Kampanye Memalingkan Umat dari Islam

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin)

 

“Penolakan terhadap nilai-nilai yang ingin diperjuangkan lewat Deklarasi HAM PBB dengan mendasarkan diri pada nilai-nilai Islam adalah sebuah langkah yang memalukan dan berbahaya. Sebagaimana ditulis oleh Anwar Ibrahim1, ‘menyatakan bahwa kebebasan itu (identik dengan) Barat dan bukan Asia (atau Islam) sama artinya dengan menyerang tradisi kita sendiri dan nenek moyang kita yang sudah merelakan nyawa mereka dalam perjuangan menentang tirani dan ketidakadilan’. Nafsu besar sejumlah kaum muslim untuk menolak apa saja yang datang dari Barat, dapat berakibat pada pengkhianatan terhadap nilai-nilai dan cita-cita mereka sendiri.” (Pendidikan Kewarganegaraan dan Hak Asasi Manusia, penyunting Sobirin Malian dan Suparman Marzuki, hal. 93)

Menanggapi pernyataan seperti di atas atau yang semisalnya, maka bagi seorang muslim yang terbaik adalah menunjukkan sikap kemuslimannya. Sikap yang didasari ketaatan kepada Allah l dan Rasul-Nya n. Karena, jikalah benar bahwa dalam Deklarasi Universal HAM PBB tersebut memiliki nilai-nilai yang mendasarkan diri kepada Islam, maka bagi seorang muslim mengamalkan Islam dengan baik dan benar menimbulkan hikmah yang selaras dengan nilai-nilai universal yang diakui semua pihak. Namun jika seorang muslim dengan mengamalkan Islam tersebut kemudian tidak sesuai atau bahkan bertentangan dengan nilai-nilai yang ada pada Deklarasi Universal HAM, maka itulah yang harus ditunjukkan seorang muslim: bahwa agamanya melarang bersikap taklid, mengikuti pendapat atau nilai-nilai yang dinyatakan melalui perseorangan atau secara berkelompok (bersama-sama), yang pendapat atau nilai-nilai tersebut menyelisihi apa yang ditetapkan Allah l dan Rasul-Nya n. Firman Allah l:

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (Al-Isra`: 36)

Karena sesungguhnya ketaatan yang bersifat mutlak hanyalah kepada Allah l dan Rasul-Nya. Ini sebagaimana telah dibimbing dalam Al-Qur`an:

“Dan taatilah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat.” (Ali ‘Imran: 132)

“Katakanlah: ‘Taatilah Allah dan Rasul-(Nya), jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir’.” (Ali ‘Imran: 32)

Hadits dari Abu Hurairah z, Rasulullah n bersabda:

كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلاَّ مَنْ أَبَى. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، وَمَنْ يَأْبَى؟ قَالَ: مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى

“Setiap umatku akan masuk surga, kecuali yang enggan.” Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, siapakah yang enggan itu?” Jawab Rasulullah n: “Barangsiapa yang taat kepadaku, dia masuk surga. Dan barangsiapa yang durhaka kepadaku maka sungguh dialah yang enggan.” (HR. Al-Bukhari, no. 7280)

Maka, bagi seorang muslim yang secara benar dan baik mengaplikasikan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari, secara langsung atau tidak langsung dia akan memahami hak-hak yang bersifat asasi pada manusia. Syariat Islam akan membimbing dirinya untuk menyikapi setiap manusia. Bahkan dalam menyikapi hewan pun, Islam akan membimbingnya. Islam akan menuntun pemeluknya untuk memenuhi hak-hak asasi binatang, seperti hak untuk tidak disiksa dan dianiaya. Sebagaimana diungkapkan dalam sebuah hadits dari Abu Ya’la Syaddad bin Aus z, dari Rasulullah n, beliau bersabda:

إِنَّ اللهَ كَتَبَ الْإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذِّبْحَةَ وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ وَلْيُرِحْ ذَبِيْحَتَهُ

“Sesungguhnya Allah telah menetapkan kebaikan atas setiap sesuatu. Maka, apabila kalian membunuh, perbaikilah proses membunuh itu. Apabila kalian menyembelih, maka perbaikilah proses sembelihan itu. Tajamkanlah pisau kalian dan percepatlah proses menyembelihnya.” (HR. Muslim, no. 1955)

Demikian pula binatang diberi hak untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Barangsiapa menghalangi (dengan cara mengurung atau mengikatnya, misalnya) maka ada ancaman keras baginya. Ini digambarkan dalam hadits dari Ibnu ‘Umar c, dari Rasulullah n, beliau bersabda:

دَخَلَتِ الْمَرْأَةُ النَّارَ فِي هِرَّةٍ، رَبَطَتْهَا فَلَمْ تُطْعِمْهَا وَلَمْ تَدَعْهَا تَأْكُلُ مِنْ خَشَاشِ الْأَرْضِ

“Seorang wanita masuk neraka disebabkan seekor kucing. Dia mengikatnya, namun tidak memberinya makan dan tidak pula melepaskannya (agar mencari) makan dari binatang (serangga) bumi.” (HR. Al-Bukhari no. 3318)

Begitulah Islam mengajarkan untuk bersikap baik terhadap hewan. Apatah lagi terhadap manusia?

Sikap hidup di atas Islam yang benar kelak melahirkan penghormatan terhadap hak asasi manusia yang hakiki. Karena, tanpa berpijak kepada Islam, manusia akan bertindak sesuai hawa nafsu yang bergemuruh di dadanya. Setan pun akan menghiasi apa yang diperbuatnya sebagai amal yang baik. Allah l berfirman:

“Maka mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka. Bahkan hati mereka telah menjadi keras dan setan pun menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang selalu mereka kerjakan.” (Al-An’am: 43)

Juga firman-Nya:

“Dan setan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak mendapat petunjuk.” (An-Naml: 24)

Lahirnya Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia tanggal 10 Desember 1948 merupakan reaksi terhadap sejarah masa lalu yang begitu kelam. Sejarah kehidupan manusia yang dilumuri oleh warna merah darah akibat tindak pemaksaan, penganiayaan, dan penyiksaan. Hidup manusia selalu di bawah tekanan dan paksaan. Kebebasan menjadi barang langka, bahkan sirna. Tak ada lagi nilai kesetaraan dalam kehidupan manusia. Wajah buruk dan kelam semacam ini banyak ditemui di belahan bumi Eropa dan Amerika. Dalam kondisi sosio-kultural semacam itu lahirlah gagasan-gagasan untuk memperjuangkan hak-hak asasi manusia. Untuk memuluskan itu semua diperlukan kebebasan. Maka, kebebasan menjadi prinsip dasar pemenuhan hak asasi manusia. Tanpa kebebasan tak akan bisa terpenuhi hak-hak dasar kemanusiaan tersebut. Demikianlah filosofi yang melatari lahirnya Deklarasi Universal HAM.

Tak heran bila ditelisik pasal-pasal yang terkandung dalam Deklarasi Universal HAM mencuat aroma liberalisme, kebebasan yang melabrak rambu-rambu Islam. Telaah pasal 18 dari Deklarasi Universal HAM. Maka akan ditemukan paham HAM yang didasari kebebasan murni di dalamnya. Menurut pasal 18 Deklarasi itu: “Setiap orang mempunyai hak atas kebebasan berpikir, memiliki keyakinan dan beragama; hak ini meliputi juga hak atas kebebasan berganti agama dan keyakinan, dan hak atas kebebasan baik sendiri maupun bersama-sama dengan orang lain, di tempat umum atau di dalam kehidupannya sendiri, dalam pengajaran, pengamalan, dengan beribadat serta menjalankan perintah agama dan kepercayaan.”

Pasal 18 telah nyata melabrak syariat. Deklarasi yang dinyatakan sebagai aturan yang universal (bisa berlaku untuk semua orang, kalangan, atau bangsa), ternyata memudar nilai keuniversalannya. Pasal tersebut telah menajamkan konflik dengan kaum muslimin yang memiliki rasa cemburu terhadap agama yang mulia ini. Sebab, bagaimanapun, Islam tak akan menolerir setiap sikap murtad (pindah agama) dari pemeluknya. Telah menjadi kesepakatan para ulama bahwa orang yang murtad dari Islam bila tidak mau ruju’ (kembali kepada Islam) maka dihukum mati (oleh pemerintahan Islam, bukan individu). Ini sebagaimana didasarkan pada hadits Ibnu ‘Abbas c, bahwa Rasulullah n bersabda:

مَنْ بَدَّلَ دِيْنَهُ فَاقْتُلُوهُ

“Barangsiapa yang mengganti agamanya (murtad), maka bunuhlah dia.” (HR. Al-Bukhari no. 3017)

Juga dalam hadits dari Abdullah bin Mas’ud z, Rasulullah n bersabda:

لَا يَحِلُّ دَمُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ إِلاَّ بِإِحْدَى ثَلَاثٍ: النَّفْسُ بِالنَّفْسِ، وَالثَّيِّبُ الزَّانِي، وَالتَّارِكُ دِيْنَهُ الْمُفَارِقُ لِلْجَمَاعَةِ

“Tidak halal darah seorang muslim kecuali (karena) salah satu dari tiga (perkara): (membunuh) jiwa dengan jiwa, orang yang sudah menikah berzina, dan orang yang meninggalkan agamanya memisahkan diri dari jamaah.” (Sunan An-Nasa`i no. 4721, Sunan At-Tirmidzi no. 1402. Hadits ini dishahihkan oleh Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani t)

Selain itu, hukum bagi yang murtad, dia tidak mewarisi harta karena kekafirannya. Telah sepakat ahlul ilmi (para ulama) bahwa orang yang kafir tidak mewarisi dari seorang muslim. Jumhur (mayoritas) para sahabat dan fuqaha berpendapat bahwa seorang muslim tidak mewariskan kepada seorang yang kafir. (Al-Mughni, Ibnu Qudamah t, 9/154)

Ini salah satu masalah krusial dari Deklarasi Universal HAM. Masalah lainnya bisa ditelisik dari pasal 2 dalam Deklarasi yang sama. Disebutkan dalam pasal 2 tersebut: “Setiap manusia berhak atas segala hak dan kebebasan tersebut dalam Deklarasi ini, dengan tanpa membeda-bedakan apapun juga, seperti ras, warna kulit, jenis kelamin, bahasa, agama, politik, atau perbedaan pendapat, kebangsaan atau asal golongan masyarakat, kekayaan, kelahiran, atau status lainnya….”

Melalui rumusan ini melahirkan kesepakatan penghapusan terhadap segala jenis bentuk diskriminasi terhadap wanita. Apakah yang dimaksud ‘diskriminasi terhadap wanita’? Berdasar Ketentuan Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan, pasal 1, disebutkan bahwa yang dimaksud diskriminasi terhadap perempuan: “pembedaan, pengucilan, atau pembatasan yang dibuat atas dasar jenis kelamin, yang berakibat atau bertujuan mengurangi atau menghapuskan pengakuan, penikmatan, atau penggunaan hak asasi manusia dan kebebasan-kebebasan pokok di bidang politik, ekonomi, sosial budaya, sipil, atau apapun lainnya oleh kaum perempuan, terlepas dari status perkawinan mereka, atas dasar persamaan antara laki-laki dan perempuan.” (Kampanye Dunia untuk Hak Asasi Manusia, Lembar Fakta 22, Komnas HAM dan The British Council, hal. 321)

Bila mencermati isi dari definisi tentang ‘diskriminasi terhadap perempuan’, maka sekarang bagaimana bila dihadapkan pada nilai-nilai Islam? Nampak sekali bahwa di balik kampanye memperjuangkan hak dan kebebasan kaum wanita, tidak lebih dari sekadar mengusung ide pembangkangan terhadap syariat. Dengan kampanye anti diskriminasi terhadap perempuan, senyatanya mendorong kaum muslimah untuk berpaling dari nilai-nilai Islam. Ini adalah program pengkufuran secara halus pada kaum muslimah. Betapa tidak. Sebab, dalam syariat telah dituntunkan hak dan kewajiban seorang muslimah. Dalam masalah waris, wanita mendapat seperdua dari laki-laki. Dalam pergaulan, wanita (dan juga laki-laki) dibatasi untuk tidak bercampur baur. Dalam safar (bepergian) wanita berbeda dengan laki-laki, wanita harus didampingi mahram. Dalam kehidupan rumah tangga, wanita dibedakan dengan laki-laki, pemimpin rumah tangga adalah laki-laki (suami). Maka sekian banyak pembedaan dan pembatasan yang ada dalam syariat, apakah lantas bisa dikatakan bahwa yang diatur dalam syariat seperti itu merupakan diskriminasi terhadap perempuan?

Deklarasi Universal HAM berkenaan masalah penghapusan diskriminasi terhadap perempuan bisa mengarah kepada kekufuran. Secara halus, kaum muslimah digiring kepada satu tindakan yaitu berpaling dari akar tradisi nilai-nilai Islam yang selama ini diyakininya. Kita memohon keselamatan kepada Allah l dari semua tipu daya ini. Allahul musta’an.

Program memalingkan dari nilai-nilai Islam yang telah menjadi tradisi ini bisa nampak melalui pasal-pasal dalam Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Perempuan. Dalam pasal 16, berkenaan Persamaan Dalam Hukum Keluarga, paragraf ke-3 disebutkan, “Wilayah diskriminasi ini biasanya didasarkan atas praktik-praktik budaya dan agama yang telah berlangsung dalam waktu lama; hal ini menjadi salah satu wilayah yang paling sulit untuk diatasi dan yang paling berisiko untuk diubah. Pembuat rancangan Konvensi telah menyadari bahwa perubahan pada wilayah ini merupakan hal penting dalam rangka memberikan persamaan sepenuhnya bagi perempuan. Untuk melakukan perubahan ini, negara-negara peserta pertama-tama harus melakukan upaya-upaya yang tepat untuk menghapuskan atau mengubah peraturan atau perangkat yang ada, yang berhubungan dengan perkawinan dan keluarga yang bersifat diskriminatif terhadap perempuan.” (Kampanye Dunia untuk Hak Asasi Manusia, Lembar Fakta 22, Komnas HAM dan The British Council, hal. 331)

Begitulah yang tengah diperjuangkan para pegiat hak asasi manusia, terkhusus para pegiat emansipasi wanita yang bersemangat untuk menghapus diskriminasi terhadap perempuan. Mereka sadar bahwa untuk menghapus dan mengubah ‘wilayah diskriminatif’ ini harus berhadapan dengan nilai-nilai budaya dan agama.

Allah l berfirman:

“Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci.” (Ash-Shaff: 8)

Sesungguhnya agama ini telah sempurna. Setiap aturan bagi kehidupan manusia ada di dalamnya. Allah l berfirman:

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku dan telah Aku ridhai Islam itu menjadi agama bagimu.” (Al-Ma`idah: 3)
Karenanya, hanya orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya yang menganggap aturan-aturan dalam agama ini terasa menyesakkan, membuat susah. Padahal Allah l telah berfirman:
“Kami tidak menurunkan Al-Qur`an ini kepadamu agar kamu menjadi susah; tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah).” (Thaha: 2-3)
Allah l-lah yang telah menciptakan alam semesta ini. Maka Allah l jua yang mengatur ciptaan-Nya. Wallahu a’lam.

1 Mantan deputi perdana menteri Malaysia, -ed.

Atas Nama Kebebasan

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin)

 

Masih ingatkah argumen yang dilontarkan para pengikut Al-Qiyadah Al-Islamiyah saat diseret ke penjara oleh polisi? Satu di antara argumen yang mereka lempar kepada masyarakat, bahwa mereka berpemahaman seperti itu sesuai dengan Hak Asasi Manusia (HAM).

Prinsip kebebasan yang menjadi dasar HAM telah digunakan sebaik-baiknya oleh kalangan Al-Qiyadah. Terlepas dari dibenarkan atau tidak menggunakan prinsip kebebasan tersebut, namun yang nyata bahwa isu HAM telah menjadi tameng bagi aksi-aksi kesesatan dan penyesatan terhadap umat. Isu HAM telah menjadi senjata yang logis yang memberi ruang kepada kelompok-kelompok masyarakat tertentu untuk berpemahaman, bertindak, beramal dan beribadah sesuai dengan apa yang diyakininya. Walaupun keyakinan yang mereka usung tidak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah alias sesat.
Tak semata itu, banyak kasus yang mengatasnamakan kebebasan lantas bisa eksis di tengah masyarakat. Dengan atas nama kebebasan berekspresi dan seni, seorang artis wanita dengan pakaian seronok, mendedahkan aurat, tampil dengan penuh percaya diri di media-media iklan. Tampilannya yang syur, mengumbar syahwat, dianggap sebagai sesuatu yang lumrah. Ketika sekelompok masyarakat menggugat, maka sanggahannya pun bertameng dengan kebebasan berekspresi dan seni. Lagi, isu HAM telah dijadikan wahana untuk menyebarkan hal tak patut. Terlepas dibenarkan atau tidak alasan demi kebebasan berekspresi dan seni.
Lebih dari ini, sepasang muda-mudi atas nama kebebasan, hidup bersama dalam satu flat, didasari suka sama suka, tak ada paksaan dari siapapun, tak ada pula tekanan dari pihak manapun, mereka menikmati hidup tanpa ikatan nikah yang sah, (katanya) tanpa mengganggu siapapun dan pihak manapun. Maka, keduanya lakukan itu atas nama kebebasan, merupakan hak keduanya untuk saling mencurahkan kasih sayang dan melampiaskan hasrat biologisnya, walau dengan cara zina. Lagi, isu HAM menjadi alasan logis bagi terbukanya ruang perzinaan. Sekali lagi, terlepas dari dibenarkan atau tidak alasan mereka dengan mengatasnamakan kebebasan.
Sisi lain, atas dasar kebebasan mengemukakan pendapat secara lisan atau tulisan di muka umum, lantas dengan berarak mengerahkan massa turun ke jalan-jalan. Melakukan orasi yang berisi pembeberan “aib” pejabat atau pemerintah. Jalanan menjadi macet, seakan republik ini cuma mereka yang menghuni. Hajat sekian ratus, ribu bahkan jutaan manusia menjadi terhambat, terganggu dan bahkan terlanggar. Sekali lagi, semua itu dilakukan atas nama kebebasan.
Ini baru yang ada di jalanan. Belum yang terpampang di media elektronik, spanduk, baliho, selebaran, koran, majalah, buku, dan lainnya. Semua berangkat atas nama kebebasan. Sayang, dan amat sangat disayangkan. Seakan penghuni negeri ini sudah tak lagi memiliki adab, etika, sopan santun, tenggang rasa, akhlak terhadap pemerintah, dan nilai-nilai keluhuran yang semestinya turut serta saat menyampaikan pesan, nasihat, usul yang membangun terhadap pemerintah, kelompok masyarakat tertentu, atau yang bersifat perorangan sekalipun. Firman Allah l:
“Serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia.” (Al-Baqarah: 83)
Berdasar hadits dari Abu Hurairah z, dia berkata: Rasulullah n bersabda:
وَالْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ
“Dan perkataan yang baik itu merupakan sedekah.” (HR. Al-Bukhari no. 2989; Muslim no. 56)
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin t menjelaskan ayat:
“Sesungguhnya orang-orang yang menginginkan agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (An-Nur: 19)
beliau menyatakan, bahwa “suka menyebarkan perbuatan keji (al-faahisyah) di kalangan orang-orang beriman” meliputi dua makna:
Pertama, menyukai tersebarnya al-faahisyah di tengah-tengah masyarakat muslim. Termasuk dalam hal ini adalah menyebarkan film-film porno dan koran (majalah, selebaran, dan yang sejenis, ed.) yang jelek, jahat, dan porno. Sungguh, media-media semacam ini, tanpa ragu lagi, termasuk yang menyukai (menghendaki) tersebarnya al-faahisyah di tengah-tengah komunitas muslimin. (Orang-orang yang terlibat di dalamnya), mereka menginginkan timbul gejolak fitnah (bencana/kerusakan) agama pada diri seorang muslim. Tentunya dengan sebab dari apa yang disebarkan (oleh mereka) melalui majalah-majalah, surat kabar-surat kabar porno yang merusak atau media-media lainnya yang sejenis. Barangsiapa menghendaki (suka) tersebarnya al-faahisyah di tengah komunitas muslim, maka baginya azab yang pedih di dunia dan akhirat.
Kedua, menyukai tersebarnya al-faahisyah pada orang tertentu, bukan dalam lingkup masyarakat Islam secara menyeluruh. Balasan untuk perbuatan ini adalah azab yang pedih di dunia dan akhirat. (Syarhu Riyadhish Shalihin, 1/598)
Kerusakan demi kerusakan akan senantiasa merambah bumi kala aksi-aksi manusia atas nama kebebasan ditolerir. Peradaban manusia akan terpuruk seiring nilai kebebasan yang lahir dari pemikiran-pemikiran kufur yang menjadi landasan perbuatan manusia. Lihatlah, bagaimana Amerika Serikat dengan mengatasnamakan HAM meluluhlantakkan Afghanistan. Pemerintah AS mengirim pasukannya ke Afghanistan untuk menjaga hukum HAM seperti yang dicantumkan dalam pasal 51 Piagam PBB. (Pengadilan HAM, Indonesia dan Peradaban, Artidjo Alkostar hal. 21-22)
HAM dijadikan alat negara kafir untuk melegalkan kezaliman terhadap negara kaum muslimin. Termasuk dalam konteks ini, isu HAM pun dijadikan alat untuk melemahkan instrumen pemerintahan di Indonesia saat proses reformasi berlangsung. Bersamaan dengan itu rakyat dihasung untuk berani melawan pemerintahnya. Tentunya di bawah payung HAM, bahwa rakyat memiliki kebebasan menyuarakan aspirasi sebebas-bebasnya. Yang lebih parah, mereka menjadi kekuatan massa yang dikoordinir dan dimanfaatkan secara politis oleh kelompok tertentu. Tak sedikit yang kemudian melakukan tindakan-tindakan merusak. Anarkisme menjadi model perlawanan terhadap pemerintah yang sah. Ini dampak dibukanya kran demokrasi dan kebebasan.
Padahal dalam menyikapi pemerintah, kaum muslimin telah dibimbing Allah l dan Rasul-Nya. Firman Allah l:
“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul(Nya) dan ulil amri di antara kamu.” (An-Nisa`: 59)
Menurut Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, yang dimaksud ulil amri pada ayat tersebut berdasar apa yang disebutkan ahlul ilmi adalah ulama dan umara’ (pemerintah). Wajib bagi umat Islam untuk menaati pemerintah. Ketaatan terhadap pemerintah di sini dalam hal ketaatan kepada Allah l. Karena firman Allah l:Tidaklah penyebutannya dalam bentuk:
وَأَطِيْعُوا أُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ
(Taatilah ulil amri di antara kamu), sebab ketaatan terhadap pemerintah mengikuti (ketaatan kepada Allah l dan Rasul-Nya), tidak berdiri sendiri. Atas dasar ini, apabila pemerintah memerintahkan kemaksiatan terhadap Allah l, maka tidaklah wajib untuk mendengar dan taat.
Hadits dari Ibnu ‘Umar c menjelaskan hal ini. Rasulullah n bersabda:
عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ إِلاَّ أَنْ يُؤْمَرَ بِمَعْصِيَةٍ، فَإِنْ أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ
“Wajib atas seorang muslim mendengar dan taat, dalam hal suka atau benci, kecuali bila yang diperintahkan terhadap hal yang maksiat. Bila diperintah terhadap kemaksiatan maka janganlah mendengar dan taat.” (HR. Al-Bukhari no. 7144; Muslim no. 1839. Lafadz di atas merupakan lafadz Muslim)
Dalam hadits lain disebutkan:
لَا طَاعَةَ فِي مَعْصِيَةِ اللهِ، إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ
“Tak ada ketaatan dalam bermaksiat kepada Allah, sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam hal yang ma’ruf.” (HR. Muslim no. 1840)
Kaum muslimin diberi tuntunan pula dalam menyikapi pemerintahan yang melakukan kemungkaran. Caranya dengan nasihat yang disampaikan secara tersembunyi, tidak dengan terang-terangan atau dipublikasikan kepada masyarakat. Disebutkan dalam hadits Syuraih bin Ubaid dan selainnya, Rasulullah n bersabda:
مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِسُلْطَانٍ بِأَمْرٍ فَلاَ يُبْدِ لَهُ عَلَانِيَّةً وَلَكِنْ لِيَأْخُذْ بِيَدِهِ فَيَخْلُو بِهِ، فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ وَإِلاَّ كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ
“Barangsiapa ingin menasihati penguasa karena satu perkara, janganlah menerangkannya secara terbuka (di depan publik). Tapi, (lakukanlah) dengan cara mengambil tangannya di tempat tertutup bersamanya. Jika dia menerima (nasihat tersebut), maka itulah (yang diharapkan). Jika tidak, sungguh telah sampai nasihat kepadanya.” (HR. Ahmad, Majma’u Az-Zawa`id no. 9161. Dishahihkan Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani dalam Zhilal Al-Jannah fi Takhriji As-Sunnah no. 1096)
Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz t terkait masalah ini menyatakan bahwa bukan manhaj as-salaf, menyebarkan aib (cacat, cela, kelemahan, kekurangan) pemerintah serta memublikasikannya di mimbar-mimbar (media-media umum). Karena, yang seperti itu akan menambah parah keadaan, memupus (kepercayaan rakyat) untuk mendengar dan taat dalam hal yang ma’ruf. Juga semakin menjerembabkan ke keadaan yang membahayakan dan tiada manfaat. Cara yang ditempuh (diikuti) pada kalangan salaf, yaitu menasihati antara dia dengan penguasa (tidak di depan umum), menyuratinya, atau menyampaikan melalui para ulama yang (para ulama ini) akan menyampaikannya kepada penguasa hingga (tercapai) menuju kepada kebaikan. Mengingkari kemungkaran hendaknya tanpa menyebut nama pelaku. Berantaslah masalahnya dengan menyebut masalahnya. Kemungkaran zina, kemungkaran minuman keras (khamr), kemungkaran riba tanpa menyebut siapa pelakunya. Cukup dengan mengingkari kemaksiatan-kemaksiatan dan memperingatkan (masyarakat) dari hal-hal tersebut. Tanpa menyebut fulan sebagai oknumnya.
Saat terjadi fitnah (anarkisme) di zaman ‘Utsman bin Affan z, sebagian masyarakat berkata kepada Usamah bin Zaid z: “Apakah engkau tidak melakukan pengingkaran terhadap ‘Utsman?” Jawab Usamah: “Apakah aku akan melakukan pengingkaran di hadapan orang banyak? Aku akan mengingkarinya (cukup) antara aku dan dia saja. Aku tak ingin membuka pintu kejelekan atas manusia.”
Tatkala mereka telah membuka kejelekan pada masa ‘Utsman z, yaitu dengan melakukan pengingkaran terhadap ‘Utsman z secara terang-terangan, lengkaplah sudah fitnah (petaka), pembantaian dan kerusakan-kerusakan yang pengaruhnya terus berlangsung hingga sekarang. Hingga kemudian, memunculkan fitnah antara ‘Ali dan Mu’awiyah c. Terbunuhnya ‘Utsman dan ‘Ali c lantaran sebab hal itu. Juga, banyak dari kalangan sahabat dan selainnya yang terbunuh. Semuanya disebabkan cara melakukan pengingkaran secara terbuka, transparan di depan umum dengan menyebutkan aib-aibnya. Hingga terbakarlah emosi massa (untuk) melawan pemerintahnya. Mereka pun lantas membunuhnya. Nas`alullaha al-’afiyah. (Mu’amalatu Al-Hukkam fi Dhau`i Al-Kitab wa As-Sunnah, Asy-Syaikh Abdussalam bin Barjas t, hal. 111-112)
Al-Imam At-Tirmidzi t dalam Sunan-nya meriwayatkan hadits, (no. 2224) dari Ziyad bin Kusaib Al-’Adawi yang bertutur: “Kala aku bersama Abu Bakrah di bawah mimbar Ibnu ‘Amir yang tengah berkhutbah, sedangkan dia mengenakan pakaian tipis. Maka, berbicaralah Abu Bilal (Mirdas bin Udayyah, seorang Khawarij): “Lihatlah kepada pemimpin kita, dia mengenakan pakaian orang-orang fasiq!” Abu Bakrah pun lantas angkat bicara, “Diam kamu. Aku telah mendengar Rasulullah n bersabda:
مَنْ أَهَانَ سُلْطَانَ اللهِ فِي الْأَرْضِ أَهَانَهُ اللهُ
“Barangsiapa yang merendahkan (menghina) penguasa Allah di muka bumi, Allah akan merendahkan (menghinakan) dirinya.” (Hadits ini dihasankan Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Ash-Shahihah no. 2296)
Demikian akhlak yang dibangun dalam Islam. Selalu dan selalu memerhatikan kemaslahatan masyarakat banyak. Tak semata memfokuskan pada hak asasi orang per orang, sementara kepentingan (hak orang lain) terabaikan. Melalui proses penyampaian aspirasi yang diajarkan Islam, maka kepentingan umum tidak terganggu (terlanggar) dan hak individu atau kelompok pun tidak terabaikan. Karena masing-masing individu masih bisa tetap menyampaikan aspirasi tanpa harus mengganggu yang lain serta menimbulkan mudarat bagi masyarakat.
Bagaimana dengan sistem yang dibangun di atas kebebasan? Ya, karena mereka memiliki hak asasi, hak untuk secara bebas meneriakkan aspirasinya, maka tak terpikirkan lagi dampak dari aksi-aksinya. Tak peduli lagi apakah setelah mengkritik pemerintah lantas masyarakat terprovokasi atau tidak. Tak peduli lagi, apakah setelah dia bicara suhu politik jadi memanas, ekonomi bergeser menurun, yang semua itu dampaknya kepada masyarakat secara keseluruhan. Atau menjadikan citra negeri muslim menjadi buruk di mata internasional. Semua tak dipedulikan. Sebab, intinya atas nama kebebasan, hak asasi manusia harus terwujud. Maka bergulirlah Deklarasi Universal HAM PBB tahun 1948 sebagai tameng dan alat perjuangan.
“Apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (Al-Ma`idah: 50)
Mari, dengan hati yang jernih, kita pahami Islam ini dengan benar dan baik. Kembalikan setiap masalah yang ada kepada agama. Bukan dengan membanggakan nilai-nilai di luar Islam sebagai wujud rasa inferiotas (minder) di hadapan peradaban Barat. Mari, kita tunjukkan sebagai muslim yang baik. Yang menapaki jejak generasi salafush shalih.
Wallahu a’lam.

Apa Itu Hak Asasi Manusia (HAM)?

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin)

Di tengah hiruk pikuk “reformasi”, satu di antara banyak peristiwa, adalah menggelembungnya isu Hak Asasi Manusia (HAM) di negeri ini.

Awan hitam kelam menyelimuti persada. Suasana karut-marut mewarnai sudut-sudut kehidupan anak negeri. Rasa aman seakan menjadi komoditas yang sulit dijangkau. Seakan sirna kenyamanan dan rasa tenang hidup di bumi nyiur melambai. Demonstrasi, kerusuhan, penjarahan, pembantaian manusia, hiruk pikuk memenuhi etalase kehidupan. Para penegak hukum tak mampu lagi menampakkan gigi taringnya. Berbagai kerusuhan bagaikan gelombang yang susul menyusul, sementara aparat ragu untuk bertindak. Keraguan ini cukup lama bergayut di dada para prajurit, hingga melambankan gerak menyapu para pelaku keonaran. Satu di antara sebab yang melambankan gerak pihak berwajib, tumbuhnya rasa takut terjerat jaring-jaring HAM. Tak mengherankan bila saat itu para prajurit dibekali buku saku yang berisi apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan sesuai HAM.

Apa itu HAM? Menurut Undang-Undang No. 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia, HAM didefinisikan sebagai berikut: “Hak Asasi Manusia adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugerah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi oleh negara, hukum, Pemerintah, dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia.”

Kala itu, HAM bak monster yang menakutkan pihak aparat. Dalam skenario global, HAM menjadi alat yang langsung atau pun tidak, turut melemahkan kewibawaan pemerintah. Isu HAM terus dipompakan hingga target-target yang bersifat politis bisa digapai oleh elite politik tertentu. Selain tentunya, bagi pihak asing merupakan kesempatan emas untuk melakukan neo-kolonialisme (penjajahan model baru) melalui penetrasi budaya, yaitu menularkan budaya atau paham-paham sekular. Inti dari pemahaman ini berupaya menjauhkan umat Islam dari agamanya, dan lebih memfokuskan pada masalah dunia serta nilai-nilai yang tidak bersumber dari Islam.

Bila menilik sejarah, sesungguhnya keadaan umat Islam di Indonesia nyaris tidak lepas dari dominasi dan eksploitasi Barat. Proses sejarah menunjukkan bahwa setelah kolonialisme, yaitu penjajahan bersifat fisik berakhir, dunia Islam menghadapi masa neo-kolonialisme. Penjajahan pada fase neo-kolonialisme ini tidak lagi bersifat fisik, tetapi sudah dalam bentuk penjajahan nilai, ideologi, atau paham. Fase inilah terjadinya ghazwu al-fikr (perang pemikiran). Walaupun secara fisik negara-negara tempat kaum muslimin tinggal telah merdeka, namun tekanan budaya Barat senantiasa dijejalkan kepada kaum muslimin. Sehingga, akibat penetrasi budaya, ideologi, dan pemahaman tersebut, berubahlah cara pandang, cara berpikir, tingkah laku, bahkan i’tiqad (keyakinan) sebagian kaum muslimin. Nas`alullaha as-salamah wal ‘afiyah (Kepada Allah l-lah kita memohon keselamatan dan afiat).

Perubahan gaya hidup dengan meniru kaum kafir tersebut tentu saja melalui proses waktu. Secara bertahap namun terarah, proses tersebut terus bergulir hingga seseorang lantas mengikuti gaya hidup orang kafir. Rasulullah n telah memperingatkan perihal ini. Berdasar hadits dari Abu Hurairah z, Rasulullah n bersabda:

لَتَتَّبِعُنَّ سُنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ سَلَكُوا حُجْرَ ضَبٍّ لَسَلَكْتُمُوهُ. قَالُوا: الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى؟ قَالَ: فَمَنْ؟

“Sungguh kamu akan mengikuti cara-cara orang-orang sebelummu, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Hingga seandainya mereka berjalan (masuk) lubang dhabb (sejenis biawak), niscaya kamu pun akan berjalan ke lubang tersebut.” Para sahabat bertanya: “(Apakah yang dimaksud) Yahudi dan Nashara?” Jawab Rasulullah n: “Siapa lagi?” (HR. Ahmad, dishahihkan Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani t dalam Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir wa Ziyadah, no. 5063)

Seiring arus globalisasi, gerakan neo-kolonialisme pun semakin mendapat celah untuk terus menerjang batas-batas negara. Karena, globalisasi itu sendiri dimaknai sebagai proses integrasi (penyatuan) ideologi, paham, nilai budaya ‘penjajah’ terhadap yang ‘dijajah’. Sehingga ideologi, paham, nilai budaya ‘penjajah’ terserap dan menyatu dalam kehidupan masyarakat yang ‘dijajah’. Inilah hakikat globalisasi terkait dengan gerakan neo-kolonialisme. Pemberian beasiswa untuk mempelajari Islam ke McGill University, Montreal, Kanada atau ke Chicago University, Amerika Serikat adalah bagian kecil dari program neo-kolonialisme. Menghadirkan para selebriti Barat ke negeri-negeri kaum muslimin juga merupakan bagian neo-kolonialisme. Dengan neo-kolonialisme, Barat melakukan hegemoni, yakni melakukan dominasi pemikiran, cara pandang, ideologi, pemahaman, dan budaya, hingga terbentuk sikap mental: “Kalau tidak dari Barat, tidak modern,” atau “Kalau tidak dari Barat, tidak keren.”

Dalam ranah sosial politik, demokratisasi merupakan sistem nilai dan ideologi yang ditanamkan ke negeri-negeri kaum muslimin. Demokrasi sebagai produk kebudayaan dan filsafat Barat melalui proses penetrasi yang kuat telah cukup membawa hasil yang ‘memuaskan’. Cap ‘tidak demokratis’ adalah sesuatu yang tidak disukai oleh kalangan pemerintahan di sebagian negara-negara muslim. Ini memberi sinyal bahwa demokrasi sebagai sebuah sistem ideologi telah berhasil ditanam.

Bagaimana dengan ajaran Hak Asasi Manusia? Nyaris tak jauh beda. Saat memberi Kata Pengantar, M.M. Billah, seorang pegiat HAM, menyatakan bahwa fakta sejarah yang tidak bisa dipungkiri menunjukkan bahwa ajaran hak asasi manusia merupakan produk kebudayaan dan filsafat Barat dalam masa Pencerahan di abad ke-18, ketika para ahli filsafat masa itu berupaya mencari landasan kebenaran moral dan keagamaan di dalam sifat-sifat manusia, dan mengembangkan satu agama serta moralitas yang ‘alamiah’. Tetapi konsepsi tentang sifat manusia dan kebebasan manusia yang muncul pada kenyataannya amat menyatu dengan tradisi budaya yang memunculkannya, yakni kebudayaan dan filsafat Barat itu sendiri. (Agama dan Hak Asasi Manusia, John Kelsay dan Sumner B. Twiss)

Bukti bahwa ajaran hak asasi manusia ini tidak bisa lepas dari kebudayaan dan filsafat Barat bisa ditelusuri dari berbagai deklarasi yang melatarinya. Magna Charta (1215) dianggap sebagai dokumen sejarah yang menggagas hak asasi manusia. Magna Charta berisi prinsip-prinsip trial by jury (peradilan oleh juri), habeas corpus (surat perintah penahanan), dan pengawasan parlemen atas pajak. Walaupun hanya berisi prinsip-prinsip di atas, oleh beberapa kalangan, Magna Charta tetap dijadikan monumen bagi lahirnya gagasan-gagasan hak asasi manusia berikutnya. Di Inggris tumbuh gagasan melalui Petition of Rights (1628) dan Bill of Rights (1689). Di Amerika dengan Declaration of Independence (1776). Di Perancis, setelah Revolusi Perancis, lahir apa yang disebut dengan Deklarasi Hak-hak Asasi Manusia dan Warganegara (Declaration des Droit de l’home et du Citoyen, 1789). Hingga akhirnya semua gagasan yang berkembang dirumuskan menjadi sebuah deklarasi. Lahirlah kemudian Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM) tahun 1948. Deklarasi inilah yang kemudian disahkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai dasar pemberlakuan hak asasi manusia di seluruh dunia. Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia yang berisi 30 pasal tersebut secara resmi diterima Majelis Umum PBB pada tanggal 10 Desember 1948. Melalui Undang-Undang No. 39 Tahun 1999, Pemerintah Republik Indonesia meratifikasi (mengesahkan) sebagai Undang-Undang tentang Hak Asasi Manusia.

Sebagai produk kebudayaan dan filsafat Barat, ajaran hak asasi manusia tentu saja tidak bebas dari kritik. Pengejawantahan hak-hak asasi manusia dalam kehidupan beragama di Barat (khususnya Perancis) justru buruk sekali. Larangan terhadap muslimah untuk mengenakan busana yang sesuai syariat ternyata tetap berlaku. Ini menunjukkan bahwa pemerintahan setempat belum bersungguh-sungguh memberikan hak yang bersifat asasi kepada kaum muslimin. Begitu pula yang terjadi di Amerika Serikat. Pasca peristiwa 11 September 2001 dengan hancurnya gedung WTC, pemerintah Amerika berlebihan, bahkan tidak patut dalam menyikapi warga muslim, terutama yang berasal dari warga asing. Apakah karena kemuslimannya lantas seseorang diperlakukan tidak patut di negara yang konon katanya menjunjung tinggi hak asasi manusia?

Sikap semena-mena tersebut menunjukkan watak asli kaum kafir terhadap orang-orang yang beriman. Mereka tidak akan merasa tenang bahkan bersikap sewenang-wenang terhadap orang-orang beriman. Allah l mengisahkan ashhabul ukhdud dalam Al-Qur`an sebagai pelajaran, betapa lantaran keimanan orang-orang beriman itu harus menghadapi tindak penyiksaan. Allah l berfirman:

“Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji.” (Al-Buruj: 8)
Inilah pergulatan antara al-haq dan al-bathil. Antara iman dan kekufuran. Antara hizbullah dan hizbu asy-syaithan. Sebab, pada intinya mereka akan terus berupaya dengan beragam cara untuk menundukkan kaum muslimin. Mereka tidak akan senang sebelum kaum muslimin mengikuti apa yang mereka maukan.
“Orang-orang Yahudi dan Nashrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: ‘Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar).’ Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (Al-Baqarah: 120)
Maka, ketika Islam menutup ruang terjadinya ganti agama, karena agama yang diakui di sisi Allah l hanyalah Islam, justru Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia membuka ruang kebebasan beragama, termasuk dibolehkannya ganti agama (sebagaimana pada pasal 18). Dua kutub yang saling bertolak belakang ini tentu saja tidak bisa dikompromikan. Bagaimana mungkin seorang muslim memperkenankan (melegalkan) kepada kaum muslimin untuk ganti agama? Padahal Allah l berfirman:
“Barangsiapa mencari agama selain Islam, maka sekali-kali tidak akan diterima (agama itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Ali ‘Imran: 85)
“Sesungguhnya agama (yang diakui) di sisi Allah hanyalah Islam.” (Ali ‘Imran: 19)
Sikap terbaik bagi seorang muslim adalah mengamalkan agamanya secara baik dan benar, sebagaimana telah dituntunkan oleh Rasulullah n dan para sahabatnya g. Tidak silau dengan berbagai nilai, pemahaman, dan ideologi yang lahir dari hawa nafsu manusia. Karena, sudah nyata antara al-haq dan al-bathil, dan sesungguhnya petunjuk yang benar itu hanya satu, yaitu petunjuk Allah l. Allah l berfirman:
“Katakanlah: ‘Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)’.” (Al-Baqarah: 120)
Jadi, kembalilah kepada nilai-nilai Islam, wahai orang-orang yang memiliki akal.
Wallahu a’lam.

Hal Asasi Manusia (HAM) Didepan Penciptanya

(ditulis oleh: Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi)

 

Upaya-upaya pemberangusan syariat Islam terus dilakukan dengan berbagai cara. Kini dengan bertameng HAM, syariat dan aturan agama diupayakan untuk diabaikan. Bimbingan dan petunjuk ilahi pun hendak dikesampingkan.

Isu-isu tentang Hak Asasi Manusia (HAM) terus marak diusung. Tampilannya pun telah direkayasa sedemikian rupa. Hingga berujung pada opini bahwa HAM adalah kekuatan yang layak ditakuti. Dampaknya, “orang-orang kuat” dunia pun “grogi” bila harus berurusan dengan perkara yang satu ini. Aparat keamanan, baik militer maupun kepolisian yang notabene pegang senjata pun “amat takut” bila dikasuskan perihal HAM. Tak heran, bila HAM kemudian sering dijadikan senjata yang ditunggangi kepentingan pihak-pihak yang tengah berupaya menjatuhkan rival politiknya.
HAM itu sendiri sejatinya merupakan produk musuh-musuh Islam. Tujuannya adalah pendangkalan keimanan umat dan pembentukan karakter mereka agar menjadi orang-orang bebas, berani melawan, memberontak dan menentang segala sesuatu yang tidak sesuai pikiran dan hawa nafsunya, dengan dalih hak asasi. Tanpa memedulikan siapa yang dilawan dan ditentangnya itu. Akhirnya, hawa nafsu diperturutkan dan syariat pun ditanggalkan.
Namun anehnya, wacana HAM yang bergulir bak bola api di tengah umat ini, justru disambut dan diperjuangkan oleh “umat Islam”. HAM pun diundangkan. Pemerintah sering kali dihujat dan dikasuskan dengan alasan pelanggaran hak asasi. Di lain pihak, dengan alasan hak asasi pula, terkadang syariat dan aturan agama diabaikan. Bimbingan dan petunjuk ilahi pun dikesampingkan. Padahal, siapakah makhluk yang bernama manusia itu? Sejauh itukah keberaniannya kepada Allah l Yang Maha Kuasa sang Pencipta?!
Manusia Makhluk yang Dilingkupi Segala Keterbatasan
Manusia merupakan salah satu makhluk ciptaan Allah l yang menjalani roda kehidupan di dunia fana ini. Dengan segala hikmah dan keadilan-Nya, Allah l jadikan mereka sebagai makhluk yang dilingkupi segala keterbatasan. Allah l menciptakan moyang mereka (Adam q) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Sebagaimana firman Allah l:
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk.” (Al-Hijr: 26)
Sedangkan keturunannya, Allah l ciptakan mereka dari percampuran setetes air mani suami dan istri. Kemudian Allah l menjadikannya mendengar dan melihat, untuk diuji oleh-Nya dengan berbagai perintah dan larangan. Sebagaimana firman Allah l:
“Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut? Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.” (Al-Insan: 1-2)
Tak ubahnya makhluk hidup lainnya, manusia pun mengalami sekian fase dalam kehidupannya. Tercipta sebagai hamba yang lemah, kemudian menjadi kuat (fisiknya) dan mengakhiri kehidupannya pun dalam keadaan lemah. Allah l berfirman:
“Allah, Dialah yang menciptakan kalian dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kalian) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kalian) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (Ar-Rum: 54)
Demikianlah manusia dengan segala keterbatasannya. Semua (hakikatnya) dalam perjalanan menuju Rabb-nya. Kemudian setelah meninggal dunia, akan bertemu dengan Allah l untuk melihat segala kebaikan ataupun kejelekan yang dikerjakannya, kemudian menerima balasan dari perbuatannya yang baik maupun yang buruk itu. Allah l berfirman:
“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah (semut yang amat kecil) pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejelekan seberat dzarrah (semut yang amat kecil) pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.” (Az-Zalzalah: 7-8)
Manusia Amat Bergantung kepada Allah l
Keberadaan manusia sebagai makhluk, sangatlah bergantung kepada Allah sang Penciptanya (Al-Khaliq). Kebutuhan mereka kepada Allah l amatlah besar. Tanpa pertolongan dan kekuatan dari-Nya, tak akan mungkin bisa menjalani pahit getirnya kehidupan ini. Allah l berfirman:
“Hai sekalian manusia, kalianlah yang amat butuh kepada Allah, dan Allah Dia-lah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.” (Fathir: 15)
Ketergantungan manusia terhadap sang Khaliq (Allah l) semakin besar, manakala mereka telah menyanggupi untuk memikul amanat ibadah dengan menjalankan segala perintah Allah l dan menjauhi segala yang diharamkan-Nya, yang tak disanggupi oleh makhluk-makhluk besar seperti langit, bumi, dan gunung-gunung. Allah l berfirman:
“Sesungguhnya Kami telah tawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.” (Al-Ahzab: 72)
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di t berkata: “Allah l mengangkat permasalahan amanat yang diamanatkan-Nya kepada para mukallaf, yaitu amanat menjalankan segala yang diperintahkan dan menjauhi segala yang diharamkan, baik dalam keadaan tampak maupun tidak. Dia tawarkan amanat itu kepada makhluk-makhluk besar; langit, bumi, dan gunung-gunung sebagai tawaran pilihan bukan keharusan, ‘Bila engkau menjalankan dan melaksanakannya niscaya bagimu pahala, dan bila tidak, niscaya kamu akan dihukum.’ Maka makhluk-makhluk itu enggan untuk memikulnya karena khawatir akan mengkhianatinya, bukan karena menentang Rabb mereka dan bukan pula karena tidak butuh pahala-Nya. Kemudian Allah l tawarkan kepada manusia. Ia pun siap menerima amanat itu dan siap memikulnya dengan segala kezaliman dan kebodohan yang ada pada dirinya. Maka amanat berat itu pun akhirnya dibebankan kepadanya.” (Taisirul Karimir Rahman, hal. 620)
Karunia Allah l yang Tak Terhingga terhadap Umat Manusia
Manusia dengan segala keterbatasan dan ketergantungannya kepada Allah l, amatlah membutuhkan pertolongan dan kekuatan dari Allah l. Terlebih dalam mengemban amanat berat yang tak dimampui oleh makhluk-makhluk besar itu. Maka Allah l Yang Maha Rahman pun, memberikan nikmat dan karunia-Nya yang tak terhingga kepada mereka untuk bisa menjalankan segala tugas dan kepentingannya.
Allah l ciptakan mereka dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Allah l berfirman:
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (At-Tin: 4)
Kemudian Allah l kuatkan persendian tubuhnya, sehingga mampu bergerak untuk memenuhi segala kebutuhan hidupnya. Allah l berfirman:
“Kami telah menciptakan mereka dan menguatkan persendian tubuh mereka.” (Al-Insan: 28)
Sebagaimana pula Allah l menjadikannya pandai berbicara, bisa mendengar dan melihat, sehingga dapat berkomunikasi dan berinteraksi dengan sesamanya. Allah l berfirman:
“Dia menciptakan manusia. Mengajarnya pandai berbicara.” (Ar-Rahman: 3-4)
“Kami jadikan dia mendengar dan melihat.” (Al-Insan: 2)
Segala sarana kehidupan mereka pun telah dicukupi dan dimudahkan-Nya. Allah l berfirman:
“Bukankah Kami telah menjadikan bumi sebagai hamparan dan gunung-gunung sebagai pasak? Dan Kami jadikan kalian berpasang-pasangan, dan Kami jadikan tidur kalian untuk istirahat, dan Kami jadikan malam sebagai pakaian, dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan, dan Kami bangun di atas kalian tujuh buah (langit) yang kokoh, dan Kami jadikan pelita yang amat terang (matahari), dan Kami turunkan dari awan air yang banyak tercurah, supaya Kami tumbuhkan dengan air itu biji-bijan, tumbuh-tumbuhan, dan kebun-kebun yang lebat?” (An-Naba`: 6-16)
Allah l pun telah tentukan untuk mereka rezeki dengan segala hikmah dan keilmuan-Nya. Masing-masing mendapatkannya sesuai dengan bagian dan porsi yang semestinya. Allah l berfirman:
“Dan Allah melebihkan sebagian kalian atas sebagian yang lain dalam hal rezeki.” (An-Nahl: 71)
Lebih dari itu, Allah l utus para nabi dan rasul kepada tiap-tiap umat (dari mereka) sebagai pembimbing mereka ke jalan yang lurus. Sebagaimana pula Dia turunkan kitab suci sebagai pedoman hidup mereka menuju kehidupan yang terang benderang. Allah l berfirman:
“Sungguh Kami telah mengutus Rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata, dan Kami turunkan bersama mereka Kitab Suci dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan.” (Al-Hadid: 25)
“Hai Ahli Kitab, telah datang kepada kalian Rasul Kami, menjelaskan kepada kalian banyak dari Al-Kitab yang kalian sembunyikan dan banyak pula yang dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepada kalian cahaya dari Allah dan kitab yang menerangkan (Al-Qur`an). Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya kepada jalan keselamatan. Dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari kegelapan menuju cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” (Al-Ma`idah: 15-16)
Demikianlah nikmat dan karunia Allah l yang dicurahkan kepada umat manusia. Walaupun kebanyakan dari mereka sangat zalim dan ingkar terhadap nikmat-nikmat tersebut. Allah l berfirman:
“Dan Dia telah mengaruniakan kepada kalian (keperluan) dari segala apa yang kalian minta. Dan jika kalian menghitung nikmat Allah, tidaklah mungkin kalian mampu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat ingkar (terhadap nikmat Allah).” (Ibrahim: 34)
Apalah Arti Hak Asasi Manusia di Hadapan Penciptanya?!
Posisi manusia dengan segala keterbatasan dan ketergantungannya kepada Allah l, menunjukkan bahwa mereka benar-benar sebagai hamba Allah l. Terlebih, ketika predikat mukallaf (yang berkewajiban menjalankan segala yang diperintahkan dan menjauhi segala yang diharamkan Allah l) disandangnya. Semakin jelas bahwa manusia itu hakikatnya adalah para hamba yang harus mengikuti segala aturan dan rambu-rambu Ilahi di muka bumi ini. Tak sepantasnya baginya untuk memosisikan diri sebagai penentang bagi segala hikmah dan keputusan sang Penciptanya. Karena apapun kondisinya, ia adalah makhluk yang lemah. Meskipun segudang harta dan setumpuk gelar duniawi telah disandangnya. Tanpa nikmat, karunia, pertolongan dan kekuatan dari Allah l, tak akan mungkin manusia bisa menjalani pahit getirnya kehidupan ini dengan penuh keselamatan. Allah l berfirman:
“Dan manusia diciptakan dalam keadaan (bersifat) lemah.” (An-Nisa`: 28)
Berangkat dari sini, betapa naifnya bagi manusia (siapapun dia) untuk menyoal hak asasinya di hadapan Penciptanya Yang Maha Kuasa. Sementara Allah l telah menegaskan dalam firman-Nya:
“Dan Rabb-mu menciptakan segala apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka.” (Al-Qashash: 68)
Apalagi bila istilah hak asasi manusia itu hanyalah kamuflase untuk memperturutkan hawa nafsu dan bebas dari syariat Allah l. Apalah arti hak asasi manusia di hadapan Penciptanya Yang Maha Kuasa, bila senyatanya adalah belenggu hawa nafsu yang mengantarkan kepada kebebasan yang kebablasan (melampaui batas). Allah l berfirman:
“Tidakkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).” (Al-Furqan: 43-44)
Hai manusia, ke mana engkau hendak pergi? Hidupmu di dunia ini amatlah sementara. Sedangkan kemampuan berkaryamu amat terbatas pada umur yang diberikan Allah l kepadamu. Dan ketika kematian menghampiri… layaknya makhluk bernyawa, tak seorang pun yang terluput atau tertangguhkan darinya. Allah l berfirman:
“Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (Al-Munafiqun: 11)
Kehidupan duniamu pun bukanlah akhir dari perjalananmu. Masih tersisa dua kehidupan berikutnya; kehidupan di alam barzah (kubur) dan kehidupan di alam akhirat. Dua kehidupan yang amat menentukan akan posisimu, apakah termasuk orang-orang yang berbahagia ataukah orang-orang yang merugi?! Sementara kesempatan untuk beramal shalih sudah tertutup dalam dua kehidupan itu.
Masihkah engkau enggan untuk shalat, ruku’, dan sujud, menghambakan diri kepada Penciptamu Yang Maha Kuasa?! Masihkah kesibukan duniamu membuatmu lupa akan ayat-ayat Allah l dan negeri akhirat?! Sudah saatnya bagimu untuk memahami hakikat hidup ini dengan arif dan bijaksana. Jangan engkau menjadi orang yang berpaling dari peringatan Allah l. Karena kesudahannya adalah petaka. Allah l berfirman:
“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunnya pada hari kiamat dalam keadaan buta. Berkatalah ia: ‘Wahai Rabb-ku, mengapa Engkau menghimpun aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah orang yang (dapat) melihat?’ Allah berfirman: ‘Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan.’ Dan demikianlah Kami membalas orang yang melampaui batas dan tidak percaya kepada ayat-ayat Rabb-nya. Dan sesungguhnya azab di akhirat itu lebih berat dan lebih kekal.” (Thaha: 124-127)
Hai manusia, lihatlah dirimu bila berada di liang kubur. Engkau akan menghuninya seorang diri. Tak ditemani oleh kawan dan orang yang dicinta. Tak ditemani pula oleh segudang harta yang ditimbun sebanyak-banyaknya di dunia. Pakaianmu hanyalah kain kafan yang melilit tubuh. Ruanganmu hanyalah liang lahat yang amat terbatas. Tempat pembaringanmu adalah tanah yang tak beralaskan suatu apa. Sementara azab kubur akan diberikan kepada mereka yang berhak mendapatkannya, demikian pula nikmat kubur pun akan diberikan kepada mereka yang berhak mendapatkannya.
Perjalananmu tak berhenti sampai di situ. Manakala kiamat tiba, semuanya akan dibangkitkan dari kuburnya. Engkau pun akan menghadap Allah l seorang diri, untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatan yang dilakukan selama di dunia. Allah l berfirman:
“Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri.” (Maryam: 95)
“Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja (berbuat) dengan penuh kesungguhan menuju Rabb-mu, maka pasti kamu akan menemui-Nya (untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatan yang dilakukan).” (Al-Insyiqaq: 6)
Bila engkau telah memahami hakikat perjalanan hidupmu dalam tiga fase kehidupan itu, maka sudah saatnya bagimu untuk kembali kepada Allah l. Menghambakan diri kepada-Nya bukan kepada dirimu. Menjalankan segala yang diperintahkan-Nya dan meninggalkan segala yang dilarang-Nya. Duduk bersimpuh di hadapan-Nya, menengadahkan tangan permohonan kepada-Nya dengan penuh harap. Bertauhid dan tak menduakan-Nya (syirik) dalam ibadah. Meniti jejak Rasul-Nya dan jauh dari perkara baru yang diada-adakan dalam agama (bid’ah). Berpegang teguh dengan kitab suci-Nya (Al-Qur’an) dan Sunnah Rasul-Nya n, serta bersatu di atasnya. Menjadikan Islam yang murni sebagai pedoman dalam kehidupan ini. Jauh dari sikap ego dan sombong, dengan dalih hak asasi. Dengan suatu harapan, bisa bertemu dengan Allah l dengan qalbu yang suci, di hari yang tak lagi bermanfaat harta dan anak-anak (kiamat).
Mudah-mudahan Allah l menjadikan kita semua sebagai hamba-hamba-Nya yang shalih, yang selalu sadar diri akan posisinya yang lemah di hadapan Allah l. Tunduk dan patuh kepada-Nya dengan penuh ketulusan. Amin Ya Rabbal ‘Alamin…

Surat Pembaca edisi 42

Menukil Ihya ‘Ulumuddin

Pada edisi 21 dibahas tentang kesesatan Ihya` ‘Ulumuddin. Tetapi pada edisi 39 dinukil panjang lebar dari kitab tersebut pada rubrik Tafsir. Penukilan Asy-Syariah dari sebuah kitab sering kali menjadi referensi juga rekomendasi bagi pembaca untuk membaca kitab tersebut lebih jauh. Bagi kami pembaca yang awam, hal ini sangat membingungkan.

Ikhwan – Solo

08121885xxx

 

Redaksi cukup banyak menerima surat senada. Berikut kami tuliskan di sini tanggapan langsung dari penulis rubrik, Al-Ustadz Askari:

Sebelum menjawab pertanyaan ini, kita perlu mengetahui bahwa dalam menyikapi seseorang, kita harus menyikapinya secara adil sesuai dengan kedudukan mereka, sebagaimana yang difirmankan Allah l:

“Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (Al-Ma`idah: 8)

Maka berkenaan dengan pertanyaan ini, kami jawab dari beberapa sisi:

Pertama: Saya tidak menukil perkataan beliau tersebut langsung dari kitab Ihya` Ulumuddin namun dari majalah Buhuts Al-Islamiyyah. Kita ketahui bersama bahwa majalah tersebut adalah terbitan para ulama besar Arab Saudi, yang ketika itu masih diketuai oleh Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz t, sebagaimana yang tertera pada tulisan tersebut.

Kedua: Abu Hamid Al-Ghazali yang bernama Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Ath-Thusi adalah seorang mujtahid dan bukan seorang pengikut hawa nafsu, apalagi untuk dikatakan sebagai ahli bid’ah. Sehingga para ulama Ahlus Sunnah masih menukil pendapat-pendapat beliau yang beliau benar dalam hal tersebut. Lihatlah pujian Al-Imam Adz-Dzahabi  t terhadap beliau: “Syaikh, Imam, lautan ilmu, hujjatul Islam, keajaiban zaman, zainuddin (hiasan agama),…. pemilik beberapa karangan, dan kepandaian yang luar biasa.” (Siyar A’lam An-Nubala`, 19/322-323)

Dari sini menunjukkan bahwa beliau tergolong ulama kaum muslimin, seorang mujtahid. Bukan syarat seorang alim adalah yang tidak pernah bersalah. Memang beliau sempat menggeluti ilmu filsafat dan tasawwuf dalam usahanya mencari kebenaran. Namun setelah itu beliau bertaubat dan kembali kepada mazhab salaf. Beliau berkata dalam kitabnya Iljam Al-‘Awam ‘An ‘Ilmil Kalam: “Ketahuilah, kebenaran yang jelas yang tidak terbantahkan menurut orang-orang yang berilmu adalah mazhab salaf, yaitu para sahabat dan tabi’in.” Kemudian beliau berkata: “Sesungguhnya petunjuk yang jelas bahwa kebenaran hanyalah terdapat pada mazhab salaf.” (Lihat Adhwa`ul Bayan karya Asy-Syinqithi, 7/295)

Adapun sebelum taubatnya, beliau banyak terjatuh dalam penyimpangan, termasuk apa yang beliau tulis dalam bukunya, Ihya` Ulumiddin, sehingga banyak ulama yang mengkritiknya. Bahkan ada yang memerintahkan untuk membakarnya. (ed)

Wallahul musta’an.

HAM, PENJAJAHAN GAYA BARU

Islam dan Hak Asasi Manusia (HAM) ibarat dua sisi dari sekeping mata uang. Tak pernah akur/sepaham. Bagaimana tidak, selama ini konsep HAM yang didengung-dengungkan mengadopsi mentah-mentah konsepsi Barat, yang diakui atau tidak, malahan menempatkan Islam sebagai musuh HAM.

Ketidakakuran konsep ini dikarenakan acuan HAM dalam konsepsi barat berangkat dari pemahaman yang bertentangan dengan syariat, di samping tentu saja kebencian terhadap Islam itu sendiri. Sebagai misal, kebebasan yang menjadi nilai dasar HAM dalam perspektif Barat adalah kebebasan dalam arti yang seluas-luasnya. Pornografi dan pornoaksi, menghujat Islam dalam bentuk karikatur maupun film, adalah contoh kebebasan berekspresi yang jelas menantang Islam.

Sebaliknya, kewanitaan dalam Islam, adalah isu-isu lama yang terus diusung para “pendakwah” HAM ala Barat. Berbekal ilmu agama yang nyaris nihil plus intepretasi menyimpang, Islam divonis oleh mereka sebagai ajaran yang memberi perlakuan diskriminatif terhadap kaum wanitanya. Citra ini demikian kokoh bercokol dalam benak orang-orang yang memang senantiasa mengambil paradigma serba Barat.

Padahal kalau para pengekor HAM Barat ini mau berkaca, dalam tataran praktik, penerapan HAM mereka sendiri malah menganut standar ganda. Pembantaian muslim Palestina oleh Yahudi adalah cermin nyata kemunafikan Barat soal HAM. Amerika Serikat (AS), yang selama ini didewa-dewakan sebagai penegak HAM bungkam manakala yang menjadi korban HAM adalah umat Islam.

Kemunafikan HAM ini pun bisa kita saksikan di Indonesia. Kerusuhan Mei 1998, Peristiwa Semanggi I dan II, dibesar-besarkan serta didramatisir seakan-akan sedemikian mengerikan. Malah, dalam kerusuhan Mei, ditiupkan gosip adanya pemerkosaan massal terhadap etnis Cina yang dilakukan oleh orang-orang Islam.

Sementara kerusuhan Maluku dan Poso dengan skala yang nyata lebih luas yang korbannya umat Islam, hanya dipandang sebelah mata. Jangankan proses hukum terhadap aktor intelektualnya, teriakan HAM untuk kasus Maluku/Poso pun nyaris tak terdengar. Barat pun baru menggonggong soal HAM setelah para perusuh Kristen mulai terdesak.

Yang aktual adalah soal Ahmadiyah. Sejumlah tokoh dengan mengatasnamakan HAM ramai-ramai membela aliran sesat & kafir ini. Menjadi ganjil karena perasaan umat Islam malah diabaikan dalam kasus ini. Yang nampak, banyak pihak yang memang bersuka cita dengan makin terpecah belahnya Islam. Tentu lain cerita jika yang disempali adalah agama lain. Sebagai contoh pasukan federal AS tahun 1993 pernah membakar markas sekte ranting Daud di Waco, Texas, yang dipimpin Vernon Howell (David Koresh) hingga menewaskan puluhan orang. Pelanggaran HAM? Jelas bukan.

Daftar salah kaprah penerapan HAM ini tentu masih banyak. Tindakan barbar AS dan sekutunya yang menyerang Irak dan Afghanistan, intervensi dan eksploitasi terhadap negara-negara berkembang (yang sebagiannya negara-negara berpenduduk mayoritas muslim) tentu kecil kemungkinan masuk dalam definisi pelanggaran HAM.

Kesimpulannya, Hak Asasi Manusia (HAM) sesungguhnya bentuk lain imperialisme Barat, yakni upaya Barat untuk memaksakan nilai-nilai mereka dalam rangka memberangus syariat Islam. HAM sejatinya tidak menyoal nilai-nilai kemanusiaan yang universal yang sebenarnya nilai-nilai itu telah lengkap dalam ajaran Islam, namun lebih bergantung pada selera dan kemauan Barat. Penjajahan gaya baru? Pasti.