Adab Menggunakan HP bagian 6/terakhir

Bimbingan Kedua puluh: Tidak mengikuti kuis dengan segala bentuknya
Di antara penggunaan HP yang menyelisihi syariat adalah mengikuti kegiatan yang disebut ‘Kuis berhadiah via HP’. Gambarannya, operator seluler memberikan informasi/layanan kepada Anda dengan tarif tertentu (kemudian Anda diminta menghubungi operator tersebut) atau Anda diminta mengirim sms dengan tarif per-sms sekian dan sekian, atau menekan kode/tombol tertentu. Ketika Anda tepat menjawab pertanyaan yang diajukan oleh operator tadi, berarti Anda telah terlibat dalam persaingan di antara ribuan pengguna HP lain dari berbagai daerah. Uang yang mereka (operator) dapatkan adalah hasil dari banyaknya peserta kuis, jumlahnya berlipat-lipat. Ini adalah bentuk penipuan dan memakan harta manusia dengan cara yang batil, dan termasuk dalam hukum perjudian. Wal ‘iyadzubillah.
Allah l berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kalian mendapat keberuntungan. Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kalian lantaran (meminum) khamr dan berjudi itu, dan menghalangi kalian dari mengingat Allah dan shalat; maka berhentilah kalian (dari mengerjakan pekerjaan itu).” (Al-Maidah: 90-91)
Al-Maisir adalah perjudian.
Allah l juga berfirman:
“Dan janganlah sebagian kalian memakan harta sebagian yang lain di antara kalian dengan jalan/cara yang batil.” (Al-Baqarah: 188)

Bimbingan Kedua puluh satu: Kepada siapa anda memberikan nomor telepon?
Allah l berfirman:
“Dan tolong-menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat berat siksa-Nya.” (Al-Maidah: 2)
Seorang muslim wajib memilih teman-teman yang baik, yang akan membantunya dalam kebaikan dan ketaatan kepada Allah l. Kepada teman dan saudara yang seperti itulah Anda bisa memberikan nomor Anda. Tidaklah Anda akan mendapati dari mereka kecuali kebaikan dan kesediaannya untuk membantu Anda dalam meraih keridhaan Allah k. Sudah tentu, mereka pun memiliki adab-adab syar’i yang senantiasa mereka jaga ketika menelepon dan berbicara dengan Anda.
Disamping itu, orang-orang yang tidak tergolong shalih dan bertakwa tidak memiliki upaya untuk menjaga adab-adab seperti ini. Karena itu, terkadang dia menelepon Anda ketika waktu shalat misalnya, atau menelepon Anda di pengujung malam untuk sekadar bercanda. Bahkan mungkin mengirimi Anda gambar-gambar yang tidak senonoh dan beraneka ragam kejelekan lainnya. Bersikap waspada dari mereka (orang yang tidak shalih dan tidak bertakwa) akan lebih selamat.

Bimbingan Kedua puluh dua: Tidak mengeraskan suara melebihi kebutuhan
Di antara wasiat Luqman Al-Hakim adalah sebagaimana yang dikisahkan oleh Allah k dalam surat Luqman, tatkala dia berkata kepada anaknya:
“Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” (Luqman: 19)
Al-Imam Ibnu Katsir t berkata dalam Tafsir-nya (3/44): “Firman Allah k: ‘dan lunakkanlah suaramu’, maknanya adalah jangan berlebihan dalam berbicara dan jangan mengeraskan suaramu dengan perkataan yang tidak ada faedahnya. Oleh karena itulah, Allah l berfirman:
‘Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.’
Al-Imam Mujahid t dan yang lainnya mengatakan: ‘Sesungguhnya sejelek-jelek suara adalah suara keledai, yakni mengeraskan suara yang paling buruk adalah yang kerasnya menyerupai suara keledai. Tambahan lagi, hal itu merupakan sesuatu yang dibenci oleh Allah l. Penyerupaan yang seperti ini mengandung pengharaman dan celaan yang sangat keras terhadapnya, karena Rasulullah n bersabda:
لَيْسَ لَنَا مَثَلُ السَّوْءِ؛ الْعَائِدُ فِي هِبَتِهِ كَالْكَلْبِ يَقِيءُ ثُمَّ يَعُودُ قَيْئَهِ
“Tidak ada bagi kami permisalan yang jelek. Permisalan seorang yang meminta kembali suatu pemberian yang telah diberikannya kepada orang lain, seperti anjing yang muntah kemudian menjilat kembali muntahannya tadi.” (HR. Al-Bukhari, Ahmad, An-Nasa’i, At-Tirmidzi, Ath-Thahawi, dan Al-Baihaqi, dari sahabat Ibnu Abbas dan sahabat Abu Bakr c sebagaimana dalam Shahihul Jami’ no. 5426. Lafadz ini adalah lafadz An-Nasa’i dalam As-Sunan Al-Kubra 4/124)
Dari sini jelaslah bahwa seorang muslim itu tidaklah mengeraskan suaranya melebihi kebutuhan atau berbicara yang tidak ada faedahnya.

Bimbingan Kedua puluh tiga: Tidak menutup HP ketika lawan bicara sedang berbicara, kecuali jika ada maslahat yang lebih besar
Seorang muslim itu hendaknya berhias dengan akhlak yang mulia dan sifat yang agung, sebagaimana yang dianjurkan dalam syariat agama kita yang lurus. Allah l berfirman:
“Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar di atas akhlak yang agung.” (Al-Qalam: 4)
Disebutkan pula dalam sebuah hadits:
كَانَ رَسُولُ اللهِ n أَحْسَنَ النَّاسِ خُلُقًا
“Rasulullah n adalah orang yang paling baik akhlaknya.” (HR. Al-Bukhari no. 5850, Muslim no. 2150 dari sahabat Anas z)
Dari Abu Hurairah z, dia berkata: Rasulullah n bersabda:
أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ
“Orang mukmin yang paling sempurna keimanannya adalah yang paling baik akhlaknya di antara mereka, dan sebaik-baik kalian adalah yang paling bisa bersikap baik terhadap istrinya.” (HR. At-Tirmidzi no. 1162, Ibnu Hibban dalam Shahih-nya. At-Tirmidzi berkata: “Ini adalah hadits hasan shahih.” Asy-Syaikh Al-Albani berkata dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi no. 1162: “Ini adalah hadits hasan shahih.” Beliau juga berkata dalam Shahih Al-Jami’ no. 1232: “Ini adalah hadits shahih.” Hadits ini disebutkan juga di dalam As-Silsilah Ash-Shahihah no. 284)
Menutup HP dengan cara seperti ini (ketika lawan bicara sedang berbicara) akan menghilangkan cerminan adab Islami dan sifat yang mulia.

Bimbingan Kedua puluh empat: Menjaga kesehatan
Di antara perkara yang wajib untuk diperhatikan adalah menjaga kesehatan. Karena hal ini merupakan salah satu nikmat Allah l yang besar dan wajib dipergunakan untuk meraih keridhaan-Nya. Dari Ibnu Abbas c , dia berkata: Rasulullah n bersabda:
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيْهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِحَّةُ وَالْفَرَاغُ
“Ada dua kenikmatan yang kebanyakan manusia melalaikannya: (1) kesehatan dan (2) waktu luang.” (HR. Al-Bukhari no. 7049)
Oleh karena itulah, frekuensi penggunaan HP dan lama waktu yang digunakan dalam berbicara acapkali memberikan pengaruh yang berbahaya terhadap manusia –seperti radiasi, gangguan pendengaran, dsb, wallahu a’lam–. Maka berhati-hatilah, demi menjaga keselamatan (kesehatan), karena keselamatan itu tidak ada sesuatu pun yang sebanding dengannya. Sekarang silakan anda perhatikan nukilan sebagian tulisan dalam pembahasan ini tentang bahaya (efek negatif) penggunaan HP.

Efek negatif HP terhadap kesehatan
Riset ilmiah yang dilakukan dengan sangat teliti oleh seorang peneliti Saudi, Dr. Sari’ bin Hamd Ad-Dausari –seorang ahli THT (telinga, hidung, dan tenggorokan), dan dia adalah ketua lembaga Al-Jum’iyyah As-Su’udiyyah urusan THT, kepala, dan leher– telah mengungkap tentang hilangnya indera pendengaran salah seorang pekerja Saudi akibat penggunaan HP dengan frekuensi yang sangat tinggi.
Dr. Ad-Dausari menyimpulkan hasil penelitiannya tersebut ketika memeriksa pasien rawat jalan di RS Universitas King Abdul Aziz, Saudi. Pasien tersebut adalah seorang pekerja berusia 40 tahun. Ia mengeluhkan pendengaran telinga kanannya berkurang selama tiga bulan, disamping rasa hangat dan sakit di telinga. Dia mengatakan bahwa gejala ini terjadi ketika beberapa menit menggunakan ponsel dan baru hilang satu jam kemudian.
Dr. Sari’ menambahkan, pasien tersebut menggunakan ponsel lebih dari 90 menit dalam sehari di telinga kanannya. Hal itu berlangsung selama lebih dari dua tahun. Kemudian dia rutin berkunjung ke klinik setiap tiga bulan. Setelah dilakukan pemeriksaan medis secara saksama, terlihat bahwa pendengaran berkurang sekitar 25 dB (desibel, satuan untuk mengukur kerasnya suara atau ketajaman pendengaran) pada telinga kanan. Berkurangnya pendengaran tersebut semakin besar dengan bertambahnya waktu penggunaan ponsel. Kemudian si pasien diminta menggunakan ponsel di telinga kirinya.
Setelah enam bulan, pendengaran telinga kanan mulia membaik. Telinga kanan semakin membaik ketika penggunaan ponsel dihentikan. Namun ketika kembali menggunakan ponsel pada telinga kanan tersebut, pendengarannya kembali berkurang. Pasien disarankan untuk menggunakan telepon biasa dan mengurangi penggunaan ponsel serta speakerphone. Pasien pun mengurangi penggunaan ponsel sampai 15 menit sehari. Dengan cara ini, sembuhlah penderitaannya. Namun, si pasien tetap mengalami sedikit pengurangan pendengaran secara permanen.
Dr. Ad-Dausari mengungkapkan hal itu dalam sebuah artikel yang diterbitkan oleh WHO berjudul Efek ponsel terhadap kesehatan dan perlunya penelitian lebih lanjut. Semakin meningkat penggunaan telepon seluler berarti semakin menambah efek secara biologis maupun kesehatan, karena paparan gelombang elektromagnetik dari perangkat portabel atau menara transmisi booster. Penelitian yang dipublikasikan menunjukkan adanya efek kerusakan kesehatan, seperti: kelelahan, sakit kepala, pusing, dan gangguan tidur.

Mengambil manfaat dari HP
1. Menyambung hubungan dengan keluarga dan kerabat anda (silaturahim).
2. Menelepon para ulama dan bertanya kepada mereka tentang beberapa masalah yang terjadi.
3. Membantu memenuhi kebutuhan anda baik dalam perkara agama maupun dunia.
4. Merekam suara bacaan Al-Qur’an, tulisan, dan ceramah agama.
5. Mengambil manfaat dari situs-situs internet yang bermanfaat.
6. Turut serta dalam kegiatan yang ilmiah di internet.
7. Membangunkan orang tidur (misalnya dengan mengaktifkan jam alarm).
8. Pengingat jadwal kegiatan anda baik umum maupun khusus, termasuk pengingat telah masuknya waktu shalat.
9. Mengetahui keadaan (kabar) seorang ulama.
10. Dakwah di jalan Allah l.
11. Mengambil gambar (foto) pemandangan alam yang tidak ada gambar makhluk bernyawa yang dengannya akan membantu anda dalam mengingat Allah l sehingga akan bertambahlah keimanan anda kepada Allah l sebagai Dzat yang Maha Menciptakan, Rabb, Pemberi Rezeki, dan yang mengatur alam semesta ini. Dia adalah Ilah yang satu (satu-satunya Dzat yang berhak diibadahi) tidak ada sekutu bagi-Nya. Sungguh indah apa yang diungkapkan oleh seseorang:
وَفِي كُلِّ شَيْءٍ لَهُ آيَةٌ      تَدُلُّ عَلَى أَنَّهُ وَاحِدُ
Dan dalam segala sesuatu di alam ini terdapat ayat (tanda kekuasaan)-Nya
Yang menunjukkan bahwa Dia adalah Dzat Yang Maha Esa.

13. Memberikan pertolongan pertama pada kecelakaan.

Catatan penting
Beberapa bimbingan penggunaan HP di atas juga bisa dijadikan acuan dalam penggunaan komputer dan internet, jika didapati kondisi yang sama dengan HP.
وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ

(Diterjemahkan oleh Al-Ustadz Abu ‘Abdillah Kediri, dari http://www.sahab.net/forums/showthread.php?t=368419)

Lima Susuan Penyebab Mahram

Kita telah mengetahui bahwa syarat penyusuan (radha’) yang menyebabkan terjalinnya hubungan mahram antara anak susu dan keluarga ibu susunya adalah lima penyusuan, sebagaimana dalam hadits Aisyah x yang diriwayatkan Al-Imam Muslim dalam Shahihnya:
كَانَ فِيْمَا أُنْزِلَ مِنَ الْقُرْآنِ عَشْرُ رَضَعَاتٍ مَعْلُوْمَاتٍ يُحْرِمْنَ، ثُمَّ نُسِخَ بِخَمْسٍ مَعْلُوْمَاتٍ
“Dulunya Al-Qur’an turun menyebutkan sepuluh kali penyusuan yang dimaklumi dapat mengharamkan, kemudian dihapus ketentuan tersebut menjadi lima kali penyusuan.”
Yang menjadi pertanyaan: apa yang dimaksud dengan lima penyusuan tersebut, apakah lima isapan, lima kali menarik napas, ataukah lima kali waktu makan?

 

Jawab:
Fadhilatusy Syaikh Al-Allamah Muhammad ibnu Shalih Al-Utsaimin t membawakan pembahasan tentang masalah di atas dalam kitabnya yang sangat bernilai, Asy-Syarhul Mumti’ ‘ala Zadil Mustaqni’ (13/430-432).
Beliau t berkata, “Sebagian ahlul ilmi mengatakan lima sedotan/isapan, berdasarkan sabda Rasulullah n:
لاَ تُحَرِّمُ الْمَصَّةُ وَالْمَصَّتاَنِ
“Satu isapan dan dua isapan tidaklah mengharamkan.”1
Dalam hadits di atas, Rasulullah n mengaitkan hukum dengan isapan. Berdasarkan pendapat ini, memungkinkan terjadinya penyusuan yang membuat hubungan kemahraman dalam waktu sekitar tiga detik. Karena bila si bayi mengisap kemudian menelan susu, mengisap lagi lalu menelannya, mengisap yang berikutnya sampai lima kali isapan, berarti telah ditetapkan hukum penyusuan.
Sebagian yang lain berpendapat lima kali menarik napas, berdasarkan sabda Rasulullah n:
لاَ تُحَرِّمُ الْإِمْلاَجَةُ وَالْإِمْلاَجَتَانِ
“Satu imlajah dan dua imlajah tidaklah mengharamkan.”2
Imlaj adalah masuknya puting ke mulut bayi3. Selama puting tersebut berada dalam mulutnya walaupun ia telah mengisap seratus kali maka tetap teranggap satu kali susuan. Berdasarkan pendapat ini bila si bayi mengisap puting kemudian menelan susu (ASI), lalu mengisap lagi kemudian menelannya, mengisap lagi lalu menelannya dalam satu napas/tidak diselingi dengan menarik napas, setelahnya ia melepas puting yang dikulumnya (untuk menarik napas), kemudian ia kembali mengisap puting berarti teranggap susuan yang kedua.
Sebagian mereka berpendapat lima kali sajian, sebagaimana seseorang mengatakan: lima kali makan, maka pasti ada tenggang waktu terputus/terpisahnya susuan kedua dari susuan yang pertama. Adapun selama si bayi masih dalam pangkuan ibu yang menyusuinya maka tetap teranggap satu kali susuan. Sebagaimana Anda katakan, “Ini satu hidangan/sajian makan. Ini makan siang atau ini makan malam,” dan yang serupa dengannya. Makan malam bukanlah satu suapan yang Anda angkat ke mulut, tapi banyak suapan. Demikian pula makan pagi (dengan kurma misalnya, pen.), tidak setiap kurma yang Anda telan diistilahkan makan pagi. Namun makan pagi adalah seluruh makanan/kurma yang Anda makan saat itu.
Berdasarkan hal ini, maka yang dimaksud dengan satu penyusuan adalah satu perbuatan dari menyusui yang terpisah dari penyusuan berikutnya/lainnya. Adapun semata melepaskan mulut dari puting tidaklah teranggap satu susuan secara hakiki4.
Satu contoh: Bila seorang ibu menyusui seorang bayi pada pagi hari pukul 08.00, setelah itu berhenti. Pukul 09.00 si anak disusui lagi. Nanti pukul 10.00 disusui lagi pada kali yang ketiga. Demikian pula pada pukul 11.00 dan nanti pukul 12.005, maka ini adalah lima kali susuan, walaupun tempat penyusuannya sama.
Adapun mengisap puting kemudian melepaskannya untuk bernapas, lalu kembali menyusu, setelahnya dilepas lagi untuk bernapas, kemudian kembali menyusu, demikian berulang sebanyak lima kali tetapi tetap dalam satu majelis, tidaklah teranggap sebagai lima susuan menurut pendapat ini.
Bila demikian, pendapat manakah yang lebih kuat?
Kami jawab: Yang asal, bila seperti di atas tidak teranggap lima susuan. Kami tidak yakin terjadinya lima susuan kecuali dengan lima kali waktu makan/minum atau lima sajian. Adapun penyusuan seperti yang digambarkan di atas6, secara asal tidaklah memberi pengaruh7. Karena itu, kita ambil yang lebih hati-hati. Sementara, yang hati-hati tidak lain kecuali lima sajian, bukan lima kali isapan dan bukan pula lima kali bernapas. Ini pendapat yang dipilih oleh syaikh kami Abdurrahman bin Sa’di t dan yang nampak dari pendapat yang dipilih Ibnul Qayyim t.
Bila ada yang bertanya, “Kenapa tidak kita jadikan lima isapan sebagai pendapat yang lebih hati-hati?”
Kita jawab: Ini musykil (mendatangkan kesulitan/masalah), karena bila kita berhati-hati dalam satu sisi, kita akan menyia-nyiakan sisi yang lain. Misalnya: Ada seorang bayi perempuan menyusu pada seorang wanita sebanyak lima isapan. Apabila kita memilih yang lebih hati-hati, kita katakan: bayi perempuan tersebut menjadi saudara perempuan dari anak laki-laki yang menyusu pada wanita yang sama, sehingga haram bagi si anak lelaki tersebut kelak menikahinya. Namun, datang pada kita perkara lain yang merupakan lawan dari kehati-hatian ini, yaitu bila kita katakan bayi perempuan itu saudara perempuan dari si anak lelaki, maka lazimnya kelak ia boleh berduaan dengannya, safar bersamanya, dan si perempuan boleh membuka wajah di hadapannya (tentunya yang seperti ini tidak hati-hati). Yang lebih hati-hati adalah si perempuan tidak melakukannya dan ia tidak boleh atau dilarang melakukannya. Ini tentunya kalau kita berpendapat susuan demikian (hanya lima isapan) tidak memberi pengaruh. Dengan seperti ini, kita tidaklah berhati-hati dari satu hal kecuali kalau kita menggugurkan yang lainnya. Karena itu, kita kembali kepada asal bahwa penyusuan demikian tidak berpengaruh. Pendapat inilah yang sesuai dengan kaidah-kaidah dan ushul.
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.


1 HR. Muslim no. 1450
2 HR. Muslim no. 1451
3 Dengan demikian satu atau dua imlaj berarti satu atau dua kali masuknya puting ke mulut bayi. (pen.)
4 Dalam Al-Umm (5/27) disebutkan bentuk satu kali penyusuan adalah seorang bayi mengisap ASI dari puting sampai puas/kenyang, lalu ia melepaskan puting tersebut, sekalipun dalam waktu menyusu itu ia berhenti sejenak dari mengisap puting untuk bermain-main atau menghirup napas, maka tetap terhitung satu kali penyusuan. (pen.)
5 Ada jeda/tenggang waktu antara satu penyusuan dengan penyusuan berikutnya. (pen.)
6 Yaitu mengisap puting kemudian melepaskannya untuk bernapas, lalu kembali menyusu, setelahnya dilepas lagi untuk bernapas, kemudian kembali menyusu, demikian berulang sebanyak lima kali namun tetap dalam satu majelis. (pen.)
7 Tidak menjadikan hubungan kemahraman karena baru terhitung satu kali penyusuan. (pen.)

Haid, Ibadah Haji dan Umrah

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah)

 

Hukum-hukum shalat dan puasa bagi wanita haid telah kita bahas dalam edisi-edisi yang lalu. Namun, kami masih tergerak untuk membicarakan tentang haid sebagai satu kebiasaan yang telah Allah l tetapkan terhadap kaum hawa1. Keinginan kami adalah agar masalah haid bisa dibahas dari berbagai hukum ibadah agar tidak menyisakan atau meminimalkan isykal/kerumitan/masalah di kalangan wanita. Namun karena keterbatasan ilmu yang ada pada kami, pastilah pembahasan yang ada belum memuaskan pembaca dan tentu banyak sisi yang luput dari pembicaraan dan banyak kekurangan di sana-sini, wallahul musta’an.
Bagaimanapun, kami hanya berusaha sebatas apa yang kami mampu. Bila pembaca menginginkan, bisa kembali kepada kitab-kitab fiqih yang luas karya ulama kita rahimahumullah.
Seperti yang kami katakan di atas, kali ini kami masih ingin membahas tentang haid dan kami memilih mengaitkannya dengan satu ibadah yang merupakan rukun Islam kelima, yaitu haji ditambah dengan amalan umrah.

Hukum ihram bagi wanita haid, baik ihram untuk haji atau untuk umrah.
Al-Imam An-Nawawi t menghikayatkan adanya kesepakatan ahlul ilmi tentang sahnya wanita nifas dan haid berihram. Disunnahkan bagi si wanita untuk mandi sebelum ihram, sebagaimana disunnahkan pula bagi selain wanita haid. (Al-Minhaj, 8/372)
Bahkan untuk wanita haid, mandi ini lebih ditekankan karena adanya hadits yang menyebutkannya. (Al-Mughni, Kitabul Hajj, bab Dzikrul Ihram)
Di antaranya:
1. Hadits Jabir bin Abdillah c yang panjang tentang kisah haji Rasulullah n. Di antaranya ia berkata:
حَتَّى أَتَيْنَا ذَا الْحُلَيْفَةِ فَوَلَدَتْ أَسْمَاءُ بِنْتُ عُمَيْسٍ مُحَمَّدَ بْنَ أَبِي بَكْرٍ، فَأَرْسَلْتُ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ n: كَيْفَ أَصْنَعُ؟ قَالَ: اغْتَسِلِي وَاسْتَنْفِرِي بِثَوْبٍ وَأَحْرِمِي
Hingga ketika kami tiba di Dzul Hulaifah2, Asma’ bintu Umais melahirkan putranya yang bernama Muhammad bin Abi Bakr. Asma’ mengirim orang menemui Rasulullah n untuk menanyakan, “Apa yang harus kuperbuat?”3 Rasulullah n bersabda, “Mandilah dan tutuplah (tempat keluar darah nifas) dengan kain dan berihramlah.” (HR. Muslim no. 2941)
Wanita haid hukumnya sama dengan wanita nifas.

2. Hadits Ibnu Abbas c dari Nabi n, beliau bersabda:
الْحَائِضُ وَالنُّفَسَاءُ إِذَا أَتَتَا عَلَى الْوَقْتِ تَغْتَسِلاَنِ وَتُحْرِمَانِ وَتَقْضِيَانِ الْمَنَاسِكَ كُلَّهَا غَيْرَ الطَّوَافِ بِالْبَيْتِ
“Wanita nifas dan haid, bila keduanya mendatangi miqat, hendaknya keduanya mandi dan berihram serta menunaikan manasik seluruhnya selain thawaf di Baitullah.” (HR. Abu Dawud no. 1744 dan selainnya, dishahihkan dalam Shahih Abi Dawud)

3. Nabi n memerintahkan Aisyah x mandi karena berihram haji dalam keadaan haid4. (HR. Ibnu Majah no. 641, dishahihkan dalam Al-Irwa’ no. 134, Ash-Shahihah no. 188)
Namun, sebagian ahlul ilmi menyatakan jika wanita haid tersebut ada harapan suci sebelum keluar dari miqat, disenangi baginya menunda mandi sampai ia suci agar lebih sempurna baginya. (Al-Majmu’, 7/220)

Hukum thawaf ketika haid
Ulama sepakat, wanita yang sedang haid tidak boleh melakukan thawaf di Baitullah. (Al-Iqna’ fi Masailil Ijma’, 1/270)
Ibnu Hazm t berkata, “Larangan shalat, puasa, thawaf, dan jima’ pada kemaluan ketika sedang haid merupakan ijma’ yang diyakini lagi dipastikan. Tidak ada perselisihan di dalamnya di antara seorang pun dari pemeluk Islam.” (Al-Muhalla, 1/380)
Namun, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t memberikan batasan/ketentuan bahwa ijma’/kesepakatan tersebut –terkhusus masalah larangan thawaf bagi wanita haid– adalah bila ia melakukan thawaf dalam keadaan tidak darurat. Adapun bila darurat, lain lagi pembicaraannya (tentang hal ini akan dibahas pada edisi mendatang, insya Allah, pen.), karena beliau menyatakan, “Adapun masalah yang aku tidak mengetahui ada perselisihan di dalamnya adalah seorang wanita tidak boleh thawaf dalam keadaan haid, jika memang dia mampu untuk thawaf dalam keadaan suci nantinya. Aku tidak tahu ada perselisihan tentang haramnya thawaf tersebut baginya dan ia berdosa bila melakukannya.” (Majmu’ Fatawa, 26/206)
Bila ternyata wanita haid itu tetap melakukan thawaf, ulama berbeda pendapat tentang sah atau tidaknya thawaf tersebut. Mayoritas ahlul ilmi (Al-Majmu’, 8/23), termasuk pendapat Malikiyyah (Al-Ma’unah, 1/186), Syafi’iyyah, Hanabilah dalam satu pendapat (Al-Majmu’, 8/23), dan Zhahiriyyah (Al-Muhalla, 5/189) memandang thawafnya tidak sah, karena menurut mereka, thaharah dari hadats merupakan syarat thawaf, sehingga orang yang melakukan thawaf harus dalam keadaan suci. Dalil mereka di antaranya:
1. Hadits Aisyah x:
أَنَّ أَوَّلَ شَيْءٍ بَدَأَ بِهِ حِيْنَ قَدِمَ النَّبِيُّ n أَنَّهُ تَوَضَّأَ ثُمَّ طَافَ ….
“Yang awal dilakukan Nabi n ketika beliau tiba di Makkah adalah berwudhu kemudian thawaf…” (HR. Al-Bukhari no. 1614 dan Muslim no. 2991)

2. Hadits Jabir c bahwasanya Nabi n bersabda:
لِتَأْخُذُوا عَنِّي مَنَاسِكَكُمْ
“Ambillah dariku manasik kalian.” (HR. Muslim no. 3124)
Makna ucapan Nabi n di atas adalah bahwa urusan-urusan yang aku lakukan dalam hajiku, baik ucapan, perbuatan maupun penampilan, merupakan urusan dan tata cara haji. Ini adalah manasik kalian, hendaklah kalian mengambilnya dariku. Terimalah manasik ini, hafalkan/jagalah, amalkan dan ajarkanlah kepada orang-orang. (Al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim, 9/50)
Adapula yang berpendapat sah thawafnya, namun ia berdosa. Demikian pendapat Hanafiyyah (Al-Mabsuth, 4/38), satu riwayat dari Al-Imam Ahmad (Al-Majmu’, 8/23), dan pendapat yang dipilih Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (Majmu’ Fatawa, 26/213) sebagaimana telah diisyaratkan di atas, karena beliau memandang thaharah bukanlah syarat sahnya thawaf tapi merupakan kewajiban. Sebagaimana pernyataan beliau, “Pewajiban thaharah dan menutup aurat di dalam thawaf yang tsabit/pasti dengan dalil nash adalah masalah yang disepakati. Adapun keterangan pasti akan keharusan thaharah sebagai syarat dalam thawaf sebagaimana shalat (dipersyaratkan thaharah), ada perbedaan pendapat tentangnya.” (Majmu’ Fatawa, 26/222-223)
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Apa yang harus dilakukan oleh wanita yang berhaji tamattu’5 bila ia haid sebelum thawaf umrah dan khawatir tidak bisa melakukan amalan haji?
Yang dimaksudkan di sini adalah wanita yang berihram untuk umrah, setelah selesai dari umrah ia bertahallul, kemudian berihram untuk haji di tahun itu juga. Wanita tersebut misalnya tiba di Makkah tanggal 5 Dzulhijjah. Ternyata ia haid dan kebiasaan haidnya 6 hari. Berarti, ia akan suci tanggal 11 Dzulhijjah, sedangkan waktu wukuf telah berlalu (tanggal 9 Dzulhijjah). Dengan demikian, ia luput menunaikan haji. Kondisinya sekarang, karena sedang haid ia tidak mungkin melakukan thawaf, sa’i, dan mengakhiri umrahnya. Lalu apa yang harus ia lakukan?
Jumhur ulama, di antaranya ulama Malikiyyah, Syafi’iyyah, Hanafiyyah, Zhahiriyyah, pendapat Al-Auza’i dan kebanyakan ulama lainnya, menyatakan ia berihram untuk haji bersama umrahnya sehingga hajinya menjadi haji qiran. Hal ini dengan dalil hadits Jabir ibnu Abdillah c, ia berkata:
أَقْبَلْنَا مُهِلِّيْنَ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ n بِحَجٍّ مُفْرَدٍ، وَأَقْبَلَتْ عَائِشَةُ x بِعُمْرَةٍ حَتَّى إِذَا كُنَّا بِسَرَفٍ عَرَكَتْ، حَتَّى إِذَا قَدِمْنَا طُفْنَا بِالْكَعْبَةِ وَالصَّفَا وَالْمَرْوَةِ، فَأَمَرَناَ رَسُوْلُ اللهِ n أَنْ يَحِلَّ مِنَّا مَنْ لَمْ يَكُنْ مَعَهُ هَدْيٌ. قَالَ: فَقُلْنَا: حِلُّ مَاذَا؟ قَالَ: الْحِلُّ كُلُّهُ. فَوَاقَعْنَا النِّسَاءَ وَتَطَيَّبْنَا بِطِيْبٍ وَلَبِسْنَا ثِيَابَنَا وَلَيْسَ بَيْنَنَا وَبَيْنَ عَرَفَةٍ إِلاَّ أَرْبَعُ لَيَالٍ، ثُمَّ أهْلَلْنَا يَوْمَ التَّرْوِيَة، ثُمَّ دَخَلَ رَسُوْلُ اللهِ n عَلَى عَائِشَةَ x، فَوَجَدَهاَ تَبْكِي. فَقَالَ: مَا شَأْنُكِ؟ قَالَتْ: شَأْنِي أَنِّي قَدْ حِضْتُ وَقَدْ حَلَّ النَّاسُ وَلَمْ أَحْلِلْ، وَلَمْ أَطُفْ بِالْبَيْتِ وَالنَّاسُ يَذْهَبُوْنَ إِلَى الْحَجِّ الْآنَ. فَقاَلَ: إِنَّ هذِهِ أَمْرٌ كَتَبَهُ اللهُ عَلَى بَناَتِ آدَمَ، فَاغْسِلِيْ ثُمَّ أَهِلِّي بِالْحَجِّ. فَفَعَلَتْ وَوَقَفَتِ الْمَوَاقِفَ حَتَّى إِذَا طَهَرَتْ طَافَتْ بِالْكَعْبَةِ وَالصَّفَا وَالْمَرْوَةَِ. ثُمَّ قَالَ: قَدْ حَلَلْتِ مِنْ حَجِّكِ وَعُمْرَتِكِ جَمِيْعًا. قَالَتْ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، إِنِّي أَجِدُ فِي نَفْسِي أَنِّي لَمْ أَطُفْ بِالْبَيْتِ حَتَّى حَجَجْتُ. قَالَ: فَاذْهَبْ بِهَا يَا عَبْدَ الرَّحْمنِ، فَأَعْمِرْهَا مِنَ التَّنْعِيْمِ
Kami datang bertalbiyah bersama Rasulullah n dengan haji ifrad dan Aisyah x datang dengan umrah6, hingga ketika kami tiba di Sarf ia haid. Saat kami tiba di Makkah, kami thawaf di Ka’bah dan melakukan sa’i di Shafa dan Marwah. Kemudian, Rasulullah n memerintahkan orang-orang yang tidak membawa hewan hadyu7 di antara kami agar bertahallul8. Jabir berkata, “Kami bertanya, ‘Tahallul dari apa?’.” Beliau menjawab, “Halal dari segala sesuatu yang semula diharamkan karena sedang berihram.” Kami pun menggauli istri-istri kami, memakai wangi-wangian, dan mengenakan pakaian yang biasa kami kenakan (tidak lagi mengenakan pakaian ihram, pen.). Jarak waktu kami dengan hari Arafah hanya empat malam. Kemudian pada hari Tarwiyah (tanggal 8 Dzulhijjah) kami bertalbiyyah untuk haji. Ketika itu Rasulullah n masuk ke tempat Aisyah x dan mendapatinya sedang menangis. Rasulullah n bertanya, “Ada apa denganmu?” Aisyah menjawab, “Aku haid, sementara orang-orang telah bertahallul (dari umrah mereka), sedangkan aku belum tahallu, karena aku belum thawaf di Baitullah. Sekarang orang-orang pergi untuk berhaji.” Rasulullah bersabda, “Haid adalah sesuatu yang telah ditetapkan Allah l terhadap anak-anak perempuan Adam. Mandilah engkau kemudian bertalbiyahlah untuk haji.” Aisyah pun melakukan apa yang diperintahkan dan wukuf di tempat wukuf. Ketika ia telah suci, ia thawaf di Ka’bah dan sa’i di antara Shafa dan Marwah. Rasulullah n berkata, “Engkau telah tahallul dari haji dan umrahmu sekaligus9.” Aisyah berkata, “Wahai Rasulullah, aku merasakan tidak enak dalam hatiku, karena belum thawaf umrah hingga aku berhaji.” Rasulullah bersabda, “Bawalah dia wahai Abdurrahman. Umrahkan dia dari Tan’im.” (HR. Muslim no. 2929)
Hadits di atas merupakan dalil wajibnya wanita yang mengalami kejadian seperti Aisyah x berihram untuk haji sehingga hajinya menjadi haji qiran, karena Rasulullah n memerintahkan Aisyah x untuk melakukannya. Sementara, hukum asal perintah adalah wajib.
Disamping itu, ibadah haji merupakan kewajiban yang harus segera ditunaikan, tidak boleh ditunda. Bila si wanita yang sedang haid itu tidak berihram untuk haji niscaya ia akan kehilangan haji pada tahun tersebut.
Alasan lain, seseorang sebenarnya datang ke Makkah untuk haji, sedangkan umrah ditunaikan karena ingin berhaji setelahnya. Umrah sendiri bisa ditunaikan di setiap waktu dan tidak mungkin si wanita menunaikan haji ketika itu terkecuali ia telah tahallul dari umrahnya. Dalam situasi seperti ini, mustahil ia bertahallul dari umrahnya karena tidak bisa thawaf di Ka’bah akibat haid yang menimpanya. Maka dari itu, tidak ada yang tersisa baginya kecuali berihram untuk haji, dan dinamakan haji qiran.
Makna berihram untuk haji adalah memasukkan haji kepada umrah dan bukan membatalkan umrah, karena kalau umrah dibatalkan berarti hajinya ifrad. Sementara Rasulullah n berkata kepada Aisyah x:
يَسَعُكِ طَوَافُكِ لِحَجِّكِ وَعُمْرَتِكِ
“Thawafmu di Baitullah mencukupimu untuk haji dan umrahmu.” (HR. Muslim no. 2925)
Dalam riwayat lain:
يُجْزِءُ عَنْكِ طَوَافُكِ بِالصَّفَا وَالْمَرْوَةِ عَنْ حَجِّكِ وَعُمْرَتِكِ
“Thawafmu (sa’i) antara Shafa dan Marwah mencukupimu dari amalan haji dan umrahmu.” (HR. Muslim no. 2926)
Misalnya, bila ada seorang wanita berihram untuk umrah, setelahnya bertahallul. Ketika hari Tarwiyah nanti ia akan berihlal (talbiyah) untuk haji (tamattu’). Namun setelah thawaf di Baitullah, sebelum sempat sa’i, ia haid. Tidak mungkin di saat itu dia berihram untuk haji (memasukkan haji pada umrahnya sehingga hajinya menjadi qiran), karena termasuk syarat bolehnya memasukkan haji pada umrah adalah sebelum dilakukannya thawaf, sedangkan si wanita telah selesai mengerjakan thawaf.
Bila demikian, apa yang harus dilakukannya?
Si wanita melakukan sa’i antara Shafa dan Marwah, karena orang yang berhadats besar, seperti junub dan haid –apatah lagi orang yang berhadats kecil– diperkenankan untuk melakukan sa’i. Namun di atas thaharah tentu lebih utama.
Menunaikan setiap ibadah dalam keadaan bersuci tentu lebih utama. Namun bila telah datang waktu haji sementara ia belum suci dari haid, ia tetap berihram karena haid tidak menghalanginya untuk berihram. Dalilnya hadits Asma’ bintu Umais x yang telah disebutkan.
Bila haid menimpa seorang wanita ketika ia melakukan thawaf, ia tidak boleh menyempurnakan thawafnya karena haidnya. Dia harus berhenti dan membatalkan thawafnya. Bila ia khawatir luput mengerjakan haji, ia berihram untuk haji (melaksanakan haji qiran). (Asy-Syarhul Mumti’, 7/ 98-100)
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.
(Insya Allah bersambung)


1 Sebagaimana kata Rasulullah n kepada istrinya Aisyahx:
إِنَّ هذِهِ أَمْرٌ كَتَبَهُ اللهُ عَلَى بَناَتِ آدَمَ
“Haid ini merupakan perkara yang telah Allah l tetapkan terhadap anak-anak perempuan Adam.” (HR. Muslim no. 2929)
2 Miqat bagi penduduk Madinah.
3 Setelah melahirkan, sementara mereka telah berada di miqat.
4 Ketika itu Rasulullah n bersabda kepada Aisyah x:
انْقُضِي شَعْرَكِ وَاغْتَسِلِي
“Gerailah rambutmu dan mandilah.”
5 Silakan lihat kembali kajian utama majalah Asy-Syariah Vol.III/No. 27/1427/2006 tentang jenis-jenis haji yang tiga: haji tamattu’, qiran, dan ifrad.
6 Rasulullah n memang mempersilakan para sahabatnya untuk memilih jenis haji yang hendak ditunaikan. Beliau n bersabda:
مَنْ أَرَادَ مِنْكُمْ أَنْ يُهِلَّ بِحَجٍ وَعُمْرَةٍ فَلْيَفْعَلْ، وَمَنْ أَرَادَ أَنْ يُهِلَّ بِحَجٍ فَلْيُهِلَّ، وَمَنْ أَرَادَ أَنْ يُهِلَّ بِعُمْرَةٍ فَلْيُهِلَّ
“Siapa di antara kalian yang ingin berihlal/berrtalbiyah dengan haji dan umrah maka silakan ia lakukan. Siapa di antara kalian yang ingin berihlal dengan haji maka silakan ia berihlal. Dan siapa yang ingin untuk berihlal dengan umrah maka berihlallah.” (HR. Muslim no. 2905)
7 Yaitu hewan yang dihadiahkan untuk Al-Haram, nantinya disembelih dan dagingnya dibagi-bagikan kepada fakir miskin di sekitar Al-Haram.
8 Sehingga yang semula ingin melaksanakan haji qiran diganti menjadi haji tamattu’. Karena, ketika sampai di Makkah, Rasulullah n berkata kepada para sahabatnya, “Jadikanlah talbiyah kalian umrah.” Seselesainya dari amalan umrah, orang-orang pun bertahallul kecuali orang yang membawa hadyu. (HR. Al-Bukhari no. 305 dan Muslim no. 2911)
9 Al-Imam An-Nawawi t setelah membawakan hadits di atas dalam syarahnya terhadap Shahih Muslim menyatakan, ada tiga masalah yang bagus yang bisa diambil dari hadits tersebut:
Pertama: Aisyah x melaksanakan haji qiran dan tidak membatalkan umrahnya.
Kedua: Orang yang melaksanakan haji qiran cukup baginya satu thawaf dan satu sa’i untuk haji serta umrah. Ini madzhab Asy-Syafi’i dan jumhur ulama. Abu Hanifah dan sekelompok ulama lain berpendapat harus dua thawaf dan dua sa’i.
Ketiga: Pelaksanaan sa’i antara Shafa dan Marwah disyaratkan setelah thawaf yang shahih. Yang menunjukkan hal ini adalah Rasulullah n memerintahkan Aisyah x untuk melakukan semua yang dilakukan oleh orang yang berhaji (di saat ia mengadukan haidnya, pen.) kecuali thawaf di Baitullah. Aisyah juga tidak melakukan sa’i sebagaimana ia tidak berthawaf. Seandainya amalan sa’i tidak tergantung dengan thawaf yang harus dilakukan sebelumnya niscaya Aisyah tidak akan mengakhirkan pelaksanaan sa’i sampai ia suci. (Al-Minhaj, 8/393-394)

Mu’adzah Bintu ‘Abdillah

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu ‘Abdirrahman bintu ‘Imran)

 

Dia seorang tabi’iyah. Namanya Mu’adzah bintu Abdillah Al-’Adawiyyah Al-Bashriyyah rahimahallah. Berkuniah dengan Ummush Shahba’. Dia adalah istri seorang tabi’i yang mulia, Abush Shahba’, Shilah bin Asyyam t.
Dikenal sebagai seorang wanita yang berilmu. Dia mengambil hadits Rasulullah n dari ‘Ali bin Abi Thalib, ‘Aisyah Ummul Mukminin, Hisyam bin ‘Amir Al-Anshari, dan Ummu ‘Amr bintu ‘Abdillah bin Az-Zubair. Sederet ulama meriwayatkan hadits darinya.
Al-Imam Yahya bin Ma’in t menyatakan bahwa Mu’adzah rahimahallah adalah seorang yang tsiqah hujjah, mengisyaratkan akan kekokohan riwayatnya. Hadits yang diriwayatkannya adalah hadits-hadits yang dapat menjadi hujjah, termaktub dalam kitab-kitab yang mengumpulkan hadits-hadits shahih.
Mu’adzah t juga dikenal sebagai seorang wanita ahli ibadah. Dia biasa menghidupkan malam-malamnya dengan ibadah. Pernah dia menyatakan, “Aku sungguh heran dengan mata yang selalu tidur, padahal dia telah mengetahui adanya tidur panjang nanti di dalam kegelapan kubur.”
Dalam perguliran masa, ternyata Allah l tetapkan Mu’adzah ditinggalkan oleh orang-orang yang dicintainya. Suami dan putranya meninggal dalam suatu peperangan. Para wanita pun berdatangan dan berkumpul di sisi Mu’adzah.
“Selamat datang jika kalian datang untuk memberikan ucapan selamat!” kata Mu’adzah menyambut mereka. Dia pun melanjutkan, “Adapun jika tidak, maka lebih baik kalian kembali.”
Wanita mulia ini wafat pada tahun 83 H, meninggalkan ilmu yang begitu berharga. Semoga Allah l meridhainya.
Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.

Sumber bacaan:
• Siyar A’lamin Nubala’, Al-Imam Adz-Dzahabi (4/508-509)
• Tahdzibul Kamal, Al-Imam Al-Mizzi (35/308-309)

Yang Paling Taqwa Yang Paling Mulia

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu ‘Abdirrahman bintu ‘Imran)

 

Sembilan bulan berlalu. Tibalah saat yang begitu dinanti, menyambut kelahiran sang bayi. Selama dalam penantian, ayah dan ibu menyimpan berjuta harapan dan impian terindah. 
Tak pernah ada orang tua yang berharap mendapatkan seorang anak yang tak sempurna. Masing-masing mengidamkan anak yang sehat sempurna lagi rupawan. Namun terkadang impian mereka sekian lama tidak terwujud. Si kecil dilahirkan dengan berbagai kekurangan. Warna kulit yang tidak menarik, wajah tak seperti yang diharapkan, dan entah apa lagi kekurangan yang ada.
Sungguh, bagaimanapun keadaan anak kita, kita tak boleh menyesalinya. Bukan kita yang berkehendak, lebih-lebih si anak. Sama sekali bukan pilihannya untuk dilahirkan dengan menyandang kekurangan. Semua yang ada padanya, Allah l-lah yang membentuk dan menciptakannya dengan kesempurnaan ilmu dan hikmah-Nya.
Dalam Tanzil-Nya yang mulia, Allah l berfirman:
“Dialah yang membentuk kalian di dalam rahim sebagaimana yang Dia kehendaki. Tiada ilah yang berhak disembah selain Dia, Yang Mahaperkasa lagi Mahasempurna hikmah-Nya.” (Ali ‘Imran: 6)
Dalam ayat yang lain, Allah l berfirman:
“Maka terangkanlah tentang mani yang kalian pancarkan. Kaliankah yang menciptakannya atau Kamikah yang menciptakannya?” (Al-Waqi’ah: 58-59)
Allah l berfirman pula tentang manusia:
“Dari apakah Dia menciptakannya? Dari setetes mani Allah menciptakannya lalu menentukannya.” (‘Abasa: 18-19)
Demikianlah. Hanya Dia yang berkuasa dalam perkara ini, sebagaimana Allah l nyatakan:
“Dialah Allah Yang Maha Menciptakan, Yang Maha Mengadakan, dan yang membentuk rupa.” (Al-Hasyr: 24)
Tidak sepantasnya kita hanya memandang kelebihan dari sisi fisik semata. Betapa banyak orang yang Allah l karuniai ketampanan, kecantikan, dan keindahan jasmani, namun menjadi orang yang celaka di sisi Allah l. Sebaliknya, betapa banyak orang yang tak memiliki kelebihan dari segi fisik, bahkan memiliki berbagai kekurangan, ternyata dia menjadi seorang yang mulia di sisi Allah l. Ya, karena dia adalah seseorang yang memiliki ketakwaan kepada Allah l. Sementara Allah l telah berfirman:
“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (Al-Hujurat: 13)
Rasulullah n pun pernah bersabda:
إِنَّ اللهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى أَجْسَامِكُمْ وَلاَ إِلَى صُوَرِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوْبِكُمْ
“Sesungguhnya Allah tidak melihat pada fisik maupun bentuk kalian, akan tetapi Dia melihat kepada hati kalian.” (HR. Muslim no. 1987)
Lihatlah bagaimana Allah l menganugerahkan kemuliaan kepada seorang bekas budak yang tak memiliki ketampanan, bahkan dirinya memliki berbagai cacat dan kekurangan. ‘Atha’ bin Abi Rabah t, seorang tabi’in, bekas budak asal Afrika yang berkulit hitam, pesek hidungnya, jelek parasnya, buta sebelah matanya lagi pincang kakinya. Namun dia adalah seseorang yang merupakan salah satu tonggak ilmu, agama, kebaikan, dan keteladanan. Dia amat disegani oleh seluruh kalangan, bahkan oleh khalifah sekali pun. Penguasa saat itu, Khalifah Sulaiman bin Abdil Malik, mengakui kehinaan dirinya di hadapan seorang ‘Atha’ bin Abi Rabah. (Waratsatul Anbiya’, hlm. 33, 118)
Karena itu, jangan sampai kita terlampau kagum dengan ketampanan dan kecantikan salah seorang di antara anak-anak kita, sampai-sampai kita meremehkan bahkan menzalimi anak-anak yang lain. Jangan pula kekurangan yang dimiliki anak kita membuat kita malu dan mengesampingkannya. Jangan… Bahkan kita tidak mengetahui, barangkali justru dari anak yang sarat kekurangan kita akan dapati kebaikan dan bakti.
“Orangtua dan anak-anak kalian, kalian tidak tahu siapakah di antara mereka yang lebih dekat manfaatnya bagi kalian.” (An-Nisa’: 11)
Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.

Jangan Lalai dari Dzikrullah

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah)

 

Tak ada sepasang suami istri pun melainkan merindukan hadirnya anak di tengah mereka sebagai qurratu ‘ain, penyejuk mata dan hati mereka. Dapat dibayangkan betapa sepinya sebuah rumah tangga berikut hati penghuninya tatkala anak yang didamba tak jua diperoleh. Tak heran ketika lama tak dikaruniai anak, Nabiyullah Zakariyya q menyenandungkan doa kepada Al-Wahhab mengadukan keadaan dirinya:
Yaitu tatkala ia berdoa kepada Rabbnya dengan suara yang lembut/perlahan. Ia berkata, “Wahai Rabbku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau. Dan sungguh aku khawatir terhadap orang-orang yang ada di belakangku sepeninggalku nanti, sedang istriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahkanlah aku dari sisi Engkau seorang putra, yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebagian keluarga Ya’qub, dan jadikanlah dia, wahai Rabbku, seorang yang diridhai.” (Maryam: 3-6)
Dalam ayat lain:
“Wahai Rabbku, anugerahkanlah aku dari sisi Engkau seorang keturunan yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa.” (Ali ‘Imran: 38)
Ketika lama tak beroleh keturunan, Abul Anbiya (Bapak para nabi), Al-Khalil Ibrahim q juga berdoa:
“Wahai Rabbku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih.” (Ash-Shaffat: 100)
Para nabi merindukan anak. Setiap pasangan suami istri juga mendambakan anak, karena memang anak merupakan nikmat Allah l yang besar.
Ketika si anak telah hadir di tengah sebuah keluarga, kasih sayang, cinta dan perhatian yang besar pun tertumpu padanya. Ayah dan bunda rela mengorbankan apa saja demi kebahagiaan si buah hati.
Ini pula yang dirasakan oleh Nabiyullah Ibrahim q ketika Allah l menganugerahkan kepadanya Ismail, seorang anak yang amat penyabar. Betapa dalam cinta dan kasih Ibrahim kepada putranya ini. Namun di saat-saat yang demikian, Allah l hendak menguji Ibrahim, apakah ia lebih mencintai sang putra ataukah ia lebih cinta kepada Rabbnya yang telah memilihnya sebagai khalil/kekasih? Allah l memerintahkan Ibrahim agar membawa putranya yang masih bayi berikut ibunya, Hajar, ke sebuah lembah yang tiada berpenghuni, menempatkan anak dan ibu tersebut di tempat itu serta meninggalkan mereka berdua.
Nabi Ibrahim q ternyata lulus dari ujian tersebut. Dengan penuh keyakinan kepada Allah l bahwa Allah l tidak akan menelantarkan anak keturunannya, ditinggalkannya Ismail dan Hajar sang ibu, di lembah yang sepi. Memang Allah l menjaga Ismail dan ibunya, serta memuliakan keduanya. Akhirnya Allah l mempertemukan kembali Ibrahim dengan sang putra yang sangat dikasihi.
Allah lkembali hendak menguji cinta Ibrahim kepada-Nya dengan memerintahkan Ibrahim lewat mimpinya agar menyembelih putra terkasih yang kini telah menjadi seorang pemuda yang gagah. Kembali Ibrahim tunduk kepada titah Rabbnya ditambah kepasrahan sang putra. Allah l berfirman:
Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim telah membaringkan putranya di atas pelipisnya, nyatalah kesabaran keduanya. Dan Kami berseru kepadanya, “Wahai Ibrahim! Sungguh engkau telah membenarkan mimpi tersebut. Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar sebuah ujian yang nyata.” Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim pujian yang baik di kalangan orang-orang yang datang kemudian. Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya Dia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman. (Ash-Shaffat: 103-111)
Demikianlah, memang Allah l tidak menghendaki nikmat anak yang diberikan kepada hamba-hamba-Nya melalaikan mereka dari mengingat Allah l. Allah ltidak menginginkan mereka mengedepankan cinta mereka kepada anak lebih daripada cinta mereka kepada-Nya. Karena itu, Dia Yang Mahasuci mengingatkan dalam Tanzil-Nya:
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah harta-harta kalian dan anak-anak kalian melalaikan kalian dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.” (Al-Munafiqun: 9)
Dalam ayat di atas, Allah l berfirman memerintahkan hamba-hamba-Nya yang beriman agar banyak mengingat-Nya (berzikir kepada-Nya). Karena berzikir kepada-Nya akan memberikan keuntungan dan kesuksesan serta kebaikan yang banyak. Dia melarang mereka tersibukkan dengan harta-harta dan anak-anak dari mengingat-Nya, karena memang kecintaan kepada harta dan anak-anak merupakan tabiat yang mendominasi kebanyakan jiwa. Akibatnya, seseorang bisa mengedepankan cinta kepada harta dan anak daripada cinta kepada Allah l.
Dia mengabarkan kepada mereka bahwa tersibukkan dengan harta dan anak termasuk kelalaian. Artinya, terlalaikan oleh perhiasan kehidupan dunia dan gemerlapnya dari tujuan seseorang diciptakan, yaitu untuk taat kepada Rabbnya dan mengingat-Nya. Barangsiapa berbuat demikian, maka dia termasuk orang-orang yang merugi, yang merugikan diri mereka sendiri dan keluarga mereka pada hari kiamat.
Karenanya, Allah l berfirman: “Barangsiapa yang berbuat demikian,” yaitu harta dan anak melalaikannya dari berzikir kepada Allah l, “maka mereka itulah orang-orang yang merugi,” tidak beroleh kebahagiaan yang abadi dan kenikmatan yang kekal, disebabkan mereka lebih mengutamakan yang fana daripada yang kekal. (Tafsir Al-Qur’anil Azhim, 8/106, Taisir Al-­Karimir Rahman, hlm. 865)
Allah l juga berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istri dan anak-anak kalian ada yang menjadi musuh bagi kalian, maka berhati-hatilah terhadap mereka. Dan jika kalian memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni mereka maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya harta-harta kalian dan anak-anak kalian hanyalah fitnah1 bagi kalian, dan di sisi Allahlah pahala yang besar.” (At-Taghabun: 14-15)
Kata Al-Hafizh Ibnu Katsir t, di antara istri dan anak ada yang menjadi musuh suami dan ayah. Artinya, anak atau istri tersebut akan melalaikan seseorang dari beramal shalih. Harta dan anak-anak hanyalah fitnah, yaitu ujian dan cobaan dari Allah l kepada makhluk-Nya, agar Dia mengetahui siapa yang taat kepada-Nya dan siapa yang durhaka. (Tafsir Al-Qur’anil Azhim, 8/111)
Asy-Syaikh Al-’Allamah Abdurrahman ibnu Nashir As-Sa’di t dalam tafsirnya menyatakan, “Ini merupakan peringatan Allah l kepada orang-orang yang beriman agar tidak tertipu dengan para istri dan anak-anak, karena sebagian mereka merupakan musuh bagi kalian. Yang namanya musuh, tentu menginginkan kejelekan untukmu. Jadi, tugasmu adalah berhati-hati dari orang yang demikian sifatnya. Tambahan pula, jiwa tercipta untuk mencintai para istri dan anak-anak2. Oleh sebab itu, Allah l menasihatkan hamba-hamba-Nya agar kecintaan itu tidak sampai membawa mereka terikat dengan permintaan/tuntutan para istri dan anak-anak yang mengandung hal-hal yang dilarang syariat. Allah l memberikan hasungan kepada mereka untuk melaksanakan perintah-perintah-Nya dan mengedepankan keridhaan-Nya, berupa pahala yang besar di sisi-Nya, yang mencakup tuntutan yang tinggi dan kecintaan yang mahlm. Sebagaimana Dia memerintahkan mereka agar mementingkan dan mendahulukan akhirat daripada dunia fana yang akan berakhir.
Tatkala Dia melarang menaati istri-istri dan anak-anak dalam hal yang dapat memberikan mudarat kepada seorang hamba dan memperingatkan masalah ini, mungkin bisa timbul anggapan yang keliru, yaitu harus selalu bersikap keras lagi kaku kepada istri-istri dan anak-anak serta memberikan hukuman kepada mereka. Tidaklah demikian. Justru kita dihasung untuk memaafkan mereka, karena pemaafan mengandung kebaikan yang tidak mungkin dibatasi banyaknya.” (Taisir Al­-Karimir Rahman, hlm. 868)
Rasulullah n sendiri merasakan betapa besarnya ujian anak. Ketika tengah berkhutbah, beliau n sampai memutus khutbah beliau karena melihat kedua cucu beliau. Hal ini kita ketahui dari hadits Buraidah z berikut ini:
خَطَبَنَا رَسُوْلُ اللهِ n فَأَقْبَلَ الْحَسَنُ وَالْحُسَيْنُ c عَلَيْهِمَا قَمِيْصَانِ أَحْمَرَانِ يَعْثِرَانِ وَيَقُوْمَانِ، فَنَزَلَ فَأَخَذَهُمَا فَصَعِدَ بِهِمَا الْمِنْبَرَ ثُمَّ قَالَ: صَدَقَ اللهُ {إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَ أَوْلاَدُكُمْ فِتْنَةٌ} رَأَيْتُ هَذَيْنِ فَلَمْ أَصْبِرْ. ثُمَّ أَخَذَ فِي الْخُطْبَةِ
Rasulullah n sedang menyampaikan khutbah kepada kami, lalu datanglah Al-Hasan dan Al-Husain, semoga Allah l meridhai keduanya, dengan mengenakan qamis berwarna merah. Keduanya jatuh tergelincir dan bangun/bangkit kembali. Sebab itu, Rasulullah n turun dari mimbar, mengambil keduanya lalu naik mimbar sambil membawa keduanya. Kemudian beliau bersabda, “Mahabenar Allah, Dia telah berfirman: ‘Sesungguhnya harta-harta kalian dan anak-anak kalian hanyalah fitnah bagi kalian.’ Aku melihat kedua anak ini maka aku tidak sabar/tidak bisa menahan diri untuk menghampiri keduanya.” Setelah itu beliau mulai lagi berkhutbah. (HR. Abu Dawud no. 1109 dishahihkan dalam Shahih Abi Dawud)

Cinta kepada anak jangan melalaikan dari mengingat Allah l
Anak memang harus mendapatkan cinta, kasih sayang, dan perhatian. Namun kecintaan, kasih sayang dan perhatian kepadanya tidak boleh melalaikan kita dari ketaatan kepada Allah l dan berzikir kepada-Nya. Ingatlah kisah Ibrahim q berkaitan dengan putranya Ismail q. Pengorbanan Ibrahim q menunjukkan kepada kita betapa Ibrahim q sangat mencintai Rabbnya l dan tidak pernah lalai dari mengingat-Nya, walaupun ia memiliki anak yang sangat dikasihinya. Namun cinta-Nya kepada Allah lmengalahkan segalanya, karena memang itulah yang dituntut dari seorang hamba. Bukankah Allah l telah memperingatkan:
Katakanlah: “Jika bapak-bapak kalian, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluarga kalian, harta kekayaan yang kalian usahakan, perniagaan yang kalian khawatirkan kerugiannya, rumah-rumah tempat tinggal yang kalian sukai, adalah lebih kalian cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (At-Taubah: 24)
Ketaatan dan kecintaan kepada Rasulullah n pun harus dikedepankan daripada kecintaan kepada seluruh makhluk. Barangsiapa yang tidak melakukan yang demikian, maka ia tidaklah beriman dengan iman yang sempurna. Karena Rasulullah n bersabda:
لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ
“Tidaklah beriman salah seorang dari kalian sampai aku lebih ia cintai daripada anaknya, ayahnya, dan manusia seluruhnya.” (HR. Al-Bukhari no. 15 dan Muslim no. 44)

Menumbuhkan suasana zikir di dalam rumah
Betapa indahnya gambaran sebuah keluarga yang anggotanya tidak lalai dari berzikir kepada Allah l, senantiasa menghidupkan ketaatan kepada Allah l dan Rasul-Nya. Betapa tenteramnya hati mereka dan betapa damainya rumah mereka karena Allah l telah menyatakan:
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (Ar-Ra’d: 28)
Karena itu, seorang ayah sebagai kepada rumah tangga harus menghidupkan suasana zikir kepada Allah l di rumahnya. Ia harus mengajak anak-anak dan istrinya berikut penghuni rumah yang lain untuk selalu berzikir kepada Allah l. Zikir sendiri jangan dipahami seperti zikirnya orang-orang Sufi, berkumpul di satu tempat lalu menyuarakan zikir secara bersama-sama, berteriak dengan suara keras, mengucapkan lafadz-lafadz yang tidak ada tuntunannya dari Rasulullah n, ke mana-mana membawa dan mengalungkan biji-biji tasbih, serta berbagai perbuatan lain yang tidak ada tuntutan syar’inya.
Menghidupkan zikir di rumah bisa dilakukan dengan mengajak dan memerintahkan anak-anak agar rutin membaca Kitabullah, memperbanyak shalat nafilah di dalam rumah, mengucapkan doa dan zikir-zikir yang dituntunkan untuk perlindungan setiap pagi dan petang. Tidak lupa membaca doa sebelum makan dan minum, ketika mau tidur dan saat terbangun, ketika masuk WC, dan zikir-zikir lain yang diajarkan Nabi kita yang mulia n.
Saat si anak bersin, kita ingatkan dia agar mengucapkan hamdalah. Ketika ia menguap, kita ingatkan dia agar menutup mulutnya dan menahan suaranya serta mengucapkan kalimat isti’adzah.
Kecintaan kepada ilmu agama pun harus ditumbuhkan di tengah keluarga, karena belajar ilmu agama termasuk zikir kepada Allah l. Dengan belajar agama seseorang bisa mengetahui mana perkara yang bisa mendatangkan kecintaan Allah l dan mana yang bisa mendatangkan murka-Nya, sehingga apa yang mendatangkan cinta-Nya dikerjakan dan yang mengundang murka-Nya ditinggalkan.
Sang ayah harus cinta kepada ilmu syar’i, ibu juga demikian. Anak-anak tinggal mencontoh kedua orang tuanya setelah tentunya mereka dihasung dengan lisan.
Demikianlah di antara upaya yang bisa dilakukan untuk senantiasa mengingat Allah l dan tidak lalai dari-Nya.
Sebagai penutup, kita ingatkan kembali bahwa anak merupakan nikmat Allah l yang patut disyukuri. Salah satu bentuk kesyukuran kepada Dzat yang telah memberikan kenikmatan adalah dengan senantiasa mengingat-Nya dan mendidik anak untuk mengingat-Nya pula.
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.


“Dijadikan indah pada pandangan manusia kecintaan kepada syahwat berupa wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dai jenis emas, perak, kuda pilihan, hewan-hewan ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik.” (Ali ‘Imran: 14)

QALBU DAN KEWAJIBAN SESEORANG TERHADAPNYA

(ditulis oleh: Al-Ustadz Saifudin Zuhri, Lc.)

 

الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ خَلَقَ الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيْمٍ، وَفَضَّلَهُ عَلَى كَثِيْرٍ مِمَّنْ خَلَقَ بِالْإِنْعَامِ وَالتَّكْرِيْمِ، فَإِنِ اسْتَقَامَ عَلى طَاعَةِ اللهِ اسْتَمَرَّ لَهُ هذَا التَّفْضِيْلُ فِي جَنَّاتِ النَّعِيْمِ، وَإِلاَّ رُدَّ فِي الْهَوَانِ وَالْعَذَابِ الْأَلِيْمِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَهُوَ الْخَلاَّقُ الْعَلِيْمِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ شَهِدَ لَهُ رَبُّهُ بِقَوْلِهِ: {وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيْمِ} صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ سَارُوْا عَلَى النَّهْجِ القَوِيْمِ وَالصِّرَاطِ المُسْتَقِيْمِ، وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْرًا، أَمَّ بَعْدُ:
أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوْا اللهَ تَعَالىَ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ سُبْحَانَهُ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ، وَإِنَّمَا يَنْظُرُ إِلَى قُلُوْبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ.

 

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Segala puji bagi Allah l yang telah menciptakan manusia dalam sebaik-sebaik bentuk dan melebihkannya dengan berbagai keutamaan dari makhluk lainnya. Saya bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak untuk diibadahi kecuali hanya Allah l, serta saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Shalawat dan salam semoga senantiasa Allah l curahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarganya,para sahabatnya, dan seluruh kaum muslimin yang senantiasa berjalan di atas petunjuknya.

Jama’ah jum’ah rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa bertakwa kepada Allah l dan senantiasa memperbaiki qalbu kita masing-masing. Ketahuilah rahimakumullah, bahwa Allah l tidak melihat bentuk dan postur tubuh serta paras wajah seseorang, tetapi yang dilihat tidak lain adalah qalbu dan amalannya. Oleh karena itu, sebagaimana seseorang senantiasa membersihkan badan dan pakaiannya dari kotoran yang mengenainya, seharusnya dia juga memperbaiki amalan dan membersihkan qalbunya.
Bahkan memerhatikan qalbu harus lebih diutamakan, karena rusaknya qalbu lebih berbahaya daripada rusaknya anggota badan. Rusaknya qalbu akan dirasakan akibatnya oleh si pemiliknya, baik ketika di dunia apalagi saat di akhirat nanti. Akan tetapi rusaknya anggota badan hanya dirasakan saat di dunia dan akan berakhir dengan datangnya kematian. Begitu pula baik dan tidaknya amalan anggota badan, sangat dipengaruhi oleh keadaan qalbu seseorang. Hal ini sebagaimana sabda Nabi kita Muhammad n:
أَلاَ وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ
“Ketahuilah bahwasanya pada setiap tubuh seseorang ada segumpal daging. Jika dia baik, akan baiklah seluruh anggota tubuhnya. Namun apabila dia rusak maka akan rusak pula seluruh anggota tubuhnya. Ketahuilah bahwasanya segumpal daging tadi adalah qalbu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Pada hadits tersebut kita memahami bahwa perbuatan anggota badan dipengaruhi oleh keadaan qalbu seseorang. Apabila qalbunya dipenuhi dengan cinta kepada Allah l dan Rasul-Nya, anggota badannya juga akan digunakan untuk menaati Allah l dan Rasul-Nya. Sebaliknya, apabila qalbunya dipenuhi oleh cinta kepada syahwat dan mengikuti hawa nafsu, anggota badannya pun akan tunduk mengikuti keinginan syahwat dan hawa nafsunya. Oleh karena itu, kedudukan qalbu terhadap anggota badan lainnya adalah ibarat seorang raja terhadap para bawahannya yang selalu siap mengikuti perintahnya dan tidak menyelisihinya. Karena itu, bisa dibayangkan apa yang akan terjadi pada anggota badan apabila qalbunya itu baik, dan sebaliknya, apa yang akan terjadi apabila qalbunya itu rusak.

Jamaah jum’ah rahimakumullah,
Dengan demikian, qalbu adalah bagian yang paling mulia pada diri manusia. Di sanalah tempat ma’rifatullah, yaitu ilmu seseorang tentang Rabb-Nya. Di sana pula tempatnya cinta, rasa takut, harapan, dan tawakkalnya seseorang kepada Allah l serta amalan qalbu lainnya. Bahkan di sanalah tempatnya niat yang menjadi timbangan sah atau tidaknya dan diterima atau ditolaknya amal ibadah seseorang. Nabi n bersabda:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
“Bahwa amalan itu tergantung dengan niat, dan seseorang mendapatkan apa yang dia niatkan.” (Muttafaqun ‘alaih)
Jika demikian, tidak cukup bagi seseorang untuk hanya memperbaiki amalan yang lahiriah saja tanpa memerhatikan keadaan qalbunya. Akan tetapi, memerhatikan dan memperbaiki qalbu seharusnya lebih didahulukan daripada memerhatikan amalan lahiriah. Bahkan amalan anggota badan yang nampak, tidak akan sah atau diterima apabila tidak ada amalan qalbu yang disebut ikhlas. Oleh karen itu, setiap orang harus memiliki amalan qalbu yang disebut ikhlas ini, untuk seluruh amalan ibadah yang dilakukan oleh anggota badannya.

Hadirin rahimakumullah,
Sesungguhnya, qalbu ada yang bisa mengeras seperti kerasnya batu atau bahkan lebih keras dari batu. Qalbu yang paling keras adalah yang paling jauh dari Allah l dan dari ketaatan kepada-Nya. Qalbu jenis ini tidak mau menerima nasihat dan tidak berkeinginan untuk mencari petunjuk serta kebenaran, sehingga pemiliknya tidak memperoleh manfaat kebaikan dari qalbunya, bahkan tidak ada yang keluar dari qalbunya kecuali kejelekan.
Di sisi lain, ada pula qalbu yang lembut dan baik, yaitu qalbu yang selalu tunduk dan patuh kepada Penciptanya. Qalbu jenis ini adalah qalbu yang siap menerima kebenaran dari nasihat yang datang kepadanya.
Lembut dan kerasnya qalbu seseorang dipengaruhi oleh beberapa sebab yang dilakukan oleh pemiliknya. Hal-hal yang bisa menjadi sebab baik dan lembutnya qalbu diantaranya adalah membaca dan mendengarkan Al-Qur’an. Hal ini sebagaimana firman Allah l:
“Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah-belah disebabkan ketakutannya kepada Allah dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berpikir.” (Al-Hasyr: 21)

Hadirin rahimakumullah,
Kalau gunung yang begitu keras saja bisa hancur, tentunya qalbu yang keras pun akan menjadi lembut apabila si pemiliknya senantiasa memperbaikinya dengan membaca dan mendengarkan serta mempelajari Al-Qur’an. Di dalam ayat lainnya, Allah l berfirman:
“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk qalbu mereka mengingat Allah dan tunduk kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang sebelumnya yang telah diturunkan kepada mereka Al-Kitab, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu qalbu mereka menjadi keras dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (Al-Hadid: 16)
Karena itu, kaum muslimin wajib senantiasa membaca dan mempelajari kandungan Al-Qur’an, agar tidak seperti ahlul kitab yang menjadi keras qalbunya karena berpaling dari kitab Taurat dan Injil.

Hadirin rahimakumullah,
Diantara perkara yang juga akan membuat lembutnya qalbu adalah mengingat kematian serta mengingat bahwa dunia ini adalah kehidupan yang sesaat, sedangkan kehidupan yang sesungguhnya adalah di akhirat. Allah l berfirman:
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahala kalian. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (Ali Imran: 185)

Hadirin rahimakumullah,
Diantara perkara yang menjadi sebab lembutnya qalbu adalah memperbanyak mengingat Allah l atau berzikir dengan zikir-zikir yang ditetapkan oleh syariat. Allah l berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah qalbu mereka.” (Al-Anfal: 2)
Dalam ayat lainnya, Allah l berfirman:
“Dan janganlah kamu mengikuti orang yang qalbunya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan dia dalam keadaan melewati batas.” (Al-Kahfi: 28)
Selanjutnya, diantara hal yang akan melembutkan qalbu adalah menerima apa yang dibawa oleh Rasulullah n dan mengamalkan ilmu yang telah sampai kepadanya. Hal ini sebagaimana yang diberitakan oleh Allah l di dalam Al-Qur’an tentang keadaan orang-orang musyrikin yang menjadi keras qalbunya akibat perbuatan mereka berupa menolak dakwah atau ajakan Rasulullah n dalam firman-Nya:
“Dan (begitu pula) Kami memalingkan qalbu dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (Al-Qur’an) sejak awal pertama datang dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat.” (Al-An’am: 110)
Demikianlah keadaan orang-orang musyrikin yang menjadi keras qalbu mereka sehingga tetap di atas kekafirannya akibat tidak menerima ajaran Islam yang disampaikan Rasulullah n.
Begitu pula halnya dengan memerhatikan keadaan orang-orang yang sakit, fakir miskin, dan orang-orang yang tertimpa musibah, termasuk sebab lembutnya qalbu. Dengan memerhatikan keadaan mereka, seseorang akan mengetahui betapa banyak dan besarnya nikmat Allah l kepadanya sehingga menjadi lembut qalbunya. Hal ini berbeda dengan orang yang justru selalu melihat keadaan orang-orang yang kaya apalagi yang bermewah-mewah, maka dia akan jauh dari bersyukur kepada Allah l dan menjadi keras qalbunya. Allah l telah memerintahkan kepada Nabi-Nya n agar bersabar untuk berkumpul serta tidak meninggalkan orang-orang yang miskin dan orang-orang yang lemah dari kalangan kaum muslimin karena ingin bersama orang-orang yang mendapatkan kemewahan dunia yang membuat mereka lalai kepada Allah l. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:
“Bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Rabbnya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini.” (Al-Kahfi: 28)
Khutbah kedua:
الْحَمْدُ لِلهِ مُقَلِّبِ القُلُوْبِ وَعَلاَّمِ الغُيُوْبِ، وَقَابِلِ التَّوْبَةِ مِمَّنْ يَتُوْبُ، شَدِيْدِ الْعِقَابِ عِنْدَ قَسْوَةِ القُلُوْبِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ سَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْرًا، أَمَّ بَعْدُ:
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Ketahuilah, bahwa hal-hal yang akan menyebabkan keras dan rusaknya qalbu sangat banyak di masa kita sekarang ini. Oleh karena itu, kita semuanya harus senantiasa waspada dan berhati-hati agar tidak terjatuh pada hal-hal yang mengeraskan qalbu tersebut.
Diantaranya adalah tersibukkan dan tertipu dengan gemerlapnya dunia serta kurang berhubungan dengan masjid, sehingga menjadikan sebagian besar waktunya hanyalah untuk urusan dunia. Kedua hal ini menyebabkan kerasnya qalbu, karena akan melupakan seseorang dari akhirat dan mengingat Yang Mahakuasa. Berbeda dengan seseorang yang banyak berhubungan dengan masjid yang merupakan sebaik-baik tempat di muka bumi ini, maka dia pun akan senantiasa mengingat Allah l.

Hadirin rahimakumullah,
Termasuk sebab yang membuat kerasnya qalbu adalah tidak menundukkan pandangan dari melihat hal-hal yang diharamkan. Baik secara langsung maupun melalui layar televisi, internet, majalah, dan VCD, yang menampilkan gambar-gambar yang terlarang dan sebagainya. Begitu pula mendengarkan lagu-lagu dan musik dengan berbagai jenisnya. Kedua hal ini juga akan mengeraskan qalbu karena akan menjauhkan seseorang dari perkara yang bisa melembutkan qalbu yaitu berzikir dan membaca Al-Qur’an. Allah l berfirman:
“Ingatlah, dengan mengingat Allah-lah qalbu menjadi tenang.” (Ar-Ra’d: 28)
Jamaah jum’ah rahimakumullah,
Termasuk perkara yang akan membuat kerasnya qalbu adalah mengonsumsi makanan dan minuman yang haram. Makanan dan minuman yang haram akan sangat berpengaruh terhadap akhlak dan ibadah orang yang mengonsumsinya, sehingga akan membuat orang tersebut menjadi rusak akhlaknya dan malas dalam beribadah kepada Allah l. Begitu pula seluruh jenis kemaksiatan, adalah sebab kerasnya qalbu seseorang. Sebagaimana hal ini tersebut dalam firman Allah l:
“Sekali-kali tidak (demikian), bahkan sebenarnya apa yang mereka lakukan (dari perbuatan kemaksiatan) itu menutupi qalbu mereka.” (Al-Muthaffifin:14)
Oleh karena itu, seseorang harus menjauhi segala jenis kemaksiatan apabila dirinya menginginkan hati yang lembut.
Akhirnya, mudah-mudahan Allah l senantiasa memberikan  taufik-Nya kepada kita semua.

Mandi Biasa Tidak Mewakili Wudhu

Apakah mandi biasa (bukan wajib) sudah mencukupi untuk wudhu, artinya kita tidak usah wudhu lagi seusai mandi?
timxxxxxx@yahoo.co.id

Dijawab oleh Al-Ustadz Muhammad As-Sarbini Al-Makassari
Jika yang dimaksud dengan mandi biasa adalah mandi yang dilakukan sekadar untuk bersih-bersih dan menyegarkan tubuh, maka masalahnya jelas bahwa hal itu bukan ibadah yang terkait dengan bersuci dari hadats, dan tentu saja tidak mewakili wudhu. Demikian pula halnya jika yang dimaksud adalah mandi yang disyariatkan untuk shalat Jum’at1, mandi untuk shalat hari raya (‘Idul Fithri dan ‘Idul Adha) serta mandi lainnya yang disyariatkan bukan untuk mengangkat hadats. Mandi karena hal-hal tersebut tidak terkait dengan hadats, sehingga tidak bisa mewakili wudhu dalam mengangkat hadats kecil.
Hal ini difatwakan oleh Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz dalam Majmu’ Al-Fatawa (10/111-112).

 

 

BERWUDHU DENGAN AIR YANG TEPERCIK SABUN

Bolehkah berwudhu dengan air bak mandi yang terkena percikan sabun hingga berubah warna, bau, dan rasanya?
(Pertanyaan via sms
)
Dijawab oleh Al-Ustadz Muhammad As-Sarbini Al-Makassari
Air yang mengalami perubahan dari aslinya, baik perubahan warna, bau, atau rasa karena pengaruh campuran unsur lain yang suci, namun tidak didominasi oleh campuran tersebut dan masih tetap dinamakan air, tetap suci dan menyucikan (thahur). Seperti perubahan air bak yang bercampur dengan percikan sabun, air kolam yang kejatuhan daun-daun, air sawah yang bercampur tanah, atau yang lainnya. Ini tetap dinamakan air dan sah untuk wudhu atau mandi.
Berbeda halnya dengan air yang dicampur dengan bahan minuman seperti susu, kopi, teh, atau bumbu masakan, dan semacamnya, yang mendominasinya dan mengubah namanya menjadi nama lain, sehingga tidak lagi dinamakan air secara mutlak. Misalnya, dinamakan minuman teh, kopi, susu, atau kuah, dan yang semacamnya. Yang seperti ini sudah tidak termasuk kategori air yang menyucikan, meskipun suci. Dengan demikian, jenis ini tidak sah untuk wudhu dan mandi.
Di antara dalil yang menunjukkan hal ini adalah perintah Rasulullah n untuk berwudhu dengan air laut. Padahal air laut telah berubah rasanya menjadi asin dengan perubahan yang sangat drastis dari asal rasa air yang tawar. Demikian pula perintah Rasulullah n untuk menggunakan air yang dicampuri daun bidara (yang telah ditumbuk halus) bagi wanita yang mandi suci dari haid/nifas dan dalam memandikan jenazah. Padahal campuran daun bidara tersebut tentu saja akan memberi perubahan pada air.
Lebih dari itu, tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa air yang mengalami perubahan warna, bau, atau rasa oleh campuran unsur lain, tidak lagi termasuk kategori air yang menyucikan.
Inilah pendapat yang rajih (kuat) dalam masalah ini yang dipilih oleh Ibnu Taimiyah t dalam Majmu’ Al-Fatawa (21/17-20 cet. Darul Wafa’), Asy-Syaikh As-Sa’di dalam Al-Mukhtarat Al-Jaliyyah (hal.12-13), Asy-Syaikh Ibnu Baz dalam Majmu’ Fatawa (10/19-20), dan Asy-Syaikh Al-’Utsaimin dalam Asy-Syarhul Mumti’ (1/38, 44, cet. Muassasah Asam). Ini juga adalah mazhab Abu Hanifah dan salah satu riwayat dari Ahmad.
Kalau pun terjadi perubahan warna, bau, atau rasa karena pengaruh benda najis yang bercampur dengannya, air itu bernajis dan sudah tidak suci lagi. Salah satu saja dari tiga sifat tersebut yang berubah, baik warna, bau, atau rasanya, maka air itu telah ternajisi dan tidak sah untuk wudhu atau mandi.
Kesimpulannya, air hanya terbagi menjadi dua:
1.    Air yang suci lagi menyucikan (thahur), meskipun berubah sebagian sifatnya oleh campuran unsur suci, selama tidak mengubahnya keluar dari nama air ke nama lain. Jenis ini sah untuk wudhu dan mandi.
2.    Air yang ternajisi oleh unsur najis yang mengubah salah satu sifatnya, baik warna, bau, maupun rasanya. Jenis ini tidak sah untuk wudhu dan mandi.
Wallahu a’lam.


1 Dengan catatan bahwa dalam hal mandi untuk shalat Jum’at ada perbedaan pendapat, ada yang berpendapat sunnah dan ada yang berpendapat wajib. –pen.

Sifat Shalat Nabi (6)

(ditulis oleh: Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al-Atsari)

 

Isti’adzah
Isti’adzah adalah bersandar kepada Allah l dan mendekat ke sisi-Nya, untuk berlindung dari kejelekan setiap makhluk yang memiliki kejelekan. ‘Iyadzah itu untuk mencegah kejelekan.
Setelah beristiftah, sebelum membaca Al-Qur’an dalam shalat, Rasulullah n membaca ta’awudz (memohon perlindungan) kepada Allah l terlebih dahulu dengan mengucapkan:
أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ
“Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terusir/dijauhkan (dari rahmat1) dari was-wasnya2, dari kesombongannya, dan dari sihirnya.”3 (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf 1/92/1, Ath-Thabarani dalam Al-Kabir 1/78/2, dari Jubair ibnu Muth’im z, dishahihkan dalam Irwa’ul Ghalil hadits no. 342)
Terkadang dalam ta’awudz tersebut, Rasulullah n menambah dengan:
أَعُوْذُ بِاللهِ السَّمِيْعِ الْعَلِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ، مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ
“Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari setan yang terusir/dijauhkan dari rahmat, dari was-wasnya, dari kesombongannya, dan dari sihirnya.” (HR. Abu Dawud no. 775, dan lainnya, dari Abu Sa’id Al-Khudri z dengan sanad yang hasan sebagaimana dalam Irwa’ul Ghalil pembahasan hadits no. 342)
Al-Imam Ahmad t dalam Masa’il Ibni Hani’ (1/51) menyatakan, sepantasnya tambahan ini diucapkan sesekali.
Jumhur ulama berpendapat hukum ta’awudz ini sunnah, dalilnya adalah hadits Al-Musi’u Shalatuhu, yang di dalamnya tidak disebutkan ta’awudz. (Al-Majmu’ 3/283, Taudhihul Ahkam 2/170)
Ini merupakan pendapat Al-Hasan, Ibnu Sirin, Atha’, Ats-Tsauri, Al-Auza’i, Asy-Syafi’i, Ishaq, dan ashabur ra’yi. (Al-Mughni, Kitab Ash-Shalah, Fashl La Yajharul Imam bil Iftitah)
Pendapat inilah yang penulis pandang lebih kuat. Wallahu a’lamu bish-shawab.
Al-Imam Asy-Syaukani t menyebutkan, “Tidak ada dalam hadits-hadits ta’awudz selain menerangkan bahwa ta’awudz dilakukan pada rakaat yang pertama. Adapun Al-Hasan, Atha’, dan Ibrahim berpendapat ta’awudz ini mustahab diucapkan dalam setiap rakaat. Mereka berdalil dengan keumuman firman Allah l:
“Bila engkau membaca Al-Qur’an maka mintalah perlindungan kepada Allah.” (An-Nahl: 98)
Tidaklah diragukan bahwa ayat di atas menunjukkan disyariatkannya isti’adzah sebelum membaca Al-Qur’an. Ayat ini berlaku umum, apakah si pembaca Al-Qur’an tersebut berada di luar shalat atau sedang mengerjakan shalat. Namun, hadits-hadits yang melarang berbicara di dalam shalat menunjukkan larangan tersebut tidak dibedakan, baik berbicara dengan mengucapkan ta’awudz, maupun ucapan-ucapan lain yang tidak ada dalil yang mengkhususkannya dan tidak pula ada izin untuk mengucapkan yang sejenisnya. Karena itu, yang lebih berhati-hati adalah cukup dengan yang dituntunkan dalam As-Sunnah, yaitu melakukan isti’adzah sebelum membaca Al-Qur’an pada rakaat pertama saja.” (Nailul Authar, 2/39)
Abu Hurairah z berkata:
كَانَ رَسُولُ اللهِ n إِذَا نَهَضَ فِي الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ افْتَتَحَ الْقِرَاءَةِ بِالْحَمْدِ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَلَمْ يَسْكُتْ
“Adalah Rasulullah n bila bangkit ke rakaat kedua, beliau membuka bacaan (qiraah) dengan ‘Alhamdulillahi rabbil alamin’ dan beliau tidak diam.” (HR. Muslim no. 1355)
Hadits ini menunjukkan tidak disyariatkannya diam sebelum membaca (Al-Fatihah dan surat) pada rakaat yang kedua. Tidak pula disyariatkan berta’awudz dalam raakat kedua ini. Dan hukum rakaat-rakaat berikutnya (setelah rakaat kedua) sama dengan hukum rakaat yang kedua. Jadi, diam sebelum membaca (Al-Fatihah dan surat) itu hanya khusus pada rakaat yang pertama. Demikian pula berta’awudz dalam rakaat pertama. (Nailul Authar, 2/136)
Ibnul Qayyim t dalam Zadul Ma’ad (1/86) berkata, “Mencukupkan satu ta’awudz (hanya dalam rakaat pertama, pen.) adalah pendapat yang lebih nampak, berdasarkan hadits yang shahih dari Abu Hurairah z:
أَنَّ النَّبِيَّ n كَانَ إِذَا نَهَضَ مِنَ الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ، اسْتَفْتَحَ الْقِرَاءَةَ وَلَمْ يَسْكُتْ
“Nabi n bila bangkit menuju rakaat yang kedua, beliau membuka dengan bacaan dan tidak diam.”
Bahwa Rasulullah n mencukupkan satu istiftah, karena beliau tidak menyelingi dua qiraah (bacaan) dengan diam, tapi dengan dzikir. Dengan demikian, qiraah dalam shalat dianggap satu qiraah jika yang menyelinginya adalah pujian kepada Allah l, tasbih, tahlil, atau shalawat kepada Nabi n, dan yang semisalnya.
Ada pula yang berpendapat bahwa ta’awudz hukumnya wajib dan dibaca setiap rakaat dalam shalat, seperti pendapat Ibnu Hazm t dalam Al-Muhalla (2/278) dan ahlul ilmi4 yang lainnya, dengan dalil firman Allah l:
“Bila engkau membaca Al-Qur’an maka mintalah perlindungan kepada Allah.” (An-Nahl: 98)

Rahasia isti’adzah
Isti’adzah memiliki berbagai kebaikan. Diantaranya, sebagai penyuci lisan dari berbagai ucapan sia-sia dan kotor, ketika mengucapkan/membaca kalamullah. Juga sebagai isti’anah (memohon pertolongan) kepada Allah l, dan pengakuan bahwa Allah l-lah yang memiliki kekuasaan, sedangkan hamba itu lemah dan tidak mampu mengatasi musuhnya (setan) yang nyata namun tidak nampak. Sesungguhnyalah, tak ada yang mampu menolak dan mencegah musuh ini kecuali Allah l yang menciptakannya. Terlebih, setan ini tidak dapat menerima keramahtamahan dan tidak peduli dengan kebaikan, berbeda dengan musuh dari kalangan manusia. Hal ini sebagaimana ditunjukkan oleh banyak ayat dalam Al-Qur’an.
Allah l berfirman:
“Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, engkau tidak memiliki kekuasaan atas mereka sama sekali. Cukuplah Rabbmu sebagai pelindung.” (Al-Isra’: 65)
Para malaikat turun untuk memerangi musuh berupa manusia. Siapa saja yang terbunuh oleh musuh yang nampak, dia menjadi seorang syahid. Sementara, orang yang binasa oleh musuh yang tidak nampak, dia akan terusir. Siapa saja yang terkalahkan oleh musuh yang nampak, dia akan mendapatkan balasan pahala, sementara orang yang terkalahkan oleh musuh yang tidak nampak, dia akan tertimpa fitnah dan memikul dosa.
Tatkala setan melihat manusia dari tempat yang tidak terlihat oleh manusia, maka semestinya manusia memohon perlindungan darinya kepada Dzat yang melihatnya sedangkan setan tidak dapat melihat-Nya. (Al-Mishbahul Munir, hal.18)
Penulis mengatakan, masalah ini di luar shalat ketika membaca Al-Qur’an, maka tentunya di dalam shalat seseorang harus lebih memerhatikan lagi diri dan shalatnya, karena ketika itu ia sedang berdiri beribadah kepada Rabbnya, yang semestinya ditegakkan dengan khusyu’ dan menjaga shalatnya dari was-was setan serta tipu dayanya. Wallahul musta’an.
Abu Hurairah z menyatakan bahwa Rasulullah n bersabda:
إِذَا نُوْدِيَ لِلصَّلاَةِ أَدْبَرَ الشَّيْطَانُ وَلَهُ ضُرَاطٌ حَتَّى لاَ يَسْمَعُ التَّأْذِيْنَ، فَإِذَا قَضَى النِّدَاء أَقْبَلَ حَتَّى إِذَا ثَوَّبَ بِالصَّلاَةِ أَدْبَرَ، حَتىَّ إِذَا قَضَى التَّثْوِيْبَ أَقْبَلَ حَتَّى يَخْطُرَ بَيْنَ الْمَرْءِ وَنَفْسِهِ يَقُوْلُ: اُذْكُرْ كَذَا، اُذْكُرْ كَذَا -لِمَا لَمْ يَكُنْ يَذْكُرُ– حَتَّى يَظِلَّ الرَّجُلُ لاَ يَدْرِي كَمْ صَلَّى
“Apabila diserukan adzan untuk shalat setan berlalu dan ia memiliki kentut (berlalu dengan mengeluarkan suara kentut) hingga ia tidak mendengar adzan. Apabila adzan selesai dikumandangkan, ia datang kembali hingga saat diserukan iqamah, ia berlalu lagi. Ketika telah selesai iqamah, ia datang lagi hingga ia bisa melintaskan di hati seseorang berbagai pikiran, ia berkata, ‘Ingatlah ini, ingatlah itu’, padahal sebelumnya orang yang shalat tersebut tidak mengingatnya, demikian sampai orang tersebut tidak mengetahui telah berapa rakaat shalat itu dikerjakannya.” (HR. Al-Bukhari no. 608). Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab. (Insya Allah bersambung)


1 Ada yang mengatakan: dirajam dengan panah-panah api, demikian dalam Al-Majmu’ (3/280).
2 Sebagian rawi menafsirkannya dengan: gila, yaitu hamz adalah satu macam kegilaan dan kesurupan yang dapat menimpa seseorang. Bila ia sadar, akalnya kembali lagi seperti semula sebagaimana orang tidur dan orang mabuk, demikian kata Ath-Thibi.
3 Adapula yang menafsirkannya dengan syair yang tercela.
4 Dalam masalah ini memang fuqaha berbeda pendapat setelah mereka sepakat tentang tidak disyariatkannya membaca doa istiftah selain dalam rakaat pertama. Perbedaan pendapat ini disebabkan perbedaan pandangan apakah seluruh qiraah dalam shalat merupakan satu qiraah sehingga dicukupkan sekali ta’awudz, ataukah qiraah setiap rakaat merupakan qiraah yang berdiri sendiri sehingga disyariatkan berta’awudz pada masing-masingnya?
Al-Imam Al-Albani t dalam kitabnya Shifat Shalatin Nabi n (menguatkan pendapat yang mengatakan pada setiap rakaat), “Tidak cukup satu isti’adzah tetapi dalam setiap rakaat harus beristi’adzah.” Kemudian beliau membawakan ucapan Asy-Syaikh Al-Allamah Muhammad Hamid Al-Faqi As-Salafi, “Yang zahir, qiraah dalam rakaat pertama dan qiraah dalam rakaat yang kedua merupakan dua qiraah, karena panjangnya jeda/pemisah antara keduanya dengan melakukan ruku’ dan sujud. Ini merupakan gerakan-gerakan yang banyak. Maka setiap rakaat ada ta’awudz. Sementara hadits Abu Hurairah z tidaklah menafikan hal ini. Karena yang ditiadakan dalam hadits Abu Hurairah z adalah diam yang diketahui, yaitu diam tertentu karena membaca doa istiftah. Adapun diam karena membaca ta’awudz dan basmalah merupakan diam yang sangat ringan/sebentar yang tidak dirasakan/disadari oleh makmum karena tersibukkannya makmum dengan gerakan bangkit ke rakaat berikutnya. Juga, setiap rakaat itu teranggap sebagai sebuah shalat karena itulah mereka diwajibkan membaca Al-Fatihah dalam setiap rakaat, maka yang lebih utama ta’awudz juga dianggap demikian. Inilah pendapat yang dikuatkan oleh Ibnu Hazm dalam Al-Muhalla. Inilah pendapat yang benar.”
Beliau t berkata, “Ibnu Hazm berargumen dengan keumuman firman Allah l:
“Bila engkau membaca Al-Qur’an maka mintalah perlindungan kepada Allah.” (An-Nahl: 98)
Ini merupakan argumen yang benar, tidak ada kekaburan di dalamnya. Al-Hafizh berkata di dalam At-Talkhish, “Keumuman ayat ini menetapkan isti’adzah diucapkan pada awal setiap rakaat. Pendapat inilah yang dimunculkan oleh Ar-Rafi’i dalam Asy-Syarhul Kabir. Beliau berkata, ‘Pendapat inilah yang diucapkan oleh Al-Qadhi Abu Ath-Thayyib Ath-Thabari, demikian pula Imamul Haramain, Ar-Ruyani, dan selain mereka’.”
Al-Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu’ berkata, “Ini merupakan pendapat madzhab (Syafi’iyyah).”
Di tempat lain beliau berkata, “Pendapat inilah yang paling shahih dalam madzhab kami.”
Pendapat ini juga dipegangi dalam madzhab Hanafiyyah.
Abul Hasanat Al-Laknawi dalam catatan kakinya terhadap kitab Syarhul Wiqayah (1/138) berkata, “Dalam kitab Halbah Al-Majalli karya Ibnu Amir Hajj disebutkan: Berdasarkan ucapan Abu Yusuf dan Muhammad, sepantasnya ta’awudz itu dilakukan dalam rakaat kedua juga, karena dalam rakaat kedua orang memulai qiraah. Dan qiraah dalam setiap rakaat merupakan qiraah yang baru.” (Ashlu Shifah Shalatin Nabi n, 3/826-827)

Ar-Rahman dan Ar-Rahim

(ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc)

 

Asy-Syaikh Muhammad Khalil Al-Harras mengatakan, “Keduanya adalah nama yang mulia dari nama-nama Allah l. Kedua nama ini menunjukkan bahwa Allah l memiliki sifat rahmat, kasih sayang, yang merupakan sifat hakiki bagi Allah dan sesuai dengan kebesaran-Nya.”
Kedua nama Allah l ini disebutkan dalam banyak ayat dan hadits Nabi n, diantaranya:
“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (Al-Fatihah: 1)
“Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (Al-Fatihah: 3)
Maknanya, menurut Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, “Ar-Rahman artinya Yang memiliki rahmat, kasih sayang yang luas, karena wazan (bentuk kata) fa’lan dalam bahasa Arab menunjukkan makna luas dan penuh. Semisal dengan kata ‘Seorang lelaki ghadhbaan,’ artinya penuh kemarahan.1
Sementara, Ar-Rahiim adalah nama Allah l yang memiliki makna kata kerja dari rahmat (yakni Yang merahmati, Yang mengasihi), karena wazan fa’iil (فَعيِْلٌ) bermakna faa’il (فَاعِلٌ)2 pelaksana, sehingga kata tersebut menunjukkan perbuatan (merahmati, mengasihi).
Oleh karena itu, paduan antara nama Ar-Rahman dan Ar-Rahim bermakna rahmat Allah l itu luas dan kasih sayang-Nya akan sampai kepada makhluk-Nya.”

Adakah perbedaan antara nama Allah l Ar-Rahman dan Ar-Rahim?
Tentu ada sisi perbedaannya, karena setiap nama punya makna yang khusus. Berikut ini penjelasan sebagian ulama tentang perbedaan diantara keduanya.
Al-Arzami t mengatakan: “Ar-Rahman artinya Yang Maha Pengasih terhadap seluruh makhluk, sedangkan Ar-Rahim artinya Yang Maha Pengasih terhadap kaum mukminin.” (Tafsir Ibnu Jarir Ath-Thabari, Tafsir Basmalah)
Dengan demikian, dikatakan bahwa yang dimaksud dengan Ar-Rahman adalah yang rahmat-Nya meliputi segala sesuatu di dunia, karena bentuk kata/wazan fa’lan itu menunjukkan penuh dan banyak. Sedangkan Ar-Rahim, yang rahmat-Nya khusus terhadap kaum mukimin di akhirat.
Akan tetapi, ada pula yang mengatakan sebaliknya.
Ibnul Qayyim memandang bahwa Ar-Rahman menunjukkan sifat kasih sayang pada Dzat Allah l (yakni Allah l memiliki sifat kasih sayang), sedangkan Ar-Rahim menunjukkan bahwa sifat kasih sayang-Nya terkait dengan makhluk yang dikasihi-Nya.
Sehingga seakan-akan nama Ar-Rahman adalah sifat bagi-Nya, sedangkan nama Ar-Rahim mengandung perbuatan-Nya, yakni menunjukkan bahwa Dia memberi kasih sayang kepada makhluk-Nya dengan rahmat-Nya, jadi ini sifat perbuatan bagi-Nya.
Apabila Anda hendak memahami hal ini, perhatikanlah firman Allah l:
“Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.” (Al-Ahzab: 43)
“Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka.” (At-Taubah: 117)
Allah l tidak menyebutkan dengan nama Ar-Rahman sama sekali. Dengan itu, Anda tahu bahwa makna Ar-Rahman adalah Yang memiliki sifat kasih sayang dan makna Ar-Rahim adalah Yang mengasihi dengan kasih sayang-Nya. (Syarah Nuniyyah, Ahmad Isa)
Al-Harras mengatakan, ini adalah pendapat yang terbaik dalam membedakan kedua nama tersebut.
Berikut ini kutipan penjelasan Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di t tentang keagungan dua nama Allah l tersebut.
Ar-Rahman dan Ar-Rahim, adalah dua nama yang menunjukkan bahwa Allah l memiliki kasih sayang yang luas dan agung. Kedua nama ini meliputi segala sesuatu dan meliputi segala makhluk. Allah l telah menetapkan kasih sayang yang sempurna bagi orang-orang bertakwa yang mengikuti para nabi dan rasul-Nya. Oleh karena itu, mereka mendapatkan kasih sayang sempurna yang bersambung dengan kebahagiaan yang abadi.
Adapun orang-orang yang selain mereka terhalang dari kasih sayang yang sempurna ini, karena mereka sendiri yang menolaknya dengan cara tidak memercayai berita (Ilahi) dan berpaling dari perintah. Oleh karena itu, janganlah mereka mencela siapapun kecuali diri mereka sendiri.
Mereka (yang bertakwa) mengimani bahwa Allah l Maharahman dan Maharahim, memiliki rahmat yang agung, dan rahmat-Nya terkait dengan makhluk-Nya yang dirahmati, sehingga nikmat seluruhnya adalah buah dari rahmat-Nya.
Orang yang memerhatikan nama Allah l Ar-Rahman, dan bahwa Allah l Mahaluas rahmat-Nya, memiliki kasih sayang yang sempurna, dan kasih sayang-Nya telah memenuhi alam semesta baik yang atas maupun yang bawah, serta mengenai seluruh makhluk-Nya, serta mencakup dunia dan akhirat; juga mentadaburi ayat-ayat yang menunjukkan semacam makna ini:
“Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.” (Al-A’raf: 156)
“Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.” (Al-Hajj: 65)
“Maka perhatikanlah bekas-bekas rahmat Allah, bagaimana Allah menghidupkan bumi yang sudah mati. Sesungguhnya (Dzat yang berkuasa seperti) demikian benar-benar (berkuasa) menghidupkan orang-orang yang telah mati. Dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.” (Ar-Rum: 50)
“Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin.” (Luqman: 20)
“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.” (An-Nahl: 53)
“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (An-Nahl: 18)
Juga ayat-ayat setelahnya yang menunjukkan pokok-pokok nikmat, dan cabangnya yang mengandung salah satu dari sekian banyak buah rahmat Allah l. Oleh karenanya, Allah l berfirman di akhirnya:
“Demikianlah Allah menyempurnakan nikmat-Nya atasmu agar kamu berserah diri (kepada-Nya).” (An-Nahl: 81)
Lalu mentadaburi surat Ar-Rahman dari awal hingga akhirnya, karena surat itu adalah ungkapan dari penjabaran rahmat Allah l; maka semua ragam makna dan corak nikmat yang ada padanya adalah rahmat dan kasih sayang-Nya. Oleh karena itu, Allah l mengakhiri surat itu dengan menyebutkan apa yang Allah l siapkan untuk orang-orang yang taat di dalam surga, berupa kenikmatan abadi yang sempurna, yang merupakan buah dari rahmat-Nya. Oleh karenanya, Allah l menamai surga dengan rahmat, sebagaimana dalam ayat-Nya:
“Adapun orang-orang yang putih berseri mukanya, maka mereka berada dalam rahmat Allah (surga); mereka kekal di dalamnya.” (Ali ‘Imran: 107)
Dalam hadits disebutkan bahwa Allah l mengatakan kepada Al-Jannah:
أَنْتَ رَحْمَتِي أَرْحَمُ بِكَ مَنْ أَشَاءُ مِنْ عِبَادِي
“Engkau adalah rahmat-Ku yang denganmu Aku merahmati siapa yang Kukehendaki dari hamba-Ku.”
Allah l juga berfirman:
“Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang.” (Yusuf: 64)
Dalam hadits shahih disebutkan:
اللهُ أَرْحَمُ بِعِبَادِهِ مِنَ الْوَالِدَةِ بِوَلَدِهَا
“Allah l lebih penyayang terhadap hamba-Nya daripada seorang ibu terhadap anaknya.”
Dalam hadits lain disebutkan:
إِنَّ اللهَ كَتَبَ كِتَاباً عِنْدَهُ فَوْقَ عَرْشِهِ إِنَّ رَحْمَتِي سَبَقَتْ غَضَبِي
“Sesungguhnya Allah l telah menuliskan sebuah tulisan di sisi-Nya, di atas Arsy-Nya ‘Sesungguhnya rahmat-Ku mendahului kemurkaan-Ku’.”
Ringkas kata, Allah l telah menciptakan makhluk dengan rahmat-Nya dan mengutus para rasul kepada mereka karena rahmat-Nya pula. Allah l memerintah dan melarang mereka serta menetapkan syariat untuk mereka karena rahmat-Nya. Allah melingkupi mereka dengan kenikmatan lahir dan batin karen rahmat-Nya. Dia l mengatur mereka dengan berbagai aturan dan melindungi mereka dengan berbagai perlindungan karena rahmat-Nya, serta memenuhi dunia dan akhirat dengan rahmat-Nya.
Oleh karena itu, urusan ini tidak akan menjadi baik dan mudah, begitu pula tujuan dan berbagai tuntutan tidak akan terwujud melainkan karena rahmat-Nya. Bahkan, kasih sayang-Nya melebihi semua itu, lebih agung dan lebih tinggi.
Apatah lagi, orang-orang baik dan bertakwa akan mendapatkan bagian terbesar dan kebaikan terbanyak dari rahmat-Nya.
“Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (Al-A’raf: 56)

Buah mengimani nama Allah l tersebut
Mengimani nama Allah l tersebut akan menambah rasa syukur kita kepada Allah l, karena berbagai nikmat yang dikaruniakan Allah l kepada kita, baik yang ada dalam organ tubuh, kebutuhan keseharian, alam sekitar kita, maupun alam semesta ini semuanya, adalah semata-mata buah dari kasih sayang-Nya, yang mengharuskan kita untuk tunduk dan bersyukur kepada-Nya, serta membalasnya dengan ketaatan, bukan dengan kemaksiatan dan kerusakan.
Wallahu a’lam.


1 Wazan (timbangan) فَعْلَانُ fa’lan; kata yang sesuai dengan timbangan ini misalnya رَحْمَانُ ,غَضْبَانُ عَطْشَانُ, dll.
2 Wazan (timbangan) فَعِيلٌ fa’iil; kata yang sesuai dengan timbangan ini misalnya رَحِيمٌ, حَلِيمٌ, كَرِيمٌ, dll.

Buah dari Amalan

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Abdul Jabbar)

 

Barangsiapa mengamalkan apa yang ia ketahui, Allah l akan memberikan kepadanya ilmu yang sebelumnya tidak ia ketahui. Ini sebagaimana firman Allah l:
“Dan orang-orang yang mendapat petunjuk Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan kepada mereka (balasan) ketakwaannya.” (Muhammad: 17)
Allah l juga berfirman:
“Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka), dan kalau demikian, pasti Kami berikan kepada mereka pahala yang besar dari sisi Kami, dan pasti Kami tunjuki mereka kepada jalan yang lurus.” (An-Nisa’: 66—68)
Allah l berfirman pula:
“Wahai orang-orang yang beriman (kepada para rasul), bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan.” (Al-Hadid: 28)
Allah l juga berfirman:
“Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman).” (Al-Baqarah: 257)
Allah l juga berfirman:
“Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan.” (Al-Ma’idah: 15—16)
Dan penguat akan hal ini banyak sekali dalam Al-Qur’an maupun As-Sunnah.
Demikian pula, barangsiapa yang berpaling dari mengikuti kebenaran yang telah ia ketahui karena mengikuti hawa nafsunya, akan mengakibatkan dia bodoh dan tersesat sehingga hatinya akan menjadi buta terhadap kebenaran yang jelas. Ini sebagaimana firman Allah l:
“Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka.” (Ash-Shaff: 5)
Juga firman Allah l:
“Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya.” (Al-Baqarah: 10)
Juga firman Allah l:
“Mereka bersumpah dengan nama Allah dengan segala kesungguhan, bahwa sungguh jika datang kepada mereka sesuatu mukjizat pastilah mereka beriman kepada-Nya. Katakanlah: ‘Sesungguhnya mukjizat-mukjizat itu hanya berada di sisi Allah.’ Dan apakah yang memberitahukan kepadamu bahwa apabila mukjizat datang mereka tidak akan beriman? Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seakan-akan mereka tidak pernah beriman kepada Al-Qur’an sebelumnya.” (Al-An’am: 109—110)
Ini adalah bentuk pertanyaan peniadaan dan pengingkaran, ‘dan apakah yang memberitahukan kepadamu bahwa apabila mukjizat datang, mereka tidak akan beriman? Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seakan-akan mereka tidak pernah beriman kepada Al-Qur’an sebelumnya’, menurut qiraah (bacaan) yang mengkasrah innaha ‘sungguh’, sebagai penegasan bahwa apabila mukjizat itu telah datang mereka tidak akan beriman, dan Kami akan memalingkan hati dan penglihatan mereka seakan-akan mereka tidak pernah beriman kepadanya (Al-Qur’an) sebelumnya. Oleh karena itu, sebagian Salaf, di antaranya Sa’id bin Jubair t, mengatakan bahwa termasuk balasan atas suatu kejelekan adalah kejelekan yang setelahnya.
Disebutkan dalam Ash-Shahihain dari Ibnu Mas’ud z, dari Nabi n, beliau bersabda, “Berpeganglah kalian dengan kejujuran, karena kejujuran itu akan membimbing kepada kebaikan, dan kebaikan akan membimbing kepada surga. Senantiasa seorang hamba berlaku jujur dan membiasakannya, hingga dia dicatat di sisi Allah l sebagai seorang yang shiddiq (jujur). Berhati-hatilah kalian dari kedustaan, karena kedustaan itu akan membimbing kepada kejahatan, dan kejahatan itu akan membimbing kepada neraka. Senantiasa seorang hamba berdusta dan membiasakannya, hingga dicatat di sisi Allah sebagai seorang pendusta.”
Dalam hadits ini, Nabi n mengabarkan bahwa kejujuran adalah satu pokok yang akan menghasilkan kebaikan, sebagaimana dusta juga satu pokok yang akan menghasilkan kejelekan/dosa.
Allah l berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam surga yang penuh kenikmatan, dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka.” (Al-Infithar: 13—14)
(Diambil dari At-Tuhfah Al-‘Iraqiyyah fil A’mal Al-Qalbiyyah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hlm. 5—6)

Nabi Musa di Negri Madyan

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Harits)

 

Pelajaran dari kisah ini
Di dalam kisah ini, tampak jelas dalil yang melarang ikhtilath (berbaur) antara laki-laki dan wanita. Ketika Nabi Musa q menjumpai sekelompok orang yang sedang memberi minum ternak mereka, beliau melihat jauh di belakang mereka, dua orang wanita sedang menahan kambing-kambing mereka dari tempat minum tersebut.
Keduanya tidak mampu memberi minum ternak mereka bersama orang laki-laki. Nabi Musa q tidak rela melihat keadaan tersebut dan merasa heran melihat ada dua wanita yang tidak didampingi mahramnya, berada di luar rumah mereka. Kemudian, beliau bertanya kepada keduanya: “Apa maksud kalian berdua?”
Keduanya mengajukan uzur, mengapa mereka keluar dari rumah mereka. Keduanya memberikan jawaban sangat ringkas, sesuai kebutuhan, sebagaimana firman Allah l:
“Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum penggembala-penggembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya.”1
Perhatikanlah dialog di antara mereka. Pertanyaan seperlunya sesuai kebutuhan, begitu pula jawaban, seperlunya sesuai kebutuhan. Tanpa bumbu atau tambahan lainnya.
Seperti itu pula adab yang diajarkan Allah l kepada manusia-manusia pilihan-Nya. Allah l mendidik orang-orang yang dipilih-Nya untuk mendampingi kekasih-Nya Muhammad n agar senantiasa berada dalam kesucian hati yang prima.
Itulah bimbingan yang diberikan Allah l untuk para istri kekasih-Nya n, bagaimana berbicara kepada laki-laki yang bukan mahram mereka:
“Wahai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (Al-Ahzab: 32)
Firman Allah l:
“Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir.” (Al-Ahzab: 53)
Allah l berfirman:
“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias serta bertingkah-laku seperti orang-orang jahiliah yang dahulu.” (Al-Ahzab: 33)
Itulah hukum asal yang diberlakukan oleh Allah l Yang Maha Mengetahui kemaslahatan makhluk ciptaan-Nya. Allah  l yang Mahabijaksana menetapkan syariat yang bermanfaat bagi mereka, kapan dan di mana saja. Hukum asal, bahwasanya keberadaan kaum perempuan yang paling utama adalah di dalam rumah-rumah mereka.
Kalau bukan karena kebutuhan yang mendesak, tidak mungkin dua wanita utama putri orang tua yang shalih ini keluar dari rumah mereka. Wallahul musta’an.
Alangkah jauhnya pekerti ini dari sebagian muslimah dewasa ini. Mereka merasa bangga ketika berhasil menempati berbagai kedudukan di kantor-kantor, perusahaan-perusahaan, atau kegiatan sosial masyarakat, berbaur dengan kaum pria, sedangkan tugas-tugas sebagai seorang ibu atau istri di dalam rumah, hanya sambil lalu.
Pembaca, ada sebuah pedoman (kaidah) yang ditegaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan muridnya Ibnul Qayyim rahimahumallah dalam beberapa tempat di kitab-kitab mereka. Bahwa apapun dalil ‘aqli atau dalil syar’i yang dijadikan dasar oleh orang-orang yang sesat untuk mendukung kebatilannya, dalil-dalil itu justru menerangkan lawan dari kebatilan mereka (membantah kesesatan mereka, ed.).
Pernyataan beliau berdua rahimahumallah, dapat kita buktikan dalam setiap permasalahan agama baik ushul maupun furu’. Salah satunya adalah permasalahan ikhtilath ini.
Sebagian orang yang menginginkan tersebarnya kerusakan di tengah-tengah kaum muslimin, berdalil tentang bolehnya ikhtilath dengan sejumlah dalil. Antara lain:
a. Kisah Nabi Musa q ketika tiba di sumber air negeri Madyan dan berbicara dengan dua orang wanita.
b. Kisah para sahabat wanita yang menyertai Nabi n di masjid, dua shalat ied, dan sejumlah peperangan.
Seandainya kita mau memerhatikan dua dalil mereka ini, maka keduanya justru merupakan bantahan terhadap mereka.
Dalam kesempatan ini kita akan melihat dalil yang pertama, yaitu kisah Nabi Musa q di Madyan, yang menunjukkan sanggahan terhadap kekeliruan mereka dari beberapa sisi.
Yang pertama, firman Allah l:
“Dan ia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya).”
Dengan tegas dalam ayat ini Allah l menerangkan bahwa kedua wanita tersebut tidak ikhtilath dengan kaum laki-laki yang sedang memberi minum ternak mereka.
Kata tadzuudaan artinya sama dengan tathrudaan (mengusir, menjauhkan). Artinya, mereka berdua menjauhkan kambing-kambing mereka dari tempat para penggembala, sehingga mereka tidak berdesakan dan bercampur-baur dengan kaum laki-laki. Ternak mereka juga tidak bercampur dengan ternak para penggembala.
Yang kedua, firman Allah l:
“Apakah maksud kalian berdua (dengan berbuat begitu)?”
Ayat ini menceritakan rasa heran Nabi Musa q akan keberadaan mereka. Seandainya keberadaan wanita bersama laki-laki dalam kondisi seperti itu adalah biasa, tentulah beliau tidak mempertanyakannya. Ini terjadi sebelum beliau menjadi nabi.
Artinya, keadaan wanita tidak bercampur-baur dengan kaum pria, sudah merupakan fitrah manusia. Bahkan merupakan syariat umat sebelum kita.
Yang ketiga, firman Allah l:
Kedua wanita itu menjawab: “Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami) sebelum penggembala-penggembala itu memulangkan (ternaknya).”
Jawaban ini menunjukkan bahwa mereka berdua tidak ikhtilath dengan para penggembala tersebut.
Artinya, mereka berdua menerangkan keadaan mereka sebagai wanita yang memerhatikan hijab mereka. Mereka tidak sanggup untuk bergabung dengan kaum pria dan merasa malu bercampur-baur dengan kaum pria. Karena itu, mau tidak mau, mereka harus menunggu para penggembala itu pulang membawa ternak mereka.
Yang keempat, firman Allah l:
“Sedangkan ayah kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya.”
Dalam ayat ini, keduanya menerangkan uzur mengapa mereka keluar mencari minum untuk ternak mereka. Karena pada dasarnya, yang keluar adalah kaum laki-laki.
Artinya, keadaan daruratlah yang mendorong mereka untuk keluar dari tempat yang seharusnya, yaitu rumah mereka.
Yang kelima, firman Allah l:
“Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya.”
Ayat ini menerangkan bahwa laki-lakilah yang bertugas memberi minum, sedangkan wanita menunggu sampai para penggembala itu memulangkan ternak mereka.
Yang keenam, firman Allah l:
“Kemudian dia kembali ke tempat yang teduh.”
Ini menerangkan bahwa beliau tidak menemani mereka berdua dan tidak berbicara dengan mereka tanpa keperluan.
Yang ketujuh, firman Allah l:
“Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu.”
Tidak keluar selain hanya satu orang wanita, karena tugas ini cukup dilakukan satu orang. Kecuali memberi minum gembalaan.
Yang kedelapan, firman Allah l:
“Wanita itu berjalan dengan malu-malu.”
Menurut ‘Umar z, sebagaimana riwayat Ibnu Abi Hatim, dengan sanad yang shahih: “Wanita itu datang memanggil dengan malu-malu, sambil menutupi wajahnya dengan kainnya. Bukan wanita ‘berani’, yang suka keluar masuk (menemui laki-laki).”
Yang kesembilan, firman Allah l:
“Maka tatkala Musa mendatangi ayahnya dan menceritakan kepadanya cerita (mengenai dirinya)….”
Ketika yang diajak bicara adalah seorang laki-laki, beliau menceritakan kisahnya. Tetapi, ketika yang diajak bicara adalah wanita, beliau pergi berteduh ke bawah sebatang pohon.
Yang kesepuluh, firman Allah l:
Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: “Wahai ayahku, ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita),” adalah permintaan mereka agar tidak terpaksa lagi keluar rumah untuk memberi minum.
Yang kesebelas, firman Allah l:
“Maka tatkala Musa telah menyelesaikan waktu yang ditentukan dan dia berangkat dengan keluarganya, dilihatnyalah api di lereng gunung ia berkata kepada keluarganya: ‘Tunggulah (di sini)…’.” (Al-Qashash: 29)
Ini adalah dalil bahwa hukum asal wanita itu tetap di rumah, tidak ikhtilath (berbaur) dengan kaum pria.
Dari kisah ini, kita dapat memetik banyak faedah lain. Di antaranya adalah sebuah kaidah syar’i bahwa syariat orang-orang sebelum kita menjadi bagian syariat kita juga, selama syariat kita tidak menyelisihinya.
Melalui kisah dan kaidah ini, jelaslah bahwa wanita itu tidak bercampur-baur dengan kaum pria. Tidaklah mereka keluar melainkan karena keadaan yang sangat darurat, baik untuk menunaikan hajat atau menggembala kambing. Sebab, kaum pria wajib bertanggung jawab tentang urusan kaum wanita dan kebutuhan mereka.
Kemudian, setelah selesai menunaikan hajatnya karena alasan darurat, hendaknya dia dalam posisi terpisah, jauh dari kaum laki-laki agar tidak ikhtilath dengan mereka.
Itulah kemuliaan yang harus ditempuh oleh seorang wanita sehingga tidak menimbulkan gejolak fitnah di dalam kehidupan bermasyarakat.
Sebab itulah, Allah l berfirman:
“Di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya).”
Artinya, jauh dari kaum laki-laki.
Itulah syariat Allah k yang diberlakukan pada syariat kita dan syariat para nabi sebelumnya. Syariat yang ditetapkan Dzat yang Maha Mengetahui kebutuhan dan keadaan makhluk ciptaan-Nya.
Allah l berfirman:
“Dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (Al-Maidah: 50)
Pertanyaan dalam ayat ini mengandung makna pengingkaran, yang artinya memang tidak ada satu pun yang lebih baik hukumnya daripada Allah l.
Allah Maha Mengetahui keadaan dan perkembangan makhluk ciptaan-Nya. Dia Mahabijaksana dalam menetapkan syariat bagi makhluk ciptaan-Nya. Tidak mungkin merugikan dan menzalimi makhluk ciptaan-Nya, kapan pun dan di mana pun.
Akan tetapi sebagaimana Allah l sebutkan pada akhir ayat tersebut, bahwasanya yang memahami kenyataan ini tidak lain hanyalah mereka yang yakin kepada Allah l dan syariat-Nya.
Penutup
Setelah menyempurnakan waktu yang disepakati sebagai mahar pernikahannya, Nabi Musa q bersiap kembali membawa keluarganya menuju tanah kelahirannya, Mesir.
Mulailah babak baru dalam kehidupan beliau sebagai pengemban risalah.2
Wallahul muwaffiq.


1 Para ulama berselisih pendapat tentang siapa orang tua yang shalih tersebut. Ibnu Katsir t merajihkan bahwa dia bukan Nabi Syu’aib q. Alasan beliau antara lain ialah, seandainya memang Nabi Syu’aib, tentulah akan disebutkan dengan jelas di dalam Al-Qur’an. Tidak pula ada hadits shahih yang menyebutkan secara tegas tentang nama orang tua yang shalih ini. Wallahu a’lam.
2 Kisah selanjutnya, dapat dilihat pada edisi-edisi sebelumnya.

Bersiap Kembali ke Madinah (perang tabuk bagian 3)

(dituis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Harits)

 

Peperangan urung terjadi. Tidak diketahui alasan yang pasti mengapa peperangan itu tidak terjadi, walaupun ada yang menyebutkan salah satu alasan itu di antaranya; pasukan Romawi lebih senang tinggal di dalam wilayah Syam untuk berlindung di benteng-bentengnya ketika sampai kepada mereka berita tentang kekuatan pasukan muslimin.
Apa pun alasannya, Rasulullah n tetap di Tabuk selama beberapa hari, dan mengirim beberapa pasukan kecil ke sekitar daerah Tabuk. Tindakan yang dilakukan oleh Rasulullah n ini menambah kekuatan wibawa Islam di wilayah utara jazirah ‘Arab dan membuka jalan ke arah penaklukan daerah Syam sesudah itu.
Walaupun tidak terjadi pertempuran, ada sahabat yang meninggal dunia.
Abdullah bin Mas’ud z menceritakan, pada suatu malam yang sunyi dia terjaga dari tidurnya dan melihat ada selarik api di bagian agak jauh dari pasukan. Beliau berusaha mendekati cahaya api tersebut. Ternyata, Rasulullah n, Abu Bakr dan ‘Umar c sedang mengurus jenazah ‘Abdullah Dzul Bijadain Al-Muzani.
Rupanya, Rasulullah n bersama kedua sahabatnya itu sudah menggali kuburan untuk jenazahnya. Rasulullah n masuk ke dalam liang kubur itu, sementara Abu Bakr dan ‘Umar mendekatkan jenazah itu kepada beliau yang berkata, “Kemarikan jenazah saudaramu itu.”
Setelah meletakkannya di dalam kubur tersebut, beliau berdoa, “Ya Allah, sesungguhnya aku meridhainya, maka ridhailah dia.” Mendengar doa itu, Abdullah bin Mas’ud z berkata dalam hati, “Duhai, kiranya akulah yang dikuburkan itu.”

Makar Kaum Munafik
Perang Tabuk dinamakan juga ghazwatul ‘usrah (Perang Kesulitan), karena menyatunya berbagai kesulitan atas kaum muslimin, baik dalam hal kendaraan, perbekalan, air, cuaca, medan, maupun gangguan orang-orang munafik. Akan tetapi, sahabat-sahabat Rasulullah n begitu tabah memikul segala kesulitan tersebut di jalan Allah l. Semoga Allah l meridhai mereka.
Bagaimanapun, kaum munafik tidak pernah membiarkan satu peluang pun untuk menjatuhkan Islam dan kaum muslimin. Terlebih lagi, di dalam peperangan ini. Sejak awal persiapan, mereka sudah mulai berusaha meruntuhkan semangat kaum muslimin agar tidak berangkat berjihad di panas yang terik ini.
Dalam masa-masa perang Tabuk inilah turun surat At-Taubah membeberkan watak asli kaum munafikin. Allah l benar-benar membuka aib mereka dan menampakkan kejahatan hati mereka kepada kaum mukminin dengan lengkap dan jelas. Allah l menerangkan alasan yang mereka buat-buat agar tetap tinggal di Madinah, tidak ikut berperang.
Allah l berfirman:
Kalau yang kamu serukan kepada mereka itu keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak berapa jauh, pastilah mereka mengikutimu, tetapi tempat yang dituju itu amat jauh terasa oleh mereka. Mereka akan bersumpah dengan (nama) Allah: “Jikalau kami sanggup tentulah kami berangkat bersama-samamu.” Mereka membinasakan diri mereka sendiri dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang berdusta. Semoga Allah memaafkanmu. Mengapa kamu memberi izin kepada mereka (untuk tidak pergi berperang), sebelum jelas bagimu orang-orang yang benar (dalam uzurnya) dan sebelum kamu ketahui orang-orang yang berdusta? Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, tidak akan meminta izin kepadamu untuk (tidak ikut) berjihad dengan harta dan diri mereka, dan Allah mengetahui orang-orang yang bertakwa. (At-Taubah: 42-44)
Ibnu Katsir t dalam tafsirnya menerangkan, “Allah l mencela orang-orang yang tertinggal dari Nabi n dalam perang Tabuk sesudah meminta izin dan menampakkan bahwa mereka adalah orang-orang yang mempunyai uzur, padahal tidak demikian.”
Allah l berfirman: لَوْ كَانَ عَرَضًا قَرِيبًا (Kalau yang kamu serukan kepada mereka itu keuntungan yang mudah diperoleh), kata Ibnu ‘Abbas c, “(Artinya) rampasan perang yang dekat (mudah diperoleh); وَسَفَرًا قَاصِدًا (dan perjalanan yang tidak berapa jauh), yang dekat juga; pasti mereka mengikutimu untuk mendapatkannya, tetapi perjalanan ke Syam amat jauh terasa oleh mereka. Apabila kamu kembali kepada mereka, tentu mereka akan bersumpah, “Seandainya kami tidak mempunyai uzur, pasti kami berangkat bersamamu.”
Itulah sebagian alasan mereka yang dibuat-buat.
Ada pula di antara mereka yang ikut serta sampai di Tabuk, ternyata berusaha menyebarkan keraguan dalam hati kaum muslimin.
Ketika Rasulullah n kehilangan untanya, seorang munafik mengatakan, “Kalau memang Muhammad mengaku nabi dan menyampaikan kepada kamu berita dari langit, mengapa dia tidak mengetahui di mana untanya berada?”
Rasulullah n pun berkata, “Ada orang yang mengatakan, ‘Kalau memang Muhammad mengaku nabi dan menyampaikan kepada kamu berita dari langit, mengapa dia tidak mengetahui di mana untanya berada?’ Demi Allah, saya memang tidak mengetahui apa-apa kecuali yang diberitahukan oleh Allah l. Dan Allah l telah menerangkan kepada saya di mana unta tersebut. Unta itu di lembah anu, di jalan anu, dan talinya tersangkut sebatang pohon.”
‘Umarah, salah seorang sahabat, ada di dekat beliau.
Tak lama, beberapa sahabat berangkat hendak mencarinya.
‘Umarah pun kembali ke tendanya dan berkata, “Demi Allah, sungguh ajaib yang diceritakan oleh Rasulullah n tadi, tentang perkataan seseorang yang diberitakan oleh Allah l kepada beliau.” Mendengar ucapan ‘Umarah ini, salah seorang yang ada di situ, tapi tidak mendengar langsung perkataan Rasulullah n, berkata, “Demi Allah yang diucapkan oleh Rasulullah itu adalah perkataan yang diucapkan Zaid bin Lushaid, sebelum engkau datang.”
‘Umarah menjadi marah, dia pun mencekik leher Zaid dan mengusirnya dari tenda itu serta melarangnya menyertai dirinya lagi, “Di tendaku ada kejadian begini, dalam keadaan aku tidak tahu? Keluarlah kau dari tendaku, wahai musuh Allah. Jangan menyertaiku lagi.”
Ucapan berbahaya ini masih ringan. Kaum munafik tidak berhenti sampai di situ. Mereka pun berencana membunuh Rasulullah n.
Waktu itu, Rasulullah n mulai bertolak menuju Madinah. Dalam perjalanan, beberapa gelintir munafik berupaya melakukan tipu daya untuk membunuh Rasulullah n dengan cara mendorong beliau jatuh dari puncak tebing di jalan tersebut. Kemudian, Rasulullah n mengatakan, “Siapa di antara kalian mau melalui dasar lembah, itu lebih luas bagi kalian.”
Akhirnya, Rasulullah n melalui jalan yang mendaki, sedangkan pasukan muslimin melewati dasar lembah, kecuali beberapa orang yang ingin membunuh Rasulullah n tadi. Karena itu, ketika mereka mendengar ucapan beliau, mereka segera bersiap-siap dan menutupi muka mereka.
Alangkah keji rencana mereka terhadap Rasulullah n.
Rasulullah n memanggil Hudzaifah Ibnul Yaman dan ‘Ammar bin Yasir agar berjalan bersama beliau. Lalu beliau memerintahkan ‘Ammar memegang tali kekang unta, sedangkan Hudzaifah menuntunnya.
Pada waktu mereka dalam keadaan demikian, tiba-tiba terdengar suara di belakang mereka. Rupanya, orang-orang munafik tadi sedang berusaha menyusul beliau.
Rasulullah n marah dan memerintahkan agar Hudzaifah menjauhkan mereka. Karena melihat kemarahan di wajah Rasulullah n, Hudzaifah segera berbalik sambil membawa sebatang tongkat yang berkeluk kepalanya. Kemudian, dia menghadang kendaraan mereka dan memukulnya dengan tongkat.
Hudzaifah pun melihat orang-orang munafik itu dalam keadaan menutup wajah mereka. Hudzaifah mengira mereka menutupi wajah itu sekadar kebiasaan musafir, padahal tidak. Mereka ingin menyembunyikan identitas yang sesungguhnya.
Demikianlah keadaan kaum munafik, mereka menutupi diri, bersembunyi dari manusia, tetapi tidak dapat menyembunyikan diri dari Allah l, karena Allah l beserta mereka. Allah l sudah memperhitungkan segala tindak-tanduk mereka dan telah menyiapkan balasan yang setimpal buat mereka di dunia dan akhirat.
Rasa takut menyelinap dalam hati mereka ketika melihat Hudzaifah berdiri di jalan yang akan mereka lalui. Mereka mengira tipu daya mereka sudah diketahui oleh Hudzaifah. Akhirnya, mereka segera bergabung dengan pasukan, sementara Hudzaifah berbalik menuju Rasulullah n.
Setelah mendekat, Rasulullah n berkata, “Pukullah kendaraan ini, wahai Hudzaifah! Dan berjalanlah, wahai ‘Ammar!”
Rombongan mempercepat jalan mereka hingga tiba di puncak bukit, lalu keluar dari jalan itu menunggu pasukan.
Nabi n bertanya kepada Hudzaifah, “Tahukah engkau siapa rombongan pengendara tadi?”
Kata Hudzaifah, “Saya mengenal kendaraan si Fulan dan si Fulan. Waktu itu malam sangat gelap dan mereka menutupi wajah mereka.”
Rasulullah n bertanya lagi, “Tahukah kamu apa yang mereka inginkan?”
Keduanya berkata, “Tidak. Demi Allah, wahai Rasulullah.”
Kata beliau, “Sesungguhnya mereka berencana hendak ikut berjalan bersamaku, dan jika telah tiba di jalan yang berbukit, mereka akan mendorongku sampai jatuh.”
Serempak mereka berkata, “Kalau begitu, mengapa Anda tidak memerintahkan mereka dipanggil, agar kami penggal leher mereka?”
Beliau pun berkata, “Saya tidak suka orang akan mengatakan bahwa Muhammad (n) membunuh sahabatnya.” Kemudian beliau menyebut nama-nama mereka dan berkata, “Rahasiakanlah oleh kalian berdua!”1
Sejak saat itu pula Hudzaifah dikenal sebagai pemegang rahasia nama-nama kaum munafik lengkap dengan ciri-ciri mereka. Sepeninggal Rasulullah n, para sahabat mengetahui seseorang adalah munafik, apabila Hudzaifah tidak mau menyolatkan jenazahnya.
Pada suatu kesempatan, dalam perjalanan melelahkan itu, terdengar pula sebuah ucapan dari salah seorang prajurit, “Kita belum pernah melihat qurra’ (ahli baca Qur’an) kita seperti mereka ini,” yang dimaksudkannya adalah pribadi Rasul n dan para sahabat, “Paling gendut perutnya, tidak (pernah kita lihat) yang paling dusta ucapannya, dan tidak (pernah kita lihat) yang paling takut ketika bertemu (musuh).”2
Ketika dilaporkan kepada Rasulullah n dan mereka ditanya, mereka mengatakan, “Kami hanya bergurau.”
Namun, ternyata Rasulullah n hanya menjawab dengan membacakan firman Allah l:
“Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” (At-Taubah: 65)
Dengan tegas pula Allah l menyatakan bahwa berolok-olok dengan Allah l, ayat-ayat-Nya serta Rasul-Nya adalah kekafiran:
“Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu telah kafir sesudah beriman.”
Para ulama menjadikan ayat ini sebagai dalil bahwa menjadikan Allah l, ayat-Nya, dan Rasul-Nya sebagai bahan ejekan, hukumnya kafir, keluar dari Islam.
Demikianlah keadaan kaum munafik. Di zaman itu mereka menyembunyikan jatidirinya agar tidak turun ayat membeberkan kejahatan mereka. Di zaman ini, mereka dengan terang-terangan menampakkan kejahatan tersebut. Mereka terang-terangan menjadikan Allah l, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya sebagai bahan ejekan, cemoohan, dan hinaan. Mereka berusaha menampilkan citra kekafiran, apa pun bentuknya, adalah baik. Sedangkan seruan kembali kepada Islam adalah keburukan, radikal, ekstrem, jumud, statis, kemunduran, dan segudang ejekan lainnya. Mereka lebih bangga dengan semua yang serba Barat. Kemajuan adalah apa yang datang dari Barat.
Hanya kepada Allah l kita memohon, semoga Allah l tidak memperbanyak jumlah mereka.
(insya Allah bersambung)


1 HR. Ahmad (5/453), pentahqiq Zadul Ma’ad mengatakan rawi-rawinya tsiqat (tepercaya) dan ada penguatnya dalam Shahih Muslim (2779) (11). Wallahu a’lam.
2 Artinya, mereka adalah orang-orang yang sangat gendut perutnya karena kebanyakan makan, tidak ada pekerjaan lain kecuali makan, selalu berbicara dusta, dan sangat takut jika bertemu musuh serta pasti melarikan diri. (Syarah Riyadhis Shalihin, Asy-Syaikh Al-’Utsaimin t, 1/124).

Membendung Gelombang Kesyirikan Dan Penyimpangan Akidah

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abdurrahman Mubarak)

 

Seorang muslim haruslah memahami serta meyakini bahwa manusia dan jin diciptakan untuk satu hikmah yang sangat agung, yaitu beribadah kepada Allah l. Allah l telah memberikan berbagai macam rezeki untuk membantu hamba-hamba-Nya beribadah. Allah l berfirman:
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan. Sesungguhnya Allah dialah Maha Pemberi Rezeki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.” (Adz-Dzariyat: 56-58)
Allah l mengutus para rasul untuk menjelaskan bagaimana cara beribadah kepada Allah l. Allah l berfirman:
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah thaghut itu.” (An-Nahl: 36)
Allah l juga telah menciptakan hamba-Nya di atas fitrah untuk bertauhid dalam beribadah kepada Allah l. Allah l berfirman:
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Ar-Rum: 30)
Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah berkata: “Fitrah adalah Islam sebagaimana sabda Rasulullah n:
كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ
“Setiap yang lahir dilahirkan di atas fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikan anaknya sebagai Yahudi atau Nasrani atau Majusi.” (HR. Al-Bukhari no. 1385, Muslim no. 2658 dari Abu Hurairah z) [Lihat Syarah Fadhlul Islam hlm. 111]
Beliau berkata pula: “Ini menunjukkan bahwa hukum asalnya, manusia diberi fitrah kepada Islam, yaitu mengikhlaskan amal dan ibadah hanya kepada Allah l. Jika dia selamat dari tarbiyah (pendidikan) yang jelek dan orang tua yang kafir niscaya dia akan mengarah (condong) kepada Islam dan mengikuti Rasul. Akan tetapi dia menyimpang disebabkan dai-dai yang sesat.” (Lihat Syarah Fadhlul Islam hlm. 111)
Allah l menciptakan manusia di atas fitrah. Namun setan dari kalangan jin dan manusia terus berupaya menyesatkan bani Adam dari tauhid dengan berbagai makar. Setan membungkus kesesatan mereka dengan kalimat-kalimat yang menipu. Allah l berfirman:
“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Rabbmu menghendaki niscaya mereka tidak mengerjakannya. Maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.” (Al-An’am: 112)
Rasulullah n bersabda: Allah l berfirman:
وَإِنِّي خَلَقْتُ عِبَادِي حُنَفَاءَ كُلَّهُمْ فَأَتَتْهُمُ الشَّيَاطِينُ فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دِيْنِهِمْ
“Sungguh Aku telah menciptakan hamba-Ku semuanya dalam keadaan lurus, kemudian datang kepada mereka setan lalu menyesatkan mereka dari agama mereka.” (HR. Muslim no. 2865 dari ‘Iyadh bin Himar z)

Fenomena pascareformasi
Ketahuilah, semoga Allah l merahmati Anda. Diantara masalah yang harus dicermati di masa reformasi ini adalah semakin beraninya tokoh-tokoh kesesatan dan penyeru kesyirikan dalam menarik massa dan melakukan tipu daya agar kaum muslimin mengikuti kesesatan mereka. Penyeru kesyirikan semakin lantang menjerat umat kepada kesyirikan. Kaum Khawarij semakin berani menentang pemerintah muslimin dengan ucapan dan perbuatan mereka. Berbagai macam kelompok sempalan seperti Ahmadiyah, Syiah, Al-Qiyadah Al-Islamiyah, dan berbagai macam kelompok sempalan lainnya, semakin berani menampakkan jatidiri mereka.
Alangkah bagusnya nasihat ulama kita: Ahlul bid’ah itu seperti kalajengking yang menyembunyikan sengatnya di dalam tanah. Ketika memiliki kekuatan dan kesempatan, dia akan menampakkan sengat mereka dan menyengat yang lain.

Apakah sebab terjadinya semua musibah ini?
Ketahuilah, diantara sebab terbesar yang melatarbelakangi muncul dan semakin menyebarnya kesyirikan serta penyimpangan kelompok sempalan adalah ulah orang-orang yang telah meruntuhkan wibawa pemerintah di hadapan rakyatnya. Akhirnya, semua orang merasa berhak bicara tentang masalah umat dan mengkritisi pemerintah. Ditambah lagi dengan semakin gencarnya seruan HAM (Hak Asasi Manusia)–produk Barat yang dipaksakan di negeri kaum muslimin–, sehingga kelompok-kelompok sempalan dan penyebar kesyirikan berlindung di balik produk Barat ini. Di pihak lain, pemerintah muslimin terus “dikekang” untuk menindak mereka dengan “ancaman” pelanggaran HAM. Sungguh telah terbukti ucapan Rasulullah n:
إِنَّهَا سَتَأْتِي عَلَى النَّاسِ سِنُونَ خَدَّاعَةٌ يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ، وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ، وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ، وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ، وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ. قِيلَ: وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ؟ قَالَ: السَّفِيهُ يَتَكَلَّمُ فِي أَمْرِ العَامَّةِ
“Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh tipu muslihat. Ketika itu, si pendusta dibenarkan sedangkan orang yang jujur dianggap dusta. Pengkhianat dipercaya, sedangkan orang amanah dianggap khianat, dan Ruwaibidhah akan tampil bicara.” Para sahabat bertanya, “Siapakah Ruwaibidhah?” Rasulullah n menjawab, “Seorang dungu yang berbicara tentang masalah umat.” (HR. Ahmad, …..)
Wahai orang-orang yang telah merusak kehormatan pemerintah kaum muslimin, kalian harus bertaubat kepada Allah l. Kalian harus bertanggung jawab untuk mengembalikan wibawa dan kehormatan pemerintah di hadapan rakyatnya, sehingga upaya pemerintah untuk mengingkari kemungkaran mendapatkan tanggapan positif dari rakyatnya. Inilah satu bentuk taubat kalian kepada Allah l. Rasulullah n berkata:
“Akan ada penguasa setelah aku wafat maka muliakanlah mereka. Barangsiapa yang mencari jalan untuk menghinakan mereka maka dia telah membuat satu celah dalam Islam, dan Allah l tidak akan menerima taubatnya hingga bisa mengembalikan kepada keadaan semula.” (HR. Ibnu Abi ‘Ashim no. 1079 dan dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani)
Mudah-mudahan Allah l memberikan taufiq kepada pemerintah muslimin dalam segala keputusan dan langkah mereka untuk kemaslahatan muslimin.

Sebab-sebab penyimpangan dari aqidah yang benar
Ketahuilah, semoga Allah l merahmati Anda. Penyimpangan dari aqidah Islam adalah suatu kebinasaan. Seseorang yang hidup dalam keadaan tidak memiliki aqidah yang benar akan terus dibayangi keraguan dan bayangan-bayangan jelek yang akan menghalanginya mendapatkan kebahagiaan hidup.
Oleh sebab itu, kita mesti mengetahui sebab-sebab penyimpangan dari aqidah yang benar dan menjaga diri, keluarga serta kaum muslimin secara umum dari sebab penyimpangan tersebut.
Asy-Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullah telah menjelaskan kepada kita berbagai penyebab terjadinya penyimpangan aqidah. Diantara sebab penyimpangan yang beliau sebutkan adalah:
1.    Ketidaktahuan seseorang tentang aqidah yang benar, karena lalai dan berpaling dari mempelajarinya.
2.    Taqlid buta kepada nenek moyang.
3.    Ghuluw (mengultuskan) terhadap orang-orang yang dianggap wali dan orang-orang shalih.
4.    Lalai dari mentadabburi ayat-ayat Allah l yang syar’iyah maupun kauniyah.
5.    Kosongnya rumah-rumah muslimin dari pendidikan dan bimbingan Islami.
6.    Lembaga-lembaga pendidikan dan media informasi kurang perhatian dalam masalah pendidikan agama, bahkan kebanyakan media informasi sekarang telah menjadi alat untuk merusak aqidah umat.
7.    Disusupkannya aqidah orang kafir ke dalam Islam.
8.    Da’i-da’i yang menyeru kepada kesesatan, yang gencar menyebarkan kesesatan mereka.
(Disarikan dari Muqarrar Kitabut Tauhid lil Fashlil Awal, hlm. 13-15 dan Kitabut Tauhid hlm. 7-8)

Gelombang kesesatan dan kesyirikan di masa reformasi
Barangsiapa yang merasakan dan menilai keadaan di sekitarnya niscaya akan melihat dan merasakan bahwa delapan perkara yang disebutkan Asy-Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullah sangat gencar ditebarkan di tengah kaum muslimin.
Umat sekarang terus dijauhkan dari mempelajari agamanya sehingga mereka tidak mengetahui perkara agama mereka. Prinsip-prinsip agama juga terus dikikis dari hati muslimin, terkhusus prinsip wala’ (loyalitas) kepada kaum muslimin dan bara’ (berlepas diri) dari orang kafir.
Allah l berfirman:
“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dari-Nya, serta dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung.” (Al-Mujadilah: 22)
Akibat kebodohan mereka, mereka larut bersama orang kafir dalam perkara yang bisa merusak aqidah. Mereka turut meramaikan natal, imlek, dan acara-acara orang kafir lainnya.
Demikian juga taklid yang semakin gencar. Seruan untuk kembali kepada budaya leluhur digembar-gemborkan. Umat diseret untuk melakukan dan mengikuti nenek moyang mereka, walaupun amalan yang dilakukan nenek moyang mereka menyelisihi tauhid yang diajarkan Islam. Tambahan pula, ini adalah salah satu perbuatan kaum musyrikin. Allah l berfirman:
Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah.” Mereka menjawab, “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami.” (Apakah mereka akan mengikuti juga) walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk? (Al-Baqarah: 170)
Adapun pengultusan individu sehingga menjadikannya sesembahan selain Allah l, sungguh telah banyak dilakukan. Telah terbukti ucapan Rasulullah n:
لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ …
“Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang sebelum kalian…”
Allah l berfirman tentang ahlul kitab Yahudi dan Nasrani:
“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Rabb selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al-Masih putra Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Ilah yang Esa, tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia. Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (At-Taubah: 31)
Di umat ini pun ada orang-orang yang mengultuskan tokoh-tokoh mereka, menaati mereka dalam perbuatan maksiat kepada Allah l. Yang banyak terjatuh dalam pengultusan individu adalah kelompok Sufi. Asy-Syaikh Jamil Zainu berkata: “Sufi ta’ashub (fanatik) kepada guru-guru mereka, walaupun guru mereka menyelisihi firman Allah l dan ucapan Rasulullah n. Padahal Allah l berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya, dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al-Hujurat: 1)
Rasulullah n bersabda:
لاَ طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِي مَعْصِيَةِ الْخَالِقِ
“Tidak ada ketaatan kepada seseorang dalam berbuat maksiat kepada Al-Khaliq (Allah).” (Ash-Shufiyah fi Mizanil Kitab was Sunnah hlm. 17)
Banyak kaum muslimin yang tidak bisa mengambil pelajaran dari musibah dan bencana yang melanda negeri mereka. Berbagai bencana yang seharusnya dijadikan ibrah untuk introspeksi diri, namun yang terjadi mereka justru semakin menjauhkan dari prinsip agama ini. Mereka malah menuding pemerintah dan terus berupaya “menggoyang” pemerintahan. Tidak sedikit dari mereka yang malah melakukan kesyirikan ketika terkena musibah.
Kalau mereka mau mentadabburi Al-Qur’an niscaya mereka akan dapati bahwa musibah dan berbagai bencana ini merupakan peringatan untuk memperbaiki diri. Allah l berfirman:
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (Ar-Rum: 41)
Di rumah-rumah kaum muslimin, anak mereka jauh dari pendidikan agama. Bahkan sebagian mereka tak merasa takut untuk memasukkan putra-putra mereka belajar di lembaga-lembaga pendidikan kafir, membiarkan anak-anak mereka berteman dengan orang kafir. Padahal Allah l berfirman:
“Sebagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman. Karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran.” (Al-Baqarah: 109)
Mereka lupa bahwa baik tidaknya agama anaknya adalah disebabkan pendidikan dari orang tua mereka. Rasulullah n berkata:
كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ
“Setiap yang lahir dilahirkan di atas fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadi sebab anaknya menjadi Yahudi atau Nashrani atau Majusi.” (HR. Al-Bukhari no. 1385, Muslim no. 2658)
Diantara sarana yang besar dalam proses perusakan aqidah adalah serangan media massa cetak dan elektronik. Berbagai iklan kesyirikan dan tayangan yang membawa penyakit kekufuran disuguhkan kepada kaum muslimin dan anak-anak mereka. Mereka tidak sadar, sesungguhnya aqidah mereka tengah dirusak dan dikotori dengan tayangan dan acara-acara kesyirikan serta kekufuran. Innalillahi wainna ilaihi raji’un.

Sebab yang menjaga dari penyimpangan aqidah
Ketahuilah, semoga Allah l merahmati Anda. Kita harus segera sadar dan berupaya membendung arus penyimpangan ini dengan merujuk kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan bimbingan para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah.
Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan telah menerangkan beberapa hal yang bisa diamalkan untuk menjaga dari penyimpangan aqidah:
1.    Merujuk kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dalam menetapkan masalah aqidah disertai mengenal kebobrokan aqidah kelompok menyimpang dalam rangka menghindari dan membantahnya.
2.    Memberikan perhatian lebih besar untuk mengajarkan aqidah.
3.    Mengajarkan kitab-kitab salaf, menjauhkan diri dari kitab-kitab kelompok sesat.
4.    Tampilnya dai-dai tauhid menjelaskan kepada umat tentang aqidah salaf serta membantah kesesatan orang-orang yang menyimpang.
(Disarikan dari Muqarrar Kitabut Tauhid lil Fashlil Awal, hlm. 14-15)
Wahai orang-orang yang tidak pernah puas dengan pemerintahnya, koreksilah diri kalian dengan bimbingan agama ini. Ketahuilah, kebaikan negara ini bukanlah dengan caci-maki dan hujatan kalian kepada pemerintah. Ketahuilah bahwa perbuatan kalian adalah perbuatan khuruj (menentang/memberontak pemerintah). Karena para ulama menjelaskan bahwa Khawarij ada dua kelompok:
1.    Khawarij mubasyir, mereka yang terjun langsung mengangkat senjata mereka untuk memberontak kepada pemerintah muslimin.
2.    Khawarij qa’adiyah, mereka yang tetap duduk di tempat mereka namun ucapan, ceramah, dan orasi-orasi yang mereka lakukan menghasut umat untuk membenci dan melawan pemerintah muslimin. (Lihat Fathul Bari)
Mudah-mudahan Allah l memberikan taufiq dan pertolongan kepada pemerintah muslimin dalam menyikapi dua kelompok Khawarij ini.
Ketahuilah, kedamaian dan ketenteraman di negeri ini akan dicapai manakala kita kembali kepada agama Allah l, mempelajari dan mengamalkan agama Allah l. Allah l berfirman:
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Al-A’raf: 96)
Rasulullah n berkata:
إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ، سَلَّطَ اللهُ عَلَيْكُمْ ذُلًّا لَا يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ
“Jika kalian jual beli dengan sistem ‘inah (salah satu bentuk tipu daya untuk melakukan riba), memegang ekor sapi, senang dengan pertanian hingga kalian meninggalkan jihad maka Allah l akan menimpakan kehinaan pada kalian dan Allah l tak akan menghilangkannya sampai kalian kembali kepada agama kalian.” (HR. Abu Dawud no. 3462 disebutkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 11)
Kembali kepada agama Allah l dengan mempelajari aqidah yang benar dan menjauhkan kesyirikan serta melaksanakan berbagai ketatan dan meninggalkan kemaksiatan. Karena Allah l telah berjanji:
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap beribadah kepada-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (An-Nur: 55)
Mudah-mudahan Allah l memberikan keistiqamahan kepada kita, serta memberikan taufiq dan inayah-Nya dalam usaha mendakwahkan aqidah tauhid kepada umat.
Wallahu a’lam bish-shawab.

Tiga Pesan Nabi Nan Agung

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Abdulmu’thi, Lc.)

 

Dari Abu Dzar z, ia berkata: Rasulullah n bersabda kepadaku:
اتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
“Bertakwalah kepada Allah di mana pun kamu berada. Ikutilah perbuatan jelek dengan perbuatan baik niscaya kebaikan akan menghapusnya dan pergaulilah manusia dengan budi pekerti yang mulia.” (HR. At-Tirmidzi dalam Sunannya, Kitabul Birri Washshilah, hadits no. 1987. At-Tirmidzi mengatakan: Hadits ini hasan shahih. Asy-Syaikh Al-Albani menghasankan dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi)
Pesan-pesan mulia dalam hadits ini meskipun Nabi n tujukan kepada sahabat Abu Dzar Jundub bin Junadah z, namun sebenarnya juga diarahkan kepada seluruh umatnya. Karena telah maklum dalam kaidah ushul fiqih bahwa pembicaraan Allah l dan Rasul-Nya (sebagai penentu syariat) bila diarahkan kepada seorang dari umat ini, maka itu sesungguhnya ditujukan pula kepada seluruh umat ini kecuali ada dalil yang menyatakan kekhususan. Seperti itu pula kaidah yang lainnya, bahwa dianggap adalah keumuman lafadz bukan kekhususan peristiwa.
Saudaraku, bila sahabat Nabi n sebagai generasi terbaik umat ini perlu diberi arahan dan disampaikan kepadanya pesan, maka kita yang hidup di masa sekarang tentunya lebih membutuhkan.
Tiga wasiat yang mulia ini adalah faktor utama seorang meraih kebahagiaan hidup di dunia yang fana ini dan akhirat yang abadi kelak. Karena wasiat tersebut mengandung bentuk pelaksanakan hak-hak Allah l dan hak hamba-hamba-Nya. Seseorang akan dianggap baik bila bagus hubungannya dengan Allah l dan bagus pergaulannya dengan sesama manusia. Oleh karena itu, banyak sekali ayat Al-Qur’an yang memerintahkan untuk mendirikan shalat dan memberikan zakat. Pada amalan shalat terkandung kedekatan yang tulus antara hamba dengan Allah l, sedangkan amalan zakat mencerminkan sikap belas kasihan kepada orang yang kesulitan dan membutuhkan. Oleh karena itu, Nabi kita n banyak melakukan shalat dan memberikan shadaqah.

Wasiat pertama dan paling utama dalam hadits ini adalah takwa kepada Allah l di manapun berada
Takwa, seperti dikatakan Thalq bin Habib t, adalah: “Kamu melaksanakan ketaatan kepada Allah l, di atas cahaya (ilmu) dari-Nya dengan mengharap pahala-Nya. Kamu (juga) meninggalkan bermaksiat kepada Allah l, di atas cahaya (ilmu) dari-Nya dan karena takut siksa-Nya.”
Umar bin Abdul Aziz t mengatakan, “Takwa kepada Allah l adalah meninggalkan apa yang Allah l haramkan dan melaksanakan apa yang Ia wajibkan.” (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, 1/400)
Allah l berfirman dengan menyebutkan sifat-sifat orang yang bertakwa:
“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan, dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (Al-Baqarah: 177)
Dari sini, maka takwa bukanlah kalimat yang sunyi dari makna dan bukan pula pengakuan yang kosong dari bukti. Takwa adalah kata yang sangat luas cakupannya. Takwa adalah melaksanakan apa yang dibawa oleh syariat Islam ini baik yang berupa aqidah, ibadah, muamalah, dan akhlak.
Karena takwa adalah bentuk pengabdian kepada Allah l,, dia tidak dibatasi oleh waktu dan tempat. Bukan orang bertakwa yang sebenarnya bila dia di hadapan orang terlihat taat, namun di saat sendirian dia bermaksiat. Seperti itu pula ketika berada di masjid terlihat ruku’ dan sujud namun di saat berada di pasar, di tempat kerja, dan tempat-tempat lainnya meninggalkan perintah Allah l dan melanggar batasan-batasan-Nya. Bertakwa kepada Allah l dengan sebenar-benar takwa adalah dengan mensyukuri nikmat-Nya dan tidak mengkufuri serta mengingat Allah l dan tidak melupakan-Nya di saat lapang atau sempit, dalam kondisi senang ataupun sedih.
Bagi orang yang bertakwa adalah janji kemuliaan di dunia dan akhirat. Diantara yang akan diperolehnya di dunia adalah:
1.    Dibukanya keberkahan, dimudahkan semua urusannya, dan diberikan dia rezeki dari arah yang tak disangka-sangka. Allah l berfirman:
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.” (Al-A’raf: 96)
Juga firman-Nya:
“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (Ath-Thalaaq: 2-3)
2.    Memperoleh dukungan dan bantuan dari Allah l.
3.    Dijaga oleh Allah l dari tipu daya musuh.
Allah l berfirman:
“Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu.” (Ali Imran: 120)
Adapun di akhirat kelak, mereka mendapatkan surga dengan segala kenikmatannya, yang jiwa-jiwa mereka akan senantiasa bahagia dan mata pun sejuk karenanya. Allah l berfirman:
“Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa (disediakan) surga-surga yang penuh kenikmatan di sisi Rabbnya.” (Al-Qalam: 34)
Namun, ketakwaan yang sesungguhnya tidak akan diperoleh tanpa adanya ilmu. Dengan ilmu akan bisa dibedakan antara perintah dan larangan, kebaikan dan kejelekan. Bila ketakwaan telah menjadi baju bagi seseorang niscaya akan memunculkan sikap takut kepada Allah l dan selalu merasa diawasi oleh-Nya.
Inilah diantara rahasia mengapa tindak kejahatan di tengah masyarakat kita seolah tak bisa diakhiri, bahkan setiap hari semakin bertambah kejelekannya. Semua itu tidak lain karena rasa takut kepada Allah l melemah atau nyaris hilang. Memang, untuk tetap berada di atas ketakwaan tak semudah yang dibayangkan. Beragam bujuk rayu serta gangguan selalu menghadang. Akan tetapi manakala kita mengetahui manisnya buah yang akan dipetik dari ketakwaan, maka jalan untuk merealisasikannya terbuka lebar dan terasa mudah.

Wasiat atau pesan Nabi n yang kedua adalah agar melakukan amal kebaikan setelah terpeleset melakukan dosa dan kesalahan
Diantara faedah amal kebaikan adalah menghapus kesalahan. Memang, tak bisa dimungkiri bahwa terkadang seseorang terjerumus dalam kenistaan karena sekian banyak faktor. Diantaranya, lingkungan yang jelek, bisikan jiwa yang tidak baik, dan bujuk rayu setan. Jika iman seseorang itu lemah dan faktor-faktor tersebut menyelimutinya, akan sangat mudah seseorang tergelincir. Tetapi, Allah l lebih sayang terhadap hamba-Nya daripada hamba terhadap dirinya sendiri. Diantara bentuk kasih sayang-Nya bahwa dosa bisa dihapus dan dampak negatif dari dosa bisa hilang dengan bertaubat, istighfar, dan amal kebaikan yang dilakukan hamba.
Allah l berfirman:
“Dan dirikanlah shalat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.” (Hud: 114)
Sahabat Ibnu Mas’ud z berkisah bahwa dahulu ada seorang lelaki mencium seorang perempuan (yang tidak halal baginya). Kemudian lelaki itu datang kepada Nabi n dan menyebutkan perbuatannya. Maka turunlah kepadanya ayat tersebut. Orang itu berkata, “(Wahai Nabi), apakah hal ini khusus bagiku?” Nabi menjawab, “Bagi orang yang mengamalkannya dari umatku.” (Shahih Al-Bukhari no. 4687)
Hadits ini menunjukkan bahwa cahaya ketaatan mampu melenyapkan gelapnya kemaksiatan. Diantara ketaatan terbesar untuk menghapus dosa dan kesalahan adalah taubat dan istighfar kepada Allah l. Oleh karena itu, seorang muslim tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah l, sebesar apapun kesalahan yang dilakukannya. Bila suatu saat seseorang digoda oleh setan sehingga terjatuh ke dalam lumpur dosa, maka bersegeralah kembali kepada Allah l pasti dia akan mendapati-Nya Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Bergegaslah untuk memperbaiki diri dengan melakukan kebaikan karena satu kebaikan akan dilipatgandakan pahalanya oleh Allah l menjadi sepuluh.
Banyak hadits yang diriwayatkan dari Nabi n yang menerangkan bahwa amal kebaikan akan menghapus kesalahan. Diantaranya sabda beliau n:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa puasa Ramadhan karena dorongan iman dan mengharap pahala maka diampuni baginya apa yang telah lalu dari dosanya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Akan tetapi, dosa yang bisa dihapus dengan amal kebaikan adalah dosa kecil. Adapun dosa besar dihapuskan dengan cara seseorang bertaubat kepada Allah l darinya. Ini pendapat jumhur (kebanyakan) ulama seperti dikatakan oleh Al-Imam Ibnu Rajab t. (Jami’ul ‘Ulum 1/429)
Termasuk kasih sayang Allah l terhadap hamba-Nya, bila seseorang tidak memiliki dosa kecil, amal shalih yang dia lakukan dapat meringankan dosa besarnya sekadar menghapusnya dia terhadap dosa kecil. Jika dia tidak punya dosa kecil dan dosa besar, maka Allah l akan melipatgandakan pahala kepadanya. (Al-Wafi Syarh Arba’in hlm. 118)
Saudaraku, perlu diingat bahwa dosa yang kita lakukan akan berdampak negatif terhadap keimanan, kejiwaan, rezeki, dan seluruh keadaan kita. Sungguh tiada suatu bala’ (musibah) turun menimpa manusia kecuali karena dosa. Petaka tidaklah dicabut kecuali dengan taubat dan amal shalih. Mari kita banyak-banyak mengaca diri dengan memperbaiki kondisi. Semoga Allah l akan mengubah keadaan menjadi baik dan diberkahi.

Wasiat ketiga: Menggunakan akhlak yang mulia dalam pergaulan dengan sesama
Dengan menjalankan pesan ini, keserasian hidup bermasyarakat akan terwujud dan ketenteraman akan menebar. Adalah Rasulullah n seorang yang memiliki budi pekerti yang baik. Segala akhlak mulia dan perangai terpuji ada pada diri beliau sehingga kita diperintah untuk mencontohnya. Allah l berfirman:
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik.” (Al-Ahzab: 21)
Karena akhlak mulia termasuk pokok peradaban dalam kehidupan manusia, Islam telah menjunjung tinggi kedudukannya dan sangat memerhatikannya. Banyaknya ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi n adalah bukti terbaik atas pentingnya hal ini. Rasulullah n menyebutkan sabdanya:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ
“Sesungguhnya aku diutus (oleh Allah l) untuk menyempurnakan akhlak yang baik.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad. Asy-Syaikh Al-Albani t menshahihkannya dalam Shahih Al-Adab)
Baiknya akhlak adalah bukti atas baiknya keimanan seseorang. Pemiliknya akan memetik janji surga dan dekat majelisnya dengan Nabi n di hari kiamat. Berbudi pekerti yang luhur juga sebab utama seseorang meraih kecintaan dari manusia.
Seharusnya kita banyak menghiasi diri dengan akhlak mulia. Misalnya, dengan silaturahmi, memaafkan kesalahan, rendah hati, dan tidak menyombongkan diri serta bertutur kata yang lembut.
Ibnul Mubarak t mengatakan, “(Salah satu) bentuk akhlak mulia adalah wajah yang selalu berseri, memberikan kebaikan, dan mencegah diri dari menyakiti orang.” (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam 1/457)
Telah terbukti bahwa apa yang disebutkan oleh Ibnul Mubarak t adalah akhlak mulia yang cepat mendatangkan kecintaan dari manusia.
Cerahnya wajah saat berjumpa dengan saudaranya, diiringi senyuman dan ucapan salam, akan memunculkan suasana keakraban tersendiri. Akan tersebar diantara mereka ruh kasih sayang.
Memberi kebaikan kepada orang lain, artinya seseorang mencurahkan sebagian yang dimilikinya untuk kebaikan orang lain. Pemberian itu bisa berupa harta, tenaga, saran, dan bahkan dukungan dalam kebaikan. Sebab, biasanya orang akan mencintai orang yang berbuat baik kepadanya.
Menahan diri dari menyakiti orang, adalah karena setiap individu masyarakat menginginkan berlangsungnya kehidupan mereka dengan nyaman dan damai. Sehingga bila ada yang menimpakan gangguan kepada mereka dalam bentuk apa pun, ketenangan menjadi terusik dan keretakan di tengah masyarakat tak bisa dihindarkan.
Untuk bisa berhias diri dengan akhlak mulia tentu ada beberapa cara, diantaranya:
1.    Menelaah sejarah kehidupan Nabi Muhammad n berikut apa yang terkandung di dalamnya berupa perangai-perangai beliau yang terpuji.
2.    Memilih lingkungan dan teman yang baik.
3.    Duduk di majelis ulama untuk menimba ilmu mereka serta bersuri tauladan dengan mereka.
Demikianlah sekelumit penjelasan seputar tiga pesan Rasulullah n yang mulia, semoga Allah l memberikan karunia-Nya kepada kita untuk menjalankannya.
Wallahu a’lam bish-shawab.

Perangi Yahudi, Tinggalkan Jejak-jejak Mereka

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc)

 

Dari Abu Hurairah z, Rasulullah n bersabda:
لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُقَاتِلَ الْمُسْلِمُونَ الْيَهُودَ فَيَقْتُلُهُمُ الْمُسْلِمُونَ حَتَّى يَخْتَبِئَ الْيَهُودِيُّ مِنْ وَرَاءِ الْحَجَرِ وَالشَّجَرِ فَيَقُولُ الْحَجَرُ أَوِ الشَّجَرُ: يَا مُسْلِمُ، يَا عَبْدَ اللهِ، هَذَا يَهُودِيٌّ خَلْفِي، فَتَعَالَ فَاقْتُلْهُ؛ إِلَّا الْغَرْقَدَ فَإِنَّهُ مِنْ شَجَرِ الْيَهُودِ
“Tidak akan terjadi kiamat hingga kaum muslimin memerangi Yahudi dan membunuhi mereka, sampai ketika Yahudi bersembunyi di balik batu atau pohon, batu dan pohon itu berkata: ‘Wahai muslim, wahai hamba Allah, Yahudi ada di belakangku, kemari dan bunuhlah dia.’ Kecuali pohon gharqad, (dia tidak berbicara) karena dia dari pohon Yahudi.”
Takhrij hadits
Hadits ini diriwayatkan Al-Bukhari dalam Ash-Shahih, Kitab Al-Jihad bab Qitalu-Al-Yahud (6/103 no. 2767 bersama Fathul Bari), Muslim dalam Ash-Shahih (18/44-45 no. 2922 bersama Syarah An-Nawawi), Ahmad dalam Al-Musnad (2/396, 417 dan 530) dan Al-Khatib Al-Baghdadi dalam At-Tarikh (7/207) dari Abu Hurairah z.
Diriwayatkan pula dari sahabat Abdullah bin Umar bin Al-Khaththab c dalam Ash-Shahihain dan Sunan At-Tirmidzi.
At-Tirmidzi berkata dalam As-Sunan (4/509 no.2236): ”Hadits ini hasan shahih.”

Perang melawan Yahudi di akhir zaman
Pembaca rahimakumullah, Rasulullah n mengabarkan akan adanya perang di akhir zaman antara kaum muslimin dan Yahudi. Dalam perang itu, Yahudi terhina, dikalahkan, dan dibunuh. Tidak ada bagi mereka tempat persembunyian, bahkan batu dan pepohonan semua berseru:
يَا مُسْلِمُ، يَا عَبْدَ اللهِ، هَذَا يَهُودِيٌّ خَلْفِي فَتَعَالَ فَاقْتُلْهُ
“Wahai muslim, wahai hamba Allah, Yahudi ada di belakangku, kemari dan bunuhlah dia!”
Subhanallah, batu dan pepohonan berseru, memanggil muslim memberitahukan keberadaan Yahudi yang bersembunyi di baliknya. Semua pohon dan batu berujar, kecuali satu jenis pohon yaitu gharqad.
An-Nawawi berkata: “Gharqad adalah sejenis pohon berduri yang dikenal di Baitul Maqdis (Palestina). Di sanalah Dajjal dan Yahudi akan dibunuh.” (Al-Minhaj)
Berita perang melawan Yahudi dan kebinasaan mereka adalah sebagian dari tanda-tanda hari kiamat yang Rasulullah n kabarkan. Berita-berita ini wajib kita imani dan kita benarkan sebagai bukti iman kita kepada beliau n.
Hadits Abu Hurairah z ini juga kabar gembira akan kejayaan Islam dan kemenangan muslimin yang telah pasti atas musuh-musuhnya, sekaligus berita bahwa peperangan antara muslimin dan Yahudi akan terus berlangsung hingga akhir zaman.

Kapan perang itu terjadi?
Perang yang tersebut dalam hadits, bukanlah peperangan yang telah terjadi antara Rasulullah n dengan Yahudi di masa beliau n, seperti perang bani Quraidhah, bani Nadzir, atau bani Qainuqa’. Akan tetapi peperangan ini terjadi di akhir zaman, pada masa Imam Mahdi, Muhammad bin Abdullah Al-Hasani, saat turunnya Nabi Isa n, sebagaimana ditunjukkan riwayat-riwayat lain. Misalnya hadits Abu Umamah Al-Bahili z yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam As-Sunan dalam sebuah hadits panjang. Dalam hadits tersebut Rasulullah n bersabda:
فَبَيْنَمَا إِمَامُهُمْ قَدْ تَقَدَّمَ يُصَلِّي بِهِمُ الصُّبْحَ إِذْ نَزَلَ عَلَيْهِمْ عِيْسَى بْنُ مَرْيَمَ الصُّبْحَ فَرَجَعَ ذَلِكَ الْإِمَامُ يَنْكُصُ يَمْشِي الْقَهْقَرَى لِيَتَقَدَّمَ عِيْسَى يُصَلِّي بِالنَّاسِ، فَيَضَعُ عِيْسَى يَدَهُ بَيْنَ كَتِفَيْهِ ثُمَّ يَقُولُ لَهُ: تَقَدَّمْ فَصَلِّ، فَإِنَّهَا لَكَ أُقِيْمَتْ. فَيُصَلِّي بِهِمْ إِمَامُهُمْ فَإِذَا انْصَرَفَ قَالَ عِيْسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ: افْتَحُوا الْبَابَ. فَيُفْتَحُ وَوَرَاءَهُ الدَّجَّالُ مَعَهُ سَبْعُونَ أَلْفَ يَهُودِيٍّ كُلُّهُمْ ذُو سَيْفٍ مُحَلَّى وَسَاجٍ فَإِذَا نَظَرَ إِلَيْهِ الدَّجَّالُ ذَابَ كَمَا يَذُوبُ الْمِلْحُ فِي الْمَاءِ وَيَنْطَلِقُ هَارِبًا وَيَقُولُ عِيْسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ: إِنَّ لِي فِيْكَ ضَرْبَةً لَنْ تَسْبِقَنِي بِهَا. فَيُدْرِكُهُ عِنْدَ بَابِ اللُّدِّ الشَّرْقِيِّ فَيَقْتُلُهُ فَيَهْزِمُ اللهُ الْيَهُودَ فَلَا يَبْقَى شَيْءٌ مِمَّا خَلَقَ اللهُ يَتَوَارَى بِهِ يَهُودِيٌّ إِلَّا أَنْطَقَ اللهُ ذَلِكَ الشَّيْءَ لَا حَجَرٌ وَلَا شَجَرٌ وَلَا حَائِطٌ وَلَا دَابَّةٌ إِلَا الْغَرْقَدَةَ فَإِنَّهَا مِنْ شَجَرِهِمْ لَا تَنْطِقُ إِلَّا قَالَ يَا عَبْدَ اللهِ الْمُسْلمَ، هَذَا يَهُودِيٌّ فَتَعَالَ اقْتُلْهُ
“… Ketika tatkala imam mereka sudah maju untuk mengimami shalat subuh, tiba-tiba turunlah kepada mereka ‘Isa bin Maryam q pagi itu. Karena itu, imam tersebut mundur agar Nabi ‘Isa q maju mengimami mereka.
Lalu Nabi ‘Isa meletakkan tangan beliau diantara dua pundak imam tersebut dan berkata: ‘Majulah, karena untukmulah shalat ini diiqamatkan.’ Imam itu pun mengimami mereka.
Setelah selesai, Isa q berkata: ‘Bukalah pintu.’ Pintu itu dibuka, ternyata di baliknya ada Dajjal bersama 70.000 Yahudi bersenjata pedang berhias dan berjubah hijau.
Ketika Dajjal melihat ke arah Isa q, diapun meleleh seperti garam dalam air. Dia berbalik melarikan diri. Nabi Isa berkata, ‘Sungguh aku memiliki sebuah pukulan yang engkau tidak akan mendahului aku dengannya.’
Kemudian Isa mendapatkan Dajjal di Bab Al-Lud sebelah timur dan membunuhnya. Ketika itu, Allah l mengalahkan Yahudi hingga tidak ada suatu makhluk pun yang Yahudi bersembunyi padanya kecuali Allah l jadikan ia berbicara, baik dia batu, pohon, tembok, maupun hewan, semua berbicara –kecuali pohon gharqad, sesungguhnya ia adalah pohon Yahudi– semua berbicara: Wahai hamba Allah, muslim, ini Yahudi, kemari dan bunuhlah dia…”1
Hadits Abu Umamah z ini di dalam sanadnya ada kelemahan. Tetapi riwayat yang menunjukkan bahwa peperangan ini terjadi di masa Imam Mahdi, dikuatkan dengan syawahid (penguat-penguat dari hadits lain).
Ibnu Hajar t berkata: “Hadits (Abu Umamah z) diriwayatkan Ibnu Majah dengan panjang dan asal hadits ini ada pada Abu Dawud. Ada yang serupa dengan hadits ini yaitu hadits Samurah z dalam riwayat Al-Imam Ahmad (dalam Al-Musnad) dengan sanad hasan. Diriwayatkan juga oleh Ibnu Mandah dalam Kitab Al-Iman dari hadits Hudzaifah z dengan sanad shahih. (Fathul Bari 6/610)
Walhamdulillah.

Apakah batu dan pohon ketika itu berbicara secara hakiki?
Hadits ini memberikan faedah bahwa bebatuan dan pepohonan akan berbicara serta menyeru kepada kaum muslimin, memberitahukan akan keberadaan Yahudi yang bersembunyi di baliknya.
Sabda beliau n harus kita pahami apa adanya sesuai dengan zhahirnya, bahwa benda-benda ini berbicara secara hakiki, dengan pembicaraan yang bisa didengar dan dipahami. Ibnu Hajar Al-Asqalani Asy-Syafi’i t berkata: “Di dalam hadits ini ada tanda-tanda telah dekatnya hari kiamat dengan berbicaranya benda-benda mati seperti pohon dan batu. Zhahirnya, benda ini berbicara secara hakiki.” (Fathul Bari, 6/610)
Saudaraku, semoga Allah l merahmati Anda, ketahuilah, para pemuja akal menganggap mustahil berita Rasulullah n yang ada di hadapan kita ini. Mereka berkata: “Mungkinkah benda-benda mati berbicara?”
Subhanallah. Mereka tidak menyadari, sesungguhnya mereka sedang berhadapan dengan berita Allah l dan Rasul-Nya. Mereka juga lupa –atau melupakan– kekuasaan Allah l.
Berbicaranya benda mati yang tidak memiliki lisan bukanlah hal yang mustahil bagi Allah l, Dzat Yang Mahakuasa atas segala sesuatu. Di hari kiamat, kulit dan anggota tubuh berbicara menjadi saksi atas perbuatan manusia. Allah l berfirman:
“Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.” (Yasin: 65)
Allah l juga berfirman:
Dan mereka berkata kepada kulit mereka, “Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami?” Kulit mereka menjawab, “Allah yang menjadikan segala sesuatu pandai berkata telah menjadikan kami pandai (pula) berkata, dan Dia-lah yang menciptakan kamu pada kali yang pertama dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan. Kamu sekali-kali tidak dapat bersembunyi dari persaksian pendengaran, penglihatan, dan kulitmu terhadapmu bahkan kamu mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan.” (Al-Fushshilat: 21-22)
Bukan hanya di akhirat, bahkan berbicaranya benda-benda mati telah terjadi di dunia ini. Diantaranya:
– Pokok kurma yang dahulu dinaiki Rasulullah n ketika berkhutbah, menangis dengan tangisan yang didengar para sahabat tatkala Rasulullah n meninggalkannya karena beliau telah memiliki mimbar untuk berkhutbah. Dari Anas bin Malik dan Ibnu Abbas c:
أَنَّ النَّبِيَّ n كَانَ يَخْطُبُ إِلَى جِذْعٍ فَلَمَّا اتَّخَذَ الْمِنْبَرَ ذَهَبَ إِلَى الْمِنْبَرِ، فَحَنَّ الْجِذْعُ فَأَتَاهُ فَاحْتَضَنَهُ فَسَكَنَ، فَقَالَ: لَوْ لَمْ أَحْتَضِنْهُ لَحَنَّ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ
“Dahulu Nabi n berkhutbah pada pokok pohon kurma, ketika dibuatkan mimbar, beliau berjalan menuju mimbar. Maka menangislah pokok kurma hingga didatangi Rasulullah dan beliau peluk dan diamlah ia. Rasulullah n bersabda, ‘Kalau tidak aku peluk sungguh dia akan terus menangis hingga hari kiamat’.”2
– Demikian pula batu, benda mati ini pernah mengucapkan salam kepada Rasulullah n3. Lebih dari itu, bahkan batu pun bisa berlari jika Allah l memberikan kemampuan kepadanya untuk berlari sebagaimana dalam kisah Nabi Musa q dalam Shahih Al-Bukhari. Rasulullah n bersabda:
كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ يَغْتَسِلُونَ عُرَاةً، يَنْظُرُ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ، وَكَانَ مُوسَى يَغْتَسِلُ وَحْدَهُ، فَقَالُوا: وَاللهِ مَا يَمْنَعُ مُوسَى أَنْ يَغْتَسِلَ مَعَنَا إِلَّا أَنَّهُ آدَرُ، فَذَهَبَ مَرَّةً يَغْتَسِلُ فَوَضَعَ ثَوْبَهُ عَلَى حَجَرٍ، فَفَرَّ الْحَجَرُ بِثَوْبِهِ، فَخَرَجَ مُوسَى فِي إِثْرِهِ، يَقُولُ: ثَوْبِي يَا حَجَرُ. حَتَّى نَظَرَتْ بَنُو إِسْرَائِيلُ إِلَى مُوسَى فَقَالُوا: وَاللهِ مَا بِمُوسَى مِنْ بَأْسٍ، وَأَخَذَ ثَوْبَهُ، فَطَفِقَ بِالْحَجَرِ ضَرْبًا
Dahulu Bani Israil biasa mandi telanjang saling melihat satu dengan yang lain. Sementara Musa selalu menyendiri ketika mandi, hingga bani Israil berkata, “Demi Allah, tidak ada yang menghalangi Musa mandi bersama kita kecuali karena dia cacat kemaluannya.” Hingga suatu saat Musa mandi dan beliau letakkan bajunya di atas batu, tiba-tiba batu itu lari, dan Musa berlari mengikutinya seraya berkata, “Bajuku, wahai batu.” Hingga bani Israil melihat Musa dan mereka berkata, “Demi Allah tidak ada cacat pada Musa!” Musa berhasil mengambil bajunya dan ia pukul batu itu.4

Yahudi memancangkan bendera permusuhan kepada para nabi dan kaum mukminin
Yahudi adalah kaum yang sangat busuk. Allah l menyebutkan sifat-sifat jelek mereka dalam banyak ayat Al-Qur’an, demikian pula Rasulullah n dalam sabda-sabda beliau yang mulia, agar kita berhati-hati dari makar-makar Yahudi dan menjauhi sifat-sifat buruk mereka.
Bendera perang telah Yahudi kibarkan dengan penuh keangkuhan, di hadapan mukminin. Makar dan permusuhan Yahudi terus diarahkan kepada kaum muslimin, bahkan Rasulullah n pun tidak luput dari rencana jahat Yahudi.
Disebutkan dalam referensi-referensi sirah (sejarah), sebab terjadinya perang Yahudi bani Nadhir, sekitar enam bulan seusai perang Badr (Ramadhan 2 H), Rasulullah n mendatangi Yahudi guna membantu beliau membayar diyat atas kematian dua orang dari kabilah Kullab yang dibunuh oleh ‘Amr bin Umayyah Adh-Dhamri z. Dalam pembicaraan itu, mereka sanggup membantu Rasulullah n dan berkata, “Kami akan bantu engkau wahai Abul Qasim5, tapi duduklah di sini hingga kami memenuhi kebutuhanmu.”
Saat Rasulullah n menunggu, ternyata mereka merencanakan pembunuhan terhadap Rasulullah n. ‘Amr bin Jahsy terpilih untuk menimpakan (batu) penggiling gandum di atas kepala Rasulullah n yang sedang duduk. Ar-Rasul mendapat wahyu, beliau pun segera bangkit dan memerintahkan sahabat untuk menyerang Yahudi yang telah mengkhianati kesepakatan.
Kisah ini diriwayatkan Ibnu Hisyam dalam As-Sirah (3/267-268) dengan sanad mursal, akan tetapi dikuatkan dengan riwayat Musa bin ‘Uqbah sebagaimana disebutkan Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (15/202) dan Al-Imam Al-Baihaqi dalam Dala’il An Nubuwah (3/180-181). Wallahu a’lam.6
Yahudi adalah kaum yang penuh hasad. Mereka selalu menginginkan kehinaan dan kecelakaan, serta menjauhkan kaum muslimin dari Islam. Allah l berfirman:
“Sebagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran…” (Al-Baqarah: 109)
Allah l juga berfirman:
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah, ‘Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)’. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (Al-Baqarah: 120)
Mereka memang telah memancangkan bendera perang. Tetapi bendera itu tidak akan tegak dan berkibar. Bendera Yahudi akan segera tumbang dan diinjak-injak tentara Allah l, sebagaimana kabar gembira yang kita dapatkan dalam sabda Rasulullah n diatas.

Reformasi, tasyabbuh (meniru) tindakanYahudi
Reformasi ala Ibnu Saba’ beserta segala sarananya berupa demokrasi, demonstrasi, pemecahbelahan umat, dan menjamurnya partai-partai, demikian pula kebebasan yang tidak terkendali dan pengebirian syariat dengan kedok Hak Asasi Manusia (HAM), harus disadari bahwa semua itu adalah produk Yahudi yang dijual murah di tengah muslimin, di negeri-negeri Islam.
Munafiqin dan corong-corong Yahudi atau sebagian kaum muslimin yang jahil akan syariat, berdiri di atas panggung reformasi menggemakan slogan-slogan yang jauh dari Islam. Manusia pun silau dengan propaganda-propaganda itu. Kerusakan dan akibat-akibat pahit reformasi semakin menyebar di tengah perang yang terus berkecamuk. Tetapi sadarkah kita, wahai kaum muslimin, akan peperangan ini?
Sungguh, demi Allah! Tidak ada jalan keluar dan kemuliaan kecuali melalui jihad dengan makna yang sesungguhnya. Di antaranya dengan berdakwah menyeru manusia untuk kembali kepada Al-Kitab dan As-Sunnah dengan pemahaman salafus shalih, serta menyadari akan peperangan dan permusuhan Yahudi yang telah mereka pancangkan hingga hari kiamat.
Yahudi adalah musuh, namun kebanyakan muslimin justru mengikuti jejak-jejak mereka dengan bertasyabbuh (meniru) Yahudi dalam pola pikir, pola kehidupan, bahkan dalam beribadah. Seakan-akan umat ini tidak ingat lagi sabda Rasulullah n:
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Barangsiapa meniru-niru suatu kaum, maka dia termasuk dari kaum itu.”7
Lihatlah apa yang terjadi di era reformasi, bagaimana kaum muslimin tergulung ombak pemikiran. Dakwah tauhid diremehkan, demikian pula prinsip-prinsip Islam diinjak-injak –seperti al-wala’ wal bara’ (loyal kepada orang taat dan antipati terhadap orang yang bermaksiat)– sementara perjuangan partai –yang memecah-belah umat– dielu-elukan.
Prinsip menaati waliyul amr (pemerintah) selama di atas ketaatan kepada Allah l menjadi luntur dan dianggap sikap kebanci-bancian. Sementara, pemberontakan dan mencaci-maki pemerintah di atas podium/mimbar-mimbar –seperti moyang mereka, Ibnu Saba– dianggap sebagai jihad dan kepahlawanan.
Di era reformasi, kaum muslimin didorong untuk mengubah keadaan dengan demonstrasi, pemberontakan, perusakan, mengundi nasib dengan demokrasi dan partai. Bahkan, tidak sedikit kaum muslimin yang membuat partai dengan nama partai Islam, padahal sesungguhnya semua itu adalah bagian dari langkah Yahudi, yang ingin menggiring muslimin untuk bertasyabbuh dengan mereka.
Ketahuilah, sesungguhnya kemuliaan tidak akan dicapai dengan tasyabbuh kepada Yahudi dan musyrikin, bahkan mereka akan semakin lemah dan bercerai-berai. Fenomena tasyabbuh telah disinyalir Rasulullah n jauh-jauh hari sebagaimana tampak dalam sabda Rasulullah n:
لَتَتَّبِعُنَّ سُنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ، حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِي جُحْرِ ضَبٍّ لَاتَّبَعْتُمُوهُ. قُلْنَا: يَا رَسُولَ اللهِ، آلْيَهُودُ وَالنَّصَارَى؟ قَالَ: فَمَنْ؟
Sungguh kalian akan ikuti jalan-jalan orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sampaipun mereka masuk lubang dhabb (hewan sejenis biawak) kalian juga akan mengikutinya. Kami bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah mereka itu Yahudi dan Nasrani?” Rasul berkata, “Siapa lagi (kalau bukan mereka)?”8
Peringatan di atas menunjukkan bahwa menyelisihi ahlul kitab dan musyrikin adalah prinsip mendasar seorang muslim. Di atas prinsip inilah sesungguhnya kita akan memperoleh kemuliaan.

Memperjuangkan Islam melalui partai Islam?
Memperjuangkan Islam hanya dengan kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan manhaj yang shahih, bukan dengan cara-cara bid’ah atau tasyabbuh dengan ahlul kitab dan musyrikin. Di masa reformasi, banyak aktivis pergerakan memandang bahwa Islam bisa diperjuangkan melalui partai. Dengan partai, aspirasi umat akan tersalurkan. Dengan partai, jalan menuju kekuasaan dan syariat Islam akan terwujud. Itu diantara angan-angan mereka. Benarkah demikian?
Jawabannya: Tidak! Sekali-kali tidak!
Coba lihat, sebelum mereka duduk di parlemen, jenggot masih dipelihara, pakaian masih di atas mata kaki. Namun ketika kursi telah diduduki syariat, jenggot dan mengangkat pakaian di atas mata kaki dilibas dan diremehkan. Apakah orang-orang seperti ini akan menegakkan syariat Islam, sementara syariat Islam justru tidak ditegakkan pada diri-diri mereka?
Yakinilah, sesungguhnya umat ini hanya akan mendapat kebaikan dengan menempuh jalan generasi awal umat ini yakni sahabat. Al-Imam Malik t berkata:
لَا يَصْلُحُ آخِرُ هَذِهِ الْأُمَّةِ إِلَّا بِمَا صَلُحَ بِهِ أَوَّلُهَا
“Akhir dari umat ini tidak akan mencapai kejayaan kecuali dengan menempuh jalan generasi awal yang dengannya mereka mencapai kejayaan.”
Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani t menjawab sebuah pertanyaan, “Bolehkah seorang salafi (Ahlus Sunnah) bergabung dengan Ahzab Siyasiyah (partai-partai politik)?”
Beliau menjawab: Salafiyyin wajib menegakkan dakwah kepada Al-Qur’an dan As-Sunah dengan manhaj salafus shalih dan tidak bergabung dengan partai-partai politik. Kenapa? Karena sampai saat ini saya tidak tahu ada partai Islam –di seluruh penjuru dunia– yang berada di atas manhaj yang benar.
Bukan berarti bahwa dalam Islam tidak ada siyasah (politik). Siyasah sesungguhnya ada dan termasuk syariat, sehingga ada tulisan-tulisan tentang siyasah seperti kitab yang berjudul As-Siyasah Asy-Syar’iyyah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t. Maka siyasah sesungguhnya termasuk syariat, tentunya jika sesuai dengan syariat. Tetapi siapa yang mampu untuk mensiasati (mengatur) umat? Tidak diragukan bahwa mereka haruslah orang-orang yang memiliki beberapa sifat, di antaranya (alim) mengetahui Al-Kitab dan As-Sunnah. …. Maka kita tidak menasihatkan kepada salafiyin untuk bergabung dengan mereka. Karena amalan siyasah (politik) butuh persiapan yang sangat besar agar bisa menegakkan siyasah syar’iyyah.
(Bahkan ketika salafiyin) menyibukkan diri dalam siyasah, justru akan menyebabkan mereka berpaling dari dakwah dan tarbiyah (membimbing) umat … Lihatlah sepintas negeri-negeri yang menyibukkan diri dalam hal ini sebelum umat siap kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Yang terjadi justru menyebabkan mundurnya umat. Benarlah apa yang dikatakan:
مَنِ اسْتَعَجْلَ الْأَمْرَ قَبْلَ أَوَانِهِ عُوقِبَ بِحِرْمَانِهِ
“Barangsiapa tergesa-gesa meraih sesuatu sebelum waktunya, akan dibalas dengan terhalangi mendapatkannya.”
(Untuk memperoleh kejayaan) kita harus menempuh sebab-sebab yang syar’i. Kita lihat bagaimana Rasulullah n berbuat? Rasul n melakukan sebab-sebabnya, dengan mempersiapkan kekuatan untuk menghadapi musuh. Sebagaimana Allah l berfirman:
“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu ….” (Al-Anfal: 60)
Al-Quwwah, kekuatan yang dimaksud dalam ayat ini, tidak diragukan adalah kekuatan fisik (namun ada kekuatan yang lebih utama yang harus dipersiapkan yaitu kekuatan iman dan tauhid yang kokoh dalam jiwa). Kita renungi lebih dalam ayat ini, siapakah mukhathab (orang yang diajak bicara)? Sahabat adalah mukhathab pertama. Mereka adalah kaum mukminin yang haq (generasi yang dipenuhi kekuatan iman). Maka (disimpulkan bahwa) kekuatan yang dimaksud dalam ayat ini ada dua macam: pertama: maknawiyah9; dan kedua: kekuatan fisik. Hal ini jelas ditunjukkan oleh ayat ini dan sabda Rasulullah n:
أَلَا إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْيُ
“Ketahuilah, sesungguhnya kekuatan itu adalah memanah.”10
Diantara persiapan jihad adalah (mengajak agar) kaum muslimin berada dalam satu hati.11 Apakah ini sudah diusahakan? Ini tentunya harus dilakukan dengan dakwah kepada Al-Kitab dan As-Sunnah dengan manhaj yang benar ….” (Dari kaset Silsilah Al-Huda wan Nur no. 270, Asy-Syaikh Al-Allamah Al-Albani t, dengan beberapa penyesuaian)

Kabar gembira bagi kaum mukminin
Perpecahan dan kelemahan yang menimpa muslimin, yang disebabkan oleh jauhnya mereka dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, juga karena kebanyakan muslimin lebih mengikuti jejak ahlul kitab dan musyrikin dengan tasyabbuh kepada mereka; hendaknya tidak menjadikan kita putus asa dari rahmat Allah l untuk memperjuangkan agama Allah l yang mulia.
Ketahuilah bahwa agama ini milik Allah l. Dia telah menjanjikan penjagaan bagi agama ini. Allah l pula yang akan memenangkan agama Rasulullah n atas seluruh agama.
“Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas seluruh agama meskipun orang-orang musyrik benci.” (Ash-Shaf: 9)
Keyakinan akan pertolongan Allah l akan mendorong seorang mukmin tetap kokoh berdiri memperjuangkan agama-Nya, meskipun musuh-musuh Allah l bersatu-padu untuk memadamkan cahaya agama Allah l. Allah l berfirman:
“(Yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan, ‘Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka’, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: ‘Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung’.” (Ali Imran: 173)
Manusia itu lemah, sedangkan Allah Mahaperkasa. Tidak ada yang kita ucapkan melainkan Hasbunallah wani’mal wakil. Sesungguhnya apa yang Allah l janjikan pasti kita peroleh, insya Allah.
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (An-Nur: 55)

Seruan untuk sekalian Yahudi dan Ahlul Kitab
Wahai Yahudi… Berhentilah kalian membuat kerusakan di muka bumi. Segeralah bertaubat dan memenuhi panggilan Allah l dan Rasulullah n. Allah l berfirman:
Katakanlah: “Wahai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah.” Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah l).” (Ali Imran: 64)
Kalian sungguh telah mengerti kebenaran Rasulullah n, maka segeralah penuhi panggilannya sebelum azab menimpa kalian. Allah l berfirman:
“Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al-Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebagian diantara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.” (Al-Baqarah: 146)
Ingatlah apa yang menimpa nenek moyang kalian ketika mereka kafir kepada Allah l. Dia mengubah kalian menjadi kera-kera dan babi yang hina –dan itu kalian ketahui–.
Wahai Ahlul Kitab, dengarlah sabda Rasul n yang Allah l utus kepada kalian:
وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ وَلَا نَصْرَانِيٌّ، ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ
“Demi Dzat yang jiwa Muhammad di Tangan-Nya, tidaklah seorang pun dari umat ini mendengar tentang aku, baik dia Yahudi atau Nasrani, kemudian tidak beriman dengan apa yang aku bawa melainkan termasuk penghuni neraka.”12
Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.


1 HR. Ibnu Majah dalam As-Sunan no. 4077, didha’ifkan Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani t.
2 Asy-Syaikh Al-Albani t berkata: “Mukjizat (menangisnya pokok kurma) ini mutawatir dari Rasulullah n. Sebagian besar jalan-jalannya telah dikumpulkan Al-Hafizh Ibnu Katsir t dalam Al-Bidayah dan As-Suyuthi t dalam Al-Khashaish…” (Ta’liqat atas risalah Bidayatus Suul fi Tafdhili Ar-Rasul hlm. 40)
3 Sebagaimana ditunjukkan dalam hadits Jabir bin Samurah z, diriwayatkan Al-Imam Muslim dalam Ash-Shahih (4/1782 no. 2277), At-Tirmidzi no. 3628.
4 HR. Al-Bukhari no. 278 dari hadits Abu Hurairah z.
5 Kunyah Rasulullah n.
6 Kisah ini disebutkan oleh Asy-Syaikh Abdurrahman Nashir As-Sa’di dalam Taisir Karimir Rahman, tafsir Surat Al-Hasyr.
7 HR. Abu Dawud no. 4031 dari hadits Abdullah bin ‘Umar c.
8 HR. Al-Bukhari no. 3456 dan Muslim (4/2054 no. 2669) dari sahabat Abu Sa’id Al-Khudri z.
9 Yaitu keimanan yang shahih. Rasulullah n selama hidup beliau selalu menanamkan tauhid, bahkan sebelum disyariatkan shalat lima waktu setiap hari. Selama lebih sepuluh tahun di Makkah, dakwah Rasulullah n adalah menegakkan kalimat Laa ilaha illallah, memurnikan tauhid, dan menghancurkan kesyirikan.
10 Diriwayatkan Al-Imam Muslim dalam Shahih-nya no. 1917 dari sahabat ‘Uqbah bin ‘Amir z.
11 Tentu yang dimaksud satu hati adalah satu aqidah, bukan seperti dakwah Ikhwanul Muslimin (IM) yang berusaha menyatukan manusia dalam satu wadah meskipun berbeda aqidah: Sufi, Rafidhah (Syiah), Mu’tazilah, dan segala macam aliran sesat.
12 HR. Muslim (1/134 no. 153) dari sahabat Abu Hurairah z.

Hukum Allah Bukan Hukum Jahiliyah

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal)

 

“Apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (Al-Maidah: 50)
Sebab turunnya ayat
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas c, dia berkata: Dua kabilah Yahudi, Quraizhah dan Nadhir. Kabilah Nadhir lebih mulia dibanding kabilah Quraizhah. Apabila ada seseorang dari kabilah Quraizhah membunuh seseorang dari kabilah Nadhir, dia dibunuh pula karenanya. Namun, jika seseorang dari kabilah Nadhir membunuh seseorang dari kabilah Quraizhah, cukup ditebus dengan 100 wisq kurma (6000 sha’, pen.). Setelah Nabi n diutus, seseorang dari kabilah Nadhir membunuh seseorang dari kabilah Quraizhah. Kemudian orang-orang Bani Quraizhah berkata, “Serahkan pembunuh itu kepada kami, kami akan membunuhnya.” (Tatkala Bani Nadhir enggan menyerahkannya), Bani Quraizhah berkata, “Antara kami dan kalian ada nabi.” Mereka pun mendatangi beliau. Lalu turunlah firman Allah l:
“Jika engkau berhukum maka berhukumlah diantara mereka dengan adil.” (Al-Maidah: 42)
Keadilan di sini adalah jiwa dibalas dengan jiwa (qishas). Setelah itu turun pula ayat:
“Apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (Al-Maidah: 50) [HR. Abu Dawud no. 4494, An-Nasa’i no. 4732, Ibnu Abi Syaibah no. 27970, Ad-Daruquthni 3/198, Ibnu Hibban no. 5057, Al-Hakim 4/407, Al-Baihaqi 8/24, Ibnul Jarud dalam Al-Muntaqa no. 772. Hadits ini dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Abu Dawud]

Tafsir ayat
Firman Allah l:
“Apakah hukum jahiliah…”
Hamzah (yang berarti: apakah) yang disebut dalam ayat ini menunjukkan istifham inkari, bentuk pertanyaan namun yang dimaksud adalah pengingkaran dan menjelekkan orang yang melakukannya. (Lihat Fathul Qadir, Asy-Syaukani)
Yang dimaksud hukum jahiliah adalah setiap hukum yang menyelisihi apa yang diturunkan Allah l kepada Rasul-Nya, karena  hukum hanya ada dua: hukum Allah l dan Rasul-Nya atau hukum jahiliah. Siapa yang berpaling dari hukum Allah l niscaya dia berhukum dengan hukum jahiliah yang dibangun di atas kejahilan, kezaliman, dan penyimpangan. Oleh karena itu, Allah l menisbahkannya kepada jahiliah. Sementara hukum Allah l dibangun di atas ilmu, keadilan, cahaya, dan petunjuk. (Lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman, karya As-Sa’di dalam tafsir ayat ini)
Ibnul Qayyim t berkata ketika menjelaskan tentang hukum jahiliah, “Setiap hukum yang menyelisihi apa yang dibawa oleh Rasul maka itu termasuk jahiliah. Jahiliah adalah nisbah kepada kejahilan. Setiap yang menyelisihi Rasul termasuk dari kejahilan.” (Al-Fawa’id, Ibnul Qayyim hlm. 109)
Ibnu Katsir t berkata ketika menjelaskan ayat ini: “Allah l mengingkari orang yang keluar dari hukum Allah k yang adil, yang mencakup segala kebaikan dan mencegah dari setiap kejahatan, beralih kepada hukum lain yang berupa pendapat manusia, hawa nafsu, dan berbagai istilah yang ditetapkan oleh manusia tanpa bersandar kepada syariat Allah l. Sebagaimana halnya kaum jahiliah yang berhukum dengan kesesatan dan kebodohan, yaitu hukum yang mereka tetapkan berdasarkan pendapat dan hawa nafsu mereka. Seperti bangsa Tartar yang berhukum dalam politik kekuasaan mereka yang diambil dari raja mereka yang bernama Jenghis Khan, yang menetapkan undang-undang Ilyasiq; sebuah kitab yang berisi hukum-hukum yang diambil dari syariat yang berbeda-beda; Yahudi, Nasrani, Islam, dan yang lainnya. Di dalamnya juga banyak hukum-hukum yang diambil dari pandangan dan hawa nafsunya semata. Akhirnya undang-undang ini menjadi syariat yang harus diikuti oleh keturunannya. Mereka lebih mengutamakannya daripada berhukum dengan kitab Allah l dan Sunnah Rasul-Nya. Siapa di antara mereka yang melakukan hal itu maka dia kafir, wajib diperangi sampai dia kembali kepada hukum Allah l dan Rasul-Nya, serta dia tidak berhukum dengan yang lainnya baik dalam urusan kecil maupun besar.” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/68)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t berkata, “Sungguh Allah l telah memerintahkan Nabi-Nya untuk berhukum dengan apa yang diturunkan Allah l kepadanya. Allah l juga memperingatkan beliau agar tidak mengikuti hawa nafsu mereka, dan menjelaskan bahwa yang menyelisihi hukum-Nya adalah hukum jahiliah.” (Daqa’iq At-Tafsir, 2/55)
Diriwayatkan dari hadits Jabir z bahwa beliau berkata, “Suatu hari kami dalam satu peperangan. Lalu ada seorang dari kalangan Muhajirin memukul pantat seorang dari kalangan Anshar dengan tangannya. Orang Anshar itu pun berteriak sambil berkata, ‘Wahai kaum Anshar.’ Maka orang Muhajirin itu pun juga berteriak, ‘Wahai kaum Muhajirin.’ Akhirnya teriakan ini didengar oleh Nabi n beliau pun berkata:
أَبِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ؟ دَعُوهَا فَإِنَّهَا مُنْتِنَةٌ
‘Mengapa ada panggilan jahiliah? Tinggalkan karena sesungguhnya itu buruk (tercela).” (HR. Al-Bukhari no. 4622, Muslim no. 2584)
Muhammad bin Abi Nashr Al-Humaidi berkata dalam menjelaskan makna panggilan jahiliah: “Ucapan mereka ‘Wahai pengikut fulan’, hal ini termasuk fanatisme golongan dan keluar dari hukum Islam.” (Tafsir Gharib Ma fish Shahihain, Al-Humaidi: 85)
“Yang mereka kehendaki.”
Ini adalah bacaan jumhur (mayoritas) ahli qira’ah. Adapun bacaan Ibnu ‘Amir dengan ta’ (تَبْغُونَ) yang berbentuk khithab (artinya: kalian kehendaki). (Tafsir Al-Qurthubi, Tafsir Al-Baghawi)
Maknanya adalah, apakah mereka berpaling dari hukum yang telah Allah l turunkan kepadamu (kepada Muhammad n, pen.) dan meninggalkannya lalu mencari hukum jahiliah? (Fathul Qadir, Asy-Syaukani)
Ayat ini seperti apa yang disebutkan dalam ayat lainnya:
“Maka patutkah aku mencari hakim selain daripada Allah, padahal Dialah yang telah menurunkan kitab (Al-Qur’an) kepadamu dengan terperinci? Orang-orang yang telah Kami datangkan kitab kepada mereka, mereka mengetahui bahwa Al-Qur’an itu diturunkan dari Rabbmu dengan sebenarnya. Maka janganlah kamu sekali-kali termasuk orang yang ragu-ragu.” (Al-An’am: 114)
“Dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?”
Ini juga termasuk istifham inkari, bentuk pertanyaan yang mengandung pengingkaran, yang maknanya adalah: Tidak ada hukum yang lebih baik dari hukum Allah l bagi orang-orang yang memiliki keyakinan, bukan bagi orang yang jahil dan pengikut hawa nafsu. (Tafsir Fathul Qadir)
As-Sa’di t mengatakan: “Orang yang memiliki keyakinan itulah mengetahui perbedaan antara kedua hukum tersebut. Dengan keyakinannya, dia mampu membedakan apa yang terdapat di dalam hukum Allah l yaitu kebaikan dan keagungan, dan berdasarkan tinjauan akal maupun syariat wajib diikutinya. Al-yaqin adalah keyakinan yang sempurna yang melahirkan amalan.” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman)
Kewajiban berhukum dengan hukum Allah l
Ayat ini menjelaskan tentang kewajiban setiap hamba untuk berhukum dengan hukum Allah l dalam setiap urusan mereka serta larangan untuk menjadikan selain hukum Allah l sebagai hukum dan aturan dalam kehidupan manusia, sebab hal itu termasuk bentuk berhukum kepada hukum jahiliah.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t mengatakan, “Adapun orang-orang yang beriman, berislam, berilmu, dan beragama, mereka senantiasa berhukum dengan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya. Sebagaimana firman Allah l:
“Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (An-Nisa’: 65) [Majmu’ Fatawa, 35/386]
Al-‘Allamah As-Sa’di t berkata: “Berhukum dengan selain apa yang diturunkan Allah l merupakan perbuatan orang-orang kafir. Terkadang bentuk kekafirannya dapat mengeluarkan dari Islam, apabila dia meyakini halal dan bolehnya hal itu. Terkadang pula termasuk dosa besar dan termasuk perbuatan kekufuran (namun tidak mengeluarkan dari Islam) yang pelakunya berhak mendapatkan siksaan yang pedih.” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman)
Begitu banyak ayat yang memerintahkan manusia untuk berhukum dengan hukum Allah l dan mengharamkan berhukum dengan hawa nafsu yang merupakan hukum jahiliah. Diantaranya adalah:
“Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu.” (Al-Maidah: 48)
“Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.” (Al-Jatsiyah: 18)
“Hai Dawud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.” (Shad: 26)
Katakanlah: “Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus.” (Al-Maidah: 77); dan yang lainnya.
Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas c bahwa Rasulullah n bersabda:
أَبْغَضُ النَّاسِ إِلَى اللهِ ثَلَاثَةٌ: مُلْحِدٌ فِي الْحَرَمِ، وَمُبْتَغٍ في الْإِسْلَامِ سُنَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ، وَمُطَّلِبُ دَمِ امْرِئٍ بِغَيْرِ حَقٍّ لِيُهْرِيقَ دَمَهُ
“Manusia yang paling dibenci Allah l ada tiga: seorang yang berbuat zalim di negeri haram, orang yang mencari hukum jahiliah dalam Islam, dan keinginan menumpahkan darah seseorang tanpa hak.” (HR. Al-Bukhari no. 6488)
Balasan bagi orang yang berhukum dengan selain hukum Allah l
Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar c, dia berkata: Rasulullah n mendatangi kami lalu bersabda:
يا مَعْشَرَ الْمُهَاجِرِينَ خَمْسٌ إذا ابْتُلِيتُمْ بِهِنَّ وَأَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ تُدْرِكُوهُنَّ لم تَظْهَرْ الْفَاحِشَةُ في قَوْمٍ قَطُّ حتى يُعْلِنُوا بها إلا فَشَا فِيهِمْ الطَّاعُونُ وَالْأَوْجَاعُ التي لم تَكُنْ مَضَتْ في أَسْلَافِهِمْ الَّذِينَ مَضَوْا ولم يَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ إلا أُخِذُوا بِالسِّنِينَ وَشِدَّةِ الْمَئُونَةِ وَجَوْرِ السُّلْطَانِ عليهم ولم يَمْنَعُوا زَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ إلا مُنِعُوا الْقَطْرَ من السَّمَاءِ وَلَوْلَا الْبَهَائِمُ لم يُمْطَرُوا ولم يَنْقُضُوا عَهْدَ اللَّهِ وَعَهْدَ رَسُولِهِ إلا سَلَّطَ الله عليهم عَدُوًّا من غَيْرِهِمْ فَأَخَذُوا بَعْضَ ما في أَيْدِيهِمْ وما لم تَحْكُمْ أَئِمَّتُهُمْ بِكِتَابِ اللَّهِ وَيَتَخَيَّرُوا مِمَّا أَنْزَلَ الله إلا جَعَلَ الله بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ
“Wahai sekalian kaum muhajirin, ada lima hal yang apabila kalian diuji dengannya, aku berlindung kepada Allah l jangan sampai kalian: (1) Tidaklah satu perbuatan keji (zina) yang muncul hingga mereka melakukannya secara terang-terangan melainkan akan menyebar penyakit tha’un1 dan berbagai penyakit yang belum pernah muncul di masa sebelum mereka. (2) Tidaklah mereka mengurangi takaran dan timbangan melainkan mereka akan ditimpa paceklik, kesulitan hidup, dan kezaliman penguasa terhadap mereka. (3) Tidaklah mereka menahan zakat harta mereka melainkan akan ditahan pula dari mereka turunnya hujan dari langit. Kalaulah bukan karena hewan ternak, niscaya hujan tidak akan turun kepada mereka. (4) Tidaklah mereka membatalkan perjanjian Allah l dan Rasul-Nya melainkan Allah l akan memberi kekuasaan kepada musuh atas mereka lalu merampas sebagian apa yang mereka miliki. (5) Tidaklah para pemimpin mereka tidak berhukum dengan kitab Allah l dan memilah-milah hukum yang diturunkan Allah l melainkan Allah l akan menjadikan perselisihan di antara mereka sendiri.” (HR. Ibnu Majah no. 4019. Dishahihkan Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, 1/106)
Wallahu a’lam.


1 Penyakit bengkak yang disebabkan mikroba, menjangkiti tikus dan menular melalui kutunya kepada tikus lain maupun manusia. -red.

Runtuh Keluhuran Akhlak Bangsa Kami

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin)

Reformasi telah melahirkan gaya hidup bebas. Karena sesungguhnya inti tujuan dicetuskannya gerakan reformasi, selain melengserkan pemerintahan Orde Baru, adalah menawarkan nilai-nilai demokrasi dan kebebasan. Nilai-nilai demokrasi dan kebebasan inilah yang mengubah wajah Indonesia.
Perubahan ini bisa ditilik dari beberapa sisi, antara lain rakyat didorong untuk bebas mengeluarkan pendapat tanpa adanya kontrol moral agama. Rakyat diberi ruang sebebas-bebasnya saat melakukan aksi unjuk rasa, bahkan hingga taraf melecehkan dan menjatuhkan nama baik penguasa. Lebih memprihatinkan lagi, justru yang melakukan tindakan semacam ini adalah dari kalangan yang pernah “bermukim” di kampus. Kategori pengunjuk rasa adalah kalangan intelektual, namun tindakan, ucapan, dan pemikirannya tidak mencerminkan pribadi yang terdidik secara baik dan benar. Tindakan-tindakan mereka cenderung menghalalkan segala cara. Prinsip:
الْغَايَةُ تُبَرِّرُ الْوَسِيْلَةَ
“Tujuan menghalalkan segala cara,” merupakan prinsip yang lahir dari pemikiran Zionis Yahudi. Allah l telah menggambarkan keadaan semacam itu melalui firman-Nya:
Segolongan (lain) dari Ahli Kitab berkata (kepada sesamanya): “Perlihatkanlah (seolah-olah) kamu beriman kepada apa yang diturunkan kepada orang-orang beriman (sahabat-sahabat Rasul) pada permulaan siang dan ingkarilah ia pada akhirnya, supaya mereka (orang-orang mukmin) kembali (kepada kekafiran).” (Ali ‘Imran: 72)
Ketika mereka bergitu berambisi mengembalikan kaum muslimin kepada kekafiran, mereka tak segan-segan berbuat demikian, agar kaum muslimin merasa ragu terhadap ajaran Islam.
Selain itu, dampak lepasnya tali kendali kebebasan adalah tersebarnya berbagai bentuk perbuatan keji (fahisyah). Berbagai media berlomba menyebarkan berita yang merusak agama kaum muslimin, baik dalam bentuk pornografi atau yang terkait faktor akidah: kesyirikan. Mereka terus-menerus menerbitkan tulisan-tulisan dan gambar-gambar yang menggerus kebaikan agama seorang muslim. Padahal Allah l telah mengancam orang-orang yang suka menyebarkan perbuatan keji di kalangan kaum mukminin dengan siksa yang pedih di dunia dan akhirat. Firman-Nya:
“Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (An-Nur: 19)
Sikap malu sudah tercerabut dari kepribadian bangsa ini. Mengungkapkan cacat, cela, dan aib seseorang tidak lagi dianggap hal yang memalukan. Justru yang demikian digunakan sebagai alat untuk menjatuhkan harkat dan martabat seseorang. Rasulullah n pernah berwasiat terkait masalah ini. Sabda beliau n:
الْحَيَاءُ لَا يَأْتِي إِلَّا بِخَيْرٍ
“Sikap malu itu tidak akan mendatangkan kecuali kebaikan.” (HR. Al-Bukhari no. 6117 dan Muslim no. 50)
Dalam riwayat Muslim disebutkan:
الْحَيَاءُ خَيْرٌ كُلُّهُ –أَوْ قَالَ: الْحَيَاءُ كُلُّهُ خَيْرٌ
“Sikap malu itu baik seluruhnya,” atau sabda beliau, “Sikap malu itu semuanya baik.” (HR. Muslim no. 61)
Menurut Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin t, jauhnya seseorang dari sikap malu pada masa sekarang ini melahirkan pernyataan-pernyataan yang keji dan kotor atau memicu timbulnya perbuatan-perbuatan yang jelek dan yang sejenis.
إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلَامِ النُّبُوَّةِ الْأُولَى إِذَا لَمْ تَسْتَحِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ
“Sesungguhnya apa yang diperoleh manusia dari perkataan kenabian yang pertama adalah apabila engkau tidak (memiliki) rasa malu, berbuatlah sesukamu.” (HR. Al-Bukhari, no. 6120)
Karena itu, seseorang wajib menjadikan sikap malu ini melekat pada dirinya, kecuali dalam urusan (agama) yang wajib diketahuinya. Dia tidak boleh merasa malu (untuk bertanya) tentang al-haq (kebenaran). (Syarhu Riyadhish Shalihin, 2/268)
Sisi lain yang menyebabkan perubahan pada wajah Indonesia akibat gerakan reformasi adalah sebagian masyarakat disibukkan dengan dunia politik. Fokus perhatian mereka tersedot pada berita-berita politik. Tak mengherankan bila bacaan mereka sehari-hari adalah koran, majalah, televisi, dan media lainnya yang menyuguhkan rumor, konflik, dan berita-berita tendensius. Keadaan semacam ini mencapai puncak tatkala eforia politik berlangsung, yaitu saat gerakan reformasi mencapai puncak putaran dalam menggoyang kursi kekuasaan. Keadaan masyarakat kerap diombang-ambingkan oleh opini yang dilansir media massa. Bahkan, tidak sedikit yang lantas terpicu untuk melakukan aksi-aksi tidak terpuji. Akibat keadaan yang demikian, sebagian masyarakat tidak lagi bersemangat mempelajari Islam. Lebih mengherankan lagi, banyak dai atau mubalig yang semestinya menjelaskan dan memberi pendidikan agama kepada umat, malah turut mewarnai majelis taklim dengan rumor-rumor politik. Bukan pendidikan agama yang diberikan tetapi obrolan-obrolan bernuansa politik yang bersumber dari media massa yang disuguhkan. Tidak mengarahkan umat bagaimana bersikap dalam kehidupan yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah n, para dai atau mubalig tersebut, malah lebih banyak bertutur tentang sepak terjang tokoh reformasi. Terjadilah proses pembodohan terhadap umat. Ini adalah sisi terparah dari kebobrokan yang dihasilkan gerakan reformasi. Umat menjadi jahil dan semakin jauh dari pemahaman Islam yang benar. Bahkan, dalam masa eforia politik ini banyak dai atau mubalig yang tersihir dengan politik. Mereka mengubah arah perjuangan dakwah dengan menceburkan diri dalam lumpur demokrasi. Mereka berlomba-lomba meraup kursi kekuasaan, sedangkan dunia dakwah ditinggalkan begitu saja.
Dalam kondisi umat terfitnah (diuji) oleh situasi politik, para dai Ahlus Sunnah tetap menyuarakan pemurnian dalam berislam. Mereka menyadarkan umat agar tetap menyibukkan diri untuk menuntut ilmu syar’i. Inilah nasihat Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan hafizhahullah terhadap orang-orang yang disibukkan oleh aktivitas politik. Menurut beliau hafizhahullah, menyibukkan diri dengan berbagai orasi, media massa, dan perkembangan-perkembangan (dinamika) yang terjadi di dunia tanpa mempelajari akidah dan ilmu syar’i merupakan kesesatan dan upaya yang sia-sia. Kesibukan tersebut hanya akan menjadikan pelakunya sebagai orang yang kacau pikirannya, karena dia telah menukar sesuatu yang lebih baik dengan sesuatu yang rendah nilainya. Allah l telah memerintahkan kepada kita agar yang pertama dipelajari adalah ilmu yang bermanfaat (ilmu syar’i). Allah l berfirman:
“Maka ketahuilah, sesungguhnya tidak ada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang beriman, laki-laki dan perempuan.” (Muhammad: 19)
Firman-Nya:
“Katakanlah: ‘Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?’ Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (Az-Zumar: 9)
Firman-Nya:
“Katakanlah: ‘Ya Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu’.” (Thaha: 114)
Banyak ayat lainnya yang mendorong seseorang untuk menuntut ilmu (syar’i) yang memiliki kedudukan dalam Kitabullah dan Sunnah Rasulullah n. Sesungguhnya, inilah yang dimaksud ilmu yang bermanfaat di dunia dan akhirat. Ilmu inilah yang merupakan cahaya yang akan menerangi seseorang agar bisa melihat jalan yang mengarahkannya menuju surga dan kebahagiaan. Juga yang akan mengarahkan seseorang menuju kehidupan yang baik dan bersih di dunia dan kehidupan yang bahagia di akhirat kelak. Allah l berfirman:
“Wahai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Rabbmu, (Muhammad dengan mukjizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang-benderang (Al-Qur’an). Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang kepada (agama)-Nya, niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang besar dari-Nya (surga) dan limpahan karunia-Nya. Dan menunjuki mereka kepada jalan yang lurus (untuk sampai) kepada-Nya.” (An-Nisa’: 174-175)
Oleh karena itulah, seseorang membaca Surat Al-Fatihah dalam setiap rakaat saat shalatnya dan berdoa dengan doa yang agung:
“Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (Al-Fatihah: 6-7)
Orang-orang yang telah diberi kenikmatan oleh Allah l adalah orang yang mampu menyatukan ilmu yang bermanfaat dengan amal shalih. Allah l berfirman:
“Mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang shalih, dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (An-Nisa’: 69)
Firman Allah l:
“Bukan (jalan) mereka yang dimurkai” adalah mereka yang memiliki ilmu, namun meninggalkan amal (shalih). Adapun firman-Nya:
“Dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat” adalah orang-orang yang melakukan amal, namun tidak didasari ilmu. Oleh karena itu, sifat kelompok pertama adalah yang dimurkai karena mereka bermaksiat kepada Allah l padahal mereka memiliki ilmu. Adapun sifat kelompok kedua adalah mereka yang tersesat karena beramal tanpa disertai ilmu. Mereka semua adalah orang-orang yang tidak akan memperoleh keselamatan kecuali orang-orang yang telah Allah l karuniai nikmat. Mereka adalah orang-orang yang memiliki ilmu nafi’ (yang bermanfaat) dan beramal shalih. Karena itu, wajib bagi kita untuk memerhatikan hal ini.
Adapun terhadap orang-orang yang menyibukkan diri dalam mengamati peristiwa-peristiwa kekinian (seperti pengamat politik, sosial, dan lainnya) sebagaimana mereka sering mengistilahkan dengan fiqhul waqi’, hendaknya mereka melakukan hal itu setelah memahami fiqih syar’i, karena seseorang yang memahami fiqih syar’i akan melihat persoalan kekinian, atau peristiwa yang terjadi di dunia, atau adanya berbagai pemikiran dan pendapat, dari sudut ilmu syar’i yang shahih sehingga bisa memilah mana yang baik dan mana yang buruk. Bila tanpa ilmu, mereka tidak akan bisa membedakan antara yang haq dan yang batil, antara petunjuk dan kesesatan. Oleh karena itu, orang yang menyibukkan diri dalam masalah budaya, berbagai berita media massa, dan politik, tanpa didasari ilmu agama yang benar hanya akan disesatkan oleh hal-hal tersebut. Karena sesungguhnya mayoritas permasalahan yang terkandung dalam hal-hal tersebut bersifat menyesatkan dan mengajak kepada kebatilan. Permasalahan tersebut bersifat menipu. Setiap pernyataannya dihiasi (dengan sesuatu yang indah). Kita memohon kepada Allah l akan al-‘afiyah (penjagaan) dan keselamatan. (Al-Ajwibah Al-Mufidah, hlm. 103—105)
Dampak gerakan reformasi yang membahayakan keselamatan Islam seseorang adalah tumbuh suburnya pemikiran pluralisme. Semua pemikiran keagamaan dianggap setara dan benar, sehingga berhak untuk tumbuh di Indonesia. Kasus Ahmadiyah merupakan bukti mencolok keterlibatan para aktivis pluralis dan pemikir penyatuan agama. Sikap ekstrem aktivis pluralis dalam melakukan pembelaan terhadap paham sesat Ahmadiyah mengundang ekstremitas dari sebagian kalangan yang menghendaki pembubaran Ahmadiyah. Muaranya adalah terjadinya bentrokan fisik di seputar Lapangan Monas. Menilik dan mencermati kasus tersebut, tampak bahwa para aktivis pluralis dan kebebasan beragama semakin berani menunjukkan taring. Mereka secara berani menantang dan menampakkan keyakinannya di ruang publik. Ini belum pernah terjadi pada masa sebelum gerakan reformasi bergulir.
Allah l telah menyatakan secara tegas bahwa agama yang benar, diridhai, dan diterima di sisi Allah l adalah Islam. Allah l berfirman:
“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Ali ‘Imran: 85)
Firman-Nya:
“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (Ali ‘Imran: 19)
Firman-Nya:
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (Al-Ma’idah: 3)
Gerakan reformasi telah melapangkan paham demokrasi hingga tertancap makin kokoh di Indnesia. Melalui upaya penggulingan kekuasaan, para tokoh reformis mereformasi sistem kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Dari sinilah penanaman nilai-nilai yang menyelisihi syariat digencarkan. Sebagian masyarakat terkesima, bahkan mengagungkan nilai-nilai Barat dalam bentuk demokratisme. Oleh sebagian aktivis keagamaan, paham demokrasi dibetot sedemikian rupa agar identik dengan syariat Islam. Dilontarkanlah pengertian yang menyesatkan, seakan demokrasi adalah praktik nyata dari sistem syura yang dikenal dalam syariat Islam, padahal nyata jauh beda antara keduanya. Satu dan lainnya justru sangat bertentangan. Demokrasi merupakan produk pemikiran Yunani, sementara syura merupakan syariat yang berasal dari wahyu. Syura merupakan ketentuan yang diperintahkan Al-Khaliq Ar-Rahman:
“Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (Ali ‘Imran: 159)
Firman-Nya:
“Dan urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah di antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.” (Asy-Syura: 38)
Jelaslah bahwa seseorang yang mengamalkan syura secara ikhlas berarti dia tengah ber-taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah l, karena musyawarah (syura) yang diamalkan hakikatnya merupakan wujud nyata perintah Allah l. Ini tentu berbeda dengan orang yang berkubang dalam lumpur demokrasi. Dia bergelut dengan nilai-nilai falsafah orang-orang Yunani, bergelut dengan produk pemikiran manusia yang lemah. Pembicaraan tentang demokrasi bisa dilihat pada Majalah Asy-Syariah, Edisi 06.
Alam reformasi telah menjadi lahan subur bagi tumbuhnya nilai-nilai kekufuran, terutama dalam sistem bermasyarakat dan bernegara.
“Apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (Al-Maidah: 50)
Berkaitan dengan demokratisme yang merupakan nilai kufur, ketika paham ini diterapkan akan melahirkan sekian banyak kerusakan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Satu contoh konkret yang terjadi di tengah masyarakat Indonesia adalah terjadinya pemborosan (tabdzir) dalam setiap acara pemilihan umum, baik tingkat pusat maupun daerah. Sekian banyak dana dikucurkan guna memilih seorang pemimpin di tingkat pusat maupun daerah. Setiap partai politik tentu tidak sedikit menyediakan dana untuk menyukseskan calon yang diusungnya. Dari mana dana yang demikian banyak itu diperoleh pihak partai? Wallahu a’lam. Yang jelas, telah banyak dana disia-siakan saat proses pemilihan calon pemimpin atau legislatif di Bumi Nusantara ini.
“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim, dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainul yaqin, kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).” (At-Takatsur: 1-8)
Keinginan manusia untuk bermegah-megahan dalam soal duniawi seringkali melalaikan manusia dari tujuan hidupnya. Seseorang akan benar-benar menyadari kesalahannya itu setelah maut menjemput, kecuali orang yang dirahmati Allah l. Karenanya, kelak manusia akan ditanya di akhirat tentang nikmat yang dibangga-banggakannya itu. Bermegah-megahan dalam hal banyaknya harta, pengikut, kemuliaan, jabatan, dan yang semisalnya telah banyak melalaikan manusia dari ketaatan kepada Allah l. Jika seperti ini, manusia telah tertipu oleh kehidupan dunia. Sadarlah, wahai hamba Allah! Allahul musta’an (Allah sajalah yang dimintai pertolongan).
Wallahu a’lam.

Sepenggal Kisah Reformasi

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin)

Rusuh di mana-mana. Demonstrasi pun merebak di mana-mana. Itulah situasi yang mewarnai perjalanan awal sebuah reformasi. Sebuah situasi yang secara sengaja diskenario untuk membuahkan pergantian kekuasaan. Berbagai elemen masyarakat digerakkan. Media massa dihasung untuk menyulut situasi yang dikehendaki. Mahasiswa digerakkan untuk aksi turun ke jalan seraya menggaungkan agenda reformasi. Masyarakat, dengan berbagai strata, terus-menerus dicekoki dengan informasi-informasi yang membuka aib penguasa. Terjadilah sebuah situasi yang panas bergejolak. Tekanan demi tekanan terus dilancarkan guna menggoyang kekuasaan yang ada.
Pola-pola semacam ini tak semata berlangsung di Indonesia. Tidak hanya saat reformasi diletupkan guna menggusur Orde Baru. Saat Orde Lama tumbang, pola yang nyaris sama pun dilakukan. Masih lekat dalam benak sejarah, mahasiswa turun ke jalan, bentrok dengan aparat, lalu ada yang tertembak mati, setelah itu tersulutlah amarah massa. Situasi menjadi chaos, rusuh bergejolak. Suhu politik semakin meninggi. Banyak elite politik bermain guna mendapatkan bola liar yang tengah bergulir. Keadaan semacam itu nyaris sama terjadi tatkala Orde Baru hendak dilengserkan. Tidak cuma di Indonesia, di beberapa negara pun situasinya didesain hampir serupa. Sebut saja seperti di Filipina atau beberapa negara lainnya.
Aksi demonstrasi yang didengung-dengungkan setiap hari di berbagai kota besar di Indonesia menjelang surutnya kekuasaan Orde Baru kian mendekati titik membara. Banyak elemen masyarakat yang tak bisa mengendalikan emosi dan berpikir rasional. Di Medan, mahasiswa hampir setiap hari berunjuk rasa. Bahkan, situasi semakin melebar hingga mampu memengaruhi sebagian masyarakat. Masyarakat Medan pun telanjur tak terkendali dan mulai berbuat onar. Medan menjadi kota besar pertama yang yang menjadi korban kerusuhan kerusuhan. Antara 4—7 Mei 1998 terjadi pembakaran, perusakan, penjarahan toko-toko, pasar, dan kendaraan. Kerusuhan ini menjalar ke beberapa kota seputar Medan. Di Yogyakarta pada 5 Mei 1998 terjadi rusuh. Ini merupakan aksi mencekam terkait reformasi, sama seperti di Medan dan kota-kota besar lainnya di Indonesia. Mahasiswa bentrok dengan aparat. Perusakan dan pembakaran terjadi mulai siang hingga malam hari. Kerusuhan kedua terjadi 8 Mei 1998. Kerusuhan kedua di Yogyakarta ini berskala lebih besar daripada kerusuhan 5 Mei 1998. Di Jakarta tanggal 12 Mei 1998 ribuan mahasiswa turun ke jalan, demo. Mereka menuntut penguasa lengser dari kursi jabatannya. Sore hari, keadaan makin memburuk. Empat mahasiswa terbunuh. Puluhan lainnya, terdiri dari masyarakat dan mahasiswa, mengalami luka-luka. Hingga tanggal 15 Mei 1998, di Jakarta dan kota-kota lainnya di Indonesia mengalami situasi yang sama: rusuh! Keadaan pun makin tak terkendali. Ribuan bangunan milik masyarakat, aset negara, toko, dan kendaraan, hancur-lebur dirusak dan dibakar massa.
Sebelum mahasiswa secara sporadis melakukan aksi-aksi demonstrasi menuntut penguasa turun, muncul sosok tokoh yang senantiasa membuka aib penguasa di depan masyarakat umum. Selain melalui tulisan-tulisannya di media massa, sosok tokoh ini pun aktif memompa masyarakat untuk memusuhi penguasanya melalu acara-acara “pengajian”. Statusnya sebagai pembesar salah satu ormas terbesar di Indonesia memungkinkannya untuk leluasa menggalang massa. Ceramah-ceramahnya di hadapan massa selalu berkutat masalah aib-aib penguasa dan berupaya mengajak masyarakat mendongkel sang penguasa. Sosok tokoh ini pun memiliki rencana besar untuk mempercepat penggulingan kekuasaan. Pada 20 Mei 1998, dia berencana mengarahkan sejuta massa ke Lapangan Monas di seberang Istana Negara, meskipun akhirnya rencana ini dibatalkan.
Tekanan untuk melengserkan penguasa pun tak hanya di situ. Melalui berbagai tokoh “cendekia” lainnya, saran-saran untuk meletakkan jabatan pun disampaikan. Beberapa tokoh “cendekia” sempat mendatangi Istana guna meminta penguasa agar bersedia mengundurkan diri. Akhirnya, pada tanggal 20 Mei 1998, sekitar pukul 22.15 WIB, Presiden Republik Indonesia pada waktu itu memutuskan untuk berhenti sebagai presiden. “Segala usaha untuk menyelamatkan bangsa dan negara telah kita lakukan. Tetapi, Tuhan rupanya berkehendak lain. Bentrokan antara mahasiswa dan ABRI tidak boleh sampai terjadi. Saya tidak mau terjadi pertumpahan darah. Oleh karena itu, saya memutuskan untuk berhenti sebagai presiden, menurut Pasal 8 Undang-Undang Dasar 1945,” demikian pernyataan Presiden. (Soeharto, Biografi Singkat, 1921—2008, Taufik Adi Susilo, hlm. 111)
Setelah pergantian kepemimpinan negara terjadi, apakah situasi negara semakin stabil? Walau kepemimpinan negara telah berpindah tangan, ternyata sebagian masyarakat tidak mau menerima keadaan seperti itu. Pemimpin baru pun terus dipermasalahkan. Diungkit aib-aibnya di hadapan masyarakat luas. Melalui beberapa media, disemburkan bibit-bibit kebencian terhadap penguasa. Masyarakat diasupi informasi-informasi yang memicu permusuhan terhadap pemimpinnya. Rakyat dihasung untuk menolak dan mendongkel penguasa baru. Keadaan ini terus berlanjut. Masyarakat pun akhirnya sulit mendapatkan rasa aman dan nyaman hidup di Indonesia. Ini semua akibat ulah para provokator yang senantiasa bersikap antipati terhadap penguasa. Kehidupan bermasyarakat selalu diwarnai aksi unjuk rasa. Membuka sisi negatif kehidupan penguasa merupakan santapan sehari-hari. Sebuah pendidikan sosial politik yang sangat buruk bagi masyarakat. Masyarakat senantiasa diajari untuk selalu berkonflik, membuka jurang antara penguasa dan rakyatnya, serta dididik untuk selalu curiga. Sebuah potret kehidupan yang sangat sarat ketidaknyamanan. Sebuah struktur masyarakat yang sangat rentan terhadap berbagai konflik dan penyakit sosial lainnya. Tak mengherankan jika kemudian masyarakat sangat mudah dipicu untuk berbuat onar, rusuh, beringas, dan sadistis. Kerusuhan pun mewarnai kehidupan bangsa yang dulunya dikenal sebagai bangsa yang ramah. Terjadi pembantaian terhadap kaum muslimin di Poso, Ambon, Maluku Utara dan tempat lainnya. Timbulnya keresahan masyarakat Aceh juga akibat aksi-aksi separatisme pada masa itu. Semua peristiwa itu mengguratkan kehidupan yang kelam dan memilukan. Ironisnya peristiwa-peristiwa tersebut terjadi setelah ide-ide reformasi digaungkan.
“Jikalau penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Al-A’raf: 96)
Upaya suksesi, penggulingan kekuasaan, atau sikap anti terhadap penguasa melalui cara-cara pengerahan massa, sebenarnya pernah dilakukan tokoh Yahudi bernama Abdullah bin Saba’ semasa pemerintahan ‘Utsman bin ‘Affan z. Abdullah bin Saba’ yang menampilkan diri secara lahiriah sebagai seorang muslim namun dalam batinnya menyimpan kekufuran, secara intensif berupaya mengembuskan api permusuhan terhadap pemerintah. Masyarakat Mesir sempat terprovokasi sehingga mereka melakukan pergerakan menentang pemerintahan ‘Utsman bin ‘Affan z. Puncak dari aksi provokasi yang didalangi Yahudi ini adalah terjadinya pengepungan (melalui aksi demonstrasi) terhadap kediaman Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan z. Akibat aksi pergerakan massa tersebut, Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan z terbunuh. (Lihat Majalah Asy-Syariah edisi 32 dan 57)
Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan hafizhahullah pernah ditanya berkenaan dengan aksi demonstrasi. Apakah aksi demonstrasi ini merupakan cara yang diperkenankan dalam agama?
Beliau hafizhahullah menjelaskan bahwa Islam bukan agama yang tidak memiliki aturan. Bukan agama yang kacau tak beraturan. Islam adalah agama yang tenang. Demonstrasi atau unjuk rasa tidak termasuk perbuatan kaum muslimin. Islam adalah agama yang tenang dan penuh rahmat. Tidak mengajarkan kekacauan, mengembuskan berita-berita tak benar dan fitnah. Demonstrasi adalah aksi yang bisa menimbulkan fitnah yang besar, mendorong pertumpahan darah, dan menghancurkan harta benda. Oleh karena itu, seorang muslim tidak boleh melakukan hal-hal di atas. Bahkan, apabila umat dalam keadaan ditekan pihak penguasa sekalipun, hendaknya bersabar. Kemudaratan tidak bisa disingkirkan dengan hal-hal yang menimbulkan mudarat (yang lebih besar). Apabila terjadi kemudaratan atau kemungkaran, hendaklah tidak disingkirkan dengan melakukan unjuk rasa atau demonstrasi. Yang demikian tak akan menyelesaikan masalah. Bahkan, akan menambah keadaan menjadi semakin buruk. Karena itu, serahkanlah keadaan kepada yang bertanggung jawab menangani dan berikanlah nasihat kepada mereka. Jika keadaan tetap belum berubah, wajib bersabar sebagai bentuk pencegahan dari mudarat yang lebih besar. (Al-Ajwibah Al-Mufidah, hlm. 232 dan 235)
Bagaimana cara memberi nasihat yang sesuai syariat terhadap penguasa? Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan hafizhahullah mengungkapkan bahwa menasihati penguasa bisa melalui beberapa cara. Diantaranya mendoakan mereka agar tetap dalam keadaan baik dan istiqamah (di atas agama dan kebenaran). Sesungguhnya, mendoakan kebaikan bagi penguasa muslimin termasuk ketentuan syariat. Terutama, mendoakan mereka pada saat-saat dikabulkannya doa dan di tempat-tempat yang diharapkan terkabulkan. Al-Imam Ahmad bin Hanbal t berkata:
لَوْ كَانَ لَنَا دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ لَدَعَوْنَا بِهَا لِلسُّلْطَانِ
“Andai kami memiliki doa yang mustajab (dikabulkan), sungguh akan kami tujukan doa tersebut bagi penguasa.” (Majmu’ Al-Fatawa, 28/391)
Bila penguasa tersebut baik, niscaya akan membawa kebaikan kepada rakyatnya. Jika penguasa tersebut rusak, niscaya kerusakan yang melekat padanya akan berpengaruh pada rakyat. Termasuk menasihati penguasa adalah melaksanakan sistem kerja yang digariskannya terhadap para pegawai atau aparaturnya. Selain itu, hendaknya pula memberitahu pihak penguasa bila terjadi kesalahan atau kemungkaran di masyarakat. Sebab, terkadang pihak penguasa beserta jajarannya tidak mengetahui bahwa telah terjadi kesalahan atau kemungkaran. Namun harus diingat, saat memberitahu perihal tersebut hendaknya dengan cara sembunyi-sembunyi. Cukup antara orang yang menasihati dengan pihak penguasa saja. Jangan sekali-kali menasihati penguasa di hadapan orang banyak secara transparan dan vulgar, atau melakukannya di atas mimbar (media umum). Ini bisa memberi pengaruh yang tidak baik, bahkan akan menimbulkan kejelekan, yaitu menimbulkan jurang permusuhan antara penguasa dan rakyatnya. Perlu diingat pula, bukanlah nasihat apabila dilakukan dengan cara mengkritik penguasa di atas mimbar, menyebutkan kesalahan-kesalahan penguasa di media umum (mimbar) sehingga diketahui orang banyak. Aksi semacam ini tidak akan membantu menciptakan kemaslahatan pada masyarakat. Bahkan, bisa menimbulkan keburukan yang seburuk-buruknya.
Sesungguhnya, menasihati penguasa bisa melalui dengan menyampaikannya secara pribadi, bisa pula menyampaikannya melalui surat, atau melalui orang-orang kepercayaan yang biasa berhubungan dengan penguasa tersebut, sehingga nasihat yang disampaikan bisa diterima dengan baik. Bukanlah nasihat terhadap penguasa bila seseorang menuliskan nasihatnya lantas disebar kepada orang banyak. Yang seperti ini bukan nasihat, tetapi fadhihah (menyebarkan kesalahan orang lain kepada masyarakat atau orang banyak). Ini perlu dipertimbangkan matang, sebab bisa menjadi penyebab timbulnya kejelekan, sukacita musuh (Islam), dan menyusupnya para pengikut hawa nafsu ke dalam urusan tersebut. (Al-Ajwibah Al-Mufidah, hlm. 161—163)
Di dalam kitab Syarhus Sunnah, Al-Imam Abu Muhammad Al-Hasan bin Ali Al-Barbahari t mengatakan:
وَإِذَا رَأَيْتَ الرَّجُلَ يَدْعُو عَلَى السُّلْطَانِ فَاعْلَمْ أَنَّهُ صَاحِبُ هَوًى، وَإِذَا رَأَيْتَ الرَّجُلَ يَدْعُو لِلسُّلْطَانِ بِالصَّلَاحِ
فَاعْلَمْ أَنَّهُ صَاحِبُ سُنَّةٍ، إِنْ شَاءَ اللهُ
“Apabila engkau melihat seseorang mendoakan kejelekan terhadap penguasa, ketahuilah bahwa sesungguhnya dia itu pengikut hawa nafsu. Bila engkau melihat seseorang mendoakan penguasa dengan kebaikan, ketahuilah sesungguhnya dia adalah pengikut As-Sunnah, insya Allah.” (hlm. 116)
Seluruh bimbingan para ulama salaf di atas, tentang cara menasihati dan menyampaikan aspirasi terhadap penguasa, bersendi pada apa yang telah disampaikan Rasulullah n. Dalam sebuah hadits dari Syuraih bin ‘Ubaid z dan selainnya, Rasulullah n bersabda:
مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِذِي سُلْطَانٍ فَلَا يُبْدِ لَهُ عَلَانِيَةً وَلَكِنْ لِيَأْخُذْ بِيَدِهِ فَيَخْلُوْ بِهِ فَإِن قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ وَإِلَّا كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ
“Barangsiapa ingin menasihati penguasa karena satu hal, janganlah dia menerangkannya secara terbuka (di depan masyarakat). Akan tetapi, hendaklah  dia mengambil tangannya, lalu (berbicara berdua dengan penguasa itu. Jika penguasa menerima (nasihat itu), itulah (yang diharapkan). Jika penguasa itu tidak mau menerima nasihat, sungguh ia telah menyampaikan kewajibannya.” (HR. Ahmad, Majma’ Az-Zawa’id no. 9161. Dishahihkan Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani dalam Zhilalul Jannah fi Takhriji As-Sunnah, no. 1096)
Sudah semestinya seorang muslim memuliakan penguasanya. Tidak mencela apalagi merendahkannya di hadapan publik. Tidak pula menjatuhkan kehormatannya walaupun untuk menyampaikan aspirasi rakyat. Al-Imam At-Tirmidzi t dalam Sunan-nya meriwayatkan hadits (no. 2224) dari Ziyad bin Kusaib Al-’Adawi yang bertutur: “Aku pernah bersama Abu Bakrah z (seorang sahabat Nabi n, -red.) di bawah mimbar Ibnu ‘Amir yang sedang berkhutbah dan mengenakan pakaian tipis. Tiba-tiba, Abu Bilal (Mirdas bin Udayyah, seorang tokoh Khawarij) mengkritik seraya berkata: ‘Lihatlah pemimpin kita. Dia mengenakan pakaian orang-orang fasik.’ Abu Bakrah z lantas angkat bicara, ‘Diam kamu! Aku telah mendengar Rasulullah n bersabda:
مَنْ أَهَانَ سُلْطَانَ اللهِ فِي الْأَرْضِ أَهَانَهُ اللهُ
“Barangsiapa yang merendahkan (menghina) penguasa Allah di muka bumi, pasti Allah l akan merendahkan dirinya.” (Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani menyatakan hadits ini hasan. Lihat Ash-Shahihah no. 2296)
Seorang muslim dituntun oleh agama Islam yang mulia ini untuk bersikap mendengar, taat, dan patuh kepada penguasanya, walaupun penguasa tersebut bertindak zalim. Barangsiapa keluar (dari ketaatan) terhadap salah seorang imam (pemimpin) kaum muslimin, dia seorang khariji (berpemahaman Khawarij). Sungguh dia telah memecah-belah persatuan kaum muslimin dan menyelisihi As-Sunnah. Jika dia mati, mati dalam keadaan jahiliah. Tidak halal memerangi penguasa dan keluar (dari ketaatan) kepadanya meskipun penguasa tersebut bertindak lalim. Rasulullah n pernah berkata kepada sahabat Abu Dzar Al-Ghifari z:
اصْبِرْ وَإِنْ كَانَ عَبْدًا حَبَشِيًّا
“Bersabarlah, meskipun (yang memerintahmu) seorang budak Habasyi.”
Juga sabda Rasulullah n terhadap kaum Anshar:
اصْبِرُوا حَتَّى تَلْقَوْنِي عَلَى الْحَوْضِ
“Bersabarlah kalian hingga kalian berjumpa denganku di al-haudh (telaga).”
Oleh karena itu, memerangi (menentang) penguasa bukanlah bimbingan As-Sunnah, karena penentangan (sikap memerangi) penguasa akan menimbulkan kerusakan agama dan dunia. (Lihat Syarhus Sunnah, Al-Imam Al-Barbahari, hlm. 78)
Islam membimbing pula, apabila proses penetapan penguasa tersebut menyelisihi apa yang telah ditentukan dalam syariat (semisal demokrasi atau kudeta) maka kewajiban terhadap pemimpin yang berkuasa tersebut tidak lantas dicabut. Kewajiban untuk mendengar, taat, dan patuh tetap berlaku selama yang diperintahkannya adalah hal yang ma’ruf. Adapun dalam hal maksiat, tidak wajib menaatinya. Al-Imam Abdul Aziz bin Muhammad bin Su’ud pernah ditanya, “Apakah sah seorang imam yang bukan dari kalangan Quraisy?” Jawab beliau t, “Hal tersebut merupakan pendapat mayoritas ulama, yaitu tidaklah sah pemimpin selain dari Quraisy apabila yang demikian ini memungkinkan. Adapun bila tidak memungkinkan, sementara umat telah bersepakat untuk tetap membai’at imam (yang bukan dari Quraisy), atau ahlul halli wal ‘aqdi menyetujuinya, mengesahkan keimamannya dan mewajibkan untuk membai’atnya, tidak boleh melakukan penentangan terhadapnya. Ini adalah pendapat yang benar berdasarkan hadits-hadits shahih, seperti sabda Rasulullah n:
عَلَيْكُمْ بِالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ حَبَشِيٌّ
“Kalian wajib mendengar dan taat, meskipun yang memerintah kalian adalah seorang budak Habasyi.” (Ad-Durar As-Saniyyah, 9/5—7, dinukil dari Al-Jama’ah wal Imamah, Asy-Syaikh Muhammad bin Umar bin Salim Bazmul, hlm. 82)
Dampak reformasi bagi masyarakat adalah terbukanya kran kebebasan. Masyarakat dihasung untuk berani menyampaikan aspirasinya. Di sisi lain, mentalitas masyarakat belum siap memaknai kebebasan yang ada. Reformasi telah mengantarkan kehidupan bermasyarakat pada taraf tidak memedulikan lagi norma-norma dalam menyikapi penguasa. Apa yang diperoleh dari sebuah proses reformasi, yaitu mengajari masyarakat untuk kritis, merendahkan, melecehkan, dan mencaci-maki penguasa yang tak sejalan dengan pemikiran para “reformis”, adalah sebuah situasi yang sangat memilukan. Reformasi telah mencampakkan nilai-nilai Islam dalam hal menyikapi penguasa.

Kedudukan Penguasa Dalam Syariat

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin)

Ulil amri (pemimpin/penguasa) memiliki kedudukan yang tinggi. Mereka menempati martabat yang luhur dan mulia. Syariat menganugerahi mereka berkaitan dengan kekuasaan dan tugas mereka yang memiliki keluhuran. Selain, tentunya terkait tanggung jawabnya yang demikian besar. Karenanya, mereka diberi gelar kedudukan dalam keimamahan yang menggantikan nubuwah dalam menjaga agama dan politik dalam urusan dunia. 
Sesungguhnya, seseorang tidak akan mampu mengendalikan kekuasaan kecuali dengan kekuatan dan keteguhan kepemimpinan. Jika syariat tidak memberikan padanya apa yang terkait tabiat amal, yaitu individu yang menghormati dan mengagungkannya, sungguh akan menjadi batu ujian bagi manusia. Apalagi jika mereka tidak mampu mengendalikannya. Akibatnya akan timbul bencana dan kekacauan di masyarakat umum, lenyaplah berbagai kemaslahatan, timbulnya kerusakan dunia dan telantarnya kehidupan beragama.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait mulianya kedudukan penguasa, di antaranya:
1.    Sesungguhnya Allah l telah memerintahkan untuk taat kepada penguasa diiringkan dengan ketaatan kepada-Nya, ketaatan kepada Rasul-Nya n. Ini menunjukkan luhurnya urusan dan besarnya kekuasaan mereka. Allah l berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), serta ulil amri di antara kalian.” (An-Nisa’: 59)
Ketaatan kepada penguasa diwajibkan terhadap semua hamba dengan batasan selama tidak memerintahkan bermaksiat kepada Allah l. Jika penguasa itu memerintahkan kemaksiatan, tidak wajib untuk menaatinya, karena tidak ada ketaatan terhadap makhluk dalam bermaksiat kepada Al-Khaliq (Allah l).
2.    Syariat mengabarkan bahwa barangsiapa memuliakan penguasa, Allah l akan memuliakannya. Barangsiapa menghinakan/merendahkan penguasa, Allah l akan merendahkan/menghinakannya. Maknanya, sesungguhnya siapa saja yang lancang terhadap penguasa maka dia telah menghinakan penguasa, dalam bentuk perbuatan atau perkataan (pernyataan). Dia telah melampaui hukum-hukum Allah l, melanggar larangan-larangan yang jelek. Dia akan mendapatkan sanksi atas segala perbuatannya tersebut. Allah l akan membalas kehinaan dengan kehinaan. Bahkan, kehinaan yang Allah l timpakan lebih besar dan lebih keras. Pada sebagian lafadz dari hadits Abu Bakrah z disebutkan:
مَنْ أَجَلَّ سُلْطَانَ اللهِ أَجَلَّهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Barangsiapa memuliakan penguasa Allah, Allah akan memuliakannya pada hari kiamat.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi ‘Ashim dalam As-Sunnah, 2/492)
3.    Sesungguhnya penguasa adalah zhillullah (naungan Allah l) di muka bumi. Hadits yang meriwayatkan tentang hal ini banyak dan diriwayatkan dari banyak perawi pula. Yang paling shahih adalah yang diriwayatkan Abu Bakrah z dan lafadz tersebut sebagaimana dalam As-Sunnah karya Ibnu Abi ‘Ashim t:
السُّلْطَانُ ظِلُّ اللهِ فِي الْأَرْضِ فَمَنْ أَكْرَمَهُ أَكْرَمَهُ اللهُ وَمَنْ أَهَانَهُ أَهَانَهُ اللهُ
“Penguasa itu naungan Allah l di muka bumi. Barangsiapa memuliakannya, Allah l pun memuliakannya. Barangsiapa menghinakannya, Allah l akan menghinakannya pula.”
Pernyataan السُّلْطَانُ ظِلُّ اللهِ ‘penguasa itu naungan Allah l’ mengandung pengertian bahwa dengannya Allah l akan melindungi manusia dari gangguan, sebagaimana naungan adalah pelindung dari gangguan terik matahari. Penyandaran kepada Allah l pada kata zhillullah (ظِلُّ اللهِ), atau pada sebagian lafadz dengan menyebutkan sulthanullah (سُلْطَانُ اللهِ), merupakan bentuk maklumat kepada manusia bahwasanya naungan tersebut tidaklah seperti seluruh naungan yang lain. Itu menunjukkan ketinggian dan kemuliaan naungan tersebut, sekaligus menunjukkan bahwa naungan tersebut memiliki faedah dan manfaat yang besar. Penyandaran (idhafah) kepada Allah l sesungguhnya menunjukkan idhafah tasyrif (penyandaran pemuliaan) sebagaimana pada kata Baitullah (بَيْتُ اللهِ), Ka’batullah (كَعْبَةُ اللهِ), atau yang lainnya. Ini mengandung isyarat akan ketinggian kedudukan penguasa dan kemuliaan keberadaannya.
4.    Syariat melarang seseorang mencela penguasa dan mencegahnya terjatuh dalam perbuatan tersebut. Anas bin Malik z berkata:
نَهَانَا كُبَارَاؤُنَا مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللهِ n قَالُوا: لَا تَسُبُّوا أُمَرَاءَكُمْ وَلَا تَغُشُّوهُمْ وَلَا تُبْغِضُوهُمْ، وَاتَّقُوا اللهَ وَاصْبِرُوا فَإِنَّ الْأَمْرَ قَرِيبٌ
“Kalangan tua dari para sahabat Rasulullah n melarang kami (mencela penguasa). Mereka berkata, ‘Janganlah kalian mencela pemerintah kalian, janganlah melakukan tipu daya terhadapnya, jangan pula membencinya. Bertakwalah kalian kepada Allah dan bersabarlah, karena sesungguhnya (keputusan) urusan itu sangat dekat’.” (As-Sunnah, Ibnu Abi ‘Ashim, 2/488)
Juga disebutkan oleh Al-Munawi t dalam Faidhul Qadir (6/499), Allah l telah menjadikan sultan (penguasa) sebagai penolong makhluk-Nya. Oleh karena itu, jagalah kedudukannya dari celaan dan hinaan. Jadikanlah penghormatan kepadanya sebagai sebab terbentangnya naungan Allah l dan bersinambungannya pertolongan (Allah l) terhadap makhluk-Nya. Sungguh, kalangan As-Salaf telah memperingatkan agar tidak mendoakan kejelekan terhadap penguasa, karena bertambahnya kejelekan (pada penguasa) akan menambah bencana (bala) terhadap kaum muslimin.
5.    Badruddin ibnu Jamaah telah menukil dari Ath-Thurthusyi sehubungan dengan firman Allah l:
“Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini.” (Al-Baqarah: 251)
Maknanya, seandainya Allah l tidak menegakkan kedudukan penguasa di muka bumi, niscaya yang lemah akan ditindas yang kuat, yang dizalimi akan diadili oleh yang menzaliminya, dan sebagian manusia akan menguasai sebagian yang lain secara zalim. Kemudian Allah l menganugerahkan kepada hamba-hamba-Nya tegaknya penguasa atas mereka dengan firman-Nya:
“Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam.” (Al-Baqarah: 251)
6.    Umat telah bersepakat, sesungguhnya manusia tidaklah akan menegakkan urusan agama dan dunia mereka kecuali dengan adanya keimamahan (pemerintahan). Kalaulah Allah l tidak (menegakkan) kepemimpinan (pemerintahan) niscaya agama akan telantar dan urusan dunia pun rusak.
Pengertian ini sebagaimana disebutkan oleh Al-Faqih Abu Abdillah Al-Qal’i Asy-Syafi’i dalam kitab Tahdzibu Ar-Riyasah (hlm. 94—95). Beliau t menyebutkan bahwa mengatur urusan agama dan dunia yang dimaksud ini tidak akan membawa hasil (tidak akan bisa terlaksana) kecuali dengan keberadaan imam (penguasa)
7.    Sesungguhnya imamul a’zham adalah orang yang mendapat pahala yang paling utama jika dia bersikap adil. Disebutkan oleh Al-Izz bin Abdis Salam t dalam kitabnya Qawa’id Al-Ahkam fi Mashalih Al-Anam (1/104):
Pahala imamul a’zham lebih utama daripada pahala seorang mufti dan hakim (qadhi), karena kemaslahatan yang dihasilkannya dan kerusakan yang dicegahnya lebih menyeluruh.
Karena, keberadaan mereka akan memberikan kebaikan secara total dan mencegah setiap kerusakan yang menyeluruh. Disebutkan dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah z, dari Nabi n, beliau n bersabda:
سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ؛ إِمَامٌ عَادِلٌ ….
“Tujuh golongan yang akan mendapat naungan Allah ada hari yang tidak ada naungan selain naungan-Nya, yaitu pemimpin yang adil….” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
8.    Kaum muslimin telah bersepakat bahwa pemerintahan termasuk ketaatan yang paling utama. Sebagaimana dinyatakan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, sesungguhnya pemerintahan termasuk kewajiban agama yang paling agung. (Majmu’ Al-Fatawa, 28/390)
(Diringkas dari Mu’amalatul Hukkam fi Dhau’i Al-Kitab wa As-Sunnah, Asy-Syaikh Abdus Salam bin Barjas, hlm. 48—59)
Wallahu a’lam.