dengan agama ini. Kalau kita mau mengaca diri, kita juga mendapatkan diri kita seperti mereka yang awam sebelum mendapat petunjuk. Apakah kita tidak ingin kalau orang lain mendapat petunjuk seperti kita?! Sungguh kalau seseorang diberi hidayah oleh Allah l melalui kita, lebih baik bagi kita daripada mendapat onta merah (di masa Rasulullah n, ini merupakan harta yang demikian berharga). Bukankah Allah l dan Rasul-Nya memerintahkan kita untuk berbakti kepada orangtua? Bukankah Rasulullah n memerintahkan kita untuk menebarkan salam yang akan mendatangkan sikap saling cinta?! Bukankah Nabi n memerintahkan kita dalam haditsnya:

وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

“Dan bergaullah dengan manusia dengan budi pekerti yang baik.” (HR. At-Tirmidzi dll, lihat Shahih Al-Jami’ no. 97)

Janganlah keterasingan yang ada pada kita tatkala menjalankan agama Allah l ditambah dengan berbagai sikap kita, justru tidak mengundang simpati masyarakat. Nabi n dahulu telah menyebutkan (yang artinya): “Sesungguhnya ada dari kalian yang membuat orang lari dari Islam.” (HR. Al-Bukhari no. 702)

Namun hal ini bukan berarti bahwa kita larut dalam pergaulan yang batil dan sia-sia. Karena bisa dibedakan antara adab-adab syar’i dengan adat istiadat yang menyelisihi. Islam telah memberikan batasan-batasan yang jelas dalam hal ini. Kemudian hal yang penting juga, kita tidak mempertajam perbedaan pendapat di tengah masyarakat dalam perkara yang tidak menyelisihi nash Al-Qur`an dan As-Sunnah serta ijma’ ulama, yaitu perkara yang terdapat ruang bagi ulama untuk berijtihad dalam perkara ini. Jika kondisi menuntut adanya diskusi, bisa dilakukan tanpa harus memaksakan pendapat. Hal ini penting untuk diketahui, karena perbedaan seperti ini bukan tidak mungkin akan dijadikan alat untuk membenturkan umat satu dengan lainnya. Yang ujung-ujungnya adalah runtuhnya sendi-sendi kehidupan masyarakat. Satu dengan lainnya tidak tegur sapa, memikirkan diri sendiri, dan masa bodoh dengan yang lain. Jika seperti ini, umat sangat dirugikan dan keindahan Islam tercoreng oleh pemeluknya sendiri.

Sungguh kita semua mendambakan kehidupan yang bahagia seperti yang dijalani Nabi n dan sahabatnya. Suatu masyarakat yang masing-masing individunya tahu tanggung jawab dan tugas yang dipikulnya. Tahu peran masing-masing untuk terwujudnya kemuliaan Islam dan muslimin. Mungkinkah harapan ini menjadi kenyataan? Semoga…

Antara Tradisi dan Akhlak Islami

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Abdul Mu’thi, Lc.)

 

Seiring dengan jauhnya umat dari ajaran yang benar, membuat syariat Islam acap terkacaukan dengan tradisi yang berkembang di masyarakat, lebih-lebih ritual yang menggunakan simbol-simbol Islam.

Manusia secara umum sekalipun orang yang bersih fitrahnya, sangat membutuhkan penjelasan tentang akhlak dan adab yang sesuai syariat melalui dalil-dalil dari Al-Qur`an dan As-Sunnah. Sehingga pernyataan sebagian orang bahwa permasalahan adab tidak perlu menengok kepada dalil syar’i sangat keliru dengan dua alasan:

Pertama: Banyak akhlak yang tidak diketahui hukumnya oleh manusia, sehingga sesuatu yang tidak baik terkadang dianggap baik dan yang bukan jelek dianggap jelek. Sungguh seseorang seberapapun ia mendapat derajat keilmuan, keshalihan dan adab, tentu ada akhlak yang tidak  diketahuinya. Terlebih di saat adat kebiasaan manusia berbeda-beda satu dengan yang lainnya, karena biasanya orang mencampuradukkan antara adat dan adab. Sebagai misal yaitu tatkala sahabat Mu’adz bin Jabal z datang dari Syam kemudian menghadap Nabi n, ia sujud di hadapan beliau. Lalu Nabi n menegurnya: “Apa ini wahai Mu’adz?” Mu’adz z mengatakan bahwa tatkala datang ke Syam, ia mendapatkan manusia sujud kepada para uskup dan pendeta mereka, maka Mu’adz n ingin melakukan hal itu terhadap Nabi n. Maka Rasulullah n mengatakan (yang artinya):

“Jangan kamu lakukan, karena seandainya aku memerintahkan seseorang untuk sujud kepada selain Allah niscaya aku akan memerintahkan wanita untuk sujud kepada suaminya. Demi yang jiwaku ada di tangan-Nya (demi Allah) seorang wanita belum (dikatakan) menunaikan hak Rabbnya sampai ia menunaikan hak suaminya….” (lihat Shahih Sunan Ibnu Majah no. 1515)

Perhatikanlah! Kalau sebagian permasalahan adab ada yang luput dari pengetahuan sahabat, generasi terbaik umat ini, sehingga Nabi n memberikan penjelasannya, tentunya yang bukan mereka lebih sangat membutuhkan bimbingan.

Kedua: Telah diselewengkannya syariat Allah l pada benak sebagian orang, setelah jauhnya mereka dari masa kenabian dan kakunya hati, serta terjadinya perbauran dengan umat selain muslimin. Seperti yang terlihat nyata pada kehidupan masyarakat yang menjadikan hawa nafsu sebagai pijakan untuk menghalalkan dan mengharamkan. Mereka membuat-buat aturan tentang adab dengan penuh percaya diri akan kebenarannya, padahal kenyataannya tidak sedikit yang bertentangan dengan syariat.

Berikut contoh-contohnya:

1. Masyarakat ‘modern’ hari ini dan di masa lampau hampir sama keyakinannya bahwa membuat monumen pahlawan dan orang-orang besar serta menampakkan kekhusyukan di sisinya sebagai bentuk ungkapan terima kasih atas jasa-jasa mereka. Bahkan terkadang ditambah dengan menyengaja mendatangi kuburan mereka untuk berdoa di sisinya atau meminta pertolongan kepada penghuninya. Mereka memandang bahwa jika tidak dilakukan seperti itu, berarti tidak memerhatikan peninggalan sejarah dan ini merupakan cacat dalam peradaban. Padahal yang demikian menurut syariat ini sangat jauh dari akhlak mulia, bahkan itu akhlak yang jelek. Bukan berarti kami mengajak untuk tidak menghormati mereka, tetapi menghormati jasa mereka bukan demikian caranya. Karena meskipun hal tersebut mengandung penghormatan kepada para pahlawan, namun juga mengandung perampasan terhadap hak Allah l yaitu tulusnya peribadatan kepada-Nya.

Nabi n juga melarang membuat gambar orang-orang yang shalih dan membuat patung-patung mereka. Nabi n bersabda (yang artinya):

“Orang-orang itu apabila mati seorang yang shalih dari mereka, mereka membangun di atas kuburannya sebuah masjid (tempat ibadah) lalu mereka menggambar padanya gambar tersebut. Mereka adalah sejelek-jelek makhluk di sisi Allah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

2. Membatasi kelahiran di zaman sekarang dianggap sebagai kesadaran dalam menata perekonomian dan peradaban yang maju. Sampai-sampai ada di antara mereka (rumah tangga) yang lebih suka memelihara anjing dan tidak mau mengasuh anak. Padahal banyaknya keturunan dalam syariat ini merupakan wasiat Nabi n kepada umatnya. Nabi n bersabda:

تَزَوَّجُوا الْوَدُودَ الْوَلُودَ فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمُ الْأُمَمَ

“Nikahilah oleh kalian (wanita) yang penyayang dan banyak anak, karena aku akan berbangga dengan banyaknya kalian di hadapan umat-umat.” (HR. Abu Dawud dan dishahihkan oleh Al-Albani t dalam Al-Irwa` no. 1784)

3. Perbauran laki-laki dengan perempuan yang bukan mahram (ikhtilath) dianggap sebagai keterbukaan sikap. Bahkan terkadang dijadikan sebagai sarana terbaik bagi para lelaki dan perempuan untuk terlepas dari sikap minder. Lebih parah lagi, ada yang mengatakan bahwa itu adalah cara untuk menyetabilkan birahi. Menurut mereka pula bahwa pelecehan seksual bisa diminimalisir dengan semakin dekatnya hubungan di antara dua jenis manusia. Falsafah mereka terilhami dari ucapan sebagian orang bahwa “banyak gesekan akan menghilangkan perasaan.” Sungguh realita mereka telah mendustakan falsafah ini. Bahkan orang yang melihat pada angka kriminalitas berkaitan dengan kesusilaan akan bisa memberi kesimpulan bahwa negeri Barat yang telah mempraktikkan ikhtilath secara total adalah murni bagaikan hutan rimba yang penuh dengan hewan. Rasul kita Muhammad n, orang yang paling tahu tentang kejiwaan manusia, telah mengatakan dalam haditsnya:

مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلىَ الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

“Tidaklah aku tinggalkan sepeninggalku suatu fitnah (ujian) yang lebih berbahaya atas laki-laki daripada wanita.” (Muttafaqun ‘alaih)

Dan supaya terhindar dari fitnah yang berbahaya ini, Rasulullah n bersungguh-sungguh untuk tidak terjadi percampuran antara laki-laki dan perempuan, meskipun di tempat yang paling suci yaitu masjid. (Diambil secara ringkas dari kitab Raf’u Adz-Dzul wa Ash-Shaghar ‘anil Maftunin bi Khuluqil Kuffar hal. 53-60)

Namun hal ini bukan berarti melarang adat kebiasaan yang tidak menyelisihi syariat. Karena yang dilarang adalah membuat suatu peraturan tentang adab yang bertentangan dengan syariat Islam.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Adab Bermasyarakat

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Abdul Mu’thi, Lc.)

 

Manusia adalah makhluk sosial, satu dengan lainnya saling bergantung dan membutuhkan. Seseorang akan merasa tentram bila hidup bersama makhluk sejenisnya dan akan merasa kesepian manakala hidup sendirian.

Jika demikian keadaannya maka mau tidak mau seseorang harus memiliki perangai yang dengannya akan terwujud keberlangsungan hidup yang baik di tengah-tengah masyarakatnya.

Dalam hidup bermasyarakat setiap orang akan menghadapi manusia dengan berbagai corak dan watak yang berbeda-beda. Tentunya sebagai bagian dari masyarakat, seseorang ada kalanya menjadi pelaku (fa’il/ subjek) atau yang diperlakukan (maf’ul bihi/ objek). Terkadang memberi dan adakalanya diberi. Bila ingin menjadi anggota masyarakat yang baik, hendaklah berusaha memberikan yang terbaik bagi masyarakatnya. Membimbing mereka kepada jalan kebaikan dan kemaslahatan serta mencegah mereka dari hal-hal yang membahayakan. Nabi n bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling berguna bagi manusia.” (HR. Ath-Thabarani dan Ad-Daruquthni dan dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Shahih Al-Jami’ no. 3289)

Apa yang manusia berikan kepadanya adalah salah satu dari dua perkara:

1. Kadang ia diperlakukan baik oleh mereka, maka hendaklah ia berterima kasih dan membalas kebaikan mereka. Nabi n bersabda:

مَنْ لاَ يَشْكُرِ النَّاسَ لاَ يَشْكُرِ اللهَ

“Orang yang tidak berterima kasih kepada manusia, berarti tidak bersyukur kepada Allah.” (Shahih Sunan At-Tirmidzi no. 1954)

2. Adakalanya dia diperlakukan jelek, maka dalam kondisi seperti ini hendaknya  dia bersabar. Nabi n telah memberi berita gembira kepada orang yang bersabar terhadap gangguan manusia dengan sabdanya (yang artinya): “Seorang mukmin yang bergaul dengan manusia dan bersabar atas gangguan mereka lebih baik daripada yang tidak bergaul dengan manusia dan tidak bersabar terhadap gangguan mereka.” (Shahih Al-Adabul Al-Mufrad no. 300)

 

Akhlak yang Mulia dan Pengaruhnya dalam Pergaulan

Biasanya orang menilai baik dan buruknya seseorang dengan melihat perilaku kesehariannya. Mereka tidak akan menaruh simpati kepada seseorang sedalam apapun ilmunya dan sebesar apapun ketaatannya, manakala akhlak yang mulia tidak bisa tercermin dalam kehidupannya. Memang benar, jika lahiriah seseorang tidak menunjukkan kebaikan, itu merupakan bukti bahwa di batinnya ada kejelekan. Dahulu orang Arab mengatakan bahwa “Setiap bejana bila dituangkan akan mengeluarkan isinya masing-masing.”

Allah l di banyak ayat Al-Qur`an telah memerintahkan para hamba-Nya agar menghiasi diri mereka dengan akhlak yang mulia serta memberi berita gembira dengan surga. Allah l berfirman:

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabbmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya) baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Ali ‘Imran: 133-134)

Demikian pula Rasulullah n dalam banyak haditsnya menganjurkan umatnya untuk menghiasi diri mereka dengan akhlak yang mulia. Sampai-sampai ketika beliau ditanya tentang sebaik-baik anugerah yang diberikan kepada seseorang, beliau menjawab: “Akhlak yang baik.” (Shahih Sunan Ibnu Majah no. 2789)

Seseorang bisa jadi tidak diberi kemudahan untuk banyak shalat malam dan puasa sunnah di siang hari. Namun bila baik akhlaknya, dia bisa menyusul dan mendapatkan derajat orang-orang yang melakukan shalat dan puasa. Nabi n bersabda:

إِنَّ الْمُؤْمِنَ لَيُدْرِكُ بِحُسْنِ خُلُقِهِ دَرَجَةَ الصَّائِمِ الْقَائِمِ

 

“Sesungguhnya seorang mukmin mendapat derajat orang yang berpuasa dan shalat malam dengan sebab baiknya akhlak.” (HR. Abu Dawud dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Shahih Al-Jami’ no. 1932)

Berbicara tentang akhlak yang mulia sangat luas cakupannya. Apa yang telah disebutkan kiranya telah cukup untuk mengingatkan kaum mukminin supaya yang lalai terbangun dan yang lupa menjadi ingat. Hendaklah seorang mengaca diri, apakah terhadap orang lain dia berlemah lembut, berwajah ceria dan murah senyum?! Di mana dengan sikap itu mereka akan tenteram dengannya, suka berada di sisinya, dan mau bercengkrama dengannya. Mereka berlomba-lomba untuk menemaninya dalam perjalanan. Jiwa mereka tenang dari kejahatannya sebagaimana mereka merasa aman pada harta dan kehormatan mereka. Jual belinya mudah, ucapannya jujur, janjinya ditepati, dan tutur katanya baik. Tangannya terhindar dari kejahatan dan matanya tercegah dari khianat. Ucapan salamnya diberikan kepada pembantunya sebagaimana dia berikan kepada pemimpinnya. Wajahnya tersenyum ceria kepada orang yang tidak dia kenal seperti kalau ia tersenyum kepada rekan sejawatnya. Kedengkian hatinya telah tercabut dan prasangkanya terhadap saudaranya baik serta persaudaraannya tulus. Allah l berfirman:

“Dan orang-orang yang beriman lelaki dan perempuan sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan taat kepada Allah dan rasul-Nya mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (At-Taubah: 71)

(Diambil dari kitab Al-Mau’izhah Al-Hasanah karya Asy-Syaikh Abdul Malik Ramadhani dari hal. 4-23 secara ringkas)

Adapun hakikat akhlak yang baik dalam bergaul bersama masyarakat adalah seperti yang dikatakan oleh Abdullah bin Mubarak t yaitu: wajah yang lapang (tersenyum), memberikan kebaikan, dan menahan diri dari menyakiti orang. (lihat Shahih Sunan At-Tirmidzi no. 2005)

Berikut ini penjelasannya:

– Berseri-serinya wajah di saat berjumpa dengan orang tidak diragukan lagi merupakan bentuk meresapkan kebahagiaan kepada orang lain serta menarik kecintaan mereka, di samping pelakunya juga akan mendapat pahala. Nabi n bersabda (yang artinya): “Janganlah kamu meremehkan kebaikan sekecil apapun, meski kamu berjumpa dengan saudaramu dengan wajah yang berseri-seri.” (Mukhtashar Shahih Muslim no. 1782).

Coba kita berangkat dari sesuatu yang mudah dan tidak membutuhkan modal yaitu tersenyum. Niscaya kita akan sampai kepada sesuatu yang tinggi. Tetapi jika yang seperti ini saja diremehkan, mana mungkin bisa melakukan yang lebih besar? Kita justru menyaksikan pemandangan yang sebaliknya. Banyak manusia bila berpapasan dengan orang bukannya menebar salam dan senyuman, bahkan menampilkan wajah cemberut dan muka yang berpaling. Bila kaum muslimin bakhil dengan adab yang seperti ini, adab mana lagi yang akan dijalankan?! Maka, orang yang mengikuti jalan Nabi n dan Salafush Shalih semestinya tahu bahwa ini merupakan salah satu jalan untuk diterimanya dakwah al-haq. Jadikanlah orang tertarik dan cinta dengan dakwah ini dan jangan membuat mereka lari. Sapalah orang yang berjumpa denganmu dan yang duduk semajelis denganmu, terutama mereka yang baru mengenal dakwah dan mulai tertarik dengan dakwah al-haq. Jangan bermuka sangar dan seram, karena hal itu akan memudaratkanmu dan kebenaran yang ada pada dirimu.

– Adapun memberikan kebaikan kepada orang maka sangat banyak bentuknya. Adakalanya dengan memberikan materi kepada orang yang membutuhkan, atau menyumbangkan tenaga, pikiran dan saran, atau apa saja yang bisa kita suguhkan dalam rangka mewujudkan maslahat bersama.

Memang manusia pada umumnya memiliki sifat egois dan mementingkan diri sendiri. Namun watak yang tercela ini bukan berarti tidak bisa diobati. Sesungguhnya membaca kisah-kisah keteladanan yang ada dalam Al-Qur`an, hadits, dan kitab-kitab sejarah para ulama Islam adalah salah satu jalan untuk seorang bisa meninggalkan sifat egois. Misalnya kisah Nabi Musa q ketika beliau lari dari Mesir, saat Fir’aun dan pasukannya hendak membunuhnya. Beliau berjalan kaki berhari-hari dengan rasa lapar yang luar biasa dan keletihan yang tiada tara. Sesampainya di Madyan, beliau melihat sekelompok manusia tengah memberi minum ternaknya. Di sana ada pula dua wanita penggembala yang tidak ikut berdesakan memberi minum ternaknya. Watak baik Nabi Musa q mendorongnya untuk membantu dua wanita yang lemah tadi untuk memberi minum ternak mereka, meski tubuhnya letih, pikirannya capek, dan perutnya kosong. Dibantunya dua wanita tadi tanpa meminta upah sedikitpun, padahal kondisinya sangat membutuhkan.

Demikian pula di masa khalifah Abu Bakr z. Manusia ditimpa kekeringan dan paceklik. Tatkala kondisi semakin parah, mereka datang kepada Abu Bakr dan mengatakan: “Wahai khalifah Rasulullah, langit tidak menurunkan hujan dan tanah tidak bisa tumbuh. Sementara manusia memperkirakan akan binasa, lalu apa yang harus kita lakukan?”

Abu Bakr mengatakan: “Beranjaklah kalian dan bersabarlah! Sungguh aku berharap kalian tidak sampai memasuki sore melainkan Allah l akan melepaskan derita kalian.” Tatkala sore telah tiba, datang berita bahwa unta ‘Utsman telah datang dari Syam dan akan sampai Madinah besok pagi. Tatkala telah sampai, manusia keluar untuk menyambutnya. Ternyata ada seribu unta yang membawa gandum, minyak, dan kismis, lalu berhenti di depan rumah ‘Utsman.

Para pedagang mendatanginya dengan mengatakan: “Juallah barang ini kepada kami, karena kamu tahu manusia sangat membutuhkannya!”

‘Utsman mengatakan: “Dengan penuh kecintaan. Berapa kalian mau memberi untung barang daganganku?”

Mereka mengatakan: “Setiap kamu beli satu dirham kami membeli darimu dua dirham.”

‘Utsman berkata: “Ada yang berani memberi untung kepadaku lebih dari ini?”

Mereka berkata: “Kami beli empat dirham.”

‘Utsman mengatakan: “Ada yang berani lebih dari ini?”

Mereka mengatakan: “Lima dirham.”

‘Utsman mengatakan: “Ada yang berani lebih dari ini?”

Mereka mengatakan: “Wahai Abu ‘Amr (‘Utsman), tidak ada di Madinah para pedagang selain kami? Siapa lagi yang akan bisa membeli dengan harga ini?”

‘Utsman mengatakan: “Sesungguhnya Allah telah memberi untung kepadaku sepuluh setiap satu dirham. Apakah kalian bisa lebih?” Mereka mengatakan: “Tidak.”

‘Utsman berkata: “Sesungguhnya aku jadikan Allah l sebagai saksi bahwa aku telah menjadikan seluruh yang dibawa unta-unta ini adalah shadaqah untuk orang-orang fakir miskin dan yang membutuhkan.”

Ya, ‘Utsman z telah menjualnya kepada Allah l dengan laba yang tidak bisa dihitung oleh manusia. (lihat Al-Khulafa` Ar-Rasyidun wad Daulah Umawiyah hal. 75-76).

Masih adakah orang-orang seperti ‘Utsman dan para pedagang tadi yang bersegera untuk melepaskan krisis yang hampir menelan banyak korban, tanpa mereka mencari keuntungan duniawi setitikpun? Padahal kalau mereka ingin memanfaatkan kesempatan, niscaya mereka meraup keuntungan sebesar-besarnya. Keinginan untuk mendapat pahala dari Allah l dan tertanamnya sifat belas kasihan menghalangi mereka dari nafsu serakah. Apakah kiranya para saudagar kaya bisa mengambil pelajaran dari ini?! Atau bahkan mereka akan tetap larut di atas kerakusan mereka serta menari-nari di atas penderitaan umat? Hanya kepada Allah l kita adukan nasib kita.

– Sedangkan yang ketiga adalah menghindarkan dari menyakiti orang.

Cukuplah jika seseorang belum bisa berbuat baik kepada orang untuk menahan dirinya dari mengganggu manusia, baik terhadap nyawa, harta, atau kehormatannya. Adalah Nabi n telah mengumumkan haramnya seorang muslim mengganggu orang lain di saat perkumpulan akbar yaitu ketika haji wada’ (haji perpisahan).

Siapa saja yang mengganggu orang lain dengan mengambil hartanya, menipu, mencerca dan semisalnya maka tidak dikatakan baik akhlaknya. Akan semakin jelek manakala orang yang disakiti memiliki hak yang besar atasnya. Menyakiti kedua orangtua lebih besar dosanya daripada kepada orang lain. Mengganggu karib kerabat lebih jahat daripada kepada orang jauh. Demikian pula terhadap tetangga lebih besar dosanya daripada kepada selain tetangga.

Oleh karena itu Islam telah menentukan adanya hukum had seperti qishash bagi yang membunuh dengan sengaja, potong tangan bagi yang mencuri, hukuman dera bagi yang meminum khamr, dan lainnya. Ini semua dalam rangka menjaga kehormatan manusia agar tidak diganggu tanpa hak.

Bahkan orang-orang yang rentan untuk dizalimi seperti para budak, istri, anak-anak, orang fakir dan semisalnya, hak mereka telah dilindungi oleh syariat Islam. Kita ambil contoh, peristiwa Abu Mas’ud z ketika suatu hari budaknya lengah di saat menggembalakan kambingnya sehingga ada yang dimakan serigala. Abu Mas’ud z marah dan mencambuknya. Lalu dari belakang terdengar suara: “Wahai Abu Mas’ud, sungguh Allah lebih mampu untuk menghukum kamu daripada kamu menghukum budakmu!” Abu Mas’ud z menoleh, ternyata itu adalah Rasulullah n. Abu Mas’ud z mengatakan: “Wahai Rasulullah, budak itu saya merdekakan ikhlas karena Allah!” Nabi n mengatakan: “Ketahuilah, jika kamu tidak melakukan demikian niscaya kamu disentuh oleh api neraka.” (lihat Shahih Al-Adab Al-Mufrad no. 127)

Nabi n juga bersabda:

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَاءِهِمْ خُلُقًا

“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah orang yang terbaik akhlaknya dan sebaik-baik kalian adalah orang yang terbaik akhlaknya terhadap istrinya.” (HR. At-Tirmidzi no. 1162 dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani t)

Adab dalam Islam dan Perhatian Islam Terhadapnya

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Abdul Mu’thi, Lc.)

 

Adab dalam pandangan Islam bukanlah perkara remeh. Bahkan ia menjadi salah satu inti ajaran Islam. Demikian penting perkara ini, hingga para ulama salaf sampai menyusun kitab khusus yang membahas tentang adab ini.

Di tengah padang sahara yang membakar, bergolak kehidupan masyarakat jahiliah yang tidak mengenal kebaikan kecuali apa yang diwariskan oleh nenek moyang. Penyimpangan dari agama Nabi Ibrahim q (mengesakan Allah l dalam ibadah) tercermin pada banyaknya berhala yang disembah selain Allah l. Masing-masing kabilah memiliki berhala yang mereka yakini mampu mendatangkan manfaat dan menolak marabahaya. Bahkan kesucian Ka’bah pun telah tercemari dengan berdirinya sekian ratus berhala yang diagung-agungkan di sekitarnya.

Dari sisi tatanan kehidupan bermasyarakat, mereka telah mencapai titik terparah. Tidak ada pemimpin yang menyatukan mereka, sehingga masing-masing ingin berkuasa dan menindas yang lainnya. Berlaku bagi mereka undang-undang jahiliah: “Siapa yang kuat dia yang menang.” Kejahatan moral dan penyimpangan kesusilaan merupakan pemandangan yang mewarnai kehidupan sehari-hari.

Demikian gambaran kondisi bangsa Arab sebelum diutusnya Nabi Muhammad n. Maka Allah l dengan rahmat-Nya mengutus Muhammad n untuk mengeluarkan mereka dari gelapnya kekufuran dan kebodohan kepada cahaya iman dan ilmu. Allah l berfirman:

“Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (As-Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (Al-Jumu’ah: 2)
Allah l mengutus Nabi-Nya n dengan syariat yang sempurna, yang telah menjamin kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat kelak bagi orang yang berpegang teguh dengannya. Syariat yang beliau n bawa bersifat universal, di mana segala aspek kehidupan manusia telah diatur dalam Islam dengan begitu rapinya. Di antara yang terpenting yang dibawa oleh Islam adalah memperbaiki kondisi batin manusia dan membimbing mereka kepada keteguhan hati di atas agama, serta memunculkan kontrol keimanan yang mendorong kepada kebaikan dan mencegah dari kejahatan.
Sebagai misal adalah diwajibkannya shalat, zakat, puasa, dan haji. Amal-amal tersebut selain dikerjakan sebagai bentuk ketundukan kepada Allah l demi meraih surga-Nya, juga mengandung manfaat yang banyak. Shalat misalnya. Bila dikerjakan dengan ikhlas dan benar akan mencegah pelakunya dari perbuatan keji dan mungkar, sebagaimana firman Allah l:
ﯣ ﯤ ﯥ ﯦ ﯧ ﯨﯩ
“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.” (Al-‘Ankabut: 45)
Zakat sebagai bentuk memerangi hawa nafsu dari sikap bakhil dan menyantuni orang fakir serta yang membutuhkan. Puasa akan melatih kesabaran dan menumbuhkan kepekaan sosial serta jiwa suka berderma. Haji sebagai bentuk pengorbanan dengan harta dan tenaga.
Dari sini jelas, bahwa perintah-perintah agama dilakukan bukan sekadar rutinitas yang hampa dari makna. Bahkan terkandung berbagai maksud dan tujuan. Di antaranya adalah membentuk kepribadian yang memiliki adab yang mulia dan budi pekerti yang luhur.
Kedudukan Adab dalam Islam
Adab adalah menggunakan sesuatu yang terpuji berupa ucapan dan perbuatan atau yang terkenal dengan sebutan Al-Akhlaq Al-Karimah. Dalam Islam, masalah adab dan akhlak mendapat perhatian serius yang tidak didapatkan pada tatanan manapun. Hal ini dikarenakan syariat Islam adalah kumpulan dari aqidah, ibadah, akhlak, dan muamalah. Ini semua tidak bisa dipisah-pisahkan. Manakala seseorang mengesampingkan salah satu dari perkara tersebut, misalnya akhlak, maka akan terjadi ketimpangan dalam perkara dunia dan akhiratnya. Satu sama lainnya ada keterkaitan sebagaimana sabda Rasulullah n:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِفَلْيُحْسِنْ إِلَى جَارِهِ
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia berbuat baik terhadap tetangganya.” (HR. Muslim, Bab Al-Hatstsu’ala Ikramil Jaar wadh Dhaif)
Di sini terlihat jelas bagaimana kaitan antara akidah dan akhlak yang baik. Oleh karena itu, Nabi n menafikan keimanan orang yang tidak menjaga amanah dan janjinya.
لاَ إِيْمَانَ لِمَنْ لاَ أَمَانَةَ لَهُ، وَلاَ دِيْنَ لِمَنْ لاَ عَهْدَ لَهُ
“Tidak ada iman bagi orang yang tidak menjaga amanah dan tidak ada agama bagi orang yang tidak menjaga janjinya.” (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban. Dishahihkan oleh Al-Albani t dalam Shahih Al-Jami’ no. 7179)
Bahkan suatu ibadah tidak ada nilainya manakala adab dan akhlak tidak dijaga. Nabi n bersabda (yang artinya): “Barangsiapa tidak meninggalkan ucapan dusta dan perbuatan dusta maka Allah tidak butuh dengan (amalan) meninggalkan makan dan minumnya (puasa, red.).” (HR. Al-Bukhari no. 1903). Yakni puasanya tidak dianggap.
Allah l telah menjelaskan bahwa adab memiliki pengaruh yang besar untuk mendatangkan kecintaan dari manusia, sebagaimana firman-Nya:
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut, terhadap mereka. Seandainya kamu bersikap keras lagi berhati kasar tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.” (Ali ‘Imran: 159)
Asy-Syaikh As-Sa’di t menerangkan: “Akhlak yang baik dari seorang pemuka (tokoh) agama menjadikan manusia tertarik masuk ke dalam agama Allah l dan menjadikan mereka senang dengan agama-Nya. Di samping itu, pelakunya akan mendapat pujian dan pahala yang khusus. (Sebaliknya) akhlak yang jelek dari seorang tokoh agama menyebabkan orang lari dari agama dan benci kepadanya, di samping bagi pelakunya mendapat celaan dan hukuman yang khusus. Inilah Rasulullah n, seorang yang ma’shum (terjaga dari kesalahan). Allah l mengatakan kepadanya apa yang Allah l katakan (pada ayat ini). Bagaimana dengan selainnya? Bukankah hal yang paling harus dan perkara terpenting adalah seseorang meniru akhlaknya yang mulia, bergaul dengan manusia dengan apa yang Nabi n contohkan berupa sifat lemah lembut, akhlak yang baik dan menjadikan hati manusia suka? Ini dalam rangka melaksanakan perintah Allah l dan menarik para hamba ke dalam agama-Nya.” (Taisir Al-Karimirrahman hal. 154)
Pembagian Adab
Pembahasan adab sangat luas cakupannya. Tidak terbatas pada masalah adab terhadap manusia saja. Bahkan pembahasan adab mencakup:
1. Adab terhadap Allah l.
Yakni dengan seseorang memercayai berita-Nya, menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya serta bersabar atas takdir-Nya. Di dalam dirinya tertanam sikap cinta, berharap, dan takut hanya kepada-Nya. Segala ucapan dan perbuatannya mencerminkan pengagungan dan penghormatan kepada-Nya. Namun adab terhadap Allah l tidak terealisasi dengan baik kecuali dengan mengenal nama-nama Allah l dan sifat-sifat-Nya yang mulia. Demikian pula dengan mengenal syariat-Nya, hal-hal yang dicintai Allah l dan yang dibenci-Nya, serta (yang tak kalah penting) adanya kesiapan jiwa untuk menerima kebenaran secara total. Ini adalah pokok dari adab. Manakala hal ini tidak ada pada diri seseorang maka tidak ada kebaikan pada dirinya.
2. Adab terhadap Rasulullah n.
Yaitu dengan berserah diri terhadap keputusannya, tunduk kepada perintahnya, dan memercayai beritanya tanpa mempertentangkannya dengan apapun, baik pendapat-pendapat manusia, keragu-raguan, kias (analogi) yang batil, atau dengan menyimpangkan ucapannya dari maksud yang sesungguhnya. Termasuk adab terhadap beliau n adalah tidak mendahului keputusannya dan tidak mengangkat suara di sisinya lebih dari suaranya. Allah l berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedang kamu tidak menyadari.” (Al-Hujurat: 2)
Jika mengangkat suara lebih dari suara Nabi n bisa menjadikan batal amal kebaikan seseorang, bagaimana kiranya orang yang menentang sabdanya dengan akal semata atau pendapat-pendapat manusia?!
3. Adab terhadap orang lain.
Yaitu bermuamalah (bergaul) bersama manusia dengan perbedaan status mereka sesuai kedudukannya. Terhadap orangtua, ada adab yang khusus baginya. Bersama orang alim dan penguasa, ada adab yang patut untuk mereka. Dengan tamu, ada adab yang tidak sama dengan keluarga sendiri. Demikian seterusnya.
4. Adab yang umum sesuai keadaan.
Misalnya adab ketika safar, bermajelis, makan dan minum.
Walhasil, beradabnya seorang pertanda kebahagiaan dan kesuksesannya. Lihatlah, bagaimana seseorang dilepaskan dari marabahaya karena baik adabnya terhadap orangtua, setelah sebelumnya terkurung dalam goa yang tertutup pintunya oleh batu besar. (lihat Shahih Al-Bukhari no. 5974)
Namun sebaliknya, seorang ahli ibadah dari bani Israil yang bernama Juraij tatkala kurang adabnya terhadap ibunya, dia mendapat doa kejelekan dari ibunya. Juraij mendapat musibah dengan dituduh berbuat zina sehingga dia ditangkap dan diarak dengan tangan terikat. Bahkan tempat ibadahnya pun dihancurkan. (lihat pembagian adab dan penjelasannya dalam kitab Madarijus Salikin karya Ibnul Qayyim t, 2/375-392 cet. Maktabah As-Sunnah)
Adab di mata Salaf
Salafush Shalih umat ini yaitu Rasulullah n, para sahabat g, tabi’in, dan yang mengikuti mereka sangat memerhatikan permasalahan adab. Karena adab adalah bagian dari syariat yang dengannya terwujud kemaslahatan dunia dan akhirat. Orang yang mencermati kehidupan Nabi n dan para sahabatnya g akan mendapatkan para sosok yang sempurna akhlak dan adabnya. Sesungguhnya lembaran sejarah keemasan kita yang masih terlipat semestinya kita buka dan kita pahami untuk diambil petunjuk darinya. Umat Islam seyogianya bersyukur bahwa para pendahulu mereka telah melewati kehidupan dunia ini dengan menyuguhkan yang terbaik bagi umat manusia.
Orang-orang yang terbimbing dengan wahyu Ilahi tidaklah mengambil dari adab dan akhlak melainkan yang paling mulia. Sebagaimana mereka tidak mengambil dari aqidah dan ibadah kecuali yang terbersih. Inilah Rasulullah n, sosok teladan yang berbuat baik dan adil tidak hanya kepada para sahabatnya. Bahkan terhadap musuh sekalipun beliau n tidak mengesampingkan adab. Adalah Nabi n ketika hendak berhijrah ke Madinah, beliau memerintahkan sahabat ‘Ali bin Abi Thalib z untuk tidur di rumah beliau n dan mengembalikan amanat/titipan orang-orang Quraisy. Nabi n tidaklah mengambil sedikitpun harta titipan orang-orang kafir tersebut, walaupun sekadar sebagai bekal untuk sampai di Madinah. Padahal beliau sangat membutuhkannya, apalagi merekalah yang menyebabkan beliau terusir dari Makkah. Maha Benar Allah ketika berfirman dengan memuji Nabi-Nya n:
ﮛ ﮜ ﮝ ﮞ ﮟ
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (Al-Qalam: 4)
Karena pentingnya permasalahan adab maka para ulama yang membukukan hadits-hadits Nabi n memuat dalam kitab-kitab mereka riwayat-riwayat yang berkaitan dengan adab dan akhlak. Al-Imam Al-Bukhari t misalnya di dalam Shahih-nya memuat lebih dari 250 hadits tentang adab. Bahkan beliau menulis kitab khusus tentang adab yang diberi judul Al-Adab Al-Mufrad, hanya saja kitab ini tidak disyaratkan semua haditsnya shahih, sehingga ada yang dhaif (lemah). Al-Imam Abu Dawud t, murid Al-Bukhari t, juga memuat sekitar 500 hadits tentang adab dalam Sunan-nya. Demikian pula Ibnu Hibban t memuat lebih dari 670 hadits adab dalam Shahih-nya.
Kitab-kitab adab secara khusus sendiri banyak sekali. Kita dapatkan kitab Al-Adab An-Nabawi karya Al-Baihaqi t, Al-Adab Asy-Syar’iyyah karya Ibnu Muflih Al-Hanbali t, Makarimul Akhlaq karya Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin t, Akhlaqul ‘Ulama karya Al-Ajurri t, Ash-Shamt karya Ibnu Abiddunya t, dan lain-lain. Ulama memiliki andil yang besar dalam menjaga hadits-hadits adab dan menyebarkannya. Di tengah-tengah keterpurukan moralitas umat, sudah semestinya kita kenalkan kepada mereka kitab-kitab tersebut. Semoga mereka mau kembali ke jalan yang benar dan krisis moral bisa dihindarkan.
Ciri dan Keistimewaan Adab Islami daripada Adab-adab selainnya
Adab-adab Islamiah memiliki keistimewaan besar di antaranya:
1. Bersifat menyeluruh, di mana syariat Islam telah mengatur segala sisi kehidupan muslimin dari yang terkecil hingga yang terbesar. Baik sebagai pribadi, di dalam keluarga, ataupun di tengah masyarakat. Sebagaimana kewajiban untuk berhias diri dengan adab Islam meliputi seluruh muslimin baik tua atau muda, laki-laki maupun perempuan.
2. Kokoh bersamaan dengan kokohnya nilai-nilai Islam.
Misalnya mengucapkan salam, berjabat tangan, jujur dan yang lainnya, termasuk adab-adab Islam yang tidak berubah dengan pergeseran waktu dan tempat.
3. Peduli terhadap orang lain. Adab-adab Islam mendidik seorang muslim untuk memiliki kepekaan dan perhatian terhadap masyarakat sekitarnya dan manusia secara umum. Di dalam pergaulan seseorang dilarang untuk bersikap egois dan acuh tak acuh. Nabi n bersabda:
لَيْسَ الْمُؤْمِنُ الَّذِي يَشْبَعُ وَجَارُهُ جَائِعٌ
“Bukan seorang mukmin yang dia kenyang sementara tetangganya kelaparan.” (Shahih Al-Adab Al-Mufrad no. 82)
Tidak cukup seseorang hanya menahan dirinya dari mengganggu orang, sampai ia berbuat baik kepada orang lain. Bahkan berbuat baik kepada yang berbuat jelek kepada kita. Nabi n bersabda (yang artinya): “Sambunglah orang yang memutuskan (hubungan) denganmu, berbuat baiklah kepada orang yang berbuat jelek kepadamu, dan ucapkanlah yang haq (benar) walau mengenai dirimu.” (HR. Ibnu An-Najjar, dan dishahihkan oleh Al-Albani t dalam Shahihul Jami’ no. 3769)
4. Adab-adab Islam dijalankan dengan sepenuh ketaatan. Seorang muslim berpegang dengannya semata-mata ingin mencari ridha Allah l dan dalam rangka menyambut perintah-Nya.
Bukan karena peraturan manusia atau undang-undang yang dibuat oleh mereka yang menyelisihi Al-Qur`an dan hadits. Allah l berfirman menjelaskan tentang orang-orang yang baik:
“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan. ‘Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih’.” (Al-Insan: 8-9)
Wallahu a’lam bish-shawab.