Nabi Musa di Negri Madyan

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Harits)

 

Kekejaman Fir’aun dan bangsa Qibthi (Mesir) ketika itu membuat Nabi Musa q harus berangkat meninggalkan tanah kelahirannya. Dengan pertolongan Allah l yang senantiasa mengawasi hamba-Nya, sampailah beliau di negeri Madyan.

Perjalanan panjang dan sangat menyulitkan. Dalam keadaan tanpa persiapan bekal, hanya bersandar kepada Allah Yang Maha melindungi.
Beliau pun beristirahat di dekat sebuah sumber air yang tengah ramai didatangi para penggembala ternak yang sedang memberi minum gembalaan mereka.
Allah l berfirman:
“Dan tatkala ia menghadap ke arah negeri Madyan ia berdoa (lagi): ‘Mudah-mudahan Rabbku memimpinku ke jalan yang benar.’ Dan tatkala ia sampai di sumber air negeri Madyan ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya), dan ia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya). Musa berkata: ‘Apakah maksud kalian (dengan berbuat begitu)?’ Kedua wanita itu menjawab: ‘Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami) sebelum penggembala-penggembala itu memulangkan (ternaknya), sedang ayah kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya.’
Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya, kemudian dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdoa: ‘Wahai Rabbku, sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.’
Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan dengan malu-malu, ia berkata: ‘Sesungguhnya ayahku memanggilmu agar ia memberi balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami.’ Maka tatkala Musa mendatangi ayah mereka dan menceritakan kepadanya cerita (mengenai dirinya). Dia berkata: ‘Janganlah kamu takut. Kamu telah selamat dari orang-orang yang zalim itu.’
Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: ‘Wahai ayahku, ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya.’
Berkatalah dia: ‘Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun maka itu adalah (suatu kebaikan) dari kamu, maka aku tidak hendak memberati kamu. Dan kamu insya Allah akan mendapatiku termasuk orang-orang yang baik’.” (Al-Qashash: 22-27)
Firman Allah l:
Dan tatkala ia sampai, yakni tiba di sumber air negeri Madyan.
Ia menjumpai di sana sekumpulan orang, yang sedang memberi minum ternak-ternak mereka.
Dan ia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya), yang menahan kambing-kambing mereka dari kerumunan orang banyak.
Siang itu sangat panas.
Setelah selesai memberi minum ternak kedua wanita itu, Nabi Musa q segera berteduh di bawah sebatang pohon dan berdoa:
“Wahai Rabbku, sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.”
Sebuah permintaan melalui ungkapan tentang keadaan diri beliau. Permintaan melalui keadaan yang dialami, lebih sempurna daripada meminta dengan ucapan lisan. Sehingga dengan keadaan dirinya itu, seseorang senantiasa berdoa kepada Allah l.
Ucapan ini terdengar oleh kedua wanita tersebut. Mereka pun segera pulang menemui ayah mereka.
Sang ayah terheran-heran, karena tidak biasanya kedua putrinya pulang secepat itu. Mengetahui keheranan ayahanda mereka, keduanya menceritakan apa yang terjadi.
Mendengar cerita puterinya, orang tua itu tergerak ingin memberi balasan atas kebaikan Musa q yang telah membantu mereka. Maka dia pun mengutus salah seorang putrinya.
Allah l berfirman:
“Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan dengan malu-malu,” sambil menutupi wajahnya dengan sebagian pakaiannya. Ini menunjukkan kesempurnaan iman dan kemuliaan dirinya, bukan wanita yang “berani” (jalang), suka keluar masuk kepada laki-laki.
Sedangkan sifat malu pada seorang manusia, terlebih pada seorang wanita, merupakan sifat yang paling luhur dan sangat agung. Rasulullah n bersabda:
الْحَيَاءُ لَا يَأْتِي إلَّا بِخَيْرٍ
“Rasa malu itu tidaklah datang melainkan dengan membawa kebaikan.”1
Dalam hadits lain, beliau n menyatakan bahwa:
الْحَيَاءُ مِنَ الْإِيْمَانِ
“Rasa malu itu adalah bagian dari iman.”2
Malu yang sesuai syariat adalah malu yang mendorong seseorang menjaga batas-batas hukum dan apa-apa yang diharamkan oleh Allah l. Bahkan seringnya, rasa malu ini menuntut adanya sikap wara’ dan menjaga diri dari berbagai syubhat.
Allah l berfirman:
Ia berkata: “Sesungguhnya ayahku memanggilmu agar ia memberi balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami.”
Perkataan gadis itu menepis berbagai dugaan yang mungkin timbul akibat kedatangannya. Hal ini juga menunjukkan kesempurnaan rasa malu dan pemeliharaan dirinya.
Nabi Musa q menyambut juga undangan itu walaupun bukan untuk mengharapkan upah, tetapi ingin bertemu dengan orang tua yang mengundangnya. Mereka pun berangkat menuju ke rumah lelaki tua yang shalih itu.
Beliau memerintahkan gadis itu berjalan di belakangnya dan agar memberi isyarat dengan lemparan batu ke arah mana yang dituju untuk sampai di rumahnya.
Sesampainya di rumah lelaki shalih itu, Nabi Musa q menceritakan keadaan dirinya. Orang tua itu mendengarkan, lalu berkata:
“Janganlah kamu takut. Kamu telah selamat dari orang-orang yang zalim itu.”
Kondisi rumah yang tidak ada tenaga laki-laki yang kuat dalam membantu menggembalakan kambing, mendorong salah seorang putri laki-laki shalih itu untuk berkata: “Wahai ayah, jadikanlah dia sebagai orang yang bekerja untuk kita.”
Maksudnya, untuk menggembalakan kambing. Kemudian, anak gadis itu memuji Nabi Musa q bahwasanya beliau adalah seorang laki-laki yang kuat dan dapat dipercaya.
Orang tua yang shalih itu merasa cemburu. Heran, dari mana putrinya mengetahui keadaan ‘laki-laki asing ini’? Itulah kecemburuan yang pada tempatnya. Bukan kebiasaan putrinya untuk bercampur-baur dengan kaum laki-laki. Bukan pula watak mereka untuk memerhatikan laki-laki yang bukan mahram mereka. Sebagai ayah, beliau tidak suka bila melihat putrinya melanggar batas yang telah ditetapkan oleh Allah l. Meskipun dia percaya kepribadian putrinya, beliau tetap menanyakan dari mana putrinya tahu keadaan laki-laki asing itu.
Putrinya menerangkan: “Dia sanggup mengangkat batu penutup perigi tempat minum para gembala seorang diri. Padahal batu itu hanya bisa diangkat paling sedikit sepuluh orang laki-laki. Itulah kekuatannya.3 Sedangkan amanahnya, ketika saya berjalan di depannya, dia memerintahkan saya agar berjalan di belakang dan memberi isyarat ke arah mana yang dituju.”
Demikianlah yang diriwayatkan dari sebagian salaf, seperti ‘Umar, Ibnu ‘Abbas, Syuraih Al-Qadhi, Qatadah, dan lainnya.
Kata Ibnu Mas’ud z: “Manusia yang paling tepat firasatnya ada tiga. Yaitu anak perempuan laki-laki shalih dalam kisah Nabi Musa ini, pembesar yang membeli Nabi Yusuf dan mengatakan (dalam ayat):
‘Berikanlah kepadanya tempat (dan layanan) yang baik.’
dan Abu Bakr Ash-Shiddiq z ketika mengangkat ‘Umar bin Al-Khaththab z sebagai khalifah.”
Lelaki tua itu gembira, dugaannya terhadap putrinya tidak salah, demikian pula terhadap Nabi Musa q. Lantas, dia pun berkata, sebagaimana dalam firman Allah l:
“Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini.”
Alangkah ironisnya kenyataan yang kita lihat di sekitar kita. Ketika cemburu dari para ayah dan suami atau saudara laki-laki sudah pupus. Tidak tergerak hati mereka untuk menegur atau menampakkan kemarahan kepada orang-orang yang berada di bawah kepemimpinan mereka, ketika mereka melanggar batas-batas hukum yang ditetapkan oleh Allah k.
Sebagian mereka menyibukkan diri dengan ibadah tetapi lupa atau sengaja membiarkan anak istrinya tidak shalat. Sengaja membiarkan anak-anak gadisnya atau istrinya keluar tanpa menutup aurat mereka. Atau membiarkan mereka berbicara dengan santainya bersama laki-laki yang bukan mahram atau suaminya.
Mereka membiarkan bahkan memfasilitasi anak perempuan dan istri mereka untuk ikhtilath (bercampur baur) dengan kaum laki-laki.4
Ingatlah peringatan dari Rasulullah n yang tidak berbicara melainkan berdasarkan wahyu yang diturunkan kepada beliau. Manusia yang paling penyayang kepada sesamanya. Beliau bersabda:
لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ دَيُّوثٌ
“Tidak akan masuk surga seorang dayyuts.”5
(Insya Allah bersambung)


1 HR. Al-Bukhari (10/433) dan Muslim (no. 37) dari ‘Imran bin Hushain z.
2 HR. Al-Bukhari (no. 5653) dan Muslim (no. 163).
3 Demikian dinukil oleh Ibnu Abi Syaibah t dalam Mushannaf-nya.
4 Lihat lebih lanjut pembahasan masalah cemburu ini dalam lembar Sakinah edisi 29 majalah kita ini.
5 Dayyuts ialah orang yang melihat cela pada istri (keluarga)nya tapi tidak merasa cemburu. Atau seorang wali (pemimpin) yang membiarkan kemaksiatan dilakukan oleh orang-orang yang ada di bawah kepemimpinannya. Wallahu a’lam. Hadits ini lemah, diriwayatkan oleh Abu Dawud Ath-Thayalisi (no. 3189) dari ‘Ammar, tetapi mempunyai penguat dalam Musnad Ahmad (9/272 no. 5372) dari sahabat Ibnu ‘Umar c.

Persiapan Ja’isul ‘Usrah

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Harits)

Kekuatan ‘super power’ Romawi yang dahsyat (kala itu), bukannya membuat semangat jihad para sahabat surut. Mereka justru berlomba-lomba datang menghadap Nabi n meminta agar dibawa serta dalam jihad tersebut. Namun, sebagiannya terpaksa harus kembali sambil bercucuran air mata, karena mereka tidak memiliki sesuatu yang dapat mereka berikan untuk berjihad di jalan Allah l ini.

Allah l berfirman menceritakan kesedihan mereka, padahal Dia telah memberi keringanan bagi mereka untuk tidak berangkat:
”Tiada dosa (lantaran tidak pergi berjihad) atas orang-orang yang lemah, atas orang-orang yang sakit, dan atas orang-orang yang tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan, apabila mereka berlaku ikhlas kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada jalan sedikitpun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik. Dan Allah Maha pengampun lagi Maha Penyayang, dan tiada (pula dosa) atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu berkata: ‘Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu’, lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan.” (At-Taubah: 91-92)
Keadaan yang sulit, panas menyengat, dan perbekalan yang tidak memadai menurut hitungan matematika manusia, tidak membuat luntur keinginan mereka memperoleh kesyahidan.
Beberapa orang hartawan di kalangan sahabat berlomba-lomba menginfakkan hartanya membiayai jaisyul ‘usrah (Pasukan Kesulitan).
‘Umar bin Al-Khaththab z menuturkan: “Inilah saatnya, aku akan mengalahkan Abu Bakr Ash-Shiddiq (dalam kebaikan).”
Esok harinya, dia berangkat menemui Rasulullah n membawa separuh hartanya untuk membiayai jaisyul ‘usrah ini.
Rasulullah n bertanya kepadanya: “Apa yang engkau tinggalkan untuk keluargamu, wahai ‘Umar?”
“Masih ada separuhnya buat mereka, wahai Rasulullah,” jawab ‘Umar.
Tak berapa lama datanglah Ash-Shiddiq Al-Akbar z. Dia datang menyeret hartanya yang cukup banyak dan menyerahkannya kepada Rasulullah n. Melihat harta yang cukup banyak itu, Rasulullah n bertanya pula: “Apa yang engkau tinggalkan buat keluargamu, wahai Abu Bakr?”
Abu Bakr menjawab: “Allah dan Rasul-Nya yang aku tinggalkan untuk mereka.”
Mendengar jawaban yang penuh keyakinan ini, ‘Umar z berkata: “Demi Allah, aku tidak akan berlomba lagi dalam hal apapun denganmu selama-lamanya, wahai Abu Bakr.”1
Kemudian, datanglah ‘Utsman membawa seribu dinar lalu mencurahkannya di pangkuan Nabi n. Melihat harta tersebut, Rasulullah n membolak-balikkan dinar yang ada di tangan beliau, seraya berkata: “Tidak akan mencelakakan ‘Utsman apapun yang dia lakukan setelah hari ini.”2
Demikianlah apabila iman sudah tertanam kokoh dalam sanubari setiap muslim. Membelanjakan harta di jalan Allah l, bukanlah sesuatu yang berat, sebesar apapun. Padahal watak asli manusia sangatlah cinta kepada harta. Sebagaimana Allah l berfirman:
“Dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta.” (Al-’Adiyat: 8)
Juga firman-Nya:
“Dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan.” (Al-Fajr: 20)
Bahkan Allah l memberi syarat, bahwa seseorang akan mencapai tingkatan al-birr (kebajikan, ketakwaan) apabila dia sanggup membelanjakan harta yang dicintainya:
“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna) sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai…” (Ali ‘Imran: 92)
Sementara, sebagian orang kaya dari kalangan munafik, justru mencari-cari alasan agar tidak ikut serta dalam peperangan ini. Begitu pula orang-orang baduinya. Tapi Allah l tidak menerima uzur mereka.
Allah l berfirman:
“Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut berperang) itu merasa gembira dengan tinggalnya mereka di belakang Rasulullah, serta mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah dan mereka berkata: ‘Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini.’ Katakanlah: ‘Api neraka Jahannam itu lebih sangat panas(nya)’, jikalau mereka mengetahui. Maka hendaklah mereka tertawa sedikit dan menangis yang banyak, sebagai balasan dari apa yang selalu mereka kerjakan.” (At-Taubah: 81-82)

Menuju Tabuk
Dengan kekuatan 30.000 personil, bertolaklah jaisyul ‘usrah menghadang tentara Romawi yang ingin memadamkan cahaya agama Allah l.
Pasukan berangkat di bawah terik matahari yang membakar. Rasulullah n menunjuk ‘Ali bin Abi Thalib z sebagai wakil beliau mengurus keluarga beliau. Beliau n juga mengangkat Muhammad bin Maslamah Al-Anshari z sebagai pengganti beliau di Madinah.
Melihat ‘Ali tertinggal, beberapa kaum munafik mencemoohnya: “Dia ditinggal karena memberatkan dan agar ia (Rasulullah n, red.) menjadi lebih ringan.”
Mendengar ejekan tersebut, ‘Ali bergegas mengambil senjatanya dan menyusul Rasulullah n yang ketika itu sudah sampai di Jurf.3 Kemudian ‘Ali menceritakan bahwa orang-orang munafik mengejeknya karena tidak ikut serta dalam perang Tabuk. Maka Rasulullah n bersabda: “Mereka dusta. Kamu aku tinggalkan karena orang-orang yang ada di belakangku. Kembalilah, gantikan aku dalam mengurus keluargaku dan keluargamu. Tidakkah engkau ridha, kedudukanmu di sisiku seperti Harun dengan Musa. Hanya saja, tidak ada lagi nabi sesudahku.”4
Dengan patuh, ‘Ali z kembali ke Madinah.
Kondisi yang berat, membuat wajar saja jika sebagian orang tertinggal sebetulnya. Tapi, itulah serangkaian ujian karena mereka telah menyatakan beriman dan taat kepada Allah l dan Rasul-Nya. Sehingga mau tidak mau, halangan apapun, harus mereka singkirkan demi mendahulukan seruan Allah l dan Rasul-Nya untuk berjihad.

Abu Khaitsamah z sempat tertinggal
Beberapa hari setelah Rasulullah n berangkat, Abu Khaitsamah pulang menemui keluarganya. Dia dapati kedua istrinya sedang berada di dalam kebun. Masing-masing istrinya telah mempersiapkan tempat berteduh dan menyediakan makanan serta air yang sejuk untuk mereka.
Ketika Abu Khaitsamah masuk, dia tertegun di ambang pintu tenda. Dia memandangi kedua istrinya dan memerhatikan apa yang mereka lakukan. Sambil bergumam, dia berkata: “Rasulullah n sedang kepanasan di bawah terik matahari, diterpa angin gurun. Sementara Abu Khaitsamah berada di bawah naungan yang teduh, makanan yang terhidang, istri-istri yang cantik, dan di tengah-tengah hartanya? Sungguh, ini tidak adil.”
Memang. Alangkah tidak adilnya seandainya seseorang membiarkan kekasihnya dalam keadaan menderita sementara dia bersenang-senang. Terlebih lagi kekasih itu adalah manusia paling utama, di mana ketaatan kepadanya adalah kunci kebahagiaan dunia dan akhirat.
Abu Khaitsamah tidak rela melihat sikapnya seperti itu terhadap kekasih dan junjungannya. Dengan tegas dia berkata: “Demi Allah. Aku tidak akan masuk tenda salah seorang dari kalian berdua sampai aku berhasil menyusul Rasulullah n. Maka siapkan bekalku.”
Kedua wanita yang taat dan mencintai suaminya itu dengan segera menyiapkan kebutuhan sang suami. Akhirnya, Abu Khaitsamah berangkat menyusul Rasulullah n.
Di tengah perjalanan, Abu Khaitsamah bertemu dengan ‘Umair bin Wahb Al-Jumahi yang juga ingin menyusul Rasulullah n. Mereka pun berangkat bersama.
Menjelang Tabuk, Abu Khaitsamah berkata kepada Wahb: “Aku telah berdosa. Maka tidak ada salahnya engkau meninggalkanku sampai aku bertemu Rasulullah.”
Wahb pun menerimanya.
Kemudian, tatkala telah mendekati tempat Rasulullah n yang singgah di Tabuk, sebagian pasukan berseru: “Ada kendaraan tengah berjalan menuju kemari.”
Mendengar itu, Rasulullah n bersabda: “Itu tentu Abu Khaitsamah.”
Kata mereka: “Demi Allah. Dia memang Abu Khaitsamah, wahai Rasulullah!”
Setelah menambatkan untanya, dia menemui Rasulullah n dan memberi salam. Rasulullah n berkata kepadanya: “(Ini) lebih utama bagimu, wahai Abu Khaitsamah.”
Kemudian, Abu Khaitsamah menceritakan keadaan dirinya. Rasulullah n pun mendoakan kebaikan untuknya.5
Sebelum tiba di Tabuk, rombongan pasukan melintasi daerah Hijr, wilayah pemukiman bangsa Tsamud dahulu. Sambil menutupkan kain ke wajahnya dan memacu kendaraannya, Rasulullah n berkata:
لَا تَدْخُلُوا عَلَى هَؤُلَاءِ الْمُعَذَّبِينَ إِلَّا أَنْ تَكُونُوا بَاكِينَ، فَإِنْ لَمْ تَكُونُوا بَاكِينَ فَلَا تَدْخُلُوا عَلَيْهِمْ، لَا يُصِيبُكُمْ مَا أَصَابَهُمْ
“Janganlah kamu memasuki negeri orang-orang yang disiksa ini kecuali dalam keadaan menangis. Kalau kamu tidak menangis, janganlah memasukinya, agar kamu tidak terkena azab seperti yang telah menimpa mereka.”6
Beliau n juga mengingatkan:
سَتَهُبُّ عَلَيْكُمُ اللَّيْلَةَ رِيحٌ شَدِيدَةٌ، فَلَا يَقُمْ فِيهَا أَحَدٌ مِنْكُمْ، فَمَنْ كَانَ لَهُ بَعِيرٌ فَلْيَشُدَّ عِقَالَهُ. فَهَبَّتْ رِيحٌ شَدِيدَةٌ فَقَامَ رَجُلٌ فَحَمَلَتْهُ الرِّيحُ حَتَّى أَلْقَتْهُ بِجَبَلَيْ طَيِّئٍ
“Akan berembus angin kencang malam ini. Maka janganlah seorang pun dari kalian berdiri. Siapa yang mempunyai unta, hendaklah dia kencangkan ikatannya.”
Bertiuplah angin kencang itu. Ada seseorang yang berdiri, maka dia diterbangkan angin itu sampai jatuh di bukit Thayyi’.7
Rasulullah n juga berpesan kepada pasukan agar tidak menggunakan air dari sumur yang ada, baik untuk berwudhu ataupun makan. Tapi hendaknya menggunakan air yang dahulu menjadi tempat minum unta Nabi Shalih q. Kalau ada yang hendak pergi buang hajat, hendaknya berangkat disertai temannya.
Menjelang tiba di Tabuk, Rasulullah n juga sempat berpesan:
إِنَّكُمْ سَتَأْتُونَ غَدًا إِنْ شَاءَ اللهُ عَيْنَ تَبُوكَ، وَإِنَّكُمْ لَنْ تَأْتُوهَا حَتَّى يُضْحِيَ النَّهَارُ، فَمَنْ جَاءَهَا مِنْكُمْ فَلَا يَمَسَّ مِنْ مَائِهَا شَيْئًا حَتَّى آتِيَ. فَجِئْنَاهَا وَقَدْ سَبَقَنَا إِلَيْهَا رَجُلَانِ وَالْعَيْنُ مِثْلُ الشِّرَاكِ تَبِضُّ بِشَيْءٍ مِنْ مَاءٍ. قَالَ: فَسَأَلَهُمَا رَسُولُ اللهِ n: هَلْ مَسَسْتُمَا مِنْ مَائِهَا شَيْئًا؟ قَالَا: نَعَمْ. فَسَبَّهُمَا النَّبِيُّ n وَقَالَ لَهُمَا مَا شَاءَ اللهُ أَنْ يَقُولَ، قَالَ: ثُمَّ غَرَفُوا بِأَيْدِيهِمْ مِنَ الْعَيْنِ قَلِيلًا قَلِيلًا حَتَّى اجْتَمَعَ فِي شَيْءٍ. قَالَ: وَغَسَلَ رَسُولُ اللهِ n فِيهِ يَدَيْهِ وَوَجْهَهُ ثُمَّ أَعَادَهُ فِيهَا فَجَرَتِ الْعَيْنُ بِمَاءٍ مُنْهَمِرٍ -أَوْ قَالَ: غَزِيرٍ؛ شَكَّ أَبُو عَلِيٍّ أَيُّهُمَا قَالَ- حَتَّى اسْتَقَى النَّاسُ ثُمَّ قَالَ: يُوشِكُ يَا مُعَاذُ، إِنْ طَالَتْ بِكَ حَيَاةٌ أَنْ تَرَى مَا هَاهُنَا قَدْ مُلِئَ جِنَانًا
“Sesungguhnya besok, kamu akan mendekati mata air Tabuk, Insya Allah. Kamu tidak akan memasukinya kecuali sampai masuk waktu dhuha. Maka siapa di antara kamu yang sampai di tempat tersebut, janganlah dia menyentuh airnya sedikitpun, hingga aku datang.” Tapi ada dua orang yang mendahului kami sampai di tempat itu, sementara airnya menetes sangat sedikit.
Kata perawi: Rasulullah n bertanya kepada keduanya: “Apakah kalian berdua sudah menyentuh air ini?”
Keduanya berkata: “Ya.” Mendengar ini, Rasulullah n mencela keduanya sedemikian rupa dan mengucapkan kata-kata menurut apa yang Allah l kehendaki.
Kemudian mereka menciduk air itu dengan tangan mereka sedikit demi sedikit hingga terkumpul dalam satu wadah.
Rasulullah n pun membasuh kedua tangan dan wajahnya, lalu mengembalikannya ke tempat itu. Seketika memancarlah air yang berlimpah atau sangat banyak. (Abu ‘Ali ragu-ragu mana yang disebutkan perawi). Akhirnya pasukan itu memperoleh air minum.
Kemudian beliau berkata: “Wahai Mu’adz, andaikata panjang usiamu, sungguh akan engkau lihat di sini akan penuh dengan kebun-kebun.”8
Itulah sebagian mukjizat beliau dan sekarang telah menjadi kenyataan.
Setelah tiba di Tabuk, beliau mengistirahatkan pasukan dan menetap beberapa hari di sana.
Tak lama, datanglah penguasa negeri Aylah. Dia mengajak Rasulullah n berdamai dan bersedia menyerahkan jizyah (upeti).
Beberapa hari menetap di Tabuk, Rasulullah n dan pasukan menjamak shalat mereka. Melihat pasukan Romawi tidak muncul, Rasulullah n bersiap-siap hendak kembali. (Insya Allah bersambung)


1 Lihat Shahih Abu Dawud (5/366) dan At-Tirmidzi (3676), beliau mengatakan: “Hasan shahih.”
2 HR. At-Tirmidzi (no. 3634) dan kata beliau: “Hadits ini hasan gharib.” Lihat Shahih Sunan At-Tirmidzi no. 2920.
3 Kira-kira 30 mil dari Madinah.
4 Diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari (8/86) dan Muslim (no. 2404), lihat Zadul Ma’ad 3/530.
5 Sirah Ibnu Hisyam (2/520-521), dalam Zadul Ma’ad (3/530-531).
6 HR. Imam Al-Bukhari (8/288) dan Al-Imam Muslim (no. 2980), dalam Zadul Ma’ad (3/532).
7 Diriwayatkan oleh Muslim (4/1785), lihat Zadul Ma’ad (3/531).
8 HR. Muslim no. 706.

Mari Menyibukkan Diri Dengan Ilmu, Ibadah dan Doa

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan)

 

Allah l dengan hikmah-Nya yang sempurna dan keadilan-Nya menjadikan dunia yag fana ini sebagai medan ujian dan cobaan bagi hamba-hamba-Nya. Inilah yang diberitakan Allah l dalam firman-Nya:
“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa lagi Maha pengampun.” (Al-Mulk: 2)
Mereka dihadapkan pada berbagai ujian dan cobaan. Di antaranya adalah harta, sehingga ada sebagian orang yang kaya dan ada yang miskin. Juga tahta sehingga di antara mereka ada yang menjadi pejabat dan ada yang menjadi rakyat. Dan ujian berupa ilmu, maka di antara mereka ada yang berilmu dan ada yang tidak berilmu (jahil). Dan masih banyak lagi berbagai fitnah (ujian) di dunia ini.
Hal ini sebagaimana yang Allah l firmankan:
“Dan Kami jadikan sebagian kamu cobaan bagi sebagian yang lain. Maukah kamu bersabar? Dan adalah Rabbmu Maha melihat.” (Al-Furqan: 20)
Dengan adanya berbagai ujian dan cobaan itu, kita pun menyaksikan sebagian orang berjatuhan. Kita senantiasa memohon hanya kepada Allah l keselamatan dari berbagai fitnah (ujian dan godaan). Allah l berfirman:
“Ketahuilah, bahwa mereka telah terjerumus ke dalam fitnah.” (At-Taubah: 49)
Sehingga, terpilahlah hamba-hamba-Nya menjadi dua golongan, ash-shadiqun (orang-orang yang benar/jujur) dan al-kadzibun (orang-orang yang berdusta). Sebagaimana yang Allah l beritakan:
Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (Al-’Ankabut: 1-3)
Lalu, siapakah orang yang akan selamat tatkala menghadapi berbagai ujian dan cobaan, sehingga dia berhak mendapatkan janji Allah l di dunia dan di akhirat? Jawabannya, mereka pastilah orang-orang yang mendapatkan keutamaan dan rahmat Allah l, sebagaimana firman-Nya:
“Maka kalau tidak karena karunia Allah dan rahmat-Nya atasmu, niscaya kamu tergolong orang-orang yang rugi.” (Al-Baqarah: 64)
“Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah atasmu, tentulah kamu mengikut setan, kecuali sebagian kecil saja (di antaramu).” (An-Nisa’: 83)
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di t berkata dalam tafsirnya: “Maksudnya, bila bukan karena hidayah taufiq yang Allah l karuniakan kepada kalian, juga tuntunan adab dan ilmu yang Allah l ajarkan kepada kalian –di mana kalian sebelumnya tidak mengetahuinya– niscaya kalian akan mengikuti setan kecuali sedikit saja di antara kalian yang selamat. Karena tabiat asli manusia adalah zalim dan jahil, sehingga tidaklah jiwa memerintahkan kecuali kepada yang jelek.”
Apabila dia meminta perlindungan kepada Rabbnya dan berpegang teguh dengan-Nya, serta bersungguh-sungguh dalam hal itu, niscaya Allah l akan merahmatinya. Allah l memberi hidayah kepadanya untuk melakukan berbagai kebaikan dan melindunginya dari tipu daya setan yang terkutuk.
Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam hafizhahullah mengatakan:
“Fitnah (ujian/godaan) itu banyak jumlahnya dan bermacam-macam bentuknya. Dia datang silih-berganti dari waktu ke waktu. Seorang muslim yang berpegang teguh dengan agamanya senantiasa akan menghadapi berbagai ujian itu. Barangsiapa yang selamat dari berbagai macam fitnah, berarti dia memiliki dua hal yang agung, yaitu keutamaan dari Allah l yang dilimpahkan kepadanya dan mendapatkan hidayah dari Allah l.
Allah l berfirman kepada para sahabat g setelah tersebarnya haditsul ifk (berita keji dan dusta) terhadap Ummul Mukminin Aisyah x:
“Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmat-Nya atas kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (An-Nur: 21)
Selanjutnya berkata: “Alangkah nikmatnya orang yang diberi hidayah taufiq untuk menjauhi berbagai fitnah, baik yang nampak ataupun yang tidak nampak.” (At-Tanbihul Hasan hal. 12)
Demikianlah. Rasulullah n bersabda:
إِنَّ السَّعِيدَ لَمَنْ جُنِّبَ الْفِتَنَ وَمَنِ ابْتُلِيَ فَصَبَرَ فَوَاهًا
“Sesungguhnya orang yang bahagia adalah yang dijauhkan dari fitnah-fitnah, dan barangsiapa yang diuji lalu bersabar, maka betapa indahnya.”
Di antara upaya yang bisa ditempuh agar seorang muslim selamat dari berbagai fitnah adalah:

1. Menyibukkan diri dengan ilmu
Rasulullah n bersabda:
مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
“Barangsiapa yang Allah l kehendaki kebaikan baginya niscaya Allah akan menjadikannya paham dalam agama.” (Muttafaqun alaih dari Mu’awiyah z)
Al-Hafizh Ibnu Hajar t berkata: “Yang dapat dipahami dari hadits ini adalah barangsiapa yang tidak berusaha untuk mempelajari agama, di mana dia tidak mempelajari kaidah-kaidah yang ada di dalamnya, juga tidak mempelajari segala sesuatu yang terkait dengannya berupa berbagai permasalahan cabangnya, sungguh dia telah diharamkan (terhalang) dari kebaikan.” (Fathul Bari 1/165)
Ummu Abdillah bintu Asy-Syaikh Muqbil mengatakan: “Termasuk pengarahan orangtuaku (yakni Asy-Syaikh Muqbil t) adalah ‘Bersungguh-sungguhlah kalian dalam belajar, sebelum datangnya hal-hal yang akan memalingkan kalian darinya.’ Dan kesibukan-kesibukan itu berbanding terbalik dengan mencari ilmu, mengulangnya, terlebih lagi menghafalnya. Semakin banyak kesibukan akan melemahkan ingatan. Oleh karena itulah, sebagian ulama ketika menduduki jabatan hakim, seperti Syarik bin Abdillah An-Nakha’i t, hafalannya menjadi jelek karena kesibukannya. Meskipun ada ulama lain yang ketika menjabat justru semakin bertambah banyak ilmunya. Permasalahan apapun yang dihadapkan kepadanya dia akan membahasnya, seperti Al-Imam Asy-Syaukani t. Barakah itu hanyalah dari Allah l semata.” (Nashihati lin Nisa’ hal. 23)
Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam hafizhahullah mengatakan: “Sesungguhnya, termasuk faedah mempelajari dan memahami ilmu agama ini adalah berusaha menempuh jalan yang akan menyelamatkan diri dari berbagai macam fitnah. Ini adalah keutamaan yang Allah l karuniakan kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya.”
Beliau juga berkata: “Sesungguhnya keagungan agama Islam itu tersimpan dalam setiap ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits yang shahih dari Rasulullah n. Sehingga tatkala umat Islam menghadapi berbagai ujian dan cobaan, sudah ada jalan keluarnya di dalam ayat atau hadits tersebut. Bahkan, satu ayat atau hadits, bisa mengandung lebih dari satu jalan keluar. Sungguh, Islam datang membawa obat bagi setiap fitnah yang muncul, namun sedikit sekali orang yang terobati dengannya.
Sebagai contoh, ketika Rasulullah n meninggal, terjadi perbedaan pendapat di kalangan sahabat, apakah pakaian yang dikenakan beliau harus dilepaskan ketika dimandikan atau tidak. Tiba-tiba mereka mendengar perkataan “Jangan kalian lucuti pakaian Rasulullah n”, sehingga mereka tidak melakukannya. Mereka juga berbeda pendapat tentang siapa yang akan menjadi khalifah setelah Rasulullah n meninggal. Abu Bakr z kemudian berkata: Aku mendengar Rasulullah n bersabda: “Quraisy adalah yang akan memegang urusan ini.” Sehingga para sahabat pun menyerahkan kedudukan tersebut kepada Abu Bakr z, karena beliau dari Quraisy.
Perhatikanlah bagaimana perbedaan di antara mereka g dapat dengan mudah diselesaikan dengan berdasarkan ilmu dan tunduk kepada dalil serta penjelasan yang syar’i. Sehingga menuntut ilmu dan memahaminya adalah dasar atau fondasi setiap kebaikan. Hanya saja, menuntut ilmu dilakukan kepada ahlul ilmi yang lurus aqidahnya, selamat manhajnya, dan bagus niatnya. Kemudian, memilih kitab-kitab yang baik dan guru yang cerdas dalam memahami agama. Inilah hal-hal yang dicari oleh setiap orang yang mencari kebenaran.” (At-Tanbihul Hasan, hal. 26-27)

2. Menyibukkan diri dengan ibadah
Allah l berfirman:
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabbmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (Ali ‘Imran: 133)
Rasulullah n bersabda:
بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ، يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا وَيُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا، يَبِيعُ دِيْنَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا
“Bersegeralah kalian beramal (shalih) untuk menyelamatkan diri dari berbagai fitnah yang seperti potongan malam yang gelap. Di mana seseorang pada pagi hari dalam keadaan beriman lalu di sore harinya dia menjadi kafir. Ada pula yang di sore hari dalam keadaan beriman kemudian dia masuk waktu pagi menjadi kafir. Dia menjual agamanya untuk mendapatkan keuntungan dunia.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah z)
Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam hafizhahullah berkata: “Bila setiap muslim menyibukkan diri dengan ibadah sebagaimana yang Allah l kehendaki, niscaya tidak ada waktu yang terbuang sia-sia untuk terlibat dalam fitnah, berdebat dan berbantah-bantahan. Benarlah Nabi n ketika bersabda:
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ؛ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
“Ada dua kenikmatan yang kebanyakan manusia tertipu padanya (terbuang sia-sia): nikmat kesehatan dan waktu luang.” (HR. Al-Bukhari dari Ibnu Abbas c)
Beliau hafizhahullah juga berkata: “Kata ibadah di sini mencakup seluruh jenis ibadah, seperti kejujuran, keikhlasan, perasaan dekat (diawasi) oleh Allah l, takwa, meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat, sabar, teguh di atas kebenaran, komitmen dalam belajar dan mengajarkan ilmu yang bermanfaat. Demikian pula amalan shalih yang lain seperti shalat dan puasa, dalam hal muamalah maupun akhlak, serta macam-macam ibadah lainnya.” (At-Tanbihul Hasan hal. 12)
Hal ini termasuk terapi yang sangat baik.
Demikian juga upaya untuk mengajarkan hal-hal yang bermanfaat bagi umat manusia. Bila semua orang menyibukkan diri dengan amalan masing-masing, niscaya tidak akan terjadi fitnah, seperti demonstrasi dan penggulingan kekuasaan. Semua ini adalah fitnah. Maka, alangkah agungnya terapi yang syar’i ini dan alangkah sedikitnya orang yang bisa mengambil manfaat darinya. (At-Tanbihul Hasan, hal. 14)

3. Bertanya kepada ahlul ilmi (ulama)
Allah l berfirman:
“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (An-Nahl: 43)
Allah l juga berfirman:
“Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut setan, kecuali sebagian kecil saja (di antaramu).” (An-Nisa’: 83)
Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di t berkata dalam tafsirnya:
“Ini adalah tuntunan adab dari Allah l bagi hamba-hamba-Nya terhadap sikap mereka yang tidak sepantasnya ini. Selayaknya, apabila suatu berita yang penting atau terkait dengan kepentingan umat sampai kepada mereka –seperti berita yang berkaitan dengan keamanan, atau berita yang menggembirakan orang-orang yang beriman, atau urusan yang dikhawatirkan akan menimpa mereka– hendaknya mereka memperjelas kebenarannya terlebih dahulu dan tidak tergesa-gesa menyebarkannya. Namun hendaknya mereka menyerahkan urusan tersebut kepada Rasul n (semasa hidup beliau) atau menyerahkannya kepada ulim amri di antara mereka, yaitu orang-orang yang ahli menentukan pendapat, berilmu, penasihat, dan memiliki sikap tenang. Mereka adalah orang-orang yang memahami urusan-urusan tersebut dan dampaknya yang baik. Mereka juga orang-orang yang paham terhadap akibat jelek yang akan ditimbulkannya.
Sehingga, apabila mereka melihat kebaikan dan akan menggembirakan orang-orang yang beriman, atau justru akan membangkitkan kewaspadaan mereka terhadap musuh-musuhnya, niscaya mereka akan menyebarkannya. Namun apabila mereka melihat bahwa tidak ada kebaikan untuk disebarkan, atau mengandung kebaikan bila disebarkan tetapi dampak buruknya yang lebih besar, niscaya mereka tidak akan menyebarkannya. Oleh karena itulah, Allah l berfirman:
“Tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri).”
Maknanya, kata beliau t, mereka akan berusaha mengeluarkan hukum atau keputusan dengan pikiran dan pendapat yang tepat serta ilmu mereka yang mapan.
Dalam firman Allah l ini terdapat dalil yang menunjukkan benarnya sebuah kaidah dalam adab, yaitu apabila terjadi pembahasan sebuah masalah yang sangat penting, sudah selayaknya urusan tersebut diserahkan kepada orang-orang yang ahli di dalamnya, dan tidak boleh ada yang mendahului mereka. Dengan cara ini, akan lebih mendekati kebenaran dan lebih selamat.
Disamping itu, firman Allah l ini juga mengandung larangan dari sikap tergesa-gesa dalam menyebarkan berita setelah mendapatkannya. Yang diperintahkan justru untuk memerhatikan dan meneliti lebih dahulu sebelum menyebarkannya, apakah berita itu berupa kebaikan sehingga dapat disebarkan, ataukah sebaliknya. Kemudian Allah l berfirman:
“Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut setan, kecuali sebagian kecil saja (di antaramu).”
Maksudnya, bila bukan karena hidayah taufiq dari Allah l, tuntunan dan ajaran terhadap hal-hal yang tidak kalian ketahui sebelumnya, niscaya kalian akan mengikuti bisikan setan, kecuali sedikit saja dari kalian yang selamat. (Taisir Al-Karimirrahman)
Namun, musibah bisa saja terjadi sebagaimana yang diperingatkan oleh Asy-Syaikh Muqbil t: “Namun sebagian penuntut ilmu merasa mantap atau cukup dengan sedikit ilmu yang dimilikinya. Dia siap membantah setiap orang yang menyelisihi pendapatnya. Ini adalah salah satu sebab yang akan menimbulkan perpecahan dan perselisihan. Wallahul musta’an.”
Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam hafizhahullah berkata: “Para penuntut ilmu adalah duta para ulama kepada umat manusia. Hanya saja yang dicela di antara mereka adalah yang mendahului para ulama serta merasa tidak membutuhkan arahan dan nasihat mereka, kemudian tidak mau menimba ilmu dari para ulama.” (Bidayatul Inhiraf, hal. 437)
4. Berdoa
Hakikatnya, seorang hamba sangat membutuhkan ilmu dan petunjuk, sehingga dia meminta dan mencarinya. Dengan mengingat Allah l dan merasa sangat membutuhkan-Nya, niscaya Allah l akan menunjukinya, sebagaimana firman Allah l dalam hadits qudsi:
يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ ضَالٌّ إِلَّا مَنْ هَدَيْتُهُ فَاسْتَهْدُونِي أَهْدِكُمْ
“Wahai hamba-hamba-Ku, kalian semua tersesat kecuali siapa yang Aku beri petunjuk, maka mohonlah petunjuk kepada-Ku niscaya Aku akan menunjukimu.” (HR. Muslim dari Abu Dzar z)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t berkata: “Apabila seorang hamba merasa dirinya sangat membutuhkan Allah l dan senantiasa berusaha meneliti firman Allah l, sabda Rasulullah n dan ucapan para sahabat g, tabi’in, serta para imam kaum muslimin, niscaya akan terbuka baginya jalan petunjuk.” (Majmu’ Fatawa, 5/118)
Beliau t juga berkata: “Barangsiapa yang telah jelas baginya kebenaran dalam suatu urusan, hendaknya dia mengikutinya. Sedangkan barangsiapa yang masih belum mendapatkan kejelasan hendaknya dia tidak bersikap sampai Allah l menampakkan kejelasan kepadanya. Selayaknya dia meminta pertolongan dalam urusan tersebut dengan berdoa kepada Allah l. Termasuk doa yang paling baik dalam urusan tersebut adalah apa yang diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim t dalam Shahih-nya dari Aisyah x, bahwa bila Nabi n terbangun dari tidur malamnya, beliau lalu shalat dan berdoa (dalam doa iftitahnya):
للَّهُمَّ رَبَّ جِبْرَئِيْلَ وَمِيْكَائِيْلَ وَإِسْرَافِيْلَ، فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، أَنْتَتَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِكَ فِيمَا كاَنُوْا فِيْهِ يَخْتَلِفُوْنَ، اهْدِنِي لِمَا اخْتُلِفَ فِيْهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِكَ، إِنَّكَ تَهْدِي مَنْ تَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيْمٍ
“Ya Allah, wahai Rabb Jibril, Mikail dan Israfil! Wahai Yang memulai penciptaan langit-langit dan bumi tanpa ada contoh sebelumnya! Wahai Dzat Yang mengetahui yang gaib dan yang tampak! Engkau menghukumi/memutuskan di antara hamba-hamba-Mu dalam perkara yang mereka berselisih di dalamnya. Tunjukilah aku mana yang benar dari apa yang diperselisihkan dengan izin-Mu. Sesungguhnya Engkau memberikan hidayah kepada siapa yang Engkau kehendaki ke jalan yang lurus.”
Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di t berkata: “Sesungguhnya orang yang meneliti dan membahas ilmu ketika membutuhkannya untuk beramal atau berbicara, kemudian dia belum mendapatkan pendapat yang lebih dekat kepada kebenaran setelah dia meniatkan mencarinya dalam hatinya dan membahasnya, maka sesungguhnya Allah l tidak akan mengecewakan orang yang seperti ini. Sebagaimana yang terjadi pada Nabi Musa q ketika beliau bermaksud pergi ke kota Madyan padahal beliau tidak tahu jalan ke arahnya. Beliau q berdoa:
“Mudah-mudahan Rabbku memimpinku ke jalan yang benar.” (Al-Qashash: 22)
Sungguh Allah k telah membimbing beliau serta memberikan apa yang beliau harapkan dan cita-citakan.” (Taisir Al-Lathifil Mannan, hal. 180)
Kita memohon kepada Allah l semata agar kita senantiasa ditunjuki kepada jalan yang lurus dan diselamatkan dari berbagai fitnah hingga datangnya ajal kita.
Amin ya Rabbal alamin.

Memilih Teman Membentengi Keyakinan

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman)

 

Segala puji bagi Allah yang telah memuliakan hamba-hamba-Nya dengan menganugerahi mereka sifat ulfah (kedekatan sesama mereka) di dalam agama, memberikan taufik kepada akhlak yang paling mulia, menganugerahi mereka sifat sayang kepada kaum mukminin, menghiasi mereka dengan akhlak yang mulia dan perangai yang diridhai. Menjadikan mereka meneladani Rasulullah n dalam perbuatan, akhlak, pergaulan, dan amalan mereka. Karena Allah l telah memuji beliau dalam sebuah firman-Nya:
“Sesungguhnya engkau berada di atas akhlak yang agung.” (Al-Qalam: 4)
Allah l telah menyeru beliau kepada akhlak yang agung:
“Berilah maaf kepada mereka dan mintakanlah ampun buat mereka serta ajaklah mereka bermusyawarah dalam banyak hal dan jika kamu memiliki azam/tekad kuat (untuk melakukan sesuatu) maka bertawakkallah kepada Allah.” (Ali ‘Imran: 159)
Di antara kebagusan pergaulan beliau dan keindahannya, Allah l berfirman:
“Jika kamu keras hati niscaya mereka akan lari darimu.” (Ali ‘Imran: 159)
“Berikanlah maaf dan serulah kepada yang baik dan berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (Al-A’raf: 199)
‘Aisyah x telah ditanya tentang akhlak Rasulullah n, lalu beliau x berkata: “Akhlaknya adalah Al-Qur’an.”
Segala puji bagi Allah l yang telah menjadikan hamba-Nya memiliki akhlak yang agung dan mulia. Dialah yang telah membimbing mereka kepada akhlak dan adab yang terpuji, serta menyelamatkan mereka dari akhlak yang tercela. Allah l berfirman:
“Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka.” (Al-Anfal: 63)
Ulfah (kedekatan hati) akan melahirkan ukhuwah. Ukhuwah akan melahirkan kebagusan dalam bergaul dan berteman. Allah l lah yang memberikan taufik kepada siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya dan membantu mereka dengan karunia serta keluasan rahmat-Nya.
Tentunya adab berteman dan bergaul banyak bentuknya. Setiap golongan manusia berhak mendapatkan adab-adab berteman dan bergaul. Oleh karena itu, wajib atas setiap mukmin untuk menjaga hak saudaranya dan memperbagus pergaulannya. Rasulullah n telah menyebutkan bahwa mukmin itu adalah bersaudara, bagaikan satu jasad (tubuh). Tentunya, mereka semestinya akan tolong-menolong dalam kebaikan.
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوْادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ الْوَاحِدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَى
“Permisalan orang yang beriman dalam cinta kasih dan sayang mereka bagaikan satu jasad yang bila salah satu dari anggota  tubuh tersebut mengeluh kesakitan maka seluruh anggota tubuh akan begadang dan merasa panas.” (HR. Muslim no. 4685)
الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا
“Seorang mukmin dengan mukmin lainnya bagaikan satu bangunan yang sebagiannya mengokohkan sebagian yang lain.” (HR. Al-Bukhari no. 2266)
Apabila Allah l menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya, niscaya Allah l memberikan taufiq untuk berteman dengan Ahlus Sunnah, dengan orang yang selalu menjaga diri, orang yang baik, dan baik agamanya. Allah l menyelamatkannya dari berteman dengan pengekor hawa nafsu, ahli bid’ah, dan orang-orang yang menyimpang. Karena Rasulullah n bersabda:
الرَّجُلُ عَلَى دِيْنِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
“Seseorang berada di atas agama temannya, maka hendaklah setiap kalian melihat siapa temannya.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi, dll)
Seorang penyair berkata:
عَنِ الْمَرْءِ لَا تَسْأَلْ وَسَلْ عَنْ قَرِينِهِ
فَكُلُّ قَرِيْنٍ بِالْمُقَارَنِ مُقْتَدِي
Janganlah engkau bertanya tentang jati diri seseorang, tapi tanyakanlah siapa temannya
Karena setiap orang akan mengikuti temannya
(lihat Muqaddimah Adab Ash-Shuhbah karya Al-Imam Abdurrahman As-Sulami)
Ruh-ruh itu ibarat pasukan yang kokoh
Watak dan karakter yang berbeda sangat memengaruhi pergaulan sehari-hari. Perbedaan watak dan karakter menyebabkan setiap individu akan mencari yang serupa dan menolak jika tidak sama. Yang baik akan bergabung dengan yang baik dan yang jelek akan bergabung dengan yang jelek. Hal ini telah disinyalir oleh Rasulullah n dalam sebuah sabdanya:
الْأَرْوَاحُ جُنُودٌ مُجَنَّدَةٌ فَمَا تَعَارَفَ مِنْهَا ائْتَلَفَ وَمَا تَنَاكَرَ مِنْهَا اخْتَلَفَ
“Ruh-ruh itu ibarat sebuah pasukan yang kokoh, bila dia saling kenal maka akan bertemu, dan bila saling tidak kenal akan berpisah.”
Al-Imam Al-Baghawi t di dalam Syarhus Sunnah (13/57) mengatakan: “Hadits ini disepakati ulama tentang keshahihannya, diriwayatkan oleh Muhammad (Al-Bukhari t, pen.) dari ‘Aisyah x, dan diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim t dari Yazid bin Al-Asham, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah z. Abdullah bin Mas’ud z berkata, ‘Ruh itu sebuah tentara yang dipersiapkan akan bertemu dengan yang sepadan. Sebagaimana kuda, jika dia cocok maka akan menyatu dengannya, dan bila tidak akan berpisah’.”
Di dalam hadits ini terdapat dalil bahwa ruh-ruh diciptakan sebelum jasad, dan bahwa ruh itu merupakan makhluk, ketika bersatu atau berpisah bagaikan sebuah pasukan bila bertemu dan berhadapan. Hal ini karena Allah l telah menjadikannya ada yang beruntung dan ada pula yang celaka. Setelah itu jasad yang menjadi tempat ruh akan bertemu di dunia, maka akan bertemu atau berpisah sesuai dengan keserupaan atau tidaknya, yang telah diciptakan baginya di awal penciptaannya. Sehingga engkau melihat seseorang yang baik akan mencintai yang baik, dan orang yang jahat akan senang kepada yang serupa. Dan masing-masing dari keduanya akan lari dari lawannya.”
Al-Imam An-Nawawi t dalam syarah beliau menjelaskan, “Orang yang baik akan condong kepada orang yang baik dan orang yang jahat akan condong kepada yang jahat.”

Figur pergaulan dan persahabatan yang baik pada generasi terbaik
Sesungguhnya kehidupan ini adalah bagian kecil dari karunia Allah l bagi manusia. Dialah yang telah menciptakan kehidupan dan kematian agar Allah l menguji siapa yang paling baik amalnya di antara mereka. Dia pula yang telah memilih siapa yang paling dekat dengan diri-Nya dari hamba-hamba-Nya serta siapa yang dijauhkan. Dia pula yang telah mengangkat dan merendahkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dengan beramal, seseorang akan menjadi mulia di sisi Allah l dan menjadi generasi terbaik dalam kurun kehidupan manusia. Allah l berfirman:
“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu.” (Al-Hujurat: 13)
Rasulullah n bersabda:
خَيْرُكُمْ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ
“Sebaik-baik kalian adalah generasiku, kemudian setelah mereka, kemudian setelah mereka.” (HR. Al-Bukhari no. 2457)
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (Al-Mujadalah: 11)
Generasi siapakah yang mendapatkan karunia pengangkatan derajat pertama kali dari umat ini dengan ilmu dan amal?
Itulah generasi sahabat Rasulullah n, sebagaimana dalam hadits ‘Imran bin Hushain z di atas.
Bagaimanakah mereka berteman, bergaul, dan bersahabat? Apakah mereka mendahulukan kesukuan dan ras? Atau mendahulukan karakteristik dan perasaan? Atau mendahulukan kekeluargaan?
Untuk menjawab semua pertanyaan ini, mari kita lihat bagaimana sifat-sifat mereka yang telah diabadikan Allah l di dalam banyak ayat-Nya. Di antaranya:
“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya. Maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Al-Fath: 29)
“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin). Mereka (Anshar) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin) dan mereka (Anshar) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung.” (Al-Hasyr: 9)
Adakah sifat pergaulan dan persahabatan dalam bermuamalah yang paling tinggi dari apa yang Allah l sifatkan mereka di dalam ayat-ayat di atas? Mereka adalah orang yang keras terhadap orang kafir dan penyayang sesama mereka. Mereka adalah orang yang taat kepada Allah l dalam melaksanakan segala kewajiban. Mereka adalah orang yang tulus ikhlas dalam mencari karunia Allah l. Mereka adalah orang-orang yang tangguh dan kokoh. Mereka adalah orang yang ditakuti oleh musuh-musuh Allah l. Mereka adalah orang yang mencintai saudaranya lebih dari diri mereka sendiri. Mereka adalah orang yang tidak kikir dan bakhil. Mereka mengutamakan saudaranya daripada kepentingan mereka sendiri.
Dengan semua sifat ini, adakah kecurigaan dalam berteman dan persahabatan di antara mereka, buruk sangka, saling benci, saling hasad, saling mencela, saling menjatuhkan, saling menjauhi, mencari-cari kesalahan, dan saling berpaling? Cukuplah pujian dan sanjungan Allah l untuk mereka sebagai generasi terbaik umat ini yang patut untuk diteladani.

Memilih teman adalah bagian dari agama
“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Rabbnya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (Al-Kahfi: 28)
“Maka berpalinglah (wahai Muhammad) dari orang yang berpaling dari peringatan Kami, dan tidak mengingini kecuali kehidupan duniawi.” (An-Najm: 29)
“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” (Al-An’am: 116)
Rasulullah n memerintahkan kepada kaum lelaki ketika mencari pasangan: “Pilihlah yang beragama. Jika tidak, akan celaka kedua tanganmu.”
Al-Imam An-Nawawi t berkata: “Di dalam hadits ini terdapat anjuran dan dorongan untuk berteman dengan orang yang memiliki agama dalam segala permasalahan. Karena berteman dengan mereka akan mendapatkan kebagusan akhlak mereka, keberkahan, dan kebagusan jalan mereka serta akan terpelihara dari kerusakan yang akan timbul dari mereka.” (Syarah Shahih Muslim 10/52)

Teman yang baik akan membantu dalam kebaikan
Sesungguhnya syariat telah menganjurkan kita untuk berteman dengan orang-orang yang baik dan menjauhkan diri dari teman yang jelek. Rasulullah n bersabda:
الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ
“Seseorang berada di atas agama temannya.” (HR. Ahmad)
Beliau n juga menjelaskannya sebagaimana dalam riwayat Al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu Musa z:
مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً
“Permisalan teman yang baik dan teman yang jelek seperti (berteman) dengan pembawa minyak wangi dan tukang pandai besi. Dan adapun (berteman) dengan pembawa minyak wangi kemungkinan dia akan memberimu, kemungkinan engkau membelinya, atau kemungkinan engkau mencium bau yang harum. Dan (berteman) dengan tukang pandai besi kemungkinan dia akan membakar pakaianmu atau engkau mendapatkan bau yang tidak enak.”
Al-Hafizh Ibnu Hajar t di dalam kitabnya Fathul Bari (4/324) menjelaskan: “Di dalam hadits ini terdapat larangan berteman dengan seseorang yang akan merusak agama dan dunia. Hadits ini juga mengandung anjuran agar seseorang berteman dengan orang yang akan bermanfaat bagi agama dan dunianya.”
Di dalam hadits ini terdapat bimbingan dan dorongan agar berteman dengan orang-orang yang shalih dan berilmu, karena berteman dengan mereka akan mendatangkan kebaikan di dunia dan akhirat. Juga terdapat peringatan dari berteman dengan orang yang jelek dan fasik karena akan membahayakan agama dan dunia. Berteman dengan orang baik akan mewariskan kebaikan, sedangkan berteman dengan orang yang jahat akan mewariskan kejelekan. Tak ubahnya seperti angin, jika dia bertiup pada sesuatu yang wangi maka akan membawa bau yang harum. Jika bertiup pada sesuatu yang busuk, maka akan membawa bau yang busuk. Walhasil, pertemanan akan berpengaruh. Oleh karena itu, Allah l berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (At-Taubah: 119)
Sebagian orang bijak berkata: “Selalulah kalian bersama Allah l. Jika kalian tidak sanggup maka bertemanlah kalian dengan orang yang (selalu) bersama Allah l.” (Lihat Mirqatul Mafatih Syarah Misykatu Al-Mashabih, 14/306)

Bila teman anda orang yang jelek
Saudaraku… Anda pasti tidak akan sudi dan tidak ingin jika api itu akan membakar pakaian anda atau mendapatkan bau yang busuk. Jika anda tidak sudi hal itu menimpa dunia anda, apakah anda akan senang jika hal itu menimpa agama anda?
Tentu jawabannya lebih tidak senang. Mari kita simak sabda Rasul kita:
الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ
“Seseorang berada di atas agama temannya.” (HR. Ahmad)
Bagaimanakah pendapat anda jika:
1.    Teman anda adalah orang yang rusak agama, manhaj (pemahaman), aqidah, ibadah, akhlak, muamalah, dan semua sendi agamanya?
2.     Teman anda adalah orang yang curang, pendusta, suka menipu, dan pengkhianat?
Sudikah anda berteman bersama mereka? Jika anda mengatakan iya, berarti bersiaplah menuju kehancuran dan kehinaan hidup karena anda melanggar perintah Allah l dan Rasul-Nya. Jika anda mengatakan tidak, tahukah anda teman yang baik yang harus anda cari?
Teman yang baik adalah teman yang memiliki sifat-sifat sebagai berikut; orang yang taat dan selalu menepati janji, amanah, jujur, senang berkorban, terpuji, dan orang yang menjauhi lawan dari sifat tersebut. Oleh karena itu, jika pertemanan tidak dibangun di atas ketaatan, kelak di hari kiamat akan berubah menjadi permusuhan. Allah l berfirman:
“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (Az-Zukhruf: 67)

Beberapa contoh pengaruh teman dalam beragama
1. Dibawakan sebuah riwayat oleh Al-Imam Al-Bukhari dan Muslim, dari sahabat Musayyab z, tatkala beliau menyaksikan kematian Abu Thalib sebagai paman Rasulullah n. Bagi kita, tidaklah tersembunyi perihal pembelaan beliau terhadap Rasulullah n dalam mendakwahkan agama Allah l ini. Dengarkan berita ketika matinya: “Tatkala Abu Thalib di atas ranjang kematiannya, datanglah Rasulullah n kepadanya dengan menawarkan Islam, ‘Wahai pamanku, ucapkan kalimat Laa ilaaha illallah, kalimat yang dengannya aku bisa membelamu kelak di sisi Allah’, dua saudara Abu Thalib yaitu Abdullah bin Abu Umayyah dan Abu Jahl yang lebih dahulu hadir mendiktekan sesuatu yang bertolak belakang dengan ajakan Rasulullah n, yaitu agar Abu Thalib tetap mempertahankan agama kufurnya. Takdirlah telah mendahului dia bahwa dia harus mati dalam kondisi kafir di atas agama nenek moyangnya.”
Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab t mengambil faedah melalui hadits ini dalam kitab beliau At-Tauhid bab firman Allah l: “Innaka Laa Tahdi Man Ahbabta” faedah yang kedelapan, Bahaya teman yang jahat terhadap seseorang.
2. ‘Imran bin Haththan bin Zhabyan As-Sadusi Al-Bashri, termasuk salah satu ulama tabi’in. Beliau meriwayatkan dari ‘Aisyah, Abu Musa, dan Ibnu Abbas g, dan yang meriwayatkan darinya adalah Ibnu Sirin, Qatadah, dan Yahya bin Abi Katsir. Akan tetapi beliau termasuk tokoh Khawarij. Hal ini karena awalnya dia ingin menikahi anak pamannya yang berpemahaman Khawarij. Kata Ibnu Sirin, dia menikahinya dalam rangka untuk membantahnya. Namun istrinya yang justru menyeretnya ke dalam madzhab Khawarij. Disebutkan oleh Al-Mada’ini bahwa wanita itu memiliki kecantikan, sementara dia memiliki rupa yang jelek. Pada suatu hari, dia terheran lalu wanita tersebut berkata kepadanya: “Saya dan kamu di dalam jannah karena kamu diberi lalu bersyukur dan aku diuji lalu aku bersabar.”
3. Abu Bakr Abdurrazzaq bin Hammam bin Nafi’ bin Sa’dan Al-Himyari Al-Yamani (lebih dikenal dengan Ash-Shan’ani, penulis Al-Mushannaf)
Beliau adalah hafizh besar, alim negeri Yaman. Beliau berangkat mendulang ilmu ke negeri Hijaz, Syam, dan Irak. Beliau tertipu dengan pemikiran gurunya, Ja’far bin Sulaiman Adh-Dhaba’i, sehingga terpengaruh paham Syi’ah.
4. Abu Bakr Ahmad bin Husain bin Ali bin Musa, Al-Hafizh, Al-Allamah, Ats-Tsabt, Al-Faqih, Syaikhul Islam, yang masyhur dengan nama Al-Baihaqi. Beliau adalah salah satu dari sederetan ulama ahli hadits, bahkan ulama mereka. Beliau terpengaruh paham Asy’ariyyah dari Ibnu Faurak dan semisalnya.
5. Abu Dzar Al-Harawi, ‘Abd bin Ahmad bin Muhammad bin Abdullah bin Ufair bin Muhammad, Al-Hafizh, Al-Imam, Al-Mujawwid, Al-’Allamah, syaikh negeri Haram. Beliau termasuk salah satu perawi Al-Bukhari dan menulis ilzamat atas Ash-Shahihain serta termasuk murid Al-Imam Ad-Daruquthni. Beliau mendengar Al-Imam Ad-Daruquthni memuji Al-Baqillani, lalu beliau terpengaruh dan mencintainya sehingga beliau terjatuh ke dalam madzhab Asy’ariyyah serta menyebarkannya di negeri Maghrib (Afrika Utara bagian barat).
(Lihat Siyar A’lamin Nubala’ karya Al-Imam Adz-Dzahabi dalam biografi para ulama di atas. Lihat pula tulisan Asy-Syaikh Rabi’, Syarah Aqidatus Salaf Ashabil Hadits hal. 302)
Ini adalah beberapa contoh dari sejumlah besar orang yang terpengaruh dengan paham kesesatan karena salah dalam memilih teman.
Jika hal itu terjadi pada diri para ulama besar, akankah kita akan merasa aman?
Wallahu a’lam bish-shawab.

Kawan yang Takkan Menjadi Lawan

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar)

 

Seorang hamba, siapapun dia, pasti membutuhkan orang lain sebagai kawan hidupnya. Karena manusia diciptakan sebagai makhluk lemah yang sangat bergantung dengan bantuan sesama.

Semenjak pertama kali ia terlahir dan menghirup nafas di dunia, lalu tumbuh berkembang menuju kedewasaan hingga jasadnya terbujur kaku di liang kubur, seluruh proses kehidupan itu mesti dijalaninya bersama orang lain.
Yang harus diperhatikan, kebahagiaan seorang hamba di dunia maupun di akhirat sangat erat kaitannya dengan teman dekatnya. Berdasarkan apakah hal ini diungkapkan? Benarkah baik buruknya amalan kita dapat dipengaruhi oleh teman dekat? Insya Allah sekelumit penjelasan berikut ini akan mencoba menjawabnya.
Dalam sebuah hadits, Rasulullah n bersabda:
الرَّجُلُ عَلَى دِيْنِ خَلِيلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
“Seseorang tergantung agama teman dekatnya, maka hendaknya kalian memerhatikan siapakah teman dekatnya.”
Hadits ini diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah z melalui dua jalur periwayatan, oleh Al-Imam Ahmad (2/303, 334) Abu Dawud (no. 4812), At-Tirmidzi (no. 2484), Al-Hakim (4/171), Ath-Thayalisi (no. 2107), Al-Qudha’i (dalam Al-Musnad no. 187).
Asy-Syaikh Al-Albani berkata dalam As-Silsilah Ash-Shahihah (2/633), “Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud (2/293, At-Taziyah), At-Tirmidzi (2/278, Syarah At-Tuhfah), Al-Hakim (4/171), Ahmad (2/303, 334), Al-Khatib (4/115), dan ‘Abdu bin Humaid dalam Al-Muntakhab minal Musnad (1/154); dari jalan Zuhair bin Muhammad Al-Khurasani, ia berkata: ‘Musa bin Wardan telah menyampaikan hadits kepada kami dari Abu Hurairah z, Rasulullah n bersabda, Seseorang tergantung agama temannya maka hendaknya kalian memerhatikan siapakah temannya’.”
At-Tirmidzi berkata, “Hadits ini hasan gharib.”
Adapun Al-Hakim, beliau diam. Sikap beliau ini tepat sekali. Karena Zuhair dalam sanad ini adalah seorang perawi yang ada kelemahannya. Al-Hafizh menjelaskan bahwa riwayat penduduk Syam darinya adalah riwayat yang tidak kuat, karena itulah ia dilemahkan.
Al-Bukhari berkata menukil dari Ahmad, “Sepertinya Zuhair yang diriwayatkan oleh penduduk Syam adalah Zuhair yang lain.”
Abu Hatim berkata, “Ia meriwayatkan hadits dari hafalannya ketika berada di Syam, oleh karena itu banyak terjadi kesalahan.”
Akan tetapi hadits ini memiliki jalan lain yang diriwayatkan oleh Ibrahim bin Muhammad Al-Anshari, dari Sa’id bin Yasar, dari Abu Hurairah z, dengan hadits yang sama. Jalan ini diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asakir dalam Al-Majlis Ats-Tsalits wal Khamsiin minal Amali (2/2). Al-Hakim berkata, “Hadits ini shahih, insya Allah.” Pendapat beliau disetujui oleh Adz-Dzahabi, meski hal ini sangat aneh, karena beliau (Adz-Dzahabi) menilai Ibrahim dalam kitabnya Adh-Dhu’afa’ dengan mengatakan, “Ia (Ibrahim bin Muhammad Al-Anshari, red.) memiliki beberapa hal yang mungkar.”
Kemudian di akhir pembahasan, Asy-Syaikh Al-Albani berkata, “Hadits ini memang lemah namun tidak terlalu lemah sekali sehingga dapat diberikan syahid (penguat). Oleh karena itu, hadits ini adalah hadits hasan. Wallahu a’lam.”

Pengaruh orang dekat
Saudaraku… Pengaruh orang dekat sangat kuat dalam membentuk perilaku, tabiat, dan sifat seseorang. Lebih-lebih lagi bila orang dekat tersebut telah menjadi figur dan kepercayaannya. Tentu akan menjadi sebuah kelaziman baginya untuk mengikuti, meniru, mencontoh, bahkan membela orang dekat itu.
Orangtua misalnya, adalah orang yang paling dekat dengan kita. Orangtua mendapat tanggung jawab untuk membentuk sifat serta karakter anaknya menjadi keturunan yang shalih dan shalihah. Sehingga baik buruknya seorang anak sangat erat hubungannya dengan pendidikan yang diberikan orangtuanya. Apakah ia akan menjadi seorang muslim yang baik, ataukah menjadi pengikut agama Yahudi dan Nasrani, atau tidak mengenal agama sama sekali, karena pada umumnya seorang anak sangat terpengaruh dengan orangtua sebagai orang dekatnya. Bukankah Rasulullah n pernah bersabda:
كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ
“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan di atas fitrah. Maka kedua orangtuanyalah yang menjadikan anak tersebut menjadi Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Al-Bukhari no. 1384 dan Muslim no. 2658 dari hadits Abu Hurairah z)
Contoh lain dalam Islam yang mengharuskan setiap pemeluknya untuk memerhatikan dan berusaha dengan langkah terbaik di dalam memilih orang dekat adalah dalam proses memilih seorang wanita untuk menjadi istri dan pasangan hidupnya. Rasulullah n bersabda dalam hadits Abu Hurairah z:
تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ؛ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ
“Wanita itu (menurut kebiasaan) dinikahi karena empat hal: Bisa jadi karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Maka pilihlah olehmu wanita yang memiliki agama. Karena bila tidak, engkau akan celaka.” (HR. Al-Bukhari no. 5090 dan Muslim no. 3620)
Bisa dibayangkan betapa indah kehidupan rumah tangga yang diatur dan ditata dengan bantuan seorang istri yang shalihah. Telah banyak kejadian nyata di mana seorang suami beroleh hidayah dan kebaikan disebabkan istri yang shalihah. Sulit untuk dibayangkan bagaimana sempit dan menderitanya rumah tangga yang diatur dan dijalankan oleh seorang istri yang jahat. Banyak cerita nyata tentang tersesatnya seorang suami dari jalan kebenaran disebabkan istrinya sebagai orang terdekat. ‘Iyadzan billah (Kita meminta perlindungan kepada Allah).
Dengan demikian, pesan Rasulullah n dalam hadits di atas hendaknya selalu menjadi sebuah pertimbangan ketika hendak memilih seseorang untuk menjadi orang dekatnya, entah sebagai istri, suami, tetangga, guru, atau teman bekerja.
Abdullah bin Mas’ud z berkata, “Hendaknya kalian menilai orang dengan teman dekatnya. Karena seorang muslim akan mengikuti orang yang muslim, sementara orang jahat akan mengikuti orang yang jahat pula.” (Al-Mu’jam Al-Kabir no. 8919, Al-Ibanah 502)
Abdullah bin Mas’ud z berkata, “Orang yang dapat berjalan bersama dan berteman adalah orang yang disuka dan yang sejenis.” (Al-Ibanah, 499)
Abud Darda’ z berkata, “Di antara bentuk kecerdasan seseorang adalah selektif dalam memilih teman berjalan, teman bersama, dan teman duduknya.” (Al-Ibanah, 379)

Akibat buruk dari salah memilih teman
Saudaraku… perlu diketahui bahwa di antara sumber kejahatan adalah dekat dengan pelaku maksiat, bid’ah, dan hizbiyyah (yang fanatik buta dengan kelompoknya, red.). Pada beberapa ayat dalam Al-Qur’an, Allah l memerintahkan Nabi Muhammad n untuk berhati-hati dari para pengikut hawa nafsu, tidak menjadikan mereka sebagai teman dan berusaha untuk menghindar. Allah l berfirman:
“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah) maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebagian dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik.” (Al-Maidah: 49)
Allah l juga berfirman:
“Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan agama itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. Sesungguhnya mereka sekali-kali tidak akan dapat menolak dari kamu sedikitpun dari (siksaan) Allah. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain, dan Allah adalah pelindung orang-orang yang bertakwa.” (Al-Jatsiyah: 18-19)
Allah l berfirman dalam ayat lain:
“Dan sesungguhnya mereka hampir memalingkan kamu dari apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, agar kamu membuat yang lain secara bohong terhadap Kami; dan kalau sudah begitu tentulah mereka mengambil kamu jadi sahabat yang setia. Dan kalau Kami tidak memperkuat (hati)mu niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka. Kalau terjadi demikian, benar-benarlah, Kami akan rasakan kepadamu (siksaan) berlipat-ganda di dunia ini dan begitu (pula siksaan) berlipat-ganda sesudah mati, dan kamu tidak akan mendapat seorang penolong pun terhadap Kami.” (Al-Isra’: 73-75)
Dari beberapa ayat di atas dapat disimpulkan bahwa berdekatan dan berkawan dengan pelaku maksiat, bid’ah, dan hizbiyyah merupakan sebuah ujian yang sangat besar. Apabila Allah l melarang dan memperingatkan Nabi Muhammad n dari orang-orang semacam mereka, maka tentunya kita lebih pantas untuk lebih berhati-hati. Berdekatan dan berkawan dengan mereka hanyalah akan menjadi sebab penyimpangan dan kesesatan, kecuali Allah l menghendaki lain.
Dalam hal ini, Rasulullah n bersabda dalam hadits Abu Musa Al-Asy’ari z:
إِنَّمَا مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَجَلِيسِ السُّوءِ، كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ وَإمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ وَإمَّا أنْ تَجِدَ مِنْهُ ريحاً طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الْكِيرِ إمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ، وَإمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحاً مُنْتِنَةً
“Sesungguhnya teman baik dan teman yang buruk itu diibaratkan dengan penjual minyak wangi dan pandai besi. Penjual minyak wangi dapat memberikan wewangian untukmu, engkau membelinya, atau engkau mendapatkan aroma wangi darinya. Adapun pandai besi bisa jadi membakar pakaianmu atau engkau mendapatkan aroma yang tidak sedap darinya.”
Al-Imam Ibnu Baththal t menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan larangan bermajelis dengan orang yang mendatangkan gangguan, seperti orang yang berbuat ghibah atau membela kebatilan. Hadits ini juga menunjukkan perintah untuk bermajelis dengan orang yang dapat mendatangkan kebaikan, seperti dzikir kepada Allah l, mempelajari ilmu, dan seluruh perbuatan baik lainnya. (Syarah Ibnu Baththal)
Lalu perhatikanlah akibat buruk saat hari kiamat nanti karena salah dalam memilih teman. Pada hari kiamat, setiap orang yang zalim akan menggigit dua tangannya penuh sesal, kecewa, sedih, dan merugi karena kekufuran, kesyirikan, kemaksiatan, serta dosa yang ia lakukan. Ia berandai-andai, “Aduhai kiranya dahulu aku mengambil jalan keimanan bersama Rasul, mengikuti dan membenarkan risalahnya.” Ia menyesali perbuatannya karena telah menjadikan si fulan sebagai teman akrabnya, baik dari kalangan manusia atau jin. Padahal teman akrabnya tersebut adalah orang yang jahat dan buruk. Teman akrab yang tidak akan mendatangkan kecuali kehinaan dan kebinasaan. Teman akrab yang selalu menjadikan dosa dan maksiat sebagai sesuatu yang indah dan baik. Maka, hendaknya setiap hamba berhati-hati di dalam memilih teman akrabnya. Allah l berfirman di dalam surat Al-Furqan:
Dan (ingatlah) hari (ketika) orang yang zalim itu menggigit dua tangannya, seraya berkata: “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan (yang lurus) bersama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku, kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan jadi teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al-Qur’an ketika Al-Qur’an telah datang kepadaku. Dan setan itu tidak akan menolong manusia.” (Al-Furqan: 27-29)

Tidak bergaul dengan ahlul bid’ah dan pelaku maksiat
Kemudian, di antara prinsip dasar akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah tidak bermajelis dengan pelaku bid’ah, tidak menjadikan mereka sebagai teman dekat, atau berkumpul dengan mereka. Di dalam kitab-kitab i’tiqad (akidah) Ahlus Sunnah, hal ini selalu disebutkan dan tidak terlewatkan. Banyak sekali nasihat ulama dalam hal ini. Di antaranya adalah ucapan Al-Imam Ahmad bin Hanbal t, “Tidak seyogianya bagi siapapun untuk bermajelis, bercampur, dan merasa dekat dengan ahlul bid’ah.” (Al-Ibanah, 490)
Habib bin Abi Az-Zibriqan t berkata, “Dahulu jika Muhammad bin Sirin t mendengarkan satu kata dari seorang pelaku bid’ah, dia akan menutup kedua telinganya dengan jari. Kemudian beliau berkata, ‘Tidak halal bagiku untuk berbicara dengannya hingga ia bangkit dari tempatnya’.” (Al-Ibanah, 484)
Al-Imam Ahmad bin Hanbal t berkata, “Janganlah engkau meminta saran kepada pelaku bid’ah dalam masalah agama, dan janganlah meminta pelaku bid’ah untuk menjadi teman dalam safarmu.” (Al-Adab Asy-Syar’iyyah, 3/578)
Al-Fudhail bin ‘Iyadh t berkata, “Tidak akan mungkin seseorang yang mencintai As-Sunnah dapat berteman dengan orang yang senang bid’ah, kecuali jika terdapat kenifakan.” (Ar-Radd ‘alal Mubtadi’ah no.1629)
Ibnu Taimiyah t berkata, “Barangsiapa berprasangka baik dengan mereka (ahlul bid’ah) dan mengaku tidak mengetahui keadaan mereka, maka ia harus diberi pengertian tentang keadaan mereka. Jika setelah itu ia tidak dapat berpisah dengan mereka serta tidak menampakkan pengingkaran terhadap mereka, maka ia dinilai sama seperti mereka dan dijadikan sebagai bagian dari mereka.” (Al-Majmu’, 2/133)
Ibnul Jauzi t berkata, “Perampok jalanan ada empat: seorang mulhid (atheis/penyeleweng) yang memunculkan keraguanmu terhadap agama Allah l, seorang mubtadi’ (ahli bid’ah) yang menjauhkan dirimu dari Sunnah Rasulullah n, seorang pelaku maksiat yang mendukungmu berbuat maksiat, dan seorang yang lalai sehingga membuatmu lupa untuk berdzikir kepada Allah l.” (At-Tadzkirah, hal. 183)
Dari beberapa nasihat ulama di atas, dapat diambil sebuah keyakinan bahwa Islam melarang untuk bergaul dan berdekatan dengan orang-orang yang buruk serta menuntunkan untuk menghindari mereka sejauh mungkin. Hal ini disebabkan adanya pengaruh besar dari para pelaku bid’ah yang akan merusak akidah dan agama seseorang.

Memilih kawan yang jujur
Setiap muslim wajib untuk bergaul dan berkawan dengan orang baik. Jika ia jahil, maka kawannya yang akan menyampaikan ilmu, jika ia lupa maka kawannya yang akan mengingatkan, dan jika ia berbuat salah maka kawannya yang akan membimbingnya kepada kebenaran. Allah l berfirman:
“Dan bersabarlah kamu bersama dengan orang-orang yang menyeru Rabbnya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini.” (Al Kahfi: 28)
As-Sa’di t berkata dalam tafsir ayat ini, “Di dalam ayat ini terkandung perintah untuk berteman dengan orang-orang baik serta menundukkan jiwa agar dapat berteman dan bergaul dengan mereka, meskipun mereka adalah orang-orang fakir. Karena bergaul dengan mereka akan mendatangkan manfaat yang tiada terbilang.”
Qatadah bin Di’amah As-Sadusi t berkata, “Demi Allah, tidaklah kami menyaksikan seseorang berteman kecuali dengan yang sejenis dan setipe. Oleh karena itu, bertemanlah kalian dengan hamba-hamba Allah l yang shalih agar kalian dapat bersama dengan mereka atau semisal dengan mereka.” (Al-Ibanah, 511)
Oleh karena itu, pembaca… Hendaknya kita benar-benar teliti dan selektif dalam memilih seseorang sebagai teman apalagi teman dekat. Karena kedekatan kepada seseorang akan menumbuhkan cinta, padahal Al-Imam Al-Bukhari dan Al-Imam Muslim rahimahumallah meriwayatkan sebuah hadits dari Ibnu Mas’ud z tentang kedatangan salah seorang sahabat untuk menemui Rasulullah n dan bertanya, “Wahai Rasulullah bagaimanakah tanggapan anda tentang seseorang yang mencintai suatu kaum dan belum pernah bertemu dengan mereka?” Maka Rasulullah n menjawab, “Setiap orang akan bersama dengan orang yang ia cintai.” Artinya ia akan dibangkitkan pada hari kiamat nanti bersama orang yang ia cintai. Mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang dibangkitkan bersama Rasulullah n dan yang mencintai beliau. Allah l berfirman:
“Dan barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang shalih. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (An-Nisa’: 69)

Menjaga persahabatan dengan cinta
Jika Allah l menghendaki kebaikan dari seorang hamba maka Allah l akan memberikan taufiq kepadanya untuk bergaul dengan orang-orang baik yang mencintai As-Sunnah dan agama Islam. Allah l akan menjauhkan dirinya dari orang-orang jahat dari kalangan ahlul bid’ah dan pelaku maksiat lainnya.
Maka dari itu, seorang muslim harus memanfaatkan nikmat ini dengan sebaik-baiknya dengan memerhatikan adab-adab di dalam berteman. Sebuah kaidah penting yang mesti diperhatikan di dalam bergaul dengan sesama Ahlus Sunnah adalah menyadari dan selalu mengingat bahwa setiap manusia tidak mungkin terlepas dari kesalahan dan kekurangan. Demikian pula sikap seorang muslim di dalam berteman. Kemudian yang harus diingat juga adalah setiap orang pasti memiliki kekurangan dan kelebihan. Karena itu, jika seorang muslim melihat kekurangan saudaranya hendaknya ia mengingat kelebihan yang dimilikinya.
Al-Imam Ibnu Mazin t berkata, “Seorang mukmin selalu mencari udzur untuk saudaranya, sementara orang munafik selalu mencari kesalahan temannya.”
Al-Imam Hamdun Al-Qassar t berkata, “Jika saudaramu terjatuh dalam sebuah kesalahan maka berikanlah untuknya 90 udzur. Apabila tetap tidak dapat, maka dirimulah yang lebih patut untuk dicela.” (Adabul ‘Isyrah, 13)
Al-Imam Ibnul A’rabi t1 berkata, “Berusahalah untuk selalu melupakan kesalahan yang diperbuat saudaramu, pasti rasa cinta di antara kalian akan terjaga.” (Adabul ‘Isyrah, 14)
Maka hendaknya sesama Ahlus Sunnah dapat mewujudkan ayat dan hadits-hadits Rasulullah n yang menggambarkan kekuatan dan kebersamaan di antara mereka, seperti satu tubuh yang satu sama lain saling merasakan. Sebagaimana sebuah bangunan yang saling menguatkan dan saling mengokohkan. Benci dan cinta yang dibangun di atas fondasi iman dan As-Sunnah, memberi dan tidak memberi hanya karena Allah l, serta bertemu dan berpisah demi meraih ridha Allah l semata.
Wallahu a’lam.


1 Beliau adalah Abu Abdirrahman Bakr bin Hammad t (200-296 H). Seorang imam, muhaddits (ahli hadits), ahli bahasa Arab, dan ulama bermadzhab Maliki. Beliau lahir di negeri Maghrib (sekarang wilayah Maroko, Aljazair, dan sekitarnya, red.).
Kita juga mengenal Ibnul ‘Arabi, yang nama aslinya adalah Abu Bakr Muhammad bin Abdillah t (486-543 H). Lahir di Al-Isybiliyah (Sevilla, Spanyol). Beliau adalah ulama bermadzhab Maliki, penulis kitab Ahkamul Qur’an.
Adapun Ibnu ‘Arabi yang bernama asli Muhammad bin Ali Al-Hatimi Ath-Tha’i (560-638 H) adalah seorang mulhid (penyimpang), tokoh sufi penganut paham Wihdatul Wujud (Manunggaling Kawula Gusti). Dialah yang menulis kitab Fushushul Hikam dan Al-Futuhat Al-Makkiyah.

Sahabat Sejati dan Sahabat Yang Harus Dijauhi

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Ubaidah Syafruddin)

 

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Rabbnya di pagi dan senja hari dengan mengharap wajah-Nya. Dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka karena mengharapkan perhiasan dunia ini. Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (Al-Kahfi: 28)
Sebab turunnya ayat
Al-Imam Al-Qurthubi t berkata, “Ayat ini serupa dengan ayat yang tersebut pada surat Al-An’am: 52.”
Salman z berkata: Para muallaf yang dibujuk hatinya yaitu Uyainah bin Hushn Al-Fazari dan Al-Aqra’ bin Habis At-Tamimi datang kepada Rasulullah n. Mereka berkata, “Wahai Rasulullah, andaikata engkau duduk di bagian depan majelis, dan engkau singkirkan mereka yaitu Salman, Abu Dzar, dan para fuqara muslimin. Mereka hanya mampu berpakaian dengan jubah wol (bulu domba) dan tidak ada selainnya. Jika demikian, kami akan duduk di majelismu, berbincang-bincang bersamamu dan mengambil apa yang engkau katakan.” Maka, turunlah ayat ini. (Lihat Tafsir Al-Qurthubi 15/390, Ath-Thabari 15/236, Al-Baghawi 3/159, dan Zadul Masir 5/132)
Ibnu Katsir t (Tafsirnya 3/81) menjelaskan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan orang-orang yang terpandang, yakni para pemuka Quraisy. Mereka meminta Nabi n agar mereka duduk di majelis dan hanya mereka saja yang ada. Orang-orang lemah dari kalangan sahabat seperti Bilal, Ammar, Shuhaib, Khabbab, dan Ibnu Mas’ud tidak boleh duduk bersama mereka. Mereka meminta agar orang-orang lemah tersebut menyendiri di tempat lainnya. Maka turunlah ayat ini.

Penjelasan mufradat ayat
“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Rabbnya.”
Sabar dalam ayat ini diterangkan oleh para ulama tafsir, bermakna al-habsu wa ats-tsabat. Yaitu menahan, menetapi, menguatkan. Maknanya adalah: Wahai Muhammad, tahan, tetapkan, dan kuatkan dirimu dan duduklah bersama dengan sahabat-sahabatmu, yaitu orang-orang yang selalu mengingat Allah l. Selalu berdoa (beribadah) kepada Rabbnya di pagi dan sore hari. Mereka adalah orang-orang mukmin, hamba-hamba Allah l yang kembali (bertaubat) kepada-Nya, dan senantiasa mengingat Allah l. Sabar yang dimaksud dalam ayat ini adalah sabar dalam melakukan ketaatan kepada Allah l. Ia merupakan jenis yang paling tinggi dari macam-macam sabar. Dengan sempurnanya (sabar jenis ini), akan sempurna pula macam sabar yang lainnya. (Al-Baidhawi 3/493, Ath-Thabari 15/234, dan As-Sa’di 1/475)
“Menyeru Rabbnya.”
Ibnu Katsir t berkata: “Yaitu mengingat Allah l dengan bertahlil (mengucapkan kalimat لاَ إِلَهَ إِلَّا اللهُ), bertahmid (mengucapkan الْحَمْدُ لِلهِ (, bertasbih (mengucapkan (سُبْحَانَ اللهِ, bertakbir (mengucapkan اللهُ أَكْبَرُ), berdoa, beramal shalih seperti menjalankan shalat fardhu/wajib (shalat lima waktu) dan yang lainnya.
Sebagian ulama berpendapat, maknanya adalah ibadah secara mutlak. Mengerjakan shalat lima waktu secara berjamaah, berdzikir, membaca Al-Qur’an, berdoa kepada Allah l agar didatangkan kebaikan (manfaat) dan dijauhkan dari kejelekan (mudharat).
Al-Imam Ath-Thabari t dalam Tafsirnya (7/203-206) menjelaskan bahwa ulama ahli tafsir berbeda pendapat dalam memaknai ayat ini:
Pertama, maknanya ialah mengerjakan shalat lima waktu secara berjamaah.
Pendapat ini diriwayatkan Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Al-Hasan Al-Basri, Ibrahim An-Nakhai, Mujahid, dan Adh-Dhahhak. Pada sebagian riwayat, Mujahid berkata, “Shalat yang diwajibkan, shubuh dan ashar.”
Diriwayatkan dari Qatadah, “Dua shalat, yaitu shubuh dan ashar.”
Sedangkan dari Sa’id bin Musayyab diriwayatkan, “Shalat shubuh.”
Kedua, maknanya ialah dzikrullah.
Pendapat ini diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Ibrahim, dan Manshur.
Ketiga, maknanya mempelajari Al-Qur’an dan membacanya.
Pendapat ini diriwayatkan dari Abu Ja’far.
Keempat, maknanya berdoa dan beribadah.
Pendapat ini diriwayatkan dari Adh-Dhahak.
Kemudian Al-Imam Ath-Thabari t mengatakan. “Yang benar dalam hal ini, Allah l melarang Nabi-Nya Muhammad mengusir orang-orang yang menyeru (berdoa) kepada Rabb mereka di pagi dan sore hari. Maka makna menyeru (berdoa) kepada Allah l yaitu beribadah dengan berbagai cara ibadah yang dianjurkan. Seperti bertasbih, bertahmid, memuji baik dengan ucapan maupun dengan gerakan anggota badan, mencakup perbuatan yang wajib (seperti shalat lima waktu), maupun yang nawafil (sunnah), yang diridhai Allah l. Sehingga, bisa jadi mereka mengerjakan semua makna doa atau ibadah tersebut secara keseluruhan. Allah l menyebutkan sifat mereka demikian, yaitu orang-orang yang menyeru kepada-Nya di pagi dan sore hari (dengan berbagai macam ibadah). Karena Allah l telah menamai “ibadah” dengan istilah “doa”, Allah l berfirman:
“Dan Rabbmu berfirman: ‘Berdoalah kepada-Ku niscaya akan Kuperkenankan bagimu’.” (Ghafir: 60)
Bisa jadi, makna doa di sini adalah ibadah secara khusus. Namun pendapat ini tidaklah lebih benar dibandingkan pendapat sebelumnya. Karena Allah l telah menyebutkan sifat mereka dengan (orang-orang yang senantiasa) melakukan ibadah (secara umum). Sehingga, tidak ada pengkhususan dengan suatu ibadah tertentu yang mereka lakukan, tanpa ibadah yang lain.

“Di pagi dan senja hari.”
Kalimat ini menunjukkan kepada makna istimrar (kebersinambungan, terus-menerus, dan tidak terputusnya) ibadah mereka kepada Allah l, pada seluruh waktu. Adapula yang memahami, maknanya adalah mereka senantiasa menjaga shalat shubuh dan ashar. (Fathul Qadir 3/281)
Al-Imam Al-Qurthubi t mengatakan, dikhususkan penyebutan waktu pagi dan sore, karena pada umumnya kesibukan manusia terjadi di waktu pagi dan sore hari. Barangsiapa yang di waktu manusia sibuk beraktivitas, ia menghadap (beribadah) kepada Allah l, tentunya di waktu yang luang, ia akan lebih beramal (lebih giat dalam beribadah kepada Allah l). (Al-Qurthubi 6/432)
As-Sa’di t berkata, “Dalam ayat ini juga terdapat sunnah berdzikir, berdoa, beribadah di kedua pengujung hari (pagi dan petang). Karena Allah l memuji mereka dengan sebab ibadah mereka di pagi dan petang hari. Setiap perbuatan yang Allah l puji pelakunya, menunjukkan bahwa Allah l cinta kepada perbuatannya. Jika Allah l mencintainya maka berarti Allah l memerintahkannya.”

“Mengharap wajah-Nya.”
Kalimat ini menerangkan keadaan orang-orang yang berdoa (beribadah) kepada Allah l dengan ikhlas (karena Allah l). Dikaitkan dengan keikhlasan, sebagai peringatan bahwa ikhlas merupakan sendi (tiang) semua urusan. Adapula yang berpendapat, maknanya adalah taat kepada-Nya dan ikhlas (beribadah hanya karena Allah l). Ikhlas dalam beribadah dan beramal hanya karena Allah l. Menghadap hanya kepada-Nya dan bukan kepada selain-Nya.
Sebagian ulama menafsirkan, mereka beribadah dengan mengharap kepada Allah l, yang disebutkan dengan sifat bahwa Allah memiliki wajah. Hal ini seperti firman Allah l:
“Dan tetap kekal wajah Rabbmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (Ar-Rahman: 27)
Demikian pula firman Allah:
“Dan orang-orang yang sabar karena mencari wajah Rabbnya.” (Ar-Ra’d: 22) [lihat Tafsir Al-Qurthubi dan Al-Baidhawi]

“Dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka.”
Kata ﭝ berasal dari kalimat أَعْدَاهُ وَعَادَهُ, maknanya berpaling.
Al-Imam Al-Qurthubi t berkata, janganlah kedua matamu memandang rendah mereka. (Tafsir Al-Qurthubi 10/391)
Asy-Syinqithi t mengatakan, janganlah kedua matamu melampaui mereka, gelisah dengan penampilan mereka yang usang (lusuh). Jangan merendahkan mereka karena adanya keinginan kuat dalam berharap kepada orang-orang kaya dan berpaling dari mereka yang lemah/miskin. Dalam ayat yang mulia ini, Allah l melarang Nabi-Nya memalingkan kedua matanya dari orang-orang mukmin yang lemah dan fakir, karena berharap besar kepada orang-orang kaya dan perhiasan kehidupan dunia yang ada pada mereka.
Az-Zajjaj berkata, “Maknanya adalah jangan kamu palingkan pandanganmu dari mereka kepada yang lain dari kalangan orang-orang yang terpandang dan berpenampilan bagus.” (Adhwa’ul Bayan, 3/264)

“Mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini.”
Yaitu karena menginginkan majelis para pemuka yang ingin mengusir dengan paksa, menjauhkan orang-orang fakir dari majelis Rasulullah n. Nabi n pun tidak ingin melakukannya. Bahkan Allah l melarang beliau n melakukannya. Hal ini tidak jauh berbeda dengan ayat:
“Jika kamu mempersekutukan Allah niscaya akan hapuslah amalmu.” (Az-Zumar: 65)
Meskipun Allah l telah melindungi beliau n dari perbuatan syirik.

“Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami.”
Yaitu orang-orang yang Kami kunci mati hatinya.
Al-Imam Al-Qurthubi t dalam Tafsirnya (10/392) meriwayatkan dari jalan Adh-Dhahhak dari Ibnu Abbas c, beliau berkata: “Ayat ini turun kepada Umayyah bin Khalaf Al-Jumahi. Hal itu disebabkan karena beliau meminta kepada Nabi Muhammad n sesuatu yang beliau n tidak menyukainya, yaitu memisahkan orang-orang fakir dari sisi beliau dan lebih dekat (bersahabat) dengan orang-orang besar dari penduduk Makkah. Maka Allah l turunkan ayat ini. Maknanya adalah orang-orang yang Kami kunci mati hatinya dari bertauhid.”
Ath-Thabari t menjelaskan, “Maknanya adalah janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir yang berusaha untuk mengusir orang-orang yang senantiasa beribadah di pagi dan petang harinya.” (Tafsir Ath-Thabari, 15/236)

“Serta menuruti hawa nafsunya.”
Ath-Thabari t berkata, “Yaitu orang-orang yang tidak mau mengikuti perintah Allah l dan menjauhi larangan-Nya. Lebih mendahulukan hawa nafsunya ketimbang ketaatan kepada Rabbnya.”
As-Sa’di t mengatakan, “Yaitu menjadi pengikut hawa nafsunya. Apa yang disukainya, ia pun mengerjakannya serta berusaha untuk menggapainya, walaupun dalam usahanya terdapat kebinasaan dan kerugian. Dengan demikian ia telah menjadikan hawa nafsunya sebagai sesembahan. Sebagaimana yang Allah l firmankan:
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai sesembahannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya.” (Al-Jatsiyah: 23)

“Dan adalah keadaannya melewati batas.”
Yaitu sia-sia, penyesalan, kebinasaan, menyelisihi kebenaran.
Ath-Thabari dalam Tafsirnya (15/236) mengatakan bahwa para ahli tafsir berselisih dalam memaknai ayat ini.
Ada yang berpendapat keadaan urusan mereka sia-sia, sebagaimana riwayat dari Abdullah bin ‘Amr dan Mujahid.
Ada yang memaknainya dengan penyesalan, sebagaimana riwayat dari Dawud.
Sedangkan riwayat dari Khabbab mengatakan kebinasaan, Ibnu Zaid mengatakan menyelisihi al-haq.
Yang benar adalah pendapat yang mengatakan bahwa urusan mereka sia-sia dan binasa. Hal ini berdasarkan suatu ucapan: “Si fulan telah melampaui batas (berlebih-lebihan) dalam urusannya,” jika ia melampaui batas dan kadar kemampuannya.
Demikian pula seorang yang urusannya berlebih-lebihan adalah orang yang Kami lalaikan hatinya dari mengingat Kami dengan berbuat riya, sombong, merendahkan orang-orang yang beriman. Seorang yang berlebih-lebihan, ia telah melampaui batas yang dengannya pula akan ia sia-siakan kebenaran yang akan berakhir pada kebinasaan.

Faedah yang dapat diambil
As-Sa’di t berkata: “Dalam ayat ini Allah l perintahkan Nabi-Nya dan yang lain, agar menyabarkan dirinya bersama orang-orang yang beriman, hamba-hamba Allah l yang kembali (senantiasa bertaubat), orang-orang yang selalu menyeru Rabbnya di pagi dan sore hari, yaitu di awal dan di akhir hari. Mereka melakukan hal itu hanya untuk mengharap wajah Allah l. Maka Allah l sifati mereka sebagai (orang-orang yang beribadah) dan melakukannya dengan keikhlasan. Adanya perintah untuk bersahabat dengan orang-orang yang baik, kesungguhan jiwa dalam bersahabat dengan mereka, upaya membaur berkumpul dengan mereka, meskipun mereka adalah orang-orang fakir, karena dalam bersahabat dengan mereka terdapat faedah dan manfaat yang tidak bisa dihitung.

Ayat ini juga menunjukan bahwa orang yang seharusnya ditaati dan menjadi imam (pemuka manusia) adalah orang yang hatinya penuh dengan kecintaan kepada Allah l, dan dilahirkan/diungkapkan dengan lisannya, tekun dalam mengingat Allah l, mengikuti keridhaan Rabbnya, mendahulukan kecintaan (kepada Allah l) ketimbang hawa nafsunya. Hal itu ia jaga setiap waktu. Ia perbaiki keadaan dirinya, sehingga seluruh keadaannya menjadi baik. Semua perbuatannya di atas keistiqamahan dan mengajak manusia kepada apa yang Allah l karuniakan kepadanya. Sehingga, pantaslah dengan hal itu ia diikuti dan dijadikan sebagai imam atau pemuka.” (Tafsir As-Sa’di 1/475)

Penutup
Abul Barakat Badruddin Muhammad bin Muhammad Al-Ghazzi Ad-Dimasyqi berkata dalam kitabnya Adabul ‘Isyrah (hal. 19, 51): “Di antara adab dalam pergaulan adalah ikhlas dalam bersahabat. Yaitu memerhatikan dalam bersahabat dengan temannya, kebaikan mereka, dan bukan mengikuti keinginannya. Berupaya menunjukkan kepada jalan yang benar dan bukan kepada apa yang disenanginya.
Abu Shalih Al-Murri t mengatakan, ‘Seorang mukmin yang baik adalah yang menemanimu dengan cara yang baik, menunjukkanmu kepada kebaikan agama dan duniamu. Adapun orang munafik adalah orang yang menemanimu dengan mencari muka dan berdusta, serta menunjukkanmu kepada apa yang kamu inginkan (menurut seleramu). Sedangkan orang yang ma’shum adalah orang yang mampu membedakan antara dua keadaan ini’.”
Beliau juga berkata, “Di antara adab berteman adalah tidak berteman dengan orang yang menyelisihimu dalam hal i’tiqad (keyakinan). Yahya bin Muadz berkata, ‘Barangsiapa yang aqidahmu berbeda dengan aqidahnya, maka hatimu akan berbeda dengan hatinya’.”
Wallahu a’lam bish-shawab.

Bahaya Berteman Dengan Ahlul Bid’ah

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abdurrahman Mubarak)

 

Diantara prinsip Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah tidak bermajelis dan tidak berteman dengan ahlul bid’ah (orang yang gemar melakukan amalan yang tidak diajarkan Rasulullah n).
Jiwa setiap insan telah diciptakan dalam keadaan lemah. Allah l berfirman:
“Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah.” (An-Nisa’: 28)
Oleh karena itu, Allah l dengan rahmat-Nya membimbing hamba-hamba-Nya kepada perkara yang bisa membantu menjaga agama mereka, berupa berteman dengan orang-orang baik dan shalih. Allah l berfirman:
“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Rabbnya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini.” (Al-Kahfi: 28)
Ibnu Katsir t berkata: “Yakni duduklah bersama hamba-hamba Allah l yang berdzikir, membaca kalimat tauhid, bertahmid, bertasbih, dan bertakbir serta meminta kepada Allah l pagi dan petang. Baik mereka orang fakir, kaya, ataupun lemah.”
Demikian juga, Allah l melarang dan memperingatkan kita agar tidak berteman atau duduk bersama orang-orang yang jelek agamanya. Allah l berfirman:
“Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika setan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu sesudah teringat (akan larangan itu).” (Al-An’am: 68)
Orang yang paling besar mudharatnya jika dijadikan teman adalah ahlul bid’ah (lihat keterangan tentang ahlul bid’ah pada catatan kaki rubrik Manhaji, red.). Mudharat yang terjadi akibat berteman, bergaul, dan bermajelis dengan mereka lebih besar daripada mudharat yang terjadi karena bergaul dengan pelaku maksiat yang masih Ahlus Sunnah.
Oleh karena itu, telah masyhur dalam kitab-kitab ulama Ahlus Sunnah tentang peringatan agar tidak berteman atau bermajelis dengan mereka.
Diantara dalil hal ini adalah firman Allah di atas:
“Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika setan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu sesudah teringat (akan larangan itu).” (Al-An’am: 68)

Peringatan salaf agar tidak bergaul dengan ahlul bid’ah
Fudhail bin Iyadh t berkata: “Barangsiapa yang duduk bersama ahlul bid’ah, maka hati-hatilah darinya. Barangsiapa yang duduk bersama ahlul bid’ah dia tidak akan diberi hikmah. Aku menginginkan ada benteng dari besi yang memisahkan aku dengan ahlul bid’ah…”
Beliau berkata, “Aku bertemu orang-orang terbaik, dan mereka semua adalah Ahlus Sunnah, semuanya melarang bergaul dengan ahlul bid’ah.”
Al-Imam Ahmad t berkata: “Tidaklah sepantasnya seseorang duduk dengan ahlul bid’ah atau bergaul dengannya, tidak pula punya hubungan dekat dengannya.”
Beliau juga berkata dalam suratnya kepada Musaddad: “Janganlah kamu bermusyawarah dengan ahlul bid’ah dalam perkara agamamu dan janganlah berteman safar dengannya.”
Pembaca yag budiman, demikianlah sikap salaf terhadap ahlul bid’ah. Bukan malah menjadikannya sebagai pimpinan ataupun pembimbing, terlebih dalam masalah ibadah.

Sikap terhadap orang yang bergaul dengan ahlul bid’ah (hizbiyin)
Ibnu Taimiyah t berkata: “Jika pergaulan seseorang adalah dengan orang-orang jelek, maka peringatkanlah orang darinya.”
Yahya bin Sa’id Al-Qaththan berkata: Ketika Sufyan datang ke Bashrah, beliau melihat Rabi’ bin Shubaih serta kedudukannya di sisi manusia. Beliau bertanya, “Bagaimana pemahamannya?” Mereka menjawab, “Pemahamannya adalah Ahlus Sunnah.” Beliau berkata, “Siapa teman-temannya?” Mereka menjawab, “Orang-orang Qadariyyah (pengingkar takdir).” Beliau berkata, “Berarti dia adalah pengingkar taqdir juga.”
Ibnu Baththah t berkata: “Semoga Allah l merahmati Sufyan Ats-Tsauri t. Beliau telah berucap dengan hikmah dan telah benar. Beliau berbicara dengan hikmah dan benar, juga dengan ilmu serta sesuai dengan Al-Kitab dan As-Sunnah yang dituntut oleh hikmah, dilihat oleh mata, dan dipahami orang yang punya bashirah. Allah l berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu.” (Ali ‘Imran: 118)
Abu Dawud As-Sijistani pernah berkata kepada Al-Imam Ahmad, “Aku melihat ada seorang Ahlus Sunnah sedang bersama dengan ahlul bid’ah. Apakah aku tinggalkan bicara dengannya?” Al-Imam Ahmad menjawab, “Jangan. Engkau beritahu dia bahwa orang yang kamu lihat dia bersamanya adalah ahlul bid’ah. Jika dia meninggalkan perbuatannya berbicara dengan ahlul bid’ah tersebut, maka sambunglah hubungan dengannya. Namun jika tetap seperti itu, tinggalkanlah. Ibnu Mas’ud berkata, ‘Seseorang itu sama dengan temannya’.”
Wahai hamba Allah l, janganlah engkau korbankan agamamu untuk dunia dengan berbasa-basi bersama ahlul bid’ah.
Ibnu Taimiyah t berkata: “Jika dia beranggapan baik kepada ahlul bid’ah –mengaku bahwa dia belum tahu keadaan mereka– maka dia diberitahu tentang keadaan mereka. Jika setelah dijelaskan, dia tidak berpisah dengan mereka dan tidak menampakkan pengingkaran terhadap mereka, maka dia digabungkan dan disikapi seperti mereka.”
Bahkan para ulama memerintahkan agar anak-anak pun dijauhkan sejak dini dari ahlul bid’ah. Ibnul Jauzi t berkata: “Takutlah kalian kepada Allah l dari berteman dengan mereka. Wajib untuk mencegah anak-anak dari pergaulan bersama mereka, agar tidak ada pada hati mereka satu kebid’ahan pun. Sibukkanlah mereka dengan hadits-hadits Rasulullah n agar lembut hati mereka.”
Al-Imam Al-Barbahari t berkata: “Jika nampak kepadamu dari seseorang satu kebid’ahan, hati-hatilah darinya. Karena yang dia sembunyikan darimu lebih banyak dari yang ditampakkannya.” (Dinukil dari Lammud Durril Mantsur)
Demikian salafus shalih sangat menjaga diri mereka, anak-anak serta sahabat-sahabat mereka dari kebid’ahan dan ahlul bid’ah.
Muhammad bin Sirin t jika mendengar satu kata dari ahlul bid’ah, dia meletakkan dua telunjuknya di dua telinganya dan berkata. “Tidak halal bagiku berbicara dengannya sampai dia berdiri dari majelisnya.”
Seorang ahlul ahwa (ahlul bid’ah) berkata kepada kepada Ayub As-Sakhtiyani, “Wahai Abu Bakr (yakni Ayub), aku ingin bertanya kepadamu satu kata.” Ayub berkata seraya berisyarat dengan telunjuknya, “Tidak, walaupun setengah kata.”

Salaf menerima berita temannya
Datang Dawud Al-Ashbahani ke Baghdad. Dia berbicara dengan lemah lembut kepada Shalih bin Ahmad bin Hanbal untuk memintakan izin agar bisa bertemu dengan ayahnya (yakni Al-Imam Ahmad bin Hanbal t). Shalih pun datang ke ayahnya dan berkata, “Ada seseorang minta kepadaku agar bisa bertemu denganmu.” Beliau bertanya, “Siapa namanya?” Shalih menjawab, “Dawud.” Beliau bertanya lagi, “Darimana dia?” Shalih khawatir membeberkan jati dirinya kepada Al-Imam Ahmad, namun beliau terus bertanya hingga paham siapa yang ingin berjumpa dengannya. Maka Al-Imam Ahmad berkata, “Muhammad bin Yahya An-Naisaburi telah menulis surat kepadaku tentang orang ini bahwa orang ini berpendapat bahwa Al-Qur’an adalah makhluk, maka janganlah dia mendekatiku.” Shalih berkata, “Wahai ayah, dia menafikan dan mengingkari tuduhan ini.” Al-Imam Ahmad berkata, “Muhammad bin Yahya lebih jujur darinya. Jangan izinkan dia masuk kepadaku.”

Efek negatif bermajelis dengan ahlul bid’ah
Duduk bergaul dengan ahlul bid’ah banyak sisi negatifnya dalam masalah agama. Diantaranya:
1.    Orang yang duduk dengan ahlul bid’ah tersebut akan terkena syubhat dan tidak bisa membantahnya, akhirnya dia terjerumus dalam kebid’ahan mereka.
Sufyan Ats-Tsauri t berkata, “Seseorang yang duduk dengan ahlul bid’ah tidak akan selamat dari satu diantara tiga perkara: menjadi fitnah bagi yang lainnya, masuk dalam hatinya kebid’ahan hingga dia tergelincir dengannya, atau dimasukkan oleh Allah l ke dalam neraka …”
Ketika ada orang yang berkata kepada Ibnu Sirin t, “Sesungguhnya fulan (salah seorang ahlul bid’ah, red.) ingin datang dan berbicara denganmu.” Beliau berkata, “Katakan kepadanya, jangan datang kepadaku. Sesungguhnya hati anak Adam itu lemah. Aku khawatir mendengar satu kalimat darinya kemudian hatiku tidak bisa kembali seperti semula.”
2.    Duduk dengan mereka menentang perintah Allah l dan Rasul-Nya serta menyimpang dari jalan sahabat.
Karena Allah l berfirman:
“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (An-Nur: 63)
3.    Duduk dengan mereka menyebabkan kecintaan kepada mereka
Ibnu Mas’ud z berkata, “Seseorang hanya akan berteman dan berjalan dengan orang yang sejenis dengannya.”
4.    Duduk dengan mereka bermudharat bagi ahli bid’ah itu sendiri
Karena diantara hikmah menjauhi mereka adalah agar jera dan kemudian rujuk (keluar) dari kebid’ahannya. Adanya orang yang dekat dengannya akan menjadi sebab jauhnya dia dari bertaubat, karena merasa jalan yang ditempuhnya adalah kebenaran.
5.    Duduk dengan mereka, menjadi sebab orang lain berburuk sangkanya kepadanya.

Ini hanyalah sebagian dari keburukan yang kita ketahui. Hanya Allah l yang tahu betapa banyak mafsadah yang muncul akibat duduk dan berteman dengan ahlul bid’ah. Mudah-mudahan ini cukup sebagai nasihat bagi orang yang menginginkan keselamatan agamanya. (lihat Mauqif Ahlis Sunnah hal. 550-551)

Beberapa contoh kasus orang yang terjatuh dalam kesesatan karena berteman dengan ahlul bid’ah
Kesimpulannya, berteman dengan ahlul bid’ah adalah bencana yang besar dan bahaya yang menyebar. Karena ahlul bid’ah lebih berbahaya dari orang fasik. Banyak orang yang bergaul dengan ahlul bid’ah dan tidak selamat dari kebid’ahan mereka.
Al-Imam Adz-Dzahabi t berkata –dalam biografi Rawandi–: Dia berteman dengan Rafidhah dan orang-orang menyimpang lainnya. Jika dihukum, dia menjawab, “Aku hanya ingin tahu ucapan-ucapan mereka.” Sampai akhirnya dia pun menjadi mulhid (atheis/penyimpang) dan turun dari dien dan millah (agama) ini.”
Al-Imam Adz-Dzahabi juga berkata –dalam biografi Ibnu Aqil Al-Hanbali– ketika menukil ucapannya, beliau berkata, “Para ulama Hanbali ingin agar aku menjauhi sekelompok ulama, padahal itu menyebabkan aku luput dari sebagian ilmu.”
Al-Imam Adz-Dzahabi mengomentari ucapannya: “Para ulama melarangnya bergaul dengan Mu’tazilah namun dia enggan menerimanya. Akhirnya dia terjatuh dalam jerat mereka dan menjadi lancang dalam menakwil dalil-dalil. Kepada Allah l sajalah kita memohon keselamatan.” (Lihat Ni’matul Ukhuwah hal. 21-25)
Wallahu a’lam bish-shawab.

Upaya Melanggengkan Persahabatan

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abdurrahman Mubarak)

 

Beberapa upaya yang bisa ditempuh untuk melanggengkan persahabatan adalah sebagai berikut.

Mengingat keutamaan cinta dan benci karena Allah l
Banyak sekali dalil yang menerangkan keutamaan cinta dan benci karena Allah l. Diantaranya, Rasulullah n menyatakan:
سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلَّهُ؛ … وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ…
“Tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan pada hari di mana tidak ada naungan kecuali naungan Allah l -Rasulullah n menyebutkan diantaranya: Dua orang yang saling mencintai karena Allah l. Berkumpul dan berpisah di atasnya.” (HR. Al-Bukhari no. 660 dan Muslim no. 1031)
Dari Abu Hurairah z, Rasulullah n bersabda:
مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَجِدَ طَعْمَ الْإِيْمَانِ فَلْيُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلهِ
“Barangsiapa yang ingin merasakan nikmatnya iman hendaknya dia tidak mencintai seseorang kecuali karena Allah l.” (HR Ahmad, dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 6164)

Menginginkan kebaikan bagi teman
Dari Anas z, Rasulullah n berkata:
لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحْبُّهُ لِنَفْسِهِ
“Tidaklah sempurna iman salah seorang kalian hingga mencintai kebaikan bagi temannya seperti yang ia senangi.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Ibnu Qudamah t berkata: “Ketahuilah, tidak sempurna iman seseorang hingga dia senang temannya mendapatkan apa yang dia inginkan. Derajat persaudaraan yang paling rendah adalah engkau menyikapi temanmu sebagaimana engkau ingin disikapi orang lain. Tidak diragukan lagi, engkau pasti menunggu dan mengharap agar saudaramu menutup aibmu dan diam dari kejelekan-kejelekanmu…” (Mukhtashar Minhajul Qashidin, hal. 101)

Baik sangka dalam bergaul
Allah l berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purbasangka (kecurigaan), Karena sebagian dari purbasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (Al-Hujurat: 12)
Rasulullah n berkata:
إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ
“Hati-hatilah kalian dari prasangka, karena prasangka adalah ucapan paling dusta.” (HR. Al-Bukhari no. 5143 dan Muslim no. 2563)
Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan berkata: “Dalam hadits ini terdapat dalil bahwa seorang muslim wajib berbaik sangka kepada saudaranya yang muslim dan tidak berburuk sangka dengannya.”
Ibnu Qudamah t berkata: “Seyogianya engkau menjauhi buruk sangka kepada temanmu. Hendaknya membawa perbuatannya kepada kemungkinan yang baik. Ketahuilah bahwa buruk sangka akan menggiring untuk melakukan tajassus (mencari-cari kesalahan orang), di mana hal ini adalah perbuatan terlarang. Sungguh, menutup aib dan tidak mencari-cari aib orang adalah salah satu ciri seorang yang baik agamanya.” (Mukhtashar Minhajil Qashidin hal. 101)

Saling memberi hadiah
Rasulullah n berkata:
تَهَادُوْا تَحَابُّوا
“Saling memberi hadiahlah niscaya kalian akan saling mencintai.”
Hendaknya seseorang menerima hadiah yang diberikan kepadanya. Aisyah x berkata: “Rasulullah n menerima hadiah dan membalasnya.”
Namun berhati-hatilah dari perbuatan mengungkit kebaikan. Allah l berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, Kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (Al-Baqarah: 264)

Tawadhu’
Allah l berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.” (Al-Maidah: 54)
Ibnu Katsir t berkata, “Ini adalah sifat kaum mukminin yang sempurna. Salah seorang dari mereka tawadhu’ terhadap teman dan walinya, serta bersikap keras kepada musuh dan lawannya.”

Menjaga adab-adab yang diajarkan Rasulullah n
Rasulullah n telah mengajarkan adab-adab yang jika diamalkan akan menjaga hubungan seorang dengan temannya.
Dari Abu Hurairah z, ia berkata: Rasulullah n bersabda:
لاَ تَحَاسَدُوْا، وَلاَ تَنَاجَشُوْا، وَلاَ تَبَاغَضُوْا، وَلاَ تَدَابَرُوْا، وَلاَ يَبِيْعُ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ، وَكُوْنُوْا عِبَادَ اللهِ إِخْوَاًنا، الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ، لاَ يَظْلِمُهُ، وَلاَ يَكْذِبُهُ، وَلاَ يَحْقِرُهُ، التَّقْوَى هَهُنَا –وَيُشِيْرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ– بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ، كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ، دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ
“Janganlah kalian saling hasad, janganlah saling menipu, saling menjauhi, dan janganlah membeli (barang) yang hendak dibeli orang lain. Jadilah kalian hamba-hamba Allah l yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara muslim yang lain, tidak boleh ia menzaliminya, enggan membelanya, tidak boleh mendustai dan menghinanya. Takwa itu di sini –beliau mengisyaratkan ke dadanya tiga kali–. Cukup dianggap sebagai kejahatan seseorang jika ia menghina saudaranya yang muslim. Setiap muslim bagi muslim yang lain adalah haram darahnya, harta dan kehormatannya.” (HR. Muslim) [Lihat Ni’matul Ukhuwah]

Jauhi Segala Penyebab Retaknya Persahabatan

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abdurrahman Mubarak)

 

Setan adalah sebab utama retaknya hubungan kaum muslimin. Rasulullah n berkata:
إِنَّ الشَّيْطَانَ يَئِسَ أَنْ يَعْبُدَهُ الْمُصَلُّونَ فِي جَزِيرَةِ الْعَرَبِ، وَلَكِنْ فِي التَّحْرِيشِ بَيْنَهُمْ
“Sesungguhnya Iblis telah putus asa untuk disembah oleh orang-orang yang shalat di Jazirah Arab, akan tetapi dia terus semangat untuk membuat perpecahan di antara mereka.”
Tahrisy yang dilakukan setan maknanya luas, meliputi berbagai metode dan jalan (perpecahan). Asasnya yang paling mendasar adalah waswasah (bisikan setan). Diantaranya dalilnya adalah firman Allah l:
“Dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi. Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia.” (An-Nas: 4-5) [Lihat Al-Qaulul Hasan hal. 41-42]
Asy-Syaikh Muqbil t berkata, “Nasihatku kepada Ahlus Sunnah, hendaknya mereka menjauhi sebab-sebab perselisihan dan perpecahan. Aqidah dan arah pandang mereka satu. Tidak ada yang menyebabkan perpecahan dan perselisihan kecuali kejahilan, kezaliman, dan setan.” (Lihat Nashihati li Ahlis Sunnah hal. 4)

Dosa
Dari Anas bin Malik z, Rasulullah n berkata:
مَا تَوَادَّ اثْنَانِ فِي اللهِ فَيُفَرَّقُ بَيْنَهُمَا إِلَّا بِذَنْبٍ يُحْدِثُهُ أَحَدُهُمَا
“Tidaklah dua orang yang saling cinta di jalan Allah l kemudian keduanya dipisahkan (tidak harmonis kembali) kecuali karena dosa yang dilakukan oleh salah satu dari keduanya.” (HR. Al-Bukhari dalam Adabul Mufrad)
Asy-Syaikh Muhammad bin Abdillah Al-Imam berkata: “Lihatlah –semoga Allah l menjagamu– bagaimana satu dosa bisa menyebabkan perpecahan di antara dua orang yang saling mencintai. Bagaimana yang akan terjadi jika banyak dosa yang dilakukan?! Baik dosa tersebut terkait dengan temanmu, atau temanmu yang lain, atau bahkan dosa yang berkaitan dengan hak Allah l semata.” (Lihat Al-Qaulul Hasan fi Ma’rifatil Fitan hal. 17)

Balas dendam (marah karena urusan pribadi semata)
Diantara bahaya yang tersebar di zaman fitnah adalah semangat balas dendam dengan alasan-alasan yang lemah.
Disebutkan oleh banyak penulis sejarah: Ada seorang Khawarij ditanya, “Berapa kali engkau menusuk ‘Utsman bin ‘Affan?” Ia menjawab, “Tiga kali karena Allah l, dan satu kali karena alasan pribadiku.”
Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam berkata: “Jika benar-benar dipastikan, niscaya semua yang dilakukan orang ini adalah karena urusan pribadinya.”
Beliau hafizhahullah berkata: “Balas dendam adalah kuburan bagi persaudaraan (persahabatan). Jika seseorang telah marah karena urusan pribadinya maka dia akan mengabaikan kebaikan, keshalihan, dan ilmu yang bermanfaat dari temannya. Engkau akan dapati dia memusuhi saudaranya walau dengan sebab seremeh apapun…” (Al-Qaulul Hasan fi Ma’rifatil Fitan hal. 43)

Menyelesaikan perselisihan dengan merujuk pada Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan bimbingan para ulama
Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam berkata: “Rasulullah n telah mengajari kita bagaimana menutup pintu perselisihan dan menyelesaikannya. Diantaranya adalah hadits yang diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim dari hadits Ibnu Abbas z. Rasulullah n berkata:
ائْتُونِي بِكِتَابٍ، أَكْتُبُ لَكُمْ كِتَابًا لاَ تَضِلُّوا بَعْدَهُ. فَتَنَازَعَ الصَّحَابَةُ، فَقَالَ: قُومُوا عَنِّي، لَا يَنْبَغِي عِنْدَ نَبِيٍّ تَنَازُعٌ
‘Berikan kepadaku kitab, aku akan menulis sesuatu yang kalian tak akan sesat setelahnya.’ Para sahabat ketika itu berselisih. Maka Rasulullah n berkata, ‘Berdirilah kalian (menjauh dariku), tidak sepantasnya ada yang berselisih di sisi Nabi.’
Al-Imam Al-Bukhari t meriwayatkan dari hadits Jundub z, bahwa Rasulullah n berkata:
اقْرَءُوا الْقُرْآنَ مَا ائْتَلَفَتْ عَلَيْهِ قُلُوبُكُمْ، فَإِذَا اخْتَلَفْتُمْ فَقُومُوا عَنْهُ
‘Bacalah oleh kalian Al-Qur’an selama hati kalian rukun. Jika kalian berselisih, berhentilah darinya.’
Kapan saja perselisihan dibiarkan dan tidak diselesaikan, niscaya akan semakin besar kejelekan dan mudharatnya. Akan turut campur dalam perselisihan tersebut orang yang tidak pantas dan tidak bisa memperbaiki, bahkan akan semakin merusak.” (Al-Qaulul Hasan hal. 80)
Alangkah baiknya jika kita nukilkan dalam kesempatan ini ucapan Al-Walid Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i t ketika beliau berbicara tentang kiat menyelesaikan perselisihan. Beliau t berkata:
Sesungguhnya perselisihan diantara Ahlus Sunnah akan hilang dengan beberapa perkara:
1.    Mengembalikan hukumnya kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Allah l berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul(nya), serta ulil amri di antara kalian. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (An-Nisa’: 59)
Allah l berfirman:
“Tentang sesuatu apapun kamu berselisih, maka putusannya (terserah) kepada Allah (yang mempunyai sifat-sifat demikian). Itulah Allah Rabbku. Kepada-Nyalah aku bertawakkal dan kepada-Nyalah aku kembali.” (Asy-Syura: 10)
Allah l berfirman:
“Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (rasul dan ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut setan, kecuali sebagian kecil saja (di antaramu).” (An-Nisa’: 83)

2.    Bertanya kepada ulama Ahlus Sunnah
Allah l berfirman:
“Maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui.” (Al-Anbiya: 7)
Namun sebagian penuntut ilmu merasa cukup dengan ilmu yang ada padanya, lalu mendebat semua yang menyelisihinya. Inilah salah satu sebab perpecahan dan perselisihan. Al-Imam Tirmidzi t meriwayatkan dalam Jami’nya dari Abu Umamah z, Rasulullah n berkata:
مَا ضَلَّ قَوْمٌ بَعْدَ هُدًى كَانُوا عَلَيْهِ إِلَّا أُوْتُوا الْجَدَلَ
“Tidaklah sesat satu kaum setelah mendapatkan petunjuk melainkan dengan sebab jidal (senang berdebat).”
Kemudian beliau n membaca:
‘Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja, sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar’.” (Az-Zukhruf: 58)

3.    Semakin giat menuntut ilmu
Jika engkau telah melihat kekuranganmu, maka engkau akan merasakan tidak ada nilainya dibandingkan para ulama mutaqadimin seperti Al-Hafizh Ibnu Katsir t dan ulama terdahulu yang menonjol dalam berbagai bidang ilmu. Jika engkau melihat hal tersebut niscaya engkau akan tersibukkan dari mendendam orang lain.

4.    Mengkaji dan mengambil pelajaran dari perselisihan yang ada di kalangan sahabat dan para ulama setelah mereka.
Jika engkau melihat perselisihan yang terjadi diantara mereka, engkau akan membawa orang yang menyelisihimu dalam keselamatan. Engkau tidak akan menuntut agar dia tunduk kepada pendapatmu. Engkau akan tahu bahwa jika engkau menuntutnya tunduk kepada pendapatmu, sama dengan engkau mengajak dia meninggalkan akal dan pemahamannya. Sama saja dengan mengajaknya taqlid kepadamu. Padahal taqlid adalah perbuatan yang haram dalam agama ini. Allah l berfirman:
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.” (Al-Isra: 36)
Serta dalil-dalil lainnya yang telah dipaparkan dalam kitab karangan Al-Imam Asy-Syaukani, Al-Qaulul Mufid fi Adillatil Ijtihad wat Taqlid.

5.    Melihat dan mengingat keadaan masyarakat serta bahaya yang mengancam mereka serta kejahilan yang ada pada kebanyakan mereka.
Jika engkau melihat masyarakat Islam niscaya engkau akan tersibukkan dari temanmu yang menyelisihimu. Engkau akan mendahulukan perkara terpenting kemudian yang penting setelahnya. Karena Nabi n ketika mengutus Muadz z ke Yaman berkata kepadanya:
فَلْيَكُنْ أَوَّلُ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ شَهَادَةَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ
“Perkara pertama yang kau dakwahkan kepada mereka adalah agar mereka bersaksi tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah l dan Muhammad adalah utusan Allah l.” (Muttafaqun ‘alaih dari hadits Ibnu Abbas z) [Lihat Nashihati li Ahlis Sunnah hal. 11-13]
Wallahu a’lam.

Hak-hak dalam Berteman

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abdurrahman Mubarak)

 

Islam mengajarkan untuk menunaikan hak semua orang yang mempunyai hak.
Rasulullah n berkata kepada Abu Darda z, “Berilah setiap orang haknya masing-masing.”
Dituntunkan dalam Islam untuk menunaikan hak-hak teman. Hak seorang teman atas temannya sangatlah banyak. Diantaranya:

Membantu kelapangan temannya (muwasah)
Muwasah adalah tanda persahabatan yang jujur. Seorang teman yang jujur dalam persahabatannya akan memberikan kemudahan (membantu) temannya sebatas kemampuannya. Dia senantiasa merasakan senang dan susahnya teman.
Dari Abu Hurairah z, bahwa Nabi n bersabda:
مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللهُ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ، وَاللهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِيْ عَوْنِ أَخِيْهِ. وَمَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيْقًا إِلَى الْجَنَّةِ. وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِيْ بَيْتٍ مِنْ بُيُوْتِ اللهِ يَتْلُوْنَ كِتَابَ اللهِ وَيَتَدَارَسُوْنَهُ بَيْنَهُمْ، إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِيْنَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيْمَنْ عِنْدَهُ، وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرَعْ بِهِ نَسَبُهُ
“Barangsiapa yang melepaskan dari orang mukmin satu kesulitan dari kesulitan-kesulitan dunia, pasti Allah l akan melepaskan darinya satu kesulitan dari kesulitan-kesulitan hari kiamat. Barangsiapa yang memudahkan orang yang kesukaran pasti Allah l akan memudahkan (urusannya) di dunia dan akhirat. Barangsiapa yang menutupi aib saudaranya pasti Allah l akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat. Allah l akan menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya. Barangsiapa menempuh satu jalan untuk menuntut ilmu pasti Allah l akan memudahkan baginya jalan menuju surga. Tidaklah suatu kaum berkumpul di suatu rumah dari rumah-rumah Allah l, membaca dan mempelajari kitab Allah l diantara mereka, kecuali turun kepada mereka sakinah dan mereka diliputi rahmat serta dinaungi malaikat. Allah l menyebut mereka di majelis-Nya. Barangsiapa yang diperlambat oleh amalannya, tidak akan dipercepat oleh nasabnya.” (HR. Muslim)
Rasulullah n berkata:
أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللهِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ، وَأَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللهِ سُرُورٌ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ، أَوْ تَكْشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً، أَوْ تَقْضِي عَنْهُ دَيْناً، أَوْ تَطْرُدُ عَنْهُ جُوْعًا
“Orang yang paling Allah l cintai adalah yang paling bermanfaat bagi manusia. Amalan yang paling Allah l cintai adalah menimbulkan kegembiraan bagi seorang muslim atau menghilangkan kesulitannya atau membayarkan utangnya atau menghilangkan kelaparan darinya …” (HR. Ath-Thabarani dan dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 906 dan Shahihul Jami’ no. 176)
Ibnul Qayyim t berkata: “Muwasah kepada kaum mukminin ada beberapa macam:
–    Muwasah dengan harta
–    Muwasah dengan kedudukan
–    Muwasah dengan badan dan bantuan
–    Muwasah dengan nasihat dan bimbingan
–    Muwasah dengan doa dan memintakan ampun untuknya
–    Muwasah dengan menasihati mereka (Lihat Al-Fawaid hal. 168)
Para sahabat g telah memberikan teladan kepada kita, bagaimana mereka bermuwasah kepada sahabatnya. Rasulullah n berkata:
إِنَّ الْأَشْعَرِيِّيْنَ إِذَا أَرْمَلُوا فِي الْغَزْوِ أَوْ قَلَّ طَعَامُ عِيَالِهِمْ بِالْمَدِيْنَةِ جَمَعُوا مَا كَانَ عِنْدَهُمْ فِي ثَوْبٍ وَاحِدٍ، ثُمَّ اقْتَسَمُوهُ بَيْنَهُمْ فِي إِنَاءٍ وَاحِدٍ بِالسَّوِيَّةِ، فَهُمْ مِنِّي وَأَنَا مِنْهُمْ
“Sesungguhnya para sahabat dari Asy‘ariyin, jika habis perbekalan mereka dalam jihad atau makanan mereka tinggal sedikit di Madinah, mereka mengumpulkan apa yang mereka miliki dalam sebuah kain. Kemudian mereka bagi rata di antara mereka. Mereka dari golonganku dan aku termasuk golongan mereka.” (HR. Al-Bukhari no. 2486 dan Muslim no. 2500)
Dari Anas bin Malik z:
Abdurahman bin Auf datang kepada kami dan Rasulullah n telah mempersaudarakan beliau dengan Sa’d bin Rabi’ –seorang sahabat Anshar yang banyak harta–. Sa’d berkata, “Orang-orang Anshar telah tahu aku adalah orang yang paling banyak hartanya. Aku akan membagi dua hartaku untuk kita berdua. Aku juga punya dua istri. Lihatlah siapa yang paling kau senangi, aku akan menalaknya. Jika telah halal, engkau bisa menikahinya.”
Abdurahman bin Auf berkata: “Semoga Allah memberikan barakah kepadamu, keluarga dan hartamu. (Cukup) tunjukkanlah pasar kepadaku …” (HR. Al-Bukhari no. 3781)

Menjenguknya ketika sakit
Menjenguk orang sakit termasuk hak persaudaraan dalam Islam. Rasulullah n menyatakan:
حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ. قِيلَ: مَا هُنَّ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ، وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ، وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ، وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللهَ ‏‏فَشَمِّتْهُ،‏ ‏وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ، وَإِذَا مَاتَ فَاتْبَعْهُ
“Hak muslim atas muslim ada enam.” Beliau ditanya, “Apa itu, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Jika berjumpa dengannya engkau mengucapkan salam kepadanya, ketika mengundang engkau penuhi undangannya, jika minta nasihat engkau nasihati dia, jika bersin dan mengucapkan hamdalah engkau mendoakannya (dengan berkata: yarhamukallah), jika dia sakit hendaknya menjenguknya, dan jika meninggal engkau iringi jenazahnya.” (HR. Muslim no. 2162)

Menjenguk orang sakit banyak keutamaannya
Dari Abu Hurairah z, Rasulullah n berkata:
مَنْ عَادَ مَرِيضاً، أَوْ زَارَ أَخاً لَهُ فِي اللهِ نَادَاهُ مُنَادٍ: أَنْ طِبْتَ وَطَابَ مَمْشَاكَ، وَتَبَوَّأْتَ مِنَ الْجَنَّةِ مَنْزِلًا
Barangsiapa yang menjenguk orang sakit atau mengunjungi saudaranya, akan ada penyeru yang menyeru dari atas: “Engkau telah berbuat baik dan telah baik perjalananmu. Engkau telah mempersiapkan tempat di surga.” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 6163)

Menjaga rahasianya
Dari Jabir bin Abdillah z, Rasulullah n berkata:
إِذَا حَدَّثَ الرَّجُلُ بِالْحَدِيثِ ثُمَّ الْتَفَتَ فَهِيَ أَمَانَةٌ
“Jika seseorang berbicara (denganmu), kemudian dia menoleh (melihat sekeliling) maka ketahuilah itu adalah amanah.” (HR. Abu Dawud no. 4868 dan At-Tirmidzi, dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 1090 dan Shahihul Jami’ no. 486)
Ibnu Ruslan t berkata: “Karena, menolehnya dia ke kanan ke kiri adalah pemberitahuan bagi yang diajak bicara tentang kekhawatirannya bila ada orang lain yang mendengar ucapannya. Sehingga, artinya dia mengkhususkan rahasia ini untuknya. Tindakannya ke menoleh ke kanan dan ke kiri sama dengan ucapan: ‘Rahasiakan ini dariku,’ yakni ambil dan rahasiakan, ini adalah amanah bagimu.” (Lihat Ni’matul Ukhuwah hal. 70-72)

Al-wafa dan ikhlas
Al-wafa adalah terus-menerus mencintainya sampai meninggal, dan ketika telah meninggal ia mencintai anak-anak dan teman-temannya. Nabi n telah memuliakan sahabat dan famili Khadijah x setelah beliau wafat. Sampai-sampai Ummul Mukminin Aisyah x, berkata, “Aku tidak pernah cemburu kepada seseorang seperti cemburuku kepada Khadijah, padahal aku tidak pernah melihatnya.” (HR. Al-Bukhari)
Termasuk al-wafa adalah tidak berubah tawadhunya kepada temannya, walaupun dia semakin tinggi kedudukannya dan semakin luas kekuasaannya.
Termasuk al-wafa adalah tidak mau mendengarkan cercaan-cercaan orang kepada temannya dan tidak membela musuh temannya.
Ibnu Qudamah t berkata: “Ketahuilah, bukan termasuk al-wafa bila mencocoki teman dalam perkara yang menyelisihi agama.” (Lihat Mukhtashar Minhajil Qashidin hal. 103)

Menerima udzur/ alasannya
Diantara hak temanmu adalah menerima alasan yang disampaikannya. Ketika salah seorang temanmu berbuat jelek kepadamu kemudian datang menyampaikan alasan kepadamu, maka terimalah alasannya. Hal ini termasuk kemuliaan, karena udzur (alasan) diterima oleh orang-orang yang punya kemuliaan. Menerima udzur teman, selain menambah kecintaan teman, juga mendatangkan pahala yang banyak.
Rasulullah n berkata:
مَنْ أَقَالَ مُسْلِماً أَقَالَ اللهُ عَثْرَتَهُ
“Barangsiapa yang menerima udzur seorang muslim maka Allah l akan memaafkan kesalahannya.” (HR. Abu Dawud no. 3460 dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Abu Dawud, juga dalam Shahih Jami’ no. 6071)
Terlebih lagi seseorang yang terpandang yang kita tidak mengetahui kejelekannya, kita harus menerima udzurnya. Rasulullah n berkata:
أَقِيلُوا ذَوِي الْهَيْئَاتِ عَثْرَاتِهِمْ
“Terimalah udzur orang-orang yang punya kedudukan atas kesalahan-kesalahan mereka.” (HR. Abu Dawud no. 4375 dan dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Abu Dawud)
Ibnul Mubarak t berkata, “Seorang mukmin mencari udzur bagi temannya. Adapun seorang munafik, dia mencari-cari kesalahan orang lain.”

Bagaimana jika orang yang minta udzur berdusta dalam udzur yang disampaikannya?
Jika terjadi hal demikian, maka bersikaplah seperti yang diajarkan oleh Ibnul Qayyim t, “Barangsiapa yang berbuat jelek kepadamu kemudian datang untuk minta udzur atas kejelekannya kepadamu maka sifat tawadhu’ mengharuskan engkau menerima udzurnya –baik udzur tersebut benar atau batil (dusta) – dan kau serahkan isi hatinya kepada Allah l.”
Menerima udzur orang lain adalah bukti tawadhu’.
Ibnul Qayyim t berkata, “Tanda kemuliaan dan tawadhu’ adalah ketika engkau melihat cela dalam udzurnya namun tetap engkau terima dan tidak membantahnya, serta berkata: ‘Mungkin saja masalahnya seperti yang kau sebutkan’.” (Lihat Ni’matul Ukhuwah hal. 79-83)

Membelanya ketika tidak ada
Diantara hak teman adalah menjaganya ketika dia tidak ada, membantah ucapan jelek tentangnya.
Dari Abud Darda z, Rasulullah n berkata:
مَنْ رَدَّ عَنْ عِرْضِ أَخِيهِ بِالْغَيْبِ، رَدَّ اللهُ عَنْ وَجْهِهِ النَّارَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Barangsiapa yang membela kehormatan saudaranya maka Allah l akan memalingkan wajahnya dari neraka di hari kiamat nanti.” (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi, serta dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 6262)
Dalam hadits Ka’b bin Malik z tentang kisah taubatnya, Nabi n berkata di Tabuk ketika beliau sedang duduk, “Apa yang dilakukan Ka’b?” Seseorang dari Bani Salamah berkata, “Dia tertahan burdahya dan melihat dua sisinya, ya Rasulullah.” Mu’adz bin Jabal z berkata kepadanya, “Alangkah jeleknya yang kau ucapkan. Demi Allah, wahai Rasulullah, kami tidak mengetahuinya kecuali kebaikan.” Rasulullah n pun diam. (HR. Al-Bukhari no. 4418 dan Muslim no. 2769)
Al-Imam An-Nawawi t berkata: “Ketahuilah, seseorang yang mendengar ghibah terhadap seorang muslim hendaknya membantahnya dan menghardik pelakunya. Jika tidak bisa dihentikan dengan lisan, maka hentikanlah dengan tangan. Jika tidak mampu dengan lisan ataupun dengan tangan, hendaknya dia keluar untuk memisahkan diri dari majelis tersebut. Jika mendengar ghibah terhadap syaikhnya atau orang yang mempunyai hak atasnya atau orang yang punya keutamaan dan shalih, maka mengingkari pelakunya lebih ditekankan.” (Al-Adzkar)
Rasulullah n berkata:
مَنْ ذَبَّ عَنْ عِرْضِ أَخِيهِ بِالْغَيْبَةِ كَانَ حَقًّا عَلَى اللهِ أَنْ يُعْتِقَهُ مِنَ النَّارِ
“Barangsiapa yang membela kehormatan saudaranya ketika ada yang mengghibahinya, maka hak atas Allah l untuk membebaskannya dari neraka.” (HR. Ahmad dan dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahihul Jami no. 6240)

Mendoakan kebaikan bagi teman
Ibnu Qudamah t berkata, “Hak yang kelima adalah mendoakan kebaikan untuknya ketika masih hidup maupun sesudah meninggalnya, dengan semua doa yang dia peruntukkan untuk dirimu.”
Dalam Shahih Muslim dari hadits Abud Darda z, Nabi n berkata:
دَعْوَةُ الْمَرْءِ المُسْلِمِ لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ، عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لِأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ المُوكَّلُ بِهِ: آمِينَ، وَلَكَ بِمِثْلٍ
Doa seorang muslim bagi saudaranya yang sedang tidak bersamanya adalah doa mustajab. Di sisinya ada malaikat yang ditugaskan setiap kali dia berdoa kebaikan bagi saudaranya, malaikat berkata, “Amin, dan engkau mendapatkan yang semisalnya.”
Abud Darda z mendoakan banyak sahabatnya dalam doanya. Beliau selalu menyebut nama-nama mereka dalam doanya. Demikian pula Al-Imam Ahmad t berdoa di waktu sahur untuk enam orang. (Lihat Mukhtahar Minhajul Qashidin hal. 103)

Menasihatinya
Nasihat termasuk hak persahabatan. Rasulullah n berkata:
حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ. قِيلَ: مَا هُنَّ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ، وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ، وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ…
“Hak muslim atas muslim lainnya ada enam: Jika berjumpa dengannya engkau mengucapkan salam kepadanya, ketika mengundang engkau penuhi undangannya, jika minta nasihat engkau nasihati dia…” (HR. Muslim no. 6162)
Rasulullah n menyatakan:
الدِّينُ النَّصِيحَةُ
“Agama adalah nasihat…” (HR. Muslim no. 55)

Bagaimana bentuk nasihat seorang muslim kepada saudaranya agar mendatangkan manfaat yang besar?
Ibnu Qudamah t berkata: “Seyogianya, nasihat engkau sampaikan ketika sedang sendirian (tidak di hadapan orang banyak). Beda antara nasihat dengan menjatuhkan (kehormatan) orang lain adalah dalam masalah ini (dilakukan dengan tertutup atau di hadapan orang banyak).” (Mukhtashar Minhajul Qashidin hal. 102)
Ibnu Hibban t berkata: “Tanda seorang pemberi nasihat yang menginginkan kebaikan bagi yang dinasihatinya adalah nasihat tersebut dilakukan tidak di hadapan orang lain. Tanda orang yang ingin menjelekkan (menjatuhkan) yang dinasihati adalah menasihatinya di hadapan banyak orang.”
Mis’ar bin Kidam t berkata: “Allah l merahmati seseorang yang membeberkan aibku secara sembunyi-sembunyi antara aku dan dia saja. Karena nasihat di hadapan orang banyak adalah celaan.” (Lihat Ni’matul Ukhuwah hal. 86-87)

Seseorang yang dinasihati hendaknya menerima nasihat yang baik
Seseorang belum disebut memiliki sifat tawadhu’ hingga dia menerima al-haq dari orang yang menyampaikannya. Oleh karena itu, Rasulullah n berkata:
الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
“Sombong adalah menolak al-haq (kebenaran) dan merendahkan orang lain.”
Al-Imam Waki’ berkata: “Seseorang tidak akan pandai sampai mengambil ilmu dari orang yang di atasnya, atau selevel dengannya, juga dari orang yang lebih rendah darinya.”
Fudhail bin Iyadh t ditanya tentang tawadhu. Beliau t berkata, “Tunduk kepada al-haq, patuh dan menerimanya dari orang yang membawakannya.” (Lihat Ni’matul Ukhuwah hal. 86-87)