Keutamaan Berdzikir

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah)

 

Telah sama kita ketahui bahwa berzikir merupakan amalan yang mulia dan bernilai tinggi di sisi Rabbul ‘Izzah. Dengan berzikir, seorang hamba akan beroleh banyak keutamaan. Untuk menghasung kita agar memperbanyak zikir, berikut ini akan disebutkan beberapa keutamaan berzikir:

1.Berzikir akan mengusir setan, menundukkannya, dan membentengi diri darinya. Allah k berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari setan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.” (Al-A’raf: 201)

Adapun orang yang enggan berzikir, Allah l nyatakan dalam firman-Nya:

“Siapa yang berpaling dari berzikir kepada Allah Yang Maha Penyayang, Kami adakan baginya setan yang menyesatkannya maka setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.” (Az-Zukhruf: 36)

Al-Harits Al-Asy’ari z menyebutkan dari Nabi n bahwa beliau bersabda: “Sungguh Allah l memerintahkan lima perkara kepada Nabi Yahya bin Zakariyya q agar beliau mengamalkannya dan menyuruh Bani Israil untuk mengamalkannya pula. Namun hampir-hampir Yahya terlambat menyampaikannya kepada Bani Israil. Maka Nabi ‘Isa q berkata kepadanya, ‘Sungguh Allah l telah memerintahkan lima perkara kepadamu agar engkau mengamalkannya dan menyuruh Bani Israil untuk mengamalkannya pula. Namun sampai sekarang engkau belum menyampaikannya. Karenanya, engkau suruh mereka sekarang, atau aku yang akan menyuruh mereka!’ Yahya berkata, ‘Aku khawatir bila engkau mendahuluiku untuk menyampaikannya, aku akan ditenggelamkan ke dalam bumi atau aku akan diazab.’ Yahya pun mengumpulkan orang-orang di Baitul Maqdis hingga masjid tersebut penuh. Mereka duduk di atas balkon. Yahya berkata, ‘Sungguh Allah l memerintahkan lima perkara kepadaku agar aku mengamalkannya dan menyuruh kalian untuk mengamalkannya pula…’.”

Yahya pun menyebutkan kelima perkara tersebut, yaitu tauhid, shalat, puasa, sedekah, dan yang kelima, kata Yahya:

وَآمُرُكُمْ أَنْ تَذْكُرُوا اللهَ، فَإِنَّ مَثَلَ ذَلِكَ كَمَثَلِ رَجُلٍ خَرَجَ الْعَدُوُّ فِي أَثَرِهِ سِرَاعًا حَتَّى إِذَا أَتَى عَلَى حِصْنٍ حَصِيْنٍ فَأَحْرَزَ نَفْسَهُ مِنْهُمْ، كَذَلِكَ الْعَبْدُ لاَ يُحْرِزُ نَفْسَهُ مِنَ الشَّيْطَانِ إِلاَّ بِذِكْرِ اللهِ تَعَالَى…

Dan aku memerintahkan kalian untuk berzikir kepada Allah karena permisalan orang yang berzikir seperti orang yang dikejar oleh musuh dengan cepat hingga ketika ia mendatangi sebuah benteng yang kokoh ia berlindung di dalamnya dari kejaran musuh. Demikian pula seorang hamba, ia tidak dapat melindungi dirinya dari setan kecuali dengan berzikir kepada Allah l… (HR. Ahmad 4/202, At-Tirmidzi no. 2863, dishahihkan Al-Imam Al-Albani t dalam Shahihul Jami’ no. 1724)

Al-’Allamah Ibnul Qayyim t menyatakan bahwa hadits ini sangat agung kedudukannya, sehingga pantas bagi setiap muslim untuk menghafalkan dan memahaminya. (Al-Wabilush Shayyib, hal. 31)

Beliau t juga mengatakan, “Seandainya tidak ada lagi keutamaan zikir selain satu keutamaan yang disebutkan dalam hadits ini, niscaya patut bagi seorang hamba untuk tidak berhenti lisannya dari zikrullah, dan terus menerus menekuninya. Karena sungguh ia tidak dapat melindungi dirinya dari musuhnya kecuali dengan zikir. Tidaklah musuh itu dapat masuk menyergapnya kecuali dari pintu kelalaian (lupa dari berzikir). Musuh itu selalu mengintainya. Bila ia lalai, musuh itu menyergap dan menerkamnya. Bila ia berzikir kepada Allah l, mengerutlah musuh Allah l tersebut, menjadi kecil dan patah sampai-sampai menjadi sekecil lalat. Karena itulah ia dinamakan Al-Waswasul Khannas. Maknanya, ia memberi was-was di dalam dada, namun bila si hamba berzikir kepada Allah l ia mengerut. Ibnu Abbas c berkata, “Setan itu mendekam di atas hati anak Adam. Bila si anak Adam lupa diri dan lalai dari berzikir, setan memberikan was-was/bisikan-bisikan. Namun jika ia berzikir kepada Allah l, setan mengerut.” (Al-Wabilush Shayyib, hal. 72)

 

2. Berzikir akan memberikan kebahagiaan dan ketenangan bagi hati seorang hamba, sebagaimana Allah l berfirman:

“Orang-orang yang beriman dan menjadi tenang hati-hati mereka dengan berzikir kepada Allah, ketahuilah dengan berzikir kepada Allah hati akan tenang.” (Ar-Rad: 28)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t berkata, “Permisalan zikir bagi hati adalah seperti air bagi ikan. Apa jadinya keadaan ikan yang berpisah dengan air?” (Al-Wabilush Shayyib, hal. 85)

 

3. Zikir adalah amalan yang ringan dan mudah untuk dilakukan, namun besar pahala dan ganjarannya. Hal ini tampak dalam beberapa hadits berikut ini:

Abu Hurairah z berkata: Rasulullah n bersabda, “Siapa yang mengucapkan:

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

dalam sehari sebanyak seratus kali, maka ganjaran baginya seperti membebaskan sepuluh budak, dicatat untuknya seratus kebaikan, dihapus darinya seratus kesalahan dan ia mendapatkan perlindungan dari setan pada hari tersebut hingga sore hari. Tidak ada seorang pun yang melakukan amalan yang lebih afdhal darinya terkecuali bila ada orang yang mengamalkan lebih banyak dari apa yang diamalkannya.” (HR. Al-Bukhari no. 3293, 6403 dan Muslim no. 6783)

Dalam hadits yang sama juga, Nabi n bersabda, “Siapa yang mengucapkan:

سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ

dalam sehari sebanyak seratus kali maka dihapus kesalahan-kesalahannya walaupun sebanyak buih di lautan.”

Dalam riwayat Muslim (no. 6784) disebutkan, “Siapa yang mengucapkan:

سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ

ketika pagi dan petang sebanyak seratus kali, maka pada hari kiamat nanti tidak ada seorangpun datang membawa amalan yang lebih afdhal darinya kecuali orang yang mengucapkan zikir yang sama dengan yang diucapkannya atau lebih dari yang diucapkannya.”

Masih dari Abu Hurairah z, beliau mengabarkan dari Nabi n:

كَلِمَتَانِ خَفِيْفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ، ثَقِيْلَتَانِ فِي الْمِيْزَانِ، حَبِيْبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ: سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ، سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيْمِ

“Ada dua kalimat yang ringan diucapkan lisan tapi berat dalam timbangan dan dicintai oleh Allah yang Maha Rahman, yaitu subhanallah wa bihamdihi dan subhanallahil azhim.” (HR. Al-Bukhari no. 6406 dan Muslim no. 6786)

 

4. Banyak berzikir kepada Allah k merupakan jaminan keamanan dari kemunafikan, karena orang-orang munafik sedikit sekali zikirnya kepada Allah k sebagaimana firman-Nya tentang munafikin:

“Mereka tidak mengingat Allah kecuali sedikit.” (An-Nisa: 142)

 

5. Zikir merupakan tanaman surga.

Abdullah bin Mas’ud z berkata: Rasulullah n bersabda:

“Pada malam aku diisra’kan, aku berjumpa dengan Nabi Ibrahim Al-Khalil q. Ia berkata, ‘Wahai Muhammad, sampaikan salamku kepada umatmu dan beritahu mereka bahwa surga itu bagus tanahnya, segar airnya (tidak asin), dan di surga tersedia tanah yang kosong tanpa pepohonan, dan yang akan ditanam untuk menutupi tanah kosong tersebut adalah ucapan:

سُبْحَانَ اللهِ، وَالْحَمْدُ لِلهِ، وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ للهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ

(HR. At-Tirmidzi no. 3462, dihasankan Al-Imam Al-Albani t dalam Ash-Shahihah no. 105)

 

6. Orang yang berzikir kepada Allah  l akan mendapatkan shalawat Allah k dan para malaikat-Nya. Tentunya dengan itu ia mendapat keberuntungan yang besar. Allah l berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, berzikirlah kepada Allah dengan sebanyak-banyaknya dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang. Dialah yang memberikan shalawat atas kalian dan juga para malaikat, yang dengan sebab itu Dia mengeluarkan kalian dari kegelapan kepada cahaya yang terang-benderang. Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.” (Al-Ahzab: 41-43)

Adapun shalawat Allah k atas hamba-Nya maknanya adalah pujian Allah l kepada si hamba di hadapan para malaikat. Ada juga yang memaknakannya dengan rahmat Allah l untuk si hamba. Sementara shalawat malaikat bermakna permintaan doa dan ampunan untuk si hamba, sebagaimana penjelasan Al-Hafizh Ibnu Katsir t dalam tafsirnya. (Tafsir Al-Qur’anil ‘Azhim, 6/265-266)

Demikian keutamaan zikir yang dapat kami sebutkan dan masih banyak keutamaan yang lain…

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Sabar Terhadap Gangguan Tetangga

Tetangga saya peminum khamr dan suka mengganggu saya dengan ucapannya. Terkadang dia sangat baik terhadap saya, namun di waktu yang sama pula dia mengajak saya bertengkar. Lalu apa yang harus saya perbuat dengan tetangga yang seperti itu? Berilah kami fatwa, jazakumullah kulla khairin.
Jawab:
Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah menjawab, “Tidak diragukan bahwa tetangga punya hak di dalam Islam dan Allah k telah mewasiatkan untuk berbuat baik kepada tetangga. Allah l berfirman:
“Beribadahlah kalian kepada Allah dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orangtua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahaya kalian…” (An-Nisa’: 36)
Nabi n bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلاَ يُؤْذِي جَارَهُ
“Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka janganlah ia mengganggu tetangganya.”1
Atau sebagaimana disabdakan beliau n.
Dengan demikian jelaslah bahwa tetangga punya hak untuk mendapatkan kebaikan.
Adapun penyampaian anda bahwa tetangga anda suka berbuat dosa besar, ia minum khamr, maka kewajiban anda adalah menasihatinya, mengingkari perbuatannya tersebut, serta menakut-nakutinya dengan Allah k. Juga mengabarkan kepadanya, selama ia beriman kepada Allah l dan hari akhir, maka dia wajib bertaubat kepada Allah l dari maksiat, perkara yang membinasakan dan merupakan dosa besar tersebut. Wajib bagi kalian menasihati dan mengingatkannya. Semoga Allah l memberikan hidayah kepadanya dengan sebab kalian. Ia punya hak terhadap kalian. Terlebih lagi keberadaannya sebagai tetangga kalian. Namun bila ia tetap melakukan dosa setelah dinasihati dan tidak mau bertaubat maka engkau boleh memboikotnya karena Allah l, dengan tidak mengajaknya bicara dan tidak duduk bersamanya, sampai ia mau bertaubat kepada Allah l.
Bila ia mengganggu dan menyakitimu, engkau wajib bersabar dan membalasnya dengan perbuatan baik. Karena membalas kejelekan dengan kebaikan termasuk sifat orang yang beriman, dan termasuk perkara yang Allah l perintahkan2. Namun disertai dengan apa yang telah kami sebutkan yaitu tetap memberikan nasihat dan peringatan. Bila memang dibutuhkan untuk memboikotnya, maka diboikot dengan tidak diajak bicara dan tidak duduk-duduk bersamanya, semoga dengan itu ia sadar dan menjadi sebab taubatnya.” Wallahu a’lam bish-shawab.
(Majmu’ Fatawa Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan, 2/710-711)
DONOR DARAH
Boleh atau tidak saudara laki-laki saya menyumbangkan darahnya untuk istri saya?
Jawab:
Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan hafizhahullah menjawab, “Tidak ada larangan dalam hal ini bila memang keadaannya darurat untuk memberikan transfusi darah kepada istrimu. Boleh donor darahnya dari saudara laki-lakimu ataupun dari selainnya. Tidak ada larangan dalam hal ini, insya Allah.”
(Majmu’ Fatawa Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan, 2/712)
KEMATIAN ANAK

Saya memiliki adik lelaki yang masih kecil, usianya sekitar setahun. Namun ia telah meninggal dunia setelah meneguk sedikit racun cair yang diletakkan oleh saudara perempuannya di depan pintu tanpa sepengetahuan ibu kami. Adik kecil saya itu mengambil wadah yang berisi racun tersebut, lalu meminumnya hingga ia meninggal dunia. Karena ibu saya sangat sedih dengan kematian adik saya itu, beliaupun meneguk bekas cairan yang diminum oleh adik saya untuk mengetes apakah racun tersebut berpengaruh pada dirinya sebagaimana berpengaruh pada anaknya ataukah tidak. Lantas apakah ibu saya berdosa meminum racun tersebut? Ada atau tidak kafarah baginya dikarenakan anaknya telah meminum racun tersebut?

Jawab:
Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah menjawab, “Yang pertama dari arahan kami adalah anak-anak sepantasnya mendapatkan penjagaan, pemeliharaan, dan dijauhkan dari segala hal yang dapat membahayakan mereka. Mereka tidak boleh ditinggalkan di hadapan atau di sisi sesuatu yang bisa membahayakan mereka.
Tentang diletakkannya wadah yang berisi racun dan diminum si anak yang kemudian membawa pada kematiannya, apakah ada tuntutan terhadap ibu si anak? Bila si ibu bermudah-mudah/bersikap tidak peduli, ia membiarkan anak kecilnya berada di samping cairan yang berbahaya sehingga ia akan meminumnya, maka si ibu wajib membayar kafarah dengan memerdekakan seorang budak bila memungkinkan. Bila tidak, ia berpuasa dua bulan berturut-turut sebagai kafarah kelalaiannya terhadap si anak. Adapun bila si ibu tidak bersifat demikian, ia tinggalkan anaknya di tempat yang jauh dari barang berbahaya namun si anak mendatangi sendiri tempat barang berbahaya tersebut dan meneguknya maka si ibu tidak menanggung kewajiban membayar kafarah.
Mengenai pertanyaan, si ibu ikut meneguk racun yang membawa kematian putranya tersebut untuk mengetes apakah memang cairan itu dapat membunuh jiwa atau tidak, maka ini tidaklah dibolehkan. Karena tidak boleh seseorang meminum sesuatu yang bermudarat dalam rangka percobaan. Saya meyakini si ibu melakukan hal tersebut karena rasa kasih dan sayangnya kepada si anak. Ia ingin merasakan apa yang dirasakan putranya dari cairan tersebut. Ia pun ingin meringankan penyesalan jiwanya dan ia ingin melihat apakah cairan tersebut berbahaya atau tidak. Akan tetapi ia tetap salah berbuat demikian, karena ia menghadapkan dirinya pada bahaya. Sementara Allah l berfirman:
“Janganlah kalian menjatuhkan diri kalian kepada kebinasaan.” (Al-Baqarah: 195)
Takdir pun terlaksana, walhamdulillah (tidak membawa kepada kebinasaan jiwanya sebagaimana anaknya), maka wajib baginya bersabar dan mengharapkan pahala atas kematian anaknya. Bila ia seorang yang bermudah-mudah dan suka lalai memerhatikan si anak, wajib baginya membayar kafarah.” Wallahu a’lam bish-shawab. (Majmu’ Fatawa Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan, 2/596-597)

1 Diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya no. 6018 dan Muslim no. 172, dari hadits Abu Hurairah z. –pent.
2  Allah l berfirman:
“Dan tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah kejahatan itu dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan, seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (Fushshilat: 34) -pent.

Raihanah Bintu Zaid

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu ‘Abdirrahman bintu ‘Imran)

 

Peperangan Ahzab telah usai. Pasukan musuh yang berlipat ganda dilumpuhkan dengan pertolongan dari sisi Allah l, berupa angin yang kencang berembus memorakporandakan perkemahan musuh, membuat ciut nyali mereka. Ditambah lagi dengan turunnya pasukan malaikat utusan Allah l dari langit. Bani Quraizhah, Yahudi sekutu musyrikin Arab, dalam peperangan ini pun harus menanggung akibat pelanggaran perjanjian mereka dengan kaum muslimin. Allah l telah menghinakan mereka melalui tangan tentara-tentara-Nya. Kini, tinggallah para tawanan yang sedang menunggu keputusan Rasulullah n tentang diri mereka…

Para wanita Bani Quraizhah dijadikan hamba sahaya, sementara para laki-laki dibunuh. Para tawanan wanita itu diperlihatkan di hadapan Rasulullah n. Di antara mereka ada seorang wanita bernama Raihanah bintu Zaid bin ‘Amr bin Khunafah bin Syam’un bin Zaid, dari Bani Nadhir. Suaminya yang sangat mencintainya, Al-Hakam dari Bani Quraizhah, mati terbunuh.
Ketika melihatnya, Rasulullah n memilihnya untuk diri beliau. Beliau pun memerintahkan untuk memisahkan Raihanah. Raihanah dibawa ke rumah Ummul Mundzir Salma bintu Qais An-Najjariyyah, dan tinggal di sana sampai urusan tawanan Bani Quraizhah selesai.
Setelah semua selesai, Rasulullah n datang menemui Raihanah di kediaman Ummul Mundzir. Melihat Rasulullah n masuk, Raihanah merasa amat malu. Rasulullah n pun memanggilnya dan mengajaknya duduk di hadapan beliau. Beliau menawarkan Raihanah agar masuk Islam. “Kalau engkau memilih Allah l dan Rasul-Nya, Rasulullah akan memilihmu untuk dirinya,” kata beliau. Raihanah pun memilih Allah l dan Rasul-Nya n.
Rasulullah n memerdekakan Raihanah dan menikahinya dengan mahar 12,5 uqiyah, seperti mahar beliau kepada istri-istri yang lain. Beliau bertemu Raihanah pada bulan Muharram tahun 6 H di rumah Ummul Mundzir, setelah Raihanah suci dari haidnya. “Wahai Rasulullah,” ucap Raihanah, “Bila aku tetap menjadi sahayamu, itu lebih ringan bagiku dan bagimu.” Rasulullah memenuhi permintaan Raihanah, sehingga Raihanah tetap sebagai sahaya.
Rasulullah n sangat menyayanginya, beliau selalu memberikan apa yang diinginkan olehnya. Sampai-sampai ada yang mengatakan, “Seandainya saat itu kau minta pada Rasulullah agar Bani Quraizhah dibebaskan!”
“Beliau tidak pernah berduaan denganku sampai seluruh tawanan Bani Quraizhah selesai dibagikan,” jawab Raihanah.
Raihanah amat sangat cemburu kepada Rasulullah n, sehingga beliau pun sempat menceraikannya. Perceraian ini sangat berat dirasa Raihanah. Hari-hari dilaluinya dengan terus menangis, hingga Rasulullah n pun merujuknya kembali.
Sepulang Rasulullah n dari menunaikan haji wada’, Raihanah kembali ke hadapan Rabbnya. Dia dimakamkan di pekuburan Baqi’.
Raihanah bintu Zaid x, semoga Allah l meridhainya….
Sumber Bacaan:
– Al-Ishabah, Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani (8/146-147)
– Ath-Thabaqatul Kubra, Al-Imam Ibnu Sa’d (10/125-127)
– Azwajun Nabi, Al-Imam Muhammad bin Yusuf Ash-Shalihi Ad-Dimasyqi (hal. 231-233)

Berdzikir dan Berdoa

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Abdirrahman bintu ‘Imran)

 

Anak-anak di usia keemasannya memiliki kesempatan yang besar untuk mempelajari hal-hal yang penting dalam agama. Dimulai dari sesuatu yang mudah dan sederhana tentunya, sesuai kemampuan yang ada pada anak. Di antaranya dengan menghafal zikir dan doa yang diajarkan oleh Rasulullah.

Zikir dan doa adalah salah satu bagian penting dalam kehidupan seorang muslim. Bahkan seseorang yang banyak berzikir dan berdoa mendapatkan pujian dan balasan yang besar di sisi Allah k. Seperti dalam firman Allah k:

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang berislam, laki-laki dan perempuan yang beriman, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatan, laki-laki dan perempuan yang benar keimanannya, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang menjaga kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak berzikir kepada Allah, maka Allah sediakan bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Al-Ahzab: 35)
Allah l memberikan kepada orang yang memiliki sifat-sifat seperti ini ampunan bagi dosa-dosa mereka. Karena kebaikan itu dapat menghilangkan kejelekan, serta pahala yang besar, yang tak dapat diukur oleh siapa pun kecuali Dzat yang memberikannya, berupa segala sesuatu yang (keindahannya, pent.) tak ada mata yang pernah melihatnya, tak ada telinga yang pernah mendengarnya, dan tak pernah terbersit dalam qalbu manusia. Kita memohon kepada Allah l agar Dia jadikan kita termasuk golongan mereka. (Taisirul Karimir Rahman, hal. 665)
Ini jelas merupakan hasungan yang menyemangati hamba-hamba Allah l untuk melakukan amalan-amalan seperti ini, termasuk di antaranya banyak berzikir kepada Allah l.
Selain ayat di atas, banyak pula ayat-ayat dalam Kitabullah yang menghasung untuk banyak berzikir, dengan menyebutkan keutamaan dan balasannya. Di antaranya firman Allah l:
“Maka berzikirlah kalian kepada-Ku, niscaya Aku akan mengingat kalian.” (Al-Baqarah: 152)
Dalam ayat ini Allah l memerintahkan untuk berzikir kepada-Nya dan menjanjikan balasan yang paling utama, yaitu Allah l akan mengingat hamba-Nya yang berzikir kepada-Nya. (Taisirul Karimir Rahman, hal. 74)
Di ayat yang lain, Allah l juga berfirman:
“Dan  banyak berzikirlah kalian kepada Allah, semoga dengan itu kalian menjadi orang-orang yang beruntung.” (Al-Jumu’ah: 10)
Zikir kepada Allah l merupakan salah satu sebab diraihnya pahala dan keberuntungan. Sementara kataالفلاح  (keberuntungan) memiliki cakupan makna yang luas, yang berarti diperolehnya segala keinginan dan selamat dari segala yang dihindari. (Syarh Riyadhish Shalihin, 3/544)
Masih banyak lagi ayat dalam Kitabullah yang menyebutkan tentang keutamaan dan hasungan untuk berzikir kepada Allah l.
Melalui lisannya yang mulia, Rasulullah n pun banyak menyebutkan keutamaan berzikir kepada Allah l. Di antaranya seperti dalam hadits qudsi yang dinukilkan oleh Abu Hurairah z bahwa Rasulullah n bersabda:
يَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى: أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي، فَإِذَا ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي، وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ
“Allah l berfirman, ‘Aku sebagaimana prasangka hamba-Ku terhadap-Ku, dan Aku bersamanya bila dia berzikir pada-Ku. Apabila dia mengingat-Ku dalam dirinya, maka Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Dan apabila dia mengingat-Ku di tengah kumpulan banyak orang, maka Aku akan mengingatnya di hadapan kumpulan yang lebih baik daripada mereka.” (HR. Al-Bukhari no. 325 dan Muslim no. 2675)
Begitu pula dalam sabda beliau yang lain yang diriwayatkan pula oleh Abu Hurairah z:
سَبَقَ الْمُفَرِّدُوْنَ. قَالُوا: وَمَا الْمُفَرِّدُوْنَ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: الذَّاكِرُوْنَ اللهَ كَثِيْرًا وَالذَّاكِرَاتُ
“Telah mendahului al-mufarridun.” Para sahabat pun bertanya, “Apa al-mufarridun itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Laki-laki dan perempuan yang banyak berzikir kepada Allah.” (HR. Muslim no. 2676)
Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Abud Darda’ z, Rasulullah n mengatakan kepada para sahabat g:
أَلاَ أُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرِ أَعْمَالِكُمْ وَأَزْكَاهَا عِنْدَ مَلِيْكِكُمْ وَأَرْفَعِهَا فِي دَرَجَاتِكُمْ وَخَيْرٍ لَكُمْ مِنْ إِنْفَاقِ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَخَيْرٍ لَكُمْ مِنْ أَنْ تَلْقَوْا عَدُوَّكُمْ فَتَضْرِبُوا أَعْنَاقَهُمْ وَيَضْرِبُوا أَعْنَاقَكُمْ؟ قَالُوا: بَلَى. قَالَ: ذِكْرُ اللهِ تَعَالَى
“Maukah kalian aku beritakan tentang sebaik-baik amalan kalian, paling suci di sisi Pemilik kalian, paling tinggi dalam mengangkat derajat kalian dan lebih baik bagi kalian daripada menginfakkan emas dan perak, serta lebih baik bagi kalian daripada kalian bertemu dengan musuh kalian lalu kalian memukul/memenggal leher-leher mereka dan mereka memukul leher-leher kalian?” Para sahabat menjawab: “Tentu, wahai Rasulullah!” Beliau berkata, “(Amalan itu adalah) zikrullah.” (HR. At-Tirmidzi no. 3377, Ibnu Majah no. 3790, dishahihkan Al-Imam Al-Albani t dalam Shahihul Jami’ no. 2629)
Tak hanya hasungan yang datang dari beliau. Bahkan dalam keseharian, Rasulullah n memberikan contoh bagi umat beliau. Beliau senantiasa berzikir, mengingat Allah l dalam segala keadaan dan setiap waktu. Dikatakan oleh istri beliau, ‘Aisyah Ummul Mukminin x:
كَانَ رَسُوْلُ اللهِ n يَذْكُرُ اللهَ تَعَالَى عَلَى كُلِّ أَحْيَانِهِ
“Rasulullah n biasa berzikir kepada Allah l dalam setiap waktunya.” (HR. Muslim no. 373)
Melihat hasungan yang sedemikian rupa, tentunya kita ingin dapat meneladani dan mendapatkan keutamaan seperti itu. Tak hanya diri kita sendiri yang kita inginkan mendapat kebaikan, namun juga tentunya anak-anak kita, agar mereka memperoleh keutamaan di dunia dan di akhirat.
Mengajarkan zikir dan doa kepada anak-anak tentu tak hanya sebatas menyuruh mereka menghafal lafadz demi lafadz zikir dan doa. Yang lebih mereka butuhkan adalah bimbingan kita untuk membiasakan mereka mengamalkan zikir dan doa itu dalam kehidupan sehari-hari, menerapkannya sesuai keadaan dan tempatnya. Di samping itu, disertai pula dengan contoh nyata yang mereka lihat dari kehidupan kita, orangtua. Dari mulai bangun tidur di pagi hari hingga tidur kembali di malam hari, mestinya kehidupan seorang muslim tidak terlepas dari zikir kepada Allah l. Zikir di pagi dan sore hari pun semestinya mulai kita ajarkan pada anak-anak agar mereka mendapatkan perlindungan dari berbagai hal yang memudaratkan. Betapa semua ini adalah nikmat yang Allah l berikan bagi siapapun yang mau mengamalkannya.
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin t mengatakan, “Di antara nikmat Allah l yang diberikan bagi kita, Allah l menerangkan pada kita tentang zikir-zikir ketika hendak tidur, bangun tidur, makan dan minum, memulai dan menyudahi sesuatu, sampai-sampai ketika hendak masuk kamar kecil maupun mengenakan pakaian. Semua ini agar seluruh waktu kita dimakmurkan dengan zikir kepada Allah k. Seandainya Allah l tidak menerangkan hal ini kepada kita, tentu saja ini adalah perkara bid’ah. Namun Allah l telah menerangkan semua ini kepada kita agar bertambah kenikmatan-Nya bagi kita dengan melaksanakan ketaatan ini.” (Syarh Riyadhish Shalihin, 3/574)
Bila demikian, tak pantas kita meremehkan dan mengesampingkan pembiasaan zikir ini dalam kehidupan anak-anak kita. Kesabaran, ketelatenan, dan keteladanan kita –orangtua– amat mereka butuhkan agar mereka memperoleh keutamaan yang besar ini.
Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kemarahan yang Membawa Petaka

(ditulis leh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah)

 

Sebagai manusia, wanita memang bisa kesal dan marah, baik itu disebabkan suami ataupun hal-hal lainnya. Namun sebagai istri, wanita juga dituntut untuk menjaga sikap di hadapan suaminya. Ia harus mengontrol emosinya agar tidak tumpah. Namun alih-alih meredam emosinya, tak sedikit istri yang justru menjadikan suami sebagai pelampiasan kemarahan, bahkan sampai pada taraf mencacinya.

Seorang suami adalah sayyid atau tuan bagi istrinya, sebagaimana tersebut dalam firman Allah k:
“Dan keduanya (Yusuf dan istri Al Aziz) mendapati sayyid (tuan/suami) si wanita di depan pintu…” (Yusuf: 25)
Karena suami sebagai tuan maka kedudukannya demikian agung bagi istrinya sebagaimana agungnya sang tuan bagi budak sahayanya. Tidak heran bila Rasul n yang mulia n sampai bertitah:
لاَ يَصْلُحُ لِبَشَرٍ أَنْ يَسْجُدَ لِبَشَرٍ، وَلَوْ صَلَحَ لِبَشَرٍ أَنْ يَسْجُدَ لِبَشَرٍ لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا مِنْ عَظَمِ حَقِّهِ عَلَيْهَا، وَالَّذِي نَفْسِيْ بِيَدِهِ لَوْ كَانَ مِنْ قَدَمِهِ إِلَى مَفْرَقِ رَأْسِهِ قَرْحَةٌ تَجْرِي بِالْقَيْحِ وَالصَّدِيْدِ، ثُمَّ اسْتَقْبَلَتْهُ فَلَحِسَتْهُ مَا أَدَّّتْ حَقَّهُ
“Tidaklah pantas bagi seorang manusia untuk sujud kepada manusia yang lain. Seandainya pantas/boleh bagi seseorang untuk sujud kepada seorang yang lain niscaya aku perintahkan istri untuk sujud kepada suaminya dikarenakan besarnya hak suaminya terhadapnya. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya pada telapak kaki sampai belahan rambut suaminya ada luka/borok yang mengucurkan nanah bercampur darah, kemudian si istri menghadap suaminya lalu menjilati luka/borok tersebut niscaya ia belum purna menunaikan hak suaminya.” (HR. Ahmad 3/159 dari Anas bin Malik z, dishahihkan Al-Haitsami 4/9, Al-Mundziri 3/55, dan Abu Nu’aim dalam Ad-Dala’il, 137. Lihat catatan kaki Musnad Al-Imam Ahmad 10/513, Darul Hadits, Al-Qahirah)
Suami harus ditaati dalam kebaikan dan dicari keridhaannya. Sehingga tidak sepantasnya seorang istri membuat marah suaminya dengan tidak menuruti apa yang diinginkan suaminya selama hal itu bukan perbuatan dosa/maksiat1, atau ia melanggar ketetapan suaminya.
Seorang istri yang shalihah tentu tahu hak suaminya terhadapnya dan apa yang harus dilakukannya sebagai seorang istri. Yang susah adalah bila seorang lelaki memperistri wanita yang jahil. Istri seperti ini tidak merasa berat mendurhakai suaminya, tidak menuruti apa yang dimaukan suaminya dari dirinya. Dia bahkan menentang perintahnya sampaipun suaminya menyuruhnya melakukan ketaatan, seperti mendirikan shalat, menutup aurat, atau mengajaknya berhijrah di jalan Allah k dengan meninggalkan kejahiliahan serta menyambut hidayah Allah l. Tak segan ia mengancam suaminya, mengucapkan sumpah serapah dan mencacinya. Wanita seperti ini tidak tahu akibat yang diperolehnya dengan kedurhakaannya dan kemurkaan suami terhadapnya. Sampaipun ia mengerjakan ibadah shalat misalnya2, niscaya tidak akan diterima ibadah tersebut di sisi Allah k.
Abu Umamah z menyampaikan hadits Rasulullah n:
ثَلاَثَةٌ لاَ تُجَاوِزُ صَلاَتُهُمْ آذَانَهُمْ: الْعَبْدُ الْآبِقُ حَتىَّ يَرْجِعَ وَامْرَأَةٌ بَاتَتْ وَزَوْجُهَا عَلَيْهَا سَاخِطٌ، وَإِمَامُ قَوْمٍ وَهُمْ لَهُ كَارِهُوْنَ
“Ada tiga golongan yang shalat mereka tidak melewati telinga-telinga mereka3, yaitu budak yang melarikan diri dari tuannya sampai ia kembali kepada tuannya, istri yang bermalam dalam keadaan suaminya marah terhadapnya, dan seseorang yang mengimami suatu kaum dalam keadaan mereka tidak suka kepadanya.” (HR. At-Tirmidzi no. 360, dihasankan Al-Imam Al-Albani t dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi, Al-Misykat no. 1122, Shahihul Jami’ no. 3057)
Ibnu Umar c berkata dari Nabi n:
اثْنَانِ لاَ تُجَاوِزُ صَلاَتُهُمَا رُؤُوْسَهُمَا: عَبْدٌ آبِقٌ مِنْ مَوَالِيْهِ حَتىَّ يَرْجِعَ، وَامْرَأَة ٌعَصَتْ زَوْجَهَا حَتَّى تَرْجِعَ
“Ada dua golongan yang shalat mereka tidak melewati kepala-kepala mereka, yaitu budak yang melarikan diri dari tuannya sampai ia kembali kepada tuannya dan istri yang durhaka kepada suaminya hingga ia kembali taat.” (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak 4/191, Ath-Thabarani dalam Al-Ausath no. 3628 dan Ash-Shaghir no. 478, dishahihkan Al-Imam Al-Albani t dalam Shahihul Jami’ no. 136 dan Ash-Shahihah no. 288 )
Doa kejelekan berupa laknat para malaikat yang doa mereka mustajab pun dapat dituai seorang istri yang membuat marah suaminya, sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Hurairah z dari Rasulullah n:
إِذَا دَعَا الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهِ فَأَبَتْ أَنْ تَجِيْئَ، فَبَاتَ غَضْبَان عَلَيْهَا لَعَنَتْهَا الْمَلاَئِكَةُ حَتَّى تُصْبِحَ
“Apabila seorang suami memanggil istrinya ke tempat tidurnya, namun si istri menolak untuk datang. Lantas si suami bermalam dalam keadaan marah kepada istrinya tersebut, niscaya para malaikat melaknat si istri sampai ia berada di pagi hari.” (HR. Al-Bukhari no. 5193)
Karenanya, janganlah para istri suka membuat marah suaminya. Tetapi carilah keridhaannya dalam kebaikan. Karena seperti kata Rasulullah n:
فَانْظُرِيْ أَيْنَ أَنْتِ مِنْهُ، فَإنَّمَا هُوَ جَنَّتُكِ وَنارُكِ
“Lihatlah di mana keberadaanmu dalam pergaulanmu dengan suamimu, karena dia adalah surga dan nerakamu.”4
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

1 Karena tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Al-Khaliq, sebagaimana sabda Rasulullah n:
إِنَّهُ لاَ طَاعَةَ لِمَخْلُوْقٍ فِي مَعْصِيَةِ الْخَالِقِ
“Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Khaliq.” (HR. Ahmad 1/131. Kata Asy-Syaikh Ahmad Syakir t dalam ta’liqnya terhadap Musnad Al-Imam Ahmad, “Isnadnya sahih.”)
2  Dalam posisi shalat merupakan amalan yang paling utama dan paling dahulu dihisab di hari kiamat nanti. Bila baik shalatnya maka baik seluruh amalannya dan sebaliknya jika jelek shalatnya maka jeleklah seluruh amalannya.
3  Al-Mubarakfuri t berkata menjelaskan makna kalimat ini, “Maksudnya shalat mereka tidak diterima dengan penerimaan yang sempurna, atau tidak diangkat kepada Allah l sebagaimana diangkatnya amal shalih.”
Dikhususkan penyebutan telinga (dalam lafadz: tidak melewati telinga-telinga mereka) karena di dalam shalat ada tilawah dan doa, yang semestinya didengar. Namun tilawah dan doa ini tidak sampai kepada Allah l dari sisi penerimaan dan pengabulan.
As-Suyuthi t berkata dalam Qut Al-Mughtadzi, “Maksudnya shalat mereka tidak diangkat ke langit, sebagaimana dalam hadits Ibnu Abbas c yang diriwayatkan Ibnu Majah t:
لاَ نَرْفَعُ صَلاَتَهُمْ فَوْقَ رُؤُوْسِهِمْ شِبْراً
“Kami tidak mengangkat shalat-shalat mereka di atas kepala mereka walau satu jengkal.”
Ini merupakan ungkapan tentang tidak diterimanya shalat mereka, sebagaimana dalam hadits Ibnu Abbas c yang diriwayatkan Ath-Thabarani t:
لاَ يَقْبَلُ اللهُ لَهُمْ صَلاَةً
“Allah tidak menerima shalat mereka.” (Lihat Tuhfatul Ahwadzi, kitab Ash-Shalah, bab Ma Ja’a fi Man Amma Qauman waa Hum Lahu Karihun)
4  HR. Ibnu Abi Syaibah (7/47/1), Ibnu Sa’d (8/459), An-Nasa’i dalam Isyratun Nisa, Ahmad (4/341), Ath-Thabarani dalam Al-Ausath (170/1) dari Zawa’idnya, Al-Hakim (2/189), Al-Baihaqi (7/291), Al-Wahidi dalam Al-Wasith (1/161/2), Ibnu ‘Asakir (16/31/1), sanadnya shahih sebagaimana kata Al-Hakim dan disepakati Adz-Dzahabi. Al-Mundziri berkata (3/74), “Diriwayatkan hadits ini oleh Ahmad dan An-Nasa’i dengan dua sanadnya yang jayyid.”

Persaudaraan Tanpa Iman dan Konsekwensinya


(ditulis oleh: Al-Ustadz Saifudin Zuhri, Lc.)
الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، جَعَلَ الْمُؤْمِنِيْنَ إِخْوَةً فِيْ الدِّيْنِ مُتَحَابِّيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ شَهَادَةَ الْحَقِّ وَالْيَقِيْنِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الصَّادِقُ الْأَمِيْنُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَسَلَّمَ تَسْلِمًا كَثِيْرًا، أَمَّا بَعْدُ:
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Segala puji bagi Allah l yang telah menjadikan orang-orang beriman saling bersaudara. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada utusan-Nya yang paling mulia, Nabi kita Muhammad n, keluarganya, para sahabatnya serta orang-orang yang mengikuti jalannya.
Hadirin rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa bertakwa di manapun kita berada. Marilah kita senantiasa mengingat bahwa kita –kaum muslimin– seluruhnya adalah saling bersaudara. Allah l menyebutkan di dalam firman-Nya:
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu tidak lain kecuali mereka adalah saling bersaudara.” (Al-Hujurat: 10)
Di dalam ayat tersebut kita mengetahui bahwa Allah l telah mengikat hubungan antara kaum mukminin dengan ikatan persaudaraan. Sehingga seluruh kaum muslimin sejak yang pertama kali ada di muka bumi ini hingga yang paling akhir nanti adalah bersaudara. Mereka saling mencintai, saling mendoakan kebaikan, serta saling memintakan ampun untuk saudaranya, meskipun mereka berbeda suku dan berjauhan tempat tinggalnya serta berbeda zamannya. Allah l berfirman:
“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: Ya Rabb kami, berikanlah ampunan-Mu kepada kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau adalah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” (Al-Hasyr: 10)
Jamaah jum’ah rahimakumullah,
Karena persaudaraan ini, Allah l dan Rasul-Nya n telah menjelaskan kepada kita hal-hal yang harus ditunaikan di antara sesama muslim. Di antaranya, Allah l memerintahkan kepada kaum mukminin untuk berhati-hati dalam menerima berita tentang saudaranya. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:
“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kalian orang fasik dengan membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (Al-Hujurat: 6)
Ayat ini menjelaskan kepada kita akibat buruk karena tidak berhati-hati dalam menerima berita. Oleh karena itu, wajib bagi kaum muslimin untuk memeriksa terlebih dahulu berita tentang saudaranya yang sampai kepadanya. Jangan sampai dirinya menjadi sebab munculnya fitnah di tengah-tengah kaum muslimin dan menjadi sebab tertimpanya kaum muslimin dengan suatu musibah. Ingatlah firman Allah l:
“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (Al-Ahzab: 58)
Hadirin rahimakumullah,
Termasuk perkara yang harus ditunaikan untuk mewujudkan persaudaraan karena iman adalah memperbaiki hubungan antara saudaranya yang terjatuh dalam pertikaian. Hal ini sebagaimana tersebut di dalam firman-Nya:
“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (Al-Hujurat: 10)
Mendamaikan saudaranya yang bertikai merupakan amalan yang sangat besar. Sebagaimana disebutkan oleh Allah l dalam firman-Nya:
“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan perbincangan yang mereka lakukan, kecuali perbincangan dari orang yang memerintahkan untuk mengeluarkan sedekah atau berbuat ma’ruf, atau untuk memperbaiki hubungan di antara manusia (yang bertikai) dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami akan memberikan kepadanya pahala yang sangat besar.” (An-Nisa’: 114)
Di dalam ayat ini Allah l  menjanjikan balasan yang sangat besar bagi orang-orang yang memperbaiki/mendamaikan pertikaian yang terjadi di antara kaum muslimin. Baik pertikaian yang muncul antara muslimin yang berbeda wilayahnya, maupun yang berada dalam satu wilayah atau bahkan dalam satu keluarga sekalipun. Oleh karena itu sudah semestinya bagi kaum muslimin untuk memerhatikan amalan yang sangat mulia ini, meskipun harus mengeluarkan biaya yang besar ataupun menyita waktu yang panjang.
Jamaah jum’ah rahimakumullah,
Di antara perkara yang harus ditunaikan pula sebagai konsekuensi dari persaudaraan karena iman adalah tidak boleh bagi seorang muslim untuk merendahkan saudaranya. Kita harus mengingat bahwa tinggi dan rendahnya kedudukan atau ilmu seseorang, dan banyak serta sedikitnya harta seseorang tidak terlepas dari ketentuan yang telah Allah l  tetapkan bagi hamba-hamba-Nya. Sehingga seseorang yang merendahkan saudaranya secara tidak langsung dia telah mencela ketetapan Allah l. Begitu pula kita harus mengingat bahwa orang yang paling mulia di sisi Allah l  bukanlah semata-mata orang yang banyak harta atau ilmunya, serta tinggi kedudukannya. Akan tetapi orang yang dimuliakan oleh Allah l  adalah orang-orang yang bertakwa. Maka seorang muslim tentu tidak akan merendahkan saudaranya, karena hal ini bisa menyebabkan dia akan merendahkan saudaranya yang ternyata dimuliakan oleh Allah l. Oleh karena itu Allah l menyebutkan di dalam firman-Nya:
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kaum laki-laki merendahkan kaum laki-laki yang lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik baik dari mereka. Dan jangan pula kaum perempuan merendahkan kaum perempuan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik dari mereka.” (Al-Hujurat: 11)
Perbuatan merendahkan saudaranya sesama muslim pada umumnya tidak dilakukan kecuali oleh orang-orang yang hatinya dipenuhi sifat tercela. Sehingga cukuplah seseorang dikatakan jelek dengan sebab perbuatan ini, sebagaimana disebutkan oleh Nabi n dalam sabdanya:
بِحَسَبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْـمُسْلِمَ
“Cukuplah seseorang dinyatakan berbuat jelek dengan sebab merendahkan saudaranya yang muslim.” (HR. Muslim)
Hadirin rahimakumullah,
Untuk mewujudkan dan menjaga persaudaraan sesama muslim, Allah l juga telah memberikan petunjuk-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang beriman untuk tidak mencela saudaranya. Begitu pula Allah l telah melarang untuk memanggil saudaranya dengan gelaran-gelaran yang jelek. Karena sebagaimana digambarkan oleh Nabi n  bahwa kaum muslimin adalah ibarat satu tubuh. Sehingga orang yang mencela saudaranya berarti dia telah mencela dirinya sendiri, atau akan menjadi pemicu yang mendorong saudaranya untuk mencela dirinya. Inilah yang dimaksud dengan larangan bagi kaum muslimin untuk mencela dirinya sendiri dalam firman Allah l:
“Dan janganlah suka mencela diri-diri kalian (sesama muslim) dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang berbuat zalim.” (Al-Hujurat: 11)
Hadirin rahimakumullah,
Termasuk perkara yang harus ditunaikan dalam mewujudkan persaudaraan karena iman adalah tidak boleh bagi kaum muslimin untuk banyak berprasangka jelek terhadap muslim lainnya. Kecuali jika dia melihat ada tanda-tanda yang mencurigakan, di saat itu tidaklah mengapa bagi seseorang untuk berprasangka jelek kepada saudaranya. Hal ini sebagaimana tersebut dalam firman-Nya:
“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka buruk, karena sebagian dari prasangka buruk itu dosa.” (Al-Hujurat: 12)
Begitu pula tidak boleh bagi kaum muslimin untuk mencari-cari kesalahan serta berbuat ghibah terhadap saudaranya, sebagaimana tersebut dalam firman-Nya:
“Dan janganlah kalian mencari-cari kejelekan orang dan janganlah kalian menceritakan kejelekan satu sama lain. Adakah seorang di antara kalian yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kalian merasa jijik kepadanya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (Al-Hujurat: 12)
Di dalam ayat ini Allah l menyerupakan perbuatan ghibah di mana yaitu menyampaikan tentang saudaranya hal-hal yang saudaranya tidak menyukai untuk diceritakan, dengan perbuatan memakan daging saudaranya yang telah meninggal. Setiap orang tentu merasa jijik untuk melakukannya, kecuali orang yang berbuat ghibah maka seakan-akan dia tidak jijik untuk melakukannya.
Hadirin rahimakumullah,
Namun perlu diketahui, bahwasanya ada beberapa jenis ghibah yang diperbolehkan, sebagaimana diterangkan oleh para ulama. Di antaranya adalah ketika dalam rangka memperingatkan kaum muslimin dari bahayanya para penyeru bid’ah. Ghibah yang seperti ini, yaitu mengingatkan kaum muslimin dari kesalahan dan bahayanya orang-orang yang menyelisihi prinsip-prinsip Islam, adalah ibadah yang mulia karena manfaatnya juga akan dirasakan oleh keumuman kaum muslimin. Yaitu untuk menjaga kaum muslimin agar tidak terjatuh kepada ajaran-ajaran yang menyimpang. Sehingga hal ini adalah perbuatan yang sesuai dengan syariat dan merupakan pelaksanaan dari hadits yang menjelaskan bahwa agama ini adalah nasihat bagi seluruh kaum muslimin. Namun tentu saja harus dilakukan dengan ikhlas dan memerhatikan kaidah-kaidah yang berkaitan dengan kewajiban hikmah dalam berdakwah.
Wallahu a’lamu bish-shawab.
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ لِلهِ عَلَى فَضْلِهِ وَإِحْسَانِهِ وَأَشْكُرُهُ عَلَى تَوْفِقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا، أَمَّا بَعْدُ:
Jamaah jum’ah rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa berusaha membuktikan keimanan kita dengan menjalankan perintah-perintah Allah l dan Rasul-Nya n, serta dengan menjauhi seluruh larangan-Nya.
Hadirin rahimakumullah,
Ketahuilah, bahwa persaudaraan karena iman ini lebih tinggi nilainya dari sekadar persaudaraan karena keturunan. Karena Allah l melarang kaum muslimin untuk mencintai kerabatnya kalau dia bukan orang yang beragama Islam. Hal ini sebagaimana tersebut dalam firman-Nya:
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan bapak-bapak dan saudara-saudara kalian menjadi orang-orang yang kalian cintai, jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan barangsiapa di antara kalian yang menjadikan mereka sebagai orang-orang yang dicintai, maka mereka itulah orang-orang yang berbuat kezaliman.” (At-Taubah: 23)
Hadirin rahimakumullah,
Persaudaraan karena iman ini adalah persaudaraan yang mengharuskan kita semua untuk saling mencintai, menolong, menasihati dan bersabar dalam bergaul serta bermuamalah. Begitu pula, mencegah kita untuk saling menipu, merendahkan, atau menyakiti muslim lainnya dalam bentuk apapun. Hal ini sebagaimana sabda Nabi n:
لاَ تَحَاسَدُوْا وَلاَ تَبَاغَضُوْا وَلاَ تَدَابَرُوْا وَلاَ يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ وَكُوْنُوْا عِبَادَ اللهِ إخْوَاناً، الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يَخْذُلُهُ
“Janganlah kalian saling mendengki, saling marah, saling membelakangi, dan jangan pula sebagian kalian menjual di atas penjualan saudaranya dan jadilah kalian semua bersaudara, seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lainnya maka dia tidak berbuat zalim kepadanya dan tidak menghinakannya.” (HR. Muslim)
Oleh karena itu marilah kita berusaha untuk mewujudkan persaudaraan di antara kita sebagaimana yang telah diperintahkan oleh Allah l dan Rasul-Nya n, yaitu persaudaraan yang benar-benar dibangun karena iman. Bukan persaudaraan yang dibangun karena satu suku, diikat oleh aturan organisasi, atau yang semisalnya, yang kemudian akan menghilangkan kewajiban saling menasihati atau beramar ma’ruf nahi mungkar. Maka seorang muslim tidak akan takut dengan celaan atau rintangan dari manusia untuk menyatakan yang benar adalah benar dan yang salah adalah salah. Karena hal ini tidak bertentangan dengan kewajiban persaudaraan karena iman. Begitu pula, bukanlah persaudaraan karena iman ini sekadar persaudaraan yang diucapkan dengan lisan. Namun persaudaraan yang benar-benar tertancap di dalam hati yang menumbuhkan akhlak yang mulia dalam pergaulan di antara kita. Persaudaraan yang membuat kita mencintai saudara kita sebagaimana kita mencintai diri kita sendiri. Kita mencintai saudara kita untuk menjadi orang-orang yang mendapatkan kebaikan di dunia dan dijauhkan dari berbagai kesulitan, sebagaimana kita menginginkan agar saudara-saudara kita menjadi orang-orang yang istiqamah di atas ajaran Islam dan selamat dari ajaran-ajaran yang menyimpang. Akhirnya mudah-mudahan Allah l senantiasa membimbing kita semua untuk berjalan di atas jalan yang diridhai-Nya.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ وَعَنْ جَمِيْعِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمَ الدِّيْنِ.
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِينَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

Jangan Gampang Memvonis Mati Syahid

(ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc)

 

Pelaksanaan eksekusi pada hari Ahad dini hari tanggal 9 November 2008 M atas tiga aktor bom Bali I, Imam Samudra, Amrozi dan Mukhlas, mengundang perhatian banyak kalangan dari seluruh lapisan masyarakat, bukan hanya nasional bahkan internasional. Hal inilah yang mengundang mereka berkomentar, baik atas pelaksanaan eksekusi maupun atas kematian mereka dengan eksekusi itu.

Kontroversi pun terjadi, sebagian pihak menyanjung mereka, sebagian pihak membenarkan hukuman eksekusi tersebut, sementara yang lain menentangnya. Kontroversi semacam ini terjadi karena masing-masing menilai dari sudut pandang yang berbeda, masing-masing menilai sesuai dengan ra’yu dan logikanya. Sehingga wajar jika mereka bersilang pendapat, karena dasar berpendapatnya saja berbeda.

Namun yang disayangkan, tak sedikit dari umat Islam dengan status sosial yang beragam, ikut-ikutan berkomentar dalam peristiwa ini. Mereka tidak memandangnya dari sudut pandang ajaran Islam yang murni. Bahkan cenderung menggunakan perasaan, baik perasaan kasihan, atau sebaliknya semata-mata dengan perasaan benci dan marah, sehingga muncullah hasil yang berbeda karena berlandaskan perasaan yang berbeda. Sebagian lagi membumbui penilaiannya dengan pengetahuan tentang ajaran Islam yang minim dan sudah tercampur dengan gaya berpikir para terpidana mati. Sehingga tak segan-segan memastikan mereka sebagai syahid, pahlawan, pasti senang di surga, di surga dibawa oleh burung hijau, disambut para bidadari, atau pujian-pujian semacam itu.

Tak pelak lagi, kejadian-kejadian pascapelaksanaan sampai pada penguburan pun dikait-kaitan dengan vonis ‘kebahagiaan’ di atas. Ada yang bilang bahwa jenazahnya wangi, mukanya tersenyum, cuaca mendadak menjadi mendung, disambut burung belibis hitam –yang diartikan bidadari menjelang penguburan pertanda jenazah mereka diterima Allah– dan hal-hal semacam itu. Bahkan lebih parah lagi, sebelum pelaksanaan eksekusi pun sudah dikomentari bahwa mereka bakal mendapat bidadari. Subhanallah…

Sekilas saya membaca komentar-komentar semacam itu, membuat saya terpanggil untuk menulis makalah ini. Tak lain tujuannya adalah berupaya meluruskan cara berpikir kaum muslimin sehingga tidak bermudah-mudah dalam menjatuhkan vonis, positif atau negatif. Terlebih dalam urusan semacam ini, yang lebih sarat dengan urusan ghaib, urusan akhirat yang hanya di sisi Allah l sajalah ilmunya.

Ya, tak sedikit mereka yang telah menjadi korban ‘komentar tanpa ilmu’ di mana sikap seperti ini jangan sampai dianggap angin lalu. Karena kita dilarang Allah untuk berkata atau bersikap tentang sesuatu yang kita tidak punya landasan ilmunya.

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (Al-Isra’: 36)

Semua ucapan yang kita ucapkan dicatat oleh para malaikat dan menjadi dokumen pribadi kita, untuk kemudian akan kita pertanggungjawabkan di sisi Allah l kelak.

“Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (Qaf:18)

Perlu dicamkan, bahwa urusan nasib seseorang di akhirat bukanlah urusan kita. Bahkan itu urusan ghaib yang Allah Yang Maha Tahu saja yang memiliki pengetahuan tentangnya. Sehingga seseorang yang mengatakan bahwa mereka itu syahid, berarti ia –tanpa dasar ilmu– telah menvonisnya pasti masuk ke dalam surga. Ya, pasti tanpa ilmu, karena hanya Allah l sajalah yang mengetahui nasib mereka di akhirat kelak.

Janganlah karena dorongan emosional, lalu kita berbicara tanpa ilmu yang berakibat mencelakakan kita sendiri.

Dahulu di zaman Nabi n sempat muncul beberapa kejadian yang membuat sebagian sahabat memuji dan memastikan bahwa si fulan dari kalangan sahabat akan mendapatkan kebahagiaan di akhirat. Namun dengan segera Rasulullah n menampik persaksian mereka itu, karena hal ghaib semacam ini tidak ada seorang pun yang tahu selain Allah, termasuk Rasulullah n sendiri. Kecuali dalam beberapa hal yang memang diwahyukan dari langit. Sebagaimana firman Allah:

“(Dia adalah Dzat) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya.” (Al-Jin: 26-27)

Suatu ketika, seorang sahabat mulia, ‘Utsman bin Mazh’un z meninggal dunia. Spontan seorang wanita mempersaksikan baginya untuk meraih kemuliaan di akhirat. Namun dengan segera Rasulullah n menukas persaksiannya. Kisah berharga tersebut termaktub dalam kitab Shahih Al-Bukhari:

أَنَّ أُمَّ الْعَلاَءِ -امْرَأَةً مِنَ الْأَنْصَارِ- بَايَعَتِ النَّبِىَّ n أَخْبَرَتْهُ أَنَّهُ اقْتُسِمَ الْمُهَاجِرُونَ قُرْعَةً فَطَارَ لَنَا عُثْمَانُ بْنُ مَظْعُونٍ، فَأَنْزَلْنَاهُ فِى أَبْيَاتِنَا، فَوَجِعَ وَجَعَهُ الَّذِى تُوُفِّىَ فِيهِ، فَلَمَّا تُوُفِّيَ وَغُسِّلَ وَكُفِّنَ فِى أَثْوَابِهِ، دَخَلَ رَسُولُ اللهِ n فَقُلْتُ: رَحْمَةُ اللهِ عَلَيْكَ أَبَا السَّائِبِ، فَشَهَادَتِي عَلَيْكَ لَقَدْ أَكْرَمَكَ اللهُ. فَقَالَ النَّبِىُّ n: وَمَا يُدْرِيكِ أَنَّ اللهَ قَدْ أَكْرَمَهُ؟ فَقُلْتُ: بِأَبِي أَنْتَ يَا رَسُولَ اللهِ، فَمَنْ يُكْرِمُهُ اللهُ؟ فَقَالَ: أَمَّا هُوَ فَقَدْ جَاءَهُ الْيَقِينُ، وَاللهِ إِنِّي لَأَرْجُو لَهُ الْخَيْرَ، وَاللهِ مَا أَدْرِى -وَأَنَا رَسُولُ اللهِ- مَا يُفْعَلُ بِي. قَالَتْ: فَوَاللهِ لاَ أُزَكِّي أَحَدًا بَعْدَهُ أَبَدًا

Bahwa seorang wanita bernama Ummul ’Ala, wanita Anshar yang pernah berbaiat kepada Rasulullah n, ia berkisah bahwa saat itu dibagikan undian orang-orang Muhajirin, maka kami mendapatkan bagian ‘Utsman bin Mazh’un sehingga kami menempatkannya di rumah kami, tapi ia menderita sakit yang menyebabkan kematiannya. Maka ketika beliau wafat dan dimandikan lalu dikafani dengan kain kafannya, Rasulullah n masuk, aku pun mengatakan: “Rahmat Allah atas dirimu wahai Abu Saib (‘Utsman bin Mazh’un), persaksianku terhadap dirimu bahwa Allah telah memuliakan dirimu.”

Serta merta Rasulullah n bersabda: “Darimana kamu tahu bahwa Allah telah memuliakannya?” Akupun mengatakan, “Ayahku sebagai taruhan atas kebenaran ucapanku, ya Rasulullah. Lalu siapa yang Allah muliakan?”

Rasulullah n menjawab: “Adapun dia maka telah datang kematiannya. Demi Allah aku benar-benar berharap untuknya kebaikan. Demi Allah aku sendiri tidak tahu –padahal aku ini adalah utusan Allah– apa yang nantinya akan diperlakukan terhadap diriku.”

Ummul ‘Ala mengatakan: “Demi Allah aku tidak lagi memberikan tazkiyah (persaksian baik) setelah itu selama-lamanya.” (HR. Al-Bukhari 1243)

Coba renungi kisah ini. Siapakah Rasulullah n? Siapakah ‘Utsman bin Mazh’un? Dan siapakah Ummul ‘Ala? Rasulullah n tentunya sudah jelas bagi kita siapa beliau. Adapun ‘Utsman bin Mazh’un, beliau termasuk dari kalangan orang-orang yang pertama masuk Islam (as-sabiqunal awwalun) dan tergolong dari kalangan al-muhajirin. Dengan itu insya Allah beliau termasuk dalam firman Allah:

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (At-Taubah: 100)

Al-Imam Ibnu Ishaq t dalam buku Sirah karyanya menyebutkan bahwa beliau adalah orang ke-14 yang masuk Islam. Beliau ikut hijrah ke Habasyah (Ethiopia) bersama putranya. Bahkan beliau juga turut andil dalam perang Badr. Sehingga dengan itu beliau termasuk dalam hadits Rasulullah n, bahwa Allah berfirman tentang para sahabat yang ikut perang Badr:

اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ، فَقَدْ غَفَرْتُ لَكُمْ

“Lakukan apa yang kalian mau, sungguh Aku telah mengampuni untuk kalian.” (HR. Al-Bukhari no. 3007, 3081, 3983, 4274, 4890, 6259, 6939; Muslim no. 2494)

Beliau adalah orang pertama dari kalangan Muhajirin yang wafat di negeri Madinah, pascaperang Badr. Setelah jenazahnya selesai dimandikan dan dikafani, Rasulullah n mencium antara kedua matanya. Ketika jenazahnya dimakamkan, Rasulullah n berkata:

نِعْمَ السَّلَفُ هُوَ لَنَا عُثْمَانُ بْنُ مَظْعُونٍ

“Sebaik-baik pendahulu bagi kita adalah ‘Utsman bin Mazh’un.”

Biografi beliau bisa dilihat dalam kitab Al-Ishabah karya Al-Hafizh Ibnu Hajar t dan kitab Al-Isti’ab karya Ibnu Abdil Bar.

Ummul ‘Ala sendiri adalah sahabiyyah (sahabat wanita) yang mulia, periwayat hadits Nabi, dan salah seorang wanita yang berbai’at kepada Nabi. Siap untuk tunduk patuh kepada titah beliau dengan berjanji bahwa dirinya tidak akan pernah memberikan tazkiyah kepada siapapun setelah itu.

Marilah kita renungkan, seorang wanita mulia bersaksi atas kebahagiaan seorang lelaki yang hidupnya penuh dengan perjuangan besar. Namun Rasulullah n menghentikan persaksiannya. Lebih dari itu, beliau tegaskan bahwa beliau sendiri sebagai seorang rasul tidak mengetahui nasib dirinya sendiri.

Sementara di waktu lain, Aisyah x juga pernah bersaksi atas kebahagiaan di akhirat untuk seorang anak kecil yang meninggal dunia. Diriwayatkan:

دُعِيَ رَسُولُ اللهِ n إِلَى جَنَازَة صَبِيٍّ مِنَ الْأَنْصَارِ فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، طُوبَى لِهَذَا عُصْفُورٌ مِنْ عَصَافِيرِ الْجَنَّةِ لَمْ يَعْمَلِ السُّوءَ وَلَمْ يُدْرِكْهُ. قَالَ: أَوْ غَيْرَ ذَلِكَ يَا عَائِشَةُ، إِنَّ اللهَ خَلَقَ لِلْجَنَّةِ أَهْلًا خَلَقَهُمْ لَهَا وَهُمْ فِي أَصْلاَبِ آبَائِهِمْ وَخَلَقَ لِلنَّارِ أَهْلًا خَلَقَهُمْ لَهَا وَهُمْ فِي أَصْلاَبِ آبَائِهِمْ

Dari Aisyah Ummul Mukminin, ia berkata bahwa Rasulullah pernah diminta untuk menshalati jenazah seorang anak dari kaum Anshar. Maka aku katakan: “Wahai Rasulullah beruntunglah anak ini. (Ia akan menjadi seekor) burung ‘ushfur dari burung-burung ‘ushfur di dalam surga. Ia belum berbuat kejelekan sama sekali dan belum menjumpai masa terkenai dosa (karena belum baligh).”

Nabi menjawab: “Atau (bahkan) selain itu, wahai Aisyah, sesungguhnya Allah menciptakan untuk surga penghuninya. Allah ciptakan mereka untuk surga sejak mereka berada pada tulang sulbi ayah-ayah mereka. Dan Allah menciptakan untuk neraka penghuninya Allah menciptakan mereka sejak mereka dalam tulang sulbi ayah-ayah mereka.” (HR. Muslim no. 2662)

Ya, seorang bocah yang masih suci belum melakukan kejelekan dan belum menjumpai masa terkenai dosa (karena belum baligh), sebagaimana tutur Aisyah, dan ia adalah seorang anak sahabat Anshar sehingga ‘Aisyah-pun bersaksi atas kebahagiaannya. Ternyata Nabi n tetap menegur ‘Aisyah atas persaksiannya. Mengapa? Sebagian ulama mengatakan bahwa Nabi n sendiri waktu itu belum tahu tentang nasib anak-anak muslim itu. Ulama yang lain mengatakan –atas dasar bahwa anak muslim nantinya bakal di surga dan itu telah disepakati ulama– bahwa Nabi n ingin melarang ‘Aisyah untuk terburu-buru memastikan sesuatu tanpa ada dalil yang pasti. Karena ini adalah urusan ghaib, urusan akhirat yang hanya di Tangan Allah dan manusia tidak tahu-menahu tentangnya.

Bahkan dalam kejadian lain, di sebuah perjalanan peperangan Nabi n, beberapa sahabat sempat memastikan surga bagi seseorang yang mati di sela-sela perjalanan itu. Diriwayatkan dari Abu Hurairah z, ia berkata:

خَرَجْنَا مَعَ النَّبِىِّ n إِلَى خَيْبَرَ فَفَتَحَ اللهُ عَلَيْنَا فَلَمْ نَغْنَمْ ذَهَبًا وَلاَ وَرِقًا، غَنِمْنَا الْمَتَاعَ وَالطَّعَامَ وَالثِّيَابَ ثُمَّ انْطَلَقْنَا إِلَى الْوَادِي وَمَعَ رَسُولِ اللهِ n عَبْدٌ لَهُ وَهَبَهُ لَهُ رَجُلٌ مِنْ جُذَامٍ يُدْعَى رِفَاعَةَ بْنَ زَيْدٍ مِنْ بَنِي الضُّبَيْبِ فَلَمَّا نَزَلْنَا الْوَادِىَ قَامَ عَبْدُ رَسُولِ اللهِ n يَحُلُّ رَحْلَهُ فَرُمِيَ بِسَهْمٍ فَكَانَ فِيهِ حَتْفُهُ فَقُلْنَا: هَنِيئًا لَهُ الشَّهَادَةُ، يَا رَسُولَ اللهِ. قَالَ رَسُولُ اللهِ n: كَلاَّ، وَالَّذِى نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، إِنَّ الشَّمْلَةَ لَتَلْتَهِبُ عَلَيْهِ نَارًا أَخَذَهَا مِنَ الْغَنَائِمِ يَوْمَ خَيْبَرَ لَمْ تُصِبْهَا الْمَقَاسِمُ. قَالَ: فَفَزِعَ النَّاسُ، فَجَاءَ رَجُلٌ بِشِرَاكٍ أَوْ شِرَاكَيْنِ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ أَصَبْتُ يَوْمَ خَيْبَرَ. فَقَالَ رَسُولُ اللهِ n: شِرَاكٌ مِنْ نَارٍ أَوْ شِرَاكَانِ مِنْ نَارٍ.

Kami keluar bersama Nabi menuju ke perang Khaibar, maka Allah memenangkan kami. Kami tidak mendapat rampasan perang berupa emas ataupun perak, tapi kami mendapatkan rampasan berupa barang-barang, makanan, dan pakaian. Lalu kami beranjak ke sebuah lembah, dan bersama Rasulullah n ketika itu seorang budak yang merupakan hadiah dari seorang berasal dari bani Judzam bernama Rifa’ah bin Zaid dari bani Adh-Dhubaib. Ketika kami singgah di lembah itu, budak tersebut bangkit untuk melepaskan bawaan tunggangannya. Ternyata dia dipanah (oleh musuh) sehingga menjadi sebab kematiannya. Serta merta kami mengatakan: “Berbahagialah dia dengan pahala syahid, wahai Rasulullah.” Kemudian dengan tegas Rasulullah n mengatakan: “Sekali-kali tidak! Demi yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sesungguhnya sehelai kain yang ia ambil dari rampasan perang yang belum dibagi pada perang Khaibar akan menyalakan api padanya.”

Kemudian Abu Hurairah z berkata: “Maka para sahabat sangat ketakutan, sehingga ada seorang yang menyerahkan satu atau dua tali sandal seraya mengatakan, ‘Wahai Rasulullah, kami mendapatkannya pada perang Khaibar’.” Maka Rasulullah n bersabda: “Ketahuilah sesungguhnya itu adalah satu atau dua tali sandal dari api neraka.” (HR. Muslim no. 115)

Para sahabat mempersaksikan kesyahidan untuk budak tersebut. Budak yang membantu Nabi, berjuang dan berjihad bersama beliau, meninggal dalam perjalanan perang memperjuangkan agama Allah, di bawah pimpinan seorang nabi yang mulia, yang tentu semuanya itu sebenarnya adalah jihad fi sabilillah. Namun dengan tegas Nabi n membantah persaksian mereka, bahkan diiringi sumpah dengan nama Allah, dan bahwa pelanggarannya berupa mencuri selembar kain dari hasil rampasan perang Khaibar yang belum dibagikan, menghalanginya untuk mendapatkan kemuliaan syahid. Ya, hanya karena selembar kain yang dia curi… .

Lalu bagaimana dengan kondisi orang-orang yang dinyatakan sebagai mujahidin di masa ini? Yang tentunya tindakan-tindakan yang mereka lakukan tidak bisa disamakan dengan perjuangan Rasulullah n bersama para sahabatnya, langsung di bawah pimpinan manusia terbaik tersebut. Apalagi pergerakan yang mereka lakukan adalah pergerakan yang tidak jelas kepemimpinan dan pimpinannya. Tercerai-berai dalam berbagai kelompok dan organisasi, serta tindakan yang tidak terkontrol di bawah kontrol syariat Islam. Sehingga nyawa sebagian saudara kita sesama muslim menjadi korban, darahnya tertumpah, dan jiwanya pun terenggut.

Yang lebih membuat tercengang para sahabat adalah peristiwa lain, di mana Nabi n mempersaksikan kepastian masuk neraka terhadap seseorang yang berjuang keras dalam berjihad. Al-Imam Al-Bukhari t meriwayatkan:

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ السَّاعِدِي z أَنَّ رَسُولَ اللهِ n الْتَقَى هُوَ وَالْمُشْرِكُونَ فَاقْتَتَلُوا، فَلَمَّا مَالَ رَسُولُ اللهِ n إِلَى عَسْكَرِهِ، وَمَالَ الْآخَرُونَ إِلَى عَسْكَرِهِمْ، وَفِي أَصْحَابِ رَسُولِ اللهِ n رَجُلٌ لاَ يَدَعُ لَهُمْ شَاذَّةً وَلاَ فَاذَّةً إِلاَّ اتَّبَعَهَا يَضْرِبُهَا بِسَيْفِهِ، فَقَالَ: مَا أَجْزَأَ مِنَّا الْيَوْمَ أَحَدٌ كَمَا أَجْزَأَ فُلاَنٌ. فَقَالَ رَسُولُ اللهِ n: أَمَا إِنَّهُ مِنْ أَهْلِ النَّارِ. –وَفِي رِوَايَةٍ: فَقَالُوا أَيُّنَا مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ إِنْ كَانَ هَذَا مِنْ أَهْلِ النَّارِ- فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ الْقَوْمِ: أَنَا صَاحِبُهُ. قَالَ: فَخَرَجَ مَعَهُ كُلَّمَا وَقَفَ وَقَفَ مَعَهُ، وَإِذَا أَسْرَعَ أَسْرَعَ مَعَهُ. قَالَ: فَجُرِحَ الرَّجُلُ جُرْحًا شَدِيدًا، فَاسْتَعْجَلَ الْمَوْتَ، فَوَضَعَ نَصْلَ سَيْفِهِ بِالْأَرْضِ وَذُبَابَهُ بَيْنَ ثَدْيَيْهِ، ثُمَّ تَحَامَلَ عَلَى سَيْفِهِ، فَقَتَلَ نَفْسَهُ، فَخَرَجَ الرَّجُلُ إِلَى رَسُولِ اللهِ n فَقَالَ: أَشْهَدُ أَنَّكَ رَسُولُ اللهِ. قَالَ: وَمَا ذَاكَ؟ قَالَ: الرَّجُلُ الَّذِى ذَكَرْتَ آنِفًا أَنَّهُ مِنْ أَهْلِ النَّارِ، فَأَعْظَمَ النَّاسُ ذَلِكَ، فَقُلْتُ: أَنَا لَكُمْ بِهِ؛ فَخَرَجْتُ فِي طَلَبِهِ، ثُمَّ جُرِحَ جَرْحًا شَدِيدًا، فَاسْتَعْجَلَ الْمَوْتَ، فَوَضَعَ نَصْلَ سَيْفِهِ فِي الْأَرْضِ وَذُبَابَهُ بَيْنَ ثَدْيَيْهِ، ثُمَّ تَحَامَلَ عَلَيْهِ، فَقَتَلَ نَفْسَهُ. فَقَالَ رَسُولُ اللهِ n عِنْدَ ذَلِكَ: إِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ عَمَلَ أَهْلِ الْجَنَّةِ فِيمَا يَبْدُو لِلنَّاسِ، وَهْوَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ عَمَلَ أَهْلِ النَّارِ فِيمَا يَبْدُو لِلنَّاسِ، وَهْوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ.

Dari Sahl bin Sa’d z, ia mengatakan: Adalah Rasulullah berperang menghadapi orang-orang musyrik sehingga mereka saling menyerang. Tatkala Rasulullah n menuju kampnya, dan yang lain juga menuju kamp mereka, sementara di antara para sahabat Nabi ada seseorang (yang gagah berani) tidak membiarkan seorang pun (dari musyrikin, pen.) yang lepas dari regunya kecuali dia kejar dan dia tebas dengan pedangnya. Akhirnya para sahabat mengatakan: “Tidaklah seorangpun dari kita pada hari ini melakukan kehebatan seperti yang dilakukan oleh si fulan itu.” Maka Rasulullah n mengatakan: “Sesungguhnya dia termasuk penduduk neraka” –(dalam sebuah riwayat): Para sahabat mengatakan: “Siapa di antara kita yang bisa menjadi penghuni al-jannah, bila orang sehebat dia saja masih termasuk penghuni an-nar?”– Maka seseorang di antara mereka mengatakan: “Aku akan menguntitnya terus.” Ia pun keluar bersamanya, setiap kali orang itu berhenti ia ikut berhenti, dan jika dia bergerak cepat ia pun ikut bergerak cepat. Ia berkisah: Lalu pria (pemberani) tersebut itu terluka dengan luka yang parah, maka ia ingin segera mati sehingga ia letakkan (gagang) pedangnya di bumi dan menusukkan mata pedangnya pada ulu hatinya kemudian dia menekankan badannya di atas pedang tersebut, sehingga ia pun membunuh dirinya.

Lalu sahabat yang menguntitnya itu datang menemui Rasulullah n seraya mengatakan: “Sungguh aku bersaksi bahwa engkau adalah Rasulullah.” Beliau mengatakan: “Kenapa?” Ia menjawab: “Orang yang engkau sebutkan tadi bahwa dia termasuk penghuni neraka.” Lalu para sahabat tercengang dengan peristiwa tersebut. Maka aku katakan: “Aku (akan membuktikan) untuk kalian tentangnya. Maka aku keluar menguntitnya sampai ia terluka dengan luka yang parah maka ia ingin cepat mati, akhirnya ia letakkan gagang pedangnya di bumi dan mata pedangnya pada ulu hatinya, lalu ia tekankan badannya di atas pedangnya tersebut sehingga ia pun membunuh dirinya.”

Maka Rasulullah n bersabda: “Sesungguhnya seseorang benar-benar beramal dengan amalan penghuni al-jannah –yang tampak bagi manusia– sementara sebenarnya dia termasuk penghuni neraka. Dan sungguh seseorang beramal dengan amalan penghuni neraka –yang tampak bagi manusia– sementara sebenarnya dia termasuk penghuni Al-Jannah.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 4202 dan Muslim)

Perhatikanlah kisah di atas. Sungguh benar-benar mencengangkan. Perjuangan yang begitu gigih dalam jihad di jalan Allah dan membuat kocar-kacir musuh, ternyata menjadi kurang berarti manakala ia melanggar agama, yaitu bunuh diri. Rasulullah n menepis kekaguman mereka terhadap sebuah amalan yang secara zhahir (sepintas) adalah amalan yang mulia. Hal itu tak lain karena kita sebagai manusia sangat terbatas dan banyak hal yang terluputkan dari kita. Kita tidak mengetahui hal yang tersembunyi, hanyalah Allah yang tahu akhir nasib seseorang dan hanya Allah lah yang tahu hakikat amalan seseorang.

Kiranya kejadian-kejadian di atas menjadi pelajaran penting bagi kita semuanya. Para sahabat Nabi yang mulia dengan keilmuan dan keimanan mereka bersaksi atas para sahabat yang lain yang memenuhi hari-hari mereka dengan perjuangan dan pengorbanan, namun Nabi n selalu mencegah mereka dari persaksian-persaksian tersebut. Kenapa? Sekali lagi karena ini urusan ghaib yang hanya diketahui oleh Allah k sebagai Dzat Yang Maha Tahu segala urusan.

Atas dasar itu, maka sudah menjadi keyakinan dan aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang mereka saling mewarisi dan mewariskan dari sejak zaman Nabi n hingga kini, bahwa kita tidak bisa dan tidak boleh memastikan seorangpun secara tertentu dari muslimin bahwa dia akan masuk surga karena sebuah amalan yang dilakukannya. Tentu saja, kepastian atas mereka yang kita peroleh informasinya dari wahyu ilahi, seperti Al-’Asyarah Al-Mubasysyaruna bil Jannah (sepuluh sahabat yang diberi kabar gembira masuk surga), di antaranya khalifah yang empat.

Ibnu Katsir t mengatakan: “Pada hadits ini (kisah Utsman bin Mazh’un) dan yang semisalnya, ada dalil bahwa tidak boleh dipastikan untuk orang tertentu bahwa ia masuk surga kecuali yang telah disebutkan demikian oleh Peletak Syariat, sepuluh orang (Al-‘Asyarah), Ibnu Salam, Al-Ghumaisha’, Bilal, Suraqah, Abdullah bin Amr bin Haram ayah Jabir, tujuhpuluh pembaca Al-Qur’an yang terbunuh di daerah sumur Ma’unah, Zaid bin Haritsah, Ja’far, Ibnu Rawahah, dan yang semisal mereka.” (Tafsir Ibnu Katsir surat Al-Ahqaf: 13-14)

Al-Imam Ahmad bin Hanbal t yang digelari Imam Ahlus Sunnah, karena kegigihannya dalam memperjuangkan aqidah, mengatakan:

وَلاَ نَشْهَدُ عَلَى أَهْلِ الْقِبْلَةِ بِعَمَلٍ يَعْمَلُهُ بِجَنَّةٍ وَلاَ نَارٍ نَرْجُو لِلصَّالِحِ وَنَخَافُ عَلَيْهِ وَنَخَافُ عَلَى الْمُسِيءِ الْمُذْنِبِ وَنَرْجُو لَهُ رَحْمَةَ اللهِ

Dan kami tidak memberikan persaksian atas ahlul qiblah (yakni muslimin) bahwa ia pasti masuk surga atau neraka karena sebuah amalan yang dia amalkan. Kami berharap kebaikan bagi seorang yang shalih tapi kami tetap khawatir terhadapnya. Kami juga khawatir terhadap seorang yang berbuat jelek dan dosa, tapi kami tetap mengharap rahmat Allah untuknya. (Ushulus Sunnah)

Al-Imam Ahmad t yang merasakan pahit getirnya kejahatan penguasa saat itu, penyiksaan, penjara, intimidasi dalam waktu kurang lebih 3 masa khalifah yaitu Al-Makmun, Al-Mu’tashim, dan Al-Watsiq, itu semua karena memperjuangkan aqidah, hampir-hampir nyawa melayang karenanya.

Bahkan sudah melayang nyawa sekian ulama yang mendahului beliau saat itu. Namun itu semua tidak membuat beliau larut dalam perasaan yang membawa kepada persaksian yang tidak benar atas para ulama yang telah wafat mendahului beliau karena dibunuh oleh penguasa, walaupun kesedihan terasa begitu mendalam dalam sanubari. Tidak kemudian Al-Imam Ahmad mengatakan Asy-Syahid Fulan, si Fulan telah syahid, atau dieksekusi dalam eksekusi syahid, atau yang semakna dengan itu.

Tidak ketinggalan, Al-Imam Al-Bukhari t dalam kitabnya yang monumental, yaitu kitab Shahih Al-Bukhari, yang sebagian ulama menyebutnya sebagai kitab yang paling shahih setelah Kitabullah, yang umat Islam menyambutnya dengan lapang dada, beliau meletakkan sebuah bab berjudul:

بَابٌ: لاَ يَقُولُ فُلاَنٌ شَهِيدٌ

“Tidak boleh seseorang mengatakan bahwa si fulan syahid.”

Lalu beliau menyebutkan riwayat hadits:

قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ n: اللهُ أَعْلَمُ بِمَنْ يُجَاهِدُ فِي سَبِيلِهِ، اللهُ أَعْلَمُ بِمَنْ يُكْلَمُ فِى سَبِيلِهِ

Abu Hurairah z berkata dari Nabi n: “Allah lebih tahu siapakah yang (benar-benar) berjihad di jalan-Nya, Allah lebih tahu siapakah yang (benar-benar) terluka di jalan-Nya.”

Ibnu Hajar t menerangkan: “(Tidak boleh seseorang mengatakan bahwa si Fulan Syahid) yakni dengan memastikan hal itu, kecuali jika berdasarkan (berita) dari wahyu. Seolah-olah beliau (Al-Bukhari) mengisyaratkan kepada hadits ‘Umar (bin Al-Kaththab) bahwa beliau berkhutbah lalu mengatakan: ‘Kalian katakan dalam peperangan-peperangan kalian bahwa ‘si fulan syahid’ dan ‘si fulan mati syahid’. Barangkali dia telah memberatkan kendaraannya. Ketahuilah janganlah kalian mengatakan semacam itu, akan tetapi katakanlah seperti yang dikatakan Rasulullah: “Barangsiapa yang meninggal atau terbunuh di jalan Allah maka dia syahid.” Hadits ini adalah hadits yang hasan, diriwayatkan oleh Ahmad dan Sa’id bin Manshur serta selain keduanya.

Aqidah inipun ditegaskan oleh Ath-Thahawi dalam kitab aqidah karyanya:

وَنَرْجُو لِلْمُحْسِنِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْ يَعْفُوَ عَنْهُمْ وَيُدْخِلَهُمُ الْجَنَّةَ بِرَحْمَتِهِ، وَلاَ نَأْمَنُ عَلَيْهِمْ، وَلاَ نَشْهَدُ لَهُمْ بِالْجَنَّةِ. وَنَسْتَغْفِرُ لِمُسِيئِهِمْ، وَنَخَافُ عَلَيهِمْ، وَلاَ نَقْنَطُهُمْ.

Kami berharap untuk orang-orang yang berbuat baik dari mukminin semoga Allah mengampuni mereka dan memasukkan mereka ke dalam Al-Jannah dengan rahmat-Nya. Kami tidak merasa aman atas mereka (dari azab Allah) serta kami tidak mempersaksikan bahwa mereka pasti masuk al-jannah. Kami juga memintakan ampun untuk orang-orang yang berbuat dosa (dari kalangan mukmimin) dan kami khawatir (azab Allah) atas mereka tapi kami tidak putus asa (akan datangnya rahmat Allah) untuk mereka.

Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin t setelah membawakan keterangan Ibnu Hajar di atas mengatakan:

“…Kemudian, ucapan kita bahwa yang terbunuh itu syahid, tidaklah berfaidah apa-apa. Karena bila dia memang syahid di sisi Allah maka dia memang syahid, baik kita katakan ataupun tidak. Bila dia bukan syahid, maka ucapan kita bahwa dia syahid tidaklah bermanfaat baginya. Namun barangsiapa yang terbunuh dari kalangan muslimin di medan perang, dia diperlakukan secara zhahir sebagaimana perlakuan orang-orang yang syahid, sebagaimana yang diketahui secara zhahir. Karena kita di dunia memperlakukan manusia sesuai zhahirnya. Sedangkan di akhirat, seseorang akan diperlakukan sesuai isi hatinya. Dia diberi hukum syahid dalam pelaksanaan hukum-hukum (yang zhahir), namun kita tidak boleh mempersaksikannya (bahwa dia syahid).

Sekarang, bukankah kita menyalati jenazah? Sekarang kita menyalatinya karena dia muslim. Kita juga memperlakukannya sebagaimana perlakuan terhadap seorang muslim. Seorang muslim tempat kembalinya adalah jannah (surga). Apakah kita akan mempersaksikan terhadap jenazah ini bahwa dia tergolong penduduk jannah? Tentu tidak. Perlakuan berbeda dengan masalah persaksian.” (Liqa`at Bab Al-Maftuh, 65/14)

Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin t juga mengatakan: “… Adapun kata asy-syahid merupakan penetapan hukum kesyahidan bagi si mayit. Ini tidak diperbolehkan, karena persaksian bahwa seseorang itu syahid adalah penetapan hukum kesyahidan baginya bahwa dia termasuk penduduk jannah. Sebagaimana firman Allah l:

“Orang-orang yang syahid di sisi Rabb mereka, bagi mereka pahala dan cahaya mereka.” (Al-Hadid: 19)

Allah l berfirman:

“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Rabbnya dengan mendapat rizki.” (Ali ‘Imran: 169)

Yang seperti ini tidak boleh dipastikan terhadap seseorang, kecuali dengan nash (dalil) atau ijma’ kaum muslimin. Al-Imam Al-Bukhari telah membuat bab tentang masalah ini: Bab La Yuqalu Fulan Syahid.

Bila seseorang meninggal dengan cara yang dihukumi oleh Pembuat syariat bahwa yang mati dengan cara itu adalah syahid, maka dinyatakan secara umum bahwa orang yang mati dengan cara ini maka dia syahid, dan diharapkan orang ini termasuk salah satu syuhada, dalam bentuk harapan.” (Fatawa Islamiyyah, 4/331)

Begitulah sifat seorang mukmin yang mengerti syariat Islam dan beraqidah dengan aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Ia tidak akan pernah merasa aman dan tentram dari azab Allah semata-mata karena amalannya secara zhahir. Tidak akan pernah pula ia meyakini amalan saudaranya pasti diterima. Bahkan ia selalu merasa khawatir terhadap dirinya dan saudaranya dari kemungkinan adzab, serta takut amalannya tidak diterima.

Aisyah x bertanya kepada Rasulullah n:

يَا رَسُولَ اللهِ، { ﭑ ﭒ ﭓ ﭔ ﭕ ﭖ ﭗ ﭘ ﭙ ﭚ} هُمُ الَّذِينَ يَشْرَبُونَ الْخَمْرَ وَيَسْرِقُونَ؟ قَالَ: لاَ يَا بِنْتَ الصِّدِّيقِ، وَلَكِنَّهُمُ الَّذِينَ يَصُومُونَ وَيُصَلُّونَ وَيَتَصَدَّقُونَ وَهُمْ يَخَافُونَ أَنْ لاَ يُقْبَلَ مِنْهُم، أُولَئِكَ الَّذِينَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ.

Wahai Rasulullah, ayat: “Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan (yakni dari shadaqah atau yang mereka amalkan dari amal shalih), dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabb mereka.” (Al-Mukminun: 60)

“Apakah maksudnya adalah seorang yang berzina dan meminum khamr serta mencuri?” Rasulullah menjawab: “Tidak wahai putri Ash-Shiddiq, akan tetapi itu adalah seseorang yang berpuasa, shalat, bersedekah dalam keadaan ia khawatir amalannya tidak diterima. Merekalah orang-orang yang bersegera dalam kebaikan.” (HR. At-Tirmidzi 3175, Ibnu Majah 4198, dan Ahmad 6/159, 205, dan ini adalah lafadz beliau. Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi. Lihat pula Ash-Shahihah no. 162)

Al-Hasan Al-Bashri t mengatakan: “Demi Allah, mereka mengamalkan ketaatan serta bersungguh-sungguh di dalamnya, namun mereka takut kalau amalnya ditolak. Sesungguhnya seorang mukmin menyertakan antara perbuatan baik dan rasa khawatir, sementara seorang munafik menggabungkan antara perbuatan jelek dan perasaan tenang.” (Lihat Syarh At-Thahawiyah)

Para pembaca yang saya hormati. Jujur saja, apakah yang dilakukan Imam Samudra cs suatu amal kebaikan? Apakah yang mereka lakukan tergolong jihad yang dibenarkan secara syar’i dan telah memenuhi syarat-syaratnya?

Seandainya pun itu suatu amal kebaikan dan merupakan jihad yang syar’i, maka itupun tetap tidak membolehkan kita untuk memastikan bahwa itu diterima, bahkan hanya bisa mengharap. Lebih-lebih memastikan syahid, mendapat surga ataupun bidadarinya. Hal itu sebagaimana penjelasan Allah l, Rasul dan para ulama. Inilah hukum Islam, jika kita mau menegakkan hukum Islam. Tapi kalau ternyata apa yang dilakukannya adalah suatu amal kejelekan, maka ini dari jenis yang kita khawatirkan, bahkan kekhawatiran besar.

Apa sebenarnya yang mereka lakukan? Mari kita melihat sejenak.

Mereka telah menyebabkan hilangnya nyawa sejumlah kaum muslimin. Mereka telah membunuh dan melukai ratusan orang kafir musta’man. Mereka telah menghancurkan bangunan. Mereka telah menentang pemerintah muslimin yang sah, mengangkat senjata. Mereka membuat gambaran/citra Islam semakin buruk. Umat Islam pun menerima getahnya dengan dihujani tuduhan serupa, serta menimbulkan rasa takut di masyarakat, dan beberapa hal lain Alasannya adalah jihad.

Saya tidak ingin membahas semuanya. Namun saya hanya akan menyoroti beberapa hal, itupun dengan singkat agar tidak keluar dari maksud tulisan ini.

Pertama: Menyebabkan lenyapnya nyawa sebagian saudara kita muslimin. Nyawa muslim walaupun hanya satu orang apalagi lebih, sangatlah berharga di sisi Allah l. Tidak boleh melakukan tindak kejahatan terhadap jiwa muslim apalagi membunuhnya tanpa alasan dan cara yang benar secara syar’i. Barangsiapa melakukan hal itu berarti telah melakukan salah satu dosa besar dari dosa-dosa besar. Allah l berfirman:

“Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, ia kekal di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.” (An-Nisa’: 93)

Dan Allah berfirman:

“Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi bani Israil, bahwa barangsiapa membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak di antara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan di muka bumi.” (Al-Ma’idah: 32)

Al-Imam Mujahid (seorang tabi’in, ahli tafsir) mengatakan: “(Seperti membunuh manusia secara menyeluruh) yakni dalam hal dosanya.” Ini menunjukkan besarnya dosa membunuh jiwa seseorang tanpa cara dan alasan yang dibenarkan secara syar’i.

Nabi n bersabda:

لاَ يَحِلُّ دَمُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ يَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنِّي رَسُولُ اللهِ إِلاَّ بِإِحْدَى ثَلاَثٍ: الثَّيِّبُ الزَّانِي، وَالنَّفْسُ بِالنَّفْسِ، وَالتَّارِكُ لِدِينِهِ الْمُفَارِقُ لِلْجَمَاعَةِ

“Tidak halal darah seorang muslim yang bersaksi bahwa tiada ilah yang benar selain Allah dan bahwa aku adalah utusan Allah, kecuali dengan salah satu dari tiga sebab: Seorang yang berzina padahal telah menikah, seorang yang membunuh maka dibalas dengan dibunuh pula, dan orang yang keluar dari agama meninggalkan jamaah kaum muslimin (dengan kemurtadannya).” (Al-Bukhari no. 6878, Muslim no. 1676 dari Ibnu Mas’ud z)

Nabi n bersabda:

أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ، وَيُقِيمُوا الصَّلاَةَ، وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ، فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلاَّ بِحَقِّ الْإِسْلاَمِ، وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللهِ

“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tiada ilah yang benar melainkan Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat. Bila mereka melakukan hal itu, maka mereka telah melindungi darah dan hartanya dariku kecuali dengan hak Islam dan perhitungannya nanti diserahkan kepada Allah.” (Muttafaqun’alaih dari hadits Ibnu Umar c)

Dalam Sunan An-Nasa’i dari hadits ‘Abdullah bin ‘Amr z dari Nabi n, beliau bersabda:

لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللهِ مِنْ قَتْلِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ

“Sungguh lenyapnya dunia bagi Allah lebih ringan dari terbunuhnya seorang muslim.” (Shahih, HR At-Tirmidzi no. 1395, An-Nasa’i no. 3897, Ibnu Majah no. 2619, dan yang lain, lihat Shahih At-Targhib karya Asy-Syaikh Al-Albani t no. 2439)

‘Abdullah Ibnu ‘Umar c suatu hari memandangi Ka’bah seraya mengatakan:

مَا أَعْظَمَكِ وَأَعْظَمَ حُرْمَتَكِ، وَالْمُؤْمِنُ أَعْظَمُ حُرْمَةً عِنْدَ اللهِ مِنْكِ

“Betapa agungnya engkau dan betapa agungnya kehormatan engkau, tetapi seorang mukmin lebih besar kehormatannya di sisi Allah daripada engkau (Ka’bah).” (Shahih lighairihi, HR. At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban, lihat Shahih At-Targhib karya Asy-Syaikh Al-Albani t no. 2441)

Kedua, membunuh jiwa mu’ahad atau musta’man (orang-orang kafir yang memiliki perjanjian damai atau mendapatkan jaminan keamanan dari pemerintah muslimin), di antara mereka adalah para wisatawan asing tersebut.

Dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-Ash c dari Nabi n ia bersabda:

مَنْ قَتَلَ مُعَاهَدًا لَمْ يَرَحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ، وَإِنَّ رِيْحَهَا تُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ أَرْبَعِينَ عَامًا

“Barangsiapa yang membunuh mu’ahad maka ia tidak bisa mencium aroma surga padahal baunya dapat dicium dari jarak perjalanan 40 tahun.” (HR. Al-Bukhari no. 3166 dan Ibnu Majah no. 2686)

Siapa saja yang diizinkan masuk oleh penguasa muslim dengan perjanjian jaminan keamanan selama berada di negara muslimin, maka jiwa dan hartanya juga terlindungi, tidak boleh menyentuhnya. Barangsiapa membunuhnya maka dia seperti yang disabdakan Nabi n…”tidak akan mencium aroma surga”. Ini adalah ancaman yang keras bagi orang yang mencoba membunuh seorang kafir yang berada dalam ikatan perjanjian dan jaminan keamanan.

Maksudnya, siapa saja yang masuk dengan perjanjian dan jaminan keamanan dari penguasa untuk kepentingan dan maslahat tertentu yang dipandang oleh penguasa tersebut, maka tidak boleh kita mengganggunya atau bertindak jahat terhadapnya, baik terhadap jiwa maupun hartanya.

Ketiga, melakukan kerusakan di muka bumi dengan menimbulkan ketakutan melalui aksi terornya. Allah l berfirman:

“Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka di dunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar.” (Al-Maidah: 33)

Ibnu Katsir t mengatakan: “Kata muharabah (memerangi) artinya melawan dan menyelisihi. Kata ini tepat diberikan kepada kekafiran atau qath’u thariq (penyamun jalanan) serta yang menakut-nakuti manusia dengan kejahatannya di jalanan. Demikian pula kata ‘merusak di bumi’ diberikan kepada berbagai macam kejahatan dan kejelekan.” (Tafsir Al-Quran Al-’Azhim, 2/50)

Demikian pula kesimpulan Asy-Syaukani t tentang makna ‘kerusakan di muka bumi’: “Telah diperselisihkan tentang makna kerusakan di muka bumi dalam ayat ini, apakah itu? Dikatakan dalam sebuah pendapat bahwa itu adalah ‘syirik’. Dikatakan dalam pendapat lain bahwa itu ‘merampok atau mengganggu dengan kejahatan di jalan’. Yang tampak dari susunan kalimat Al-Qur’an bahwa kata itu tepat untuk semua yang dapat disebut sebagai kerusakan di bumi. Sehingga syirik adalah kerusakan di bumi, melakukan kejahatan di jalan juga kerusakan di bumi, menumpahkan darah, merenggut kehormatan, dan merampok harta juga kerusakan di muka bumi. Serta berbuat jahat terhadap hamba Allah tanpa alasan yang benar juga kerusakan di bumi, menghancurkan bangunan, menebang pepohonan dan juga mengeringkan sungai juga kerusakan di bumi. Dengan ini engkau tahu dengan tepat untuk menyebut ini semua sebagai kerusakan di bumi….” (Tafsir Fathul Qadir)

Maka dari itu, siapapun yang melakukan kejahatan sebagaimana kriteria di atas, ia berhak mendapatkan hukuman yang Allah sebutkan dalam ayat, yaitu dibunuh, disalib, atau dipotong tangan dan kakinya secara menyilang atau diasingkan. Hal itu disesuaikan dengan besar kecilnya kejahatan yang dia lakukan setelah dipelajari dan terbukti kejahatannya. Hukuman tersebut ditetapkan karena besarnya kejahatan yang dilakukan, sehingga Allah menyebutnya sebagai peperangan terhadap Allah l dan Rasul-Nya n, terutama bila di antara korbannya adalah muslimin.

Dilihat dari tiga masalah ini saja, maka tampak bahwa apa yang mereka (trio bomber dkk, red.) lakukan bukanlah masalah sepele. Bahkan merupakan ‘kejahatan kriminal yang amat besar’. Maka hukuman hirabah-lah yang pantas bagi mereka menurut hukum Islam, seperti yang tersebut dalam surat Al-Maidah di atas. Bila mereka konsekuen dengan tuntutan syariat Islam, maka inilah syariat Islam bagi para pelaku kejahatan semacam ini.

Dari pemaparan secara singkat di atas, maka sangat keliru, bahkan salah besar, ketika seseorang berani memvonis surga atau syahid untuk mereka dengan amalan tersebut. Kesalahan vonis ini bukan hanya untuk mereka, bahkan untuk siapapun, kecuali bila ada wahyu ilahi yang menerangkan kepada kita bahwa seseorang syahid atau pasti masuk surga.

Maka berhati-hatilah, wahai kaum muslimin, untuk bicara tanpa ilmu!

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.


1 Tulisan ini pernah dimuat di www.darussalaf.or.id. Kami tampilkan lagi dengan beberapa penambahan.

Al-Haafidz dan Al-Hafidz

(ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar Suaidi)

 

Di antara Al-Asma’ul Husna adalah Al-Hafiizh (الْحَفِيظُ) dan Al-Haafizh (الْحَافِطُ), sebagaimana dalam firman-Nya:

“Sesungguhnya Rabbku adalah Maha Pemelihara segala sesuatu.” (Hud: 57)

“Maka Allah adalah sebaik-baik Penjaga dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang.” (Yusuf: 64)

Adapun maknanya sebagaimana dijelaskan oleh Asy-Syaikh Muhammad Khalil Al-Harras dalam Syarh Nuniyyah Ibnul Qayyim t:

Di antara nama-nama Allah l adalah Al-Hafiizh. Nama ini memiliki dua makna:

Salah satunya, bahwa Dia menjaga/memelihara apa yang dilakukan oleh hamba-Nya berupa amal baik atau amal buruk, yang ma’ruf atau yang mungkar, taat atau maksiat. Tidak ada yang terlewatkan sedikitpun dari-Nya walaupun seberat semut kecil. Pemeliharaan Allah l terhadap amal mereka ini bermakna menghitungnya dengan tepat. Berarti ilmu Allah l meliputi segala amal mereka, lahir maupun batin, dan Allah  l telah menulisnya dalam Lauhul Mahfuzh, sebelum menciptakannya, bahkan sebelum menciptakan langit-langit dan bumi. Allah  l juga telah menugaskan para malaikat penjaga untuk mengurusinya, para malaikat mulia yang menulis dan mengetahui apa yang mereka lakukan. Allah l berfirman:

“Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (Yasin: 12)

dan berfirman:

“Pada hari ketika mereka dibangkitkan Allah semuanya, lalu diberitakan-Nya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Allah mengumpulkan (mencatat) amal perbuatan itu, padahal mereka telah melupakannya. Dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu.” (Al-Mujadalah: 6)

Allah l juga berfirman:

“Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang yang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Rabbmu tidak menganiaya seorang juapun’.”  (Al-Kahfi: 49)

“Dan segala sesuatu yang telah mereka perbuat tercatat dalam buku-buku catatan. Dan segala (urusan) yang kecil maupun yang besar adalah tertulis.” (Al-Qamar: 52, 53)

Makna penjagaan Allah l yang seperti ini berkonsekuensi bahwa ilmu Allah l meliputi segala keadaan hamba-hamba-Nya lahir maupun batin, dan bahwa itu telah tertulis di Lauhul Mahfuzh juga pada lembaran-lembaran yang berada pada tangan para malaikat. Sebagaimana ini juga berarti bahwa Allah l mengetahui ukuran amal mereka sempurna atau kurangnya, serta ukuran balasannya baik pahala atau hukuman, lalu Allah l akan membalasi mereka dengan keutamaan dan keadilan-Nya.

Makna yang kedua, bahwa Allah l adalah Al-Haafizh, yakni Yang menjaga hamba-hamba-Nya dari segala hal yang tidak mereka sukai. Ibnul Qayyim t mengisyaratkan makna ini dengan ucapannya, ‘Dan Dialah yang menjamin untuk menjaga mereka dari segala hal yang memberatkan dan tidak disukai.’

Penjagaan Allah l dalam hal ini ada dua macam, bersifat umum dan bersifat khusus. Yang bersifat umum adalah penjagaan-Nya terhadap seluruh makhluk, yaitu Allah l mudahkan makhluk untuk mendapatkan sesuatu yang melindunginya dan menjaga tubuhnya, serta memberikan ilham kepadanya untuk segala urusannya serta berusaha untuk memperbaikinya masing-masing sesuai dengan kondisi fisiknya, seperti dalam firman-Nya:

“Musa berkata: ‘Rabb kami ialah Dzat yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk’.” (Thaha: 50)

Yakni memberikan petunjuk kepada seluruh makhluk untuk menuju kepada apa yang telah ditentukan atasnya berupa kebutuhan yang pokok atau kebutuhan penunjangnya. Allah l juga memberikan kepadanya sarana dan alat yang dengannya ia mampu untuk mendapatkan makan dan minumnya serta kebutuhan nikahnya. Juga kemampuan untuk berusaha menuju kepadanya. Tanpa diragukan, hal ini berlaku atas orang yang baik maupun yang jelek, bahkan juga hewan dan yang lainnya. Dialah yang menahan langit-langit dan bumi agar tidak bergeser. Dia pula yang menjaga seluruh makhluk dengan nikmat-nikmat-Nya. Dia pula yang menugaskan para malaikat penjaga –yang menjaga baik dari depan maupun dari belakang– untuk menjaga anak Adam. Semuanya itu dengan perintah Allah l. Maksudnya malaikat tersebut menjaga manusia dari hal yang mencelakakannya, dan gangguan-gangguan yang tidak Allah l takdirkan menimpanya, yang semestinya akan mengenainya kalaulah bukan karena penjagaan Allah l.

Macam kedua, penjagaan Allah l yang khusus untuk para wali-Nya. Penjagaan yang lebih dari apa yang telah disebutkan. Yaitu, Allah l menjaga mereka dari sesuatu yang mencelakakan keimanan mereka atau menggoyahkan keyakinan mereka, berupa berbagai godaan dan syubhat ataupun syahwat. Sehingga Allah l selamatkan mereka darinya dan Allah l keluarkan dari semuanya itu dengan terjaga dan sejahtera. Juga Allah l menjaga mereka dari musuh-musuh mereka dari kalangan jin maupun manusia, sehingga Allah l menangkan mereka atas musuh-musuh, serta Allah l selamatkan dari tipu daya mereka. Allah l berfirman:

“Maka dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.” (Al-Hajj: 78)

Ini berlaku umum dalam hal menjaga dari segala yang akan mencelakakan mereka baik dalam urusan dunia maupun agama.

Maka sebanding dengan keimanan yang dimiliki seorang hamba, Allah l akan memberikan penjagaan-Nya terhadapnya dengan kelembutan-Nya, sebagaimana disebutkan dalam kitab Shahih dari hadits Ibnu Abbas c:

احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ

“Jagalah (hukum-hukum) Allah niscaya akan menjagamu, jagalah (hukum-hukum) Allah niscaya kamu akan mendapati-Nya di hadapanmu.” (Syarh Al-Qashidah An-Nuniyyah, 2/90-91)

 

Buah Mengimani Nama Al-Hafiizh dan Al-Haafizh

Dengan mengimaninya, seseorang akan mengetahui keluasan ilmu Allah l dan ketelitian-Nya. Tidak ada satu perbuatanpun yang luput dari ilmu Allah l. Semuanya tertulis dan terjaga, untuk dipertanggungjawabkan oleh manusia kelak di hadapan-Nya. Atas dasar itu maka setiap insan harus berhati-hati dalam berbuat dan bertutur kata, tak ada yang luput dari catatan-Nya.

Sebagaimana dengan mengimani nama tersebut kita mengetahui karunia Allah l yang begitu besar kepada seluruh makhluk-Nya, di mana Allah l menjaga mereka dari segala marabahaya. Kalaulah bukan karena penjagaan-Nya tentu berbagai macam malapetaka akan menimpa, kecuali bila takdir telah datang maka malaikat pun menyingkir tidak menjaga dari musibahnya.

Juga terkhusus karunia Allah l kepada orang yang beriman dan bertakwa, lebih besar dari makhluk lain pada umumnya. Karena bukan hanya urusan dunia yang Allah l jaga namun juga mencakup agama dan keimanannya. Tentu ini menuntut kita untuk bersyukur kepada-Nya, Al-Hafiizh l.

Wallahu a’lam.

Adzan dan Iqomah (bagian satu)

(dituis oleh: Al-Ustadz Abu Ishaq Muslim Al-Atsari)

 

 

Makna dan Tujuan Adzan

Secara bahasa, adzan bermakna i’lam yaitu pengumuman, pemberitahuan atau pemakluman, sebagaimana disebutkan dalam Mukhtarush Shihhah (hal. 16), At-Ta’rifat oleh Al-Jurjani (hal. 23), dan selainnya. Allah k berfirman:

”Dan inilah suatu pemakluman dari Allah dan Rasul-Nya kepada umat manusia pada hari haji akbar…” (At-Taubah: 3)

Adapun secara syariat, adzan adalah pemberitahuan datangnya waktu shalat dengan menyebutkan lafadz-lafadz yang khusus. (Fathul Bari 2/102, Al-Mughni Kitabush Shalah, bab Al-Adzan)

Abul Hasan Al-Mawardi t menerangkan, asal adzan ini adalah firman Allah k:

”Wahai orang-orang yang beriman, apabila kalian diseru untuk mengerjakan shalat pada hari Jum’at maka bersegeralah kalian kepada mengingat Allah…” (Al-Jumu’ah: 9)

Dan firman-Nya:

“Dan apabila kalian menyeru mereka untuk mengerjakan shalat, mereka menjadikannya buah ejekan dan permainan…” (Al-Maidah: 58) [Al-Hawil Kabir, 2/40]

Ibnu Mulaqqin t berkata, “Ulama menyebutkan empat hikmah adzan:

1. Menampakkan syiar Islam

2. Kalimat tauhid

3. Pemberitahuan telah masuknya waktu shalat dan pemberitahuan tempat pelaksanaan shalat.

4. Ajakan untuk menunaikan shalat berjamaah.” (dinukil dari Taudhihul Ahkam min Bulughil Maram, 1/513 )

 

Keutamaan Adzan dan Muadzin

Banyak hadits yang datang menyebutkan keutamaan adzan dan orang yang menyerukan adzan (muadzin). Di antaranya berikut ini:

Abu Hurairah z mengatakan, Rasulullah n bersabda:

إِذَا نُوْدِيَ لِلصَّلاَةِ أَدْبَرَ الشَّيْطَانُ وَلَهُ ضُرَاطٌ، حَتَّى لاَ يَسْمَعَ التَّأْذِيْنَ، فَإِذَا قَضَى النِّدَاءَ أَقْبَلَ حَتَّى إِذَا ثَوَّبَ بِالصَّلاَةِ أَدْبَرَ….

”Apabila diserukan adzan untuk shalat, syaitan pergi berlalu dalam keadaan ia kentut hingga tidak mendengar adzan. Bila muadzin selesai mengumandangkan adzan, ia datang hingga ketika diserukan iqamat ia berlalu lagi…” (HR. Al-Bukhari no. 608 dan Muslim no. 1267)

Dari Abu Hurairah z juga, ia mengabarkan sabda Rasulullah n:

لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الْأَوَّلِ ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِِلَّا أَنْ يَسْتَهِمُوْا عَلَيْهِ لاَسْتَهَمُوْا….

”Seandainya orang-orang mengetahui besarnya pahala yang didapatkan dalam adzan dan shaf yang awal kemudian mereka tidak dapat memperolehnya kecuali dengan berundi niscaya mereka rela berundi untuk mendapatkannya…” (HR. Al-Bukhari no. 615 dan Muslim no. 980)

Muawiyah z berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah n bersabda:

الْمؤَذِّنُوْنَ أَطْوَلُ النَّاسِ أَعْنَاقًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ

”Para muadzin adalah orang yang paling panjang lehernya1 pada hari kiamat.” (HR. Muslim no. 850)

Abu Sa’id Al-Khudri z mengabarkan dari Rasulullah n:

لاَ يَسْمَعُ مَدَى صَوْتِ الْمُؤَذِّنِ جِنٌّ وَلاَ إِنْسٌ وَلاَ شَيْءٌ إِلاَّ شَهِدَ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

”Tidaklah jin dan manusia serta tidak ada sesuatupun yang mendengar suara lantunan adzan dari seorang muadzin melainkan akan menjadi saksi kebaikan bagi si muadzin pada hari kiamat.” (HR. Al-Bukhari no. 609)

Ibnu ’Umar c berkata: Rasulullah n bersabda:

يُغْفَرُ لِلْمْؤَذِّنِ مُنْتَهَى أََذَانِهِ وَيَسْتَغْفِرُ لَهُ كُلُّ رَطْبٍ وَيَابِسٍ سَمِعَهُ

”Diampuni bagi muadzin pada akhir adzannya. Dan setiap yang basah ataupun yang kering yang mendengar adzannya akan memintakan ampun untuknya.” (HR. Ahmad 2/136. Asy-Syaikh Ahmad Syakir t berkata: “Sanad hadits ini shahih.”)

Ibnu Mas’ud z berkata: Ketika kami bersama Rasulullah n dalam satu safar, kami mendengar seseorang menyerukan, ”Allahu Akbar, Allahu Akbar.” Nabiyullah n bersabda, ”Dia di atas fithrah.” Terdengar lagi seruannya, ”Asyhadu an laa ilaaha illallah.” ”Ia keluar dari api neraka,” kata Rasulullah n. Kami pun bersegera ke arah suara seruan tersebut. Ternyata orang itu adalah pemilik ternak yang mendapati waktu shalat ketika sedang menggembalakan hewannya, lalu ia menyerukan adzan. (HR. Ahmad 1/407-408. Guru kami Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i t berkata, ”Hadits ini shahih di atas syarat Syaikhain.” Lihat Al-Jami’ Ash-Shahih Mimma Laisa fish Shahihain, 2/56, 57)

Rasulullah n mendoakan para imam dan muadzin:

اللَّهُمَّ أَرْشِدِ الْأَئِمّةَ وَاغْفِرْ لِلَمْؤَذِّنِيْنَ

”Ya Allah berikan kelurusan2 bagi para imam dan ampunilah para muadzin.” (HR. Abu Dawud no. 517 dan At-Tirmidzi no. 207, dishahihkan Al-Imam Al-Albani t dalam Al-Irwa’ no. 217, Al-Misykat no. 663)

Aisyah x berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah n bersabda:

الْإِمَامُ ضَامِنٌ وَالْمُؤَذِّنُ مُؤْتَمَنٌ، فَأَرْشَدَ اللهُ الْأَئِمّةَ وَعَفَا عَنِ المْؤَذِّنِيْنَ

“Imam adalah penjamin sedangkan muadzin adalah orang yang diamanahi, maka semoga Allah memberikan kelurusan kepada para imam dan memaafkan para muadzin.” (HR. Ibnu Hibban dalam Shahih-nya no.1669, dan hadits ini dishahihkan oleh Al-Imam Al-Albani t dalam Shahih At-Targhib wat Tarhib no. 239)

 

Awal Pensyariatan Adzan

Ibnu Umar c berkata, “Ketika awal kedatangan kaum muslimin di Madinah, mereka datang untuk mengerjakan shalat dengan memperkirakan waktu berkumpulnya mereka, karena tidak ada orang yang khusus bertugas menyeru mereka berkumpul untuk shalat. Suatu hari mereka mempercakapkan hal ini. Sebagian mereka berkata, ‘Kita akan menggunakan lonceng seperti loncengnya Nasrani untuk memanggil orang-orang agar berkumpul untuk mengerjakan shalat.’ Sebagian lain mengatakan, ‘Kita pakai terompet seperti terompetnya Yahudi.’  Namun Umar mengusulkan, ‘Tidakkah sebaiknya kalian mengutus seseorang untuk menyerukan panggilan shalat?’ Nabi n pun bersabda:

يَا بِلاَلُ، قُمْ فَنَادِ بِالصَّلاَةِ

“Bangkitlah wahai Bilal, kumandangkanlah seruan untuk shalat.” (HR. Al-Bukhari no. 604 dan Muslim no. 835)

Dalam hadits Anas bin Malik z yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari t (no. 603) juga disebutkan ada yang mengusulkan untuk menyalakan api sebagai tanda ajakan shalat.

Namun semua usulan ditolak oleh Rasululllah n karena ada unsur penyerupaan dengan orang-orang kafir. Sementara kita dilarang tasyabbuh (menyerupai) dengan ashabul jahim (para penghuni neraka) ini.

Dari hadits Ibnu Umar c di atas, tampak bagi kita beberapa perkara:

1. Seruan untuk berkumpul mengerjakan shalat baru disyariatkan di Madinah setelah kedatangan Rasulullah n. Adapun riwayat yang menyebutkan bahwa adzan telah disyariatkan di Makkah atau pada malam Isra’, tidak ada satu pun yang shahih sebagaimana dinyatakan oleh Al-Hafizh t dalam Fathul Bari (2/104).

2. Seruan untuk shalat yang diperintahkan Rasulullah n kepada Bilal z bukanlah lafadz-lafadz adzan yang kita kenal, karena lafadz-lafadz tersebut baru dikumandangkan Bilal setelah Abdullah bin Zaid z bermimpi mendengar lafadz-lafadz adzan.

Al-Qadhi Iyadh t berkata, “Disebutkan dalam hadits bahwa Umar mengisyaratkan kepada mereka untuk mengumandangkan seruan. Ia berkata, ‘Tidakkah sebaiknya kalian mengutus seseorang untuk menyerukan panggilan shalat?’ Zahir dari ucapan ini bahwa seruan tersebut berupa pemberitahuan semata, bukan adzan yang khusus sebagaimana yang disyariatkan. Tetapi berupa pemberitahuan untuk shalat, bagaimana pun caranya.” (Al-Ikmal, 2/237)

Tentang awal pensyariatan adzan ini juga disebutkan dalam hadits berikut ini:

Abu Umair bin Anas mengabarkan dari pamannya seorang dari kalangan Anshar: Nabi n memikirkan bagaimana cara mengumpulkan orang-orang untuk mengerjakan shalat berjamaah. Ada yang mengusulkan pada beliau, ”Pancangkan bendera ketika telah tiba waktu shalat, sehingga bila orang-orang melihatnya, mereka akan saling memanggil untuk menghadiri shalat.” Namun usulan tersebut tidak berkenan di hati Rasulullah n.

Ada yang mengusulkan terompet, namun Rasulullah n juga tidak berkenan menerimanya, bahkan beliau mengatakan, ”Itu perbuatan Yahudi.”

Ada yang usul lonceng, beliau bersabda, ”Itu urusan Nasrani.”

Pulanglah Abdullah bin Zaid bin Abdi Rabbihi z dalam keadaan hatinya dipenuhi pikiran tentang kegelisahan Rasulullah n. Ketika tidur, ia bermimpi mendengar adzan3.

Di pagi harinya ia menemui Rasulullah n untuk memberitakan mimpi tersebut, ”Wahai Rasulullah, aku berada di antara tidur dan jaga ketika datang kepadaku seseorang lalu ia menunjukkan adzan kepadaku.” Sebelumnya Umar ibnul Khaththab z telah bermimpi tentang adzan namun ia menyembunyikannya (tidak memberitahukan tentang mimpinya) selama 20 hari. Setelahnya barulah Umar memberitakan mimpinya kepada Nabi n4. ”Apa yang menghalangimu untuk memberitahukan mimpimu kepadaku?” tanya Rasulullah n kepada Umar z. Kata Umar, ”Abdullah bin Zaid telah mendahului saya, saya pun malu.” Rasulullah n bersabda, ”Wahai Bilal, bangkitlah, perhatikan apa yang diajarkan Abdullah bin Zaid lalu ucapkanlah.” Bilal pun mengumandangkan adzan. (HR. Abu Dawud no. 498, kata Al-Hafizh Ibnu Hajar t dalam Fathul Bari 2/107, ”Sanadnya shahih.” Hadits ini dihasankan dalam Shahih Sunan Abi Dawud dan Al-Jami’ush Shahih 2/62)

Dengan demikian, seruan untuk shalat telah melewati tiga tahapan:

Pertama: Ketika awal diwajibkan shalat di Makkah (tiga tahun sebelum hijrah), belum ada seruan untuk shalat sama sekali. Hal ini terus berlangsung sampai Nabi n hijrah ke Madinah. Pada masa itu, untuk berkumpul kaum muslimin hanya memperkirakan waktunya.

Kedua: Ada seruan umum yang dikumandangkan Bilal untuk berkumpul guna mengerjakan shalat setelah terjadi musyawarah Rasulullah n dan para sahabatnya, atas usulan Umar ibnul Khaththab z.

Ketiga: Dikumandangkannya adzan yang syar’i setelah Abdullah bin Zaid z mendengarnya dalam mimpinya.

 

Hukum Adzan

Al-Imam An-Nawawi t berkata tentang pendapat ulama dalam masalah hukum adzan berikut iqamat, “Mazhab kami (Syafi’iyyah) yang masyhur menetapkan hukum keduanya sunnah bagi setiap shalat, baik yang mukim ataupun safar, baik shalat jamaah ataupun shalat sendiri. Keduanya tidaklah wajib. Bila ditinggalkan, sah shalat orang yang sendirian atau berjamaah. Demikian pula pendapat Abu Hanifah t dan murid-muridnya, serta pendapat Ishaq bin Rahawaih t. As-Sarkhasi t menukilkannya dari jumhur ulama. Ibnul Mundzir t berkata, “Adzan dan iqamat wajib hukumnya dalam shalat berjamaah baik di waktu mukim ataupun safar.” Al-Imam Malik menyatakan, “Wajib dikumandangkan di masjid yang ditegakkan shalat berjamaah di dalamnya.”

Atha dan Al-Auza’i rahimahumallah berkata, “Bila lupa iqamat, shalat harus diulangi.” Dalam satu riwayat dari Al-Auza’i t, “Orang itu mengulangi shalatnya selama waktu shalat masih ada.”

Al-‘Abdari t berkata, “Hukum keduanya sunnah menurut Al-Imam Malik t, dan fardhu kifayah menurut Al-Imam Ahmad t.”

Dawud t mengatakan, “Keduanya wajib bagi shalat berjamaah, namun bukan syarat sahnya.”

Mujahid berpendapat, “Bila lupa iqamat dalam shalat ketika safar, ia harus mengulangi shalatnya.”

Al-Muhamili t mengatakan, “Ahlu zahir berkata bahwa adzan dan iqamat wajib bagi seluruh shalat, namun mereka berbeda pendapat tentang keberadaannya apakah sebagai syarat sahnya shalat ataukah tidak.” (Al-Majmu’, 3/90)

Di antara pendapat yang ada, maka yang kuat dalam pandangan penulis adalah pendapat yang menyatakan wajib/fardhu kifayah, dengan dalil-dalil berikut ini:

1. Hadits Malik ibnul Huwairits z, ia berkata: Kami mendatangi Nabi n di Madinah dalam keadaan kami adalah anak-anak muda yang sebaya. Kami tinggal di sisi beliau selama 20 hari 20 malam. Adalah Rasulullah n seorang yang pengasih lagi penyayang. Ketika beliau yakin kami telah merindukan keluarga kami, beliau menanyakan tentang keluarga yang kami tinggalkan, maka kami pun menyampaikannya. Beliau bersabda:

ارْجِعُوْا إِلَى أَهْلِيْكُمْ، فَأَقِيْمُوا فِيْهِمْ وَعَلِّمُوْهُمْ وَمُرُوْهُمْ– وَذَكَرَ أَشْيَاءَ أَحْفَظُهَا أَوْ لاَ أَحْفَظُهَا –وَصَلُّوْا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِي أُصَلِّي، فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلاَةُ فَلْيُؤَذِّنْ لَكُمْ أَحَدُكُمْ وَلْيَؤُمَّكُمْ أَكْبَرُكُمْ

“Kembalilah kalian menemui keluarga kalian, tinggallah bersama mereka, ajari dan perintahkan mereka –beliau lalu menyebut beberapa perkara ada yang aku ingat dan ada yang tidak–. Shalatlah kalian sebagaimana cara shalatku yang kalian lihat. Bila telah datang waktu shalat, hendaklah salah seorang dari kalian mengumandangkan adzan dan hendaknya yang paling besar/tua dari kalian menjadi imam.” (HR. Al-Bukhari no. 628, 7246 dan Muslim no. 1533)

2. Hadits Amr bin Salamah, di dalamnya disebutkan sabda Rasulullah n:

صَلُّوا صَلاَةَ كَذَا فِي حِيْنِ كَذَا، وَصَلُّوا كَذَا فِي حِيْنِ كَذَا، فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلاَةُ فَلْيُؤَذِّنْ أَحَدُكُمْ وَلْيَؤُمَّكُمْ أَكْثَرُكُمْ قُرْآنًا

“Kerjakanlah oleh kalian shalat ini di waktu ini dan shalat itu di waktu itu. Bila telah datang waktu shalat, hendaklah salah seorang dari kalian mengumandangkan adzan dan hendaknya yang mengimami kalian adalah orang yang paling banyak hafalan Qur’annya.” (HR. Al-Bukhari no. 4302)

Ibnu Hazm t berkata, “Dengan dua hadits ini pastilah kebenaran pendapat yang mengatakan adzan itu wajib secara umum bagi setiap shalat, dan bahwa adzan baru diserukan setelah masuknya waktu shalat. Iqamat juga masuk dalam perkara ini.” (Al-Muhalla, 2/165)

Beliau juga berkata, “Di antara yang berpendapat wajibnya adzan adalah Abu Sulaiman dan murid-muridnya. Kami tidak mengetahui adanya hujjah sama sekali bagi yang berpendapat adzan itu tidak wajib. Seandainya tidak ada dalil yang menunjukkan wajibnya adzan kecuali penghalalan Rasulullah n terhadap darah orang-orang yang tinggal di sebuah negeri karena tidak terdengar adzan diserukan di negeri tersebut, dihalalkan harta mereka dan menawan mereka, niscaya ini sudah cukup untuk menyatakan wajibnya. Pendapat ini merupakan kesepakatan yang diyakini oleh seluruh sahabat g tanpa diragukan, maka ini merupakan ijma’ yang dipastikan kebenarannya.” (Al-Muhalla, 2/166)

Ibnul Mundzir t dalam Al-Ausath (3/24) berkata, “Adzan dan iqamat adalah dua kewajiban bagi setiap (shalat) berjamaah, baik dalam keadaan mukim (tidak bepergian/safar) maupun sedang safar. Karena Nabi n memerintahkan agar adzan diserukan. Perintah beliau menunjukkan wajib. Nabi n pernah memerintahkan Abu Mahdzurah agar menyerukan adzan di Makkah dan beliau juga pernah menyuruh Bilal adzan. Semua ini menunjukkan wajibnya adzan.”

Al-Imam Al-Albani t berkata, “Secara mutlak, tidak diragukan lagi batilnya pendapat yang mengatakan adzan hukumnya mustahab. Bagaimana bisa dihukumi mustahab, sementara adzan termasuk syiar Islam yang terbesar, yang mana dahulu Nabi n bila tidak mendengar seruan adzan di daerah suatu kaum, beliau mendatangi mereka untuk memerangi mereka dan melakukan penyerangan terhadap mereka. Sebaliknya bila mendengar adzan diserukan di tengah mereka, beliau menahan diri dari memerangi mereka sebagaimana disebutkan haditsnya dalam Shahihain dan selainnya. Telah pasti pula adanya hadits shahih dari selain Shahihain yang berisi perintah untuk mengumandangkan adzan. Yang namanya kewajiban bisa ditetapkan dengan yang lebih sedikit dari apa yang telah disebutkan. Maka pendapat yang benar adalah adzan hukumnya fardhu kifayah. Pendapat inilah yang dishahihkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t dalam Al-Fatawa (1/67-68 dan 4/20). Bahkan adzan diwajibkan walaupun seseorang shalat sendirian sebagaimana akan disebutkan dalilnya.” (Tamamul Minnah, hal. 144)

Di antaranya riwayat yang dikeluarkan oleh Abu Dawud (no.1203), An-Nasa’i (no. 666), dan Ahmad (4/157) dari hadits Uqbah bin Amir z secara marfu’:

يَعْجَبُ رَبُّكُمْ مِنْ رَاعِي غَنَمٍ فِي رَأْسِ شَظِيةٍ بِجَبَلٍ، يُؤَذِّنُ بِالصَّلاَةِ وَيُصَلِّي، فَيَقُوْلُ اللهُ k: انْظُرُوْا إِلَى عَبْدِيْ هَذَا، يُؤَذِّنُ وَيُقِيْمُ الصَّلاَةَ، يَخَافُ مِنِّي، فَقَدْ غَفَرْتُ لِعَبْدِي وَأَدْخَلْتُهُ الْجَنَّةَ

Rabb kalian kagum dengan seorang penggembala kambing di puncak gunung yang mengumandangkan adzan untuk shalat dan setelahnya ia menunaikan shalat. Allah k berfirman, “Lihatlah oleh kalian hamba-Ku ini, ia adzan dan menegakkan shalat dalam keadaan takut kepada-Ku, maka Aku ampuni hamba-Ku ini dan Aku masukkan ia ke dalam surga.” (Al-Imam Al-Albani t berkata dalam Ash-Shahihah no. 41, “Hadits ini shahih.”)
Adapun iqamat, menurut Al-Imam Malik, Asy-Syafi’i, dan seluruh fuqaha rahimahumullah, hukumnya sunnah muakkadah, dan orang yang meninggalkannya tidak perlu mengulang shalatnya.
Sedangkan menurut Al-Auza’i, Atha’, Mujahid, dan Ibnu Abi Laila, iqamat ini wajib, dan yang meninggalkannya harus mengulangi shalatnya. Demikian pula pendapat ahlu zahir. Wallahu a’lam. (Al-Ikmal, 2/232-234)
Yang rajih adalah pendapat yang menyatakan iqamat hukumnya fardhu kifayah dalam shalat berjamaah, baik dalam shalat mukim ataupun safar dengan dalil hadits Malik ibnul Huwairits z. Adapun bagi orang yang shalat sendirian (munfarid) hukumnya mustahab, tidak wajib. Dalilnya adalah hadits Salman z:
إِذَا كَانَ الرَّجُلُ بِأَرْضِ قِيّ، فَحَانَتِ الصَّلاَةُ فَلْيَتَوَضَّأْ، فَإِنْ لَمْ يَجِدْ مَاءً فَلْيَتَيَمَّمْ، فَإِنْ أَقَامَ صَلَّى مَعَهُ مَلَكَاهُ، وَإِنْ أَذَّنَ وَأَقَامَ صَلَّى خَلْفَهُ مِنْ جُنُوْدِ اللهِ مَا لاَ يُرَى طَرْفَاهُ
“Apabila seseorang berada di padang tandus, lalu datang waktu shalat hendaklah ia berwudhu. Bila ia tidak mendapati air hendaklah ia bertayammum. Bila ia bangkit mengerjakan shalat, ikut shalat bersamanya dua malaikat. Jika ia adzan dan shalat maka turut shalat di belakangnya para tentara Allah yang tidak terhitung jumlahnya.” (HR. Abdurrazzaq no. 1955. Al-Imam Al-Albani t mengatakan,”Sanad hadits ini shahih sesuai syarat para imam yang enam.”; Ats-Tsamar, 1/145)
(bersambung, insya Allah)

1 Ahlul ilmi berselisih pendapat dalam memaknakan lafadz ini. Ada yang mengatakan, maknanya adalah orang yang paling banyak melihat pahala. An-Nadhr ibnu Syumail t berkata, “Apabila manusia pada hari kiamat nanti dikekang dengan keringat mereka, menjadi panjanglah leher para muadzin agar mereka tidak mendapatkan bencana tersebut dan tidak ditenggelamkan oleh keringat.”
Adapula yang memaknakannya dengan tokoh, karena orang Arab menyifatkan tokoh/pimpinan dengan leher panjang.
Adapula yang memaknakan banyak pengikutnya. Ibnul Arabi mengatakan, “Orang yang paling banyak amalnya.”
Al-Qadhi Iyadh t dan selainnya berkata, “Sebagian ulama ada yang meriwayatkan lafadz ini dengan mengkasrah hamzah, sehingga dibaca i’naqan yang bermakna paling cepat menuju ke surga.”
Ibnu Abi Dawud berkata: Aku mendengar ayahku berkata tentang maknanya, “Manusia pada hari kiamat nanti akan kehausan. Bila seseorang haus terlipatlah lehernya sedangkan para muadzin tidak merasakan haus, maka leher-leher mereka tetap tegak.” (Nailul Authar, 1/485-486)
2 Mengetahui al-haq dan mau mengikutinya.
3 Mimpinya terjadi pada tahun pertama hijriyah setelah selesai pembangunan masjid Nabawi.
4 Yaitu setelah Umar z mendengar adzan itu dikumandangkan oleh Bilal z sebagaimana ditunjukkan dalam hadits Abdullah bin Zaid z.

Sebab Hilangnya Nikmat

(ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar Suaidi)

 

Ibnul Qayyim t menjelaskan:

Di antara malapetaka yang tersembunyi namun banyak menyebar adalah keberadaan seorang hamba pada sebuah kenikmatan yang Allah l karuniakan kepadanya dan Allah l pilihkan untuknya, lalu hamba tersebut merasa bosan dengannya dan meminta untuk beranjak menuju nikmat lain yang dia anggap lebih baik berdasarkan penilaiannya yang bodoh. Namun Allah l dengan kasih sayang-Nya tetap belum mengeluarkannya dari nikmat tersebut dan masih memaafkannya atas kebodohannya serta kejelekan pilihannya untuk dirinya sendiri.

Sampai nanti ketika dadanya terasa sesak terhadap nikmat tersebut, merasa marah dan resah dengannya, sehingga rasa bosan semakin menguat pada dirinya, Allah l pun akan mencabut nikmat tersebut dari dirinya. Maka ketika dia berpindah kepada apa yang dicari dan melihat perbedaan antara nikmat yang ia berpindah darinya dengan apa yang sekarang ia ada padanya, maka ia semakin gundah gulana, menyesal dan berharap untuk kembali kepada nikmat yang ia ada padanya dahulu.

Bila Allah l menghendaki kebaikan dan kelurusan bagi hamba-Nya, Allah l akan mempersaksikan kepadanya bahwa apa yang ia sedang berada padanya merupakan salah satu nikmat Allah l dan merupakan keridhaan Allah l padanya, sehingga Allah  l akan mengilhamkan dia untuk bersyukur. Oleh karena itu, manakala dia ingin berpindah darinya, iapun ber-istikharah kepada-Nya (minta dipilihkan oleh Allah l), dengan perasaan bahwa ia tidak mengetahui maslahat untuk dirinya, merasa lemah terhadapnya, dan menyerahkan urusannya kepada Allah  l serta meminta-Nya pilihan yang terbaik.

Tidak ada bagi hamba sesuatu yang lebih mencelakakan daripada rasa bosannya terhadap nikmat Allah l. Karena, dengan begitu ia tidak melihatnya sebagai suatu nikmat dan ia pun juga tidak akan mensyukurinya. Ia juga tidak akan merasa senang dengannya, sehingga ia akan membencinya, mengeluhkannya dan menganggapnya sebagai musibah. Padahal itu sesungguhnya termasuk nikmat Allah l yang terbesar baginya.

Jadi, mayoritas manusia itu adalah musuh-musuh bagi nikmat yang Allah l bukakan untuk mereka. Mereka tidak merasakan dibukanya nikmat Allah l untuk mereka. Justru mereka berusaha menolaknya karena kebodohan dan sifat zalim mereka. Betapa sering sebuah nikmat berjalan menuju kepadanya sementara ia berupaya untuk menolaknya dengan kesungguhannya. Betapa banyak pula nikmat yang telah sampai kepadanya namun dia masih juga berusaha untuk menolaknya atau menghilangkannya karena kebodohan dan kezalimannya. Allah l berfirman:

“Yang demikian (siksaan) itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan mengubah suatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al-Anfal: 53)

Allah l berfirman juga:
“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (Ar-Ra’d: 11)
Sehingga, tidak ada yang lebih memusuhi nikmat daripada jiwa hamba itu sendiri. Dia bersama musuh dirinya yang sebenarnya telah membantu untuk melawan dirinya sendiri. (Ibarat) musuhnya melempar api terhadap nikmat, sementara dia yang meniup-niup api tersebut. Dia membantu musuhnya untuk melempar api kepadanya kemudian dia membantunya dengan meniupnya. Bilamana api semakin besar nyalanya, barulah ia meminta-minta bantuan untuk melawan api tersebut. Ujungnya adalah tidak ikhlas dalam menerima takdir.
Dan orang yang lemah akalnya akan menyia-nyiakan kesempatannya
Sehingga bila kehilangan sesuatu, ia akan mencela takdir (Al-Fawa’id hal. 201)
As-Sa’di t mengatakan: “Sesungguhnya Allah l tidak akan mengubah suatu nikmat yang Allah k berikan kepada suatu kaum, baik nikmat agama maupun nikmat duniawi. Bahkan Allah l akan menetapkannya dan menambahnya bila ia menambah rasa syukurnya.  (Sehingga merekalah yang mengubah apa yang ada pada diri mereka) dari ketaatan kepada maksiat, sehingga mereka mengkufuri nikmat Allah dan menggantinya dengan ingkar. Allah l pun mencabut nikmat tersebut dan mengubahnya sebagaimana mereka mengubahnya pada diri mereka. Hal itu mengandung hikmah dan keadilan Allah l serta kebaikan-Nya kepada hamba-Nya, di mana Allah l tidak menghukum mereka melainkan karena kezaliman mereka sendiri.” (Tafsir As-Sa’di, Surat Al-Anfal: 53)

Perang Dzatus Salasil

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Harits)

 

Peristiwa ini terjadi pada tahun kedelapan hijriah, di bulan Jumadil Akhirah, beberapa hari sesudah meletusnya perang Mu’tah, di balik lembah Wadil Qura yang berjarak sepuluh hari dari Madinah.

Sebuah berita sampai kepada Rasulullah n bahwa sepasukan orang dari Qudha’ah1 telah berkomplot untuk mendekati ujung kota Madinah. Rasulullah n pun memanggil ‘Amr bin Al-’Ash z.
‘Amr bin Al-’Ash z menceritakan:
قَالَ لِي رَسُولُ اللهِn : يَا عَمْرُو، اشْدُدْ عَلَيْكَ سِلَاحَكَ وَثِيَابَكَ وَأْتِنِي. فَفَعَلْتُ فَجِئْتُهُ وَهُوَ يَتَوَضَّأُ فَصَعَّدَ فِيَّ الْبَصَرَ وَصَوَّبَهُ وَقَالَ: يَا عَمْرُو، إِنِّي أُرِيدُ أَنْ أَبْعَثَكَ وَجْهًا فَيُسَلِّمَكَ اللهُ وَيُغْنِمَكَ وَأَرْغَبُ لَكَ مِنَ الْمَالِ رَغْبَةً صَالِحَةً. قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنِّي لَمْ أُسْلِمْ رَغْبَةً فِي الْمَالِ إِنَّمَا أَسْلَمْتُ رَغْبَةً فِي الْجِهَادِ وَالْكَيْنُونَةِ مَعَكَ. قَالَ: يَا عَمْرُو، نَعِمَّا بِالْمَالِ الصَّالِحِ لِلرَّجُلِ الصَّالِحِ
Rasulullah n berkata kepadaku: “Hai ‘Amr. Ketatkan pakaian dan senjatamu, dan menghadaplah kepadaku.”
Akupun melakukannya lalu mendatangi beliau yang sedang berwudhu. Kemudian beliau mengangkat pandangannya ke arahku, memerhatikanku seraya berkata: “Hai ‘Amr, sungguh aku ingin mengirimmu ke satu tujuan, lalu Allah menyelamatkanmu dan memberimu ghanimah. Aku pun harapkan untukmu harta itu, harapan yang baik.”
Kata ‘Amr: Aku pun berkata: “Wahai Rasulullah, sungguh, saya masuk Islam bukan karena menginginkan harta, tapi saya masuk Islam karena memang ingin berjihad dan tetap bersama anda.”
Beliaupun berkata: “Wahai ‘Amr, harta yang baik itu adalah untuk orang yang baik pula.” (HR. Al-Imam Ahmad dalam Musnad Syamiyyin)
Sikap ini menunjukkan betapa kuat iman, kejujuran, dan keikhlasan ‘Amr dalam ber-Islam, juga semangatnya untuk selalu menyertai Rasulullah n. Hal inipun diakui oleh Rasulullah n sebagaimana dalam sebuah hadits yang disahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani t (Ash-Shahihah 1/154 no. 155), beliau bersabda (yang artinya): “Orang-orang sudah masuk Islam, sedangkan ‘Amr telah beriman.”
Asy-Syaikh Al-Albani t menerangkan: “Dalam hadits ini tersirat keutamaan ‘Amr bin Al-’Ash karena dipersaksikan oleh Rasulullah n keimanannya. Persaksian ini menunjukkan berita tentang surga bagi beliau. Karena dalam sebuah hadits (Muttafaq ‘alaihi), Rasulullah n bersabda:
لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ إلاَّ نَفْسٌ مُؤْمِنَةٌ
“Tidak akan masuk surga kecuali jiwa yang beriman.”
Kemudian Rasulullah n membelitkan bendera putih dan menyerahkan bendera hitam kepadanya. Setelah itu beliau melepas ‘Amr bersama 300 orang Muhajirin dan Anshar. Di antaranya 30 orang pasukan berkuda.
Pasukan muslimin mulai bergerak keluar kota Madinah. Di siang hari pasukan berhenti, istirahat. Malamnya, mereka kembali melanjutkan perjalanan. Ini adalah salah satu bukti kecerdikan dan keahlian ‘Amr bin Al-’Ash dalam berperang. Taktik ini sangat menguntungkan pasukan muslimin karena:
– menjaga agar stamina pasukan tetap segar, tidak dilemahkan oleh rasa haus dan panasnya matahari
– menyembunyikan gerak pasukan di malam hari dari intaian musuh
Setibanya di sana, ‘Amr mendengar banyaknya jumlah musuh. Ia pun mengirim surat kepada Rasulullah n meminta bala bantuan. Kemudian Rasulullah n mengirimkan bantuan 200 orang Muhajirin, termasuk di dalamnya Abu Bakr dan ‘Umar serta mengangkat Abu ‘Ubaidah Ibnul Jarrah g, sebagai komandan mereka.
Berselisih adalah Kelemahan
Musa bin ‘Uqbah menceritakan dalam Sirah-nya:
Setelah bertemu ‘Amr, Abu ‘Ubaidah hendak maju mengimami pasukan, tetapi ditahan oleh ‘Amr, dia berkata: “Kalian datang kepada saya adalah sebagai bala bantuan. Saya panglima (di sini).”
Orang-orang Muhajirin berkata: “Engkau adalah komandan pasukanmu ini, sedangkan Abu ‘Ubaidah komandan orang-orang Muhajirin.”
‘Amr membantah: “Tapi kalian adalah bala bantuan yang saya minta.”
Melihat keadaan ini, Abu ‘Ubaidah yang wataknya lembut, berkata: “Engkau tahu wahai ‘Amr, terakhir yang ditetapkan Rasulullah n ialah: ‘Jika engkau sampai kepada teman-temanmu, maka hendaklah kalian saling menurut (kerja sama)’, dan engkau, kalau engkau tidak menaatiku, pasti aku tetap menaatimu.”
Maka Abu ‘Ubaidah pun menyerahkan kepemimpinan kepada ‘Amr bin Al-’Ash, g. Sejak itu, ‘Amr pun menjadi imam bagi pasukan tersebut.
Alangkah indahnya, kehidupan mereka. Serba mudah dalam urusan dunia, jauh dari ambisi kepemimpinan.
Alangkah tanggap Abu ‘Ubaidah melihat kenyataan ini. Sekecil apapun perselisihan di dalam tubuh pasukan muslimin dalam perang Dzatu Salasil ini, pasti akan membuahkan kelemahan dan kekalahan. Sebab itulah dengan segera beliau memadamkan api perselisihan itu dengan menyerahkan kepemimpinan kepada ‘Amr.
Malam harinya, pasukan muslimin beristirahat. Sebagian mereka ingin menyalakan api unggun untuk menghangatkan badan. Tetapi ‘Amr sang panglima melarang mereka. Bahkan mengancam: “Siapa yang berani menyalakan api unggun, akan saya lemparkan dia ke dalamnya.”
Sikap tegas ini menyusahkan pasukan tersebut, apalagi rasa dingin yang sangat menusuk. Beberapa tokoh Muhajirin membujuk ‘Amr, tapi ditanggapi dengan pedas oleh ‘Amr. Bahkan kata ‘Amr: “Kalian diperintah untuk mendengar dan taat kepada saya?”
Sahabat itu berkata: “Benar.”
“Kalau begitu, kerjakan!” kata ‘Amr.
Berita ini terdengar juga oleh ‘Umar dan membuatnya berang hingga berniat ingin mendatangi ‘Amr. Tapi kemudian, dia ditahan oleh Abu Bakr Ash-Shiddiq z. Kata beliau: “Sesungguhnya Rasulullah n tidak mengangkatnya menjadi panglima melainkan karena keahliannya dalam berperang.”
Seketika ‘Umar pun terdiam.
Semoga Allah l meridhai Abu Bakr Ash-Shiddiq dan seluruh sahabat Rasulullah n. Betapa dalamnya pengetahuan Abu Bakr Ash-Shiddiq z tentang Rasulullah n, yang sudah tentu dalam hal-hal penting seperti ini, tidak mungkin bertindak sia-sia.
Malam semakin dingin, tidak ada api yang menghangatkan. Namun ketaatan mereka kepada pemimpin luar biasa. Suka atau tidak, kesulitan seperti itu harus mereka tanggung.
Di malam yang dingin itu, ‘Amr junub. Dia bertanya kepada sahabat-sahabatnya: “Bagaimana pendapat kalian? Demi Allah, saya junub. Kalau saya mandi, saya tentu mati.”
Lalu diapun meminta dibawakan air. Kemudian dia membasuh kemaluannya dan tayammum. Setelah itu dia shalat mengimami pasukan tersebut.
Kemudian, mereka mulai menyergap musuh yang lengah. Setelah bertempur kira-kira satu jam, musuh merasakan kekuatan pasukan ‘Amr bin Al-’Ash. Akhirnya mereka pun lari bercerai berai. Kaum muslimin ingin mengejar mereka, namun dilarang oleh ‘Amr bin Al-’Ash.
Setelah perang usai, dan pasukan bersiap-siap kembali ke Madinah, sang panglima mengutus ‘Auf bin Malik Al-Asyja’i menemui Rasulullah n untuk menyampaikan berita tentang keadaan pasukan dan kejadian yang ada selama di sana.
Setibanya di Madinah, ‘Auf z menceritakan bagaimana Abu ‘Ubaidah menuruti ‘Amr, hingga akhirnya ‘Amr mengimami pasukan dan tetap menjadi panglima mereka. Diceritakannya pula bagaimana ‘Amr melarang pasukan muslimin menyalakan api unggun di tengah malam yang sangat dingin itu, dan mencegah mereka mengikuti musuh mereka, serta shalat bersama pasukan dalam keadaan junub.
Setelah ‘Amr dan pasukannya tiba di Madinah, Rasulullah n mengajaknya bicara dan menanyakan apa-apa yang disampaikan oleh ‘Auf z. ‘Amr bin Al-’Ash z menjelaskan kepada beliau tentang larangannya kepada mereka mengikuti jejak musuh dan menyalakan api, dia berkata: “Saya tidak suka mereka menyalakan api, karena bisa jadi musuh akan melihat betapa sedikitnya jumlah mereka (kaum muslimin). Saya melarang mereka mengejar, karena khawatir musuh mempunyai bala bantuan yang bersembunyi di balik bukit itu, sehingga kemudian berbalik menyerang pasukan muslimin.”
Dikisahkan, setelah mendengar penjelasan tersebut, Rasulullah n pun memuji Allah k atas tindakan ‘Amr ini. Kemudian beliau bertanya pula:
يَا عَمْرُو، صَلَّيْتَ بِأَصْحَابِكَ وَأَنْتَ جُنُبٌ؟
“Hai ‘Amr, engkau shalat bersama pasukanmu dalam keadaan engkau sedang junub?”
Kata ‘Amr: Aku pun menerangkan kepada beliau n apa yang menghalangiku untuk mandi. Aku katakan: “Sesungguhnya saya mendengar Allah l berfirman:
‘Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah Maha Penyayang terhadap kalian’.” (An-Nisa’: 29)
Mendengar keterangan ‘Amr, Rasulullah n tertawa dan tidak mengomentarinya.
Dari kisah ini diambillah beberapa kesimpulan, antara lain:
a. Membuktikan kefakihan ‘Amr bin Al-’Ash z padahal dia baru beberapa bulan masuk Islam.
b. Boleh berijtihad di masa Rasulullah n. Di sini terdapat pula persetujuan (taqrir) Rasulullah n terhadap ijtihad ‘Amr.
c. Bolehnya tayammum walaupun ada air, karena alasan (udzur) yang dibolehkan syariat, seperti dingin yang sangat berat.
d. Bolehnya imam yang tayammum mengimami makmum yang berwudhu.
Dengan berhasilnya pasukan ini memukul mundur musuh, menjadi amanlah kedaulatan Islam terutama dari serangan musuh yang ada di sebelah utara (Syam). Islam pun semakin menyebarkan dakwahnya ke beberapa wilayah Arab lainnya. Terlebih dengan terikatnya Quraisy serta para sekutunya dengan perjanjian Hudaibiyah, kaum muslimin  pun aman dari gangguan dan tekanan mereka dalam berdakwah dan beribadah. Walaupun itu hanya sementara, karena beberapa waktu kemudian, pihak Quraisy menodai kesepakatan yang mereka buat sendiri dengan Rasulullah n, hingga meletuslah peristiwa Fathu Makkah.
(bersambung, insya Allah)

1 Bani Qudha’ah termasuk kerabat ‘Amr.  Rasulullah n mengirimnya ke daerah ini untuk melunakkan mereka.

Tanda-tanda Ilmu Yang Bermanfaat

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan)

 

Berbagai kenikmatan telah Allah l limpahkan kepada hamba-hamba-Nya, tidak ada yang mengetahui jumlahnya kecuali Allah l semata. Allah l berfirman:

“Dan jika kalian menghitung nikmat Allah, niscaya tidaklah dapat kalian menghitungnya.” (Ibrahim: 34)

Seorang hamba akan mengakui dan menyadari bahwa kenikmatan apapun, baik nikmat yang lahir maupun batin, yang ada pada dirinya maupun orang lain, itu semua adalah karunia Allah l semata yang wajib untuk disyukuri. Allah l berfirman:

“Dan apa saja nikmat yang ada pada kalian, maka dari Allah-lah (datangnya).”  (An-Nahl: 53)

“Dan (ingatlah juga), tatkala Rabbmu memaklumkan: ‘Sesungguhnya jika kalian bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat tersebut) kepada kalian, dan jika kalian mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih’.”  (Ibrahim: 7)

Demikianlah sikap seorang hamba yang bersyukur terhadap limpahan nikmat dari Allah l. Dia tidak menyandarkan nikmat tersebut kepada ilmu, kekuatan, kegigihan atau keuletan usahanya. Karena sikap seperti itu adalah sikap seorang yang kufur terhadap nikmat-nikmat Allah l, sebagaimana Qarun menyatakan tentang hartanya:

“Qarun berkata: ‘Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku’.” (Al-Qashash: 78)

Di antara sekian banyak kenikmatan yang Allah l limpahkan kepada para hamba-Nya, baik yang dzahir maupun batin, urusan agama maupun dunia, yang paling mulia adalah nikmat ilmu yang nafi’ (bermanfaat) dan amalan yang shalih. Sehingga Allah l memerintahkan hamba-hamba-Nya melalui lisan Rasul-Nya n untuk membaca surat Al-Fatihah dalam setiap rakaat shalatnya. Dari Ubadah bin Ash-Shamit z, dia berkata: Rasulullah n bersabda:

لاَ صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِأُمِّ الْقُرْآنِ

“Tidak ada shalat bagi yang tidak membaca Ummul Qur’an (Al-Fatihah).” (Muttafaqun alaih)

Sedangkan di dalamnya terdapat doa:

“Tunjukilah kami jalan yang lurus. (Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka.” (Al-Fatihah: 6-7)

Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di t berkata dalam tafsirnya:

“Tunjukilah kami, bimbinglah kami, dan berilah kami hidayah at-taufiq ke jalan yang lurus, yaitu jalan yang jelas, yang akan mengantarkan kami kepada Allah l dan surga-Nya. Yang dimaksud dengan nikmat yang telah Allah l limpahkan kepada mereka adalah mengilmui kebenaran dan mengamalkannya.

Mereka adalah beberapa golongan hamba Allah l yang disebutkan dalam firman-Nya:

“Dan barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu Nabi-nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang shalih. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (An-Nisa’: 69)

Merekalah hamba-hamba-Nya yang benar-benar merasakan nikmat syariat dan agama yang sempurna, sebagaimana Allah l firmankan:

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (Al-Ma’idah: 3)

Oleh karena itulah Rasulullah n berdoa:

اللَّهُمَّ انْفَعْنِي بِمَا عَلَّمْتَنِي، وَعَلِّمْنِي مَا يَنْفَعُنِي، وَزِدْنِي عِلْمًا

“Ya Allah, berikanlah manfaat kepadaku dengan apa yang telah Engkau ajarkan kepadaku, dan ajarilah aku hal-hal yang akan bermanfaat bagiku, dan tambahkanlah untukku ilmu.” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah, dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani t)

اللَّهُمَّ إِنِّـي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ، وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يـَخْشَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ، وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’, dari nafsu yang tidak pernah puas/cukup, dan dari doa yang tidak dikabulkan.” (HR. Muslim, Ahmad dan An-Nasa’i dari Zaid bin Arqam z)

Dengan hadits yang agung inilah, Rasulullah n memberitahukan kepada kita sebagian tanda-tanda ilmu yang bermanfaat.

 

1. Khasy-yah (Rasa takut kepada Allah l)

Allah l berfirman:

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” (Fathir: 28)

Al-Imam Ibnu Katsir t berkata dalam tafsirnya: “(Maksud ayat tersebut adalah) hanya saja yang takut kepada Allah l dengan sebenar-benar takut adalah para ulama yang mengenal-Nya. Karena ketika semakin sempurna pengenalan dan ilmu terhadap Dzat Yang Maha Agung, Yang Maha Kuasa, Yang Maha Mengetahui, Yang memiliki sifat-sifat yang sempurna dan nama-nama yang baik, akan semakin sempurna dan semakin besar pula khasyyah (rasa takut) nya.”

Ibnu Mas’ud z berkata: “Bukanlah ilmu itu karena banyaknya hadits, akan tetapi ilmu itu karena banyaknya khasy-yah.”

Sebagian salaf berkata: “Barangsiapa takut kepada Allah l maka dia adalah orang yang berilmu, dan barangsiapa yang mendurhakai Allah l maka dia adalah orang yang bodoh.”

Al-Hafizh Ibnu Rajab t berkata: “Hal itu karena ilmu yang bermanfaat itu menunjukkan atas:

a. mengenal Allah l dan hak-hak-Nya, seperti nama-nama-Nya yang berada pada puncak kebaikan dan sifat-sifat-Nya yang tinggi, serta perbuatan-perbuatan-Nya yang mulia. Hal ini berkonsekuensi agar Allah l dimuliakan, diagungkan, ditakuti, dicintai, diharap, ditawakkali, diridhai ketentuan-ketentuan-Nya, bersabar atas ujian dan cobaan dari-Nya.

b. ilmu tentang apa yang Dia cintai, yang Dia ridhai, yang Dia benci, dan Dia murkai, berupa berbagai keyakinan, amalan yang lahir maupun batin, dan ucapan.

Hal-hal tersebut menuntut siapapun yang mengilmuinya untuk segera melakukan segala hal yang dicintai dan diridhai Allah l, serta menjauhi segala yang Dia benci dan Dia murkai. Apabila ilmu tersebut membuahkan hal-hal seperti di atas terhadap pemiliknya, maka itulah ilmu yang nafi’ (bermanfaat). Ketika ilmu itu bermanfaat dan mantap di dalam hati karena Allah l, sungguh hati itu akan khusyu’.” (Bayan Fadhli ‘Ilmi As-Salaf, hal. 72)

 

2. Mengamalkannya

Allah l berfirman:

“Mengapa kalian suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kalian melupakan diri (kewajiban) kalian sendiri, padahal kalian membaca Al-Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kalian berpikir?” (Al-Baqarah: 44)

Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin t berkata: “Hal ini (mengamalkan ilmu) terjadi setelah beriman. Yaitu engkau beriman terhadap apa yang engkau ilmui lalu mengamalkannya. Di mana tidak mungkin beramal (dengan benar) kecuali dengan beriman. Maka, apabila seseorang tidak diberi hidayah untuk mengamalkan ilmu, berarti dia mengilmui berbagai perkara namun tidak mengamalkannya, sehingga ilmunya bukanlah ilmu yang bermanfaat.” (Syarh Hilyah, hal. 163)

Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah berkata (Syarh Al-Ushul Ats-Tsalatsah, hal. 19): “Karena seseorang itu tidak cukup hanya dengan belajar dan mengajar, bahkan dia harus mengamalkan ilmunya. Maka ilmu tanpa amal hanyalah menjadi hujjah yang menimpa pemiliknya. Sehingga ilmu itu bukan ilmu yang nafi’ kecuali bila disertai pengamalan. Orang yang berilmu namun tidak mengamalkannya, dia adalah orang yang dimurkai. Karena dia mengetahui kebenaran namun meninggalkannya.

Rasulullah n bersabda:

وَالْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ

“Dan Al-Qur’an itu adalah hujjah bagimu (bila mengamalkannya) atau hujjah yang menimpamu (bila tidak mengamalkannya).” (HR. Muslim dari Abu Malik Al-Asy’ari z)

Dari Abu Zaid Usamah bin Zaid c, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah n bersabda:

يُؤْتَى بِالرَّجُلِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُلْقَى فِي النَّارِ فَتَنْدَلِقُ أَقْتَابُ بَطْنِهِ فَيَدُورُ بِهَا كَمَا يَدُورُ الْحِمَارُ فِي الرَّحَا فَيَجْتَمِعُ إِلَيْهِ أَهْلُ النَّارِ فَيَقُولُونَ: يَا فُلَانُ، مَا لَكَ؟ أَلَمْ تَكُنْ تَأْمُرُ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَى عَنِ الْمُنْكَرِ؟ فَيَقُولُ: بَلَى، كُنْتُ آمُرُ بِالْمَعْرُوفِ وَلاَ آتِيهِ، وَأَنْهَى عَنِ الْمُنْكَرِ وَآتِيهِ

“Didatangkan seseorang pada hari kiamat, kemudian dilemparkan ke dalam neraka. Maka keluarlah isi perutnya. Lalu dia berputar-putar seperti berputarnya keledai di penggilingan gandum. Berkumpullah penghuni neraka (mengerumuninya) sambil berkata: ‘Wahai fulan, kenapa engkau? Bukankah engkau dahulu (di dunia) memerintahkan yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar?’ Dia menjawab: ‘Benar, aku memerintahkan yang ma’ruf namun aku tidak melakukannya. Aku melarang yang mungkar namun aku melakukannya’.” (Muttafaqun ‘alaih)

 

3. Tawadhu’

Allah l berfirman:

“Dan hamba-hamba Dzat Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati. Dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik.” (Al-Furqan: 63)

Asy-Syaikh As-Sa’di t dalam tafsirnya berkata: “Mereka berjalan dalam keadaan tenang, tawadhu’ (merendahkan diri) terhadap Allah l dan terhadap makhluk-Nya (karena Allah l). Ini adalah sifat mereka. Mereka memiliki sifat sopan, tenang, tawadhu’ terhadap Allah l dan terhadap makhluk-Nya.”

Dari ‘Iyadh bin Himar z, dia berkata: Rasulullah n bersabda:

إِنَّ اللهَ أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّى لاَ يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ وَلاَ يَبْغِي أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ

“Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku agar kalian saling tawadhu’, sehingga tidak ada seorangpun yang merasa lebih mulia atas yang lainnya, dan tidak ada seorangpun yang menzalimi yang lain.” (HR. Muslim)

Rasulullah n juga bersabda:

وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللهُ

“Tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah kecuali Allah akan meninggikan derajatnya.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah z)

Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin t berkata:

“Tawadhu’ karena Allah l memiliki dua makna:

a. engkau menundukkan diri terhadap agama Allah l, sehingga tidak sombong, congkak terhadap agama. Tidak pula engkau menolak untuk melaksanakan hukum-hukum-Nya.

b. engkau merendahkan diri terhadap hamba-hamba Allah l, karena Allah l, bukan karena takut kepada mereka. Bukan pula karena mengharapkan sesuatu yang ada pada mereka, namun hanya karena Allah l.

Kedua makna ini benar. Barangsiapa yang merendahkan diri karena Allah l semata, Allah k akan meninggikan derajatnya di dunia dan di akhirat. Hal ini adalah realita yang bisa disaksikan. Ketika seseorang bersikap tawadhu’ karena Allah k, dia berada pada derajat yang tinggi dalam pandangan manusia, disebut-sebut kebaikannya. Mereka pun mencintainya. Perhatikanlah sikap tawadhu’ Rasulullah n.” (Syarh Riyadhis Shalihin, 2/262)

Namun untuk bersikap tawadhu’ membutuhkan latihan-latihan, sebagaimana kata Al-Imam Al-Khaththabi t: “Manusia biasa tidak akan berubah dari tabiatnya. Dia tidak akan meninggalkan berbagai kebiasaan yang disukai kecuali dengan latihan yang keras dan pengobatan yang terus-menerus. Maka barangsiapa yang tidak membiasakan jiwanya untuk menerima kebenaran, dia membutuhkan latihan dan pendidikan sehingga jiwanya mencintai al-haq (kebenaran) dan tunduk kepadanya.” (A’lamul Hadits, 1/218)

 

4. Qana’ah

Qana’ah adalah ridha dan merasa cukup dengan rezeki yang Allah l karuniakan kepadanya. Rasulullah n bersabda:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَكَانَ رِزْقُهَا كِفَافًا وَقَنَّعَهُ اللهُ بِمَا آتَاهُ

“Sungguh beruntung orang yang masuk Islam dan rezeki mencukupi kebutuhan hidupnya, dan Allah menjadikannya merasa cukup (qana’ah) dengan apa yang Allah karuniakan kepadanya.” (HR. Muslim, dari Abdullah bin ‘Amr c)

Karena itu, seorang hamba harus menghiasi dirinya dengan sikap qana’ah terhadap dunia yang fana ini.

Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam berkata: “Bila engkau mengarahkan pandanganmu ke tengah-tengah kehidupan kaum muslimin, baik dahulu maupun sekarang, niscaya akan engkau dapati mayoritas orang yang menyimpang dari ash-shirathal mustaqim dikarenakan tamak terhadap harta dan tahta. Maka barangsiapa yang membukakan pintu ini untuk dirinya niscaya dia akan sering berganti (prinsip), berubah warna dan menganggap ringan urusan agamanya.” (Bidayatul Inhiraf, hal. 141)

Al-Imam Ibnul Qayyim t berkata:

“Setiap orang yang lebih memilih dan mencintai dunia dari kalangan orang yang berilmu, pasti dia akan berkata tentang Allah l (Dzat, nama, sifat, perbuatan dan syariat-Nya) dengan ucapan yang tidak benar dalam fatwa-fatwa, hukum, berita, dan konsekuensi-konsekuensinya. Karena kebanyakan hukum-hukum Allah l menyelisihi keinginan-keinginan manusia. Lebih-lebih bagi orang yang berambisi mendapatkan kedudukan atau jabatan, serta orang yang diperbudak oleh hawa nafsunya. Ambisi-ambisi mereka tidak akan terpenuhi kecuali dengan menyelisihi al-haq dan banyak menolaknya. Apabila seorang yang berilmu atau hakim lebih mencintai kedudukan, jabatan, atau hawa nafsunya, maka ambisi tersebut tidak akan terpenuhi kecuali dengan segala kebenaran yang bertentangan dengannya.

Sesungguhnya mengikuti hawa nafsu akan membutakan mata hati, sehingga dia tidak lagi bisa membedakan antara sunnah dengan bid’ah. Atau, akan menyebabkan pandangannya terbalik, sehingga dia melihat yang bid’ah sebagai sunnah dan yang sunnah sebagai bid’ah. Inilah penyakit orang-orang yang berilmu bila mereka lebih memilih dunia dan hawa nafsunya.” (Al-Iqtidha, 1/114)

Al-Hafizh Ibnu Rajab Al-Hambali t berkata:

“Pokok dari ilmu adalah ilmu tentang Allah k, yang mengharuskan untuk takut kepada-Nya, mencintai-Nya, merasa dekat dengan-Nya, tenang dengan-Nya, dan rindu kepada-Nya. Setelah itu adalah ilmu tentang hukum-hukum Allah l, hal-hal yang dicintai dan diridhai-Nya bagi seorang hamba, baik berupa ucapan, amalan, keadaan maupun keyakinan. Barangsiapa telah mewujudkan kedua macam ilmu ini, dia adalah orang berilmu, yang ilmunya bermanfaat. Dia mendapatkan ilmu yang nafi’, hati yang khusyu’, nafsu yang qana’ah, dan doa yang dikabulkan.

Namun barangsiapa yang tidak mendapatkan ilmu yang bermanfaat, dia pasti akan terjatuh pada empat hal yang Rasulullah n senantiasa berlindung darinya. Ilmunya justru menjadi hujjah dan musibah yang akan menimpa dirinya. Sehingga dia tidak akan mendapatkan manfaat dari ilmunya, karena hatinya tidak takut kepada Allah l. Hawa nafsunya tidak puas dengan dunia, bahkan semakin rakus dan serakah terhadap dunia. Doanya pun tidak dikabulkan karena dia tidak melaksanakan perintah-perintah-Nya dan tidak menjauhi hal-hal yang dimurkai dan dibenci-Nya.” (Bayan Fadhli ‘Ilmi As-Salaf, hal. 79)

Nas’alullaha al-‘afiyah (Kita memohon keselamatan kepada Allah l).

Bolehkah Menghilangkan Sihir dengan Sihir?

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Abdillah Abdurrahman Mubarak)

 

Tak sedikit masyarakat kita yang demikian bergantung dengan sihir. Dari yang ‘sekadar’ untuk ‘pagar’ agar tidak ‘diganggu’ saingan bisnisnya, berobat dari penyakit ‘kiriman’, ‘menundukkan’ orang yang disukainya, hingga yang menganggapnya sebagai cara ‘aman’ untuk melampiaskan dendam atau sakit hati.

Di antara fenomena yang merebak di tengah masyarakat kita adalah praktik perdukunan dan sihir. Sangat ironis memang, di zaman yang katanya “modern”, semakin banyak orang tak percaya diri hingga merasa “butuh bantuan” para dukun dan tukang sihir. Inna lillahi wainna ilaihi raji’un. Tidak heran mereka tega mengirim sihir kepada orang-orang yang didengki dan dimusuhinya dalam rangka mencelakainya.
Makna Sihir
Abu Muhammad Al-Maqdisi  t menerangkan: “Sihir adalah jampi-jampi, mantera, dan buhul-buhul yang berpengaruh pada hati dan badan, menyebabkan sakit dan kematian, serta bisa menjadi sebab retaknya hubungan suami istri dan menghalangi seseorang dari istrinya hingga tidak bisa ‘mendatanginya’. Termasuk sihir juga adalah memisahkan antara seseorang dengan istrinya, membuat benci salah satunya, atau menumbuhkan ‘cinta’ di antara dua orang.”
Dijelaskan oleh Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin t:
Sihir secara bahasa adalah segala sesuatu yang sangat lembut dan tersembunyi (samar) sebabnya.
Adapun secara syar’i, sihir terbagi menjadi dua bagian:
1. Buhul dan jampi-jampi, yaitu bacaan-bacaan yang dengannya tukang sihir minta bantuan kepada para setan.
2. Sihir dengan menggunakan obat-obatan dan semisalnya, memengaruhi badan, akal, dan kecenderungan orang yang terkena sihir.
Beliau jelaskan bahwa sihir jenis yang pertama adalah syirik, sedangkan yang kedua adalah ‘udwan (permusuhan dan kezaliman). (Disarikan dari Al-Qaulul Mufid Syarah Kitab At-Tauhid)
Macam-macam Sihir
Disebutkan oleh Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam bahwa sihir ada tiga macam:
1. Sihir hitam
2. Sihir merah
3. Sihir putih
Sihir hitam dan sihir merah terwujud dengan mencerca Allah l, Rasul, dan ayat-ayat-Nya, serta merusak kehormatan Al-Qur’an. Oleh karenanya seorang penyihir, Ath-Thuhi, menyebutkan dalam kitabnya (sihir merah) beberapa perkara yang dilakukan tukang sihir. Di antaranya: Menulis ayat-ayat Al-Qur’an dan meletakkannya di tempat-tempat terlarang, seperti betis orang sakit bahkan di kemaluan wanita. Na’udzubillah.
Sedangkan sihir putih adalah jampi-jampi yang mengandung kesyirikan untuk menolak sihir dan lainnya. (Lihat Irsyadun Nazhir ila Ma’rifati ‘Alamati Sihr karya Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam)
Mengenal Ciri Tukang Sihir
Mengetahui tanda-tanda tukang sihir menjadi perkara yang demikian penting. Karena untuk membedakan manusia yang satu dengan yang lainnya adalah dengan mengetahui tanda-tandanya di mana menyebutkan tanda-tanda orang yang berbuat kezaliman adalah tuntunan syariat. Allah l berfirman:
“Dan demikianlah kami terangkan ayat-ayat Al-Qur’an dan supaya jelas jalan orang-orang yang shalih, dan supaya jelas (pula) jalan orang-orang yang berdosa.” (Al-An’am: 55)
Dengan mengetahui tanda-tanda tukang sihir maka seorang muslim akan waspada dari kejahatan mereka. Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam hafizhahullah menerangkan kepada kita beberapa ciri tukang sihir. Di antara yang beliau sebutkan:
1. Tukang sihir memisahkan (merusak hubungan) seseorang dengan istri, saudara, atau temannya.
2. Mengaku bisa menyatukan dua orang yang telah berpisah serta merukunkan dua orang yang berselisih. Ketahuilah, tidak ada yang mampu mendatangkan rasa cinta kecuali Allah l.
3. Memberikan kertas yang padanya tertulis ayat-ayat Al-Qur’an setelah ditetesi darah atau disobek sebagiannya.
Di antara perkara yang sangat samar, tukang sihir menulis beberapa ayat Al-Qur’an dan doa-doa berbahasa Arab sehingga orang yang hatinya sudah terpikat akan tertipu dan berkata bahwa si tukang sihir mengobatinya dengan Al-Qur’an dan doa-doa. Padahal sesungguhnya mereka (tukang-tukang sihir) meletakkan satu tetes darah haid atau darah anjing atau lebih di bawah lembaran tadi. Padahal ini –darah haid atau darah anjing– adalah darah yang najis, karena tujuan mereka adalah mencari keridhaan setan.
4. Menipu dengan menggunakan obat-obatan.
Di antara cara yang sangat samar dilakukan oleh tukang sihir dan banyak kaum muslimin tidak mengetahuinya, ketika (tukang sihir) hendak menghilangkan sihir dari seseorang,  mereka memberikan kepada ‘pasiennya’ obat-obatan yang biasa dijual di apotek atau toko obat. Hingga yang terkena sihir tersebut bisa ‘mendatangi’ istrinya kemudian mengira (hal ini) dikarenakan obat tersebut. Ia tidak tahu bahwa sesungguhnya hal itu terjadi karena cara yang busuk dan berbahaya, yaitu tukang sihir tersebut bersepakat dengan jin untuk masuk ke kemaluan pria tersebut dan menjadikannya ‘kuat’.
5. Meminta nama si sakit, nama anak atau ibu.
Ketika datang seorang yang sakit, tukang sihir tadi berkata kepadanya: “Siapa namamu dan nama ibumu?” Ketahuilah dia adalah munajjim (ahli nujum), dan munajjim adalah tukang sihir.
6. Mengklaim telah mengetahui keadaan yang sakit sebelum diberitahu.
Di antara tanda seorang itu adalah tukang sihir, ketika datang kepadanya seseorang yang mengeluhkan sakit, pencurian atau kehilangan barang, tukang sihir tersebut telah mendahuluinya dengan menyatakan: “Namamu adalah ini, asalmu ini, masalahmu ini.” Sehingga tercengang dan kagumlah si sakit tersebut.
7. Sebagian tukang sihir mengaku bisa menyembuhkan orang sakit dengan semata meraba dengan tangannya.
8. Di antara tanda seorang itu adalah tukang sihir adalah menulis ayat-ayat Al-Qur’an secara terbalik.
9. Tukang sihir mengaku bisa menjaga janin dari keguguran.
(Ini adalah sebagian kecil yang kami sarikan dari kitab beliau, untuk tambahan faedah lihat Irsyadun Nazhir, hal. 16-43)
Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam hafizhahullah menyimpulkan:
“Tukang sihir adalah sebuah istilah yang meliputi ahli nujum, dukun, peramal –yang mengklaim mengetahui barang yang dicuri, barang hilang, dan yang semisalnya–. Keempat kelompok ini –yakni tukang sihir, ahli nujum, dukun, dan tukang ramal– mayoritasnya adalah penyembah jin dan setan….” (Lihat Irsyadun Nazhir, hal. 10)
Hukum Tukang Sihir
Hukum tukang sihir adalah dibunuh, sebagaimana telah dinyatakan oleh tiga orang sahabat: Umar, Hafshah, dan Jundub g. Namun sebagian mereka (tukang sihir) dibunuh karena hukum had dan sebagiannya dalam rangka mencegah kejahatannya. (Tentang masalah hukum sihir dan pelakunya bisa dilihat di rubrik Akidah pada Asy-Syariah Edisi 08 dan 09 Vol. I/1425 H/2004)
Sumber Ilmu Sihir di kalangan Kaum Muslimin
Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam hafizhahullah menerangkan bahwa sumber penyebarannya ada lima:
1. Orang-orang Yahudi, mereka adalah sumber kuat tersebarnya sihir.
2. Kaum Rafidhah, ini terbukti dalam buku-buku mereka seperti Miftah Al-Lauh wal Qalam.
3. Kaum sufi, juga terbukti dalam buku-buku mereka di antaranya buku yang berjudul Syamsul Ma’arif Al-Kubra.
4. Tokoh-tokoh ilmu kalam.
5. Disebar dan diperjualbelikannya buku-buku tentang sihir.
(Lihat Irsyadun Nazhir hal. 54-64)
Bolehkah Menghilangkan Sihir dengan Sihir?
Telah ada jawaban dari Rasulullah n tentang masalah ini. Diriwayatkan dari Jabir z, Rasulullah n ditanya tentang masalah nusyrah. Beliau berkata: “Itu adalah amalan setan.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan lainnya. Lihat Shahih Abu Dawud)
Asy-Syaikh Ibnu Baz t berkata: ”An-Nusyrah adalah menghilangkan sihir dengan sihir.” (Syarh Kitab At-Tauhid hal. 145)
Beliau t juga berkata: “Mengobati sihir dengan perbuatan tukang sihir yang bertaqarub kepada jin, mempersembahkan sembelihan kepadanya, atau taqarub lainnya, tidaklah diperbolehkan. Karena itu adalah perbuatan setan dan termasuk syirik besar, wajib berhati-hati darinya. Juga tidak boleh mengobati sihir dengan bertanya kepada dukun, paranormal, serta mengikuti ucapan mereka. Karena mereka adalah orang-orang yang tidak beriman, orang-orang pendusta yang fajir (jahat), yang mengaku mengetahui ilmu ghaib, dan mengelabui manusia. Rasulullah n telah memperingatkan untuk tidak mendatangi, bertanya apalagi membenarkan mereka, sebagaimana telah dijelaskan di awal risalah ini. Terdapat hadits shahih bahwasanya Rasulullah n ditanya tentang nusyrah, maka beliau menjawab: ‘Itu adalah perbuatan setan.’ Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad dan Abu Dawud dengan sanad yang jayyid. Nusyrah adalah menghilangkan sihir dari orang yang terkena sihir. Maksud ucapan beliau n adalah nusyrah yang dilakukan orang jahiliah, yakni meminta kepada tukang sihir untuk menghilangkan pengaruh sihir dari seseorang atau menghilangkannya, dengan sihir yang semisal oleh tukang sihir lainnya.” (Lihat Hukmu As-Sihr wal Kahanah, hal. 14-15)
Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam berkata: “Ketahuilah wahai kaum muslimin, bahwa pendapat yang kuat dari sekian pendapat para ulama adalah tidak boleh mengeluarkan (mengobati sihir) dengan cara tukang sihir, berdasarkan ucapan Rasulullah n ketika ditanya tentang nusyrah:
‘Itu adalah perbuatan setan.’ (HR. Ahmad no. 3868, Abu Dawud 1/294, dari Jabir z dan lainnya)
Hadits ini merupakan jawaban yang jelas menerangkan perkara yang tidak diketahui kebanyakan orang. Hadits ini memberikan faedah bahwa menghilangkan sihir dengan sihir adalah perbuatan meminta bantuan kepada setan. Setan tak akan melakukannya kecuali dengan imbalan, yaitu seseorang mau beribadah kepadanya, sehingga perkaranya adalah kekufuran. Saya kira, semua yang mengetahui masalah ini dan mendengar hadits ini, akan tegas menyatakan bahwa menghilangkan sihir dengan meminta bantuan tukang sihir adalah haram.” (Lihat Irsyadun Nazhir, hal. 83-84)
Bahaya yang ada ketika seorang pergi ke tukang sihir untuk menghilangkan sihir:
1. Orang yang pergi ke tukang sihir ikut serta bersamanya dalam menyembah setan.
2. Seringnya, sihir tidak mampu menghilangkan sihir.
3. Perginya seseorang yang terkena sihir ke tukang sihir yang tidak menyihirnya, tidak akan bisa berpengaruh apa-apa.
(Lihat Irsyadun Nazhir)
Cara Syar’i untuk Menghilangkan Sihir
Ibnul Qayyim t berkata:
“An-Nusyrah adalah menghilangkan sihir dari orang yang terkena sihir. Ada dua macamnya:
1. Menghilangkan sihir dengan sihir, ini termasuk amalan setan. Kepada makna inilah kita bawa ucapan Hasan (Al-Bashri) bahwa orang yang mencoba menghilangkan sihir dan pasiennya bertaqarub kepada setan dengan apa yang dikehendaki setan hingga hilang sihirnya.
2. Macam yang kedua: menghilangkan sihir dengan ruqyah dan dzikir-dzikir, obat-obat serta doa yang mubah. Cara yang kedua ini dibolehkan.”
Asy-Syaikh Ibnu Baz t berkata:
”Adapun menghilangkan sihir dengan cara yang syar’i telah dibolehkan oleh para ulama dan orang yang memiliki bashirah serta orang yang punya pengalaman dalam masalah ini.” (Syarh Kitab At-Tauhid)
Beliau t berkata pula: ”Di antara pengobatan yang bermanfaat terhadap sihir adalah dengan berusaha mencari tempat diletakkannya sihir: di tanah, gunung, atau selainnya. Jika telah diketahui, maka dikeluarkan, serta dimusnahkan sehingga akan hilang sihir tersebut.” (Lihat Hukmu As-Sihr Wal Kahanah, hal. 14)
Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i t pernah ditanya tentang hukum menghilangkan (menjauhkan) sihir dari yang terkena sihir. Beliau t menjawab:
”Jika dilakukan dengan (membacakan) ayat-ayat Al-Qur’an dan doa-doa yang syar’i, tidaklah mengapa. Karena Nabi n pernah berkata:
’Barangsiapa mampu memberikan manfaat bagi saudaranya hendaknya ia lakukan…’.” (Lihat Fatawa ’Aqidah, 1/84)
Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam menerangkan beberapa cara syar’i untuk menghilangkan sihir dari orang yang terkena sihir. Di antaranya:
– Banyak membaca Al-Qur’an
– Banyak berdoa
– Mengeluarkan sihir
– Menggunakan obat mubah yang baik. (Lihat Irsyadun Nazhir hal. 94)
Menjaga Diri dari Sihir
Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam menyebutkan beberapa perkara yang akan menjadi sebab seorang terhindar dari sihir. Di antaranya:
1. Takwa kepada Allah l
2. Tawakal kepada-Nya
3. Merutini dzikir-dzikir yang syar’i
4. Meyakini bahwa tukang sihir adalah pendusta
5. Memperingatkan orang lain dari tukang sihir
6. Mengusir mereka dari tempat mereka berada
7. Wajib bagi penguasa negeri muslimin untuk menegakkan hukum had terhadap tukang sihir.
Asy-Syaikh bin Baz t menerangkan: “Perkara yang bisa menjaga dari bahaya sihir sebelum terjadinya, yang terpenting dan paling bermanfaat adalah: menjaga diri dengan dzikir-dzikir syar’i dan doa-doa yang syar’i. Di antaranya juga dengan membaca ayat kursi setiap selesai shalat wajib.” (lihat Hukmu As-Sihr karya Asy-Syaikh Ibnu Baz t hal. 9)
Demikianlah sedikit permasalahan sihir dan pengobatannya yang bisa kami paparkan, mudah-mudahan bermanfaat.
Walhamdulillah.

Mengenal Hadits-hadits Lemah dan Palsu dalam Fadhail Al Qur’an

(ditulis oleh: Al-Ustadz Muhammad Rijal, Lc)

 

Diriwayatkan dari Ubai bin Ka’b z, Rasulullah n bersabda:

يَا أُبَيُّ، مَنْ قَرَأَ فَاتِحَةَ الْكِتَابِ أُعْطِيَ مِنَ الْأَجْرِ كَأَنَّمَا قَرَأَ ثُلُثَيِ الْقُرْآنِ وَأُعْطِيَ مِنَ الْأجْرِ كَأَنَّمَا تَصَدَّقَ عَلَى كُلِّ مُؤْمِنٍ وَمُؤْمِنَةٍ، وَمَنْ قَرَأَ آلَ عِمْرَانَ أُعْطِيَ بِكُلِّ آيَةٍ مِنْهَا أَمَانًا عَلَى جِسْرِ جَهَنَّمَ، وَمَنْ قَرَأَ سُورَةَ النِّسَاءِ أُعْطِيَ مِنَ الْأَجْرِ كَأَنَّمَا تَصَدَّقَ عَلَى كُلِّ مَنْ وَرَثَ مِيرَاثًا، وَمَنْ قَرَأَ الْمَائِدَةَ أُعْطِيَ عَشَرَ حَسَنَاتٍ وَمُحِيَ عَنْهُ عَشَرَ سَيِّئَاتٍ وَرُفِعَ لَهُ عَشَرَ دَرَجَاتٍ بِعَدَدِ كُلِّ يَهُودِيٍّ وَنَصْرَانِيٍّ وَتَنَفُّسٍ فِي الدُّنْيَا، وَمَنْ قَرَأَ الْأَنْعَامَ صَلَّى عَلَيهِ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ، وَمَنْ قَرَأَ الْأَعْرَافَ جَعَلَ اللهُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ إِبْلِيْسَ حِجَاباً، وَمَنْ قَرَأَ الْأَنْفَالَ أَكُونُ لَهُ شَفِيعًا وَشَاهِدًا وَبَرِيءَ مِنَ النِّفَاقِ، وَمَنْ قَرَأَ يُونُسَ أُعْطِيَ مِنَ الْأَجْرِ عَشَرَ حَسَنَاتٍ بِعَدَدِ مَنْ كَذَّبَ بِيُونُسَ وَصَدَّقَ بِهِ وَبِعَدَدِ مَنْ غَرِقَ مَعَ فِرْعَوْنَ …

“Wahai Ubai, barangsiapa membaca Al-Fatihah ia diberi pahala seperti seorang membaca dua pertiga Al-Qur’an, dan akan diberi pahala seperti bersedekah kepada setiap orang mukmin dan mukminah. Barangsiapa membaca surat Ali ‘Imran maka dari tiap ayatnya ia akan mendapatkan keamanan (saat melalui) jembatan jahannam. Barangsiapa membaca surat An-Nisa’ maka ia akan diberi pahala seperti halnya sedekah kepada semua orang yang memperoleh harta warisan. Barangsiapa membaca surat Al-Maidah maka ia akan diberi pahala sepuluh kebaikan, dileburkan darinya sepuluh kejelekan dan diangkat martabatnya sepuluh derajat setara dengan jumlah semua orang Yahudi dan Nasrani, dan nafas di dunia. Barangsiapa membaca Al-An’am maka 70.000 malaikat akan bershalawat atasnya. Barangsiapa membaca surat Al-A’raf, Allah l akan menjadikan penghalang antara dia dan iblis. Barangsiapa membaca surat Al-Anfal, aku akan memberi syafaat untuknya dan menjadi saksi baginya serta dia terbebas dari kemunafikan. Barangsiapa membaca surat Yunus akan diberi pahala sepuluh kebaikan yang setara dengan jumlah orang yang mendustakan Nabi Yunus dan yang membenarkannya, serta sebanyak orang-orang yang tenggelam bersama Fir’aun….”

Pembahasan Derajat Hadits

Demikian potongan hadits yang disandarkan kepada sahabat Ubai bin Ka’b z. Diriwayatkan Abul Faraj Ibnul Jauzi1 t dalam kitabnya Al-Maudhu’at (1/239-241) melalui dua jalan. Jalan pertama terdapat perawi bernama Badi’, dan pada jalan kedua ada perawi bernama Makhlad.

Dua jalan tersebut berporos (bertemu) pada ‘Ali bin Zaid bin Jud’an dan ‘Atha’ bin Abi Maimunah. Keduanya meriwayatkan dari Zirr bin Hubaisy, dari Ubai bin Ka’b z, dari Rasulullah n.

Pembaca rahimakumullah. Hadits Ubai z ini memang menarik perhatian. Mata sebagian manusia niscaya akan berbinar dengan pahala yang dijanjikan. Hati sebagian mereka pun berbunga dengan fadha’il (keutamaan-keutamaan) Al-Qur’an yang disebut secara rinci dari Al-Fatihah hingga An-Naas. Namun ternyata hadits di atas tergolong hadits-hadits maudhu’ (palsu), kedustaan yang dibuat-buat atas nama Rasulullah n.

Setidaknya ada dua sisi menonjol yang menyimpulkan kepalsuan hadits dan menunjukkan bahwa hadits ini mustahil terucap dari lisan Rasulullah n, yaitu kelemahan sanad, kelemahan bahasa serta makna.

Kelemahan sanad didapatkan dalam hadits ini tiga perawi yang diperbincangkan.

Pertama: Badi’. Dia adalah Badi’ bin Hibban Abul Khalil.

Al-Imam Ad-Daruquthni t berkata tentangnya: “Wa Huwa Matruk.” (Dan dia seorang yang ditinggalkan).2

Kedua: Makhlad. Dia adalah Makhlad bin ‘Abdul Wahid Abul Hudzail Al-‘Anbari Al-Bashri.

Ibnu Hibban t berkata: “Munkarul Hadits Jiddan Yanfaridu bi manakir laa tusybihu haditsa Ats-Tsiqat.” (Haditsnya sangat munkar. Ia bersendiri dalam periwayatan hadits-hadits munkar yang sedikitpun tidak ada kemiripan dengan hadits orang-orang yang terpercaya)3

Ketiga: ‘Ali bin Jud’an. Dia seorang yang dha’if (lemah).4

Adapun tinjauan kedua, terlihat bahwa hadits Ubai z di atas mengandung susunan bahasa dan makna yang sangat lemah. Tampak bagi ulama ahlul hadits bahwa hadits tersebut bukanlah dari sabda Rasulullah n, yang Allah l beri anugerah kefasihan dan jawami’ul kalim.

Ibnul Jauzi t berkata: “Kandungan hadits ini nyata menunjukkan kepalsuannya. Di dalamnya dirinci penyebutan surat-surat dan disebutkan pada masing-masingnya pahala yang disesuaikan untuk tiap surat dengan bahasa yang tak berbobot dan sangat hambar. Tidak mungkin berasal dari ucapan Rasulullah n.” (Al-Maudhu’at, 1/240)5

Nash-Nash Ulama Mengenai Kepalsuan Hadits Ubai z

Dari dua tinjauan tersebut, ulama ahlul hadits seperti Abdullah bin Al-Mubarak, Ibnul Jauzi, Ibnu Taimiyah, dan Ibnul Qayyim rahimahumullah menggolongkannya sebagai hadits maudhu’ (palsu). Bahkan Syaikhul Islam mengisyaratkan adanya kesepakatan ulama atas kepalsuannya.

Ibnul Jauzi t berkata: “Hadits tentang fadhilah-fadhilah surat-surat (Al-Qur’an) in, adalah hadits palsu, tanpa keraguan ….” (Al-Maudhu’at, 1/240)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah t berkata: “… hadits ini maudhu’ (palsu) menurut kesepakatan ahlul ilmi.” (Majmu’ Fatawa, 13/354)

Ibnul Qayyim t berkata: “Hadits-hadits yang menyebutkan fadhilah dan pahala bagi orang yang membaca surat-surat tertentu, dari Al-Fatihah sampai An-Nas, sebagaimana disebutkan oleh Ats-Tsa’labi dan Al-Wahidi pada awal tiap surat, atau Az-Zamakhsyari di akhir tafsir tiap surat, Abdullah Ibnul Mubarak t berkata tentangnya:

أَظُنُّ الزَّنَادِقَةَ وَضَعُوهَا

“Aku yakin, orang-orang zindiqlah yang memalsukannya.” (Al-Manarul Munif Fi Ash-Shahih Wadh-Dha’if hal. 113)

Demikian hukum ulama ahlul hadits terhadap riwayat Ubai bin Ka’b ini. Semoga Allah l rahmati dan balas pembelaan mereka terhadap Sunnah Rasulullah n dengan pahala-Nya yang berlipat.

 

Sebab Pemalsuan Hadits Ubai bin Ka’b z

Pembaca rahimakumullah. Hadits-hadits maudhu’ (palsu) tidak begitu saja muncul tanpa sebab dan latar belakang. Para pemalsu hadits sangatlah banyak. Mereka berasal dari berbagai macam kelompok dan kalangan. Pemalsuan mereka pun dilatarbelakangi motif serta tujuan yang beragam.

Lalu apakah gerangan pendorong dipalsukannya hadits Ubai bin Ka’b z tentang keutamaan surat-surat dalam Al-Qur’an? Mari kita simak penuturan Ibnul Jauzi t.

Seusai menyebutkan hadits Ubai bin Ka’b z, Ibnul Jauzi menyertakan sebuah riwayat dari sanad (jalan) beliau mengenai sebab dan siapa sebenarnya otak pemalsuan hadits Ubai bin Ka’b z. Ibnul Jauzi berkata: “… Dari Mahmud bin Ghailan6, dia berkata: Aku mendengar Muammal7 berkata: Seorang syaikh menyampaikan padaku (hadits) fadha’il surat-surat Al-Qur’an yang diriwayatkan dari Ubai bin Ka’b z. Maka aku bertanya padanya: ‘Siapa yang menyampaikan kepadamu?’ Dia berkata: ‘Seorang syaikh di negeri Mada’in, dia masih hidup.’ (Muammal berkata:) Aku pun pergi kepadanya dan bertanya: ‘Siapa yang menyampaikan kepadamu?’ Dia menjawab: ‘Seorang syaikh di negeri Wasith dan dia masih hidup.’ Maka aku pergi kepadanya dan aku bertanya: ‘Siapa yang menyampaikan kepadamu?’ Dia menjawab: ‘Seorang syaikh di negeri Bashrah.’ Maka aku pergi kepadanya. Dia berkata: ‘Yang menyampaikan padaku adalah seorang syaikh dari negeri Ba’adan.’ Aku pun menjumpai syaikh tersebut. (Ketika aku telah bertemu dengannya di Ba’adan aku tanyakan, siapa yang menyampaikan hadits ini?) Maka diapun meraih tanganku dan membawaku masuk ke dalam sebuah rumah yang ternyata terdapat sejumlah penganut sufi beserta seorang syaikh. Dia berkata: ‘Syaikh inilah yang menyampaikan hadits (Ubai bin Ka’b z padaku).’ Maka Aku (Muammal) bertanya pada syaikh (sufi): ‘Siapa yang menyampaikan hadits ini?’ Dia berkata: ‘Tidak ada seorang pun menyampaikannya padaku. Tetapi karena kami menyaksikan manusia lari dari Al-Qur’an, kami pun membuat (baca: memalsukan) hadits untuk (kebaikan) manusia agar mereka mau kembali pada Al-Qur’an’.” (Al-Maudhu’at, 1/239-241)8

Ternyata orang-orang sufilah yang memunculkan hadits-hadits fadha’il, dengan alasan menyimpang, tanpa landasan syar’i. Allahul musta’an.

Asy-Syaikh ‘Utsman bin Al-Makki Az-Zubaidi t (wafat 1330 H) berkata: “Kebanyakan hadits palsu bermunculan dari kalangan sufi, para ahli ibadah yang bodoh terhadap agamanya. Mereka telah memalsukan hadits-hadits fadha’il (keutamaan-keutamaan) surat-surat Al-Qur’an dengan maksud mendorong (manusia agar gemar membaca Al-Qur’an). Sungguh, bahaya mereka bagi kaum muslimin lebih besar daripada musuh (orang-orang kafir yang tampak di hadapan mata), terlebih lagi kaum sufi zaman ini. Mereka berdusta atas nama Allah l dengan berkedok pengakuan sebagai para wali-Nya!! Mereka menjelajah di muka bumi dengan menebarkan kerusakan. Mereka tersesat dari hidayah dan berupaya menyesatkan manusia dengan perbuatan mereka, ataupun dengan ucapan buruk yang tidak sesuai dengan syariat, demi mendapat kepingan dirham dan dinar dari orang-orang yang bodoh lagi dungu. Mereka tidak ambil peduli bahwa berdusta atas nama Nabi n adalah (perbuatan) haram menurut ijma’.

Dalam Al-Jami’ As-Shaghir karya As-Suyuthi t disebutkan (sabda Rasulullah n:)

مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Barangsiapa berdusta atas namaku dengan sengaja hendaknya dia menyiapkan tempat duduknya di neraka.”9

Golongan (yang membuat kedustaan atas nama Rasulullah n) termasuk orang-orang yang menjual akhirat dengan dunianya. Allah l berfirman:

“Mereka itulah orang-orang yang menjual kehidupan akhirat dengan kehidupan dunia, maka tidak akan diringankan siksa mereka dan mereka tidak akan ditolong.” (Al-Baqarah: 86) [Al-Qala’id Al-’Anbariyah ‘Alal Manzhumatil Baiquniyah hal. 106-107]

 

Kitab-Kitab Tafsir yang Menyebutkan Hadits Ubai bin Ka’b z

Pembaca rahimakumulah. Meskipun hadits Ubai bin Ka’b z sangat jelas kepalsuannya, namun ternyata masih terserak pada sebagian kitab-kitab tafsir. Oleh karenanya, kita perlu mengenal dan mengetahuinya agar lebih berhati-hati dan tidak tertipu dari penisbatan (penyandaran) hadits palsu kepada Rasulullah n hanya karena disebutkannya hadits-hadits tersebut dalam beberapa kitab tafsir.

Ada tiga kitab tafsir yang banyak menukil hadits Ubai bin Ka’ab z yaitu Tafsir Ats-Tsa’labi, Tafsir Al-Wahidi, dan Tafsir Az-Zamakhsyari.

Ats-Tsa’labi dan Al-Wahidi menyebutkan hadits Ubai bin Ka’ab z di awal setiap surat, dengan memotong-motong hadits. Di awal surat Al-Anfal misalnya, dipilih lafadz:

مَنْ قَرَأَ الْأَنْفَالَ أَكُونُ لَهُ شَفِيعًا وَشَاهِدًا وَبَرِيءٌ مِنَ النِّفَاقِ

“Barangsiapa membaca surat Al-Anfal aku akan memberi syafaat untuknya, dan menjadi saksi baginya dan dia bebas dari kenifakan.” Demikian seterusnya.

Adapun Az-Zamakhsyari Al-Mu’tazili dalam tafsirnya, Al-Kasysyaf, menyebutkan hadits Ubai z di akhir setiap surat.

Mengenai ini, Abul Faraj Ibnul Jauzi t berkata: “Hadits (Ubai bin Ka’b z) dipisah-pisahkan oleh Abu Ishaq Ats-Tsa’labi dalam tafsirnya. Dia sebutkan pada setiap surat potongan lafadz yang khusus (berkaitan) dengannya. Demikian pula diikuti oleh Abul Hasan Al-Wahidi. Perbuatan keduanya tidaklah mengherankan, karena keduanya bukan termasuk ahli hadits.” (Al-Maudhu’at, 1/240)10

Tiga kitab tersebut banyak terdapat kebatilan. Yang paling parah dari ketiganya adalah tafsir Az-Zamakhsyari. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t berkata: “….. Adapun Al-Wahidi, dia merupakan murid Ats-Tsa’labi. Kepandaiannya dalam ilmu bahasa Arab mengungguli gurunya….. Kitab tafsir Ats-Tsa’labi dan tafsir Al-Wahidi yaitu Al-Basith, Al-Wasith, dan Al-Wajiz di dalamnya terdapat sejumlah faedah penting. Bersamaan dengan itu, di dalam kitab-kitab tersebut banyak pula sampah-sampah yang berujud nukilan yang batil dan semisalnya.

Adapun Az-Zamakhsyari, maka tafsirnya penuh dengan kebid’ahan, (ditulis) berdasarkan keyakinan Mu’tazilah, seperti pengingkaran terhadap sifat-sifat Allah l, pengingkaran terhadap ru’yah (melihat Allah k di hari kiamat), pendapat bahwa Al-Qur’an adalah makhluk (bukan kalam Allah l), mengingkari kehendak Allah l pada makhluk-makhluk-Nya, mengingkari penciptaan Allah l pada perbuatan-perbuatan hamba-Nya dan pokok-pokok Mu’tazilah selainnya.” (Majmu’ Fatawa, 13/ 386)

Demikian keadaan tafsir Ats-Tsa’labi, Al-Wahidi, dan Az-Zamakhsyari terkait dengan penyebutan hadits Ubai bin Ka’b dan kebid’ahan yang ada di dalamnya. Wallahu a’lam.

 

Bolehkah Meriwayatkan Hadits Maudhu’ dengan Tujuan Targhib (Memberikan Semangat dalam Beramal) ?

Sejenak kita kembali kepada alasan kaum sufi ketika memalsukan hadits-hadits fadhail (keutamaan-keutamaan) surat Al-Qur’an. Mereka berkata: “Kami membuat (baca: memalsukan) hadits-hadits fadhail demi kebaikan. Kami melihat manusia malas membaca Al-Qur’an maka perlu dibuat hadits-hadits berisi keutamaan dan pahala-pahala besar, sebagai targhib (dorongan) bagi mereka agar kembali mencintai Al-Qur’an.”

Sepintas perkataan mereka terasa manis dan indah. Tapi ucapan itu adalah bisa yang membinasakan. Kita katakan kepada mereka:

Pertama: Bukankah ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits Rasulullah n yang shahih tentang keutamaan Al-Qur’an sangatlah banyak? Semuanya mendorong dan membangkitkan kaum muslimin untuk kembali pada kitab Allah l. Lalu mengapa kalian justru berpaling dari nash-nash yang shahih kepada kedustaan atas nama Rasulullah n?

Kedua: Tidakkah kalian tahu bahwa berdusta atas nama Rasulullah n apapun tujuannya termasuk kaba’ir (dosa besar). Berdasar sabda Rasulullah n:

مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Barangsiapa berdusta atas namaku dengan sengaja hendaknya dia menempati tempat duduknya di neraka.”11

Dr. Abdush Shamad bin Bakr mengatakan: “Dalam hadits ini terdapat dalil yang terang akan beratnya keharaman berdusta atas nama Nabi n dan perbuatan ini termasuk dosa-dosa besar… Maka tidak boleh berdusta atas nama beliau bagaimanapun keadaannya, apapun alasannya. Sebab, berdusta atas nama beliau berakibat kerusakan yang sangat besar dan luas. Bahayanya menimpa agama, karena segala yang berkaitan dengan beliau n dijadikan sebagai syariat, baik ucapan-ucapan, perbuatan-perbuatan, atau persetujuan-persetujuannya. Oleh karena itu telah datang sebuah sabda dari Rasulullah n:

إِنَّ كَذِباً عَلَيَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ

“Sesungguhnya dusta atas namaku tidak seperti kedustaan atas seseorang (selain aku).”12 (Al-Wadh’u wal Wadhdha’un fil Hadits An-Nabawi hal. 15-16)

Ibnul Qayyim t berkata: “Sebagian orang-orang jahil, pemalsu (hadits-hadits fadhail) berkata: ‘Kami berbohong justru dalam rangka membela Nabi n, bukan berbohong untuk mengkhianati beliau.’ Dia tidak tahu bahwa sebenarnya orang yang mengucapkan atas nama Nabi n sesuatu yang tidak pernah beliau ucapkan sungguh dia telah berdusta (mengkhianati) Nabi n. Dan orang tersebut berhak diganjar dengan ancaman yang sangat pedih.” (Al-Manarul Munif Fi Ash-Shahih Wadh-Dha’if hal. 114-115)

 

Di antara Syubhat Orang-orang yang Memalsukan Hadits Rasulullah n

Para pemalsu hadits atau orang-orang yang sepaham dengan mereka ternyata menampilkan beberapa dalil (baca: syubhat) yang sepertinya memberikan rekomendasi atas perbuatan mereka. Pada rubrik ini, kita perhatikan sebuah contoh dari dalil mereka, sebagai nasihat bagi kaum muslimin untuk berhati-hati dari syubhat-syubhat lainnya.

Mereka katakan, kami membuat (baca: memalsukan) hadits-hadits fadhail (keutamaan-keutamaan surat dan amalan) dan meriwayatkannya bukannya tanpa dasar. Kami berpegang pada dalil-dalil yang jelas. Di antaranya hadits Abu Umamah z, Rasulullah n bersabda:

مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ بَيْنَ عَيْنَيْ جَهَنَّمَ. فَشَقَّ ذَلِكَ عَلَى أَصْحَابِ رَسُولِ اللهِ فَقَالُوْا: يَا رَسُولَ الله، إِنَّا نُحَدِّثُ عَنْكَ بِالْحَدِيْثِ فَنَزِيْدُ وَنَنْقُصُ. فَقَالَ: لَيْسَ ذَاكُمْ، إِنَّمَا أَعْنِي الَّذِي يَكْذِبُ عَلَيَّ يُرِيدُ عَيْبِي وَشَيْنَ الْإِسْلَامِ

“Barangsiapa berdusta atas namaku dengan sengaja hendaknya dia menyiapkan tempat duduknya di depan dua mata jahannam.” Sabda ini terasa berat bagi sahabat-sahabat Rasulullah n, merekapun berkata: “Wahai Rasulullah (betapa berat hadits ini), kami biasa menyampaikan hadits darimu dan kami (sengaja) tambah-tambah dan kami kurangi.” Maka Rasul n bersabda: “(Jangan bersedih) bukan itu yang kumaksudkan. Tetapi yang aku maksudkan adalah (orang) yang berdusta atas namaku dengan tujuan mencelaku atau mencela Islam.”

Dipahami dari riwayat ini bahwa yang terlarang adalah berdusta atas nama Nabi n dengan tujuan mencela Rasulullah n atau Islam. Adapun orang yang berdusta atas nama Nabi n tetapi dengan tujuan membela syariatnya atau dengan tujuan membangkitkan umat dari kelalaian, bukanlah hal terlarang, bahkan merupakan amalan mulia. Tidak masuk dalam ancaman Rasulullah n.

Subhanallah. Demikian syubhat ahlu bathil. Mereka bawakan jerat dan tipu daya setan. Akan tetapi jerat dan tipu dayanya sangatlah lemah. Allah l berfirman:

“Sesungguhnya tipu daya setan itu adalah lemah.” (An-Nisa: 76)

Perihal hadits ini, kita katakan kepada mereka: “Hadits yang kalian jadikan sandaran untuk memalsukan hadits adalah hadits maudhu’ (palsu)13 juga. Dalam sanadnya terdapat Muhammad bin Al-Fadhl bin ‘Athiyah bin ‘Umar Al-’Abdi. Ibnu Hajar t berkata tentangnya: ‘Kadzdzabuuhu (Ahlul hadits mendustakannya)’.”14

Ibnul Jauzi t dalam kitabnya Al-Maudhu’at memberikan komentar berkenaan riwayat di atas: “Hadits ini tidak shahih. Karena Muhammad bin Al-Fadhl dihukumi pendusta oleh Yahya bin Ma’in, Al-Fallas, dan selain keduanya. Ahmad bin Hanbal t berkata: ‘Hadits ini tidak ada nilainya. Hadits ini tidaklah dipalsukan melainkan oleh orang yang ada kedustaan dalam niatnya’.”

 

Beberapa Hadits Dhaif (lemah) dan Maudhu’ (palsu) tentang Fadhilah Surat

Setiap muslim yang mencintai Rasulullah n, pasti merindukan sabda-sabda beliau sebagai petunjuk dan lentera di tengah kegelapan, atau tetesan embun di saat kehausan. Akan tetapi wajib bagi setiap muslim membedakan mana yang shahih dan mana yang tidak.

Pada kesempatan ini perlu kiranya kita sertakan beberapa hadits lemah dan palsu yang sering terdengar dari lisan-lisan manusia. Dengan harapan bisa menjadi nasihat bagi kita semua. Pada kesempatan yang akan datang –dengan memohon pertolongan Allah l semata– akan dibahas beberapa hadits shahih berkenaan keutamaan-keutamaan surat atau ayat, insya Allah. Semoga Allah l memberikan kemudahan kepada kita semua. Wallahul Muwaffiq.

 

a. Keutamaan Surat Yasin

Diriwayatkan dari Anas bin Malik z, Rasulullah n bersabda:

إِنَّ لِكُلِّ شَيْءٍ قَلْباً وَقَلْبُ الْقُرْآنِ يس وَمَنْ قَرَأَ يس كَتَبَ اللهُ لَهُ بِقِرَاءَتِهَا قِرَاءَةَ الْقُرآنِ عَشْرَ مَرَّاتٍ

“Sungguh segala sesuatu memiliki jantung, dan jantungnya Al-Qur’an adalah Yasin. Barangsiapa membaca Yasin maka Allah l akan mencatat baginya dengan membacanya seperti membaca Al-Qur’an sepuluh kali.”15

 

b. Keutamaan Surat Ad-Dukhan

Diriwayatkan dari Abu Hurairah z, Rasulullah n bersabda:

مَنْ قَرَأَ حم الدُّخَانَ فِيْ لَيْلَةٍ أَصْبَحَ يَسْتَغْفِرُ لَهُ سَبعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ

“Barangsiapa membaca di malam hari surat Ad-Dukhan, di pagi harinya, 70.000 malaikat akan beristighfar (memintakan ampun) untuknya.”16

 

c. Keutamaan Surat Al-Kahfi

Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar c, Rasulullah n bersabda:

مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ فِي يَومِ الْجُمْعَةِ سَطِعَ لَهُ نُورٌ مِنْ تَحْتِ قَدَمِهِ إِلَى عَنَانِ السَّمَاءَ يُضِيءُ لَهُ يَومَ الْقِيَامَةِ وَغُفِرَ لَهُ مَا بَينَ الْجُمْعَتَيْنِ

“Barangsiapa membaca surat Al-Kahfi di hari Jum’at, akan memancar baginya cahaya dari bawah kakinya menuju puncak-puncak langit menyinarinya pada hari kiamat dan diampuni dosa-dosanya antara dua jum’at.”17

 

d. Keutamaan Surat Al-Waqi’ah

Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud z, Rasulullah n bersabda:

مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْوَاقِعَةِ كُلَّ لَيلَةٍ لَمْ تُصِْبهُ فَاقَةٌ أَبَدًا

“Barangsiapa membaca surat Al-Waqi’ah setiap malam, tidak akan ditimpa kemiskinan selama-lamanya.”18

 

Penutup

Demikian beberapa hadits dha’if yang Allah l mudahkan untuk kita bahas bersama.

Ya… Ada kesedihan kala kita melihat banyak dari manusia berusaha memudarkan cahaya agama Islam dengan mencampuradukkan al-haq dan al-bathil. Namun tetap ada hal yang menyejukkan kita, yaitu kabar gembira bahwa syariat ini tidak akan pernah padam. Allah l lah yang membela dan menyempurnakannya. Allah l berfirman:

“Mereka ingin hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci.” (Ash-Shaff: 8)

Terbongkarnya kepalsuan hadits Ubai bin Ka’b z sebagai hadits maudhu’, juga hadits-hadits palsu lainnya adalah sekian dari penjagaan Allah l atas syariat Islam yang mulia, penutup seluruh syariat. Allah l beri nikmat bagi umat ini dengan dimunculkannya ulama ahlul hadits seperti Al-Imam Asy-Syafi’i, Al-Imam Ahmad, Al-Imam Al-Bukhari, dll, yang dengan sungguh-sungguh mencurahkan waktunya untuk membela hadits-hadits Rasulullah n.

Asy-Syaikh ‘Utsman Al-Makki t berkata: “Ahlul ilmi telah memberikan perhatian (khusus) dengan mengumpulkan hadits-hadits palsu serta menerangkan dengan sejelas-jelasnya. Semoga Allah l memberikan balasan kepada mereka dan Allah l tempatkan di jannah-Nya yang luas.” (Al-Qala’id Al-’Anbariyah ‘Alal Manzhumatil Baiquniyah hal. 106-107)

Allah l bimbing hati-hati mereka hingga mampu membedakan hadits-hadits Rasulullah n yang shahih yang tampak jelas cahayanya, dengan hadits-hadits yang tidak shahih yang demikian tampak kegelapannya. Ar-Rabi’ bin Khutsaim19 t berkata:

إِنَّ لِلْحَدِيثِ ضَوْءًا كَضَوْءِ النَّهَارِ يُعْرَفُ، وَظُلْمَةً كَظُلْمَةِ اللَّيلِ تُنْكَرُ

“Sungguh, hadits (shahih) itu memiliki cahaya sebagaimana cahaya siang yang dikenal, dan (hadits palsu memiliki) kegelapan sebagaimana gelapnya malam yang diingkari.”20

Wallahu a’lam. Washallalahu wa sallama ‘ala Rasulillah wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Wal-hamdulillahi Rabbil ‘alamin.


1 Beliau adalah Jamaludin Abul Faraj Abdurrahman bin Ali bin Al-Jauzi, meninggal 597 H.

2 Dinukil dari Al-Maudhu’at (1/240). Perawi yang dikatakan matruk, hadits-haditsnya sangat lemah, tidak bisa dikuatkan apalagi menjadi penguat.

3 Lihat Al-Majruhin (2/385). Ibnu Hibban berkata: “Sungguh Badi’ dan Makhlad telah bersepakat meriwayatkan hadits ini (Ubai bin Ka’b z) dari ‘Ali bin Zaid.” (Al-Maudhu’at, 1/240)

4 Dia adalah ‘Ali bin Zaid bin ‘Abdilah bin Zuhair bin ‘Abdilah bin Jud’an At-Taimi Al-Bashri. Jumhur (kebanyakan) ulama Al-Jarh wat-Ta’dil mencacati ‘Ali bin Zaid dengan cacat yang melemahkan haditsnya.

Al-Imam Ahmad berkata: “Laisa bi syai’in.” (Al-‘Ilal wa Ma’rifatur Rijal, 1/227)

Abu Zur’ah berkata: “Laisa bi qawiyyin (Dia bukan orang yang kuat).” (Al-Jarh Wat-Ta’dil, 6/186)

Abu Hatim berkata: “Laisa bi qawiyyin, Yuktabu haditsuhu wa laa yuhtajju bihi (Dia bukan orang yang kuat, ditulis haditsnya namun tidak dijadikan sebagai hujjah).” (Al-Jarh Wat-Ta’dil, 6/186)

An-Nasa’i berkata: “Dha’if (Dia lemah).” (Tahdzibul Kamal, 20/439)

Al-Juzajani berkata: “Wahiyul hadits, dha’if (Haditsnya lemah, dan dia lemah).” (Ahwalur Rijal, hal. 185)

Berbeda dengan jumhur ulama, Al-Imam At-Tirmidzi dan Al-‘Ijli justru meletakkan ‘Ali bin Zaid pada derajat hasan. At-Tirmidzi berkata: “Shaduq.” (As-Sunan hadits no. 2678). Al-‘Ijli berkata: “La ba’sa bihi.” (Tarikh Ats-Tsiqat hal. 346)

Meskipun At-Tirmidzi dan Al-‘Ijli menghasankan, tetapi keduanya menyelisihi jumhur ulama. Di samping itu, keduanya termasuk ulama yang mutasahil (bermudah-mudah) dalam men-ta’dil (menguatkan perawi). Dengan dua alasan inilah maka pendapat jumhur lebih mendekati kebenaran, sebagaimana disimpulkan oleh Ibnu Hajar dalam At-Taqrib: “Dha’if (dia lemah).” Wallahu a’lam.

Kelemahan ‘Ali bin Zaid semata sesungguhnya tidak begitu membahayakan hadits, mengingat ada perawi tsiqah meriwayatkan bersamanya, yaitu ‘Atha’ bin Abi Maimunah. Namun dua jalur yang dibawakan Ibnul Jauzi t, kepada ‘Ali bin Zaid bin Jud’an dan ‘Atha’ bin Abi Maimunah, masing-masing terdapat ‘illat yang menyebabkan jalur-jalur ini menjadi sangat lemah.

5 Perkataan Ibnul Jauzi: “…dengan bahasa yang tidak berbobot dan sangat hambar…” adalah sisi kedua yang menunjukkan lemahnya hadits Ubai bin Ka’b z. (lihat Maqayis Ibnul Jauzi Fi Naqdi Mutunis Sunnah hal.110 oleh Dr. Musfir Ad-Dumaini hafizhahullah)

6 Dia adalah Abu Ahmad Mahmud bin Ghailan Al-‘Adawi Al-Marwazi, tsiqah, meninggal 239 H.

7 Dia adalah Abu Abdirrahman Mu’ammal bin Isma’il Al-Bashri meninggal 206 H. Dia Shaduq Sayyi’ul Hifdzi (jujur tapi jelek hafalannya). (At-Taqrib)

8 Perhatikanlah kesungguhan ahlul hadits dalam memperjuangkan agama Allah k dan membela Sunnah Rasulullah n dengan cara membersihkan hadits Rasul n dari kepalsuan. Seorang dari mereka bersedia menempuh perjalanan jauh, mendatangi berbagai negeri, hanya untuk meneliti kebenaran sebuah hadits. Semoga Allah l mengumpulkan kita bersama mereka dalam jannah-Nya yang penuh kenikmatan.

9 Hadits mutawatir, As-Suyuthi menyebutkan hadits ini dari 78 sahabat, dalam kitabnya Qathful Azhar hal. 23.

10 Lihat juga ucapan Ibnul Qayyim yang dinukilkan sebelum ini dalam Al-Manarul Munif hal.113 .

11 Lihat catatan kaki no. 9.

12 HR. Al-Bukhari dalam Ash-Shahih no. 1291 dan Muslim dalam Muqaddimah (1/10 no.4).

13 Diriwayatkan Al-Jauzaqani dalam Al-Abathil Wal Manakir (1/92 no. 87). Beliau berkata: “Hadits ini bathil tidak ada asalnya.” Diriwayatkan juga oleh Al-Hakim dalam Al-Madkhal (hal 96-97), beliau berkata: “Hadits ini bathil.”

14 Lihat Taqribut Tahdzib karya Ibnu Hajar. Al-Juzajani berkata dalam Ahwalur Rijal (hal. 372 ): “Kana Kadzdzaban (Dia adalah tukang dusta).”

15 Diriwayatkan At-Tirmidzi dalam As-Sunan Kitab Fadha’ilul Qur’an (no. 2887) dan Ad-Darimi dalam As-Sunan (no. 3417). Dalam sanadnya ada Harun Abu Muhammad. At-Tirmidzi berkata: “Syaikhun Majhul (Dia adalah syaikh yang tidak dikenal).” Asy-Syaikh Al-Albani menghukumi hadits ini sebagai hadits maudhu’ dalam Dha’if At-Tirmidzi.

16 Hadits diriwayatkan At-Tirmidzi dalam As-Sunan Kitab Fadha’ilul Qur’an (no. 2888), Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman (5/411-412), dan Ibnu ‘Adi dalam Al-Kamil (5/1720). Dalam sanadnya ada ‘Umar bin Abdillah bin Abi Khas’am. Al-Bukhari berkata sebagaimana diriwayatkan At-Tirmidzi dalam As-Sunan: “Huwa Munkarul Hadits (Dia haditsnya munkar).” Al-Albani dalam Dha’if Al-Jami’ As-Shaghir wa ziyadatuhu mengatakan: “Maudhu’ (Hadits ini palsu).”

17 Ibnu Katsir melemahkan hadits ini. Beliau berkata: “Isnaduhu gharib.” (Tafsir Ibnu Katsir, 3/70). Dalam sanadnya ada Khalid bin Sa’id bin Abi Maryam Al-Madani. Ibnul Madini berkata tentangnya dalam Al-‘Ilal (hal. 109): “Laa Na’rifuhu (Kami tidak mengenalnya).” Asy-Syaikh Al-Albani menghukuminya sebagai hadits munkar. (Tamamul Minnah hal. 324-325)

18 Diriwayatkan oleh Al-Baghawi dalam Tafsir-nya (4/320). Dalam sanad hadits ada Abu Thibyah Al-Jurjani, dan Syuja’. Keduanya majhul (tidak dikenal). Ahmad bin Hambal berkata: “Hadza Haditsun Munkar Wa Syuja’ La a’rifuhu (Hadits ini munkar. Adapun Syuja’, aku tidak mengenalnya).”

19 Tabi’in muhadhram (Seorang yang menjumpai zaman Nabi n akan tetapi tidak berjumpa dengan beliau), meninggal tahun 61 H atau 63 H.

20 Al-Fasawi meriwayatkan dalam Al-Ma’rifah wat-Tarikh (2/564), juga disebutkan Al-Khathib Al-Baghdadi dalam Al-Kifayah Fi ‘ilmir Riwayah (hal. 431).

Pembagian Waris dalam Al Quran

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Karimah Askari)

 

“Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). Katakanlah: ‘Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaitu): jika seorang meninggal dunia, dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan, maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya, dan saudaranya yang laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan), jika ia tidak mempunyai anak; tetapi jika saudara perempuan itu dua orang, maka bagi keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal. Dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara-saudara laki dan perempuan, maka bagian seorang saudara laki-laki sebanyak bagian dua orang saudara perempuan. Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu, supaya kamu tidak sesat. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu’.” (An-Nisa’: 176)

Penjelasan Beberapa Mufradat Ayat
Al-kalaalah berasal dari kata al-iklil, yang berarti sesuatu yang meliputi/melilit seluruh bagian kepala. Yang dimaksud di sini adalah seseorang yang meninggal dan tidak meninggalkan ushul dan furu’ dari kerabatnya1. Telah diriwayatkan oleh Asy-Sya’bi dari Abu Bakr Ash-Shiddiq z bahwa beliau ditanya tentang al-kalaalah. Beliau menjawab: “Aku menjawab dengan pendapatku, jika benar maka itu dari Allah l dan jika salah maka itu dariku serta dari setan, dan Allah l serta Rasul-Nya n berlepas diri darinya. Al-kalaalah adalah orang yang tidak punya anak dan orangtua.” Ketika Umar bin Al-Khaththab z memegang khilafah, beliau berkata: “Sesungguhnya aku malu menyelisihi Abu Bakr dalam pendapatnya.” (Diriwayatkan Ibnu Jarir t dan yang lainnya).
Ibnu Abi Hatim t meriwayatkan dengan sanadnya sampai kepada Thawus t bahwa beliau berkata: Aku mendengar Abdullah bin Abbas c berkata: “Aku adalah yang paling akhir mengetahui tentang Umar bin Al-Khaththab z. Aku mendengar dia berkata: ‘Pendapat yang benar adalah apa yang aku katakan (3x), al-kalaalah adalah orang yang tidak memiliki anak dan orangtua’.”
Demikian pula yang dikatakan Ali bin Abi Thalib dan Ibnu Mas’ud c. Juga telah shahih dari beberapa jalan dari Ibnu Abbas, Zaid bin Tsabit c, dan ini adalah pendapat Asy-Sya’bi, An-Nakha’i, Al-Hasan Al-Bashri, Qatadah, Jabir bin Zaid, dan Al-Hakam. Ini juga pendapat ulama Madinah, Kufah, dan Bashrah, dan merupakan pendapat tujuh  fuqaha’ dan empat Imam serta pendapat jumhur dari kalangan salaf dan khalaf seluruhnya. Beberapa ulama telah menukil ijma’ dalam hal ini, dan telah datang hadits marfu’ tentang hal ini. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir, 1/461, dalam menafsirkan ayat ke-12 dari surah An-Nisa’)
Sababun Nuzul (Sebab Turunnya Ayat)
Dari Jabir bin Abdillah c, dia berkata: “Rasulullah n masuk ke tempatku dalam keadaan aku sedang sakit dan belum siuman (pingsan). Lalu beliau berwudhu dan menuangkan air wudhunya kepadaku. Maka akupun siuman, lalu aku bertanya: ‘Harta warisan ini milik siapa, wahai Rasulullah? Sesungguhnya yang mewarisi hartaku adalah dari kalalah.’ Maka turunlah ayat warisan.” (HR. Al-Bukhari no. 191 dan Muslim no. 1616)
Dalam riwayat lain yang diriwayatkan Al-Imam Muslim t disebutkan bahwa Jabir z berkata: “Aku dalam keadaan sakit, lalu Rasulullah n bersama Abu Bakr z mendatangiku. Keduanya berjalan kaki menjengukku. Ketika itu aku sedang pingsan. Maka beliau berwudhu dan menuangkan air wudhunya kepadaku. Akupun siuman lantas aku bertanya: ‘Wahai Rasulullah, bagaimana aku memberi keputusan terhadap hartaku?’ Maka beliau n tidak menjawab sedikitpun hingga turun ayat warisan tersebut.” (HR. Muslim no. 1616)
Penjelasan Makna Ayat
As-Sa’di t menjelaskan ayat ini dalam tafsirnya Taisir Al-Kariim Ar-Rahman. Beliau t berkata: Allah l mengabarkan bahwa sebagian orang meminta fatwa kepada Rasulullah n tentang al-kalaalah. Yang menunjukkan hal tersebut adalah firman Allah (artinya): “Katakanlah: Allah yang menfatwakan kepada kalian tentang al-kalaalah” yaitu seorang yang meninggal dalam keadaan tidak mempunyai anak kandung dan tidak pula cucu dari anak laki-laki, tidak pula ayah dan kakek. Oleh karenanya Allah menyatakan: “Jika seseorang meninggal dan dia tidak mempunyai anak” yaitu anak laki-laki dan perempuan, baik anak kandung ataupun cucu dari anak laki-laki. Demikian pula dia tidak mempunyai ayah, dengan dalil bahwa saudara laki-laki dan perempuan mendapatkan warisan berdasarkan ijma’, dan mereka tidak mendapatkan warisan jika terdapat ayah. Maka jika ia meninggal dan tidak mempunyai ayah dan keturunan, namun dia mempunyai satu saudara perempuan sekandung atau seayah, bukan saudara seibu –sebab saudara seibu telah disebutkan hukumnya (pada ayat ke-12)–, maka baginya (satu saudara perempuan kandung/seayah itu) mendapat setengah dari harta peninggalan saudaranya baik berbentuk uang, barang, atau perabot rumah tangga, dan yang lainnya.
Pembagian warisan tersebut dilakukan setelah pelunasan utang dan pelaksanaan wasiat. Saudara laki-laki sekandung/seayah mendapatkan warisan dari saudara perempuannya yang meninggal, jika yang meninggal tersebut tidak memiliki anak. Tidak disebutkan berapa persen jatah yang didapatkannya, sebab dia (saudara laki-laki ini) sebagai ‘aashib2 dan mengambil seluruh harta, jika tidak terdapat ashabul furudh dan tidak ada ‘aashib yang lain bersamanya. Atau dia mendapatkan sisa harta jika masih terdapat sisa dari harta peninggalan yang telah dibagikan kepada ashabul furudh.
Jika saudara perempuan (sekandung/seayah) berjumlah dua atau lebih maka dia mendapat 2/3 dari seluruh harta peninggalan. Jika mereka terdiri dari saudara laki-laki dan perempuan maka yang laki-laki mendapat dua kali lipat dari bagian wanita.”
Kesimpulan dari pembagian warisan dalam ayat al-kalaalah ini adalah bahwa ayat ini menjelaskan hukum waris bagi saudara kandung atau seayah, sebab saudara seibu telah disebutkan hukumnya dalam surah An-Nisa’ ayat 12. Pembagiannya sebagai berikut:
– Jika ahli warisnya hanya seorang saudara perempuan, maka dia mendapatkan seperdua atau separuh harta peninggalan.
– Jika saudara perempuan berjumlah dua atau lebih, dan tidak terdapat saudara laki-laki, maka mereka mendapat 2/3 dari harta tersebut.
– Jika ahli warisnya adalah saudara laki-laki dan tidak ada saudara wanita, maka ia mendapat sisa dari harta yang telah dibagikan kepada ashabul furudh, berapapun jumlah saudaranya.
– Jika ahli waris terdiri dari saudara laki-laki dan perempuan, maka dibagi secara adil di antara mereka. Saudara laki-laki mendapat jatah dua kali lipat dari jatah wanita.
Menyelisihi Hukum Waris Dapat Menyebabkan Kesesatan
Firman-Nya:
Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu, supaya kamu tidak sesat.
menjelaskan bahwa Allah l merinci hukum waris dalam Al-Qur’an agar dijadikan sebagai pedoman dalam pembagian harta warisan, dan hukum Allah k adalah hukum yang paling adil. Sehingga barangsiapa menyimpang dari pembagian waris yang telah ditetapkan-Nya dan menganggap bahwa hukum Allah l tersebut “tidak adil” atau “tidak sesuai dengan perkembangan zaman”, dan yang semisalnya, maka dia telah tersesat dari petunjuk Allah l Yang Maha Adil.
Telah diriwayatkan oleh Ibnu Jarir t dengan sanadnya bahwa Ibnu Juraij berkata tatkala menafsirkan ayat ini “Allah menjelaskan kepada kalian jangan sampai kalian tersesat”, yaitu dalam perkara hukum waris. Ibnu Jarir t berkata: “Agar kalian tidak tersesat dalam perkara hukum waris dan pembagiannya, yaitu agar kalian tidak menyimpang dari kebenaran dan salah dalam menerapkan hukum atasnya, yang menyebabkan kalian menyimpang dari jalan yang lurus.” (Tafsir At-Thabari)
Demikian pula yang dikatakan oleh Al-‘Allamah As-Sa’di t: “Allah l menerangkan kepada kalian hukum-hukum yang kalian butuhkan, menjelaskan dan merincinya untuk kalian. Hal ini merupakan anugerah dan kebaikan dari-Nya agar kalian mendapat hidayah dari penjelasan-Nya, serta menerapkan hukum-Nya agar kalian tidak tersesat dari jalan yang lurus disebabkan kejahilan dan ketidaktahuan kalian.” (Taisir Al-Karimirrahman)
Sebuah pertanyaan ditujukan kepada Al-Lajnah Ad-Da’imah:
Ada syubhat yang sering diutarakan oleh musuh-musuh Allah l. Mereka mengatakan: “Agama ini menzalimi wanita. Tatkala ada seorang lelaki meninggal dan dia meninggalkan ayah, ibu, istri dan beberapa anak, juga meninggalkan harta warisan, maka ayahnya mengambil bagiannya, dan istri mengambil setengah harta, padahal ayahnya bukan seorang yang memberi nafkah (kepada si mayit). Mengapa istri hanya mengambil setengah? Mengapa dia tidak mengambil bagiannya dengan sempurna seperti ayah?”
Jawabannya:
“Yang benar dalam pembagian harta waris dari pertanyaan yang disebutkan adalah didahulukan melunasi utang si mayit (orang yang meninggal) tersebut jika dia mempunyai utang. Kemudian dilaksanakan wasiat yang syar’i jika dia berwasiat. Kemudian yang tersisa dibagi menjadi 24 bagian. Istrinya mendapat seperdelapan karena memiliki anak, yaitu 3 bagian dari 24 bagian tersebut. Ayahnya mendapat seperenam, 4 dari 24 bagian. Ibunya mendapat seperenam, 4 dari 24 bagian. Sisanya 13 dari 24 bagian diberikan kepada anak-anaknya. Anak lelaki mendapat dua kali lipat dari bagian anak perempuan. Ini bukanlah perbuatan zalim kepada istri, tidak pula kepada ibu, ayah, dan anak-anaknya. Bahkan ini merupakan kebijakan dan keadilan. Hal itu telah ditunjukkan oleh dalil dan ijma’ umat ini. Allah l berfirman:
“Allah mewasiatkan kepada kalian terhadap anak-anak kalian, bagi seorang laki-laki mendapat dua bagian wanita.” (An-Nisa’: 11)
Hingga firman-Nya:
“Barangsiapa bermaksiat kepada Allah dan rasul-Nya serta melampaui batasan-batasannya maka Allah akan masukkan dia ke dalam neraka dan kekal di dalamnya, dan baginya mendapatkan azab yang menghinakan.” (An-Nisa’: 14)
Wabillahi at-taufiq, shalawat dan salam atas nabi kami Muhammad n, keluarga dan para sahabatnya.
Ketua: Abdul Aziz bin Baz
Wakil: Abdurrazzaq Afifi
Anggota: Abdullah bin Ghudayyan
Anggota: Abdullah bin Qu’ud
(Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah,16/427-428)
Islam adalah Agama yang Adil
Firman-Nya:
“Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
menjelaskan bahwa Allah l Maha Mengetahui segala sesuatu, baik urusan dunia maupun akhirat. Konsekuensinya, Allah l lebih mengerti tentang kemaslahatan para hamba-Nya dan lebih bijaksana dalam menetapkan hukum-hukum-Nya. Sehingga apa yang telah menjadi ketetapan hukum Allah k dalam setiap permasalahan –termasuk  dalam hal menetapkan pembagian warisan– adalah ketetapan hukum yang terbaik, terbijak, teradil, dan jauh dari kezaliman. Siapapun yang menuduh bahwa hukum Allah l adalah hukum yang zalim, sungguh dia telah kafir. Firman-Nya:
“Bukankah Allah Hakim yang seadil-adilnya?” (At-Tin: 8)
Juga firman-Nya:
“Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya.” (Hud: 45)
Makna ahkamul hakimin adalah yang paling bijak dalam menetapkan hukum, yang tidak menganiaya dan menzalimi siapapun.” (lihat Tafsir Ibnu Katsir dalam menafsirkan Surah At-Tin ayat 8)
Asy-Syaikh Abdull Aziz bin Baz t berkata tatkala beliau membantah sebuah tulisan yang dimuat salah satu surat kabar yang di dalam tulisan tersebut penulisnya mengatakan:
“Saya ingin menyinggung sebuah permasalahan yaitu persamaan antara laki-laki dan wanita, yaitu persamaan secara total baik dalam bidang pendidikan pekerjaan, pertanian, bahkan dalam bidang kepolisian. Namun belum sempurna dalam masalah warisan, di mana masih ditetapkannya hukum seorang lelaki mendapat dua bagian dari wanita. Sesungguhnya hukum awal ini (yaitu pembagian warisan, pent.) mungkin dapat ditolerir tatkala seorang lelaki menjadi pemimpin atas seorang wanita, dan memang demikian. Dahulu seorang wanita dalam status kemasyarakatan tidak dibolehkan untuk disamakan kedudukannya dengan kaum lelaki. Dahulu anak wanita dikubur hidup-hidup, diperlakukan secara hina, sedangkan sekarang wanita terjun langsung dalam pekerjaan, dan boleh jadi seorang wanita yang mengurusi saudara-saudara lelakinya yang lebih muda umurnya. Seperti contoh istri saya, dia yang melakukan lembur di malam hari untuk memenuhi kebutuhan saudara laki-lakinya. Dia begadang melakukan setiap pekerjaan yang melelahkan dalam bertani untuk memenuhi kebutuhan saudaranya. Dia juga berusaha membukakan berbagai kemudahan bagi saudara lelakinya itu untuk belajar dan bersemangat dalam mewujudkan harapan ayahnya yang ingin agar anaknya tersebut bisa menjadi seorang pengacara. Apakah termasuk hal yang dibenarkan jika seorang wanita mendapatkan setengah bagian dari apa yang didapatkan oleh saudara kandungnya tersebut dalam kondisi seperti ini?! Maka hendaklah kita berusaha menempuh cara ijtihad dalam memecahkan masalah kita ini dan bersegera untuk melakukan revisi terhadap hukum-hukum syariat, sesuai kondisi masyarakat modern. Telah kami jelaskan tentang keharusan mencegah poligami berdasarkan ijtihad dalam memahami ayat…”
Maka Asy-Syaikh Ibnu Baz t berkata mengomentari makalah ini:
“Ini merupakan jenis lain dari kekufuran yang jelas. Karena dia menyangka bahwa memberi setengah kepada wanita dari apa yang diberikan kepada laki-laki merupakan kekurangan, dan bukanlah suatu kewajaran untuk tetap di atas hukum tersebut setelah seorang wanita turut bekerja. Dia juga melarang poligami dengan alasan ijtihad. Juga bahwasanya wajib melakukan revisi terhadap hukum-hukum syariat dengan ijtihad berdasarkan perkembangan masyarakat. Dia menyebutkan bahwa hal ini merupakan kewajiban pemerintah sebagai amirul mukminin. Ini merupakan perkara yang paling batil, mengandung kejahatan yang besar, dan kerusakan yang meluas.” (Fatawa Ibni Baz, 1/87-88). Wallahul musta’an.

1 Yang dimaksud ushul dalam ilmu waris adalah ayah, ibu, dan seterusnya dari kakek dan nenek yang termasuk ahli waris. Sedangkan furu’ adalah anak, cucu, dan seterusnya yang termasuk dari ahli waris. Adapun seperti saudara, paman, dan yang semisalnya disebut hasyiah.

2 Ashib adalah orang yang mendapatkan bagian harta warisan tanpa ada ukuran tertentu namun mendapatkan sisa harta. Jika tidak ada seorangpun ashabul furudh maka ashib mendapatkan seluruh harta. Namun jika terdapat dari mereka yang hidup maka aashib mendapat sisa setelah diberikan kepada ashabul furudh. Tentang istilah ashabul furudh dan ashib bisa dilihat kembali pada artikel Kajian Utama Selayang Pandang Hukum Waris Islam.

Kasus-kasus Seputar Waris

(ditulis oleh: Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi)

 

Para pembaca yang mulia, telah berlalu pembahasan demi pembahasan seputar hukum waris Islam dan beberapa poin penting yang terkait dengannya, semoga bisa diikuti dan dipahami dengan sebaik-baiknya. Selanjutnya, perlu kami perkenalkan kepada para pembaca sekalian beberapa contoh kasus seputar permasalahan waris, agar lebih mendalami kasus-kasus tersebut dan lebih terbimbing manakala dihadapkan dengannya. Di antara contoh kasus seputar permasalahan waris adalah:

 

1. Seseorang meninggal dunia dalam keadaan tidak mempunyai ahli waris, maka untuk siapakah harta warisnya?

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di t ketika menafsirkan surat Al-Anfal ayat 75 mengatakan: “Tidaklah mewarisi harta si mayit kecuali karib kerabatnya dari para ‘ashabah maupun ashhabul furudh (ahli waris, pen.). Jika tidak didapati para ahli waris tersebut maka yang mewarisinya adalah yang terdekat hubungannya dengan si mayit dari kalangan dzawil arham (para kerabat dekat yang tidak termasuk ashhabul furudh dan tidak pula ‘ashabah).” (Taisirul Karimirrahman, hal. 289)

Pendapat inilah yang difatwakan oleh sahabat ‘Umar bin Al-Khaththab, Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Mas’ud, Abdullah bin Abbas, juga Abu Hanifah, Ahmad bin Hanbal, serta generasi akhir dari kalangan mazhab Maliki dan Syafi’i.1 Demikian pula yang dipilih Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, dan Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan. (Lihat Al-Fawaidul Jaliyyah Fil Mabahits Al-Faradhiyyah, hal. 102, program Al-Maktabah Asy-Syamilah II, Tashilul Faraidh, hal. 73 dan At-Tahqiqat Al-Mardhiyyah Fil Mabahits Al-Faradhiyyah, hal. 263-264)

Siapa sajakah yang termasuk dzawil arham itu?

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz berkata: “Mereka ada sebelas jenis:

1) Para cucu dari anak-anak perempuan dan anak-anak para cucu perempuan dari anak lelaki (cicit) dan ke bawahnya.

2) Anak saudara perempuan secara mutlak; sekandung, sebapak saja dan seibu saja (keponakan).

3) Anak perempuan dari saudara lelaki; sekandung dan sebapak saja, tidak termasuk yang seibu (keponakan) dan para cucu perempuan dari jalur anak lelaki saudara tersebut.

4) Anak saudara seibu (keponakan).

5) Paman (seibu); baik paman (saudara bapak yang seibu) dari si mayit, paman bapak (saudara kakek seibu) dari si mayit atau paman kakek (saudara buyut lelaki seibu) dari si mayit.

6) Bibi dari jalur bapak secara umum; baik bibi dari jalur bapak si mayit, bibi kedua orangtua si mayit dari jalur bapaknya masing-masing, bibi dari kakek si mayit dari jalur bapaknya (saudara perempuan buyut lelaki dari kakek) ataupun bibi dari nenek si mayit dari jalur bapaknya (saudara perempuan buyut lelaki dari nenek).

7) Anak perempuan paman dari jalur bapak; baik yang sekandung, sebapak saja ataupun seibu saja (saudara sepupu).

8) Paman dan bibi (saudara-saudara ibu; baik yang sekandung, sebapak saja ataupun seibu saja).

9) Para kakek yang bukan termasuk ahli waris, baik dari jalur ibu maupun jalur bapak. Seperti bapaknya ibu (kakek) dan juga bapaknya nenek (buyut lelaki) dari jalur bapak, dsb.

10) Para nenek yang bukan dari ahli waris, baik dari jalur ibu maupun jalur bapak. Seperti; Ibunya kakek (buyut perempuan) dari jalur ibu dan ibunya buyut lelaki menurut pendapat yang memasukkan keduanya ke dalam dzawil arham, dsb.

11) Semua kerabat yang mempunyai keterkaitan dengan si mayit melalui (perantara) sepuluh jenis yang telah disebutkan sebelumnya.” (Lihat Al-Fawaidul Jaliyyah Fil Mabahits Al-Faradhiyyah, hal. 102, program Al-Maktabah Asy-Syamilah II)

Bukankah dzawil arham tersebut tidak mempunyai ketentuan khusus dalam hal perwarisannya? Dengan cara apakah mereka mendapatkan bagiannya?

Para ulama berbeda pendapat dalam menentukan cara perwarisannya. Namun jumhur (mayoritas) ulama menyatakan bahwa perwarisannya dengan cara tanzil, yaitu dengan memosisikan masing-masing dari dzawil arham tersebut (baik lelaki maupun perempuan) seperti posisi ahli waris yang menjadi perantaranya dengan si mayit. Misalnya, cucu lelaki dari anak perempuan dan cucu perempuan dari anak perempuan, mereka diposisikan seperti anak perempuan (ibu mereka). Anak lelaki dan anak perempuan dari saudara perempuan (keponakan), mereka diposisikan seperti saudara perempuan (ibu mereka). Tak dibedakan antara yang lelaki dengan yang perempuan, karena yang dijadikan patokan dalam masalah ini adalah ahli waris perantaranya bukan dzat dari dzawil arham tersebut. (Lihat Al-Fawaidul Jaliyyah Fil Mabahits Al-Faradhiyyah, hal. 102, program Al-Maktabah Asy-Syamilah II, At-Tahqiqat Al-Mardhiyyah Fil Mabahits Al-Faradhiyyah, hal. 266-267 dan Al-Khulashah Fi Ilmil Faraidh, hal. 240)

 

2. Di antara hikmah dilebihkannya jatah waris anak lelaki dua kali lipat dari jatah waris anak perempuan

Asy-Syaikh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi t berkata: Firman Allah l:

“Allah mensyariatkan bagi kalian tentang (pembagian harta waris untuk) anak-anak kalian. Yaitu: bagian (jatah) seorang anak lelaki sama dengan bagian dua orang anak perempuan.” (An-Nisa’: 11)

di dalamnya memang tidak disebutkan hikmah dilebihkannya jatah waris anak lelaki atas jatah waris anak perempuan, sementara status keduanya sama dalam hal kekerabatannya dengan si mayit. Akan tetapi pada bagian lain dari Al-Qur’an Allah l telah mengisyaratkannya, sebagaimana dalam firman-Nya:

“Kaum lelaki itu adalah pemimpin bagi kaum perempuan, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (lelaki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (lelaki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (An-Nisa’: 34)

Hal itu disebabkan bahwa seorang (lelaki) yang bertanggung jawab terhadap perempuan (istri) yang dipimpinnya dan dituntut untuk selalu menafkahinya, maka (harta)nya dimungkinkan selalu berkurang. Sedangkan si perempuan (istri) yang selalu dipimpin dan dinafkahi tersebut, hartanya ada harapan terus bertambah. (Atas dasar itu) amat jelas sekali hikmah dilebihkannya jatah waris anak lelaki atas jatah waris anak perempuan, yaitu untuk menutup segala kekurangan pada harta anak lelaki yang dimungkinkan selalu terancam berkurang tersebut. (Adhwa’ul Bayan, 1/308)

 

3. Warisan saudara-saudara seibu (anak-anak ibu)

Warisan saudara-saudara seibu (anak-anak ibu) mempunyai beberapa kekhususan sebagai berikut:

– Warisan anak lelaki sama dengan warisan anak perempuan, baik dalam keadaan sendiri maupun bersama-sama. Menurut Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin t, hal itu karena keterkaitan mereka dengan si mayit dari jalur ibu (perempuan) saja, tanpa ada jalur bapak (lelaki) yang dapat menjadikan lelaki lebih banyak jatahnya dari perempuan. (Tashilul Faraidh, hal. 9)

Satu orang dari mereka (baik lelaki maupun perempuan) mewarisi 1/6 dan jika bersama-sama (baik lelaki dan perempuan, perempuan semua, ataupun lelaki semua) mewarisi 1/3, dengan berbagi sama rata pada jatah waris 1/3 tersebut. Maka berserikatnya mereka dalam fardh tertentu (1/3) tersebut menunjukkan bahwa jatah waris mereka (lelaki dan perempuan) sama. Dalilnya adalah firman Allah l:

“Jika seseorang mati, baik lelaki maupun perempuan yang tidak meninggalkan bapak dan tidak meninggalkan anak, tetapi mempunyai seorang saudara lelaki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja), maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam (1/6) harta. Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang, maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga (1/3) itu.” (An-Nisa’: 12)

– Atas dasar poin sebelumnya, maka yang lelaki dari mereka tidaklah menjadi mu’ashshib (penyebab untuk mewarisi dengan cara ta’shib) bagi yang perempuannya.

– Lelaki dari mereka tetap bisa mewarisi walaupun yang menghubungkannya dengan si mayit adalah perempuan (ibunya). Hal ini berbeda dengan selainnya dari kerabat dekat si mayit dari jalur perempuan, seperti cucu lelaki dari anak perempuan si mayit. Dia tidak terhitung sebagai ahli waris si mayit, karena yang menghubungkannya dengan si mayit adalah perempuan (ibunya).

– Secara keumuman, seorang ahli waris tidak bisa mendapatkan jatah waris manakala ada ahli waris penghubung antara dia dengan si mayit. Misalnya, cucu lelaki dari anak lelaki tidak bisa mendapatkan jatah waris manakala ada anak lelaki (dalam hal ini sebagai bapak dari cucu lelaki tersebut). Adapun saudara-saudara seibu, mereka bisa mendapatkan jatah warisnya bersama si ibu, yang dalam hal ini sebagai penghubung antara mereka dengan si mayit.

– Secara keumuman, ahli waris yang tingkatan nasabnya lebih tinggi dapat memahjubkan (menghalangi) ahli waris di bawahnya yang masih satu jenis, baik hajb hirman ataupun hajb nuqshan, sebagaimana dalam pembahasan ‘Penghalang Waris’ yang telah lalu. Akan tetapi berbeda halnya dengan saudara-saudara seibu (jika berjumlah dua orang atau lebih), justru dapat memahjubkan sang ibu yang tingkatan nasabnya di atas mereka dengan hajb nuqhshan, yaitu dari 1/3 menjadi 1/6. (Lihat At-Tahqiqat Al-Mardhiyyah Fil Mabahits Al-Faradhiyyah, hal. 91-92, Tashilul Faraidh, hal. 9 dan 55-56, dan Al-Khulashah Fi Ilmil Faraidh hal. 92-93)

 

4. Warisan saudara sesusuan

Saudara sesusuan dengan kriteria yang telah ditentukan para ulama,2 mempunyai hukum seperti saudara senasab dalam hal nikah, khalwat (berduaan tanpa mahram), kemahraman, dan saling melihat. Adapun dalam hal waris-mewarisi, maka saudara sesusuan tidak bisa saling mewarisi dengan saudara sesusuannya menurut ijma’ (kesepakatan) ulama. Karena menyusu bukanlah sebab dari sebab-sebab waris, sebagaimana dalam pembahasan ‘Sebab Waris’ yang telah lalu. (Lihat Al-Khulashah Fi Ilmil Faraidh, hal. 59-60)

 

5. Warisan anak zina dan anak li’an

Anak zina adalah seorang anak yang dilahirkan ibunya dari hubungan yang tidak syar’i (berzina). Sedangkan anak li’an adalah seorang anak yang tidak diakui oleh bapaknya hingga saling melaknat (mula’anah) dengan istrinya (ibu si anak), dengan suatu klaim (dari si bapak) bahwa anak tersebut dari lelaki lain dan bukan dari dirinya.

Menurut jumhur (mayoritas) ulama, anak zina dan anak li’an ini tidak bisa saling mewarisi dengan bapaknya dan karib kerabat bapaknya, karena tidak ada hubungan nasab –secara syar’i– antar mereka. Adapun dengan ibunya dan karib kerabat ibunya, maka bisa saling mewarisi karena nasabnya kepada si ibu diakui secara syar’i. (Lihat Al-Khulashah Fi Ilmil Faraidh, hal. 260-261)

 

6. Warisan anak angkat (adopsi)

Dahulu di masa jahiliah, anak angkat berposisi sebagai anak kandung. Dipanggil dengan nasab bapak angkatnya dan mereka pun saling mewarisi. Kemudian datanglah Islam, mengubah aturan jahiliah tersebut dengan penuh hikmah. Allah l berfirman:

“Dan Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya, dan Dia tidak menjadikan isteri-isteri kalian yang kalian dzihar itu sebagai ibu kalian. Dan Dia (Allah l) tidak menjadikan anak-anak angkat kalian sebagai anak kandung kalian (sendiri), yang demikian itu hanyalah perkataan di mulut kalian saja, dan Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan (yang benar). Panggilah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (menasabkan kepada) nama bapak-bapak mereka. Itulah yang lebih adil di sisi Allah. Jika kalian tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggillah mereka sebagai) saudara-saudara kalian seagama dan maula-maula kalian.3 Tidak ada dosa atas apa yang kalian khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) adalah apa yang disengaja oleh hati kalian, dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Ahzab: 4-5)

Menurut para mufassirin, dua ayat di atas merupakan nasikh (penghapus) bagi adat jahiliah yang memosisikan anak angkat sebagai anak kandung dengan dinasabkan kepadanya dan mewarisi hartanya. Sejak turunnya ayat tersebut, anak angkat tidak boleh dinasabkan kepada bapak angkatnya (akan tetapi dinasabkan kepada bapaknya sendiri) dan mereka pun tidak saling mewarisi satu dengan lainnya.4

Al-Imam Sa’id bin Al-Musayyib t  menegaskan bahwa anak angkat tidak bisa mendapatkan harta waris dari bapak angkatnya, namun masih memungkinkan baginya mendapatkan harta tersebut jika ada wasiat untuknya dari si bapak angkat. (Lihat Tafsir Ath-Thabari, juz 14, hal. 116, Ma’alimut Tanzil, juz 1, hal. 316, Fahmul Qur’an, juz 1, hal. 465, Ad-Durrul Mantsur, juz 6, hal. 563, Al-Muharrar Al-Wajiz, juz 5, hal. 290, At-Tahrir wat Tanwir, juz 11, hal. 204, dan Majmu’ Fatawa, juz 35, hal. 95 -program Al-Maktabah Asy-Syamilah II)

 

7. Warisan anak temuan

Anak temuan adalah seorang anak yang dibuang oleh orangtuanya karena takut menanggung nafkahnya atau karena takut ketahuan berzina. Demikian juga anak yang tersesat dan tidak terlacak siapa orangtuanya dan di mana rumahnya, kemudian dipelihara oleh seseorang yang mengasihinya. (Lihat At-Tahqiqat Al-Mardhiyyah Fil Mabahits Al-Faradhiyyah, hal. 42 dan Al-Khulashah Fi Ilmil Faraidh, hal. 260)

Apakah anak temuan bisa saling mewarisi dengan seorang yang memeliharanya?

Dalam permasalahan ini ada dua pendapat di antara para ulama:

Pertama: Pendapat jumhur (mayoritas) ulama, bahwa anak temuan tidak bisa saling mewarisi dengan seorang yang memeliharanya. Dasarnya adalah sebagaimana yang dikatakan Al-Imam Al-Khaththabi t bahwa anak temuan menurut mayoritas ahli fiqh (fuqaha) adalah seorang yang merdeka, sedangkan dia tidak mempunyai ikatan wala’ (pembebasan diri dari perbudakan) dengan siapapun. Sementara proses waris-mewarisi itu kalau tidak karena ikatan nasab, maka karena ikatan wala’. Kedua ikatan tersebut tidak didapati pada anak temuan dengan seorang yang memeliharanya itu. (Ma’alimus Sunan, juz 4, hal. 176)

Kedua: Pendapat Al-Imam Ishaq bin Rahawaih t dan salah satu pendapat dari Al-Imam Ahmad bin Hanbal t, bahwa anak temuan bisa saling mewarisi dengan seorang yang memeliharanya tersebut ketika tidak didapati ahli warisnya. Pendapat inilah yang nampaknya dikuatkan oleh Al-Imam Ibnul Qayyim t, sebagaimana dalam Tahdzibus Sunan, juz 4, hal. 179. (Diringkas dari At-Tahqiqat Al-Mardhiyyah Fil Mabahits Al-Faradhiyyah, hal. 43-44)

8. Warisan khuntsa

Khuntsa adalah seseorang yang mempunyai dua alat vital (lelaki dan perempuan) atau yang tidak mempunyai kedua-duanya. Karena keadaannya sungguh bermasalah; bukan lelaki dan juga bukan perempuan, maka ditambahlah dengan sifat musykil (bermasalah).

Khuntsa musykil ini bisa terjadi pada empat jenis ahli waris: bunuwwah (keturunan si mayit), ‘umumah (kalangan paman si mayit), ukhuwwah (kalangan saudara si mayit), dan maula (kalangan mantan budak si mayit). Adapun jenis ubuwwah (kalangan orangtua si mayit) maka tidak terjadi pada mereka. Karena statusnya yang tidak jelas ini tidak mungkin terjadi pada mereka, mengingat orang yang tidak jelas statusnya itu –secara syar’i– tidak sah untuk menikah. Sedangkan orang yang tidak menikah tentunya tak mempunyai anak, dan orang yang tidak mempunyai anak (terlebih yang tidak menikah) tidaklah bisa digolongkan ke dalam jenis ubuwwah. Atas dasar itulah, khuntsa musykil tidak mungkin dari jenis ubuwwah. (Lihat At-Tahqiqat Al-Mardhiyyah Fil Mabahits Al-Faradhiyyah, hal. 205-206)

Dalam hal warisan, khuntsa mempunyai tiga keadaan:

1) Statusnya telah jelas (lelaki atau perempuan), dalam kondisi masih mempunyai dua alat vital. Hal ini bisa diketahui dari cara buang air kecilnya; jika menggunakan alat vital lelaki maka dia lelaki dan mewarisi sebagai ahli waris lelaki. Jika buang air kecilnya menggunakan alat vital perempuan maka dia perempuan dan mewarisi sebagai ahli waris perempuan. Dengan demikian, alat vital yang tidak berfungsi itu dihukumi seperti daging tumbuh.

Kemudian jika buang air kecilnya dengan menggunakan kedua alat vitalnya secara bersama-sama, maka dikuatkan sisi yang terbanyak mengeluarkan air seni dari keduanya, dan mewarisi berdasarkan hal tersebut. Namun jika diketahui mana di antara keduanya yang lebih dahulu mengeluarkan air seni, maka yang mengeluarkan lebih dahulu itulah yang dikuatkan, dan dia mewarisi berdasarkan hal tersebut.

2) Statusnya belum jelas (lelaki atau perempuan), namun masih ada harapan untuk bisa diketahui keadaannya dengan menunggu masa baligh, saat munculnya tanda-tanda lelaki, seperti tumbuh kumis atau jenggot, keluar mani dari alat vital lelaki. Atau yang muncul adalah tanda-tanda kewanitaan, seperti datang bulan (haid), keluar mani dari alat vital perempuan, dan muncul payudaranya. Dalam keadaan demikian, masing-masing mewarisi sesuai dengan keadaannya yang telah jelas tersebut.

Namun jika ahli waris selain khuntsa musykil (yang sama-sama mewarisi dari si mayit) tidak sabar menunggu dan meminta agar harta waris segera dibagikan, maka jalan keluarnya adalah dengan melihat posisi khuntsa musykil tersebut, apakah dari kalangan bunuwwah (keturunan si mayit), ‘umumah (kalangan paman si mayit), ukhuwwah (kalangan saudara si mayit), ataukah dari kalangan maula (mantan budak). Kemudian setelah itu dibuat dua hitungan waris sesuai dengan posisi waris khuntsa musykil di atas: 1) dengan memosisikan khuntsa musykil sebagai lelaki, 2) dengan memosisikan khuntsa musykil sebagai perempuan.

Setelah itu dibagikan untuk masing-masing ahli waris (termasuk khuntsa musykil) jatah yang paling sedikit dari kedua hitungan tersebut sebagai bentuk kehati-hatian. Khuntsa musykil mendapatkan jatah warisnya dengan anggapan bahwa dia seorang perempuan, sedangkan ahli waris lainnya mendapatkan jatah warisnya dengan anggapan bahwa khuntsa musykil tersebut seorang lelaki. Adapun sisa dari harta waris ditangguhkan hingga benar-benar jelas status khuntsa musykil tersebut. Jika di kemudian hari status khuntsa musykil tersebut jelas sebagai lelaki, maka dia mendapatkan tambahan jatah dari sisa harta yang ditangguhkan tadi. Namun jika perempuan, maka para ahli waris itulah yang mendapatkan tambahan jatah dari sisa harta yang ditangguhkan tadi.

3) Tidak ada harapan untuk bisa diketahui statusnya, seperti meninggal dunia di waktu kecil, atau telah memasuki masa baligh namun tak kunjung jelas statusnya. Dalam keadaan demikian masing-masing dari ahli waris (termasuk khuntsa musykil) mendapatkan setengah dari penggabungan dua langkah penghitungan di atas. Artinya setelah dihitung dengan dua langkah penghitungan; memosisikan khuntsa musykil sebagai lelaki dan khuntsa musykil sebagai perempuan (sebagaimana pada keadaan kedua di atas), maka digabungkanlah hasil dari dua penghitungan tersebut, kemudian setelah itu dibagi dua. Hasil akhir dari pembagian inilah yang menjadi jatah waris dari masing-masing ahli waris. (Lihat At-Tahqiqat Al-Mardhiyyah Fil Mabahits Al-Faradhiyyah, hal. 206-216 dan Al-Khulashah Fi Ilmil Faraidh, hal. 227-231)

 

9. Warisan orang-orang/suatu keluarga yang mati tenggelam, tertimbun  (longsor/reruntuhan) atau terbakar

Maksud dari pembahasan ini adalah tentang warisan orang-orang (suatu keluarga yang saling mewarisi) yang tertimpa musibah secara kolektif, baik karena naik kapal laut kemudian tenggelam, tertimbun tanah longsor, kebakaran rumah/kampung, dan berbagai peristiwa lainnya yang banyak terjadi belakangan ini (hanya kepada Allah l-lah tempat berlindung).

Hukum waris di antara mereka meliputi lima keadaan:

1) Dapat diketahui dengan jelas siapa di antara mereka yang meninggal dunia belakangan. Dalam keadaan ini, yang meninggal dunia belakangan mewarisi dari yang meninggal dunia sebelumnya, dan tidak sebaliknya.

2) Dapat diketahui dengan jelas bahwa mereka meninggal dunia dalam waktu yang sama (sekaligus). Dalam keadaan ini, mereka tidak saling mewarisi karena tidak adanya syarat waris, yaitu kejelasan tentang hidupnya ahli waris setelah meninggalnya pemilik harta waris/muwarrits walau sesaat, baik bersifat pasti maupun didasari oleh dugaan kuat (hukmi).5

3) Tidak diketahui proses kematian mereka, apakah satu demi satu atau sekaligus.

4) Dapat diketahui bahwa proses kematian mereka satu demi satu, namun tidak bisa dipastikan siapa di antara mereka yang meninggal dunia belakangan.

5) Dapat diketahui siapa di antara mereka yang meninggal dunia belakangan, kemudian lupa.

Pada tiga keadaan yang terakhir ini, menurut jumhur sahabat, Al-Imam Abu Hanifah, Al-Imam Malik, Al-Imam Asy-Syafi’i, dan generasi akhir dari murid-murid Al-Imam Ahmad, mereka tidak saling mewarisi satu dengan yang lainnya, dan harta yang mereka tinggalkan diwarisi oleh ahli warisnya masing-masing yang hidup ketika terjadinya peristiwa tersebut. Pendapat inilah yang dipilih oleh Al-Imam Ibnu Qudamah, Majduddin Ibnu Taimiyah6, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah7, Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di, Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, dan Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan. (Lihat Tashilul Faraidh, hal. 132, At-Tahqiqat Al-Mardhiyyah Fil Mabahits Al-Faradhiyyah, hal. 238 dan Al-Khulashah Fi Ilmil Faraidh, hal. 251-253)

Akhir kata, sebagai penutup perlu kami sampaikan bahwa kajian waris yang diangkat dalam kesempatan kali ini belum mewakili ilmu al-faraidh sebagai disiplin ilmu tertentu. Karena cakupannya amat luas dan masing-masing pembahasannya pun membutuhkan rincian, sementara ruang rubrik dalam majalah ini terbatas dan jangkauan pemahaman para pembacanya pun amat variatif. Sehingga cukuplah kiranya yang diangkat hanya beberapa poin terpentingnya saja.

Besar harapan kami semoga dengan kajian waris ini umat Islam semakin mengenal bimbingan agamanya yang indah dan penuh hikmah, untuk kemudian berupaya mengamalkan bimbingan tersebut baik dalam permasalahan waris secara khusus ataupun dalam berbagai permasalahan lainnya.

Wallahu a’lam bish-shawab.


1 Menurut sahabat Zaid bin Tsabit, Sa’id bin Al-Musayyib, Sa’id bin Jubair, Al-Auza’i, Ibnu Jarir, dan juga generasi pertama dari kalangan mazhab Maliki dan Syafi’i; hartanya diserahkan ke baitul mal (kas negara). Namun dalil-dalil yang mendasari pendapat ini tidaklah sekuat dalil-dalil pendapat pertama yang menyatakan; hartanya untuk yang terdekat dari dzawil arham. (Untuk mengetahui lebih rinci, lihat kitab At-Tahqiqat Al-Mardhiyyah Fil Mabahits Al-Faradhiyyah, hal. 260-266, dan Al-Khulashah Fi Ilmil Faraidh, hal. 236-239)
2 Yaitu menyusu dengan susuan yang mengenyangkan, minimalnya pada lima kali kesempatan menyusu, dan pada usia susuan/haulain.
3 Seperti sahabat Salim anak angkat Abu Hudzaifah, dipanggil dengan Salim maula Abu Hudzaifah.
4 Keterangan para mufassirin di atas berlaku ketika si anak angkat bukan dari kerabat (ahli waris) bapak angkatnya. Akan tetapi jika masih ada hubungan kerabat dan termasuk ahli waris dari si bapak angkatnya, semisal anak lelaki saudara lelakinya (keponakan) atau cucu lelaki dari anak lelakinya dll, maka dia diposisikan selayaknya ahli waris dan bisa mendapatkan jatah warisnya manakala telah terpenuhi segala persyaratannya.
5 Untuk lebih jelasnya, lihatlah pembahasan yang lalu tentang ‘Syarat Waris’.
6 Beliau adalah kakek dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t, penulis kitab Muntaqal Akhbar yang kemudian disyarah (dijelaskan) oleh Al-Imam Asy-Syaukani t dalam kitab yang berjudul Nailul Authar.
7 Untuk mengetahui lebih jauh tentang beliau, baca majalah Asy-Syariah edisi 45 ‘Mengenal Lebih Dekat Ulama Kita’.

Perkara-perkara Penentu dalam Waris Mewarisi

(ditulis oleh: Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi)

 

Dalam sistem waris Islam, ada beberapa perkara yang sangat menentukan bagi terealisasinya proses waris-mewarisi. Ia meliputi rukun waris, syarat waris, sebab waris dan penghalang waris.

Tiga perkara pertama (rukun waris, syarat waris, dan sebab waris) keberadaannya diharuskan, sedangkan perkara keempat (penghalang waris) keberadaannya tidak diperbolehkan. Mengingat betapa pentingnya memahami rincian empat perkara tersebut, maka ikutilah penjelasan berikut ini.
Rukun Waris
Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan berkata: “Proses waris-mewarisi mempunyai tiga rukun yang tidak akan terealisasi suatu proses waris-mewarisi kecuali dengan keberadaannya.” (At-Tahqiqat Al-Mardhiyyah Fil Mabahits Al-Faradhiyyah, hal. 28)
Tiga rukun waris tersebut adalah:
1. Muwarrits: si mayit yang meninggalkan harta waris/pemilik harta waris.
2. Warits: ahli waris/pewaris yang berhak mendapatkan harta waris.
3. Mauruts/tarikah: harta waris yang ditinggalkan oleh si mayit. (Lihat Tashilul Faraidh, hal. 18)
Kalau tidak ada muwarrits (si mayit yang meninggalkan harta waris) maka tidak akan ada harta waris, demikian pula orang yang mewarisinya. Jika tidak ada ahli waris, maka harta waris yang ditinggalkan si mayit pun tidak ada yang mewarisinya (dari ahli waris yang sesungguhnya). Demikian pula ketika tidak ada harta waris, tidaklah mungkin bisa terjadi proses waris-mewarisi. Dari sini jelaslah bahwa keberadaan tiga rukun waris tersebut mutlak ada demi terealisasinya proses waris-mewarisi.
Syarat Waris
Syarat waris merupakan salah satu penentu bagi terealisasinya proses waris-mewarisi. Karena betapapun telah terpenuhi rukun waris sementara syarat warisnya belum terpenuhi, maka proses waris-mewarisi pun tidak bisa dilakukan. Apa sajakah syarat waris itu?
Syarat waris dalam hukum waris Islam ada tiga:
1. Kejelasan tentang meninggalnya si pemilik harta waris (muwarrits), baik meninggalnya bisa dipastikan maupun sebatas didasari dugaan yang kuat (hukmi). Bisa dipastikan, maksudnya bahwa proses kematian si pemilik harta waris tersebut benar-benar bisa dipastikan, baik dengan melihatnya secara langsung, dengan kemasyhuran akan kematiannya, atau dengan persaksian dua orang lelaki yang adil (bisa dipertanggungjawabkan). Sedangkan yang dimaksud dengan didasari dugaan yang kuat adalah bahwa vonis kematian yang dijatuhkan kepada pemilik harta waris tersebut atas dasar dugaan yang kuat. Seperti seseorang yang diduga kuat telah mati, karena sejak lama menghilang dan tak didapati lagi tanda-tanda kehidupannya.
2. Kejelasan tentang hidupnya ahli waris setelah meninggalnya si pemilik harta waris/muwarrits walau sesaat, baik secara pasti maupun didasari oleh dugaan kuat (hukmi). Maksud secara pasti adalah bahwa ahli waris tersebut dipastikan masih hidup saat meninggalnya pemilik harta waris. Kepastian ini bisa dibuktikan dengan melihatnya secara langsung, dengan kemasyhuran bahwa dia masih hidup, atau dengan persaksian dua orang lelaki yang adil (bisa dipertanggungjawabkan). Sedangkan yang dimaksud dengan didasari oleh dugaan yang kuat adalah bahwa vonis tentang hidupnya ahli waris tersebut didasari atas dugaan yang kuat. Seperti seorang anak yang masih berada di perut ibunya saat meninggalnya pemilik harta waris (muwarrits-nya) walaupun belum ditiupkan ruh kepadanya. Maka dia digolongkan ke dalam jajaran ahli waris dan bisa mendapatkan harta waris, dengan syarat dilahirkan dalam kondisi hidup.
3. Mengetahui segala hal yang terkait dengan sebab terjadinya proses waris-mewarisi tersebut dan mengetahui keterkaitan masing-masing ahli waris dengan pemilik harta waris (muwarrits)-nya. (Lihat Tashilul Faraidh, hal. 18-19)
Sebab Waris
Waris-mewarisi dalam hukum waris Islam tidaklah terjadi begitu saja. Akan tetapi amat terkait dengan sebab waris yang dengannya bisa terjadi proses waris-mewarisi. Sebab waris tersebut ada tiga:
1. Perkawinan yang dibangun di atas akad nikah yang sah. Manakala telah terlaksana suatu perkawinan yang sah, maka suami istri tersebut mempunyai hak untuk saling mewarisi walaupun belum terjadi khalwat (berduaan) maupun jima’ (hubungan sebadan) di antara mereka. Lebih-lebih lagi bila telah terjadi khalwat ataupun jima’ antara keduanya. Dalilnya adalah keumuman firman Allah l:
“Dan bagi kalian (para suami) setengah (1/2) dari harta yang ditinggalkan oleh istri-istri kalian, jika mereka tidak mempunyai anak. Jika istri-istri kalian itu mempunyai anak, maka kalian mendapat seperempat (1/4) dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau (dan) sesudah dibayar utangnya. Para istri memperoleh seperempat (1/4) harta yang kalian tinggalkan jika kalian tidak mempunyai anak. Jika kalian mempunyai anak, maka para istri memperoleh seperdelapan (1/8) dari harta yang kalian tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kalian buat atau (dan) sesudah dibayar utang-utang kalian.” (An-Nisa’: 12)
Sebab pertama ini akan terus berlaku hingga terjadinya talak bain (cerai yang ketiga kalinya, atau cerai yang pertama/kedua dan telah habis masa ‘iddah/tenggangnya) atau fasakh (pembatalan nikah). Dengan terjadinya talak bain atau fasakh, maka sejak saat itu pula mereka tidak bisa saling mewarisi lagi. Kecuali jika talak bain tersebut dijatuhkan oleh suami menjelang kematiannya yang (diduga kuat) bertujuan untuk menghalangi istri tersebut dari hak warisnya, maka dalam kondisi semacam ini si istri tetap mendapatkan jatah warisnya menurut pendapat yang rajih. Adapun talak raj’i (cerai yang pertama/kedua) dan masih dalam masa ‘iddah/tenggang, maka masih memungkinkan bagi mereka untuk saling mewarisi jika saat itu salah satunya ada yang meninggal dunia, karena statusnya masih terhitung sebagai suami-istri. (Lihat Tashilul Faraidh, hal. 20 dan 22, dan At-Tahqiqat Al-Mardhiyyah Fil Mabahits Al-Faradhiyyah, hal. 32-35)
2. Ikatan nasab, yaitu hubungan kekerabatan antara dua orang baik secara dekat maupun jauh. Hubungan kekerabatan ini meliputi ushul (bapak, ibu, kakek, dan nenek si mayit), furu’ (anak, cucu dari anak lelaki si mayit, dan terus ke bawahnya), dan hawasyi (saudara-saudara si mayit dan anak-anak lelakinya, paman-paman si mayit dan ke atasnya, anak-anak lelaki paman dan terus ke bawahnya). Dalilnya adalah firman Allah l:
“Orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan kerabat di dalam Kitab Allah). Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (Al-Anfal: 75) [Lihat At-Tahqiqat Al-Mardhiyyah Fil Mabahits Al-Faradhiyyah, hal. 37 dan Tashilul Faraidh, hal. 21]
3. Ikatan wala’, yaitu pembebasan seseorang terhadap budak tertentu, baik karena berderma semata atau karena suatu kewajiban; seperti nadzar, zakat, dan kafarah. Gambaran kasusnya adalah bila seorang mantan budak meninggal dunia dan tidak ada yang mewarisi dari kalangan ahli warisnya, maka seseorang yang dahulu membebaskannya dari perbudakan itulah yang mewarisi hartanya. Menurut jumhur (mayoritas) ulama, proses waris-mewarisi antara mantan budak dan yang membebaskannya itu hanya satu arah saja, yakni yang bisa mewarisi hanyalah pihak yang membebaskan saja, dan tidak sebaliknya. Adapun Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t dan para ulama yang bersama beliau berpandangan bahwa proses waris-mewarisi bisa terjadi dari dua arah, yakni antara mantan budak dan yang membebaskannya tersebut bisa saling mewarisi. Mereka bisa saling mewarisi manakala tidak didapati ahli waris (asli) yang mewarisi dari masing-masingnya. (Lihat At-Tahqiqat Al-Mardhiyyah Fil Mabahits Al-Faradhiyyah, hal. 37 dan Tashilul Faraidh, hal. 21)
Demikianlah tiga sebab yang dengannya bisa terjadi proses waris-mewarisi menurut kesepakatan jumhur (mayoritas) ulama.
Penghalang Waris
Penghalang waris adalah sesuatu yang dapat menghalangi ahli waris untuk mendapatkan hak warisnya (baik secara keseluruhan ataupun sebagian besarnya, pen.), meskipun telah terpenuhi padanya sebab-sebab waris. (Lihat Al-Khulashah Fi Ilmil Faraidh, hal. 45)
Penghalang waris, secara garis besar terbagi menjadi dua:
Pertama: Penghalang dalam bentuk sifat/kriteria tertentu yang dapat menghalangi ahli waris dari jatah warisnya secara keseluruhan. Penghalang jenis ini bisa menimpa seluruh ahli waris tanpa terkecuali,1 yang dalam ilmu al-faraidh dikenal dengan istilah mawani’ul irtsi (penghalang-penghalang waris). Adapun rinciannya ada tiga:
1) Perbudakan: Seorang yang berstatus budak tidaklah bisa mewarisi, karena dia dan hartanya menjadi milik tuannya. Tidak adanya hak milik bagi seseorang, merupakan penghalang syar’i baginya untuk mendapatkan harta waris. Jika si budak tersebut mendapatkan harta waris, maka harta waris itu akan menjadi milik tuannya, padahal si tuan tersebut bukan bagian dari ahli waris si mayit. Atas dasar itulah, jika seorang mayit muslim meninggalkan seorang anak muslim yang berstatus budak dan seorang cucu muslim dari kalangan merdeka, maka yang mewarisi hartanya adalah sang cucu walaupun ada bapaknya. Mengapa? Karena si bapak statusnya masih budak dan budak tidak bisa mewarisi, sedangkan sang cucu dari kalangan merdeka. (Lihat At-Tahqiqat Al-Mardhiyyah Fil Mabahits Al-Faradhiyyah, hal. 46 dan Tashilul Faraidh, hal. 28)
2) Pembunuhan yang dilakukan terhadap pemilik harta waris (muwarrits): Jika seorang ahli waris membunuh muwarrits-nya, maka si pembunuh tersebut tidak berhak mendapatkan harta waris darinya. Gambaran kasusnya adalah seorang anak (ahli waris) membunuh bapaknya (pemilik harta waris), maka si anak tersebut tidak berhak mendapatkan harta waris yang ditinggalkan bapaknya. Di antara hikmah dari ketentuan di atas adalah mencegah bermudahannya ahli waris dari perbuatan keji tersebut hanya karena untuk mendapatkan harta waris.
Lalu, apakah setiap jenis pembunuhan dapat menghalangi seseorang dari jatah warisnya? Para ulama berbeda pendapat dalam permasalahan ini. Namun menurut Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin t dan Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah bahwa pembunuhan yang menyebabkan terhalangnya seseorang dari jatah warisnya adalah pembunuhan yang bersifat bighairil haq (tidak dibenarkan secara syar’i),2 yaitu pembunuhan yang mengakibatkan qishash, membayar diyat (tebusan), atau membayar kafarah. Seperti pembunuhan dengan sengaja (qatlul ‘amd), pembunuhan semi sengaja (syibhul ‘amd),3 dan pembunuhan karena kekeliruan (khatha’an).4 (Lihat At-Tahqiqat Al-Mardhiyyah Fil Mabahits Al-Faradhiyyah, hal. 50-52 dan Tashilul Faraidh, hal. 29)
3) Perbedaan agama antara pemilik harta waris (muwarrits) dengan ahli warisnya. Gambaran kasusnya: si mayit yang meninggalkan harta waris adalah seorang muslim, sedangkan ahli warisnya non muslim (kafir). Atau sebaliknya, si mayit yang meninggalkan harta waris adalah seorang non muslim (kafir), sedangkan ahli warisnya seorang muslim. Menurut jumhur (mayoritas) ulama, masing-masingnya tidak bisa saling mewarisi. Karena secara tinjauan syar’i, hubungan di antara mereka telah terputus. Dalilnya adalah firman Allah l kepada Nabi Nuh q:
“Allah berfirman: ‘Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatan) dia adalah perbuatan yang tidak baik’.” (Hud: 46)
Demikian pula sabda Rasulullah n:
لَا يَرِثُ الْمُسْلِمُ الْكَافِرَ وَلَا الْكَافِرُ الْمُسْلِمَ
“Tidaklah seorang muslim mewarisi seorang non muslim (kafir) dan tidak pula seorang non muslim (kafir) mewarisi seorang muslim.” (HR. Al-Bukhari no. 6383 dan Muslim no. 1614, dari hadits Usamah bin Zaid c) [Lihat At-Tahqiqat Al-Mardhiyyah Fil Mabahits Al-Faradhiyyah, hal. 53 dan Tashilul Faraidh, hal. 31]
Kedua: Penghalang dalam bentuk ahli waris yang berposisi lebih kuat. Artinya keberadaan ahli waris yang secara posisi lebih kuat itu bisa menyebabkan terhalangnya ahli waris tertentu untuk mendapatkan hak warisnya, baik secara keseluruhan ataupun sebagian besarnya. Proses penghalangan ini dalam ilmu al-faraidh dikenal dengan istilah hajb. Seorang yang terhalang dari harta warisnya disebut mahjub, sedangkan penghalangnya disebut hajib. Penghalang jenis ini terbagi menjadi dua:
a. Hajb Hirman (menghalangi secara keseluruhan). Jika penghalangnya dari jenis pertama ini, maka dapat menghalangi seorang ahli waris dari jatah warisnya secara keseluruhan. Penghalang jenis ini bisa menimpa semua ahli waris kecuali enam orang; bapak, ibu, anak lelaki, anak perempuan, suami, dan istri.
b. Hajb Nuqshan (menghalangi dari jatah waris yang terbesar). Jika ada penghalang dari jenis kedua ini, maka dapat menghalangi seorang ahli waris dari jatah warisnya terbesar, sehingga ia bergeser dari jatahnya yang besar kepada jatahnya yang lebih sedikit. Penghalang jenis ini terbagi menjadi tujuh macam:
1) Menghalangi ahli waris tertentu dari jatah waris tertentu (fardh) dengan menggesernya kepada jatah waris tertentu (fardh) yang lebih sedikit. Misalnya, bergesernya suami dari jatah waris ½ kepada ¼. Demikian pula bergesernya satu orang istri atau lebih dari jatah waris ¼ kepada 1/8.
2) Menghalangi ahli waris tertentu dengan menggesernya dari suatu ta’shib kepada ta’shib yang lebih sedikit. Misalnya, saudara perempuan sekandung dan saudara perempuan sebapak yang bergeser dari ‘ashabah ma’al ghair kepada ‘ashabah bil ghair.
3) Menghalangi ahli waris tertentu dengan menggesernya dari jatah waris tertentu (fardh) kepada ta’shib yang lebih sedikit. Misalnya, bergesernya jatah waris ½ dari para pemiliknya kepada ‘ashabah bil ghair.
4) Menghalangi ahli waris tertentu dengan menggesernya dari ta’shib kepada jatah waris tertentu (fardh) yang lebih sedikit. Misalnya, bergesernya bapak dan kakek dari ta’shib kepada jatah waris tertentu (fardh).
5) Saling berserikat dalam jatah waris tertentu (fardh). Misalnya, berserikatnya para istri pada jatah waris ¼ dan 1/8, berserikatnya para pemilik jatah waris 1/3 dan juga para pemilik jatah waris 2/3 pada jatah tersebut.
6) Saling berserikat dalam ta’shib tertentu, seperti berserikatnya ‘ashabah pada suatu harta secara utuh atau pada apa yang tersisa dari ashhabul furudh.
7) Saling berserikat dalam masalah ‘aul5, di mana masing-masingnya mendapatkan jatah yang lebih (di atas kertas) namun dalam praktik nyatanya tidak demikian. (Lihat Al-Fawaidul Jaliyyah Fil Mabahits Al-Faradhiyyah, hal. 26-27 program Al-Maktabah Asy-Syamilah II)
Empat Hak yang Harus Didahulukan Sebelum Pembagian Harta Waris
Jika suatu permasalahan waris telah terpenuhi padanya rukun waris, syarat waris, sebab waris, dan tidak didapati penghalang waris, maka langkah selanjutnya adalah membagikan harta waris tersebut kepada ahli warisnya sesuai dengan apa yang dibimbingkan Allah l dan Rasul-Nya n.6
Namun perlu diketahui, ada empat perkara terkait dengan harta waris yang amat menentukan proses pembagian harta waris. Di mana proses pembagian harta waris tidak akan bisa dilakukan hingga benar-benar diselesaikan terlebih dahulu empat perkara tersebut. Empat perkara itu adalah:
1. Biaya pemakaman si mayit dan segala sesuatu yang berkaitan dengan pengurusan jenazahnya.
2. Utang dalam bentuk barang (berkaitan langsung dengan barang yang diwariskan). Seperti sepeda motor utang (kredit) milik si mayit, dll.
3. Utang secara mutlak yang tidak berkaitan dengan barang, baik utang tersebut berkaitan dengan hak Allah l seperti zakat, kaffarah, dan lain-lain, maupun yang berkaitan dengan hak manusia seperti pinjam uang, transaksi tertentu yang belum dilunasi, dan lain-lain.
4. Pelaksanaan wasiat yang ditujukan kepada selain ahli waris dengan nominal yang tidak lebih dari 1/3 harta waris. Namun jika semua ahli waris sepakat/ridha terhadap wasiat yang ditujukan kepada salah satu dari ahli waris atau jumlah nominalnya melebihi 1/3 dari harta yang diwaris, maka wasiat tersebut sah dan bisa dilaksanakan. (Untuk lebih rincinya, lihat Tashilul Faraidh, hal. 11-17)
Demikianlah empat perkara yang harus didahulukan sebelum pembagian harta waris. Jika empat perkara tersebut telah diselesaikan dengan baik, maka tibalah saatnya pembagian harta waris sesuai dengan yang dibimbingkan Allah l dan Rasul-Nya n.

1Lihat Al-Fawa’idul Jaliyyah Fil Mabahits Al-Faradhiyyah, hal. 26, program Al-Maktabah Asy-Syamilah II.
2 Dikecualikan darinya pembunuhan bil haq (dengan cara yang dibenarkan secara syar’i), misalnya seorang eksekutor yang ditugasi waliyul amr (pemerintah) untuk mengeksekusi seorang pembunuh sebagai bentuk qishash (balasan bunuh) baginya, seseorang yang membela diri hingga mengakibatkan terbunuhnya si pelaku aniaya tersebut, dll.
3 Contohnya seseorang memukul orang lain dengan menggunakan sandal, kemudian mati. Disebut semi sengaja karena di satu sisi sengaja memukul orang tersebut, namun di sisi lain tidak berniat untuk membunuhnya.
4 Contohnya seseorang membidikkan tembakan ke arah rusa, namun ternyata tembakan tersebut justru mengenai orang yang kebetulan sedang melintas di jalan tidak jauh dari rusa tersebut, hingga mati. Disebut keliru karena tidak ada niatan untuk membunuhnya dan tidak ada upaya sama sekali untuk melakukan sesuatu terhadap orang tersebut.
5 Masalah ‘aul adalah masalah berlebihnya jumlah jatah/saham ahli waris di atas jumlah ashlul mas’alah (pokok masalah), saat proses penghitungan.
6 Pembagian harta waris ini tentunya dengan melalui proses penghitungan tertentu, sebagaimana yang dirinci dalam ilmu al-faraidh.

Siapakah yang Berhak Mendapat Harta Waris

(ditulis oleh: Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi)

 

Dalam sistem waris Islam, tak semua orang bisa mendapatkan harta waris. Demikianlah ketentuan Allah l yang Maha Adil lagi Maha Bijaksana. Dengan segala hikmah dan keilmuan-Nya yang luas, Dia l memilih orang-orang yang berhak mendapatkan harta waris tersebut.

Tak hanya dari kalangan lelaki yang dipilih-Nya, dari kalangan perempuan sekalipun ada juga yang dipilih-Nya. Dari kalangan lelaki berjumlah 15 orang, sedangkan dari kalangan perempuan berjumlah 11 orang.
Dalam istilah ilmu al-faraidh, seorang lelaki yang berhak mendapatkan harta waris disebut warits (وَارِثٌ), dan jika berjumlah banyak disebut waritsuun (وَارِثُون) atau waratsah (وَرَثَةٌ). Sedangkan seorang perempuan yang berhak mendapatkan harta waris disebut waritsah (وَارِثَةٌ), dan jika berjumlah banyak disebut waritsaat (وَارِثَاتٌ). Semua itu dalam bahasa Indonesia biasa disebut dengan ahli waris atau pewaris.
Orang-orang yang berhak mendapatkan harta waris dari kalangan laki-laki adalah:
1. Anak lelaki
2. Cucu lelaki dari anak lelaki, dan seterusnya dari keturunannya yang lelaki
3. Bapak
4. Kakek (dari pihak bapak) dan ke atasnya dari jalur lelaki
5. Suami
6. Saudara lelaki sekandung
7. Saudara lelaki sebapak
8. Saudara lelaki seibu
9. Anak lelaki dari saudara lelaki sekandung (keponakan), dan seterusnya dari keturunannya yang lelaki
10. Anak lelaki dari saudara lelaki sebapak (keponakan), dan seterusnya dari keturunannya yang lelaki
11. Paman (saudara bapak sekandung)
12. Paman (saudara bapak sebapak)
13. Anak lelaki dari paman/saudara bapak sekandung (sepupu), dan seterusnya dari keturunannya yang lelaki
14. Anak lelaki dari paman/saudara bapak sebapak (sepupu), dan seterusnya dari keturunannya yang lelaki
15. Seorang lelaki yang membebaskan budak (mu’tiq), dan ashabah-nya dari jenis ‘ashabah bin-nafsi.
Jika diandaikan semuanya terkumpul dalam satu masalah waris, maka yang berhak mendapatkan harta waris dari mereka adalah anak lelaki, bapak, dan suami. (Lihat At-Tahqiqat Al-Mardhiyyah Fil Mabahits Al-Faradhiyyah, hal. 65-67 dan Al-Khulashah Fi Ilmil Faraidh hal. 62-63)
Sedangkan orang-orang yang berhak mendapatkan harta waris dari kalangan perempuan adalah:
1. Ibu
2. Anak perempuan
3. Cucu perempuan dari anak lelaki, dan seterusnya dari keturunan perempuan yang melalui jalur lelaki
4. Nenek dari pihak ibu, dan ke atasnya dari jenis perempuan
5. Nenek dari pihak bapak
6. Ibunya kakek dari pihak bapak (buyut perempuan)
7. Saudara perempuan sekandung
8. Saudara perempuan sebapak
9. Saudara perempuan seibu
10. Istri, walaupun lebih dari satu
11. Seorang perempuan yang membebaskan budak (mu’tiqah).
Jika diandaikan semuanya terkumpul dalam satu masalah waris, maka yang berhak mendapatkan harta waris dari mereka adalah ibu, anak perempuan, cucu perempuan dari anak lelaki, istri, dan saudara perempuan sekandung. Adapun jika diandaikan semua ahli waris tersebut baik dari kalangan lelaki maupun perempuan terkumpul dalam satu masalah waris, maka yang berhak mendapatkan harta waris adalah bapak, anak lelaki, suami atau istri, ibu, dan anak perempuan. (Lihat At-Tahqiqat Al-Mardhiyyah Fil Mabahits Al-Faradhiyyah, hal. 68 dan Al-Khulashah Fi Ilmil Faraidh, hal. 62-63)
Bagaimanakah cara perwarisan dari masing-masing ahli waris tersebut? Cara perwarisannya terbagi menjadi empat macam:
Pertama: Mereka yang mewarisi dengan cara fardh saja. Jumlahnya ada tujuh orang;
1) Ibu
2) Anak lelaki ibu mayit (saudara  lelaki seibu)
3) Anak perempuan ibu (saudara perempuan seibu)
4) Suami
5) Istri
6) Nenek dari pihak ibu
7) Nenek dari pihak bapak.
Kedua: Mereka yang mewarisi dengan cara ta’shib saja. Jumlahnya ada duabelas orang;
1) Anak lelaki
2) Cucu lelaki dari anak lelaki, dan seterusnya dari keturunannya yang lelaki
3) Saudara lelaki sekandung
4) Saudara lelaki sebapak
5) Anak lelaki dari saudara lelaki sekandung (keponakan), dan seterusnya dari keturunannya yang lelaki
6) Anak lelaki dari saudara lelaki sebapak (keponakan), dan seterusnya dari keturunannya yang lelaki
7) Paman (saudara bapak sekandung) dan ke atasnya
8 ) Paman (saudara bapak sebapak) dan ke atasnya
9) Anak lelaki dari paman/saudara bapak sekandung (sepupu), dan seterusnya dari keturunannya yang lelaki
10) Anak lelaki paman/saudara bapak sebapak (sepupu), dan seterusnya dari keturunannya yang lelaki
11) Seorang lelaki yang membebaskan budak (mu’tiq)
12) Seorang perempuan yang membebaskan budak (mu’tiqah).
Ketiga: Mereka yang terkadang mewarisi dengan cara fardh, terkadang pula dengan cara ta’shib, dan terkadang menggabungkan antara keduanya (cara fardh dan cara ta’shib). Jumlahnya ada dua: 1) Bapak, dan  2) Kakek.
Keempat: Mereka yang terkadang mewarisi dengan cara fardh dan terkadang pula dengan cara ta’shib, namun tidak bisa menggabungkan antara cara fardh dan cara ta’shib selama-lamanya. Jumlahnya ada empat;
1) Anak perempuan, baik satu orang ataupun lebih
2) Cucu perempuan dari anak lelaki, walaupun saudara lelaki yang menjadikannya mewarisi dengan cara ta’shib (mu‘ashshib) secara tingkatan di bawahnya (seperti; cicit/anak lelakinya cucu lelaki dari anak lelaki, pen.), baik jumlahnya satu orang atau lebih
3) Saudara perempuan sekandung, baik jumlahnya satu orang atau lebih
4) Saudara perempuan sebapak, baik jumlahnya satu orang atau lebih.
(Lihat Al-Fawaidul Jaliyyah Fil Mabahits Al-Faradhiyyah karya Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz t, hal. 13, program Al-Maktabah Asy-Syamilah II)
Mengkaji Beberapa Ayat dan Hadits Seputar Waris
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin t berkata: “Ayat-ayat waris yang Allah l sebutkan secara gamblang dalam Al-Qur’an ada tiga:
– Ayat pertama, tentang jatah waris ushul (orangtua si mayit dan yang di atasnya) dan furu’ (keturunan/anak cucu si mayit).
– Ayat kedua, tentang jatah waris suami, istri, dan anak-anak ibu (saudara seibu dari si mayit).
– Ayat ketiga, tentang jatah waris saudara-saudara si mayit selain dari pihak ibunya (saudara sekandung dan saudara sebapak).
Ayat pertama adalah firman Allah l:
“Allah mensyariatkan bagi kalian tentang (pembagian harta waris untuk) anak-anak kalian…” (An-Nisa’: 11)1
Dalam ayat ini Allah l menjelaskan bahwa ahli waris dari furu’ (keturunan/anak cucu si mayit) ada tiga macam;
1. Lelaki semua: Allah l tidak menentukan jatah waris tertentu bagi mereka. Bentuk perwarisan mereka, dengan cara ta’shib yaitu mendapatkan apa yang tersisa dari harta waris, setelah dibagikan kepada ashhabul furudh.2 Ahli waris yang mewarisi dengan cara ta’shib ini disebut dengan ‘ashabah. Jika berjumlah satu orang, maka semua yang tersisa setelah pembagian terhadap ashhabul furudh menjadi miliknya. Jika berjumlah lebih dari satu orang (dua orang ke atas), maka apa yang tersisa dari pembagian tersebut dibagi sama rata sesama mereka.
2. Perempuan semua: Jika berjumlah satu orang, maka jatahnya adalah ½ (setengah) dari harta waris. Jika berjumlah lebih dari satu orang (dua orang ke atas), maka jatah warisnya adalah 2/3 (dua pertiga) dengan dibagi sama rata sesama mereka.
3. Terdiri dari lelaki dan perempuan: Allah l tidak menentukan jatah waris tertentu bagi mereka. Sehingga mereka mewarisi dengan cara ta’shib. Adapun cara pembagian harta waris tersebut di antara mereka, maka dengan sistem jatah lelaki dua kali lipat dari jatah perempuan.
Adapun ushul (orangtua si mayit dan yang di atasnya), mempunyai dua keadaan:
1. Si mayit mempunyai beberapa anak, baik lelaki maupun perempuan:
– Jika si mayit mempunyai sejumlah anak lelaki atau lelaki dan perempuan, maka orangtua si mayit baik bapak maupun ibu mendapatkan 1/6 (seperenam) dari harta waris, sedangkan sisanya untuk anak-anak si mayit (sebagai ‘ashabah). ‘Ashabah dari jenis furu’ lebih kuat kedudukannya dari ‘ashabah jenis ushul, karena furu’ merupakan bagian dari si mayit.
– Jika anak-anak si mayit tersebut dari kalangan perempuan saja, maka mereka mengambil jatah yang telah ditentukan Allah l untuk mereka yaitu 2/3 (duapertiga), dan jika tersisa maka untuk bapak si mayit, karena dia yang paling berhak mendapatkannya dari kalangan lelaki (‘ashabah). Jika bersama anak-anak perempuan dan bapak tersebut ada ibu si mayit, maka tak terbayangkan si bapak bisa mendapatkan sisa dari harta waris tersebut.3
2. Si mayit tidak mempunyai anak. Dalam kondisi semacam ini kedua orangtua si mayit mewarisi hartanya. Sang ibu mendapat 1/3 (sepertiga), sedangkan bapak mendapatkan sisanya (‘ashabah). Kecuali jika si mayit mempunyai dua orang saudara atau lebih, maka sang ibu mendapat 1/6 (seperenam) dan sisanya untuk bapak. Kemudian jika mencermati firman Allah l:
“Dan ia diwarisi oleh kedua orangtuanya (saja)…”
Maka amat memungkinkan bagi selain kedua orangtua untuk mewarisi harta si mayit, sebagaimana dalam kasus yang dikenal dengan ‘Umariyyatani’, yaitu;
1) Si mayit tidaklah meninggalkan ahli waris kecuali suami, ibu, dan bapak.
2) Si mayit tidaklah meninggalkan ahli waris kecuali istri, ibu, dan bapak.
Dalam kondisi semacam ini suami maupun istri mengambil jatahnya terlebih dahulu (suami ½, sedangkan istri ¼), kemudian ibu mendapat 1/3 dari harta yang tersisa, sedangkan bapak mendapatkan sisanya. Karena Allah l telah menentukan jatah bapak dua kali lipat dari jatah ibu di saat yang mewarisi hanya mereka berdua saja, maka seperti itu pulalah manakala mereka berdua mewarisi bersama salah seorang ahli waris lainnya (sebagaimana kasus di atas). Wallahu a’lam.
Ayat kedua adalah firman Allah l:
“Dan bagi kalian (para suami) setengah (1/2) dari harta yang ditinggalkan oleh istri-istri kalian……..” (An-Nisa’: 12)4
Dalam ayat ini Allah l menjelaskan bahwa suami mempunyai dua keadaan:
1. Istrinya yang meninggal dunia tersebut mempunyai anak baik lelaki maupun perempuan. Dalam kondisi semacam ini, suami mendapatkan ¼ (seperempat) dari harta waris.
2. Istrinya yang meninggal dunia tersebut tidak mempunyai anak. Dalam kondisi semacam ini, suami mendapatkan ½ (setengah) dari harta waris.
Dalam ayat ini pula Allah l menjelaskan bahwa istri juga mempunyai dua keadaan:
1. Suaminya yang meninggal dunia tersebut mempunyai anak, baik lelaki maupun perempuan. Dalam kondisi semacam ini, istri mendapatkan 1/8 (seperdelapan).
2. Suaminya yang meninggal dunia tersebut tidak mempunyai anak. Dalam kondisi semacam ini, istri mendapatkan ¼ (seperempat).
Adapun anak-anak ibu (saudara seibu dari si mayit), maka Allah l menjelaskan bahwa mereka bisa mewarisi dalam kasus kalalah.5 Jika jumlahnya satu orang maka jatah warisnya adalah 1/6 (seperenam), dan jika dua orang atau lebih maka mereka bersekutu dalam 1/3 (sepertiga). Tidak ada perbedaan jatah antara lelaki dan perempuan di antara mereka (dibagi sama rata). Karena –wallahu a’lam– keterkaitan mereka dengan si mayit sebatas dari jalur ibu (perempuan) saja tanpa ada jalur dari bapak yang dapat menjadikan lelaki lebih banyak jatahnya dari perempuan.
Ayat ketiga adalah firman Allah l:
“Mereka meminta fatwa kepadamu tentang kalalah. Katakanlah: ‘Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah…’.” (An-Nisa’: 176)6
Dalam ayat ini Allah l menjelaskan jatah waris saudara-saudara si mayit selain dari jalur ibunya, dalam hal ini adalah saudara si mayit sekandung, dan juga saudara sebapak. Mereka terbagi menjadi tiga:
1. Lelaki semua: Mereka mewarisi bersama-sama (tanpa ada jatah tertentu) dan dibagi sama rata sesama mereka.
2. Perempuan semua: Mereka mewarisi dengan jatah tertentu; jika satu orang maka mewarisi ½ (setengah) dan jika dua orang atau lebih maka mewarisi 2/3 (duapertiga) yang dibagi sama rata sesama mereka.
3. Lelaki dan perempuan: Mereka mewarisi bersama-sama (tanpa ada jatah tertentu) dan dibagi dengan sistem jatah lelaki dua kali lipat dari jatah perempuan.
Adapun sabda Rasulullah n:
أَلْحِقُوا الْفَرَائِضَ بِأَهْلِهَا فَمَا بَقِيَ لِأَوْلَى رَجُلٍ ذَكَرٍ
“Berikanlah bagian/jatah pembagian waris yang Allah tentukan (1/2, 1/3, ¼, 1/6, 1/8, 2/3) kepada para pemiliknya, dan apa yang tersisa maka untuk ahli waris lelaki yang paling kuat (berhak).”  (HR. Al-Bukhari, no. 6733, dari sahabat Abdullah bin Abbas c)
Maka dapat diambil darinya jatah waris selain ushul (orangtua dan yang di atasnya), furu’ (keturunan/anak cucu si mayit), dan saudara-saudara si mayit. Tidaklah mewarisi dari mereka kecuali yang lelaki dan mewarisinya pun tanpa ada jatah tertentu (dengan cara ta’shib). Jika mereka terdiri dari beberapa jenis ahli waris, maka didahulukan yang lebih kuat/berhak, seperti: paman lebih didahulukan daripada anak paman tersebut, dan yang sekandung lebih didahulukan daripada yang sebapak saja.
Sedangkan firman Allah l:
“Orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan kerabat) di dalam Kitab Allah. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (Al-Anfal: 75)
menerangkan tentang hak waris dzawil arham (karib kerabat) yang bukan ashhabul furudh dan bukan pula ‘ashabah. Akan tetapi ayat ini bukan sebagai nash dalam permasalahan waris. Lebih dari itu, para ulama berbeda pendapat tentang waris dzawil arham (karib kerabat) tersebut.”7 (Tashilul Faraidh, hal. 7-9)

1 Kelengkapan ayat dan artinya bisa dilihat pada pembahasan yang telah lalu ‘Dasar Pijakan Ilmu Al-Faraidh’.
2 Lihat kembali maknanya pada pembahasan ‘Bentuk Perwarisan dalam Hukum Waris Islam’.
3 Menurut hemat kami –wallahu a’lam– dalam kondisi semacam ini bapak masih mendapatkan sisa waris, dengan rincian sebagai berikut; anak-anak perempuan mendapat 2/3 karena jumlah mereka lebih dari satu, ibu mendapat 1/6 karena ada anak-anak si mayit, sedangkan bapak sebagai ‘ashabah. Setelah dihitung dengan pokok masalah (ashlul mas’alah) yaitu 6, maka anak-anak perempuan mendapat 4, ibu mendapat 1 dan sisanya 1 untuk bapak.
4 Kelengkapan ayat dan artinya bisa dilihat pada pembahasan yang telah lalu ‘Dasar Pijakan Ilmu Al-Faraidh’.
5 Kalalah adalah seseorang yang meninggal dunia tanpa mempunyai bapak dan anak.
6 Kelengkapan ayat dan artinya bisa dilihat pada pembahasan yang telah lalu ‘Dasar Pijakan Ilmu Al-Faraidh’.
7 Untuk mengetahui lebih jelas tentang dzawil arham dan permasalahan warisnya, silakan membaca pembahasan berikutnya ‘Kasus-Kasus Seputar Waris’.

Selayang Pandang Hukum Waris Islam

(ditulis oleh: Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi)

 

Pengaturan Harta Waris Mutlak Di Tangan Allah l dan Rasul-Nya n

Bani Adam merupakan makhluk yang senantiasa berinteraksi dengan sesamanya. Keberadaannya yang majemuk; tua, muda, laki, perempuan, bersuku dan berbangsa, sungguh meramaikan kehidupan ini. Generasi demi generasi pun datang silih berganti seiring dengan berputarnya roda zaman. Semua itu mengingatkan kita akan kekuasaan Allah l, Pencipta alam semesta Yang Maha Kuasa lagi Maha Pengatur, Maha Memilihkan segala yang terbaik bagi hamba-Nya lagi Maha suci dan Maha Tinggi. Allah l berfirman:

“Dan Rabb-mu menciptakan segala apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia).” (Al-Qashash: 68)

Dengan kekuasaan-Nya yang mutlak Allah l menentukan segala aturan dan pilihan tersebut kepada para hamba-Nya. Baik ketentuan yang bersifat qadari/kauni (berkaitan dengan takdir Allah l yang terjadi di alam semesta) maupun yang bersifat diniy (berkaitan dengan prinsip-prinsip beragama), termasuk di dalamnya cara pembagian harta waris.

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin t berkata: “Allah l telah menentukan hukum waris tersebut dengan segala hikmah dan keilmuan-Nya. Dia mengatur pembagiannya kepada segenap ahli waris dengan cara terbaik dan teradil, yang itu merupakan konsekuensi dari hikmah-Nya yang tinggi, kasih sayang-Nya yang meliputi segala sesuatu, dan keilmuan-Nya yang luas. Sebagaimana pula Dia l menjelaskan cara pembagian tersebut dengan sebaik-baik penjelasan dan selengkap-lengkapnya. Sehingga didapatilah ayat-ayat dan hadits-hadits tentang waris benar-benar mencakup segala kemungkinan yang terjadi dalam permasalahan waris. Baik ayat-ayat dan hadits-hadits yang amat jelas dan dapat dipahami oleh semua orang ataupun yang membutuhkan perhatian khusus dalam memahaminya.” (Tashilul Faraidh, hal. 5)

Pembagian harta waris sendiri, merupakan masalah sensitif yang seringkali menjadi sumber konflik dalam sebuah keluarga. Maha Suci Allah Yang Pengasih lagi Maha Penyayang, manakala berkenan mengatur secara langsung cara pembagian harta waris tersebut sebagaimana dalam Al-Qur’an, ataupun melalui lisan Rasulullah n (sebagaimana dalam Sunnahnya). Dengan pembagian tersebut, masing-masing dari ahli waris akan mendapatkan bagian sesuai dengan porsinya, tak seorang pun dirugikan. Karena yang menetapkannya adalah Allah l Dzat Yang Maha Mengetahui, Maha Bijaksana lagi Maha Penyantun. Sebagaimana firman Allah l:

“Ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (An-Nisa’: 11)

“(Allah menetapkan yang demikian itu sebagai) syariat yang benar-benar dari Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun.” (An-Nisa’: 12)

Manakala keharmonisan sebuah keluarga yang ditinggalkan si mayit (ahli waris) sangat bergantung pada penerapan aturan pembagian tersebut, maka Allah l menegaskan:

“(Batasan-batasan hukum) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam Al-Jannah yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar. Maka barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam An-Nar sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan.” (An-Nisa’: 13-14)

Dari ayat-ayat di atas dapatlah disimpulkan bahwa Allah l menetapkan hukum waris tersebut berdasarkan keilmuan dan hikmah-Nya. Oleh karena itu, hukum waris tersebut harus diterapkan dan tidak boleh ditambah ataupun dikurangi. Berikutnya, Allah l menjanjikan Al-Jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai bagi orang-orang yang menaati-Nya dalam hal ketetapan hukum waris tersebut dengan berjalan di atasnya, dan mengancam siapa saja yang melampaui batas-batas yang telah ditetapkan-Nya dengan dimasukkan ke dalam An-Nar dan diazab dengan siksa yang menghinakan. (Lihat Tashilul Faraidh, hal. 6)

 

Bentuk Perwarisan dalam Hukum Waris Islam

Hukum waris Islam sangat sesuai dengan prinsip keadilan, bahkan merupakan kebalikan dari hukum waris jahiliah yang diliputi kezaliman. Di masa jahiliah, sang ahli waris terbatas pada anak lelaki yang mampu menunggang kuda, cakap memanah, dan siap berlaga di medan tempur. Adapun anak perempuan ataupun anak lelaki yang masih kecil, tidak mendapatkan harta waris. Di sisi lain, anak angkat (hasil adopsi) justru bisa mendapatkan harta waris tersebut. Kemudian jika si mayit tak mempunyai anak lelaki dengan kriteria di atas, maka harta warisnya pun akan berpindah kepada saudara laki-lakinya atau pamannya. (Untuk lebih rincinya, lihat At-Tahqiqat Al-Mardhiyyah Fil Mabahits Al-Faradhiyyah, hal. 17-21)

Dalam hukum waris Islam, (secara garis besar) ada dua bentuk perwarisan yang tak akan didapati pada hukum selainnya:

1. Dengan cara fardh (bil-fardhi), yaitu mendapatkan harta waris sesuai dengan jatah tertentu yang ditentukan Allah l dan Rasul-Nya n. Jatah waris yang ditentukan Allah l dan Rasul-Nya n ada enam; 1/2, 1/3, ¼, 1/6, 1/8, dan 2/3. Kemudian ditambah satu lagi, yaitu; tsulutsul baqi (1/3 dari harta yang tersisa) yang merupakan ijtihad Khalifah ‘Umar bin Al-Khaththab. Seseorang yang mewarisi harta warisnya dengan cara fardh ini disebut shahibul fardh, dan jika berjumlah banyak disebut ashhabul furudh1.

2. Dengan cara ta’shib (bit-ta’shib), yaitu mendapatkan harta waris dengan cara mengambil sisa harta yang telah dibagikan kepada ashhabul furudh, tanpa ada ketentuan jatahnya. Atau dengan mengambil seluruhnya manakala sendirian dan tidak ada ashhabul furudh yang bersamanya. Seseorang yang mewarisi harta warisnya dengan cara ta’shib ini disebut ‘ashib, dan jika berjumlah banyak disebut ‘ashabah.2

Jika dalam satu masalah waris terkumpul dua bentuk perwarisan di atas, maka yang dilakukan terlebih dahulu adalah cara fardh, kemudian setelah itu dengan cara ta’shib. Atas dasar itu, jika dalam satu masalah waris terkumpul ‘ashib/’ashabah dan shahibul fardh/ashhabul furudh, maka jatah shahibul fardh/ashhabul furudh dibagikan terlebih dahulu, kemudian yang tersisa menjadi milik ‘ashib/’ashabah. Hal ini berdasarkan bimbingan Rasulullah n:

اِقْسِمُوا الْمَالَ بَيْنَ أَهْلِ الْفَرَائِضِ عَلَى كِتَابِ الله، فَمَا تَرَكَتِ الْفَرَائِضُ فَلِأَوْلَى رَجُلٍ ذَكَرٍ

“Bagikanlah harta waris itu diantara ashhabul furudh (terlebih dahulu) sesuai dengan apa yang terdapat dalam Kitabullah, kemudian apa yang disisakan oleh ashhabul furudh adalah untuk lelaki yang terkuat (dari kalangan ‘ashabah, pen.). ” (HR. Al-Bukhari no. 6746 dan Muslim no. 1615, dari sahabat Abdullah bin Abbas c) [Lihat Al-Khulashah Fi Ilmil Faraidh, hal. 64-65]


1 Batasan minimal banyak (jamak) dalam ilmu al-faraidh adalah dua, bukan tiga.

Mengenal Ilmu Faraidh

(ditulis oleh: Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi)

 

Islam yang dibawa Rasulullah n merupakan rahmat bagi alam semesta. Keberadaannya sebagai agama yang sempurna dan diridhai Allah l benar-benar menyinari perjalanan hidup umat manusia, baik sebagai komunitas maupun individu. Semenjak belia, kehidupan anak manusia telah ditata sebaik-baiknya dalam Islam. Pada hari ketujuh dari kelahirannya, disyariatkan untuk disembelihkan dua ekor kambing (bila lelaki) dan bila perempuan disembelihkan satu ekor kambing, sebagai nasikah (aqiqah)nya. Pada hari itu pula diberi nama dan dibersihkan rambutnya (digundul). Rasulullah n bersabda:

كُلُّ غُلَامٍ رَهِيْنَةٌ بِعَقِيْقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّى

“Setiap anak kecil tergadaikan dengan aqiqahnya, pada hari ketujuh (dari kelahirannya) disembelihkan untuknya, digundul, dan diberi nama.” (HR. Abu Dawud, dari sahabat Samurah bin Jundub z. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani  t dalam Shahih Sunan Abi Dawud no. 2838)

Beliau n juga bersabda:

عَنِ الْغُلَامِ شَاتَانِ وَعَنِ الْجَارِيَةِ شَاةٌ، لَا يَضُرُّكُمْ أَذُكْرَانًا كُنَّ أَمْ إِنَاثًا

“Tentang (aqiqah) anak lelaki dua ekor kambing dan anak perempuan satu ekor kambing. Tidak masalah, apakah kambing tersebut jantan ataukah betina.” (HR. Abu Dawud, dari sahabat Ummu Kurzin x. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Shahih Sunan Abi Dawud no. 2835)

Demikian pula selanjutnya dari perjalanan hidupnya; masa tumbuh kembang, masa dewasa, dan masa tua, tak lupa diperhatikan oleh Islam baik dalam hal jasmani maupun rohani. Setelah meninggal dunia sekalipun, Islam masih memerhatikannya; disyariatkan baginya untuk dimandikan, dikafani, dishalati, dan dimakamkan dengan penuh hormat. Tak berhenti sampai di situ. Segala hal yang terkait dengan harta waris yang ditinggalkannya pun diatur dengan seadil-adilnya, bahkan dipaparkan sejelas-jelasnya dalam kitab suci Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah n, sebagaimana yang akan disebutkan dalam pembahasan ‘Dasar Pijakan Ilmu Al-Faraidh’.

Para ulama pun tak tinggal diam. Mereka merangkum berbagai masalah penting seputar permasalahan waris tersebut dalam spesialisasi ilmu tertentu yang dikenal dalam khazanah ilmu-ilmu Islam dengan sebutan ilmu al-faraidh. Sebuah ilmu yang tergolong penting dalam Islam, mengingat hukum waris Islam semuanya tercakup dalam ilmu tersebut dan umat pun (dalam setiap generasinya) senantiasa membutuhkannya.

Sahabat Umar bin Al-Khaththab z mengatakan: “Pelajarilah ilmu al-faraidh, karena ia bagian dari agama kalian.” (Lihat At-Tahqiqat Al-Mardhiyyah Fil Mabahits Al-Faradhiyyah karya Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan, hal. 15)

Para pembaca yang semoga dirahmati Allah l, untuk mengetahui lebih jelas tentang ilmu al-faraidh, ikutilah dengan saksama pembahasan berikut ini.

 

Definisi Ilmu Al-Faraidh

Menurut Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan, definisi ilmu al-faraidh yang paling tepat adalah apa yang disebutkan Ad-Dardir dalam Asy-Syarhul Kabir (juz 4, hal. 406), bahwa ilmu al-faraidh adalah: “Ilmu yang dengannya dapat diketahui siapa yang berhak mewarisi dengan (rincian) jatah warisnya masing-masing dan diketahui pula siapa yang tidak berhak mewarisi.” (Lihat At-Tahqiqat Al-Mardhiyyah Fil Mabahits Al-Faradhiyyah, hal. 11)

 

Pokok Bahasan Ilmu Al-Faraidh

Pokok bahasan ilmu al-faraidh adalah pembagian harta waris yang ditinggalkan si mayit kepada ahli warisnya, sesuai bimbingan Allah l dan Rasul-Nya n. Demikian pula mendudukkan siapa yang berhak mendapatkan harta waris dan siapa yang tidak berhak mendapatkannya dari keluarga si mayit, serta memproses penghitungannya agar dapat diketahui jatah/bagian dari masing-masing ahli waris tersebut. (Lihat Al-Khulashah Fi ‘Ilmil Faraidh karya Nashir bin Muhammad Al-Ghamidi, hal. 21)

 

Dasar Pijakan Ilmu Al-Faraidh

Dasar pijakannya adalah Al-Qur’an, Sunnah Rasulullah n, dan ijma’. Adapun Al-Qur’an, maka sebagaimana termaktub dalam Surah An-Nisa’ ayat 11, 12, dan 176. Allah l berfirman:

“Allah mensyariatkan bagi kalian tentang (pembagian harta waris untuk) anak-anak kalian. Yaitu: bagian (jatah) seorang anak lelaki sama dengan bagian dua orang anak perempuan; dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, maka bagi mereka dua pertiga (2/3) dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja, maka ia memperoleh setengah harta (1/2), dan untuk kedua orangtua (ibu bapak), bagi masing-masingnya seperenam (1/6) dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu bapaknya (saja), maka ibunya mendapat sepertiga (1/3); jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, maka ibunya mendapat seperenam (1/6). (Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar utangnya. (Tentang) orangtua dan anak-anak kalian, maka kalian tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu. Ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Dan bagi kalian (para suami) setengah (1/2) dari harta yang ditinggalkan oleh istri-istri kalian, jika mereka tidak mempunyai anak. Jika istri-istri kalian itu mempunyai anak, maka kalian mendapat seperempat (1/4) dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau (dan) sesudah dibayar utangnya. Para istri memperoleh seperempat (1/4) harta yang kalian tinggalkan jika kalian tidak mempunyai anak. Jika kalian mempunyai anak, maka para istri memperoleh seperdelapan (1/8) dari harta yang kalian tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kalian  buat atau (dan) sesudah dibayar utang-utang kalian. Jika seseorang mati, baik lelaki maupun perempuan yang tidak meninggalkan bapak dan tidak meninggalkan anak, tetapi mempunyai seorang saudara lelaki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja), maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam (1/6) harta. Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang, maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga (1/3) itu, sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar utangnya dengan tidak memberi mudarat (kepada ahli waris). (Allah l menetapkan yang demikian itu sebagai) syariat yang benar-benar dari Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Penyantun.” (An-Nisa’: 11-12)

“Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). Katakanlah: ‘Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaitu): jika seseorang meninggal dunia, dan ia tidak mempunyai anak dan saudara perempuan, maka bagi saudaranya yang perempuan itu setengah dari harta yang ditinggalkannya, dan saudaranya yang lelaki mewarisi (seluruh harta saudara perempuan), jika ia tidak mempunyai anak; tetapi jika saudara perempuan itu dua orang, maka bagi keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal. Dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara-saudara laki dan perempuan, maka bagian seorang saudara lelaki sebanyak bagian dua orang saudara perempuan. Allah menerangkan (hukum ini) kepada kalian, supaya kalian tidak sesat, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (An-Nisa’: 176)

Sedangkan Sunnah Rasulullah n, maka sebagaimana sabda beliau n:

أَلْحِقُوا الْفَرَائِضَ بِأَهْلِهَا فَمَا بَقِيَ لِأَوْلَى رَجُلٍ ذَكَرٍ

“Berikanlah bagian/jatah waris yang Allah tentukan (1/2, 1/3, ¼, 1/6, 1/8, 2/3) kepada para pemiliknya, sedangkan apa yang tersisa adalah untuk ahli waris lelaki yang paling kuat (berhak).” (HR. Al-Bukhari, no. 6733, dari sahabat Abdullah bin Abbas c)

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di t berkata: “Ayat-ayat tersebut (An-Nisa’: 11-12, pen.) dan ayat terakhir dari surat An-Nisa’ merupakan ayat-ayat yang mengandung sistem waris Islam. Sesungguhnya ayat-ayat tersebut dan hadits Abdullah bin Abbas c yang terdapat dalam Shahih Al-Bukhari:

أَلْحِقُوا الْفَرَائِضَ بِأَهْلِهَا فَمَا بَقِيَ لِأَوْلَى رَجُلٍ ذَكَرٍ

“Berikanlah bagian/jatah waris yang Allah tentukan (1/2, 1/3, ¼, 1/6, 1/8, 2/3) kepada para pemiliknya, sedangkan apa yang tersisa  untuk ahli waris lelaki yang paling kuat (berhak).”

mencakup mayoritas bahkan semua hukum waris sebagaimana yang akan anda lihat nanti, kecuali jatah waris nenek. Akan tetapi telah ditetapkan dalam beberapa kitab Sunan dari sahabat Al-Mughirah bin Syu’bah dan Muhammad bin Maslamah c bahwa Nabi n telah memberi nenek jatah waris 1/6 (seperenam), seiring dengan adanya ijma’ ulama dalam masalah tersebut.” (Taisir Al-Karimirrahman, hal. 132)

Hal serupa dinyatakan Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin t dalam Tashilul Faraidh (hal. 6) dan Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah dalam At-Tahqiqat Al-Mardhiyyah Fil Mabahits Al-Faradhiyyah (hal. 8). Hanya saja dalam pernyataan Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di t terdapat penyebutan ijma’ yang juga merupakan dasar pijakan dalam masalah waris.

 

Tujuan Ilmu Al-Faraidh

Tujuan ilmu al-faraidh adalah menyampaikan segenap hak waris kepada yang berhak mendapatkannya. (Lihat At-Tahqiqat Al-Mardhiyyah Fil Mabahits Al-Faradhiyyah, hal. 9, Tashilul Faraidh, hal. 11 dan Al-Khulashah Fi Ilmil Faraidh hal. 22 dan 26)

 

Hukum Mempelajari Ilmu Al-Faraidh

Hukum mempelajarinya adalah fardhu kifayah. Jika sebagian dari umat ini ada yang mempelajarinya, maka gugurlah dosa (kewajiban) bagi yang lainnya. (Lihat At-Tahqiqat Al-Mardhiyyah Fil Mabahits Al-Faradhiyyah, hal. 9, Tashilul Faraidh, hal. 11 dan Al-Khulashah Fi Ilmil Faraidh hal. 22 dan 26).

Wallahu a’lam.