Surat Pembaca Edisi 58

Tanda-tanda Kiamat

Tolong membahas tanda-tanda hari kiamat, penghuni neraka apa saja dan surga apa saja.

Budi Haryanto-Banjarnegara

0852915xxxxx

 

Tanda-tanda kiamat, terutama tanda-tanda besar seperti munculnya bangsa Ya’juj dan Ma’juj, Dajjal, turunnya ‘Isa, dan lain sebagainya sebenarnya pernah kami muat secara berseri di edisi 33 s.d. 35 dan edisi 37. Dalam pembahasan tersebut juga sedikit kami singgung tentang tanda-tanda kiamat kecil, silakan dilihat kembali. Mengenai gambaran surga dan neraka berikut penghuninya mungkin akan kami angkat di lain waktu, insya Allah. Jazakumullahu khairan.

Mana Edisi IAIN?

Mengapa tema edisi 57 tidak sesuai dengan rencana tema sebagaimana dimuat di sampul belakang edisi 56?

Abu Harits-0852921xxxxx

Redaksi memohon maaf kepada pembaca atas ketidaksesuaian rencana tema dengan realisasinya. Sehubungan satu dan lain hal, redaksi memang menunda penayangan tema tersebut di edisi 57. Insya Allah tema tentang IAIN akan pembaca jumpai di edisi 63. Jazakumullahu khairan.

 

Saran Perbaikan

 

Secara pribadi, saya benar-benar kagum dengan muatan majalah Asy-Syariah baik dari segi materi maupun bahasanya karena saya memang sudah kenal dengan manhaj salaf. Tapi di sini saya mohon dengan sangat untuk majalah Asy-Syariah agar:

-Dipermudah lagi bahasa penyampaiannya karena banyak sekali orang awam dan ikhwan yang baru ngaji beranggapan bahwa majalah Asy-Syariah adalah majalah yang berat.

-Jangan kasih istilah bahasa Arab kecuali disertai maknanya.

-Sebaiknya redaksi jangan menukil syubhat-syubhat kelompok sesat karena umumnya malah bikin bingung. Jika memang terpaksa dinukil, tolong dikasih bantahannya secara lengkap dan gamblang.

-Jika redaksi mengupas masalah kontemporer yang erat dengan masyarakat kita dan masalah tersebut termasuk pelanggaran syariat, tolong dikasih juga solusinya, agar masyarakat tidak bingung dan agar tidak terjadi fitnah.

Mohon dipertimbangkan karena kita bisa makin dekat dengan sikap ‘hikmah dalam dakwah’.

 

Abu Hanifah-Solo

0856472xxxxx

 

Perbaikan demi perbaikan akan terus kami upayakan agar ke depan majalah Asy-Syariah bisa tampil lebih baik dan lebih baik lagi. Jazakumullahu khairan atas masukannya.


Kontroversi Ibnu Saba’ Al-Yahudi

Abdullah bin Saba’ dalam tarikh

Pembahasan jati dirinya adalah bagian penting dalam kajian tarikh Islam. Meskipun keberadaan Ibnu Saba’ sudah menjadi ijma’ (kesepakatan) ahli hadits, ahli al-jarh wat ja’dil, ahlitarikh, juga penulis kitab-kitab al-milal wan nihal dan firaq (aliran-aliran dalam Islam), namun pada sebagian kalangan, kontroversi keberadaannya sebagai sosok penebar fitnah dan kedustaan tetap saja menjadi perbincangan dan bahan perdebatan.

Orientalis bersama firqah-firqah sesat seperti agama Rafidhah (Syi’ah) berupaya keras menghilangkan jejak Ibnu Saba’ dari tarikh dan menampakkannya sebagai tokoh khayal.

Upaya tersebut bukan perjuangan tanpa tujuan. Banyak maksud buruk terselip di balik usaha itu. Di antaranya, mengaburkan sejarah wafatnya khalifah Utsman bin ‘Affan z dan fitnah-fitnah berikutnya di masa khalifah Ali bin Abi Thalib z, yang sesungguhnya tidak bisa dilepaskan dari peran sosok Yahudi yang buruk ini.

Rafidhah (Syi’ah) juga memiliki maksud buruk lain, yaitu upaya memendam keterkaitan antara Rafidhah sebagai agama baru dengan ajaran Yahudi yang dibawa Ibnu Saba’.

Pembaca rahimakumullah. Agama Rafidhah –sebagaimana diterangkan ulama– memiliki banyak sisi persamaan dengan Yahudi. Mengapa demikian? Karena memang agama Rafidhah dipelopori oleh Ibnu Saba’, seorang Yahudi yang menampakkan keislaman di tengah barisan kaum muslimin. Oleh karena itulah, Rafidhah tidak ingin diketahui bahwa mereka sejatinya adalah anak dan kaki tangan Yahudi. Sebagaimana mereka juga tidak ingin terlihat adanya hubungan mesra dengan Yahudi yang selalu membantu tumbuh berkembangnya Rafidhah di tengah-tengah muslimin untuk merusak ajaran Islam yang murni.

Dari itikad-itikad buruk inilah, mereka menyatukan langkah menghilangkan fakta-fakta sejarah tentang Ibnu Saba’ dengan berbagai cara. Di antaranya memasukkan apa yang sebenarnya tidak terjadi dalam tarikh serta menggantinya dengan kedustaan atau memberikan penafsiran-penafsiran salah terkait dengan kejadian-kejadian tarikh.

Sadar atau tidak, pengaburan ini merupakan salah satu dari sekian bentuk upaya perusakan Islam. Hingga tidak sedikit dari kaum muslimin terbawa pola pemikiran mereka tersebut, kemudian terjerat dalam tipu muslihatnya.

Musuh-musuh Islam berupaya memerangi Islam dengan berbagai cara, di antaranya dengan merusak tarikh Islam. Terlebih yang terkait dengan sejarah sahabat-sahabat Rasulullah n, sebagaimana hal ini diisyaratkan Syaikul Islam Ibnu Taimiyah t (wafat 728 H). Beliau berkata dalam Al-‘Aqidah Al-Wasithiyah ketika menyebutkan akidah Ahlus Sunnah tentang sahabat-sahabat Rasulullah n: “Dan mereka (Ahlus Sunnah) mengatakan bahwa atsar-atsar yang diriwayatkan tentang kejelekan sahabat, di antaranya ada yang dusta, di antaranya ada berita yang telah ditambah-tambah, dikurangi atau diubah-ubah…”

Demikian kaidah penting terkait dengan upaya musuh-musuh Islam menebarkan kedustaan dan kerancuan dalam tarikh sahabat, yang tiada lain bertujuan merusak Islam. Tetapi bagaimanapun musuh Islam berusaha mencemarkan kemuliaan sahabat, pertolongan Allah l atas agama ini adalah kepastian yang tidak bisa ditawar lagi. Allah l berfirman:

“Mereka ingin hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci.” (Ash-Shaff: 8)

Beberapa upaya pengaburan Ibnu Saba’

Orientalis demikian gigih mengingkari keberadaan Ibnu Saba’ dengan argumen-argumen yang sangat lemah dan nyata dibuat-buat. Sebut saja di antara mereka, Bernard Lewis, seorang Yahudi berkebangsaan Inggris, Julius Wellhausen (Jerman), Friedlaender dan Caetani Leone (Italia). Diikuti pula orang-orang yang terpengaruh orientalis, seperti Dr. Toha Husain (Mesir) dan Dr. Muhammad Kamil Husain. Rafidhah tidak pula ketinggalan berjalan mengekor seperti layaknya anjing di belakang tuannya –sambil menjulurkan lidah-lidah mereka–, seperti Muhammad Jawad, Murtadha ‘Askari, Dr. ‘Ali Wardi, Dr. Kamil Syaibi, dan lainnya. Dengan lantang mereka semua berteriak di atas kebodohan dan hawa nafsu bahwa Ibnu Saba’ hanya khayalan, keberadaannya hanyalah sebuah legenda. [1]

Pembaca rahimakumullah. Di antara syubhat mereka untuk menolak keberadaan Ibnu Saba’, adalah klaim bahwa Ibnu Saba’ tidak termaktub dalam referensi-referensi tarikh kecuali riwayat Saif bin ‘Umar At-Taimi, sementara ia bersendiri dalam meriwayatkan keberadaan Ibnu Saba’, dan riwayatnya tertolak. Demikian kata mereka.

Sebenarnya, bagi sedikit saja yang mau melihat riwayat-riwayat tarikh barang sejenak, dengan mudah menyimpulkan bahwa dalil mereka sangat lemah bahkan dusta. Terlebih jika memahami maksud buruk yang terselip dalam dada mereka. Allahul musta’an.

Abdullah bin Saba’ adalah nyata, bukan sosok khayalan

Keberadaan Abdullah bin Saba’ tidak perlu diragukan. Dalih bahwa Saif bin ‘Umar At-Taimi bersendiri dalam meriwayatkan adanya Ibnu Saba’ terbantah dari sekian banyak sisi. Di antaranya:

  1. Keberadaan Ibnu Saba’ Al-Yahudi diriwayatkan dalam riwayat-riwayat lain yang shahih dan hasan dalam banyak referensi tarikh, bukan hanya dari jalan Saif bin ‘Umar At-Taimi seperti yang mereka dustakan. Di antara riwayat-riwayat tersebut adalah[2]:

Pertama: Ibnu ‘Asakir dalam Tarikh Dimasyq meriwayatkan dari ‘Amir bin Syarahil Asy-Sya’bi (wafat 104 H) t, beliau berkata:

أَوَّلُ مَنْ كَذَبَ عَبْدُ اللهِ بْنُ سَبَأٍ

“Orang yang pertama kali melakukan kedustaan adalah Ibnu Saba’.”

Kedua: Ibnu ‘Asakir dalam Tarikh Dimasyq juga meriwayatkan dari Ja’far Ash-Shadiq, tentang kisah kemarahan Ali bin Abi Thalib z atas ucapan-ucapan kufur yang terlontar dari mulut Ibnu Saba’. (Lihat riwayatnya pada sub bab: “Sepenggal Kisah Ibnu Saba’ di Masa ‘Ali bin Abi Thalib”)

  1. Disamping riwayat-riwayat shahih dan hasan, banyak riwayat-riwayat dha’if (lemah) tentang keberadaannya sebagai penguat kepastian adanya sosok Ibnu Saba’, sebagaimana keberadaannya telah disepakati ulama Islam.

3. Lebih menarik lagi sebagai bantahan, ternyata di kalangan orientalis sendiri ada yang secara obyektif berkesimpulan melalui penelitian riwayat dan referensi-referensi tarikh bahwa Abdullah bin Saba’ adalah sosok nyata dalam tarikh, bukan tokoh fiksi! Di antara mereka adalah Reynold Allen Micholson (1945 M) dan Ignaz Goldziher (1921 M). Dua orang ini berkesimpulan tentang adanya sosok Ibnu Saba’ dalam tarikh Islam. Cukuplah hal ini sebagai bantahan, jika mereka masih berakal.

4. Adapun bagi Rafidhah yang mengelak keberadaan Ibnu Saba’, cukuplah kita katakan pada mereka: “Kitab-kitab rujukan kalian dengan tegas menukil riwayat-riwayat keberadaan Ibnu Saba’, bahkan dari jalan imam-imam yang kalian anggap maksum.” Lihat beberapa referensi kalian, sepertiRisalatul Irja’ oleh Hasan bin Muhammad bin Al-Hanafiyah (95 H), Al-Maqalat wal Firaq oleh Sa’d bin Abdullah Al-Asy’ari Al-Qummi (301 H) cet. Teheran 1963; Rijal Al-Kisysyi oleh Abu ‘Amr dan Muhammad bin ‘Umar (369 H) cet. Istanbul 1931; Rijal Ath-Thusi, oleh Abu Ja’far Muhammad bin Al-Hasan Ath-Thusi (460 H) cet. Najef 1961 H, dan kitab-kitab lain yang kalian jadikan rujukan, wahai Rafidhah, wahai kaki tangan Yahudi.[3]

Empat hal di atas mudah-mudahan cukup sebagai bantahan bagi mereka yang meniadakan Ibnu Saba’ dalam tarikh, jika mereka masih punya sedikit akal.

Ibnu Saba, dan makarnya dalam Islam

Ibnu Saba’ adalah seorang Yahudi yang sangat busuk dan licik. Dia tampakkan keislamannya di zaman Utsman bin ‘Affan z dan menampakkan keshalihan di masa Ali bin Abi Thalib z. Di balik topeng kemunafikannya inilah, ia embuskan api fitnah yang demikian besar di tengah umat hingga berkobar fitnah demi fitnah.

Peran Ibnu Saba’ sangat besar dalam fitnah pembunuhan Khalifah Utsman bin ‘Affan z[4], demikian pula fitnah-fitnah berikutnya di masa khilafah ‘Ali bin Abi Thalib z. Dia pula sesungguhnya yang memegang peran penting munculnya Rafidhah (Syi’ah) sebagai agama baru yang sangat erat pertaliannya dengan ajaran-ajaran kafir Yahudi.

Antara Abdullah bin Saba’ dan Rafidhah (Syi’ah)

Sebagaimana telah disinggung bahwasanya Rafidhah (Syi’ah) adalah agama baru yang berakar dari agama Yahudi yang dibawa dan ditumbuhkembangkan Abdullah bin Saba’ Al-Yahudi. Sisi kesamaan antara agama Syi’ah Rafidhah dengan Yahudi banyak kita jumpai. Semua itu menunjukkan keterkaitan yang sangat erat antara Yahudi dan Rafidhah.[5]

Berikut ini kita nukilkan beberapa sisi kesamaan antara Rafidhah dan pemikiran Ibnu Saba’ Al-Yahudi.

1. Dia adalah orang pertama yang menyebarkan keyakinan ke-rububiyah-an dan ke-uluhiyah-an Ali bin Abi Thalib z. Ali adalah ilah (sesembahan) dan Rabb (pengatur alam semesta). Keyakinan Ibnu Saba’ ini ada pada Rafidhah.

Referensi Syi’ah sendiri yang menyebutkan bahwa Ibnu Saba’ menyebarkan keyakinan kufur tersebut. Lihat sebagai bukti pada kitab rujukan mereka: Pertama: Rijal Al-Kisysyi (hal. 98, cet. Karbala), dan keduaTanqihul Maqal Fi Ahwali Ar-Rijal (2/183-184, cet. Najef, 1350 H. (Dari risalah Ibnu Saba’ Haqiqah La Khayal karya Dr. Sa’di Al-Hasyimi)

2. Ibnu Saba’ adalah orang pertama yang memunculkan akidah wasiat, yaitu keyakinan bahwa Rasulullah n telah mewasiatkan kepada Ali z untuk menjadi khalifah sepeninggal beliau. Keyakinan wasiat Ibnu Saba’ ini ada pada Rafidhah, bahkan merupakan bagian penting dari aqidah Rafidhah.[6] Bukankah hal ini menunjukkan keterkaitan yang erat antara agama Rafidhah dengan Ibnu Saba’? Keyakinan wasiat Ibnu Saba’ adalah hasil pemikiran Yahudinya sebelum ia menyusup di tengah-tengah muslimin.

Buku-buku rujukan Syi’ah sendiri yang menetapkan bahwa keyakinan wasiat berasal dari Abdullah bin Saba’. Al-Mamaqani dalam bukunya Tanqih Al-Maqal (2/184) menukil ucapan Muhammad bin ‘Umar Al-Kisysyi –salah seorang tokoh Rafidhah– dia berkata: “Ahlul ilmi menyatakan bahwa Abdullah bin Saba’ dahulu seorang Yahudi lalu masuk Islam dan berwala’ kepada ‘Ali z. Di masa Yahudinya, dia mengatakan bahwa Yusya’ bin Nun adalah orang yang mendapat wasiat dari Musa. Di masa Islamnya dia juga katakan hal semisal (yakni wasiat, pen.) terhadap ‘Ali.” [7]

3. Ibnu Saba’ adalah orang pertama yang menyebarkan keyakinan raj’ah, yaitu keyakinan bahwasanya ‘Ali hidup kembali di dunia sesudah wafatnya.

4. Ibnu Saba’ adalah orang pertama yang menyebarkan kebencian kepada Abu Bakr Ash-Shiddiq z dan ‘Umar bin Al-Khaththab z. Keyakinan ini adalah bagian terpenting dalam akidah Rafidhah.

Abu Ishaq Al-Fazari menyebutkan riwayat dengan sanadnya kepada Suwaid bin Ghaflah, bahwasanya dia mengunjungi ‘Ali z di masa kekhilafahannya. Suwaid berkata: “Sungguh aku melewati suatu kaum yang mencela Abu Bakr dan ‘Umar. Mereka juga menyatakan bahwa engkau menyembunyikan pula celaan pada keduanya (yakni Abu Bakr dan ‘Umar). Di antara kaum itu adalah Abdullah bin Saba’ –dan dia adalah orang pertama yang menampakkan keyakinan ini–.” Maka berkatalah Ali: “Apa urusanku dengan si hitam yang busuk ini (yakni Ibnu Saba’)? Aku berlindung kepada Allah l dari memendam dalam hati sesuatu pada keduanya melainkan kebaikan.” Kemudian ‘Ali z membuang Ibnu Saba’ ke Mada’in… (Ibnu Hajar membawakan riwayat kisah ini dalam Lisanul Mizan (3/290) dengan sanad yang shahih)

Demikian di antara pemikiran-pemikiran Ibnu Saba’ Yahudi yang diembuskan di tengah kaum muslimin untuk merusak akidah. Pemikiran tersebut benar-benar serupa dan sama dengan akidah yang ada pada Rafidhah (Syi’ah) yang memang ditumbuhkan oleh Ibnu Saba’ Al-Yahudi.[8]

Untuk menyembunyikan cela ini, Rafidhah berjalan bersama orientalis dalam usahanya menghilangkan jejak Ibnu Saba’ untuk kepentingan mereka. Namun usaha Rafidhah itu adalah usaha yang sia-sia. Karena keberadaan Ibnu Saba’ merupakan kesepakatan (ijma’) ahli hadits, Ahlus Sunnah wal Jama’ah, demikian pula kesepakatan ahli tarikh. Bahkan kitab-kitab rujukan Rafidhah sendiri menetapkan keberadaan Ibnu Saba’, sebagaimana telah lalu penyebutannya.

Apakah masuk akal, jika mereka mengingkari kitab-kitab yang mereka sucikan dan agungkan? Mustahil tentunya, kecuali jika mereka telah dungu atau kehilangan akal, atau telah berubah menjadi kera sebagaimana nenek moyang mereka. Dan inilah kenyataannya!!!

Sepenggal Kisah Ibnu Saba’ di masa ‘Ali bin Abi Thalib z

Ibnu ‘Asakir t dalam Tarikh Dimasyq meriwayatkan dari Ash-Shadiq[9] dari Jabir bin Abdillah c: Ketika ‘Ali dibaiat (sebagai khalifah) beliau berkhutbah di hadapan manusia. Berdirilah Abdullah bin Saba’ mengatakan pada Ali z: “Engkau adalah makhluk bumi (yang Allah l janjikan)[10].” Ali z marah seraya berkata: “Takutlah engkau kepada Allah l!” Ibnu Saba’ menimpali: “Engkau malaikat.” Ali berkata: “Takutlah engkau kepada Allah l!” Ibnu Saba’ kembali berkata: “Engkaulah yang menciptakan makhluk dan meluaskan rizki!” Seketika itu Ali memerintahkan untuk membunuh Ibnu Saba’, tetapi berkerumunlah orang-orang Rafidhah (melindungi Ibnu Saba’). Mereka berkata: “Tinggalkan dia. Buang saja ke Mada’in, karena jikalau engkau membunuhnya di kota ini (Kufah), sahabat-sahabatnya akan memerangi kami!” (Demikian kata mereka). Maka dibuanglah Ibnu Saba’.[11]

Pembaca rahimakumullah, nukilan-nukilan dari kitab-kitab Ahlus Sunnah telah menetapkan keberadaan Ibnu Saba’ sebagai satu kesepakatan. Seandainya Rafidhah mengingkari keberadaan sosok ini dari riwayat-riwayat kitab-kitab Ahlus Sunnah, maka cukuplah referensi mereka –yang mereka sucikan– dan riwayat dari imam-imam mereka –yang diyakini kemaksumannya– sebagai bukti keberadaan Ibnu Saba’, sekaligus bukti akan kedustaan, kedunguan dan kebodohan orang-orang Rafidhah dalam memutarbalikkan fakta.

Wallahu a’lam.


[1] Lihat Ibnu Saba’ Haqiqah La Khayal hal. 7-24. Penulis, Dr. Sa’di Al-Hasyimi, menukil beberapa ucapan mereka beserta sanggahannya.

[2] Dr. Muhammad bin Abdullah Ghabban mengumpulkan riwayat-riwayat terkait dengan Ibnu Saba’ dalam tulisannya Fitnah Maqtal ‘Utsman, lihat jilid 2 hal. 883-900.

[3] Diringkas dari risalah Ibnu Saba’ Haqiqah Laa Khayal (hal.25-29) karya Dr. Sa’di Al-Hasyimi. Penulis menyebutkan 14 rujukan Syi’ah yang telah tercetak. Demikian pula diisyaratkan beberapa rujukan lain baik yang tercetak atau yang masih dalam bentuk manuskrip.

[4] Peran besarnya dalam menyalakan fitnah pembunuhan khalifah Utsman z dapat dilihat kembali pada kajut: Tertumpahnya Darah Khalifah ‘Utsman Bin ‘Affan z.

[5] Lihat Fitnah Maqtal ‘Ustman (1/143-144), Dr. Muhammad Abdullah Ghabban.

[6] Atas dasar keyakinan wasiat yang sesat inilah mereka –Syiah Rafidhah– mencela bahkan mengkafirkan Abu Bakr, Umar, dan Utsman g karena dianggap bahwa mereka telah mengkhianati wasiat Rasulullah n. Subhanallah, betapa busuknya Rafidhah mengkafirkan Abu Bakr, Umar, dan Utsman g. Betapa lancangnya mereka keluarkan sahabat yang mulia dari Islam, padahal Allah l telah menjamin mereka sebagai penghuni jannah.

[7] Dinukil dari ta’liq Muhibudin Al-Khathib atas kitab Al-Muntaqa Min Minhajil I’tidal (hal. 318).

[8] Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t menyebutkan banyak sisi-sisi persamaan Syiah Rafidhah dalam kitabnya Minhajus Sunnah, menukil ucapan ‘Amir bin Syarahil Asy-Sya’bi t.

[9] Abu Abdillah Ja’far bin Muhammad Ash-Shadiq, lahir dan wafat di Madinah (83-148 H). Beliau adalah seorang tabi’in dari ahli bait Rasulullah n. Diyakini agama Syiah Rafidhah sebagai imam maksum yang keenam.

[10] Yaitu makhluk bumi yang tersebut dalam firman Allah l:

 

“Dan apabila perkataan telah jatuh atas mereka, Kami keluarkan sejenis binatang melata dari bumi yang akan mengatakan kepada mereka, bahwa sesungguhnya manusia dahulu tidak yakin kepada ayat-ayat Kami.” (An-Naml: 82)َ

[11] Lihat Tahdzib Tarikh Dimasyq (7/430), Ibnu Badran.

‘UTSMAN BIN ‘AFFAN TELADAN KETEGUHAN MEMEGANG AS-SUNNAH

Abu Hurairah z menangis mengingat wafatnya Utsman bin ‘Affan z.[1] Terbayang di hadapannya apa yang diperbuat bughat[2] terhadap khalifah. Sebuah tragedi tercatat dalam lembaran tarikh Islam; menorehkan peristiwa kelabu atas umat ummiyah.

Dengan keji, pembunuh-pembunuh itu menumpahkan darah. Tangan menantu Rasulullah n ditebas, padahal jari-jemari itulah yang dahulu dipercaya Rasul n mencatat wahyu Allah l. Darah pun mengalir membasahi Thaybah.[3]

Dengan penuh cinta dan ridha kepada Allah l, Amirul Mukminin mengembuskan nafas terakhir, meraih syahadah dengan membawa hujjah dan kemenangan yang nyata.

Ya Allah l, tanamkan cinta dan ridha di hati kami pada sahabat-sahabat Nabi-Mu. Selamatkan hati kami dari kedengkian kepada mereka. Selamatkan pula lisan kami dari cercaan kepada mereka sebagaimana Engkau telah selamatkan tangan kami dari darah-darah mereka.

 

Usman bin ‘Affan z, sahabat yang mulia

Beliau adalah ‘Utsman bin Affan bin Abil ‘Ash bin Umayyah bin Abdisy-Syams bin Abdi Manaf z. Pada kakeknya, Abdu Manaf, nasabnya bertemu dengan nasab Rasulullah n.

Lahir enam tahun setelah tahun gajah. Beriman melalui tangan Abu Bakr Ash-Shiddiq –Abdullah bin Abi Quhafah– z, dan termasuk as-sabiqunal awwalun.

Tampan wajahnya, lembut kulitnya, dan lebat jenggotnya. Sosok sahabat mulia ini sangat pemalu hingga malaikat pun malu kepadanya. Demikian Rasulullah n menyanjung:

أَلَا أَسْتَحِي مِنْ رَجُلٍ تَسْتَحِي مِنْهُ الْمَلَائِكَةُ؟

“Tidakkah sepatutnya aku malu kepada seorang (yakni Utsman) yang para malaikat malu kepadanya?”[4]

Mudah menangis kala mengingat akhirat[5]. Jiwanya khusyu’ dan penuh tawadhu’ di hadapan Allah Rabbul ‘alamin.

Beliau adalah menantu Rasulullah n yang sangat dikasihi. Memperoleh kemuliaan dengan menikahi dua putri Nabi n, Ruqayyah kemudian Ummu Kultsum hingga mendapat julukan Dzunurain(pemilik dua cahaya). Bahkan Rasulullah n bersabda: “Seandainya aku masih memiliki putri yang lain sungguh akan kunikahkan dia dengan Utsman.”

Utsman bin ‘Affan z adalah figur sahabat yang memiliki kedermawanan luar biasa. Sebelum datangnya risalah Muhammad n, beliau telah menekuni perdagangan hingga memiliki kekayaan. Setelah cahaya Islam terpancar di muka bumi, harta tersebut beliau infakkan untuk menegakkan kalimat Allah l.

Sumur Ar-Rumah… Tahukah Anda, apa itu sumur Ar-Rumah? Sumber air Madinah yang beliau beli dengan harga sangat mahal sebagai wakaf untuk muslimin di saat mereka kehausan dan membutuhkan tetes-tetes air. Rasulullah n menawarkan jannah bagi siapa yang membelinya. Utsman pun bersegera meraih janji itu.[6] Demi Allah! Beliau telah meraih jannah yang dijanjikan.

Sosok yang mulia ini, tidak pernah berat untuk berinfak di jalan Allah l, berapapun besarnya harta yang diinfakkan. Beliau keluarkan seribu dinar (emas) guna menyiapkan Jaisyul ‘Usrah, pasukan perang ke Tabuk, yang berjumlah tidak kurang dari 30.000 pasukan. Seraya membolak-balikan emas yang Utsman z infakkan, Rasulullah n bersabda:

مَا ضَرَّ عُثْمَانَ مَا عَمِلَ بَعْدَ الْيَوْمِ

“Tidaklah membahayakan bagi Utsman apapun yang dia lakukan sesudah hari ini.” (Karena sesungguhnya dia telah diampuni[7], pen.)[8]

Allahu Akbar! Betapa indah sabda Rasulullah n mengiringi pengorbanan Utsman bin Affan z. Allah l terima infak itu, Allah l pelihara dengan tangan kanan-Nya yang mulia dan Dia lipat gandakan pahala untuknya.

Di antara keutamaan ‘Utsman bin ‘Affan z, Allah l jamin jannah atasnya bersama sembilan orang lainnya. Rasulullah n bersabda:

وَعُثْمَانُ فِي الْجَنَّةِ

“… Dan ‘Utsman di jannah….” Al-Hadits[9]

Sebagian kecil keutamaan di atas cukup sebagai dalil yang muhkam –pasti– atas keutamaan Utsman bin ‘Affan z. Di atas keyakinan inilah Ahlus Sunnah wal Jama’ah beragama.

 

Fitnah itu akan terjadi

Wafatnya Umar bin Al-Khaththab z[10] adalah awal kemunculan fitnah. Umar z adalah pintu yang menutup fitnah. Begitu pintu dipatahkan, gelombang fitnah akan terus menimpa umat ini, sebagaimana ditunjukkan dalam hadits Hudzaifah bin Al-Yaman z dalam Shahihain.[11]

Pernahkah terbayang bahwa Utsman z akan dibunuh dalam keadaan terzalimi? Mungkin kita tidak membayangkannya. Tetapi demi Allah l, Utsman bin Affan z telah mengetahui dirinya akan terbunuh, dengan kabar yang diperolehnya dari kekasih Allah l, Muhammad bin Abdillah n.

Ahmad bin Hanbal t dalam Musnad-nya meriwayatkan dari Abdullah bin Umar z, beliau berkata:

ذَكَرَ رَسُولُ الله n فِتْنَةً، فَمَرَّ رَجُلٌ فَقَالَ: يُقْتَلُ فِيْهَا هَذَا الْمُقَنِّعُ يَوْمَئِذٍ. قَالَ: فَنَظَرْتُ فَإِذَا هُوَ عُثْمَانُ بْنُ عَفَّانَ

“Rasulullah n pernah menyebutkan sebuah fitnah, lalu lewatlah seseorang. Beliau bersabda: “Pada fitnah itu, orang yang bertutup kepala ini akan terbunuh.” Berkata Ibnu ‘Umar:” Akupun melihat (orang itu), ternyata ia adalah ‘Utsman bin ‘Affan.”[12]

Segala yang terjadi di muka bumi ini telah Allah l tetapkan dan catat dalam Lauhul Mahfuzh. Sebagian dari takdir, Allah l beritahukan kepada Rasul-Nya n, termasuk berita terbunuhnya ‘Utsman bin ‘Affan z dalam keadaan syahid. Utsman z menunggu saat-saat itu dengan penuh ridha dan keyakinan.

Rasulullah n mengiringi berita tersebut dengan wasiat tentang apa yang harus dilakukan saat fitnah menerpa, sebagaimana akan kita lalui bersama sebagian riwayat tersebut. Maka berjalanlah Utsman z dalam menghadapi fitnah tersebut dengan memegang teguh wasiat Rasulullah n.

 

Abdullah bin Saba’ di balik wafatnya Utsman bin Affan z

Abdullah bin Saba’ atau Ibnu As-Sauda’ adalah seorang Yahudi yang menampakkan keislaman di masa ‘Utsman bin ‘Affan z. Dia muncul di tengah-tengah muslimin dengan membawa makar yang sangat membahayakan, menebar bara fitnah untuk memecah-belah barisan kaum muslimin.[13]

Tidak mudah memang bagi Ibnu Saba’ menyalakan api di tengah kejayaan Islam, di tengah kekuasaan Islam yang telah meluas ke seluruh penjuru timur dan barat, di saat muslimin memiliki kewibawaan di mata musuh-musuhnya kala itu. Namun setan tak pernah henti mengajak manusia menuju jalan-jalan kesesatan, sebagaimana Iblis telah berkata di hadapan Allah l:

Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” (Al-A’raf: 16-17)

Ibnu Saba’ memulai makarnya bersama para pendukungnya dengan menanamkan kebencian pada khalifah ‘Utsman bin Affan z di tengah kaum yang dungu lagi bodoh. Tujuannya pasti: Memudarkan kemulian-kemuliaan ‘Utsman bin Affan z di hadapan manusia dan menjatuhkan kewibawaan khalifah.

Kenapa orang-orang bodoh yang dituju? Karena mereka itulah kaum yang tidak mengerti siapa Utsman z. Mereka pula kelompok yang mudah disetir hawa nafsunya. Demikianlah gaya dan model pemberontak. Sebelum menggulingkan penguasa, mereka sebarkan kejelekan di tengah orang-orang bodoh, membuat arus bawah yang sukar untuk dibendung.

Kaki Ibnu Sauda’ yang penuh kebengisan dan kedengkian pada syariat Allah l menjelajah negeri. Fitnahnya dia mulai dari Hijaz; Makkah, Madinah, Thaif, lalu Bashrah, lalu Kufah. Kemudian masuklah ia ke wilayah Damaskus (Syam). Usaha demi usaha dia tempuh di sana, namun impian belum mampu ia wujudkan. Dia tidak kuasa menyalakan api kebencian terhadap khalifah ‘Utsman z di tengah-tengah kaum muslimin di negeri-negeri tersebut, hingga penduduk Syam mengusirnya.

Dengan segala kebusukan, pergilah Ibnu Saba’ ke Mesir. Di sanalah dia dapatkan tempat berdiam. Di tempat baru inilah dia dapatkan lahan subur untuk membangun makar besarnya, menggulingkan khalifah Utsman z dan merusak agama Islam.

Mulai Ibnu Saba’ leluasa menghubungi munafiqin dan orang-orang yang berpenyakit, hingga terkumpul massa dari penduduk Mesir dan Irak guna membantu makarnya. Bersama pembantu-pembantunya, dia sebarkan keyakinan-keyakinan menyimpang serta tuduhan-tuduhan dusta atas khalifah di tengah-tengah kaum yang bodoh lagi menyimpan kemunafikan. Hingga suatu saat nanti, terwujudlah cita-citanya: menumpahkan darah khalifah dan memecah-belah barisan muslimin.[14]

 

Syubhat-syubhat Ibnu Saba’ untuk menjatuhkan kehormatan Utsman bin Affan z

Mereka yang mengetahui kemuliaan Utsman z dari sabda Rasulullah n tidak akan terpengaruh hasutan Ibnu Saba’, sehingga tidaklah mengherankan kalau dia tidak berhasil melakukan makarnya di tengah-tengah ahli Madinah atau Makkah. Berbeda keadaannya di Mesir, ia berhasil menebar syubhat-syubhat berisi celaan kepada Utsman bin ‘Affan z, yang seandainya diketahui hakikatnya justru merupakan keutamaan dan pujian atas Utsman bin Affan z. Namun ketika gelombang fitnah telah menggulung dan sabda Rasulullah tidak lagi dihiraukan, banyak di antara juhhal (orang-orang bodoh) berjatuhan menjadi korban.

Pada kesempatan yang sangat terbatas ini, kita cukupkan dua syubhat beserta jawabannya sebagai gambaran atas kebodohan dan jauhnya kaum pemberontak dari ilmu.[15]

Syubhat pertama: ‘Utsman z tidak mengikuti perang Badr. Ini merupakan aib (cela) bagi Utsman, maka tidak pantas ia menjadi khalifah.

Utsman bin Affan z memang tidak mengikuti perang Badr, Ramadhan 2 H. Akan tetapi tidak ikutnya beliau dalam perang Badr bukanlah aib sebagaimana sahabat-sahabat lain yang tidak mengikutinya juga tidak mendapat celaan. Karena pada perang Badr Rasulullah n tidak mengharuskan sahabat untuk menyertai beliau. Terlebih lagi jika kita mengetahui sebab tidak ikutnya Utsman dalam perang Badr.

Dalam perang Badr, Rasulullah n memerintahkan Utsman untuk tetap di rumah merawat istrinya, Ruqayyah, putri Rasulullah n. Maka jawablah dengan jujur: “Pantaskah seorang yang melaksanakan perintah Rasul n kemudian dicela dengan sebab itu?”

Bahkan sebaliknya, dengan melaksanakan perintah Rasul beliau mendapat keutamaan taat di samping beliau juga mendapatkan keutamaan ahlu Badr dan pahala mereka. Oleh karena itu, Rasulullah n mengikutsertakan Utsman z dalam ghanimah Badr.

Suatu saat, seorang Khawarij bertanya kepada Abdullah bin ‘Umar c di Masjidil Haram: “Wahai Ibnu ‘Umar, apakah ‘Utsman mengikuti perang Badr?” Ibnu ‘Umar z menjawab: “Tidak.” Maka dengan girangnya dia berseru: “Allahu Akbar!” –seolah-olah dia dapatkan kebenaran celaan atas Utsman bin ‘Affan z–. Dengan segera Ibnu ‘Umar z berkata kepadanya: “Adapun ketidakhadiran Utsman dalam perang Badr karena putri Rasulullah n –istrinya– sakit, (Rasul perintahkan untuk merawatnya) dan beliau bersabda:

إِنَّ لَكَ أَجْرَ رَجُلٍ مِمَّنْ شَهِدَ بَدْرًا وَسَهْمَهُ

“Sesungguhnya bagimu pahala mereka yang mengikuti perang Badr dan bagimu pula bagian ghanimah.”[16]

Atas dasar ini, ulama tarikh seperti Az-Zuhri, ‘Urwah bin Az-Zubair, Musa bin ‘Uqbah, Ibnu Ishaq, dan lainnya memasukkan Utsman bin Affan z dalam barisan ahlu Badr (orang-orang yang mengikuti perang Badr).

Syubhat kedua: Utsman z membuat ladang khusus untuk unta-unta sedekah. Ladang tersebut terlarang untuk selain unta sedekah. Kaum Khawarij menuduh perbuatan ini sebagai kezaliman, kebid’ahan, dan kedustaan atas nama Allah l.

Ketika ahlu Mesir –para pemberontak– mendatangi Utsman bin Affan z mereka berkata: “Bukalah surat Yunus dan bacalah.” Lalu mereka hentikan bacaan Utsman z ketika sampai pada ayat:

Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku tentang rezeki yang diturunkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan (sebagiannya) halal.” Katakanlah: “Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu (tentang ini) atau kamu mengada-adakan saja terhadap Allah?” (Yunus: 59)

Mereka berkata: “Berhenti kamu! Lihatlah apa yang telah kau perbuat. Engkau membuat tanah terlarang yang dibatasi. Apakah Allah l telah memberikan izin kepadamu (tentang ini) atau kamu mengada-adakan saja terhadap Allah l? ”

Utsman z menjawab: “Bukan dalam masalah tersebut ayat ini diturunkan! Sungguh Umar bin Al-Khaththab z telah melakukannya sebelumku, membatasi tanah khusus untuk unta-unta zakat, lalu aku menambahnya karena unta sedekah semakin bertambah banyak.”

Bantahan Utsman z ibarat batu yang dilemparkan ke dalam mulut-mulut pemberontak. Mereka tidak mampu membalas jawaban Utsman z karena ternyata beliau tidak melakukan kebid’ahan. Bahkan hal itu telah dilakukan Nabi n dan Umar bin Al-Khaththab z sebelumnya, yang semua itu tidak lain untuk kepentingan kaum muslimin, menjaga unta-unta zakat.

 

Ahlu Mesir dan Irak terprovokasi untuk memberontak Khalifah

Masa besar dari penduduk Mesir dan Irak terkumpul, terbawa arus syubhat Ibnu Saba’. Mereka menuju Madinah dalam keadaan membenci khalifah, bahkan bertekad menggulingkan kekhilafahannya karena menurut mereka khalifah telah berkhianat.

Dalam perjalanan menuju Madinah, mereka mendengar bahwa Utsman bin ‘Affan z berada di luar Madinah, maka mereka bersegera menemui ‘Utsman bin ‘Affan z, di awal-awal bulan Dzulqa’dah 35 H.

Dengan penuh kearifan, keteduhan, dan kasih sayang, Utsman menemui mereka, dan terjadilah dialog ilmiah, membantah syubhat-syubhat juhhal. Dengan taufik Allah l, Utsman z mendinginkan hati-hati mereka yang membara. Beliau juga membuat kesepakatan-kesepakatan dan perdamaian yang menentramkan jiwa mereka. Mereka pun ridha untuk kembali ke negeri mereka.[17]

 

Meninggalkan Utsman dan kisah surat palsu

Masa yang tadinya penuh kebencian, merasa puas dengan jawaban-jawaban ‘Utsman dan kesepakatan tersebut. Mereka pun pergi untuk kembali ke negeri mereka.

Kenyataan ini membuat geram para penyulut fitnah. Mereka memutar otak dan mencari-cari jalan menyalakan kembali api kebencian yang sempat padam yang sudah sangat lama mereka nanti. Dalam keadaan itu, segera mereka munculkan makar berikutnya yang demikian keji, yaitu: Surat palsu berisi kedustaan atas ‘Utsman bin Affan z.

Dalam perjalanan kembali ke Mesir, mereka berpapasan dengan seorang penunggang unta. Dia menampakkan bahwa dirinya melarikan diri, seolah-olah berkata: “Tangkaplah aku.” Mereka pun menangkapnya dan bertanya: “Ada apa dengan engkau?” Dia katakan: “Aku utusan Amirul Mukminin kepada amir Mesir.” Segera mereka periksa orang ini hingga didapatkan padanya sebuah surat atas nama ‘Utsman bin Affan z, berisi perintah kepada amir Mesir agar menyalib, membunuh, dan memotong-motong tangan orang-orang Mesir setibanya mereka dari Madinah.[18]

 

Kembali ke Madinah melakukan pengepungan

Dengan adanya surat palsu tersebut, api kebencian kepada khalifah kembali berkobar dalam dada-dada kaum yang bodoh. Mereka kembali menuju Madinah kemudian mereka kepung kediaman khalifah Ar-Rasyid Utsman bin Affan z. Mereka tidak lagi memercayai ‘Utsman z meskipun telah bersumpah bahwasanya beliau tidak pernah mengetahui apalagi menulis surat tersebut.

Tahukah kita apa yang diperbuat bughat pada orang termulia di muka bumi saat itu dan ahli jannah yang masih bernafas di dunia? Mereka paksa Utsman z untuk melepaskan kekhilafahannya. Terwujudlah apa yang disabdakan Rasulullah n puluhan tahun silam akan datangnya masa di mana Utsman bin Affan z dipaksa melepas kekhilafahan.

Dengan tanpa kasih sayang, mereka halangi Utsman untuk shalat di Masjid Nabawi padahal beliaulah yang memperluas masjid di masa Rasulullah n. Mereka halangi Utsman untuk minum dari air segar sumur Ar-Rumah yang beliau wakafkan untuk kaum muslimin. Caci-maki dan cercaan tertuju kepada beliau.

Demikiankah Islam mengajarkan untuk berbuat kepada seorang sahabat mulia, yang menghabiskan masa hidupnya untuk membela Rasulullah n, meninggikan kalimat Allah l? Demikiankah balasan kepada seorang sahabat yang matanya tak pernah kering dari air mata karena takutnya kepada Allah l? Demikiankah Islam mengajarkan untuk bersikap kepada seorang yang telah senja, di umurnya yang ke-83? Itukah kasih sayang? Demikiankah jihad? Laa haula wala quwwata illa billah! Tidak ada yang mampu kita ucapkan melainkan: Hasbunallahu wa ni’mal wakil.

 

Pembelaan sahabat

Sejatinya para sahabat berkehendak membela Utsman bin Affan z. Bahkan banyak di antara mereka menemani khalifah di rumahnya hingga hari terakhir pengepungan. Riwayat-riwayat yang shahih menunjukkan kedatangan banyak sahabat mengusulkan pembelaan dari kaum bughat. Di antara mereka adalah: Haritsah bin Nu’man, Al-Mughirah bin Syu’bah, Abdullah bin Az-Zubair, Zaid bin Tsabit, Al-Hasan bin ‘Ali, Abu Hurairah, dan lainnya, g.

Namun Utsman bin Affan z telah mengambil sebuah keputusan dan sikap yang merupakan wasiat Rasulullah n untuk bersabar dan tidak melepaskan kekhilafahan. Beliau tetap kokoh memegang sunnah (wasiat) Rasulullah saat api fitnah telah berkobar di hadapannya. Abu Hurairah z sempat datang dengan pedangnya untuk melakukan pembelaan. Namun Utsman z berkata: “Wahai Abu Hurairah, sukakah engkau jika banyak manusia terbunuh dan aku juga terbunuh? Sungguh demi Allah l, seandainya engkau membunuh seorang manusia, seakan-akan engkau membunuh manusia seluruhnya.” Pergilah Abu Hurairah z melaksanakan nasihat ‘Utsman z.[19]

Dari Rasulullah n, Utsman mengetahui syahadah yang akan diperolehnya. Suatu hari Rasulullah n memanggil Utsman. Beliau n bisikkan rahasia akan apa yang akan menimpanya dan apa yang seharusnya dilakukan saat fitnah menimpa. Rahasia itu memang tidak banyak tersingkap, melainkan beberapa yang dikabarkan Utsman bin ‘Affan z di hari pengepungan.

Al-Imam Ahmad t dalam Al-Musnad (6/51-52) meriwayatkan bahwa saat sahabat menawarkan Utsman bin Affan z untuk memerangi pemberontak, mereka berkata: “Wahai Amirul Mukminin, tidakkah engkau perangi mereka?” Dengan penuh keyakinan beliau katakan:

لَا، إِنَّ رَسُولَ اللهِ عَهِدَ إِلَيَّ عَهْدًا، وَإِنِّي صَابِرٌ نَفْسِي عَلَيْهِ

“Tidak (aku tidak akan perangi mereka), karena sesungguhnya Rasulullah n telah mengambil janji dariku, dan aku sabar di atas janji itu.”[20]

Berkali-kali sahabat Rasulullah n menawarkan perang melawan pemberontak. Dengan penuh kearifan Utsman menolak, dan mengingatkan mereka untuk taat kepadanya sebagai khalifah. Suatu ketaatan yang telah Allah l perintahkan atas mereka.

Saudaraku, rahimakumullah. Sekali lagi kita ingatkan, bahwasanya keputusan Utsman bin ‘Affan z, bukanlah kelemahan beliau. Bukan pula ketidakberanian sahabat untuk melakukan peperangan. Tetapi, semua keputusan dan sikap Utsman z sesungguhnya adalah bagian dari wasiat Rasulullah n kepadanya.

Mungkin ada di antara kita bertanya, kenapa Utsman tidak melepaskan kekhilafahan agar terhindar dari fitnah ini? Bukankah kaum pemberontak tidaklah yang mereka inginkan kecuali menggulingkan Utsman dari kekhilafahan?

Ketahuilah, hal ini pun telah Rasulullah n wasiatkan dalam hadits yang shahih. Rasul n bersabda:

وَإِنْ سَأَلُوكَ أَنْ تَنْخَلِعَ مِنْ قَمِيْصٍ قَمَّصَكَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ فَلَا تَفْعَلْ

“Dan jika mereka (pemberontak) memaksamu untuk melepaskan pakaian yang Allah l pakaikan kepadamu (yakni kekhilafahan), janganlah engkau lakukan.”[21]

Dari riwayat-riwayat shahih terkait dengan fitnah pembunuhan Utsman bin Affan z, disimpulkan bahwa sikap yang beliau pilih sesungguhnya kembali pada beberapa alasan. Di antaranya:

  1. Wasiat Rasulullah n kepada ‘Utsman z untuk tidak melepaskan kekhilafahan dan menghadapi fitnah dengan kesabaran.
  2. Beliau tidak ingin menjadi orang yang pertama kali menumpahkan darah kaum muslimin, dan menjadi penyebab peperangan di antara mereka. Sebagaimana tampak dalam riwayat Ahmad dalam Al-Musnad, beliau berkata:

لَنْ أَكُونَ أَوَّلَ مِنْ خَلْفِ رَسُولِ اللهِ فِي أُمَّتِهِ بِسَفْكِ الدِّمَاءِ

“Aku tidak ingin menjadi orang pertama sesudah Rasulullah yang menyebabkan pertumpahan darah di tengah umatnya.”[22]

  1. Utsman yakin bahwa yang dimaukan pemberontak adalah dirinya, maka beliau tidak ingin menjadikan kaum muslimin sebagai tameng. Sebaliknya, beliau ingin menjadi tameng untuk kaum muslimin agar tidak terjadi pertumpahan darah di tengah mereka.
  2. Utsman yakin bahwa fitnah akan redam dengan wafatnya beliau, sebagaimana kabar yang Rasulullah n sabdakan. Beliau z juga merasa waktunya telah dekat di saat beliau berumur 83 tahun, diperkuat dengan mimpinya bertemu Rasulullah n di hari pengepungan.
  3. Nasihat Abdullah bin Salam z kepada beliau. Abdullah berkata:

الْكَفُّ، الْكَفُّ، فَإِنَّهُ أَبْلَغُ لَكَ فِي الْحُجَّةِ

“Tahanlah, tahanlah (dari peperangan) karena dengan itu hujjahmu lebih mendalam.”

 

Syahadah yang Rasulullah n kabarkan itu diraih Utsman bin Affan z

Pagi, Jum’at 12 Dzulhijjah, 35 H, di saat sebagian besar sahabat menunaikan ibadah haji, pengepungan berlanjut. Hari itu ‘Utsman z berpuasa, setelah di malam harinya bertemu Rasulullah n, dan dua sahabatnya: Abu Bakar serta ‘Umar, dalam mimpi yang membahagiakan. Di mimpi itu Rasulullah n bersabda: “Wahai ‘Utsman, berbukalah bersama kami.” Utsman pun terbangun dan berpuasa.

Pagi itu Utsman berada di rumah bersama sejumlah sahabat yang terus bersikukuh hendak membela beliau dari kezaliman bughat. Di antara mereka adalah Al-Hasan bin ‘Ali, ‘Abdullah bin Umar, Abdullah bin Az-Zubair, Abdullah bin ‘Amir bin Rabi’ah, dan sejumlah sahabat lainnya g.

Dengan sangat, Utsman bin ‘Affan z meminta mereka untuk keluar dari rumah, menjauhkan diri dari fitnah. Amirul Mukminin melarang para sahabat melakukan pembelaan dengan peperangan. Beliau tidak ingin terjadi pertumpahan darah di tengah-tengah kaum muslimin hanya dengan sebab beliau. Beliau tidak ingin ada sahabat-sahabat lain terbunuh dalam fitnah ini.

Setelah permintaan Utsman z yang sangat kepada para sahabat, akhirnya mereka meninggalkan rumah Amirul Mukminin hingga tidak ada yang tersisa kecuali keluarga Utsman termasuk istri beliau, Na’ilah bintu Furafishah.

Amirul Mukminin, Utsman bin ‘Affan z tetap di atas wasiat Rasul n untuk tidak melepaskan kekhilafahan, baju yang telah Allah l pakaikan untuknya. Beliau pun tetap meminta sahabat untuk tidak melakukan perlawanan, mengingat besarnya fitnah dan khawatir darah kaum muslimin tertumpah. Inilah sikap yang terbaik: kesabaran, keyakinan, dan keteguhan di atas petunjuk Rasulullah n.

Utsman z, beliau duduk bersimpuh di hadapan mushaf. Beliau z membacanya dalam keadaan berpuasa di hari itu. Tubuh yang telah tua, rambut yang telah memutih, kulit yang telah mengeriput, usia yang telah dihabiskan untuk Allah l, berjihad menegakkan kalimat Allah l di muka bumi, kini duduk mentadaburi kalam Rabbul ‘Alamin. Beliau z perintahkan untuk membuka pintu rumah dengan harapan para pengepung tidak berbuat sekehendak hati mereka ketika menyaksikan beliau beribadah kepada Allah l, membaca Al-Qur’an.

Tetapi mereka ternyata orang yang telah keras hatinya. Dalam suasana pengepungan dan kekacauan, masuklah seseorang hendak membunuh khalifah. Utsman z pun berkata mengingatkan: “Wahai fulan, di antara aku dan dirimu ada Kitabullah!” Diapun pergi meninggalkan Utsman, hingga datang orang lain dari bani Sadus. Dengan penuh keberingasan, dia cekik leher khalifah yang telah rapuh hingga sesak dada beliau dan terengah-engah nafas beliau, lalu dia tebaskan pedang ke arah Utsman bin ‘Affan z. Amirul Mukminin menlindungi diri dari pedang dengan tangannya yang mulia, hingga terputus bercucuran darah. Saat itu Utsman berkata:

أَمَا وَاللهِ، إِنَّهَا لَأَوَّلُ كَفٍّ خَطَّتِ الْمُفَصَّلَ

“Demi Allah l, tangan (yang kau potong ini) adalah tangan pertama yang mencatat surat-surat mufashshal.”

Ya… beliau adalah pencatat wahyu Allah l dari lisan Rasulullah n. Namun ucapan Utsman yang sesungguhnya nasihat –bagi orang yang memiliki hati– tidak lagi dihiraukan. Darah mengalir pada mushaf tepat mengenai firman Allah l:

“Maka Allah l akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dialah Yang Maha mendengar lagi Maha mengetahui.” (Al-Baqarah: 137)

Bukan hanya itu, jari jemari Na’ilah bintu Furafishah terpotong saat melindungi suaminya dari tebasan pedang kaum bughatSubhanallah, cermin kesetiaan istri shalihah menghiasi tragedi berdarah di negeri Rasulullah n.

Utsman bin ‘Affan z wafat. Terwujudlah sabda Rasulullah n puluhan tahun silam. Ketika itu, beliau n bersama dengan Abu Bakr, Umar, dan Utsman di atas Uhud, tiba-tiba Uhud bergoncang. Rasul pun bersabda:

اثْبُتْ أُحُدٌ، فَإِنَّمَا عَلَيْكَ نَبِيٌّ وَصِدِّيقٌ وَشَهِيدَانِ

“Diamlah wahai Uhud, yang berada di atasmu adalah seorang nabi, seorang shiddiq, dan dua orang syahid.”[23]

Allahu Akbar! Berbukalah Utsman bin Affan z bersama Rasulullah n sebagaimana mimpinya di malam itu. Ta’bir mimpi pun tersingkap sudah. Wafatlah khalifah Ar-Rasyid, di hari Jum’at, dalam usia 83 tahun. Pergilah manusia termulia saat itu menemui ridha Allah l dan ampunan-Nya. Menuju jannah-Nya.

Seusai pembunuhan, berteriaklah laki-laki hitam pembunuh ‘Utsman z, mengangkat dan membentangkan dua tangannya seraya berkata “Akulah yang membunuh Na’tsal! “[24]

Nasyhadu an-La ilaha illallah, wa anna Muhammadan Rasulullah! Sabda Rasulullah n bahwa Utsman akan meraih jannah dengan cobaan yang menimpanya benar-benar terjadi. Abu Musa Al-Asy’ari z mengatakan bahwa:

أَنَّ النَّبِي أَمَرَهُ أَنْ يُبَشِّرَ عُثْمَانَ بِالْجَنَّة عَلَى بَلْوَى تُصِيْبُهُ

“Rasulullah n memerintahkan Abu Musa untuk memberi kabar gembira kepada Utsman dengan jannah, dengan ujian yang akan menimpanya.”[25]

 

Akhir kehidupan pembunuh-pembunuh ‘Utsman bin ‘Affan z

Orang-orang yang memberontak Utsman z dan memiliki andil dalam pembunuhan khalifah yang terzalimi mendapat hukuman pedih dari Allah l. Demikianlah akibat bagi mereka yang memusuhi wali-wali Allah l. Benarlah firman Allah l dalam sebuah hadits Qudsi:

مَنْ عَادَ لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ

“Barangsiapa menyakiti wali-Ku, sungguh Aku umumkan perang dengannya…”[26]

Adalah Khurqush bin Zuhair As-Sa’di dibunuh oleh ‘Ali bin Abi Thalib z pada perang Nahrawan tahun 39 H.

‘Alba’ bin Haitsam As-Sadusi dibunuh pada perang Jamal.

Amr bin Al-Hamaq Al-Khuza’i hidup hingga tahun 51 H, ia ditikam.

‘Umair bin Dhabi’ yang mematahkan tulang rusuk ‘Utsman z, hidup hingga zaman Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi, dia pun dibunuh. Demikian pula para pembunuh ‘Utsman z yang selain mereka.[27]

Wallahu a’lam.


[1] Diriwayatkan Ibnu Sa’d dalam At-Thabaqat (3/81), Sa’id bin Manshur dalam As-Sunan (2/335) dengan sanad shahih dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah z.

[2] Pemberontak.

[3] Nama lain dari kota Madinah.

[4] HR. Muslim dalam Ash-Shahih no. 2401.

[5] Ahmad dalam Az-Zuhd (hal. 42) dan At-Tirmidzi dalam As-Sunan (4/553) dengan sanad hasan.

[6] Ahmad (1/74-75), At-Tirmidzi (5/625-627), dishahihkan Ahmad Syakir dalam ta’liq beliau terhadap Al-Musnad.

[7] Demikian diterangkan Al-Mubarakfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi.

[8] At-Tirmidzi dalam As-Sunan no. 3701.

[9] Abu Dawud dalam As-Sunan no. 4649.

[10] Beliau mendapatkan syahadah sebagaimana dikabarkan Rasulullah n. Beliau dibunuh Abu Lu’lu’ Al-Majusi di tahun 23 H.

[11] Lihat Shahih Al-Bukhari no. 1435 dan Shahih Muslim no. 144.

[12] Al-Musnad (2/115), dan dengan tahqiq Asy-Syaikh Ahmad Syakir pada jilid 8, hal. 171.

[13] Hakikat keberadaannya dapat dilihat pada Kajian Utama: Kontroversi Ibnu Saba Al-Yahudi.

[14] Ibnu Saba’ Haqiqah La Khayal hal. 5-6, karya Dr. Sa’di Al-Hasyimi dengan beberapa perubahan.

[15] Syubhat-syubhat lainnya dapat dilihat dalam risalah Fitnah Maqtali ‘Utsman (1/68-136), karya Dr. Muhammad bin Abdullah Ghabban, cet. Al-Jami’ah Al-Islamiyah, 2003 M.

[16] Lihat riwayat-riwayatnya dalam Shahih Al-Bukhari, dengan Fathul Bari (7/54) At-Tirmidzi dalam As-Sunan (5/629).

[17] Kesepakatan-kesepakatan tersebut sengaja tidak dinukilkan mengingat keterbatasan ruang. Selengkapnya lihat Fitnah Maqtal ‘Utsman (1/153-157).

[18] Diriwayatkan Khalifah bin Khayyath dalam At-Tarikh (hal. 168-169) dengan sanad yang hasan.

[19] At-Thabaqat Al-Kubra (3/70), dengan sanad shahih.

[20] Ahmad dalam Al-Musnad (6/51-52).

[21] Al-Humaidi dalam Al-Musnad (1/130), At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah.

[22] Al-Musnad (1/196) dengan tahqiq Asy-Syaikh Ahmad Syakir, Tarikh Baghdad (14/272).

[23] Shahih Al-Bukhari no. 3675.

[24] Diriwayatkan Ibnu Sa’d dalam At-Thabaqat (3/83-84), Ali bin Al-Ja’d dalam Al-Musnad (2/908-909) dengan sanad yang hasan.

[25] Al-Bukhari (7/21-22, 43, 52-52) dengan syarah Fathul Bari.

[26] Diriwayatkan Al-Bukhari dalam Ash-Shahih no. 6502 dan Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya’ (1/4) dari Abu Hurairah z.

[27] Diringkas dari catatan kaki Muhibbudin Al-Khathib atas kitab Al-Muntaqa min Minhajil I’tidal hal. 241-242.

Kehangatan di Sela Santapan

(ditulis oleh: Ummu ‘Abdirrahman bintu ‘Imran)

 

Siapa yang tak ingin anak-anaknya menjadi qurratul ‘ain, penyejuk mata, penyenang hati? Qurratul ‘ainberarti menyaksikan mereka selalu beramal shalih. Siapa pun yang menginginkan hal ini tentu harus berupaya untuk mewujudkannya dengan membiasakan anak-anak untuk melakukan amal shalih dan adab-adab yang mulia.

Begitu pula yang dikatakan oleh sahabat yang mulia, ‘Ali bin Abi Thalib z:

أَدِّبُوْهُمْ، عَلِّمُوْهُمْ

“Ajarilah mereka adab dan ajarilah mereka ilmu.”

Di antara adab yang penting diketahui oleh anak-anak adalah adab makan. Bagaimana tidak. Dengan menerapkan adab ketika makan, mereka akan mendapatkan banyak kebaikan. Di antaranya akan terjauhkan dari musuh utama manusia, yaitu setan, juga akan terbiasa hidup dengan tuntunan Rasulullah n. Dengan ittiba’ ini, kita berharap mereka akan mendapat kebahagiaan di akhirat nanti.

 

Makan bersama

Membiasakan anak-anak makan bersama dalam satu hidangan akan menumbuhkan suasana hangat dan akrab di antara mereka. Lebih bagus lagi jika kita bisa menyertai mereka makan. Akan terbina kedekatan kita dengan mereka. Selain itu, saat-saat ini adalah saat yang tepat untuk mengajarkan adab makan kepada mereka secara langsung dalam pengamalan. Kita pun akan melihat langsung jika ada kekeliruan yang mereka lakukan dalam adab-adab makan, sehingga dapat memberikan teguran sesegera mungkin. Pengajaran dan peringatan secara langsung seperti ini, diharapkan akan lebih mengena dan tertanam dalam pribadi mereka.

Lebih dari itu, makan bersama lebih berbarakah. Dikisahkan pula oleh Wahsyi bin Harb z:

أَنَّ أَصْحَابَ رَسُولِ اللهِ n قَالُوا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، إِنَّا نَأْكُلُ وَلاَ نَشْبَعُ؟ قَالَ: فَلَعَلَّكُمْ تَفْتَرِقُوْنَ. قَالُوا: نَعَمْ. قَالَ: فَاجْتَمِعُوا عَلَى طَعَامِكُمْ ، وَاذْكُرُوا اسْمَ اللهِ ، يُبَارَكْ لَكُمْ فِيْهِ

“Para sahabat Rasulullah mengeluh kepada beliau, ‘Wahai Rasulullah, kami ini makan, tapi tidak merasa kenyang!’ ‘Barangkali kalian makan sendiri-sendiri,’ kata Rasulullah. ‘Iya,’ jawab mereka. Beliau pun mengatakan, ‘Berkumpullah pada makanan kalian dan sebutlah nama Allah, niscaya kalian akan diberkahi pada makanan itu’.”(HR. Abu Dawud no. 3764 dihasankan oleh Al-Imam Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud)

Dinukilkan pula oleh Abu Hurairah z bahwa Rasulullah n pernah bersabda:

طَعَامُ الْاِثْنَيْنِ كَافِي الثَّلاَثَةِ، وَطَعَامُ الثَّلاَثَةِ كَافِي الْأَرْبَعَةِ

“Makanan dua orang bisa mencukupi tiga orang, dan makanan tiga orang bisa mencukupi empat orang.” (HR. Al-Bukhari no. 5392 dan Muslim no. 2058)

Jabir bin ‘Abdillah c juga mengatakan bahwa Rasulullah n pernah bersabda:

طَعَامُ الْوَاحِدِ يَكْفِي الْاِثْنَيْنِ، وَطَعَامُ الْاِثْنَيْنِ يَكْفِي الْأَرْبَعَةَ، وَطَعَامُ الْأَرْبَعَةِ يَكْفِي الثَّمَانِيَةَ

“Makanan satu orang bisa mencukupi dua orang, makanan dua orang bisa mencukupi empat orang, dan makanan empat orang bisa mencukupi delapan orang.” (HR. Muslim no. 2059)

 

Mengucapkan basmalah ketika akan makan

Di awal kali ketika hendak makan, kita ingatkan anak-anak agar tidak lupa membaca basmalah. Ini merupakan satu hal penting yang harus diajarkan kepada anak. Rasulullah n sendiri mengajarkan hal ini kepada ‘Umar bin Abi Salamah c, putra Ummu Salamah x yang ada dalam asuhan beliau. Saat itu ‘Umar bin Abi Salamah sedang makan bersama Rasulullah n. Dia menceritakan:

كُنْتُ فِي حَجْرِ رَسُوْلِ اللهِ n وَكَانَتْ يَدِي تَطِيْشُ فِي الصَّحْفَةِ، فَقَالَ لِي: يَا غُلاَمُ، سَمِّ اللهَ وَكُلْ بِيَمِيْنِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيْكَ

Dulu aku berada dalam asuhan Rasulullah n. Ketika makan, tanganku berkeliling di piring. Lalu beliau mengatakan padaku, ‘Nak, ucapkan bismillah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah makanan yang dekat denganmu!” (HR. Al-Bukhari no.5376 dan Muslim no.2022)

Demikianlah contoh pendidikan Rasulullah n. Beliau tak pernah meninggalkan satu kesempatan untuk memberikan pelajaran, kecuali pasti beliau berikan pengajaran. Sampaipun kepada seorang anak kecil. (Syarh Riyadhish Shalihin, 2/571)

Hendaknya kita berikan pula penjelasan pada mereka bahwa jika seseorang mengucapkan basmalah ketika makan, maka setan tidak akan menyertainya makan. Berbeda dengan orang yang tidak mengucapkan basmalah, setan akan menyertainya makan. Dalam hadits yang disampaikan oleh Jabir z Rasulullah n bersabda:

إِذَا دَخَلَ الرَّجُلُ بَيْتَهُ فَذَكَرَ اللهَ عِنْدَ دُخُوْلِهِ وَعِنْدَ طَعَامِهِ، قَالَ الشَّيْطَانُ: لاَ مَبِيْتَ لَكُمْ وَلاَ عَشَاءَ. وَإِذَا دَخَلَ فَلَمْ يَذْكُرِ اللهَ عِنْدَ دُخُوْلِهِ، قَالَ الشَّيْطَانُ: أَدْرَكْتُمُ الْمَبِيْتَ. وَإِذَا لَمْ يَذْكُرِ اللهَ عِنْدَ طَعَامِهِ، قَالَ: أَدْرَكْتُمُ الْمَبِيْتَ وَالْعَشَاءَ

“Jika seseorang masuk rumahnya dan berdzikir kepada Allah saat masuk dan makannya, setan akan mengatakan pada teman-temannya, ‘Tidak ada tempat bermalam dan makan malam bagi kalian.’ Namun jika dia masuk rumah tanpa berdzikir kepada Allah ketika masuknya, setan akan mengatakan, ‘Kalian mendapatkan tempat bermalam.’ Jika dia tidak berdzikir kepada Allah ketika makan, setan akan mengatakan, ‘Kalian mendapatkan tempat bermalam dan makan malam.’ (HR. Muslim no. 2018)

Hudzaifah z juga pernah menceritakan:

كُنَّا إِذَا حَضَرْنَا مَعَ النَّبِيِّ n طَعَامًا لَمْ نَضَعْ أَيْدِيَنَا، حَتَّى يَبْدَأَ رَسُوْلُ اللهِ n فَيَضَعَ يَدَهُ. وَإِنَّا حَضَرْنَا مَعَهُ مَرَّةً طَعَامًا. فَجَاءَتْ جَارِيَةٌ كَأَنَّهَا تُدْفَعُ، فَذَهَبَتْ لِتَضَعَ يَدَهَا فِى الطَّعَامِ، فَأَخَذَ رَسُوْلُ اللهِ n بِيَدِهَا. ثُمَّ جَاءَ أَعْرَبِيٌّ كَأَنَّمَا يُدْفَعُ، فَأَخَذَ بِيَدِهِ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ n: إِنَّ الشَّيْطَانَ يَسْتَحِلُّ الطَّعَامَ أَنْ لاَ يُذْكَرَ اسْمُ اللهِ عَلَيْهِ، وَإِنَّهُ جَاءَ بِهَذِهِ الْجَارِيَةِ لِيَسْتَحِلَّ بِهَا. فَأَخَذْتُ بِيَدِهَا. فَجَاءَ بِهَذَا الْأَعْرَبِيِّ لِيَسْتَحِلَّ بِهِ فَأَخَذْتُ بِيَدِهِ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، إِنَّ يَدَهُ فِي يَدِي مَعَ يَدِهَا

“Biasanya kalau dihidangkan makanan di hadapan kami bersama Nabi n, kami tidak pernah meletakkan tangan kami (untuk menyentuh hidangan itu) sampai Rasulullah memulai meletakkan tangan beliau. Suatu ketika, dihidangkan makanan di hadapan kami bersama beliau. Tiba-tiba datang seorang budak perempuan, seakan-akan dia terdorong(karena cepatnya –pen), lalu meletakkan tangannya di hidangan itu. Rasulullah n langsung memegang tangannya. Setelah itu, datang seorang A’rabi, seakan-akan dia terdorong. Rasulullah n pun menahan tangannya. Kemudian beliau bersabda, ‘Sesungguhnya setan menghalalkan makanan yang tidak disebut nama Allah atasnya. Tadi dia datang bersama budak perempuan itu untuk mendapatkan makanan dengannya, maka aku pegang tangannya. Lalu dia datang lagi bersama A’rabi tadi untuk mendapatkan makanan dengannya, maka aku pun memegang tangannya. Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, sungguh tangan setan berada dalam genggamanku bersama tanganjariyah itu.’ ” (HR. Muslim no. 2017)

Jika ternyata anak lupa membaca basmalah ketika hendak makan, kita ajarkan untuk mengucapkan:

بِسْمِ اللهِ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ

ketika dia ingat. Demikian yang diajarkan oleh Rasulullah n, sebagaimana dalam hadits yang disampaikan oleh ‘Aisyah x, beliau bersabda:

إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَذْكُرِ اسْمَ اللهِ تَعَالَى، فَإِنْ نَسِيَ أَنْ يَذْكُرَ اسْمَ اللهِ تَعَالَى فِي أَوَّلِهِ، فَلْيَقُلْ: بِسْمِ اللهِ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ

“Jika salah seorang di antara kalian makan, hendaknya dia menyebut nama Allah. Jika dia lupa mengucapkan basmalah di awalnya, maka hendaknya dia ucapkan, ‘Dengan nama Allah pada awal dan akhirnya’.” (HR. Abu Dawud no. 3767, dishahihkan oleh Al-Imam Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud)

 

Makan dengan tangan kanan

Ini juga merupakan adab makan yang diajarkan oleh Rasulullah n kepada ‘Umar bin Abi Salamah z. Beliau mengatakan:

يَا غُلاَمُ، سَمِّ اللهَ وَكُلْ بِيَمِيْنِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيْكَ

‘Nak, ucapkan bismillah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah makanan yang dekat denganmu!”(HR. Al-Bukhari no. 5376 dan Muslim no. 2022)

Rasulullah n juga melarang makan dan minum dengan tangan kiri, karena ini merupakan kebiasaan setan. Dalam hadits dari ‘Abdullah bin ‘Umar c, beliau bersabda:

إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَأْكُلْ بِيَمِيْنِهِ، وَإِذَا شَرِبَ فَلْيَشْرَبْ بِيَمِيْنِهِ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَأْكُلُ وَيَشْرَبُ بِشِمَالِهِ

“Jika salah seorang dari kalian makan, makanlah dengan tangan kanannya. Dan jika dia minum, minumlah dengan tangan kanannya, karena sesungguhnya setan itu makan dan minum dengan tangan kirinya.” (HR. Muslim no. 2020)

Kita ajari pula anak-anak untuk tidak meremehkan hal ini, karena biasanya anak-anak kurang memperhatikan dengan tangan apa mereka menyuapkan makanan. Kita ingatkan mereka bahwa meremehkan ajaran Rasulullah n akan membinasakan kita di dunia dan di akhirat. Untuk menguatkan pengajaran ini, kita sampaikan kisah yang terjadi di masa Rasulullah n yang disampaikan oleh Salamah ibnul Akwa’ z. Dia menuturkan:

أَنَّ رَجُلاً أَكَلَ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ n بِشِمَالِهِ فَقَالَ: كُلْ بِيَمِيْنِكَ. قَالَ: لاَ أَسْتَطِيْعُ. قَالَ: لاَ اسْتَطَعْتَ. مَا مَنَعَهُ إِلاَّ الْكِبْرُ، فَمَا رَفَعَهَا إِلَى فِيْهِ

“Ada seseorang yang makan di sisi Rasulullah n dengan tangan kirinya, maka Rasulullah pun menegur, ‘Makanlah dengan tangan kananmu!’ ‘Aku tidak bisa!’ jawab orang tadi. Beliau bersabda, ‘Kamu benar-benar tidak bisa!’ Tidak ada yang menghalangi orang itu kecuali kesombongan. Maka dia pun tidak dapat mengangkat tangannya ke mulutnya.” (HR. Muslim no. 2021)

 

Makan dari yang dekat dengannya

Kadang anak tidak memperhatikan makanan mana yang dia ambil. Tangannya bisa berkelana mengambil bagian yang dekat dengan saudaranya. Hal ini terkadang bisa menimbulkan keributan di antara mereka, apalagi jika mereka masih kanak-kanak.

Jika melihat ada di antara anak-anak yang melakukan seperti ini, kita hendaknya menegur dengan baik, bahwa termasuk adab makan adalah makan bagian makanan yang dekat dengannya. Begitulah yang diajarkan Rasulullah n kepada ‘Umar bin Abi Salamah ketika ‘Umar melakukan perbuatan seperti itu:

كُنْتُ فِي حَجْرِ رَسُوْلِ اللهِ n وَكَانَتْ يَدِي تَطِيْشُ فِي الصَّحْفَةِ، فَقَالَ لِي: يَا غُلاَمُ، سَمِّ اللهَ وَكُلْ بِيَمِيْنِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيْكَ

Dulu aku berada dalam asuhan Rasulullah n. Ketika makan, tanganku berkeliling di piring hidangan. Lalu beliaumengatakan padaku, ‘Nak, ucapkan bismillah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah makanan yang dekat denganmu!” (HR. Al-Bukhari no. 5376 dan Muslim no. 2022)

 

Memungut makanan yang berjatuhan

Sering terjadi, makanan berjatuhan dan berceceran ketika anak makan. Baik karena ketidaksengajaan ataupun karena keterbatasan kemampuan si anak yang masih dalam tahap belajar makan sendiri. Kita yang melihat hal itu tidak selayaknya berdiam diri. Kita minta anak-anak untuk memunguti makanan yang berjatuhan itu, membersihkannya, lalu memakannya.

Begitu pula sisa-sisa makanan, butiran nasi, remah-remah makanan dan semacamnya yang tersisa di piring hidangan. Terkadang anak-anak enggan memunguti atau memakannya. Sebaiknyalah kita hasung mereka untuk membersihkan piring hidangan (Jawa: ngoreti –pen) dan memungut sisa makanan yang ada di situ, sembari diiringi penjelasan bahwa Rasulullah n memerintahkan demikian.

Sebagaimana dikatakan oleh Anas bin Malik z bahwa Rasulullah n bersabda:

إِذَا سَقَطَتْ لُقْمَةُ أَحَدِكُمْ فَلْيُمِطْ عَنْهَا الْأَذَى، وَلْيَأْكُلْهَا، وَلاَ يَدَعْهَا لِلشَّيْطَانِ. وَأَمَرَنَا أَنْ نَسْلُتَ الْقَصْعَةَ، قَالَ: فَإِنَّكُمْ لاَ تَدْرُوْنَ فِي أَيِّ طَعَامِكُمُ الْبَرَكَةُ

“Jika jatuh suapan salah seorang di antara kalian, hendaknya ia memungutnya dan membersihkan kotoran yang menempel padanya, lalu memakannya, dan jangan dia biarkan suapan itu untuk setan.” Beliau juga memerintahkan kami untuk membersihkan piring hidangan. Beliau mengatakan, “Sesungguhnya kalian tidak mengetahui di mana barakah makanan kalian.” (HR. Muslim no. 2034)

 

Tidak boleh mencela makanan

Namanya anak-anak, mereka memiliki selera makan tersendiri. Bisa jadi makanan yang tersaji tidak mereka sukai atau kurang mengundang selera mereka. Kadang spontan mereka memberi tanggapan, “Uh… makanannya tidak enak!” “Aku tidak suka makanan ini!” dan ucapan-ucapan serupa.

Menghadapi seperti ini, kita ingatkan anak-anak untuk bersyukur atas pemberian Allah l berupa makanan yang ada. Kita ingatkan pula bahwa mereka jauh lebih beruntung daripada saudara-saudara mereka yang tak memperoleh nikmat sebagaimana yang mereka dapatkan. Seharusnyalah mereka merasa cukup dengan pemberian Allah l. Rasulullah n pernah mengatakan dalam sabda beliau yang disampaikan oleh ‘Abdullah bin ‘Amr z:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ، وَرُزِقَ كَفَافًا، وَقَنَّعَهُ اللهُ بِمَا آتَاهُ

“Beruntunglah seseorang yang masuk Islam, lalu dia diberi rezeki yang cukup, kemudian Allah berikan pula rasa cukup atas pemberian-Nya.” (HR. Muslim no. 1054)

Kita jelaskan, jika mereka tak menyukai suatu makanan, tidak boleh mencelanya dan cukup mereka tinggalkan. Demikian yang dicontohkan oleh Rasulullah n dan dituturkan hal ini oleh Abu Hurairah z:

مَا عَابَ رَسُولُ اللهِ n طَعَامًا قَطُّ، إِنِ اشْتَهَاهُ أَكَلَهُ، وَإِنْ كَرِهَهُ تَرَكَهُ

“Rasulullah tak pernah sama sekali mencela makanan. Jika beliau suka, maka beliau makan. Jika beliau tidak suka, maka beliau tinggalkan.” (HR. Al-Bukhari no. 5409 dan Muslim no. 2064)

 

Jangan sampai kekenyangan

Makan di saat lapar, atau saat menghadapi hidangan yang disukai atau membuat berselera, kadang anak-anak lupa diri. Mereka makan hingga kekenyangan. Karena itu, perlulah kita ingatkan mereka agar tidak makan hingga kekenyangan. Rasulullah n pernah bersabda:

مَا مَلَأَ ابْنُ آدَمَ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنِهِ، بِحَسْبِ ابْنُ آدَمَ أَكْلاَتٍ يُقِمْنَ صُلْبَهُ ، فَإِنْ لاَ مُحَالَةَ فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ وَثُلُثٌ لِشَرَابِهِ وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ

“Tidaklah anak Adam memenuhi bejana yang lebih jelek daripada perutnya. Cukuplah bagi anak Adam itu beberapa suapan yang dapat menegakkan tulang punggungnya. Jika itu tidak mungkin dia lakukan, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya dan sepertiga untuk nafasnya.” (HR. At-Tirmidzi no. 2380, dishahihkan oleh Al-Imam Al-Albani dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi)

 

Menjilati jari-jemari setelah makan

Entah makan nasi, kue atau makanan lainnya, seringkali anak-anak merasa risih dengan sisa makanan yang menempel di jari-jemarinya. Kadang mereka segera mencuci tangan setelah selesai makan. Ada pula yang mengelapnya dengan serbet atau tisu, atau kadang anak yang lebih kecil cenderung mengibas-ngibaskan tangan atau mengusapnya di bajunya.

Untuk itu, kita perlu membimbing mereka sehingga mendapatkan yang lebih baik daripada itu semua. Kita sampaikan bimbingan Rasulullah n yang dinukilkan oleh Abdullah bin ‘Abbas c. Beliau n bersabda:

إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ طَعَامًا، فَلاَ يَمْسَحْ أَصَابِعَهُ حَتَّى يَلْعَقَهَا أَوْ يُلْعِقَهَا

“Bila salah seorang di antara kalian makan, janganlah segera mengusap jari-jemarinya sampai dia jilat atau dia berikan pada orang lain untuk dijilat.” (HR. Al-Bukhari no. 5456 dan Muslim no. 2031)

 

Jangan minum dengan sekali teguk

Sesuatu yang lazim dilakukan anak-anak setelah makan adalah minum. Kadangkala didorong oleh rasa haus dan yang lainnya, anak-anak meneguk air di gelas tanpa henti hingga berakhir terengah-engah. Atau kalaupun bernapas, mereka enggan melepaskan mulut gelas dari mulutnya, sehingga napasnya terhembus di dalam gelas.

Karena itu, tak sepantasnya hal-hal seperti ini luput dari perhatian kita. Kita ajari mereka contoh dari Rasulullah n, sebagaimana yang disampaikan oleh Anas bin Malik z:

كَانَ رَسُولُ اللهِ n يَتَنَفَّسُ فِي الشَّرَابِ ثَلاَثًا، وَيَقُوْلُ: إِنَّهُ أَرْوَى وَأْبَرَأَ وَأَمْرَأَ. قَالَ أَنَسٌ: فَأَنَا أَتَنَفَّسُ فِي الشَّرَابِ ثَلاَثًا

“Rasulullah biasa bernapas ketika minum sebanyak tiga kali, dan beliau mengatakan, ‘Sesungguhnya yang demikian itu lebih memuaskan, lebih menghilangkan dahaga, dan lebih mudah ditelan.’ Anas pun mengatakan, ‘Maka aku pun bernapas tiga kali ketika minum’.” (HR. Muslim no. 2028)

Tentu saja bernapas ini di luar gelas, karena beliau sendiri melarang untuk bernapas atau meniup di dalam gelas. Hal ini dituturkan oleh Abu Qatadah z:

أَنَّ النَّبِيَّ n نَهَى أَنْ يُتَنَفَّسَ فِي الْإِنَاءِ

“Rasulullah melarang bernapas di dalam bejana.” (HR. Al-Bukhari no. 5630 dan Muslim no. 2035)

Hal ini disebutkan pula oleh Al-Imam An-Nawawi ketika memberikan bab pada hadits di atas: بَاب كَرَاهَةِ التَّنَفُّسِ فِي نَفْسِ الإِنَاءِ وَاسْتِحْبَابِ التَّنَفُّسِ ثَلاَثًا خَارِجَ الإِنَاءِ (Bab tentang dibencinya bernapas di dalam bejana dan disenanginya bernapas tiga kali di luar bejana).

 

Bersyukur dan memuji Allah ketika selesai makan

Usai bersantap, jangan lupa kita ingatkan anak-anak untuk bersyukur kepada Allah atas nikmat-Nya berupa makanan yang telah dinikmati. Ajarkan anak-anak untuk mengucapkan hamdalah sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah n.

Abu Umamah z meriwayatkan bahwa Nabi n jika telah diangkat hidangan, beliau mengucapkan:

الْحَمْدُ لِلهِ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ غَيْرَ مَكْفِيٍّ وَلاَ مُوَدَّعٍ وَلاَ مُسْتَغْنًى عَنْهُ رَبَّنَا

“Segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, baik dan berkah pada-Nya. Dia tidak membutuhkan pemberian makanan dari makhluk-Nya (karena Dia yang memberikan makanan), tidak ditinggalkan dan tidak ada satu makhluk pun yang merasa tidak membutuhkan-Nya, wahai Rabb kami.” (HR. Al-Bukhari no. 5458)

Mu’adz bin Anas z juga meriwayatkan bahwa Rasulullah n bersabda:

مَنْ أَكَلَ طَعَامًا فَقَالَ: الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِي أَطْعَمَنِي هَذَا الطَّعَامَ، وَرَزَقَنِيْهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّي وَلاَ قُوَّةٍ؛ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa makan makanan, lalu mengucapkan: ‘Segala puji bagi Allah yang telah memberikan makanan ini padaku dan merezekikannya untukku tanpa daya dan kekuatan dari diriku’, akan diampuni dosanya yang telah lalu.”(HR. Abu Dawud no. 4023, dihasankan oleh Al-Imam Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud)

 

Masih banyak yang tersisa berkaitan dengan adab-adab makan yang perlu kita ajarkan. Namun setidaknya, ini merupakan pengingat bagi kita, orang tua, ketika menyaksikan hal-hal yang seringkali kita jumpai saat anak-anak kita bersantap, agar tidak berdiam diri.

Yang lebih utama dan menjadi bagian penting dalam pengajaran adab terhadap anak-anak adalah contoh dan teladan dari diri kita, orangtua mereka. Pada diri kita mereka bercermin, mengamati nilai benar atau salah dalam setiap perilaku kita.

Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.

Haid dan Shalat

Kita tahu, syariat telah menetapkan bahwa wanita yang sedang haid haram mengerjakan ibadah shalat. Kalau toh si wanita tetap mengerjakannya maka shalatnya tidak sah. Karenanya Rasulullah n bersabda kepada Fathimah bintu Abi Hubaisy x:

فَإِذَا أَقبَلَتْ حَيضَتُكِ فَدَعِي الصَّلاَةَ، وَإِذَا أَدبَرَتْ فَاغْسِلِي عَنْكِ الدَّمَ ثُمَّ صَلِّي

“Apabila datang haidmu tinggalkanlah shalat, dan bila telah berlalu mandilah kemudian shalatlah.” (HR. Al-Bukhari no. 228 dan Muslim no. 751)

Rasulullah n juga bersabda menjelaskan sebab wanita dikatakan kurang agamanya:

أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تَصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ؟

“Bukankah bila si wanita haid ia tidak shalat dan tidak puasa?” (HR. Al-Bukhari no. 304)

Shalat yang ditinggalkan selama masa haid tersebut tidak wajib diqadha. Tidak ada yang menyelisihi hal ini kecuali Khawarij, namun penyelisihan mereka tidaklah teranggap. Karenanya, ketika Mu’adzah, seorang wanita tabi’in, bertanya kepada Aisyah x:

ماَ بَالُ الْحَائِضِ تَقْضِي الصَّوْمَ وَلاَ تَقْضِي الصَّلاَةَ؟ فَقَالَت: أَحَرُوْرِيَّةٌ أَنْتِ؟ قُلتُ: لَسْتُ بِحَرُوْرِيَّةٍ وَلَكِنِّي أَسأَلُ. قَالَتْ: كَانَ يُصِيبُنَا ذَلِكَ فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ وَلاَ نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلاَةِ.

Kenapa wanita haid mengqadha puasa tapi tidak mengqadha shalat? Berkatalah Aisyah, “Apakah engkau wanita Haruriyyah[1]?” Aku menjawab, “Aku bukan wanita Haruriyyah, aku hanya bertanya[2].” Aisyah berkata, “Dulu kami ditimpa haid, maka kami diperintah untuk mengqadha puasa dan tidak diperintah mengqadha shalat.” (HR. Al-Bukhari no. 321 dan Muslim no. 761)

 

Mendapati suci sebelum habis waktu shalat

Mayoritas ahlul ilmi berpendapat wajib bagi wanita yang semula haid kemudian mendapati suci sebelum habis waktu sebuah shalat fardhu untuk mengerjakan shalat fardhu tersebut. Misalnya, ia suci 20 menit sebelum keluar waktu dhuhur (untuk kemudian masuk waktu ashar), berarti ia wajib mengerjakan shalat dhuhur karena ia sempat mendapatinya dalam keadaan haidnya telah berhenti/selesai. Namun, ahlul ilmi ini berbeda pendapat tentang persyaratan mandi dan wudhu sebelum keluarnya waktu shalat tersebut. Mereka terbagi dalam dua pendapat:

 

Pertama: shalat tersebut baru wajib ditunaikan dengan syarat telah selesai mandi suci.

Maka bila si wanita mendapati dirinya suci dari haid pada akhir waktu shalat dengan kadar waktu yang tidak memungkinkan baginya untuk menyelesaikan mandi dan wudhu[3], tanpa ia mengulur-ulur waktu dan bermalas-malasan tentunya, maka tidak wajib baginya mengerjakan shalat yang telah keluar waktunya tersebut dan tidak pula mengqadhanya. Demikian pendapat Al-Imam Malik (Al-Kafi, 1/162), Al-Auza’i dan madzhab Zhahiriyyah.

Berkata Ibnu Hazm t, “Apabila seorang wanita telah suci pada akhir waktu shalat dengan kadar yang tidak memungkinkan baginya untuk mandi dan wudhu hingga habis waktu shalat, maka dia tidak wajib menunaikan shalat tersebut dan tidak pula mengqadhanya. Demikian pendapat Al-Auza’i dan teman-teman kami (madzhab Zhahiriyyah). Al-Imam Asy-Syafi’i dan Ahmad berkata, “Wajib bagi si wanita untuk mengerjakan shalat tersebut.” Abu Muhammad (kunyah Ibnu Hazm) berkata, “Bukti benarnya pendapat kami adalah Allah k tidak membolehkan seseorang mengerjakan shalat kecuali dengan thaharah (bersuci), sementara Allah telah menetapkan batasan waktu-waktu shalat. Maka, bila tidak memungkinkan bagi seorang wanita untuk berthaharah setelah suci dari haidnya dalam waktu shalat yang tersisa, kami di atas keyakinan bahwa si wanita tidak dibebani untuk mengerjakan shalat yang telah keluar waktunya tersebut. Karena saat ia mendapati sisa waktunya, ia belum berthaharah sehingga belum boleh menunaikannya.” (Al-Muhalla, 1/395)

 

Kedua: Shalat yang masih didapati waktunya tersebut telah wajib ditunaikan si wanita sejak saat ia melihat dirinya telah suci[4], tanpa membedakan apakah ia bersegera mandi atau bermalas-malasan mandi hingga keluar waktu shalat tersebut. Demikian pendapat madzhab Hanabilah (Al-Mughni), satu pendapat dalam madzhab Syafi’iyyah (Al-Majmu’, 3/69), pendapat Ats-Tsauri dan Qatadah. (Al Ausath, 2/248)

Argumen mereka adalah:

1. Ketika suci, si wanita berarti termasuk orang-orang yang wajib menunaikan shalat fardhu, hanya saja yang tersisa adalah mandinya. Setelah mandi suci baru ia menunaikan shalat fardhu yang tadi sempat didapatinya, sama saja apakah masih tersisa waktu shalat tersebut atau telah habis/keluar waktunya. (Al-Ausath, 2/248)

2. Mengamalkan zahir hadits Nabi n:

مَن أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنَ الصُّبْحِ قَبْلَ أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ فَقَدْ أَدْرَكَ الصُّبْحَ، وَمَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنَ الْعَصْرِ قَبْلَ أَنْ تَغْرُبَ الشَّمْسُ فَقَدْ أَدْرَكَ الصَّلاَة

“Siapa yang mendapati satu rakaat dari shalat subuh sebelum matahari terbit maka sungguh ia telah mendapati subuh tersebut[5], dan siapa yang mendapati satu rakaat dari shalat ashar sebelum matahari tenggelam maka sungguh ia telah mendapati shalat ashar tersebut[6].” (HR. Al-Bukhari no. 579 dan Muslim no. 1373)

Al-Imam An-Nawawi t berkata, “Bila seseorang yang semula tidak wajib menunaikan shalat mendapati satu rakaat dari waktu shalat tersebut, maka wajib baginya menunaikan shalat tersebut. Hal ini berlaku pada anak kecil yang kemudian baligh, orang gila dan orang pingsan yang sadar dari gila atau pingsannya, wanita haid dan nifas yang telah suci, dan orang kafir yang masuk Islam. Siapa di antara mereka ini mendapati satu rakaat sebelum keluar/habis waktu shalat, wajib baginya mengerjakan shalat tersebut. Namun bila salah satu dari mereka mendapati kurang dari satu rakaat seperti hanya mendapati satu takbir, maka dalam hal ini ada dua pendapat Al-Imam Asy-Syafi’i t[7]. Pertama, tidak wajib mengerjakan shalat tersebut berdasarkan apa yang dipahami dari hadits di atas. Namun yang paling shahih dari dua pendapat yang ada menurut teman-teman kami (pengikut madzhab Syafi’iyyah) adalah tetap wajib menunaikan shalat tersebut, karena ia telah mendapati satu bagian dari shalat maka sama saja antara yang sedikitnya dengan yang banyaknya. Juga dipersyaratkan shalat itu dipandang dengan kesempurnaannya (dilihat secara utuh) menurut kesepakatan, maka sepantasnya tidak dibedakan antara satu takbir dengan satu rakaat.” (Al-Minhaj, 5/108)

Dari perbedaan pendapat yang ada, wallahu a’lam, kami lebih tenang kepada pendapat kedua, karena dalilnya lebih kuat dan lebih hati-hati. Pendapat ini yang dikuatkan oleh Fadhilatusy Syaikh Muhammad ibnu Shalih Al-Utsaimin t. Beliau menyatakan, tidak wajib bagi wanita yang suci dari haid mengerjakan satu shalat fardhu terkecuali ia mendapati waktunya sekadar satu rakaat yang sempurna. Bila demikian, wajib baginya mengerjakan shalat fardhu tersebut.

Misalnya, seorang wanita suci dari haid sebelum terbit matahari[8] sekadar satu rakaat. Maka, wajib baginya setelah mandi mengerjakan shalat subuh karena ia sempat mendapati satu bagian dari waktunya yang memungkinkan untuk mengerjakan satu rakaat. Namun bila ia mendapati sisa waktu shalat kurang dari satu rakaat (tidak memungkinkan untuk mengerjakan satu rakaat yang sempurna) seperti ia suci sesaat sebelum terbit matahari, maka shalat subuh tidak wajib ditunaikannya berdasarkan sabda Nabi n:

مَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنَ الصَّلاَةِ فَقَدْ أَدْرَكَ الصَّلاَةَ

“Siapa yang mendapati satu rakaat dari shalat maka sungguh ia telah mendapati shalat tersebut.” (Muttafaqun alaihi)

Yang dipahami dari hadits di atas adalah orang yang mendapati kurang dari satu rakaat, kemudian waktu shalat habis, berarti ia tidak mendapati shalat. (Majmu’ Fatawa wa Rasa’il Fadhilatusy Syaikh Ibnu Utsaimin, 11/309)

Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan t ketika menjelaskan hadits Rasulullah n:

مَن أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنَ الصُّبْحِ قَبْلَ أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ فَقَدْ أَدْرَكَ الصُّبْحَ، وَمَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنَ الْعَصْرِ قَبْلَ أَنْ تَغْرُبَ الشَّمْسُ فَقَدْ أَدْرَكَ الصَّلاَةَ

 

Beliau berkata, “Hadits di atas menunjukkan penunaian shalat tidak tercapai kecuali bila mendapati satu rakaatnya sebelum keluar waktunya. Siapa yang mendapati kurang dari satu rakaat, berarti ia tidak mendapati shalat pada waktunya. Ini merupakan pendapat jumhur ahlul ilmi, dan pendapat Syafi’iyah dan Malikiyah sebagaimana dalam Al-Majmu’ (3/67) dan Mawahibul Jalil (1/407).

Sekelompok ulama berpendapat, bila sempat didapatkan takbiratul ihram berarti didapatkan shalat tersebut. Dengan demikian, menurut pendapat ini, bila seseorang telah bertakbiratul ihram sebelum habis waktu shalat berarti ia mendapati shalat tersebut pada waktunya, karena ia masuk dalam amalan shalat masih dalam batasan waktunya. Ini merupakan pendapat Hanabilah dan Hanafiyah sebagaimana dalam Al-Inshaf (1/439) danHasyiyah Ibnu Abidin (2/63).

Akan tetapi yang rajih adalah pendapat yang mengatakan tidak didapatkan shalat pada waktunya terkecuali bila sempat didapatkan satu rakaat yang sempurna, karena pendapat inilah yang ditunjukkan oleh hadits-hadits.” (Tas-hilul Ilmam fi Fiqh lil Ahadits min Bulughil Maram, 2/31)

 

Apakah ada keharusan menjamak dengan shalat yang sebelumnya?

Bila wanita haid telah suci pada waktu shalat ashar atau isya misalnya, apakah ia wajib mengerjakan shalat sebelum ashar yaitu dhuhur atau shalat sebelum isya yaitu maghrib?

Dalam hal ini ada dua pendapat di kalangan ulama.

Pertama: selain wajib baginya mengerjakan shalat yang masih didapatkannya waktunya yaitu ashar atau isya, ia juga wajib mengerjakan shalat fardhu yang sebelumnya, yaitu dhuhur dijamak dengan ashar, atau maghrib dijamak dengan isya. Demikian pendapat yang dipegangi madzhab Malikiyah (Al-Kafi, 1/162) Syafi’iyah (Al-Majmu’ 3/69), Hanabilah (Al-Mughni, Kitabush Shalah, fashl Man shalla qablal waqt) dan pendapat Thawus, An-Nakha’i, Mujahid, Az-Zuhri, Rabi’ah, Al-Laits, Abu Tsaur, Ishaq, Al-Hakm dan Al-Auza’i. (Al-Mughni Kitabush Shalah, fashl Man shalla qablal waqtAl-Ausath 2/244)

Namun kalau sucinya waktu subuh, atau dhuhur atau maghrib maka tidak ada kewajiban baginya menjamaknya dengan shalat fardhu sebelumnya, karena tidak ada jamak dalam penunaian shalat subuh dan tidak ada penjamakan dhuhur dengan shalat sebelumnya. Demikian pula maghrib dengan shalat sebelumnya.

Mereka berdalil dengan:

1. Atsar yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas c dan Abdurrahman bin Auf z tentang wanita haid yang suci sebelum terbit fajar (sebelum masuk waktu subuh) dengan kadar satu rakaat (dia bisa mengerjakan shalat sebelumnya -pent.), maka ia menunaikan shalat maghrib dan isya. Bila sucinya sebelum matahari tenggelam, ia mengerjakan shalat ashar dan dhuhur bersama-sama (dijamak)[9].

2. Karena waktu shalat yang kedua (yaitu ashar bila dihadapkan dengan dhuhur, atau isya bila dihadapkan dengan maghrib) merupakan waktu shalat yang pertama tatkala ada uzur, seperti ketika dijamak dalam keadaan safar, atau saat hujan???, atau ketika di Muzdalifah. Misalnya ia menjamak shalat saat safar dengan jamak ta’khir, maka berarti ia mengerjakan shalat dhuhur di waktu ashar, atau shalat maghrib di waktu isya.

 

Kedua: Tidak ada kewajiban bagi si wanita untuk mengerjakan shalat yang sebelumnya. Bila ia suci di waktu ashar berarti ia hanya mengerjakan shalat ashar dan tidak ada kewajiban mengerjakan shalat dhuhur. Demikian pula bila ia suci di waktu isya, berarti ia hanya mengerjakan isya. Demikian pendapat dalam madzhab Hanafiyah (Al-Mabsuth, 3/15), Zhahiriyah (Al-Muhalla), pendapat Al-Hasan, Qatadah, Hammad ibnu Abi Sulaiman, Sufyan Ats-Tsauri (Al-Ausath 2/245, Al-MughniKitabush Shalah, fashl Man shalla qablal waqt ) dan pendapat yang dipilih oleh Ibnul Mundzir (Al-Ausath, 2/245).

Argumen mereka sebagai berikut:

1. Waktu shalat yang pertama telah habis tatkala ia masih beruzur (belum suci dari haidnya) maka ia tidak wajib menunaikannya. Sebagaimana bila ia tidak mendapati waktu shalat kedua, ia pun tidak mengerjakannya. (Al-Mughni, Kitabush Shalah, fashl Man shalla qablal waqt)

2. Sabda Rasulullah n:

وَمَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنَ الْعَصْرِ قَبْلَ أَنْ تَغْرُبَ الشَّمْسُ فَقَدْ أَدْرَكَ الصَّلاَةَ

merupakan dalil bahwa yang didapatinya adalah shalat ashar saja, bukan shalat dhuhur. (Al-Ausath, 2/245)

Dari dua pendapat yang ada, yang lebih kuat dari sisi dalil adalah pendapat kedua. Fadhilatusy Syaikh Muhammad ibnu Shalih Al-Utsaimin t menyatakan siapa yang mendapati satu rakaat shalat ashar maka tidak wajib baginya mengerjakan shalat dhuhur. Bila ada wanita yang suci dari haid sebelum tenggelam matahari dengan kadar ia bisa mendapati satu rakaat shalat ashar dengan sempurna atau bahkan dua atau tiga, maka wajib baginya mengerjakan shalat ashar tersebut, dan menurut pendapat yang rajih (kuat) tidak wajib baginya mengerjakan shalat dhuhur. Karena shalat dhuhur telah lewat dan telah habis waktunya pada saat si wanita belum termasuk orang yang wajib shalat (karena masih haid/belum suci). Seandainya shalat dhuhur tersebut wajib diqadha, niscaya akan diterangkan dalam Kitabullah atau Sunnah Rasulullah n. Rasulullah n dalam sabdanya:

وَمَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنَ الْعَصْرِ قَبْلَ أَنْ تَغْرُبَ الشَّمْسُ فَقَدْ أَدْرَكَ الصَّلاَةَ

hanya menyebutkan shalat ashar, dan tidak memperingatkan tentang kewajiban shalat yang sebelumnya yaitu dhuhur.

Kalau pun itu merupakan pendapat ulama, maka pendapat mereka bisa salah dan bisa benar. Dengan demikian, pendapat yang rajih adalah bila si wanita suci sebelum matahari tenggelam, tidak ada kewajiban baginya selain mengerjakan shalat ashar (dengan kadar bisa mendapati satu rakaat yang sempurna). Demikian pula bila ia suci sebelum berakhir waktu isya, tidak ada shalat yang wajib ditunaikannya selain shalat isya.

Adapun alasan mereka yang berpendapat adanya jamak dengan shalat yang sebelumnya karena dua shalat yang dijamak itu berserikat dalam waktu (dhuhur dengan ashar, maghrib dengan isya) maka dijawab: Sungguh ucapan mereka itu bertentangan dengan pendapat mereka yang mengatakan, jika seorang wanita ditimpa haid setelah masuk waktu dhuhur misalnya padahal ia belum sempat mengerjakan shalat dhuhur, maka saat suci nanti si wanita tidak wajib mengqadha selain shalat dhuhur, adapun shalat setelahnya (ashar) tidak wajib ditunaikannya.

Lalu apa bedanya hal ini?!

Bukankah mereka mengatakan dhuhur dan ashar berserikat dalam waktu saat ada uzur? (Fathur Dzil Jalali wal Ikram, 2/71-72)

Dalil lain yang menunjukkan tidak wajibnya menunaikan shalat yang sebelumnya adalah sabda Rasulullah n:

مَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنَ الصَّلاَةِ فَقَدْ أَدْرَكَ الصَّلاَةَ

“Siapa yang mendapati satu rakaat dari shalat maka sungguh ia telah mendapati shalat tersebut.” (Muttafaqun alaihi)

Huruf alif lam pada kata ash-shalah adalah lil ‘ahd (menunjukkan sesuatu yang sudah diketahui/tertentu) yakni seseorang mendapati satu rakaat dari shalat tertentu, bukan shalat yang sebelumnya karena sama sekali ia tidak dapatkan waktunya.

Sementara atsar dari sahabat, kalau memang shahih, maka dibawa kepada makna kehati-hatian saja, karena khawatir penghalang untuk mengerjakan shalat telah hilang sebelum habis waktu shalat yang pertama. Terlebih lagi keadaan haid, terkadang si wanita tidak menyadari ia telah suci dari haidnya terkecuali setelah lewat beberapa waktu. (Asy-Syarhul Mumti’, 2/135-136)

 

Tertimpa haid ketika telah masuk waktu shalat

Bila seorang wanita yang suci mendapati waktu shalat fardhu telah tiba, namun belum sempat mengerjakan shalat, ia ditimpa haid, apakah ada tuntutan baginya berkenaan dengan shalat tersebut saat suci nantinya? Ataukah ada uzur untuknya?

Dalam hal ini ahlul ilmi juga berbeda pendapat.

Pendapat pertama: ia wajib mengqadha shalat tersebut, tanpa membedakan apakah ia hanya sempat mendapati sesaat dari waktu shalat tersebut,sekadar hanya bisa bertakbiratul ihram, kemudian haid menimpanya ataukah lebih dari itu. Demikian pandangan dalam madzhab Hanabilah (Al-Mughni), pendapat Asy-Sya’bi, An-Nakha’i, Qatadah dan Ishaq (Al-Muhalla 1/394).

Dengan dalil, si wanita telah mendapati bagian dari waktu shalat maka wajib baginya mengerjakannya saat telah hilang uzurnya, sebagaimana kalau ia suci dan sempat mendapati sisa waktu shalat walaupun sesaat, maka shalat tersebut wajib ditunaikannya. (Al-Mughni)

Pendapat kedua: bila ia mendapati waktu yang cukup untuk mengerjakan shalat tersebut maka wajib baginya qadha saat suci nanti. Namun kalau waktunya tidak memungkinkan untuk menyempurnakan shalat maka tidak ada qadha baginya. Demikian yang dipegangi madzhab Syafi’iyah. (Al-Majmu’, 3/71)

Pendapat ketiga: tidak ada qadha baginya. Ini pendapat Zhahiriyah (Al-Muhalla, 1/394) dan pendapat yang dipilih Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (Majmu’ Fatawa, 23/335). Ini juga merupakan pendapat Hammad bin Abi Sulaiman, Ibnu Sirin dan Al-Auza’i (Al-Ausath 1/247, Al Muhalla).

Dalil mereka, Allah k menjadikan shalat itu memiliki waktu tertentu, ada awal dan ada akhirnya. Rasulullah n sendiri pernah mengerjakan shalat di awal waktu dan pernah pula di akhir waktu. Orang yang menunaikan shalat di akhir waktu tidaklah dianggap bermaksiat, karena Rasulullah n tidak mungkin melakukan maksiat. Bila demikian, ketika si wanita belum menunaikan shalat di awal waktunya, ia tidaklah disalahkan/dianggap berbuat maksiat. Bahkan hal itu boleh dilakukannya. Ketika ternyata sebelum shalat itu tertunaikan, haid menimpanya maka kewajiban shalat tersebut gugurdarinya. (Al-Muhalla 1/394-395, Majmu’ Fatawa, 23/335)

Kalau ada yang membandingkannya dengan orang yang lupa atau tertidur dari mengerjakan shalat hingga keluar waktunya[10], maka ini berbeda, kata Ibnu Taimiyah. Orang yang lupa atau ketiduran, bila memang ia tidak bersengaja menyia-nyiakan shalat, maka ia mengerjakan shalat tersebut saat ingat atau saat terbangun, sekalipun waktu shalat telah habis. Penunaian itu bukanlah teranggap qadha, tapi itulah waktu shalat baginya, sebagaimana sabda Rasulullah n, “Siapa yang tertidur dari menunaikan shalat atau ia terlupakan maka hendaklah ia shalat saat ingat, karena itulah waktu shalat baginya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)[11]

Fadhilatusy Syaikh Ibnu Utsaimin t menyatakan pendapat yang menetapkan tidak ada qadha bagi si wanita kuat sekali. Karena tidaklah ia bermaksud meremehkan shalat dengan sengaja mengulur-ulur pelaksanaannya hingga ia diharuskan mengqadha shalat yang sempat didapatinya tersebut. Bila si wanita tidak meremehkan shalat dan ia pun diizinkan menunda shalat selama masih dalam batasan waktunya, lalu bagaimana kita mengharuskannya melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak wajib baginya? Akan tetapi bila shalat tersebut diqadha maka itu lebih hati-hati. (Fathu Dzil Jalali wal Ikram, hal. 71)

Beliau t juga mengatakan, tidak didapatkan penukilan bahwa seorang wanita bila haid di tengah waktu shalat sementara ia belum sempat menunaikan shalat tersebut, ia diharuskan mengqadhanya. Hukum asal adalah bara’ah dzimmah. Ini merupakan alasan yang sangat kuat. Namun kalau toh si wanita mengqadhanya dalam rangka berhati-hati maka hal itu baik. Akan tetapi bila ia tidak mengqadhanya, ia tidak berdosa karena ia menunda shalat, tidak mengerjakannya di awal waktu dalam keadaan waktu shalat masih ada[12]. (Asy-Syarhul Mumti’, 2/131)

Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan t berkata, “Adapula satu masalah berkaitan dengan hadits ini[13] yaitu bila seseorang mendapati waktu shalat seperti shalat ashar misalnya atau waktu dhuhur kemudian dia terhalang oleh satu perkara yang membuatnya tidak bisa mengerjakan shalat tersebut seperti kematian atau seorang wanita haid sebelum sempat mengerjakan shalat, apakah si wanita harus mengqadha shalat yang sempat didapatinya di awal waktu sebelum akhirnya ia ditimpa haid?

Dalam hal ini ada dua pendapat ulama:

Pertama: ia tidak mengqadha karena diperkenankan baginya menunda pelaksanaan shalat dari awal waktunya.

Kedua: ia mengqadhanya karena ia sempat mendapati shalat tersebut di awal waktunya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t dalam Majmu’ Fatawa (23/334-335) menukilkan pendapat pertama dari Abu Hanifah dan Malik. Pendapat kedua beliau nukilkan dari Ahmad dan Asy-Syafi’i. Akan tetapi pendapat pertama lebih rajih/kuat, dengan alasan si wanita mengakhirkan shalat yang memang boleh baginya menundanya. Karena waktunya lapang/masih ada, lalu terjadi suatu perkara yang menghalanginya untuk menunaikan shalat yaitu haid yang bukan kemauannya sendiri, maka tidak wajib baginya mengqadha shalat. Demikian pula orang yang meninggal sementara telah masuk waktu shalat dalam keadaan ia belum sempat shalat, maka orang ini tak berdosa karena ia mengakhirkan shalat yang memang pada waktu yang diperkenankan.” (Tashilul Ilmam fi Fiqh lil Ahadits min Bulughil Maram, 2/31-32)

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.


[1] Harura adalah sebuah negeri yang berjarak dua mil dari Kufah. Haruri/haruriyah merupakan sebutan bagi orang yang meyakini madzhab Khawarij, karena kelompok pertama dari mereka memberontak pada Ali bin Abi Thalib z di negeri Harura ini. Keyakinan mereka yang disepakati di antara mereka adalah mengambil apa yang ditunjukkan oleh Al-Qur’an dan menolak secara mutlak tambahan yang disebutkan dalam hadits. Karena itulah Aisyah xbertanya kepada Mu’adzah dengan pertanyaan mengingkari. (Fathul Bari, 1/546)

[2] Karena menginginkan ilmu, bukan ingin menentang. (Fathul Bari, 1/546)

[3] Ia mendapati dirinya telah suci dari haid dalam keadaan masih tersisa waktu shalat namun ketika selesai mandi suci ternyata waktu shalat telah habis.

[4] Tentunya shalat tersebut baru ditunaikan setelah mandi suci. Kalau toh, waktu shalat tersebut telah habis ketika ia selesai mandi maka ia tetap menunaikannya.

[5] Bukan maksudnya ia cukup mengerjakan shalat subuh satu rakaat atau shalat ashar satu rakaat. Namun maknanya sekalipun ia hanya sempat mendapati waktu shalat sekadar menyelesaikan satu rakaat yang sempurna maka ia terhitung telah mendapati shalat secara sempurna, walaupun rakaat-rakaat yang berikutnya ia selesaikan dalam keadaan waktu shalat telah habis.

[6] Namun hadits ini jangan dipahami bahwa seseorang boleh menunda/mengakhirkan shalat ashar hingga tidak tersisa dari waktunya kecuali satu rakaat, atau boleh mengakhirkan shalat subuh hingga tidak tersisa dari waktunya kecuali satu rakaat. Yang semestinya dipahami dari hadits di atas adalah bila seseorang terhalang oleh suatu perkara, kelelahan yang sangat misalnya, hingga tidak mampu untuk segera mengerjakan shalat, atau merasa kesakitan dan menunggu sampai rasa sakit agak reda, atau uzur yang semisalnya –bukan karena malas, meremehkan dan sengaja mengulur-ulur waktu shalat sebagaimana perbuatan orang-orang munafik– hingga ketika tiba saatnya ia shalat, ia hanya mendapati kadar satu rakaat dari shalat tersebut setelah itu habis waktunya. Kami katakan kepada orang yang keadaannya demikian, “Engkau telah mendapati shalat tersebut sebagai keutamaan dari Allah k kepada hamba-hamba-Nya.” (Fathu Dzil Jalali wal Ikram bi Syarhi Bulughil Maram, Ibnu Utsaimin, hal. 71-72)

[7] Perbedaan pendapat ini akan dibicarakan kemudian.

[8] Sebagai tanda waktu subuh telah habis.

[9] Atsar dari Ibnu Abbas z ini diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannafnya (no. 7206) dan selainnya. Namun dilemahkan sanadnya oleh Ibnu At-Turkumani dalam Al-Jauhar An-Naqi, karena dhaifnya perawi yang bernama Yazid bin Abi Ziyad sebagaimana dalam At-Taqrib. Di samping itu, Yazid mudhtharib dalam atsar ini, terkadang ia meriwayatkan dari Miqsam dan terkadang dari Thawus.

Namun Yazid diikuti oleh Laits ibnu Abi Sulaim dari Thawus, dan Atha’ dari Ibnu Abbas z, dalam riwayat Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kurba(1/378). Akan tetapi Laits seorang rawi yang mukhtalith. Ibnu At-Turkumani juga mendhaifkan sanadnya.

Atsar yang kedua dari Abdurrahman bin Auf z, diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf (no. 7204) dan selainnya. Atsar ini dari maula Abdurrahman bin Auf, dari Abdurrahman, sama dengan atsar Ibnu Abbas. Kata Ibnu At Turkumani, maula Abdurrahman ini majhul. Abdurrazzaq juga meriwayatkannya dari Ibnu Juraij, ia berkata, “Telah disampaikan oleh seseorang dari Abdurrahman bin Auf…”

Dalam sanadnya kita lihat ada jahalah (hanya dikatakan seseorang tanpa dijelaskan siapa dia) sehingga sanadnya juga lemah. Wallahu a’lam. (catatan kaki Asy Syarhul Mumti’, hal. 133-134)

 

[10] Orang tersebut tetap wajib mengerjakan shalat yang luput darinya saat ia bangun atau saat ia ingat walaupun waktu shalat telah habis.

[11] Sehingga jelaslah perbedaan antara wanita yang tertimpa haid ketika waktu shalat telah masuk sementara ia belum sempat mengerjakan shalat tersebut, dengan orang yang ketiduran atau kelupaan dari mengerjakan shalat.

[12] Beliau memilih pendapat yang mengqadha dalam rangka kehati-hatian, wallahu a’lam. Walaupun di sisi lain beliau menguatkan pendapat yang tidak mengqadha.

[13] Yaitu hadits:

مَن أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنَ الصُّبْحِ قَبْلَ أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ فَقَدْ أَدْرَكَ الصُّبْحَ، وَمَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنَ الْعَصْرِ قَبْلَ أَنْ تَغْرُبَ الشَّمْسُ فَقَدْ أَدْرَكَ الصَّلاَةَ

Jangan Sampai Mengganggu Sesama Muslim

Bimbingan Kesebelas: Jangan Sampai Mengganggu Sesama Muslim

Sesungguhnya di antara hal yang wajib untuk berhati-hati darinya dalam menggunakan sarana ini adalah perbuatan mengganggu seorang muslim baik dengan lisan maupun sms. Sungguh sebagian orang telah menggunakan sarana ini untuk tujuan yang buruk seperti itu. Di antara mereka ada yang menelepon pada saat-saat akhir malam, seperti pada pukul 01.00 atau 02.00 dini hari untuk membikin cemas (mengganggu) penghuni rumah. Di antara mereka ada yang menggunakan cara lain, dengan mengirim sms yang berisi rayuan, wal ‘iyadzubillah, yaitu dengan mengirim sms kepada wanita yang berisi kalimat-kalimat jorok, tidak senonoh, dan disertai gambar-gambar yang menjijikkan, ataupun juga gambar hati yang tertancap padanya anak panah, dan berbagai cara lainnya. Wallahul musta’an.

Allah berfirman:

“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (Al-Ahzab: 58)

Dari Ibnu ‘Umar c, dia berkata: Rasulullah bersabda:

يَا مَعْشَرَ مَنْ أَسْلَمَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يَدْخُلِ الْإِيْمَانُ فِي قَلْبِه،ِ لاَ تُؤْذُوا الْمُسْلِمِينَ وَلَا تُعَيِّرُوهُمْ وَلَا تَتَبَّعُوا عَوْرَاتِهِمْ؛ فَإِنَّهُ مَنْ تَتَبَّعَ عَوْرَةَ أَخِيهِ الْمُسْلِمِ، يَتَتَبَّعِ اللهُ عَوْرَاتِهِ، يَفْضَحْهُ وَلَوْ فِيجَوْفِ رَحْلِهِ

Wahai sekalian orang yang telah berislam dengan lisannya namun belum masuk keimanan ke dalam hatinya. Janganlah kalian mengganggu kaum muslimin, jangan mencelanya, dan jangan mencari-cari aib mereka. karena sesungguhnya barangsiapa yang berupaya mencari aib saudaranya sesama muslim, niscaya Allah akan mencari aibnya, dan barangsiapa yang Allah cari aibnya maka pasti Allah akan membongkarnya walaupun dia berada di dalam rumahnya. (HR. At-Tirmidzi no. 2023. Asy-Syaikh Al-Albani berkata dalam Shahih At-Tirmidzi pada hadits no. 2023: “Hasan shahih”, dan beliau juga menshahihkan hadits ini dalam Shahihul Jami’ hadits no. 7985).

Di antara hal yang juga hendaknya diperhatikan dalam permasalahan ini adalah meyakinkan benar atau tidaknya nomor telepon sebelum menghubungi nomor tersebut, sehingga tidak sampai mengganggu orang yang dihubungi tadi (karena salah sambung). Kemudian (jika sampai terjadi salah sambung) hendaknya engkau terangkan padanya bahwa engkau tidak bermaksud berbicara dengannya.

Di antara hal lainnya yang hendaknya diperhatikan (dalam rangka menghindari gangguan terhadap sesama muslim) adalah jangan memakai HP orang lain tanpa seizinnya. Bisa jadi di dalam HP milik orang lain tersebut ada sesuatu yang sifatnya rahasia dan hanya khusus diketahui pemiliknya, yang dia tidak senang kalau sesuatu tersebut diketahui oleh orang lain. (Kalau hal itu dilakukan), maka penglihatanmu akan tertuju pada sesuatu yang terdapat pada HP orang lain tadi, dimana hal itu akan bisa mengganggu, membuat marah, dan membuat cemas dia. Maka berhati-hatilah dari perbuatan semacam ini.

 

Bimbingan Kedua Belas: Menghormati Hak-Hak Masjid

Sesungguhnya di antara kesalahan yang harus diperhatikan dan diperbaiki adalah membiarkan (mengaktifkan) volume HP, yang bisa menyebabkan terganggunya orang-orang yang shalat dan orang-orang yang berada di masjid karena suara HP tersebut. (Bahkan yang lebih parah) terkadang suara tersebut berupa suara musik atau potongan lagu dari penyanyi. Maka (barangsiapa yang berbuat seperti itu), di mana upaya dia menghormati dan memuliakan masjid?! Di mana pula upaya dia mengagungkan nilai ibadah shalat?!

Allah berfirman:

 

“Demikianlah (perintah Allah), dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (Al-Hajj: 32)

Allah juga berfirman:

 

“Demikianlah (perintah Allah), dan barangsiapa mengagungkan segala sesuatu yang terhormat di sisi Allah, maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Rabbnya.” (Al-Hajj: 30)

 

Bimbingan Ketiga Belas: Jangan Engkau Menjadi Penyebab Terjadinya Kecelakaan di Jalan

Banyak pengemudi mobil yang menggunakan HP ketika sedang mengemudi. Bahkan terkadang dia dengan asyiknya mengobrol dengan lawan bicaranya di telepon tanpa mewaspadai apa yang akan terjadi padanya di tengah jalan sehingga terjadilah kecelakaan. Maka seyogianya HP dinonaktifkan ketika mengemudi, atau dia minta tolong orang lain untuk menerima/menjawab telepon yang masuk padanya.

Allah berfirman:

 

“Dan janganlah kalian menjatuhkan diri kalian sendiri ke dalam kebinasaan.” (Al-Baqarah: 195)

Allah juga berfirman:

 

“Dan janganlah kalian membunuh diri kalian sendiri; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” (An-Nisa’: 29)

 

Bimbingan Keempatbelas: Awas, Bahaya HP bagi Wanita!

Wanita itu adalah orang yang kurang akal dan kurang agamanya. Oleh karena itulah disebutkan dalam sebuah hadits bahwa Abu Sa’id Al-Khudri zberkata:

خَرَجَ رََسُولُ اللهِ n فِي أَضْحًى أَوْ فِطْرٍ إِلَى الَمُصَلَّى، فَمَرَّ عَلَى نِسَاءٍ فَقَالَ: ياَ مَعْشَرَ النِّسَاءِ، تَصَدَّقْنَ فَإِنِّي أُرِيتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ .فَقُلْنَ: وَبِمَ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: تُكْثِرِينَ اللَّعْنَوَتَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ، مَا رَأَيْتُ مِنْ نَاقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِيْنٍ أَذْهَبَ لِلُبِّ الرَّجُلِ الْحَازِمِ مِنْ إِحْدَاكُنَّ. قُلْنَ: وَمَا نُقْصَانُ دِيْنِنَا وَعَقْلِنَا، يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: أَلَيْسَ شَهَادَةُ الْمَرْأَةِ مِثْلَ نِصْفِ شَهَادَةِالرَّجُلِ؟ قُلْنَ: بَلَى. قَالَ: فَذَلِكَ مِنْ نُقْصَانِ عَقْلِهَا، أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ؟ قُلْنَ: بَلَى. قَالَ: فَذَلِكَ مِنْ نُقْصَانِ دِيْنِهَا

Rasulullah n keluar pada hari ‘Idul Adha atau ‘Idul Fithri menuju mushalla, kemudian beliau melewati sekumpulan wanita. Maka beliau pun bersabda: “Wahai sekalian wanita, bershadaqahlah kalian, karena sungguhnya aku melihat kalian adalah penghuni an- nar (neraka) yang paling banyak.” Mereka (para wanita tadi) bertanya: “Mengapa bisa demikian wahai Rasulullah?” Beliau bersabda: “Kalian banyak melakukan caci maki dan membangkang pada suami. Dan aku tidak pernah melihat (manusia) yang kurang akal dan agamanya namun mempermainkan akal kaum pria yang bijak daripada kalian.” Mereka (para wanita) berkata: ‘Apa yang dimaksud dengan kurangnya agama dan akal pada kami, wahai Rasulullah?’ Beliau bersabda: “Bukankah persaksian seorang wanita itu sama dengan setengah persaksian seorang laki-laki?” Kami mengatakan: ‘Ya, benar.’ Beliau bersabda: “Itulah di antara bentuk kurang akalnya. Dan bukankah seorang wanita jika haid, dia tidak shalat dan tidak berpuasa?” Mereka menjawab: ‘Ya, benar.’ Beliau bersabda: “Itulah di antara bentuk kurang agamanya.” (HR. Al-Bukhari no. 298, Muslim no. 80)

Bahaya alat (HP) ini bagi para wanita sangatlah besar, terutama pada sesuatu yang bisa menimbulkan godaan dan tipu daya. Juga pada perkara yang terkadang mengejutkan berupa kalimat-kalimat manis, yang tampak dari luar seolah-olah kasih sayang, namun pada hakekatnya adalah azab. Sebagian wanita terkadang tidak mampu bersikap dengan tepat ketika menghadapi hal-hal yang demikian, bahkan terkadang terpengaruh olehnya. Ini terutama menimpa sebagian pemudi yang sudah mencapai masa puber, yang mereka itu tidak bisa melihat perkara yang bermanfaat/positif bagi diri mereka sendiri tanpa adanya perhatian dan pengawasan dari orang yang mengurusi (wali) mereka, yaitu anak-anak yang tidak membentengi dirinya dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Memberikan kesempatan kepada seorang wanita untuk memegang HP, sehingga HP tersebut terus bersama dia, baik di kamarnya, di jalan, pasar, tanpa adanya pengawasan dan perhatian dari walinya yang bertakwa, sehingga mereka bebas menelepon dan berbicara dengan siapa saja sekehendaknya, berkawan dengan siapa saja baik laki-laki maupun perempuan, janjian dengan mereka –kecuali wanita yang memang Allah beri rahmat kepada mereka– maka ini, wahai umat Islam adalah peringatan penting.

Sungguh wanita itu sangat lemah. Dia sangat mudah larut dan rusak di tengah-tengah ujian ini. Setan akan mempermainkan mereka semaunya.

 

Seruan penting kepada setiap wanita ‘afifah (yang menjaga kehormatannya)

Kegembiraan apa yang lebih besar daripada ketika Allah memberikan hidayah kepada engkau? Sungguh engkau mendapat kemuliaan setelah merasakan kehinaan, ketinggian setelah kerendahan. Bagaimana keadaan wanita dahulu sebelum masa Islam, dan bagaimana keadaannya setelah Islam?! Allah memuliakan wanita, baik ibu, saudara perempuan, anak perempuan, istri, dan kerabat, yang barangsiapa menyambung tali kekerabatan (silaturrahim), maka Allah akan menyambungnya, dan barangsiapa yang memutusnya, maka Allah akan memutusnya.

Apa yang diinginkan oleh para penyeru kebebasan (emansipasi) wanita?! Apakah (dengan syariat Islam) ini wanita menjadi terkekang di bawah agama Islam?! Alangkah buruknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka. Mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecuali dusta.

Kita perhatikan, fenomena yang tampak pada umat ini berupa kerusakan dan telanjangnya sebagian wanita, serta tampilnya sebagian mereka di layar HP dengan berbagai perhiasannya dalam keadaan menari. Sebagian mereka tampil dalam kondisi telanjang yang sangat memalukan. Dahulu tidak pernah hal ini dijumpai di negeri-negeri kaum muslimin. Bahkan hal yang seperti ini berasal dari negeri-negeri kafir. Kita memohon kepada Allah keselamatan.

Termasuk yang serupa dengan perkara tersebut adalah munculnya sebagian wanita sebagai bintang iklan. Di manakah rasa takut kepada Allah l?!

Tidakkah kamu ingat –wahai hamba Allah– hari kematianmu? Saat engkau pergi meninggalkan dunia ini untuk menuju akhirat?! Tidakkah engkau ingat ketika menghadap Allah l besok dan Dia menanyai engkau tentang apa yang engkau lakukan tersebut?! Bagaimana jawabanmu pada hari itu?!

(Insya Allah bersambung)

Untaian Mutiara Hadits Nabawiyyah

TENTANG PERGAULAN SUAMI ISTRI

“Aku seorang wanita yang telah berkeluarga dan memiliki putra yang hampir berusia 2 tahun,” demikian ucapan seorang istri mengawali pengaduan dan pertanyaannya kepada Fadhilatusy Syaikh Muhammad ibn Shalih Al-Utsaimin t. “Permasalahanku dengan suamiku, ia telah mengusirku dari rumah sebanyak dua kali dan sekarang kali yang ketiga. Namun setiap kali diusir, aku selalu kembali kepadanya seraya meminta agar ia memperbaiki pergaulannya denganku. Juga agar ia membiarkan putranya hidup dekat dengan ayahnya dan dalam asuhannya. Namun ia tetap berbuat jelek terhadapku serta pelit dalam memberikan nafkah kepadaku dan putranya. Ia pun melarangku untuk punya anak lagi padahal aku dalam keadaan sehat wal afiat, alhamdulillah. Ia juga melarangku mengunjungi keluargaku. Ia sering masuk rumah dengan tiba-tiba tanpa mengucapkan salam untuk mengejutkanku. Sekarang aku dan putraku tinggal di rumah orangtuaku. Ia sendiri tak pernah menanyakan tentang diriku, tidak pula tentang putranya. Aku takut sekiranya aku telah berbuat dosa yang membuat Allah l murka. Berilah fatwa kepadaku semoga Allah l membalas kebaikan anda.” Demikian si wanita menutup permasalahannya.

Fadhilatusy Syaikh Muhammad ibn Shalih Al-Utsaimin t memberikan jawaban, “Permasalahan antara engkau dan suamimu tidak mungkin diselesaikan kecuali dengan kembali kepada kebenaran dan bergaul yang baik di antara kalian berdua sebagaimana Allah l berfirman:

“Bergaullah kalian (para suami) dengan mereka (para istri) dengan cara yang ma’ruf.” (An-Nisa: 19)

Juga firman-Nya:

“Dan mereka (para istri) memiliki hak yang seimbang dengan kewajiban mereka dengan cara yang ma’ruf.” (Al-Baqarah: 228)

Tidak mungkin tegak perkara di antara suami istri terkecuali bila masing-masingnya merelakan sebagian haknya tidak terpenuhi dengan semestinya. Masing-masingnya tidak mempersulit yang lain, mudah dan ringan urusannya. Ia sabar dengan apa yang didapatkannya dari pasangannya berupa kekakuan, serta ia membantu pasangannya dalam keadaan sempit dan lapang.

Nasihatku kepada suamimu, agar ia bertaubat kepada Allah k dari perbuatan yang telah dilakukannya, agar ia bergaul kepadamu dengan cara yang ma’ruf, dan menegakkan kewajibannya, sehingga kehidupan suami istri di antara kalian bisa dibangun di atas bentuk yang paling sempurna. Adapun engkau, sepantasnya menghadapi sikapnya dengan sabar dan mengharap pahala dari Allah l. Terlebih lagi di antara kalian telah ada anak, dan urusannya niscaya akan menjadi lebih berat bila terjadi perpisahan….” (Fatawa Manarul Islam, 1/53 sebagaimana dinukil dalam Fatawa ‘Ulama fi ‘Isyratin Nisa’, hal. 25-26)

Wanita lain mengadu, “Aku telah menikah sejak 25 tahun yang lalu dan memiliki beberapa anak lelaki dan perempuan. Aku banyak mendapatkan permasalahan dalam hubungannya dengan suamiku. Ia sering merendahkan aku di hadapan anak-anakku dan di hadapan kerabat, bahkan orang yang jauh. Ia sama sekali tidak menghargai aku tanpa ada sebab. Aku pun tidak merasa lega (tidak tenang) terkecuali bila ia keluar rumah. Padahal suamiku tersebut mengerjakan shalat dan takut kepada Allah l. Aku berharap anda akan menunjukkan kepadaku jalan yang selamat. Jazakumullah khairan.”

Samahatusy Syaikh Abdul Aziz ibn Baz t menjawab, “Engkau wajib bersabar dan menasihati suamimu dengan cara yang paling baik serta mengingatkannya kepada Allah l dan hari akhir. Mudah-mudahan ia menerima nasihat tersebut, mau kembali kepada kebenaran dan meninggalkan akhlaknya yang buruk. Namun bila ia tidak melakukannya maka ia menanggung dosa, sementara engkau beroleh pahala yang besar karena kesabaranmu menghadapi gangguannya. Semestinya engkau mendoakan kebaikan untuk suamimu dalam shalatmu dan dalam kesempatan lainnya, agar Allah l memberinya hidayah kepada kebenaran serta menganugerahkan kepadanya akhlak yang utama. Juga agar Allah l melindungimu dari kejelekannya dan kejelekan selainnya. Engkau juga wajib untuk menghisab dirimu dan istiqamah dalam agamamu. Sebagaimana engkau wajib bertaubat kepada Allah l dari kejelekan-kejelekan yang muncul darimu dan dari kesalahanmu terhadap hak Allah l, hak suamimu, ataupun pada hak selainnya. Karena bisa jadi apa yang menimpamu disebabkan kemaksiatan-kemaksiatan yang pernah engkau perbuat[1]. Bukankah Allah l berfirman:

“Dan apa saja musibah yang menimpa kalian maka hal itu disebabkan perbuatan tangan kalian sendiri dan Allah memaafkan sebagian besar dari kesalahan-kesalahan kalian.” (Asy-Syura: 30)

Tidak ada larangan bila engkau meminta kepada ayah suamimu, ibunya, saudara lelakinya yang tua, atau siapa yang dipandang dari mereka di kalangan karib kerabat dan tetangga untuk menasihati dan mewasiatinya agar memperbaiki pergaulannya dengan istrinya, dalam rangka mengamalkan firman Allah l:

“Bergaullah kalian (para suami) dengan mereka (para istri) dengan cara yang ma’ruf.” (An-Nisa: 19)

Juga firman-Nya k:

“Dan mereka (para istri) memiliki hak yang seimbang dengan kewajiban mereka dengan cara yang ma’ruf.” (Al-Baqarah: 288)

Semoga Allah l memperbaiki keadaan kalian berdua, memberi hidayah kepada suamimu dan mengembalikannya kepada kebenaran. Semoga Allah l mengumpulkan kalian berdua di atas kebaikan dan petunjuk, sesungguhnya Dia Maha Dermawan lagi Mulia.” (Al Fatawa, Kitabud Da’wah 2/213,214 sebagaimana dinukil dalam Fatawa Al-Mar’ah Al-Muslimah, 2/687-688)

Di sisi lain, ada kasus seorang istri yang terkadang berucap jelek kepada suaminya. Ia mempertanyakan sendiri tentang urusannya kepada Samahatusy Syaikh Abdul Aziz ibn Baz t, “Terkadang aku mengucapkan ucapan yang jelek kepada suamiku yang menyulut kemarahannya, hingga ia pun memboikotku. Sementara aku tidak sanggup meminta maaf kepadanya karena gengsiku yang tinggi. Apakah benar bila suamiku bermalam dalam keadaan marah kepadaku maka aku terkena dosa?”

Dijawab oleh Asy-Syaikh yang mulia t, “Engkau wajib meminta keridhaan suamimu dan mengupayakan agar ia memaafkan apa yang engkau perbuat. Engkau sendiri jangan terus-menerus di atas kesalahan. Bahkan upayakan agar suamimu ridha, mudah-mudahan dia mau memaafkan apa yang telah engkau perbuat. Ini yang lebih utama.

Nabi n bersabda:

إِذَا دَعَى الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهِ فَلَمْ تَأْتِهِ، فَبَاتَ غَضْبَانَ عَلَيْهَا لَعَنَتْهَا الْمَلَائِكَةُ حَتَّى تُصْبِحَ

“Apabila seorang suami memanggil istrinya ke tempat tidurnya namun si istri tidak mendatangi suaminya, lalu si suami bermalam dalam keadaan marah kepadanya, niscaya para malaikat akan melaknat si istri sampai ia berada di pagi hari.”[2]

Maka wajib bagi seorang istri untuk taat kepada suaminya dan tidak menyelisihi suaminya.” (Majalah Ad-Da’wah no. 1639 sebagaimana dinukil dalamFatawa ‘Ulama fi ‘Isyratin Nisa’, hal. 239)

Fadhilatusy Syaikh Shalih ibn Fauzan ibn Abdillah Al-Fauzan hafizhahullah pernah ditanya, “Apa pendapat anda tentang istri yang tidak mendengar ucapan suaminya, tidak menaati suaminya, dan suka menyelisihi dalam banyak urusan, seperti keluar rumah tanpa disuruh suaminya, dan terkadang keluar rumah secara sembunyi-sembunyi tanpa sepengetahuan suaminya?”

Dijawab oleh Fadhilatusy Syaikh hafizhahullah, “Wajib bagi seorang istri menaati suaminya dengan cara yang ma’ruf. Haram baginya bermaksiat kepada suaminya. Tidak boleh ia keluar dari rumah suaminya kecuali dengan izin suaminya.

Nabi n bersabda:

إِذَا دَعَى الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهِ، فَأَبَتْ أَنْ تَجِيئَ فَبَاتَ غَضْبَانَ عَلَيْهَا لَعَنَتْهَا الْمَلَائِكَةُ حَتَّى تُصْبِحَ

“Apabila seorang suami memanggil istrinya ke tempat tidurnya namun si istri menolak untuk datang, lalu si suami bermalam dalam keadaan marah kepadanya niscaya para malaikat akan melaknat si istri sampai ia berada di pagi hari.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Beliau n juga bersabda:

لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِأَحَدٍ لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا مِنْ عِظَمِ حَقِّهِ عَلَيْهَا

“Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain niscaya aku akan memerintahkan seorang istri untuk sujud kepada suaminya disebabkan besarnya hak suami terhadapnya.”[3]

Allah l berfirman:

“Kaum lelaki adalah pemimpin bagi kaum wanita dikarenakan Allah telah melebihkan sebagian mereka (lelaki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (lelaki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Oleh sebab itu, wanita yang shalihah adalah wanita yang taat kepada Allah lagi memelihara dirinya ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara mereka. Dan istri-istri yang kalian khawatirkan nusyuznya maka nasihatilah mereka, pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka dan pukullah mereka. …” (An-Nisa: 34)

Dalam ayat di atas, Allah l menerangkan bahwa lelaki memiliki hak kepemimpinan terhadap wanita, dan bila seorang istri berbuat kejelekan/nusyuz kepada suaminya maka si suami berhak memberlakukan terhadap istrinya tahapan-tahapan seperti yang disebutkan dalam ayat guna mengembalikan/menyadarkan si istri. Hal ini termasuk yang menunjukkan wajibnya taat kepada suami dalam perkara yang ma’ruf dan haramnya istri menyelisihi suaminya tanpa haq.” (Al-Muntaqa min Fatawa Fadhilatusy Syaikh Shalih ibn Fauzan, 3/164-165 sebagaimana dalam Fatawa Al-Mar’ah Al-Muslimah, 2/678-679)

Beberapa permasalahan di atas merupakan sedikit dari sekian banyak problem yang muncul di antara suami istri terkait pergaulan yang berlangsung di antara mereka. Walaupun firman Allah l:

“Bergaullah kalian (para suami) dengan mereka (para istri) dengan cara yang ma’ruf.” (An-Nisa: 19)

mereka dapati dalam lembaran mushaf yang mereka baca dan telah sering mereka lewati, namun dalam pengamalan ternyata tidak mudah terealisir.

Perintah bergaul yang ma’ruf dalam ayat di atas mencakup ucapan dan perbuatan. Sehingga sudah menjadi kemestian bagi seorang suami untuk bergaul yang ma’ruf dengan istrinya. Ia menjadi teman hidup yang baik, tidak menyakiti istrinya, mencurahkan kebaikan kepada istrinya, bermuamalah dengan baik. Termasuk di dalamnya ia memberikan nafkah, pakaian dan semisalnya. (Taisir Al-Karimir Rahman, hal. 172)

Seorang istri juga dituntut untuk bergaul baik dengan suaminya dengan memenuhi hak-hak suaminya, taat dalam kebaikan dan tidak mengingkari kebaikan suami.

Bila masing-masingnya bergaul dengan baik kepada pasangannya, masing-masingnya berupaya memenuhi apa yang menjadi kewajibannya, niscaya akan terwujud rumah tangga yang sakinah, penuh mawaddah dan rahmah, sebagaimana janji Ar-Rahman:

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya; Dia menciptakan untuk kalian istri-istri dari jenis kalian sendiri agar kalian cenderung dan merasa tentram kepadanya (beroleh sakinah) dan dijadikan-Nya di antara kalian mawaddah dan rahmah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (Ar-Rum: 21)

Banyak hadits Rasul n yang mulia berbicara tentang pergaulan suami istri. Beberapa di antaranya ingin kami rangkumkan di sini untuk pembaca, walaupun hampir semuanya pernah kami bawakan dalam rubrik ini, namun tidak apa-apa kita ulang. Bukankah ini ilmu? Dan bukankah ilmu itu perlu diulang-ulang (muraja’ah)?

Abu Hurairah z berkata, “Sungguh Rasulullah n pernah bersabda:

اسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا، فَإِنَّ الْمَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلْعٍ، وَإِنَّ أَعْوَجَ شَيْءٍ فِي الضِّلَعِ أَعْلاَهُ، فَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيْمُهُ كَسَرْتَهُ وَإِنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ، فَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ

“Berwasiatlah kalian dengan kebaikan kepada para wanita (para istri) karena wanita itu diciptakan dari tulang rusuk, dan sungguh tulang rusuk yang paling bengkok adalah bagian atasnya. Bila engkau berupaya meluruskannya, engkau akan mematahkannya[4]. Namun bila engkau biarkan ia akan terus-menerus bengkok, maka berwasiatlah dengan kebaikan kepada para wanita.” (HR. Al-Bukhari no. 3331 dan Muslim no. 3632)

Dalam satu riwayat Al-Imam Al-Bukhari (no. 5184):

الْمَرْأَةُ كَالضِّلَعِ، إِنْ أَقَمْتَهَا كَسَرْتَهَا وَإِنِ اسْتَمْتَعْتَ بِهَا اسْتَمْتَعْتَ بِهَا وَفِيْهَا عِوَجٌ

“Wanita itu seperti tulang rusuk, jika engkau meluruskannya engkau akan mematahkannya. Jika engkau bernikmat-nikmat dengannya engkau bisa melakukannya, namun padanya ada kebengkokan.”

Dalam satu riwayat Al-Imam Muslim (no. 3631):

إِنَّ الْمَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلَعٍ، لَنْ تَسْتَقِيْمَ لَكَ عَلَى طَرِيْقٍ، فَإِنِ اسْتَمْتَعْتَ بِهَا اسْتَمْتَعْتَ بِهَا وَبِهَا عِوَجٌ، وَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيْمُهَا كَسَرْتَهَا وَكَسْرُهَا طَلاَقُهَا

“Sesungguhnya wanita itu diciptakan dari tulang rusuk sehingga ia tidak akan terus-menerus lurus kepadamu di atas satu jalan. Jika engkau bernikmat-nikmat dengannya engkau bisa melakukannya, namun padanya ada kebengkokan. Jika engkau memaksa meluruskannya engkau akan mematahkannya. Dan patahnya adalah talaknya.” [5]

Abdullah ibnu Zam’ah z menyebutkan dari Nabi n:

لاَ يَجْلِدُ أَحَدُكُمُ امْرَأَتَهُ جِلْدَ الْعَبْدِ ثُمَّ يُجَامِعُهَا فِي آخِرِ اليَوْمِ

“Janganlah salah seorang dari kalian memukul istrinya seperti memukul seorang budak kemudian ia menggauli istrinya pada akhir siang[6].” (HR. Al-Bukhari no. 5204)

Abu Hurairah z berkata, “Rasulullah n bersabda:

لاَ يَفْرُكُ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ

“Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah, karena jika ia benci dengan satu perangai darinya maka bisa jadi ia senang dengan perangainya yang lain.” (HR. Muslim no. 3633)[7]

Aisyah x berkata: Rasulullah n memanggilku tatkala orang-orang Habasyah sedang bermain-main dengan tombak pendek mereka pada hari Id. Beliau berkata kepadaku, “Wahai Humaira’, apakah kamu ingin melihat permainan mereka?” “Iya,” jawabku. Beliau pun memberdirikan aku di belakang beliau ,lalu menundukkan kedua pundak beliau untukku agar aku bisa melihat permainan orang-orang Habasyah tersebut. Aku pun meletakkan daguku di atas pundak beliau dan menyandarkan wajahku ke pipi beliau. Aku melihat permainan mereka dari atas kedua pundak beliau. Beliau berkata, “Wahai Aisyah! Kamu belum puas melihat permainan mereka?” “Belum,” jawabku.

Dalam satu riwayat:

Hingga ketika aku telah bosan, beliau berkata, “Cukup?” “Iya,” jawabku. “Kalau begitu pergilah”, kata beliau. Aisyah mengabarkan, “Sebenarnya aku tidaklah senang melihat permainan mereka, namun aku ingin agar tersampaikan kepada para wanita tentang keberadaan beliau terhadapku dan kedudukanku dari diri beliau dalam keadaan aku wanita yang masih muda. Maka kadarkanlah diri kalian (wahai para suami)???? seperti kadar wanita yang masih muda usianya, yang masih senang dengan permainan.”[8] (HR. Al-Bukhari no. 950, 5190, Muslim no. 2061, 2062, 2063, dan An-Nasa’i dalam ‘Isyratun Nisa’no. 65)

Abu Hurairah z menyatakan bahwa Rasulullah n bersabda:

لاَ يَحِلُّ لِامْرَأَةٍ أَنْ تَصُوْمَ وَزَوْجُهَا شَاهدٌ إِلاَّ بِإِذْنِهِ وَلاَ تَأْذَنُ فِي بَيْتِهِ إِلاَّ بِإِذْنِهِ

“Tidak halal bagi seorang istri berpuasa (sunnah) dalam keadaan suaminya ada di rumah terkecuali dengan izin suaminya, dan tidak boleh ia mengizinkan seorang masuk ke rumah suaminya terkecuali bila suaminya memperkenankan.” (HR. Al-Bukhari no. 5195 dan Muslim no. 1026, 2367)

Dari Abu Hurairah z, ia menyampaikan bahwa Rasulullah n bersabda:

دِيْناَرًا أَنْفَقْتَهُ فِي سَبِيْلِ اللهِ وَدِيْناَرًا أَنْفَقْتَهُ فِي رَقَبَةٍ وَدِيْنَارًا تَصَدَّقْتَ بِهِ عَلَى مِسْكِيْنٍ وَدِيْنَارًا أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ، أَعْظَمُهَا أَجْرًا الَّذِي أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ

“Satu dinar yang engkau nafkahkan di jalan Allah, satu dinar yang engkau nafkahkan untuk memerdekakan budak, satu dinar yang engkau sedekahkan kepada seorang miskin, dan satu dinar yang engkau nafkahkan untuk istri/keluargamu, maka yang paling besar pahalanya adalah dinar yang engkau nafkahkan untuk istri/keluargamu.” (HR. Muslim no. 995)

Aisyah x berkata, “Pernah aku minum dalam keadaan aku haid, kemudian aku menyerahkan gelas minuman tersebut kepada Nabi n. Beliau pun meletakkan mulutnya pada bekas tempat mulutku, lalu meminumnya. Pernah pula aku menggigit sepotong daging dalam keadaan haid, kemudian aku memberikannya kepada Nabi n. Beliau pun meletakkan mulut beliau pada bekas tempat mulutku (untuk menggigit daging tersebut).” (HR. Muslim no. 690)

Demikianlah…. Karena keterbatasan halaman yang ada, hadits-hadits yang masih tersisa akan kami bawakan dalam edisi mendatang, Insya Allah.

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.


[1] Ada kisah menarik dalam hal ini. Ibnul Arabi t berkata: Abul Qasim bin Hubaib berkata: Telah mengabarkan kepadaku di Al-Mahdiyyah, dari Abul Qasim As-Sayuri, dari Abu Bakr bin Abdirrahman, ia berkata, “Adalah Asy-Syaikh Abu Muhammad bin Zaid memiliki ilmu yang mendalam dan kedudukan yang tinggi dalam agama. Beliau memiliki seorang istri yang buruk pergaulannya terhadap beliau. Istrinya ini tidak sepenuhnya memenuhi haknya, bahkan mengurang-ngurangi dan menyakiti beliau dengan lisannya. Maka ada yang berbicara kepada beliau tentang keberadaan istrinya, namun beliau memilih tetap bersabar hidup bersama istrinya. Beliau pernah berkata, ‘Aku adalah orang yang telah dianugerahkan kesempurnaan nikmat oleh Allah l dalam kesehatan tubuhku, pengetahuanku, dan budak yang kumiliki. Mungkin istriku ini diutus sebagai hukuman atas dosaku. Aku khawatir bila aku menceraikannya akan turun kepadaku hukuman yang lebih keras daripada apa yang selama ini aku dapatkan darinya’.” (Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, 5/65)

[2] HR. Al-Bukhari no. 5193 dan Muslim no. 3526

[3] HR. Ahmad 4/381, dishahihkan dalam Irwa’ul Ghalil no. 1998 dan Ash-Shahihah no. 3366.

[4] Bila engkau, wahai suami, menginginkan dari istrimu agar ia meninggalkan kebengkokannya niscaya akhir dari perkara adalah engkau akan berpisah dengannya. (Fathul Bari, 6/445)

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani t berkata, “Dipahami dari hadits ini bahwasanya tidak boleh membiarkan istri di atas kebengkokannya, apabila ia melampaui kekurangan yang merupakan tabiatnya dengan melakukan maksiat atau meninggalkan kewajiban. Adapun dalam perkara-perkara mubah, ia dibiarkan apa adanya. Dalam hadits ini menunjukkan disenanginya penyesuaian diri guna memikat, mengambil, dan mendekatkan hati pasangan hidup. Sebagaimana hadits ini menunjukkan pengaturan terhadap para istri dengan memaafkan mereka dan bersabar atas kebengkokan mereka. Siapa yang meluruskan mereka dengan paksa, niscaya akan terluputkan darinya kemanfaatan yang bisa diperoleh dari istri. Sementara tidak ada seorang lelaki pun yang tidak merasa butuh kepada wanita guna beroleh ketenangan (sakinah) dengannya dan untuk menolongnya dalam kehidupannya. Sehingga bisa dikatakan: bernikmat-nikmat dengan wanita (istri) tidak akan sempurna kecuali dengan bersabar terhadap mereka.” (Fathul Bari, 9/306)

[5] Hadits-hadits ini menunjukkan keharusan berlaku lembut kepada para wanita/istri, berbuat baik kepada mereka, bersabar atas kebengkokan akhlak mereka, menanggung dengan sabar kelemahan akal mereka, tidak disenanginya mentalak mereka tanpa ada sebab dan tidak boleh terlalu berambisi/dengan paksa meluruskan mereka. (Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim, 10/42)

[6] Jima’ dianggap baik dilakukan bila disertai dengan kecenderungan jiwa dan kesenangan. Sementara istri yang dipukul dengan keras, hatinya akan lari dari suaminya. Lalu bagaimana ia bisa melayani suaminya dengan baik saat jima’? Sehingga di sini ada isyarat tentang tercelanya memukul istri dengan pukulan yang keras. Kalaupun terpaksa harus memukul dalam rangka mendidik istri, maka hendaknya dengan pukulan yang ringan yang tidak berakibat istri menjauh dari suami. (Fathul Bari, 9/377)

[7] Jika si suami mendapati dari istrinya satu perangai yang tidak disukainya, niscaya ia akan dapati perangai/sifat lain yang disenangi.

Al-Imam Al-Qurthubi t ketika menafsirkan ayat:

 

“Kemudian bila kalian tidak menyukai mereka (maka bersabarlah) karena bisa jadi kalian tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan pada sesuatu itu kebaikan yang banyak.” (An-Nisa: 19)

Beliau berkata, “Firman Allah (yang artinya) ‘Kemudian bila kalian tidak menyukai mereka …’ karena parasnya yang buruk misalnya, atau perangainya yang jelek, bukan karena si istri berbuat keji dan nusyuz, maka dianjurkan bagi si suami untuk bersabar menanggung kekurangan tersebut. Mudah-mudahan hal itu mendatangkan rezki di tengah mereka berupa anak-anak yang shalih.” (Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, 5/65)

[8] Ketika itu Aisyah berusia sekitar 15 tahun atau lebih. (Fathul Bari, 9/344)

Hadits ini menerangkan kelembutan yang ada pada diri Rasulullah n, kasih sayang beliau, akhlak beliau yang baik, pergaulan beliau yang ma’ruf dengan keluarga, istri, dan selainnya. (Al-Minhaj, 6/424)

Membuka Wajah didepan Ipar dan Hukum Anak yang Telah Baligh

 1. Apakah dibolehkan dalam syariat ini seorang istri membuka wajahnya di hadapan saudara laki-laki suaminya (ipar) atau di hadapan anak laki-laki dari paman suami (sepupu suami)?

2. Apakah dibolehkan anak laki-laki yang telah baligh tidur bersama ibunya atau saudara perempuannya?

Jawab:

Al-Lajnah Ad-Daimah lil Buhuts Al-Ilmiyyah wal Ifta’ memberikan jawaban:

Pertama: saudara lelaki suami (ipar) dan sepupunya yang laki-laki bukanlah mahram bagi si istri dengan semata-mata mereka saudara suami atau putra pamannya. Karena itu tidak boleh bagi si istri membuka apa yang tidak boleh ia buka terkecuali di hadapan mahram-mahramnya, sekalipun ipar atau sepupu suaminya itu adalah lelaki yang shalih yang bisa dipercaya. Karena Allah l membatasi orang-orang yang diperkenankan melihat perhiasan seorang wanita sebagaimana dalam ayat:

“Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara lelaki mereka, atau putra-putra dari saudara laki-laki mereka, atau putra-putra dari saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan terhadap wanita atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita…” (An-Nur: 31)

Juga berdasarkan sabda Rasulullah n:

يَحْرُمُ مِنَ الرَّضَاعَةِ مَا يَحْرُمُ مِنَ النَّسَبِ

“Diharamkan dari penyusuan apa yang haram karena nasab.”[1]

Sementara saudara lelaki suami (ipar) dan putra-putra pamannya tidak termasuk dari mereka yang disebutkan di atas. Allah l tidak pula membedakan dalam hal ini antara orang yang shalih dengan yang tidak shalih. Semuanya dalam rangka menjaga kehormatan dan menutup pintu yang mengantarkan pada kerusakan dan kejelekan.

Dalam hadits yang shahih disebutkan bahwa Nabi n ditanya tentang al-hamwu, maka beliau menjawab:

الْحَمْوُ الْمَوْتُ

“Al-Hamwu adalah maut[2].”

Yang dimaksud dengan al-hamwu dalam hadits di atas adalah saudara lelaki suami (ipar) dan semisalnya yang bukan termasuk mahram si istri.

Maka hendaknya seorang muslim menjaga agamanya dan melindungi kehormatannya.

Kedua: Tidak boleh bagi anak laki-laki yang sudah baligh atau usia mereka telah mencapai 10 tahun untuk tidur bersama ibu atau saudara perempuan mereka di tempat pembaringan mereka atau di kasur mereka, dalam rangka menjaga kemaluan, menjauhkan dari kobaran fitnah dan menutup pintu yang menuju kepada kejelekan.

Nabi n telah memerintahkan untuk memisahkan anak-anak pada tempat tidur mereka apabila mereka telah mencapai usia 10 tahun. Beliau bersabda:

مُرُوْا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ لِسَبْعٍ، وَاضْرِبُوْهُمْ عَلَيْهَا لِعَشْرٍ، وَفَرِّقُوْا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ

“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk mengerjakan shalat ketika mereka berusia tujuh tahun dan pukullah mereka bila enggan menunaikan shalat saat mereka mencapai usia sepuluh tahun dan pisahkan di antara mereka pada tempat tidurnya[3].”

Dalam Al-Qur’an, Allah l memerintahkan anak-anak yang belum baligh agar minta izin ketika hendak masuk rumah[4] pada tiga waktu yang di situ orangtuanya biasa membuka pakaian dan waktu aurat biasa tersingkap. Allah l menekankan hal tersebut dengan menamakan tiga waktu tersebut sebagai waktu-waktu aurat. Allah l berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman! Hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kalian miliki dan anak-anak yang belum baligh di antara kalian, meminta izin kepada kalian tiga kali dalam sehari (bila hendak masuk ke tempat/kamar kalian), yaitu; sebelum shalat subuh, ketika kalian menanggalkan pakaian kalian di tengah hari dan setelah shalat isya. Itulah tiga aurat bagi kalian. Tidak ada dosa atas kalian dan tidak pula atas mereka selain dari tiga waktu tersebut (bila kalian membiarkan mereka masuk tanpa izin). Mereka melayani kalian, sebagian kalian ada keperluan kepada sebagian yang lain. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat kepada kalian. Dan Allah Maha mengetahui lagi Maha memiliki hikmah.” (An-Nur: 58)

Adapun untuk orang-orang yang telah baligh, Allah l perintahkan untuk meminta izin di setiap waktu ketika hendak masuk rumah. Dia Yang Maha Tinggi berfirman:

“Dan apabila anak-anak dari kalangan kalian telah sampai umur baligh, maka hendaklah mereka meminta izin (di setiap waktu) seperti orang-orang yang sebelum mereka meminta izin. Demikianlah Allah l menjelaskan ayat-ayat-Nya. Dan Allah Maha mengetahui lagi Maha memiliki hikmah.” (An-Nur: 59)

Semua ini ditetapkan dalam rangka menolak fitnah, menjaga kehormatan, dan memutus perantara-perantara kejelekan.

Bila anak lelaki tersebut usianya kurang dari sepuluh tahun maka masih boleh tidur bersama ibunya atau saudara perempuannya, karena dia masih butuh penjagaan dan untuk mencegah perkara yang dikhawatirkan perlu disertai dengan ketentuan aman dari fitnah.

Akan tetapi, ketika aman dari fitnah, walaupun anak-anak tersebut telah baligh, boleh bagi mereka tidur bersama-sama dalam satu kamar/satu tempat, di mana masing-masingnya tidur di ranjang/kasur/tempat tidurnya yang khusus (satu orang satu tempat tidur/kasur). Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab. (Al-Lajnah Ad-Daimah lil Buhuts Al-Ilmiyyah wal Ifta’, ketua Samahatusy Syaikh Abdul Aziz ibnu Abdillah ibn Baz t. Wakil Ketua: Asy-Syaikh Abdurrazzaq Afifi. Anggota: Asy-Syaikh Abdullah bin Ghudayyan, dan Asy-Syaikh Abdullah bin Qu’ud, fatwa no. 1600, Fatawa Al-Lajnah, 17/407-409)

BICARA DENGAN IPAR

Bagaimana seharusnya hubungan saya dengan saudara-saudara lelaki suami saya berikut keluarganya dari kalangan lelaki? Saya sendiri, alhamdulillah, memakai niqab (cadar) dan mereka tidak pernah melihat wajah saya. Apakah diperkenankan saya mengajak bicara mereka sementara kami (saya dan suami serta saudara-saudara ipar) tinggal di satu rumah, hanya saja kami (saya dan suami) mendapat tempat yang khusus dari rumah tersebut (sehingga bisa menegakkan hijab). Terkadang salah seorang dari mereka sakit, apakah dibolehkan bagi saya untuk menanyakan keadaannya?

Jawab:

Al-Lajnah Ad-Daimah lil Buhuts Al-Ilmiyyah wal Ifta’ memberikan jawaban:

“Bila kenyataannya sebagaimana yang disebutkan maka boleh bagimu mengajak bicara mereka dan menanyakan keadaan mereka serta berbicara dengan mereka dalam perkara-perkara yang mubah. Akan tetapi tanpa melembutkan suara dan mendayu-dayu dalam berucap dan juga tanpa berkhalwat (bersepi-sepi/berduaan) dengan lelaki dari kalangan mereka.yang bukan mahrammu.” (Fatwa no. 7778, Fatawa Al-Lajnah, 17/404-405)


[1] HR. Muslim dalam Shahih-nya.

Dari sisi kemahraman, hubungan penyusuan berlaku sama dengan hubungan karena nasab. Contohnya ayah kandung adalah mahram bagi seorang wanita, demikian pula ayah susu, yakni suami dari ibu susunya. Sehingga haram bagi ayah susunya menikahinya dan boleh bagi ayah susu berduaan dengannya dan safar bersamanya.

Saudara laki-laki karena nasab merupakan mahram, demikian pula saudara laki-laki sesusuan. Demikian seterusnya.

[2] HR. Al-Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya.

[3] HR. Abu Dawud, derajatnya hasan bila dikumpulkan seluruh jalannya.

Karena bila anak-anak tersebut satu tempat tidur dimungkinkan aurat-aurat mereka tersingkap sehingga yang satu bisa melihat aurat yang lain. Juga mungkin terjadi sentuhan tubuh di antara mereka sehingga dapat membangkitkan syahwat, khususnya di antara anak lelaki yang sudah baligh dengan anak perempuan yang sudah baligh, bahkan di antara sesama anak lelaki ataupun sesama anak perempuan yang sudah baligh. Ada beberapa ucapan ulama dalam masalah ini:

Al-Munawi t berkata setelah membawakan hadits di atas, “Maksudnya pisahkanlah anak-anak kalian pada tempat pembaringan mereka yang mereka biasa tidur di situ bila mereka telah mencapai usia sepuluh tahun dalam rangka menghindari bergeloranya syahwat, walaupun mereka itu sesama anak perempuan.”

Ath-Thibi berkata, “Rasulullah n mengumpulkan antara perintah shalat dengan perintah memisahkan anak-anak pada tempat tidur mereka di masa kecil mereka dalam rangka mendidik mereka, menjaga seluruh perintah Allah l dan mengajarkan mereka bagaimana cara bergaul di antara sesama makhluk. Disamping itu, agar mereka tidak berada pada posisi di mana mereka bisa dituduh jelek atau pada keadaan yang bisa menjerumuskan mereka kepada fitnah. Dengan tarbiyah di masa kecil ini, mereka pun akan menjauhi perkara-perkara yang diharamkan.” (Faidhul Qadir Syarhu Al-Jami’ Ash-Shaghir, 5/521)

[4] Masuk ke kamar orangtuanya misalnya.

UMMU HAKIM BINTU AL-HARITS

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu ‘Abdirrahman bintu ‘Imran)

 

Ramadhan, tahun ke-8 hijriyah. Pertolongan dan kemenangan dari sisi Allah l telah datang. Dulu, Rasulullah n dan kaum muslimin pergi dari tanah air mereka dalam keadaan terhina dan tertindas. Kini, dengan segenap kemuliaan, Allah l buka negeri Makkah untuk mereka.

Pasukan muslimin datang bak gelombang yang menggoncangkan nyali. Dengan sepenuh tawadhu’ dan ketundukan kepada Rabbnya, Rasulullah n memasuki negeri Makkah, diiringi pasukan Muhajirin dan Anshar. Sembari mengenakan sorban hitam, beliau menunduk dalam-dalam hingga dagu beliau hampir-hampir menyentuh punggung tunggangannya.

Penduduk Makkah kocar-kacir. Sebagian menutup dan mengunci pintu rumahnya, sebagian lagi berlindung di Baitul Haram, untuk mendapatkan keamanan sebagaimana jaminan Rasulullah n.

Hari itu adalah hari dimuliakannya Quraisy dengan masuk Islamnya mereka secara berbondong-bondong. Di antara mereka ada Ummu Hakim bintu Al-Harits bin Hisyam bin Al-Mughirah bin ‘Abdillah bin ‘Umar bin Makhzum Al-Makhzumiyyah x, istri ‘Ikrimah bin Abi Jahl. Dulu ketika masih kafir, Ummu Hakim pernah menyertai pasukan kaum kafir dalam pertempuran Uhud.

Bila Ummu Hakim berislam, tidak demikian dengan suaminya, Ikrimah bin Abi Jahl. Dia menyadari, dia dan ayahnya selama ini amat memusuhi Islam dan muslimin. Jiwanya terancam di hari kemenangan kaum muslimin ini. Dia pun memilih untuk lari menuju Yaman dengan menumpang sebuahkapal.

Namun nun di tengah lautan, kapal itu diterjang badai. Para penumpang kapal mengatakan satu sama lain, “Ikhlaslah kalian! Tuhan-tuhan kalian tidak berguna bagi kalian di sini!”

Ikrimah mendengar ucapan itu. “Demi Allah, kalau tidak ada yang bisa menyelamatkanku di tengah lautan kecuali ikhlas, tentunya tak ada pula yang menyelamatkanku di daratan kecuali ikhlas pula!” kata Ikrimah pada dirinya.

“Ya Allah, aku berjanji kepada-Mu. Jika Engkau menyelamatkanku dari musibah yang kualami ini, aku akan mendatangi Muhammad, lalu kuletakkan tanganku dalam genggamannya. Sungguh, aku tidak mendapatinya kecuali dia itu orang yang sangat pemaaf lagi dermawan,” janjinya kemudian.

Sementara itu di negeri Makkah, Ummu Hakim x meminta izin Rasulullah n untuk mencari suaminya sekaligus meminta jaminan keamanan untuknya. Rasulullah n pun mengabulkan permohonan Ummu Hakim. Akhirnya Ummu Hakim pun bertemu suaminya. Ummu Hakim mengajaknya untuk menghadap Rasulullah n. Ikrimah pun masuk Islam.

Setelah keislamannya, Ikrimah turut dalam berbagai peperangan, hingga terbunuh dalam sebuah pertempuran di Ajnadin pada masa pemerintahan Abu Bakr Ash-Shiddiq z. Sepeninggal suaminya, Ummu Hakim dipinang oleh Yazid bin Abi Sufyan.

Di saat yang sama, Khalid bin Sa’id ibnul ‘Ash z juga mengirim utusan untuk menawarkan agar Ummu Hakim mau menikah dengannya. Ummu Hakim menerima pinangan Khalid bin Sa’id. Menikahlah Ummu Hakim dengan Khalid bin Sa’id z dengan mahar empat ratus dinar.

Bertepatan saat itu, pasukan muslimin sedang bersiap menghadapi Romawi di Marjush Shuffar. Khalid bin Sa’id z membawa serta Ummu Hakim. Tiba di Marjush Shuffar, Khalid berniat untuk bermalam pengantin dengan Ummu Hakim.

“Andai kau tangguhkan sampai Allah l kalahkan pasukan musuh,” ujar Ummu Hakim saat itu.

“Sesungguhnya aku merasa, aku akan terbunuh dalam peperangan ini,” kata Khalid.

“Kalau begitu, lakukanlah!” kata Ummu Hakim kemudian.

Malam itu mereka lalui di dalam kemah di sisi sebuah jembatan yang kelak dikenal dengan nama Jembatan Ummu Hakim.

Keesokan harinya, Khalid bin Sa’id mengadakan walimah pernikahannya dengan Ummu Hakim. Belum usai mereka menikmati hidangan walimah itu, pasukan Romawi datang. Salah seorang dari mereka menantang duel satu lawan satu. Tantangan itu disambut oleh Abu Jandal bin Suhail bin ‘Amr z, namun dicegah oleh Abu ‘Ubaidah z. Akhirnya tantangan itu dilayani oleh Habib bin Maslamah hingga tentara Romawi itu berhasil dihabisinya. Habib pun kembali ke tempatnya. Ketika datang tantangan berikutnya, Khalid bin Sa’id z maju ke depan. Namun Allah l takdirkan Khalid bin Sa’id gugur dalam pertempuran satu lawan satu itu.

Setelah suaminya wafat, Ummu Hakim pun mengikatkan bajunya. Sementara kaum muslimin mulai bertempur dahsyat di sungai melawan pasukan Romawi. Dia pun muncul dari tenda, sementara pada dirinya masih berbekas wewangian. Dengan tiang tenda tempatnya bermalam dengan sang suami yang telah tiada, Ummu Hakim membunuh tujuh orang pasukan Romawi.

Ummu Hakim bintu Al-Harits, semoga Allah l meridhainya.

 

Sumber bacaan:

Al-Bidayah wan Nihayah, Al-Imam Ibnu Katsir (4/285)

Al-IshabahAl-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani (4/443-444, 8/379-380)

Al-Isti’abAl-Imam Ibnu ‘Abdil Barr (2/37-39,579)

Ath-Thabaqatul KubraAl-Imam Ibnu Sa’d (10/248-249)

KEMBALI KEPADA ALLAH

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal)

“Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedangkan mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).” (Al-Baqarah: 281)

Penjelasan beberapa mufradat ayat

“Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari…”

Yang dimaksud hari di sini adalah hari kiamat, sebagaimana pendapat jumhur ulama. Adapula yang berpendapat bahwa yang dimaksud adalah hari kematian. Disebutkan “hari” dalam bentuk nakirahdan dikuatkan dengan perintah “wattaqu”, menunjukkan peringatan besar akan terjadinya hari yang mengerikan tersebut yang menyebabkan anak-anak menjadi beruban rambutnya. (Tafsir Al-Alusi,Fathul Qadir, Asy-Syaukani)

“Kamu semua dikembalikan…”

Dibaca turja’una, dengan bentuk majhul. Ini adalah bacaan jumhur. Ada yang membacanya dengan تَرْجِعُوْنَ , dan ini adalah bacaan Abu ‘Amr. Ada pula yang membacanya dengan ya’ menggantikan ta’:يُرْجَعُوْن . Ini bacaan Al-Hasan Al-Bashri. (lihat Fathul Qadir 1/298, Tafsir Al-Alusi 3/54, Tafsir Al-Qurthubi 3/376)

“Apa yang telah dikerjakannya…”

Yang dimaksud “kasb” di sini adalah amalan secara umum. Maknanya adalah balasan dari amalannya, jika amalan tersebut baik maka baik pula balasannya. Jika amalannya buruk, maka keburukan pula yang dia dapatkan. (Tafsir Al-Alusi dan Fathul Qadir)

Ayat terakhir yang diturunkan

Firman Allah l ini merupakan ayat terakhir yang diturunkan Allah l kepada Rasul-Nya n. Hal ini berdasarkan perkataan Ibnu ‘Abbas c yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari t dalam Shahihnya secarata’liq bahwa beliau c berkata: “Ini merupakan ayat paling akhir yang turun kepada Nabi n.” (HR. Al-Bukhari secara ta’liqKitabul Buyu’, bab Mukil Ar-Riba. Riwayat ini diriwayatkan dengan sanad yang bersambung oleh An-Nasa’i t dalam Sunan Al-Kubra (6/307), Ath-Thabarani (11/371 dan 12/23). Al-Imam Al-Bukhari t menyebutkan pula secara tersambung dalam kitab tafsir dalamShahihnya, ketika menjelaskan tafsir ayat ini, dengan lafadz: “Akhir ayat yang turun kepada Nabi n adalah ayat tentang riba.” (HR. Al-Bukhari no. 4270)

Riwayat ini tidak bertentangan dengan riwayat sebelumnya. Sebab ayat tentang riba adalah ayat-ayat yang disebutkan bersamaan dengan ayat ini, yang dimulai dari firman-Nya:

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya. Dan jika (orang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).” (Al-Baqarah: 278-281)

Maka semua ayat ini turun secara bersamaan. (Lihat Mabahits fi ‘Ulumil Qur’an, Manna’ Al-Qaththan hal. 65)

Al-Qurthubi t menyebutkan bahwa ayat ini turun sembilan hari sebelum wafatnya Rasulullah n dan tidak ada lagi ayat yang turun setelahnya. Beliau t berkata: “Ibnu Jubair dan Muqatil berkata: ‘Tujuh malam (sebelum wafat).’ Diriwayatkan pula: ‘Tiga malam’.” Lalu beliau t berkata: “Pendapat pertama lebih dikenal, lebih banyak, lebih benar, dan lebih masyhur.” (Tafsir Al-Qurthubi, 3/375)

Hari kiamat itu pasti akan tiba

Ayat Allah l yang mulia ini mengingatkan hamba-hamba-Nya akan datangnya hari yang pasti, dimana tidak seorang pun mampu menghindar dari kekuasaan-Nya.

Al-‘Allamah As-Sa’di t berkata:

“Ini merupakan ayat terakhir yang diturunkan dari Al-Qur’an. Dimana ayat ini menjadi penutup hukum-hukum-Nya, perintah dan larangan-Nya. Di dalamnya terkandung janji bagi yang berbuat kebaikan sekaligus ancaman terhadap yang berbuat keburukan. Siapa yang meyakini bahwa dia akan kembali kepada Allah l, lalu (Dia) membalasi setiap perbuatan yang kecil dan yang besar, yang nampak dan yang tersembunyi, dan Allah l tidak berbuat zalim sedikitpun. Hal ini menyebabkan rasa takut dan harap dalam diri seorang hamba. Tanpa adanya keyakinan dalam hati akan hal tersebut, tidak akan menimbulkan (rasa takut dan berharap) pada diri seseorang.” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, As-Sa’di t)

Al-Qasim bin Abi Ayyub t berkata: “Adalah Sa’id bin Jubair t menangis di malam hari hingga menyebabkan matanya rabun. Aku mendengarkannya mengulang-ulangi ayat ini:

‘Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah.’

lebih dari 20 kali.” (Tadzkiratul Huffazh, Adz-Dzahabi 1/76, Siyar A’lam An-Nubala’, 4/324)

Sungguh banyak ayat Al-Qur’an yang memperingatkan hamba-hamba-Nya akan datangnya hari yang besar tersebut. Sepantasnya seorang muslim senantiasa menjadikan hal itu sebagai langkah menuju ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah l. Di antara ayat yang mengingatkan datangnya hari tersebut:

“Dan jagalah dirimu dari (azab) hari (kiamat, yang pada hari itu) seseorang tidak dapat membela orang lain, walau sedikitpun; dan (begitu pula) tidak diterima syafaat dan tebusan darinya, dan tidaklah mereka akan ditolong.” (Al-Baqarah: 48)

“Dan takutlah kamu kepada suatu hari di waktu seseorang tidak dapat menggantikan seseorang lain sedikitpun dan tidak akan diterima suatu tebusan darinya dan tidak akan memberi manfaat sesuatu syafaat kepadanya dan tidak (pula) mereka akan ditolong.” (Al-Baqarah: 123)

“Hai manusia, bertakwalah kepada Rabbmu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikitpun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (setan) memperdayakan kamu dalam (menaati) Allah.” (Luqman: 33)

“Berilah mereka peringatan dengan hari yang dekat (hari kiamat, yaitu) ketika hati (menyesak) sampai di kerongkongan dengan menahan kesedihan. Orang-orang yang zalim tidak mempunyai teman setia seorangpun dan tidak (pula) mempunyai seorang pemberi syafaat yang diterima syafaatnya.” (Ghafir: 18)

Allah l menjelaskan pula bahwa hari kiamat merupakan hari yang tidak ada keraguan akan terjadinya. Firman-Nya:

“Bagaimanakah nanti apabila mereka Kami kumpulkan di hari (kiamat) yang tidak ada keraguan tentang adanya. Dan disempurnakan kepada tiap-tiap diri balasan apa yang diusahakannya sedang mereka tidak dianiaya (dirugikan).” (Ali ‘Imran: 25)

“Katakanlah: “Allah-lah yang menghidupkan kamu kemudian mematikan kamu, setelah itu mengumpulkan kamu pada hari kiamat yang tidak ada keraguan padanya; akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Al-Jatsiyah: 26)

“Dan sesungguhnya hari kiamat itu pastilah datang, tak ada keraguan padanya; dan bahwasanya Allah membangkitkan semua orang di dalam kubur.” (Al-Hajj: 7)

Allah l menjelaskan bahwa orang-orang yang mengingkari adanya hari kemudian adalah kafir. Firman-Nya:

Orang-orang yang kafir mengatakan, bahwa mereka sekali-kali tidak akan dibangkitkan. Katakanlah: “Tidak demikian, demi Rabbku, benar-benar kamu akan dibangkitkan, kemudian akan diberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (At-Taghabun: 7)

Dan adapun orang-orang yang kafir (kepada mereka dikatakan): “Maka apakah belum ada ayat-ayat-Ku yang dibacakan kepadamu lalu kamu menyombongkan diri dan kamu jadi kaum yang berbuat dosa?” Dan apabila dikatakan (kepadamu): “Sesungguhnya janji Allah itu adalah benar dan hari berbangkit itu tidak ada keraguan padanya”, niscaya kamu menjawab: “Kami tidak tahu apakah hari kiamat itu, kami sekali-kali tidak lain hanyalah menduga-duga saja dan kami sekali-kali tidak meyakini (nya).” (Al-Jatsiyah: 31-32)

Allah l juga mengancam orang-orang yang tidak beriman dengan hari tersebut dengan kebinasaan, azab yang pedih, dan neraka yang membakarnya. Allah l berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami.” (Yunus: 7)

“Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.” (Shad: 26)

Telah diriwayatkan dari Aisyah x bahwa Nabi n bersabda:

“Tidak seorang pun dihisab (pada hari kiamat) melainkan dia disiksa.” Aku (Aisyah) bertanya, “Semoga Allah l menjadikanku sebagai tebusanmu. Bukankah Allah k berfirman:

“Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah.” (Al-Insyiqaq: 7-8)

Jawab Nabi n: “Itu hanyalah diperlihatkan. Siapa yang dihisab dengan teliti maka dia binasa.” (Muttafaq ‘alaihi)

Hari kiamat telah dekat

Termasuk di antara bentuk peringatan Allah l kepada hamba-hamba-Nya tentang hari kiamat adalah kejadian hari kiamat yang sudah semakin dekat. Bahkan termasuk di antara yang menunjukkan semakin dekatnya hari kiamat adalah diutusnya Rasulullah n kepada seluruh manusia sebagai Nabi dan Rasul yang terakhir. Nabi n bersabda:

بُعِثْتُ وَالسَّاعَةُ هَكَذَا -وَأَشَارَ بِأَصْبِعَيْهِ السَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى

“Aku diutus bersama (dekatnya) hari kiamat seperti ini”, lalu beliau mengisyaratkan dua jarinya, telunjuk dan jari tengahnya. (HR. Ahmad [5/338], dari sahabat Sahl bin Sa’d z)

Beliau n juga bersabda:

مَثَلِي وَمَثَلُ السَّاعَةِ كَمَثَلِ فَرَسَيْ رِهَانٍ

“Perumpamaan aku dan perumpamaan hari kiamat seperti dua ekor kuda yang sedang berlomba.” (HR. Ahmad, 5/331, dari Sahl bin Sa’d z)

Hal ini juga dijelaskan oleh Allah l dalam firman-Nya:

ﮬ ﮭ ﮮ ﮯ ﮰ

“Telah dekat (datangnya) saat itu dan telah terbelah bulan.” (Al-Qamar: 1)

Terbelahnya bulan telah terjadi di zaman Rasulullah n, dan ini telah disepakati oleh para ulama. (lihat Tafsir Ibnu Katsir tentang ayat ini)

Allah juga berfirman:

“Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (darinya).” (Al-Anbiya: 1)

Kiamat itu telah dekat, maka sebelum datangnya hari penyesalan, hendaknya seseorang mempersiapkan bekal di hari yang pasti akan tiba tersebut. Firman-Nya:

Manusia bertanya kepadamu tentang hari berbangkit. Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang hari berbangkit itu hanya di sisi Allah.” Dan tahukah kamu (hai Muhammad), boleh jadi hari berbangkit itu sudah dekat waktunya. Sesungguhnya Allah mela`nati orang-orang kafir dan menyediakan bagi mereka api yang menyala-nyala (neraka), mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; mereka tidak memperoleh seorang pelindungpun dan tidak (pula) seorang penolong. Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata: “Alangkah baiknya, andaikata kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul.” Dan mereka berkata: “Ya Rabb kami, sesungguhnya kami telah menaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). Ya Rabb kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar.” (Al-Ahzab: 63-68)

Namun yang perlu diketahui, tidak seorang pun mengetahui kapan hari kiamat akan terjadi. Sebab, itu termasuk ilmu ghaib Allah l yang tidak diketahui siapapun dari kalangan hamba-hamba-Nya. Firman-Nya:

“Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Luqman: 34)

Demikian pula dalam hadits yang masyhur, tatkala Jibril bertanya kepada Rasulullah n tentang hari kiamat, beliau n menjawab:

مَا الْمَسْؤُولُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ

“Tidaklah yang ditanya lebih mengerti dari yang bertanya.” (HR. Muslim dari Umar bin Al-Khaththab z)

Takut terhadap hari kiamat termasuk ibadah

Ayat ini juga menjelaskan bahwa seorang muslim diperintahkan untuk takut akan hari kiamat dan kengerian yang terjadi padanya. Demikian pula takut dari siksaan api neraka yang sangat dahsyat. Ini sekaligus bantahan terhadap kaum Sufi yang menyangka bahwa seseorang tidak boleh beribadah karena takut hari kiamat atau takut neraka. Karena –menurut mereka– ini merupakan bentuk ketakutan seseorang kepada selain Allah l. Ini adalah keyakinan yang batil. Sebab, kita diperitahkan untuk takut kepada Allah l. Di antara bentuk rasa takut seorang hamba kepada-Nya adalah takut terhadap segala ancaman-Nya, berupa kengerian di hari kiamat dan siksaan neraka yang amat dahsyat. Nabi n juga bersabda:

اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ

“Takutlah kalian dengan neraka meskipun dengan sepotong kurma.” (Muttafaqun ‘alaihi dari hadits ‘Adi bin Hatim z)

Semoga Allah l menyelamatkan kita dari segala kesesatan dan segala siksaan-Nya.

Wallahu a’lam.