Adab Menggunakan HP bagian 6/terakhir

Bimbingan Kedua puluh: Tidak mengikuti kuis dengan segala bentuknya
Di antara penggunaan HP yang menyelisihi syariat adalah mengikuti kegiatan yang disebut ‘Kuis berhadiah via HP’. Gambarannya, operator seluler memberikan informasi/layanan kepada Anda dengan tarif tertentu (kemudian Anda diminta menghubungi operator tersebut) atau Anda diminta mengirim sms dengan tarif per-sms sekian dan sekian, atau menekan kode/tombol tertentu. Ketika Anda tepat menjawab pertanyaan yang diajukan oleh operator tadi, berarti Anda telah terlibat dalam persaingan di antara ribuan pengguna HP lain dari berbagai daerah. Uang yang mereka (operator) dapatkan adalah hasil dari banyaknya peserta kuis, jumlahnya berlipat-lipat. Ini adalah bentuk penipuan dan memakan harta manusia dengan cara yang batil, dan termasuk dalam hukum perjudian. Wal ‘iyadzubillah.
Allah l berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kalian mendapat keberuntungan. Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kalian lantaran (meminum) khamr dan berjudi itu, dan menghalangi kalian dari mengingat Allah dan shalat; maka berhentilah kalian (dari mengerjakan pekerjaan itu).” (Al-Maidah: 90-91)
Al-Maisir adalah perjudian.
Allah l juga berfirman:
“Dan janganlah sebagian kalian memakan harta sebagian yang lain di antara kalian dengan jalan/cara yang batil.” (Al-Baqarah: 188)

Bimbingan Kedua puluh satu: Kepada siapa anda memberikan nomor telepon?
Allah l berfirman:
“Dan tolong-menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat berat siksa-Nya.” (Al-Maidah: 2)
Seorang muslim wajib memilih teman-teman yang baik, yang akan membantunya dalam kebaikan dan ketaatan kepada Allah l. Kepada teman dan saudara yang seperti itulah Anda bisa memberikan nomor Anda. Tidaklah Anda akan mendapati dari mereka kecuali kebaikan dan kesediaannya untuk membantu Anda dalam meraih keridhaan Allah k. Sudah tentu, mereka pun memiliki adab-adab syar’i yang senantiasa mereka jaga ketika menelepon dan berbicara dengan Anda.
Disamping itu, orang-orang yang tidak tergolong shalih dan bertakwa tidak memiliki upaya untuk menjaga adab-adab seperti ini. Karena itu, terkadang dia menelepon Anda ketika waktu shalat misalnya, atau menelepon Anda di pengujung malam untuk sekadar bercanda. Bahkan mungkin mengirimi Anda gambar-gambar yang tidak senonoh dan beraneka ragam kejelekan lainnya. Bersikap waspada dari mereka (orang yang tidak shalih dan tidak bertakwa) akan lebih selamat.

Bimbingan Kedua puluh dua: Tidak mengeraskan suara melebihi kebutuhan
Di antara wasiat Luqman Al-Hakim adalah sebagaimana yang dikisahkan oleh Allah k dalam surat Luqman, tatkala dia berkata kepada anaknya:
“Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” (Luqman: 19)
Al-Imam Ibnu Katsir t berkata dalam Tafsir-nya (3/44): “Firman Allah k: ‘dan lunakkanlah suaramu’, maknanya adalah jangan berlebihan dalam berbicara dan jangan mengeraskan suaramu dengan perkataan yang tidak ada faedahnya. Oleh karena itulah, Allah l berfirman:
‘Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.’
Al-Imam Mujahid t dan yang lainnya mengatakan: ‘Sesungguhnya sejelek-jelek suara adalah suara keledai, yakni mengeraskan suara yang paling buruk adalah yang kerasnya menyerupai suara keledai. Tambahan lagi, hal itu merupakan sesuatu yang dibenci oleh Allah l. Penyerupaan yang seperti ini mengandung pengharaman dan celaan yang sangat keras terhadapnya, karena Rasulullah n bersabda:
لَيْسَ لَنَا مَثَلُ السَّوْءِ؛ الْعَائِدُ فِي هِبَتِهِ كَالْكَلْبِ يَقِيءُ ثُمَّ يَعُودُ قَيْئَهِ
“Tidak ada bagi kami permisalan yang jelek. Permisalan seorang yang meminta kembali suatu pemberian yang telah diberikannya kepada orang lain, seperti anjing yang muntah kemudian menjilat kembali muntahannya tadi.” (HR. Al-Bukhari, Ahmad, An-Nasa’i, At-Tirmidzi, Ath-Thahawi, dan Al-Baihaqi, dari sahabat Ibnu Abbas dan sahabat Abu Bakr c sebagaimana dalam Shahihul Jami’ no. 5426. Lafadz ini adalah lafadz An-Nasa’i dalam As-Sunan Al-Kubra 4/124)
Dari sini jelaslah bahwa seorang muslim itu tidaklah mengeraskan suaranya melebihi kebutuhan atau berbicara yang tidak ada faedahnya.

Bimbingan Kedua puluh tiga: Tidak menutup HP ketika lawan bicara sedang berbicara, kecuali jika ada maslahat yang lebih besar
Seorang muslim itu hendaknya berhias dengan akhlak yang mulia dan sifat yang agung, sebagaimana yang dianjurkan dalam syariat agama kita yang lurus. Allah l berfirman:
“Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar di atas akhlak yang agung.” (Al-Qalam: 4)
Disebutkan pula dalam sebuah hadits:
كَانَ رَسُولُ اللهِ n أَحْسَنَ النَّاسِ خُلُقًا
“Rasulullah n adalah orang yang paling baik akhlaknya.” (HR. Al-Bukhari no. 5850, Muslim no. 2150 dari sahabat Anas z)
Dari Abu Hurairah z, dia berkata: Rasulullah n bersabda:
أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ
“Orang mukmin yang paling sempurna keimanannya adalah yang paling baik akhlaknya di antara mereka, dan sebaik-baik kalian adalah yang paling bisa bersikap baik terhadap istrinya.” (HR. At-Tirmidzi no. 1162, Ibnu Hibban dalam Shahih-nya. At-Tirmidzi berkata: “Ini adalah hadits hasan shahih.” Asy-Syaikh Al-Albani berkata dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi no. 1162: “Ini adalah hadits hasan shahih.” Beliau juga berkata dalam Shahih Al-Jami’ no. 1232: “Ini adalah hadits shahih.” Hadits ini disebutkan juga di dalam As-Silsilah Ash-Shahihah no. 284)
Menutup HP dengan cara seperti ini (ketika lawan bicara sedang berbicara) akan menghilangkan cerminan adab Islami dan sifat yang mulia.

Bimbingan Kedua puluh empat: Menjaga kesehatan
Di antara perkara yang wajib untuk diperhatikan adalah menjaga kesehatan. Karena hal ini merupakan salah satu nikmat Allah l yang besar dan wajib dipergunakan untuk meraih keridhaan-Nya. Dari Ibnu Abbas c , dia berkata: Rasulullah n bersabda:
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيْهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِحَّةُ وَالْفَرَاغُ
“Ada dua kenikmatan yang kebanyakan manusia melalaikannya: (1) kesehatan dan (2) waktu luang.” (HR. Al-Bukhari no. 7049)
Oleh karena itulah, frekuensi penggunaan HP dan lama waktu yang digunakan dalam berbicara acapkali memberikan pengaruh yang berbahaya terhadap manusia –seperti radiasi, gangguan pendengaran, dsb, wallahu a’lam–. Maka berhati-hatilah, demi menjaga keselamatan (kesehatan), karena keselamatan itu tidak ada sesuatu pun yang sebanding dengannya. Sekarang silakan anda perhatikan nukilan sebagian tulisan dalam pembahasan ini tentang bahaya (efek negatif) penggunaan HP.

Efek negatif HP terhadap kesehatan
Riset ilmiah yang dilakukan dengan sangat teliti oleh seorang peneliti Saudi, Dr. Sari’ bin Hamd Ad-Dausari –seorang ahli THT (telinga, hidung, dan tenggorokan), dan dia adalah ketua lembaga Al-Jum’iyyah As-Su’udiyyah urusan THT, kepala, dan leher– telah mengungkap tentang hilangnya indera pendengaran salah seorang pekerja Saudi akibat penggunaan HP dengan frekuensi yang sangat tinggi.
Dr. Ad-Dausari menyimpulkan hasil penelitiannya tersebut ketika memeriksa pasien rawat jalan di RS Universitas King Abdul Aziz, Saudi. Pasien tersebut adalah seorang pekerja berusia 40 tahun. Ia mengeluhkan pendengaran telinga kanannya berkurang selama tiga bulan, disamping rasa hangat dan sakit di telinga. Dia mengatakan bahwa gejala ini terjadi ketika beberapa menit menggunakan ponsel dan baru hilang satu jam kemudian.
Dr. Sari’ menambahkan, pasien tersebut menggunakan ponsel lebih dari 90 menit dalam sehari di telinga kanannya. Hal itu berlangsung selama lebih dari dua tahun. Kemudian dia rutin berkunjung ke klinik setiap tiga bulan. Setelah dilakukan pemeriksaan medis secara saksama, terlihat bahwa pendengaran berkurang sekitar 25 dB (desibel, satuan untuk mengukur kerasnya suara atau ketajaman pendengaran) pada telinga kanan. Berkurangnya pendengaran tersebut semakin besar dengan bertambahnya waktu penggunaan ponsel. Kemudian si pasien diminta menggunakan ponsel di telinga kirinya.
Setelah enam bulan, pendengaran telinga kanan mulia membaik. Telinga kanan semakin membaik ketika penggunaan ponsel dihentikan. Namun ketika kembali menggunakan ponsel pada telinga kanan tersebut, pendengarannya kembali berkurang. Pasien disarankan untuk menggunakan telepon biasa dan mengurangi penggunaan ponsel serta speakerphone. Pasien pun mengurangi penggunaan ponsel sampai 15 menit sehari. Dengan cara ini, sembuhlah penderitaannya. Namun, si pasien tetap mengalami sedikit pengurangan pendengaran secara permanen.
Dr. Ad-Dausari mengungkapkan hal itu dalam sebuah artikel yang diterbitkan oleh WHO berjudul Efek ponsel terhadap kesehatan dan perlunya penelitian lebih lanjut. Semakin meningkat penggunaan telepon seluler berarti semakin menambah efek secara biologis maupun kesehatan, karena paparan gelombang elektromagnetik dari perangkat portabel atau menara transmisi booster. Penelitian yang dipublikasikan menunjukkan adanya efek kerusakan kesehatan, seperti: kelelahan, sakit kepala, pusing, dan gangguan tidur.

Mengambil manfaat dari HP
1. Menyambung hubungan dengan keluarga dan kerabat anda (silaturahim).
2. Menelepon para ulama dan bertanya kepada mereka tentang beberapa masalah yang terjadi.
3. Membantu memenuhi kebutuhan anda baik dalam perkara agama maupun dunia.
4. Merekam suara bacaan Al-Qur’an, tulisan, dan ceramah agama.
5. Mengambil manfaat dari situs-situs internet yang bermanfaat.
6. Turut serta dalam kegiatan yang ilmiah di internet.
7. Membangunkan orang tidur (misalnya dengan mengaktifkan jam alarm).
8. Pengingat jadwal kegiatan anda baik umum maupun khusus, termasuk pengingat telah masuknya waktu shalat.
9. Mengetahui keadaan (kabar) seorang ulama.
10. Dakwah di jalan Allah l.
11. Mengambil gambar (foto) pemandangan alam yang tidak ada gambar makhluk bernyawa yang dengannya akan membantu anda dalam mengingat Allah l sehingga akan bertambahlah keimanan anda kepada Allah l sebagai Dzat yang Maha Menciptakan, Rabb, Pemberi Rezeki, dan yang mengatur alam semesta ini. Dia adalah Ilah yang satu (satu-satunya Dzat yang berhak diibadahi) tidak ada sekutu bagi-Nya. Sungguh indah apa yang diungkapkan oleh seseorang:
وَفِي كُلِّ شَيْءٍ لَهُ آيَةٌ      تَدُلُّ عَلَى أَنَّهُ وَاحِدُ
Dan dalam segala sesuatu di alam ini terdapat ayat (tanda kekuasaan)-Nya
Yang menunjukkan bahwa Dia adalah Dzat Yang Maha Esa.

13. Memberikan pertolongan pertama pada kecelakaan.

Catatan penting
Beberapa bimbingan penggunaan HP di atas juga bisa dijadikan acuan dalam penggunaan komputer dan internet, jika didapati kondisi yang sama dengan HP.
وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ

(Diterjemahkan oleh Al-Ustadz Abu ‘Abdillah Kediri, dari http://www.sahab.net/forums/showthread.php?t=368419)

Lima Susuan Penyebab Mahram

Kita telah mengetahui bahwa syarat penyusuan (radha’) yang menyebabkan terjalinnya hubungan mahram antara anak susu dan keluarga ibu susunya adalah lima penyusuan, sebagaimana dalam hadits Aisyah x yang diriwayatkan Al-Imam Muslim dalam Shahihnya:
كَانَ فِيْمَا أُنْزِلَ مِنَ الْقُرْآنِ عَشْرُ رَضَعَاتٍ مَعْلُوْمَاتٍ يُحْرِمْنَ، ثُمَّ نُسِخَ بِخَمْسٍ مَعْلُوْمَاتٍ
“Dulunya Al-Qur’an turun menyebutkan sepuluh kali penyusuan yang dimaklumi dapat mengharamkan, kemudian dihapus ketentuan tersebut menjadi lima kali penyusuan.”
Yang menjadi pertanyaan: apa yang dimaksud dengan lima penyusuan tersebut, apakah lima isapan, lima kali menarik napas, ataukah lima kali waktu makan?

 

Jawab:
Fadhilatusy Syaikh Al-Allamah Muhammad ibnu Shalih Al-Utsaimin t membawakan pembahasan tentang masalah di atas dalam kitabnya yang sangat bernilai, Asy-Syarhul Mumti’ ‘ala Zadil Mustaqni’ (13/430-432).
Beliau t berkata, “Sebagian ahlul ilmi mengatakan lima sedotan/isapan, berdasarkan sabda Rasulullah n:
لاَ تُحَرِّمُ الْمَصَّةُ وَالْمَصَّتاَنِ
“Satu isapan dan dua isapan tidaklah mengharamkan.”1
Dalam hadits di atas, Rasulullah n mengaitkan hukum dengan isapan. Berdasarkan pendapat ini, memungkinkan terjadinya penyusuan yang membuat hubungan kemahraman dalam waktu sekitar tiga detik. Karena bila si bayi mengisap kemudian menelan susu, mengisap lagi lalu menelannya, mengisap yang berikutnya sampai lima kali isapan, berarti telah ditetapkan hukum penyusuan.
Sebagian yang lain berpendapat lima kali menarik napas, berdasarkan sabda Rasulullah n:
لاَ تُحَرِّمُ الْإِمْلاَجَةُ وَالْإِمْلاَجَتَانِ
“Satu imlajah dan dua imlajah tidaklah mengharamkan.”2
Imlaj adalah masuknya puting ke mulut bayi3. Selama puting tersebut berada dalam mulutnya walaupun ia telah mengisap seratus kali maka tetap teranggap satu kali susuan. Berdasarkan pendapat ini bila si bayi mengisap puting kemudian menelan susu (ASI), lalu mengisap lagi kemudian menelannya, mengisap lagi lalu menelannya dalam satu napas/tidak diselingi dengan menarik napas, setelahnya ia melepas puting yang dikulumnya (untuk menarik napas), kemudian ia kembali mengisap puting berarti teranggap susuan yang kedua.
Sebagian mereka berpendapat lima kali sajian, sebagaimana seseorang mengatakan: lima kali makan, maka pasti ada tenggang waktu terputus/terpisahnya susuan kedua dari susuan yang pertama. Adapun selama si bayi masih dalam pangkuan ibu yang menyusuinya maka tetap teranggap satu kali susuan. Sebagaimana Anda katakan, “Ini satu hidangan/sajian makan. Ini makan siang atau ini makan malam,” dan yang serupa dengannya. Makan malam bukanlah satu suapan yang Anda angkat ke mulut, tapi banyak suapan. Demikian pula makan pagi (dengan kurma misalnya, pen.), tidak setiap kurma yang Anda telan diistilahkan makan pagi. Namun makan pagi adalah seluruh makanan/kurma yang Anda makan saat itu.
Berdasarkan hal ini, maka yang dimaksud dengan satu penyusuan adalah satu perbuatan dari menyusui yang terpisah dari penyusuan berikutnya/lainnya. Adapun semata melepaskan mulut dari puting tidaklah teranggap satu susuan secara hakiki4.
Satu contoh: Bila seorang ibu menyusui seorang bayi pada pagi hari pukul 08.00, setelah itu berhenti. Pukul 09.00 si anak disusui lagi. Nanti pukul 10.00 disusui lagi pada kali yang ketiga. Demikian pula pada pukul 11.00 dan nanti pukul 12.005, maka ini adalah lima kali susuan, walaupun tempat penyusuannya sama.
Adapun mengisap puting kemudian melepaskannya untuk bernapas, lalu kembali menyusu, setelahnya dilepas lagi untuk bernapas, kemudian kembali menyusu, demikian berulang sebanyak lima kali tetapi tetap dalam satu majelis, tidaklah teranggap sebagai lima susuan menurut pendapat ini.
Bila demikian, pendapat manakah yang lebih kuat?
Kami jawab: Yang asal, bila seperti di atas tidak teranggap lima susuan. Kami tidak yakin terjadinya lima susuan kecuali dengan lima kali waktu makan/minum atau lima sajian. Adapun penyusuan seperti yang digambarkan di atas6, secara asal tidaklah memberi pengaruh7. Karena itu, kita ambil yang lebih hati-hati. Sementara, yang hati-hati tidak lain kecuali lima sajian, bukan lima kali isapan dan bukan pula lima kali bernapas. Ini pendapat yang dipilih oleh syaikh kami Abdurrahman bin Sa’di t dan yang nampak dari pendapat yang dipilih Ibnul Qayyim t.
Bila ada yang bertanya, “Kenapa tidak kita jadikan lima isapan sebagai pendapat yang lebih hati-hati?”
Kita jawab: Ini musykil (mendatangkan kesulitan/masalah), karena bila kita berhati-hati dalam satu sisi, kita akan menyia-nyiakan sisi yang lain. Misalnya: Ada seorang bayi perempuan menyusu pada seorang wanita sebanyak lima isapan. Apabila kita memilih yang lebih hati-hati, kita katakan: bayi perempuan tersebut menjadi saudara perempuan dari anak laki-laki yang menyusu pada wanita yang sama, sehingga haram bagi si anak lelaki tersebut kelak menikahinya. Namun, datang pada kita perkara lain yang merupakan lawan dari kehati-hatian ini, yaitu bila kita katakan bayi perempuan itu saudara perempuan dari si anak lelaki, maka lazimnya kelak ia boleh berduaan dengannya, safar bersamanya, dan si perempuan boleh membuka wajah di hadapannya (tentunya yang seperti ini tidak hati-hati). Yang lebih hati-hati adalah si perempuan tidak melakukannya dan ia tidak boleh atau dilarang melakukannya. Ini tentunya kalau kita berpendapat susuan demikian (hanya lima isapan) tidak memberi pengaruh. Dengan seperti ini, kita tidaklah berhati-hati dari satu hal kecuali kalau kita menggugurkan yang lainnya. Karena itu, kita kembali kepada asal bahwa penyusuan demikian tidak berpengaruh. Pendapat inilah yang sesuai dengan kaidah-kaidah dan ushul.
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.


1 HR. Muslim no. 1450
2 HR. Muslim no. 1451
3 Dengan demikian satu atau dua imlaj berarti satu atau dua kali masuknya puting ke mulut bayi. (pen.)
4 Dalam Al-Umm (5/27) disebutkan bentuk satu kali penyusuan adalah seorang bayi mengisap ASI dari puting sampai puas/kenyang, lalu ia melepaskan puting tersebut, sekalipun dalam waktu menyusu itu ia berhenti sejenak dari mengisap puting untuk bermain-main atau menghirup napas, maka tetap terhitung satu kali penyusuan. (pen.)
5 Ada jeda/tenggang waktu antara satu penyusuan dengan penyusuan berikutnya. (pen.)
6 Yaitu mengisap puting kemudian melepaskannya untuk bernapas, lalu kembali menyusu, setelahnya dilepas lagi untuk bernapas, kemudian kembali menyusu, demikian berulang sebanyak lima kali namun tetap dalam satu majelis. (pen.)
7 Tidak menjadikan hubungan kemahraman karena baru terhitung satu kali penyusuan. (pen.)

Haid, Ibadah Haji dan Umrah

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah)

 

Hukum-hukum shalat dan puasa bagi wanita haid telah kita bahas dalam edisi-edisi yang lalu. Namun, kami masih tergerak untuk membicarakan tentang haid sebagai satu kebiasaan yang telah Allah l tetapkan terhadap kaum hawa1. Keinginan kami adalah agar masalah haid bisa dibahas dari berbagai hukum ibadah agar tidak menyisakan atau meminimalkan isykal/kerumitan/masalah di kalangan wanita. Namun karena keterbatasan ilmu yang ada pada kami, pastilah pembahasan yang ada belum memuaskan pembaca dan tentu banyak sisi yang luput dari pembicaraan dan banyak kekurangan di sana-sini, wallahul musta’an.
Bagaimanapun, kami hanya berusaha sebatas apa yang kami mampu. Bila pembaca menginginkan, bisa kembali kepada kitab-kitab fiqih yang luas karya ulama kita rahimahumullah.
Seperti yang kami katakan di atas, kali ini kami masih ingin membahas tentang haid dan kami memilih mengaitkannya dengan satu ibadah yang merupakan rukun Islam kelima, yaitu haji ditambah dengan amalan umrah.

Hukum ihram bagi wanita haid, baik ihram untuk haji atau untuk umrah.
Al-Imam An-Nawawi t menghikayatkan adanya kesepakatan ahlul ilmi tentang sahnya wanita nifas dan haid berihram. Disunnahkan bagi si wanita untuk mandi sebelum ihram, sebagaimana disunnahkan pula bagi selain wanita haid. (Al-Minhaj, 8/372)
Bahkan untuk wanita haid, mandi ini lebih ditekankan karena adanya hadits yang menyebutkannya. (Al-Mughni, Kitabul Hajj, bab Dzikrul Ihram)
Di antaranya:
1. Hadits Jabir bin Abdillah c yang panjang tentang kisah haji Rasulullah n. Di antaranya ia berkata:
حَتَّى أَتَيْنَا ذَا الْحُلَيْفَةِ فَوَلَدَتْ أَسْمَاءُ بِنْتُ عُمَيْسٍ مُحَمَّدَ بْنَ أَبِي بَكْرٍ، فَأَرْسَلْتُ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ n: كَيْفَ أَصْنَعُ؟ قَالَ: اغْتَسِلِي وَاسْتَنْفِرِي بِثَوْبٍ وَأَحْرِمِي
Hingga ketika kami tiba di Dzul Hulaifah2, Asma’ bintu Umais melahirkan putranya yang bernama Muhammad bin Abi Bakr. Asma’ mengirim orang menemui Rasulullah n untuk menanyakan, “Apa yang harus kuperbuat?”3 Rasulullah n bersabda, “Mandilah dan tutuplah (tempat keluar darah nifas) dengan kain dan berihramlah.” (HR. Muslim no. 2941)
Wanita haid hukumnya sama dengan wanita nifas.

2. Hadits Ibnu Abbas c dari Nabi n, beliau bersabda:
الْحَائِضُ وَالنُّفَسَاءُ إِذَا أَتَتَا عَلَى الْوَقْتِ تَغْتَسِلاَنِ وَتُحْرِمَانِ وَتَقْضِيَانِ الْمَنَاسِكَ كُلَّهَا غَيْرَ الطَّوَافِ بِالْبَيْتِ
“Wanita nifas dan haid, bila keduanya mendatangi miqat, hendaknya keduanya mandi dan berihram serta menunaikan manasik seluruhnya selain thawaf di Baitullah.” (HR. Abu Dawud no. 1744 dan selainnya, dishahihkan dalam Shahih Abi Dawud)

3. Nabi n memerintahkan Aisyah x mandi karena berihram haji dalam keadaan haid4. (HR. Ibnu Majah no. 641, dishahihkan dalam Al-Irwa’ no. 134, Ash-Shahihah no. 188)
Namun, sebagian ahlul ilmi menyatakan jika wanita haid tersebut ada harapan suci sebelum keluar dari miqat, disenangi baginya menunda mandi sampai ia suci agar lebih sempurna baginya. (Al-Majmu’, 7/220)

Hukum thawaf ketika haid
Ulama sepakat, wanita yang sedang haid tidak boleh melakukan thawaf di Baitullah. (Al-Iqna’ fi Masailil Ijma’, 1/270)
Ibnu Hazm t berkata, “Larangan shalat, puasa, thawaf, dan jima’ pada kemaluan ketika sedang haid merupakan ijma’ yang diyakini lagi dipastikan. Tidak ada perselisihan di dalamnya di antara seorang pun dari pemeluk Islam.” (Al-Muhalla, 1/380)
Namun, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t memberikan batasan/ketentuan bahwa ijma’/kesepakatan tersebut –terkhusus masalah larangan thawaf bagi wanita haid– adalah bila ia melakukan thawaf dalam keadaan tidak darurat. Adapun bila darurat, lain lagi pembicaraannya (tentang hal ini akan dibahas pada edisi mendatang, insya Allah, pen.), karena beliau menyatakan, “Adapun masalah yang aku tidak mengetahui ada perselisihan di dalamnya adalah seorang wanita tidak boleh thawaf dalam keadaan haid, jika memang dia mampu untuk thawaf dalam keadaan suci nantinya. Aku tidak tahu ada perselisihan tentang haramnya thawaf tersebut baginya dan ia berdosa bila melakukannya.” (Majmu’ Fatawa, 26/206)
Bila ternyata wanita haid itu tetap melakukan thawaf, ulama berbeda pendapat tentang sah atau tidaknya thawaf tersebut. Mayoritas ahlul ilmi (Al-Majmu’, 8/23), termasuk pendapat Malikiyyah (Al-Ma’unah, 1/186), Syafi’iyyah, Hanabilah dalam satu pendapat (Al-Majmu’, 8/23), dan Zhahiriyyah (Al-Muhalla, 5/189) memandang thawafnya tidak sah, karena menurut mereka, thaharah dari hadats merupakan syarat thawaf, sehingga orang yang melakukan thawaf harus dalam keadaan suci. Dalil mereka di antaranya:
1. Hadits Aisyah x:
أَنَّ أَوَّلَ شَيْءٍ بَدَأَ بِهِ حِيْنَ قَدِمَ النَّبِيُّ n أَنَّهُ تَوَضَّأَ ثُمَّ طَافَ ….
“Yang awal dilakukan Nabi n ketika beliau tiba di Makkah adalah berwudhu kemudian thawaf…” (HR. Al-Bukhari no. 1614 dan Muslim no. 2991)

2. Hadits Jabir c bahwasanya Nabi n bersabda:
لِتَأْخُذُوا عَنِّي مَنَاسِكَكُمْ
“Ambillah dariku manasik kalian.” (HR. Muslim no. 3124)
Makna ucapan Nabi n di atas adalah bahwa urusan-urusan yang aku lakukan dalam hajiku, baik ucapan, perbuatan maupun penampilan, merupakan urusan dan tata cara haji. Ini adalah manasik kalian, hendaklah kalian mengambilnya dariku. Terimalah manasik ini, hafalkan/jagalah, amalkan dan ajarkanlah kepada orang-orang. (Al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim, 9/50)
Adapula yang berpendapat sah thawafnya, namun ia berdosa. Demikian pendapat Hanafiyyah (Al-Mabsuth, 4/38), satu riwayat dari Al-Imam Ahmad (Al-Majmu’, 8/23), dan pendapat yang dipilih Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (Majmu’ Fatawa, 26/213) sebagaimana telah diisyaratkan di atas, karena beliau memandang thaharah bukanlah syarat sahnya thawaf tapi merupakan kewajiban. Sebagaimana pernyataan beliau, “Pewajiban thaharah dan menutup aurat di dalam thawaf yang tsabit/pasti dengan dalil nash adalah masalah yang disepakati. Adapun keterangan pasti akan keharusan thaharah sebagai syarat dalam thawaf sebagaimana shalat (dipersyaratkan thaharah), ada perbedaan pendapat tentangnya.” (Majmu’ Fatawa, 26/222-223)
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Apa yang harus dilakukan oleh wanita yang berhaji tamattu’5 bila ia haid sebelum thawaf umrah dan khawatir tidak bisa melakukan amalan haji?
Yang dimaksudkan di sini adalah wanita yang berihram untuk umrah, setelah selesai dari umrah ia bertahallul, kemudian berihram untuk haji di tahun itu juga. Wanita tersebut misalnya tiba di Makkah tanggal 5 Dzulhijjah. Ternyata ia haid dan kebiasaan haidnya 6 hari. Berarti, ia akan suci tanggal 11 Dzulhijjah, sedangkan waktu wukuf telah berlalu (tanggal 9 Dzulhijjah). Dengan demikian, ia luput menunaikan haji. Kondisinya sekarang, karena sedang haid ia tidak mungkin melakukan thawaf, sa’i, dan mengakhiri umrahnya. Lalu apa yang harus ia lakukan?
Jumhur ulama, di antaranya ulama Malikiyyah, Syafi’iyyah, Hanafiyyah, Zhahiriyyah, pendapat Al-Auza’i dan kebanyakan ulama lainnya, menyatakan ia berihram untuk haji bersama umrahnya sehingga hajinya menjadi haji qiran. Hal ini dengan dalil hadits Jabir ibnu Abdillah c, ia berkata:
أَقْبَلْنَا مُهِلِّيْنَ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ n بِحَجٍّ مُفْرَدٍ، وَأَقْبَلَتْ عَائِشَةُ x بِعُمْرَةٍ حَتَّى إِذَا كُنَّا بِسَرَفٍ عَرَكَتْ، حَتَّى إِذَا قَدِمْنَا طُفْنَا بِالْكَعْبَةِ وَالصَّفَا وَالْمَرْوَةِ، فَأَمَرَناَ رَسُوْلُ اللهِ n أَنْ يَحِلَّ مِنَّا مَنْ لَمْ يَكُنْ مَعَهُ هَدْيٌ. قَالَ: فَقُلْنَا: حِلُّ مَاذَا؟ قَالَ: الْحِلُّ كُلُّهُ. فَوَاقَعْنَا النِّسَاءَ وَتَطَيَّبْنَا بِطِيْبٍ وَلَبِسْنَا ثِيَابَنَا وَلَيْسَ بَيْنَنَا وَبَيْنَ عَرَفَةٍ إِلاَّ أَرْبَعُ لَيَالٍ، ثُمَّ أهْلَلْنَا يَوْمَ التَّرْوِيَة، ثُمَّ دَخَلَ رَسُوْلُ اللهِ n عَلَى عَائِشَةَ x، فَوَجَدَهاَ تَبْكِي. فَقَالَ: مَا شَأْنُكِ؟ قَالَتْ: شَأْنِي أَنِّي قَدْ حِضْتُ وَقَدْ حَلَّ النَّاسُ وَلَمْ أَحْلِلْ، وَلَمْ أَطُفْ بِالْبَيْتِ وَالنَّاسُ يَذْهَبُوْنَ إِلَى الْحَجِّ الْآنَ. فَقاَلَ: إِنَّ هذِهِ أَمْرٌ كَتَبَهُ اللهُ عَلَى بَناَتِ آدَمَ، فَاغْسِلِيْ ثُمَّ أَهِلِّي بِالْحَجِّ. فَفَعَلَتْ وَوَقَفَتِ الْمَوَاقِفَ حَتَّى إِذَا طَهَرَتْ طَافَتْ بِالْكَعْبَةِ وَالصَّفَا وَالْمَرْوَةَِ. ثُمَّ قَالَ: قَدْ حَلَلْتِ مِنْ حَجِّكِ وَعُمْرَتِكِ جَمِيْعًا. قَالَتْ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، إِنِّي أَجِدُ فِي نَفْسِي أَنِّي لَمْ أَطُفْ بِالْبَيْتِ حَتَّى حَجَجْتُ. قَالَ: فَاذْهَبْ بِهَا يَا عَبْدَ الرَّحْمنِ، فَأَعْمِرْهَا مِنَ التَّنْعِيْمِ
Kami datang bertalbiyah bersama Rasulullah n dengan haji ifrad dan Aisyah x datang dengan umrah6, hingga ketika kami tiba di Sarf ia haid. Saat kami tiba di Makkah, kami thawaf di Ka’bah dan melakukan sa’i di Shafa dan Marwah. Kemudian, Rasulullah n memerintahkan orang-orang yang tidak membawa hewan hadyu7 di antara kami agar bertahallul8. Jabir berkata, “Kami bertanya, ‘Tahallul dari apa?’.” Beliau menjawab, “Halal dari segala sesuatu yang semula diharamkan karena sedang berihram.” Kami pun menggauli istri-istri kami, memakai wangi-wangian, dan mengenakan pakaian yang biasa kami kenakan (tidak lagi mengenakan pakaian ihram, pen.). Jarak waktu kami dengan hari Arafah hanya empat malam. Kemudian pada hari Tarwiyah (tanggal 8 Dzulhijjah) kami bertalbiyyah untuk haji. Ketika itu Rasulullah n masuk ke tempat Aisyah x dan mendapatinya sedang menangis. Rasulullah n bertanya, “Ada apa denganmu?” Aisyah menjawab, “Aku haid, sementara orang-orang telah bertahallul (dari umrah mereka), sedangkan aku belum tahallu, karena aku belum thawaf di Baitullah. Sekarang orang-orang pergi untuk berhaji.” Rasulullah bersabda, “Haid adalah sesuatu yang telah ditetapkan Allah l terhadap anak-anak perempuan Adam. Mandilah engkau kemudian bertalbiyahlah untuk haji.” Aisyah pun melakukan apa yang diperintahkan dan wukuf di tempat wukuf. Ketika ia telah suci, ia thawaf di Ka’bah dan sa’i di antara Shafa dan Marwah. Rasulullah n berkata, “Engkau telah tahallul dari haji dan umrahmu sekaligus9.” Aisyah berkata, “Wahai Rasulullah, aku merasakan tidak enak dalam hatiku, karena belum thawaf umrah hingga aku berhaji.” Rasulullah bersabda, “Bawalah dia wahai Abdurrahman. Umrahkan dia dari Tan’im.” (HR. Muslim no. 2929)
Hadits di atas merupakan dalil wajibnya wanita yang mengalami kejadian seperti Aisyah x berihram untuk haji sehingga hajinya menjadi haji qiran, karena Rasulullah n memerintahkan Aisyah x untuk melakukannya. Sementara, hukum asal perintah adalah wajib.
Disamping itu, ibadah haji merupakan kewajiban yang harus segera ditunaikan, tidak boleh ditunda. Bila si wanita yang sedang haid itu tidak berihram untuk haji niscaya ia akan kehilangan haji pada tahun tersebut.
Alasan lain, seseorang sebenarnya datang ke Makkah untuk haji, sedangkan umrah ditunaikan karena ingin berhaji setelahnya. Umrah sendiri bisa ditunaikan di setiap waktu dan tidak mungkin si wanita menunaikan haji ketika itu terkecuali ia telah tahallul dari umrahnya. Dalam situasi seperti ini, mustahil ia bertahallul dari umrahnya karena tidak bisa thawaf di Ka’bah akibat haid yang menimpanya. Maka dari itu, tidak ada yang tersisa baginya kecuali berihram untuk haji, dan dinamakan haji qiran.
Makna berihram untuk haji adalah memasukkan haji kepada umrah dan bukan membatalkan umrah, karena kalau umrah dibatalkan berarti hajinya ifrad. Sementara Rasulullah n berkata kepada Aisyah x:
يَسَعُكِ طَوَافُكِ لِحَجِّكِ وَعُمْرَتِكِ
“Thawafmu di Baitullah mencukupimu untuk haji dan umrahmu.” (HR. Muslim no. 2925)
Dalam riwayat lain:
يُجْزِءُ عَنْكِ طَوَافُكِ بِالصَّفَا وَالْمَرْوَةِ عَنْ حَجِّكِ وَعُمْرَتِكِ
“Thawafmu (sa’i) antara Shafa dan Marwah mencukupimu dari amalan haji dan umrahmu.” (HR. Muslim no. 2926)
Misalnya, bila ada seorang wanita berihram untuk umrah, setelahnya bertahallul. Ketika hari Tarwiyah nanti ia akan berihlal (talbiyah) untuk haji (tamattu’). Namun setelah thawaf di Baitullah, sebelum sempat sa’i, ia haid. Tidak mungkin di saat itu dia berihram untuk haji (memasukkan haji pada umrahnya sehingga hajinya menjadi qiran), karena termasuk syarat bolehnya memasukkan haji pada umrah adalah sebelum dilakukannya thawaf, sedangkan si wanita telah selesai mengerjakan thawaf.
Bila demikian, apa yang harus dilakukannya?
Si wanita melakukan sa’i antara Shafa dan Marwah, karena orang yang berhadats besar, seperti junub dan haid –apatah lagi orang yang berhadats kecil– diperkenankan untuk melakukan sa’i. Namun di atas thaharah tentu lebih utama.
Menunaikan setiap ibadah dalam keadaan bersuci tentu lebih utama. Namun bila telah datang waktu haji sementara ia belum suci dari haid, ia tetap berihram karena haid tidak menghalanginya untuk berihram. Dalilnya hadits Asma’ bintu Umais x yang telah disebutkan.
Bila haid menimpa seorang wanita ketika ia melakukan thawaf, ia tidak boleh menyempurnakan thawafnya karena haidnya. Dia harus berhenti dan membatalkan thawafnya. Bila ia khawatir luput mengerjakan haji, ia berihram untuk haji (melaksanakan haji qiran). (Asy-Syarhul Mumti’, 7/ 98-100)
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.
(Insya Allah bersambung)


1 Sebagaimana kata Rasulullah n kepada istrinya Aisyahx:
إِنَّ هذِهِ أَمْرٌ كَتَبَهُ اللهُ عَلَى بَناَتِ آدَمَ
“Haid ini merupakan perkara yang telah Allah l tetapkan terhadap anak-anak perempuan Adam.” (HR. Muslim no. 2929)
2 Miqat bagi penduduk Madinah.
3 Setelah melahirkan, sementara mereka telah berada di miqat.
4 Ketika itu Rasulullah n bersabda kepada Aisyah x:
انْقُضِي شَعْرَكِ وَاغْتَسِلِي
“Gerailah rambutmu dan mandilah.”
5 Silakan lihat kembali kajian utama majalah Asy-Syariah Vol.III/No. 27/1427/2006 tentang jenis-jenis haji yang tiga: haji tamattu’, qiran, dan ifrad.
6 Rasulullah n memang mempersilakan para sahabatnya untuk memilih jenis haji yang hendak ditunaikan. Beliau n bersabda:
مَنْ أَرَادَ مِنْكُمْ أَنْ يُهِلَّ بِحَجٍ وَعُمْرَةٍ فَلْيَفْعَلْ، وَمَنْ أَرَادَ أَنْ يُهِلَّ بِحَجٍ فَلْيُهِلَّ، وَمَنْ أَرَادَ أَنْ يُهِلَّ بِعُمْرَةٍ فَلْيُهِلَّ
“Siapa di antara kalian yang ingin berihlal/berrtalbiyah dengan haji dan umrah maka silakan ia lakukan. Siapa di antara kalian yang ingin berihlal dengan haji maka silakan ia berihlal. Dan siapa yang ingin untuk berihlal dengan umrah maka berihlallah.” (HR. Muslim no. 2905)
7 Yaitu hewan yang dihadiahkan untuk Al-Haram, nantinya disembelih dan dagingnya dibagi-bagikan kepada fakir miskin di sekitar Al-Haram.
8 Sehingga yang semula ingin melaksanakan haji qiran diganti menjadi haji tamattu’. Karena, ketika sampai di Makkah, Rasulullah n berkata kepada para sahabatnya, “Jadikanlah talbiyah kalian umrah.” Seselesainya dari amalan umrah, orang-orang pun bertahallul kecuali orang yang membawa hadyu. (HR. Al-Bukhari no. 305 dan Muslim no. 2911)
9 Al-Imam An-Nawawi t setelah membawakan hadits di atas dalam syarahnya terhadap Shahih Muslim menyatakan, ada tiga masalah yang bagus yang bisa diambil dari hadits tersebut:
Pertama: Aisyah x melaksanakan haji qiran dan tidak membatalkan umrahnya.
Kedua: Orang yang melaksanakan haji qiran cukup baginya satu thawaf dan satu sa’i untuk haji serta umrah. Ini madzhab Asy-Syafi’i dan jumhur ulama. Abu Hanifah dan sekelompok ulama lain berpendapat harus dua thawaf dan dua sa’i.
Ketiga: Pelaksanaan sa’i antara Shafa dan Marwah disyaratkan setelah thawaf yang shahih. Yang menunjukkan hal ini adalah Rasulullah n memerintahkan Aisyah x untuk melakukan semua yang dilakukan oleh orang yang berhaji (di saat ia mengadukan haidnya, pen.) kecuali thawaf di Baitullah. Aisyah juga tidak melakukan sa’i sebagaimana ia tidak berthawaf. Seandainya amalan sa’i tidak tergantung dengan thawaf yang harus dilakukan sebelumnya niscaya Aisyah tidak akan mengakhirkan pelaksanaan sa’i sampai ia suci. (Al-Minhaj, 8/393-394)

Mu’adzah Bintu ‘Abdillah

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu ‘Abdirrahman bintu ‘Imran)

 

Dia seorang tabi’iyah. Namanya Mu’adzah bintu Abdillah Al-’Adawiyyah Al-Bashriyyah rahimahallah. Berkuniah dengan Ummush Shahba’. Dia adalah istri seorang tabi’i yang mulia, Abush Shahba’, Shilah bin Asyyam t.
Dikenal sebagai seorang wanita yang berilmu. Dia mengambil hadits Rasulullah n dari ‘Ali bin Abi Thalib, ‘Aisyah Ummul Mukminin, Hisyam bin ‘Amir Al-Anshari, dan Ummu ‘Amr bintu ‘Abdillah bin Az-Zubair. Sederet ulama meriwayatkan hadits darinya.
Al-Imam Yahya bin Ma’in t menyatakan bahwa Mu’adzah rahimahallah adalah seorang yang tsiqah hujjah, mengisyaratkan akan kekokohan riwayatnya. Hadits yang diriwayatkannya adalah hadits-hadits yang dapat menjadi hujjah, termaktub dalam kitab-kitab yang mengumpulkan hadits-hadits shahih.
Mu’adzah t juga dikenal sebagai seorang wanita ahli ibadah. Dia biasa menghidupkan malam-malamnya dengan ibadah. Pernah dia menyatakan, “Aku sungguh heran dengan mata yang selalu tidur, padahal dia telah mengetahui adanya tidur panjang nanti di dalam kegelapan kubur.”
Dalam perguliran masa, ternyata Allah l tetapkan Mu’adzah ditinggalkan oleh orang-orang yang dicintainya. Suami dan putranya meninggal dalam suatu peperangan. Para wanita pun berdatangan dan berkumpul di sisi Mu’adzah.
“Selamat datang jika kalian datang untuk memberikan ucapan selamat!” kata Mu’adzah menyambut mereka. Dia pun melanjutkan, “Adapun jika tidak, maka lebih baik kalian kembali.”
Wanita mulia ini wafat pada tahun 83 H, meninggalkan ilmu yang begitu berharga. Semoga Allah l meridhainya.
Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.

Sumber bacaan:
• Siyar A’lamin Nubala’, Al-Imam Adz-Dzahabi (4/508-509)
• Tahdzibul Kamal, Al-Imam Al-Mizzi (35/308-309)

Yang Paling Taqwa Yang Paling Mulia

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu ‘Abdirrahman bintu ‘Imran)

 

Sembilan bulan berlalu. Tibalah saat yang begitu dinanti, menyambut kelahiran sang bayi. Selama dalam penantian, ayah dan ibu menyimpan berjuta harapan dan impian terindah. 
Tak pernah ada orang tua yang berharap mendapatkan seorang anak yang tak sempurna. Masing-masing mengidamkan anak yang sehat sempurna lagi rupawan. Namun terkadang impian mereka sekian lama tidak terwujud. Si kecil dilahirkan dengan berbagai kekurangan. Warna kulit yang tidak menarik, wajah tak seperti yang diharapkan, dan entah apa lagi kekurangan yang ada.
Sungguh, bagaimanapun keadaan anak kita, kita tak boleh menyesalinya. Bukan kita yang berkehendak, lebih-lebih si anak. Sama sekali bukan pilihannya untuk dilahirkan dengan menyandang kekurangan. Semua yang ada padanya, Allah l-lah yang membentuk dan menciptakannya dengan kesempurnaan ilmu dan hikmah-Nya.
Dalam Tanzil-Nya yang mulia, Allah l berfirman:
“Dialah yang membentuk kalian di dalam rahim sebagaimana yang Dia kehendaki. Tiada ilah yang berhak disembah selain Dia, Yang Mahaperkasa lagi Mahasempurna hikmah-Nya.” (Ali ‘Imran: 6)
Dalam ayat yang lain, Allah l berfirman:
“Maka terangkanlah tentang mani yang kalian pancarkan. Kaliankah yang menciptakannya atau Kamikah yang menciptakannya?” (Al-Waqi’ah: 58-59)
Allah l berfirman pula tentang manusia:
“Dari apakah Dia menciptakannya? Dari setetes mani Allah menciptakannya lalu menentukannya.” (‘Abasa: 18-19)
Demikianlah. Hanya Dia yang berkuasa dalam perkara ini, sebagaimana Allah l nyatakan:
“Dialah Allah Yang Maha Menciptakan, Yang Maha Mengadakan, dan yang membentuk rupa.” (Al-Hasyr: 24)
Tidak sepantasnya kita hanya memandang kelebihan dari sisi fisik semata. Betapa banyak orang yang Allah l karuniai ketampanan, kecantikan, dan keindahan jasmani, namun menjadi orang yang celaka di sisi Allah l. Sebaliknya, betapa banyak orang yang tak memiliki kelebihan dari segi fisik, bahkan memiliki berbagai kekurangan, ternyata dia menjadi seorang yang mulia di sisi Allah l. Ya, karena dia adalah seseorang yang memiliki ketakwaan kepada Allah l. Sementara Allah l telah berfirman:
“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (Al-Hujurat: 13)
Rasulullah n pun pernah bersabda:
إِنَّ اللهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى أَجْسَامِكُمْ وَلاَ إِلَى صُوَرِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوْبِكُمْ
“Sesungguhnya Allah tidak melihat pada fisik maupun bentuk kalian, akan tetapi Dia melihat kepada hati kalian.” (HR. Muslim no. 1987)
Lihatlah bagaimana Allah l menganugerahkan kemuliaan kepada seorang bekas budak yang tak memiliki ketampanan, bahkan dirinya memliki berbagai cacat dan kekurangan. ‘Atha’ bin Abi Rabah t, seorang tabi’in, bekas budak asal Afrika yang berkulit hitam, pesek hidungnya, jelek parasnya, buta sebelah matanya lagi pincang kakinya. Namun dia adalah seseorang yang merupakan salah satu tonggak ilmu, agama, kebaikan, dan keteladanan. Dia amat disegani oleh seluruh kalangan, bahkan oleh khalifah sekali pun. Penguasa saat itu, Khalifah Sulaiman bin Abdil Malik, mengakui kehinaan dirinya di hadapan seorang ‘Atha’ bin Abi Rabah. (Waratsatul Anbiya’, hlm. 33, 118)
Karena itu, jangan sampai kita terlampau kagum dengan ketampanan dan kecantikan salah seorang di antara anak-anak kita, sampai-sampai kita meremehkan bahkan menzalimi anak-anak yang lain. Jangan pula kekurangan yang dimiliki anak kita membuat kita malu dan mengesampingkannya. Jangan… Bahkan kita tidak mengetahui, barangkali justru dari anak yang sarat kekurangan kita akan dapati kebaikan dan bakti.
“Orangtua dan anak-anak kalian, kalian tidak tahu siapakah di antara mereka yang lebih dekat manfaatnya bagi kalian.” (An-Nisa’: 11)
Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.

Jangan Lalai dari Dzikrullah

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah)

 

Tak ada sepasang suami istri pun melainkan merindukan hadirnya anak di tengah mereka sebagai qurratu ‘ain, penyejuk mata dan hati mereka. Dapat dibayangkan betapa sepinya sebuah rumah tangga berikut hati penghuninya tatkala anak yang didamba tak jua diperoleh. Tak heran ketika lama tak dikaruniai anak, Nabiyullah Zakariyya q menyenandungkan doa kepada Al-Wahhab mengadukan keadaan dirinya:
Yaitu tatkala ia berdoa kepada Rabbnya dengan suara yang lembut/perlahan. Ia berkata, “Wahai Rabbku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau. Dan sungguh aku khawatir terhadap orang-orang yang ada di belakangku sepeninggalku nanti, sedang istriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahkanlah aku dari sisi Engkau seorang putra, yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebagian keluarga Ya’qub, dan jadikanlah dia, wahai Rabbku, seorang yang diridhai.” (Maryam: 3-6)
Dalam ayat lain:
“Wahai Rabbku, anugerahkanlah aku dari sisi Engkau seorang keturunan yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa.” (Ali ‘Imran: 38)
Ketika lama tak beroleh keturunan, Abul Anbiya (Bapak para nabi), Al-Khalil Ibrahim q juga berdoa:
“Wahai Rabbku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih.” (Ash-Shaffat: 100)
Para nabi merindukan anak. Setiap pasangan suami istri juga mendambakan anak, karena memang anak merupakan nikmat Allah l yang besar.
Ketika si anak telah hadir di tengah sebuah keluarga, kasih sayang, cinta dan perhatian yang besar pun tertumpu padanya. Ayah dan bunda rela mengorbankan apa saja demi kebahagiaan si buah hati.
Ini pula yang dirasakan oleh Nabiyullah Ibrahim q ketika Allah l menganugerahkan kepadanya Ismail, seorang anak yang amat penyabar. Betapa dalam cinta dan kasih Ibrahim kepada putranya ini. Namun di saat-saat yang demikian, Allah l hendak menguji Ibrahim, apakah ia lebih mencintai sang putra ataukah ia lebih cinta kepada Rabbnya yang telah memilihnya sebagai khalil/kekasih? Allah l memerintahkan Ibrahim agar membawa putranya yang masih bayi berikut ibunya, Hajar, ke sebuah lembah yang tiada berpenghuni, menempatkan anak dan ibu tersebut di tempat itu serta meninggalkan mereka berdua.
Nabi Ibrahim q ternyata lulus dari ujian tersebut. Dengan penuh keyakinan kepada Allah l bahwa Allah l tidak akan menelantarkan anak keturunannya, ditinggalkannya Ismail dan Hajar sang ibu, di lembah yang sepi. Memang Allah l menjaga Ismail dan ibunya, serta memuliakan keduanya. Akhirnya Allah l mempertemukan kembali Ibrahim dengan sang putra yang sangat dikasihi.
Allah lkembali hendak menguji cinta Ibrahim kepada-Nya dengan memerintahkan Ibrahim lewat mimpinya agar menyembelih putra terkasih yang kini telah menjadi seorang pemuda yang gagah. Kembali Ibrahim tunduk kepada titah Rabbnya ditambah kepasrahan sang putra. Allah l berfirman:
Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim telah membaringkan putranya di atas pelipisnya, nyatalah kesabaran keduanya. Dan Kami berseru kepadanya, “Wahai Ibrahim! Sungguh engkau telah membenarkan mimpi tersebut. Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar sebuah ujian yang nyata.” Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim pujian yang baik di kalangan orang-orang yang datang kemudian. Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya Dia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman. (Ash-Shaffat: 103-111)
Demikianlah, memang Allah l tidak menghendaki nikmat anak yang diberikan kepada hamba-hamba-Nya melalaikan mereka dari mengingat Allah l. Allah ltidak menginginkan mereka mengedepankan cinta mereka kepada anak lebih daripada cinta mereka kepada-Nya. Karena itu, Dia Yang Mahasuci mengingatkan dalam Tanzil-Nya:
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah harta-harta kalian dan anak-anak kalian melalaikan kalian dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.” (Al-Munafiqun: 9)
Dalam ayat di atas, Allah l berfirman memerintahkan hamba-hamba-Nya yang beriman agar banyak mengingat-Nya (berzikir kepada-Nya). Karena berzikir kepada-Nya akan memberikan keuntungan dan kesuksesan serta kebaikan yang banyak. Dia melarang mereka tersibukkan dengan harta-harta dan anak-anak dari mengingat-Nya, karena memang kecintaan kepada harta dan anak-anak merupakan tabiat yang mendominasi kebanyakan jiwa. Akibatnya, seseorang bisa mengedepankan cinta kepada harta dan anak daripada cinta kepada Allah l.
Dia mengabarkan kepada mereka bahwa tersibukkan dengan harta dan anak termasuk kelalaian. Artinya, terlalaikan oleh perhiasan kehidupan dunia dan gemerlapnya dari tujuan seseorang diciptakan, yaitu untuk taat kepada Rabbnya dan mengingat-Nya. Barangsiapa berbuat demikian, maka dia termasuk orang-orang yang merugi, yang merugikan diri mereka sendiri dan keluarga mereka pada hari kiamat.
Karenanya, Allah l berfirman: “Barangsiapa yang berbuat demikian,” yaitu harta dan anak melalaikannya dari berzikir kepada Allah l, “maka mereka itulah orang-orang yang merugi,” tidak beroleh kebahagiaan yang abadi dan kenikmatan yang kekal, disebabkan mereka lebih mengutamakan yang fana daripada yang kekal. (Tafsir Al-Qur’anil Azhim, 8/106, Taisir Al-­Karimir Rahman, hlm. 865)
Allah l juga berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istri dan anak-anak kalian ada yang menjadi musuh bagi kalian, maka berhati-hatilah terhadap mereka. Dan jika kalian memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni mereka maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya harta-harta kalian dan anak-anak kalian hanyalah fitnah1 bagi kalian, dan di sisi Allahlah pahala yang besar.” (At-Taghabun: 14-15)
Kata Al-Hafizh Ibnu Katsir t, di antara istri dan anak ada yang menjadi musuh suami dan ayah. Artinya, anak atau istri tersebut akan melalaikan seseorang dari beramal shalih. Harta dan anak-anak hanyalah fitnah, yaitu ujian dan cobaan dari Allah l kepada makhluk-Nya, agar Dia mengetahui siapa yang taat kepada-Nya dan siapa yang durhaka. (Tafsir Al-Qur’anil Azhim, 8/111)
Asy-Syaikh Al-’Allamah Abdurrahman ibnu Nashir As-Sa’di t dalam tafsirnya menyatakan, “Ini merupakan peringatan Allah l kepada orang-orang yang beriman agar tidak tertipu dengan para istri dan anak-anak, karena sebagian mereka merupakan musuh bagi kalian. Yang namanya musuh, tentu menginginkan kejelekan untukmu. Jadi, tugasmu adalah berhati-hati dari orang yang demikian sifatnya. Tambahan pula, jiwa tercipta untuk mencintai para istri dan anak-anak2. Oleh sebab itu, Allah l menasihatkan hamba-hamba-Nya agar kecintaan itu tidak sampai membawa mereka terikat dengan permintaan/tuntutan para istri dan anak-anak yang mengandung hal-hal yang dilarang syariat. Allah l memberikan hasungan kepada mereka untuk melaksanakan perintah-perintah-Nya dan mengedepankan keridhaan-Nya, berupa pahala yang besar di sisi-Nya, yang mencakup tuntutan yang tinggi dan kecintaan yang mahlm. Sebagaimana Dia memerintahkan mereka agar mementingkan dan mendahulukan akhirat daripada dunia fana yang akan berakhir.
Tatkala Dia melarang menaati istri-istri dan anak-anak dalam hal yang dapat memberikan mudarat kepada seorang hamba dan memperingatkan masalah ini, mungkin bisa timbul anggapan yang keliru, yaitu harus selalu bersikap keras lagi kaku kepada istri-istri dan anak-anak serta memberikan hukuman kepada mereka. Tidaklah demikian. Justru kita dihasung untuk memaafkan mereka, karena pemaafan mengandung kebaikan yang tidak mungkin dibatasi banyaknya.” (Taisir Al­-Karimir Rahman, hlm. 868)
Rasulullah n sendiri merasakan betapa besarnya ujian anak. Ketika tengah berkhutbah, beliau n sampai memutus khutbah beliau karena melihat kedua cucu beliau. Hal ini kita ketahui dari hadits Buraidah z berikut ini:
خَطَبَنَا رَسُوْلُ اللهِ n فَأَقْبَلَ الْحَسَنُ وَالْحُسَيْنُ c عَلَيْهِمَا قَمِيْصَانِ أَحْمَرَانِ يَعْثِرَانِ وَيَقُوْمَانِ، فَنَزَلَ فَأَخَذَهُمَا فَصَعِدَ بِهِمَا الْمِنْبَرَ ثُمَّ قَالَ: صَدَقَ اللهُ {إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَ أَوْلاَدُكُمْ فِتْنَةٌ} رَأَيْتُ هَذَيْنِ فَلَمْ أَصْبِرْ. ثُمَّ أَخَذَ فِي الْخُطْبَةِ
Rasulullah n sedang menyampaikan khutbah kepada kami, lalu datanglah Al-Hasan dan Al-Husain, semoga Allah l meridhai keduanya, dengan mengenakan qamis berwarna merah. Keduanya jatuh tergelincir dan bangun/bangkit kembali. Sebab itu, Rasulullah n turun dari mimbar, mengambil keduanya lalu naik mimbar sambil membawa keduanya. Kemudian beliau bersabda, “Mahabenar Allah, Dia telah berfirman: ‘Sesungguhnya harta-harta kalian dan anak-anak kalian hanyalah fitnah bagi kalian.’ Aku melihat kedua anak ini maka aku tidak sabar/tidak bisa menahan diri untuk menghampiri keduanya.” Setelah itu beliau mulai lagi berkhutbah. (HR. Abu Dawud no. 1109 dishahihkan dalam Shahih Abi Dawud)

Cinta kepada anak jangan melalaikan dari mengingat Allah l
Anak memang harus mendapatkan cinta, kasih sayang, dan perhatian. Namun kecintaan, kasih sayang dan perhatian kepadanya tidak boleh melalaikan kita dari ketaatan kepada Allah l dan berzikir kepada-Nya. Ingatlah kisah Ibrahim q berkaitan dengan putranya Ismail q. Pengorbanan Ibrahim q menunjukkan kepada kita betapa Ibrahim q sangat mencintai Rabbnya l dan tidak pernah lalai dari mengingat-Nya, walaupun ia memiliki anak yang sangat dikasihinya. Namun cinta-Nya kepada Allah lmengalahkan segalanya, karena memang itulah yang dituntut dari seorang hamba. Bukankah Allah l telah memperingatkan:
Katakanlah: “Jika bapak-bapak kalian, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluarga kalian, harta kekayaan yang kalian usahakan, perniagaan yang kalian khawatirkan kerugiannya, rumah-rumah tempat tinggal yang kalian sukai, adalah lebih kalian cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (At-Taubah: 24)
Ketaatan dan kecintaan kepada Rasulullah n pun harus dikedepankan daripada kecintaan kepada seluruh makhluk. Barangsiapa yang tidak melakukan yang demikian, maka ia tidaklah beriman dengan iman yang sempurna. Karena Rasulullah n bersabda:
لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ
“Tidaklah beriman salah seorang dari kalian sampai aku lebih ia cintai daripada anaknya, ayahnya, dan manusia seluruhnya.” (HR. Al-Bukhari no. 15 dan Muslim no. 44)

Menumbuhkan suasana zikir di dalam rumah
Betapa indahnya gambaran sebuah keluarga yang anggotanya tidak lalai dari berzikir kepada Allah l, senantiasa menghidupkan ketaatan kepada Allah l dan Rasul-Nya. Betapa tenteramnya hati mereka dan betapa damainya rumah mereka karena Allah l telah menyatakan:
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (Ar-Ra’d: 28)
Karena itu, seorang ayah sebagai kepada rumah tangga harus menghidupkan suasana zikir kepada Allah l di rumahnya. Ia harus mengajak anak-anak dan istrinya berikut penghuni rumah yang lain untuk selalu berzikir kepada Allah l. Zikir sendiri jangan dipahami seperti zikirnya orang-orang Sufi, berkumpul di satu tempat lalu menyuarakan zikir secara bersama-sama, berteriak dengan suara keras, mengucapkan lafadz-lafadz yang tidak ada tuntunannya dari Rasulullah n, ke mana-mana membawa dan mengalungkan biji-biji tasbih, serta berbagai perbuatan lain yang tidak ada tuntutan syar’inya.
Menghidupkan zikir di rumah bisa dilakukan dengan mengajak dan memerintahkan anak-anak agar rutin membaca Kitabullah, memperbanyak shalat nafilah di dalam rumah, mengucapkan doa dan zikir-zikir yang dituntunkan untuk perlindungan setiap pagi dan petang. Tidak lupa membaca doa sebelum makan dan minum, ketika mau tidur dan saat terbangun, ketika masuk WC, dan zikir-zikir lain yang diajarkan Nabi kita yang mulia n.
Saat si anak bersin, kita ingatkan dia agar mengucapkan hamdalah. Ketika ia menguap, kita ingatkan dia agar menutup mulutnya dan menahan suaranya serta mengucapkan kalimat isti’adzah.
Kecintaan kepada ilmu agama pun harus ditumbuhkan di tengah keluarga, karena belajar ilmu agama termasuk zikir kepada Allah l. Dengan belajar agama seseorang bisa mengetahui mana perkara yang bisa mendatangkan kecintaan Allah l dan mana yang bisa mendatangkan murka-Nya, sehingga apa yang mendatangkan cinta-Nya dikerjakan dan yang mengundang murka-Nya ditinggalkan.
Sang ayah harus cinta kepada ilmu syar’i, ibu juga demikian. Anak-anak tinggal mencontoh kedua orang tuanya setelah tentunya mereka dihasung dengan lisan.
Demikianlah di antara upaya yang bisa dilakukan untuk senantiasa mengingat Allah l dan tidak lalai dari-Nya.
Sebagai penutup, kita ingatkan kembali bahwa anak merupakan nikmat Allah l yang patut disyukuri. Salah satu bentuk kesyukuran kepada Dzat yang telah memberikan kenikmatan adalah dengan senantiasa mengingat-Nya dan mendidik anak untuk mengingat-Nya pula.
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.


“Dijadikan indah pada pandangan manusia kecintaan kepada syahwat berupa wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dai jenis emas, perak, kuda pilihan, hewan-hewan ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik.” (Ali ‘Imran: 14)

Mandi Biasa Tidak Mewakili Wudhu

Apakah mandi biasa (bukan wajib) sudah mencukupi untuk wudhu, artinya kita tidak usah wudhu lagi seusai mandi?
timxxxxxx@yahoo.co.id

Dijawab oleh Al-Ustadz Muhammad As-Sarbini Al-Makassari
Jika yang dimaksud dengan mandi biasa adalah mandi yang dilakukan sekadar untuk bersih-bersih dan menyegarkan tubuh, maka masalahnya jelas bahwa hal itu bukan ibadah yang terkait dengan bersuci dari hadats, dan tentu saja tidak mewakili wudhu. Demikian pula halnya jika yang dimaksud adalah mandi yang disyariatkan untuk shalat Jum’at1, mandi untuk shalat hari raya (‘Idul Fithri dan ‘Idul Adha) serta mandi lainnya yang disyariatkan bukan untuk mengangkat hadats. Mandi karena hal-hal tersebut tidak terkait dengan hadats, sehingga tidak bisa mewakili wudhu dalam mengangkat hadats kecil.
Hal ini difatwakan oleh Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz dalam Majmu’ Al-Fatawa (10/111-112).

 

 

BERWUDHU DENGAN AIR YANG TEPERCIK SABUN

Bolehkah berwudhu dengan air bak mandi yang terkena percikan sabun hingga berubah warna, bau, dan rasanya?
(Pertanyaan via sms
)
Dijawab oleh Al-Ustadz Muhammad As-Sarbini Al-Makassari
Air yang mengalami perubahan dari aslinya, baik perubahan warna, bau, atau rasa karena pengaruh campuran unsur lain yang suci, namun tidak didominasi oleh campuran tersebut dan masih tetap dinamakan air, tetap suci dan menyucikan (thahur). Seperti perubahan air bak yang bercampur dengan percikan sabun, air kolam yang kejatuhan daun-daun, air sawah yang bercampur tanah, atau yang lainnya. Ini tetap dinamakan air dan sah untuk wudhu atau mandi.
Berbeda halnya dengan air yang dicampur dengan bahan minuman seperti susu, kopi, teh, atau bumbu masakan, dan semacamnya, yang mendominasinya dan mengubah namanya menjadi nama lain, sehingga tidak lagi dinamakan air secara mutlak. Misalnya, dinamakan minuman teh, kopi, susu, atau kuah, dan yang semacamnya. Yang seperti ini sudah tidak termasuk kategori air yang menyucikan, meskipun suci. Dengan demikian, jenis ini tidak sah untuk wudhu dan mandi.
Di antara dalil yang menunjukkan hal ini adalah perintah Rasulullah n untuk berwudhu dengan air laut. Padahal air laut telah berubah rasanya menjadi asin dengan perubahan yang sangat drastis dari asal rasa air yang tawar. Demikian pula perintah Rasulullah n untuk menggunakan air yang dicampuri daun bidara (yang telah ditumbuk halus) bagi wanita yang mandi suci dari haid/nifas dan dalam memandikan jenazah. Padahal campuran daun bidara tersebut tentu saja akan memberi perubahan pada air.
Lebih dari itu, tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa air yang mengalami perubahan warna, bau, atau rasa oleh campuran unsur lain, tidak lagi termasuk kategori air yang menyucikan.
Inilah pendapat yang rajih (kuat) dalam masalah ini yang dipilih oleh Ibnu Taimiyah t dalam Majmu’ Al-Fatawa (21/17-20 cet. Darul Wafa’), Asy-Syaikh As-Sa’di dalam Al-Mukhtarat Al-Jaliyyah (hal.12-13), Asy-Syaikh Ibnu Baz dalam Majmu’ Fatawa (10/19-20), dan Asy-Syaikh Al-’Utsaimin dalam Asy-Syarhul Mumti’ (1/38, 44, cet. Muassasah Asam). Ini juga adalah mazhab Abu Hanifah dan salah satu riwayat dari Ahmad.
Kalau pun terjadi perubahan warna, bau, atau rasa karena pengaruh benda najis yang bercampur dengannya, air itu bernajis dan sudah tidak suci lagi. Salah satu saja dari tiga sifat tersebut yang berubah, baik warna, bau, atau rasanya, maka air itu telah ternajisi dan tidak sah untuk wudhu atau mandi.
Kesimpulannya, air hanya terbagi menjadi dua:
1.    Air yang suci lagi menyucikan (thahur), meskipun berubah sebagian sifatnya oleh campuran unsur suci, selama tidak mengubahnya keluar dari nama air ke nama lain. Jenis ini sah untuk wudhu dan mandi.
2.    Air yang ternajisi oleh unsur najis yang mengubah salah satu sifatnya, baik warna, bau, maupun rasanya. Jenis ini tidak sah untuk wudhu dan mandi.
Wallahu a’lam.


1 Dengan catatan bahwa dalam hal mandi untuk shalat Jum’at ada perbedaan pendapat, ada yang berpendapat sunnah dan ada yang berpendapat wajib. –pen.

Sifat Shalat Nabi (6)

(ditulis oleh: Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al-Atsari)

 

Isti’adzah
Isti’adzah adalah bersandar kepada Allah l dan mendekat ke sisi-Nya, untuk berlindung dari kejelekan setiap makhluk yang memiliki kejelekan. ‘Iyadzah itu untuk mencegah kejelekan.
Setelah beristiftah, sebelum membaca Al-Qur’an dalam shalat, Rasulullah n membaca ta’awudz (memohon perlindungan) kepada Allah l terlebih dahulu dengan mengucapkan:
أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ
“Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terusir/dijauhkan (dari rahmat1) dari was-wasnya2, dari kesombongannya, dan dari sihirnya.”3 (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf 1/92/1, Ath-Thabarani dalam Al-Kabir 1/78/2, dari Jubair ibnu Muth’im z, dishahihkan dalam Irwa’ul Ghalil hadits no. 342)
Terkadang dalam ta’awudz tersebut, Rasulullah n menambah dengan:
أَعُوْذُ بِاللهِ السَّمِيْعِ الْعَلِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ، مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ
“Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari setan yang terusir/dijauhkan dari rahmat, dari was-wasnya, dari kesombongannya, dan dari sihirnya.” (HR. Abu Dawud no. 775, dan lainnya, dari Abu Sa’id Al-Khudri z dengan sanad yang hasan sebagaimana dalam Irwa’ul Ghalil pembahasan hadits no. 342)
Al-Imam Ahmad t dalam Masa’il Ibni Hani’ (1/51) menyatakan, sepantasnya tambahan ini diucapkan sesekali.
Jumhur ulama berpendapat hukum ta’awudz ini sunnah, dalilnya adalah hadits Al-Musi’u Shalatuhu, yang di dalamnya tidak disebutkan ta’awudz. (Al-Majmu’ 3/283, Taudhihul Ahkam 2/170)
Ini merupakan pendapat Al-Hasan, Ibnu Sirin, Atha’, Ats-Tsauri, Al-Auza’i, Asy-Syafi’i, Ishaq, dan ashabur ra’yi. (Al-Mughni, Kitab Ash-Shalah, Fashl La Yajharul Imam bil Iftitah)
Pendapat inilah yang penulis pandang lebih kuat. Wallahu a’lamu bish-shawab.
Al-Imam Asy-Syaukani t menyebutkan, “Tidak ada dalam hadits-hadits ta’awudz selain menerangkan bahwa ta’awudz dilakukan pada rakaat yang pertama. Adapun Al-Hasan, Atha’, dan Ibrahim berpendapat ta’awudz ini mustahab diucapkan dalam setiap rakaat. Mereka berdalil dengan keumuman firman Allah l:
“Bila engkau membaca Al-Qur’an maka mintalah perlindungan kepada Allah.” (An-Nahl: 98)
Tidaklah diragukan bahwa ayat di atas menunjukkan disyariatkannya isti’adzah sebelum membaca Al-Qur’an. Ayat ini berlaku umum, apakah si pembaca Al-Qur’an tersebut berada di luar shalat atau sedang mengerjakan shalat. Namun, hadits-hadits yang melarang berbicara di dalam shalat menunjukkan larangan tersebut tidak dibedakan, baik berbicara dengan mengucapkan ta’awudz, maupun ucapan-ucapan lain yang tidak ada dalil yang mengkhususkannya dan tidak pula ada izin untuk mengucapkan yang sejenisnya. Karena itu, yang lebih berhati-hati adalah cukup dengan yang dituntunkan dalam As-Sunnah, yaitu melakukan isti’adzah sebelum membaca Al-Qur’an pada rakaat pertama saja.” (Nailul Authar, 2/39)
Abu Hurairah z berkata:
كَانَ رَسُولُ اللهِ n إِذَا نَهَضَ فِي الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ افْتَتَحَ الْقِرَاءَةِ بِالْحَمْدِ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَلَمْ يَسْكُتْ
“Adalah Rasulullah n bila bangkit ke rakaat kedua, beliau membuka bacaan (qiraah) dengan ‘Alhamdulillahi rabbil alamin’ dan beliau tidak diam.” (HR. Muslim no. 1355)
Hadits ini menunjukkan tidak disyariatkannya diam sebelum membaca (Al-Fatihah dan surat) pada rakaat yang kedua. Tidak pula disyariatkan berta’awudz dalam raakat kedua ini. Dan hukum rakaat-rakaat berikutnya (setelah rakaat kedua) sama dengan hukum rakaat yang kedua. Jadi, diam sebelum membaca (Al-Fatihah dan surat) itu hanya khusus pada rakaat yang pertama. Demikian pula berta’awudz dalam rakaat pertama. (Nailul Authar, 2/136)
Ibnul Qayyim t dalam Zadul Ma’ad (1/86) berkata, “Mencukupkan satu ta’awudz (hanya dalam rakaat pertama, pen.) adalah pendapat yang lebih nampak, berdasarkan hadits yang shahih dari Abu Hurairah z:
أَنَّ النَّبِيَّ n كَانَ إِذَا نَهَضَ مِنَ الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ، اسْتَفْتَحَ الْقِرَاءَةَ وَلَمْ يَسْكُتْ
“Nabi n bila bangkit menuju rakaat yang kedua, beliau membuka dengan bacaan dan tidak diam.”
Bahwa Rasulullah n mencukupkan satu istiftah, karena beliau tidak menyelingi dua qiraah (bacaan) dengan diam, tapi dengan dzikir. Dengan demikian, qiraah dalam shalat dianggap satu qiraah jika yang menyelinginya adalah pujian kepada Allah l, tasbih, tahlil, atau shalawat kepada Nabi n, dan yang semisalnya.
Ada pula yang berpendapat bahwa ta’awudz hukumnya wajib dan dibaca setiap rakaat dalam shalat, seperti pendapat Ibnu Hazm t dalam Al-Muhalla (2/278) dan ahlul ilmi4 yang lainnya, dengan dalil firman Allah l:
“Bila engkau membaca Al-Qur’an maka mintalah perlindungan kepada Allah.” (An-Nahl: 98)

Rahasia isti’adzah
Isti’adzah memiliki berbagai kebaikan. Diantaranya, sebagai penyuci lisan dari berbagai ucapan sia-sia dan kotor, ketika mengucapkan/membaca kalamullah. Juga sebagai isti’anah (memohon pertolongan) kepada Allah l, dan pengakuan bahwa Allah l-lah yang memiliki kekuasaan, sedangkan hamba itu lemah dan tidak mampu mengatasi musuhnya (setan) yang nyata namun tidak nampak. Sesungguhnyalah, tak ada yang mampu menolak dan mencegah musuh ini kecuali Allah l yang menciptakannya. Terlebih, setan ini tidak dapat menerima keramahtamahan dan tidak peduli dengan kebaikan, berbeda dengan musuh dari kalangan manusia. Hal ini sebagaimana ditunjukkan oleh banyak ayat dalam Al-Qur’an.
Allah l berfirman:
“Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, engkau tidak memiliki kekuasaan atas mereka sama sekali. Cukuplah Rabbmu sebagai pelindung.” (Al-Isra’: 65)
Para malaikat turun untuk memerangi musuh berupa manusia. Siapa saja yang terbunuh oleh musuh yang nampak, dia menjadi seorang syahid. Sementara, orang yang binasa oleh musuh yang tidak nampak, dia akan terusir. Siapa saja yang terkalahkan oleh musuh yang nampak, dia akan mendapatkan balasan pahala, sementara orang yang terkalahkan oleh musuh yang tidak nampak, dia akan tertimpa fitnah dan memikul dosa.
Tatkala setan melihat manusia dari tempat yang tidak terlihat oleh manusia, maka semestinya manusia memohon perlindungan darinya kepada Dzat yang melihatnya sedangkan setan tidak dapat melihat-Nya. (Al-Mishbahul Munir, hal.18)
Penulis mengatakan, masalah ini di luar shalat ketika membaca Al-Qur’an, maka tentunya di dalam shalat seseorang harus lebih memerhatikan lagi diri dan shalatnya, karena ketika itu ia sedang berdiri beribadah kepada Rabbnya, yang semestinya ditegakkan dengan khusyu’ dan menjaga shalatnya dari was-was setan serta tipu dayanya. Wallahul musta’an.
Abu Hurairah z menyatakan bahwa Rasulullah n bersabda:
إِذَا نُوْدِيَ لِلصَّلاَةِ أَدْبَرَ الشَّيْطَانُ وَلَهُ ضُرَاطٌ حَتَّى لاَ يَسْمَعُ التَّأْذِيْنَ، فَإِذَا قَضَى النِّدَاء أَقْبَلَ حَتَّى إِذَا ثَوَّبَ بِالصَّلاَةِ أَدْبَرَ، حَتىَّ إِذَا قَضَى التَّثْوِيْبَ أَقْبَلَ حَتَّى يَخْطُرَ بَيْنَ الْمَرْءِ وَنَفْسِهِ يَقُوْلُ: اُذْكُرْ كَذَا، اُذْكُرْ كَذَا -لِمَا لَمْ يَكُنْ يَذْكُرُ– حَتَّى يَظِلَّ الرَّجُلُ لاَ يَدْرِي كَمْ صَلَّى
“Apabila diserukan adzan untuk shalat setan berlalu dan ia memiliki kentut (berlalu dengan mengeluarkan suara kentut) hingga ia tidak mendengar adzan. Apabila adzan selesai dikumandangkan, ia datang kembali hingga saat diserukan iqamah, ia berlalu lagi. Ketika telah selesai iqamah, ia datang lagi hingga ia bisa melintaskan di hati seseorang berbagai pikiran, ia berkata, ‘Ingatlah ini, ingatlah itu’, padahal sebelumnya orang yang shalat tersebut tidak mengingatnya, demikian sampai orang tersebut tidak mengetahui telah berapa rakaat shalat itu dikerjakannya.” (HR. Al-Bukhari no. 608). Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab. (Insya Allah bersambung)


1 Ada yang mengatakan: dirajam dengan panah-panah api, demikian dalam Al-Majmu’ (3/280).
2 Sebagian rawi menafsirkannya dengan: gila, yaitu hamz adalah satu macam kegilaan dan kesurupan yang dapat menimpa seseorang. Bila ia sadar, akalnya kembali lagi seperti semula sebagaimana orang tidur dan orang mabuk, demikian kata Ath-Thibi.
3 Adapula yang menafsirkannya dengan syair yang tercela.
4 Dalam masalah ini memang fuqaha berbeda pendapat setelah mereka sepakat tentang tidak disyariatkannya membaca doa istiftah selain dalam rakaat pertama. Perbedaan pendapat ini disebabkan perbedaan pandangan apakah seluruh qiraah dalam shalat merupakan satu qiraah sehingga dicukupkan sekali ta’awudz, ataukah qiraah setiap rakaat merupakan qiraah yang berdiri sendiri sehingga disyariatkan berta’awudz pada masing-masingnya?
Al-Imam Al-Albani t dalam kitabnya Shifat Shalatin Nabi n (menguatkan pendapat yang mengatakan pada setiap rakaat), “Tidak cukup satu isti’adzah tetapi dalam setiap rakaat harus beristi’adzah.” Kemudian beliau membawakan ucapan Asy-Syaikh Al-Allamah Muhammad Hamid Al-Faqi As-Salafi, “Yang zahir, qiraah dalam rakaat pertama dan qiraah dalam rakaat yang kedua merupakan dua qiraah, karena panjangnya jeda/pemisah antara keduanya dengan melakukan ruku’ dan sujud. Ini merupakan gerakan-gerakan yang banyak. Maka setiap rakaat ada ta’awudz. Sementara hadits Abu Hurairah z tidaklah menafikan hal ini. Karena yang ditiadakan dalam hadits Abu Hurairah z adalah diam yang diketahui, yaitu diam tertentu karena membaca doa istiftah. Adapun diam karena membaca ta’awudz dan basmalah merupakan diam yang sangat ringan/sebentar yang tidak dirasakan/disadari oleh makmum karena tersibukkannya makmum dengan gerakan bangkit ke rakaat berikutnya. Juga, setiap rakaat itu teranggap sebagai sebuah shalat karena itulah mereka diwajibkan membaca Al-Fatihah dalam setiap rakaat, maka yang lebih utama ta’awudz juga dianggap demikian. Inilah pendapat yang dikuatkan oleh Ibnu Hazm dalam Al-Muhalla. Inilah pendapat yang benar.”
Beliau t berkata, “Ibnu Hazm berargumen dengan keumuman firman Allah l:
“Bila engkau membaca Al-Qur’an maka mintalah perlindungan kepada Allah.” (An-Nahl: 98)
Ini merupakan argumen yang benar, tidak ada kekaburan di dalamnya. Al-Hafizh berkata di dalam At-Talkhish, “Keumuman ayat ini menetapkan isti’adzah diucapkan pada awal setiap rakaat. Pendapat inilah yang dimunculkan oleh Ar-Rafi’i dalam Asy-Syarhul Kabir. Beliau berkata, ‘Pendapat inilah yang diucapkan oleh Al-Qadhi Abu Ath-Thayyib Ath-Thabari, demikian pula Imamul Haramain, Ar-Ruyani, dan selain mereka’.”
Al-Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu’ berkata, “Ini merupakan pendapat madzhab (Syafi’iyyah).”
Di tempat lain beliau berkata, “Pendapat inilah yang paling shahih dalam madzhab kami.”
Pendapat ini juga dipegangi dalam madzhab Hanafiyyah.
Abul Hasanat Al-Laknawi dalam catatan kakinya terhadap kitab Syarhul Wiqayah (1/138) berkata, “Dalam kitab Halbah Al-Majalli karya Ibnu Amir Hajj disebutkan: Berdasarkan ucapan Abu Yusuf dan Muhammad, sepantasnya ta’awudz itu dilakukan dalam rakaat kedua juga, karena dalam rakaat kedua orang memulai qiraah. Dan qiraah dalam setiap rakaat merupakan qiraah yang baru.” (Ashlu Shifah Shalatin Nabi n, 3/826-827)

Ar-Rahman dan Ar-Rahim

(ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc)

 

Asy-Syaikh Muhammad Khalil Al-Harras mengatakan, “Keduanya adalah nama yang mulia dari nama-nama Allah l. Kedua nama ini menunjukkan bahwa Allah l memiliki sifat rahmat, kasih sayang, yang merupakan sifat hakiki bagi Allah dan sesuai dengan kebesaran-Nya.”
Kedua nama Allah l ini disebutkan dalam banyak ayat dan hadits Nabi n, diantaranya:
“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (Al-Fatihah: 1)
“Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (Al-Fatihah: 3)
Maknanya, menurut Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, “Ar-Rahman artinya Yang memiliki rahmat, kasih sayang yang luas, karena wazan (bentuk kata) fa’lan dalam bahasa Arab menunjukkan makna luas dan penuh. Semisal dengan kata ‘Seorang lelaki ghadhbaan,’ artinya penuh kemarahan.1
Sementara, Ar-Rahiim adalah nama Allah l yang memiliki makna kata kerja dari rahmat (yakni Yang merahmati, Yang mengasihi), karena wazan fa’iil (فَعيِْلٌ) bermakna faa’il (فَاعِلٌ)2 pelaksana, sehingga kata tersebut menunjukkan perbuatan (merahmati, mengasihi).
Oleh karena itu, paduan antara nama Ar-Rahman dan Ar-Rahim bermakna rahmat Allah l itu luas dan kasih sayang-Nya akan sampai kepada makhluk-Nya.”

Adakah perbedaan antara nama Allah l Ar-Rahman dan Ar-Rahim?
Tentu ada sisi perbedaannya, karena setiap nama punya makna yang khusus. Berikut ini penjelasan sebagian ulama tentang perbedaan diantara keduanya.
Al-Arzami t mengatakan: “Ar-Rahman artinya Yang Maha Pengasih terhadap seluruh makhluk, sedangkan Ar-Rahim artinya Yang Maha Pengasih terhadap kaum mukminin.” (Tafsir Ibnu Jarir Ath-Thabari, Tafsir Basmalah)
Dengan demikian, dikatakan bahwa yang dimaksud dengan Ar-Rahman adalah yang rahmat-Nya meliputi segala sesuatu di dunia, karena bentuk kata/wazan fa’lan itu menunjukkan penuh dan banyak. Sedangkan Ar-Rahim, yang rahmat-Nya khusus terhadap kaum mukimin di akhirat.
Akan tetapi, ada pula yang mengatakan sebaliknya.
Ibnul Qayyim memandang bahwa Ar-Rahman menunjukkan sifat kasih sayang pada Dzat Allah l (yakni Allah l memiliki sifat kasih sayang), sedangkan Ar-Rahim menunjukkan bahwa sifat kasih sayang-Nya terkait dengan makhluk yang dikasihi-Nya.
Sehingga seakan-akan nama Ar-Rahman adalah sifat bagi-Nya, sedangkan nama Ar-Rahim mengandung perbuatan-Nya, yakni menunjukkan bahwa Dia memberi kasih sayang kepada makhluk-Nya dengan rahmat-Nya, jadi ini sifat perbuatan bagi-Nya.
Apabila Anda hendak memahami hal ini, perhatikanlah firman Allah l:
“Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.” (Al-Ahzab: 43)
“Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka.” (At-Taubah: 117)
Allah l tidak menyebutkan dengan nama Ar-Rahman sama sekali. Dengan itu, Anda tahu bahwa makna Ar-Rahman adalah Yang memiliki sifat kasih sayang dan makna Ar-Rahim adalah Yang mengasihi dengan kasih sayang-Nya. (Syarah Nuniyyah, Ahmad Isa)
Al-Harras mengatakan, ini adalah pendapat yang terbaik dalam membedakan kedua nama tersebut.
Berikut ini kutipan penjelasan Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di t tentang keagungan dua nama Allah l tersebut.
Ar-Rahman dan Ar-Rahim, adalah dua nama yang menunjukkan bahwa Allah l memiliki kasih sayang yang luas dan agung. Kedua nama ini meliputi segala sesuatu dan meliputi segala makhluk. Allah l telah menetapkan kasih sayang yang sempurna bagi orang-orang bertakwa yang mengikuti para nabi dan rasul-Nya. Oleh karena itu, mereka mendapatkan kasih sayang sempurna yang bersambung dengan kebahagiaan yang abadi.
Adapun orang-orang yang selain mereka terhalang dari kasih sayang yang sempurna ini, karena mereka sendiri yang menolaknya dengan cara tidak memercayai berita (Ilahi) dan berpaling dari perintah. Oleh karena itu, janganlah mereka mencela siapapun kecuali diri mereka sendiri.
Mereka (yang bertakwa) mengimani bahwa Allah l Maharahman dan Maharahim, memiliki rahmat yang agung, dan rahmat-Nya terkait dengan makhluk-Nya yang dirahmati, sehingga nikmat seluruhnya adalah buah dari rahmat-Nya.
Orang yang memerhatikan nama Allah l Ar-Rahman, dan bahwa Allah l Mahaluas rahmat-Nya, memiliki kasih sayang yang sempurna, dan kasih sayang-Nya telah memenuhi alam semesta baik yang atas maupun yang bawah, serta mengenai seluruh makhluk-Nya, serta mencakup dunia dan akhirat; juga mentadaburi ayat-ayat yang menunjukkan semacam makna ini:
“Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.” (Al-A’raf: 156)
“Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.” (Al-Hajj: 65)
“Maka perhatikanlah bekas-bekas rahmat Allah, bagaimana Allah menghidupkan bumi yang sudah mati. Sesungguhnya (Dzat yang berkuasa seperti) demikian benar-benar (berkuasa) menghidupkan orang-orang yang telah mati. Dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.” (Ar-Rum: 50)
“Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin.” (Luqman: 20)
“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.” (An-Nahl: 53)
“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (An-Nahl: 18)
Juga ayat-ayat setelahnya yang menunjukkan pokok-pokok nikmat, dan cabangnya yang mengandung salah satu dari sekian banyak buah rahmat Allah l. Oleh karenanya, Allah l berfirman di akhirnya:
“Demikianlah Allah menyempurnakan nikmat-Nya atasmu agar kamu berserah diri (kepada-Nya).” (An-Nahl: 81)
Lalu mentadaburi surat Ar-Rahman dari awal hingga akhirnya, karena surat itu adalah ungkapan dari penjabaran rahmat Allah l; maka semua ragam makna dan corak nikmat yang ada padanya adalah rahmat dan kasih sayang-Nya. Oleh karena itu, Allah l mengakhiri surat itu dengan menyebutkan apa yang Allah l siapkan untuk orang-orang yang taat di dalam surga, berupa kenikmatan abadi yang sempurna, yang merupakan buah dari rahmat-Nya. Oleh karenanya, Allah l menamai surga dengan rahmat, sebagaimana dalam ayat-Nya:
“Adapun orang-orang yang putih berseri mukanya, maka mereka berada dalam rahmat Allah (surga); mereka kekal di dalamnya.” (Ali ‘Imran: 107)
Dalam hadits disebutkan bahwa Allah l mengatakan kepada Al-Jannah:
أَنْتَ رَحْمَتِي أَرْحَمُ بِكَ مَنْ أَشَاءُ مِنْ عِبَادِي
“Engkau adalah rahmat-Ku yang denganmu Aku merahmati siapa yang Kukehendaki dari hamba-Ku.”
Allah l juga berfirman:
“Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang.” (Yusuf: 64)
Dalam hadits shahih disebutkan:
اللهُ أَرْحَمُ بِعِبَادِهِ مِنَ الْوَالِدَةِ بِوَلَدِهَا
“Allah l lebih penyayang terhadap hamba-Nya daripada seorang ibu terhadap anaknya.”
Dalam hadits lain disebutkan:
إِنَّ اللهَ كَتَبَ كِتَاباً عِنْدَهُ فَوْقَ عَرْشِهِ إِنَّ رَحْمَتِي سَبَقَتْ غَضَبِي
“Sesungguhnya Allah l telah menuliskan sebuah tulisan di sisi-Nya, di atas Arsy-Nya ‘Sesungguhnya rahmat-Ku mendahului kemurkaan-Ku’.”
Ringkas kata, Allah l telah menciptakan makhluk dengan rahmat-Nya dan mengutus para rasul kepada mereka karena rahmat-Nya pula. Allah l memerintah dan melarang mereka serta menetapkan syariat untuk mereka karena rahmat-Nya. Allah melingkupi mereka dengan kenikmatan lahir dan batin karen rahmat-Nya. Dia l mengatur mereka dengan berbagai aturan dan melindungi mereka dengan berbagai perlindungan karena rahmat-Nya, serta memenuhi dunia dan akhirat dengan rahmat-Nya.
Oleh karena itu, urusan ini tidak akan menjadi baik dan mudah, begitu pula tujuan dan berbagai tuntutan tidak akan terwujud melainkan karena rahmat-Nya. Bahkan, kasih sayang-Nya melebihi semua itu, lebih agung dan lebih tinggi.
Apatah lagi, orang-orang baik dan bertakwa akan mendapatkan bagian terbesar dan kebaikan terbanyak dari rahmat-Nya.
“Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (Al-A’raf: 56)

Buah mengimani nama Allah l tersebut
Mengimani nama Allah l tersebut akan menambah rasa syukur kita kepada Allah l, karena berbagai nikmat yang dikaruniakan Allah l kepada kita, baik yang ada dalam organ tubuh, kebutuhan keseharian, alam sekitar kita, maupun alam semesta ini semuanya, adalah semata-mata buah dari kasih sayang-Nya, yang mengharuskan kita untuk tunduk dan bersyukur kepada-Nya, serta membalasnya dengan ketaatan, bukan dengan kemaksiatan dan kerusakan.
Wallahu a’lam.


1 Wazan (timbangan) فَعْلَانُ fa’lan; kata yang sesuai dengan timbangan ini misalnya رَحْمَانُ ,غَضْبَانُ عَطْشَانُ, dll.
2 Wazan (timbangan) فَعِيلٌ fa’iil; kata yang sesuai dengan timbangan ini misalnya رَحِيمٌ, حَلِيمٌ, كَرِيمٌ, dll.

Buah dari Amalan

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Abdul Jabbar)

 

Barangsiapa mengamalkan apa yang ia ketahui, Allah l akan memberikan kepadanya ilmu yang sebelumnya tidak ia ketahui. Ini sebagaimana firman Allah l:
“Dan orang-orang yang mendapat petunjuk Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan kepada mereka (balasan) ketakwaannya.” (Muhammad: 17)
Allah l juga berfirman:
“Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka), dan kalau demikian, pasti Kami berikan kepada mereka pahala yang besar dari sisi Kami, dan pasti Kami tunjuki mereka kepada jalan yang lurus.” (An-Nisa’: 66—68)
Allah l berfirman pula:
“Wahai orang-orang yang beriman (kepada para rasul), bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan.” (Al-Hadid: 28)
Allah l juga berfirman:
“Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman).” (Al-Baqarah: 257)
Allah l juga berfirman:
“Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan.” (Al-Ma’idah: 15—16)
Dan penguat akan hal ini banyak sekali dalam Al-Qur’an maupun As-Sunnah.
Demikian pula, barangsiapa yang berpaling dari mengikuti kebenaran yang telah ia ketahui karena mengikuti hawa nafsunya, akan mengakibatkan dia bodoh dan tersesat sehingga hatinya akan menjadi buta terhadap kebenaran yang jelas. Ini sebagaimana firman Allah l:
“Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka.” (Ash-Shaff: 5)
Juga firman Allah l:
“Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya.” (Al-Baqarah: 10)
Juga firman Allah l:
“Mereka bersumpah dengan nama Allah dengan segala kesungguhan, bahwa sungguh jika datang kepada mereka sesuatu mukjizat pastilah mereka beriman kepada-Nya. Katakanlah: ‘Sesungguhnya mukjizat-mukjizat itu hanya berada di sisi Allah.’ Dan apakah yang memberitahukan kepadamu bahwa apabila mukjizat datang mereka tidak akan beriman? Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seakan-akan mereka tidak pernah beriman kepada Al-Qur’an sebelumnya.” (Al-An’am: 109—110)
Ini adalah bentuk pertanyaan peniadaan dan pengingkaran, ‘dan apakah yang memberitahukan kepadamu bahwa apabila mukjizat datang, mereka tidak akan beriman? Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seakan-akan mereka tidak pernah beriman kepada Al-Qur’an sebelumnya’, menurut qiraah (bacaan) yang mengkasrah innaha ‘sungguh’, sebagai penegasan bahwa apabila mukjizat itu telah datang mereka tidak akan beriman, dan Kami akan memalingkan hati dan penglihatan mereka seakan-akan mereka tidak pernah beriman kepadanya (Al-Qur’an) sebelumnya. Oleh karena itu, sebagian Salaf, di antaranya Sa’id bin Jubair t, mengatakan bahwa termasuk balasan atas suatu kejelekan adalah kejelekan yang setelahnya.
Disebutkan dalam Ash-Shahihain dari Ibnu Mas’ud z, dari Nabi n, beliau bersabda, “Berpeganglah kalian dengan kejujuran, karena kejujuran itu akan membimbing kepada kebaikan, dan kebaikan akan membimbing kepada surga. Senantiasa seorang hamba berlaku jujur dan membiasakannya, hingga dia dicatat di sisi Allah l sebagai seorang yang shiddiq (jujur). Berhati-hatilah kalian dari kedustaan, karena kedustaan itu akan membimbing kepada kejahatan, dan kejahatan itu akan membimbing kepada neraka. Senantiasa seorang hamba berdusta dan membiasakannya, hingga dicatat di sisi Allah sebagai seorang pendusta.”
Dalam hadits ini, Nabi n mengabarkan bahwa kejujuran adalah satu pokok yang akan menghasilkan kebaikan, sebagaimana dusta juga satu pokok yang akan menghasilkan kejelekan/dosa.
Allah l berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam surga yang penuh kenikmatan, dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka.” (Al-Infithar: 13—14)
(Diambil dari At-Tuhfah Al-‘Iraqiyyah fil A’mal Al-Qalbiyyah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hlm. 5—6)