Sifat Shalat Nabi (7) : Bacaan Basmalah

(ditulis oleh: Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al-Atsari)

 

Bacaan Basmalah
Rasulullah n mengucapkan:
tanpa mengeraskan suara, sebagaimana dipahami dari hadits Anas bin Malik z yang memiliki banyak jalan dengan lafadz yang berbeda-beda, dan semua menunjukkan bahwa Nabi n tidak mengeraskan suara ketika mengucapkan basmalah. Salah satu jalannya adalah dari Syu’bah, dari Qatadah, dari Anas z, ia berkata:
أَنَّ النَّبِيَّ n وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ c كَانُوا يَفْتَتِحُونَ الصَّلاَةَ بِـ { ﭖ ﭗ ﭘ ﭙ}
“Sesungguhnya Nabi n, Abu Bakr dan Umar c, membuka (bacaan dengan suara keras) dalam shalat mereka dengan ‘Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin.” (HR. Al-Bukhari no. 743 dan Muslim no. 888)
Al-Imam Ash-Shan’ani t menyatakan, hadits di atas menunjukkan bahwa Nabi n, Abu Bakr dan Umar c tidak memperdengarkan kepada makmum (orang yang shalat di belakang mereka) ucapan basmalah dengan suara keras saat membaca Al-Fatihah (dalam shalat jahriyah). Mereka membacanya dengan sirr/perlahan. (Subulus Salam 2/191)
Adapun ucapan Anas, “Mereka membuka (bacaan dengan suara keras) dalam shalat mereka dengan Alhamdulillah…” tidak mesti dipahami bahwa mereka tidak membaca basmalah secara sirr. (Fathul Bari, 2/294)
Al-Imam Asy-Syafi’i t mengatakan, “Makna hadits ini adalah Nabi n, Abu Bakr, Umar, dan Utsman g, mengawali bacaan Al-Qur’an dalam shalat dengan (membaca) Fatihatul Kitab sebelum membaca surah lainnya. Bukan maknanya mereka tidak mengucapkan Bismillahir rahmanir rahim.” (Sunan At-Tirmidzi, 1/156)
Ulama berselisih pandang dalam masalah men-jahr-kan (mengucapkan dengan keras) ucapan basmalah ataukah tidak dalam shalat jahriyah. Sebetulnya, semua ini beredar dan bermula dari perselisihan apakah basmalah termasuk ayat dalam surah Al-Fatihah atau bukan. Juga, apakah basmalah adalah ayat yang berdiri sendiri pada setiap permulaan surah dalam Al-Qur’an selain surah Al-Bara’ah (At-Taubah), ataukah bukan ayat sama sekali kecuali dalam ayat 30 surah An-Naml? Insya Allah pembaca bisa melihat keterangannya pada artikel: Apakah Basmalah Termasuk Ayat dari Surah Al-Fatihah?
Kami (penulis) dalam hal ini berpegang dengan pendapat mayoritas ulama yang mengatakan bahwa basmalah dibaca dengan sirr. Wallahu a’lamu bish-shawab.
Al-Imam At-Tirmidzi t berkata, “Yang diamalkan oleh mayoritas ulama dari kalangan sahabat Nabi n—di antara mereka Abu Bakr, Umar, Utsman, dan selainnya g—dan ulama setelah mereka dari kalangan tabi’in, serta pendapat yang dipegang Sufyan ats-Tsauri, Ibnul Mubarak, Ahmad, dan Ishaq, bahwasanya ucapan basmalah tidak dijahrkan. Mereka mengatakan, orang yang shalat mengucapkannya dengan perlahan, cukup didengarnya sendiri.” (Sunan At-Tirmidzi, 1/155)
Guru besar kami, Asy-Syaikh Al-Muhaddits Muqbil ibnu Hadi al-Wadi’i t, dalam kitab beliau, Al-Jami’us Shahih mimma Laisa fish Shahihain (2/97), menyatakan bahwa riwayat hadits-hadits yang menyebutkan basmalah dibaca secara sirr itu lebih shahih/kuat daripada riwayat yang menyebutkan bacaan basmalah secara jahr.
Adapun Al-Imam Asy-Syafi’i t dan pengikut mazhabnya, juga—sebelum mereka—beberapa sahabat, di antaranya Abu Hurairah, Ibnu Umar, Ibnu Abbas, dan Ibnuz Zubair g, serta kalangan tabi’in, berpendapat bahwa bacaan basmalah dijahrkan. (Sunan At-Tirmidzi, 1/155)

Berbagi Kepada Ibu

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Harits)

 

Dalam sebuah hadits, Rasulullah n bersabda, menceritakan beberapa peristiwa yang pernah terjadi di masa lalu. Salah satunya tentang seorang ahli ibadah bernama Juraij.
كَانَ رَجُلٌ فِي بَنِي إِسْرَائِيلَ يُقَالُ لَهُ جُرَيْجٌ يُصَلِّي فَجَاءَتْهُ أُمُّهُ فَدَعَتْهُ فَأَبَى أَنْ يُجِيبَهَا فَقَالَ: أُجِيبُهَا أَوْ أُصَلِّي؟ ثُمَّ أَتَتْهُ فَقَالَتْ: اللَّهُمَّ لاَ تُمِتْهُ حَتَّى تُرِيَهُ وُجُوهَ الْمُومِسَاتِ. وَكَانَ جُرَيْجٌ فِي صَوْمَعَتِهِ فَقَالَتِ امْرَأَةٌ: لَأَفْتِنَنَّ جُرَيْجًا. فَتَعَرَّضَتْ لَهُ فَكَلَّمَتْهُ فَأَبَى، فَأَتَتْ رَاعِيًا فَأَمْكَنَتْهُ مِنْ نَفْسِهَا فَوَلَدَتْ غُلاَمًا فَقَالَتْ: هُوَ مِنْ جُرَيْجٍ. فَأَتَوْهُ وَكَسَرُوا صَوْمَعَتَهُ فَأَنْزَلُوهُ وَسَبُّوهُ، فَتَوَضَّأَ وَصَلَّى ثُمَّ أَتَى الْغُلاَمَ فَقَالَ: مَنْ أَبُوكَ يَا غُلاَمُ؟ قَالَ: الرَّاعِي. قَالُوا: نَبْنِي صَوْمَعَتَكَ مِنْ ذَهَبٍ. قَالَ: لاَ، إِلاَّ مِنْ طِينٍ
Dahulu kala, di kalangan Bani Israil ada seorang yang dikenal bernama Juraij. Pada suatu hari, ketika dia sedang shalat, datanglah ibunya memanggil.
Juraij enggan memenuhi panggilannya. Katanya (dalam hati), “Saya menjawab panggilannya, ataukah saya tetap shalat?”
Kemudian ibunya datang lagi (memanggil, tapi Juraij tidak menyahut). Sang ibu pun berdoa, “Ya Allah, janganlah Engkau mematikan dia sampai Engkau memperlihatkan kepadanya wajah para wanita pelacur.”
Suatu ketika, Juraij sedang berada di tempat ibadahnya. Ada seorang wanita berkata, “Sungguh, saya pasti akan membuat Juraij terfitnah (tergoda untuk menzinainya, red.).” Dia pun menawarkan diri kepadanya dan mengajaknya bicara. Namun Juraij menolak.
Akhirnya wanita itu mendatangi seorang penggembala kambing dan menyerahkan diri kepadanya (berzina, red.).
(Beberapa waktu kemudian), wanita itu melahirkan seorang anak. Dia berkata, “(Anak) ini dari Juraij.”
Penduduk kampung itu pun mendatangi Juraij, menghancurkan tempat ibadahnya dan menyeretnya serta mencacinya.
Juraij pun berwudhu dan shalat. Kemudian dia mendatangi bayi itu dan bertanya, “Siapakah ayahmu, wahai anak?”
Bayi itu menjawab, “Si penggembala.”
Akhirnya penduduk kampung itu pun berkata, “Kami bangun kembali biaramu dari emas?”
Kata Juraij, “Tidak. Tapi (bangunlah kembali) dari tanah.”1
Kisah ini terjadi berabad-abad yang lalu, di zaman Bani Israil, sebelum Rasulullah n dilahirkan.
Mulanya, Juraij hanyalah seorang pedagang. Kadang berhasil, dia memperoleh laba. Tapi tidak jarang pula dia mengalami kerugian. Melihat kenyataan ini, Juraij merenung dan berkata dalam hatinya, “Sungguh, tidak ada kebaikan dalam perniagaan seperti ini. Aku ingin mencari perniagaan yang lebih baik daripada ini.”
Mulailah dia membangun sebuah tempat ibadah tempat ia beribadah di dalamnya. Akhirnya, dia pun tenggelam dalam kekhusyukan beribadah kepada Allah l.

Ujian pun Datang
Sunnatullah pasti berlaku pada setiap hamba Allah l. Mereka yang mengaku dirinya beriman, menyatakan cinta kepada Allah l, pasti akan menerima ujian sesuai tingkat iman yang ada dalam dadanya. Terlebih jika Allah l mencintai hamba tersebut.
Rasulullah n bersabda:
إِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ
“Sesungguhnya, apabila Allah mencintai suatu kaum, Dia akan menimpakan petaka (ujian) pada mereka. Oleh karena itu, siapa yang menerimanya dengan ridha niscaya dia akan memperoleh keridhaan (dari Allah l), sedangkan mereka yang merasa marah (tidak rela menerimanya), tentu dia memperoleh murka (dari Allah l).”2
Beliau n pernah ditanya, “Siapakah orang yang paling berat ujiannya?” Sabda beliau n:
الْأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ، فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِى دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِي عَلَى الْأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ
“Para nabi, kemudian yang (mulia) seperti mereka, dan yang seperti mereka. Seseorang itu akan diuji sesuai dengan tingkat keimanannya. Kalau dia teguh dan kokoh dalam beragama, niscaya berat pula ujiannya. Kalau dia rapuh dalam beragama, tentu ringan pula ujian yang diterimanya. Senantiasa seseorang mendapat ujian, hingga dia dibiarkan berjalan di muka bumi dalam keadaan tidak mempunyai kesalahan.”
Suatu ketika, saat Juraij sedang shalat, ibunya datang memanggil, “Wahai Juraij. Wahai anakku, temuilah. Aku adalah ibumu, bicaralah denganku!”
Juraij yang sedang shalat ragu-ragu, apakah dia harus membatalkan shalatnya lalu menemui ibunya, ataukah dia tetap meneruskan shalatnya?
“Ya Allah, shalatku ataukah ibuku?”
Sang ibu pun pergi. Tak lama, beliau datang lagi memanggil, “Wahai Juraij. Wahai anakku, temuilah. Aku adalah ibumu, bicaralah denganku!”
Ternyata, tidak ada jawaban dari Juraij. Sang ibu merasa masygul. Ada apa dengan putranya, beberapa kali panggilannya tidak disahut oleh sang anak?
Akhirnya, tak sabar menahan kejengkelannya, sang ibu memanjatkan doa, “Ya Allah, janganlah Engkau mematikan Juraij sampai Engkau memperlihatkan kepadanya wajah wanita pelacur.”
Sebuah “kesalahan” yang kelihatannya cukup ringan. Hanya karena dia tidak menyahut panggilan sang ibu yang telah melahirkan dan mengasuhnya sejak dia kecil. Bahkan perbuatan itu bukan pula didasari karena dia durhaka kepada ibunya.
Tidak. Juraij bukan anak durhaka. Dia justru sedang berada di antara dua sikap ta’zhim (pengagungan): antara mengagungkan hak Allah l yang dia sedang berdiri shalat di hadapan-Nya ataukah hak sang ibu yang telah melahirkan dan mengasuhnya?
Juraij berkata, “Ya Allah, shalatku ataukah ibuku?”
Akhirnya, Juraij tetap meneruskan shalatnya.
Dalam shalatnya, Juraij masih sempat mendengar doa yang dipanjatkan sang ibu. Sebuah doa yang mustajab, bertepatan dengan waktu Allah l mengabulkan doa. Dari seorang ibu yang salehah, yang dikecewakan oleh putra yang telah dilahirkan dan dibesarkannya.
Duhai, kiranya manusia mengetahui hak Allah l dan menunaikannya secara sempurna, tentulah mereka pun tahu betapa mulia kedudukan orang tua dalam diri mereka, sesudah Allah l dan Rasul-Nya.
Dalam banyak ayat-Nya, Allah l selalu mengurutkan (mendudukkan) berbagai kebaikan dan ketaatan kepada orang tua sesudah perintah taat kepada Allah l dan Rasul-Nya.
Allah l berfirman:
“Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.” (Al-Isra’: 23)
Selang beberapa waktu kemudian. Ketika nama Juraij dikenal sebagai seorang ahli ibadah, terdengarlah beritanya oleh seorang pelacur yang sangat cantik di daerah tersebut. Harga diri wanita itu seolah-olah tertantang. Dia merasa tinggi hati karena hampir setiap laki-laki di daerah tersebut, sama mengharapkan dirinya.
Sehebat apakah laki-laki bernama Juraij itu? Siapakah dia? Apakah dia seorang nabi? Ataukah malaikat? Tidak adakah yang dapat meruntuhkan imannya? Padahal setiap laki-laki di sekitarnya memuja dirinya?
Akhirnya dia bertekad untuk menjatuhkan pamor dan merusak ibadah Juraij.
Datanglah dia berkunjung hendak merayu Juraij agar mau berzina dengannya. Wanita itu benar-benar mengerahkan segenap upayanya untuk menggoda dan membujuk Juraij agar mau menyentuhnya. Juraij tetap menolak.
Berbagai cara telah dilakukan oleh wanita itu, tapi Juraij tetap tak bergeming. Karena syahwatnya sudah terlanjur memuncak sementara Juraij tidak menggubrisnya, wanita itu jengkel dan pergi.
Kebetulan, di sekitar tempat ibadah Juraij ada seorang penggembala yang biasa membawa kambingnya merumput di sana.
Sambil beristirahat, penggembala itu melepas kambing-kambingnya berlarian di padang rumput sepi itu.
Saat dia sedang memerhatikan kambingnya, datanglah wanita yang tadi merayu Juraij. Dengan keahliannya, dia berhasil merayu si penggembala dan terjadilah perbuatan keji itu.
Setelah itu, si wanita pun pergi meninggalkan penggembala dan kampung Juraij dengan satu rencana jahat yang sudah dipersiapkannya.
Dia harus menghancurkan nama baik Juraij.
Keadaan tetap sebagaimana semula. Juraij tetap sibuk dengan ibadahnya. Sang ibu tidak lagi datang ke tempat Juraij. Entah karena marah, sedih, atau yang lainnya.
Beberapa waktu kemudian, di kampung seberang, si wanita yang dahulu merayu Juraij hamil dan sudah saatnya melahirkan.
Tak berapa lama, sang bayi pun lahir.
Wanita itu, didorong keinginannya untuk menghancurkan nama baik Juraij, walaupun masih dalam masa nifas, tetap keluar membawa bayi itu ke tengah-tengah kumpulan orang banyak. Dengan terheran-heran, orang-orang kampung itu bertanya, kapan wanita ini menikah? Laki-laki mana yang mau menikahi wanita seperti ini? Siapa pula suaminya? Di mana mereka menikah?
Sejumlah pertanyaan muncul dalam benak mereka. Tapi agaknya, semua sudah diperhitungkan wanita tersebut. Semua pertanyaan yang mungkin mereka ajukan sudah ada jawabannya.
Dengan tenang, dia berkata kepada penduduk kampung itu, “Ini (hasil hubunganku) dengan Juraij.”
Bagai disengat kalajengking, mereka tersentak kaget. Juraij, ahli ibadah yang terkenal itu?
Jadi, selama ini dia berpura-pura alim, tetapi melakukan perbuatan tak senonoh dengan perempuan seperti ini?
Akhirnya, sumpah serapah dan caci-maki berhamburan dari mulut mereka.
Penipu, mura’i (orang yang berbuat riya’), ingin dipuji, dan umpatan lainnya mereka tujukan kepada Juraij.
Tak puas sampai di situ. Berduyun-duyun mereka datang menyerbu tempat ibadah Juraij.
Dari bawah tempat ibadah tersebut, mereka berteriak mencaci-maki Juraij dan menyuruhnya turun.
Juraij tak memedulikan mereka, dia tetap tenggelam dalam ibadahnya.
Warga semakin tak sabar. Beberapa orang di antara mereka memukulkan palu, pacul, dan benda-benda keras lainnya untuk meruntuhkan tempat ibadah itu.
Mau tak mau, Juraij pun keluar.
Dia tersenyum….
Warga merasa heran, mengapa dia tersenyum? Tentu saja hal itu membuat mereka semakin jengkel. Sambil memaki, mereka membelitkan tali di leher kedua orang yang mereka ‘yakini’ telah berzina ini. Juraij dan si pelacur.
Dalam ajaran mereka ketika itu, orang yang berbuat demikian harus dibunuh.
Tapi, mengapa Juraij tersenyum?
Ya, ada apa? Juraij ingat, dalam shalatnya sayup-sayup dia sempat mendengar doa yang dipanjatkan sang ibu yang kecewa.
Inilah kenyataan dari doa tersebut.
Akhirnya, Juraij minta izin untuk berwudhu lalu shalat.
Selesai shalat, Juraij mendekati wanita dan bayinya tersebut. Kemudian, dia menekan jarinya ke tubuh si bayi sambil bertanya, “Wahai bayi, siapakah ayahmu?”
Mahasuci Allah yang membuat bicara segala sesuatu yang Dia kehendaki untuk berbicara. Itulah sebagian kecil bukti kekuasaan Allah Yang Mahaperkasa.
Bukan hanya bayi manusia, bahkan benda-benda mati pun berbicara. Kulit, pendengaran, dan penglihatan manusia nanti juga akan berbicara menjadi saksi terhadap pemiliknya.
Kapankah itu terjadi? Jangan tanya, kapan itu terjadi.
Tapi, seharusnya kita bertanya, sudahkah kita mempersiapkan jawaban atas setiap pertanyaan yang akan diajukan kepada kita di padang mahsyar nanti? Sebelum pendengaran, penglihatan, dan kulit-kulit kita menjadi saksi terhadap diri kita? Sebelum mulut kita dikunci, tidak lagi mampu berkata-kata sepatah pun?
Itulah hari, ketika manusia berdiri di hadapan Allah Yang Mahaadil dan Bijaksana. Dzat yang menguasai Hari Pembalasan. Hari yang pasti terjadi.
Setiap orang sendiri-sendiri berbicara dengan Rabbnya, tanpa seorang penerjemah pun. Dia harus siap memberikan jawaban atas semua pertanyaan yang diajukan kepadanya, tentang waktunya, untuk apa dia habiskan? Tentang kekuatannya, apa yang dia lakukan dengan kekuatan tersebut? Tentang hartanya, dari mana dia memperoleh dan ke mana dia belanjakan? Serta tentang ilmunya, apa yang dikerjakannya dengan ilmu itu?
Itulah sabda Nabi n:
لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَ فَعَلَ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ، وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَ أَبْلاَهُ
“Tidak akan bergeser telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat, hingga dia ditanya tentang: Umurnya (waktu), dalam urusan apa dia gunakan. Tentang ilmu, bagaimana dia mengamalkannya? Tentang hartanya, dari mana dia memperolehnya dan ke mana dia belanjakan? Juga tentang jasmani (kekuatan)nya dalam urusan apa dia habiskan?”3
Ingatlah, kita semua pasti akan dihadapkan kepada Allah l dan ditanya tentang semua aktivitas kita selama hidup di alam dunia. Mungkin kita membayangkan bisa berdusta di dalam ‘persidangan’ itu. Bahkan, setiap kita berusaha membela diri dengan menyebut kebaikan-kebaikannya atau mengelakkan tuduhan yang ditujukan kepadanya.
Tetapi, jelas sekali, semua itu tidak berguna. Karena Allah l berfirman:
Sehingga apabila mereka sampai ke neraka, pendengaran, penglihatan, dan kulit mereka menjadi saksi terhadap mereka tentang apa yang telah mereka kerjakan. Dan mereka berkata kepada kulit mereka, “Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami?” Kulit mereka menjawab, “Allah yang menjadikan segala sesuatu pandai berkata telah menjadikan kami pandai (pula) berkata, dan Dia-lah yang menciptakan kamu pada kali yang pertama dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan.” (Fushshilat: 20-21)
Maka, ingatlah. Itulah kekuasaan Allah. Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Kekuasaan-Nya membuat bicara segala sesuatu, tidak hanya di akhirat nanti….
Sang bayi yang baru saja lahir, Allah l takdirkan mampu berbicara.
Dengan jelas didengar oleh semua yang hadir dalam ‘persidangan’ itu, bayi itu menjawab pertanyaan Juraij tadi, “Bapakku adalah si penggembala.”
Kalimat ini meruntuhkan kemarahan yang bercokol di hati warga saat itu. Jelas sudah, ternyata Juraij tak bersalah. Dia betul-betul suci dari berbuat keji seperti yang mereka tuduhkan.
Dengan penuh rasa sesal, sambil menciumi Juraij, warga meminta maaf kepada Juraij dan menawarkan, “Bagaimana kalau kami bangun kembali tempat ibadahmu dari emas atau perak?”
Dengan halus Juraij menolak dan berkata, “Tidak perlu, cukup seperti sebelumnya, dari tanah.”
Keadaan menjadi tenang, warga pun pulang ke tempat masing-masing.
Keikhlasan, kesungguhan, dan kejujuran dalam pengabdian, di samping rahmat serta kasih sayang Allah l tentunya, itulah yang menyelamatkan Juraij.
Demikianlah Allah l berbuat terhadap hamba-hamba yang dicintai-Nya. Rasulullah n bersabda:
إِذَا أَرَادَ اللهُ بِعَبْدِهِ الْخَيْرَ عَجَّلَ لَهُ الْعُقُوبَةَ فِى الدُّنْيَا، وَإِذَا أَرَادَ اللهُ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْسَكَ عَنْهُ بِذَنْبِهِ حَتَّى يُوَفَّى بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Apabila Allah menghendaki kebaikan pada salah seorang hamba-Nya, niscaya Dia segerakan hukuman untuknya di dunia. Jika Allah menghendaki keburukan atas hamba-Nya, tentu Dia tahan darinya (hukuman itu) dengan dosanya, sampai Dia sempurnakan (balasan) dosa itu pada hari kiamat.”4
Apa yang dialami Juraij, adalah sebuah teguran halus dari Allah l…..
(Insya Allah bersambung)


1 Al-Bukhari (no. 3253) dan Muslim (no. 2500) dari Abu Hurairah z.
2 HR. At-Tirmidzi (no. 2320), kata beliau, “Hadits ini hasan gharib dari jalan ini.”
3 Disahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani.
4 HR. At-Tirmidzi (no. 2396) dan kata Asy-Syaikh Al-Albani, “Hasan sahih.”

Tiga Orang yang Ditangguhkan (perang Tabuk bagian ke 4)

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Harits)

 

Rasulullah n bersama pasukan muslimin mulai mendekati kota Madinah. Beberapa penduduk kota berlarian menyambut beliau, begitu pula wanita dan anak-anak yang hendak menyambut beliau, suami dan ayah-ayah mereka. Anak-anak itu dengan gembira mendendangkan nyanyian:
Telah muncul purnama kepada kami dari Tsaniyatil Wada’…
Kemudian Rasulullah n memasuki masjid dan shalat dua rakaat. Demikianlah kebiasaan beliau setelah melakukan perjalanan jauh.
Setelah itu, mulailah berduyun-duyun orang-orang yang tertinggal menemui beliau mengajukan uzur tidak ikut serta dalam Perang Tabuk. Sebagian dari mereka diterima oleh beliau dan urusan batinnya diserahkan kepada Allah l.
Di antara sahabat, ada beberapa orang yang sengaja mengikat tubuh mereka di tiang-tiang masjid. Rasulullah n melihat mereka dan bertanya, “Siapa yang mengikat dirinya di tiang masjid?”
Sahabat lain menjawab, “Itu Abu Lubabah dan teman-temannya, karena mereka tidak ikut berperang bersama Anda, wahai Rasulullah. Mereka ingin Anda sendiri yang melepaskan mereka.”
Rasulullah n berkata, “Demi Allah, aku tidak akan melepaskan dan tidak pula menerima uzur mereka, sampai Allah l sendiri yang melepaskan mereka. Mereka tidak suka ikut bersamaku dan tidak mau berperang bersama kaum muslimin.”
Ketika sampai perkataan Rasulullah n kepada sahabat-sahabat tersebut, mereka berkata, “Kami pun tidak akan melepaskan diri kami hingga Allah l sendiri yang melepaskan kami.”
Kemudian turunlah firman Allah l:
“Dan (ada pula) orang-orang lain yang mengakui dosa-dosa mereka, mereka mencampuradukkan pekerjaan yang baik dengan pekerjaan lain yang buruk. Mudah-mudahan Allah menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (At-Taubah: 102)
Setelah ayat ini turun, Nabi n pun menemui mereka, melepaskan tali yang membelit mereka dan menerima uzur mereka. Tak lama kemudian, mereka datang menemui Rasulullah n sambil membawa harta mereka dan berkata, “Wahai Rasulullah, inilah harta kami. Bersedekahlah dengan harta ini dan mintakanlah ampunan untuk kami.”
Beliau menjawab, “Saya tidak diperintah mengambil harta kalian.” Lalu turun ayat:
“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka, serta berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka.” (At-Taubah: 103)
Kemudian, datang pula tiga orang sahabat yang mulia: Ka’b bin Malik, Hilal bin Umayyah, dan Murarah bin ar-Rabi’, g. Mereka tidak ikut mengikat diri mereka bersama Abu Lubabah dan teman-temannya. Mereka merasa tidak punya alasan yang memberatkan hingga tertinggal dari Rasulullah n. Mereka hanya menyampaikan bahwa mereka tidak ikut serta. Akhirnya, Rasulullah n menyerahkan urusan mereka kepada Allah l.
Kejadian ini bisa kita ketahui dari penuturan sahabat yang mulia, Ka’b bin Malik z, berikut ini.
“Saya tidak pernah tertinggal dari Rasulullah n dalam peperangan yang beliau lakukan kecuali Perang Tabuk. Walaupun saya pernah tertinggal dari Perang Badr, tapi Rasulullah n tidak mencela saya dan siapa pun yang tertinggal, karena waktu itu kami mengira Rasulullah n keluar hanya untuk menghadang kafilah dagang Quraisy, walaupun akhirnya Allah l mempertemukan beliau dengan musuh-musuhnya tanpa kesepakatan sebelumnya.
Sungguh, saya telah ikut bersama Rasulullah n pada malam ‘Aqabah ketika kami sangat yakin kepada Islam. Saya tidak suka malam itu digantikan dengan peristiwa Badr, meskipun Badr lebih dikenang orang daripada malam itu.
Saya belum pernah merasa keadaan saya lebih kuat sama sekali dan lebih mudah daripada keadaan saya ketika tertinggal dari beliau dalam perang (Tabuk) tersebut. Demi Allah, saya belum pernah mengumpulkan dua kendaraan sama sekali dalam sebuah peperangan kecuali Perang Tabuk. Biasanya, bila hendak berangkat berperang, Rasulullah n melakukan tauriyah (berbuat atau mengatakan sesuatu untuk mengalihkan perhatian, red.) dengan hal-hal yang lain.
Setelah melakukan persiapan, walaupun serba minim, karena pada waktu itu adalah musim panas yang sangat buruk, kendaraan dan perbekalan serba kurang, Rasulullah n berangkat juga. Beliau menampakkan dan memerintahkan kaum muslimin agar mempersiapkan perlengkapan perang mereka. Beliau n menyampaikan terang-terangan ke mana arah yang beliau tuju dan lawan yang akan dihadapi, sehingga banyak yang menyertai Rasulullah n. Akan tetapi, tidak ada penulis yang mencatat—semacam sensus—jumlah mereka dengan pasti.
Kata Ka’b selanjutnya, “Ada yang ingin mengelak dan mengira pasti akan dapat bersembunyi dari beliau selama tidak turun wahyu Allah l tentang dia.”
Tak lama, ketika buah-buahan mulai masak, naungan mulai rimbun, Rasulullah n pun berangkat diikuti oleh kaum muslimin. Saya datang pagi-pagi untuk bersiap-siap bersama mereka, lalu pulang tetapi tidak melakukan apa-apa.
Saya berkata dalam hati, “Saya dapat segera menyiapkannya.”
Pagi harinya Rasulullah n dan kaum muslimin sudah mulai bergerak. Tetapi, saya masih belum mempersiapkan diri sedikit pun. Saya berkata dalam hati, “Saya akan mempersiapkan diri sesudah satu atau dua hari ini lalu menyusul mereka.”
Saya pun datang pagi-pagi, lalu kembali lagi sesudah mereka berangkat. Saya pulang dan belum juga berbuat apa-apa.
Saya datang dan pergi lagi tanpa melakukan sesuatu. Hal ini berlangsung terus-menerus sampai pasukan semakin jauh dari kota. Saya mulai bertekad menyusul mereka.
Duhai, kiranya saya memang melakukannya, namun belum juga ditakdirkan untuk saya. Suatu hari, saya keluar di antara orang banyak sesudah Rasulullah n dan pasukan muslimin berangkat. Saya pun berkeliling. Sungguh menyedihkanku, ternyata saya tidak melihat siapa-siapa kecuali orang-orang yang tertuduh munafik atau orang-orang lemah yang diberi uzur oleh Allah l.
Rasulullah n tidak menyebut-nyebut nama saya sampai beliau tiba di Tabuk. Setelah berada di Tabuk, mulailah beliau bertanya ketika duduk-duduk di antara pasukan, “Apa yang dikerjakan Ka’b?”
Salah seorang dari Bani Salimah berkata, “Wahai Rasulullah, dia ditahan oleh dua burdahnya dan melihat betapa bagusnya burdah itu.”
Mu’adz bin Jabal z menukas, “Alangkah buruknya ucapanmu. Demi Allah, wahai Rasulullah. Kami tidak mengetahui tentang dia kecuali yang baik-baik saja.” Rasulullah n pun diam.
Kemudian, Ka’b bin Malik melanjutkan, “Ketika sampai berita bahwa Rasulullah n dan kaum muslimin bersiap-siap untuk kembali, muncullah keinginanku mencari-cari tipuan. Saya berkata dalam hati, “Dengan apa kira-kira saya dapat lolos dari kemarahan beliau nanti?” Saya pun meminta saran dari seluruh keluarga saya.
Tatkala diberitakan bahwa Rasulullah n sudah mulai kembali, hilanglah kebatilan (kebohongan). Saya pun tahu, tidak akan mungkin lolos dengan sedikit kebohongan saja dari beliau selamanya. Akhirnya, saya mengumpulkan sikap jujur untuk beliau.
Esok harinya, Rasulullah n dan pasukan pun sampai di Madinah. Penduduk berduyun-duyun menyambut beliau. Biasanya, kalau baru tiba dari safar beliau selalu singgah lebih dahulu di masjid dan shalat dua rakaat, kemudian duduk menghadapi orang banyak yang datang mengajukan uzur dan meminta maaf atas ketertinggalan mereka. Setelah itu, datanglah orang-orang yang tertinggal itu dan mulailah mereka mengajukan alasan serta bersumpah. Jumlah mereka sekitar delapan puluh orang. Rasulullah n menerima alasan mereka, membai’at, dan memintakan ampunan buat mereka serta menyerahkan rahasia mereka kepada Allah l.
Saya datang menemui beliau dan mengucapkan salam. Beliau tersenyum masam kepada saya seraya berkata, “Kemarilah!” Saya pun melangkah sampai duduk di hadapan beliau, lalu beliau berkata, “Mengapa engkau tertinggal? Bukankah engkau sudah membeli kendaraan?”
Kata saya, “Betul. Sungguh, demi Allah, wahai Rasulullah. Seandainya saya duduk dengan orang lain di dunia ini, pastilah Anda melihat saya akan lolos dari kemarahannya dengan satu alasan. Sungguh, demi Allah, saya diberi kemampuan berdebat. Tetapi demi Allah, seandainya saya berbicara kepada Anda hari ini dengan satu kebohongan, lalu Anda meridhai saya, pastilah Allah l akan membuat Anda marah kepada saya. Sungguh, seandainya saya berbicara kepada Anda dengan jujur niscaya Anda melihatnya ada pada saya. Saya betul-betul berharap pemaafan Allah l dalam masalah ini.
Tidak. Demi Allah, saya tidak punya uzur sama sekali. Saya tidak pernah merasa keadaan saya lebih kuat dan lebih mudah sama sekali dibandingkan ketika saya tertinggal dari Anda.”
Kemudian Rasulullah n berkata, “Adapun dia ini, sudah berkata jujur. Berdirilah sampai Allah l memberi keputusan tentangmu.”
Saya pun berdiri, dan berdatanganlah orang-orang Bani Salimah menyusul sambil mengatakan, “Demi Allah, kami tidak pernah lihat engkau berbuat kesalahan sebelum ini, engkau sungguh lemah. Mengapa engkau tidak meminta uzur kepada Rasulullah n sebagaimana orang-orang yang tertinggal meminta uzur kepada beliau? Sudah cukup dosamu itu dengan Rasulullah n memintakan ampun untukmu.”
Demi Allah, mereka terus-menerus mendorong saya sampai saya berkeinginan rujuk dan mendustakan diri sendiri. Kemudian saya katakan kepada mereka, “Apakah ada orang yang mengalami keadaan seperti ini bersama saya?”
Kata mereka, “Ya, ada dua orang. Mereka mengucapkan hal yang sama seperti engkau dan dikatakan kepada mereka seperti yang diucapkan kepadamu.”
Saya pun bertanya, “Siapa mereka?”
Kata mereka, “Murarah bin ar-Rabi’ al-‘Amri dan Hilal bin Umayyah al-Waqifi.” Mereka menyebutkan dua orang saleh yang pernah ikut perang Badr. Mereka adalah teladan bagiku. Saya pun tetap melanjutkan sikap saya setelah mereka menyebut dua orang saleh ini.
Rasulullah n mulai melarang kaum muslimin berbicara dengan kami bertiga di antara orang-orang yang tertinggal. Akhirnya, orang banyak mulai menjauhi kami. Keadaan pun berubah, sampai saya merasa diri saya asing di bumi ini (Madinah). Seolah-olah tanah (Madinah) ini bukan seperti yang saya kenal. Dan kami merasakannya selama lima puluh hari.
Kedua sahabatku merasa hina dan hanya berdiam diri di rumah mereka sambil menangis. Sedangkan aku yang lebih muda dan lebih tabah, selalu keluar dan ikut shalat bersama kaum muslimin, berkeliling di pasar-pasar dalam keadaan tidak seorang pun mengajakku bicara. Saya mencoba mendatangi Rasulullah n untuk mengucapkan salam kepada beliau ketika beliau duduk di majelisnya seusai shalat.
Saya bertanya dalam hati, “Apakah beliau menjawab salamku atau tidak?” Saya berusaha shalat di dekat beliau sambil mencuri-curi pandang. Kalau saya menekuni shalat saya, beliau menghadap ke arahku. Tapi kalau saya menoleh ke arah beliau, beliau membuang muka.
Sampai ketika saya merasakan kekakuan orang banyak ini semakin lama, saya berjalan lalu memanjat pagar rumah Abu Qatadah. Dia adalah anak paman saya dan orang yang paling saya cintai. Saya mengucapkan salam kepadanya, tapi demi Allah, dia tidak menjawab salam saya.
Saya pun berkata, “Wahai Abu Qatadah, saya sumpahi engkau demi Allah, bukankah engkau tahu bahwa saya mencintai Allah l dan Rasul-Nya?” Dia tetap diam. Saya ulang menyumpahinya, tapi dia diam. Saya pun mengulangi lagi.
Akhirnya, Abu Qatadah berkata, “Allah l dan Rasul-Nya lebih tahu.”
Air mata saya mulai berlinang. Saya pun mundur dan turun dari pagar itu.
Abu Qatadah tidak mengatakan ya atau tidak. Sepatah kata tidaklah dianggap bicara. Bagaimana Ka’b tidak menangis, saudara sepupu yang sangat dicintainya, tidak menjawab salam dan pertanyaannya, padahal dia sudah menuntutnya dengan sumpah, yang jelas-jelas sebagai perkara ibadah. Di samping itu, pertanyaan Ka’b dengan sumpah itu sama artinya menuntut sebuah persaksian. Akan tetapi, Abu Qadatah tidak mau bersaksi walaupun dia mengetahui Ka’b mencintai Allah l dan Rasul-Nya.
Suatu hari, tatkala saya sedang berjalan di sebuah pasar kota Madinah, tiba-tiba seorang nabthi (orang Arab yang bercampur dengan Romawi dan ajam [non-Arab] sehingga nasabnya tercampur dan bahasanya rusak) dari penduduk Syam yang biasa membawa makanan untuk dijual di Madinah bertanya, “Siapa yang bisa menunjukkan kepada saya Ka’b bin Malik?”
Orang banyak serentak menunjuk ke arah saya. Akhirnya dia menemui saya dan menyerahkan sepucuk surat dari Raja Ghassan.
Ternyata isinya, “Amma ba’du,… Sebetulnya sampai berita kepadaku bahwa temanmu (Muhammad n) mengucilkanmu. Allah tidak akan menjadikanmu tetap di tempat yang hina dan tersia-sia. Datanglah kepada kami niscaya kami memuliakanmu.”
Akan tetapi, beliau z adalah orang yang beriman kepada Allah l dan Rasul-Nya serta mencintai Allah l dan Rasul-Nya. Dalam keadaan terkucil, terasing, dan tidak diajak bicara, bahkan oleh kerabat yang sangat dicintai, kalau saja beliau orang yang lemah iman, tentu dengan segera menyambut tawaran itu.
Setelah membacanya saya pun berkata, “Ini juga musibah,” lalu saya menyalakan tungku dan membakarnya.
Demikianlah seharusnya yang dilakukan oleh orang yang ingin menyelamatkan diri dari fitnah: menghancurkan sesuatu yang menjadi sebab timbulnya fitnah bagi dirinya.
Empat puluh malam mulai merambat. Tak lama, datang utusan Rasulullah n menemui saya dan berkata, “Sesungguhnya Rasulullah n memerintahkan engkau agar menjauhi istrimu.”
Saya bertanya, “Apakah saya harus menceraikannya atau apa yang saya lakukan?” Katanya, “Tidak. Engkau hanya diperintah agar menjauhinya dan jangan mendekatinya.” Seperti itu juga yang disampaikan kepada dua sahabat saya itu.
Kemudian saya katakan kepada istri saya, “Kembalilah kepada keluargamu. Tinggallah di sana sampai Allah l memutuskan perkara ini.”
Datanglah istri Hilal bin Umayyah menemui Rasulullah n, lalu berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya Hilal bin Umayyah seorang laki-laki renta dan tidak punya pelayan. Apakah Anda tidak suka kalau saya melayaninya?” Kata beliau, “Tidak, tapi dia tidak boleh mendekatimu.”
Wanita itu berkata, “Sungguh, demi Allah, dia tidak ada keinginan lain kepada sesuatu. Demi Allah, dia terus menangis sejak awal kejadian ini sampai hari ini.”
Sebagian keluarga saya berkata, “Sebaiknya engkau meminta izin kepada Rasulullah n tentang istrimu sebagaimana diizinkan untuk istri Hilal bin Umayyah agar dia melayanimu.”
Saya pun berkata, “Demi Allah, saya tidak akan meminta izin untuknya kepada Rasulullah n. Apa kira-kira yang akan saya katakan, seandainya saya minta izin kepada Rasulullah n, padahal saya seorang pemuda?”
Akhirnya, tinggallah saya dalam kondisi demikian selama sepuluh hari, hingga genap lima puluh hari sejak Rasulullah n melarang kami semua.
Satu bulan lebih, wahyu tidak juga turun. Itulah salah satu rahasia hikmah Allah k dalam setiap urusan besar, sehingga kaum muslimin benar-benar merasa rindu kepada wahyu itu.
Seusai shalat shubuh di hari terakhir (kelima puluh), ketika saya sedang berada di atas loteng rumah, persis seperti diterangkan Allah l, “Jiwa terasa sesak, dan bumi pun terasa sempit, padahal dia begitu luasnya,” saya mendengar suara teriakan di atas bukit cadas, dia berteriak sekeras-kerasnya, “Wahai Ka’b bin Malik, bergembiralah!”
Saya pun menyungkur sujud. Saya tahu, telah datang kelapangan dan Rasulullah n memberitahukan adanya taubat dari Allah l atas kami ketika shalat shubuh. Kaum muslimin berduyun-duyun memberi ucapan selamat kepada saya dan dua sahabat tersebut. Ada seseorang datang berkuda, ada pula dari bani Aslam berjalan cepat ke arah saya, mendaki gunung. Sedangkan suara lebih cepat dari kuda. Setelah pemilik suara itu datang, saya melepas baju saya dan memberikannya kepada orang itu sebagai hadiah atas berita gembira tersebut. Padahal, demi Allah, saya tidak punya baju yang lain pada hari itu. Akhirnya, saya meminjam sehelai baju dan mengenakannya lalu berangkat menemui Rasulullah n. Orang-orang pun berduyun-duyun mengucapkan selamat kepada saya, kata mereka, “Selamat, karena taubatmu diterima oleh Allah l.” Hal itu berlangsung sampai saya masuk ke dalam masjid. Ternyata Rasulullah n sudah dikelilingi oleh para sahabat lain.
Tiba-tiba Thalhah bin ‘Ubaidullah berlari kecil menyambut dan menyalami saya sambil mengucapkan selamat. Demi Allah, tidak ada satu pun Muhajirin yang berdiri selain dia. Saya tidak bisa melupakan hal ini dari Thalhah.”

Demikianlah keadaan mereka, yaitu orang-orang yang mencintai untuk saudaranya apa yang mereka cintai untuk dirinya. Mereka tidak iri atau dengki atas kelebihan yang Allah l limpahkan kepada saudara mereka, yaitu turunnya wahyu yang agung yang menerangkan bahwa taubat mereka diterima. Bahkan, mereka mengucapkan selamat sampai Ka’b masuk ke dalam masjid.
Ka’b melanjutkan ceritanya.
“Setelah saya mengucapkan salam kepada Rasulullah n, beliau berkata dengan wajah berseri-seri, ‘Bergembiralah dengan sebaik-baik hari yang telah engkau lewati sejak engkau dilahirkan ibumu’.”
Rasulullah n benar, karena Allah l telah menurunkan taubatnya dan taubat kedua temannya dalam Al-Qur’an yang dibaca. Rabb semesta alam yang mengucapkannya dan menurunkannya kepada Muhammad n, terpelihara dengan perantaraan Jibril dan terjaga sampai hari kiamat.
Tidak seorang pun selain para nabi, atau orang-orang yang disebut oleh Allah l dalam Al-Qur’an yang kisahnya terpelihara seperti kisah Ka’b dan dua sahabatnya. Kisah ini abadi dan senantiasa dibaca dalam Kitab Allah l, di bilik-bilik masjid, di mimbar-mimbar, dan di mana pun. Siapa yang membaca kisah ini, dia memperoleh sepuluh kebaikan dari setiap huruf Al-Qur’an yang dibacanya.

Ka’b berkata, “Wahai Rasulullah, apakah ini dari engkau atau dari sisi Allah l?”
Kata beliau, “Dari sisi Allah.” Dan kalau Rasulullah n gembira, wajahnya bersinar laksana kepingan bulan purnama.
Setelah duduk di hadapan beliau, saya berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya sebagai bukti taubat, saya menyerahkan harta saya untuk sedekah kepada Allah l dan Rasul-Nya n.”
Rasulullah n berkata, “Tahanlah sebagian hartamu, tentu itu lebih baik.”
Kata saya, “Sesungguhnya, saya menahan bagian yang saya peroleh dari Khaibar.”
Kemudian saya berkata lagi, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah l menyelamatkan saya tidak lain karena kejujuran. Termasuk taubat saya juga, saya tidak akan berbicara kecuali yang benar selama saya masih hidup.”
Demi Allah, saya tidak melihat ada seorang muslim yang Allah l beri ujian dalam hal kejujuran—sejak saya menyebutkan hal itu kepada Rasulullah n—yang lebih berat daripada yang diberikan kepada saya.
Belum pernah pula saya sengaja berdusta sejak mengatakan hal itu kepada Rasulullah n sampai hari ini. Sungguh, saya berharap Allah l memelihara saya dalam sisa-sisa umur saya.
Tak lama, Allah l menurunkan wahyu kepada Rasulullah n:
“Sesungguhnya Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang Muhajirin dan orang-orang Anshar, yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima taubat mereka itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka, dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa mereka pun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (At-Taubah: 117—119)
Demi Allah, tidak pernah Allah l memberi nikmat yang lebih besar kepada saya—sesudah memberi saya hidayah kepada Islam—daripada kejujuran kepada Rasulullah n. Saya tidak akan berdusta kepada beliau, yang akibatnya saya binasa sebagaimana hak orang yang berdusta. Sungguh, Allah l berfirman tentang orang-orang yang berdusta itu, karena menurunkan wahyu yang berisi hal yang lebih buruk daripada yang ditujukan kepada yang lain.
Allah l berfirman:
“Kelak mereka akan bersumpah kepadamu dengan nama Allah, apabila kamu kembali kepada mereka, supaya kamu berpaling dari mereka. Maka berpalinglah dari mereka; karena sesungguhnya mereka itu adalah najis dan tempat mereka Jahannam; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan. Mereka akan bersumpah kepadamu, agar kamu ridha kepada mereka. Tetapi jika sekiranya kamu ridha kepada mereka, maka sesungguhnya Allah tidak ridha kepada orang-orang yang fasik itu.” (At-Taubah: 95—95)
Dan kefasikan adalah sebab tidak diperolehnya keridhaan Allah l.

Ka’b melanjutkan lagi kisahnya.
Dahulu kami bertiga ditunda dari mereka yang diterima oleh Rasulullah n ketika mereka bersumpah kepada beliau, lalu beliau membai’at serta memintakan ampunan untuk mereka. Rasulullah n menunda persoalan kami sampai Allah l memutuskannya. Itulah firman Allah l:
“Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka….” Maknanya bukan tertinggal dari peperangan, tapi ketertinggalan kami dan penundaan beliau terhadap urusan kami dari mereka yang telah bersumpah kepada beliau dan mengajukan alasan lalu beliau terima.”

Beberapa Faedah
1.    Seorang muslim boleh menceritakan dosanya sesudah taubat agar membangkitkan semangat orang lain untuk bertaubat, apalagi bila dosa itu tersebar dan diketahui orang banyak. Adapun dosa yang sifatnya rahasia atau yang terang-terangan tapi belum bertaubat, tidak boleh diceritakan agar tidak mendorong orang lain berbuat seperti itu, dan dia pun menjadi golongan orang-orang yang mujaharah (terang-terangan berbuat dosa).
2.    Seorang mukmin merasakan kepedihan ketika menelantarkan sebuah kewajiban.
3.    Seorang mukmin tidak akan mengejek saudaranya, tetapi membelanya, seperti yang dilakukan Mu’adz bin Jabal z terhadap Ka’b z.
4.    Memutuskan hubungan adalah obat yang ampuh untuk mengembalikan orang-orang yang menyimpang kepada kebenaran. Larangan yang ada berlaku dalam urusan dunia atau melampiaskan kejengkelan.
5.    Mukmin yang sempurna tidak akan menjual agamanya, walaupun diberi dunia dan seisinya.
6.    Sujud syukur ketika memperoleh kelapangan, seperti yang dilakukan Ka’b.
Wallahu a’lam.

Menghormati dan Memuliakan ‘Ulama

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan)

 

Allah l dengan hikmah dan keadilan-Nya yang sempurna memuliakan sebagian hamba-Nya. Di antara sebab Allah l memuliakan hamba-Nya adalah ilmu, amal, kesabaran, keikhlasan, dan keimanan. Oleh karena itulah, Allah l memuliakan para ulama, yaitu orang-orang yang berilmu tentang Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman sahabat g, serta mengamalkannya. 
Di antara dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah yang menunjukkan keutamaan mereka disebabkan ilmu, amal, kesabaran, keikhlasan, dan keimanan mereka, adalah sebagai berikut.
Allah l berfirman:
“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al-Mujadilah: 11)
“(Apakah kamu, wahai orang musyrik, yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Rabbnya? Katakanlah: ‘Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?’ Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (Az-Zumar: 9)
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” (Fathir: 28)
“Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (As-Sajdah: 24)
Rasulullah n bersabda tentang keutamaan mereka:
إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ إِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا، إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَ بِهِ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ
“Para ulama adalah pewaris para nabi. Para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham (harta). Mereka hanyalah mewariskan ilmu. Barang siapa yang mengambilnya sungguh dia telah mengambil bagian yang banyak (menguntungkan).” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi dan Abu Dawud. Asy-Syaikh Al-Albani mengatakan sanadnya hasan dalam Shahih at-Targhib wat Tarhib 1/139)
Ibnu Mas’ud z mengatakan bahwa Rasulullah n bersabda:
لَا حَسَدَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ؛ رَجُلٌ آتَاهُ اللهُ مَالًا فَسُلِّطَ عَلَى هَلَكَتِهِ فِي الْحَقِّ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللهُ الْحِكْمَةَ فَهُوَ يَقْضِي بِهَا وَيُعَلِّمُهَا
“Tidak boleh ada hasad (berkeinginan mendapatkan) kecuali terhadap dua golongan: orang yang Allah l limpahkan harta kepadanya lalu dia belanjakan di jalan yang benar, serta orang yang Allah l karuniakan hikmah (ilmu) lalu dia tunaikan (amalkan) dan ajarkan.” (Muttafaqun ‘alaih)
Dalam hadits yang lain, Rasulullah n bersabda:
مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
“Barang siapa yang Allah l kehendaki kebaikan untuknya, Dia jadikan orang tersebut paham akan agama.” (HR. Al-Bukhari no. 69 dari Mu’awiyah z)
Para ulama adalah orang-orang berilmu dan dimuliakan oleh Allah l, sehingga kita wajib menghormati dan memuliakan mereka sebagai bukti kebenaran keimanan serta kecintaan kita kepada Allah l dan Rasul-Nya n. Allah l berfirman:
“Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (Al-Hajj: 32)
Rasulullah n bersada:
ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ؛ أَنْ يَكُونَ اللهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ بَعْدَ إِذْ أَنْقَذَهُ اللهُ مِنْهُ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ
“Ada tiga hal, yang apabila dimiliki seseorang tentu dia merasakan manisnya iman: (1) Allah l dan Rasul-Nya lebih dia cintai daripada yang selain keduanya, (2) dia tidaklah mencintai seseorang melainkan karena Allah l, (3) dia benci untuk kembali kepada kekafiran setelah Allah l menyelamatkannya dari kekafiran itu sebagaimana ia benci untuk dilemparkan ke dalam api.” (Muttafaqun ‘alaih dari Anas bin Malik z)
Kita dapat merealisasikan sikap menghormati dan memuliakan para ulama dengan beberapa hal berikut.

1. Bersyukur (berterima kasih) kepada mereka karena Allah l
Karena keikhlasan dan kesabaran mereka dalam berdakwah, ilmu Al-Qur’an dan As-Sunnah pun tersebar hingga sampai kepada kita. Kita bisa mengetahui akidah yang benar, manhaj yang lurus, dan beribadah dengan tata cara yang bersih dari bid’ah. Oleh karena itu, sudah semestinya kita berterima kasih kepada mereka karena Allah l saja.
Allah l berfirman:
“Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).” (Ar-Rahman: 60)
Rasulullah n bersabda:
لَا يَشْكُرُ اللهَ مَنْ لَا يَشْكُرُ النَّاسَ
“Tidak akan bersyukur kepada Allah l, orang yang tidak berterima kasih kepada orang lain.” (HR. Abu Dawud no. 4177, lihat Ash-Shahihah no. 416)
Yahya bin Mu’adz Ar-Razi t (wafat 258 H) berkata, “Para ulama lebih mengasihi dan menyayangi umat Muhammad n daripada ayah dan ibu mereka.” Beliau ditanya, “Bagaimana hal itu bisa terjadi?” Beliau n menjawab, “Bapak dan ibu mereka melindungi mereka dari api dunia, sedangkan para ulama melindungi mereka dari api akhirat.” (Mukhtashar Nashihat Ahlil Hadits hlm. 167)

2. Menaati mereka dalam hal yang baik
Allah l berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-(Nya), dan ulil amri di antara kalian.” (An-Nisa’: 59)
Asy-Syaikh Muhammad bin Umar bin Salim Bazmul hafizhahullah mengatakan, “Yang dimaksud ulil amri adalah umara (para penguasa) dan ulama. Karena itu, ketaatan kepada ulama itu mengikuti ketaatan kepada Allah l dan Rasul-Nya, sedangkan ketaatan kepada para penguasa mengikuti ketaatan kepada para ulama. Pintu ketidaktaatan terhadap para penguasa dan pemimpin tergantung kepada para ulama, sehingga apabila hak-hak para ulama ditelantarkan niscaya hak-hak para penguasa akan hilang pula. Bila hak-hak para ulama dan umara hilang, umat manusia tidak akan menaati mereka, padahal hidup dan baiknya ulama adalah penentu kehidupan dan kebaikan alam ini. Apabila hak-hak para ulama tidak dipedulikan, akan hilang hak-hak para umara. Dan ketika hak-hak para ulama dan umara hilang, hancurlah kehidupan alam semesta!” (Makanatul ‘Ilmi wal ‘Ulama, hlm. 16—17)
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin t mengatakan, “Bila para ulama dihormati, syariat pun akan dimuliakan, karena mereka adalah pembawa syariat tersebut. Namun, bila para ulama direndahkan, syariat juga akan dihinakan, karena apabila kewibawaan para ulama telah direndahkan dan dijatuhkan di mata umat, syariat yang mereka bawa akan dihinakan dan tidak bernilai. Setiap orang akan meremehkan dan merendahkan mereka. Akibatnya, syariat pun akan hilang.
Para penguasa pun demikian keadaannya: wajib dimuliakan, dihormati dan ditaati, sesuai dengan ketentuan syariat-Nya. Apabila kewibawaan penguasa direndahkan, dihinakan, dan dijatuhkan, hilanglah keamanan (ketenteraman) masyarakat. Negara menjadi kacau, sementara penguasa tidak memiliki kekuatan dan kemampuan untuk melaksanakan dan menegakkan peraturan. Oleh karena itu, apabila kedua golongan ini, ulama dan umara, direndahkan di mata umat, syariat akan rusak dan keamanan akan hilang. Segala urusan menjadi kacau-balau.” (Syarh Riyadhish Shalihin, 2/110)

3. Mengikuti bimbingan dan arahan mereka
Allah l berfirman menceritakan dialog Nabi Ibrahim q dengan ayahnya:
“Wahai ayahku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus.” (Maryam: 42)
Ibnu Mas’ud z berkata:
Rasulullah n membuat sebuah garis yang lurus lalu bersabda, “Ini adalah jalan Allah.” Kemudian beliau n membuat beberapa garis di sebelah kanan dan kiri garis lurus itu lalu bersabda, “Ini adalah jalan-jalan yang bercabang (darinya). Pada setiap jalan ini ada setan yang mengajak kepadanya.” Beliau n lalu membaca firman Allah l, “Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya….” (Al-An’am: 153) [HR. Ahmad no. 3928]
Asy-Syaikh Muhammad Bazmul hafizhahullah mengatakan, “Barang siapa yang mengikuti para ulama berarti dia mengikuti jalan yang lurus. Adapun yang menyelisihi ulama dan tidak memedulikan hak-hak mereka berarti dia telah keluar (dan mengikuti) jalan setan. Dia telah memisahkan diri dari jalan yang lurus, yaitu jalan Rasul-Nya n dan yang ditempuh para sahabat g.” (Makanatul ‘Ilmi wal ‘Ulama, hlm. 18)
Al-Imam Al-Ajurri t berkata, “Apa pendapat kalian tentang sebuah jalan yang mengandung banyak rintangan, sementara orang-orang harus melaluinya di malam yang gelap; apabila tidak ada penerang maka mereka akan kebingungan? Kemudian Allah l mengaruniakan penerang-penerang jalan mereka, sehingga mereka pun dapat melaluinya dengan selamat. Lalu datanglah beberapa rombongan yang harus melewati jalan itu. Ketika berada di tengah perjalanan, tiba-tiba penerang itu padam. Mereka pun tertinggal di tempat yang gelap tersebut. Apa pendapat kalian tentang mereka ini?
Demikianlah kedudukan para ulama. Mayoritas umat manusia tidak mengetahui cara menunaikan kewajiban, meninggalkan keharaman, dan beribadah kepada Allah l melainkan dengan perantaraan para ulama. Dengan meninggalnya para ulama, umat akan bingung, ilmu akan hilang, dan kebodohan pun semakin merebak. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Alangkah dahsyatnya musibah ini.” (Akhlaqul ‘Ulama, hlm. 28—29)

4. Mengembalikan urusan umat kepada mereka
Allah l berfirman:
“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (An-Nahl: 43)
Allah l juga berfirman:
“Apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan ulil amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kalian, tentulah kalian mengikuti setan kecuali sebagian kecil saja (di antara kalian).” (An-Nisa: 83)
Asy-Syaikh As-Sa’di t berkata, “Ini adalah bimbingan adab dari Allah l kepada hamba-hamba-Nya terkait sikap mereka yang tidak pantas ini. Selayaknya apabila ada sebuah urusan penting dan menyangkut orang banyak—terkait keamanan dan kebahagiaan orang-orang beriman, ataupun kekhawatiran akan sebuah musibah yang menimpa mereka— hendaknya mereka menelitinya dan tidak tergesa-gesa menyebarkannya. Bahkan, semestinya mereka mengembalikannya kepada Rasulullah n (semasa hidup beliau n) dan kepada ulil amri, yaitu orang-orang yang ahli dalam menentukan pendapat, berilmu, peduli, dan tenang. Mereka adalah orang-orang yang memahami urusan dan kepentingan umat maupun hal-hal yang sebaliknya.
Apabila mereka memandang ada kebaikan, kemaslahatan, kebahagiaan, dan sesuatu yang membangkitkan kewaspadaan orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuhnya, niscaya mereka akan menyebarkannya. Akan tetapi, bila mereka memandang tidak ada kebaikan dan kemaslahatannya, atau ada kebaikan dan kemaslahatan tetapi dampak negatifnya lebih besar, niscaya mereka tidak akan menyebarkannya….”
Beliau t melanjutkan, “Firman Allah l ini mengandung dalil yang membenarkan kaidah adab, yaitu apabila terjadi pembahasan suatu urusan yang penting, sepantasnya yang terlibat adalah orang-orang yang ahli dalam urusan tersebut. Urusan tersebut diserahkan kepada mereka, sedangkan orang lain tidak boleh mendahului mereka, karena sikap ini lebih mendekati kebenaran dan lebih selamat. Ayat ini juga mengandung larangan untuk tergesa-gesa menyebarkan sebuah berita ketika mendapatkannya. Bahkan, seseorang diperintahkan untuk meneliti dahulu sebelum menyampaikannya. (Tafsir As-Sa’di hlm. 190)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t mengatakan, “Para ulama ahlul hadits lebih mengetahui maksud Rasulullah n daripada pengetahuan para pengikut imam-imam (mazhab) terhadap maksud imam-imam mereka.” (Minhajus Sunnah)
Oleh karena itu, pendapat mereka lebih mendekati kebenaran dan nasihat mereka lebih berhak didengarkan.
Ketika para ulama tidak dihormati dan urusan umat tidak dikembalikan kepada mereka, akan timbul beberapa akibat buruk sebagai berikut.

1. Umat akan ditimpa kehinaan dan kerendahan
Ibnu Umar c mengatakan, “Aku mendengar Rasulullah n bersabda:
إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ، سَلَّطَ اللهُ عَلَيْكُمْ ذُلًّا لَا يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ
‘Apabila kalian berjual-beli dengan sistem ‘inah, telah mengambil ekor-ekor sapi, dan lebih senang dengan pertanian kalian hingga kalian meninggalkan jihad (di jalan Allah), niscaya Allah l akan menimpakan kehinaan terhadap kalian. Allah l tidak akan mencabutnya hingga kalian kembali kepada agama kalian’.” (HR. Abu Dawud no. 3003)
Asy-Syaikh Muhammad Bazmul mengatakan, “Tidak ada jalan untuk kembali kepada agama yang mulia ini melainkan dengan bimbingan ulama. Apabila umat tidak memedulikan hak-hak ulama dan tidak merujuk kepada mereka, bahkan merasa tidak membutuhkan mereka, mereka akan mengangkat orang-orang yang bodoh sebagai pemimpin. Bagaimana mereka akan kembali kepada agama mereka? Bagaimana pula mereka bisa keluar dari kehinaan dan kerendahan tanpa bimbingan ulama?” (Makanatul ‘Ilmi wal ‘Ulama, hlm. 26)

2. Menyelisihi perintah Allah l dan Rasul-Nya
Allah l dan Rasul-Nya n memerintahkan kita memuliakan para ulama, menjaga hak-hak mereka, tidak menyakiti mereka, dan mengembalikan urusan umat kepada mereka. Ketika kita tidak mengembalikan urusan umat kepada para ulama, berarti kita telah menyelisihi perintah Allah l dan Rasul-Nya n. Allah l telah memberikan ancaman dalam firman-Nya:
“Hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (An-Nur: 63)
Salah satu musibah yang menimpa umat ini dan memilukan hati adalah terjadinya perselisihan pendapat di antara para dai yang menyeret kepada perpecahan, karena mereka tidak mengembalikan perbedaan pendapat yang terjadi kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan bimbingan para ulama.
Perhatikanlah ucapan Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i t, “Akan tetapi, beberapa penuntut ilmu merasa cukup dengan sedikit ilmu yang mereka miliki, kemudian mereka siap membantah setiap orang yang menyelisihi pendapatnya. Ini adalah salah satu sebab terjadinya perselisihan dan perpecahan.” (At-Tarjamah, hlm. 201)
Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam hafizhahullah mengatakan, “Para ulama—orang-orang yang mendalam ilmunya—telah menjelaskan berbagai celah dan sumber munculnya penyakit (yang menimpa umat ini). Di antara yang mereka sebutkan adalah adanya orang-orang yang tidak mapan dalam mempelajari ilmu syariat namun tidak mau mengikuti orang-orang yang sudah mendalam ilmunya (para ulama). Bahkan, dia merasa puas dengan ilmunya. Kemudian ia mendahului para ulama dalam menghadapi berbagai masalah, padahal jika masalah itu dihadapkan kepada Umar bin al-Khaththab z, beliau tentu akan mengumpulkan ahli Badr (para sahabat yang mengikuti perang Badr) untuk memusyawarahkannya.” (Bidayatul Inhiraf, hlm. 432)

3. Menyerupai ahlul bid’ah
Asy-Syaikh Muhammad Bazmul hafizhahullah mengatakan, “Menjatuhkan kedudukan para ulama termasuk perilaku ahlul bid’ah dan pengekor hawa nafsu. Perhatikanlah berbagai kelompok sesat yang menyelisihi petunjuk Rasulullah n dan amalan para sahabat g, niscaya Anda akan menemukan sikap ini….”
Beliau melanjutkan, “Demikianlah. Anda tidak akan menemukan satu pun golongan yang menyimpang dari jalan yang lurus dan keluar dari jalan orang-orang beriman melainkan mereka membicarakan (baca: menggunjing), mencela, menjatuhkan, dan tidak memedulikan hak-hak para ulama. Bahkan, mereka mengangkat orang-orang bodoh sebagai pemimpin mereka.” (Makanatul ‘Ilmi wal ‘Ulama, hlm. 28)
Al-Imam Asy-Syathibi t mengatakan, “Dikisahkan bahwa ada seorang tokoh ahlul bid’ah yang hendak mengutamakan ilmu kalam (filsafat) daripada ilmu fiqih. Dia mengatakan, ‘Ilmu Asy-Sya’fi’i dan ilmu Abu Hanifah secara global tidak keluar dari pakaian bawah perempuan.’ Maknanya, ilmu kedua imam tersebut terbatas pada hukum-hukum haid dan nifas. Inilah ucapan orang-orang yang menyimpang. Semoga Allah l memerangi mereka.” (Al-I’tisham, 2/239)
Sebagai penutup, kita memohon kepada Allah l saja agar membimbing kita dan seluruh kaum muslimin untuk memuliakan, menghormati, dan memberikan hak-hak para ulama, serta mengembalikan urusan umat kepada mereka, karena hal inilah yang diperintahkan oleh Allah l dan Rasul-Nya n. Kita juga memohon kepada Allah l untuk memperbaiki keadaan dan menyelesaikan berbagai masalah yang menimpa umat.
Amin, ya Rabbal ‘alamin.

Mengagungkan Sunnah Buah Nyata Akidah yang Benar

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman)

 

Islam Datang dalam Kondisi Asing
Kita telah mengetahui bahwa agama yang benar adalah Islam, yang telah disempurnakan oleh Allah l sekaligus penyempurna agama-agama sebelumnya. Sebagai agama penutup, Allah l telah menurunkannya melalui Nabi dan Rasul terakhir, Muhammad bin Abdullah n, di tengah-tengah rusaknya manusia, agama dan cara beragama mereka. Itulah alam jahiliah. Mereka menghalalkan, Islam datang mengharamkan. Begitu pula sebaliknya, mereka mengharamkan, Islam datang menghalalkan.
Islam datang kepada mereka sebagai sebuah agama asing yang jelas-jelas bertolak belakang dengan apa yang selama ini mereka anut dan peluk. Sekaligus sebagai ancaman kekuatan yang akan meruntuhkan singgasana kebatilan yang langsung dipelopori dan dipimpin oleh Iblis laknatullah ‘alaihi. Karena keasingan itulah, mereka menolak, menentang, dan memusuhinya.
Akhirnya, mereka menghimpun kekuatan, menyusun dan merancang tipudaya dan muslihat. Berkecamuklah pertarungan antara kebenaran dan kebatilan. Ketakutan dan kengerian menyelimuti kehidupan. Para pembela kebenaran pantang mundur untuk mencari kemuliaan hidup di dunia dan di akhirat. Sebaliknya, musuh-musuh kebenaran makin tersadar akan kekalahan dan kegagalan mereka. Hal ini terbukti dengan turunnya janji-janji Allah l untuk menyempurnakan kebenaran, wahyu yang diturunkan oleh Allah l sebagai simbol kerugian dan kegagalan mereka. Allah l juga membuktikan kegagalan mereka dengan masuk Islamnya sederetan hamba-Nya.
Allah l mengisyaratkan hal ini di banyak tempat dalam Al-Qur’an:
“Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipudaya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir membencinya. Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar dia memenangkannya di atas segala agama, meskipun orang musyrik membenci.” (Ash-Shaf: 8—9)
“Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayanya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai. Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al-Qur’an) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai.” (At-Taubah: 32—33)
Dan katakanlah: “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap.” Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap. Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (Al-Isra: 81—82)
“Sebenarnya Kami melontarkan yang haq atas yang batil lalu yang haq itu menghancurkannya, maka dengan serta-merta yang batil itu lenyap, dan kecelakaanlah bagimu disebabkan kamu menyifati (Allah l dengan sifat-sifat yang tidak layak bagi-Nya).” (Al-Anbiya: 18)
Keasingan Islam akan terus berlangsung hingga datangnya keputusan Allah l dan diangkatnya agama ini dalam kondisi asing pula. Diriwayatkan dari Abu Hurairah z, bahwa Rasulullah n bersabda:
بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ
“Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali dalam keadaan asing pula. Maka berbahagialah bagi orang yang asing.” (HR. Muslim no. 208)
Dalam riwayat yang lain, Rasulullah n menjelaskan siapa yang dimaksud dengan orang-orang yang dikatakan asing.
الَّذِينَ يَصْلُحُونَ إِذَا فَسَدَ النَّاسُ
“(Mereka adalah) orang-orang yang baik ketika manusia ini rusak.” (Lihat Silsilah Ash-Shahihah no. 1273)
نَاسٌ صَالِحُونَ قَلِيْلٌ فِي نَاسٍ سُوْءٍ كَثِيرٍ، مَنْ يَعْصِيهِمْ أَكْثَرُ مِمَّنْ يُطِيعُهُمْ
“(Mereka adalah) orang-orang shalih dalam jumlah yang sedikit di tengah-tengah manusia jahat yang sangat banyak. Orang yang memaksiati mereka lebih banyak daripada yang menaatinya.” (Lihat Silsilah Ash-Shahihah no. 1619)
Lebih lanjut, Ibnul Qayyim t menerangkan bentuk keasingan ini, “Seorang mukmin asing dalam urusan agamanya karena rusaknya agama manusia (saat itu). Dia asing dalam berpegang (dengan As-Sunnah) karena umat ini berpegang dengan kebid’ahan. Dia asing dalam keyakinannya karena rusaknya bentuk-bentuk keyakinan mereka. Dia juga asing dalam tata cara shalatnya karena jeleknya cara shalat manusia. Dia asing pula dalam jalan yang ditempuhnya karena sesatnya jalan manusia. Dia asing dalam mengelompokkan dirinya karena umat ini menyelisihinya dalam hal ini. Dia asing dalam pergaulannya karena dia bergaul dengan mereka dalam hal yang tidak diinginkan oleh hawa nafsu mereka. Kesimpulannya, dia asing dalam hal dunia dan akhiratnya.
Dia tidak menemukan seorang penolong pun dari umatnya. Dia tumbuh sebagai orang alim di tengah-tengah orang-orang jahil, pengikut As-Sunnah di tengah-tengah pengikut bid’ah, sebagai da’i kepada Allah l dan Rasul-Nya n di tengah-tengah para penyeru kepada hawa nafsu dan kebid’ahan, penyeru kepada yang ma’ruf di tengah kaum yang (mengubah) ma’ruf menjadi mungkar dan yang mungkar menjadi ma’ruf.” (Lihat Madarijus Salikin 3/199)

Islam adalah Sunnah dan Sunnah adalah Islam
‘Islam adalah sunnah dan sunnah adalah Islam’ merupakan ucapan ulama salaf umat ini. Ucapan ini menunjukkan bahwa Islam tidak bisa dilepaskan dari As-Sunnah, begitu pula sebaliknya. Oleh karena itu, tatkala seseorang menghinakan As-Sunnah berarti dia telah menghinakan Islam, sedangkan yang memuliakannya berarti dia telah memuliakan Islam.
Al-Imam Al-Barbahari t mengatakan:
اعْلَمْ أَنَّ الْإِسْلَامَ هُوَ السُّنَّةُ وَالسُّنَّةَ هِيَ الْإِسْلَامُ، وَلَا يَقُومُ أَحَدُهُمَا إِلَّا بِالْآخَرِ، فَمِنَ السُّنَّةِ لُزُوْمُ الْجَمَاعَةِ وَمَنْ رَغِبَ غَيْرَ الْجَمَاعَةِ وَفَارَقَهَا فَقَدْ خَلَعَ رِبْقَةَ الْإِسْلَامَ مِنْ عُنُقِهِ وَكَانَ ضَالًّا مُضِلًّا
“Ketahuilah bahwa Islam adalah As-Sunnah dan As-Sunnah adalah Islam, salah satunya tidak akan bisa tegak melainkan dengan yang lainnya. Termasuk As-Sunnah adalah konsekuen dengan Al-Jama’ah. Barang siapa mencari yang selain Al-Jama’ah serta memisahkan diri darinya, sungguh dia telah mencabut kalung keislamannya dari lehernya, serta sesat dan menyesatkan.”
As-Sunnah yang kita maksudkan di sini bukan sunnah yang merupakan sinonim (persamaan kata) dari kata mustahab, mandub, yang merupakan lawan makruh. Bukan pula yang kita maksudkan di sini dengan kata sunnah adalah pendamping Al-Qur’an seperti ucapan mereka: “Al-Qur’an dan As-Sunnah”. Tetapi, yang kita maksudkan di sini adalah petunjuk Rasulullah n dan jalan yang beliau n tempuh. Oleh karena itu, As-Sunnah menurut definisi ini mencakup hal yang wajib, yang sunnah, dan segala bentuk keyakinan, ibadah, muamalah, serta akhlak.
Ulama salaf mengatakan, “Yang dimaksud dengan As-Sunnah adalah beramal dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah serta mengikuti jalan salafus saleh dan mengikuti atsar.” (Al-Hujjah fi Bayanil Mahajjah 2/ 248)
Dengan demikian, benarlah jika kita mengatakan bahwa Islam adalah As-Sunnah dan As-Sunnah adalah Islam dengan makna As-Sunnah di atas.

Mengagungkan As-Sunnah adalah Mengagungkan Islam
Kita telah meyakini bahwa Al-Qur’an dan As-Sunnah merupakan wahyu dari Allah l yang menjadi landasan dalam beragama. Seseorang yang berakidah bersih akan menjunjung wahyu tersebut setinggi-tingginya. Dia akan meletakkannya pada tempat yang tinggi di dalam hatinya, karena dia mengetahui bahwa Allah l akan mengangkat derajat seseorang sesuai dengan kadar berpegang teguhnya dia dengan tuntunan tersebut. Rasulullah n sendiri telah bersabda:
إِنَّ اللهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ
“Sesungguhnya Allah telah mengangkat suatu kaum dengan kitab ini dan telah merendahkan suatu kaum dengan kitab ini.” (HR. Muslim no. 1353 dari ‘Umar ibnul Khaththab z)
Mereka mengetahui bahwa mengagungkan wahyu Allah l merupakan kewajiban bagi setiap muslim sebagaimana dijelaskan dalam banyak dalil. Di antaranya:
“Dan apa yang datang dari Rasul kepadamu, maka ambillah dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.” (Al-Hasyr: 7)
“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (An-Nur: 63)
“Barang siapa menaati Rasul itu sesungguhnya ia telah menaati Allah dan barang siapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.” (An-Nisa: 80)
“Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan. Kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka suatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (An-Nisa: 65)
Bentuk pengagungan terhadap sunnah Rasulullah n banyak sekali. Di antaranya adalah mempelajari, mengamalkan segala perintah dan menjauhi segala larangan beliau n, membela beliau n dari segala celaan dan hinaan, juga menampakkan syiar beliau n dan menyebarluaskannya. (Masa’il Furu’ fi Masa’il ‘Aqidah, 1/36)
Jika kita mencoba menggali dan membaca pengagungan terhadap sunnah yang dilakukan salaf umat ini niscaya akan tumbuh sifat kecemburuan pada diri kita sebagaimana yang ada pada diri mereka. Demikianlah setiap generasi ulama Islam. Mereka mengingkari dengan keras segala bentuk penyelisihan terhadap sunnah Rasulullah n, sebagaimana Ibnu Wadhdhah, Ath-Thurthusyi, Abu Syamah, dan lainnya telah menuliskannya dalam karya-karya besar mereka. Al-Imam Sufyan ats-Tsauri t berkata, “Jika kamu berada di Syam, sebut-sebutlah manaqib (keutamaan) ‘Ali. Jika kamu berada di Kufah, sebut-sebutlah manaqib Abu Bakr dan ‘Umar.”

Keteladanan Ahli Tauhid dalam Mengagungkan Sunnah Rasulullah n
Mereka adalah para mujahid agama dan telah meninggal di atas keistiqamahan dalam membela agama ini. Mereka adalah para ulama, generasi terbaik umat Rasulullah n. Mereka menjadikan sabda Rasulullah n:
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
“Tidak dikatakan sempurna iman seseorang hingga aku lebih ia cintai daripada ayahnya, anaknya, dan manusia semuanya.” (HR. Al-Bukhari no. 14 dan Muslim no. 62 dari sahabat Anas bin Malik z)
sebagai pijakan mereka dalam melangkah. Mereka begitu taat dan mencintai beliau n. Sunnah, ucapan, dan petunjuk beliau n lebih mereka dahulukan daripada segala sesuatu. Ucapan beliau n di hadapan mereka menjadi yang paling dikedepankan daripada ucapan manusia mana pun. Mereka membela sunnah dan melindunginya.
Apabila mereka melihat seseorang menentang sunnah Rasulullah n, tentu mereka akan mencela dan memperingatkan orang lain darinya. Mereka akan meninggalkannya, tidak berbicara dengannya, dan terkadang tidak mau tinggal satu atap bersamanya. Mereka menjaga sunnah Rasulullah n dari tipudaya orang-orang jahat dan musuh-musuh sunnah. Mereka tampil menegakkan nasihat di jalannya. Mereka adalah generasi sahabat Rasulullah n.
Setelah mereka meninggal dunia, bukan berarti perjuangan menegakkan sunnah itu berakhir. Setelah mereka, datang generasi tabi’in yang berjalan di atas jalan mereka dalam membela sunnah Rasulullah n.  Inilah sederetan dari mereka.

Abu Bakr ash-Shiddiq z
Beliau z berkata:
لَسْتُ تَارِكًا شَيْئًا كَانَ رَسُولُ اللهِ n يَعْمَلُ بِهِ إِلَّا عَمِلْتُ بِهِ وَإِنِّي لَأَخْشَى إِنْ تَرَكْتُ شَيْئًا مِنْ أَمْرِهِ أَنْ أَزِيغَ
“Tidaklah saya meninggalkan sesuatu pun yang telah dikerjakan oleh Rasulullah n, melainkan saya mengerjakannya juga. Jika saya tidak melakukannya, saya khawatir akan menyimpang.” (Al-Ibanah, Ibnu Baththah 1/246)

Abdullah bin Abbas c
Beliau c berkata:
يُوشِكُ أَنْ تَنْزِلَ عَلَيْكُمْ حِجِارَةٌ مِنَ السَّمَاءِ، أَقُولُ لَكُمْ: قَال النَّبِيُّ n، وَتَقُولُونَ: قاَلَ أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ!؟
“Aku khawatir turun hujan batu dari langit terhadap kalian. Aku mengatakan, ‘Rasulullah n bersabda demikian’, dan kalian menyangkalnya dengan mengatakan, ‘Abu Bakr berkata demikian dan ‘Umar berkata demikian’?” (Majmu’ Fatawa 26/50)

Abdullah bin Umar c
Diriwayatkan oleh putranya, Salim, bahwa Ibnu Umar berkata, “Aku telah mendengar Rasulullah n bersabda: ‘Jangan kalian larang istri-istri kalian ke masjid bila mereka meminta izin’.”
Salim berkata, “Tiba-tiba Bilal bin Abdullah berkata, ‘Saya, demi Allah, akan melarang mereka’.”
Salim melanjutkan, “Ibnu Umar lalu menghadap kepada Bilal dan mencercanya dengan cercaan yang sangat keras. Saya belum pernah mendengar beliau mencerca seperti itu sama sekali. Beliau berkata, ‘Saya memberitahu kamu dari Rasulullah n, lalu kamu mengatakan, Saya akan melarang mereka’?” (HR. Muslim no. 135)

‘Ubadah bin Ash-Shamit z
Diceritakan oleh Abu Makhariq, ‘Ubadah menyebutkan sebuah riwayat dari Rasulullah n bahwa beliau n melarang menukar dua dirham dengan satu dirham. Lalu seseorang mengatakan, “Saya berpendapat tidak mengapa, selama yadan bi yadin (secara kontan).” ‘Ubadah serta-merta berkata: “Saya mengatakan, ‘Rasulullah n bersabda demikian’, dan engkau mengatakan, ‘Saya berpendapat tidak mengapa!’? Demi Allah, jangan sekali-kali aku bersamamu dalam satu atap.” (HR. Ibnu Majah dan Ad-Darimi, disahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani)

Abu Darda’ z
Diceritakan oleh ‘Atha’ bin Yasar, seseorang menjual satu pecahan emas atau perak dengan sesuatu yang sejenis namun tidak sama timbangannya. Abu Darda’ lalu berkata kepadanya, “Aku mendengar Rasulullah n melarang cara seperti ini, kecuali bila timbangannya sama.” Orang tersebut menjawab, “Saya berpendapat hal ini tidak mengapa.” Abu Darda’ kemudian berkata lagi, “Siapa yang  akan mencarikan alasan untukku bagi fulan? Aku menyampaikan kepadanya sabda Rasulullah n, lalu dia memberitahukanku tentang pendapatnya. Saya tidak akan menginjak daerah yang kamu berada padanya.” (Al-Ibanah, Ibnu Baththah hlm. 94)

Abu Sa’id al-Khudri z
Al-A’raj menceritakan bahwa dia mendengar Abu Sa’id al-Khudri z berkata kepada seseorang, “Apakah engkau mendengarku bila aku sampaikan (hadits) dari Rasulullah n, beliau n bersabda, ‘Jangan kalian menukar dinar dengan dinar, dan dirham dengan dirham, kecuali harus sama, serta jangan kalian menjualnya dengan tidak kontan,’ lalu engkau berfatwa seperti ini??! Demi Allah, jangan sampai ada yang menaungiku bersamamu kecuali masjid.” (Al-Ibanah, Ibnu Baththah hlm. 95)

Muhammad bin Sirin t
Qatadah t menceritakan bahwa Ibnu Sirin t menyampaikan hadits Nabi n kepada seseorang. Orang tersebut lalu berkata, “Fulan berkata demikian dan demikian.” Ibnu Sirin lalu berkata, “Saya menyampaikan dari Rasulullah n, lalu engkau mengatakan fulan berkata demikian demikian??! Saya tidak akan mengajakmu berbicara selama-lamanya.” (Sunan Ad-Darimi no. 441)

Umar bin Abdul Aziz t
Beliau t berkata:
لَا رَأْيَ لِأَحَدٍ مَعَ سُنَّةٍ سَنَّهَا رَسُولُ اللهِ n
“Tidak ada hukum akal bagi seseorang di hadapan sunnah yang datang dari Rasulullah n.” (Al-Ibanah 1/246)

Abu Qilabah t
إِذَا حَدَّثْتَ الرَّجُلَ بِالسُّنَّةِ فَقَالَ: دَعْنَا مِنْ هَذَا وَهَاتِ كِتَابَ اللهِ؛ فَاعْلَمْ أَنَّهُ ضَالٌّ
“Apabila kamu menyampaikan hadits Rasulullah n kepada seseorang, lalu dia mengatakan: ‘Tinggalkan kami dari yang seperti ini. Datangkan kepadaku kitab Allah l,’ ketahuilah bahwa dia orang yang sesat.” (I’lamul Muwaqqi’in 2/282)

Al-Imam Asy-Syafi’i t
أَجْمَعَ الْمُسْلِمُونَ عَلَى أَنَّ مَنِ اسْتَبَانَ لَهُ سُنَّةُ رَسُولِ اللهِ n لَمْ يَحِلَّ لَهُ أَنْ يَدَعَهَا لِقَوْلِ أَحَدٍ
“Kaum muslimin telah bersepakat, barang siapa yang sudah jelas baginya sunnah Rasulullah n, tidak halal baginya untuk meninggalkannya karena ucapan seseorang.” (I’lamul Muwaqqi’in 2/282)

Al-Imam Ahmad bin Hanbal t
مَنْ رَدَّ حَدِيثَ النَّبِيِّ n فَهُوَ عَلَى شَفَا هَلَكَةٍ
“Barang siapa menentang satu hadits Rasulullah n, dia berada di tepi kehancuran.” (Thabaqat Hanabilah 2/15, Al-Ibanah 1/ 260)

Al-Imam Al-Barbahari t
وَإِذَا سَمِعْتَ الرَّجُلَ يَطْعَنُ فِي الْآثَارِ أَوْ يُرِيدُ غَيْرَ الْآثَارِ فَاتَّهِمْهُ عَلَى الْإِسْلَامِ، وَلَا تَشُكَّ أَنَّهُ صَاحِبُ هَوًى مُبْتَدِعٌ
“Apabila engkau mendengar seseorang mencela hadits, atau menginginkan yang selain hadits, curigailah keislamannya. Janganlah engkau ragu bahwa dia adalah pengikut hawa nafsu dan mubtadi’.” (Syarhus Sunnah hlm. 51)

Abul Qasim al-Ashbahani t
قَالَ أَهْلُ السُّنَّةِ مِنَ السَّلَفِ: إِذَا طَعَنَ الرَّجُلُ عَلَى الْآثَارِ يَنْبَغِي أَنْ يُتَّهَمَ عَلَى الْإِسْلاَمِ
Ahlus Sunnah dari kalangan salaf mengatakan, “Apabila seseorang mencela sunnah Rasulullah n, pantas untuk dicurigai keislamannya.” (Al-Hujjah fi Bayanil Mahajjah, 2/428)
Dari mana sikap dan ucapan para imam tersebut kalau bukan buah dari ketauhidan yang benar kepada Allah l? Oleh karena itu, yang akan mengagungkan dan mengamalkan sunnah Rasulullah n adalah orang yang memiliki akidah yang benar dan kokoh, karena konsekuensi dari keyakinan yang benar adalah menjunjug tinggi syiar-syiar Allah l, baik lahir maupun batin. Dengan kata lain, orang yang benar akidahnya, lahiriahnya tidak akan menyelisihi batinnya. Bila hal ini terjadi, perlu diragukan kemurnian akidahnya.
Ucapan mereka menggambarkan bentuk pengagungan yang tinggi terhadap syariat Rasulullah n. Kita wajib meneladani mereka dalam hal ini. Kemuliaan hidup, kemenangan, kebahagiaan dunia dan akhirat, ada dalam kebersamaan dengan mereka.
Wallahu a‘lam.

Peran ‘Ulama Hadits dalam Menjaga Kemurnian Islam

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar)

Orang yang mempelajari sejarah Islam sejak zaman dahulu hingga hari ini, tentu akan menemukan bahwa ahlul hadits adalah pengikut Nabi n yang paling kokoh dan teguh mengikuti Nabi Muhammad n dalam hal akidah, manhaj, ibadah, dakwah, muamalah, dan berhujjah. Mereka, ahlul hadits, benar-benar berada pada titik tertinggi dalam keyakinan dan ketenangan bahwa manhaj salaf adalah manhaj yang haq (benar). Tidak ada kebatilan yang mampu menghadang karena manhaj ini adalah jalan lurus yang akan menjamin keselamatan dunia dan akhirat. 
Seperti apakah manusia-manusia terpilih itu? Mampukah kita mencontoh mereka? Berikut pembahasannya.
Rasulullah n bersabda:
يَحْمِلُ هَذَا الْعِلْمَ مِنْ كُلِّ خَلَفٍ عُدُولُهُ، يَنْفَوْنَ عَنْهُ تَحْرِيفَ الْغَالِينَ وَانْتِحَالَ الْمُبْطِلِينَ وَتَأْوِيلَ الْجَاهِلِينَ
“Yang akan membawa ilmu ini kepada setiap generasi adalah orang-orang yang ‘adl1. Mereka akan membersihkannya dari penyelewengan orang-orang yang berlebihan, kedustaan orang-orang yang berada di atas kebatilan, dan takwil orang-orang yang bodoh.”

Derajat Hadits
Hadits ini diriwayatkan melalui banyak sahabat. Namun setiap jalur periwayatannya tidak selamat dari cacat yang memengaruhi kesahihannya. Di antaranya:
1. Hadits Abdullah bin Mas’ud z yang diriwayatkan oleh Al-Khathib dalam Syaraf Ashabil Hadits (hlm. 28). Di dalam sanadnya terdapat seorang perawi yang dha’if (lemah) bernama Abdullah bin Shalih Katib al-Laits.
2. Hadits Ali bin Abi Thalib z yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Adi dalam Al-Kamil (1/90). Akan tetapi, salah seorang perawinya, Muhammad al-Baqir, meriwayatkannya secara mu’dhal. Maknanya, terputus sanadnya dengan dua perawi yang tidak disebutkan secara berurutan antara dia dan Ali bin Abi Thalib. Lihat keterangan Al-‘Ala’i dalam Jami’ at-Tahsil (hlm. 266).
3. Hadits Mu’adz bin Jabal z yang diriwayatkan oleh Al-Khathib dalam Syaraf Ashabil Hadits (hlm. 11). Di dalam sanadnya terdapat perawi bernama Abdullah bin Khirasy bin Hausyab, yang dilemahkan para ulama. Bahkan, Ibnu ‘Ammar menyandarkannya pada kedustaan.
4. Hadits Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash c yang diriwayatkan oleh Al-‘Uqaili dalam Adh-Dhu’afa’ (1/2). Hanya saja, di dalam sanadnya terdapat perawi yang bernama Khalid bin ‘Amr al-Qurasyi yang dianggap berdusta oleh Al-Imam Yahya bin Ma’in t. Sementara itu, Al-Imam Shalih Jazarah t menisbatkannya kepada tindak memalsukan hadits.
Adapun jalur sanad yang paling kuat adalah riwayat yang dibawakan oleh Mu’an bin Rifa’ah dari Ibrahim bin Abdurrahman al-‘Udzri dalam bentuk mursal2. Riwayat ini disebutkan oleh Ibnu Hiban dalam Ats-Tsiqat (4/10), Ibnu ‘Adi dalam Al-Kamil (1/91), Abu Nu’aim dalam Ma’rifat Ash-Shahabat (1/53), Ibnu Abdil Bar dalam At-Tamhid (1/59), Al-Khathib dalam Syaraf Ashabil Hadits hlm. 29, dan Ibnu ‘Asakir dalam At-Taarikh (2/233).
Ulama berbeda pendapat ketika menilai hadits ini. Al-Imam Ahmad dan Al-Imam Ali ibnu al-Madini menguatkannya, sebagaimana diterangkan oleh Al-Khathib dalam Syaraf Ashabil Hadits (hlm. 29, lihat pula keterangan Al-Imam Ibnul Wazir dalam kitabnya Raudhul Basim). Sementara Abul Hasan al-Qaththan—yang diikuti oleh Adz-Dzahabi—melemahkannya sebagaimana dalam kitabnya Mizanul I’tidal (1/45). Al-Imam Al-‘Iraqi berkata, ”Sungguh hadits ini telah diriwayatkan dengan sanad yang bersambung dari beberapa sahabat, seperti Ali bin Abi Thalib, Ibnu Umar, Abu Hurairah, Abdullah bin ‘Amr, Jabir bin Samurah, dan Abu Umamah g. Akan tetapi, seluruhnya lemah, tidak ada satu pun yang tsabit (sahih). Tidak ada satu pun riwayat yang menguatkan hadits mursal di atas.” (At-Taqyid wal Idhah hlm. 139)

Makna Hadits
Hadits ini, menurut yang menilainya lemah, selain terdapat sisi kelemahan dalam hal sanad, juga ada yang janggal dalam matannya. Dalam hadits ini Rasulullah n menjelaskan bahwa orang yang mengemban ilmu adalah orang terbaik pada generasinya. Para pembawa ilmu adalah orang yang menentang kebatilan, membantah setiap bentuk penyelewengan, dan menjelaskan bentuk-bentuk kejahilan. Kenyataannya, banyak juga yang berilmu namun jauh dari sifat-sifat yang disebutkan oleh Rasulullah n dalam hadits di atas. Banyak juga orang berilmu yang buruk akhlaknya. Tidak sedikit pula orang berilmu namun tidak menunaikan hak-hak ilmu. Oleh karena itu, Rasulullah n membimbingkan sebuah doa untuk selalu dibaca oleh pengikutnya agar terlindung dari ilmu yang tidak bermanfaat.
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْأَرْبَعِ؛ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ، وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ، وَمِنْ دُعَاءٍ لاَ يُسْمَعُ
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari empat hal: Dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’, dari jiwa yang tak pernah puas, dan dari doa yang tidak didengar.” (HR. Abu Dawud no. 1548, An-Nasai 8/263, dan Ibnu Majah no. 3837, dari Abu Hurairah z)
Adapun ulama yang menilai hadits di atas derajatnya hasan, mereka membawanya kepada pemahaman bahwa yang dimaksud oleh Rasulullah n dengan hadits ini adalah perintah. Artinya, walaupun hadits di atas disampaikan dalam konteks berita, namun yang diinginkan adalah perintah. Oleh karena itu, makna hadits di atas menjadi, “Hendaknya yang membawa ilmu ini pada setiap generasi adalah orang-orang yang ‘adl. Mereka akan membersihkannya dari penyelewengan orang-orang yang berlebihan, kedustaan orang-orang yang berada di atas kebatilan, dan takwil dari orang-orang yang jahil.” Makna hadits seperti ini didukung oleh berita yang diriwayatkan oleh Al-Imam Ibnu Abi Hatim yang menyebutkan bentuk perintah. (Muqaddimah al-Jarh, 2/17)
Ada juga yang memahami bahwa yang dimaksud oleh Rasulullah n dengan hadits ini adalah keumuman. Jadi, makna hadits di atas adalah, “Pada umumnya (mayoritas) yang membawa ilmu ini di setiap generasi adalah orang-orang yang ‘adl. Mereka akan membersihkannya dari penyelewengan orang-orang yang berlebihan, kedustaan orang-orang yang berada di atas kebatilan, dan takwil dari orang-orang yang jahil.” Oleh karena itu, dalam kasus ditemukannya orang berilmu yang tidak tecermin kebaikan dari kehidupannya, terjadi di luar keumuman. Wallahu a’lam.

Siapakah Ulama di Setiap Zaman?
Derajat ulama ditinggikan oleh Allah l dengan ilmu yang mereka miliki. Melalui mereka, dapat diketahui mana yang halal dan yang haram, yang benar dan yang batil, yang dapat menimbulkan mudarat dan yang mendatangkan manfaat, serta hal baik dan hal buruk. Mereka adalah pewaris para nabi dan pemimpin para wali. Ikan-ikan yang ada di laut dan samudra memohonkan ampun untuk mereka. Malaikat menaungi mereka dengan sayap-sayapnya sebagai tanda ketundukan.
Kedudukan ulama lebih mulia dibandingkan ahli ibadah dan lebih tinggi derajatnya jika disandingkan dengan orang-orang zuhud. Keberadaan ulama di dunia adalah harta yang tak ternilai bagi umat, sedangkan kematian mereka merupakan musibah besar yang patut ditangisi. Mereka senantiasa melaksanakan tugas; mengingatkan orang-orang yang lalai dan memberikan bimbingan kepada orang-orang yang bodoh. Tidak pernah terlintas dalam benak siapa pun bahwa mereka akan melakukan kerusakan. Tidak pula ada seorang pun yang khawatir bahwa mereka akan mengajak menuju kebinasaan. Akhlak mulia yang mereka tunjukkan menyebabkan orang-orang yang berbuat maksiat terdorong untuk menjadi orang yang taat. Para pelaku dosa pun bertaubat dengan nasihat mereka. (Disarikan dari Akhlaq Ulama karya Al-Ajurri)
Tiga hal yang disebutkan hadits di atas merupakan ciri yang sangat nampak dan menonjol pada diri ulama. Ini terbukti dengan tidak terhitungnya riwayat yang menunjukkan perjuangan mereka menentang kebatilan, meluruskan yang bengkok, menjelaskan penyelewengan, dan membantah setiap kedustaan yang mengatasnamakan agama. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya karya tulis ulama dalam hal ini. Sebagai contoh, kitab Ar-Radd ‘alal Jahmiyyah (Bantahan terhadap Al-Jahmiyyah) karya Al-Imam Ahmad dan Al-Imam Utsman ad-Darimi. Kitab ini ditulis dan disusun sebagai bentuk penjagaan terhadap kebenaran akidah Ahlus Sunnah, sekaligus menerangkan kesesatan paham Jahmiyah. Adapun contoh-contoh lain tidak terhitung jumlahnya.
Al-Imam Al-Bukhari t menyusun kitab Khalq Af’alil ‘Ibad, yang di dalamnya terdapat bantahan terhadap Jahmiyyah yang menafikan sifat-sifat Allah l, serta membantah pendapat Jahmiyyah yang menyatakan Al-Qur’an adalah makhluk.
Al-Imam Abu Dawud t menyusun kitab As-Sunan, yang di dalamnya terdapat bantahan terhadap Qadariyyah, Murjiah, Jahmiyyah, dan Mu’aththilah. Sebagai contoh saja, Al-Imam Abu Dawud t membuat dua bab untuk membantah Jahmiyyah. Pada bab pertama beliau membantah pendapat mereka yang mengingkari sifat istiwa’ (naiknya Allah di atas Arsy), sedangkan pada bab kedua beliau membantah pendapat mereka yang mengingkari sifat nuzul (turunnya Allah ke langit dunia).
Demikian juga Al-Imam Ibnu Majah t yang menyebutkan bantahan terhadap Jahmiyyah dan Khawarij di dalam kitab Sunan-nya. Masih banyak contoh-contoh lainnya.
Benarlah yang dikatakan oleh Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin t dalam Syarah al-‘Aqidah al-Wasithiyah, ”Segala puji bagi Allah. Tidaklah seseorang melakukan kebid’ahan melainkan Allah l dengan pemberian nikmat-Nya membangkitkan orang yang akan membongkar kebid’ahan tersebut serta menghancurkannya dengan kebenaran. Hal ini merupakan perwujudan dari firman-Nya:
Sesungguhnya Kami yang telah menurunkan Adz-Dzikr dan Kami pula yang akan menjaganya. (Al-Hijr: 9). Inilah bentuk pemeliharaan Allah l terhadapnya.”

Besarnya Kecintaan Ulama terhadap Ilmu
Di antara ciri kuat dan kriteria mendasar dari pribadi para ulama adalah kecintaan mereka kepada ilmu hadits. Mereka rela bertahun-tahun lamanya terpisahkan dari sanak kerabat, meninggalkan kampung halaman, melawan haus dahaga, panas dan dingin, berjalan menempuh jarak yang begitu jauh. Mereka bersabar untuk hidup fakir dan menanggung sakit yang mendera. Apa pun mereka korbankan demi mendapatkan riwayat hadits Rasulullah n.
Karena cinta kepada ilmu hadits juga yang membuat sebagian ulama menyebutkan hadits lengkap dengan sanad hanya beberapa saat sebelum mereka meninggal dunia.
Abu Ja’far at-Tusturi berkata: Kami menjenguk Abu Zur’ah pada saat terakhir sebelum meninggal dunia di Masyharan. Saat itu juga hadir beberapa orang; Abu Hatim, Muhammad bin Muslim, Al-Mundzir bin Syadzan, dan beberapa ulama lainnya. Mereka saat itu sedang membahas hadits tentang talqin (menuntun orang yang akan meninggal mengucapkan kalimat tauhid) serta hadits Nabi n, ‘Talqinkanlah kalimat La Ilaha Illallah untuk orang yang akan meninggal di antara kalian.’ Namun mereka merasa malu dan segan terhadap Abu Zur’ah. Akhirnya, mereka pun mengatakan, “Marilah kita sama-sama menyebutkan hadits tersebut.”
Muhammad bin Muslim berkata, “Haddatsana (telah mengabarkan kepada kami) Adh-Dhahhak bin Makhlad dari Abdul Hamid bin Ja’far, dari Shalih…” dan beliau tidak dapat melanjutkannya.
Abu Hatim kemudian berkata, “Haddatsana Bundar, ia berkata, ‘Haddatsana Abu ‘Ashim, dari Abdul Hamid bin Ja’far dari Shalih…” dan beliau tidak dapat melanjutkannya. Sementara yang lain terdiam.
Dalam keadaan akan meninggal dunia, Abu Zur’ah berkata, “Haddatsana Bundar, ia berkata, ‘Haddatsana Abu ‘Ashim, ia berkata, ‘Haddatsana Abdul Hamid bin Ja’far, dari Shalih bin Abi ‘Uraib, dari Katsir bin Murrah al-Hadhrami, dari Mu’adz bin Jabal z, Rasulullah n bersabda:
مَنْ كَانَ آخِرُ كَلاَمِهِ لَا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ
“Barang siapa yang kalimat terakhirnya adalah Laa Ilaaha Illallah niscaya ia akan masuk ke dalam surga.” Lantas beliau pun meninggal dunia.
Abu Hatim t menambahkan, “Lalu rumah itu pun digetarkan dengan suara tangisan.” (Muqaddimah Al-Jarh, Ibnu Abi Hatim, 1/345)

Pernahkah Dunia Melihatnya?
Sungguh benar-benar menakjubkan kehidupan dan perjuangan para ulama dalam menjaga kemurnian syariat Islam. Kita hanya dapat membaca dari sejarah. Sejarah yang telah terukir dengan torehan pena penuh semangat. Betapa mengagumkan karya tulis yang mereka wariskan.
Shahih Al-Bukhari contohnya. Di dalamnya terdapat 2.602 hadits yang diriwayatkan secara bersanad sampai kepada Rasulullah n, selain hadits-hadits yang disebutkan secara berulang. Jumlah ini adalah hasil usaha beliau memilih dari seratus ribu hadits sahih yang beliau hafal. Di dalam Shahih-nya terdapat kurang lebih 2.000 perawi, yang beliau pilih dari 30.000 perawi yang beliau ketahui. Apakah saya, Anda, dan dunia pernah mendengar atau menemukan sebuah kitab seperti ini? Seluruh riwayat di dalamnya melalui jalan 2.000 perawi tsiqah (tepercaya). Nama mereka semua diketahui oleh penulisnya dan para ulama lain. Bukan hanya nama (perawi), bahkan nama ayahnya, kakeknya, tempat kelahiran dan wafatnya, waktu lahir dan saat meninggalnya, ciri-cirinya, guru-guru dan murid-muridnya. Setiap matan (isi hadits) diriwayatkan oleh fulan bin fulan dari fulan bin fulan sampai kepada Rasulullah n, sehingga setiap matan hadits dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Al-Imam Al-Bukhari t mengatakan, “Tidak ada satu pun hadits yang aku letakkan di dalam kitabku Ash-Shahih melainkan sebelumnya aku mandi dan shalat dua rakaat.” (Tarikh Baghdad 2/9, Tahdzibul Kamal hlm. 1169, Thabaqat Al-Hanabilah 1/274)
Demi Allah, keistimewaan ini hanya dimiliki oleh kaum muslimin. Walhamdulillah.
Ada pula kitab-kitab yang disusun secara khusus tentang para sahabat, seperti Thabaqat karya Ibnu Sa’d, Kitab Ash-Shahabat karya Ibnu As-Sakan, Al-Isti’ab karya Ibnu Abdil Bar, Ma’rifat ash-Shahabat karya Al-Baghawi, Usdul Ghabah karya Ibnul Atsir, Al-Ishabah karya Ibnu Hajar, dan lainnya. Setiap karya tersebut menjelaskan tidak kurang dari 10.000 sahabat, lengkap dengan biografinya.
Demikian juga kitab tarajum (biografi) yang lain, lebih kurang 100.000 ulama tabi’in dan tabi’ut tabi’in, dijelaskan dengan lengkap. Subhanallah.
Hanya Angan-angankah?
Al-Imam Al-Bukhari t meriwayatkan dari Jabir bin Abdillah z, bahwa suatu hari, 1.400-an tahun yang lalu, seorang wanita Anshar datang menemui Rasulullah n untuk menawarkan mimbar kayu. Ia berkata, ”Wahai Rasulullah, berkenankah Anda jika saya membuatkan sebuah mimbar agar Anda dapat duduk di atasnya? Sesungguhnya budakku seorang tukang kayu.” Rasulullah n menanggapi dengan antusias, “Tentu, asalkan engkau mau.” Lantas bekerjalah budak tersebut mempersiapkan mimbar, tempat duduk suri teladan umat.
Sebelumnya, Rasulullah n selalu menyampaikan khutbah dan nasihat sambil bersandar pada sebatang pohon kurma, berpegang di pokoknya. Pada hari Jum’at berikutnya, Rasulullah n menggunakan mimbar baru pemberian wanita Anshar tersebut. Beliau duduk di atasnya. Tiba-tiba, pohon kurma yang biasa digunakan Nabi n untuk bersandar berteriak dan menangis seperti tangisan anak kecil. Begitu keras tangisan pohon kurma tersebut hingga seakan-akan pohon itu terbelah. Rasulullah n pun segera turun dari mimbar dan langsung menuju ke arah pohon kurma, lalu beliau membelai dan memeluknya hingga ia pun terdiam. Nabi n pun bersabda:
“Pohon kurma itu menangis karena bersedih, tidak lagi mendengar nasihat-nasihat seperti dahulu.”
Mahasuci Allah. Betapa kita membutuhkan kesungguhan dan semangat nyata dalam meniti jalan kebenaran. Mengapa jauh berbeda sekali keadaan kita dengan keadaan para sahabat Rasulullah n? Para sahabat selalu merindukan kebersamaan dengan Rasulullah n di dunia, sebagaimana besar pula keinginan mereka untuk dapat dikumpulkan bersama Rasululah n di surga.
Bagaimanakah dengan kita? Apakah kita selalu merindukan kekasih Allah, yaitu Nabi Muhammad n?
Antara kejujuran dan kedustaan yang dapat kita lakukan untuk menjawab pertanyaan ini. Renungkanlah pelajaran berharga dari hadits ini. Sebatang pohon yang keras, tidak dibebani tanggung jawab syariat, benar-benar ingin selalu dekat dengan Rasulullah n dan merindukan beliau!
Di masa kita ini kerinduan seorang muslim kepada Rasulullah n dapat diwujudkan dengan mempelajari dan mengamalkan bimbingan hidup yang beliau n wariskan kepada kita: Senang membaca dan merenungkan sabda-sabda beliau, menelaah karya tulis para ulama tentang semua masalah agama, menuntut ilmu agama dengan penuh semangat, dan mendakwahkan ajaran-ajaran beliau n sesuai dengan kemampuan.
Saudaraku, para ulama mampu melangkah hingga tingkatan rindu yang tertinggi untuk selalu berkumpul bersama Rasulullah n melalui hadits-hadits dan sabda-sabda beliau n. Inilah salah satu sebab betapa gigihnya ulama di dalam berjuang memperoleh hadits-hadits Nabi n, gemar mendengar, dan menulisnya. Mereka rela berkorban apa pun bentuknya untuk membela dan mempertahankan kehormatan Sunnah Nabawiyah. Mereka selalu membersihkan ilmu dari penyelewengan orang-orang yang berlebihan, kedustaan orang-orang yang berada di atas kebatilan, dan takwil dari orang-orang yang jahil. Mengapa? Karena masing-masing bercita-cita untuk dibangkitkan di tengah padang Mahsyar bersama rombongan Nabi n. Betapa indahnya. Di saat Abdullah bin Wahb t diminta Khalifah untuk menjadi Qadhi Mesir, beliau menolaknya. Lantas Risydin bin Sa’d bertanya akan alasannya. Abdullah bin Wahb menjawab, “Tidak mengertikah engkau bahwa para qadhi pada hari kiamat akan dikelompokkan bersama para penguasa? Sementara ulama akan digabungkan bersama para nabi?” (Siyar A’lam An-Nubala’, dalam biografi Al-Arghiyani)
Inginkah kita berada dalam barisan Nabi n? Hendakkah kita berpura-pura tidak mengerti? Bersemangatlah dalam bertafaqquh dan bersabarlah untuk tidak berhenti dalam belajar Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman salaf.
Wallahu a’lam.


1 Definisi sifat al-‘adl pada diri seorang perawi hadits diperselisihkan. Akan tetapi, definisi terkuat adalah yang dinukilkan oleh Ash-Shan’ani t dari Al-Imam Asy-Syafi’i t: al-‘adl adalah seseorang yang meninggalkan dosa-dosa besar dan kebaikannya lebih banyak daripada kejelekannya. (Isbalul Mathar 60—61, dan yang semisalnya dalam Raudhul Basim hlm. 28)
Asy-Syaikh Muqbil t berkata, “(Al-‘Adl) adalah seseorang yang menjauhi dosa-dosa besar, tidak terus-menerus berbuat dosa-dosa kecil, dan melaksanakan seluruh kewajiban sebatas kemampuannya.” (Syarah Al-Ba’its)
Wallahu a’lam.
2 Hadits mursal adalah hadits yang diriwayatkan oleh seorang tabi’in langsung dari Rasulullah n tanpa menyebutkan perantara (sahabat).

Hadits Terpelihara Sebagaimana Al-Qur’an

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Ubaidah Syafruddin)

 

“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (Al-Hijr: 9)
Penjelasan Mufradat Ayat
“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an.”
Al-Imam Al-Qurthubi (10/5), Ibnu Katsir (2/528), dan Ibnu Jarir Ath-Thabari (14/8) mengatakan bahwa makna ﮚ  adalah Al-Qur’an.
As-Sa’di t mengatakan, “Maksudnya Al-Qur’an, yang mengandung peringatan terhadap segala sesuatu, berupa berbagai masalah dan dalil-dalil yang cukup jelas, serta mengingatkan orang yang menghendaki peringatan.”

“Dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.”
Ulama ahli tafsir berbeda pendapat dalam memaknai kata ganti لَهُ. Ada yang berpendapat bahwa kata ganti tersebut kembali kepada ﮚ yaitu Al-Qur’an. Ulama yang lain berpendapat bahwa kata ganti tersebut kembali kepada Nabi Muhammad n, sebagaimana dalam firman Allah l:
“Allah l memelihara kamu dari (gangguan) manusia.” (Al-Maidah: 67).
Akan tetapi, yang benar adalah pendapat pertama, yaitu kata ganti tersebut kembali kepada Al-Qur’an. Lihat tafsir Asy-Syinqithi (2/225) dan Ibnu Katsir (2/258).

Al-Qur’an Selalu Terpelihara Lafadz dan Maknanya
Asy-Syinqithi t (2/225) berkata, “Dalam ayat yang mulia ini Allah l menjelaskan bahwa Dia-lah yang menurunkan Al-Qur’an dan memeliharanya dari penambahan, pengurangan, maupun pengubahan. Ayat lain yang semakna di antaranya firman Allah l:
“Yang tidak datang kepadanya (Al-Qur’an) kebatilan1, baik dari depan maupun dari belakangnya.” (Fushshilat: 42)
Juga firman Allah l:
“Janganlah kamu gerakkan lidahmu (membaca) Al-Qur’an karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya. Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacanya maka itulah bacaannya itu. Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kamilah penjelasannya.” (Al-Qiyamah: 16—19)
Al-Qurthubi t (10/5) mengatakan, Allah l memelihara Al-Qur’an dari penambahan dan pengurangan. Lalu beliau menyebutkan ucapan Qatadah dan Tsabit al-Bunani, “Allah l memelihara Al-Qur’an dari upaya setan yang ingin menambahkan kebatilan ke dalamnya dan mengurangi kebenarannya, sehingga Al-Qur’an tetap terpelihara.”
Al-Imam Al-Baidhawi t (3/362) mengatakan, “Pada ayat ini terdapat bantahan terhadap sikap orang-orang kafir yang senantiasa mengingkari dan memperolok-olok Al-Qur’an. Oleh karena itu, Allah l menguatkannya (Al-Qur’an) dengan firman-Nya:
“Dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.”
Maksudnya, memeliharanya dari penyimpangan, baik huruf maupun makna, dan penambahan maupun pengurangan. Allah l menjadikan Al-Qur’an sebagai suatu keajaiban (mukjizat), guna membedakan apa yang tertera padanya dengan ucapan manusia.”
“Dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.”
Maknanya, kata asy-Syaikh as-Sa’di t, “Al-Qur’an terpelihara saat diturunkan maupun setelahnya. Saat diturunkan, Allah l memeliharanya dari upaya setan yang ingin mencuri-curi beritanya. Adapun setelah diturunkan, Allah l menyimpannya di hati Rasulullah n, kemudian di hati umatnya. Allah l menjaga lafadz-lafadznya dari perubahan, baik penambahan maupun pengurangan. Allah l juga menjaga makna-maknanya dari perubahan dan penggantian. Tidak seorang pun yang berusaha memalingkan salah satu makna pada Al-Qur’an, melainkan Allah l pasti mendatangkan orang yang akan menjelaskan kebenaran yang nyata. Ini merupakan salah satu tanda keagungan ayat-ayat Allah l dan kenikmatan-Nya terhadap hamba-hamba-Nya yang mukmin. Di antara bentuk pemeliharaan Allah l terhadap Al-Qur’an juga adalah Dia l memelihara ahlul Qur’an dari musuh-musuh mereka. Allah l menyelamatkan mereka dari gangguan musuh.”
Ath-Thabari t (14/8) berkata, “Allah l memelihara Al-Qur’an dari penambahan kebatilan yang bukan bagian darinya, atau pengurangan hukum, batasan, dan kewajiban yang seharusnya ada padanya.”

Hadits Terpelihara Sebagaimana Al-Qur’an
Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah berkata, “Sunnah (hadits) Rasulullah n dan Al-Qur’anul Karim berasal dari sumber yang sama. Hilang (tersia-siakan)nya sebagian hadits—yang merupakan penjelas bagi Al-Qur’an—bertentangan dengan janji Allah l untuk memeliharanya.”
Dengan demikian, sunnah Rasulullah n yang suci termasuk bagian dalam janji Allah l yang benar, yaitu benar-benar terpelihara dan terjamin. (Lihat An-Nukat ‘ala Kitab Ibni Shalah 1/9)
Asas agama kita yang hanif adalah Al-Qur’anul Karim dan sunnah (hadits) Nabi Al-Amin. Al-Qur’an adalah kitab yang terpelihara dari sisi Allah l yang Mahatinggi dan Agung. Al-Qur’an dihafal dalam dada dan tertulis dalam tulisan. Allah l berfirman:
“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (Al-Hijr: 9)
Adapun sunnah (hadits Rasulullah n), keberadaannya, sebagaimana yang dikatakan oleh al-Imam al-Baihaqi, berkedudukan sebagai penjelas yang berasal dari Allah l. Sebagaimana firman Allah l:
“Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur’an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka.” (An-Nahl: 44)
Oleh karena itu, sunnah secara keseluruhan terpelihara dengan pemeliharaan-Nya, karena ia termasuk peringatan (zikir) dari peringatan (Al-Qur’an). (Tahqiq Al-Ba’its al-Hatsits, 1/7)

Upaya Umat Memelihara Al-Qur’an dan Hadits
Asy-Syaikh Ahmad Syakir t mengatakan, “Kaum muslimin sejak generasi pertama sangat memerhatikan pemeliharaan sanad-sanad syariat mereka dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Hal ini tidak dilakukan oleh umat sebelumnya.
Mereka menghafal dan meriwayatkan Al-Qur’an dari Rasulullah n secara mutawatir. Ayat demi ayat, kalimat demi kalimat, huruf demi huruf, terpelihara dalam dada dan dikukuhkan dengan tulisan pada mushaf (Al-Qur’an). Sampai-sampai mereka meriwayatkan berbagai sisi pengucapannya berdasarkan dialek qabilah. Mereka juga meriwayatkan jalan penulisan (bentuk huruf) dalam mushaf. Mereka menulis kitab yang panjang lagi sempurna dalam hal ini.
Mereka juga menghafal dari Nabi mereka, Muhammad n, semua ucapan, perbuatan, dan keadaan beliau. Beliau n adalah penyampai (syariat) dari Rabbnya, penjelas syariat-Nya. Beliau n diperintahkan untuk melaksanakan agama-Nya. Setiap ucapan dan keadaan beliau adalah penjelas bagi Al-Qur’an. Beliau adalah seorang rasul yang ma’shum dan menjadi suri teladan yang baik bagi umatnya. Allah l menerangkan sifat beliau n:
“Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (An-Najm: 3—4).
Juga firman Allah l:
“Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur’an agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.” (An-Nahl: 44)
Juga firman Allah l:
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian.” (Al-Ahzab: 21)
Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash c menulis segala sesuatu yang dia dengarkan dari Rasulullah n. Orang-orang Quraisy pun melarangnya. Akhirnya, Abdullah bin Amr c mengadukan hal itu kepada Rasulullah n. Beliau n pun bersabda, “Tulislah! Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah terucap dariku kecuali semata-mata kebenaran.”2
Pada haji wada’, Rasulullah n memerintahkan kaum muslimin secara umum untuk menyampaikan dari beliau n, sebagaimana sabda beliau:
لِيُبَلِّغِ الشَّاهِدُ الْغَائِبَ فَإِن الشَّاهِدَ عَسَى أَنْ يُبَلِّغَ مَنْ هُوَ أَوْعَى لَهُ مِنْهُ
“Hendaknya yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir, karena orang yang hadir bisa jadi dia menyampaikan kepada orang lain, namun orang lain tersebut lebih memahami hadits itu daripada dirinya.”3
Demikian pula sabda beliau n:
فَلْيُبَلِّغِ الشَّاهِدُ مِنْكُمُ الْغَائِبَ، رُبَّ حَامِلِ فِقْهٍِ إِلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ
“Hendaknya orang yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir, karena bisa jadi orang yang disampaikan (hadits kepadanya) lebih memahami daripada orang yang mendengar (hadits itu secara langsung).”4
Dari penjelasan ini, kaum muslimin memahami bahwa mereka wajib memelihara segala sesuatu yang datang dari Rasul mereka n. Mereka pun melakukannya serta menunaikan amanah sesuai yang diminta. Mereka meriwayatkan hadits-hadits dari Rasulullah n, baik secara mutawatir dari sisi lafadz dan makna, atau dari sisi makna saja, atau secara masyhur dengan sanad-sanad yang sahih (yang kukuh), yang diistilahkan oleh ulama ahli hadits dengan hadits sahih atau hasan….” (Lihat Al-Ba’its Al-Hatsits, 1/70—71)

Sanad, Kekhususan Umat Ini
Sanad merupakan kekhususan yang mulia yang dimiliki umat ini. Kekhususan ini tidak diberikan kepada umat-umat sebelumnya. Sanad termasuk bagian agama yang agung kedudukannya.
Dalam kitab Tarikh Baghdad, al-Hafizh al-Khathib al-Baghdadi meriwayatkan dengan sanadnya, pada biografi Abu Ishaq Ibrahim bin Muhammad al-Amin al-Bukhari, sampai kepada Abdan, salah seorang murid Abdullah bin al-Mubarak. Beliau t berkata, “Aku mendengar Abdullah bin al-Mubarak berkata:
الْإِسْنَادُ عِنْدِي مِنَ الدِّينِ وَلَوْلَا الْإِسْنَادُ لَقَالَ مَنْ شَاءَ مَا شَاءَ
‘Sanad itu menurutku termasuk bagian agama. Kalau bukan karena sanad, semua orang bisa berkata apa pun yang dia kehendaki’.”
Ucapan Al-Imam Ibnul Mubarak ini termasuk kalimat yang terbaik dan terbagus untuk menunjukkan kedudukan sanad dalam agama.
Al-Hakim Abu Abdillah an-Naisaburi t mengatakan dalam kitabnya, Ma’rifat Ulumul Hadits, setelah menyebutkan ucapan Abdullah bin al-Mubarak di atas, “Kalau bukan karena sanad, upaya para ulama hadits mencarinya, dan ketekunan mereka menghafalnya, akan hilanglah panji-panji Islam. Para pelaku kesyirikan dan kebid’ahan akan semakin kokoh memalsukan hadits-hadits dan memutarbalikkan sanad, karena apabila hadits-hadits Rasulullah n kosong dari sanad, jadilah ia sebagai hadits yang terputus.”
Ketika menafsirkan ayat:
“Dan sesungguhnya Al-Qur’an itu benar-benar adalah suatu kemuliaan besar dan bagi kaummu.” (Az-Zukhruf: 44)
Al-Imam Malik t berkata, “Maknanya adalah ucapan seorang rawi, ‘Ayahku telah menyampaikan kepadaku dari kakekku’.”
Abdullah bin Mubarak juga berkata, “Permisalan seseorang yang mencari urusan agamanya tanpa sanad seperti orang yang memanjat atap tanpa tangga.”
Beliau t berkata juga, “Pembeda antara kita dengan kaum itu adalah qawain.”
‘Qawain’ adalah sanad sedangkan ‘kaum itu’ ialah ahlul bid’ah dan yang menyerupai mereka.
Sufyan ats-Tsauri t mengatakan, “Sanad itu senjata orang mukmin. Apabila seorang mukmin tidak memiliki senjata, dengan apa dia melawan musuh?”
Beliau t juga berkata, “Sanad itu perhiasan bagi hadits. Barang siapa yang memerhatikannya, ia telah beruntung. (lihat Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim, tahqiq Khalil Makmun Syiha 1/28—30)
Wallahu a’lam bish-shawab.


1 Qatadah berkata, “Kebatilan di sini adalah Iblis. Allah l yang menurunkan Al-Qur’an dan kemudian memeliharanya, sehingga Iblis tidak mampu menambahkan kebatilan dan mengurangi kebenaran darinya. (Lihat Tafsir Ad-Durrul Mantsur 5/66)
2 HR. Al-Imam Ahmad dalam Al-Musnad (2/162) dengan sanad yang sahih. Abu Dawud, Al-Hakim, dan yang lainnya juga meriwayatkan yang semakna dengan hadits ini.
3 HR. Al-Imam Al-Bukhari dan lainnya.
4 HR. Al-Imam Al-Bukhari dan lainnya.

Sanad Antara yang Berlebihan dan Meremehkan

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal)

Telah kami paparkan pada pembahasan sebelumnya tentang pentingnya sanad dalam menetapkan keabsahan sebuah riwayat. Akan tetapi, ada kelompok yang menyimpang dalam memahami kedudukan sanad dalam periwayatan tersebut. Dalam hal ini, kita dapat mengklasifikasi kelompok tersebut menjadi dua bagian.
1. Kelompok yang menganggap bahwa sanad tidak penting dalam penukilan
2. Kelompok yang berlebihan dalam menjadikan sanad sebagai landasan pemahaman
Kelompok pertama adalah orang-orang yang tidak beramal dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Sandaran amalan mereka dibangun di atas perasaan yang muncul dan getaran jiwa, yang mereka sebut “ilmu batin”, “ilmu ladunni”, atau “ilmu kasyaf”, dan yang semisalnya. Di antara ucapan mereka, “Saya tidak mengambil ilmu dari orang yang sudah mati, namun saya hanya mengambil dari Yang Mahahidup.” Yang lain mengatakan: “Hatiku telah memberitakan dari Rabb-ku.”
Ibnu Hajar al-Asqalani t berkata setelah menyebutkan ucapan mereka ini, “Semua ucapan itu adalah kekufuran berdasarkan kesepakatan para ulama yang mengerti syariat.” (Fathul Bari, 1/222)
Beliau t juga berkata, “Sebagian mereka berlebihan dan berkata, ‘Hatiku telah memberitakan dari Rabb-ku.’ Ini kesalahannya lebih fatal, karena tidak ada yang bisa menjamin bahwa yang memberitakan kepada hatinya (ternyata) adalah setan. Wallahul musta’an.” (Fathul Bari, 11/345)
Ibnul Qayyim t mengatakan, “Orang-orang bodoh ini melihat hal terkecil saja lalu menghukumi berdasarkan perasaannya melebihi Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dia tidak menoleh sedikit pun kepada keduanya (Al-Qur’an dan As-Sunnah, pen.) dan berkata, ‘Hatiku telah memberitakan kepadaku dari Rabb-ku,’ ‘Kami mengambil (ilmu) dari Yang Mahahidup yang tidak pernah mati, sementara kalian mengambilnya melalui perantara,’ ‘Kami mengambil hakikatnya, sementara kalian hanya mengikuti rambu-rambu,’ dan ucapan semisalnya yang merupakan kekufuran dan ilhad (penyimpangan). Paling tidak, pelakunya dihukumi jahil yang dia diberi uzur karena kejahilannya. Dikatakan kepada sebagian mereka, ‘Tidakkah kamu tidak pergi untuk mendengar hadits dari Abdurrazzaq?’ Dia menjawab, ‘Apa gunanya orang yang telah mendengar langsung dari Maha Penguasa dan Pencipta, mendengar hadits dari Abdurrazzaq?’.”
Ini merupakan tingkat kebodohan tertinggi, karena yang mendengar langsung dari Maha Penguasa dan Pencipta adalah Musa Kalimullah. Adapun orang ini dan semisalnya—yang tidak pernah mendengar hadits dari sebagian pewaris ilmu Rasul (para ulama, pen.)—tiba-tiba mengaku mendengar langsung dari yang mengutus Rasul (Allah l, pen.), sehingga dia merasa tidak lagi butuh kepada ilmu zahir. Mungkin saja yang berbicara kepada mereka adalah setan atau bisikan jiwanya yang bodoh, atau kedua hal itu sekaligus. Barang siapa yang menyangka bahwa dia tidak membutuhkan apa yang dibawa oleh Rasul n dan merasa cukup dengan bisikan dan perasaan hatinya, dia adalah manusia yang paling besar kekafirannya.” (Ighatsah al-Lahafan, Ibnul Qayyim,1/122-123)
Kelompok kedua adalah orang-orang yang menganggap bahwa tidak sah ilmu dan keislaman seseorang kecuali apabila dia mengambilnya dengan cara sanad. Sebagian mereka mengistilahkan dengan “manqul.” Seperti halnya Islam Jamaah—di Indonesia lebih dikenal dengan nama Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII)—yang membangun pemahamannya di atas ajaran manqul ini. Menurut pengakuan Nur Hasan Ubaidah, sang pendiri jamaah ini, ilmu itu tidak sah (tidak bernilai) sebagai ilmu agama kecuali ilmu yang disahkan oleh Nur Hasan Ubaidah dengan cara manqul, alias mengaji secara menukil (mengambil sanad) dari mulut ke mulut, dari Nur Hasan sampai kepada Rasulullah n, lalu ke Malaikat Jibril, yang langsung kepada Allah l. (Bahaya Islam Jamaah hlm. 44)
Ini jelas merupakan pemahaman yang batil ditinjau dari beberapa sisi.
1. Zaman meriwayatkan hadits telah berlalu. Pentingnya ilmu sanad pada masa itu adalah untuk menjernihkan hadits-hadits Rasulullah n dari berbagai upaya pemalsuan yang disandarkan kepada beliau n. Setelah para ulama membukukan hadits-hadits dalam kitab-kitab seperti Shahih al-Bukhari dan Muslim, kitab-kitab Sunan, kitab-kitab Jami’, Musnad, Mu’jam, dan yang lainnya—setelah berlalunya zaman riwayat tersebut—sanad sudah tidak terlalu urgen dibandingkan zaman riwayat.
Ya, para ulama ada yang masih memiliki sanad periwayatan sampai kepada kitab-kitab hadits tersebut, namun hanya sekadar memelihara sanad, tanpa memerhatikan keadaan seorang perawi apakah dia tepercaya atau tidak. Hal ini dijelaskan oleh Ibnu Shalah t. Beliau t berkata, “Pada masa ini sudah tidak mungkin mengetahui hadits yang sahih dengan hanya bersandar kepada sanad, karena tidak satu pun sanad tersebut melainkan engkau mendapati perawinya—yang dijadikan sandaran dalam kitab tersebut—tidak memenuhi syarat disahihkannya sebuah hadits, baik  hafalan maupun ketelitian. Oleh karena itu, cara untuk mengenal hadits sahih dan hasan adalah dengan bersandar kepada ucapan para imam hadits dalam karya mereka yang masyhur, yang dijadikan rujukan dan selamat dari perubahan. Jadi, tujuan inti adanya sanad—yang telah keluar dari jalur riwayat tersebut—sekadar menjaga adanya sanad tersebut yang merupakan kekhususan umat ini.” (Muqaddamah Ibnu Shalah, bersama Taqyid wal Idhah, Al-Iraqi hlm. 24)
2. Para ulama menjaga sanad untuk memelihara kemurnian dua wahyu, yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah, bukan untuk meyakini bahwa yang belajar agama tanpa memiliki sanad berarti ilmunya tidak sah atau Islamnya tidak sah. Tidak semua kaum muslimin sejak zaman dahulu memiliki sanad yang bersambung sampai kepada Rasulullah n.
3. Pada hakikatnya, pemahaman ini bertujuan mengajak para pengikutnya untuk bersikap fanatik pada kelompoknya dan meyakini bahwa yang tidak bersama kelompoknya adalah kafir dan keluar dari Islam, karena telah belajar agama tanpa jalur manqul model mereka. Ini merupakan manhaj takfir warisan kaum Khawarij.
Wallahu a’lam.

Contoh Riwayat Tanpa Sanad

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal)

 

Berikut ini beberapa contoh hadits yang diriwayatkan dan disebutkan oleh sebagian penulis dalam karya tulis mereka yang tidak memiliki sanad dan tidak disebutkan dalam kitab-kitab induk yang mengumpulkan hadits Rasulullah n. 
Beberapa contoh ini sengaja kami sebutkan untuk menjelaskan bahwa para ulama hadits senantiasa memeriksa kondisi riwayat-riwayat serta memisahkan hadits-hadits yang bisa dijadikan sebagai hujjah (dalil) dan hadits-hadits yang tidak bisa dijadikan sebagai sandaran. 

1. Hadits:
هِمَّةُ الرِّجَالِ تُزِيلُ الْجِبَالَ
“Semangat kaum lelaki dapat melenyapkan gunung.”
Ini bukan hadits. Ismail al-Ajluni berkata, “Saya tidak menemukannya sebagai hadits. Akan tetapi, ada yang menukil dari Ahmad al-Ghazali (kakak kandung Muhammad al-Ghazali, penulis Ihya ‘Ulumiddin, pen.) bahwa ia berkata, Rasulullah n bersabda, ‘Semangat kaum lelaki dapat melenyapkan gunung.’ Maka dari itu, hendaknya dipelajari.” (Kasyful Khafa’, 2/444)
Perkataan beliau ini dikomentari oleh Asy-Syaikh Al-Albani. Beliau t berkata, “Aku katakan, kami telah merujuk kepada kitab-kitab sunnah, namun kami tidak menemukan asal hadits ini. Bahwa hadits ini disebutkan oleh Ahmad al-Ghazali, namun tidak dapat menetapkan hadits ini. Dia bukan seorang ahli hadits. Dia hanya seperti saudaranya dari kalangan fuqaha Sufi. Betapa banyak hadits yang disebutkan dalam kitab saudaranya, Ihya ‘Ulumiddin, yang dia pastikan penisbatannya kepada Nabi n, padahal kondisinya seperti apa yang disebutkan oleh al-Hafizh al-Iraqi dan yang lainnya, ‘Tidak ada asalnya’.” (Lihat Silsilah al-Ahadits adh-Dha’ifah no. 3)

2. Hadits:
الْحَدِيثُ فِي الْمَسْجِدِ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ الْبَهَائِمُ الْحَشِيشَ
“Berbincang di dalam masjid memakan kebaikan-kebaikan sebagaimana hewan ternak memakan rumput.”
Hadits ini juga tidak ada asalnya. Hadits ini disebutkan oleh Al-Ghazali dalam Al-Ihya (1/136).
Al-Hafizh Al-Iraqi berkata, “Aku tidak menemukan asal hadits ini.”
As-Subki mengatakan dalam Thabaqat asy-Syafi’iyyah, “Aku tidak menemukan sanadnya.” (Lihat Silsilah al-Ahadits adh-Dha’ifah no. 4)
3. Hadits:
تَوَسَّلُوا بِجَاهِي فَإِنَّ جَاهِي عِنْدَ اللهِ عَظِيْمٌ
“Bertawassullah kalian dengan kemuliaanku, karena kemuliaanku di sisi Allah sungguh agung.”
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t dalam At-Tawassul wal-Wasilah mengatakan, “Hadits ini dusta. Tidak terdapat sedikit pun dalam kitab-kitab kaum muslimin yang dijadikan sandaran oleh para ahli hadits. Tidak ada seorang pun ulama hadits yang menyebutkannya.” (At-Tawassul wal Wasilah hlm. 129)
Asy-Syuqairi t berkata, “Dusta, palsu, dan diada-adakan. Tidak punya asal di seluruh kitab sunnah. Tidak ada yang menyampaikan hadits ini kepada manusia kecuali setan yang terkutuk. Semoga Allah l melaknatnya.” (As-Sunan wal Mubtada’at hlm. 265)

4. Hadits:
إِذَا أَعْيَتْكُمُ الْأُمُورُ فَعَلَيْكُمْ بِأَصْحَابِ الْقُبُورِ
“Jika berbagai urusan melemahkan kalian, hendaklah kalian berlindung kepada penghuni kubur.”
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t mengatakan, “Ini hadits yang dusta berdasarkan kesepakatan para ulama hadits. Hadits ini dibuat untuk membuka pintu kesyirikan.” (Majmu’ Fatawa, 11/293. Lihat pula dalam Ar-Raddu ‘alal Bakri hlm. 483)

5. Hadits:
مَنْ زَارَنِي وَزَارَ أَبِي إِبْرَاهِيمَ فِي عَامٍ وَاحِدٍ دَخَلَ الْجَنَّةَ
“Siapa yang menziarahiku dan ayahku, Ibrahim, pada tahun yang sama, dia masuk surga.”
Az-Zarkasyi mengatakan, “Sebagian huffazh (penghafal hadits) mengatakan bahwa hadits ini palsu. Tidak seorang pun ulama hadits yang meriwayatkannya. Demikian pula, An-Nawawi berkata, ‘Palsu dan tidak ada asalnya’.” (Lihat Silsilah al-Ahadits adh-Dha’ifah no. 46)

6. Hadits:
اخْتِلَافُ أُمَّتِي رَحْمَةٌ
“Perselisihan umatku adalah rahmat.”
Asy-Syaikh Al-Albani mengatakan, “Hadits ini tidak ada asalnya. Para ahli hadits telah berusaha mencari sanad hadits ini, namun mereka tidak menemukannya. Namun, As-Suyuthi berkata dalam al-Jami’ ash-Shaghir, ‘Mungkin saja disebutkan dalam sebagian kitab para hafizh, namun tidak sampai kepada kita.’ Menurut saya, hal ini jauh dari kebenaran. Ini menunjukkan bahwa sebagian hadits-hadits Nabi n telah hilang dari umat ini, dan hal ini tidak sepantasnya diyakini oleh seorang muslim. Al-Munawi menukil dari As-Subki bahwa ia berkata, ‘Tidak diketahui di kalangan ahli hadits dan aku tidak menemukan hadits ini baik dengan sanad yang sahih, lemah, maupun palsu sekalipun.” (Lihat Silsilah al-Ahadits adh-Dha’ifah no. 57)

7. Hadits:
مَنْ عَرَفَ نَفْسَهَ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّهُ
“Siapa yang mengenal dirinya maka dia mengenal Rabbnya.”
Hadits ini tidak ada asalnya. Al-Fairuz Abadi berkata, “Bukan hadits Nabi n.” (Lihat Adh-Dha’ifah no. 66)
8. Hadits:
أَفْضَلُ النَّاسِ مَنْ قَلَّ طَعْمُهُ وَضَحِكُهُ، وَيَرْضَى بِمَا يَسْتُرُ بِهِ عَوْرَتَهُ
“Sebaik-baik manusia adalah yang sedikit makanan dan tertawanya, serta merasa cukup dengan sesuatu yang menutupi auratnya.”
Al-Hafizh Al-Iraqi t mengatakan dalam takhrij Al-Ihya (3/69), “Aku tidak menemukan asalnya.”
Demikian pula yang dikatakan Tajuddin As-Subki dalam At-Thabaqat al-Kubra. (Lihat Adh-Dha’ifah no. 243)
Wallahu a’lam.

Kedudukan Sanad Dalam Islam

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal)

Sanad memiliki peranan yang sangat penting dalam menukilkan wahyu, baik Al-Qur’an Al-Karim maupun Sunnah Rasulullah n. Demikian pula menukilkan berita dari kalangan salafus saleh dari para sahabat, tabi’in, dan yang setelahnya. Karena tanpa sanad, satu berita tidak bisa dipertanggungjawabkan. Oleh karena itu, meriwayatkan hadits-hadits Rasulullah n dengan sanad akan memberikan beberapa faedah yang sangat agung. Di antaranya adalah sebagai berikut. 

1. Ilmiah dalam Penukilan
Dengan sanad, seseorang menukil wahyu Allah l dan hadits Rasul-Nya secara otentik sebagaimana asalnya, sehingga memberikan kekuatan hujjah bagi seorang muslim dalam berpegang teguh dengan Sunnah Rasulullah n.
Abdullah bin Mubarak t mengatakan:
الْإِسْنَادُ مِنَ الدِّينِ وَلَوْلَا الْإِسْنَادُ لَقَالَ مَنْ شَاءَ مَا شَاءَ
“Sanad itu bagian dari agama. Kalaulah tidak ada sanad, orang akan sesukanya mengatakan apa saja yang dia inginkan.” (Diriwayatkan Muslim dalam Muqaddimah Shahih-nya, 1/15)
Yahya bin Sa’id al-Qaththan t mengatakan, “Jangan kalian memerhatikan hadits, namun perhatikanlah sanadnya. Jika sanadnya sahih maka amalkanlah. Namun, jika tidak, jangan engkau tertipu dengan hadits yang sanadnya tidak sahih.” (Siyar A’lam an-Nubala’, 9/188)
Ishaq bin Rahuyah t juga mengatakan, “Jika Abdullah bin Thahir—seorang amir di Khurasan—bertanya kepadaku tentang satu hadits, lalu aku menyebutnya tanpa sanad, dia bertanya kepadaku tentang sanadnya seraya mengatakan, ‘Meriwayatkan hadits tanpa sanad merupakan perbuatan orang-orang sakit! Sesungguhnya sanad hadits merupakan kemuliaan dari Allah l untuk umat Muhammad n’.” (Fathul Mughits, 3/4)
Karena pentingnya mengetahui sanad sebuah riwayat, para ulama sangat perhatian dalam meriwayatkan hadits-hadits tersebut dengan sanadnya. Termasuk kisah yang menakjubkan dalam hal ini adalah yang diriwayatkan oleh Abu Ja’far at-Tustari sebagai berikut.
Kami hadir di sisi Abu Zur’ah ar-Razi di Masyahran ketika beliau akan meninggal. Di sisinya ada Abu Hatim, Muhammad bin Muslim, Mundzir bin Syadzan, dan sekelompok ulama lainnya. Mereka pun menyebutkan hadits tentang masalah talqin, yaitu sabda Rasulullah n:
لَقِّنُوا مَوْتَاكُمْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ
“Tuntunlah orang yang akan meninggal di antara kalian untuk mengucapkan La ilaha Illallah.”
Mereka pun merasa malu dan segan kepada Abu Zur’ah untuk menuntunnya. Lalu mereka berkata, “Mari kita sebutkan haditsnya.” Lalu Muhammad bin Muslim berkata, “Adh-Dhahhak bin Makhlad memberitakan kepada kami, dari Abul Hamid bin Ja’far, dari Shalih….” lalu beliau berhenti dan tidak dapat melanjutkan.
Berikutnya, Abu Hatim mengatakan, “Bundar memberitakan kepada kami, ia berkata: Abu Ashim memberitakan kepada kami dari Abdul Hamid bin Ja’far, dari Shalih…” lalu beliau pun tidak dapat melanjutkan.
Adapun yang lain diam. Abu Zur’ah yang dalam keadaan hendak meninggal berkata, “Bundar memberitakan kepada kami, ia berkata: Abu Ashim memberitakan kepada kami, ia berkata: Abdul Hamid bin Ja’far memberitakan kepada kami, dari Shalih bin Abu Arib, dari Katsir bin Murrah al-Hadhrami, dari Mu’adz bin Jabal z, dia berkata: Rasulullah n bersabda:
مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ
“Barang siapa yang akhir ucapannya La ilaaha Illallah maka dia masuk jannah (surga).” (HR. Abu Dawud no. 3116)
Lalu beliau t meninggal.
Abu Hatim berkata, “Seketika rumah pun bergemuruh oleh tangisan orang-orang yang hadir.” (Taqdimah al-Jarh wat Ta’dil, Ibnu Abi Hatim, 345)

2. Mencegah Pemalsuan Hadits
Sebagaimana telah dijelaskan, ketika bermunculan hawa nafsu dan bid’ah, semakin merebak pula orang-orang yang mendustakan hadits lalu menyandarkannya kepada Rasulullah n. Namun, para imam al-jarh wat-ta’dil (kritikan dan pujian terhadap perawi) juga mengerahkan segala kemampuan untuk berusaha melakukan penjernihan syariat, dengan menyingkap kedok para pemalsu hadits tersebut.
Ibnul Mubarak t pernah ditanya, “Bagaimana kita menyikapi hadits-hadits palsu?” Beliau menjawab, “Para cendekia hadits hidup menghadapinya.” (Al-Maudhu’at, Ibnul Jauzi, hlm. 21)
Ad-Daruquthni t juga berkata, “Wahai penduduk Baghdad, jangan kalian menyangka bahwa seseorang mampu berdusta atas nama Rasulullah n sementara saya masih hidup.” (Al-Maudhu’at hlm. 21)
Ibnu Khuzaimah t mengatakan, “Selama Abu Hamid asy-Syarqi t (salah seorang murid Al-Imam Muslim t, red.) masih hidup, tidak ada kesempatan bagi seorang pun untuk berdusta atas nama Rasulullah n.” (Al-Maudhu’at hlm. 21)

3. Memelihara Kemurnian Islam
Ahli bid’ah selalu berusaha menyusupkan berbagai bid’ahnya ke dalam Islam dan menyandarkannya kepada Rasulullah n. Akan tetapi, dengan sanad akan jelas dan tersingkap makar para pemalsu hadits Rasulullah n. Seperti pengakuan seorang syaikh Khawarij yang berkata, “Sesungguhnya kami dahulu jika menghendaki satu hal, kami membuatnya menjadi hadits.”
Demikian pula halnya kaum Syi’ah Rafidhah yang menjadikan dusta sebagai syiar agama mereka. Al-Imam Asy-Syafi’i t mengatakan:
لَمْ أَرَ أَحَدًا أَشْهَدَ بِالزُّورِ مِنَ الرَّافِضَةِ
“Aku tidak melihat seseorang yang paling berani bersaksi dusta selain kaum Rafidhah (Syi’ah).” (Al-Baihaqi dalam Al-Kubra, 10/208, Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah, 9/114, Ibnu ‘Adi dalam Al-Kamil, 2/460, Al-Kifayah, 1/336)
Sebagian pengikut hawa nafsu ada yang menghalalkan dusta atas nama Rasulullah n dengan alasan untuk mengajak manusia kepada kebaikan. Contohnya adalah Nuh bin Abi Maryam. Al-Hakim meriwayatkan dengan sanadnya sampai kepada Ibnu Ammar al-Marwazi, bahwa dikatakan kepada Nuh bin Abi Maryam, “Dari mana engkau mendapatkan riwayat Ikrimah dari Ibnu Abbas tentang keutamaan setiap surat dalam Al-Qur’an, padahal murid-murid Ikrimah tidak memiliki riwayat itu?” Nuh menjawab, “Sesungguhnya aku melihat manusia berpaling dari Al-Qur’an dan menyibukkan diri dengan fikih Abu Hanifah serta kitab Al-Maghazi Ibnu Ishaq. Aku pun memalsukan hadits ini dengan tujuan mengharap ridha Allah l.”
Oleh karena itu, dia dijuluki Nuh al-Jami’ (si pengumpul). Ibnu Hibban t berkata, “Dia memiliki segala sesuatu, kecuali kejujuran.” (Tadrib ar-Rawi, As-Suyuthi, 1/282)
Oleh karena itu, Ibnul Mubarak t berkata:
بَيْنَنَا وَبَيْنَ الْقَوْمِ الْقَوَائِمُ -يَعْنِي الْإِسْنَادَ
“Antara kami dan kaum (yakni ahli bid’ah dan yang semisalnya) ada penegaknya, yaitu sanad.” (Muqaddimah Shahih Muslim, 1/15—16)
Ketika menjelaskan ucapan Abdullah bin Mubarak t, “Sanad merupakan bagian dari agama…,” Al-Hakim t mengatakan, “Kalaulah tidak ada sanad dan usaha sebagian umat untuk mencarinya, serta seringnya mereka menghafalnya, niscaya akan hilang petunjuk Islam, sekaligus membuka pintu bagi orang-orang mulhid (yang menyimpang) dan ahli bid’ah untuk memalsukan hadits-hadits serta melakukan perubahan dalam sanad-sanadnya, karena riwayat-riwayat yang tidak disertai sanad adalah riwayat yang terputus.
Sebagaimana yang telah diberitakan kepada kami oleh Abul Abbas Muhammad bin Ya’qub, ia berkata, “Al-Abbas bin Muhammad ad-Duri memberitakan kepada kami, ia berkata: Abu Bakr bin Abil Aswad telah memberitakan kepada kami, ia berkata: Ibrahim Abu Ishaq at-Thaliqani telah memberitakan kepada kami, ia berkata: Baqiyyah telah memberitakan kepada kami, ia berkata: Utbah bin Abi Hakim telah memberitakan kepada kami bahwa tatkala beliau berada di dekat Ishaq bin Abi Farwah, dan di dekatnya ada Az-Zuhri, Ibnu Abi Farwah (Ishaq bin Abi Farwah, red.) pun berkata, ‘Rasulullah n bersabda…, Rasulullah bersabda….’
Az-Zuhri lalu berkata kepadanya, ‘Semoga Allah l memerangimu, wahai Ibnu Abi Farwah! Alangkah lancangnya engkau terhadap Allah l! Engkau tidak menyandarkan haditsmu dengan sanad! Engkau memberitakan kepada kami hadits-hadits yang tidak memiliki tali kekang (sanad)?’.” (Ma’rifatu ‘Ulumil Hadits, Al-Hakim an-Naisaburi hlm. 6)

4. Memberi Ketenangan dalam Mengamalkan Agama
Sufyan ats-Tsauri t mengatakan:
الْإِسْنَادُ سِلَاحُ الْمُؤْمِنِ فَإِذَا لَمْ يَكُنْ مَعَهُ سِلَاحٌ فَبِأَيِّ شَيْءٍ يُقَاتِلُ؟
“Sanad adalah senjata mukmin. Jika tidak memiliki senjata, dengan apa dia berperang?” (Diriwayatkan al-Khathib dalam Syaraf Ashabul Hadits hlm. 42)
Al-Imam asy-Syafi’i t mengatakan, “Perumpamaan orang yang mencari hadits tanpa sanad adalah seperti pencari kayu bakar di malam hari. Dia membawa sekumpulan kayu bakar dan mendapatkan seekor ular dalam keadaan dia tidak tahu.” (Fathul Mughits, karya as-Sakhawi, 3/331)
Ar-Ramahurmuzi t meriwayatkan dengan sanadnya dari Syu’bah bin al-Hajjaj, ia berkata, “Setiap hadits yang tidak terdapat padanya ‘haddatsana’ (telah mengatakan kepada kami, red.) dan ‘akhbarana’ (telah mengabarkan kepada kami, red.) maka ia tidak bernilai sama sekali.” (Al-Muhaddits al-Fashil baina ar-Rawi wal-Wa’i, ar-Ramahurmuzi hlm. 517)
Al-Qadhi Iyadh t mengatakan, “Ketahuilah, inti hadits adalah sanadnya. Padanyalah nampak kesahihannya dan bersambung riwayatnya.” (al-Ilma’ hlm. 191)

5. Memperjelas Kondisi Sebuah Riwayat
Dengan mengetahui jalur sanad sebuah riwayat serta berupaya mengumpulkan setiap jalur yang menyebutkan riwayat tersebut, akan memperjelas kondisi riwayat itu, baik menafsirkan maknanya yang kurang jelas dalam riwayat lain, atau menjelaskan satu lafadz yang lemah yang tidak diriwayatkan para perawi yang lebih tsiqah atau yang lebih banyak jumlahnya. ‘Ali bin al-Madini t mengatakan, “Apabila sebuah hadits tidak dikumpulkan jalur-jalur sanadnya, tidak akan tampak kekeliruannya.” (Al-Jami’ li Akhlaqi ar-Rawi, al-Khathib al-Baghdadi hlm. 1641)
Ahmad bin Hanbal t juga mengatakan, “Jika engkau tidak mengumpulkan jalan sebuah hadits, engkau tidak akan memahaminya. Hadits itu saling menjelaskan.” (Al-Jami’ hlm. 1640)
Al-‘Iraqi t mengatakan:
وَالْحَدِيثُ إِذَا جُمِعَتْ طُرُقُهُ تَبَيَّنَ الْمُرَادُ مِنْهُ وَلَيْسَ لَنَا أَنْ نَتَمَسَّكَ بِرِوَايَةٍ وَنَتْرُكَ بَقِيَّةَ الرِّوَايَاتِ
“Jika sebuah hadits dikumpulkan jalur-jalur sanadnya, akan jelas maksudnya. Kita tidak boleh berpegang kepada satu riwayat dan meninggalkan riwayat yang lainnya.” (Tharhu at-Tatsrib, al-Iraqi, 7/169)
Sebagai contoh, hadits Rasulullah n yang menjelaskan tentang terpecahnya umat beliau n menjadi 73 golongan dan semuanya masuk neraka kecuali satu. Beliau n menjelaskan satu golongan yang diselamatkan itu adalah:
هِيَ الْجَمَاعَةُ
“Dia itu adalah al-jama’ah.” (HR. Ibnu Majah no. 3993, al-Maqdisi dalam al-Mukhtarah, 7/90, dari Anas bin Malik z. Juga diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 4597, al-Hakim dalam al-Mustadrak, 1/218, dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan c. Juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah no. 3992, dari Auf bin Malik z. Lihat Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah no. 204)
Penjelasannya yang merinci makna al-jama’ah disebutkan dalam riwayat lain dengan lafadz:
هِيَ مَا أَنَا عَلَيْهِ الْيَوْمَ وَأَصْحَابِي
“Yaitu siapa yang berjalan di atas jalanku dan jalan para sahabatku pada hari ini.” (HR. Al-Maqdisi dalam Al-Mukhtarah, 7/277, Ath-Thabarani, 8/152, dari Anas bin Malik z. Juga diriwayatkan dari Abdullah bin Amr c oleh At-Tirmidzi no. 2641)
Karena pentingnya mengenal jalur-jalur hadits, para ulama salaf mempelajari dan menghafal riwayat-riwayat dari Rasulullah n, para sahabat dan tabi’in, dengan berbagai jalannya. Abdullah bin Ahmad bin Hanbal t berkata, “Abu Zur’ah berkata kepadaku, ‘Ayahmu—yaitu Al-Imam Ahmad bin Hanbal t—menghafal 1.000 x 1.000 hadits (maksudnya satu juta hadits)’.” (Tarikh Baghdad, 4/419, Siyar A’lam an-Nubala’, 11/187)
Adz-Dzahabi ketika mengomentari ucapan Abu Zur’ah t ini mengatakan, “Ini adalah riwayat sahih yang menjelaskan keluasan ilmu Abu Abdillah (Al-Imam Ahmad t). Mereka menghitung riwayat yang terulang (yang berbeda jalur), seperti atsar dan fatwa tabi’in berikut penafsirannya, serta yang semisalnya, karena jika tidak demikian, hadits-hadits yang marfu’ (sampai kepada Rasulullah n) yang kuat tidak mencapai seperseratus jumlah itu.” (As-Siyar, 11/187)
Ini juga seperti yang dikatakan Al-Imam Al-Bukhari t, “Aku menghafal seratus ribu hadits sahih dan mengetahui dua ratus ribu hadits yang tidak sahih.” (Tarikh Baghdad, 2/25, Al-Kamil, Ibnu Adi, 1/131)
Wallahu a’lam.