Islamnya Sejumlah Tokoh Quraisy (Fathu Makkah bagian empat)

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Harits)

Makkah sudah takluk. Penduduknya sedang menanti keputusan Rasulullah n. Maka mulailah hati para pemimpin Quraisy merenungkan Islam. Perlahan-lahan, Islam mulai menembus jantung hati mereka.

Islamnya Abu Sufyan bin Al-Harits
Di Abwa’ sebelum memasuki Makkah, Rasulullah n bertemu dengan ‘Abdullah bin Abi Umayyah dan Abu Sufyan bin Al-Harits. Tapi beliau berpaling dari mereka berdua mengingat betapa hebatnya permusuhan dan kejahatan mereka terhadap beliau dan kaum muslimin.
Ummu Salamah x berkata kepada beliau: “Janganlah sampai putra paman dan bibi anda menjadi orang yang paling celaka karena anda.”
Sementara itu, ‘Ali bin Abi Thalib z berkata kepada Abu Sufyan: “Datangilah Rasulullah n dari depan. Berkatalah kepada beliau seperti perkataan saudara-saudara Nabi Yusuf q:
“Demi Allah, sesungguhnya Allah telah melebihkan kamu atas kami, dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa).” (Yusuf: 91)
Karena beliau tidak suka ada yang lebih baik perkataannya dari beliau.”
Abu Sufyan melakukan hal itu. Maka Rasulullah n berkata (membacakan ayat 92):
“Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu), dan Dia adalah Maha penyayang di antara para penyayang.” (Yusuf: 92)
Setelah itu Abu Sufyan melantunkan syairnya:
Demi umurmu, sungguh ketika aku membawa bendera
Agar prajurit Latta mengalahkan tentara Muhammad
Bagai orang Mudlij yang kebingungan diselimuti kegelapan malam
Inilah waktuku ketika hidayah datang lalu aku menyambutnya
Aku diberi hidayah oleh Haadi (Sang Pemberi hidayah) bukan diriku, dan aku ditunjuki
Kepada Allah, oleh dia yang dahulu kuusir dengan sebenar-benarnya
Mendengar ini, Rasulullah n menepuk dadanya sambil berkata: “Engkaulah yang telah mengusirku dengan sebenar-benarnya.”
Sejak saat itu baiklah Islamnya. Bahkan dikisahkan, belum pernah dia mengangkat kepala menatap Rasulullah n, karena merasa malu. Rasulullah n pun mencintai beliau dan mempersaksikannya akan masuk surga. Kata beliau: “Saya harap dia menjadi pengganti Hamzah.”
Ketika wafatnya, Abu Sufyan berkata kepada keluarganya: “Janganlah kalian tangisi aku. Karena demi Allah, aku tidak pernah berbuat dosa sejak aku masuk Islam.”
Demikianlah ketika tauhid itu tertanam kokoh di dalam hati seseorang. Apalagi bila diikrarkan dengan penuh keyakinan dan kejujuran yang sempurna, niscaya tidak mungkin orang yang mengucapkan kalimat tauhid itu mudah untuk terjatuh dalam perbuatan dosa atau terus-menerus berbuat dosa. Semoga Allah l meridhai Abu Sufyan bin Al-Harits, sepupu dan saudara sesusuan Rasulullah n.
Islamnya Suhail bin ‘Amr
Suhail bin ‘Amr adalah salah seorang pemuka dan orator ulung bangsa Quraisy. Dialah yang selama ini menghasut orang-orang agar menyerang dan memerangi kaum muslimin dengan segenap kekuatan. Pedasnya ucapan Suhail benar-benar menyakiti kaum muslimin. Sampai-sampai ‘Umar bin Al-Khaththab z, ketika melihatnya tertawan dalam perang Badr meminta izin kepada Nabi n: “Biarkan saya patahkan dua gigi serinya, agar dia tidak dapat lagi berpidato menyerang kita (dengan ucapannya).” Tapi Nabi n hanya mengatakan: “Biarlah. Mungkin suatu ketika gigi itu akan membuatmu senang.”
Akhirnya, Suhail tetap dibiarkan hidup memerangi Islam dan kaum muslimin dengan dua senjata, pedang dan lisannya. Tibalah peristiwa Hudaibiyah yang sudah kami ceritakan. Tatkala datang Suhail bin ‘Amr sebagai delegasi Quraisy, dan Nabi n berkata dengan optimis: “Sungguh urusan kalian benar-benar telah menjadi mudah. Mereka sungguh-sungguh ingin berdamai ketika mengutus orang ini.”
Sebelumnya, Quraisy sudah menyatakan kepada Suhail: “Datangi Muhammad (n), ajaklah dia berdamai. Hendaknya dia kembali tahun ini. Jangan sampai bangsa ‘Arab beranggapan kalau dia masuk tahun ini, kita telah dikalahkan Muhammad (n).”
Dibuatlah perjanjian sebagaimana disebutkan dalam kisah Hudaibiyah beberapa edisi lalu. Suhail tetap menampakkan sikap permusuhannya terhadap Islam sampai terjadinya Fathu Makkah.
Rasulullah n memasuki Baitullah, lalu keluar dan bertelekan di pintu Ka’bah seraya berkata: “Apa yang akan kalian katakan?”
Maka berkatalah Suhail bin ‘Amr: “Kami hanya mengatakan yang baik, dan menyangka sesuatu yang baik. (Anda) saudara yang mulia, putra saudara yang mulia dan anda menang.”
Kata beliau: “Saya hanya katakan kepada kalian sebagaimana ucapan Nabi Yusuf kepada para saudaranya (sebagaimana firman-Nya):
“Tiada celaan atas kalian pada hari ini.”
Pergilah. Kalian semua bebas.”
Mendengar ini, luluhlah hati Suhail dan orang-orang yang bersamanya, dalam keadaan malu, segan melihat pekerti agung Nabi n dan kasih sayangnya yang membuat akal manusia terbang keheranan. Lidah pun kelu, tak mampu berucap sepatah kata pun.
Mulailah bersemi rasa cinta di dalam hati Suhail kepada Nabi n. Tumbuh pula kecondongannya kepada Islam. Dia pun datang kepada putranya Abu Jandal (yang telah muslim, red.) agar memintakan jaminan keamanan kepada Nabi n.
Rasulullah n memberinya jaminan keamanan. Setelah itu, Suhail ikut berangkat menuju Hunain bersama Rasulullah n dalam keadaan masih musyrik, sampai dia masuk Islam di Ji’ranah. Kemudian Rasulullah n memberinya waktu itu seratus ekor unta dari ghanimah Hunain. Semakin bertambah rasa takluk dan malu dalam hati Suhail.
Tak lama, Islam mulai tumbuh mekar dalam hati Suhail, hingga dia berusaha sekuat tenaga mengganti apa-apa yang pernah hilang darinya. Hatinya setiap saat merasa teriris-iris ketika mengingat betapa jauhnya dia selama ini dari ketaatan kepada Allah l. Keras kepala, kesombongan, dan peperangan sungguh-sungguh telah membuat mereka buta. Setelah tabir itu tersingkap, tampaklah hakikat iman di depan mata mereka, bahkan diresapi oleh hati-hati mereka.
Beberapa sahabat dan orang-orang yang datang sesudah mereka mempersaksikan: “Tidak ada satu pun pembesar Quraisy yang belakangan masuk Islam, lalu masuk Islam ketika Fathu Makkah, yang lebih banyak shalatnya, puasanya, dan sedekahnya daripada Suhail. Bahkan tidak ada yang lebih semangat terhadap hal-hal yang mendukung kepada akhirat dibandingkan Suhail bin ‘Amr.”
Bahkan diceritakan, warna kulitnya berubah dan dia sering menangis ketika membaca Al-Qur’an.
Pernah terlihat, dia selalu menemui Mu’adz bin Jabal z yang ditugasi Rasulullah n mengajari penduduk Makkah tentang syariat Islam. Lalu ada yang berkata kepadanya: “Kamu mendatangi Mu’adz? Mengapa engkau tidak mendatangi salah seorang dari Quraisy untuk mengajarimu?”
Suhail menukas: “Inilah yang telah mereka melakukan sehingga mengalahkan kami. Demi umurku, aku selalu mendatanginya. Islam telah menghinakan sikap-sikap jahiliah. Allah mengangkat dengan Islam ini suatu kaum yang sama sekali tidak terkenal di masa jahiliah. Duhai kiranya kami bersama mereka, dan kami juga mendahului.”
Itulah keikhlasan. Itulah keimanan, ketika menghunjam di dalam hati. Karena hakikat ikhlas adalah terdorongnya hati kepada Allah l dengan bertaubat dari segala dosa dengan taubat nasuha.
Suhail terus melangkah. Menelusuri jalannya menuju surga Ar-Rahman dan untuk menebus apa yang luput darinya. Dialah yang mengucapkan kata-kata yang terkenal ini: “Demi Allah. Saya tidak akan biarkan satu tempat pun yang di situ saya berada bersama kaum musyrikin melainkan saya berada di sana bersama kaum muslimin seperti itu juga. Tidak ada satu pun nafkah yang dahulu saya serahkan bersama kaum musryikin melainkan saya infakkan pula kepada kaum muslimin yang serupa dengannya. Mudah-mudahan urusanku dapat menyusul satu sama lainnya.”
Setelah Nabi n wafat, beberapa kabilah mulai murtad dari Islam, bahkan penduduk Makkah mulai goyah. Bangkitlah Suhail mengingatkan bangsanya: “Wahai penduduk Makkah. Kalian adalah manusia yang paling akhir masuk ke dalam agama Muhammad (n), maka janganlah kalian menjadi orang pertama yang keluar darinya….”
Kemudian dia melanjutkan: “Siapa yang menyembah Muhammad, maka Muhammad (n) sudah wafat. Siapa yang menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Hidup, tidak akan pernah mati.”
Mungkin inilah rahasianya, mengapa Rasulullah n dahulu melarang ‘Umar bin Al-Khaththab z mematahkan gigi seri Suhail. Dikisahkan, ‘Umar pun tersenyum mendengar berita pembelaan Suhail z terhadap Islam ini.
Suhail tetap teguh di atas kebaikan dan keimanan. Bertambah banyak shalat dan puasa serta sedekahnya. Dia senantiasa menangis ketika membaca Kitab Allah l. Bahkan dia sengaja berangkat menuju negeri Syam sebagai mujahid memerangi musuh-musuh Allah l. Ketika di Yarmuk, di mana ia bertugas sebagai amir (gubernur) negeri Kurdus, dia tetap berjaga di perbatasan muslimin, sambil mengingat hadits Rasulullah n:
مَقَامُ أَحَدِكُم فِى سَبِيْلِ اللهِ سَاعَةً مِنْ عُمْرِهِ خَيْرٌ مِنْ عَمَلِهِ عُمْرَهُ فِى أَهْلِهِ
“Posisi salah seorang dari kamu di jalan Allah satu saat saja dari usianya, lebih baik dari amalannya seumur hidup ketika dia bersama keluarganya.”
Kata Suhail: “Saya akan tetap berjaga di perbatasan (ribath) sampai mati dan tidak akan kembali lagi ke Makkah.”
Suhail tetap berada di posnya sampai meninggal dunia karena wabah penyakit tha’un1. Nabi n bersabda:
الطَّاعُونُ شَهَادَةٌ ِلكُلِّ مُسْلِمٍ
“Wabah tha’un adalah syahadah setiap muslim.”
Semoga Allah l meridhai Suhail bin ‘Amr.
Islamnya Al-Harits bin Hisyam
Adapun Al-Harits bin Hisyam. Dia tetap memerangi kaum muslimin, sampai Fathu Makkah. Ketika tahu bahwa dia termasuk orang pertama yang dicari (untuk dibunuh), maka dia meminta jaminan keamanan kepada Ummu Hani’ bintu Abi Thalib, lalu Ummu Hani’ melindunginya. Tapi saudaranya (‘Ali, Ja’far, atau ‘Aqil) ingin membunuhnya. Ummu Hani’ segera mengadukan hal ini kepada Nabi n sambil berkata: “Si Fulan –saudaranya– menganggap aku tidak berhak memberi jaminan.” Kata Nabi n: “Kami melindungi orang yang engkau lindungi, wahai Ummu Hani’.”
Al-Harits bin Hisyam semakin jengkel melihat kekalahan Quraisy, dan berkata: “Duhai kiranya aku mati sebelum kejadian ini dan tidak menyaksikan peristiwa ini.”
Ketika dikatakan kepadanya: “Tidakkah kau lihat apa yang diperbuat Muhammad (n)? Dia menghancurkan sesembahan-sesembahan itu?!”
Kata Al-Harits: “Kalau Allah tidak suka, pasti Dia akan mengubahnya.”
Setelah mereka dibebaskan oleh Rasulullah n, mulai hati para pembesar Quraisy merenungkan Islam. Al-Harits termasuk yang masuk Islam saat itu.
Kemudian setelah usai perang Hunain, Nabi n membujuk hati tokoh-tokoh Quraisy tersebut dengan memberi mereka seratus ekor unta. Hal ini semakin menghancurkan duri-duri permusuhan dan sikap keras kepala mereka. Lalu perlahan tapi pasti Islam mulai merambah hati-hati yang mulai tunduk dan melembut itu. Akhirnya bersemilah Islam di dada Al-Harits bin Hisyam, bahkan sangat baik Islamnya.
Pada masa pemerintahan ‘Umar, Al-Harits berangkat pindah menuju negeri Syam, sebagai mujahid. Hingga terjadilah peristiwa bersejarah di Yarmuk. Ketika itu ‘Ikrimah bin Abi Jahl z berkata: “Siapa yang mau berbai’at untuk mati?”
Maka berbai’atlah empat ratus orang untuk mati syahid di jalan Allah l. Mereka menerobos jantung pertahanan musuh, hingga gugur satu persatu di permukaan bumi, sementara arwah mereka menuju langit tinggi. Di antara mereka ada Al-Harits bin Hisyam.
Yarmuk menjadi saksi bisu bagaimana tentara tauhid membela agama Allah l, meninggikan Kalimat-Nya. Jumlah yang tidak seimbang, tidak membuat gentar hati-hati yang sudah terisi kokoh dengan kalimat tauhid. Memang, mereka bukan berperang karena jumlah dan kekuatan fisik. Pasukan salibis dipukul mundur oleh para pembela panji tauhid dengan kekalahan yang sangat memalukan dan menimbulkan dendam hingga berabad-abad lamanya.
Sejarah mencatat sikap kepribadian Al-Harits yang agung ketika dia mendahulukan kepentingan orang lain sebelum beliau mati sebagai syahid. Ketika datang seorang prajurit muslim hendak memberinya minum –di saat-saat kritisnya– lalu dia mendengar erangan saudaranya ‘Ikrimah, dia pun meminta agar air itu dibawa kepada ‘Ikrimah. Prajurit itu membawakan air untuk diminumkan kepada ‘Ikrimah, tapi ‘Ikrimah mendengar pula erangan ‘Ayyasy bin Rabi’ah, dia pun mengisyaratkan agar air dibawa kepada ‘Ayyasy. Tetapi, ketika mereka sampai di tempat ‘Ayyasy, ternyata dia sudah gugur sebagai syahid. Prajurit itu kembali kepada ‘Ikrimah, ternyata ‘Ikrimah pun telah wafat, lalu mereka kembali kepada Al-Harits, ternyata dia juga telah wafat.
Benarlah kata mereka (para thulaqa ini, orang-orang yang dibebaskan/ baru masuk Islam pada Fathu Makkah): “Kalau di dunia kita dikalahkan oleh mereka (sahabat yang lebih dahulu masuk Islam), maka di akhirat kita bergabung bersama mereka.” Itu bukan sekadar ucapan belaka. Semoga Allah l meridhai mereka.
Islamnya Shafwan bin Umayyah
Shafwan yang diamuk dendam kesumat karena kematian ayahnya Umayyah bin Khalaf seakan tak pernah tidur memikirkan bagaimana membalaskan dendam tersebut. Permusuhan dan kebenciannya kepada Nabi Muhammad n membawanya kepada kesepakatan bersama ‘Umair bin Wahb.
Suatu hari dia bersama ‘Umair berbincang-bincang tentang korban perang Badr. Shafwan berkata: “Demi Allah, hidup ini tidak menyenangkan sepeninggal mereka.”
Kata ‘Umair: “Betul, demi Allah. Kalau bukan karena utang yang tak mampu kulunasi dan keluarga yang akan jadi tanggungan sepeninggalku, pasti aku datangi Muhammad (n) untuk membunuhnya.”
Kemudian dia melanjutkan: “Aku katakan bahwa aku datang untuk menebus putraku yang ditawan oleh kalian.”
Mendengar ini, Shafwan segera menukas: “Utangmu jadi tanggunganku. Aku yang akan melunasinya. Keluargamu hidup bersama keluargaku, selama mereka masih hidup.”
Kata ‘Umair: “Kalau begitu, rahasiakan hal ini.”
Setelah ‘Umair tiba di depan Rasulullah n, beliau berkata kepadanya: “Berita apa yang kau bawa, hai ‘Umair?”
“Aku ingin menebus tawanan kalian ini,” katanya.
Nabi n bertanya pula: “Lalu untuk apa pedang di lehermu?”
Kata ‘Umair: “Semoga Allah membuatnya buruk. Apakah dia berguna bagi kami?”
Rasul n berkata: “Jujurlah wahai ‘Umair, apa yang mendorongmu datang?”
“Tidak ada lain, selain urusan tawanan,” katanya.
Rasulullah n berkata: “Bahkan, kamu dan Shafwan bin Umayyah duduk di Hijr (Ismail) lalu kalian menyebut-nyebut korban Badr dari Quraisy lalu kau mengatakan: ‘Kalau bukan karena utangku dan keluarga yang jadi tanggungan, pasti aku datangi Muhammad (n) untuk membunuhnya’, lalu Shafwan memberi jaminan untukmu akan melunasi utangmu dan menanggung keluargamu kalau engkau dapat membunuhku untuknya. Allah adalah Penghalang antara engkau dan keinginanmu.”
Saat itu juga, ‘Umair berseru: “Aku bersaksi tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa engkau adalah Rasul Allah. Tidak ada yang mengetahui pembicaraan ini selain aku dan Shafwan. Demi Allah, tidak ada yang menyampaikannya kepadamu kecuali Allah. Segala puji bagi Allah yang telah memberiku hidayah kepada Islam.”
Lalu Nabi n memerintahkan para sahabat agar mengajarinya agama dan Al-Qur’an serta membebaskan tawanannya (putra ‘Umair).
Sementara itu, di kota Makkah, berhari-hari Shafwan menunggu kedatangan ‘Umair di mana dia menghibur bangsa Quraisy bahwa sudah ada orang yang siap membunuh Muhammad (n). Tinggal menunggu beritanya.
Meletuslah peristiwa Fathu Makkah, ‘Umair datang bersama tentara Allah l lainnya. Dia mencari Shafwan, mengajaknya masuk Islam. Tapi Shafwan lebih memilih lari meninggalkan Makkah.
Shafwan menuju Jeddah bermaksud menaiki sebuah kapal lantas berlayar ke Yaman. ‘Umair mengetahuinya, dia pun datang kepada Rasulullah n dan berkata: “Wahai Nabi Allah, sesungguhnya Shafwan adalah pemuka kaumnya. Dia telah pergi karena takut kepadamu. Dia ingin menceburkan dirinya ke laut. Berilah dia jaminan keamanan.”
Nabi n berkata: “Dia aman.”
Kata ‘Umair pula: “Wahai Rasulullah, berilah aku tanda agar dia tahu sebagai jaminanmu.” Maka Rasulullah n memberinya sorban yang beliau pakai ketika memasuki Makkah.
‘Umair bergegas mengejar Shafwan. Setelah bertemu, dia berkata: “Hai Shafwan, bapak ibuku tebusanmu. Ingatlah Allah, ingatlah Allah terhadap dirimu, janganlah engkau membinasakan dirimu sendiri. Aku membawa jaminan dari Rasulullah n.”
Tapi Shafwan membalas: “Sial kamu. Pergilah, jangan bicara lagi denganku.”
‘Umair membujuknya: “Ya Shafwan, bapak ibuku tebusanmu. Sesungguhnya Rasulullah adalah orang yang paling utama, paling berbakti, paling santun, dan paling baik. Kemuliaannya adalah kemuliaanmu juga, kejayaannya adalah kejayaanmu juga.”
Kata Shafwan: “Aku mengkhawatirkan diriku.”
‘Umair menjawab: “Beliau lebih santun dan lebih pemurah dari itu.”
Akhirnya Shafwan kembali bersamanya dan berdiri di hadapan Rasulullah n. Shafwan berkata kepada beliau: “Sesungguhnya dia ini mengatakan engkau memberiku jaminan.”
Kata Rasul (n): “Betul.”
Kata Shafwan: “Beri aku waktu berpikir dua bulan.”
Maka Rasulullah n berkata: “Engkau boleh memilih selama empat bulan.”
Ketika Rasulullah n telah menyiapkan pasukan menuju Hawazin untuk memerangi mereka, disebutkan kepada beliau bahwa Shafwan memiliki persenjataan lengkap. Maka Rasulullah n menemuinya yang ketika itu masih musyrik, kata beliau: “Pinjami kami senjatamu untuk memerangi musuh besok.”
Kata Shafwan: “Apakah ini perampokan, wahai Muhammad?”
Beliau menjawab: “Bukan, tapi pinjaman yang ada jaminan sampai kami kembalikan kepadamu.”
“Kalau begitu, tidak mengapa,” katanya. Ternyata sesudah itu, sebagian senjata itu ada yang rusak, maka kata Rasulullah n: “Kalau kamu mau, kami jadikan sebagai utang kepadamu.”
“Tidak perlu,” katanya.
Usai perang, kaum muslimin memperoleh rampasan yang sangat berlimpah. Shafwan mulai melihat lembah itu dipenuhi binatang ternak. Rasulullah n meliriknya, lalu berkata: “Apakah lembah (yang dipenuhi ternak) itu menakjubkanmu?”
“Ya,” kata Shafwan. Rasulullah n berkata: “Itu semua untukmu.”
Segera saja Shafwan mengambil semua yang ada di lembah itu dan berkata: “Tidak mungkin ada seorang pun senang berbuat (memberi) dengan pemberian seperti ini kecuali seorang Nabi. Aku bersaksi tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan Rasul-Nya.” Dia pun masuk Islam di tempat itu juga.
Shafwan tetap tinggal di Makkah sebagai muslim sesudah Rasulullah n kembali ke Madinah. Lalu ada yang berkata kepadanya: “Tidak ada Islam bagi mereka yang tidak hijrah.”
Maka Shafwan pun berangkat menuju Madinah dan singgah di rumah ‘Abbas. Hal ini disampaikan kepada Rasulullah n, lalu beliau berkata: “Dia orang Quraisy yang paling baik terhadap Quraisy. Kembalilah ke Makkah. Karena tidak hijrah sesudah Fathu Makkah. Lagi pula siapa yang mengawasi pengairan Makkah?!”
Akhirnya dia kembali ke Makkah. Di Makkah, Shafwan dikenal sebagai salah seorang dermawan yang suka memberi makan, bahkan dijuluki sebagai Pemuka Makkah. Baik pula Islamnya. Dahulu dia gunakan lisannya yang fasih menyakiti kaum muslimin, maka hari ini, dia gunakan kefasihannya untuk menolong agama Allah l. Beliau tetap hidup dalam Islam sebagai orang dermawan yang terpuji. Semoga Allah l meridhainya.
Islamnya ‘Ikrimah bin Abi Jahl
Setelah pasukan kecilnya dihancurkan oleh pasukan Khalid bin Al-Walid z, ketakutan menyelinap di hati ‘Ikrimah. Dia tahu, dia dan ayahnya adalah orang yang paling sengit memusuhi Islam dan muslimin.
‘Ikrimah tahu apa yang diterimanya jika dia tetap di Makkah. Akhirnya, dia melarikan diri hingga sampai di tepi laut.
Ketika sudah berada di atas kapal, mereka diterjang badai. Maka mulailah penumpang berdoa kepada Allah l, mentauhidkannya, dan berkata: “Sesungguhnya tempat ini tidak ada yang berguna kecuali Allah l.”
Kata ‘Ikrimah: “Apa yang harus kuucapkan?”
“Ucapkanlah Laa ilaaha illallahu,” kata nakhoda kapal.
“Justru aku melarikan diri dari kalimat ini,” katanya.
Kemudian sampailah Ummu Hakim (istrinya) yang menyusulnya ke pantai itu, lalu berkata: “Hai putra pamanku. Aku datang dari orang yang paling suka menyambung tali kasih sayang, paling berbakti, dan paling baik. Janganlah kau rusak dirimu.”
‘Ikrimah berhenti hingga Ummu Hakim mendekat dan berkata: “Aku sudah memintakan jaminan keamanan untukmu kepada Muhammad Rasulullah n.”
‘Ikrimah seperti tak yakin mendengarnya: “Engkau? Engkau melakukannya?”
“Ya, aku sudah bicarakan dengan beliau lalu beliau memberi jaminan keamanan,” kata Ummu Hakim.
‘Ikrimah pun kembali bersama Ummu Hakim. ‘Ikrimah bertanya: “Apa yang dilakukan budakmu kepadamu?”
Ummu Hakim menceritakan bagaimana dia dirayu oleh budak tersebut. Mendengar ini ‘Ikrimah pun membunuh budak itu.
Di perjalanan, ‘Ikrimah membujuk Ummu Hakim melayaninya, tetapi ditolak oleh Ummu Hakim, katanya: “Sesungguhnya kamu kafir, sedangkan aku seorang wanita muslimah.”
Kata ‘Ikrimah: “Sesuatu yang menghalangimu ini betul-betul urusan yang sangat besar.”
Setibanya di Makkah, ‘Ikrimah dan Ummu Hakim segera menemui Rasulullah n. Begitu melihatnya, Rasulullah n menyambut dan mengucapkan selamat datang kepadanya. ‘Ikrimah berdiri di hadapan beliau sementara istrinya menutupi mukanya dengan sehelai cadar. Dia pun berkata: “Ya Muhammad, sesungguhnya wanita ini menerangkan bahwa engkau memberiku jaminan keamanan?”
Kata Rasulullah n: “Dia benar, dan engkau aman.”
Lalu dia pun berkata: “Kepada apa engkau mengajakku, wahai Muhammad?”
Beliau n menjawab: “Aku mengajakmu agar bersaksi tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah dan aku adalah Rasul Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, dan berbuat (kebaikan), …” dan seterusnya. Beliau pun menyebutkan beberapa perilaku Islam.
‘Ikrimah berkata: “Demi Allah. Tidaklah engkau mengajak kami melainkan kepada yang haq dan urusan yang baik lagi indah.”
Kemudian ‘Ikrimah melanjutkan: “Sungguh, aku bersaksi tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan utusan-Nya.”
Mendengar ini, Rasulullah n sangat gembira. Kemudian beliau berkata setelah menerangkan apa yang harus dilakukan ‘Ikrimah: “Tidaklah seorang pun yang memintaku sesuatu pada hari ini melainkan pasti aku beri.”
‘Ikrimah tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, dia berkata: “Kalau begitu, saya memintamu agar memintakan ampunan kepada Allah untukku atas segala permusuhanku terhadapmu atau semua ucapan yang kuucapkan di depan atau di belakangmu.”
Kata Rasulullah n: “Ya Allah, ampunilah dia atas semua permusuhannya dan upayanya memadamkan cahaya (agama)-Mu. Ampunilah dia atas perbuatannya terhadap pribadiku, di depan atau di belakangku.”
‘Ikrimah pun berkata: “Aku ridha, wahai Rasulullah. Tidak aku biarkan nafkah yang dahulu kuberikan melawan Islam, melainkan aku infakkan berkali lipat di jalan Allah. Tidak pula peperangan yang dahulu kuikuti menghalangi manusia dari jalan Allah, melainkan aku akan terjun berkali lipat di jalan Allah.”
Setelah ‘Ikrimah masuk Islam, Rasulullah n mengembalikan istrinya (Ummu Hakim, red.) kepada ‘Ikrimah dengan nikah yang pertama.
Islam mulai merambah dalam hati ‘Ikrimah. Muhajir yang kehausan ini betul-betul merasakan telaga bening Islam. Sikap Rasulullah n yang begitu hangat menyambut kehadirannya membuatnya malu bila teringat begitu sengit dendam dan permusuhan dia serta ayahnya terhadap Islam dan kaum muslimin, terlebih pribadi Rasulullah n.
Lihatlah apa yang dimintanya kepada Rasulullah n? Bukan dunia. Dia hanya minta agar Allah l mengampuninya. Sejarah telah membuktikan kejujurannya memeluk Islam, keuletannya menebus dan mengubur masa lalunya yang hitam.
Yarmuk, salah satu daerah di negeri Syam menceritakan bagaimana singa-singa Allah l menerkam musuh-musuh mereka. Kekuatan dan perlengkapan musuh yang begitu dahsyat, ternyata tidak meluluhkan tekad mereka; menang atau mati syahid.
Ketika ‘Ikrimah sudah bersiap menembus pasukan musuh, Khalid bin Al-Walid saudara sepupunya berkata: “Jangan lakukan. Kematianmu sangat merugikan kaum muslimin.”
Kata ‘Ikrimah: “Biarlah, hai Khalid, karena kau telah pernah ikut bersama Rasulullah n. Apalagi ayahku sangat hebat memusuhi Rasulullah n.”
‘Ikrimah menerobos ke tengah-tengah pasukan musuh yang berjumlah puluhan ribu orang bersama beberapa ratus prajurit muslim lainnya.
Diceritakan, bahwa dia pernah berkata ketika perang Yarmuk: “Aku dahulu memerangi Rasulullah n di setiap medan pertempuran. Hari ini, apakah aku akan lari dari kalian (yakni pasukan lawan, red.)?” Lalu dia berseru: “Siapa yang mau berbai’at untuk mati?” Maka berbai’atlah Al-Harits bin Hisyam, Dhirar bin Al-Azwar bersama empat ratus prajurit muslim lainnya.
Mereka pun maju menggempur musuh di depan kemah Khalid sampai satu demi satu mereka jatuh berguguran sebagai kembang syuhada.
Kata Az-Zuhri: “Waktu itu, ‘Ikrimah adalah orang yang paling hebat ujiannya. Luka sudah memenuhi wajah dan dadanya sampai ada yang mengatakan kepadanya: ‘Bertakwalah engkau kepada Allah, kasihanilah dirimu’.”
Tapi ‘Ikrimah menukas: “Dahulu aku berjihad dengan diriku demi Latta dan ‘Uzza, bahkan aku serahkan jiwaku untuk mereka. Lantas, sekarang, apakah harus aku biarkan jiwaku ini tetap utuh karena (membela) Allah dan Rasul-Nya? Tidak. Demi Allah, selamanya tidak.” Maka, hal itu tidaklah menambahi apapun selain beliau semakin berani menyerang hingga gugur sebagai syahid. Semoga Allah l meridhai ‘Ikrimah.

1 Sebuah penyakit menular, berupa bengkak yang asalnya menjangkiti tikus. Penyakit ini lalu menyebar kepada tikus lain melalui kutu, hingga akhirnya menjangkiti manusia. (Al-Mu’jamul Wasith) -ed

Nikmat Lisan untuk Apa Kita Gunakan

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Abbas Muhammad Ihsan)

 

Allah l adalah Al-Mu’thi, Ar-Razzaq, Dzat Yang Maha memberikan berbagai nikmat kepada seluruh makhluk-Nya untuk menegakkan kewajiban dan ketaatan mereka kepada-Nya semata. Itulah salah satu bukti rahmat-Nya kepada hamba-hamba-Nya. Allah l berfirman:

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (Adz-Dzariyat: 56)

Adapun jenis dan jumlah nikmat-Nya, hanya Allah l yang Maha mengetahui. Allah l berfirman:

“Dan (Dia) menyempurnakan untukmu nikmat-Nya, lahir dan batin.” (Luqman: 20)

“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya).” (An-Nahl: 53)

“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya.” (Ibrahim: 34)

Dari sekian banyak kenikmatan yang Allah l limpahkan kepada hamba-hamba-Nya, termasuk yang paling agung adalah nikmat lisan. Dengan lisannya, seorang hamba akan mampu berkomunikasi dan mengungkapkan apa yang ada pada dirinya. Allah l berfirman:

“Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, lidah, dan dua buah bibir.” (Al-Balad: 8-9)

Lisan yang kecil ini ibaratnya pedang bermata dua. Jika tidak memberi manfaat kepada pelakunya, maka dia justru akan membinasakan tuannya. Allah l berfirman:

“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (Qaf: 18)

“Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu).” (Al-Infithar: 10-11)

Al-Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali t berkata: “Sungguh, as-salafush shalih rahimahumullah telah sepakat bahwa malaikat yang ada di samping kanan seorang hamba adalah malaikat yang akan mencatat seluruh amal kebaikan. Sedangkan malaikat yang ada di samping kirinya adalah malaikat yang akan mencatat amalan kejelekan.” (Jami’ Al-‘Ulum wal Hikam, 1/336)

Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di t menerangkan makna ayat tersebut dalam Tafsir-nya: “Amalan kalian pasti akan dihisab. Allah l telah menugaskan sebagian malaikatnya yang mulia untuk mencatat ucapan dan perbuatan kalian. Mereka (para malaikat itu) mengetahui amalan kalian, baik amalan hati maupun anggota badan. Maka, sepantasnya kalian memuliakan dan menghormati mereka (dengan kebaikan dan ketaatan kepada Allah l dan Rasul-Nya, pen.).”

Rasulullah n bersabda:

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِكَلِمَةٍ مِنْ رِضْوَانِ اللهِ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا يَرْفَعُهُ اللهُ بِهَا دَرَجَاتٍ، وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِكَلِمَةٍ مِنْ سُخْطِ اللهِ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا يَهْوِي بِهَا إِلَى جَهَنَّمَ

“Sungguh seorang hamba mengucapkan sebuah kalimat yang diridhai Allah l, yang dia tidak ingat atau pikirkan, yang dengannya Allah l akan mengangkat derajatnya. Dan sungguh seorang hamba mengucapkan sebuah kalimat yang dimurkai Allah l yang dia tidak ingat atau pikirkan, maka dengan sebab itu, dia akan masuk ke dalam Jahannam.” (Muttafaqun ‘alaih, dari Abu Hurairah z)

Sehingga, orang yang bijak adalah orang yang berpikir sebelum berbicara; apakah perkataan yang ingin dia ucapkan akan mendatangkan keridhaan Allah l atau kemurkaan-Nya? Akan mendatangkan keuntungan di akhirat ataukah kerugian?

Rasulullah n bersabda:

مَنْ يَضْمَنْ لِي مَا بَيْنَ لَـحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ

“Barangsiapa menjamin apa yang ada di antara dua tulang rahangnya (yakni lisan), dan apa yang ada di antara kedua kakinya (yakni kemaluan), niscaya aku menjamin jannah (surga) baginya.” (Muttafaqun ‘alaih, dari Sahl bin Sa’d z)

Rasulullah n juga bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya dia mengucapkan perkataan yang baik atau diam.” (Muttafaqun ‘alaih dari hadits Abu Hurairah z)

Al-Imam Asy-Syafi’i t berkata: “Makna hadits ini adalah apabila seorang hamba ingin berbicara, hendaknya dia berpikir terlebih dahulu. Apabila telah nampak jelas baginya bahwa tidak ada kerugian/madharat terhadap dirinya, hendaknya dia mengatakannya. Namun apabila nampak jelas baginya kerugian/madharat atau dia ragu-ragu, maka hendaknya dia diam.” (Syarh Shahih Muslim, 1/222)

Al-Hafizh Ibnu Hajar t berkata: “Makna hadits tersebut ialah ketika seseorang ingin berbicara hendaknya dia berpikir terlebih dahulu. Jika yakin bahwa ucapannya tidak menimbulkan akibat yang jelek dan tidak menyeretnya pada perkara yang haram atau makruh, hendaknya dia berbicara. Namun apabila perkaranya adalah mubah, yang selamat adalah dia diam, supaya tidak terseret ke dalam perkara yang haram atau makruh.” (Fathul Bari, 13/149)

Perhatikan pula ucapan Al-Imam Ibnul Qayyim t ketika menceritakan bagaimana Iblis la’natullah ‘alaih mengomando bala tentaranya. “Iblis berkata kepada anak buahnya: ‘Berjaga-jagalah kalian pada pos lisan, karena pos tersebut adalah pos yang paling strategis. Doronglah lisannya untuk mengucapkan berbagai perkataan yang akan merugikannya dan tidak akan menguntungkannya. Halangilah hamba itu untuk membiasakan lisannya dengan hal-hal yang bermanfaat, seperti dzikir, istighfar, membaca Al-Qur’an, memberi nasihat, dan berbicara tentang ilmu. Niscaya kalian akan mendapatkan dua hasil besar di pos ini, tidak usah engkau hiraukan hasil manapun yang engkau dapatkan:

1. Dia berbicara dengan kebatilan. Orang yang berbicara dengan kebatilan adalah saudara dan penolongmu.

2. Dia berdiam diri dari kebenaran. Orang yang tidak berbicara dengan kebenaran adalah saudaramu yang bisu, sebagaimana saudaramu yang pertama tadi, hanya saja dia pandai bicara. Barangkali saudaramu yang bisu ini lebih bermanfaat bagi kalian. Tidakkah kalian dengar ucapan seorang pemberi nasihat1: ‘Orang yang berbicara dengan kebatilan adalah setan yang pandai bicara, sedangkan orang yang diam dari kebenaran adalah setan yang bisu.’

Maka teruslah kalian berjaga di pos itu. Pos yang dia bisa berbicara dengan kebenaran atau menahan diri dari kebatilan. Hiasilah pembicaraan kebatilan kepadanya, dengan segala cara. Takut-takutilah dia untuk menyampaikan kebenaran, dengan segala cara.

Ketahuilah wahai anak-anakku, pos lisan inilah tempat aku berhasil membinasakan anak keturunan Adam dan menyeret mereka ke dalam Jahannam. Betapa banyak korban yang berhasil aku bunuh, aku tawan, atau aku lukai melalui pos ini.” (Ad-Da’u wad Dawa’, hal. 154-155)

Selanjutnya, Iblis berkata kepada anak buahnya: “Gunakanlah dua senjata yang tidak akan menyebabkan kalian kalah:

1. Lalai dan lengah. Jadikanlah hati mereka berlalu dari mengingat Allah l, lalai terhadap akhirat, dengan segala cara. Kalian tidak mendapatkan sesuatu yang lebih berharga dalam usaha kalian dibandingkan perkara itu. Karena, tatkala hati lalai dari mengingat Allah l maka kalian akan mampu menguasai dan menyesatkannya.

2. Syahwat. Hiasilah syahwat itu dalam hati mereka. Tampakkanlah indahnya syahwat di pelupuk mata mereka. Lalu seranglah mereka dengan dua senjata itu. Kalian tidak memiliki kesempatan yang lebih berharga untuk membinasakan mereka dibandingkan dua kesempatan itu.” (Ad-Da’u wad Dawa’, hal. 157)

Adapun perangkap-perangkap Iblis –yang menjebak banyak hamba Allah l– tidak terhitung jumlah dan jenisnya. Di antaranya:

 

1. Ghibah

Rasulullah n menjelaskan makna ghibah dalam hadits Abu Hurairah z:

أَتَدْرُونَ مَا الْغِيْبَةُ؟ قَالُوا: اللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ: ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ. قِيلَ: أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِي أَخِي مَا أَقُولُ؟ قَالَ: إِنْ كَانَ فِيْهِ مَا تَقُولُ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيْهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ

“Tahukah kalian apa ghibah itu?” Mereka menjawab: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Beliau n bersabda: “Engkau menceritakan tentang saudaramu perkara yang dia benci.” Beliau ditanya: “Bagaimana kalau perkara yang aku katakan itu memang ada pada dirinya?” Beliau menjawab: “Kalau apa yang engkau katakan itu ada pada dirinya, sungguh engkau telah mengghibahinya. Apabila tidak ada padanya, sungguh engkau telah memfitnahnya.” (HR. Muslim)

Rasulullah n telah mengharamkan harga diri seorang muslim dalam khutbah yang mulia dan di waktu yang mulia (yakni di hari Arafah), di tempat yang mulia pula (di Arafah). Dari Abu Bakrah z, nabi n bersabda:

فَإِنَّ دِمَائَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ عَلَيْكُمْ حَرَامٌ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا، وَفِي بَلَدِكُمْ هَذَا، وَفِي شَهْرِكُمْ هَذَا

“Maka sesungguhnya darah kalian haram, harta kalian haram, dan kehormatan kalian pun haram, sebagaimana haramnya (terhormatnya) hari kalian ini, di negeri kalian ini, dalam bulan kalian ini.” (Muttafaqun ‘alaih)

Sehingga, merendahkan dan menjatuhkan harga diri/kehormatan seorang muslim tanpa alasan yang benar adalah haram hukumnya. Barangsiapa yang mencari-cari kekurangan saudaranya, niscaya Allah l akan membongkar aibnya dan mempermalukannya. Dari Ibnu Umar c, dia berkata:

صَعِدَ رَسُولُ اللهِ n الْمِنْبَرَ فَنَادَى بِصَوْتٍ رَفِيعٍ: يَا مَعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يُفْضِ الْإِيْمَانُ إِلَى قَلْبِهِ، لَا تُؤْذُوا الْمُسْلِمِينَ وَلَا تُعَيِّرُوهُمْ وَلَا تَتبعُوا عَوْرَاتِهِمْ، فَإِنَّهُ مَنْ تَتَبَّعَ عَوْرَةَ أَخِيهِ الْمُسْلِمِ تَتَبَّعَ اللهُ عَوْرَتَهُ، وَمَنْ تَتَبَّعَ اللهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحُهُ اللهُ وَلَوْ فِي جَوْفِ رَحْلِهِ

“Wahai orang-orang yang beriman dengan lisannya dan belum masuk ke dalam hatinya. Jangan kalian menyakiti kaum muslimin. Jangan kalian menjelek-jelekkan mereka dan jangan kalian mencari-cari kekurangan mereka. Karena barangsiapa mencari-cari kekurangan saudaranya yang muslim, niscaya Allah l akan mencari-cari kekurangannya. Barangsiapa yang Allah l cari-cari kekurangannya, niscaya Allah l akan membongkar aibnya dan mempemalukannya, walaupun dia berada di dalam rumahnya.” (HR. At-Tirmidzi)

Ketahuilah, ghibah adalah salah satu dosa besar yang akan menyebabkan pelakunya mendapat azab kubur apabila Allah l tidak mengampuninya. Dari Anas bin Malik z, dia berkata: Rasulullah n bersabda:

لَمَّا عُرِجَ بِي مَرَرْتُ بِقَوْمٍ لَهُمْ أَظْفَارٌ مِنْ نُحَاسٍ يَخْشُونَ وُجُوهَهُمْ وَصُدُورَهُمْ فَقُلْتُ: مَنْ هَؤُلَاءِ يَا جِبْرِيلُ؟ قَالَ: هَؤُلَاءِ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ لُحُومَ النَّاسِ وَيَقَعُونَ فِي أَعْرَاضِهِمْ

Tatkala aku dimi’rajkan (dinaikkan ke langit) aku melewati suatu kaum yang memiliki kuku-kuku tajam dari tembaga. Mereka mencakar wajah dan dada mereka. maka aku bertanya: “Siapa mereka ini, wahai Jibril?” Jibril menjawab: “Mereka adalah orang-orang yang suka makan daging manusia (menggunjing/ghibah) dan menjatuhkan kehormatan mereka.” (HR. Abu Dawud, dan disebutkan Asy-Syaikh Muqbil t dalam Ash-Shahihul Musnad)

Al-Hafizh Ibnu Katsir t berkata: “Ghibah itu haram hukumnya berdasarkan ijma’. Tidak ada pengecualian selain terhadap orang-orang yang jelas kemaslahatannya, seperti dalam al-jarh wat ta’dil (mencela/ memuji para perawi hadits), dalam nasihat sebagaimana nasihat Rasulullah n kepada Fathimah bintu Qais x.”

Al-Imam An-Nawawi t berkata: “Ketahuilah bawa ghibah itu dibolehkan untuk tujuan syar’i, yang mana tidak mungkin tujuan tersebut tercapai kecuali dengan ghibah itu. Hal ini ada pada enam perkara.” (Riyadhush Shalihin)

Keenam hal tersebut terkumpul dalam ucapan seorang penyair:

الذَّمُّ لَيْسَ بِغِيْبَةٍ فِي سِتَّةٍ

مُتَظَلِّمٍ وَمُعَرِّفٍ وَمُحَذِّرٍ

وَلِمُظْهِرٍ فِسْقًا وَمُسْتَفْتٍ وَمَنْ

طَلَبَ الْإِعَانَةَ فِي إِزَالَةِ مُنْكَرٍ

Ghibah itu tidak tercela pada enam perkara

Orang yang dizalimi, yang mengenalkan, dan yang memperingatkan

Orang yang menampakkan kefasikan, peminta fatwa

Orang yang minta tolong untuk menghilangkan kemungkaran

 

Faedah

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin t berkata: “Ketahuilah, ghibah itu akan bertambah kejelekannya dan dosanya sesuai dengan siapa yang disakiti dengan ghibah tersebut. Ghibah terhadap orang biasa tidak seperti ghibah terhadap orang yang berilmu. Tidak pula seperti ghibah terhadap pemimpin negara, pejabat, menteri, dan sejenisnya. Karena ghibah terhadap pejabat baik pejabat rendah maupun pejabat tinggi lebih besar dosanya daripada ghibah terhadap orang yang tidak memiliki jabatan kepemimpinan atau kedudukan. Hal itu disebabkan bila engkau ghibah terhadap orang biasa, engkau hanyalah berbuat jelek terhadap pribadinya. Namun bila engkau ghibah terhadap orang yang memiliki jabatan atau kedudukan, sungguh engkau telah berbuat jelek terhadap pribadi dan kedudukannya yang terkait dengan kepentingan kaum muslimin. Contohnya, apabila engkau berbuat ghibah terhadap salah seorang ulama, perbuatan ini berarti permusuhan dan kebencian terhadap pribadinya. Engkau juga telah berbuat kejelekan atau kejahatan yang besar terhadap ilmu syariat yang dibawanya. Seorang yang berilmu adalah pengemban syariat. Apabila engkau menggunjingnya maka akan jatuh kewibawaannya dalam pandangan umat. Apabila telah jatuh wibawanya, umat tidak akan mendengarkan ucapannya dan tidak mau merujuk kepadanya dalam urusan agama mereka. Akibatnya, ilmu yang dimiliki orang alim tersebut diragukan kebenarannya karena engkau menggunjingnya. Ini adalah kejahatan yang besar terhadap syariat.

Demikian juga para pemimpin/pejabat. Apabila engkau melakukan ghibah terhadap seorang pejabat, raja, presiden, atau yang semisalnya, dampak jeleknya bukan hanya menimpa pribadinya. Bahkan ghibah itu akan menjatuhkan pribadinya sekaligus merusak kewibawaan serta kedudukannya. Ini berarti engkau telah menyusupkan kebencian dan kedengkian ke dalam hati rakyat terhadap penguasanya. Apabila engkau berhasil menanamkan kebencian dan kedengkian di hati mereka terhadap penguasanya, sungguh engkau telah melakukan kejahatan yang besar terhadap mereka. Hal ini juga merupakan sebab munculnya berbagai kekacauan, perselisihan, dan perpecahan dalam kehidupan (masyarakat). Bila hari ini ghibah telah berhasil menyebarkan berbagai macam ucapan, boleh jadi besok hari akan menyebarkan tembakan-tembakan. Karena apabila hati telah benci dan dengki terhadap penguasanya, dia tidak akan mau tunduk dan patuh terhadap perintahnya. Apabila dia diperintahkan untuk melakukan suatu kebaikan, dia akan melihat sebaliknya. (Syarh Riyadhish Shalihin, 4/46-47)

 

Cara Taubat dari Ghibah

Al-Imam Ibnul Qayyim t dalam kitabnya Al-Wabil Ash-Shayyib (hal. 131) menyebutkan sebuah hadits dari Nabi n bahwa kaffarah ghibah (penghapus dosanya) adalah dengan memohon ampunan kepada Allah l bagi orang yang digunjing, dengan mengucapkan:

اللَّهُمَّ اغْفِرْلَنَا وَلَهُ

“Ya Allah, ampunilah kami dan dia.”

Al-Baihaqi t menyebutkan hadits tersebut dalam Ad-Da’watul Kabir, dan mengatakan bahwa di dalam sanadnya ada kelemahan. Dalam masalah ini, ada dua pendapat di kalangan ulama, yang keduanya adalah riwayat dari Al-Imam Ahmad t: Apakah cukup untuk bertaubat dari ghibah itu dengan memohon ampunan bagi orang yang dighibahi? Ataukah harus disertai pemberitahuan kepada orang itu dan meminta untuk dimaafkan?

Pendapat yang benar, taubat dari ghibah tidak membutuhkan pemberitahuan kepada orang yang dighibahi. Bahkan cukup dengan memohon ampunan baginya dan menyebut kebaikan-kebaikannya di tempat-tempat yang dahulu dia mengghibahinya. Ini adalah pendapat yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t dan selainnya.

Adapun sebagian ulama yang mengharuskan pemberitahuan kepada orang yang dighibahi sebagai bentuk taubatnya, mereka menganggap ghibah seperti hak-hak harta yang dizalimi. Padahal jelas perbedaannya. Dalam hak-hak yang terkait dengan harta, dengan dikembalikan hartanya atau yang setara dengannya, maka orang yang dizalimi akan mendapatkan manfaat darinya. Dia bisa mengambilnya atau menyedekahkannya. Yang seperti ini tidak mungkin terjadi pada ghibah. Yang akan terjadi pada orang yang dighibahi ketika dia diberitahu tentangnya, justru berlawanan dengan apa yang dimaksud Rasulullah n. Hal tersebut justru akan menyakiti dan menyalakan kemarahannya. Boleh jadi dia akan membangkitkan permusuhan yang tidak akan bisa dipadamkan. Hal-hal yang menyebabkan terjadinya yang seperti ini tentu tidak akan diperbolehkan oleh Rasulullah n, apalagi memerintahkan dan mewajibkannya.

 

2. Namimah (adu domba)

Namimah adalah menukil (memindahkan) ucapan seseorang kepada orang lain dengan tujuan merusak hubungan atau persaudaraan di antara keduanya.

Allah l dan Rasul-Nya n sungguh telah mencela orang yang berbuat namimah dan melarang kita mendengarkan ucapannya. Allah l berfirman:

“Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah, yang sangat enggan berbuat baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa.” (Al-Qalam: 10-12)

Rasulullah n bersabda:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَتَّاتٌ

“Tidak akan masuk surga, orang yang qattat (yakni ahli namimah).” (HR. Al-Bukhari dari Hudzaifah z)

Dalam sebuah riwayat dalam Shahih Muslim:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ نَمَّامٌ

“Tidak akan masuk surga, ahli namimah.”

Al-Imam Ibnu Katsir t berkata: “Allah l berfirman ﯣ ﯤ , maknanya adalah orang yang berjalan di antara manusia untuk mengadu domba di antara mereka, dengan cara menukil ucapan dengan tujuan merusak hubungan dan persaudaraan di antara mereka. Ini adalah perbuatan yang membinasakan.”

Ummu Abdillah bintu Asy-Syaikh Muqbil t berkata: “Dalil-dalil yang mengandung ancaman seorang muslim tidak akan masuk surga bila melakukan dosa besar (seperti hadits ini, pen.) dipahami bahwa di dalamnya ada sesuatu yang mahdzuf (dibuang). Maksudnya adalah apabila Allah l ingin membalasnya, atau maknanya dia tidak akan masuk surga secara langsung, di mana dia akan diazab sesuai kadar dosanya (apabila Allah l berkehendak, pen.), namun akhirnya ia masuk surga. Sedangkan bila menghalalkannya, maka dia telah kafir karena telah mendustakan nash-nash (Al-Qur’an dan As-Sunnah). Sama saja apakah dia melakukan perbuatan itu ataupun tidak. (Nashihati lin Nisa’, hal. 39)

Namimah adalah dosa besar yang akan menyebabkan pelakunya diazab dalam kuburnya, apabila Allah l tidak mengampuninya. Sebagaimana hal ini disebutkan dalam hadits Ibnu Abbas c yang masyhur. Disamping itu, namimah adalah perbuatan yang sangat tercela lagi berbahaya, yang akan merusak persahabatan dan persaudaraan. Bahkan namimah bisa merusak kecintaan antara sepasang suami istri, bapak dengan anaknya, atau seseorang dengan saudaranya, serta bisa merusak persaudaraan di antara kaum muslimin. Bahkan peperangan bisa terjadi karena namimah. Oleh karena itulah, Allah l dan Rasul-Nya n mengancam pelakunya tidak akan masuk surga.

Sebagian ulama, seperti Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab t menggolongkan namimah ke dalam jenis sihir. Karena namimah bisa merusak persaudaraan dan kecintaan antara dua pihak, sebagaimana pengaruh yang ditimbulkan sihir. Bahkan sebagian ulama yang lain mengatakan: “Sungguh ahli namimah itu bisa merusak dalam sekejap sebagaimana tukang sihir merusak dalam waktu satu bulan.”

Ummu Abdillah berkata: “Ketahuilah, orang yang melakukan namimah untuk kepentinganmu, maka dia akan melakukan namimah untuk membinasakanmu juga. Oleh karena itu, nasihatilah orang yang berbuat demikian dengan lemah lembut dan pengarahan yang baik berulang kali. Apabila dia tidak mau meninggalkannya maka peringatkanlah saudara-saudaramu darinya. Jauhilah dia, karena Allah l berfirman:

“Apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka mengalihkan pada pembicaraan yang lain. Jika setan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu sesudah teringat (akan larangan itu).” (Al-An’am: 68)

 

Faedah

Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi hafizhahullah berkata: “Jauhilah faktor-faktor yang akan menumbuhkan kebencian, permusuhan, perselisihan, dan perpecahan. Jauhilah perkara-perkara ini. Karena perkara ini telah tersebar pada masa ini melalui usaha orang-orang yang Allah l mengetahui keadaan dan tujuan mereka. Benar-benar tersebar dan meluas. Perkara-perkara ini telah mencabik-cabik para pemuda di negeri ini (Arab Saudi), baik di universitas Islam maupun tempat lainnya. Bahkan di seluruh dunia. Mengapa hal ini bisa terjadi? Karena yang terjun di medan dakwah bukanlah orang-orang yang ahli, baik dari sisi ilmu maupun pemahamannya. Boleh jadi, musuh-musuh dakwah ini telah menyusupkan orang-orang yang akan mengacaukan dan memecah-belah di tengah-tengah salafiyyin. Ini bukanlah perkara yang mustahil, bahkan betul-betul telah terjadi. Maka bersemangatlah kalian untuk menjaga persaudaraan dan persatuan.” (Al-Hatstsu ‘alal Mawaddah, hal. 39-40)

 

3. Kadzib (kedustaan)

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin t berkata: “Kadzib maknanya adalah seseorang memberitakan sesuatu yang menyelisihi kenyataan atau kebenaran. Ketahuilah bahwasanya kedustaan itu bermacam-macam.

a. Dusta atas nama Allah l dan Rasul-Nya n.

Ini adalah kedustaan yang paling besar (dosa dan bahayanya). Karena Allah l berfirman:

“Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang membuat-buat suatu kedustaan terhadap Allah, atau mendustakan ayat-ayat-Nya?” (Al-An’am: 21)

Hal ini terbagi menjadi dua bagian:

– Seseorang menyatakan bahwa Allah l mengatakan demikian atau Rasulullah n mengatakan demikian, padahal Allah l atau Rasul-Nya n tidaklah mengatakan demikian itu.

– Dia menafsirkan Kalamullah atau Sunnah Rasul-Nya dengan tafsiran yang tidak seperti yang dimaukan Allah l atau Rasul-Nya n. Dia berarti telah membuat kedustaan atas nama Allah l atau Rasul-Nya. Seperti orang yang dengan sengaja menafsirkan ayat atau hadits dengan tafsiran tertentu yang sesuai dengan hawa nafsunya, atau demi mendapatkan keuntungan duniawi. Dan betapa banyak orang yang terjatuh dalam perkara ini.

b. Kedustaan yang terjadi di kalangan umat

Di antara bentuknya:

– Seseorang menampakkan diri sebagai orang yang baik, berilmu, bertakwa, dan beriman, padahal hakikatnya tidak demikian. Sebenarnya dia adalah orang yang jahil, zalim, dan kufur. Hal ini adalah kemunafikan, sebagaimana Allah l sebutkan tentang perbuatan orang-orang munafik:

“Di antara manusia ada yang mengatakan: ‘Kami beriman kepada Allah dan Hari Kemudian’, padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman.” (Al-Baqarah: 8)

– Menisbatkan suatu ucapan, perbuatan atau pendapat, kepada seseorang, padahal orang tersebut tidak menyatakan atau melakukan hal tersebut.

– Menceritakan suatu perkara yang lucu agar orang-orang tertawa, padahal dia berdusta. Dari Mu’awiyah bin Haidah z, dia berkata: Aku mendengar Nabi n bersabda:

وَيْلٌ لِلَّذِي يُحَدِّثُ بِالْحَدِيثِ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ، وَيْلٌ لَهُ ثُمَّ وَيْلٌ لَهٌ

“Celaka orang yang menceritakan suatu perkara (yang dusta) untuk membuat suatu kaum tertawa dengannya. Celaka dia, kemudian celaka dia.” (HR. At-Tirmidzi dan Abu Dawud)

 

4. Qiila wa qala (katanya dan katanya)

Al-Imam Ibnu Abdil Barr t berkata: “Maknanya, berbicara dengan ucapan-ucapan yang tidak ada faedahnya. Kebanyakannya ghibah, keributan, dan dusta. Barangsiapa yang banyak melakukannya pasti dia tidak akan selamat dari kebatilan, ghibah, dan kedustaan. Wallahu a’lam.” (At-Tamhid, 21/289)

Al-Imam An-Nawawi t berkata: “Maknanya adalah dia membicarakan setiap berita yang dia dengar. Dia menyatakan: ‘Telah dikatakan demikian’ dan ‘Fulan mengatakan demikian’, berupa perkara-perkara yang tidak dia ketahui kebenarannya dan tidak pula ia meyakininya.” (Riyadhush Shalihin)

Oleh karena itulah, Rasulullah n bersabda:

إِنَّ اللهَ تَعَالَى يَرْضَى لَكُمْ ثَلَاثًا وَيَكْرَهُ لَكُمْ ثَلَاثًا، فَيَرْضَى لَكُمْ أَنْ تَعْبُدُوهُ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَأَنْ تَعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا، وَيَكْرَهُ لَكُمْ قِيلَ وَقَالَ، وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ، وَإِضَاعَةَ الْمَالِ

“Sesungguhnya Allah l meridhai bagi kalian tiga perkara dan membenci bagi kalian tiga perkara. Dia meridhai bagi kalian agar kalian beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun, kalian berpegang teguh dengan tali Allah (Al-Qur’an dan As-Sunnah), dan agar kalian tidak berpecah-belah. Dan Dia membenci bagi kalian qiila wa qala, banyak bertanya (keras kepala), dan membuang-buang harta (tanpa ada faedahnya).” (HR. Muslim dari Abu Hurairah z)

Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam berkata: “Barangsiapa yang tidak mau mengendalikan lisannya (dengan kebenaran), niscaya dia akan menggunakan lisannya pada perkara-perkara yang jelek. Lisan ini akan menyeretnya pada kebinasaan. Kalau sebuah kalimat saja terkadang bisa mencelakakan pemiliknya, terlebih lagi bahaya dan dosa yang ditimbulkan oleh lisan yang tidak terbatas jumlah dan macamnya. Oleh karena itulah Rasulullah n bersabda:

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ مَا فِيْهَا يَهْوِي بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ

“Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan sebuah kalimat yang dia belum mendapatkan kejelasan padanya, maka dia tergelincir dengannya ke dalam neraka lebih jauh daripada jarak antara timur dan barat.” (Muttafaqun ‘alaih dari Abu Hurairah zdan ini adalah lafadz Al-Imam Muslim)

Sedangkan anggota badan yang lainnya tunduk dan takut terhadap lisan, sebagaimana yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, Ahmad, Ath-Thayalisi, dan yang lainnya, dari Abu Sa’id Al-Khudri z, dia berkata: Rasulullah n bersabda:

إِذَا أَصْبَحَ ابْنُ آدَمَ فَإِنَّ الْأَعْضَاءَ كُلَّهَا تَكْفِي اللِّسَانَ، تَقُولُ: اتَّقِ اللهَ فَإِنَّمَا نَحْنُ بِكَ فَإِنِ اسْتَقَمْتَ اسْتَقَمْنَا وَإِنِ اعْوَجَجْتَ اعْوَجَجْنَا

“Apabila anak Adam masuk waktu pagi hari, sesungguhnya seluruh anggota tubuhnya mencela lisan. Mereka mengatakan: ‘Bertakwalah engkau kepada Allah! Karena kami tergantung denganmu. Apabila engkau lurus, niscaya kami pun akan lurus. Apabila engkau bengkok (menyimpang) maka kami pun akan menyimpang’.” (Tahdzirul Basyar min Ushul Asy-Syar, hal. 112)

Oleh karena itulah, hendaknya kita bertakwa kepada Allah l dengan lisan kita, sebagaimana perintah-Nya:

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan ucapkanlah ucapan yang lurus, niscaya Allah akan memperbagus amalan-amalan kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul-Nya maka sungguh dia memperoleh kemenangan yang besar.” (Al-Ahzab: 70-71)

Hanya dengan takwa, Allah l akan memperbaiki amalan kita dan mengampuni dosa kita.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Dukun dan Tukang Ramal Budak Syaithan

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman)

 

Sangatlah mengherankan, ternyata dari kalangan manusia ini ada yang menjadi murid sekaligus kaki tangan setan, siap menuruti segala petuahnya serta siap menjadi hamba dan budaknya. Dengan sikap ini, dia lancarkan segala manuver penyesatan yang dilakukan oleh musuh Allah l dan musuh kaum mukminin, pemimpin kejahatan, iblis la’natullah. Mereka adalah dukun dan tukang ramal.

Melalui murid, sang guru mendapatkan banyak peluang untuk melakukan penipuan dan penyesatan. Bahkan sang guru telah menciptakan kondisi yang seolah-olah umat ini tergantung dan tidak bisa terlepas dari dukun dan tukang ramal. Rumah panggung yang sudah reot dipadati pengunjung dari berbagai penjuru, yang semuanya ingin mengadukan nasib hidupnya. Padahal si dukun atau tukang ramal itu sendiri tidak mengetahui nasib dirinya. Karena jika dia mengetahui nasib hidupnya niscaya dia akan bisa mengubah nasibnya sendiri serta istri dan anaknya. Kedustaan menjadi senjatanya yang paling ampuh. Kekufuran menjadi baju dan selimutnya. Ilmu ghaib menjadi sandaran petuahnya. Padahal Allah l mengatakan:

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali dia sendiri, dan dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Al-Mahfuzh).” (Al-An’am: 59)

As-Sa’di t berkata: “Ayat yang mulia ini merupakan ayat yang paling besar dalam merincikan luasnya ilmu Allah l, yang mencakup seluruh perkara ghaib. Allah l mengajarkan sebagiannya kepada hamba-hamba-Nya yang dikehendaki. Namun kebanyakan perkara ghaib itu disembunyikan ilmunya dari malaikat yang dekat maupun para rasul yang diutus, lebih-lebih dari selain mereka. Allah l mengetahui segala yang ada di daratan berupa berbagai macam hewan, pohon, pasir, kerikil, dan debu. Allah l juga mengetahui segala yang ada di lautan berupa berbagai macam hewan laut, segala macam tambang, ikan dan segala yang terkandung di dalamnya serta air yang meliputinya…

Jika semua makhluk dari yang pertama sampai yang terakhir, berkumpul untuk mengetahui sebagian sifat Allah l, niscaya mereka tidak akan sanggup dan tidak akan mencapainya. Maka Maha Suci Allah Rabb yang Mulia, Maha Luas, Maha mengetahui, Maha terpuji, Maha Mulia, dan Maha menyaksikan segala sesuatu, tidak ada sesembahan selain-Nya. Tidak ada seorang pun yang sanggup memuji-Nya. Dia adalah sebagaimana Dia puji Diri-Nya, dan di atas segala pujian hamba-hamba-Nya. Ayat ini menunjukkan bahwa ilmu Allah l mencakup segala sesuatu dan bahwa kitab-Nya (Lauh Al-Mahfuzh) yang tertulis mencakup segala kejadian.” (Tafsir As-Sa’di, 1/259)

“Katakanlah: ‘Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudaratan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebaikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudaratan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman’.” (Al-A’raf: 188)

Ibnu Katsir t berkata: “Allah l memerintahkan kepada beliau agar menyerahkan semua urusannya kepada Allah l. Juga memerintahkan agar beliau memberitakan tentang dirinya bahwa dia tidak mengetahui perkara ghaib. Tidaklah beliau mengetahui perkara yang ghaib melainkan apa yang telah diberitahukan oleh Allah l, sebagaimana firman Allah l:

“(Dia adalah Dzat) yang mengetahui yang ghaib. Maka dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang ghaib itu, kecuali kepada Rasul yang diridhai-Nya. Maka sesungguhnya dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya.” (Al-Jin: 26-27) [Tafsir Ibnu Katsir, 3/523]

Jika imam para nabi dan rasul, Nabi kita Muhammad n tidak mengetahui perkara ghaib, apakah kemudian selain beliau patut untuk mengilmuinya dan menjadikannya sebagai sandaran petuah? Apakah selain beliau n bisa menguasainya sementara beliau n tidak? Tentu ini adalah bentuk kedangkalan akal dan kerusakan fitrah.

 

Mengenal Lebih Dekat Dukun dan Arraf

‘Arraf merupakan bentuk mubalaghah (penyangatan) dari kata ‘arif. Ada sebagian ulama mengatakan bahwa ‘arraf itu sama dengan kahin (dukun) yaitu orang yang memberitahukan tentang sesuatu yang akan datang. Sebagian yang lain mengatakan ‘arraf adalah nama umum dari kata kahin, dukun, munajjim, rammal, dan selainnya, yaitu orang yang berbicara tentang sesuatu yang ghaib dengan tanda-tanda yang dia pergunakan.

Di antara alat yang dipergunakan untuk mengetahui perkara yang ghaib adalah: pertama, melalui kasyf (baca: terawangan); dan kedua, melalui setan. Al-Imam Al-Baghawi t mengatakan: “Arraf adalah orang yang mengaku mengerti suatu benda atau barang yang dicuri, tempat hilangnya, atau selainnya, dengan tanda-tanda tertentu.”

Kahin (dukun) adalah orang yang memberitahukan tentang terjadinya suatu perkara ghaib pada waktu yang akan datang. Atau dengan kata lain, orang yang memberitahukan apa yang ada di dalam hati. (Lihat Majmu’ Fatawa, 35/173)

Walhasil, ‘arraf dan kahin adalah orang yang mengambil ilmu dari mustariqus sama’ (para pencuri berita dari langit) yaitu para setan. Rasulullah n telah menceritakan dalam sebuah hadits tentang cara pengajaran ilmu perdukunan oleh setan:

إِذَا قَضَى اللهُ الْأَمْرَ فِي السَّمَاءِ ضَرَبَتِ الْمَلَائِكَةُ بِأَجْنِحَتِهَا خضَعَانًا لِقَوْلِهِ كَأَنَّهُ سِلْسِلَةٌ عَلَى صَفْوَانٍ فَإِذَا فُزِّعَ عَنْ قُلُوبِهِمْ قَالُوا: مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ؟ قَالُوا لِلَّذِي قَالَ: الْحَقَّ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيْرُ. فَيَسْمَعُهَا مُسْتَرِقُ السَّمْعَ وَمُسْتَرِقُ السَّمْعِ هَكَذَا بَعْضَهُ فَوْقَ بَعْضٍ –وَوَصَفَ سُفْيَانُ بِكَفِّهِ فَحَرَّفَهَا وَبَدَّدَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ- فَيَسْمَعُ الْكَلِمَةَ فَيُلْقِيهَا إِلَى مَنْ تَحْتَهُ ثُمَّ يُلْقِيهَا الْآخَرُ إِلَى مَنْ تَحْتَهُ حَتَّى يُلْقِيهَا عَلَى لِسَانِ السَّاحِرِ أَوِ الْكَاهِنِ فَرُبَّمَا أَدْرَكَ الشِّهَابُ قَبْلَ أَنْ يُلْقِيَهَا وَرُبَّمَا أَلْقَاهَا قَبْلَ أَنْ يُدْرِكَهُ فَيَكْذِبُ مَعَهَا مِائَةَ كِذْبَةٍ فَيُقَالُ: أَلَيْسَ قَدْ قَالَ لَنَا يَوْمَ كَذَا وَكَذا كَذَا وَكَذَا؟ فَيُصَدَّقُ بِتِلْكَ الْكَلِمَةِ الَّتِي سُمِعَ مِنَ السَّمَاءِ

Apabila Allah memutuskan sebuah urusan di langit, tertunduklah seluruh malaikat karena takutnya terhadap firman Allah l seakan-akan suara rantai tergerus di atas batu. Tatkala tersadar, mereka berkata: “Apa yang telah difirmankan oleh Rabb kalian?” Mereka menjawab: “Kebenaran, dan dia Maha Tinggi lagi Maha Besar.” Lalu berita tersebut dicuri oleh para pencuri pendengaran (setan). Demikian sebagian mereka di atas sebagian yang lain –Sufyan menggambarkan tumpang tindihnya mereka dengan telapak tangan beliau lalu menjarakkan antara jari jemarinya–. (Pencuri berita) itu mendengar kalimat yang disampaikan, lalu menyampaikannya kepada yang di bawahnya. Yang di bawahnya menyampaikannya kepada yang di bawahnya lagi, sampai dia menyampaikannya ke lisan tukang sihir atau dukun. Terkadang mereka terkena bintang pelempar sebelum dia menyampaikannya, namun terkadang dia bisa menyampaikan berita tersebut sebelum terkena bintang tersebut. Dia menyisipkan seratus kedustaan bersama satu berita yang benar itu. Kemudian petuah dukun yang salah dikomentari: “Bukankah dia telah mengatakan demikian pada hari demikian?” Dia dibenarkan dengan kalimat yang didengarnya dari langit itu.” (HR. Al-Bukhari no. 4522 dari sahabat Abu Hurairah z)

Rasulullah n menandaskan sebuah kedok dan sekaligus topeng mereka yang dipergunakan untuk menipu umat, yaitu satu kali benar dan seratus kali berdusta. Dengan satu kali benar itu, dia melarismaniskan seratus kedustaan yang diciptakannya. Dan kedustaannya itu tidak dibenarkan melainkan karena satu kalimat tersebut. (Lihat Tafsir As-Sa’di, 1/700 dan Al-Qaulus Sadid hal. 71)

Inilah sesungguhnya tujuan setan mencuri kebenaran dari langit, yaitu menipu manusia dan mencampurkan kebenaran dengan kebatilan serta mengaburkan kebenaran tersebut dengan kebatilan. Jika mereka membawa kebatilan yang murni, niscaya tidak ada seorang pun membenarkannya. Namun jika mereka mencampurkan kebatilan itu dengan sedikit kebenaran, akan menjadi fitnah (ujian) bagi orang yang lemah iman dan akalnya. (Lihat I’anatul Mustafid bi Syarh Kitab At-Tauhid 1/408)

Ada tiga keadaan terkait dengan guru-guru dukun dan tukang ramal, yaitu para pencuri kebenaran dari langit:

Pertama: Sebelum diutusnya Rasulullah n, jumlah mereka banyak sekali.

Kedua: Setelah diutusnya Rasulullah n. Dalam kondisi ini, tidak pernah terjadi pencurian berita dari langit. Kalaupun terjadi, itu jarang dan bukan dalam hal wahyu Allah l.

Ketiga: Setelah beliau meninggal dunia. Kondisinya kembali kepada kondisi pertama, namun lebih sedikit dari kondisi sebelum diutusnya Rasulullah n. (Tamhid Syarah Kitab At-Tauhid, 1/447)

 

Benarkah Dukun dan Tukang Ramal Mengetahui Nasib alias Hal Ghaib?

Permasalahan perkara ghaib, ilmunya hanya di tangan Allah l semata. Tidak ada sedikit pun ilmunya di tangan manusia. Jika ada orang yang mengaku mengerti ilmu ghaib berarti dia telah berdusta dan telah melakukan kekafiran yang nyata. Allah l berfirman:

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali dia sendiri.” (Al-An’am: 59)

“Katakanlah: ‘Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah’, dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan.” (An-Naml: 65)

“Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat; dan Dia-lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha mengenal.” (Luqman: 34)

“(Dia adalah Dzat) yang mengetahui yang ghaib. maka dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang ghaib itu, kecuali kepada Rasul yang diridhai-Nya.  Maka sesungguhnya dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya. Supaya dia mengetahui, bahwa sesungguhnya rasul-rasul itu telah menyampaikan risalah-risalah Rabbnya, sedang (sebenarnya) ilmu-Nya meliputi apa yang ada pada mereka, dan dia menghitung segala sesuatu satu persatu.” (Al-Jin: 26-28)

Masih banyak lagi dalil yang menjelaskan masalah ini, baik di dalam Al-Qur’an atau di dalam hadits.

Al-Hafizh Ibnu Hajar t berkata: “Ilmu ghaib … sebuah sifat yang khusus bagi Allah l, dan semua yang diberitakan oleh Rasulullah n tentang perkara ghaib adalah pemberitahuan Allah l, bukan semata-mata dari beliau.” (Fathul Bari, 9/203)

Rasulullah n mengingkari ketika diri beliau dianggap mengetahui perkara ghaib, sebagaimana dalam riwayat Al-Imam Al-Bukhari t dari Rubayyi’ bintu Mu’awwidz bin ‘Afra x. Dia berkata: “Tatkala Rasulullah walimatul ‘urs denganku, beliau duduk seperti duduknya dirimu (maksudnya perawi, red.) di hadapanku. Mulailah budak-budak wanita memukul (duff/semacam rebana) dan berdendang tentang ayah-ayah mereka yang terbunuh pada perang Badr. Di saat itu, salah seorang mereka berkata: ‘Dan di tengah kami ada seorang Nabi, yang mengetahui perkara esok hari.’ Beliau lalu berkata: ‘Tinggalkan ucapan ini! Katakanlah seperti ucapan yang telah engkau ucapkan’.”

Hadits ini menunjukkan, tidak benar jika seseorang berkeyakinan bahwa seorang nabi, wali, imam, atau syahid, mengetahui perkara ghaib. Sampai pun di hadapan Rasulullah n, keyakinan ini tidak boleh terjadi.” (Risalatut Tauhid, 1/77)

Pembaca yang budiman. Jika Rasulullah n sebagai imam para nabi dan rasul tidak mengerti perkara ghaib, apakah masuk akal jika selain mereka dapat mengetahuinya? Dari sini jelaslah bahwa pengakuan mengetahui perkara ghaib adalah sebuah kedustaan yang nyata. Tampilnya para dukun dan tukang ramal yang mengaku mengerti hal itu merupakan dajjal.

 

Bolehkah Mendatangi Dukun dan Tukang Ramal?

Telah jelas dalam pembahasan di depan tentang hakikat dukun, siapa dia dan bagaimana kiprahnya di tengah umat sebagai “jagoan dalam berpetuah” tentang nasib seseorang. Lalu bagaimanakah hukum mendatangi mereka dan bertanya dalam berbagai persoalan kelangsungan hidup, susah atau senang, beruntung atau gagal, celaka atau selamat, dan sebagainya? Telah dibahas oleh para ulama hukum mendatangi mereka:

Pertama: Mendatanginya untuk bertanya tentang sesuatu tanpa membenarkan apa yang dikatakan. Ini termasuk sesuatu yang haram dalam agama. Ancamannya, tidak akan diterima shalatnya 40 malam, sebagaimana dalam hadits:

مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

“Barangsiapa mendatangi tukang ramal, lalu dia bertanya kepadanya tentang sesuatu, maka tidak akan diterima shalatnya 40 malam.” (HR. Muslim no. 2230 dari istri Rasulullah n)

Kedua: Mendatangi mereka untuk bertanya kepadanya dan dia membenarkannya, maka dia telah kufur terhadap apa yang telah dibawa oleh Rasulullah n. Ini berdasarkan hadits Rasulullah n:

مَنْ أَتَى كَاهِنًا –قَالَ مُوسَى فِي حَدِيثِهِ: فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ؛ ثُمَّ اتَّفَقَا- أَوْ أَتَى امْرَأَةً -قَالَ مُسَدَّدٌ: امْرَأَتَهُ حَائِضًا- أَوْ أَتَى امْرَأَةً –قَالَ مُسَدَّدٌ: امْرَأَتَهُ فِي دُبُرِهَا- فَقَدْ بَرِئَ مِمَّا أَنْزَلَ اللهُ عَلَى مُحَمَّدٌ n

“Barangsiapa mendatangi dukun –Musa (perawi hadits) berkata: lalu dia membenarkan petuah dukun tersebut; kemudian mereka berdua sepakat dalam periwayatannya– atau mendatangi istrinya –Musaddad berkata: istrinya dalam keadaan haid– atau dia mendatangi istrinya –Musaddad berkata: istrinya pada duburnya– maka sungguh dia telah kafir terhadap apa yang telah diturunkan oleh Allah kepada Muhammad.” (HR. Abu Dawud no. 9304 dari sahabat Abu Hurairah z dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani t)

Ketiga: Mendatangi mereka untuk mengujinya apakah dia benar atau dusta sekaligus untuk membongkar kedoknya, memperlihatkan kelemahannya. Tentunya dia memiliki ilmu untuk menilai benar atau dusta. Ini dibolehkan, bahkan terkadang hukumnya wajib, sebagaimana dalam riwayat Al-Imam Al-Bukhari (no. 1289) dan Muslim (no. 2930) bahwa Nabi n bertanya kepada Ibnu Shayyad: “Apa yang telah datang kepadamu?” “Telah datang kepadaku orang yang jujur dan pendusta.” Rasulullah n bertanya: “Apa yang kamu lihat?” Dia berkata: “Aku melihat Arsy di atas air.” Beliau bertanya: “Sesungguhnya aku telah merahasiakan sesuatu apakah dia?” Dia berkata: “Dukh, dukh (asap).” Rasulullah n berkata: “Diamlah. Engkau tidak memiliki kemampuan melainkan apa yang telah diberikan oleh Allah kepadamu. Sesungguhnya engkau tidak lebih dari dukun seperti teman-temanmu.” (Lihat Majmu’ Fatawa, 4/186 dan Al-Qaul Al-Mufid, 1/397)

 

Jaringan Dukun dan Tukang Ramal serta Silsilah Ilmu Mereka

Telah lewat bahwa perdukunan dan peramalan itu sebuah kekufuran. Untuk mengerti berita tentang orang yang datang bertanya dan tentang barangnya yang dicuri, siapa yang mencurinya, barangnya yang hilang dan di mana tempat hilangnya, di sinilah letaknya kerja sama yang baik antara setan di satu pihak dengan dukun atau tukang ramal di pihak yang lain. Muhammad Hamid Al-Faqi berkata dalam komentarnya dalam kitab Fathul Majid (hal. 353): “Adanya hubungan intim antara qarin dari jin dengan qarin dari manusia, keduanya saling menyampaikan dan mencari berita yang disukai. Qarin dukun dan tukang ramal ini mencari berita dari qarin orang yang datang bertanya, karena setiap manusia memiliki qarin dari kalangan setan, sebagaimana dijelaskan di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Lalu qarin orang yang bertanya itu memberitahukan kepada qarin dukun atau tukang ramal tersebut segala sesuatu yang merupakan perihal kebiasaan orang yang datang bertanya, dan perihal di rumahnya.”

Orang-orang jahil menduga bahwa ini terjadi dari buah keshalihan atau ketakwaan dan karamah. Dengan kebaikannya, dia telah membuka tabir tentang semuanya. Ini termasuk kesesatan yang paling tinggi dan kehinaan yang paling rendah, meskipun banyak orang telah tertipu bahkan orang yang dikatakan berilmu dan baik.”

Wallahu a‘lam.

Menyorot Ilmu Nujum

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar)

 

Dari Abdullah bin Abbas c, Rasulullah n bersabda:

مَنِ اقْتَبَسَ عِلْمًا مِنَ النُّجُومِ فَقَدِ اقْتَبَسَ شُعْبَةً مِنَ السِّحْرِ زَادَ مَا زَادَ

“Barangsiapa mempelajari salah satu cabang ilmu nujum maka ia telah mempelajari salah satu cabang ilmu sihir. Semakin bertambah ilmu nujum yang dipelajarinya, semakin bertambah pula ilmu sihir yang dimilikinya.”

Asy-Syaikh Al-Albani t berkata di dalam As-Silsilah Ash-Shahihah (2/435), “Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud (3905), Ibnu Majah (3726), Ahmad (1/227, 311), dan Al-Harbi di dalam Al-Gharib (5/195/1), dari jalan Ubaidullah bin Al-Akhnas, dari Al-Walid bin Abdillah, dari Yusuf bin Mahik, dari Ibnu Abbas c, secara marfu’. Menurut saya, hadits ini sanadnya jayyid (bagus). Para perawi hadits ini seluruhnya tsiqat (terpercaya). Adapun Ubaidullah bin Al-Akhnas telah ditsiqahkan oleh Al-Imam Ahmad, Ibnu Ma’in, Abu Dawud, An-Nasa’i, dan Ibnu Hibban. Hanya saja Ibnu Hibban menambahkan, ‘Banyak salahnya.’ Saya sendiri berpendapat, tambahan dari Ibnu Hibban ini jangan terlalu dianggap!”

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah (8/602).

Asy-Syaikh Muqbil t berkata tentang hadits ini, “Hadits ini adalah hadits shahih. Para perawinya adalah perawi hadits shahih kecuali Al-Walid bin Abdillah, namun Yahya bin Ma’in telah mentsiqahkannya.” (Ash-Shahihul Musnad 1/536)

Hadits ini juga dishahihkan oleh Al-Imam An-Nawawi dan Adz-Dzahabi rahimahumallah.

 

Tentang Hadits Ini

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t berkata, “(Di dalam hadits ini) dengan jelas Rasulullah n menyatakan bahwa ilmu nujum termasuk sihir. Sungguh Allah l telah berfirman:

‘Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang’ (Thaha: 69).

Memang demikianlah kenyataannya. Fakta menunjukkan bahwa ahli nujum tidak akan selamat dunia akhirat.” (Majmu’ Al-Fatawa)

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Hasan menjelaskan, “Artinya, setiap kali dia menambah pelajaran tentang ilmu nujum maka semakin bertambahlah dosanya karena ia mempelajari cabang-cabang ilmu sihir. Sesungguhnya keyakinan dia bahwa bintang dapat memengaruhi peristiwa alam adalah keyakinan batil sebagaimana ilmu sihir.” (Fathul Majid hal. 534)

 

Hikmah Diciptakannya Bintang-Gemintang

Allah l telah menjelaskan hikmah diciptakannya bintang-gemintang. Yaitu:

1. Sebagai petunjuk arah. Allah l berfirman:

“Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk. Dan (Dia ciptakan) tanda-tanda (penunjuk jalan). Dan dengan bintang-bintang itulah mereka mendapat petunjuk.” (An-Nahl: 15-16)

Allah l juga berfirman:

“Dan Dialah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kebesaran (Kami) kepada orang-orang yang mengetahui.” (Al-An’am: 97)

2. Bintang juga diciptakan untuk hiasan langit, sekaligus alat pelempar setan yang berusaha mencuri berita langit. Allah l berfirman:

“Sesungguhnya Kami telah menghias langit yang terdekat dengan hiasan, yaitu bintang-bintang.” (Ash-Shaffat: 6)

Allah l berfirman:

“Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar setan, serta Kami sediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala.” (Al-Mulk: 5)

Al-Imam Al-Bukhari t meriwayatkan sebuah atsar dari Al-Imam Qatadah t secara ta’liq di dalam Shahih-nya. Al-Imam Qatadah mengatakan, “Allah l menciptakan bintang-gemintang hanya untuk tiga tujuan. Sebagai hiasan yang memperindah langit, lemparan yang membakar setan (bagi yang berusaha mencuri berita langit), dan sebagai tanda penunjuk arah. Barangsiapa menambah dengan selain tiga hal (fungsi) ini maka dia telah salah langkah, menyia-nyiakan bagiannya, dan memaksakan diri untuk mengetahui sesuatu yang tidak ia miliki ilmunya.”

 

Pembagian Ilmu Nujum

Ilmu nujum ada dua macam. Pertama adalah Ilmu At-Ta’tsir, yang terbagi menjadi tiga bagian:

1) Meyakini bintang sebagai pencipta kejadian, kebaikan dan keburukan. Keyakinan semacam ini termasuk syirik akbar yang mengeluarkan pelakunya dari Islam. Karena dia meyakini adanya pencipta selain Allah l.

2) Menjadikan bintang sebagai alat untuk menerka ilmu ghaib seperti menentukan nasib seseorang, rezeki, dan jodohnya. Keyakinan semacam ini termasuk kekufuran, karena dia menganggap dirinya mengetahui hal ghaib. Padahal Allah l berfirman:

Katakanlah: “Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah”, dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan. (An-Naml: 65)

3) Meyakini bintang sebagai sebab. Artinya dia menisbatkan (menyandarkan) kebaikan atau keburukan yang telah terjadi pada gerakan bintang. Keyakinan semacam ini termasuk syirik asghar.

Jenis ilmu nujum inilah yang dimaksud oleh salafus shalih di dalam larangan mereka.

Diriwayatkan dari Thawus, dari Abdullah bin ‘Abbas c, beliau mengomentari orang-orang yang menulis huruf abjad dan mempelajari ilmu nujum, beliau berkata, “Menurutku orang-orang yang mempraktikkan hal itu tidak akan memperoleh bagian apa-apa di sisi Allah l.” (Shahih Jami’ Bayanil ‘Ilmi, 1020)

Maimun bin Mihran berkata, “Ada tiga hal yang harus kalian jauhi. Janganlah kalian mendebat pengingkar taqdir, janganlah membicarakan para sahabat Nabi n kecuali hanya kebaikan mereka, dan janganlah kalian mempelajari ilmu nujum.” (Shahih Jami’ Bayanil ‘Ilmi, 1021)

Adapun jenis kedua dalam ilmu nujum adalah Ilmu At-Tasyir. Ilmu ini terbagi menjadi dua:

1) Mempelajari peredaran bintang untuk maslahat agama, seperti menentukan arah kiblat ketika shalat. Ilmu semacam ini boleh dipelajari bahkan terkadang harus dipelajari. Allah l mengabarkan bahwa bintang-bintang merupakan petunjuk untuk mengetahui waktu dan arah jalan. Kalau seandainya bintang-bintang itu tidak ada tentu orang yang berada jauh dari Ka’bah tidak dapat mengetahui arah kiblat.

2) Mempelajari peredarannya untuk maslahat kehidupan dunia, misalnya dalam menentukan arah. Contohnya rasi bintang gubuk penceng yang berbentuk palang, maka bintang di ujung palang senantiasa menunjukkan arah selatan. Atau rasi bintang biduk yang berbentuk sendok, dua bintang di ujung selalu menunjukkan arah utara. Ilmu semacam ini boleh dipelajari untuk kemaslahatan kehidupan manusia. (Al-Qaulul Mufid, hal. 585-586)

Jenis ilmu nujum kedua inilah yang diperbolehkan oleh Salafus Shalih untuk dipelajari. Diriwayatkan dari ‘Umar bin Al-Khaththab z bahwa beliau berkata, “Pelajarilah ilmu falak sekadar untuk mengetahui arah kiblat dan arah jalan. Tahanlah dirimu dari perkara selain itu.” (Shahih Jami’ Bayanil ‘Ilmi, 1016)

Ibrahim An-Nakha’i t berkata, “Tidak mengapa engkau mempelajari ilmu nujum hanya untuk sekadar mengetahui arah.” (Shahih Jami’ Bayanil ‘Ilmi, 1017)

Abu Ishaq Al-Harbi t berkata, “Ilmu itu ada tiga macam. Ilmu duniawi ukhrawi, ilmu duniawi, dan ilmu bukan duniawi bukan juga ukhrawi. Adapun ilmu duniawi ukhrawi adalah ilmu Al-Qur’an, As-Sunnah, dan fiqih keduanya. Ilmu duniawi adalah ilmu kesehatan dan ilmu nujum. Sementara ilmu bukan duniawi bukan juga ukhrawi adalah ilmu syair dan menggelutinya.” (Shahih Jami’ Bayanil ‘Ilmi 1018)

Ibnu ‘Abdil Barr t berkata dalam kitab Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi (2/38), “Sebagian ahli ilmu mengingkari beberapa hal yang kami sebutkan tadi (ilmu nujum). Menurut mereka, tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui perkara ghaib dengan ilmu nujum. Tidak ada seorang pun yang dapat mengetahuinya dengan benar kecuali para nabi yang telah Allah l beri keistimewaan dengan ilmu tentang perkara-perkara yang tidak dapat diketahui.”

Mereka berkata: ‘Tidak ada seorang pun sekarang ini yang berani mengaku mengetahui perkara ghaib kecuali orang jahil, kurang akal, pendusta, dan mengada-ada. Anggapan mereka bahwa tidak mungkin mengungkapkan perkaranya kecuali mayoritas waktu sudah cukup membuktikan kebohongan seluruh perkara yang katanya mereka ketahui itu. Orang meramal dengan ilmu nujum sama seperti orang yang meramal ‘iyafah dan zajr1. Sama dengan orang yang meramal dengan membaca garis-garis tangan dan tulang hewan. Sama dengan orang yang melakukan pengobatan dengan cara hipnotis, berkhidmat dengan jin, dan perkara-perkara sejenisnya yang tidak dapat diterima akal sehat serta tidak berdasarkan keterangan yang nyata. Semua perkara tersebut tidak ada yang benar. Sebab, banyak sekali kesalahan dari hal-hal yang mereka ketahui tersebut. Disamping itu, dasarnya juga rusak. Sedikit dari banyak hal yang tidak mereka ketahui merupakan bukti nyata kebohongan seluruh ramalan dan perkiraan mereka itu. Tidak ada kebenaran mutlak melainkan kebenaran yang dibawa oleh para nabi.”

Perlu diketahui bahwa penggunaan istilah ilmu nujum di dalam bahasa Indonesia seringkali diartikan sebagai ilmu nujum jenis pertama. Yaitu jenis ilmu nujum yang dilarang di dalam syariat Islam.

 

Al-Imam Asy-Syafi’i t dan Ilmu Nujum

Sebagian kalangan menisbahkan kedustaan kepada Al-Imam Asy-Syafi’i t tentang ilmu nujum. Mereka meyakini, Al-Imam Asy-Syafi’i t mampu memastikan usia bayi yang baru dilahirkan hanya dengan memerhatikan keadaan bulan pada hari itu. Dengan berpegang dengan tiga riwayat lemah bahkan palsu, mereka dengan lancang menyatakan bahwa Al-Imam Asy-Syafi’i t pun menguasai ilmu nujum.

Di antara yang disebutkan adalah sebuah riwayat yang dibawakan oleh Al-Hakim dari Muhammad, cucu Al-Imam Asy-Syafi’i t. Ia bercerita: Al-Imam Asy-Syafi’i di masa mudanya senang mempelajari ilmu nujum. Padahal Al-Imam Asy-Syafi’i jika mempelajari satu cabang ilmu pasti akan menjadi yang terbaik. Suatu hari beliau sedang duduk dan ada seorang wanita yang akan melahirkan. Setelah menghitung pergerakan bintang, Al-Imam Syafi’i berkata, “Dia akan melahirkan bayi perempuan yang matanya buta sebelah dan di kemaluannya ada tahi lalat berwarna hitam. Bayi ini akan berumur hanya sampai sekian hari.” Ternyata wanita itu melahirkan bayi dengan ciri-ciri yang telah disebutkan Al-Imam Asy-Syafi’i dan beberapa lama kemudian bayi itu meninggal. Tepat seperti yang disebutkan Al-Imam Asy-Syafi’i. Kemudian, Al-Imam Asy-Syafi’i bertekad tidak akan menggunakan ilmu nujum untuk selamanya.

Riwayat ini adalah satu dari tiga riwayat yang dinisbahkan kepada Al-Imam Asy-Syafi’i. Perlu diketahui bahwa cucu Al-Imam Asy-Syafi’i yang bernama Muhammad tidak pernah sekali pun bertemu dengan Al-Imam Asy-Syafi’i. Sebagaimana dijelaskan secara panjang lebar oleh Ibnul Qayyim t di dalam Miftah Dar As-Sa’adah (3/250).

Al-Imam Ibnul Qayyim t mengomentari riwayat-riwayat di atas dengan menyatakan, “Kami akan menjelaskan tentang cerita-cerita di atas disertai dengan keadaan sanadnya. Sehingga akan menjadi jelas bahwa penisbatan itu adalah sebuah kedustaan atas nama Al-Imam Asy-Syafi’i t.”

Yang benar dari Al-Imam Asy-Syafi’i t adalah sebuah riwayat dari Ar-Rabi’ bin Sulaiman, murid senior beliau, tentang penafsiran ayat:

“Dan Dialah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kebesaran (Kami) kepada orang-orang yang mengetahui.” (Al-An’am: 97)

Dan ayat:

“Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk. Dan (Dia ciptakan) tanda-tanda (penujuk jalan). Dan dengan bintang-bintang itulah mereka mendapat petunjuk.” (An-Nahl: 15-16)

Al-Imam Asy-Syafi’i t menjelaskan, “Tanda-tanda itu adalah gunung-gunung yang mereka ketahui letak posisinya. Demikian juga matahari, bulan, dan bintang, dengan arah peredarannya. Serta jenis angin yang ciri-cirinya mereka ketahui untuk menunjukkan arah Baitullah Al-Haram.”

 

Tabir yang Harus Dikuak

Alasan paling kuat yang digunakan untuk membenarkan ilmu nujum adalah pernyataan mereka, “Kami telah mencoba dan meneliti pada beberapa anak yang diramalkan kehidupannya, ternyata kami menemukan kebenaran ramalan itu.”

Maka jawabannya, “Kalau seandainya yang kalian sampaikan cukup sebagai bukti kebenaran pendapat kalian, maka apakah bedanya antara pernyataan kalian dengan pernyataan orang lain, ‘Bukti kesalahan pernyataan kalian adalah percobaan dan penelitian kami pada beberapa anak yang diramalkan kehidupannya, ternyata ramalan itu tidak benar bahkan meleset seluruhnya’.” (Miftah Dar As-Sa’adah, Al-Imam Ibnul Qayyim t, 3/165 )

Alasan mereka yang lain adalah ilmu nujum pun dipelajari oleh Nabi Ibrahim q. Allah l berfirman:

Lalu ia memandang sekali pandang ke bintang-bintang. Kemudian ia berkata: “Sesungguhnya aku sakit.” (Ash-Shaffat: 88-89)

Maka jawabannya, “Hal ini adalah sebuah kedustaan atas nama Nabi Ibrahim q. Dalam ayat di atas, Nabi Ibrahim q tidak menghubungkan sakit beliau dengan keadaan bintang. Ayat di atas hanyalah menjelaskan Nabi Ibrahim q ketika itu memandang bintang, setelah itu beliau menyatakan, ‘Saya sakit.’ Beliau melakukannya guna menyelamatkan diri dari kezaliman kaumnya. Lebih dari itu, tidak ada seorang pun yang butuh untuk memerhatikan bintang untuk mengetahui apakah dirinya sehat atau sakit. Karena sakit dapat dirasakan dan pasti diketahui oleh dirinya sendiri.” (Miftah Dar As-Sa’adah, Al-Imam Ibnul Qayyim, 3/166)

Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah t telah mengupas secara panjang lebar tentang kebatilan ilmu nujum. Beliau mematahkan pelbagai dalih ahli nujum pada bagian terakhir dalam kitabnya yang berjudul Miftah Daris Sa’adah. Ulasan beliau itu sangat baik dan sangat bermanfaat.

 

Bahaya Ilmu Nujum Di Sekitar Kita

Melalui pembahasan ini maka kita dapat memberikan kesimpulan bahwa ilmu astrologi, horoskop, zodiak, ataupun shio, adalah ilmu yang dilarang secara syariat Islam. Astrologi adalah ilmu yang menghubungkan antara gerakan benda-benda tata surya (planet, bulan, dan matahari) dengan nasib manusia.

Dalam astrologi, horoskop adalah sebuah bagan atau diagram yang menggambarkan posisi matahari, bulan, planet-planet, aspek-aspek astrologis, dan sudut-sudut sensitif pada saat kelahiran seorang anak. Kata horoskop berasal dari bahasa Yunani yang berarti mengamati waktu. Kata horoskop digunakan sebagai metode ramalan mengenai peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan waktu-waktu tertentu yang digambarkan dalam dasar-dasar astrologis.

Dalam penggunaan sehari-hari, horoskop seringkali dihubungkan dengan penafsiran ahli astrologi yang biasanya dilakukan melalui sistem lambang-lambang astrologi. Dalam berbagai majalah dan surat kabar, kita dapat menemukan kolom atau artikel yang memuat ramalan-ramalan yang didasarkan pada posisi matahari dalam kaitannya dengan hari kelahiran seseorang.

Horoskop dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah pengamatan posisi bintang-bintang pada waktu tertentu, seperti pada hari lahir seseorang dengan tujuan meramalkan masa depannya. Sebagai contoh zodiak horoskop adalah Capricornus (Kambing Laut). Bintang ini diberikan kepada orang yang dilahirkan antara 21 Januari sampai dengan 16 Februari. Demikian juga bintang Scorpius (Kalajengking) yang diberikan kepada orang dengan tanggal kelahiran antara 23 November sampai dengan 18 Desember.

Shio adalah zodiak Tionghoa yang memakai hewan-hewan untuk melambangkan tahun, bulan, dan waktu dalam astrologi Tionghoa. Setiap individu diasosiasikan dengan satu shio sesuai dengan tanggal kelahirannya. Sebagai contoh adalah shio Kerbau. Orang dengan shio kerbau diyakini memiliki sifat cenderung keras kepala, pekerja keras, jujur, dan agak pemarah.

 

Khatimah

Setelah dipaparkan dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah dilengkapi keterangan ulama maka tidaklah pantas seorang muslim mempelajari atau meyakini kebenaran ilmu astrologi, horoskop, zodiak, ataupun shio. Ingatlah selalu firman Allah l tentang ciri orang beriman:

Sesungguhnya jawaban orang-orang mu’min, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul mengadili di antara mereka ialah ucapan “Kami mendengar dan kami patuh.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. (An-Nur: 51)

Apa yang mereka sebutkan tentang ilmu-ilmu tersebut hanyalah kedustaan yang dibangun di atas kedustaan pula. Supaya kaum muslimin jauh dari sikap tawakkal dan tsiqah (percaya penuh) kepada Allah l. Untuk meruntuhkan tauhid sebagai fondasi ibadah seorang hamba.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t pernah berdialog dengan sekelompok ahli nujum di Damaskus. Beliau menjelaskan kerusakan perbuatan mereka dengan dalil-dalil ‘aqli yang kebenarannya diakui oleh mereka sendiri. Salah satu pemuka ahli nujum di antara mereka berkata kepada Syaikhul Islam, “Demi Allah, sesungguhnya kami membuat seratus kedustaan dengan harapan ada kebenaran pada salah satunya.” (Al-Fatawa Al-Kubra)

Wallahu a’lam.


1 ‘Iyafah dan zajr adalah meramal nasib baik atau nasib buruk dengan menerbangkan burung. Bila burung terbang ke kanan maka baik, jika ke kiri maka buruk.

Siapakah Al-Jibt dan Thaghut?

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Ubaidah Syafruddin)

 

“Apakah kamu tidak memerhatikan orang-orang yang diberi bagian dari Al-Kitab? Mereka percaya kepada Al-Jibt dan thaghut, serta mengatakan kepada orang-orang kafir (musyrik Makkah) bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman. Mereka itulah orang yang dikutuk Allah, niscaya kamu sekali-kali tidak akan memperoleh penolong baginya.” (An-Nisa’: 51-52)

Sebab Turunnya Ayat

Ibnu Jarir t meriwayatkan (5/133): Muhammad bin Al-Mutsanna telah menceritakan kepada kami, ia berkata: Ibnu Abi ‘Adi telah menceritakan kepada kami, dari Dawud, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas c, beliau berkata: Ketika Ka’b bin Asyraf tiba di Makkah, orang-orang Quraisy berkata kepadanya: “Engkau adalah orang yang paling baik dari penduduk Madinah dan pemuka mereka.” Ia menjawab: “Ya (betul)!” Mereka berkata: “Maukah kamu melihat kepada seorang shanbur1 yang terputus dari kaumnya? Ia mengaku bahwa dirinya lebih baik dari kami. Sementara kami yang lebih memerhatikan orang-orang yang menunaikan haji, pengabdi Ka’bah, dan memberi minum (bagi orang-orang yang menunaikan ibadah haji) setiap zaman (terlebih pada musim dingin saat paceklik).” Ia berkata: “Kalian lebih baik daripada dia.”

Ibnu ‘Abbas c berkata: “Maka turunlah ayat:

“Sesungguhnya orang-orang yang membencimu dia yang terputus.” (Al-Kautsar: 3)

Turun juga ayat:

“Apakah kamu tidak memerhatikan orang-orang yang diberi bagian dari Al-Kitab? Mereka percaya kepada jibt dan thaghut serta mengatakan kepada orang-orang kafir (musyrik Makkah) bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman. Mereka itulah orang yang dikutuk Allah, niscaya kamu sekali-kali tidak akan memperoleh penolong baginya.” (An-Nisa: 51)

Hadits ini juga disebutkan oleh Al-Hafizh Ibnu Katsir t dalam Tafsirnya (1/513). Beliau berkata: Al-Imam Ahmad t berkata: Muhammad bin Abi ‘Adi menceritakan kepadaku…, dengan sanad seperti di atas.

Ibnu Hibban t juga meriwayatkan dalam kitab Shahihnya, sebagaimana terdapat dalam kitab Mawarid Azh-Zham’an (hal. 428). Asy-Syaikh Abu Abdirrahman Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i t berkata: “Semua perawinya adalah para perawi shahih. Hanya saja yang rajih (kuat) bahwa (hadits ini) mursal (ucapan Ibnu Abbas c, pen.), sebagaimana yang disebutkan dalam Takhrij Tafsir Ibnu Katsir2.” (Lihat Ash-Shahih Al-Musnad min Asbabin Nuzul, Asy-Syaikh Abu Abdirrahman Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i t, hal. 77)

 

Penjelasan Mufradat Ayat

“Apakah kamu tidak memerhatikan…” Sebagian ulama ada yang memakai kalimat ini dengan makna أَلَمْ تَرَ بِقَلْبِكَ yakni أَلَمْ تَعْلَمْ. Artinya, apakah kamu tidak melihat (dengan penglihatan hati/ilmu) dengan membawa kepada makna ru’yah qalbiyah atau ilmiyah.

Ada pula yang memaknai النَّظَرُ (melihat dengan penglihatan mata) dengan membawa kepada makna ru’yah bashariyah, sehingga artinya apakah kamu tidak memerhatikan (melihat dengan mata).

Banyak para ulama tafsir yang menguatkan makna pertama, ru’yah qalbiyah atau ‘ilmiyah. Karena orang-orang Arab menempatkan kata الْعِلْمُ (pengetahuan) pada makna الرُّؤْيَةُ (penglihatan). Yakni kata ‘melihat’ dimaknakan dengan ‘mengetahui’. Demikian pula sebaliknya, mereka menempatkan kata الرُّؤْيَةُ (penglihatan) pada makna الْعِلْمُ. Yakni kata ‘mengetahui’ dimaknakan dengan ‘melihat’. Seperti dalam firman Allah l (sebagai misal penglihatan bermakna pengetahuan).

“Apakah kamu tidak memerhatikan (dengan hati/ilmu) bagaimana Rabb-Mu telah bertindak kepada tentara gajah.” (Al-Fiil: 1)

Adapun firman Allah l (sebagai misal pengetahuan bermakna penglihatan):

“Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata terlihat) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot.” (Al-Baqarah: 143)

Kalimat       bermakna       إِلَّا لِنَرَى مَنْ يَتَّبِعُ الرَّسُولَ, artinya: “Melainkan agar Kami bisa melihat dengan nyata siapa yang mengikuti Rasul….” (Lihat Tafsir Ath-Thabari, Al-Alusi)

Ada pula yang memaknakan الرُّؤْيَةُ dalam ayat ini adalah ru’yah bashariyah bermakna melihat, dengan dalil bahwa kalimat رَأَ ى di sini muta’addi dengan huruf إِلَى sehingga maknanya menjadi النَّظَرُ (melihat dengan mata). (Lihat Al-Jadid fi Syarhi Kitabit Tauhid, karya Asy-Syaikh Muhammad Al-Qar’awi t hal. 143, Al-Qaulul Mufid karya Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin t, 1/468)

Huruf hamzah istifham (pertanyaan) dalam kalimat ﮍ ﮎ ketika masuk/bergandeng bersama huruf nafi لَمْ, mengubah kalimat pertanyaan yang ada menjadi kalimat penetapan. Atau diistilahkan oleh para ulama dengan istifham lit taqrir atau lil ijab.

Kalimat أَلَمْ تَرَ dalam bahasa Arab digunakan untuk menyebutkan suatu perkara yang mengherankan (mengagumkan). Seperti kekaguman Rasulullah n terhadap seorang yang bernama Mujazziz Al-Mudliji. Dalam sebuah hadits3, ‘Aisyah x berkata: Rasulullah n masuk ke rumahku dalam keadaan wajah beliau berseri-seri sambil terheran-heran. Beliau berkata:

أَلَمْ تَرَيْ أَنَّ مُجَزِّزًا الْمُدْلِجِيَّ دَخَلَ عَلَيَّ فَرَأَى أُسَامَةَ بْنَ زَيْدٍ وَزَيْدًا وَعَلَيْهِمَا قَطِيفَةٌ قَدْ غَطَّيَا رُءُوسَهُمَا وَبَدَتْ أَقْدَامُهُمَا فَقَالَ: إِنَّ هَذِهِ الْأَقْدَامَ بَعْضُهَا مِنْ بَعْضٍ

“Apakah kamu tidak memerhatikan (dengan penglihatan hati/ilmu) Mujazziz Al-Mudliji (sambil terheran-heran)? Dia baru saja masuk rumah kemudian melihat (menyaksikan) Zaid bin Haritsah dan putranya Usamah bin Zaid sedang berbaring tidur. Kepala keduanya tertutupi oleh qathifah (kain beludru), tetapi kaki-kakinya terlihat. (Mereka berdua tidur dengan satu selimut, sementara kaki-kakinya tersingkap. Zaid berkulit putih, sedangkan Usamah berkulit hitam, pen.) Kemudian Mujazziz berkata: ‘Sesungguhnya kaki-kaki ini sebagiannya adalah dari sebagian yang lain (yakni ada hubungan kerabat’.”

 

“Orang-orang yang didatangkan…,” maknanya yaitu orang-orang yang diberi dan tidak diberi seluruh Al-Kitab (sebagian saja). Mereka diharamkan (terhalangi) mendapatkan seluruh kitab karena kemaksiatan yang mereka lakukan. (Al-Qaulul Mufid, 1/468)

Mayoritas ulama ahli tafsir menyebutkan bahwa yang dimaksud dalam ayat ini adalah sekumpulan ahlul kitab dari kalangan Yahudi.

Abu Ja’far Ath-Thabari t berkata: “Mungkin juga mereka yang dimaksud dalam ayat ini adalah orang-orang yang disebut oleh Ibnu ‘Abbas c, seperti Huyai bin Akhthab dan Ka’b bin Al-Asyraf.”

Ibnu Katsir t menyebutkan riwayat Ibnu ‘Abbas c dari jalan ‘Ikrimah atau Sa’id bin Jubair, maknanya bahwa mereka Huyai bin Akhthab, Salam bin Abil Haqiq, Abu Rafi’, Ar-Rabi’ bin Abil Haqiq, Abu ‘Amir, Wahwah bin ‘Amir, Burdah bin Qais. Wahwah, Abu ‘Amir, dan Burdah berasal dari Bani Wail, sedangkan yang lain semuanya dari Bani Nadhir. (Ibnu Katsir, 1/486)

“Bagian.”

Banyak ahli tafsir memaknai kata ﯺ dalam ayat ini dengan nasib atau bagian, seperti Ath-Thabari, Al-Qurthubi, dan yang lain. Sebagian ada yang memaknai dengan makna بَعْضًا (sebagian dari), seperti Al-Alusi.

 

“dari Al-Kitab,” yaitu Taurat. Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin berkata: “Al-Kitab di sini mencakup Taurat dan Injil. Kalimat ﯹ ﯺ ﯻ ﯼ , Allah l tidak menurunkan dengan kalimat أُوتُوا الْكِتَابِ. Karena diberi sebagiannya saja, mereka tidak memiliki ilmu yang sempurna terhadap apa yang ada dalam Al-Kitab. (Al-Qaulul Mufid 1/469)

 

“Mereka percaya,” yaitu percaya (beriman) kepada al-jibt dan thaghut, kufur kepada Allah l, dalam keadaan mereka mengetahui bahwa beriman kepada keduanya adalah kufur, percaya kepada keduanya adalah syirik. (Tafsir Ath-Thabari)

Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin t menerangkan: “Maknanya adalah membenarkan, menetapkan, dan tidak mengingkarinya.”

 

“Kepada al-jibt dan thaghut.”

Ada beberapa pendapat ulama dalam memaknai kata al-jibt. Di antaranya:

1. Al-Jibt adalah sihir. Ini adalah pendapat Umar bin Al-Khaththab, Ibnu ‘Abbas, Abul Aliyah, Mujahid, ‘Atha, ‘Ikrimah, Sa’id bin Jubair, Asy-Sya’bi, Al-Hasan, Adh-Dhahak, dan As-Suddi.

2. Al-Jibt adalah setan. Pendapat ini juga dikemukakan oleh Ibnu ‘Abbas, Abul Aliyah, Mujahid, Atha’, ‘Ikrimah, Sa’id bin Jubair, Asy-Sya’bi, Al-Hasan, ‘Athiyyah, dan Qatadah.

3. Al-Jibt adalah syirik. Pendapat ini dinyatakan oleh Ibnu ‘Abbas c, menurut bahasa orang Habasyah.

4. Al-Jibt adalah al-ashnam (patung-patung). Pendapat ini dikemukakan oleh Ibnu ‘Abbas c.

5. Al-Jibt adalah al-kahin (dukun). Ini adalah pendapat Asy-Sya’bi, Abul Aliyah, Muhammad bin Sirin, dan Makhul.

6. Al-Jibt adalah Huyai bin Akhthab. Pendapat ini dinyatakan oleh Ibnu ‘Abbas c.

7. Al-Jibt adalah Ka’b bin Al-Asyraf. Pendapat ini dikatakan oleh Mujahid.

8. Al-Jibt adalah suara (bisikan) setan. Pendapat ini dilontarkan oleh Al-Hasan.

9. Abu Nashr bin Ismail bin Hammad Al-Jauhari dalam kitabnya Ash-Shihah, menyebutkan bahwa Al-Jibt adalah suatu kalimat yang dipakai untuk memaknai patung, dukun, tukang sihir, dan yang lainnya.

10. Al-Jibt adalah tukang sihir (menurut bahasa Habasyah). Pendapat ini dinyatakan Ibnu Zaid, Sa’id bin Jubair, Abul Aliyah, Ibnu Sirin, dan Makhul.

11. Al-Jibt adalah segala sesuatu yang disembah selain Allah l. Pendapat ini dinyatakan oleh Al-Imam Malik bin Anas.

 

Tentang kata thaghut, juga ada beberapa pendapat:

1. Setan. Ini pendapat Umar bin Al-Khaththab, Ibnu ‘Abbas, Abul Aliyah, Atha’, Sa’id bin Jubair, Asy-Sya’bi, Al-Hasan, Adh-Dhahhak, As-Suddi, dan ‘Ikrimah.

2. Tandingan-tandingan selain Allah l, berhala-berhala dan semua yang setan menyeru (mengajak) kepadanya.

3. Al-Kahin (dukun). Pendapat ini dikemukakan oleh Mujahid, Sa’id bin Jubair, Abul Aliyah, dan Qatadah.

4. Ibnul Qayyim berkata: “Thaghut adalah segala sesuatu yang dengannya seorang hamba melampaui batas, baik berupa yang diibadahi, yang diikuti, atau yang ditaati.”

Ahlul ilmi mengatakan bahwa makna atau tafsir inilah yang paling menyeluruh, sedangkan penafsiran yang lain merupakan tafsir misal (bentuk konkret yang ada).

Ibnu Katsir t menjelaskan: “Pendapat yang memaknakan kata thaghut dengan setan adalah pendapat yang kuat sekali, karena mencakup seluruh kejelekan dan keburukan yang dahulu dilakukan orang-orang jahiliah. Seperti menyembah berhala, mengadukan perkara kepadanya (sebagai pemutus dan pengatur), dan meminta tolong kepadanya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 1/294)

Al-Imam Al-Qurthubi t berkata: “Yang benar dari pendapat para ulama tentang makna kata al-jibt dan thaghut adalah membenarkan (memercayai) dua perkara yang diibadahi selain Allah l, menyembah (beribadah kepada)nya, dan menjadikan keduanya sesembahan selain Allah l. Karena al-jibt dan thaghut adalah dua nama yang diperuntukkan bagi segala sesuatu yang dimuliakan (diagungkan) selain Allah l, dengan melakukan peribadatan (menyembah), menaati, dan tunduk (merendahkan dan menghinakan diri) kepadanya, apapun bentuknya. Baik berupa batu, manusia, maupun setan.

Jika segala sesuatu tadi (batu dan yang selainnya) diperlakukan sedemikian rupa (disembah, ditaati, dan seterusnya) maka berhala-berhala yang dahulu disembah orang-orang jahiliah telah menjadi sesuatu yang dimuliakan (diagungkan) dengan melakukan ibadah kepada selain Allah l. Dengannya, berhala-berhala itu telah menjadi al-jibt dan thaghut.

Demikian pula setan yang dahulu ditaati orang-orang kafir dalam bermaksiat kepada Allah l.

Termasuk pula tukang sihir dan dukun, yang ucapan keduanya diterima (dipercaya) oleh orang-orang yang menyekutukan Allah l.

Sedangkan Huyai bin Akhthab dan Ka’b bin Asyraf, keduanya adalah orang yang berilmu dari kalangan orang-orang Yahudi, tetapi keduanya bermaksiat kepada Allah l, kufur kepada Allah l dan Rasul-Nya n sehingga keduanya termasuk al-jibt dan thaghut.

 

“Dan mengatakan kepada orang-orang kafir (musyrik Makkah) bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman.”

Al-Hafizh Ibnu Katsir t berkata: “Mereka mengutamakan orang-orang kafir daripada orang-orang muslim disebabkan kejahilan, sedikitnya pemahaman terhadap agama mereka, dan ingkarnya mereka terhadap Kitabullah (Taurat) yang ada pada mereka. Misalnya seperti yang tersebut dalam asbabun nuzul di atas.” (Tafsir Ibnu Katsir, 1/486)

“Mereka itulah orang yang dikutuk Allah, niscaya kamu sekali-kali tidak akan memperoleh penolong baginya.”

Al-Hafizh Ibnu Katsir t berkata: “Inilah laknat dari Allah l atas mereka, sekaligus berita bahwa tidak ada penolong bagi mereka baik di dunia maupun di akhirat. Karena mereka datang kepada kaum musyrikin hanya untuk meminta pertolongan. Mereka mengatakannya kepada kaum musyrikin, agar kaum musyrikin condong kepada mereka dan kemudian mau menolong mereka. Hal itu telah dikabulkan dan dibuktikan dengan datangnya mereka bersama-sama pada Perang Ahzab, hingga Nabi n dan para sahabatnya membuat parit di sekitar Madinah. Cukuplah hanya Allah l yang menolak kejahatan mereka, sebagaimana firman Allah l:

“Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan, (lagi) mereka tidak memperoleh keuntungan apapun. Dan Allah menghindarkan orang-orang mukmin dari peperangan. Dan adalah Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (Al-Ahzab: 25)

 

Makna dan Faedah Ayat

Asy-Syaikh Sa’di t, setelah menyebutkan ayat di atas, mengatakan: “Ini termasuk di antara keburukan, kejelekan, dan kedengkian orang-orang Yahudi terhadap Nabi n dan kaum mukminin. Akhlak mereka yang rendah dan tabiat yang buruk, telah membawa mereka untuk tidak beriman kepada Allah l dan Rasul-Nya n. Mereka menggantinya dengan beriman kepada al-jibt dan thaghut, yaitu beriman kepada segala bentuk peribadatan selain Allah l, atau berhukum dengan selain syariat Allah l. Termasuk dalam hal ini adalah sihir dan perdukunan, beribadah kepada selain Allah l, menaati (mengikuti) setan. Semua ini termasuk bagian dari al-jibt dan thaghut. Demikian pula perbuatan mereka berupa kekufuran, kedengkian dengan mengutamakan jalan yang ditempuh oleh orang-orang yang kufur kepada Allah l –para penyembah berhala– di atas jalan yang ditempuh orang-orang beriman, dengan: mengatakan kepada orang-orang kafir (musyrik Makkah) bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman. (Tafsir As-Sa’di hal. 182)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t mengatakan: “Banyak orang yang mengaku Islam, berpaling dari (ajarannya) hingga membuang jauh-jauh Al-Qur’an di belakang punggung mereka serta rela mengikuti apa yang dibisikkan oleh setan. Ia tidak mengagungkan perintah Al-Qur’an dan larangan-Nya, tidak berloyalitas kepada orang yang diperintahkan Al-Qur’an untuk berloyal kepadanya, dan tidak memusuhi orang yang diperintahkan Al-Qur’an untuk memusuhinya. Bahkan dia mengagungkan orang yang mampu melakukan beberapa perkara yang luar biasa. Sebagian mereka ada yang tahu bahwa perkara luar biasa itu datangnya dari setan, tetapi tetap mengagungkannya karena dorongan hawa nafsu, hingga dia mengutamakannya di atas jalan (petunjuk) Al-Qur’an, sebagaimana orang-orang kafir (Yahudi). Allah l berfirman tentang mereka:

“Apakah kamu tidak memerhatikan orang-orang yang diberi bagian dari Al-Kitab? Mereka percaya kepada Al-Jibt dan thaghut.” (An-Nisa’: 51) (Majmu’ Fatawa, Tafsir Surat An-Nisa’)

Ayat ini termasuk ayat yang pertama dicantumkan oleh Syaikul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab t dalam Kitabut Tauhid, pada bab Ma Ja’a anna Ba’dha Hadzihil Ummati Ya’budu Al-Autsan (Penjelasan adanya sebagian umat ini yang menyembah berhala).

Asy-Syaikh Muhammad Al-Qar’awi t berkata dalam kitabnya Al-Jadid (hal. 143): “Pada ayat ini, Allah l mengarahkan pandangan Nabi Muhammad n secara khusus dan kaum muslimin secara umum, pada beberapa perbuatan orang-orang Yahudi yang menyimpang lagi mungkar. Yaitu mereka memercayai penyembahan berhala serta mengedepankan peribadatan tersebut di atas peribadatan orang-orang mukmin terhadap Rabb mereka, karena Rasulullah n dan para sahabatnya berada padanya. Walaupun mereka (orang-orang Yahudi) mengetahui bahwa kitab mereka yang dahulu (Taurat) telah menerangkan, agama Islam lebih utama daripada peribadatan kepada berhala, bahwa Rasulullah n benar adanya, serta apa yang dibawa adalah perkara yang haq; akan tetapi sifat dengki dan dendam membutakan mereka serta  menghalangi untuk mengucapkan kebenaran. Mereka kemudian membuat tipu daya dengan bermuka manis di hadapan orang kafir dan perbuatan mereka (peribadatan kepada berhala). Namun Allah l enggan (dengan semua itu) kecuali untuk menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir tidak menyukai.”

Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin t berkata: “Alasan Asy-Syaikh Muhammad memberi judul dalam bab ini adalah untuk membantah orang yang mengatakan bahwa kesyirikan tidak mungkin terjadi (dilakukan) pada umat ini. Mereka mengingkari bahwa peribadatan kepada kuburan dan para wali termasuk bagian dari syirik, karena umat ini telah terjaga dari kesyirikan berdasarkan hadits Rasulullah n dari Jabir z:

إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ أَيِسَ أَنْ يَعْبُدَهُ الْمُصَلُّونَ فِي جَزِيرَةِ الْعَرَبِ وَلَكِنْ فِي التَّحْرِيشِ بَيْنَهُمْ

“Sesungguhnya setan telah putus asa dari disembah oleh orang-orang yang shalat di jazirah Arab, akan tetapi dengan mengadu domba mereka.” (HR. Muslim)

Terhadap syubhat ini beliau menjawab: “Keputusasaan setan pada suatu perkara yang telah dikabarkan oleh Nabi n disebabkan setan telah menyaksikan Fathul Makkah dan masuknya manusia berbondong-bondong ke dalam agama Allah l. Akan tetapi kenyataan yang akan terjadi tidak mengharuskan keadaannya sesuai dengan apa yang disangka oleh setan. Bahkan yang terjadi bisa berbeda.” (Al-Qaulul Mufid, 1/467)

Asy-Syaikh As-Sa’di t, setelah menyebutkan judul yang disebutkan Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab t di atas, menerangkan: “Maksud dari judul ini adalah mengingatkan dari kesyirikan dan menumbuhkan rasa khawatir terhadapnya, bahwa syirik merupakan perkara yang pasti terjadi pada umat ini, serta sebagai bantahan terhadap orang yang berpendapat bahwa seseorang yang telah mengucapkan kalimat Laa ilaha illallah dan disebut sebagai orang Islam, akan tetap senantiasa tetap berada di atas keislamannya walaupun melakukan perbuatan yang membatalkan keislamannya, seperti beristighatsah (meminta perlindungan/ keselamatan) kepada penghuni kubur, berdoa kepada mereka, serta menyebut perbuatan itu sebagai tawassul dan bukan ibadah. Ini adalah perkara yang batil. Karena al-watsan (berhala) adalah nama yang mencakup seluruh perkara yang disembah selain Allah l. Tidak ada bedanya antara pohon, batu, maupun bangunan (seperti kuburan, prasasti, dll, pen.). Tidak ada bedanya pula apakah yang dikultuskan itu nabi, orang-orang shalih, atau orang-orang yang buruk (jahat). Hal itu tetaplah merupakan ibadah, sedangkan ibadah hanyalah hak Allah l semata. Maka barangsiapa berdoa atau beribadah kepada selain Allah l berarti ia telah menjadikan (sesuatu yang diibadahi itu) sebagai berhala dan mengeluarkan dirinya dari agama Islam, sehingga tidaklah bermanfaat pengakuan bahwa dirinya adalah muslim. Betapa banyak orang musyrik yang mengaku dirinya beragama Islam. Begitu juga orang-orang mulhid (atheis), kafir, dan munafik. Karena yang teranggap pada diri seseorang adalah ruh agama dan hakikatnya (bertauhid yang benar dan beramal shalih), bukan sekadar nama dan julukan yang tidak ada hakikatnya.” (Al-Qaulus Sadid, hal. 102-103)

Ayat di atas juga menunjukkan bahwasanya ilmu terkadang tidak memberikan manfaat bagi pemiliknya dan tidak menjaganya dari kesesatan. Adalah hal yang mengherankan jika Allah l telah memberikan kepada sebagian hamba-Nya ilmu, namun justru tidak memberikan manfaat baginya. Maka ilmu itu (akan) menjadi sesuatu yang akan menghujat dirinya.

Di antara faedah ayat ini juga adalah wajibnya memperingatkan dan menjauhkan (umat) dari al-jibt dan thaghut dengan segala bentuknya.

Faedah yang lain, bahwa sebagian umat ini ada yang percaya kepada al-jibt dan thaghut, sebagaimana disebutkan oleh Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab t dalam salah satu bab dalam Kitabut Tauhid.

Wallahu a‘lam bish-shawab.

Jimat dan Jampi-jampi

(ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc.)

 

Praktik perdukunan tidak bisa lepas dari jimat, mantra, dan jampi-jampi. Di masyarakat Arab jahiliah pun hal ini telah demikian dikenal.

Jimat-jimat dikenal dengan istilah tamimah, mantra dan jampi-jampi dikenal dengan ruqyah, pelet atau pengasihan dikenal dengan tiwalah. Tentu saja jika kita bicara istilah maka akan ada saja perbedaan sebutan antara satu daerah dengan daerah lainnya. Namun hakikatnya semuanya sama, baik itu dinamai jimat, hizb, rajah, pelet, pengasihan, pelarisan, atau apa saja.

Yang kita ingin kaji di sini adalah hukum memakai hal-hal tersebut, baik dengan digantungkan di mobil, di rumah, di toko-toko, atau warung makan. Untuk itu mari kita menyimak hadits Nabi n:

إِنَّ الرُّقَى وَالتَّمَائِمَ وَالتِّوَلَةَ شِرْكٌ

“Sesungguhnya ruqyah, tamimah, dan tiwalah adalah syirik.” (Shahih, HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ahmad. Lihat Shahih Jami’ Ash-Shaghir no. 1632)

Tamimah adalah sesuatu yang biasa digantungkan pada anak-anak dengan tujuan melindungi dari malapetaka. Inilah yang biasa kita sebut dalam bahasa kita dengan jimat atau sejenisnya. Nabi n menyebutnya syirik dan hal ini terlarang, karena dengan itu berarti seseorang mengharap pertolongan kepada selain Allah l, sementara tidak ada yang dapat menolak bala kecuali Allah l. Dengan demikian, tidak boleh dimintai perlindungan dari gangguan semacam itu kecuali dari Allah l semata. Sebagian ulama juga menjelaskan bahwa hal itu masuk dalam kategori syirik akbar bila meyakini bahwa benda tersebut yang memberinya manfaat serta menyelamatkannya dari madharat. Bisa pula masuk dalam kategori syirik kecil bila meyakini bahwa benda itu hanya menjadi sebab keselamatan atau kemujuran, namun hakikatnya yang memberinya adalah Allah l.

 

Bagaimanakah Hukumnya Bila Jimat Itu Dibuat Murni dari Ayat Al-Qur’an?

Pendapat yang terkuat dalam hal ini bahwa ini termasuk dilarang. Ini adalah pendapat sejumlah sahabat di antaranya Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, yang nampak dari pendapat Hudzaifah, ’Uqbah bin ’Amir, dan Ibnu Ukaim. Juga pendapat banyak dari kalangan tabi’in dan salah satu pendapat Al-Imam Ahmad.

Yang menguatkan pendapat ini adalah tiga hal:

1. Larangan dalam hadits bersifat umum, mencakup jimat dari apapun. Tidak ada yang mengkhususkannya.

2. Dalam rangka menutup pintu kejelekan. Karena bila hal ini dibolehkan akan menyeret kepada pemakaian tamimah yang lain.

3. Bila ini digantungkan pada seseorang, niscaya berakibat menghinakannya dengan membawanya saat buang air, cebok, dan yang semacamnya. (Fathul Majid)

Pembaca yang kami hormati, jika demikian hukum jimat –meski murni terbuat dari tulisan ayat-ayat Al-Qur’an– lantas bagaimana dengan yang lain, semacam yang dicampur antara ayat-ayat dengan huruf-huruf yang terputus-putus, angka-angka, atau garis-garis?

Jangan sampai kita terkecoh dengan tulisan-tulisan huruf Arab dalam jimat tersebut, karena itu terkadang bukan ayat bahkan bukan bahasa Arab. Hanya hurufnya saja yang Arab, namun tidak bisa dipahami karena bukan bahasa Arab. Yang dikhawatirkan ini justru merupakan rumus-rumus kekafiran. Bisa jadi di dalamnya terkandung doa kepada selain Allah l, kata-kata kekafiran, celaan terhadap Islam atau ayat Al-Qur’an, bahkan terhadap Allah l dan Rasul-Nya. Jelas ini hukumnya haram.

Ruqyah, adalah bacaan-bacaan yang dibacakan dengan niat untuk kesembuhan atau tolak bala atau semisalnya, itulah yang disebut dalam bahasa kita dengan jampi-jampi. Dalam hadits-hadits, ruqyah ada dua macam. Salah satunya yang beliau n sebut dalam hadits yang telah lewat yaitu yang syirik, yaitu yang terdapat padanya permohonan kepada selain Allah l.

Yang kedua adalah ruqyah yang syar’i, yang dibolehkan bahkan dianjurkan oleh Islam, yaitu yang terkumpul padanya tiga syarat:

1. Dengan kalamullah, ayat-ayat Al-Qur’an, atau dengan nama-nama Allah l dan sifat-sifat-Nya.

2. Dengan bahasa Arab dan yang diketahui maknanya.

3. Meyakini bahwa ruqyah tidak berpengaruh dengan sendirinya, namun dengan takdir Allah l. (Fathul Majid)

Maka ruqyah yang tidak terpenuhi salah satu dari syarat-syarat tersebut maka tidak boleh dan haram.

Demikianlah hukum mantra-mantra. Walaupun terkadang disisipi ayat-ayat Al-Qur’an, namun faktanya juga dicampur dengan bacaan-bacaan lain yang jelas haram, atau yang tidak diketahui maknanya yang dikhawatirkan mengandung doa kepada selain Allah l, penghinaan terhadap Islam, atau perkara-perkara haram yang lain.

Adapun tiwalah, yaitu pelet, pengasihan, atau sejenisnya, termasuk syirik karena dengan itu seseorang berarti telah memohon kepada selain Allah l.

Dukun dan Ciri-cirinya

(ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc.)

 

Perdukunan, ramalan nasib, dan sejenisnya telah tegas diharamkan oleh Islam dengan larangan yang keras. Sisi keharamannya terkait dengan banyak hal, di antaranya:

1. Apa yang akan terjadi itu hanya diketahui oleh Allah l. Maka seseorang yang meramal berarti ia telah menyejajarkan dirinya dengan Allah l dalam hal ini. Ini merupakan kesyirikan, membuat sekutu (tandingan) bagi Allah l. Atau;

2. Meminta bantuan kepada jin atau setan. Ini banyak terkait dengan praktik perdukunan dan sihir semacam santet atau sejenisnya.

Praktik sihir, ramal, dan perdukunan sendiri telah dikenal di masyarakat Arab dengan beberapa istilah. Para dukun dan peramal itu terkadang disebut:

1. Kahin

Al-Baghawi t mengatakan bahwa Al-Kahin adalah seseorang yang mengabarkan sesuatu yang akan terjadi di masa yang akan datang. Ada pula yang mengatakan, al-kahin adalah yang mengabarkan apa yang tersembunyi dalam qalbu.

2. ‘Arraf

Al-Baghawi t mengatakan bahwa ia adalah orang yang mengaku-ngaku mengetahui urusan-urusan tertentu melalui cara-cara tertentu, yang darinya ia mengaku mengetahui tempat barang yang dicuri atau hilang.

3. Rammal

Raml dalam bahasa Arab berarti pasir yang lembut. Rammal adalah seorang tukang ramal yang menggaris-garis di pasir untuk meramal sesuatu. Ilmu ini telah dikenal di masyarakat Arab dengan sebutan ilmu raml.

4. Munajjim, ahli ilmu nujum

Nujum artinya bintang-bintang. Akhir-akhir ini populer dengan nama astrologi (ilmu perbintangan) yang dipakai untuk meramal nasib.

5. Sahir, tukang sihir

Ini lebih jahat dari yang sebelumnya, karena dia tidak hanya terkait dengan ramalan bahkan dengan ilmu sihir yang identik dengan kejahatan.

Dan masih ada lagi tentunya istilah lain. Namun hakikatnya semuanya bermuara pada satu titik kesamaan yaitu meramal, mengaku mengetahui perkara ghaib (sesuatu yang belum diketahui) yang akan datang, baik itu terkait dengan nasib seseorang, suatu peristiwa, mujur dan celaka, atau sejenisnya. Perbedaannya hanyalah dalam penggunaan alat yang dipakai untuk meramal. Ada yang memakai kerikil, bintang, atau yang lain. Oleh karenanya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t mengatakan: “Al-‘Arraf, adalah sebutan bagi kahin, munajjim, dan rammaal, serta yang sejenis dengan mereka, yang berbicara dalam hal mengetahui perkara-perkara semacam itu dengan cara-cara semacam ini.” (dinukil dari Kitabut Tauhid)

Dengan demikian, apapun nama dan julukannya, baik disebut dukun, tukang sihir, paranormal, ‘orang pintar’, ‘orang tua’, spiritualis, ahli metafisika, atau bahkan mencatut nama kyai dan gurutta (sebutan untuk tokoh agama di Sulawesi Selatan), atau nama-nama lain, jika dia bicara dalam hal ramal-meramal dengan cara-cara semacam di atas maka itu hukumnya sama: haram dan syirik, menyekutukan Allah l.

Demikian pula istilah-istilah ilmu yang mereka gunakan, baik disebut horoskop, zodiak, astrologi, ilmu nujum, ilmu spiritual, metafisika, supranatural, ilmu hitam, ilmu putih, sihir, hipnotis dan ilmu sugesti, feng shui, geomanci, berkedok pengobatan alternatif atau bahkan pengobatan Islami, serta apapun namanya, maka hukumnya juga sama, haram.

Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah mengatakan saat menjelaskan sebuah hadits Nabi n:

إِذَا قَضَى اللهُ الْأَمْرَ فِي السَّمَاءِ ضَرَبَتِ الْمَلَائِكَةُ بِأَجْنِحَتِهَا خضَعَانًا لِقَوْلِهِ كَأَنَّهُ سِلْسِلَةٌ عَلَى صَفْوَانٍ فَإِذَا فُزِّعَ عَنْ قُلُوبِهِمْ قَالُوا: مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ؟ قَالُوا لِلَّذِي قَالَ: الْحَقَّ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيْرُ. فَيَسْمَعُهَا مُسْتَرِقُ السَّمْعَ وَمُسْتَرِقُ السَّمْعِ هَكَذَا بَعْضَهُ فَوْقَ بَعْضٍ –وَوَصَفَ سُفْيَانُ بِكَفِّهِ فَحَرَّفَهَا وَبَدَّدَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ- فَيَسْمَعُ الْكَلِمَةَ فَيُلْقِيهَا إِلَى مَنْ تَحْتَهُ ثُمَّ يُلْقِيهَا الْآخَرُ إِلَى مَنْ تَحْتَهُ حَتَّى يُلْقِيهَا عَلَى لِسَانِ السَّاحِرِ أَوِ الْكَاهِنِ فَرُبَّمَا أَدْرَكَ الشِّهَابُ قَبْلَ أَنْ يُلْقِيَهَا وَرُبَّمَا أَلْقَاهَا قَبْلَ أَنْ يُدْرِكَهُ فَيَكْذِبُ مَعَهَا مِائَةَ كِذْبَةٍ فَيُقَالُ: أَلَيْسَ قَدْ قَالَ لَنَا يَوْمَ كَذَا وَكَذا كَذَا وَكَذَا؟ فَيُصَدَّقُ بِتِلْكَ الْكَلِمَةِ الَّتِي سُمِعَ مِنَ السَّمَاءِ

Apabila Allah memutuskan sebuah urusan di langit, tertunduklah seluruh malaikat karena takutnya terhadap firman Allah l seakan-akan suara rantai tergerus di atas batu. Tatkala tersadar, mereka berkata: “Apa yang telah difirmankan oleh Rabb kalian?” Mereka menjawab: “Kebenaran, dan dia Maha Tinggi lagi Maha Besar.” Lalu berita tersebut dicuri oleh para pencuri pendengaran (setan). Demikian sebagian mereka di atas sebagian yang lain –Sufyan menggambarkan tumpang tindihnya mereka dengan telapak tangan beliau lalu menjarakkan antara jari jemarinya–. (Pencuri berita) itu mendengar kalimat yang disampaikan, lalu menyampaikannya kepada yang di bawahnya. Yang di bawahnya menyampaikannya kepada yang di bawahnya lagi, sampai dia menyampaikannya ke lisan tukang sihir atau dukun. Terkadang mereka dijumpai oleh bintang pelempar sebelum dia menyampaikannya, namun terkadang dia bisa menyampaikan berita tersebut sebelum dijumpai oleh bintang tersebut. Dia menyisipkan seratus kedustaan bersama satu berita yang benar itu. Kemudian petuah dukun yang salah dikomentari: “Bukankah dia telah mengatakan demikian pada hari demikian?” Dia dibenarkan dengan kalimat yang didengarnya dari langit itu.” (HR. Al-Bukhari no. 4522 dari sahabat Abu Hurairah z)

Pada (hadits ini) terdapat keterangan tentang batilnya sihir dan perdukunan, bahwa keduanya sumbernya sama yaitu mengambil dari setan. Oleh karena itu, sihir tidak boleh diterima, demikian pula berita tukang sihir. Juga dukun dan berita dukun. Karena sumbernya batil. Disebutkan dalam hadits Nabi n:

مَنْ أَتَى كَاهِناً أَوْ عَرَّافًا لمَ ْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِيْنَ يَوْماً

“Barangsiapa mendatangi dukun atau peramal maka tidak diterima shalatnya 40 hari.”

Dalam hadits yang lain:

مَنْ أَتَى كَاهِناً أَوْ عَرَّافاً فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُوْلُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ n

“Barangsiapa mendatangi dukun atau peramal lalu memercayai apa yang dia katakan maka dia telah kafir dengan apa yang diturunkan kepada Muhammad n.”

Dalam hadits ini terdapat keterangan batilnya sihir atau dukun, larangan  membenarkan tukang sihir atau dukun, atau mendatangi mereka. Akan tetapi di masa ini, para tukang sihir dan dukun muncul dengan julukan tabib atau ahli pengobatan. Mereka membuka tempat-tempat praktik serta mengobati orang-orang dengan sihir dan perdukunan. Namun mereka tidak mengatakan: “Ini sihir, ini perdukunan.” Mereka tampakkan kepada manusia bahwa mereka mengobati dengan cara yang mubah, serta menyebut nama Allah l di depan orang-orang. Bahkan terkadang membaca sebagian ayat Al-Qur’an untuk mengelabui manusia, tapi dengan sembunyi mengatakan kepada orang  yang sakit, “Sembelihlah kambing dengan sifat demikian dan demikian, tapi jangan kamu makan (dagingnya), ambillah darahnya”, “Lakukan demikian dan demikian”, atau mengatakan “Sembelihlah ayam jantan atau ayam betina” ia sebutkan sifat-sifatnya dan mewanti-wanti “Tapi jangan menyebut nama Allah l”. Atau menanyakan nama ibu atau ayahnya (pasien), mengambil baju atau topinya (si sakit) untuk dia tanyakan kepada setan pembantunya, karena setan juga saling memberi informasi. Setelah itu ia mengatakan: “Yang menyihir kamu itu adalah fulan”, padahal dia juga dusta. Maka wajib bagi muslimin untuk berhati-hati. (I’anatul Mustafid)

 

Ciri-ciri Dukun atau Penyihir

Berikut ini beberapa ciri dukun, sehingga dengan mengetahui ciri-ciri tersebut, hendaknya kita berhati-hati bila kita dapati ciri-ciri tersebut ada pada seseorang walaupun dia mengaku hanya sebagai tukang pijat bahkan kyai. Di antara ciri tersebut:

1. Bertanya kepada yang sakit tentang namanya, nama ibunya, atau semacamnya.

2. Meminta bekas-bekas si sakit baik pakaian, sorban, sapu tangan, kaos, celana, atau sejenisnya dari sesuatu yang biasa dipakai si sakit. Atau bisa juga meminta fotonya.

3. Terkadang meminta hewan dengan sifat tertentu untuk disembelih tanpa menyebut nama Allah l, atau dalam rangka diambil darahnya untuk kemudian dilumurkan pada tempat yang sakit pada pasiennya, atau untuk dibuang di tempat kosong.

4. Menulis jampi-jampi dan mantra-mantra yang memuat kesyirikan.

5. Membaca mantra atau jampi-jampi yang tidak jelas.

6. Memberikan kepada si sakit kain, kertas, atau sejenisnya, dan bergariskan kotak. Di dalamnya terdapat pula huruf-huruf dan nomor-nomor.

7. Memerintahkan si sakit untuk menjauh dari manusia beberapa saat tertentu di sebuah tempat yang gelap yang tidak dimasuki sinar matahari.

8. Meminta si sakit untuk tidak menyentuh air sebatas waktu tertentu, biasanya selama 40 hari.

9. Memberikan kepada si sakit sesuatu untuk ditanam dalam tanah.

10. Memberikan kepada si sakit sesuatu untuk dibakar dan mengasapi dirinya dengannya.

11. Terkadang mengabarkan kepada si sakit tentang namanya, asal daerahnya, dan problem yang menyebabkan dia datang, padahal belum diberitahu oleh si sakit.

12. Menuliskan untuk si sakit huruf-huruf yang terputus-putus baik di kertas atau mangkok putih, lalu menyuruh si sakit untuk meleburnya dengan air lantas meminumnya.

13. Terkadang menampakkan suatu penghinaan kepada agama misal menyobek tulisan-tulisan ayat Al-Qur’an atau menggunakannya pada sesuatu yang hina.

14. Mayoritas waktunya untuk menyendiri dan menjauh dari orang-orang, karena dia lebih sering bersepi bersama setannya yang membantunya dalam praktik perdukunan. (Kaifa Tatakhallas minas Sihr)

Ini sekadar beberapa ciri dan bukan terbatas pada ini saja. Dengannya, seseorang dapat mengetahui bahwa orang tersebut adalah dukun atau penyihir, apapun nama dan julukannya walaupun terkadang berbalut label-label keagamaan semacam kyai atau ustadz.

 

Dilarang Mendatangi Dukun

Bila kita telah mendengar tentang seseorang yang memiliki ciri-ciri sebagaimana dijelaskan di atas, janganlah kita mendatanginya. Hal itu sangat dilarang dalam agama Islam. Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan menjelaskan:

Dalam Shahih Muslim disebutkan:

مَنْ أَتَى كَاهِناً أَوْ عَرَّافًا لمَ ْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِيْنَ يَوْماً

“Barangsiapa mendatangi dukun maka tidak akan diterima shalatnya selama 40 hari.”

Hukum ini sebagai akibat dari hanya mendatangi dukun saja. Karena (sekadar) mendatanginya sudah merupakan kejahatan dan perbuatan haram, walaupun ia tidak memercayai dukun tersebut. Oleh karenanya, ketika sahabat Mu’awiyah Ibnul Hakam z bertanya kepada Rasulullah n perihal dukun beliau menjawab: ‘Jangan kamu datangi dia.’ Nabi n melarangnya walaupun sekadar mendatanginya. Jadi hadits ini menunjukkan tentang haramnya mendatangi dukun walaupun tidak memercayainya, walaupun yang datang mengatakan: ‘Kedatangan saya hanya sekadar ingin tahu’. Ini tidak boleh.

“Tidak diterima shalatnya selama empat puluh hari” dalam sebuah riwayat “40 hari 40 malam.”

Ini menunjukkan beratnya hukuman bagi yang mendatangi dukun, di mana shalatnya tidak diterima di sisi Allah l, tidak ada pahalanya di sisi Allah l, walaupun ia tidak diperintahkan untuk mengulangi shalatnya, karena secara lahiriah ia telah melakukan shalat. Akan tetapi, antara dia dengan Allah l, dia tidak mendapatkan pahala dari shalatnya karena tidak Allah l terima. Ini adalah ancaman keras yang menunjukkan haramnya mendatangi dukun, sekadar mendatangi walaupun tidak memercayai. Adapun bila memercayainya maka hadits-hadits yang akan dijelaskan berikut telah menunjukkan ancaman yang keras, kita berlindung kepada Allah l.

Dari Abu Hurairah z dari Nabi n bahwa beliau n bersabda:

مَنْ أَتَى كَاهِناً أَوْ عَرَّافاً فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُوْلُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ n

“Barangsiapa mendatangi dukun atau peramal lalu memercayai apa yang dia katakan maka dia telah kafir dengan apa yang diturunkan kepada Muhammad n.”

Dalam hadits ini ada dua masalah:

Masalah pertama: mendatangi dukun.

Masalah kedua: memercayainya pada apa yang ia beritakan dari perdukunannya. Hukumnya ia telah dianggap kafir terhadap apa yang Allah l turunkan kepada Nabi Muhammad n. Karena tidak akan bersatu antara membenarkan apa yang diturunkan kepada Muhammad n dengan membenarkan berita dukun yang itu adalah pekerjaan setan. Dua hal yang tidak mungkin bersatu, memercayai Al-Qur’an dan memercayai dukun.

Yang nampak dari hadits itu bahwa ia telah keluar dari Islam.

Dari riwayat dari Al-Imam Ahmad t ada dua pemahaman dalam hal kekafiran semacam ini. Satu riwayat, bahwa maksudnya kekafiran besar yang mengeluarkan dari agama. Riwayat yang lain: kekafiran kecil, di bawah kekafiran tadi.

Ada pendapat ketiga: tawaqquf, yakni kita baca hadits sebagaimana datangnya tanpa menafsirkan serta mengatakan kafir besar atau kecil. Kita katakan seperti kata Rasulullah n dan cukup.

Tapi yang kuat –wallahu a’lam– adalah pendapat yang pertama, bahwa itu adalah kekafiran yang mengeluarkan dari agama. Karena tidak akan bersatu antara iman kepada Al-Qur’an dengan iman kepada perdukunan. Karena Allah l telah mengharamkan perdukunan, dan memberitakan bahwa itu adalah perbuatan setan, maka orang yang memercayai dan membenarkan berarti telah kafir dengan kekafiran besar. Inilah yang nampak dari hadits. (I’anatul Mustafid)

Demikian penjelasan beliau tentang mendatangi dukun. Adapun tentang bertanya-tanya atau konsultasi dengan para dukun, telah dijelaskan dalam rubrik Manhaji secara lebih detail.

Ada satu hal yang perlu lebih kita sadari, yaitu kecanggihan teknologi yang ada ternyata digunakan para dukun untuk mencari mangsa. Sehingga tidak mesti seseorang datang ke tempat praktik dukun tersebut, tapi justru dukunnya yang mendatangi seseorang melalui radio, televisi, internet, atau SMS. Dengan itu, bertanya kepada dukun jalannya semakin dipermudah. Cukup dengan ketik: ”reg spasi ….” selanjutnya mengirimkannya ke nomor tertentu melalui ponsel, seseorang sudah bisa mendapatkan layanan perdukunan. Bahkan, sampai-sampai ada sebuah stasiun televisi yang membuat program khusus untuk menayangkan kompetisi di antara dukun/ tukang sihir.

Subhanallah, cobaan nyata semakin berat. Kaum muslimin mesti menyadari hal ini. Jangan sampai kecanggihan teknologi ini membuat kita semakin jauh dari ajaran agama. Justru seharusnya kita gunakan kemajuan teknologi ini untuk membantu kita agar semakin taat kepada Allah l.

Semoga kaum muslimin menerima dan memahaminya dengan baik sehingga menyadari akan bahaya perdukunan, untuk kemudian kaum muslimin pun bersatu dalam memerangi perdukunan.

Perdukunan dan Para eite Politik

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf)

 

Panggung politik adalah ajang terbuka bagi para politisi untuk bertarung merebut kekuasaan, maka kerja politik adalah kerja yang berorientasi meraih jabatan dan kedudukan.

Dalam wacana modernitas, praktik politik selalu bertumpu pada rasionalitas, menggunakan kalkulasi yang masuk akal, dan mengikuti kaidah politik yang dapat dicerna oleh penalaran logis.

Namun demikian, di luar langkah itu, menjelang Pemilu 2009 kemarin, banyak politisi yang terobsesi pada kekuasaan, justru bertumpu pada hal-hal yang irasional.

Persaingan yang sangat ketat menjadi wakil rakyat membuat sejumlah pihak menghalalkan segala cara, dari mulai menyambangi dukun, minta diterawang nasib dan peruntungan mereka melalui jalan mistik, hingga berkumpul di sisi makam yang dianggap keramat. (Kompas Online, 23/2)

Praktik perdukunan dalam pertarungan politik bertujuan ganda, yaitu merebut atau mempertahankan kekuasaan. Banyak pihak meyakini, hampir tak ada seorang pun yang berhasil menaiki tangga kekuasaan tanpa bantuan dukun.

Ini adalah salah satu gejala frustasi politik bagi para caleg, di mana caleg yang kere mencoba mengundi nasib mengandalkan kekuatan magis para dukun.

Dikabarkan, ratusan caleg di kota Padang mendatangi dukun bernama Ni Ita. Mereka menerawangkan peluangnya menuju parlemen. (http://www.padang.today.com/27/03)

Ki Joko Bodo dan Mama Lauren, 74 tahun, yang bernama lengkap Laurentina Sri Kumala –keduanya merupakan dukun/paranormal terkenal– memberikan pengakuan, sejak Juli 2008, klien yang mereka terima kebanyakan dari caleg. Caleg yang mendatangi mereka bukan saja dari partai-partai kecil tapi juga partai besar. (KoranTempo.com, 2009)

Secara teori, tidak ada korelasi (hubungan) antara politik dan dukun. Tetapi karena sudah kalap mata, inilah cara yang mereka anggap jitu menuju kekuasaan. Rakyat memilih atau tidak adalah sebuah pilihan sadar. Kecuali orang-orang bodoh yang mau dibayar untuk kepentingan-kepentingan sesaat caleg dan pemilih yang kurang akal.

Di Bandar Lampung, sejumlah caleg kerap mendatangi puncak Gunung Betung untuk melakukan kegiatan irasional itu. Di gunung tersebut, seorang kuncen (juru kunci, red.) yang ingin disebut Mbah Betung, 65 tahun, mengaku kerap didatangi para caleg pada pemilu ini. Ia mengatakan, “Yang datang cukup banyak. Bahkan ada beberapa caleg dari partai Islam.” (okezone.com)

Di Jakarta Timur misalnya, tepatnya di makam keramat Pangeran Jayakarta yang terletak di Jatinegara Kaum, Pulogadung, hampir setiap malam Jum’at diramaikan peziarah. Yang tak disangka, di antaranya terdapat calon anggota dewan/caleg.

Biasanya caleg tersebut datang tidak sendiri. Mereka datang dengan “guru spiritual”nya dan ajudan. Biasanya sang guru spiritual memimpin caleg untuk membacakan doa bagi Habib Husain. Habib Husain sendiri adalah seorang yang kononnya shalih, meninggal dunia pada 24 Juni 1756. (okezone.com)

Memandang jabatan sebagai sebuah kehormatan bahkan menuhankannya, adalah hal yang menyebabkan terkikisnya nilai-nilai keteladanan serta menunjukkan betapa tidak bertuhannya orang-orang yang katanya akan memimpin negeri ini. Karena semua kepercayaan dan keyakinan di atas adalah syirik dalam agama Islam.

Tapi memang demikianlah potret politik dan para politisi di tanah air kita yang mayoritas penduduknya muslimin. Bermunculannya partai politik atau parpol hanyalah sarana untuk mengejar kekuasaan dan jabatan, tak peduli itu partai “Islam” atau bukan.

Sebuah partai misalnya, sangat bangga dengan nomor urut 8, karena angka 8 adalah angka hoki, angka 8 merata gemuknya. Tidak seperti angka 9 yang gemuknya di atas dan tidak merata. Partai yang katanya bersih, peduli, dan profesional ini ternyata bermain-main di tempat yang kotor dan sangat tidak profesional. Mereka demikian percaya jika angka 8 dapat memberikan kebangkitan pada perolehan suara di Pemilu 2009.

Apakah angka 8 ada rahasianya dalam ajaran Islam? Yang pasti, penting dicatat bahwa dalam budaya Tionghoa (baca: kafir), angka 8 memang diasosiasikan sebagai angka kemakmuran dan keberuntungan yang tiada habisnya, merujuk bentuk angka 8 yang tidak putus. (detik.com)

Luar biasa parah dan buruknya kelakuan para elite politik negeri ini. Mereka rela mengorbankan diri dan agamanya demi memuaskan ambisinya. Tidakkah mereka takut bahwa perbuatan-perbuatannya, seperti mendatangi dukun, menanyakan berbagai hal kepadanya, memercayainya, serta memberikan bayaran kepadanya adalah haram, dosa, bahkan bisa menyeret pada kekufuran.

Sungguh beruntung orang-orang yang mendapatkan taufik, dapat memahami ajaran dan petunjuk dari agama ini.

Allah l berfirman:

“Dan barangsiapa yang tidak diberi cahaya oleh Allah. Maka tidaklah ia mempunyai cahaya sedikit pun.” (An-Nur: 40)

 

Bayaran Dukun

Berkenaan dengan bayaran yang diberikan kepada para dukun, maka Al-Imam Muslim t dalam kitab Shahihnya meriwayatkan hadits dari Abu Mas’ud Al-Anshari z:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ n نَهَى عَنْ ثَمَنِ الْكَلْبِ وَمَهْرِ الْبَغِيِّ وَحُلْوَانِ الْكَاهِنِ

“Sesungguhnya Rasulullah n melarang keuntungan/uang hasil dari penjualan anjing, upah yang diterima pezina dari hasil zina, serta bayaran bagi dukun.” (HR. Muslim no. 1567 bab Tahrimu Tsamanil Kalbi wa Hulwanil Kahin)

Al-Baghawi dan Al-Qadhi Iyadh rahimahumallah mengatakan, “Kaum muslimin sepakat akan haramnya bayaran (hulwan) yang diberikan kepada dukun atas jasa perdukunannya. Karena hal itu merupakan timbal balik dari perkara yang diharamkan serta termasuk dalam kategori makan harta secara batil.” (Syarah Shahih Muslim jilid 6 hal. 76)

Haramnya memberi bayaran kepada dukun merupakan peringatan yang mengisyaratkan diharamkannya memberi bayaran kepada ahli nujum dan tukang ramal, baik yang menggunakan kartu atau menggunakan batu kerikil, dan sejenisnya. Yaitu mereka yang biasa dimintai informasi tentang masalah-masalah ghaib. Rasulullah n sendiri telah melarang mendatangi para dukun.

Beliau bersabda:

مَنْ أَتَى كَاهِنًا أَوْ عَرَّافًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Barangsiapa mendatangi dukun atau paranormal, lalu membenarkan perkataannya, berarti telah kufur kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad n.”

Al-Imam Al-Khaththabi t berkata, “Bayaran untuk paranormal juga haram.” (Syarah Shahih Muslim, 6/76)

Entah berapa ratus juta atau bahkan mungkin sampai pada miliaran rupiah dana yang dihamburkan para elite politik untuk meraih tempat di parlemen, dari mulai pasang iklan, lobi, suap sana-sini sampai menyerahkan sejumlah uang kepada para dukun.

Nyata, negeri ini dipenuhi dengan para elite politik syirik. Kita memohon kepada Allah agar memberikan hidayah kepada mereka. Islam tidak pernah mengajari model politik yang seperti ini. Politik bukanlah kekuasaan dan jabatan bukanlah segala-galanya.

 

Tujuan Politik Dalam Islam

Islam adalah agama yang sempurna, hubungannya sangat erat dengan segala sisi kehidupan manusia. Islam hadir bukan hanya sekadar agama atau kepercayaan, tetapi Islam meliputi daulah (negara) dan siyasah (politik).

Untuk itu, politik di dalam Islam memiliki makna yang sangat luhur. Politik bukanlah ambisi mengejar kekuasaan, popularitas, dan jabatan yang semuanya berorientasi kepada dunia. Tujuan utama siyasah (politik) dalam Islam adalah sebagai berikut:

Pertama: menegakkan agama dan mewujudkan peribadatan (ubudiyah) kepada Allah Rabbul ‘alamin.

Ini adalah tujuan yang sangat mendasar, di mana pemerintah dan seluruh jajarannya bertanggung jawab untuk mewujudkannya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t berkata, “Tujuan yang utama dari sebuah pemerintahan adalah memperbaiki kondisi keagamaan seluruh rakyat. Bila mereka mengabaikannya maka akan memperoleh kerugian yang nyata. Kenikmatan yang selama ini mereka rasakan di dunia tidak akan memberi manfaat.” (Majmu’ Al-Fatawa 28/262)

Al-Imam Asy-Syaukani t mengemukakan, “Sesungguhnya yang paling penting dari ditetapkannya para pemimpin negara/wakil-wakil rakyat adalah menegakkan syiar-syiar agama, mengokohkan manusia di atas jalan yang lurus serta mencegah mereka dari berbagai pelanggaran dan pernyelisihan, baik sukarela ataupun terpaksa. Berikutnya, mengayomi kaum muslimin dalam menggapai kemaslahatan dan menghindar dari kemadharatan.”

Allah l berfirman:

“Demikianlah Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana, mewahyukan kepada kamu dan kepada orang-orang yang sebelum kamu.” (Asy-Syura: 3)

Kedua: Menegakkan keadilan.

Dalam hadits riwayat Muslim t, Rasulullah n bersabda:

إِنَّ الْمُقْسِطِينَ عِنْدَ اللَّهِ عَلَى مَنَابِرَ مِنْ نُورٍ عَنْ يَمِينِ الرَّحْمَنِ عَزَّ وَجَلَّ وَكِلْتَا يَدَيْهِ يَمِينٌ الَّذِينَ يَعْدِلُونَ فِي حُكْمِهِمْ وَأَهْلِيهِمْ وَمَا وَلُوا

“Sesungguhnya para muqsithin (orang-orang yang adil) di sisi Allah, berada di atas mimbar-mimbar dari cahaya, di kanan Allah k. Dan kedua tangan-Nya Allah kanan. Para muqsithin adalah mereka yang menegakkan keadilan dalam keputusan hukumnya, di tengah-tengah keluarganya dan terhadap siapa yang mereka pimpin.”

Ketiga: memperbaiki kondisi kehidupan manusia.

Yang meliputi perbaikan di bidang ekonomi, sosial, pendidikan, pengetahuan, pertahanan dan keamanan, dan lain-lain. (Fiqh Siyasah Asy-Syar’iyah, hal. 52-55)

Demikianlah dan semoga Allah l memberi taufik kita semua kepada apa yang dicintai dan diridhai-Nya.

Wal ‘ilmu indallah.

Sensasi Dukun dan Perdukunan

(Ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf)

 

Sebenarnya dukun dan perdukunan bukanlah sesuatu yang baru atau asing dalam sejarah kehidupan manusia. Keberadaannya sudah sangat lama, bahkan sebelum datangnya Islam dan diutusnya Nabi kita Muhammad.

Allah l berfirman:

“Apakah kamu tidak memerhatikan orang-orang yang diberi bagian dari Al-Kitab? Mereka percaya kepada jibt dan thaghut, serta mengatakan kepada orang-orang kafir (musyrik Makkah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman.” (An-Nisa’: 51)

Ath-Thabari t menyebutkan dalam Tafsirnya (2/7726), dengan sanadnya sendiri dari Sa’id bin Jubair, bahwa –berkenaan dengan ayat ini– ia mengatakan, yang dinamakan jibt dalam bahasa Habasyah adalah sahir (tukang sihir) sedangkan yang dimaksud dengan thaghut adalah kahin (dukun).

Kala itu, perdukunan benar-benar mendapat tempat di hati banyak orang. Karena mereka meyakini, para dukun mempunyai pengetahuan tentang ilmu ghaib. Orang-orang pun berduyun-duyun mendatanginya, mengadukan segala permasalahan yang dihadapinya untuk kemudian menjalankan petuah-petuahnya.

Al-Imam Muslim t di dalam kitab Shahihnya, bab Tahrimul Kahanah wa Ityanul Kahin, meriwayatkan dari Mu’awiyah bin Al-Hakam As-Sulami z, bahwa ia menceritakan: Aku sampaikan kepada Rasulullah n beberapa hal yang pernah kami lakukan di masa jahiliah, yaitu bahwa kami biasa mendatangi para dukun. Beliau kemudian bersabda:

فَلَا تَأْتُوا الْكُهَّانَ. قَالَ: قُلْتُ: كُنَّا نَتَطَيَّرُ. قَالَ: ذَاكَ شَيْءٌ يَجِدُهُ أَحَدُكُمْ فِي نَفْسِهِ فَلَا يَصُدَّنَّكُمْ

“Jangan sekali-kali kalian mendatangi dukun-dukun itu.” Aku ceritakan lagi kepada beliau, “Kami biasa ber-tathayyur.” Beliau bersabda: “Itu hanyalah sesuatu yang dirasakan oleh seseorang di dalam dirinya. Maka, janganlah sampai hal itu menghalangi kalian.”

Yang diistilahkan dukun itu sendiri adalah orang-orang yang mengabarkan hal-hal yang akan terjadi di kemudian hari, melalui bantuan setan yang mencuri-curi dengan berita dari langit. Maka, dukun adalah orang-orang yang mengaku dirinya mengetahui ilmu ghaib, sesuatu yang tidak tersingkap dalam pengetahuan banyak manusia.

Padahal, di dalam Al-Qur’an disebutkan dengan jelas dan pasti, bahwa hanya Allah l yang mengetahui yang ghaib, adapun selain-Nya tidak.

Allah l berfirman:

Katakanlah: “Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah”, dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan. (An-Naml: 65)

“(Dia adalah Rabb) Yang mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang ghaib itu.” (Al-Jin: 26)

“Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepada kamu hal-hal yang ghaib, akan tetapi Allah memilih siapa yang dikehendaki-Nya di antara rasul-rasul-Nya. Karena itu berimanlah kepada Allah dan rasul-rasul-Nya. Dan jika kamu beriman dan bertakwa, maka bagimu pahala yang besar.” (Ali ‘Imran: 179)

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (Al-An’am: 59)

Maka katakanlah: “Sesungguhnya yang ghaib itu kepunyaan Allah, sebab itu tunggu (sajalah) olehmu, sesungguhnya aku bersama kamu termasuk orang-orang yang menunggu.” (Yunus: 20)

Al-Qadhi Iyadh t berkata: “Perdukunan yang dikenal di dunia Arab terbagi menjadi tiga jenis:

Pertama: Seseorang mempunyai teman dari kalangan jin, yang memberi tahu kepadanya dari usaha mencuri-curi dengar berita langit. Jenis ini sudah lenyap1 sejak Allah l mengutus Nabi kita n.

Kedua: Setan mengabarkan kepadanya sesuatu yang terjadi di tempat-tempat lain yang tidak bisa diketahuinya secara langsung, baik dekat maupun jauh. Yang demikian tidaklah mustahil keberadaannya.

Ketiga: Ahli nujum. Untuk jenis ini, Allah l menciptakan kekuatan tertentu pada diri sebagian manusia. Akan tetapi, kebohongan di dalamnya biasanya lebih dominan. Di antara jenis ilmu seperti itu, adalah ilmu ramal, pelakunya disebut peramal atau paranormal. Biasanya orangnya mengambil petunjuk dari premis-premis dan sebab-sebab tertentu untuk mengetahui persoalan-persoalan tertentu, serta didukung dengan perdukunan, perbintangan, atau sebab-sebab lain.

Jenis-jenis seperti inilah yang disebut dengan perdukunan. Semuanya itu, dianggap dusta oleh syariat. Syariat juga melarang mendatangi dan membenarkan perkataan mereka.” (Syarh Shahih Muslim, 7/333)

 

Menjamurnya Dukun Atau Paranormal

Kemajuan peradaban manusia, seringkali diukur dengan kemajuan teknologi dan semakin lepasnya masyarakat dari praktik-praktik berbau tahayul. Namun begitu, di zaman sekarang ini praktik perdukunan justru marak bak cendawan di musim penghujan.

Penting diketahui, sebenarnya praktik perdukunan bukanlah khas masyarakat tribal (kesukuan) dan tradisional yang melambangkan keterbelakangan. Bangsa maju dan modern di Eropa dan Amerika yang mengagungkan rasionalitas juga punya sejarah perdukunan, berwujud santet (witchcraft).

Di Indonesia, praktik perdukunan memiliki akar kuat dalam sejarah bangsa, bahkan dukun dan politik merupakan gejala sosial yang lazim. Kontestasi politik untuk merebut kekuasaan pada zaman kerajaan di Indonesia pramodern selalu ditopang kekuatan magis.

Semuanya ini memberikan gambaran yang nyata, bahwa perdukunan memang sudah dikenal lama oleh masyarakat kita. Dan ilmu ini pun turun-menurun saling diwarisi oleh anak-anak bangsa, hingga saat ini para dukun masih mendapatkan tempat bukan saja di sisi masyarakat tradisional, tetapi juga di tengah lingkungan modern.

Walhasil kini mereka yang pergi ke dukun kemudian percaya pada kekuatan magis dan menjalankan praktik perdukunan tak mengenal status sosial: kelas bawah, menengah bahkan atas. Sensasi para dukun itu mampu melampaui semua tingkat pendidikan. Banyak di antara mereka yang datang ke dukun merupakan representasi orang-orang terpelajar yang berpikiran rasional.

Sebenarnya, dukun atau paranormal tidak ada bedanya, karena itu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t mengemukakan, bahwa paranormal adalah nama lain dari dukun dan ahli nujum (Fathul Majid, hal. 338). Maka, dukun atau paranormal adalah dua nama yang saling terkait, kadang salah satunya menjadi penanda bagi yang lainnya.

Belakangan, di tanah air kita, fenomena perdukunan dan ramalan semakin menggeliat seiring dengan suasana yang kondusif bagi para pelakunya untuk tampil berani tanpa ada beban. Berapa banyak iklan-iklan yang menawarkan jasa meramal cukup via SMS, yang dalam istilah mereka bermakna Supranatural Messages Service. Atau juga, praktik pengobatan alternatif yang sudah menjadi suguhan iklan harian di koran-koran dan tabloid.

Berapa banyak sekarang ini penderita penyakit yang tidak terdeteksi penyakitnya sekalipun telah memanfaatkan kemajuan teknologi kedokteran. Usut punya usut, salah satu penyebabnya adalah karena penyakit tersebut merupakan penyakit “pesanan” yang dikirim oleh para dukun dengan menggunakan kekuatan ghaib bernama setan.

 

Bahaya Mendatangi Dukun dan Peramal

Al-Imam Bukhari dan Muslim rahimahumallah dalam kitab Shahih keduanya, meriwayatkan hadits dari ‘Aisyah x, bahwa ia berkata: Saya tanyakan kepada Rasulullah n, “Ya Rasulullah, sesungguhnya para dukun itu mengatakan sesuatu kepada kami, dan ternyata apa yang dikatakannya itu benar terjadi.” Beliau kemudian bersabda:

تِلْكَ الْكَلِمَةُ الْحَقُّ يَخْطَفُهَا الْجِنِّيُّ فَيَقْدِفُهَا فِى أُذُنِ وَلِيِّهِ، وَيَزِيْدُ فِيْهَا مِائَةَ كَذْبَةٍ

“Kata yang benar itu disambar oleh jin dan kemudian dibisikkan ke telinga pengikutnya. Tapi setiap satu kata yang benar itu dicampur dengan seratus kebohongan.” (HR. Al-Bukhari no. 5762, Muslim no. 2228)

Dalam riwayat lainnya, yang dikemukakan oleh Al-Imam Muslim t, disebutkan bahwa ‘Aisyah x menceritakan: “Orang-orang bertanya kepada Rasulullah tentang kebenaran para dukun.” Beliau menjawab: “Tidak ada apa-apanya.” Mereka lantas berkata: “Mereka itu (dukun) terkadang mengatakan sesuatu yang kemudian benar-benar terjadi.” Beliau n menjawab:

تِلْكَ الْكَلِمَةُ مِنَ الْجِنِّ يَخْطَفُهَا الْجِنِّيُّ فَيَقُرُّهَا فِى أُذُنِ وَلِيِّهِ قَرَّ الدَّجَاجَةِ فَيَخْلِطُوْنَ فِيْهَا أَكْثَرَ مِنْ مِائَةِ كَذْبَةٍ

“Kalimat itu berasal dari kalangan jin yang disambar oleh salah seorang jin, lalu ia bisikkan ke dalam telinga pengikutnya seperti suara ayam betina, lalu mereka mencampurnya dengan lebih dari seratus kebohongan.”

Rasulullah n juga bersabda:

مَنْ أَتَى كَاهِنًا أَوْ عَرَّافًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُوْلُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ n

“Barangsiapa mendatangi dukun atau tukang ramal, lalu membenarkan perkataannya, berarti itu telah kufur kepada apa yang telah diturunkan kepada Muhammad n.” (HR. Ahmad dalam Musnadnya no. 9541)

Ibnu Atsir t menjelaskan, “Yang dimaksud dengan tukang ramal adalah ahli nujum atau orang pandai yang mengaku mengetahui ilmu ghaib, padahal hanya Allah l yang mengetahui persoalan ghaib. Tukang ramal itu masuk dalam kategori dukun.”

Dalam kitab Shahihnya, Al-Imam Muslim t mengutip hadits dari Nafi’, dari Shafiyyah, dari beberapa istri Nabi n, dari Nabi n beliau bersabda:

مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِيْنَ لَيْلَةً

“Siapa yang mendatangi arraf (tukang ramal) lalu menanyakan sesuatu kepadanya, maka shalatnya tidak akan diterima selama empat puluh malam.”

Al-Imam Nawawi t menjelaskan, “Yang dimaksud dengan tidak diterima shalatnya adalah bahwa shalat yang dilakukannya itu tidak diberi pahala, sekalipun shalat yang dilakukannya itu sudah tentu tetap bisa menggugurkan kewajibannya sehingga tidak perlu diulang kembali. Para ulama sepakat bahwa hal itu tidak berarti menuntut orang yang mendatangi tukang ramal untuk mengulangi shalatnya selama empat puluh hari. Wallahu a‘lam.” (Syarh Shahih Muslim, 7/336)

Bertolak dari dalil-dalil di atas, setidaknya ada dua bahaya yang mengancam orang-orang yang mendatangi dan menanyakan sesuatu kepada dukun atau paranormal:

Pertama, kekafiran, jika meyakini kebenaran dukun dan meyakini tukang ramal itu sebagai orang yang mengetahui hal ghaib.

Kedua, mendekati kekufuran, jika membenarkan berita yang disampaikannya dari hal yang ghaib. Dengan alasan, dukun dan paranormal menyampaikan hal yang ghaib dari informasi jin yang mencuri-curi dengar berita langit.

Hanya kepada Allah l lah kita memohon perlindungan. Semoga Allah l tidak memperbanyak jumlah para pelayan-pelayan setan (dukun), serta membongkar kejahatan mereka.

Wallahul musta’an.


1 Dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama. Ada yang berpendapat sudah lenyap, tidak ada lagi. Ada juga yang berpendapat masih terjadi. Di antara yang menguatkan pendapat kedua dari ulama masa kini adalah Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin dan Asy-Syaikh  Shalih Alu Syaikh. (ed)

Dukun Sahabat Setan

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafrudin)

 

Perdukunan ada di mana-mana. Dalam tumbuh kembangnya, dunia perdukunan (termasuk paranormal) hadir tak semata di tingkat akar rumput yang rata-rata berpendidikan rendah. Pun tak semata di area yang dihuni rakyat jelata yang miskin, papa dan hidup terbelakang. Dunia perdukunan menyentuh juga manusia yang hidup dalam kawasan elite, prestisius bahkan borjuis. Perdukunan merambah kemana pun. Menyeruak, masuk ke alam kehidupan semua strata dan latar belakang manusia, kecuali orang-orang yang dirahmati-Nya.

Hasil penelitian ilmiah pada masyarakat Bugis-Makasar, diperoleh beragam keahlian sanro (sebuah istilah paling populer untuk dukun). Kelompok sanro pappamole, sanro pabballe, atau sanro tomalasa, yaitu dukun yang ahli mengobati orang sakit atau yang berusaha menyembuhkan penyakit. Sanro puru, dukun yang biasa mengobati orang yang berpenyakit puru atau sarampa (cacar). Sanro pattiro-tiro atau sanro paccini-cini atau sanro patontong, yaitu dukun peramal. Misal, menentukan letak barang yang hilang atau dicuri, menyebutkan pelaku atau ciri-ciri pencurinya, dan sebagainya. Dukun ini suka meramal nasib atau masa depan orang, melihat sifat dan tabiat seseorang meski sang dukun hanya tahu nama orangnya, meramal hari atau waktu yang baik seumpama hendak bepergian atau melakukan hajat tertentu. Sanro sehere (dukun sihir) yang memelihara jin yang bisa disuruh membawa guna-guna dan memasukkannya ke tubuh seseorang.

Di Aceh, terkait masalah kekuatan ghaib ini disebut eleumee. Cara untuk memperoleh eleumee disebut dengan amalan eleumee. Beberapa macam eleumee yang tersebar di sebagian masyarakat Aceh seperti eleumee keubay, yaitu ilmu kebal yang menjadikan kebal terhadap tusukan senjata tajam. Termasuk dalam ilmu kebal ini antara lain eleumee ma’rifat beusoe (ilmu ma’rifat besi), eleumee rante but (ilmu rantai perbuatan). Ada juga eleumee tuba yaitu ilmu untuk membuat racun dan penawarnya. Jenisnya banyak, seperti eleumee kulat yang terkenal berasal dari Lam Teuba, untuk membuat racun dari jamur tertentu. Juga ada yang disebut eleumee burong, ilmu bersahabat dengan makhluk halus. Eleumee pari, di mana burong (burung) yang dipelihara digunakan untuk menjaga tuannya dari serangan ghaib. Adapun eleumee sandrung yaitu ilmu untuk memanggil makhluk halus dan memasukkannya ke dalam tubuh manusia. Ada pula yang disebut eleumee akhirat atau lebih dikenal dengan kramat. Kekuatan kramat bersifat umum, seperti mengobati yang sakit, mengusir setan, melancarkan usaha mencari rezeki, dan pergi shalat Jumat ke Makkah. Kisah tentang ureueng kramat (orang kramat) selalu berkisar di dayah (pesantren) dan alim ulama, karena eleumee ini senantiasa disandingkan dengan nilai-nilai agama. Namun, dalam batas tertentu hal itu menjadi kabur. Karena, seseorang yang menginginkan kedudukan kramat nyatanya menghendaki menjadi orang yang memiliki kesaktian, melakukan amalan yang tidak bersumber pada nilai-nilai agama yang benar, bahkan justru melakukan perbuatan bid’ah. Praktik yang sering dilakukan ureueng kramat maupun yang memiliki eleumee, yaitu dengan memberi ajemmat. Ajemmat adalah secarik kertas yang ditulisi atau digambari huruf Arab. Isinya beragam, ada berupa tulisan kutipan ayat suci, ada pula hanya huruf yang tidak dipahami maknanya. Secarik kertas tersebut lantas disimpan dalam saku, ikat pinggang atau dibakar lantas abunya digosokkan pada badan atau dimasukkan ke air di gelas lalu diminum airnya. Mirip ajemmat, dikenal pula tangkay. Yaitu sebuah benda yang dianggap mempunyai kekuatan yang bersifat melindungi pemiliknya. Benda-benda yang dipakai sebagai tangkay seperti batu akik, daun-daunan, benang warna-warni, dan lain-lain. (Dukun, Mantra dan Kepercayaan Masyarakat, T. Sianipar, Al-Wisol, Munawir Yusuf, hal. 17-19 dan 147-149)

Dalam kehidupan masyarakat Jawa juga tumbuh pemahaman tentang perdukunan. Dukun perewangan, yaitu dukun yang bertindak sebagai mediator dalam masalah mistik. Dukun wiwit, yaitu yang melakukan upacara panen. Dukun temanten, yang mengatur prosesi upacara pengantin agar tidak terganggu. Dukun ramal. Dukun sihir. Dukun susuk, dukun yang menangani peristiwa-peristiwa alam, seperti menahan hujan atau membantu agar barang-barang yang ada tidak hilang dicuri. Masih banyak lagi ragam dukun yang ada dalam kehidupan masyarakat Jawa.

Maka, dari beberapa bentuk aktivitas dukun di atas, ada beberapa kategori yang menjadikan sebagian masyarakat meminta bantuan kepada dukun. Di antaranya, masyarakat datang kepada seorang dukun lantaran terkait masalah kesehatan, penyakit, masalah karir jabatan, masalah ekonomi, bisnis atau sejenisnya, masalah jodoh, hubungan suami istri, dan masalah keselamatan secara umum.

Dukun menurut Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan hafizhahullah, adalah seseorang yang mengaku mengetahui hal-hal ghaib. Seperti, dirinya mengaku mengetahui peristiwa-peristiwa yang akan terjadi di muka bumi ini. Mengaku mengetahui pula tempat barang-barang yang raib. Ini semua bisa dilakukan lantaran sang dukun meminta bantuan para setan yang mencuri dengar (menyadap) berita dari langit. Allah l berfirman:

“Apakah akan Aku beritakan kepadamu, kepada siapa setan-setan itu turun? Mereka turun kepada tiap-tiap pendusta lagi yang banyak dosa, mereka menghadapkan pendengaran (kepada setan) itu, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang pendusta.” (Asy-Syu’ara: 221-223)

Setan mencuri pendengaran dari pernyataan-pernyataan malaikat, lantas oleh setan perkataan tersebut disampaikan ke telinga dukun. Kemudian sang dukun pun menambahi dengan seratus kedustaan bersama kalimat tersebut. Maka manusia pun membenarkan apa yang dikatakan sang dukun dengan sebab perkataan yang telah didengar setan dari langit. (‘Aqidatut Tauhid, hal. 126)

Adapun menurut Asy-Syaikh Shalih bin Abdul ‘Aziz Alu Asy-Syaikh, hakikat perbuatan dukun adalah dia meminta bantuan kepada jin untuk (mengetahui) berita-berita yang terkait perkara-perkara ghaib pada masa lalu atau masa yang akan datang. Yang tentu saja, perkara yang akan datang ini tidak ada yang mengetahui kecuali hanya Allah Jalla wa ‘Ala. (Syarhu Kitab At-Tauhid, hal. 250)

Nampak keterkaitan antara dukun dengan jin. Praktik dukun yang menggunakan cara-cara magis tidak lepas dari bantuan jin. Rasulullah n pernah ditanya perihal dukun. Aisyah x berkata:

سَأَلَ أُنَاسٌ النَّبِيَّ n عَنِ الْكُهَّانِ فَقَالَ: إِنَّهُمْ لَيْسُوا بِشَيْءٍ. فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، فَإِنَّهُمْ يُحَدِّثُونَ بِالشَّيْءِ يَكُونُ حَقًّا؟ فَقَالَ النَّبِيُّ n: تِلْكَ الْكَلِمَةُ مِنَ الْحَقِّ يَخْطَفُهَا الْجِنِّيُّ فَيُقَرْقِرُهَا فِي أُذُنِ وَلِيِّهِ كَقَرْقَرَةِ الدَّجَّاجَةِ فَيَخْلِطُونَ فِيْهِ أَكْثَرَ مِنْ مِائَةِ كَذْبَةٍ

“Orang-orang bertanya kepada Nabi n perihal dukun. Maka beliau n menjawab, ‘Sungguh mereka itu bukanlah suatu apapun.’ Lantas orang-orang berkata, ‘Mereka (para dukun) itu mengatakan sesuatu bisa jadi benar.’ Maka Nabi n bersabda, ‘Kalimat (perkataan) itu dari yang benar, lantas jin menyambarnya, lalu disampaikan kepada telinga walinya seperti suara ayam berkotek. Tercampurlah di dalamnya dengan seratus lebih kedustaan’.” (HR. Al-Bukhari no. 7561)

Sungguh para dukun mendapat tempat yang leluasa sebelum Islam ada. Akan tetapi, setelah kedatangan Islam penjagaan langit makin diperketat. Jadilah ruang gerak dukun semakin kecil. Allah l mengabarkan terkait keberadaan setan:

“Dan sesungguhnya kami telah mencoba mengetahui (rahasia) langit, maka kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api, dan sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya). Tetapi sekarang barangsiapa yang (mencoba) mendengar-dengarkan (seperti itu) tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya).” (Al-Jin: 8-9)

Allah l berfirman:

“Kecuali setan yang mencuri-curi (berita) yang dapat didengar (dari malaikat) lalu dia dikejar oleh semburan api yang terang.” (Al-Hijr: 18)

Itulah hakikat dukun yang tidak bisa dilepaskan dari keterikatan dengan jin (setan). Sebagaimana disebutkan Asy-Syaikh Shalih bin Abdul ‘Aziz Alu Asy-Syaikh hafizhahullah, bahwa masalah dukun masuk dalam pembahasan Kitabut Tauhid, lantaran dukun meminta pelayanan (bantuan) kepada jin. Sedangkan meminta bantuan pada jin merupakan kekufuran dan termasuk syirik yang paling besar terhadap Allah Jalla wa ‘Ala. Sungguh, meminta bantuan kepada jin dalam beberapa perkara tidaklah akan bisa terjadi kecuali dengan cara taqarrub (mendekatkan diri) kepada jin tersebut dengan sesuatu yang termasuk peribadatan. Bagi para dukun adalah satu kemestian –agar jin membantu menyebutkan perkara-perkara ghaib kepada mereka– melakukan upaya taqarrub kepada jin melalui prosesi peribadatan. Prosesi peribadatan tersebut di antaranya dalam bentuk penyembelihan (hewan), melakukan istighatsah, mengkufuri Allah Jalla wa ‘Ala dengan bentuk perilaku menghinakan mushaf (Al-Qur’an), mencela Allah l, atau melalui perbuatan-perbuatan syirik dan kufur lainnya. (Syarhu Kitabi At-Tauhid, hal. 250-251)

Karenanya tidak mengherankan bila dalam praktik perdukunan, sang dukun minta disediakan ayam dengan warna tertentu, kambing dengan ketentuan tertentu, kemenyan, telur, bunga dengan berbagai rupa, dan lainnya. Semua permintaan tersebut kelak dijadikan sebagai sesaji atau tumbal. Semua perbuatan tersebut merupakan bentuk perbuatan syirik karena termasuk upaya mendekatkan diri (taqarrub) kepada setan sebagai wujud rasa takut mereka. Penyembelihan hewan yang dilakukan merupakan bentuk penyembelihan kepada selain Allah l. Bentuk kurban bagi jin. Padahal Rasulullah n pernah bersabda sebagaimana dalam hadits Ali bin Abi Thalib z:

لَعَنَ اللهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللهِ

“Allah telah melaknat orang yang menyembelih karena selain Allah.” (HR. Muslim no. 4978)

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdillah Al-Imam hafizhahullah memasukkan dukun dalam kategori tukang sihir. Kata beliau, penyihir meliputi tukang ramal, dukun, ‘arraf (orang yang mengaku bisa mengetahui keberadaan barang yang hilang). Kebanyakan dari keempat golongan ini, yaitu penyihir, tukang ramal, dukun, dan ‘arraf adalah orang-orang yang menghambakan diri kepada jin dan para setan mereka. Allah l berfirman:

“Hanya setan-setan itulah yang kafir (mengerjakan sihir).” (Al-Baqarah: 102)

Firman-Nya:

“Apakah akan Aku beritakan kepadamu, kepada siapa setan-setan itu turun? Mereka turun kepada tiap-tiap pendusta lagi yang banyak dosa, mereka menghadapkan pendengaran (kepada setan) itu, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang pendusta.” (Asy-Syu’ara: 221-223)

Juga firman Allah l:

“Sesungguhnya setan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu.” (Al-An’am: 121)

Barangsiapa, dari keempat macam orang tersebut, yang (mengatakan) tidak mendapat berita dari para setan dan jin, maka dia itu dajjal, pendusta yang melakukan praktik sihir dengan cara menyampaikan perkataan dusta, menipu demi meraup harta duniawi. (Irsyadun Nazhir ila Ma’rifati ‘Alamat As-Sahir, hal. 10)

Disebutkan pula bahwa ‘arraf adalah juga dukun. Dua nama namun menunjukkan sesuatu yang satu. Dinyatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t bahwa al-’arraf adalah nama bagi dukun, tukang nujum, dan rammal (orang yang meramal dengan cara memukulkan kerikil dan menggaris di pasir). (Syarhu Kitabit Tauhid, hal. 255-256)

Sebagai agama yang membawa rahmat, Islam melarang keras keberadaan dukun dan praktik perdukunan. Islam melarang seseorang mendatangi dukun. Sebagaimana hadits Mu’awiyah bin Al-Hakam As-Sulami z yang menyatakan, “Wahai Rasulullah, sungguh seorang dari kami mendatangi dukun.” Kata Rasulullah n:

فَلَا تَأْتِهِمْ

“Jangan engkau mendatangi mereka.” (HR. Muslim no.537)

Juga berdasar hadits dari Shafiyyah x, dari sebagian istri Nabi n, dari Nabi n, beliau bersabda:

مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

“Barangsiapa yang mendatangi dukun, lantas dia bertanya tentang sesuatu kemudian membenarkan apa yang diucapkan dukun tersebut, tidaklah diterima shalatnya selama 40 malam.” (HR. Muslim no. 2231, tanpa lafadz فَصَدَّقَ بِهِ. Tambahan lafadz tersebut tertera dalam hadits yang diriwayatkan Al-Imam Ahmad dalam Musnad-nya, 4/28, 5/380)

Secara zhahir hadits, sekadar bertanya kepada dukun merupakan bakal tidak diterimanya shalat selama 40 malam. Akan tetapi, yang demikian ini tidaklah bersifat mutlak. Perlu ada rincian. Ini sebagaimana dinyatakan As-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin t. Terkait bertanya kepada dukun ini, beliau t merinci menjadi empat bagian:

1. Semata-mata bertanya, maka yang seperti ini haram hukumnya. Berdasarkan sabda Nabi n:

مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

“Barangsiapa yang mendatangi dukun, lantas dia bertanya tentang sesuatu kemudian membenarkan apa yang diucapkan dukun tersebut, tidaklah diterima shalatnya selama 40 malam.”

Penetapan sanksi atas orang yang bertanya kepada dukun menunjukkan atas keharamannya. Ini berarti bahwa tidaklah ada sanksi kecuali atas perbuatan yang diharamkan.

2. Bertanya lalu membenarkan apa yang dikatakan dukun tersebut. Yang seperti ini menjadikan pelakunya kufur lantaran dia membenarkan dalam perkara yang ghaib dan mendustakan Al-Qur’an, yaitu firman Allah l:

“Katakanlah: ‘Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah’.” (An-Naml: 65)

3. Pertanyaan yang diajukan kepada dukun dalam rangka menguji dukun tersebut, apakah dia seorang yang jujur atau pendusta. Tidak dalam rangka mengambil perkataannya. Yang semisal ini tidak mengapa dan tidak masuk dalam kategori hadits di atas. Nabi n pernah bertanya kepada Ibnu Shayyad:

مَا ذَا خَبَأْتُ لَكَ؟ قَاَلَ: الدُّخُّ. فَقَالَ: اخْسَأْ فَلَنْ تَعْدُوَ قَدْرَكَ

“Apakah yang aku sembunyikan darimu?” Jawab Ibnu Shayyad: “Asap.” Kata Nabi n: “Diamlah. Maka, sekali-kali kamu tidak akan melampaui (apa yang telah Allah l) takdirkan padamu.”

Maka, Nabi n menyembunyikan sesuatu dari Ibnu Shayyad dalam rangka mengujinya. (HR. Al-Bukhari no. 3055)

4. Bertanya dalam rangka menampakkan kelemahan dan kedustaan dukun. Ini diuji dengan perkara-perkara yang akan memperjelas bahwa dia adalah lemah dan dusta. Yang demikian ini dituntut. Bahkan terkadang bisa menjadi wajib hukumnya. Sebab, menunjukkan kebatilan perkataan dukun, tidak diragukan lagi sebagai perkara yang dituntut adanya, bahkan bisa menjadi sesuatu yang wajib. (Al-Qaulul Mufid ‘ala Kitabit Tauhid, hal. 341)

 

Bagaimana hukum membantu dukun yang menggunakan sihir? Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam hafizhahullah menyatakan bahwa termasuk sebesar-besar dosa yang paling besar adalah melakukan tolong-menolong dengan tukang sihir. Allah l berfirman:

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.” (Al-Ma’idah: 2)

Firman-Nya:

“Dan janganlah kamu berdebat (untuk membela) orang-orang yang mengkhianati dirinya. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang selalu berkhianat lagi bergelimang dosa, mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bersembunyi dari Allah, padahal Allah beserta mereka, ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yang Allah tidak ridhai. Dan adalah Allah Maha meliputi (ilmu-Nya) terhadap apa yang mereka kerjakan. Beginilah kamu, kamu sekalian adalah orang-orang yang berdebat untuk (membela) mereka dalam kehidupan dunia ini. Maka siapakah yang akan mendebat Allah untuk (membela) mereka pada hari kiamat? Atau siapakah yang jadi pelindung mereka (terhadap siksa Allah)?” (An-Nisa’: 107-109)

Rasulullah n bersabda:

لَعَنَ اللهُ مَنْ لَعَنَ وَالِدَيْهِ، وَلَعَنَ اللهُ مَنْ آوَى مُحْدِثًا

“Allah melaknat orang yang melaknat kedua orangtuanya, dan Allah melaknat terhadap orang yang melindungi orang yang jahat (kriminal).” (HR. Muslim no. 1978, dari Ali bin Abi Thalib z)

Kata Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam hafizhahullah, termasuk memberi perlindungan kepada pelaku bid’ah atau kriminal, yaitu membiarkan ia tinggal bersama keluarganya, atau tinggal di kampungnya, di kotanya, atau di perkampungan muslim. Termasuk pula memberi perlindungan kepada pelaku sihir adalah dengan mereka dipungut uang lalu dilepaskan bebas. Sehingga dia bisa melangsungkan tindak kriminal. Tidak ada upaya untuk menjebloskannya ke penjara hingga nampak sikap penyesalan dan taubat pada diri dukun atau tukang sihir ini. Tentunya, dengan taubat yang sebenarnya. Akan tetapi, kenyataan yang ada justru dia diberi tempat untuk menyembunyikan dirinya.

Karenanya, Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam menasihatkan, hendaknya wajib atas negara muslim untuk menegakkan hukum kepada para tukang sihir (termasuk dukun, tukang ramal, dan lainnya, pen.) jika mereka belum menampakkan taubat yang sebenar-benarnya. Jika tukang sihir tersebut telah kafir maka dia dibunuh karena telah murtad dari Islam. Jika dia belum kafir, hanya melakukan salah satu dosa terbesar dari dosa-dosa yang paling besar, maka dihukum ta’zir (hukuman yang bukan had, tidak ditentukan kadarnya oleh syariat). Lain halnya bila dia ternyata telah membunuh seseorang dengan sihirnya, maka dia dihukum mati. Hendaknya pula masyarakat bahu-membahu, saling menolong dengan pihak pemerintah dalam hal tersebut. Menegakkan hukum terhadap pelaku sihir termasuk sebesar-besar upaya untuk melindungi masyarakat muslimin dari hal-hal yang menyebabkan kekufuran dan kesyirikan. (Irsyadun Nazhir ila Ma’rifati ‘Alamat As-Sahir, hal. 83 dan 94)

Adapun kepada tukang sihir, dukun, tukang nujum, dan lainnya, hendaklah bertaubat kepada Allah l dengan sebenar-benarnya, dengan menunaikan perintah Allah l Yang Maha Esa dan Maha Kuasa. Allah l berfirman:

“Katakanlah: ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Rabbmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi). Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Rabbmu sebelum datang azab kepadamu dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya’.” (Az-Zumar: 53-55)

Maka, bagi orang yang memerhatikan ayat-ayat Al-Qur’an, dia akan melihat bahwa Allah l telah menjanjikan maghfirah (ampunan) dan rahmah bagi hamba-hamba-Nya. (Irsyadun Nazhir, hal. 103)

Wallahu a’lam.