Tanda-tanda Ilmu Yang Bermanfaat

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan)

 

Berbagai kenikmatan telah Allah l limpahkan kepada hamba-hamba-Nya, tidak ada yang mengetahui jumlahnya kecuali Allah l semata. Allah l berfirman:

“Dan jika kalian menghitung nikmat Allah, niscaya tidaklah dapat kalian menghitungnya.” (Ibrahim: 34)

Seorang hamba akan mengakui dan menyadari bahwa kenikmatan apapun, baik nikmat yang lahir maupun batin, yang ada pada dirinya maupun orang lain, itu semua adalah karunia Allah l semata yang wajib untuk disyukuri. Allah l berfirman:

“Dan apa saja nikmat yang ada pada kalian, maka dari Allah-lah (datangnya).”  (An-Nahl: 53)

“Dan (ingatlah juga), tatkala Rabbmu memaklumkan: ‘Sesungguhnya jika kalian bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat tersebut) kepada kalian, dan jika kalian mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih’.”  (Ibrahim: 7)

Demikianlah sikap seorang hamba yang bersyukur terhadap limpahan nikmat dari Allah l. Dia tidak menyandarkan nikmat tersebut kepada ilmu, kekuatan, kegigihan atau keuletan usahanya. Karena sikap seperti itu adalah sikap seorang yang kufur terhadap nikmat-nikmat Allah l, sebagaimana Qarun menyatakan tentang hartanya:

“Qarun berkata: ‘Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku’.” (Al-Qashash: 78)

Di antara sekian banyak kenikmatan yang Allah l limpahkan kepada para hamba-Nya, baik yang dzahir maupun batin, urusan agama maupun dunia, yang paling mulia adalah nikmat ilmu yang nafi’ (bermanfaat) dan amalan yang shalih. Sehingga Allah l memerintahkan hamba-hamba-Nya melalui lisan Rasul-Nya n untuk membaca surat Al-Fatihah dalam setiap rakaat shalatnya. Dari Ubadah bin Ash-Shamit z, dia berkata: Rasulullah n bersabda:

لاَ صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِأُمِّ الْقُرْآنِ

“Tidak ada shalat bagi yang tidak membaca Ummul Qur’an (Al-Fatihah).” (Muttafaqun alaih)

Sedangkan di dalamnya terdapat doa:

“Tunjukilah kami jalan yang lurus. (Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka.” (Al-Fatihah: 6-7)

Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di t berkata dalam tafsirnya:

“Tunjukilah kami, bimbinglah kami, dan berilah kami hidayah at-taufiq ke jalan yang lurus, yaitu jalan yang jelas, yang akan mengantarkan kami kepada Allah l dan surga-Nya. Yang dimaksud dengan nikmat yang telah Allah l limpahkan kepada mereka adalah mengilmui kebenaran dan mengamalkannya.

Mereka adalah beberapa golongan hamba Allah l yang disebutkan dalam firman-Nya:

“Dan barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu Nabi-nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang shalih. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (An-Nisa’: 69)

Merekalah hamba-hamba-Nya yang benar-benar merasakan nikmat syariat dan agama yang sempurna, sebagaimana Allah l firmankan:

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (Al-Ma’idah: 3)

Oleh karena itulah Rasulullah n berdoa:

اللَّهُمَّ انْفَعْنِي بِمَا عَلَّمْتَنِي، وَعَلِّمْنِي مَا يَنْفَعُنِي، وَزِدْنِي عِلْمًا

“Ya Allah, berikanlah manfaat kepadaku dengan apa yang telah Engkau ajarkan kepadaku, dan ajarilah aku hal-hal yang akan bermanfaat bagiku, dan tambahkanlah untukku ilmu.” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah, dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani t)

اللَّهُمَّ إِنِّـي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ، وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يـَخْشَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ، وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’, dari nafsu yang tidak pernah puas/cukup, dan dari doa yang tidak dikabulkan.” (HR. Muslim, Ahmad dan An-Nasa’i dari Zaid bin Arqam z)

Dengan hadits yang agung inilah, Rasulullah n memberitahukan kepada kita sebagian tanda-tanda ilmu yang bermanfaat.

 

1. Khasy-yah (Rasa takut kepada Allah l)

Allah l berfirman:

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” (Fathir: 28)

Al-Imam Ibnu Katsir t berkata dalam tafsirnya: “(Maksud ayat tersebut adalah) hanya saja yang takut kepada Allah l dengan sebenar-benar takut adalah para ulama yang mengenal-Nya. Karena ketika semakin sempurna pengenalan dan ilmu terhadap Dzat Yang Maha Agung, Yang Maha Kuasa, Yang Maha Mengetahui, Yang memiliki sifat-sifat yang sempurna dan nama-nama yang baik, akan semakin sempurna dan semakin besar pula khasyyah (rasa takut) nya.”

Ibnu Mas’ud z berkata: “Bukanlah ilmu itu karena banyaknya hadits, akan tetapi ilmu itu karena banyaknya khasy-yah.”

Sebagian salaf berkata: “Barangsiapa takut kepada Allah l maka dia adalah orang yang berilmu, dan barangsiapa yang mendurhakai Allah l maka dia adalah orang yang bodoh.”

Al-Hafizh Ibnu Rajab t berkata: “Hal itu karena ilmu yang bermanfaat itu menunjukkan atas:

a. mengenal Allah l dan hak-hak-Nya, seperti nama-nama-Nya yang berada pada puncak kebaikan dan sifat-sifat-Nya yang tinggi, serta perbuatan-perbuatan-Nya yang mulia. Hal ini berkonsekuensi agar Allah l dimuliakan, diagungkan, ditakuti, dicintai, diharap, ditawakkali, diridhai ketentuan-ketentuan-Nya, bersabar atas ujian dan cobaan dari-Nya.

b. ilmu tentang apa yang Dia cintai, yang Dia ridhai, yang Dia benci, dan Dia murkai, berupa berbagai keyakinan, amalan yang lahir maupun batin, dan ucapan.

Hal-hal tersebut menuntut siapapun yang mengilmuinya untuk segera melakukan segala hal yang dicintai dan diridhai Allah l, serta menjauhi segala yang Dia benci dan Dia murkai. Apabila ilmu tersebut membuahkan hal-hal seperti di atas terhadap pemiliknya, maka itulah ilmu yang nafi’ (bermanfaat). Ketika ilmu itu bermanfaat dan mantap di dalam hati karena Allah l, sungguh hati itu akan khusyu’.” (Bayan Fadhli ‘Ilmi As-Salaf, hal. 72)

 

2. Mengamalkannya

Allah l berfirman:

“Mengapa kalian suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kalian melupakan diri (kewajiban) kalian sendiri, padahal kalian membaca Al-Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kalian berpikir?” (Al-Baqarah: 44)

Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin t berkata: “Hal ini (mengamalkan ilmu) terjadi setelah beriman. Yaitu engkau beriman terhadap apa yang engkau ilmui lalu mengamalkannya. Di mana tidak mungkin beramal (dengan benar) kecuali dengan beriman. Maka, apabila seseorang tidak diberi hidayah untuk mengamalkan ilmu, berarti dia mengilmui berbagai perkara namun tidak mengamalkannya, sehingga ilmunya bukanlah ilmu yang bermanfaat.” (Syarh Hilyah, hal. 163)

Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah berkata (Syarh Al-Ushul Ats-Tsalatsah, hal. 19): “Karena seseorang itu tidak cukup hanya dengan belajar dan mengajar, bahkan dia harus mengamalkan ilmunya. Maka ilmu tanpa amal hanyalah menjadi hujjah yang menimpa pemiliknya. Sehingga ilmu itu bukan ilmu yang nafi’ kecuali bila disertai pengamalan. Orang yang berilmu namun tidak mengamalkannya, dia adalah orang yang dimurkai. Karena dia mengetahui kebenaran namun meninggalkannya.

Rasulullah n bersabda:

وَالْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ

“Dan Al-Qur’an itu adalah hujjah bagimu (bila mengamalkannya) atau hujjah yang menimpamu (bila tidak mengamalkannya).” (HR. Muslim dari Abu Malik Al-Asy’ari z)

Dari Abu Zaid Usamah bin Zaid c, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah n bersabda:

يُؤْتَى بِالرَّجُلِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُلْقَى فِي النَّارِ فَتَنْدَلِقُ أَقْتَابُ بَطْنِهِ فَيَدُورُ بِهَا كَمَا يَدُورُ الْحِمَارُ فِي الرَّحَا فَيَجْتَمِعُ إِلَيْهِ أَهْلُ النَّارِ فَيَقُولُونَ: يَا فُلَانُ، مَا لَكَ؟ أَلَمْ تَكُنْ تَأْمُرُ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَى عَنِ الْمُنْكَرِ؟ فَيَقُولُ: بَلَى، كُنْتُ آمُرُ بِالْمَعْرُوفِ وَلاَ آتِيهِ، وَأَنْهَى عَنِ الْمُنْكَرِ وَآتِيهِ

“Didatangkan seseorang pada hari kiamat, kemudian dilemparkan ke dalam neraka. Maka keluarlah isi perutnya. Lalu dia berputar-putar seperti berputarnya keledai di penggilingan gandum. Berkumpullah penghuni neraka (mengerumuninya) sambil berkata: ‘Wahai fulan, kenapa engkau? Bukankah engkau dahulu (di dunia) memerintahkan yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar?’ Dia menjawab: ‘Benar, aku memerintahkan yang ma’ruf namun aku tidak melakukannya. Aku melarang yang mungkar namun aku melakukannya’.” (Muttafaqun ‘alaih)

 

3. Tawadhu’

Allah l berfirman:

“Dan hamba-hamba Dzat Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati. Dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik.” (Al-Furqan: 63)

Asy-Syaikh As-Sa’di t dalam tafsirnya berkata: “Mereka berjalan dalam keadaan tenang, tawadhu’ (merendahkan diri) terhadap Allah l dan terhadap makhluk-Nya (karena Allah l). Ini adalah sifat mereka. Mereka memiliki sifat sopan, tenang, tawadhu’ terhadap Allah l dan terhadap makhluk-Nya.”

Dari ‘Iyadh bin Himar z, dia berkata: Rasulullah n bersabda:

إِنَّ اللهَ أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّى لاَ يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ وَلاَ يَبْغِي أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ

“Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku agar kalian saling tawadhu’, sehingga tidak ada seorangpun yang merasa lebih mulia atas yang lainnya, dan tidak ada seorangpun yang menzalimi yang lain.” (HR. Muslim)

Rasulullah n juga bersabda:

وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللهُ

“Tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah kecuali Allah akan meninggikan derajatnya.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah z)

Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin t berkata:

“Tawadhu’ karena Allah l memiliki dua makna:

a. engkau menundukkan diri terhadap agama Allah l, sehingga tidak sombong, congkak terhadap agama. Tidak pula engkau menolak untuk melaksanakan hukum-hukum-Nya.

b. engkau merendahkan diri terhadap hamba-hamba Allah l, karena Allah l, bukan karena takut kepada mereka. Bukan pula karena mengharapkan sesuatu yang ada pada mereka, namun hanya karena Allah l.

Kedua makna ini benar. Barangsiapa yang merendahkan diri karena Allah l semata, Allah k akan meninggikan derajatnya di dunia dan di akhirat. Hal ini adalah realita yang bisa disaksikan. Ketika seseorang bersikap tawadhu’ karena Allah k, dia berada pada derajat yang tinggi dalam pandangan manusia, disebut-sebut kebaikannya. Mereka pun mencintainya. Perhatikanlah sikap tawadhu’ Rasulullah n.” (Syarh Riyadhis Shalihin, 2/262)

Namun untuk bersikap tawadhu’ membutuhkan latihan-latihan, sebagaimana kata Al-Imam Al-Khaththabi t: “Manusia biasa tidak akan berubah dari tabiatnya. Dia tidak akan meninggalkan berbagai kebiasaan yang disukai kecuali dengan latihan yang keras dan pengobatan yang terus-menerus. Maka barangsiapa yang tidak membiasakan jiwanya untuk menerima kebenaran, dia membutuhkan latihan dan pendidikan sehingga jiwanya mencintai al-haq (kebenaran) dan tunduk kepadanya.” (A’lamul Hadits, 1/218)

 

4. Qana’ah

Qana’ah adalah ridha dan merasa cukup dengan rezeki yang Allah l karuniakan kepadanya. Rasulullah n bersabda:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَكَانَ رِزْقُهَا كِفَافًا وَقَنَّعَهُ اللهُ بِمَا آتَاهُ

“Sungguh beruntung orang yang masuk Islam dan rezeki mencukupi kebutuhan hidupnya, dan Allah menjadikannya merasa cukup (qana’ah) dengan apa yang Allah karuniakan kepadanya.” (HR. Muslim, dari Abdullah bin ‘Amr c)

Karena itu, seorang hamba harus menghiasi dirinya dengan sikap qana’ah terhadap dunia yang fana ini.

Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam berkata: “Bila engkau mengarahkan pandanganmu ke tengah-tengah kehidupan kaum muslimin, baik dahulu maupun sekarang, niscaya akan engkau dapati mayoritas orang yang menyimpang dari ash-shirathal mustaqim dikarenakan tamak terhadap harta dan tahta. Maka barangsiapa yang membukakan pintu ini untuk dirinya niscaya dia akan sering berganti (prinsip), berubah warna dan menganggap ringan urusan agamanya.” (Bidayatul Inhiraf, hal. 141)

Al-Imam Ibnul Qayyim t berkata:

“Setiap orang yang lebih memilih dan mencintai dunia dari kalangan orang yang berilmu, pasti dia akan berkata tentang Allah l (Dzat, nama, sifat, perbuatan dan syariat-Nya) dengan ucapan yang tidak benar dalam fatwa-fatwa, hukum, berita, dan konsekuensi-konsekuensinya. Karena kebanyakan hukum-hukum Allah l menyelisihi keinginan-keinginan manusia. Lebih-lebih bagi orang yang berambisi mendapatkan kedudukan atau jabatan, serta orang yang diperbudak oleh hawa nafsunya. Ambisi-ambisi mereka tidak akan terpenuhi kecuali dengan menyelisihi al-haq dan banyak menolaknya. Apabila seorang yang berilmu atau hakim lebih mencintai kedudukan, jabatan, atau hawa nafsunya, maka ambisi tersebut tidak akan terpenuhi kecuali dengan segala kebenaran yang bertentangan dengannya.

Sesungguhnya mengikuti hawa nafsu akan membutakan mata hati, sehingga dia tidak lagi bisa membedakan antara sunnah dengan bid’ah. Atau, akan menyebabkan pandangannya terbalik, sehingga dia melihat yang bid’ah sebagai sunnah dan yang sunnah sebagai bid’ah. Inilah penyakit orang-orang yang berilmu bila mereka lebih memilih dunia dan hawa nafsunya.” (Al-Iqtidha, 1/114)

Al-Hafizh Ibnu Rajab Al-Hambali t berkata:

“Pokok dari ilmu adalah ilmu tentang Allah k, yang mengharuskan untuk takut kepada-Nya, mencintai-Nya, merasa dekat dengan-Nya, tenang dengan-Nya, dan rindu kepada-Nya. Setelah itu adalah ilmu tentang hukum-hukum Allah l, hal-hal yang dicintai dan diridhai-Nya bagi seorang hamba, baik berupa ucapan, amalan, keadaan maupun keyakinan. Barangsiapa telah mewujudkan kedua macam ilmu ini, dia adalah orang berilmu, yang ilmunya bermanfaat. Dia mendapatkan ilmu yang nafi’, hati yang khusyu’, nafsu yang qana’ah, dan doa yang dikabulkan.

Namun barangsiapa yang tidak mendapatkan ilmu yang bermanfaat, dia pasti akan terjatuh pada empat hal yang Rasulullah n senantiasa berlindung darinya. Ilmunya justru menjadi hujjah dan musibah yang akan menimpa dirinya. Sehingga dia tidak akan mendapatkan manfaat dari ilmunya, karena hatinya tidak takut kepada Allah l. Hawa nafsunya tidak puas dengan dunia, bahkan semakin rakus dan serakah terhadap dunia. Doanya pun tidak dikabulkan karena dia tidak melaksanakan perintah-perintah-Nya dan tidak menjauhi hal-hal yang dimurkai dan dibenci-Nya.” (Bayan Fadhli ‘Ilmi As-Salaf, hal. 79)

Nas’alullaha al-‘afiyah (Kita memohon keselamatan kepada Allah l).

Bolehkah Menghilangkan Sihir dengan Sihir?

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Abdillah Abdurrahman Mubarak)

 

Tak sedikit masyarakat kita yang demikian bergantung dengan sihir. Dari yang ‘sekadar’ untuk ‘pagar’ agar tidak ‘diganggu’ saingan bisnisnya, berobat dari penyakit ‘kiriman’, ‘menundukkan’ orang yang disukainya, hingga yang menganggapnya sebagai cara ‘aman’ untuk melampiaskan dendam atau sakit hati.

Di antara fenomena yang merebak di tengah masyarakat kita adalah praktik perdukunan dan sihir. Sangat ironis memang, di zaman yang katanya “modern”, semakin banyak orang tak percaya diri hingga merasa “butuh bantuan” para dukun dan tukang sihir. Inna lillahi wainna ilaihi raji’un. Tidak heran mereka tega mengirim sihir kepada orang-orang yang didengki dan dimusuhinya dalam rangka mencelakainya.
Makna Sihir
Abu Muhammad Al-Maqdisi  t menerangkan: “Sihir adalah jampi-jampi, mantera, dan buhul-buhul yang berpengaruh pada hati dan badan, menyebabkan sakit dan kematian, serta bisa menjadi sebab retaknya hubungan suami istri dan menghalangi seseorang dari istrinya hingga tidak bisa ‘mendatanginya’. Termasuk sihir juga adalah memisahkan antara seseorang dengan istrinya, membuat benci salah satunya, atau menumbuhkan ‘cinta’ di antara dua orang.”
Dijelaskan oleh Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin t:
Sihir secara bahasa adalah segala sesuatu yang sangat lembut dan tersembunyi (samar) sebabnya.
Adapun secara syar’i, sihir terbagi menjadi dua bagian:
1. Buhul dan jampi-jampi, yaitu bacaan-bacaan yang dengannya tukang sihir minta bantuan kepada para setan.
2. Sihir dengan menggunakan obat-obatan dan semisalnya, memengaruhi badan, akal, dan kecenderungan orang yang terkena sihir.
Beliau jelaskan bahwa sihir jenis yang pertama adalah syirik, sedangkan yang kedua adalah ‘udwan (permusuhan dan kezaliman). (Disarikan dari Al-Qaulul Mufid Syarah Kitab At-Tauhid)
Macam-macam Sihir
Disebutkan oleh Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam bahwa sihir ada tiga macam:
1. Sihir hitam
2. Sihir merah
3. Sihir putih
Sihir hitam dan sihir merah terwujud dengan mencerca Allah l, Rasul, dan ayat-ayat-Nya, serta merusak kehormatan Al-Qur’an. Oleh karenanya seorang penyihir, Ath-Thuhi, menyebutkan dalam kitabnya (sihir merah) beberapa perkara yang dilakukan tukang sihir. Di antaranya: Menulis ayat-ayat Al-Qur’an dan meletakkannya di tempat-tempat terlarang, seperti betis orang sakit bahkan di kemaluan wanita. Na’udzubillah.
Sedangkan sihir putih adalah jampi-jampi yang mengandung kesyirikan untuk menolak sihir dan lainnya. (Lihat Irsyadun Nazhir ila Ma’rifati ‘Alamati Sihr karya Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam)
Mengenal Ciri Tukang Sihir
Mengetahui tanda-tanda tukang sihir menjadi perkara yang demikian penting. Karena untuk membedakan manusia yang satu dengan yang lainnya adalah dengan mengetahui tanda-tandanya di mana menyebutkan tanda-tanda orang yang berbuat kezaliman adalah tuntunan syariat. Allah l berfirman:
“Dan demikianlah kami terangkan ayat-ayat Al-Qur’an dan supaya jelas jalan orang-orang yang shalih, dan supaya jelas (pula) jalan orang-orang yang berdosa.” (Al-An’am: 55)
Dengan mengetahui tanda-tanda tukang sihir maka seorang muslim akan waspada dari kejahatan mereka. Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam hafizhahullah menerangkan kepada kita beberapa ciri tukang sihir. Di antara yang beliau sebutkan:
1. Tukang sihir memisahkan (merusak hubungan) seseorang dengan istri, saudara, atau temannya.
2. Mengaku bisa menyatukan dua orang yang telah berpisah serta merukunkan dua orang yang berselisih. Ketahuilah, tidak ada yang mampu mendatangkan rasa cinta kecuali Allah l.
3. Memberikan kertas yang padanya tertulis ayat-ayat Al-Qur’an setelah ditetesi darah atau disobek sebagiannya.
Di antara perkara yang sangat samar, tukang sihir menulis beberapa ayat Al-Qur’an dan doa-doa berbahasa Arab sehingga orang yang hatinya sudah terpikat akan tertipu dan berkata bahwa si tukang sihir mengobatinya dengan Al-Qur’an dan doa-doa. Padahal sesungguhnya mereka (tukang-tukang sihir) meletakkan satu tetes darah haid atau darah anjing atau lebih di bawah lembaran tadi. Padahal ini –darah haid atau darah anjing– adalah darah yang najis, karena tujuan mereka adalah mencari keridhaan setan.
4. Menipu dengan menggunakan obat-obatan.
Di antara cara yang sangat samar dilakukan oleh tukang sihir dan banyak kaum muslimin tidak mengetahuinya, ketika (tukang sihir) hendak menghilangkan sihir dari seseorang,  mereka memberikan kepada ‘pasiennya’ obat-obatan yang biasa dijual di apotek atau toko obat. Hingga yang terkena sihir tersebut bisa ‘mendatangi’ istrinya kemudian mengira (hal ini) dikarenakan obat tersebut. Ia tidak tahu bahwa sesungguhnya hal itu terjadi karena cara yang busuk dan berbahaya, yaitu tukang sihir tersebut bersepakat dengan jin untuk masuk ke kemaluan pria tersebut dan menjadikannya ‘kuat’.
5. Meminta nama si sakit, nama anak atau ibu.
Ketika datang seorang yang sakit, tukang sihir tadi berkata kepadanya: “Siapa namamu dan nama ibumu?” Ketahuilah dia adalah munajjim (ahli nujum), dan munajjim adalah tukang sihir.
6. Mengklaim telah mengetahui keadaan yang sakit sebelum diberitahu.
Di antara tanda seorang itu adalah tukang sihir, ketika datang kepadanya seseorang yang mengeluhkan sakit, pencurian atau kehilangan barang, tukang sihir tersebut telah mendahuluinya dengan menyatakan: “Namamu adalah ini, asalmu ini, masalahmu ini.” Sehingga tercengang dan kagumlah si sakit tersebut.
7. Sebagian tukang sihir mengaku bisa menyembuhkan orang sakit dengan semata meraba dengan tangannya.
8. Di antara tanda seorang itu adalah tukang sihir adalah menulis ayat-ayat Al-Qur’an secara terbalik.
9. Tukang sihir mengaku bisa menjaga janin dari keguguran.
(Ini adalah sebagian kecil yang kami sarikan dari kitab beliau, untuk tambahan faedah lihat Irsyadun Nazhir, hal. 16-43)
Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam hafizhahullah menyimpulkan:
“Tukang sihir adalah sebuah istilah yang meliputi ahli nujum, dukun, peramal –yang mengklaim mengetahui barang yang dicuri, barang hilang, dan yang semisalnya–. Keempat kelompok ini –yakni tukang sihir, ahli nujum, dukun, dan tukang ramal– mayoritasnya adalah penyembah jin dan setan….” (Lihat Irsyadun Nazhir, hal. 10)
Hukum Tukang Sihir
Hukum tukang sihir adalah dibunuh, sebagaimana telah dinyatakan oleh tiga orang sahabat: Umar, Hafshah, dan Jundub g. Namun sebagian mereka (tukang sihir) dibunuh karena hukum had dan sebagiannya dalam rangka mencegah kejahatannya. (Tentang masalah hukum sihir dan pelakunya bisa dilihat di rubrik Akidah pada Asy-Syariah Edisi 08 dan 09 Vol. I/1425 H/2004)
Sumber Ilmu Sihir di kalangan Kaum Muslimin
Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam hafizhahullah menerangkan bahwa sumber penyebarannya ada lima:
1. Orang-orang Yahudi, mereka adalah sumber kuat tersebarnya sihir.
2. Kaum Rafidhah, ini terbukti dalam buku-buku mereka seperti Miftah Al-Lauh wal Qalam.
3. Kaum sufi, juga terbukti dalam buku-buku mereka di antaranya buku yang berjudul Syamsul Ma’arif Al-Kubra.
4. Tokoh-tokoh ilmu kalam.
5. Disebar dan diperjualbelikannya buku-buku tentang sihir.
(Lihat Irsyadun Nazhir hal. 54-64)
Bolehkah Menghilangkan Sihir dengan Sihir?
Telah ada jawaban dari Rasulullah n tentang masalah ini. Diriwayatkan dari Jabir z, Rasulullah n ditanya tentang masalah nusyrah. Beliau berkata: “Itu adalah amalan setan.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan lainnya. Lihat Shahih Abu Dawud)
Asy-Syaikh Ibnu Baz t berkata: ”An-Nusyrah adalah menghilangkan sihir dengan sihir.” (Syarh Kitab At-Tauhid hal. 145)
Beliau t juga berkata: “Mengobati sihir dengan perbuatan tukang sihir yang bertaqarub kepada jin, mempersembahkan sembelihan kepadanya, atau taqarub lainnya, tidaklah diperbolehkan. Karena itu adalah perbuatan setan dan termasuk syirik besar, wajib berhati-hati darinya. Juga tidak boleh mengobati sihir dengan bertanya kepada dukun, paranormal, serta mengikuti ucapan mereka. Karena mereka adalah orang-orang yang tidak beriman, orang-orang pendusta yang fajir (jahat), yang mengaku mengetahui ilmu ghaib, dan mengelabui manusia. Rasulullah n telah memperingatkan untuk tidak mendatangi, bertanya apalagi membenarkan mereka, sebagaimana telah dijelaskan di awal risalah ini. Terdapat hadits shahih bahwasanya Rasulullah n ditanya tentang nusyrah, maka beliau menjawab: ‘Itu adalah perbuatan setan.’ Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad dan Abu Dawud dengan sanad yang jayyid. Nusyrah adalah menghilangkan sihir dari orang yang terkena sihir. Maksud ucapan beliau n adalah nusyrah yang dilakukan orang jahiliah, yakni meminta kepada tukang sihir untuk menghilangkan pengaruh sihir dari seseorang atau menghilangkannya, dengan sihir yang semisal oleh tukang sihir lainnya.” (Lihat Hukmu As-Sihr wal Kahanah, hal. 14-15)
Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam berkata: “Ketahuilah wahai kaum muslimin, bahwa pendapat yang kuat dari sekian pendapat para ulama adalah tidak boleh mengeluarkan (mengobati sihir) dengan cara tukang sihir, berdasarkan ucapan Rasulullah n ketika ditanya tentang nusyrah:
‘Itu adalah perbuatan setan.’ (HR. Ahmad no. 3868, Abu Dawud 1/294, dari Jabir z dan lainnya)
Hadits ini merupakan jawaban yang jelas menerangkan perkara yang tidak diketahui kebanyakan orang. Hadits ini memberikan faedah bahwa menghilangkan sihir dengan sihir adalah perbuatan meminta bantuan kepada setan. Setan tak akan melakukannya kecuali dengan imbalan, yaitu seseorang mau beribadah kepadanya, sehingga perkaranya adalah kekufuran. Saya kira, semua yang mengetahui masalah ini dan mendengar hadits ini, akan tegas menyatakan bahwa menghilangkan sihir dengan meminta bantuan tukang sihir adalah haram.” (Lihat Irsyadun Nazhir, hal. 83-84)
Bahaya yang ada ketika seorang pergi ke tukang sihir untuk menghilangkan sihir:
1. Orang yang pergi ke tukang sihir ikut serta bersamanya dalam menyembah setan.
2. Seringnya, sihir tidak mampu menghilangkan sihir.
3. Perginya seseorang yang terkena sihir ke tukang sihir yang tidak menyihirnya, tidak akan bisa berpengaruh apa-apa.
(Lihat Irsyadun Nazhir)
Cara Syar’i untuk Menghilangkan Sihir
Ibnul Qayyim t berkata:
“An-Nusyrah adalah menghilangkan sihir dari orang yang terkena sihir. Ada dua macamnya:
1. Menghilangkan sihir dengan sihir, ini termasuk amalan setan. Kepada makna inilah kita bawa ucapan Hasan (Al-Bashri) bahwa orang yang mencoba menghilangkan sihir dan pasiennya bertaqarub kepada setan dengan apa yang dikehendaki setan hingga hilang sihirnya.
2. Macam yang kedua: menghilangkan sihir dengan ruqyah dan dzikir-dzikir, obat-obat serta doa yang mubah. Cara yang kedua ini dibolehkan.”
Asy-Syaikh Ibnu Baz t berkata:
”Adapun menghilangkan sihir dengan cara yang syar’i telah dibolehkan oleh para ulama dan orang yang memiliki bashirah serta orang yang punya pengalaman dalam masalah ini.” (Syarh Kitab At-Tauhid)
Beliau t berkata pula: ”Di antara pengobatan yang bermanfaat terhadap sihir adalah dengan berusaha mencari tempat diletakkannya sihir: di tanah, gunung, atau selainnya. Jika telah diketahui, maka dikeluarkan, serta dimusnahkan sehingga akan hilang sihir tersebut.” (Lihat Hukmu As-Sihr Wal Kahanah, hal. 14)
Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i t pernah ditanya tentang hukum menghilangkan (menjauhkan) sihir dari yang terkena sihir. Beliau t menjawab:
”Jika dilakukan dengan (membacakan) ayat-ayat Al-Qur’an dan doa-doa yang syar’i, tidaklah mengapa. Karena Nabi n pernah berkata:
’Barangsiapa mampu memberikan manfaat bagi saudaranya hendaknya ia lakukan…’.” (Lihat Fatawa ’Aqidah, 1/84)
Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam menerangkan beberapa cara syar’i untuk menghilangkan sihir dari orang yang terkena sihir. Di antaranya:
– Banyak membaca Al-Qur’an
– Banyak berdoa
– Mengeluarkan sihir
– Menggunakan obat mubah yang baik. (Lihat Irsyadun Nazhir hal. 94)
Menjaga Diri dari Sihir
Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam menyebutkan beberapa perkara yang akan menjadi sebab seorang terhindar dari sihir. Di antaranya:
1. Takwa kepada Allah l
2. Tawakal kepada-Nya
3. Merutini dzikir-dzikir yang syar’i
4. Meyakini bahwa tukang sihir adalah pendusta
5. Memperingatkan orang lain dari tukang sihir
6. Mengusir mereka dari tempat mereka berada
7. Wajib bagi penguasa negeri muslimin untuk menegakkan hukum had terhadap tukang sihir.
Asy-Syaikh bin Baz t menerangkan: “Perkara yang bisa menjaga dari bahaya sihir sebelum terjadinya, yang terpenting dan paling bermanfaat adalah: menjaga diri dengan dzikir-dzikir syar’i dan doa-doa yang syar’i. Di antaranya juga dengan membaca ayat kursi setiap selesai shalat wajib.” (lihat Hukmu As-Sihr karya Asy-Syaikh Ibnu Baz t hal. 9)
Demikianlah sedikit permasalahan sihir dan pengobatannya yang bisa kami paparkan, mudah-mudahan bermanfaat.
Walhamdulillah.

Mengenal Hadits-hadits Lemah dan Palsu dalam Fadhail Al Qur’an

(ditulis oleh: Al-Ustadz Muhammad Rijal, Lc)

 

Diriwayatkan dari Ubai bin Ka’b z, Rasulullah n bersabda:

يَا أُبَيُّ، مَنْ قَرَأَ فَاتِحَةَ الْكِتَابِ أُعْطِيَ مِنَ الْأَجْرِ كَأَنَّمَا قَرَأَ ثُلُثَيِ الْقُرْآنِ وَأُعْطِيَ مِنَ الْأجْرِ كَأَنَّمَا تَصَدَّقَ عَلَى كُلِّ مُؤْمِنٍ وَمُؤْمِنَةٍ، وَمَنْ قَرَأَ آلَ عِمْرَانَ أُعْطِيَ بِكُلِّ آيَةٍ مِنْهَا أَمَانًا عَلَى جِسْرِ جَهَنَّمَ، وَمَنْ قَرَأَ سُورَةَ النِّسَاءِ أُعْطِيَ مِنَ الْأَجْرِ كَأَنَّمَا تَصَدَّقَ عَلَى كُلِّ مَنْ وَرَثَ مِيرَاثًا، وَمَنْ قَرَأَ الْمَائِدَةَ أُعْطِيَ عَشَرَ حَسَنَاتٍ وَمُحِيَ عَنْهُ عَشَرَ سَيِّئَاتٍ وَرُفِعَ لَهُ عَشَرَ دَرَجَاتٍ بِعَدَدِ كُلِّ يَهُودِيٍّ وَنَصْرَانِيٍّ وَتَنَفُّسٍ فِي الدُّنْيَا، وَمَنْ قَرَأَ الْأَنْعَامَ صَلَّى عَلَيهِ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ، وَمَنْ قَرَأَ الْأَعْرَافَ جَعَلَ اللهُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ إِبْلِيْسَ حِجَاباً، وَمَنْ قَرَأَ الْأَنْفَالَ أَكُونُ لَهُ شَفِيعًا وَشَاهِدًا وَبَرِيءَ مِنَ النِّفَاقِ، وَمَنْ قَرَأَ يُونُسَ أُعْطِيَ مِنَ الْأَجْرِ عَشَرَ حَسَنَاتٍ بِعَدَدِ مَنْ كَذَّبَ بِيُونُسَ وَصَدَّقَ بِهِ وَبِعَدَدِ مَنْ غَرِقَ مَعَ فِرْعَوْنَ …

“Wahai Ubai, barangsiapa membaca Al-Fatihah ia diberi pahala seperti seorang membaca dua pertiga Al-Qur’an, dan akan diberi pahala seperti bersedekah kepada setiap orang mukmin dan mukminah. Barangsiapa membaca surat Ali ‘Imran maka dari tiap ayatnya ia akan mendapatkan keamanan (saat melalui) jembatan jahannam. Barangsiapa membaca surat An-Nisa’ maka ia akan diberi pahala seperti halnya sedekah kepada semua orang yang memperoleh harta warisan. Barangsiapa membaca surat Al-Maidah maka ia akan diberi pahala sepuluh kebaikan, dileburkan darinya sepuluh kejelekan dan diangkat martabatnya sepuluh derajat setara dengan jumlah semua orang Yahudi dan Nasrani, dan nafas di dunia. Barangsiapa membaca Al-An’am maka 70.000 malaikat akan bershalawat atasnya. Barangsiapa membaca surat Al-A’raf, Allah l akan menjadikan penghalang antara dia dan iblis. Barangsiapa membaca surat Al-Anfal, aku akan memberi syafaat untuknya dan menjadi saksi baginya serta dia terbebas dari kemunafikan. Barangsiapa membaca surat Yunus akan diberi pahala sepuluh kebaikan yang setara dengan jumlah orang yang mendustakan Nabi Yunus dan yang membenarkannya, serta sebanyak orang-orang yang tenggelam bersama Fir’aun….”

Pembahasan Derajat Hadits

Demikian potongan hadits yang disandarkan kepada sahabat Ubai bin Ka’b z. Diriwayatkan Abul Faraj Ibnul Jauzi1 t dalam kitabnya Al-Maudhu’at (1/239-241) melalui dua jalan. Jalan pertama terdapat perawi bernama Badi’, dan pada jalan kedua ada perawi bernama Makhlad.

Dua jalan tersebut berporos (bertemu) pada ‘Ali bin Zaid bin Jud’an dan ‘Atha’ bin Abi Maimunah. Keduanya meriwayatkan dari Zirr bin Hubaisy, dari Ubai bin Ka’b z, dari Rasulullah n.

Pembaca rahimakumullah. Hadits Ubai z ini memang menarik perhatian. Mata sebagian manusia niscaya akan berbinar dengan pahala yang dijanjikan. Hati sebagian mereka pun berbunga dengan fadha’il (keutamaan-keutamaan) Al-Qur’an yang disebut secara rinci dari Al-Fatihah hingga An-Naas. Namun ternyata hadits di atas tergolong hadits-hadits maudhu’ (palsu), kedustaan yang dibuat-buat atas nama Rasulullah n.

Setidaknya ada dua sisi menonjol yang menyimpulkan kepalsuan hadits dan menunjukkan bahwa hadits ini mustahil terucap dari lisan Rasulullah n, yaitu kelemahan sanad, kelemahan bahasa serta makna.

Kelemahan sanad didapatkan dalam hadits ini tiga perawi yang diperbincangkan.

Pertama: Badi’. Dia adalah Badi’ bin Hibban Abul Khalil.

Al-Imam Ad-Daruquthni t berkata tentangnya: “Wa Huwa Matruk.” (Dan dia seorang yang ditinggalkan).2

Kedua: Makhlad. Dia adalah Makhlad bin ‘Abdul Wahid Abul Hudzail Al-‘Anbari Al-Bashri.

Ibnu Hibban t berkata: “Munkarul Hadits Jiddan Yanfaridu bi manakir laa tusybihu haditsa Ats-Tsiqat.” (Haditsnya sangat munkar. Ia bersendiri dalam periwayatan hadits-hadits munkar yang sedikitpun tidak ada kemiripan dengan hadits orang-orang yang terpercaya)3

Ketiga: ‘Ali bin Jud’an. Dia seorang yang dha’if (lemah).4

Adapun tinjauan kedua, terlihat bahwa hadits Ubai z di atas mengandung susunan bahasa dan makna yang sangat lemah. Tampak bagi ulama ahlul hadits bahwa hadits tersebut bukanlah dari sabda Rasulullah n, yang Allah l beri anugerah kefasihan dan jawami’ul kalim.

Ibnul Jauzi t berkata: “Kandungan hadits ini nyata menunjukkan kepalsuannya. Di dalamnya dirinci penyebutan surat-surat dan disebutkan pada masing-masingnya pahala yang disesuaikan untuk tiap surat dengan bahasa yang tak berbobot dan sangat hambar. Tidak mungkin berasal dari ucapan Rasulullah n.” (Al-Maudhu’at, 1/240)5

Nash-Nash Ulama Mengenai Kepalsuan Hadits Ubai z

Dari dua tinjauan tersebut, ulama ahlul hadits seperti Abdullah bin Al-Mubarak, Ibnul Jauzi, Ibnu Taimiyah, dan Ibnul Qayyim rahimahumullah menggolongkannya sebagai hadits maudhu’ (palsu). Bahkan Syaikhul Islam mengisyaratkan adanya kesepakatan ulama atas kepalsuannya.

Ibnul Jauzi t berkata: “Hadits tentang fadhilah-fadhilah surat-surat (Al-Qur’an) in, adalah hadits palsu, tanpa keraguan ….” (Al-Maudhu’at, 1/240)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah t berkata: “… hadits ini maudhu’ (palsu) menurut kesepakatan ahlul ilmi.” (Majmu’ Fatawa, 13/354)

Ibnul Qayyim t berkata: “Hadits-hadits yang menyebutkan fadhilah dan pahala bagi orang yang membaca surat-surat tertentu, dari Al-Fatihah sampai An-Nas, sebagaimana disebutkan oleh Ats-Tsa’labi dan Al-Wahidi pada awal tiap surat, atau Az-Zamakhsyari di akhir tafsir tiap surat, Abdullah Ibnul Mubarak t berkata tentangnya:

أَظُنُّ الزَّنَادِقَةَ وَضَعُوهَا

“Aku yakin, orang-orang zindiqlah yang memalsukannya.” (Al-Manarul Munif Fi Ash-Shahih Wadh-Dha’if hal. 113)

Demikian hukum ulama ahlul hadits terhadap riwayat Ubai bin Ka’b ini. Semoga Allah l rahmati dan balas pembelaan mereka terhadap Sunnah Rasulullah n dengan pahala-Nya yang berlipat.

 

Sebab Pemalsuan Hadits Ubai bin Ka’b z

Pembaca rahimakumullah. Hadits-hadits maudhu’ (palsu) tidak begitu saja muncul tanpa sebab dan latar belakang. Para pemalsu hadits sangatlah banyak. Mereka berasal dari berbagai macam kelompok dan kalangan. Pemalsuan mereka pun dilatarbelakangi motif serta tujuan yang beragam.

Lalu apakah gerangan pendorong dipalsukannya hadits Ubai bin Ka’b z tentang keutamaan surat-surat dalam Al-Qur’an? Mari kita simak penuturan Ibnul Jauzi t.

Seusai menyebutkan hadits Ubai bin Ka’b z, Ibnul Jauzi menyertakan sebuah riwayat dari sanad (jalan) beliau mengenai sebab dan siapa sebenarnya otak pemalsuan hadits Ubai bin Ka’b z. Ibnul Jauzi berkata: “… Dari Mahmud bin Ghailan6, dia berkata: Aku mendengar Muammal7 berkata: Seorang syaikh menyampaikan padaku (hadits) fadha’il surat-surat Al-Qur’an yang diriwayatkan dari Ubai bin Ka’b z. Maka aku bertanya padanya: ‘Siapa yang menyampaikan kepadamu?’ Dia berkata: ‘Seorang syaikh di negeri Mada’in, dia masih hidup.’ (Muammal berkata:) Aku pun pergi kepadanya dan bertanya: ‘Siapa yang menyampaikan kepadamu?’ Dia menjawab: ‘Seorang syaikh di negeri Wasith dan dia masih hidup.’ Maka aku pergi kepadanya dan aku bertanya: ‘Siapa yang menyampaikan kepadamu?’ Dia menjawab: ‘Seorang syaikh di negeri Bashrah.’ Maka aku pergi kepadanya. Dia berkata: ‘Yang menyampaikan padaku adalah seorang syaikh dari negeri Ba’adan.’ Aku pun menjumpai syaikh tersebut. (Ketika aku telah bertemu dengannya di Ba’adan aku tanyakan, siapa yang menyampaikan hadits ini?) Maka diapun meraih tanganku dan membawaku masuk ke dalam sebuah rumah yang ternyata terdapat sejumlah penganut sufi beserta seorang syaikh. Dia berkata: ‘Syaikh inilah yang menyampaikan hadits (Ubai bin Ka’b z padaku).’ Maka Aku (Muammal) bertanya pada syaikh (sufi): ‘Siapa yang menyampaikan hadits ini?’ Dia berkata: ‘Tidak ada seorang pun menyampaikannya padaku. Tetapi karena kami menyaksikan manusia lari dari Al-Qur’an, kami pun membuat (baca: memalsukan) hadits untuk (kebaikan) manusia agar mereka mau kembali pada Al-Qur’an’.” (Al-Maudhu’at, 1/239-241)8

Ternyata orang-orang sufilah yang memunculkan hadits-hadits fadha’il, dengan alasan menyimpang, tanpa landasan syar’i. Allahul musta’an.

Asy-Syaikh ‘Utsman bin Al-Makki Az-Zubaidi t (wafat 1330 H) berkata: “Kebanyakan hadits palsu bermunculan dari kalangan sufi, para ahli ibadah yang bodoh terhadap agamanya. Mereka telah memalsukan hadits-hadits fadha’il (keutamaan-keutamaan) surat-surat Al-Qur’an dengan maksud mendorong (manusia agar gemar membaca Al-Qur’an). Sungguh, bahaya mereka bagi kaum muslimin lebih besar daripada musuh (orang-orang kafir yang tampak di hadapan mata), terlebih lagi kaum sufi zaman ini. Mereka berdusta atas nama Allah l dengan berkedok pengakuan sebagai para wali-Nya!! Mereka menjelajah di muka bumi dengan menebarkan kerusakan. Mereka tersesat dari hidayah dan berupaya menyesatkan manusia dengan perbuatan mereka, ataupun dengan ucapan buruk yang tidak sesuai dengan syariat, demi mendapat kepingan dirham dan dinar dari orang-orang yang bodoh lagi dungu. Mereka tidak ambil peduli bahwa berdusta atas nama Nabi n adalah (perbuatan) haram menurut ijma’.

Dalam Al-Jami’ As-Shaghir karya As-Suyuthi t disebutkan (sabda Rasulullah n:)

مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Barangsiapa berdusta atas namaku dengan sengaja hendaknya dia menyiapkan tempat duduknya di neraka.”9

Golongan (yang membuat kedustaan atas nama Rasulullah n) termasuk orang-orang yang menjual akhirat dengan dunianya. Allah l berfirman:

“Mereka itulah orang-orang yang menjual kehidupan akhirat dengan kehidupan dunia, maka tidak akan diringankan siksa mereka dan mereka tidak akan ditolong.” (Al-Baqarah: 86) [Al-Qala’id Al-’Anbariyah ‘Alal Manzhumatil Baiquniyah hal. 106-107]

 

Kitab-Kitab Tafsir yang Menyebutkan Hadits Ubai bin Ka’b z

Pembaca rahimakumulah. Meskipun hadits Ubai bin Ka’b z sangat jelas kepalsuannya, namun ternyata masih terserak pada sebagian kitab-kitab tafsir. Oleh karenanya, kita perlu mengenal dan mengetahuinya agar lebih berhati-hati dan tidak tertipu dari penisbatan (penyandaran) hadits palsu kepada Rasulullah n hanya karena disebutkannya hadits-hadits tersebut dalam beberapa kitab tafsir.

Ada tiga kitab tafsir yang banyak menukil hadits Ubai bin Ka’ab z yaitu Tafsir Ats-Tsa’labi, Tafsir Al-Wahidi, dan Tafsir Az-Zamakhsyari.

Ats-Tsa’labi dan Al-Wahidi menyebutkan hadits Ubai bin Ka’ab z di awal setiap surat, dengan memotong-motong hadits. Di awal surat Al-Anfal misalnya, dipilih lafadz:

مَنْ قَرَأَ الْأَنْفَالَ أَكُونُ لَهُ شَفِيعًا وَشَاهِدًا وَبَرِيءٌ مِنَ النِّفَاقِ

“Barangsiapa membaca surat Al-Anfal aku akan memberi syafaat untuknya, dan menjadi saksi baginya dan dia bebas dari kenifakan.” Demikian seterusnya.

Adapun Az-Zamakhsyari Al-Mu’tazili dalam tafsirnya, Al-Kasysyaf, menyebutkan hadits Ubai z di akhir setiap surat.

Mengenai ini, Abul Faraj Ibnul Jauzi t berkata: “Hadits (Ubai bin Ka’b z) dipisah-pisahkan oleh Abu Ishaq Ats-Tsa’labi dalam tafsirnya. Dia sebutkan pada setiap surat potongan lafadz yang khusus (berkaitan) dengannya. Demikian pula diikuti oleh Abul Hasan Al-Wahidi. Perbuatan keduanya tidaklah mengherankan, karena keduanya bukan termasuk ahli hadits.” (Al-Maudhu’at, 1/240)10

Tiga kitab tersebut banyak terdapat kebatilan. Yang paling parah dari ketiganya adalah tafsir Az-Zamakhsyari. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t berkata: “….. Adapun Al-Wahidi, dia merupakan murid Ats-Tsa’labi. Kepandaiannya dalam ilmu bahasa Arab mengungguli gurunya….. Kitab tafsir Ats-Tsa’labi dan tafsir Al-Wahidi yaitu Al-Basith, Al-Wasith, dan Al-Wajiz di dalamnya terdapat sejumlah faedah penting. Bersamaan dengan itu, di dalam kitab-kitab tersebut banyak pula sampah-sampah yang berujud nukilan yang batil dan semisalnya.

Adapun Az-Zamakhsyari, maka tafsirnya penuh dengan kebid’ahan, (ditulis) berdasarkan keyakinan Mu’tazilah, seperti pengingkaran terhadap sifat-sifat Allah l, pengingkaran terhadap ru’yah (melihat Allah k di hari kiamat), pendapat bahwa Al-Qur’an adalah makhluk (bukan kalam Allah l), mengingkari kehendak Allah l pada makhluk-makhluk-Nya, mengingkari penciptaan Allah l pada perbuatan-perbuatan hamba-Nya dan pokok-pokok Mu’tazilah selainnya.” (Majmu’ Fatawa, 13/ 386)

Demikian keadaan tafsir Ats-Tsa’labi, Al-Wahidi, dan Az-Zamakhsyari terkait dengan penyebutan hadits Ubai bin Ka’b dan kebid’ahan yang ada di dalamnya. Wallahu a’lam.

 

Bolehkah Meriwayatkan Hadits Maudhu’ dengan Tujuan Targhib (Memberikan Semangat dalam Beramal) ?

Sejenak kita kembali kepada alasan kaum sufi ketika memalsukan hadits-hadits fadhail (keutamaan-keutamaan) surat Al-Qur’an. Mereka berkata: “Kami membuat (baca: memalsukan) hadits-hadits fadhail demi kebaikan. Kami melihat manusia malas membaca Al-Qur’an maka perlu dibuat hadits-hadits berisi keutamaan dan pahala-pahala besar, sebagai targhib (dorongan) bagi mereka agar kembali mencintai Al-Qur’an.”

Sepintas perkataan mereka terasa manis dan indah. Tapi ucapan itu adalah bisa yang membinasakan. Kita katakan kepada mereka:

Pertama: Bukankah ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits Rasulullah n yang shahih tentang keutamaan Al-Qur’an sangatlah banyak? Semuanya mendorong dan membangkitkan kaum muslimin untuk kembali pada kitab Allah l. Lalu mengapa kalian justru berpaling dari nash-nash yang shahih kepada kedustaan atas nama Rasulullah n?

Kedua: Tidakkah kalian tahu bahwa berdusta atas nama Rasulullah n apapun tujuannya termasuk kaba’ir (dosa besar). Berdasar sabda Rasulullah n:

مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Barangsiapa berdusta atas namaku dengan sengaja hendaknya dia menempati tempat duduknya di neraka.”11

Dr. Abdush Shamad bin Bakr mengatakan: “Dalam hadits ini terdapat dalil yang terang akan beratnya keharaman berdusta atas nama Nabi n dan perbuatan ini termasuk dosa-dosa besar… Maka tidak boleh berdusta atas nama beliau bagaimanapun keadaannya, apapun alasannya. Sebab, berdusta atas nama beliau berakibat kerusakan yang sangat besar dan luas. Bahayanya menimpa agama, karena segala yang berkaitan dengan beliau n dijadikan sebagai syariat, baik ucapan-ucapan, perbuatan-perbuatan, atau persetujuan-persetujuannya. Oleh karena itu telah datang sebuah sabda dari Rasulullah n:

إِنَّ كَذِباً عَلَيَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ

“Sesungguhnya dusta atas namaku tidak seperti kedustaan atas seseorang (selain aku).”12 (Al-Wadh’u wal Wadhdha’un fil Hadits An-Nabawi hal. 15-16)

Ibnul Qayyim t berkata: “Sebagian orang-orang jahil, pemalsu (hadits-hadits fadhail) berkata: ‘Kami berbohong justru dalam rangka membela Nabi n, bukan berbohong untuk mengkhianati beliau.’ Dia tidak tahu bahwa sebenarnya orang yang mengucapkan atas nama Nabi n sesuatu yang tidak pernah beliau ucapkan sungguh dia telah berdusta (mengkhianati) Nabi n. Dan orang tersebut berhak diganjar dengan ancaman yang sangat pedih.” (Al-Manarul Munif Fi Ash-Shahih Wadh-Dha’if hal. 114-115)

 

Di antara Syubhat Orang-orang yang Memalsukan Hadits Rasulullah n

Para pemalsu hadits atau orang-orang yang sepaham dengan mereka ternyata menampilkan beberapa dalil (baca: syubhat) yang sepertinya memberikan rekomendasi atas perbuatan mereka. Pada rubrik ini, kita perhatikan sebuah contoh dari dalil mereka, sebagai nasihat bagi kaum muslimin untuk berhati-hati dari syubhat-syubhat lainnya.

Mereka katakan, kami membuat (baca: memalsukan) hadits-hadits fadhail (keutamaan-keutamaan surat dan amalan) dan meriwayatkannya bukannya tanpa dasar. Kami berpegang pada dalil-dalil yang jelas. Di antaranya hadits Abu Umamah z, Rasulullah n bersabda:

مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ بَيْنَ عَيْنَيْ جَهَنَّمَ. فَشَقَّ ذَلِكَ عَلَى أَصْحَابِ رَسُولِ اللهِ فَقَالُوْا: يَا رَسُولَ الله، إِنَّا نُحَدِّثُ عَنْكَ بِالْحَدِيْثِ فَنَزِيْدُ وَنَنْقُصُ. فَقَالَ: لَيْسَ ذَاكُمْ، إِنَّمَا أَعْنِي الَّذِي يَكْذِبُ عَلَيَّ يُرِيدُ عَيْبِي وَشَيْنَ الْإِسْلَامِ

“Barangsiapa berdusta atas namaku dengan sengaja hendaknya dia menyiapkan tempat duduknya di depan dua mata jahannam.” Sabda ini terasa berat bagi sahabat-sahabat Rasulullah n, merekapun berkata: “Wahai Rasulullah (betapa berat hadits ini), kami biasa menyampaikan hadits darimu dan kami (sengaja) tambah-tambah dan kami kurangi.” Maka Rasul n bersabda: “(Jangan bersedih) bukan itu yang kumaksudkan. Tetapi yang aku maksudkan adalah (orang) yang berdusta atas namaku dengan tujuan mencelaku atau mencela Islam.”

Dipahami dari riwayat ini bahwa yang terlarang adalah berdusta atas nama Nabi n dengan tujuan mencela Rasulullah n atau Islam. Adapun orang yang berdusta atas nama Nabi n tetapi dengan tujuan membela syariatnya atau dengan tujuan membangkitkan umat dari kelalaian, bukanlah hal terlarang, bahkan merupakan amalan mulia. Tidak masuk dalam ancaman Rasulullah n.

Subhanallah. Demikian syubhat ahlu bathil. Mereka bawakan jerat dan tipu daya setan. Akan tetapi jerat dan tipu dayanya sangatlah lemah. Allah l berfirman:

“Sesungguhnya tipu daya setan itu adalah lemah.” (An-Nisa: 76)

Perihal hadits ini, kita katakan kepada mereka: “Hadits yang kalian jadikan sandaran untuk memalsukan hadits adalah hadits maudhu’ (palsu)13 juga. Dalam sanadnya terdapat Muhammad bin Al-Fadhl bin ‘Athiyah bin ‘Umar Al-’Abdi. Ibnu Hajar t berkata tentangnya: ‘Kadzdzabuuhu (Ahlul hadits mendustakannya)’.”14

Ibnul Jauzi t dalam kitabnya Al-Maudhu’at memberikan komentar berkenaan riwayat di atas: “Hadits ini tidak shahih. Karena Muhammad bin Al-Fadhl dihukumi pendusta oleh Yahya bin Ma’in, Al-Fallas, dan selain keduanya. Ahmad bin Hanbal t berkata: ‘Hadits ini tidak ada nilainya. Hadits ini tidaklah dipalsukan melainkan oleh orang yang ada kedustaan dalam niatnya’.”

 

Beberapa Hadits Dhaif (lemah) dan Maudhu’ (palsu) tentang Fadhilah Surat

Setiap muslim yang mencintai Rasulullah n, pasti merindukan sabda-sabda beliau sebagai petunjuk dan lentera di tengah kegelapan, atau tetesan embun di saat kehausan. Akan tetapi wajib bagi setiap muslim membedakan mana yang shahih dan mana yang tidak.

Pada kesempatan ini perlu kiranya kita sertakan beberapa hadits lemah dan palsu yang sering terdengar dari lisan-lisan manusia. Dengan harapan bisa menjadi nasihat bagi kita semua. Pada kesempatan yang akan datang –dengan memohon pertolongan Allah l semata– akan dibahas beberapa hadits shahih berkenaan keutamaan-keutamaan surat atau ayat, insya Allah. Semoga Allah l memberikan kemudahan kepada kita semua. Wallahul Muwaffiq.

 

a. Keutamaan Surat Yasin

Diriwayatkan dari Anas bin Malik z, Rasulullah n bersabda:

إِنَّ لِكُلِّ شَيْءٍ قَلْباً وَقَلْبُ الْقُرْآنِ يس وَمَنْ قَرَأَ يس كَتَبَ اللهُ لَهُ بِقِرَاءَتِهَا قِرَاءَةَ الْقُرآنِ عَشْرَ مَرَّاتٍ

“Sungguh segala sesuatu memiliki jantung, dan jantungnya Al-Qur’an adalah Yasin. Barangsiapa membaca Yasin maka Allah l akan mencatat baginya dengan membacanya seperti membaca Al-Qur’an sepuluh kali.”15

 

b. Keutamaan Surat Ad-Dukhan

Diriwayatkan dari Abu Hurairah z, Rasulullah n bersabda:

مَنْ قَرَأَ حم الدُّخَانَ فِيْ لَيْلَةٍ أَصْبَحَ يَسْتَغْفِرُ لَهُ سَبعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ

“Barangsiapa membaca di malam hari surat Ad-Dukhan, di pagi harinya, 70.000 malaikat akan beristighfar (memintakan ampun) untuknya.”16

 

c. Keutamaan Surat Al-Kahfi

Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar c, Rasulullah n bersabda:

مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ فِي يَومِ الْجُمْعَةِ سَطِعَ لَهُ نُورٌ مِنْ تَحْتِ قَدَمِهِ إِلَى عَنَانِ السَّمَاءَ يُضِيءُ لَهُ يَومَ الْقِيَامَةِ وَغُفِرَ لَهُ مَا بَينَ الْجُمْعَتَيْنِ

“Barangsiapa membaca surat Al-Kahfi di hari Jum’at, akan memancar baginya cahaya dari bawah kakinya menuju puncak-puncak langit menyinarinya pada hari kiamat dan diampuni dosa-dosanya antara dua jum’at.”17

 

d. Keutamaan Surat Al-Waqi’ah

Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud z, Rasulullah n bersabda:

مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْوَاقِعَةِ كُلَّ لَيلَةٍ لَمْ تُصِْبهُ فَاقَةٌ أَبَدًا

“Barangsiapa membaca surat Al-Waqi’ah setiap malam, tidak akan ditimpa kemiskinan selama-lamanya.”18

 

Penutup

Demikian beberapa hadits dha’if yang Allah l mudahkan untuk kita bahas bersama.

Ya… Ada kesedihan kala kita melihat banyak dari manusia berusaha memudarkan cahaya agama Islam dengan mencampuradukkan al-haq dan al-bathil. Namun tetap ada hal yang menyejukkan kita, yaitu kabar gembira bahwa syariat ini tidak akan pernah padam. Allah l lah yang membela dan menyempurnakannya. Allah l berfirman:

“Mereka ingin hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci.” (Ash-Shaff: 8)

Terbongkarnya kepalsuan hadits Ubai bin Ka’b z sebagai hadits maudhu’, juga hadits-hadits palsu lainnya adalah sekian dari penjagaan Allah l atas syariat Islam yang mulia, penutup seluruh syariat. Allah l beri nikmat bagi umat ini dengan dimunculkannya ulama ahlul hadits seperti Al-Imam Asy-Syafi’i, Al-Imam Ahmad, Al-Imam Al-Bukhari, dll, yang dengan sungguh-sungguh mencurahkan waktunya untuk membela hadits-hadits Rasulullah n.

Asy-Syaikh ‘Utsman Al-Makki t berkata: “Ahlul ilmi telah memberikan perhatian (khusus) dengan mengumpulkan hadits-hadits palsu serta menerangkan dengan sejelas-jelasnya. Semoga Allah l memberikan balasan kepada mereka dan Allah l tempatkan di jannah-Nya yang luas.” (Al-Qala’id Al-’Anbariyah ‘Alal Manzhumatil Baiquniyah hal. 106-107)

Allah l bimbing hati-hati mereka hingga mampu membedakan hadits-hadits Rasulullah n yang shahih yang tampak jelas cahayanya, dengan hadits-hadits yang tidak shahih yang demikian tampak kegelapannya. Ar-Rabi’ bin Khutsaim19 t berkata:

إِنَّ لِلْحَدِيثِ ضَوْءًا كَضَوْءِ النَّهَارِ يُعْرَفُ، وَظُلْمَةً كَظُلْمَةِ اللَّيلِ تُنْكَرُ

“Sungguh, hadits (shahih) itu memiliki cahaya sebagaimana cahaya siang yang dikenal, dan (hadits palsu memiliki) kegelapan sebagaimana gelapnya malam yang diingkari.”20

Wallahu a’lam. Washallalahu wa sallama ‘ala Rasulillah wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Wal-hamdulillahi Rabbil ‘alamin.


1 Beliau adalah Jamaludin Abul Faraj Abdurrahman bin Ali bin Al-Jauzi, meninggal 597 H.

2 Dinukil dari Al-Maudhu’at (1/240). Perawi yang dikatakan matruk, hadits-haditsnya sangat lemah, tidak bisa dikuatkan apalagi menjadi penguat.

3 Lihat Al-Majruhin (2/385). Ibnu Hibban berkata: “Sungguh Badi’ dan Makhlad telah bersepakat meriwayatkan hadits ini (Ubai bin Ka’b z) dari ‘Ali bin Zaid.” (Al-Maudhu’at, 1/240)

4 Dia adalah ‘Ali bin Zaid bin ‘Abdilah bin Zuhair bin ‘Abdilah bin Jud’an At-Taimi Al-Bashri. Jumhur (kebanyakan) ulama Al-Jarh wat-Ta’dil mencacati ‘Ali bin Zaid dengan cacat yang melemahkan haditsnya.

Al-Imam Ahmad berkata: “Laisa bi syai’in.” (Al-‘Ilal wa Ma’rifatur Rijal, 1/227)

Abu Zur’ah berkata: “Laisa bi qawiyyin (Dia bukan orang yang kuat).” (Al-Jarh Wat-Ta’dil, 6/186)

Abu Hatim berkata: “Laisa bi qawiyyin, Yuktabu haditsuhu wa laa yuhtajju bihi (Dia bukan orang yang kuat, ditulis haditsnya namun tidak dijadikan sebagai hujjah).” (Al-Jarh Wat-Ta’dil, 6/186)

An-Nasa’i berkata: “Dha’if (Dia lemah).” (Tahdzibul Kamal, 20/439)

Al-Juzajani berkata: “Wahiyul hadits, dha’if (Haditsnya lemah, dan dia lemah).” (Ahwalur Rijal, hal. 185)

Berbeda dengan jumhur ulama, Al-Imam At-Tirmidzi dan Al-‘Ijli justru meletakkan ‘Ali bin Zaid pada derajat hasan. At-Tirmidzi berkata: “Shaduq.” (As-Sunan hadits no. 2678). Al-‘Ijli berkata: “La ba’sa bihi.” (Tarikh Ats-Tsiqat hal. 346)

Meskipun At-Tirmidzi dan Al-‘Ijli menghasankan, tetapi keduanya menyelisihi jumhur ulama. Di samping itu, keduanya termasuk ulama yang mutasahil (bermudah-mudah) dalam men-ta’dil (menguatkan perawi). Dengan dua alasan inilah maka pendapat jumhur lebih mendekati kebenaran, sebagaimana disimpulkan oleh Ibnu Hajar dalam At-Taqrib: “Dha’if (dia lemah).” Wallahu a’lam.

Kelemahan ‘Ali bin Zaid semata sesungguhnya tidak begitu membahayakan hadits, mengingat ada perawi tsiqah meriwayatkan bersamanya, yaitu ‘Atha’ bin Abi Maimunah. Namun dua jalur yang dibawakan Ibnul Jauzi t, kepada ‘Ali bin Zaid bin Jud’an dan ‘Atha’ bin Abi Maimunah, masing-masing terdapat ‘illat yang menyebabkan jalur-jalur ini menjadi sangat lemah.

5 Perkataan Ibnul Jauzi: “…dengan bahasa yang tidak berbobot dan sangat hambar…” adalah sisi kedua yang menunjukkan lemahnya hadits Ubai bin Ka’b z. (lihat Maqayis Ibnul Jauzi Fi Naqdi Mutunis Sunnah hal.110 oleh Dr. Musfir Ad-Dumaini hafizhahullah)

6 Dia adalah Abu Ahmad Mahmud bin Ghailan Al-‘Adawi Al-Marwazi, tsiqah, meninggal 239 H.

7 Dia adalah Abu Abdirrahman Mu’ammal bin Isma’il Al-Bashri meninggal 206 H. Dia Shaduq Sayyi’ul Hifdzi (jujur tapi jelek hafalannya). (At-Taqrib)

8 Perhatikanlah kesungguhan ahlul hadits dalam memperjuangkan agama Allah k dan membela Sunnah Rasulullah n dengan cara membersihkan hadits Rasul n dari kepalsuan. Seorang dari mereka bersedia menempuh perjalanan jauh, mendatangi berbagai negeri, hanya untuk meneliti kebenaran sebuah hadits. Semoga Allah l mengumpulkan kita bersama mereka dalam jannah-Nya yang penuh kenikmatan.

9 Hadits mutawatir, As-Suyuthi menyebutkan hadits ini dari 78 sahabat, dalam kitabnya Qathful Azhar hal. 23.

10 Lihat juga ucapan Ibnul Qayyim yang dinukilkan sebelum ini dalam Al-Manarul Munif hal.113 .

11 Lihat catatan kaki no. 9.

12 HR. Al-Bukhari dalam Ash-Shahih no. 1291 dan Muslim dalam Muqaddimah (1/10 no.4).

13 Diriwayatkan Al-Jauzaqani dalam Al-Abathil Wal Manakir (1/92 no. 87). Beliau berkata: “Hadits ini bathil tidak ada asalnya.” Diriwayatkan juga oleh Al-Hakim dalam Al-Madkhal (hal 96-97), beliau berkata: “Hadits ini bathil.”

14 Lihat Taqribut Tahdzib karya Ibnu Hajar. Al-Juzajani berkata dalam Ahwalur Rijal (hal. 372 ): “Kana Kadzdzaban (Dia adalah tukang dusta).”

15 Diriwayatkan At-Tirmidzi dalam As-Sunan Kitab Fadha’ilul Qur’an (no. 2887) dan Ad-Darimi dalam As-Sunan (no. 3417). Dalam sanadnya ada Harun Abu Muhammad. At-Tirmidzi berkata: “Syaikhun Majhul (Dia adalah syaikh yang tidak dikenal).” Asy-Syaikh Al-Albani menghukumi hadits ini sebagai hadits maudhu’ dalam Dha’if At-Tirmidzi.

16 Hadits diriwayatkan At-Tirmidzi dalam As-Sunan Kitab Fadha’ilul Qur’an (no. 2888), Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman (5/411-412), dan Ibnu ‘Adi dalam Al-Kamil (5/1720). Dalam sanadnya ada ‘Umar bin Abdillah bin Abi Khas’am. Al-Bukhari berkata sebagaimana diriwayatkan At-Tirmidzi dalam As-Sunan: “Huwa Munkarul Hadits (Dia haditsnya munkar).” Al-Albani dalam Dha’if Al-Jami’ As-Shaghir wa ziyadatuhu mengatakan: “Maudhu’ (Hadits ini palsu).”

17 Ibnu Katsir melemahkan hadits ini. Beliau berkata: “Isnaduhu gharib.” (Tafsir Ibnu Katsir, 3/70). Dalam sanadnya ada Khalid bin Sa’id bin Abi Maryam Al-Madani. Ibnul Madini berkata tentangnya dalam Al-‘Ilal (hal. 109): “Laa Na’rifuhu (Kami tidak mengenalnya).” Asy-Syaikh Al-Albani menghukuminya sebagai hadits munkar. (Tamamul Minnah hal. 324-325)

18 Diriwayatkan oleh Al-Baghawi dalam Tafsir-nya (4/320). Dalam sanad hadits ada Abu Thibyah Al-Jurjani, dan Syuja’. Keduanya majhul (tidak dikenal). Ahmad bin Hambal berkata: “Hadza Haditsun Munkar Wa Syuja’ La a’rifuhu (Hadits ini munkar. Adapun Syuja’, aku tidak mengenalnya).”

19 Tabi’in muhadhram (Seorang yang menjumpai zaman Nabi n akan tetapi tidak berjumpa dengan beliau), meninggal tahun 61 H atau 63 H.

20 Al-Fasawi meriwayatkan dalam Al-Ma’rifah wat-Tarikh (2/564), juga disebutkan Al-Khathib Al-Baghdadi dalam Al-Kifayah Fi ‘ilmir Riwayah (hal. 431).

Pembagian Waris dalam Al Quran

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Karimah Askari)

 

“Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). Katakanlah: ‘Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaitu): jika seorang meninggal dunia, dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan, maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya, dan saudaranya yang laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan), jika ia tidak mempunyai anak; tetapi jika saudara perempuan itu dua orang, maka bagi keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal. Dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara-saudara laki dan perempuan, maka bagian seorang saudara laki-laki sebanyak bagian dua orang saudara perempuan. Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu, supaya kamu tidak sesat. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu’.” (An-Nisa’: 176)

Penjelasan Beberapa Mufradat Ayat
Al-kalaalah berasal dari kata al-iklil, yang berarti sesuatu yang meliputi/melilit seluruh bagian kepala. Yang dimaksud di sini adalah seseorang yang meninggal dan tidak meninggalkan ushul dan furu’ dari kerabatnya1. Telah diriwayatkan oleh Asy-Sya’bi dari Abu Bakr Ash-Shiddiq z bahwa beliau ditanya tentang al-kalaalah. Beliau menjawab: “Aku menjawab dengan pendapatku, jika benar maka itu dari Allah l dan jika salah maka itu dariku serta dari setan, dan Allah l serta Rasul-Nya n berlepas diri darinya. Al-kalaalah adalah orang yang tidak punya anak dan orangtua.” Ketika Umar bin Al-Khaththab z memegang khilafah, beliau berkata: “Sesungguhnya aku malu menyelisihi Abu Bakr dalam pendapatnya.” (Diriwayatkan Ibnu Jarir t dan yang lainnya).
Ibnu Abi Hatim t meriwayatkan dengan sanadnya sampai kepada Thawus t bahwa beliau berkata: Aku mendengar Abdullah bin Abbas c berkata: “Aku adalah yang paling akhir mengetahui tentang Umar bin Al-Khaththab z. Aku mendengar dia berkata: ‘Pendapat yang benar adalah apa yang aku katakan (3x), al-kalaalah adalah orang yang tidak memiliki anak dan orangtua’.”
Demikian pula yang dikatakan Ali bin Abi Thalib dan Ibnu Mas’ud c. Juga telah shahih dari beberapa jalan dari Ibnu Abbas, Zaid bin Tsabit c, dan ini adalah pendapat Asy-Sya’bi, An-Nakha’i, Al-Hasan Al-Bashri, Qatadah, Jabir bin Zaid, dan Al-Hakam. Ini juga pendapat ulama Madinah, Kufah, dan Bashrah, dan merupakan pendapat tujuh  fuqaha’ dan empat Imam serta pendapat jumhur dari kalangan salaf dan khalaf seluruhnya. Beberapa ulama telah menukil ijma’ dalam hal ini, dan telah datang hadits marfu’ tentang hal ini. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir, 1/461, dalam menafsirkan ayat ke-12 dari surah An-Nisa’)
Sababun Nuzul (Sebab Turunnya Ayat)
Dari Jabir bin Abdillah c, dia berkata: “Rasulullah n masuk ke tempatku dalam keadaan aku sedang sakit dan belum siuman (pingsan). Lalu beliau berwudhu dan menuangkan air wudhunya kepadaku. Maka akupun siuman, lalu aku bertanya: ‘Harta warisan ini milik siapa, wahai Rasulullah? Sesungguhnya yang mewarisi hartaku adalah dari kalalah.’ Maka turunlah ayat warisan.” (HR. Al-Bukhari no. 191 dan Muslim no. 1616)
Dalam riwayat lain yang diriwayatkan Al-Imam Muslim t disebutkan bahwa Jabir z berkata: “Aku dalam keadaan sakit, lalu Rasulullah n bersama Abu Bakr z mendatangiku. Keduanya berjalan kaki menjengukku. Ketika itu aku sedang pingsan. Maka beliau berwudhu dan menuangkan air wudhunya kepadaku. Akupun siuman lantas aku bertanya: ‘Wahai Rasulullah, bagaimana aku memberi keputusan terhadap hartaku?’ Maka beliau n tidak menjawab sedikitpun hingga turun ayat warisan tersebut.” (HR. Muslim no. 1616)
Penjelasan Makna Ayat
As-Sa’di t menjelaskan ayat ini dalam tafsirnya Taisir Al-Kariim Ar-Rahman. Beliau t berkata: Allah l mengabarkan bahwa sebagian orang meminta fatwa kepada Rasulullah n tentang al-kalaalah. Yang menunjukkan hal tersebut adalah firman Allah (artinya): “Katakanlah: Allah yang menfatwakan kepada kalian tentang al-kalaalah” yaitu seorang yang meninggal dalam keadaan tidak mempunyai anak kandung dan tidak pula cucu dari anak laki-laki, tidak pula ayah dan kakek. Oleh karenanya Allah menyatakan: “Jika seseorang meninggal dan dia tidak mempunyai anak” yaitu anak laki-laki dan perempuan, baik anak kandung ataupun cucu dari anak laki-laki. Demikian pula dia tidak mempunyai ayah, dengan dalil bahwa saudara laki-laki dan perempuan mendapatkan warisan berdasarkan ijma’, dan mereka tidak mendapatkan warisan jika terdapat ayah. Maka jika ia meninggal dan tidak mempunyai ayah dan keturunan, namun dia mempunyai satu saudara perempuan sekandung atau seayah, bukan saudara seibu –sebab saudara seibu telah disebutkan hukumnya (pada ayat ke-12)–, maka baginya (satu saudara perempuan kandung/seayah itu) mendapat setengah dari harta peninggalan saudaranya baik berbentuk uang, barang, atau perabot rumah tangga, dan yang lainnya.
Pembagian warisan tersebut dilakukan setelah pelunasan utang dan pelaksanaan wasiat. Saudara laki-laki sekandung/seayah mendapatkan warisan dari saudara perempuannya yang meninggal, jika yang meninggal tersebut tidak memiliki anak. Tidak disebutkan berapa persen jatah yang didapatkannya, sebab dia (saudara laki-laki ini) sebagai ‘aashib2 dan mengambil seluruh harta, jika tidak terdapat ashabul furudh dan tidak ada ‘aashib yang lain bersamanya. Atau dia mendapatkan sisa harta jika masih terdapat sisa dari harta peninggalan yang telah dibagikan kepada ashabul furudh.
Jika saudara perempuan (sekandung/seayah) berjumlah dua atau lebih maka dia mendapat 2/3 dari seluruh harta peninggalan. Jika mereka terdiri dari saudara laki-laki dan perempuan maka yang laki-laki mendapat dua kali lipat dari bagian wanita.”
Kesimpulan dari pembagian warisan dalam ayat al-kalaalah ini adalah bahwa ayat ini menjelaskan hukum waris bagi saudara kandung atau seayah, sebab saudara seibu telah disebutkan hukumnya dalam surah An-Nisa’ ayat 12. Pembagiannya sebagai berikut:
– Jika ahli warisnya hanya seorang saudara perempuan, maka dia mendapatkan seperdua atau separuh harta peninggalan.
– Jika saudara perempuan berjumlah dua atau lebih, dan tidak terdapat saudara laki-laki, maka mereka mendapat 2/3 dari harta tersebut.
– Jika ahli warisnya adalah saudara laki-laki dan tidak ada saudara wanita, maka ia mendapat sisa dari harta yang telah dibagikan kepada ashabul furudh, berapapun jumlah saudaranya.
– Jika ahli waris terdiri dari saudara laki-laki dan perempuan, maka dibagi secara adil di antara mereka. Saudara laki-laki mendapat jatah dua kali lipat dari jatah wanita.
Menyelisihi Hukum Waris Dapat Menyebabkan Kesesatan
Firman-Nya:
Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu, supaya kamu tidak sesat.
menjelaskan bahwa Allah l merinci hukum waris dalam Al-Qur’an agar dijadikan sebagai pedoman dalam pembagian harta warisan, dan hukum Allah k adalah hukum yang paling adil. Sehingga barangsiapa menyimpang dari pembagian waris yang telah ditetapkan-Nya dan menganggap bahwa hukum Allah l tersebut “tidak adil” atau “tidak sesuai dengan perkembangan zaman”, dan yang semisalnya, maka dia telah tersesat dari petunjuk Allah l Yang Maha Adil.
Telah diriwayatkan oleh Ibnu Jarir t dengan sanadnya bahwa Ibnu Juraij berkata tatkala menafsirkan ayat ini “Allah menjelaskan kepada kalian jangan sampai kalian tersesat”, yaitu dalam perkara hukum waris. Ibnu Jarir t berkata: “Agar kalian tidak tersesat dalam perkara hukum waris dan pembagiannya, yaitu agar kalian tidak menyimpang dari kebenaran dan salah dalam menerapkan hukum atasnya, yang menyebabkan kalian menyimpang dari jalan yang lurus.” (Tafsir At-Thabari)
Demikian pula yang dikatakan oleh Al-‘Allamah As-Sa’di t: “Allah l menerangkan kepada kalian hukum-hukum yang kalian butuhkan, menjelaskan dan merincinya untuk kalian. Hal ini merupakan anugerah dan kebaikan dari-Nya agar kalian mendapat hidayah dari penjelasan-Nya, serta menerapkan hukum-Nya agar kalian tidak tersesat dari jalan yang lurus disebabkan kejahilan dan ketidaktahuan kalian.” (Taisir Al-Karimirrahman)
Sebuah pertanyaan ditujukan kepada Al-Lajnah Ad-Da’imah:
Ada syubhat yang sering diutarakan oleh musuh-musuh Allah l. Mereka mengatakan: “Agama ini menzalimi wanita. Tatkala ada seorang lelaki meninggal dan dia meninggalkan ayah, ibu, istri dan beberapa anak, juga meninggalkan harta warisan, maka ayahnya mengambil bagiannya, dan istri mengambil setengah harta, padahal ayahnya bukan seorang yang memberi nafkah (kepada si mayit). Mengapa istri hanya mengambil setengah? Mengapa dia tidak mengambil bagiannya dengan sempurna seperti ayah?”
Jawabannya:
“Yang benar dalam pembagian harta waris dari pertanyaan yang disebutkan adalah didahulukan melunasi utang si mayit (orang yang meninggal) tersebut jika dia mempunyai utang. Kemudian dilaksanakan wasiat yang syar’i jika dia berwasiat. Kemudian yang tersisa dibagi menjadi 24 bagian. Istrinya mendapat seperdelapan karena memiliki anak, yaitu 3 bagian dari 24 bagian tersebut. Ayahnya mendapat seperenam, 4 dari 24 bagian. Ibunya mendapat seperenam, 4 dari 24 bagian. Sisanya 13 dari 24 bagian diberikan kepada anak-anaknya. Anak lelaki mendapat dua kali lipat dari bagian anak perempuan. Ini bukanlah perbuatan zalim kepada istri, tidak pula kepada ibu, ayah, dan anak-anaknya. Bahkan ini merupakan kebijakan dan keadilan. Hal itu telah ditunjukkan oleh dalil dan ijma’ umat ini. Allah l berfirman:
“Allah mewasiatkan kepada kalian terhadap anak-anak kalian, bagi seorang laki-laki mendapat dua bagian wanita.” (An-Nisa’: 11)
Hingga firman-Nya:
“Barangsiapa bermaksiat kepada Allah dan rasul-Nya serta melampaui batasan-batasannya maka Allah akan masukkan dia ke dalam neraka dan kekal di dalamnya, dan baginya mendapatkan azab yang menghinakan.” (An-Nisa’: 14)
Wabillahi at-taufiq, shalawat dan salam atas nabi kami Muhammad n, keluarga dan para sahabatnya.
Ketua: Abdul Aziz bin Baz
Wakil: Abdurrazzaq Afifi
Anggota: Abdullah bin Ghudayyan
Anggota: Abdullah bin Qu’ud
(Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah,16/427-428)
Islam adalah Agama yang Adil
Firman-Nya:
“Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
menjelaskan bahwa Allah l Maha Mengetahui segala sesuatu, baik urusan dunia maupun akhirat. Konsekuensinya, Allah l lebih mengerti tentang kemaslahatan para hamba-Nya dan lebih bijaksana dalam menetapkan hukum-hukum-Nya. Sehingga apa yang telah menjadi ketetapan hukum Allah k dalam setiap permasalahan –termasuk  dalam hal menetapkan pembagian warisan– adalah ketetapan hukum yang terbaik, terbijak, teradil, dan jauh dari kezaliman. Siapapun yang menuduh bahwa hukum Allah l adalah hukum yang zalim, sungguh dia telah kafir. Firman-Nya:
“Bukankah Allah Hakim yang seadil-adilnya?” (At-Tin: 8)
Juga firman-Nya:
“Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya.” (Hud: 45)
Makna ahkamul hakimin adalah yang paling bijak dalam menetapkan hukum, yang tidak menganiaya dan menzalimi siapapun.” (lihat Tafsir Ibnu Katsir dalam menafsirkan Surah At-Tin ayat 8)
Asy-Syaikh Abdull Aziz bin Baz t berkata tatkala beliau membantah sebuah tulisan yang dimuat salah satu surat kabar yang di dalam tulisan tersebut penulisnya mengatakan:
“Saya ingin menyinggung sebuah permasalahan yaitu persamaan antara laki-laki dan wanita, yaitu persamaan secara total baik dalam bidang pendidikan pekerjaan, pertanian, bahkan dalam bidang kepolisian. Namun belum sempurna dalam masalah warisan, di mana masih ditetapkannya hukum seorang lelaki mendapat dua bagian dari wanita. Sesungguhnya hukum awal ini (yaitu pembagian warisan, pent.) mungkin dapat ditolerir tatkala seorang lelaki menjadi pemimpin atas seorang wanita, dan memang demikian. Dahulu seorang wanita dalam status kemasyarakatan tidak dibolehkan untuk disamakan kedudukannya dengan kaum lelaki. Dahulu anak wanita dikubur hidup-hidup, diperlakukan secara hina, sedangkan sekarang wanita terjun langsung dalam pekerjaan, dan boleh jadi seorang wanita yang mengurusi saudara-saudara lelakinya yang lebih muda umurnya. Seperti contoh istri saya, dia yang melakukan lembur di malam hari untuk memenuhi kebutuhan saudara laki-lakinya. Dia begadang melakukan setiap pekerjaan yang melelahkan dalam bertani untuk memenuhi kebutuhan saudaranya. Dia juga berusaha membukakan berbagai kemudahan bagi saudara lelakinya itu untuk belajar dan bersemangat dalam mewujudkan harapan ayahnya yang ingin agar anaknya tersebut bisa menjadi seorang pengacara. Apakah termasuk hal yang dibenarkan jika seorang wanita mendapatkan setengah bagian dari apa yang didapatkan oleh saudara kandungnya tersebut dalam kondisi seperti ini?! Maka hendaklah kita berusaha menempuh cara ijtihad dalam memecahkan masalah kita ini dan bersegera untuk melakukan revisi terhadap hukum-hukum syariat, sesuai kondisi masyarakat modern. Telah kami jelaskan tentang keharusan mencegah poligami berdasarkan ijtihad dalam memahami ayat…”
Maka Asy-Syaikh Ibnu Baz t berkata mengomentari makalah ini:
“Ini merupakan jenis lain dari kekufuran yang jelas. Karena dia menyangka bahwa memberi setengah kepada wanita dari apa yang diberikan kepada laki-laki merupakan kekurangan, dan bukanlah suatu kewajaran untuk tetap di atas hukum tersebut setelah seorang wanita turut bekerja. Dia juga melarang poligami dengan alasan ijtihad. Juga bahwasanya wajib melakukan revisi terhadap hukum-hukum syariat dengan ijtihad berdasarkan perkembangan masyarakat. Dia menyebutkan bahwa hal ini merupakan kewajiban pemerintah sebagai amirul mukminin. Ini merupakan perkara yang paling batil, mengandung kejahatan yang besar, dan kerusakan yang meluas.” (Fatawa Ibni Baz, 1/87-88). Wallahul musta’an.

1 Yang dimaksud ushul dalam ilmu waris adalah ayah, ibu, dan seterusnya dari kakek dan nenek yang termasuk ahli waris. Sedangkan furu’ adalah anak, cucu, dan seterusnya yang termasuk dari ahli waris. Adapun seperti saudara, paman, dan yang semisalnya disebut hasyiah.

2 Ashib adalah orang yang mendapatkan bagian harta warisan tanpa ada ukuran tertentu namun mendapatkan sisa harta. Jika tidak ada seorangpun ashabul furudh maka ashib mendapatkan seluruh harta. Namun jika terdapat dari mereka yang hidup maka aashib mendapat sisa setelah diberikan kepada ashabul furudh. Tentang istilah ashabul furudh dan ashib bisa dilihat kembali pada artikel Kajian Utama Selayang Pandang Hukum Waris Islam.

Kasus-kasus Seputar Waris

(ditulis oleh: Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi)

 

Para pembaca yang mulia, telah berlalu pembahasan demi pembahasan seputar hukum waris Islam dan beberapa poin penting yang terkait dengannya, semoga bisa diikuti dan dipahami dengan sebaik-baiknya. Selanjutnya, perlu kami perkenalkan kepada para pembaca sekalian beberapa contoh kasus seputar permasalahan waris, agar lebih mendalami kasus-kasus tersebut dan lebih terbimbing manakala dihadapkan dengannya. Di antara contoh kasus seputar permasalahan waris adalah:

 

1. Seseorang meninggal dunia dalam keadaan tidak mempunyai ahli waris, maka untuk siapakah harta warisnya?

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di t ketika menafsirkan surat Al-Anfal ayat 75 mengatakan: “Tidaklah mewarisi harta si mayit kecuali karib kerabatnya dari para ‘ashabah maupun ashhabul furudh (ahli waris, pen.). Jika tidak didapati para ahli waris tersebut maka yang mewarisinya adalah yang terdekat hubungannya dengan si mayit dari kalangan dzawil arham (para kerabat dekat yang tidak termasuk ashhabul furudh dan tidak pula ‘ashabah).” (Taisirul Karimirrahman, hal. 289)

Pendapat inilah yang difatwakan oleh sahabat ‘Umar bin Al-Khaththab, Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Mas’ud, Abdullah bin Abbas, juga Abu Hanifah, Ahmad bin Hanbal, serta generasi akhir dari kalangan mazhab Maliki dan Syafi’i.1 Demikian pula yang dipilih Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, dan Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan. (Lihat Al-Fawaidul Jaliyyah Fil Mabahits Al-Faradhiyyah, hal. 102, program Al-Maktabah Asy-Syamilah II, Tashilul Faraidh, hal. 73 dan At-Tahqiqat Al-Mardhiyyah Fil Mabahits Al-Faradhiyyah, hal. 263-264)

Siapa sajakah yang termasuk dzawil arham itu?

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz berkata: “Mereka ada sebelas jenis:

1) Para cucu dari anak-anak perempuan dan anak-anak para cucu perempuan dari anak lelaki (cicit) dan ke bawahnya.

2) Anak saudara perempuan secara mutlak; sekandung, sebapak saja dan seibu saja (keponakan).

3) Anak perempuan dari saudara lelaki; sekandung dan sebapak saja, tidak termasuk yang seibu (keponakan) dan para cucu perempuan dari jalur anak lelaki saudara tersebut.

4) Anak saudara seibu (keponakan).

5) Paman (seibu); baik paman (saudara bapak yang seibu) dari si mayit, paman bapak (saudara kakek seibu) dari si mayit atau paman kakek (saudara buyut lelaki seibu) dari si mayit.

6) Bibi dari jalur bapak secara umum; baik bibi dari jalur bapak si mayit, bibi kedua orangtua si mayit dari jalur bapaknya masing-masing, bibi dari kakek si mayit dari jalur bapaknya (saudara perempuan buyut lelaki dari kakek) ataupun bibi dari nenek si mayit dari jalur bapaknya (saudara perempuan buyut lelaki dari nenek).

7) Anak perempuan paman dari jalur bapak; baik yang sekandung, sebapak saja ataupun seibu saja (saudara sepupu).

8) Paman dan bibi (saudara-saudara ibu; baik yang sekandung, sebapak saja ataupun seibu saja).

9) Para kakek yang bukan termasuk ahli waris, baik dari jalur ibu maupun jalur bapak. Seperti bapaknya ibu (kakek) dan juga bapaknya nenek (buyut lelaki) dari jalur bapak, dsb.

10) Para nenek yang bukan dari ahli waris, baik dari jalur ibu maupun jalur bapak. Seperti; Ibunya kakek (buyut perempuan) dari jalur ibu dan ibunya buyut lelaki menurut pendapat yang memasukkan keduanya ke dalam dzawil arham, dsb.

11) Semua kerabat yang mempunyai keterkaitan dengan si mayit melalui (perantara) sepuluh jenis yang telah disebutkan sebelumnya.” (Lihat Al-Fawaidul Jaliyyah Fil Mabahits Al-Faradhiyyah, hal. 102, program Al-Maktabah Asy-Syamilah II)

Bukankah dzawil arham tersebut tidak mempunyai ketentuan khusus dalam hal perwarisannya? Dengan cara apakah mereka mendapatkan bagiannya?

Para ulama berbeda pendapat dalam menentukan cara perwarisannya. Namun jumhur (mayoritas) ulama menyatakan bahwa perwarisannya dengan cara tanzil, yaitu dengan memosisikan masing-masing dari dzawil arham tersebut (baik lelaki maupun perempuan) seperti posisi ahli waris yang menjadi perantaranya dengan si mayit. Misalnya, cucu lelaki dari anak perempuan dan cucu perempuan dari anak perempuan, mereka diposisikan seperti anak perempuan (ibu mereka). Anak lelaki dan anak perempuan dari saudara perempuan (keponakan), mereka diposisikan seperti saudara perempuan (ibu mereka). Tak dibedakan antara yang lelaki dengan yang perempuan, karena yang dijadikan patokan dalam masalah ini adalah ahli waris perantaranya bukan dzat dari dzawil arham tersebut. (Lihat Al-Fawaidul Jaliyyah Fil Mabahits Al-Faradhiyyah, hal. 102, program Al-Maktabah Asy-Syamilah II, At-Tahqiqat Al-Mardhiyyah Fil Mabahits Al-Faradhiyyah, hal. 266-267 dan Al-Khulashah Fi Ilmil Faraidh, hal. 240)

 

2. Di antara hikmah dilebihkannya jatah waris anak lelaki dua kali lipat dari jatah waris anak perempuan

Asy-Syaikh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi t berkata: Firman Allah l:

“Allah mensyariatkan bagi kalian tentang (pembagian harta waris untuk) anak-anak kalian. Yaitu: bagian (jatah) seorang anak lelaki sama dengan bagian dua orang anak perempuan.” (An-Nisa’: 11)

di dalamnya memang tidak disebutkan hikmah dilebihkannya jatah waris anak lelaki atas jatah waris anak perempuan, sementara status keduanya sama dalam hal kekerabatannya dengan si mayit. Akan tetapi pada bagian lain dari Al-Qur’an Allah l telah mengisyaratkannya, sebagaimana dalam firman-Nya:

“Kaum lelaki itu adalah pemimpin bagi kaum perempuan, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (lelaki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (lelaki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (An-Nisa’: 34)

Hal itu disebabkan bahwa seorang (lelaki) yang bertanggung jawab terhadap perempuan (istri) yang dipimpinnya dan dituntut untuk selalu menafkahinya, maka (harta)nya dimungkinkan selalu berkurang. Sedangkan si perempuan (istri) yang selalu dipimpin dan dinafkahi tersebut, hartanya ada harapan terus bertambah. (Atas dasar itu) amat jelas sekali hikmah dilebihkannya jatah waris anak lelaki atas jatah waris anak perempuan, yaitu untuk menutup segala kekurangan pada harta anak lelaki yang dimungkinkan selalu terancam berkurang tersebut. (Adhwa’ul Bayan, 1/308)

 

3. Warisan saudara-saudara seibu (anak-anak ibu)

Warisan saudara-saudara seibu (anak-anak ibu) mempunyai beberapa kekhususan sebagai berikut:

– Warisan anak lelaki sama dengan warisan anak perempuan, baik dalam keadaan sendiri maupun bersama-sama. Menurut Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin t, hal itu karena keterkaitan mereka dengan si mayit dari jalur ibu (perempuan) saja, tanpa ada jalur bapak (lelaki) yang dapat menjadikan lelaki lebih banyak jatahnya dari perempuan. (Tashilul Faraidh, hal. 9)

Satu orang dari mereka (baik lelaki maupun perempuan) mewarisi 1/6 dan jika bersama-sama (baik lelaki dan perempuan, perempuan semua, ataupun lelaki semua) mewarisi 1/3, dengan berbagi sama rata pada jatah waris 1/3 tersebut. Maka berserikatnya mereka dalam fardh tertentu (1/3) tersebut menunjukkan bahwa jatah waris mereka (lelaki dan perempuan) sama. Dalilnya adalah firman Allah l:

“Jika seseorang mati, baik lelaki maupun perempuan yang tidak meninggalkan bapak dan tidak meninggalkan anak, tetapi mempunyai seorang saudara lelaki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja), maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam (1/6) harta. Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang, maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga (1/3) itu.” (An-Nisa’: 12)

– Atas dasar poin sebelumnya, maka yang lelaki dari mereka tidaklah menjadi mu’ashshib (penyebab untuk mewarisi dengan cara ta’shib) bagi yang perempuannya.

– Lelaki dari mereka tetap bisa mewarisi walaupun yang menghubungkannya dengan si mayit adalah perempuan (ibunya). Hal ini berbeda dengan selainnya dari kerabat dekat si mayit dari jalur perempuan, seperti cucu lelaki dari anak perempuan si mayit. Dia tidak terhitung sebagai ahli waris si mayit, karena yang menghubungkannya dengan si mayit adalah perempuan (ibunya).

– Secara keumuman, seorang ahli waris tidak bisa mendapatkan jatah waris manakala ada ahli waris penghubung antara dia dengan si mayit. Misalnya, cucu lelaki dari anak lelaki tidak bisa mendapatkan jatah waris manakala ada anak lelaki (dalam hal ini sebagai bapak dari cucu lelaki tersebut). Adapun saudara-saudara seibu, mereka bisa mendapatkan jatah warisnya bersama si ibu, yang dalam hal ini sebagai penghubung antara mereka dengan si mayit.

– Secara keumuman, ahli waris yang tingkatan nasabnya lebih tinggi dapat memahjubkan (menghalangi) ahli waris di bawahnya yang masih satu jenis, baik hajb hirman ataupun hajb nuqshan, sebagaimana dalam pembahasan ‘Penghalang Waris’ yang telah lalu. Akan tetapi berbeda halnya dengan saudara-saudara seibu (jika berjumlah dua orang atau lebih), justru dapat memahjubkan sang ibu yang tingkatan nasabnya di atas mereka dengan hajb nuqhshan, yaitu dari 1/3 menjadi 1/6. (Lihat At-Tahqiqat Al-Mardhiyyah Fil Mabahits Al-Faradhiyyah, hal. 91-92, Tashilul Faraidh, hal. 9 dan 55-56, dan Al-Khulashah Fi Ilmil Faraidh hal. 92-93)

 

4. Warisan saudara sesusuan

Saudara sesusuan dengan kriteria yang telah ditentukan para ulama,2 mempunyai hukum seperti saudara senasab dalam hal nikah, khalwat (berduaan tanpa mahram), kemahraman, dan saling melihat. Adapun dalam hal waris-mewarisi, maka saudara sesusuan tidak bisa saling mewarisi dengan saudara sesusuannya menurut ijma’ (kesepakatan) ulama. Karena menyusu bukanlah sebab dari sebab-sebab waris, sebagaimana dalam pembahasan ‘Sebab Waris’ yang telah lalu. (Lihat Al-Khulashah Fi Ilmil Faraidh, hal. 59-60)

 

5. Warisan anak zina dan anak li’an

Anak zina adalah seorang anak yang dilahirkan ibunya dari hubungan yang tidak syar’i (berzina). Sedangkan anak li’an adalah seorang anak yang tidak diakui oleh bapaknya hingga saling melaknat (mula’anah) dengan istrinya (ibu si anak), dengan suatu klaim (dari si bapak) bahwa anak tersebut dari lelaki lain dan bukan dari dirinya.

Menurut jumhur (mayoritas) ulama, anak zina dan anak li’an ini tidak bisa saling mewarisi dengan bapaknya dan karib kerabat bapaknya, karena tidak ada hubungan nasab –secara syar’i– antar mereka. Adapun dengan ibunya dan karib kerabat ibunya, maka bisa saling mewarisi karena nasabnya kepada si ibu diakui secara syar’i. (Lihat Al-Khulashah Fi Ilmil Faraidh, hal. 260-261)

 

6. Warisan anak angkat (adopsi)

Dahulu di masa jahiliah, anak angkat berposisi sebagai anak kandung. Dipanggil dengan nasab bapak angkatnya dan mereka pun saling mewarisi. Kemudian datanglah Islam, mengubah aturan jahiliah tersebut dengan penuh hikmah. Allah l berfirman:

“Dan Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya, dan Dia tidak menjadikan isteri-isteri kalian yang kalian dzihar itu sebagai ibu kalian. Dan Dia (Allah l) tidak menjadikan anak-anak angkat kalian sebagai anak kandung kalian (sendiri), yang demikian itu hanyalah perkataan di mulut kalian saja, dan Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan (yang benar). Panggilah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (menasabkan kepada) nama bapak-bapak mereka. Itulah yang lebih adil di sisi Allah. Jika kalian tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggillah mereka sebagai) saudara-saudara kalian seagama dan maula-maula kalian.3 Tidak ada dosa atas apa yang kalian khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) adalah apa yang disengaja oleh hati kalian, dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Ahzab: 4-5)

Menurut para mufassirin, dua ayat di atas merupakan nasikh (penghapus) bagi adat jahiliah yang memosisikan anak angkat sebagai anak kandung dengan dinasabkan kepadanya dan mewarisi hartanya. Sejak turunnya ayat tersebut, anak angkat tidak boleh dinasabkan kepada bapak angkatnya (akan tetapi dinasabkan kepada bapaknya sendiri) dan mereka pun tidak saling mewarisi satu dengan lainnya.4

Al-Imam Sa’id bin Al-Musayyib t  menegaskan bahwa anak angkat tidak bisa mendapatkan harta waris dari bapak angkatnya, namun masih memungkinkan baginya mendapatkan harta tersebut jika ada wasiat untuknya dari si bapak angkat. (Lihat Tafsir Ath-Thabari, juz 14, hal. 116, Ma’alimut Tanzil, juz 1, hal. 316, Fahmul Qur’an, juz 1, hal. 465, Ad-Durrul Mantsur, juz 6, hal. 563, Al-Muharrar Al-Wajiz, juz 5, hal. 290, At-Tahrir wat Tanwir, juz 11, hal. 204, dan Majmu’ Fatawa, juz 35, hal. 95 -program Al-Maktabah Asy-Syamilah II)

 

7. Warisan anak temuan

Anak temuan adalah seorang anak yang dibuang oleh orangtuanya karena takut menanggung nafkahnya atau karena takut ketahuan berzina. Demikian juga anak yang tersesat dan tidak terlacak siapa orangtuanya dan di mana rumahnya, kemudian dipelihara oleh seseorang yang mengasihinya. (Lihat At-Tahqiqat Al-Mardhiyyah Fil Mabahits Al-Faradhiyyah, hal. 42 dan Al-Khulashah Fi Ilmil Faraidh, hal. 260)

Apakah anak temuan bisa saling mewarisi dengan seorang yang memeliharanya?

Dalam permasalahan ini ada dua pendapat di antara para ulama:

Pertama: Pendapat jumhur (mayoritas) ulama, bahwa anak temuan tidak bisa saling mewarisi dengan seorang yang memeliharanya. Dasarnya adalah sebagaimana yang dikatakan Al-Imam Al-Khaththabi t bahwa anak temuan menurut mayoritas ahli fiqh (fuqaha) adalah seorang yang merdeka, sedangkan dia tidak mempunyai ikatan wala’ (pembebasan diri dari perbudakan) dengan siapapun. Sementara proses waris-mewarisi itu kalau tidak karena ikatan nasab, maka karena ikatan wala’. Kedua ikatan tersebut tidak didapati pada anak temuan dengan seorang yang memeliharanya itu. (Ma’alimus Sunan, juz 4, hal. 176)

Kedua: Pendapat Al-Imam Ishaq bin Rahawaih t dan salah satu pendapat dari Al-Imam Ahmad bin Hanbal t, bahwa anak temuan bisa saling mewarisi dengan seorang yang memeliharanya tersebut ketika tidak didapati ahli warisnya. Pendapat inilah yang nampaknya dikuatkan oleh Al-Imam Ibnul Qayyim t, sebagaimana dalam Tahdzibus Sunan, juz 4, hal. 179. (Diringkas dari At-Tahqiqat Al-Mardhiyyah Fil Mabahits Al-Faradhiyyah, hal. 43-44)

8. Warisan khuntsa

Khuntsa adalah seseorang yang mempunyai dua alat vital (lelaki dan perempuan) atau yang tidak mempunyai kedua-duanya. Karena keadaannya sungguh bermasalah; bukan lelaki dan juga bukan perempuan, maka ditambahlah dengan sifat musykil (bermasalah).

Khuntsa musykil ini bisa terjadi pada empat jenis ahli waris: bunuwwah (keturunan si mayit), ‘umumah (kalangan paman si mayit), ukhuwwah (kalangan saudara si mayit), dan maula (kalangan mantan budak si mayit). Adapun jenis ubuwwah (kalangan orangtua si mayit) maka tidak terjadi pada mereka. Karena statusnya yang tidak jelas ini tidak mungkin terjadi pada mereka, mengingat orang yang tidak jelas statusnya itu –secara syar’i– tidak sah untuk menikah. Sedangkan orang yang tidak menikah tentunya tak mempunyai anak, dan orang yang tidak mempunyai anak (terlebih yang tidak menikah) tidaklah bisa digolongkan ke dalam jenis ubuwwah. Atas dasar itulah, khuntsa musykil tidak mungkin dari jenis ubuwwah. (Lihat At-Tahqiqat Al-Mardhiyyah Fil Mabahits Al-Faradhiyyah, hal. 205-206)

Dalam hal warisan, khuntsa mempunyai tiga keadaan:

1) Statusnya telah jelas (lelaki atau perempuan), dalam kondisi masih mempunyai dua alat vital. Hal ini bisa diketahui dari cara buang air kecilnya; jika menggunakan alat vital lelaki maka dia lelaki dan mewarisi sebagai ahli waris lelaki. Jika buang air kecilnya menggunakan alat vital perempuan maka dia perempuan dan mewarisi sebagai ahli waris perempuan. Dengan demikian, alat vital yang tidak berfungsi itu dihukumi seperti daging tumbuh.

Kemudian jika buang air kecilnya dengan menggunakan kedua alat vitalnya secara bersama-sama, maka dikuatkan sisi yang terbanyak mengeluarkan air seni dari keduanya, dan mewarisi berdasarkan hal tersebut. Namun jika diketahui mana di antara keduanya yang lebih dahulu mengeluarkan air seni, maka yang mengeluarkan lebih dahulu itulah yang dikuatkan, dan dia mewarisi berdasarkan hal tersebut.

2) Statusnya belum jelas (lelaki atau perempuan), namun masih ada harapan untuk bisa diketahui keadaannya dengan menunggu masa baligh, saat munculnya tanda-tanda lelaki, seperti tumbuh kumis atau jenggot, keluar mani dari alat vital lelaki. Atau yang muncul adalah tanda-tanda kewanitaan, seperti datang bulan (haid), keluar mani dari alat vital perempuan, dan muncul payudaranya. Dalam keadaan demikian, masing-masing mewarisi sesuai dengan keadaannya yang telah jelas tersebut.

Namun jika ahli waris selain khuntsa musykil (yang sama-sama mewarisi dari si mayit) tidak sabar menunggu dan meminta agar harta waris segera dibagikan, maka jalan keluarnya adalah dengan melihat posisi khuntsa musykil tersebut, apakah dari kalangan bunuwwah (keturunan si mayit), ‘umumah (kalangan paman si mayit), ukhuwwah (kalangan saudara si mayit), ataukah dari kalangan maula (mantan budak). Kemudian setelah itu dibuat dua hitungan waris sesuai dengan posisi waris khuntsa musykil di atas: 1) dengan memosisikan khuntsa musykil sebagai lelaki, 2) dengan memosisikan khuntsa musykil sebagai perempuan.

Setelah itu dibagikan untuk masing-masing ahli waris (termasuk khuntsa musykil) jatah yang paling sedikit dari kedua hitungan tersebut sebagai bentuk kehati-hatian. Khuntsa musykil mendapatkan jatah warisnya dengan anggapan bahwa dia seorang perempuan, sedangkan ahli waris lainnya mendapatkan jatah warisnya dengan anggapan bahwa khuntsa musykil tersebut seorang lelaki. Adapun sisa dari harta waris ditangguhkan hingga benar-benar jelas status khuntsa musykil tersebut. Jika di kemudian hari status khuntsa musykil tersebut jelas sebagai lelaki, maka dia mendapatkan tambahan jatah dari sisa harta yang ditangguhkan tadi. Namun jika perempuan, maka para ahli waris itulah yang mendapatkan tambahan jatah dari sisa harta yang ditangguhkan tadi.

3) Tidak ada harapan untuk bisa diketahui statusnya, seperti meninggal dunia di waktu kecil, atau telah memasuki masa baligh namun tak kunjung jelas statusnya. Dalam keadaan demikian masing-masing dari ahli waris (termasuk khuntsa musykil) mendapatkan setengah dari penggabungan dua langkah penghitungan di atas. Artinya setelah dihitung dengan dua langkah penghitungan; memosisikan khuntsa musykil sebagai lelaki dan khuntsa musykil sebagai perempuan (sebagaimana pada keadaan kedua di atas), maka digabungkanlah hasil dari dua penghitungan tersebut, kemudian setelah itu dibagi dua. Hasil akhir dari pembagian inilah yang menjadi jatah waris dari masing-masing ahli waris. (Lihat At-Tahqiqat Al-Mardhiyyah Fil Mabahits Al-Faradhiyyah, hal. 206-216 dan Al-Khulashah Fi Ilmil Faraidh, hal. 227-231)

 

9. Warisan orang-orang/suatu keluarga yang mati tenggelam, tertimbun  (longsor/reruntuhan) atau terbakar

Maksud dari pembahasan ini adalah tentang warisan orang-orang (suatu keluarga yang saling mewarisi) yang tertimpa musibah secara kolektif, baik karena naik kapal laut kemudian tenggelam, tertimbun tanah longsor, kebakaran rumah/kampung, dan berbagai peristiwa lainnya yang banyak terjadi belakangan ini (hanya kepada Allah l-lah tempat berlindung).

Hukum waris di antara mereka meliputi lima keadaan:

1) Dapat diketahui dengan jelas siapa di antara mereka yang meninggal dunia belakangan. Dalam keadaan ini, yang meninggal dunia belakangan mewarisi dari yang meninggal dunia sebelumnya, dan tidak sebaliknya.

2) Dapat diketahui dengan jelas bahwa mereka meninggal dunia dalam waktu yang sama (sekaligus). Dalam keadaan ini, mereka tidak saling mewarisi karena tidak adanya syarat waris, yaitu kejelasan tentang hidupnya ahli waris setelah meninggalnya pemilik harta waris/muwarrits walau sesaat, baik bersifat pasti maupun didasari oleh dugaan kuat (hukmi).5

3) Tidak diketahui proses kematian mereka, apakah satu demi satu atau sekaligus.

4) Dapat diketahui bahwa proses kematian mereka satu demi satu, namun tidak bisa dipastikan siapa di antara mereka yang meninggal dunia belakangan.

5) Dapat diketahui siapa di antara mereka yang meninggal dunia belakangan, kemudian lupa.

Pada tiga keadaan yang terakhir ini, menurut jumhur sahabat, Al-Imam Abu Hanifah, Al-Imam Malik, Al-Imam Asy-Syafi’i, dan generasi akhir dari murid-murid Al-Imam Ahmad, mereka tidak saling mewarisi satu dengan yang lainnya, dan harta yang mereka tinggalkan diwarisi oleh ahli warisnya masing-masing yang hidup ketika terjadinya peristiwa tersebut. Pendapat inilah yang dipilih oleh Al-Imam Ibnu Qudamah, Majduddin Ibnu Taimiyah6, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah7, Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di, Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, dan Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan. (Lihat Tashilul Faraidh, hal. 132, At-Tahqiqat Al-Mardhiyyah Fil Mabahits Al-Faradhiyyah, hal. 238 dan Al-Khulashah Fi Ilmil Faraidh, hal. 251-253)

Akhir kata, sebagai penutup perlu kami sampaikan bahwa kajian waris yang diangkat dalam kesempatan kali ini belum mewakili ilmu al-faraidh sebagai disiplin ilmu tertentu. Karena cakupannya amat luas dan masing-masing pembahasannya pun membutuhkan rincian, sementara ruang rubrik dalam majalah ini terbatas dan jangkauan pemahaman para pembacanya pun amat variatif. Sehingga cukuplah kiranya yang diangkat hanya beberapa poin terpentingnya saja.

Besar harapan kami semoga dengan kajian waris ini umat Islam semakin mengenal bimbingan agamanya yang indah dan penuh hikmah, untuk kemudian berupaya mengamalkan bimbingan tersebut baik dalam permasalahan waris secara khusus ataupun dalam berbagai permasalahan lainnya.

Wallahu a’lam bish-shawab.


1 Menurut sahabat Zaid bin Tsabit, Sa’id bin Al-Musayyib, Sa’id bin Jubair, Al-Auza’i, Ibnu Jarir, dan juga generasi pertama dari kalangan mazhab Maliki dan Syafi’i; hartanya diserahkan ke baitul mal (kas negara). Namun dalil-dalil yang mendasari pendapat ini tidaklah sekuat dalil-dalil pendapat pertama yang menyatakan; hartanya untuk yang terdekat dari dzawil arham. (Untuk mengetahui lebih rinci, lihat kitab At-Tahqiqat Al-Mardhiyyah Fil Mabahits Al-Faradhiyyah, hal. 260-266, dan Al-Khulashah Fi Ilmil Faraidh, hal. 236-239)
2 Yaitu menyusu dengan susuan yang mengenyangkan, minimalnya pada lima kali kesempatan menyusu, dan pada usia susuan/haulain.
3 Seperti sahabat Salim anak angkat Abu Hudzaifah, dipanggil dengan Salim maula Abu Hudzaifah.
4 Keterangan para mufassirin di atas berlaku ketika si anak angkat bukan dari kerabat (ahli waris) bapak angkatnya. Akan tetapi jika masih ada hubungan kerabat dan termasuk ahli waris dari si bapak angkatnya, semisal anak lelaki saudara lelakinya (keponakan) atau cucu lelaki dari anak lelakinya dll, maka dia diposisikan selayaknya ahli waris dan bisa mendapatkan jatah warisnya manakala telah terpenuhi segala persyaratannya.
5 Untuk lebih jelasnya, lihatlah pembahasan yang lalu tentang ‘Syarat Waris’.
6 Beliau adalah kakek dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t, penulis kitab Muntaqal Akhbar yang kemudian disyarah (dijelaskan) oleh Al-Imam Asy-Syaukani t dalam kitab yang berjudul Nailul Authar.
7 Untuk mengetahui lebih jauh tentang beliau, baca majalah Asy-Syariah edisi 45 ‘Mengenal Lebih Dekat Ulama Kita’.

Perkara-perkara Penentu dalam Waris Mewarisi

(ditulis oleh: Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi)

 

Dalam sistem waris Islam, ada beberapa perkara yang sangat menentukan bagi terealisasinya proses waris-mewarisi. Ia meliputi rukun waris, syarat waris, sebab waris dan penghalang waris.

Tiga perkara pertama (rukun waris, syarat waris, dan sebab waris) keberadaannya diharuskan, sedangkan perkara keempat (penghalang waris) keberadaannya tidak diperbolehkan. Mengingat betapa pentingnya memahami rincian empat perkara tersebut, maka ikutilah penjelasan berikut ini.
Rukun Waris
Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan berkata: “Proses waris-mewarisi mempunyai tiga rukun yang tidak akan terealisasi suatu proses waris-mewarisi kecuali dengan keberadaannya.” (At-Tahqiqat Al-Mardhiyyah Fil Mabahits Al-Faradhiyyah, hal. 28)
Tiga rukun waris tersebut adalah:
1. Muwarrits: si mayit yang meninggalkan harta waris/pemilik harta waris.
2. Warits: ahli waris/pewaris yang berhak mendapatkan harta waris.
3. Mauruts/tarikah: harta waris yang ditinggalkan oleh si mayit. (Lihat Tashilul Faraidh, hal. 18)
Kalau tidak ada muwarrits (si mayit yang meninggalkan harta waris) maka tidak akan ada harta waris, demikian pula orang yang mewarisinya. Jika tidak ada ahli waris, maka harta waris yang ditinggalkan si mayit pun tidak ada yang mewarisinya (dari ahli waris yang sesungguhnya). Demikian pula ketika tidak ada harta waris, tidaklah mungkin bisa terjadi proses waris-mewarisi. Dari sini jelaslah bahwa keberadaan tiga rukun waris tersebut mutlak ada demi terealisasinya proses waris-mewarisi.
Syarat Waris
Syarat waris merupakan salah satu penentu bagi terealisasinya proses waris-mewarisi. Karena betapapun telah terpenuhi rukun waris sementara syarat warisnya belum terpenuhi, maka proses waris-mewarisi pun tidak bisa dilakukan. Apa sajakah syarat waris itu?
Syarat waris dalam hukum waris Islam ada tiga:
1. Kejelasan tentang meninggalnya si pemilik harta waris (muwarrits), baik meninggalnya bisa dipastikan maupun sebatas didasari dugaan yang kuat (hukmi). Bisa dipastikan, maksudnya bahwa proses kematian si pemilik harta waris tersebut benar-benar bisa dipastikan, baik dengan melihatnya secara langsung, dengan kemasyhuran akan kematiannya, atau dengan persaksian dua orang lelaki yang adil (bisa dipertanggungjawabkan). Sedangkan yang dimaksud dengan didasari dugaan yang kuat adalah bahwa vonis kematian yang dijatuhkan kepada pemilik harta waris tersebut atas dasar dugaan yang kuat. Seperti seseorang yang diduga kuat telah mati, karena sejak lama menghilang dan tak didapati lagi tanda-tanda kehidupannya.
2. Kejelasan tentang hidupnya ahli waris setelah meninggalnya si pemilik harta waris/muwarrits walau sesaat, baik secara pasti maupun didasari oleh dugaan kuat (hukmi). Maksud secara pasti adalah bahwa ahli waris tersebut dipastikan masih hidup saat meninggalnya pemilik harta waris. Kepastian ini bisa dibuktikan dengan melihatnya secara langsung, dengan kemasyhuran bahwa dia masih hidup, atau dengan persaksian dua orang lelaki yang adil (bisa dipertanggungjawabkan). Sedangkan yang dimaksud dengan didasari oleh dugaan yang kuat adalah bahwa vonis tentang hidupnya ahli waris tersebut didasari atas dugaan yang kuat. Seperti seorang anak yang masih berada di perut ibunya saat meninggalnya pemilik harta waris (muwarrits-nya) walaupun belum ditiupkan ruh kepadanya. Maka dia digolongkan ke dalam jajaran ahli waris dan bisa mendapatkan harta waris, dengan syarat dilahirkan dalam kondisi hidup.
3. Mengetahui segala hal yang terkait dengan sebab terjadinya proses waris-mewarisi tersebut dan mengetahui keterkaitan masing-masing ahli waris dengan pemilik harta waris (muwarrits)-nya. (Lihat Tashilul Faraidh, hal. 18-19)
Sebab Waris
Waris-mewarisi dalam hukum waris Islam tidaklah terjadi begitu saja. Akan tetapi amat terkait dengan sebab waris yang dengannya bisa terjadi proses waris-mewarisi. Sebab waris tersebut ada tiga:
1. Perkawinan yang dibangun di atas akad nikah yang sah. Manakala telah terlaksana suatu perkawinan yang sah, maka suami istri tersebut mempunyai hak untuk saling mewarisi walaupun belum terjadi khalwat (berduaan) maupun jima’ (hubungan sebadan) di antara mereka. Lebih-lebih lagi bila telah terjadi khalwat ataupun jima’ antara keduanya. Dalilnya adalah keumuman firman Allah l:
“Dan bagi kalian (para suami) setengah (1/2) dari harta yang ditinggalkan oleh istri-istri kalian, jika mereka tidak mempunyai anak. Jika istri-istri kalian itu mempunyai anak, maka kalian mendapat seperempat (1/4) dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau (dan) sesudah dibayar utangnya. Para istri memperoleh seperempat (1/4) harta yang kalian tinggalkan jika kalian tidak mempunyai anak. Jika kalian mempunyai anak, maka para istri memperoleh seperdelapan (1/8) dari harta yang kalian tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kalian buat atau (dan) sesudah dibayar utang-utang kalian.” (An-Nisa’: 12)
Sebab pertama ini akan terus berlaku hingga terjadinya talak bain (cerai yang ketiga kalinya, atau cerai yang pertama/kedua dan telah habis masa ‘iddah/tenggangnya) atau fasakh (pembatalan nikah). Dengan terjadinya talak bain atau fasakh, maka sejak saat itu pula mereka tidak bisa saling mewarisi lagi. Kecuali jika talak bain tersebut dijatuhkan oleh suami menjelang kematiannya yang (diduga kuat) bertujuan untuk menghalangi istri tersebut dari hak warisnya, maka dalam kondisi semacam ini si istri tetap mendapatkan jatah warisnya menurut pendapat yang rajih. Adapun talak raj’i (cerai yang pertama/kedua) dan masih dalam masa ‘iddah/tenggang, maka masih memungkinkan bagi mereka untuk saling mewarisi jika saat itu salah satunya ada yang meninggal dunia, karena statusnya masih terhitung sebagai suami-istri. (Lihat Tashilul Faraidh, hal. 20 dan 22, dan At-Tahqiqat Al-Mardhiyyah Fil Mabahits Al-Faradhiyyah, hal. 32-35)
2. Ikatan nasab, yaitu hubungan kekerabatan antara dua orang baik secara dekat maupun jauh. Hubungan kekerabatan ini meliputi ushul (bapak, ibu, kakek, dan nenek si mayit), furu’ (anak, cucu dari anak lelaki si mayit, dan terus ke bawahnya), dan hawasyi (saudara-saudara si mayit dan anak-anak lelakinya, paman-paman si mayit dan ke atasnya, anak-anak lelaki paman dan terus ke bawahnya). Dalilnya adalah firman Allah l:
“Orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan kerabat di dalam Kitab Allah). Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (Al-Anfal: 75) [Lihat At-Tahqiqat Al-Mardhiyyah Fil Mabahits Al-Faradhiyyah, hal. 37 dan Tashilul Faraidh, hal. 21]
3. Ikatan wala’, yaitu pembebasan seseorang terhadap budak tertentu, baik karena berderma semata atau karena suatu kewajiban; seperti nadzar, zakat, dan kafarah. Gambaran kasusnya adalah bila seorang mantan budak meninggal dunia dan tidak ada yang mewarisi dari kalangan ahli warisnya, maka seseorang yang dahulu membebaskannya dari perbudakan itulah yang mewarisi hartanya. Menurut jumhur (mayoritas) ulama, proses waris-mewarisi antara mantan budak dan yang membebaskannya itu hanya satu arah saja, yakni yang bisa mewarisi hanyalah pihak yang membebaskan saja, dan tidak sebaliknya. Adapun Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t dan para ulama yang bersama beliau berpandangan bahwa proses waris-mewarisi bisa terjadi dari dua arah, yakni antara mantan budak dan yang membebaskannya tersebut bisa saling mewarisi. Mereka bisa saling mewarisi manakala tidak didapati ahli waris (asli) yang mewarisi dari masing-masingnya. (Lihat At-Tahqiqat Al-Mardhiyyah Fil Mabahits Al-Faradhiyyah, hal. 37 dan Tashilul Faraidh, hal. 21)
Demikianlah tiga sebab yang dengannya bisa terjadi proses waris-mewarisi menurut kesepakatan jumhur (mayoritas) ulama.
Penghalang Waris
Penghalang waris adalah sesuatu yang dapat menghalangi ahli waris untuk mendapatkan hak warisnya (baik secara keseluruhan ataupun sebagian besarnya, pen.), meskipun telah terpenuhi padanya sebab-sebab waris. (Lihat Al-Khulashah Fi Ilmil Faraidh, hal. 45)
Penghalang waris, secara garis besar terbagi menjadi dua:
Pertama: Penghalang dalam bentuk sifat/kriteria tertentu yang dapat menghalangi ahli waris dari jatah warisnya secara keseluruhan. Penghalang jenis ini bisa menimpa seluruh ahli waris tanpa terkecuali,1 yang dalam ilmu al-faraidh dikenal dengan istilah mawani’ul irtsi (penghalang-penghalang waris). Adapun rinciannya ada tiga:
1) Perbudakan: Seorang yang berstatus budak tidaklah bisa mewarisi, karena dia dan hartanya menjadi milik tuannya. Tidak adanya hak milik bagi seseorang, merupakan penghalang syar’i baginya untuk mendapatkan harta waris. Jika si budak tersebut mendapatkan harta waris, maka harta waris itu akan menjadi milik tuannya, padahal si tuan tersebut bukan bagian dari ahli waris si mayit. Atas dasar itulah, jika seorang mayit muslim meninggalkan seorang anak muslim yang berstatus budak dan seorang cucu muslim dari kalangan merdeka, maka yang mewarisi hartanya adalah sang cucu walaupun ada bapaknya. Mengapa? Karena si bapak statusnya masih budak dan budak tidak bisa mewarisi, sedangkan sang cucu dari kalangan merdeka. (Lihat At-Tahqiqat Al-Mardhiyyah Fil Mabahits Al-Faradhiyyah, hal. 46 dan Tashilul Faraidh, hal. 28)
2) Pembunuhan yang dilakukan terhadap pemilik harta waris (muwarrits): Jika seorang ahli waris membunuh muwarrits-nya, maka si pembunuh tersebut tidak berhak mendapatkan harta waris darinya. Gambaran kasusnya adalah seorang anak (ahli waris) membunuh bapaknya (pemilik harta waris), maka si anak tersebut tidak berhak mendapatkan harta waris yang ditinggalkan bapaknya. Di antara hikmah dari ketentuan di atas adalah mencegah bermudahannya ahli waris dari perbuatan keji tersebut hanya karena untuk mendapatkan harta waris.
Lalu, apakah setiap jenis pembunuhan dapat menghalangi seseorang dari jatah warisnya? Para ulama berbeda pendapat dalam permasalahan ini. Namun menurut Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin t dan Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah bahwa pembunuhan yang menyebabkan terhalangnya seseorang dari jatah warisnya adalah pembunuhan yang bersifat bighairil haq (tidak dibenarkan secara syar’i),2 yaitu pembunuhan yang mengakibatkan qishash, membayar diyat (tebusan), atau membayar kafarah. Seperti pembunuhan dengan sengaja (qatlul ‘amd), pembunuhan semi sengaja (syibhul ‘amd),3 dan pembunuhan karena kekeliruan (khatha’an).4 (Lihat At-Tahqiqat Al-Mardhiyyah Fil Mabahits Al-Faradhiyyah, hal. 50-52 dan Tashilul Faraidh, hal. 29)
3) Perbedaan agama antara pemilik harta waris (muwarrits) dengan ahli warisnya. Gambaran kasusnya: si mayit yang meninggalkan harta waris adalah seorang muslim, sedangkan ahli warisnya non muslim (kafir). Atau sebaliknya, si mayit yang meninggalkan harta waris adalah seorang non muslim (kafir), sedangkan ahli warisnya seorang muslim. Menurut jumhur (mayoritas) ulama, masing-masingnya tidak bisa saling mewarisi. Karena secara tinjauan syar’i, hubungan di antara mereka telah terputus. Dalilnya adalah firman Allah l kepada Nabi Nuh q:
“Allah berfirman: ‘Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatan) dia adalah perbuatan yang tidak baik’.” (Hud: 46)
Demikian pula sabda Rasulullah n:
لَا يَرِثُ الْمُسْلِمُ الْكَافِرَ وَلَا الْكَافِرُ الْمُسْلِمَ
“Tidaklah seorang muslim mewarisi seorang non muslim (kafir) dan tidak pula seorang non muslim (kafir) mewarisi seorang muslim.” (HR. Al-Bukhari no. 6383 dan Muslim no. 1614, dari hadits Usamah bin Zaid c) [Lihat At-Tahqiqat Al-Mardhiyyah Fil Mabahits Al-Faradhiyyah, hal. 53 dan Tashilul Faraidh, hal. 31]
Kedua: Penghalang dalam bentuk ahli waris yang berposisi lebih kuat. Artinya keberadaan ahli waris yang secara posisi lebih kuat itu bisa menyebabkan terhalangnya ahli waris tertentu untuk mendapatkan hak warisnya, baik secara keseluruhan ataupun sebagian besarnya. Proses penghalangan ini dalam ilmu al-faraidh dikenal dengan istilah hajb. Seorang yang terhalang dari harta warisnya disebut mahjub, sedangkan penghalangnya disebut hajib. Penghalang jenis ini terbagi menjadi dua:
a. Hajb Hirman (menghalangi secara keseluruhan). Jika penghalangnya dari jenis pertama ini, maka dapat menghalangi seorang ahli waris dari jatah warisnya secara keseluruhan. Penghalang jenis ini bisa menimpa semua ahli waris kecuali enam orang; bapak, ibu, anak lelaki, anak perempuan, suami, dan istri.
b. Hajb Nuqshan (menghalangi dari jatah waris yang terbesar). Jika ada penghalang dari jenis kedua ini, maka dapat menghalangi seorang ahli waris dari jatah warisnya terbesar, sehingga ia bergeser dari jatahnya yang besar kepada jatahnya yang lebih sedikit. Penghalang jenis ini terbagi menjadi tujuh macam:
1) Menghalangi ahli waris tertentu dari jatah waris tertentu (fardh) dengan menggesernya kepada jatah waris tertentu (fardh) yang lebih sedikit. Misalnya, bergesernya suami dari jatah waris ½ kepada ¼. Demikian pula bergesernya satu orang istri atau lebih dari jatah waris ¼ kepada 1/8.
2) Menghalangi ahli waris tertentu dengan menggesernya dari suatu ta’shib kepada ta’shib yang lebih sedikit. Misalnya, saudara perempuan sekandung dan saudara perempuan sebapak yang bergeser dari ‘ashabah ma’al ghair kepada ‘ashabah bil ghair.
3) Menghalangi ahli waris tertentu dengan menggesernya dari jatah waris tertentu (fardh) kepada ta’shib yang lebih sedikit. Misalnya, bergesernya jatah waris ½ dari para pemiliknya kepada ‘ashabah bil ghair.
4) Menghalangi ahli waris tertentu dengan menggesernya dari ta’shib kepada jatah waris tertentu (fardh) yang lebih sedikit. Misalnya, bergesernya bapak dan kakek dari ta’shib kepada jatah waris tertentu (fardh).
5) Saling berserikat dalam jatah waris tertentu (fardh). Misalnya, berserikatnya para istri pada jatah waris ¼ dan 1/8, berserikatnya para pemilik jatah waris 1/3 dan juga para pemilik jatah waris 2/3 pada jatah tersebut.
6) Saling berserikat dalam ta’shib tertentu, seperti berserikatnya ‘ashabah pada suatu harta secara utuh atau pada apa yang tersisa dari ashhabul furudh.
7) Saling berserikat dalam masalah ‘aul5, di mana masing-masingnya mendapatkan jatah yang lebih (di atas kertas) namun dalam praktik nyatanya tidak demikian. (Lihat Al-Fawaidul Jaliyyah Fil Mabahits Al-Faradhiyyah, hal. 26-27 program Al-Maktabah Asy-Syamilah II)
Empat Hak yang Harus Didahulukan Sebelum Pembagian Harta Waris
Jika suatu permasalahan waris telah terpenuhi padanya rukun waris, syarat waris, sebab waris, dan tidak didapati penghalang waris, maka langkah selanjutnya adalah membagikan harta waris tersebut kepada ahli warisnya sesuai dengan apa yang dibimbingkan Allah l dan Rasul-Nya n.6
Namun perlu diketahui, ada empat perkara terkait dengan harta waris yang amat menentukan proses pembagian harta waris. Di mana proses pembagian harta waris tidak akan bisa dilakukan hingga benar-benar diselesaikan terlebih dahulu empat perkara tersebut. Empat perkara itu adalah:
1. Biaya pemakaman si mayit dan segala sesuatu yang berkaitan dengan pengurusan jenazahnya.
2. Utang dalam bentuk barang (berkaitan langsung dengan barang yang diwariskan). Seperti sepeda motor utang (kredit) milik si mayit, dll.
3. Utang secara mutlak yang tidak berkaitan dengan barang, baik utang tersebut berkaitan dengan hak Allah l seperti zakat, kaffarah, dan lain-lain, maupun yang berkaitan dengan hak manusia seperti pinjam uang, transaksi tertentu yang belum dilunasi, dan lain-lain.
4. Pelaksanaan wasiat yang ditujukan kepada selain ahli waris dengan nominal yang tidak lebih dari 1/3 harta waris. Namun jika semua ahli waris sepakat/ridha terhadap wasiat yang ditujukan kepada salah satu dari ahli waris atau jumlah nominalnya melebihi 1/3 dari harta yang diwaris, maka wasiat tersebut sah dan bisa dilaksanakan. (Untuk lebih rincinya, lihat Tashilul Faraidh, hal. 11-17)
Demikianlah empat perkara yang harus didahulukan sebelum pembagian harta waris. Jika empat perkara tersebut telah diselesaikan dengan baik, maka tibalah saatnya pembagian harta waris sesuai dengan yang dibimbingkan Allah l dan Rasul-Nya n.

1Lihat Al-Fawa’idul Jaliyyah Fil Mabahits Al-Faradhiyyah, hal. 26, program Al-Maktabah Asy-Syamilah II.
2 Dikecualikan darinya pembunuhan bil haq (dengan cara yang dibenarkan secara syar’i), misalnya seorang eksekutor yang ditugasi waliyul amr (pemerintah) untuk mengeksekusi seorang pembunuh sebagai bentuk qishash (balasan bunuh) baginya, seseorang yang membela diri hingga mengakibatkan terbunuhnya si pelaku aniaya tersebut, dll.
3 Contohnya seseorang memukul orang lain dengan menggunakan sandal, kemudian mati. Disebut semi sengaja karena di satu sisi sengaja memukul orang tersebut, namun di sisi lain tidak berniat untuk membunuhnya.
4 Contohnya seseorang membidikkan tembakan ke arah rusa, namun ternyata tembakan tersebut justru mengenai orang yang kebetulan sedang melintas di jalan tidak jauh dari rusa tersebut, hingga mati. Disebut keliru karena tidak ada niatan untuk membunuhnya dan tidak ada upaya sama sekali untuk melakukan sesuatu terhadap orang tersebut.
5 Masalah ‘aul adalah masalah berlebihnya jumlah jatah/saham ahli waris di atas jumlah ashlul mas’alah (pokok masalah), saat proses penghitungan.
6 Pembagian harta waris ini tentunya dengan melalui proses penghitungan tertentu, sebagaimana yang dirinci dalam ilmu al-faraidh.

Siapakah yang Berhak Mendapat Harta Waris

(ditulis oleh: Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi)

 

Dalam sistem waris Islam, tak semua orang bisa mendapatkan harta waris. Demikianlah ketentuan Allah l yang Maha Adil lagi Maha Bijaksana. Dengan segala hikmah dan keilmuan-Nya yang luas, Dia l memilih orang-orang yang berhak mendapatkan harta waris tersebut.

Tak hanya dari kalangan lelaki yang dipilih-Nya, dari kalangan perempuan sekalipun ada juga yang dipilih-Nya. Dari kalangan lelaki berjumlah 15 orang, sedangkan dari kalangan perempuan berjumlah 11 orang.
Dalam istilah ilmu al-faraidh, seorang lelaki yang berhak mendapatkan harta waris disebut warits (وَارِثٌ), dan jika berjumlah banyak disebut waritsuun (وَارِثُون) atau waratsah (وَرَثَةٌ). Sedangkan seorang perempuan yang berhak mendapatkan harta waris disebut waritsah (وَارِثَةٌ), dan jika berjumlah banyak disebut waritsaat (وَارِثَاتٌ). Semua itu dalam bahasa Indonesia biasa disebut dengan ahli waris atau pewaris.
Orang-orang yang berhak mendapatkan harta waris dari kalangan laki-laki adalah:
1. Anak lelaki
2. Cucu lelaki dari anak lelaki, dan seterusnya dari keturunannya yang lelaki
3. Bapak
4. Kakek (dari pihak bapak) dan ke atasnya dari jalur lelaki
5. Suami
6. Saudara lelaki sekandung
7. Saudara lelaki sebapak
8. Saudara lelaki seibu
9. Anak lelaki dari saudara lelaki sekandung (keponakan), dan seterusnya dari keturunannya yang lelaki
10. Anak lelaki dari saudara lelaki sebapak (keponakan), dan seterusnya dari keturunannya yang lelaki
11. Paman (saudara bapak sekandung)
12. Paman (saudara bapak sebapak)
13. Anak lelaki dari paman/saudara bapak sekandung (sepupu), dan seterusnya dari keturunannya yang lelaki
14. Anak lelaki dari paman/saudara bapak sebapak (sepupu), dan seterusnya dari keturunannya yang lelaki
15. Seorang lelaki yang membebaskan budak (mu’tiq), dan ashabah-nya dari jenis ‘ashabah bin-nafsi.
Jika diandaikan semuanya terkumpul dalam satu masalah waris, maka yang berhak mendapatkan harta waris dari mereka adalah anak lelaki, bapak, dan suami. (Lihat At-Tahqiqat Al-Mardhiyyah Fil Mabahits Al-Faradhiyyah, hal. 65-67 dan Al-Khulashah Fi Ilmil Faraidh hal. 62-63)
Sedangkan orang-orang yang berhak mendapatkan harta waris dari kalangan perempuan adalah:
1. Ibu
2. Anak perempuan
3. Cucu perempuan dari anak lelaki, dan seterusnya dari keturunan perempuan yang melalui jalur lelaki
4. Nenek dari pihak ibu, dan ke atasnya dari jenis perempuan
5. Nenek dari pihak bapak
6. Ibunya kakek dari pihak bapak (buyut perempuan)
7. Saudara perempuan sekandung
8. Saudara perempuan sebapak
9. Saudara perempuan seibu
10. Istri, walaupun lebih dari satu
11. Seorang perempuan yang membebaskan budak (mu’tiqah).
Jika diandaikan semuanya terkumpul dalam satu masalah waris, maka yang berhak mendapatkan harta waris dari mereka adalah ibu, anak perempuan, cucu perempuan dari anak lelaki, istri, dan saudara perempuan sekandung. Adapun jika diandaikan semua ahli waris tersebut baik dari kalangan lelaki maupun perempuan terkumpul dalam satu masalah waris, maka yang berhak mendapatkan harta waris adalah bapak, anak lelaki, suami atau istri, ibu, dan anak perempuan. (Lihat At-Tahqiqat Al-Mardhiyyah Fil Mabahits Al-Faradhiyyah, hal. 68 dan Al-Khulashah Fi Ilmil Faraidh, hal. 62-63)
Bagaimanakah cara perwarisan dari masing-masing ahli waris tersebut? Cara perwarisannya terbagi menjadi empat macam:
Pertama: Mereka yang mewarisi dengan cara fardh saja. Jumlahnya ada tujuh orang;
1) Ibu
2) Anak lelaki ibu mayit (saudara  lelaki seibu)
3) Anak perempuan ibu (saudara perempuan seibu)
4) Suami
5) Istri
6) Nenek dari pihak ibu
7) Nenek dari pihak bapak.
Kedua: Mereka yang mewarisi dengan cara ta’shib saja. Jumlahnya ada duabelas orang;
1) Anak lelaki
2) Cucu lelaki dari anak lelaki, dan seterusnya dari keturunannya yang lelaki
3) Saudara lelaki sekandung
4) Saudara lelaki sebapak
5) Anak lelaki dari saudara lelaki sekandung (keponakan), dan seterusnya dari keturunannya yang lelaki
6) Anak lelaki dari saudara lelaki sebapak (keponakan), dan seterusnya dari keturunannya yang lelaki
7) Paman (saudara bapak sekandung) dan ke atasnya
8 ) Paman (saudara bapak sebapak) dan ke atasnya
9) Anak lelaki dari paman/saudara bapak sekandung (sepupu), dan seterusnya dari keturunannya yang lelaki
10) Anak lelaki paman/saudara bapak sebapak (sepupu), dan seterusnya dari keturunannya yang lelaki
11) Seorang lelaki yang membebaskan budak (mu’tiq)
12) Seorang perempuan yang membebaskan budak (mu’tiqah).
Ketiga: Mereka yang terkadang mewarisi dengan cara fardh, terkadang pula dengan cara ta’shib, dan terkadang menggabungkan antara keduanya (cara fardh dan cara ta’shib). Jumlahnya ada dua: 1) Bapak, dan  2) Kakek.
Keempat: Mereka yang terkadang mewarisi dengan cara fardh dan terkadang pula dengan cara ta’shib, namun tidak bisa menggabungkan antara cara fardh dan cara ta’shib selama-lamanya. Jumlahnya ada empat;
1) Anak perempuan, baik satu orang ataupun lebih
2) Cucu perempuan dari anak lelaki, walaupun saudara lelaki yang menjadikannya mewarisi dengan cara ta’shib (mu‘ashshib) secara tingkatan di bawahnya (seperti; cicit/anak lelakinya cucu lelaki dari anak lelaki, pen.), baik jumlahnya satu orang atau lebih
3) Saudara perempuan sekandung, baik jumlahnya satu orang atau lebih
4) Saudara perempuan sebapak, baik jumlahnya satu orang atau lebih.
(Lihat Al-Fawaidul Jaliyyah Fil Mabahits Al-Faradhiyyah karya Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz t, hal. 13, program Al-Maktabah Asy-Syamilah II)
Mengkaji Beberapa Ayat dan Hadits Seputar Waris
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin t berkata: “Ayat-ayat waris yang Allah l sebutkan secara gamblang dalam Al-Qur’an ada tiga:
– Ayat pertama, tentang jatah waris ushul (orangtua si mayit dan yang di atasnya) dan furu’ (keturunan/anak cucu si mayit).
– Ayat kedua, tentang jatah waris suami, istri, dan anak-anak ibu (saudara seibu dari si mayit).
– Ayat ketiga, tentang jatah waris saudara-saudara si mayit selain dari pihak ibunya (saudara sekandung dan saudara sebapak).
Ayat pertama adalah firman Allah l:
“Allah mensyariatkan bagi kalian tentang (pembagian harta waris untuk) anak-anak kalian…” (An-Nisa’: 11)1
Dalam ayat ini Allah l menjelaskan bahwa ahli waris dari furu’ (keturunan/anak cucu si mayit) ada tiga macam;
1. Lelaki semua: Allah l tidak menentukan jatah waris tertentu bagi mereka. Bentuk perwarisan mereka, dengan cara ta’shib yaitu mendapatkan apa yang tersisa dari harta waris, setelah dibagikan kepada ashhabul furudh.2 Ahli waris yang mewarisi dengan cara ta’shib ini disebut dengan ‘ashabah. Jika berjumlah satu orang, maka semua yang tersisa setelah pembagian terhadap ashhabul furudh menjadi miliknya. Jika berjumlah lebih dari satu orang (dua orang ke atas), maka apa yang tersisa dari pembagian tersebut dibagi sama rata sesama mereka.
2. Perempuan semua: Jika berjumlah satu orang, maka jatahnya adalah ½ (setengah) dari harta waris. Jika berjumlah lebih dari satu orang (dua orang ke atas), maka jatah warisnya adalah 2/3 (dua pertiga) dengan dibagi sama rata sesama mereka.
3. Terdiri dari lelaki dan perempuan: Allah l tidak menentukan jatah waris tertentu bagi mereka. Sehingga mereka mewarisi dengan cara ta’shib. Adapun cara pembagian harta waris tersebut di antara mereka, maka dengan sistem jatah lelaki dua kali lipat dari jatah perempuan.
Adapun ushul (orangtua si mayit dan yang di atasnya), mempunyai dua keadaan:
1. Si mayit mempunyai beberapa anak, baik lelaki maupun perempuan:
– Jika si mayit mempunyai sejumlah anak lelaki atau lelaki dan perempuan, maka orangtua si mayit baik bapak maupun ibu mendapatkan 1/6 (seperenam) dari harta waris, sedangkan sisanya untuk anak-anak si mayit (sebagai ‘ashabah). ‘Ashabah dari jenis furu’ lebih kuat kedudukannya dari ‘ashabah jenis ushul, karena furu’ merupakan bagian dari si mayit.
– Jika anak-anak si mayit tersebut dari kalangan perempuan saja, maka mereka mengambil jatah yang telah ditentukan Allah l untuk mereka yaitu 2/3 (duapertiga), dan jika tersisa maka untuk bapak si mayit, karena dia yang paling berhak mendapatkannya dari kalangan lelaki (‘ashabah). Jika bersama anak-anak perempuan dan bapak tersebut ada ibu si mayit, maka tak terbayangkan si bapak bisa mendapatkan sisa dari harta waris tersebut.3
2. Si mayit tidak mempunyai anak. Dalam kondisi semacam ini kedua orangtua si mayit mewarisi hartanya. Sang ibu mendapat 1/3 (sepertiga), sedangkan bapak mendapatkan sisanya (‘ashabah). Kecuali jika si mayit mempunyai dua orang saudara atau lebih, maka sang ibu mendapat 1/6 (seperenam) dan sisanya untuk bapak. Kemudian jika mencermati firman Allah l:
“Dan ia diwarisi oleh kedua orangtuanya (saja)…”
Maka amat memungkinkan bagi selain kedua orangtua untuk mewarisi harta si mayit, sebagaimana dalam kasus yang dikenal dengan ‘Umariyyatani’, yaitu;
1) Si mayit tidaklah meninggalkan ahli waris kecuali suami, ibu, dan bapak.
2) Si mayit tidaklah meninggalkan ahli waris kecuali istri, ibu, dan bapak.
Dalam kondisi semacam ini suami maupun istri mengambil jatahnya terlebih dahulu (suami ½, sedangkan istri ¼), kemudian ibu mendapat 1/3 dari harta yang tersisa, sedangkan bapak mendapatkan sisanya. Karena Allah l telah menentukan jatah bapak dua kali lipat dari jatah ibu di saat yang mewarisi hanya mereka berdua saja, maka seperti itu pulalah manakala mereka berdua mewarisi bersama salah seorang ahli waris lainnya (sebagaimana kasus di atas). Wallahu a’lam.
Ayat kedua adalah firman Allah l:
“Dan bagi kalian (para suami) setengah (1/2) dari harta yang ditinggalkan oleh istri-istri kalian……..” (An-Nisa’: 12)4
Dalam ayat ini Allah l menjelaskan bahwa suami mempunyai dua keadaan:
1. Istrinya yang meninggal dunia tersebut mempunyai anak baik lelaki maupun perempuan. Dalam kondisi semacam ini, suami mendapatkan ¼ (seperempat) dari harta waris.
2. Istrinya yang meninggal dunia tersebut tidak mempunyai anak. Dalam kondisi semacam ini, suami mendapatkan ½ (setengah) dari harta waris.
Dalam ayat ini pula Allah l menjelaskan bahwa istri juga mempunyai dua keadaan:
1. Suaminya yang meninggal dunia tersebut mempunyai anak, baik lelaki maupun perempuan. Dalam kondisi semacam ini, istri mendapatkan 1/8 (seperdelapan).
2. Suaminya yang meninggal dunia tersebut tidak mempunyai anak. Dalam kondisi semacam ini, istri mendapatkan ¼ (seperempat).
Adapun anak-anak ibu (saudara seibu dari si mayit), maka Allah l menjelaskan bahwa mereka bisa mewarisi dalam kasus kalalah.5 Jika jumlahnya satu orang maka jatah warisnya adalah 1/6 (seperenam), dan jika dua orang atau lebih maka mereka bersekutu dalam 1/3 (sepertiga). Tidak ada perbedaan jatah antara lelaki dan perempuan di antara mereka (dibagi sama rata). Karena –wallahu a’lam– keterkaitan mereka dengan si mayit sebatas dari jalur ibu (perempuan) saja tanpa ada jalur dari bapak yang dapat menjadikan lelaki lebih banyak jatahnya dari perempuan.
Ayat ketiga adalah firman Allah l:
“Mereka meminta fatwa kepadamu tentang kalalah. Katakanlah: ‘Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah…’.” (An-Nisa’: 176)6
Dalam ayat ini Allah l menjelaskan jatah waris saudara-saudara si mayit selain dari jalur ibunya, dalam hal ini adalah saudara si mayit sekandung, dan juga saudara sebapak. Mereka terbagi menjadi tiga:
1. Lelaki semua: Mereka mewarisi bersama-sama (tanpa ada jatah tertentu) dan dibagi sama rata sesama mereka.
2. Perempuan semua: Mereka mewarisi dengan jatah tertentu; jika satu orang maka mewarisi ½ (setengah) dan jika dua orang atau lebih maka mewarisi 2/3 (duapertiga) yang dibagi sama rata sesama mereka.
3. Lelaki dan perempuan: Mereka mewarisi bersama-sama (tanpa ada jatah tertentu) dan dibagi dengan sistem jatah lelaki dua kali lipat dari jatah perempuan.
Adapun sabda Rasulullah n:
أَلْحِقُوا الْفَرَائِضَ بِأَهْلِهَا فَمَا بَقِيَ لِأَوْلَى رَجُلٍ ذَكَرٍ
“Berikanlah bagian/jatah pembagian waris yang Allah tentukan (1/2, 1/3, ¼, 1/6, 1/8, 2/3) kepada para pemiliknya, dan apa yang tersisa maka untuk ahli waris lelaki yang paling kuat (berhak).”  (HR. Al-Bukhari, no. 6733, dari sahabat Abdullah bin Abbas c)
Maka dapat diambil darinya jatah waris selain ushul (orangtua dan yang di atasnya), furu’ (keturunan/anak cucu si mayit), dan saudara-saudara si mayit. Tidaklah mewarisi dari mereka kecuali yang lelaki dan mewarisinya pun tanpa ada jatah tertentu (dengan cara ta’shib). Jika mereka terdiri dari beberapa jenis ahli waris, maka didahulukan yang lebih kuat/berhak, seperti: paman lebih didahulukan daripada anak paman tersebut, dan yang sekandung lebih didahulukan daripada yang sebapak saja.
Sedangkan firman Allah l:
“Orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan kerabat) di dalam Kitab Allah. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (Al-Anfal: 75)
menerangkan tentang hak waris dzawil arham (karib kerabat) yang bukan ashhabul furudh dan bukan pula ‘ashabah. Akan tetapi ayat ini bukan sebagai nash dalam permasalahan waris. Lebih dari itu, para ulama berbeda pendapat tentang waris dzawil arham (karib kerabat) tersebut.”7 (Tashilul Faraidh, hal. 7-9)

1 Kelengkapan ayat dan artinya bisa dilihat pada pembahasan yang telah lalu ‘Dasar Pijakan Ilmu Al-Faraidh’.
2 Lihat kembali maknanya pada pembahasan ‘Bentuk Perwarisan dalam Hukum Waris Islam’.
3 Menurut hemat kami –wallahu a’lam– dalam kondisi semacam ini bapak masih mendapatkan sisa waris, dengan rincian sebagai berikut; anak-anak perempuan mendapat 2/3 karena jumlah mereka lebih dari satu, ibu mendapat 1/6 karena ada anak-anak si mayit, sedangkan bapak sebagai ‘ashabah. Setelah dihitung dengan pokok masalah (ashlul mas’alah) yaitu 6, maka anak-anak perempuan mendapat 4, ibu mendapat 1 dan sisanya 1 untuk bapak.
4 Kelengkapan ayat dan artinya bisa dilihat pada pembahasan yang telah lalu ‘Dasar Pijakan Ilmu Al-Faraidh’.
5 Kalalah adalah seseorang yang meninggal dunia tanpa mempunyai bapak dan anak.
6 Kelengkapan ayat dan artinya bisa dilihat pada pembahasan yang telah lalu ‘Dasar Pijakan Ilmu Al-Faraidh’.
7 Untuk mengetahui lebih jelas tentang dzawil arham dan permasalahan warisnya, silakan membaca pembahasan berikutnya ‘Kasus-Kasus Seputar Waris’.

Selayang Pandang Hukum Waris Islam

(ditulis oleh: Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi)

 

Pengaturan Harta Waris Mutlak Di Tangan Allah l dan Rasul-Nya n

Bani Adam merupakan makhluk yang senantiasa berinteraksi dengan sesamanya. Keberadaannya yang majemuk; tua, muda, laki, perempuan, bersuku dan berbangsa, sungguh meramaikan kehidupan ini. Generasi demi generasi pun datang silih berganti seiring dengan berputarnya roda zaman. Semua itu mengingatkan kita akan kekuasaan Allah l, Pencipta alam semesta Yang Maha Kuasa lagi Maha Pengatur, Maha Memilihkan segala yang terbaik bagi hamba-Nya lagi Maha suci dan Maha Tinggi. Allah l berfirman:

“Dan Rabb-mu menciptakan segala apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia).” (Al-Qashash: 68)

Dengan kekuasaan-Nya yang mutlak Allah l menentukan segala aturan dan pilihan tersebut kepada para hamba-Nya. Baik ketentuan yang bersifat qadari/kauni (berkaitan dengan takdir Allah l yang terjadi di alam semesta) maupun yang bersifat diniy (berkaitan dengan prinsip-prinsip beragama), termasuk di dalamnya cara pembagian harta waris.

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin t berkata: “Allah l telah menentukan hukum waris tersebut dengan segala hikmah dan keilmuan-Nya. Dia mengatur pembagiannya kepada segenap ahli waris dengan cara terbaik dan teradil, yang itu merupakan konsekuensi dari hikmah-Nya yang tinggi, kasih sayang-Nya yang meliputi segala sesuatu, dan keilmuan-Nya yang luas. Sebagaimana pula Dia l menjelaskan cara pembagian tersebut dengan sebaik-baik penjelasan dan selengkap-lengkapnya. Sehingga didapatilah ayat-ayat dan hadits-hadits tentang waris benar-benar mencakup segala kemungkinan yang terjadi dalam permasalahan waris. Baik ayat-ayat dan hadits-hadits yang amat jelas dan dapat dipahami oleh semua orang ataupun yang membutuhkan perhatian khusus dalam memahaminya.” (Tashilul Faraidh, hal. 5)

Pembagian harta waris sendiri, merupakan masalah sensitif yang seringkali menjadi sumber konflik dalam sebuah keluarga. Maha Suci Allah Yang Pengasih lagi Maha Penyayang, manakala berkenan mengatur secara langsung cara pembagian harta waris tersebut sebagaimana dalam Al-Qur’an, ataupun melalui lisan Rasulullah n (sebagaimana dalam Sunnahnya). Dengan pembagian tersebut, masing-masing dari ahli waris akan mendapatkan bagian sesuai dengan porsinya, tak seorang pun dirugikan. Karena yang menetapkannya adalah Allah l Dzat Yang Maha Mengetahui, Maha Bijaksana lagi Maha Penyantun. Sebagaimana firman Allah l:

“Ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (An-Nisa’: 11)

“(Allah menetapkan yang demikian itu sebagai) syariat yang benar-benar dari Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun.” (An-Nisa’: 12)

Manakala keharmonisan sebuah keluarga yang ditinggalkan si mayit (ahli waris) sangat bergantung pada penerapan aturan pembagian tersebut, maka Allah l menegaskan:

“(Batasan-batasan hukum) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam Al-Jannah yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar. Maka barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam An-Nar sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan.” (An-Nisa’: 13-14)

Dari ayat-ayat di atas dapatlah disimpulkan bahwa Allah l menetapkan hukum waris tersebut berdasarkan keilmuan dan hikmah-Nya. Oleh karena itu, hukum waris tersebut harus diterapkan dan tidak boleh ditambah ataupun dikurangi. Berikutnya, Allah l menjanjikan Al-Jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai bagi orang-orang yang menaati-Nya dalam hal ketetapan hukum waris tersebut dengan berjalan di atasnya, dan mengancam siapa saja yang melampaui batas-batas yang telah ditetapkan-Nya dengan dimasukkan ke dalam An-Nar dan diazab dengan siksa yang menghinakan. (Lihat Tashilul Faraidh, hal. 6)

 

Bentuk Perwarisan dalam Hukum Waris Islam

Hukum waris Islam sangat sesuai dengan prinsip keadilan, bahkan merupakan kebalikan dari hukum waris jahiliah yang diliputi kezaliman. Di masa jahiliah, sang ahli waris terbatas pada anak lelaki yang mampu menunggang kuda, cakap memanah, dan siap berlaga di medan tempur. Adapun anak perempuan ataupun anak lelaki yang masih kecil, tidak mendapatkan harta waris. Di sisi lain, anak angkat (hasil adopsi) justru bisa mendapatkan harta waris tersebut. Kemudian jika si mayit tak mempunyai anak lelaki dengan kriteria di atas, maka harta warisnya pun akan berpindah kepada saudara laki-lakinya atau pamannya. (Untuk lebih rincinya, lihat At-Tahqiqat Al-Mardhiyyah Fil Mabahits Al-Faradhiyyah, hal. 17-21)

Dalam hukum waris Islam, (secara garis besar) ada dua bentuk perwarisan yang tak akan didapati pada hukum selainnya:

1. Dengan cara fardh (bil-fardhi), yaitu mendapatkan harta waris sesuai dengan jatah tertentu yang ditentukan Allah l dan Rasul-Nya n. Jatah waris yang ditentukan Allah l dan Rasul-Nya n ada enam; 1/2, 1/3, ¼, 1/6, 1/8, dan 2/3. Kemudian ditambah satu lagi, yaitu; tsulutsul baqi (1/3 dari harta yang tersisa) yang merupakan ijtihad Khalifah ‘Umar bin Al-Khaththab. Seseorang yang mewarisi harta warisnya dengan cara fardh ini disebut shahibul fardh, dan jika berjumlah banyak disebut ashhabul furudh1.

2. Dengan cara ta’shib (bit-ta’shib), yaitu mendapatkan harta waris dengan cara mengambil sisa harta yang telah dibagikan kepada ashhabul furudh, tanpa ada ketentuan jatahnya. Atau dengan mengambil seluruhnya manakala sendirian dan tidak ada ashhabul furudh yang bersamanya. Seseorang yang mewarisi harta warisnya dengan cara ta’shib ini disebut ‘ashib, dan jika berjumlah banyak disebut ‘ashabah.2

Jika dalam satu masalah waris terkumpul dua bentuk perwarisan di atas, maka yang dilakukan terlebih dahulu adalah cara fardh, kemudian setelah itu dengan cara ta’shib. Atas dasar itu, jika dalam satu masalah waris terkumpul ‘ashib/’ashabah dan shahibul fardh/ashhabul furudh, maka jatah shahibul fardh/ashhabul furudh dibagikan terlebih dahulu, kemudian yang tersisa menjadi milik ‘ashib/’ashabah. Hal ini berdasarkan bimbingan Rasulullah n:

اِقْسِمُوا الْمَالَ بَيْنَ أَهْلِ الْفَرَائِضِ عَلَى كِتَابِ الله، فَمَا تَرَكَتِ الْفَرَائِضُ فَلِأَوْلَى رَجُلٍ ذَكَرٍ

“Bagikanlah harta waris itu diantara ashhabul furudh (terlebih dahulu) sesuai dengan apa yang terdapat dalam Kitabullah, kemudian apa yang disisakan oleh ashhabul furudh adalah untuk lelaki yang terkuat (dari kalangan ‘ashabah, pen.). ” (HR. Al-Bukhari no. 6746 dan Muslim no. 1615, dari sahabat Abdullah bin Abbas c) [Lihat Al-Khulashah Fi Ilmil Faraidh, hal. 64-65]


1 Batasan minimal banyak (jamak) dalam ilmu al-faraidh adalah dua, bukan tiga.

Mengenal Ilmu Faraidh

(ditulis oleh: Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi)

 

Islam yang dibawa Rasulullah n merupakan rahmat bagi alam semesta. Keberadaannya sebagai agama yang sempurna dan diridhai Allah l benar-benar menyinari perjalanan hidup umat manusia, baik sebagai komunitas maupun individu. Semenjak belia, kehidupan anak manusia telah ditata sebaik-baiknya dalam Islam. Pada hari ketujuh dari kelahirannya, disyariatkan untuk disembelihkan dua ekor kambing (bila lelaki) dan bila perempuan disembelihkan satu ekor kambing, sebagai nasikah (aqiqah)nya. Pada hari itu pula diberi nama dan dibersihkan rambutnya (digundul). Rasulullah n bersabda:

كُلُّ غُلَامٍ رَهِيْنَةٌ بِعَقِيْقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّى

“Setiap anak kecil tergadaikan dengan aqiqahnya, pada hari ketujuh (dari kelahirannya) disembelihkan untuknya, digundul, dan diberi nama.” (HR. Abu Dawud, dari sahabat Samurah bin Jundub z. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani  t dalam Shahih Sunan Abi Dawud no. 2838)

Beliau n juga bersabda:

عَنِ الْغُلَامِ شَاتَانِ وَعَنِ الْجَارِيَةِ شَاةٌ، لَا يَضُرُّكُمْ أَذُكْرَانًا كُنَّ أَمْ إِنَاثًا

“Tentang (aqiqah) anak lelaki dua ekor kambing dan anak perempuan satu ekor kambing. Tidak masalah, apakah kambing tersebut jantan ataukah betina.” (HR. Abu Dawud, dari sahabat Ummu Kurzin x. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Shahih Sunan Abi Dawud no. 2835)

Demikian pula selanjutnya dari perjalanan hidupnya; masa tumbuh kembang, masa dewasa, dan masa tua, tak lupa diperhatikan oleh Islam baik dalam hal jasmani maupun rohani. Setelah meninggal dunia sekalipun, Islam masih memerhatikannya; disyariatkan baginya untuk dimandikan, dikafani, dishalati, dan dimakamkan dengan penuh hormat. Tak berhenti sampai di situ. Segala hal yang terkait dengan harta waris yang ditinggalkannya pun diatur dengan seadil-adilnya, bahkan dipaparkan sejelas-jelasnya dalam kitab suci Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah n, sebagaimana yang akan disebutkan dalam pembahasan ‘Dasar Pijakan Ilmu Al-Faraidh’.

Para ulama pun tak tinggal diam. Mereka merangkum berbagai masalah penting seputar permasalahan waris tersebut dalam spesialisasi ilmu tertentu yang dikenal dalam khazanah ilmu-ilmu Islam dengan sebutan ilmu al-faraidh. Sebuah ilmu yang tergolong penting dalam Islam, mengingat hukum waris Islam semuanya tercakup dalam ilmu tersebut dan umat pun (dalam setiap generasinya) senantiasa membutuhkannya.

Sahabat Umar bin Al-Khaththab z mengatakan: “Pelajarilah ilmu al-faraidh, karena ia bagian dari agama kalian.” (Lihat At-Tahqiqat Al-Mardhiyyah Fil Mabahits Al-Faradhiyyah karya Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan, hal. 15)

Para pembaca yang semoga dirahmati Allah l, untuk mengetahui lebih jelas tentang ilmu al-faraidh, ikutilah dengan saksama pembahasan berikut ini.

 

Definisi Ilmu Al-Faraidh

Menurut Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan, definisi ilmu al-faraidh yang paling tepat adalah apa yang disebutkan Ad-Dardir dalam Asy-Syarhul Kabir (juz 4, hal. 406), bahwa ilmu al-faraidh adalah: “Ilmu yang dengannya dapat diketahui siapa yang berhak mewarisi dengan (rincian) jatah warisnya masing-masing dan diketahui pula siapa yang tidak berhak mewarisi.” (Lihat At-Tahqiqat Al-Mardhiyyah Fil Mabahits Al-Faradhiyyah, hal. 11)

 

Pokok Bahasan Ilmu Al-Faraidh

Pokok bahasan ilmu al-faraidh adalah pembagian harta waris yang ditinggalkan si mayit kepada ahli warisnya, sesuai bimbingan Allah l dan Rasul-Nya n. Demikian pula mendudukkan siapa yang berhak mendapatkan harta waris dan siapa yang tidak berhak mendapatkannya dari keluarga si mayit, serta memproses penghitungannya agar dapat diketahui jatah/bagian dari masing-masing ahli waris tersebut. (Lihat Al-Khulashah Fi ‘Ilmil Faraidh karya Nashir bin Muhammad Al-Ghamidi, hal. 21)

 

Dasar Pijakan Ilmu Al-Faraidh

Dasar pijakannya adalah Al-Qur’an, Sunnah Rasulullah n, dan ijma’. Adapun Al-Qur’an, maka sebagaimana termaktub dalam Surah An-Nisa’ ayat 11, 12, dan 176. Allah l berfirman:

“Allah mensyariatkan bagi kalian tentang (pembagian harta waris untuk) anak-anak kalian. Yaitu: bagian (jatah) seorang anak lelaki sama dengan bagian dua orang anak perempuan; dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, maka bagi mereka dua pertiga (2/3) dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja, maka ia memperoleh setengah harta (1/2), dan untuk kedua orangtua (ibu bapak), bagi masing-masingnya seperenam (1/6) dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu bapaknya (saja), maka ibunya mendapat sepertiga (1/3); jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, maka ibunya mendapat seperenam (1/6). (Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar utangnya. (Tentang) orangtua dan anak-anak kalian, maka kalian tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu. Ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Dan bagi kalian (para suami) setengah (1/2) dari harta yang ditinggalkan oleh istri-istri kalian, jika mereka tidak mempunyai anak. Jika istri-istri kalian itu mempunyai anak, maka kalian mendapat seperempat (1/4) dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau (dan) sesudah dibayar utangnya. Para istri memperoleh seperempat (1/4) harta yang kalian tinggalkan jika kalian tidak mempunyai anak. Jika kalian mempunyai anak, maka para istri memperoleh seperdelapan (1/8) dari harta yang kalian tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kalian  buat atau (dan) sesudah dibayar utang-utang kalian. Jika seseorang mati, baik lelaki maupun perempuan yang tidak meninggalkan bapak dan tidak meninggalkan anak, tetapi mempunyai seorang saudara lelaki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja), maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam (1/6) harta. Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang, maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga (1/3) itu, sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar utangnya dengan tidak memberi mudarat (kepada ahli waris). (Allah l menetapkan yang demikian itu sebagai) syariat yang benar-benar dari Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Penyantun.” (An-Nisa’: 11-12)

“Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). Katakanlah: ‘Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaitu): jika seseorang meninggal dunia, dan ia tidak mempunyai anak dan saudara perempuan, maka bagi saudaranya yang perempuan itu setengah dari harta yang ditinggalkannya, dan saudaranya yang lelaki mewarisi (seluruh harta saudara perempuan), jika ia tidak mempunyai anak; tetapi jika saudara perempuan itu dua orang, maka bagi keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal. Dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara-saudara laki dan perempuan, maka bagian seorang saudara lelaki sebanyak bagian dua orang saudara perempuan. Allah menerangkan (hukum ini) kepada kalian, supaya kalian tidak sesat, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (An-Nisa’: 176)

Sedangkan Sunnah Rasulullah n, maka sebagaimana sabda beliau n:

أَلْحِقُوا الْفَرَائِضَ بِأَهْلِهَا فَمَا بَقِيَ لِأَوْلَى رَجُلٍ ذَكَرٍ

“Berikanlah bagian/jatah waris yang Allah tentukan (1/2, 1/3, ¼, 1/6, 1/8, 2/3) kepada para pemiliknya, sedangkan apa yang tersisa adalah untuk ahli waris lelaki yang paling kuat (berhak).” (HR. Al-Bukhari, no. 6733, dari sahabat Abdullah bin Abbas c)

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di t berkata: “Ayat-ayat tersebut (An-Nisa’: 11-12, pen.) dan ayat terakhir dari surat An-Nisa’ merupakan ayat-ayat yang mengandung sistem waris Islam. Sesungguhnya ayat-ayat tersebut dan hadits Abdullah bin Abbas c yang terdapat dalam Shahih Al-Bukhari:

أَلْحِقُوا الْفَرَائِضَ بِأَهْلِهَا فَمَا بَقِيَ لِأَوْلَى رَجُلٍ ذَكَرٍ

“Berikanlah bagian/jatah waris yang Allah tentukan (1/2, 1/3, ¼, 1/6, 1/8, 2/3) kepada para pemiliknya, sedangkan apa yang tersisa  untuk ahli waris lelaki yang paling kuat (berhak).”

mencakup mayoritas bahkan semua hukum waris sebagaimana yang akan anda lihat nanti, kecuali jatah waris nenek. Akan tetapi telah ditetapkan dalam beberapa kitab Sunan dari sahabat Al-Mughirah bin Syu’bah dan Muhammad bin Maslamah c bahwa Nabi n telah memberi nenek jatah waris 1/6 (seperenam), seiring dengan adanya ijma’ ulama dalam masalah tersebut.” (Taisir Al-Karimirrahman, hal. 132)

Hal serupa dinyatakan Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin t dalam Tashilul Faraidh (hal. 6) dan Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah dalam At-Tahqiqat Al-Mardhiyyah Fil Mabahits Al-Faradhiyyah (hal. 8). Hanya saja dalam pernyataan Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di t terdapat penyebutan ijma’ yang juga merupakan dasar pijakan dalam masalah waris.

 

Tujuan Ilmu Al-Faraidh

Tujuan ilmu al-faraidh adalah menyampaikan segenap hak waris kepada yang berhak mendapatkannya. (Lihat At-Tahqiqat Al-Mardhiyyah Fil Mabahits Al-Faradhiyyah, hal. 9, Tashilul Faraidh, hal. 11 dan Al-Khulashah Fi Ilmil Faraidh hal. 22 dan 26)

 

Hukum Mempelajari Ilmu Al-Faraidh

Hukum mempelajarinya adalah fardhu kifayah. Jika sebagian dari umat ini ada yang mempelajarinya, maka gugurlah dosa (kewajiban) bagi yang lainnya. (Lihat At-Tahqiqat Al-Mardhiyyah Fil Mabahits Al-Faradhiyyah, hal. 9, Tashilul Faraidh, hal. 11 dan Al-Khulashah Fi Ilmil Faraidh hal. 22 dan 26).

Wallahu a’lam.

Dibalik Siasat Mengugat Waris

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafrudin)

 

Minuman keras, bukan sesuatu yang aneh dalam kehidupan masyarakat Arab di masa jahiliah dulu. Terkhusus di kalangan Quraisy. Minuman keras atau khamr telah menjadi bagian yang lekat yang mewarnai aktivitas keseharian masyarakat. Namun begitu, kala ayat yang berisi pengharaman khamr turun, sontak kaum muslimin memuntahkannya. Khamr-khamr yang tersimpan di tempayan, ditumpah ruah. Dibuang menjadi barang tiada berharga. Tempayan, guci besar pun diluluhlantakkan. Hancur lebur tiada tersisa khamr lagi.

Ibnu Katsir t dalam tafsirnya (3/212) mengisahkan perilaku sebagian sahabat saat turun ayat yang mengharamkan khamr. Anas bin Malik z menuturkan: “Ketika saya mengedarkan gelas kepada Abu Thalhah, Abu ‘Ubaidah bin Al-Jarrah, Mu’adz bin Jabal, Suhail bin Baidha’, dan Abu Dujanah hingga kepala-kepala mereka doyong lantaran campuran busr (bakal ruthab/kurma muda, khamr bisa dihasilkan darinya) dan kurma. Kemudian saya mendengar seruan, ‘Ketahuilah, sungguh khamr telah diharamkan!’ Maka tak seorang pun dari kami yang keluar atau masuk, hingga kami tumpahkan minuman khamr tersebut, lalu kami hancurkan wadahnya. Sebagian kami berwudhu, sebagian lagi mandi. Kami gunakan wewangian dari Ummu Sulaim x(istri Abu Thalhah/ ibu Anas bin Malik) lalu bergegas menuju masjid. Saat itulah Rasulullah n membacakan ayat:

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamr dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).” (Al-Maidah: 90-91)

Begitulah perilaku generasi terbaik umat ini dalam menyikapi ayat yang diturunkan saat itu. Ketundukan, kepatuhan, dan ketaatan merupakan sikap terpuji yang melekat kokoh pada mereka. Pantas bila mereka mendapat keridhaan dari Allah l. Firman-Nya:

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar. (At-Taubah: 100)

Demikian pula yang terjadi di kalangan sahabat wanita. Mereka mengimani sepenuh hati terhadap ayat-ayat Allah l yang turun kepada mereka. Tengoklah saat peristiwa diwajibkan mereka mengenakan hijab sebagai penutup aurat. Tak ada sikap membangkang atau menolak. Mereka tunduk, patuh, dan taat. Sebagaimana diungkapkan Aisyah x: “Semoga Allah l merahmati wanita-wanita yang hijrah pertama-tama. Tatkala Allah l menurunkan ayat:

‘Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.’ (An-Nur: 31)

Mereka lantas merobek-robek kainnya lalu mengenakannya sebagai khimar/kain kerudung (yang menutup tubuh mereka).” (Shahih Al-Bukhari no. 4758, 4759, Abu Dawud no. 4102)

Turunnya ayat ini memupus kebiasaan jahiliah yang mendedahkan aurat. Pada masa jahiliah, seorang wanita biasa mengenakan khimar dari arah belakang hingga bagian depannya tersingkap, nampak auratnya. Dengan turunnya ayat ini, para wanita diperintah untuk menutup seluruh tubuhnya. (Lihat Fathul Bari, Kitab At-Tafsir, hal. 383)

Sikap tunduk hati terhadap syariat Allah l ini terekam melalui penuturan Shafiyah bintu Syaibah x. Katanya: Kami tengah bersama Aisyah x. Kami menyebutkan perihal keutamaan para wanita Quraisy. Maka, Aisyah x menimpali tentang hal itu seraya bertutur, “Sesungguhnya bagi wanita Quraisy, mereka memiliki keutamaan-keutamaan. Namun, sungguh demi Allah, aku melihat pula keutamaan-keutamaan pada wanita Anshar. Para wanita Anshar amat sangat kuat pembenarannya terhadap kitabullah (Al-Qur’an). Saat diturunkan ayat:

Katakanlah kepada wanita yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.’ (An-Nur: 31)

Para lelaki mereka membacakan ayat ini kepada istri, anak, saudara perempuannya, dan segenap sanak saudaranya. Maka, tiadalah yang diperbuat para wanita Anshar itu melainkan menyambut seruan ayat tersebut dengan mengulurkan kain kerudung mereka. Mereka lakukan itu semua dengan didasari keimanan dan sikap pembenaran terhadap apa yang telah diturunkan Allah l di dalam kitab-Nya yang mulia.” (Tafsir Ibnu Katsir, 6/52)

Beberapa kisah di atas memancarkan ketulusan, kepatuhan, ketundukan, dan ketaatan manusia-manusia pilihan terhadap ayat-ayat Allah l. Mereka peluk Islam dengan sepenuh hati dan raga. Menurut Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan hafizhahullah, Islam adalah keikhlasan kepada Allah l dalam mengesakan (tauhid), tunduk patuh dengan ketaatan serta berlepas diri dari kesyirikan dan pelaku kesyirikan. Sesungguhnya, seorang muslim tidak boleh menyatukan bentuk penyerahan diri kepada Allah l dengan bentuk penyerahan diri kepada selain Allah l. Siapa saja yang menyatukan bentuk penyerahan diri kepada Allah l dengan bentuk penyerahan diri kepada selain Allah l, berarti dia seorang musyrik. Barangsiapa yang melakukan pembangkangan dalam penyerahan diri kepada Allah l, berarti dia seorang yang sombong, arogan. Allah l berfirman:

“(Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (Al-Baqarah: 112) [Durus min Al-Qur’an Al-Karim, hal. 98-99]

Apa yang telah diperbuat para sahabat dan sahabiyah (sahabat wanita) merupakan bukti keimanan mereka terhadap Allah l dan Rasul-Nya n. Sebab, iman itu meyakini dengan hati, mengucapkan dengan lisan, dan mengamalkan dengan anggota badan. Amal termasuk hakikat keimanan itu sendiri. Melalui amal itulah akan nampak bertambah dan berkurangnya iman seseorang. Sebab, iman akan bertambah dengan mewujudkan ketaatan, berkurang lantaran kemaksiatan. Allah l menggambarkan perihal amal sebagai hakikat keimanan itu sendiri melalui salah satu firman-Nya:

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Rabblah mereka bertawakal, (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Rabbnya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia.” (Al-Anfal: 2-4)

Berdasar hadits dari Abu Hurairah z, sesungguhnya Rasulullah n bersabda:

الْإِيْمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ –أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ– شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْإِيمَانِ

“Iman itu terdiri tujuh puluhan atau enam puluhan cabang. Tertinggi adalah mengucapkan Lailaha illallah dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan di jalan. Dan malu adalah salah satu cabang keimanan.” (Shahih Al-Bukhari no. 9 dan Shahih Muslim no. 58) [Lihat Al-Qaulul Mufid fi Adillatit Tauhid, Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahab Al-Wushabi, hal. 66)

Karenanya, tidak ada pilihan lain bagi seorang muslim untuk berupaya mengamalkan segala ketetapan yang telah disampaikan Allah l dan Rasul-Nya n. Berupaya memantapkan diri untuk senantiasa berada di atas ketetapan yang telah dicanangkan Allah l dan Rasul-Nya n. Firman Allah l:

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukminah, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (Al-Ahzab: 36)

Satu dari sekian banyak ketetapan yang telah Allah l dan Rasul-Nya n tetapkan adalah masalah pembagian waris. Masalah satu ini kerap kali dijadikan celah untuk menyerang Islam. Terlebih di kalangan pegiat emansipasi wanita, masalah pembagian waris dalam syariat Islam ini senantiasa dijadikan isu untuk membangkitkan perlawanan kaum muslimah terhadap Islam. Pemikiran kufur ini sengaja diembuskan sebagai upaya musuh-musuh Islam untuk memadamkan agama Allah l serta mengeluarkan kaum muslimah dari tradisi agamanya yang luhur. Mereka lontarkan pemikiran seakan-akan pembagian waris menurut Islam tidak memberikan nilai keadilan terhadap kaum wanita. Ini terkait bahwa dalam syariat Islam wanita mendapat setengah dari apa yang diperoleh laki-laki. Sebuah upaya sistematis untuk menghancurkan Islam, Allah l berfirman:

“Mereka ingin hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci.” (Ash-Shaf: 8)

Demikianlah di balik siasat menggugat waris.

Padahal, seandainya mereka mau jujur, sungguh Islam telah memberikan hak yang demikian indah terhadap kaum wanita. Terkhusus dalam masalah pembagian waris. Tengoklah kehidupan kaum wanita sebelum kemunculan Islam. Tradisi hak mewarisi di kalangan bangsa Romawi, Yunani, Cina, India, Persia, dan lainnya hanya ada pada kaum laki-laki. Adapun kaum wanita tidak diberikan hak untuk mendapatkan bagian waris. Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan hafizhahullah memberikan ilustrasi tentang kehidupan jahiliah dulu, mereka mengharamkan para wanita dan anak-anak kecil mendapatkan bagian waris. Hanya kaum laki-laki yang telah dewasa, yang telah mampu menunggang kuda dan menyandang senjata yang berhak mendapatkan waris. Maka, saat Islam muncul dengan kemilau cahayanya yang menerangi kegelapan, tradisi batil yang menyelimuti masyarakat jahiliah itupun dilibas habis. Allah l berfirman:

“Bagi laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu bapak dan kerabatnya, dan bagi wanita ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan ibu bapak dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bagian yang telah ditetapkan.” (An-Nisa’: 7)

Ayat ini merupakan pernyataan guna menentang tradisi jahiliah yang tidak memperkenankan para wanita dan anak-anak memperoleh harta waris. Berdasar ayat tersebut, tradisi jahiliah itu dinyatakan sebagai salah satu hal yang batil. Adapun firman Allah l:

“Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu: bagian seorang anak lelaki sama dengan bagian dua orang anak perempuan; dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja, maka ia memperoleh separuh harta. Dan untuk dua orang ibu bapak, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu bapaknya (saja), maka ibunya mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, maka ibunya mendapat seperenam. (Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar utangnya. (Tentang) orangtuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu. Ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (An-Nisa’: 11)

“Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). Katakanlah: ‘Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaitu): jika seorang meninggal dunia dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan, maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya, dan saudaranya yang laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan), jika ia tidak mempunyai anak; tetapi jika saudara perempuan itu dua orang, maka bagi keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal. Dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara-saudara laki dan perempuan, maka bagian seorang saudara laki-laki sebanyak bagian dua orang saudara perempuan. Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu, supaya kamu tidak sesat. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (An-Nisa’: 176)

Firman Allah l di atas merupakan bentuk pernyataan yang membatilkan pernyataan kalangan jahiliah dewasa ini yang mengusung pemikiran persamaan bagian waris antara wanita dan laki-laki. Mereka yang menuntut harta waris harus dibagi sama antara wanita dan laki-laki adalah orang-orang yang menentang Allah l dan Rasul-Nya n serta melakukan permusuhan terhadap hukum-hukum Allah l. Maka, jika orang-orang jahiliah dulu menolak memberikan hak waris kepada wanita, sedang orang-orang jahil pada zaman kiwari menuntut harta waris yang bukan haknya. Adapun Islam bersikap adil dan memuliakan kaum wanita serta memberikan haknya kepada kaum wanita yang memang berhak untuk menerimanya. Semoga Allah  l membinasakan terhadap orang-orang kafir, munafik, dan yang menyimpang yang:

“Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai.” (At-Taubah: 32) [Al-Mulakhkhas Al-Fiqhi, hal. 193-194]

Islam dengan segala syariat, hukum, dan perundangannya telah menata dan menertibkan segala hukum, tradisi, dan situasi yang timpang dan tidak berkeadilan. Bila ada sebagian orang yang menyuarakan seakan syariat Islam itu timpang dan tidak adil maka ketimpangan dan rasa ketidakadilan tersebut salah satunya disebabkan ketidakpahaman terhadap syariat Islam. Banyak hikmah yang akan dipetik manakala pemahaman terhadap tatanan syariat Islam dipahami dengan benar dan penuh keimanan. Termasuk di antaranya masalah pembagian waris antara laki-laki dan wanita. Bila hal yang telah diatur syariat tersebut diyakini secara baik, maka akan mendatangkan kebaikan dan hikmah yang besar bagi kaum muslimin. Sebaliknya, bila syariat tersebut coba diusik lantaran hawa nafsu, maka yang bakal dipetik adalah kebinasaan. Allah l telah memperingatkan tentang hal ini sebagaimana firman-Nya:

“Sesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang yang berangsur-angsur pergi di antara kamu dengan berlindung (kepada kawannya), maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (An-Nur: 63)

Sebagai seorang muslim wajib untuk mengikuti ketetapan yang telah dimaktubkan Allah l dan Rasul-Nya n. Firman Allah l:

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya.” (Al-Hasyr: 7)

Wallahu a’lam.