Nasehat Seorang Alim Akan Bahaya Surat Kabar dan Majalah

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah)

 

Dalam salah satu ceramahnya yang penuh berkah, Fadhilatusy Syaikh Al-Allamah Muhammad ibn Shalih Al-Utsaimin, semoga Allah l merahmati beliau dengan rahmat-Nya yang luas, menyampaikan satu nasihat dan peringatan berkaitan dengan tersebar luasnya surat kabar dan majalah yang sarat dengan kejelekan. Penuh dengan kerendahan moral dan akhlak, serta bertentangan dengan fitrah yang lurus. Karena faedah yang tak patut diluputkan, kami sengaja membawakannya dengan sedikit meringkas, untuk pembaca yang mulia dalam rubrik ini.

Asy-Syaikh yang mulia mengatakan, “Wahai sekalian manusia. Bertakwalah kalian kepada Allah l, dan berhati-hatilah dari fitnah baik yang zhahir maupun yang batin. Waspadailah segala perkara yang dapat memfitnah kalian dari agama, kehormatan, dan akhlak kalian. Karena fitnah itu amat mudah diserap oleh hati, lalu ia akan memalingkan hati dari berzikir kepada Allah l dan dari mengerjakan shalat. Fitnah itu berjalan masuk ke dalam hati yang semula putih bersih, lalu hati itu beroleh syubhat dan kegelapan. Fitnah itu berjalan menuju hati yang semula lembut dan mudah berzikir kepada Allah l dan khusyu’/tunduk di hadapan kebesaran-Nya, lalu jadilah hati tersebut keras dan sombong. Fitnah itu berjalan ke dalam hati lalu menghancurkannya sebagaimana racun berjalan masuk ke dalam tubuh lalu merusaknya.

Berhati-hatilah dari fitnah seluruhnya, wahai sekalian mukmin. Jangan kalian mengatakan kami orang-orang beriman, kami orang-orang yang istiqamah hingga sebab-sebab fitnah tidak akan berpengaruh kepada kami. Jangan kalian mengatakan demikian, karena panah-panah iblis itu dapat menembus. Sungguh Rasulullah n memerintahkan untuk lari dari Dajjal karena khawatir fitnahnya. Beliau n bersabda:

مَنْ سَمِعَ بِالدَّجَّالِ فَلْيَنْأَ عَنْهُ فَوَاللهِ أَنَّ الرَّجُلَ لَيَأْتِيْهِ وَهُوَ يَحْسَبُ أَنَّهُ مُؤْمِنٌ فَيَتَّبِعُهُ بِمَا يَبْعَثُ بِهِ مِنَ الشُّبُهَاتِ

“Siapa yang mendengar Dajjal telah keluar, hendaklah ia menjauh darinya (jangan mendatangi Dajjal). Demi Allah, sungguh ada seseorang yang mendatangi Dajjal dalam keadaan ia menyangka ia seorang mukmin (tidak mungkin terfitnah dengan Dajjal), namun ternyata ia menjadi pengikut Dajjal karena terfitnah dengan syubhat-syubhat yang ditunjukkan/ditampakkan Dajjal.” (HR. Abu Dawud)1

Hadits ini merupakan tanda yang membimbing kita ketika menghadapi setiap fitnah agar kita menjauhinya.

Di zaman ini sungguh banyak sebab fitnah dan beragam caranya, serta terbuka pintunya dari segala arah. Dunia dibuka sehingga banyak orang berlomba-lomba ingin meraihnya. Akibatnya, dunia membinasakan mereka.

Di zaman ini bermunculan beragam media baik yang didengar ataupun yang dilihat di saat banyaknya waktu luang sehingga orang-orang pun menetapi/menekuninya. Akibatnya, hilang maslahat agama dan dunia mereka.

Sarana media massa berupa surat kabar, majalah, dan selainnya memiliki dampak/pengaruh bagi akidah, cara hidup, dan akhlak dalam masyarakat. Bila media tersebut dipakai dalam kebaikan, mengajarkan manusia akan agama mereka dan kemaslahatan dunia mereka, niscaya ia akan menjadi sarana paling utama dan paling bermanfaat. Namun bila dipergunakan untuk yang sebaliknya, niscaya termasuk sarana yang paling merusak. Sangat disesalkan, di antara surat kabar, majalah, dan selainnya memang ada yang mengajak kepada kejelekan, kerusakan, menyimpangkan ayat-ayat Allah l serta membelokkan makna Kitabullah dari yang semestinya. Media massa seperti ini mengajak kepada kerendahan akhlak dan melepaskan diri dari sifat-sifat keutamaan.

Majalah-majalah itu berisi kata-kata cinta dan asmara yang tersusun dan bersajak. Ada gambar wanita-wanita cantik yang membangkitkan syahwat dan memfitnah hati. Sampai-sampai ada majalah yang mengadakan lomba gadis sampul. Siapa di antara pesertanya yang paling cantik, dialah pemenangnya. Lalu wajahnya dipajang di sampul depan majalah tersebut. Didapatkan pula gambar laki-laki dan perempuan yang berangkulan dan berpelukan. Ada pula pajangan pakaian dengan berbagai model yang sungguh tidak bisa diterima oleh agama samawi, dan tidak pula oleh hati kecil yang bersih. Ditemui pula ajakan untuk merokok dengan gambar lelaki dan perempuan yang di jari mereka terselip rokok. Masih banyak kejelekan dan kemungkaran lain yang tak bisa disebutkan satu per satu di sini.

Wahai sekalian orang-orang yang beriman. Saya mengajak kalian dengan nama iman kepada Allah l dan dengan nama Islam serta seluruh sebutan yang menunjukkan kemuliaan dan keutamaan, jangan sampai majalah seperti itu masuk ke rumah kalian dan beredar di tangan kalian. Karena majalah itu akan memalingkan kalian dari jalan yang lurus dan membengkokkan kalian dari akhlak yang mulia. Sungguh, seluruh yang dipampang di majalah tersebut mesti memberi pengaruh kepada pembacanya.

Bertakwalah kalian kepada Allah l. Jangan sampai kalian membuang-buang harta untuk membelinya dan menyumbang saham untuknya. Karena, hal itu menimbulkan kerusakan yang besar. Di antaranya, menyia-nyiakan harta karena dipakai untuk perkara yang tidak bermanfaat bahkan mendatangkan mudarat. Padahal Allah l menjadikan harta itu sebagai penopang hidup manusia untuk meraih kemaslahatan agama dan dunia mereka. Allah l berfirman:

“Janganlah kalian menyerahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam pengurusan kalian) yang Allah jadikan sebagai penopag kehidupan.” (An-Nisa’: 5)

Karenanya, siapa yang membelanjakan hartanya pada selain perkara kebaikan berarti ia telah mengubah tujuan diciptakannya harta tersebut. Berarti pula bahwa ia telah membelanjakannya tidak pada tempat yang semestinya, sehingga tepat bila dikatakan ia telah membuang-buang harta.

Kerusakan lain dari membeli/membaca majalah rusak tersebut adalah membuang-buang waktu yang bagi orang-orang berakal. Waktu itu lebih mahal daripada harta, karena waktu merupakan kesempatan untuk beramal. Bahagia atau celakanya tergantung penggunaan waktunya. Ia juga akan dimintai pertanggungjawaban akan waktunya sebagaimana ia akan ditanya tentang hartanya. Ibnu Mas’ud z menyampaikan hadits dari Nabi n:

لاَ تَزُوْلُ قَدَمَا ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ: عَنْ عُمْرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ شَبَابِهِ فِيْمَا أَبْلاَهُ، وَعَنْ ماَلِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيْمَ أَنْفَقَهُ، وَمَاذَا عَمِلَ فِيْمَا عَلِمَ

“Tidak bergeser dua telapak kaki anak Adam dari sisi Rabbnya pada hari kiamat sampai ia ditanya tentang lima perkara; tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang masa mudanya kemana ia habiskan, tentang hartanya dari mana ia peroleh dan kemana ia belanjakan, dan tentang apa yang ia amalkan dari ilmu yang telah diketahuinya.”

Diriwayatkan At-Tirmidzi dan ia berkata hadits ini gharib. Al-Albani berkata, “Akan tetapi hadits ini shahih dengan syawahidnya.”2

Seandainya seseorang menghabiskan waktunya untuk membaca bacaan yang bermanfaat baginya seperti Al-Qur’an, tafsirnya, hadits dan syarahnya, sejarah kehidupan Nabi n dan para Al-Khulafa’ Ar-Rasyidun g, niscaya ia akan beroleh kebaikan yang banyak dan umurnya mendapat hasil/keuntungan di dunia ini.

Termasuk kerusakan majalah tersebut adalah jatuhnya hati dalam cinta khayalan yang tidak ada hakikatnya, seperti fatamorgana yang disangka air oleh orang yang haus, namun ketika didatangi, ternyata ia tidak mendapatkan apa-apa. Hatinya mengembara dalam khayalan kosong yang ia tidak beroleh apa-apa kecuali jiwa yang gelisah, pikiran yang terbagi, dan lupa akan kebaikan agama serta dunianya.

Termasuk kerusakan majalah tersebut adalah memberikan pengaruh pada pikiran, akhlak, dan kebiasaan. Di mana si pembaca merasa senang dengan apa yang dibacanya berupa pemikiran yang menyimpang dan suka dengan apa yang dilihatnya berupa pemandangan yang membuat fitnah pada gambar-gambar yang ditampilkan, mode-mode pakaian dan selainnya. Semua itu akan memberi pengaruh pada individu dan masyarakat, sehingga tabiat mereka pun terbentuk menjadi tabiat yang rusak.

Yang tak patut kita lupakan dari kejelekan majalah itu bila berada di rumah adalah menghalangi masuknya para malaikat ke dalam rumah tersebut, karena malaikat tidak akan masuk ke rumah yang di dalamnya ada gambar. Karenanya, membeli majalah seperti itu haram, menjualnya haram, berpenghasilan darinya haram, menghadiahkan dan menerimanya sebagai hadiah juga haram. Setiap orang yang membantu penyebarannya di kalangan kaum muslimin telah melakukan perbuatan haram karena termasuk tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan.

Karenanya wahai kaum muslimin, jauhilah majalah-majalah tersebut dan berhati-hati, janganlah kalian mengambilnya. Allah l berfirman:

“Dan jagalah diri-diri kalian dari fitnah yang tidak khusus menimpa orang-orang zalim di antara kalian.” (Al-Anfal: 25)

Bakarlah majalah tersebut dan hancurkanlah. Jangan biarkan tetap ada di tangan dan di rumah kalian, atau di tangan salah seorang keluarga kalian, anak laki-laki kalian ataupun anak perempuan kalian.

Semoga Allah l melindungi saya dan anda semua dari fitnah yang menyesatkan, serta melindungi kita dari ketergelinciran. Semoga Dia menjadikan kita semua sebagai penyeru kepada kebaikan dan kelurusan, serta melarang dari kejelekan dan kerusakan. Sesungguhnya Allah Maha Karim.

Shalawat dan salam semoga tertuju untuk Nabi kita Muhammad, berikut keluarga dan para sahabat beliau. Wallahu a’lam bish-shawab.

(Diringkas dari Adh-Dhiya’ul Lami’ min Al-Khuthabil Jawami’ oleh Fadhilatusy Syaikh Al-‘Allamah Muhammad ibnu Shalih Al-Utsaimin, dengan sub judul Fit Tahdzir Mimma Yakunu fi Ba’dhi Ash-Shuhuf wal Majallat, 6/70, 73-78)


1 No. 4319, dishahihkan Al-Imam Al-Albani t dalam Shahih Abi Dawud dan Al-Misykat no. 5488.

2 HR. At-Tirmidzi no. 2416. Dishahihkan dalam Ash-Shahihah no. 946.

Mengusap Kerudung

Dalam agama yang mulia ini ada pensyariatan mengusap di atas ‘imamah/sorban bagi laki-laki ketika berwudhu sebagai pengganti mengusap kepala. Yang menjadi pertanyaan, apakah wanita juga diperkenankan mengusap di atas kerudungnya bila ia mengenakan kerudung saat berwudhu?
Jawab:
Fadhilatusy Syaikh Muhammad ibnu Shalih Al-Utsaimin t memberikan jawaban terhadap permasalahan di atas. Beliau berkata, “Yang masyhur dalam madzhab Al-Imam Ahmad t adalah boleh bagi wanita mengusap di atas kerudungnya apabila kerudung itu dikaitkan di bawah tenggorokan1, karena adanya riwayat dari sebagian sahabiyyah (para wanita dari kalangan sahabat Rasulullah n)2, semoga Allah l meridhai mereka.
Bagaimana pun keadaannya, bila memang terdapat kesulitan/kepayahan, mungkin udara yang dingin atau sulit dilepas, maka pengizinan dalam kondisi semisal ini tidak apa-apa. Namun yang lebih utama adalah si wanita tidak mengusap di atas kerudungnya (tapi ia mengusap kepalanya saat berwudhu, pen.).
Wallahu a’lam. (Majmu’ Fatawa wa Rasa’il Fadhilatusy Syaikh, 11/171)
HUKUM WUDHU BAGI WANITA YANG BERKUTEKS
Sahkah wudhu wanita yang di kukunya terdapat kuteks?
Jawab:
Fadhilatusy Syaikh Muhammad ibnu Shalih Al-Utsaimin t menjawab, “Kuteks yang dipakai oleh wanita di kukunya memiliki lapisan/sisa cat yang menempel, sehingga tidak boleh dipakai bila ia hendak shalat karena menghalangi sampainya air ke bagian jarinya dalam wudhu. Segala sesuatu yang mencegah sampainya air ke anggota wudhu tidak boleh dipakai oleh orang yang berwudhu atau orang yang mandi wajib. Karena Allah l berfirman:
“…Maka cucilah wajah-wajah kalian dan tangan-tangan kalian.” (Al-Ma’idah: 6)
Kuteks yang dipakai oleh seorang wanita pada kukunya akan menghalangi air mengenai kuku/jarinya sehingga tidak bisa dikatakan ia telah mencuci tangannya. Dengan begitu ia telah meninggalkan satu kewajiban dari kewajiban-kewajiban wudhu atau mandi.
Adapun wanita yang sedang tidak shalat karena haid tidak mengapa memakai kuteks ini. Hanya saja memakai kuteks termasuk kekhususan wanita-wanita kafir. Karena alasan ini maka tidak boleh memakainya, agar tidak jatuh dalam perbuatan tasyabbuh (menyerupai) dengan orang-orang kafir.
Aku pernah mendengar sebagian orang berfatwa bahwa memakai kuteks bisa dikiaskan dengan memakai khuf (sementara ada pensyariatan mengusap di atas khuf dan ada ketentuan waktunya), dengan begitu seorang wanita boleh memakainya sehari semalam bila ia sedang tidak safar/bepergian dan tiga hari tiga malam bila ia musafir. Namun ini fatwa yang salah. Karena tidak setiap yang menutupi tubuh seseorang disamakan dengan memakai khuf. Kalau khuf dibolehkan oleh syariat untuk mengusapnya karena umumnya ada kebutuhan. Kedua telapak kaki ini butuh dihangatkan dan butuh ditutup karena keduanya langsung bersentuhan dengan tanah, kerikil, rasa dingin, dan selainnya, maka syariat pun mengkhususkan pengusapan di atas keduanya.
Terkadang mereka juga mengkiaskannya dengan sorban dan ini pun tidak benar. Karena sorban itu tempatnya di kepala, sementara kepala dari asalnya memang diringankan. Kepala hanya wajib diusap dalam amalan wudhu, beda halnya dengan tangan, kedua tangan harus dicuci. Karena itulah, Nabi n tidak memperkenankan wanita mengusap kaos tangannya ketika wudhu, padahal kaos tangan tersebut menutupi tangannya. Ini menunjukkan tidak bolehnya seseorang mengkiaskan segala penghalang/penutup yang menghalangi sampainya air ke anggota wudhu dengan sorban dan khuf.
Yang wajib dilakukan oleh seorang muslim adalah mencurahkan segala kesungguhan dan upayanya untuk mengetahui al-haq serta janganlah berfatwa melainkan dalam keadaan ia menyadari bahwa Allah l kelak akan menanyakan kepadanya tentang fatwa tersebut (meminta pertanggungjawabannya), karena ia memberikan penggambaran tentang syariat Allah k. Allah l lah yang memberi taufik, yang membimbing kepada ash-shirath al-mustaqim. (Majmu’ Fatawa wa Rasa’il Fadhilatusy Syaikh, 11/148-149)
HUKUM MENGHILANGKAN RAMBUT
DI TANGAN DAN KAKI
Bolehkah seseorang menghilangkan rambut yang tumbuh di kedua lengan dan kakinya?
Jawab:
Fadhilatusy Syaikh Muhammad ibnu Shalih Al-Utsaimin t menjawab, “Bila rambut yang tumbuh itu banyak/di luar kewajaran, tidak apa-apa menghilangkannya, karena keberadaannya menjelekkan penampilan seseorang. Kalau rambut itu biasa/masih wajar maka sebagian ahlul ilmi ada yang berpendapat tidak boleh menghilangkannya, karena termasuk perbuatan mengubah ciptaan Allah k. Di antara ahlul ilmi ada yang mengatakan boleh dihilangkan karena termasuk perkara yang didiamkan Allah l, sementara Rasulullah n bersabda:
ماَ سَكَتَ اللهُ عَنْهُ فَهُوَ عَفْوٌ
“Apa yang Allah diamkan berarti pemaafan.”
Maksudnya tidak diharuskan bagi kalian dan tidak pula haram. Mereka ini mengatakan, “Rambut-rambut yang tumbuh di badan terbagi tiga macam:
Pertama: Rambut yang diharamkan oleh syariat untuk dihilangkan.
Kedua: Rambut yang dituntut oleh syariat untuk dihilangkan.
Ketiga: Rambut yang didiamkan.
Rambut yang diharamkan oleh syariat untuk dihilangkan, tidaklah boleh dihilangkan, seperti jenggot bagi laki-laki, mencabut rambut alis bagi wanita dan lelaki.
Rambut yang dituntut oleh syariat untuk dihilangkan maka harus dihilangkan, tidak boleh dibiarkan, seperti rambut ketiak, rambut kemaluan, dan kumis bagi laki-laki.
Apa yang didiamkan, tidak dilarang dan tidak pula ada perintah untuk menghilangkannya, berarti perkaranya dimaafkan. Karena bila Allah l tidak menghendaki keberadaannya, niscaya Dia perintahkan untuk dihilangkan. Bila Allah menginginkan rambut itu tetap ada, niscaya Dia akan memerintahkan untuk membiarkannya. Tatkala Allah l diam, tidak menyebut salah satunya, berarti pekaranya kembali pada keinginan/pilihan manusia, bila mau ia hilangkan dan bila mau ia biarkan. Allah l lah yang memberi taufik. (Majmu’ Fatawa wa Rasa’il Fadhilatusy Syaikh, 11/134)

1 Tidak diletakkan begitu saja di kepala, karena yang seperti ini tidak sulit melepaskannya. (Asy-Syarhul Mumti’, 1/240)
2 Ibnu Abi Syaibah t dalam Mushannaf-nya, kitab Ath-Thaharah, fil Mar’ah Tamsahu ‘ala Khimariha, no. 249 dari Al-Hasan Al-Bashri t, dari Ummu Salamah x disebutkan ia mengusap di atas kerudungnya.
Ali ibnul Madini t berkata, “Al-Hasan melihat Ummu Salamah, namun tidak mendengar hadits darinya.” (Jami’ut Tahshil, hal. 163) [Lihat ta’liq Asy-Syarhul Mumti, 1/239, Dar Ibnil Jauzi, cet. pertama, Dzulqa’dah 1422 H]

Fitnah Majalah

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyah)

 

Di negeri kita ini demikian mudah dijumpai beragam majalah. Mulai majalah olahraga, majalah mistik, majalah kriminal, majalah khusus cerpen, majalah bisnis, majalah remaja, majalah wanita, majalah ponsel, majalah film, dan lain sebagainya. Apa pun namanya dan bagaimana pun sajiannya, semua majalah itu ingin memanjakan pembacanya, ingin memberikan hiburan dan kesenangan kepada mereka.

Satu hal yang tak bisa dipungkiri, pihak pengelola majalah tersebut ingin untung besar. Dengan tujuan komersial, ingin meraup untung yang banyak, pengelola majalah-majalah tersebut tak lagi melihat batasan-batasan syariat, mana yang boleh, mana yang tidak boleh dalam sudut pandang agama. Mana yang halal, mana yang haram, semuanya mereka terjang tanpa rasa takut kepada Allah k. Gambar wanita cantik dengan perhiasan lengkapnya sudah lazim menghiasi majalah-majalah tersebut. Bahkan wanita berpose setengah tak berbusana atau tanpa busana sama sekali merupakan sesuatu yang lumrah ditampilkan. Belum lagi beritanya, penuh dengan gosip, cerita fahisyah (keji), dan semodelnya. Padahal kita tahu apa hukum dari semua itu. Namun pengelola majalah tersebut mana mau tahu? Bahkan mereka tutup mata dan tutup telinga dari kerusakan yang ditimbulkan akibat penyebaran majalah-majalah mereka yang bobrok tersebut.

Fatwa ahlul ilmi tentu saja telah keluar menyinggung permasalahan di atas. Namun mereka yang hatinya telah membatu tetap tak mau berhenti. Majalah-majalah yang rusak terus saja bebas beredar di pasaran. Kita mohon kepada Allah k keselamatan dari kejelekan ini.

Komite tetap untuk pembahasan ilmiah dan fatwa yang ada di Saudi Arabia, yang dikenal dengan nama Al-Lajnah Ad-Daimah lil Buhuts Al-Ilmiyyah wal Ifta’, telah memberikan fatwa akan bahaya majalah seperti itu. Majelis para ulama ini yang diketuai oleh Asy-Syaikh Abdul Aziz ibnu Abdillah Alusy Syaikh, semoga Allah k menjaga beliau, menyatakan:

Alhamdulillah wahdahu, wa shalatu was salamu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi, wa ba’du:

Kaum muslimin di zaman ini telah ditimpa ujian yang besar. Fitnah mengepung mereka dari segala arah serta banyak kaum muslimin jatuh ke dalamnya. Kemungkaran tampak nyata dan manusia pun terang-terangan berbuat maksiat tanpa rasa takut serta tanpa malu. Sebab dari semua ini adalah menganggap remeh agama Allah l dan tidak mengagungkan batasan-batasan dan syariat-syariat-Nya. Sementara kebanyakan orang yang melakukan perbaikan lalai menunaikan syariat Allah l dan lalai dari melakukan amar ma’ruf nahi mungkar. Tidak ada jalan keluar bagi kaum muslimin dan tidak ada jalan keselamatan dari musibah dan fitnah ini terkecuali dengan taubat yang benar kepada Allah l, mengagungkan perintah-perintah dan larangan-larangan-Nya, mengambil tangan orang-orang bodoh dan membimbingnya dengan sungguh-sungguh kepada kebenaran.

Termasuk fitnah paling besar yang tampak di masa kita ini adalah apa yang dilakukan oleh para pedagang kerusakan, makelar kerendahan, pencinta tersebarnya kekejian di tengah kaum mukminin berupa penerbitan majalah-majalah yang buruk, yang memerangi/menentang Allah l dan Rasul-Nya dalam perintah dan larangan-Nya. Maka termuatlah di antara lembaran-lembarannya berbagai macam gambar telanjang dan wajah-wajah yang memfitnah lelaki, membangkitkan syahwat serta menyeret pada kerusakan.

Dari penelitian yang ada, dipastikan majalah-majalah ini memuat beragam cara dalam mempropagandakan kefasikan dan kefajiran, menggelorakan syahwat dan memuaskannya dalam perkara yang Allah l dan Rasul-Nya n haramkan. Di antaranya yang dimuatnya adalah:

1. Gambar-gambar yang menimbulkan fitnah di bagian sampul depannya dan bagian dalamnya.

2. Wanita-wanita dengan perhiasan lengkap yang menjatuhkan lelaki ke dalam fitnah dan menipu mereka.

3. Ucapan-ucapan yang rendah, gila, kata-kata bersajak dan membangkitkan syahwat. Amat jauh dari rasa malu dan keutamaan, justru menghancurkan akhlak dan merusak umat.

4. Kisah-kisah asmara yang hina, berita-berita para artis/selebritis, para penari dari kalangan lelaki dan wanita yang fasik.

5. Dalam majalah ini ada seruan/ajakan yang nyata untuk tabarruj dan membuka wajah di hadapan non-mahram, serta ajakan ikhtilath antara lawan jenis dan mengoyak hijab.

6. Menawarkan pakaian-pakaian yang mengumbar aurat kepada para wanitanya kaum mukminin untuk menghasung mereka agar telanjang dan menanggalkan pakaian serta bertasyabbuh (menyerupai) dengan para pelacur dan wanita-wanita fajir.

7. Dalam majalah-majalah tersebut ditampilkan para lelaki dan wanita yang berpelukan, berangkulan, dan berciuman.

8. Dalam majalah tersebut ada kalimat-kalimat menggelora yang dapat menggejolakkan nafsu seksual dalam jiwa para pemuda dan pemudi, sehingga mendorong mereka dengan kuat agar menempuh jalan yang bengkok dan menyimpang serta jatuh ke dalam perbuatan keji, dosa, mabuk asmara dan cinta.

Berapa banyak remaja putra dan putri menggemari dan menjadi pecinta majalah-majalah yang beracun ini. Mereka pun binasa karenanya dan mereka keluar dari batasan-batasan fitrah dan agama.

Majalah-majalah ini telah mengubah banyak hukum-hukum syariat dalam benak mayoritas manusia, demikian pula azas-azas fitrah yang lurus, disebabkan ucapan-ucapan dan pendapat-pendapat yang ditetapkannya.

Mayoritas manusia terus-menerus berkubang dalam perbuatan maksiat dan fahisyah (keji) serta melampaui batasan-batasan yang Allah l tetapkan disebabkan kecondongan mereka pada majalah-majalah ini. Juga dikuasainya akal dan pikiran mereka oleh majalah-majalah tersebut.

Kesimpulannya, majalah-majalah ini ditopang oleh sindikat perdagangan tubuh wanita, yang disokong oleh setan dengan seluruh hasungan dan sarana-sarana fitnah agar sampai pada penyebaran aliran ibahiyyah (semuanya boleh, tidak mau tunduk pada aturan agama), mengoyak-koyak kehormatan, merusak wanita-wanita kaum mukminin, mengubah masyarakat Islam menjadi kawanan binatang yang tidak mengenal hal yang ma’ruf dan tidak mengingkari yang mungkar, tidak menegakkan syariat Allah l yang suci ini, tidak mengangkat kepala sama sekali untuk menengoknya, sebagaimana keadaan di kebanyakan masyarakat. Bahkan perkaranya sampai ada sebagian mereka yang menikmati hubungan lawan jenis dengan cara telanjang bulat dalam apa yang mereka istilahkan mudunul ‘urah. Kita berlindung kepada Allah l dari terbaliknya fitrah serta terjatuhnya kita dalam perkara yang Allah l dan Rasul-Nya haramkan.

Berdasarkan apa yang telah disebutkan dari kenyataan yang diperoleh dari majalah-majalah ini, juga karena mengetahui dampak serta tujuan buruknya serta banyaknya keluhan yang disampaikan kepada Al-Lajnah dari orang-orang yang punya ghirah (kecemburuan terhadap agama) baik dari kalangan ulama, penuntut ilmu maupun mayoritas kaum muslimin tentang penyebaran majalah-majalah ini di perpustakaan-perpustakaan, warung-warung, pusat-pusat perdagangan, dan lain sebagainya, maka Al-Lajnah Ad-Da’imah lil Buhuts Al-Ilmiyyah wal Ifta’ memandang berikut ini:

Pertama: Haram menerbitkan majalah yang rendah semacam ini. Sama saja baik majalah umum atau majalah khusus mode pakaian wanita. Siapa yang melakukannya maka ia akan mendapat bagian dari firman Allah l:

“Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar berita perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat.” (An-Nur: 19)

Kedua: Haram bekerja di majalah-majalah seperti ini di bagian apapun. Baik bekerja di kantornya (administrasi), di penerbitannya, di percetakannya, atau di bagian distribusinya. Karena semuanya termasuk tolong-menolong dalam perbuatan dosa, kebatilan, dan kerusakan. Sementara Allah k berfirman:

“Janganlah kalian tolong-menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan. Bertakwalah kalian kepada Allah, sesunggguhnya Allah amat keras hukumannya.” (Al-Ma’idah: 2)

Ketiga: Haram mempropagandakan majalah-majalah tersebut dan melariskannya dengan cara apapun, karena hal itu termasuk menunjukkan dan mengajak kepada kejelekan. Nabi n pernah bersabda:

مَنْ دَعَا إِلَى ضَلاَلَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا

“Siapa yang mengajak kepada kesesatan maka ia mendapatkan dosa semisal dosa-dosa orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sedikitpun.” (HR. Muslim dalam Shahih-nya)

Keempat: Haram menjual majalah-majalah tersebut dan penghasilan yang diperoleh darinya merupakan pendapatan yang haram. Siapa yang jatuh dalam sesuatu dari perbuatan tersebut, wajib baginya bertaubat kepada Allah k dan melepaskan diri dari penghasilan/usaha yang jelek tersebut.

Kelima: Haram bagi kaum muslimin membeli dan menyimpan majalah-majalah tersebut, karena di dalamnya ada fitnah dan kemungkaran. Disamping itu, dengan membelinya akan menguatkan pengaruh pemilik majalah-majalah tersebut, memperkaya mereka serta mendorong mereka untuk berproduksi dan melariskan ‘dagangan’nya. Wajib pula bagi seorang muslim untuk berhati-hati, jangan sampai keluarganya, baik laki-laki maupun perempuan, ada yang membaca/memiliki majalah-majalah tersebut, dalam rangka menjaga mereka dari fitnah dan terfitnah. Hendaknya seorang muslim menyadari bahwa ia merupakan pemimpin/penanggung jawab dan ia akan ditanya tentang orang-orang yang dipimpinnya kelak di hari kiamat.

Keenam: Wajib bagi seorang muslim untuk menundukkan pandangannya dari melihat majalah-majalah yang rusak tersebut, dalam rangka menaati Allah l dan Rasul-Nya n. Juga dalam rangka menjauh dari fitnah berikut tempat-tempatnya. Tidak sepantasnya bagi seseorang mengaku-ngaku dirinya akan terjaga (atau merasa ia tidak mungkin jatuh dalam kejelekan), karena sungguh Nabi n mengabarkan bahwa setan itu berjalan pada anak Adam seperti peredaran darah.

Al-Imam Ahmad t menyatakan, “Berapa banyak pandangan yang melemparkan bala/musibah di hati pemiliknya.”

Siapa yang terpaut dengan gambar-gambar dan selainnya yang ada di dalam majalah-majalah tersebut maka akan merusak hati dan kehidupannya serta memalingkannya kepada perkara yang tidak bermanfaat baginya dalam kehidupan dunia dan akhiratnya. Karena baiknya hati dan kehidupan hati itu hanya dengan bergantung/terpaut kepada Allah k, beribadah kepada-Nya, merasakan manisnya bermunajat dengan-Nya, ikhlas untuk-Nya dan memenuhi hati dengan cinta kepada-Nya.

Ketujuh: Wajib bagi mereka yang Allah l berikan kekuasaan pada satu bidang apa pun di negeri Islam untuk memberikan nasihat kepada kaum muslimin, berupaya menjauhkan mereka dari kerusakan dan pelakunya, serta menjauhkan mereka dari seluruh perkara yang dapat membawa kemudaratan bagi mereka dalam agama dan dunia mereka. Di antara yang semestinya dilakukannya adalah melarang peredaran majalah-majalah yang merusak, dan mencegah agar kejelekan tidak menimpa mereka. Upaya seperti ini termasuk menolong Allah l dan agama-Nya, juga termasuk sebab keberuntungan, kebahagiaan, keselamatan dan dapat kokoh berkuasa di muka bumi, sebagaimana Allah l berfirman:

“Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong agama-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (Yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka akan mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang ma’ruf dan melarang dari perbuatan yang mungkar, dan hanya kepada Allah lah kembali segala urusan.” (Al-Hajj: 40-41) [Kitab Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah, hal. 117-123]

Demikian, semoga apa yang tertulis di sini menjadi pelajaran bagi kita agar tidak bermudah-mudah membeli, membaca, atau sekadar membuka-buka lembar demi lembar dari majalah yang merusak ini.

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Ummu Misthah

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu ‘Abdirrahman bintu ‘Imran)

 

Berita keji terdengar, menggunjingkan rumah tangga Rasulullah n. Seorang wanita yang mulia, Ash-Shiddiqah bintu Ash-Shiddiq x, dibicarakan dan diragukan kemuliaannya. Seorang wanita dari kalangan Quraisy, anak bibi sahabat yang mulia, Abu Bakr Ash-Shiddiq z memberikan pembelaan pada ‘Aisyah Ummul Mukminin dari berita bohong yang tersebar.

Wanita ini adalah Ummu Misthah bintu Abi Ruhm bin Al-Muththalib bin ‘Abdi Manaf bin Qushay Al-Qurasyiyah At-Taimiyah x. Ibunya bernama Raithah bintu Shakhr bin ‘Amir bin Ka’b bin Sa’d bin Taim bin Murrah.
Ummu Misthah menikah dengan Utsatsah bin ‘Abbad bin Al-Muththalib bin ‘Abdi Manaf. Dari pernikahan itu, Allah l anugerahkan dua orang anak, Misthah dan Hindun. Kelak, Misthah menjadi seorang sahabat yang mempunyai kemuliaan, ikut terjun dalam pertempuran Badr.
Namun dalam perjalanan waktu, sebagai seorang manusia, Misthah pernah tergelincir dalam kesalahan. Berawal dari tersebarnya berita bohong tentang Ummul Mukminin ‘Aisyah x yang diembuskan oleh gembong munafikin, Abdullah bin Ubay bin Salul. Berita itu begitu dahsyat mengguncang kaum muslimin, hingga ada di antara para sahabat yang tergelincir, turut membicarakan ‘Aisyah x. Salah satunya adalah Misthah bin Utsatsah z, putra Ummu Misthah x.
Ummu Misthah sendiri mengingkari perbuatan anaknya. Suatu malam, Ummu Misthah mengantar ‘Aisyah x yang sedang sakit ke khala’, tempat menunaikan hajat. Kebiasaan kaum Arab pada waktu itu, sebelum mereka membuat tempat menunaikan hajat di dekat rumah, mereka pergi ke tempat yang sunyi dan jauh dari pemukiman untuk menunaikan hajat. Biasanya para wanita pergi ke tempat tersebut pada malam hari. Saat kembali dari khala’, di tengah perjalanan Ummu Misthah tersandung. Kakinya tersangkut pakaiannya sendiri.
“Celaka Misthah!” ucapan itu spontan meluncur dari lisannya.
‘Aisyah keheranan. “Jelek sekali ucapanmu! Apakah engkau memaki seseorang yang ikut dalam Perang Badr?” kata ‘Aisyah.
“Apakah engkau tak pernah mendengar ucapannya?” tanya Ummu Mishthah. “Apa itu?” ‘Aisyah balik bertanya. Ummu Mishthah pun menceritakan berita bohong yang tersebar.
Ternyata Misthah bin Utsatsah turut membicarakan berita keji itu. Ummu Misthah mengingkari dengan sangat perbuatan Misthah, hingga terucap perkataan itu. Mendengar dirinya dibicarakan sedemikian rupa, bertambah parahlah sakit ‘Aisyah x. Tak henti-hentinya dia menangis.
Ketika mengetahui bahwa Misthah terlibat dalam pembicaraan dusta itu, Abu Bakr bersumpah untuk tidak lagi memberikan bantuan nafkah pada Misthah. Padahal sebelumnya Abu Bakr selalu memberi bantuan karena mereka memiliki hubungan kerabat. Namun Allah l menegur perbuatan Abu Bakr z dengan firman-Nya:
“Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kalian bersumpah bahwa mereka tidak akan memberi bantuan kepada kaum kerabatnya, orang-orang miskin dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah. Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kalian tidak ingin Allah mengampuni kalian? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (An-Nur: 22)
Setelah turun ayat itu, Abu Bakr z pun kembali memberikan bantuan pada Misthah.
Tatkala telah turun ayat pembelaan terhadap ‘Aisyah dari atas langit, Rasulullah n menetapkan hukuman cambuk terhadap tiga orang sahabat yang terjatuh dalam kesalahan ini, termasuk Misthah bin Utsatsah z.
Demikian pembelaan Ummu Misthah terhadap seorang wanita semulia ‘Aisyah x. Demikian pengingkaran Ummu Misthah, sekalipun kemungkaran itu dilakukan oleh anak kandungnya. Ummu Misthah bintu Abi Ruhm, semoga Allah l meridhainya.
Wallahu a’lamu bish-shawab.
Sumber Bacaan:
Al-Ishabah (6/74, 8/473)
Ath-Thabaqatul Kubra (10/218)

Ketika Anakku Sakit

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu ‘Abdirrahman bintu ‘Imran)

 

Anak bagaikan permata yang begitu berharga bagi orangtua. Tak ternilai harganya dan senantiasa melekat dalam sanubari ayah ibunya. Hal ini dirasakan oleh setiap orangtua, bahkan oleh seseorang yang paling mulia, Rasulullah n. Demikian pula orang yang paling mulia setelah beliau, Abu Bakr Ash-Shiddiq z. ‘Aisyah x menceritakan:

قَالَ أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيْقُ z يَوْمًا: وَاللهِ، مَا عَلَى الْأَرْضِ رَجُلٌ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ عُمَرَ، فَلَمَّا خَرَجَ رَجَعَ فَقَالَ: كَيْفَ حَلَفْتُ أَيْ بُنَيَّةُ؟ فَقُلْتُ لَهُ، فَقَالَ: أَعَزُّ عَلَيَّ، وَالْوَلَدُ أَلْوَطُ

“Suatu hari, Abu Bakr Ash-Shiddiq z mengatakan, ‘Demi Allah, tak ada seorang pun di atas bumi ini yang lebih kucintai daripada ‘Umar (Umar bin Khaththab z, red.)!’ Ketika Abu Bakr kembali, dia pun bertanya, ‘Bagaimana sumpahku tadi, wahai putriku?’ Aku pun mengatakan kembali apa yang diucapkannya. Kemudian Abu Bakr berkata, ‘Dia memang sangat berarti bagiku, namun anak lebih melekat di dalam hati’.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad, dikatakan oleh Al-Imam Al-Albani t dalam Shahih Al-Adabil Mufrad no. 61: hasanul isnad)

Memang, begitu dalam rasa cinta dan kasih sayang orangtua kepada anaknya. Tak heran, ketika anak sakit, derita yang berat pun turut dirasa oleh orangtua. “Sakit anak derita ibu,” begitu kata sebuah ungkapan.

Tak sampai hati rasanya melihat permata hati terbaring pucat, kehilangan gairah dan keceriaannya, ditambah lagi demam yang tak kunjung reda, diiringi tangisan menahan rasa sakit. Terbang sudah rasanya hati orangtua. Ada sesuatu yang terasa kosong di dalam dada. Ingin rasanya menggantikan sakit dan derita si anak. Ingin rasanya berbuat sesuatu untuk mengenyahkan segala penderitaannya. Namun ternyata kita tak mampu berbuat apa-apa.

Saat-saat seperti ini, kita benar-benar merasakan kelemahan diri kita. Terasa, bukan kita yang kuasa memberikan kesembuhan. Terasa, kita sendiri membutuhkan topangan.

Tentu tak pantas kita berkeluh kesah atas musibah ini. Bahkan yang satu ini harus kita jauhi, karena dapat menjerumuskan kita dalam azab, menjadi bahan bakar jahannam, wal ‘iyadzu billah! Seperti dalam sabda Rasulullah n ketika memberikan wejangan kepada para wanita di hari raya. Dikisahkan oleh Jabir bin ‘Abdillah z:

شَهِدْتُ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ n الصَّلاَةَ يَوْمَ الْعِيْدِ، فَبَدَأَ بِالصَّلاَةِ قَبْلَ الْخُطْبَةِ بِغَيْرِ أَذَانٍ وَلاَ إِقَامَةٍ، ثُمَّ قَامَ مُتَوَكِّئًا عَلَى بِلاَلٍ، فَأَمَرَ بِتَقْوَى اللهِ، وَحَثَّ عَلَى طَاعَتِهِ، وَوَعَظَ النَّاسَ، وَذَكَّرَهُمْ، ثُمَّ مَضَى حَتَّى أَتَى النِّسَاءَ، فَوَعَظَهُنَّ وَذَكَّرَهُنَّ، فَقَالَ: تَصَدَّقْنَ، فَإِنَّ أَكْثَرَكُنَّ حَطَبُ جَهَنَّمَ. فَقَامَتِ امْرَأَةٌ مِنْ سِطَةِ النِّسَاءِ سَفْعَاءُ الْخَدَّيْنِ، فَقَالَتْ: لِمَ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟

قَالَ: لِأَنَّكُنَّ تُكْثِرْنَ الشَّكَاةَ، وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيْرَ. قَالَ: فَجَعَلْنَ يَتَصَدَّقْنَ مِنْ حُلِيِّهِنَّ، يُلْقِيْنَ فِي ثَوْبِ بِلاَلٍ مِنْ أَقْرِطَتِهِنَّ وَخَوَاتِمِهِنَّ

Aku menghadiri shalat pada hari raya bersama Rasulullah n, maka beliau memulai dengan shalat sebelum khutbah tanpa adzan maupun iqamat. Kemudian beliau berdiri sambil bertelekan pada Bilal, memerintahkan manusia agar bertakwa kepada Allah, menghasung mereka untuk menaati-Nya, memberi wejangan serta mengingatkan mereka. Kemudian beliau pun berlalu, hingga mendatangi para wanita, lalu memberi wejangan kepada mereka serta mengingatkan mereka. Beliau bersabda, “Bersedekahlah kalian, karena kebanyakan kalian adalah bahan bakar Jahannam!” Maka berdirilah salah seorang wanita dari kalangan orang yang terbaik mereka yang di pipinya ada kehitaman, lalu bertanya, “Mengapa, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Karena kalian banyak berkeluh kesah dan kufur kepada suami.” Maka mulailah mereka bersedekah dengan perhiasan mereka, mereka melemparkan anting-anting dan cincin-cincin mereka ke baju Bilal.” (HR. Muslim no. 885)

Oleh karena itu, di saat himpitan melanda seperti ini, kiranya kita harus mengingat kembali apa kata syariat yang sempurna. Di saat itu pula kita akan mendapatkan bimbingan, arahan, dan nasihat yang begitu sempurna, hingga kita tak putus harapan.

Dalam Al-Qur’an, Allah l telah mengingatkan hamba-hamba-Nya:

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, kekurangan jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah mengatakan, ‘Kami ini milik Allah dan kepada-Nya pula kami akan kembali’. Mereka itulah yang mendapatkan kebaikan yang sempurna dan rahmah dari Rabb mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Al-Baqarah: 155-157)

Kekurangan jiwa yang dimaksud dalam ayat ini adalah kematian orang-orang yang dicintai, baik anak-anak, karib kerabat maupun sahabat. Juga berbagai penyakit yang menimpa diri seorang hamba ataupun menimpa orang yang dicintainya. (Taisirul Karimir Rahman, hal. 76)

Berbagai cobaan yang disebutkan dalam firman Allah l ini pasti akan menimpa seorang hamba, karena Dzat Yang Maha Mengetahui telah mengabarkannya, sehingga pasti hal itu akan terjadi sebagaimana Allah l kabarkan. Maka ketika musibah itu terjadi, manusia pun terbagi menjadi dua golongan: orang yang sabar dan yang tidak sabar.

Orang yang tidak sabar akan mendapatkan dua musibah; kehilangan orang yang dicintai yang ini merupakan wujud musibah yang menimpanya, dan kehilangan sesuatu yang lebih besar daripada itu, yaitu hilangnya pahala menempuh kesabaran yang diperintahkan oleh Allah l. Dia pun mendapat kerugian dan berkurang pula keimanannya. Hilang pula dari dirinya kesabaran, rasa ridha dan syukur, sehingga yang ada pada dirinya hanyalah kemarahan yang menunjukkan betapa kurang keimanannya.

Sementara orang yang Allah l berikan taufik untuk bersabar saat terjadinya musibah, dia menahan diri agar terhindar dari kemarahan akibat ketidakpuasan, baik yang terungkap dalam ucapan maupun perbuatan. Dia pun mengharap balasan pahala musibah itu dari sisi Allah l. Dia tahu, pahala yang akan didapatkannya dengan kesabaran jauh lebih agung daripada musibah yang menimpanya. Bahkan sebenarnya musibah itu merupakan suatu nikmat, karena bisa menjadi jalan untuk meraih sesuatu yang terbaik baginya dan lebih bermanfaat daripada musibah itu. Dia pun melaksanakan perintah Allah l untuk bersabar dan meraih pahalanya. (Taisirul Karimir Rahman, hal. 76)

Inilah janji Allah l, yang termaktub pula dalam ayat yang lain.

“Sesungguhnya orang-orang yang sabar akan dicukupi pahala mereka tanpa batas.” (Az-Zumar: 10)

Sabar. Demikian memang yang seharusnya dilakukan oleh seseorang yang beriman kala ditimpa musibah. Bagaimana tidak, sementara setiap keadaan, baik kelapangan ataupun kesusahan sebenarnya merupakan kebaikan baginya. Demikian yang dikatakan oleh Rasulullah n, seperti yang dinukilkan oleh Suhaib bin Sinan z:

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَلِكَ لِأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ: إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh mengagumkan perkara seorang mukmin, sesungguhnya setiap perkaranya merupakan kebaikan baginya, dan ini tidak dimiliki siapapun kecuali oleh seorang mukmin: apabila memperoleh kelapangan, dia bersyukur, maka ini kebaikan baginya, dan apabila ditimpa kesusahan, dia bersabar, maka ini pun kebaikan baginya.” (HR. Muslim no. 2999)

Kebaikanlah yang akan didapat seorang mukmin yang bersabar saat diterpa cobaan. Dengan meyakini hal ini, kita akan berbesar hati. Memang, jika Allah l menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, Dia akan menimpakan musibah kepadanya untuk mengujinya sehingga mengangkat derajatnya. Abu Hurairah z mengatakan bahwa Rasulullah n bersabda:

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُصِبْ مِنْهُ

“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, maka Allah akan menimpakan musibah kepadanya.” (HR. Al-Bukhari no. 5645)

Tak lagi ciut nyali kita mendengar keutamaan seperti ini. Terlebih lagi kalau kita menyadari, beratnya cobaan yang menimpa akan membuahkan pahala yang besar pula. Abu Hurairah z pernah menyampaikan bahwa Rasulullah n bersabda:

إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ، وَإِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ

“Sesungguhnya besarnya pahala itu bersama dengan besarnya cobaan. Dan jika Allah mencintai suatu kaum, Allah akan menguji mereka. Barangsiapa yang ridha, maka dia akan mendapat ridha dari Allah, dan barangsiapa yang marah, maka dia akan mendapat kemurkaan dari Allah.” (HR. At-Tirmidzi no. 2396, dihasankan oleh Al-Imam Al-Albani t dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi)

Tak hanya itu keutamaan bersabar atas cobaan. Rasulullah n mengingatkan pula bahwa cobaan yang tengah kita hadapi akan menggugurkan dosa dan kesalahan kita. Abu Sa’id Al-Khudri dan Abu Hurairah c meriwayatkan bahwa Rasulullah n bersabda:

مَا يُصِيْبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حَزَنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلاَّ كَفَّرَ اللهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidaklah seorang muslim ditimpa suatu kepayahan, penyakit, kegalauan, kesedihan, gangguan ataupun kegundahan, hingga duri yang mengenainya, kecuali Allah akan menggugurkan kesalahan-kesalahannya dengan musibah itu.” (HR. Al-Bukhari no. 5641, 5642 dan Muslim no. 2573)

Abu Hurairah z juga mengatakan bahwa Rasulullah n bersabda:

مَا يَزَالُ الْبَلاَءُ بِالْمُؤْمِنِ وَالْمُؤْمِنَةِ فِي نَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَمَالِهِ حَتَّى يَلْقَى اللهَ تَعَالَى وَمَا عَلَيْهِ خَطِيْئَةٌ

“Senantiasa cobaan itu menimpa seorang mukmin atau mukminah pada dirinya, anak ataupun hartanya, sampai dia bertemu dengan Allah ta’ala dalam keadaan tidak memiliki kesalahan.” (HR. At-Tirmidzi no. 2399, dikatakan oleh Al-Imam Al-Albani t dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi: hasan shahih)

Di tengah-tengah kegalauan menghadapi sakit yang diderita sang buah hati, kita berharap, semoga Allah l berikan taufik kepada kita untuk bersabar. Allah l yang membimbing kita untuk menempuh kesabaran, Allah l pula yang memberikan pahala kesabaran itu. Kita pun berharap agar segala kesusahan yang kita alami dapat menjadi jalan bagi kita untuk mendapatkan surga. Abu Hurairah z menukilkan sabda Rasulullah n:

حُجِبَتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ، وَحُجِبَتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ

“Neraka diliputi oleh berbagai kesenangan dunia, sementara surga diliputi oleh berbagai hal yang tidak menyenangkan di dunia.” (HR. Al-Bukhari no. 6487)

Satu hal lagi yang tak boleh dilupakan pada saat-saat seperti ini adalah memohon kesembuhan bagi anak kita hanya kepada Allah l. Hanya Allah l semata yang dapat memberikan kesembuhan atas penyakit buah hati kita, sebagaimana kata Khalilur Rahman, Ibrahim q yang termaktub dalam Al-Qur’an:

“Dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkanku.” (Asy-Syu’ara: 80)

Dengan penuh harap kita memohon kepada Allah l bagi anak kita, disertai keyakinan bahwa Allah l akan mengabulkan doa kita. Abu Hurairah z menyampaikan bahwa Rasulullah n pernah bersabda:

ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٍ لاَ شَكَّ فِيْهِنَّ: دَعْوَةُ الوَالِدِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ، وَدَعْوَةُ الْمَظْلُوْمِ

“Ada tiga doa yang pasti akan terkabul, tidak diragukan lagi: doa orangtua, doa orang yang bepergian, dan doa orang yang dizalimi.” (HR. Abu Dawud no. 1536, dikatakan oleh Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Shahih Sunan Abi Dawud: hasan)

Akan lebih ringan terasa beban berat yang kita alami dengan menyimak kembali bimbingan Allah l dan Rasul-Nya n ini. Semoga kegundahan ini akan berakhir kelak dengan sesuatu yang lebih berarti.

Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.

Kunci-Kunci Rejeki (bagian dua)

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah)

 

Percayakah anda yang sedang bergiat mencari penghidupan untuk anak dan istri bahwa rezeki yang halal, thayyib, dan berbarakah itu mudah diperoleh oleh hamba yang dekat dengan-Nya dan tidak melupakan-Nya? Tawakkal, memusatkan pikiran dan perhatian ketika beribadah kepada Allah l, berhijrah di jalan Allah l, dan silaturahim merupakan kunci-kunci dari sekian kunci yang mendatangkan serta memudahkan rezeki dari Allah l. Untuk kejelasannya kita baca keterangan berikut ini:

 

Tawakkal

Kita sering mendengar kata tawakkal atau bahkan mengucapkannya, tapi sebenarnya apakah yang dimaksud dengan tawakkal?

Dalam Faidhul Qadir (5/311), Al-Imam Al-Munawi1 t menjelaskan, “Tawakkal adalah menampakkan kelemahan diri dan bersandar kepada Allah k.”

Asy-Syaikh Muhammad ibnu Shalih Al-Utsaimin t berkata menerangkan makna tawakkal, “Bersandarnya seorang insan kepada Rabbnya l baik secara lahir maupun batin dalam mendatangkan kemanfaatan dan menolak kemudaratan.” (Syarhu Riyadhis Shalihin, 1/369)

Di tengah sulitnya mencari penghidupan, kami sampaikan kepada pembaca yang mulia bahwa tawakkal akan memudahkan seorang hamba bertemu dengan rezekinya karena Rabbul Izzah telah menjanjikan:

“Siapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupinya.” (Ath-Thalaq: 3)

Rasul yang mulia n telah pula mengabarkan:

لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُوْنَ عَلَى اللهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا تُرْزَقُ الطَّيْرُ تَغْدُوْا خِمَاصًا وَتَرُوْحُ بِطَانًا

“Seandainya kalian itu bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung-burung diberi rezeki. Mereka terbang dalam keadaan lapar dan pulang kembali ke sarang mereka dalam keadaan kenyang.” (HR. Ahmad 1/243, At-Tirmidzi no. 2344, dan selainnya. Hadits ini shahih sebagaimana dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi dan Ash-Shahihah no. 310)

Asy-Syaikh Al-Mubarakfuri2 t menerangkan, “Bila kalian bersandar kepada Allah l dengan kalian meyakini tidak ada yang kuasa berbuat/memberi rezeki kecuali hanya Allah k saja, tidak ada yang dapat memberi dan tidak ada yang dapat menahan kecuali Dia, kemudian kalian berupaya mencari rezeki dengan cara yang baik disertai tawakkal, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung-burung yang pergi di awal siang dalam keadaan lapar dan pulang di akhir siang dalam keadaan kenyang. Al-Munawi t menyatakan burung-burung itu terbang di pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang kembali di sore hari dalam keadaan perutnya penuh. Maka bukanlah penghasilan/usaha itu yang memberi rezeki tapi yang memberikan rezeki adalah Ar-Razzaq, yaitu Allah l. Rasulullah n memberikan isyarat dalam haditsnya tersebut bahwa yang namanya tawakkal bukanlah bermalas-malasan tanpa mau berusaha. Bahkan yang namanya tawakkal harus disertai dengan upaya menempuh sebab, karena burung-burung itu diberi rezeki setelah menempuh usaha dan pencarian. Karena itulah Al-Imam Ahmad3 t berkata, “Tidak ada di dalam hadits ini yang menunjukkan ditinggalkannya usaha mencari rezeki. Bahkan justru menunjukkan upaya mencari rezeki. Hanyalah yang diinginkan Rasulullah n adalah andai mereka bertawakkal kepada Allah l dalam pergi, datang, dan segala aktivitas mereka, serta yakin kebaikan itu berada di tangan Allah l, niscaya tidaklah mereka kembali dari usaha mereka melainkan dalam keadaan beroleh rezeki, dalam keadaan selamat seperti halnya burung-burung.”

Abul Qasim Al-Qusyairi t berkata, “Ketahuilah, tawakkal itu tempatnya di hati. Adapun gerakan lahir tidaklah meniadakan tawakkal yang ada di hati, tentunya setelah seorang hamba meyakini bahwa rezeki itu datangnya dari Allah l. Jika seorang hamba kesulitan beroleh sesuatu maka itu dengan takdir-Nya, dan jika mudah beroleh sesuatu maka dikarenakan kemudahan dari-Nya.” (Tuhfatul Ahwadzi, kitab Az-Zuhd, bab Fit Tawakkul ‘alallahi)

Al-Imam Ahmad t pernah ditanya tentang seseorang yang duduk di rumahnya atau di masjid dan mengatakan, “Aku tidak mau bekerja, nanti toh rezekiku akan datang juga.” Al-Imam Ahmad t menjawab, “Orang itu bodoh tidak tahu ilmu. Sungguh Nabi n telah bersabda:

إِنَّ اللهَ جَعَلَ رِزْقِي تَحْتَ ظِلِّ رُمْحِيْ

‘Allah menjadikan rezekiku di bawah naungan tombakku.’

لَوْ تَوَكَّلْتُمْ عَلَى اللهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوْحُ بِطَانًا

‘Seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal niscaya Dia akan memberi rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung-burung yang terbang meninggalkan sarangnya di pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang kembali ke sarangnya di sore hari dalam keadaan kenyang.’

Rasulullah n menyebutkan bahwa burung-burung itu pergi di pagi hari dan pulang di sore hari dalam mencari rezeki.”

Al-Imam Ahmad t juga mengatakan, “Adalah para sahabat mereka berdagang dan bekerja di kebun kurma mereka. Mereka inilah yang menjadi teladan.” (dinukil dari Fathul Bari, 11/305-306)

Dengan demikian tawakkal bukan berarti meninggalkan usaha. Bahkan semestinya seorang muslim berusaha dengan sungguh-sungguh mencari penghidupannya. Hanya saja ia tidak boleh bersandar dengan kemampuan dan usahanya, namun harus meyakini bahwa perkara seluruhnya milik Allah l dan rezeki itu dari Allah l semata.

 

Memusatkan Pikiran dan Perhatian Ketika Beribadah

Di saat seorang hamba sedang beribadah kepada Allah l, hendaknya ia menghadirkan hati dan fisiknya dalam keadaan khusyuk, tunduk merendah diri kepada Allah l semata, ia hadirkan keagungan Allah l dan merasa sedang bermunajat kepada Allah Yang Maha kuasa. Sehingga keberadaannya seperti tersebut dalam hadits yang mulia:

أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

“Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Bila engkau tidak dapat menghadirkan hati dan jasmani seakan melihatnya maka yakinlah bahwa Dia melihatmu.” (HR. Muslim no. 93)

Barangsiapa dapat melakukan ibadah dengan gambaran seperti ini niscaya akan dimudahkan rezekinya. Abu Hurairah z mengabarkan dari Nabi n dalam sebuah hadits qudsi:

إِنَّ اللهَ تَعَالَى يَقُوْلُ: يَا ابْنَ آدَمَ، تَفَرَّغْ لِعِبَادَتِي، أَمْلَأْ صَدْرَكَ غِنًى، وَأَسُدَّ فَقْرَكَ، وَإِنْ لاَ تَفْعَلْ مَلَأْتُ يَدَيْكَ شُغْلاً وَلَمْ أَسُدَّ فَقْرَكَ

Sesungguhnya Allah l berfirman, “Wahai anak Adam, pusatkan pikiran dan perhatianmu saat beribadah kepada-Ku niscaya Aku akan memenuhi hatimu dengan kecukupan (kaya hati) dan Aku akan tutupi kefakiranmu (sehingga engkau merasa tidak butuh kepada makhluk namun hanya butuh kepada Allah saja). Bila engkau tidak melakukannya niscaya Aku akan memenuhi tanganmu dengan kesibukan (tidak pernah merasa cukup) dan Aku tidak akan menutupi kefakiranmu (sehingga engkau mengemis-ngemis/tergantung pada makhluk).” (HR. At-Tirmidzi no. 2466 dll, dishahihkan Al-Imam Al-Albani t dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi dan selainnya)

Ma’qil ibnu Yasar z berkata, Rasulullah n bersabda:

يَقُوْلُ رَبُّكُمْ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: يَا ابْنَ آدَمَ، تَفَرَّغْ لِعِبَادَتِي أَمْلَأْ قَلْبَكَ غِنًى وَأَمْلَأْ يَدَيْكَ رِزْقًا، يَا ابْنَ آدَمَ، لاَ تُبَاعِدْنِي فَأَمْلَأْ قَلْبَكَ فَقْرًا وَأَمْلَأْ يَدَيْكَ شُغْلاً

Rabb kalian tabaraka wa ta’ala berfirman, “Wahai anak Adam, pusatkan pikiran dan perhatianmu saat beribadah kepada-Ku niscaya Aku akan memenuhi hatimu dengan kecukupan (kaya hati) dan Aku penuhi kedua tanganmu dengan rezeki. Wahai anak Adam, janganlah engkau menjauhiku niscaya Aku akan memenuhi hatimu dengan kefakiran dan Aku penuhi kedua tanganmu dengan kesibukan (tidak pernah merasa cukup).” (HR. Al-Hakim dalam Mustadraknya, 4/326, At-Tirmidzi no. 2466 dll, dishahihkan Al-Imam Al-Albani t dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi dan Ash-Shahihah, 3/347)

 

Berhijrah Di Jalan Allah l

Allah l menjadikan amalan seseorang yang berhijrah di jalan-Nya sebagai salah satu kunci dari kunci-kunci rezeki. Namun sebelumnya kita perlu mengetahui apa yang dimaksud dengan hijrah? Al-Jurjani t menyebutkan, bahwa hijrah adalah meninggalkan negeri yang dihuni di tengah orang kafir dan pindah ke negeri Islam (At-Ta’rifat, hal. 247), sebagaimana dulunya para sahabat g berhijrah meninggalkan Makkah, sebelum Makkah menjadi negeri Islam, menuju ke Madinah.

Hijrah ini wajib dilakukan. Sehingga manakala seorang muslim bermukim di negeri kafir, janganlah ia senang untuk tetap berdiam di situ. Bahkan ia harus berhijrah ke negeri kaum muslimin. Jangan ia khawatir dengan penghidupannya di tempat yang baru tersebut karena Allah l menjanjikan untuk membukakan rezekinya.

Allah l berfirman:

“Siapa yang berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak.” (An-Nisa’: 100)

Dalam ayat yang mulia di atas, Allah l menjanjikan dua perkara kepada orang yang berhijrah di jalan-Nya:

Pertama: ia akan mendapatkan tempat pelindungan yang dapat membentenginya.

Kedua: ia akan beroleh rezeki (Tafsir Ibni Katsir, 2/286)

Ini telah dibuktikan oleh para sahabat g. Manakala mereka dulunya meninggalkan kampung halaman dan harta mereka demi memenuhi perintah Allah l dan Rasul-Nya n untuk berhijrah fi sabilillah, Allah l pun memberi ganti yang lebih berlimpah untuk mereka. Allah l kuasakan untuk mereka perbendaharaan Persia dan Romawi.

 

Silaturahim

Rahim adalah karib kerabat. Silah ar-rahim atau silaturahim berarti menyambung rahim, kata Al-Mulla Ali Al-Qari, ungkapan ini sebagai kiasan dari berbuat baik kepada karib kerabat yang ada hubungan nasab atau karena hubungan pernikahan. Berlaku lembut kepada mereka dan memerhatikan keadaan mereka. (Mirqatul Mafatih, 8/645)

Didapatkan beberapa hadits yang menunjukkan bahwa silaturahim ini merupakan satu sebab lapangnya rezeki seseorang. Di antaranya Abu Hurairah z berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah n bersabda:

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Siapa yang senang dibentangkan rezekinya dan diakhirkan/ditangguhkan ajalnya4, hendaklah ia menyambung rahimnya (silaturahim).” (HR. Al-Bukhari no. 5985)

Hadits di atas dibawakan oleh Al-Imam Al-Bukhari t dalam Shahih-nya dengan bab yang berjudul Man Busitha Lahu fir Rizqi bi Shilatirrahim, artinya orang yang dibentangkan rezeki untuknya karena silaturahim.

Masih dari Abu Hurairah z, ia memberitakan sabda Rasulullah n:

تَعَلَّمُوْا مِنْ أَنْسَابِكُمْ مَا تَصِلُوْنَ بِهِ أَرْحَامَكُمْ، فَإِنَّ صِلَةَ الرَّحِمِ مَحَبَّةٌ فيِ الْأَهْلِ، مَثْرَاةٌ فِي الْماَلِ، مَنْسَأَةٌ فِي الْأثَرِ

“Pelajarilah nasab-nasab kalian5 yang dengannya kalian menyambung hubungan rahim kalian karena silaturahim itu menumbuhkan kecintaan kepada keluarga, memperbanyak harta, dan menangguhkan ajal.” (HR. Ahmad 17/42, At-Tirmidzi no. 1979, dan selainnya, dishahihkan dalam Ash-Shahihah no. 276)

Ibnu Umar c, menyatakan:

مَنِ اتَّقَى رَبَّهُ وَوَصَلَ رَحِمَهُ أُنْسِئَ لَهُ فِي عُمْرِهِ، وَثُرِّيَ مَالُهُ، وَأَحَبَّهُ أَهْلُهُ

“Siapa yang bertakwa kepada Rabbnya dan ia menyambung hubungan rahimnya niscaya akan dipanjangkan umurnya, dibanyakkan hartanya, dan keluarganya mencintainya.” (Diriwayatkan Al-Imam Bukhari t dalam Al-Adabul Mufrad no. 58, dishahihkan dalam Shahih Al-Adabil Mufrad)

Sebagian orang memahami silaturahim itu sebatas memberikan materi kepada kerabat. Padahal tidak demikian, karena silaturahim itu lebih luas cakupannya. Silaturahim berarti menyampaikan kebaikan kepada karib kerabat dengan materi atau lainnya, bisa berupa bantuan tenaga bila diperlukan, mencegah bahaya/mudarat yang akan menimpa mereka, menampakkan wajah yang manis/berseri-seri, serta mendoakan kebaikan untuk mereka. Hal ini tentunya hanya bisa dilakukan bila karib kerabat ini seorang muslim. Namun bila mereka kafir atau fajir maka hubungan dengan mereka diputuskan karena Allah l, dengan syarat terus mencurahkan segala upaya dan kesungguhan untuk memberikan nasihat kepada mereka serta mendoakan agar mereka beroleh hidayah. (lihat Tuhfatul Ahwadzi, kitab Al-Birr wash Shilah, bab Ma Ja’a fi Shilatir Rahim)

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.


1 Al-Allamah Al-Muhaddits Muhammad, yang biasa disebut dengan Abdurrauf, Al-Munawi (952-1031 H).
2 Al-Faqih Al-Muhaddits Abul Ali Muhammad Abdurrahman ibn Abdirrahim Al-Mubarakfuri.
3 Imam mulia yang masyhur, Abu Abdillah Ahmad ibn Muhammad ibn Hambal Al-Adnani Asy-Syaibani Al-Marwazi Al-Baghdadi t, seorang alim yang tiada bandingannya di masanya, panutan dalam sikap wara’, zuhud, kokoh di atas al-haq, dan sabar dalam ujian, serta pembela Sunnah Nabawiyah yang tangguh (164-241 H).
4 Ibnu At-Tin t menyatakan zhahir (teks) hadits ini seakan bertentangan dengan firman Allah l:
“Maka apabila telah datang ajal mereka, mereka tidak bisa meminta tangguh/diakhirkan sesaat pun dan tidak bisa pula minta dimajukan.” (Al-A’raf: 34)
Namun ayat ini dengan hadits di atas tidaklah saling bertentangan. Bahkan keduanya bisa dikumpulkan dalam salah satu dari dua sisi berikut ini:
Pertama, tambahan umur yang disebutkan merupakan kiasan dari keberkahan dalam umur (umur yang diberkahi, bukan bertambah dengan sebenarnya) dengan sebab seseorang diberi taufik untuk melakukan ketaatan dan memakmurkan/memenuhi waktunya dengan perkara yang bermanfaat bagi akhiratnya serta menjaga waktunya dari tersia-siakan. Kesimpulannya, silaturahim merupakan sebab seseorang mendapatkan taufik untuk melakukan ketaatan dan dijaga dari maksiat, sehingga sepeninggalnya ia tetap disebut-sebut dengan kebaikan, dengan seperti ini seakan-akan ia belum meninggal.
Kedua, tambahan umur yang disebutkan adalah hakiki. Benar-benar umurnya bertambah. Penambahan ini bila dinisbatkan kepada ilmu malaikat yang diserahi pengurusan umur. Adapun dalam ayat yang menyebutkan umur tidak bisa ditangguhkan dan tidak pula disegerakan dari waktunya, maka ini bila dinisbatkan kepada ilmu Allah k. Seperti misalnya dikatakan kepada malaikat, umur si Fulan seratus tahun bila ia menyambung hubungan rahimnya dan enampuluh tahun bila ia memutus silaturahimnya. Telah lewat dalam ilmu Allah l apakah di Fulan kelak menyambung hubungan rahimnya ataukah memutusnya. Apa yang ada dalam ilmu Allah l tidak akan maju/disegerakan dan tidak pula mundur/ditangguhkan. Namun yang ada pada ilmu malaikat bisa bertambah dan bisa pula berkurang. Ayat berikut ini memberi isyarat demikian:
“Allah menghapus apa yang Dia kehendaki dan menetapkan apa yang Dia kehendaki dan di sisi-Nya lah terdapat Ummul Kitab (Lauh Mahfuzh).” (Ar-Ra’d: 39)
Penghapusan dan penetapan ini bila dinisbatkan pada ilmu malaikat. Sedangkan yang ada dalam Ummul Kitab, yang ada dalam ilmu Allah l, ini tidak dapat berubah sama sekali. Ath-Thibi menguatkan sisi yang pertama. (Fathul Bari, 10/510-511)
Ketika mengomentari hadits Anas bin Malik z yang menyebutkan sabda Rasulullah n:
مَنْ أَحَبَّ ُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
“Siapa yang suka dibentangkan rezekinya dan diakhirkan/ditangguhkan ajalnya, hendaklah ia menyambung rahimnya (silaturahim).” (HR. Al-Bukhari no. 5985)
Al-Imam Al-Albani t berkata, “Hadits ini sesuai dengan zhahirnya, yaitu dengan hikmah-Nya, Allah l menjadikan silaturahim sebagai sebab syar’i dapat memanjangkan umur. Demikian pula akhlak yang baik dan menjadi teman/tetangga yang baik sebagaimana disebutkan dalam beberapa hadits yang shahih. Hal ini tidaklah bertentangan dengan apa yang diketahui dari agama ini secara pasti bahwa umur itu telah ditetapkan. Karena ini kalau melihat kepada khatimah/penutup hidup seseorang secara sempurna, seperti bahagia atau celaka, keduanya ini telah ditetapkan atas setiap individu, apakah ia orang yang beruntung/bahagia ataukah ia orang yang sengsara/celaka. Kebahagiaan dan kesengsaraan ini digantungkan dengan sebab-sebab secara syar’i sebagaimana sabda Rasulullah n:
“Beramallah kalian, masing-masingnya akan dimudahkan kepada apa yang dia diciptakan untuknya. Siapa yang termasuk ahlus sa’adah/ orang-orang yang berbahagia maka ia akan dimudahkan untuk beramal dengan amalannya ahlus sa’adah. Dan siapa yang termasuk ahlus syaqawah/orang-orang yang celaka maka ia akan dimudahkan untuk mengamalkan amalan ahlus syaqawah.”
Kemudian Rasulullah n membacakan ayat:
“Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, serta membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka kelak Kami akan memudahkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup serta mendustakan surga, maka kelak Kami akan memudahkan baginya jalan yang sukar.” (Al-Lail: 5-10)
Maka sebagaimana iman itu dapat bertambah dan berkurang, bertambahnya dengan ketaatan dan berkurangnya dengan kemaksiatan, dan hal ini tidaklah meniadakan apa yang tertulis di Lauh Mahfuzh, demikian pula umur, dapat bertambah dan berkurang dengan melihat sebab-sebab yang ada. Maka hal ini tidak bertentangan atau meniadakan apa yang telah tercatat pula di Lauh Mahfuzh.” (Sebagaimana dinukil dalam Syarhu Shahih Al-Adabil Mufrad, 1/73)
5 Maknanya, kenalilah karib kerabat kalian dari kalangan mereka yang memiliki hubungan rahim dengan kalian sehingga memungkinkan bagi kalian untuk silaturahim yaitu mendekati mereka, menyayangi mereka, dan memberikan kebaikan kepada mereka. (Tuhfatul Ahwadzi, kitab Al-Birr wash Shilah, bab Ma Ja’a fi Ta’limin Nasab)

Pengaruh Contoh yang Baik dan Contoh yang Buruk

(ditulis oleh: Al-Ustadz Saifudin Zuhri, Lc.)

 

الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَكَفَى بِاللهِ شَهِيْدًا، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ إِقْرَارًا بِهِ وَتَوْحِيْدًا، وََأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا مَزِيْدًا؛

أَمَّا بَعْدُ:

أيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا اللهَ وَآمِنُوْا بِرَسُوْلِهِ وَلاَ تَتَّبِعُوْا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيْلِهِ

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Alhamdulillah, segala puji kita panjatkan kepada Allah l yang telah mengutus utusan-Nya dengan membawa syariat-Nya. Sehingga menjadi jelas dan nampaklah kebenaran serta menjadi hina dan hilanglah kebatilan. Aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak untuk diibadahi dengan benar selain Allah l yang tidak ada satu pun tandingan bagi-Nya dan aku bersaksi bahwasanya Nabi Muhammad n adalah hamba dan utusan-Nya. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada pemimpin kita dan nabi kita Muhammad n, keluarga, para sahabatnya, dan seluruh kaum muslimin yang berjalan di atas sunnahnya.

 

Jamaah jum’ah yang semoga dirahmati Allah l,

Marilah kita senantiasa bertakwa kepada Allah l dengan bersungguh-sungguh dalam mengikuti ajaran yang dibawa oleh Rasul-Nya n dan menjauhi seluruh ajaran yang menyelisihi petunjuknya n. Karena ajaran dan petunjuk yang dibawa oleh beliau n adalah satu-satunya jalan yang akan mengantarkan kita kepada keridhaan Allah l dan menyelisihi petunjuknya n akan menyeret kita pada kemarahan dan kemurkaan Allah l.

 

Hadirin rahimakumullah,

Mencontoh dan meniru orang lain, terutama kepada orang-orang yang dianggap memiliki kelebihan di atas dirinya merupakan tabiat yang Allah l tetapkan pada manusia. Kenyataan ini akan menjadi suatu hal yang sangat berbahaya manakala yang dijadikan sebagai contoh dan dianggap memiliki kelebihan adalah orang-orang yang menyimpang dari petunjuk Rasulullah n. Karena orang yang mengikutinya pun akan ikut menyimpang dari jalan yang benar. Oleh karena itu, Allah l telah memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya untuk memilih dan mengikuti orang-orang yang baik serta melarang hamba-hamba-Nya untuk mengikuti dan mencontoh orang-orang yang jelek serta rusak agamanya.

 

Saudara-saudaraku seiman yang semoga dirahmati Allah l,

Orang yang terbaik yang telah ditetapkan oleh Allah l sebagai contoh bagi kita semua adalah Rasulullah n. Allah l berfirman:

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Al-Ahzab: 21)

Al-Imam Ibnu Kastir t mengatakan, “Ayat ini merupakan dalil yang agung dalam menjelaskan tentang disyariatkannya mengikuti Rasulullah n dalam ucapan-ucapan beliau, perbuatan-perbuatan beliau, dan keadaan-keadaan lainnya pada beliau n.”

Maka wajib bagi kita semua untuk menerima dan membenarkan seluruh berita yang datang dari beliau n. Sebagaimana wajib juga bagi kita untuk menjalankan perintah-perintahnya dan menjauhi larangan-larangannya serta tidak beribadah kepada Allah l kecuali dengan syariat yang dibawanya n dan mencontoh beliau n dalam menjalankannya.

 

Hadirin rahimakumullah,

Adapun manusia yang terbaik berikutnya setelah Rasulullah n yang disyariatkan bagi kita semua untuk menjadikannya sebagai contoh yang baik adalah para sahabatnya yang mulia. Allah l berfirman:

“Dan para pendahulu yang pertama (yang mendahului dalam beriman) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, mereka kekal di dalamnya, itulah kemenangan yang besar.” (At-Taubah: 100)

Di dalam ayat ini Allah l memberitakan kepada kita bahwasanya Allah l telah ridha kepada orang-orang yang pertama-tama masuk Islam dari kalangan Muhajirin dan Anshar, dan Allah l telah menyiapkan surga bagi mereka. Adapun orang-orang yang datang berikutnya, termasuk di dalamnya kita semua dan orang-orang yang datang setelah kita sampai hari kiamat nanti, maka tidak ada kepastian untuk mendapatkan ridha-Nya serta dimasukkan ke dalam surga-Nya kecuali dengan memenuhi syarat, yaitu mengikuti mereka (para sahabat) dengan baik. Maka jelaslah, bahwasanya Allah l telah menjadikan mereka para sahabat sebagai suri tauladan yang baik bagi kita. Oleh karena itu, kewajiban kita semua adalah mencintai mereka dan mengikuti pemahaman mereka dalam menjalankan agama yang mulia ini. Janganlah kita terjatuh pada ajaran yang diikuti oleh orang-orang Syiah atau Rafidhah dan kelompok sesat yang semisalnya. Karena justru di antara keyakinan atau ajaran kelompok sesat tersebut adalah mencela sebagian besar sahabat, bahkan mengafirkan mereka. Keyakinan ini jelas merupakan kesalahan yang besar dan menyelisihi prinsip-prinsip Ahlus Sunnah yang terkait dengan kewajiban yang harus ditunaikan kepada para sahabat. Prinsip Ahlus Sunnah dalam permasalahan ini di antaranya adalah selamatnya lisan dan hati mereka (Ahlus Sunnah) dari mencela para sahabat.

 

Hadirin rahimakumullah,

Disamping itu, dalam ayat tersebut kita juga memahami bahwa orang-orang yang mengikuti jalan para sahabat adalah orang-orang yang mulia. Sehingga kita juga disyariatkan untuk menjadikan para ulama yang hidup pada masa generasi terbaik setelah masa Rasulullah n dan para ulama yang datang berikutnya yang mengikuti jalan mereka, sebagai suri tauladan yang baik bagi kita semua. Adapun orang-orang yang mengajak kepada amalan ibadah yang tidak sesuai dengan ajaran Rasulullah n, maka mereka bukanlah suri tauladan yang baik. Meskipun mereka dianggap sebagai ulama, da’i, tokoh Islam, atau yang semisalnya. Bahkan kewajiban kita justru berhati-hati agar kita dan keluarga serta anak-anak kita tidak terpengaruh dari penyimpangan mereka dalam memahami agama ini. Karena mereka lebih berbahaya dari penyakit apapun yang mengenai tubuh seseorang. Yaitu penyakit mengikuti hawa nafsu dalam beragama, dengan melakukan amal ibadah yang tidak disyariatkan dan mengajak orang untuk mengikutinya.

 

Jama’ah jum’ah rahimakumullah,

Termasuk bentuk mencontoh yang bisa memengaruhi akidah, ibadah, dan akhlak seseorang adalah yang berkaitan dengan teman bergaulnya. Apabila teman bergaulnya baik agamanya, maka orang yang berteman dengannya pun akan terpengaruh dengan kebaikan orang tersebut. Namun sebaliknya, apabila teman bergaulnya rusak akidah, ibadah, dan akhlaknya, maka orang yang berteman dengannya akan mengikuti kerusakannya. Oleh karena itu kita harus berhati-hati dalam memilih teman bergaul untuk diri kita maupun teman bergaul anak-anak kita. Karena seseorang akan terpengaruh teman-teman dekatnya dan dia akan menyesal apabila teman-teman dekatnya adalah orang-orang yang tidak baik. Allah l berfirman:

“Dan (ingatlah) hari (ketika) orang yang telah berbuat zalim menggigit dua tangannya (karena menyesali perbuatannya), seraya berkata: “Ya seandainya aku dahulu mengikuti jalannya Rasulullah. Sungguh celakalah aku, seandainya aku dahulu tidak menjadikan si fulan itu teman dekatku. Sungguh dia telah menyesatkan aku dari mengikuti Al-Qur’an ketika Al-Qur’an itu telah datang kepadaku, maka setan itu tidak akan mau menolong manusia.” (Al-Furqan: 27-29)

Akhirnya, mudah-mudahan Allah l memudahkan kita untuk bisa mencontoh dan mengikuti Rasulullah serta menjadikan para sahabatnya dan para ulama yang mengikuti jejaknya sebagai suri tauladan bagi kita. Dan mudah-mudahan Allah l senantiasa menjaga kita dari mengikuti dan mencontoh orang-orang yang jelek dan rusak agamanya.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ مَا تَسْمَعُوْنَ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ اْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

 

 

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ، أَمَرَنَا بِالْاِقْتِدَاءِ بِأَهْلِ الْخَيْرِ وَالرَّشَادِ وَنَهَانَا عَنِ الْاِقْتِدَاءِ بِأَهْلِ الشَّرِّ وَالْفَسَادِ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ شَهَادةً تَنْفَعُ قَائِلَهَا يَوْمَ الْمَعَادِ، وََأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَخِيْرَتُهُ مِنْ سَائِرِ العِبَادِ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنِ اهْتَدَى بِهُدَاه، أَمَّا بَعْدُ:

 

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Rasulullah n telah menyebutkan dalam sabdanya:

مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلاَم سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِم شَيْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ

“Barangsiapa menjadi contoh yang baik dalam menjalankan syariat Islam (dengan menghidupkan Sunnah Nabi n), maka dia mendapat pahala dari perbuatan baiknya dan pahala dari orang yang mencontohnya setelahnya tanpa terkurangi sedikitpun dari pahala orang-orang yang mencontohnya tersebut. Dan barangsiapa membuat contoh yang jelek dalam menjalankan agama Islam (dengan melakukan amalan yang tidak disyariatkan) maka dia akan mendapatkan dosa dari perbuatannya dan menanggung dosa orang yang mencontohnya setelahnya tanpa terkurangi sedikitpun dari dosa orang-orang yang mencontohnya tersebut.” (HR. Muslim)

Hadits tersebut memberikan dorongan kepada seseorang untuk menjadi contoh yang baik  sekaligus memperingatkan kepada seseorang untuk tidak menjadi contoh yang jelek bagi orang lain.

 

Hadirin rahimakumullah,

Oleh karena itu, di antara perkara yang penting yang harus diperhatikan dalam masalah ini adalah agar para orangtua menjadi teladan yang baik bagi anak-anaknya. Allah l telah memberitakan betapa besar karunia dan keutamaan-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang menjadi contoh yang baik bagi anak keturunannya di dalam firman-Nya:

“Dan orang-orang yang beriman dan yang keturunan mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami kumpulkan keturunan mereka dengan mereka di dalam surga dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka.” (Ath-Thur: 21)

Namun sebaliknya, apabila orangtua menjadi contoh yang tidak baik bagi anak keturunannya, maka sangat besar kemungkinannya, anak keturunannya pun akan mengikutinya dan menolak untuk menerima kebenaran. Hal ini sebagaimana dinyatakan dalam firman Allah l:

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah.’ Mereka menjawab: ‘(Tidak), bahkan kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami.’ (Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?” (Al-Baqarah: 170)

Oleh karena itu sudah seharusnya bagi orang-orang yang menginginkan memiliki anak keturunan yang baik untuk memulai dengan memperbaiki dirinya sehingga bisa menjadi contoh yang baik bagi mereka. Karena bagaimana mungkin seseorang akan mendapatkan anak keturunannya menjadi orang-orang yang benar akidahnya, sementara orangtuanya adalah orang-orang yang masih percaya dengan para dukun dan meminta pertolongan dengan beribadah kepada jin serta perbuatan syirik lainnya?

Bagaimana pula seseorang mengharapkan anak keturunannya menjadi orang-orang yang baik agamanya, sementara orangtuanya adalah orang-orang yang tidak mau pergi ke masjid untuk shalat berjamaah? Bagaimana pula seseorang menginginkan para pemuda untuk menjadi orang-orang yang berakhlak mulia sementara mereka dididik dengan acara-acara sinetron dan tayangan-tayangan lainnya di depan televisi? Tentunya anak keturunan yang baik yang diinginkan oleh orangtua yang demikian keadaannya tidak akan datang kecuali anak-anak yang diberi rahmat oleh Allah l sehingga dia tidak terpengaruh oleh kejelekan orangtuanya. Maka, marilah kita semua bertakwa kepada Allah l dan berusaha untuk senantiasa memperbaiki diri sehingga menjadi contoh yang baik bagi anak keturunan kita.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِينَ فِي كُلِّ مَكاَنٍ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّهُ سَمِيْعٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ العِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Seputar Masalah Ilmu Kimia

Bismillah. Pada Asy Syariah Vol. IV/48/2009, ada jawaban pertanyaan atas ilmu kimia yang dimaksud adalah yang tidak bersandar kepada sunnah kauniyah Allah l. Mohon dijelaskan secara detail. Jazakumullah.

 

Ummu Faza – Solo

081802xxxxxx

Dijawab oleh Al-Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal Al-Bugisi:
Dalam Majalah Asy Syari’ah No. 46/1429 H/2008 dengan tema Adab Utang Piutang dan Jual Beli, disebutkan pada hal. 1, rubrik Permata Salaf yang berjudul Jauhilah Ilmu Yang Tidak Bermanfaat, Al-Hafizh Adz-Dzahabi t menerangkan tentang ilmu yang dibenci untuk dipelajari. Lalu disebutkan sebagai berikut:
“…Juga ilmu ketuhanan menurut filosof berikut sebagian bahkan mayoritas aktivitas mereka: ilmu sihir, ilmu sulap, ilmu kimia (yang tidak bermanfaat, ed.)….” dst.
Dari ucapan ini, secara zhahir nampak bahwa yang dimaksud adalah ilmu kimia yang biasa dipelajari para pelajar di tempat pendidikan mereka. Lalu pemahaman ini berlanjut ke edisi berikutnya, di mana salah seorang pembaca mempertanyakan tentang ilmu kimia yang bermanfaat. Pengirim surat juga tersebut menyebutkan beberapa manfaatnya.
Agar kesalahpahaman tentang “ilmu kimia” tidak berkelanjutan, maka saya melihat pentingnya untuk menjelaskan hal ini sebagai berikut:
Perlu diketahui bahwa ilmu kimia yang sering disebutkan oleh para ulama pada zaman dahulu tidaklah sama dengan “ilmu kimia” yang kita kenal di zaman kita sekarang ini yang dipelajari di sekolah-sekolah. Ilmu kimia yang dimaksud para ulama terdahulu adalah salah satu jenis ilmu sihir, yang tujuannya adalah berusaha mengubah satu benda yang terbuat dari tembaga atau yang lainnya menjadi emas, atau memiripkannya seperti emas. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t berkata:
وَحَقِيقِيَّةُ الْكِيمِيَاءِ: تَشْبِيهُ الْمَصْنُوعِ بِالْمَخْلُوقِ
“Hakikat dari ilmu kimia adalah membuat penyerupaan yang dibuat (dari tembaga atau semisalnya, pen.) seperti yang diciptakan (emas asli, pen.).” (Mukhtashar Al-Fatawa Al-Mishriyyah, Ibnu Taimiyah hal. 327)
Beliau juga berkata:
وَالسِّحْرُ مِنَ الْكَبَائِرِ وَالْكِيمِيَاءُ مِنَ السِّحْرِ
“Sihir termasuk dosa besar dan kimia temasuk bagian dari sihir.” (Mukhtashar Al-Fatawa Al-Mishriyyah hal. 329)
Inilah yang dikatakan oleh Abu Yusuf Ya’qub bin Ibrahim, salah seorang murid Abu Hanifah t:
مَنْ طَلَبَ الْمَالِ بِالْكِيمِيَاءِ أَفْلَسَ
“Barangsiapa mencari harta dengan cara ‘kimia’ maka dia bangkrut.” (Tadzkiratul Huffazh, Adz-Dzahabi, 1/293, Al-Kamil, Ibnu ‘Adi, 7/145, Al-Kifayah fi Ilmir Riwayah, Al-Khathib Al-Baghdadi, 1/142)
Sebagai tambahan referensi, silakan lihat penjelasan panjang lebar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t tentang ilmu kimia dalam Majmu’ Al-Fatawa (29/368-388).
Al-Lajnah Ad-Da’imah ditanya dengan pertanyaan sebagai berikut: “Saya membaca di sebagian kitab bahwa ilmu kimia merupakan salah satu jenis ilmu sihir. Apakah ini benar? Sekadar diketahui bahwa saya mendengar tentang sebuah kitab karya Ibnul Qayyim yang berjudul Buthlanul Kimiya’ min Arba’ina Wajhan (Batilnya Ilmu Kimia dari 40 Sisi). Apakah praktik kimia yang dilakukan di sekolah-sekolah dan universitas-universitas untuk mempelajari zat-zat tertentu dan unsur-unsurnya adalah haram atau tidak, ditinjau dari kedudukannya sebagai ilmu sihir? Padahal saya telah mengikuti sebagian praktik tersebut di sekolah. Saya tidak melihat pengaruh apapun tentang adanya sihir, seperti masuknya jin, mantera-mantera, dan yang semisalnya. Berikanlah faedah untuk kami. Semoga Allah l memberi anda faedah.”
Maka Al-Lajnah menjawab:
“Ilmu kimia yang dipelajari oleh para pelajar di sekolah bukanlah termasuk jenis kimia yang dilarang oleh para ulama. Mereka berkata bahwa itu adalah sihir. Mereka memperingatkan manusia darinya dan menyebutkan dalil-dalil tentang kebatilannya. Mereka juga menjelaskan bahwa itu adalah penipuan dan pengaburan. Para pembuatnya menyangka bahwa mereka mengubah besi –misalnya– menjadi emas dan tembaga menjadi perak. Mereka menipu manusia dengannya serta memakan harta manusia dengan cara yang batil.
Adapun yang dipelajari di sekolah-sekolah pada zaman ini adalah mengurai satu zat ke dalam beberapa unsur yang tergabung di dalamnya, atau mengubah beberapa unsur menjadi senyawa (gabungan beberapa unsur tersebut) yang sifatnya berbeda dengan unsur-unsur penyusunnya, dengan membuat dan melakukan cara-cara yang telah ditentukan. Maka, ini adalah hakikat yang benar-benar terjadi. Berbeda dengan kimia yang dimaksud (sebelumnya) yang merupakan pengaburan dan penipuan. (Ilmu kimia yang sekarang ini) bukan termasuk jenis sihir yang telah disebutkan dan diperingatkan tentang haramnya dalam nash-nash Al-Kitab dan As-Sunnah. Semoga Allah l memberi taufiq. Shalawat dan salam atas Nabi kita Muhammad n, keluarga dan para sahabatnya.
Ketua:  Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz
Wakil Ketua: Abdurrazzaq Afifi
Anggota: Abdullah bin Ghudayyan (Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah, fatwa no. 11137)
Demikian pula penjelasan Al-Allamah Ibnu Utsaimin t tentang bolehnya mempelajari ilmu kimia yang dikenal sekarang ini dalam Kitab Al-Ilmi (hal. 141).
Semoga tulisan ini memperjelas apa yang menjadi isykal (kejanggalan) bagi sebagian pembaca. Wallahul muwaffiq.

1 Ini adalah pendapat yang rajih. Ada pula yang berpendapat bahwa yang dipersyaratkan harus terpotong adalah kerongkongan dan tenggorokan. -pen.
2 Lihat Fatawa Al-Lajnah (22/260-265,400-402). -pen.
3 HR. At-Tirmidzi, An-Nasa’i, Al-Hakim, dan yang lainnya, dari Al-Hasan bin Ali c dishahihkan oleh Al-Albani t dalam Al-Irwa’ (1/44) dan Al-Wadi’i t dalam Ash-Shahihul Musnad (1/222) -pen.

Hukum Makanan Impor dari Negeri Ahli Kitab

Bagaimana hukum memakan makanan ahli kitab yang diimpor berupa makanan siap saji ataupun makanan yang berupa sembelihan mereka, dan apakah Yahudi/Nasrani sekarang bisa disebut ahlul kitab yang halal sembelihannya?
(Pertanyaan via sms)
Dijawab oleh Al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad As-Sarbini:
Alhamdulillah, washallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi washahbihi wasallam.
Secara global makanan terbagi menjadi dua jenis. Jenis yang pertama adalah nabati (non-hewani), berupa biji-bijian, buah-buahan, dan selainnya.
Jenis yang kedua adalah hewani. Jenis yang pertama seluruhnya halal kecuali yang memudaratkan dan tidak memberi manfaat seperti racun, rokok, dan yang semacamnya.
Jenis yang kedua meliputi hewan air (yang adatnya/biasanya hanya hidup di air) dan binatang darat (yang biasanya hanya hidup di darat). Hewan air seluruhnya halal. Hewan darat hukum asalnya halal kecuali yang dinyatakan haram berdasarkan dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Hewan-hewan yang halal dimakan harus melalui penyembelihan atau perburuan dengan persyaratan-persyaratan yang telah diatur dalam syariat, kecuali binatang tertentu yang halal dimakan tanpa penyembelihan, seperti belalang dan ikan serta binatang air lainnya. Di antara syarat sahnya sembelihan adalah penyembelihnya seorang muslim atau ahli kitab. Allah l menghalalkan bagi kaum muslimin sembelihan ahli kitab dalam firman-Nya:
“Pada hari ini dihalalkan bagi kalian segala yang baik-baik. Sembelihan Ahli Kitab halal bagi kalian dan sembelihan kalian halal bagi mereka. Begitu pula (dihalalkan bagi kalian) wanita merdeka yang menjaga kehormatannya dari kalangan kaum mukminat dan dari kalangan Ahli Kitab sebelum kalian jika kalian memberikan maharnya dengan maksud menikahinya, bukan dengan maksud untuk berzina dan bukan (pula) menjadikannya gundik-gundik (kekasih-kekasih gelap yang tidak resmi).” (Al-Ma’idah: 5)
Kami telah menerangkan secara lengkap khilaf ulama tentang siapa Ahli Kitab yang dimaksud dalam ayat ini pada jawaban Rubrik Problema Anda dengan judul “Bolehkah Menikahi Wanita Ahli Kitab?” pada Vol. I/ No. 01/Jumadil Akhir 1424 H/Agustus 2003. Kesimpulannya bahwa yang benar adalah pendapat jumhur (mayoritas) ulama yang mengatakan bahwa ayat ini umum mencakup siapa saja yang memeluk agama Yahudi atau Nasrani, baik dari kalangan Bani Israil ataupun yang lainnya, apakah dia mengikuti agama Yahudi atau Nasrani yang murni dan mentauhidkan Allah l, ataupun mengikuti yang sudah mengalami perubahan dan mempersekutukan Allah l, maka semuanya masuk dalam kategori Ahli Kitab tanpa pengecualian. Termasuk mereka yang ada pada masa ini.
Pendapat ini dirajihkan (dikuatkan) oleh Asy-Syaukani t dalam Fathul Qadir (2/15), Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di t dalam Taisirul Karimir Rahman (hal. 221-222), dan Asy-Syaikh Muhammad Shalih Al-Utsaimin t dalam Asy-Syarhul Mumti’ (5/218)/Terbitan Darul Atsar, Al-Qahirah. Di sini kami tambahkan bahwa ini pula yang difatwakan oleh Al-Lajnah Ad-Daimah dalam Fatawa Al-Lajnah (22/393-395, 401, 404-405). Dalil-dalilnya adalah sebagai berikut:
a. Ayat ini bersifat umum dan tidak ada dalil yang mengkhususkannya untuk Bani Israil.
b. Dalam ayat ini Allah l menghalalkan sembelihan Ahli Kitab dan wanita merdeka yang menjaga kehormatannya dari kalangan mereka. Sementara itu Allah l juga menerangkan tentang kesyirikan dan kekufuran mereka sebagaimana dalam surat Al-Maidah ayat 72-73 dan surat At-Taubah ayat 30 ketika Nasrani mengatakan bahwa Nabi ‘Isa q adalah anak Allah l dan tuhan mereka, sedangkan Yahudi mengatakan bahwa ‘Uzair adalah anak Allah l.
c. Dalam hadits Abu Sufyan z yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim, Rasulullah n mengirim surat kepada Hiraql (Heraklius) penguasa Rum (Romawi) untuk mengajak dia dan kaumnya agar memeluk Islam dengan ayat ke-64 dari surat Ali ‘Imran. Jadi, Rasulullah n menggolongkan Hiraql dan kaumnya sebagai Ahli Kitab. Padahal dia dan kaumnya bukanlah dari Bani Israil, dan mereka memeluk agama Nasrani setelah mengalami perubahan. (Fathul Bari, 1/38-39)
Dipersyaratkan pada sembelihan Ahli Kitab syarat-syarat penyembelihan yang dipersyaratkan pada sembelihan muslim menurut pendapat jumhur ulama yang difatwakan oleh Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, dan Al-Lajnah Ad-Daimah, berdasarkan keumuman dalil-dalil yang menyebutkan syarat-syarat sahnya penyembelihan yang meliputi sembelihan kaum muslimin dan Ahli Kitab. (Al-Mughni, 8/400, Asy-Syarhul Mumti’, 7/48-49, Fatawa Al-Lajnah, 22/387-389, 391-392, 416)
Syarat-syarat penyembelihan itu adalah:
1. Membaca basmalah.
2. Mengalirkan darah dengan cara memotong dua pembuluh darah besar yang ada di leher. Sempurnanya adalah jika kerongkongan (saluran makanan) dan tenggorokan (saluran nafas) ikut terpotong1.
3. Menggunakan alat pemotong yang tajam selain gigi dan kuku.
4. Penyembelihnya berakal, bukan anak kecil yang belum mumayyiz atau orang gila.
5. Penyembelihnya muslim atau Ahli Kitab.
Berdasarkan keterangan di atas, jika makanan impor tersebut dari sembelihan ahli kitab, maka hukum asalnya adalah halal. Kecuali jika diketahui dengan pasti (bukan sekadar praduga) bahwa binatang itu disembelih tanpa terpenuhi salah satu syarat dari syarat-syarat penyembelihan, seperti disembelih tanpa menyebut nama Allah l atau dengan menyebut nama selain Allah l, maka haram untuk dikonsumsi. Demikian pula halnya makanan yang berasal dari bahan-bahan yang halal dari apa-apa yang kami sebutkan globalnya di atas, maka hukum asalnya adalah halal hingga diketahui dengan pasti dan meyakinkan bahwa mengandung sesuatu yang haram.
Ada beberapa fatwa yang dikeluarkan oleh Al-Lajnah seputar permasalahan ini2 yang kesimpulannya menyatakan bahwa hukum asal sembelihan kaum muslimin dan Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) adalah halal, kecuali jika ada alasan yang tsabit (tetap) yang menggesernya keluar dari hukum asalnya menjadi sesuatu yang haram. Demikian pula halnya dengan bahan-bahan bermanfaat yang diimpor baik berupa makanan dan produk jadi seperti keju, mentega, manisan/permen, sabun, dan yang lainnya, atau berupa bahan yang belum terolah. Sedangkan informasi yang tersiar mengenai status daging-daging sembelihan ahli kitab dan makanan/produk jadi yang diimpor yang sifatnya simpang siur, tanpa ada kejelasan yang meyakinkan, tidak bisa dijadikan sebagai dasar hukum untuk menggeser kehalalannya yang meyakinkan menjadi sesuatu yang haram. Sampai ada kejelasan yang meyakinkan yang bisa dijadikan landasan hukum untuk menyatakan keharamannya. Namun jika seseorang meragukan kehalalannya hendaklah dia meninggalkannya (tidak mengonsumsinya) dalam rangka berhati-hati dan mengamalkan hadits:
دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لَا يَرِيبُكَ
“Tinggalkan apa yang meragukanmu kepada apa yang tidak meragukanmu.”3
Demikian pula jika seseorang meragukan kehalalannya karena mendapati tanda-tanda atau acuan-acuan yang menimbulkan keraguan, maka hendaklah dia meninggalkannya dalam rangka berhati-hati berdasarkan hadits di atas. Akan tetapi tidak dibenarkan baginya untuk mengharuskan dan memaksa orang lain mengikutinya. Wallahu a’lam.

Al-Haq

(ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar Suaidi)

 

Di antara Al-Asma’ul Husna adalah Al-Haq (Yang Maha Benar). Nama yang mulia ini telah Allah l sebut dalam Al-Qur’an. Allah l berfirman:

“Yang demikian itu, karena sesungguhnya Allah, Dialah yang haq dan sesungguhnya Dialah yang menghidupkan segala yang mati dan sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Al-Hajj: 6)

“Maka Maha Tinggi Allah, Raja Yang Sebenarnya; tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia, Rabb (Yang mempunyai) ‘Arsy yang mulia.” (Al-Mu’minun: 116)

Dari Ibnu Abbas c, dia berkata:

كَانَ النَّبِيُّ n إِذَا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ يَتَهَجَّدُ قَالَ: اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ قَيِّمُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ، وَلَكَ الْحَمْدُ لَكَ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ، وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ، وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ مَلِكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ الْحَقُّ وَوَعْدُكَ الْحَقُّ وَلِقَاؤُكَ حَقٌّ وَقَوْلُكَ حَقٌّ وَالْجَنَّةُ حَقٌّ وَالنَّارُ حَقٌّ وَالنَّبِيُّونَ حَقٌّ وَمُحَمَّدٌ n حَقٌّ وَالسَّاعَةُ حَقٌّ، اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ وَبِكَ خَاصَمْتُ وَإِلَيْكَ حَاكَمْتُ، فَاغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ، أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ، لَا إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ –أَوْ: لَا إِلَهَ غَيْرُكَ

“Adalah Nabi n bila melakukan shalat malam bertahajjud beliau berdoa: Ya Allah, milik-Mulah segala pujian. Engkaulah Penegak langit dan bumi serta siapa saja yang ada padanya. Milik-Mulah segala pujian, milik-Mulah kerajaan langit-langit dan bumi dan siapa saja yang ada padanya. Milik-Mulah segala pujian, Engkaulah Cahaya langit-langit dan bumi dan siapa saja yang ada padanya. Milik-Mulah segala pujian, Engkaulah Raja langit-langit dan bumi. Milik-Mulah segala pujian, Engkaulah Yang Maha Benar, janji-Mu benar, perjumpaan dengan-Mu benar ucapan-Mu benar, surga benar, neraka benar, para nabi benar, Muhammad n benar, hari kiamat benar. Ya Allah, kepada-Mulah aku berserah diri, dan kepada-Mulah aku beriman, kepada-Mulah aku bertawakkal, kepada-Mulah aku kembali, dengan pertolongan-Mulah ketika aku berdialog, kepada-Mulah aku berhukum. Maka ampunilah apa yang telah aku perbuat, dan apa yang aku lakukan di belakang hari, apa yang aku sembunyikan atau yang terang-terangan. Engkaulah yang memajukan atau yang mengundurkan. Tiada Ilah yang benar melainkan engkau.” (HR. Al-Bukhari, Abwabut Tahajjud Bab At-Tahajjud billaili)

Nama Allah l yang agung ini memiliki makna yang luas. Di antaranya bahwa keberadaan Allah l sungguh-sungguh benar.

Qiwamussunnah Al-Ashfahani t mengatakan: “Di antara nama Allah l adalah Al-Haq (Yang Maha Benar), yakni Dialah yang keberadaan-Nya sungguh benar…” (Al-Hujjah, 1/135)

Ibnul Qayyim t berkata: “Karena sesungguhnya Allah l, Dialah Yang Maha Benar, ucapan-Nya benar, dan agama-Nya benar. Kebenaran merupakan sifat-Nya. Kebenaran adalah sifat-Nya dan milik-Nya.” (Madarijus Salikin, 2/333)

Asy-Syaikh As-Sa’di t mengatakan: “Al-Haq, Yang Maha Benar, pada Dzat dan sifat-Nya. Maka ada-Nya adalah suatu kepastian. Maha sempurna seluruh sifat-Nya. Dzat-Nya mengharuskan keberadaan-Nya, dan tiada keberadaan sesuatu dari suatu apapun kecuali dengan kehendak-Nya. Dialah yang masih tetap dan terus memiliki sifat keagungan, keindahan, dan kesempurnaan. Ucapan-Nya benar, perbuatan-Nya benar, perjumpaan dengan-Nya juga benar, para rasul-Nya benar, kitab-kitab-Nya benar, agama-Nyalah yang benar, ibadah kepada-Nya satu-satu-Nya adalah benar, dan segala sesuatu yang disandarkan kepada-Nya adalah benar.

“(Kuasa Allah) yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah (Ilah) Yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah, itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (Al-Hajj: 62)

“Dan katakanlah: ‘Kebenaran itu datangnya dari Rabbmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir.’ Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang-orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.” (Al-Kahfi: 29)

“Maka (Dzat yang demikian) itulah Allah Rabb kamu yang sebenarnya; maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran)?” (Yunus: 32)

“Dan katakanlah: ‘Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap.’ Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.” (Al-Isra’: 81) [Taisir Al-Karimirrahman, dinukil dari Shifatullah k]

 

Adzan dan Iqomat (bagian dua)

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Ishaq Muslim Al-Atsari)

 

Lafadz-lafadz Adzan dan Iqamat

Al-Imam Muhammad bin Yahya Adz-Dzuhli t berkata: “Riwayat yang paling shahih (tentang lafadz-lafadz adzan yang dimimpikan oleh Abdullah bin Zaid z, pen.) adalah riwayat Muhammad bin Ishaq, yang mendengarkan dari Muhammad bin Ibrahim ibnul Harits At-Taimi, dari Muhammad bin Abdullah bin Zaid bin Abdi Rabbihi, yang mendengarkan dari ayahnya, Abdullah bin Zaid, karena Muhammad telah mendengarkan langsung dari bapaknya yakni Abdullah.”

Riwayat ini dikeluarkan oleh Al-Imam Ahmad t (3/43), Ashabus Sunan kecuali An-Nasa’i t, dan selainnya. At-Tirmidzi t menukilkan penshahihan Al-Imam Al-Bukhari t terhadap riwayat ini di dalam Al-Ilal. Dishahihkan pula oleh Ibnu Khuzaimah t, beliau menyatakan hadits ini shahih dan pasti dari sisi penukilan, para perawinya bukan orang-orang yang melakukan tadlis (penyebutan secara samar) dalam periwayatannya. (Ats-Tsamar, 1/115)

Dalam hadits tersebut, Abdullah bin Zaid z berkata: Ketika Rasulullah n memerintahkan untuk menggunakan lonceng sebagai tanda bagi orang-orang untuk berkumpul guna mengerjakan shalat berjamaah, ada seseorang mengelilingiku dengan membawa lonceng di tangannya dalam keadaan aku tidur saat itu. Aku berkata, “Wahai hamba Allah, apakah engkau menjual lonceng?”

“Apa yang hendak kau perbuat dengan lonceng?” tanyanya.

“Kami ingin memanggil orang-orang berkumpul untuk shalat dengan membunyikan lonceng,” jawabku.

“Maukah aku tunjukkan kepadamu apa yang lebih baik daripada itu?” tanyanya.

Aku katakan, “Tentu aku mau.”

Orang itu berkata, ”Engkau mengatakan:

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ

أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ

حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ، حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ

حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ، حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ

Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Allah Maha Besar, Allah Maha Besar

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah.

Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.

Marilah mengerjakan shalat. Marilah mengerjakan shalat.

Marilah (menuju) kepada kemenangan. Marilah (menuju) kepada kemenangan.

Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah.1

Kemudian ia mundur dariku ke tempat yang tidak seberapa jauh, setelahnya ia berkata, ”Jika engkau iqamat untuk shalat, engkau katakan:

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ

حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ، حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ

قَدْ قَامَتِ الصَّلاَةُ، قَدْ قَامَتِ الصَّلاَةُ

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ

Di pagi harinya, aku menemui Rasulullah n untuk mengabarkan mimpiku. Beliau bersabda:

إِنَّهَا لَرُؤْيَا حَقٌّ إِنْ شَاءَ اللهُ، فَقُمْ مَعَ بِلاَلٍ فَأَلْقِ عَلَيْهِ مَا رَأَيْتَ فَلْيُؤَذِّنْ بِهِ، فَإِنَّهُ أَنْدَى صَوْتًا مِنْكَ

“Mimpimu itu adalah mimpi yang benar, insya Allah. Bangkitlah engkau bersama Bilal, sampaikanlah kepadanya apa yang kau dapatkan dalam mimpimu agar dia mengumandangkan adzan tersebut, karena dia lebih lantang suaranya darimu.”

Aku bangkit bersama Bilal. Mulailah kusampaikan padanya adzan yang kudengar, lalu ia mengumandangkannya. Umar ibnul Khaththab z mendengar adzan tersebut dari rumahnya. Ia pun keluar dengan menyeret rida’ (selendang)nya, seraya berkata, “Demi Dzat yang mengutusmu dengan haq, wahai Rasulullah! Sungguh aku telah bermimpi persis seperti apa yang dimimpikan Abdullah bin Zaid.”

“Hanya milik Allah-lah segala pujian,” jawab beliau3.

Dari hadits di atas, kita ketahui bahwa lafadz adzan itu digandakan4 sedangkan iqamat diganjilkan, kecuali lafadz:

قَدْ قَامَتِ الصَّلاَةُ، قَدْ قَامَتِ الصَّلاَةُ.

Yang lebih menguatkan hal ini adalah hadits Anas bin Malik z, ia berkata:

أُمِرَ بِلاَلٌ أَنْ يَشْفَعَ الْأَذَانَ وَأَنْ يُوْتِرَ الْإِقَامَةَ إِلاَّ الْإِقاَمَةَ

“Bilal diperintah untuk menggandakan lafadz adzan dan mengganjilkan iqamat kecuali lafadz iqamat5.” (HR. Al-Bukhari no. 605 dan Muslim no. 836)

 

Disyariatkannya Tarji’ dalam Adzan Abu Mahdzurah

Rasulullah n juga pernah mengajarkan lafadz yang sedikit berbeda yang dikenal di kalangan ahli fiqih dengan sebutan adzan Abu Mahdzurah z. Lafadznya sebagai berikut:

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ

أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ

أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ

حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ، حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ

حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ، حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ

Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim t dalam kitab Shahihnya no. 840.
Di awal lafadz adzan ini, kita lihat ucapan takbir hanya dua kali, tidak empat kali sebagaimana hadits Abdullah bin Zaid z yang telah lewat. Namun yang rajih (kuat) dalam hal ini adalah lafadz takbir diucapkan empat kali:
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ
dengan beberapa alasan yang menguatkan:
1. Hadits ini diriwayatkan pula oleh selain Al-Imam Muslim t dengan empat kali takbir di awalnya. Yang paling jelas adalah riwayat An-Nasa’i t dalam Sunannya (no. 631) dari jalur syaikhnya, Ishaq bin Ibrahim, semisal riwayat Muslim. Dan Ishaq bin Ibrahim ini merupakan salah satu syaikh Al-Imam Muslim dalam hadits ini juga6.
2. Abu Dawud t7 dan selainnya meriwayatkan hadits ini dari jalur Hammam dari Amir Al-Ahwal, dari Makhul, dari Abu Mahdzurah z yang menyebutkan lafadz adzan yang diajarkan Rasulullah n kepadanya ada 19 kalimat8, sedangkan iqamat ada 17 kalimat. Lafadz adzan sebagaimana berikut ini:
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ
أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ
أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ
حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ، حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ
حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ، حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ
Adapun lafadz iqamat:
اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ الله
أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ
حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ، حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ
حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ، حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ
قَدْ قَامَتِ الصَّلاَةُ، قَدْ قَامَتِ الصَّلاَةُ
اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ.
3. Al-Qadhi Iyadh t berkata ketika mensyarah hadits di atas, “Dalam sebagian jalur-jalur riwayat Al-Farisi, disebutkan adzan itu dengan empat kali takbir (di awal).” (Al-Ikmal, 2/244)
Dengan tiga perkara di atas menjadi jelaslah bahwa riwayat yang menyebutkan dua kali takbir di awal adzan teranggap marjuh (lemah), sehingga yang rajih dari hadits Abu Mahdzurah z adalah empat kali takbir di awal. Ibnul Qaththan t berkata, “Yang shahih dalam hal ini adalah takbir diucapkan sebanyak empat kali. Dengan demikian sesuai bila dikatakan adzan itu sembilan belas kalimat, di mana hal ini telah diikat dengan hadits itu sendiri.” Beliau juga menyatakan, telah datang dalam sebagian riwayat Al-Imam Muslim t dengan penyebutan takbir empat kali. Sehingga inilah yang sepantasnya dalam Ash-Shahih.
Al-Hafizh Ibnu Hajar t berkata menguatkan perkara ini, “Sungguh Abu Nu’aim telah meriwayatkan dalam Al-Mustakhraj, demikian pula Al-Baihaqi, dari jalan Ishaq bin Ibrahim, dari Mu’adz bin Hisyam dengan sanadnya. Disebutkan dalam hadits tersebut pernyataan empat kali takbir. Al-Baihaqi menyatakan setelah membawakan hadits tersebut, “Hadits ini dikeluarkan oleh Muslim dari jalan Ishaq. Demikian juga oleh Abu ‘Awanah dalam Mustakhrajnya dari jalan Ali ibnul Madini, dari Mu’adz.” (At-Talkhis, 1/323).
Akan tetapi, adzan dengan dua kali takbir tersebut telah didukung beberapa syawahid (pendukung) yang menunjukkan ada asalnya dalam As-Sunnah9. Wallahu a’lam.
Dari hadits Abu Mahdzurah di atas kita dapat mengambil tiga faedah:
1. Tarji’ disyariatkan dalam adzan, yaitu muadzin mengucapkan syahadatain untuk pertama kali dengan suara rendah yang hanya didengar oleh orang-orang di sekitarnya. Setelah itu ia mengulangi lagi syahadatain tersebut dengan suara yang keras/lantang. Tarji’ ini hanya dalam adzan, tidak ada dalam iqamat. Pensyariatan tarji’ ini merupakan mazhab Malik, Asy-Syafi’i, Ahmad, dan jumhur ulama. (Al-Minhaj, 4/303. Subulus Salam 2/48,49)
2. Selain mengganjilkan lafadz iqamat, dibolehkan pula mentatsniyahnya, yaitu mengucapkan lafadz-lafadznya sebanyak dua kali. Ini merupakan keragaman iqamat shalat, sehingga kedua-duanya bisa diamalkan karena keduanya merupakan Sunnah Nabi n, di mana beliau yang mentaqrir (menetapkan kebenaran) mimpi Abdullah bin Zaid z yang di dalamnya terdapat lafadz iqamat secara ganjil kecuali قَدْ قَامَتِ الصَّلاَةُ, قَدْ قَامَتِ الصَّلاَةُ . Beliau n pula yang mengajarkan lafadz adzan berikut iqamat kepada Abu Mahdzurah z serta memerintahkannya untuk mengumandangkan adzan di Makkah.
3. Beragamnya lafadz adzan. Ada yang 19 kalimat sebagaimana hadits Abu Mahdzurah dengan tarji’ dan empat takbir yang awal yang diriwayatkan oleh Al-Jama’ah. Ada yang 17 kalimat sebagaimana hadits Abu Mahdzurah dengan tarji’ dan dua takbir di awalnya dalam riwayat Al-Imam Muslim. Ada yang 15 kalimat sebagaimana hadits Abdullah bin Zaid ibnu ‘Abdi Rabbihi. Ini menunjukkan adanya tanawwu’at (berbagai macam lafadz) dalam adzan, sehingga boleh diamalkan salah satu di antaranya. Al-Imam Ahmad dan Ishaq memandang bolehnya tarji’ dan tidak. Kedua hal itu merupakan sunnah. (Al-Majmu’, 3/102)
Wajib Urutan dalam Melafadzkan Adzan
Ibnu Qudamah t berkata, “Tidak sah adzan kecuali dengan berurutan. Karena bila tidak berurutan lafadznya niscaya tujuan yang hendak dicapai dengan adzan tidak akan diperoleh, yaitu sebagai pemberitahuan. Juga, bila tidak berurutan niscaya tidak akan diketahui bahwa itu adalah adzan. Di samping pula adzan memang disyariatkan dengan berurutan, dan Nabi n mengajari Abu Mahdzurah secara berurutan.” (Al-Mughni, kitabush Shalah, fashl La Yashihhul Adzan illa Murattaban)
Ibnu Hazm t berkata, “Tidak boleh terbalik dalam melafadzkan adzan ataupun iqamat. Tidak boleh mengedepankan kalimat yang semestinya diakhirkan. Siapa yang melakukan hal ini berarti ia tidak melakukan adzan dan iqamat, berarti pula ia shalat tanpa adzan dan tanpa iqamat.”
Ibnu Hazm t juga menyebutkan bahwa Rasulullah n mengajarkan adzan dan iqamat secara berurutan, kalimat yang pertama kemudian yang berikutnya. Beliau n memerintahkan kepada orang yang beliau ajarkan untuk mengucapkan seperti apa yang beliau sampaikan. Setelah mengucapkan lafadz yang awal, baru yang berikutnya, demikian sampai keduanya selesai. Bila demikian keadaannya, maka tidak halal bagi seorang pun menyelisihi perkara Nabi n dalam mengedepankan apa yang beliau akhirkan dan mengakhirkan apa yang beliau kedepankan.” (Al-Muhalla, 2/194,195) Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.
(insya Allah, bersambung)

1 Ini merupakan adzan orang-orang Kufah, dan merupakan pendapat Abu Hanifah, Sufyan Ats-Tsauri, dan Ahmad dalam satu riwayat sebagaimana hikayat Al-Khiraqi. (Al-Majmu’ 3/102)
2 Artinya: Telah tegak shalat, telah tegak shalat.
3 Hadits ini hasan sebagaimana dalam Al-Irwa’ no. 246.
4 Kecuali takbir yang awal sejumlah empat kali dan tahlil di akhir adzan hanya sekali.
5 Yaitu lafadz: قَدْ قَامَتِ الصَّلاَةُ، قَدْ قَامَتِ الصَّلاَةُ
6 Syaikhnya yang lain adalah Abu Ghassan Al-Misma’i Malik bin Abdil Wahid.
7 Dalam Sunannya no. 502
8 Adzan ini merupakan adzan penduduk Makkah. Al-Imam Asy-Syafi’i t berpendapat demikian sebagaimana kata At-Tirmidzi t dalam Sunannya (1/124). Pendapat ini yang dipilih Ibnu Hazm t (Al-Muhalla 2/185).
9 Penduduk Madinah menggunakan adzan dengan dua kali takbir di awal, yang merupakan pendapat Al-Imam Malik t dalam Al-Mudawwanah (1/57), berdalilkan hadits Abu Mahdzurah z yang menyebutkan dua kali takbir di awal.

Kisah Seguci Emas

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Harits)

 

Sebuah kisah yang terjadi di masa lampau, sebelum Nabi kita Muhammad n dilahirkan. Kisah yang menggambarkan kepada kita pengertian amanah, kezuhudan, dan kejujuran serta wara’ yang sudah sangat langka ditemukan dalam kehidupan manusia di abad ini.

Al-Imam Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah z, dia berkata: Rasulullah n bersabda:

اشْتَرَى رَجُلٌ مِنْ رَجُلٍ عَقَارًا لَهُ فَوَجَدَ الرَّجُلُ الَّذِي اشْتَرَى الْعَقَارَ فِي عَقَارِهِ جَرَّةً فِيهَا ذَهَبٌ فَقَالَ لَهُ الَّذِي اشْتَرَى الْعَقَارَ: خُذْ ذَهَبَكَ مِنِّي إِنَّمَا اشْتَرَيْتُ مِنْكَ الْأَرْضَ وَلَمْ أَبْتَعْ مِنْكَ الذَّهَبَ. وَقَالَ الَّذِي لَهُ الْأَرْضُ: إِنَّمَا بِعْتُكَ الْأَرْضَ وَمَا فِيهَا. فَتَحَاكَمَا إِلَى رَجُلٍ فَقَالَ الَّذِي تَحَاكَمَا إِلَيْهِ: أَلَكُمَا وَلَدٌ؟ قَالَ أَحَدُهُمَا: لِي غُلَامٌ. وَقَالَ الآخَرُ: لِي جَارِيَةٌ. قَالَ: أَنْكِحُوا الْغُلَامَ الْجَارِيَةَ وَأَنْفِقُوا عَلَى أَنْفُسِهِمَا مِنْهُ وَتَصَدَّقَا

Ada seorang laki-laki membeli sebidang tanah dari seseorang. Ternyata di dalam tanahnya itu terdapat seguci emas. Lalu berkatalah orang yang membeli tanah itu kepadanya: “Ambillah emasmu, sebetulnya aku hanya membeli tanah darimu, bukan membeli emas.”

Si pemilik tanah berkata kepadanya: “Bahwasanya saya menjual tanah kepadamu berikut isinya.”

Akhirnya, keduanya menemui seseorang untuk menjadi hakim. Kemudian berkatalah orang yang diangkat sebagai hakim itu: “Apakah kamu berdua mempunyai anak?”

Salah satu dari mereka berkata: “Saya punya seorang anak laki-laki.”

Yang lain berkata: “Saya punya seorang anak perempuan.”

Kata sang hakim: “Nikahkanlah mereka berdua dan berilah mereka belanja dari harta ini serta bersedekahlah kalian berdua.”

Sungguh, betapa indah apa yang dikisahkan oleh Rasulullah n ini. Di zaman yang kehidupan serba dinilai dengan materi dan keduniaan. Bahkan hubungan persaudaraan pun dibina di atas kebendaan. Wallahul musta’an.

Dalam hadits ini, Rasulullah n mengisahkan, transaksi yang mereka lakukan berkaitan sebidang tanah. Si penjual merasa yakin bahwa isi tanah itu sudah termasuk dalam transaksi mereka. Sementara si pembeli berkeyakinan sebaliknya; isinya tidak termasuk dalam akad jual beli tersebut.

Kedua lelaki ini tetap bertahan, lebih memilih sikap wara’, tidak mau mengambil dan membelanjakan harta itu, karena adanya kesamaran, apakah halal baginya ataukah haram?

Mereka juga tidak saling berlomba mendapatkan harta itu, bahkan menghindarinya. Simaklah apa yang dikatakan si pembeli tanah: “Ambillah emasmu, sebetulnya aku hanya membeli tanah darimu, bukan membeli emas.”

Barangkali kalau kita yang mengalami, masing-masing akan berusaha cari pembenaran, bukti untuk menunjukkan dirinya lebih berhak terhadap emas tersebut. Tetapi bukan itu yang ingin kita sampaikan melalui kisah ini.

Hadits ini menerangkan ketinggian sikap amanah mereka dan tidak adanya keinginan mereka mengaku-aku sesuatu yang bukan haknya. Juga sikap jujur serta wara’ mereka terhadap dunia, tidak berambisi untuk mengangkangi hak yang belum jelas siapa pemiliknya. Kemudian muamalah mereka yang baik, bukan hanya akhirnya menimbulkan kasih sayang sesama mereka, tetapi menumbuhkan ikatan baru berupa perbesanan, dengan disatukannya mereka melalui perkawinan putra putri mereka. Bahkan, harta tersebut tidak pula keluar dari keluarga besar mereka. Allahu Akbar.

Bandingkan dengan keadaan sebagian kita di zaman ini, sampai terucap dari mereka: “Mencari yang haram saja sulit, apalagi yang halal?” Subhanallah.

Kemudian, mari perhatikan sabda Rasulullah n dalam hadits An-Nu’man bin Basyir c:

وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِي الْحَرَامِ

“Siapa yang terjatuh ke dalam syubhat (perkara yang samar) berarti dia jatuh ke dalam perkara yang haram.”

Sementara kebanyakan kita, menganggap ringan perkara syubhat ini. Padahal Rasulullah n menyatakan, bahwa siapa yang jatuh ke dalam perkara yang samar itu, bisa jadi dia jatuh ke dalam perkara yang haram. Orang yang jatuh dalam hal-hal yang meragukan, berani dan tidak memedulikannya, hampir-hampir dia mendekati dan berani pula terhadap perkara yang diharamkan lalu jatuh ke dalamnya.

Rasulullah n sudah menjelaskan pula dalam sabdanya yang lain:

دَعْ مَا يَرِيْبُكَ إِلَى مَا لاَ يَرِيْبُكَ

“Tinggalkan apa yang meragukanmu, kepada apa yang tidak meragukanmu.”

Yakni tinggalkanlah apa yang engkau ragu tentangnya, kepada sesuatu yang meyakinkanmu dan kamu tahu bahwa itu tidak mengandung kesamaran.

Sedangkan harta yang haram hanya akan menghilangkan berkah, mengundang kemurkaan Allah l, menghalangi terkabulnya doa dan membawa seseorang menuju neraka jahannam.

Tidak, ini bukan dongeng pengantar tidur.

Inilah kisah nyata yang diceritakan oleh Ash-Shadiqul Mashduq (yang benar lagi dibenarkan) n, yang Allah l berfirman tentang beliau n:

“Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (An-Najm: 3-4)

Kedua lelaki itu menjauh dari harta tersebut sampai akhirnya mereka datang kepada seseorang untuk menjadi hakim yang memutuskan perkara mereka berdua. Menurut sebagian ulama, zhahirnya lelaki itu bukanlah hakim, tapi mereka berdua memintanya memutuskan persoalan di antara mereka.

Dengan keshalihan kedua lelaki tersebut, keduanya lalu pergi menemui seorang yang berilmu di antara ulama mereka agar memutuskan perkara yang sedang mereka hadapi. Adapun argumentasi si penjual, bahwa dia menjual tanah dan apa yang ada di dalamnya, sehingga emas itu bukan miliknya. Sementara si pembeli beralasan, bahwa dia hanya membeli tanah, bukan emas.

Akan tetapi, rasa takut kepada Allah l membuat mereka berdua merasa tidak butuh kepada harta yang meragukan tersebut.

Kemudian, datanglah keputusan yang membuat lega semua pihak, yaitu pernikahan anak laki-laki salah seorang dari mereka dengan anak perempuan pihak lainnya, memberi belanja keluarga baru itu dengan harta temuan tersebut, sehingga menguatkan persaudaraan imaniah di antara dua keluarga yang shalih ini.

Perhatikan pula kejujuran dan sikap wara’ sang hakim. Dia putuskan persoalan keduanya tanpa merugikan pihak yang lain dan tidak mengambil keuntungan apapun. Seandainya hakimnya tidak jujur atau tamak, tentu akan mengupayakan keputusan yang menyebabkan harta itu lepas dari tangan mereka dan jatuh ke tangannya.

Pelajaran yang kita ambil dari kisah ini adalah sekelumit tentang sikap amanah dan kejujuran serta wara’ yang sudah langka di zaman kita.

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin dalam Syarah Riyadhis Shalihin mengatakan:

Adapun hukum masalah ini, maka para ulama berpendapat apabila seseorang menjual tanahnya kepada orang lain, lalu si pembeli menemukan sesuatu yang terpendam dalam tanah tersebut, baik emas atau yang lainnya, maka harta terpendam itu tidak menjadi milik pembeli dengan kepemilikannya terhadap tanah yang dibelinya, tapi milik si penjual. Kalau si penjual membelinya dari yang lain pula, maka harta itu milik orang pertama. Karena harta yang terpendam itu bukan bagian dari tanah tersebut.

Berbeda dengan barang tambang atau galian. Misalnya dia membeli tanah, lalu di dalamnya terdapat barang tambang atau galian, seperti emas, perak, atau besi (tembaga, timah dan sebagainya). Maka benda-benda ini, mengikuti tanah tersebut.

Kisah lain, yang mirip dengan ini, terjadi di umat ini. Kisah ini sangat masyhur, wallahu a’lam.

Beberapa abad lalu, di masa-masa akhir tabi’in. Di sebuah jalan, di salah satu pinggiran kota Kufah, berjalanlah seorang pemuda. Tiba-tiba dia melihat sebutir apel jatuh dari tangkainya, keluar dari sebidang kebun yang luas. Pemuda itu pun menjulurkan tangannya memungut apel yang nampak segar itu. Dengan tenang, dia memakannya.

Pemuda itu adalah Tsabit. Baru separuh yang digigitnya, kemudian ditelannya, tersentaklah dia. Apel itu bukan miliknya! Bagaimana mungkin dia memakan sesuatu yang bukan miliknya?

Akhirnya pemuda itu menahan separuh sisa apel itu dan pergi mencari penjaga kebun tersebut. Setelah bertemu, dia berkata: “Wahai hamba Allah, saya sudah menghabiskan separuh apel ini. Apakah engkau mau memaafkan saya?”

Penjaga itu menjawab: “Bagaimana saya bisa memaafkanmu, sementara saya bukan pemiliknya. Yang berhak memaafkanmu adalah pemilik kebun apel ini.”

“Di mana pemiliknya?” tanya Tsabit.

“Rumahnya jauh sekitar lima mil dari sini,” kata si penjaga.

Maka berangkatlah pemuda itu menemui pemilik kebun untuk meminta kerelaannya karena dia telah memakan apel milik tuan kebun tersebut.

Akhirnya pemuda itu tiba di depan pintu pemilik kebun. Setelah mengucapkan salam dan dijawab, Tsabit berkata dalam keadaan gelisah dan ketakutan: “Wahai hamba Allah, tahukah anda mengapa saya datang ke sini?”

“Tidak,” kata pemilik kebun.

“Saya datang untuk minta kerelaan anda terhadap separuh apel milik anda yang saya temukan dan saya makan. Inilah yang setengah lagi.”

“Saya tidak akan memaafkanmu, demi Allah. Kecuali kalau engkau menerima syaratku,” katanya.

Tsabit bertanya: “Apa syaratnya, wahai hamba Allah?”

Kata pemilik kebun itu: “Kamu harus menikahi putriku.”

Si pemuda tercengang seraya berkata: “Apa betul ini termasuk syarat? Anda memaafkan saya dan saya menikahi putri anda? Ini anugerah yang besar.”

Pemilik kebun itu melanjutkan: “Kalau kau terima, maka kamu saya maafkan.”

Akhirnya pemuda itu berkata: “Baiklah, saya terima.”

Si pemilik kebun berkata pula: “Supaya saya tidak dianggap menipumu, saya katakan bahwa putriku itu buta, tuli, bisu dan lumpuh tidak mampu berdiri.”

Pemuda itu sekali lagi terperanjat. Namun, apa boleh buat, separuh apel yang ditelannya, kemana akan dia cari gantinya kalau pemiliknya meminta ganti rugi atau menuntut di hadapan Hakim Yang Maha Adil?

“Kalau kau mau, datanglah sesudah ‘Isya agar bisa kau temui istrimu,” kata pemilik kebun tersebut.

Pemuda itu seolah-olah didorong ke tengah kancah pertempuran yang sengit. Dengan berat dia melangkah memasuki kamar istrinya dan memberi salam.

Sekali lagi pemuda itu kaget luar biasa. Tiba-tiba dia mendengar suara merdu yang menjawab salamnya. Seorang wanita berdiri menjabat tangannya. Pemuda itu masih heran kebingungan, kata mertuanya, putrinya adalah gadis buta, tuli, bisu dan lumpuh. Tetapi gadis ini? Siapa gerangan dia?

Akhirnya dia bertanya siapa gadis itu dan mengapa ayahnya mengatakan begitu rupa tentang putrinya.

Istrinya itu balik bertanya: “Apa yang dikatakan ayahku?”

Kata pemuda itu: “Ayahmu mengatakan kamu buta.”

“Demi Allah, dia tidak dusta. Sungguh, saya tidak pernah melihat kepada sesuatu yang dimurkai Allah l.”

“Ayahmu mengatakan kamu bisu,” kata pemuda itu.

“Ayahku benar, demi Allah. Saya tidak pernah mengucapkan satu kalimat yang membuat Allah l murka.”

“Dia katakan kamu tuli.”

“Ayah betul. Demi Allah, saya tidak pernah mendengar kecuali semua yang di dalamnya terdapat ridha Allah l.”

“Dia katakan kamu lumpuh.”

“Ya. Karena saya tidak pernah melangkahkan kaki saya ini kecuali ke tempat yang diridhai Allah l.”

Pemuda itu memandangi wajah istrinya, yang bagaikan purnama. Tak lama dari pernikahan tersebut, lahirlah seorang hamba Allah l yang shalih, yang memenuhi dunia dengan ilmu dan ketakwaannya. Bayi tersebut diberi nama Nu’man; Nu’man bin Tsabit Abu Hanifah t.

Duhai, sekiranya pemuda muslimin saat ini meniru pemuda Tsabit, ayahanda Al-Imam Abu Hanifah. Duhai, sekiranya para pemudinya seperti sang ibu, dalam ‘kebutaannya, kebisuan, ketulian, dan kelumpuhannya’.

Demikianlah cara pandang orang-orang shalih terhadap dunia ini. Adakah yang mengambil pelajaran?

Wallahul Muwaffiq.

Bersiap Menaklukkan Kota Mekkah

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Harits)

 

Sebab-Sebab Peperangan

Sebelum Rasulullah n diutus, biasa terjadi di kalangan masyarakat ‘Arab jahiliah saling memerangi dan merampok. Begitu pula antara Bani Khuza’ah dan Bani Bakr.

Pasalnya, ada seorang laki-laki Bani Al-Hadhrami, seorang pedagang ternama melewati wilayah Khuza’ah, tiba-tiba dia disergap lalu dibunuh dan hartanya dirampas. Kemudian, Bani Bakr balas membunuh salah seorang anggota Bani Khuza’ah. Mendengar itu, Khuza’ah balas menyerang Bani Al-Aswad, yaitu Kultsum, Salma, dan Dzuaib. Orang-orang Khuza’ah membunuh mereka di tapal batas dekat ‘Arafah (antara daerah halal dan haram).

Setelah Rasulullah n diutus ke tengah-tengah mereka, berhentilah pertikaian itu di antara mereka. Masing-masing sibuk dengan urusannya.

Ketika terjadi Perjanjian Hudaibiyah antara Rasulullah n dan orang-orang kafir Quraisy, salah satu isi perjanjian adalah bolehnya siapa saja bergabung dengan salah satu dari kedua pihak tersebut. Bani Bakr bergabung dengan musyrikin Quraisy sedangkan Bani Khuza’ah berada di pihak Rasulullah n.

Ternyata dendam lama yang berkarat di hati orang-orang Bani Bakr berkobar, meletuskan penyerangan terhadap Bani Khuza’ah.

Di sebuah mata air bernama Al-Watir, di bawah pimpinan Naufal bin Mu’awiyah Ad-Daili, mereka menyergap dan membunuh 20 orang dari Khuza’ah, dalam keadaan mereka tidak siap untuk berperang. Peristiwa ini kian pelik karena ada sejumlah orang Quraisy yang memberi bantuan kepada Bani Bakr dengan perbekalan dan senjata. Bahkan di antara mereka, menurut sebagian ahli sejarah, ada yang ikut berperang sembunyi-sembunyi di malam hari, yaitu Shafwan bin Umayyah, Huwaithib bin ‘Abdul ‘Uzza, dan Mikraz bin Hafsh. (Hal ini merupakan pelanggaran atas perjanjian Hudaibiyah, red.)

Akhirnya Bani Khuza’ah mundur dan melarikan diri hingga masuk ke tanah Haram Makkah. Mereka mengingatkan Naufal: “Hai Naufal. Kami sudah berada di tanah Haram. Tuhanmu, tuhanmu!”

Naufal membalas dengan ucapan yang sangat buruk dan keji: “Tidak ada tuhan lagi bagi tanah Haram hari ini! Hai Bani Bakr, tuntaskan dendam kalian. Demi hidupku. Dahulu kalian mencuri di tanah haram, maka sekarang mengapa kalian tidak selesaikan dendam kalian di sini?”

Setelah masuk di tanah Haram, Bani Khuza’ah segera menemui Budail bin Warqa’ dan maula mereka Rafi’.

Berangkatlah ‘Amr bin Salim Al-Khuza’i menemui Rasulullah n di Madinah. Saat itu, Rasulullah  n  sedang duduk  di  masjid di tengah-tengah para sahabatnya. ‘Amr bin Salim segera masuk dan menyampaikan peristiwa menyedihkan yang menimpa Bani Khuza’ah.

Tak lama kemudian, Budail bin Warqa’ dan beberapa orang Bani Khuza’ah juga berangkat menemui Rasulullah n di Madinah menceritakan apa yang baru menimpa mereka, juga tindakan Quraisy yang memberi bantuan kepada Bani Bakr menyerang mereka. Setelah itu, mereka kembali ke Makkah.

 

Quraisy Mengutus Abu Sufyan

Rasulullah n berkata: “Sepertinya kalian akan melihat Abu Sufyan. Dia datang untuk memperbarui perjanjian dan memperpanjang waktunya.”1

Di tengah perjalanan, Budail dan rombongan bertemu dengan Abu Sufyan yang diutus pihak Quraisy untuk memperbarui perjanjian. Quraisy akhirnya ketakutan sendiri melihat akibat perbuatan mereka.

Abu Sufyan bertanya kepada Budail: “Dari mana kalian?” Dia sudah menyangka Budail dari tempat Nabi n.

Budail menjawab: “Aku membawa Bani Khuza’ah melewati pantai dan lembah ini.”

Kata Abu Sufyan: “Apa bukan menemui Muhammad (n)?”

Budail mengelak dan mengatakan: “Tidak.”

Setelah Budail bertolak menuju Makkah, Abu Sufyan berkata sendiri: “Kalau dia mendatangi Madinah, tentu tunggangannya makan kurma.” Maka dia pun mendekati tempat istirahat mereka lalu mengorek sebagian kotoran unta dan memeriksanya, ternyata di dalamnya terdapat butiran biji kurma.

“Aku bersumpah demi Allah, sungguh Budail sudah menemui Muhammad,” kata Abu Sufyan.

Akhirnya Abu Sufyan segera bertolak menuju Madinah. Setiba di Madinah, dia menemui putrinya Ummu Habibah x (yang telah menjadi istri Rasulullah n). Ketika Abu Sufyan hendak duduk, Ummu Habibah menarik tikar Rasulullah n. Melihat ini, Abu Sufyan berkata: “Hai ananda, apakah kau lebih suka kepada tikar ini daripadaku atau lebih suka kepadaku dari tikar ini?”

Ummu Habibah menjawab: “Ini adalah tikar Rasulullah n, sedangkan ayah adalah seorang musyrik yang kotor.”

Abu Sufyan marah dan mencerca: “Demi Allah, sungguh, semoga engkau ditimpa kejelekan sepeninggalku.”

Setelah itu, Abu Sufyan menemui Rasulullah n dan mengajak beliau bicara tentang perjanjian, tapi tidak ditanggapi oleh beliau. Kemudian dia menemui beberapa sahabat utama seperti Abu Bakr, ‘Umar, dan ‘Ali g. Tetapi mereka tidak memberi jawaban, bahkan dia menerima sikap tegas ‘Umar yang mengatakan: “Apa aku harus memberi bantuan kepadamu menemui Rasulullah n? Demi Allah, seandainya aku tidak menemukan apa-apa selain setangkai kayu niscaya aku perangi kamu dengannya.”

Kemudian dia pun menemui ‘Ali bin Abi Thalib yang ketika itu bersama Fathimah dan Hasan yang sedang merangkak di hadapan keduanya. Dia berkata: “Hai ‘Ali, engkau yang paling dekat kekeluargaannya denganku, sedangkan aku datang untuk satu keperluan. Sungguh, aku tidak akan kembali sebagaimana aku datang dalam keadaan kecewa. Bantulah aku menemui Muhammad.”

Kata ‘Ali: “Celaka engkau, hai Abu Sufyan. Demi Allah, sungguh, Rasulullah n sudah bertekad melakukan sesuatu yang kami tidak sanggup mengajak beliau bicara dalam urusan ini.”

Abu Sufyan menoleh kepada Fathimah, katanya: “Maukah engkau menyuruh anakmu ini, agar dia memberi jaminan perlindungan di antara orang banyak, hingga kelak dia akan menjadi pemuka bangsa ‘Arab sepanjang masa?”

Kata Fathimah: “Demi Allah, mana mungkin anakku menerima kedudukan itu, apalagi mampu memberi jaminan perlindungan kepada manusia? Tidak ada seorang pun yang memberi pembelaan di hadapan Rasulullah n.”

Abu Sufyan berkata pula: “Wahai Abul Hasan (‘Ali), sungguh aku lihat urusan ini sangat menyusahkanku, beri aku nasihat.”

Kata ‘Ali: “Demi Allah, aku tidak tahu apa yang berguna bagimu. Tapi engkau adalah pemuka Bani Kinanah. Berdirilah, buatlah pembelaan terhadap manusia, kemudian kembalilah ke kampungmu.”

Abu Sufyan menukas: “Apakah itu berguna bagiku?”

Kata ‘Ali: “Demi Allah, aku tidak yakin. Tapi aku tidak menemukan yang lain.”

Akhirnya Abu Sufyan bangkit menuju Masjid Nabi lalu berkata: “Wahai kaum muslimin, sungguh aku telah memberi jaminan perlindungan kepada orang banyak.” Setelah itu dia pun menaiki untanya dan kembali ke Makkah menemui kaum Quraisy.

Melihat keadaan Abu Sufyan mereka berseru: “Berita apa yang kau bawa?”

Abu Sufyan menjelaskan: “Aku sudah menemui Muhammad dan mengajaknya bicara, tapi demi Allah, dia tidak menjawab sedikitpun. Kemudian aku temui putra Abu Quhafah (Abu Bakr), dia juga tidak menjawabku sedikitpun. Setelah itu aku menemui ‘Umar, ternyata dia musuh paling keras. Akhirnya aku temui ‘Ali bin Abi Thalib dan ternyata dia paling lunak. Dia memberi saran agar aku melakukan sesuatu. Demi Allah, aku tidak tahu apa itu berguna atau tidak?”

Kata mereka: “Apa yang disarankannya?”

“Dia sarankan agar aku memberi perlindungan kepada orang banyak, maka aku pun melaksanakannya,” kata Abu Sufyan.

Orang-orang Quraisy berkata: “Apa Muhammad mengizinkan?”

“Tidak,” katanya.

“Kamu sudah dipermainkan orang itu,” kata mereka.

“Aku tidak menemukan cara lain, demi Allah,” kata Abu Sufyan lagi.

Akhirnya, Quraisy mulai menyesali perbuatan mereka. Ketakutan mulai menyelinap di hati mereka.

 

Persiapan

Nun, di kota suci Madinah, Nabi n yang mulia sudah bertekad memberi pelajaran kepada orang-orang kafir Quraisy sekaligus membebaskan Makkah dari cengkeraman kaum paganis. Hal ini, sesudah taufiq dari Allah l tentunya, juga didukung beberapa sebab. Di antaranya:

a. Semakin bertambahnya kekuatan di dalam tubuh kaum muslimin, di Madinah khususnya. Tidak ada lagi gangguan dari kaum Yahudi di sekitarnya. Orang-orang munafik juga semakin ciut nyali mereka.

b. Semakin lemahnya kekuatan musuh, dalam hal ini orang-orang kafir Quraisy.

Rasulullah n mulai memerintahkan kaum muslimin bersiap. Beliau pun memerintahkan keluarganya membuat persiapan. Melihat ini, sebagian sahabat bertanya-tanya. Kemana gerangan Rasulullah n mengarahkan mereka?

Abu Bakr masuk menemui putrinya ‘Aisyah x yang sedang menata perlengkapan Rasulullah n. Katanya: “Wahai putriku, Rasulullah n memerintahkan kalian membuat persiapan untuk beliau?”

“Ya,” kata ‘Aisyah.

“Menurutmu, beliau ingin ke mana?” tanya Abu Bakr.

“Demi Allah, saya tidak tahu,” jawab ‘Aisyah.

Akhirnya Rasulullah n memberitahukan juga bahwa beliau bersiap-siap menuju Makkah. Beliau n pun perintahkan agar kaum muslimin bersiap-siap dan sungguh-sungguh.

Ibnu Ishaq t menceritakan, ketika itu beliau n berdoa: “Ya Allah, jauhkan mata-mata dan berita dari orang Quraisy hingga kami tiba di negeri mereka.”

Kaum muslimin pun bersiap-siap.

(insya Allah, bersambung)


1 Zadul Ma’ad 3/396.

Menjaga Hak Orang-orang yang Lemah

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Abdulmu’thi, Lc.)

 

Allah l dengan hikmah-Nya telah menciptakan manusia berbeda-beda status sosialnya. Ada yang menjadi pemimpin dan ada yang dipimpin.

Ada yang ditakdirkan kaya, ada pula yang miskin. Bahkan ada yang menjadi budak sahaya dan ada yang merdeka. Semuanya dijadikan sebagai ujian bagi hamba-Nya. Sebagaimana firman-Nya:

“Dan Kami jadikan sebagian kamu cobaan bagi sebagian yang lain, maukah kamu bersabar? Dan adalah Rabb kalian Maha Melihat.” (Al-Furqan: 20)

Juga firman-Nya:

“Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Rabbmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (Az-Zukhruf: 32)

Manusia sebagai makhluk sosial tentunya tidak bisa lepas dari ketergantungan dengan orang lain. Orang kaya tidak akan terpenuhi kebutuhannya dengan baik tanpa bantuan orang miskin. Pemerintah tidak akan bisa mewujudkan berbagai program secara sempurna bila tidak mendapat dukungan dari rakyat. Oleh karenanya, jurang pemisah antara si kaya dan si miskin, antara pemerintah dengan rakyatnya, sudah semestinya dikubur. Dengan ini akan terwujud kehidupan yang dinamis, di mana masing-masing tahu peranannya agar tercapai kemaslahatan bersama.

 

Kemuliaan dengan Ketakwaan

Bila kita mau melihat masyarakat yang dipimpin oleh Nabi Muhammad n, yaitu para sahabat, maka kita dapatkan mereka berasal dari negeri yang berbeda-beda dan status sosial yang tidak sama. Ada yang dari Persia, Romawi, Habasyah, dan orang-orang Arab. Ada yang dari keluarga terpandang seperti dari kabilah Quraisy, ada pula yang dari budak sahaya. Ada yang kaya-raya seperti ‘Utsman bin ‘Affan z, ada pula yang miskin seperti Abu Hurairah z. Keanekaragaman tidak menjadi soal manakala prinsip dalam beragama itu sama. Mereka berbaur satu sama lain untuk bersama-sama memperjuangkan agama Allah l. Kecintaan mereka terhadap saudara-saudaranya yang seiman melebihi kecintaan mereka terhadap karib kerabatnya yang tidak beriman. Bahkan mereka berlepas diri dan menyatakan kebencian kepada keluarganya yang kafir. Allah l berfirman:

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kalian.” (Al-Hujurat: 13)

Timbangan kemuliaan di sisi Allah, Dzat Yang Mencipta, Mengatur alam semesta dan Yang berhak diibadahi adalah ketakwaan. Maka, barangsiapa yang bertakwa dengan mengerjakan perintah-perintah Allah l dan menjauhi larangan-larangan-Nya, dialah yang mulia meskipun menurut pandangan sebagian manusia dia adalah orang yang rendah.

Tatkala sahabat Abu Dzar Al-Ghifari z mencela seseorang karena ibunya bukan berasal dari bangsa Arab, Nabi n marah kepada Abu Dzar z dengan mengatakan:

إِنَّكَ امْرُؤٌ فِيكَ جَاهِلِيَّةٌ

“Sesungguhnya engkau adalah seorang yang pada dirimu –masih tersisa– perangai jahiliah.” (HR. Al-Bukhari no. 6050)

Abu Dzar z sadar akan kesalahannya, sehingga setelah itu dia sangat menjaga sampai-sampai dia dan budaknya memakai pakaian yang sama. Orang yang tidak tahu tidak akan bisa membedakan mana tuannya dan mana budaknya.

Ketakwaan telah mengangkat sahabat Bilal z yang dahulunya budak sahaya sehingga menjadi salah satu muadzin Rasulullah n. Bahkan tatkala kota Makkah ditaklukkan pada tahun ke-8 hijriyah, Nabi n memerintahkan Bilal untuk naik ke atas Ka’bah mengumandangkan adzan. Suatu hal yang mencengangkan para pembesar Quraisy kala itu. (Zadul Ma’ad, 3/361)

 

Jangan Menzalimi Orang yang Lemah

Kezaliman dalam bentuk apapun dan terhadap siapapun adalah kejahatan yang pelakunya berhak mendapat hukuman di dunia ini sebelum di akhirat kelak. Sahabat Abu Bakrah z meriwayatkan hadits Nabi n, bahwa beliau n bersabda:

مَا مِنْ ذَنْبٍ أَجْدَرُ أَنْ يُعَجِّلَ اللهُ تَعَالَى لِصَاحِبِهِ الْعُقُوبَةَ فِي الدُّنْيَا مَعَ مَا يَدَّخِرُهُ لَهُ فِي الْأَخِرَةِ مِنَ الْبَغْيِ وَقَطِيْعَةِ الرَّحِمِ

“Tiada suatu dosa yang lebih pantas Allah l segerakan hukuman bagi pelakunya di dunia, di samping azab yang Allah sediakan untuknya di akhirat, daripada kezaliman dan memutuskan hubungan silaturahim.” (HR. Ahmad, Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad, dll, lihat Shahihul Jami’ no. 5704)

Berbuat zalim kepada siapapun akan membawa petaka yang tiada hentinya. Terlebih bila yang dizalimi adalah orang-orang lemah, seperti wanita, anak-anak, budak sahaya, orang-orang miskin, rakyat jelata, dan semisalnya. Ketidakberdayaan mereka tidak bisa dianggap remeh, karena Islam telah menjamin hak mereka. Jangan sampai ada orang yang berpikir ingin menzalimi mereka. Karena Allah Dzat yang Maha Kuasa, Maha Kaya dan tak terkalahkan, akan membalaskan bagi mereka dan membinasakan orang-orang yang berbuat aniaya. Kalau begitu, siapa gerangan yang mampu melawan Allah l?! Tiada seorang pun, meskipun dia orang yang kuat dan banyak tentaranya.

Lihatlah kesudahan Fir’aun dan bala tentaranya yang menzalimi Bani Israil dengan membunuh anak-anak yang tidak berdosa, memberlakukan kerja paksa dan setumpuk kezaliman lainnya. Allah l tenggelamkan Fir’aun dan tentaranya di lautan. Mana kerajaan yang penuh kemewahan?! Mana bala tentara yang banyak dan berlapis-lapis?! Semuanya sirna dan binasa. Semuanya kecil di hadapan Allah Dzat yang Maha Adil dan Maha Kaya lagi Maha Perkasa. Adakah kiranya orang yang mau mengambil pelajaran darinya?!

 

Beberapa Sifat Orang Lemah

1. Orang-orang lemah pada umumnya lebih mau menerima kebenaran yang datang dari Allah l ketimbang orang yang kaya, kuat, dan berkuasa. Coba perhatikan firman Allah l:

“Dan Kami tidak mengutus kepada suatu negeri seorang pemberi peringatan pun, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: ‘Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kamu diutus untuk menyampaikannya’.” (Saba’:34)

2. Orang yang lemah, karena keikhlasan dan doa mereka, maka pertolongan Allah l datang. Demikian pula rezeki dari-Nya, sebagaimana sabda Nabi n:

هَلْ تُنْصَرُونَ وَتُرْزَقُونِ إِلاَّ بِضُعَفَائِكُمْ

“Tidaklah kalian ditolong dan diberi rezeki kecuali dengan sebab orang yang lemah di antara kalian.” (HR. Al-Bukhari)

Oleh karena itu, orang-orang lemah dari kaum mukminin adalah sumber kebaikan bagi umat. Meski lemah fisik dan hartanya, namun mereka adalah orang yang kuat keimanan dan kepercayaannya kepada Allah l. Oleh sebab itu, bila mereka berdoa dengan tulus kepada Allah l, maka akan dikabulkan permintaannya. Allah l pun memberi rezeki kepada umat dengan sebab mereka. (lihat Bahjatun Nazhirin, 1/355)

3. Orang lemah dari kaum muslimin adalah mayoritas penghuni surga. Nabi n bersabda:

قُمْتُ عَلَى بَابِ الْجَنَّةِ فَكَانَ عَامَّةُ مَنْ دَخَلَهَا الْمَسَاكِينَ

“Aku berdiri di pintu surga, ternyata kebanyakan yang memasukinya adalah orang-orang miskin.” (Muttafaqun ‘alaih)

 

Orang Lemah yang harus Diperhatikan Haknya

Di antara orang-orang lemah yang harus diperhatikan haknya adalah sebagai berikut:

1. Anak yatim

Yaitu anak yang ditinggal mati oleh ayahnya dan dia belum baligh. Di saat seorang anak sangat membutuhkan belaian kasih sayang orangtuanya, ternyata ia harus mengalami kenyataan yang pahit, bapaknya meninggalkannya untuk selamanya. Maka siapa saja yang siap menggantikan orangtuanya dengan memberikan belaian kasih sayang dan nafkah yang dibutuhkan, maka dia akan masuk surga, dekat dengan Nabi n. Rasulullah n bersabda:

أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ كَهَاتَيْنِ فِي الْجَنَّةِ

“Saya dengan orang yang mengurusi anak yatim di surga seperti keduanya ini.” Nabi n mengisyaratkan dengan jari telunjuknya dan jari tengahnya dengan merenggangkan di antara keduanya. (HR. Al-Bukhari)

Demikian balasan mulia bagi orang yang menyantuni anak yatim. Namun sebaliknya, orang yang tidak menyayangi anak yatim dan menelantarkannya, atau bahkan memakan harta anak yatim, dia diancam dengan azab yang pedih.

 

2 & 3. Janda dan orang miskin

Wanita yang ditinggal mati suaminya pada umumnya sangat membutuhkan uluran tangan. Bagaimana tidak? Kini orang yang biasa mencarikan nafkah untuknya telah tiada. Beban kehidupan semakin bertambah. Hal seperti ini tentunya mengetuk hati orang yang mempunyai kelebihan rezeki untuk menyisihkan sebagian harta untuknya. Demikian pula orang miskin yang tidak mempunyai sesuatu untuk mencukupi kebutuhan dirinya beserta anak dan istrinya. Orang miskin terkadang mempunyai pekerjaan dan penghasilan, namun hasilnya belum bisa mencukupi kebutuhan pokoknya. Suatu kondisi yang juga memprihatinkan, yang membutuhkan pemecahan sesegera mungkin. Nabi n bersabda:

السَّاعِي عَلَى الْأَرْمَلَةِ وَالْمِسْكِينِ كَالْـمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللهِ

“Orang yang bekerja untuk (mencukupi) para janda dan orang miskin seperti seseorang yang berjuang di jalan Allah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Untuk meraih predikat “mujahid” (pejuang) di jalan Allah l, tidak selalu dengan berperang di medan laga. Bahkan celah yang ada di tengah umat ini manakala seorang berusaha untuk menutupnya, tentunya itu merupakan sebuah perjuangan yang tidak ringan. Bila kita membiarkan para janda merana dan orang miskin terlunta, bukan tidak mungkin mereka akan dimurtadkan dari agama ini.

 

4. Anak

Anak merupakan buah hati seorang dan penerus generasi di masa mendatang. Kiranya suatu kezaliman besar manakala seseorang tidak memenuhi hak mereka. Hak anak tidak hanya pada pemberian nafkah berupa makanan, pakaian, dan semisalnya. Bahkan ada hak yang seringkali diabaikan, yaitu hak pendidikan agama yang memadai. Tunaikanlah hak-hak anak. Berilah mereka kasih sayang yang cukup dan berlaku adillah kepada mereka. Ketika Nabi n tahu ada seorang sahabat memberikan suatu pemberian kepada seorang anaknya namun anak yang lain tidak diberi, beliau n marah dan mengatakan:

اتَّقُوا اللهَ وَاعْدِلُوا بَيْنَ أَوْلَادِكُمْ

“Bertakwalah kalian kepada Allah dan berbuat adillah terhadap anak-anak kalian.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

 

5. Kaum wanita

Ketika haji wada’ yang dihadiri oleh puluhan ribu manusia dari berbagai daerah, Rasulullah n telah memberikan pesan terakhir sebelum wafatnya. Di antara pesan-pesan tersebut adalah keharusan untuk berbuat baik kepada kaum wanita. Para wanita dalam Islam memiliki posisi penting yang tidak bisa diabaikan. Mereka membantu laki-laki dalam tercapainya kemaslahatan duniawi dan ukhrawi. Maka, sudah barang tentu kita harus memberikan hak mereka tanpa menguranginya. Nabi n pernah berdoa:

اللَّهُمَّ إِنِّي أُحَرِّجُ حَقَّ الضَّعِيفَيْنِ الْيَتِيمِ وَالْمَرْأَةِ

“Ya Allah, aku menimpakan dosa terhadap orang yang menyia-nyiakan hak dua orang yang lemah, yaitu anak yatim dan wanita.” (An-Nawawi t dalam kitabnya Riyadush Shalihin no. 275: “Diriwayatkan oleh An-Nasa’i t dengan isnad yang bagus.”)

Orang yang terbaik adalah yang terbaik terhadap istrinya dan orang yang jelek adalah yang berbuat jelek terhadap para wanita.

Allah l telah memerintahkan untuk mempergauli wanita dengan baik sebagaimana firman-Nya:

“Dan pergaulilah mereka dengan baik.” (An-Nisa’: 19)

 

6. Rakyat jelata

Merupakan kewajiban pemerintah untuk memberikan hak-hak rakyat, dengan menebarkan perasaan aman dan nyaman, menjunjung tinggi keadilan, serta menindak orang-orang yang jahat. Kekuasaan merupakan amanah untuk mewujudkan kemaslahatan dalam perkara agama dan dunia. Sehingga manakala pemerintah menyia-nyiakan hak rakyatnya dan tidak peduli terhadap tugasnya, maka kesengsaraan dan azab telah menunggu mereka. Nabi n telah bersabda:

مَا مِنْ وَالٍ يَلِي رَعِيَّةً مِنَ الْمُسْلِمِينَ فَيَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ لَهُمْ إِلَّا حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ

“Tiada seorang hamba yang diserahkan kepadanya kepemimpinan terhadap rakyat lalu dia mati di hari kematiannya dalam keadaan berkhianat kepada rakyatnya, kecuali Allah haramkan surga baginya.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Keadilan akan terwujud dengan menjalankan roda pemerintahan sesuai dengan petunjuk Allah l dan Rasul-Nya n, serta meneladani kepemimpinan Rasulullah n dan para sahabatnya g. Dengan keadilan akan tegak urusan manusia dan akan tersebar di tengah-tengah mereka ruh kecintaan terhadap sesama.

Orang-orang lemah bisa mengambil haknya secara penuh tanpa terzalimi sedikitpun. Tinta sejarah telah mencatat keberhasilan Rasulullah n dan para sahabatnya g dalam memimpin manusia.

Salah satu contoh kepemimpinan ideal adalah apa yang disebutkan oleh Abu Bakr z pada pidato politiknya yang singkat saat dibai’at sebagai khalifah:

“Wahai manusia, aku telah diangkat menjadi pemimpin kalian padahal aku bukan orang yang terbaik dari kalian. Oleh karena itu, bila kebijakanku nanti baik maka dukunglah aku. Namun jika melenceng maka tegur dan luruskan aku.

Kejujuran adalah amanah dan kedustaan adalah pengkhianatan. Orang yang lemah (terzalimi) dari kalian di sisiku (yakni di mata pemerintah) adalah orang yang kuat sampai aku berikan haknya, insya Allah. Orang yang kuat (tapi zalim) di sisiku adalah orang yang lemah sehingga aku mengambil darinya hak orang yang terzalimi, insya Allah. Tiada suatu kaum yang meninggalkan jihad fi sabilillah melainkan Allah k akan menimpakan kehinaan kepada mereka. Tidaklah kekejian menyebar pada suatu kaum kecuali Allah  k akan meratakan azab atas mereka. Taatilah aku selagi aku (kebijakanku) menaati Allah  k dan Rasul-Nya. Namun bila aku menyelisihi Allah k dan Rasul-Nya maka kalian tidak wajib taat kepadaku (dalam kemaksiatan itu).” (Al-Khulafa’ Ar-Rasyidun wad Daulah Al-Umawiyyah, hal. 13)
Demikianlah prinsip keadilan yang dijunjung tinggi oleh Abu Bakr z. Tentunya hal itu bukan sekadar retorika namun benar-benar diwujudkan dengan usaha nyata.
Demikian di antara hak-hak yang harus dijalankan. Semoga Allah l menunjuki masing-masing kita untuk mampu menjalankan hak-hak tersebut. Sehingga perasaan aman dan nyaman serta ruh kecintaan benar-benar menebar dalam kehidupan ini.
Wallahu a’lam.

Mengejar Dunia dengan Amalan Akhirat adalah Kesyirikan

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman)

 

Slogan ‘waktu adalah uang’ telah demikian mendarah daging dalam hidup mayoritas manusia serta menjadi prinsip yang mengiringi aktivitas mereka. Bukan sekadar slogan yang kosong dari makna, karena berbagai macam cara pun akan ditempuh manusia untuk mengejar apa yang dinamakan dengan uang. “Gunung kan kudaki, lautan kan kuseberangi. Lembah akan kulalui, bahkan mati akan kuhadapi,” kata mereka.

Ada manusia, yang tak peduli siang ataupun malam, terus-menerus waktunya disibukkan dengan mencari uang. Para wanita sampai melelang kehormatannya, menjatuhkan martabatnya karenanya juga. Ringkasnya, hidup adalah uang.

Para pedagang, pekerja, dan pengusaha, berusaha meramal hidupnya melalui paranormal juga karena uang yang akan dikejar. Mereka ngalap berkah di kuburan tertentu, juga untuk mendapatkan penghasilan dan jalan hidup yang beruntung, menurut mereka. Berkunjung ke tempat-tempat keramat dengan mempersembahkan berbagai jenis sesaji juga karenanya.

Maka sangat ironis jika seseorang berbicara tentang agama juga karena tujuan yang sama dengan mereka. Mereka melelang ayat-ayat Al-Qur’an dan sabda-sabda Rasulullah n dengan harga yang sangat murah.

“Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al-Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: ‘Ini dari Allah’, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan.” (Al-Baqarah: 79)

“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu Al-Kitab dan menjualnya dengan harga yang sedikit (murah), mereka itu sebenarnya tidak memakan (tidak menelan) ke dalam perutnya melainkan api, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat serta tidak menyucikan mereka dan bagi mereka siksa yang amat pedih.” (Al-Baqarah: 174)

“Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi Kitab (yaitu): ‘Hendaklah kamu menerangkan isi Kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya.’ Lalu mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung mereka dan mereka menukarnya dengan harga yang sedikit. Amatlah buruk tukaran yang mereka terima.” (Ali ‘Imran: 187)

Asy-Syaikh As-Sa’di t menyatakan: “Orang-orang yang diberikan Al-Kitab dari kalangan Yahudi, Nasrani, dan yang serupa dengan mereka, melemparkan janji-janji ini di belakang punggung mereka. Mereka tidak memedulikan janji-janji tersebut. Mereka menyembunyikan kebenaran dan menampilkan kebatilan. Mereka berani melanggar keharaman Allah l, meremehkan hak-hak Allah l serta hak makhluk-Nya. Dengan cara menyembunyikan tersebut, mereka juga membeli kedudukan dan harta benda dengan harga yang sedikit dari para pengikutnya serta orang-orang yang mengutamakan syahwat daripada kebenaran.” (Taisir Al-Karimirrahman, 1/160)

 

Siapakah Budak Dunia?

Kata “budak” telah dipakai oleh Rasulullah n untuk menyebut orang-orang yang telah diperbudak oleh dunia di dalam sebuah sabdanya. Beliau n mengatakan:

تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ وَعَبْدُ الدِرْهَمِ وَعَبْدُ الْخَمِيْصَةِ، إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ وَإِنْ لَمْ يُعْطَ سَخِطَ

“Celaka budak dinar, budak dirham, dan budak khamishah (suatu jenis pakaian). Apabila diberi dia ridha dan bila tidak diberi dia murka.” (HR. Al-Bukhari no. 2887 dari Abu Hurairah z)

Ibnu Hajar t berkata: “Budak dinar adalah orang yang mencarinya dengan semangat tinggi. (Bila mendapatkannya), dia menjaganya seolah-olah dia menjadi khadim, pembantu, dan budak. Ath-Thibi t berkata: ‘Dikhususkan kata budak untuk menggelarinya, karena dia berkubang dalam cinta kepada dunia serta segala bentuk syahwatnya, layaknya seorang tawanan yang tidak memiliki upaya untuk melepaskan dirinya. Rasulullah n tidak mengatakan malik (pemilik), tidak pula orang yang menghimpun dinar, karena yang tercela adalah mengumpulkan melebihi dari yang dibutuhkan’.” (Fathul Bari, 18/249)

Allah l menjadikannya sebagai budak dinar dan dirham karena kerakusan serta semangatnya untuk mendapatkannya. Barangsiapa menjadi budak hawa nafsunya, maka dia tidak akan bisa mewujudkan pada dirinya makna ayat ﭢ ﭣ . (Hanya kepada-Mu lah kami beribadah). Orang yang seperti ini sifatnya tidak akan menjadi orang shadiq (terpercaya)… Dan dikhususkan penyebutan keduanya (dinar dan dirham), karena keduanya adalah asal harta benda dunia berikut segala kenikmatannya. (Tuhfatul Ahwadzi, 6/161)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t berkata: “Perkataan yang mengandung pujian akan menyenangkan pencari kedudukan –dengan cara batil–, sekalipun kalimat itu adalah batil. Dia juga akan murka dengan sebab sebuah perkataan, sekalipun perkataan itu benar. Adapun orang yang beriman, kalimat yang haq akan menjadikan dia ridha baik kalimat itu mendukung atau menghujatnya. Sebaliknya, menjadikan kalimat batil akan menyebabkannya murka, baik kalimat itu menguntungkannya ataupun tidak. Karena Allah l mencintai yang haq, kejujuran, dan keadilan. Bila dikatakan kebenaran, kejujuran, dan keadilan yang dicintai oleh Allah k, dia akan mencintainya sekalipun menyelisihi keinginan hawa nafsunya karena  hawa nafsunya mengikuti apa yang dibawa oleh Rasulullah n. Apabila diucapkan suatu kezaliman, kedustaan, dan hal yang dibenci oleh Allah l, maka orang yang beriman akan membencinya sekalipun sesuai hawa nafsunya. Demikian juga kondisi pencari harta –dengan cara yang batil– sebagaimana firman Allah k:

“Di antara mereka ada yang mencelamu dalam hal shadaqah. Jika mereka diberi mereka senang dan jika tidak diberi mereka benci.” (At-Taubah: 58)

Mereka itulah yang telah disebut oleh Rasulullah n dengan sabda beliau: ‘Celaka budak dinar’.” (Az-Zuhd wal Wara’ wal ‘Ibadah, 1/38)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t berkata setelah menyebutkan tipe-tipe manusia yang rakus dengan dunia: “Permasalahan dunia (bagi manusia) ada dua bentuk. Di antaranya:

(Pertama) Perkara yang dibutuhkan oleh setiap orang sebagaimana butuhnya dia terhadap makan, minum, tempat tinggal, menikah, dan sebagainya. Dia meminta kepada Allah l dan mencarinya di sisi-Nya, sehingga harta di hadapannya bagaikan keledai yang dikendarainya, atau bagaikan permadani yang dia duduk padanya, atau bahkan seperti WC di mana dia menunaikan hajat tanpa adanya unsur perbudakan diri. Namun dia akan banyak berkeluh kesah bila tertimpa kejelekan, dan menjadi kikir apabila mendapatkan kesenangan.

(Kedua) Perkara yang manusia tidak membutuhkannya. Dalam perkara yang seperti ini, janganlah seseorang menggantungkan hatinya kepadanya. Bila dia menggantungkan hatinya kepadanya, niscaya dia akan menjadi budaknya. Bahkan terkadang dia akan terjatuh pada perbuatan menggantungkan diri kepada selain Allah l. Dalam kondisi ini, tidak tersisa lagi pada dirinya hakikat beribadah kepada Allah l, tidak pula hakikat tawakkal. Bahkan dalam dirinya terdapat bentuk pengabdian kepada selain Allah l dan bertawakkal kepada selain-Nya. Dialah yang paling berhak mendapatkan sabda Rasulullah n: ‘Telah celaka budak dinar, budak dirham, budak qathifah (sejenis beludru), dan budak khamishah’.

Dialah budak semua hal ini. Jika dia memintanya kepada Allah l lantas Dia memberinya, dia akan ridha. Jika Allah l tidak memberinya, dia akan murka.

Sedangkan hamba Allah l sejati ialah orang yang membuatnya ridha semua yang membuat Allah k ridha, dan membuatnya murka apa-apa yang membuat Allah l murka. Dia mencintai apa yang dicintai oleh Allah l dan Rasul-Nya, serta akan murka terhadap apa yang dimurkai oleh Allah l dan Rasul-Nya n. Dia berloyalitas kepada wali-wali Allah l dan menentang musuh-musuh-Nya. Inilah yang menyempurnakan iman, sebagaimana di dalam hadits:

مَنْ أَحَبَّ لِلهِ وَأَبْغَضَ لِلهِ وَأَعْطَى لِلهِ وَمَنَعَ لِلهِ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ الْإِيْمَانَ

“Barangsiapa cinta karena Allah dan membenci karena Allah, memberi karena-Nya dan tidak memberi juga karena-Nya, maka dia telah menyempurnakan iman.”

أَوْثَقُ عُرَى الْإِيْمَانِ الْحُبُّ فِي اللهِ وَالْبُغْضُ فِي اللهِ

“Ikatan iman yang paling kuat adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah.” (Al-‘Ubudiyyah, 1/25)

 

Mencari Dunia dengan Amalan Akhirat adalah Syirik

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab t menulis sebuah bab dalam Kitab At-Tauhid “Bab: Termasuk dari kesyirikan adalah menginginkan dunia dengan amalan akhirat.”

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh t berkata: “Yang beliau maksud dengan judul ini adalah bahwa beramal untuk mendapatkan dunia adalah syirik yang akan menafikan kesempurnaan tauhid yang wajib dan membatalkan amalan (syirik kecil, ed.). Hal ini lebih besar daripada dosa riya’. Karena niatan untuk mendapatkan dunia telah menguasai keinginannya pada mayoritas amalannya, sedangkan riya’ hanya pada satu amalan saja dan tidak masuk dalam amalan yang lain. Riya’ juga tidak terus-menerus ada bersama amalan. Orang yang beriman harus berhati-berhati dari semua ini.” (Fathul Majid, 2/625)

Bukan sesuatu yang baru bagi kaum muslimin jika Allah l dan Rasul-Nya n telah mengharamkan kesyirikan. Bahkan mereka mengetahui bahwa syirik adalah dosa yang paling besar. Akan tetapi tahukah mereka segala rincian syirik? Tentu, jawabannya adalah tidak. Hal ini disebabkan banyak faktor. Di antaranya kejahilan (ketidaktahuan) mereka tentang aqidah yang benar. Juga adanya penyakit taqlid buta dan fanatik serta sikap ghuluw (berlebihan) dalam menyikapi orang-orang shalih. (‘Aqidah At-Tauhid karya Asy-Syaikh Shalih Fauzan. hal. 16)

Para ulama Ahlus Sunnah telah menjelaskan macam-macam syirik yang terangkum dalam dua macam: syirik yang akan mengeluarkan dari Islam yang disebut dengan syirik besar; dan syirik yang tidak mengeluarkan dari Islam yang disebut dengan syirik kecil.

Termasuk dalam kategori syirik kecil adalah beramal karena ingin mendapatkan dunia. Seperti seseorang yang berhaji, menjadi muadzin, atau menjadi imam karena ingin mendapatkan materi, atau belajar ilmu dan berjihad juga untuk mendapatkan materi. Rasulullah n bersabda: “Telah celaka hamba dinar dan dirham. Telah celaka hamba khamishah dan khamilah (jenis-jenis pakaian). Jika diberi dia ridha dan jika tidak diberi dia benci.” (‘Aqidah At-Tauhid hal. 98)

Ibnul Qayyim t berkata: “Syirik dalam iradah (keinginan) dan niat bagaikan laut tak bertepi. Sedikit sekali orang yang selamat darinya. Maka barangsiapa yang dengan amalnya menginginkan selain wajah Allah k, meniatkan sesuatu selain mendekatkan diri kepada Allah l serta selain mendapatkan balasan dari-Nya, sungguh dia telah melakukan kesyirikan dalam niat dan keinginannya. Sedangkan ikhlas adalah dia mengikhlaskan untuk Allah k dalam perbuatannya, ucapan, keinginan, dan niatnya. Ini adalah hanifiyyah, agama Nabi Ibrahim q yang Allah l telah memerintahkan hamba-Nya untuk mengikutinya dan tidak akan diterima agama selainnya. Ini juga merupakan hakikat Islam, sebagaimana firman Allah l:

“Dan barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Ali ‘Imran: 85)

Inilah agama Nabi Ibrahim q yang barangsiapa membencinya, dia termasuk orang yang paling dungu.” (Al-Jawabul Kafi, hal. 115)

 

Contoh Mencari Dunia dengan Amalan Akhirat

 

a. Ulama

“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih.” (At-Taubah: 34)

Asy-Syaikh As-Sa’di t menjelaskan: “Ini merupakan peringatan dari Allah l kepada segenap kaum mukminin bahwa mayoritas ulama Yahudi dan pendeta Nasrani –artinya, ulama dan ahli ibadah– memakan harta manusia dengan cara batil, yakni dengan cara tidak benar. Mereka juga menghalangi (manusia) dari jalan Allah l. Sesungguhnya jika mereka mendapatkan gaji dari harta manusia atau manusia menyisihkan harta benda mereka untuknya, maka hal itu disebabkan ilmu dan ibadah mereka. Juga karena bimbingan yang mereka berikan. Namun mereka mengambil semuanya dan menghalangi manusia dari jalan Allah l. Sehingga pengambilan upah yang mereka lakukan dengan cara demikian adalah sebuah kezaliman. Karena orang tidak akan mengorbankan harta bendanya melainkan agar mereka terbimbing ke jalan yang lurus.” (Taisirul Karimirrahman, hal. 296)

 

b. Da’i

Mungkinkah seorang da’i akan terjatuh dalam kesyirikan? Jawabannya adalah sangat mungkin. Terlebih jika sang da’i adalah orang yang tidak memiliki aqidah yang benar dan manhaj yang lurus. Dia bisa menjadikan dakwahnya dengan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits sebagai jembatan untuk mendapatkan: kedudukan di hati manusia, sanjungan dan pujian dari mereka, mencari pengikut yang banyak, serta mencari uluran tangan mereka.

Karena menurut mereka, jalan inilah yang paling mudah dan tidak membutuhkan kerja keras, peras keringat banting tulang untuk mendapatkannya. Barangsiapa yang niatnya demikian, baik seorang alim, kyai, da’i, atau lainnya, maka dia telah terjatuh dalam perbuatan syirik kepada Allah l. (lihat gambaran ini dalam Fathul Majid hal. 453-454)

 

c. Politikus

Bukan sesuatu yang aneh bagi seorang politikus untuk melontarkan pernyataan-pernyataan dengan menyitir dalil-dalil baik dari Al-Qur’an atau As-Sunnah. Terlebih lagi bila dia tadinya seorang da’i yang kemudian terjun ke dunia politik. Yang ada adalah, pertama, bagaimana mengumpulkan massa; dan kedua, mengumpulkan dana. Ujung-ujungnya adalah mencari kedudukan di mata manusia.

Dalam syarah Fadhlul Islam disebutkan terjadinya penyimpangan dari ash-shirath al-awwal (jalan yang lurus) adalah karena di tengah umat muncul politik yang jahat dan zalim, yang telah melencengkan hukum-hukum agama. Karena politik inilah, ahli ilmu, para hakim, dan ahli fatwa memberikan fatwanya sesuai dengan kemaslahatan negara atau kelompok.

 

Untaian Indah dari Al-Imam Ibnul Qayyim

Al-Imam Ahmad t berkata: Sayyar telah menceritakan kepadaku: Ja’far telah menceritakan kepadaku: Aku telah mendengar Malik bin Dinar t berkata: “Berhati-hatilah kalian dari wanita penyihir. Berhati-hatilah kalian dari wanita penyihir. Berhati-hatilah dari wanita penyihir, karena mereka telah menyihir hati-hati ulama.”

Yahya bin Mu’adz Ar-Razi t berkata: “Dunia adalah khamrnya setan. Barangsiapa mabuk karenanya, maka dia tidak akan sadar sampai kematian menjemput dalam keadaan menyesal di tengah orang-orang yang merugi. Sedangkan bentuk cinta yang paling ringan kepada dunia adalah melalaikan dari cinta dan dzikir kepada Allah l. Barangsiapa yang harta bendanya telah melalaikannya dari dzikir kepada Allah k, sungguh dia termasuk orang yang merugi. Bila hati lalai dari berdzikir kepada Allah l, niscaya hati itu akan ditempati oleh setan, yang kemudian akan memalingkannya sesuai kehendaknya…

Ibnu Mas’ud z berkata: “Tiadalah setiap orang di dunia ini melainkan sebagai tamu dan hartanya adalah pinjaman. Tentunya, tamu itu akan berangkat pergi dan pinjaman itu akan kembali kepada pemiliknya.”

Mereka (para ulama) berkata: “Cinta dunia dianggap sebagai kepala kerusakan. Dia akan merusak agama dari banyak sisi. Pertama, mencintai dunia akan membuahkan pengagungan terhadapnya, sementara dunia itu rendah di sisi Allah l. Mengagungkan apa yang telah dihinakan oleh Allah l termasuk dosa yang paling besar. Kedua, Allah l melaknat, membenci dan murka terhadap dunia dan segala yang ada padanya (kecuali hal-hal yang diperuntukkan bagi Allah l). Barangsiapa yang mencintai apa yang dilaknat, dibenci, dan dimurkai Allah l, maka dia telah melemparkan dirinya kepada laknat, kebencian, dan kemurkaan Allah l. Ketiga, jika dia mencintainya, tentu dia menjadikan dunia itu sebagai tujuannya. Dia akan mencari jalan kepadanya dengan amalan-amalan yang sebenarnya Allah l tetapkan sebagai sarana (wasilah yang mengantarkan) kepada-Nya dan kampung akhirat.” (‘Uddatush Shabirin wa Dzakhiratusy Syakirin, hal. 186)

Wallahu a’lam bish-shawab.

Demi Sebuah Kursi Kedudukan

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar)

 

عَنِ ابْنِ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ الْأَنْصَارِيِّ، عَنْ أَبِيهِ قَالَ :قَالَ رَسُولُ الله ِn: مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلاَ فِي غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِينِهِ

Dari Ka’b bin Malik z, Rasulullah n bersabda, “Tidaklah dua ekor serigala yang lapar dilepas di tengah sekawanan kambing lebih merusak daripada merusaknya seseorang terhadap agamanya karena ambisinya untuk mendapatkan harta dan kedudukan.”

Hadits ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (no. 2482) melalui jalan Suwaid bin Nashr, dari Abdullah bin Al-Mubarak, dari Zakariya bin Abi Zaidah, dari Muhammad bin Abdirrahman, dari Ibn Ka’b bin Malik, dari ayahnya, dari Rasulullah n.
Al-Imam Ibnu Rajab t berkata, ”Hadits ini diriwayatkan melalui jalan lain dari Nabi n. Di antaranya dari hadits Ibnu ‘Umar, Ibnu ‘Abbas, Abu Hurairah, Usamah bin Zaid, Abu Sa’id, dan ‘Ashim bin ‘Adi Al-Anshari g.”
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad t (3/456).
Hadits ini dishahihkan oleh Asy-Syaikh Muqbil di dalam Ash-Shahihul Musnad (2/178) dan Asy-Syaikh Al-Albani di dalam Shahihul Jami’ (no. 5620).
Al-Qadhi t menerangkan, hadits ini shahih dan sangat masyhur. Kami memperoleh hadits ini lebih dari satu jalur periwayatan. Secara umum, pada lafadz hadits terdapat perbedaan kata namun bermakna sama.
Makna Hadits
Makna hadits ini, kerusakan yang ditimbulkan oleh dua ekor serigala lapar yang dibiarkan bebas di antara sekawanan kambing masih belum seberapa apabila dibandingkan kerusakan yang muncul karena ambisi seseorang untuk mendapatkan kekayaan dan kedudukan. Karena, ambisi untuk mendapatkan harta dan kedudukan akan mendorong seseorang untuk mengorbankan agamanya. Adapun harta, dikatakan merusak karena ia memiliki potensi untuk mendorongnya terjatuh dalam syahwat serta mendorongnya untuk berlebihan dalam bersenang-senang dengan hal-hal mubah. Sehingga akan menjadi kebiasaannya. Terkadang ia terikat dengan harta lalu tidak dapat mencari dengan cara yang halal, akhirnya ia terjatuh dalam perkara syubhat. Ditambah lagi, harta akan melalaikan seseorang dari zikrullah. Hal-hal seperti ini tidak akan terlepas dari siapapun.
Adapun kedudukan, cukuplah sebagai bukti kerusakannya bahwa harta dikorbankan untuk meraih kedudukan. Sementara kedudukan tidak mungkin dikorbankan hanya untuk mendapatkan harta. Inilah yang dimaksud dengan syirik khafi (syirik yang tersamar). Dia tenggelam di dalam sikap oportunis, merelakan prinsipnya hilang, kenifakan, dan seluruh akhlak tercela. Maka, ambisi terhadap kedudukan lebih merusak dan lebih merusak. (Tuhfatul Ahwadzi Syarah Sunan At-Tirmidzi)
Al-Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali t berkata, “Nabi Muhammad n (di dalam hadits ini) mengabarkan bahwa ambisi untuk memperoleh kedudukan dapat merusak agama seseorang. Kerusakannya tidak kurang dari kerusakan yang ditimbulkan oleh dua ekor serigala terhadap sekawanan kambing. Agama seorang hamba tidak akan selamat bila ia memiliki ambisi untuk memperoleh harta dan kedudukan, hanya sedikit yang dapat selamat. Perumpamaan yang teramat agung ini memberikan pesan untuk benar-benar waspada dari keburukan ambisi untuk memperoleh harta dan kedudukan di dunia.”
Beliau t juga berkata, “Ambisi seseorang terhadap kedudukan tentu lebih berbahaya dibandingkan ambisinya terhadap harta. Karena usaha untuk mendapatkan kedudukan duniawi, derajat tinggi, kekuasaan atas orang lain, dan kepemimpinan di atas muka bumi, lebih besar mudaratnya dibandingkan usaha mencari harta. Sungguh besar mudaratnya. Bersikap zuhud dalam hal ini begitu sulit.” (Syarh Ibnu Rajab)
Menjaga Agama Adalah Cita-cita Mulia
Di dalam hadits ini terdapat faedah yang mengingatkan kita bahwa perkara yang terpenting bagi seorang hamba adalah menjaga agamanya. Serta merasa rugi apabila muncul kekurangan di dalam menjalankan agama. Cinta seorang hamba terhadap harta dan kedudukan, upaya yang ia tempuh untuk mendapatkannya, ambisi untuk meraih harta dan kedudukan, serta kerelaan bersusah-payah untuk mengalahkan, hanya akan menyebabkan kehancuran agama dan runtuhnya sendi-sendi agamanya. Simbol-simbol agama akan terhapus. Bangunan-bangunan agamanya pun akan roboh. Ditambah lagi bahaya yang akan ia hadapi karena menempuh sebab-sebab kebinasaan.
Apakah Hanya Karena Sebuah Kedudukan Kita Menjatuhkan Diri Dalam Jurang Kehancuran?
Rasulullah n melarang umat Islam untuk meniru akhlak tercela kalangan Yahudi. Karena meniru akhlak tercela mereka akan berakhir dengan kehancuran dan celaka. Di antara sekian banyak tingkah laku Yahudi yang harus dijauhi adalah ambisi untuk mendapatkan kedudukan. Apakah pantas seorang muslim mengaku memperjuangkan Islam, sementara cara yang digunakan adalah cara-cara Yahudi? Dengan berebut kursi, meraih suara terbanyak, ingin tampil ke depan, hendak memimpin, menduduki kursi-kursi kedudukan, dan menjadi seorang penguasa? Allah l berfirman:
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (Ali ‘Imran: 14)
Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thabari t ketika menjelaskan ayat di atas menyatakan, “Telah dibuat indah untuk manusia sifat tertariknya mereka terhadap wanita dan anak keturunan serta segala hal yang disebutkan. Allah l menyebutkan hal ini hanyalah untuk menjelaskan sifat buruk orang-orang Yahudi. Mereka lebih mengutamakan dunia dan ambisi terhadap kekuasaan dibandingkan harus mengikuti Nabi Muhammad n, padahal mereka telah mengetahui kebenarannya.” (Tafsir Ath-Thabari)
Ambisi Untuk Berkuasa Pasti Disertai Sikap Menjelekkan Orang Lain
Adapun orang-orang yang berambisi untuk meraih tampuk kekuasaan, Ibnul Qayyim t menjelaskan, mereka mengejar kekuasaan untuk melampiaskan seluruh keinginan. Yaitu berkuasa di muka bumi, agar seluruh hati mengarah dan cenderung kepada mereka, serta membantu mereka di dalam mewujudkan keinginan. Dalam keadaan merekalah yang menguasai dan mengatur. Sehingga ambisi untuk meraih kekuasaan hanya akan melahirkan kerusakan-kerusakan yang tidak mungkin diketahui secara pasti jumlahnya kecuali oleh Allah l. Akan muncul dosa, hasad, perbuatan-perbuatan yang melampaui batas, dengki, kezaliman, fitnah, fanatik pribadi, tanpa memedulikan lagi hak Allah l. Orang yang terhina di sisi Allah l akan dimuliakan sementara orang yang dimuliakan Allah l pasti dihina. Kekuasaan duniawi tidak mungkin sempurna kecuali dengan cara-cara kotor seperti tersebut di atas. Kekuasaan duniawi tidak akan tercapai kecuali dengan menempuh langkah-langkah yang penuh dengan mafsadah, bahkan berkali-kali lipat. Sementara orang-orang yang telah meraih kekuasaan amatlah buta dengan hal-hal ini. (Ar-Ruh, Ibnul Qayyim t)
Al-Fudhail bin ‘Iyadh t berkata: “Tidak ada seorang pun yang memiliki ambisi untuk mendapatkan kekuasaan melainkan ia pasti senang menyebutkan kekurangan dan cela orang lain, sehingga dialah yang dikenal sebagai orang sempurna. Dia pun tidak senang apabila ada yang menyebutkan kebaikan orang lain. Barangsiapa gila kekuasaan maka ucapkan ‘selamat berpisah’ dari kebaikan-kebaikannya.”
Ambisi Untuk Meraih Kekuasaan Akan Merusak Ilmu
Al-Ahnaf bin Qais t menjelaskan bahwa penyakit yang akan merusak alim ulama adalah ambisi untuk meraih kekuasaan. (‘Aja’ib Al-Atsar)
Al-Imam Ahmad t pernah berkata kepada Sufyan bin ‘Uyainah t, “Cinta kekuasaan lebih disenangi orang dibandingkan emas dan perak. Barangsiapa berambisi memperoleh kekuasaan ia akan mencari-cari aib orang lain.” (Al-Adab Asy-Syar’iyyah, Ibnu Muflih)
Sufyan Ats-Tsauri t berkata, “Kekuasaan lebih disenangi oleh ahli qira’ah dibandingkan emas merah.” (Al-Wara’, Al-Imam Ahmad hal. 91)
Ibnu ‘Abdus t berkata, “Setiap kali bertambah kemuliaan seorang alim dan bertambah tinggi derajatnya, maka semakin cepat dia merasa ujub. Kecuali orang yang dijaga oleh Allah l dengan taufiq-Nya dan membuang ambisi terhadap kekuasaan dari dirinya.” (Jami’ Bayan Al-‘Ilmi wa Fadhlih 1/142, Ibnu ‘Abdil Barr t)
“Ilmu hadits adalah disiplin ilmu yang mulia. Yang sesuai untuk ilmu ini hanyalah akhlak mulia dan perilaku yang terpuji. Ilmu ini akan menghilangkan akhlak buruk dan perilaku tercela. Ilmu hadits adalah ilmu akhirat, bukan ilmu dunia. Barangsiapa yang ingin mendengarkan periwayatan hadits atau ingin menyampaikan ilmu hadits, hendaknya ia berupaya meluruskan dan mengikhlaskan niat. Dia pun harus membersihkan hatinya dari tujuan-tujuan duniawi dan segenap noda-nodanya. Dia pun harus berhati-hati dari penyakit dan kotoran dari ambisi terhadap kekuasaan.” (Muqaddimah Ibnu Shalah)
Salah satu hal yang membedakan antara ulama dunia dan ulama akhirat, ulama dunia senantiasa memerhatikan kekuasaan. Senang akan pujian dan massa. Sementara ulama akhirat menjauhi hal tersebut. Mereka benar-benar menjaga diri dari hal itu dan menyayangkan orang-orang yang terkena penyakit tersebut.
Namun dikarenakan telah terbiasa dan memiliki ambisi mendapatkan kedudukan, telah menguasai pemikiran mereka. Tinggallah ilmu hanya terucap melalui lisan sebagai sebuah adat, bukan untuk diamalkan. (Shaidul Khathir, Ibnul Jauzi t)
Ambisi Untuk Meraih Kekuasaan Akan Merusak Realisasi Cinta Kepada Allah l
Seringkali syahwat khafiyyah (tersembunyi) yang masuk pada diri seseorang dapat merusak realisasi cinta seorang hamba kepada Allah l. Merusak pula penghambaan dan keikhlasan di dalam beragama. Sebagaimana pernyataan Syaddad bin Aus t, ”Wahai sekalian sisa-sisa orang Arab. Sesungguhnya yang paling aku cemaskan bila menimpa kalian adalah riya’ dan syahwat khafiyyah.”
Ketika ditanya tentang makna syahwat khafiyyah, Al-Imam Abu Dawud As-Sijistani t menjawab, “Syahwat khafiyyah adalah ambisi terhadap kekuasaan.”
Hadits ini menjelaskan bahwa keyakinan yang benar tentu tidak akan membawa dirinya untuk berambisi semacam ini. Karena bila hati telah merasakan manisnya beribadah kepada Allah l, merasakan manisnya mahabbah kepada Allah l, tentu tidak ada lagi yang lebih ia cintai selain itu sampai ia menemui-Nya. Dengan sebab inilah, keburukan dan kekejian akan dijauhkan dari orang yang benar-benar ikhlas kepada Allah l. Allah l berfirman:
“Demikianlah, agar Kami memalingkan darinya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba kami yang terpilih.” (Yusuf: 24) [Al-‘Ubudiyyah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t]
Termasuk Golongan Manakah Kita?
Rasulullah n memberitakan bahwa ambisi seorang hamba untuk memperoleh harta dan kekuasaan akan merusak agamanya. Seperti halnya atau bahkan lebih parah dibandingkan dua ekor serigala yang dibiarkan bebas di tengah-tengah kawanan kambing. Sungguh, Allah l telah mengabarkan keadaan orang yang mendapatkan catatan amal dengan tangan kirinya. Dia menyatakan:
“Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku. Telah hilang kekuasaan dariku.” (Al-Haqqah: 28-29)
Akhir kehidupan seseorang yang haus akan kekuasaan hanyalah seperti Fir’aun. Adapun para penumpuk harta, akhir kehidupannya hanyalah seperti Qarun. Padahal Allah l telah memberitakan keadaan Fir’aun dan Qarun di dalam kitab-Nya. Allah l berfirman:
“Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi, lalu memerhatikan betapa kesudahan orang-orang yang sebelum mereka. Mereka itu adalah lebih hebat kekuatannya daripada mereka dan (lebih banyak) bekas-bekas mereka di muka bumi, maka Allah mengazab mereka disebabkan dosa-dosa mereka. Dan mereka tidak mempunyai seorang pelindung dari azab Allah.” (Ghafir: 21)
Allah l juga berfirman:
“Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (Al-Qashash: 83)
Sesungguhnya manusia ada empat macam.
Pertama, orang-orang yang menginginkan kekuasaan dan kerusakan di atas muka bumi, yaitu dengan durhaka kepada Allah l. Mereka adalah para raja dan penguasa yang selalu berbuat kejahatan seperti Fir’aun dan pengikutnya. Mereka adalah makhluk yang paling buruk. Allah k berfirman:
“Sesungguhnya Fir’aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah-belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Fir’aun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Al-Qashash: 4)
Al-Imam Muslim t meriwayatkan di dalam Shahih-nya dari Ibnu Mas’ud z, Rasulullah n bersabda, “Tidak akan masuk Al-Jannah seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan seberat semut kecil. Dan tidak akan masuk neraka seseorang yang di dalam hatinya keimanan seberat semut kecil.” Kemudian ada orang bertanya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku merasa senang bila pakaian dan sandalku bagus. Apakah hal ini termasuk dari kesombongan?” Rasulullah menjawab, “Tidak, sesungguhnya Allah adalah Dzat Yang Maha Indah, Dia senang dengan keindahan. Sombong ialah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.”
Sikap menolak kebenaran dan merendahkan orang lain adalah sikap orang yang menginginkan kekuasaan dan kerusakan.
Kedua, orang-orang yang menghendaki kerusakan tanpa disertai keinginan untuk berkuasa. Seperti para pencuri dan penjahat dari kalangan orang-orang rendahan.
Ketiga, orang-orang yang menginginkan kekuasaan tanpa disertai kerusakan. Sebagaimana halnya orang yang memiliki agama namun ingin menguasai yang lain.
Keempat, para penduduk Al-Jannah. Yaitu orang-orang yang tidak menginginkan kekuasaan dan kerusakan di atas muka bumi. Padahal mereka lebih mulia kedudukannya dibanding yang lain. Allah l berfirman:
“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (Ali Imran: 139)
“Janganlah kamu lemah dan minta damai padahal kamulah yang di atas dan Allah-(pun) beserta kamu dan Dia sekali-kali tidak akan mengurangi (pahala) amal-amalmu.” (Muhammad: 35)
“Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui.” (Al-Munafiqun: 8)
Alangkah banyak orang yang mengharapkan kekuasaan padahal justru membuat dirinya semakin terhina. Betapa banyak orang yang diangkat kedudukannya padahal dirinya tidak berharap kekuasaan dan kerusakan. (As-Siyasah Asy-Syar’iyyah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t)
Ulama Islam dan Kedudukan
Kepada mereka yang mengaku sedang memperjuangkan Islam. Kepada mereka yang merasa sedang mengibarkan bendera Islam. Apakah mereka lebih baik dari Salaf, generasi pertama umat Islam? Apakah mereka tidak membaca biografi para ulama? Perhatikanlah sabda Rasulullah n kepada Abdurrahman bin Samurah z dalam riwayat Muslim t:
يَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ، لاَ تَسْأَلِ الْإِمَارَةَ فَإِنَّكَ إِنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ مَسْأَلَةٍ وُكِلْتَ إِلَيْهَا وَإِنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا
“Wahai Abdurrahman, janganlah engkau meminta kepemimpinan. Karena sesungguhnya bila engkau memperoleh kepemimpinan karena permintaanmu maka engkau akan dibiarkan. Dan jika engkau memperolehnya tanpa dasar permintaan engkau akan dibantu.” (Silakan merujuk majalah Asy Syariah Vol I/No. 06/Maret 2004/Muharram 1425 untuk keterangan lebih lengkap tentang hadits ini, dengan tema Hukum Meminta Jabatan)
Al-Imam Adz-Dzahabi t di dalam Siyar A’lam An-Nubala’ menyebutkan banyak kisah menakjubkan dari sisi-sisi kehidupan para ulama. Mereka adalah manusia-manusia pilihan yang berusaha menjauhkan diri dari kedudukan dan kekuasaan. Berikut ini beberapa contoh yang dapat diambil ibrahnya.
– Manshur bin Al-Mu’tamir As-Sulami t menolak untuk diangkat sebagai seorang qadhi. Maka dikirimlah serombongan pasukan untuk memaksanya. Kepada Yusuf bin ‘Umar, komandan pasukan tersebut, dikatakan, ”Walaupun engkau koyak kulit tubuhnya, dia tidak akan mau untuk menerima tawaran tersebut.” Maka, Manshur pun ditinggalkan.
– Abu Qilabah Al-Jarmi t, salah seorang tabi’in, lari meninggalkan negerinya dari Bashrah hingga daerah Yamamah dan meninggal di sana. Beliau lari untuk menghindari tawaran menjadi seorang qadhi. Ayyub As-Sikhtiyani t pernah menemuinya dan bertanya tentang alasan beliau untuk lari menghindar. Maka Abu Qilabah menjawab, “Aku tidak melihat sebuah perumpamaan yang tepat untuk seorang qadhi kecuali seseorang yang tercebur di dalam lautan yang luas, hingga kapan dia akan mampu berenang? Pasti dia akan tenggelam.”
– Abdullah bin Wahb bin Muslim Al-Qurasyi t ketika menolak untuk diangkat menjadi seorang qadhi, beliau berkata kepada seseorang yang menanyakan sebab penolakannya, “Apakah engkau tidak mengerti bahwa para ulama akan dikumpulkan pada hari kiamat bersama para nabi? Sementara para qadhi akan dikumpulkan bersama para penguasa?”
– Al-Mughirah bin Abdillah Al-Yasykuri t menolak permintaan Khalifah Harun Ar-Rasyid untuk menjadi seorang qadhi. Beliau beralasan, Sungguh demi Allah, wahai Amirul Mukminin, aku lebih memilih dicekik oleh setan daripada harus memegang kedudukan qadha’. Ar-Rasyid lalu berkata, “Tidak ada lagi keinginan selain itu.” Kemudian Harun Ar-Rasyid pun mengabulkan permintaannya.
– Al-Imam Abdurrahman bin Mahdi t berkata, “Amirul Mukminin memaksa Sufyan Ats-Tsauri untuk memegang kedudukan al-qadha’ (yakni menjadi qadhi). Maka, Sufyan pun berpura-pura menjadi orang bodoh agar terbebas. Setelah Amirul Mukminin mengetahui hal tersebut, maka Sufyan pun dibebaskan lalu ia melarikan diri.”
Marilah kita membaca biografi para ulama yang lain, seperti Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Ath-Thabari, Abu ‘Amr Abdurrahman bin ‘Amr Al-Auza’i, Muhammad bin Wasi’ bin Jabir Al-Akhnas, Abu Sufyan Waki’ ibn Al-Jarrah Al-Kufi, Al-Imam Abu Hanifah An-Nu’man bin Tsabit, Abu Ya’la Mu’alla bin Manshur Ar-Razi, Abdullah bin Idris bin Yazid Al-Kufi, dan yang lain. Mereka berusaha menjauhi kursi kedudukan. Benar-benar mengagumkan.
Apabila demikian sikap para ulama Islam, maka apakah mereka yang berebut kursi dan mencari suara terbanyak dapat dikatakan sedang memperjuangkan Islam? Dusta dan sungguh dusta lisan mereka. Mungkin terbersit dalam benak, jika kita tidak menduduki kursi-kursi penting maka Islam akan diinjak-injak? Maka, jawabnya ada pada pendirian seorang Imam Ahlus Sunnah Ahmad bin Hanbal t. Disebutkan dalam Mihnatul Imam Ahmad (hal. 70-72) beliau berkata, ”Sungguh, sekali-kali tidak mungkin hal itu akan terjadi! Sesungguhnya Allah l pasti akan membela agama-Nya. Sesungguhnya ajaran Islam ini memilki Rabb yang akan menolongnya. Dan sesungguhnya dienul Islam ini sangat kuat dan kokoh.”
Wallahu a’lam.

Kisah Nabi Yusuf dan Meminta Jabatan

(ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc)

 

Penjelasan Asy-Syaikh Abdul Malik Ramadhani tentang Kisah Nabi Yusuf

Orang yang berdalil dengan kisah masuknya Nabi Yusuf dalam siyasah (pemerintahan) telah tenggelam dalam kesalahan. Yaitu ketika beliau mengatakan:

“Jadikanlah aku bendaharawan negara Mesir.” (Yusuf: 55)

Padahal beliau tidak memasuki tugas ini kecuali setelah mendapatkan persaksian dari Allah l. Tertulis pada persaksian tersebut:

“Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi sangat berpengetahuan.” (Yusuf: 55)1

Ahli balaghah (sastra Arab) dapat membedakan antara kata الْحَافِظُ (yang berarti menjaga) dengan kata الْحَفِيظُ (yang sangat pandai menjaga), juga antara kata الْعَالِمُ(yang berilmu) dengan kata الْعَلِيمُ (yang sangat berpengetahuan). Maka perhatikan hal ini, karena sesungguhnya ini termasuk rahasia-rahasia Al-Qur`an yang penuh hikmah.

Sebagaimana diherankan dari yang lain juga, yang membolehkan diri mereka menerima jabatan politik masa ini –bersamaan dengan apa yang ada di dalamnya berupa sistem parlemen kafir atau jahat– berdalil dengan perbuatan Nabi Yusuf, sembari melalaikan bahwa Nabi Yusuf tidak memintanya. Namun raja itulah yang menawarkannya kepada beliau. Beliau juga tidak menerimanya melainkan ketika raja tersebut menjamin keamanan dan kebebasan baginya. Sehingga tidak ada tekanan, atau ancaman, atau mengorbankan agama, atau tarik ulur, atau tawar menawar, atau adu argumentasi. Oleh karena itu, perhatikan urutannya dalam firman Allah l:

“Dan raja berkata: ‘Bawalah Yusuf kepadaku, agar aku memilih dia sebagai orang yang rapat kepadaku.” Maka tatkala raja telah bercakap-cakap dengan dia, dia berkata: ‘Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercaya pada sisi kami.’ Berkata Yusuf: ‘Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi sangat berpengetahuan’.” (Yusuf: 54-55)

Adapun mereka (para politikus, pen), mereka telah takjub dan berbaik sangka terhadap diri mereka sendiri. Sehingga setan menggambarkan suatu gambaran yang terbayang dalam benak mereka bahwa mereka akan kokoh dalam kebenaran. Sementara sebenarnya mereka leleh dalam keridhaan terhadap aturan manusia. Allah lah tempat memohon pertolongan.

Adapun Nabi Yusuf, beliau tidak mengorbankan agamanya dan tidak menyia-nyiakan kesungguhannya dalam siyasah (politik) yang syar’i. Tidak pula beliau melaksanakan undang-undang raja yang kafir, dengan dalih maslahat dakwah. Allah l berfirman:

“Tiadalah patut Yusuf menghukum saudaranya menurut undang-undang raja, kecuali Allah menghendaki-Nya. Kami tinggikan derajat orang yang Kami kehendaki; dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi Yang Maha Mengetahui.” (Yusuf: 76)

Bila kita mengalah (pada anggapan mereka yakni beliau minta jabatan, pen) maka kamipun akan mengatakan sebagaimana yang dinyatakan ulama ushul fiqih, ‘syariat umat sebelum kita bukanlah syariat bagi kita pada perkara yang menyelisihi syariat kita’. Padahal di sini syariat kita menyelisihinya, karena kita dilarang untuk minta jabatan. Seperti dalam hadits Abdurrahman bin Samurah, ia berkata: Rasulullah n bersabda kepadaku:

يَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ سَمُرَةَ، لَا تَسْأَلِ الْإِمَارَةَ فَإِنَّكَ إِنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ مَسْأَلَةٍ وُكِلْتَ إِلَيْهَا وَإِنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا

“Wahai Abdurrahman bin Samurah, janganlah engkau meminta kepemimpinan, karena jika engkau diberi karena permintaanmu niscaya akan dibebankan kepadamu (tidak akan ditolong). Namun jika engkau diberi tanpa memintanya niscaya engkau akan ditolong” (Muttafaqun ‘alaih)

Kami akan menjawab bahwa Nabi Yusuf telah disebutkan kesuciannya oleh Allah l dan tidak bekerja kecuali dengan bimbingan Allah. Yakni, semua manusia berlaku padanya kaidah “jika engkau diberi kepemimpinan karena permintaanmu, niscaya akan dibebankan kepadamu (tidak ditolong) ….” kecuali yang diberi predikat kesucian oleh wahyu yang tidak akan salah. Adapun mereka yang sok pandai pada masa ini, mereka tunduk pada kondisi undang-undang pada hari ini ataupun besok. Bahkan sebelum melaksanakan tugas poltiik tersebut, mereka harus bersumpah untuk menghormati undang-undang. Dan ini telah terjadi, bahkan kami tidak tahu bahwa selainnya juga telah terjadi. Maka sungguh ajaib orang yang menyingkirkan kekafiran dengan kekafiran.

Maka tersimpulkan dari ketergesaan ini lima jawaban:

1. Nabi Yusuf tidak meminta kepemimpinan, namun ditwarkan kepada beliau, sebagaimana ditunjukkan oleh susunan ayat. Maksimal yang ada dalam ucapan beliau

“Jadikan aku bendaharawan negeri (Mesir)” adalah keterangan tentang spesialisasinya dan pilihannya.

2. Beliau aman dari tekanan peraturan (negara) dan dipersilakan untuk mengamalkan syariat Islam. Dua hal ini hanyalah sebuah khayalan dalam realita aturan-aturan di muka bumi masa ini.

3. Bahwa beliau mendapat persaksian kesucian di mana beliau juga seorang Rasul. Sehingga tidak dikhawatirkan pada beliau apa yang dikhawatirkan pada orang lain.

Diriwayatkan oleh Muhammad bin Sirin t, bahwa Umar z menugaskan Abu Hurairah z sebagai gubernur di daerah Bahrain. Lalu Abu Hurairah z datang membawa uang 10.000. Maka Umar mengatakan kepadanya: “Apakah engkau peruntukkan harta ini untuk kepentingan pribadimu, wahai musuh Allah dan musuh kitab-Nya?!”

Maka Abu Hurairah menjawab: “Aku bukan musuh Allah ataupun musuh kitab-Nya, akan tetapi justru musuh yang memusuhi keduanya.”

Umar menukas: “Lalu darimana hartamu ini?”

“Itu adalah kuda yang berkembang biak, dan hasil kerjaan budakku, serta pemberian yang datang beberapa kali,” jawab Abu Hurairah.

Mereka pun memeriksanya. Ternyata mereka mendapatkannya seperti apa yang dikatakan Abu Hurairah. Setelah hal itu berlalu, Umar memanggil Abu Hurairah untuk ditugaskan kembali akan tetapi beliau menolak. Maka Umar berkata: “Apakah kamu tidak suka jabatan ini, padahal telah memintanya orang yang lebih baik darimu, Yusuf q?”

Abu Hurairah menjawab: Yusuf adalah seorang nabi, putra seorang nabi, dan cucu seorang nabi. Sedangkan saya, Abu Hurairah, putra seorang ibu yang kecil. Dan aku khawatir tiga tambah dua (perkara -pent).”

Umar berkata: “Tidakkah kamu katakan lima saja?”

Abu Hurairah menjawab: “Saya khawatir berkata tanpa ilmu, memutuskan tanpa kesabaran dan pikir panjang, takut punggungku dicambuk, hartaku diambil dan kehormatanku dicela.”2

4. Syariat umat sebelum kita bukanlah syariat bagi kita pada perkara yang menyelisihi syariat kita. Dalam hal ini, syariat kita telah menyelisihinya.

5. Nabi Yusuf melakukan apa yang beliau lakukan pada tugasnya tersebut dengan posisi beliau sebagai seorang rasul. Seandainya pun seseorang diperbolehkan mengikuti beliau dalam urusan itu, maka pewarisnya secara syar’i adalah seorang mujtahid. Ibnu Abdil Bar berkata: “Bila yang demikian itu (menyebut keahliannya dalam kondisi terpaksa -pent), maka boleh bagi seorang ulama saat itu untuk memuji dirinya dan mengingatkan tentang kedudukannya, maka saat itu berarti dia membicarakan nikmat Allah pada dirinya dalam rangka mensyukurinya.” (Jami’ Bayanil ‘Ilm wa Fadhlihi, 1/176).

Wallahu a’lam.

 

Penjelasan Asy-Syaikh As-Sa’di

Asy-Syaikh Al-Mufassir Abdurrahman As-Sa’di mengatakan: “Jawabannya ada pada firman Allah:

“Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi sangat berpengetahuan.”

Yakni, beliau memintanya demi mewujudkan maslahat ini yang tidak mungkin dilakukan orang lain. Yaitu, menjaga harta dengan sempurna, mengetahui segala sisi yang terkait dengan perbendaharaan tersebut, baik pengeluaran, pembelanjaan maupun penegakan keadilan yang sempurna. Maka ketika beliau melihat sang raja mendekatkan dirinya kepadanya (menjadikannya orang khusus) dan mengutamakannya atas raja itu sendiri, serta pada kedudukan yang tinggi, maka menjadi wajib baginya untuk memberikan pengarahan yang sempurna bagi raja maupun rakyat. Itu adalah suatu keharusan dalam tugasnya.

Oleh karenanya, ketika beliau melakukan tugas menjaga perbendaharaan Mesir, beliau sangat berusaha untuk menguatkan pertanian, sehingga tidak tersisa satu tempat pun dari tanah Mesir, dari ujung ke ujung yang lain, yang pantas untuk ditanami melainkan ia tanami selama tujuh tahun. Lalu beliau bentengi dan jaga dengan penjagaan yang sangat ajaib. Setelah itu, datanglah tahun-tahun paceklik. Manusia sangat membutuhkan pangan. Maka, beliaupun berusaha menimbang dengan penuh keadilan, sehingga beliau larang para pedagang untuk membeli makanan, khawatir mendesak orang-orang yang butuh. Maka terwujudlah dengan itu maslahat yang banyak dan manfaat yang tidak terhitung, sebagaimana telah diketahui.” (Bahjatul Qulub Al-Abrar)


1 Lihat kitab Bahjatu Qulubil Abrar karya Asy-Syaikh As-Sa’di t, hal. 150-151.

2 Riwayat Ibnu Sa’d dalam kitab Thabaqat Al-Kubra (4/335). Dalam sanadnya Abu Hilal Ar-Rasibi dan dia –walaupun haditsnya tidak sangat dibuang– tapi juga didukung dalam riwayat ini oleh Ayyub As-Sikhtiyani sebagaimana dalam kitab As-Siyar karya Adz-Dzahabi (2/612). Dengan itu, riwayat ini menjadi shahih.

Jangan Berebut Jabatan Bertameng Al-Qur’an

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Ubaidah Syafruddin)

Dan raja berkata: “Bawalah Yusuf kepadaku, agar aku memilih dia sebagai orang yang dekat denganku.” Maka tatkala raja telah bercakap-cakap dengannya, dia berkata: “Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercaya pada sisi kami.” Berkatalah Yusuf: “Jadikanlah aku bendahara negara (Mesir). Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan.” (Yusuf: 54-55)

“Pucuk di cinta ulam tiba”, begitulah sebuah ungkapan yang terucap dari seorang yang merasa senang dan bahagia, atas tercapainya suatu dambaan yang selama ini dicari dan dicitakan, bahkan melebihi dari apa yang diduga dan dikira.

Adalah kesempatan emas, yang disenangi oleh banyak manusia, khususnya bagi para pengembara kursi (jabatan), tahta, dan dunia, tatkala dihadapkan pada sebuah tawaran, untuk duduk di atas kursi (jabatan).

Bisa jadi seseorang akan menanggapi dan berkata: “Ini namanya kejatuhan rezeki, susah dicari, dan untuk mendapatkannya sulit sekali. Belum tentu seumur hidup bisa ketemu sekali. Mengapa ditolak?” Atau mungkin…

“Betul, di dalamnya banyak penyimpangan dan pelanggaran. Akan tetapi, kalau bukan kita yang mengubah, lantas siapa lagi?”

“Kalau kursi jabatan diduduki oleh orang luar, siapa yang akan melakukan perubahan, menegakkan amar ma’ruf nahi munkar, mewujudkan syariat Islam dan sistem kenegaraan yang bernuansa Islam?”

“Segala sesuatu itu apabila sudah dikuasai dan dipegang kepalanya, yang lain akan mudah dikendalikan dan dikuasai.”

 

Penjelasan dan Makna Ayat

“Dan raja berkata.”

Al-Imam Ath-Thabari, Abu Ja’far Muhammad ibn Jarir t (224-318 H), dalam tafsirnya Jami’ul Bayan fi Ta’wilil Qur’an (16/147) menerangkan bahwa raja yang dimaksud dalam ayat ini adalah raja yang terbesar (terkemuka). Ia bernama Ar-Rayyan bin Al-Walid, sebagaimana tersebut dalam sebuah riwayat dari jalan Ali bin Hussain, dari Muhammad bin Isa, dari Salamah, dari Muhammad bin Ishaq. (lihat pula Tafsir Ibnu Katsir 4/275, Ibnu Abi Hatim 8/383)

“Aku memilih dia sebagai orang yang rapat denganku.”

Maknanya adalah: “Aku jadikan dia sebagai orang khusus dan penasihat khusus bagi diriku.” (Lihat Tafsir Ath-Thabari, Ibnu Katsir, dan Al-Baghawi).

Ibnu Abi Hatim, Abu Muhammad Abdurrahman bin Abi Hatim Ar-Razi t (wafat pada th. 327 H), menyebutkan dalam kitab tafsirnya (8/386), riwayat dari Ibnu Abbas c. Raja mengatakan kepada nabi Yusuf q, “Sesungguhnya aku menyukai agar kamu menemaniku dalam setiap keadaan, kecuali dalam urusan keluargaku. Karena aku tidak suka makan bersamamu.”

Mendengar hal itu, Nabi Yusuf q marah sambil berkata: “Aku lebih berhak untuk menjauhkan diri, karena orangtuaku adalah Ibrahim Khalilullah, orangtuaku Ishaq dzabihullah.” Pada riwayat lain dengan lafadz: “Yusuf bin Ya’qub, Nabiyullah bin Ishaq dzabihullah bin Ibrahim Khalilullah.”

“Maka tatkala telah bercakap-cakap dengannya.”

Al-Imam Al-Baghawi, Abu Muhammad Al-Husain bin Mas’ud t wafat th. 516 H, dalam tafsirnya Ma’alimut Tanzil (4/250-251) menyebutkan riwayat dari Wahb (bin Munabbih, pen.). Ketika Nabi Yusuf q mendatangi sang raja dan mengucapkan salam kepadanya dengan bahasa Arab. Raja bertanya, “Bahasa apakah ini?” Nabi Yusuf q menjawab, “Ini bahasa pamanku, Nabi Ismail.” Kemudian Nabi Yusuf q mendoakannya dengan bahasa Ibrani. Raja bertanya, “Bahasa apakah ini?” Dijawab, “Ini bahasa ayah-ayahku dan raja tidak tahu dengan dua bahasa tersebut.”

Wahb juga bercerita bahwa sang raja (Ar-Rayyan bin Al-Walid) ini menguasai 70 bahasa. Setiap kali berbicara dengan suatu bahasa, Nabi Yusuf menjawabnya dengan bahasa yang sesuai, bahkan menambah dengan dua bahasa, yaitu Arab dan Ibrani. Melihat hal ini, sang raja heran dan terkesan, dalam keadaan Nabi Yusuf masih muda. Usia beliau pada waktu itu baru mencapai 30 tahun. Maka raja mendudukkannya, dan berkata, sebagaimana yang Allah l firmankan:

“Dia berkata: ‘Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercaya pada sisi kami’.”

Sebagian meriwayatkan, bahwa raja ingin mendengarkan secara langsung tentang ta’bir mimpi yang pernah diceritakan sebelumnya (lihat apa yang tersebut dalam surat Yusuf dari ayat 43 sampai 49, pen.).

Setelah mendengar seluruh penuturan Nabi Yusuf q, Sang Raja bertanya, “Siapa yang akan mendampingiku dalam hal ini, serta mampu menyelesaikan, mengerjakan, dan mengatur semua urusan ini?”

Nabi Yusuf q menjawab, sebagaimana firman Allah l:

Berkatalah Yusuf: “Jadikanlah aku bendahara negara (Mesir). Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan.”

Raja berkata: “Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercaya pada sisi kami.”

Ibnul Jauzi t (588-587 H), menyebutkan dalam tafsirnya riwayat Ibnu Abbas c, makna ﭱ ﭲ     adalah “Aku telah mengokohkan, menguatkan, dan memercayakan urusan kekuasaan (kerajaan/negara) kepadamu.”

Al-Muqatil t berkata, makna الْـمَكِينُ yaitu orang yang punya kedudukan (terkemuka). Sedangkan الْأَمِينُ yaitu yang menjaga, memelihara, dan melindungi. (Lihat Zadul Masir 3/439)

Al-Baghawi t menyebutkan dalam tafsirnya, الْـمَكِينُ yaitu berpangkat, berkedudukan. Sedangkan الْأَمِينُ adalah yang dipercaya.

Al-Alusi t dalam kitabnya Ruhul Ma’ani juga menyebutkan, Al-Makin yaitu berpangkat dan berkedudukan yang tinggi. Al-Amin yaitu dipercaya atas segala sesuatu.

Berkatalah Yusuf: “Jadikanlah aku bendahara negara (Mesir).”

Abu Ja’far Ath-Thabari t berkata dalam tafsirnya, kata خَزَائِنُ adalah bentuk jamak dari  خَزَانَةٌ artinya tempat menyimpan, yaitu tempat peyimpanan makanan dan harta. Sedangkan الْأَرْضُ alif-lam di sini berfungsi sebagai pengganti idhafah, maknanya خَزَائِنُ  أَرْضِكَ yaitu bendahara negaramu (Mesir).

Al-Imam Al-Qurthubi t juga menyebutkan sebuah riwayat dari jalan Sa’id bin Manshur t ia berkata, “Saya mendengar dari Malik bin Anas z berkata: ‘Negeri Mesir adalah ﭷ ﭸﭹ . Tidakkah kalian mendengar firman Allah l:

yaitu untuk menjaganya (menjadi bendahara negara), dengan menghilangkan mudhaf.

“Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan.”

Al-Imam Ath-Thabari t setelah menyebutkan ayat ini, mengatakan bahwa para ulama berselisih dalam menafsirkannya hingga menjadi tiga pendapat:

Pertama, mereka berpendapat, maknanya adalah: “Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga segala yang telah dititipkan kepadaku. Berpengetahuan terhadap apa yang telah diserahkan/dilimpahkan kepadaku.”

Pendapat ini dinisbahkan kepada sebuah riwayat dari Ibnu Humaid, dari Salamah, dari Ibnu Ishaq.

Kedua, pendapat yang mengatakan, maknanya: “Aku adalah orang yang pandai menjaga segala yang telah dilimpahkan kepadaku. Berpengetahuan terhadap perkara (urusannya).”

Pendapat ini dinisbahkan kepada sebuah riwayat dari jalan Bisyr, dari Yazid, dari Sa’id, dari Qatadah.

Ketiga, ada pula yang mengatakan, maknanya: “Aku adalah seorang yang pandai menjaga untuk hisab/perhitungan (perihal pengeluaran dan pemasukan harta milik negara, pen.), mengetahui beberapa bahasa.”

Pendapat ini disandarkan kepada sebuah riwayat, dari jalan Ibnu Waqi’, dari ‘Amr, dari Al-Asyja’i.

Setelah memaparkan tiga pendapat di atas, beliau berkata: “Menurut kami pendapat yang kuat adalah pendapat yang pertama. Karena ucapan ini terjadi setelah Nabi Yusuf q mengatakan kepada raja: ”Jadikanlah aku bendahara negara (Mesir).” Bentuk permohonan Nabi Yusuf kepada raja, bahwa ia mampu mengurusi (sebagai bendahara) negara Mesir, menunjukkan, bahkan sekaligus sebagai pemberitaan bahwa beliau memiliki kemampuan dalam hal ini. Makna ini lebih sesuai untuk memaknai kalimat ﭻ ﭼ       ketimbang dimaknakan dengan makna sebagaimana yang tersebut pada pendapat ketiga (tersebut di atas).”

Abul Fida Isma’il bin Umar, terkenal dengan sebutan Ibnu Katsir t (700-774 H), berkata setelah menyebutkan dua ayat di atas: “Dalam ayat ini, Allah l mengabarkan tentang Raja Mesir (Ar-Rayyan bin Al-Walid), setelah memastikan terbebasnya Nabi Yusuf q, bersih dan sucinya kehormatan beliau dari apa yang dituduhkan kepadanya. Raja mengatakan sebagaimana firman Allah l:

“Bawalah Yusuf kepadaku, agar aku memilih dia sebagai orang yang rapat denganku”, yakni jadikanlah dia sebagai orang khusus dan penasihat khusus bagiku.

“Maka tatkala telah bercakap-cakap dengan dia” yakni raja telah bercakap-cakap dengannya, mengetahui serta melihat keutamaan, kepandaian, kemahiran, dan kecakapan serta keutamaan dan kesempurnaan pada rupa dan perangainya, berkatalah raja kepadanya, sebagaimana firman Allah l:

“Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercaya pada sisi kami” yakni, sesungguhnya kamu di sisi kami telah menjadi seseorang yang berkedudukan dan dipercaya. Yusuf q berkata, sebagaimana firman Allah l:

”Jadikanlah aku bendahara negara (Mesir). Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan.”

Nabi Yusuf q memuji dirinya. Hal ini diperbolehkan bagi seorang yang belum diketahui tentang keadaan dirinya, pada saat yang dibutuhkan. Allah l menyebutkan bahwa ia adalah orang yang  ﭻ (pandai menjaga), penjaga/bendahara yang dipercaya,  ﭼ (berpengetahuan), yakni memiliki pengetahuan, ketelitian, dan kejelian terhadap segala perkara yang diurusinya. (lihat Tafsir Ibnu Katsir, 4/275)

Perlu diketahui sekali lagi, bahwa Nabi Yusuf q mengucapkan ucapan yang mengandung pujian terhadap dirinya tersebut adalah ketika beliau telah mendapatkan kedudukan dan kepercayaan di sisi raja. Bukan serta merta beliau memuji dirinya untuk meraih kedudukan. Tentu hal ini berbeda dengan keadaan para kontestan pemilu atau para politikus yang berkampanye memuji diri dalam rangka meraih kedudukan dan ambisi politiknya.

 

Faedah

Al-Imam Al-Qurthubi t menyebutkan dalam tafsirnya: “Sebagian ulama berkata, pada ayat ini terdapat dalil tentang diperbolehkannya bagi orang yang baik (shalih), bekerja untuk orang yang buruk (fajir) atau penguasa yang kafir. Dengan syarat, orang tersebut tahu, bahwa segala pekerjaan/tugas diserahkan kepadanya (diberi kekuasaan penuh untuk mengaturnya), dan bukan diatur oleh (orang-orang yang fajir atau penguasa yang kafir tersebut, pen.). Sehingga, ia akan mengatur sesuai dengan apa yang dia kehendaki (untuk hal yang baik dan bermanfaat). Adapun kalau pekerjaan tersebut harus berdasarkan pada kemauan dan kehendak orang yang fajir atau (penguasa yang kafir), menuruti hawa nafsu dan kekufurannya (di bawah aturan mereka), hal yang demikian ini tidak diperbolehkan.

Sebagian mereka berpendapat, perihal ini (bekerja untuk orang buruk/ penguasa yang kafir) khusus hanya untuk Nabi Yusuf q saja. Adapun sekarang tidak diperbolehkan. Pendapat yang pertama lebih kuat (boleh dan bukan kekhususan), dengan syarat yang telah disebutkan tadi.

Al-Mawardi t berkata: “Apabila yang berkuasa adalah orang yang zalim, para ulama berbeda pendapat tentang boleh dan tidaknya, seorang untuk bekerja dengannya.

Pendapat pertama, membolehkan. Apabila seorang bekerja dengan baik dan benar (memenuhi hak), pada perkara yang telah diserahkan penuh kepadanya (untuk mengaturnya). Karena dalam ayat ini, Nabi Yusuf q bekerja (menerima pekerjaan) dari raja (Fir’aun)1. Pertimbangan ini berdasarkan pekerjaan (kemampuan) beliau dan bukan pada orang lain.

Pendapat kedua, tidak membolehkan. Hal ini berdasarkan adanya bentuk/unsur menolong atas kezaliman yang mereka lakukan. Memuji mereka, dengan meniru (melakukan) perbuatannya.

Para ulama yang berpendapat membolehkan bekerja dengan orang yang zalim, menjawab perihal yang terjadi pada Nabi Yusuf ketika menerima pekerjaan dari Fir’aun, dengan dua jawaban:

Pertama, Fir’aun (raja)-nya Nabi Yusuf waktu itu seorang yang shalih (muslim). Adapun Fir’aun yang membangkang (kafir), adalah Fir’aun (raja)-nya Nabi Musa q.

Kedua, hal ini melihat pada kekuasaan dan bukan pada pekerjaannya.”

Al-Mawardi berkata: “Yang benar dalam hal ini adalah merinci masalah menjadi tiga kesimpulan:

1. Boleh bagi orang yang memiliki kemampuan dan keahlian untuk melakukannya. Dengan catatan, tidak ada unsur berijtihad (berpendapat) dalam melaksanakan tugasnya seperti menyalurkan shadaqah dan zakat.

Boleh seseorang menerima pekerjaan dan tugas dari orang yang zalim. Karena, adanya nash/dalil yang menerangkan kepada siapa shadaqah dan zakat itu disalurkan telah mencukupi, sehingga tidak memerlukan lagi adanya ijtihad. (Maka kebebasan bertindak dalam hal ini, telah menjadi cukup baginya [terbebaskan] dari mengikuti perintah [peraturan orang zalim tersebut, pen.]).

2. Keadaan di mana seseorang tidak diperbolehkan untuk bertindak sendiri, adanya keharusan untuk berijtihad (berpendapat, berinisiatif) dalam mengatur urusan, seperti menangani harta rampasan.

Keadaan seperti ini tidak boleh bagi seseorang untuk menerima penugasan dari orang yang zalim. Hal ini dikarenakan ia telah melakukan tindakan yang tidak benar dan berijtihad (berpendapat, mengatur) pada perkara yang tidak berhak untuk melakukannya.

3. Keadaan yang boleh melimpahkan tugas kepada orang yang ahli dan boleh baginya berijtihad, seperti menangani hukum dan pidana. Apabila terjadi kesepakatan dari kedua belah pihak dan tidak ada yang dipaksa, (maka boleh baginya bekerja untuk orang yang zalim, pen.). Namun apabila terjadi pemaksaan, tidak diperbolehkan.

Asy-Syaikh As-Sa’di t dalam Taisir Al-Lathiful Mannan, berkata setelah menyebutkan ayat di atas: “Pada ayat ini terdapat keutamaan ilmu, ilmu syar’i dan hukum, ilmu ta’bir mimpi, ilmu mengatur dan mengurusi negara, serta ilmu kepemerintahannya. Yang menjadi salah satu sebab Nabi Yusuf q memperoleh kedudukan yang tinggi di dunia dan di akhirat kelak, yaitu adanya ilmu yang beragam dan banyak (mengetahui berbagai macam ilmu). Hal ini juga menunjukkan bahwa ilmu ta’bir mimpi termasuk bagian dari fatwa. Maka tidak boleh bagi siapapun untuk mena’birkan suatu mimpi dan memastikannya, sebelum mengetahui secara pasti. Sebagaimana halnya (dalam hukum/perkara), tidak boleh bagi siapapun berfatwa dalam hal apapun tanpa ilmu. Karena dalam surat Yusuf ini, Allah l menamai kemampuan mena’birkan mimpi, dengan nama ilmu, sebagaimana firman Allah l:

“Dan demikianlah Rabbmu, memilih kamu (untuk menjadi nabi) dan diajarkan-Nya kepadamu sebagian dari ta’bir mimpi-mimpi.” (Yusuf: 6)

Ayat ini juga menerangkan, tidak mengapa seseorang memberitakan tentang dirinya, berupa sifat-sifat yang baik dan sempurna, berilmu pengetahuan dan yang lainnya. Hal ini boleh dilakukan selama membawa maslahat, selamat dari berdusta, dan tidak bermaksud untuk memperlihatkan diri (riya’). Seperti yang tersebut dalam ayat: Berkatalah Yusuf: “Jadikanlah aku bendahara negara (Mesir). Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan.” (Yusuf: 55)

 

Catatan: Beberapa rujukan yang tersebut di atas, keumumannya dinukil dari Al-Maktabah Asy-Syamilah. Mengingat keterbatasan rujukan yang ada pada kami.

Wallahu a’lam bish-shawab, wal ‘ilmu ‘indallah.

Demokrasi adalah Liberalisasi

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin)

 

Telah masyhur bahwa pemahaman demokrasi berasal dari masyarakat Yunani Kuno. Athena, sebagai pusat pemerintahan masyarakat Yunani Kuno, telah membumikan pemahaman demokrasi pada masyarakatnya. Masyarakat telah dilibatkan langsung dalam menentukan pemerintahnya melalui penggunaan hak dipilih dan memilih. Meskipun hak politik ini masih tidak diberlakukan kepada kaum wanita, budak, atau yang berstatus warga asing. Athena menjadi benih masyarakat yang liberal (yang memiliki kebebasan) bagi rakyatnya untuk menentukan sendiri pemerintahannya. Inilah yang diistilahkan dewasa ini dengan masyarakat yang demokratis. Masyarakat yang warganya memiliki kebebasan untuk menentukan masa depan kehidupan bangsanya.

Dalam perkembangannya, pemahaman demokrasi diusung oleh beberapa tokoh pemikir dan filosof. John Locke dalam bukunya Two Treatises of Government (1690) menyatakan bahwa pemerintah bertugas menjamin hak-hak dasar rakyat, yaitu hak untuk hidup, hak memiliki, hak berbicara, beragama dan hak kebebasan membuat opini. Jika pemerintah tak mampu menjaga hak-hak tersebut, rakyat memiliki hak melakukan revolusi. Di Perancis, sejak tahun 1700-an, tiga filosof terkenal, yaitu Montesquieu, Rousseau, dan Voltaire juga melontarkan ide-ide kebebasan. Dalam buku The Spirit of the Laws (1748), Montesquieu membagi kekuasaan negara menjadi tiga, atau yang dikenal dengan Trias Politika. Yaitu kekuasaan eksekutif, yudikatif, dan legislatif. Adapun Rousseau dalam buku The Social Contract (1762) mengungkapkan bahwa pemerintahan merupakan cermin dari kepercayaan rakyatnya. Sedangkan Voltaire memberikan kecaman terhadap pemerintah yang mengekang kebebasan rakyatnya. Dari ide-ide dan pemikiran-pemikiran tiga filosof tersebut, rakyat Perancis melakukan gerakan revolusi. Tahun 1789, Revolusi Perancis meletus dengan mengusung jargon: liberty (kebebasan), fraternity (persaudaraan), dan equality (persamaan). Tiga prinsip ini dijadikan kalangan Yahudi sebagai prinsip Freemasonry, organisasi bawah tanah Yahudi yang mengendalikan lobi Yahudi di Amerika Serikat. (A New Encyclopedia of Freemasonry, New York, Wing Books, 1996 – Syamsuddin Ramadhan, www.syariahpublications.com)

Setelah usai Perang Dunia I, ide demokrasi laris dianut berbagai negara termasuk Indonesia. Tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan yang telah mengenyam pendidikan barat, melansir ide-ide demokrasi tersebut. Ide-ide tersebut dibungkus dengan bahasa nasionalisme.

Pemahaman demokrasi mulai menggeliat hebat setelah Perang Dunia II. Negara-negara jajahan banyak yang mendapatkan kemerdekaan, maka model bentuk negara banyak yang merujuk ke pemikiran para filosof yang mengusung ide-ide demokrasi. Kemudian pemahaman demokrasi ini tak terbatas pada ranah (bidang) politik, tapi merambah ke berbagai bidang lainnya. Demokrasi, yang salah satu prinsipnya adalah liberty (kebebasan), lantas merambah pada bidang ekonomi, sosial, budaya, dan kewanitaan. Maka, berkembanglah tuntutan Kejujuran adalah amanah dan kedustaan adalah pengkhianatan. Orang yang lemah (terzalimi) dari kalian di sisiku (yakni di mata pemerintah) adalah orang yang kuat sampai aku berikan haknya, insya Allah. Orang yang kuat (tapi zalim) di sisiku adalah orang yang lemah sehingga aku mengambil darinya hak orang yang terzalimi, insya Allah. Tiada suatu kaum yang meninggalkan jihad fi sabilillah melainkan Allah k akan menimpakan kehinaan kepada mereka. Tidaklah kekejian menyebar pada suatu kaum kecuali Allah  k akan meratakan azab atas mereka. Taatilah aku selagi aku (kebijakanku) menaati Allah  k dan Rasul-Nya. Namun bila aku menyelisihi Allah k dan Rasul-Nya maka kalian tidak wajib taat kepadaku (dalam kemaksiatan itu).” (Al-Khulafa’ Ar-Rasyidun wad Daulah Al-Umawiyyah, hal. 13)

Demikianlah prinsip keadilan yang dijunjung tinggi oleh Abu Bakr z. Tentunya hal itu bukan sekadar retorika namun benar-benar diwujudkan dengan usaha nyata.

Demikian di antara hak-hak yang harus dijalankan. Semoga Allah l menunjuki masing-masing kita untuk mampu menjalankan hak-hak tersebut. Sehingga perasaan aman dan nyaman serta ruh kecintaan benar-benar menebar dalam kehidupan ini.

Wallahu a’lam.

Partai Islam, Partai Dakwah?

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin)

 

Asy-Syaikh Abdussalam bin Barjas t dalam Al-Hujajul Qawiyyah ‘ala anna Wasa’il Ad-Da’wah Tauqifiyyah menuturkan bahwa dakwah (mengajak manusia) ke jalan Allah l adalah ibadah yang agung. Allah l telah memerintahkan hal ini. Mendorong setiap muslim untuk terjun dalam kancah dakwah. Allah l menjadikan para pegiat dakwah sebagai sebaik-baik manusia dalam perkataannya. Mengangkat amalan mereka pada derajat utama. Allah l berfirman:

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang shalih dan berkata: ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri’?” (Fushshilat: 33)

Ini mengandung pengertian, bahwa tak ada seorang pun yang paling baik perkataannya daripada orang yang menyeru (berdakwah) ke jalan Allah l, beramal dengan apa yang didakwahkannya. Dia menjelaskan secara gamblang tentang dakwah yang diembannya tanpa malu, jenuh, berat, dan malas. Bahkan dia katakan: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.”

Seseorang tidak akan merasa tertipu dengan menduduki status sebagai da’i (orang yang menyeru manusia ke jalan Allah l). Sebab, dirinya termasuk orang yang mewarisi tugas para nabi, yaitu mengajak manusia ke jalan Allah l. Sebagaimana firman Allah l yang diwahyukan kepada Penutup dan Imam para nabi:

“Katakanlah: ‘Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik’.” (Yusuf: 108)

Ayat ini menjadi dalil, sesungguhnya para pengikut Rasulullah n adalah du’at (para penyeru) ke jalan Allah l. Ibnu Katsir t menyatakan bahwa Alah l berfirman kepada Rasul-Nya n: Dia memerintahkannya agar mengabarkan kepada segenap manusia bahwa jalan ini, yaitu thariqah dan sunnahnya, adalah mendakwahkan kepada kesaksian “Tiada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah saja tiada sekutu bagi-Nya,” menyeru ke jalan Allah l dengan materi dakwah tersebut berdasar bashirah (hujjah), keyakinan, dan burhan (penjelasan). Dia dan segenap orang yang mengikutinya mendakwahkan kepada apa yang telah didakwahkan Rasulullah n atas dasar bashirah, yakin, burhan, akal, dan syariat. (Tafsir Ibnu Katsir, 2/496)

Allah l telah memberi jawaban bahwa selalu akan ada pada umat ini sekelompok manusia yang menyeru ke jalan Allah l. Kelompok tersebut membimbing manusia kepada kebaikan, memerintahkan mereka dengan kebaikan tersebut, memperingatkan segenap manusia dari keburukan dan mencegah mereka untuk melakukan keburukan tersebut. Allah l berfirman:

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (Ali ‘Imran: 104)

Allah l berfirman pula:

“Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik serta bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (An-Nahl: 125)

Bersandar pada ayat di atas, para ulama rahimahumullah menjelaskan bahwa berdakwah, mengajak manusia ke jalan Allah l dihukumi fardhu kifayah. Wajib atas sekelompok dari kalangan kaum muslimin untuk menegakkannya di setiap zaman dan tempat. Jika tidak ada yang menegakkannya sama sekali, maka mereka semua berdosa. (Majmu’ Al-Fatawa, 15/165)

Allah l sungguh telah menyediakan pahala yang besar dan balasan nan melimpah bagi siapa yang menegakkan perkara dakwah ini. Dalam Ash-Shahihain, dari hadits Sahl bin Sa’d z, sungguh Nabi n berbicara kepada Ali bin Abi Thalib z:

وَاللهِ لَأَنْ يَهْدِيَ اللهُ بِكَ رَجُلًا وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ حُمْرِ النَّعَمِ

“Demi Allah, sungguh jika Allah memberi petunjuk kepada seseorang lantaran engkau, itu lebih baik bagimu daripada (engkau mendapat) unta merah.”

Unta merah adalah sebaik-baik harta di kalangan orang Arab waktu itu.

Dalam Shahih Muslim (no. 2674) dari Abu Hurairah z bahwa Rasulullah n bersabda:

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ مِن أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا

“Barangsiapa menyeru (mengajak) kepada petunjuk, baginya pahala sebagaimana pahala orang yang mengikutinya, tidak berkurang pahala mereka sedikitpun. Dan barangsiapa yang menyeru (mengajak) kepada kesesatan, atasnya dosa semisal dosa orang yang mengikutinya tanpa mengurangi demikian itu dari dosa mereka sedikitpun.”

Juga disebutkan dalam Shahih Muslim, hadits dari Abu Mas’ud Al-Anshari z, Rasulullah n bersabda:

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

“Barangsiapa yang menunjukkan kebaikan, maka dia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang melakukan kebaikan tersebut.”

Demikianlah Asy-Syaikh Abdussalam bin Barjas t mengungkapkan keutamaan dakwah, mengajak manusia untuk senantiasa berada di atas jalan Allah l. Berada dalam ketaatan kepada-Nya, meninggalkan segala perkara yang dilarang-Nya. Dakwah adalah ibadah. Karenanya, dakwah dengan sarana-sarana yang mengantarkan kepada tujuannya adalah bersifat tauqifiyah (sebuah ketetapan yang diatur syariat). Bukan perkara yang semua orang bebas melontarkan pemikiran dan pendapatnya hanya lantaran dia melihat sesuatu yang dia anggap sebagai maslahat padanya. Islam tak semata mengarah kepada tujuan, namun Islam mengatur pula bagaimana (atau dengan cara apa) sebuah tujuan itu harus dicapai. Untuk menggapai tujuan, Islam melarang menghalalkan segala cara.

Menurut Asy-Syaikh Abdussalam bin Barjas t, tujuan menghalalkan segala cara (الْغَايَةُ تُبَرِّرُ الْوَسِيلَةَ) merupakan kaidah pemahaman Yahudi. Allah l berfirman:

“Segolongan (lain) dari Ahli Kitab berkata (kepada sesamanya): ‘Perlihatkanlah (seolah-olah) kamu beriman kepada apa yang diturunkan kepada orang-orang beriman (sahabat-sahabat Rasul) pada permulaan siang dan ingkarilah ia pada akhirnya, supaya mereka (orang-orang mukmin) kembali (kepada kekafiran)’.” (Ali ‘Imran: 72)

Contoh kasus penerapan kaidah Yahudi ini yaitu diperbolehkan seseorang memasuki gelanggang (menjadi anggota) “parlemen kafir” dengan tujuan berdakwah (mengajak manusia ke jalan Allah l, memperbaiki masyarakat dan negara). Sama halnya dengan menjadikan tarian dan nyanyian sebagai wasilah (perantara atau alat) dakwah di jalan Allah l. Ini merupakan bentuk-bentuk aplikasi dari kaidah “tujuan menghalalkan segala cara.” (Lihat Al-Hujajul Qawiyyah, hal. 44-45)

Hal yang sama dinyatakan pula oleh Asy-Syaikh Muhammad bin Abdillah Al-Imam hafizhahullah, bahwa pemilu adalah wasilah (sarana) yang diharamkan. Wasilah ini, katanya lebih lanjut, adalah wasilah yang haram bila didalami dan dikaitkan dengan satu kaidah yang disebut:

الْغَايَةُ تُبَرِّرُ الْوَسِيْلَةَ

“Tujuan menghalalkan semua cara.”

Kaidah tersebut merupakan kaidah Zionis Yahudi. Allah l berfirman:

“Segolongan (lain) dari Ahli Kitab berkata (kepada sesamanya): ‘Perlihatkanlah (seolah-olah) kamu beriman kepada apa yang diturunkan kepada orang-orang beriman (sahabat-sahabat Rasul) pada permulaan siang dan ingkarilah ia pada akhirnya, supaya mereka (orang-orang mukmin) kembali (kepada kekafiran)’.” (Ali ‘Imran: 72)

Kata beliau hafizhahullah, Rasulullah n telah mengharamkan membangun kuburan (mendirikan bangunan di atas kuburan), karena hal itu bisa mengantarkan kepada perbuatan syirik. Begitu pula halnya, Allah l mengharamkan mendekati kemaksiatan karena hal itu bisa mengantarkan seseorang terjatuh padanya. Juga, Allah l mengharamkan mencela sesembahan orang-orang musyrik karena perbuatan itu bakal memancing mereka melakukan celaan terhadap Allah l. Firman-Nya:

“Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan.” (Al-An’am: 108) [Lihat Tanwir Azh-Zhulumat, hal. 65-66)

Maka, sungguh hal yang aneh dan ganjil bila ada fatwa yang mengharamkan golput (tidak mengikuti pemilu). “Wajib bagi bangsa Indonesia untuk memilih pemimpin. Kalau yang dipilih ada, namun tidak dipilih menjadi haram,” ujar Wakil Ketua Komisi Fatwa MUI Pusat saat menjelaskan hasil Ijtima’ Ulama Fatwa III MUI di Padangpanjang, Sumbar. Bagaimana mungkin memunculkan pemimpin dilakukan dengan cara-cara yang haram? Bukankah berpartai dan pemilu merupakan rangkaian dari sebuah sistem demokrasi1? Bukankah berpartai dan pemilu merupakan wasilah yang diharamkan? Ini sama dengan orang bersuci tapi menggunakan air najis.

Demikian pula dengan pemikiran yang mengusung pemahaman bahwa partai merupakan sarana atau “kendaraan” menyampaikan dakwah. Dari pemahaman ini mencuatlah istilah “Partai Dakwah.” Maknanya, partai politik yang mengemban amanat dakwah dan menyalurkan aspirasi politik kaum muslimin.

Fakta di lapangan, masyarakat yang bersifat heterogen tentu tidak akan mau menerima kehadiran kader partai yang menyampaikan dakwah, menyitir ayat Al-Qur’an dan hadits, yang menggiring masyarakat untuk mendukung partainya. Fakta di lapangan, banyak masjid menolak kehadiran mubaligh yang berceramah mengarahkan pendengarnya untuk memilih partai tertentu. Fenomena ini menunjukkan bahwa masyarakat menghendaki dakwah yang murni. Dakwah yang mengajarkan pemahaman agama yang lurus dam benar. Bukan dakwah yang diwarnai oleh kepentingan-kepentingan partai, meskipun partai tersebut mengusung diri sebagai “partai dakwah” yang memimpikan keadilan dan kesejahteraan.

Pemikiran yang menjadikan partai sebagai alat dakwah, perjuangan menegakkan syariat Islam, tak cuma di Indonesia. Di Mesir, melalui gerakan Ikhwanul Muslimin, tujuan meperjuangkan Islam melalui jalur politik hingga kini tiada membuahkan hasil. Di Pakistan dengan Jamaat Islami, juga tak bisa meraih suara seperti yang diharapkan. Di Sudan, di bawah pimpinan Hasan At-Turabi, berhasil memenangkan pemilu. Akan tetapi, dakwah melalui jalur politik justru malah membuahkan wakil presiden dari kalangan Nasrani. Tak hanya itu, Hasan At-Turabi pun melegalkan pemurtadan (lihat Asy Syariah no. 16/II/1426H/2005).

Di Yaman, Abdulmajid Az-Zindani menjadi salah satu mesin penggerak demokrasi. Melalui media yang ada, dia menyerukan kaum muslimah untuk terjun dalam dunia politik. Meski untuk hal itu terjadi banyak pelanggaran syariat. (Lihat Tuhfatul Mujib ‘ala As’ilatil Hadhiri wal Gharib, Bab Az-Zindani wa Majlis Asy-Syaikhat bil Yaman, hal. 417, karya Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi t)

Di Aljazair malah lebih menyedihkan. Pemilu yang telah dimenangkan partai Islam berakhir dengan tragedi berdarah. Kaum muslimin dihantui ketakutan. Dakwah pun selalu dicurigai bahkan dihalangi pihak penguasa.

Demikianlah bila kaum muslimin menjadikan sistem demokrasi sebagai panglima. Alih-alih bakal memberi kebaikan, ternyata memberi mudarat yang luar biasa kepada kaum muslimin. Banyak yang mengira sistem demokrasi bisa memberikan kebaikan bagi kaum muslimin. Senyatanya, justru meruntuhkan nilai-nilai Islam. Allah l berfirman:

“Maka apakah orang yang dijadikan (setan) menganggap baik pekerjaannya yang buruk lalu dia meyakini pekerjaan itu baik, (sama dengan orang yang tidak ditipu oleh setan)? Maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya; maka janganlah dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (Fathir: 8)

Kata Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i t, “Apakah makna demokrasi? Demokrasi bermakna rakyat menghukumi dirinya dengan dirinya sendiri. Seandainya (melalui pemungutan suara) menghasilkan suara (terbanyak) bahwa homoseksual itu halal, niscaya hasil suara tersebut akan didahulukan daripada Al-Kitab dan As-Sunnah.” (Tuhfatul Mujib, hal. 431)

Sungguh naif sekali jika untuk menentukan kebenaran, halal-haram, baik-jelek, dengan cara pengumpulan suara. Padahal Allah l telah berfirman:

“Kebenaran itu adalah dari Rabbmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.” (Al-Baqarah: 147)

Allah l berfirman:

“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. Apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (Al-Ma’idah: 49-50)

Sebagian mereka berpendapat, jika mereka menguasai perolehan suara dan berhasil meraih kursi mayoritas di DPR atau berhasil merebut kursi kepemimpinan negara dalam pemilu, niscaya akan bisa ditegakkan syariat Islam. Benarkah?

Para nabi Allah l berdakwah menyeru umat manusia agar menetapi tauhid yang lurus. Inilah tugas para nabi. Allah l berfirman:

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah Thaghut itu’.” (An-Nahl: 36)

Para nabi Allah l, seperti Nuh, Hud, Shalih, dan Syu’aib r menyeru kaumnya masing-masing dengan ajakan yang sama:

“Wahai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tak ada ilah bagimu selain-Nya.” (Al-A’raf: 59, 65, 73, 85)

Rasulullah n bersabda:

أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ

“Saya telah diperintah untuk memerangi manusia hingga mereka melakukan kesaksian bahwa tidak ada Ilah yang berhak disembah kecuali hanya Allah, dan sesungguhnya Muhammad adalah rasul Allah.” (HR. Al-Bukhari no. 25 dan Muslim no. 33 dari Abdullah bin Umar c)

Itulah inti dakwah para nabi Allah l. Karena dakwah tauhid ini pula mereka menghadapi tribulasi (berbagai cobaan) dakwah, saat mengajak dan menyeru manusia ke jalan Allah l. Permusuhan orang-orang kafir di zamannya bukan karena para nabi Allah l tersebut merebut kekuasaan. Bukan pula lantaran hendak mengatur pemerintahan. Tapi, permusuhan orang-orang kafir itu disebabkan dakwah tauhid.

Sungguh, Rasulullah n pernah ditawari kekayaan, dibujuk untuk ditempatkan menjadi orang mulia di kalangan Quraisy, dan ditawari kekuasaan. Namun, semua bentuk tawaran dari utusan orang-orang Quraisy tersebut beliau tolak. (Lihat As-Sirah An-Nabawiyyah, 1/206-208, karya Ibnu Hisyam)

Ada sebuah pertanyaan penting untuk dijawab: Mengapa Rasulullah n menolak tawaran kekuasaan tersebut? Tak lain karena beliau n tahu –tentunya di bawah bimbingan wahyu– bahwa tawaran tersebut mengandung berbagai konsekuensi yang bertentangan dengan syariat Allah l. Sistem kekuasaan yang ditawarkan oleh orang-orang Quraisy tersebut akan menyeret beliau n dan orang-orang mukminin yang bersamanya ke dalam berbagai pelanggaran terhadap hukum-hukum Allah l.

Dakwah yang beliau n sampaikan bukan bertujuan meraup keduniaan. Bukan untuk mengumpulkan harta kekayaan. Bukan guna menjadi orang yang paling berkuasa, dan dengan kekuasaan itu beliau lalu bisa mengatur orang-orang Quraisy. Bukan. Bukan demikian tujuan dakwah yang beliau emban. Tapi benar-benar dalam rangka mengentaskan umat manusia dari lumpur kesyirikan, menuju kemurnian tauhid.

Maka, jika menghendaki tegaknya syariat Islam bukan dengan cara menceburkan diri dalam kubangan lumpur demokrasi. Karena, kemuliaan dakwah nan hakiki tak akan bisa diusung oleh budak-budak demokrasi. Kemuliaan Islam hanya bisa diraih dengan meneladani generasi terdahulu dari umat ini, yaitu generasi salaf. Seperti diungkapkan Al-Imam Malik bin Anas t:

لَنْ يَصْلُحَ آخِرُ هَذِهِ الْأُمَّةِ إِلاَّ بِمَا صَلُحَ بِهِ أَوَّلُهَا

“Tidak akan baik (generasi) akhir umat ini kecuali apa (cara/sistem yang) dengannya telah menjadikan baik (generasi) awal umat ini.”

Rasulullah n pernah menyampaikan bahwa kehinaan bisa menerpa umatnya manakala agama tidak dijadikan rujukan. Kehinaan itu akan terus-menerus ada hingga mereka mau kembali mengamalkan nilai-nilai Islam. Hadits Ibnu Umar c mengungkapkan pesan tersebut. Sabda Rasulullah n:

إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِيْنَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيْتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللهُ عَلَيْكُمْ ذُلًّا لاَ يَنْزِعُهُ عَنْكُمْ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِيْنِكُمْ

“Apabila kalian telah disibukkan dengan jual beli riba, kalian mengambil ekor-ekor sapi, dan senang dengan pertanian, serta meninggalkan jihad, niscaya Allah akan menimpakan kehinaan kepada kalian. Tak akan dicabut kehinaan tersebut dari kalian hingga kalian kembali kepada agama kalian.” (HR. Abu Dawud no. 3462, dishahihkan Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 11)

Allah l berfirman:

“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (An-Nur: 63)

Sebaliknya, manakala kaum muslimin berpegang teguh dengan syariat Allah l, senantiasa menjaga keimanan dan ketakwaan kepada-Nya, Allah l akan menurunkan berkah-Nya. Firman-Nya:

“Jika penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami limpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.” (Al-A’raf: 96)2

Jalan keselamatan adalah mengikuti apa yang telah dicontohkan Rasulullah n. Bukan dengan cara mengambil pemikiran-pemikiran yang menyelisihi Sunnah Rasul-Nya n. Kata Al-Imam Az-Zuhri t:

الْاِعْتِصَامُ بِالسُّنَّةِ نَجَاةٌ

“Berpegang teguh dengan As-Sunnah adalah keselamatan.”

Wallahu a’lam.


1 Pembahasan tentang demokrasi menurut kacamata Islam, bisa pembaca lihat pada majalah kita ini, Vol. I/No. 06/ Maret 2004/ 1425 H
2 Lihat pula penjelasan Al-Imam Ibnu Katsir t ketika menerangkan ayat ke-55 dari surah An-Nur, dalam artikel Kajian Utama berjudul Demi Suara, Apapun Dilakukan.