Sejarah Ilmu Sanad

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal)

 

Islam adalah agama yang dibangun di atas landasan ilmu, sehingga segala sesuatu yang terdapat di dalamnya, dipecahkan dan diselesaikan dengan cara ilmiah. Termasuk keilmiahan Islam adalah penukilannya yang otentik dari sumber syariat yang murni, yang berasal dari Allah l dan Rasul-Nya n. Kedua wahyu yang agung ini menjadi pedoman setiap insan yang mengharapkan jalan keselamatan hidup di dunia dan akhirat. Rasulullah n bersabda:
إِنِّي قَدْ تَرَكْتُ فِيْكُمْ شَيْئَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُمَا؛ كِتَابَ اللهِ وَسُنَّتِي، وَلَنْ يَتَفَرَّقَا حَتَّى يَرِدَا عَلَيَّ الْحَوْضَ
“Sesungguhnya telah aku tinggalkan untuk kalian dua perkara yang kalian tidak akan sesat selama-lamanya setelah keduanya: Kitab Allah dan sunnahku, dan keduanya tidak akan berpisah hingga keduanya mendatangiku di atas telaga (hari kiamat).” (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, 1/172)
Kedua pedoman inilah yang senantiasa dijaga oleh kaum muslimin dari berbagai upaya perubahan dan penyusupan, sebagai bentuk pembenaran dari firman Allah l:
“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (Al-Hijr: 9)
As-Sa’di t menjelaskan ayat ini, “Sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya,’ maksudnya adalah menjaganya ketika diturunkan maupun setelahnya. Ketika diturunkan, Allah l menjaganya dari setan yang terkutuk yang hendak mencurinya. Setelah diturunkan, Allah l meletakkannya di dalam hati Rasul-Nya, lalu meletakkannya dalam hati umatnya. Allah l menjaganya dari berbagai perubahan, penambahan, dan pengurangan, serta memelihara maknanya dari perubahan. Tidaklah seseorang melakukan perubahan pada salah satu maknanya melainkan Allah l memberi jaminan akan adanya orang yang menjelaskan kebenaran dengan gamblang. Ini merupakan tanda kebesaran-Nya yang paling agung dan kenikmatan-Nya terhadap hamba-hamba-Nya yang beriman.” (Tafsir As-Sa’di, Taisir Al-Karim Ar-Rahman)
Oleh karena itu, Al-Qur’an Al-Karim dinukilkan kepada umat ini dengan cara yang sangat otentik, sejak generasi sahabat yang meriwayatkan Al-Qur’an dengan berbagai jenis qira’ahnya secara mutawatir kepada generasi setelahnya, hingga pada masa kita ini.
Demikian pula halnya hadits-hadits Rasulullah n, yang merupakan penjelas wahyu Al-Qur’an yang telah Allah l turunkan, senantiasa terpelihara dan terjaga dari berbagai perubahan. Abu Bakr Muhammad bin Ahmad t (wafat 350 H) mengatakan, “Sampai berita kepadaku bahwa Allah l telah memberi kekhususan umat ini dengan tiga hal yang tidak diberikan kepada umat-umat sebelumnya: ilmu sanad, nasab, dan i’rab.” (Diriwayatkan oleh Al-Khathib al-Baghdadi dalam Syaraf Ashabil Hadits hal. 40, juga dinukilkan dari ucapan Abu Ali al-Jayyani al-Ghassani. Lihat Tadrib ar-Rawi, As-Suyuthi, 2/160)
Ibnu Hazm t menerangkan, “Penukilan seorang tsiqah (tepercaya) dari orang yang tsiqah pula sampai kepada Nabi n, disertai sanad yang bersambung, merupakan keistimewaan penukilan yang diberikan oleh Allah l kepada kaum muslimin dan tidak dimiliki agama-agama yang lain…. ” (Al-Fishal, Ibnu Hazm, 2/219—223)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t mengatakan, “Ilmu sanad dan riwayat merupakan keistimewaan yang Allah l berikan kepada umat Muhammad n. Allah l menjadikannya sebagai tangga untuk mengetahui sesuatu. Ahli kitab tidak memiliki sanad dalam menukilkan riwayat-riwayat mereka. Demikian pula ahli bid’ah dan kelompok yang sesat dari kalangan umat ini. Sanad ini hanya dimiliki oleh kaum yang telah menerima anugerah yang besar dari Allah l, yang berpegang kepada Islam dan sunnah. Dengan sanad, mereka bisa membedakan antara yang sahih dan yang berpenyakit, yang bengkok dan yang lurus.” (Majmu’ Fatawa, 1/9)

Pengertian Sanad
Sanad—atau terkadang disebut isnad—secara bahasa berarti sesuatu yang dijadikan sandaran. Kata isnad berasal dari kata asnada أَسْنَدَ, yang bermakna menyandarkan. Adapun secara etimologi, sanad dan isnad merupakan dua istilah yang sering digunakan untuk menunjukkan satu makna, yaitu:
سِلْسِلَةُ الرِّجَالِ الْمُوْصِلَةُ إِلَى الْمَتْنِ
“Rantai perawi yang bersusun yang membawa kepada matan.”
Sebagian ulama membedakan sanad dengan isnad. Mereka mengatakan, “Sanad adalah para perawi hadits, sedangkan isnad adalah perbuatan para perawi tersebut.”
Matan adalah sebuah ucapan yang merupakan ujung dari sanad tersebut. (Lihat definisi tersebut dalam kitab Nuzhatun Nazhar, karya Al-Hafizh Ibnu Hajar hlm. 53, Qawa’id At-Tahdits, Jamaluddin al-Qasimi hlm. 202, Qawa’id fi ‘Ulumil Hadits, karya at-Tahawuni hlm. 26, dll)

Sejarah Munculnya Ilmu Sanad
Di masa Rasulullah n, ilmu sanad belum menjadi hal yang sangat penting dalam penukilan, karena para sahabat yang meriwayatkan hadits Nabi n adalah orang-orang yang adil dan tepercaya. Mereka adalah pribadi-pribadi yang senantiasa jujur dalam penukilan dan tidak pernah berdusta. Nabi n bersabda pada haji wada’:
أَلَا، لِيُبَلِّغِ الشَّاهِدُ مِنْكُمُ الْغَائِبَ
“Hendaknya yang hadir di antara kalian menyampaikan kepada yang tidak hadir.” (Muttafaqun ‘alaihi)
Ibnu Hibban al-Busti t mengatakan dalam muqaddimah Shahih-nya:
وَفِي قَوْلِهِ n: أَلَا لِيُبَلِّغِ الشَّاهِدُ مِنْكُمُ الْغَائِبَ؛ أَعْظَمُ الدَّلِيلِ عَلَى أَنَّ الصَّحَابَةَ كُلَّهُمْ عُدُولٌ لَيْسِ فِيْهِمْ مَجْرُوحٌ وَلَا ضَعِيفٌ، إِذْ لَوْ كَانَ فِيْهِمْ مَجْرُوحٌ أَوْ ضَعِيفٌ أَوْ كَانَ فِيْهِمْ أَحَدٌ غَيْرَ عَدْلٍ لَاسْتَثْنَى فِي قَوْلِهِ n وَقَالَ: أَلَا لِيُبَلِّغْ فُلَانٌ وَفُلَانٌ مِنْكُمُ الْغَائِبَ؛ فَلَمَّا أَجْمَلَهُمْ فِي الذِّكْرِ بِالْأَمْرِ بِالتَّبْلِيغِ مَنْ بَعْدَهُمْ دَلَّ ذَلِكَ عَلَى أَنَّهُمْ كُلَّهُمْ عُدُولٌ وَكَفَى بِمَنْ عَدَّلَهُ رَسُولُ اللهِ n شَرَفًا
“Pada sabda beliau n, ‘Hendaknya yang hadir di antara kalian menyampaikan kepada yang tidak hadir,’ terdapat dalil yang sangat jelas tentang sikap ‘adl (jujur) para sahabat. Tidak seorang pun dari mereka yang tercela dan lemah. Kalau di antara mereka ada yang tercela, lemah, atau tidak jujur, tentu beliau n telah mengecualikannya dengan bersabda, ‘Hendaknya si fulan dan si fulan di antara kalian yang menyampaikan kepada yang tidak hadir.’ Tatkala beliau n menyebutkannya secara global dalam perintah menyampaikan agama, ini menunjukkan bahwa mereka semuanya adil. Cukuplah sebagai kemuliaan bagi mereka yang mendapatkan rekomendasi Rasulullah n.” (Shahih Ibnu Hibban bersama Al-Ihsan, 1/162)
Diriwayatkan pula oleh Al-Khathib t dengan sanadnya dari Al-Bara’ bin ‘Azib z, ia berkata:
لَيْسَ كُلُّنَا سَمِعَ حَدِيثَ رَسُولِ اللهِ n، كَانَتْ لَنَا ضِيعَةٌ وَأَشْغَالٌ وَكَانَ النَّاسُ لَمْ يَكُونُوا يَكْذِبُونَ يَوْمَئِذٍ فَيُحَدِّثُ الشَّاهِدُ الْغَائِبَ
“Tidak semua dari kami mendengar hadits Rasulullah n, karena kami mencari nafkah dan memiliki kesibukan, dan orang-orang pada waktu itu tidak pernah berdusta, sehingga yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir.” (Al-Kifayah fi ‘Ilmi ar-Riwayah, Al-Khathib al-Baghdadi, 2/no. 1210)
Demikian pula yang diriwayatkan dari Anas bin Malik z. Ia berkata, “Tidak semua yang kami beritakan kepada kalian dari Rasulullah n kami mendengarnya langsung dari beliau. Akan tetapi, para sahabat kami memberitakan kepada kami dan kami adalah kaum yang tidak berdusta terhadap orang lain.” (Al-Kifayah, 2/1211)
Setelah Rasulullah n meninggal, hawa nafsu pun semakin merebak di tengah-tengah kaum muslimin. Semakin banyak pula bermunculan penyimpangan berupa bid’ah, hilangnya amanah, dan menghalalkan dusta dengan tujuan-tujuan tertentu, baik urusan dunia maupun sebuah keyakinan. Hal inilah yang menyebabkan para ulama salaf bertekad melakukan penelitian terhadap setiap berita yang disandarkan kepada Rasulullah n.
Thawus t berkata:
جَاءَ هَذَا إِلَى ابْنِ عَبَّاسٍ -يَعْنِى بُشَيْرَ بْنَ كَعْبٍ- فَجَعَلَ يُحَدِّثُهُ فَقَالَ لَهُ ابْنُ عَبَّاسٍ: عُدْ لِحَدِيثِ كَذَا وَكَذَا. فَعَادَ لَهُ ثُمَّ حَدَّثَهُ فَقَالَ لَهُ: عُدْ لِحَدِيثِ كَذَا وَكَذَا. فَعَادَ لَهُ فَقَالَ لَهُ: مَا أَدْرِي أَعَرَفْتَ حَدِيثِي كُلَّهُ وَأَنْكَرْتَ هَذَا أَمْ أَنْكَرْتَ حَدِيثِي كُلَّهُ وَعَرَفْتَ هَذَا. فَقَالَ لَهُ ابْنُ عَبَّاسٍ: إِنَّا كُنَّا نُحَدِّثُ عَنْ رَسُولِ اللهِ n إِذْ لَمْ يَكُنْ يُكْذَبُ عَلَيْهِ، فَلَمَّا رَكِبَ النَّاسُ الصَّعْبَ وَالذَّلُولَ تَرَكْنَا الْحَدِيثَ عَنْهُ
Orang ini, Busyair bin Ka’ab, datang kepada Ibnu Abbas c lalu menyampaikan hadits. Ibnu Abbas c berkata kepadanya, “Ulangi hadits ini dan itu.” Busyair pun mengulangi kembali. Ibnu Abbas c kembali berkata, “Ulangi hadits ini dan itu.” Dia pun kembali mengulangi. Lalu Busyair berkata, “Aku tidak tahu, apakah engkau mengetahui semua haditsku dan engkau mengingkari yang ini, atau engkau mengingkari semua haditsku dan engkau mengetahui (tidak mengingkari) yang ini.” Ibnu Abbas c lalu berkata, “Sesungguhnya kami dahulu memberitakan hadits dari Rasulullah n, sebab belum ada kedustaan terhadap beliau n. Akan tetapi, tatkala orang-orang mulai menunggangi unta yang sulit dan yang mudah (yakni menempuh segala jalan, yang terpuji maupun yang tercela), kami pun tidak mengambil haditsnya (tanpa penelitian).” (Muqaddimah Shahih Muslim, 1/19)
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa beliau berkata, “Sesungguhnya dahulu jika kami mendengar seseorang berkata: ‘Rasulullah n bersabda…,’ pandangan kami segera tertuju kepadanya dan pendengaran kami menyimaknya. Namun,  ketika orang-orang mulai menunggangi unta yang sulit dan yang mudah (yakni menempuh segala jalan, yang terpuji maupun yang tercela), kami pun tidak mengambil riwayat manusia kecuali yang kami kenal.” (Muqaddimah Shahih Muslim, 1/21)
Demikian pula yang dikatakan oleh Ibnu Sirin t:
لَمْ يَكُونُوا يَسْأَلُونَ عَنِ الْإِسْنَادِ، فَلَمَّا وَقَعَتِ الْفِتْنَةُ قَالُوا: سَمُّوا لَنَا رِجَالَكُمْ؛ فَيُنْظَرُ إِلَى أَهْلِ السُّنَّةِ فَيُؤْخَذُ حَدِيثُهُمْ وَيُنْظَرُ إِلَى أَهْلِ الْبِدَعِ فَلاَ يُؤْخَذُ حَدِيثُهُمْ
“Dahulu mereka tidak pernah bertanya tentang sanad. Namun, tatkala telah terjadi fitnah mereka berkata, ‘Sebutkan nama perawi-perawi kalian!’ Kemudian dilihat kepada Ahlus Sunnah maka diambil haditsnya, dan dilihat kepada ahli bid’ah maka tidak diambil haditsnya.” (Muqaddimah Shahih Muslim, 1/27)
Ibnu Lahi’ah t berkata, “Aku mendengar seorang Syaikh dari kalangan Khawarij berkata, ‘Sesungguhnya hadits-hadits ini adalah agama, maka perhatikanlah dari mana kalian mengambil agama kalian. Sesungguhnya, dahulu jika kami menghendaki suatu hal, kami membuatnya menjadi hadits.” (Al-Kifayah, 1/327)
Oleh karena itu, para ulama salafus saleh berusaha keras untuk senantiasa melakukan pengecekan terhadap setiap sanad, demi menjaga syariat yang mulia agar senantiasa dalam keadaan jernih.
Wallahu a’lam.

Upaya Mengagungkan Sunnah Nabi

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin)

 

Rihlah (melakukan perjalanan) dengan tujuan memperoleh hadits atau ilmu agama Islam telah dilakukan oleh para sahabat semenjak masa Nabi n. Sebagian mereka melakukan rihlah karena ingin mendengarkan risalah baru yang dibawa Rasulullah n. Mereka ingin mendengarkan Al-Qur’an Al-Karim yang diwahyukan kepada Rasulullah n. Selain itu, ingin pula mempelajari Islam dari beliau n. Sebagian mereka meninggalkan keluarga selama beberapa hari dan menetap bersama Rasulullah n. Ini tergambar dari hadits Abu Sulaiman Malik ibnul Huwairits z. Dia berkata:
قَدِمْنَا عَلَى النَّبِيِّ n وَنَحْنُ شَبَبَةٌ فَلَبِثْنَا عِنْدَهُ نَحْوًا مِنْ عِشْرِينَ لَيْلَةً وَكَانَ النَّبِيُّ n رَحِيمًا فَقَالَ: لَوْ رَجَعْتُمْ إِلَى بِلَادِكُمْ فَعَلَّمْتُمُوهُمْ، مُرُوهُمْ فَلْيُصَلُّوا صَلَاةَ كَذَا فِي حِينِ كَذَا وَصَلَاةَ كَذَا فِي حِينِ كَذَا، وَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلَاةُ فَلْيُؤَذِّنْ لَكُمْ أَحَدُكُمْ وَلْيَؤُمَّكُمْ أَكْبَرُكُمْ
Kami, beberapa pemuda, menetap bersama Nabi n (di Madinah) selama dua puluh malam. Adalah Nabi n bersikap penyayang. Beliau n bersabda, “Apabila kalian pulang ke negeri kalian, bimbinglah masyarakat negeri kalian. Perintahkan mereka agar shalat ini pada waktu ini dan shalat itu pada waktu itu. Apabila tiba waktu shalat, adzanlah dan hendaklah yang tertua di antara kalian menjadi imam.” (HR. Al-Bukhari no. 675)
Dalam riwayat lain disebutkan:
وَصَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي
“…Dan shalatlah kalian sebagaimana kalian melihatku shalat.” (HR. Al-Bukhari no. 631)
Jabir bin Abdillah al-Anshari z, seorang sahabat yang mulia, pernah bertutur bahwa telah sampai kepadanya sebuah hadits dari seseorang yang mendengarnya langsung dari Rasulullah n. Dia lantas membeli seekor unta dan pergi ke negeri Syam menungganginya. Perjalanan ditempuhnya selama satu bulan. Setiba di Syam, dia menemui Abdullah bin Unais z. Dia katakan kepada penjaga pintu, “Katakan kepadanya, Jabir (menanti) di depan pintu.” Penjaga itu pun menyampaikannya kepada Abdullah bin Unais z. Kemudian Abdullah bin Unais z menyapa, “Ibnu Abdillah?” “Ya,” jawab Jabir. Keluarlah Abdullah bin Unais z menemui Jabir bin Abdillah z. Keduanya lalu berpelukan. Jabir lantas mengungkapkan, “Telah sampai kepadaku sebuah hadits yang berasal darimu. Sesungguhnya engkau mendengarnya dari Rasulullah n. Aku khawatir aku dan engkau meninggal sebelum aku mendengarnya. Abdullah bin Unais z menjawab, “Aku telah mendengar (hadits tersebut) dari Rasulullah n yang bersabda:
يَحْشُرُ اللهُ النَّاسَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عُرَاةً ….
“Allah mengumpulkan manusia pada hari kiamat dalam keadaan tidak berpakaian….” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad, juga disebutkan dalam Shahih Al-Bukhari dalam Kitabul ‘Ilmi, Bab Al-Khuruj fi Thalabil ‘Ilmi)
Bagaimana pula dengan Abu Ayub Al-Anshari z? ‘Atha bin Abi Rabah pernah berkisah tentang sahabat mulia yang satu ini. Katanya, “Abu Ayub menemui ‘Uqbah bin ‘Amir z yang menetap di Mesir. Dia hendak menanyakan kepada ‘Uqbah perihal satu hadits yang pernah didengar ‘Uqbah dari Rasulullah n. Tatkala Abu Ayub tiba di rumah Maslamah bin Mukhallad al-Anshari, yang menjabat Gubernur Mesir waktu itu, diberitahukanlah kedatangan Abu Ayub kepadanya. Maslamah pun bergegas menyambutnya dan keduanya berpelukan saat bertemu kali pertama. Abu Ayub ditanya, “Apa yang menyebabkan engkau datang kemari?” Jawabnya, “Sebuah hadits yang aku dengar berasal dari Rasulullah n.” Lantas Maslamah menunjuk seseorang yang bisa mengantarkan Abu Ayub ke tempat ‘Uqbah bin ‘Amir. Setiba di tempat ‘Uqbah, Abu Ayub ditanya, “Apa yang menyebabkan engkau datang kemari?” Jawab Abu Ayub, “Sebuah hadits yang berasal dari Rasulullah n perihal (adab) menutupi (cacat/aib) seorang mukmin.” Kata Uqbah, “Ya. Aku telah mendengar Rasulullah bersabda:
مَنْ سَتَرَ مُؤْمِنًا فِي الدُّنْيَا عَلَى كُرْبَتِهِ سَتَرَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Barang siapa yang menutupi (tidak menyebarkan) kejelekan seorang mukmin di dunia, Allah akan menutupi kejelekannya pada hari kiamat nanti.”
Setelah mendengar pernyataan ‘Uqbah bin ‘Amir, Abu Ayub pun berucap, “Engkau benar.” Lantas dia pun pamit dan pulang ke Madinah. (Shuwarun min Shabril Ulama ‘ala Syada’idil ‘Ilmi wat Tahshil, Shalahuddin bin Mahmud as-Sa’id, hlm. 45—46)
Demikianlah para sahabat g. Mereka menampilkan keberanian untuk menempuh perjalanan jauh nan penuh aral melintang, dan tentu saja, tingkat kesulitan yang jauh lebih tinggi dibanding zaman sekarang. Semua itu mereka tempuh walau hanya untuk mendapatkan satu hadits. Lantaran ini pula, Al-Imam Ash-Shahabi, Abdullah bin Mas’ud z pernah berkata, “Seandainya aku mengetahui ada orang yang lebih berilmu daripada diriku tentang Kitabullah, niscaya aku akan menaiki unta mendatanginya.” Begitu pula sahabat-sahabat mulia lainnya.
Demikian halnya dengan para tabi’in yang mulia. Sa’id bin Musayib t, pernah mengatakan, “Sungguh aku pernah melakukan perjalanan sehari semalam hanya untuk mendapatkan satu hadits.”
Dari Katsir bin Qais, dia mengatakan bahwa dirinya pernah bermajelis di sisi Abu Darda’ z di sebuah masjid Damaskus. Datanglah seorang laki-laki dan berkata, “Wahai Abu Darda’, aku datang dari Madinah untuk menjumpaimu berkaitan dengan satu hadits. Telah sampai kepadaku berita bahwa hadits yang engkau beritakan itu dari Nabi n.” Abu Darda’ lalu bertanya, “Apakah kedatanganmu karena ada keperluan dagang?” Jawab laki-laki itu, “Tidak.” “Atau karena keperluan lainnya?” tanya Abu Darda’ lebih lanjut. Jawabnya, “Tidak.” Menanggapi hal itu, Abu Darda’ berucap, “Sungguh aku telah mendengar Rasulullah n bersabda:
مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
“Barang siapa yang menempuh satu jalan dalam rangka mencari ilmu, Allah akan memudahkan untuknya jalan menuju surga.”
Sampai-sampai ada yang meriwayatkan perkataannya, “Apabila kami telah mendengar satu riwayat di Basrah dari para sahabat Rasulullah n, kami tidak ridha hingga kami berkendara menuju Madinah dan mendengarkan riwayat tersebut langsung dari lisan-lisan para sahabat.” (Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim, 1/15—16)
Kisah rihlah guna mendapatkan hadits atau ilmu agama telah banyak dipaparkan oleh para ulama. Cukup sudah sebagai bukti betapa kemuliaan umat ini ditinggikan dengan amalan rihlah yang mulia. Sebab, bagaimanapun, rihlah yang ditempuh para ulama merupakan bentuk penjagaan terhadap As-Sunnah. Melalui rihlah itulah As-Sunnah terkumpul dan tersusun dengan baik.
Sesungguhnya, pemeliharaan dan penjagaan para sahabat g, tabi’in, dan orang-orang setelah mereka rahimahumullah terhadap hadits nan mulia, serta rihlah untuk mendapatkannya, merupakan bentuk upaya mendapatkan ketinggian dalam isnad. Selain itu, untuk menegaskan secara pasti perihal kesahihan dari apa yang telah didengarnya. Bahkan bagi mereka juga sebagai bentuk tatsabbut (klarifikasi) terhadap seorang perawi yang meriwayatkan hadits atau peristiwa tertentu. Karena itu, salah satu kekhususan yang paling penting dari umat Nabi Muhammad n adalah isnad. Melalui isnad inilah, proses penyampaian ilmu-ilmu syariat dari generasi salaf kepada generasi berikutnya terlaksana. Senyatanya, isnad merupakan syarat utama dan pertama dalam ilmu penukilan, walaupun yang dinukil hanya satu kalimat. Oleh karena itu, generasi yang datang kemudian (khalaf) akan bergantung kepada generasi terdahulu (salaf) lantaran adanya isnad.
Isnad secara bahasa terambil dari wazan أَفْعَلَ. Makna isnad adalah:
إِضَافَةُ الشَّيْءِ إِلَى الشَّيْءِ
“Menyandarkan sesuatu kepada sesuatu yang lain.”
Adapun secara istilah, isnad memiliki dua penggunaan.
1.    Mengangkat hadits kepada yang mengatakannya, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Jamaah. Adapun menurut Al-Manawi, arti أَسْنَدْتُهُ إِلَى فُلَانٍ (aku telah mengisnadkan kepada fulan) adalah aku telah mengangkat hadits kepadanya dengan menyebutkan penukilnya. Menurut Al-Jurzani, isnad yaitu seorang muhaddits menyebutkan:
حَدَّثَنَا فُلَانٌ عَنْ فُلَانٍ عَنِ النَّبِيِّ n
“Fulan telah menyampaikan hadits kepada kami dari fulan, dari Nabi n.”
2.    Memiliki makna as-sanad, yaitu jalan yang menyampaikan kepada matan (hadits). (Lihat ‘Ulumul Hadits, Muhammad Abu al-Laits al-Khair Abadi, hlm. 31)
Isnad merupakan salah satu kekhususan yang utama bagi umat ini. Kekhususan ini tidak diberikan kepada umat-umat sebelumnya. Dalam Tarikh Naisabur karya Al-Hakim an-Naisaburi t, disebutkan dari Ishaq bin Ibrahim al-Hanzhali—lebih dikenal sebagai Ishaq bin Rahawaih—bahwa dia berkata, “Apabila Abdullah bin Thahir—Gubernur Khurasan pada masa Abbasiah, wafat tahun 230 H—bertanya kepadaku tentang sebuah hadits, aku menyebutkannya kepadanya tanpa sanad. Lalu dia bertanya tentang sanad hadits tersebut seraya mengatakan, “Meriwayatkan sebuah hadits tanpa disertai isnad termasuk perbuatan az-zamna (orang-orang berpenyakit). Sungguh, isnad hadits merupakan karamah (kemuliaan) dari Allah l bagi umat Muhammad n’.”
Isnad merupakan bagian agama yang agung kedudukannya. Al-Hafizh Al-Khathib al-Baghdadi dalam Tarikh Baghdad—ketika menyebutkan biografi Abu Ishaq Ibrahim bin Muhammad al-Amin al-Bukhari—telah meriwayatkan dengan sanadnya sampai kepada murid Abdullah bin al-Mubarak, Abdan bin Utsman, bahwa dia berkata, “Aku telah mendengar Abdullah bin al-Mubarak berkata:
الْإِسْنَادُ مِنَ الدِّينِ وَلَوْلَا الْإِسْنَادُ لَقَالَ مَنْ شَاءَ مَا شَاءَ
“Isnad adalah bagian dari agama. Jika tidak ada isnad, seseorang akan mengatakan apa yang dia kehendaki.”
Seiring terjadinya fitnah pada umat, banyaknya pemalsuan hadits, dan kedustaan atas nama Nabi n, isnad menjadi satu prinsip yang harus diteguhkan. Dengan mengetahui para periwayat sebuah hadits, akan diketahui apakah hadits tersebut kuat atau lemah, benar atau dusta. Jika para periwayat hadits tersebut adalah orang-orang yang adil, haditsnya diterima. Jika tidak, haditsnya ditolak. Ibnu Sirin t pernah mengungkapkan bahwa mereka dahulu tidak menanyakan tentang isnad. Namun, tatkala terjadi fitnah, mereka mengatakan, “Sebutkan rijal (para periwayat hadits) kalian. Mereka melihat kepada Ahlus Sunnah maka diambil hadits mereka. Dan mereka melihat kepada ahlul bid’ah maka mereka tidak mengambil haditsnya.”
Muhammad bin Sirin t juga mengungkapkan:
إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِيْنٌ فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِيْنَكُمْ
“Sesungguhnya ilmu ini adalah agama. Maka dari itu, perhatikan dari siapa kalian mengambil agama kalian.” (Muqaddimah Shahih Muslim)
Pernyataan Muhammad bin Sirin t di atas merupakan sepenggal nasihat emas bagi kaum muslimin. Nasihat untuk tidak meremehkan sumber pengambilan nilai-nilai Islam. Betapa banyak kaum muslimin yang terperosok dalam kesesatan lantaran salah mengambil dan mempelajari agama Islam. Bisa jadi, materi kajian yang disampaikan adalah sama, yaitu dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, namun tatkala mubalig yang menyampaikan penjelasan ayat dan hadits tersebut memiliki pemikiran dan keyakinan yang menyelisihi salafus shalih, nilai-nilai Islam yang diajarkan pun menjadi tidak benar. Hadits-hadits lemah dan palsu pun dijadikan pegangan dalam mengamalkan Islam. Muara semua itu adalah terseretnya umat kepada kesesatan. Wal ‘iyadzu billah.
Ali bin Abi Thalib z berkata, “Nabi n bersabda:
لَا تَكْذِبُوا عَلَيَّ فَإِنَّهُ مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ فَلْيَلِجِ النَّارَ
“Janganlah kalian berdusta atas namaku. Barang siapa berdusta atas namaku, dia akan masuk neraka.” (HR. Al-Bukhari no. 106)
Anas bin Malik z berkata:
إِنَّهُ لَيَمْنَعُنِي أَنْ أُحَدِّثَكُمْ حَدِيثًا كَثِيرًا أَنَّ النَّبِيَّ n قَالَ: مَنْ تَعَمَّدَ عَلَيَّ كَذِبًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ
Sesungguhnya yang menghalangiku menyampaikan banyak hadits kepada kalian adalah bahwasanya Nabi n bersabda, “Barang siapa dengan sengaja berdusta atas namaku, maka siapkanlah tempat duduknya di neraka.” (HR. Al-Bukhari no. 108)
Salamah z berkata, “Aku mendengar Rasulullah n bersabda:
مَنْ يَقُلْ عَلَيَّ مَا لَمْ أَقُلْ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ
‘Barang siapa berbicara atas namaku, padahal aku tidak pernah mengucapkannya, maka siapkanlah tempat duduknya di neraka’.” (HR. Al-Bukhari no. 109)
Menurut Ibnu Hajar al-’Asqalani t dalam Fathul Bari (1/253), yang dimaksud “Janganlah kalian berdusta atas namaku” (dalam hadits Ali z) adalah kedustaan yang bersifat umum, meliputi seluruh kedustaan secara mutlak. Jadi, maknanya adalah “Janganlah kalian menisbahkan kedustaan itu kepadaku.”
Adapun menurut Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin t, berdusta atas nama Allah l dan Rasul-Nya tidak seperti berdusta atas nama selain keduanya. Berdusta atas nama Allah dan Rasul-Nya sudah memuat unsur hukum syar’i, atau berkait dengan sifat Allah k yang tidak sahih dari-Nya. Maka dari itu, dusta semacam ini merupakan kedustaan terbesar atas nama Allah l. Allah l berfirman:
“Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat kedustaan terhadap Allah….” (Al-An’am: 93)
Setelah itu, kedustaan yang diatasnamakan Nabi n (termasuk dalam kategori ini). Kedustaan atas nama Nabi n di dalam syariat sama kedudukannya dengan kedustaan atas nama Allah l.
Adapun hadits Anas bin Malik z:
مَنْ تَعَمَّدَ عَلَيَّ كَذِبًا…
“Barang siapa dengan sengaja berdusta atas namaku….”
membatasi kemutlakan dua hadits sebelumnya. Oleh karena itu, apabila seseorang dengan sengaja meniatkan berdusta atas nama Rasulullah n berarti dia telah mengubah apa yang telah disyariatkan atau dia menghalalkannya. Sungguh hal yang semacam ini akan mengeluarkannya dari Islam. Faedah lain dari hadits-hadits tersebut adalah seseorang tidak boleh menyampaikan hadits dhaif melainkan bila hendak menyampaikan perihal kedhaifannya, karena dikhawatirkan setelah mendengar hadits dhaif tersebut akan ada orang yang mengamalkannya. Ini tentu saja berbahaya. Adapun hadits yang maudhu’ (palsu), tentu lebih dahsyat lagi bahayanya. (Syarhu Shahih al-Bukhari, asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, 1/281—285)

Hakikat Mengagungkan Sunnah Nabi n
Sesungguhnya Allah l telah memerintahkan kaum muslimin untuk menaati Rasulullah n. Allah l berfirman:
“Katakanlah: ‘Taatilah Allah dan Rasul-Nya, jika kamu berpaling maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir’.” (Ali ‘Imran: 32)
Allah l berfirman pula:
“Barang siapa yang menaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menaati Allah. Dan barang siapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.” (An-Nisa’: 80)
Dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah z, dari Nabi n, beliau n bersabda:
كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، وَمَنْ يَأْبَى؟ قَالَ: مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى
“Setiap umatku akan masuk surga kecuali yang enggan.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang enggan itu?” Jawab beliau n, “Barang siapa menaatiku dia masuk surga, sedangkan orang yang durhaka kepadaku maka sungguh dia telah enggan.” (HR. Al-Bukhari no. 7280)
Allah l telah memerintahkan kaum muslimin untuk mengikuti Rasulullah n. Hal ini bahkan dijadikan sebagai syarat bila hendak mendapatkan kecintaan-Nya. Allah l berfirman:
“Katakanlah: ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Ali ‘Imran: 31)
Bahkan, Allah l memerintahkan manusia untuk mengikuti Rasulullah n sebagai cara untuk memperoleh hidayah. Allah l berfirman:
“Katakanlah: ‘Wahai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada ilah (yang berhak disembah) selain Dia, yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk’.” (Al-A’raf: 158)
Allah l juga telah menjadikan Rasulullah n sebagai teladan terbaik bagi seluruh umat. Allah l berfirman:
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut nama Allah.” (Al-Ahzab: 21)
Ayat ini memberikan isyarat bahwa orang yang beriman dan menghendaki ganjaran dari Allah l hendaklah menjadikan Rasulullah n sebagai teladan dalam segala aspek kehidupan. Tiadalah hakikat meneladani, menaati, dan mengikuti apa yang telah dicontohkan oleh Rasulullah n melainkan menunaikan apa yang diperintahkan dan mencegah apa yang dilarang oleh Allah l dan Rasul-Nya n. (‘Ulumul Hadits, Muhammad Abu Al-Laits, hlm. 41—42)
Inilah hakikat mengagungkan As-Sunnah An-Nabawiyah, yaitu menghidupkan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari dengan senantiasa mengikhlaskannya karena Allah l.
Wallahu a’lam, walhamdu lillahi Rabbil ‘alamin.

Surat Pembaca edisi 61

Asy-Syariah Mudah Dipahami?
Afwan saya ingin memberi masukan buat majalah Asy-Syariah.
1. Sebagai orang awam saya masih belum bisa menerima slogan majalah Asy-Syariah sebagai majalah yang ilmiah dan mudah dipahami. Untuk “Ilmiah”, insya Allah saya sepakat. Tetapi untuk slogan “Mudah Dipahami” sepertinya kurang cocok, karena banyak materi yang disajikan harus dibaca secara serius dan butuh waktu lebih dari satu kali baca untuk memahaminya. Ini juga dialami oleh beberapa teman yang membaca Asy-Syariah.
2. Seringkali materi rubrik Sakinah cenderung membela atau condong kepada kaum laki-laki, serta cenderung banyak menuntut para kaum hawa. Bukankah laki-laki dan perempuan dalam Islam itu sama? Atau memang hak laki-laki itu lebih besar?
3.Terima kasih buat majalah Asy-Syariah, meskipun harus “serius”, banyak manfaat yang telah saya dapatkan dari majalah ini
Ummu Faza-Solo
faza.xxxx@gmail.com
1.    Sebenarnya slogan “Mudah Dipahami” tersebut berawal dari harapan sekaligus penekanan bahwa agama ini mudah dijalankan oleh umat Islam secara umum. Anggapan bahwa yang bisa paham agama haruslah dari lingkungan ma’had (pondok pesantren) memang tidak sepenuhnya salah. Untuk bisa memahami ilmu agama secara lebih intensif, luas, dan dalam, memang harus dan sangat utama dikaji di ma’had-ma’had karena untuk memahami ilmu agama kita memerlukan pembimbing (ustadz). Sehingga menjadi hal yang patut disyukuri jika kita berkesempatan menimba ilmu di ma’had-ma’had.
Namun demikian, sebagian orang menghadapi keterbatasan-keterbatasan, baik ilmu, waktu, maupun lainnya. Sehingga Asy-Syariah sebagai sebuah majalah—dan sarana dakwah—diharapkan bisa memberikan kemudahan sekaligus menjembatani “jurang keilmuan” ini.
Asy-Syariah sendiri berupaya menyuguhkan pembahasan seilmiah mungkin, dengan dalil yang lengkap, mengutip ucapan sahabat, tulisan atau pendapat ulama, dan sebagainya. Selain itu, kami acapkali juga memaparkan perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang suatu masalah. Faktor lain adalah ketika sebuah pembahasan ilmiah berupa terjemah dari kitab ulama, yang terkadang penulis pun harus membacanya berulang-ulang agar bisa menerjemahkan dengan tepat. Beda halnya bila tulisan itu murni ungkapan penulis, insya Allah lebih mudah dipahami.
Sehingga bisa jadi karena hal ini, dan keterbatasan kami dalam mengedit bahasa, sejumlah artikel tertentu menjadi tidak mudah untuk dipahami. Mohon maaf jika apa yang kami sajikan masih jauh dari yang diharapkan, namun demikian kami terus berupaya memperbaiki diri, insya Allah.
2.    Sakinah merupakan kumpulan artikel yang ditulis dari sudut pandang wanita. Walaupun bisa jadi terkesan “mengalah” atau “dikalahkan”, tetapi itulah bimbingan syariat. Namun demikian, ini tetaplah kesan, karena jika kita bisa memahami lebih dalam, solusi yang ditawarkan Islam dalam menghadapi masalah wanita dan keluarga justru selaras dengan fitrah. Jika kita menyelesaikan setiap masalah keluarga dengan logika, perasaan, terlebih emosi, tentu bukan penyelesaian yang didapat namun justru pertikaian. Wallahu a’lam.
3.    Jazakumullahu khairan.

Terjaganya Kemurnian Islam

Islam adalah agama yang sangat ilmiah. Seluruh sejarah, kisah, atau riwayat menyangkut Islam didasarkan pada rantai berita yang bisa dipertanggungjawabkan kesahihannya. Salah satu keistimewaan yang membuat Islam tetap “orisinal” hingga kini, karena di dalam Islam dikenal adanya ilmu sanad atau mata rantai berita. Berita tentang ucapan, perbuatan, maupun gambaran hidup Rasulullah n, para sahabatnya, dan salafush shalih yang hidup setelahnya—sampai kepada kita di zaman sekarang ini—direkam oleh para pembawa berita (perawi) pilihan, baik dari segi kapasitas ataupun kapabilitasnya. 
Dengan jaminan Allah l, setiap upaya yang bertujuan mengaburkan keaslian Islam baik berupa pemalsuan ayat, hadits, maupun pemutarbalikan sejarah Islam, bisa terdeteksi sejak dini. Allah l memunculkan ahli hadits di setiap zaman yang siang malam berupaya menjaga kemurnian Islam. Mereka menyuguhkan kepada umat hadits-hadits pilihan yang bisa dijadikan hujjah (dalil) dalam berakidah dan beramal. Mereka menyeleksi betul siapa-siapa perawi yang tepercaya dan yang tidak. Karena itu, Islam tumbuh menjadi agama yang sangat ilmiah. Ia bukan kabar burung yang tidak jelas siapa sumber beritanya. Ia bukan mitos yang merupakan cerita nenek moyang yang sampai ke anak cucu. Ia bukan pula agama yang banyak “konon” atau “katanya”, layaknya rumor politik atau gosip selebritas.
Dengan sanad akan termentahkan hadits-hadits lemah atau palsu yang banyak disusupkan kelompok-kelompok sesat untuk membenarkan akidah atau amalan batil mereka, agar di hadapan umat mereka seolah-olah sedang mengamalkan sesuatu yang berasal dari Rasulullah n, padahal bukan. Seperti yang dilakukan “pakar” hadits palsu yakni kelompok Sufi atau Syiah.
Begitu kokohnya ilmu sanad dalam menjaga kemurnian agama ini, membuat musuh-musuh Islam mengarahkan serangan kepada para perawi utama yakni para sahabat. Citra buruk, imej negatif, berita timpang, atau fitnah tak henti-hentinya diarahkan kepada sejumlah sahabat terutama yang memang banyak meriwayatkan hadits. Sebutlah serangan terhadap Abu Hurairah z dan Aisyah x. Tujuannya tak lain adalah membuat umat tidak lagi memercayai hadits, salah satu pilar utama Islam. Lebih jauh, umat semakin dibuat ragu terhadap agamanya.
Ironisnya, banyak tokoh Islam yang larut dalam persekongkolan yang didesain musuh-musuh Islam ini. Sejumlah tokoh liberal, melalui tulisan-tulisannya, bahu-membahu menjatuhkan kehormatan sahabat Nabi n. Di perguruan-perguruan tinggi “Islam” Indonesia, sejumlah akade-misinya bahkan mengampanyekan keraguan terhadap Shahih Al-Bukhari.
Walaupun demikian, kokohnya ilmu sanad ini mampu membendung keliaran ucapan akademisi liberal PTAIN dalam upayanya menjatuhkan Islam. Ketika tak mampu menggoyang ilmu sanad yang demikian kokoh, Shahih Al-Bukhari akhirnya direlatifkan kebenarannya oleh mereka.
Alhasil, ilmu sanad benar-benar menjaga otentisitas Islam hingga kini, karena setiap riwayat yang datang bisa dipertanggungjawabkan dari segi isi maupun pembawa beritanya. Sebab itu, alangkah anehnya jika ada orang Islam yang asal mencomot hadits kemudian tidak memedulikan bagaimana derajat hadits tersebut. Lebih parah lagi, jika ia tidak bisa menempatkan hadits pada tempatnya dan mengambil hukum yang tidak selaras dengan apa yang dimaukan oleh hadits tersebut.
Dengan demikian, sudah sepatutnya kita beragama dengan merujuk kepada orang-orang yang paling memahami maksud ucapan atau perbuatan Rasulullah n, yakni para sahabat g. Sehingga kita benar-benar beragama bukan sekadar mengetahui sunnah Rasulullah n yang sahih, namun kita bisa mengaplikasikan sesuai dengan maksud dan kandungan haditsnya. Dengan cara ini, kemurnian Islam akan benar-benar terjaga, insya Allah!

Urgensi Manhaj dan Akhlak yang Baik

Ibnu Mas’ud z berkata,  “Sesungguhnya kalian berada pada suatu zaman (yakni zaman beliau hidup–pen.) yang didapati banyak para ulamanya, sedikit ahli pidatonya, sedikit pula peminta-mintanya, dan berlimpahnya pemberian. Amal perbuatan pada zaman ini merupakan pembimbing bagi berbagai hawa nafsu.
Sepeninggal kalian, akan datang suatu masa yang sedikit didapati para ulamanya, banyak oratornya, begitu pula pengemisnya, dan sedikitnya pemberian. Hawa nafsu pada masa itu merupakan pemimpin bagi amal-amal (mereka).
Ketahuilah, benarnya manhaj dan baiknya akhlak seseorang pada akhir zaman itu lebih utama daripada beberapa amal perbuatan.”

(Rasysyul Barad Syarh al-Adabul Mufrad, hlm. 420)