Zakat Uang

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad Al-Makassari)

 

Zakat uang wajib hukumnya pada setiap uang yang dikumpulkan oleh seseorang dari hasil keuntungan usaha dagang, hasil sewa rumah, gaji/upah, atau yang semacamnya, dengan syarat uang itu mencapai nishab dan sempurna haul yang harus dilewatinya. Tidak ada bedanya dalam hal ini apakah uang yang dikumpulkan itu diniatkan untuk modal usaha, nafkah, untuk pernikahan, atau tujuan lainnya. Karena uang dengan berbagai jenis mata uang yang ada pada masa ini dan mendominasi muamalah kaum muslimin menggantikan posisi emas (dinar) dan perak (dirham) yang dipungut zakatnya pada masa Rasulullah n. Uang sebagai pengganti emas (dinar) dan perak (dirham) menjadi tolok ukur dalam menilai harga suatu barang sebagaimana halnya dinar dan dirham pada masa itu.

Sebenarnya dalam masalah zakat uang ada khilaf di kalangan ulama, namun tidak diragukan lagi bahwa pendapat inilah yang benar. Hal ini difatwakan oleh Al-Lajnah Ad-Daimah yang diketuai oleh Al-Imam Al-’Allamah Abdul ‘Aziz bin Baz dalam Fatawa Al-Lajnah (9/254, 257), Al-Imam Al-’Allamah Al-’Utsaimin dalam Asy-Syarhul Mumti’ (6/98-99, 101), guru besar kami Al-Imam Al-’Allamah Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i dan guru kami Al-Faqih Abdurrahman Mar’i Al-’Adni.1


1 Kami telah membahas tuntas masalah ini dalam rubrik Problema Anda Vol. IV/No. 45/1429 H/2008 hal. 55

Zakat Emas dan Perak

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad Al-Makassari)

 

Emas berwarna kuning atau kemerah-merahan dan perak berwarna putih. Jadi tidak ada emas putih, sebagaimana kata Al-’Utsaimin dalam Majmu’ Ar-Rasail (18/108): “Kami tidak mengetahui ada emas yang berwarna putih.”

Zakat hukumnya wajib pada emas dan perak dengan berbagai macam bentuk dan sifatnya tanpa kecuali, jika mencapai nishab dan telah sempurna haulnya. Baik dalam bentuk sebagai mata uang dinar (emas) dan dirham (perak) seperti halnya pada masa Rasulullah n, potongan emas batangan yang belum diolah/dibentuk, sudah diolah/dibentuk menjadi perhiasan atau peralatan makan dan minum, seperti gelas dan piring, atau dalam bentuk yang lainnya, semuanya dikenai zakat.1

Emas dengan berbagai macam bentuk dan sifatnya dianggap satu jenis dan disatukan dalam perhitungan nishab dan zakat, demikian pula halnya perak dengan berbagai macam bentuk dan sifatnya dianggap satu jenis dan disatukan dalam perhitungan nishab dan zakat.

Adapun emas dan perak keduanya merupakan dua jenis yang berbeda, sehingga keduanya tidak disatukan dalam perhitungan nishab dan zakat, sebagaimana akan diterangkan nanti -insya Allah-.

Permasalahan: Sebenarnya dalam permasalahan zakat perhiasan emas dan perak ada khilaf di kalangan ulama, namun yang rajih adalah pendapat yang mengatakan ada zakatnya. Hal ini berdasarkan dalil-dalil berikut ini:

1. Keumuman firman Allah l:

“Orang-orang yang menyimpan emas dan perak sementara mereka tidak menafkahkannya di jalan Allah, maka gembirakanlah mereka dengan azab yang pedih. Pada hari dipanaskannya emas dan perak itu dalam neraka jahannam, lalu dahi-dahi, lambung-lambung, dan punggung-punggung mereka diseterika dengannya, dan dikatakan kepada mereka: ‘Inilah apa yang kalian simpan untuk diri kalian sendiri, maka rasakanlah akibatnya sekarang’.” (At-Taubah: 34-35)

Demikian pula keumuman hadits Abu Hurairah z:

مَا مِنْ صَاحِبِ ذَهَبٍ وَلَا فِضَّةٍ لاَ يُؤَدِّي مِنْهَا حَقَّهَا إِلَّا إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ صُفِحَتْ لَهُ صَفَائِحُ مِنْ نَارٍ، فَأُحْمِيَ عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ، فَيُكْوَى بَهَا جَنْبَهُ وَجَبِيْنَهُ وَظَهْرَهُ، كُلَّمَا بَرُدَتْ أُعِيدَتْ لَهُ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ حَتَّى يُقْضَى بَيْنَ الْعِبَادِ فَيَرَى سَبِيلَهُ إِمَّا إِلَى الْجَنَّةِ وَإِمَّا إِلَى النَّارِ

“Tidak ada seorang pun pemilik emas dan perak yang tidak menunaikan haknya, kecuali pada hari kiamat nanti dibuatkan untuknya lempeng-lempeng yang terbuat dari emas dan perak mereka sendiri bagaikan api. Kemudian lempeng-lempeng itu dipanaskan dalam neraka jahannam dan dengannya diseterikalah lambung, dahi, dan punggungnya. Setiap kali tubuhnya menjadi dingin kembali azab itu pun diulangi kembali atasnya. Demikianlah azab yang diterimanya pada hari yang lamanya sebanding dengan 50.000 tahun, hingga ada keputusan atas hamba-hamba Allah l, maka dia pun melihat jalannya menuju surga ataukah menuju neraka.” (HR. Muslim: 987)

Ayat dan hadits ini menunjukkan secara umum adanya hak zakat pada emas dan perak yang wajib ditunaikan oleh pemiliknya, apapun bentuk serta sifat emas dan perak tersebut.

2.  Nash-nash yang tsabit (tetap) dari Rasulullah n yang menunjukkan secara persis wajibnya zakat pada perhiasan emas dan perak. Nash-nash tersebut adalah sebagai berikut:

• Hadits ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya yang bernama ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-’Ash c:

أَنَّ امْرَأَةً أَتَتْ رَسُولَ اللهِ n وَمَعَهَا ابْنَةٌ لَهَا وَفِى يَدِ ابْنَتِهَا مَسَكَتَانِ غَلِيظَتَانِ مِنْ ذَهَبٍ، فَقَالَ لَهَا: أَتُعْطِينَ زَكَاةَ هَذَا؟ قَالَتْ: لاَ. قَالَ: أَيَسُرُّكِ أَنْ يُسَوِّرَكِ اللهُ بِهِمَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ سِوَارَيْنِ مِنْ نَارٍ؟ فَخَلَعَتْهُمَا فَأَلْقَتْهُمَا إِلَى النَّبِيِّ n وَقَالَتْ: هُمَا لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ وَلِرَسُولِهِ

Bahwasanya seorang wanita mendatangi Rasulullah n bersama putrinya yang mengenakan dua gelang emas yang tebal di tangannya, maka Rasulullah n berkata kepadanya:

“Apakah engkau telah membayarkan zakatnya?” Wanita itu menjawab: “Belum.” Rasulullah n berkata: “Apakah menggembirakan dirimu bahwa dengan sebab dua gelang emas itu Allah akan memakaikan atasmu dua gelang api dari neraka pada hari kiamat nanti?” Maka wanita itu pun melepaskan kedua gelang itu dan memberikannya kepada Nabi n seraya berkata: “Keduanya untuk Allah l dan Rasul-Nya.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan An-Nasa’i. Hadits ini hasan, dikuatkan sanadnya oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar t dalam Bulughul Maram, dishahihkan oleh Ibnul Qaththan t sebagaimana dalam Nashbur Rayah [2/380] dan dihasankan oleh Al-Albani dalam Irwa’ Al-Ghalil [3/296])

 

• Hadits ‘Aisyah x:

دَخَلَ عَلَيَّ رَسُولُ اللهِ n فَرَأَى فِى يَدِي فَتَخَاتٍ مِنْ وَرِقٍ فَقَالَ: مَا هَذَا يَا عَائِشَةُ؟ فَقُلْتُ: صَنَعْتُهُنَّ أَتَزَيَّنُ لَكَ يَا رَسُولَ اللهِ. قَالَ: أَتُؤَدِّينَ زَكَاتَهُنَّ؟ قُلْتُ: لاَ. قَالَ: هُوَ حَسْبُكِ مِنَ النَّارِ

Rasulullah n masuk menemuiku dan melihat beberapa cincin perak tak bermata di tanganku, maka beliau berkata: “Apa ini, wahai ‘Aisyah?”. Aku pun menjawab: “Wahai Rasul Allah, aku membuatnya dalam rangka berhias untukmu”. Rasulullah n berkata: “Apakah engkau telah membayarkan zakatnya?”. Aku berkata: “Belum”. Maka Rasulullah n berkata: “Cukuplah dia yang akan menjerumuskanmu ke dalam neraka.” (HR. Abu Dawud, Ad-Daruquthni, Al-Hakim, dan Al-Baihaqi, dishahihkan oleh Al-Hakim menurut syarat Al-Bukhari Muslim dan dibenarkan oleh Adz-Dzahabi serta Al-Albani dalam Irwa’ Al-Ghalil [3/296-297])

 

• Hadits Ummu Salamah x:

أَنَّهَا كَانَتْ تَلْبَسُ أَوْضَاحًا مِنْ ذَهَبٍ فَسَأَلَتْ عَنْ ذَلِكَ النَّبِيُّ n فَقَالَت: أَكَنْزٌ هُوَ؟ فَقَالَ: مَا بَلَغَ أَنْ تُؤَدَّى زَكَاتُهُ فَزُكِيَ فَلَيْسَ بِكَنْزٍ

Bahwasanya Ummu Salamah x mengenakan beberapa perhiasan emas, kemudian beliau menanyakannya kepada Rasulullah n, maka beliau berkata: “Apakah perhiasan ini kanzun (simpanan harta yang akan menjerumuskanku ke dalam neraka)?” Maka beliau berkata: “Yang jumlahnya mencapai nishab dan dibayarkan zakatnya, maka bukan kanzun.” (HR. Abu Dawud, Ad-Daraquthni, dishahihkan oleh Al-Hakim dan dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahih Abi Dawud no. 1564)2

Ini adalah madzhab Ibnu Hazm3, Abu Hanifah, salah satu riwayat dari Ahmad, dan salah satu pendapat dalam madzhab Asy-Syafi’i. Dipilih oleh Al-Albani, Al-Wadi’i, Ibnu Baz bersama Al-Lajnah Ad-Da’imah, dan Al-’Utsaimin.

Adapun pendapat-pendapat lain, tidak memiliki dalil yang kuat untuk dipegang. Seperti misalnya pendapat yang mengatakan tidak ada zakatnya selama tidak diperuntukkan untuk nafkah atau disewakan. Mereka berdalil dengan hadits:

لَيْسَ فِي الْحُلِيِّ زَكَاةٌ

“Tidak ada zakat pada perhiasan.” (HR. Ibnul Jauzi dalam At-Tahqiq dari Jabir z)

Padahal hadits ini bukan hujjah dan dinyatakan sebagai hadits yang batil oleh Al-Baihaqi dalam Ma’rifah As-Sunan wal Atsar pada Bab Zakat Al-Huliy dan Al-Albani dalam Irwa’ Al-Ghalil no. 817, karena penyandaran hadits ini kepada Rasulullah n sebagai ucapannya, keliru dan dalam sanadnya ada perawi yang dha’if (lemah) bernama Ibrahim bin Ayyub. Riwayat yang benar adalah mauquf (disandarkan kepada Jabir z sebagai ucapannya sendiri), dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf, Asy-Syafi’i dalam Musnad Asy-Syafi’i, dan Al-Baihaqi dalam Ma’rifah As-Sunan dari jalannya Asy-Syafi’i dengan sanad yang dishahihkan oleh Al-Albani dalam Irwa’ Al-Ghalil (3/295).

 

Permasalahan: Emas dan perak yang baru diambil dari pertambangan dengan jumlah yang mencapai nishab, wajib dikeluarkan zakatnya setiap kali sempurna haulnya. Ini adalah pendapat Ishaq bin Rahawaih, salah satu pendapat Asy-Syafi’i, Al-Muzani (sahabat Asy-Syafi’i), Ibnu Hazm, dan Ibnul Mundzir.

Ada sebagian ulama yang berpendapat tidak dipersyaratkan haul pada zakat barang tambang emas dan perak, diqiyaskan (disamakan) dengan zakat hasil tanaman yang juga merupakan hasil bumi. Menurut pendapat ini barang tambang emas dan perak langsung dikeluarkan zakatnya pada saat diambil dari pertambangan.

Namun qiyas ini gugur dengan adanya perbedaan antara keduanya. Hasil tanaman hanya sekali dikeluarkan zakatnya, yaitu pada saat dipanen dan setelah itu tidak. Artinya apabila hasil tanaman jumlahnya besar dan telah dikeluarkan zakatnya pada saat panen, lalu sisanya disimpan hingga tahun depan dan jumlahnya masih mencapai nishab, maka hasil tanaman sisa tahun lalu tersebut tidak dikeluarkan zakatnya untuk yang kedua kalinya. Sedangkan barang tambang emas dan perak zakatnya terulang-ulang zakatnya setiap tahun, selama jumlahnya mencapai nishab. Jadi tepatnya disamakan dengan zakat dinar (emas) dan dirham (perak) yang memiliki persyaratan haul dan zakatnya terulang-ulang setiap tahun, selama jumlahnya mencapai nishab. Karena keumuman dalil wajibnya zakat emas dan perak meliputinya.

 

Nishab emas

Nishab emas adalah dua puluh dinar. Dalam hal ini ada beberapa hadits yang saling menguatkan antara satu dengan yang lainnya, sebagaimana kata Al-Albani dalam Irwa’ Al-Ghalil (813). Di antaranya hadits ‘Ali bin Abi Thalib z:

لَيْسَ فِي أَقَلَّ مِنْ عِشْرِينَ دِيْنَارًا شَيْءٌ، وَفِي عِشْرِينَ دِيْنَارًا نِصْفُ دِيْنَارٍ

“Tidak ada zakat pada dinar yang jumlahnya kurang dari dua puluh dinar dan pada setiap dua puluh dinar zakatnya setengah dinar.” (HR. Abu Dawud, periwayatannya antara riwayat yang marfu’ dan riwayat yang mauquf. Al-Hafizh menghasankannya dalam Bulughul Maram, Al-Albani menshahihkannya dalam Shahih Abi Dawud [1573] dan menyatakannya mauquf dalam Irwa’ Al-Ghalil [3/290-291])

Dinar yang dimaksud adalah dinar Islami yang beratnya satu mitsqal, berarti 20 mitsqal. Al-’Utsaimin menyebutkan dalam kitab Majalis Syahri Ramadhan: “Satu mitsqal beratnya 4,25 gr, maka nishab emas senilai 85 gr.”

Beliau juga berkata dalam Asy-Syarhul Mumti’ (6/103): “Kami telah menelitinya dan hasilnya 85 gr emas murni. Jika ada campuran logamnya sedikit (untuk menguatkan dan mengeraskannya), maka ikut secara hukum dengan emasnya dan tidak berpengaruh. Sebab emas murni itu harus dicampur sedikit dengan logam untuk menguatkan dan mengeraskannya. Jika tidak, akan lunak.4 Jadi ulama mengatakan bahwa campuran ini sedikit dan ikut dengan emasnya secara hukum, ibaratnya seperti tambahan garam pada makanan (sebagai penyedap rasa), tidak merusak.”

 

Nishab perak

Nishab perak adalah 200 dirham Islami yang beratnya 140 mitsqal, yaitu senilai dengan 595 gr perak murni. Hal ini berdasarkan hadits Abu Sa’id Al-Khudri z:

لَيْسَ فِيمَا دُونَ خَمْسَةِ أَوَاقٍ صَدَقَةٌ -وَفِي رِوَايَةٍ لِلْبُخَارِي: لَيْسَ فِيمَا دُونَ خَمْسَةِ أَوَاقٍ من الورِق صَدَقَةٌ

“Tidak ada zakat pada perak yang beratnya kurang dari lima ons.” (HR. Bukhari: 1447, 1459 dan Muslim: 979)

Semakna dengan ini hadits Jabir z yang dikeluarkan oleh Muslim dalam Shahih Muslim (no. 980).

Para ulama sepakat bahwa satu ons senilai 40 dirham Islami, berarti lima ons senilai 200 dirham. Dalam Majalis Syahri Ramadhan dan Asy-Syarhul Mumti’ (6/103) Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin t menerangkan bahwa satu dirham Islami senilai 0,7 mitsqal. Berarti 200 dirham=140 mitsqal, yaitu 595 gr perak.

Ini adalah pendapat jumhur ulama, dipilih oleh ‘Al-’Utsaimin dalam Majalis Syahri Ramadhan dan pendapat ini yang rajih -insya Allah-.

Al-Imam An-Nawawi t berkata: “Yang benar dirham-dirham yang dimutlakkan pada masa Rasulullah n diketahui berat dan kadarnya. Nilai itulah yang terpahami ketika penyebutan dirham dimutlakkan. Dengan nilai itu pula terkait kewajiban zakat serta yang lainnya dari hak-hak serta kadar-kadar yang ditetapkan dalam syariat. Hal ini tidak menafikan adanya dirham-dirham lain yang nilainya lebih kecil atau lebih besar. Maka penyebutan dirham secara mutlak yang disebutkan oleh Rasulullah n dibawa kepada nilai yang telah dikenal itu, yaitu satu dirham senilai enam danaq dan sepuluh dirham senilai tujuh mitsqal. Telah berijma’ (sepakat) generasi awal umat (para sahabat) dan setelahnya hingga sekarang atas nilai ini, dan tidak mungkin mereka berijma’ atas sesuatu yang menyelisihi apa yang telah baku pada masa Rasulullah n dan Al-Khulafa’ Ar-Rasyidun. Wallahu a’lam.”

Permasalahan: Emas dan perak tidak disatukan dalam perhitungan nishab dan zakat. Ini adalah pendapat Ibnu Hazm, Asy-Syafi’i, salah satu riwayat dari Ahmad, dan An-Nawawi menisbahkannya kepada jumhur ulama. Pendapat ini dipilih oleh Asy-Syaukani dan Al-’Utsaimin.

Dalilnya adalah sebagai berikut:

1. Hadits-hadits yang menyebutkan persyaratan nishab emas bahwa tidak ada zakat pada emas yang dimiliki seseorang selama tidak mencapai 20 dinar meliputi seluruh keadaan, baik dalam keadaan tidak punya perak atau punya perak bersama emas yang dimiliknya tersebut. Hadits-hadits yang menyebutkan persyaratan nishab perak bahwa tidak ada zakat pada perak yang dimiliki seseorang selama tidak mencapai lima ons meliputi seluruh keadaan, baik dalam keadaan tidak punya emas atau punya emas bersama perak yang dimilikinya tersebut.

2. Beralasan bahwa keduanya memiliki maksud yang sama sebagai harga/nilai barang-barang dalam transaksi jual beli untuk mengatakan keduanya disatukan dalam perhitungan nishab tidak bisa dibenarkan, karena hal ini batal dengan tidak disatukannya gandum burr dan gandum sya’ir dalam perhitungan nishab, padahal keduanya memiliki maksud yang sama sebagai makanan pokok sehari-hari. Demikian pula antara kambing dan sapi tidak disatukan dalam perhitungan nishab, padahal maksudnya sama dalam rangka dikembangbiakkan.

 

Kadar zakat emas dan perak

Ulama sepakat bahwa kadar zakat yang wajib dibayarkan dari emas dan perak adalah seperempat puluh (2,5 %). Di antara hadits-hadits yang menunjukkan hal ini hadits Abu Bakr Ash-Shiddiq z yang telah kami sebutkan di atas:

وَفِى الرِّقَةِ رُبْعُ الْعُشْرِ

“Dan pada perak zakatnya seperempat puluh …. dst.” (HR. Bukhari:1454)

Peringatan: Tidak ada waqash kecuali pada zakat hewan ternak, berapapun kelebihan yang ada dari nishab tetap keluar zakatnya. Ini adalah pendapat jumhur ulama, berdasarkan hadits-hadits di atas yang memutlakkan wajibnya zakat pada emas atau perak yang dimiliki jika mencapai nishab. Jadi cara mengeluarkannya adalah seperempat puluh (2,5 %) dari seluruh emas atau perak yang dimiliki.5


1 Peringatan: haram atas laki-laki dan wanita untuk memiliki dan menggunakan peralatan gelas dan piring yang terbuat dari emas dan perak, sebagaimana halnya haram atas laki-laki secara khusus untuk mengenakan perhiasan dari emas. Wallahul muwaffiq.

2 Lihat pula Nashbur Rayah (2/381-383).

3 Namun Ibnu Hazm t hanya berdalil dengan keumuman dalil, kerena beliau mendha’ifkan hadits-hadits tersebut.

4 Dan sulit dibentuk sesuai yang diinginkan.

5 Lihat Al-Muhalla no. 682, Bidayatul Mujtahid (2/18-19), Al-Mughni (3/6-7), Al-Majmu’ (5/503-504).

Zakat Biji-bijian dan Buah-Buahan

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad Al-Makassari)

 

Jenis biji-bijian & buah-buahan yang terkena zakat

Tidak semua hasil tanaman yang beraneka ragam itu terkena zakat. Kewajiban zakat hanya terbatas pada beberapa jenis biji-bijian dan buah-buahan menurut pendapat yang benar.

Tidak ada khilaf di antara ulama bahwa jenis biji-bijian berupa gandum sya’ir dan gandum burr (hinthah)1, serta jenis buah-buahan berupa kurma kering (tamr) dan kismis (zabib) terkena kewajiban zakat. Jadi empat jenis ini, berdasarkan kesepakatan ulama, dikenai zakat, walhamdulillah.

Namun ada khilaf dalam hal batasan jenis biji-bijian dan buah-buahan tersebut.  Ada beberapa madzhab dalam permasalahan ini dan madzhab yang terbaik ada tiga, yaitu:

1.  Terbatas pada empat hasil tanaman tersebut, dengan dalil hadits Abu Musa Al-’Asy’ari dan Mu’adz bin Jabal c bahwasanya Nabi n bersabda saat mengutus keduanya ke negeri Yaman:

لاَ تَأْخُذَا فِى الصَّدَقَةِ إِلاَّ مِنْ هَذِهِ الْأَصْنَافِ الْأَرْبَعَةِ: الشَّعِيرِ، وَالْحِنْطَةِ، وَالزَّبِيبِ، وَالتَّمْرِ

“Janganlah kalian berdua memungut zakat dari selain empat jenis ini: gandum sya’ir, gandum hinthah (burr), kismis, dan kurma kering.” (HR. Ibnu Abi Syaibah, Al-Hakim, Ad-Daruquthni, dan Al-Baihaqi)

Hadits ini datang dari banyak jalan riwayat yang berbeda-beda bentuknya, ada yang maushul (bersambung) dan ada yang mursal (terputus). Kesimpulannya, hadits ini dishahihkan oleh Al-Hakim dan dibenarkan oleh Adz-Dzahabi serta Asy-Syaikh Al-Albani.2 Juga Al-Baihaqi, Asy-Syaukani dalam Nailul Authar, dan Asy-Syaikh Muqbil Al-Wadi’i sebagaimana dalam Ijabatus Sa’il menguatkan hadits ini dengan gabungan seluruh jalan riwayat yang ada. Wallahu a’lam.

Hadits ini mengkhususkan keumuman dalil-dalil yang bersifat umum bahwa hal itu terbatas hanya pada empat jenis hasil tanaman tersebut. Dalil-dalil yang bersifat umum itu seperti firman Allah l:

“Wahai orang-orang yang beriman, infaqkanlah apa-apa yang baik dari penghasilanmu dan dari apa-apa yang Kami keluarkan untuk kalian dari bumi.” (Al-Baqarah: 267)

“Dan hendaklah kalian mengeluarkan zakatnya pada hari panennya.” (Al-An’am: 141)

Hadits Ibnu ‘Umar c:

فِيمَا سَقَتِ السَّمَاءُ وَالْعُيُونُ أَوْ كَانَ عَثَرِيًّا الْعُشْرُ، وَمَا سُقِيَ بِالنَّضْحِ نِصْفُ الْعُشْرِ

“Tanaman yang pengairannya dengan air hujan dan mata air, atau mengisap air dengan akarnya, zakatnya sepersepuluh. Sedangkan tanaman yang pengairannya dengan nadh3 bantuan binatang (unta atau sapi) untuk mengangkut air, zakatnya seperdua puluh.” (HR. Al-Bukhari no. 1483)

Hadits Jabir bin ‘Abdillah z:

فِيمَا سَقَتِ الْأَنْهَارُ وَالْغَيْمُ الْعُشُورُ، وَفِيمَا سُقِيَ باِلسَّانِيَةِ نِصْفُ الْعُشْرِ

“Tanaman yang diairi dengan air sungai dan air hujan zakatnya sepersepuluh, sedangkan tanaman yang pengairannya dengan as-saniyah4 zakatnya seperdua puluh.” (HR. Muslim no. 981)

Hadits Abu Sa’id Al-Khudri z:

لَيْسَ فِيمَا دُونَ خَمْسَةِ أَوْسُقٍ صَدَقَةٌ

“Tidak ada zakat pada hasil tanaman yang takarannya kurang dari lima wasaq.” (HR. Al-Bukhari no. 1447, 1484 dan Muslim no. 979)

Ini adalah pendapat Ibnu ‘Umar, Al-Hasan Al-Bashri, Ibnu Sirin, Ibnul Mubarak, Sufyan Ats-Tsauri, Abu ‘Ubaid Al-Qasim bin Sallam, salah satu riwayat dari Ahmad, dipilih oleh Asy-Syaukani, Ash-Shan’ani, Al-Albani, guru besar kami Al-Wadi’i.

 

2. Terbatas pada biji-bijian dan buah-buahan yang ditakar dan disimpan lama untuk dikonsumsi sebagai makanan pokok sehari-hari keumuman manusia.

Pendapat ini juga berdalilkan dengan hadits Abu Musa Al-Asy’ari dan Mu’adz bin Jabal c di atas, dengan pemahaman bahwa hadits ini menunjukkan pembatasan pada hasil tanaman yang sifatnya seperti empat jenis hasil tanaman tersebut, yaitu yang bersifat sebagai makanan pokok sehari-hari. Namun dengan syarat hasil tanaman itu merupakan sesuatu yang ditakar berdasarkan hadits Abu Sa’id Al-Khudri z di atas, karena hadits tersebut menunjukkan diperhitungkannya takaran pada zakat hasil tanaman.

Ini adalah pendapat Asy-Syafi’i dan Malik, dirajihkan oleh Al-’Utsaimin dalam Fathu Dzil Jalali wal Ikram. Menurut pendapat ini, beras dan jagung terkena zakat. Adapun buah-buahan, dalam pandangan Asy-Syafi’i dan Malik, tidak ada yang terkena zakat kecuali kurma kering dan kismis, karena tidak ada buah selain keduanya yang ditakar dan dikonsumsi sebagai makanan pokok sehari-hari.

 

3. Terbatas pada biji-bijian dan buah-buahan yang ditakar dan disimpan lama, meskipun tidak dikonsumsi sebagai makanan pokok sehari-sehari. Pendapat ini berdalilkan dengan keumuman hadits Abu Sa’id Al-Khudri z di atas yang memperhitungkan takaran tanpa memperhitungkan sifatnya sebagai makanan pokok.

Ini adalah salah satu riwayat dari Ahmad dan dirajihkan oleh Al-’Utsaimin dalam Asy-Syarhul Mumti’.

Pendapat pertama dan kedua lebih kuat dari pendapat yang ketiga, dan kami lebih condong kepada pendapat yang pertama. Wallahu a’lam.

 

Nishab biji-bijian & buah-buahan yang terkena zakat

Dalil yang menetapkan nishab biji-bijian dan buah-buahan adalah hadits Abu Sa’id Al-Khudri z di atas:

لَيْسَ فِيمَا دُونَ خَمْسَةِ أَوْسُقٍ صَدَقَةٌ

“Tidak ada zakat pada hasil tanaman yang takarannya kurang dari lima wasaq.” (Muttafaq ‘alaih)

Berdasarkan hadits ini nishabnya senilai lima wasaq. Satu wasaq senilai enam puluh sha’ Nabi n berdasarkan ijma’ (kesepakatan) ulama, dan satu sha’ Nabi n senilai empat mud. Maka lima wasaq senilai tiga ratus sha’ Nabi n.

Untuk menjaga takaran sha’ Nabi n para ulama mengalihkannya ke dalam berat timbangan. Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin t menyatakan dalam Asy-Syarhul Mumti’ (6/76) bahwa satu sha’ Nabi n senilai dengan dua kilo empat puluh gram (2,04 kg) gandum burr berkualitas bagus.

Dalam Majmu’ Ar-Rasa’il (18/274) beliau menyatakan: “Nilai ini telah diqiyaskan ke beras dan hasilnya senilai dua kilo seratus gram (2,1 kg).” Jika ingin membuat alat takar yang senilai dengan sha’ Nabi n, maka ambil saja beras berkualitas bagus senilai 2,1 kg, lalu masukkan dalam wadah yang hendak dibuat sebagai alat takar, maka wadah sepenuh 2,1 kg itulah alat takar yang senilai satu sha’.5

Nishab 300 sha’ yang diperhitungkan pada buah anggur adalah 300 sha’ zabib/kismis (anggur kering), bukan 300 sha’ ‘inab/anggur basah yang belum mengering jadi kismis.

Demikian pula pada kurma, yang diperhitungkan adalah 300 sha’ tamr/kurma kering, bukan 300 sha’ ruthab/kurma basah yang belum mengering jadi tamr. Maka buah anggur tidak terkena zakat hingga takaran kismisnya mencapai 300 sha’, dan tidak ada zakat pada kurma hingga takaran tamrnya mencapai 300 sha’.

Nishab yang diperhitungkan pada biji-bijian adalah 300 sha’ setelah dibersihkan dari jeraminya dan yang lainnya. Sementara kulitnya terbagi dalam tiga jenis:

• Kulit yang dikupas sebelum penyimpanan biji dan tidak dimakan bersama bijinya. Maka kulit seperti ini tidak masuk dalam perhitungan nishab. Jadi biji tersebut ditakar dalam keadaan murni biji tanpa kulit. Jika takarannya mencapai tiga ratus sha’, berarti mencapai nishab dan terkena zakat.

• Kulit yang ikut disimpan bersama biji serta dimakan bersamanya. Maka kulitnya masuk dalam perhitungan nishab, karena kulit tersebut merupakan makanan. Meskipun terkadang kulit tersebut dikupas dan dibuang, namun pada asalnya dimakan bersama bijinya.

Contohnya, jagung. Jika takaran biji jagung bersama kulitnya mencapai 300 sha’, berarti mencapai nishab dan terkena zakat.

•  Kulit yang ikut disimpan bersama biji, namun tidak dimakan bersama bijinya. Maka kulit tersebut tidak masuk dalam perhitungan nishab, namun bijinya ditakar dalam keadaan masih berkulit. Para ulama  pun mengatakan bahwa bijinya mencapai nishab jika takarannya bersama bijinya mencapai sepuluh wasaq, yaitu 600 sha’. Artinya bijinya keluar dengan nilai setengah takaran. Contohnya, beras dan ‘alas (sejenis gandum hinthah). Jika takaran biji beras atau ‘alas bersama kulitnya mencapai 600 sha’, berarti mencapai nishab dan terkena zakat.

Biji-bijian dan buah-buahan sejenis yang merupakan hasil panen dalam setahun digabungkan jadi satu dalam perhitungan nishab dan pengeluaran zakatnya, meskipun waktu panennya tidak serentak. Sedangkan yang berbeda jenis tidak disatukan dalam perhitungan nishab dan zakat. Maka gandum sya’ir, gandum hinthah, dan beras (menurut pendapat yang menganggap beras terkena zakat) -misalnya- tidak disatukan dalam perhitungan nishab dan zakat.

Adapun jika ditanam dua kali dalam setahun maka hasil panen yang kedua digabungkan dengan hasil panen yang pertama dalam perhitungan nishab dan pengeluaran zakat, menurut pendapat yang dirajihkan oleh Ibnu Qudamah t. Pendapat yang lain mengatakan bahwa keduanya tidak disatukan.

 

Peringatan

1. Ibnu Qudamah t dalam Al-Mughni (2/440) berkata: “Nishab ini dianggap sebagai batas yang harus tercapai. Kapan kurang dari nishab, maka tidak terkena zakat. Kecuali jika hanya kurang sedikit, seperti kurang satu ons dan semisalnya yang masuk dalam takaran, maka tidak dianggap berpengaruh (tetap dianggap mencapai nishab). Hal ini seperti kekurangan satu jam atau dua jam pada haul.”

2. Tidak ada waqas pada zakat hasil tanaman, yaitu kelebihan dari nishab yang tidak terkena zakat (Silakan lihat kembali keterangan tentang waqas dalam Kajian Utama: Zakat Hewan Ternak, red.). Maka berapapun kelebihan takarannya dari nishab tetap keluar zakatnya, meskipun hanya lebih satu sha’. Jadi cara mengeluarkan zakatnya adalah sepersepuluh atau seperdua puluh dari seluruh takaran yang ada.

 

Waktu wajibnya zakat pada tanaman & waktu wajibnya pembayaran

Jika tanaman biji-bijian dan buah-buahan sudah menampakkan hasil, yaitu sudah ada sebagian biji yang mengeras dan sudah ada sebagian buah yang matang yang ditandai dengan berwarna merah atau kuning, berarti hasil tanaman sudah terkena kewajiban zakat jika mencapai nishab. Hal ini merupakan waktu wajibnya zakat pada tanaman menurut pendapat yang rajih, artinya bahwa pada tanaman itu sudah ada bagian yang merupakan hak ahli zakat (yang berhak dapat zakat). Namun bukan berati zakatnya wajib dikeluarkan saat itu, karena hal itu bukan waktu wajibnya pembayaran zakat. Jika dia menjual tanahnya bersama tanamannya sebelum waktu wajibnya zakat, maka dia tidak terkena kewajiban zakat dan yang terkena kewajiban zakat adalah pembelinya.6 Apabila pemilik tanaman itu meninggal sebelum waktu wajibnya zakat, maka dia tidak terkena kewajiban zakat dan yang terkena kewajiban zakat adalah ahli warisnya yang mewarisi tanaman tersebut.

Mungkin ada yang bertanya, bagaimana cara mengetahui bahwa hasil tanaman yang belum dipanen mencapai nishab?

Jawabannya, hal itu diketahui dengan cara kharsh (perkiraan) yang dilakukan oleh ahlinya. Ahlinya menaksir apakah hasil tanaman yang ada takarannya dalam bentuk kismis, tamr, biji yang telah bersih (dari jerami dan selainnya) mencapai nishab atau tidak.

Jika hasil tanaman telah dipanen, lalu buah anggur mengering jadi kismis, buah kurma mengering jadi tamr, biji dibersihkan dari jerami dan selainnya, maka itulah waktu diwajibkannya pembayaran zakat. Hal ini berdasarkan firman Allah l:

ﯕ ﯖ ﯗ ﯘ

“Dan hendaklah kalian mengeluarkan zakatnya pada hari panennya.” (Al-An’am: 141)

Perlu diketahui bahwa biaya pengurusan hasil tanaman hingga anggur menjadi kismis, kurma menjadi tamr, biji dibersihkan dari jerami, dan selainnya, seluruhnya merupakan tanggung jawab pemilik tanaman dan tidak ada kaitannya dengan ahli zakat.

 

Kadar zakat yang wajib dikeluarkan

Kadar zakat hasil tanaman yang wajib dikeluarkan telah diatur oleh Rasulullah n dalam beberapa hadits, seperti hadits Ibnu ‘Umar c dalam Shahih Al-Bukhari dan hadits Jabir bin ‘Abdillah z dalam Shahih Muslim yang telah disebutkan di atas7, juga hadits Ibnu ‘Umar c dalam Mushannaf Ibnu Abi Syaibah dan Sunan Al-Baihaqi yang telah kami sebutkan pada Syarat-Syarat Wajibnya Zakat8. Pada hadits-hadits tersebut, Rasulullah n membagi dua kadar zakat yang wajib dikeluarkan sesuai dengan cara pengairannya sebagai berikut:

1. Tanaman yang wajib dikeluarkan zakatnya sebesar sepersepuluh dari seluruh hasil tanaman yang ada, yaitu tanaman yang diairi tanpa alat pengangkut air dan beban biaya yang besar. Jenis ini meliputi tiga hal:

– Yang diairi dengan air hujan (tadah hujan).

– Yang diairi dengan air sungai atau mata air secara langsung, tanpa butuh biaya dan alat untuk mengangkutnya. Meskipun pada awalnya seseorang butuh untuk membuat saluran di tanah sebagai tempat aliran air sungai itu ke areal tanamannya di mana hal ini butuh sedikit biaya, namun setelahnya air mengalir ke tanaman secara langsung dan tidak butuh untuk diangkut dengan alat dan biaya yang besar.

– Yang mengisap air dengan akar-akarnya, karena ditanam di tanah yang permukaannya dekat dari air atau ditanam di dekat sungai, sehingga akar-akarnya mencapai air dan mengisapnya.

2. Tanaman yang wajib dikeluarkan zakatnya sebesar seperdua puluh dari seluruh hasil tanaman yang ada, yaitu tanaman yang diairi dengan bantuan alat pengangkut air dan beban biaya yang besar. Jenis ini meliputi beberapa hal:

– Yang diairi dengan bantuan unta atau sapi/kerbau untuk mengangkutnya, sebagaimana pada hadits Ibnu ‘Umar c dalam Shahih Al-Bukhari dan hadits Jabir z dalam Shahih Muslim.

– Yang diairi dengan bantuan alat timba, sebagaimana pada hadits Ibnu ‘Umar c dalam Mushannaf Ibnu Abi Syaibah dan Sunan Al-Baihaqi.

– Yang diairi dengan bantuan alat kincir air atau mesin air.

Ibnu Qudamah t berkata dalam Al-Mughni (2/438-439): “Jika air sungai mengalir melalui saluran air menuju suatu tempat yang jaraknya dekat dari tanaman dan tertampung di tempat itu, kemudian air tersebut harus diangkut ke tanaman dengan bantuan timba atau kincir air, maka hal ini merupakan beban biaya yang menggugurkan setengah kadar zakat yang wajib dikeluarkan (dari sepersepuluh menjadi seperdua puluh). Karena perbedaan besar kecilnya biaya serta jauh dekatnya air yang diangkut tidak berpengaruh, kriterianya adalah butuhnya air itu untuk diangkut ke tanaman dengan bantuan alat berupa timba, binatang, kincir, dan semacamnya.”

Wallahu a’lam.


1 Juga dikenal dengan qamh. Lihat: Lisanul ‘Arab dan kamus-kamus Arab lainnya.
2 Al-Albani t mengingatkan bahwa dalam hadits ini ada tambahan riwayat yang mungkar, yaitu lafadz الذُّرَةِ artinya “jagung”. Lihat Irwa’ul Ghalil (3/278), Tamamul Minnah (hal. 369-371).
3 An-nadh adalah cara mengairi tanaman dengan menggunakan bantuan binatang unta atau sapi untuk mengangkut air dari sumur atau sungai, yang jantan disebut an-nadhih dan yang betina disebut an-nadhihah. Juga dinamakan dengan as-saniyah seperti pada hadits Jabir bin ‘Abdillah z setelahnya.
4 Lihat catatan kaki sebelumnya.
5 Sedangkan Al-Lajnah Ad-Da’imah berfatwa sebagaimana dalam Fatawa Al-Lajnah (9/371) bahwa satu sha’ Nabi n senilai kurang lebih tiga kilogram (3 kg) beras. Sebenarnya tidak ada pertentangan antara fatwa Al-’Utsaimin dengan fatwa Al-Lajnah, karena ketika nilai satu sha’ yang merupakan satuan takaran dialihkan ke satuan timbangan, maka berat jenis biji yang ditimbang memengaruhi nilai berat timbangan yang dihasilkan. Wallahu a’lam.
6 Perhatian: Adapun menjual tanamannya saja tanpa dijual bersama tanahnya, tidaklah diperbolehkan sebelum tanaman itu menampakkan hasil dengan mengerasnya biji dan matangnya buah (praktik terlarang seperti ini biasanya dijumpai dalam sistem ijon, red.).
7 Hal. 21
8 Hal. 10

Zakat Hewan Ternak

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad Al-Makassari)

 

Jenis hewan ternak yang terkena zakat

Hewan ternak yang terkena zakat ada tiga jenis, yaitu unta, sapi, dan kambing/ domba.

Unta meliputi unta ‘irab (unta Arab) yang berpunuk satu dan unta bakhathi1 yang berpunuk dua. Sapi meliputi seluruh jenis sapi ternak dan kerbau. Ibnul Mundzir t telah menukil ijma’ ulama dalam Al-Ijma’ (no. 91) bahwa kerbau termasuk jenis sapi yang terkena zakat. Syaikhul Islam t menukilnya dari Ibnul Mundzir t dalam Majmu’ Fatawa (25/37).

Ibnu Qudamah t berkata dalam Al-Mughni (2/373): “Kami tidak mengetahui khilaf dalam hal ini.” Adapun sapi liar/banteng, tidak dikenai zakat menurut Ibnu Qudamah t beserta jumhur (mayoritas) ulama. Hujjahnya, sapi liar/banteng tidak termasuk binatang ternak seperti halnya binatang liar lainnya yang tidak terkena zakat.

Kambing meliputi kambing biasa dan domba/biri-biri.

Tidak ada khilaf di kalangan fuqaha’ bahwa kambing dan domba disatukan dalam perhitungan nishab dan zakat. Demikian pula seluruh jenis sapi dan kerbau yang beragam jenisnya disatukan dalam perhitungan nishab dan zakat. Juga seluruh jenis unta yang beragam jenisnya disatukan dalam perhitungan nishab dan zakat.

Adapun yang berbeda jenis tidak disatukan antara satu dengan yang lainnya dan tidak ada khilaf pula dalam hal ini. Maka kambing tidak disatukan dengan sapi dan unta dalam perhitungan nishab dan zakat.

Perlu diketahui bahwa memelihara hewan ternak ada beberapa tujuan:

1. Untuk diternak/dikembangbiakkan dan diperah susunya.

Jenis inilah yang terkena zakat dengan syarat bersifat sa’imah, yaitu diternak dengan cara digembalakan supaya makan rumput dan tumbuhan yang tumbuh secara liar sepuasnya, tanpa mengeluarkan tenaga dan biaya untuk melayani makannya. Adapun yang bersifat ‘alufah, yaitu yang memakan tenaga dan biaya untuk melayani makannya, baik dengan cara disabitkan rumput, dibelikan atau ditanamkan rumput di suatu tempat dan digembalakan di situ, maka jenis ini tidak terkena zakat. Ini adalah pendapat Ahmad, Asy-Syafi’i, Abu Hanifah, dan jumhur ulama. Dipilih oleh Syaikhul Islam, Asy-Syaukani, dan Al-’Utsaimin.

Dalilnya adalah hadits Anas bin Malik z bahwa Abu Bakr Ash-Shiddiq z menulis kitab zakat kepadanya ketika mengutusnya sebagai ‘amil (petugas zakat) ke negeri Bahrain, di antara isinya:

وَفِى صَدَقَةِ الْغَنَمِ فِى سَائِمَتِهَا إِذَا كَانَتْ أَرْبَعِينَ إِلَى عِشْرِينَ وَمِائَةٍ شَاةٌ، فَإِذَا زَادَتْ عَلَى عِشْرِينَ وَمِائَةٍ إِلَى مِائَتَيْنِ شَاتَانِ، فَإِذَا زَادَتْ عَلَى مِائَتَيْنِ إِلَى ثَلاَثِمِائَةٍ فَفِيهَا ثَلاَثٌ، فَإِذَا زَادَتْ عَلَى ثَلاَثِمِائَةٍ فَفِى كُلِّ مِائَةٍ شَاةٌ، فَإِذَا كَانَتْ سَائِمَةُ الرَّجُلِ نَاقِصَةً مِنْ أَرْبَعِينَ شَاةً وَاحِدَةً فَلَيْسَ فِيهَا صَدَقَةٌ، إِلاَّ أَنْ يَشَاءَ رَبُّهَا

“Pada zakat ghanam (domba/kambing) pada ghanam yang bersifat sa’imah. Jika jumlahnya 40-120 ekor, maka zakatnya satu ekor syah (kambing/domba). Jika jumlahnya lebih dari 120 hingga 200 ekor, maka zakatnya dua ekor syah. Jika jumlahnya lebih dari 200 hingga 300 ekor, maka zakatnya tiga ekor syah. Jika jumlahnya lebih dari 300 ekor, maka pada setiap seratus ekor zakatnya satu ekor syah. Jika jumlah sa’imah seseorang kurang satu ekor saja dari empat puluh, maka tidak ada zakatnya, kecuali jika pemiliknya menghendaki (untuk bersedekah).” (HR. Al-Bukhari no. 1454)

Hadits Mu’awiyah bin Haidah z, Rasulullah n bersabda:

فِي كُلِّ إِبِلٍ سَائِمَةٍ فِي كُلِّ أَرْبَعِينَ ابْنَةُ لَبُونٍ … الْـحَدِيثَ

“Pada setiap unta yang bersifat sa’imah untuk setiap empat puluh ekor unta zakatnya bintu labun2 … dst.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan An-Nasa’i, dari Bahz bin Hakim dari ayahnya dari kakeknya Mu’awiyah bin Haidah, dishahihkan oleh Al-Hakim dan dibenarkan oleh Adz-Dzahabi. Al-Albani berkata dalam Irwa’ Al-Ghalil [3/264]: “Hadits ini hanya hadits hasan, karena adanya khilaf yang telah diketahui tentang Bahz bin Hakim.”)

Kedua hadits ini menunjukkan persyaratan sa’imah pada zakat kambing/domba dan unta. Adapun zakat sapi diqiyaskan kepada keduanya, karena ketiganya memiliki makna yang sama dalam hal ini.

Pertanyaannya, apakah dipersyaratkan sai’mah dalam setahun penuh atau tidak? Dalam hal ini ada khilaf:

Asy-Syafi’i t mempersyaratkan hal itu dan pendapat ini didukung oleh Asy-Syaukani t. Sepertinya yang rajih adalah pendapat Ahmad dan Abu Hanifah rahimahumallah yang mengatakan bahwa hal itu bukan syarat, dan pendapat ini didukung oleh Al-‘Utsaimin t. Hujjahnya adalah keumuman dalil yang mewajibkan zakat pada hewan ternak, sedangkan sifat sa’imah pada ternak tidaklah menjadi hilang dengan sekadar dilayani makanannya dalam kurun waktu yang singkat dalam setahun. Apalagi hal ini tidak mungkin terhindar pada pemeliharaan hewan ternak, sehingga jika hal ini dianggap membatalkan sifat sa’imah padanya akan berkonsekuensi tidak ada zakat sama sekali pada hewan ternak. Jadi yang diperhitungkan dalam menyifati sa’imah/tidaknya adalah yang mendominasi. Jika digembalakan untuk makan rumput secara bebas dalam kurun waktu lebih dari enam bulan, berarti disifati sa’imah karena hal itu yang mendominasi. Sebaliknya, jika dilayani makanannya dalam kurun waktu lebih dari enam bulan, berarti ‘alufah dan bukan sa’imah, karena hal itu yang mendominasi. Jika sebanding enam bulan enam bulan, maka tidak terkena zakat, karena pada asalnya hewan ternak tidak terkena zakat hingga memiliki sifat sa’imah dan dalam hal ini tidak bisa disifati sebagai sa’imah.

 

2. Untuk dimanfaatkan tenaganya sebagai ‘awamil (hewan pekerja).

Unta dipekerjakan untuk mengangkut  (barang) atau mengairi sawah ladang. Sapi untuk membajak sawah atau untuk mengairi sawah ladang. Sedangkan kambing dan domba tidak digunakan sebagai ‘awamil. Awamil tidak ada zakatnya, sebagaimana kata jumhur ulama seperti Ahmad, Asy-Syafi’i, Abu Hanifah, Ats-Tsauri, serta yang lainnya. Dalam masalah ini ada hadits ‘Ali z:

لَيْسَ فِي الْبَقَرِ الْعَوَامِلِ صَدَقَةٌ

“Tidak ada zakat pada sapi pekerja.” (HR. Abu Dawud dan Ad-Daraquthni)

Namun keshahihannya diperselisihkan oleh ahlul hadits. Al-Albani t menshahihkannya dalam Shahih Abi Dawud (no. 1572), sedangkan Al-Hafizh Ibnu Hajar t mengatakan dalam Bulughul Maram: “Yang rajih hadits ini mauquf atas ‘Ali (perkataan ‘Ali).”

Ada beberapa hadits yang lain, namun semuanya dha’if (lemah). Hadits-hadits didhaifkan oleh Al-Albani dalam Dha’if Al-Jami’ (no. 4904, 4905). Hadits-hadits ini juga didha’ifkan oleh Asy-Syaukani dalam As-Sailul Jarrar (2/36-37).

Hal ini dikuatkan dari sisi makna bahwa kedudukannya seperti halnya keledai, baghal (peranakan keledai dan kuda, red.), dan kuda yang digunakan sebagai tunggangan serta angkutan. Juga menyerupai budak-budak yang dimiliki dan perabot-perabot rumah, sementara harta-harta ini tidak ada zakatnya berdasarkan hadits Abu Hurairah z:

لَيْسَ عَلَى الْـمُسْلِمِ فِي عَبْدِهِ وَلَا فَرَسِهِ صَدَقَةٌ

“Tidak ada kewajiban zakat atas diri seorang muslim pada budak dan kudanya.” (HR. Al-Bukhari no. 1464 dan Muslim no. 982)

Tidak ada yang menyelisihi jumhur dalam masalah ini selain Al-Imam Malik dan Al-Laits rahimahumallah yang berpendapat ada zakatnya.

 

Nishab hewan ternak & kadar zakat yang wajib dibayarkan

Mengingat bahwa di Indonesia ini tidak ada yang beternak unta, maka kami sengaja tidak membahasnya secara rinci dan kami fokuskan pembahasan pada zakat sapi dan domba/kambing.

1. Sapi tidak terkena zakat hingga jumlahnya mencapai nishab terminim, yaitu 30 ekor. Rinciannya sebagai berikut:

• 30 ekor, zakatnya satu ekor tabi’/jadza’ (sapi jantan yang berusia satu tahun lebih) atau tabi’ah/jadza’ah (sapi betina yang berusia satu tahun lebih).

• 40 ekor, zakatnya satu ekor musinnah/tsaniyyah (sapi betina yang berusia dua tahun lebih).

Nishab yang terminim 30 ekor dan zakatnya satu ekor tabi’/jadza’ atau tabi’ah/jadza’ah, berapapun lebihnya tidak terkena zakat hingga mencapai nishab berikutnya. Nishab berikutnya 40 ekor dan zakatnya satu ekor musinnah/tsaniyyah, berapapun lebihnya tidak terkena zakat hingga mencapai jumlah nishab yang pertama atau jumlah nishab yang kedua.

Rincian ini berdasarkan hadits Mu’adz bin Jabal z:

أَنَّ النَّبِيَّ n بَعَثَهُ إِلَى الْيَمَنِ، فَأَمَرَهُ أَنْ يَأْخُذَ مِنْ كُلِّ ثَلَاثِينَ بَقَرَةً تبيعاً أَوْ تَبِيعَةً، وَمِنْ كُلِّ أَرْبَعِينَ مُسِنَّةٌ

“Bahwasanya Nabi n mengutusnya ke negeri Yaman, maka beliau memerintahkan kepadanya untuk memungut zakat dari setiap 30 ekor sapi satu ekor tabi’ atau tabi’ah dan dari setiap 40 ekor satu ekor musinnah.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, Ibnu Majah, dihasankan oleh At-Tirmidzi dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban, Al-Hakim, Adz-Dzahabi, Ibnu ‘Abdil Barr, Syaikhul Islam dalam Majmu’ Al-Fatawa [25/36], serta Al-Albani dalam Irwa’ Al-Ghalil no [795])

Inilah rincian zakat sapi menurut pendapat yang benar, yaitu pendapat jumhur ulama. Wallahul muwaffiq.

2. Kambing dan domba tidak terkena zakat hingga jumlahnya mencapai nishab terminim, yaitu 40 ekor. Rinciannya sebagai berikut:

• 40-120 ekor, zakatnya satu ekor domba jadza’ah (domba betina yang berusia enam bulan lebih) atau kambing tsaniyyah/musinnah (kambing betina yang berusia setahun lebih).3

• 121-200 ekor, zakatnya dua ekor domba jadza’ah atau kambing tsaniyyah/musinnah.

• 201-300 ekor, zakatnya tiga ekor domba jadza’ah atau kambing tsaniyyah/musinnah.

• Lebih dari 300 ekor zakatnya satu ekor domba jadza’ah atau kambing tsaniyyah/musinnah pada setiap seratus ekornya.

Nishab yang terminim 40 ekor dan zakatnya satu ekor, berapapun lebihnya tidak ada zakatnya hingga mencapai nishab berikutnya. Nishab berikutnya 121 ekor dan zakatnya dua ekor, berapapun lebihnya tidak ada zakatnya hingga mencapai nishab berikutnya. Nishab berikutnya 201 dan zakatnya tiga ekor, berapapun lebihnya tidak ada zakatnya hingga mencapai nishab berikutnya.

Nishab berikutnya 300 ekor dan zakatnya satu ekor pada setiap seratus ekornya, berarti 300 ekor zakatnya tiga ekor, berapapun lebihnya tidak ada zakatnya hingga mencapai kelipatan seratus berikutnya, maka keluar empat ekor, dan seterusnya.

Rincian tersebut disepakati oleh ulama, kecuali rincian nishab terakhir yang diperselisihkan oleh ulama. Yang kami sebutkan adalah madzhab jumhur berdasarkan hadits Abu Bakr Ash-Shiddiq z yang telah kami sebutkan di atas.

Berdasarkan apa yang kami sebutkan di atas, zakatnya adalah domba betina yang berusia jadza’ah atau kambing betina yang berusia tsaniyyah/musinnah. Namun apakah sah dibayarkan dengan domba jadza’ jantan atau kambing tsaniyy?

Ada khilaf di kalangan ulama. Yang rajih adalah pendapat Asy-Syafi’i t dan difatwakan oleh Al-Lajnah Ad-Da’imah bahwa sah, karena Rasulullah n dalam hadits memutlakkan lafazh syah4 (kambing/domba) yang meliputi jantan dan betina, sebagaimana halnya pada hewan qurban yang juga meliputi jantan dan betina. Wallahu a’lam.

 

Waqas pada zakat hewan ternak

Pada rincian di atas kita mendapati ada jumlah hewan ternak yang tidak terkena zakat, yaitu kelebihan dari nishab yang tidak mencapai nishab berikutnya. Jumlah antara dua nishab yang tidak terkena zakat ini dinamakan waqas.

Sebagai contoh, waqas pada sapi antara 30 ekor dengan 40 ekor adalah 9 ekor, 9 ekor tersebut tidak ada zakatnya. Waqas pada kambing/domba antara 40 ekor dengan 121 ekor adalah 80 ekor, 80 ekor tersebut tidak ada zakatnya.

Waqas ini hanya ada pada zakat hewan ternak dan tidak ada pada zakat harta lainnya.


1 Dikenal di benua Afrika. Asy-Syarhul Mumti’ (6/51).

2 Bintu labun adalah anak unta betina yang umurnya telah sempurna dua tahun dan sudah masuk tahun ketiga.

3 Tafsiran domba jadza’ah dan kambing tsaniyyah dengan batasan umur yang kami sebutkan adalah pendapat Hanabilah dan Hanafiyyah, dipilih oleh Al-‘Utsaimin dalam Asy-Syarhul Mumti’ (7/460) dan Ahkam Al-Udhhiyyah, serta Ibnu Baz bersama Al-Lajnah Ad-Da’imah dalam Fatawa Al-Lajnah (11/414-415). Pendapat yang lain menyatakan domba jadza’ah adalah yang berumur setahun lebih. Al-Mughni (2/380), Al-Majmu’ (5/362).

4 Pada hadits Abu Bakr Ash-Shiddiq z yang telah lewat, baik pada zakat kambing/domba maupun pada zakat unta jika zakatnya kambing/domba.

Jenis-jenis Harta yang Terkena Zakat

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad Al-Makassari)

 

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t dalam Majmu’ Al-Fatawa (25/8) menerangkan bahwa zakat hanya disyariatkan pada jenis-jenis harta yang mengalami pertambahan. Ada yang bertambah dengan zatnya itu sendiri, seperti binatang ternak dan hasil bumi. Ada pula yang bertambah dengan pergantian zat dan penggunaannya, seperti emas.

Semakna dengan ini adalah pernyataan Al-’Allamah Ibnu ‘Utsaimin t dalam Asy-Syarhul Mumti’ (6/17): “Zakat tidak diwajibkan atas setiap harta. Zakat hanya diwajibkan atas harta yang mengalami pertambahan secara hakiki atau secara hukum. Yang bertambah secara hakiki seperti: hewan ternak, biji-bijian dan buah-buahan, dan harta perdagangan. Yang bertambah secara hukum seperti: emas dan perak jika tidak diperdagangkan. Sebab meskipun keduanya tidak bertambah, namun secara hukum dianggap bertambah, karena kapan saja seseorang menghendaki dia bisa memperdagangkannya.”

Al-Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah t dalam Zadul Ma’ad (2/5): “Rasulullah n mewajibkan zakat pada empat jenis harta yang merupakan harta-harta yang paling banyak beredar di kalangan manusia dan kebutuhan akan mereka demikian urgen, yaitu:

1. Binatang ternak berupa unta, sapi, dan kambing/domba.

2. Biji-bijian dan buah-buahan (hasil tanaman).

3. Dua benda yang merupakan penopang alam semesta, yaitu emas dan perak.

4. Harta perdagangan dengan berbagai macamnya.

Empat jenis harta yang disebutkan di atas semuanya disepakati oleh ulama, kecuali harta perdagangan. Ada khilaf di antara ulama apakah harta perdagangan terkena zakat atau tidak. Permasalahan ini telah kami bahas pada Rubrik Problema Anda edisi 45 dengan judul Zakat Uang, maka pada kajian ini kami tidak mengulanginya.

Syarat-syarat Wajibnya Zakat

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad Al-Makassari)

 

Betapa agung dan sempurna syariat Islam yang telah diridhai Allah l yang Maha mengetahui lagi Maha Bijak untuk mengatur kehidupan umat manusia. Syariat yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk aspek yang terkait dengan harta benda mereka yang merupakan penopang keberlangsungan maslahat hidup manusia.

Ketika hikmah Allah l menghendaki adanya perbedaan nasib di antara hamba-hamba-Nya, ada yang ditakdirkan sebagai orang kaya dan ada pula yang ditakdirkan sebagai fakir miskin yang serba kekurangan, maka Allah l mensyariatkan adanya zakat dan shadaqah untuk menyantuni kaum fakir miskin dan golongan lainnya yang membutuhkan.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t dalam Majmu’ Al-Fatawa (25/8) menjelaskan: “Syariat ini telah memahamkan kepada kita bahwasanya zakat mal disyariatkan dengan tujuan menyantuni orang-orang yang membutuhkan.”
Al-’Allamah Al-Faqih Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin t menerangkan dalam Asy-Syarhul Mumti’ (6/11-12, terbitan Muassasah Asam) bahwa di antara faedah zakat adalah terciptanya suatu komunitas Islami layaknya sebuah keluarga yang satu. Yang mampu membantu mereka yang tidak mampu dan yang berpunya menyantuni mereka yang mengalami kesulitan hidup. Dengan zakat, seseorang beribadah kepada Allah l melaksanakan kewajiban dan bersamaan dengan itu, dia secara otomatis telah membantu saudara-saudaranya yang membutuhkan. Sehingga saudaranya pun merasa bahwa dia mempunyai saudara-saudara yang suka memerhatikan dan berbuat baik kepadanya, sebagaimana Allah l telah berbuat baik kepada mereka. Allah l berfirman:
“Dan berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu.” (Al-Qashash: 77)
Zakat menurut tinjauan bahasa (etimologi) artinya pertambahan, pertumbuhan, dan perkembangan. Namun bisa pula berarti pembersihan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t dalam Majmu’ Al-Fatawa (25/8) menguraikan: “Jiwa orang yang berzakat jadi tumbuh, hartanya pun jadi bersih dan berkembang secara maknawi.”
Bahkan Al-Imam Al-Faqih Ibnu ‘Utsaimin t menyebutkan, di antara faedah zakat adalah: “Bahwasanya zakat akan menjadikan harta berkembang secara inderawi dan maknawi. Jika seseorang berzakat dengan hartanya, maka sesungguhnya hal itu akan menjaga hartanya dari kemusnahan. Bahkan boleh jadi Allah l akan membukakan baginya tambahan rezeki dengan sebab zakat tersebut. Oleh karena itu, Rasulullah n bersabda dalam sebuah hadits:
مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ
“Tidaklah suatu shadaqah mengurangi harta.” (HR. Muslim no. 2588 dari Abu Hurairah z)
Ini adalah sesuatu yang nyata terlihat, terkadang seorang yang bakhil ditimpa musibah yang menguras harta bendanya atau memusnahkan sebagian besar kekayaannya. Musibah berupa kebakaran, kerugian besar, atau penyakit yang memaksanya untuk berobat dengan biaya yang besar.” (Asy-Syarhul Mumti’ 6/13)
Adapun menurut tinjauan istilah (terminologi) syariat, maka Al-’Allamah Al-’Utsaimin t mendefinisikannya dalam Asy-Syarhul Mumti’ (6/17) bahwa zakat adalah kadar (nilai) yang ditetapkan oleh syariat pada harta tertentu untuk diserahkan kepada golongan tertentu.
Zakat mal (harta benda) memiliki kedudukan yang tinggi dan agung dalam Islam sebagai rukun Islam terpenting setelah shalat. Hukumnya wajib berdasarkan Al-Qur’an, As-Sunnah serta ijma’ (kesepakatan) ulama.
Dalil dari Al-Qur’an adalah firman Allah l:
“Dirikanlah shalat dan bayarlah zakat serta rukuklah bersama orang-orang yang rukuk.” (Al-Baqarah: 43)
Dalil dari As-Sunnah adalah sabda Rasulullah n dalam hadits Ibnu ‘Umar c:
بُنِىَ الْإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَالْحَجِّ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ
“Islam dibangun atas lima perkara: syahadat Laa ilaha illallah dan Muhammad adalah Rasulullah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, haji, dan puasa Ramadhan.” (HR. Al-Bukhari no. 8 dan Muslim no. 16)
Demikian pula hadits Ibnu ‘Abbas c bahwasanya Rasulullah n mengutus Mu’adz bin Jabal z ke negeri Yaman dan bersabda kepadanya:
إِنَّكَ سَتَأْتِي قَوْمًا أَهْلَ كِتَابٍ، فَإِذَا جِئْتَهُمْ فَادْعُهُمْ إِلَى أَنْ يَشْهَدُوا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لَكَ بِذَلِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللهَ قَدْ فَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِى كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ، فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لَكَ بِذَلِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللهَ قَدْ فَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ فَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ، فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لَكَ بِذَلِكَ فَإِيَّاكَ وَكَرَائِمَ أَمْوَالِهِمْ وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْـمَظْلُومِ، فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللهِ حِجَابٌ
“Sesungguhnya engkau akan mendatangi kaum dari kalangan ahli kitab. Jika engkau mendatangi mereka, (yang) pertama kali (dilakukan) hendaklah engkau mengajak mereka untuk bersyahadat bahwasanya tidak ada sesembahan yang haq selain Allah l dan bahwasanya Muhammad adalah Rasul Allah. Jika mereka menaatimu maka kabarkan kepada mereka bahwasanya Allah l telah mewajibkan atas diri mereka shalat lima waktu setiap hari dan malamnya. Jika mereka menaatimu maka kabarkan kepada mereka bahwasanya Allah l telah mewajibkan atas mereka zakat mal (harta) yang dipungut dari orang kaya mereka dan dibagikan kepada orang miskin mereka. Jika mereka menaatimu maka berhati-hatilah jangan sampai engkau mengambil harta mereka yang istimewa dan jagalah dirimu dari doa pihak yang terzalimi, karena sesungguhnya tidak ada penghalang antara dia dengan Allah untuk dikabulkan.” (HR. Al-Bukhari no. 1496 dan Muslim no. 19)
Adapun ijma’ ulama akan wajibnya zakat mal, telah dinukilkan oleh lebih dari satu ulama. Di antara yang menukilkannya adalah An-Nawawi t dalam Al-Majmu’ (5/297) dan Ibnu Qudamah t dalam Al-Mughni (2/359).
Oleh karena itu, barangsiapa mengingkari wajibnya zakat mal sementara dia hidup di tengah-tengah kaum muslimin maka dia kafir, meskipun dia membayar zakat. Karena seseorang yang hidup di tengah-tengah kaum muslimin tentulah mengetahui wajibnya zakat mal. Berarti pengingkarannya merupakan pendustaan terhadap Allah l dan Rasul-Nya n serta ijma’ kaum muslimin. Berbeda dengan muslim yang baru keislamannya atau muslim yang tinggal di pelosok terpencil yang jauh dari masyarakat. Yang seperti ini keadaannya tidak dihukumi kafir. Namun diajari tentang wajibnya zakat. Setelah dia mengetahui hukumnya dan tetap mengingkarinya barulah kemudian dihukumi kafir.
Kewajiban zakat mal sendiri tidaklah dibebankan atas setiap muslim dan tidak pula pada seluruh jenis harta benda. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t dalam Majmu’ Al-Fatawa (25/8) menerangkan: “Syariat ini telah memahamkan kepada kita bahwa zakat mal disyariatkan dengan tujuan menyantuni orang-orang yang membutuhkan dan hal ini tentu saja hanya dibebankan kepada para pemilik harta benda. Maka syariat pun menetapkan adanya aturan nishab1 dan memberlakukannya pada jenis-jenis harta yang mengalami pertambahan. Ada yang bertambah dengan zatnya itu sendiri, seperti binatang ternak dan hasil bumi. Ada pula yang bertambah dengan pergantian zatnya dan penggunaannya, seperti emas.”
Kriteria Wajib Zakat
Ada beberapa syarat yang harus terpenuhi sehingga seseorang terkena kewajiban zakat mal. Syarat-syarat tersebut adalah:
1. Beragama Islam
Maka zakat mal tidak wajib atas orang kafir asli yang asalnya memang kafir dan tidak pernah memeluk Islam. Demikian pula orang yang murtad setelah memeluk Islam, menurut pendapat yang rajih.2 Dalilnya adalah hadits Ibnu ‘Umar c bahwasanya Rasulullah n menulis kepada Ahlul Yaman, yaitu kepada Al-Harits bin ‘Abdi Kilal dan yang bersamanya dari kalangan Ma’afir dan Hamdan:
عَلَى الْمُؤْمِنِينَ فِي صَدَقَةِ الثِّمَارِ أَوْ مَالِ الْعَقَارِ عُشْرٌ مَا سَقَتِ الْعَينُ وَمَا سَقَتِ السَّمَاءِ, وَعَلَى مَا يُسْقَى بِالْغَرْبِ نِصْفُ الْعُشْرِ.
“Wajib atas kaum mukminin untuk membayar sepersepuluh untuk zakat buah- buahan atau hasil pertanian yang diairi dengan mata air atau air hujan, dan seperdua puluh untuk yang diairi dengan al-gharb (timba besar yang terbuat dari kulit sapi).” (HR. Ibnu Abi Syaibah dan Al-Baihaqi, dishahihkan oleh Al-Imam Al-Albani t menurut syarat Bukhari-Muslim dalam Ash-Shahihah: 142)
Al-Imam Al-Baihaqi t berkata setelah meriwayatkannya: “Hadits ini seakan menunjukkan bahwa zakat tidak dipungut dari ahludz dzimmah (orang kafir yang hidup di di wilayah muslimin, red.).”
Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Ash-Shahihah menegaskan: “Sesungguhnya siapapun yang mempelajari sirah (perjalanan hidup) Nabi n, sejarah Al-Khulafa’ Ar-Rasyidun, dan khalifah-khalifah kaum muslimin lainnya serta penguasa-penguasa mereka, akan mengetahui dengan pasti bahwasanya tidaklah mereka memungut zakat dari selain kaum muslimin setempat. Sesungguhnya mereka hanyalah memungut jizyah (upeti) dari ahludz dzimmah sebagaimana yang ditegaskan oleh Al-Qur’an dan As-Sunnah.”
An-Nawawi t dalam Al-Majmu’ (5/299) dan Ibnu Qudamah t dalam Al-Mughni (2/390) menyatakan bahwa tidak ada khilaf (perbedaan pendapat) di kalangan ulama tentang hal ini, walhamdulillah.
Zakat hanya diwajibkan atas kaum muslimin karena zakat bertujuan untuk membersihkan pemilik harta yang terkena zakat. Hal ini berdasarkan firman Allah l:
ﮚ ﮛ ﮜ ﮝ ﮞ ﮟ ﮠ ﮡ ﮢ
“Hendaklah engkau (wahai Muhammad) mengambil zakat dari harta-harta mereka yang dengannya engkau membersihkan mereka dari dosa dan memperbaiki keadaan mereka, serta bershalawatlah untuk mereka.” (At-Taubah: 103)
Sedangkan orang kafir najis dengan kekufurannya, sehingga tidak ada manfaatnya dibersihkan. Al-’Allamah Al-’Utsaimin t dalam Asy-Syarhul Mumti’ (6/19) mengatakan: “Orang kafir najis. Meskipun dicuci dengan air laut seluruhnya dan emas sepenuh bumi, maka tidak akan menjadi suci hingga bertaubat dari kekufurannya.”
2. Merdeka (bukan budak)
Zakat mal tidak wajib atas diri seorang budak sahaya, karena seorang budak tidak punya hak milik. Diri seorang budak serta hartanya adalah milik tuannya. Dalil yang menunjukkan hal ini hadits Ibnu ‘Umar c:
مَنِ ابْتَاعَ عَبْدًا وَلَهُ مَالٌ فَمَالُهُ لِلَّذِى بَاعَهُ إِلاَّ أَنْ يَشْتَرِطَ الْـمُبْتَاعُ
“Barangsiapa membeli seorang budak dan pada budak itu ada harta, maka hartanya untuk (tuan) yang menjualnya, kecuali jika pembelinya mempersyaratkan (bahwa hartanya untuk dirinya).” (HR. Al-Bukhari no. 2379 dan Muslim no. 1543)
3. Harta yang dimiliki mencapai nishab
Nishab adalah kadar/nilai tertentu yang ditetapkan dalam syariat sebagai batas minimal suatu harta terkena kewajiban zakat. Nishab berbeda-beda pada setiap harta yang terkena zakat. Jika seseorang memiliki harta yang nilainya tidak mencapai nishab, maka hartanya tidak terkena zakat. Di antara dalil yang menunjukkan syarat ini adalah hadits Abu Sa’id Al-Khudri z:
لَيْسَ فِيمَا دُوْنَ خَمْسَةِ أَوْسُقٍ صَدَقَةٌ، وَلاَ فِيْمَا دُوْنَ خَمْسِ ذَوْدٍ صَدَقَةٌ، وَلاَ فِيْمَا دُوْنَ خَمْسِ أَوَاقٍ صَدَقَةٌ
“Tidak ada zakat pada hasil tanaman yang takarannya kurang dari lima wasaq, tidak ada zakat pada unta yang jumlahnya kurang dari lima ekor, dan tidak ada zakat pada perak yang beratnya kurang dari lima ons.” (HR. Al-Bukhari no. 1447, 1484 dan Muslim no. 979)
4. Harta telah dimiliki secara tetap
Harta yang belum dimiliki secara tetap tidaklah terkena zakat. Contohnya, sewa rumah sebelum berakhirnya batas waktu penyewaan. Meskipun (uang) sewa rumah itu telah menjadi hak miliknya dengan terjadinya akad sewa, namun dia belum memilikinya secara utuh. Karena bisa saja rumah itu terkena musibah dan runtuh, sehingga akad sewa yang ada batal dan (uang) sewanya kembali kepada pemiliknya semula (penyewa, red.).
5. Sempurnanya haul
Haul adalah masa satu tahun yang harus dilewati oleh nishab harta tertentu tanpa berkurang dari nishab hingga akhir tahun. Rasulullah n bersabda:
مَنِ اسْتَفَادَ مَالاً فَلاَ زَكَاةَ عَلَيْهِ حَتَّى يَحُوْلَ عَلَيْهِ الْـحَوْلُ
“Barangsiapa menghasilkan harta maka tidak ada kewajiban zakat pada harta itu hingga berlalu atasnya waktu satu tahun.”
Hadits ini diriwayatkan oleh beberapa sahabat Nabi n, yaitu ‘Ali bin Abi Thalib, Ibnu ‘Umar, Anas, dan ‘Aisyah g. Pada setiap riwayat tersebut ada kelemahan, namun gabungan seluruh riwayat tersebut saling menguatkan sehingga merupakan hujjah. Bahkan Al-Albani t menyatakan bahwa ada satu jalan riwayat yang shahih sehingga beliau menshahihkan hadits ini.
Ibnu Qudamah t mengatakan dalam Al-Mughni (2/392): “Kami tidak mengetahui adanya khilaf dalam hal persyaratan haul.”
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t dalam Majmu’ Fatawa (25/14) menjelaskan: “Sempurnanya haul merupakan syarat wajibnya zakat pada hewan ternak dan emas3. Sebagaimana halnya Nabi n mengirim ‘amil-’amil (petugas-petugas resmi pemerintah) untuk memungut zakat setiap tahun. Kemudian para khalifah setelah Rasulullah n beramal dengan persyaratan haul ini pada hewan ternak dan emas4 berdasarkan pengetahuan mereka bahwa hal ini adalah sunnah Rasul n. Al-Imam Malik t meriwayatkan dalam Muwaththa’ dari Abu Bakr Ash-Shiddiq, ‘Utsman bin ‘Affan, dan ‘Abdullah bin ‘Umar g bahwa mereka berkata: ‘Bulan ini adalah bulan zakat kalian’, dan mereka mengatakan: ‘Tidak ada zakat pada suatu harta hingga sempurna haulnya.’ Abu ‘Umar Ibnu ‘Abdil Barr t berkata: ‘Hal ini telah diriwayatkan dari ‘Ali dan ‘Abdullah bin Mas’ud c’.”5
Perhitungan haul ini menurut tahun Hijriyyah dan bulan Qamariyyah yang jumlahnya 12 (dua belas) bulan dari Muharram sampai Dzulhijjah. Bukan menurut tahun Masehi dan bulan-bulan selain bulan Qamariyyah. Hal ini ditegaskan oleh Ibnu Hazm t dalam Al-Muhalla no (670) dan Al-Lajnah Ad-Daimah dalam Fatawa Al-Lajnah (9/200).
Ibnu Qudamah t mengingatkan dalam Al-Mughni (2/440) bahwa kekurangan satu jam, dua jam, atau semisalnya dari haul dianggap tidak berpengaruh, karena jangka waktu semisal itu termasuk sangat singkat dibanding jangka waktu setahun.
Namun pada beberapa jenis harta tidak dipersyaratkan haul, yaitu hasil tanaman (biji dan buah), anak hewan ternak, dan laba harta perdagangan6. Hasil tanaman wajib dikeluarkan zakatnya jika mencapai nishab pada saat dipanen, meskipun usianya hanya enam bulan. Hewan ternak wajib dikeluarkan zakatnya bersama induknya jika induknya mencapai nishab, berdasarkan perhitungan haul induknya. Laba harta perdagangan wajib dikeluarkan zakatnya bersama modalnya jika modalnya mencapai nishab, menurut perhitungan haul modalnya.
Sebagai contoh aplikasi syarat-syarat tersebut, kami sebutkan di sini dua permasalahan:
1. Jika nishab yang dimiliki berkurang di tengah periode haul, maka haulnya terputus dan harta tersebut tidak terkena kewajiban zakat. Tidak ada bedanya apakah berkurang karena digunakan, dihibahkan, dijual, dicuri, atau sebab-sebab lainnya. Hal ini adalah pendapat jumhur (mayoritas) ulama.
2. Jika nishab yang ada seluruhnya dijual atau ditukar dengan nishab dari jenis harta yang lain, maka haulnya terputus dan dia memulai perhitungan nishab harta yang baru dimilikinya dari sejak membelinya (jika jumlah kambing tersebut mencapai 40 ekor). Contohnya, seseorang membeli sekawanan domba yang jumlahnya mencapai nishab dengan nishab emas yang dimilikinya, maka haul emas itu terputus dan dia memulai menghitung haul nishab domba yang baru dimilikinya dari sejak membelinya. Demikian pula halnya jika seseorang menukar nishab emas yang dimilikinya dengan nishab perak atau sebaliknya, menurut pendapat yang rajih (terkuat) bahwa emas dan perak merupakan dua jenis harta zakat yang berbeda.
Namun apabila seseorang secara sengaja melakukan sesuatu yang mengakibatkan berkurangnya nishab atau menukar/menjual nishab yang ada dengan jenis harta yang lain dengan maksud untuk menghindari kewajiban zakat, maka kewajiban zakat atas hartanya tersebut tidak gugur menurut pendapat yang rajih. Sebab dia melakukan hal itu sebagai rekayasa untuk menghindar dari kewajiban zakat, sedangkan rekayasa untuk menghindari kewajiban tidaklah menggugurkan kewajibannya. Sebagaimana halnya rekayasa untuk menghalalkan sesuatu yang haram tidaklah menjadikannya halal, berdasarkan hadits:
لاَ تَرْتَكِبُوْا مَا ارْتَكَبَ الْيَهُوْدُ، فَتَرْتَكِبُوْا مَحَارِمَ اللهِ بِأَدْنَى الْحِيَلِ
“Janganlah kalian menempuh apa yang ditempuh oleh orang-orang Yahudi, sehingga kalian melakukan apa yang diharamkan oleh Allah l dengan rekayasa sekecil apapun.” (HR. Ibnu Baththah pada Juz Al-Khal’i wa Ibthal Al-Hiyal, sanadnya dihukumi jayyid [bagus] oleh Ibnu Katsir t dalam Tafsir Ibnu Katsir/Al-Baqarah: 66 dan dibenarkan oleh Al-Albani t dalam Adh-Dha’ifah [1/493])
Karena yang diperhitungkan adalah niat sebagaimana hadits:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
“Hanyalah sesungguhnya setiap amalan itu dengan niat dan setiap orang akan mendapatkan balasan sesuai niatnya.” (Muttafaq ‘alaih dari Umar z)
Contohnya, seseorang memiliki nishab emas yang sedang berjalan haulnya, kemudian dia membeli dengannya tanah untuk disewakan agar terputus haulnya dan terhindar dari kewajiban zakat, maka dia tetap terkena kewajiban zakat. Caranya, setiap tahun tanah itu dinilai harganya dengan emas untuk dikeluarkan zakatnya dalam bentuk emas atau uang.
3. Jika nishab yang dimilikinya dijual atau ditukar dengan nishab yang sejenis, maka haulnya tidak terputus dan tetap berlanjut perhitungannya pada hartanya yang baru. Hal ini menurut pendapat fuqaha Hanabilah, berbeda dengan pendapat fuqaha Syafi’iyah yang mengatakan haulnya terputus. Contohnya, seorang wanita menukar nishab perhiasan emas yang dimilikinya dengan nishab perhiasan emas yang lain7, maka perhitungan haul nishab emas yang pertama tidak terputus dan tetap berlanjut pada nishab emas berikutnya.
4. Jika seseorang meninggal sebelum haul dari nishab yang dimilikinya sempurna, maka perhitungan haulnya terputus dan harta tersebut tidak terkena kewajiban zakat. Karena pemiliknya meninggal sebelum haulnya sempurna dan harta tersebut secara otomatis berpindah ke tangan ahli waris. Setelah menjadi milik ahli waris, jika harta yang diwarisi oleh seorang ahli waris mencapai nishab, maka dia mulai menghitung haulnya sejak hari kematian yang mewariskan harta tersebut.
5. Jika harta yang dimiliki seorang muslim mencapai nishab dan sedang bejalan haulnya, namun dia murtad sebelum haulnya sempurna, maka haulnya terputus dan harta tersebut tidak terkena kewajiban zakat.8 Jika dia bertaubat, maka dia memulai kembali perhitungan haul harta tersebut dari awal keislamannya.
Wallahu a’lam.

1 Nishab merupakan faktor penyebab wajibnya zakat pada harta (dalam bentuk kadar tertentu dari harta), pen.
2 Maksudnya adalah seorang yang murtad sebelum terkena kewajiban zakat. Dalam permasalahan ini ada tiga pendapat dan yang rajih dia tidak terkena kewajiban zakat selama statusnya murtad. Karena hak kepemilikan hartanya gugur secara otomatis akibat kemurtadannya. Al-Majmu’ (5/300).
Adapun seorang muslim yang telah terkena kewajiban zakat kemudian murtad, maka kewajiban zakat yang telah mengenai dirinya tidak gugur dan tetap wajib dibayarkan. Karena zakat tersebut adalah hak ahli zakat (yang berhak menerima zakat) yang harus diberikan kepada mereka, sedangkan tidak mungkin zakat itu dimasukkan ke dalam baitul mal yang akan disalurkan untuk mashlahat/kepentingan umum yang meliputi mashlahat/kepentingan ahli zakat dan selainnya. Hal ini menurut pendapat yang rajih yang dipilih oleh Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin t. Lihat Al-Majmu’ (5/299-300) dan Asy-Syarhul Mumti’ (6/196-197) –pen.
3 Demikian pula perak, pen.
4 Lihat catatan kaki no. 5, pen.
5 Atsar ‘Ali bin Abi Thalib z diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dan Abdullah bin Ahmad dalam Zawaid Musnad Ahmad. Irwa’ Al-Ghalil (3/255-256), pen.
6 Menurut pendapat yang mengatakan adanya zakat pada harta perdagangan dan kami lebih condong kepada pendapat yang mengatakan tidak adanya zakat harta perdagangan, sebagaimana telah kami bahas dengan pembahasan singkat pada majalah Asy Syariah Vo. IV/No. 45/1429 H/2008 rubrik Problema Anda, pen.
7 Tentu saja harus sama beratnya meskipun berbeda mutu. Karena jika berbeda beratnya, maka selisihnya adalah riba, pen.
8 Lihat kembali catatan kaki no. 4, pen.

Zakat Tidak Sama Dengan Pajak

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin)

 

Syahadat, mengucapkan kesaksian:

لَا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللهِ

“Tidak ada ilah yang berhak disembah kecuali Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah Rasul Allah.”

merupakan rukun yang mendasar, sekaligus hal yang wajib bagi setiap muslim. Nabi n memulai dakwahnya dengan hal itu setelah diangkat menjadi rasul. Mendakwahkan kalimat tersebut dan meninggalkan berbagai perbuatan syirik, berbagai bentuk penyembahan kepada berhala atau selain Allah l. Allah l berfirman:

“Wahai orang yang berselimut, bangunlah, lalu berilah peringatan! Dan Rabbmu agungkanlah, dan pakaianmu bersihkanlah.” (Al-Muddatstsir: 1-4)

Nabi n menyerukan dakwah kepada tauhid dari awal pengangkatannya sebagai rasul oleh Allah l. Kalimat syahadatain tersebut merupakan dasar bagi tegaknya agama Islam. Demikian pula para rasul Allah l yang lain, mereka semua memulai dakwahnya dengan mengajak manusia kepada tauhid, mengesakan Allah l dan meninggalkan kesyirikan.

Adapun rukun kedua, dari rukun Islam, yaitu shalat. Difardhukan untuk menegakkan shalat ketika memasuki masa sebelum hijrah. Lantas, setelah hijrah ke Madinah, diwajibkan zakat dan puasa di bulan Ramadhan. Ini terjadi pada tahun ke-2 dari hijrah. Kemudian difardhukan haji pada tahun ke-9 setelah hijrah. Dengan demikian, sempurnalah rukun Islam. Maka, tatkala Rasulullah n berhaji, pada tahun ke-10 setelah hijrah, turunlah ayat:

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (Al-Maidah: 3)

Zakat merupakan ibadah maliyah (ibadah dalam wujud menyerahkan harta). Disebut zakat, karena secara bahasa berarti التَّطْهِيرُ   وَالنَّمَاءُ suci dan tumbuh yaitu mensucikan atau membersihkan orang yang berzakat dari kotoran dosa, sikap kikir dan bakhil. Juga membersihkan harta dari yang telah dikeluarkan tersebut. Disebutkan tumbuh, karena zakat tersebut akan menumbuhkan harta dan menjadi sebab tumbuhnya berkah.

Rasulullah n bersabda:

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ

“Sedekah itu tidak akan mengurangi dari harta (yang dimiliki seseorang).” (HR. Muslim no. 2588, dari Abu Hurairah z)

Maka, zakat atau sedekah tidaklah akan menjadi penyebab berkurangnya harta seseorang. Justru, dengan berzakat atau bersedekah, harta seseorang akan bertambah dan semakin bertambah keberkahannya. Harta itu akan tumbuh berkembang. Meskipun, secara lahiriah saat seseorang menyedekahkan atau membayar zakat, harta yang ada padanya berkurang, namun hakikatnya harta itu justru tumbuh, bertambah, membawa berkah, dan bersih suci.

Allah l berfirman:

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka.” (At-Taubah: 103)

Selain itu, zakat bisa membantu para fakir dan miskin. Mereka adalah orang-orang yang tidak memiliki kecukupan nafkah. Karenanya, saudara-saudara mereka yang terbilang memiliki harta lebih, mengulurkan bantuan dan menutupi kebutuhan para fakir dan miskin. Allah l berfirman:

“Dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta).” (Al-Ma’arij: 24-25)

Itulah zakat yang disediakan bagi orang-orang tertentu yang mereka memiliki hak untuk memperolehnya. Dalam ayat lain, Allah l berfirman:

“Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian.” (Adz-Dzariyat: 19)

Zakat merupakan rukun yang amat ditekankan setelah syahadatain dan shalat. Barangsiapa mengingkari kewajiban berzakat, maka dia telah kafir dan diminta bertaubat. Maka bertaubat dan meyakini bahwa perkara tersebut merupakan hal yang wajib adalah kemestian, jika tidak dihukumi sebagai orang murtad dan dihukum bunuh. Adapun terhadap orang-orang yang meyakini perihal kewajiban berzakat (hukum zakat itu wajib), akan tetapi enggan membayar atau menunaikan kewajiban tersebut lantaran bakhil dan kikir, maka zakatnya boleh diambil secara paksa oleh pihak pemerintah. Pihak pemerintah mengambil secara paksa lantaran harta zakat tersebut merupakan hak fakir miskin yang merupakan kewajiban yang mesti ditunaikan oleh para wajib zakat.

Khalifah Abu Bakr Ash-Shiddiq z telah memerangi orang-orang yang enggan untuk menunaikan zakat sepeninggal Rasulullah n. Saat pernyataan hendak memerangi orang-orang yang membangkang tak mau tunaikan zakat dikemukakan, sempat memicu para sahabat lainnya, seperti Umar bin Al-Khaththab z, untuk mempertanyakan kebijakan khalifah tersebut. Umar bin Al-Khaththab z bertanya kepada khalifah, “Wahai khalifah Rasulullah, bagaimana mungkin engkau akan memerangi orang yang bersyahadat bahwasanya tidak ada ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah dan sementara itu mereka pun orang-orang yang shalat?”

Kemudian Khalifah Abu Bakr Ash-Shiddiq z pun menjawab, “Demi Allah, seandainya mereka membangkangiku (dengan cara tidak mau menunaikan zakat) meski hanya dengan seutas tali, padahal mereka dulu pernah menunaikannya kepada Rasulullah n, niscaya aku akan tetap memerangi mereka. Aku akan tetap memerangi orang-orang yang memisahkan antara shalat dan zakat. Sungguh Rasulullah n telah bersabda, ‘Aku diperintah untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Maka, bila mereka mengucapkan hal itu, terpeliharalah dariku darah dan harta mereka kecuali dengan haknya.’ Sungguh zakat termasuk bagian haknya.” (HR. Al-Bukhari no. 1399 dan Muslim no. 20)

Maksudnya, zakat merupakan hak yang tak terpisahkan dengan syahadat لَا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، مُحَمَّدٌ رَسُولُ الله

Mendengar penjelasan demikian, para sahabat pun merasa puas dan mereka pun mengetahui bahwa Allah l telah menurunkan kebenaran atas lisan Abu Bakr Ash-Shiddiq z. Kata Umar bin Al-Khaththab z, “Demi Allah, tiadalah yang ada pada dia (Abu Bakr Ash-Shiddiq z) kecuali bahwasanya Allah l telah melapangkan dada Abu Bakr Ash-Shiddiq z. Maka, aku telah mengetahui sungguh dia itu benar.” (HR. Al-Bukhari no. 1399)

Lantas para sahabat pun bersepakat untuk memerangi mereka dan menghukumi para pembangkang zakat sebagai orang-orang murtad hingga mereka mau membayar zakat kepada khalifah yang terbimbing dan mau tunduk terhadap hukum Islam.

Zakat merupakan perkara yang teramat agung di sisi Allah l. Zakat termasuk salah satu kebaikan-kebaikan yang ada pada Islam. Melalui zakat, salah satunya, kebaikan (Islam) itu nampak begitu nyata. Karena dalam ajaran zakat terkandung pesan moral untuk bersikap lemah lembut terhadap para fakir, miskin, dan orang-orang yang memerlukan bantuan. Melalui syariat zakat ini, terpintal hikmah kokohnya jalinan distribusi harta dari para hartawan kepada para fakir yang membutuhkan. Hingga orang-orang yang tidak mampu secara finansial bisa dibantu melalui dana jaminan sosial (istilah sekarang) yang terkumpul melalui penggalangan zakat. Inilah salah satu hikmah adanya zakat. Karena sesungguhnya, harta yang dimiliki seseorang senyatanya merupakan pemberian dari Allah l. Bukan atas dasar kemampuan, kekuatan, atau kepandaian yang dimilikinya. Tapi, harta itu semata-mata dari Allah l. Lantaran itulah, Allah l memfardhukan kepada orang-orang yang berharta untuk menyerahkan hak saudara-saudara mereka yang tergolong fakir. Yaitu, berupaya menyedekahkan harta yang telah mereka dapatkan. Allah l berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi persahabatan yang akrab dan tidak ada lagi syafaat. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zalim.” (Al-Baqarah: 254)

Orang-orang yang telah menyerahkan sebagian rezeki mereka adalah orang-orang yang telah dijanjikan mendapat balasan yang baik. Bagi mereka disediakan keutamaan dan karunia dari Allah l. Firman-Nya:

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang dia kehendaki. dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha mengetahui.” (Al-Baqarah: 261)

Selain itu, tak ada pada jiwa orang-orang kaya, yang membayarkan zakat dengan ikhlas karena Allah l, perilaku mengungkit-ungkit pemberian kepada orang-orang fakir dan bersikap takabur (sombong) kepada mereka. Karena harta yang diserahkan tersebut bukanlah darinya, tetapi merupakan kewajiban yang telah Allah l bebankan atas dirinya untuk ditunaikan. Allah l berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian.” (Al-Baqarah: 264)1

Kini, di era arus peralihan ilmu teknologi demikian kencang, sebagian kaum muslimin mulai gencar menaburkan agama bertitik tekan pada logika. Walaupun sebenarnya cara pandang memahami Islam semacam ini tidaklah terlalu baru –kalau tidak dikatakan sebagai hal yang telah usang– karena cara pandang memahami agama seperti itu telah dilakukan pendahulunya dari kalangan Mu’tazilah. Khusus dalam menyoroti masalah zakat, ada kalangan yang menyamakan zakat dengan pajak. Seseorang yang telah menyerahkan pajak diyakini telah menunaikan zakat. Melalui kajian hermeneutika terhadap ayat-ayat zakat dalam Al-Qur’an, lantas membuat kesimpulan bahwa zakat sama dengan pajak. Hermeneutika itu sendiri berasal dari bahasa Yunani hermeneuine dan hermenia yang berarti menafsirkan dan penafsiran. Penamaan hermeneutika sendiri tidak lepas dari nama dewa Hermes (Hermeios), yaitu dewa dalam mitologi Yunani kuno yang merupakan anak Zeus dan Maia. Dewa Hermes dikaitkan dengan hermeneutika lantaran dia utusan Zeus yang bertugas menyampaikan dan menerjemahkan pesan Zeus yang masih samar ke dalam bahasa yang bisa dipahami manusia. Dengan demikian, hermeneutika secara bahasa memiliki pengertian menafsirkan atau memberi takwil, yang mengungkapkan arti suatu kata atau teks. Hermeneutika dibakukan sebagai ilmu, metode, dan teknik memahami pesan atau teks pada abad 18 M. Awalnya merupakan bentuk studi terhadap tafsir Bibel (Biblical Hermeneutics) lantas meluas menjadi metode untuk mengkaji semua kondisi apa saja yang memungkinkan lahirnya penafsiran atau takwil yang betul –menurut dugaan mereka- terhadap satu teks atau kata. (Lihat Agar Tidak Menjadi Muslim Liberal, Qomar Su’aidi ZA, Lc, hal. 456-457 dan Zakat=Pajak, Kajian Hermeneutika Terhadap Ayat-ayat Zakat dalam Al-Qur’an, Achyar Rusli, hal. 28)

Kini, metode ini sedang gencar dibiuskan ke tengah kaum muslimin dalam menerapkan pemahaman terhadap ayat-ayat Al-Qur’an atau memaknai satu hadits. Sehingga dengan metode ini, diharapkan muncul satu pemahaman “Islam” yang baru yang keluar dari sistem pemahaman para ulama terdahulu. Melalui metode ini direkayasa sedemikian rupa untuk lahir sebuah tafsir baru dalam agama. Metode hermeneutika sangat getol dipompakan ke tubuh umat Islam oleh kalangan Jaringan Islam Liberal (JIL).

Menurut mereka, pajak sebagai pungutan yang berdasarkan undang-undang dalam pengertian sempit memang hasil proses pemikiran manusia. Namun, kalau dilihat dalam arti yang lebih luas secara hermeneutika atau takwil menurut nash Al-Qur’an dalam Al-Baqarah: 31, dalam konteks ‘allama Adama al-asma’ dalam pengertian Adam adalah manusia yang diajari nama-nama oleh Allah l. Pajak sebagai suatu kata adalah suatu nama yang diajarkan-Nya juga. Sehingga pada batas kesimpulan hubungan zakat dengan pajak, mereka katakan bahwa zakat itu adalah pajak, pajak itu adalah zakat, lain sebutan tapi arti sama.

Pemahaman mereka pun diiringi pula adanya kesamaan dalam sistem zakat dan pajak. Misal, dalam zakat ada istilah muzakki (orang yang menyerahkan zakat) dalam pajak ada istilah wajib pajak, ada jenis-jenis zakat demikian pula ada jenis-jenis pajak, ada kadar zakat (nishab) begitu pula dalam pajak ada batas minimum pengenaan pajak, dalam zakat ada haul juga dalam pajak ada periode pengenaan pajak. (Zakat=Pajak, hal. 109, 160)

Inti dari pemahaman mereka adalah berupaya menalarkan titik persamaan antara zakat dengan pajak secara paksa, sehingga bila disimpulkan, zakat adalah pajak dan pajak adalah zakat, lain sebutan tapi sama arti. Tentu, hal ini merupakan kesimpulan yang teramat sangat dipaksakan. Sebuah hasil pemikiran manusia yang sangat rancu dan batil. Apalagi kesimpulan tersebut dibangun dari sebuah metode hermeneutika yang sebatas menjelaskan dari sisi pesan, teks, atau kata. Tanpa meneropong sebuah ajaran yang dibangun atas dasar iman.

Perlu diingat bahwa zakat adalah kewajiban yang ditetapkan Allah l. Sementara pajak adalah peraturan yang dibebankan negara kepada rakyatnya. Perincian zakat telah dicontohkan oleh Rasulullah n dalam teknis pelaksanaannya. Demikian juga dalam syariat lainnya, Rasulullah n telah menjelaskannya. Karena Al-Qur’an diturunkan kepada Rasulullah n dan Allah l memerintahkannya agar menjelaskan isi Al-Qur’an tersebut kepada segenap manusia. Allah l berfirman:

“Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur’an, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.” (An-Nahl: 44)

Zakat merupakan ibadah yang wajib ditunaikan oleh seorang muslim yang telah terpenuhi persyaratannya. Maka zakat merupakan bentuk amal guna mendekatkan diri kepada Allah l. Adapun pajak merupakan peraturan negara yang tidak ada kaitannya dengan ibadah dan upaya mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah l. Seorang muslim yang tidak meyakini zakat sebagai kewajiban yang harus ditunaikan, maka dia dihukumi kafir dan murtad dari Islam. Konsekuensi yang seperti ini tentu tidak akan ada pada seseorang yang menunaikan pajak dan tidak meyakininya sebagai sebuah kewajiban.

Ketentuan zakat bersifat universal. Di negara manapun ketentuan tersebut tetap berlaku selama dia menjadi seorang muslim. Berbeda dengan pajak, masing-masing negara memiliki ketentuan dan undang-undang sendiri. Satu negara dengan negara lain berbeda. Selain itu, zakat adalah kewajiban yang bersifat tetap dan terus-menerus berlangsung. Kewajiban zakat itu akan tetap berjalan selagi umat Islam ada di muka bumi. Kewajiban zakat tidak akan dihapus oleh siapapun. Tidak berubah-ubah. Berbeda dengan pajak yang bisa dihapus, misal melalui pemutihan, atau berubah menurut kondisi satu negara.

Melihat sisi-sisi perbedaan yang mendasar seperti di atas, tentu sangat tidak ilmiah sekali bila zakat disamakan dengan pajak. Bagi seorang muslim, hendaknya memancangkan segenap pemikiran, perbuatan, dan keyakinannya ke tiang pancang yang kokoh, yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah, selaras pemahaman salaf ash-shalih.

Demikian pula halnya ketika memahami nash-nash Al-Qur’an, hendaknya mengikuti kaidah-kaidah para ulama salaf. Mereka adalah orang-orang yang memiliki otoritas untuk membimbing umat sesuai ajaran Islam yang benar yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Kata Ibnu ‘Abbas c:

مَنْ قَالَ فِي الْقُرْآنِ بِرَأْيِهِ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Barangsiapa berbicara tentang Al-Qur’an dengan ra’yu (pemikiran logika)nya, maka siapkanlah tempat duduknya di neraka.” (I’lamul Muwaqqi’in, Ibnu Qayyim, hal. 54)

Wallahu a’lam.


1 Paparan di atas disarikan dari tulisan Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan dalam Tashilul IImam bi Fiqhil Hadits min Bulughil Maram, 3/91-94, dengan beberapa penambahan dari penulis.

Surat Pembaca Edisi 54

Asy Syariah Sarat Iklan?

Bismillah, Asy Syariah makin bulan makin sesuai dengan problema umat. Namun sayang kalau dulu sarat ilmu sekarang ini sarat iklan buku. Kalau empat lembar iklan, berapa ilmu diabaikan?

Abu Abdillah Yusdi-Tegal

0815754xxxxx

 

Selama ini, alhamdulillah, kami memiliki kebijakan khusus soal iklan. Bagi kami, iklan hanyalah kebutuhan yang sangat sekunder untuk mengisi ruang yang kosong. Jadi kami, insya Allah, tidak menomorduakan naskah. Dalam praktiknya terkadang memang ada naskah yang ditunda, namun lebih dikarenakan soal teknis. Karena naskah tersebut jika dipaksakan untuk mengisi sisa ruang yang ada tetaplah tidak mencukupi. Sehingga berlebihan bila anda katakan sekarang sarat iklan buku.

Iklan Asy Syariah sendiri, sebagaimana yang anda lihat, tetaplah kami batasi. Kami saat ini hanya menerima iklan buku, ma’had (pondok pesantren), majelis taklim, dan daurah. Iklan komersial, termasuk dalam hal ini herbal, tetap kami hindari. Di luar iklan buku, kami bahkan tidak memasang tarif. Pertimbangannya, itu semua (termasuk iklan buku) juga bagian dari mendakwahkan ilmu.

Selain itu, Asy Syariah berupaya memupus anggapan bahwa hidup mati sebuah majalah tergantung dari iklan. Anggapan bahwa majalah yang minim iklan, ibarat majalah “ecek-ecek” yang tengah menunggu ajal, adalah anggapan yang keliru. Justru majalah-majalah yang sarat iklan yang tidak syar’i (seperti iklan kerudung dengan model wanita cantik, iklan sinetron/film, iklan novel, dll) itulah yang justru patut kita pertanyakan. Jazakumullahu khairan atas masukannya.

 

 

Bahasan Tentang Amir

Tolong dibahas masalah keamiran (imamah) yang ada di jamaah-jamaah hizbi. Selama ini yang banyak disoroti oleh masyarakat cuma keamiran di LDII. Padahal bid’ah ini juga menjangkiti kelompok hizbiyun yang lain.

Irfan-Blitar

0819378xxxxx

 

Tentang keamiran (imamah) berikut ba’iat insya Allah akan dibahas di beberapa edisi mendatang. Jazakumullahu khairan.

Waktu dan Tempat Menghafal Ilmu

Seseorang hendaknya membagi waktu siang dan malamnya. Semestinya dia memanfaatkan sisa umurnya, karena sisa umur seseorang tidak ternilai harganya.

Waktu terbaik untuk menghafal adalah waktu sahur.

Waktu terbaik untuk membahas/meneliti (suatu permasalahan) adalah di awal pagi.

Waktu terbaik untuk menulis adalah di tengah siang.

Waktu terbaik untuk menelaah dan mengulang (pelajaran) adalah malam hari.

 

Al-Khathib t berkata: “Waktu terbaik untuk menghafal adalah waktu sahur, setelah itu pertengahan siang, kemudian waktu pagi.”

Beliau berkata lagi: “Menghafal di malam hari lebih bermanfaat daripada di siang hari, dan menghafal ketika lapar lebih bermanfaat daripada menghafal dalam keadaan kenyang.”

Beliau juga berkata: “Tempat terbaik untuk menghafal adalah di dalam kamar, dan setiap tempat yang jauh dari hal-hal yang melalaikan.”

Beliau menyatakan pula: “Tidaklah terpuji untuk menghafal di hadapan tetumbuhan, yang menghijau, atau di sungai, atau di tengah jalan, di tempat yang gaduh, karena hal-hal itu umumnya akan menghalangi kosongnya hati.”

 

 

(Diambil dari Tadzkiratus Sami’ wal Mutakallim fi Adabil ‘Alim wal Muta’allim, karya Al-Qadhi Ibrahim bin Abil Fadhl ibnu Jamaah Al-Kinani t, hal. 72-73, cet. Darul Kutub Al-Ilmiyyah)

Muslim Taat, Bayar Zakat

Islam acap diidentikkan dengan kemiskinan dan keterbelakangan. Stigma ini demikian membekas terlebih kita memang disuguhi fakta bahwa sebagian besar kaum muslimin hidup di negara-negara yang tidak dikategorikan sebagai negara “maju”.
Yang demikian ini semestinya menggugah kita bahwa sebenarnya umat sangat perlu diberdayakan. Lahan beramal, menyalurkan harta -yang mengandung hak orang miskin- masih sedemikian luas. Karena sesungguhnya tidak sedikit dari kaum muslimin yang diberi karunia dengan harta berlebih. Artinya, jika kalangan Islam sendiri mau mengelola potensinya serta menerapkan syariat secara utuh, sesungguhnya banyak solusi yang diberikan Islam atas beragam masalah yang membelit umat.
Zakat, misalnya. Jika perzakatan dikelola secara benar kemudian didistribusikan secara tepat sasaran, problem kemiskinan setidaknya akan terkurangi. Potensi zakat yang demikian besar dari kalangan Islam yang mampu sering tidak tersalurkan karena minimnya lembaga atau amil zakat yang amanah. Diakui atau tidak, ada lembaga zakat yang telah ditumpangi kepentingan tertentu, entah karena fanatisme ormas, kelompok, atau kedekatan dengan parpol tertentu. Selain itu, peruntukan zakat yang tidak syar’i menjadi sebab kenapa potensi zakat ini belum bisa dimanfaatkan secara maksimal. Ada dana zakat yang justru disalurkan untuk membangun masjid, diberikan kepada pegawai/guru tidak tetap, dan sebagainya.
Namun demikian, sejatinya ada problem mendasar terkait zakat yang dihadapi umat. Keimanan yang tipis serta pengaruh gaya hidup materialis membuat sebagian manusia lebih banyak berhitung matematis tanpa dilambari dengan telaah keimanan. Ini diperparah dengan keberadaan pihak-pihak tertentu yang justru mereduksi makna zakat sehingga menganggap zakat tak lebih dari pungutan bernama pajak.
Selain itu, banyak kaum muslimin yang masih bingung dalam menyikapi berbagai harta yang dimilikinya, apakah dikenai zakat atau tidak. Keawaman masyarakat pada jenis-jenis harta yang dikenai zakat tentu saja berimbas pada besarnya zakat yang dihimpun.
Umat sendiri malah dihadapkan pada satu atau beberapa jenis zakat yang sebenarnya tidak dikenal dalam Islam. Seperti zakat profesi yang mengabaikan nishab dan haul, juga zakat kendaraan, rumah, bahkan perabot rumah yang dipakai sehari-hari, bukan untuk dijualbelikan.
Itu semua tentu menjadi tantangan kita dalam mengentaskan umat dari kemiskinan namun tentunya harus dilakukan dengan cara-cara yang bisa dibenarkan secara syariat. Sudah mafhum, miskin harta yang diiringi miskin iman menjadi sasaran empuk praktik-praktik pemurtadan yang dilakukan kalangan non-muslim.
Namun demikian, kemiskinan tidaklah bisa serta-merta dituding sebagai sumber dari segala sumber penyakit umat. Banyak dahulu dari sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in, dan para salafush shalih yang jika dilihat dari kacamata sekarang hidup di bawah garis kemiskinan. Namun demikian, kala itu, dengan keimanan yang kokoh, mereka justru mampu menyinari dunia dengan kemuliaan Islam. Dengan keimanan, mereka memiliki kewibawaan, sehingga tidak bisa didikte oleh orang-orang di luar Islam, apalagi sampai membebek dengan gaya hidup mereka.
Problem sesungguhnya yang dihadapi umat adalah akidah umat yang demikian rapuh. Kala akidah ini keropos, syariat Islam pun ibarat awang-awang. Jangankan diterapkan secara utuh, diterapkan sebagian saja masih terhitung “lumayan.” Tidak usah jauh-jauh, di sekitar kita saja, tidak sedikit orang yang beragama Islam namun tidak menjalankan shalat, tidak menunaikan puasa, terlebih membayar zakat.
Makanya perbaikan akidah (tauhid) umat ini mesti menjadi perhatian. Jika akidah umat telah terbangun, niscaya setiap orang, dengan keimanan yang tegak di qalbu, mau menunaikan zakat serta syariat Islam lainnya. Sehingga tak sekadar slogan, namun “muslim taat bayar zakat” benar-benar mampu diwujudkan di tengah umat!