Yang Tua Dihormati, Yang Kecil Disayangi

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Abdulmu’thi, Lc)

Tiada tatanan kehidupan yang lebih indah dari yang dibawa oleh syariat Islam. Konsep menuju kehidupan yang tenteram dan damai baik sebagai individu maupun kelompok telah dipaparkan dengan gamblangnya dalam ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits Rasulullah n. Di antara konsep tersebut adalah keharusan menjalin kasih sayang kepada sesama muslim tanpa memandang usia, asal-usul serta status sosial. Eratnya tali cinta kasih ini juga tidak terbatas ketika mereka sama-sama masih hidup, bahkan telah mati sekalipun. Allah l telah mengabadikan doa orang-orang yang beriman yang datang setelah kaum Muhajirin dan Anshar dalam Al-Qur’an:

“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: ‘Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha penyantun lagi Maha penyayang’.” (Al-Hasyr: 10)

Ucapan selamat dan doa kebaikan selalu muncul dari mulut mereka yang manis terhadap saudara-saudaranya. Coba kita lihat bagaimana bimbingan Nabi kita saat kita berziarah kubur. Nabi n membimbing mengucapkan doa:

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ لَلَاحِقُونَ أَسْأَلُ اللهَ لَنَا وَلَكُمُ الْعَافِيَةَ

“Semoga kesejahteraan dilimpahkan atas kalian wahai penghuni kubur dari kaum mukminin dan muslimin. Sesungguhnya kami (juga) akan menyusul (kalian) insya Allah. Aku memohon keselamatan untuk kami dan kalian kepada Allah.” (HR. Muslim, kitab Al-Janaiz no. 975)

Bahkan setiap tasyahud dalam shalat, kita membaca:

السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِينَ

“Semoga kesejahteraan dilimpahkan kepada kita dan hamba-hamba Allah yang shalih.”

Inilah bentuk kecintaan yang bersumber dari hati-hati yang dalam. Kaum muslimin akan selalu kuat dan berwibawa manakala tali agama ini dipegang erat-erat. Dengannya, musuh-musuh agama ditimpa perasaan takut dan tidak bisa melihat umat ini dengan pandangan remeh.

Berikut akan kami uraikan dua permasalahan penting demi tercapainya suasana keakraban yang membuahkan kasih sayang di antara kaum muslimin.

 

Pertama: memuliakan orang yang lebih tua.

Menghormati orang yang tua bukan hanya budaya, namun bagian dari akhlak mulia dan terpuji yang diseru oleh Islam. Hal ini dilakukan dengan cara memuliakannya dan memerhatikan hak-haknya. Terlebih, bila disamping tua umurnya, juga lemah fisik, mental, dan status sosialnya. Nabi n bersabda:

مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيْرَنَا وَيَعْرِفْ حَقَّ كَبِيرَنَا فَلَيْسَ مِنَّا

“Barangsiapa tidak menyayangi anak kecil kami dan tidak mengenal hak orang tua kami maka bukan termasuk golongan kami.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adab, lihat Shahih Al-Adab Al-Mufrad no. 271)

Hadits ini merupakan ancaman bagi orang yang menyia-nyiakan dan meremehkan hak orang yang sudah tua, di mana orang tersebut tidak di atas petunjuk Nabi n dan tidak menepati jalannya.

Menghormati mereka termasuk mengagungkan Allah l sebagaimana sabda Nabi n:

إِنَّ مِنْ إِجْلَالِ اللهِ إِكْرَامَ ذِي الشَّيْبَةِ الْمُسْلِمِ وَحَامِلِ الْقُرْآنِ غَيْرَ الْغَالِي فِيْهِ وَالْجَافِي عَنْهُ وَإِكْرَامَ ذِي السُّلْطَانِ الْمُقْسِطِ

“Sesungguhnya termasuk mengagungkan Allah adalah menghormati seorang muslim yang beruban (sudah tua), pembawa Al-Qur’an yang tidak berlebih-lebihan padanya (dengan melampaui batas) dan tidak menjauh (dari mengamalkan) Al-Qur’an tersebut, serta memuliakan penguasa yang adil.” (HR. Abu Dawud dan dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Shahih At-Tarhib no. 92)

Orang tua tentunya telah melewati berbagai macam tahapan hidup di dunia ini sehingga setumpuk pengalaman dimilikinya. Orang yang telah mencapai kondisi ini biasanya ketika hendak melakukan sesuatu telah dipikirkan matang-matang. Terlebih lagi, disamping banyak pengalamannya, juga mendalam ilmu dan ibadahnya. Ini berbeda dengan kebanyakan anak muda yang umumnya masih minim ilmunya, dangkal pengalamannya, dan sering memperturutkan hawa nafsunya. Rasulullah n bersabda:

الْبَرَكَةُ مَعَ أَكَابِرِكُمْ

“Barakah itu bersama orang-orang tua dari kalian.” (HR. Ibnu Hibban, Al-Hakim, dll, lihat Shahihul Jami’ no. 2884)

Mungkin kita bisa mengambil pelajaran dari fitnah Khawarij (kelompok sesat) di masa sahabat Ali z. Semangat mereka dalam mengamalkan agama tidak diimbangi dengan mengikuti pemahaman para sahabat Nabi n. Para Khawarij yang umumnya dari kalangan muda terkadang berdalilkan dengan dalil-dalil syariat, sesuatu yang sebenarnya bukan dalil bagi mereka. Para sahabat yang mengetahui sebab turunnya ayat dan sebab periwayatan hadits tentunya lebih tahu maksudnya dari mereka. Nabi n menjelaskan di antara ciri-ciri Khawarij yang akan muncul adalah:

سَيَخْرُجُ قَوْمٌ فِي آَخِرِ الزَّمَانِ أَحْدَاثُ الْأَسْنَانِ سُفَهَاءُ الْأَحْلَامِ

“Akan muncul di akhir zaman suatu kaum yang muda umurnya (para pemuda) yang bodoh akalnya.” (HR. Al-Bukhari no. 6930)

An-Nawawi t menerangkan: “Diambil faedah dari hadits ini bahwa kekokohan dan kuatnya pandangan hati adalah ketika seorang telah sempurna umurnya, banyak pengalamannya, dan kuat pemahamannya.”(Fathul Bari 12/287)

 

Mendahulukan orang yang lebih tua

Ada beberapa keadaan yang disyariatkan untuk mengutamakan orang yang lebih tua, di antaranya:

1. Dalam mengimami shalat.

Nabi n bersabda dalam hadits Malik bin Al-Huwairits z:

إِذَا حَضَرَتِ الصَّلَاةُ لِيُؤَذِّنْ لَكُمْ أَحَدُكُمْ وَلْيَؤُمُّكُمْ أَكْبَرُكُمْ

“Bila waktu shalat telah tiba maka hendaklah salah seorang kalian mengumandangkan adzan dan orang yang paling tua mengimami shalat kalian.” (HR. Al-Bukhari no. 628)

Disebutkan dalam hadits lain, bahwa Nabi n bersabda (yang) artinya:

“Yang mengimami manusia adalah orang yang pandai membaca (memahami) Al-Qur’an. Bila dari sisi bacaan Al-Qur’an mereka sama maka yang paling tahu tentang sunnah. Bila pengetahuan mereka tentang sunnah sama maka yang paling dahulu berhijrah. Bila dalam hijrah mereka sama maka yang paling tua umurnya.” (HR. Muslim)

2. Dalam berbicara dan memberikan keterangan, kecuali yang kecil lebih tahu dan lebih mampu berbicara.

Disebutkan oleh Sahl bin Abi Hatsmah bahwa Abdullah bin Sahl dan Muhayyishah bertolak pergi menuju Khaibar yang pada saat itu ada ikatan perdamaian. Sesampainya di sana keduanya berada di tempat yang berbeda. Setelah itu Muhayyishah datang (menemui temannya), Abdullah bin Sahl, dan ternyata didapati dalam keadaan bersimbah darah, terbunuh. Muhayyishah lalu mengubur temannya kemudian pulang ke Madinah. Setelah itu Abdurrahman bin Sahl (saudara Abdullah yang terbunuh tersebut), Muhayyishah, dan Huwayyishah putra Mas’ud datang menghadap Nabi n. Abdurrahman yang waktu itu adalah orang paling kecil yang menghadap Nabi n ingin berbicara, maka Nabi n mengatakan: “Hendaknya yang paling tua yang berbicara.” Maka kedua temannya yang berbicara dan Abdurrahman diam.” (HR. Al-Bukhari no. 3173)

Perhatikanlah. Meski seorang dalam keadaan tertimpa musibah namun seorang tetap menjaga adab-adab agamanya.

3. Dalam pemberian.

Sebagaimana hadits yang diceritakan oleh Ibnu ‘Umar c bahwa ia melihat Rasulullah n bersiwak (membersihkan gigi dan lisan dengan batang siwak), lalu beliau memberikan siwak tadi kepada orang yang paling tua. Nabi n mengatakan:

إِنَّ جِبْرِيلَ أَمَرَنِي أَنْ أُكَبِّرَ

“Sesungguhnya Jibril memerintahkan aku untuk memberikan kepada yang paling tua.” (lihat Ash-Shahihah no. 1555, dan hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad)

Ibnu Baththal t mengatakan: “Dalam hadits ini ada faedah yaitu mengutamakan orang yang sudah berusia lanjut dalam pemberian siwak. Masuk pula dalam hal ini mendahulukan dalam hal diberi makanan dan minuman, berjalan dan berbicara. Al-Muhallab berkata: ‘Hal ini dilakukan apabila manusia tidak duduk dengan berurutan, bila mereka duduk berurutan maka yang sunnah ketika itu mendahulukan yang kanan’.” (Ash-Shahihah vol. IV/76)

Sahabat Anas bin Malik z menyebutkan bahwa Rasulullah n diberi susu yang dicampur dengan air. Di sebelah kanan Nabi n ada seorang badui sedangkan di sebelah kirinya ada Abu Bakr z. Nabi meminum susu tadi lalu memberikannya kepada badui itu. Nabi n mengatakan:

الْأَيْمَنَ فَالْأَيْمَنَ

“(Dahulukan) yang kanan lalu yang kanan.” (HR. Al-Bukhari no. 5619)

Demikian besarnya hak-hak orang yang sudah tua dan penghormatan kepada mereka sangat ditekankan bila dia itu adalah orangtuanya, kakeknya, pamannya, kerabat atau tetangganya. Karena mereka memiliki hak yang besar sebagai karib kerabat dan tetangga. Orang yang menghormati/memuliakan mereka maka dia akan dihormati saat tuanya. Balasan setimpal dengan perbuatan. Seperti apa kamu berbuat, maka seperti itu pula kamu dibalas.

Disebutkan dari Yahya bin Sa’id Al-Madani, ia berkata, “Telah sampai berita kepada kami bahwa siapa saja yang menghinakan orang yang sudah tua maka ia tidak akan mati sampai Allah l mengutus seorang yang menghinakannya di saat dia telah tua.” (lihat Al-Fawaid Al-Mantsurah hal. 84 karya Dr. Abdurrazzaq Al-Badr)

 

Orang yang sudah beruban

Termasuk tanda-tanda orang yang telah menginjak usia lanjut adalah uban yang menghiasi kepalanya, kekuatan fisik yang mengendur, pandangan dan penglihatan yang mulai berkurang ketajamannya. Seorang muslim yang telah mencapai kondisi seperti ini tentunya telah melewati masa-masa yang panjang dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah l. Berbagai manis dan getirnya kehidupan telah dilakoninya. Dia pun merasa ajal telah dekat sehingga pendekatan diri kepada Allah l semakin bertambah. Orang yang panjang umurnya dan baik amalannya adalah sebaik-baik orang, sebagaimana sabda Nabi n:

خَيْرُ النَّاسِ مَنْ طَالَ عُمْرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ

“Sebaik-baik orang ialah yang panjang umurnya dan baik amalannya.” (HR. At-Tirmidzi dan dia menghasankannya)

Orang yang beruban rambutnya karena menjalankan ketaatan kepada Allah l, dia memiliki keutamaan. Nabi n bersabda:

مَنْ شَابَ شَيْبَةً فِي الْإِسْلَامِ كَانَتْ لَهُ نُوْرًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barangsiapa beruban dengan suatu uban di dalam Islam maka uban itu akan menjadi cahaya baginya di hari kiamat.” (HR. At-Tirmidzi dan An-Nasa’i. Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam kitab Shahihul Jami’ no. 6307)

Maksudnya, uban tersebut akan menjadi cahaya, sehingga pemiliknya menjadikannya sebagai penunjuk jalan. Cahaya itu akan berjalan di hadapannya di kegelapan padang mahsyar, sampai Allah l memasukkannya ke dalam jannah (surga). Uban, meski bukan rekayasa hamba, namun bila muncul karena suatu sebab, seperti jihad atau takut kepada Allah l, maka ditempatkan pada usaha (amalan) hamba. Oleh karena itu, dimakruhkan –bahkan tidak keliru bila dikatakan haram– mencabut uban yang ada di jenggot atau semisalnya. (lihat Faidhul Qadir karya Al-Munawi, 6/202)

Tentang larangan mencabut uban, telah diriwayatkan bahwa Nabi n bersabda:

لَا تَنْتَفُوا الشَّيْبَ فَإِنَّهُ نُورُ الْمُسْلِمِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Janganlah kalian mencabut uban, karena ia merupakan cahaya seorang muslim di hari kiamat.” (HR. Abu Dawud, dll. Al-Imam An-Nawawi t dalam Riyadush Shalihin menghasankannya)

 

Kedua: menyayangi anak kecil

Bila orang yang telah lanjut usia mendapatkan hak penghormatan dan pemuliaan, demikian pula dengan anak yang masih kecil, dia berhak mendapat kasih sayang yang penuh. Anak kecil yang belum baligh secara umum masih lemah fisik dan mentalnya, serta belum mengetahui persis tentang kemaslahatan untuk dirinya. Kondisi yang seperti ini tentunya menggugah kita untuk memberikan kasih sayang kepadanya, karena beban syariat juga belum ditujukan kepadanya dan pena pencatat dosa pun belum berlaku atasnya. Oleh karenanya, menyayangi anak kecil merupakan keharusan. Nabi n bersabda:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا

“Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi anak kecil kami.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi. Al-Imam An-Nawawi t menshahihkannya dalam Riyadhush Shalihin)

Bila sifat belas kasihan dicabut dari seseorang maka hal itu menjadi pertanda kecelakaan baginya. Nabi n bersabda:

لاَ تُنْزَعُ الرَّحْمَةُ إِلاَّ مِنْ شَقِيٍّ

“Tidaklah sifat kasih sayang dicabut melainkan dari orang yang celaka.” (HR. Ahmad dll. Dalam Shahihul Jami’ no. 7467, Asy-Syaikh Al-Albani t menshahihkannya)

Pernah pada suatu saat Nabi n mencium Hasan bin Ali c, cucunya. Waktu itu, di sisi Nabi ada seorang bernama Al-Aqra’ bin Habis At-Tamimi sedang duduk. Maka Al-Aqra’ mengatakan: “Sesungguhnya saya memiliki sepuluh anak, tidak pernah satu pun yang saya cium.” Maka Rasulullah n melihat kepadanya dan mengatakan:

مَنْ لَا يَرْحَمْ لَا يُرْحَمْ

“Orang yang tidak menyayangi maka tidak disayangi (Allah l).” (HR. Al-Bukhari no. 5997)

Lihatlah, betapa meruginya yang tidak mendapat rahmat Allah l padahal rahmat-Nya sangat luas. Sungguh balasan kebaikan adalah kebaikan, sebagaimana firman Allah l:

“Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).” (Ar-Rahman: 60)

Tentunya, menyayangi anak kecil tidak hanya terbatas pada anaknya sendiri bahkan umum sifatnya. Bentuk menyayangi anak kecil juga banyak. Misalnya, dengan mencandainya tanpa ada kedustaan untuk memasukkan kegembiraan pada dirinya, menciumnya, menggendongnya, mengusap kepalanya, menyapa dan menyalaminya, serta mengucapkan salam kepadanya.

Pada suatu saat Anas bin Malik z melewati anak-anak kecil lalu ia mengucapkan salam kepada mereka. Anas z berkata: “Dahulu Rasulullah n melakukan demikian.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Termasuk menyayangi anak kecil adalah tidak mengarahkan mereka kepada hal-hal yang membahayakannya.

Demikianlah bimbingan Islam yang sangat mulia. Umat hendaknya membuka mata agar melihat dengan nyata indahnya agama yang mereka anut ini. Perlu dipertegas kembali bahwa bimbingan Islam selalu relevan, tidak akan pernah usang dengan perubahan waktu dan zaman. Kita tidak akan terlalu bahagia dengan pesatnya teknologi dan menjamurnya penemuan (inovasi) baru, bila mental umat tidak dibangun, sehingga akidahnya rapuh dan akhlaknya karut-marut. Lihat saja, ketika kecanggihan teknologi telah merambah berbagai lapisan masyarakat yang semestinya dimanfaatkan sebagai sarana kebaikan, namun ternyata tidak sedikit dijadikan alat dan media untuk saling mencaci, memfitnah, membenci, dan menzalimi.

Mari kita semua kembali kepada bimbingan agama kita dan bangkit dari kelalaian kita. Semoga kewibawaan umat yang diharapkan tidak hanya angan-angan belaka. Wallahu a’lam.

Nabi Muhammad Telah Wafat

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar)

Dari Abu Hurairah z, Rasulullah n bersabda:
لاَ تَجْعَلُوْا بُيُوْتَكُمْ قُبُوْرًا وَلاَ تَجْعَلُوْا قَبْرِيْ عِيْدًا وَصلُّوْا عَلَيَّ

فَإِنَّ صَلَاتَكُمْ تَبْلُغُنِيْ حَيْثُ كُنْتُمْ

“Janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian sebagai kuburan, jangan pula kalian menjadikan kuburku sebagai ied, dan bershalawatlah kalian untukku. Karena sesungguhnya shalawat kalian akan sampai kepadaku di manapun kalian berada.”

Takhrij hadits

Hadits ini dikeluarkan oleh Al-Imam Abu Dawud t di dalam As-Sunan melalui jalan Ahmad bin Shalih dari Abdullah bin Nafi’ dari Ibnu Abi Dzi’b dari Sa’id Al-Maqburi dari Abu Hurairah z.

Syaikhul Islam t berkata, “Dan sanad hadits ini hasan, seluruh perawinya tsiqah masyhur. Hanya saja Abdullah bin Nafi’ Ash-Shaigh Al-Faqih Al-Madani Shahib Malik, pada beliau ada liin (semacam sisi kelemahan) yang tidak membuat cacat haditsnya. Yahya bin Ma’in mengatakan: ‘Dia orang yang tsiqah (terpercaya)’, dan cukup bagimu Yahya bin Ma’in sebagai orang yang menyatakannya tsiqah. Abu Zur’ah mengatakan: ‘La ba’sa bihi (tidak mengapa dengannya)’.”

Abu Hatim Ar-Razi berkata: “Dia bukan seorang yang hafizh. Dia layyin, haditsnya dikenal dan diingkari.”

Sesungguhnya pernyataan-pernyataan dari ulama di atas menurunkan derajat haditsnya dari shahih menjadi hasan karena tidak ada khilaf tentang ‘adalah dan fiqihnya. Secara umum dia dhabth (hafal) namun kadang-kadang salah. Kemudian hadits ini pun termasuk yang dikenal dari riwayatnya dan tidak diingkari karena yang dia riwayatkan adalah haditsnya orang-orang Madinah dan dia pun membutuhkannya untuk fiqih. Dan hadits semacam ini tentunya dihafal oleh seorang ahli fiqih. Lagipula, hadits ini pun masih ada penguatnya dari jalan lain.” (Iqtidha’ Ash-Shiraat, 355-356)

Ibnul Qayyim t berkata tentang hadits ini, “Dan sanad hadits ini hasan, seluruh perawinya tsiqah masyhur.” (Ighatsatul Lahafan hal. 180)

Hadits ini dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud (2/218).

Makna hadits

لاَ تَجْعَلُوْا بُيُوْتَكُمْ قُبُوْرًا

“Janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian sebagai kuburan…”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t berkata, “Maknanya janganlah kalian mengosongkan rumah dari shalat dan berdoa serta bacaan Al-Qur’an agar tidak sama dengan kuburan. Rasulullah n di dalam hadits ini memerintahkan untuk menjaga ibadah di rumah-rumah serta melarang untuk menjaga ibadah di kuburan. Hal ini berbeda dengan perbuatan yang dilakukan kaum musyrikin dari kalangan Nasrani serta orang-orang yang menyerupai mereka dari kalangan umat ini.” (Iqtidha’ Ash-Shirath, 357)

Asy-Syaikh Al-‘Utsaimin t menjelaskan bahwa larangan Rasulullah n dalam hadits ini menunjukkan dua kemungkinan. Yang pertama, adalah larangan menjadikan rumah sebagai kuburan sehingga tidak diperkenankan seseorang dikuburkan di dalam rumahnya. Adapun makna yang kedua, adalah larangan menjadikan rumah seperti kuburan sehingga rumah dikosongkan dari shalat ataupun bacaan Al-Qur’an. Dan menurut beliau kedua makna ini benar seluruhnya.

Barangkali ada pertanyaan yang melintas di benak kita, mengapa Rasulullah n justru dikuburkan di dalam rumah beliau? Ada dua alasan, yang pertama karena ada kekhawatiran kubur beliau akan dijadikan masjid (tempat ibadah) dan diagung-agungkan sebagaimana riwayat Muslim dari Aisyah x. Alasan kedua karena adanya beberapa riwayat yang menyebutkan bahwa para Nabi n dimakamkan di tempat meninggalnya. (Al-Qaulul Mufid, hal. 459-460)

وَلاَ تَجْعَلُوْا قَبْرِيْ عِيْدًا

“…Jangan pula kalian menjadikan kuburku sebagai ied…”

Asy-Syaikh Al-‘Utsaimin t menjelaskan bahwa ada dua kemungkinan makna “ied” di dalam hadits ini. Yang pertama, adalah amalan atau aktivitas yang dilakukan secara rutin setiap tahun. Yang kedua adalah sering pulang pergi ke tempat tersebut dan melakukan amalan. Kemudian beliau berkata, ”Zhahir hadits menunjukkan makna yang kedua. Maka makna hadits di atas adalah janganlah kalian pulang pergi ke kuburku dan janganlah menjadikan hal tersebut sebagai kebiasaan kalian. Sama saja apakah hal itu dilakukan setiap tahun, tiap bulan, atau tiap pekan, karena Nabi Muhammad n telah melarangnya.”

Kemudian beliau melanjutkan, “Adapun yang dilakukan sebagian orang di Madinah setiap kali selesai shalat fajar mereka pergi ke kubur Nabi n untuk mengucapkan salam dan hal ini menjadi kebiasaannya setiap selesai melaksanakan shalat fajar karena menyangka hal ini sama dengan mengunjungi beliau ketika masih hidup maka perbuatan ini adalah bentuk kebodohan darinya. Apakah mereka tidak mengerti bahwa di manapun mereka mengucapkan salam kepada Nabi n tentu akan sampai juga kepada beliau?” (Al-Qaulul Mufid hal. 461-462)

وَصَلُّوْا عَلَيَّ فَإِنَّ صَلاَتَكُمْ تَبْلُغُنِيْ حَيْثُ كُنْتُمْ

“Dan bershalawatlah kalian untukku. Karena sesungguhnya shalawat kalian akan sampai kepadaku di manapun kalian berada.”

Syaikhul Islam t berkata, ”Dengan hadits ini beliau hendak menyampaikan bahwa shalawat dan salam dari kalian untukku akan sampai kepadaku, kalian dekat ataupun jauh dari kuburku. Sehingga tidak perlu untuk menjadikan kuburku sebagai ied.” (Iqtidha’ Ash-Shirath, hal. 357)

Ketika menjelaskan hadits ini, Asy-Syaikh Al-Utsaimin t mengajukan sebuah pertanyaan dan beliau sendiri yang menjawabnya. Bagaimanakah cara sampainya shalawat kepada Rasulullah n?

Jawabannya, kami menyatakan bahwa apabila datang nash semacam ini -dan hal ini termasuk perkara ghaib- maka diwajibkan untuk meyakini tentang al-kaif majhul (caranya tidak diketahui). Kita tidak mengetahui dengan cara seperti apakah shalawat itu sampai kepada Rasulullah n. Hanya saja terdapat sebuah riwayat dari Nabi n bahwasanya Allah l memiliki para malaikat yang berjalan di atas muka bumi untuk menyampaikan ucapan salam dari umat ini kepada Rasulullah n. Jika riwayat ini shahih, maka inilah kaifiyahnya. (Al-Qaulul Mufid, hal. 463)

Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan hadits ini bahwa Allah l menugaskan para malaikat untuk menyampaikan shalawat kepada Rasulullah n dalam keadaan Rasulullah n di kuburnya. Maka di manapun engkau bershalawat untuknya niscaya shalawat itu akan sampai kepadanya, meskipun engkau di timur atau di barat. Hal ini termasuk tanda-tanda kekuasaan Allah l, yaitu shalawat sampai kepada Rasulullah n padahal beliau berada di dalam kuburnya. Perkara ini termasuk peristiwa alam barzakh, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah l.

Beliau juga menjelaskan bahwa hadits ini sekaligus merupakan dalil bahwa tidak ada keistimewaan secara tersendiri untuk bershalawat di samping kubur Rasulullah n. (I’anatul Mustafid Syarah Kitab At-Tauhid)

Hal ini diperkuat dengan sikap seorang tabi’in yang berasal dari keluarga Rasulullah n sendiri. Diriwayatkan dari Ali bin Husain, bahwasanya beliau pernah melihat seseorang datang ke sebuah tempat kosong dekat kubur Nabi n lalu orang tersebut masuk dan berdoa. Maka Ali berkata, “Maukah engkau aku beritahu tentang sebuah hadits yang pernah aku dengar dari ayahku dari kakekku, yaitu Rasulullah n? Beliau bersabda, ‘Janganlah kalian menjadikan kuburku sebagai ied, jangan pula kalian menjadikan rumah-rumah kalian sebagai kuburan, dan bershalawatlah kalian untukku, karena sesungguhnya shalawat dan salam kalian akan sampai kepadaku di manapun kalian berada’.”

Hadits ini dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah (2/375), Abu Ya’la (269), Al-Bukhari dalam Tarikh (2/186), dan Adh-Dhiya’ dalam Mukhtarah (428) dengan sanad yang hasan lighairihi.

Setelah membawakan dua riwayat lain yang memperkuat, Al-Imam Ibnul Qayyim t berkata, “Kedua riwayat mursal ini berasal dari dua jalur yang berbeda menunjukkan kebenaran hadits ini. Lebih-lebih lagi, perawi yang meriwayatkan secara mursal ini pun berhujjah dengan riwayatnya. Hal ini menunjukkan kebenaran hadits ini baginya.” (Ighatsatul Lahafan hal. 181)

Syaikul Islam t berkata, ”Maka perhatikanlah sunnah ini, bagaimanakah sunnah ini ditunjukkan dari penduduk kota Madinah dan dari salah seorang Ahlul Bait, yaitu orang-orang yang memiliki kedekatan dengan Rasulullah n secara nasab dan tempat tinggal. Disebabkan mereka lebih membutuhkan hal ini daripada orang lain, tentu mereka lebih kuat dalam hal ini.” (Iqtidha Ash-Shiraat 359)

Beberapa hal yang mesti diluruskan

Pembaca…

Sebuah buku telah ditulis oleh Tim Bahtsul Masail PCNU Jember dengan judul Membongkar Kebohongan buku Mantan Kiai NU menggugat Sholawat dan Dzikir Syirik. Tujuan penulisan buku ini adalah untuk membenarkan amalan syirik sebagian warga nahdhiyyin seperti bertawassul dengan Nabi n setelah beliau wafat, shalawat-shalawat syirik dan bid’ah, serta beberapa hal yang lain. Patut disayangkan sekali para penulis menyatakan bahwa dengan buku tersebut mereka telah membela Ahlus Sunnah wal Jamaah. Entah Ahlus Sunnah Wal Jamaah manakah yang mereka maksud? Yang jelas Ahlus Sunnah yang dimaksud mereka bukanlah Ahlus Sunnah yang dimaksud oleh Rasulullah n.

Kesalahan demi kesalahan dilakukan Tim Bahtsul Masail dalam buku tersebut. Berdalil dengan ayat atau hadits yang shahih namun tidak tepat peletakannya atau salah di dalam memahaminya banyak didapatkan dalam buku itu. Sekian banyak riwayat lemah bahkan palsu pun mereka pakai untuk membenarkan keyakinan mereka. Salah satu contohnya adalah menyebutkan kitab Ahkam Tamanni Al-Maut sebagai buah karya Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Tim Bahtsul Masail banyak menukilkan riwayat-riwayat lemah bahkan palsu serta menyandarkannya kepada Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab di dalam kitab Ahkam Tamanni Al-Maut.

Pembaca… Sebenarnya kitab ini bukanlah karya Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Akan tetapi, kejadian yang sesungguhnya adalah Universitas Al-Imam mendapatkan transkrip kitab ini dari Leiden (Belanda). Lalu disimpan di Al-Maktabah As-Su’udiyyah Riyadh. Kitab ini diambil dari Leiden bukan karena kitab ini sebagai karya beliau tetapi karena menggunakan tulisan tangan beliau.

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab t dahulu sering mengadakan rihlah (perjalanan), jika beliau menemukan sebuah kitab yang jarang diperjualbelikan maka beliau menyalinnya. Termasuk kitab Ahkam Tamanni Al-Maut, beliau menyalin dengan tulisan tangan beliau sendiri dengan maksud akan memeriksa dan menelitinya. Maklum adanya bahwa para ulama ahlu hadits mereka menulis segala hal bahkan riwayat-riwayat palsu pun ditulis sehingga mereka dapat menjelaskan dengan lengkap tentang hukum dan makna sebenarnya.

Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah telah membantah keberadaan kitab ini sebagai karya Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab t dengan menguraikan delapan argumen. Kitab ini berjudul Ibthaal Nisbati Kitaab Ahkaami Tamanni Al-Maut Ilaa Asy Syaikh Al-Imam Muhammad bin Abdul Wahhab. Bahkan pentahqiqnya sendiri, Abdullah Al-Jibrin dan Abdurrahman As-Sadhan, pun mengeluarkan surat pernyataan rujuk dan mengakuinya sebagai kesalahan.

Alam barzakh berbeda dengan alam dunia

Saudara pembaca…

Keyakinan orang-orang Shufi bahwa orang yang telah meninggal masih hidup, dapat mendengarkan doa, dan mampu menolong orang yang masih hidup adalah keyakinan yang salah. Hal ini terjadi karena mereka tidak memahami perbedaan antara alam dunia dan alam barzakh. Mereka ingin menyamakan antara kehidupan dunia dengan kehidupan barzakh padahal kehidupan dunia berbeda dengan kehdupan barzakh.

Seluruh dalil tentang adanya kehidupan setelah mati menunjukkan kehidupan barzakh dan bukan kehidupan dunia. Allah l berfirman:

“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Rabbnya dengan mendapat rezeki.” (Ali Imran:169)

Al-Imam Asy Syinqithi t menafsirkan bahwa di dalam ayat ini Allah Tabaaraka wa Ta’ala melarang untuk menyangka para syuhada’ telah mati. Dengan jelas, Allah l menerangkan bahwa mereka hidup di sisi Rabb dengan mendapat rezeki. Mereka pun berbahagia disebabkan karunia Allah l yang diberikan-Nya kepada mereka dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka. Bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Di dalam ayat ini Allah l tidak menjelaskan apakah kehidupan mereka di alam barzakh dapat merasakan kehidupan penduduk alam dunia secara nyata ataukah tidak? Hanya saja Allah l telah menjelaskan di dalam surat Al-Baqarah bahwa mereka tidak merasakan kehidupan alam dunia di dalam firman-Nya:

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.” (Al-Baqarah: 154)

Beliau menjelaskan di tempat yang lain, “Para syuhada mereka hidup di alam yang berbeda dengan alam kita dan kita tidak dapat merasakan kehidupan mereka karena alam kehidupan mereka bukanlah alam rasa yang dapat dirasakan dengan indera.” (Adhwa’ul Bayan)

Al-Hafizh Ibnu Katsir t berkata dalam tafsir ayat ini, “Allah l mengabarkan bahwa para syuhada hidup dengan mendapatkan rezeki di alam barzakh mereka.”

Rasulullah n telah wafat

Pembahasan di atas ini tidaklah bertentangan dengan ayat ataupun hadits yang menjelaskan tentang wafatnya Rasulullah n, seperti firman Allah l dalam Az-Zumar:

“Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati (pula).” (Az-Zumar: 30)

Al-Imam Asy-Syinqithi t menjelaskan bahwa para syuhada merasakan mati dalam alam dunia sehingga harta mereka menjadi warisan dan istri mereka pun dapat dinikahi oleh orang lain sesuai ijma’ kaum muslimin. Kematian jenis inilah yang dirasakan oleh Rasulullah n sebagaimana kabar dari Allah l.

Di dalam kitab Ash-Shahih disebutkan bahwa ketika Rasulullah n wafat maka Abu Bakr Ash-Shiddiq z pun berkata, “Ayah ibuku sebagai jaminan, demi Allah, Allah l tidak akan mengumpulkan dua kematian untukmu (wahai Rasulullah n). Adapun kematian yang telah ditetapkan Allah l untukmu telah engkau lewati.”

Demikian juga Abu Bakr z berkata, ”Barangsiapa menyembah Muhammad maka sesungguhnya Muhammad telah wafat.”

Hal ini diucapkan Abu Bakr karena berdalil dengan Al-Qur’an sehingga para sahabat pun mengikuti pernyataan Abu Bakr z tersebut.

Adapun jenis kehidupan yang dijanjikan Allah l untuk para syuhada dalam Al-Qur’an, demikian juga jenis kehidupan yang diberikan kepada Rasulullah n setelah wafatnya, adalah jenis kehidupan di alam barzakh yang tidak akan mungkin dapat dirasakan oleh penduduk alam dunia.

Kalau seandainya kehidupan Rasulullah n setelah wafatnya adalah kehidupan yang dapat dirasakan oleh penduduk alam dunia tentunya Abu Bakr Ash-Shiddiq z tidak perlu menyampaikan bahwa Nabi Muhammad n telah meninggal dunia, tidak perlu dimakamkan, tidak boleh dipilih seorang khalifah sebagai pengganti beliau, Utsman ztidak akan terbunuh, para sahabatnya tidak mungkin berselisih, dan tidak mungkin Aisyah x mengalami peristiwa pahit dalam sejarah karena Rasulullah n akan membimbing. Kalau memang kehidupan Rasulullah n dapat dirasakan oleh penduduk alam dunia tentunya pada saat-saat tersebut para sahabat akan bertanya kepada Nabi Muhammad n. (Daf’ul Iihaam 28-30)

Bagaimanakah sebenarnya?

Saudara pembaca…

Banyak sekali dalil yang digunakan orang-orang shufi untuk membenarkan keyakinan mereka tentang kemampuan wali atau nabi yang telah meninggal untuk menolong mereka. Sebagiannya shahih tetapi salah di dalam penempatan atau pemahaman. Yang lainnya adalah dalil-dalil yang lemah bahkan palsu. Berikut ini beberapa dalil yang sering digunakan oleh mereka (termasuk Tim Bahtsul Masail PCNU Jember).

Pertama

Dari Anas bin Malik z, Rasulullah n bersabda:

الأَنْبِيَاءُ أَحْيَاءٌ فِيْ قُبُوْرِهِمْ يُصَلُّوْنَ

“Para nabi itu hidup di alam kubur mereka dan menunaikan shalat.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dan Al-Bazzar serta ulama lainnya.

Beberapa waktu lamanya Asy-Syaikh Al-Albani menilai hadits ini dhaif karena beliau menyangka Ibnu Qutaibah sendirian di dalam meriwayatkan hadits ini, sebagaimana pernyataan Al-Baihaqi, dan beliau belum mendapatkan jalan dari Musnad Abu Ya’la dan kitab Akhbar Asbahan. Namun, setelah beliau mendapatkan kedua jalan tersebut maka jelaslah bahwa sanadnya kuat dan pernyataan Al-Baihaqi tidak benar. Oleh karena itu, Asy-Syaikh Al-Albani segera mengeluarkan hadits ini di dalam Ash-Shahihah untuk melaksanakan tanggung jawab dan amanah ilmiah.

Asy-Syaikh Al-Albani t berkata, “Kemudian ketahuilah bahwa kehidupan para nabi yang ditetapkan di dalam hadits ini adalah kehidupan alam barzakh dan tidak terkait sedikitpun dengan kehidupan alam dunia. Oleh karena itu, kehidupan alam barzakh wajib diimani tanpa membuat permisalan serta mencoba untuk menyerupakan dan menyamakannya dengan kehidupan dunia yang diketahui sekarang. Inilah sikap yang harus diambil oleh seorang mukmin di dalam masalah ini yaitu beriman dengan kandungan hadits ini tanpa menambahkan qiyas (kias/analogi) dan pendapat sendiri-sendiri sebagaimana yang dilakukan ahlul bid’ah, yaitu orang-orang yang sebagian dari mereka sampai-sampai menganggap bahwa kehidupan Nabi Muhammad n di kuburnya adalah kehidupan hakiki. Ia menyatakan, ”Nabi pun makan, minum, dan menggauli istri-istrinya!!!” Padahal kehidupan di sana hanyalah kehidupan alam barzakh, tidak ada yang mengetahui hakikatnya kecuali Allah l.” (Silsilah Shahihah 2/187)

Kedua

مَا مِنْ عَبْدٍ يَمُرُّ بِقَبْرِ رَجُلٍ كَانَ يَعْرِفُهُ فِي الدُّنْيَا فَيُسَلِّمُ عَلَيْهِ إِلاَّ عَرَفَهُ وَرَدَّ عَلَيْهِ السَّلاَمَ

“Tidak seorang pun yang lewat bertemu dengan kuburan saudaranya seiman –yang pernah mengenalnya-, lalu mengucapkan salam kepadanya, kecuali ia akan mengenalnya dan membalas salamnya.”

Hadits ini dikeluarkan oleh Abu Bakr Asy-Syafi’i dalam Majlisan (1/6), Ibnu Jami’ dalam Mu’jam (351), Abul Abbas Al-Asham dalam Ats-Tsani (2/143), Al-Khathib dalam Tarikh (6/137), Tamam dalam Al-Fawaid (1/19/2), Ibnu Asakir (2/209/3), Ad-Dailami (11/4), dan Adz-Dzahabi dalam Siyar (12/590) dari sahabat Abu Hurairah z.

Al-Imam Ibnul Jauzi t berkata, “Hadits ini tidak shahih. Sungguh mereka telah sepakat tentang dhaifnya Abdurrahman bin Zaid (salah seorang perawi hadits). Ibnu Hibban menyatakan, ‘Ia sering membolak-balikkan kabar dalam keadaan dia tidak mengerti hingga hal ini banyak terjadi di dalam riwayatnya. Seperti merafa’kan hadits mursal dan mengisnadkan hadits mauquf, maka orang ini berhak untuk ditinggalkan’.” (Al-‘Ilal Al-Mutanahiyah, 2/911)

Asy-Syaikh Al-Albani t berkata: Dan sanad hadits ini lemah sekali. Abdurrahman bin Zaid matruk (haditsnya ditinggalkan, red.) sebagaimana telah dilewati berkali-kali. Adz-Dzahabi membawakan hadits ini dalam biografinya dan termasuk riwayat yang diingkari darinya.

Ada juga jalan lain dari sahabat Ibnu Abbas c yang diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Barr c dalam Syarah Al-Muwaththa’. Namun sanad hadits ini gharib, Abu Abdillah Ubaid bin Muhammad serta Fathimah bintu Ar-Rayyan Al-Makhzumi Al-Mustamli termasuk perawi yang tidak dikenal.

Al-Hafizh Ibnu Rajab dalam Ahwal Al-Qubur (2/83) berkata, “Beliau mengisyaratkan bahwa seluruh perawinya tsiqah, dan memang demikian. Hanya saja hadits ini gharib bahkan mungkar.” (Adh-Dha’ifah 9/473)

Ketiga

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ عِنْدَ قَبْرِيْ سَمِعْتُهُ، وَمَنْ صَلَّى عَلَيَّ نَائِيًا وُكِّلَ بِهَا مَلَكٌ يُبَلِّغُنِيْ، وَكُفِيَ بِهَا أَمْرُ دُنْيَاهُ وَآخِرَتُهُ، وَكُنْتُ لَهُ شَهِيْدًا أَوْ شَفِيْعًا

“Barangsiapa bershalawat untukku di samping kuburku maka aku akan mendengarnya. Barangsiapa bershalawat untukku dan ia jauh dariku niscaya akan diwakilkan malaikat yang menyampaikannya untukku. Dan dengan shalawat itu ia dicukupkan urusan dunia dan akhiratnya. Aku akan menjadi saksi atau pemberi syafaat untuknya.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Sam’un dalam Al-Amali (2/193/2), Al-Khathib dalam Tarikh (3/291), dan Ibnu Asakir (2/70/16)

Menurut Ibnul Jauzi t dalam Al-Maudhu’at (1/303) Muhammad bin Marwan adalah seorang perawi kadzaab (pendusta). Al-Uqaili berkata, “Hadits ini tidak ada asalnya.” Ibnu Abdil Hadi t dalam Ash-Sharim Al-Munki (hal. 190) berkata, “Dia (Muhammad bin Marwan) matrukul hadits muttaham bilkadzib (haditsnya ditinggalkan dan tertuduh dengan kedustaan).”

Syaikhul Islam t berkata tentang hadits ini dalam Majmu’ Fatawa (27/241), “Hadits ini maudhu’ (palsu), yang meriwayatkan dari Al-A’masy hanya Muhammad bin Marwan As-Suddi, dan dia kadzdzab (pendusta) menurut kesepakatan (ahli hadits). Hadits ini dipalsukan atas Al-A’masy dengan kesepakatan mereka.”

Asy-Syaikh Al-Albani t berkata dalam Silsilah Adh-Dha’ifah (1/366), “Hadits ini maudhu’ (palsu) dengan lafadz ini secara keseluruhan.”

Penutup

Saudara pembaca…

Al-Imam Adz-Dzahabi t dalam Siyar A’lam An-Nubala’ (9/409) menyebutkan sebuah kisah singkat tentang Al-Imam Ali Al-Madini. Al-Imam Ali Al-Madini berkata, ”Suatu hari aku pernah menemui Ahmad bin Atha’ Al-Hujaimi. Ketika itu aku menjumpainya sedang membawa lembaran-lembaran kertas untuk menyampaikan hadits. Aku pun bertanya kepadanya, ‘Engkau mendengar sendiri hadits-hadits ini?’

Ia menjawab, ‘Tidak, akan tetapi aku membeli catatan ini karena di dalamnya terdapat hadits-hadits yang bagus sehingga aku bisa menyampaikannya kepada orang lain.’

Aku pun berkata, ‘Apakah engkau tidak takut kepada Allah l? Apakah engkau ingin mendekatkan manusia kepada Allah l dengan berdusta atas nama Rasulullah n?’.”

Kemudian Al-Imam Adz-Dzahabi t memberikan komentar, ”Orang tersebut tidak mengerti tentang ilmu hadits. Ia hanyalah seorang hamba yang shalih dan telah keliru dalam perkara Al-Qadar. Kita berlindung kepada Allah l dari kedustaan-kedustaan kaum shufiyah. Tidak ada kebaikan kecuali dengan ittiba’ (mengikuti Rasulullah n) dan ittiba’ seseorang tidak akan sempurna kecuali dengan mengetahui sunnah-sunnah beliau.” Wallahu a’lam bish-shawab.

Tafsir Imam Syafi’i buka Tafsir Sufi

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal)

Al-Imam Asy-Syafi’i t merupakan salah seorang tokoh Ahlus Sunnah yang dikenal memiliki keilmuan agama di berbagai bidang, termasuk pula dalam ilmu tafsir. Beliau merupakan salah satu rujukan pada zamannya, yang menjadi tempat bertanya kaum muslimin dalam penafsiran Al-Qur’an.

Ahmad bin Muhammad Asy-Syafi’i berkata: “Aku mendengar ayahku dan pamanku berkata: Adalah Sufyan bin Uyainah t, jika ada seseorang datang kepadanya bertanya tentang tafsir dan fatwa, maka beliau menoleh kepada Al-Imam Asy-Syafi’i dan berkata: ‘Bertanyalah kalian kepada orang ini’.” (Siyar A’lam An-Nubala’, Adz-Dzahabi, 10/17)

Yunus bin Abdil A’la berkata: “Dahulu aku duduk bersama para ahli tafsir dan berdialog dengan mereka. Lalu jika Al-Imam Asy-Syafi’i mulai menafsirkan, seakan-akan beliau menyaksikan ayat itu diturunkan.” (Tarikh Madinah Dimasyq, 51/362)

Abu Hassan Az-Ziyadi berkata: “Aku dahulu bertanya kepada Asy-Syafi’i tentang beberapa makna dalam Al-Qur’an. Aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih mampu dari beliau dalam menyebutkan makna-makna Al-Qur’an dan ungkapan yang disertai maknanya, serta menguatkannya dengan syair atau bahasa Arab.” (Tarikh Dimasyq, 51/362)

Al-Imam Ahmad bin Hanbal t berkata: “Dahulu nafas para ahli hadits ada di tangan Abu Hanifah hingga kami melihat Asy-Syafi’i. Beliau adalah manusia yang paling mengerti tentang Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya. Beliau tidak merasa cukup dengan sedikit menuntut ilmu hadits.” (Hilyatul Auliya’, Abu Nu’aim, 9/99)

Muhammad bin Fudhail Al-Bazzar menyampaikan dari ayahnya bahwa dia bertanya kepada Al-Imam Ahmad bin Hanbal t tatkala melihat Al-Imam Ahmad duduk dengan seorang pemuda: “Wahai Abu Abdillah, engkau meninggalkan majelis Ibnu Uyainah, padahal dia memiliki riwayat Az-Zuhri, ‘Amr bin Dinar, Ziyad bin ‘Alaqah dan kalangan tabi’in lainnya, yang Allah l lebih mengetahui tentang (keutamaan) mereka?”

Jawab Al-Imam Ahmad: “Diam kamu. Jika engkau tertinggal mendapatkan hadits dengan sanad yang ‘ali (tinggi), engkau bisa mendapatkannya dengan sanad yang nazil (rendah). Itu tidak membahayakan agamamu, tidak pula akal dan pemahamanmu. Namun jika engkau tertinggal oleh pemikiran pemuda ini, saya khawatir engkau tidak lagi menemukannya hingga hari kiamat! Aku tidak pernah melihat orang yang paling mengerti tentang Kitabullah dari pemuda Quraisy ini.”

Aku bertanya: “Siapa dia?” Beliau menjawab: “Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i.” (Hilyatul Auliya’, 9/100)

Ini pula yang dikatakan oleh Al-Mubarrid: “Semoga Allah l merahmati Al-Imam Asy-Syafi’i, karena sesungguhnya beliau orang yang paling ahli dalam bidang syair, sastra, dan paling mengerti tentang Al-Qur’an.” (Tawali At-Ta’sis, Ibnu Hajar hal. 104)

 

Kedudukan Al-Qur’an menurut Al-Imam Asy-Syafi’i t

Al-Imam Asy-Syafi’i t menjelaskan bahwa Al-Qur’an merupakan pedoman, petunjuk, dan pembimbing. Barangsiapa senantiasa menggali ilmunya maka dia akan memiliki kedudukan yang tinggi, sesuai kadar ilmu Al-Qur’an yang dimilikinya.

Al-Imam Asy-Syafi’i t berkata: “Semua yang diturunkan Allah k dalam kitab-Nya merupakan rahmat dan hujjah. Berilmu bagi orang yang mengetahuinya dan jahil bagi yang tidak mengetahuinya. Tidak berilmu orang yang jahil terhadapnya, dan tidak jahil orang yang mengilmuinya. Sedangkan manusia bertingkat-tingkat dalam keilmuan. Kedudukan mereka dalam ilmu sesuai tingkatan mereka dalam mengilmuinya (Al-Qur’an).” (Ar-Risalah, Al-Imam Asy-Syafi’i hal. 19)

Beliau t juga menjelaskan bahwa kebahagiaan serta kemenangan hidup di dunia dan akhirat hanyalah diperoleh dengan memahami hukum-hukum yang telah diturunkan Allah k dalam kitab-Nya. Beliau t berkata: “Barangsiapa yang menjangkau ilmu tentang hukum-hukum Allah l dalam kitab-Nya, baik secara nash maupun secara istinbath (mengambil kesimpulan dari suatu dalil), dan Allah l memberi taufiq kepadanya untuk berkata serta mengamalkan apa yang telah diilmuinya, maka dia akan meraih kemenangan dalam agama dan dunianya. Akan hilang darinya berbagai keraguan. Cahaya hikmah akan senantiasa menerangi hatinya dan dia akan mendapatkan kepemimpinan di dalam agama.” (Ar-Risalah hal. 19)

 

Perbedaaan tafsir Al-Imam Asy-Syafi’i  t dengan tafsir kelompok Shufiyah

Sebagian orang menyangka bahwa Al-Imam Asy-Syafi’i t sejalan dengan pemikiran Shufiyah. Hal ini disebabkan karena banyaknya ahli tasawwuf yang menisbahkan dirinya sebagai penganut madzhab Al-Imam Asy-Syafi’i serta mengikuti ajaran-ajaran beliau. Padahal tidak demikian keadaannya. Bahkan prinsip-prinsip yang diajarkan Al-Imam Asy-Syafi’i t senantiasa sejalan dengan prinsip-prinsip Ahlus Sunnah secara umum. Khususnya dalam bidang ilmu tafsir, Al-Imam Asy-Syafi’i t sangat jauh dari berbagai prinsip Shufiyah dalam penafsiran Al-Qur’an.

Dalam ushul tafsir, Al-Imam Asy-Syafi’i t menegaskan bahwa dalam memahami Al-Qur’an, Allah l telah memberikan penjelasan terhadap ayat-ayat-Nya dengan beberapa cara:

– Ada yang Allah k jelaskan secara nash, seperti beberapa perkara wajib, di mana Allah k telah mewajibkan atas mereka shalat, menunaikan zakat, berhaji, berpuasa, dan mengharamkan atas mereka perbuatan keji, yang nampak maupun yang tersembunyi, perbuatan zina, minum khamr, memakan bangkai, darah, dan daging babi, serta menjelaskan kepada mereka kewajiban berwudhu dan yang lainnya.

– Ada pula yang Allah l tetapkan kewajiban sesuatu melalui kitab-Nya dan menjelaskan caranya melalui lisan Nabi-Nya n. Seperti bilangan shalat, zakat, dan waktu-waktunya, serta yang lainnya.

– Apa yang ditetapkan oleh Rasul-Nya n berupa sesuatu yang tidak disebutkan nash-nya dalam Al-Qur’an, di mana Allah  l telah mewajibkan dalam kitab-Nya untuk taat kepada Rasul-Nya n dan menetapkan hukumnya. Maka barangsiapa yang menerima hukum dari Rasulullah n, berarti dia menerima ketetapan Allah k.

– Adapula yang Allah l wajibkan kepada hamba-hamba-Nya untuk berijtihad dalam menemukan jawabannya dan menguji ketaatan hamba tersebut dengan berijtihad, sebagaimana Allah l menguji mereka dengan apa yang telah Allah k wajibkan atas mereka. (Ar-Risalah, Al-Imam Asy-Syafi’i, hal. 21-22)

Prinsip-prinsip yang disebutkan oleh Al-Imam Asy-Syafi’i t ini sangat bertentangan dengan apa yang menjadi prinsip kaum Shufiyah. Di kalangan Shufiyah, ilmu tidak diambil dengan cara mempelajari Al-Kitab dan As-Sunnah, karena mereka menganggap bahwa mengambil ilmu secara langsung dari keduanya adalah kekeliruan. Seperti apa yang diucapkan oleh Abul Fadhl Al-Ahmadi: “Jangan kalian memastikan kebenaran dari apa yang kalian ketahui dari Al-Kitab dan As-Sunnah, meskipun secara hakiki itu adalah kebenaran.” (Al-Mashadir Al-’Ammah lit Talaqqi ‘inda Ash-Shufiyah, karya Shadiq Salim, hal. 186)

Namun salah satu cara mereka dalam mengambil ilmu adalah dengan kasyaf shufi. Yaitu kemampuan untuk dapat melihat berbagai hal dengan cara menembus alam ghaib, sehingga seakan-akan dia melihatnya dengan mata kepalanya. Ilmu kasyaf ini –menurut mereka– jauh lebih afdhal dari sekadar mempelajari Al-Kitab dan As-Sunnah. Al-Ghazali menukil dari Al-Junaid bahwa dia berkata: “Aku lebih suka bagi seorang murid pemula untuk tidak menyibukkan hatinya dengan tiga hal: mencari nafkah, menuntut ilmu hadits, dan menikah. Aku lebih suka bagi seorang shufi untuk tidak menulis dan membaca, karena cara itu lebih fokus untuk mencapai harapannya.” (Ihya’ Ulumiddin, Al-Ghazali, 4/239)

Ad-Darani berkata: “Jika seseorang menuntut ilmu hadits, atau menikah, atau mencari nafkah, maka sungguh dia telah condong kepada dunia.” (Ihya’ Ulumiddin, 1/61)

Oleh karenanya, di kalangan Shufiyah, orang yang paling bodoh sekalipun bisa menjadi seorang syaikh yang dihormati. Asy-Sya’rani tatkala menyebut salah seorang gurunya berkata: “Di antara mereka adalah syaikh dan ustadz saya: Sidi Ali Al-Khawwash Al-Baralsi –semoga Allah l meridhai dan merahmatinya–, beliau adalah seorang yang ummi, tidak bisa menulis dan membaca. Dia berbicara tentang makna-makna Al-Qur’an Al-Karim dan As-Sunnah yang mulia, dengan perkataan yang sangat berharga yang membuat para ulama tercengang1….” (Thabaqat Asy-Sya’rani, 2/150, Al-Mashadir Al-’Ammah hal. 184)

Subhanallah! Kaum Shufiyah berusaha memalingkan kaum muslimin untuk mempelajari agamanya. Padahal seorang muslim tidak mungkin dapat memahami agamanya kecuali dengan cara belajar dan mendalami Al-Qur’an dan As-Sunnah. Rasulullah n bersabda:

إِنَّمَا الْعِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ وَالْحِلْمُ بِالتَّحَلُّمِ وَمَنْ يَتَحَرَّ الْخَيْرَ يُعْطه وَمَنْ يَتَوَقَّ الشَّرَ يُوقه

“Sesungguhnya ilmu diperoleh dengan belajar dan kesabaran diperoleh dengan belajar sabar. Barangsiapa yang mencari kebaikan maka ia akan diberi dan barangsiapa yang menjaga diri dari kejahatan maka ia akan dipelihara.” (HR. Al-Khathib dalam Tarikh-nya 9/127, dari Abu Hurairah z. Lihat Silsilah Ash-Shahihah, karya Al-Albani, 1/342)

Al-Imam Asy-Syafi’i t berkata:

لَقَدْ ضَلَّ مَنْ تَرَكَ حَدِيثَ رَسُولِ اللهِ n لِقَوْلِ مَنْ بَعَدَهُ

“Sungguh telah sesat orang yang meninggalkan hadits Rasulullah n karena ucapan orang setelahnya.” (Al-Faqih wal Mutafaqqih, Al-Khathib Al-Baghdadi, 1/386)

Perbedaan yang sangat mencolok antara Al-Imam Asy-Syafi’i dengan kaum Shufiyah inilah yang menyebabkan terjadinya perbedaan dalam menafsirkan ayat-ayat Allah k. Kaum Shufiyah dalam menafsirkan ayat tidak bersandar kepada kaidah-kaidah yang diterapkan para ulama dalam menafsirkan, juga tidak bersandar kepada kaidah-kaidah ilmu musthalah hadits. Mereka selalu bersandar kepada apa yang disebut dengan ilmu kasyaf tersebut, ilmu ladunni2, mimpi-mimpi, atau perasaan, yang dengannya mereka mengaku –padahal mereka para pendusta– bahwa mereka mendapatkan penafsiran langsung dari Rasulullah n tanpa perantara.

Asy-Sya’rani berkata tentang salah seorang syaikh sufi asal Mesir yang bernama Ahmad Az-Zawawi: “Dia (Az-Zawawi) pernah berkata kepadaku: ‘Sesungguhnya cara kami adalah memperbanyak shalawat kepada Rasulullah n, sehingga beliau duduk bersama kami dalam keadaan sadar (bukan mimpi). Kami menemaninya sama seperti para sahabat. Kami juga bertanya kepadanya tentang urusan agama kami dan bertanya tentang hadits-hadits yang dilemahkan oleh para hafizh. Lalu kami mengamalkan ucapan Rasulullah n padanya’.” (Lawaqih Al-Anwar Al-Qudsiyyah, lembaran 157, Al-Mashadir Al-’Ammah, hal. 236)

Dengan pengakuan dusta bahwa mereka dapat bertemu Rasulullah n dalam keadaan sadar, mereka pun menafsirkan beberapa ayat Al-Qur’an dengan cara “mendengar langsung” dari beliau n. Disebutkan dalam Al-Ibriz bahwa Al-Lamthi bertanya kepada syaikhnya yang bernama Ad-Dabbagh tentang makna firman Allah k:

“Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh Mahfuzh).” (Ar-Ra’d: 39)

Maka Ad-Dabbagh menjawab: “Aku tidak menafsirkan ayat ini kepada kalian kecuali dengan apa yang aku dengar dari Nabi n. Kemarin beliau menyebutkan tafsirnya kepada kami …. –lalu ia menyebutkan tafsirannya.” (Al-Ibriz hal. 150, Al-Mashadir Al-’Ammah hal. 237)

Demikian pula Ash-Shayadi mengaku bahwa dia telah dibaiat di hadapan Nabi n  untuk senantiasa membaca surah Al-Ikhlas jika masuk rumah. (Bawariqul Haqa’iq, hal. 307, Al-Mashadir Al-’Ammah hal. 238)

Ash-Shayadi Ar-Rifa’i juga mengaku bahwa Khadhir menafsirkan kepadanya firman Allah l:

 

“Dan barangsiapa yang Kami panjangkan umurnya niscaya Kami kembalikan dia kepada kejadian(nya). Maka apakah mereka tidak memikirkan?” (Yasin: 68)

Khadhir berkata kepadanya: “Penafsiran ayat ini adalah, barangsiapa yang Kami panjangkan umurnya dan Kami tinggikan kedudukannya di sisi Kami, Kami jadikan dia di kalangan makhluk terbalik (amalannya).” (Bawariqul Haqaiq, hal. 147)

Adapun dalam periwayatan hadits dari Nabi n, As-Sahrawardi mengaku dalam kitabnya As-Sirr Al-Maktum bahwa Khadhir telah memberitakan kepadanya 300 hadits yang dia dengar secara langsung dari lisan Nabi n. (Kasyful Khudr, lembaran 8, Al-Mashadir Al-’Ammah hal. 261)

Dari sebagian kecil apa yang telah kami paparkan ini, nampaklah bahwa Thariqat Shufiyah memiliki ajaran-ajaran yang sangat bertentangan dengan prinsip-prinsip Ahlus Sunnah wal Jamaah yang telah diajarkan oleh para ulamanya, termasuk di antara mereka adalah Al-Imam Asy-Syafi’i t. Oleh karenanya, penisbahan sebagian kaum Shufi kepada Al-Imam Asy-Syafi’i t, baik dalam masalah fiqih maupun akidah, adalah penisbahan yang Al-Imam Asy-Syafi’i t sendiri berlepas diri dari mereka.

Wallahul muwaffiq.


1 Seperti itu pula sufi masa kini (Jamaah Tabligh), ed.
2 Setali tiga uang dengan ilmu kasyaf, yakni “ilmu” yang didapat “langsung dari Allah l” tanpa proses belajar. Menurut keyakinan sufi, “ilmu” ini tertanam dalam hati manusia melalui ilham, iluminasi (penerangan), inspirasi, dan sejenisnya. Dengan mujahadah, “pembersihan dan pensucian hati” melalui amalan atau zikir tertentu akan terpancar “nur” dari hatinya, sehingga tersibaklah seluruh rahasia alam ghaib. Diyakini, mereka bahkan bisa “berkomunikasi langsung” dengan Allah k, para rasul, dan ruh-ruh lainnya, termasuk Nabi Khidhir. Menurut kibulan orang-orang sufi, ilmu laduni hanya bisa diraih oleh orang-orang yang telah sampai pada tingkatan ma’rifat (pengikut sufi menyebutnya dengan wali, habib, gus, dan sejenisnya), meski lahiriahnya mereka adalah orang-orang yang justru menyelisihi syariat. Berkedok ilmu laduni ini, orang-orang sufi, selain melakukan pembodohan terhadap umat, juga berupaya menjauhkan umat untuk mempelajari ilmu naqli (Al-Qur’an dan As-Sunnah), bahkan berujung dengan menafikannya.

 

Amalan dan Pemahaman Sufi yang Menyelisihi Pendapat Al-Imam AsySyafii dan Ulama Madzhab Syafii

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Abdillah Abdurrahman Mubarak)

Selain dalam masalah akidah, shufiyah juga menyelisihi Al-Imam Asy-Syafi’i t dan para ulama madzhab Syafi’i dalam perkara-perkara lainnya.

 

Masalah tidak sampainya kiriman bacaan Al-Qur’an

Al-Imam Asy-Syafi’i t berpendapat tidak sampainya kiriman pahala bacaan Al-Qur’an kepada orang telah mati. Sedangkan shufiyah justru paling getol melakukannya.

Al-Imam Asy-Syafi’i t berkata dalam kitabnya Al-Umm: “Akan sampai kepada mayit amalan orang lain dan amalan tiga perkara: haji yang dilakukan orang lain mewakili dirinya, shadaqah atas namanya atau yang mengqadha amalannya, dan doa. Adapun yang selain itu berupa shalat dan puasa adalah bagi pelakunya, tidak untuk si mayit.”

Demikian juga Ibnu Katsir t –beliau termasuk ulama bermadzhab Syafi’i– ketika menafsirkan ayat Allah l:

“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” (An-Najm: 39)

Beliau berkata: “Dari ayat ini, Al-Imam Asy-Syafi’i t dan orang yang mengikutinya mengambil istinbath (kesimpulan hukum dari sutau dalil) bahwa hadiah pahala bacaan Al-Qur’an tidaklah sampai kepada orang mati, karena hal itu bukan amal perbuatan mereka. Sehingga Rasulullah n pun tidak pernah menganjurkannya….” (Tafsir Ibnu Katsir) [Lihat Mukhalafah hal. 169]

 

Masalah taklid

Taklid adalah perbuatan tercela, perbuatan kaum musyrikin. Al-Qur’an dan As-Sunnah serta ijma’ menunjukkan rusaknya taklid.

Allah l berfirman:

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,’ Mereka menjawab: ‘(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami.’ (Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui sesuatu pun dan tidak mendapat petunjuk?” (Al-Baqarah: 170)

Ibnu Abdil Bar t berkata: “Tidak ada perselisihan di antara para imam di seluruh negeri tentang rusaknya taklid.”

Al-Imam Asy-Syafi’i t sangat mencerca taklid, sedangkan shufiyah mendidik murid-murid mereka untuk taklid. Al-Imam Asy-Syafi’i t berkata: “Kaum muslimin ijma’, barangsiapa yang telah jelas baginya Sunnah Rasulullah n, maka tidak halal baginya meninggalkannya karena ucapan seseorang.”

Al-Imam Asy-Syafi’i t berkata juga: “Semua yang aku ucapkan namun menyelisihi ucapan Nabi n maka Nabi n lebih utama. Janganlah kalian taklid kepadaku.”

Adapun shufiyah, mengajari umat untuk taklid kepada guru mereka. Alangkah jauhnya dari ajaran beliau. Kenyataan menunjukkan mereka terjatuh dalam bid’ah ini.

Al-Ghazali memisalkan seorang murid dengan gurunya seperti seorang buta yang dituntun di pinggir sungai. Sang murid harus menyerahkan segala urusannya kepada sang guru. Al-Ghazali juga berkata: “Manfaat dari kesalahan guru lebih banyak daripada kebenaran seorang murid.”

Al-Kurdi Ash-Shufi berkata: “Di antara adab, yakni adab bersama guru, adalah tidak menyanggah apa yang dilakukan gurunya walau zhahirnya adalah haram. Tidak boleh murid berkata: ‘Mengapa sang guru melakukan itu?’ Karena barangsiapa yang berkata kepada gurunya: ‘Mengapa?’, dia tidak akan sukses (bahagia).”

Demikianlah pendidikan dan tarbiyah shufiyah, tidak saling mengingkari kemungkaran yang mereka lakukan. (Mukhalafah hal. 129-135)

 

Pengagungan As-Sunnah

Mengagungkan Sunnah Rasulullah n adalah kewajiban setiap mukmin. Allah l berfirman:

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.” (Al-Hasyr: 7)

Allah l berfirman:

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya maka sesungguhnya dia telah sesat, sesat yang nyata.” (Al-Ahzab: 36)

Al-Imam Asy-Syafi’i t adalah seseorang yang berpegang teguh dengan As-Sunnah. Beliau t pernah berkata: “Semua hadits Rasulullah n yang shahih, maka aku berpendapat dengannya walaupun hadits tersebut belum sampai kepadaku.”

Al-Imam Al-Baihaqi t meriwayatkan dengan sanadnya, Al-Imam Asy-Syafi’i t pernah ditanya tentang satu masalah. Kemudian beliau berkata: “Diriwayatkan dari Nabi n bahwa beliau berkata begini dan begini.” Si penanya berkata: “Apakah engkau berpendapat dengannya?” Al-Imam Asy-Syafi’i t gemetar dan memerah wajahnya lalu berkata: “Wahai, bumi mana  yang akan menyanggaku dan langit mana yang akan menaungiku, jika aku riwayatkan dari Nabi n kemudian aku malah tidak berpendapat dengannya??!”

Adapun shufiyah, betapa banyak mereka menolak hadits karena perasaan dan hawa nafsu belaka.

Di antara hadits yang ditolak shufiyah adalah:

1. Dari Anas z, ada seseorang berkata: “Wahai Rasulullah, di mana ayahku?” Beliau menjawab: “Di neraka.” Ketika orang tadi berpaling, Rasulullah n memanggilnya: “Sesungguhnya ayahku dan ayahmu di neraka.” (HR. Muslim no. 203)

2. Hadits Abu Hurairah z, Nabi n berziarah ke makam ibunya dan beliau menangis hingga membuat menangis (orang-orang) yang di sekitarnya. Kemudian beliau n berkata: “Aku minta izin kepada Rabbku untuk berziarah ke kuburan ibuku. Dia mengizinkanku. Dan aku memintakan ampun baginya, tapi aku tidak diberi-Nya izin.” (HR. Muslim)

3. Hadits tentang kisah meninggalnya Abu Thalib. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Mereka menolak hadits-hadits ini tanpa hujjah. Padahal para imam madzhab Syafi’i seperti Al-Imam An-Nawawi, Al-Imam Al-Baihaqi, dan Ibnu Katsir rahimahumullah telah menjelaskan dengan gamblang dari hadits ini bahwa dua orangtua Nabi n meninggal tidak di atas Islam. (Lihat Mukhalafatush Shufiyah hal. 104-116)

 

Masalah ilmu kalam (filsafat)

Al-Imam Asy-Syafi’i t memiliki sikap yang keras terhadap ahlul kalam. Beliau pernah berkata: “Hukumku atas ahlul kalam adalah dia dipukul dengan pelepah kurma dan sandal, kemudian diletakkan di atas unta, lalu diarak keliling kabilah. Diserukan kepada mereka: ‘Ini adalah balasan bagi orang yang meninggalkan Al-Qur’an dan As-Sunnah lalu mempelajari ilmu kalam’.”

Kita telah mengetahui bahwa shufiyah sangat erat dan terpengaruh oleh firqah Asy’ariyah, padahal mereka termasuk kelompok ahlul kalam.

 

Demikianlah beberapa masalah yang bisa kami paparkan dalam kesempatan ini. Mudah-mudahan dengan tulisan ini bisa memberikan sedikit wawasan ilmu bagi yang membacanya, sehingga bisa meyakini bahwa paham Shufiyah banyak sekali penyimpangannya dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, dan bahwasanya kaum shufiyah sejatinya bukanlah pengikut Al-Imam Asy-Syafi’i t.

Sufi Menyelisihi Akidah Al-Imam Assafi’i

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Abdillah Abdurrahman Mubarak)

 

Satu kebohongan jika mereka mengklaim sebagai pengikut Al-Imam Asy-Syafi’i t. Al-Imam Asy-Syafi’i t adalah Imam Ahlus Sunnah yang teguh dan kokoh di dalam berpegang dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Penulis Mukhalafatus Shufiyah lil Imam Asy-Syafi’i t berkata: “Kebanyakan orang yang menisbatkan dirinya kepada Al-Imam Asy-Syafi’i t tidaklah mengambil dari beliau kecuali dalam perkara fiqih dan ibadah yang sesuai dengan hawa nafsu mereka. Namun mereka tidak mengikuti jalan Al-Imam Asy-Syafi’i t dalam masalah akidah.” (Mukhalafatush Shufiyah hal. 19)
Kami akan sebutkan beberapa penyelisihan Shufiyah terhadap Al-Imam Asy-Syafi’i t dalam masalah akidah.
Penyelisihan Shufiyah terhadap Al-Imam Asy-Syafi’i t dalam masalah rububiyah
Banyak sekali keyakinan shufiyah dalam masalah rububiyah yang menyelisihi Al-Qur’an dan As-Sunnah serta menyimpang dari pemahaman Al-Imam Asy-Syafi’i t. Di antaranya:
1. Shufiyah mengaku wali mereka tahu ilmu ghaib
Ilmu ghaib adalah perkara yang Allah l sajalah yang mengetahuinya. Allah l berfirman:
“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri.” (Al-An’am: 59)
Allah l juga berfirman:
Katakanlah: “Tidak ada satu pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib,  kecuali Allah”, dan mereka tidak mengetahui bilamana mereka akan dibangkitkan. (An-Naml: 65)
Rasulullah n bersabda:
مَفَاتِيحُ الْغَيْبِ خَمْسٌ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا اللهُ؛ لاَ يَعْلَمُ أَحَدٌ مَا يَكُونُ فِي غَدٍ إِلاَّ اللهُ، وَلَا يَعْلَمُ أَحَدٌ مَا يَكُونُ فِي الْأَرْحَامِ إِلاَّ اللهُ، وَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا تَكْسِبُ غَدًا وَلَا تَدْرِي بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِلاَّ اللهُ، وَلَا يَعْلَمُ مَتَى يَأْتِي الْـمَطَرُ أَحَدٌ إِلاَّ الله،ُ وَلاَ يَعْلَمُ مَتَى تَقُومُ السَّاعَةُ
“Lima kunci perkara ghaib tak ada yang mengetahuinya kecuali Allah: Tidak ada yang mengetahui apa yang terjadi esok hari kecuali Allah, tidak ada yang mengetahui apa yang ada di dalam rahim kecuali Allah, tidak ada jiwa yang mengetahui apa yang akan diperbuatnya esok hari dan tidak pula tahu di mana jiwa itu akan mati kecuali Allah, tidak ada yang mengetahui kapan datangnya hujan kecuali Allah, dan tidak ada yang mengetahui kapan terjadinya hari kiamat kecuali Allah.” (HR. Al-Bukhari hal. 4697)
Al-Imam Asy-Syafi’i t berkata: “Telah ditutup ilmu tentang kapan hari kiamat dari Nabi-Nya. Sedangkan selain malaikat yang didekatkan dan nabi-nabi yang terpilih, ilmunya lebih sedikit dari mereka ….” (Al-Umm) [Lihat Mukhalafatush Shufiyah hal. 96-100]
2. Shufiyah meyakini wali-wali mereka bisa mencipta dan mengatur alam
Penciptaan adalah khusus bagi Allah l. Allah l berfirman:
“Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Rabb semesta alam.” (Al-A’raf: 54)
Namun Jufri Al-Khadrami, seorang tokoh ekstrem shufi saat ini, menyatakan bahwa seorang wali punya kemampuan menciptakan anak di rahim seorang ibu tanpa ada bapak. Inna lillahi wainna ilaihi rajiun.
Bahkan dia berani menyatakan bahwa wali-walinya punya kemampuan menghilangkan musibah orang yang ber-istighatsah (meminta tolong dihilangkan musibah) kepadanya. Dengan lancang ia bahkan berkata: “Pengaturan yang dilakukan wali bahkan sampai di surga dan neraka.” (Lihat Mukhalafatush Shufiyah hal. 32-33)
Penyelisihan shufiyah terhadap Al-Imam Asy-Syafi’i t dalam masalah asma’ dan sifat Allah l
Di antara masalah asma’ dan sifat Allah l yang shufiyah menyelisihi Al-Imam Asy-Syafi’i t adalah:
1. Al-Imam Asy-Syafi’i t menetapkan semua sifat yang terdapat dalam nash/dalil
Al-Imam Asy-Syafi’i t, seperti para imam Ahlus Sunnah yang lainnya, menetapkan sifat-sifat Allah l yang ada dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Beliau t berkata: “Allah l memiliki nama-nama dan sifat-sifat sebagaimana disebutkan dalam kitab-Nya dan telah dikabarkan oleh Nabi-Nya n kepada umatnya. Dia Maha mendengar dan Maha melihat, memiliki dua tangan seperti dalam firman-Nya:
“Bahkan kedua tangan Allah terbuka.” (Al-Maidah: 64)
Allah l memiliki tangan kanan sebagaimana dalam firman-Nya:
“Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya, padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.” (Az-Zumar: 67)
Allah l juga memiliki wajah sebagaimana firman-Nya:
“Segala sesuatu pasti binasa, kecuali wajah Allah.” (Al-Qashash: 88)
“Dan tetap kekal Wajah Rabbmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (Ar-Rahman: 27)
Allah l tidak buta sebelah, sebagaimana ucapan Nabi n ketika menjelaskan keadaan Dajjal:
إِنَّهُ أَعْوَرُ وَإِنَّ رَبَّكُمْ لَيْسَ بِأَعْوَرَ
“Sesungguhnya Dajjal itu buta sebelah, dan Rabb kalian tidaklah buta sebelah.”
Allah l tertawa terhadap hamba-Nya yang beriman. Nabi n menyebutkan tentang seseorang yang terbunuh di medan perang, dia berjumpa dengan Allah l dalam keadaan Allah l tertawa kepadanya.1
Bagaimana dengan shufiyah?
Shufiyah telah menyelisihi Al-Imam Asy-Syafi’i dan salafus shalih. Mereka melakukan tahrif (penyelewengan makna) dan takwil. Mereka tidaklah menetapkan sifat Allah l kecuali tujuh saja. (Mukhalafatush Shufiyah hal. 37-38 secara ringkas)
Shufiyah mengingkari Allah l ada di atas
Di antara keyakinan Ahlus Sunah wal Jamaah adalah meyakini Allah l ada di atas arsy-Nya. Allah l berfirman:
“Sesungguhnya Rabb kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu dia naik di atas ‘Arsy.” (Al-A’raf: 54)
Dalam hadits Muawiyah bin Hakam As-Sulami z, ketika dia hendak membebaskan budaknya, Rasulullah n menguji hamba sahaya tersebut dengan menanyakan: “Di mana Allah?” Hamba sahaya tadi menjawab: “Allah di atas.” Beliau n berkata: “Siapa aku?” Budak tadi berkata: “Engkau utusan Allah.” Rasulullah n berkata: “Bebaskanlah, karena dia adalah seorang wanita mukminah.” (HR. Muslim)
Pemahaman Al-Imam Asy-Syafi’i t:
Ibnul Qayim t meriwayatkan perkataan Al-Imam Asy-Syafi’i dengan sanadnya bahwa beliau t berkata, “Pernyataan tentang akidah yang aku berada di atasnya dan aku lihat para sahabatku dari ahlul hadits di atasnya, yang aku telah mengambil ilmu dari mereka, seperti Sufyan dan Malik serta keduanya adalah: Berikrar bahwa tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah l dan Muhammad n adalah utusan-Nya. Bahwasanya Allah l ada di atas Arsy-Nya, dekat dengan makhluk-Nya sebagaimana dikehendaki-Nya, dan Allah l turun ke langit dunia sesuai dengan kehendak-Nya.” (Ijtima’ul Juyusy Al-Islamiyah)
Lebih jelas dari itu adalah ketika beliau meriwayatkan dalam bab membebaskan budak mukminah dalam zhihar2. Beliau t berkata: “Yang lebih aku senangi, tidaklah dibebaskan kecuali yang telah baligh dan beriman, jika dia wanita ‘ajam yang telah disifati dengan keislaman maka cukup. Malik telah mengabarkan kepadaku dari Hilal bin Usamah, dari Atha bin Yasar, dari Umar bin Al-Hakam, beliau berkata: Aku pernah datang kepada Rasulullah n. Aku katakan: ‘Wahai Rasulullah, saya punya seorang budak perempuan yang menggembala kambing. Ketika saya mendatanginya, ternyata seekor kambing telah hilang. Ketika saya bertanya kepadanya, dia menjawab bahwa kambing itu dimakan serigala. Saya pun marah kepadanya. Saya adalah seorang bani Adam (yang bisa berbuat khilaf, red.) sehingga saya menempeleng wajahnya. Saya punya kewajiban membebaskan budak. Apakah saya boleh membebaskannya?” Rasulullah n berkata kepada budak tersebut: “Di mana Allah?” Dia menjawab: “Di atas.” Rasulullah n berkata: “Siapa aku?” Budak tadi menjawab: “Engkau Rasulullah.” Maka Rasulullah berkata: “Bebaskanlah dia.”
Al-Imam Asy-Syafi’i t berkata: “Nama sahabat tadi (sebenarnya) Mu’awiyah bin Al-Hakam (bukan Umar bin Al-Hakam sebagaimana dalam riwayat, red.), demikianlah diriwayatkan oleh Az-Zuhri dan Yahya bin Abi Katsir.”
Lihatlah! Al-Imam Asy-Syafi’i t mensyaratkan dalam membebaskan budak harus yang mukmin. Beliau t menganggap pengakuan hamba sahaya tadi bahwa Allah l ada di atas sebagai tanda keimanan.
Bagaimana dengan shufiyah?
Mereka telah meninggalkan Al-Qur’an dan As-Sunnah dalam masalah ini dan juga meninggalkan akidah Al-Imam Asy-Syafi’i t.
Sebagian mereka menyatakan Allah l di mana-mana. Sebagian mereka bahkan ada yang mengingkari pertanyaan: di mana Allah l? Padahal Rasulullah n, makhluk yang terbaik, telah menguji keimanan seorang hamba sahaya dengan pertanyaan semacam ini. (Lihat pembahasan lebih detail pada Mukhalafatush Shufiyah hal. 41-53)
Penyelisihan Shufiyah terhadap Al-Imam Asy-Syafi’i t dalam masalah Uluhiyah
1. Shufiyah menyeru kepada kesyirikan
Allah l menciptakan manusia adalah untuk beribadah kepada-Nya, Allah l berfirman:
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (Adz-Dzariyat: 56)
Ibnul Qayyim t meriwayatkan perkataan Al-Imam Asy-Syafi’i t dengan sanadnya, beliau berkata: “Pernyataan tentang akidah yang aku berada di atasnya, dan aku lihat para sahabatku dari ahlul hadits di atasnya, yang aku telah mengambil ilmu dari mereka, seperti Sufyan dan Malik serta keduanya, adalah: Berikrar bahwa tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah l dan Muhammad n adalah utusan-Nya.Bahwasanya Allah l ada di atas Arsy-Nya, dekat dengan makhluk-Nya sebagaimana dikehendaki-Nya, dan Allah l turun ke langit dunia sesuai dengan kehendak-Nya.” (Ijtima’ul Juyusy Al-Islamiyah)
Asy-Syaikh Muhammad Jamil Zainu berkata: “Orang-orang shufiyah berdoa kepada selain Allah l. Mereka berdoa kepada nabi. Juga kepada wali mereka yang masih hidup ataupun yang telah mati. Mereka berkata: ‘Wahai Rasulullah, hilangkanlah musibah yang menimpa kami. Tolonglah kami. Engkaulah tempat menyandarkan diri.’ Padahal Allah l telah melarang berdoa kepada selain-Nya dan menganggapnya sebagai sebuah kesyirikan. Allah l berfirman:
“Dan janganlah kamu menyembah sesuatu selain Allah yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu. Sebab jika kamu berbuat (yang demikian) itu, maka sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang zalim.” (Yunus:106)
Rasulullah n menyatakan:
الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ
“Doa adalah ibadah.” (Shahih, HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)
Doa adalah ibadah seperti halnya shalat. Tidak boleh ditujukan kepada selain Allah l, walaupun kepada rasul atau wali. Berdoa kepada selain Allah l adalah syirik besar yang menggugurkan amal dan mengekalkan pelakunya di neraka. (Shufiyah fi Mizanil Kitab was Sunnah)
2. Shufiyah mengajarkan sihir
Sihir adalah satu perbuatan yang diharamkan dalam agama Islam. Allah l berfirman:
Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), akan tetapi setan-setanlah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorang pun sebelum mengatakan: “Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir.” Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan istrinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak bisa memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorang pun kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang memberi mudharat kepada mereka dan tidak memberi manfaat. Sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (Kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui. (Al-Baqarah: 102)
Al-Imam Asy-Syafi’i t berkata: “Jika ada seseorang belajar sihir, kami katakan kepadanya: ‘Terangkan bagaimana cara sihirmu.’ Jika dia menceritakan cara yang menyebabkan kekufuran seperti yang diyakini penduduk Babil yang mendekatkan diri mereka kepada bintang yang tujuh, yakni meyakini bahwa bintang-bintang bisa berbuat apa yang dimintai darinya, maka dia kafir. Jika cara itu menyebabkan kafir dan dia meyakini kebolehan melakukannya, maka kafir juga.” (dinukil dari Tafsir Ibnu Katsir)
Bagaimana dengan shufiyah?
Mereka bukan hanya pelaku, bahkan sumber dan penyebar sihir di umat ini. Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam menyebutkan di antara sebab-sebab tersebarnya sihir adalah:
1. Menyebarnya kebodohan
2. Permusuhan di antara kaum muslimin dan selain mereka
3. Berkuasanya orang-orang kafir atas kaum muslimin
4. Menyebarnya kelompok sesat dan  merusak.
Beliau juga menegaskan, shufiyah termasuk sumber sihir. Beliau terangkan bahwa sumber sihir di alam ini adalah:
1. Yahudi
2. Rafidhah dan Batiniyah
3. Shufiyah
4. Ahlul Kalam (Filsafat)
5. Buku-buku yang ditulis tentang masalah sihir
Di antara bukti yang menunjukkan shufiyah adalah orang-orang yang banyak andil dalam penyebaran sihir, adalah buku-buku sihir yang ditulis oleh tokoh-tokoh shufiyah. Di antaranya:
1. Buku Syamsul Ma’arif Al-Kubra
Penulisnya adalah Ahmad Al-Buni. Di akhir bukunya, dia menerangkan sanad-sanad ilmu sihirnya yang dinisbatkan kepada banyak tokoh shufi ekstrem.
2. Buku Rahmah fi Thibb wal Hikmah
Penulis buku ini, Mahdi bin Ibrahim Ash-Shabiri, adalah seorang tokoh shufi ekstrem.
Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam berkata: “Di antara khurafat yang paling hina dalam buku ini adalah yang disebutkan penulisnya dalam judul masalah obat kebutaan: diambil darah haid wanita yang belum pernah didatangi pria (masih gadis, red.), lalu dicampur dengan mani, digunakan sebagai celak mata, ini akan menghilangkan gangguan pada mata.”
Asy-Syaikh Muhamad bin Al-Imam berkata: “Tidak ada yang melakukan hal ini kecuali orang yang dungu dan hilang akalnya.”
Asy-Syaikh juga berkata: “Buku-buku shufi ekstrem dipenuhi sihir dan tanjim (astrologi, red.).” (Lihat Irsyadun Nazhir ila Ma’rifati Alamatis Sihri hal. 54-67)
3. Shufiyah membangun kuburan
Membangun kuburan adalah perkara yang diharamkan dalam Islam. Dari Jabir bin Abdillah z: “Nabi n melarang mengapur (mengecat) kuburan, duduk di atas kuburan, juga melarang membangun sesuatu di atas kuburan.” (HR. Muslim no. 970)
Membangun masjid di atas kuburan adalah perbuatan ahlul kitab. Rasulullah n pernah berkata:
أُولَئِكِ إِذَا مَاتَ مِنْهُمُ الرَّجُلٌ الصَّالِحٌ بَنَوْا عَلَى قَبْرِهِ مَسْجِدًا
“Mereka itu jika mati dari mereka seorang yang shalih, mereka bangun di atas kuburannya sebuah masjid.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Al-Imam Asy-Syaukani t menerangkan: “Ketahuilah bahwa kaum muslimin yang dahulu dan akan datang, yang awal dan akhir, sejak zaman sahabat sampai waktu kita ini, telah bersepakat bahwa meninggikan kuburan dan membangun di atasnya termasuk perkara bid’ah, yang telah ada larangan dan ancaman keras dari Rasulullah n atas para pelakunya.”
Al-Imam Asy-Syafi’i t berkata: “Aku menginginkan kuburan itu tidak dibangun dan tidak dikapur (dicat), karena perbuatan seperti itu menyerupai hiasan atau kesombongan, sedangkan kematian bukanlah tempat salah satu di antara dua hal tersebut. Aku tidak pernah melihat kuburan Muhajirin dan Anshar dicat. Perawi berkata dari Thawus: ‘Nabi n melarang kuburan dibangun atau dicat’.”
Beliau t juga berkata: “Aku membenci dibangunnya masjid di atas kuburan.”
Al-Imam Asy-Syafi’i t berkata pula: “Aku membenci ini berdasarkan Sunnah Rasulullah n dan atsar…”
Asy-Syaikh Sulaiman Alu Syaikh t berkata: “Al-Imam Nawawi t menegaskan dalam Syarh Al-Muhadzdzab akan haramnya membangun kuburan secara mutlak. Juga beliau sebutkan semisalnya dalam Syarh Shahih Muslim.”
Bagaimana dengan shufiyah?!
Tidak samar lagi, kaum shufiyah adalah orang-orang yang paling getol membangun dan menyeru untuk membangun kuburan. Membangun kubah-kubah di atas kuburan, terutama kuburan orang yang mereka anggap sebagai wali.

1 Sebagaimana hadits yang diriwayatkan Al-Bukhari (no. 2826) dan Muslim (no. 1890) dari Abu Hurairah z.
2 Zhihar yaitu menyerupakan istri dengan ibu kandung, seperti ucapan: “Engkau bagiku seperti punggung ibuku.”

Sufi adalah Pengikut Firqah Asy’ariyah

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Abdillah Abdurrahman Mubarak)

 

Barangsiapa menelaah hakikat shufiyah khususnya dalam masalah akidah, niscaya akan mendapati betapa kentalnya hubungan shufiyah dengan akidah Asy’ariyah. Di antara buktinya adalah pemikiran tokoh-tokoh mereka dari zaman dahulu sampai sekarang. Sebelum kita membahas bukti hubungan mereka, mari kita sedikit mengulas siapakah Asy’ariyah?

 

Sekelumit tentang Asy’ariyah

Asy’ariyah adalah satu firqah yang dinisbatkan kepada pemahaman Abul Hasan Al-Asy’ari t sebelum beliau rujuk kembali kepada manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah. Karena beliau t mengalami tiga fase dalam kehidupannya:

1. Dibina oleh ayah tiri beliau di atas pendidikan Mu’tazilah

2. Mengkritisi pemikiran-pemikiran ayah tirinya dalam masa pemahaman yang dikenal sekarang dengan paham Asy’ariyah1

3. Rujuk kepada pemahaman ahlul hadits dan menulis buku yang berjudul Al-Ibanah, yang menunjukkan beliau di atas akidah Ahlus Sunnah.

Ibnu Katsir Asy-Syafi’i t berkata: “Para ulama menyebutkan bahwa Asy-Syaikh Abul Hasan memiliki tiga keadaan:

Pertama: Keadaan di atas manhaj Mu’tazilah yang dia telah rujuk darinya.

Kedua: Menetapkan sifat aqliyah yang tujuh: hayah, ilmu, qudrah, iradah, sam’u, bashir, dan kalam, serta menakwilkan sifat-sifat Allah l yang khabariyah: seperti wajah, dua tangan, kaki, betis, dan lainnya.

Ketiga: Menetapkan semua sifat Allah l tanpa takyif (membayangkan gambaran tertentu dalam pikiran) dan tanpa tasybih (menyerupakan dengan makhluk), mengikuti jalan salaf. Inilah jalan beliau dalam kitabnya Al-Ibanah, kitab terakhir yang beliau tulis.” (lihat muqadimah Kitab Al-Ibanah, hal. 12-13, cet. Darul Bashirah)

Dari keterangan di atas menjadi jelas bahwa pemahaman yang banyak dianut shufiyah sekarang bukanlah paham Abul Hasan Asy’ari t. Karena beliau telah bertaubat darinya dan rujuk kepada madzhab Ahlus Sunnah.

 

Penjelasan singkat tentang akidah Asy’ariyah sehingga tidak termasuk dari Ahlus Sunnah wal Jamaah

1. Mereka menyatakan bahwa iman hanyalah membenarkan. Mereka tidak menyatakan amal termasuk dari iman dan tidak memvonis kekufuran dengan sebab amalan kekafiran jasmani seseorang.

2. Mereka Jabriyah2 dalam masalah takdir.

3. Mereka tidak menetapkan ‘illat (sebab) dan hikmah bagi perbuatan Allah l.

4. Tidak menetapkan sifat fi’liyah bagi Allah l (seperti istiwa’/naik di atas Arsy, nuzul/turun ke dunia pada sepertiga malam yang akhir, dan lainnya).

5. Orang-orang Asy’ariyah setelah masa Abul Ma’ali Al-Juwaini mengingkari bahwa Allah l berada di atas makhluk-Nya.

6. Tidak menetapkan sifat ma’ani (seperti ilmu, hayat, dll) kecuali tujuh atau lebih. Pijakan mereka dalam menetapkannya adalah akal. Tujuh sifat yang mereka tetapkan pun tidak mereka tetapkan seperti Ahlus Sunnah.

7. Memaknai kalimat tauhid sebatas tauhid rububiyah saja. Mereka tidak mengenal tauhid uluhiyah.

8. Akhir dari pendapat mereka tentang kalamullah: Al-Qur’an adalah makhluk, sebagaimana pendapat Mu’tazilah.

9. Memperlebar masalah karamah hingga menyatakan bahwa mukjizat para nabi mungkin terjadi pada diri para wali.

10. Menetapkan bahwa Allah l dilihat tidak dari arah tertentu. Hingga akhir ucapan mereka mengingkari ru’yah (bahwa kaum mukminin akan melihat Allah l di hari kiamat).

11. Menyatakan bahwa akal tidak bisa menetapkan baik-buruknya sesuatu.

12. Menyatakan tidak sah keislaman seseorang setelah mukallaf sampai ragu terlebih dahulu. (Disadur dari kitab Takidat Musallamat As-Salafiyah hal. 35-36)

 

Ulama yang menyatakan Asy’ariyah bukan Ahlus Sunnah

1. Al-Imam Ahmad bin Hambal t

Ibnu Khuzaimah t ditanya oleh Abu Ali Ats-Tsaqafi: “Apa yang kau ingkari, wahai ustadz, dari madzhab kami supaya kami bisa rujuk darinya?”

Ibnu Khuzaimah berkata: “Karena kalian condong kepada pemahaman Kullabiyah. Ahmad bin Hanbal termasuk orang yang paling keras terhadap Abdullah bin Said bin Kullab dan teman-temannya, seperti Harits serta lainnya.”

Perlu diketahui bahwa Kullabiyah adalah masyayikh (guru/pembesar) Asy’ariyah.

Ibnu Taimiyah t berkata: “Kullabiyah adalah guru-guru orang Asy’ariyah….”(Kitab Istiqamah)

2. Ibnu Qudamah t

Beliau t berkata: “Kami tidak mengetahui ada kelompok ahlul bid’ah yang menyembunyikan pemikiran-pemikirannya dan tidak berani menampakkannya, selain zanadiqah (kaum zindiq, orang-orang yang menyembunyikan kekafiran dan menampakkan keimanan, red.) dan Asy’ariyah.”

3. Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Utsaimin t

Beliau berkata: “Asya’irah dan Maturidiyah serta yang semisal mereka, bukanlah Ahlus Sunnah wal Jamaah.”

4. Syaikh Shalih Al-Fauzan pernah ditanya: “Apakah Asy’ariyah dan Maturidiyah termasuk Ahlus Sunnah?”

Beliau menjawab: “Mereka tidak teranggap sebagai Ahlus Sunnah. Tidak ada seorang pun yang memasukkan mereka ke dalam Ahlus Sunnah wal Jamaah. Mereka memang menamakan diri mereka termasuk Ahlus Sunnah, namun hakikatnya mereka bukanlah Ahlus Sunnah.”

(Lihat Takidat Musallamat Salafiyah hal. 19-30)

 

Hubungan Shufiyah dengan Asy’ariyah

Di antara bukti sangat kuatnya akidah Asy’ariyah pada pengikut shufiyah adalah banyaknya tokoh shufiyah yang mendakwahkan pemahaman dan akidah Asy’ariyah.

Di masa sekarang ini, bisa disebut nama Muhammad bin Alwi Al-Maliki, penulis buku Mafahim Yajib An Tushahhah. Dia termasuk dai kuburi shufi asy’ari (yang mengajak manusia mengagungkan kuburan secara berlebihan, beraliran sufi, dan berakidah Asy’ariyah). Inilah sebagian ucapannya:

1. Masalah akidah

Dia berkata dalam kitabnya (hal. 93): “Tidak diragukan lagi bahwa ruh-ruh (orang yang telah meninggal) punya pergerakan dan kebebasan yang memungkinkan menjawab orang yang menyerunya serta memberi pertolongan orang yang meminta tolong kepadanya. Persis sama dengan orang yang hidup, bahkan melebihinya.”

Cukuplah dalam membantah kesesatan ini, firman Allah l:

“Dia memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam serta menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Yang (berbuat) demikian itulah Allah Rabbmu, kepunyaan-Nyalah kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari. Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu. Kalaupun mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. Dan di hari kiamat mereka akan mengingkari kesyirikanmu, dan tidak ada yang dapat memberi keterangan kepadamu sebagaimana yang diberikan oleh Yang Maha mengetahui.” (Fathir: 13-14)

2. Masalah manhaj

Dia berkata dalam kitabnya (hal. 120): “Asy’ariyah adalah para imam pembawa petunjuk di antara sekian ulama muslimin.” (Lihat Mukhalafatush Shufiyah hal. 20-21)

 

Di antara bukti kuat adanya pengaruh kuat Asy’ariyah terhadap shufiyah adalah guru-guru, lembaga-lembaga, dan pondok-pondok shufiyah yang mengajarkan pemahaman Asy’ariyah terkhusus dalam masalah akidah seperti:

1. Hanya menetapkan sifat 13 atau 20

2. Menafikan Allah l di atas Arsy-Nya (sehingga menyatakan Allah l ada di mana-mana).

3. Hanya memaknakan kalimat syahadat sebatas tauhid rububiyah (Allah sebagai Pencipta, Pengatur dan Pemberi Rizki alam semesta)

Di antara bukti yang lain akan kuatnya paham Asy’ariyah pada kaum shufiyah adalah bahwa organisasi dan kelompok3 yang notabene beraliran shufiyah menjadikan pemikiran Asy’ariyah sebagai pemikiran organisasinya.


1 Yang sebenarnya mengadopsi pemahaman Kullabiyah. (ed.)
2 Yang menetapkan bahwa makhluk tidak punya kehendak dalam menjalankan hidup ini. (ed.)
3 Salah satu dari kelompok shufiyah masa kini adalah Jamaah Tabligh. Asy-Syaikh Al-Albani t menyatakan: “Jamaah Tabligh adalah shufiyah masa kini. Adapun Ikhwanul Muslimin sangat nampak hubungan mereka dengan shufiyah karena pendirinya, Hasan Al-Banna, adalah seorang pengikut thariqat shufi Al-Hashafiyyah.”
Untuk merinci lebih lanjut tentang kedua kelompok ini, alhamdulillah, pembaca bisa merujuk kepada Majalah Asy Syariah edisi 07 dan edisi 20.

Perkataan Ulama Tentang Sufi

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Abdillah Abdurrahman Mubarak)

 

Celaan Al-Imam Asy-Syafi’i t terhadap shufiyah

Shufiyah bukanlah pengikut Al-Imam Asy-Syafi’i t. Di antara buktinya adalah banyaknya celaan dari Al-Imam Asy-Syafi’i dan lainnya terhadap mereka.

Al-Imam Al-Baihaqi t meriwayatkan dengan sanadnya sampai Al-Imam Asy-Syafi’i t: “Jika seorang belajar tasawuf di pagi hari, sebelum datang waktu dhuhur engkau akan dapati dia menjadi orang dungu.”

Al-Imam Asy-Syafi’i t juga mengatakan, “Aku tidak pernah melihat seorang shufi yang berakal. Seorang yang telah bersama kaum shufiyah selama 40 hari, tidak mungkin kembali akalnya.”

Beliau juga berkata, “Azas (dasar shufiyah) adalah malas.” (Lihat Mukhalafatush Shufiyah lil Imam Asy-Syafi’i t hal. 13-15)

Beliau menamai shufiyah dengan kaum zindiq. Kata beliau t, “Kami tinggalkan Baghdad dalam keadaan orang-orang zindiq telah membuat-buat bid’ah yang mereka namakan sama’ (nyanyian sufi, red.).”

Asy-Syaikh Jamil Zainu berkata, “Orang-orang zindiq yang dimaksud Al-Imam Asy-Syafi’i t adalah kaum shufiyah.” (Lihat Shufiyah fi Mizan Al-Kitabi was Sunnah)

 

Celaan Al-Imam Malik t terhadap shufiyah

At-Tunisi mengatakan: Kami berada di sisi Al-Imam Malik, sedangkan murid-murid beliau di sekelilingnya. Seorang dari Nashibiyin berkata: “Di tempat kami ada satu kelompok disebut shufiyah. Mereka banyak makan, kemudian membaca qashidah dan berjoget.”

Al-Imam Malik berkata, “Apakah mereka anak-anak?”

Orang tadi menjawab, “Bukan.”

Beliau berkata, “Apakah mereka adalah orang-orang gila?”

Orang tadi berkata, “Bukan, mereka adalah orang-orang tua yang berakal.”

Al-Imam Malik berkata, “Aku tidak pernah mendengar seorang pemeluk Islam melakukan demikian.”

 

Celaan Al-Imam Ahmad t terhadap shufiyah

Beliau ditanya tentang apa yang dilakukan shufiyah berupa nasyid-nasyid dan qashidah yang mereka namakan sama’. Beliau berkata, “Itu adalah muhdats (perkara baru yang diada-adakan dalam Islam).” Ditanyakan kepada beliau, “Apakah boleh kami duduk bersama mereka?” Beliau menjawab, “Janganlah kalian duduk bersama mereka.”

Beliau berkata tentang Harits Al-Muhasibi –dia adalah tokoh shufiyah–, “Aku tidak pernah mendengar pembicaraan tentang masalah hakikat sesuatu seperti yang diucapkannya. Namun aku tidak membolehkan engkau berteman dengannya.”
Celaan Al-Imam Abu Zur’ah t terhadap shufiyah
Al-Hafizh berkata dalam Tahdzib: Al-Bardza’i berkata, “Abu Zur’ah ditanya tentang Harits Al-Muhasibi dan kitab-kitabnya. Beliau berkata kepada penanya, ‘Hati-hati kamu dari kitab-kitab ini, karena isinya kebid’ahan dan kesesatan. Engkau wajib berpegang dengan atsar, akan engkau dapati yang membuatmu tidak membutuhkan apapun dari kitab-kitabnya’.”
Celaan Al-Imam Ibnul Jauzi t terhadap shufiyah
Beliau berkata, “Aku telah menelaah keadaan shufiyah dan aku dapati kebanyakannya menyimpang dari syariat. Antara bodoh tentang syariat atau kebid’ahan dengan akal pikiran.”
Marwan bin Muhammad t berkata:
“Tiga golongan manusia yang tidak bisa dipercaya dalam masalah agama: shufi, qashash (tukang kisah), dan ahlul bid’ah yang membantah ahlul bid’ah lainnya.”
(Lihat Mukhalafatush Shufiyah, hal.16-18)

Siapakah Sufi? Paham Sufi dalam Timbangan Al-Qur’an dan Assunnah

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Abdillah Abdurrahman Mubarak)

Kelompok Shufiyah (Sufi) telah menyebar di dunia Islam, sehingga kaum muslimin pun terbagi dua dalam menyikapi mereka. Ada yang mendukung dan ada yang menentang. Agar seseorang bisa menentukan berada di pihak yang mana dan bisa menyikapi mereka dengan benar, hendaknya ia mengetahui hakikat shufiyah yang sebenarnya. Benarkah pengakuan mereka sebagai pengikut Al-Imam Asy-Syafi’i t? Apakah mereka sesuai dengan ajaran Ahlus Sunnah wal Jamaah?

Untuk mengetahui hakikat mereka tentunya kita harus merujuk kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman as-salafus shalih disertai penjelasan para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Siapakah Shufiyah?

Perlu diketahui, Shufiyah adalah satu lafadz yang tidak dikenal pada masa sahabat, juga tidak masyhur di masa generasi utama (sahabat, tabi’in, dan tabi’it tabi’in). Mereka muncul setelah masa tiga generasi utama. Ibnu Taimiyah t menyebutkan awal mula munculnya shufiyah adalah di Bashrah, Irak. (Lihat Fatawa, 11/5, Haqiqatu Ash-Shufiyah hal. 13)

Asy-Syaikh Muqbil t berkata: “Sesungguhnya bid’ah tasawuf muncul setelah tahun 200 H. Tasawuf tidak ada di zaman Nabi n, di zaman sahabat maupun tabi’in.” (Mushara’ah hal. 376)

Nukilan di atas menunjukkan bahwa shufiyah adalah kelompok baru dalam Islam ini.

 

Pemikiran Shufiyah

Bila seseorang mau adil menelaah pemikiran dan akidah amalan shufiyah, dia akan dapati banyak sekali pemikiran, akidah, dan amalan shufiyah yang menyimpang dari Islam yang dibawa Nabi Muhammad n.

Sebagai bentuk keadilan, marilah kita perhatikan apa yang akan kami paparkan mengenai beberapa penyimpangan prinsip, amalan, dan akidah shufiyah dari Al-Qur’an dan As-Sunnah.

1. Shufiyah terpecah menjadi kelompok-kelompok atau thariqat-thariqat (tarekat-tarekat). Ada tarekat Tijaniyah, Qadiriyah, Naqsyabandiyah, Syadziliyah, Rifaiyah, dan lainnya. Demikianlah mereka berpecah-belah, padahal Islam melarang perpecahan dan hanya mengenal satu jalan saja. Allah l berfirman:

“Dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah. Yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (Ar-Rum: 31-32)

2. Sebagian shufiyah juga berdoa kepada selain Allah l. Mereka berdoa kepada nabi dan wali mereka yang masih hidup maupun yang telah mati. Padahal Allah l berfirman:

“Dan janganlah kamu menyembah sesuatu selain Allah yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu; sebab jika kamu berbuat (yang demikian), itu, maka sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang zalim.” (Yunus: 106)

Rasulullah n menyatakan:

الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ

“Doa adalah ibadah.” (Shahih, HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab t mengatakan: “Barangsiapa memalingkan satu macam ibadah kepada selain Allah l maka dia adalah musyrik kafir. Dalilnya adalah firman Allah l:

“Dan barangsiapa menyembah sesembahan yang lain disamping Allah, padahal tidak ada suatu dalil pun baginya tentang itu, maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Rabbnya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung.” (Al-Mu’minun: 117) [Lihat kitab Tsalatsatul Ushul]

3. Shufiyah meyakini adanya badal dan quthub, yakni orang-orang yang mereka yakini sebagai wali dan diyakini ikut andil mengatur alam1. Padahal Allah l berfirman:

Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, serta siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati serta mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah.” Maka katakanlah, “Mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?” (Yunus: 31)

4. Sebagian shufiyah meyakini wihdatul wujud (manunggaling kawula gusti). Menurut mereka, tidak ada Khalik dan makhluk (Pencipta dan yang dicipta), semuanya adalah makhluk dan semuanya adalah ilah.

5. Shufiyah membolehkan berjoget sambil menabuh rebana dan berdzikir dengan suara keras. Padahal Allah l berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka.” (Al-Anfal: 2)

Asy-Syaikh Muqbil t menerangkan: “Ibnul Qayyim t pernah menerangkan bahwa beliau pernah melihat orang-orang shufiyah berjoget di Arafah. Beliau melihat mereka berjoget diiringi rebana. Juga melihat mereka berjoget di Masjid Khaif.” (Mushara’ah hal. 388 secara ringkas)

Asy-Syaikh Muqbil t juga mengatakan: “Pernah satu hari aku naik ke Masjidil Haram bagian atas. Aku dapati sekelompok besar manusia dari Turki, Sudan, dan Yaman, mereka berjoget sambil berputar-putar2….” (Musharaah hal. 387)

Di antara mereka juga adalah Muhammad Kabbani3, yang berkunjung ke Jakarta dan berdzikir serta mengajak yang hadir berjoget.

Kemudian mereka juga berdzikir dengan semata menyebut lafadz: اللهُ. Sebagian mereka hanya menyebut lafadz hu. Padahal Rasulullah n menyatakan:

أَفْضَلُ الذِّكْرِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ

“Dzikir yang paling utama adalah ucapan La ilaha illallah…” (HR. At-Tirmidzi)

6. Sebagian Shufiyah mengklaim tahu ilmu ghaib, padahal pengetahuan ilmu ghaib adalah kekhususan Allah l. Allah l berfirman:

Katakanlah: “Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah.” (An-Naml: 65)

8. Shufiyah mengklaim bahwa Allah l menciptakan Nabi Muhammad n dari cahaya-Nya, kemudian Allah l menciptakan segala sesuatu dari cahaya Nabi Muhammad n. Namun Al-Qur’an mendustakan mereka. Allah l berfirman dalam Al-Qur’an:

Katakanlah: “Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: ‘Bahwa sesungguhnya sesembahan kamu itu adalah Ilah yang Esa’.” (Al-Kahfi: 110)

Firman-Nya tentang penciptaan Nabi Adam q:

(Ingatlah) ketika Rabbmu berfirman kepada malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah.” (Shad: 71)

Adapun hadits: “Yang pertama diciptakan adalah cahaya Nabimu, wahai Jabir.” adalah hadits maudhu’ (palsu).

 

9. Shufiyah mengklaim bahwa ibadah kepada Allah l tidaklah dilakukan karena takut kepada neraka atau mengharapkan surga. Mereka berpendapat bahwa ibadah karena mengharapkan surga adalah kesyirikan, sebagaimana diucapkan oleh tokoh mereka Sya’rawi. (Lihat Ash-Shufiyah fi Mizanil Kitab was Sunnah hal. 20-21)

Padahal Allah l berfirman:

Maka Kami memperkenankan doanya dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya dan Kami jadikan istrinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada kami.” (Al-Anbiya: 90)

Ibadah haruslah memenuhi tiga rukunnya: khauf (rasa takut), raja’ (rasa harap), dan mahabbah (rasa cinta).

10. Sebagian Shufiyah mengklaim bahwa Allah l menciptakan dunia karena Muhammad n. Allah l mendustakan mereka. Allah l berfirman dalam Al-Qur’an:

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (Adz-Dzariyat: 56)

Allah l berfirman kepada Rasul-Nya, Muhammad n:

“Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu al-yakin (ajal).” (Al-Hijr: 99)

11. Mereka membaca shalawat-shalawat yang tidak diajarkan Rasulullah n. Bahkan shalawat-shalawat yang mengandung kesyirikan, yang tak akan diridhai oleh Rasulullah n.4

12. Shufiyah mengklaim bisa melihat Allah l di dunia. Al-Qur’an menunjukkan kedustaan mereka, karena Allah l berfirman kepada Nabi Musa q:

Dan tatkala Musa datang untuk (bermunajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Rabbnya telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Rabbku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau.” Allah berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku.” (Al-A’raf: 143) [Lihat Ash-Shufiyah fi Mizanil Kitabi was Sunnah hal. 8-21]


1 Keyakinan seperti ini adalah keyakinan yang syirik. Lain halnya bila yang dimaksud dengan istilah ini tidak sampai pada tingkatan rububiyah (ikut mengatur alam). -red
2 Tarian ini sekarang lebih dikenal dengan sebutan whirling dervish. Dervish (darwis) adalah sebutan untuk penarinya. -red
3 Muhammad Hisham Kabbani, tokoh tarekat Naqsyabandiyah Haqqani. Oleh media, ia disebut-sebut sebagai “syaikh” sufi paling berpengaruh di dunia saat ini. -red
4 Di antaranya shalawat yang mereka namakan shalawat Nariyah. Ini adalah shalawat yang berisi kesyirikan karena disebutkan bahwa Rasulullah n mampu menghilangkan kesulitan, melapangkan kesusahan, dan menunaikan kebutuhan. (Lihat Al- Firqatun Najiyah)

Mengenal Lebih Dekat Al-Imam Muhammad bin ‘Idris Asy-Syafi’i

(ditulis oleh: Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi, Lc.)

 

Ulama adalah pewaris para nabi. Keberadaannya di tengah umat bagai pelita dalam kegelapan. Titah dan bimbingannya laksana embun penyejuk dalam kehausan. Keharuman namanya pun seakan selalu hidup dalam sanubari umat.

Dengan segala hikmah dan kasih sayang-Nya, Allah l yang Maha Hakim lagi Maha Rahim tak membiarkan umat Islam –dalam setiap generasinya– lengang dari para ulama. Diawali dari para sahabat Nabi n manusia terbaik umat ini, kemudian dilanjutkan oleh para ulama setelah mereka, dari generasi ke generasi. Orang-orang pilihan pewaris para nabi yang selalu siaga membela agama Allah l dari pemutarbalikan pengertian agama yang dilakukan oleh para ekstremis, kedustaan orang-orang sesat dengan kedok agama, dan penakwilan menyimpang yang dilakukan oleh orang-orang jahil. Di antara para ulama tersebut adalah Al-Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i t. Seorang ulama besar umat ini yang berilmu tinggi, berakidah lurus, berbudi pekerti luhur, lagi bernasab mulia.

 

Nama dan garis keturunan Al-Imam Asy-Syafi’i t

Nama Al-Imam Asy-Syafi’i adalah Muhammad bin Idris. Beliau berasal dari Kabilah Quraisy yang terhormat (Al-Qurasyi), tepatnya dari Bani Al-Muththalib (Al-Muththalibi) dan dari anak cucu Syafi’ bin As-Saib (Asy-Syafi’i). Adapun ibu beliau adalah seorang wanita mulia dari Kabilah Azd (salah satu kabilah negeri Yaman). Kunyah beliau Abu Abdillah, sedangkan laqab (julukan) beliau Nashirul Hadits (pembela hadits Nabi n). Nasab beliau bertemu dengan nasab Nabi Muhammad n pada Abdu Manaf bin Qushay, sebagaimana dalam silsilah garis keturunan beliau berikut ini:

Muhammad bin Idris bin Al-Abbas bin Utsman bin Syafi’ bin As-Saib bin Ubaid bin Abdu Yazid bin Hasyim bin Al-Muththalib bin Abdu Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’b bin Luay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin An-Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’d bin Adnan. (Manaqib Asy-Syafi’i karya Al-Imam Al-Baihaqi t, 1/76, 472, Siyar A’lamin Nubala’ karya Al-Imam Adz-Dzahabi t, 10/5-6, dan Tahdzibul Asma’ wal Lughat karya Al-Imam An-Nawawi t, 1/44)

 

Kelahiran dan masa tumbuh kembang Al-Imam Asy-Syafi’i t

Para sejarawan Islam sepakat bahwa Al-Imam Asy-Syafi’i dilahirkan pada tahun 150 H. Di tahun yang sama, Al-Imam Abu Hanifah An-Nu’man bin Tsabit Al-Kufi t meninggal dunia. Adapun tempat kelahiran beliau, ada tiga versi: Gaza, Asqalan, atau Yaman.

Menurut Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani t dalam Tawalit Ta’sis Bima’ali Ibni Idris (hal. 51-52), tidak ada pertentangan antara tiga versi tersebut, karena Asqalan adalah nama sebuah kota di mana terdapat Desa Gaza. Sedangkan versi ketiga bahwa Al-Imam Asy-Syafi’i dilahirkan di Yaman, menurut Al-Imam Al-Baihaqi, bukanlah negeri Yaman yang dimaksud, akan tetapi tempat yang didiami oleh sebagian kabilah Yaman, dan Desa Gaza termasuk salah satu darinya. (Lihat Manhaj Al-Imam Asy-Syafi’i Fi Itsbatil Akidah karya Dr. Muhammad bin Abdul Wahhab Al-Aqil, 1/21-22, dan Manaqib Asy-Syafi’i, 1/74)

Dengan demikian tiga versi tersebut dapat dikompromikan, yaitu Al-Imam Asy-Syafi’i dilahirkan di Desa Gaza, Kota ’Asqalan (sekarang masuk wilayah Palestina) yang ketika itu didiami oleh sebagian kabilah Yaman.

Para pembaca yang mulia, di Desa Gaza, Asy-Syafi’i kecil tumbuh dan berkembang tanpa belaian kasih seorang ayah alias yatim. Walau demikian, keberadaan sang ibu yang tulus dan penuh kasih sayang benar-benar menumbuhkan ketegaran pada jiwa beliau untuk menyongsong hidup mulia dan bermartabat. Pada usia dua tahun sang ibu membawa Asy-Syafi’i kecil ke bumi Hijaz.1 Di Hijaz, Asy-Syafi’i kecil hidup di tengah-tengah keluarga ibunya (keluarga Yaman). Di sana pula Asy-Syafi’i kecil belajar Al-Qur’an dan dasar-dasar ilmu agama, sehingga pada usia tujuh tahun beliau telah berhasil menghafalkan Al-Qur’an dengan sempurna (30 juz).

Saat memasuki usia sepuluh tahun, sang ibu khawatir bila nasab mulia anaknya pudar. Maka dibawalah si anak menuju Makkah agar menapak kehidupan di tengah-tengah keluarga ayahnya dari Kabilah Quraisy. Kegemaran beliau pun tertuju pada dua hal: memanah dan menuntut ilmu. Dalam hal memanah beliau sangat giat berlatih, hingga dari sepuluh sasaran bidik, sembilan atau bahkan semuanya dapat dibidiknya dengan baik. Tak ayal bila kemudian unggul atas kawan-kawan sebayanya. Dalam hal menuntut ilmu pun tak kalah giatnya, sampai-sampai salah seorang dari kerabat ayahnya mengatakan: “Janganlah engkau terburu menuntut ilmu, sibukkanlah dirimu dengan hal-hal yang bermanfaat (bekerja)!”

Namun kata-kata tersebut tak berpengaruh sedikitpun pada diri Asy-Syafi’i. Bahkan kelezatan hidup beliau justru didapat pada ilmu dan menuntut ilmu, hingga akhirnya Allah l karuniakan kepada beliau ilmu yang luas. (Tawalit Ta’sis Bima’ali Ibni Idris hal. 51-52, Manhaj Al-Imam Asy-Syafi’i Fi Itsbatil Akidah, 1/22-23)

 

Perjalanan Al-Imam Asy-Syafi’i t dalam menuntut ilmu

Di Kota Makkah dengan segala panorama khasnya, Asy-Syafi’i kecil mulai mendalami ilmu nahwu, sastra Arab, dan sejarah. Keinginan beliau untuk menguasainya pun demikian kuat. Sehingga setelah memasuki usia baligh dan siap untuk berkelana menuntut ilmu, bulatlah tekad beliau untuk menimba ilmu bahasa Arab dari sumbernya yang murni. Pilihan pun jatuh pada Suku Hudzail yang berada di perkampungan badui pinggiran Kota Makkah, mengingat Suku Hudzail –saat itu– adalah suku Arab yang paling fasih dalam berbahasa Arab. Dengan misi mulia tersebut Asy-Syafi’i seringkali tinggal bersama Suku Hudzail di perkampungan badui mereka. Aktivitas ini pun berlangsung cukup lama. Sebagian riwayat menyebutkan sepuluh tahun dan sebagian lainnya menyebutkan dua puluh tahun. Tak heran bila di kemudian hari Asy-Syafi’i menjadi rujukan dalam bahasa Arab. Sebagaimana pengakuan para pakar bahasa Arab di masanya, semisal Al-Imam Abdul Malik bin Hisyam Al-Mu’afiri (pakar bahasa Arab di Mesir), Al-Imam Abdul Malik bin Quraib Al-Ashma’i (pakar bahasa Arab di Irak), Al-Imam Abu Ubaid Al-Qasim bin Sallam Al-Harawi (sastrawan ulung di masanya), dan yang lainnya.2 (Lihat Tawalit Ta’sis Bima’ali Ibni Idris hal. 53, Al-Bidayah wan Nihayah karya Al-Hafizh Ibnu Katsir t, 10/263, Manaqib Asy-Syafi’i 1/102)

Kemudian Allah l anugerahkan kepada Al-Imam Asy-Syafi’i kecintaan pada fiqh (mendalami ilmu agama). Mush’ab bin Abdullah Az-Zubairi menerangkan bahwa kecintaan Al-Imam Asy-Syafi’i pada fiqh bermula dari sindiran sekretaris ayah Mush’ab. Kisahnya, pada suatu hari Al-Imam Asy-Syafi’i sedang menaiki hewan tunggangannya sembari melantunkan bait-bait syair. Maka berkatalah sekretaris ayah Mush’ab bin Abdullah Az-Zubairi kepada beliau: “Orang seperti engkau tak pantas berperilaku demikian. Di manakah engkau dari fiqh?” Kata-kata tersebut benar-benar mengena pada jiwa Al-Imam Asy-Syafi’i, hingga akhirnya bertekad untuk mendalami ilmu agama kepada Muslim bin Khalid Az-Zanji –saat itu sebagai Mufti Makkah– kemudian kepada Al-Imam Malik bin Anas di Kota Madinah. (Lihat Manaqib Asy-Syafi’i, 1/96)

Upaya menimba berbagai disiplin ilmu agama ditempuhnya dengan penuh kesungguhan. Dari satu ulama menuju ulama lainnya dan dari satu negeri menuju negeri lainnya; Makkah-Madinah-Yaman-Baghdad. Di daerahnya (Makkah), Al-Imam Asy-Syafi’i menimba ilmu dari Muslim bin Khalid Az-Zanji, Dawud bin Abdurrahman Al-Aththar, Muhammad bin Ali bin Syafi’, Sufyan bin Uyainah, Abdurrahman bin Abu Bakr Al-Mulaiki, Sa’id bin Salim, Fudhail bin Iyadh, dan yang lainnya.

Pada usia dua puluh sekian tahun –dalam kondisi telah layak berfatwa dan pantas menjadi seorang imam dalam agama ini– Al-Imam Asy-Syafi’i berkelana menuju Kota Madinah guna menimba ilmu dari para ulama Madinah: Al-Imam Malik bin Anas, Ibrahim bin Abu Yahya Al-Aslami, Abdul Aziz Ad-Darawardi, Aththaf bin Khalid, Ismail bin Ja’far, Ibrahim bin Sa’d, dan yang semisal dengan mereka. Kemudian ke negeri Yaman, menimba ilmu dari para ulamanya: Mutharrif bin Mazin, Hisyam bin Yusuf Al-Qadhi, dan yang lainnya. Demikian pula di Baghdad, beliau menimba ilmu dari Muhammad bin Al-Hasan Asy-Syaibani ahli fiqh negeri Irak, Ismail bin ‘Ulayyah, Abdul Wahhab Ats-Tsaqafi, dan yang lainnya. (Diringkas dari Siyar A’lamin Nubala’, 10/6, 7, dan 12)

Kedudukan Al-Imam Asy-Syafi’i t di mata pembesar umat

Perjalanan Al-Imam Asy-Syafi’i yang demikian panjang dalam menuntut ilmu benar-benar membuahkan keilmuan yang tinggi, prinsip keyakinan (manhaj) yang kokoh, akidah yang lurus, amalan ibadah yang baik, dan budi pekerti yang luhur. Tak heran bila kemudian posisi dan kedudukan beliau demikian terhormat di mata pembesar umat dari kalangan para ahli di bidang tafsir, qiraat Al-Qur’an, hadits, fiqh, sejarah, dan bahasa Arab. Kitab-kitab biografi yang ditulis oleh para ulama pun menjadi saksi terbaik atas itu semua. Berikut ini contoh dari sekian banyak penghormatan pembesar umat terhadap Al-Imam Asy-Syafi’i yang terdapat dalam kitab-kitab tersebut:

Dalam kitab Tahdzibut Tahdzib karya Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani t disebutkan bahwa:

Al-Imam Abu Zur’ah Ar-Razi t berkata: “Tidak ada satu hadits pun yang Asy-Syafi’i keliru dalam meriwayatkannya.”

Al-Imam Abu Dawud t berkata: “Asy-Syafi’i belum pernah keliru dalam meriwayatkan suatu hadits.”

Al-Imam Ali bin Al-Madini t berkata kepada putranya: “Tulislah semua yang keluar dari Asy-Syafi’i dan jangan kau biarkan satu huruf pun terlewat, karena padanya terdapat ilmu.”

Al-Imam Yahya bin Ma’in t berkata tentang Asy-Syafi’i: “Tsiqah (terpercaya).”

Al-Imam Yahya bin Sa’id Al-Qaththan t berkata: “Aku belum pernah melihat seseorang yang lebih berakal dan lebih paham tentang urusan agama daripada Asy-Syafi’i.”

Al-Imam An-Nasa’i t berkata: “Asy-Syafi’i di sisi kami adalah seorang ulama yang terpercaya lagi amanah.”

Al-Imam Mush’ab bin Abdullah Az-Zubairi t berkata: “Aku belum pernah melihat seseorang yang lebih berilmu dari Asy-Syafi’i dalam hal sejarah.”

Dalam Mukadimah Asy-Syaikh Ahmad bin Muhammad Syakir t terhadap kitab Ar-Risalah karya Al-Imam Asy-Syafi’i (hal. 6) disebutkan bahwa Al-Imam Ahmad bin Hanbal t berkata: “Kalau bukan karena Asy-Syafi’i (atas kehendak Allah l, pen.), niscaya kami tidak bisa memahami hadits dengan baik.”

Beliau juga berkata: “Asy-Syafi’i adalah seorang yang paling paham tentang Kitabullah dan Sunnah Rasulullah n.”

Dalam kitab Manaqib Asy-Syafi’i karya Al-Imam Dawud bin Ali Azh-Zhahiri t disebutkan: “Telah berkata kepadaku Ishaq bin Rahawaih: ‘Suatu hari aku pergi ke Makkah bersama Ahmad bin Hanbal untuk berjumpa dengan Asy-Syafi’i. Aku pun selalu bertanya kepadanya tentang sesuatu (dari agama ini) dan aku dapati beliau sebagai seorang yang fasih serta berbudi pekerti luhur. Setelah kami berpisah dengan beliau, sampailah informasi dari sekelompok orang yang ahli di bidang tafsir Al-Qur’an bahwa Asy-Syafi’i adalah orang yang paling mengerti tafsir Al-Qur’an di masa ini. Kalaulah aku tahu hal ini, niscaya aku akan bermulazamah (belajar secara khusus) kepadanya’.”

Dawud bin Ali Azh-Zhahiri berkata: “Aku melihat adanya penyesalan pada diri Ishaq bin Rahawaih atas kesempatan yang terlewatkan itu.”

Dalam kitab Manaqib Asy-Syafi’i karya Al-Imam Al-Baihaqi t (2/42-44 dan 48) disebutkan bahwa:

Al-Imam Abdul Malik bin Hisyam Al-Mu’afiri t berkata: “Asy-Syafi’i termasuk rujukan dalam bahasa Arab.”

Al-Imam Abdul Malik bin Quraib Al-Ashma’i t berkata: “Aku mengoreksikan syair-syair Suku Hudzail kepada seorang pemuda Quraisy di Makkah yang bernama Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i.”

Al-Imam Abu Ubaid Al-Qasim bin Sallam Al-Harawi t berkata: “Adalah Asy-Syafi’i sebagai rujukan dalam bahasa Arab atau seorang pakar bahasa Arab.”

Al-Imam Ahmad bin Hanbal t berkata: “Perkataan Asy-Syafi’i dalam hal bahasa Arab adalah hujjah.”

Al-Mubarrid t berkata: “Semoga Allah l merahmati Asy-Syafi’i. Beliau termasuk orang yang paling ahli dalam hal syair, sastra Arab, dan dialek bacaan (qiraat) Al-Qur’an.”

Menelusuri prinsip keyakinan (manhaj) Al-Imam Asy-Syafi’i t

Prinsip keyakinan (manhaj) Al-Imam Asy-Syafi’i sesuai dengan prinsip keyakinan (manhaj) Rasulullah n dan para sahabatnya. Untuk lebih jelasnya, simaklah keterangan berikut ini:

 

a. Pengagungan Al-Imam Asy-Syafi’i terhadap Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah n

Al-Imam Asy-Syafi’i adalah seorang ulama yang selalu merujuk kepada Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah n, serta berpegang teguh dengan keduanya. Cukuplah karya monumental beliau, kitab Al-Umm (terkhusus pada Kitab Jima’ul Ilmi dan Kitab Ibthalul Istihsan) dan juga kitab Ar-Risalah menjadi bukti atas semua itu. Demikian pula beliau melarang dari taklid buta. Sebagaimana dalam wasiat beliau berikut ini:

“Jika kalian mendapati sesuatu pada karya tulisku yang menyelisihi Sunnah Rasulullah n, maka ambillah Sunnah Rasulullah n tersebut dan tinggalkan perkataanku.”

“Jika apa yang aku katakan menyelisihi hadits yang shahih dari Nabi n, maka hadits Nabi n lah yang lebih utama, dan jangan kalian taklid kepadaku.” (Lihat Manaqib Asy-Syafi’i, 1/472 dan 473)

Al-Imam Al-Muzani t (salah seorang murid senior Al-Imam Asy-Syafi’i) di awal kitab Mukhtashar-nya berkata: “Aku ringkaskan kitab ini dari ilmu Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i t serta dari kandungan ucapannya untuk memudahkan siapa saja yang menghendakinya, seiring dengan adanya peringatan dari beliau agar tidak bertaklid kepada beliau maupun kepada yang lainnya. Hal itu agar seseorang dapat melihat dengan jernih apa yang terbaik bagi agamanya dan lebih berhati-hati bagi dirinya.” (Dinukil dari Manhaj Al-Imam Asy-Syafi’i fi Itsbatil Akidah, 1/127)

 

b. Hadits ahad dalam pandangan Al-Imam Asy-Syafi’i t

Menurut Al-Imam Asy-Syafi’i (dan para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah selainnya), tak ada perbedaan antara hadits mutawatir dan hadits ahad dalam hal hujjah, selama derajatnya shahih. Bahkan dalam kitab Ar-Risalah (hal. 369-471), Al-Imam Asy-Syafi’i menjelaskan secara panjang lebar bahwa hadits ahad adalah hujjah dalam segenap sendi agama. Lebih dari itu beliau membantah orang-orang yang mengingkarinya dengan dalil-dalil yang sangat kuat. Sehingga patutlah bila beliau dijuluki Nashirul Hadits (pembela hadits Nabi n).3

 

c. Tauhid dalam pandangan Al-Imam Asy-Syafi’i t

Al-Imam Asy- Syafi’i merupakan sosok yang kokoh tauhidnya. Sangat mendalam pengetahuannya tentang tauhid dan jenis-jenisnya, baik tauhid rububiyah, tauhid uluhiyah maupun tauhid asma’ wash shifat. Bahkan kitab-kitab beliau merupakan contoh dari cerminan tauhid kepada Allah l.

Di antaranya apa yang terdapat dalam mukadimah kitab Ar-Risalah berikut ini: “Segala puji hanya milik Allah yang telah menciptakan langit dan bumi, mengadakan gelap dan terang, namun orang-orang yang kafir mempersekutukan (sesuatu) dengan Rabb mereka. Segala puji hanya milik Allah yang tidaklah mungkin satu nikmat dari nikmat-nikmat-Nya disyukuri melainkan dengan nikmat dari-Nya pula. Yang mengharuskan seseorang kala mensyukuri kenikmatan-Nya yang lampau untuk mensyukuri kenikmatan-Nya yang baru.4 Siapa pun tak akan mampu menyifati hakikat keagungan-Nya. Dia sebagaimana yang disifati oleh diri-Nya sendiri dan di atas apa yang disifati oleh para makhluk-Nya. Aku memuji-Nya dengan pujian yang selaras dengan kemuliaan wajah-Nya dan keperkasaan ketinggian-Nya.5 Aku memohon pertolongan dari-Nya, suatu pertolongan dari Dzat yang tidak ada daya dan upaya melainkan dari-Nya. Aku memohon petunjuk dari-Nya, Dzat yang dengan petunjuk-Nya tidak akan tersesat siapa pun yang ditunjuki-Nya. Aku pun memohon ampunan-Nya atas segala dosa yang telah lalu maupun yang akan datang, permohonan seorang hamba yang meyakini bahwa tiada yang berhak diibadahi melainkan Dia, seorang hamba yang mengetahui dengan pasti bahwa tiada yang dapat mengampuni dosanya dan menyelamatkannya dari dosa tersebut kecuali Dia. Aku bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak diibadahi melainkan Dia semata, dan aku bersaksi pula bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya…”6

Al-Imam Asy-Syafi’i sangat berupaya untuk menjaga kemurnian tauhid. Oleh karena itu, beliau sangat keras terhadap segala perbuatan yang dapat mengantarkan kepada syirik akbar (syirik besar yang mengeluarkan pelakunya dari Islam), seperti mendirikan bangunan di atas kubur dan menjadikannya sebagai tempat ibadah, bersumpah kepada selain Allah l, dan sebagainya. (Manhaj Al-Imam Asy-Syafi’i Fi Itsbatil Akidah, 2/517)

Penting untuk disebutkan pula bahwa prinsip Al-Imam Asy-Syafi’i dalam hal tauhid asma’ wash shifat sesuai dengan prinsip Rasulullah n dan para sahabatnya g serta menyelisihi prinsip kelompok Asy’ariyyah ataupun Maturidiyyah.7 Yaitu menetapkan semua nama dan sifat bagi Allah l sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan dijelaskan dalam hadits Nabi n yang shahih. Menetapkannya tanpa menyerupakan dengan sesuatu pun, dan mensucikan Allah l tanpa meniadakan (ta’thil) nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Sebagaimana yang dikandung firman Allah l:

ﭡ ﭢ ﭣﭤ ﭥ ﭦ ﭧ ﭨ

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan lagi Maha melihat.” (Asy-Syura: 11)

Jauh dari sikap membayangkan bagaimana hakikat sifat Allah l (takyif) dan jauh pula dari sikap memalingkan makna sifat Allah l yang sebenarnya kepada makna yang tidak dimaukan Allah l dan Rasul-Nya (tahrif). Demikianlah prinsip yang senantiasa ditanamkan Al-Imam Asy-Syafi’i kepada murid-muridnya.

Al-Hafizh Ibnu Katsir t berkata: “Telah diriwayatkan dari Ar-Rabi’ dan yang lainnya, dari para pembesar murid-murid Asy-Syafi’i, apa yang menunjukkan bahwa ayat dan hadits tentang sifat-sifat Allah l tersebut dimaknai sesuai dengan makna zhahirnya, tanpa dibayangkan bagaimana hakikat sifat tersebut (takyif), tanpa diserupakan dengan sifat makhluk-Nya (tasybih), tanpa ditiadakan (ta’thil), dan tanpa dipalingkan dari makna sebenarnya yang dimaukan Allah l dan Rasul-Nya n (tahrif).” (Al-Bidayah wan Nihayah, 10/265)

 

d. Permasalahan iman menurut Al-Imam Asy-Syafi’i t

Iman menurut Al-Imam Asy-Syafi’i mencakup ucapan, perbuatan, dan niat (keyakinan). Ia bisa bertambah dengan ketaatan dan bisa berkurang dengan kemaksiatan. Adapun sikap beliau terhadap pelaku dosa besar (di bawah dosa syirik) yang meninggal dunia dalam keadaan belum bertaubat darinya, maka selaras dengan prinsip Ahlus Sunnah wal Jamaah dan menyelisihi prinsip ahlul bid’ah, dari kalangan Khawarij, Mu’tazilah, maupun Murji’ah. Yaitu tergantung kepada kehendak Allah l. Jika Allah l berkehendak untuk diampuni maka terampunilah dosanya, dan jika Allah l berkehendak untuk diazab maka akan diazab terlebih dahulu dalam An-Nar, namun tidak kekal di dalamnya. (Lihat Manhaj Al-Imam Asy-Syafi’i fi Itsbatil Akidah, 2/516)

 

e. Permasalahan takdir dan Hari Akhir menurut Al-Imam Asy-Syafi’i t

Al-Imam Asy-Syafi’i t berkata: “Sesungguhnya kehendak para hamba tergantung kehendak Allah l. Tidaklah mereka berkehendak kecuali atas kehendak Allah Rabb semesta alam. Manusia tidaklah menciptakan amal perbuatannya sendiri. Amal perbuatan mereka adalah ciptaan Allah l. Sesungguhnya takdir baik dan takdir buruk semuanya dari Allah k. Sesungguhnya azab kubur benar adanya, pertanyaan malaikat kepada penghuni kubur benar adanya, hari kebangkitan benar adanya, penghitungan amal di hari kiamat benar adanya, Al-Jannah dan An-Nar benar adanya, dan hal lainnya yang disebutkan dalam Sunnah Rasulullah n serta disampaikan melalui lisan para ulama di segenap negeri kaum muslimin (benar pula adanya).” (Manaqib Asy-Syafi’i, 1/415)

Ketika ditanya tentang dilihatnya Allah l (ru’yatullah) di hari kiamat, maka Al-Imam Asy-Syafi’i mengatakan: “Demi Allah, jika Muhammad bin Idris tidak meyakini akan dilihatnya Allah l di hari kiamat, niscaya dia tidak akan beribadah kepada-Nya di dunia.” (Manaqib Asy-Syafi’i, 1/419)

 

f. Penghormatan Al-Imam Asy-Syafi’i t terhadap para sahabat Nabi n

Al-Imam Asy-Syafi’i sangat menghormati para sahabat Nabi. Hal ini sebagaimana tercermin dalam kata-kata beliau berikut ini: “Allah l telah memuji para sahabat Nabi n dalam Al-Qur’an, Taurat, dan Injil. Keutamaan itu pun (sungguh) telah terukir melalui lisan Rasulullah n. Suatu keutamaan yang belum pernah diraih oleh siapa pun setelah mereka. Semoga Allah l merahmati mereka dan menganugerahkan kepada mereka tempat tertinggi di sisi para shiddiqin, syuhada, dan shalihin. Merekalah para penyampai ajaran Rasulullah n kepada kita. Mereka pula para saksi atas turunnya wahyu kepada Rasulullah n. Oleh karena itu, mereka sangat mengetahui apa yang dimaukan Rasulullah n terkait dengan hal-hal yang bersifat umum maupun khusus, serta yang bersifat keharusan maupun anjuran. Mereka mengetahui Sunnah Rasulullah n, baik yang kita ketahui ataupun yang tidak kita ketahui. Mereka di atas kita dalam hal ilmu, ijtihad, wara’, ketajaman berpikir dan menyimpulkan suatu permasalahan berdasarkan ilmu. Pendapat mereka lebih baik dan lebih utama bagi diri kita daripada pendapat kita sendiri. Wallahu a’lam.” (Manaqib Asy-Syafi’i, 1/442)

Demikian pula beliau sangat benci terhadap kaum Syi’ah Rafidhah yang menjadikan kebencian terhadap mayoritas para sahabat Nabi n sebagai prinsip dalam beragama. Hal ini sebagaimana penuturan Yunus bin Abdul A’la: “Aku mendengar celaan yang dahsyat dari Asy-Syafi’i –jika menyebut Syi’ah Rafidhah– seraya mengatakan: ‘Mereka adalah sejelek-jelek kelompok’.” (Manaqib Asy-Syafi’i, 1/468)

 

g. Sikap Al-Imam Asy-Syafi’i t terhadap kelompok-kelompok sesat

Al-Imam Al-Baihaqi t berkata: “Adalah Asy-Syafi’i seorang yang bersikap keras terhadap ahlul ilhad (orang-orang yang menyimpang dalam agama) dan ahlul bid’ah. Beliau tampakkan kebencian dan pemboikotan (hajr) tersebut kepada mereka.” (Manaqib Asy-Syafi’i, 1/469)

Al-Imam Al-Buwaithi t berkata: “Aku bertanya kepada Asy-Syafi’i, ‘Apakah aku boleh shalat di belakang seorang yang berakidah Syi’ah Rafidhah?’ Maka beliau menjawab: ‘Jangan shalat di belakang seorang yang berakidah Syi’ah Rafidhah, seorang yang berakidah Qadariyyah, dan seorang yang berakidah Murjiah’.” (Lihat Manhaj Al-Imam Asy-Syafi’i fi Itsbatil Akidah, 1/480)

Al-Imam Asy-Syafi’i t berkata: “Tidaklah seorang sufi bisa menjadi sufi tulen hingga mempunyai empat karakter: pemalas, suka makan, suka tidur, dan selalu ingin tahu urusan orang lain.” (Manaqib Asy-Syafi’i, 2/207)

Akhir kata, demikianlah sekelumit tentang kehidupan Al-Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i t dan prinsip keyakinan (manhaj) beliau yang dapat kami sajikan kepada para pembaca. Seorang ulama besar yang penuh jasa, yang meninggal dunia di Mesir pada malam Jum’at 29 Rajab 204 H, bertepatan dengan 19 Januari 820 M, dalam usia 54 tahun.8

Rahimahullahu rahmatan wasi’ah, wa ghafara lahu, wa ajzala matsubatahu, wa askanahu fi fasihi jannatihi. Amin.


1 Sebagian riwayat menyebutkan bahwa ia adalah Makkah, dan sebagian yang lain bukan Makkah.

2 Lihat perkataan mereka pada sub judul Kedudukan Al-Imam Asy-Syafi’i di mata pembesar umat.

3 Lihat Manaqib Asy-Syafi’i, 1/472.

4 Ungkapan di atas mengandung makna tauhid rububiyah.

5 Ungkapan di atas mengandung makna tauhid asma’ wash shifat.

6 Ungkapan di atas mengandung makna tauhid uluhiyah.

7 Sungguh mengherankan orang-orang yang sangat fanatik terhadap madzhab Al-Imam Asy-Syafi’i dalam masalah fiqh, sementara dalam masalah tauhid asma’ wash shifat mereka tinggalkan madzhab beliau yang lurus, kemudian berpegang dengan madzhab Asy’ariyyah atau Maturidiyyah yang sesat.

8 Lihat Mukadimah Asy-Syaikh Ahmad bin Muhammad Syakir terhadap kitab Ar-Risalah hal. 8.

Surat Pembaca edisi 55

Asy Syariah di-CD/DVD-kan

Bagaimana kalau majalah Asy Syariah diterbitkan dalam bentuk CD/DVD supaya lebih mudah disimpan dan awet serta antirayap. Setidaknya untuk bundelnya.

 

Kusuma-Surabaya

0857333xxxxx

 

Jazakumullahu khairan, akan kami pertimbangkan.

 

 

Lafadz Sayyidina

Mengapa pada edisi vol. IV/no. 48/1430 H/2009 di rubrik Problema Anda hal. 56 shalawat pembuka sebelum menjawab pertanyaan ada kata “sayyidina Muhammad”? Bukannya itu adalah ziyadah yang bid’ah dalam shalawat?

 

Ahmad-Pekanbaru

0813659xxxxx

 

Lafadz “sayyidina Muhammad” dibolehkan bila dalam bentuk ikhbar (memberitakan), karena beliau n sendiri mengabarkan:

أَنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ

“Aku adalah sayid (pemuka) anak Adam.”

Yang dilarang adalah bila lafadz sayyidina ditambahkan ke dalam lafadz yang telah ditetapkan oleh Nabi n, seperti dalam shalawat Ibrahimiyah. Wallahu a’lam.

Shalawat Nariyah dan Shalawat Badar

Bismillah, ana ingin majalah Asy Syariah mengupas tuntas shalawat di atas, karena shalawat ini telah demikian menjamur di masyarakat Indonesia yang notabene muslim. Kita tahu bahwa cara bershalawat kepada Rasulullah n telah jelas di dalam hadits, kenapa shalawat itu bisa ada di muka bumi ini?

 

Agus Salim

Dipasena T Bawang, Lampung

0857687xxxxx

 

Tentang shalawat-shalawat syirik dan bid’ah, termasuk di dalamnya apa yang anda sebutkan, sebenarnya telah kami singgung di rubrik Kajian Utama majalah Asy Syariah Vol. I/No.7/1424 H/2004 (Membedah Ajaran Sufi). Silakan dibuka kembali. Jazakumullahu khairan.

 

 

Ritual Pra-Ramadhan

Mohon dibahas ritual-ritual pra-Ramadhan yang bid’ah seperti padusan, mandi bersama (di petilasan tertentu), budaya nyekar ke kuburan leluhur, nyadran/khal, budaya minta maaf sebagai syarat puasa, dan sebagainya.

 

081579xxxxx

 

Usulan antum insya Allah jadi pertimbangan kami. Jazakumullahu khairan atas masukannya.