MARAH

‘Umar bin Abdul ‘Aziz t berkata: “Telah beruntung orang yang dijaga dari hawa nafsu, kemarahan, dan ketamakan.”

Ja’far bin Muhammad t berkata: “Kemarahan itu adalah kunci dari segala macam kejelekan.”

Dikatakan kepada Ibnul Mubarak t: “Himpunkanlah untuk kami akhlak-akhlak yang baik dalam satu kata!” Beliau t mengatakan: “Meninggalkan marah.”

(Jami’ul ‘Ulum Wal Hikam, hal. 372, 379)

Ibnul Qayyim t berkata:

“Kemarahan itu membinasakan. Dia merusak akal sebagaimana khamr dapat menghilangkan kesadaran.”

(An-Nubadz fi Adabi Thalabil ‘Ilmi hal. 155)

Menghilangkan Kebiasaan Onani

Assalamu’alaikum. Saya seorang remaja muslim yang terjebak kebiasaan buruk onani. Saya tahu hal tersebut adalah kesalahan dan saya ingin menghentikannya tapi saya belum mampu. Tolong berikanlah saya nasihat bagaimana cara menghentikannya. Dan tolong beritahukan saya apa akibat buruk onani bagi kesehatan dan dampaknya dalam hubungan suami isteri setelah menikah. Karena ada beberapa kalangan termasuk ahli kedokteran yang menganggap perbuatan onani adalah normal, padahal yang saya tahu apa yang dilarang Allah l untuk dikerjakan manusia adalah agar mereka menjauhinya agar tidak mengerjakannya untuk kepentingan (kemanfaatan) manusia sendiri.

Fulan di bumi Allah

Dijawab oleh: Al-Ustadz Abu Abdillah As Sarbini Al- Makassari

Wa’alaikumsalam warahmatullah. Benar apa yang anda katakan bahwa apa yang dilarang oleh Allah l atas hamba-hamba-Nya adalah demi kepentingan dan maslahat manusia sendiri. Tidaklah seorang hamba mengerjakan sesuatu yang haram kecuali pasti membahayakan dirinya sendiri. Di antara perbuatan haram yang terlarang adalah melakukan onani, apalagi sampai pada tahap jadi kebiasaan. Jadi perbuatan onani bukanlah perbuatan normal yang biasa-biasa saja. Para ulama dan ahli kesehatan juga telah menyatakan adanya mudharat yang akan merusak kesehatan pelakunya serta melemahkan kemampuan berhubungan suami-istri ketika berkeluarga. Selain itu pula onani merupakan perangai buruk yang rendah dan hina serta memalukan. Seorang muslim yang berakal dan berakhlak mulia akan menjaga dirinya semaksimal mungkin dari perbuatan yang hina ini. Barangsiapa terjebak dengan kebiasaan buruk ini, maka kami nasihatkan kepadanya hal-hal berikut ini:

  1. Hendaklah bertaubat kepada Allah l dan memohon ampunan-Nya.
  2. Menyabarkan diri agar tidak terjatuh kembali ke dalam kebiasaan buruk itu dan memohon pertolongan kepada Allah l agar mampu menghindarinya.
  3. Segera menempuh solusi yang akan membebaskannya dari onani dengan cara menikah, jika sudah mampu biaya untuk itu.
  4. Jika belum mampu menikah, hendaklah memperbanyak puasa hingga syahwatnya benar-benar hilang dan luluh dengan puasa.
  5. Menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan ibadah dan kegiatan duniawi yang bermanfaat baginya untuk mengalihkan pikirannya dari onani.
  6. Menjauhkan diri dari hal-hal yang membangkitkan syahwat, seperti melihat wajah dan sosok wanita secara langsung atau melalui gambar, bercampur baur (ikhtilat) dengan wanita, dan yang semisalnya yang bisa membangkitkan syahwat.

Ini yang bisa kami nasihatkan, semoga anda dan semisalnya diberi hidayah dan taufiq oleh Allah l untuk membenahi diri dan menempuh lembaran hidup baru di atas jalan Allah l. Seseorang tidak boleh berputus asa dari kebaikan dan rahmat Allah l, kesempatan masih terbuka lebar dan tidak ada kata terlambat selama hayat masih dikandung badan. Rasulullah n bersabda:

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلاَ تَعْجِزْ

“Bersemangatlah engkau untuk meraih apa-apa yang bermanfaat bagimu dan mohonlah pertolongan kepada Allah l, serta janganlah engkau berputus asa.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah z)

Masturbasi Membatalkan Puasa

Apakah membatalkan puasa seseorang yang melakukan masturbasi hingga mengeluarkan air mani?

Ismail

Dijawab oleh:

Al-Ustadz Abu Abdillah As-Sarbini Al-Makassari:

Perlu diketahui bahwa masturbasi hingga ejakulasi (istimna’) dengan bantuan tangan sendiri atau dengan bantuan alat hukumnya haram atas laki-laki dan wanita, baik sedang berpuasa atau tidak. Demikian pula halnya istimna’ yang dilakukan dengan bantuan tangan/anggota tubuh lainnya dari istri atau budak wanita yang dimiliki, atau pun bercumbu dengannya, berpelukan dan semisalnya dengan maksud mencapai ejakulasi untuk memuaskan syahwat saat sedang berpuasa hukumnya haram, karena hal ini termasuk mengumbar nafsu syahwat yang terlarang saat berpuasa. Begitu pula hukumnya atas wanita yang melakukannya dengan suaminya atau budak wanita dengan tuannya saat dia sedang berpuasa.

Guru kami yang mulia, Al-Imam Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i t berkata dalam Ijabatus Sa’il (hal. 174): “Jika seorang lelaki bermesraan dengan istrinya (bercumbu dan berpelukan) untuk memuaskan syahwatnya dengan ejakulasi di luar farji istri, maka dia berdosa dengan itu. Sebab Rasulullah n telah bersabda dalam hadits qudsi yang diriwayatkannya dari Rabbnya:

يَدَعُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِيْ

“Orang yang berpuasa meninggalkan makanannya, minumannya dan syahwatnya karena Aku.” (Muttafaq ‘alaih dari Abu Hurairah z)

Jika dia melakukan hal itu dalam keadaan jahil (tidak tahu hukum), maka ketika dia mengetahui hukumnya hendaklah bertaubat kepada Allah l. Jika dia bermesraan dengan istrinya dalam keadaan mengerti hukum bahwa boleh baginya bermesraan dengan istrinya[1] selain jima’ (bersetubuh), lalu dia mencapai ejakulasi, sementara dirinya tidak bermaksud untuk itu, maka dia tidak berdosa.”

Hal ini membatalkan puasa, seperti halnya ejakulasi yang dicapai dengan jima’ (bersetubuh) yang merupakan pembatal puasa, berdasarkan nash Al-Qur’an dan As-Sunnah. Hal ini dikuatkan dengan hadits qudsi di atas bahwa orang yang berpuasa menahan diri dari makanan, minuman dan syahwat yang merupakan pembatal-pembatal puasa. Sementara ejakulasi merupakan syahwat, dengan dalil sabda Rasulullah n:

وَفِي بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، أَيَأْتِي أَحَدُنَا شَهْوَتَهُ وَيَكُونُ لَهُ فِيهَا أَجْرٌ؟ قَالَ: أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِي حَرَامٍ أَكَانَ عَلَيْهِ فِيهَا وِزْرٌ؟ فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِي الْحَلاَلِ كَانَ لَهُ أَجْرٌ

“Pada kemaluan setiap kalian ada shadaqah.” Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah! Apakah salah seorang dari kami mendatangi syahwatnya dan dia mendapat pahala dengannya?” Rasulullah bersabda: “Tahukah kalian, kalau dia meletakannya dalam perkara yang haram, apakah dia berdosa karenanya? Demikian pula halnya jika dia meletakkanya dalam perkara yang halal, maka dia mendapat pahala karenanya.”(HR. Muslim dari Abu Dzar z)

Tentu saja ejakulasi saat orgasme (puncak kenikmatan syahwat) adalah syahwat yang terlarang saat berpuasa dan membatalkan puasa, dengan cara apapun seseorang mencapainya. Meskipun memang benar bahwa jima’ (bersetubuh) itu sendiri membatalkan puasa, walaupun tanpa ejakulasi.

Ini adalah pendapat Abu Hanifah, Malik, Asy-Syafi’i dan Ahmad. Pendapat ini dirajihkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Al-Fatawa(25/224), Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin dalam Asy-Syarhul Mumti’ (6/386-388) dan difatwakan oleh Al-Lajnah Ad-Da’imah yang diketuai oleh Asy-Syaikh Ibnu Baz dalam Fatawa Al-Lajnah (10/259-260).

Inilah yang nampak bagi kami dalam permasalahan ini. Sangat sulit dibenarkan bahwa halal-halal saja bagi orang yang berpuasa untuk melampiaskan syahwatnya dengan ejakulasi selain jima’ (bersetubuh), padahal hal itu jelas-jelas merupakan pemuasan syahwat yang semakna dengan ejakulasi yang dicapai dengan jima’.

Kesimpulannya, jika hal itu sengaja dilakukan dalam keadaan mengerti hukum, maka pelakunya berdosa dan puasanya batal. Wajib atasnya untuk bertaubat kepada Allah l dan tidak disyariatkan baginya untuk mengqadha (mengganti) puasa yang batal itu di luar bulan Ramadhan, menurut pendapat yang rajih (kuat). Karena yang rajih tidak disyariatkan bagi yang meninggalkan puasa atau membatalkan puasanya secara sengaja untuk mengqadha dan tidak ada dalil yang menunjukkan hal itu. Ini adalah pendapat Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Al-Fatawa (25/225-226), dan guru kami Asy-Syaikh Muqbil dalam Ijabatus Sa’il(hal. 175).

Adapun masalah kaffarah, maka ejakulasi dengan selain jima’ (bersetubuh) tidak ada kaffarahnya, menurut pendapat yang rajih. Seluruh ulama yang kami sebutkan di atas sepakat dalam hal ini. Sebab dalil kaffarah hanya datang pada masalah jima’ atas orang yang membatalkan puasanya di bulan Ramadhan dengan jima’. Dan hal ini tidak bisa disamakan dengan ejakulasi tanpa jima’, karena jima’ urusannya lebih keras.

Keterangan ini untuk puasa wajib. Adapun puasa sunnah, maka boleh bagi seseorang untuk membatalkannya kapan saja dia mau dengan melakukan pembatal-pembatal puasa yang ada tanpa konsekuensi dosa. Namun ulama mengatakan bahwa tidak sepantasnya membatalkannya tanpa tujuan yang mengandung maslahat. Wal ‘ilmu ‘indallah.


[1] Maksudnya tanpa disertai niatan untuk memuaskan syahwat dengan ejakulasi di luar farji istri. –pen

Sifat-sifat Penghuni Surga

Allah l berfirman:

“Dan didekatkanlah surga itu kepada orang-orang yang bertakwa pada tempat yang tiada jauh (dari mereka). Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) kepada setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi memelihara (semua peraturan-peraturan-Nya). (Yaitu) orang yang takut kepada Rabb Yang Maha Pemurah sedangkan Dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertaubat. Masukilah surga itu dengan aman, itulah hari kekekalan. Mereka di dalamnya memperoleh apa yang mereka kehendaki; dan pada sisi Kami ada tambahannya.”(Qaf: 31-35)

Allah akan mendekatkan surga bagi orang-orang yang bertakwa, sehingga surga begitu dekat dengan mereka. Terlihat berbagai macam kenikmatan yang ada di dalamnya. Ini sebagai buah dari ketakwaan mereka kepada Allah, di mana mereka menjauhi segala macam kesyirikan, yang kecil maupun besar, melaksanakan perintah-perintah Rabb mereka dan tunduk kepada-Nya. Kedekatan ini merupakan wujud janji Allah kepada mereka, dan Allah tidak akan menyelisihi janji-Nya. Apa sifat-sifat mereka yang akan mendapatkan janji Allah tersebut?

 

Pertama: Awwab

Yakni orang yang senantiasa kembali kepada Allah, dari kemaksiatan menuju kepada ketaatan, dari kelalaian menuju kepada ingat Allah. Al-Imam Mujahid mengatakan:

هُوَ الَّذِي إِذَا ذَكَرَ ذَنْبَهُ اسْتَغْفَرَ مِنْهُ

“Dia adalah seseorang yang bila ingat dosanya, dia meminta ampun dari dosanya.”

Sehingga setiap saat kembali kepada Allah dengan mengingat-Nya, mencintai-Nya, mohon pertolongan kepada-Nya, berdoa kepada-Nya, takut dan berharap kepada-Nya.

 

Kedua: Hafizh

Ibnu Abbas c mengatakan:

لِمَا ائْتَمَنَهُ اللهُ عَلَيْهِ وَافْتَرَضَهُ

“(Yakni menjaga) apa yang Allah amanahkan kepadanya dan Allah wajibkan kepadanya.”

Qatadah t mengatakan: “Menjaga apa yang Allah titipkan kepadanya berupa hak-hak dan nikmat-nikmat-Nya.”

Ibnul Qayyim t menjelaskan: “Ketika jiwa itu punya dua kekuatan, yaitu kekuatan untuk berbuat dan kekuatan untuk menahan, maka sifat awwab digunakan pada kekuatan perbuatannya untuk kembali kepada Allah, keridhaan dan ketaatan kepada-Nya. Sedangkan hafizh digunakan pada kekuatan penjagaannya dalam menahan diri dari maksiat dan larangan-Nya. Sehingga hafizh adalah yang menahan diri dari apa yang diharamkan kepadanya. Dan awwab adalah yang menghadapkan dirinya kepada Allah dengan ketaatan kepada-Nya.”

Asy-Syaikh As-Sa’di t menjelaskan: “Ia menjaga apa yang Allah perintahkan kepadanya dengan merealisasikannya dengan ikhlas dan dengan sempurna, sesempurna-sempurnanya, serta menjaga batasan-batasannya.”

Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin t menjelaskan: “Tidak menyia-nyiakan perintah-Nya dan tidak menyambutnya dengan kemalasan, bahkan dia bersemangat padanya.”

 

Ketiga: Khosyyaturrahman bil ghaib

Ini memiliki dua makna. Makna yang pertama, takut kepada Allah walaupun tidak ada yang melihatnya kecuali Allah. Sifat ini mengandung keimanannya terhadap wujud Allah, rububiyah-Nya dan kemampuan-Nya serta ilmu dan pengetahuan-Nya terhadap keadaan hamba-hamba-Nya. Juga mengandung keimanan terhadap kitab-Nya, Rasul-Nya dan perintah serta larangan-Nya, serta keimanan terhadap janji, ancaman serta perjumpaan dengan-Nya. Tidak sah rasa takut kepada Allah padahal dia tidak melihat-Nya, kecuali dengan ini semua.

Ibnu Katsir t menjelaskan: “Yakni seseorang yang takut kepada Allah dalam keadaan sendirian, di mana tidak seorangpun melihatnya kecuali Allah.”

Sehingga rasa takut semacam ini tidak mungkin terwujud kecuali jika dia tahu tentang Allah, dan sifat-sifat-Nya, tahu bahwa Allah Maha Melihat dan Mendengar serta Maha Mengetahui.

Takut semacam inilah takut yang hakiki. Karena takut yang hakiki adalah takut yang berdasarkan ilmu, sehingga rasa takut ini diiringi dengan rasa pengagungan terhadap Allah. Adapun takutnya seseorang kepada Allah saat dilihat manusia atau di hadapan mereka, bisa jadi itu hanya karena riya’ atau sum’ah (ingin didengar dan disanjung orang bahwa dia baik). Sehingga hal ini tidak menunjukkan rasa takutnya kepada Allah. Jadi takut yang bermanfaat adalah takut kepada Allah saat sendirian dan saat di hadapan manusia.

Makna yang kedua, ia takut kepada Allah walaupun ia tidak melihat-Nya. Akan tetapi ia melihat ayat-ayat Allah yang menunjukkan adanya Allah.

 

Keempat: Datang dengan kalbu yang munib.

Yakni kalbu yang bertaubat kepada Allah.

Ibnu Katsir menjelaskan: “Yakni dia berjumpa dengan Allah dengan kalbu yang selamat (dari dosa dan maksiat), pasrah kepada-Nya, dan tunduk di hadapan-Nya.”

Yakni ia wafat dalam keadaan kembali kepada Allah, seperti firman Allah:

 

“Dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (Ali Imran: 102)

Yakni ia senantiasa bertaubat kepada Allah sampai ia wafat. Dan amalan itu tergantung dengan penutupnya. Semoga Allah menutup amal kita dengan kebaikan.

Untuk mereka yang memiliki empat sifat tersebut, Allah l katakan:

 

“Masukilah surga itu dengan aman, itulah hari kekekalan. Mereka di dalamnya memperoleh apa yang mereka kehendaki; dan pada sisi Kami ada tambahannya.” (Qaf: 34-35)

Taqwa dan Keutamaannya

KHUTBAH PERTAMA:

الْحَمْدُ لِلهِ حَمْداً كَثِيراً طَيِّباً مُبَارَكاً فِيْهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَوَاتُ رَبِّي وَسَلاَمُهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Segala puji bagi Allah l yang telah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk bertakwa kepada-Nya dan menjanjikan berbagai keutamaan bagi siapa saja yang menjalankannya. Saya bersaksi bahwasanya tidak ada yang diibadahi dengan benar selain Allah l, dan saya bersaksi bahwa Nabi Muhammad n adalah hamba dan utusan-Nya. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya serta seluruh kaum muslimin yang senantiasa mengikuti petunjuknya.

Hadirin rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa bertakwa kepada Allah l dengan sebenar-benar takwa. Takwa adalah sebab yang akan membuat seseorang memperoleh kebaikan di dunia dan akhirat. Sebaliknya, tidak bertakwa akan mendatangkan kesulitan dan bencana. Oleh karena itu, kita semuanya dan seluruh muslimin sesungguhnya sangat butuh akan takwa. Allah l telah menyebutkan di dalam Al-Qur’an, ayat-ayat yang berkaitan dengan takwa dan keutamaannya, begitu pula Rasulullah n di dalam hadits-haditsnya. Maka takwa merupakan wasiat Allah l dan Rasul-Nya yang harus dipahami maksudnya dan senantiasa dijaga serta dijalankan oleh setiap muslim. Bukan sekadar kalimat yang selalu didengar atau diucapkan namun tidak diperhatikan dan tidak ada wujudnya.

Jama’ah jum’ah rahimakumullah,

Para ulama telah menjelaskan definisi takwa dengan berbagai ungkapan yang berbeda-beda namun semuanya kembali pada maksud yang sama. Yaitu agar seseorang membuat penghalang yang membentengi dan menjaga dirinya dari terkena kemarahan dan azab Allah l. Sesuatu yang akan menjadi penghalang serta menjaga seseorang dari terkena azab Allah l, tidak lain adalah dengan menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Jama’ah jum’ah rahimakumullah,

Ketahuilah, bahwasanya fondasi dari ketakwaan seseorang kepada Allah l adalah persaksiannya terhadap dua kalimat syahadat. Persaksian terhadap dua kalimat syahadat ini bukanlah sekadar diucapkan dengan lisan. Namun juga harus dipahami maknanya serta diamalkan kandungannya. Sehingga siapa saja yang telah bersaksi dengan dua kalimat syahadat ini, dia harus meninggalkan dan berlepas diri serta meyakini batilnya segala bentuk peribadatan kepada selain Allah l dan mengarahkan segala bentuk ibadahnya hanya kepada Allah l saja. Begitu pula dia harus mengimani bahwa Muhammad bin ‘Abdillah ibn ‘Abdul Muththalib n adalah hamba Allah l dan utusan-Nya. Yaitu dia meyakini bahwa beliau adalah seorang hamba yang tidak boleh diibadahi, sekaligus beliau seorang Rasul yang tidak boleh didustai. Disamping itu, dia juga harus meyakini bahwa Nabi Muhammad n adalah penutup para nabi yang diutus oleh Allah l untuk seluruh manusia dan jin. Sehingga tidak ada satu pun yang hidup setelah diutusnya beliau n kecuali harus membenarkan seluruh ajarannya dan mengikuti agamanya. Nabi n bersabda:

وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لاَ يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ، يَهُودِيٌّ وَلاَ نَصْرَانِيٌّ، ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

“Demi yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya –yakni demi Allah– tidaklah satu pun yang telah mendengar tentang aku dari umat ini baik dari kalangan Yahudi dan tidak pula dari kalangan Nasrani, kemudian dia meninggal dalam keadaan tidak beriman dengan agama yang aku diutus dengannya, kecuali (dia) termasuk dari penghuni neraka.” (HR. Muslim)

Hadirin rahimakumullah,

Termasuk konsekuensi dari dua kalimat syahadat adalah harus mencintai Allah l dan Rasul-Nya lebih dari cintanya kepada selain keduanya. Rasulullah n bersabda:

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

“Tidaklah sempurna iman salah seseorang di antara kalian hingga aku lebih dia cintai daripada (cintanya kepada) anaknya, orang tuanya, dan manusia seluruhnya.” (HR. Muslim)

Disamping itu, dua kalimat syahadat juga mengharuskan orang yang mengucapkannya untuk mencintai saudaranya sesama muslim yang tidaklah dia mencintainya kecuali karena Allah l. Nabi n bersabda:

ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلاَوَةَ الْإِيْمَانِ، مَنْ كَانَ اللهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَهُ اللهُ مِنْهُ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ

“Tiga perkara, yang apabila seseorang itu memilikinya maka dia dengan sebab tiga perkara tersebut akan mendapatkan manisnya iman, (yaitu) seorang yang menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai dari selain keduanya; dan dia mencintai saudaranya yang tidaklah dia mencintainya kecuali karena Allah; serta dia membenci untuk kembali terjatuh kepada kekafiran setelah Allah menyelamatkannya sebagaimana dia tidak ingin dirinya dilempar ke api.” (HR. Muslim)

Seseorang yang masih mendahulukan keinginan dirinya dengan mengikuti hawa nafsunya daripada kecintaannya serta ketaatannya kepada Allah l dan Rasul-Nya, maka hal itu menunjukkan kelemahan imannya dan kurang sempurnanya dirinya dalam melaksanakan dua kalimat syahadat.

Hadirin rahimakumullah,

Disamping itu, ketakwaan seseorang juga tidak akan terwujud kecuali dia harus menjalankan kewajiban yang paling besar setelah menjalankan dua kalimat syahadat yaitu menegakkan shalat lima waktu. Amalan ini merupakan tiang Islam, dan merupakan barometer untuk menimbang baik atau tidaknya amalan seseorang serta sebagai pembeda yang membedakan antara seorang muslim dengan orang kafir.

Hal ini disebutkan di dalam firman-Nya:

“Dan jika mereka mau bertaubat dan menegakkan shalat serta menunaikan zakat, maka mereka adalah saudara kalian seagama.” (At-Taubah: 11)

Ayat ini menunjukkan bahwa orang yang tidak mau menjalankan kewajiban shalat lima waktu bukanlah saudara kita seiman.

Hadirin rahimakumullah,

Namun perlu diketahui pula bahwasanya wajib bagi kaum laki-laki untuk menjalankan kewajiban shalat lima waktu ini secara berjamaah. Yaitu dengan menjalankannya di masjid, bukan di rumah. Adapun apa yang dipahami oleh sebagian kaum muslimin bahwa apabila di rumahnya ada satu orang laki-laki atau lebih bersamanya berarti dia bisa mengerjakan shalat berjama’ah di rumahnya adalah pemahaman yang salah. Kewajiban shalat berjamaah di masjid ini merupakan paling besarnya syiar Islam yang harus nampak. Oleh karena itu, marilah kita senantiasa menjaga kewajiban yang sangat besar ini yaitu shalat berjamaah di masjid sebagai bukti ketakwaan kita kepada Allah l Marilah kita senantiasa berhati-hati dari segala hal yang akan menghalangi atau melalaikan kita dari shalat berjamaah, seperti mendatangi acara-acara hiburan yang diwarnai kemaksiatan atau menyaksikannya melalui layar televisi serta berbicara atau ngobrol yang tidak menentu, dan yang semisalnya.

Jama’ah jum’ah rahimakumullah,

Seseorang yang ingin bertakwa, dia harus mewujudkan persaksiannya terhadap dua kalimat syahadat. Yaitu dengan menjadikan Allah l sebagai satu-satunya yang diibadahi dan meninggalkan seluruh jenis perbuatan syirik serta membencinya sebagaimana bencinya dirinya terkena api. Oleh karena itu, seseorang tidak bisa disebut sebagai orang yang bertakwa apabila dia masih membenarkan atau membolehkan diarahkannya salah satu bentuk ibadah kepada selain Allah l, meskipun dia menjalankan shalat, puasa, dan ibadah lainnya. Maka untuk mewujudkan takwa, seseorang harus membangun ibadahnya di atas fondasi ini serta harus menegakkan shalat lima waktu yang akan menjadi tiang dari ketakwaannya. Selanjutnya sebagai bentuk ketakwaan yang sebenar-benarnya, dia pun harus menjalankan perintah-perintah Allah l lainnya serta meninggalkan larangan-larangan-Nya. Oleh karena itu, marilah kita bertakwa kepada Allah l atas diri kita dengan tidak melakukan kemaksiatan kepada Allah l. Disamping itu juga atas keluarga kita dengan menjalankan tanggung jawab kepada mereka dan tidak menyia-nyiakannya. Begitu pula, marilah kita bertakwa kepada Allah l terhadap kerabat kita dengan menjaga silaturahim dan tidak memutusnya, serta terhadap saudara-saudara kita seiman dengan tetap menjaga kehormatan mereka. Yang tidak kalah pentingnya, marilah kita bertakwa kepada Allah l terhadap dakwah kita yaitu dengan senantiasa di atas hikmah dalam menjalankannya.

Hadirin rahimakumullah,

Termasuk bagian yang paling penting dari bentuk ketakwaan seseorang adalah at-tafaqquh fiddin, yaitu bersungguh-sungguh dalam mempelajari agama Allah l. Kewajiban menuntut ilmu ini sangat erat kaitannya dengan takwa. Dengan bersemangat dalam menuntut ilmu seseorang akan mengetahui perintah-perintah Allah l dan larangan-larangan-Nya. Sehingga dengan demikian dia akan benar-benar tepat dalam menjalankan perintah-perintah Allah l dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Oleh karena itu, wajib bagi kita untuk menuntut ilmu dan bertanya kepada ahli ilmu tentang agama kita, agar kita bisa benar-benar mewujudkan ketakwaan kita kepada Allah l. Akhirnya, kita memohon kepada Allah l melalui nama-nama-Nya yang husna, agar kita semuanya diberi pertolongan dan kemudahan untuk mewujudkan takwa dan istiqamah di atasnya sampai ajal mendatangi kita. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

KHUTBAH KEDUA:

الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى خَاتِمِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ:

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa mewujudkan takwa di dalam kehidupan kita dan marilah kita senantiasa mengingat bahwa bertakwa kepada Allah l adalah sumber segala kebaikan dan kunci untuk memperoleh kebahagiaan serta bekal yang sangat berguna untuk kehidupan dunia dan akhirat. Allah l berfirman:

“Maka berbekallah kalian dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku, wahai orang-orang yang berakal.” (Al-Baqarah: 197)

Allah l juga menyebutkan dalam firman-Nya:

“Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa di sisi Rabb mereka (disediakan) surga yang penuh dengan kenikmatan.” (Al-Qalam: 34)

Hadirin rahimakumullah,

Allah l telah menyebutkan di dalam ayat-ayat-Nya perihal keutamaan atau buah yang akan dipetik oleh orang yang bertakwa. Di antaranya adalah bahwa orang-orang yang bertakwa akan dicintai oleh Allah l. Allah l berfirman:

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertakwa.” (At-Taubah: 4)

Disamping itu, orang yang bertakwa juga akan dikaruniai rasa aman dan kebahagiaan di saat sebagian orang ditimpa rasa takut dan kesedihan. Allah l berfirman:

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Mereka adalah) orang-orang yang beriman dan bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat.” (Yunus: 62-64)

Termasuk buah dari bertakwa kepada Allah l adalah bahwa orang-orang yang bertakwa akan dikaruniai furqan, yaitu pertolongan dari Allah l baik berupa ilmu atau yang lainnya, sehingga dengannya seseorang akan mengetahui mana yang benar dan mana yang salah, serta mana yang bermanfaat dan mana yang berbahaya bagi dirinya. Disamping itu juga akan dibersihkan jiwanya dari kesalahan-kesalahan yang dilakukannya dengan diberi kemudahan untuk beramal shalih sehingga akan menghapus kesalahan-kesalahannya. Begitu pula akan diampuni dosa-dosanya dengan diberi taufiq untuk senantiasa beristighfar dan bertaubat dari dosa yang dilakukannya.

Hal ini sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:

“Wahai orang-orang beriman, jika kalian bertakwa kepada Allah, maka Allah akan memberikan kepada kalian furqan dan Allah akan menghilangkan diri-diri kalian dari kesalahan-kesalahan kalian dan mengampuni (dosa-dosa) kalian dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (Al-Anfal: 29)

Jama’ah jum’ah rahimakumullah,

Orang yang bertakwa juga akan diselamatkan oleh Allah l dari berbagai bahaya dan akan diberi jalan keluar dari setiap kesempitan yang menimpanya. Disamping itu juga akan dimudahkan berbagai urusannya serta diberi rezeki di luar dugaannya dari arah yang dia tidak sangka-sangka.

Hal ini sebagaimana disebutkan dalam firman Allah l:

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Allah akan mengadakan baginya jalan keluar dan akan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka.” (Ath-Thalaq: 2-3)

Begitu pula dalam firman-Nya:

“Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (Ath-Thalaq: 4)

Hadirin rahimakumullah,

Dari ayat-ayat tersebut, kita mengetahui betapa butuhnya kita akan takwa. Karena setiap orang tentu menginginkan jalan keluar dari masalah-masalah yang dihadapinya. Terlebih permasalahannya menyangkut agama atau akhiratnya, karena masalah ini akan berkaitan dengan selamat dan tidaknya seseorang dari siksa kubur serta kejadian berikutnya saat berada di padang mahsyar sampai kemudian berujung pada selamat dan tidaknya dirinya dari terkena pedihnya siksa api neraka. Maka setiap orang tentu membutuhkan ilmu untuk mengetahui mana yang haq dan mana yang batil, serta mana yang baik akibatnya dan mana yang berbahaya. Begitu pula yang berkaitan dengan urusan dunia, setiap orang tentu membutuhkan rezeki dan kemudahan dalam urusan-urusan yang dihadapinya. Baik yang berkaitan dengan istri, anak, dan keluarga maupun dengan masyarakat di sekitarnya. Semua ini akan bisa diselesaikan dan menjadi baik hasilnya apabila dihadapi dengan takwa. Mudah-mudahan Allah l menjadikan kita semua menjadi orang yang bertakwa dengan sebenar-benarnya .

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمينَ فِي كُلِّ مَكَانٍ. اللَّهُمَّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا مُطْمَئِنًّا وَسَائِرَ بِلاَدِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. اللَّهُمَّ آمِنَّا فِيْ أَوْطَانِنَا، وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلاَةَ أُمُوْرِنَا، وَاجْعَلْ وِلاَيَتَنَا فِيْ مَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضَاكَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

Wujud Cinta Shahabat, Generasi Paling Mulia di Zaman Mulia

Al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar

Abu Musa Al-Asy’ari bertutur:

صَلَّيْنَا الْمَغْرِبَ مَعَ رَسُولِ اللهِ n ثُمَّ قُلْنَا: لَوْ جَلَسْنَا حَتَّى نُصَلِّيَ مَعَهُ الْعِشَاءَ. قَالَ: فَجَلَسْنَا فَخَرَجَ عَلَيْنَا فَقَالَ: مَا زِلْتُمْ هَا هُنَا؟ قُلْنَا: يَا رَسُولَ اللهِ، صَلَّيْنَا مَعَكَ الْمَغْرِبَ ثُمَّ قُلْنَا: نَجْلِسُ حَتَّى نُصَلِّيَ مَعَكَ الْعِشَاءَ. قَالَ: أَحْسَنْتُمْ أَوْ أَصَبْتُمْ. قَالَ: فَرَفَعَ رَأْسَهُ إِلَى السَّمَاءِ وَكَانَ كَثِيرًا مِمَّا يَرْفَعُ رَأْسَهُ إِلَى السَّمَاءِ، فَقَالَ: النُّجُومُ أَمَنَةٌ لِلسَّمَاءِ، فَإِذَا ذَهَبَتِ النُّجُومُ أَتَى السَّمَاءَ مَا تُوعَدُ، وَأَنَا أَمَنَةٌ لِأَصْحَابِي فَإِذَا ذَهَبْتُ أَتَى أَصْحَابِي مَا يُوعَدُونَ، وَأَصْحَابِي أَمَنَةٌ لِأُمَّتِي فَإِذَا ذَهَبَ أَصْحَابِي أَتَى أُمَّتِي مَا يُوعَدُونَ.

“Kami pernah melaksanakan shalat maghrib bersama Rasulullah n. Kemudian kami berkata, ‘Alangkah baiknya bila kita tetap duduk di sini hingga kita dapat shalat isya’ bersama beliau. ‘ Lalu kami pun tetap duduk sampai Rasulullah n keluar menemui kami dan bertanya, “Kalian masih berada di sini?” Kami menjawab, “Wahai Rasulullah kami telah melaksanakan shalat maghrib bersama Anda, lalu kami berkata, ‘Alangkah baiknya bila kita tetap duduk di sini hingga dapat shalat isya’ bersama Anda. ‘ Lantas Rasulullah n bersabda, “Bagus –atau: Kalian benar.” Setelah itu beliau n mengangkat kepala ke arah langit –beliau sering mengangkatnya ke arah langit– dan bersabda, “Bintang gemintang adalah ketentraman untuk langit. Apabila bintang gemintang itu lenyap maka akan tiba apa yang dijanjikan untuk langit. Aku adalah ketentraman untuk para sahabatku, apabila aku wafat maka akan tiba apa yang dijanjikan untuk para sahabatku. Dan para sahabatku adalah ketentraman untuk seluruh umatku, apabila para sahabatku telah meninggal maka akan tiba apa yang dijanjikan untuk umatku.”

Tentang sanad hadits

Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim (no. 2531). Beliau berkata: “Abu Bakr bin Abi Syaibah, Ishaq bin Ibrahim dan Abdullah bin Umar bin Abaan telah menceritakan kepada kami, dan mereka mendapatkan hadits ini dari Husain bin Ali Al-Ju’fi, dari Mujammi’ bin Yahya, dari Sa’id bin Abi Burdah, dari Abu Burdah, dari Abu Musa z.

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Al-Imam ‘Abd bin Humaid (no. 539) dari Husain bin Ali, melalui sanad yang sama dengan sanad Al-Imam Muslim.

Al-Imam Ahmad juga meriwayatkannya (4/398) dari Ali bin Abdillah, dari Husain bin Ali, melalui sanad yang sama dengan sanad Al-Imam Muslim.

Dengan demikian, derajat hadits ini shahih. Silahkan melihat keterangan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ (no. 6800).

Makna hadits

Al-Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim berkata, “Ulama menjelaskan bahwa أَمَنَةٌ dibaca dengan hamzah dan mim yang difathah. Al-Amnu dan Al-Amaan adalah satu makna. Adapun makna hadits ini, selama bintang gemintang masih ada maka langit pun tetap ada. Apabila bintang gemintang berjatuhan dan berserakan pada hari kiamat maka langit akan lemah, terpecah dan terbelah lalu hancur.

Sabda Nabi n: Aku adalah ketentraman untuk para sahabatku, apabila aku wafat maka akan tiba apa yang dijanjikan untuk para sahabatku, artinya jika aku meninggal maka akan menimpa sahabatku apa yang dijanjikan untuk mereka berupa berbagai fitnah, banyaknya peperangan, orang-orang A’rab yang murtad, perselisihan hati dan hal-hal lainnya yang telah diperingatkan Nabi n secara jelas. Semuanya telah terjadi.

Sedangkan sabda Nabi n: Dan para sahabatku adalah ketentraman untuk seluruh umatku, apabila para sahabatku telah meninggal maka akan tiba apa yang dijanjikan untuk umatku, maknanya, muncul berbagai bid’ah, hal-hal baru dalam beragama, banyaknya fitnah, munculnya tanduk setan, kemenangan Romawi dan yang lain atas kaum muslimin, dilanggarnya kehormatan kota Madinah dan Makkah, serta hal-hal lain. Semua ini termasuk mu’jizat Nabi n.”

Mengapa mereka mencela sahabat Nabi n?

Rasulullah n menetapkan bahwa di antara wujud keimanan seorang hamba adalah mencintai para sahabatnya. Adapun sikap membenci dan mengecilkan kedudukan sahabat menjadi bukti seseorang memusuhi Islam, disadari maupun tidak. Setan memperdaya dan mempermainkan mereka yang tidak memiliki fiqih dengan menghembuskan keyakinan dan pemikiran yang dapat meruntuhkan pilar-pilar Islam. Kecintaan terhadap para sahabat Nabi n sebagai contohnya.

Kecintaan kepada para sahabat telah menjadi tolak ukur seseorang dapat dikatakan sebagai bagian dari Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Sebagaimana kebencian terhadap mereka telah ditetapkan sebagai ciri ahlul bid’ah. Seluruh ulama yang menulis tentang akidah Ahlus Sunnah selalu menyebutkan sebuah bab yang terkait dengan wajibnya mencintai dan membela kehormatan para sahabat. Karena mereka adalah generasi paling mulia.

Lalu mengapa sebagian orang menunjukkan kebencian dan keraguan terhadap kedudukan para sahabat? Banyak alasan yang dapat dimunculkan untuk menjawab pertanyaan ini. Namun seluruh alasan tersebut kembali kepada satu hal, yaitu bahwa hadits-hadits yang diriwayatkan oleh para sahabat g bertentangan dengan hawa nafsu dan syahwat mereka. Merasa kesesatan mereka disalahkan dan tidak dibenarkan secara pandangan Islam, maka tidak ada jalan bagi mereka kecuali dengan mencela para penukil hadits, yaitu para sahabat Rasulullah g.

Al-Imam Ibnu Khuzaimah menjelaskan, “Orang yang buta mata hatinya mencela Abu Hurairah z karena ingin menolak haditsnya, disebabkan ia tidak faham tentang maknanya. Orang tersebut adakalanya seorang mu’athil jahmi (pengikut aliran sesat Jahmiyah), hanya karena ia mendengar hadits-hadits Abu Hurairah z yang menyelisihi madzhab kufur mereka, ia lalu mencela Abu Hurairah z dan menuduhnya dengan tuduhan yang Allah sucikan darinya. Tuduhan ini untuk membentuk opini pada orang awam, bahwa hadits-hadits Abu Hurairah tidak benar.

Adakalanya ia seorang Khawarij yang mengangkat pedang terhadap kaum muslimin dan menganggap tidak wajibnya menaati khalifah dan imam. Jika ia mendengar hadits-hadits Abu Hurairah z dari Nabi n yang menyelisihi madzhab sesatnya, lalu ia tidak dapat menolak berita-berita beliau ini dengan hujjah, maka ujung-ujungnya ia menggunakan cara lain yaitu mencela Abu Hurairah z.

Atau mungkin dia seorang qadari (pengikut aliran sesat Qadariyah) yang meninggalkan Islam dan kaum muslimin serta mengkafirkan kaum muslimin yang mengikuti taqdir yang telah ditetapkan Allah dahulu sebelum hamba melakukannya. Jika melihat hadits-hadits yang beliau sampaikan dari Nabi n dalam menetapkan taqdir, lantas ia tidak mendapatkan hujjah yang dapat digunakan untuk mendukung pendapat mereka yang merupakan kekufuran dan kesyirikan, maka mereka mencari alasan dengan menyatakan bahwa berita-berita Abu Hurairah z tidak boleh dipakai sebagai hujjah.

Atau mungkin dia orang bodoh yang ingin menjadi faqih, namun mencarinya dari tempat yang salah. Jika ia mendengar berita Abu Hurairah z menyelisihi pendapat madzhab orang yang dipilihnya secara taklid tanpa hujjah, maka orang tersebut tentu akan mencela Abu Hurairah z dan menolak riwayat-riwayatnya yang menyelisihi madzhab mereka. Tetapi anehnya ia akan berhujjah menggunakan hadits-hadits Abu Hurairah z jika hadits tersebut sesuai dengan madzhabnya untuk mengalahkan orang yang tidak sependapat.” (Al-Mustadrak Ala Ash-Shahihain no. 6233 dengan sedikit perubahan)

Besarlah dosa orang yang mencela sahabat Nabi n

Banyak sekali dalil naqli (Al-Qur’an dan As-Sunnah) yang menjelaskan keutamaan sahabat, baik secara umum maupun perorangan. Banyak juga dalil naqli yang menunjukkan haramnya mencela dan meremehkan kedudukan para sahabat. Sebagai satu contoh adalah hadits Ibnu Abbas c, Rasulullah n bersabda:

مَنْ سَبَّ أَصْحَابِي فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللهِ

“Barangsiapa mencela sahabatku maka baginya laknat Allah.” (HR. Ibnu Abi ‘Ashim dalam As-Sunnah no. 1001 dan dihasankan oleh Al-Albani dalam Zhilalil Jannah 2/469)

Yang menunjukkan bahwa hal ini adalah sangat penting sekali adalah banyaknya perkataan ulama yang membahas masalah ini dalam kitab-kitab mereka. Di antaranya adalah pernyataan Al-Imam Ibnu Qudamah, “Termasuk sunnah adalah memberikan loyalitas dan cinta untuk para sahabat Rasulullah g. Demikian juga menceritakan kebaikan-kebaikan mereka, mendoakan rahmat, memintakan ampun untuk mereka serta menahan diri untuk tidak menceritakan kejelekan dan perselisihan yang terjadi di antara mereka. Juga mengakui keutamaan serta mereka terdahulu di dalam Islam.” (Lum’atul I’tiqad hal. 32)

Ibnu Hajar berkata, “Ahlus Sunnah wal Jama’ah telah sepakat tentang wajibnya tidak mencela seorangpun dari para sahabat.” (Fathul Bari, 13/34)

Al-Imam Malik bin Anas berkata, “Mereka adalah sekelompok orang yang memiliki ambisi untuk menghabisi Rasulullah n, namun mereka tidak mampu. Lalu mereka pun mencela sahabat beliau, agar kemudian dikatakan bahwa beliau adalah orang jahat. Sebab, jika beliau orang baik maka para sahabatnya pun orang baik.” (Ash-Sharimul Maslul, hal. 580)

Al-Imam Malik berkata, “Barangsiapa yang bangun pagi sedangkan di dalam hatinya ada kebencian terhadap salah seorang sahabat, maka ia termasuk dalam ayat:

“Karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mu’min).” (Al-Fath: 29) [Ash-Sharimul Maslul]

Al-Imam Al-‘Awwam bin Hausyab berkata, “Sebutkanlah kebaikan-kebaikan sahabat Nabi Muhammad n, tentu hati manusia akan cinta kepada mereka. Janganlah kalian menceritakan kejelekan-kejelakan mereka, karena akan menumbuhkan kebencian kepada mereka.” (As-Sunnah karya Al-Khallal hal. 829)

Abu Utsman Ash-Shabuni berkata, “Ashabul hadits meyakini untuk menahan diri dari perselisihan yang terjadi di antara para sahabat Rasulullah n, serta menjaga kesucian lisan sehingga tidak menyebutkan sesuatu yang menunjukkan celaan atau kekurangan mereka. Mereka juga meyakini untuk mendoakan rahmat serta memberikan kecintaan untuk para sahabat seluruhnya.” (‘Aqidatus Salaf 144)

Lebih lengkapnya silahkan membaca Asy Syari’ah Vol. II/No. 17/1426 H/2005 dengan judul Membela kemuliaan para shahabat.

Anggapan salah yang harus diluruskan

Kebencian merupakan pangkal kejahatan. Karena kebencian jugalah mereka berusaha untuk menyudutkan para sahabat dengan berbagai upaya. Dengan beberapa hadits yang dipahami secara salah, mereka ingin menjauhkan umat dari generasi pertama Islam. Berikut ini beberapa hadits yang seringkali menjadi alasan bagi pengikut hawa nafsu dan ahlul bid’ah untuk meruntuhkan kepercayaan umat terhadap para sahabat.

1. Hadits Ibnu Abbas yang menceritakan tentang telaga Rasulullah n pada hari kiamat nanti. Umat beliau n akan turut menikmati telaga tersebut. Telaga yang airnya lebih putih daripada susu, lebih manis dibandingkan madu, jumlah timbanya seperti banyaknya bintang di langit, dan barangsiapa yang minum seteguk saja, ia tidak akan merasakan haus selamanya. Disebutkan bahwa akan ada sekelompok orang dari umat Islam yang akan dihalangi bahkan diusir sehingga tidak dapat mendekati telaga tersebut. Maka Rasulullah pun berusaha untuk membela:

فَأَقُولُ: يَا رَبِّ أُصَيْحَابِي. فَيُقَالُ: إِنَّكَ لَا تَدْرِي مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ

“Wahai Rabbku, mereka adalah sahabatku!” Lalu malaikat pun menjelaskan, “Sesungguhnya engkau tidak mengetahui apa yang mereka perbuat sepeninggalmu.” Maka Rasulullah mendoakan kejelekan untuk mereka, “Sungguh celaka.” (HR. Al-Bukhari no. 4625 dan Muslim no. 2860)

Berdasarkan hadits di atas, mereka yang tersesat jalannya beranggapan bahwa setelah Rasulullah n wafat, para sahabat kemudian murtad dan membuat hal-hal yang baru dalam Islam sehingga mereka diusir dari telaga Rasulullah n. Kerancuan di dalam memahami ini dapat diluruskan dengan beberapa jawaban:

1. Yang dimaksud dengan “sahabatku” adalah sahabat dalam pengertian bahasa, bukan dalam pengertian istilah. Sehingga yang disebut sebagai sahabat di dalam hadits ini adalah umat yang mengikuti Nabi Muhammad n secara umum. Sebagaimana pengikut Abu Hanifah dikatakan Ashaab Abi Hanifah atau pengikut Al-Imam Asy-Syafi’i yang disebut dengan Ashaab Asy-Syafi’i. Demikian juga penggunaan kalimat “Ashaabuna” untuk orang-orang sebelumnya dan sependapat dalam salah satu madzhab, padahal selang waktu di antara mereka terpaut jauh. Adapun Rasulullah n pada hari kiamat nanti dapat mengenali umat Islam karena terlihat tanda-tanda wudhu di wajah dan tangan mereka, sebagaimana hadits Hudzaifah riwayat Muslim (no. 248).

2. Seandainya “sahabat” yang disebutkan di dalam hadits tersebut adalah mereka yang hidup di masa Rasulullah n, maka sebagian ulama telah menyebutkan beberapa kemungkinan makna. Di antaranya, (pertama) bahwa yang dimaksud dengan “sahabatku” adalah kaum munafikin dan orang-orang yang murtad. Boleh jadi mereka dibangkitkan pada hari kiamat nanti dengan wajah dan tangan yang menunjukkan mereka pun berwudhu ketika di dunia.

Kedua, yang dimaksud dengan “sahabatku” adalah orang-orang yang beriman di masa Rasulullah n lalu mereka murtad sepeninggal Rasulullah n. Beliau dapat mengenali mereka karena semasa hidupnya beliau mengetahui orang-orang tersebut.

Ketiga, yang dimaksud dengan “sahabatku” adalah pelaku maksiat dan dosa besar yang meninggal dalam keadaan bertauhid. (Syarah Nawawi)

Di dalam hadits itu sendiri terdapat lafadz yang menguatkan kemungkinan makna yang kedua yaitu sabda Rasulullah n pada beberapa riwayat hadits yang memanggil mereka dengan Ushaihabi dalam bentuk tashghir. Al-Imam Al-Khaththabi menjelaskan bahwa lafadz ini menunjukkan tentang sedikitnya orang-orang tersebut. Hal ini pun hanya terjadi pada sebagian orang Arab badui yang kaku, dan tidak terjadi pada diri sahabat yang masyhur. (Fathul Bari 8/136)

Demikian juga lafadz hadits yang menyebutkan bahwa “Engkau tidak mengetahui apa yang mereka lakukan sepeninggalmu” menunjukkan bahwa Rasulullah n tidak mengenali mereka secara perorangan meskipun Nabi n mengetahui mereka merupakan dari bagian umat Islam. (Fathul Bari 11/484)

Sehingga memahami “sahabatku” dalam hadits di atas adalah sahabat Rasulullah n dengan pengertian secara istilah, tidak akan dilakukan oleh seorang muslim, karena menyelisihi rekomendasi Allah dan Rasul-Nya untuk para sahabat. Demikian juga bertentangan dengan ijma’ kaum muslimin. Wallahu a’lam.

2. Mereka menganggap bahwa sebagian sahabat berani berdusta di masa hidup Rasulullah n. Sehingga tidak menutup kemungkinan mereka pun berdusta atas nama Rasulllah n. Anggapan ini muncul berdasarkan sebuah riwayat dari Buraidah bin Al-Hushaib z, ia berkata:

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى قَوْمٍ فِي جَانِبِ الْمَدِينَةِ فَقَالَ: إِنَّ رَسُولَ اللهِ n أَمَرَنِي أَنْ أَحْكُمَ بِرَأْيِي فِيكُمْ، فِي كَذَا وَكَذَا. وَقَدْ كَانَ خَطَبَ امْرَأَةً مِنْهُمْ فِي الْجَاهِلِيَّةِ، فَأَبَوْا أَنْ يُزَوِّجُوهُ، فَبَعَثَ الْقَوْمُ إِلَى النَّبِيِّ n يَسْأَلُونَهُ، فَقَاَل: كَذَبَ عَدُوُّ اللهِ. ثُمَّ أَرْسَلَ رَجُلاً فَقَالَ: إِنْ أَنْتَ وَجَدْتَهُ مَيِّتاً فَأَحْرِقْهُ. فَوَجَدَهُ قَدْ لُدِغَ فَمَاتَ، فَحَرَقَهُ

Seseorang datang menemui suatu kaum di dekat kota Madinah. Ia berkata kepada mereka, “Sesungguhnya aku diperintah oleh Rasulullah n untuk memutuskan dalam perkara kalian dengan pendapatku sendiri.” Dahulu di masa jahiliyah orang tersebut pernah melamar seorang wanita dari kampung mereka, namun mereka enggan untuk menikahkannya. Kemudian mereka mengirim utusan untuk menemui Rasulullah n guna menanyakan tentang orang tersebut. Lalu Rasulullah n bersabda, “Musuh Allah telah berdusta.” Lalu Rasulullah mengutus seorang sahabat dan berpesan, “Jika engkau menemuinya dalam keadaan ia telah meninggal maka bakarlah jenazahnya.” Ternyata sahabat itu menemukan ia telah disengat binatang berbisa dan meninggal. Ia pun dibakar.

Hadits ini dibawakan oleh Ibnu ‘Adi dalam Al-Kamil (4/1371) dan dinukil oleh Ibnul Jauzi dalam Muqaddimah Al-Maudhu’at (1/55-56). Di dalam sanadnya terdapat seorang perawi yang bernama Shalih bin Hayyan Al-Qurasyi. Menurut kesepakatan ulama hadits, ia termasuk perawi yang lemah dan cacat, sebagaimana disebutkan dalam Tahdzib At-Tahdzib (4/386). Al-Imam Adz-Dzahabi menyebutkan biografinya dalam kitab Al-Mizan dan menjelaskan bahwa hadits di atas termasuk riwayatnya yang munkar.

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ath-Thabarani dalam Al-Ausath (3/59) dari hadits Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash. Namun dalam sanadnya terdapat seorang perawi yang bernama Atha’ bin Sa’ib, yang termasuk perawi mukhtalith. Al-Imam Abu Dawud menjelaskan bahwa hadits ini termasuk hadits yang ia sampaikan setelah mengalami ikhtilath. (Tahdzib At-Tahdzib 7/203)

Kesimpulannya, hadits ini lemah sekali dan tidak dapat digunakan sebagai hujjah dan landasan dalam berpendapat. Wallahul musta’an.

3. Mereka mengatakan bahwa para sahabat saling berperang satu sama lain dalam perang Shiffin dan Jamal. Padahal Rasulullah n pernah bersabda dalam sebuah hadits dari sahabat Jarir bin ‘Abdillah Al-Bajali:

لَا تَرْجِعُوا بَعْدِي كُفَّاراً يَضْرِبُ بَعْضَكُمْ رِقَابَ بَعْضٍ

“Janganlah kalian kembali kafir sepeninggalku, sebagian kalian menebas leher yang lain.” (HR. Al-Bukhari no. 7080 dan Muslim no. 65)

Kedustaan semacam ini telah dibahas secara luas oleh Ibnul A’rabi dalam Al-‘Awashim minal Qawashim dan Syaikhul Islam dalam Minhajus Sunnah.

Perlu difahami bahwa hadits ini diucapkan oleh Rasulullah n dalam konteks larangan dan peringatan dari memerangi orang mukmin. Penggunaan istilah kekafiran untuk perbuatan memerangi orang mukmin menunjukkan beberapa kemungkinan secara makna. Di antaranya untuk menunjukkan bahwa larangan tersebut benar-benar keras sehingga setiap orang yang mendengarnya benar-benar akan memperhatikan. Sehingga makna hadits tersebut adalah “Janganlah kalian melakukan perbuatan orang-orang kafir dengan saling membunuh satu sama lain.” Al-Hafizh Ibnu Hajar menjelaskan adanya beberapa kemungkinan yang lain dalam Fathul Bari (13/30 dan 12/201-202).

Oleh karena itu, peperangan yang pernah terjadi di antara para sahabat bukan dengan dasar keyakinan menghalalkan perbuatan tersebut sehingga dinyatakan perbuatan tersebut sebagai salah satu bentuk kekufuran. Bagaimana mungkin disebut sebagai bentuk kekufuran, sedangkan Al-Qur’an dan As-Sunnah menyebut mereka sebagai kaum mukminin.

“Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin berperang maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali, kepada perintah Allah; jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.” (Al-Hujurat: 9-10)

Di dalam ayat di atas, Allah l menamakan mereka sebagai orang-orang yang bersaudara, menyebut mereka sebagai kaum mukminin, padahal terjadi peperangan dan perbuatan aniaya di antara mereka.

Al-Hafizh Ibnu Katsir t berkata, “Berdasarkan hal ini dan beberapa hal lainnya, Al-Imam Al-Bukhari berdalil bahwa perbuatan maksiat tidak dapat mengeluarkan dari keimanan walaupun besar. Bukan seperti keyakinan kaum Khawarij dan para pengikutnya dari kaum Mu’tazilah dan yang sejenis. Demikian juga telah disebutkan dalam Shahih Al-Bukhari dari hadits Al-Hasan dari Abu Bakrah, beliau berkata, “Aku pernah melihat Rasulullah n berada di atas mimbar sementara Al-Hasan bin ‘Ali berada di samping beliau. Terkadang Rasulullah n menghadap ke arah sahabat, kadang-kadang beliau menghadap ke arah Al-Hasan. Kemudian beliau bersabda, “Sesungguhnya cucuku ini adalah seorang pemimpin dan semoga dengan perantaranya Allah mendamaikan dua kelompok besar kaum muslimin.” Terjadilah apa yang telah disabdakan Rasulullah n. Dengan perantaraan Al-Hasan, Allah l mendamaikan antara penduduk Syam dan penduduk Irak setelah terjadi peperangan panjang dan banyak pertempuran dahsyat.”

Sehingga, sahabat yang terlibat dalam peperangan tersebut tidaklah keluar dari dua kemungkinan. Benar dalam pendapatnya, atau salah dalam berijtihad dan tetap mendapatkan pahala. Benarlah ‘Umar bin Abdul ‘Aziz yang telah berkata, “Allah telah membersihkan pedang kita dari darah mereka. Maka janganlah menodai lisan kita dengan membicarakan mereka dengan kejelekan.” (Fathul Mughits 3/96)

Khatimah

Para sahabat Nabi n adalah orang-orang yang memiliki banyak keutamaan. Mereka adalah generasi terbaik umat ini sebagaimana disabdakan sendiri oleh Rasulullah n. Lebih dari itu, mereka adalah orang-orang yang telah diridhai oleh Allah. Banyak di antara mereka ketika masih hidup telah mendapatkan kabar gembira yaitu akan dimasukkan ke dalam surga. Tidak ada keutamaan yang demikian tinggi seperti ini didapatkan oleh umat manapun, terlebih umat setelah mereka.

Aqidah Dua Mujaddid dalam Islam

Mujaddid adalah seorang yang menjadi sebab kembalinya kaum muslimin kepada al-haq dan meninggikan bendera Islam. Seorang dianggap mujaddid disyaratkan seorang Ahlus Sunnah yang shalih dan berilmu.

Rasulullah n telah mengabarkan akan adanya para mujaddid dalam Islam. Beliau n bersabda:

إِنَّ اللهَ يَبْعَثُ لِهَذِهِ الْأُمَّةِ عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَنْ يُجَدِّدُ لَهَا دِينَهَا

“Allah mengutus untuk umat ini di setiap pengujung seratus tahun seorang yang memperbarui agamanya.” (HR. Abu Dawud no. 4291, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani)

Di antara mujaddid dalam Islam adalah Al-Imam Asy-Syafi’i t. Al-Imam Ahmad t berkata, “Allah l menetapkan bagi manusia,setiap seratus tahunnya ada seorang yang mengajari mereka As-Sunnah dan menafikan kedustaan atas nama Rasul. Kami pun menelaah, ternyata di pengujung seratus tahun adalah Umar bin Abdul Aziz t, dan di pengujung tahun dua ratus adalah Asy-Syafi’i.”

Al-Imam Ahmad t juga berkata, “Sejak 30 tahun lalu, tidaklah aku tidur malam kecuali aku mendoakan kebaikan bagi Asy-Syafi’i dan memohonkan ampunan untuknya.” (Lihat Mukhalafat Ash-Shufiyah hal. 10-11)

Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan berkata, “Seorang mujaddid yang hakiki adalah seorang yang berilmu tentang syariat Allah l, istiqamah di atas Sunnah Rasulullah n dan mengembalikan manusia kepada petunjuk. Berita yang dikabarkan Rasulullah n dalam hadits ini telah terbukti. Terus-menerus –walhamdulillah– Allah l mengaruniakan kepada umat ini dengan kemunculan para mujaddid ketika umat sangat membutuhkan keberadaan mereka. Di antara para mujaddid adalah Al-Imam Ahmad bin Hanbal di abad ketiga, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah di akhir abad ketujuh dan awal abad kedelapan, serta Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab di abad kedua belas.” (Min A’lamil Mujaddidin)

Aqidah dua imam

Dalam tulisan ini, penulis ingin mengetengahkan kepada para pembaca beberapa perkara aqidah dan dakwah dua orang mujaddid dalam Islam, yaitu Al-Imam Asy-Syafi’i Muhammad bin Idris t serta Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab t. Kita akan dapati ternyata aqidah dan dakwah yang dibawa keduanya sama. Dakwah dan aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah, yaitu dakwah kepada tauhid dan As-Sunnah berlandaskan Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman salafush shalih.

Sebagai bukti kesamaan aqidah dan dakwah kedua imam tersebut, penulis akan membawakan beberapa masalah dan prinsip kedua imam dalam beberapa masalah. Perlu diketahui, apa yang kami paparkan hanyalah sebagian kecil dari sekian persamaan prinsip kedua imam ini. Di antara masalah tersebut:

1. Mentauhidkan Allah l dalam ibadah

Allah l menciptakan kita hanyalah untuk kita beribadah kepadaNya. Allah l berfirman:

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (Adz-Dzariyat: 56)

Ibnu Katsir t berkata, “Allah l mengabarkan bahwa Dia menciptakan jin dan manusia hanyalah untuk beribadah kepada-Nya. Dan itu adalah tujuan diciptakannya jin dan manusia. Ibadah tidak akan diterima kecuali dengan dua syarat: Ikhlas hanya mengharap wajah Allah l dan mutaba’ah (sesuai tuntunan Rasulullah n).” (Lihat Tafsir Ibnu Katsir dalam tafsir surat Al Kahfi: 110)

Oleh karena itu, ulama Ahlus Sunnah di antaranya Al-Imam Asy-Syafi’i t sangat mementingkan masalah ini. Ibnul Qayyim t meriwayatkan perkataan Al-Imam Asy-Syafi’i t dengan sanadnya, kata beliau, “Ucapan tentang sunnah yang aku di atasnya dan aku lihat para sahabatku dari ahlul hadits di atasnya dan aku telah mengambil ilmu dari mereka, seperti Sufyan dan Malik serta selain keduanya adalah: Berikrar bahwa tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah l dan Muhammad n adalah utusan-Nya. Bahwasanya Allah l ada di atas Arsy-Nya, dekat dengan makhluk-Nya sebagaimana dikehendaki-Nya dan Allah l turun ke langit dunia sesuai dengan kehendak-Nya. (Ijtima’ul Juyusy Al-Islamiyah)

Masalah inilah yang banyak dibahas oleh Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab t. Bukti akan hal ini adalah buku-buku yang beliau tulis, seperti Kitabut Tauhid, Kasyfu Asy-Syubuhat, Qawa’idul Arba’, dan lainnya.

Larangan membangun kuburan

Membangun kuburan adalah perkara yang diharamkan dalam Islam.

Dari Jabir bin Abdillah z:

نَهَى رَسُولُ اللهِ n  أَنْ يُجَصَّصَ الْقَبْرُ وَأَنْ يُقْعَدَ عَلَيْهِ وَأَنْ يُبْنَى عَلَيْهِ

“Rasulullah n melarang mengapur (mengecat) kuburan, duduk di atas kuburan, juga melarang membangun sesuatu di atas kuburan.” (HR. Muslim no. 970)

Membangun masjid di atas kuburan adalah perbuatan ahlul kitab. Rasulullah n pernah berkata:

أُولَئِكِ إِذَا مَاتَ مِنْهُمُ الرَّجُلُ الصَّالِحُ بَنَوْا عَلَى قَبْرِهِ مَسْجِدًا

“Mereka itu, jika ada seorang yang shalih di antara mereka mati, mereka bangun di atas kuburannya sebuah masjid.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Al-Imam Asy-Syaukani t berkata, “Ketahuilah, kaum muslimin yang terdahulu dan akan datang, yang awal dan akhir mereka sejak zaman sahabat sampai waktu kita ini, telah sepakat bahwa meninggikan kuburan dan membangun di atasnya adalah perkara bid’ah yang telah ada larangan dan ancaman keras dari Rasulullah n atas para pelakunya.”

Al-Imam Asy-Syafi’i t berkata: “Aku menginginkan kuburan itu tidak dibangun dan tidak dikapur (dicat), karena perbuatan seperti itu menyerupai hiasan atau kesombongan, padahal orang mati bukanlah tempat satu pun di antara dua hal tersebut. Aku tidak pernah melihat kuburan Muhajirin dan Anshar dicat.” Perawi dari Thawus berkata: “Nabi n melarang kuburan dibangun atau dicat.”

Beliau t juga berkata: “Aku membenci dibangunnya masjid di atas kuburan.”

Al-Imam Asy-Syafi’i t berkata pula: “Aku membenci ini karena Sunnah Rasulullah dan atsar…” (Lihat Al-Umm)

Asy-Syaikh Sulaiman Alu Asy-Syaikh menerangkan: “Al-Imam Nawawi t menegaskan dalam Majmu’ Al-Muhadzdzab tentang haramnya membangun kuburan secara mutlak. Beliau juga menyebutkan yang semisalnya dalam Syarah Shahih Muslim.” (Lihat Taisir ‘Azizil Hamid)

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab t juga banyak membahas masalah ini di dalam karya-karya beliau. Di antaranya dalam Kitabut Tauhid beliau bawakan Bab Ghuluw terhadap kuburan orang shalih akan menjadikannya berhala yang disembah selain Allah. Beliau bawakan beberapa dalil, di antaranya hadits Abu Sa’id z, Rasulullah n bersabda:

اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْ قَبْرِي وَثَنًا يُعْبَدُ، اشْتَدَّ غَضَبُ اللهِ عَلَى قَوْمٍ اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ

”Ya Allah, jangan kau jadikan kuburanku menjadi berhala yang disembah, sangat keras murka Allah kepada orang-orang yang menjadikan kuburan nabi mereka sebagai masjid.”

Asy-Syaikh Sulaiman berkata: “Penulis (yakni Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab) ingin menerangkan dengan bab ini empat perkara: Pertama: Peringatan agar tidak bersikap ghuluw (berlebih-lebihan) terhadap kuburan orang shalih. Kedua: Ghuluw terhadap kuburan orang shalih akan mengatarkan kepada menyembah kuburan tersebut. Ketiga: Kuburan yang disembah akan menjadi berhala, walaupun itu kuburan orang shalih. Keempat: Mengingatkan sebab larangan membangun kuburan dan menjadikannya sebagai masjid. (Lihat Taisir ‘Azizil Hamid)

Dalam nama dan sifat Allah

Al-Imam Asy-Syafi’i t seperti para imam Ahlus Sunnah yang lainnya, sangatlah jelas prinsip mereka dalam menetapkan sifat-sifat Allah l yang ada dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Beliau t berkata, “Allah memiliki nama-nama dan sifat-sifat sebagaimana datang dalam kitab-Nya dan telah dikabarkan oleh Nabi-Nya n kepada umatnya. Dia Maha mendengar dan Maha melihat, dan memiliki dua tangan seperti dalam firman-Nya:

“Bahkan kedua tangan Allah terbuka.” (Al-Maidah: 64)

Allah l memiliki tangan kanan sebagaimana dalam firman-Nya:

“Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Rabb dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.” (Az-Zumar: 67)

Allah l juga memiliki wajah sebagaimana firman-Nya:

“Segala sesuatu pasti binasa, kecuali Wajah Allah.” (Al-Qashash: 88)

“Dan tetap kekal Wajah Rabbmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (Ar-Rahman: 27)

Dia tidak buta sebelah (picak) sebagaimana Nabi n ketika berbicara tentang Dajjal:

“Sesungguhnya Dajjal itu picak dan Rabb kalian tidaklah picak.”

Dia tertawa terhadap hamba-Nya yang beriman. Nabi n berkata tentang seorang yang terbunuh di medan perang dia berjumpa dengan Allah l dalam keadaan Allah l tertawa kepadanya…”

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab t berkata:

“Termasuk dalam permasalahan iman kepada Allah: Mengimani apa yang Allah sifati diri-Nya dalam kitab-Nya dan melalui lisan Rasul-Nya. Tidak mentahrif ataupun menta’thilnya. Bahkan aku meyakini tidak ada satu pun yang serupa dengan Allah l dan Dia Maha mendengar dan Maha melihat…” (Dinukil dari A’lamul Mujaddidin hal. 95)

Masalah al-‘uluw (ketinggian Allah l di atas)

Di antara keyakinan Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah meyakini Allah l ada di atas Arsy-Nya. Allah l berfirman:

“Sesungguhnya Rabbmu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu dia beristiwa di atas ‘Arsy.” (Al-A’raf: 54)

Dalam hadits Mu’awiyah bin Hakam As-Sulami z, ketika beliau hendak membebaskan budaknya, Rasulullah n menguji hamba sahaya tersebut dengan menanyakan, “Di mana Allah l?” Hamba sahaya tadi menjawab, “Allah l di atas.” Beliau berkata, “Siapa aku?” Budak tadi berkata, “Engkau utusan Allah.” Rasulullah n berkata, “Bebaskanlah dia, karena dia adalah seorang wanita mukminah.” (HR. Muslim)

Ibnul Qayyim t meriwayatkan perkataan Al-Imam Asy-Syafi’i t dengan sanadnya, Al-Imam Asy-Syafi’i berkata: “Ucapan tentang sunnah yang aku di atasnya dan aku lihat para sahabatku dari ahlul hadits di atasnya, dan aku telah mengambil ilmu dari mereka seperti Sufyan dan Malik serta keduanya adalah: Berikrar bahwa tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah dan Muhammad adalah utusanNya. Bahwasanya Allah ada di atas Arsy-Nya, dekat dengan makhluk-Nya sebagaimana dikehendaki-Nya dan Allah turun ke langit dunia sesuai dengan kehendak-Nya.” (Ijtima’ul Juyus Islamiyah)

Yang lebih jelas dari itu adalah ketika beliau meriwayatkan dalam bab membebaskan budak mukminah dalam bab zhihar. Beliau berkata:

“Yang lebih aku senangi, tidaklah dibebaskan kecuali yang telah baligh dan beriman, jika dia wanita ‘ajam yang telah disifati dengan keislaman maka cukup. Malik telah mengabarkan kepadaku, dari Hilal bin Usamah, dari ‘Atha bin Yasar, dari Umar bin Al-Hakam, beliau berkata: ‘Aku pernah datang kepada Rasulullah. Aku katakan: ‘Wahai Rasulullah, aku punya seorang jariyah (hamba sahaya wanita) yang menggembala kambing. Ketika aku mendatanginya, ternyata telah hilang seekor kambing. Ketika aku bertanya kepadanya, dia jawab bahwa kambingnya telah dimakan serigala. Akupun marah kepadanya. Aku adalah seorang bani Adam, hingga menempeleng wajahnya. Sekarang aku punya kewajiban membebaskan budak. Apakah aku boleh bebaskan dia?’ Rasulullah berkata kepada hamba sahaya tersebut: ‘Di mana Allah?’ Dia menjawab: ‘Di atas.’ Rasulullah berkata: ‘Siapa aku?’ Budak tadi menjawab: ‘Engkau Rasulullah.’ Maka Rasulullah berkata: ‘Bebaskanlah dia.’

Al-Imam Asy-Syafi’i t berkata: “Nama orang tersebut Mu’awiyah bin Al-Hakam. Demikianlah diriwayatkan oleh Az-Zuhri dan Yahya bin Abi Katsir.” (Lihat Al-Umm)

Lihatlah! Al-Imam Asy-Syafi’i t mensyaratkan dalam membebaskan budak harus yang mukmin, dan beliau menganggap pengakuan hamba sahaya tadi bahwa Allah l ada di atas sebagai tanda keimanan.

Sikap terhadap Sufi (Shufiyah)

Telah kami sampaikan di edisi sebelumnya[1] tentang siapa Sufi (shufiyah) serta pemikiran dan aqidah mereka. Telah kami paparkan juga ucapan-ucapan keras Al-Imam Asy-Syafi’i tentang shufiyah. Di antara ucapan beliau tentang shufiyah diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Baihaqi t dengan sanadnya: “Jika seorang belajar tasawuf di pagi hari, niscaya akan engkau akan dapati dia menjadi orang dungu sebelum datang waktu dhuhur.”

Al-Imam Asy-Syafi’i t juga berkata: “Aku tidak pernah melihat seorang Sufi yang berakal. Seorang yang telah bersama kaum Sufiyah selama empat puluh hari, tidak mungkin kembali akalnya.”

Al-Imam Asy-Syafi’i berkata: “Asas (dasar) Sufiyah adalah malas.”

Demikian pula Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab t sangatlah keras pengingkaran beliau terhadap shufiyah, dan ini merupakan perkara yang masyhur. Di antara buktinya adalah berbagai fitnah dan tuduhan zalim Sufiyah terhadap beliau t.

Sihir

Al-Imam Asy-Syafi’i berkata: “Jika ada seseorang belajar sihir, kami katakan padanya: ‘Terangkan bagaimana cara sihirmu.’ Jika dia menceritakan cara yang menyebabkan kekufuran seperti yang diyakini penduduk Babil yang mendekatkan diri mereka kepada bintang-bintang yang tujuh, meyakini bahwa bintang-bintang itu bisa melakukan apa yang diminta, maka ini menyebabkan dia kafir. Jika dia meyakini bolehnya hal tersebut maka dia kafir juga.” (dinukil dari Tafsir Ibnu Katsir)

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab t banyak membahas permasalahan sihir dalam kitab-kitabnya. Beliau bawakan dalam Kitabut Tauhid beberapa bab berkaitan dengan sihir. Beliau bahkan memasukkannya dalam kitab Nawaqidhul Islam (Pembatal-pembatal keislaman). Beliau berkata:

“Pembatal keislaman yang ketujuh adalah sihir. Termasuk sihir adalah ‘athaf dan sharaf (sihir untuk membuat orang cinta atau benci). Barangsiapa melakukan sihir atau ridha kepadanya maka telah kafir. Dalilnya adalah firman Allah l:

Keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: “Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir.” (Al Baqarah: 102)

Taklid

Taklid adalah perbuatan tercela, perbuatan kaum musyrikin. Al-Qur’an dan As-Sunnah serta ijma’ menunjukkan rusaknya taklid. Allah l berfirman:

Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami.” “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?” (Al-Baqarah: 170)

Ibnu Abdil Bar t berkata: “Tidak ada perselisihan di antara para imam di seluruh negeri tentang rusaknya taklid.”

Al-Imam Asy-Syafi’i t sangat mencerca taklid. Beliau t berkata: “Kaum muslimin telah ijma’ bahwa barangsiapa yang jelas baginya Sunnah Rasulullah maka tidak halal baginya meninggalkannya karena ucapan seseorang.”

Al-Imam Asy-Syafi’i berkata juga: “Semua yang aku ucapkan dan menyelisihi ucapan Nabi n maka Nabi n lebih utama. Janganlah kalian taklid kepadaku.”

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab menyebutkan bahwa taklid termasuk perbuatan jahiliyah. Beliau t berkata: “Sesungguhnya keyakinan agama orang-orang jahiliyah dibangun di atas beberapa landasan. Dan landasan utama mereka adalah taklid …” (Masa’il Jahiliyah)

Menggagungkan Sunnah Rasulullah

Mengagungkan Sunnah Rasulullah adalah kewajiban setiap mukmin. Allah berfirman:

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.” (Al-Hasyr: 7)

Allah l juga berfirman:

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata.” (Al-Ahzab: 36)

Al-Imam Asy-Syafi’i adalah seorang berpegang teguh dengan As-Sunnah. Beliau pernah berkata: “Semua hadits Rasulullah yang shahih maka aku berpendapat dengannya, walaupun hadits tersebut belum sampai kepadaku.”

Al-Imam Al-Baihaqi meriwayatkan dengan sanadnya, bahwa Al-Imam Asy-Syafi’i pernah ditanya tentang satu masalah. Kemudian beliau berkata: “Diriwayatkan dari Nabi n bahwa beliau berkata begini dan begini.” Penanya berkata: “Apakah engkau berpendapat dengannya?” Al-Imam Asy-Syafi’i gemetar dan memerah wajahnya, lalu berkata: “Celaka engkau. Bumi mana yang akan menampungku, dan langit mana yang akan menaungiku, jika aku riwayatkan dari Nabi n kemudian aku malah tidak berpendapat dengannya?!”

Asy-Syaikh Muhamad bin Abdul Wahab t menyebutkan dalam Nawaqidhul Islam termasuk pembatal keislaman adalah mengolok-olok apa yang dibawa oleh Rasulullah n. Beliau n berkata:

“Keenam: Barangsiapa memperolok-olok sesuatu dari perkara agama yang dibawa oleh Rasulullah n atau memperolok pahala dan siksa (yang diberitakan Rasulullah n) maka dia telah kafir. Dalilnya adalah firman Allah l:

Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok? Tidak usah kamu meminta maaf, karena kamu telah kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.” (At-Taubah: 65-66)

Dalam Kitabut Tauhid, beliau membawakan ucapan Al-Imam Ahmad t: “Aku heran dengan suatu kaum yang telah mengetahui sanad hadits dan keshahihannya tapi malah mengambil pendapat Sufyan. Padahal Allah l berfirman:

“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (An-Nur: 63)

Bid’ah

Di antara perkara yang harus dijauhi seorang muslim adalah perkara-perkara bid’ah, karena bid’ah banyak mudharatnya bagi seseorang. Di antara kerusakan bid’ah:
Bid’ah semuanya sesat
Bid’ah menjadi sebab tertolaknya amal
Bid’ah merupakan pintu kesyirikan
Bid’ah sebab terjadinya perpecahan

Oleh karena besarnya bahaya bid’ah, para ulama memperingatkan umat dari bahayanya, di antara mereka adalah Al-Imam Asy-Syafi’i t. Beliau t berkata: “Barangsiapa menganggap baik (satu perkara baru yang tidak disyariatkan) maka dia telah membuat syariat, sebagaimana Allah l berfirman mengingkari orang yang melakukan kebid’ahan dalam agama Allah l:

“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?” (Asy-Syura: 21)

Makna membuat syariat yakni membuat kebidahan.

Demikian juga Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab t, beliau banyak menerangkan prinsip ini dalam kitab-kitab beliau. Di akhir kitab Fadhlul Islam, beliau membuat bab: Tahdzir minal bida’ (peringatan agar menjauhi bid’ah-bid’ah). Dalam risalahnya yang lain beliau berkata: “Aku meyakini bahwa semua perkara baru yang diada-adakan dalam agama adalah bid’ah.” (Lihat A’lamul Mujaddidin hal. 101)

Kesimpulan

Dari pembahasan ini kita dapat simpulkan bahwa dakwah yang dibawa oleh Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab t adalah dakwah para ulama Ahlus Sunnah yang mendahului beliau. Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab t tidaklah membawa sesuatu yang baru. Perkara yang beliau dakwahkan sama dengan dakwah Al-Imam Asy-Syafi’i dan ulama Ahlus Sunnah lainnya. Sehingga orang yang melecehkan dakwah dan aqidah Asy-Syaikh Muhamad bin Abdul Wahab pada hakikatnya menghina dan melecehkan imam Ahlus Sunnah, Al-Imam Asy-Syafi’i t. Mudah-mudahan Allah l merahmati kedua imam tersebut karena jasa-jasa mereka bagi kaum muslimin. Amin.

[1] Lihat Majalah Asy-Syariah edisi 56.

Mengutamakan Orang Lain Atas Diri Sendiri

Al-Ustadz Abu Muhammad Abdulmu’thi, Lc.

 

Di tengah persaingan hidup yang semakin ketat ini, sulit kita dapatkan orang yang memiliki kepedulian terhadap nasib orang lain. Sikap egois telah mendominasi kebanyakan manusia sehingga tidak terhindar darinya kecuali orang yang dirahmati Allah l.

Secara umum memang terasa sangat berat bagi seseorang untuk memberikan hartanya atau mencurahkan tenaganya dan yang semisalnya tanpa ada imbal balik. Namun lain halnya dengan seorang mukmin, sifat egois tercela itu bisa disingkirkannya. Hal itu karena dia beriman kepada Allah l dan hari pembalasan. Dia menjadikan keridhaan Allah l sebagai puncak tujuannya, sedangkan dunia beserta perhiasannya sebagai penopang dalam taat kepada-Nya. Dia yakin bahwa kemanfaatan yang dia suguhkan kepada orang lain niscaya akan mendapatkan pembalasan di sisi Allah l, sebagaimana firman-Nya:

“Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha pengampun lagi Maha penyayang.” (Al-Muzammil: 20)

Pengajaran Islam yang diserapnya mampu membentuk kepribadiannya. Sebagai muslim yang mencintai orang lain seperti ia mencintai dirinya sendiri. Bila dia melihat di sana ada ruang untuk melebihkan orang lain maka dia pun melebihkannya atas dirinya. Terkadang dia lapar agar orang lain kenyang. Adakalanya dia harus dahaga agar orang lain tidak kehausan. Bahkan dia siap untuk mati agar orang lain hidup.

Inilah seorang mukmin sejati. Dia bersenang hati bila mampu menyuguhkan yang terbaik untuk orang lain. Masa hidupnya yang indah dilalui dengan pendekatan yang tulus terhadap Allah l dan pengorbanan demi maslahat kemanusiaan. Orang seperti ini adalah orang yang paling baik, sebagaimana sabda Nabi n:

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

“Sebaik-baik orang ialah yang paling berguna bagi orang lain.” (HR. Ath-ThabaraniAd-Daruquthni, dll. Asy-Syaikh Al-Albani menghasankan hadits ini dalam Shahih Al-Jami’ no. 3289)

 

Konsekuensi iman

Iman tidaklah dinyatakan dengan lisan belaka, namun juga harus tercermin dalam amaliah keseharian. Seseorang tidaklah dikatakan sebagai mukmin yang sempurna imannya bila bersikap acuh terhadap saudaranya. Nabi n bersabda:

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Salah seorang kalian tidak (dikatakan) beriman (dengan sempurna) sampai dia cinta bagi saudaranya apa yang ia cinta bagi dirinya.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Ingatlah, kaum muslimin ibarat satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuh ada yang sakit maka organ tubuh yang lainnya ikut merasakannya. Oleh karenanya, derita yang dialami oleh saudara kita adalah derita kita semua, sebagaimana kebahagiaan yang dirasakan mereka adalah kebahagiaan kita. Semangat kebersamaan dan jiwa kesetiakawanan harus selalu ditumbuhkembangkan. Akankah seorang tega bila dia kenyang sementara saudaranya kelaparan?! Nabi n bersabda:

لَيْسَ الْمُؤْمِنُ الَّذِي يَشْبَعُ وَجَارُهُ جَائِعٌ

“Bukan seorang mukmin yang dia kenyang sementara tetangganya lapar.” (Shahih Al-Adabul Mufrad no. 82)

Orang yang tidak peduli terhadap kondisi orang lain tak ubahnya seperti binatang. Dia tahu temannya sakit atau mati namun dia tidak menghiraukannya, karena di benaknya hanyalah bagaimana perutnya kenyang dan syahwatnya tersalurkan.

 

Keutamaan itsar (mengutamakan orang lain)

Al-Itsar ((الْإِيثَارُ adalah melebihkan orang lain atas dirinya sendiri. Sifat ini termasuk akhlak mulia yang mendatangkan kecintaan Allah l dan manusia. Allah l memuji orang-orang Anshar karena mereka memiliki sifat-sifat kemuliaan, di antaranya adalah sifat itsar. Allah l berfirman:

“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshar) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshar) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung.” (Al-Hasyr: 9)

Orang-orang Anshar termasuk pendahulu umat ini yang kita diperintah untuk mengikutinya. Sifat-sifat mereka telah diabadikan dalam Al-Qur’an, seperti cintanya mereka terhadap orang-orang yang yang berhijrah ke negeri mereka. Hal ini karena mereka cinta kepada Allah l dan Rasul-Nya sehingga mereka cinta kepada para kekasih-Nya dan pembela agama-Nya. Orang Anshar tidak dihinggapi kedengkian terhadap saudara-saudaranya dari kaum Muhajirin.

Demikian pula di antara sifat mereka yang berbeda dengan selainnya adalah melebihkan orang lain di atas diri mereka. Ini bentuk kedermawanan yang paling tinggi. Mengutamakan orang lain pada sesuatu yang jiwa ini sebenarnya menyukainya, bahkan sangat membutuhkannya, tidaklah mampu dilakukan kecuali oleh orang yang bersih akhlaknya. Kecintaan kepada Allah l didahulukan di atas kecintaannya kepada apa yang disenangi oleh dirinya. Orang yang seperti ini telah terhindar dari kebakhilan yang dengannya dia meraih predikat orang yang beruntung. Bila seseorang dijauhkan dari sifat bakhil maka dia akan bermurah hati untuk menjalankan perintah Allah l dan menjauhi larangan-Nya serta mudah mencurahkan harta dan tenaganya kepada orang lain. (Lihat Tafsir As-Sa’di pada surat Al-Hasyr)

Allah l juga menjelaskan di antara sifat orang-orang yang mulia dengan firman-Nya:

“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan.” (Al-Insan: 8)

Abu Hurairah z berkata: Datang seorang laki-laki kepada Rasulullah dan mengatakan, “Sungguh saya ditimpa kesulitan hidup.” Maka Rasulullah menuju istri-istrinya, namun beliau tidak mendapatkan dari mereka sesuatu apapun (yang bisa diberikan kepadanya). Maka Rasulullah n mengatakan, “Siapa yang mau menjamu orang ini pada malam ini?” Berkata seorang Anshar, “Saya, wahai Rasulullah.” Orang Anshar tersebut datang kepada istrinya lalu mengatakan, “(Ini adalah) tamu Rasulullah. Janganlah kamu menyimpan sesuatu (yang harus disuguhkan kepadanya).” Istrinya mengatakan, “Demi Allah, tidak ada padaku kecuali makanan untuk anak-anak.” Suaminya berkata, “Bila anak-anak ingin makan maka tidurkanlah mereka, dan kemarilah kamu (membawa hidangan) lalu matikan lampu. (Tidak mengapa) malam ini kita lapar.” Istrinya menjalankan perintah suaminya. Pada keesokan harinya orang Anshar itu pergi kepada Rasulullah n maka beliau bersabda, “Sungguh Allah kagum/tertawa kepada fulan dan fulanah (seorang Anshar dan istrinya).” Lalu Allah l menurunkan ayat-Nya:

“Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri sekalipun mereka dalam kesusahan.” (Al-Hasyr: 9) [Shahih Al-Bukhari no. 4889]

Adalah Rasulullah n memuji orang-orang Asy’ariyyin, kabilah Abu Musa Al-Asy’ari sahabat Nabi n, dengan sabdanya:

إِنَّ الْأَشْعَرِيِّيْنَ إِذَا أَرْمَلُوا فِي الْغَزْوِ أَوْ قَلَّ طَعَامُ عِيَالِهِمْ بِالْمَدِينَةِ جَمَعُوا مَا كَانَ عِنْدَهُمْ فِي ثَوْبٍ وَاحِدٍ ثُمَّ اقْتَسَمُوا بَيْنَهُمْ فِي إِنَاءٍ وَاحِدٍ بِالسَّوِيَّةِ فَهُمْ مِنِّي وَأَنَا مِنْهُمْ

“Sesungguhnya orang-orang (kabilah) Asy’ari apabila mereka hampir habis perbekalannya dalam peperangan atau menipis stok makanan keluarganya di Madinah, maka mereka mengumpulkan apa yang mereka miliki pada satu kain. Lalu mereka membagi di antara mereka pada satu wadah dengan sama rata. Mereka adalah golonganku dan aku adalah golongan mereka.” (Muttafaqun ‘alaih)

 

Sikap itsar yang menakjubkan

Manakala iman seseorang telah mengakar, niscaya akan memunculkan berbagai keajaiban. Dengan bermodalkan iman yang tulus, seseorang mampu melakukan sesuatu yang tidak mampu dilakukan oleh para raja, hartawan, dan orang yang kuat lagi perkasa sekalipun. Lihatlah bagaimana dahulu para sahabat Nabi g. Mereka tulus berhijrah meninggalkan Makkah tempat tumpah darahnya dan harta bendanya, menuju Madinah demi mempertahankan agamanya. Bahkan sahabat Ali bin Abi Thalib z pada malam hijrah Nabi n, dia tidur di atas ranjang Nabi n. Padahal rumah tersebut telah dikepung oleh para musuh. Ali rela mengorbankan nyawanya di jalan Allah l.

Pada tahun 18 H, di masa pemerintahan Umar bin Khaththab z, terjadi kekeringan dan paceklik yang dahsyat di wilayah Hijaz (Madinah, Makkah, dan sekitarnya). Umar mengulurkan bantuan kepada orang-orang Badui berupa unta, gandum, dan minyak, sehingga apa yang ada di baitul mal habis. Beliau berdoa memohon kepada Allah l agar diturunkan hujan. Allah l pun mengabulkan permohonannya. Umar berkata: “Alhamdulillah, demi Allah, seandainya Dia tidak melepaskan musibah kekeringan ini niscaya aku tidak membiarkan keluarga suatu rumah kaum muslimin yang mempunyai keluasan rezeki kecuali aku akan memasukkan bersama mereka sejumlah mereka dari orang-orang fakir. Karena tidak akan binasa dua orang apabila memakan makanan yang mencukupi satu orang.” (Lihat Shahih Al-Adab Al-Mufrad no. 438 dan Al-Bidayah wan Nihayah 7/103-105)

Kebijakan Umar sesuai dengan petunjuk Rasulullah n seperti dalam haditsnya:

طَعَامُ الْوَاحِدِ يَكْفِي الْإِثْنَيْنِ وَطَعَامُ الْإِثْنَيْنِ يَكْفِي الْأَرْبَعَةَ وَطَعَامُ الْأَرْبَعَةَ يَكْفِي الثَّمَانِيَةَ

“Makanan satu orang mencukupi dua orang, makanan dua orang mencukupi empat orang, dan makanan empat orang mencukupi delapan orang.” (HR. Muslim dari sahabat Jabir z)

Dahulu ‘Aisyah punya sepetak tanah di sisi kuburan Nabi n (suaminya) dan bapaknya (Abu Bakr). Tanah tersebut ia persiapkan untuk menguburnya bila suatu saat ia dipanggil oleh sang Khaliq. Namun ketika Umar pada detik-detik akhir menjelang wafatnya meminta izin kepada ‘Aisyah untuk dikuburkan nantinya di tempat tersebut, ‘Aisyah pun mengizinkannya dan memberikan tanah tersebut kepada Umar. (Siyar Al-Khulafa’ Ar-Rasyidinkarya Adz-Dzahabi hal. 91)

 

Melebihkan orang lain dan pembagiannya

Melebihkan orang lain atas diri sendiri dianjurkan pada perkara duniawi. Adapun dalam masalah ketaatan maka kita diperintah untuk berlomba-lomba padanya. Allah l berfirman:

“Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan.” (Al-Baqarah: 148)

Nabi n juga bersabda:

لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الْأَوَّلِ ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِلاَّ أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لَاسْتَهَمُوا

“Seandainya manusia tahu apa yang ada pada adzan dan shaf pertama (dari pahala) kemudian mereka tidak bisa mendapatkannya kecuali dengan berundi, maka niscaya mereka akan berundi.”(Muttafaqun ‘alahi)

Oleh karena itu, melebihkan orang lain atas dirinya sendiri terbagi mejadi tiga:

1. Dilarang. Hal ini seperti anda mengutamakan orang lain pada perkara yang syariat mewajibkan atas anda. Misalnya anda dan teman anda dalam keadaan batal wudhunya, anda mempunyai air yang hanya cukup untuk berwudhu satu orang. Bila anda berikan kepada teman anda, maka anda tidak punya air untuk berwudhu dan terpaksa tayammum. Dalam keadaan seperti ini tidak boleh memberikan air itu kepadanya, karena anda mendapatkan air dan air itu milik anda. Maka, melebihkan orang lain pada perkara yang diwajibkan oleh syariat adalah haram hukumnya. Karena hal tersebut berakibat menggugurkan kewajiban yang dibebankan atas anda.

2. Makruh, yaitu melebihkan orang lain pada perkara sunnah. Misalnya anda mampu berdiri di shaf pertama dalam shalat, namun anda justru mempersilakan orang lain untuk menempatinya. Hal ini makruh, karena menandakan anda kurang bersemangat terhadap kebaikan. Padahal berdiri di shaf pertama dalam shalat sangat besar keutamaannya. Maka bagaimana anda mendahulukan orang lain, padahal anda berhak mendapatkan keutamaan itu?

3. Boleh dan terkadang dianjurkan. Yaitu melebihkan orang lain pada perkara yang bukan ibadah. Seperti anda memberikan makanan kepada orang lain yang lapar padahal anda sendiri juga lapar. Perbuatan ini terpuji. (Lihat Makarimul Akhlaq karya Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin hal. 54-55)

Fitnah-fitnah Besar dalam Islam, Upaya Meluruskan Sejarah

Seakan menjadi hal yang niscaya dalam sejarah, peristiwa-peristiwa memilukan juga turut mewarnai perjalanan Islam. Beragam peristiwa atau lebih tepatnya fitnah ini tak urung menjadi “sisi kelam” yang terus dikenang umat sepanjang masa. Terlebih, berbagai peristiwa itu yang seharusnya ditangkap hikmah darinya malah disikapi dan dimaknai secara berbeda oleh sebagian umat (kelompok) Islam.

Sebagai contoh, peristiwa pembunuhan Utsman bin Affan z. Tanpa didukung riwayat-riwayat yang sahih, ada pihak-pihak yang justru mendukung tindakan biadab ini secara terang-terangan maupun terselubung. Faraq Fouda, tokoh Islam Liberal Mesir, dalam tulisannya yang dipromosikan kalangan Islam Liberal di Indonesia, menganggap sahabat yang mulia ini korup hingga “umat” –entah umat mana yang dimaksud Fouda- mendesaknya untuk mundur. Karena menolak, Utsman pun dibunuh. Begitu pun Sayyid Quthub, tokoh yang didewa-dewakan kelompok Ikhwanul Muslimin (IM), yang di depan namanya ditambahi gelar “Asy-Syahid”, juga ikut-ikutan memancing di air keruh dengan menyudutkan Utsman sebagai pihak yang seolah-olah memang bersalah dengan mengatakan bahwa pemberontakan yang didalangi tokoh Yahudi Abdullah bin Saba’ lebih dekat kepada “ruh Islam” daripada pihak Utsman. Tak hanya itu, di bukunya Al-Adalah Al-Ijtima’iyyah, Sayyid Quthub juga banyak menguraikan cerita-cerita dusta (tidak jelas sumber dan sanadnya), tentang ketidakadilan Utsman.

Lebih ironis lagi, peristiwa yang didahului oleh aksi demonstrasi anarkis pertama dalam sejarah Islam kemudian ada yang menjadikannya sebagai dalil untuk membenarkan aksi-aksi demonstrasi dengan dalih amar ma’ruf nahi munkar. Ketidaktepatan dalam memahami sejarah ini, alhasil, saling bahu-membahu dalam menggulung kebenaran. Sejarah bukan lagi dimaknai secara proporsional namun justru terpenjara oleh kepentingan kelompok.

Demikian juga dengan upaya-upaya mengaburkan sejarah. Abdullah bin Saba’, aktor intelektual di balik makar pembunuhan Utsman juga hendak digunting dari lembar sejarah. Tokoh peletak dasar agama Syiah Rafidhah, oleh kalangan penganut agama tersebut, orientalis, dan musuh-musuh Islam lainnya, hendak dikesankan sebagai tokoh fiktif. Tujuan akhirnya, tak lain adalah mengelabui umat dengan memupus fakta adanya pertalian yang erat antara agama Syiah dan Yahudi.

Oleh karena itu, adanya seruan-seruan untuk menyatukan Islam dan Syiah, sebagaimana digemakan oleh Hasan Al-Banna dan tokoh IM lainnya serta kalangan Islam Liberal, jelas berasal dari orang-orang yang bukan saja tidak paham akidah namun juga orang yang tidak mengerti sejarah.

Maka, agar perbedaan dalam memahami setiap peristiwa sejarah tidak menjurang, dibutuhkan ilmu dalam memahaminya. Setiap alur peristiwa semestinya didukung riwayat-riwayat yang sahih sehingga bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Hawa nafsu pribadi atau kelompok sudah seharusnya tunduk di hadapan dalil-dalil syariat. Bukan malah meliuk-liukkan sejarah, mendistorsinya atau bahkan mengubur penggal sejarah demi kepentingan kelompoknya. Bahkan memutarbalikkan sejarah justru untuk menelanjangi Islam itu sendiri sebagaimana dilakukan para orientalis, kelompok agama lain (Yahudi, Nasrani, Syiah Rafidhah, dll), serta orang-orang yang membebek dengan mereka.

Sudah mafhum, seiring dengan munculnya kelompok-kelompk sempalan dalam Islam, banyak pula bertaburan hadits-hadits palsu yang ditunggangi oleh kelompok tertentu untuk membela akidah atau amalan mereka. Sehingga setiap sejarah terlebih yang menyangkut eksistensi Islam, seperti fitnah-fitnah besar yang akan dipaparkan di Kajian Utama edisi ini, mesti dicermati secara saksama agar kita menjadi bagian dari orang-orang yang bisa memahami agama ini secara lurus. Insya Allah!