Hidayah Itu Mahal

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah)

 

Pernahkah terpikirkan bahwa kita tengah berada dalam anugerah yang tiada ternilai dari Dzat yang memiliki kerajaan langit dan bumi, sementara begitu banyak orang yang dihalangi untuk memperolehnya?

Kita bisa tahu ajaran yang benar dari agama Islam ini. Tahu ini haq, itu batil… Ini tauhid, itu syirik…. Ini sunnah, itu bid’ah… Lalu kita dimudahkan untuk mengikuti yang haq dan meninggalkan yang batil. Sementara, banyak orang tidak mengerti mana yang benar dan mana yang sesat, atau ada yang tahu tapi tidak dimudahkan baginya untuk mengamalkan al-haq, malah ia gampang berbuat kebatilan.

Kita dapat berjalan mantap di bawah cahaya yang terang-benderang, sementara banyak orang yang tertatih meraba dalam kegelapan.

Kita tahu apa tujuan hidup kita dan kemana kita kan menuju. Sementara, ada orang-orang yang tidak tahu untuk apa sebenarnya mereka hidup. Bahkan kebanyakan mereka menganggap mereka hidup hanya untuk dunia, sekadar makan, minum, dan bersenang-senang di dalamnya.

Apa namanya semua yang kita miliki ini, wahai saudariku, kalau bukan anugerah terbesar, nikmat yang tiada ternilai? Inilah hidayah dan taufik dari Allah l kepada jalan-Nya yang lurus.

Dalam Tanzil-Nya, Allah l berfirman:

“Allah memberikan hidayah kepada siapa yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.” (Al-Baqarah: 213)

Fadhilatusy Syaikh Al-’Allamah Muhammad ibnu Shalih Al-Utsaimin t menerangkan dalam tafsirnya bahwa hidayah di sini maknanya adalah petunjuk dan taufik. Allah l berikan hidayah ini kepada orang yang pantas mendapatkannya, karena segala sesuatu yang dikaitkan dengan kehendak Allah l maka mesti mengikuti hikmah-Nya. Siapa yang beroleh hidayah maka memang ia pantas mendapatkannya. (Tafsir Al-Qur’anil Karim, 3/31)

Fadhilatusy Syaikh Shalih ibnu Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah ketika menjelaskan ayat:

beliau berkata, “Allah l tidak meletakkan hidayah di dalam hati kecuali kepada orang yang pantas mendapatkannya. Adapun orang yang tidak pantas memperolehnya, maka Allah l mengharamkannya beroleh hidayah tersebut. Allah Yang Maha Mengetahui, Maha Memiliki hikmah, Maha Mulia lagi Maha Tinggi, tidak memberikan hidayah hati kepada setiap orang, namun hanya diberikannya kepada orang yang diketahui-Nya berhak mendapatkannya dan dia memang pantas. Sementara orang yang Dia ketahui tidak pantas beroleh hidayah dan tidak cocok, maka diharamkan dari hidayah tersebut.”

Asy-Syaikh yang mulia melanjutkan, “Di antara sebab terhalangnya seseorang dari beroleh hidayah adalah fanatik terhadap kebatilan dan semangat kesukuan, partai, golongan, dan semisalnya. Semua ini menjadi sebab seseorang tidak mendapatkan taufik dari Allah l. Siapa yang kebenaran telah jelas baginya namun tidak menerimanya, ia akan dihukum dengan terhalang dari hidayah. Ia dihukum dengan penyimpangan dan kesesatan, dan setelah itu ia tidak dapat menerima al-haq lagi. Maka di sini ada hasungan kepada orang yang telah sampai al-haq kepadanya untuk bersegera menerimanya. Jangan sampai ia menundanya atau mau pikir-pikir dahulu, karena kalau ia menundanya maka ia memang pantas diharamkan/dihalangi dari hidayah tersebut. Allah k berfirman:

“Maka tatkala mereka berpaling dari kebenaran, Allah memalingkan hati-hati mereka.” (Ash-Shaf: 5)

“Dan begitu pula Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (Al-Qur’an) pada awal kalinya dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat.” (Al-An’am: 110) [I’anatul Mustafid bi Syarhi Kitabit Tauhid, 1/357]

Perlu engkau ketahui, hidayah itu ada dua macam:

1. Hidayah yang bisa diberikan oleh makhluk, baik dari kalangan para nabi dan rasul, para da’i atau selain mereka. Ini dinamakan hidayah irsyad (bimbingan), dakwah dan bayan (keterangan). Hidayah inilah yang disebutkan dalam ayat:

“Sesungguhnya engkau (ya Muhammad) benar-benar memberi hidayah/petunjuk kepada jalan yang lurus.” (Asy-Syura: 52)

2. Hidayah yang hanya bisa diberikan oleh Allah l, tidak selain-Nya. Ini dinamakan hidayah taufik. Hidayah inilah yang ditiadakan pada diri Rasulullah n, terlebih selain beliau, dalam ayat:

“Sesungguhnya engkau (ya Muhammad) tidak dapat memberi hidayah/petunjuk kepada orang yang engkau cintai, akan tetapi Allah lah yang memberi hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki.” (Al-Qashash: 56)

Yang namanya manusia, baik ia da’i atau selainnya, hanya dapat membuka jalan di hadapan sesamanya. Ia memberikan penerangan dan bimbingan kepada mereka, mengajari mereka mana yang benar, mana yang salah. Adapun memasukkan orang lain ke dalam hidayah dan memasukkan iman ke dalam hati, maka tak ada seorang pun yang kuasa melakukannya, karena ini hak Allah l semata. (Al-Qaulul Mufid Syarhu Kitabit Tauhid, Ibnu Utsaimin, sebagaimana dinukil dalam Majmu’ Fatawa wa Rasa’il beliau, 9/340-341)

Saudariku, bersyukurlah kepada Allah l ketika engkau dapati dirimu termasuk orang yang dipilih-Nya untuk mendapatkan dua hidayah yang tersebut di atas. Karena berapa banyak orang yang telah sampai kepadanya hidayah irsyad, telah sampai padanya dakwah, telah sampai padanya al-haq, namun ia tidak dapat mengikutinya karena terhalang dari hidayah taufik. Sementara dirimu, ketika tahu al-haq dari al-batil, segera engkau pegang erat yang haq tersebut dan engkau empaskan kebatilan sejauh mungkin. Berarti hidayah taufik dari Rabbul Izzah menyertaimu. Tinggal sekarang, hidayah itu harus engkau jaga, karena ia sangat bernilai dan sangat penting bagi kehidupan kita. Ia harus menyertai kita bila ingin selamat di dunia, terlebih di akhirat. Bagaimana tidak? Sementara kita di setiap rakaat dalam shalat diperintah untuk memohon kepada Allah l hidayah kepada jalan yang lurus.

“Tunjukilah (berilah hidayah) kami kepada jalan yang lurus.” (Al-Fatihah: 6)

Bila timbul pertanyaan, bagaimana seorang mukmin meminta hidayah di setiap waktu shalatnya dan di luar shalatnya, sementara mukmin berarti ia telah beroleh hidayah? Bukankah dengan begitu berarti ia telah meminta apa yang sudah ada pada dirinya?

Al-Hafizh Ibnu Katsir t memberikan jawabannya: Allah l membimbing hamba-hamba-Nya untuk meminta hidayah, karena setiap insan membutuhkannya siang dan malam. Seorang hamba butuh kepada Allah l setiap saat untuk mengokohkannya di atas hidayah, agar hidayah itu bertambah dan terus-menerus dimilikinya. Karena seorang hamba tidak dapat memberikan kemanfaatan dan tidak dapat menolak kemudaratan dari dirinya, kecuali apa yang Allah l kehendaki. Allah k pun membimbing si hamba agar di setiap waktu memohon kepada-Nya pertolongan, kekokohan, dan taufik. Orang yang bahagia adalah orang yang diberi taufik oleh Allah k untuk memohon hidayah, karena Allah k telah memberikan jaminan untuk mengabulkan permintaan orang yang berdoa kepada-Nya di sepanjang malam dan di pengujung siang. Terlebih lagi bila si hamba dalam kondisi terjepit dan sangat membutuhkan bantuan-Nya. Ini sebanding dengan firman-Nya:

“Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya…” (An-Nisa’: 136)

Dalam ayat ini, Allah k memerintahkan orang-orang yang telah beriman agar tetap beriman. Ini bukanlah perintah untuk melakukan sesuatu yang belum ada, karena yang dimaukan dengan perintah beriman di sini adalah hasungan agar tetap tsabat (kokoh), terus-menerus dan tidak berhenti melakukan amalan-amalan yang dapat membantu seseorang agar terus di atas keimanan. Wallahu a’lam. (Tafsir Al-Qur’anil ‘Azhim, 1/38)

Berbahagialah dengan hidayah yang Allah l berikan kepadamu dan jangan biarkan hidayah itu berlalu darimu. Mintalah selalu kekokohan dan keistiqamahan di atas iman kepada Dzat Yang Maha Mengabulkan doa. Teruslah mempelajari agama Allah k. Hadirilah selalu majelis ilmu. Dekatlah dengan ulama, cintai mereka karena Allah k. Bergaullah dengan orang-orang shalih dan jauhi orang-orang jahat yang dapat merancukan pemahaman agamamu serta membuatmu terpikat dengan dunia. Semua ini sepantasnya engkau lakukan dalam upaya menjaga hidayah yang Allah k anugerahkan kepadamu. Satu lagi yang penting, jangan engkau jual agamamu karena menginginkan dunia, karena ingin harta, tahta, dan karena cinta kepada lawan jenis. Sekali-kali janganlah engkau kembali ke belakang. Kembali kepada masa lalu yang suram karena jauh dari hidayah dan bimbingan agama. Ingatlah:

“Maka tidak ada sesudah kebenaran itu melainkan kesesatan.” (Yunus: 32)

Kata Al-Imam Al-’Allamah Muhammad Jamaluddin Al-Qasimi t, “Kebenaran dan kesesatan itu tidak ada perantara antara keduanya. Maka, siapa yang luput dari kebenaran mesti ia jatuh dalam kesesatan.” (Mahasinut Ta’wil, 6/24)

Lalu apa persangkaanmu dengan orang yang tahu kebenaran dari kebatilan, semula ia berjalan di atas kebenaran tersebut, berada di dalam hidayah, namun kemudian ia futur (patah semangat, tidak menetapi kebenaran lagi, red.) dan lisan halnya mengatakan ‘selamat tinggal kebenaran’? Wallahul Musta’an. Sungguh setan telah berhasil menipu dan mengempaskannya ke jurang yang sangat dalam.

Ya Allah, wahai Dzat Yang Membolak-balikkan hati tetapkanlah hati kami di atas agama-Mu, di atas ketaatan kepada-Mu. Amin ya Rabbal ‘alamin ….

Wallahu a’lam bish-shawab.

Hidup Bersama denga Pasangan yang Tidak Shalat

Istri saya tidak menunaikan shalat, puasa, dan kewajiban-kewajiban agama yang lain, demikian pula kewajibannya sebagai istri. Namun saya terus-menerus memberikan pengajaran kepadanya, hanya saja ia tetap tidak mengerjakan shalat lima waktu seluruhnya, bahkan sering meninggalkannya. Ia mengolok-olok saya ketika saya mengajarinya atau menyuruhnya shalat. Lalu apa hukumnya terus hidup bersamanya, sementara sulit untuk menikah dengan wanita lainnya yang shalihah, disebabkan mahar yang mahal dan sungguh ini menjadi penghalang besar dalam pernikahan?
Jawab:
Fadhilatusy Syaikh Shalih ibnu Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah menjawab, “Tidak boleh terus hidup bersama dengan wanita yang demikian sifatnya, ia mengolok-olok shalat, menertawakan orang yang menyuruhnya shalat, dan ia (sendiri) meninggalkan shalat. Wanita seperti itu kafir yang berarti tidak boleh hidup bersamanya, berdasarkan firman Allah l:
“Dan janganlah kalian tetap berpegang pada tali (perkawinan) dengan wanita-wanita kafir.” (Al-Mumtahanah: 10)
“Dan janganlah kalian menikahi wanita-wanita musyrik sampai mereka mau beriman. Sesungguhnya budak wanita yang beriman lebih baik daripada wanita musyrik walaupun dia menarik hatimu.” (Al-Baqarah: 221)
Wanita tersebut kafir selama ia tidak mengerjakan shalat, bahkan mengejek shalat berikut orang yang menyuruhnya shalat. Karenanya, tidak boleh engkau hidup bersamanya.
Adapun ucapanmu, sulit untuk menikah lagi, maka Allah l akan memudahkan hal-hal yang baik. Barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah k akan menggantikan yang lebih baik untuknya.
Kesimpulannya, tidak boleh seorang suami terus hidup bersama dengan istri yang demikian keadaannya, selama ia tidak mau bertaubat kepada Allah l dan menjaga shalat. Wanita seperti itu tidak boleh menjadi istri seorang muslim dan tidak boleh seorang muslim terus menahannya dalam ikatan pernikahan.” (Majmu’ Fatawa Fadhilatusy Syaikh Shalih Al Fauzan, 1/337)
Seorang wanita muslimah menikah dengan seorang lelaki yang sebelumnya tidak dikenalnya. Lelaki itu bekerja di Jerman. Ia meminta kepada ayah si wanita agar memperkenankan dirinya menikahi si wanita. Si wanita itu pun menyetujui pinangan tersebut. Usai pernikahan, si wanita ikut ke Jerman bersama lelaki yang kini telah menjadi suaminya. Setelah hidup berdampingan dengan suaminya, tersingkaplah bagi si istri bahwa suaminya ini tidak mengerjakan shalat dan tidak puasa. Bahkan pernah suaminya memaksanya agar memasakkan makanan untuknya di siang hari Ramadhan. Selain itu si suami terbiasa mengerjakan perbuatan mungkar lainnya. Si istri telah berupaya untuk memperbaiki keadaan suaminya akan tetapi tidak ada pengaruhnya. Itu semua mendorong si istri menuntut cerai dari suaminya dan pada akhirnya terjadilah perceraian. Apakah si wanita itu memang pantas menuntut cerai dari suami yang berperilaku demikian?
Kemudian, setelah perceraian si wanita pergi ke Belgia bersama beberapa tetangganya dahulu. Ia bekerja di Belgia untuk menghidupi dirinya dan ayahnya yang fakir. Ia tinggal sendirian bersama satu keluarga di sana. Ia cuma tinggal serumah dengan mereka. Adapun makan dan tidurnya sendirian, tidak bergabung dengan mereka. Keluarga tersebut memberikan kebebasan kepadanya untuk mengamalkan perintah agama berupa shalat, puasa, dan selainnya. Apakah tinggalnya si wanita seorang diri di negeri asing bersama satu keluarga di sana teranggap menyelisihi agama?
Jawab:
Fadhilatusy Syaikh Shalih ibnu Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah menjawab, “Pertama kali, kami bersyukur wahai penanya, dengan berpegangnya engkau terhadap agama ini serta semangatmu untuk melaksanakan syiar-syiar agama ini.
Adapun pertanyaanmu tentang perceraianmu dengan suami ketika engkau melihat ia tidak berpegang dengan agama, ia tidak mengerjakan shalat dan tidak puasa, maka itu memanwg wajib engkau lakukan. Engkau tidak boleh terus hidup bersama suami tersebut bila ia tetap demikian keadaannya. Karena, orang yang meninggalkan shalat secara sengaja, ia kafir1, tidak boleh seorang muslimah tetap dalam ikatan pernikahan dengannya. Engkau telah berbuat kebaikan dengan berpisah dari suami yang jelek tersebut dan engkau meninggalkannya karena ingin menyelamatkan agamamu.
Pertanyaanmu tentang kepergianmu ke Belgia seorang diri dan tinggalmu di sana bersama keluarga yang bukan mahrammu, maka ini tidak boleh.
Pertama: Safar seorang wanita tanpa mahram adalah tidak boleh.
Kedua: Si wanita tinggal bersama keluarga yang bukan mahramnya dan bersama orang-orang yang bukan mahramnya, ini haram bagi seorang muslimah.
Yang aku nasihatkan kepadamu, kembalilah ke negeri asalmu, atau ayahmu pergi menyertaimu bila memang engkau ingin safar ke Belgia atau ke negeri lain. Adapun bila engkau safar sendirian, tinggal sendirian atau bersama satu keluarga yang bukan mahrammu, maka ini perkara yang tidak diakui oleh Islam. Allah k tidak ridha karena wanita itu aurat, dan ia tidak boleh safar tanpa mahram, atau tinggal bersama satu keluarga yang di situ ada laki-laki yang bukan mahramnya, karena hal itu akan menyeret dirinya kepada fitnah, dan orang lain pun akan terfitnah dengannya. Wallahu a’lam. (Majmu’ Fatawa Fadhilatusy Syaikh Shalih Al-Fauzan, 1/337-338)

1 Ulama sepakat tentang kafirnya orang yang menentang kewajiban shalat. Namun, dalam hal hukum orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja, karena malas atau menggampang-gampangkannya, tanpa bermaksud menentang kewajibannya, maka ada perbedaan pendapat di kalangan mereka antara yang mengafirkan dan tidak mengafirkan.

Wanita itu Aurat

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah)

 

Al-Imam At-Tirmidzi t dalam Sunan-nya (no. 1173) berkata, “Telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Basysyar, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Ashim, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Hammam, dari Qatadah, dari Muwarriq, dari Abul Ahwash, dari Abdullah ibnu Mas’ud z, dari Nabi n, beliau bersabda:

الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ، فَإِذَا خَرَجَتِ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ

“Wanita itu aurat, maka bila ia keluar rumah, setan terus memandanginya (untuk menghias-hiasinya dalam pandangan lelaki sehingga terjadilah fitnah).” (Dishahihkan Al-Imam Al-Albani t dalam Shahih At-Tirmidzi, Al-Misykat no. 3109, dan Al-Irwa’ no. 273. Dishahihkan pula oleh Al-Imam Muqbil ibnu Hadi Al-Wadi’i t dalam Ash-Shahihul Musnad, 2/36)

Yang namanya aurat berarti membuat malu bila terlihat orang lain hingga perlu ditutupi dan dijaga dengan baik. Karena wanita itu aurat, berarti mengundang malu bila sampai terlihat lelaki yang bukan mahramnya. (Tuhfatul Ahwadzi, Kitab Ar-Radha’, bab ke-18)

Sehingga tetap tinggal di dalam rumah itu lebih baik bagi si wanita, lebih menutupi dirinya dan lebih jauh dari fitnah (godaan/gangguan). Bila ia keluar rumah, setan berambisi untuk menyesatkannya dan menyesatkan orang-orang dengan sebab dirinya. Tidak ada yang selamat dari fitnah ini kecuali orang-orang yang dirahmati Allah l. Yang disyariatkan bagi wanita muslimah yang beriman kepada Allah l dan hari akhir adalah tinggal di dalam rumahnya tanpa keluar kecuali bila ada kebutuhan, dengan mengenakan pakaian yang menutupi seluruh tubuhnya dan tidak memakai perhiasan berikut wangi-wangian, dalam rangka mengamalkan firman Allah l:

“Dan tetaplah kalian tinggal di rumah-rumah kalian dan janganlah bertabarruj sebagaimana tabarrujnya orang-orang jahiliah yang awal.” (Al-Ahzab: 33)

“Apabila kalian meminta sesuatu keperluan kepada mereka maka mintalah dari balik hijab/ tabir, yang demikian itu lebih suci bagi hati kalian dan hati mereka.” (Al-Ahzab: 53)

Bila wanita tidak mengamalkan tuntunan syariat yang suci ini, ia akan jatuh dalam jeratan dan perangkap para lelaki yang fasik dan pendosa. Terlebih lagi bila keluarnya itu menuju ke pasar, mal, tempat rekreasi, dan tempat-tempat keramaian yang di situ terjadi ikhtilath (campur baur lelaki dan wanita). Alangkah banyaknya wanita seperti itu di zaman ini. Demikian keterangan dari Al-Lajnah Ad-Da’imah lil Buhuts Al-’Ilmiyyah wAl-Ifta’, fatwa no. 19930, yang ketika itu masih diketuai oleh Samahatusy Syaikh Ibnu Baz t.

Banyak orang tidak mengetahui hadits Nabi n di atas. Kalaupun ada yang mengetahuinya, mereka berusaha menolaknya karena tidak sesuai dengan hawa nafsu mereka dengan mengatakan haditsnya lemah, tidak terpakai, merendahkan kaum wanita, tidak sesuai dengan perkembangan zaman, dan ucapan semisalnya.

Demikianlah. Karena jauhnya zaman ini dengan masa kenabian, ditambah lagi kebodohan yang tersebar luas di kalangan kaum muslimin dan hawa nafsu yang mendominasi, banyak ajaran dan aturan agama Islam yang dianggap aneh, asing, dan tidak lumrah. Termasuk keberadaan wanita sebagai aurat, sehingga harus ditutupi dari pandangan lelaki ajnabi (non-mahram), sulit diterima oleh kebanyakan orang bahkan oleh kaum wanita sendiri. Yang dianggap biasa justru keberadaan wanita yang berkeliaran di luar rumah, hilir mudik tanpa malu di depan lelaki ajnabi, tanpa mengenakan busana yang syar’i, malah memamerkan kemolekan wajahnya dan keindahan anggota tubuhnya, kebagusan dandanannya, serta semerbak aroma tubuhnya. Wallahul musta’an (Hanya Allah l sajalah tempat meminta pertolongan).

Ketahuilah, hadits Nabi n di atas telah pasti keshahihannya. Bila suatu hadits dikatakan shahih dari ucapan Nabi n berarti benar-benar Nabi n yang mengucapkannya. Beliau berucap tidaklah dari hawa nafsu, tapi dari wahyu yang beliau terima sebagaimana firman Allah l:

“Dan tidaklah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan kepadanya.” (An-Najm: 3-4)

Al-Hafizh Ibnu Katsir, semoga Allah l merahmati beliau, menerangkan tafsir ayat di atas, “Maksudnya Nabi n tidaklah mengucapkan satu ucapan/ perkataan karena dorongan hawa nafsu dan karena satu tujuan tertentu. Beliau hanyalah mengucapkan apa yang diperintahkan kepada beliau untuk disampaikan kepada manusia secara sempurna, utuh, tanpa ada tambahan dan pengurangan.” (Tafsir Al-Qur’anil ‘Azhim, 7/340)

Sahabat yang mulia, putra dari sahabat yang mulia, Abdullah ibnu ‘Amr ibnul ‘Ash c memberitakan, “Aku biasa menulis segala sesuatu yang aku dengar dari Rasulullah n karena aku ingin menghafalnya. Maka orang-orang Quraisy melarangku dengan mengatakan, ‘Jangan engkau tulis segala sesuatu yang engkau dengar dari Rasulullah n, karena Rasulullah itu manusia biasa, bisa berucap dalam keadaan marah maupun senang.’

Aku pun berhenti menulis apa yang kudengar dari beliau, lalu kuceritakan hal itu kepada beliau. Beliau memberi isyarat dengan jari beliau ke mulut beliau seraya bersabda:

اكْتُبْ، فَوَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ مَا يَخْرُجُ مِنْهُ إِلاَّ حَقٌّ

“Tulislah, demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidak ada yang keluar dari lisan ini kecuali al-haq/ kebenaran.” (HR. Abu Dawud no. 3646, dishahihkan Al-Imam Al-Albani t dalam Shahihul Jami’ no. 1196 dan Ash-Shahihah no. 1532)

Karena kepastian berita dari Rasulullah n bahwa wanita itu aurat, maka hendaklah wali para wanita, baik dari kalangan ayah, paman, kakek, saudara laki-laki ataupun suami, memerhatikan keberadaan wanita mereka serta memiliki kecemburuan terhadap wanita mereka. Jangan biarkan mereka (para wanita) keluar rumah tanpa ada kebutuhan, atau keluar rumah tanpa mengenakan pakaian yang syar’i, yang menutup tubuh mereka sebagai aurat mereka.

Bagi para wanita sendiri, hendaklah mereka bersegera berpegang dengan tuntunan Allah l dan Rasul-Nya n karena di dalamnya pasti ada kebaikan bagi mereka.

 

Apakah Suara Wanita Aurat?

Terkait dengan keberadaan wanita sebagai aurat, mungkin tersisa pertanyaan di benak. Bagaimana dengan suara wanita, apakah termasuk aurat? Lalu bagaimana dengan keberadaan sahabiyah dahulu yang berbicara dengan Nabi n atau dengan para sahabat? Bagaimana pula keberadaan Ummul Mukminin Aisyah x atau wanita-wanita selainnya, yang mengajarkan ilmu dan menyampaikan hadits Rasulullah n kepada para sahabat dan orang-orang yang datang setelah generasi sahabat? Bukankah ini menunjukkan wanita boleh berbicara dan memperdengarkan suaranya kepada lelaki ajnabi?

Al-Lajnah Ad-Da’imah dalam fatwa (no. 8567) pernah memberikan jawaban tentang hal ini. Disebutkan bahwa suara wanita bukanlah aurat, tidak haram bagi lelaki ajnabi untuk mendengarkannya terkecuali bila suara itu diucapkan dengan mendayu-dayu, mendesah dan dilembut-lembutkan karena yang seperti ini haram dilakukan si wanita di hadapan selain suaminya dan haram bagi lelaki ajnabi mendengarkannya, berdasarkan firman Allah l:

“Wahai istri-istri nabi, kalian tidak sama dengan wanita-wanita yang lain, jika kalian bertakwa maka janganlah kalian melembutkan suara dalam berbicara sehingga berkeinginlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (Al-Ahzab: 32)

Dalam fatwa no. 5167, Al-Lajnah menyatakan wanita merupakan tempat penunaian syahwat lelaki, maka kaum lelaki memiliki kecondongan kepada wanita agar tertunai nafsu syahwatnya. Bila si wanita mendayu-dayu dalam berbicara, tentunya fitnah akan semakin bertambah. Karena itulah Allah l memerintahkan kepada kaum mukminin, para sahabat Rasulullah n, bila mereka meminta kebutuhan atau suatu barang kepada wanita yang bukan mahramnya, hendaknya meminta dari balik hijab. Tidak langsung bertemu wajah dengan si wanita. Allah l berfirman:

“Apabila kalian meminta sesuatu keperluan kepada mereka maka mintalah dari balik hijab/tabir, yang demikian itu lebih suci bagi hati kalian dan hati mereka.” (Al-Ahzab: 53)

Allah l juga melarang para wanita melembutkan suara mereka ketika berbicara dengan lelaki ajnabi agar jangan sampai lelaki yang punya penyakit di hatinya berkeinginan jelek terhadap si wanita.

Bila perintah ini dititahkan di zaman Rasul n, dalam keadaan kaum mukminin kuat imannya dan mulia jiwanya, lalu bagaimana dengan zaman ini, di mana iman semakin melemah dan sedikit orang yang berpegang dengan agama? Karenanya, wajib bagimu wahai wanita untuk tidak bercampur baur dengan lelaki ajnabi dan tidak berbicara dengan mereka kecuali bila ada kebutuhan yang sifatnya darurat dengan tidak mendayu-dayukan dan melembutkan suara, berdasarkan dalil ayat yang telah disebutkan.

Dengan penjelasan ini tahulah engkau, wahai wanita, bahwa semata-mata suara yang tidak disertai dengan kelembutan dalam berbicara bukanlah aurat, karena dulunya para wanita/sahabiyah berbicara dengan Nabi n dan bertanya kepada beliau tentang perkara agama mereka. Demikian pula mereka mengajak bicara para sahabat sehubungan dengan kebutuhan mereka dan Nabi n tidak mengingkari perbuatan mereka tersebut. (dari kitab Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah lil Buhuts Al-’Ilmiyyah wal Ifta’, 17/202-204)

Sehubungan dengan suara wanita ini, sangatlah disayangkan adanya sebagian orang yang bermudah-mudahan dengan berdalih suara wanita bukan aurat. Sampai-sampai ada guru lelaki yang mengajarkan Al-Qur’an kepada para wanita dengan men-tasmi’, yaitu mendengarkan bacaan Al-Qur’an para wanita yang diajarinya, guna membetulkannya bila ada kesalahan. Sementara kita semua maklum bagaimana suara wanita yang membaca Al-Qur’an. Siapa yang bisa menjamin wanita tersebut tidak melagukan suaranya saat melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an? Bila kondisinya seperti ini, bagaimana dengan sang guru, apakah ia bisa menjamin hatinya akan selamat dari fitnah?

Ada pula guru lelaki yang berani mengajarkan percakapan bahasa Arab (muhadatsah) kepada para wanita. Sementara, sebagai satu metode pengajaran muhadatsah, sang guru mengajak bicara satu atau lebih murid wanitanya untuk bercakap-cakap dalam bahasa Arab. Mungkin sang guru mengatakan, “Kaifa haluk?”

Muridnya menjawab, “Alhamdulillah ana bi khair, wa anta…?” Dan seterusnya.

Kita bisa membayangkan bagaimana nada suara murid wanita itu dalam percakapan tersebut! Wallahul musta’an.

Contoh di atas kita bawakan tidak lain sebagai nasihat dan peringatan bagi diri pribadi dan saudara-saudara sekalian, agar kita semua tidak menggampangkan permasalahan ini. Juga agar kita menjaga diri dari fitnah dan memerhatikan keselamatan hati-hati kita. Karena, sebagaimana perkataan hikmah dari ulama kita: Selamatnya hati tak dapat ditandingi/dibandingkan dengan sesuatu pun.

Semoga Allah l memberi taufik kita kepada apa yang diridhai dan dicintai-Nya. Amin.

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

‘Umamah bintu Hamzah Al-Hasyimiyah

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu ‘Abdirrahman bintu ‘Imran)

 

Tinggal sebagai muslimah di antara kaum musyrikin di Makkah bukanlah sesuatu yang diharapkan. Putri Singa Allah, Hamzah bin ‘Abdil Muththalib z ini mendambakan hidup bersama kaum muslimin di Madinah. Dia pun menanti, hingga saatnya tiba….

Dia adalah Umamah bintu Hamzah bin ‘Abdil Muththalib bin Hasyim bin ‘Abdi Manaf bin Qushai Al-Hasyimiyah x. Ibunya bernama Salma bintu ‘Umais bin Ma’d bin Taim bin Malik bin Quhafah dari Khats’am, saudara perempuan Asma’ bintu ‘Umais x. Sementara sang ayah, Hamzah bin ‘Abdil Muththalib z adalah paman Rasulullah yang syahid dalam pertempuran Badr. Sepeninggal ayahnya, ‘Umamah bintu Hamzah masih tetap tinggal di Makkah.
Sekian lama tinggal di negeri Madinah, rombongan kaum muslimin bersama Rasulullah n menunaikan ‘umrah qadha’, setelah setahun sebelumnya mereka urung menunaikan ‘umrah ke Makkah karena dihadang kaum musyrikin. Hanya tiga hari waktu yang diberikan pada kaum muslimin untuk tinggal di Makkah. Setelah itu, kaum musyrikin mengingatkan kaum muslimin agar segera meninggalkan Makkah.
Ketika rombongan Rasulullah n hendak kembali ke Madinah, ‘Umamah bintu Hamzah mengikuti rombongan. Dia berseru memanggil-manggil, “Paman! Paman!”
‘Ali bin Abi Thalib z bertanya kepada Rasulullah n, “Mengapa engkau biarkan putri paman kita dalam keadaan yatim di antara kaum musyrikin?”
Ali pun mengusulkan kepada beliau untuk membawa ‘Umamah dari Makkah. Rasulullah n tak melarang ‘Ali untuk membawa ‘Umamah.
“Bawa serta putri paman ayahmu!” ujar ‘Ali kepada istrinya, Fathimah x. Maka berangkatlah ‘Umamah bintu Hamzah bersama rombongan kaum muslimin menuju Madinah.
Namun permasalahannya, siapa yang paling berhak untuk mengasuh putri yatim Hamzah bin ‘Abdil Muththalib z ini.
Di antara yang merasa berhak adalah Zaid bin Haritsah z yang diberi wasiat oleh Hamzah bin ‘Abdil Muththalib z. Juga Rasulullah n mempersaudarakannya dengan Hamzah saat beliau mempersaudarakan kaum Muhajirin. “Aku lebih berhak untuk mengasuh anak saudaraku,” katanya.
Mendengar hal itu, Ja’far bin Abi Thalib bin ‘Abdil Muththalib z berujar, “Aku lebih berhak untuk mengasuhnya, karena Asma’ bintu ‘Umais bibinya adalah istriku, sementara kedudukan bibi seperti kedudukan ibu!”
‘Ali pun merasa keberatan. “Mengapa kalian bertikai tentang permasalahan putri pamanku, sementara aku yang membawanya keluar dari Makkah di antara kaum musyrikin. Kalian pun tidak lebih dekat nasabnya dengan ‘Umamah daripada aku. Aku lebih berhak untuk mengasuhnya!”
Mereka adalah para sahabat yang mulia. Segala perselisihan, tak ada tempat lain untuk kembali kecuali pada Rasulullah n. Mereka adukan pertikaian mereka, hingga beliau pun memberikan jalan yang terbaik. “Aku akan memutuskan perkara kalian,” kata beliau. “Adapun engkau, wahai Zaid, engkau adalah maula Allah dan maula Rasul-Nya. Adapun dirimu, wahai ‘Ali, engkau saudara dan sahabatku. Sedangkan engkau, wahai Ja’far, orang yang paling mirip denganku. Dan engkau, wahai Ja’far, orang yang paling pantas untuk mengasuhnya, karena istrimu adalah bibinya. Lebih-lebih lagi seseorang tak boleh menikahi wanita yang bibi wanita itu menjadi istrinya.”
Rasulullah n memutuskan hak pengasuhan ‘Umamah bintu Hamzah untuk Ja’far.
‘Ali bin Abi Thalib z pernah mengusulkan kepada Rasulullah n, “Wahai Rasulullah, mengapa engkau tidak menikah dengan ‘Umamah?” “Dia itu anak saudaraku sesusuan1,” jawab Rasulullah n, “Dan sesungguhnya Allah mengharamkan karena susuan segala sesuatu yang diharamkan karena nasab.”
‘Umamah bintu Hamzah, kisah kehidupannya memberikan pelajaran bagi kaum muslimin hingga akhir zaman. ‘Umamah bintu Hamzah, semoga Allah l meridhainya….
Wallahu a’lamu bish-shawab.
Sumber Bacaan:
Al-Ishabah, Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani (8/22-23)
Ath-Thabaqatul Kubra, Al-Imam Ibnu Sa’d (10/152-154)
Shahih Al-Bukhari, Kitab Al-Maghazi Bab ‘Umratil Qadha’

1 Karena Rasulullah n dan Hamzah z pernah disusui oleh ibu susu yang sama.

Tidur Siang

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu ‘Abdirrahman bintu ‘Imran)

Masa anak-anak masa penuh aktivitas. Anak-anak seolah tak berhenti bergerak, dari satu aktivitas ke aktivitas yang lain. Lebih-lebih lagi bermain, sebuah aktivitas yang menjadi favorit dalam dunia anak. Kadang karena asyik bermain atau melakukan aktivitas yang lain, anak jadi susah diminta tidur siang. Bahkan tidur siang menjadi sesuatu yang menjengkelkan karena memutuskannya dari kegembiraan aktivitas yang dilakukannya.

Ternyata faktor yang menghalangi anak-anak istirahat di siang hari bukan hanya datang dari diri mereka sendiri. Bahkan terkadang, ada orangtua yang justru menghasung anak-anak untuk menyibukkan waktunya dengan segudang kegiatan, tanpa istirahat siang. Les ini, les itu, kegiatan ini dan itu, bersiap menyongsong ini dan itu, sehingga anak tak berhenti dari satu kesibukan ke kesibukan yang lain.

Kita –orangtua– seyogianya tidak membiarkan anak-anak tanpa tidur siang ataupun sekadar beristirahat di siang hari. Dari sisi kesehatan, tentu hal ini banyak manfaatnya, mengistirahatkan tubuh sejenak dari aktivitas agar bugar kembali untuk menyambut aktivitas berikutnya.

Tak hanya dari sisi kesehatan tinjauannya. Jauh lebih penting lagi, tidur siang adalah sunnah yang diajarkan dan dilakukan oleh Rasulullah n. Beliau memerintahkan kita untuk tidur siang dalam sabda beliau yang dinukilkan oleh Anas bin Malik z:

قِيْلُوا فَإِنَّ الشَّيَاطِيْنَ لاَ تَقِيْلُ

“Qailulah-lah (istirahat sianglah) kalian, sesungguhnya setan-setan itu tidak pernah istirahat siang.” (HR. Abu Nu’aim dalam Ath-Thibb, dikatakan oleh Al-Imam Al-Albani t dalam Ash-Shahihah no. 1637: isnadnya shahih)

Yang dimaksud dengan qailulah adalah istirahat di tengah hari, walaupun tidak disertai tidur. (An-Nihayah fi Gharibil Hadits)

Apa yang dilakukan dan dihasung oleh Rasulullah n ini juga diikuti oleh para sahabat g. Di antaranya ‘Abdullah bin Mas’ud z dalam riwayat dari ‘Umar ibnul Khaththab z:

رُبَّمَا قَعَدَ عَلَى بَابِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ رِجَالٌ مِنْ قُرَيْشٍ، فَإِذَا فَاءَ الْفَيْءُ قَالَ: قُوْمُوا فَمَا بَقِيَ فَهُوَ لِلشَّيْطَانِ. ثُمَّ لاَ يَمُرُّ عَلَى أَحَدٍ إِلاَّ أَقَامَهُ

Pernah suatu ketika ada orang-orang Quraisy yang duduk di depan pintu Ibnu Mas’ud. Ketika tengah hari, Ibnu Mas’ud mengatakan, “Bangkitlah kalian (untuk istirahat siang, pent.)! Yang tertinggal hanyalah bagian untuk setan.” Kemudian tidaklah Umar melewati seorang pun kecuali menyuruhnya bangkit.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no.1238, dikatakan oleh Al-Imam Al-Albani t dalam Shahih Al-Adabil Mufrad no. 939: hasanul isnad)

Dalam riwayat yang lainnya disebutkan:

كَانَ عُمَرُ z يَمُرُّ بِنَا نِصْفَ النَّهَارِ –أَوْ قَرِيْبًا مِنْهُ – فَيَقُوْلُ: قُوْمُوا فَقِيْلُوا، فَمَا بَقِيَ فَلِلشَّيْطَانِ

Biasanya ’Umar z bila melewati kami pada tengah hari atau mendekati tengah hari mengatakan, “Bangkitlah kalian! Istirahat sianglah! Yang tertinggal menjadi bagian untuk setan.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no.1239, dikatakan oleh Al-Imam Al-Albani t dalam Shahih Al-Adabil Mufrad no. 939: hasanul isnad)

Begitulah kebiasaan para sahabat g. Diceritakan oleh Anas bin Malik z, ketika datang pengharaman khamr, para sahabat sedang duduk-duduk minum khamr di rumah Abu Thalhah z. Dengan segera mereka menuangkan isi bejana khamr, lalu mereka istirahat siang di rumah Ummu Sulaim x, istri Abu Thalhah z. Anas z menuturkan:

مَا كَانَ لِأَهْلِ الْمَدِيْنَةِ شَرَابٌ– حَيْثُ حُرِّمَتِ الْخَمْرُ –أَعْجَبُ إِلَيْهِمْ مِنَ التَّمْرِ وَالْبُسْرِ، فَإِنِّي لَأُسْقِي أَصْحَابَ رَسُوْلِ اللهِ n وَهُمْ عِنْدَ أَبِي طَلْحَةَ، مَرَّ رَجُلٌ قَالَ: إِنَّ الْخَمْرَ قَدْ حُرِّمَتْ. فَمَا قَالُوا: مَتَى؟ أَوْ حَتَّى نَنْظُرَ. قَالُوا: يَا أَنَسُ، أَهْرِقْهَا، ثُمَّ قَالُوا عِنْدَ أُمِّ سُلَيْمٍ حَتَّى أَبْرَدُوا وَاغْتَسَلُوا، ثُمَّ طَيَّبَتْهُمْ أُمُّ سُلَيْمٍ ثُمَّ رَاحُوا إِلَى النَّبِيِّ n فَإِذَا الْخَبَرُ كَمَا قَالَ الرَّجُلُ. قَالَ أَنَسٌ: فَمَا طَعِمُوهَا بَعْدُ

“Tidak ada minuman yang paling disukai penduduk Madinah tatkala diharamkannya khamr, selain (khamr dari) rendaman kurma. Sungguh waktu itu aku sedang menghidangkan minuman itu kepada para sahabat Rasulullah n yang sedang berada di rumah Abu Thalhah. Tiba-tiba lewat seseorang, dia mengatakan, “Sesungguhnya khamr telah diharamkan!” Sama sekali para sahabat tidak menanyakan, “Kapan?” atau “Kami lihat dulu.” Mereka justru langsung mengatakan, “Wahai Anas, tumpahkan khamr itu!” Lalu mereka pun beristirahat siang di rumah Ummu Sulaim sampai hari agak dingin, setelah itu mereka mandi. Kemudian Ummu Sulaim memberi mereka minyak wangi. Setelah itu mereka beranjak menuju ke hadapan Nabi n. Ternyata beritanya memang seperti yang dikatakan orang tadi. Maka mereka tak pernah lagi meminumnya setelah itu.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no.1241, dikatakan oleh Al-Imam Al-Albani t dalam Shahih Al-Adabil Mufrad no. 940: shahihul isnad)

Anas bin Malik z mengabarkan kebiasaan para sahabat Rasulullah n dahulunya:

كَانُوا يُجَمِّعُوْنَ ثُمَّ يَقِيْلُوْنَ

“Mereka (para sahabat) dulu biasa melaksanakan shalat Jum’at, kemudian istirahat siang.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no.1240, dikatakan oleh Al-Imam Al-Albani t dalam Shahih Al-Adabil Mufrad no. 939: shahihul isnad)

Jika para sahabat saja bersemangat mengikuti perintah Rasulullah n serta mengajak yang lainnya melakukan kebaikan ini, tentu kita tak pantas meninggalkannya. Kita melakukan dan kita ajak anak-anak kita untuk melakukannya pula.

Manfaat yang besar akan mereka dapatkan; tubuh akan terasa segar untuk melaksanakan berbagai ketaatan kepada Allah l, juga menyelisihi kebiasaan setan yang tak pernah istirahat di siang hari. Lebih penting lagi, membiasakan diri mereka untuk meneladani sunnah Rasulullah n.

Wallahu a’lamu bish-shawab.

 

Berbuat Baik Kepada Sesama

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah)

 

Menyambung pembicaraan terdahulu tentang kunci-kunci rezeki, maka perlu kita ketahui ada amalan lain yang bila dilakukan seorang hamba akan memudahkan datangnya rezekinya. Amalan tersebut adalah berinfak fi sabilillah.

Siapa yang menginfakkan atau membelanjakan hartanya dalam kebaikan, Allah l akan menggantinya di dunia, dan kelak di akhirat disediakan pahala yang berlipat ganda. Allah l berfirman:

“Katakanlah (wahai Nabi), ‘Sesungguhnya Rabbku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi siapa yang dikehendaki-Nya.’ Dan apa saja yang kalian nafkahkan/infakkan maka Dia akan menggantinya dan Dia lah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.” (Saba’: 39)

Orang yang berinfak di dunia akan beroleh ganti dan di akhirat kelak mendapatkan ganjaran dan pahala, kata Al-Hafizh Ibnu Katsir t dalam tafsirnya. (Tafsir Ibni Katsir, 6/331)

Al-’Allamah Asy-Syaikh Abdurrahman ibnu Nashir As-Sa’di t mengatakan, “Dan apa saja yang kalian nafkahkan/infakkan, berupa nafkah yang wajib ataupun mustahab/sunnah, untuk kerabat, tetangga, orang miskin, anak yatim, atau selainnya, maka Dia l akan menggantinya. Karenanya, janganlah kalian menyangka berinfak itu mengurangi rezeki. Bahkan Allah l –Dzat yang melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyempitkannya bagi siapa yang dikehendaki-Nya– berjanji akan memberi ganti kepada orang yang berinfak. Dia lah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya, maka mintalah rezeki dari-Nya dan berupayalah menempuh sebab-sebab yang diperintahkan-Nya kepada kalian.” (Taisir Al-Karimir Rahman fi Tafsir Kalamil Mannan)

Ayat lain yang bisa kita bawakan sebagai bukti bahwa orang yang berinfak akan murah rezekinya adalah firman Allah l:

“Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kalian dengan kefakiran dan menyuruh kalian berbuat fahisyah (kikir), sedangkan Allah menjanjikan ampunan dari-Nya untuk kalian dan karunia-Nya.” (Al-Baqarah: 268)

Ibnu ‘Abbas c berkata tentang ayat di atas, “Dua dari Allah l dan dua dari setan. Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kalian dengan kefakiran, ia berkata, ‘Jangan engkau infakkan hartamu dan tahanlah karena engkau membutuhkannya.’ Dan ia menyuruh kalian berbuat fahisyah (kikir). Sementara Allah l, Dia menjanjikan ampunan dari-Nya untuk kalian, dari maksiat-maksiat yang dilakukan, dan berjanji memberikan karunia-Nya berupa kelebihan/keutamaan dalam rezeki.” (Tafsir Ath-Thabari, 3/88, atsar no. 6167)

Dalam Tafsir Al-Khazin1 (1/204) dinyatakan bahwa ampunan merupakan isyarat yang menunjukkan pada kemanfaatan akhirat, sedangkan karunia/keutamaan menunjukkan kemanfaatan dunia dan rezeki berikut ganti yang diperoleh.

Al-Qadhi Ibnu ‘Athiyyah2 t berkata dalam tafsirnya, “Maghfirah atau ampunan adalah ditutup/ dihapusnya kesalahan para hamba-Nya di dunia dan di akhirat. Sedangkan Al-Fadhl atau karunia/keutamaan adalah rezeki di dunia, beroleh keluasan di dalamnya dan mendapatkan nikmat di akhirat.” (Al-Muharrarul Wajiz fi Tafsir Al-Kitabil ‘Aziz, 1/364)

Fadhilatusy Syaikh Al-’Allamah Muhammad ibnu Shalih Al-Utsaimin t menyebutkan beberapa faedah dari ayat di atas. Di antaranya:

1. Setan dapat memberikan tipu daya guna menyesatkan manusia, ditunjukkan dalam firman-Nya:

“Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kalian dengan kefakiran.” (Al-Baqarah: 268)

2. Setan dapat memengaruhi manusia untuk berani berbuat sesuatu atau menghalangi untuk berbuat sesuatu. Misalnya, setan menyuruhnya berzina dan menghias-hiasi perbuatan zina tersebut hingga akhirnya ia berani berzina. Di arah lain, setan menyuruhnya kikir dan menakut-nakutinya dengan kemiskinan bila ia menginfakkan hartanya sehingga ia pun enggan berinfak.

3. Tidak ada yang membuka pintu-pintu kesialan kecuali para setan. Setan ini membuka untukmu pintu kesialan, ia berkata, “Bila hari ini engkau berinfak besok engkau akan jadi orang miskin, karenanya jangan berinfak.”

4. Kikir termasuk perbuatan fahisyah.

5. Siapa yang menyuruh orang lain untuk menahan harta agar tidak diinfakkan di jalan kebaikan, berarti ia serupa dengan setan.

6. Kabar gembira bagi orang yang berinfak, ia akan beroleh ampunan dan tambahan harta.

Bila ada yang bertanya, “Bagaimana bentuk tambahan yang diperoleh orang yang berinfak, sementara kenyataannya bila dikeluarkan infak maka harta akan berkurang? Seperti seseorang yang sebelumnya memiliki sepuluh dirham, lalu diinfakkannya satu dirham, niscaya hartanya tinggal sembilan dirham. Lalu dari sisi mana tambahannya?

Jawabannya: Tambahan pahala di akhirat kelak tentunya jelas, karena satu kebaikan akan dibalas sepuluh kali lipat sampai 700 kali, bahkan berlipat ganda. Adapun tambahan di dunia, maka dari beberapa sisi:

Pertama: Terkadang Allah l membukakan satu pintu rezeki bagi seseorang yang sebelumnya tidak terpikirkan di benaknya, sehingga bertambahlah hartanya.

Kedua: Allah l menjaga harta seseorang dari rusak/hilang dan semisalnya. Seandainya si pemilik tidak bersedekah niscaya harta itu akan binasa, maka dengan berinfak akan melindungi harta dari kebinasaan.

Ketiga: Diperolehnya barakah dalam berinfak di mana dengan berinfak walau sedikit akan didapatkan buah yang sangat besar. Sementara bila dicabut barakah pada harta niscaya akan dihambur-hamburkan dalam perkara yang tidak bermanfaat atau bahkan memudaratkan si pemiliknya. (Tafsir Al-Qur’anil Karim, 3/347-349)

Abu Hurairah z menyampaikan hadits dari Rasulullah n:

قَالَ اللهُ تَعَالَى: أَنْفِقْ يَا ابْنَ آدَمَ أُنْفِقْ عَلَيْكَ

Allah l berfirman, “Berinfaklah wahai anak Adam, niscaya Aku akan memberi infak kepadamu.” (HR. Al-Bukhari no. 5352 dan Muslim no. 2305)

Dalam hadits yang lain, Rasulullah n bersabda:

مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيْهِ إِلاَّ مَلَكَانِ يَنْزِلاَنِ فَيَقُوْلُ أَحَدُهُمَا: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا. وَيَقُوْلُ الْآخَرُ: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا

Tidak ada satu hari pun di mana para hamba berpagi hari di dalamnya melainkan ada dua malaikat yang turun, salah satunya berkata, “Ya Allah, berilah ganti kepada orang yang berinfak.” Yang lain mengatakan, “Ya Allah, berilah kebangkrutan kepada orang yang kikir.” (HR. Al-Bukhari no. 1442 dan Muslim no. 2333)

Sementara kita tahu doanya malaikat mustajab di sisi Allah l karena mereka tidaklah mendoakan seseorang melainkan dengan izin Allah l. Allah l berfirman:

“Dan mereka (para malaikat itu) tidaklah memberikan syafaat (untuk seorang pun) kecuali orang yang Allah ridhai dan mereka takut kepada-Nya.” (Al-Anbiya’: 28)

Al-Imam Al-­Baihaqi t meriwayatkan dari Abu Hurairah z bahwa Nabi n berkata kepada Bilalz:

أَنْفِقْ يَا بِلَالُ، وَلاَ تَخْشَ مِنْ ذِيْ العَرْشِ إِقْلاَلاً

“Berinfaklah wahai Bilal! Jangan engkau khawatir menjadi fakir dan tidak memiliki apa-apa dari Dzat Pemilik Arsy.” (diriwayatkan dalam Syu’abul Iman, dishahihkan Al-Imam Al-Albani t karena banyak jalan/jalurnya. Lihat Al-Misykat hadits no. 1885)

Alangkah kuatnya jaminan yang diberikan untuk orang yang berinfak! Apakah mungkin Dzat yang memiliki Arsy, Allah l, akan menghinakan orang yang berinfak di jalan-Nya sehingga akhirnya orang itu meninggal dalam keadaan fakir, tidak memiliki apa-apa? Tentu jawabnya tidak.

Asy-Syaikh Al-Mulla Ali Al-Qari t menjelaskan hadits di atas, “Apakah engkau takut Dzat yang mengatur perkara dari langit ke bumi akan menyia-nyiakan orang yang semisalmu? Maksudnya, apa engkau takut Dzat yang rahmat-Nya meliputi seluruh penduduk langit dan bumi, yang mukmin maupun yang kafir, burung-burung ataupun hewan melata, akan mengecewakan harapanmu dan menyedikitkan rezekimu?” (Mirqatul Mafatih, 4/389)

Nabi n pernah berkisah:

بَيْنَا رَجُلٌ بِفَلاَةٍ مِنَ الْأَرْضِ، فَسَمِعَ صَوْتًا فِي سَحَابَةٍ: اسْقِ حَدِيْقَةَ فُلاَنٍ. فَتَنَحَّى ذَلِكَ السَّحَابُ، فَأَفْرَغَ مَاءَهُ فِي حَرَّةٍ، فَإِذَا شَرْجَةٌ مِنْ تِلْكَ الشِّرَاجِ قَدِ اسْتَوْعَبَتْ ذَلِكَ الْمَاءَ كُلَّهُ. فَتَتَبَّعَ الْمَاءَ، فَإِذَا رَجُلٌ قَائِمٌ فِي حَدِيْقَتِهِ يُحَوِّلُ الْمَاءَ بِمِسْحَاتِهِ. فَقَالَ لَهُ: يَا عَبْدَ اللهِ، مَا اسْمُكَ؟ قَالَ: فُلاَنٌ؛ لِلْاِسْمِ الَّذِي سَمِعَ فِي السَّحَابَةِ. فَقَالَ لَهُ: يَا عَبْدَ اللهِ، لِمَ تَسْأَلُنِي عَنِ اسْمِي؟ فَقَالَ: إِنِّي سَمِعْتُ صَوْتًا فِي السَّحاَبِ الَّذي هَذا مَاؤُهُ، يَقُوْلُ: اسْقِ حَدِيْقَةَ فُلاَنٍ؛ لِاسْمِكَ، فَمَا تَصْنَعُ فِيْهَا؟ قَالَ: أَمَّا إِذَا قُلْتَ هَذَا، فَإِنِّي أَنْظُرُ إِلَى ماَ يَخْرُجُ مِنْهَا، فَأَتَصَدَّقَ بِثُلُثِهِ، وَآكُلُ أَنَا وَعِيَالِي ثُلُثًا، وَأَرُدُّ فِيْهَا ثُلُثَهُ -وَفِي رِوَايَةٍ: وَأَجْعَلُ ثُلُثَهُ فِي الْمَسَاكِيْنِ وَالسَّائِلِْينَ وَابْنِ السَّبِيْلِ

Tatkala seorang lelaki berada di padang yang luas, ia mendengar sebuah suara di awan, “Airilah kebun si Fulan.” Maka awan tersebut mengarah ke suatu tempat, lalu ia mencurahkan airnya di tanah yang bercampur bebatuan hitam. Ternyata satu selokan dari beberapa selokan yang ada telah menampung air hujan itu seluruhnya. Lelaki tersebut mengikuti aliran air, pada akhirnya membawanya bertemu dengan seorang lelaki yang berdiri di kebunnya sedang memindahkan air dengan cangkulnya. Ia pun bertanya, “Wahai hamba Allah! Siapakah namamu?”

“Fulan,” jawabnya, dengan menyebut nama yang didengarnya di awan. “Wahai hamba Allah! Mengapa engkau menanyakan namaku?” si pemilik kebun balik bertanya. “Aku mendengar sebuah suara di awan yang mencurahkan airnya ke kebunmu ini, awan itu berkata, ‘Airilah kebun si Fulan.’ Dengan menyebut namamu. Maka aku ingin tahu apa yang engkau lakukan pada kebunmu ini sehingga engkau mendapat pengkhususan demikian,” katanya meminta penjelasan. Si pemilik kebun menjelaskan, “Adapun bila memang seperti yang engkau katakan, maka aku biasa melihat hasil panen kebunku ini untuk aku sedekahkan sepertiganya. Sepertiga lagi untuk aku makan berikut keluargaku, dan sepertiga yang tersisa aku kembalikan ke kebunku (untuk keperluan menanam kembali).”

Dalam satu riwayat, “Aku berikan sepertiganya untuk orang-orang miskin, peminta-minta, dan ibnu sabil.” (HR. Muslim no. 7398)

Al-Imam An-Nawawi t berkata, “Hadits ini menunjukkan keutamaan sedekah dan berbuat baik kepada orang miskin dan ibnu sabil. Sebagaimana hadits ini menunjukkan keutamaan seseorang yang makan dari hasil usaha/ keringatnya sendiri dan keutamaan memberi infak kepada keluarga.” (Al-Minhaj, 18/315)

 

Infak untuk Penuntut Ilmu Syar’i

Anas bin Malik z berkata:

كَانَ أَخَوَانِ عَلَى عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ n، فَكَانَ أَحَدُهُمَا يَأْتِي النَّبِيَّ n -وَفِي رِوَايَةٍ: يَحْضُرُ حَدِيْثَ النَّبِيِّ n وَمَجْلِسَهُ- وَالْآخَرُ يَحْتَرِفُ. فَشَكَا الْمُحْتَرِفُ أَخَاهُ إِلَى النَّبِيَّ n (فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، إِنَّ هَذَا أَخِيْ لاَ يُعِيْنُنِيْ بِشَيْءٍ) فَقَالَ: لَعَلَّكَ تُرْزَقُ بِهِ

Ada dua orang bersaudara di masa Rasulullah n yang satu biasa mendatangi Nabi n (dalam satu riwayat: ia menghadiri hadits Nabi n dan mejelis beliau) sedangkan yang satunya lagi sibuk bekerja. Suatu ketika yang bekerja mengadukan saudaranya kepada Nabi n. (Ia berkata, “Wahai Rasulullah, saudaraku ini tidak membantuku sedikitpun untuk mencari penghidupan.”) Nabi n malah mengatakan, “Mungkin kamu diberi rezeki karena dia.” (HR. At-Tirmidzi no. 2345, dishahihkan dalam Al-Misykat no. 5308 dan Ash Shahihah no. 2769)

Al-Mubarakfuri menjelaskan hadits ini, “Mungkin kamu diberi rezeki karena dia.” Maksudnya aku berharap dan aku khawatir kamu diberi rezeki justru karena barakah saudaramu itu karena dia diberi rezeki dari hasil pekerjaanmu. Oleh sebab itu kamu jangan merasa telah memberi anugerah kepadanya dengan perbuatanmu.” (Tuhfatul Ahwadzi, Kitabuz Zuhd, bab At-Tawakkul ‘alallah)

Hadits di atas menunjukkan bahwa memberi infak kepada penuntut ilmu syar’i yang mempelajari agama Allah l, belajar Al-Qur’an dan hadits-hadits nabawi, juga termasuk kunci rezeki.

 

Berbuat Baik Kepada Orang-Orang Lemah

Mush’ab ibnu Sa’d ibnu Abi Waqqash menceritakan bahwa ayahnya, Sa’d z merasa punya kelebihan/keutamaan dibanding para sahabat yang lain, maka Nabi n mengingatkan:

هَلْ تُنْصَرُوْنَ وَتُرْزَقُوْنَ إِلاَّ بِضُعَفَائِكُمْ

“Tidakkah kalian ditolong terhadap musuh-musuh kalian, dan tidakkah kalian diberi rezeki melainkan karena orang-orang lemah kalian?” (HR. Al-Bukhari no. 2896)

Al-Muhallab berkata sebagaimana dinukil dalam Fathul Bari (6/109), “Nabi n menginginkan dengan ucapan tersebut untuk mendorong Sa’d agar tawadhu’, tidak menyombongkan diri di hadapan orang lain dan tidak meremehkan seorang muslim dalam seluruh keadaan.”

Dengan demikian, siapa yang ingin mendapatkan pertolongan Allah l dan beroleh rezeki dari-Nya, hendaklah ia berbuat baik kepada orang-orang lemah dari kalangan orang fakir, miskin, anak yatim, janda dan semisalnya. Mengapa pertolongan Allah l diberikan lewat mereka? Diterangkan Al-Mundziri bahwa ibadah orang-orang lemah dan doa mereka lebih ikhlas, karena hati mereka bersih dari ketergantungan terhadap perhiasan dunia. Juga karena keinginan mereka itu satu, makanya doa mereka dikabulkan dan amalan mereka bersih. (‘Aunul Ma’bud, kitabul Jihad, bab fil Intishar bi Radzlil Khail wadh Dha’fah)

Nabi yang mulia n pernah menyatakan bahwa ridha beliau didapatkan dengan berbuat ihsan/kebaikan kepada orang-orang lemah. Al-Imam Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim meriwayatkan dari Abud Darda z, ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah n bersabda:

أَبْغُوْنِي الضُّعَفَاءَ،  فَإِنَّمَا  تُرْزَقُوْنَ  وَتُنْصَرُوْنَ بِضُعَفَائِكُمْ

“Carilah keridhaanku dengan berbuat baik kepada orang-orang lemah kalian, karena kalian diberi rezeki dan ditolong disebabkan orang-orang lemah kalian.” (Dishahihkan Al-Imam Al-Albani t dalam Ash-Shahihah no. 779)

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.


1 Nama lainnya Lubabut Ta’wil fi Ma’anit Tanzil, karya ‘Alauddin ibnu Ali ibni Muhammmad ibni Ibrahim Al-Baghdadi, semoga Allah l merahmati beliau, yang masyhur dengan sebutan Al-Khazin, wafat tahun 725 H.
2 Beliau adalah Al-Qadhi Abu Muhammad Abdul Haq ibnu Ghalib ibnu Athiyyah Al-Andalusi t, wafat tahun 546 H.

Kedudukan Zakat dalam Agama Islam

(ditulis oleh: Al-Ustadz Saifuddin Zuhri, Lc)

 

الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، جَعَلَ فِيْ أَمْوَالِ الْأَغْنِيَاءِ حَقًّا لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِيْنِ، وَلِلْمَصَارِفِ الَّتِي بِهَا صَلاَحُ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاه مُخْلِصِيْنَ مُوَحِّدِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الصَّادِقُ الْأَمِيْنُ صَلَّى اللهُ عَلَيْه وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ:

أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوْا اللهَ تَعَالىَ وَأَدُّوْا مَا أَوْجَبَ اللهُ عَلَيْكُمْ فِيْ أَمْوَلِكُمْ.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Segala puji dan syukur kita panjatkan ke hadirat Allah l atas berbagai nikmat dan karunia-Nya kepada hamba-hamba-Nya. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang senantiasa mengikuti petunjuknya.
Hadirin rahimakumullah,
Sesungguhnya seorang mukmin tidak dikatakan sebagai mukmin yang sebenar-benarnya kecuali jika dia telah menundukkan dirinya untuk menerima dan menjalankan syariat Allah l. Di antara kewajiban paling besar dari kewajiban-kewajiban yang Allah l perintahkan, adalah kewajiban menunaikan zakat. Bahkan kewajiban ini merupakan rukun Islam yang ketiga dan senantiasa diiringkan penyebutannya dengan kewajiban shalat dalam banyak ayat di dalam Al-Qur’an.
Oleh karena itu wajib bagi setiap muslim yang terpenuhi pada dirinya syarat-syarat yang mewajibkan zakat untuk menunaikannya. Seperti orang yang memiliki emas atau perak, maka wajib baginya untuk mengeluarkan zakatnya apabila emas dan perak yang dimilikinya telah mencapai nishab serta setelah melewati haul (yaitu satu tahun) juga masih mencapai nishab. Adapun besarnya zakat yang harus dikeluarkan adalah 2,5% (dua setengah persen) dari berat emas atau perak yang dimilikinya. Begitu pula orang yang memiliki uang senilai nishab emas atau perak, maka wajib untuk dikeluarkan zakatnya apabila setelah satu tahun jumlah uang yang dimilikinya masih mencapai nishab. Namun apabila uang yang dimilikinya tidak pernah mencapai nishab maka tidak ada kewajiban untuk dikeluarkan zakatnya, meskipun dia mendapatkan gaji setiap bulannya. Begitu pula jika uang yang dimilikinya telah mencapai nishab, namun sebelum satu tahun uang tersebut (sebagian atau seluruhnya) telah dipakai sehingga tidak lagi mencapai nishab atau sebelum melewati satu tahun si pemilik uang tersebut meninggal dunia, maka tidak ada kewajiban untuk dikeluarkan zakatnya. Adapun lebih lengkapnya tentang hal-hal yang berkaitan dengan zakat maka bisa dipelajari atau ditanyakan dalam majelis-majelis ilmu.
Hadirin rahimakumullah,
Kewajiban zakat, memiliki faedah dan maslahat yang besar. Di antaranya adalah sebagai bentuk bantuan kepada fakir miskin dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Begitu pula, untuk membersihkan jiwa orang yang mengeluarkannya sehingga memiliki sifat kasih sayang, kepedulian, serta terbebas dari sifat yang tercela seperti bakhil, kikir, dan semisalnya. Disamping itu, kewajiban zakat ini juga bisa menghilangkan pada diri fakir miskin sifat iri, dengki, serta menginginkan apa yang dimiliki orang lain. Sehingga dengan ditunaikannya kewajiban zakat ini, akan terwujud hubungan yang penuh kasih sayang dan saling menghormati terutama di antara orang yang kaya dengan fakir miskin. Allah l menyebutkan dalam firman-Nya:
“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, yang dengan zakat itu kamu akan membersihkan mereka (dari akhlak yang jelek) dan menyucikan mereka (sehingga memiliki akhlak yang mulia) serta berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (At-Taubah: 103)
Termasuk juga dari hikmahnya adalah bahwa kewajiban zakat akan menjadi sebab bertambahnya atau semakin barakahnya harta orang yang mengeluarkannya. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam firman Allah l:
“Dan apa saja yang kamu keluarkan (di jalan Allah l), maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.” (Saba’: 39)
Hadirin rahimakumullah,
Ketahuilah bahwasanya seorang muslim yang mengingkari kewajiban zakat, sebagaimana diterangkan para ulama, dia dihukumi sebagai orang kafir yang keluar dari agamanya. Adapun orang yang meyakini kewajibannya namun tidak mau mengeluarkan zakat karena bakhil atau pelit, maka dipaksa untuk mengeluarkannya zakatnya. Namun apabila dipaksa juga tidak bisa dilakukan, maka penguasa berhak untuk memeranginya, sebagaimana hal ini telah dilakukan oleh para sahabat g.
Jamaah jum’ah rahimakumullah,
Demikian hukuman bagi orang yang tidak mau mengeluarkan zakatnya di dunia. Bahkan mungkin pula Allah l akan menimpakan berbagai musibah sebagai hukuman lainnya atas mereka di dunia. Adapun hukumannya di akhirat, Allah l telah sebutkan di dalam firman-Nya:
“Maka janganlah sekali-kali orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi, dan Allah mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (Ali ‘Imran: 180)
Berkaitan dengan ayat ini, Rasulullah n bersabda:
مَنْ آتَاهُ اللهُ مَالاً فَلَمْ يُؤَدِّ زَكَاتَهُ مُثِّلَ لَهُ مَالُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ شُجَاعًا أَقْرَعَ لَهُ زَبِيْبَتَانِ يُطَوِّقُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثُمَّ يَأْخُذُ بِلِهْزِمَتَيْهِ (يَعْنِي بِشِدْقَيْهِ) ثُمَّ يَقُوْلُ: أَنَا مَالُكَ، أَنَا كَنْزُكَ…
“Barangsiapa yang diberi harta oleh Allah l namun tidak mau menunaikan zakatnya, pada hari kiamat hartanya akan dijadikan sebagai ular jantan yang aqra’ (banyak mengandung racun pada kepalanya), yang berbusa pada kedua sudut mulutnya. (Ular itu) dikalungkan pada lehernya pada hari kiamat, kemudian akan mencengkeram (tangan orang tersebut) dengan kedua rahangnya kemudian berkata: ‘Aku hartamu, aku harta simpananmu…’.” (HR. Al-Bukhari)
Di dalam ayat lainnya, Allah l berfirman:
“Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak, serta tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih. Pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka Jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: ‘Inilah harta benda kalian yang kalian simpan untuk diri kalian sendiri. Maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kalian simpan itu’.” (At-Taubah: 34-35)
Ayat ini pun telah dijelaskan oleh Nabi n dalam sabdanya:
مَا مِنْ صَاحِبِ ذََهَبٍ وَلاَ فِضَّةٍ لاَ يُؤَدِّي مِنْهَا حَقَّهَا إِلاَّ إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ صُفِّحَتْ لَهُ صَفَائِحُ مِنْ نَارٍ فَأُحْمِيَ عَلَيْهَا فِيْ ناَرِ جَهَنَّمَ فَيُكْوَى بِهَا جَنْبُهُ وَجَبِيْنُهُ وَظَهْرُهُ، كُلَّمَا بَرَدَتْ أُعِيْدَتْ لَهُ فِيْ يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِيْنَ أَلْفَ سَنَةٍ حَتَّى يُقْضَى بَيْنَ الْعِبَادِ فَيُرَى سَبِيْلُهُ، إِمَّا إِلَى الْجَنَّةِ وَإِمَّا إِلَى النَّارِ
“Tidaklah orang yang memiliki emas ataupun perak, yang tidak menunaikan haknya darinya (mengeluarkan zakatnya) kecuali pada hari kiamat nanti akan dijadikan lempengan-lempengan dari neraka kemudian dipanaskan di dalam neraka lalu dibakarlah dahi, lambung, dan punggungnya. Setiap lempengan itu dingin, akan dipanaskan kembali (untuk menyiksanya) pada hari yang satu hari ukurannya 50.000 tahun, sehingga diputuskan hukuman di antara hamba. Maka diketahui jalannya, ke surga atau ke neraka.” (Muttafaqun ‘alaih, dan ini lafadz Al-Imam Muslim t)
Hadirin rahimakumullah,
Maka jelaslah, betapa tingginya kedudukan zakat dalam Islam dan sudah semestinya bagi kita untuk memerhatikan masalah ini. Mudah-mudahan Allah l senantiasa memberikan kemudahan kepada kita untuk mampu menjalankan syariat-Nya. Wallahu a’lam bish-shawab.
Walhamdulillahi rabbil ‘alamin.
Khutbah Kedua:
الْحَمْدُ لِلهِ حَقَّ حَمْدِهِ وَالصَّلاَةُ عَلَى مَنْ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ وَعَلىَ آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ وَاهْتَدَى بِهَدْيِهِ إِلَى يَوْمِ لِقَاهُ، أَمَّا بَعْدُ:
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Segala puji bagi Allah l atas kesempurnaan nama-nama-Nya yang husna dan seluruh sifat-Nya. Dialah Allah yang Maha Kaya yang tidak membutuhkan apapun dari hamba-hamba-Nya.
Hadirin rahimakumullah,
Sebagimana ibadah yang lainnya, zakat juga merupakan kewajiban yang telah ditetapkan aturannya di dalam syariat. Baik yang berkaitan dengan jenis harta yang harus dizakati maupun orang-orang yang berhak menerimanya. Oleh karena itu, tidak diperbolehkan bagi seseorang untuk menetapkannya dari dirinya sendiri tanpa ada landasan dari Al-Qur’an ataupun hadits yang shahih. Seperti menetapkan adanya zakat pada harta yang berupa rumah, tanah, kendaraan, dan yang semisalnya, padahal tidak ada dalil yang menunjukkan hal tersebut. Meskipun hal ini bukan berarti tidak menganjurkan pemiliknya untuk bersedekah membantu meringankan saudaranya yang tidak mampu. Bahkan hal ini tentunya sangat dianjurkan. Karena Allah l akan bersama dengan orang-orang yang berbuat baik, Nabi n juga menyebutkan dalam haditsnya:
مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيْهِ إِلاَّ مَلكَانِ يَنْزِلاَنِ فَيَقُوْلُ أَحَدُهُمَا: اللَهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا. وَيَقُوْلُ الْآخَرُ: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا
“Tidaklah ada satu hari pun yang seorang hamba berada di dalamnya kecuali pada pagi harinya turun dua malaikat, salah satunya berdoa: ‘Ya Allah, berikanlah kepada orang yang bersedekah pemberian yang lainnya.’ Sedangkan yang satunya lagi mengatakan: ‘Ya Allah, berikanlah kepada orang yang tidak bersedekah kehancuran apa yang dimilikinya.” (Muttafaqun ‘alaih)
Adapun tentang siapa saja yang berhak menerima zakat, Allah l telah menyebutkan di dalam firman-Nya:
“Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, amil zakat, para muallaf (yang dilembutkan) hati mereka (untuk menerima Islam), untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang terlilit hutang, untuk orang-orang yang berjihad, dan untuk musafir yang mendapatkan kesulitan dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (At-Taubah: 60)
Hadirin rahimakumullah,
Dari ayat tersebut, kita mengetahui bahwa orang yang kaya atau telah mampu untuk memenuhi kebutuhannya sehari-harinya untuk makan, minum, serta tempat tinggal dan semisalnya, tidak boleh baginya untuk menerima zakat. Nabi n bersabda:
مَنْ سَأَلَ النَّاسَ تَكَثُّرًا فَإِنَّمَا يَسْأَلُ جَمْرًا، فَلْيَسْتَقِلَّ أَوْ لِيَسْتَكْثِرْ
“Barangsiapa meminta-minta kepada orang untuk memperbanyak hartanya, maka sesungguhnya tidaklah yang dia minta kecuali bara api. Maka mungkin dia meminta sedikit atau dia meminta banyak (tergantung sebanyak apa dia memintanya).” (HR. Muslim)
Hadirin rahimakumullah,
Disamping itu, menurut pendapat sebagian besar para ulama, zakat juga tidak boleh diberikan untuk pembangunan masjid, madrasah serta untuk membiayai acara-acara taklim atau pengajian, dan yang semisalnya. Maka, marilah kita senantiasa bertakwa kepada Allah l dalam masalah kewajiban zakat ini.
Jangan sampai kita menyalahgunakan harta zakat atau membuat aturan baru terkait dengan kewajiban yang mulia ini. Bahkan kita harus senantiasa ingat bahwa sebaik-baik perkataan adalah kitab Allah l dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah n. Adapun sejelek-jelek perkara adalah aturan ibadah yang diada-adakan, dan perbuatan tersebut adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat.
Akhirnya, mudah-mudahan kita semua selalu diberi taufiq oleh Allah l, sehingga amal ibadah yang kita lakukan senantiasa dibangun di atas keikhlasan dan sesuai dengan syariat yang dibawa oleh Rasulullah n.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ وَعَنْ جَمِيْعِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمَ الدِّيْنِ.
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِينَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِماتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّهُ سَمِيْعٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ، اذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ الْجَلِيْلَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.

Zakat Perhiasan

Sesungguhnya saya berharap dari anda para ulama untuk menerangkan kepada saya dan saudara-saudara saya tentang zakat emas atau perhiasan emas yang disiapkan untuk dipakai, bukan untuk jual beli. Sebagian orang mengatakan bahwa yang demikian ada zakatnya baik untuk dipakai atau untuk diperdagangkan, dan bahwa hadits-hadits tentang zakat pada emas yang untuk dipakai lebih kuat daripada hadits-hadits yang datang serta menerangkan bahwa tidak ada zakatnya. Saya berharap dari anda para ulama untuk berkenan menjawab saya secara tertulis dengan jawaban yang jelas. Semoga Allah l membalas anda sekalian dengan kebaikan atas jasa anda sekalian terhadap Islam dan muslimin.
Jawab:
Para ulama sepakat tentang wajibnya zakat atas perhiasan emas dan perak bila itu adalah perhiasan yang haram untuk dipakai1, atau disiapkan untuk diperdagangkan atau sejenisnya.
Adapun bila itu adalah perhiasan yang diperbolehkan, yang disiapkan untuk dipakai atau dipinjamkan, seperti cincin perak dan perhiasan untuk kaum wanita serta apa yang dihalalkan dari perhiasan pada senjata, maka ulama telah berbeda pendapat dalam hal wajibnya zakat atasnya.
Sebagian mereka berpendapat wajib zakat padanya karena masuk dalam keumuman makna firman Allah l:
“Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih.” (At-Taubah: 34)
Al-Qurthubi t mengatakan dalam tafsirnya yang redaksinya berikut ini: Ibnu Umar c telah menerangkan –dalam Shahih Al-Bukhari– makna ini, di mana seorang Arab Badui mengatakan kepadanya: ‘Beritahukan kepadaku tentang firman Allah l:
”Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak.” (At-Taubah: 34)
Ibnu Umar c mengatakan: ”Barangsiapa menyimpannya lalu tidak menunaikan kewajibannya maka celakalah dia. Ini sebelum turunnya kewajiban zakat. Maka setelah turunnya kewajiban zakat, Allah l menjadikan zakat sebagai pembersih harta.”
Juga dengan alasan adanya hadits-hadits yang menegaskan wajibnya zakat. Di antaranya apa yang diriwayatkan Abu Dawud, An-Nasa’i, dan At-Tirmidzi dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya:
أَنَّ امْرَأَةً أَتَتْ رَسُولَ اللهِ n وَمَعَهَا ابْنَةٌ لَهَا وَفِى يَدِ ابْنَتِهَا مَسَكَتَانِ غَلِيظَتَانِ مِنْ ذَهَبٍ، فَقَالَ لَهَا: أَتُعْطِينَ زَكَاةَ هَذَا؟ قَالَتْ: لاَ. قَالَ: أَيَسُرُّكِ أَنْ يُسَوِّرَكِ اللهُ بِهِمَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ سِوَارَيْنِ مِنْ نَارٍ؟ قَالَ: فَخَلَعَتْهُمَا فَأَلْقَتْهُمَا إِلَى النَّبِيِّ n وَقَالَتْ: هُمَا لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ وَلِرَسُولِهِ.
Seorang wanita datang kepada Nabi n dan bersamanya ada anak perempuannya. Di tangan anaknya melingkar dua gelang yang tebal dari emas. Maka Nabi n mengatakan kepadanya: “Apakah kamu telah memberikan zakatnya ini?” Ia menjawab: “Belum.” Nabi n berkata: “Apakah kamu senang bila Allah memakaikan gelang kepadamu sebagai ganti keduanya berupa gelang dari api neraka?” Maka ia melepaskan keduanya lalu melemparkannya kepada Rasulullah n sambil mengatakan: “Keduanya untuk Allah dan Rasul-Nya.”
Juga hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunan-nya, Al-Hakim dalam kitabnya Al-Mustadrak, Ad-Daruquthni, serta Al-Baihaqi dalam Sunan-nya dari Aisyah x, ia berkata:
دَخَلَ عَلَيَّ رَسُولُ اللهِ n فَرَأَى فِى يَدِي فَتَخَاتٍ مِنْ وَرِقٍ فَقَالَ: مَا هَذَا يَا عَائِشَةُ؟ فَقُلْتُ: صَنَعْتُهُنَّ أَتَزَيَّنُ لَكَ يَا رَسُولَ اللهِ. قَالَ: أَتُؤَدِّينَ زَكَاتَهُنَّ؟ قُلْتُ: لاَ -أَوْ مَا شَاءَ اللهُ-. قَالَ: هُوَ حَسْبُكِ مِنَ النَّارِ.
Rasulullah masuk menemuiku lalu beliau melihat di tanganku ada cincin dari perak, beliau pun berkata: “Apa ini, wahai Aisyah?” Aisyah menjawab: “Saya membuatnya untuk saya berhias dengannya untukmu, wahai Rasulullah.” “Apakah kamu sudah memberikan zakatnya?” Aku menjawab: “Belum”, atau “Masya Allah.” Nabi bersabda: “Itu cukup bagimu dari neraka.”
Juga apa yang mereka riwayatkan dari Ummu Salamah x, ia mengatakan:
كُنْتُ أَلْبَسُ أَوْضَاحًا مِنْ ذَهَبٍ فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَكَنْزٌ هُوَ؟ فَقَالَ: مَا بَلَغَ أَنْ تُؤَدَّى زَكَاتُهُ فَزُكِّيَ فَلَيْسَ بِكَنْزٍ.
Aku memakai perhiasan dari emas, maka aku mengatakan: “Wahai Rasulullah, apakah ini termasuk kanzun (harta simpanan yang pemiliknya diancam oleh Allah l)?” Beliau menjawab: “Apa yang mencapai batas untuk ditunaikan zakatnya lalu dizakati maka itu bukanlahh termasuk kanzun.”
Sementara sebagian ulama berpendapat bahwa tidak ada zakat atasnya. Dengan argumen bahwa dengan dipakainya hukum yang mubah maka (perhiasan) itu sejenis dengan pakaian dan barang-barang yang lain, bukan dari jenis sesuatu yang berharga.
Mereka menjawab dalil keumuman makna ayat (di atas) bahwa itu telah dikhususkan oleh amalan para sahabat. Karena telah terdapat riwayat dari Aisyah x dengan sanad yang shahih, bahwa beliau mengurusi anak-anak perempan dari saudara perempuan beliau yang yatim di pengasuhannya, dan mereka memiliki perhiasan di mana Aisyah x tidak mengeluarkan zakatnya.
Ad-Daruquthni juga meriwayatkan dengan sanadnya sampai kepada Asma’ bintu Abu Bakr c bahwa ia memakaikan anak-anak perempuannya emas dan ia tidak menzakatinya sekitar 50.000.
Abu Ubaid mengatakan dalam kitabnya Al-Amwal: “Isma’il bin Ibrahim telah mengabarkan kepada kami, dari Ayyub, dari Nafi’, dari Ibnu Umar c bahwa ia mengawinkan anak wanitanya dengan mahar 10.000. Lalu menjadikan 4.000 sebagai perhiasannya. Ia berkata: Mereka tidak memberikan dari hiasan itu, yakni zakatnya.”
Beliau berkata juga: “Isma’il bin Ibrahim telah mengabarkan kepada kami, dari Ayyub, dari ‘Amr bin Dinar, ia berkata: Jabir bin Abdillah z ditanya, “Apakah dalam perhiasan ada zakatnya?” Ia berkata: “Tidak.” Ditanya lagi, “Walaupun mencapai 10.000?” Ia menjawab: “Banyak.”
Mereka menjawab tentang hadits-hadits yang menyebutkan wajibnya zakat pada perhiasan tersebut, bahwa dalam sanad-sanadnya terdapat kelemahan.
Ibnu Hazm dalam kitab Al-Muhalla menyifati bahwa riwayat-riwayat itu adalah riwayat yang lemah, tidak ada alasan untuk menyibukkan dengannya.
At-Tirmidzi mengatakan setelah menyebutkan hadits Amr bin Syu’aib dari ayahya dari kakeknya: “Tidak ada hadits yang shahih sedikitpun dari Nabi n dalam masalah ini.”
Ibnu Badr Al-Maushili t mengatakan dalam kitabnya Al-Mughni ‘Anil Hifzhi wal Kitab fima la Yashihhu fihi Syai’un minal Ahadits fil Bab: “Bab Zakat perhiasan, tidak ada yang shahih dalam bab ini sedikitpun dari Nabi.”
Disebutkan pula oleh Asy-Syaukani t dalam kitab As-Sailul Jarrar mengomentari apa yang ada dalam kitab Al-Mughni ‘Ani Hifzhi wal Kitab, tidak terdapat dalam hal zakat perhiasan hadits yang shahih, sebagian mengatakan: “Zakatnya adalah peminjamannya.”
Yang terkuat dari dua pendapat, adalah pendapat ulama yang mengatakan wajibnya zakat perhiasan, bila mencapai nishab2, atau si pemiliknya memiliki emas dan perak, atau barang dagangan yang mengantarkannya mencapai nishab, dengan dalil dan alasan keumuman makna hadits-hadits yang mewajibkan zakat emas dan perak3 serta tidak ada yang mengkhususkannya4 dengan sanad yang shahih, sepengetahuan kami. Juga berdasarkan hadits-hadits Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash, ‘Aisyah, dan Ummu Salamah gyang telah lalu, dan itu adalah hadits-hadits yang sanadnya bagus, tidak ada cacat yang berpengaruh padanya. Maka wajib kita mengamalkannya.
Adapun penganggapan lemah dari Al-Imam At-Tirmidzi, Ibnu Hazm, dan Al-Maushili, maka tidak ada alasannya sepengetahuan kami. Sedangkan At-Tirmidzi, beliau mendapat udzur pada apa yang beliau sebutkan karena beliau menyebutkan sanad hadits Abdullah bin ‘Amr c dari jalan yang lemah. Sementara telah diriwayatkan oleh Abu Dawud dan An-Nasa’i, juga Ibnu Majah, dari jalan lain yang shahih. Barangkali beliau belum mengetahuinya.
Allah l lah yang memberi taufiq, semoga Allah k memberikan shalawatnya dan salam-Nya kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya.
Al-Lajnah Ad-Da’imah lil Buhuts Al-Ilmiyyah wal Ifta’ (Panitia tetap untuk pembahasan ilmiah dan fatwa)
Ketua: Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz
Wakil: Abdurrazzaq Afifi
Anggota: Abdullah bin Qu’ud dan Abdullah bin Ghudayyan

1 Misalnya emas bagi kaum laki-laki, karena dalam hadits yang diriwayatkan Ali bin Abi Thalib z, disebutkan: Nabi n mengambil sutera dan memegangnya dengan tangan kanan beliau, lalu mengambil emas dan memegangnya di tangan kiri beliau, kemudian bersabda:
إِنَّ هَذَيْنِ حَرَامٌ عَلَى ذُكُورِ أُمَّتِي
“Sesungguhnya dua benda ini haram bagi kaum lelaki umatku.” (HR. Abu Dawud)
2 Nishabnya bila emas, 20 dinar setara dengan kira-kira 85 gram dan bila perak, 200 dirham setara dengan kira-kira 595 gram. Namun ada sedikit perbedaan pendapat dalam penentuan dinar dan dirham dalam gram.
3 Sehingga mencakup yang dijadikan perhiasan.
4 Misal, mengkhususkan yang bukan perhiasan saja yang wajib.

Bernadzar Tanpa Melafadzkannya

Wajibkah saya menunaikan kaffarah nadzar yang hanya terbersit dalam hati (nadzar tersebut tidak saya ucapkan dengan lisan) dan apakah pilihan kaffarah juga harus urut sedangkan saya belum bekerja?
Abu Musa, Temanggung, Jawa Tengah
Dijawab Oleh: Al-Ustadz Abu ‘Abdillah Muhammad Al-Makassari
Apa yang terbersit dalam qalbu (hati) tidak dianggap sebagai nadzar hingga dilafadzkan dengan lisan. Hal itu hanya sebatas niat untuk bernadzar dan tidak menjadi nadzar sampai benar-benar diucapkan dengan lisan.
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin t berkata dalam Syarhu Bulughil Maram1: “Nadzar adalah mewajibkan sesuatu atas dirinya, sama saja baik dengan lafadz nadzar, ‘ahd (perjanjian), atau yang lainnya.”
Dalam Asy-Syarhul Mumti’ (6/450-451)/Darul Atsar beliau berkata: “Nadzar menurut bahasa adalah mewajibkan, jika dikatakan: “Aku menadzarkan hal ini atas diriku” artinya “aku mewajibkannya atas diriku.”
Adapun secara syariat, nadzar adalah mewajibkan sesuatu dengan sifat yang khusus, yaitu amalan seorang mukallaf mewajibkan atas dirinya sesuatu yang dimilikinya dan bukan sesuatu yang mustahil. Suatu nadzar dianggap sah (sebagai nadzar) dengan ucapan (melafadzkannya), dan tidak ada shighah (bentuk ucapan) tertentu untuk itu. Bahkan seluruh shighah yang menunjukkan makna “mewajibkan sesuatu atas dirinya” maka dikategorikan sebagai nadzar. Apakah dengan mengucapkan:
لِلهِ عَلَيَّ عَهْدٌ
“Wajib atas diri saya suatu janji karena Allah”
atau mengucapkan:
لِلهِ عَلَيَّ نَذْرٌ
“Wajib atas diri saya suatu nadzar karena Allah,”
Ataukah lafadz-lafadz serupa yang menunjukkan bahwa seseorang mewajibkan sesuatu atas dirinya, seperti:
لِلهِ عَلَيَّ أَنْ أَفْعَلَ كَذَا
“Wajib atas diri saya untuk melakukan demikian”, meskipun tidak menyebut kata janji atau nadzar.
Berdasarkan keterangan ini, maka apa yang terbersit dalam qalbu anda tidak dianggap sebagai nadzar dan dengan sendirinya tidak ada pembicaraan tentang kaffarah nadzar. Wallahu a’lam.

1 Masih berupa rekaman.

Adzan dan Iqomat (bagian tiga)

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Ishaq Muslim Al-Atsari)

Adzan Dikumandangkan Pada Waktunya

Bila telah masuk waktu shalat, dikumandangkanlah adzan sebagai ajakan untuk menghadiri shalat berjamaah. Namun ada adzan yang diserukan sebelum masuk waktu shalat, yaitu adzan sebelum shalat subuh yang dikenal dengan adzan pertama. Kata Ibnu Hazm t, “Tidak boleh diserukan adzan untuk shalat sebelum masuk waktunya terkecuali shalat subuh saja (adzan pertama, pen.).” (Al-Muhalla, 2/159)

Untuk subuh memang ada dua adzan. Adzan pertama dikumandangkan beberapa waktu sebelum shalat subuh dengan tujuan membangunkan orang yang tidur, mengingatkan orang yang shalat tahajjud/qiyamul lail agar tidur sejenak hingga nantinya mengerjakan shalat subuh dalam keadaan segar. Tujuan lainnya, agar orang yang ingin puasa keesokan harinya bisa segera makan sahur. Adapun adzan kedua diserukan ketika masuk waktunya1.

Ibnu Umar c berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah n bersabda:

إِنَّ بِلاَلاً يُؤَذِّنُ بِلَيْلٍ، فَكُلُوْا وَاشْرَبُوا حَتَّى يُنَادِيَ ابْنُ أُمِّ مَكْتُوْمٍ. ثُمَّ قَالَ: وَكَانَ رَجُلاً أَعْمَى لاَ يُنَادِي حَتَّى يُقَالَ لَهُ: أَصْبَحْتَ، أَصْبَحْتَ

“Sesungguhnya Bilal adzan di waktu malam, maka makan dan minumlah kalian (yang berniat puasa di esok hari) sampai Ibnu Ummi Maktum mengumandangkan adzan.” Kemudian Ibnu Umar c berkata, “Ibnu Ummi Maktum adalah seorang yang buta. Ia tidak mengumandangkan adzan sampai ada yang berkata kepadanya, ‘Engkau telah berada di waktu pagi/subuh, engkau telah berada di waktu pagi/subuh’.” (HR. Al-Bukhari no. 617 dan Muslim no. 2533)

Jarak antara dua adzan ini tidaklah berjauhan, sebagaimana diisyaratkan dalam ucapan Ibnu Umar c dari hadits di atas yang diriwayatkan Al-Imam Muslim t:

وَلَمْ يَكُنْ بَيْنَهُمَا إِلاَّ أَنْ يَنْزِلَ هَذَا وَيَرْقَى هَذَا.

“Tidaklah jarak antara kedua adzan ini kecuali sekadar muadzin yang satu turun dari tempatnya beradzan dan muadzin yang lain naik.”

Al-Imam An-Nawawi t menjelaskan: Para ulama mengatakan, “Makna kalimat di atas adalah Bilal biasa mengumandangkan adzan sebelum fajar. Setelah itu ia mengisi waktunya dengan berdoa dan semisalnya. Kemudian ia melihat-lihat fajar. Apabila telah dekat terbitnya fajar, ia turun untuk mengabarkannya kepada Ibnu Ummi Maktum. Maka Ibnu Ummi Maktum pun bersiap-siap dengan bersuci dan selainnya. Setelahnya ia naik dan mulai mengumandangkan adzan bersamaan dengan awal terbitnya fajar. Wallahu a’lam.” (Al-Minhaj, 7/203)

Al-Imam Al-Albani t dalam Tamamul Minnah (hal. 146) memperkirakan adzan pertama itu diserukan sekitar seperempat jam sebelum masuk waktu shalat subuh.

Faedah

Termasuk sunnah yang ditinggalkan oleh kaum muslimin pada hari ini adalah tidak mengangkat/menjadikan dua muadzin (penyeru/pengumandang adzan) dalam adzan fajar, yang dengannya dapat dibedakan muadzin pada adzan yang pertama dengan muadzin pada adzan yang kedua. (Tamamul Minnah, hal. 148)

Tambahan dalam Lafadz Adzan

Telah kita sebutkan adanya tiga macam sifat adzan:

1. Adzan yang lafadznya sejumlah 19 kalimat

2. Adzan yang lafadznya sejumlah 17 kalimat

3. Adzan yang lafadznya sejumlah 15 kalimat.

Tidak dibolehkan menambah lafadz adzan dari lafadz-lafadz yang telah ada kecuali dalam dua tempat:

Tempat pertama: Dalam adzan yang pertama (bukan yang kedua) pada adzan subuh,  setelah      mengucapkan    lafadz: حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ, disyariatkan menyerukan tatswib yaitu ucapan: الصَّلاَةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ sebanyak dua kali. Dalilnya antara lain:

– Hadits Anas bin Malik z yang sifatnya umum:

مِنَ السُّنَّةِ إِذَا قَالَ الْمُؤَذِّنُ فِي أَذَانِ الْفَجْرِ: حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ، قَالَ: الصَّلاَةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ، الصَّلاَةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ

“Termasuk sunnah bila muadzin mengatakan dalam adzan fajar: hayya ‘alal falah, setelahnya ia mengatakan: ash-shalatu khairun minan naum, ash-shalatu khairun minan naum.” (HR. Ad-Daraquthni no. 90, Ibnu Khuzaimah, Al-Baihaqi 1/432, dan ia mengatakan, “Sanadnya shahih.”)

– Hadits Abu Mahdzurah z2, ia mengabarkan, bahwa Nabi n mengajarinya mengucapkan: الصَّلاَةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ، الصَّلاَةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ  pada adzan yang awal dari subuh. Haditsnya diriwayatkan oleh Ath-Thahawi t (no. 809), Al-Imam Al-Albani t berkata, “Sanadnya jayyid.” (Ats-Tsamar, 1/131)

– Hadits Ibnu ‘Umar c, ia berkata:

كَانَ فِي الْأَذَانِ الْأَوَّلِ بَعْدَ الْفَلاَحِ: الصَّلاَةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ، الصَّلاَةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ

“Adalah dalam adzan yang awal setelah hayya ‘alal falah, diserukan: ash-shalatu khairun minan naum (shalat itu lebih baik daripada tidur), ash-shalatu khairun minan naum.” (HR. Al-Baihaqi 1/423, Ath-Thahawi no. 811, dan sanadnya hasan kata Al-Hafizh Ibnu Hajar t dalam At-Talkhish, 1/331)

Masih banyak hadits lain namun dalam sanad-sanadnya ada kelemahan.

Al-Imam Ash-Shan’ani t berkata setelah membawakan riwayat An-Nasa’i (no. 647) tentang adzan Abu Mahdzurah z untuk Rasulullah n pada adzan fajar yang awal dengan mengucapkan الصَّلاَةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ3, “Dalam riwayat ini ada taqyid (pengikatan/pembatasan) bagi riwayat-riwayat yang menyebutkan secara mutlak/umum.” Ibnu Ruslan t berkata, “Ibnu Khuzaimah t menshahihkan riwayat ini.”

Beliau juga mengatakan, “Pensyariatan tatswib hanyalah dalam adzan yang awal dari fajar, karena tujuannya membangunkan orang yang tidur. Adapun adzan yang kedua adalah untuk memberitahukan masuknya waktu shalat fajar/subuh serta ajakan untuk mengerjakan shalat.” (Subulus Salam, 2/47)

Al-Imam Al-Albani t berkata, “Ketahuilah, sejauh pengetahuan kami tidak satu pun dari riwayat yang ada yang secara jelas menyebutkan, ucapan: اَلصَّلاَةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ diserukan dalam adzan kedua dari adzan subuh. Bahkan hadits yang ada dalam masalah ini ada dua bagian: di antaranya secara jelas menyebutkan bahwa tambahan itu diucapkan dalam adzan yang awal sebagaimana dalam hadits Abu Mahdzurah dan Ibnu Umar c. Bagian kedua, hadits yang mutlak/umum, tidak menyebutkan adzan awal atau adzan kedua, sebagaimana disebutkan dalam hadits Anas, dan hadits-hadits lain yang tidak shahih sanadnya. Hadits yang mutlak ini dibawa kepada hadits-hadits yang muqayyad (ada pembatasan/penentuannya) sebagaimana dinyatakan dalam kaidah-kaidah yang ada. Berdasarkan hal ini, الصَّلاَةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ bukanlah termasuk lafadz adzan yang disyariatkan sebagai ajakan mengerjakan shalat dan sebagai pengabaran masuknya waktu shalat. Tetapi lafadz ini termasuk lafadz yang disyariatkan untuk membangunkan orang yang tidur.” (Ats-Tsamar 1/132,133)

Sebagian ahlul ilmi yang lain berpandangan bahwa lafadz tatswib itu pada adzan masuknya waktu subuh (adzan kedua dalam pandangan di atas). Mereka berhujjah bahwa adzan pertama adalah ketika masuknya waktu subuh, bukan adzan yang dikumandangkan sebelum masuk waktu yang sebagai peringatan bagi orang yang tidur untuk menegakkan qiyamul lail atau bagi seorang yang hendak makan sahur.

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin t menyatakan bahwa tatswib memang diucapkan pada adzan yang awal dari shalat subuh. Namun sebagian orang telah salah sangka di mana mereka menganggap bahwa adzan yang awal itu adalah yang diserukan pada akhir malam (adzan pertama dalam pandangan di atas). Padahal di sini yang diinginkan adalah adzan masuknya waktu subuh, juga untuk membedakannya dengan iqamat, karena iqamat juga dinamakan adzan karena berisi pemberitahuan untuk menegakkan shalat seperti tersebut dalam hadits yang shahih:

بَيْنَ كُلِّ أَذَنَيْنِ صَلاَةٌ

“Di antara setiap dua adzan (adzan pemberitahuan waktu shalat dan iqamat, pen.) ada shalat (sunnah).” (HR. Al-Bukhari no. 627)

Adzan secara bahasa bermakna pemberitahuan, iqamat juga pemberitahuan. Dengan begitu, yang dimaksudkan dengan adzan awal di dalam hadits yang menyebutkan tentang hal ini adalah adzan yang dikumandangkan setelah terbit fajar, karena adzan yang dikumandangkan sebelumnya bukanlah untuk pelaksanaan shalat fajar/subuh. (Asy-Syarhul Mumti’ 2/61-64, Fathu Dzil Jalali wal Ikram bi Syarhi Bulughil Maram, 2/135-137)

Tempat kedua: Apabila turun hujan atau di malam yang sangat dingin maka setelah mengucapkan lafadz: حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ atau selesai adzan4, ataupun dengan mengganti  lafadz حَيَّ عَلَى الْصَّلاَة, muadzin mengatakan: صَلُّوا فِي الرِّحَالِ (shalatlah kalian di tempat/rumah kalian) atau mengatakan: وَمَنْ قَعَدَ فَلاَ حَرَجَ (siapa yang tetap duduk di tempatnya/tidak datang ke masjid untuk berjamaah, maka tidak ada dosa baginya) ataupun lafadz semisalnya. Tentang tambahan ini disebutkan dalam beberapa hadits:

1. Abdullah ibnul Harits berkata, “Ibnu Abbas c pernah berkhutbah di hadapan kami pada saat turun hujan. Di saat muadzin yang sedang mengumandangkan adzan sampai pada ucapannya: حَيَّ عَلَى الْصَّلاَة , Ibnu Abbas c menyuruhnya agar menyeru:

الصَّلاَةُ فِي الرِّحَالِ

Maka sebagian yang hadir saling memandang dengan yang lain. Ibnu Abbas c pun menjelaskan, “Telah melakukan hal ini orang yang lebih baik darinya.” (HR. Al-Bukhari no. 616 dan Muslim no. 1602).

Al-Imam Muslim dalam Shahihnya (no. 1602) meriwayatkan dengan lafadz, “Bahwa Ibnu Abbas c berkata kepada si muadzin pada saat turun hujan, “Bila engkau telah menyerukan:

أَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ أَشْهَدُ أن مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ

Jangan engkau mengatakan:

حَيَّ عَلَى الْصَّلاَةِ

Tapi serukanlah:

صَلُّوا فِي بُيُوْتِكُمْ

Riwayat Al-Imam Muslim ini menunjukkan bahwa muadzin dalam adzannya tidak menyerukan: حَيَّ عَلَى الْصَّلاَة tapi diganti dengan الصَّلاَةُ فِي الرِّحَالِ . Sebagian muhadditsin berpendapat demikian. Ibnu Khuzaimah diikuti oleh Ibnu Hibban, kemudian Al-Muhibb Ath-Thabari, semoga Allah l merahmati mereka semuanya, membuat satu bab dalam kitab mereka tentang dihapusnya  lafadz: حَيَّ عَلَى الْصَّلاَة pada saat hujan.

2. Nafi’ berkata, “Ibnu Umar c adzan pada suatu malam yang dingin di Dhajnan. Ia berkata ketika itu: صَلُّوا فِي رِِحَالِكُمْ, lalu ia mengabarkan bahwa Rasulullah n dulunya memerintahkan seorang muadzin mengumandangkan adzan, kemudian setelah adzan menyerukan: أَلاَ صَلُّوا فِي الرِّحَال di malam yang dingin atau malam saat turun hujan dalam suatu safar.” (HR. Al-Bukhari no. 632 dan Muslim no. 1598, 1599, 1600)

3. Nu’aim ibnun Nahham berkata, “Muadzin Nabi n mengumandangkan adzan di malam yang dingin sementara aku sedang berada di bawah selimutku. Maka aku berangan-angan andai Allah l melontarkan pada lisannya ucapan: وَلاَ حَرَجَ (tidak ada dosa bagi yang tidak datang berjamaah di masjid, pen.) Ternyata muadzin itu benar mengatakan: وَلاَ حَرَجَ. (Riwayat Abdurrazzaq 1/502, dishahihkan Syaikhun Al-Muhaddits Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i t dalam Al-Jami’ush Shahih Mimma Laisa fish Shahihain, 2/66)

Dalam lafadz lain disebutkan bahwa Nu’aim mengatakan, “Andai muadzin itu menyerukan: وَمَنْ قَعَدَ فَلاَ حَرَجَ. Ternyata di akhir adzan si muadzin menyerukan demikian. (Dikeluarkan oleh Al-Imam Ahmad t dalam Musnad 4/220 dan dikuatkan oleh Al-Imam Al-Albani dalam Al-Irwa’ 2/342)

Satu Kali Adzan Untuk Shalat Jama’

Bila shalat dikerjakan dengan jama’, baik jama’ taqdim atau jama’ ta’khir maka cukup satu kali adzan5 sebagaimana dilakukan Rasulullah n ketika di Arafah dan Muzdalifah. Seperti tersebut dalam kisah haji beliau n yang disampaikan oleh Jabir c dalam hadits yang panjang, diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim (2492) dan selainnya.

Satu Kali Adzan Untuk Beberapa Shalat Yang Luput Dikerjakan

Ibnu Mas’ud z mengabarkan, “Orang-orang musyrikin menyibukkan Rasulullah n dari mengerjakan empat shalat pada waktu perang Khandaq hingga berlalu sebagian waktu malam sesuai dengan apa yang Allah l inginkan. Beliau pun memerintahkan Bilal untuk adzan kemudian iqamat. Beliau mengerjakan shalat zuhur. Seselesainya dari shalat zuhur, Bilal iqamat, beliau lalu mengerjakan shalat ashar. Seselesainya, Bilal iqamat lagi, beliau pun mengerjakan shalat maghrib. Bilal iqamat lagi, beliau kemudian mengerjakan shalat isya. (HR. At-Tirmidzi no. 179 dan dihasankan Al-Imam Al-Albani t dalam Shahih At-Tirmidzi dan Al-Irwa’, 1/257)

Hal ini beliau lakukan sebelum disyariatkannya shalat khauf.

Syarat-syarat Adzan

Adzan memiliki beberapa syarat berikut ini:

1. Diucapkan secara berurutan, karena adzan itu ibadah maka tidak diterima kalau tidak sesuai dengan As-Sunnah.

2. Selesai lafadz yang satu menyusul lafadz berikutnya (susul-menyusul). Tidak boleh dipisahkan dengan waktu yang panjang, karena adzan merupakan ibadah yang satu sehingga tidak sah bila dipisahkan bagian-bagiannya, kecuali si muadzin beruzur seperti bersin atau batuk maka ia meneruskan adzannya.

3. Jumlah dan tambahannya sesuai yang disebutkan dalam As-Sunnah sehingga seseorang tidak menambah ataupun mengurangi terkecuali ada dalilnya.

Faedah

Telah kita ketahui bersama bahwasanya lafadz adzan dan jumlahnya datang dalam As-Sunnah dengan jumlah yang beragam, sehingga dalam pengamalannya diperkenankan pula dengan keragaman tersebut sebagaimana kaidah “Ibadah yang datang dengan beragam caranya sepantasnya bagi manusia untuk mengamalkan keragaman tersebut”. Di antara hikmah keragaman tersebut adalah:

– memudahkan bagi mukallaf, karena di antara amalan tersebut ada yang lebih ringan sehingga memudahkan pengamalannya.

– bisa menghadirkan hati dalam pengamalannya dan mengurangi kebosanan.

– penjagaan terhadap sunnah dengan keragamannya dan menyebarkannya di kalangan manusia.

– mengamalkan syariat dengan segala keragamannya.

Namun perlu dicamkan, pengamalan sunnah ini bukanlah artinya mengamalkannya walaupun menimbulkan kemudaratan. Karena ketika menimbulkan kemudaratan maka kemudaratan tersebut wajib untuk dihindari. Dalam kaidah fiqhiyah dikatakan “Menghindari kemudaratan (yang pasti dan nampak) lebih didahulukan daripada mengambil maslahat.”

Oleh karena itu, ketika hendak menyerukan keragaman adzan yang sunnah dalam keadaan bisa menimbulkan fitnah dan kesalahpahaman di kalangan manusia, karena mereka belum mengetahui perkara tersebut, maka di sini wajib bagi kita untuk menahan diri dan mencukupkan apa yang masyhur menurut mereka untuk sementara waktu, sampai mereka mendapatkan pengajaran dan bimbingan.

Nabi n dulunya meninggalkan pembangunan Ka’bah di atas fondasi Ibrahim karena khawatir terjadinya fitnah (dikeluarkan oleh Al-Bukhari no. 126 dan Muslim no. 1333). Demikian pula beliau n hendak menginfaqkan perbendaharaan Ka’bah di jalan Allah l, namun karena mengkhawatirkan terjadinya kesalahpahaman dan fitnah pada kaum muslimin di Makkah yang baru masuk Islam, akhirnya beliau pun menahan diri dan mengurungkannya.

Oleh karena itu, sepantasnyalah diajarkan kepada manusia terlebih dahulu tentang keragaman sunnah tersebut. Sehingga apabila hati mereka telah menerima, mapan dan tenang, lapang jiwa mereka dengan pengajaran dan bimbingan, insya Allah l akan dapat ditegakkan amalan tersebut dan diperoleh maksud penegakan As-Sunnah tanpa fitnah, kekacauan dan kesalahpahaman. Rasulullah n bersabda:

بَشِّرُوا وَلاَ تُنَفِّرُوا وَيَسِّرُوْا وَلاَ تُعَسِّرُوا

“Gembirakanlah dan jangan kalian membuat lari orang-orang, ringankanlah dan jangan mempersulit.” (HR. Muslim no. 4500)

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

4. Ketika diucapkan tidak boleh ada lahn, yaitu kesalahan berupa penyelisihan terhadap kaidah-kaidah bahasa Arab. Namun perlu diketahui, lahn itu ada dua macam:

Pertama: yang merusak maknanya. Lahn seperti ini menyebabkan adzan tidak sah. Contohnya seorang muadzin mengatakan: اَللهُ أَكْبَار. Lafadz seperti ini mengubah makna karena أَكْبَار bentuk jamak dari كَبَرٌ yang berarti gendang.

Kedua: lahn yang tidak merusak makna. Adzan dengan lahn seperti ini sah tapi dibenci/makruh. Contohnya seorang muadzin mengatakan: اَللهُ وَكْبَر

Yang seperti ini dibolehkan dalam bahasa Arab karena ada kaidah dalam ilmu sharf bila huruf hamzah yang difathah terletak setelah dhammah maka hamzah tadi diubah menjadi huruf wawu6.

5. Dikumandangkan ketika telah masuk waktu shalat terkecuali adzan pertama subuh. Dalilnya sabda Nabi n:

فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلاَةُ فَلْيُؤَذِّنْ لَكُمْ أَحَدُكُمْ وَلْيَؤُمَّكُمْ أَكْبَرُكُمْ

“Bila telah datang waktu shalat, hendaklah salah seorang dari kalian mengumandangkan adzan dan hendaknya yang paling besar/tua dari kalian menjadi imam.” (HR. Al-Bukhari no. 628, 7246 dan Muslim no. 1533)

Sifat-sifat Muadzin

1. Ia adzan karena mengharapkan pahala, bukan karena ingin bayaran.

Utsman bin Abil Ash z mengatakan, “Akhir perjanjian yang diambil Rasulullah n dariku adalah angkatlah seorang muadzin yang tidak mengambil upah/bayaran dengan adzannya.” (HR. At-Tirmidzi no. 209, dishahihkan Al-Imam Al-Albani t dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi)

Al-Imam At-Tirmidzi t berkata setelah membawakan hadits di atas, “Ahlul ilmi mengamalkan hal ini. Mereka benci bila seorang muadzin mengambil upah atas adzannya, dan mereka menganggap mustahab (sunnah) bagi muadzin untuk ihtisab (mengharap pahala) dengan adzannya.” (Sunan At-Tirmidzi, 1/135)

Namun bila si muadzin diberi sesuatu yang tidak dimintanya, hendaknya ia menerimanya dan tidak menolak. Karena, itu adalah rezeki dari Allah l yang diarahkan untuknya.

Khalid ibnu ‘Adi Al-Juhani berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah n bersabda:

مَنْ بَلَغَهُ مَعْرُوْفٌ عَنْ أَخِيْهِ مِنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ وَلاَ إِشْرَافِ نَفْسٍ، فَلْيَقْبَلْهُ وَلاَ يَرُدَّهُ، فَإِنَّمَا هُوَ رِزْقٌ سَاقَهُ اللهُ U إِلَيْهِ

“Siapa yang sampai kepadanya kebaikan/pemberian dari saudaranya tanpa ia memintanya dan tanpa ambisi jiwa, hendaklah ia menerimanya dan jangan menolaknya karena itu merupakan rezeki yang Allah giring untuknya.” (HR. Ahmad 4/221, berkata Al-Imam Al-Haitsami dalam Majma’uz Zawaid, 3/100-101, “Para perawinya adalah perawi kitab shahih.”)

2. Suaranya bagus, lantang, dan keras

Rasulullah n bersabda kepada Abdullah bin Zaid z yang mimpi mendengar adzan:

إِنَّهَا لَرُؤْيَا حَقٌّ إِنْ شَاءَ اللهُ، فَقُمْ مَعَ بِلاَلٍ فَأَلْقِ عَلَيْهِ مَا رَأَيْتَ، فَلْيُؤَذِّنْ بِهِ، فَإِنَّهُ أَنْدَى صَوْتًا مِنْكَ

“Mimpimu itu adalah mimpi yang benar Insya Allah. Bangkitlah engkau bersama Bilal, sampaikan padanya apa yang kau dapatkan dalam mimpimu agar dia mengumandangkan adzan tersebut, karena dia lebih lantang suaranya darimu.” (HR. Ahmad 3/43, Ashabus Sunan kecuali An-Nasa’i, dan selainnya. Hadits ini dihasankan Al-Imam Al-Albani t sebagaimana dalam Al-Irwa’ no. 246 )

Kata Al-Imam An-Nawawi t, “Sabda beliau: فَإِنَّهُ أَنْدَى صَوْتًا مِنْكَ ada yang mengatakan maknanya adalah lebih keras suaranya. Adapula yang memaknakan lebih bagus suaranya. Dari sini diambil faedah disenanginya muadzin itu keras dan bagus suaranya. Ini adalah perkara yang disepakati.” (Al-Minhaj, 4/299)

Al-Imam Asy-Syafi’i t menyatakan disenanginya memilih muadzin yang bagus suaranya karena akan lebih menyentuh hati pendengarnya. Seorang muadzin juga tidak boleh memanjang-manjangkan dan melagukan/mendayu-dayukan adzan. (Al-Umm, kitab Ash-Shalah, bab Raf’ush Shaut bil Adzan )

Abu Sa’id Al-Khudri z pernah berpesan kepada Abdullah bin Abdurrahman ibnu Abi Sha’sha’ah Al-Anshari bila ingin adzan, “Keraskan suaramu ketika mengumandangkan adzan, karena Rasulullah n bersabda:

لاَ يَسْمَعُ مَدَى صَوْتِ الْمُؤَذِّنِ جِنٌّ وَلاَ إِنْسٌ وَلاَ شَيْءٌ، إِلاَّ شَهِدَ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Tidaklah jin dan manusia dan tidak ada sesuatu pun yang mendengar akhir suara keras/lantang seorang muadzin melainkan akan menjadi saksi kebaikan bagi si muadzin pada hari kiamat.” (HR. Al-Bukhari no. 609)

Al-Imam Al-Bukhari t memberi judul hadits di atas dengan bab Raf’ush Shaut bin Nida’ artinya mengeraskan suara ketika adzan.

3. Muadzin harus memiliki sifat amanah, karena ia bertanggung jawab akan masuknya waktu shalat dan ketepatannya. Juga karena adzan ini sangat berkaitan dengan puasa dan berbukanya kaum muslimin.

Rasulullah n bersabda:

الْإِمَامُ ضَامِنٌ وَالْـمُؤَذِّنُ مُؤْتَمَنُ…

“Imam adalah penjamin, sedangkan muadzin adalah orang yang diamanahi…” (HR. Ibnu Hibban dalam Shahihnya no.1669, dan hadits ini dishahihkan oleh Al-Imam Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wat Tarhib no. 239)

Al-Imam Al-Baihaqi t dalam Sunan beliau membuat satu bab yang berjudul: “Tidak boleh mengumandangkan adzan kecuali seorang yang adil (yakni shalih) lagi terpercaya, karena dari tempat yang tinggi ia dapat memonitor aurat manusia dan dia dipercaya oleh orang-orang tentang waktu-waktu shalat.”

4. Mengetahui waktu-waktu shalat dengan sendirinya atau dengan pengabaran orang yang dipercaya, sehingga muadzin mengumandangkan adzan tepat ketika telah masuk waktu shalat tanpa mengakhirkannya.

Karena tidaklah sah adzan di luar waktunya menurut kesepakatan ahlul ilmi. Dari Jabir bin Samurah z, dia mengatakan:

كَانَ بِلاَلٌ لاَ يُؤَخِّرُ الْأَذَانَ عَنِ الْوَقْتِ، وَرُبَّمَا أَخَّرَ الْإِقَامَةَ شَيْئًا

“Bilal tidak pernah mengakhirkan adzan dari waktunya, namun terkadang dia mengundurkan sedikit iqamah.” (HR. Ibnu Majah no. 713, dan hadits ini dihasankan oleh Al-Imam Al-Albani dalam Shahih Sunan Ibni Majah)

5. Disenangi bagi muadzin mengumandangkan adzan dalam keadaan suci.

Dalilnya adalah sabda Rasulullah n:

إِنِّي كَرِهْتُ أَنْ أَذْكُرَ اللهَ إِلاَّ عَلَى طُهْرٍ، أَوْ قَالَ: عَلَى طَهَارَةٍ

“Aku tidak suka berzikir kepada Allah kecuali dalam keadaan suci.” (HR. Abu Dawud no. 17, dishahihkan dalam Shahih Abi Dawud dan Ash-Shahihah no. 834)

Al-Imam At-Tirmidzi t berkata, “Ahlul ilmi berbeda pendapat dalam masalah mengumandangkan adzan tanpa berwudhu (sebelumnya). Sebagian ahlul ilmi membencinya, ini pendapat Asy-Syafi’i dan Ishaq. Sebagian ahlul ilmi yang lain memberikan rukhshah adzan tanpa berwudhu. Ini pendapat Sufyan Ats-Tsauri, Ibnul Mubarak, dan Ahmad.” (Sunan At-Tirmidzi, 1/129)

Al-Imam Al-Albani t ketika ditanya tentang hal ini, beliau menjawab, “Asalnya dalam berzikir, sampai pun mengucapkan salam, kalau bisa engkau berada di atas thaharah dan ini yang utama/afdhal. Mengumandangkan adzan tentunya lebih utama lagi dalam keadaan suci. Akan tetapi kami katakan, siapa yang adzan dalam keadaan tidak berwudhu maka hukumnya makruh karahah tanzih (tidak sampai haram).” (Al-Mausu’ah Al Fiqhiyyah Al-Muyassarah, 1/277)

6. Ia adzan dalam keadaan berdiri.

Hal ini seperti disebutkan dalam hadits Abdurrahman ibnu Abi Laila tentang mimpi seorang lelaki dari kalangan Anshar. Laki-laki tersebut melihat seseorang memakai dua potong pakaian berwarna hijau. Ia berdiri di atas masjid lalu adzan. Kemudian ia duduk beberapa waktu. Setelahnya ia berdiri kembali untuk menyerukan iqamat. (HR. Abu Dawud no. 506, hadits shahih sebagaimana dalam Shahih Abi Dawud)

7. Mengumandangkan adzan di tempat yang tinggi karena di tempat yang tinggi suara akan terdengar jauh dan lebih menyampaikan kepada manusia.

Dalilnya adalah hadits di atas dan juga hadits:

وَلَمْ يَكُنْ بَيْنَ أَذَانَيْهِمَا إِلاَّ أَنْ يَنْزِلَ هَذَا وَيَصْعَدَ هذَا

yang telah lewat penyebutannya dari hadits Ibnu Umar z yang diriwayatkan Al-Imam Muslim t dalam Shahihnya.

Demikian pula hadits hadits Uqbah bin Amir z, yaitu sabda Rasulullah n:

يَعْجَبُ رَبُّكُمْ مِنْ رَاعِي غَنَمٍ فِي رَأْسِ شَظِيَّةٍ بِجَبَلٍ، يُؤَذِّنُ بِالصَّلاَةِ وَيُصَلِّي …

“Rabb kalian kagum dengan seorang penggembala kambing di puncak gunung yang mengumandangkan adzan untuk shalat dan setelahnya ia menunaikan shalat …” (HR. Abu Dawud no. 1203, An-Nasa’i no. 666, dan Ahmad 4/157. Hadits shahih sebagaimana dalam Ash-Shahihah no.41)

Kata الشَظِيَّة adalah bagian yang tinggi dari puncak gunung. Di sini ada isyarat disenanginya mengumandangkan adzan di atas tempat yang tinggi walaupun si muadzin berada di atas gunung.” (Ats-Tsamar, 1/160)

Para ulama –semoga Allah l merahmati mereka semuanya– menyatakan, karena tujuan keberadaan muadzin di tempat yang tinggi itu untuk menyampaikan suaranya kepada manusia, maka di zaman ini dengan adanya mikrofon yang bisa menambah keras dan bagusnya suara, corongnya bisa ditempatkan di tempat yang tinggi, merupakan satu sarana yang dibutuhkan dan dibenarkan oleh syariat ketika mengumandangkan adzan. (Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah, 6/67-68)

Faedah

Adzan adalah ibadah yang pelaksanaannya dan pengumandangannya harus secara langsung ketika masuk waktu shalat, sehingga tidak sah apabila disandarkan terhadap hasil rekaman adzan muadzin. Karena hal itu merupakan ungkapan adzan yang telah lewat waktunya. Maka mencukupkan dengan rekaman berarti tidak menegakkan ketetapan fardhu kifayahnya, sebagaimana halnya tidak sah menjadi makmum atau shalat di belakang hasil rekaman suara imam masjid. (Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah, 6/68-69, Asy-Syarhul Mumti’ 2/69)

8. Menghadap kiblat

Dalilnya adalah hadits Abdullah bin Zaid z tentang turunnya malaikat lalu mengumandangkan adzan. Abdullah berkata, “Ketika aku berada di antara tidur dan jaga, tiba-tiba aku melihat seorang lelaki memakai dua potong pakaian hijau, ia lalu menghadap kiblat dan berkata: Allahu Akbar, Allahu Akbar…” (HR. Ahmad 5/246-247, Abu Dawud no. 507, dan dishahihkan oleh Al-Imam Al-Albani t)

Dalam Al-Mughni (Kitabush Shalah, fashl La Yashihhul Adzan illa Murattaban), Al-Imam Ibnu Qudamah t berkata, “Disenangi bagi muadzin menghadap kiblat dan kami tidak mengetahui adanya perselisihan dalam hal ini. Karena para muadzin Nabi n mengumandangkan adzan dalam keadaan menghadap kiblat. “

9. Meletakkan dua jari ke dalam dua telinga.

Abu Juhaifah berkata, “Aku melihat Bilal adzan, ia memutar kepalanya (ke kanan dan kiri, pen.), mulutnya ke sana dan ke sini, sementara dua jarinya berada dalam dua telinganya…” (HR. At-Tirmidzi no. 197, hadits shahih sebagaimana dalam Shahih At-Tirmidzi)

Al-Hafizh t menukilkan ucapan ulama bahwa dalam hal ini ada dua faedah.

Pertama: terkadang hal itu lebih mengeraskan suara muadzin.

Kedua: sebagai tanda bahwa ia muadzin bagi orang yang melihatnya dari kejauhan atau tanda bagi orang bisu bahwa ia muadzin.

Tidak ada keterangan jari mana yang dimasukkan tersebut, namun Al-Imam An-Nawawi t memastikan bahwa jari yang dimasukkan adalah telunjuk. (Fathul Bari, 2/152)

11. Menolehkan kepala sedikit ke kanan ketika mengucapkan: حَيَّ عَلَى الْصَّلاَةِ حَيَّ عَلَى الْصَّلاَةِ. Dan menoleh ke kiri saat menyerukan: حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ, حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ,

Inilah yang masyhur dan sesuai zahir nash. Dalilnya hadits Abu Juhaifah z, ia berkata:

أَتَيْتُ النَّبِيَّ n بِمَكَّةَ وَهُوَ بِالْأَبْطَحِ فِي قُبَّةٍ لَهُ حَمْرَاءَ مِنْ أَدَمٍ. قَالَ: فَخَرَجَ بِلاَلٌ بِوَضُوْئِهِ، فَمِنْ نَائِلٍ وَنَاضِحٍ. قَالَ: فَخَرَجَ النَّبِيُّ n عَلَيْهِ حُلَّةٌ حَمْرَاءُ كَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَى بَيَاضِ سَاقَيْهِ. قَالَ: فَتَوَضَّأَ وَأَذَّنَ بِلاَلٌ. قَالَ: فَجَعَلْتُ أَتَتَبَّعُ فَاهُ هَهُنَا ههُنَا يَقُوْلُ يَمِيْنًا وَشِمَالاً يَقُوْلُ: حَيَّ عَلَى الْصَّلاَةِ، حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ.

“Aku mendatangi Nabi n di Makkah saat beliau di Abthah dalam kemah merah dari kulit milik beliau. Bilal lalu keluar membawa air wudhu beliau, maka di antara sahabatnya ada yang mengambil bekas air wudhu tersebut dan ada yang memercikkannya kepada yang lain (bertabarruk, pen.) Nabi n keluar dari kemahnya dengan mengenakan sepasang pakaian berwarna merah seakan-akan aku melihat putihnya dua betis beliau. Setelah beliau berwudhu dan Bilal pun adzan. Mulailah aku mengikuti mulut Bilal ke sana dan ke sini, yaitu ke kiri dan ke kanan dengan mengucapkan: hayya ‘alash shalah, hayya ‘alal falah.” (HR. Muslim no. 1119)

Dalam riwayat Abu Dawud (no. 520) disebutkan:

فَلَمَّا بَلَغَ: حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ؛ لَوَى عُنُقَهُ يَمِيْنًا وَشِمَالاً وَلَمْ يَسْتَدِرْ

Ketika Bilal sampai pada ucapan: hayya ‘alash shalah, hayya ‘alal falah, ia memalingkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, dan ia tidak berputar.” (Dishahihkan Al-Imam An-Nawawi t dalam Al-Majmu’ 3/116)

Al-Imam Ibnu Khuzaimah t berkata ketika memberikan bab terhadap hadits di atas dalam Shahihnya, “Menolehnya muadzin ketika mengatakan hayya ‘alash shalaah hayya ‘alal falaah cukup dengan mulutnya saja, tidak dengan seluruh badannya.” Beliau juga mengatakan, “Sesungguhnya menolehkan mulut hanyalah dimungkinkan dengan ditolehkannya wajah.”

Di antara ahlul ilmi ada juga yang mengatakan menoleh ke kanan dan ke kiri untuk yang pertama kali dengan حَيَّ عَلَى الْصَّلاَةِ dan yang kedua menoleh ke kanan dan ke kiri dengan حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ.

Ada juga yang mengatakan, menoleh ke kanan dengan mengucapkan حَيَّ عَلَى الْصَّلاَةِ, lalu kembali ke arah kiblat, lalu menoleh lagi ke kanan sambil mengucapkan حَيَّ عَلَى الْصَّلاَة. Setelah itu menoleh ke kiri sambil mengucapkan حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ, lalu kembali ke arah kiblat, lalu menoleh lagi ke kiri sambil mengucapkan حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ. (Al-Minhaj, 4/218)

12. Lambat-lambat (tartil) mengucapkan lafadz adzan, tidak cepat-cepat sebagaimana dalam iqamat.

Al-Imam Asy-Syafi’i t berkata, “Hadits yang menyebutkan diangkat dan dikeraskannya suara ketika adzan menunjukkan dikumandangkannya adzan dengan lambat-lambat (tartil).” Oleh karena itu, Al-Imam Al-Baihaqi dalam kitabnya As-Sunan memberikan judul hadits dari Abu Sa’id z tentang mengeraskan suara ketika adzan: “Dilambatkannya Pengucapan Adzan dan Dicepatkannya Pengucapan Iqamah.”

Ibnu Qudamah t berkata, “Adzan diucapkan dengan perlahan-lahan, tidak cepat-cepat/terburu-buru, sedangkan iqamat diucapkan dengan cepat.” (Al-Mughni, kitab Ash-Shalah, Mas’alah Qala: Wa Yatarassalu fil Adzan wa Yahdurul Iqamah)

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

(insya Allah bersambung)

1 Dua adzan ini hanya dikhususkan untuk shalat subuh. Hikmahnya adalah sebagai hasungan untuk mengerjakan shalat di awal waktu, karena di waktu subuh ini umumnya orang masih tidur atau baru terjaga dari tidur. Sehingga amat sesuai dikumandangkan adzan sebelum waktunya agar membangunkan orang yang masih tidur sehingga mereka bersiap-siap dan dapat beroleh waktu yang fadhilah. Demikian diterangkan Al-Imam Asy-Syaukani t dalam Nailul Authar (1/507).

2 Faedah: Abu Mahdzurah z termasuk sahabat yang paling bagus suaranya. Beliau merupakan muadzdzin Rasulullah n untuk Makkah. Keturunannya turun-temurun menjadi muadzdzin di Makkah.

3 Haditsnya shahih sebagaimana dalam Shahih Sunan An-Nasa’i.

4 Kedua-duanya boleh. Demikian dinyatakan Al-Imam Asy Syafi’i t dalam Al-Umm di Kitab Al-Adzan. Pendapat beliau ini diikuti oleh jumhur pengikut madzhabnya. Tapi ada yang berpendapat bahwa diucapkan setelah selesai lafadz-lafadz adzan adalah lebih baik, agar susunan adzan tetap pada tempatnya. (Al-Minhaj, 5/213)

5 Adapun iqamat dua kali pada masing-masing shalat.6 Lihat lafadz: اَللهُ أَكْبَرُ, hamzah dalam lafadz  أَكْبَرُ didahului dhammah yang terdapat di atas huruf هُ dalam lafzhul jalalah اَللهُ. Menurut kaidah, hamzah tersebut dapat diubah menjadi huruf wawu sehingga jadilah: اَللهُ وَكْبَ

1 Menoleh hanya dengan kepala, sementara dada tetap ke depan karena tidak ada asalnya dalam As-Sunnah menolehkan kepala disertai dada. (Tamamul Minnah, hal. 150)

2 Karena beliau n mengangkat pakaiannya sampai setengah betis. (Al-Minhaj, 4/443)

Al-Fathul A’zham / Pembebasan Kota Mekkah

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Harits)

 

Sebuah peperangan yang menentukan, Al-Fathul A’zham (kemenangan besar), menumpas tuntas keberadaan paganisme (keberhalaan). Sama sekali tidak memberi tempat bagi ajaran paganis sedikitpun bahkan tidak pula melegitimasi kesyirikan dalam bentuk apapun walau sesingkat apapun waktunya.

Maka dengan kekuatan sekitar 10.000 orang, Rasulullah n dan kaum muslimin bertolak menuju Makkah di bulan Ramadhan yang penuh berkah, tahun ke-8 hijriyah.

 

Surat Rahasia Hathib bin Abi Balta’ah z

Telah diceritakan sebelumnya, Rasulullah n menggelar persiapan yang sangat hati-hati dan rahasia. Keluarga dan orang yang paling dekat lagi dicintai oleh beliau sekalipun tidak tahu ke mana beliau hendak menuju.

Rasulullah n sendiri juga berdoa kepada Allah l: “Ya Allah, jauhkan mata-mata dan berita dari orang Quraisy hingga kami tiba di negeri mereka.”

Doa beliau dikabulkan oleh Allah l. Beliau juga melakukan langkah lain untuk mengalihkan perhatian mata-mata musuh, dengan mengirimkan pasukan kecil ke tempat lain. Misalnya pasukan Abu Qatadah ke Bathn Idham1 yang berjumlah delapan orang. Sehingga orang akan mengira beliau hendak menyerang mereka yang berada di wilayah tersebut.

Ketika pasukan ini tiba di daerah tersebut dan tidak menemukan apa-apa, mereka terus berjalan hingga tiba di Dzu Khusyub (35 mil ke arah Syam dari kota Madinah). Sampailah berita kepada mereka bahwa Rasulullah n sudah bertolak menuju Makkah. Pasukan ini pun berangkat menyusul dan bertemu dengan Rasulullah n di As-Suqya.

Di saat Rasulullah n menyelesaikan persiapan untuk bertolak menuju Makkah, ternyata Hathib telah menulis surat untuk kafir Quraisy bermaksud membocorkan rencana Rasulullah n. Akan tetapi Allah l menampakkan kepada Rasul-Nya keadaan surat itu. Lalu beliau pun mengirim ‘Ali, Zubair, dan Miqdad bin Al-Aswad g mengejar wanita yang membawa surat Hathib untuk kemudian mengambil surat tersebut.

Al-Imam Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari ‘Ali bin Abi Thalib z dengan sanad shahih yang menceritakan:

بَعَثَنِي رَسُولُ اللهِ n أَنَا وَالزُّبَيْرَ وَالْمِقْدَادَ بْنَ الْأَسْوَدِ قَالَ: انْطَلِقُوا حَتَّى تَأْتُوا رَوْضَةَ خَاخٍ فَإِنَّ بِهَا ظَعِينَةً وَمَعَهَا كِتَابٌ فَخُذُوهُ مِنْهَا. فَانْطَلَقْنَا تَعَادَى بِنَا خَيْلُنَا حَتَّى انْتَهَيْنَا إِلَى الرَّوْضَةِ، فَإِذَا نَحْنُ بِالظَّعِينَةِ فَقُلْنَا: أَخْرِجِي الْكِتَابَ. فَقَالَتْ: مَا مَعِي مِنْ كِتَابٍ. فَقُلْنَا: لَتُخْرِجِنَّ الْكِتَابَ أَوْ لَنُلْقِيَنَّ الثِّيَابَ. فَأَخْرَجَتْهُ مِنْ عِقَاصِهَا فَأَتَيْنَا بِهِ رَسُولَ اللهِ n فَإِذَا فِيهِ مِنْ حَاطِبِ بْنِ أَبِي بَلْتَعَةَ إِلَى أُنَاسٍ مِنَ الْمُشْرِكِينَ مِنْ أَهْلِ مَكَّةَ يُخْبِرُهُمْ بِبَعْضِ أَمْرِ رَسُولِ اللهِ n فَقَالَ رَسُولُ اللهِ n: يَا حَاطِبُ، مَا هَذَا؟ قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، لاَ تَعْجَلْ عَلَيَّ، إِنِّي كُنْتُ امْرَأً مُلْصَقًا فِي قُرَيْشٍ وَلَمْ أَكُنْ مِنْ أَنْفُسِهَا وَكَانَ مَنْ مَعَكَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ لَهُمْ قَرَابَاتٌ بِمَكَّةَ يَحْمُونَ بِهَا أَهْلِيهِمْ وَأَمْوَالَهُمْ، فَأَحْبَبْتُ إِذْ فَاتَنِي ذَلِكَ مِنَ النَّسَبِ فِيهِمْ أَنْ أَتَّخِذَ عِنْدَهُمْ يَدًا يَحْمُونَ بِهَا قَرَابَتِي، وَمَا فَعَلْتُ كُفْرًا وَلَا ارْتِدَادًا وَلَا رِضًا بِالْكُفْرِ بَعْدَ الْإِسْلَامِ. فَقَالَ رَسُولُ اللهِ n: لَقَدْ صَدَقَكُمْ. قَالَ عُمَرُ: يَا رَسُولَ اللهِ، دَعْنِي أَضْرِبْ عُنُقَ هَذَا الْمُنَافِقِ. قَالَ: إِنَّهُ قَدْ شَهِدَ بَدْرًا، وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّ اللهَ أَنْ يَكُونَ قَدِ اطَّلَعَ عَلَى أَهْلِ بَدْرٍ فَقَالَ: اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ فَقَدْ غَفَرْتُ لَكُمْ

Rasulullah n mengutus saya dan Zubair serta Miqdad bin Al-Aswad, kata beliau: “Berangkatlah hingga tiba di Raudhatu Khah, karena di sana ada seorang wanita yang sedang dalam perjalanan membawa sepucuk surat. Ambillah surat itu darinya.”

Kami pun berangkat, dalam keadaan kuda-kuda kami berlari cepat hingga kami tiba di Raudhah. Ternyata benar kami dapati seorang wanita sedang dalam perjalanan.

“Keluarkan surat itu!” kata kami.

Wanita itu berkata: “Tidak ada surat apapun pada saya.”

“Kamu keluarkan surat itu atau kami telanjangi kamu?” gertak kami.

Akhirnya wanita itu mengeluarkannya dari gelungan rambutnya.

Lalu kami bawa surat itu kepada Rasulullah n.

Ternyata isinya dari Hathib bin Abi Balta’ah kepada orang-orang musyrik Makkah. Dia mengabarkan kepada mereka sebagian urusan Rasulullah n.

“Wahai Hathib, apa ini?” kata Rasulullah n.

Hathib segera menyahut: “Wahai Rasulullah, janganlah terburu-buru terhadapku. Sesungguhnya aku hanyalah seseorang yang menumpang di tengah-tengah bangsa Quraisy dan bukan bagian dari mereka. Sedangkan kaum Muhajirin yang bersama engkau, mereka di Makkah mempunyai kerabat yang akan melindungi keluarga dan harta mereka. Maka karena saya tidak punya hubungan nasab dengan mereka, saya ingin berbuat jasa untuk mereka agar mereka pun menjaga kerabatku. Saya lakukan ini bukan karena kekafiran, bukan pula karena saya murtad, dan bukan pula karena ridha dengan kekafiran sesudah Islam.”

Rasulullah n berkata: “Sungguh, dia jujur kepada kalian.”

‘Umar berkata: “Wahai Rasulullah, biarkan saya tebas leher orang munafiq ini.”

Kata Rasulullah n: “Sesungguhnya dia pernah ikut perang Badr. Tahukah engkau, boleh jadi Allah telah memerhatikan ahli Badr, lalu berfirman: ‘Berbuatlah sekehendak kalian, sungguh telah Aku ampunkan untuk kalian’.”2

Walhamdulillah, surat itu tidak sampai ke tangan Quraisy. Ini merupakan nikmat dari Allah l bagi kaum muslimin dan Hathib secara khusus, karena tidak tercapai keinginannya.

Dalam dialog singkat antara Rasulullah n dan ‘Umar bin Al-Khaththab z ini, dapat kita ambil pelajaran yang sangat penting sekaligus membantah sebagian prinsip kaum Khawarij yang menyempal dari Islam. Pelajaran tersebut antara lain adalah:

1. Seorang mata-mata boleh dihukum mati, walaupun dia seorang muslim. Ini menurut pendapat Al-Imam Malik serta ulama yang menyetujuinya. Rasulullah n sendiri tidak menyalahkan ‘Umar, tetapi beliau mencegah jatuhnya hukuman itu karena Hathib termasuk salah seorang sahabat yang ikut perang Badr. Keistimewaan ini tidak akan terjadi lagi sampai hari kiamat.

2. Teguhnya ‘Umar berpegang dengan ajaran Islam, terlihat ketika beliau minta izin menebas leher Hathib z.

3. Dosa besar tidak mencabut keimanan (dari seseorang), karena apa yang dilakukan Hathib (membocorkan urusan Rasulullah n) adalah dosa besar, tetapi beliau tetap dikatakan mukmin (orang yang beriman). Bahkan dalam hadits itu disebutkan pula adanya ampunan dari Allah l untuk mereka (ahli Badar, red.).

Al-Hafizh Ibnu Hajar t ketika menjelaskan makna ampunan dari Allah l tersebut mengatakan: “Artinya, dosa-dosa kalian itu diampuni oleh Allah bagaimanapun terjadinya. Bukan berarti mereka tidak pernah berbuat dosa.”3

4. ‘Umar menyebutkan istilah munafiq kepada Hathib dengan pengertian bahasa, bukan pengertian menurut syariat, menyembunyikan kekafiran tapi menampakkan keislaman. Tapi beliau katakan demikian karena Hathib menyembunyikan sesuatu yang menyelisihi apa yang ditampakkannya, yaitu dengan mengirimkan suratnya yang bertolak belakang dengan keimanannya (berjihad di jalan Allah l).

5. ‘Umar terkesan dengan bantahan Rasulullah n sehingga dalam sekejap, dia yang tadinya begitu marah dan menuntut agar Hathib dihukum berat, berubah menangis karena takut dan terkesan dengan sabda Rasulullah n, seraya berkata: “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.”

Rasulullah n melanjutkan rencananya bersama kaum muslimin. Allah l pun menghalangi berita ini sampai kepada kaum Quraisy yang tentu saja sangat ketakutan melihat akibat dari ulah mereka sendiri. Akhirnya, Abu Sufyan, Hakim bin Hizam, dan Budail bin Warqa’ berusaha mencari-cari berita.

 

Abu Sufyan Masuk Islam

Pada waktu itu, ‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib sudah bertolak meninggalkan kota Makkah bersama keluarganya, sebagai muhajir (orang yang berhijrah). Di tengah perjalanan, di daerah Juhfah, dia bertemu dengan Rasulullah n. Mereka pun singgah di Marri Zhahran untuk beristirahat pada waktu malam.

Rasulullah n memerintahkan kepada pasukan agar masing-masing mereka menyalakan api. Akhirnya terlihat lebih dari sepuluh ribu api unggun menyala menerangi pasukan. Ini merupakan taktik Rasulullah n agar pasukan kaum muslimin terlihat (dari Makkah) dalam jumlah yang jauh lebih besar dari yang sebenarnya. Karena biasanya satu api unggun digunakan untuk sekelompok pasukan.

Malam itu, ‘Abbas dengan baghal  (peranakan kuda dan keledai, red.) Rasulullah n berkeliling mencari ranting atau seseorang untuk menyampaikan kepada Quraisy agar datang meminta jaminan keamanan kepada Rasulullah n sebelum beliau memasuki kota Makkah dengan kekerasan.

‘Abbas menceritakan: Demi Allah, sungguh saya betul-betul berjalan malam itu, sampai tiba-tiba saya dengar suara Abu Sufyan berbincang-bincang dengan Budail bin Warqa’. Kata Abu Sufyan: “Aku tidak pernah melihat api dan pasukan seperti ini sebelumnya.”

Kata Budail: “Demi Allah, ini adalah Khuza’ah yang dibakar dendam untuk berperang.”

Kata Abu Sufyan: “Khuza’ah terlalu kecil dan lemah untuk bisa seperti ini apinya.”

Saya segera berseru: “Abu Hanzhalah?!”

Dia mengenal suaraku: “Abul Fadhl?!”

“Ya,” kataku.

Dia berkata: “Bapak ibuku jadi tebusanmu, ada apa ini?”

Saya katakan: “Ini Rasulullah n bersama pasukan muslimin. Celakalah Quraisy besok pagi, demi Allah.”

Dia bertanya: “Lalu apa akal (untuk selamat)?”

Saya katakan: “Demi Allah, kalau dia berhasil menangkapmu, dia pasti menebas lehermu. Ayo ikut aku naik baghal ini agar aku bawa engkau menemui beliau dan meminta perlindungan untukmu.”

Dia pun ikut membonceng di belakang, sementara dua temannya tadi segera kembali. Setiap kali melewati api kaum muslimin, mereka bertanya: “Siapa ini?” Tapi kalau mereka melihat kami, mereka berkata: “Paman Rasulullah n, di atas baghalnya.”

Akhirnya kami melewati api milik ‘Umar. Dia pun berkata: “Siapa ini?” Dia berdiri mendekatiku. Begitu melihat Abu Sufyan, dia segera berkata: “Musuh Allah? Alhamdulillah, Yang telah memberi kekuasaan terhadap kamu tanpa perjanjian dan kesepakatan.”

Dia pun bersegera menuju kemah Rasulullah n, dan saya pun memacu baghal itu agar mendahului ‘Umar. Saya berusaha mendahuluinya menemui Rasulullah n, tapi dia juga menyusul, dan segera berkata: “Wahai Rasulullah, ini Abu Sufyan. Allah telah memberi anda kekuasaan terhadapnya tanpa perjanjian dan kesepakatan, maka biarkan saya menebas lehernya.”

Saya segera menukas: “Wahai Rasulullah, saya telah memberi jaminan keamanan buat Abu Sufyan.”

Ketika ‘Umar terus meminta izin kepada Rasulullah n, aku pun berkata: “Perlahan, hai ‘Umar. Kalau dia ini dari Bani ‘Adi bin Ka’b, tentu kau tak akan berkata begini.”

‘Umar membalas: “Tunggu, hai ‘Abbas. Demi Allah, sungguh keislamanmu lebih aku cintai daripada keislaman Al-Khaththab (bapak ‘Umar) kalaupun dia masuk Islam. Mengapa tidak, karena keislamanmu lebih dicintai oleh Rasulullah n daripada keislaman Al-Khaththab.”

Rasulullah n pun berkata: “Bawa dia pergi ke tempatmu, hai ‘Abbas. Besok pagi bawa dia kepadaku.”

Aku pun melaksanakan perintah beliau.

Esok harinya, aku membawa Abu Sufyan menemui Rasulullah n. Kemudian beliau pun berkata: “Celaka engkau, hai Abu Sufyan! Apa belum tiba waktunya kau tahu bahwasanya tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah?”

Abu Sufyan berkata: “Demi bapak dan ibuku tebusanmu, alangkah santunnya engkau. Alangkah pemurah dan hebatnya engkau menyambung tali silaturrahmi!! Demi Allah, sungguh aku sudah menyangka seandainya bersama Allah ada yang lain tentulah dia menyelamatkanku.”

Beliau berkata lagi: “Celaka engkau, Abu Sufyan. Apa belum tiba waktunya kau tahu bahwa aku adalah Rasul Allah?”

Kata Abu Sufyan: “Demi bapak dan ibuku tebusanmu, alangkah santunnya engkau. Alangkah pemurah dan hebatnya engkau menyambung tali silaturrahmi!! Adapun ini, dalam diriku sampai saat ini masih ada ganjalan.”

‘Abbas segera berkata kepadanya: “Celaka engkau, cepat masuk Islam sebelum lehermu ditebas.”

Lalu dia pun mengucapkan syahadat yang haq dan masuk Islam. ‘Abbas berkata: “Sebetulnya Abu Sufyan ini orang yang suka dihormati, maka berilah dia sesuatu.”

Kata Rasulullah n: “Baik. Siapa yang masuk ke rumah Abu Sufyan, maka dia aman. Siapa yang mengunci rumahnya, dia aman. Dan siapa yang masuk ke dalam Masjid (Al-Haram) dia aman.”

Ketika dia hendak kembali, Rasulullah n berkata: “Wahai ‘Abbas, tahan dia di tempat sempit di lembah ini, dekat lereng bukit agar dia melihat bala tentara Allah melintas.”

Aku pun berangkat untuk menahannya di tempat tersebut.

Satu persatu barisan tentara Allah itu lewat di hadapan Abu Sufyan. Setiap satu kabilah melintasinya, dia bertanya: “Ini kabilah apa?”

“Ini kabilah Sulaim,” kata ‘Abbas.

“Apa urusanku dengan Sulaim?” kata Abu Sufyan.

Kemudian lewat pula satu kabilah, Abu Sufyan bertanya lagi: “Ini kabilah apa?”

Kata ‘Abbas: “Ini Muzayyinah.”

Abu Sufyan menukas: “Apa urusanku dengan Muzayyinah?”

Demikianlah, hingga dia melihat Rasulullah n bersama pasukan hijau yang di dalamnya terdapat kaum Muhajirin dan Anshar. Tidak satu pun dia lihat dari mereka melainkan sikap yang lebih keras daripada besi. Sementara Rasulullah n berada di atas untanya Al-Qushwa, di antara Abu Bakr dan Usaid bin Hudhair.

Sementara bendera pasukan Anshar dibawa Sa’d bin ‘Ubadah, sedangkan bendera Nabi n bersama Az-Zubair. Abu Sufyan berkata melihat pasukan tersebut: “Subhanallah, hai ‘Abbas siapa mereka ini?”

Kata ‘Abbas: “Ini Rasulullah n di tengah-tengah kaum Muhajirin dan Anshar.”

Abu Sufyan pun berkomentar: “Hai Abul Fadhl, akhirnya kerajaan anak saudaramu ini telah menjadi kekuatan besar.”

‘Abbas segera membantah: “Wahai Abu Sufyan, inilah nubuwwah.”

“Betul, kalau begitu,” sahut Abu Sufyan.

Ketika Sa’d bin ‘Ubadah melintasi Abu Sufyan dan melihatnya, dia pun berkata: “Hari ini hari pertumpahan darah. Hari ini dihalalkan kehormatan. Hari ini Allah hinakan Quraisy.”

Mendengar ini, Abu Sufyan mengadu kepada Rasulullah n ketika beliau berpapasan dengannya: “Engkau memerintahkan agar memerangi kaummu sendiri? Sa’d dan yang bersamanya mengatakan bahwa dia memerangi kami. Hari ini hari pertumpahan darah. Hari ini dihalalkan kehormatan. Hari ini Allah hinakan Quraisy. Saya sumpahi engkau demi Allah, tentang urusan kaummu. Engkau adalah orang paling baik di antara mereka, paling penyayang dan menyambung kasih sayang.”

‘Utsman dan ‘Abdurrahman bin ‘Auf menimpali: “Wahai Rasulullah, kami tidak merasa aman dengan sikap Sa’d, kalau-kalau dia menyerang Quraisy.”

Maka Rasulullah n segera menukas: “Wahai Abu Sufyan, hari ini adalah hari kasih sayang. Hari ini Allah memuliakan Quraisy.”

Kemudian beliau perintahkan mengambil bendera dari Sa’d dan menyerahkannya kepada putranya Qais bin Sa’d bin ‘Ubadah, sehingga tidak keluar dari (keluarga)nya.

‘Abbas berkata kepada Abu Sufyan: “Pulanglah.” Setelah Abu Sufyan menemui kaumnya, ia berteriak dengan keras: “Wahai seluruh bangsa Quraisy. Ini Muhammad, dia datang kepada kalian dengan pasukan yang tidak mungkin kalian hadapi. Siapa yang masuk ke rumah Abu Sufyan dia aman.”

Tiba-tiba istrinya, Hindun bintu ‘Utbah segera berdiri menarik kumisnya dan membentak: “Bunuh manusia gendut yang tak berguna ini.”

Abu Sufyan tetap berseru: “Celaka kalian, jangan hiraukan perempuan ini, selamatkan diri kalian. Siapa yang masuk rumah Abu Sufyan, dia selamat. Siapa yang masuk ke Masjid Al-Haram, dia selamat dan siapa yang mengunci pintu rumahnya, dia selamat.”

Sebagian mereka menyahut: “Apa untungnya kami masuk rumahmu?”

Akhirnya mereka berpencar menyelamatkan diri. Ada yang masuk ke dalam rumahnya, ada pula yang menuju Masjid Al-Haram.

Perlahan tapi pasti, Rasulullah n mulai mendekati pintu kota Makkah. Beliau pun membelitkan sorbannya dan menundukkan kepalanya dalam-dalam hingga hampir menyentuh punggung kendaraannya, bersyukur memuji Allah l, melihat kemuliaan yang Allah l berikan kepadanya. Dahulu beliau keluar dari Makkah dalam keadaan terusir, dihinakan. Kini beliau kembali ke kampung halaman, dalam keadaan mulia dan dimuliakan.

Semoga shalawat dan salam senantiasa Allah l limpahkan untukmu, wahai junjungan.

(Bersambung InsyaAllah)

Kebenaran Tercampakkan Karena Kedengkian dan Kesombongan

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan)

 

Nikmat-nikmat yang Allah l limpahkan kepada umat manusia tidak terhitung jumlah dan jenisnya. Di antara nikmat paling agung yang Allah l limpahkan adalah diciptakan-Nya mereka di atas fitrah yang mulia. Sebagaimana firman Allah l:

“(Tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.” (Ar-Rum: 30)

Di antara fitrah yang Allah l ciptakan umat manusia di atasnya adalah mencintai kebenaran dan mencarinya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t berkata: “Hati adalah makhluk yang mencintai kebenaran, menginginkan dan mencarinya.” (Majmu’ Fatawa, 10/88)

Beliau pun berkata: “Maka sesungguhnya al-haq (kebenaran) itu dicintai fitrah yang baik, dan dia (al-haq) itu lebih dicintai, lebih dimuliakan, lebih lezat bagi fitrah dibandingkan kebatilan yang tidak ada hakikatnya. Sungguh fitrah tidak mencintai hal ini.” (Majmu’ Fatawa, 16/338)

Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di t berkata: “Agama Islam itu adalah agama yang hikmah. Maknanya, mengilmui kebenaran dan mengamalkannya dalam seluruh perkara.” (Taisirul Lathifil Mannan, hal. 58)

Sehingga apabila jiwa itu tetap di atas fitrahnya, maka tidak akan menuntut kecuali kebenaran. Sedangkan kebenaran itu telah jelas dan terang, tidak ada kesamaran atasnya.

Al-’Allamah Ibnul Qayyim t berkata: “Sesungguhnya kesempurnaan seseorang itu berkisar pada dua hal:

1. Kemampuan membedakan antara kebenaran dan kebatilan

2. Lebih memilih kebenaran tersebut daripada kebatilan.

Tidaklah kedudukan makhluk di sisi Allah l, baik di dunia maupun di akhirat, kecuali ditentukan oleh kadar perbedaan mereka dalam dua perkara tersebut. Karena dua perkara inilah, para nabi dipuji oleh Allah l dalam firman-Nya:

“Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq, dan Ya’qub yang memiliki kekuatan dan ilmu-ilmu yang tinggi.” (Shad: 45)

الْأَيْدِي maknanya kuat dalam melaksanakan kebenaran, الْأَبْصَارُ maknanya kemampuan membedakan antara kebenaran dengan kebatilan dalam urusan agama.

Dalam ayat ini, Allah l menyifati mereka, para nabi, dengan kesempurnaan memahami kebenaran dan kesempurnaan dalam mengamalkannya.” (Al-Jawabul Kafi, hal. 139)

Oleh karena itulah, setiap hamba wajib berpegang teguh dengan fitrahnya dan berhati-hati terhadap sebab-sebab yang akan menghalanginya dari kebenaran (al-haq), serta takut terhadap segala sesuatu yang akan menyimpangkannya. Apabila ada suatu hal yang telah menggelincirkannya dari kebenaran tersebut, dia segera kembali kepada al-haq itu dan berusaha memeganginya dengan kuat.

Adapun faktor-faktor yang akan menghalangi dan menyimpangkan seorang hamba dari al-haq banyak sekali jumlahnya. Bisa berasal dari diri sendiri, seperti kebodohan dan hawa nafsunya. Bisa juga dari luar dirinya, seperti setan dari golongan jin dan manusia.

Di antara sekian banyak faktor tadi, yang paling banyak menggelincirkan makhluk dari jalan Allah l adalah al-kibr (kesombongan) dan al-hasad (kedengkian) yang ada pada dirinya.

Kesombongan dan kedengkian inilah yang menyeret Iblis la’natullah alaih untuk durhaka kepada Allah l. Kedurhakaan Iblis ini adalah yang pertama kali dalam alam semesta. Hal itu terjadi karena Iblis iri dan dengki dengan keutamaan serta kedudukan Adam q. Di mana Allah l memilih beliau untuk menjadi khalifah di muka bumi, Allah l ajari beliau berbagai nama (benda) seluruhnya, serta Allah l perintahkan para malaikat untuk sujud kepadanya. Hal inilah yang menyeret Iblis untuk durhaka kepada Allah l.

Demikian pula, kesombongan dan kedengkianlah yang menyeret Yahudi untuk tidak beriman kepada Allah l dan mengingkari kenabian Muhammad n. Mereka adalah ahlul kitab, yang mengetahui berita akan diutusnya beliau n melalui kitab Taurat dan Injil. Sebelum beliau n diutus, mereka juga sering menceritakan kepada orang-orang Arab bahwa waktu diutusnya Muhammad n telah dekat. Setelah diutusnya beliau n, mereka juga betul-betul yakin bahwa beliau n adalah utusan Allah l, sebagaimana yakinnya mereka terhadap anak-anak mereka sendiri.

Allah l berfirman:

“Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al-Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.” (Al-Baqarah: 146)

Yang menyeret mereka untuk mendustakan dan enggan untuk beriman kepada beliau n adalah kesombongan dan kedengkian. Hal ini terjadi karena beliau bukan berasal dari bangsa mereka, di mana mereka merasa lebih mulia daripada bangsa Arab.

Apabila kesombongan dan kedengkian itu mampu menyeret manusia ke dalam kekafiran, padahal dosa ini adalah dosa yang paling besar, maka bagaimana tidak mungkin akan menyeret kepada dosa-dosa lain yang lebih kecil? Tentunya sangat mudah, kecuali orang-orang yang mendapatkan perlindungan dan hidayah taufik dari Allah l.

 

Al-Hasad (Kedengkian)

Allah l berfirman:

“Ataukah mereka (orang-orang Yahudi) dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang telah Allah berikan kepadanya?” (An-Nisa’: 54)

Dari Abu Hurairah z, Rasulullah n bersabda:

وَلاَ تَحَاسَدُوا

“Janganlah kalian saling iri dan dengki.” (HR. Muslim)

Dalil-dalil di atas menunjukkan haramnya hasad (iri dan dengki). Oleh karena itu, wajib bagi setiap muslim untuk bersungguh-sungguh menjaga dirinya dari penyakit tersebut, serta khawatir dirinya akan terjatuh padanya. Juga senantiasa berupaya membersihkan diri darinya. Karena hasad itu sangat tersembunyi di dalam jiwa, sewaktu-waktu bisa muncul dan membinasakan dirinya. Wal ‘iyadzu billah.

Al-Allamah Abdurrahman Al-Mu’allimi t berkata: “Hasad itu hakikatnya adalah apabila orang lain yang menerangkan kebenaran, maka dia (orang yang dalam hatinya ada iri dan dengki) menganggap bahwa bila dia meyakini kebenaran tersebut berarti dia mengakui kelebihan ilmu dan keutamaan orang itu, serta mengakui kebenaran yang ada pada diri orang tersebut. Sehingga akan semakin membesarkan kewibawaannya di mata umat. Barangkali orang yang mengikuti dia akan semakin banyak. Sungguh engkau akan dapati sebagian orang yang berambisi menyalahkan orang lain adalah dari kalangan ulama, walaupun dengan cara yang batil sekalipun. Hal itu terjadi karena kedengkiannya dan upaya menjatuhkan kedudukannya di mata umat. Kebanyakan terjadinya saling iri dan dengki itu adalah di antara orang-orang yang seusia, sederajat, seprofesi, atau sekelas (aqran dari kalangan penuntut ilmu).” (At-Tankil, 2/190)

Oleh karena itulah, kebanyakan orang menolak (tidak mau menerima) kebenaran apabila orang yang membawa kebenaran itu adalah orang yang dianggap sederajat dengannya. Padahal dia akan menerima kebenaran tersebut kalau yang menyampaikan adalah gurunya atau orang yang lebih tinggi darinya.

Abu Hatim Ibnu Hibban t berkata: “Kebanyakan hasad (iri dan dengki) itu terjadi di antara aqran (orang-orang yang seumur, sekelas, seprofesi). Orang-orang yang sama profesinya, seperti para penulis, tidak akan hasad kepadanya kecuali para penulis juga. Sebagaimana para hafizh itu tidak akan hasad kepadanya kecuali para hafizh pula. Dan seseorang tidak akan mencapai suatu kedudukan dari berbagai kedudukan dunia kecuali dia pasti akan mendapati orang yang membenci dirinya karena kedudukan tersebut (karena iri dan dengki kepadanya). Maka, orang yang hasad adalah lawan yang senantiasa berusaha menentang.” (Raudhatul ‘Uqala, hal. 136)

Asy-Syaukani t berkata: “Di antara sebab yang menghalangi seseorang bersikap inshaf (adil dan ilmiah) adalah apa yang terjadi di antara orang-orang yang berlomba-lomba mendapatkan keutamaan di antara aqran (selevel). Hal itu terjadi pula dalam urusan kepemimpinan dunia maupun agama. Maka apabila setan telah mengembuskan (api hasad) pada dirinya, persaingan pun semakin sengit, sampai pada suatu tingkatan yang bisa menjerumuskan masing-masingnya untuk menolak segala sesuatu yang dibawa oleh lawannya (walaupun berupa kebenaran yang sangat jelas).

Dalam perseteruan ini, sungguh kita menyaksikan dan mendengarkan peristiwa-peristiwa yang mengherankan yang dilakukan oleh segolongan orang-orang yang berilmu layaknya perbuatan yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak beriman. Mereka menolak kebenaran yang dibawa pihak lawannya serta membantah dengan cara yang batil1.” (Adabuth Thalib, hal. 91-92)

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin t berkata: “Kesimpulannya, hasad adalah akhlak yang tercela. Yang sungguh memprihatinkan adalah bahwa kebanyakan hasad tersebut terjadi di antara para ulama dan thalabatul ilmi (penuntut ilmu). Terjadi pula hasad di antara para pedagang. Orang-orang yang memiliki profesi yang sama akan hasad terhadap orang-orang yang seprofesi dengannya. Namun yang paling memprihatinkan adalah hasad di antara para ulama lebih dahsyat. Hasad di antara para penuntut ilmu juga lebih dahsyat. Padahal semestinya orang-orang yang berilmu adalah orang yang paling jauh dari penyakit ini. Mereka mestinya adalah orang yang paling baik akhlaknya. (Kitabul ‘Ilmi, hal. 74)

 

Al-Kibr (Kesombongan)

Allah l berfirman:

“Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang.” (Ghafir: 35)

الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“Sombong itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain.” (HR. Muslim dari Abdullah bin Mas’ud z)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t berkata: “Karena faktor-faktor inilah, orang-orang Yahudi terus-menerus di atas kebatilannya. Yaitu karena apa yang ada dalam hati-hati mereka seperti kesombongan, kedengkian, keras kepala, dan tabiat-tabiat jelek lainnya.” (Naqdhul Manthiq, hal. 27)

Dengan hal inilah kita mendapatkan kejelasan bahwa kesombongan itu adalah salah satu penghalang untuk menerima kebenaran.

Demikian juga apabila kesombongan itu telah memenuhi hatinya, akan menjadikan pemiliknya menganggap dirinya tinggi dan sempurna, sehingga merasa tidak membutuhkan orang lain. Hal ini juga akan menghalanginya dari evaluasi dan introspeksi diri, barangkali yang keliru adalah dirinya. Inilah keadaan orang-orang yang mengikuti hawa nafsu.

Ibnul Jauzi t berkata: “Orang yang sombong adalah orang yang menganggap dirinya lebih tinggi daripada orang lain (dalam segala perkara).” (At-Tabashshurah, 2/222)

Al-Imam Asy-Syathibi t berkata: “Orang-orang yang telah menjadikan hawa nafsunya sebagai hakim bagi dirinya, maka mereka tidak akan memedulikan apapun. Mereka tidak akan memperhitungkan hal-hal yang menyelisihi pendapatnya sama sekali. Mereka juga tidak mau introspeksi diri atau mengevaluasi pandangan-pandangannya. Tidak sebagaimana sikap orang-orang yang berusaha mencurigai dirinya sendiri (barangkali kesalahan ada di pihaknya), dan akan berhenti tatkala menimbulkan suatu permasalahan (padahal inilah sikap orang-orang yang berakal).” (Al-I’tisham, 2/269)

Orang-orang yang mengikuti kebenaran adalah orang-orang yang tawadhu’. Orang-orang yang senantiasa mengintrospeksi dirinya adalah orang-orang yang gigih mencari dan menuntut kebenaran. Oleh karena itu, mereka tidaklah enggan untuk mengevaluasi pendapatnya. Tidak enggan pula untuk menuntut hakikat kebenaran dari suatu pemasalahan. Lebih-lebih pada hal-hal yang menimbulkan masalah.

Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam berkata: “Sungguh aku telah mendengar Asy-Syaikh Muqbil lebih dari sekali berkata: ‘Demi Allah, kami tidak mengkhawatirkan dakwah ini, kecuali dari diri-diri kami.’ Aku (Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam) katakan: Demi Allah, sungguh Asy-Syaikh Muqbil t memiliki firasat yang tepat, di mana Rasulullah n membuka khutbahnya dengan ucapan:

وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا

“Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan jiwa kami dan dari kejelekan amalan kami.”

Maka, jiwa kita, apapun kebaikan yang ada padanya, mesti terdapat kekurangan atau kejelekan.” (At-Tanbihul Hasan, hal. 68-69)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t berkata: “Seseorang beralih dari suatu pendapat kepada pendapat yang lain karena kejelasan yang dia dapatkan, adalah sikap terpuji. Berbeda dengan sikap orang yang sombong, terus-menerus di atas suatu pendapat yang tidak mengandung hujjah atau dalil yang kuat (ini adalah sikap yang tercela). Sedangkan meninggalkan suatu pendapat yang telah jelas hujjah atau dalilnya, atau berpindah dari suatu pendapat kepada pendapat lain karena adat dan mengikuti hawa nafsu, itu adalah sikap yang tercela pula.” (Al-Fatawa Al-Kubra, 5/125)

 

Terapi Hati dari Penyakit Sombong dan Hasad

Rasulullah n bersabda:

وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللهُ

“Tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah, melainkan Allah akan mengangkatnya.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah z)

Al-Imam Ibnul Qayyim t berkata: “Makna tawadhu’ adalah menerima kebenaran dengan tunduk kepadanya, menghina diri, patuh, dan masuk di bawah perbudakannya. Di mana kebenaran itulah yang mengatur dirinya, sebagaimana seorang raja mengatur kekuasaannya. Dengan inilah seorang hamba akan mendapatkan akhlak tawadhu’. Agar bisa bersikap demikian, seorang muslim membutuhkan ilmu, ikhlas, sabar, dan latihan yang terus-menerus, diiringi doa, serta senantiasa menjaga keselamatan hati dari penyakit-penyakitnya (ujub, riya, sum’ah sombong, hasad, dll).

“Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (Asy-Syams: 9-10)

Hammad bin Ibrahim berkata: “Kebenaran itu telah jelas dan mudah. Di mana manusia diciptakan di atas fitrahnya untuk mengetahui, mencintai, dan menerima kebenaran tersebut, kecuali orang yang telah rusak fitrahnya. Rasulullah n memerintahkan Abu Dzar z untuk mengatakan kebenaran walaupun pahit. Hal ini (kebenaran yang pahit rasanya) adalah bagi orang yang belum terlatih jiwanya. Demikian juga bagi ahli bid’ah serta orang yang mengikuti hawa nafsunya.” (Ash-Shawarif ‘anil Haq, hal. 41)

Ar-Raghib Al-Asfahani berkata: “Ucapan mereka bahwa kebenaran itu pahit, itu adalah bagi orang yang belum terlatih jiwanya (untuk menerimanya) dan hatinya sakit. Seorang penyair berkata:

فَمَنْ يَكُنْ ذَا فَمٍ مُرّ مَرِيضٍ يَجِدْ مُرًّا بِهِ الْمَاءَ الزُّلَالَا

Orang yang mulutnya pahit, dia sakit

dia merasakan pahit dengannya air yang segar.

Maka, orang yang sehat fitrahnya akan senang dengan (kebenaran) itu walaupun berat.” (Adz-Dzani’ah ila Makarisy Syari’ah, hal. 126)

Al-Khaththabi t berkata: “Manusia itu tidak akan berubah dari tabiat-tabiatnya yang jelek, dan tidak akan meninggalkan kesenangannya terhadap berbagai macam kebiasaan kecuali dengan latihan-latihan yang keras dan pengobatan yang serius.” (A’lamul Hadits, 1/218)

Siapapun yang jiwanya belum terlatih menerima kebenaran, maka jiwa tersebut membutuhkan latihan dan pendidikan sampai jiwa itu menuruti kebenaran dan tunduk kepadanya, senantiasa mengoreksi amalan-amalan yang telah dia lakukan, dan senantiasa mensyukuri segala nikmat Allah l, sehingga mudah menerima al-haq.

اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ

Ya Allah, tampakkanlah kepada kami kebenaran itu adalah kebenaran dan karuniakanlah kepada kami rezeki untuk mengikutinya. Dan tampakkanlah kepada kami yang batil itu adalah batil dan karuniakanlah kepada kami rezeki untuk menjauhinya. Amin, ya Rabbal ‘alamin.

“Ya Rabbku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang shalih yang Engkau ridhai. Berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (Al-Ahqaf: 15)

Ya Allah, limpahkanlah qalbun salim (hati yang selamat dan bersih) kepada kami kaum muslimin, mukminin, salafiyyin, hati yang selalu menerima al-haq, mencintainya dan selalu mendahulukannya, hati yang putih bersih yang memancarkan cahaya iman, yang kokoh di atas al-haq.

Amin ya Rabbal ‘alamin.

Bahaya Berloyalitas Dengan Orang Kafir

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abdurrahman Mubarak)

 

Islam adalah agama yang haq. Hanya Islam yang akan diterima oleh Allah l. Allah l berfirman:

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al-Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.” (Ali ‘Imran: 19)

Allah l berfirman:

“Barangsiapa mencari agama selain Islam, tidaklah akan diterima darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Ali ‘Imran: 85)

Rasulullah n berkata:

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ وَلَا نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

“Demi Dzat yang jiwaku di tangan Nya, tidaklah ada seorang dari umat ini mendengarku, baik Yahudi atau Nasrani, kemudian dia mati dalam keadaan tidak beriman kepada apa yang aku diutus dengannya, maka dia adalah penghuni neraka.” (HR. Muslim)

Ketahuilah, di antara perkara yang telah diajarkan dalam Islam adalah menjauhi dan tidak berwala’ (loyalitas) kepada orang kafir. Allah l berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan orang-orang kafir sebagai wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu)?” (An-Nisa’: 144)

Allah l berfirman:

“Janganlah orang-orang mukmin menjadikan orang-orang kafir sebagai wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barangsiapa berbuat demikian niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali(mu).” (Ali ‘Imran: 28)

Allah l berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu). Sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (Al-Ma’idah: 51)

Ketahuilah, ada beberapa hal yang harus dilakukan, diperhatikan, dan dipenuhi dalam rangka menyempurnakan sikap bara’ (berlepas diri) terhadap orang kafir, di antaranya:

1. Meninggalkan (tidak mengikuti) hawa nafsu mereka. Allah l telah melarang mengikuti hawa nafsu mereka dalam Al-Qur’an, di antaranya:

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepadamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: ‘Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar).’ Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang ilmu kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (Al-Baqarah: 120)

Allah l mengancam orang yang mengikuti hawa nafsu orang kafir dengan ancaman yang keras. Allah l berfirman:

“Dan demikianlah, Kami telah menurunkan Al-Qur’an itu sebagai hukum dalam bahasa Arab. Dan seandainya kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, maka sekali-kali tidak ada pelindung dan pemelihara bagimu dari Allah.” (Ar-Ra’d: 37)

 

2. Tidak menaati perintah-perintah mereka, karena Allah l melarang kita taat kepada orang kafir dan menegaskan jika kaum mukminin menaati mereka niscaya mereka akan dikembalikan kepada kekufuran.

Allah l berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu menaati orang-orang yang kafir itu, niscaya mereka mengembalikan kamu ke belakang (kepada kekafiran), lalu jadilah kamu orang-orang yang rugi.” (Ali Imran: 149)

Allah l berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebagian dari orang-orang yang diberi Al-Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman.” (Ali Imran: 100)

 

3. Tidak menyandarkan diri kepada orang kafir dan orang-orang zalim.

Allah l berfirman:

“Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim, yang menyebabkan kamu disentuh api neraka. Dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolong pun selain Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan.” (Hud: 113)

Allah l berfirman:

“Dan kalau Kami tidak memperkuat (hati)mu, niscaya kamu hampir-hampir condong kepada mereka. Jika terjadi demikian, benar-benarlah akan Kami timpakan kepadamu (siksaan) berlipat ganda di dunia ini dan begitu (pula siksaan) berlipat ganda sesudah mati, dan kamu tidak akan mendapati seorang penolong pun terhadap Kami.” (Al-Isra: 74-75)

 

4. Tidak mencintai dan menyayangi musuh-musuh Allah l.

“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dari-Nya dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung.” (Al-Mujadilah: 22)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t menerangkan, “Allah l mengabarkan bahwasanya tidak ada orang mukmin yang mencintai orang kafir. Barangsiapa mencintai orang kafir (yakni mencintai karena agama) maka dia bukanlah mukmin.”

 

5. Tidak bertasyabbuh (menyerupai) orang kafir dalam perbuatan mereka yang dhahir/lahir. Karena hal tersebut akan menumbuhkan rasa cinta, kasih sayang, dan loyalitas dalam hati. Sebagaimana rasa cinta dalam batin akan menyebabkan ingin meniru secara lahir. Di antara dalil yang menunjukkan hal ini adalah sabda Rasulullah n:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka termasuk golongan mereka.”

(Lihat Sabilun Najah Wal Fikak min Muwalatil Murtaddin wa Ahli Asy-Syirk hal. 50-85)

 

Seruan Persatuan Agama bukan Ajaran Islam

Dari penjelasan di atas kita mengetahui bahwa Islam adalah satu-satunya agama di sisi Allah l dan Islam memerintahkan kaum muslimin untuk tidak berloyalitas apalagi mencintai serta berkasih sayang dengan orang kafir.

Dalam kesempatan ini penulis ingin mengingatkan para pembaca tentang satu bahaya yang harus kita waspadai dan kita peringatkan umat darinya. Yaitu munculnya orang-orang yang dianggap “tokoh” belakangan ini yang menyerukan seruan sesat: persatuan agama samawi (penyatuan agama Ibrahimiyah, persaudaraan lintas iman, atau istilah yang sejenis).

Ini adalah seruan yang kufur dan menyeret kepada kekufuran. Karena, seruan kufur ini sama dengan menyeru untuk tidak mengafirkan orang kafir. Lebih parah dari itu, sama dengan menolerir serta membenarkan keyakinan orang-orang kafir.

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab t berkata, “Barangsiapa tidak mengkafirkan musyrikin atau ragu tentang kekafiran mereka atau membenarkan keyakinan mereka, maka dia telah terjatuh dalam kekafiran.” (Lihat risalah Nawaqidhul Islam)

Telah ada fatwa ulama dalam masalah ini, di antaranya fatwa Al-Lajnah Ad-Da’imah no. 19402, 25 Muharam 1418 H, tersebut dalam poin ke-8 dalam fatwa tersebut:

“Seruan kepada persatuan agama jika muncul dari seorang muslim jelas merupakan kemurtadan dari agama Islam karena berlawanan dengan pokok-pokok aqidah. Karena (dia) menyeru untuk meridhai kekufuran kepada Allah l, mengingkari kebenaran Al-Qur’an dan keadaannya yang menghapus kitab-kitab sebelumnya, mengingkari bahwa Islam menghapus seluruh agama, syariat, dan lainnya. Berdasarkan hal ini maka seruan tersebut adalah pemikiran yang tertolak secara syar’i dan dipastikan keharamannya, berdasarkan semua dalil syar’i dalam Islam dari Al-Qur’an, As-Sunnah, dan ijma’.” (Dinukil dari Risalah Tsalats Fatawa Muhimmah)

 

Seruan Persatuan Agama Adalah Pemikiran Yahudi-Nasrani

Seruan ini sebetulnya seruan yang berasal dari kaum Yahudi dan Nasrani untuk menyesatkan dan memurtadkan kaum muslimin. Berdasarkan perjalanannya dalam sejarah, seruan mereka ini mengalami empat marhalah (fase):

1. Di zaman Rasulullah n

Allah l telah memberitakan bagaimana usaha Yahudi dan Nasrani untuk memurtadkan kaum muslimin dari agamanya, mengembalikan mereka kepada kekufuran dan menyeru untuk mengikuti Yahudi atau Nasrani.

Allah l berfirman:

“Sebagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka maafkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Al-Baqarah: 109)

Dan mereka berkata: “Hendaklah kamu menjadi penganut agama Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk.” Katakanlah: “Tidak, melainkan (kami mengikuti) agama Ibrahim yang lurus dan bukanlah dia (Ibrahim) dari golongan orang musyrik.” (Al-Baqarah: 135)

2. Marhalah kedua adalah menyeru kepada pemikiran ini setelah habisnya masa tiga generasi utama.

Muncul kembali di masa ini seruan kufur ini dengan slogan bahwa Yahudi, Nasrani, dan Islam adalah seperti mazhab yang empat yang ada pada kaum muslimin. Pemikiran ini diterima oleh sebagian penyeru “wihdatul wujud”, ahlul hulul wal ittihad, orang-orang sesat dari kalangan Shufiyah (sufi) di Mesir, Syam, dan Persia serta sebagian negeri non-Arab. Demikian juga orang-orang sesat dari kalangan Rafidhah. Kesesatan mereka sampai taraf membolehkan seseorang masuk Yahudi atau Nasrani, bahkan menyatakan Yahudi dan Nasrani lebih afdhal (utama). Syaikhul Islam t telah membahas dan menyingkap kebobrokan mereka dalam kitab-kitabnya (lihat Majmu’ Fatawa). Di antara orang-orang ekstrem yang telah dibantah Ibnu Taimiyah adalah: Al-Hallaj, Ibnu ‘Arabi, At-Tilmisani, dan Ibnu Hud.

3. Marhalah ketiga adalah menyeru kepada pemikiran ini di pertengahan abad ke-14 H.

Seruan kepada kekufuran ini kemudian kembali didengungkan pada masa tersebut yang dipelopori kelompok Freemasonry yaitu gerakan Yahudi untuk menguasai dunia dan menyebarkan kesesatan dengan: Menyeru persatuan agama, menolak ta’ashub karena semua beriman kepada Allah l. Di antara yang terjerat jaring dakwah mereka adalah Jamaludin Al-Afghani dan Muhammad Abduh. Di antara ulah Muhammad Abduh adalah bersama seorang Iran, Muhammad Baqir Al-Irani, yang telah masuk Nasrani kemudian kembali kepada Islam, dan beberapa orang lainnya membuat satu organisasi Jum’iyah Ta’lif wa Taqrib (Penyatuan dan Pendekatan). Inti kerja perkumpulan ini adalah mendekatkan (menyatukan) tiga agama.

4. Marhalah keempat adalah menyeru kepada pemikiran ini di masa sekarang

Di akhir abad ke-14 sampai zaman kita ini, Yahudi dan Nasrani kembali menyuarakan persatuan agama ini dengan berbagai macam slogan:

– Persatuan pengikut Musa q, Isa q, dan Muhammad n

– Seruan persatuan agama Ibrahimiyah, dan slogan-slogan lainnya.

(Lihat tentang perkembangan pemikiran ini dalam kitab Al-Ibthal li Nazhariyatil Khalth baina Dinil Islam wa Ghairiha minal Adyan hal. 16-24)

Kami paparkan perkembangan pemikiran kufur ini agar jelas bagi kita bahwa pemikiran ini berasal dari Yahudi dan Nasrani, yang dibungkus dengan slogan-slogan yang menipu kaum muslimin.

Oleh karenanya seorang muslim tidak boleh menerima seruan tersebut, apalagi mengikuti pertemuan-pertemuan/muktamar-muktamar mereka. Bahkan seorang muslim haruslah menolak dan memperingatkan umat dari pemikiran sesat ini serta mengusirnya dari negeri kaum muslimin. Pemerintahan muslim wajib menghukum para penyeru pemikiran ini dengan hukuman atas seorang murtad. Ini semua dalam rangka menjaga agama, dan sebagai sebuah bentuk ketaatan kepada Allah l dan Rasul-Nya n serta menjaga aqidah kaum muslimin.

Ketahuilah, barakallahu fikum (semoga Allah l memberkahi Anda sekalian), makar Yahudi dan Nasrani yang didukung para “tokoh” kesesatan untuk memurtadkan kaum muslimin akan terus bergulir. Allah l berfirman:

“Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran) seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (Al-Baqarah: 217)

Mudah-mudahan sedikit yang kami sampaikan ini bisa menjadi peringatan dan menjadi bekal bagi kita semua untuk senantiasa menjaga diri kita dan keluarga dari makar orang-orang kafir.

Wallahu a’lam.

Agama Hancur Karena Ambisi Harta dan Kedudukan

(ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar Suaidi)

 

Dari putra Ka’b bin Malik dari ayahnya, ia berkata bahwa Rasulullah n bersabda:

مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلَا فِي غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الرَّجُلِ عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِينِهِ

“Tidaklah dua ekor serigala lapar yang dilepaskan dalam sekawanan kambing lebih merusak terhadapnya daripada merusaknya ambisi seseorang terhadap harta dan kedudukan terhadap agamanya.” (Shahih, HR. Ahmad, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ibnu Hibban. Lihat Shahih At-Targhib Wat Tarhib no. 1710)

Ibnu Rajab Al-Hambali t berkata:

“Ini sebuah perumpamaan yang agung sekali. Nabi n sebutkan sebagai perumpamaan rusaknya agama seorang muslim karena ambisinya terhadap harta dan kedudukan di dunia. Juga bahwa rusaknya agama karena hal tersebut tidak lebih ringan dari hancurnya sekawanan kambing karena serangan dua ekor serigala pemangsa yang lapar di malam hari saat penggembala tidak menjaganya. Kedua serigala itu memangsa kambing tersebut dan memakannya. Seperti diketahui, tidak akan ada yang selamat dari sergapan serigala tersebut dalam kondisi seperti ini kecuali sedikit. Nabi n pun memberitakan bahwa ambisi seseorang terhadap harta dan kedudukan merusak agamanya di mana ini tidak lebih ringan dari perusakan serigala tersebut terhadap sekawanan kambing itu, bahkan mungkin sama atau lebih parah. Beliau n ingin mengisyaratkan bahwa agama seorang muslim tidak akan selamat bila dia berambisi terhadap harta dan kedudukan di dunia ini kecuali sedikit (dari agamanya), sebagaimana kambing-kambing tersebut tidak selamat dari sergapan serigala melainkan sedikit. Dengan demikian, perumpamaan ini mengandung peringatan keras dari kejahatan ambisi terhadap harta dan kedudukan di dunia.

Ambisi terhadap harta ada dua macam:

Pertama, sangat cinta harta dan sangat berupaya mencarinya dari jalan-jalannya yang mubah serta berlebihan dalam mencarinya. Sangat serius dalam memperolehnya dari berbagai jalannya dengan getol dan bersusah payah.

Terdapat dalam sebagian riwayat bahwa sebab munculnya hadits ini adalah jatuhnya sebagian orang ke dalam jenis ini…

Bila dalam ambisi harta benda tidak ada efek kecuali sekadar menyia-nyiakan umur yang mulia yang (membuatnya) tidak berharga –padahal semestinya dapat ia gunakan untuk memperoleh derajat yang tinggi dan kenikmatan yang kekal. Namun dia sia-siakan dengan ambisinya dalam mencari rezeki, yang (sebenarnya) telah Allah l jamin dan Allah l bagi-bagi. Padahal seseorang tidak mendapatkannya melainkan sesuai dengan apa yang telah Allah l tentukan untuknya, lantas ia sendiri tidak memanfaatkannya bahkan meninggalkannya untuk orang lain, berpisah dengannya, tinggal perhitungannya ia tanggung sedang manfaatnya untuk orang lain– cukuplah ini sebagai cela bagi seorang yang ambisius. Seorang yang berambisi menyia-nyiakan waktunya yang mulia dan berspekulasi dengan dirinya…

Ibnu Mas’ud z berkata: “Yakin adalah engkau tidak mencari ridha manusia dengan mengakibatkan murka Allah l, dan engkau tidak iri kepada seorang pun karena rezeki yang Allah l karuniakan kepadanya, engkau tidak mencela seorang pun atas apa yang Allah l belum berikan kepadamu. Karena sesungguhnya rezeki Allah l itu tidak dapat digiring oleh ambisi seseorang. Tidak pula dapat ditolak oleh kebencian seseorang. Sesungguhnya Allah l–dengan keadilan-Nya– menjadikan ketenangan dan kebahagiaannya pada keyakinan dan keridhaan. Allah l juga menjadikan kegundahan dan kesedihannya pada keraguan dan kemarahan…

Kedua, ambisi terhadap harta lebih dari apa yang disebutkan pada macam yang pertama. Sehingga dia mencari harta dari jalan-jalan yang haram dan tidak menunaikan hak yang wajib. Ini termasuk syuh (ambisi) yang tercela. Allah l berfirman:

“Dan siapa yang dipelihara dari syuh (kekikiran) dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Al-Hasyr: 9)

Dalam Sunan Abu Dawud dari Abdullah bin Umar c, dari Nabi n:

اتَّقُوا الشُّحَّ فَإِنَّ الشُّحَّ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، أَمَرَهُمْ بِالْقَطِيعَةِ فَقَطَعُوا وَأَمَرَهُمْ بِالْبُخْلِ فَبَخِلُوا وَأَمَرَهُمْ بِالْفُجُورِ فَفَجَرُوا

“Berhati-hatilah kalian dari syuh (ambisi), karena hal itu menghancurkan orang yang sebelum kalian. Memerintahkan mereka untuk memutus hubungan silaturrahmi, maka mereka memutusnya. Memerintahkan mereka untuk tidak berinfak, mereka pun tidak berinfak. Memerintahkan mereka untuk berbuat jahat, mereka pun berbuat jahat.”

Dalam Shahih Muslim dari Jabir z, dari Nabi n, beliau bersabda:

اتَّقُوا الشُّحَّ فَإِنَّ الشُّحَّ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، حَمَلَهُمْ عَلَى أَنْ سَفَكُوا دِمَاءَهُمْ وَاسْتَحَلُّوا مَحَارِمَهُمْ

“Berhati-hatilah kalian dari syuh, karena hal itu telah membuat binasa orang-orang sebelum kalian, membuat mereka menumpahkan darah, dan menghalalkan sesuatu yang diharamkan atas mereka.”

Sekelompok ulama mengatakan: “Syuh berarti ambisi besar yang membuat penyandangnya mengambil sesuatu yang tidak halal dan tidak mau menunaikan hak yang wajib. Hakikatnya adalah jiwanya sangat merindukan apa yang diharamkan Allah l dan dia dilarang darinya, serta seseorang tidak merasa puas dengan apa yang Allah l halalkan berupa harta, kebutuhan nikahnya, ataupun selainnya.”

Sesungguhnya Allah l telah halalkan untuk kita hal-hal yang baik dari makanan, minuman, atau pakaian, serta kebutuhan nikah. Allah l haramkan memanfaatkan itu semua tanpa melalui jalurnya yang halal. Allah l halalkan untuk memerangi orang-orang kafir yang memerangi serta menghalalkan harta mereka. Allah l juga mengharamkan hal-hal yang jelek selain itu dari makanan, minuman, pakaian, dan kebutuhan nikah. Allah l juga haramkan atas kita untuk menumpahkan darah tanpa alasan yang benar. Barangsiapa membatasi diri pada apa yang dihalalkan maka dia adalah seorang mukmin. Sedangkan barangsiapa yang melampaui (batas) kepada yang dilarang maka ini yang disebut syuh yang tercela, dan ini bertentangan dengan iman. Oleh karenanya, Nabi n memberitakan bahwa syuh itu memerintahkan kepada pemutusan hubungan silaturrahmi, kejahatan, dan kebakhilan. Kebakhilan itu sendiri bermakna seseorang menahan apa yang ada di tangannya (tidak mau menginfakkannya). Adapun syuh bermakna mengambil sesuatu yang bukan miliknya dengan cara yang zalim dan permusuhan, baik itu harta atau yang lainnya. Sampai-sampai disebut bahwa syuh itu merupakan pokok segala maksiat.

Dengan makna inilah, Ibnu Mas’ud z dan ulama salaf yang lainnya menafsirkan kata syuh dan kebakhilan. Dari sinilah kita mengetahui makna hadits Abu Hurairah z, dari Nabi n:

“Tidak akan berkumpul antara syuh dan iman dalam qalbu seorang mukmin.”

Juga hadits yang lain dari Nabi n:

“Sebaik-baik iman adalah kesabaran dan samahah.”

Kesabaran tersebut ditafsirkan dengan sabar menahan diri dari hal-hal yang diharamkan. Sedangkan samahah di sini ditafsirkan dengan menunaikan kewajiban.

Terkadang kata syuh juga berarti kebakhilan atau sebaliknya. Akan tetapi pada asalnya adalah berbeda antara keduanya sesuai dengan yang kami sebutkan. Ketika ambisi kepada harta itu sampai kepada derajat semacam ini, maka dengan ini agama seseorang akan dengan nyata terkurangi. Karena ia tidak melaksanakan kewajiban dan melakukan yang haram, yang menyebabkan menurunnya agama seseorang tanpa diragukan sehingga tidak tersisa lagi kecuali sedikit. (Syarh Hadits Ma Dzi’bani Ja’i’ani)

At-Tanaththu’, Persimpangan Menuju Kebinasaan

(ditulis oleh: Al-Ustadz Muhammad Rijal, Lc)

Al-Imam Ahmad t berkata:

حَدَّثَنَا يَحْيَى حَدَّثَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ حَدَّثَنِيْ سُلَيْمَانُ بْنُ عَتِيقٍ عَنْ طَلْقِ بْنِ حَبِيبٍ عَنِ الْأَحْنَفِ بْنِ قَيْسٍ عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُودٍ z عَنِ النَّبِيِّ n قَالَ: أَلاَ هَلَكَ الْمُتَنَطِّعُونَ -ثَلاَثَ مَرَّاتٍ.

Yahya berkata kepada kami: Ibnu Juraij berkata kepada kami: Sulaiman bin ‘Atiq berkata kepadaku, dari Thalq bin Habib, dari Al-Ahnaf bin Qais, dari Abdullah bin Mas’ud z, dari Nabi n, beliau bersabda: “Sungguh, celaka orang-orang yang melampaui batas!” tiga kali.
Al-Imam Ahmad meriwayatkan hadits Ibnu Mas’ud z dalam Al-Musnad (1/386).
Hadits ini shahih. Semua rawinya tsiqah (terpercaya), termasuk perawi-perawi Al-Bukhari dan Muslim dalam Ash-Shahihain, kecuali Sulaiman bin ‘Atiq dan Thalq bin Habib, keduanya hanya dikeluarkan oleh Muslim.
Yahya, yang disebut dengan muhmal1 adalah Yahya bin Sa’id bin Farrukh Al-Qaththan Al-Bashri Abu Sa’id, meninggal 198 H. Ibnu Hajar dalam At-Taqrib mengatakan: “Tsiqatun mutqinun hafizhun.”
Ibnu Juraij, sebutan masyhur bagi Abdul Malik bin Abdul ‘Aziz bin Juraij Al-Umawi, meninggal 150 H. Beliau tsiqah tetapi terkenal sebagai rawi mudallis.2 Ibnu Hajar Al-Asqalani menggolongkannya dalam Thabaqatul Mudallisin pada golongan ketiga, yaitu rawi-rawi mudallis yang tidak bisa diterima riwayatnya kecuali jika terang-terangan mendengar hadits dari gurunya. Dan pada hadits di atas, Ibnu Juraij mendengar langsung dari gurunya dengan ucapannya: “Haddatsani (berkata kepadaku)” sehingga keberadaannya sebagai mudallis tidak membahayakan keabsahan hadits.
Sulaiman bin ‘Atiq Al-Madani, seorang tabi’in, murid dari Jabir bin Abdillah z.3 Ada pembicaraan tentangnya, tetapi tidak membahayakan dan tidak menurunkannya dari derajat hasan, insya Allah. An-Nasa’i mengatakan: “Tsiqah (terpercaya).” (Al-Jarh Wat-Ta’dil, 4/135)
Al-Imam Muslim mengeluarkan haditsnya dalam Ash-Shahih. Ibnu Hajar berkata tentangnya dalam At-Taqrib: “Shaduq (jujur).” (haditsnya hasan)
Thalq bin Habib Al-‘Anazi Al-Bashri, seorang tabi’in, meriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik, Jabir bin Abdillah, dan Abdullah bin Zubair g. Abu Hatim Ar-Razi berkata: “Shaduqun fil hadits (jujur dalam hadits).” (Al-Jarh Wat-Ta’dil 4/490)
Ibnu Sa’d berkata: “Kana murjiyan tsiqatan (Dia seorang Murji’ah yang terpercaya).” (Ath-Thabaqat 7/227)
Ibnu Hibban menyebutnya dalam Ats-Tsiqat (4/396), dan Al-‘Ijli berkata: “Makkiyun tabi’iyyun tsiqatun (Seorang tabi’in dari Makkah yang terpercaya).” (Tarikh Ats-Tsiqat)
Al-Ahnaf bin Qais, Al-Ahnaf adalah laqab (julukan), adapun nama beliau adalah Adh-Dhahhak bin Qais bin Mu’awiyah bin Hushain, meninggal tahun 67 H. Termasuk pembesar tabi’in yang tsiqah, murid dari Abdullah bin Mas’ud z.4
Hadits Ibnu Mas’ud z dikeluarkan pula oleh Al-Imam Muslim dalam Shahih-nya Kitab Al-’Ilmi (no. 2670), Abu Dawud As-Sijistani dalam As-Sunan, Kitab As-Sunnah Bab Luzumis Sunnah (no. 4608), Abu Ya’la Al-Mushili dalam Al-Musnad (no. 5004 dan 5242), dan At-Thabarani dalam Mu’jam Al-Kabir, demikian pula Ibnu Abi Ad-Dunya dalam Ash-Shamt (hal. 109).
Seluruhnya meriwayatkan hadits dari jalan Yahya bin Sa’id dari Ibnu Juraij.5
Al-Haitsami mengatakan dalam Majma’ Az-Zawa’id (10/251): “Hadits ini dikeluarkan oleh Ath-Thabarani6 dan rawi-rawinya adalah perawi yang shahih.”
Asy-Syaikh Al-Albani t menshahihkannya dalam Shahih Sunan Abi Dawud. Allahu a’lam.
Makna Hadits
Al-Khaththabi t menerangkan bahwa Al-Mutanath-thi’ (الْمُتَنَطِّعُ), adalah sebutan bagi orang yang berdalam-dalam dan memaksakan diri dalam membahas sesuatu. Serupa dengan metode ahli kalam (filsafat), mereka selalu membicarakan dan menyelami perkara yang tidak bermanfaat, serta menekuni apa yang akal-akal mereka tidak mampu mencapainya.7
Al-Mutanath-thi’un  (لْمُتَنَطِّعُونَ) merupakan bentuk jamak dari kata (مُتَنَطِّعٌ). Secara bahasa mengandung makna berdalam-dalam ketika berbicara dan menampak-nampakkan kefasihan. Adapun maksud (tanaththu’ dalam hadits ini) adalah tindakan melampaui batas dalam berbicara, melampaui batas dalam ber-istidlal (mengambil dalil), dan melampaui batas dalam beribadah.8
Ibnul Atsir t dalam An-Nihayah mendefinisikan bahwa asal  (لْمُتَنَطِّعُونَ) diambil dari kata (النَّطْعُ) yaitu rongga atas dari mulut. Kata ini kemudian digunakan untuk segala bentuk berdalam-dalam, baik pada ucapan maupun perbuatan.9
Pembaca rahimakumullah, larangan dan celaan dari sikap berlebih-lebihan terpapar gamblang dalam firman Allah l dan hadits-hadits Nabi n dengan berbagai lafadz. Di antaranya ath-tanaththu’ sebagaimana dalam hadits Ibnu Mas’ud z. Disebut pula dengan lafadz al-ithra’, Rasulullah n bersabda:
لَا تُطْرُوْنِي كَمَا أَطَرَتْ النَّصَارَى عِيْسَى بْنَ مَرْيَمَ إِنَّمَا أَنَا عَبْدٌ، فَقُولُوا عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ
“Janganlah kalian berlebih (melampaui batas) dalam memujiku, sebagaimana orang-orang Nasrani berlebih dalam memuji ‘Isa bin Maryam. Aku hanyalah seorang hamba, maka katakanlah bahwa aku adalah hamba Allah dan Rasul-Nya.”10
Disebut pula dengan lafadz al-ghuluw, Rasulullah n bersabda:
إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ الْغُلُوُّ فِي الدِّيْنِ
“Jauhilah ghuluw, sesungguhnya orang-orang sebelum kalian tidaklah mereka binasa kecuali karena ghuluw (melampaui batas) dalam agama.”11
Ketiga kata ini, Al-Ghuluw, Al-Ithra’, dan At-Tanaththu’ memiliki makna yang berdekatan, berserikat dalam sebuah makna yaitu melampaui batasan yang disyariatkan.12 Hanya saja Al-Ghuluw lebih umum, adapun Ath-Tanaththu’ merupakan bagian atau salah satu dari bentuk Al-Ghuluw.13
Pembaca rahimakumullah, kembali kepada sabda Rasulullah n. Perkataan beliau: “Sungguh, celaka orang-orang yang melampaui batas!”, sabda ini berisi kabar sekaligus doa kebinasaan bagi kaum yang melampaui batas.
Dipahami pula dari hadits adanya kewajiban bagi kita untuk berjalan di atas jalan lurus yang jauh dari tanaththu’. Jalan yang dimaksud adalah jalan Allah l yang tersebut dalam hadits Abdullah bin Mas’ud z:
خَطَّ لَنَا رَسُولُ اللهِ n يَومًا خَطًّا ثُمَّ قَالَ: هَذِهِ سَبِيلُ اللهِ. ثُمَّ خَطَّ خُطُوطًا عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ ثُمَّ قَالَ: هذِهِ سُبُلٌ عَلَى كُلِّ سَبِيلٍ مِنْهَا شَيطَانٌ يَدْعُو إِلَيهِ. ثُمَّ تَلاَ: ﭺ ﭻ ﭼ ﭽ ﭾﭿ ﮀ ﮁ ﮂ ﮃ ﮄ ﮅ ﮆ
Suatu hari Rasulullah n menggoreskan sebuah garis untuk kami, lalu bersabda: “Ini adalah jalan Allah.” Kemudian beliau membuat garis-garis di sebelah kanan dan kirinya kemudian bersabda: “Adapun garis-garis ini adalah jalan-jalan, pada masing-masing jalan ada setan yang mengajak kepadanya.” Kemudian beliau membacakan firman Allah l:
ﭺ ﭻ ﭼ ﭽ ﭾﭿ ﮀ ﮁ ﮂ ﮃ ﮄ ﮅ ﮆ
“Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya.” (Al-An’am: 153)14
Jalan Allah l adalah satu-satunya jalan yang adil. Satu-satunya jalan pertengahan yang terbebas dari segala bentuk penyimpangan dan sikap melampaui batas.
Meskipun jalan Allah l telah tampak benderang sebagaimana telah dijelaskan oleh Rasul-Nya n, namun banyaknya persimpangan kesesatan yang diserukan iblis dan pengikutnya benar-benar menakutkan, kecuali bagi mereka yang mendapat taufiq dari Allah l. Pergulatan hebat antara manusia dan iblis dalam menempuh jalan yang lurus itu pun harus terjadi sesuai dengan ketetapan Allah l, Rabbul ‘alamin.
At-Tanaththu’ adalah bagian dari persimpangan-persimpangan. Sejarah anak manusia mencatat bahwa melalui pintu ini iblis berhasil menyesatkan ribuan kaum dari jalan Allah l. Kaki-kaki pun bergeser dari Shirath Al-Mustaqim lalu tumbang binasa sebagaimana disabdakan Rasulullah n:
أَلاَ هَلَكَ الْمُتَنَطِّعُونَ
“Sungguh, celaka orang-orang yang melampaui batas!”
Lihatlah apa yang menimpa kaum Nuh dahulu. Renungkan pula sebab kesesatan Qadariyyah, Jabriyyah, Mu’tazilah, Asy’ariyyah, falasifah (filosof, ahli kalam), Khawarij, Haddadiyyah, dan firqah-firqah lainnya. Sebuah kesimpulan terucap dari lisan sejarah bahwa: “Tidaklah mereka menyimpang dari syariat kecuali karena mereka menapakkan kakinya di atas jalan tanaththu’, persimpangan kebinasaan.”
At-Tanaththu’ Terjadi Pada Pembicaraan, Istidlal, dan Ibadah
Penyakit At-Tanaththu’ menjangkit pada pembicaraan sebagaimana penyimpangan ini masuk dalam pengambilan dalil (istidlal) dan ibadah.15 Dengan memohon pertolongan Allah l, marilah sejenak kita melihat beberapa contoh jenis-jenis tanaththu’ tersebut.
Pertama: tanaththu’ dalam pembicaraan. Gejala orang yang terjatuh pada tanaththu’ jenis ini tampak pada pembicaraannya yang sering menggunakan istilah-istilah asing atau bahasa-bahasa tinggi yang tidak bisa dipahami khalayak. Dia juga terbiasa membahas tema-tema yang masyarakat tidak mampu mencernanya. Tujuan mereka tidak lain sekadar menampakkan keterpelajarannya, membanggakan tingkat pemahaman, atau menampakkan dirinya sebagai sosok orator ulung dan ahli bahasa.
An-Nawawi t menarik satu faedah dari hadits Ibnu Mas’ud z tentang dibencinya bicara dengan dibuat-buat atau memaksakan diri (takalluf) memoles kefasihan lisannya, atau menggunakan kalimat-kalimat asing dan i’rab (tata bahasa) yang mendetail saat berbicara dengan orang awam. Semua itu termasuk jenis tanaththu’ dalam pembicaraan. Demikian keterangan beliau dalam Syarah Shahih Muslim.
Mereka tidak menyadari, sesungguhnya masyarakat sangat memerlukan keterangan yang jelas tentang aqidah, ibadah, dan syariat Allah l. Bukan malah dijejali tema yang jauh dari kebutuhan atau di luar jangkauan akal dan pemahaman.
Sangat mengherankan ketika seorang da’i sibuk membicarakan urusan politik di tengah masyarakat awam, mengoceh urusan negara, perkembangan dunia internasional, perkembangan media masa, atau perkara-perkara lainnya yang masyarakat tidak memahami atau tidak mengambil faedah darinya, bahkan mungkin tidak membutuhkannya sama sekali. Sementara masalah pokok agama terkait dengan aqidah, ibadah, dan mu’amalah tidak disentuh.
Subhanallah! Apa akibatnya? Tidak diragukan lagi, kaum muslimin tetap buta dalam agamanya, tidak mengerti tauhid, tidak bisa tata cara wudhu, tayammum, dan mandi wajib yang benar sesuai tuntunan Rasulullah n, dan seterusnya dari perkara agama yang wajib diketahui.
Keberadaan mereka –ahli tanaththu’– hanyalah pembakar api fitnah di tengah umat ini. Amirul Mukminin, Ali bin Abi Thalib z dalam sebuah nasihatnya yang sangat indah berkata:
حَدِّثُوا النَّاسَ بِمَا يَعْرِفُونَ أَتُرِيدُونَ أَنْ يُكَذَّبَ اللهُ وَرَسُولُهُ؟
“Berbicaralah kepada manusia dengan apa yang mereka pahami. Apakah kalian ingin Allah dan Rasul-Nya didustakan (karena kalian berbicara dengan apa yang tidak dipahami)?”16
Termasuk tanaththu’ dalam berbicara adalah berkata tanpa ilmu, memaksakan diri (takalluf) membahas, atau menjawab perkara yang dia tidak memiliki ilmu tentangnya. Juga bertanya-tanya dengan pertanyaan yang melampaui batas syariat, dilarang oleh Allah l dan Rasul-Nya, dan tidak pernah salaf umat ini menanyakannya.17
Al-Imam Abu ‘Utsman Ash-Shabuni t (373-449 H), menerangkan bahwa pertanyaan-pertanyaan yang berdalam-dalam serta melampaui batas dari batas yang diizinkan tidaklah muncul kecuali dari mereka, orang-orang yang suka bertanaththu’. Mereka membuat kebid’ahan-kebid’ahan dan membahas perkara yang tidak boleh dibahas. Mereka juga mendiskusikan apa yang ulama Islam dan salaf (pendahulu) umat ini tidak pernah membicarakannya.18
Kedua: Tanaththu’ dalam mengambil dalil (istidlal). Gejala tanaththu’ jenis ini adalah mengabaikan atau meninggalkan Al-Kitab dan As-Sunnah sebagai dalil.
Ahlu kalam (filsafat/manthiq) dan yang sejenisnya menempuh jalan ini. Akal dan perasaan lebih mereka kedepankan. Yang dijadikan dalil justru kaidah-kaidah filsafat yang berasal dari filsafat Yunani. Bukan Al-Kitab dan As-Sunnah.
Sederet tokoh filsafat yang menjadi pijakan berpikir pun dipasang dalam kerangka otak-otak mereka yang berpenyakit, seperti Aristoteles, Plato, dan sejenisnya. Kata mereka: “Dalil-dalil sam’i (Al-Kitab dan As-Sunnah) tidak memberikan keyakinan, keyakinan itu hanya didapatkan pada dalil-dalil ‘aqli (akal/rasio).” Apa yang masuk akal itulah yang diyakini, adapun perkara yang menurut mereka tidak masuk akal meskipun dari Al-Kitab dan As-Sunnah secara otomatis tumbang di depan teori-teori filsafat yang mereka agungkan.
Tidakkah mereka paham bahwa agama ini bukan dibangun di atas akal manusia? Ketahuilah bahwa agama ini dari Allah l, dibangun di atas Al-Kitab dan As-Sunnah, bukan akal dan perasaan! Ali bin Abi Thalib z berkata:
لَو كَانَ الدِّينُ بِالرَّأْيِ لَكَانَ أَسْفَلُ الْخُفِّ أَوْلَى بِالْمَسْحِ مِنْ أَعْلاَهُ وَقَدْ رَأَيتُ رَسولَ اللهِ n يَمْسَحُ عَلَى ظَاهِرِ خُفَّيهِ
“Seandainya agama dibangun di atas akal tentulah bagian bawah dari khuf (sepatu) lebih pantas untuk diusap daripada bagian atasnya. Dan sungguh aku melihat Rasulullah n mengusap bagian atas dua khufnya.”19
Melalui ilmu kalam mereka binasa, hati membatu, pendengaran tersumbat, ayat-ayat Al-Qur’an hanya dijadikan sebagai referensi sekunder. Itupun dalam pengawasan teori-teori manusia.
Tidakkah mereka mengambil pelajaran dari tokoh-tokoh besar filsafat dan ilmu kalam? Semakin lama mereka menekuni filsafat justru makin jauh menuju kesesatan dan kebingungan. Bahkan mereka telah menyimpulkan bahwa ilmu kalam tidaklah menambah kecuali kebingungan dan jauhnya dari al-haq.
Ketiga: Tanaththu’ dalam ibadah, yaitu seseorang melampaui batasan yang disyariatkan dalam ibadahnya baik dalam jenis, tata cara, ukuran, waktu atau tempat, atau batasan lain yang ditetapkan Rasulullah n.
Peringatan Sahabat Rasulullah n dari At-Tanaththu’
Para sahabat bergegas mengamalkan sabda Rasulullah n, hingga menjadi generasi terbaik. Mereka bergegas menempuh jalan pertengahan (wasath) dan meninggalkan segala bentuk tanaththu’. Manhaj tersebut tampak dalam sikap dan pengamalan, baik di zaman Rasulullah n atau sesudahnya. Sejarah pun mengukir kekokohan generasi ini dalam berjalan di atas jalan Rasulullah n.
Abdullah bin ‘Umar c murka dan berlepas diri ketika mendengar munculnya kaum yang mengingkari takdir. Beliau berkata:
فَإِذَا لَقِيتَ أُولَئِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنِّي بَرِيئٌ مِنْهُمْ وَأَنَّهُمْ بُرَآءُ مِنِّي وَالَّذِي يَحْلِفُ بِهِ عَبدُ اللهِ ابْنُ عُمَرَ لَو أَنَّ لَأَحَدِهِمْ مثِْلُ أُحُدٍ ذَهَبًا فَأَنْفَقَهُ مَا قَبِلَ اللهُ مِنْهُ حَتَّى يُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ
“Jika engkau berjumpa dengan mereka kabarkanlah bahwa aku berlepas diri dari mereka dan mereka berlepas diri dariku. Demi Dzat yang Abdullah bin Umar bersumpah dengan–Nya, seandainya mereka memiliki emas sebesar gunung Uhud, mereka infakkan, Allah tidak akan menerimanya hingga mereka beriman dengan takdir.”20
Adalah Abdullah bin Mas’ud z, beliau jumpai sekelompok manusia berkumpul di masjid dalam halaqah (lingkaran). Masing-masing mereka memegang kerikil-kerikil, sementara di tengah mereka duduk seorang mengatakan: “Bertasbihlah kalian seratus (kali)!”, “Bertahlillah seratus (kali)!”, “Bertakbirlah seratus (kali)!”. Dengan kerikil-kerikil itu mulailah mereka menghitung zikir (bersama-sama/berjamaah). Maka berdirilah Abdullah bin Mas’ud z mengingkari seraya berkata: “Apa yang kalian lakukan ini?” Mereka menjawab: “Wahai Abu ‘Abdurrahman (kunyah Ibnu Mas’ud, red.), kami menghitung takbir, tasbih, dan tahlil dengan kerikil-kerikil ini.”
Berkatalah Ibnu Mas’ud z: “Hitung saja kesalahan-kesalahan kalian, aku jamin kebaikan kalian tidak disia-siakan sedikitpun. Wahai umat Muhammad n betapa celakanya kalian. Betapa cepatnya kehancuran kalian. (Bukankah) sahabat Nabi kalian masih banyak dan pakaian Rasulullah n belum lagi hancur. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, apakah sesungguhnya yang kalian lakukan ini berada di atas agama yang lebih baik dari agama Muhammad n, ataukah kalian (memang) telah membuka pintu-pintu kesesatan!?” Mereka menjawab: “Demi Allah, wahai Abu Abdurrahman. Tidaklah yang kami inginkan melainkan kebaikan!” Ibnu Mas’ud z berkata: “Betapa banyak orang menginginkan kebaikan akan tetapi tidak mendapatkannya.”21
Allahu Akbar! Lihatlah pembaca rahimakumullah, kecemburuan sahabat saat melihat syariat Allah l disimpangkan dan ajaran Rasulullah n dilampaui batasan-batasannya. Bahkan bila dipandang perlu atau memberikan maslahat, sahabat memberikan hukuman pada orang-orang yang bertanaththu’ dalam ucapan dan perbuatan, melampaui batas dari apa yang Allah l dan Rasul-Nya n tetapkan. Sebagaimana dilakukan Amirul Mukminin, Umar bin Al-Khaththab z, kepada Shabigh At-Tamimi, karena ulahnya yang selalu bertanya-tanya dan berdalam-dalam pada perkara-perkara yang tidak boleh dibicarakan dan salaf tidak pernah membahasnya.
Al-Imam Ad-Darimi dalam Sunan-nya meriwayatkan atsar dari gurunya Abu An-Nu’man –Muhammad bin Al-Fadhl–, dari Hammad bin Zaid, dari Yazid bin Hazim, dari Sulaiman bin Yasar, dia berkata: “Seorang bernama Shabigh datang ke Madinah. Dia (dikenal suka) banyak bertanya-tanya ayat-ayat mutasyabih (samar) dalam Al-Qur’an (menghendaki fitnah dengan pertanyaannya, -pen.). Dibawalah dia ke hadapan Umar bin Al-Khaththab z yang telah menyiapkan beberapa manggar dari pohon kurma. Umar z berkata: “Siapa kamu?” Dia menjawab: “Saya hamba Allah, Shabigh.” Lalu Umar z ambil manggar kemudian dipukullah Shabigh seraya berkata: “Aku hamba Allah, ‘Umar.” Beliau memukulnya hingga kepala Shabigh berdarah. Lalu dia berkata: “Wahai Amirul Mukminin, cukup. Sungguh telah pergi apa yang dulu aku dapatkan di kepalaku.”22
Demikian beberapa riwayat yang menunjukkan sikap sahabat dan kekokohan jalan mereka dalam menempuh kehidupan sesuai dengan jalan Rasulullah n, dan memerangi segala bentuk tanaththu’ dan penyimpangan agama.
Para sahabat, dengan segala kesungguhan berusaha menutup semua celah sikap tanaththu’, baik dengan lisan atau perbuatan. Mereka pun berpesan kepada umat ini agar selalu kembali kepada Al-Kitab dan As-Sunnah, mengajak umat memberikan perhatian pada ilmu syariat sebagai benteng dari sikap tanaththu’ serta segala bentuk ghuluw dan perkara yang diada-adakan.
Dalam sebuah wasiatnya, Abdullah bin Mas’ud z berkata:
عَلَيْكُمْ بِالْعِلْمِ قَبْلَ أَنْ يُقْبَضَ وَقَبْضُهُ أَنْ يَذْهَبَ بِأَصْحَابِهِ، عَلَيْكُمْ بِالْعِلْمِ فَإِنَّ أَحَدَكُمْ لاَ يَدْرِي مَتَى نَفْتَقِرُ إِلَيْهِ أَوْ نَفْتَقِرُ مَا عِنْدَهُ، إِنَّكُمْ سَتَجِدُونَ أَقْوَاماً يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ يَدْعُونَكُمْ إِلَى كِتَابِ اللهِ وَقَدْ نَبَذُوهُ وَرَاءَ ظُهُورِهِمْ فَعَلَيْكُمْ بِالْعِلْمِ وَإِيَّاكُمْ وَالتَّبَدُّعَ، وَإِيَّاكُمْ وَالتَّنَطُّعَ، وَإِيَّاكُمْ وَالتَّعَمُّقَ وَعَلَيْكُمْ بِالْعَتِيقِ
“Tuntutlah ilmu (Al-Kitab dan As-Sunnah), sebelum dicabut. Dan tercabutnya ilmu adalah dengan diwafatkannya ulama. Tuntutlah selalu ilmu, karena salah seorang di antara kalian tidak tahu kapan kita membutuhkannya atau kita butuhkan apa yang ada padanya. Sungguh kalian akan jumpai kaum yang banyak, mereka mengaku menyeru kalian kepada Al-Kitab, padahal ternyata mereka telah melempar (Al-Kitab) di belakang punggung-punggung mereka. Maka wajib atas kalian menuntut ilmu dan berpegang kepadanya, dan tinggalkanlah perkara yang diada-adakan (bid’ah) tinggalkan pula At-Tanaththu’, At-Ta’ammuq, dan berpegang teguhlah dengan ajaran Rasulullah n.”23
Nasihat yang indah. Duhai seandainya seluruh kaum muslimin memegang nasihat ini dan mengamalkannya, niscaya kejayaaan umat –yang telah dijanjikan– dengan izin Allah l segera terwujud.
Peringatan Ahlu Hadits dari At-Tanaththu’
Jejak sahabat dalam menempuh jalan pertengahan dan tekad bulat meninggalkan tanaththu’ diikuti generasi terbaik berikutnya dari kalangan tabi’in, atba’ut tabi’in, dan ahlu hadits Ahlus Sunnah wal Jama’ah.
Al-Imam Malik t, adalah contoh dari salaful ummah yang demikian teguh menanamkan ittiba’ kepada Al-Kitab dan As-Sunnah dengan pemahaman sahabat, sekaligus sosok ulama yang tegas dalam memerangi tanaththu’. Suatu saat beliau membacakan firman Allah l:
“Ar-Rahman di atas ‘Arsy beristiwa’.” (Thaha: 5)
Seseorang bertanya: “Wahai Malik, bagaimana cara Allah l beristiwa’?”
Mendengar pertanyaan seperti ini –yang tidak boleh untuk ditanyakan– menunduklah Al-Imam Malik. Merah padamlah mukanya, gemetarlah badannya, bercucuranlah keringatnya. Lalu beliau angkat kepala seraya mengucapkan kalimat yang sangat masyhur:
الْاِسْتِوَاءُ غَيْرُ مَجْهُولٍ، وَالْكَيْفُ غَيْرُ مَعْلُومٍ، وَالْإِيْمَانُ بِهِ وَاجِبٌ وَالسُّؤَالُ عَنْهُ بِدْعَةٌ وَمَا أَدْرَاكَ إِلاَّ ضَالاًّ
“Al-Istiwa tidaklah asing (maknanya)24, adapun bagaimana istiwa’-Nya tidak diketahui. Dan mengimani sifat ini wajib, adapun menanyakan tentang (bagaimananya) adalah bid’ah, dan aku tidak dapati engkau kecuali seorang yang sesat.”
Kemudian Al-Imam Malik t memerintahkan agar mengeluarkan orang ini dari majelisnya.25
Disebutkan dalam sebuah atsar, suatu saat Yazid bin Harun t –salah seorang ulama ahlul hadits–26 di majelisnya meriwayatkan hadits Isma’il bin Abi Khalid, dari Qais bin Abi Hazim, dari sahabat Jarir bin Abdillah z, tentang ru’yah (melihat Allah l) dan sabda Rasulullah n:
إِنَّكُمْ تَنْظُرُونَ إِلَى رَبِّكُمْ كَمَا تَنْظُرُونَ إِلَى الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ
“Sungguh kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian (bisa) melihat bulan di malam purnama.”27
Seorang lelaki di majelis bertanya: “Wahai Abu Khalid (kunyah Yazid bin Harun, red.), apa makna hadits ini?” (meminta rincian bagaimana melihat Allah l, pen.).
Marahlah Yazid, gemetarlah ia, lalu berkata: “Betapa miripnya kau dengan Shabigh (lihat penjelasan sebelumnya, red.). Betapa butuhnya kau diperlakukan seperti Shabigh! Celaka engkau! Siapa yang mengetahui bagaimana (kita melihat Allah l nanti)? Siapa yang dibolehkan untuk melampaui batas dari ucapan Rasulullah n? Siapa pula yang boleh berbicara sekehendaknya, melainkan seorang yang menghinakan diri dan agamanya?”28
Demikian pembaca rahimakumullah, beberapa riwayat tentang keteguhan salaf berjalan di atas jalan Rasulullah n yang jauh dari tanaththu’. Semoga kita diselamatkan dari segala jenis tanaththu’. Mudah-mudahan Allah l selamatkan umat ini, lebih khusus lagi shaf-shaf Ahlus Sunnah dari ahli tanaththu’ yang keberadaan mereka tidak lain hanya menyulut api fitnah dan mencabik persatuan umat. Berpeganglah dengan tali Allah l dan janganlah bercerai-berai. Bersatulah di atas Al-Kitab dan As-Sunnah untuk meraih keridhaan Allah l.
“Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (Al-Fatihah: 6-7)
Wallahu a’lam.
1 Muhmal dalam ilmu musthalah hadits adalah penyebutan rawi tanpa menyebutkan nasabnya.
2 Tadlis adalah menyembunyikan riwayat yang terputus seakan-akan bersambung. Di antara buku bagus yang menyebutkan rawi-rawi yang biasa melakukan tadlis adalah kitab Jami’u At-Ta’shil fi Ahkamil Marasil karya Al-‘Ala’i t dan Maratibul Mudallisin karya Ibnu Hajar t.
3 Di antara hadits Jabir z yang diriwayatkan Sulaiman bin ‘Atiq t adalah apa yang diriwayatkan Muslim dalam Shahih-nya no. 1554:
أَنَّ النَّبِيَّ n أَمَرَ بِوَضْعِ الْجَوَائِحِ
4 Faedah: Lathaiful Isnad (keunikan sanad): Pada hadits di atas ada riwayat tiga orang tabi’in, Sulaiman bin ‘Atiq dari Thalq bin Habib, dari Al-Ahnaf bin Qais rahimahumullah.
5 Hafsh bin Ghiyats mengikuti Yahya bin Sa’id dalam meriwayatkan hadits dari Ibnu Juraij, sebagaimana dikeluarkan oleh Muslim no. 2670, Abu Ya’la Al-Mushili dalam Al-Musnad no. 5007, dan Al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah no. 3396.
6 Faedah: Jika dikatakan hadits ini diriwayatkan Ath-Thabarani tanpa ada keterangan di kitab apa, maka yang dimaksud adalah dalam kitabnya Al-Mu’jam Al-Kabir.
7 Asy-Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh menukil ucapan Al-Khaththabi dalam Fathul Majid (270-271) dari Ma’alimus Sunan.
8 I’anatul Mustafid Bi Syarh Kitabit Tauhid karya Asy-Syaikh Dr. Shalih Fauzan (1/278).
9 An-Nihayah fi Gharibil Hadits karya Ibnul Atsir (5/63).
10 HR. Al-Bukhari no. 3445, 6830 dan Muslim no. 1691 dalam Shahih keduanya.
11 Shahih, diriwayatkan Ahmad dalam Al-Musnad (1/215, 347), Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (1/466), Al-Baihaqi dalam As-Sunanul Kubra (5/127), dan Ibnu Majah dalam As-Sunan no. 3029.
12 At-Tamhid Lisyarhi Kitabit Tauhid karya Asy-Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alusy Syaikh hal. 247
13 Al-Qaulul Mufid (1/321) karya Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin.
14 Diriwayatkan Ad-Darimi dalam As-Sunan no. 208 (cet. Darul Ma’rifah)
15 Lihat I’anatul Mustafid Bi Syarh Kitabit Tauhid (1/278-280) karya Asy-Syaikh Dr. Shalih Fauzan.
16 Diriwayatkan Al-Bukhari dalam Shahih-nya Kitabul ‘Ilmi no. 127
17 Seperti bertanya tentang hakikat bagaimana (kaifiyah) sifat Allah l.
18 Aqidatus Salaf Ashhabul Hadits hal 34, tahqiq Badr Al-Badr.
Faedah: Al-Imam Ad-Darimi membuat satu bab khusus dalam As-Sunan, Bab Man Haaba Al-Futya wa Kariha At-Tanaththu’ wa At-Tabaddu’ (Orang yang takut berfatwa serta membenci tanaththu’ dan kebid’ahan) hal. 67-72 (cet. Daarul Ma’rifah) meriwayatkan beberapa atsar yang menunjukkan bagaimana salaf berhenti mencukupkan diri pada batasan syariat dan tidak melewati apa yang mereka tidak ketahui. Mereka selalu berhati-hati dalam berbicara atau berfatwa dalam masalah agama. Yang ada di depan mata mereka adalah tanggung jawab di hadapan Allah l, bukan celaan atau sanjungan manusia.
19 Shahih, diriwayatkan Abu Dawud dalam As-Sunan no. 162, dishahihkan Al-Albani t dalam Shahih Sunan Abi Dawud dan Asy-Syaikh Muqbil t dalam Al-Jami’us Shahih mimma Laisa fish Shahihain.
20 Diriwayatkan Muslim dalam Shahih-nya, hadits yang pertama dari kitab yang pertama, Kitabul Iman (1/36).
21 Shahih, diriwayatkan Ad-Darimi dalam As-Sunan dan disebutkan Al-Albani dalam Silsilah As-Sahihah no. 2005.
22 Diriwayatkan Ad-Darimi dalam Sunan-nya no. 146 (cet. Darul Ma’rifah), Al-Ajurri hal. 73, dan Al-Lalikai no. 1138. Sanad riwayat ini munqathi’ antara Sulaiman bin Yasar dan ‘Umar bin Al-Khaththab. Kisah Shabigh disebutkan pula Abu ‘Utsman Ash-Shabuni
23 Sunan Ad-Darimi (1/66 no. 143), Al-Ibanah (1/324 no. 169), dan Ushul I’tiqad Al-Lalikai (1/87 no. 108).
24 Makna Allah l beristiwa’ di atas ‘Arsy yaitu Allah l tinggi di atas ‘Arsy-Nya.
25 Lihat atsar Al-Imam Malik t dalam Aqidatus Salaf Ash-habul Hadits hal. 38-40, tahqiq Badr Al-Badr.
Faedah: Perkataan semisal diucapkan pula oleh ulama-ulama seperti Rabi’ah Ar-Rai dan Abu Ja’far At-Tirmidzi rahimahumallah. Dinisbatkan pula kepada Ummu Salamah x, akan tetapi riwayatnya lemah. Ibnu Taimiyah t berkata dalam Majmu’ Fatawa (5/365): “Jawaban ini diriwayatkan pula dari Ummu Salamah secara marfu’ dan mauquf, akan tetapi sanadnya tidak bisa dijadikan sandaran (lemah, pen.).”
26 Yazid bin Harun bin Za-dzan Abu Khalid Al-Wasithi t. Ibnu Hajar t mengatakan dalam At-Taqrib: “Tsiqatun Mutqin.” Haditsnya diriwayatkan penulis Kutubus Sittah (Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah).
27 Hadits ru’yatullah tergolong hadits mutawatir. Ibnul Qayyim t menyebutkan riwayat-riwayat tentang ru’yatullah di akhir-akhir kitabnya Hadil Arwah ila Biladil Afrah.
28 Ibnu Khuzaimah dalam At-Tauhid (1/408-411), Al-Ajurri dalam Asy-Syari’ah hal. 258, Al-Baghawi dalam Tafsir-nya (4/232), dan Ibnu Jarir dalam Tafsir-nya (16/133).

Jaring-jaring Setan itu Bernama Ghuluw

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar)

Setan tak hanya menyerang orang-orang yang bergelimang maksiat, namun juga menjerat hamba-hamba-Nya yang gemar beribadah.
Sesungguhnya setan menggunakan dua cara untuk menyesatkan umat Islam. Cara pertama digunakan untuk mengelabui seorang muslim yang bergelimang maksiat. Yaitu dengan menjadikan maksiat yang ia lakukan seakan-akan sesuatu yang indah. Sehingga ia tetap akan jauh dari ketaatan. Rasulullah n bersabda:
حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ
“Al-Jannah dikelilingi oleh segala hal yang tidak disukai, sementara An-Naar itu diliputi dengan syahwat.” (HR. Al-Bukhari no. 6487 dan Muslim no. 2822)
Adapun cara kedua digunakan oleh setan untuk menyesatkan seorang muslim yang gemar beribadah. Yaitu dengan mengajaknya berlaku ghuluw (melampaui batas) di dalam beribadah. Sehingga justru agamanya akan rusak. Oleh karena itu, Allah l melarang untuk bersikap ghuluw. (Muqaddimah Asy-Syaikh Al-Abbad, kitab Bi Ayyi ‘Aqlin wa Dinin)
Al-Imam Makhlad bin Al-Husain t pernah berkata, “Tidaklah Allah l memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk berbuat kebaikan melainkan Iblis akan menghadangnya dengan dua cara. Iblis tidak ambil peduli dengan cara apa dia akan menguasainya. Antara bersikap ghuluw di dalam amalan tersebut ataukah sikap meremehkannya.” (Siyar A’lam An-Nubala’, 9/236)
Definisi Al-Ghuluw
Al-Ghuluw secara bahasa bermakna melebihi batasan. Berasal dari kata غَلَا فِي الْأَمْرِ –يَغْلُو-غُلُوًّا. Hal ini sebagaimana dijabarkan oleh Al-Jauhari dalam Ash-Shihah, Ibnu Faris di dalam Al-Mu’jam, Ibnu Manzhur di dalam Al-Lisan, dan Az-Zabidi di dalam Tajul ‘Arus.
Di dalam penggunaannya, seluruh lafadz “ghuluw” selalu bermakna melebihi ukuran dan batasan. Sebagai contoh adalah hadits Abu Dzar z dalam riwayat Al-Bukhari (no. 2518). Ketika Rasulullah n ditanya tentang budak yang terbaik untuk dibebaskan, beliau n menjawab:
أَغْلاَهَا ثَمَنًا، وَأَنْفعُهَا عِنْدَ أَهْلِهَا
“Budak yang paling tinggi harganya dan terbanyak manfaatnya bagi sang majikan.”  Kalimat غلَاءُ الثَّمَنِ artinya harganya naik dan melebihi batas kebiasaan.
Demikian pula, sebagai contoh lain, hadits An-Nu’man bin Basyir z di mana Rasulullah n bersabda:
إِنَّ أَهْوَنَ أَهْلِ النَّارِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ رَجُلٌ عَلَى أَخْمَصِ قَدَمَيْهِ جَمْرَتَانِ يَغْلِي مِنْهُمَا دِمَاغُهُ، كَمَا يَغْلِي الْمِرْجَلُ
“Sesungguhnya penghuni neraka yang paling ringan azabnya adalah seseorang yang dipasangkan dua bara api pada telapak kakinya kemudian otaknya mendidih sebagaimana periuk itu mendidih.” (HR. Al-Bukhari no. 6561 dan Muslim no. 213)
Kalimat غلَاءُ الْمِرْجَلِ artinya periuk yang bertambah panasnya dan naik panasnya dari kebiasaan.
Syaikhul Islam t mendefinisikan ghuluw dengan menyatakan, “Melebihi dari batas, yaitu dengan menambahkan pujian atau celaan dari hak yang seharusnya, dan yang semisal itu.” (Iqtidha’ush Shirath, 1/328)
Adapun di dalam syariat, ghuluw bermakna melebihi batasan yang telah ditetapkan oleh syariat. (Al-Ghuluw, Ali Al-Haddadi, hal. 13)
Haramnya Ghuluw
Dienul Islam adalah ajaran yang diturunkan dari sisi Sang Khaliq, yang telah menciptakan langit dan bumi berikut segenap isinya. Sehingga, Allah k adalah Dzat Yang Maha Mengetahui sebatas mana kemampuan dan kekuatan manusia. Oleh karenanya, Allah l menetapkan syariat yang sesuai dengan kemampuan mereka. Dienul Islam datang membawa kemudahan bagi pengikutnya, ajaran yang tidak menghendaki adanya keberatan dan kesusahan. Allah l berfirman:
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (Al-Baqarah: 286)
Maka dari itu, sikap ghuluw dan berlebih-lebihan adalah kesesatan serta jauh dari tujuan-tujuan suci. Berikut ini beberapa dalil tentang haram dan tercelanya sikap ghuluw. Allah l berfirman:
“Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar.” (An-Nisa’: 171)
Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus.” (Al-Ma’idah: 77)
Di dalam dua ayat ini, Allah l melarang ahlul kitab dari sikap ghuluw di dalam beragama. Sementara setiap pembicaraan yang ditujukan kepada ahlul kitab di dalam Al-Qur’an dalam bentuk perintah atau larangan juga ditujukan kepada umat Islam. Karena merekalah yang diajak berbicara di dalam Al-Qur’an. Apabila Allah l melarang ahlul kitab dari sikap ghuluw, maka umat Islam lebih pantas untuk dilarang. (Al-Ghuluw, ‘Ali bin Yahya, hal. 15)
Di dalam Al-Qur’an juga dengan tegas melarang kita dari sikap melampaui batas. Sementara melampaui batas yang telah diterangkan oleh syar’i merupakan hakikat ghuluw. Allah l berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (Al-Maidah: 87)
Allah l juga berfirman kepada Nabi-Nya berikut para pengikut beliau:
“Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah bertaubat beserta kamu, dan janganlah kamu melampaui batas.” (Hud: 112)
Adapun hadits-hadits yang menjelaskan tentang haramnya ghuluw sangat banyak. Di antaranya adalah sebuah hadits dari Abdullah bin Mas’ud z, Rasulullah n bersabda:
هَلَكَ الْمُتَنَطِّعُونَ -قَالَهَا ثَلاَثًا
“Benar-benar binasa orang-orang yang bersikap tanaththu’.” Beliau mengulangi pernyataan ini sebanyak tiga kali.” (HR. Muslim no. 2670)
Al-Imam An-Nawawi t di dalam Syarah Muslim menjelaskan, “Yang dimaksud orang-orang yang bersikap tanaththu’ adalah mereka yang berlebih-lebihan, bersikap ghuluw, dan melampaui batas dari yang telah ditentukan. Baik di dalam ucapan ataupun perbuatan.”
Seseorang yang bersikap tanaththu’ akan mengalami kehancuran. Ia akan merugi. Karena sikap tersebut akan mendorongnya untuk terjatuh dalam dosa kesombongan dan ujub (bangga diri). Ia melihat dirinya telah banyak melakukan amalan shalih. Setan menipunya. Allah l berfirman tentang penipuan setan ini:
“Maka apakah orang yang dijadikan (syaithan) menganggap baik pekerjaannya yang buruk lalu ia meyakini pekerjaan itu baik, (sama dengan dengan orang yang tidak ditipu syaitan) maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya.” (Fathir: 8)
“Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan.” (Yunus: 12)
Seharusnya seorang muslim takut bila termasuk golongan yang tidak mendapatkan syafa’at dari Rasulullah n di hari kiamat karena perbuatan ghuluw. Rasulullah n bersabda di dalam hadits Abi Umamah z:
صِنْفَانِ مِنْ أُمَّتِي لَنْ تَنَالَهُمَا شَفَاعَتِي: إِمَامٌ ظَلُومٌ غَشُوم ٌ، وَكُلُ غَالٍ مَارِقٍ
“Ada dua golongan dari umatku yang tidak akan memperoleh syafa’at dariku. Yaitu seorang pemimpin yang selalu berbuat zalim dan setiap orang yang berlaku ghuluw, keluar dari jalan kebenaran.” (HR. Ath-Thabarani, dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani t di dalam Ash-Shahihah)
Rasulullah n telah mengingatkan kita tentang bahaya ghuluw dengan memberat-beratkan diri di dalam beribadah. Karena sesungguhnya dienul Islam ini adalah ajaran yang mudah untuk diamalkan. Rasulullah n bersabda:
إِنَّ الدِّيْنَ يُسْرٌ وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلاَّ غَلَبَهُ
“Sesungguhnya agama Islam ini mudah. Tidak ada seorang pun yang memberat-beratkan dirinya dalam beragama melainkan dia tidak mampu menjalankannya.” (HR. Al-Bukhari no. 39 dari Abu Hurairah z)
Al-Hafizh Ibnu Hajar t menerangkan bahwa makna hadits ini ialah larangan bagi seseorang yang hendak memberatkan diri dalam amalan din, serta dia meninggalkan kelembutan karena dia tidak akan mampu untuk meneruskan amalan tersebut, berhenti dari ibadah dan pada akhirnya dia akan mengalami kekalahan. (Fathul Bari, ketika mensyarah hadits diatas)
Al-Imam Ibnu Al-Munayyir  t berkata, “Di dalam hadits ini juga terdapat salah satu tanda-tanda kenabian. Sungguh kami sendiri telah menyaksikan sebagaimana orang-orang sebelum kami juga telah menyaksikan. Bahwa setiap orang yang berlebih-lebihan di dalam beragama pasti akan berhenti. Hal ini bukan bermakna larangan untuk mencari kesempurnaan di dalam ibadah, karena perkara seperti ini sangat terpuji. Hanya saja yang dilarang adalah sikap berlebih-lebihan yang akan mengantarkan pelakunya kepada kejenuhan. Demikian juga bila sikap tersebut mengakibatkan dia meninggalkan perkara yang lebih afdhal atau yang berakibat pelaksanaan sesuatu yang wajib bukan pada waktunya. Seperti seseorang yang semalam suntuk shalat malam. Dia akan merasakan kantuk yang sangat berat di pengujung malam. Akhirnya dia tidak dapat melaksanakan shalat shubuh secara berjamaah.” (Fathul Baari)
Sebagai bentuk cinta dan kasih sayang, dalam setiap kesempatan Rasulullah n senantiasa membimbing umat untuk menjauhi sikap ghuluw. Dari Ibnu ‘Abbas c, Rasulullah n mengingatkan:
إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِي الدِّينِ فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِالْغُلُوِّ فِي الدِّيْنِ
“Waspadalah dan berhati-hatilah kalian dari sikap ghuluw dalam beragama. Karena sesungguhnya kehancuran umat-umat sebelum kalian disebabkan ghuluw yang mereka perbuat di dalam beragama.” (HR. Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, Al-Hakim dan Adh-Dhiya’. Hadits ini ditakhrij dalam Ash-Shahihah no. 1238)
Larangan ghuluw ini sebenarnya dipicu sebuah kejadian di pagi hari Aqabah. Ibnu Abbas c mengisahkan bahwa beliau diminta oleh Rasulullah n, yang ketika itu sedang berada di atas kendaraannya, untuk memungut kerikil-kerikil. Setelah Ibnu Abbas c menyerahkan kerikil-kerikil yang akan digunakan untuk melempar jumrah, Rasulullah n pun meletakkannya di tangan lalu bersabda:
“Hendaknya dengan kerikil-kerikil semacam inilah. Waspadalah dan berhati-hatilah kalian dari sikap ghuluw dalam beragama. Karena sesungguhnya kehancuran umat-umat sebelum kalian disebabkan ghuluw yang mereka perbuat di dalam beragama.”
Walaupun larangan ini dinyatakan oleh Rasulullah n karena disebabkan sebuah peristiwa secara khusus, namun hukum ini berlaku secara umum. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t ketika membicarakan hadits di atas berkata, “(Larangan ini) bersifat umum, mencakup seluruh jenis ghuluw. Di dalam perkara keyakinan maupun amalan.”
Saudaraku… sikap ghuluw adalah sikap tercela sebagai warisan dari ahlul kitab. Kita dilarang untuk meniru mereka. Dari Sahl bin Hunaif z, Rasulullah n bersabda:
لاَ تُشَدِّدُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ قَبْلَكُمْ بِتَشْدِيدِهِمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَسَتَجِدُونَ بَقَايَاهُمْ فِي الصَّوَامِعِ وَالدِّيَارَاتِ
“Janganlah kalian memberat-beratkan diri kalian. Karena sesungguhnya kehancuran orang-orang sebelum kalian hanyalah disebabkan mereka memberat-beratkan diri. Dan kalian akan menemukan sisa-sisa mereka di dalam pertapaan dan biara.” (HR. Al-Imam Al-Bukhari di dalam At-Tarikh. Lihat As-Silsilah Ash-Shahihah, 3124)
Di dalam perkara yang dianggap biasa sekalipun, Rasulullah n memerintahkan agar kita menjauhi sikap berlebihan. Perkara memuji seseorang adalah satu hal yang biasa dilakukan. Namun apabila pujian tersebut disampaikan secara berlebihan justru akan menyeret pada dampak yang berbahaya. Orang yang dipuji secara berlebih tentu akan merasa ujub dan sombong.
Al-Imam An-Nawawi t meletakkan sebuah bab di dalam Shahih Muslim, Bab Larangan Memuji, apabila berlebihan dan dikhawatirkan menimbulkan fitnah (ujian) bagi orang yang dipuji. Dari Abu Musa Al-’Asy’ari z, Rasulullah n pernah mendengar seseorang memuji orang lain dan berlebihan di dalam memuji. Maka Rasulullah n pun bersabda:
لَقَدْ أَهْلَكْتُمْ -أَوْ قَطَعْتُمْ- ظَهْرَ الرَّجُلِ
“Sungguh kalian telah mencelakakan orang tersebut.”
Bahkan Rasulullah n membimbing kita untuk menaburkan pasir ke wajah orang yang senang berlebihan di dalam memuji sebagaimana dikabarkan oleh Al-Miqdad bin Al-Aswad z.
Secara khusus lagi, Rasulullah n melarang kita dari sikap berlebih-lebihan di dalam memuji beliau. Karena kekhawatiran beliau bahwa umat Islam akan jatuh pada kesalahan yang dilakukan orang-orang Nasrani. Al-Imam Al-Bukhari t meriwayatkan sebuah hadits dari Umar bin Al-Khaththab z, Rasulullah n bersabda:
لاَ تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ، إِنَّمَا أَنَا عَبْدٌ فَقُولُوا: عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ
“Janganlah kalian berlebih-lebihan di dalam memuji diriku sebagaimana orang-orang Nashara berlebih-lebihan di dalam memuji Ibnu Maryam. Aku hanyalah seorang hamba, maka katakanlah: ‘Hamba Allah dan Rasul-Nya’.”
Betapa besar perhatian Rasulullah n kepada umat Islam. Beliau benar-benar sayang dan mencintai pengikutnya. Semua telah ditunjukkan sepanjang hidup beliau. Di antara sekian banyak buktinya adalah pengingkaran Rasulullah n terhadap seorang sahabat yang bernadzar untuk melakukan sesuatu yang berat. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas c, di saat Nabi Muhammad n menyampaikan khutbah, beliau melihat seseorang sedang berdiri di bawah terik matahari. Kemudian Rasulullah n bertanya tentang orang tersebut. Para sahabat menjawab, “Dia adalah Abu Israil. Dia bernadzar untuk berdiri di bawah terik matahari dan tidak akan duduk, juga tidak ingin berteduh atau berbicara dalam keadaan dia berpuasa.” Maka Rasulullah n bersabda:
مُرْهُ فَلْيَتَكَلَّمْ وَلْيَسْتَظِلَّ وَلْيَقْعُدْ وَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ
“Perintahkan dia untuk berbicara, juga berteduh dan duduk, lalu menyempurnakan puasanya.” (HR. Al-Bukhari)
Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin t berkata, “Nadzar yang diucapkan sahabat ini mengandung perkara yang dicintai Allah k. Dan ada pula yang tidak dicintai-Nya. Adapun yang dicintai Allah l adalah puasa. Karena puasa bagian dari ibadah. Sementara Nabi Muhammad n pernah bersabda: ‘Barangsiapa yang bernadzar di dalam ketaatan kepada Allah hendaknya ia tunaikan nadzarnya dengan menaatinya.’
Adapun perbuatan sahabat itu yang berdiri di bawah terik matahari tanpa berteduh. Demikian juga sikapnya yang tidak mau berbicara. Hal ini tidaklah dicintai Allah l. Oleh sebab itu, Nabi Muhammad n memerintahkan sahabat tersebut untuk meninggalkan nadzarnya.” (Syarah Riyadhus Shalihin)
Kesimpulannya, kebaikan yang hendak kita kejar haruslah dengan pertimbangan Al-Qur’an dan As-Sunnah disertai pemahaman salaful ummah. Tidak setiap amalan yang kita anggap baik benar-ben

Meniti Jalan Yang Lurus

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal)

 

“Dan hak bagi Allah (menerangkan) jalan yang lurus, dan di antara jalan-jalan ada yang bengkok. Dan jikalau Dia menghendaki, tentulah Dia memimpin kamu semuanya (kepada jalan yang benar).” (An-Nahl: 9)

Penjelasan Mufradat Ayat

“Jalan yang lurus.”

Qashd dalam ayat ini bermakna isim fa’il (qashid/ قَاصِدٌ), yang berarti lurus. Sedangkan sabil berarti jalan. Maka qashdus sabil bermakna lurusnya sebuah jalan atau jalan yang lurus.

Asy-Syinqithi t menerangkan dalam kitabnya Adhwa’ Al-Bayan: “Ketahuilah bahwa yang dimaksud qashdus sabil adalah jalan lurus yang tidak mengandung kebengkokan. Makna ini adalah hal yang telah diketahui dalam lingkup bahasa Arab.”

Syaikhul Islam t mengatakan: “Al-Qashd adalah keadilan, sebagaimana ia juga bermakna lurus dan kebenaran, yaitu yang sesuai dan sepadan, yang tidak bertambah dan tidak berkurang.” (Majmu’ Fatawa, 17/230)

Ungkapan para ahli tafsir dalam menjelaskan maknanya memang beragam, namun pada hakikatnya kembali kepada inti makna, yaitu jalan yang lurus, tidak menyimpang, yang senantiasa berada di atas bimbingan Allah l dan Rasul-Nya n.

Ibnu Abbas c mengatakan: “Merupakan hak bagi Allah l menjelaskan petunjuk dan kesesatan.”

Jabir bin Abdillah z berkata: “Syariat dan perkara-perkara yang wajib.”

Mujahid t berkata: “Jalan kebenaran menuju Allah l.”

Qatadah t berkata: “Merupakan hak bagi Allah l menjelaskan halal, haram, ketaatan, dan kemaksiatan.”

As-Suddi t berkata: “(Menerangkan) Islam.”

Abdullah bin Mubarak t berkata: “(Menerangkan) As-Sunnah.”

Syaikhul Islam mengatakan: “Hidayah, qashdus sabil, dan jalan yang lurus, semuanya menunjukkan ibadah dan taat kepada-Nya, tidak menunjukkan kemaksiatan dan taat kepada setan.” (Majmu’ Fatawa, 15/214)

“Dan di antara jalan-jalan ada yang bengkok.”

Dhamir ha kembali kepada lafadz sabil, disebutkan dalam bentuk mu’annats karena lafadz tersebut bisa dijadikan mudzakkar dan mu’annats. Sebagian menyebutkan bahwa lafadz sabil dalam ayat ini bermakna jamak meskipun bentuknya mufrad.

At-Thabari t meriwayatkan dengan sanadnya bahwa Ibnu Mas’ud z membacanya وَمِنْكُمْ جَائِرٌ. Maknanya adalah bahwa di antara jalan-jalan tersebut terdapat jalan-jalan yang menyimpang.

Ibnu Abbas c berkata: “Jalan-jalan yang terpecah-pecah.” Dalam riwayat lain beliau mengatakan: “Berbagai macam hawa nafsu.” Yang semakna dengannya disebutkan pula oleh Ubaid bin Sulaiman, Ibnu Juraij, dan yang lainnya.

Sebagian mengatakan: “Qashdus sabil adalah agama Islam, sedangkan ja’ir adalah agama kekufuran dengan berbagai macamnya.”

Abdullah bin Mubarak t berkata: “Mereka adalah pengekor bid’ah dan hawa nafsu.”

 

Penjelasan Makna Ayat

Ayat Allah k yang mulia ini menjelaskan bahwa Allah k yang memiliki hak yang mutlak dalam membimbing siapa saja yang dikehendaki-Nya, sebagai karunia dan keutamaan yang Allah l berikan kepada hamba tersebut. Bimbingan itulah yang menyebabkan seorang hamba senantiasa istiqamah di atas Islam, di atas As-Sunnah, yang merupakan satu-satunya jalan kebenaran. Selain jalan ini, merupakan jalan-jalan yang menyimpang dari al-haq. Ada kalanya menuju kekufuran serta kesyirikan, dan ada kalanya menuju kepada bid’ah serta hawa nafsu. Seorang hamba yang dibimbing menuju jalan yang lurus adalah semata-mata karena rahmat dan karunia-Nya k. Sedangkan seseorang yang tersesat dan menyimpang, itu merupakan bentuk keadilan dan hikmah yang dikehendaki-Nya.

Syaikhul Islam berkata tatkala menjelaskan ayat ini: “Ini juga termasuk nikmat Allah k yang paling agung, yaitu Allah k telah menjamin untuk menjelaskan dan merinci jalan petunjuk, yaitu dengan cara menegakkan dalil-dalil serta mengutus para rasul. Ini yang disebutkan oleh para ahli tafsir. Ada pula kemungkinan maknanya bahwa siapa yang menempuh jalan yang lurus maka Allah l akan membimbing jalannya dan akan sampai kepada-Nya. Sebagaimana halnya firman Allah l:

“Allah berfirman: ‘Ini adalah jalan yang lurus, kewajiban Aku-lah (menjaganya)’.” (Al-Hijr: 41) [Majmu’ Fatawa: 15/207]

Sebab jika Allah k menghendaki, bukanlah hal yang sulit bagi-Nya untuk menjadikan semua orang dalam keadaan mukmin dan taat kepada-Nya. Namun sudah menjadi ketetapan dan hikmah-Nya, bahwa Allah k menjadikan sebagian manusia ada yang kafir dan menyimpang dari jalan-Nya, karena hikmah dan kemaslahatan yang lebih besar yang telah menjadi ketetapan dan kehendak-Nya. Allah k juga berfirman:

“Dan kalau Kami menghendaki niscaya Kami akan berikan kepada tiap-tiap jiwa petunjuk (bagi) nya, akan tetapi telah tetaplah perkataan (ketetapan) daripadaku; ‘Sesungguhnya akan aku penuhi neraka jahannam itu dengan jin dan manusia bersama-sama’.” (As-Sajdah: 13)

Juga firman-Nya:

“Dan kalau Allah menghendaki, niscaya tidaklah berbunuh-bunuhan orang-orang (yang datang) sesudah rasul-rasul itu, sesudah datang kepada mereka beberapa macam keterangan, akan tetapi mereka berselisih, maka ada di antara mereka yang beriman dan ada (pula) di antara mereka yang kafir. Seandainya Allah menghendaki, tidaklah mereka berbunuh-bunuhan. Akan tetapi Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya.” (Al-Baqarah: 253)

Firman-Nya pula:

“Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu.” (Al-Ma’idah: 48)

Dan firman-Nya:

“Kalau Allah menghendaki tentu saja Allah menjadikan mereka semua dalam petunjuk, sebab itu janganlah kamu sekali-kali termasuk orang-orang yang jahil.” (Al-An’am: 35)

Dan masih banyak lagi ayat yang menjelaskan hal ini.

Ibnu Katsir t menerangkan: “Seseorang tidak akan sampai kepada-Nya kecuali dengan menempuh jalan lurus yang disyariatkan oleh-Nya, diridhai-Nya. Adapun selain itu, maka itu adalah jalan yang tertutup serta amalan-amalan yang tertolak.” (Tafsir Ibnu Katsir)

Al-Qurthubi t mengatakan: “(Ayat ini) menjelaskan bahwa kehendak takdir adalah milik Allah l semata, dan ini membenarkan penafsiran yang disebutkan Ibnu Abbas c. Juga membantah kelompok Al-Qadariyyah (pengingkar takdir) dan yang sependapat dengan mereka.” (Tafsir Al-Qurthubi)

Syaikhul Islam t mengatakan: “Takdir merupakan hal yang benar, namun memahami Al-Qur’an dan meletakkan segala sesuatu pada tempatnya, serta menjelaskan hikmah dan keadilan Allah k bersama dengan keimanan kepada takdir, merupakan metode para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.” (Majmu’ Fatawa, 15/211)

 

Memahami Perbedaan Ungkapan Ahli Tafsir

Jika kita perhatikan pendapat para ulama dalam menafsirkan kata qashdus sabil dan waminha ja’ir, nampak terjadi perselisihan di antara mereka. Namun pada hakikatnya, ikhtilaf tersebut tidak bertentangan satu sama lain. Sebab apa yang mereka perselisihkan tersebut termasuk di antara jenis ikhtilaf tanawwu’, yaitu perselisihan yang tidak saling kontradiksi, namun saling mendukung antara satu dengan yang lainnya. Hal ini dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t dalam risalahnya Muqaddamah fi Ushul At-Tafsir, di mana beliau menjelaskan bahwa perselisihan di kalangan ahli tafsir yang termasuk dalam jenis ikhtilaf tanawwu’ ada dua macam:

1. Setiap mereka memberi ungkapan tertentu yang berbeda dengan ungkapan ahli tafsir yang lain, yang semua ungkapan itu menunjukkan makna tersendiri yang terdapat pada sesuatu yang ditafsirkan tersebut. Seperti halnya nama-nama Allah k, nama Rasul n, dan yang lainnya. Seperti halnya nama Allah Al-Aziz yang memiliki makna dan sifat kemuliaan, berbeda dengan nama Ar-Rahman, yang mengandung sifat kasih sayang-Nya. Masing-masing dari nama Al-Aziz dan Ar-Rahman kembali kepada Dzat yang sama, yaitu Allah k.

Demikian pula nama Rasul n, di antara nama beliau adalah Al-Mahi, yang artinya penghapus kekufuran. Di antara nama beliau adalah Al-’Aqib, yang artinya tidak ada nabi setelah beliau. Juga di antara nama beliau adalah Ahmad, artinya orang yang terpuji. Namun setiap dari nama tersebut walaupun memiliki makna yang berbeda, namun pada hakikatnya kembali kepada satu diri, yaitu Rasulullah n.

Demikian pula penafsiran para ulama dalam menjelaskan makna ash-shiratul mustaqim, sebagian ahli tafsir mengatakan bahwa yang dimaksud adalah Islam. Sebagian berkata maksudnya mengikuti Al-Qur’an. Sebagian lagi mengatakan, maksudnya As-Sunnah dan Al-Jama’ah, sebagian lagi mengatakan maksudnya taat kepada Allah l dan Rasul-Nya n, serta yang lainnya. Seluruhnya mengisyaratkan kepada inti yang sama, dengan pengungkapan sifat yang berbeda.

2. Masing-masing menafsirkan sebuah nama yang umum dengan sebagian yang bersifat khusus untuk dijadikan sebagai contoh, bukan bermaksud untuk membatasi penafsiran hanya dalam sesuatu yang disebutkan tersebut. Seperti contoh, ketika ada seseorang yang bukan Arab bertanya tentang apa yang dimaksud dengan lafadz khubuz (roti), lalu dijawab dengan memperlihatkan salah satu jenis roti. Itu bukan berarti bahwa khubuz memiliki makna terbatas yang dicontohkan itu saja, namun khubuz meliputi jenis yang lain pula, yang merupakan jenis makanan yang terbuat dari gandum dengan berbagai bentuknya.

Seperti halnya dalam menafsirkan firman Allah k:

“Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri, di antara mereka ada yang pertengahan, dan di antara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar.” (Fathir: 32)

Telah dimaklumi bahwa makna az-zalim linafsihi (yang menganiaya diri sendiri) mencakup setiap orang yang melalaikan hal-hal yang wajib, yang melakukan perbuatan yang diharamkan. Sedangkan al-muqtashid (yang pertengahan) meliputi setiap orang yang melakukan hal-hal yang wajib dan meninggalkan perkara haram. Adapun as-sabiq (yang lebih dahulu berbuat kebaikan) mencakup setiap orang yang mendekatkan diri kepada Allah k dengan amalan-amalan kebaikan disamping hal-hal yang wajib tersebut.

Namun bila kita melihat pendapat ahli tafsir, kita mendapati bahwa di antara mereka ada yang menafsirkan dengan menyebutkan salah satu dari amalan shalih yang dilakukan seorang hamba. Seperti ada yang menyebutkan bahwa as-sabiq adalah orang yang shalat pada awal waktu, al-muqtashid adalah orang yang shalat pada pertengahan waktu, sedangkan azh-zhalim linafsihi adalah orang yang melambatkan waktu shalat ashar hingga matahari menguning.

Sebagian ahli tafsir ada pula yang mengatakan bahwa as-sabiq adalah orang yang bersedekah, azh-zhalim linafsihi adalah orang yang bermu’amalah dengan cara riba, sedangkan al-muqtashid adalah orang yang berjual beli dengan cara yang adil.

Sebagian lagi menyebutkan penafsiran yang berbeda, yang jika kita perhatikan, sesungguhnya tidak ada perselisihan yang saling bertentangan dari berbagai penafsiran tersebut. Hanya saja masing-masing dari mereka menyebutkan salah satu jenis amalan tertentu, yang dijadikan sebagai contoh untuk memudahkan dalam memahami ayat tersebut, bukan sebagai pembatas makna ayat. (Lihat pembahasan rinci Syaikhul Islam t dalam Majmu’ Fatawa, 13/333-338)

Bila kita memahami hal ini maka kita akan mengetahui bahwa sesungguhnya kebanyakan perselisihan di kalangan ahli tafsir dalam menafsirkan ayat-ayat Allah k, kembalinya kepada dua macam penafsiran yang telah kita sebutkan. Bukan merupakan perselisihan yang saling bertentangan antara satu dengan yang lain.

Wallahu a’lam.

Ketika Ghuluw Melanda Kehidupan

(ditulis oleh: Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi, Lc.)

 

Apa Itu Ghuluw?

Ghuluw, dalam bahasa Arab bermakna: berlebih, naik, dan melampaui batas. (Al-Mu’jamul Wasith, 2/232. Lihat pula Ash-Shihah, 2/24, dan Lisanul Arab, 15/131)

Dalam terminologi syariat, ghuluw bermakna berlebih-lebihan dalam suatu perkara dan bersikap ekstrem padanya dengan melampaui batas yang telah disyariatkan. (Lihat Fathul Bari karya Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani t, 13/291 dan I’anatul Mustafid Bisyarhi Kitabit Tauhid karya Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah, 1/479)1

Ghuluw secara umum terbagi menjadi dua macam: ghuluw dalam hal aqidah (keyakinan) dan ghuluw dalam hal amalan. (Lihat Iqtidha’ Ash-Shirathil Mustaqim karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t, 1/253)

Rinciannya sangat banyak. Di antaranya ghuluw dalam hal aqidah, ibadah, muamalah, adat (kebiasaan), suluk (budi pekerti)2, ghuluw terhadap sosok tertentu, terhadap pepohonan, bebatuan, tempat-tempat (yang dikeramatkan), kubur-kubur, dan lain sebagainya. (Lihat Al-Qaulul Mufid ‘ala Kitabit Tauhid karya Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin t, 1/234, I’anatul Mustafid Bisyarhi Kitabit Tauhid, 1/480, Al-Qaulus Sadid fi Maqashidit Tauhid karya Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di t dan Syarh Al-Aqidah Ath-Thahawiyyah karya Asy-Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alusy Syaikh hafizhahullah, 1/734)

Adapun ijtihad yang bermakna bersungguh-sungguh untuk mendapatkan kebenaran, tidak termasuk dari ghuluw.3 Kecuali jika maksud dari ijtihad tersebut adalah berbanyak-banyakan dalam ketaatan di luar batas yang telah disyariatkan, maka bisa termasuk ke dalam ghuluw.” (Al-Qaulul Mufid Ala Kitabit Tauhid, 1/244)

 

Ghuluw Dalam Kehidupan Umat Manusia

Sejak dahulu kala, ghuluw telah menjadi bagian dari realita kehidupan umat manusia. Keberadaannya, menjadikan umat tersebut tercoreng sebagai umat yang melampaui batas. Lebih dari itu, ghuluw merupakan sumber petaka dan penyebab kebinasaan dari masa ke masa. Tidaklah ia bercokol pada suatu umat melainkan kehancuranlah bagi umat tersebut. Binasa agamanya karena terjatuh dalam kekafiran, kesyirikan, atau kebid’ahan4 dan juga binasa dunianya. Bahkan menurut Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah dalam kitab Lamhatun ‘Anil Firaqidh Dhallah, munculnya kelompok-kelompok sesat dalam kehidupan umat beragama, tak luput dari peran besar ghuluw tersebut.

Tak heran, jika setan menjadikannya sebagai senjata ampuh untuk menyesatkan umat manusia. Al-Imam Ibnul Qayyim t berkata: “Tidaklah ada suatu perkara yang Allah l perintahkan (kepada umat manusia, pen.) melainkan setan menebarkan dua jaring jeratnya: meremehkan dalam menjalankan perintah tersebut (tafrith & idha’ah) dan berlebih-lebihan padanya (ifrath & ghuluw). Padahal agama yang Allah l turunkan (kepada umat manusia) adalah agama pertengahan. Ia berada di antara orang-orang yang bermudah-mudahan dalam menjalankannya dan orang-orang yang berlebih-lebihan padanya. Ibarat satu lembah di antara dua gunung, satu petunjuk di antara dua kesesatan, dan satu poros di antara dua kutub yang tercela. Sebagaimana orang-orang yang bermudah-mudahan (dalam menjalankannya) termasuk menyia-nyiakan agama, demikian pula orang-orang yang berlebih-lebihan. Jenis pertama karena sikap bermudah-mudahannya, sedangkan jenis kedua karena sikap berlebihannya (melampaui batas) dari apa yang telah disyariatkan.” (Madarijus Salikin, 2/496)

Dalam kalam ilahi, Allah l memperingatkan umat manusia dari perbuatan ghuluw dengan segala bentuknya. Allah l berfirman:

“Wahai ahli kitab, janganlah kalian berlebih-lebihan (melampaui batas) dalam agama kalian, dan janganlah kalian mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar.” (An-Nisa’: 171)

“Katakanlah: ‘Hai ahli kitab, janganlah kalian berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agama kalian. Dan janganlah kalian mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus’.” (Al-Ma’idah: 77)

Dalam mutiara kenabian pun terdapat peringatan keras dari perbuatan ghuluw tersebut. Sebagaimana sabda Rasulullah n:

إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِي الدِّينِ، فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِالْغُلُوِّ فِي الدِّينِ

“Hati-hatilah kalian dari perbuatan ghuluw dalam menjalankan agama ini, sesungguhnya kebinasaan umat sebelum kalian disebabkan ghuluw dalam menjalankan agama.” (HR. An-Nasa’i 2/49, Ibnu Majah 2/242, Ibnu Khuzaimah 1/282/2, Ibnu Hibban no. 1011, Al-Hakim 1/466, Al-Baihaqi 5/127, dan Ahmad 1/215, 347, dari sahabat Abdullah bin Abbas c. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no. 1283)

Asy-Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alusy Syaikh hafizhahullah berkata: “Ini merupakan larangan dari segala bentuk ghuluw. Sungguh ia penyebab kebinasaan umat sebelum kita, binasa dari sisi agama dan juga dari sisi dunia. Demikian pula, ia adalah sumber petaka. Adapun sikap pertengahan merupakan pangkal keberhasilan dan kebaikan. Ghuluw dengan segala bentuknya dilarang, baik dalam perkataan maupun perbuatan; yakni perkataan hati dan perbuatannya, juga perkataan lisan serta perbuatan anggota tubuh. Bahkan ia adalah sumber petaka seorang hamba, baik pada agama maupun dunianya.” (At-Tamhid Lisyarhi Kitabit Tauhid, 1/345)

 

Ibrah Di Balik Realita Ghuluw

Para pembaca yang semoga dirahmati Allah l, bila menelisik sejarah niscaya akan dijumpai aneka ragam ghuluw dengan bobot dan kadarnya yang berbeda-beda. Mengingat suatu sejarah akan terus berulang walaupun dengan pelaku yang berbeda, maka penting bagi kita untuk mengetahui fakta tersebut serta mengambil ibrah (pelajaran berharga) darinya. Agar kita berhati-hati dalam menjalankan agama Islam yang lurus ini dan tidak terperangkap dalam jaring jerat ghuluw yang membinasakan. Di antara fenomena ghuluw yang layak dikaji dan penting untuk dijadikan bahan refleksi adalah:

 

1. Kasus Ghuluw Pada Kaum Nabi Nuh q

Kaum Nabi Nuh q terjerat perkara ghuluw terhadap orang-orang shalih yang bernama Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr. Sahabat Abdullah bin Abbas c ketika menafsirkan firman Allah l:

“Dan mereka berkata: ‘Jangan sekali-kali kalian meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kalian dan jangan sekali-kali kalian meninggalkan (penyembahan) Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr’.” (Nuh: 23)

mengatakan: “Mereka (Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr, pen.) adalah nama orang-orang shalih dari kaum Nabi Nuh q. Ketika mereka meninggal dunia, setan membisikkan kepada kaum Nabi Nuh q agar membuat patung-patung (berbentuk orang-orang shalih tersebut) di mana mereka biasa duduk beribadah. Kemudian setan pun memerintahkan mereka agar menamai patung-patung tersebut dengan nama-nama mereka. Kaum Nabi Nuh q pun mengikuti perintah setan, namun (ketika itu) belum disembah. Tatkala generasi pembuat patung tersebut meninggal dunia, sementara ilmu agama telah sirna, maka dijadikanlah patung orang-orang shalih tersebut sesembahan selain Allah l.” (Lihat Shahih Al-Bukhari no. 4920)

Al-Imam Ibnul Qayyim t menyebutkan versi lain bahwa ketika mereka meninggal dunia, para pengikutnya pun beri’tikaf (berdiam diri untuk beribadah) di sisi kubur mereka. Kemudian mereka membuat patung-patung monumen berbentuk patung orang-orang shalih tersebut. Setelah berlalu masa, disembahlah patung-patung tersebut.” (Ighatsatul Lahafan, 1/184)

Para pembaca yang semoga dirahmati Allah l, ghuluw terhadap orang shalih, benar-benar telah mengotori lembaran sejarah umat manusia dari masa ke masa. Diawali dengan beribadah kepada Allah l di sisi kubur mereka. Kemudian membuat patung-patung monumen berbentuk orang-orang shalih tersebut dan dinamai dengan nama-nama mereka. Hingga akhirnya diibadahi dan disembah, sebagai sekutu bagi Allah l. Sehingga tidaklah berlebihan jika Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab t menyebutkan dalam Kitabut Tauhid sebuah bab ‘Bahwasanya Sebab Kekafiran Bani Adam dan Ditinggalkannya Agama Mereka Adalah Ghuluw Terhadap Orang-orang Shalih.’

Ghuluw inilah yang menjadikan Yahudi berkeyakinan bahwa Uzair adalah putra Allah l, berhak disembah dan diibadahi. Demikian pula Nasrani berkeyakinan bahwa Nabi Isa q adalah putra Allah l, berhak disembah dan diibadahi. Allah l berfirman:

“Orang-orang Yahudi berkata: ‘Uzair itu putra Allah’ dan orang-orang Nasrani berkata: ‘Al-Masih itu putra Allah.’ Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka. Mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka, bagaimana mereka sampai berpaling?” (At-Taubah: 30)

Sebagaimana pula menyeret mereka untuk memosisikan orang-orang alim dan rahib-rahib mereka sebagai Rabb (tuhan) selain Allah l. Allah l berfirman:

“Mereka menjadikan orang-orang alim dan rahib-rahib mereka sebagai Rabb selain Allah.” (At-Taubah: 31)

Ghuluw terhadap orang shalih yang mengantarkan kaum Nabi Nuh q dan umat terdahulu kepada kesyirikan tersebut, ternyata juga menimpa umat Muhammad n. Padahal tiada henti-hentinya Rasulullah n memperingatkannya.

Dalam momentum hajjatul wada’ (haji terakhir), beliau n memperingatkan umat dari perbuatan ghuluw (secara umum) dan menyampaikan bahwa ia penyebab kebinasaan umat terdahulu. Sebagaimana dalam riwayat Abdullah bin Abbas c yang telah lalu.

Lima hari sebelum meninggal dunia, secara khusus Rasulullah n melarang umat dari perbuatan ghuluw terhadap orang-orang shalih. Sebagaimana dalam sabda beliau n: “Ingatlah, sesungguhnya umat terdahulu seringkali menjadikan kubur orang-orang shalih sebagai masjid (tempat ibadah). Ingatlah, jangan kalian menjadikan kubur-kubur sebagai masjid (tempat ibadah). Sungguh aku melarang kalian dari yang demikian itu.” (HR. Muslim no. 532, dari sahabat Jundub bin Abdillah z)

Bahkan pada detik-detik terakhir menjelang wafatnya, dengan tegas Rasulullah n bersabda:

“Laknat Allah atas orang-orang Yahudi dan Nasrani. Mereka menjadikan kubur para Nabi mereka sebagai masjid (tempat ibadah).”

Ummul Mukminin Aisyah x berkata: ”Beliau memperingatkan umat dari perbuatan orang-orang Yahudi dan Nasrani tersebut. Kalau bukan karena khawatir kubur beliau n dijadikan tempat ibadah, niscaya kubur beliau ditampakkan (dikubur di pekuburan umum [Baqi’], pen.).” (HR. Al-Bukhari no. 435, 436 dan Muslim no. 531, dari Ummul Mukminin Aisyah x)

Al-Hafizh Ibnu Hajar t berkata: “Nampaknya beliau telah merasakan dekatnya ajal, sehingga mengkhawatirkan bila kuburnya diagungkan sebagaimana yang terjadi pada umat terdahulu. Maka laknat beliau terhadap Yahudi dan Nasrani tersebut sebagai isyarat tercelanya orang-orang yang melakukan perbuatan ghuluw terhadap orang shalih (dari umat ini).” (Fathul Bari, 1/634)5

Tahukah anda, siapakah biang keladi atas terjadinya kesyirikan dan peribadatan terhadap kubur pada umat ini? Biang keladinya adalah kelompok sesat Syi’ah Rafidhah. Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab t dalam Kitabut Tauhid6 berkata: “Dengan sebab kelompok sesat Syi’ah Rafidhah lah, kesyirikan dan peribadatan terhadap kubur terjadi. Merekalah orang-orang yang pertama kali membangun tempat ibadah di atas kubur.”

Bahkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t dalam Iqtidha’ Ash-Shirathil Mustaqim (1/41) menegaskan bahwa Syi’ah Rafidhah lah yang banyak merusak negeri-negeri muslimin dengan membangun/menfasilitasi tempat-tempat ibadah (masyahid) dan kubah-kubah di atas kubur, pengeramatan terhadap kubur dan penghuninya, serta penyebaran bid’ah (hal-hal baru dalam agama yang tidak ada tuntunannya).

Para pembaca yang semoga dirahmati Allah l, ghuluw terhadap orang shalih baik ia seorang nabi, rasul, wali, ataupun selainnya dari orang-orang yang dikenal keshalihannya merupakan sebab terkuat binasanya suatu umat dari masa ke masa. Karena memang fitrah manusia secara umum condong untuk mencintai dan mengagungkan orang-orang shalih. Ditambah lagi adanya bisikan setan bahwa itulah hakikat kecintaan, pengagungan, dan pemberian hak kemuliaan kepada mereka.

Asy-Syaikh Sulaiman bin Abdullah Alusy Syaikh berkata: “Sesungguhnya ghuluw terhadap orang shalih merupakan akar kesyirikan dari masa ke masa.7 Mengingat menyekutukan Allah l dengan orang shalih tersebut mudah diterima oleh jiwa, maka setan pun menampakkannya sebagai bentuk kecintaan dan pengagungan terhadap orang shalih (dan bukan bagian dari kesyirikan, pen.).” (Taisir Al-Azizil Hamid, hal. 305)

Maka dari itu, ketika ghuluw terhadap orang shalih tersebut membelenggu suatu umat atau pribadi tertentu, sangatlah sulit bagi mereka untuk bisa lepas darinya. Tengoklah kaum Nabi Nuh q di atas. Hidup mereka berkisar dari satu bentuk ghuluw kepada bentuk ghuluw berikutnya. Hingga pada puncaknya terjerumus ke dalam kesyirikan. Tatkala datang kepada mereka Nabi Nuh q menyampaikan peringatannya selama ratusan tahun, dan dilakukannya siang malam, baik dengan sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Sama sekali mereka tak bergeming dari kesesatannya. Bahkan mereka memusuhi Nabi Nuh q karenanya, dan saling berwasiat sesama mereka dengan wasiat batil: “Jangan sekali-kali kalian meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kalian dan jangan sekali-kali kalian meninggalkan (penyembahan) Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr.”

Semakin mengherankan manakala peribadatan kepada Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr secara estafet dilanjutkan oleh bangsa Arab. Wadd diibadahi oleh kabilah Kalb di Daumatul Jandal, Suwa’ diibadahi oleh kabilah Hudzail, Yaghuts diibadahi oleh kabilah Murad kemudian bani Ghuthaif di Jauf Saba’, Ya’uq diibadahi oleh kabilah Hamdan, dan Nasr oleh Alu Dzul Kila’ dari kabilah Himyar. (Lihat Shahih Al-Bukhari no. 4920, dari sahabat Abdullah bin Abbas c)

Tak beda jauh kiranya dengan keadaan para pemuja kubur dan pengultus sosok panutan dari umat ini.8 Tatkala datang kepada mereka penyampai kebenaran dan tauhid, mereka pun memusuhinya. Bahkan tak jarang laqab (julukan) buruk pun disematkan kepada penyampai kebenaran dan tauhid tersebut. Semoga Allah l menjauhkan kita dari segala jenis ghuluw, terkhusus ghuluw terhadap orang-orang shalih yang membinasakan umat manusia dari masa ke masa. Wallahul musta’an.

 

2. Kasus Ghuluw Kaum Khawarij

Kaum Khawarij adalah kelompok sesat dalam agama ini.9 Menurut Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan, tidaklah kaum Khawarij itu tersesat melainkan karena perbuatan ghuluw dalam menjalankan agama ini.10 Apalagi tak hanya satu jenis ghuluw yang membelenggu mereka. Cukuplah sejarah menjadi saksi atas itu semua.

Asy-Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alusy Syaikh berkata: “Mereka berbuat ghuluw dalam hal aqidah, di mana telah tersesat (dari jalan kebenaran, pen.), mengafirkan (orang-orang yang tidak berhak dikafirkan, pen.), dan meninggalkan manhaj para sahabat Nabi n. Mereka juga ghuluw dalam hal berbanyak-banyakan ibadah, sampai-sampai seseorang dari sahabat Nabi n merasa bahwa shalat dan shiyam (puasa)nya tidak ada apa-apanya dibandingkan shalat dan shiyam mereka, sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi n.11 Sebagaimana pula ghuluw mereka dalam hal jihad dan amar ma’ruf nahi munkar. Dengan klaim jihad, mereka memerangi orang-orang yang secara syar’i tidak berhak –bahkan haram– untuk diperangi. Hingga pada klimaksnya, mereka memerangi para sahabat Nabi n, manusia-manusia pilihan Allah l. Mereka bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah l dengan membunuh Khalifah Ali bin Abi Thalib z, sahabat termulia di masa itu. Bahkan pembunuhan terhadap Khalifah Utsman bin bin Affan z juga bagian dari ulah orang-orang Khawarij tersebut.” (Lihat Syarh Al-Aqidah Ath-Thahawiyyah, 1/734)

Kaum Khawarij amat berlebihan (ghuluw) dalam memegang prinsip keyakinannya (aqidah) yang dibangun di atas akal dan hawa nafsu. Mereka campakkan manhaj (metode pemahaman) para sahabat Nabi n yang mulia dalam memahami agama ini. Sehingga jauhlah mereka dari ilmu yang bersumber dari cahaya kenabian. Akibatnya, mereka kafirkan orang-orang yang tidak berhak –bahkan diharamkan– untuk dikafirkan. Mereka perangi para sahabat Nabi n, manusia-manusia pilihan Allah l, dengan klaim jihad dan amar ma’ruf nahi munkar. Bahkan bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah l dengan membunuh Khalifah Ali bin Abi Thalib z, sahabat termulia di masa itu. Termasuk pula pembunuhan terhadap Khalifah Utsman bin bin Affan z.

Dengan tegasnya Rasulullah n memperingatkan umat dari mereka:

لَئِنْ أَدْرَكْتُهُمْ لَأَقْتُلَنَّهُمْ قَتْلَ عَادٍ

“Jika aku mendapati mereka (Khawarij), benar-benar aku akan perangi mereka seperti memerangi kaum ‘Aad (yakni; hingga tidak tersisa sedikitpun, pen.).” (HR. Muslim no. 1064, dari sahabat Abu Sa’id Al-Khudri z)

Padahal mereka adalah ahli ibadah, ahli baca Al-Qur’an, ahli shalat dan puasa, serta wara’ terhadap dunia. Bukan para preman pasar ataupun para koruptor yang gila dunia.

Subhanallah…luar biasa fakta sejarah yang memaparkan perjalanan kaum Khawarij tersebut. Mereka mengafirkan kaum muslimin bahkan manusia-manusia pilihan Allah l, karena perasaan takutnya yang berlebihan terhadap dosa besar. Mereka memerangi para sahabat Nabi n, membunuh Khalifah Ali bin Abi Thalib dan juga Khalifah Utsman bin Affan c, dengan keyakinan jihad dan amar ma’ruf nahi munkar. Padahal mereka adalah ahli ibadah, ahli baca Al-Qur’an, ahli shalat dan puasa, serta wara’ terhadap dunia. Namun ternyata, kesudahannya adalah petaka dan binasa. Bahkan Rasulullah n ber-’azam (berkemauan kuat) untuk menghabisi mereka, jika Allah l pertemukan dengan mereka.

Para pembaca yang semoga dirahmati Allah l, dari sini dapatlah diambil ibrah (pelajaran berharga) bahwa ghuluw dalam agama ini benar-benar sumber petaka dan penyebab kebinasaan, walaupun disertai niat yang baik, amalan yang banyak, dan wara’ terhadap dunia sekalipun. Maka dari itu, Allah l peringatkan Rasul-Nya n dan orang-orang beriman yang bersamanya dari perbuatan ghuluw tersebut. Allah l berfirman:

“Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah bertaubat beserta kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia (Allah l) Maha melihat apa yang kalian kerjakan.” (Hud: 112)

Berikutnya, betapa besar peran ilmu agama yang diwariskan Rasulullah n dan para sahabatnya dalam kehidupan ini. Tengoklah kembali sejarah kaum Khawarij, manakala mereka campakkan manhaj (metode pemahaman) para sahabat Nabi n yang mulia dalam memahami agama ini, tersesatlah mereka dari kebenaran dan terjerumus dalam kesesatan demi kesesatan. Allah l berfirman:

“Dan barangsiapa menentang Rasul setelah jelas baginya kebenaran dan mengikuti selain jalannya orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa bergelimang dalam kesesatan dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (An-Nisa’: 115)

Menurut Al-Imam Ibnu Abi Jamrah Al-Andalusi t –menukil perkataan para ulama– bahwa yang dimaksud dengan orang-orang mukmin di sini adalah para sahabat Nabi n dan generasi pertama dari umat ini. (Lihat Al-Mirqat fi Nahjis Salaf Sabilun Najah, hal. 36)

Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani t berkata: “Dari sini banyak sekali kelompok-kelompok yang tersesat sejak dahulu hingga kini. Karena mereka tidak mengikuti jalan orang-orang mukmin (para sahabat Nabi n dan generasi pertama dari umat ini, pen.) dan semata-mata mengandalkan akal, bahkan mengikuti hawa nafsu dalam menafsirkan Al-Qur’an dan As-Sunnah, yang kemudian membuahkan kesimpulan-kesimpulan yang sangat berbahaya, hingga akhirnya menyimpang dari jalan As-Salafush Shalih.” (Fitnatut Takfir, hal. 13)

Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah berkata: “Hal itu disebabkan kebodohan mereka (kaum Khawarij) tentang agama Islam, meskipun mereka memiliki wara’, ibadah, dan kesungguhan. Namun tatkala semua itu (wara’, ibadah, dan kesungguhan) tidak berdasarkan ilmu yang benar, akhirnya menjadi petaka bagi mereka.” (Lamhatun ‘Anil Firaqidh Dhallah, hal. 35)

Para pembaca yang semoga dirahmati Allah l, dengan demikian betapa bahayanya orang-orang yang mengikuti jejak kaum Khawarij. Orang-orang yang memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah semata-mata mengandalkan akal, bahkan mengikuti hawa nafsunya tanpa merujuk kepada pemahaman para sahabat Nabi n. Orang-orang yang bermudah-mudahan mengafirkan pemerintah kaum muslimin, bahkan semua orang yang di luar kelompoknya. Memerangi penguasa muslim, dengan memberontak terhadapnya atau menggoyangnya dengan demonstrasi, agitasi, dan penyebaran berbagai opini buruk, baik berkaitan dengan ekonomi, keamanan, maupun yang lainnya. Orang-orang yang berbanyak-banyakan ibadah dengan melampaui batas yang telah disyariatkan. Semua ini merupakan sumber petaka dan penyebab kebinasaan dari masa ke masa.

Akhir kata, demikianlah paparan tentang beberapa realita ghuluw yang melanda kehidupan umat manusia dari masa ke masa. Semoga bermanfaat bagi kita semua dan menjadi embun penyejuk bagi para pencari kebenaran. Terkhusus orang-orang yang sedang terperangkap dalam jaring jerat ghuluw yang membinasakan.

Amin, ya Rabbal ‘Alamin…

 


 

1 Sikap berlebih-lebihan atau melampaui batas ini diistilahkan juga dengan ifrath atau tanaththu’. (Lihat Al-Ghuluw, karya Ali bin Abdul Aziz bin Ali Asy-Syibl hal. 22, dan Al-Qaulul Mufid ala Kitabit Tauhid, 1/244)

2 Di antara contohnya adalah berwudhu ketika mengucapkan perkataan yang haram/kotor. (Lihat Silsilah Al-Ahadits Adh-Dha’ifah karya Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani t, 2/334)

3 Demikian pula berpegang teguh dengan agama Islam sesuai apa yang disyariatkan Allah l dan Rasul-Nya n, serta istiqamah di atasnya dalam segenap sendi kehidupan, tidaklah termasuk dari ghuluw. (Lihat Al-Ghuluw hal. 23)

4 Lihat Syarah Shahih Muslim juz 16, Kitabul ‘Ilmi.

 

5 Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan menyebutkan bahwa Rasulullah n telah memberikan beberapa kaidah penting dalam menyikapi kubur dan penghuninya. Di antaranya:

a. Tidak boleh ghuluw terhadap para wali dan orang shalih.

b. Tidak boleh mendirikan bangunan, terlebih tempat ibadah (masyahid) di atas kubur.

c. Tidak boleh shalat/ibadah di sisi kubur atau menghadap kubur. (Diringkas dari Kitabut Tauhid, hal. 38-39)

6 Masalah ke-11 dari bab ‘Larangan Keras Bagi Seorang yang Beribadah kepada Allah l di Sisi Kubur Orang Shalih.’

7 Bahkan ia adalah akar kesyirikan yang pertama kali di muka bumi ini. (Lihat Ighatsatul Lahafan, juz 1 hal. 183)

8 Termasuk ghuluw terhadap Nabi Muhammad n. Seperti apa yang ditorehkan Al-Bushiri dalam qasidah Burdahnya:

Wahai makhluk termulia, tiada tempat berlindung bagiku, manakala datang problem pelik selain engkau

Jika di hari kiamat engkau tak mengambil tanganku (menyelamatkanku), niscaya aku akan tergelincir (ke dalam api neraka)

Sesungguhnya di antara kedermawananmu adalah (adanya) dunia dan akhirat, dan di antara ilmumu adalah ilmu yang di Lauhul Mahfuzh dan dicatat oleh pena taqdir.  (Lihat I’anatul Mustafid Bisyarhi Kitabit Tauhid, juz 1 hal. 500)

Pada bait ke-1 terdapat penyejajaran Nabi Muhammad n dengan Allah l dalam hal uluhiyyah (yakni sebagai tempat berlindung dan meminta pertolongan), bahkan ia melupakan Allah l. Pada bait ke-2 dan awal dari bait ke-3 terdapat penyejajaran beliau n dengan Allah l dalam hal rububiyyah, di mana diyakini bahwa yang menyelamatkan dari azab api neraka adalah Nabi n, kemudian adanya dunia dan akhirat ini karena kedermawanan Nabi n. Pada bagian akhir dari bait ke-3 terdapat penyejajaran beliau n dengan Allah l dalam hal asma wa shifat, di mana ia sandangkan keluasan ilmu yang meliputi segala sesuatu kepada Nabi n. (Lihat Tadzkiratul Mu’tasi Syarh Aqidah Al-Hafizh Abdil Ghani Al-Maqdisi, hal. 371 dan I’anatul Mustafid Bisyarhi Kitabit Tauhid, juz 1 hal. 500)

9 Untuk mengetahui lebih rinci siapa Khawarij, lihat Majalah Asy Syari’ah, no. 04/1/Syawwal 1424 H/Desember 2003.
10 Lihat I’anatul Mustafid Bisyarhi Kitabit Tauhid, juz 2 hal.3.
11 Lihat Shahih Muslim juz 2 hal. 744 dan 748.

Ghuluw disekitar Kita

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar)

 

Sebagaimana dengan keburukan lainnya, ghuluw pun akan menyeret hamba pada penyimpangan-penyimpangan berikutnya. Maka sudah semestinya kita mendeteksi secara dini penyakit bernama ghuluw ini.

Sikap ghuluw di dalam ibadah adalah keburukan. Tidak ada sedikitpun kebaikan di dalamnya. Sebagaimana halnya kebaikan, satu bentuk kebaikan akan melahirkan segenap kebaikan. Nabi n bersabda:
الْخَيْرُ لاَ يَأْتِي إِلاَّ بِالْخَيْرِ
“Kebaikan itu tidak akan mendatangkan kecuali kebaikan juga.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Sa’id Al-Khudri z)
Demikian pula keburukan, satu keburukan akan mendorong seseorang terjatuh dalam rangkaian keburukan berikutnya. Satu bentuk ghuluw yang dilakukan seseorang tentu akan membawa dirinya untuk melakukan ghuluw yang lain. Sehingga, benarlah Rasulullah n yang telah memperingatkan umat dari bahaya ghuluw ini.
Sekadar Contoh Ghuluw
Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin t menjelaskan bahwa ghuluw banyak sekali macamnya. Di antaranya ghuluw di dalam aqidah, ibadah, mu’amalah, dan ada juga ghuluw di dalam adat kebiasaan. Ghuluw di dalam aqidah, contohnya adalah orang yang terpengaruh oleh Ahlul Kalam di dalam menetapkan sifat-sifat Allah l. Sesungguhnya Ahlul Kalam bersikap terlalu berlebihan yang pada akhirnya berujung pada kehancuran. Perbuatan mereka menyebabkan terjatuhnya seorang hamba kepada salah satu dari dua kesesatan. Yaitu tamtsil (menyamakan Allah l dengan makhluk atau sebaliknya) dan ta’thil (mengingkari sifat-sifat Allah l). (Al-Qaulul Mufid, 1/394)
Ghuluw di dalam masalah sifat-sifat Allah pertama kali terjadi pada diri Al-Ja’d bin Dirham. Kepalanya dipenggal oleh penguasa ‘Iraq ketika itu, Khalid bin Abdul ‘Aziiz Al-Qasri, karena Al-Ja’d berkeyakinan kalamullah (Al-Qur’an) adalah makhluk. Pemikiran Al-Ja’d ini diteruskan oleh Al-Jahm bin Shafwan At-Tirmidzi. Melalui Al-Jahm inilah, pemikiran ghuluw di dalam memahami sifat-sifat Allah k tersebar. Walaupun pada akhirnya, Al-Jahm pun dibunuh oleh penguasa Khurasan, Salm bin Ahwaz. (Haqiqat Al-Ghuluw, ’Ali bin ‘Abdil ‘Aziz, hal. 47)
Tentang ghuluw di dalam memahami sifat-sifat Allah l, Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin t juga memberikan contoh dengan seorang pelajar yang mengajukan beberapa pertanyaan yang tidak semestinya ditanyakan. Pertanyaan itu terkait dengan ayat dan hadits tentang sifat-sifat Allah l. Padahal pertanyaan itu tidak pernah ditanyakan oleh salaf. Sebagai contoh, hadits Rasulullah n yang diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim t dari sahabat Abdullah bin ‘Amr c:
إِنَّ قُلُوبَ بَنِي آدَمَ كُلَّهَا بَيْنَ إِصْبِعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ كَقَلْبٍ وَاحِدٍ يَصْرِفُهُ حَيْثُ يَشَاءُ
“Sesungguhnya hati anak cucu Adam berada di antara dua jari jemari Ar-Rahman seperti satu hati saja. Dia membolak-balikkannya sesuai yang Dia kehendaki.”
Sang pelajar yang bersikap ghuluw ini bertanya, “Berapakah jumlah jari-jemari Allah k? Apakah ada ruas-ruasnya? Berapakah jumlah ruasnya?” Hal-hal seperti ini tidak boleh ditanyakan karena termasuk sikap ghuluw. (Syarah Riyadhus Shalihin)
Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin t juga menjelaskan bahwa ghuluw di dalam ibadah artinya terlalu bersikap keras. Dengan memandang adanya sedikit saja kekurangan di dalam ibadah telah divonis sebagai bentuk kekufuran serta keluar dari ajaran Islam. Sebagaimana ghuluw yang dilakukan oleh kelompok Khawarij dan Mu’tazilah. Mereka berpendapat, seseorang yang melakukan satu bentuk dosa besar telah keluar dari Islam. Harta dan darahnya menjadi halal. Mereka membolehkan untuk memberontak kepada pemerintah muslim. Adapun Mu’tazilah berpendapat, seseorang yang terjatuh dalam dosa besar dia berada di antara dua keadaan. Antara kekufuran dan keimanan. Keyakinan ini pun satu bentuk sikap ghuluw yang akan mengantarkan kepada gerbang kehancuran. (Al-Qaulul Mufid, 1/394). Lihat pembahasan secara lengkap tentang masalah ini pada Asy Syari’ah Vol I/No. 08/1425 H/Juli 2004.
Di antara contoh ghuluw di dalam beribadah adalah perbuatan sebagian orang yang berwudhu dalam bilangan yang berlebihan. Dia berwudhu hingga empat, lima, atau enam kali bahkan lebih dari itu, dengan alasan untuk lebih sempurna. Padahal Rasulullah n mengajarkan kepada kita untuk berwudhu tidak lebih dari tiga kali. Dalam hadits Abdullah bin ‘Amr c riwayat Abu Dawud (no. 135), Rasulullah n bersabda setelah menjelaskan tata cara berwudhu:
هَكَذَا الْوُضُوءُ فَمَنْ زَادَ عَلَى هَذَا فَقَدْ أَسَاءَ وَظَلَمَ
“Demikianlah cara berwudhu, barangsiapa menambah (lebih dari itu) maka dia telah berbuat jelek dan zalim.”
Contoh lain, seseorang yang mandi janabah. Dia memberatkan dirinya sendiri dengan berusaha memasukkan air ke dalam telinga dan lubang hidungnya. Perbuatan ini masuk di dalam larangan Rasulullah n:
هَلَكَ الْـمُتَنَطِّعُونَ
“Benar-benar binasa orang-orang yang bersikap tanaththu’.” (HR. Muslim dari Abdullah bin Mas’ud z) [Syarah Riyadhus Shalihin]
Contoh lain tentang ghuluw di dalam ibadah. Orang yang sedang jatuh sakit, pada bulan Ramadhan dia memaksakan diri untuk tetap berpuasa. Padahal Allah l membolehkan baginya untuk berbuka. Karena dia membutuhkan suplai makanan, minuman, dan obat. (Syarah Riyadhus Shalihin)
Adapun ghuluw di dalam muamalah, dijelaskan oleh Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin t, yaitu dengan berlebihan di dalam mengharamkan sesuatu walaupun hal tersebut hanyalah sekadar wasilah. Seperti yang dilakukan oleh para pengikut ajaran Shufi (Sufi). Mereka berkeyakinan bahwa orang yang bekerja mencari kehidupan dunia adalah orang yang tidak memiliki keinginan untuk mendapatkan akhirat. Mereka juga menyatakan, “Tidak boleh engkau membeli sesuatu yang bukan kebutuhan primer.” Keyakinan mereka ini sangat parah, karena mereka telah mengharamkan sesuatu yang dihalalkan oleh Allah l.
“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa-apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta ‘ini halal dan ini haram’,  untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah.  Sesungguhnya orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung.” (An-Nahl: 116)
Untuk pembahasan lengkap tentang Sufi silakan merujuk Majalah Asy Syari’ah Vol. I/No. 07/1425 H/2004.
Contoh berikutnya di dalam muamalah, adalah kebiasaan sebagian penuntut ilmu. Dia memaksakan diri untuk membaca dalam keadaan mengantuk. Yang dia dapatkan hanya lelah. Karena seseorang yang membaca dalam keadaan mengantuk tidak akan bisa mengambil manfaat dari bacaaannya. Seharusnya jika dia mulai merasakan kantuk, dia menutup kitab dan tidur untuk beristirahat. Bahkan selepas shalat Ashar atau selepas shalat Shubuh, seandainya dia merasakan kantuk berat hendaknya ia beristirahat. (Syarah Riyadhus Shalihin, Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin t)
Di antara bentuk ghuluw di dalam mu’amalah sehari-hari adalah yang disebutkan oleh Al-Imam Abdurrahman bin Hasan t yaitu dengan menahan diri dari hal-hal yang mubah secara mutlak. Seperti orang yang tidak mau makan daging dan roti. Hanya mengenakan pakaian dari bahan-bahan yang kasar atau tidak ingin menikah. Dia meyakini hal-hal seperti ini merupakan bentuk zuhud yang terpuji. Padahal orang semacam ini adalah orang yang jahil dan sesat. (Fathul Majid, 1/396)
Nasihat Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri t
Alangkah indahnya wasiat salaf. Wasiat yang akan membimbing kita di dalam meniti jejak generasi terbaik umat ini. Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri t berkata, “Demi Dzat Yang tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Dia, menegakkan As-Sunnah itu berada di antara dua kelompok. (Kelompok) yang ghuluw dan (kelompok) yang bersikap meremehkan. Maka bersabarlah kalian di dalam mengamalkan As-Sunnah, semoga Allah l senantiasa merahmati kalian. Sesungguhnya pada waktu yang lalu Ahlus Sunnah adalah golongan yang paling sedikit jumlahnya. Maka demikian pula pada waktu yang akan datang, mereka adalah golongan yang paling sedikit jumlahnya. Ahlus Sunnah adalah orang-orang yang tidak mengikuti kemewahan manusia. Tidak pula mengikuti kebid’ahan manusia. Mereka senantiasa bersabar di dalam mengamalkan As-Sunnah sampai bertemu dengan Rabb mereka. Maka hendaknya kalian pun demikian.” (Syarah Ath-Thahawiyyah, 2/326)

Surat Pembaca edisi 50

Kampanye Memuji Diri Sendiri

Menurut saya, tema yang diangkat Asy Syariah di edisi kemarin (edisi 49, red.) sangat tepat. Saya sendiri merasa risih dengan kampanye para caleg parpol Islam yang kebanyakannya mengklaim diri sebagai yang terbaik. Seperti Bersih-Peduli-Profesional, Ikhlas dan Amanah, dan sejenisnya.

 

Abu Syifa-Jateng

0852921xxxxx

 

Itulah salah satu dari sekian banyak penyimpangan politik praktis. Demi jabatan mereka halalkan sikap sombong, riya’, ujub, dan sebagainya. Merasa paling bersih dan nihil dari dosa. Padahal tak ada manusia yang sempurna, tak ada manusia yang lepas dari kesalahan.

Yang nampak, mereka justru enggan menumbuhkan sikap introspeksi diri. Bahkan menampakkan “kemustahilan berbuat kesalahan” ketika ada kader (tarbiyah) mereka terjerat skandal entah skandal suap, panti pijat, pemerkosaan, maupun korupsi. Para petinggi dan yang fanatik partai ini biasanya dengan entengnya berkelit, “Itu cuma fitnah”, “Dia kader baru.”, atau “Pelakunya hanya simpatisan.”, dan semacamnya.

Padahal ini belum termasuk sekian banyak syariat yang luntur tergerus arus kepentingan politik praktis. Sebagai contoh, dulu ada partai yang mengelu-elukan nasyid sebagai satu-satunya “musik Islami” (Lihat penjelasan Hukum Nasyid dan Musik di Asy Syariah edisi 40 Vo. IV/1429 H/2008). Lantas apa yang terjadi sekarang? Grup musik dengan beragam aliran telah meramaikan kampanye partai ini di berbagai daerah.

Ketika banyak elemen umat Islam menolak Ahmadiyah, partai “Islam” ini malah dengan “tanpa dosa” memberikan penghargaan kepada orang-orang yang mendukung keberadaan Ahmadiyah.

Tentunya masih banyak lagi penyimpangan yang tidak mungkin disebutkan seluruhnya di sini. Jazakumullahu khairan.

Tata Cara Pengurusan Jenazah

Bismillah. Ana minta pembahasan lengkap tentang tata cara pengurusan jenazah sesuai syariat (mulai dari sakaratul maut sampai penguburan serta adab ta’ziyah) beserta penjelasan beberapa penyimpangan yang sering terjadi di masyarakat.

 

Abu Sufyan Ahmad-Muara Enim

0813672xxxxx

 

Tata cara pengurusan jenazah telah dimuat secara berseri di majalah kita. Mulai ketika menghadiri orang yang sedang sakaratul maut, memandikan jenazah, mengafaninya, menshalatkannya, hingga menguburkannya. Juga dibahas tentang hukum ta’ziyah dan ziarah kubur khususnya bagi wanita. Lihat kembali rubrik Wanita dalam Sorotan, Majalah Asy-Syariah edisi 17 hingga edisi 23.

 

Tentang Mengundi

Bismillah, mohon dijelaskan tentang hadits yang berbunyi bila Rasulullah n safar beliau mengundi istri-istrinya… dan seterusnya, pertanyaannya bukankah mengundi itu dilarang?

Ummu Syifa-Banyuwangi

0813368xxxxx

 

Mengundi yang dilarang adalah bilamana ada unsur perjudian atau taruhan. Adapun yang tidak mengandung hal tersebut dan semata-mata untuk menentukan giliran maka tidak apa-apa.

 

Salah Cetak

Pada Asy-Syariah Vol. IV/No. 49/1430 H/2009, halaman 22, ada yang salah cetak. Surat Ali Imran ayat 104, kurang huruf nun di akhirnya.

 

081578xxxxxx

 

Jazakumulllah khairan atas koreksinya.