Adab-adab Berteman

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abdurrahman Mubarak)

 

Islam sangat memerhatikan masalah adab. Bahkan semua persoalan adab dijelaskan secara sempurna dalam Islam. Ketika seorang Yahudi berkata kepada Salman z, “Apakah Nabi kalian mengajari kalian sampaipun masalah buang hajat?” Beliau z berkata, “Ya. Beliau mengajari kami ….”1
Inilah Islam. Semua yang mendatangkan kemaslahatan dunia dan akhirat telah ada di dalam Islam, termasuk adab berteman. 

Banyak dalil dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah yang menjelaskan adab-adab berteman. Diantaranya:

Berteman hanya karena Allah l
Rasulullah n menyatakan:
سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ؛ إِمَامٌ عَادِلٌ، وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلِّقٌ بِالـمَسَاجِدِ، وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ، وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصَبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ: إِنِّي أَخَافُ اللهُ وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالَهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينَهُ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ
“Tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan pada saat dimana tidak ada naungan kecuali naungan Allah l: Pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah l, seseorang yang hatinya senantiasa terkait dengan masjid, dua orang yang saling cinta karena Allah l, bersatu dan berpisah di atasnya, seseorang yang diajak berzina oleh seorang wanita yang memiliki kedudukan dan kecantikan namun pemuda tersebut berkata, ‘Aku takut kepada Allah l’, seseorang yang bershadaqah dan ia menyembunyikan shadaqahnya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfaqkan tangan kanannya, serta seseorang yang berdzikir kepada Allah l sendirian hingga meneteskan air mata.” (HR. Al-Bukhari no. 660, Muslim no. 1031)
Rasulullah n berkata:
ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلَاوَةَ الْإِيْمَانِ: مَنْ كَانَ اللهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَهُ اللهُ مِنْهُ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ
“Tiga hal, jika ketiganya ada pada seseorang dia akan merasakan lezatnya iman: Allah l dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari selain keduanya, cinta kepada seseorang semata-mata hanya karena Allah l, dan dia tidak senang kembali kepada kekufuran sebagaimana dia tidak ingin dilemparkan ke dalam api.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Rasulullah n berkata:
مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَجِدَ طَعْمَ الْإِيْمَانِ فَلْيُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلهِ
“Barangsiapa yang ingin merasakan lezatnya iman hendaknya dia tidak mencintai seseorang kecuali karena Allah l.” (HR. Ahmad, dihasankan Asy-Syaikh Albani dalam Shahihul Jami’ no. 6164)

Memilih teman yang baik
Telah kita sebutkan di awal pembahasan bahwa tidak semua orang bisa kita jadikan teman. Sehingga seorang muslim yang ingin menyelamatkan agamanya hendaknya memilih teman yang baik. Rasulullah n bersabda:
الْمَرْءُ عَلَى دِيْنِ خَلِيلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
“Seseorang ada di atas agama temannya, maka hendaknya salah seorang kalian meneliti siapa yang dijadikan sebagai temannya.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud no. 4833, dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 127)
Al-Imam Qatadah t berkata: “Demi Allah. Kami tidaklah melihat seseorang berteman kecuali dengan yang setipe dan sejenis (satu sama sifatnya). Maka hendaknya kalian berteman dengan hamba-hamba Allah l yang shalih agar kalian bersama mereka atau seperti mereka.”
Ditanyakan kepada Sufyan t, “Kepada siapa kami bermajelis?” Beliau menjawab, “Seseorang yang jika engkau melihatnya engkau ingat Allah l, amalannya mendorong kalian kepada akhirat, dan ucapannya menambah ilmu kalian.” (Lihat Min Hadyis Salaf hal. 54-55)
Ibnu Hibban t berkata, “Seorang yang berakal tidak akan bersahabat dengan orang-orang jahat.”
Beliau juga berkata: “Empat hal yang termasuk kebahagiaan seseorang: Istri yang senantiasa taat kepadanya, anak-anak yang shalih, teman-teman yang baik, dan rezekinya di negerinya.” (Lihat Ni’matul Ukhuwah hal. 22)

Menjaga kerukunan
Rasulullah n berpesan kepada Mu’adz dan Abu Musa c:
يَسِّرَا وَلَا تُعَسِّرَا وَبَشِّرَا وَلَا تُنَفِّرَا وَتَطَاوَعَا
“Berilah kemudahan dan jangan membuat sulit orang lain, berilah kabar gembira yang membuat orang senang dan jangan membuat orang lari dari agama Islam, serta hendaknya kalian rukun serta tidak berselisih.”
Ini adalah adab yang senantiasa harus dijaga, terlebih lagi oleh setiap muslim, terlebih lagi para dai ilallah.
Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam berkata, “Aku telah mendengar Asy-Syaikh Muqbil berkata (dan ini aku dengar lebih dari satu kali): Demi Allah l, aku tidaklah mengkhawatirkan atas dakwah ini melainkan dari diri-diri kita sendiri.”
Asy-Syaikh Muhammad bin Abdillah Al-Imam berkata, “Demi Allah l. Syaikh telah memiliki firasat yang sangat kuat. Rasulullah n seringkali berkata dalam khutbahnya:
وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا
“Kita berlindung kepada Allah l dari kejahatan diri-diri kita dan kejelekan amal-amal kita.”
Jiwa-jiwa kita, walau bagaimanapun baiknya, masih mungkin menerima dan terkena kejelekan. Demi Allah l, sekaranglah waktunya kita mengoreksi aib dan dosa-dosa kita jika memang kita merasa sebagai orang yang berusaha menjaga agama ini. Asy-Syaikh Muqbil t tahu bahwa dakwah ini mempunyai musuh dari luar dan dari dalam. Namun bahaya mereka tidak sebesar mudharat yang muncul dari penyimpangan orang-orang yang mengemban dakwah ini. Hendaknya masing-masing kita mengoreksi diri serta menimbang ucapan dan perbuatannya, yang lahir dan batin, dengan timbangan syar’i. Wallahul musta’an.” (Al-Qaulul Hasan fi Ma’rifatil Fitan hal. 63)

Lemah lembut kepada teman
Allah l menjelaskan tentang sifat Rasulullah n dan orang-orang yang bersamanya:
“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka.” (Al-Fath: 29)
Rasulullah n bersabda:
مَا كَانَ الرِّفْقُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ، وَلَا نُزِعَ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ
“Sikap lemah lembut tidaklah ada pada sesuatu kecuali akan memperindahnya dan tidaklah dicabut dari sesuatu kecuali akan membuatnya jelek.” (HR. Muslim)
Rasulullah n berkata kepada Aisyah x:
مَهْلًا يَا عَائِشَةُ، إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي الْأَمْرِ كُلِّهِ
“Tenanglah wahai Aisyah. Sesungguhnya Allah l mencintai kelembutan dalam segala urusan.” (HR. Al-Bukhari)

Sedang-sedang (tidak berlebihan) dalam mencintai teman
Dari hadits Abu Hurairah z, Rasulullah n bersabda:
أَحْبِبْ حَبِيبَكَ ‏‏هَوْنًا ‏مَا عَسَى أَنْ يَكُونَ بَغِيْضَكَ يَوْمًا مَا، وَأَبْغِضْ بَغِيْضَكَ‏ ‏هَوْنًا‏ ‏مَا عَسَى أَنْ يَكُونَ حَبِيبَكَ يَوْمًا مَا
“Cintailah orang yang kamu cintai sekadarnya. Bisa jadi orang yang sekarang kamu cintai suatu hari nanti harus kamu benci. Dan bencilah orang yang kamu benci sekadarnya, bisa jadi di satu hari nanti dia menjadi orang yang harus kamu cintai.” (HR. At-Tirmidzi no. 1997 dan dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 178)
Umar bin Al-Khaththab z berkata, “Wahai Aslam, janganlah rasa cintamu berlebihan dan jangan sampai kebencianmu membinasakan.” Aslam berkata, “Bagaimana itu?” Umar z berkata, “Jika engkau mencintai seseorang, janganlah berlebihan seperti halnya anak kecil yang menyenangi sesuatu dengan berlebihan. Jika engkau membenci seseorang, jangan sampai kebencian menimbulkan keinginan orang yang kamu benci celaka atau binasanya.”
Al-Hasan Al-Bashri t berkata, “Hendaknya kalian mencintai jangan berlebihan dan membenci tidak berlebihan. Telah ada orang-orang yang berlebihan dalam mencintai satu kaum akhirnya binasa. Ada pula yang berlebihan dalam membenci satu kaum dan mereka pun binasa.” (Lihat Ni’matul Ukhuwah hal. 41)

Menerima kekurangan teman
Rasulullah n bersabda:
لَا يَفْرُكُ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً، إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ
“Janganlah seorang mukmin membenci mukminah. Jika dia tidak senang satu akhlaknya niscaya dia akan senang dengan akhlaknya yang lain.”
Asy-Syaikh Muhamad bin Shalih Al-Utsaimin t menyatakan, “Walaupun hadits ini berkaitan tentang suami istri, namun juga berlaku dalam adab berteman.” (Lihat Syarah Riyadhish Shalihin)
Ibnu Qudamah t berkata: “Ketahuilah, jika engkau mencari seseorang yang bersih dari kekurangan, niscaya engkau tak akan mendapatkannya. Barangsiapa yang kebaikannya lebih mendominasi daripada kejelekannya, itulah yang dicari.” (Mukhtashar Minhajil Qashidin hal. 101)

Jangan mencerca teman
Mencerca teman mengesankan bahwa engkau tidak sabar dalam bersahabat dengannya. Tidak sepantasnya engkau mencerca temanmu dalam semua masalah, yang besar dan kecil. Bahkan tidak semua orang pantas untuk dicerca.
Allah l berfirman:
“Maka maafkanlah (mereka) dengan cara yang baik.” (Al-Hijr: 85)
Ali bin Abi Thalib z berkata: “Yakni ridha, tanpa mencercanya.”
Dari Anas bin Malik z: Aku tidak pernah memegang dibaj (satu jenis sutera) yang lebih lembut dari tangan Rasulullah n. Aku telah menjadi pelayan Rasulullah n selama sepuluh tahun. Tidak pernah sekalipun beliau berkata: “Ah.” Tidak pernah pula beliau berkata tentang apa yang kulakukan: “Kenapa kau lakukan?” dan tidak pernah pula ketika aku tidak melakukan sesuatu, beliau berkata: “Kenapa tidak kau lakukan ini dan ini?” (HR. Al-Bukhari no. 3561 dan Muslim no. 2309)
Al-Mawardi t berkata, “Banyak mencerca adalah sebab putusnya hubungan persahabatan ….” (Lihat Ni’matul Ukhuwah hal. 17-54)


1 HR. An-Nasai, Kitab Ath-Thaharah, Bab An-Nahyu ‘an al-iktifa’ fil istithabah bi aqalla min tsalatsati ahjar.

Tidak Setiap Orang Bisa Dijadikan Teman

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abdurrahman Mubarak)

 

Seorang teman sangat besar pengaruhnya bagi agama seseorang. Lihatlah Abu Thalib! Bagaimana dia tidak mau menerima dakwah Rasulullah n dan akhirnya mati di atas kesyirikan disebabkan teman yang mendampinginya yakni Abu Jahal yang terus memengaruhinya untuk tidak menerima dakwah Rasulullah n.1
Ketahuilah, semoga Allah l merahmati Anda, tidak semua orang bisa dijadikan sahabat. Karena Rasulullah n berkata:
الْمَرْءُ عَلَى دِيْنِ خَلِيلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
“Seseorang ada di atas agama/perangai temannya, maka hendaknya seseorang meneliti siapa yang dia jadikan temannya.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 127)
Beliau n juga berkata:
لاَ تُصَاحِبْ إِلَّا مُؤْمِناً، وَلَا يَأْكُلْ طَعَامَكَ إِلَا تَقِيٌّ
“Janganlah kamu berteman kecuali dengan orang mukmin dan janganlah memakan makananmu kecuali orang bertakwa.” (HR. Abu Dawud no. 4832 dan dihasankan Asy-Syaikh Albani dalam Shahih Jami’ no. 7341)
Beliau n juga berkata:
مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً
“Permisalan teman yang baik dan teman yang jelek seperti penjual misk dan pandai besi. Adapun penjual misk, bisa jadi engkau diberi olehnya, membeli darinya, atau minimalnya engkau mendapatkan bau wangi. Adapun pandai besi bisa jadi membakar pakaianmu atau engkau mencium bau tidak sedap darinya.” (HR. Al-Bukhari no. 5534 dan Muslim no. 2628)
Seseorang yang akan dijadikan teman hendaknya memenuhi syarat-syarat yang dijelaskan oleh para ulama. Kriteria seseorang yang bisa dijadikan teman adalah sebagai berikut:
1.    Berakal
Ini adalah modal utama dalam persahabatan setelah iman. Tidak ada kebaikan berteman dengan orang yang dungu, karena dia ingin berbuat baik kepadamu namun hal tersebut justru bermudharat bagimu. Yang dimaksud berakal di sini adalah mampu memahami keadaan yang sebenarnya, baik memahaminya sendiri atau bisa memahami ketika diberi pengertian.

2.    Berakhlak baik
Betapa banyak orang berakal namun ketika marah atau dikuasai syahwat, dia akan mengikuti hawa nafsunya. Maka tidak ada kebaikan berteman dengan orang yang seperti ini.
Lalu, bagaimana cara kita mengetahui akhlak seseorang? Ada beberapa cara untuk mengetahui akhlak seseorang. Diantaranya:
a. Melihat siapa temannya.
الْمَرْءُ عَلَى دِيْنِ خَلِيلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
“Seseorang ada di atas agama/perangai temannya maka hendaknya seseorang meneliti siapa yang dia jadikan temannya.” (HR. Ahmad, Abu Dawud dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 127)
Ibnu Mas’ud z berkata: “Nilailah (kenalilah) manusia dengan menilai (mengenal) teman-temannya.”
Dalam pepatah Arab dinyatakan, “Katakan kepadaku siapa temanmu, maka aku akan sampaikan siapa sebenarnya kamu.”
Sebagian ahli hikmah menyatakan: “Kenali temanmu dengan mengenali temannya sebelummu.”

b. Akhlak seseorang juga akan diketahui dengan safar (bepergian) dengannya.
Perjalanan jauh disebut safar (yang dalam bahasa Arab bermakna ‘menyingkap’) karena akan menyingkap hakikat jatidiri seseorang. Dalam safar, akan terlihat banyak akhlak dan tabiatnya. Oleh karena itu, orang Arab menyatakan, “Safar adalah mizan (timbangan) bagi satu kaum.”

3.    Bukan orang fasiq
Seorang fasiq tidak takut kepada Allah l. Seseorang yang tidak takut kepada Allah l, maka kita tidak merasa aman dari pengkhianatannya dan tidak bisa dipercaya.

4.    Bukan ahlul bid’ah
Karena dikhawatirkan dia akan menebarkan kebid’ahannya kepada orang lain2.
Fudhail bin Iyadh t berkata, “Tidak mungkin seorang Ahlus Sunnah berteman (condong) kepada ahlul bid’ah, kecuali karena adanya kemunafikan (dalam hatinya).”
Beliau t berkata juga, “Hati-hatilah. Janganlah engkau duduk bersama orang yang akan merusak hatimu. Jangan pula engkau duduk bersama pengikut hawa nafsu, karena aku khawatir murka Allah l menimpamu.”
5.    Bukan orang yang tamak dan rakus terhadap dunia
(Lihat Mukhtashar Minhajul Qasidhin hal. 99, Ni’matul Ukhuwah hal. 19-25)


1 Hadits riwayat Al-Bukhari (no. 3671) dan Muslim (no. 24) dari Musayib z: Ketika sakaratul maut mendatangi Abu Thalib, Rasulullah n datang dalam keadaan di sisi Abu Thalib ada Abdullah bin Umayyah dan Abu Jahl. Rasulullah n berkata, “Wahai paman, katakanlah Laa ilaha illallah, satu kalimat yang dengannya aku akan membela kamu di sisi Allah.” Keduanya berkata, “Apakah kamu membenci agama Abdul Muthalib?” Nabi n mengulang ucapannya, maka keduanya pun mengulang ucapannya. Maka, akhir hidup Abu Thalib adalah di atas agama Abdul Muthalib (yakni di atas kesyirikan).
2 Lihat pembahasan Kajian Utama dengan judul Bahaya Berteman dengan Ahlul Bid’ah pada edisi ini di hal. 28.

Nikmat Persahabatan Karena Allah

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abdurrahman Mubarak)

 

Nikmat Allah l sangatlah banyak. Tak mungkin seorang pun bisa menghitungnya. Allah l berfirman:
“Jika kalian mau menghitung nikmat Allah niscaya kalian tak akan bisa menghitungnya.” (Ibrahim: 34)
Ibnul Qayyim t menjelaskan macam-macam nikmat Allah l kepada hamba-hamba-Nya:
–    Nikmat yang telah didapat dan telah diketahui hamba-Nya
–    Nikmat yang ditunggu-tunggu dan diharap-harap oleh hamba-Nya.
–    Nikmat yang telah didapat hamba tapi dia tidak merasakannya.
Jika Allah l akan menyempurnakan nikmat-Nya kepada seorang hamba maka Allah l akan membimbing hamba ini untuk mengetahui nikmat yang telah didapatnya dan diberi taufiq untuk mensyukurinya. (Al-Fawaid hal. 169)
Wahai hamba Allah l, diantara sekian nikmat Allah l kepada kita semua adalah dipersaudarakan dan disatukannya hati-hati kita, kaum muslimin, di atas agama ini. Allah l berfirman:
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai-berai, serta ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuh-musuhan. Maka Allah mempersatukan hatimu lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu darinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (Ali Imran: 103)
Allah l berfirman:
“Dan yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman), walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya dia Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (Al-Anfal: 63)
Persahabatan yang dilakukan karena Allah l dan di jalan Allah l akan mendatangkan banyak keutamaan bagi seorang muslim. Diantara keutamaan tersebut:
1.    Persahabatan yang dibangun lillah (karena Allah) dan fillah (di jalan Allah) adalah ikatan iman yang terkuat.
Rasulullah n berkata:
أَوْثَقُ عُرَى الْإِيْمَانِ الْحُبُّ فِي اللهِ وَالْبُغْضُ فِي اللهِ
“Cinta karena Allah l dan benci karena Allah l adalah ikatan iman yang paling kuat.” (HR. Ath-Thabarani dan dihasankan Asy-Syaikh Albani dalam Ash-Shahihah no. 998)

2. Orang yang saling mencintai karena Allah l akan mendapatkan naungan.
Rasulullah n menyatakan:
سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ؛ إِمَامٌ عَادِلٌ، وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلِّقٌ بِالـمَسَاجِدِ، وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ، وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصَبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ: إِنِّي أَخَافُ اللهُ وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالَهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينَهُ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ
“Tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan pada saat tidak ada naungan kecuali naungan Allah l: pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah l, seorang yang hatinya senantiasa terkait dengan masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah l, bersatu dan berpisah di atasnya, seseorang yang diajak berzina oleh seorang wanita yang memiliki kedudukan dan kecantikan namun pemuda tersebut berkata: ‘Aku takut kepada Allah l’, seorang yang bershadaqah dan ia menyembunyikan shadaqahnya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfaqkan tangan kanannya, serta seorang yang berdzikir kepada Allah l sendirian hingga meneteskan air mata.” (HR. Al-Bukhari no. 660 dan Muslim no. 1031)

3. Allah l mencintai orang-orang yang saling mencintai di jalan-Nya
Dari Abu Hurairah z, Nabi n berkata:
إِنَّ رَجُلًا زَارَ أَخًا لَهُ فِي قَرْيَةٍ، فَأَرْصَدَ اللهُ تَعَالَى عَلَى مَدْرَجَتِهِ مَلَكًا، فَلَمَّا أَتَى عَلَيْهِ الْمَلَكُ قَالَ: أَيْنَ تُرِيدُ؟ قَالَ: أَزُورُ أَخًا لِي فِي هَذِه الْقَرْيَةِ. قَالَ: هَلْ عَلَيْكَ مِنْ نِعْمَةٍ تَرُبُّهَا؟ قَالَ: لَا، إِلاَّ أَنِّي أَحْبَبْتُهُ فِي اللهِ. قَالَ: فَإِنِّي رَسُولُ اللهُ إِلَيْكَ أَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ قَدْ أَحَبَّكَ كَمَا أَحْبَبْتَهُ لَهُ
Ada seseorang yang mengunjungi saudaranya di negeri yang lain. Maka Allah l mengutus malaikat di belakangnya. Ketika malaikat ini sampai ke orang tersebut, malaikat bertanya, “Engkau akan berangkat kemana?” Orang tersebut menjawab, “Aku ingin mengunjungi saudaraku di jalan Allah l.” Malaikat berkata, “Apakah dia memiliki kenikmatan/harta yang engkau kerjakan untuknya?” Dia menjawab, “Tidak. Hanya saja aku mencintainya karena Allah l.” Malaikat berkata, “Aku adalah utusan Allah l kepadamu. Sesungguhnya Allah l mencintaimu sebagaimana engkau telah mencintai temanmu di jalan-Nya.” (HR. Muslim no. 2567)

4. Cinta karena Allah l sebab merasakan manisnya iman
Dari Abu Hurairah z, Rasulullah n bersabda:
مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَجِدَ طَعْمَ الْإِيْمَانِ فَلْيُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلهِ
“Barangsiapa yang ingin merasakan nikmatnya iman hendaknya tidak mencintai seseorang kecuali karena Allah l.” (HR. Ahmad. Dihasankan oleh Asy-Syaikh Albani dalam Shahihul Jami’ no. 6164)

5. Seseorang akan dikumpulkan bersama orang yang dicintainya
Dari Abu Musa Al-Asy’ari z: Datang seseorang kepada Nabi n dan berkata, “Wahai Rasulullah, seseorang mencintai satu kaum namun tidak bisa menyamai amalan mereka?” Rasulullah n berkata:
الْمَرْءُ عَلَى مَنْ أَحَبَّ
“Seseorang akan bersama orang yang dicintainya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

6. Cinta di jalan Allah l termasuk keimanan dan menyebarkan salam adalah sebab untuk mendapatkannya.
Dari Abu Hurairah z, Rasulullah n bersabda:
لَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلَنْ تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا، أَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ؟ افْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ
“Kalian tidak akan masuk surga hingga beriman dan tidak sempurna iman kalian hingga saling mencintai. Maukah aku kabarkan satu amalan jika kalian amalkan kalian akan saling mencintai? (Yakni) Sebarkan salam di antara kalian.” (HR. Muslim no. 54)
Al-Imam An-Nawawi t berkata, “Makna sabda beliau: Tidak sempurna iman kalian hingga saling mencintai, adalah ‘Tidak sempurna iman kalian dan tidak bagus iman kalian kecuali dengan saling mencintai’.” (Lihat Ni’matul Ukhuwah hal. 5-13)
Wahai hamba Allah l, marilah kita jaga persaudaraan (persahabatan) di jalan Allah l, karena ini merupakan bentuk syukur kita kepada Allah l. Allah l berfirman:
Dan (ingatlah juga), tatkala Rabbmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (Ibrahim: 7)
Mudah-mudahan Allah l menambah erat persaudaraan dan kerukunan kita di atas Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman salafus shalih.

Teman dan Pengaruhnya dalam Kehidupan Beragama Seseorang

(ditulis oleh: Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi, Lc)

 

Dengan segala hikmah dan kasih sayang-Nya, Allah l menciptakan manusia dari sepasang insan; lelaki dan perempuan. Allah l menjadikan mereka hidup berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, supaya dapat saling mengenal. Kemudian Allah l memuliakan orang yang paling bertakwa di antara mereka. Demikianlah suratan takdir dari Allah l Dzat Yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. Allah l berfirman:
“Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang lelaki dan seorang perempuan serta menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kalian. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Al-Hujurat: 13)
Lebih dari itu, Allah l menjadikan manusia mempunyai kemampuan sebagai makhluk sosial yang pandai berbicara, bisa mendengar dan melihat. Kemudian pandai berkomunikasi dan berinteraksi dengan sesamanya serta lingkungannya. Allah l berfirman:
“Dia menciptakan manusia, mengajarnya pandai berbicara.” (Ar-Rahman: 3-4)
Allah l juga berfirman:
“Maka Kami jadikan dia mendengar dan melihat.” (Al-Insan: 2)
Berbagai anugerah pun Allah l bentangkan untuk umat manusia demi keberlangsungan hidup mereka di muka bumi ini. Allah l berfirman:
“Bukankah telah Kami jadikan bumi sebagai hamparan dan gunung-gunung sebagai pasak? Dan Kami jadikan kalian berpasang-pasangan, dan Kami jadikan tidur kalian untuk istirahat, dan Kami jadikan malam sebagai pakaian, dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan, dan Kami bangun di atas kalian tujuh buah (langit) yang kokoh, dan Kami jadikan pelita yang amat terang (matahari), dan Kami turunkan dari awan air yang banyak tercurah, supaya Kami tumbuhkan dengan air itu biji-bijan dan tumbuh-tumbuhan, serta kebun-kebun yang lebat?” (An-Naba’: 6-16)

Manusia senantiasa membutuhkan teman
Manusia yang lekat dengan berbagai kekurangan dan keterbatasan senantiasa membutuhkan teman dalam hidupnya. Mahasuci Allah, manakala di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah diciptakan-Nya para istri sebagai teman dekat (pendamping) bagi kaum lelaki. Dia l menjadikan kecenderungan dan ketenteraman bagi kaum lelaki kala bersanding dengan istrinya. Dia l menjadikan pula rasa kasih dan sayang di antara keduanya. Sebagaimana dalam firman-Nya l:
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (Ar-Rum: 21)
Kebutuhan manusia akan teman tak hanya sebatas istri. Teman selain istri pun mempunyai pengaruh yang besar bagi seseorang dalam memenuhi berbagai kebutuhan hidupnya, baik yang bersifat duniawi maupun ukhrawi. Allah l Yang Maha Pemurah tak membiarkan manusia hidup dengan berbekal kekurangan dan keterbatasannya. Berbagai bimbingan terbaik seputar permasalahan ini pun Allah l sampaikan dalam Al-Qur’an dan Sunnah Nabi-Nya n. Kupasannya pun luas, mencakup topik saling membutuhkan dalam hal maslahat duniawi dan juga ukhrawi.
Para pembaca yang mulia, jatidiri seorang teman sendiri bermacam-macam, ada yang baik dan ada pula yang buruk. Masing-masing sangat kuat pengaruhnya dalam kehidupan seseorang, di dunia maupun di akhirat. Sungguh bahagia seseorang yang diberi kemudahan dan taufik oleh Allah l untuk mendapatkan teman-teman yang baik. Sebaliknya, betapa merugi seseorang yang terhalangi dari teman-teman yang baik, bahkan dikitari oleh teman-teman yang buruk. Allah l berfirman:
“Dan Kami tetapkan bagi mereka teman-teman yang menjadikan mereka memandang bagus apa yang ada di hadapan dan di belakang mereka. Dan tetaplah atas mereka keputusan azab pada umat-umat yang terdahulu sebelum mereka dari kalangan jin dan manusia. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang merugi.” (Fushshilat: 25)
Dalam mutiara kenabian, terpancar satu permisalan indah tentang jatidiri seorang teman dan pengaruhnya bagi seseorang. Sebagaimana dalam sabda beliau n:
مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً
“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat penjual minyak wangi dan pandai besi. Si penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan aroma harum semerbak darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Al-Bukhari dalam Shahih-nya no. 5534 dan Muslim dalam Shahih-nya no. 2628 dari sahabat Abu Musa Al-Asy’ari z)
Hal penting yang harus diketahui oleh setiap insan muslim juga, bahwa semua teman akrab, sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain di hari kiamat kecuali orang-orang yang bertakwa. Allah l berfirman:
“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (Az-Zukhruf: 67)

Hati-hati memilih teman!
Selektif dalam memilih teman merupakan prinsip utama dalam Islam. Sejarah pun menunjukkan bahwa para ulama terdahulu (as-salafush shalih) benar-benar memerhatikan prinsip ini. Karena sosok teman sangat berpengaruh bagi kehidupan seseorang baik di dunia maupun di akhirat.
Di dalam Shahih Al-Bukhari (no. 3742) disebutkan bahwa Alqamah t seorang tabi’in yang mulia berkisah: “Ketika aku masuk ke Negeri Syam, maka aku (langsung menuju masjid dan) shalat dua rakaat. Kemudian kupanjatkan sebuah doa: ‘Ya Allah, berilah aku kemudahan untuk mendapatkan teman yang baik (di negeri ini)’. Usai berdoa kudatangi sekelompok orang yang sedang duduk-duduk dan turut bergabung bersama mereka. Lalu datanglah seorang syaikh dan duduk di sebelahku. Aku bertanya kepada mereka, ‘Siapakah orang ini?’ Mereka menjawab: ‘Beliau adalah Abud Darda’ (seorang sahabat Nabi n).’ Maka aku katakan kepada beliau, ‘Aku telah berdoa kepada Allah l agar diberi kemudahan untuk mendapatkan teman yang baik (di negeri ini). Sungguh Allah l telah memudahkanku untuk bertemu denganmu.’ Abud Darda’ berkata: ‘Dari manakah engkau’. Maka kukatakan: ‘Aku dari negeri Kufah’.”
Selektif dalam memilih teman merupakan kewajiban setiap insan muslim. Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin t berkata: “Memerhatikan teman merupakan kewajiban setiap insan muslim. Jika mereka itu orang-orang yang buruk, maka hendaknya dijauhi, karena (penyakit) mereka itu lebih kuat penularannya daripada kusta. Atau jika mereka itu teman-teman yang baik, yang senantiasa memerintahkan kepada kebaikan, mencegah (anda) dari kemungkaran dan membimbing kepada pintu-pintu kebaikan, bergaullah (dengan mereka).” (Al-Qaulul Mufid Syarh Kitabit Tauhid 1/224)
Selektif memilih teman harus diupayakan sejak dini. Karena pergaulan di masa muda sangat menentukan kelanjutan hidup pada fase-fase berikutnya. Al-Imam Ahmad bin Hanbal t berkata: “Jika engkau melihat seorang pemuda di awal pertumbuhannya bersama Ahlus Sunnah wal Jama’ah, maka harapkanlah kebaikannya (di kemudian hari). Jika engkau melihat di awal pertumbuhannya bersama ahlul bid’ah, maka berputusasalah akan kebaikannya (di kemudian hari).” (Al-Adab Asy-Syar’iyyah karya Al-Imam Ibnu Muflih, 3/77)
Demikian halnya yang dikatakan Al-Imam Amr bin Qais Al-Mula’i t, namun ada sedikit tambahan: “…karena (perjalanan) seorang pemuda sangat ditentukan oleh masa awal pertumbuhannya.” (Al-Ibanah karya Al-Imam Ibnu Baththah t, 2/481-482)
Tak kalah pentingnya pula selektif dalam memilih teman saat menuntut ilmu. Al-Imam Badruddin Ibnu Jama’ah Al-Kinani t berkata: “Bila dia (seorang penuntut ilmu) membutuhkan teman, hendaknya memilih orang yang shalih, beragama, bertakwa, wara’, cerdas, banyak kebaikannya lagi sedikit keburukannya, santun dalam bergaul, dan tak suka berdebat. Bila dia lupa, teman tersebut bisa mengingatkannya. Bila dalam keadaan ingat (kebaikan), teman tersebut mendukungnya. Bila dia butuh bantuan, teman tersebut siap membantunya. Dan bila dia sedang marah, maka teman tersebut pun menyabarkannya.” (Tadzkiratus Sami’ wal Mutakallim, hal. 83-84)
Para pembaca yang mulia, teman adalah potret tentang jatidiri seseorang. Bahkan ia sebagai barometer bagi agamanya. Rasulullah n bersabda:
الرَّجُلُ عَلَى دِيْنِ خَلِيْلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
“Seseorang tergantung agama teman akrabnya. Maka hendaknya salah seorang dari kalian memerhatikan siapa yang dijadikan sebagai teman akrab.” (HR. Abu Dawud dalam As-Sunan juz 2, hal. 293, At-Tirmidzi dalam As-Sunan juz 2, hal. 278, Al-Hakim dalam Al-Mustadrak juz 4, hal. 171, dan Ahmad dalam Al-Musnad juz 2, hal. 303 dan 334 dari sahabat Abu Hurairah z. Lihat Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no. 927)
Sahabat Abdullah bin Mas’ud z berkata: “Seseorang akan berjalan dan berteman dengan orang yang dicintainya dan sejenis dengannya.” (Al-Ibanah karya Al-Imam Ibnu Baththah t, juz 2 hal. 476)1
Al-Imam Qatadah t berkata: “Demi Allah l, sungguh tidaklah kami melihat seseorang berteman kecuali dengan yang sejenisnya. Maka bertemanlah dengan orang-orang shalih dari hamba-hamba Allah l, semoga kalian senantiasa bersama mereka atau menjadi seperti mereka.” (Al-Ibanah karya Al-Imam Ibnu Baththah t, 2/480)2
Ketika Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri t datang ke Kota Bashrah dan melihat posisi Ar-Rabi’ bin Shubaih yang tinggi di tengah umat, beliau pun menanyakan prinsip agamanya. Maka orang-orang menjawab: “Prinsip agamanya tidak lain adalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah.”
Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri bertanya lagi: “Siapakah teman-teman dekatnya?” Mereka menjawab: “Orang-orang Qadariyyah (pengingkar takdir, pen.).”
Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri t pun berkata: “Kalau begitu dia adalah seorang qadari.” (Al-Ibanah karya Al-Imam Ibnu Baththah t, 2/453)3

Mewaspadai teman yang buruk
Teman yang buruk sangat berbahaya bagi kehidupan seseorang baik di dunia maupun di akhirat. Karena bersahabat dengannya tidaklah membuahkan apapun kecuali penyesalan:
“Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya Dia telah menyesatkan aku dari Al-Qur’an ketika Al-Qur’an itu telah datang kepadaku, dan adalah setan itu tidak mau menolong manusia.” (Al-Furqan: 28-29)
Sikap berhati-hati dari teman yang buruk, sesungguhnya berlaku juga bagi para pejabat pemerintahan. Mengingat, betapa besarnya pengaruh teman yang buruk bagi berbagai kebijakan mereka. Di dalam kitab Riyadhush Shalihin, Al-Imam An-Nawawi t menyebutkan bab khusus terkait dengan hal ini. Beliau berkata: “Bab: Hasungan terhadap hakim dan pemimpin bangsa serta pejabat pemerintahan lainnya dari agar mencari teman yang baik dan berhati-hati dari teman yang buruk.”
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin t berkata: “Engkau bisa mendapati bahwa di antara para pemimpin itu ada yang baik dan suka dengan kebaikan. Namun, manakala Allah l memberinya  teman-teman yang buruk, lalu wal’iyadzu billah mereka menghalanginya dari kebaikan yang diinginkannya, menghiasi sesuatu yang buruk hingga nampak baik, dan menanamkan kepadanya kebencian kepada para hamba Allah l.
Engkau pun bisa mendapati di antara para pemimpin itu ada yang kurang baik. Namun tatkala teman-temannya dari kalangan orang-orang baik, yang selalu menunjukinya kepada kebaikan, memberikan motivasi dan mengarahkannya kepada segala hal/kebijakan yang membuahkan rasa cinta antara dia dengan rakyatnya, akhirnya menjadi baik keadaannya. Dan orang yang terjaga itu adalah yang dijaga oleh Allah l.” (Syarh Riyadhish Shalihin)
Teman yang buruk itu bermacam-macam. Terkadang dari jenis pelaku kemaksiatan (pengekor syahwat), atau dari jenis ahlul bid’ah4 dan orang-orang yang menyimpang agamanya. Semuanya harus diwaspadai. Pelaku kemaksiatan (pengekor syahwat) dapat menyeret siapa saja yang berteman dengannya ke dalam kemaksiatan dan syahwat. Demikian pula ahlul bid’ah dan orang-orang yang menyimpang agamanya akan menyesatkan siapa saja yang berteman dengannya.
Bahkan menurut Al-Imam Ahmad bin Hanbal t, berteman atau bermajelis bersama ahlul bid’ah dan orang-orang yang menyimpang dengan alasan untuk mengembalikan mereka kepada al-haq tidak dibenarkan juga. Karena mereka akan menyampaikan kerancuan-kerancuan berpikirnya (syubhat) dan enggan untuk kembali kepada al-haq.5 (Lihat Al-Ibanah 2/472)6
Mungkin di antara pembaca ada yang bertanya: “Adakah contoh kasus tentang orang-orang yang tersesat (agamanya) karena teman?” Maka jawabnya adalah: “Ada, bahkan banyak.”
Diantaranya adalah:
1. Abu Thalib terhalang dari Islam karena pengaruh temannya.
Disebutkan dalam Shahih Al-Bukhari (no. 3884): “Saat menjelang kematian Abu Thalib, Rasulullah n datang menjenguknya. Ternyata di sisi Abu Thalib telah ada Abu Jahl dan Abdullah bin Abu Umayyah bin Al-Mughirah. Rasulullah n berkata: ‘Wahai pamanku, ucapkanlah Laa ilaaha illallah (tiada yang berhak diibadahi dengan sebenarnya kecuali Allah, pen.), sebuah kalimat yang akan kujadikan hujjah (pembelaan) untukmu di hadapan Allah’. Maka berkatalah Abu Jahl dan Abdullah bin Abu Umayyah bin Al-Mughirah: ‘Apakah kamu benci terhadap agama Abdul Muththalib (agama berhala, pen.)?!’ Setiap kali Rasulullah n menawarkan kalimat Laa ilaaha illallah kepada Abu Thalib, maka setiap kali pula Abu Jahl dan Abdullah bin Abu Umayyah bin Al-Mughirah menimpalinya dengan perkataan di atas. Hingga kata terakhir yang diucapkan Abu Thalib kepada mereka adalah: ‘(Aku) di atas agama Abdul Muththalib (menyembah berhala)’.”
Demikian pula secara lebih tegas disebutkan dalam Shahih Muslim (no. 39): “…Dia (Abu Thalib) berada di atas agama Abdul Muththalib (menyembah berhala) dan tidak mau mengucapkan kalimat Laa ilaaha illallaah.”
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin t berkata: “Betapa bahayanya teman yang buruk terhadap seseorang. Kalau tidak ada pengaruh dari dua orang tersebut (Abu Jahl dan Abdullah bin Abu Umayyah bin Al-Mughirah, pen.) bisa jadi Abu Thalib menerima ajakan Nabi n untuk mengucapkan kalimat Laa ilaaha illallaah dan wafat sebagai pemeluk agama Islam.” (Al-Qaulul Mufid Syarh Kitabit Tauhid 1/224)

2. Abu Dzar Al-Harawi terseret ke dalam madzhab Asy’ari karena kedekatannya dengan Al-Qadhi Abu Bakr Ath-Thayyib
Di dalam kitab Siyar A’lamin Nubala’ (17/558-559) dan Tadzkiratul Huffazh (3/1104-1105) karya Al-Imam Adz-Dzahabi t disebutkan bahwa Abu Dzar Al-Harawi, seorang ulama terkemuka di masanya terseret ke dalam madzhab sesat Asy’ari, disebabkan kedekatannya dengan tokoh madzhab tersebut yang bernama Al-Qadhi Abu Bakr Ath-Thayyib. Bermula dari pertemuan pertama di Kota Baghdad, kemudian disusul dengan pertemuan kedua, dan demikian seterusnya. Hingga akhirnya terseret ke dalam madzhab Asy’ari, sebagaimana yang dinyatakan Abu Dzar Al-Harawi sendiri: “Akhirnya aku mengikuti madzhabnya.”
Tidak sampai di situ, ia pun kemudian menyebarkan madzhab Asy’ari tersebut di Kota Makkah. Al-Imam Adz-Dzahabi t berkata: “Dia mendapatkan ilmu kalam dan madzhab Asy’ari dari Al-Qadhi Abu Bakr Ath-Thayyib, kemudian menyebarkannya di Kota Makkah. Orang-orang yang berasal dari negeri-negeri maghrib arabi (magharibah) menyambutnya dan membawa akidah sesat tersebut ke Negeri Maroko dan Andalusia (Spanyol). Padahal sebelumnya para ulama di beberapa negeri tersebut tidak menyukai ilmu kalam. Bahkan mereka adalah orang-orang yang mumpuni di bidang ilmu fiqh, hadits, atau bahasa Arab.” (Siyar A’lamin Nubala’ 17/557)

3. ‘Imran bin Hiththan menjadi khawarij karena pengaruh istrinya
Imran bin Hiththan adalah seorang yang hidup di masa tabi’in. Dia meriwayatkan hadits dari sekelompok sahabat Nabi n. Dia kesohor akan kesungguhan dalam menuntut ilmu dan hadits. Dahulunya berakidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, namun di akhir hayatnya terseret ke dalam akidah sesat Khawarij. Al-Hafizh Ibnu Hajar t berkata: “Adalah Imran bin Hiththan tergolong orang yang terkenal di kalangan madzhab Khawarij, padahal sebelumnya dia kesohor akan kesungguhan dalam menuntut ilmu dan hadits, kemudian terseret ke dalam fitnah (Khawarij).”
Al-Imam Ya’qub bin Syaibah t berkata: “Dia berjumpa dengan sekelompok sahabat Nabi n, namun di akhir hayatnya terseret ke dalam akidah Khawarij. Sebabnya adalah bahwa sepupu wanita/anak pamannya (yang bernama Hamnah, pen.) yang memiliki akidah sesat, akidah Khawarij, maka dia menikahinya dengan tujuan mengembalikannya ke dalam akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Akan tetapi, justru sang istrilah yang menyeretnya ke dalam akidah Khawarij.”
Hal senada juga disampaikan oleh Al-Imam Muhammad bin Sirin t. (Lihat Tahdzibut Tahdzib karya Al-Hafizh Ibnu Hajar, 8/108-109)
Para pembaca yang mulia, belajar dari uraian di atas, maka sudah seharusnya bagi kita semua selektif dan berhati-hati dalam memilih teman. Mewaspadai teman yang buruk dan berteman dengan teman yang baik. Mengingat, seorang teman itu sangat besar pengaruhnya bagi kehidupan beragama kita.
Wallahu a’lam bish-shawab.


1, 2, 3 Lihat kitab Ijma’ul Ulama’ ‘Alal Hajri wat Tahdzir Min Ahlil Ahwa’, karya Asy-Syaikh Khalid bin Dhahwi Azh-Zhafiri.
4 Bid’ah adalah segala hal yang diada-adakan dalam agama (tidak ada syariat/dalilnya dalam Islam). Ahlul bid’ah/mubtadi’ adalah orang yang bersemangat mempelajari dan melakukan kebid’ahan serta mendakwahkan/mengajak manusia untuk melakukan bid’ah.
Namun demikian, seseorang yang melakukan sesuatu yang menyelisihi syariat dalam keadaan tidak tahu, maka dia diberi udzur karena ketidaktahuannya tersebut. Dia tidak dihukumi mubtadi’. Hanya saja amalan yang dilakukannya disebut bid’ah.
5 Diantara buktinya adalah kasus Imran bin Hiththan yang akan disebutkan insya Allah.
6 Sebagai tambahan faedah tentang sikap terhadap ahlul bid’ah dan orang-orang yang menyimpang agamanya, silakan lihat kitab Ijma’ul Ulama’ ‘Alal Hajri wat Tahdzir min Ahlil Ahwa’, karya Asy-Syaikh Khalid bin Dhahwi Azh-Zhafiri.

Surat Pembaca edisi 59

Koreksi Ayat
Afwan untuk volume V/no.58 KIAMAT SUDAH DEKAT ada kesalahan. Pada halaman 68 tertulis Al-Baqarah: 228 sementara (dengan ayat yang sama) pada halaman 69 tertulis Al-Baqarah: 288.
0813320xxxxx

Afwan ada koreksi sedikit, pada halaman 29 edisi 58, yang benar surat Mu’min:18 bukan Ghafir: 18. Wallahu a’lam.
0852784xxxxx

Yang benar seharusnya memang Al-Baqarah: 228. Adapun jawaban untuk pertanyaan kedua, Ghafir adalah nama lain dari surat Al-Mu’min. Silakan dibuka Al-Qur’an dan Terjemahnya dari Kementerian Agama RI di halaman awal Surat Al-Mu’min. Jazakumullahu khairan atas masukannya.

Kurang Kata
Afwan, ana baca Asy-Syariah edisi 58, sepertinya ada yang kurang. Pada halaman 30 paragraf ke-2, tertulis Allah l juga mengancam orang-orang yang mengimani hari tersebut dengan kebinasaan…dst. Seharusnya ditambah kata “tidak”.

0852559xxxxx

Kalimat tersebut seharusnya berbunyi Allah l juga mengancam orang-orang yang tidak mengimani hari tersebut dengan kebinasaan…dst. Jazakumullahu khairan atas koreksinya.

Rubrik Fatawa Diganti Konsultasi Keluarga
Bagaimana jika rubrik Fatawa Al-Mar’ah Al-Muslimah diganti dengan konsultasi seperti masalah keluarga yang dijawab oleh redaksi? Dengan rubrik ini pun masih bisa disisipkan fatwa-fatwa yang ada hubungannya dengan masalah-masalah yang masuk.

Rudin-Tambak
0852271xxxxx

Usulan antum akan diteruskan kepada pengampu rubrik, jazakumullahu khairan atas masukannya.

Kapan Membahas LDII?
Sekarang banyak pengikut LDII yang insaf dan mengenal manhaj salaf, bagaimana bila Asy-Syariah membahas khusus mengenai kesesatan LDII yang terkenal dengan doktrin-doktrinnya.

Abu Ammar-Banjarmasin
0813518xxxxx

Masukan antum akan kami pertimbangkan. Jazakumullahu khairan.

Kolom Kosa Kata
Ana usul bagaimana kalau pada setiap edisi, ada kolom khusus yang berisi kosa kata istilah ilmiah dalam bahasa Arab yang digunakan dalam artikel edisi itu juga. Semoga dengan cara demikian majalah Asy-Syari’ah semakin mudah dipahami.

Abu Hasan-Godean Sleman
0813281xxxxx

Masukan antum kami pertimbangkan, jazakumullahu khairan.

Tentang Qunut
Ana salah satu penggemar majalah Asy-Syariah, ana punya masalah yaitu tentang qunut. Tolong jadikan rubrik khusus di majalah Asy-Syariah, karena dalam pemahaman masyarakat masih banyak terdapat kesalahpahaman tentang hukum qunut dalam shalat. Maksudnya dibahas secara mendetail dan ilmiah, berikut dalil dan pandangan ulama salafus shalih.

Muhammad Ajumain bin Junaid
0852416xxxxx

Tentang Qunut, insya Allah akan kami bahas di edisi-edisi mendatang. Jadi mohon bersabar. Jazakumullahu khairan.

Memaknai Hakikat Pertemanan

Setiap manusia normal di muka bumi ini tentu mempunyai teman atau kawan. Di setiap jenjang usia, mulai dari kanak-kanak, remaja, dewasa, hingga kita berusia senja, selalu ada teman yang mengisi dan mengiringi langkah hidup kita. Bahkan ada yang turut mewarnai hitam atau putihnya lembaran hidup kita. Bukan sekadar pengaruh nilai-nilai kebaikan atau kejelekan secara umum, namun lebih khusus adalah pengaruhnya terhadap agama kita.
Betapa banyak teman yang menjadi faktor atau sebab seseorang berkubang dengan kemaksiatan, tenggelam dalam lumpur dosa ataupun kesyirikan. Sebaliknya, banyak teman yang menawarkan “angin surga” dengan menjadikan agama kita menjadi lebih baik, akhlak kita menjadi lebih mulia, yang akhirnya menjadikan kita sebagai manusia yang bermartabat.
Islam, sebagai agama nan sempurna yang mengatur setiap perkara dari umatnya, juga tak lengang dari adab-adab atau tuntunan dalam hal berteman. Berteman yang bukan sekadar berteman, namun dilandasi serta memiliki nilai ibadah. Jika kita bisa memilih teman yang baik lantas berteman dengan mereka secara baik pula (menurut syariat), tentu tak hanya janji pahala di akhirat, namun di dunia, kita pun juga akan menikmati manfaatnya secara langsung.
Yang namanya pertemanan tentu juga tidak seperti pertemanan dalam politik yang menakar segalanya dari kepentingan dengan menomorduakan agama. Tak sadar bahwa dia berangkat dengan mengusung jargon-jargon keislaman, namun selama hajat politik mereka belum tertunaikan, syariat pun rela dilabrak sana-sini. Tak peduli bahwa dia tengah berteman dekat   dengan orang-orang kafir atau tokoh-tokoh yang lisannya acap mengumbar hujatan terhadap syariat Islam.
Di dalam rumah tangga, kita pun mempunyai teman yang sangat dekat yakni istri atau suami. Sebelum menentukan siapa “teman dekat” kita ini, jauh-jauh hari Islam menuntunkan agar menjadikan agama sebagai pertimbangan utama dalam memilihnya. Dan faktanya, banyak suami atau istri yang menyimpang karena kuat dipengaruhi pasangan hidupnya. Bukan hanya menyimpang dalam hal-hal yang bersifat materi namun juga menyangkut agamanya. Dan yang seperti ini tidaklah menimpa orang-orang biasa seperti kita, namun juga menimpa orang-orang yang berilmu.
Maka, jangan sampai kita berteman dengan kawan-kawan yang jelek, yang pada akhirnya menetaskan kejelekan bagi kita. Lebih-lebih, kita justru mencampakkan teman-teman kita yang baik. Kalau sudah begini tak hanya kerugian di dunia yang kita tuai, namun juga kesengsaraan di akhirat kelak -kecuali Allah l memang menghendaki lain-. Karena teman-teman berikut pergaulan yang jeleklah yang akan mengatup pintu-pintu kebaikan.
Sehingga ketika kita memahami bahwa agamalah yang harus menjadi pertimbangan utama dalam hal memilih teman, maka tak selayaknya kita menawar kebaikan sementara kita masih berkawan dengan teman-teman yang buruk, baik itu ahli maksiat, yang suka berkubang dengan kebid’ahan dan kesyirikan, yang fanatik buta dengan kelompok atau partainya, dan sebagainya.
Dengan berpijak di atas agamalah, kita akan benar-benar bisa memaknai hakikat pertemanan yang sesungguhnya.

Wajib Menolak Kemungkaran Dengan Hati Apapun Kondisinya!

Diriwayatkan dari Abu Juhaifah t beliau mengatakan:
Ali z berkata: “Sesungguhnya sesuatu yang pertama kali diharuskan atas kalian dari urusan jihad adalah berjihad dengan tangan-tangan kalian, kemudian berjihad dengan lisan-lisan kalian, kemudian berjihad dengan hati-hati kalian. Maka barangsiapa yang hatinya tidak mengetahui yang ma’ruf dan tidak mengingkari yang mungkar, hati itu akan terbalik. Bagian atasnya menjadi bagian bawahnya.”

Ibnu Mas’ud z mendengar seseorang berkata: “Binasalah orang yang tidak memerintahkan yang ma’ruf dan tidak mencegah yang mungkar.”
Ibnu Mas’ud z menimpali: “Binasalah siapa saja yang hatinya tidak dapat mengenali mana yang ma’ruf dan mana yang mungkar.”

Ibnu Rajab Al-Hambali t menjelaskan: “Ibnu Mas’ud z mengisyaratkan bahwa mengetahui perkara yang ma’ruf dan yang mungkar dengan hati merupakan perkara yang wajib. Tidak gugur kewajiban tersebut dari seorangpun. Maka barangsiapa yang tidak dapat mengenalinya, dia akan binasa. Adapun mengingkari kemungkaran dengan lisan dan tangan, kewajiban tersebut hanyalah disesuaikan dengan kemampuan.
Ibnu Mas’ud z juga mengatakan: ‘Hampir-hampir saja orang yang hidup diantara kalian akan menyaksikan kemungkaran yang tidak mampu untuk diingkarinya, hanya saja Allah mengetahui dari hati orang tersebut bahwa dia sangat membenci kemungkaran itu’.”

(Jami’ul ‘Ulum wal Hikam hal. 258-259)