Hamzah Gugur di Perang Badr

Hamzah Gugur di Perang Badr?

Pada Asy Syariah vol. V/50/1430 H/2009 hal. 82 Cerminan Shalihah, disebutkan bahwa Hamzah bin ‘Abdil Muththalib z adalah paman Rasulullah n yang syahid dalam pertempuran Badr. Mana yang benar, Hamzah bin ‘Abdil Muththalib z syahid dalam perang Badr atau perang Uhud? Ana usul, bagaimana kalau di Asy Syariah disediakan kolom konsultasi kesehatan dengan narasumber dokter?

Abu Khidhr Azmi-Surabaya

081332xxxxxx

 

Anda benar, Hamzah bin ‘Abdil Muththalib adalah paman Rasulullah n yang gugur dalam perang Uhud, bukan perang Badr sebagaimana yang kami tulis. Kepada seluruh pembaca, redaksi mohon maaf atas kekeliruan ini.

Tentang usulan anda, akan kami pertimbangkan. Jazakumullahu khairan.

 

 

Tentang Budak

Mohon Asy Syariah membahas masalah budak dalam tinjauan syariat karena masalah ini sering digunakan untuk menyerang Islam terutama di Saudi Arabia.

Hamba Allah

08194xxxxxx

 

Masalah budak memang acap menjadi amunisi bagi para munafikin dan musuh-musuh Islam untuk menyudutkan Islam. Dikesankan bahwa Islam adalah agama yang melestarikan perbudakan. Citra buruk itu kian menguat dengan banyaknya kasus tenaga kerja Indonesia di Timur Tengah (baca: kawasan Islam). Sehingga masyarakat awam yang tidak mengenal Islam dengan baik, dengan entengnya mengeneralisir bahkan menghakimi agamanya.

Namun demikian kami mohon maaf jika dalam waktu dekat ini kami belum bisa merealisasikan tema yang anda usulkan. Jazakumullahu khairan.

Arti Niswah

Redaksi, rubrik NISWAH, itu artinya apa? Tolong jawab, terima kasih.

085864xxxxxx

 

Niswah jika dimaknai secara harfiah berarti bentuk jamak dari kata ‘wanita’. Awalnya, rubrik ini dinamai Wanita dalam Sorotan. Namun dengan berbagai pertimbangan, rubrik tersebut kami ganti dengan nama Niswah sampai dengan sekarang. Jazakumullahu khairan.

 

 

Doa Istikharah Kurang Lafadznya

Pada Asy Syariah vol. IV no. 48, rubrik Kajian Utama, Adab-adab Safar, ada kekurangan teks doa istikharah setelah ‘faqdurhu li…’ langsung ‘wa in kunta…’ Seharusnya masih ada tambahan wa barik li fihi. Sedangkan pada artinya tertulis ‘mudahkan urusanku dan berilah aku barakah padanya’. Tolong dituliskan doa istikharah yang benar.

085664xxxxxx

 

Anda benar. Berikut ini kami sertakan teks lengkapnya. Jazakallah khairan.

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيمِ فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلَا أَقْدِرُ وَتَعْلَمُ وَلَا أَعْلَمُ وَأَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الْأَمْرَ خَيْرٌ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي -أَوْ قَالَ: فِي عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ- فَاقْدُرْهُ لِي وَيَسِّرْهُ لِي ثُمَّ بَارِكْ لِي فِيْهِ، وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الْأَمْرَ شَرٌّ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي -أَوْ قَالَ فِي عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ- فَاصْرِفْهُ عَنِّي وَاصْرِفْنِي عَنْهُ وَاقْدُرْ لِي الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ رَضِّنِي بِهِ

Kehidupan Setelah Kematian

Setiap jiwa niscaya akan merasakan sebuah fase bernama kematian. Tak ada yang mengingkari hal itu termasuk kalangan atheis sekalipun. Namun yang namanya keimanan tak mandeg sebatas ini saja. Telah menjadi perkara mendasar dalam Islam, yakni keyakinan adanya alam setelah kematian, yakni alam barzakh, atau lazim disebut alam kubur.
Kematian, dalam pandangan Islam, bukanlah ujung dari segala kehidupan makhluk. Syariat telah demikian gamblang menerangkan bahwasanya masih ada alam lain (alam barzakh kemudian alam akhirat) yang akan dilalui manusia pascakematian. Maka, membincangkan alam kubur, jelas erat kaitannya dengan akidah. Karena alam kubur adalah bagian dari hal ghaib yang tidak semua orang (termasuk sebagian umat Islam) mau meyakininya.
Nyatanya, masih saja ada yang berlogika untuk mementahkan perkara akidah ini. Seakan-akan segala hal bisa dilihat dari kacamata logika mereka. Sebagian lagi menolak dengan merangkum beragam syubhat (keraguan) yang kesudahannya adalah menolak hadits-hadits yang menerangkan tentang berbagai peristiwa di alam kubur.
Melogikakan alam kubur dan beragam peristiwa yang terjadi di dalamnya tentu saja hanya akan menimbulkan erosi akidah, yang ujung-ujungnya kita bisa meragukan bahkan menghampakan eksistensi Allah l sebagai Dzat yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Islam telah menggarisbawahi dengan tebal bahwa keimanan bukanlah atas dasar selera manusia sehingga ia bisa bebas memilih sekehendak hati. Di mana ia hanya mau menerima hal-hal yang masuk akal dan menolak hal-hal yang bertentangan dengan akal. Ia hanya mengimani hal-hal yang bisa diendus oleh panca indera sementara yang ghaib justru dia kufuri. Demikian juga dia hanya mau mempraktikkan syariat yang dianggapnya ringan sementara syariat yang (dalam anggapannya) berat –meski hukumnya wajib– justru ia tinggalkan.
Hakikat keimanan dalam Islam, adalah pembenaran secara total terhadap segala kabar yang diberitakan Al-Qur’an dan As-Sunnah Ash-Shahihah yang kemudian mewujud dalam praktik anggota tubuh, berupa ucapan maupun perbuatan.
Sehingga bukan keimanan namanya jika ber-Islam hanya atas dasar eling (ingat) atau yang di kalangan sufi diistilahkan dengan tahap ma’rifat. Disamping itu, jika setiap makhluk bisa menginderai hal-hal ghaib niscaya keimanan itu menjadi tiada harganya. Karena selain perkara itu bukan lagi merupakan hal ghaib, maka menjadi tidak terbedakan lagi antara mukmin dan orang kafir. Karena semua orang dengan mudah akan mengimani itu semua.
Bagaimanapun, dunia dalam pandangan Islam, hanyalah panggung ujian yang akan dinilai nantinya. Tidak mungkin ada dua orang, yang satu jahat sementara yang lain shalih, tatkala mati kemudian sama-sama selesai begitu saja. Tak ada balasan kejelekan atau hukuman dan tak ada balasan kebaikan atau pahala.
Tegasnya, tak ada tawar-menawar dalam setiap perkara yang memang telah digariskan syariat. Setiap muslim seyogianya terus menyempurnakan keimanan yang telah terpatri dalam sanubarinya, salah satunya dengan mengimani adanya kehidupan setelah kematian.

 

Hafalkan Al Quran Terlebih Dahulu

Abu Umar bin Abdil Barr t berkata:

“Menuntut ilmu itu ada tahapan-tahapannya. Ada marhalah-marhalah dan tingkatan-tingkatannya. Tidak sepantasnya bagi penuntut ilmu untuk melanggar/melampaui urutan-urutan tersebut. Barangsiapa secara sekaligus melanggarnya, berarti telah melanggar jalan yang telah ditempuh oleh as-salafus shalih rahimahumullah. Dan barangsiapa melanggar jalan yang mereka tempuh secara sengaja, maka dia telah salah jalan, dan siapa saja yang melanggarnya karena sebab ijtihad maka dia telah tergelincir.

Ilmu yang pertama kali dipelajari adalah menghafal Kitabullah k serta berusaha memahaminya. Segala hal yang dapat membantu dalam memahaminya juga merupakan suatu kewajiban untuk dipelajari bersamaan dengannya. Saya tidak mengatakan bahwa wajib untuk menghafal keseluruhannya. Namun saya katakan bahwasanya hal itu adalah kewajiban yang mesti bagi orang yang ingin untuk menjadi seorang yang alim, dan bukan termasuk dari bab kewajiban yang diharuskan.”

 

Al-Khathib Al-Baghdadi t berkata:

“Semestinya seorang penuntut ilmu memulai dengan menghafal Kitabullah k, di mana itu merupakan ilmu yang paling mulia dan yang paling utama untuk didahulukan dan dikedepankan.”

 

Al-Hafizh An-Nawawi t berkata:

“Yang pertama kali dimulai adalah menghafal Al-Qur’an yang mulia, di mana itu adalah ilmu yang terpenting di antara ilmu-ilmu yang ada. Adalah para salaf dahulu tidak mengajarkan ilmu-ilmu hadits dan fiqih kecuali kepada orang yang telah menghafal Al-Qur’an. Apabila telah menghafalnya, hendaklah waspada dari menyibukkan diri dengan ilmu hadits dan fiqih serta selain keduanya dengan kesibukan yang dapat menyebabkan lupa terhadap sesuatu dari Al-Qur’an tersebut, atau waspadalah dari hal-hal yang dapat menyeret pada kelalaian terhadapnya (Al-Qur’an).”

 

(An-Nubadz fi Adabi Thalabil ‘Ilmi hal. 60-61)