Nabi Musa di Negri Madyan

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Harits)

 

Pelajaran dari kisah ini
Di dalam kisah ini, tampak jelas dalil yang melarang ikhtilath (berbaur) antara laki-laki dan wanita. Ketika Nabi Musa q menjumpai sekelompok orang yang sedang memberi minum ternak mereka, beliau melihat jauh di belakang mereka, dua orang wanita sedang menahan kambing-kambing mereka dari tempat minum tersebut.
Keduanya tidak mampu memberi minum ternak mereka bersama orang laki-laki. Nabi Musa q tidak rela melihat keadaan tersebut dan merasa heran melihat ada dua wanita yang tidak didampingi mahramnya, berada di luar rumah mereka. Kemudian, beliau bertanya kepada keduanya: “Apa maksud kalian berdua?”
Keduanya mengajukan uzur, mengapa mereka keluar dari rumah mereka. Keduanya memberikan jawaban sangat ringkas, sesuai kebutuhan, sebagaimana firman Allah l:
“Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum penggembala-penggembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya.”1
Perhatikanlah dialog di antara mereka. Pertanyaan seperlunya sesuai kebutuhan, begitu pula jawaban, seperlunya sesuai kebutuhan. Tanpa bumbu atau tambahan lainnya.
Seperti itu pula adab yang diajarkan Allah l kepada manusia-manusia pilihan-Nya. Allah l mendidik orang-orang yang dipilih-Nya untuk mendampingi kekasih-Nya Muhammad n agar senantiasa berada dalam kesucian hati yang prima.
Itulah bimbingan yang diberikan Allah l untuk para istri kekasih-Nya n, bagaimana berbicara kepada laki-laki yang bukan mahram mereka:
“Wahai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (Al-Ahzab: 32)
Firman Allah l:
“Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir.” (Al-Ahzab: 53)
Allah l berfirman:
“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias serta bertingkah-laku seperti orang-orang jahiliah yang dahulu.” (Al-Ahzab: 33)
Itulah hukum asal yang diberlakukan oleh Allah l Yang Maha Mengetahui kemaslahatan makhluk ciptaan-Nya. Allah  l yang Mahabijaksana menetapkan syariat yang bermanfaat bagi mereka, kapan dan di mana saja. Hukum asal, bahwasanya keberadaan kaum perempuan yang paling utama adalah di dalam rumah-rumah mereka.
Kalau bukan karena kebutuhan yang mendesak, tidak mungkin dua wanita utama putri orang tua yang shalih ini keluar dari rumah mereka. Wallahul musta’an.
Alangkah jauhnya pekerti ini dari sebagian muslimah dewasa ini. Mereka merasa bangga ketika berhasil menempati berbagai kedudukan di kantor-kantor, perusahaan-perusahaan, atau kegiatan sosial masyarakat, berbaur dengan kaum pria, sedangkan tugas-tugas sebagai seorang ibu atau istri di dalam rumah, hanya sambil lalu.
Pembaca, ada sebuah pedoman (kaidah) yang ditegaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan muridnya Ibnul Qayyim rahimahumallah dalam beberapa tempat di kitab-kitab mereka. Bahwa apapun dalil ‘aqli atau dalil syar’i yang dijadikan dasar oleh orang-orang yang sesat untuk mendukung kebatilannya, dalil-dalil itu justru menerangkan lawan dari kebatilan mereka (membantah kesesatan mereka, ed.).
Pernyataan beliau berdua rahimahumallah, dapat kita buktikan dalam setiap permasalahan agama baik ushul maupun furu’. Salah satunya adalah permasalahan ikhtilath ini.
Sebagian orang yang menginginkan tersebarnya kerusakan di tengah-tengah kaum muslimin, berdalil tentang bolehnya ikhtilath dengan sejumlah dalil. Antara lain:
a. Kisah Nabi Musa q ketika tiba di sumber air negeri Madyan dan berbicara dengan dua orang wanita.
b. Kisah para sahabat wanita yang menyertai Nabi n di masjid, dua shalat ied, dan sejumlah peperangan.
Seandainya kita mau memerhatikan dua dalil mereka ini, maka keduanya justru merupakan bantahan terhadap mereka.
Dalam kesempatan ini kita akan melihat dalil yang pertama, yaitu kisah Nabi Musa q di Madyan, yang menunjukkan sanggahan terhadap kekeliruan mereka dari beberapa sisi.
Yang pertama, firman Allah l:
“Dan ia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya).”
Dengan tegas dalam ayat ini Allah l menerangkan bahwa kedua wanita tersebut tidak ikhtilath dengan kaum laki-laki yang sedang memberi minum ternak mereka.
Kata tadzuudaan artinya sama dengan tathrudaan (mengusir, menjauhkan). Artinya, mereka berdua menjauhkan kambing-kambing mereka dari tempat para penggembala, sehingga mereka tidak berdesakan dan bercampur-baur dengan kaum laki-laki. Ternak mereka juga tidak bercampur dengan ternak para penggembala.
Yang kedua, firman Allah l:
“Apakah maksud kalian berdua (dengan berbuat begitu)?”
Ayat ini menceritakan rasa heran Nabi Musa q akan keberadaan mereka. Seandainya keberadaan wanita bersama laki-laki dalam kondisi seperti itu adalah biasa, tentulah beliau tidak mempertanyakannya. Ini terjadi sebelum beliau menjadi nabi.
Artinya, keadaan wanita tidak bercampur-baur dengan kaum pria, sudah merupakan fitrah manusia. Bahkan merupakan syariat umat sebelum kita.
Yang ketiga, firman Allah l:
Kedua wanita itu menjawab: “Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami) sebelum penggembala-penggembala itu memulangkan (ternaknya).”
Jawaban ini menunjukkan bahwa mereka berdua tidak ikhtilath dengan para penggembala tersebut.
Artinya, mereka berdua menerangkan keadaan mereka sebagai wanita yang memerhatikan hijab mereka. Mereka tidak sanggup untuk bergabung dengan kaum pria dan merasa malu bercampur-baur dengan kaum pria. Karena itu, mau tidak mau, mereka harus menunggu para penggembala itu pulang membawa ternak mereka.
Yang keempat, firman Allah l:
“Sedangkan ayah kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya.”
Dalam ayat ini, keduanya menerangkan uzur mengapa mereka keluar mencari minum untuk ternak mereka. Karena pada dasarnya, yang keluar adalah kaum laki-laki.
Artinya, keadaan daruratlah yang mendorong mereka untuk keluar dari tempat yang seharusnya, yaitu rumah mereka.
Yang kelima, firman Allah l:
“Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya.”
Ayat ini menerangkan bahwa laki-lakilah yang bertugas memberi minum, sedangkan wanita menunggu sampai para penggembala itu memulangkan ternak mereka.
Yang keenam, firman Allah l:
“Kemudian dia kembali ke tempat yang teduh.”
Ini menerangkan bahwa beliau tidak menemani mereka berdua dan tidak berbicara dengan mereka tanpa keperluan.
Yang ketujuh, firman Allah l:
“Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu.”
Tidak keluar selain hanya satu orang wanita, karena tugas ini cukup dilakukan satu orang. Kecuali memberi minum gembalaan.
Yang kedelapan, firman Allah l:
“Wanita itu berjalan dengan malu-malu.”
Menurut ‘Umar z, sebagaimana riwayat Ibnu Abi Hatim, dengan sanad yang shahih: “Wanita itu datang memanggil dengan malu-malu, sambil menutupi wajahnya dengan kainnya. Bukan wanita ‘berani’, yang suka keluar masuk (menemui laki-laki).”
Yang kesembilan, firman Allah l:
“Maka tatkala Musa mendatangi ayahnya dan menceritakan kepadanya cerita (mengenai dirinya)….”
Ketika yang diajak bicara adalah seorang laki-laki, beliau menceritakan kisahnya. Tetapi, ketika yang diajak bicara adalah wanita, beliau pergi berteduh ke bawah sebatang pohon.
Yang kesepuluh, firman Allah l:
Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: “Wahai ayahku, ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita),” adalah permintaan mereka agar tidak terpaksa lagi keluar rumah untuk memberi minum.
Yang kesebelas, firman Allah l:
“Maka tatkala Musa telah menyelesaikan waktu yang ditentukan dan dia berangkat dengan keluarganya, dilihatnyalah api di lereng gunung ia berkata kepada keluarganya: ‘Tunggulah (di sini)…’.” (Al-Qashash: 29)
Ini adalah dalil bahwa hukum asal wanita itu tetap di rumah, tidak ikhtilath (berbaur) dengan kaum pria.
Dari kisah ini, kita dapat memetik banyak faedah lain. Di antaranya adalah sebuah kaidah syar’i bahwa syariat orang-orang sebelum kita menjadi bagian syariat kita juga, selama syariat kita tidak menyelisihinya.
Melalui kisah dan kaidah ini, jelaslah bahwa wanita itu tidak bercampur-baur dengan kaum pria. Tidaklah mereka keluar melainkan karena keadaan yang sangat darurat, baik untuk menunaikan hajat atau menggembala kambing. Sebab, kaum pria wajib bertanggung jawab tentang urusan kaum wanita dan kebutuhan mereka.
Kemudian, setelah selesai menunaikan hajatnya karena alasan darurat, hendaknya dia dalam posisi terpisah, jauh dari kaum laki-laki agar tidak ikhtilath dengan mereka.
Itulah kemuliaan yang harus ditempuh oleh seorang wanita sehingga tidak menimbulkan gejolak fitnah di dalam kehidupan bermasyarakat.
Sebab itulah, Allah l berfirman:
“Di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya).”
Artinya, jauh dari kaum laki-laki.
Itulah syariat Allah k yang diberlakukan pada syariat kita dan syariat para nabi sebelumnya. Syariat yang ditetapkan Dzat yang Maha Mengetahui kebutuhan dan keadaan makhluk ciptaan-Nya.
Allah l berfirman:
“Dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (Al-Maidah: 50)
Pertanyaan dalam ayat ini mengandung makna pengingkaran, yang artinya memang tidak ada satu pun yang lebih baik hukumnya daripada Allah l.
Allah Maha Mengetahui keadaan dan perkembangan makhluk ciptaan-Nya. Dia Mahabijaksana dalam menetapkan syariat bagi makhluk ciptaan-Nya. Tidak mungkin merugikan dan menzalimi makhluk ciptaan-Nya, kapan pun dan di mana pun.
Akan tetapi sebagaimana Allah l sebutkan pada akhir ayat tersebut, bahwasanya yang memahami kenyataan ini tidak lain hanyalah mereka yang yakin kepada Allah l dan syariat-Nya.
Penutup
Setelah menyempurnakan waktu yang disepakati sebagai mahar pernikahannya, Nabi Musa q bersiap kembali membawa keluarganya menuju tanah kelahirannya, Mesir.
Mulailah babak baru dalam kehidupan beliau sebagai pengemban risalah.2
Wallahul muwaffiq.


1 Para ulama berselisih pendapat tentang siapa orang tua yang shalih tersebut. Ibnu Katsir t merajihkan bahwa dia bukan Nabi Syu’aib q. Alasan beliau antara lain ialah, seandainya memang Nabi Syu’aib, tentulah akan disebutkan dengan jelas di dalam Al-Qur’an. Tidak pula ada hadits shahih yang menyebutkan secara tegas tentang nama orang tua yang shalih ini. Wallahu a’lam.
2 Kisah selanjutnya, dapat dilihat pada edisi-edisi sebelumnya.

Bersiap Kembali ke Madinah (perang tabuk bagian 3)

(dituis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Harits)

 

Peperangan urung terjadi. Tidak diketahui alasan yang pasti mengapa peperangan itu tidak terjadi, walaupun ada yang menyebutkan salah satu alasan itu di antaranya; pasukan Romawi lebih senang tinggal di dalam wilayah Syam untuk berlindung di benteng-bentengnya ketika sampai kepada mereka berita tentang kekuatan pasukan muslimin.
Apa pun alasannya, Rasulullah n tetap di Tabuk selama beberapa hari, dan mengirim beberapa pasukan kecil ke sekitar daerah Tabuk. Tindakan yang dilakukan oleh Rasulullah n ini menambah kekuatan wibawa Islam di wilayah utara jazirah ‘Arab dan membuka jalan ke arah penaklukan daerah Syam sesudah itu.
Walaupun tidak terjadi pertempuran, ada sahabat yang meninggal dunia.
Abdullah bin Mas’ud z menceritakan, pada suatu malam yang sunyi dia terjaga dari tidurnya dan melihat ada selarik api di bagian agak jauh dari pasukan. Beliau berusaha mendekati cahaya api tersebut. Ternyata, Rasulullah n, Abu Bakr dan ‘Umar c sedang mengurus jenazah ‘Abdullah Dzul Bijadain Al-Muzani.
Rupanya, Rasulullah n bersama kedua sahabatnya itu sudah menggali kuburan untuk jenazahnya. Rasulullah n masuk ke dalam liang kubur itu, sementara Abu Bakr dan ‘Umar mendekatkan jenazah itu kepada beliau yang berkata, “Kemarikan jenazah saudaramu itu.”
Setelah meletakkannya di dalam kubur tersebut, beliau berdoa, “Ya Allah, sesungguhnya aku meridhainya, maka ridhailah dia.” Mendengar doa itu, Abdullah bin Mas’ud z berkata dalam hati, “Duhai, kiranya akulah yang dikuburkan itu.”

Makar Kaum Munafik
Perang Tabuk dinamakan juga ghazwatul ‘usrah (Perang Kesulitan), karena menyatunya berbagai kesulitan atas kaum muslimin, baik dalam hal kendaraan, perbekalan, air, cuaca, medan, maupun gangguan orang-orang munafik. Akan tetapi, sahabat-sahabat Rasulullah n begitu tabah memikul segala kesulitan tersebut di jalan Allah l. Semoga Allah l meridhai mereka.
Bagaimanapun, kaum munafik tidak pernah membiarkan satu peluang pun untuk menjatuhkan Islam dan kaum muslimin. Terlebih lagi, di dalam peperangan ini. Sejak awal persiapan, mereka sudah mulai berusaha meruntuhkan semangat kaum muslimin agar tidak berangkat berjihad di panas yang terik ini.
Dalam masa-masa perang Tabuk inilah turun surat At-Taubah membeberkan watak asli kaum munafikin. Allah l benar-benar membuka aib mereka dan menampakkan kejahatan hati mereka kepada kaum mukminin dengan lengkap dan jelas. Allah l menerangkan alasan yang mereka buat-buat agar tetap tinggal di Madinah, tidak ikut berperang.
Allah l berfirman:
Kalau yang kamu serukan kepada mereka itu keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak berapa jauh, pastilah mereka mengikutimu, tetapi tempat yang dituju itu amat jauh terasa oleh mereka. Mereka akan bersumpah dengan (nama) Allah: “Jikalau kami sanggup tentulah kami berangkat bersama-samamu.” Mereka membinasakan diri mereka sendiri dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang berdusta. Semoga Allah memaafkanmu. Mengapa kamu memberi izin kepada mereka (untuk tidak pergi berperang), sebelum jelas bagimu orang-orang yang benar (dalam uzurnya) dan sebelum kamu ketahui orang-orang yang berdusta? Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, tidak akan meminta izin kepadamu untuk (tidak ikut) berjihad dengan harta dan diri mereka, dan Allah mengetahui orang-orang yang bertakwa. (At-Taubah: 42-44)
Ibnu Katsir t dalam tafsirnya menerangkan, “Allah l mencela orang-orang yang tertinggal dari Nabi n dalam perang Tabuk sesudah meminta izin dan menampakkan bahwa mereka adalah orang-orang yang mempunyai uzur, padahal tidak demikian.”
Allah l berfirman: لَوْ كَانَ عَرَضًا قَرِيبًا (Kalau yang kamu serukan kepada mereka itu keuntungan yang mudah diperoleh), kata Ibnu ‘Abbas c, “(Artinya) rampasan perang yang dekat (mudah diperoleh); وَسَفَرًا قَاصِدًا (dan perjalanan yang tidak berapa jauh), yang dekat juga; pasti mereka mengikutimu untuk mendapatkannya, tetapi perjalanan ke Syam amat jauh terasa oleh mereka. Apabila kamu kembali kepada mereka, tentu mereka akan bersumpah, “Seandainya kami tidak mempunyai uzur, pasti kami berangkat bersamamu.”
Itulah sebagian alasan mereka yang dibuat-buat.
Ada pula di antara mereka yang ikut serta sampai di Tabuk, ternyata berusaha menyebarkan keraguan dalam hati kaum muslimin.
Ketika Rasulullah n kehilangan untanya, seorang munafik mengatakan, “Kalau memang Muhammad mengaku nabi dan menyampaikan kepada kamu berita dari langit, mengapa dia tidak mengetahui di mana untanya berada?”
Rasulullah n pun berkata, “Ada orang yang mengatakan, ‘Kalau memang Muhammad mengaku nabi dan menyampaikan kepada kamu berita dari langit, mengapa dia tidak mengetahui di mana untanya berada?’ Demi Allah, saya memang tidak mengetahui apa-apa kecuali yang diberitahukan oleh Allah l. Dan Allah l telah menerangkan kepada saya di mana unta tersebut. Unta itu di lembah anu, di jalan anu, dan talinya tersangkut sebatang pohon.”
‘Umarah, salah seorang sahabat, ada di dekat beliau.
Tak lama, beberapa sahabat berangkat hendak mencarinya.
‘Umarah pun kembali ke tendanya dan berkata, “Demi Allah, sungguh ajaib yang diceritakan oleh Rasulullah n tadi, tentang perkataan seseorang yang diberitakan oleh Allah l kepada beliau.” Mendengar ucapan ‘Umarah ini, salah seorang yang ada di situ, tapi tidak mendengar langsung perkataan Rasulullah n, berkata, “Demi Allah yang diucapkan oleh Rasulullah itu adalah perkataan yang diucapkan Zaid bin Lushaid, sebelum engkau datang.”
‘Umarah menjadi marah, dia pun mencekik leher Zaid dan mengusirnya dari tenda itu serta melarangnya menyertai dirinya lagi, “Di tendaku ada kejadian begini, dalam keadaan aku tidak tahu? Keluarlah kau dari tendaku, wahai musuh Allah. Jangan menyertaiku lagi.”
Ucapan berbahaya ini masih ringan. Kaum munafik tidak berhenti sampai di situ. Mereka pun berencana membunuh Rasulullah n.
Waktu itu, Rasulullah n mulai bertolak menuju Madinah. Dalam perjalanan, beberapa gelintir munafik berupaya melakukan tipu daya untuk membunuh Rasulullah n dengan cara mendorong beliau jatuh dari puncak tebing di jalan tersebut. Kemudian, Rasulullah n mengatakan, “Siapa di antara kalian mau melalui dasar lembah, itu lebih luas bagi kalian.”
Akhirnya, Rasulullah n melalui jalan yang mendaki, sedangkan pasukan muslimin melewati dasar lembah, kecuali beberapa orang yang ingin membunuh Rasulullah n tadi. Karena itu, ketika mereka mendengar ucapan beliau, mereka segera bersiap-siap dan menutupi muka mereka.
Alangkah keji rencana mereka terhadap Rasulullah n.
Rasulullah n memanggil Hudzaifah Ibnul Yaman dan ‘Ammar bin Yasir agar berjalan bersama beliau. Lalu beliau memerintahkan ‘Ammar memegang tali kekang unta, sedangkan Hudzaifah menuntunnya.
Pada waktu mereka dalam keadaan demikian, tiba-tiba terdengar suara di belakang mereka. Rupanya, orang-orang munafik tadi sedang berusaha menyusul beliau.
Rasulullah n marah dan memerintahkan agar Hudzaifah menjauhkan mereka. Karena melihat kemarahan di wajah Rasulullah n, Hudzaifah segera berbalik sambil membawa sebatang tongkat yang berkeluk kepalanya. Kemudian, dia menghadang kendaraan mereka dan memukulnya dengan tongkat.
Hudzaifah pun melihat orang-orang munafik itu dalam keadaan menutup wajah mereka. Hudzaifah mengira mereka menutupi wajah itu sekadar kebiasaan musafir, padahal tidak. Mereka ingin menyembunyikan identitas yang sesungguhnya.
Demikianlah keadaan kaum munafik, mereka menutupi diri, bersembunyi dari manusia, tetapi tidak dapat menyembunyikan diri dari Allah l, karena Allah l beserta mereka. Allah l sudah memperhitungkan segala tindak-tanduk mereka dan telah menyiapkan balasan yang setimpal buat mereka di dunia dan akhirat.
Rasa takut menyelinap dalam hati mereka ketika melihat Hudzaifah berdiri di jalan yang akan mereka lalui. Mereka mengira tipu daya mereka sudah diketahui oleh Hudzaifah. Akhirnya, mereka segera bergabung dengan pasukan, sementara Hudzaifah berbalik menuju Rasulullah n.
Setelah mendekat, Rasulullah n berkata, “Pukullah kendaraan ini, wahai Hudzaifah! Dan berjalanlah, wahai ‘Ammar!”
Rombongan mempercepat jalan mereka hingga tiba di puncak bukit, lalu keluar dari jalan itu menunggu pasukan.
Nabi n bertanya kepada Hudzaifah, “Tahukah engkau siapa rombongan pengendara tadi?”
Kata Hudzaifah, “Saya mengenal kendaraan si Fulan dan si Fulan. Waktu itu malam sangat gelap dan mereka menutupi wajah mereka.”
Rasulullah n bertanya lagi, “Tahukah kamu apa yang mereka inginkan?”
Keduanya berkata, “Tidak. Demi Allah, wahai Rasulullah.”
Kata beliau, “Sesungguhnya mereka berencana hendak ikut berjalan bersamaku, dan jika telah tiba di jalan yang berbukit, mereka akan mendorongku sampai jatuh.”
Serempak mereka berkata, “Kalau begitu, mengapa Anda tidak memerintahkan mereka dipanggil, agar kami penggal leher mereka?”
Beliau pun berkata, “Saya tidak suka orang akan mengatakan bahwa Muhammad (n) membunuh sahabatnya.” Kemudian beliau menyebut nama-nama mereka dan berkata, “Rahasiakanlah oleh kalian berdua!”1
Sejak saat itu pula Hudzaifah dikenal sebagai pemegang rahasia nama-nama kaum munafik lengkap dengan ciri-ciri mereka. Sepeninggal Rasulullah n, para sahabat mengetahui seseorang adalah munafik, apabila Hudzaifah tidak mau menyolatkan jenazahnya.
Pada suatu kesempatan, dalam perjalanan melelahkan itu, terdengar pula sebuah ucapan dari salah seorang prajurit, “Kita belum pernah melihat qurra’ (ahli baca Qur’an) kita seperti mereka ini,” yang dimaksudkannya adalah pribadi Rasul n dan para sahabat, “Paling gendut perutnya, tidak (pernah kita lihat) yang paling dusta ucapannya, dan tidak (pernah kita lihat) yang paling takut ketika bertemu (musuh).”2
Ketika dilaporkan kepada Rasulullah n dan mereka ditanya, mereka mengatakan, “Kami hanya bergurau.”
Namun, ternyata Rasulullah n hanya menjawab dengan membacakan firman Allah l:
“Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” (At-Taubah: 65)
Dengan tegas pula Allah l menyatakan bahwa berolok-olok dengan Allah l, ayat-ayat-Nya serta Rasul-Nya adalah kekafiran:
“Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu telah kafir sesudah beriman.”
Para ulama menjadikan ayat ini sebagai dalil bahwa menjadikan Allah l, ayat-Nya, dan Rasul-Nya sebagai bahan ejekan, hukumnya kafir, keluar dari Islam.
Demikianlah keadaan kaum munafik. Di zaman itu mereka menyembunyikan jatidirinya agar tidak turun ayat membeberkan kejahatan mereka. Di zaman ini, mereka dengan terang-terangan menampakkan kejahatan tersebut. Mereka terang-terangan menjadikan Allah l, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya sebagai bahan ejekan, cemoohan, dan hinaan. Mereka berusaha menampilkan citra kekafiran, apa pun bentuknya, adalah baik. Sedangkan seruan kembali kepada Islam adalah keburukan, radikal, ekstrem, jumud, statis, kemunduran, dan segudang ejekan lainnya. Mereka lebih bangga dengan semua yang serba Barat. Kemajuan adalah apa yang datang dari Barat.
Hanya kepada Allah l kita memohon, semoga Allah l tidak memperbanyak jumlah mereka.
(insya Allah bersambung)


1 HR. Ahmad (5/453), pentahqiq Zadul Ma’ad mengatakan rawi-rawinya tsiqat (tepercaya) dan ada penguatnya dalam Shahih Muslim (2779) (11). Wallahu a’lam.
2 Artinya, mereka adalah orang-orang yang sangat gendut perutnya karena kebanyakan makan, tidak ada pekerjaan lain kecuali makan, selalu berbicara dusta, dan sangat takut jika bertemu musuh serta pasti melarikan diri. (Syarah Riyadhis Shalihin, Asy-Syaikh Al-’Utsaimin t, 1/124).

Membendung Gelombang Kesyirikan Dan Penyimpangan Akidah

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abdurrahman Mubarak)

 

Seorang muslim haruslah memahami serta meyakini bahwa manusia dan jin diciptakan untuk satu hikmah yang sangat agung, yaitu beribadah kepada Allah l. Allah l telah memberikan berbagai macam rezeki untuk membantu hamba-hamba-Nya beribadah. Allah l berfirman:
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan. Sesungguhnya Allah dialah Maha Pemberi Rezeki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.” (Adz-Dzariyat: 56-58)
Allah l mengutus para rasul untuk menjelaskan bagaimana cara beribadah kepada Allah l. Allah l berfirman:
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah thaghut itu.” (An-Nahl: 36)
Allah l juga telah menciptakan hamba-Nya di atas fitrah untuk bertauhid dalam beribadah kepada Allah l. Allah l berfirman:
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Ar-Rum: 30)
Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah berkata: “Fitrah adalah Islam sebagaimana sabda Rasulullah n:
كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ
“Setiap yang lahir dilahirkan di atas fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikan anaknya sebagai Yahudi atau Nasrani atau Majusi.” (HR. Al-Bukhari no. 1385, Muslim no. 2658 dari Abu Hurairah z) [Lihat Syarah Fadhlul Islam hlm. 111]
Beliau berkata pula: “Ini menunjukkan bahwa hukum asalnya, manusia diberi fitrah kepada Islam, yaitu mengikhlaskan amal dan ibadah hanya kepada Allah l. Jika dia selamat dari tarbiyah (pendidikan) yang jelek dan orang tua yang kafir niscaya dia akan mengarah (condong) kepada Islam dan mengikuti Rasul. Akan tetapi dia menyimpang disebabkan dai-dai yang sesat.” (Lihat Syarah Fadhlul Islam hlm. 111)
Allah l menciptakan manusia di atas fitrah. Namun setan dari kalangan jin dan manusia terus berupaya menyesatkan bani Adam dari tauhid dengan berbagai makar. Setan membungkus kesesatan mereka dengan kalimat-kalimat yang menipu. Allah l berfirman:
“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Rabbmu menghendaki niscaya mereka tidak mengerjakannya. Maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.” (Al-An’am: 112)
Rasulullah n bersabda: Allah l berfirman:
وَإِنِّي خَلَقْتُ عِبَادِي حُنَفَاءَ كُلَّهُمْ فَأَتَتْهُمُ الشَّيَاطِينُ فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دِيْنِهِمْ
“Sungguh Aku telah menciptakan hamba-Ku semuanya dalam keadaan lurus, kemudian datang kepada mereka setan lalu menyesatkan mereka dari agama mereka.” (HR. Muslim no. 2865 dari ‘Iyadh bin Himar z)

Fenomena pascareformasi
Ketahuilah, semoga Allah l merahmati Anda. Diantara masalah yang harus dicermati di masa reformasi ini adalah semakin beraninya tokoh-tokoh kesesatan dan penyeru kesyirikan dalam menarik massa dan melakukan tipu daya agar kaum muslimin mengikuti kesesatan mereka. Penyeru kesyirikan semakin lantang menjerat umat kepada kesyirikan. Kaum Khawarij semakin berani menentang pemerintah muslimin dengan ucapan dan perbuatan mereka. Berbagai macam kelompok sempalan seperti Ahmadiyah, Syiah, Al-Qiyadah Al-Islamiyah, dan berbagai macam kelompok sempalan lainnya, semakin berani menampakkan jatidiri mereka.
Alangkah bagusnya nasihat ulama kita: Ahlul bid’ah itu seperti kalajengking yang menyembunyikan sengatnya di dalam tanah. Ketika memiliki kekuatan dan kesempatan, dia akan menampakkan sengat mereka dan menyengat yang lain.

Apakah sebab terjadinya semua musibah ini?
Ketahuilah, diantara sebab terbesar yang melatarbelakangi muncul dan semakin menyebarnya kesyirikan serta penyimpangan kelompok sempalan adalah ulah orang-orang yang telah meruntuhkan wibawa pemerintah di hadapan rakyatnya. Akhirnya, semua orang merasa berhak bicara tentang masalah umat dan mengkritisi pemerintah. Ditambah lagi dengan semakin gencarnya seruan HAM (Hak Asasi Manusia)–produk Barat yang dipaksakan di negeri kaum muslimin–, sehingga kelompok-kelompok sempalan dan penyebar kesyirikan berlindung di balik produk Barat ini. Di pihak lain, pemerintah muslimin terus “dikekang” untuk menindak mereka dengan “ancaman” pelanggaran HAM. Sungguh telah terbukti ucapan Rasulullah n:
إِنَّهَا سَتَأْتِي عَلَى النَّاسِ سِنُونَ خَدَّاعَةٌ يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ، وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ، وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ، وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ، وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ. قِيلَ: وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ؟ قَالَ: السَّفِيهُ يَتَكَلَّمُ فِي أَمْرِ العَامَّةِ
“Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh tipu muslihat. Ketika itu, si pendusta dibenarkan sedangkan orang yang jujur dianggap dusta. Pengkhianat dipercaya, sedangkan orang amanah dianggap khianat, dan Ruwaibidhah akan tampil bicara.” Para sahabat bertanya, “Siapakah Ruwaibidhah?” Rasulullah n menjawab, “Seorang dungu yang berbicara tentang masalah umat.” (HR. Ahmad, …..)
Wahai orang-orang yang telah merusak kehormatan pemerintah kaum muslimin, kalian harus bertaubat kepada Allah l. Kalian harus bertanggung jawab untuk mengembalikan wibawa dan kehormatan pemerintah di hadapan rakyatnya, sehingga upaya pemerintah untuk mengingkari kemungkaran mendapatkan tanggapan positif dari rakyatnya. Inilah satu bentuk taubat kalian kepada Allah l. Rasulullah n berkata:
“Akan ada penguasa setelah aku wafat maka muliakanlah mereka. Barangsiapa yang mencari jalan untuk menghinakan mereka maka dia telah membuat satu celah dalam Islam, dan Allah l tidak akan menerima taubatnya hingga bisa mengembalikan kepada keadaan semula.” (HR. Ibnu Abi ‘Ashim no. 1079 dan dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani)
Mudah-mudahan Allah l memberikan taufiq kepada pemerintah muslimin dalam segala keputusan dan langkah mereka untuk kemaslahatan muslimin.

Sebab-sebab penyimpangan dari aqidah yang benar
Ketahuilah, semoga Allah l merahmati Anda. Penyimpangan dari aqidah Islam adalah suatu kebinasaan. Seseorang yang hidup dalam keadaan tidak memiliki aqidah yang benar akan terus dibayangi keraguan dan bayangan-bayangan jelek yang akan menghalanginya mendapatkan kebahagiaan hidup.
Oleh sebab itu, kita mesti mengetahui sebab-sebab penyimpangan dari aqidah yang benar dan menjaga diri, keluarga serta kaum muslimin secara umum dari sebab penyimpangan tersebut.
Asy-Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullah telah menjelaskan kepada kita berbagai penyebab terjadinya penyimpangan aqidah. Diantara sebab penyimpangan yang beliau sebutkan adalah:
1.    Ketidaktahuan seseorang tentang aqidah yang benar, karena lalai dan berpaling dari mempelajarinya.
2.    Taqlid buta kepada nenek moyang.
3.    Ghuluw (mengultuskan) terhadap orang-orang yang dianggap wali dan orang-orang shalih.
4.    Lalai dari mentadabburi ayat-ayat Allah l yang syar’iyah maupun kauniyah.
5.    Kosongnya rumah-rumah muslimin dari pendidikan dan bimbingan Islami.
6.    Lembaga-lembaga pendidikan dan media informasi kurang perhatian dalam masalah pendidikan agama, bahkan kebanyakan media informasi sekarang telah menjadi alat untuk merusak aqidah umat.
7.    Disusupkannya aqidah orang kafir ke dalam Islam.
8.    Da’i-da’i yang menyeru kepada kesesatan, yang gencar menyebarkan kesesatan mereka.
(Disarikan dari Muqarrar Kitabut Tauhid lil Fashlil Awal, hlm. 13-15 dan Kitabut Tauhid hlm. 7-8)

Gelombang kesesatan dan kesyirikan di masa reformasi
Barangsiapa yang merasakan dan menilai keadaan di sekitarnya niscaya akan melihat dan merasakan bahwa delapan perkara yang disebutkan Asy-Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullah sangat gencar ditebarkan di tengah kaum muslimin.
Umat sekarang terus dijauhkan dari mempelajari agamanya sehingga mereka tidak mengetahui perkara agama mereka. Prinsip-prinsip agama juga terus dikikis dari hati muslimin, terkhusus prinsip wala’ (loyalitas) kepada kaum muslimin dan bara’ (berlepas diri) dari orang kafir.
Allah l berfirman:
“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dari-Nya, serta dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung.” (Al-Mujadilah: 22)
Akibat kebodohan mereka, mereka larut bersama orang kafir dalam perkara yang bisa merusak aqidah. Mereka turut meramaikan natal, imlek, dan acara-acara orang kafir lainnya.
Demikian juga taklid yang semakin gencar. Seruan untuk kembali kepada budaya leluhur digembar-gemborkan. Umat diseret untuk melakukan dan mengikuti nenek moyang mereka, walaupun amalan yang dilakukan nenek moyang mereka menyelisihi tauhid yang diajarkan Islam. Tambahan pula, ini adalah salah satu perbuatan kaum musyrikin. Allah l berfirman:
Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah.” Mereka menjawab, “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami.” (Apakah mereka akan mengikuti juga) walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk? (Al-Baqarah: 170)
Adapun pengultusan individu sehingga menjadikannya sesembahan selain Allah l, sungguh telah banyak dilakukan. Telah terbukti ucapan Rasulullah n:
لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ …
“Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang sebelum kalian…”
Allah l berfirman tentang ahlul kitab Yahudi dan Nasrani:
“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Rabb selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al-Masih putra Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Ilah yang Esa, tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia. Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (At-Taubah: 31)
Di umat ini pun ada orang-orang yang mengultuskan tokoh-tokoh mereka, menaati mereka dalam perbuatan maksiat kepada Allah l. Yang banyak terjatuh dalam pengultusan individu adalah kelompok Sufi. Asy-Syaikh Jamil Zainu berkata: “Sufi ta’ashub (fanatik) kepada guru-guru mereka, walaupun guru mereka menyelisihi firman Allah l dan ucapan Rasulullah n. Padahal Allah l berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya, dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al-Hujurat: 1)
Rasulullah n bersabda:
لاَ طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِي مَعْصِيَةِ الْخَالِقِ
“Tidak ada ketaatan kepada seseorang dalam berbuat maksiat kepada Al-Khaliq (Allah).” (Ash-Shufiyah fi Mizanil Kitab was Sunnah hlm. 17)
Banyak kaum muslimin yang tidak bisa mengambil pelajaran dari musibah dan bencana yang melanda negeri mereka. Berbagai bencana yang seharusnya dijadikan ibrah untuk introspeksi diri, namun yang terjadi mereka justru semakin menjauhkan dari prinsip agama ini. Mereka malah menuding pemerintah dan terus berupaya “menggoyang” pemerintahan. Tidak sedikit dari mereka yang malah melakukan kesyirikan ketika terkena musibah.
Kalau mereka mau mentadabburi Al-Qur’an niscaya mereka akan dapati bahwa musibah dan berbagai bencana ini merupakan peringatan untuk memperbaiki diri. Allah l berfirman:
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (Ar-Rum: 41)
Di rumah-rumah kaum muslimin, anak mereka jauh dari pendidikan agama. Bahkan sebagian mereka tak merasa takut untuk memasukkan putra-putra mereka belajar di lembaga-lembaga pendidikan kafir, membiarkan anak-anak mereka berteman dengan orang kafir. Padahal Allah l berfirman:
“Sebagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman. Karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran.” (Al-Baqarah: 109)
Mereka lupa bahwa baik tidaknya agama anaknya adalah disebabkan pendidikan dari orang tua mereka. Rasulullah n berkata:
كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ
“Setiap yang lahir dilahirkan di atas fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadi sebab anaknya menjadi Yahudi atau Nashrani atau Majusi.” (HR. Al-Bukhari no. 1385, Muslim no. 2658)
Diantara sarana yang besar dalam proses perusakan aqidah adalah serangan media massa cetak dan elektronik. Berbagai iklan kesyirikan dan tayangan yang membawa penyakit kekufuran disuguhkan kepada kaum muslimin dan anak-anak mereka. Mereka tidak sadar, sesungguhnya aqidah mereka tengah dirusak dan dikotori dengan tayangan dan acara-acara kesyirikan serta kekufuran. Innalillahi wainna ilaihi raji’un.

Sebab yang menjaga dari penyimpangan aqidah
Ketahuilah, semoga Allah l merahmati Anda. Kita harus segera sadar dan berupaya membendung arus penyimpangan ini dengan merujuk kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan bimbingan para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah.
Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan telah menerangkan beberapa hal yang bisa diamalkan untuk menjaga dari penyimpangan aqidah:
1.    Merujuk kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dalam menetapkan masalah aqidah disertai mengenal kebobrokan aqidah kelompok menyimpang dalam rangka menghindari dan membantahnya.
2.    Memberikan perhatian lebih besar untuk mengajarkan aqidah.
3.    Mengajarkan kitab-kitab salaf, menjauhkan diri dari kitab-kitab kelompok sesat.
4.    Tampilnya dai-dai tauhid menjelaskan kepada umat tentang aqidah salaf serta membantah kesesatan orang-orang yang menyimpang.
(Disarikan dari Muqarrar Kitabut Tauhid lil Fashlil Awal, hlm. 14-15)
Wahai orang-orang yang tidak pernah puas dengan pemerintahnya, koreksilah diri kalian dengan bimbingan agama ini. Ketahuilah, kebaikan negara ini bukanlah dengan caci-maki dan hujatan kalian kepada pemerintah. Ketahuilah bahwa perbuatan kalian adalah perbuatan khuruj (menentang/memberontak pemerintah). Karena para ulama menjelaskan bahwa Khawarij ada dua kelompok:
1.    Khawarij mubasyir, mereka yang terjun langsung mengangkat senjata mereka untuk memberontak kepada pemerintah muslimin.
2.    Khawarij qa’adiyah, mereka yang tetap duduk di tempat mereka namun ucapan, ceramah, dan orasi-orasi yang mereka lakukan menghasut umat untuk membenci dan melawan pemerintah muslimin. (Lihat Fathul Bari)
Mudah-mudahan Allah l memberikan taufiq dan pertolongan kepada pemerintah muslimin dalam menyikapi dua kelompok Khawarij ini.
Ketahuilah, kedamaian dan ketenteraman di negeri ini akan dicapai manakala kita kembali kepada agama Allah l, mempelajari dan mengamalkan agama Allah l. Allah l berfirman:
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Al-A’raf: 96)
Rasulullah n berkata:
إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ، سَلَّطَ اللهُ عَلَيْكُمْ ذُلًّا لَا يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ
“Jika kalian jual beli dengan sistem ‘inah (salah satu bentuk tipu daya untuk melakukan riba), memegang ekor sapi, senang dengan pertanian hingga kalian meninggalkan jihad maka Allah l akan menimpakan kehinaan pada kalian dan Allah l tak akan menghilangkannya sampai kalian kembali kepada agama kalian.” (HR. Abu Dawud no. 3462 disebutkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 11)
Kembali kepada agama Allah l dengan mempelajari aqidah yang benar dan menjauhkan kesyirikan serta melaksanakan berbagai ketatan dan meninggalkan kemaksiatan. Karena Allah l telah berjanji:
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap beribadah kepada-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (An-Nur: 55)
Mudah-mudahan Allah l memberikan keistiqamahan kepada kita, serta memberikan taufiq dan inayah-Nya dalam usaha mendakwahkan aqidah tauhid kepada umat.
Wallahu a’lam bish-shawab.

Tiga Pesan Nabi Nan Agung

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Abdulmu’thi, Lc.)

 

Dari Abu Dzar z, ia berkata: Rasulullah n bersabda kepadaku:
اتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
“Bertakwalah kepada Allah di mana pun kamu berada. Ikutilah perbuatan jelek dengan perbuatan baik niscaya kebaikan akan menghapusnya dan pergaulilah manusia dengan budi pekerti yang mulia.” (HR. At-Tirmidzi dalam Sunannya, Kitabul Birri Washshilah, hadits no. 1987. At-Tirmidzi mengatakan: Hadits ini hasan shahih. Asy-Syaikh Al-Albani menghasankan dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi)
Pesan-pesan mulia dalam hadits ini meskipun Nabi n tujukan kepada sahabat Abu Dzar Jundub bin Junadah z, namun sebenarnya juga diarahkan kepada seluruh umatnya. Karena telah maklum dalam kaidah ushul fiqih bahwa pembicaraan Allah l dan Rasul-Nya (sebagai penentu syariat) bila diarahkan kepada seorang dari umat ini, maka itu sesungguhnya ditujukan pula kepada seluruh umat ini kecuali ada dalil yang menyatakan kekhususan. Seperti itu pula kaidah yang lainnya, bahwa dianggap adalah keumuman lafadz bukan kekhususan peristiwa.
Saudaraku, bila sahabat Nabi n sebagai generasi terbaik umat ini perlu diberi arahan dan disampaikan kepadanya pesan, maka kita yang hidup di masa sekarang tentunya lebih membutuhkan.
Tiga wasiat yang mulia ini adalah faktor utama seorang meraih kebahagiaan hidup di dunia yang fana ini dan akhirat yang abadi kelak. Karena wasiat tersebut mengandung bentuk pelaksanakan hak-hak Allah l dan hak hamba-hamba-Nya. Seseorang akan dianggap baik bila bagus hubungannya dengan Allah l dan bagus pergaulannya dengan sesama manusia. Oleh karena itu, banyak sekali ayat Al-Qur’an yang memerintahkan untuk mendirikan shalat dan memberikan zakat. Pada amalan shalat terkandung kedekatan yang tulus antara hamba dengan Allah l, sedangkan amalan zakat mencerminkan sikap belas kasihan kepada orang yang kesulitan dan membutuhkan. Oleh karena itu, Nabi kita n banyak melakukan shalat dan memberikan shadaqah.

Wasiat pertama dan paling utama dalam hadits ini adalah takwa kepada Allah l di manapun berada
Takwa, seperti dikatakan Thalq bin Habib t, adalah: “Kamu melaksanakan ketaatan kepada Allah l, di atas cahaya (ilmu) dari-Nya dengan mengharap pahala-Nya. Kamu (juga) meninggalkan bermaksiat kepada Allah l, di atas cahaya (ilmu) dari-Nya dan karena takut siksa-Nya.”
Umar bin Abdul Aziz t mengatakan, “Takwa kepada Allah l adalah meninggalkan apa yang Allah l haramkan dan melaksanakan apa yang Ia wajibkan.” (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, 1/400)
Allah l berfirman dengan menyebutkan sifat-sifat orang yang bertakwa:
“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan, dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (Al-Baqarah: 177)
Dari sini, maka takwa bukanlah kalimat yang sunyi dari makna dan bukan pula pengakuan yang kosong dari bukti. Takwa adalah kata yang sangat luas cakupannya. Takwa adalah melaksanakan apa yang dibawa oleh syariat Islam ini baik yang berupa aqidah, ibadah, muamalah, dan akhlak.
Karena takwa adalah bentuk pengabdian kepada Allah l,, dia tidak dibatasi oleh waktu dan tempat. Bukan orang bertakwa yang sebenarnya bila dia di hadapan orang terlihat taat, namun di saat sendirian dia bermaksiat. Seperti itu pula ketika berada di masjid terlihat ruku’ dan sujud namun di saat berada di pasar, di tempat kerja, dan tempat-tempat lainnya meninggalkan perintah Allah l dan melanggar batasan-batasan-Nya. Bertakwa kepada Allah l dengan sebenar-benar takwa adalah dengan mensyukuri nikmat-Nya dan tidak mengkufuri serta mengingat Allah l dan tidak melupakan-Nya di saat lapang atau sempit, dalam kondisi senang ataupun sedih.
Bagi orang yang bertakwa adalah janji kemuliaan di dunia dan akhirat. Diantara yang akan diperolehnya di dunia adalah:
1.    Dibukanya keberkahan, dimudahkan semua urusannya, dan diberikan dia rezeki dari arah yang tak disangka-sangka. Allah l berfirman:
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.” (Al-A’raf: 96)
Juga firman-Nya:
“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (Ath-Thalaaq: 2-3)
2.    Memperoleh dukungan dan bantuan dari Allah l.
3.    Dijaga oleh Allah l dari tipu daya musuh.
Allah l berfirman:
“Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu.” (Ali Imran: 120)
Adapun di akhirat kelak, mereka mendapatkan surga dengan segala kenikmatannya, yang jiwa-jiwa mereka akan senantiasa bahagia dan mata pun sejuk karenanya. Allah l berfirman:
“Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa (disediakan) surga-surga yang penuh kenikmatan di sisi Rabbnya.” (Al-Qalam: 34)
Namun, ketakwaan yang sesungguhnya tidak akan diperoleh tanpa adanya ilmu. Dengan ilmu akan bisa dibedakan antara perintah dan larangan, kebaikan dan kejelekan. Bila ketakwaan telah menjadi baju bagi seseorang niscaya akan memunculkan sikap takut kepada Allah l dan selalu merasa diawasi oleh-Nya.
Inilah diantara rahasia mengapa tindak kejahatan di tengah masyarakat kita seolah tak bisa diakhiri, bahkan setiap hari semakin bertambah kejelekannya. Semua itu tidak lain karena rasa takut kepada Allah l melemah atau nyaris hilang. Memang, untuk tetap berada di atas ketakwaan tak semudah yang dibayangkan. Beragam bujuk rayu serta gangguan selalu menghadang. Akan tetapi manakala kita mengetahui manisnya buah yang akan dipetik dari ketakwaan, maka jalan untuk merealisasikannya terbuka lebar dan terasa mudah.

Wasiat atau pesan Nabi n yang kedua adalah agar melakukan amal kebaikan setelah terpeleset melakukan dosa dan kesalahan
Diantara faedah amal kebaikan adalah menghapus kesalahan. Memang, tak bisa dimungkiri bahwa terkadang seseorang terjerumus dalam kenistaan karena sekian banyak faktor. Diantaranya, lingkungan yang jelek, bisikan jiwa yang tidak baik, dan bujuk rayu setan. Jika iman seseorang itu lemah dan faktor-faktor tersebut menyelimutinya, akan sangat mudah seseorang tergelincir. Tetapi, Allah l lebih sayang terhadap hamba-Nya daripada hamba terhadap dirinya sendiri. Diantara bentuk kasih sayang-Nya bahwa dosa bisa dihapus dan dampak negatif dari dosa bisa hilang dengan bertaubat, istighfar, dan amal kebaikan yang dilakukan hamba.
Allah l berfirman:
“Dan dirikanlah shalat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.” (Hud: 114)
Sahabat Ibnu Mas’ud z berkisah bahwa dahulu ada seorang lelaki mencium seorang perempuan (yang tidak halal baginya). Kemudian lelaki itu datang kepada Nabi n dan menyebutkan perbuatannya. Maka turunlah kepadanya ayat tersebut. Orang itu berkata, “(Wahai Nabi), apakah hal ini khusus bagiku?” Nabi menjawab, “Bagi orang yang mengamalkannya dari umatku.” (Shahih Al-Bukhari no. 4687)
Hadits ini menunjukkan bahwa cahaya ketaatan mampu melenyapkan gelapnya kemaksiatan. Diantara ketaatan terbesar untuk menghapus dosa dan kesalahan adalah taubat dan istighfar kepada Allah l. Oleh karena itu, seorang muslim tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah l, sebesar apapun kesalahan yang dilakukannya. Bila suatu saat seseorang digoda oleh setan sehingga terjatuh ke dalam lumpur dosa, maka bersegeralah kembali kepada Allah l pasti dia akan mendapati-Nya Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Bergegaslah untuk memperbaiki diri dengan melakukan kebaikan karena satu kebaikan akan dilipatgandakan pahalanya oleh Allah l menjadi sepuluh.
Banyak hadits yang diriwayatkan dari Nabi n yang menerangkan bahwa amal kebaikan akan menghapus kesalahan. Diantaranya sabda beliau n:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa puasa Ramadhan karena dorongan iman dan mengharap pahala maka diampuni baginya apa yang telah lalu dari dosanya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Akan tetapi, dosa yang bisa dihapus dengan amal kebaikan adalah dosa kecil. Adapun dosa besar dihapuskan dengan cara seseorang bertaubat kepada Allah l darinya. Ini pendapat jumhur (kebanyakan) ulama seperti dikatakan oleh Al-Imam Ibnu Rajab t. (Jami’ul ‘Ulum 1/429)
Termasuk kasih sayang Allah l terhadap hamba-Nya, bila seseorang tidak memiliki dosa kecil, amal shalih yang dia lakukan dapat meringankan dosa besarnya sekadar menghapusnya dia terhadap dosa kecil. Jika dia tidak punya dosa kecil dan dosa besar, maka Allah l akan melipatgandakan pahala kepadanya. (Al-Wafi Syarh Arba’in hlm. 118)
Saudaraku, perlu diingat bahwa dosa yang kita lakukan akan berdampak negatif terhadap keimanan, kejiwaan, rezeki, dan seluruh keadaan kita. Sungguh tiada suatu bala’ (musibah) turun menimpa manusia kecuali karena dosa. Petaka tidaklah dicabut kecuali dengan taubat dan amal shalih. Mari kita banyak-banyak mengaca diri dengan memperbaiki kondisi. Semoga Allah l akan mengubah keadaan menjadi baik dan diberkahi.

Wasiat ketiga: Menggunakan akhlak yang mulia dalam pergaulan dengan sesama
Dengan menjalankan pesan ini, keserasian hidup bermasyarakat akan terwujud dan ketenteraman akan menebar. Adalah Rasulullah n seorang yang memiliki budi pekerti yang baik. Segala akhlak mulia dan perangai terpuji ada pada diri beliau sehingga kita diperintah untuk mencontohnya. Allah l berfirman:
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik.” (Al-Ahzab: 21)
Karena akhlak mulia termasuk pokok peradaban dalam kehidupan manusia, Islam telah menjunjung tinggi kedudukannya dan sangat memerhatikannya. Banyaknya ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi n adalah bukti terbaik atas pentingnya hal ini. Rasulullah n menyebutkan sabdanya:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ
“Sesungguhnya aku diutus (oleh Allah l) untuk menyempurnakan akhlak yang baik.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad. Asy-Syaikh Al-Albani t menshahihkannya dalam Shahih Al-Adab)
Baiknya akhlak adalah bukti atas baiknya keimanan seseorang. Pemiliknya akan memetik janji surga dan dekat majelisnya dengan Nabi n di hari kiamat. Berbudi pekerti yang luhur juga sebab utama seseorang meraih kecintaan dari manusia.
Seharusnya kita banyak menghiasi diri dengan akhlak mulia. Misalnya, dengan silaturahmi, memaafkan kesalahan, rendah hati, dan tidak menyombongkan diri serta bertutur kata yang lembut.
Ibnul Mubarak t mengatakan, “(Salah satu) bentuk akhlak mulia adalah wajah yang selalu berseri, memberikan kebaikan, dan mencegah diri dari menyakiti orang.” (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam 1/457)
Telah terbukti bahwa apa yang disebutkan oleh Ibnul Mubarak t adalah akhlak mulia yang cepat mendatangkan kecintaan dari manusia.
Cerahnya wajah saat berjumpa dengan saudaranya, diiringi senyuman dan ucapan salam, akan memunculkan suasana keakraban tersendiri. Akan tersebar diantara mereka ruh kasih sayang.
Memberi kebaikan kepada orang lain, artinya seseorang mencurahkan sebagian yang dimilikinya untuk kebaikan orang lain. Pemberian itu bisa berupa harta, tenaga, saran, dan bahkan dukungan dalam kebaikan. Sebab, biasanya orang akan mencintai orang yang berbuat baik kepadanya.
Menahan diri dari menyakiti orang, adalah karena setiap individu masyarakat menginginkan berlangsungnya kehidupan mereka dengan nyaman dan damai. Sehingga bila ada yang menimpakan gangguan kepada mereka dalam bentuk apa pun, ketenangan menjadi terusik dan keretakan di tengah masyarakat tak bisa dihindarkan.
Untuk bisa berhias diri dengan akhlak mulia tentu ada beberapa cara, diantaranya:
1.    Menelaah sejarah kehidupan Nabi Muhammad n berikut apa yang terkandung di dalamnya berupa perangai-perangai beliau yang terpuji.
2.    Memilih lingkungan dan teman yang baik.
3.    Duduk di majelis ulama untuk menimba ilmu mereka serta bersuri tauladan dengan mereka.
Demikianlah sekelumit penjelasan seputar tiga pesan Rasulullah n yang mulia, semoga Allah l memberikan karunia-Nya kepada kita untuk menjalankannya.
Wallahu a’lam bish-shawab.

Perangi Yahudi, Tinggalkan Jejak-jejak Mereka

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc)

 

Dari Abu Hurairah z, Rasulullah n bersabda:
لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُقَاتِلَ الْمُسْلِمُونَ الْيَهُودَ فَيَقْتُلُهُمُ الْمُسْلِمُونَ حَتَّى يَخْتَبِئَ الْيَهُودِيُّ مِنْ وَرَاءِ الْحَجَرِ وَالشَّجَرِ فَيَقُولُ الْحَجَرُ أَوِ الشَّجَرُ: يَا مُسْلِمُ، يَا عَبْدَ اللهِ، هَذَا يَهُودِيٌّ خَلْفِي، فَتَعَالَ فَاقْتُلْهُ؛ إِلَّا الْغَرْقَدَ فَإِنَّهُ مِنْ شَجَرِ الْيَهُودِ
“Tidak akan terjadi kiamat hingga kaum muslimin memerangi Yahudi dan membunuhi mereka, sampai ketika Yahudi bersembunyi di balik batu atau pohon, batu dan pohon itu berkata: ‘Wahai muslim, wahai hamba Allah, Yahudi ada di belakangku, kemari dan bunuhlah dia.’ Kecuali pohon gharqad, (dia tidak berbicara) karena dia dari pohon Yahudi.”
Takhrij hadits
Hadits ini diriwayatkan Al-Bukhari dalam Ash-Shahih, Kitab Al-Jihad bab Qitalu-Al-Yahud (6/103 no. 2767 bersama Fathul Bari), Muslim dalam Ash-Shahih (18/44-45 no. 2922 bersama Syarah An-Nawawi), Ahmad dalam Al-Musnad (2/396, 417 dan 530) dan Al-Khatib Al-Baghdadi dalam At-Tarikh (7/207) dari Abu Hurairah z.
Diriwayatkan pula dari sahabat Abdullah bin Umar bin Al-Khaththab c dalam Ash-Shahihain dan Sunan At-Tirmidzi.
At-Tirmidzi berkata dalam As-Sunan (4/509 no.2236): ”Hadits ini hasan shahih.”

Perang melawan Yahudi di akhir zaman
Pembaca rahimakumullah, Rasulullah n mengabarkan akan adanya perang di akhir zaman antara kaum muslimin dan Yahudi. Dalam perang itu, Yahudi terhina, dikalahkan, dan dibunuh. Tidak ada bagi mereka tempat persembunyian, bahkan batu dan pepohonan semua berseru:
يَا مُسْلِمُ، يَا عَبْدَ اللهِ، هَذَا يَهُودِيٌّ خَلْفِي فَتَعَالَ فَاقْتُلْهُ
“Wahai muslim, wahai hamba Allah, Yahudi ada di belakangku, kemari dan bunuhlah dia!”
Subhanallah, batu dan pepohonan berseru, memanggil muslim memberitahukan keberadaan Yahudi yang bersembunyi di baliknya. Semua pohon dan batu berujar, kecuali satu jenis pohon yaitu gharqad.
An-Nawawi berkata: “Gharqad adalah sejenis pohon berduri yang dikenal di Baitul Maqdis (Palestina). Di sanalah Dajjal dan Yahudi akan dibunuh.” (Al-Minhaj)
Berita perang melawan Yahudi dan kebinasaan mereka adalah sebagian dari tanda-tanda hari kiamat yang Rasulullah n kabarkan. Berita-berita ini wajib kita imani dan kita benarkan sebagai bukti iman kita kepada beliau n.
Hadits Abu Hurairah z ini juga kabar gembira akan kejayaan Islam dan kemenangan muslimin yang telah pasti atas musuh-musuhnya, sekaligus berita bahwa peperangan antara muslimin dan Yahudi akan terus berlangsung hingga akhir zaman.

Kapan perang itu terjadi?
Perang yang tersebut dalam hadits, bukanlah peperangan yang telah terjadi antara Rasulullah n dengan Yahudi di masa beliau n, seperti perang bani Quraidhah, bani Nadzir, atau bani Qainuqa’. Akan tetapi peperangan ini terjadi di akhir zaman, pada masa Imam Mahdi, Muhammad bin Abdullah Al-Hasani, saat turunnya Nabi Isa n, sebagaimana ditunjukkan riwayat-riwayat lain. Misalnya hadits Abu Umamah Al-Bahili z yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam As-Sunan dalam sebuah hadits panjang. Dalam hadits tersebut Rasulullah n bersabda:
فَبَيْنَمَا إِمَامُهُمْ قَدْ تَقَدَّمَ يُصَلِّي بِهِمُ الصُّبْحَ إِذْ نَزَلَ عَلَيْهِمْ عِيْسَى بْنُ مَرْيَمَ الصُّبْحَ فَرَجَعَ ذَلِكَ الْإِمَامُ يَنْكُصُ يَمْشِي الْقَهْقَرَى لِيَتَقَدَّمَ عِيْسَى يُصَلِّي بِالنَّاسِ، فَيَضَعُ عِيْسَى يَدَهُ بَيْنَ كَتِفَيْهِ ثُمَّ يَقُولُ لَهُ: تَقَدَّمْ فَصَلِّ، فَإِنَّهَا لَكَ أُقِيْمَتْ. فَيُصَلِّي بِهِمْ إِمَامُهُمْ فَإِذَا انْصَرَفَ قَالَ عِيْسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ: افْتَحُوا الْبَابَ. فَيُفْتَحُ وَوَرَاءَهُ الدَّجَّالُ مَعَهُ سَبْعُونَ أَلْفَ يَهُودِيٍّ كُلُّهُمْ ذُو سَيْفٍ مُحَلَّى وَسَاجٍ فَإِذَا نَظَرَ إِلَيْهِ الدَّجَّالُ ذَابَ كَمَا يَذُوبُ الْمِلْحُ فِي الْمَاءِ وَيَنْطَلِقُ هَارِبًا وَيَقُولُ عِيْسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ: إِنَّ لِي فِيْكَ ضَرْبَةً لَنْ تَسْبِقَنِي بِهَا. فَيُدْرِكُهُ عِنْدَ بَابِ اللُّدِّ الشَّرْقِيِّ فَيَقْتُلُهُ فَيَهْزِمُ اللهُ الْيَهُودَ فَلَا يَبْقَى شَيْءٌ مِمَّا خَلَقَ اللهُ يَتَوَارَى بِهِ يَهُودِيٌّ إِلَّا أَنْطَقَ اللهُ ذَلِكَ الشَّيْءَ لَا حَجَرٌ وَلَا شَجَرٌ وَلَا حَائِطٌ وَلَا دَابَّةٌ إِلَا الْغَرْقَدَةَ فَإِنَّهَا مِنْ شَجَرِهِمْ لَا تَنْطِقُ إِلَّا قَالَ يَا عَبْدَ اللهِ الْمُسْلمَ، هَذَا يَهُودِيٌّ فَتَعَالَ اقْتُلْهُ
“… Ketika tatkala imam mereka sudah maju untuk mengimami shalat subuh, tiba-tiba turunlah kepada mereka ‘Isa bin Maryam q pagi itu. Karena itu, imam tersebut mundur agar Nabi ‘Isa q maju mengimami mereka.
Lalu Nabi ‘Isa meletakkan tangan beliau diantara dua pundak imam tersebut dan berkata: ‘Majulah, karena untukmulah shalat ini diiqamatkan.’ Imam itu pun mengimami mereka.
Setelah selesai, Isa q berkata: ‘Bukalah pintu.’ Pintu itu dibuka, ternyata di baliknya ada Dajjal bersama 70.000 Yahudi bersenjata pedang berhias dan berjubah hijau.
Ketika Dajjal melihat ke arah Isa q, diapun meleleh seperti garam dalam air. Dia berbalik melarikan diri. Nabi Isa berkata, ‘Sungguh aku memiliki sebuah pukulan yang engkau tidak akan mendahului aku dengannya.’
Kemudian Isa mendapatkan Dajjal di Bab Al-Lud sebelah timur dan membunuhnya. Ketika itu, Allah l mengalahkan Yahudi hingga tidak ada suatu makhluk pun yang Yahudi bersembunyi padanya kecuali Allah l jadikan ia berbicara, baik dia batu, pohon, tembok, maupun hewan, semua berbicara –kecuali pohon gharqad, sesungguhnya ia adalah pohon Yahudi– semua berbicara: Wahai hamba Allah, muslim, ini Yahudi, kemari dan bunuhlah dia…”1
Hadits Abu Umamah z ini di dalam sanadnya ada kelemahan. Tetapi riwayat yang menunjukkan bahwa peperangan ini terjadi di masa Imam Mahdi, dikuatkan dengan syawahid (penguat-penguat dari hadits lain).
Ibnu Hajar t berkata: “Hadits (Abu Umamah z) diriwayatkan Ibnu Majah dengan panjang dan asal hadits ini ada pada Abu Dawud. Ada yang serupa dengan hadits ini yaitu hadits Samurah z dalam riwayat Al-Imam Ahmad (dalam Al-Musnad) dengan sanad hasan. Diriwayatkan juga oleh Ibnu Mandah dalam Kitab Al-Iman dari hadits Hudzaifah z dengan sanad shahih. (Fathul Bari 6/610)
Walhamdulillah.

Apakah batu dan pohon ketika itu berbicara secara hakiki?
Hadits ini memberikan faedah bahwa bebatuan dan pepohonan akan berbicara serta menyeru kepada kaum muslimin, memberitahukan akan keberadaan Yahudi yang bersembunyi di baliknya.
Sabda beliau n harus kita pahami apa adanya sesuai dengan zhahirnya, bahwa benda-benda ini berbicara secara hakiki, dengan pembicaraan yang bisa didengar dan dipahami. Ibnu Hajar Al-Asqalani Asy-Syafi’i t berkata: “Di dalam hadits ini ada tanda-tanda telah dekatnya hari kiamat dengan berbicaranya benda-benda mati seperti pohon dan batu. Zhahirnya, benda ini berbicara secara hakiki.” (Fathul Bari, 6/610)
Saudaraku, semoga Allah l merahmati Anda, ketahuilah, para pemuja akal menganggap mustahil berita Rasulullah n yang ada di hadapan kita ini. Mereka berkata: “Mungkinkah benda-benda mati berbicara?”
Subhanallah. Mereka tidak menyadari, sesungguhnya mereka sedang berhadapan dengan berita Allah l dan Rasul-Nya. Mereka juga lupa –atau melupakan– kekuasaan Allah l.
Berbicaranya benda mati yang tidak memiliki lisan bukanlah hal yang mustahil bagi Allah l, Dzat Yang Mahakuasa atas segala sesuatu. Di hari kiamat, kulit dan anggota tubuh berbicara menjadi saksi atas perbuatan manusia. Allah l berfirman:
“Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.” (Yasin: 65)
Allah l juga berfirman:
Dan mereka berkata kepada kulit mereka, “Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami?” Kulit mereka menjawab, “Allah yang menjadikan segala sesuatu pandai berkata telah menjadikan kami pandai (pula) berkata, dan Dia-lah yang menciptakan kamu pada kali yang pertama dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan. Kamu sekali-kali tidak dapat bersembunyi dari persaksian pendengaran, penglihatan, dan kulitmu terhadapmu bahkan kamu mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan.” (Al-Fushshilat: 21-22)
Bukan hanya di akhirat, bahkan berbicaranya benda-benda mati telah terjadi di dunia ini. Diantaranya:
– Pokok kurma yang dahulu dinaiki Rasulullah n ketika berkhutbah, menangis dengan tangisan yang didengar para sahabat tatkala Rasulullah n meninggalkannya karena beliau telah memiliki mimbar untuk berkhutbah. Dari Anas bin Malik dan Ibnu Abbas c:
أَنَّ النَّبِيَّ n كَانَ يَخْطُبُ إِلَى جِذْعٍ فَلَمَّا اتَّخَذَ الْمِنْبَرَ ذَهَبَ إِلَى الْمِنْبَرِ، فَحَنَّ الْجِذْعُ فَأَتَاهُ فَاحْتَضَنَهُ فَسَكَنَ، فَقَالَ: لَوْ لَمْ أَحْتَضِنْهُ لَحَنَّ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ
“Dahulu Nabi n berkhutbah pada pokok pohon kurma, ketika dibuatkan mimbar, beliau berjalan menuju mimbar. Maka menangislah pokok kurma hingga didatangi Rasulullah dan beliau peluk dan diamlah ia. Rasulullah n bersabda, ‘Kalau tidak aku peluk sungguh dia akan terus menangis hingga hari kiamat’.”2
– Demikian pula batu, benda mati ini pernah mengucapkan salam kepada Rasulullah n3. Lebih dari itu, bahkan batu pun bisa berlari jika Allah l memberikan kemampuan kepadanya untuk berlari sebagaimana dalam kisah Nabi Musa q dalam Shahih Al-Bukhari. Rasulullah n bersabda:
كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ يَغْتَسِلُونَ عُرَاةً، يَنْظُرُ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ، وَكَانَ مُوسَى يَغْتَسِلُ وَحْدَهُ، فَقَالُوا: وَاللهِ مَا يَمْنَعُ مُوسَى أَنْ يَغْتَسِلَ مَعَنَا إِلَّا أَنَّهُ آدَرُ، فَذَهَبَ مَرَّةً يَغْتَسِلُ فَوَضَعَ ثَوْبَهُ عَلَى حَجَرٍ، فَفَرَّ الْحَجَرُ بِثَوْبِهِ، فَخَرَجَ مُوسَى فِي إِثْرِهِ، يَقُولُ: ثَوْبِي يَا حَجَرُ. حَتَّى نَظَرَتْ بَنُو إِسْرَائِيلُ إِلَى مُوسَى فَقَالُوا: وَاللهِ مَا بِمُوسَى مِنْ بَأْسٍ، وَأَخَذَ ثَوْبَهُ، فَطَفِقَ بِالْحَجَرِ ضَرْبًا
Dahulu Bani Israil biasa mandi telanjang saling melihat satu dengan yang lain. Sementara Musa selalu menyendiri ketika mandi, hingga bani Israil berkata, “Demi Allah, tidak ada yang menghalangi Musa mandi bersama kita kecuali karena dia cacat kemaluannya.” Hingga suatu saat Musa mandi dan beliau letakkan bajunya di atas batu, tiba-tiba batu itu lari, dan Musa berlari mengikutinya seraya berkata, “Bajuku, wahai batu.” Hingga bani Israil melihat Musa dan mereka berkata, “Demi Allah tidak ada cacat pada Musa!” Musa berhasil mengambil bajunya dan ia pukul batu itu.4

Yahudi memancangkan bendera permusuhan kepada para nabi dan kaum mukminin
Yahudi adalah kaum yang sangat busuk. Allah l menyebutkan sifat-sifat jelek mereka dalam banyak ayat Al-Qur’an, demikian pula Rasulullah n dalam sabda-sabda beliau yang mulia, agar kita berhati-hati dari makar-makar Yahudi dan menjauhi sifat-sifat buruk mereka.
Bendera perang telah Yahudi kibarkan dengan penuh keangkuhan, di hadapan mukminin. Makar dan permusuhan Yahudi terus diarahkan kepada kaum muslimin, bahkan Rasulullah n pun tidak luput dari rencana jahat Yahudi.
Disebutkan dalam referensi-referensi sirah (sejarah), sebab terjadinya perang Yahudi bani Nadhir, sekitar enam bulan seusai perang Badr (Ramadhan 2 H), Rasulullah n mendatangi Yahudi guna membantu beliau membayar diyat atas kematian dua orang dari kabilah Kullab yang dibunuh oleh ‘Amr bin Umayyah Adh-Dhamri z. Dalam pembicaraan itu, mereka sanggup membantu Rasulullah n dan berkata, “Kami akan bantu engkau wahai Abul Qasim5, tapi duduklah di sini hingga kami memenuhi kebutuhanmu.”
Saat Rasulullah n menunggu, ternyata mereka merencanakan pembunuhan terhadap Rasulullah n. ‘Amr bin Jahsy terpilih untuk menimpakan (batu) penggiling gandum di atas kepala Rasulullah n yang sedang duduk. Ar-Rasul mendapat wahyu, beliau pun segera bangkit dan memerintahkan sahabat untuk menyerang Yahudi yang telah mengkhianati kesepakatan.
Kisah ini diriwayatkan Ibnu Hisyam dalam As-Sirah (3/267-268) dengan sanad mursal, akan tetapi dikuatkan dengan riwayat Musa bin ‘Uqbah sebagaimana disebutkan Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (15/202) dan Al-Imam Al-Baihaqi dalam Dala’il An Nubuwah (3/180-181). Wallahu a’lam.6
Yahudi adalah kaum yang penuh hasad. Mereka selalu menginginkan kehinaan dan kecelakaan, serta menjauhkan kaum muslimin dari Islam. Allah l berfirman:
“Sebagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran…” (Al-Baqarah: 109)
Allah l juga berfirman:
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah, ‘Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)’. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (Al-Baqarah: 120)
Mereka memang telah memancangkan bendera perang. Tetapi bendera itu tidak akan tegak dan berkibar. Bendera Yahudi akan segera tumbang dan diinjak-injak tentara Allah l, sebagaimana kabar gembira yang kita dapatkan dalam sabda Rasulullah n diatas.

Reformasi, tasyabbuh (meniru) tindakanYahudi
Reformasi ala Ibnu Saba’ beserta segala sarananya berupa demokrasi, demonstrasi, pemecahbelahan umat, dan menjamurnya partai-partai, demikian pula kebebasan yang tidak terkendali dan pengebirian syariat dengan kedok Hak Asasi Manusia (HAM), harus disadari bahwa semua itu adalah produk Yahudi yang dijual murah di tengah muslimin, di negeri-negeri Islam.
Munafiqin dan corong-corong Yahudi atau sebagian kaum muslimin yang jahil akan syariat, berdiri di atas panggung reformasi menggemakan slogan-slogan yang jauh dari Islam. Manusia pun silau dengan propaganda-propaganda itu. Kerusakan dan akibat-akibat pahit reformasi semakin menyebar di tengah perang yang terus berkecamuk. Tetapi sadarkah kita, wahai kaum muslimin, akan peperangan ini?
Sungguh, demi Allah! Tidak ada jalan keluar dan kemuliaan kecuali melalui jihad dengan makna yang sesungguhnya. Di antaranya dengan berdakwah menyeru manusia untuk kembali kepada Al-Kitab dan As-Sunnah dengan pemahaman salafus shalih, serta menyadari akan peperangan dan permusuhan Yahudi yang telah mereka pancangkan hingga hari kiamat.
Yahudi adalah musuh, namun kebanyakan muslimin justru mengikuti jejak-jejak mereka dengan bertasyabbuh (meniru) Yahudi dalam pola pikir, pola kehidupan, bahkan dalam beribadah. Seakan-akan umat ini tidak ingat lagi sabda Rasulullah n:
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Barangsiapa meniru-niru suatu kaum, maka dia termasuk dari kaum itu.”7
Lihatlah apa yang terjadi di era reformasi, bagaimana kaum muslimin tergulung ombak pemikiran. Dakwah tauhid diremehkan, demikian pula prinsip-prinsip Islam diinjak-injak –seperti al-wala’ wal bara’ (loyal kepada orang taat dan antipati terhadap orang yang bermaksiat)– sementara perjuangan partai –yang memecah-belah umat– dielu-elukan.
Prinsip menaati waliyul amr (pemerintah) selama di atas ketaatan kepada Allah l menjadi luntur dan dianggap sikap kebanci-bancian. Sementara, pemberontakan dan mencaci-maki pemerintah di atas podium/mimbar-mimbar –seperti moyang mereka, Ibnu Saba– dianggap sebagai jihad dan kepahlawanan.
Di era reformasi, kaum muslimin didorong untuk mengubah keadaan dengan demonstrasi, pemberontakan, perusakan, mengundi nasib dengan demokrasi dan partai. Bahkan, tidak sedikit kaum muslimin yang membuat partai dengan nama partai Islam, padahal sesungguhnya semua itu adalah bagian dari langkah Yahudi, yang ingin menggiring muslimin untuk bertasyabbuh dengan mereka.
Ketahuilah, sesungguhnya kemuliaan tidak akan dicapai dengan tasyabbuh kepada Yahudi dan musyrikin, bahkan mereka akan semakin lemah dan bercerai-berai. Fenomena tasyabbuh telah disinyalir Rasulullah n jauh-jauh hari sebagaimana tampak dalam sabda Rasulullah n:
لَتَتَّبِعُنَّ سُنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ، حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِي جُحْرِ ضَبٍّ لَاتَّبَعْتُمُوهُ. قُلْنَا: يَا رَسُولَ اللهِ، آلْيَهُودُ وَالنَّصَارَى؟ قَالَ: فَمَنْ؟
Sungguh kalian akan ikuti jalan-jalan orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sampaipun mereka masuk lubang dhabb (hewan sejenis biawak) kalian juga akan mengikutinya. Kami bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah mereka itu Yahudi dan Nasrani?” Rasul berkata, “Siapa lagi (kalau bukan mereka)?”8
Peringatan di atas menunjukkan bahwa menyelisihi ahlul kitab dan musyrikin adalah prinsip mendasar seorang muslim. Di atas prinsip inilah sesungguhnya kita akan memperoleh kemuliaan.

Memperjuangkan Islam melalui partai Islam?
Memperjuangkan Islam hanya dengan kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan manhaj yang shahih, bukan dengan cara-cara bid’ah atau tasyabbuh dengan ahlul kitab dan musyrikin. Di masa reformasi, banyak aktivis pergerakan memandang bahwa Islam bisa diperjuangkan melalui partai. Dengan partai, aspirasi umat akan tersalurkan. Dengan partai, jalan menuju kekuasaan dan syariat Islam akan terwujud. Itu diantara angan-angan mereka. Benarkah demikian?
Jawabannya: Tidak! Sekali-kali tidak!
Coba lihat, sebelum mereka duduk di parlemen, jenggot masih dipelihara, pakaian masih di atas mata kaki. Namun ketika kursi telah diduduki syariat, jenggot dan mengangkat pakaian di atas mata kaki dilibas dan diremehkan. Apakah orang-orang seperti ini akan menegakkan syariat Islam, sementara syariat Islam justru tidak ditegakkan pada diri-diri mereka?
Yakinilah, sesungguhnya umat ini hanya akan mendapat kebaikan dengan menempuh jalan generasi awal umat ini yakni sahabat. Al-Imam Malik t berkata:
لَا يَصْلُحُ آخِرُ هَذِهِ الْأُمَّةِ إِلَّا بِمَا صَلُحَ بِهِ أَوَّلُهَا
“Akhir dari umat ini tidak akan mencapai kejayaan kecuali dengan menempuh jalan generasi awal yang dengannya mereka mencapai kejayaan.”
Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani t menjawab sebuah pertanyaan, “Bolehkah seorang salafi (Ahlus Sunnah) bergabung dengan Ahzab Siyasiyah (partai-partai politik)?”
Beliau menjawab: Salafiyyin wajib menegakkan dakwah kepada Al-Qur’an dan As-Sunah dengan manhaj salafus shalih dan tidak bergabung dengan partai-partai politik. Kenapa? Karena sampai saat ini saya tidak tahu ada partai Islam –di seluruh penjuru dunia– yang berada di atas manhaj yang benar.
Bukan berarti bahwa dalam Islam tidak ada siyasah (politik). Siyasah sesungguhnya ada dan termasuk syariat, sehingga ada tulisan-tulisan tentang siyasah seperti kitab yang berjudul As-Siyasah Asy-Syar’iyyah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t. Maka siyasah sesungguhnya termasuk syariat, tentunya jika sesuai dengan syariat. Tetapi siapa yang mampu untuk mensiasati (mengatur) umat? Tidak diragukan bahwa mereka haruslah orang-orang yang memiliki beberapa sifat, di antaranya (alim) mengetahui Al-Kitab dan As-Sunnah. …. Maka kita tidak menasihatkan kepada salafiyin untuk bergabung dengan mereka. Karena amalan siyasah (politik) butuh persiapan yang sangat besar agar bisa menegakkan siyasah syar’iyyah.
(Bahkan ketika salafiyin) menyibukkan diri dalam siyasah, justru akan menyebabkan mereka berpaling dari dakwah dan tarbiyah (membimbing) umat … Lihatlah sepintas negeri-negeri yang menyibukkan diri dalam hal ini sebelum umat siap kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Yang terjadi justru menyebabkan mundurnya umat. Benarlah apa yang dikatakan:
مَنِ اسْتَعَجْلَ الْأَمْرَ قَبْلَ أَوَانِهِ عُوقِبَ بِحِرْمَانِهِ
“Barangsiapa tergesa-gesa meraih sesuatu sebelum waktunya, akan dibalas dengan terhalangi mendapatkannya.”
(Untuk memperoleh kejayaan) kita harus menempuh sebab-sebab yang syar’i. Kita lihat bagaimana Rasulullah n berbuat? Rasul n melakukan sebab-sebabnya, dengan mempersiapkan kekuatan untuk menghadapi musuh. Sebagaimana Allah l berfirman:
“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu ….” (Al-Anfal: 60)
Al-Quwwah, kekuatan yang dimaksud dalam ayat ini, tidak diragukan adalah kekuatan fisik (namun ada kekuatan yang lebih utama yang harus dipersiapkan yaitu kekuatan iman dan tauhid yang kokoh dalam jiwa). Kita renungi lebih dalam ayat ini, siapakah mukhathab (orang yang diajak bicara)? Sahabat adalah mukhathab pertama. Mereka adalah kaum mukminin yang haq (generasi yang dipenuhi kekuatan iman). Maka (disimpulkan bahwa) kekuatan yang dimaksud dalam ayat ini ada dua macam: pertama: maknawiyah9; dan kedua: kekuatan fisik. Hal ini jelas ditunjukkan oleh ayat ini dan sabda Rasulullah n:
أَلَا إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْيُ
“Ketahuilah, sesungguhnya kekuatan itu adalah memanah.”10
Diantara persiapan jihad adalah (mengajak agar) kaum muslimin berada dalam satu hati.11 Apakah ini sudah diusahakan? Ini tentunya harus dilakukan dengan dakwah kepada Al-Kitab dan As-Sunnah dengan manhaj yang benar ….” (Dari kaset Silsilah Al-Huda wan Nur no. 270, Asy-Syaikh Al-Allamah Al-Albani t, dengan beberapa penyesuaian)

Kabar gembira bagi kaum mukminin
Perpecahan dan kelemahan yang menimpa muslimin, yang disebabkan oleh jauhnya mereka dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, juga karena kebanyakan muslimin lebih mengikuti jejak ahlul kitab dan musyrikin dengan tasyabbuh kepada mereka; hendaknya tidak menjadikan kita putus asa dari rahmat Allah l untuk memperjuangkan agama Allah l yang mulia.
Ketahuilah bahwa agama ini milik Allah l. Dia telah menjanjikan penjagaan bagi agama ini. Allah l pula yang akan memenangkan agama Rasulullah n atas seluruh agama.
“Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas seluruh agama meskipun orang-orang musyrik benci.” (Ash-Shaf: 9)
Keyakinan akan pertolongan Allah l akan mendorong seorang mukmin tetap kokoh berdiri memperjuangkan agama-Nya, meskipun musuh-musuh Allah l bersatu-padu untuk memadamkan cahaya agama Allah l. Allah l berfirman:
“(Yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan, ‘Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka’, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: ‘Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung’.” (Ali Imran: 173)
Manusia itu lemah, sedangkan Allah Mahaperkasa. Tidak ada yang kita ucapkan melainkan Hasbunallah wani’mal wakil. Sesungguhnya apa yang Allah l janjikan pasti kita peroleh, insya Allah.
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (An-Nur: 55)

Seruan untuk sekalian Yahudi dan Ahlul Kitab
Wahai Yahudi… Berhentilah kalian membuat kerusakan di muka bumi. Segeralah bertaubat dan memenuhi panggilan Allah l dan Rasulullah n. Allah l berfirman:
Katakanlah: “Wahai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah.” Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah l).” (Ali Imran: 64)
Kalian sungguh telah mengerti kebenaran Rasulullah n, maka segeralah penuhi panggilannya sebelum azab menimpa kalian. Allah l berfirman:
“Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al-Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebagian diantara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.” (Al-Baqarah: 146)
Ingatlah apa yang menimpa nenek moyang kalian ketika mereka kafir kepada Allah l. Dia mengubah kalian menjadi kera-kera dan babi yang hina –dan itu kalian ketahui–.
Wahai Ahlul Kitab, dengarlah sabda Rasul n yang Allah l utus kepada kalian:
وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ وَلَا نَصْرَانِيٌّ، ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ
“Demi Dzat yang jiwa Muhammad di Tangan-Nya, tidaklah seorang pun dari umat ini mendengar tentang aku, baik dia Yahudi atau Nasrani, kemudian tidak beriman dengan apa yang aku bawa melainkan termasuk penghuni neraka.”12
Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.


1 HR. Ibnu Majah dalam As-Sunan no. 4077, didha’ifkan Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani t.
2 Asy-Syaikh Al-Albani t berkata: “Mukjizat (menangisnya pokok kurma) ini mutawatir dari Rasulullah n. Sebagian besar jalan-jalannya telah dikumpulkan Al-Hafizh Ibnu Katsir t dalam Al-Bidayah dan As-Suyuthi t dalam Al-Khashaish…” (Ta’liqat atas risalah Bidayatus Suul fi Tafdhili Ar-Rasul hlm. 40)
3 Sebagaimana ditunjukkan dalam hadits Jabir bin Samurah z, diriwayatkan Al-Imam Muslim dalam Ash-Shahih (4/1782 no. 2277), At-Tirmidzi no. 3628.
4 HR. Al-Bukhari no. 278 dari hadits Abu Hurairah z.
5 Kunyah Rasulullah n.
6 Kisah ini disebutkan oleh Asy-Syaikh Abdurrahman Nashir As-Sa’di dalam Taisir Karimir Rahman, tafsir Surat Al-Hasyr.
7 HR. Abu Dawud no. 4031 dari hadits Abdullah bin ‘Umar c.
8 HR. Al-Bukhari no. 3456 dan Muslim (4/2054 no. 2669) dari sahabat Abu Sa’id Al-Khudri z.
9 Yaitu keimanan yang shahih. Rasulullah n selama hidup beliau selalu menanamkan tauhid, bahkan sebelum disyariatkan shalat lima waktu setiap hari. Selama lebih sepuluh tahun di Makkah, dakwah Rasulullah n adalah menegakkan kalimat Laa ilaha illallah, memurnikan tauhid, dan menghancurkan kesyirikan.
10 Diriwayatkan Al-Imam Muslim dalam Shahih-nya no. 1917 dari sahabat ‘Uqbah bin ‘Amir z.
11 Tentu yang dimaksud satu hati adalah satu aqidah, bukan seperti dakwah Ikhwanul Muslimin (IM) yang berusaha menyatukan manusia dalam satu wadah meskipun berbeda aqidah: Sufi, Rafidhah (Syiah), Mu’tazilah, dan segala macam aliran sesat.
12 HR. Muslim (1/134 no. 153) dari sahabat Abu Hurairah z.

Hukum Allah Bukan Hukum Jahiliyah

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal)

 

“Apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (Al-Maidah: 50)
Sebab turunnya ayat
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas c, dia berkata: Dua kabilah Yahudi, Quraizhah dan Nadhir. Kabilah Nadhir lebih mulia dibanding kabilah Quraizhah. Apabila ada seseorang dari kabilah Quraizhah membunuh seseorang dari kabilah Nadhir, dia dibunuh pula karenanya. Namun, jika seseorang dari kabilah Nadhir membunuh seseorang dari kabilah Quraizhah, cukup ditebus dengan 100 wisq kurma (6000 sha’, pen.). Setelah Nabi n diutus, seseorang dari kabilah Nadhir membunuh seseorang dari kabilah Quraizhah. Kemudian orang-orang Bani Quraizhah berkata, “Serahkan pembunuh itu kepada kami, kami akan membunuhnya.” (Tatkala Bani Nadhir enggan menyerahkannya), Bani Quraizhah berkata, “Antara kami dan kalian ada nabi.” Mereka pun mendatangi beliau. Lalu turunlah firman Allah l:
“Jika engkau berhukum maka berhukumlah diantara mereka dengan adil.” (Al-Maidah: 42)
Keadilan di sini adalah jiwa dibalas dengan jiwa (qishas). Setelah itu turun pula ayat:
“Apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (Al-Maidah: 50) [HR. Abu Dawud no. 4494, An-Nasa’i no. 4732, Ibnu Abi Syaibah no. 27970, Ad-Daruquthni 3/198, Ibnu Hibban no. 5057, Al-Hakim 4/407, Al-Baihaqi 8/24, Ibnul Jarud dalam Al-Muntaqa no. 772. Hadits ini dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Abu Dawud]

Tafsir ayat
Firman Allah l:
“Apakah hukum jahiliah…”
Hamzah (yang berarti: apakah) yang disebut dalam ayat ini menunjukkan istifham inkari, bentuk pertanyaan namun yang dimaksud adalah pengingkaran dan menjelekkan orang yang melakukannya. (Lihat Fathul Qadir, Asy-Syaukani)
Yang dimaksud hukum jahiliah adalah setiap hukum yang menyelisihi apa yang diturunkan Allah l kepada Rasul-Nya, karena  hukum hanya ada dua: hukum Allah l dan Rasul-Nya atau hukum jahiliah. Siapa yang berpaling dari hukum Allah l niscaya dia berhukum dengan hukum jahiliah yang dibangun di atas kejahilan, kezaliman, dan penyimpangan. Oleh karena itu, Allah l menisbahkannya kepada jahiliah. Sementara hukum Allah l dibangun di atas ilmu, keadilan, cahaya, dan petunjuk. (Lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman, karya As-Sa’di dalam tafsir ayat ini)
Ibnul Qayyim t berkata ketika menjelaskan tentang hukum jahiliah, “Setiap hukum yang menyelisihi apa yang dibawa oleh Rasul maka itu termasuk jahiliah. Jahiliah adalah nisbah kepada kejahilan. Setiap yang menyelisihi Rasul termasuk dari kejahilan.” (Al-Fawa’id, Ibnul Qayyim hlm. 109)
Ibnu Katsir t berkata ketika menjelaskan ayat ini: “Allah l mengingkari orang yang keluar dari hukum Allah k yang adil, yang mencakup segala kebaikan dan mencegah dari setiap kejahatan, beralih kepada hukum lain yang berupa pendapat manusia, hawa nafsu, dan berbagai istilah yang ditetapkan oleh manusia tanpa bersandar kepada syariat Allah l. Sebagaimana halnya kaum jahiliah yang berhukum dengan kesesatan dan kebodohan, yaitu hukum yang mereka tetapkan berdasarkan pendapat dan hawa nafsu mereka. Seperti bangsa Tartar yang berhukum dalam politik kekuasaan mereka yang diambil dari raja mereka yang bernama Jenghis Khan, yang menetapkan undang-undang Ilyasiq; sebuah kitab yang berisi hukum-hukum yang diambil dari syariat yang berbeda-beda; Yahudi, Nasrani, Islam, dan yang lainnya. Di dalamnya juga banyak hukum-hukum yang diambil dari pandangan dan hawa nafsunya semata. Akhirnya undang-undang ini menjadi syariat yang harus diikuti oleh keturunannya. Mereka lebih mengutamakannya daripada berhukum dengan kitab Allah l dan Sunnah Rasul-Nya. Siapa di antara mereka yang melakukan hal itu maka dia kafir, wajib diperangi sampai dia kembali kepada hukum Allah l dan Rasul-Nya, serta dia tidak berhukum dengan yang lainnya baik dalam urusan kecil maupun besar.” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/68)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t berkata, “Sungguh Allah l telah memerintahkan Nabi-Nya untuk berhukum dengan apa yang diturunkan Allah l kepadanya. Allah l juga memperingatkan beliau agar tidak mengikuti hawa nafsu mereka, dan menjelaskan bahwa yang menyelisihi hukum-Nya adalah hukum jahiliah.” (Daqa’iq At-Tafsir, 2/55)
Diriwayatkan dari hadits Jabir z bahwa beliau berkata, “Suatu hari kami dalam satu peperangan. Lalu ada seorang dari kalangan Muhajirin memukul pantat seorang dari kalangan Anshar dengan tangannya. Orang Anshar itu pun berteriak sambil berkata, ‘Wahai kaum Anshar.’ Maka orang Muhajirin itu pun juga berteriak, ‘Wahai kaum Muhajirin.’ Akhirnya teriakan ini didengar oleh Nabi n beliau pun berkata:
أَبِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ؟ دَعُوهَا فَإِنَّهَا مُنْتِنَةٌ
‘Mengapa ada panggilan jahiliah? Tinggalkan karena sesungguhnya itu buruk (tercela).” (HR. Al-Bukhari no. 4622, Muslim no. 2584)
Muhammad bin Abi Nashr Al-Humaidi berkata dalam menjelaskan makna panggilan jahiliah: “Ucapan mereka ‘Wahai pengikut fulan’, hal ini termasuk fanatisme golongan dan keluar dari hukum Islam.” (Tafsir Gharib Ma fish Shahihain, Al-Humaidi: 85)
“Yang mereka kehendaki.”
Ini adalah bacaan jumhur (mayoritas) ahli qira’ah. Adapun bacaan Ibnu ‘Amir dengan ta’ (تَبْغُونَ) yang berbentuk khithab (artinya: kalian kehendaki). (Tafsir Al-Qurthubi, Tafsir Al-Baghawi)
Maknanya adalah, apakah mereka berpaling dari hukum yang telah Allah l turunkan kepadamu (kepada Muhammad n, pen.) dan meninggalkannya lalu mencari hukum jahiliah? (Fathul Qadir, Asy-Syaukani)
Ayat ini seperti apa yang disebutkan dalam ayat lainnya:
“Maka patutkah aku mencari hakim selain daripada Allah, padahal Dialah yang telah menurunkan kitab (Al-Qur’an) kepadamu dengan terperinci? Orang-orang yang telah Kami datangkan kitab kepada mereka, mereka mengetahui bahwa Al-Qur’an itu diturunkan dari Rabbmu dengan sebenarnya. Maka janganlah kamu sekali-kali termasuk orang yang ragu-ragu.” (Al-An’am: 114)
“Dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?”
Ini juga termasuk istifham inkari, bentuk pertanyaan yang mengandung pengingkaran, yang maknanya adalah: Tidak ada hukum yang lebih baik dari hukum Allah l bagi orang-orang yang memiliki keyakinan, bukan bagi orang yang jahil dan pengikut hawa nafsu. (Tafsir Fathul Qadir)
As-Sa’di t mengatakan: “Orang yang memiliki keyakinan itulah mengetahui perbedaan antara kedua hukum tersebut. Dengan keyakinannya, dia mampu membedakan apa yang terdapat di dalam hukum Allah l yaitu kebaikan dan keagungan, dan berdasarkan tinjauan akal maupun syariat wajib diikutinya. Al-yaqin adalah keyakinan yang sempurna yang melahirkan amalan.” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman)
Kewajiban berhukum dengan hukum Allah l
Ayat ini menjelaskan tentang kewajiban setiap hamba untuk berhukum dengan hukum Allah l dalam setiap urusan mereka serta larangan untuk menjadikan selain hukum Allah l sebagai hukum dan aturan dalam kehidupan manusia, sebab hal itu termasuk bentuk berhukum kepada hukum jahiliah.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t mengatakan, “Adapun orang-orang yang beriman, berislam, berilmu, dan beragama, mereka senantiasa berhukum dengan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya. Sebagaimana firman Allah l:
“Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (An-Nisa’: 65) [Majmu’ Fatawa, 35/386]
Al-‘Allamah As-Sa’di t berkata: “Berhukum dengan selain apa yang diturunkan Allah l merupakan perbuatan orang-orang kafir. Terkadang bentuk kekafirannya dapat mengeluarkan dari Islam, apabila dia meyakini halal dan bolehnya hal itu. Terkadang pula termasuk dosa besar dan termasuk perbuatan kekufuran (namun tidak mengeluarkan dari Islam) yang pelakunya berhak mendapatkan siksaan yang pedih.” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman)
Begitu banyak ayat yang memerintahkan manusia untuk berhukum dengan hukum Allah l dan mengharamkan berhukum dengan hawa nafsu yang merupakan hukum jahiliah. Diantaranya adalah:
“Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu.” (Al-Maidah: 48)
“Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.” (Al-Jatsiyah: 18)
“Hai Dawud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.” (Shad: 26)
Katakanlah: “Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus.” (Al-Maidah: 77); dan yang lainnya.
Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas c bahwa Rasulullah n bersabda:
أَبْغَضُ النَّاسِ إِلَى اللهِ ثَلَاثَةٌ: مُلْحِدٌ فِي الْحَرَمِ، وَمُبْتَغٍ في الْإِسْلَامِ سُنَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ، وَمُطَّلِبُ دَمِ امْرِئٍ بِغَيْرِ حَقٍّ لِيُهْرِيقَ دَمَهُ
“Manusia yang paling dibenci Allah l ada tiga: seorang yang berbuat zalim di negeri haram, orang yang mencari hukum jahiliah dalam Islam, dan keinginan menumpahkan darah seseorang tanpa hak.” (HR. Al-Bukhari no. 6488)
Balasan bagi orang yang berhukum dengan selain hukum Allah l
Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar c, dia berkata: Rasulullah n mendatangi kami lalu bersabda:
يا مَعْشَرَ الْمُهَاجِرِينَ خَمْسٌ إذا ابْتُلِيتُمْ بِهِنَّ وَأَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ تُدْرِكُوهُنَّ لم تَظْهَرْ الْفَاحِشَةُ في قَوْمٍ قَطُّ حتى يُعْلِنُوا بها إلا فَشَا فِيهِمْ الطَّاعُونُ وَالْأَوْجَاعُ التي لم تَكُنْ مَضَتْ في أَسْلَافِهِمْ الَّذِينَ مَضَوْا ولم يَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ إلا أُخِذُوا بِالسِّنِينَ وَشِدَّةِ الْمَئُونَةِ وَجَوْرِ السُّلْطَانِ عليهم ولم يَمْنَعُوا زَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ إلا مُنِعُوا الْقَطْرَ من السَّمَاءِ وَلَوْلَا الْبَهَائِمُ لم يُمْطَرُوا ولم يَنْقُضُوا عَهْدَ اللَّهِ وَعَهْدَ رَسُولِهِ إلا سَلَّطَ الله عليهم عَدُوًّا من غَيْرِهِمْ فَأَخَذُوا بَعْضَ ما في أَيْدِيهِمْ وما لم تَحْكُمْ أَئِمَّتُهُمْ بِكِتَابِ اللَّهِ وَيَتَخَيَّرُوا مِمَّا أَنْزَلَ الله إلا جَعَلَ الله بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ
“Wahai sekalian kaum muhajirin, ada lima hal yang apabila kalian diuji dengannya, aku berlindung kepada Allah l jangan sampai kalian: (1) Tidaklah satu perbuatan keji (zina) yang muncul hingga mereka melakukannya secara terang-terangan melainkan akan menyebar penyakit tha’un1 dan berbagai penyakit yang belum pernah muncul di masa sebelum mereka. (2) Tidaklah mereka mengurangi takaran dan timbangan melainkan mereka akan ditimpa paceklik, kesulitan hidup, dan kezaliman penguasa terhadap mereka. (3) Tidaklah mereka menahan zakat harta mereka melainkan akan ditahan pula dari mereka turunnya hujan dari langit. Kalaulah bukan karena hewan ternak, niscaya hujan tidak akan turun kepada mereka. (4) Tidaklah mereka membatalkan perjanjian Allah l dan Rasul-Nya melainkan Allah l akan memberi kekuasaan kepada musuh atas mereka lalu merampas sebagian apa yang mereka miliki. (5) Tidaklah para pemimpin mereka tidak berhukum dengan kitab Allah l dan memilah-milah hukum yang diturunkan Allah l melainkan Allah l akan menjadikan perselisihan di antara mereka sendiri.” (HR. Ibnu Majah no. 4019. Dishahihkan Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, 1/106)
Wallahu a’lam.


1 Penyakit bengkak yang disebabkan mikroba, menjangkiti tikus dan menular melalui kutunya kepada tikus lain maupun manusia. -red.

Runtuh Keluhuran Akhlak Bangsa Kami

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin)

Reformasi telah melahirkan gaya hidup bebas. Karena sesungguhnya inti tujuan dicetuskannya gerakan reformasi, selain melengserkan pemerintahan Orde Baru, adalah menawarkan nilai-nilai demokrasi dan kebebasan. Nilai-nilai demokrasi dan kebebasan inilah yang mengubah wajah Indonesia.
Perubahan ini bisa ditilik dari beberapa sisi, antara lain rakyat didorong untuk bebas mengeluarkan pendapat tanpa adanya kontrol moral agama. Rakyat diberi ruang sebebas-bebasnya saat melakukan aksi unjuk rasa, bahkan hingga taraf melecehkan dan menjatuhkan nama baik penguasa. Lebih memprihatinkan lagi, justru yang melakukan tindakan semacam ini adalah dari kalangan yang pernah “bermukim” di kampus. Kategori pengunjuk rasa adalah kalangan intelektual, namun tindakan, ucapan, dan pemikirannya tidak mencerminkan pribadi yang terdidik secara baik dan benar. Tindakan-tindakan mereka cenderung menghalalkan segala cara. Prinsip:
الْغَايَةُ تُبَرِّرُ الْوَسِيْلَةَ
“Tujuan menghalalkan segala cara,” merupakan prinsip yang lahir dari pemikiran Zionis Yahudi. Allah l telah menggambarkan keadaan semacam itu melalui firman-Nya:
Segolongan (lain) dari Ahli Kitab berkata (kepada sesamanya): “Perlihatkanlah (seolah-olah) kamu beriman kepada apa yang diturunkan kepada orang-orang beriman (sahabat-sahabat Rasul) pada permulaan siang dan ingkarilah ia pada akhirnya, supaya mereka (orang-orang mukmin) kembali (kepada kekafiran).” (Ali ‘Imran: 72)
Ketika mereka bergitu berambisi mengembalikan kaum muslimin kepada kekafiran, mereka tak segan-segan berbuat demikian, agar kaum muslimin merasa ragu terhadap ajaran Islam.
Selain itu, dampak lepasnya tali kendali kebebasan adalah tersebarnya berbagai bentuk perbuatan keji (fahisyah). Berbagai media berlomba menyebarkan berita yang merusak agama kaum muslimin, baik dalam bentuk pornografi atau yang terkait faktor akidah: kesyirikan. Mereka terus-menerus menerbitkan tulisan-tulisan dan gambar-gambar yang menggerus kebaikan agama seorang muslim. Padahal Allah l telah mengancam orang-orang yang suka menyebarkan perbuatan keji di kalangan kaum mukminin dengan siksa yang pedih di dunia dan akhirat. Firman-Nya:
“Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (An-Nur: 19)
Sikap malu sudah tercerabut dari kepribadian bangsa ini. Mengungkapkan cacat, cela, dan aib seseorang tidak lagi dianggap hal yang memalukan. Justru yang demikian digunakan sebagai alat untuk menjatuhkan harkat dan martabat seseorang. Rasulullah n pernah berwasiat terkait masalah ini. Sabda beliau n:
الْحَيَاءُ لَا يَأْتِي إِلَّا بِخَيْرٍ
“Sikap malu itu tidak akan mendatangkan kecuali kebaikan.” (HR. Al-Bukhari no. 6117 dan Muslim no. 50)
Dalam riwayat Muslim disebutkan:
الْحَيَاءُ خَيْرٌ كُلُّهُ –أَوْ قَالَ: الْحَيَاءُ كُلُّهُ خَيْرٌ
“Sikap malu itu baik seluruhnya,” atau sabda beliau, “Sikap malu itu semuanya baik.” (HR. Muslim no. 61)
Menurut Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin t, jauhnya seseorang dari sikap malu pada masa sekarang ini melahirkan pernyataan-pernyataan yang keji dan kotor atau memicu timbulnya perbuatan-perbuatan yang jelek dan yang sejenis.
إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلَامِ النُّبُوَّةِ الْأُولَى إِذَا لَمْ تَسْتَحِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ
“Sesungguhnya apa yang diperoleh manusia dari perkataan kenabian yang pertama adalah apabila engkau tidak (memiliki) rasa malu, berbuatlah sesukamu.” (HR. Al-Bukhari, no. 6120)
Karena itu, seseorang wajib menjadikan sikap malu ini melekat pada dirinya, kecuali dalam urusan (agama) yang wajib diketahuinya. Dia tidak boleh merasa malu (untuk bertanya) tentang al-haq (kebenaran). (Syarhu Riyadhish Shalihin, 2/268)
Sisi lain yang menyebabkan perubahan pada wajah Indonesia akibat gerakan reformasi adalah sebagian masyarakat disibukkan dengan dunia politik. Fokus perhatian mereka tersedot pada berita-berita politik. Tak mengherankan bila bacaan mereka sehari-hari adalah koran, majalah, televisi, dan media lainnya yang menyuguhkan rumor, konflik, dan berita-berita tendensius. Keadaan semacam ini mencapai puncak tatkala eforia politik berlangsung, yaitu saat gerakan reformasi mencapai puncak putaran dalam menggoyang kursi kekuasaan. Keadaan masyarakat kerap diombang-ambingkan oleh opini yang dilansir media massa. Bahkan, tidak sedikit yang lantas terpicu untuk melakukan aksi-aksi tidak terpuji. Akibat keadaan yang demikian, sebagian masyarakat tidak lagi bersemangat mempelajari Islam. Lebih mengherankan lagi, banyak dai atau mubalig yang semestinya menjelaskan dan memberi pendidikan agama kepada umat, malah turut mewarnai majelis taklim dengan rumor-rumor politik. Bukan pendidikan agama yang diberikan tetapi obrolan-obrolan bernuansa politik yang bersumber dari media massa yang disuguhkan. Tidak mengarahkan umat bagaimana bersikap dalam kehidupan yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah n, para dai atau mubalig tersebut, malah lebih banyak bertutur tentang sepak terjang tokoh reformasi. Terjadilah proses pembodohan terhadap umat. Ini adalah sisi terparah dari kebobrokan yang dihasilkan gerakan reformasi. Umat menjadi jahil dan semakin jauh dari pemahaman Islam yang benar. Bahkan, dalam masa eforia politik ini banyak dai atau mubalig yang tersihir dengan politik. Mereka mengubah arah perjuangan dakwah dengan menceburkan diri dalam lumpur demokrasi. Mereka berlomba-lomba meraup kursi kekuasaan, sedangkan dunia dakwah ditinggalkan begitu saja.
Dalam kondisi umat terfitnah (diuji) oleh situasi politik, para dai Ahlus Sunnah tetap menyuarakan pemurnian dalam berislam. Mereka menyadarkan umat agar tetap menyibukkan diri untuk menuntut ilmu syar’i. Inilah nasihat Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan hafizhahullah terhadap orang-orang yang disibukkan oleh aktivitas politik. Menurut beliau hafizhahullah, menyibukkan diri dengan berbagai orasi, media massa, dan perkembangan-perkembangan (dinamika) yang terjadi di dunia tanpa mempelajari akidah dan ilmu syar’i merupakan kesesatan dan upaya yang sia-sia. Kesibukan tersebut hanya akan menjadikan pelakunya sebagai orang yang kacau pikirannya, karena dia telah menukar sesuatu yang lebih baik dengan sesuatu yang rendah nilainya. Allah l telah memerintahkan kepada kita agar yang pertama dipelajari adalah ilmu yang bermanfaat (ilmu syar’i). Allah l berfirman:
“Maka ketahuilah, sesungguhnya tidak ada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang beriman, laki-laki dan perempuan.” (Muhammad: 19)
Firman-Nya:
“Katakanlah: ‘Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?’ Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (Az-Zumar: 9)
Firman-Nya:
“Katakanlah: ‘Ya Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu’.” (Thaha: 114)
Banyak ayat lainnya yang mendorong seseorang untuk menuntut ilmu (syar’i) yang memiliki kedudukan dalam Kitabullah dan Sunnah Rasulullah n. Sesungguhnya, inilah yang dimaksud ilmu yang bermanfaat di dunia dan akhirat. Ilmu inilah yang merupakan cahaya yang akan menerangi seseorang agar bisa melihat jalan yang mengarahkannya menuju surga dan kebahagiaan. Juga yang akan mengarahkan seseorang menuju kehidupan yang baik dan bersih di dunia dan kehidupan yang bahagia di akhirat kelak. Allah l berfirman:
“Wahai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Rabbmu, (Muhammad dengan mukjizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang-benderang (Al-Qur’an). Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang kepada (agama)-Nya, niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang besar dari-Nya (surga) dan limpahan karunia-Nya. Dan menunjuki mereka kepada jalan yang lurus (untuk sampai) kepada-Nya.” (An-Nisa’: 174-175)
Oleh karena itulah, seseorang membaca Surat Al-Fatihah dalam setiap rakaat saat shalatnya dan berdoa dengan doa yang agung:
“Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (Al-Fatihah: 6-7)
Orang-orang yang telah diberi kenikmatan oleh Allah l adalah orang yang mampu menyatukan ilmu yang bermanfaat dengan amal shalih. Allah l berfirman:
“Mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang shalih, dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (An-Nisa’: 69)
Firman Allah l:
“Bukan (jalan) mereka yang dimurkai” adalah mereka yang memiliki ilmu, namun meninggalkan amal (shalih). Adapun firman-Nya:
“Dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat” adalah orang-orang yang melakukan amal, namun tidak didasari ilmu. Oleh karena itu, sifat kelompok pertama adalah yang dimurkai karena mereka bermaksiat kepada Allah l padahal mereka memiliki ilmu. Adapun sifat kelompok kedua adalah mereka yang tersesat karena beramal tanpa disertai ilmu. Mereka semua adalah orang-orang yang tidak akan memperoleh keselamatan kecuali orang-orang yang telah Allah l karuniai nikmat. Mereka adalah orang-orang yang memiliki ilmu nafi’ (yang bermanfaat) dan beramal shalih. Karena itu, wajib bagi kita untuk memerhatikan hal ini.
Adapun terhadap orang-orang yang menyibukkan diri dalam mengamati peristiwa-peristiwa kekinian (seperti pengamat politik, sosial, dan lainnya) sebagaimana mereka sering mengistilahkan dengan fiqhul waqi’, hendaknya mereka melakukan hal itu setelah memahami fiqih syar’i, karena seseorang yang memahami fiqih syar’i akan melihat persoalan kekinian, atau peristiwa yang terjadi di dunia, atau adanya berbagai pemikiran dan pendapat, dari sudut ilmu syar’i yang shahih sehingga bisa memilah mana yang baik dan mana yang buruk. Bila tanpa ilmu, mereka tidak akan bisa membedakan antara yang haq dan yang batil, antara petunjuk dan kesesatan. Oleh karena itu, orang yang menyibukkan diri dalam masalah budaya, berbagai berita media massa, dan politik, tanpa didasari ilmu agama yang benar hanya akan disesatkan oleh hal-hal tersebut. Karena sesungguhnya mayoritas permasalahan yang terkandung dalam hal-hal tersebut bersifat menyesatkan dan mengajak kepada kebatilan. Permasalahan tersebut bersifat menipu. Setiap pernyataannya dihiasi (dengan sesuatu yang indah). Kita memohon kepada Allah l akan al-‘afiyah (penjagaan) dan keselamatan. (Al-Ajwibah Al-Mufidah, hlm. 103—105)
Dampak gerakan reformasi yang membahayakan keselamatan Islam seseorang adalah tumbuh suburnya pemikiran pluralisme. Semua pemikiran keagamaan dianggap setara dan benar, sehingga berhak untuk tumbuh di Indonesia. Kasus Ahmadiyah merupakan bukti mencolok keterlibatan para aktivis pluralis dan pemikir penyatuan agama. Sikap ekstrem aktivis pluralis dalam melakukan pembelaan terhadap paham sesat Ahmadiyah mengundang ekstremitas dari sebagian kalangan yang menghendaki pembubaran Ahmadiyah. Muaranya adalah terjadinya bentrokan fisik di seputar Lapangan Monas. Menilik dan mencermati kasus tersebut, tampak bahwa para aktivis pluralis dan kebebasan beragama semakin berani menunjukkan taring. Mereka secara berani menantang dan menampakkan keyakinannya di ruang publik. Ini belum pernah terjadi pada masa sebelum gerakan reformasi bergulir.
Allah l telah menyatakan secara tegas bahwa agama yang benar, diridhai, dan diterima di sisi Allah l adalah Islam. Allah l berfirman:
“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Ali ‘Imran: 85)
Firman-Nya:
“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (Ali ‘Imran: 19)
Firman-Nya:
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (Al-Ma’idah: 3)
Gerakan reformasi telah melapangkan paham demokrasi hingga tertancap makin kokoh di Indnesia. Melalui upaya penggulingan kekuasaan, para tokoh reformis mereformasi sistem kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Dari sinilah penanaman nilai-nilai yang menyelisihi syariat digencarkan. Sebagian masyarakat terkesima, bahkan mengagungkan nilai-nilai Barat dalam bentuk demokratisme. Oleh sebagian aktivis keagamaan, paham demokrasi dibetot sedemikian rupa agar identik dengan syariat Islam. Dilontarkanlah pengertian yang menyesatkan, seakan demokrasi adalah praktik nyata dari sistem syura yang dikenal dalam syariat Islam, padahal nyata jauh beda antara keduanya. Satu dan lainnya justru sangat bertentangan. Demokrasi merupakan produk pemikiran Yunani, sementara syura merupakan syariat yang berasal dari wahyu. Syura merupakan ketentuan yang diperintahkan Al-Khaliq Ar-Rahman:
“Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (Ali ‘Imran: 159)
Firman-Nya:
“Dan urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah di antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.” (Asy-Syura: 38)
Jelaslah bahwa seseorang yang mengamalkan syura secara ikhlas berarti dia tengah ber-taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah l, karena musyawarah (syura) yang diamalkan hakikatnya merupakan wujud nyata perintah Allah l. Ini tentu berbeda dengan orang yang berkubang dalam lumpur demokrasi. Dia bergelut dengan nilai-nilai falsafah orang-orang Yunani, bergelut dengan produk pemikiran manusia yang lemah. Pembicaraan tentang demokrasi bisa dilihat pada Majalah Asy-Syariah, Edisi 06.
Alam reformasi telah menjadi lahan subur bagi tumbuhnya nilai-nilai kekufuran, terutama dalam sistem bermasyarakat dan bernegara.
“Apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (Al-Maidah: 50)
Berkaitan dengan demokratisme yang merupakan nilai kufur, ketika paham ini diterapkan akan melahirkan sekian banyak kerusakan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Satu contoh konkret yang terjadi di tengah masyarakat Indonesia adalah terjadinya pemborosan (tabdzir) dalam setiap acara pemilihan umum, baik tingkat pusat maupun daerah. Sekian banyak dana dikucurkan guna memilih seorang pemimpin di tingkat pusat maupun daerah. Setiap partai politik tentu tidak sedikit menyediakan dana untuk menyukseskan calon yang diusungnya. Dari mana dana yang demikian banyak itu diperoleh pihak partai? Wallahu a’lam. Yang jelas, telah banyak dana disia-siakan saat proses pemilihan calon pemimpin atau legislatif di Bumi Nusantara ini.
“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim, dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainul yaqin, kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).” (At-Takatsur: 1-8)
Keinginan manusia untuk bermegah-megahan dalam soal duniawi seringkali melalaikan manusia dari tujuan hidupnya. Seseorang akan benar-benar menyadari kesalahannya itu setelah maut menjemput, kecuali orang yang dirahmati Allah l. Karenanya, kelak manusia akan ditanya di akhirat tentang nikmat yang dibangga-banggakannya itu. Bermegah-megahan dalam hal banyaknya harta, pengikut, kemuliaan, jabatan, dan yang semisalnya telah banyak melalaikan manusia dari ketaatan kepada Allah l. Jika seperti ini, manusia telah tertipu oleh kehidupan dunia. Sadarlah, wahai hamba Allah! Allahul musta’an (Allah sajalah yang dimintai pertolongan).
Wallahu a’lam.

Sepenggal Kisah Reformasi

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin)

Rusuh di mana-mana. Demonstrasi pun merebak di mana-mana. Itulah situasi yang mewarnai perjalanan awal sebuah reformasi. Sebuah situasi yang secara sengaja diskenario untuk membuahkan pergantian kekuasaan. Berbagai elemen masyarakat digerakkan. Media massa dihasung untuk menyulut situasi yang dikehendaki. Mahasiswa digerakkan untuk aksi turun ke jalan seraya menggaungkan agenda reformasi. Masyarakat, dengan berbagai strata, terus-menerus dicekoki dengan informasi-informasi yang membuka aib penguasa. Terjadilah sebuah situasi yang panas bergejolak. Tekanan demi tekanan terus dilancarkan guna menggoyang kekuasaan yang ada.
Pola-pola semacam ini tak semata berlangsung di Indonesia. Tidak hanya saat reformasi diletupkan guna menggusur Orde Baru. Saat Orde Lama tumbang, pola yang nyaris sama pun dilakukan. Masih lekat dalam benak sejarah, mahasiswa turun ke jalan, bentrok dengan aparat, lalu ada yang tertembak mati, setelah itu tersulutlah amarah massa. Situasi menjadi chaos, rusuh bergejolak. Suhu politik semakin meninggi. Banyak elite politik bermain guna mendapatkan bola liar yang tengah bergulir. Keadaan semacam itu nyaris sama terjadi tatkala Orde Baru hendak dilengserkan. Tidak cuma di Indonesia, di beberapa negara pun situasinya didesain hampir serupa. Sebut saja seperti di Filipina atau beberapa negara lainnya.
Aksi demonstrasi yang didengung-dengungkan setiap hari di berbagai kota besar di Indonesia menjelang surutnya kekuasaan Orde Baru kian mendekati titik membara. Banyak elemen masyarakat yang tak bisa mengendalikan emosi dan berpikir rasional. Di Medan, mahasiswa hampir setiap hari berunjuk rasa. Bahkan, situasi semakin melebar hingga mampu memengaruhi sebagian masyarakat. Masyarakat Medan pun telanjur tak terkendali dan mulai berbuat onar. Medan menjadi kota besar pertama yang yang menjadi korban kerusuhan kerusuhan. Antara 4—7 Mei 1998 terjadi pembakaran, perusakan, penjarahan toko-toko, pasar, dan kendaraan. Kerusuhan ini menjalar ke beberapa kota seputar Medan. Di Yogyakarta pada 5 Mei 1998 terjadi rusuh. Ini merupakan aksi mencekam terkait reformasi, sama seperti di Medan dan kota-kota besar lainnya di Indonesia. Mahasiswa bentrok dengan aparat. Perusakan dan pembakaran terjadi mulai siang hingga malam hari. Kerusuhan kedua terjadi 8 Mei 1998. Kerusuhan kedua di Yogyakarta ini berskala lebih besar daripada kerusuhan 5 Mei 1998. Di Jakarta tanggal 12 Mei 1998 ribuan mahasiswa turun ke jalan, demo. Mereka menuntut penguasa lengser dari kursi jabatannya. Sore hari, keadaan makin memburuk. Empat mahasiswa terbunuh. Puluhan lainnya, terdiri dari masyarakat dan mahasiswa, mengalami luka-luka. Hingga tanggal 15 Mei 1998, di Jakarta dan kota-kota lainnya di Indonesia mengalami situasi yang sama: rusuh! Keadaan pun makin tak terkendali. Ribuan bangunan milik masyarakat, aset negara, toko, dan kendaraan, hancur-lebur dirusak dan dibakar massa.
Sebelum mahasiswa secara sporadis melakukan aksi-aksi demonstrasi menuntut penguasa turun, muncul sosok tokoh yang senantiasa membuka aib penguasa di depan masyarakat umum. Selain melalui tulisan-tulisannya di media massa, sosok tokoh ini pun aktif memompa masyarakat untuk memusuhi penguasanya melalu acara-acara “pengajian”. Statusnya sebagai pembesar salah satu ormas terbesar di Indonesia memungkinkannya untuk leluasa menggalang massa. Ceramah-ceramahnya di hadapan massa selalu berkutat masalah aib-aib penguasa dan berupaya mengajak masyarakat mendongkel sang penguasa. Sosok tokoh ini pun memiliki rencana besar untuk mempercepat penggulingan kekuasaan. Pada 20 Mei 1998, dia berencana mengarahkan sejuta massa ke Lapangan Monas di seberang Istana Negara, meskipun akhirnya rencana ini dibatalkan.
Tekanan untuk melengserkan penguasa pun tak hanya di situ. Melalui berbagai tokoh “cendekia” lainnya, saran-saran untuk meletakkan jabatan pun disampaikan. Beberapa tokoh “cendekia” sempat mendatangi Istana guna meminta penguasa agar bersedia mengundurkan diri. Akhirnya, pada tanggal 20 Mei 1998, sekitar pukul 22.15 WIB, Presiden Republik Indonesia pada waktu itu memutuskan untuk berhenti sebagai presiden. “Segala usaha untuk menyelamatkan bangsa dan negara telah kita lakukan. Tetapi, Tuhan rupanya berkehendak lain. Bentrokan antara mahasiswa dan ABRI tidak boleh sampai terjadi. Saya tidak mau terjadi pertumpahan darah. Oleh karena itu, saya memutuskan untuk berhenti sebagai presiden, menurut Pasal 8 Undang-Undang Dasar 1945,” demikian pernyataan Presiden. (Soeharto, Biografi Singkat, 1921—2008, Taufik Adi Susilo, hlm. 111)
Setelah pergantian kepemimpinan negara terjadi, apakah situasi negara semakin stabil? Walau kepemimpinan negara telah berpindah tangan, ternyata sebagian masyarakat tidak mau menerima keadaan seperti itu. Pemimpin baru pun terus dipermasalahkan. Diungkit aib-aibnya di hadapan masyarakat luas. Melalui beberapa media, disemburkan bibit-bibit kebencian terhadap penguasa. Masyarakat diasupi informasi-informasi yang memicu permusuhan terhadap pemimpinnya. Rakyat dihasung untuk menolak dan mendongkel penguasa baru. Keadaan ini terus berlanjut. Masyarakat pun akhirnya sulit mendapatkan rasa aman dan nyaman hidup di Indonesia. Ini semua akibat ulah para provokator yang senantiasa bersikap antipati terhadap penguasa. Kehidupan bermasyarakat selalu diwarnai aksi unjuk rasa. Membuka sisi negatif kehidupan penguasa merupakan santapan sehari-hari. Sebuah pendidikan sosial politik yang sangat buruk bagi masyarakat. Masyarakat senantiasa diajari untuk selalu berkonflik, membuka jurang antara penguasa dan rakyatnya, serta dididik untuk selalu curiga. Sebuah potret kehidupan yang sangat sarat ketidaknyamanan. Sebuah struktur masyarakat yang sangat rentan terhadap berbagai konflik dan penyakit sosial lainnya. Tak mengherankan jika kemudian masyarakat sangat mudah dipicu untuk berbuat onar, rusuh, beringas, dan sadistis. Kerusuhan pun mewarnai kehidupan bangsa yang dulunya dikenal sebagai bangsa yang ramah. Terjadi pembantaian terhadap kaum muslimin di Poso, Ambon, Maluku Utara dan tempat lainnya. Timbulnya keresahan masyarakat Aceh juga akibat aksi-aksi separatisme pada masa itu. Semua peristiwa itu mengguratkan kehidupan yang kelam dan memilukan. Ironisnya peristiwa-peristiwa tersebut terjadi setelah ide-ide reformasi digaungkan.
“Jikalau penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Al-A’raf: 96)
Upaya suksesi, penggulingan kekuasaan, atau sikap anti terhadap penguasa melalui cara-cara pengerahan massa, sebenarnya pernah dilakukan tokoh Yahudi bernama Abdullah bin Saba’ semasa pemerintahan ‘Utsman bin ‘Affan z. Abdullah bin Saba’ yang menampilkan diri secara lahiriah sebagai seorang muslim namun dalam batinnya menyimpan kekufuran, secara intensif berupaya mengembuskan api permusuhan terhadap pemerintah. Masyarakat Mesir sempat terprovokasi sehingga mereka melakukan pergerakan menentang pemerintahan ‘Utsman bin ‘Affan z. Puncak dari aksi provokasi yang didalangi Yahudi ini adalah terjadinya pengepungan (melalui aksi demonstrasi) terhadap kediaman Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan z. Akibat aksi pergerakan massa tersebut, Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan z terbunuh. (Lihat Majalah Asy-Syariah edisi 32 dan 57)
Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan hafizhahullah pernah ditanya berkenaan dengan aksi demonstrasi. Apakah aksi demonstrasi ini merupakan cara yang diperkenankan dalam agama?
Beliau hafizhahullah menjelaskan bahwa Islam bukan agama yang tidak memiliki aturan. Bukan agama yang kacau tak beraturan. Islam adalah agama yang tenang. Demonstrasi atau unjuk rasa tidak termasuk perbuatan kaum muslimin. Islam adalah agama yang tenang dan penuh rahmat. Tidak mengajarkan kekacauan, mengembuskan berita-berita tak benar dan fitnah. Demonstrasi adalah aksi yang bisa menimbulkan fitnah yang besar, mendorong pertumpahan darah, dan menghancurkan harta benda. Oleh karena itu, seorang muslim tidak boleh melakukan hal-hal di atas. Bahkan, apabila umat dalam keadaan ditekan pihak penguasa sekalipun, hendaknya bersabar. Kemudaratan tidak bisa disingkirkan dengan hal-hal yang menimbulkan mudarat (yang lebih besar). Apabila terjadi kemudaratan atau kemungkaran, hendaklah tidak disingkirkan dengan melakukan unjuk rasa atau demonstrasi. Yang demikian tak akan menyelesaikan masalah. Bahkan, akan menambah keadaan menjadi semakin buruk. Karena itu, serahkanlah keadaan kepada yang bertanggung jawab menangani dan berikanlah nasihat kepada mereka. Jika keadaan tetap belum berubah, wajib bersabar sebagai bentuk pencegahan dari mudarat yang lebih besar. (Al-Ajwibah Al-Mufidah, hlm. 232 dan 235)
Bagaimana cara memberi nasihat yang sesuai syariat terhadap penguasa? Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan hafizhahullah mengungkapkan bahwa menasihati penguasa bisa melalui beberapa cara. Diantaranya mendoakan mereka agar tetap dalam keadaan baik dan istiqamah (di atas agama dan kebenaran). Sesungguhnya, mendoakan kebaikan bagi penguasa muslimin termasuk ketentuan syariat. Terutama, mendoakan mereka pada saat-saat dikabulkannya doa dan di tempat-tempat yang diharapkan terkabulkan. Al-Imam Ahmad bin Hanbal t berkata:
لَوْ كَانَ لَنَا دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ لَدَعَوْنَا بِهَا لِلسُّلْطَانِ
“Andai kami memiliki doa yang mustajab (dikabulkan), sungguh akan kami tujukan doa tersebut bagi penguasa.” (Majmu’ Al-Fatawa, 28/391)
Bila penguasa tersebut baik, niscaya akan membawa kebaikan kepada rakyatnya. Jika penguasa tersebut rusak, niscaya kerusakan yang melekat padanya akan berpengaruh pada rakyat. Termasuk menasihati penguasa adalah melaksanakan sistem kerja yang digariskannya terhadap para pegawai atau aparaturnya. Selain itu, hendaknya pula memberitahu pihak penguasa bila terjadi kesalahan atau kemungkaran di masyarakat. Sebab, terkadang pihak penguasa beserta jajarannya tidak mengetahui bahwa telah terjadi kesalahan atau kemungkaran. Namun harus diingat, saat memberitahu perihal tersebut hendaknya dengan cara sembunyi-sembunyi. Cukup antara orang yang menasihati dengan pihak penguasa saja. Jangan sekali-kali menasihati penguasa di hadapan orang banyak secara transparan dan vulgar, atau melakukannya di atas mimbar (media umum). Ini bisa memberi pengaruh yang tidak baik, bahkan akan menimbulkan kejelekan, yaitu menimbulkan jurang permusuhan antara penguasa dan rakyatnya. Perlu diingat pula, bukanlah nasihat apabila dilakukan dengan cara mengkritik penguasa di atas mimbar, menyebutkan kesalahan-kesalahan penguasa di media umum (mimbar) sehingga diketahui orang banyak. Aksi semacam ini tidak akan membantu menciptakan kemaslahatan pada masyarakat. Bahkan, bisa menimbulkan keburukan yang seburuk-buruknya.
Sesungguhnya, menasihati penguasa bisa melalui dengan menyampaikannya secara pribadi, bisa pula menyampaikannya melalui surat, atau melalui orang-orang kepercayaan yang biasa berhubungan dengan penguasa tersebut, sehingga nasihat yang disampaikan bisa diterima dengan baik. Bukanlah nasihat terhadap penguasa bila seseorang menuliskan nasihatnya lantas disebar kepada orang banyak. Yang seperti ini bukan nasihat, tetapi fadhihah (menyebarkan kesalahan orang lain kepada masyarakat atau orang banyak). Ini perlu dipertimbangkan matang, sebab bisa menjadi penyebab timbulnya kejelekan, sukacita musuh (Islam), dan menyusupnya para pengikut hawa nafsu ke dalam urusan tersebut. (Al-Ajwibah Al-Mufidah, hlm. 161—163)
Di dalam kitab Syarhus Sunnah, Al-Imam Abu Muhammad Al-Hasan bin Ali Al-Barbahari t mengatakan:
وَإِذَا رَأَيْتَ الرَّجُلَ يَدْعُو عَلَى السُّلْطَانِ فَاعْلَمْ أَنَّهُ صَاحِبُ هَوًى، وَإِذَا رَأَيْتَ الرَّجُلَ يَدْعُو لِلسُّلْطَانِ بِالصَّلَاحِ
فَاعْلَمْ أَنَّهُ صَاحِبُ سُنَّةٍ، إِنْ شَاءَ اللهُ
“Apabila engkau melihat seseorang mendoakan kejelekan terhadap penguasa, ketahuilah bahwa sesungguhnya dia itu pengikut hawa nafsu. Bila engkau melihat seseorang mendoakan penguasa dengan kebaikan, ketahuilah sesungguhnya dia adalah pengikut As-Sunnah, insya Allah.” (hlm. 116)
Seluruh bimbingan para ulama salaf di atas, tentang cara menasihati dan menyampaikan aspirasi terhadap penguasa, bersendi pada apa yang telah disampaikan Rasulullah n. Dalam sebuah hadits dari Syuraih bin ‘Ubaid z dan selainnya, Rasulullah n bersabda:
مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِذِي سُلْطَانٍ فَلَا يُبْدِ لَهُ عَلَانِيَةً وَلَكِنْ لِيَأْخُذْ بِيَدِهِ فَيَخْلُوْ بِهِ فَإِن قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ وَإِلَّا كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ
“Barangsiapa ingin menasihati penguasa karena satu hal, janganlah dia menerangkannya secara terbuka (di depan masyarakat). Akan tetapi, hendaklah  dia mengambil tangannya, lalu (berbicara berdua dengan penguasa itu. Jika penguasa menerima (nasihat itu), itulah (yang diharapkan). Jika penguasa itu tidak mau menerima nasihat, sungguh ia telah menyampaikan kewajibannya.” (HR. Ahmad, Majma’ Az-Zawa’id no. 9161. Dishahihkan Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani dalam Zhilalul Jannah fi Takhriji As-Sunnah, no. 1096)
Sudah semestinya seorang muslim memuliakan penguasanya. Tidak mencela apalagi merendahkannya di hadapan publik. Tidak pula menjatuhkan kehormatannya walaupun untuk menyampaikan aspirasi rakyat. Al-Imam At-Tirmidzi t dalam Sunan-nya meriwayatkan hadits (no. 2224) dari Ziyad bin Kusaib Al-’Adawi yang bertutur: “Aku pernah bersama Abu Bakrah z (seorang sahabat Nabi n, -red.) di bawah mimbar Ibnu ‘Amir yang sedang berkhutbah dan mengenakan pakaian tipis. Tiba-tiba, Abu Bilal (Mirdas bin Udayyah, seorang tokoh Khawarij) mengkritik seraya berkata: ‘Lihatlah pemimpin kita. Dia mengenakan pakaian orang-orang fasik.’ Abu Bakrah z lantas angkat bicara, ‘Diam kamu! Aku telah mendengar Rasulullah n bersabda:
مَنْ أَهَانَ سُلْطَانَ اللهِ فِي الْأَرْضِ أَهَانَهُ اللهُ
“Barangsiapa yang merendahkan (menghina) penguasa Allah di muka bumi, pasti Allah l akan merendahkan dirinya.” (Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani menyatakan hadits ini hasan. Lihat Ash-Shahihah no. 2296)
Seorang muslim dituntun oleh agama Islam yang mulia ini untuk bersikap mendengar, taat, dan patuh kepada penguasanya, walaupun penguasa tersebut bertindak zalim. Barangsiapa keluar (dari ketaatan) terhadap salah seorang imam (pemimpin) kaum muslimin, dia seorang khariji (berpemahaman Khawarij). Sungguh dia telah memecah-belah persatuan kaum muslimin dan menyelisihi As-Sunnah. Jika dia mati, mati dalam keadaan jahiliah. Tidak halal memerangi penguasa dan keluar (dari ketaatan) kepadanya meskipun penguasa tersebut bertindak lalim. Rasulullah n pernah berkata kepada sahabat Abu Dzar Al-Ghifari z:
اصْبِرْ وَإِنْ كَانَ عَبْدًا حَبَشِيًّا
“Bersabarlah, meskipun (yang memerintahmu) seorang budak Habasyi.”
Juga sabda Rasulullah n terhadap kaum Anshar:
اصْبِرُوا حَتَّى تَلْقَوْنِي عَلَى الْحَوْضِ
“Bersabarlah kalian hingga kalian berjumpa denganku di al-haudh (telaga).”
Oleh karena itu, memerangi (menentang) penguasa bukanlah bimbingan As-Sunnah, karena penentangan (sikap memerangi) penguasa akan menimbulkan kerusakan agama dan dunia. (Lihat Syarhus Sunnah, Al-Imam Al-Barbahari, hlm. 78)
Islam membimbing pula, apabila proses penetapan penguasa tersebut menyelisihi apa yang telah ditentukan dalam syariat (semisal demokrasi atau kudeta) maka kewajiban terhadap pemimpin yang berkuasa tersebut tidak lantas dicabut. Kewajiban untuk mendengar, taat, dan patuh tetap berlaku selama yang diperintahkannya adalah hal yang ma’ruf. Adapun dalam hal maksiat, tidak wajib menaatinya. Al-Imam Abdul Aziz bin Muhammad bin Su’ud pernah ditanya, “Apakah sah seorang imam yang bukan dari kalangan Quraisy?” Jawab beliau t, “Hal tersebut merupakan pendapat mayoritas ulama, yaitu tidaklah sah pemimpin selain dari Quraisy apabila yang demikian ini memungkinkan. Adapun bila tidak memungkinkan, sementara umat telah bersepakat untuk tetap membai’at imam (yang bukan dari Quraisy), atau ahlul halli wal ‘aqdi menyetujuinya, mengesahkan keimamannya dan mewajibkan untuk membai’atnya, tidak boleh melakukan penentangan terhadapnya. Ini adalah pendapat yang benar berdasarkan hadits-hadits shahih, seperti sabda Rasulullah n:
عَلَيْكُمْ بِالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ حَبَشِيٌّ
“Kalian wajib mendengar dan taat, meskipun yang memerintah kalian adalah seorang budak Habasyi.” (Ad-Durar As-Saniyyah, 9/5—7, dinukil dari Al-Jama’ah wal Imamah, Asy-Syaikh Muhammad bin Umar bin Salim Bazmul, hlm. 82)
Dampak reformasi bagi masyarakat adalah terbukanya kran kebebasan. Masyarakat dihasung untuk berani menyampaikan aspirasinya. Di sisi lain, mentalitas masyarakat belum siap memaknai kebebasan yang ada. Reformasi telah mengantarkan kehidupan bermasyarakat pada taraf tidak memedulikan lagi norma-norma dalam menyikapi penguasa. Apa yang diperoleh dari sebuah proses reformasi, yaitu mengajari masyarakat untuk kritis, merendahkan, melecehkan, dan mencaci-maki penguasa yang tak sejalan dengan pemikiran para “reformis”, adalah sebuah situasi yang sangat memilukan. Reformasi telah mencampakkan nilai-nilai Islam dalam hal menyikapi penguasa.

Kedudukan Penguasa Dalam Syariat

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin)

Ulil amri (pemimpin/penguasa) memiliki kedudukan yang tinggi. Mereka menempati martabat yang luhur dan mulia. Syariat menganugerahi mereka berkaitan dengan kekuasaan dan tugas mereka yang memiliki keluhuran. Selain, tentunya terkait tanggung jawabnya yang demikian besar. Karenanya, mereka diberi gelar kedudukan dalam keimamahan yang menggantikan nubuwah dalam menjaga agama dan politik dalam urusan dunia. 
Sesungguhnya, seseorang tidak akan mampu mengendalikan kekuasaan kecuali dengan kekuatan dan keteguhan kepemimpinan. Jika syariat tidak memberikan padanya apa yang terkait tabiat amal, yaitu individu yang menghormati dan mengagungkannya, sungguh akan menjadi batu ujian bagi manusia. Apalagi jika mereka tidak mampu mengendalikannya. Akibatnya akan timbul bencana dan kekacauan di masyarakat umum, lenyaplah berbagai kemaslahatan, timbulnya kerusakan dunia dan telantarnya kehidupan beragama.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait mulianya kedudukan penguasa, di antaranya:
1.    Sesungguhnya Allah l telah memerintahkan untuk taat kepada penguasa diiringkan dengan ketaatan kepada-Nya, ketaatan kepada Rasul-Nya n. Ini menunjukkan luhurnya urusan dan besarnya kekuasaan mereka. Allah l berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), serta ulil amri di antara kalian.” (An-Nisa’: 59)
Ketaatan kepada penguasa diwajibkan terhadap semua hamba dengan batasan selama tidak memerintahkan bermaksiat kepada Allah l. Jika penguasa itu memerintahkan kemaksiatan, tidak wajib untuk menaatinya, karena tidak ada ketaatan terhadap makhluk dalam bermaksiat kepada Al-Khaliq (Allah l).
2.    Syariat mengabarkan bahwa barangsiapa memuliakan penguasa, Allah l akan memuliakannya. Barangsiapa menghinakan/merendahkan penguasa, Allah l akan merendahkan/menghinakannya. Maknanya, sesungguhnya siapa saja yang lancang terhadap penguasa maka dia telah menghinakan penguasa, dalam bentuk perbuatan atau perkataan (pernyataan). Dia telah melampaui hukum-hukum Allah l, melanggar larangan-larangan yang jelek. Dia akan mendapatkan sanksi atas segala perbuatannya tersebut. Allah l akan membalas kehinaan dengan kehinaan. Bahkan, kehinaan yang Allah l timpakan lebih besar dan lebih keras. Pada sebagian lafadz dari hadits Abu Bakrah z disebutkan:
مَنْ أَجَلَّ سُلْطَانَ اللهِ أَجَلَّهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Barangsiapa memuliakan penguasa Allah, Allah akan memuliakannya pada hari kiamat.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi ‘Ashim dalam As-Sunnah, 2/492)
3.    Sesungguhnya penguasa adalah zhillullah (naungan Allah l) di muka bumi. Hadits yang meriwayatkan tentang hal ini banyak dan diriwayatkan dari banyak perawi pula. Yang paling shahih adalah yang diriwayatkan Abu Bakrah z dan lafadz tersebut sebagaimana dalam As-Sunnah karya Ibnu Abi ‘Ashim t:
السُّلْطَانُ ظِلُّ اللهِ فِي الْأَرْضِ فَمَنْ أَكْرَمَهُ أَكْرَمَهُ اللهُ وَمَنْ أَهَانَهُ أَهَانَهُ اللهُ
“Penguasa itu naungan Allah l di muka bumi. Barangsiapa memuliakannya, Allah l pun memuliakannya. Barangsiapa menghinakannya, Allah l akan menghinakannya pula.”
Pernyataan السُّلْطَانُ ظِلُّ اللهِ ‘penguasa itu naungan Allah l’ mengandung pengertian bahwa dengannya Allah l akan melindungi manusia dari gangguan, sebagaimana naungan adalah pelindung dari gangguan terik matahari. Penyandaran kepada Allah l pada kata zhillullah (ظِلُّ اللهِ), atau pada sebagian lafadz dengan menyebutkan sulthanullah (سُلْطَانُ اللهِ), merupakan bentuk maklumat kepada manusia bahwasanya naungan tersebut tidaklah seperti seluruh naungan yang lain. Itu menunjukkan ketinggian dan kemuliaan naungan tersebut, sekaligus menunjukkan bahwa naungan tersebut memiliki faedah dan manfaat yang besar. Penyandaran (idhafah) kepada Allah l sesungguhnya menunjukkan idhafah tasyrif (penyandaran pemuliaan) sebagaimana pada kata Baitullah (بَيْتُ اللهِ), Ka’batullah (كَعْبَةُ اللهِ), atau yang lainnya. Ini mengandung isyarat akan ketinggian kedudukan penguasa dan kemuliaan keberadaannya.
4.    Syariat melarang seseorang mencela penguasa dan mencegahnya terjatuh dalam perbuatan tersebut. Anas bin Malik z berkata:
نَهَانَا كُبَارَاؤُنَا مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللهِ n قَالُوا: لَا تَسُبُّوا أُمَرَاءَكُمْ وَلَا تَغُشُّوهُمْ وَلَا تُبْغِضُوهُمْ، وَاتَّقُوا اللهَ وَاصْبِرُوا فَإِنَّ الْأَمْرَ قَرِيبٌ
“Kalangan tua dari para sahabat Rasulullah n melarang kami (mencela penguasa). Mereka berkata, ‘Janganlah kalian mencela pemerintah kalian, janganlah melakukan tipu daya terhadapnya, jangan pula membencinya. Bertakwalah kalian kepada Allah dan bersabarlah, karena sesungguhnya (keputusan) urusan itu sangat dekat’.” (As-Sunnah, Ibnu Abi ‘Ashim, 2/488)
Juga disebutkan oleh Al-Munawi t dalam Faidhul Qadir (6/499), Allah l telah menjadikan sultan (penguasa) sebagai penolong makhluk-Nya. Oleh karena itu, jagalah kedudukannya dari celaan dan hinaan. Jadikanlah penghormatan kepadanya sebagai sebab terbentangnya naungan Allah l dan bersinambungannya pertolongan (Allah l) terhadap makhluk-Nya. Sungguh, kalangan As-Salaf telah memperingatkan agar tidak mendoakan kejelekan terhadap penguasa, karena bertambahnya kejelekan (pada penguasa) akan menambah bencana (bala) terhadap kaum muslimin.
5.    Badruddin ibnu Jamaah telah menukil dari Ath-Thurthusyi sehubungan dengan firman Allah l:
“Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini.” (Al-Baqarah: 251)
Maknanya, seandainya Allah l tidak menegakkan kedudukan penguasa di muka bumi, niscaya yang lemah akan ditindas yang kuat, yang dizalimi akan diadili oleh yang menzaliminya, dan sebagian manusia akan menguasai sebagian yang lain secara zalim. Kemudian Allah l menganugerahkan kepada hamba-hamba-Nya tegaknya penguasa atas mereka dengan firman-Nya:
“Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam.” (Al-Baqarah: 251)
6.    Umat telah bersepakat, sesungguhnya manusia tidaklah akan menegakkan urusan agama dan dunia mereka kecuali dengan adanya keimamahan (pemerintahan). Kalaulah Allah l tidak (menegakkan) kepemimpinan (pemerintahan) niscaya agama akan telantar dan urusan dunia pun rusak.
Pengertian ini sebagaimana disebutkan oleh Al-Faqih Abu Abdillah Al-Qal’i Asy-Syafi’i dalam kitab Tahdzibu Ar-Riyasah (hlm. 94—95). Beliau t menyebutkan bahwa mengatur urusan agama dan dunia yang dimaksud ini tidak akan membawa hasil (tidak akan bisa terlaksana) kecuali dengan keberadaan imam (penguasa)
7.    Sesungguhnya imamul a’zham adalah orang yang mendapat pahala yang paling utama jika dia bersikap adil. Disebutkan oleh Al-Izz bin Abdis Salam t dalam kitabnya Qawa’id Al-Ahkam fi Mashalih Al-Anam (1/104):
Pahala imamul a’zham lebih utama daripada pahala seorang mufti dan hakim (qadhi), karena kemaslahatan yang dihasilkannya dan kerusakan yang dicegahnya lebih menyeluruh.
Karena, keberadaan mereka akan memberikan kebaikan secara total dan mencegah setiap kerusakan yang menyeluruh. Disebutkan dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah z, dari Nabi n, beliau n bersabda:
سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ؛ إِمَامٌ عَادِلٌ ….
“Tujuh golongan yang akan mendapat naungan Allah ada hari yang tidak ada naungan selain naungan-Nya, yaitu pemimpin yang adil….” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
8.    Kaum muslimin telah bersepakat bahwa pemerintahan termasuk ketaatan yang paling utama. Sebagaimana dinyatakan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, sesungguhnya pemerintahan termasuk kewajiban agama yang paling agung. (Majmu’ Al-Fatawa, 28/390)
(Diringkas dari Mu’amalatul Hukkam fi Dhau’i Al-Kitab wa As-Sunnah, Asy-Syaikh Abdus Salam bin Barjas, hlm. 48—59)
Wallahu a’lam.

Reformasi, Napak Tilas Agen Yahudi Abdullah bin Saba’ Al Himyari

(ditulis oleh: Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi, Lc)

 

Sekilas tentang Abdullah bin Saba’ Al-Yahudi Al-Himyari
Abdullah bin Saba’ Al-Yahudi Al-Himyari bukanlah sosok fiktif atau khayal, sebagaimana rekayasa kaum Syi’ah Rafidhah dan sebagian besar kaum orientalis.1 Ia seorang berperanakan Yahudi yang berasal dari Kota Shan’a, Yaman. Ibunya seorang wanita berkulit hitam, sehingga dikenal pula dengan sebutan Ibnu Sauda’ (putra seorang wanita berkulit hitam). Layaknya keumuman bangsa Yahudi, Abdullah bin Saba’ berkarakter buruk, licik, serta penuh makar terhadap Islam dan kaum muslimin. Hal ini mengingatkan kita akan firman Allah l:
“Sesungguhnya kamu akan dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik.” (Al-Ma’idah: 82)
“Sekali-kali orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani tidak akan ridha kepadamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah, ‘Sesungguhnya petunjuk Allah itu adalah sebenar-benar petunjuk.’ Jika kamu mengikuti hawa nafsu mereka (Yahudi dan Nasrani) setelah datang kepadamu ilmu (kebenaran), maka Allah tiada menjadi Pembela dan Penolong bagimu.” (Al-Baqarah: 120)
“Dan kamu akan melihat mayoritas dari mereka (orang-orang Yahudi) bersegera membuat dosa, permusuhan, dan memakan yang haram. Sesungguhnya amat buruk apa yang telah mereka kerjakan itu. Mengapa orang-orang alim mereka, pendeta-pendeta mereka, tidak melarang mereka mengucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram? Sesungguhnya amat buruk apa yang telah mereka kerjakan itu.” (Al-Ma’idah: 62-63)
Abdullah bin Saba’, sang pendiri agama Syi’ah ini, adalah seorang agen Yahudi yang penuh makar lagi buruk. Ia disusupkan di tengah-tengah umat Islam oleh orang-orang Yahudi untuk merusak tatanan agama dan masyarakat muslim. Awal kemunculannya adalah akhir masa kepemimpinan Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan z. Kemudian berlanjut di masa kepemimpinan Khalifah ‘Ali bin Abi Thalib z. Dengan kedok keislaman, semangat amar ma’ruf nahi mungkar, dan bertopengkan tanassuk (giat beribadah), ia kemas berbagai misi jahatnya. Tak hanya aqidah sesat (bahkan kufur) yang ia tebarkan di tengah-tengah umat, gerakan provokasi massa pun dilakukannya untuk menggulingkan Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan z. Akibatnya, sang Khalifah terbunuh dalam keadaan terzalimi. Akibatnya pula, silang pendapat diantara para sahabat pun terjadi. (Lihat Minhajus Sunnah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, 8/479, Syarh Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyyah Ibnu Abil ‘Izz hlm. 490, dan Kitab At-Tauhid karya Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hlm. 123)

Mencermati gerakan “reformasi” Abdullah bin Saba’ Al-Yahudi
Gerakan reformasi (baca: makar) Abdullah bin Saba’ terhadap Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan z benar-benar dilakukan secara sistematis. Makar demi makar dirakit oleh Abdullah bin Saba’, hingga berujung terbunuhnya sang Khalifah di tangan para pengikut Abdullah bin Saba’ yang terdiri dari orang-orang bodoh lagi dungu dan para penyulut api fitnah. Adapun kronologinya, bisa dilihat kembali pada Kajian Utama Majalah Asy-Syari’ah Vol. V/No. 57/1431 H/2010, yang berjudul ‘Utsman bin ‘Affan, Teladan Keteguhan Memegang As-Sunnah.
Para pembaca yang mulia, bila mencermati gerakan “reformasi” Abdullah bin Saba’ Al-Yahudi, maka agenda utamanya adalah sebagai berikut:
1. Menebar berita timpang seputar penguasa (Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan z)
Agenda pertama ini dilakukan oleh Abdullah bin Saba’ di berbagai negeri. Diantara berita timpang tersebut adalah Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan z memukul sahabat ‘Ammar bin Yasir z hingga putus ususnya, memukul sahabat Abdullah bin Mas’ud z hingga patah tulang rusuknya dan tidak memberikan hak (jatah)nya, melakukan bid’ah penyusunan Al-Qur’an dan membakar mushaf yang disusun di masa Abu Bakr Ash-Shiddiq z, membuat lokalisasi penggembalaan hewan ternak milik pemerintah (hima), mengasingkan sahabat Abu Dzar z ke Rabadzah, mengusir sahabat Abud Darda’ z dari Negeri Syam, mengembalikan Al-Hakam yang sebelumnya diasingkan oleh Rasulullah n, meniadakan sunnah qashar dalam shalat ketika safar, memberikan jabatan kepada Mu’awiyah z, Abdullah bin ‘Amir bin Kuraiz t, dan Marwan bin Al-Hakam t, demikian pula Al-Walid bin ‘Uqbah z, padahal ia adalah orang fasik yang tak layak diberi jabatan, memberikan khumus Afrika kepada Marwan bin Al-Hakam t, ‘Utsman bin ‘Affan z jika mendera (sebagai hukuman) menggunakan tongkat kayu yang panjang, padahal sebelumnya ‘Umar bin Al-Khaththab z menggunakan tongkat pendek (yang biasa dipegang oleh para komandan), meninggikan tangga mimbarnya di atas tangga mimbar Rasulullah n padahal Abu Bakr z ‘dan Umar z telah menjadikannya lebih rendah, tidak ikut dalam perang Badr, melarikan diri dalam perang Uhud, tidak hadir dalam Bai’at Ridhwan, tidak menjatuhkan hukuman mati terhadap ‘Ubaidullah bin ‘Umar, dalang di balik pembunuhan Khalifah ‘Umar bin Al-Khaththab z, dan lain sebagainya.2 Targetnya, menanamkan kebencian dan ketidakpuasan di hati rakyat terhadap sang Khalifah.

2. Provokasi massa
Agenda kedua ini dilakukan manakala berita timpang di atas telah masuk pada jiwa orang-orang bodoh dan dungu serta para penyulut api fitnah di berbagai negeri, khususnya Mesir dan Irak. Targetnya, membangkitkan semangat (baca: amarah) mereka untuk melakukan aksi fisik, seperti demonstrasi.

3. Menggelar aksi demonstrasi
Agenda ketiga ini dilakukan manakala provokasi telah berhasil dan massa dari penduduk Mesir dan Irak dengan jumlah besar siap menggelar aksi demonstrasi. Massa merangsek dari Mesir dan Irak menuju Kota Madinah, tempat kediaman Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan z, untuk melakukan demonstrasi besar-besaran. Targetnya, menekan sang Khalifah agar turun dari jabatannya.

4. Menyampaikan opsi tuntutan dan rekayasa surat palsu
Setiba di Kota Madinah, mereka berdemo di sekitar kediaman Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan z. Berbekal berita timpang seputar Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan z di atas, mereka menyampaikan opsi tuntutan: berlaku adil, berantas Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN), atau turun dari jabatan khalifah. Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan z dengan penuh kesejukan dan kearifan berhasil menenangkan massa dan mendudukkan permasalahan secara objektif seputar diri beliau tersebut. Massa puas dengan keterangan sang Khalifah. Mereka pun pulang ke negeri masing-masing dengan teratur.
Namun si Yahudi licik Abdullah bin Saba’ dan para penyulut api fitnah tak kehabisan akal. Mereka sangat berambisi agar massa dengan jumlah besar tersebut kembali ke Kota Madinah dan melakukan tekanan yang lebih dahsyat terhadap Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan z. Strategi yang ditempuhnya adalah rekayasa surat palsu atas nama Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan z yang ditujukan kepada Gubernur Mesir. Isinya, perintah untuk membunuh, menyalib, dan memotong-motong tangan penduduk Mesir yang terlibat demo setibanya mereka dari Kota Madinah. Teknisnya, dengan mengutus seorang lelaki berkendaraan onta, membawa surat palsu tersebut melewati rombongan massa dari penduduk Mesir, dengan penampilan yang mencurigakan. Harapannya, supaya ditangkap dan surat palsu tersebut jatuh ke tangan mereka.
Sandiwara berhasil. Kebencian massa dari penduduk Mesir pun kembali membara. Mereka bertekad untuk putar haluan ke Kota Madinah dan meminta pertanggungjawaban Khalifah atas surat misterius tersebut.

5. Penggulingan Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan z dari jabatan Khalifah
Dengan membawa bukti berupa surat palsu, aksi demo kembali digelar di sekitar kediaman Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan z. Mereka mengepung rumah sang Khalifah dan menghalangi beliau dari shalat lima waktu di masjid. Mereka meminta pertanggungjawaban atas surat misterius tersebut dan menuntut Khalifah agar turun dari jabatannya.
Betapa pun Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan z (manusia terbaik yang hidup di muka bumi saat itu) mengingkari surat misterius tersebut, tidak tahu-menahu tentangnya apalagi menulisnya, mereka tak memercayainya sedikit pun. Tuntutan agar turun dari jabatan Khalifah, itulah yang selalu mereka dengungkan.
Para sahabat yang ada di Kota Madinah tak tinggal diam. Mereka menawarkan diri kepada Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan z untuk melibas orang-orang yang tak tahu diri itu. Namun Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan z menolak tawaran tersebut. Beliau z bahkan memohon dengan sangat kepada semuanya agar tak seorang pun tinggal di rumah beliau, kecuali dari kalangan keluarga saja. Para sahabat dengan penuh hormat menaati perintah Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan z dan meninggalkan rumah beliau.
Suasana pun semakin memanas manakala tuntutan para demonstran tidak dikabulkan oleh Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan z. Beliau tidak mau turun dari jabatan kekhalifahannya karena berpegang dengan wasiat Rasulullah n dan saran dari para sahabat. Di sisi lain, agar tidak membuka peluang bagi umat untuk semena-mena menurunkan pemimpin mereka dari jabatannya manakala tidak puas dengannya.
Situasi semakin tak terkendali, hingga sebagian dari para demonstran tersebut tidak sabar dan memasuki rumah Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan z dengan paksa. Dengan sadisnya mereka tebaskan pedang ke tubuh Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan z yang saat itu sedang membaca Al-Qur’anul Karim. Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan z wafat sebagai syahid seketika itu, setelah memimpin umat selama 12 tahun.
Menurut Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan, orang-orang yang memberontak terhadap Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan z, hingga berujung terbunuhnya beliau tersebut adalah kaum Khawarij. Keadaan mereka semakin buruk ketika keluar dari ketaatan terhadap Khalifah ‘Ali bin Abi Thalib z, mengkafirkannya dan mengkafirkan para sahabat Nabi n, karena para sahabat tidak menyetujui prinsip mereka. Di antara prinsip mereka adalah keyakinan bahwa memberontak terhadap penguasa dan memisahkan diri dari umat Islam adalah bagian dari prinsip beragama. (Lihat Lamhatun ‘Anil Firaq Adh-Dhallah, hlm. 31-33)
Para pembaca yang mulia, bagaimanakah situasi dan kondisi umat sesudah terbunuhnya Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan z?
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Ketika Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan z terbunuh, hati umat tak lagi bersatu, sedangkan duka terasa mendalam. Orang-orang jahat tampil di permukaan, sedangkan orang-orang baik terhinakan. Orang-orang lemah bersemangat menghidupkan api fitnah, sedangkan orang-orang yang baik lagi kuat tak kuasa menegakkan kebaikan. Amirul Mukminin ‘Ali bin Abi Thalib z dibai’at sebagai Khalifah, karena beliaulah orang yang paling berhak menjabatnya dan orang terbaik ketika itu. Namun (tak bisa dimungkiri, pen.) perpecahan telah melanda hati umat, api fitnah terus berkobar, kata sepakat antar elemen mereka belum menemui titik temu, persatuan belum terwujud. Sementara itu, Khalifah dan orang-orang terbaik umat (saat itu) tidak bisa merealisasikan setiap kebaikan yang mereka inginkan. Ditambah lagi masuknya berbagai jenis manusia ke dalam perpecahan dan api fitnah, hingga terjadilah apa yang terjadi.” (Majmu’ Fatawa 25/304-305)

Reformasi di Indonesia
Bila mencermati beberapa literatur seputar reformasi di Indonesia3, ada beberapa sebab yang melatarbelakanginya. Ada sebab yang terkait dengan situasi dan kondisi ekonomi saat itu, yaitu krisis finansial Asia yang menyebabkan ekonomi Indonesia melemah. Akhirnya, pada tanggal 22 Januari 1998 nilai Rupiah menembus angka 17.000,- per dolar AS, sementara IMF tidak menunjukkan rencana bantuannya. Ada pula sebab lainnya, terkait dengan keberadaan Presiden Soeharto yang pada tanggal 10 Maret 1998, terpilih kembali memimpin Indonesia untuk yang ketujuh kalinya. Hal ini semakin membuat geram lawan-lawan politiknya, yang mengklaim bahwa Rezim Orde Baru telah diliputi korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN), serta berbagai kezaliman lainnya.
Dari sinilah kemudian agenda reformasi di Indonesia digulirkan oleh para tokohnya. Di antara tahapan agenda reformasi tersebut adalah sebagai berikut.
1. Menebar berita timpang seputar penguasa
Para tokoh reformasi menebarkan berbagai berita timpang seputar penguasa waktu itu dan Rezim Orde Barunya kepada rakyat. Targetnya, menanamkan kebencian dan ketidakpuasan di hati rakyat terhadap penguasa.

2. Provokasi massa
Manakala telah tertanam kebencian dan ketidakpuasan di hati rakyat terhadap penguasa, provokasi massa pun semakin digencarkan. Targetnya, membangkitkan semangat (baca: amarah) mereka untuk melakukan aksi fisik, seperti demonstrasi.

3. Menggelar aksi demonstrasi
Agenda ketiga ini dilakukan manakala provokasi berhasil dan massa dalam jumlah besar (khususnya dari kalangan mahasiswa) siap menggelar aksi demonstrasi. Targetnya, menekan penguasa agar turun dari jabatannya. Kemudian menekan MPR/DPR agar menurunkan penguasa (Soeharto) dan menggantinya dengan yang lain. Berbagai aksi demo tak henti-hentinya digelar oleh mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi. Akhirnya, pada tanggal 15 April 1998, Presiden meminta mahasiswa mengakhiri aksi demo tersebut dan kembali ke kampus. Tanggal 14 Mei 1998, demonstrasi semakin besar hampir di hampir semua kota di Indonesia. Demonstran mengepung dan menduduki gedung-gedung DPRD di daerah.

4. Menyampaikan opsi tuntutan
– Tanggal 18 Mei 1998, gelombang pertama mahasiswa dari FKSMJ dan Forum Kota memasuki halaman dan menginap di Gedung DPR/MPR. Mereka menuntut agar Presiden turun dari jabatannya. Pukul 15.20 WIB, Ketua MPR RI, di Gedung DPR yang dipenuhi ribuan mahasiswa, dengan suara tegas menyatakan, demi persatuan dan kesatuan bangsa, pimpinan DPR, baik ketua maupun para wakil ketua, mengharapkan Presiden mengundurkan diri secara arif dan bijaksana.
– Tanggal 19 Mei 1998, ribuan mahasiswa menduduki Gedung DPR/MPR, Jakarta. Seorang tokoh ormas keagamaan di Indonesia mengajak massa mendatangi Lapangan Monumen Nasional (Monas) untuk memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Tanggal 20 Mei 1998, dia membatalkan rencana demonstrasi besar-besaran di Monas, setelah 80.000 tentara bersiaga di kawasan Monas. Sementara di Yogyakarta, sekitar 500 ribu orang berdemonstrasi. Demonstrasi besar lainnya juga terjadi di Surakarta, Medan, dan Bandung.4
– Tanggal 20 Mei 1998 pula, Ketua MPR RI mengeluarkan pernyataan agar Presiden sebaiknya mengundurkan diri pada Jumat 22 Mei, atau DPR/MPR akan terpaksa memilih presiden baru.

5. Penggulingan penguasa dari jabatannya
Di bawah tekanan yang besar dari dalam maupun luar negeri, Presiden akhirnya memilih untuk mengundurkan diri dari jabatannya. Pada tanggal 20 Mei 1998, pukul 23.00 WIB, Presiden memerintahkan ajudan untuk memanggil Yusril Ihza Mahendra, Mensesneg, dan Panglima ABRI. Presiden sudah berbulat hati menyerahkan kekuasaan kepada Wapres.
Tanggal 21 Mei 1998, pukul 09.00 WIB, Presiden mengumumkan pengunduran dirinya. Kemudian mengucapkan terima kasih dan memohon maaf kepada seluruh rakyat, lalu meninggalkan halaman Istana Merdeka didampingi dua ajudannya. Mercedes hitam yang ditumpanginya tak lagi bernomor polisi B-1, tetapi B 2044 AR.
Para pembaca yang mulia, bagaimanakah setelah lengsernya Orde Baru?
Setelah lengsernya penguasa waktu itu, stabilitas keamanan bangsa menurun jauh. Keresahan dan rasa tidak aman merebak. Perpecahan terutama di tubuh umat memuncak, kemaksiatan merajalela, dan kelompok-kelompok sesat berkedok Islam semakin tumbuh berkembang. Demikian juga agama Syiah dan paham komunis yang seakan mendapat angin. Pendidikan terpuruk, pergaulan muda-mudi kian rusak, disertai keruntuhan mental dan akhlak anak bangsa. Pengawasan terhadap media massa menjadi longgar dan berekspresi mendapatkan kebebasan. Pornografi dan pornoaksi dibela, sementara syariat Islam justru dinista.
Timor Timur memisahkan diri dari Indonesia (Oktober 1999). Gerakan-gerakan separatis (Aceh, Maluku, Papua) semakin berkembang. Kerusuhan terjadi di berbagai daerah, baik yang berlatar belakang agama (Maluku dan Poso) maupun etnis (Dayak dan Madura) di Kalimantan. Demikian pula serangkaian peledakan bom terjadi di beberapa kota.
Menyoroti reformasi Abdullah bin Saba’ Al-Yahudi dan berbagai reformasi setelahnya
Para pembaca yang mulia, reformasi yang digulirkan Abdullah bin Saba’ Al-Yahudi tak bisa dipisahkan dari serangkaian reformasi yang terjadi pada kurun-kurun setelahnya. Berbagai reformasi tersebut tak ubahnya napak tilas gerakan reformasi yang dilakukan Abdullah bin Saba’ sekian abad silam. Demikian halnya dengan reformasi Indonesia yang dimulai pada pertengahan 1998, sebagaimana paparan di atas. Tahapan-tahapan agendanya pun tak jauh berbeda; (1) Menebar berita timpang seputar penguasa (2) Provokasi massa (3) Menggelar aksi demonstrasi (4) Menyampaikan opsi tuntutan (5) Penggulingan penguasa dari jabatannya.
Kelima agenda reformasi tersebut tak lain adalah prinsip utama kelompok sesat Khawarij yang jauh-jauh hari diperingatkan Rasulullah n. Kelima-limanya bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi n. Allah l berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan Rasul-Nya, dan Ulil Amri (pemimpin) di antara kalian.” (An-Nisa’: 59)
Dalam mutiara kenabian, Rasulullah n bersabda:
يَكُونُ بَعْدِيْ أَئِمَّةٌ، لاَيَهْتَدُونَ بِهُدَايَ، وَلاَ يَسْتَنُّوْنَ بِسُنَّتِيْ، وَسَيَقُوْمُ فِيْهمْ رِجَالٌ قُلُوْبُهُمْ قُلُوْبُ الشَّيَاطِيْنِ فِي جُثْمَانِ إِنْسٍ. قَالَ (حُذَيْفَةُ): قُلْتُ: كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُولَ اللهِ إِنْ أَدْرَكْتُ ذَلِكَ؟ قَالَ: تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلْأَمِيْرِ، وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ وَأُخِذَ مَالُكَ، فَاسْمَعْ وَأَطِعْ!
“Akan ada sepeninggalku nanti para penguasa yang mereka itu tidak berpegang dengan petunjukku dan tidak mengikuti cara/jalanku. Dan akan ada di antara para penguasa tersebut orang-orang yang berhati setan dalam bentuk manusia.” Hudzaifah z berkata, “Apa yang kuperbuat bila aku mengalaminya?” Rasulullah n bersabda, “Hendaknya engkau mendengar dan menaati penguasa tersebut! Walaupun punggungmu dicambuk dan hartamu dirampas olehnya. Dengarkanlah (perintahnya) dan taatilah (dia).” (HR. Muslim no. 1847, dari sahabat Hudzaifah z)
Sahabat ‘Adi bin Hatim z berkata:
يَا رَسُولَ اللهِ، لاَ نَسْأَلُكَ عَنْ طَاعَةِ مَنِ اتَّقَى، وَلَكِنْ مَنْ فَعَلَ وَفَعَلَ-فَذَكَرَ الشَّرَّ- فَقَالَ: اتَّقُوا اللهَ وَاسْمَعُوا وَأَطِيْعُوا
“Wahai Rasulullah, kami tidak bertanya kepadamu tentang ketaatan (terhadap penguasa) yang bertakwa. Yang kami tanyakan adalah ketaatan terhadap penguasa yang berbuat demikian dan demikian.” Ia sebutkan berbagai kejelekannya. Rasulullah bersabda, “Bertakwalah kalian kepada Allah, dengarlah dan taatilah (penguasa tersebut).” (HR. Ibnu Abi ‘Ashim dalam As-Sunnah, dan dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Zhilalul Jannah, 2/494, no. 1064)
Al-Imam Al-Barbahari t berkata: “Ketahuilah, kejahatan penguasa tidaklah menghapus ketaatan kepadanya yang telah Allah l wajibkan melalui lisan Nabi-Nya. Kejahatan seorang penguasa akan kembali kepada dirinya sendiri, sedangkan kebaikan-kebaikan yang engkau kerjakan bersamanya mendapat pahala yang sempurna, insya Allah. Yakni, kerjakanlah shalat berjamaah, shalat Jum’at, dan jihad bersama mereka, serta bekerjasamalah dengannya dalam semua jenis ketaatan (yang dipimpinnya).” (Thabaqat Al-Hanabilah, Ibnu Abi Ya’la, 2/36, dinukil dari Qa’idah Mukhtasharah, hlm. 14)
Al-Imam Ibnu Abil ‘Iz Al-Hanafi t berkata: “Kewajiban menaati para penguasa tetaplah berlaku walaupun mereka berbuat jahat, karena tidak menaati mereka dalam hal yang ma’ruf dapat menyebabkan kerusakan yang lebih besar daripada yang ada selama ini. Sabar terhadap kejahatan mereka, mengandung ampunan dari segala dosa dan (mendatangkan) pahala yang berlipat.” (Syarh Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyyah, hlm. 368)
Al-Imam Ibnul Qayyim t berkata: “Nabi n mensyariatkan kepada umatnya kewajiban mengingkari kemungkaran agar terwujud dengan pengingkaran tersebut suatu kebaikan (ma’ruf) yang dicintai Allah l dan Rasul-Nya n. Jika ingkarul mungkar mengakibatkan terjadinya kemungkaran yang lebih besar serta lebih dibenci oleh Allah l dan Rasul-Nya, tidak boleh dilakukan walaupun Allah l membenci kemungkaran tersebut dan pelakunya. Hal ini seperti pengingkaran terhadap para raja dan penguasa dengan cara memberontak. Sungguh hal itu adalah sumber segala kejahatan dan fitnah hingga akhir masa. Barangsiapa merenungkan berbagai fitnah, besar maupun kecil, yang terjadi pada (umat) Islam niscaya akan melihat bahwa penyebabnya adalah mengabaikan prinsip ini dan tidak sabar terhadap kemungkaran, lalu berusaha untuk menghilangkannya, namun justru memunculkan kemungkaran yang lebih besar.” (I’lamul Muwaqqi’in, 3/6)5
Pembaca yang mulia, demikianlah sekilas gerakan reformasi Abdullah bin Saba’ Al-Yahudi Al-Himyari dan keterkaitannya yang erat dengan serangkaian gerakan reformasi yang terjadi pada kurun setelahnya, termasuk reformasi di Indonesia. Semuanya, bertentangan dengan kalam Ilahi, menyelisihi sabda Nabi n, dan sejalan dengan prinsip kelompok sesat Khawarij yang keji.
Wallahu a’lam bish-shawab.


1 Untuk lebih rincinya, silakan baca Kajian Utama Majalah Asy-Syari’ah Vol. V/No. 57/1431 H/2010, yang berjudul Kontroversi Ibnu Saba’ Al-Yahudi.
2 Semua berita timpang tersebut telah didudukkan dengan penuh objektif dan proporsional oleh Al-Qadhi Abu Bakr Ibnul ‘Arabi dalam karya tulis beliau yang monumental, Al-‘Awashim Minal Qawashim Fi Tahqiqi Mawaqifish Shahabah Ba’da Wafatin Nabi. Silakan membacanya.
3 Lihat Sejarah Indonesia (1998-sekarang); http://www.indonesiaindonesia.com/f/2392-indonesia-era-reformasi/, Dijk, Kees van. 2001. A country in despair, Indonesia between 1997 and 2000, KITLV Press, Leiden, ISBN 90-6718-160-9, dan BBC: Timeline: Indonesia.
4 Tidak sedikit korban berjatuhan akibat bentrokan antara demonstran dengan aparat keamanan. Demikian pula kerugian finansial akibat berbagai kerusuhan dan penjarahan yang terjadi di mana-mana.
Bukan berarti kami mengingkari atau menutup mata akan adanya kekurangan/kezaliman pada masa Orde Baru, namun solusi semacam inilah yang kami ingkari.
5 Apa yang dijelaskan Ibnul Qayyim t ini benar-benar terbukti secara nyata.