Perkara yang Bermanfaat Bagi Seorang yang Telah Mati

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Abdillah Abdurrahman Mubarak)

 

Kematian adalah satu perkara yang pasti akan menjemput manusia. Tak seorang pun dapat mengelak darinya. Walau di mana pun, pasti maut menjemputnya. Ketika tiba saatnya malakul maut menjemput, tak ada seorang pun yang bisa menangguhkannya. Allah l berfirman:

“Setiap jiwa akan merasakan mati, dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (Ali ‘Imran: 185)

Allah l berfirman:

“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatimu kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh. Jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: ‘Ini adalah dari sisi Allah’, dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: ‘Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad).’ Katakanlah: ‘Semuanya (datang) dari sisi Allah.’ Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikit pun?” (An-Nisa’: 78)

Allah l berfirman:

“Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya, itu adalah perkara yang kamu tidak bisa mengelak lari darinya. Dan ditiuplah sangkakala, itulah hari terlaksananya ancaman.” (Qaf: 19-20)

Allah l berfirman:

“Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al-Munafiqun: 11)

 

Anjuran Untuk Senantiasa Mengingat Mati

Karena kematian adalah satu perkara yang pasti, maka Rasulullah n menganjurkan kita untuk senantiasa mengingatnya. Rasulullah n bersabda:

أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ -يَعْنِي الْمَوْتَ

“Perbanyaklah oleh kalian mengingat penghancur kenikmatan dunia.” –Yakni kematian. (HR. At-Tirmidzi dan An-Nasa’i, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Irwa’ul Ghalil no. 682)

Al-Imam Ash-Shan’ani t berkata: “Hadits ini menunjukkan bahwa tidak sepatutnya seorang lalai dari mengingat sebuah nasihat terbesar, yaitu kematian.” (Subulus Salam hal. 455)

Hikmah dari mengingat mati adalah agar seseorang mempersiapkan dirinya dengan amalan shalih untuk mendapatkan kebahagiaan di kehidupan berikutnya. Allah l berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memerhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al-Hasyr: 18)

 

Tidak Ada yang Dibawa Kecuali Amalannya

Ingatlah wahai saudaraku, ketika seorang meninggal tidaklah bermanfaat baginya harta, anak-anak, dan keluarganya. Yang bermanfaat baginya hanyalah amalannya. Dari Anas bin Malik z, Rasulullah n bersabda:

يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلَاثَةٌ؛ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ؛ فَرَجَعَ اثْنَانِ وَيَبْقَى وَاحِدٌ، رَجَعَ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَيَبْقَى عَمَلُهُ

“Tiga perkara yang akan mengantarkan mayit: keluarga, harta, dan amalannya. Dua perkara akan kembali dan satu perkara akan tetap tinggal bersamanya. Yang akan kembali adalah keluarga dan hartanya, sedangkan yang tetap tinggal bersamanya adalah amalannya.” (Muttafaqun ‘alaih)

Oleh karena itu, ketika Rasulullah n ditanya oleh salah seorang sahabatnya: “Siapa orang yang terbaik?” Beliau n bersabda:

مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ

“Orang yang panjang umurnya dan baik amalannya.” (HR. At-Tirmidzi dari Abdullah bin Busr z dan dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani)

Sehingga Rasulullah n mengajarkan agar seorang muslim dalam kehidupan dunia ini hendaknya seperti orang asing atau orang yang numpang lewat. Beliau n berkata kepada Ibnu Umar c:

كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ

“Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau yang sedang numpang lewat.”

Ibnu Umar c berkata:

إِذَا أَمْسَيْتَ فَلَا تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلَا تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ

“Jika engkau di sore hari janganlah menunggu pagi (untuk beramal shalih). Jika engkau di pagi hari janganlah menunggu sore hari. Manfaatkanlah kesehatanmu untuk masa sakitmu, manfaatkanlah masa hidupmu (dengan beramal shalih) untuk masa matimu.” (HR. Al-Bukhari)

 

Kematian Menghentikan Amalan Seseorang

Dari Abu Hurairah z, Rasulullah n menyatakan:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Jika seorang meninggal, terputus amalannya kecuali tiga: shadaqah yang terus mengalir pahalanya, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya.” (HR. Muslim)

Sa’id bin Jubair t berkata: “Setiap hari yang dijalani oleh seorang mukmin adalah ghanimah (kesempatan untuk menambah amal shalih).” (Lihat Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, hal. 666)

Seorang yang tidak memanfaatkan masa hidupnya dengan amal shalih akan merasakan penyesalan setelah matinya. Allah l berfirman:
ﮨ ﮩ ﮪ ﮫ ﮬ ﮭ ﮮ ﮯ ﮰ ﮱ ﯓ ﯔ ﯕ ﯖﯗ ﯘﯙ ﯚ ﯛ  ﯜ ﯝﯞ ﯟ ﯠ ﯡ ﯢ ﯣ ﯤ ﯥ
“(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: ‘Wahai Rabb, kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku berbuat amal shalih terhadap apa yang telah aku tinggalkan.’ Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan.” (Al-Mu’minun: 99-100)
Amalan Orang Hidup Yang Bermanfaat Bagi Si Mayit
Karena kemurahan dan karunia Allah l, seorang yang mati masih bisa menikmati manfaat dari sebagian amalan yang pernah diamalkannya. Dia juga bisa mendapatkan manfaat dari sebagian amalan orang-orang yang masih hidup. Di antara perkara yang terus bermanfaat bagi seorang yang telah mati adalah:
1. Shadaqah jariyah, seperti wakaf dan sejenisnya.
Seorang masih terus mendapatkan pahala shadaqah jariyah yang ia lakukan, seperti membangun masjid, pesantren, atau wakaf-wakaf lainnya dalam perkara yang baik. Rasulullah n menyatakan:
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Jika seorang meninggal, terputus amalannya kecuali tiga: shadaqah yang terus mengalir pahalanya, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah z)
2. Ilmu yang bermanfaat
Ilmu yang bermanfaat yang ia ajarkan kepada orang lain akan terus mengalirkan pahala baginya walaupun ia telah meninggal, sebagaimana dalam hadits di atas. Selain hadits di atas, Rasulullah n juga menjelaskan:
مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنْ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا
“Barangsiapa yang berdakwah kepada petunjuk (kebaikan) maka dia mendapatkan pahala seperti pahala yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah z)
Beliau n juga bersabda:
مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
“Barangsiapa yang menuntunkan sunnah yang baik maka dia akan mendapatkan pahala seperti orang yang telah melakukannya.” (HR. Muslim dari Jarir bin Abdillah z)
3. Shadaqah yang dilakukan anak atas nama orangtuanya
Para ulama menjelaskan bahwa semua amalan baik seorang anak itu bermanfaat bagi orangtuanya. Orang akan mendapatkan pahala seperti yang diperoleh anaknya, karena anak adalah hasil usaha orangtua. Allah l berfirman:
ﰂ ﰃ ﰄ ﰅ ﰆ ﰇ ﰈ
“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” (An-Najm: 39)
Rasulullah n bersabda:
إِنَّ أَطْيَبَ مَا أَكَلَ الرَّجُلُ مِنْ كَسْبِهِ، وَوَلَدُهُ مِنْ كَسْبِهِ
“Makanan terbaik bagi seseorang adalah dari hasil usahanya. Dan anaknya adalah juga hasil usahanya.” (HR. Abu Dawud, An-Nasa’i, dan At-Tirmidzi, dikuatkan Asy-Syaikh Al-Albani t sebagaimana dalam Ahkamul Jana’iz)
Terdapat hadits-hadits lain yang mendukung makna hadits ini, di antaranya:
– Dari Aisyah x:
أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ n: إِنَّ أُمِّي افْتُلِتَتْ نَفْسُهَا وَأَظُنُّهَا لَوْ تَكَلَّمَتْ تَصَدَّقَتْ، فَهَلْ لَهَا أَجْرٌ إِنْ تَصَدَّقْتُ عَنْهَا؟ قَالَ: نَعَمْ
Ada seorang laki-laki berkata: “Ibuku meninggal tiba-tiba (dan tidak sempat berwasiat). Aku mengira jika sempat bicara dia akan bershadaqah. Apakah dia akan mendapatkan pahala jika aku bershadaqah atas namanya?” Rasulullah berkata: “Ya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
– Dari Ibnu Abbas c:
أَنَّ سَعْدَ بْنَ عُبَادَةَ تُوُفِّيَتْ أُمُّهُ وَهُوَ غَائِبٌ عَنْهَا فَأَتَى رَسُولَ اللهِ n فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ أُمِّي تُوُفِّيَتْ وَأَنَا غَائِبٌ عَنْهَا فَهَلْ يَنْفَعُهَا إِنْ تَصَدَّقْتُ عَنْهَا؟ قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: فَإِنِّي أُشْهِدُكَ أَنَّ حَائِطِي الْمَخْرَفَ صَدَقَةٌ عَنْهَا
Ibu dari Sa’d bin ‘Ubadah –saudara Bani Sa’idah– meninggal ketika Sa’d tidak di rumah. Dia lalu mendatangi Rasulullah n berkata: “Wahai Rasulullah, ibuku telah meninggal ketika aku tidak ada. Apakah bermanfaat baginya jika aku bershadaqah atas namanya?” Rasulullah n berkata: “Ya.” Sa’d berkata: “Persaksikanlah bahwa kebunku yang pepohonannya sedang berbuah adalah shadaqah atas namanya.” (HR. Muslim)
Al-Imam Asy-Syaukani t berkata: “Hadits-hadits dalam bab ini menjelaskan bahwa shadaqah anak itu bermanfaat bagi orangtuanya yang telah meninggal, walaupun tanpa wasiat dari keduanya.” (Lihat Nailul Authar)
4. Doa kaum mukminin
Di antara yang menunjukkan hal ini adalah ayat Allah l:
ﭑ ﭒ ﭓ ﭔ ﭕ ﭖ ﭗ ﭘ ﭙ ﭚ ﭛ ﭜ ﭝ ﭞ ﭟ ﭠ ﭡ ﭢ ﭣ ﭤ ﭥ ﭦ ﭧ ﭨ
“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), berdoa: ‘Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang’.” (Al-Hasyr: 10)
Di antara dalil masalah ini adalah disyariatkannya shalat jenazah dan ziarah kubur. Karena shalat jenazah disyariatkan untuk mendoakan si mayit. Rasulullah n berkata:
إِذَا صَلَّيْتُمْ عَلَى الْمَيِّتِ فَأَخْلِصُوا لَهُ الدُّعَاءَ
“Jika kalian menshalatkan mayit, maka ikhlaskanlah doa baginya.” (HR. Abu Dawud dari sahabat Abu Hurairah z)
Beliau n juga bersabda:
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوتُ فَيَقُومُ عَلَى جَنَازَتِهِ أَرْبَعُونَ رَجُلًا لَا يُشْرِكُونَ بِاللهِ شَيْئًا إِلَّا شُفِّعُوا فِيهِ
“Tidaklah ada muslim yang meninggal kemudian menshalatkan jenazahnya empat puluh orang yang tidak melakukan syirik, kecuali mereka akan diizinkan memberi syafaat kepadanya.” (HR. Muslim)
Demikian juga, ziarah kubur disyariatkan untuk mendoakan si mayit.
5. Pembayaran utangnya walaupun bukan oleh ahli warisnya
Adapun utang, boleh seorang membayarkan utang orang lain yang telah meninggal walaupun bukan dari kerabatnya sekalipun, dan si mayit terbebas dari beban utang tersebut. (Lihat Ahkamul Jana’iz hal. 212-226)
Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan berkata: “Seseorang yang telah mati bisa mendapatkan manfaat dari amalan orang yang hidup dalam perkara-perkara yang ditunjukkan oleh dalil, seperti doa orang hidup untuknya, memintakan ampun untuknya, shadaqah atas namanya, haji dan umrah atas namanya, membayarkan utang-utangnya, dan menunaikan wasiat-wasiatnya. Semua perkara tersebut disyariatkan sebagaimana telah ditunjukkan oleh dalil. Sebagian ulama memasukkan semua bentuk taqarrub (ibadah) yang dilakukan muslim dan diperuntukkan pahalanya bagi muslim lain yang masih hidup atau telah mati, ke dalam perkara ini. Namun pendapat yang shahih (benar) adalah mencukupkan hanya yang ada di dalam dalil. Perkara yang terdapat dalilnya mengkhususkan keumuman firman Allah l:
‘Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya’.” (An-Najm: 39) [Lihat Fatawa ‘Aqidah hal. 48-49]
Kesimpulan
Jika telah kita yakini bahwa seorang yang mati hanyalah membawa amalnya, maka hendaknya kita manfaatkan waktu yang tersisa untuk beribadah kepada Allah l dan memperbanyak amal shalih. Allah l berfirman:
“Dan infaqkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: ‘Ya Rabbku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, sehingga aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang shalih?’.” (Al-Munafiqun: 10)
Rasulullah n menyatakan:
اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَغِنَاءَكَ قَبْلَ فَقْرِكَ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ
“Manfaatkanlah lima perkara sebelum datangnya lima perkara yang lain: (Manfaatkan) masa mudamu sebelum datang masa tuamu, masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, masa kayamu sebelum masa fakirmu, masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, masa hidupmu sebelum datang masa matimu.” (HR. Al-Hakim dan lainnya, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani sebagaimana dalam tahqiq Iqtidha’ul ‘Ilmi Al-‘Amal)
Kita juga berusaha mengamalkan amalan yang pahalanya terus mengalir kepada kita sampai kita mati: menuntut ilmu agama untuk kita amalkan dan kita ajarkan, shadaqah jariyah, serta mendidik anak-anak kita agar menjadi anak-anak yang shalih. Mudah-mudahan tulisan ini memberikan dorongan semangat bagi kita semua untuk beramal shalih. Walhamdulillah.

Al-Munkar dan An-Nakir Dalam Akidah Salaf

(ditulis oleh: Al-Ustadz Muhammad Rijal, Lc.)

 

Rasulullah n bersabda:

إِذَا قُبِرَ الْمَيِّتُ -أَوْ قَالَ: أَحَدُكُم- أَتَاهُ مَلَكَانِ أَسْوَدَانِ أَزْرَقَانِ يُقَالُ لِأَحَدِهِمَا الْمُنْكَرُ وَالْآخَرُ النَّكِيْرُ، فَيَقُولَانِ: مَا كُنْتَ تَقُولُ فِيْ هَذَا الرَّجُلِ؟ فَيَقُولُ مَا كَانَ يَقُولُ: هُوَ عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. فَيَقُولَانِ: قَدْ كُنَّا نَعْلَمُ أَنَّكَ تَقُولُ هَذَا. ثُمَّ يُفْسَحُ لَهُ فِي قَبْرِهِ سَبْعُونَ ذِرَاعًا فِي سَبْعِينَ، ثُمَّ يُنَوَّرُ لَهُ فِيْهِ ثُمَّ يُقَالُ لَهُ: نَمْ. فَيَقُولُ: ارْجِعْ إِلَى أَهْلِي فَأَخْبِرْهُمْ. فَيَقُولَانِ: نَمْ كَنَوْمَةِ الْعَرُوسِ الَّذِي لاَ يُوقِظُهُ إِلاَّ أَحَبَّ أَهْلِهِ إِلَيْهِ. حَتَّى يَبْعَثُهُ اللهُ مِنْ مَضْجَعِهِ ذَلِكَ؛ وَإِنْ كَانَ مُنَافِقًا قَالَ: سَمِعْتُ النَّاسَ يَقُولُونَ فَقُلْتُ مِثْلَهُ، لاَ أَدْرِي. فَيَقُولاَنِ: قَدْ كُنَّا نَعْلَمُ أَنَّكَ تَقُولُ ذَلِكَ. فَيُقَالُ لِلْأَرْضِ: الْتَئِمِي عَلَيْهِ. فَتَلْتَئِمُ عَلَيْهِ فَتَخْتَلِفُ فِيْهَا أَضْلَاعُهُ فَلَا يَزَالُ فِيْهَا مُعَذَّبًا حَتَّى يَبْعَثُهُ اللهُ مِنْ مَضْجَعِهِ ذَلِكَ

Jika mayit atau salah seorang dari kalian telah dikubur, datang dua malaikat, hitam (tubuhnya), biru (kedua matanya), satu dari keduanya bernama Al-Munkar dan yang lain An-Nakir.1 Kedua malaikat bertanya kepada mayit: “Apa yang dulu kamu katakan tentang lelaki ini (yakni Rasulullah n)?” Dia pun menyatakan apa yang dulu dia katakan: “Lelaki itu adalah hamba Allah l dan Rasul-Nya, Asyhadu allailahaillallah wa anna Muhammadar rasulullah.” Kedua malaikat menimpali: “Sungguh kami telah mengetahui bahwa engkau mengatakan demikian.” Lalu diluaskan kubur untuknya 70 dzira’ (hasta) kali 70 dzira’, dan diterangi, kemudian dikatakan padanya: “Tidurlah engkau.” Berkatalah mayit: “Kembalikanlah aku pada keluargaku agar aku kabarkan kepada mereka.” Keduanya berkata: “Tidurlah engkau sebagaimana tidurnya pengantin, tidak ada yang membangunkan kecuali orang yang paling dicintainya.” Hingga nanti Allah l bangkitkan dari pembaringannya.

Adapun jika mayit adalah seorang munafik, dia akan akan menjawab: “Dahulu aku mendengar manusia mengatakan sesuatu, aku pun mengatakannya… aku tidak tahu.” Keduanya berkata: “Sungguh kami telah mengetahui bahwa engkau akan berkata demikian.” Maka dikatakan pada bumi: “Himpitlah dia!” Bumi pun mengimpit mayit hingga tulang-tulang rusuknya bertautan. Terus-menerus azab ditimpakan hingga Allah l bangkitkan ia dari kuburnya.

Takhrij Hadits

Hadits dengan lafadz di atas diriwayatkan At-Tirmidzi t dalam As-Sunan, Kitab Al-Jana’iz bab Ma Ja’a fi ‘Azabil Qabri (Kitab Jenazah bab Azab kubur) (3/163, no. 1071), dari jalan Abdurrahman bin Ishaq, dari Sa’id bin Abi Sa’id Al-Maqburi, dari Abu Hurairah z.

Melalui jalan ini pula, Al-Imam Ahmad  t meriwayatkan dalam Al-Musnad (4/287, 295, 296), demikian pula Ibnu Hibban t dalam Shahih-nya (7/386, no. 3117), Ibnu Abi ‘Ashim t dalam As-Sunnah (no. 864), dan Abu Bakr Al-Ajurri t dalam Asy-Syari’ah (hal. 365).

Semuanya perawi tsiqah, tergolong perawi Al-Imam Muslim t dalam Ash-Shahih, kecuali Abdurrahman bin Ishaq. Dia adalah Abdurrahman bin Ishaq bin Abdilah bin Al-Harits bin Kinanah Al-‘Amiri Al-Madani. Ada pembicaraan pada rawi ini,2 tetapi tidak menurunkannya dari derajat hasan, insya Allah, sebagaimana disimpulkan Al-Hafizh t dalam At-Taqrib.3

Hadits ini hasan, demikian At-Tirmidzi dan Al-Baghawi memberikan hukum atasnya.

At-Tirmidzi t mengatakan: “Haditsun hasanun gharib (Hadits ini hasan gharib).” (As-Sunan 3/163)

Al-Baghawi t mengatakan: “Haditsun hasanun (Hadits ini hasan).” (Syarhus Sunnah, 5/416)

Asy-Syaikh Al-Albani t menghasankannya dalam Takhrij Misykatul Mashabih (1/131). Beliau berkata: “Sanad hadits ini hasan sesuai syarat Muslim.”4

Penamaan Al-Munkar dan An-Nakir dikuatkan dengan beberapa syawahid (pendukung). Di antaranya:

Pertama: Hadits Mu’adz bin Jabal z sebagaimana dalam riwayat Al-Bazzar dalam Al-Musnad (7/97).

Kedua: Hadits Bara’ bin ‘Azib z diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman (1/358) dan Ath-Thabarani dalam Tahdzib Al-Atsar (2/500).

Ketiga: Riwayat mauquf dari Abud Darda z, sebagaimana diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf (3/53).

Faedah: Penamaan malaikat Al-Munkar dan An-Nakir termaktub dalam kitab-kitab aqidah salaf. Ini memberikan isyarat sekaligus menguatkan bahwasanya salaf memandang keabsahan hadits Abu Hurairah z, dan kuatnya penyandaran hadits tersebut kepada Rasulullah n. Allahu ta’ala a’lam.

 

Kedudukan dan Makna Iman Kepada Malaikat

Iman kepada malaikat adalah bagian dari rukun iman. Mereka yang tidak mengimaninya dihukumi kafir dan berada dalam kesesatan yang nyata. Allah l berfirman:

“Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.” (An-Nisa’: 136)

Malaikat adalah makhluk Allah l dan utusan-utusan-Nya. Allah l berfirman:

“Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga, dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Fathir:1)

Hadits Abu Hurairah z adalah bagian dari sabda Rasulullah n tentang malaikat-malaikat Allah l, sekaligus berita tentang apa yang menimpa mayit di alam barzakh sebagai bagian dari iman kepada hari akhir.

Apa sesungguhnya hakikat iman kepada malaikat Allah l? Ketahuilah, sesungguhnya iman kepada malaikat Allah l bukan sekadar pernyataan percaya adanya malaikat, tetapi keimanan tersebut meliputi beberapa perkara.

Al-Imam Al-Baihaqi t berkata: “Iman kepada malaikat-malaikat Allah l mencakup makna yang banyak:

Pertama: Meyakini keberadaan (wujud) mereka.

Kedua: Menempatkan malaikat sesuai kedudukan-kedudukannya, (yaitu) meyakini bahwa malaikat hanyalah hamba-hamba Allah l yang Dia ciptakan sebagaimana manusia dan jin, mendapatkan perintah Allah l, dan sama sekali tidak memiliki kemampuan kecuali apa yang Allah l berikan kepada mereka. Juga (meyakini bahwasanya) kematian atas malaikat adalah sesuatu yang mungkin, hanya saja Allah l beri mereka usia panjang. Tidaklah Allah l mematikan kecuali jika datang ajalnya. Malaikat tidak boleh disifati dengan sifat-sifat yang mengantarkan pada penyekutuan dengan Allah l. Mereka tidak diibadahi sebagai sesembahan sebagaimana orang-orang terdahulu (menjadikan malaikat sebagai sesembahan selain Allah l).

Ketiga: Meyakini bahwa di antara mereka ada rasul-rasul yang Allah l utus kepada siapa yang Allah l kehendaki baik kepada manusia atau malaikat. Juga meyakini bahwa di antara malaikat ada yang (bertugas) membawa ‘Arsy, ada yang bershaf-shaf, ada penjaga jannah, penjaga neraka, pencatat amalan-amalan, dan ada yang menggiring awan. Sungguh, semua ini atau sebagian besarnya telah dikabarkan dalam Al-Qur’an.” (Syu’abul Iman)

Iman kepada malaikat adalah: Mengimani segala perkara yang Allah l kabarkan dalam Al-Qur’an dan Rasulullah n beritakan dalam As-Sunnah tentang malaikat mengenai empat perkara, pertama: nama-nama mereka; kedua: sifat-sifat mereka; ketiga: tugas-tugas mereka; dan keempat: jumlah mereka; baik secara global maupun terperinci.5

 

Apa Yang Harus Diyakini Tentang Munkar dan Nakir?

Saudaraku, semoga Allah l merahmati kita. Satu pokok yang wajib kita yakini, bahwasanya agama dibangun di atas Al-Kitab dan As-Sunnah dengan pemahaman salaful ummah, bukan hasil rekayasa pikiran, dorongan hawa nafsu, atau luapan perasaan. Termasuk iman pada malaikat-malaikat Allah l, tidak boleh kita bertutur dan meyakini kecuali harus dibangun di atas dalil.

Di atas pokok inilah kita beragama. Termasuk dalam permasalahan Al-Munkar dan An-Nakir, tidak boleh kita meyakini tentang keduanya kecuali apa yang ditunjukkan dalil Al-Kitab dan As-Sunnah. Demikian pula sebaliknya, tidak boleh bagi kita mengingkari apa yang telah dinyatakan dalam dalil meskipun terkadang berat bagi akal sebagian orang untuk menerimanya.

Al-Munkar dan An-Nakir, bagaimana akidah salaf, Ahlus Sunnah wal Jamaah, tentang keduanya? Berikut beberapa rincian pembahasannya. Wa billahi at-taufiq.

 

Penamaan Munkar dan Nakir berdasar Hadits yang Tsabit (Tetap) dari Rasulullah n

Hadits Abu Hurairah z adalah hadits hasan –sebagaimana telah berlalu pada pembahasan takhrij hadits– maka penamaan kedua malaikat dengan Munkar dan Nakir ditetapkan dengan hadits yang tsabit dari Rasulullah n.

Hadits ini sekaligus menggugurkan perkataan semua kelompok yang meragukan penamaan Munkar dan Nakir atau bahkan mengingkari keberadaan keduanya, semisal kelompok Jahmiyah, Mu’tazilah, dan seluruh pengekor hawa nafsu di masa lalu, sekarang ataupun masa yang akan datang.

Al-Imam Al-Albani t berkata: “Dalam hadits ini ada bantahan bagi orang-orang pada masa ini yang mengingkari penamaan Munkar dan Nakir.” (Takhrij Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyah hal. 399 –cet. Al-Maktab Al-Islami)

Orang-orang Jahmiyah misalnya, mereka menganggap bahwasanya iman itu sekadar ma’rifat (mengenal) Allah l. Oleh karena itu, disebutkan dari Jahm bin Shafwan6 bahwasanya iman manusia sama seperti iman Jibril dan malaikat-malaikat. Cukup dengan ma’rifah, seseorang telah mencapai kesempurnaan iman. Demikian mereka sangka.

Meskipun mereka meyakini wujud (keberadaan) malaikat, namun mereka ingkari kebanyakan dari amalan-amalan malaikat. Jahm mengingkari malaikat pencatat amal, mengingkari malaikat maut pencabut arwah, mengingkari azab kubur dan nikmatnya sekaligus malaikat yang mendapatkan tugas ini, juga mengingkari pertanyaan di alam kubur dan dua malaikat yang mendapatkan tugas ini yaitu malaikat Munkar dan Nakir ….7

Adapun Ahlus Sunnah wal Jamaah, maka aqidah mereka adalah akidah yang bersih dan menyucikan jiwa, karena dibangun di atas wahyu Allah l, Al-Qur’an dan As-Sunnah.

 

Penamaan Mungkar dan Nakir dalam kitab-kitab Aqidah Salaf

Berpijak pada hadits Abu Hurairah z, ulama memasukkan dua nama ini dalam kitab-kitab aqidah salaf (Ahlus Sunnah wal Jamaah). Berikut beberapa nukilan dari kitab-kitab aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah tersebut.

• Abu Muhammad Abdurrahman bin Abi Hatim Ar-Razi t (240-327 H) berkata: Aku bertanya pada bapakku (Abu Hatim Ar-Razi [277 H], pen.) dan Abu Zur’ah (264 H) –semoga Allah l meridhai keduanya– tentang keyakinan Ahlus Sunnah dalam pokok-pokok agama dan keyakinan ulama di seluruh negeri, yang keduanya menjumpai mereka berada di atas keyakinan tersebut, dan apa yang diyakini keduanya. Maka (Abu Hatim dan Abu Zur’ah) berkata: Kami telah jumpai ulama-ulama di seluruh penjuru negeri, baik dari Hijaz (Makkah, Madinah, Tha’if, dan sekitarnya, pen.), Irak, Mesir, Syam, atau Yaman, maka (kami dapatkan) bahwa di antara madzhab mereka adalah: … Meyakini bahwa azab kubur adalah haq (benar), Munkar dan Nakir adalah haq (benar)…” (Ashlus Sunnah Wa I’tiqadud Din –riwayat Ibnu Abi Hatim dari bapaknya dan Abu Zur’ah– hal. 15-18)

• Ibnu Abi Dawud t (230-316 H) berkata dalam Manzhumah Haiyah-nya:

وَلَا تُنْكِرَنْ جَهْلًا نَكِيْرًا وَمُنْكَرًا * وَلَا الْحَوْضَ وَالْمِيْزَانَ إِنَّكَ تُنْصَحُ

“Janganlah engkau ingkari Nakir dan Munkar karena kejahilan * Jangan pula kau ingkari telaga dan timbangan, sungguh engkau mendapat nasihat.”

• Abu Ja’far Ath-Thahawi t (239-321 H)8 berkata: “Dan (kita mengimani) … pertanyaan Munkar dan Nakir dalam kubur seorang tentang Rabbnya, agamanya, dan nabinya, berdasarkan hadits-hadits dari Rasulullah n dan para sahabat beliau g.” (Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyah hal. 397 dengan syarah Ibnu Abil ‘Izz Al-Hanafi t)

• Al-Imam Al-Barbahari t (329 H)9 berkata: “Dan beriman dengan azab kubur serta Munkar dan Nakir.” (Syarhus Sunnah)

• Al-Imam Abdul Ghani Al-Maqdisi t (600 H) berkata: “Mengimani azab kubur adalah perkara yang benar, wajib, dan fardhu …. Demikian pula iman kepada pertanyaan Mungkar dan Nakir.” (‘Aqidah Al-Hafizh Taqiyuddin ‘Abdul Ghani Al-Maqdisi hal. 88)

• Al-Imam Abu Muhammad Abdullah bin Ahmad bin Qudamah Al-Maqdisi t (541-620 H) berkata: “Pertanyaan Mungkar dan Nakir adalah benar, kebangkitan setelah kematian adalah benar, yaitu ketika Israfil q meniup sangkakala, (sebagaimana Allah l firmankan:)

“Dan ditiuplah sangkakala, maka tiba-tiba mereka keluar dengan segera dari kuburnya (menuju) kepada Rabb mereka.” (Yasin: 51) [Lum’atul I’tiqad hal. 51]10

Apa yang dinukil dari ucapan ulama dalam kitab-kitab aqidah salaf, menunjukkan bahwa penamaan Munkar dan Nakir adalah bagian yang tidak terlepas dari i’tiqad (keyakinan) Ahlus Sunnah wal Jamaah baik dari kalangan sahabat atau generasi sesudahnya, sebagaimana diucapkan Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi t dalam ‘Aqidah-nya bahwasanya penetapan azab kubur termasuk penamaan malaikat Munkar dan Nakir adalah: “… berdasarkan hadits-hadits dari Rasulullah n dan dari para sahabat g.”11

 

Menjawab Keraguan Penamaan Al-Munkar Dan An-Nakir

Munkar dan Nakir, penamaan ini diragukan sebagian orang. Keraguan tersebut setidaknya bersandar pada dua alasan.

Pertama: Anggapan bahwa hadits yang menetapkan dua nama ini dha’if (lemah).

Kedua: Persangkaan adanya nakarah (keganjilan) makna dalam nama Munkar dan Nakir. Mereka berkata: “Bagaimana mungkin dua malaikat ini bernama Munkar dan Nakir yang bermakna sesuatu yang diingkari atau asing?” atau “Mungkinkah keduanya diingkari dan asing padahal Allah l telah mensifati malaikat-malaikat-Nya dengan sifat-sifat terpuji?”

Sebagai jawaban atas keraguan pertama, kita katakan: “Hadits yang menetapkan penamaan Munkar dan Nakir, termasuk hadits hasan. Bahkan dikuatkan dengan penyebutan salaf dalam kitab-kitab aqidah sebagaimana telah lalu pembahasannya.” Maka tidak diragukan kebenaran dua nama ini.

Adapun alasan kedua, tentang keganjilan makna, sebenarnya tidak perlu dibicarakan jika dalil telah shahih. Karena kewajiban kita adalah menerima dan membenarkan kabar Rasulullah n yang semuanya adalah wahyu sebagaimana Allah l berfirman:

“Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (An-Najm: 3-4)

Akan tetapi ulama –jazahumullahu khairan– tetap tidak luput untuk menjawab syubhat persangkaan ketidaklayakan makna Munkar dan Nakir.

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin t mengatakan: “… Mereka disebut Munkar (asing, pen.) karena mayit (merasa asing) tidak mengenali keduanya dan tidak mengetahui sebelum itu. Sebagaimana Nabi Ibrahim q berkata pada tamunya (mensifati dengan kemungkaran/keasingan) padahal ternyata mereka dari kalangan malaikat. Allah l berfirman:

Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tamu Ibrahim (malaikat-malaikat) yang dimuliakan? (Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan: “Salaaman”, Ibrahim menjawab: “Salaamun” (kamu) adalah orang-orang yang tidak dikenal. (Adz-Dzariyat: 24-25) [Syarh Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah]

Perhatikan ayat ini, Nabi Ibrahim q mensifati malaikat yang bertamu kepadanya dengan ucapan beliau (ﯨ ﯩ). Yang maknanya “(Kalian adalah) kaum yang munkar (tidak dikenal).” Sifat ini sama sekali tidak menunjukkan celaan kepada malaikat-malaikat Allah l, tamu Ibrahim. Maka teranglah bahwa penamaan Munkar atau Nakir bukan sesuatu yang merendahkan malaikat, terlebih penamaan ini shahih dari sabda Rasulullah n.

Ibnul Arabi t mengatakan: “Dinamai Munkar dan Nakir yang bermakna umum (karena cobaan keduanya) mengenai semua mayit yang ditanya, baik kafir atau mukmin (semua tidak luput dari pertanyaan dua malaikat ini, pen.)12; dan (dinamai Munkar dan Nakir) karena semua orang yang melihat keduanya akan mengingkari keduanya, karena apa yang ada pada keduanya berupa pemandangan yang menyeramkan, bentuk yang menakutkan, pembicaraan yang kasar, maqami’ (alat pukul) yang ada pada tangan-tangan keduanya yang sangat mengerikan dan menyeramkan.” (‘Aridhatul Ahwadzi, 4/292)

 

Sifat Malaikat Munkar dan Nakir

Munkar dan Nakir seperti malaikat-malaikat yang lain dari sisi materi penciptaan. Keduanya diciptakan dari cahaya, berdasarkan hadits yang diriwayatkan Al-Imam Muslim t dalam Ash-Shahih dari ‘Aisyah Ummul Mukminin x, Rasulullah n bersabda :

خُلِقَتِ الْمَلَائِكَةُ مِنْ نُورٍ وَخُلِقَ الْجَانُّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ وَخُلِقَ آدَمُ مِمَّا وُصِفَ لَكُمْ

“Malaikat diciptakan dari cahaya, Jin diciptakan dari api, dan Adam diciptakan dari apa yang disifatkan bagi kalian.”13

Demikian pula mereka disifati dengan ketaatan yang penuh terhadap perintah Allah l. Sebagaimana dalam firman Allah l:

“… Tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (At-Tahrim: 6)

Di antara sifat Munkar dan Nakir yang tersebut dalam hadits ini adalah sabda Rasulullah n:

أَسْوَدَانِ، أَزْرَقَانِ

“Keduanya hitam dan biru.”

Al-Mubarakfuri t mengatakan: “Maksudnya, biru kedua matanya.” (Tuhfatul Ahwadzi, 3/520, cet. Darul Hadits)

Allahu a’lam bish-shawab.

Keduanya disifati membawa alat pukul dari besi untuk memukul siapa saja yang tidak menjawab pertanyaan keduanya. Sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan Al-Bukhari  t dalam Shahih-nya:

ثُمَّ يُضْرَبُ بِمِطْرَقَةٍ مِنْ حَدِيدٍ ضَرْبَةً بَيْنَ أُذُنَيْهِ فَيَصِيحُ صَيْحَةً يَسْمَعُهَا مَنْ يَلِيهِ إِلاَّ الثَّقَلَيْنِ

“…Kemudian dia (mayyit yang durhaka kepada Allah) dipukul dengan palu dari besi dengan pukulan di wajahnya, hingga dia menjerit dengan jeritan yang didengar siapa yang di sekitarnya kecuali jin dan manusia.”14

Demikian beberapa sifat malaikat Munkar dan Nakir berdasar Al-Kitab dan As-Sunnah. Allahu a’lam bish-shawab.

 

Tugas Malaikat Munkar-Nakir dan Adanya Fitnah Kubur

Dalam hadits ini Rasulullah n mengabarkan tugas malaikat Munkar dan Nakir, yaitu menanyakan kepada mayit tentang Rabbnya, agamanya, dan nabinya.

Pertanyaan dua malaikat inilah yang dimaksud dengan fitnah kubur, yaitu ujian yang menentukan nasib seseorang, akankah mendapatkan nikmat kubur atau sebaliknya mendapatkan azab kubur.

Manusia ketika itu terbagi menjadi dua golongan: golongan yang Allah l selamatkan dari fitnah kubur dan golongan lain yang tidak Allah l beri keselamatan, sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Hurairah z di atas.

Golongan Pertama: Mereka adalah orang-orang beriman yang Allah l beri tsabat (keteguhan) dalam menghadapi fitnah. Allah l berfirman:

“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.” (Ibrahim : 27)

Mereka menjawab semua pertanyaan Munkar dan Nakir. Kuburnya pun diluaskan dan diberi cahaya. Rasulullah n bersabda:

ثُمَّ يُفْسَحُ لَهُ فِي قَبْرِهِ سَبْعُونَ ذِرَاعًا فِي سَبْعِينَ، ثُمَّ يُنَوَّرُ لَهُ فِيهِ

“..Lalu diluaskan kubur untuknya 70 dzira’ (hasta) kali 70 dzira’, dan diterangi..”

Hadits menunjukkan bahwa kubur seorang mukmin –secara hakiki– diluaskan panjang dan lebarnya sepanjang 70 dzira’ (hasta). Demikian diterangkan Al-Mubarakfuri t. Atau makna dari perkataan Rasulullah n tersebut adalah bahwa kubur akan diluaskan dengan sangat luasnya. Ath-Thibi t berkata sebagaimana dinukilkan Al-Mubarakfuri: “… Peluasan kubur disandarkan kepada 70 sebagai bentuk mubalaghah (sangat) atas luasnya kubur.” (lihat Tuhfatul Ahwadzi 3/521)

Wal ‘ilmu ‘indallah.

Berkenaan nasib seorang mukmin, Rasulullah n bersabda dalam hadits shahih dari shahabat Bara’ bin ‘Azib c: Maka datanglah dua malaikat kepada mayit, keduanya mendudukkan mayit kemudian bertanya kepadanya: “Siapa Rabbmu?” Dia menjawab: “Rabbku adalah Allah.” “Apa agamamu?” Dia menjawab: “Agamaku Islam.” “Siapa orang yang diutus kepada kalian?” Dia menjawab: “Rasulullah n.” “Apa amalanmu?” Dia menjawab: “Aku membaca Al-Qur’an dan aku mengamalkan serta membenarkannya.” Maka terdengarlah seruan dari langit: “Hamba-Ku benar, hamparkanlah untuknya dari jannah, berilah pakaian dari jannah, dan bukakanlah untuknya pintu menuju jannah.” Lalu datanglah seseorang yang sangat indah wajah dan bajunya, sangat harum aromanya seraya berkata: “Bergembiralah dengan apa yang membahagiakanmu. Inilah hari yang dahulu engkau dijanjikan.” Berkatalah mayit: “Siapakah kamu? Wajahmu tampak datang dengan kebaikan.” Dia menjawab: “Aku adalah amalan shalihmu.” Berkatalah mayit: “Ya Rabb, tegakkanlah hari kiamat agar aku kembali kepada keluarga dan hartaku.”15

Demikianlah keadaan kaum mukminin di alam kubur. Kita meminta kepada Allah l semoga Allah l matikan kita dalam keadaan beriman dan mendapatkan nikmat kubur.

Golongan kedua: orang-orang kafir dan munafik. Mereka mendapatkan kehinaan dengan fitnah ini. Mulut mereka tidak mampu sediakan pun menimpa mereka sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Hurairah z di atas.

Pembaca rahimakumullah, demikian beberapa pembahasan terkait dengan dua malaikat Munkar dan Nakir, sifat dan tugas mereka. Mengimani keduanya adalah bagian dari iman kepada malaikat, yang telah diimani oleh salaful ummah baik dari kalangan sahabat, tabi’in, dan orang-orang yang berjalan di atas jalan mereka.

Ibnu Abil ‘Izzi Al-Hanafi t (792 H) mengatakan: “Telah mutawatir16 berita-berita dari Rasulullah n tentang adanya azab dan nikmat kubur bagi orang yang pantas mendapatkannya. Demikian pula pertanyaan dua malaikat. Maka wajib (bagi kita) beri’tiqad dan meyakini adanya hal itu.”17

Semoga Allah l melindungi kita dan kaum muslimin dari neraka jahannam, fitnah kubur, serta segala kejelekan di dunia dan akhirat.

Walhamdulillahi rabbil ‘alamin.


1 Demikian dengan menggunakan alif dan lam: Al-Munkar dan An-Nakir. Dalam sebagian riwayat disebutkan namanya tanpa menggunakan alif dan lam, Munkar dan Nakir.

2 Al-Imam Ahmad berkata: “Shalihul hadits (Haditsnya baik).” (Al-‘Ilal wa Ma’rifatur Rijal, 1/130)

Ibnu Hibban menyebutkan Abdurrahman bin Ishaq dalam Ats-Tsiqat (7/86).

Al-‘Ijli berkata: “Yuktabu haditsuhu wa laisa bil qawi (Haditsnya ditulis, namun dia bukan orang yang kuat).” (Tarikh Ats-Tsiqat)

Abu Hatim berkata: “Yuktabu haditsuhu wa laa yuhtaju bihi (Ditulis haditsnya, dan dia tidak dijadikan hujjah).” (Al-Jarh wat Ta’dil, 5/212. Lihat Tahdzib At-Tahdzib, 6/125-126)

3 Beliau berkata: “Shaduq, rumiya bil qadar (Dia seorang yang shaduq/haditsnya hasan, dituduh berpaham Qadariyah).”

4 Lihat juga takhrij beliau atas Syarah Al-’Aqidah Ath-Thahawiyah (hal. 399) dan Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah (3/379-380, no. 1391)

5 Definisi ini termasuk definisi yang mencakup seluruh permasalahan iman kepada malaikat-malaikat Allah l, baik terkait dengan sumber keyakinan yaitu Al-Kitab dan As-Sunnah, atau hal-hal yang harus diyakini tentang malaikat. Demikian Asy-Syaikh Dr. Abdur Razaq bin Abdul Muhsin Al-Abbad hafizhahullah menjelaskan dalam beberapa muhadharah (ceramah).

6 Adz-Dzahabi mengatakan: “Jahm bin Shafwan Abu Mahraz As-Samarqandi, seorang sesat, mubtadi’, pemuka Jahmiyah. Dia binasa di zaman shigar tabi’in (tabi’in kecil). Aku tidak tahu dia meriwayatkan sesuatu, tetapi dia telah menebarkan benih kesesatan yang sangat besar.” (Mizanul I’tidal, 1/426)

Di antara pemikiran Jahm adalah meniadakan sifat Allah l. Keyakinan ini diambilnya dari Ja’d bin Dirham yang disembelih oleh Khalid bin ‘Abdilah Al-Qasri di Wasith. Jahm sendiri dibunuh di Khurasan oleh Salm bin Ahwaz pada tahun 128 H.

7 Mu’taqad Firaqul Muslimin wal Yahud wan Nashara wal Falasifah wal Watsaniyin fil Mala’ikah Al-Muqarrabin karya Asy-Syaikh Dr. Muhammad bin Abdul Wahhab Al-’Aqil (hal. 242-243).

8 Beliau adalah Al-Imam Abu Ja’far Ahmad bin Salamah bin Abdul Malik bin Salamah bin Sulaiman Al-Azdi Ath-Thahawi.

9 Beliau adalah Al-Imam Al-Hafizh Abu Muhammad Al-Hasan bin Ali bin Khalaf Al-Barbahari Al-Hanbali.
10 Dengan syarah Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin.
11 Juga perkataan Abu Hatim dan Abu Zur’ah: “Kami telah menjumpai ulama-ulama (Ahlus Sunnah, ahlul hadits) di seluruh negeri baik dari Hijaz, Irak, Mesir, Syam, atau Yaman… (yakni mereka semua mengimani Munkar dan Nakir).”
12 Kecuali beberapa golongan yang tidak ditanya sebagaimana ditunjukkan dalam nash-nash.
13 Diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim dalam Shahih-Nya kitab Az-Zuhd wa Ar-Raqaiq (4/2294).
Faedah: Yang dimaksud dengan sabda Rasulullah n: “Adam diciptakan dari apa yang disifatkan bagi kalian” adalah bahwa Adam q diciptakan dari tanah sebagaimana Allah l sifatkan dalam Al-Qur’an, demikian pula yang Rasul kita sebutkan tentang materi penciptaan Adam.
14 HR. Al-Bukhari dalam Ash-Shahih no. 1338
15 Bagian dari hadits Bara’ bin Azib c. Diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad t dalam Al-Musnad (4/287-288) dan Al-Hakim t dalam Al-Mustadrak (1/93-94). Al-Hakim mengatakan: “Dalam hadits ini terdapat faedah yang sangat banyak bagi Ahlus Sunnah dan bantahan bagi mubtadi’ah (ahli bid’ah)….” (Al-Mustadrak, 1/96)
Faedah: Hadits Bara’ bin ‘Azib dishahihkan banyak ulama, seperti Al-Hakim dan Ibnul Qayyim rahimahumallah. Adapun Ibnu Hazm dan Ibnu Hibban rahimahumallah, beliau berdua kurang tepat dalam memberikan hukum terhadap hadits ini dengan kedha’ifan. Bantahan (tentang hal ini) dapat dilihat secara rinci dalam kitab Ar-Ruh, karya Ibnu Qayyim t.

Membantah Pengingkar Azab Kubur

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal Al-Bugisi)

 

“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.” (Ibrahim: 27)

 

Penjelasan Beberapa Mufradat Ayat

“Allah meneguhkan.”

At-tatsbit pada ayat ini bermakna at-tahqiq yang artinya mewujudkan, yaitu Allah l mewujudkan amalan dan keimanan mereka. (Tafsir Ath-Thabari)

Adapula yang menyebutkan bahwa makna at-tatsbit adalah tetap dan kokoh. (lihat Fathul Qadir)

“Dengan ucapan yang teguh itu.”

Yakni kalimat yang haq dan hujjah yang jelas, yaitu kalimat tauhid: Laa ilaaha illallaah Muhammad Rasulullah. (Tafsir Al-Baghawi, Fathul Qadir, Asy-Syaukani)

“Dalam kehidupan dunia dan akhirat.”

Terjadi perselisihan di kalangan para ulama dalam menjelaskan makna “di dunia dan akhirat”:

– Pendapat pertama, yang dimaksud “di dunia” adalah sebelum mati dan “di akhirat” adalah sesudah mati (alam kubur). Ini adalah pendapat yang dikuatkan oleh jumhur ulama dan yang dipilih oleh Ath-Thabari t.

– Pendapat kedua, yang dimaksud “di dunia” adalah alam kubur, sedangkan yang dimaksud “di akhirat” adalah hari kiamat. Al-Bara’ bin ‘Azib z berkata tatkala menjelaskan tentang ayat ini: “Pengokohan dalam kehidupan dunia adalah apabila datang dua malaikat kepada seseorang di alam kuburnya, lalu keduanya bertanya kepadanya: ‘Siapakah Rabb-mu?’ Maka dia menjawab: ‘Rabb-ku adalah Allah.’ Lalu keduanya bertanya lagi: ‘Apakah agamamu?’ Maka dia menjawab: ‘Agamaku Islam.’ Lalu keduanya bertanya lagi: ‘Siapakah nabimu?’ Maka dia menjawab: ‘Nabiku adalah Muhammad n.’ Itulah yang dimaksud pengokohan dalam kehidupan dunia.” (Atsar ini diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim t dalam Shahih-nya no. 2871, Ath-Thabari 13/213, Abu Bakr bin Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf 3/53 no. 12048, dan Al-Ajurri dalam Asy-Syari’ah hal. 866)

 

Penjelasan Makna Ayat

Allah k mengabarkan bahwa Dia akan mengokohkan hamba-hamba-Nya yang mukmin, yaitu mereka yang tegak dengan keimanan hati yang sempurna, yang membuahkan amalan-amalan tubuhnya, sehingga Allah k mengokohkannya dalam kehidupan dunia tatkala munculnya berbagai syubhat dengan senantiasa terbimbing kepada keyakinan. Begitu pula tatkala munculnya syahwat, Allah k kokohkan dengan tekad yang kuat untuk lebih mengedepankan apa yang dicintai Allah k di atas hawa nafsu dan segala kehendaknya. Adapun di akhirat, ketika dia menemui kematian, dia diberi kekokohan di atas agama Islam dan akhir kehidupan yang baik. Di alam kubur adalah tatkala ditanya oleh dua malaikat, (Allah l kokohkan) dengan jawaban yang benar. Jika seorang yang telah mati ditanya: “Siapa Rabb-mu?”, “Apa agamamu?”, dan “Siapakah nabimu?”, maka (Allah k) membimbingnya dengan jawaban yang benar di mana seorang mukmin menjawab: “Allah Rabb-ku”, “Islam agamaku”, dan “Muhammad n nabiku.” Allah  l juga menyesatkan orang-orang zalim yang menyimpang dari kebenaran di dunia dan di akhirat. Dan Allah k tidaklah menzalimi mereka, namun merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri.

Ayat ini menunjukkan adanya fitnah (ujian) di alam kubur, siksaan dan kenikmatannya, sebagaimana yang terdapat dalam nash-nash yang mutawatir dari Nabi n tentang fitnah tersebut, sifatnya, kenikmatan dan siksaannya.” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman)

Diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim t dalam Shahih-nya dari Nabi n bahwa beliau membaca ayat ini lalu bersabda:

نَزَلَتْ فِي عَذَابِ الْقَبْرِ، فَيُقَالُ لَهُ: مَنْ رَبُّكَ؟ فَيَقُولُ: رَبِّيَ اللهُ وَنَبِيِّ مُحَمَّدٌ n؛ فَذَلِكَ قَوْلُهُ عَزَّ وَجَلَّ {ﭭ ﭮ ﭯ ﭰ ﭱ ﭲ ﭳ ﭴ ﭵ ﭶ ﭷﭸ}

“(Ayat ini) turun berkenaan tentang siksaan kubur. Dikatakan kepadanya: ‘Siapakah rabb-mu?’ Maka dia menjawab: ‘Rabb-ku adalah Allah, nabiku Muhammad n.’ Maka itulah yang dimaksud dengan firman-Nya k:

ﭭ ﭮ ﭯ ﭰ ﭱ ﭲ ﭳ ﭴ ﭵ ﭶ ﭷﭸ

“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat.” (HR. Muslim: 2871)

Juga diriwayatkan dari hadits Abu Sa’id Al-Khudri z, beliau berkata: Kami pernah bersama Rasulullah n dalam (mengurusi) jenazah, lalu beliau bersabda:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ هَذِهِ الْأُمَّةَ تُبْتَلَى فِي قُبُورِهَا، فَإِذَا الْإِنْسَانُ دُفِنَ وَتَفَرَّقَ عَنْهُ أَصْحَابُهُ، جَاءَهُ مَلَكٌ بِيَدِهِ مِطْرَاقٌ فَأَقْعَدَهُ فَقَالَ: مَا تَقُولُ فِي هَذَا الرَّجُلُ؟ فَإِنْ كَانَ مُؤْمِنًا قَالَ: أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. فَيَقُولُ لَهُ: صَدَقْتَ. فَيُفْتَحُ لَهَ بَابٌ إِلَى النَّارِ فَيُقَالُ: هَذَا مَنْزِلُكَ لَوْ كَفَرْتَ بِرَبِّكَ، فَأَمَّا إِذْ آمَنْتَ بِهِ، فَإِنَّ اللهَ أَبْدَلَكَ بِهِ هَذَا. ثُمَّ يُفْتَحُ لَهُ بَابٌ إِلَى الْجَنَّةِ، فَيُرِيدُ أَنْ يَنْهَضَ لَهُ، فَيُقَالُ لَهُ: اسْكُنْ. ثُمَّ يُفْسَحُ لَهُ فِي قَبْرِهِ. وَأَمَّا الْكَافِرُ أَوِ الْمُنَافِقُ فَيُقَالُ لَهُ: مَا تَقُولُ فِي هَذَا الرَّجُلُ؟ فَيَقُولُ: مَا أَدْرِي! فَيُقَالُ لَهُ: لاَ دَرَيْتَ وَلَا تَدَرَّيتَ وَلَا اهْتَدَيْتَ! ثُمَّ يُفْتَحُ لَهُ بَابٌ إِلَى الْجَنَّةِ فَيُقَالُ لَهُ: هَذَا كَانَ مَنْزِلُكَ لَوْ آمَنْتَ بِرَبِّكَ، فَأَمَّا إذْ كَفَرْتَ، فَإِنَّ اللهَ أَبْدَلَكَ هَذَا. ثُمَّ يُفْتَحُ لَهُ بَابٌ إِلَى النَّارِ، ثُمَّ يَقْمَعُهُ الْمَلَكُ بِالْمِطْرَاقِ قَمْعَةً يَسْمَعُهُ خَلْقُ اللهِ كُلُّهُمْ إِلاَّ الثَّقَلَيْنِ

“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya umat ini akan diuji dalam kuburnya. Jika seseorang telah dikuburkan dan para pelayatnya telah meninggalkannya, maka dia didatangi oleh malaikat yang di tangannya ada palu, lalu mendudukkannya dan bertanya: ‘Apa pendapatmu tentang orang ini (maksudnya Muhammad n, pen.)?’ Jika dia seorang mukmin maka dia mengatakan: ‘Aku bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah melainkan Allah l semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan Muhammad n adalah hamba dan Rasul-Nya.’ Maka malaikat itu berkata kepadanya: ‘Engkau benar.’ Maka dibukakan baginya pintu menuju neraka, lalu dikatakan kepadanya: ‘Ini tempatmu jika sekiranya engkau kafir kepada rabb-mu. Adapun jika engkau beriman kepada-Nya, maka sesungguhnya Allah telah menggantikanmu dengan yang ini’, lalu dibukakan baginya pintu menuju surga. Maka dia pun ingin segera beranjak ke sana, maka dikatakan kepadanya: ‘Diamlah,’ lalu diluaskan kuburannya. Adapun orang yang kafir atau munafik maka dikatakan kepadanya: ‘Apa pendapatmu tentang orang ini?’ Maka dia menjawab: ‘Aku tidak tahu!’ Maka dikatakan kepadanya: ‘Kamu tidak tahu dan tidak berusaha untuk mengetahui serta tidak mendapatkan hidayah!’ Lalu dibukakan baginya pintu menuju surga lalu dikatakan kepadanya: ‘Ini tempatmu jika sekiranya engkau beriman kepada Rabb-mu. Adapun di saat engkau kafir kepadanya, maka Allah menggantinya dengan yang ini, lalu dibukakan baginya pintu menuju neraka.’ Lalu malaikat itu memukulnya dengan palu dengan pukulan yang didengar oleh seluruh makhluk Allah kecuali jin dan manusia.”

Sebagian sahabat bertanya kepada beliau n: “Wahai Rasulullah, apakah setiap kami yang jika malaikat yang di tangannya ada palu berdiri di sisi kepalanya akan dipukulkan ketika itu?” Maka Rasulullah n menjawab dengan menyebut firman Allah l:

“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.” (Ibrahim: 27) [HR. Ath-Thabari, 16/592, Ibnu Abi ‘Ashim dalam As-Sunnah, 2/417, dishahihkan Al-Albani t dalam Ash-Shahihah no. 3394]

Ayat-ayat dan hadits-hadits mutawatir yang datang dari berbagai jalur menetapkan adanya ujian di alam kubur. Oleh karena itu, perkara ini merupakan hal yang menjadi kesepakatan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Tidak ada yang menyelisihinya kecuali dari kalangan ahli bid’ah yang sesat.

Abu Ja’far Ath-Thahawi t menyebutkan dalam Aqidah Ahlus Sunnah:

وَبِعَذَابِ الْقَبْرِ لِمَنْ كَانَ لَهُ أَهْلًا

“Dan (beriman) dengan adanya siksaan kubur bagi orang yang berhak merasakannya.” (Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyyah)

Ibnu Abil ‘Izz t menegaskan: “Telah datang berita-berita yang mutawatir dari Rasulullah n tentang kebenaran adanya siksaan kubur dan kenikmatannya bagi yang berhak mendapatkannya. Demikian pula pertanyaan dua malaikat. Maka wajib meyakini benarnya hal tersebut dan mengimaninya, serta kita tidak membicarakan tentang bagaimananya. Sebab akal tidak mampu menjangkau bagaimana terjadinya, karena tidak ada hubungannya dengan kehidupan di dunia ini. Syariat tidaklah datang dengan sesuatu yang tidak diterima akal, namun datang dengan sesuatu yang mengherankan akal. Sebab, kembalinya ruh ke jasadnya tidak seperti apa yang diketahui di dunia, namun dikembalikan ruh tersebut ke jasad tidak seperti pengembaliannya ketika di dunia.” (Syarah Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyyah, Ibnu Abil Izz, tahqiq Abdullah bin Abdil Muhsin At-Turki dan Al-Arna’uth, 2/578)

 

Aqidah Batil Ahli Bid’ah

Ayat Allah k merupakan satu di antara sekian banyak ayat yang terdapat dalam Al-Qur’an yang membantah keyakinan ahli bid’ah dari kalangan Mu’tazilah dan neo-Mu’tazilah dari firqah Hizbut Tahrir yang mengingkari adanya siksaan dan kenikmatan di alam kubur/barzakh bagi mereka yang berhak merasakannya. Mereka memiliki sejumlah syubhat untuk mengingkari hal ini.

Di antara syubhat yang mereka1 sebutkan adalah tentang ayat yang menjadi topik bahasan kita. Mereka menyebutkan bahwa ayat ini terdapat dalam surah Ibrahim yang merupakan surah Makkiyyah, sementara Rasulullah n tidak mengetahui siksa kubur kecuali setelah beliau berada di Madinah. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan Al-Imam Ahmad t dalam Musnad-nya (6/81), dari Aisyah x bahwa seorang wanita Yahudi pernah membantunya, dan setiap kali Aisyah x melakukan satu kebaikan kepadanya maka wanita Yahudi ini mengatakan kepadanya: “Semoga Allah melindungimu dari siksa kubur.” Lalu Rasulullah n menemuiku dan aku berkata: “Wahai Rasulullah, apakah di alam kubur ada siksaan sebelum hari kiamat?” Beliau menjawab: “Tidak. Ada apa?” Aisyah pun berkata: “Wanita Yahudi ini, tidaklah kami melakukan satu kebaikan kepadanya melainkan dia berkata: ‘Semoga Allah melindungimu dari siksaan kubur’.” Beliau menjawab: “Dusta orang-orang Yahudi. Mereka para pendusta atas nama Allah k. Tidak ada siksaan sebelum hari kiamat.” Lalu beberapa saat setelah itu, beliau keluar pada siang hari sambil menyelimuti dengan pakaiannya dengan mata yang memerah, sambil dia berteriak dengan suaranya yang paling keras: “Wahai sekalian manusia, fitnah menyelimuti kalian seperti potongan malam yang hitam. Wahai sekalian manusia, sekiranya kalian mengetahui apa yang aku ketahui, kalian pasti banyak menangis dan sedikit tertawa. Wahai sekalian manusia, berlindunglah kepada Allah k dari siksaan kubur, karena sesungguhnya siksaan kubur itu adalah benar.” (Hadits yang semakna dengannya diriwayatkan Al-Imam Muslim  t dalam Shahih-nya no. 584)

Demikian pula firman Allah l:

“Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada malaikat): ‘Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras’.” (Ghafir: 46)

Yang mana ayat ini juga merupakan ayat Makkiyyah. Karena kedua ayat ini Makkiyyah, sementara Rasulullah n mengetahui adanya siksaan kubur setelah berada di Madinah, maka ini menunjukkan bahwa kedua ayat tersebut bukan dalil tentang adanya siksaan kubur. Demikian syubhat mereka.

Syubhat ini telah dijawab oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar t. Beliau berkata:

“Jawabannya adalah bahwa siksaan kubur dari ayat pertama diambil secara mafhum bagi orang yang tidak memiliki iman. Demikian pula secara manthuq (penunjukan secara nash) pada ayat yang kedua terhadap para pengikut Fir’aun, dan termasuk pula yang sama hukumnya dengan mereka dari kalangan orang-orang kafir. Maka yang diingkari oleh Nabi n adalah terjadinya siksaan kubur bagi ahli tauhid (kaum mukminin). Kemudian Nabi n diberitakan kepadanya bahwa hal itu bisa saja terjadi bagi siapa yang dikehendaki Allah k dari mereka, sehingga beliau pun memastikan dan memperingatkan darinya, serta bersungguh-sungguh dalam memohon perlindungan darinya sebagai bentuk pelajaran dan bimbingan kepada umatnya. Maka tidak ada kontradiksi. Walhamdulillah.” (Fathul Bari, 3/279. Lihat pula yang semakna dengan ini dalam ‘Umdatul Qari, 8/203)

Ada pula yang berkata dalam mengomentari ucapan Al-Hafizh Ibnu Hajar ini dengan mengatakan: “Apakah mungkin bagi Rasulullah n menyampaikan sesuatu berita tanpa ilmu pengetahuan? Apakah mungkin bagi Rasulullah n salah dalam tablighnya?”2

Maka jawaban kami adalah:

Kelihatannya, orang yang mengkritik (pernyataan) Al-Hafizh tersebut tidak memahami/berpura-pura untuk tidak memahami ucapan beliau. Sebab jika dia memahaminya dengan baik maka pertanyaan seperti ini tidak mungkin diutarakan. Tidak ada kesalahan dalam penyampaian Rasulullah n. Tidak pula Rasulullah n menyampaikan sesuatu tanpa ilmu. Namun apa yang beliau ketahui tatkala ayat tersebut turun, adalah apa yang nampak dari ayat tersebut bahwa ayat itu berkenaan tentang siksaan kubur bagi orang-orang kafir, dan belum dikabarkan kepada beliau bahwa hal itu juga bisa dialami seorang muslim yang berhak merasakannya disebabkan perbuatan dosa yang dilakukannya. Sedangkan Rasulullah n tidak mengetahui kecuali apa yang telah Allah l beritakan kepadanya, sebagaimana firman-Nya:

“Katakanlah: ‘Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku’.” (Al-Kahfi: 110, Fushshilat: 6)

Al-Qurthubi t ketika menjelaskan ayat ini mengatakan: “Yaitu, saya tidak mengetahui kecuali apa yang Allah l ajarkan kepadaku.” (Tafsir Al-Qurthubi, 11/69)

Rasulullah n juga bersabda:

إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ فَمَا حَدَّثْتُكُمْ عَنِ اللهِ فَهُوَ حَقٌّ وَمَا قُلْتُ فِيهِ مِنْ قِبَلِ نَفْسِي فَإِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ أُصِيبُ وَأُخْطِئُ

“Sesungguhnya aku hanyalah seorang manusia, maka apa yang aku beritakan kepada kalian dari Allah maka itu adalah kebenaran, dan apa yang aku ucapkan dari diriku sendiri maka sesungguhnya aku hanyalah seorang manusia, bisa benar dan bisa salah.” (HR. Al-Bazzar dari Ibnu Abbas c, dihasankan Al-Haitsami t dalam Al-Majma’, 1/178, dan Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 455)

Sehingga apabila Rasulullah n menyampaikan sesuatu dari diri beliau, jika itu benar maka akan ditetapkan sebagai syariat. Jika apa yang beliau sebutkan keliru, maka segera turun wahyu dari Allah k untuk membenarkan kekeliruan apa yang disampaikan Rasulullah n, sampai agama ini sempurna, sehingga tidak lagi membutuhkan koreksi dan pembenaran dari siapapun.

Walhamdulillah.


1 Syubhat ini disebutkan oleh Syamsudin An-Nawiy dalam risalah kecilnya yang berjudul Koreksi Total Terhadap Pemahaman Hadits Ahad & Siksa Kubur, hal. 58-59.

2 Ibid, hal. 62.

Amalan yang Menyelamatkan dari Azab Kubur

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan)

 

Setelah memberitahukan dahsyatnya azab kubur dan sebab-sebab yang akan menyeret ke dalamnya, baik melalui firman-Nya ataupun melalui lisan Rasulullah n yang mulia, dengan rahmat dan keutamaan-Nya, Allah l juga memberitahukan amalan-amalan yang akan menyelamatkan dari azab kubur tersebut.

Al-Imam Ibnul Qayyim t berkata: “Sebab-sebab yang akan menyelamatkan seseorang dari azab kubur terbagi menjadi dua:

1. Sebab-sebab secara global

Yaitu dengan menjauhi seluruh sebab yang akan menjerumuskan ke dalam azab kubur sebagaimana yang telah disebutkan.

Sebab yang paling bermanfaat adalah seorang hamba duduk beberapa saat sebelum tidur untuk mengevaluasi dirinya: apa yang telah dia lakukan, baik perkara yang merugikan maupun yang menguntungkan pada hari itu. Lalu dia senantiasa memperbarui taubatnya yang nasuha antara dirinya dengan Allah l, sehingga dia tidur dalam keadaan bertaubat dan berkemauan keras untuk tidak mengulanginya bila nanti bangun dari tidurnya. Dia lakukan itu setiap malam. Maka, apabila dia mati (ketika tidurnya itu), dia mati di atas taubat. Apabila dia bangun, dia bangun tidur dalam keadaan siap untuk beramal dengan senang hati, karena Allah l menunda ajalnya hingga dia menghadap Rabbnya dan berhasil mendapatkan segala sesuatu yang terluput. Tidak ada perkara yang lebih bermanfaat bagi seorang hamba daripada taubat ini. Terlebih lagi bila dia berzikir setelah itu dan melakukan sunnah-sunnah yang datang dari Rasulullah n ketika dia hendak tidur sampai benar-benar tertidur. Maka, barangsiapa yang Allah l kehendaki kebaikan baginya, niscaya Allah l akan berikan hidayah taufik untuk melakukan hal itu. Dan tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah l.

 

2. Sebab-sebab terperinci

Di antaranya:

– Ribath (berjaga di pos perbatasan wilayah kaum muslimin) siang dan malam.

Dari Fadhalah bin Ubaid z, Rasulullah n bersabda:

كُلُّ مَيِّتٍ يُخْتَمُ عَلَى عَمَلِهِ إِلَّا الَّذِي مَاتَ مُرَابِطًا فِي سَبِيلِ اللهِ فَإِنَّهُ يُنْمَى لَهُ عَمَلُهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَيَأْمَنُ مِنْ فِتْنَةِ الْقَبْرِ

“Setiap orang yang mati akan diakhiri/diputus amalannya, kecuali orang yang mati dalam keadaan ribath di jalan Allah l. Amalannya akan dikembangkan sampai datang hari kiamat dan akan diselamatkan dari fitnah kubur.” (HR. At-Tirmidzi dan Abu Dawud)

– Mati syahid

Dari Ubadah bin Ash-Shamit z, dari Nabi n:

لِلشَّهِيدِ عِنْدَ اللهِ سِتُّ خِصَالٍ: يُغْفَرُ لَهُ فِي أَوَّلِ دُفْعَةٍ مِنْ دَمِهِ، وَيُرَى مَقْعَدَهُ مِنَ الْجَنَّةِ، وَيُجَارُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَيَأْمَنُ مِنَ الْفَزَعِ الْأَكْبَرِ، وَيُحَلَّى حُلَّةَ الْإِيمَانِ وَيُزَوَّجُ مِنَ الْحُورِ الْعِينِ، وَيُشَفَّعُ فِي سَبْعِينَ إِنْسَانًا مِنْ أَقَارِبِهِ

“Orang yang mati syahid akan mendapatkan enam keutamaan di sisi Allah l: diampuni dosa-dosanya dari awal tertumpahkan darahnya, akan melihat calon tempat tinggalnya di surga, akan diselamatkan dari azab kubur, diberi keamanan dari ketakutan yang sangat besar, diberi hiasan dengan hiasan iman, dinikahkan dengan bidadari, dan akan diberi kemampuan untuk memberi syafaat kepada 70 orang kerabatnya.” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Majah. Al-Albani berkata dalam Ahkamul Jana’iz bahwa sanadnya hasan)

– Mati pada malam Jumat atau siang harinya.

Dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-’Ash c, dari Nabi n, beliau bersabda:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يـَمُوتُ يَوْمَ الْـجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ إِلَّا وَقَاهُ اللهُ فِتْنَةَ الْقَبْرِ

“Tidaklah seorang muslim meninggal pada hari Jumat atau malamnya, kecuali Allah akan melindunginya dari fitnah kubur.” (HR. Ahmad dan Al-Fasawi. Asy-Syaikh Al-Albani mengatakan dalam Ahkamul Jana’iz bahwa hadits ini dengan seluruh jalur-jalurnya hasan atau shahih)

– Membaca surat Al-Mulk

Dari Ibnu Abbas c, Nabi n bersabda:

هِيَ الْمَانِعَةُ هِيَ الْمُنْجِيَةُ تُنْجِيهِ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ

“Dia (surat Al-Mulk) adalah penghalang, dia adalah penyelamat yang akan menyelamatkan pembacanya dari azab kubur.” (HR. At-Tirmidzi, lihat Ash-Shahihah no. 1140) [dinukil dari Ar-Ruh dengan sedikit perubahan]

– Doa sebagaimana yang telah lalu, bahwa Rasulullah n berlindung dari azab kubur dan memerintahkan umatnya untuk berlindung darinya.

 

Nikmat Kubur

Setelah mengetahui dan meyakini adanya azab kubur yang demikian mengerikan dan menakutkan, berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah yang shahih, juga mengetahui macam-macamnya, penyebabnya, dan hal-hal yang akan menyelamatkan darinya, maka termasuk kesuksesan yang agung adalah selamat dari berbagai azab tersebut dan mendapatkan nikmat di dalamnya dengan rahmat-Nya.

Allah l berfirman:

“Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih maka Rabb mereka memasukkan mereka ke dalam rahmat-Nya (surga). Itulah keberuntungan yang nyata.” (Al-Jatsiyah: 30)

“Katakanlah: ‘Sesungguhnya aku takut akan azab hari yang besar (hari kiamat), jika aku mendurhakai Rabbku.’ Barangsiapa yang dijauhkan azab daripadanya pada hari itu, maka sungguh Allah telah memberikan rahmat kepadanya. Dan itulah keberuntungan yang nyata.” (Al-An’am: 15-16)

Adapun nikmat kubur, di antaranya apa yang Rasulullah n beritakan dalam hadits Al-Bara’ z yang panjang:

– mendapatkan ampunan dan keridhaan-Nya. Sebagaimana perkataan malakul maut kepada orang yang sedang menghadapi sakaratul maut:

أَيَّتُهَا النَّفْسُ الطَّيِّبَةُ، اخْرُجِي إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنَ اللهِ وَرِضْوَانٍ

“Wahai jiwa yang tenang, keluarlah menuju ampunan Allah dan keridhaan-Nya.”

– dikokohkan hatinya untuk menghadapi dan menjawab fitnah kubur.

“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat.” (Ibrahim: 27)

– Digelarkan permadani, didandani dengan pakaian dari surga, dibukakan baginya pintu menuju surga, dilapangkan kuburnya, dan di dalamnya ditemani orang yang tampan wajahnya, bagus penampilannya, sebagaimana yang Rasulullah n kabarkan dalam hadits Al-Bara’ yang panjang:

فَأَفْرِشُوهُ مِنَ الْجَنَّةِ وَأَلْبِسُوهُ مِنَ الْجَنَّةِ وَافْتَحُوا لَهُ بَابًا إِلَى الْجَنَّةِ. قَالَ: فَيَأْتِيهِ مِنْ رَوْحِهَا وَطِيبِهَا وَيُفْسَحُ لَهُ فِي قَبْرِهِ مَدَّ بَصَرِهِ. قَالَ: وَيَأْتِيهِ رَجُلٌ حَسَنُ الْوَجْهِ حَسَنُ الثِّيَابِ طَيِّبُ الرِّيحِ فَيَقُولُ: أَبْشِرْ بِالَّذِي يَسُرُّكَ هَذَا يَوْمُكَ الَّذِي كُنْتَ تُوعَدُ. فَيَقُولُ لَهُ: مَنْ أَنْتَ، فَوَجْهُكَ الْوَجْهُ يَجِيءُ بِالْخَيْرِ. فَيَقُولُ: أَنَا عَمَلُكَ الصَّالِحُ

“Maka gelarkanlah permadani dari surga, dandanilah ia dengan pakaian dari surga. Bukakanlah baginya sebuah pintu ke surga, maka sampailah kepadanya bau wangi dan keindahannya. Dilapangkan kuburnya sejauh mata memandang, kemudian datang kepadanya seorang yang tampan wajahnya, bagus pakaiannya, wangi baunya. Lalu dia berkata: ‘Berbahagialah dengan perkara yang menyenangkanmu. Ini adalah hari yang dahulu kamu dijanjikan.’ Dia pun bertanya: ‘Siapa kamu? Wajahmu adalah wajah orang yang datang membawa kebaikan.’ Dia menjawab: ‘Aku adalah amalanmu yang shalih…” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)

Mudah-mudahan Allah l meneguhkan hati kita di atas kalimat tauhid hingga akhir hayat kita dan menyelamatkan kita dari berbagai fitnah (ujian) dunia dan fitnah kubur, serta memasukkan kita ke dalam jannah-Nya. Amin ya Rabbal ‘alamin.

Sebab-sebab Mendapatkan Azab Kubur

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan)

 

Banyak sekali hal-hal yang menyebabkan seseorang mendapatkan azab kubur. Sampai-sampai Al-Imam Ibnul Qayyim t dalam kitabnya Ar-Ruh menyatakan: “Secara global, mereka diazab karena kejahilan mereka tentang Allah l, tidak melaksanakan perintah-Nya, dan karena perbuatan mereka melanggar larangan-Nya. Maka, Allah l tidak akan mengazab ruh yang mengenal-Nya, mencintai-Nya, melaksanakan perintah-Nya, dan meninggalkan larangan-Nya. Demikian juga, Allah l tidak akan mengazab satu badan pun yang ruh tersebut memiliki ma’rifatullah (pengenalan terhadap Allah) selama-lamanya. Sesungguhnya azab kubur dan azab akhirat adalah akibat kemarahan Allah l dan kemurkaan-Nya terhadap hamba-Nya. Maka barangsiapa yang menjadikan Allah l marah dan murka di dunia ini, lalu dia tidak bertaubat dan mati dalam keadaan demikian, niscaya dia akan mendapatkan azab di alam barzakh sesuai dengan kemarahan dan kemurkaan-Nya.” (Ar-Ruh hal. 115)

Di antara sebab-sebab azab kubur secara terperinci adalah sebagai berikut:

1. Kekafiran dan kesyirikan.

Sebagaimana azab yang menimpa Fir’aun dan bala tentaranya. Allah l berfirman:

“Maka Allah memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka, dan Fir’aun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk. Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya kiamat. (Dikatakan kepada malaikat): ‘Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras’.” (Ghafir: 45-46)

 

2. Kemunafikan

Allah l berfirman:

“Di antara orang-orang Arab Badui yang di sekelilingmu itu, ada orang-orang munafik; dan (juga) di antara penduduk Madinah. Mereka keterlaluan dalam kemunafikannya. Kamu (Muhammad) tidak mengetahui mereka, (tetapi) Kamilah yang mengetahui mereka. Nanti mereka akan Kami siksa dua kali kemudian mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar.” (At-Taubah: 101)

 

3. Tidak menjaga diri dari air kencing dan mengadu domba

Rasulullah n bersabda:

مَرَّ النَّبِيُّ n بِقَبْرَينِ فَقَالَ: إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ، أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لاَ يَسْتَتِرُ مِنَ الْبَوْلِ وَأَمَّا الْآخَرُ فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ. فَأَخَذَ جَرِيدَةً رَطْبَةً فَشَقَّهَا نِصْفَيْنِ فَغَرَزَ فِي كُلِّ قَبْرٍ وَاحِدَةً. فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، لِمَا فَعَلْتَ هَذَا؟ قَالَ: لَعَلَّهُ يُخَفَّفُ عَنْهُمَا مَا لَمْ يَيْبَسَا

Nabi n melewati dua kuburan. Beliau n bersabda: “Sesungguhnya keduanya sedang diazab, dan tidaklah keduanya diazab disebabkan suatu perkara yang besar (menurut kalian). Salah satunya tidak menjaga diri dari percikan air kencing, sedangkan yang lain suka mengadu domba antara manusia.” Beliau lalu mengambil sebuah pelepah kurma yang masih basah, kemudian beliau belah menjadi dua bagian dan beliau tancapkan satu bagian pada masing-masing kuburan. Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, mengapa engkau melakukan hal ini?” Beliau menjawab: “Mudah-mudahan diringankan azab tersebut dari keduanya selama pelepah kurma itu belum kering.” (Muttafaqun ‘alaih dari Ibnu Abbas c)

 

4. Ghibah

Dari Anas bin Malik z, dia berkata: Rasulullah n bersabda:

لَمَّا عَرَجَ بِي رَبِّي عَزَّ وَجَلَّ مَرَرْتُ بِقَوْمٍ لَهُمْ أَظْفَارٌ مِنْ نُحَاسٍ يَخْمُشُونَ وُجُوهَهُمْ وَصُدُورَهُمْ، فَقُلْتُ: مَنْ هَؤُلَاءِ يَا جِبْرِيلُ؟ قَالَ: هَؤُلَاءِ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ لُحُومَ النَّاسِ وَيَقَعُونَ فِي أَعْرَاضِهِمْ

“Tatkala Rabbku memi’rajkanku (menaikkan ke langit), aku melewati beberapa kaum yang memiliki kuku dari tembaga, dalam keadaan mereka mencabik-cabik wajah dan dada mereka dengan kukunya. Maka aku bertanya: ‘Siapakah mereka ini wahai Jibril?’ Dia menjawab: ‘Mereka adalah orang-orang yang memakan daging (suka mengghibah) dan menjatuhkan kehormatan manusia’.” (HR. Ahmad, dishahihkan Al-Albani t dalam Ash-Shahihah no. 533. Hadits ini juga dicantumkan dalam Ash-Shahihul Musnad karya Asy-Syaikh Muqbil t)

Al-Hafizh Ibnu Rajab Al-Hanbali t menyatakan: “Sebagian ulama menyebutkan rahasia dikhususkannya (penyebab azab kubur) air kencing, namimah (adu domba), dan ghibah (menggunjing). Rahasianya adalah bahwa alam kubur itu adalah tahap awal alam akhirat. Di dalamnya terdapat beberapa contoh yang akan terjadi pada hari kiamat, seperti siksaan ataupun balasan yang baik. Sedangkan perbuatan maksiat yang akan disiksa karenanya ada dua macam: terkait dengan hak Allah l dan terkait dengan hak hamba. Hak-hak Allah l yang pertama kali akan diselesaikan pada hari kiamat adalah shalat, sedangkan yang terkait dengan hak-hak hamba adalah darah.

Adapun di alam barzakh, yang akan diputuskan adalah pintu-pintu dari kedua hak ini dan perantaranya. Maka, syarat sahnya shalat adalah bersuci dari hadats dan najis. Sedangkan pintu tumpahnya darah adalah namimah (adu domba) dan menjatuhkan kehormatan orang lain. Keduanya adalah dua jenis perkara menyakitkan yang paling ringan, maka diawali di alam barzakh dengan evaluasi serta siksaan karena keduanya.” (Ahwalul Qubur hal. 89)

 

5. Niyahah (meratapi jenazah)

Dari Ibnu Umar c, dari Nabi n, beliau bersabda:

إِنَّ الْمَيِّتَ يُعَذَّبُ بِبُكَاءِ أَهْلِهِ عَلَيْهِ

“Sesungguhnya mayit itu akan diazab karena ratapan keluarganya.” (Muttafaqun ‘alaih)

Dalam riwayat lain dalam Shahih Muslim:

الْمَيِّتُ يُعَذَّبُ فِي قَبْرِهِ بِمَا نِيحَ عَلَيْهِ

“Mayit itu akan diazab di kuburnya dengan sebab ratapan atasnya.”

Jumhur ulama berpendapat, hadits ini dibawa kepada pemahaman bahwa mayit yang ditimpa azab karena ratapan keluarganya adalah orang yang berwasiat supaya diratapi, atau dia tidak berwasiat untuk tidak diratapi padahal dia tahu bahwa kebiasaan mereka adalah meratapi orang mati. Oleh karena itu Abdullah ibnul Mubarak t berkata: “Apabila dia telah melarang mereka (keluarganya) meratapi ketika dia hidup, lalu mereka melakukannya setelah kematiannya, maka dia tidak akan ditimpa azab sedikit pun.” (Umdatul Qari’, 4/78)

Azab di sini menurut mereka maknanya adalah hukuman. (Ahkamul Jana’iz, hal. 41)

Selain sebab-sebab di atas, ada beberapa hal lain yang telah disebutkan dalam pembahasan Macam-macam Azab Kubur.

 

Apakah Azab Kubur itu Terus-Menerus?

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin t berkata: “Jawaban terhadap pertanyaan ini:

1. Azab kubur bagi orang-orang kafir terjadi terus-menerus dan tidak mungkin terputus karena mereka memang berhak menerimanya. Seandainya azab tersebut terputus atau berhenti, maka kesempatan ini menjadi waktu istirahat bagi mereka. Padahal mereka bukanlah orang-orang yang berhak mendapatkan hal itu. Maka, mereka adalah golongan orang-orang yang terus-menerus dalam azab kubur sampai datangnya hari kiamat, walaupun panjang masanya.

2. Orang-orang beriman yang berbuat maksiat, Allah l mengazab mereka dengan sebab dosa-dosanya. Di antara mereka ada yang diazab terus-menerus, ada pula yang tidak. Ada yang panjang masanya, ada pula yang tidak, tergantung dosa-dosanya serta ampunan Allah k.” (Syarh Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah, 2/123)

Macam-macam Azab Kubur

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan)

 

1. Diperlihatkan neraka jahannam

“Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang.” (Ghafir: 46)

Dari Ibnu Umar c bahwasanya Rasulullah n bersabda:

إِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا مَاتَ عُرِضَ عَلَيْهِ مَقْعَدَهُ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ، إِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَمِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ، وَإِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ فَمِنْ أَهْلِ النَّارِ فَيُقَالُ: هَذَا مَقْعَدُكَ حَتَّى يَبْعَثَكَ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Sesungguhnya apabila salah seorang di antara kalian mati maka akan ditampakkan kepadanya calon tempat tinggalnya pada waktu pagi dan sore. Bila dia termasuk calon penghuni surga, maka ditampakkan kepadanya surga. Bila dia termasuk calon penghuni neraka maka ditampakkan kepadanya neraka, dikatakan kepadanya: ‘Ini calon tempat tinggalmu, hingga Allah l membangkitkanmu pada hari kiamat’.” (Muttafaqun ‘alaih)

 

2. Dipukul dengan palu dari besi

Dari Anas z, dari Nabi n:

فَأَمَّا الْكَافِرُ وَالْمُنَافِقُ فَيَقُولَانِ لَهُ: مَا كُنْتَ تَقُولُ فِي هَذَا الرَّجُلِ؟ فَيَقُولُ: لَا أَدْرِي، كُنْتُ أَقُولُ مَا يَقُولُ النَّاسُ. فَيَقُولَانِ: لَا دَرَيْتَ وَلَا تَلَيْتَ. ثُمَّ يُضْرَبُ بِمِطْرَاقٍ مِنْ حَدِيدٍ بَيْنَ أُذُنَيْهِ فَيَصِيحُ فَيَسْمَعُهَا مَنْ عَلَيْهَا غَيْرُ الثَّقَلَيْنِ

Adapun orang kafir atau munafik, maka kedua malaikat tersebut bertanya kepadanya: “Apa jawabanmu tentang orang ini (Rasulullah n)?” Dia mengatakan: “Aku tidak tahu. Aku mengatakan apa yang dikatakan orang-orang.” Maka kedua malaikat itu mengatakan: “Engkau tidak tahu?! Engkau tidak membaca?!” Kemudian ia dipukul dengan palu dari besi, tepat di wajahnya. Dia lalu menjerit dengan jeritan yang sangat keras yang didengar seluruh penduduk bumi, kecuali dua golongan: jin dan manusia.” (Muttafaqun ‘alaih)

 

3. Disempitkan kuburnya, sampai tulang-tulang rusuknya saling bersilangan, dan didatangi teman yang buruk wajahnya dan busuk baunya.

Dalam hadits Al-Bara’ bin ‘Azib z yang panjang, Rasulullah n menceritakan tentang orang kafir setelah mati:

فَأَفْرِشُوهُ مِنَ النَّارِ وَافْتَحُوا لَهُ بَابًا مِنَ النَّارِ؛ فَيَأْتِيهِ مِنْ حَرِّهَا وَسُمُومِهَا وَيَضِيقُ عَلَيْهِ قَبْرُهُ حَتَّى تَخْتَلِفَ فِيهِ أَضْلاَعُهُ وَيَأْتِيهِ رَجُلٌ قَبِيحُ الْوَجْهِ قَبِيحُ الثِّيَابِ مُنْتِنُ الرِّيحِ فَيَقُولُ: أَبْشِرْ بِالَّذِي يَسُوؤُكَ، هَذَا يَوْمُكَ الَّذِي كُنْتَ تُوعَدُ. فَيَقُولُ: مَنْ أَنْتَ، فَوَجْهُكَ الْوَجْهُ الَّذِي يَجِيءُ بِالشَّرِّ. فَيَقُولُ: أَنَا عَمَلُكَ الْخَبِيثُ. فَيَقُولُ: رَبِّ لَا تُقِمِ السَّاعَةَ

“Gelarkanlah untuknya alas tidur dari api neraka, dan bukakanlah untuknya sebuah pintu ke neraka. Maka panas dan uap panasnya mengenainya. Lalu disempitkan kuburnya sampai tulang-tulang rusuknya berimpitan. Kemudian datanglah kepadanya seseorang yang jelek wajahnya, jelek pakaiannya, dan busuk baunya. Dia berkata: ‘Bergembiralah engkau dengan perkara yang akan menyiksamu. Inilah hari yang dahulu engkau dijanjikan dengannya (di dunia).’ Maka dia bertanya: ‘Siapakah engkau? Wajahmu adalah wajah yang datang dengan kejelekan.’ Dia menjawab: ‘Aku adalah amalanmu yang jelek.’ Maka dia berkata: ‘Wahai Rabbku, jangan engkau datangkan hari kiamat’.” (HR. Ahmad, An-Nasa’i, Ibnu Majah dan Al-Hakim)

 

4. Dirobek-robek mulutnya, dimasukkan ke dalam tanur yang dibakar, dipecah kepalanya di atas batu, ada pula yang disiksa di sungai darah, bila mau keluar dari sungai itu dilempari batu pada mulutnya.

Rasulullah n berkata kepada Jibril dan Mikail e sebagaimana disebutkan dalam hadits yang panjang:

فَأَخْبِرَانِي عَمَّا رَأَيْتُ. قَالَا: نَعَمْ، أَمَّا الَّذِي رَأَيْتَهُ يُشَقُّ شِدْقُهُ فَكَذَّابٌ يُحَدِّثُ بِالْكَذْبَةِ فَتُحْمَلُ عَنْهُ حَتَّى تَبْلُغَ الْآفَاقَ فَيُصْنَعُ بِهِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَالَّذِي رَأَيْتَهُ يُشْدَخُ رَأْسُهُ فَرَجُلٌ عَلَّمَهُ اللهُ الْقُرْآنَ فَنَامَ عَنْهُ بِاللَّيْلِ وَلَمْ يَعْمَلْ فِيهِ بِالنَّهَارِ يُفْعَلُ بِهِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَالَّذِي رَأَيْتَهُ فِي الثَّقْبِ فَهُمُ الزُّنَاةُ، وَالَّذِي رَأَيْتَهُ فِي النَّهْرِ آكِلُوا الرِّبَا

“Beritahukanlah kepadaku tentang apa yang aku lihat.” Keduanya menjawab: “Ya. Adapun orang yang engkau lihat dirobek mulutnya, dia adalah pendusta. Dia berbicara dengan kedustaan lalu kedustaan itu dinukil darinya sampai tersebar luas. Maka dia disiksa dengan siksaan tersebut hingga hari kiamat. Adapun orang yang engkau lihat dipecah kepalanya, dia adalah orang yang telah Allah ajari Al-Qur’an, namun dia tidur malam (dan tidak bangun untuk shalat malam). Pada siang hari pun dia tidak mengamalkannya. Maka dia disiksa dengan siksaan itu hingga hari kiamat. Adapun yang engkau lihat orang yang disiksa dalam tanur, mereka adalah pezina. Adapun orang yang engkau lihat di sungai darah, dia adalah orang yang makan harta dari hasil riba.” (HR. Al-Bukhari no. 1386 dari Jundub bin Samurah z)

 

5. Dicabik-cabik ular-ular yang besar dan ganas

Rasulullah n bersabda:

فَإِذَا أَنَا بِنِسَاءٍ تَنْهَشُ ثَدْيَهُنَّ الْحَيَّاتُ، فَقُلْتُ: مَا بَالُ هَؤُلَاءِ؟ فَقَالَ: اللَّوَاتِي يَمْنَعْنَ أَوْلَادَهُنَّ أَلْبَانَهُنَّ

“Tiba-tiba aku melihat para wanita yang payudara-payudara mereka dicabik-cabik ular yang ganas. Maka aku bertanya: ‘Kenapa mereka?’ Malaikat menjawab: ‘Mereka adalah para wanita yang tidak mau menyusui anak-anaknya (tanpa alasan syar’i)’.” (HR. Al-Hakim. Asy-Syaikh Muqbil t dalam Al-Jami’ush Shahih berkata: “Ini hadits shahih dari Abu Umamah Al-Bahili z.”)

Alam Barzakh, Azab Kubur Yang Menakutkan atau Nikmat Kubur Yang Menyenangkan?

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan )

 

Allah l di awal surat Al-Baqarah menyebutkan sifat hamba-hamba-Nya yang bertakwa bahwa mereka beriman kepada yang ghaib serta memiliki amalan-amalan yang nampak maupun tidak nampak. Karena kata takwa mencakup semua hal itu. Allah l berfirman:

“(Yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib.” (Al-Baqarah: 3)

Karena, hakikat iman itu adalah pembenaran secara total terhadap segala yang diberitakan oleh para rasul (dalam perkara yang ghaib) yang mengandung konsekuensi ketaatan seluruh anggota tubuh. Sehingga bukanlah termasuk iman yang benar, keyakinan terhadap hal-hal yang hanya bisa disaksikan oleh panca indera saja. Karena tidak akan terbedakan antara yang mukmin dan yang kafir dalam perkara tersebut. Hanya saja permasalahan iman itu ialah terhadap perkara ghaib, yang kita tidak bisa melihat dan merasakannya dengan panca indera yang lainnya.

Kita beriman terhadap yang ghaib itu hanyalah karena adanya berita dari Allah l dan Rasul-Nya n semata. Inilah iman yang akan membedakan antara orang yang mukmin dengan orang kafir. Sehingga, seorang mukmin akan beriman kepada seluruh perkara yang diberitakan Allah l dan Rasul-Nya n dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Sama saja baginya, apakah dia mampu mengetahuinya dengan panca inderanya atau tidak. Sama saja baginya, apakah akalnya mampu menjangkaunya atau tidak. Sikap seorang mukmin yang demikian ini berbeda dengan sikap orang-orang zindiq (munafik) yang mendustakan perkara-perkara ghaib karena telah rusak akalnya. Mereka mendustakan perkara-perkara ghaib tersebut karena akalnya tidak mampu menjangkaunya. Rusaklah akalnya dan kacaulah pemikirannya. Sedangkan akal seorang mukmin menjadi bersih dan suci dengan bimbingan wahyu ilahi.

Termasuk beriman dengan perkara ghaib adalah beriman dengan seluruh perkara yang Allah l dan Rasul-Nya n beritakan berupa berbagai peristiwa yang telah terjadi maupun yang akan terjadi. Demikian pula hal-hal yang akan terjadi di akhirat nanti. (Taisir Al-Karimirrahman, hal. 40)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah t berkata: “Termasuk beriman kepada hari akhir adalah beriman dengan seluruh perkara yang Nabi n beritakan berupa hal-hal yang akan terjadi setelah kematian. Sehingga, Ahlus Sunnah beriman kepada adanya fitnah (ujian pertanyaan) di kubur dan azab kubur.”

 

Dalil-dalil dari Al-Qur’an tentang Azab Kubur

Di antara dalil-dalil yang menunjukkan adanya azab kubur dari Al-Qur’an adalah sebagai berikut:

1. Allah l berfirman:

“Maka Allah memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka, dan Fir’aun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk. Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya kiamat. (Dikatakan kepada malaikat): ‘Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras’.” (Ghafir: 45-46)

Ibnu Katsir t berkata: “Ayat ini adalah dalil yang paling kuat bagi Ahlus Sunnah untuk menetapkan adanya azab kubur, yaitu firman Allah l:

“Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang.” (Ghafir: 46)

Yakni, diperlihatkan kepada mereka neraka di pagi dan sore hari.

 

2. Allah l berfirman:

“Maka biarkanlah mereka hingga mereka menemui hari (yang dijanjikan kepada) mereka yang pada hari itu mereka dibinasakan, (yaitu) hari ketika tidak berguna bagi mereka sedikit pun tipu daya mereka dan mereka tidak ditolong. Dan sesungguhnya untuk orang-orang yang zalim ada azab selain itu. Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (Ath-Thur: 45-47)

Ibnu Abil ‘Izzi Al-Hanafi t berkata: “Firman Allah l ini, kemungkinan yang dimaksud adalah mereka diazab di dunia dengan dimatikan atau yang lainnya. Kemungkinan (yang kedua) mereka diazab di alam barzakh. Makna yang kedua ini yang lebih nampak jelas, karena kebanyakan mereka mati dalam keadaan belum diazab di dunia. Atau kemungkinan (ketiga) maksudnya adalah umum, yaitu azab di dunia dan di akhirat (termasuk azab kubur).” (Syarh Al-’Aqidah Ath-Thahawiyyah, hal. 612-613)

 

3. Allah l berfirman:

“Nanti mereka akan Kami siksa dua kali kemudian mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar.” (At-Taubah: 101)

Asy-Syaikh Hafizh bin Ahmad Al-Hakami t berkata: “Ibnu Mas’ud z, Abu Malik, Ibnu Juraid, Al-Hasan Al-Bashri, Sa’id, Qatadah, dan Ibnu Ishaq rahimahumullah, mereka mengatakan (yang kesimpulannya) bahwa yang dimaksudkan dengan ayat tersebut adalah azab di dunia dan azab di kubur. Kemudian mereka dikembalikan ke azab yang besar yaitu neraka jahannam.” (Ma’arijul Qabul, 2/719)

 

4. Allah l berfirman:

“Dan sesungguhnya Kami merasakan kepada mereka sebagian azab yang dekat sebelum azab yang lebih besar (di akhirat). Mudah-mudahan mereka kembali (ke jalan yang benar).” (As-Sajdah: 21)

Al-Imam Ibnu Katsir t berkata: “Al-Bara’ bin ‘Azib, Mujahid, dan Abu Ubaidah berkata bahwa yang dimaksud adalah azab kubur.” (Tafsir Ibnu Katsir, 3/405)

 

Dalil-dalil dari As-Sunnah

Asy-Syaikh Hafizh bin Ahmad Al-Hakami t berkata: “Dalil-dalil dari As-Sunnah yang menunjukkan adanya azab kubur sungguh telah mencapai derajat mutawatir, karena para imam As-Sunnah, para periwayat hadits dan para pakarnya (kritikus, penelitinya) dari sejumlah besar  kalangan sahabat (telah meriwayatkan dari Rasulullah n). Di antaranya Anas bin Malik, Abdullah bin Abbas, Al-Bara’ bin Azib, Umar bin Al-Khaththab, Abdullah bin Umar, Aisyah, dll g. (Ma’arijul Qabul, 2/721)

1. Dari Anas bin Malik z, dari Nabi n, beliau bersabda;

وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ

“Dan aku berlindung kepada-Mu dari azab kubur.” (Muttafaqun ‘alaih)

Dalam riwayat Muslim, dari Anas z bahwa Nabi n bersabda:

لَوْلَا أَنْ لَا تَدَافَنُوا لَدَعَوْتُ اللهَ أَنْ يُسْمِعَكُمْ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ الَّذِي أَسْمَعُ

“Kalau kalian tidak saling menguburkan (jenazah), sungguh aku akan meminta kepada Allah agar memperdengarkan sebagian azab kubur yang aku dengar kepada kalian.”

 

2. Dari Ibnu Abbas c, dia berkata:

مَرَّ النَّبِيُّ n بِقَبْرَينِ فَقَالَ: إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ، أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لاَ يَسْتَتِرُ مِنَ الْبَوْلِ وَأَمَّا الْآخَرُ فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ. فَأَخَذَ جَرِيدَةً رَطْبَةً فَشَقَّهَا نِصْفَيْنِ فَغَرَزَ فِي كُلِّ قَبْرٍ وَاحِدَةً. فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، لِمَا فَعَلْتَ هَذَا؟ قَالَ: لَعَلَّهُ يُخَفَّفُ عَنْهُمَا مَا لَمْ يَيْبَسَا

Nabi n melewati dua kuburan. Beliau l bersabda: “Sesungguhnya keduanya sedang diazab, dan tidaklah keduanya diazab disebabkan suatu perkara yang besar (menurut kalian). Salah satunya tidak menjaga diri dari percikan air kencing, sedangkan yang lain suka mengadu domba antara manusia.” Beliau lalu mengambil sebuah pelepah kurma yang masih basah, kemudian beliau belah menjadi dua bagian dan beliau tancapkan satu bagian pada masing-masing kuburan. Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, mengapa engkau melakukan hal ini?” Beliau menjawab: “Mudah-mudahan diringankan azab tersebut dari keduanya selama pelepah kurma itu belum kering.” (Muttafaqun ‘alaih)

3. Dari Aisyah x, dia berkata:

دَخَلْتُ عَلَى يَهُودِيَّةٍ فَذَكَرَتْ عَذَابَ الْقَبْرِ فَكَذَّبْتُهَا فَدَخَلَ النَّبِيُّ n عَلَيَّ فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لَهُ فَقَالَ: وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، إِنَّهُمْ لَيُعَذَّبُونَ فِي قُبُورِهِمْ حَتَّى الْبَهَائِمَ تَسْمَعُ أَصْوَاتَهُمْ

Aku masuk kepada seorang wanita Yahudi, kemudian dia menceritakan azab kubur, maka aku mendustakannya. Kemudian Nabi n masuk kepadaku, aku pun menceritakan kejadian itu kepada beliau. Beliau n lalu bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, sungguh mereka akan diazab di kubur mereka, sehingga hewan-hewan pun mendengarkan jeritan-jeritan mereka.” (HR. Muslim)

 

Rasulullah n Berlindung Dari Azab Kubur

Rasulullah n berlindung dari azab kubur dan memerintahkan umatnya untuk berlindung darinya. Dari Aisyah x, dia bertanya kepada Rasulullah n tentang azab kubur, maka beliau menjawab:

نَعَمْ، عَذَابُ الْقَبْرِ حَقٌّ. فَقَالَتْ عَائِشَةُ x: فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ n بَعْدُ صَلَّى صَلَاةً إِلاَّ تَعَوَّذَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ

“Ya. Azab kubur itu benar adanya.” Aisyah x berkata: “Setelah kejadian tersebut, aku tidak pernah melihat Rasulullah n melakukan shalat kecuali berlindung dari azab kubur.” (HR. Al-Bukhari no. 1049)

Dari Abu Hurairah z, dia berkata: Rasulullah n bersabda:

إِذَا تَشَهَّدَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَعِذْ مِنْ أَرْبَعٍ يَقُولُ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّال

“Apabila salah seorang kalian bertasyahud, hendaklah dia meminta perlindungan dari empat perkara, hendaknya dia berdoa: Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari azab neraka jahannam, azab kubur, fitnah kehidupan dan kematian, serta dari kejelekan fitnah Al-Masih Ad-Dajjal.” (Muttafaqun ‘alaih)

Dalam riwayat lain di Shahih Muslim:

إِذَا فَرَغَ أَحَدُكُمْ مِنَ التَّشَهُّدِ الْأَخِيرِ …

“Apabila dia selesai dari tasyahud akhir….”

Dari Ibnu Abbas c:

أَنَّ رَسُولَ اللهِ n كَانَ يُعَلِّمُهُمْ هَذَا الدُّعَاءَ كَمَا يُعَلِّمُ السُّورَةَ مِنَ الْقُرْآنِ

“Bahwasanya Rasulullah n mengajarkan doa ini kepada mereka (para sahabat) sebagaimana beliau n mengajarkan sebuah surat dari Al-Qur’an.” (HR. Muslim, At-Tirmidzi, dan An-Nasa’i)

Proses Keluarnya Jasad dari Ruh

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan)

 

Keluararnya ruh dari jasad dalam hadits Al-Bara’ bin ‘Azib z yang panjang, yang diriwayatkan Abu Dawud, An-Nasa’i, Ibnu Majah, Al-Imam Ahmad, dan Al-Hakim. Asy-Syaikh Muqbil t menyebutkan hadits ini dalam Ash-Shahihul Musnad.

1. Keluarnya ruh seorang mukmin dan kabar gembira baginya.

إِنَّ الْعَبْدَ الْمُؤْمِنَ إِذَا كَانَ فِي انْقِطَاعٍ مِنَ الدُّنْيَا وَإِقْبَالٍ مِنَ الْآخِرَةِ نَزَلَ إِلَيْهِ مَلَائِكَةٌ مِنَ السَّمَاءِ بِيضُ الْوُجُوهِ كَأَنَّ وُجُوهَهُمْ الشَّمْسُ مَعَهُمْ كَفَنٌ مِنْ أَكْفَانِ الْجَنَّةِ وَحَنُوطٌ مِنْ حَنُوطِ الْجَنَّةِ حَتَّى يَجْلِسُوا مِنْهُ مَدَّ الْبَصَرِ ثُمَّ يَجِيءُ مَلَكُ الْمَوْتِ عَلَيْهِ السَّلَام حَتَّى يَجْلِسَ عِنْدَ رَأْسِهِ فَيَقُولُ: أَيَّتُهَا النَّفْسُ الطَّيِّبَةُ اخْرُجِي إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنَ اللهِ وَرِضْوَانٍ. قَالَ: فَتَخْرُجُ تَسِيلُ كَمَا تَسِيلُ الْقَطْرَةُ مِنْ فِي السِّقَاءِ فَيَأْخُذُهَا فَإِذَا أَخَذَهَا لَمْ يَدَعُوهَا فِي يَدِهِ طَرْفَةَ عَيْنٍ حَتَّى يَأْخُذُوهَا فَيَجْعَلُوهَا فِي ذَلِكَ الْكَفَنِ وَفِي ذَلِكَ الْحَنُوطِ وَيَخْرُجُ مِنْهَا كَأَطْيَبِ نَفْحَةِ مِسْكٍ وُجِدَتْ عَلَى وَجْهِ الْأَرْضِ

“Sesungguhnya seorang hamba yang mukmin apabila akan meninggal dunia, maka para malaikat rahmat turun kepadanya, wajahnya seakan-akan matahari yang bersinar, membawa kain kafan dan wangi-wangian dari jannah (surga). Mereka duduk di tempat sejauh mata memandang. Kemudian datanglah malakul maut r hingga duduk di samping kepalanya, lalu berkata: ‘Wahai jiwa yang baik, keluarlah engkau menuju ampunan Allah l dan keridhaan-nya.’ Maka ruh tersebut keluar dari jasadnya seperti tetesan air yang mengalir dari bibir tempat air minum. Malakul maut pun mengambil ruh yang sudah keluar dari jasadnya itu. Tiba-tiba para malaikat rahmat yang menunggu tidak membiarkan ruh tersebut berada di tangannya sekejap mata pun. Mereka segera mengambil dan menaruhnya di dalam kafan dan wangi-wangian tersebut, dan keluarlah bau wangi misik yang paling harum yang dijumpai di muka bumi.”

Allah l mengutus para malaikat-Nya untuk memberi kabar gembira kepada hamba-hamba-Nya yang beriman dan istiqamah di atas agama yang sempurna ketika menghadapi sakaratul maut. Ini adalah bukti kasih sayang Allah l terhadap hamba-Nya. Allah l berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Rabb kami ialah Allah’ kemudian mereka istiqamah, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): ‘Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.’ Kamilah Pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari Dzat Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Fushshilat: 30-32)

Ayat-ayat ini adalah berita dari Allah l sekaligus kabar gembira bagi orang-orang yang beriman dan bertakwa, bahwa para malaikat akan turun kepada mereka ketika mereka menghadapi maut, juga di dalam kubur mereka, serta ketika mereka dibangkitkan darinya. Para malaikat memberi jaminan keamanan kepada mereka atas perintah Allah l. Mereka juga memberikan kabar gembira agar orang-orang beriman tidak takut terhadap apa yang akan mereka hadapi di akhirat, tidak bersedih terhadap perkara dunia yang mereka tinggalkan, seperti anak, keluarga, dan harta. Karena Allah l yang akan mengurus dan menanggung mereka semua. Para malaikat juga memberikan kabar gembira kepada orang-orang beriman dengan hilangnya berbagai kejelekan dan didapatkannya berbagai kebaikan. (Tafsir Ibnu Katsir)

Dari Aisyah x, Rasulullah n bersabda:

مَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللهِ أَحَبَّ اللهُ لِقَاءَهُ وَمَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللهِ كَرِهَ اللهُ لِقَاءَهُ. فَقُلْتُ: ياَ نَبِيَّ اللهِ، أَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ؟ فَكُلُّنَا نَكْرَهُ الْمَوْتَ. فَقَالَ: لَيْسَ كَذَلِكِ، وَلَكِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا بُشِّرَ بِرَحْمَةِ اللهِ وَرِضْوَانِهِ وَجَنَّتِهِ أَحَبَّ لِقَاءَ اللهِ فَأَحَبَّ اللهُ لِقَاءَهُ، وَإِنَّ الْكَافِرَ إِذَا بُشِّرَ بِعَذَابِ اللهِ وَسَخَطِهِ كَرِهَ لِقَاءَ اللهِ وَكَرِهَ اللهُ لِقَاءَهُ

“Barangsiapa senang bertemu dengan Allah, maka Allah senang bertemu dengannya. Dan barangsiapa tidak suka bertemu dengan Allah maka Allah juga tidak suka bertemu dengannya.” Aisyah x berkata: “Wahai Nabi Allah, benci terhadap kematian? Kita semua membenci kematian.” Rasulullah n menjawab: “Bukan seperti itu. Seorang mukmin apabila diberi kabar gembira dengan rahmat, keridhaan, dan surga-Nya, maka dia akan senang bertemu dengan Allah, sehingga Allah pun senang bertemu dengannya. Sedangkan orang kafir apabila diberi kabar gembira dengan azab Allah dan kemurkaan-Nya maka dia akan benci bertemu dengan Allah dan Allah pun benci bertemu dengannya.” (Muttafaqun ‘alaih)

 

2. Keluarnya ruh seorang kafir dan azab terhadapnya

وَإِنَّ الْعَبْدَ الْكَافِرَ إِذَا كَانَ فِي انْقِطَاعٍ مِنَ الدُّنْيَا وَإِقْبَالٍ مِنَ الْآخِرَةِ نَزَلَ إِلَيْهِ مِنَ السَّمَاءِ مَلَائِكَةٌ سُودُ الْوُجُوهِ مَعَهُمُ الْمُسُوحُ فَيَجْلِسُونَ مِنْهُ مَدَّ الْبَصَرِ ثُمَّ يَجِيءُ مَلَكُ الْمَوْتِ حَتَّى يَجْلِسَ عِنْدَ رَأْسِهِ فَيَقُولُ: أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْخَبِيثَةُ اخْرُجِي إِلَى سَخَطٍ مِنَ اللهِ وَغَضَبٍ. قَالَ: فَتُفَرَّقُ فِي جَسَدِهِ فَيَنْتَزِعُهَا كَمَا يُنْتَزَعُ السَّفُّودُ مِنَ الصُّوفِ الْمَبْلُولِ فَيَأْخُذُهَا فَإِذَا أَخَذَهَا لَمْ يَدَعُوهَا فِي يَدِهِ طَرْفَةَ عَيْنٍ حَتَّى يَجْعَلُوهَا فِي تِلْكَ الْمُسُوحِ وَيَخْرُجُ مِنْهَا كَأَنْتَنِ رِيحِ جِيفَةٍ وُجِدَتْ عَلَى وَجْهِ الْأَرْضِ

“Apabila seorang hamba yang kafir akan meninggal dunia, turunlah malaikat azab dari langit. Wajah-wajahnya hitam dan seram. Mereka membawa kain yang kasar dan jelek. Mereka duduk di tempat sejauh mata memandang. Lalu datanglah malakul maut hingga dia duduk di samping kepalanya. Kemudian dia berkata: ‘Wahai jiwa yang jelek, keluarlah menuju kemurkaan Allah l dan kemarahan-Nya.’ Maka ruh tersebut bergetar di seluruh tubuhnya, kemudian malakul maut mencabutnya sebagaimana dicabutnya besi alat pemanggang dari bulu-bulu yang basah. Dia kemudian mengambil ruh tersebut. Para malaikat yang menunggu tadi tidak membiarkannya di tangannya sekejap mata pun, sampai mereka mengambil dan meletakkannya di kain yang kasar lagi jelek tadi. Keluarlah darinya bau seperti bau bangkai yang paling busuk yang ditemukan di muka bumi.”

Allah l mengutus para malaikat-Nya untuk memberi kabar gembira berupa kemurkaan dan azab-Nya, sehingga ruh-ruh mereka enggan untuk keluar dari jasadnya. Maka para malaikat pun memukul wajah dan punggungnya, sampai ruhnya keluar dari jasadnya. Allah l berfirman:

“Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakaratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): ‘Keluarkanlah nyawamu.’ Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya.” (Al-An’am: 93)

“Kalau kamu melihat ketika para malaikat mencabut jiwa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka (dan berkata): ‘Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar’, (tentulah kamu akan merasa ngeri). Demikian itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri. Sesungguhnya Allah sekali-kali tidak menganiaya hamba-Nya.” (Al-Anfal: 50-51)

Sakaratul Maut Adalah Penghapus Dosa Seorang Mukmin

Dari Abu Sa’id Al-Khudri dan Abu Hurairah c, dari Nabi n, beliau bersabda:

مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حَزَنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةَ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidaklah menimpa seorang muslim suatu rasa capek, sakit, kesusahan, kesedihan, gangguan, duka cita, sampaipun sebuah duri yang menusuknya, melainkan dengannya Allah l akan menghapus dosa-dosanya.” (Muttafaqun ‘alaih)

Dari Anas bin Malik z, dia berkata: Rasulullah n bersabda:

إِذَا ابْتَلَى اللهُ الْعَبْدَ الْمُسْلِمَ بِبَلَاءٍ فِي جَسَدِهِ قَالَ اللهُ: اكْتُبْ لَهُ صَالِحَ عَمَلِهِ الَّذِي كَانَ يَعْمَلُهُ. فِإِنْ شَافَاهُ غَسَلَهُ وَطَهَّرَهُ وَإِنْ قُبِضَ غَفَرَ لَهُ وَرَحِمَهُ

“Apabila Allah l menguji seorang hamba yang muslim dengan suatu ujian pada badannya, Allah l berfirman: ‘Tulislah baginya amalan shalih yang biasa dia lakukan.’ Apabila Allah menyembuhkannya maka Dia telah mencuci dan membersihkannya (dari dosanya). Namun apabila Allah mencabut ruhnya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosanya dan akan merahmatinya.” (HR. Ahmad, dikatakan oleh Asy-Syaikh Muqbil t: “Hadits ini shahih, perawinya adalah para perawi kitab-kitab Shahih.”)

 

Godaan Setan Ketika Sakaratul Maut

Allah l dengan hikmah dan keadilan-Nya menjadikan setan dari golongan jin dan manusia sebagai musuh bagi hamba-Nya. Permusuhan itu tidak berhenti sampai ajal datang kepada hamba tersebut. Setan pun terus berusaha menyesatkan sehingga seorang hamba akan mati dalam keadaan kafir.

Allah l berfirman:

“Iblis menjawab: Karena Engkau telah menghukumku tersesat, aku benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian aku akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat)’.” (Al-A’raf: 16-17)

“Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (Fathir: 6)

“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Rabbmu menghendaki niscaya mereka tidak mengerjakannya. Maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.” (Al-An’am: 112)

Hal inilah yang menjadikan kita sadar dan hati-hati dalam mencari lingkungan serta teman bagi kita dan keluarga kita. Lebih-lebih tatkala dalam keadaan sakit atau menghadapi kematian. Karena setan dari golongan jin dan manusia terus bekerja sama dan saling membantu untuk menyesatkan hamba sehingga dia menjadi penghuni neraka jahannam.

Namun sebaliknya, teman dan lingkungan yang baik akan mengajak serta mendorongnya untuk berbuat kebaikan dan istiqamah di atasnya. Oleh karena itu, perhatikanlah kisah berikut.

Dari Ibnul Musayyab t, dari bapaknya z, bahwa ketika Abu Thalib menghadapi kematian, Nabi n masuk menemuinya. Ketika itu Abu Jahal ada di sampingnya. Beliau n berkata: “Wahai paman, ucapkan Laa ilaha illallah, sebuah kalimat yang aku akan jadikan sebagai hujjah untuk membelamu di hadapan Allah.” Maka Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah berkata: “Wahai Abu Thalib, apakah kamu membenci agama Abdul Muththalib?” Terus-menerus Rasulullah n membujuknya untuk mengucapkannya. Namun mereka berdua (Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah) juga mengulang-ulang ucapan mereka. Hingga Musayyab berkata: “Abu Thalib mati di atas agama Abdul Muththalib.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dari Anas bin Malik z:

إِنَّ غُلَامًا مِنَ الْيَهُودِ كَانَ يَخْدُمُ النَّبِيَّ n فَمَرِضَ فَأَتَاهُ النَّبِيُّ n يَعُودُهُ وَهُوَ بِالْمَوْتِ فَدَعَاهُ إِلَى الْإِسْلَامِ فَنَظَرَ الْغُلَامُ إِلَى أَبِيهِ وَهُوَ عِنْدَ رَأْسِهِ فَقَالَ لَهُ أَبُوهُ: أَطِعْ أَبَا الْقَاسِمِ. فَأَسْلَمَ ثُمَّ مَاتَ، فَخَرَجَ رَسُولُ اللهِ n مِنْ عِنْدِهِ وَهُوَ يَقُولُ: الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِي أَنْقَذَهُ بِي مِنْ النَّارِ

Seorang anak Yahudi yang membantu Nabi n sedang sakit. Maka Nabi n datang menjenguknya. Beliau duduk di samping kepalanya. Beliau menawarkan kepadanya untuk masuk Islam. Beliau berkata: “Masuk Islamlah.” Anak itu lalu memandang kepada bapaknya yang berada di sampingnya. Bapaknya lalu berkata: “Taatilah Abul Qasim (Rasulullah).” Maka dia pun masuk Islam lalu meninggal dunia. Nabi n lalu keluar sambil berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkannya dari api neraka dengan perantaraanku.” (Muttafaqun ‘alaih)

Oleh karena itu, Rasulullah n bersabda:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِخَوَاتِمِهَا

“Hanyalah amalan-amalan itu tergantung dengan akhirnya.” (HR. Al-Bukhari dari Sahl bin Sa’d As-Sa’idi z)

 

Tidak Ada yang Selamat Kecuali Orang yang Diselamatkan Allah l

Karena dahsyatnya berbagai ujian dan cobaan yang dihadapi masing-masing hamba, maka tidak mungkin bisa selamat dan berhasil melaluinya kecuali orang yang diselamatkan oleh Allah l dengan rahmat dan keutamaan dari-Nya. Allah l berfirman:

“Bersabarlah (wahai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah.” (An-Nahl: 127)

“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat.” (Ibrahim: 27)

Dari Abu Hurairah z dia berkata: Aku mendengar Rasulullah n bersabda:

لَنْ يُدْخِلَ أَحَدًا عَمَلُهُ الْجَنَّةَ. قَالُوا: وَلَا أَنْتَ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: لَا، وَلَا أَنَا، إِلَا أَنْ يَتَغَمَّدَنِيَ اللهُ بِفَضْلِهِ وَرَحْمَتِهِ

“Amalan seseorang tidak akan memasukkan dirinya ke dalam jannah.” Mereka bertanya: “Tidak pula engkau, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Tidak pula aku. Hanya saja Allah l telah meliputiku dengan rahmat dan keutamaan dari-Nya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Sebagai penutup, kita memohon kepada Allah l:

“Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia).” (Ali ‘Imran: 8)

وَيَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِيْنِكِ

“Wahai Dzat Yang membolak-balikkan qalbu, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR. At-Tirmidzi, lihat Shahih Al-Jami’, Asy-Syaikh Al-Albani t mengatakan: “Shahih.”)

Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

Dahsyatnya Sakaratul Maut

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan)

 

Allah l dengan sifat rahmah-Nya yang sempurna, senantiasa memberikan berbagai peringatan dan pelajaran, agar hamba-hamba-Nya yang berbuat kemaksiatan dan kezaliman bersegera untuk meninggalkannya dan kembali ke jalan Allah l. Sementara hamba-hamba Allah l yang beriman akan bertambah sempurna keimanannya dengan peringatan dan pelajaran tersebut.

Namun, berbagai peringatan dan pelajaran baik berupa ayat-ayat kauniyah maupun syar’iyah tadi tidak akan bermanfaat kecuali bagi orang-orang yang beriman.

“Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.” (Adz-Dzariyat: 55)

Di antara sekian banyak peringatan dan pelajaran, yang paling berharga adalah tatkala seorang hamba dengan mata kepalanya sendiri menyaksikan sakaratul maut yang menimpa saudaranya. Sehingga Rasulullah n bersabda:

لَيْسَ الْخَبَرُ كَالْمُعَايَنَةِ

“Tidaklah berita itu seperti orang yang melihat langsung.” (HR. At-Tirmidzi dari Abdullah bin Umar c. Lihat Ash-Shahihah no. 135)

Tatkala ajal seorang hamba telah sampai pada waktu yang telah Allah l tentukan, dengan sebab yang Allah l takdirkan, pasti dia akan merasakan dahsyat, ngeri, dan sakit yang luar biasa karena sakaratul maut, kecuali hamba-hamba-Nya yang Allah l istimewakan. Mereka tidak akan merasakan sakaratul maut kecuali sangat ringan. Sebagaimana firman Allah l:

“Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari darinya.” (Qaf: 19)

Rasulullah n bersabda:

لاَ إِلَهَ إِلَّا اللهُ، إِنَّ لِلْمَوْتِ سَكَرَاتٍ

“Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah l. Sesungguhnya kematian ada masa sekaratnya.” (HR. Al-Bukhari)

Allah l dengan rahmah-Nya telah memberitahukan sebagian gambaran sakaratul maut yang akan dirasakan setiap orang, sebagaimana diadakan firman-Nya:

“Maka mengapa ketika nyawa sampai di tenggorokan, padahal kamu ketika itu melihat, sedangkan Kami lebih dekat kepadanya daripada kamu. Tetapi kamu tidak melihat, maka mengapa jika kamu tidak dikuasai (oleh Allah l)? Kamu tidak mengembalikan nyawa itu (kepada tempatnya) jika kamu adalah orang-orang yang benar?” (Al-Waqi’ah: 83-87)

Al-Imam Ibnu Katsir t berkata: “Allah l berfirman, ‘Maka ketika nyawa sampai di tenggorokan’, hal itu terjadi tatkala sudah dekat waktu dicabutnya. ‘Padahal kamu ketika itu melihat’, dan menyaksikan apa yang dia rasakan karena sakaratul maut itu. ‘Sedangkan Kami (para malaikat) lebih dekat terhadapnya (orang yang akan meninggal tersebut) daripada kamu, tetapi kamu tidak melihat mereka’ (para malaikat). Maka Allah l menyatakan: Bila kalian tidak menginginkannya, kenapa kalian tidak mengembalikan ruh itu tatkala sudah sampai di tenggorokan dan menempatkannya (kembali) di dalam jasadnya?” (Tafsir Al-Qur’anil ‘Azhim, 4/99-100)

Allah l berfirman:

“Sekali-kali jangan. Apabila nafas (seseorang) telah (mendesak) sampai ke tenggorokan, dan dikatakan (kepadanya): ‘Siapakah yang dapat menyembuhkan?’, dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan (dengan dunia), dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan), kepada Rabbmu lah pada hari itu kamu dihalau.” (Al-Qiyamah: 26-30)

Al-Imam Ibnu Katsir t berkata: “Ini adalah berita dari Allah l tentang keadaan orang yang sekarat dan tentang apa yang dia rasakan berupa kengerian serta rasa sakit yang dahsyat (mudah-mudahan Allah l meneguhkan kita dengan ucapan yang teguh, yaitu kalimat tauhid di dunia dan akhirat). Allah l mengabarkan bahwasanya ruh akan dicabut dari jasadnya, hingga tatkala sampai di tenggorokan, dia meminta tabib yang bisa mengobatinya. Siapa yang bisa meruqyah? Kemudian, keadaan yang dahsyat dan ngeri tersebut disusul oleh keadaan yang lebih dahsyat dan lebih ngeri berikutnya (kecuali bagi orang yang dirahmati Allah l). Kedua betisnya bertautan, lalu meninggal dunia. Kemudian dibungkus dengan kain kafan (setelah dimandikan). Mulailah manusia mempersiapkan penguburan jasadnya, sedangkan para malaikat mempersiapkan ruhnya untuk dibawa ke langit.

Setiap orang yang beriman akan merasakan kengerian dan sakitnya sakaratul maut sesuai dengan kadar keimanan mereka. Sehingga para Nabi r adalah golongan yang paling dahsyat dan pedih tatkala menghadapi sakaratul maut, sebagaimana sabda Rasulullah n:

إِنَّ أَشَدَّ النَّاسِ بَلَاءً الْأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ، يُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِيْنِهِ

“Sesungguhnya manusia yang berat cobaannya adalah para nabi, kemudian orang-orang yang semisalnya, kemudian yang semisalnya. Seseorang diuji sesuai kadar agamanya.” (Lihat Ash-Shahihah no. 132)

Aisyah x berkata:

فَلَا أَكْرَهُ شِدَّةَ الْمَوْتِ لِأَحَدٍ أَبَدًا بَعْدَ النَّبِيِّ n

“Aku tidak takut (menyaksikan) dahsyatnya sakaratul maut pada seseorang setelah Nabi n.” (HR. Al-Bukhari no. 4446)

Al-Imam Al-Qurthubi t berkata: “Para ulama rahimahumullah mengatakan bahwa apabila sakaratul maut ini menimpa para nabi, para rasul r, juga para wali dan orang-orang yang bertakwa, mengapa kita lupa? Mengapa kita tidak bersegera mempersiapkan diri untuk menghadapinya?

Allah l berfirman:

“Katakanlah: ‘Berita itu adalah berita yang besar, yang kamu berpaling darinya’.” (Shad: 67-68)

Apa yang terjadi pada para nabi r berupa pedih dan rasa sakit menghadapi kematian serta sakaratul maut, memiliki dua faedah:

1. Agar makhluk mengetahui kadar sakitnya maut, meskipun hal itu adalah perkara yang tidak nampak. Terkadang, seseorang melihat ada orang yang meninggal tanpa adanya gerakan dan jeritan. Bahkan dia melihat sangat mudah ruhnya keluar. Alhasil, dia pun menyangka bahwa sakaratul maut itu urusan yang mudah. Padahal dia tidak mengetahui keadaan yang sebenarnya dirasakan oleh orang yang mati. Maka, tatkala diceritakan tentang para nabi yang menghadapi sakit karena sakaratul maut –padahal mereka adalah orang-orang mulia di sisi Allah l, dan Allah l pula yang meringankan sakitnya sakaratul maut pada sebagian hamba-Nya– hal itu akan memupus anggapan bahwa dahsyatnya sakaratul maut yang dirasakan dan dialami oleh mayit itu benar-benar terjadi –selain pada orang syahid yang terbunuh di medan jihad–, karena adanya berita dari para nabi r tentang perkara tersebut1.

 

2. Kadang-kadang terlintas di dalam benak sebagian orang, para nabi adalah orang-orang yang dicintai Allah l. Bagaimana bisa mereka merasakan sakit dan pedihnya perkara ini? Padahal Allah l Maha Kuasa untuk meringankan hal ini dari mereka, sebagaimana firman Allah l:

أَمَّا إِنَّا قَدْ هَوَّنَّا عَلَيْكَ

“Adapun Kami sungguh telah meringankannya atasmu.”

Maka jawabannya adalah:

إِنَّ أَشَدَّ النَّاسِ بَلَاءً فِي الدُّنْيَا الْأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ

“Sesungguhnya orang yang paling dahsyat ujiannya di dunia adalah para nabi, kemudian yang seperti mereka, kemudian yang seperti mereka.”2

Maka Allah l ingin menguji mereka untuk menyempurnakan keutamaan-keutamaan serta untuk meninggikan derajat mereka di sisi Allah l. Hal itu bukanlah kekurangan bagi mereka dan bukan pula azab. (At-Tadzkirah, hal. 25-26)

 

Malaikat yang Bertugas Mencabut Ruh

Allah l dengan kekuasaan yang sempurna menciptakan malakul maut (malaikat pencabut nyawa) yang diberi tugas untuk mencabut ruh-ruh, dan dia memiliki para pembantu sebagaimana firman-Nya:

“Katakanlah: ‘Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa)mu akan mematikan kamu’ kemudian hanya kepada Rabbmulah kamu akan dikembalikan.” (As-Sajdah: 11)

Asy-Syaikh Abdullah bin ‘Utsman Adz-Dzamari berkata: “Malakul maut adalah satu malaikat yang Allah l beri tugas untuk mencabut arwah hamba-hamba-Nya. Namun tidak ada dalil yang shahih yang menunjukkan bahwa nama malaikat itu adalah Izrail. Nama ini tidak ada dalam Kitab Allah k, juga tidak ada di dalam Sunnah Muhammad n. Allah l hanya menamainya malakul maut, sebagaimana firman-Nya:

“Katakanlah: ‘Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa) mu’.” (As-Sajdah: 11)

Ibnu Abil Izzi Al-Hanafi t berkata: “Ayat ini tidak bertentangan dengan firman Allah l:

“Sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan engkau dijanjikan dengannya (di dunia).’ Maka dia bertanya: ‘Siapakah engkau? Wajahmu adalah wajah yang datang dengan kejelekan.’ Dia menjawab: ‘Aku adalah amalanmu yang jelek.’ Maka dia berkata: ‘Wahai Rabbku, jangan engkau datangkan hari kiamat’.” (HR. Ahmad, An-Nasa’i, Ibnu Majah dan Al-Hakim)

 

4. Dirobek-robek mulutnya, dimasukkan ke dalam tanur yang dibakar, dipecah kepalanya di atas batu, ada pula yang disiksa di sungai darah, bila mau keluar dari sungai itu dilempari batu pada mulutnya.

Rasulullah n berkata kepada Jibril dan Mikail e sebagaimana disebutkan dalam hadits yang panjang:

فَأَخْبِرَانِي عَمَّا رَأَيْتُ. قَالَا: نَعَمْ، أَمَّا الَّذِي رَأَيْتَهُ يُشَقُّ شِدْقُهُ فَكَذَّابٌ يُحَدِّثُ بِالْكَذْبَةِ فَتُحْمَلُ عَنْهُ حَتَّى تَبْلُغَ الْآفَاقَ فَيُصْنَعُ بِهِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَالَّذِي رَأَيْتَهُ يُشْدَخُ رَأْسُهُ فَرَجُلٌ عَلَّمَهُ اللهُ الْقُرْآنَ فَنَامَ عَنْهُ بِاللَّيْلِ وَلَمْ يَعْمَلْ فِيهِ بِالنَّهَارِ يُفْعَلُ بِهِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَالَّذِي رَأَيْتَهُ فِي الثَّقْبِ فَهُمُ الزُّنَاةُ، وَالَّذِي رَأَيْتَهُ فِي النَّهْرِ آكِلُوا الرِّبَا

“Beritahukanlah kepadaku tentang apa yang aku lihat.” Keduanya menjawab: “Ya. Adapun orang yang engkau lihat dirobek mulutnya, dia adalah pendusta. Dia berbicara dengan kedustaan lalu kedustaan itu dinukil darinya sampai tersebar luas. Maka dia disiksa dengan siksaan tersebut hingga hari kiamat. Adapun orang yang engkau lihat dipecah kepalanya, dia adalah orang yang telah Allah ajari Al-Qur’an, namun dia tidur malam (dan tidak bangun untuk shalat malam). Pada siang hari pun dia tidak mengamalkannya. Maka dia disiksa dengan siksaan itu hingga hari kiamat. Adapun yang engkau lihat orang yang disiksa dalam tanur, mereka adalah pezina. Adapun orang yang engkau lihat di sungai darah, dia adalah orang yang makan harta dari hasil riba.” (HR. Al-Bukhari no. 1386 dari Jundub bin Samurah z)

 

5. Dicabik-cabik ular-ular yang besar dan ganas

Rasulullah n bersabda:

فَإِذَا أَنَا بِنِسَاءٍ تَنْهَشُ ثَدْيَهُنَّ الْحَيَّاتُ، فَقُلْتُ: مَا بَالُ هَؤُلَاءِ؟ فَقَالَ: اللَّوَاتِي يَمْنَعْنَ أَوْلَادَهُنَّ أَلْبَانَهُنَّ

“Tiba-tiba aku melihat para wanita yang payudara-payudara mereka dicabik-cabik ular yang ganas. Maka aku bertanya: ‘Kenapa mereka?’ Malaikat menjawab: ‘Mereka adalah para wanita yang tidak mau menyusui anak-anaknya (tanpa alasan syar’i)’.” (HR. Al-Hakim. Asy-Syaikh Muqbil t dalam Al-Jami’ush Shahih berkata: “Ini hadits shahih dari Abu Umamah Al-Bahili z.”)

Keutamaan Mengingat Mati

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan)

 

Allah l berfirman:

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (Al-Hadid: 16)

Dari Abu Hurairah z, dari Nabi n, beliau berkata:

أَكْثِرُوا ذِكْرِ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ –يَعْنِي الْمَوْتَ

“Perbanyaklah mengingat hal yang akan memutuskan berbagai kenikmatan.” –Yaitu maut. (HR. Ashabus Sunan, dishahihkan Al-Albani dalam Al-Irwa’)

Bahkan Rasulullah n melakukan ziarah kubur dan menganjurkannya, karena ziarah kubur akan mengingatkan pada kematian. Dari Abu Hurairah z, dia berkata: Rasulullah n bersabda:

كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا –وَفِي رِوَايَةٍ: فَإِنَّهَا تُذَكِّرُنَا الْآخِرَةَ

“Dahulu aku melarang kalian dari ziarah kubur, maka (sekarang) berziarahlah kalian ke kubur.” (HR. Muslim)

Dalam sebuah riwayat: “Maka sesungguhnya ziarah kubur itu akan mengingatkan kita kepada akhirat.”

Di antara faedah yang akan didapatkan oleh orang-orang yang senantiasa mengingat mati adalah:

1. Melembutkan hatinya untuk bersegera memohon ampun atas dosa-dosanya dan bertaubat kepada Allah l. Allah l berfirman:

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabbmu serta kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (Ali ‘Imran: 133)

“Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya. Mudah-mudahan Rabb kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengan dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: ‘Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu’.” (At-Tahrim: 8)

Dari Ibnu Umar c, dari Nabi n, beliau bersabda:

إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدَ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ

“Sesungguhnya Allah k akan menerima taubat seorang hamba selama ruhnya belum sampai di tenggorokan.” (HR. At-Tirmidzi)

Penyesalan setelah datangnya kematian tidaklah akan mendatangkan kebaikan dan keberuntungan, karena Allah l berfirman:

“(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: ‘Ya Rabbku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang shalih terhadap yang telah aku tinggalkan.’ Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan.” (Al-Mu’minun: 99-100)

Oleh karena itu, Allah l berfirman:

“Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (An-Nur: 31)

 

2. Membangkitkan semangatnya untuk beribadah sebagai bekal untuk menghadapi kehidupan setelah kematian, dan itulah sebaik-baik perbekalan. Allah l berfirman:

“Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).” (Al-Hijr: 99)

“Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya.” (Al-Muzzammil: 20)

Rasulullah n bersabda:

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَعْجَزْ

“Bersemangatlah kamu untuk melakukan apa yang bermanfaat bagimu dan mohonlah pertolongan kepada Allah, serta janganlah kamu malas.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah z)

 

3. Menyebabkan hati memiliki sikap qana’ah (merasa cukup) terhadap dunia.

Allah l berfirman:

“Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedangkan kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (Al-A’la: 16-17)

Rasulullah n bersabda:

يُؤْتَى بِأَنْعَمِ أَهْلِ الدُّنْيَا مِنْ أَهْلِ النَّارِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُصْبَغُ فِي النَّارِ صَبْغَةً ثُمَّ يُقَالُ: يَا ابْنَ آدَمَ، هَلْ رَأَيْتَ خَيْرًا قَطُّ، هَلْ مَرَّ بِكَ نَعِيمٌ قَطُّ؟ فَيَقُولُ: لَا وَاللهِ يَا رَبِّ. وَيُؤْتَى بِأَشَدِّ النَّاسِ بُؤْسًا فِي الدُّنْيَا مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيُصْبَغُ صَبْغَةً فِي الْجَنَّةِ فَيُقَالُ لَهُ: يَا ابْنَ آدَمَ، هَلْ رَأَيْتَ بُؤْسًا قَطُّ، هَلْ مَرَّ بِكَ شِدَّةٌ قَطُّ؟ فَيَقُولُ: لَا وَاللهِ يَا رَبِّ، مَا مَرَّ بِي بُؤْسٌ قَطُّ وَلَا رَأَيْتُ شِدَّةً قَطُّ

“Didatangkan orang yang paling nikmat hidupnya di dunia dari kalangan penghuni neraka pada hari kiamat, kemudian dia dicelupkan ke dalam neraka sekali celupan. Kemudian dia ditanya: ‘Wahai anak Adam, apakah kamu pernah melihat kebaikan? Apakah pernah terlintas pada dirimu kenikmatan?’ Maka dia menjawab: ‘Tidak, demi Allah, wahai Rabbku.’

Didatangkan pula orang yang paling susah hidupnya di dunia namun dia dari kalangan penghuni surga, kemudian dicelupkan ke dalam surga sekali celupan. Kemudian dia ditanya: ‘Wahai anak Adam, apakah kamu pernah melihat kesusahan? Apakah pernah terlintas pada dirimu kesempitan hidup?’ Maka dia menjawab: ‘Tidak, demi Allah, wahai Rabbku. Tidak pernah terlintas padaku kesempitan dan aku tidak pernah melihat kesusahan’.” (HR. Muslim)

Ad-Daqqaq t berkata: “Barangsiapa banyak mengingat mati maka dia akan dimuliakan dengan tiga perkara: segera bertaubat, hatinya qana’ah terhadap dunia, dan semangat beribadah. Sedangkan barangsiapa yang melupakan mati, dia akan dibalas dengan tiga perkara: menunda-nunda taubat, hatinya tidak qana’ah terhadap dunia, dan malas beribadah. Maka ingat-ingatlah kematian, sakaratul maut, dan susah serta sakitnya, wahai orang yang tertipu dengan dunia!” (At-Tadzkirah, hal. 10)

 

4. Meringankan beban musibah yang menimpa dirinya, seperti penyakit, kefakiran, kezaliman, dan kesempitan hidup yang lain di dunia.

Rasulullah n bersabda:

فَمَا ذَكَرَهُ أَحَدٌ فِي سَعَةٍ إِلاَّ ضَيَّقَهَا عَلَيْهِ، وَلَا فِي ضَيْقٍ إِلاَّ وَسَّعَهُ عَلَيْهِ

“Tidaklah seseorang mengingat mati pada waktu lapang hidupnya, kecuali akan menjadikan dia merasa sempit (umurnya terasa pendek dan semakin dekat ajalnya). Dan tidaklah (dia mengingat mati) pada waktu sempit hidupnya (karena sakit, fakir, dll) kecuali akan menjadikan dia merasa lapang (karena mengharapkan balasan dari Allah l dengan sebab keikhlasan dan kesabaran ketika menghadapinya).” (HR. Ibnu Hibban, Asy-Syaikh Al-Albani  t mengatakan dalam Al-Irwa’ [no. 682] bahwa sanadnya hasan)

Seseorang tidaklah diperbolehkan mengharapkan kematian disebabkan musibah yang menimpanya, kecuali karena takut terfitnah agamanya. Dari Abu Hurairah z, bahwasanya Rasulullah n bersabda:

لاَ يَتَمَنَّ أَحَدُكُمُ الْمَوْتَ، إِمَّا مُحْسِنًا فَلَعَلَّهُ يَزْدَادُ وَإِمَّا مُسِيئًا فَلَعَلَّهُ يُسْتَعْتَبُ

“Janganlah salah seorang kalian mengharap-harapkan kematian. Karena mungkin dirinya orang yang baik, maka mudah-mudahan bertambah kebaikannya. Atau mungkin dirinya orang yang berbuat dosa, barangkali dia akan minta diberi kesempatan (bertaubat).” (Muttafaqun ‘alaih, dan ini lafadz Al-Bukhari t)

Dari Anas bin Malik z, dia berkata: Rasulullah n bersabda:

لاَ يَتَمَنَّيَنَّ أَحَدُكُمُ الْمَوْتََ لِضُرٍّ أَصَابَهُ، فَإِنْ كَانَ لاَ بُدَّ فَاعِلًا فَلْيَقُلْ: اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مَا كَانَتِ الْحَيَاةُ خَيْرًا لِي وَتَوَفَّنِي مَا كَانَتِ الْوَفَاةُ خَيْرًا لِي

“Janganlah salah seorang kalian mengharap-harapkan kematian karena suatu kesempitan hidup yang menimpanya. Namun apabila dia harus melakukannya, hendaknya dia berdoa: ‘Ya Allah, hidupkanlah aku selama kehidupan itu lebih baik bagiku, dan wafatkanlah aku bila kematian itu lebih baik bagiku’.” (Muttafaqun ‘alaih)

Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin t berkata: “Apabila seseorang ditimpa musibah, dia tidak boleh mengharap-harapkan kematian, karena hal ini adalah kesalahan dan kebodohan yang ada pada dirinya, serta kesesatan dalam agama. Karena, apabila dia hidup, mungkin dia adalah orang yang baik sehingga akan bertambah kebaikannya. Atau mungkin dia adalah orang yang berbuat kejelekan sehingga dia sadar dan bertaubat darinya kepada Allah l. Sedangkan bila dia mati dalam keadaan yang paling jelek (kita berlindung kepada Allah l dari yang demikian). Oleh karena itulah kita katakan: Janganlah engkau mengharap-harapkan kematian, karena hal ini adalah sikap orang yang bodoh. Sikap yang demikian ini adalah sikap yang sesat dalam agama, karena dia telah melakukan perbuatan yang dilarang oleh Rasulullah n dan mengharap-harapkan kematian adalah bukti ketidakridhaannya terhadap ketentuan Allah l. Padahal seorang mukmin harus ridha terhadap takdir.” (Syarh Riyadhish Shalihin, 2/239-240)

Bagaimanapun keadaan seorang mukmin, baik dalam keadaan lapang maupun sempit, senang maupun susah, sehat maupun sakit, bahkan tatkala dia telah merasakan bahwa ajalnya telah dekat, dia wajib untuk tetap berbaik sangka kepada Allah l. Karena Rasulullah n mewasiatkan:

لاَ يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلاَّ وَهُوَ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ

“Janganlah salah seorang kalian mati kecuali dalam keadaan dia berbaik sangka kepada Allah l.” (HR. Muslim)

Pada akhirnya, ya Allah hidupkanlah dan wafatkanlah kami di atas Islam dan As-Sunnah. Allahumma taqabbal minna, innaka sami’ud du’a.