Kemudahan Setelah Kesulitan

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Abdul Mu’thi, Lc.)

Setiap orang yang hidup di dunia ini tentu akan melewati beragam peristiwa. Perubahan keadaan adalah suatu kepastian karena dunia hanya persinggahan sementara. Hakikat ini harus kita pahami agar kita tidak lupa diri kala memperoleh kenikmatan duniawi dan tidak pula berlarut-larut dalam kesedihan atas materi yang luput kita dapatkan. Allah l berfirman:
“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berdukacita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (al-Hadid: 22—23)
Sungguh, berhadapan dengan kenyataan yang pahit dan berbagai problem yang mengimpit dirasa berat oleh jiwa. Manusia pun berbeda-beda dalam menyikapinya. Seorang mukmin sejati akan menghadapinya dengan penuh keteguhan hati, sedangkan orang kafir atau yang lemah imannya—karena tidak memiliki pegangan keyakinan yang kuat—akan terombang-ambing dan salah jalan. Di antara mereka ada yang bunuh diri atau mendatangi dukun dan paranormal. Ada pula yang menempuh cara-cara sadis seperti membunuh, memukul, dan merampok.

Peristiwa Dahsyat Menyingkap Jatidiri
Dalam kondisi biasa dan tidak ada masalah, kepribadian seseorang terkadang sulit untuk diketahui. Dalam keadaan yang serba sulit akan muncullah jatidirinya yang sesungguhnya. Allah l berfirman:
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, ‘Kami telah beriman’, sedangkan mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (al-Ankabut: 2—3)
Dalam surat al-Baqarah, Allah l menyebutkan tekad dan semangat para pembesar Bani Israil untuk memerangi musuh mereka yang jahat, yaitu Raja Jalut dan pasukannya. Mereka meminta kepada nabi mereka setelah wafatnya Nabi Musa q agar diangkat seorang raja yang akan memimpin mereka berperang. Permintaan mereka dikabulkan dan diangkatlah Thalut sebagai raja mereka. Ketika mereka berangkat berperang, di tengah perjalanan kesabaran mereka mulai melemah. Puncaknya adalah ketika mereka berhadapan langsung dengan pasukan musuh. Semangat yang tadinya membara kini tinggal cerita. Kebanyakan mereka mundur. Hanya sedikit yang teguh menghadapi musuh. (lihat pada al-Baqarah ayat 246—249)
Oleh karena itu, Rasulullah n melarang umatnya mengharap-harap datangnya musuh dan bala’ (bencana). Beliau n bersabda:
لَا تَتَمَنَّوْا لِقَاءَ الْعَدُوِّ وَإذَا لَقِيْتُمُوْهُمْ فَاصْبِرُوْا
“Jangan kamu mengharap-harap bertemu dengan musuh. (Akan tetapi,) bila kamu bertemu dengan mereka maka bersabarlah.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Al-Munawi t menerangkan, “Berjumpa dengan musuh adalah urusan terberat yang dirasakan oleh jiwa. Urusan yang belum tampak tidak seperti yang sudah terlihat nyata. Ketika yang dinanti-nanti menjadi kenyataan, tidak mustahil yang terjadi adalah kebalikan dari yang diharapkan. (Faidhul Qadir 6/504)
Tidak Putus Asa
Kondisi sulit yang berlarut-larut bisa menyeret kepada sikap pesimis atau berputus asa dari rahmat Allah l. Bila keadaan seorang sampai pada taraf ini, dia telah terhinggapi sifat kekufuran. Allah l berfirman:
“Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada yang berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir.” (Yusuf: 87)
Kekafiran yang ada pada mereka menjadikan mereka menganggap jauh rahmat Allah l, sehingga rahmat-Nya pun menjauh. Oleh karena itu, kita dilarang meniru mereka. Ayat ini menunjukkan bahwa seseorang memiliki sikap berharap sesuai dengan kadar keimanannya.
Seorang yang mengetahui luasnya rahmat Allah l tentu tak akan terhinggapi sikap pesimis. Bahkan, dia yakin bahwa setiap ada kesulitan pasti akan datang kemudahan setelahnya. Allah l berfirman:
“Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.” (ath-Thalaq: 7)
Dahulu ada seseorang yang biasa menyewakan bighal (peranakan kuda dengan keledai) dari Damaskus ke negeri az-Zubdani. Ketika ia melakukan perjalanan, ada seseorang yang menemaninya. Di tengah perjalanan, di tempat yang sepi dan jauh dari lalu lalangnya manusia, orang yang menemaninya justru ingin merampok hartanya dan membunuhnya. Setelah orang itu diingatkan dengan Allah l dan azab-Nya namun tetap pada tekadnya untuk membunuh, akhirnya dia pasrah. Ia meminta waktu untuk shalat dua rakaat sebelum dibunuh. Ketika ia berdiri shalat tak ada satu ayat pun yang bisa keluar dari lisannya karena dahsyatnya keadaan. Selang beberapa saat, keluar dari lisannya ayat:
“Atau siapakah yang mengabulkan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan, dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya).” (an-Naml: 62)
Lalu, dia melihat seorang penunggang kuda membawa tombak mendatanginya dengan cepat. Setelah dekat, orang itu langsung menombak si perampok tersebut hingga mati. Orang itu ditanya, “Siapa kamu?” Dia menjawab, “Aku adalah utusan Dzat yang mengabulkan doa orang yang kesulitan.” (Lihat Tafsir Ibnu Katsir, surat an-Naml ayat 62, 3/383)

Jalan Keluar dari Kesulitan
Penderitaan yang dialami manusia dengan beragam bentuknya bukan berarti tidak ada penyelesaiannya. Allah l lebih sayang terhadap hamba-Nya daripada si hamba terhadap dirinya sendiri. Ada jalan keluar yang terbaik bagi seseorang sehingga terlepas dari malapetaka yang sudah menimpa atau menangkal musibah yang akan turun. Di antaranya:
1. Mendekatkan diri kepada Allah l dengan menjalankan ketaatan dan meninggalkan hal-hal yang mendatangkan kemurkaan Allah l. Ini sebagaimana firman-Nya:
“Sesungguhnya rahmat Allah l amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (al-A’raf: 56)
2. Memperbanyak tobat dan istighfar kepada Allah l, karena umumnya petaka yang menimpa disebabkan kemaksiatan dan dosa. Orang yang beristighfar dan mengakui kesalahan akan memperoleh kucuran rahmat dan rezeki dari arah yang tidak terduga. Allah l berfirman menyebutkan ucapan Nabi Nuh q kepada kaumnya:
Maka aku katakan kepada mereka, “Mohonlah ampun kepada Rabbmu—sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun—, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun serta mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (Nuh: 10—12)
3. Memperkenalkan diri kepada Allah l ketika dalam keadaan lapang, dengan selalu menjaga batasan-batasan-Nya dan menunaikan hak-Nya. Disebutkan dalam hadits Qudsi:
وَمَا يَزَالُ عَبْدِيْ يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ … وَلَئِنْ سَأَلنَِيِ لَأُعْطِيَنَّهُ وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيْذَنَّهُ
“Dan hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya … Apabila ia meminta kepada-Ku niscaya Aku akan memberinya, dan apabila ia meminta perlindungan kepada-Ku niscaya Aku akan melindunginya.” (HR. al-Bukhari no. 6502)
Adh-Dhahak bin Qais t berkata, “Ingatlah kamu kepada Allah l di saat senang, niscaya Ia mengingatmu di saat sulit. Sungguh, dahulu Nabi Yunus q selalu ingat Allah l, sehingga tatkala ia ditelan ikan, Allah l menyelamatkan beliau. Allah l berfirman:
“Maka sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit.” (ash-Shaffat: 143—144)
Adapun Fir’aun adalah seorang yang melampaui batas dan tidak mengingat Allah l. Ketika tenggelam, ia berkata, “Aku beriman sekarang.” Allah l pun berfirman:
“Apakah sekarang (baru kamu percaya) padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Yunus: 91)
Disebutkan dalam hadits yang masyhur tentang tiga orang yang masuk ke dalam goa lalu pintu goa itu tertutup oleh batu besar. Kemudian Allah l menyelamatkan mereka dengan menggeser batu itu hingga mereka bisa keluar. Allah l mengabulkan doa mereka karena mereka memiliki simpanan amal kebaikan di saat lapang. Amalan-amalan mereka adalah berbakti kepada kedua orang tua, meninggalkan kekejian padahal mampu melakukannya, dan menunaikan amanah atau menjaga titipan orang. (lihat kitab Nurul Iqtibas karya Ibnu Rajab t)
Demikian pula seperti yang Nabi n sebutkan dalam hadits:
وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَاللهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ
“Dan barang siapa memudahkan orang yang kesulitan maka Allah l mudahkan baginya di dunia dan akhirat. Barang siapa yang menutupi (aib) seorang muslim maka Allah l akan tutup (aibnya) di dunia dan akhirat. Allah l akan membantu seorang hamba selama hamba mau membantu saudaranya.” (HR. Muslim)
4. Memohon kepada Allah l dan mengarahkan hati hanya kepada-Nya. Allah l berfirman:
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (al-Baqarah: 186)
Pintu Allah l selalu terbuka bagi hamba yang menghendaki-Nya meskipun seluruh pintu dan jalan yang selain-Nya tertutup.
Dahulu, sekelompok orang musyrik berlayar di lautan. Perahu yang mereka naiki diombang-ambingkan oleh gelombang laut yang dahsyat. Lalu mereka berdoa kepada Allah l dengan setulus hati mereka dan mencampakkan segala yang mereka sembah selain Allah l. Allah l pun mengabulkan permintaan mereka, meskipun setelah tiba di daratan mereka kembali menyekutukan Allah l. Jika doa mereka dikabulkan padahal mereka musyrikin, tentu orang yang beriman lebih mulia. Intinya hanyalah seseorang benar-benar mengarahkan permohonannya kepada Allah l serta membuang jauh-jauh ketergantungan kepada selain-Nya.

Rahasia di Balik Datangnya Kemudahan setelah Kesulitan yang Dahsyat
– Kesulitan yang telah sampai puncaknya menjadikan seseorang tidak lagi bergantung kepada makhluk, sehingga hanya kepada Allah l dia bergantung. Apabila seseorang hanya bersandar kepada Allah l, permohonannya akan dikabulkan dan kesulitannya akan dihilangkan. Allah l berfirman:
“Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (ath-Thalaq: 3)
– Apabila dahsyatnya petaka telah meliputi seorang hamba, dia harus berupaya keras untuk memerangi godaan setan yang membisikkan sikap putus asa dari rahmat Allah l. Balasan atas upaya keras untuk menepis godaan setan ini adalah dilepaskannya ia dari malapetaka. Bentuk godaan setan tersebut di antaranya adalah agar seseorang meninggalkan berdoa bila tak kunjung dikabulkan.
Nabi n bersabda:
يُسْتَجَابُ لِأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ، يَقُولُ: دَعَوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِي
“Dikabulkan (doa) salah seorang kalian selagi tidak tergesa-gesa, (dengan) ia mengatakan, ‘Aku telah berdoa namun tidak kunjung dikabulkan’.” (HR. al-Bukhari dalam Kitab ad-Da’awat dan Muslim dalam adz-Dzikru wad Du’a)
– Apabila seorang mukmin melihat kesulitannya tidak kunjung selesai dan hampir berputus asa—setelah sering memohon kepada Allah l—hal ini akan membuahkan sikap introspeksi diri. Dia menyadari bahwa doanya belum dijawab karena hatinya masih kotor. Perasaan seperti ini mendorongnya untuk bersimpuh hati secara total di hadapan Allah l serta mengakui bahwa permohonannya belum pantas dikabulkan. Dengan demikian, dia akan cepat dilepaskan dari malapetaka. (lihat kitab Nurul Iqtibas karya Ibnu Rajab t bersama al-Jami’ al-Muntakhab, hlm. 212—213)

Buah Kesabaran
Semua orang, baik mukmin maupun kafir, pasti mengalami cobaan hidup. Hanya saja, orang yang beriman berbeda dengan orang kafir dalam menyikapinya. Masa-masa sulit yang dialaminya dia hadapi dengan keteguhan hati, ridha terhadap ketentuan Allah l, dan berbaik sangka kepada-Nya. Adalah Nabi Ya’qub q diuji oleh Allah l dengan terpisahnya ia dari anak yang sangat dicintainya, yaitu Nabi Yusuf q dan saudaranya. Berpuluh-puluh tahun Nabi Ya’qub q menahan penderitaan hidup. Akan tetapi, ia tidak pernah berputus asa. Dia berkata kepada anak-anaknya:
“Pergilah kalian, carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah.” (Yusuf: 87)
Beliau juga berkata dengan penuh harapan:
“Mudah-mudahan Allah mendatangkan mereka semuanya kepadaku.” (Yusuf: 83)
Allah l mewujudkan harapan Ya’qub q. Allah l pun mempertemukan bapak dan anak yang saling merindukan ini.
Kisah orang-orang yang dilepaskan dari penderitaan hidup, baik umat terdahulu maupun di umat ini, telah banyak dibukukan. Di antaranya kitab al-Faraju Ba’da asy-Syiddah dan Mujabid Da’wah karya al-Imam Ibnu Abid Dunya t. Demikian pula kitab-kitab yang menyebutkan tentang karamah para wali yang ditulis oleh ulama Ahlus Sunnah dan kitab-kitab sejarah.
Hal ini membuktikan bahwa Allah l mendengarkan rintihan hamba-Nya serta melepaskan penderitaan orang yang hanya bergantung kepada-Nya.
Wallahu a’lam bish-shawab.

Ziarah Kubur antara Tauhid dan Syirik

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abdurrahman Mubarak)

Di antara sunnah Rasulullah n adalah ziarah kubur. Rasulullah n bersabda:
إِنِّي كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا فَإِنَّهَا تُذَكِّرُكُمُ الْآخِرَةَ
“Dulu aku pernah melarang kalian berziarah kubur, sekarang berziarahlah kalian ke kuburan karena itu akan mengingatkan kalian kepada akhirat.” (HR. Muslim dari Buraidah bin Hushaib z)
Dalam riwayat Abu Dawud:
وَلْتَزِدْكُمْ زِيَارَتُهَا خَيْرًا
“Ziarah kubur akan menambah kebaikan bagi kalian.”
Ziarah kubur adalah salah satu ibadah yang harus dilakukan dengan ikhlas dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah n supaya diterima oleh Allah l. Oleh karena itu, seseorang yang ingin menjaga agamanya, hendaknya mempelajari agamanya termasuk dalam masalah ziarah kubur, karena sekarang ini banyak orang yang terjatuh dalam penyimpangan ketika melaksanakan ziarah kubur.

Tujuan Ziarah Kubur
Tujuan ziarah kubur ada dua hal.
1. Orang yang berziarah mendapatkan manfaat dengan mengingat mati dan orang yang telah mati. Dia akan mengingat bahwa tempat kembalinya bisa surga atau neraka. Ini adalah tujuan utama ziarah kubur.
2. Berbuat baik kepada orang yang telah meninggal dengan mendoakan dan memintakan ampun untuk mereka. Manfaat ini hanya didapat ketika berziarah ke kuburan muslim. (Ahkamul Jana’iz, hlm. 239)
Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab t berkata, “Ketahuilah—semoga Allah l memberikan taufik kepada saya dan Anda semua—bahwa ziarah kubur ada tiga macam.
1. Ziarah yang syar’i
Ini yang disyariatkan dalam Islam. Ada tiga syarat yang harus dipenuhi agar ziarah menjadi syar’i.
a. Tidak melakukan safar dalam rangka ziarah
Dari Abu Sa’id al-Khudri z, Rasulullah n bersabda:
لَا تَشُدُّوا الرِّحَالَ إِلَّا إِلَى ثَلَاثَةِ مَسَاجِدَ مَسْجِدِي هَذَا وَالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَالْمَسْجِدِ الْأَقْصَى
“Janganlah kalian bepergian jauh melakukan safar kecuali ke tiga masjid: Masjidku ini, Masjidil Haram, dan Masjidil Aqsha.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari hadits Abu Hurairah z)
b. Tidak mengucapkan ucapan batil
Dari Buraidah z, Rasulullah n bersabda:
نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا
“Aku dulu melarang kalian ziarah kubur, (sekarang) ziarahlah kalian ke kuburan.” (HR. Muslim)
Dalam riwayat an-Nasa’i dengan lafadz:
وَنَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَمَنْ أَرَادَ أَنْ يَزُورَ فَلْيَزُرْ وَلَا تَقُولُوا هُجْرًا
“Aku dulu melarang kalian berziarah kubur. Barang siapa yang ingin ziarah kubur silakan berziarah dan janganlah kalian mengucapkan hujran.”
Hujran adalah ucapan keji.
Lihatlah, semoga Allah l merahmati Anda, Rasulullah n melarang kita mengucapkan ucapan keji dan batil ketika ziarah kubur. Ucapan apa yang lebih keji dan lebih batil daripada meminta/berdoa kepada mayit dan meminta perlindungan kepada mereka?
c. Tidak mengkhususkan waktu tertentu karena tidak ada dalilnya

2. Ziarah bid’ah
Ziarah bid’ah adalah ziarah yang tidak memenuhi salah satu syarat di atas atau lebih.

3. Ziarah syirik
Pelaku ziarah ini terjatuh ke dalam perbuatan kesyirikan kepada Allah l, seperti berdoa kepada selain Allah l, menyembelih dengan nama selain Allah l, atau bernadzar untuk selain Allah l, dan sebagainya. (Dinukil dari al-Qaulul Mufid hlm. 192—194 dengan sedikit perubahan)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t berkata, “Ziarah kubur ada dua macam, syar’i dan bid’ah. Ziarah menjadi syar’i jika dilakukan dengan niat untuk memberi salam kepada si mayit dan mendoakan kebaikan untuknya, sebagaimana yang diniatkan ketika menshalatkan jenazahnya. Akan tetapi, ziarah ini tidak boleh dilakukan dengan safar (bepergian jauh). Ziarah bid’ah adalah jika orang yang melakukannya bertujuan meminta kebutuhannya kepada si mayit. Ini adalah syirik besar. Atau, dia berniat untuk berdoa di sisi kuburnya atau bertawasul dengannya. Semua perbuatan ini adalah bid’ah yang mungkar dan sarana yang mengantarkan kepada kesyirikan. Amalan ini bukanlah sunnah Rasulullah n. Di samping itu, tidak pernah dianjurkan oleh seorang pun dari kalangan salaf umat ini atau para imamnya.” (Lihat Taudhihul Ahkam 3/258)

Perbedaan Ziarah Kubur Orang Bertauhid dan Orang Musyrik
Ibnul Qayyim t menerangkan perbedaan ziarah kubur muwahid (orang yang bertauhid) dan musyrik.
Seorang muwahid melakukan ziarah kubur untuk tiga hal sebagai berikut.
1. Mengingat akhirat, mengambil ibrah dan nasihat.
Nabi n telah mengisyaratkan hal ini dengan sabdanya:
فَزُورُوهَا فَإِنَّهَا تُذَكِّرُكُمُ الْآخِرَةَ
“Berziarahlah kalian ke kuburan karena itu akan mengingatkan kalian kepada akhirat.”
2. Berbuat baik kepada mayit
Ini terwujud dengan dia mendoakan dan memintakan ampunan serta rahmat bagi penghuni kubur.
3. Berbuat baik kepada diri sendiri
Dengan melakukan ziarah kubur, dia telah menjalankan dan mengamalkan sunnah Rasulullah n.
Adapun ziarah kubur yang dilakukan seorang musyrik, asalnya adalah peribadatan kepada berhala (dengan mengharapkan syafaat dari penghuni kubur sebagaimana orang-orang musyrik terdahulu mengharapkan syafaat dari sesembahan mereka). (Disadur dari Ighatsatul Lahafan hlm. 288—290)

Beberapa Penyimpangan yang Terjadi dalam Ziarah Kubur
Syaikhul Islam t menjelaskan bahwa pokok kesyirikan bermuara pada dua hal. Salah satunya adalah mengagung-agungkan kuburan orang saleh.
Beliau t berkata, “Kesyirikan bani Adam seringkali bersumber dari dua hal pokok. Yang pertama adalah mengagungkan kubur orang saleh dan membuat patung atau gambar mereka dengan tujuan mencari berkah ….” (Majmu’ al-Fatawa, 17/460)
Di antara penyimpangan yang terjadi dalam pelaksanaan ziarah kubur adalah sebagai berikut.
1. Meminta kepada penghuni kubur, bertawasul dengan penghuninya
Rasulullah n bersabda:
فَمَنْ أَرَادَ أَنْ يَزُورَ فَلْيَزُرْ وَلَا تَقُولُوا هُجْرًا
“Barang siapa yang ingin berziarah kubur silakan berziarah namun janganlah berkata hujran.” (HR. Abu Dawud)
Al-Imam Nawawi t berkata, “Al-Hujra adalah ucapan batil. Dahulu mereka dilarang berziarah kubur karena mereka baru meninggalkan masa jahiliah. Dikhawatirkan mereka akan mengucapkan ucapan-ucapan jahiliah ketika berziarah kubur. Ketika fondasi Islam telah mantap, hukum-hukumnya telah kokoh, dan rambu-rambunya telah tampak, mereka pun dibolehkan berziarah kubur. Namun, Rasulullah n masih menjaga mereka dengan sabdanya, ‘Janganlah kalian mengucapkan hujran’.”
Asy-Syaikh al-Albani t berkata, “Tidak diragukan lagi bahwasanya berdoa kepada penghuni kubur—yang dilakukan orang-orang awam dan selain mereka ketika ziarah kubur—, meminta tolong kepada mereka, serta meminta kepada Allah l dengan hak penghuni kubur (tawasul) adalah ucapan dan perbuatan hujran yang paling besar. Para ulama wajib menjelaskan hukum Allah l dan menerangkan ziarah kubur yang benar kepada mereka.” (Ahkamul Janaiz, hlm. 227—228)

2. Mengkhususkan waktu tertentu
Banyak fatwa para ulama tentang tidak bolehnya mengkhususkan ied (hari raya) atau bulan Ramadhan untuk berziarah kubur. Ada sebuah pertanyaan yang ditujukan kepada asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin t, “Apa hukum mengkhususkan hari raya dan hari Jum’at untuk berziarah kubur?”
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin t menjawab, “Pengkhususan hari Jum’at dan ied untuk berziarah kubur tidak ada asalnya di dalam sunnah. Pengkhususan ziarah kubur pada hari ied dan keyakinan bahwa hal itu disyariatkan, teranggap sebagai perbuatan bid’ah….” (kutipan dari Fatawa asy-Syaikh Ibnu Utsaimin 17/286 pertanyaan no. 259)
Ditanyakan pula kepada Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz t, “Apa hukum mengkhususkan hari Jum’at untuk berziarah kubur?”
Beliau t menjawab, “Hal tersebut tidak ada asalnya dalam syariat. Yang disyariatkan adalah berziarah kubur kapan pun waktunya yang mudah bagi yang mau berziarah, baik malam maupun siang hari.”
Pengkhususan pagi atau malam tertentu (untuk berziarah) adalah perbuatan bid’ah yang tidak ada asalnya dalam syariat. Ini berdasarkan sabda Rasulullah n:
مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ
“Barang siapa yang mengada-adakan dalam urusan agama kami yang bukan darinya maka tertolak.”1
Dalam riwayat Muslim:
مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa mengamalkan satu amalan yang tidak ada padanya ajaran kami maka tertolak.” (HR. Muslim dari Aisyah x)
(Fatawa asy-Syaikh Ibnu Baz, 13/336)

3. Membaca Al-Qur’an
Asy-Syaikh al-Albani berkata, “Membaca Al-Qur’an ketika ziarah kubur tidak ada dasarnya (contohnya) dalam sunnah Rasulullah n.”
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t berkata dalam kitabnya Iqtidha Shirathil Mustaqim, “Tidak ada ucapan al-Imam asy-Syafi’i dalam masalah ini, karena amalan ini adalah bid’ah menurut beliau. Al-Imam Malik t berkata, ‘Aku tidak pernah tahu ada seorang pun melakukannya.’ Ini menunjukkan bahwa para sahabat dan tabi’in tidak melakukannya.” (Lihat Ahkamul Janaiz, hlm. 241—242)

4. Menabur bunga
Asy-Syaikh al-Albani berkata, “Tidak disyariatkan meletakkan daun wewangian dan bunga-bungaan di atas kuburan, karena hal ini tidak pernah dilakukan oleh salaf. Seandainya itu adalah baik, niscaya mereka melakukannya. Ibnu Umar z berkata, ‘Semua bid’ah adalah sesat, walaupun orang-orang menganggapnya baik’.” (Ahkamul Janaiz, hlm. 258)

5. Syaddu rihal (melakukan safar)
Rasulullah n pernah berkata,
لَا تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلَّا إِلَى ثَلَاثَةِ مَسَاجِدَ، الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَمَسْجِدِ الرَّسُولِ n وَمَسْجِدِ الْأَقْصَى
“Tidak boleh melakukan bepergian jauh (demi ibadah di tempat tersebut dengan anggapan mulianya tempat tersebut) kecuali ke tiga masjid: Masjidil Haram, Masjidir Rasul, dan Masjidil Aqsha.” (HR. al-Bukhari)
Asy-Syaikh Muhammad Nashirudin al-Albani menganggap safar untuk berziarah ke kuburan nabi atau orang saleh sebagai bid’ah. (Ahkamul Janaiz hlm. 229)

6. Membaca Surah Yasin di Kuburan
Asy-Syaikh al-Albani menyebutkan bahwa membacakan surah Yasin di kuburan termasuk salah satu bid’ah ziarah kubur. (Ahkamul Janaiz hlm. 225)
Adapun hadits, “Barang siapa yang masuk pekuburan dan membaca surat Yasin, Allah l akan meringankan mereka dan mereka mendapatkan kebaikan sebanyak yang terdapat dalam surat tersebut,” asy-Syaikh al-Albani memasukkanya dalam Silsilah adh-Dha’ifah (no. 1246).

7. Ikhtilath (campur-baur lelaki dan wanita yang bukan mahram)
Ini adalah sesuatu yang tidak bisa diingkari adanya, padahal Rasulullah n bersabda:
مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً هِيَ أَضَرُّ عَلَى الرِّجَالِ مِنْ النِّسَاءِ
“Tidaklah aku tinggalkan fitnah (godaan) bagi laki-laki yang lebih berbahaya daripada wanita.” (HR. Muslim)

8. Tabaruj wanita
Allah l berfirman:
“Dan hendaklah kalian (wahai para wanita) tetap tinggal di rumah kalian dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliah yang dahulu.” (al-Ahzab: 33)
Asy-Syaikh Muhammad al-Imam t berkata, “Jika ikhtilath dan tabaruj berkumpul maka yang menyertainya adalah zina.” (Tahdzirus Shalihin minal Ghuluw fi Quburis Shalihin hlm. 46)

9. Seringnya wanita berziarah kubur
Seorang wanita dibolehkan berziarah kubur, namun tidak boleh sering-sering melakukannya. Alasan yang menunjukkan mereka boleh berziarah kubur adalah sebagai berikut.
1. Keumuman sabda Rasulullah n
2. Mereka juga butuh mengingat akhirat
3. Nabi n memberikan rukhsah (keringanan) sebagaimana dalam hadits Aisyah x
4. Nabi n membiarkan seorang wanita yang sedang berada di kuburan
Adapun dalil yang menunjukkan mereka tidak boleh sering berziarah kubur adalah sabda Rasulullah n:
لَعَنَ رَسُولُ اللهِ n زَوَّارَاتِ الْقُبُورِ
“Rasulullah n melaknat (dalam lafadz lain: Allah l melaknat) wanita yang sering berziarah kubur.” (HR. Ahmad)

10. Wanita melakukan safar tanpa mahram
Seorang wanita tidak diperbolehkan melakukan safar sendirian walaupun untuk melaksanakan ibadah. Dari Ibnu Abbas z, Rasulullah n berkata dalam khutbahnya:
لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلَّا وَمَعَهَا ذُو مَحْرَمٍ وَلَا تُسَافِرِ الْمَرْأَةُ إِلَّا مَعَ ذِي مَحْرَمٍ. فَقَامَ رَجُلٌ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ امْرَأَتِي خَرَجَتْ حَاجَّةً وَإِنِّي اكْتُتِبْتُ فِي غَزْوَةِ كَذَا وَكَذَا. قَالَ: انْطَلِقْ فَحُجَّ مَعَ امْرَأَتِكَ
“Janganlah seorang lelaki berkhalwat dengan seorang perempuan kecuali bersama mahramnya, dan janganlah seorang wanita melakukan safar kecuali bersama mahramnya.” Seorang sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya istriku hendak pergi menunaikan haji, padahal aku telah ditulis hendak berangkat perang ini dan itu.” Rasulullah n bersabda, “Berangkatlah haji bersama istrimu.”2 (Muttafaqun ‘alaih)
11. Meninggalkan shalat (lihat Tahdzir Muslimin)
12. Bertaubat kepada ahli kubur
13. Haji ke kuburan
14. Meminta izin kepada penghuni kubur
Asy-Syaikh Muhammad al-Imam menerangkan, di antara praktik para dai kuburi yang mendorong umat mengagungkan kuburan adalah mengikat pengikut mereka dengan kuburan melalui cara:
1. Bertaubat kepada penghuni kubur
2. Haji ke kuburan
3. Meminta izin kepada penghuni kubur ketika hendak melakukan satu amalan.
(Tahdzirul Muslimin hlm. 43)

Mengagungkan Kubur adalah Muslihat Setan
Ibnul Qayim t berkata, “Di antara tipudaya setan yang paling besar adalah memilihkan kuburan yang diagungkan manusia dan menjadikannya sebagai sesembahan selain Allah l.” (Ighatsatul Lahafan hlm. 279)

Kemungkaran di Kuburan
Ibnu Taimiyah t menerangkan bahwa perbuatan bid’ah di kuburan itu bertingkat-tingkat. Yang paling jauh dari syariat adalah meminta kebutuhan dan perlindungan kepada mayit, sebagaimana dilakukan banyak orang.
Tingkatan kedua adalah meminta kepada Allah l melalui penghuni kubur (tawasul dengan mayit). Ini sering dilakukan oleh orang-orang belakangan. Amalan tersebut adalah bid’ah menurut kesepakatan kaum muslimin
Tingkatan ketiga adalah sangkaan bahwa berdoa di sisi kubur itu mustajab atau lebih afdhal daripada di masjid. Ini juga kemungkaran yang bid’ah menurut kesepakatan muslimin. (Diringkas dari Ighatsatul Lahafan hlm. 287)

Sebab Terjadinya Penyembahan Kubur
Jika ditanyakan: Apa yang menyebabkan para penyembah kubur terjatuh dalam perbuatan mereka, padahal mereka tahu bahwa penghuninya adalah orang mati?
Jawabannya ada beberapa hal.
1. Mereka tidak mengetahui hakikat syariat yang dibawa oleh Nabi Muhammad n dan seluruh rasul.
2. Hadits-hadits palsu yang diatasnamakan Rasulullah n, seperti hadits, “Barang siapa yang tertimpa kesulitan hendaknya dia meminta kepada penghuni kubur.”
3. Cerita dan kisah dusta yang dipromosikan untuk menarik orang datang ke kuburan tertentu. Misalnya, ada seseorang beristighatsah kepada kubur tertentu ketika tertimpa kesusahan, lalu dia pun mendapat jalan keluar. Demikian pula cerita-cerita dusta lainnya. (Lihat

Ighatsatul Lahafan karya Ibnul Qayim)

Hati-hati dari Tipu Muslihat Penyeru Peribadatan kepada Kuburan
Di antara sebab terjadinya penyimpangan dalam ziarah kubur adalah ajaran yang didapatkan oleh sebagian orang dari para dai yang mengajak mengagungkan kuburan.
Secara global penyeru kepada kesesatan dalam masalah kubur ada dua, dari kalangan jin dan dari kalangan manusia. Yang dari kalangan manusia ada dua kelompok:
1. Kelompok dari dalam umat Islam
• Tukang sihir
• Dukun
• Ahli nujum
• Ahlul bid’ah dari kalangan kuburiyun
2. Kelompok dari luar umat, yaitu orang-orang kafir Yahudi, Majusi, Nasrani, Hindu, dan lainnya.
(Diringkas dari Tahdzirul Muslimin hlm. 20—22)

Dengan Apa Kita Melawan Kesyirikan?
Bahaya syirik yang terus mengancam mengharuskan kita menjaga diri dan melakukan perlawanan terhadap kesyirikan. Lantas, apa yang harus dilakukan?
Asy-Syaikh Muhammad al-Imam t menerangkan, “Yang paling wajib dilakukan oleh seorang muslim dan muslimah adalah menjauhkan diri dari kesyirikan dan faktor pendorong kepada kesyirikan. Hal ini tidak akan tercapai melainkan dengan menempuh beberapa hal berikut: mempelajari tauhid, menjauhi syirik, mengenal dai tauhid, membaca kitab-kitab yang bermanfaat (Diringkas dari Tahdzirul Muslimin hlm. 72—73)
Semoga Allah l memberikan kekuatan dan hidayah kepada kita dalam menjauhkan diri dan memerangi berbagai kesyirikan serta kemaksiatan. Amin.

Catatan Kaki:

1 HR. al-Bukhari no. 2697 dan Muslim no. 1718.

2 Dalam riwayat lain:
لَا يَحِلُّ لِامْرَأَةٍ تُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ تُسَافِرُ مَسِيرَةَ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ إِلَّا مَعَ ذِي مَحْرَمٍ عَلَيْهَا
“Tidak halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir melakukan perjalanan satu hari satu malam kecuali bersama mahramnya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Asy-Syaikh Ahmad Syakir berkata, “Hadits ini adalah salah satu pokok Islam yang agung dalam menjaga dan memelihara wanita dari ancaman yang akan merusak akhlaknya dan mencacati kehormatannya, karena wanita itu lemah, mudah terpengaruh. Akalnya (mudah) dipermainkan sehingga terkalahkan oleh syahwatnya.” (Musnad Ahmad ta’liq hadits no. 4615)

Siapakah mahram yang boleh menemani wanita dalam safar?
Al-Imam an-Nawawi t berkata dalam Syarh Shahih Muslim (9/112—113), “Seorang wanita boleh bepergian safar bersama mahramnya dari nasab seperti anak, saudara laki-laki, anak laki-laki (keponakan) dari saudaranya yang laki-laki, anak laki-laki (keponakan) dari saudaranya yang perempuan, paman dari bapak, dan paman dari ibu. Atau, bersama mahramnya karena susuan seperti saudara susu laki-laki, anak lelaki dari saudara sesusuan yang pria, anak lelaki dari saudara sesusuan yang wanita, dan semisalnya. Atau bersama mahram dari perkawinan seperti ayah suaminya (mertua) dan anak lelaki suaminya (anak tiri).

Do’a untuk Pembayar Zakat

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc.)

Dari Abdullah bin Abi Aufa z, dia berkata:
كَانَ رَسُولُ اللهِ n إِذَا أَتَاهُ قَوْمٌ بِصَدَقَتِهِمْ، قَالَ: اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِمْ. فَأَتَاهُ أَبِي -أَبُو أَوْفَى- بِصَدَقَتِهِ، فَقَالَ: اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى آلِ أَبِي أَوْفَى
Apabila satu kaum mendatangi Rasulullah n untuk menunaikan zakatnya, beliau berdoa, “Ya Allah, berilah ampunan kepada mereka.” Hingga datanglah ayahku—Abu Aufa—membawa zakat, Rasulullah n pun berdoa, “Ya Allah, berilah ampunan kepada Abu Aufa.”

Takhrij Hadits
Hadits ini muttafaqun ‘alaihi, disepakati kesahihannya oleh Syaikhan (al-Bukhari dan Muslim).
Al-Bukhari meriwayatkannya dalam Shahih-nya, pada Bab Shalatul Imam wa Du’auhu li Shahibi ash-Shadaqah (Bab Imam bershalawat dan mendoakan orang yang bersedekah) no. 1497, juga dalam at-Tarikh al-Kabir (3/1/24). Adapun al-Imam Muslim meriwayatkannya dalam Shahih-nya (2/756 no. 1078).
Hadits ini diriwayatkan pula oleh Abu Dawud (no. 1590), an-Nasa’i (5/31), Ibnu Majah (no. 1796), ath-Thayalisi (no. 819), Ahmad (4/353, 355, 381, 383), ath-Thahawi dalam Musykilul Atsar (4/162), dan lainnya, melalui banyak jalan dari Syu’bah bin al-Hajjaj, dari ‘Amr bin Murrah, dari Abdullah bin Abi Aufa z.
Abdullah bin Abi Aufa z dan ayahnya, Abu Aufa—Alqamah bin Khalid al-Harits al-Aslami z—adalah sahabat Rasulullah n yang menyaksikan perjanjian Hudaibiyah (6 H) dan mengikuti Bai’at Ridhwan saat itu. Keutamaan Bai’at Ridhwan, berupa keridhaan Allah l, diperoleh keduanya sebagaimana dalam firman-Nya:
“Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dengan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya).” (al-Fath: 18)
Bahkan, Rasulullah n mengabarkan keselamatan ahli Bai’at Ridhwan dari neraka, seperti dalam sabdanya:
لَا يَدْخُلُ النَّارَ إِنْ شَاءَ اللهُ مِنْ أَصْحَابِ الشَّجَرَةِ، أَحَدُ الَّذِينَ بَايَعُوا تَحْتَهَا
“Tidak akan masuk ke dalam neraka—insya Allah—seorang pun dari sahabat-sahabat yang berbaiat (kepada Rasulullah n) di bawah pohon (yakni Bai’at Ridhwan).” (Shahih Muslim 4/1942, no. 2496)
Abdullah bin Abi Aufa z meninggal pada tahun 87 H, 76 tahun setelah wafatnya Rasulullah n. Beliau z tercatat sebagai sahabat terakhir yang meninggal di Kufah. (Lihat At-Taqrib)

Makna Hadits
Doa Rasulullah n untuk Abu Aufa z:
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى آلِ أَبِي أَوْفَى
“Ya Allah, berilah ampunan kepada Abi Aufa.”1
adalah dalil disyariatkannya mendoakan muzakki (orang yang membayar zakat) ketika ia menyerahkannya. Shalawat Rasulullah n dalam doa ini mengandung makna permohonan ampun kepada Allah bagi Abu Aufa z.
Al-Khaththabi—sebagaimana dinukil ash-Shan’ani—berkata, “Makna asal shalat (shalawat) adalah doa. Namun, ia memiliki kandungan makna berbeda sesuai dengan orang yang didoakan. Shalawat Nabi n kepada umatnya bermakna doa agar Allah l memberikan ampunan kepada mereka. Adapun shalawat umatnya untuk beliau n maknanya adalah permohonan kepada Allah l agar menganugerahi beliau kedekatan yang sempurna kepada-Nya. Oleh karena itu, (makna ini) tidak layak kecuali untuk beliau n.” (Subulus Salam, 2/130)
Berdasarkan hadits ini, disyariatkan bagi imam (pemerintah), wakilnya, atau penerima zakat untuk mendoakan muzakki ketika memberikan zakatnya. Doa ini sesungguhnya merupakan bentuk syukur (terima kasih) atas kebaikan yang sampai melalui tangan muzakki (pemberi zakat).
Hadits ini juga menunjukkan bolehnya seseorang datang kepada imam atau yang mewakilinya untuk menyerahkan zakatnya, bukan didatangi. Asy-Syaikh alu Bassam t menerangkan, “Penyerahan zakat kepada pemerintah muslimin bisa dengan diutusnya petugas pengambil zakat yang mendatangi tempat penggembalaan dan kebun-kebun mereka, atau muzakki sendiri yang datang kepada (waliyul amr, sebagaimana dalam hadits Ibnu Abi Aufa z). Semua ini boleh.” (Taudhihul Ahkam 3/42)

Shalawat untuk Muzakki
Bolehkah bershalawat untuk selain Rasulullah n? Dalam doa Rasulullah n ada shalawat untuk Abu Aufa z. Apakah kita juga mengucapkan shalawat bagi muzakki?
Dalam masalah ini ada perbedaan pendapat di kalangan ulama. An-Nawawi t mengatakan, “… Ucapan as-sa’i (petugas pengambil zakat), ‘Allahumma shalli ‘ala fulan,’ dimakruhkan oleh jumhur ulama Syafi’iyah. Ini juga merupakan pendapat Ibnu ‘Abbas z, Malik, Ibnu ‘Uyainah, dan sekelompok salaf. Adapun sekelompok ulama lainnya berpendapat bahwa hal itu diperbolehkan tanpa ada kemakruhan sama sekali, berdasar hadits ini (yakni hadits Abdullah bin Abi Aufa z)….” (al-Minhaj)
Masalah ini dijawab oleh Ibnul Qayyim t dalam kitabnya Jala’ul Afham. Beliau t berkata, “Sebagai penengah dalam masalah ini, kita katakan bahwa shalawat kepada selain Nabi n bisa jadi ditujukan bagi keluarga beliau, istri-istri atau keturunan beliau, atau selain mereka.
Jika shalawat itu ditujukan (kepada keluarga Rasulullah n, istri-istri dan keturunan beliau) maka shalawat kepada mereka disyariatkan, digandengkan bersama shalawat kepada Nabi n.2
Adapun shalawat yang ditujukan kepada selain para istri dan keluarga Nabi n, jika yang dimaksud adalah malaikat dan orang-orang taat secara umum, yang para nabi dan selain mereka juga masuk dalam keumuman tersebut, diperbolehkan juga. Ini seperti ucapan:
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مَلَائِكَتِكَ الْمُقَرَّبِينَ وَأَهْلِ طَاعَتِكَ أَجْمَعِينَ
“Ya Allah, berilah shalawat kepada malaikat-malaikat-Mu yang dekat dan hamba-hamba-Mu yang taat seluruhnya.”
Akan tetapi, jika shalawat tertuju hanya kepada seseorang atau kelompok tertentu,3 hal ini dibenci. Bahkan, ada benarnya kalau dikatakan bahwa hal itu haram—terlebih jika hal tersebut dijadikan sebagai syi’ar khusus—untuk orang tersebut dan tidak diberikan kepada selainnya yang berkedudukan sama atau bahkan lebih baik darinya, sebagaimana dilakukan Rafidhah (Syi’ah) terhadap Ali z.4
Jika shalawat (yang ditujukan pada orang tertentu itu) dilakukan sesekali—tidak dijadikan sebagai syi’ar—sebagaimana Rasulullah n bershalawat atas orang yang membayar zakat, dan atas seorang wanita beserta suaminya, sebagaimana pula Ali z pernah bershalawat atas Umar z, yang seperti ini tidak mengapa. (Jala’ul Afham hlm. 352)
Shalawat Rasul n atas seorang wanita dan suaminya diriwayatkan oleh Abu Dawud dari sahabat Jabir bin Abdillah z. Beliau z berkata:
أَنَّ امْرَأَةً قَالَتْ لِلنَّبِيِّ n: صلِّ عَلَيَّ وَعَلَى زَوْجِي. فَقَالَ النَّبِيُّ n: صَلَّى اللهُ عَلَيْكَ وَعَلَى زَوْجِكَ
Seorang wanita berkata kepada Nabi n, “Bershalawatlah untukku dan untuk suamiku. Maka Nabi n berkata:
صَلَّى اللهُ عَلَيْكِ وَعَلَى زَوْجِكِ
“Semoga Allah memberi ampunan untukmu dan suamimu.” (HR. Abu Dawud dalam as-Sunan no. 1533 dengan sanad yang sahih, disahihkan al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud)
Asy-Syaikh Abdul Muhsin al-’Abbad hafizhahullah mengatakan, “… Boleh bershalawat untuk selain Nabi n… Namun, kebolehan ini selama tidak sering bershalawat kepada selain Nabi n. Juga selama tidak menyerupai pengikut hawa nafsu yang mengkhususkan shalawat bagi (tokoh) yang mereka agungkan, atau mengkhususkan shalawat untuk sebagian sahabat saja. Dalam tafsir surat al-Ahzab:
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi.” (al-Ahzab: 56)
Ibnu Katsir berkata, “Penulisan عَلَيْهِ السَّلَامُ yang tertera dalam beberapa kitab setelah menyebut Ali z (secara khusus), ini dilakukan oleh nussakh (para penyalin) dan bukan perbuatan penulis asli kitab tersebut, karena di antara jalan salaf adalah tidak membeda-bedakan para sahabat. Yang masyhur di kalangan salaf adalah bershalawat untuk para nabi, mendoakan keridhaan kepada para sahabat, dan mendoakan rahmat bagi orang-orang sesudah sahabat. (Syarh Kitab Adabul Masyi ilash Shalah hlm. 45-46)
Alhasil, doa Rasulullah n dengan bentuk shalawat untuk muzakki disyariatkan dengan dalil hadits Ibnu Abi Aufa z. Wallahu ta’ala a’lam.

Hukum Mendoakan Muzakki
Doa Rasulullah n bagi muzakki yang beliau lafadzkan dalam hadits Abdullah bin Abi Aufa z sesungguhnya adalah pengamalan beliau terhadap perintah Allah l dalam firman-Nya:
“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka, dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (at-Taubah: 103)
Apa hukum mendoakan muzakki, wajibkah sebagaimana yang tampak dari perintah dalam ayat atau mustahab (hukumnya sunnah)?
Al-Baghawi t (wafat 516 H) dalam tafsirnya Ma’alimut Tanzil, menukil adanya perbedaan pendapat dalam masalah ini. Beliau t mengatakan, “Ulama berselisih pendapat tentang wajibnya imam/penguasa mendoakan muzakki ketika mengambil zakatnya. Sebagian mengatakan wajib, sedangkan yang lainnya menganggap sunnah. Sebagian mewajibkannya pada sedekah yang wajib dan menganggapnya sunnah pada sedekah yang sunnah. Sebagian lagi berpendapat, doa ini wajib diucapkan imam, sedangkan fuqara yang menerima zakat sunnah hukumnya (mendoakan) orang yang memberikan.” (Tafsir al-Baghawi 2/323)
Jumhur ulama berpendapat bahwa doa tersebut hukumnya mustahab (sunnah). An-Nawawi t mengatakan, “Yang masyhur dalam mazhab kami (Syafi’iyah), juga mazhab seluruh ulama, mendoakan orang yang membayar zakat hukumnya sunnah dan tidak wajib. Lain halnya dengan ahli zahir yang mengatakan bahwa mendoakan muzakki hukumnya wajib … Mereka bersandar pada perintah dalam ayat. Menanggapi pendapat ahli zahir ini, jumhur ulama berkata, “Perintah (dalam ayat ini) menurut kami adalah sunnah, dengan alasan bahwa ketika Nabi n mengutus Mu’adz bin Jabal z dan lainnya untuk mengambil zakat, beliau tidak memerintahkan mereka untuk mendoakan (orang yang berzakat) ….” (al-Minhaj)
Pendapat jumhur adalah pendapat yang rajih (kuat), insya Allah. Pendapat ini juga merupakan zahir perkataan asy-Syaukani dalam Nailul Authar, dan asy-Syaikh Abdurrahman Nashir as-Sa’di dalam Tafsir beliau pada ayat at-Taubah.
As-Sa’di mengatakan, “… Dalam ayat ini (ada faedah) disunnahkan bagi imam atau wakilnya untuk mendoakan barakah bagi yang membayar zakatnya.” (Taisir al-Karimir Rahman 3/293)
Seyogianya doa itu diucapkan dengan keras, agar didengar orang yang bersedekah sehingga dia tenteram dengan doa tersebut. Dari makna ayat, juga diambil faedah bahwa seorang mukmin sepantasnya berusaha membahagiakan saudaranya dengan perkataan yang lembut, mendoakan kebaikan untuknya, atau hal-hal yang menenangkan dan menenteramkan hatinya.

Apakah Lafadz Doa Harus dalam Bentuk Shalawat?
Lafadz doa tersebut tidak harus dalam bentuk shalawat. Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin t menjelaskan, “Orang yang mengambil zakat hendaknya mengucapkan, ‘Allahumma shalli ‘alaika’, atau doa (lain) yang dipandang sesuai; karena Allah l berfirman kepada Nabi-Nya n:
“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka.” (at-Taubah: 3) (Lihat asy-Syarhul Mumti’ 6/208)
An-Nasa’i dalam al-Mujtaba (5/30) meriwayatkan dari Wa’il bin Hujr z bahwa Rasulullah n mendoakan barakah kepada seorang yang datang kepada beliau membawa seekor unta zakat yang baik.
أَنَّ النَّبِيَّ n بَعَثَ سَاعِيًا فَأَتَى رَجُلًا فَأَتَاهُ فَصِيلًا مَخْلُولًا فَقَالَ النَّبِيُّ n: بَعَثَنَا مُصَدِّقَ اللهِ وَرَسُولِهِ وَإِنَّ فُلَانًا أَعْطَاهُ فَصِيلًا مَخْلُولًا، اللَّهُمَّ لَا تُبَارِكْ فِيهِ وَلَا فِي إِبِلِهِ. فَبَلَغَ ذَلِكَ الرَّجُلَ فَجَاءَ بِنَاقَةٍ حَسْنَاءَ فَقَالَ: أَتُوبُ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَإِلَى نَبِيِّهِ n. فَقَالَ النَّبِيُّ n: اللَّهُمَّ بَارِكْ فِيهِ وَفِي إِبِلِهِ
Nabi n mengutus seorang utusan untuk mengambil zakat hingga ia datangi seorang (untuk mengambil zakatnya) tetapi dia keluarkan unta sapihan yang sangat kurus. (Ketika Nabi n mengetahuinya) beliau bersabda, “Aku mengutus seseorang yang membenarkan Allah dan Rasul-Nya (untuk mengambil zakat), tetapi fulan memberikan unta sapihan kurus (yang tidak pantas untuk zakat). Ya Allah, janganlah engkau berkahi dia dan jangan Engkau berkahi untanya.” Sampailah doa ini kepada lelaki itu. Bergegas ia datang membawa seekor onta yang baik seraya berkata, “Aku bertaubat kepada Allah dan kembali kepada Nabi-Nya n.” Lalu beliau n pun berdoa, “Ya Allah, berkahilah ia dan untanya.”
Dari riwayat tersebut diambil faedah bahwa doa untuk muzakki tidaklah harus dalam bentuk shalawat.5
Membalas Kebaikan
Membalas kebaikan orang lain meskipun hanya dengan doa adalah akhlak terpuji. Akhlak ini tampak dalam hadits Abdullah bin Abi Aufa z.
Akhlak ini juga dituntunkan Rasulullah n dalam sabdanya yang masyhur:
وَمَنْ صَنَعَ إِلَيْكُمْ مَعْرُوفاً فَكاَفِئُوْهُ، فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا مَا تُكَافِئُونَهُ فَادْعُوا لَهُ حَتَّى تَرَوْنَ أَنَّكُمْ قَدْ كَافَأْتُمُوهُ
“Orang yang berbuat baik padamu, imbangilah kebaikannya. Jika kamu tidak mampu mengimbangi kebaikannya, doakanlah kebaikan untuknya hingga engkau merasa telah membalas kebaikannya.” (Sahih, HR. Abu Dawud dan an-Nasa’i dalam Sunan keduanya dari sahabat Abdullah bin Umar c)
Dalam hadits ini Nabi n memerintahkan kita untuk membalas kebaikan dengan kebaikan yang seimbang. Perangai seperti ini menunjukkan baiknya agama, akhlak, dan muru’ah (harga diri) seseorang. Berbeda jika seorang tidak memiliki perangai tersebut, tidak ada niat untuk membalas kebaikan saudaranya, ia dikatakan la’im (tidak tahu balas budi/kikir). Lebih jelek dari itu, ada orang yang membalas kebaikan dengan kejelekan, sebagaimana dikatakan dalam pepatah negeri ini, “Air susu dibalas dengan air tuba.”
Orang yang bertakwa selalu membalas kebaikan dengan kebaikan yang semisal atau lebih. Jika diperlakukan dengan jelek, ia membalasnya dengan kebaikan, sebagaimana firman Allah l:
“Balaslah kejelekan dengan yang lebih baik. Kami mengetahui apa yang mereka sifatkan.” (al-Mu’minun: 96)
Membalas kebaikan orang lain sangat erat kaitannya dengan tauhid. Manusia yang beriman, yang bergantung dan beribadah hanya kepada Allah l, meyakini bahwa segala kebaikan yang dia dapatkan adalah dari Allah l. Oleh karena itu, ia dituntut untuk bersyukur kepada-Nya dengan lisan, anggota badan, dan hati. Jika ada seseorang yang berbuat baik kepadanya dalam bentuk bantuan harta, tenaga, atau pikiran, terkadang muncul kecondongan hati kepada orang tersebut. Oleh sebab itu, agar ketergantungan kepada makhluk hilang dan selalu murni untuk Allah l, Nabi n mensyariatkan kebaikan orang tersebut dibalas dengan yang sebanding. Jika tidak bisa engkau membalasnya dengan pemberian, disyariatkan engkau berdoa untuk kebaikannya hingga engkau merasa telah membalas kebaikannya. Dengan doa, engkau telah mengalihkan niatmu untuk membalas kebaikan itu kepada Allah l, dan Dia adalah sebaik-baik pembalas kebaikan.
Apa yang Diucapkan Muzakki?
Doa di atas adalah doa yang diucapkan imam (penguasa), wakilnya, atau mereka yang menerima zakat. Adakah doa yang diajarkan Rasulullah n untuk dibaca oleh orang yang berzakat? Dalam berberapa kitab fiqih disebutkan bahwa muzakki disunnahkan membaca doa:
اللَّهُمَّ اجْعَلْهَا مَغْنَمًا وَلَا تَجْعَلْهَا مَغْرَمًا
“Ya Allah, jadikan zakatku ini sebagai keuntungan (bagiku) dan jangan Kau jadikan sebagai kerugian.”
Doa tersebut dinisbatkan kepada Rasulullah n, namun penisbatan ini tidak sah.
Ibnu Majah dalam as-Sunan (no. 1797) meriwayatkan sebuah hadits dari jalan Suwaid bin Sa’id, dari al-Walid bin Muslim, dari al-Bakhtari bin ‘Ubaid, dari bapaknya, dari Abu Hurairah z, bahwa Rasulullah n bersabda:
إِذَا أَعْطَيْتُمُ الزَّكَاةَ فَلَا تَنْسَوُا ثَوَابَهَا أَنْ تَقُولُوا: اللَّهُمَّ اجْعَلْهَا مَغْنَمًا وَلَا تَجْعَلْهَا مَغْرَمًا
“Jika kalian mengeluarkan zakat, janganlah kalian melupakan pahalanya dengan kalian berdoa, ‘Ya Allah, jadikan zakatku ini keuntungan (bagiku) dan jangan Engkau jadikan sebagai kerugian’.”
Hadits ini lemah. Bahkan, asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani t menghukuminya sebagai hadits maudhu’ (palsu).
Al-Bakhtari bin Ubaid at-Thabikhi al-Kalbi adalah perawi yang matruk (ditinggalkan). Suwaid bin Sa’id dikatakan fihi maqal (ada pembicaraan tentangnya), sedangkan al-Walid bin Muslim adalah seorang mudallis (yang suka menggelapkan hadits), dan dalam sanad ini dia meriwayatkan hadits dengan ‘an’anah. (Lihat takhrij hadits ini dalam Irwa’ul Ghalil 3/343—344)

Zakat Tidak Afdhal Jika Tidak Didoakan?
Pembaca, yang semoga dirahmati oleh Allah l. Penting juga kita ingatkan, sebagian masyarakat menganggap bahwa jika muzakki tidak didoakan ketika membayar zakatnya, zakat yang ia keluarkan tidak afdhal atau menjadi kurang nilai ibadahnya.
Keyakinan tersebut seringkali membuat kaum muslimin khawatir dengan zakat yang ia keluarkan, sah atau tidak? Sebagian lagi tidak mau, atau merasa berat hati, mengeluarkan zakat kecuali jika didoakan dengan doa yang panjang, bahkan dengan kaifiyah (tata cara) yang diada-adakan.
Ketahuilah, anggapan-anggapan ini tidaklah benar. Doa untuk muzakki hukumnya sunnah sebagaimana pendapat jumhur ulama. Doa ini sama sekali tidak terkait dengan sah tidaknya zakat yang dikeluarkan. Seandainya muzakki mengeluarkan zakatnya dan tidak didoakan oleh orang yang menerima zakat tersebut, tidak perlu muncul kekhawatiran akan tidak afdhalnya zakat yang ia keluarkan, apalagi beranggapan bahwa amalannya tidak sah.

Penutup
Zakat adalah mahasin (keindahan-keindahan) agama yang penuh rahmah dan kasih sayang. Lihatlah hadits di atas. Betapa indah jalinan kasih sayang antara orang yang memberikan zakat dan orang yang menerima, baik imam (penguasa), wakil, atau yang berhak mendapatkan zakat.
Saudaraku rahimakumullah. Harta yang diambil dari si kaya jumlahnya sangat sedikit dibandingkan harta yang dimilikinya. Akan tetapi, harta itu sangat berharga bagi saudara-saudaranya yang berhak mendapatkan zakat. Karena besarnya pahala dan manfaat zakat serta sedekah-sedekah lainnya, Rasulullah n sangat mendorong umatnya untuk bersedekah sebagai bekal menghadap Allah l.
‘Adi bin Hatim ath-Tha’i z berkata dalam sebuah hadits yang panjang tentang kisah keislamannya:
فَبَيْنَمَا أَنَا عِنْدَه عَشِيَّةً إِذْ جَاءَهُ قَوْمٌ فِي ثِيَابٍ مِنَ الصُّوْفِ مِنَ النِّمَارِ. قَالَ: فَصَلَّى وَقَامَ فَحَثَّ عَلَيْهِمْ ثُمَّ قَالَ: وَلَوْ صَاعٌ، وَلَوْ بِنِصْفِ صَاعٍ، وَلَوْ قَبْضَةٌ، وَلَوْ بِبَعْضِ قَبْضَةٍ يَقِي أَحَدُكُمْ وَجْهَهُ حَرَّ جَهَنَّمَ أَوِ النَّارِ، وَلَوْ بِتَمْرَةٍ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ، فَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَاقَى اللهَ وَقَائِلٌ لَهُ: مَا أَقُولُ لَكْم؛ أَلَمْ أَجْعَلْ لَكَ سَمْعًا وَبَصَرًا؟ فَيَقُولُ: بَلَى. فَيَقُولُ: أَلَمْ أَجْعَلْ لَكَ مَالًا وَوَلَدًا؟ فَيَقُولُ: بَلَى. فَيَقُولُ: أَيْنَ مَا قَدَّمْتَ لِنَفْسِكَ؟ فَيَنْظُرُ قُدَّامَهُ وَبَعْدَهُ وَعَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ ثُمَّ لَا يَجِدُ شَيْئَا يَقِي بِهِ وَجْهَهُ حَرَّ جَهَنَّمَ، لِيَقِ أَحَدُكُمْ وَجْهَهُ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ، فَإِنْ لَمْ يَجِدْ فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ … الْحَدِيثَ
… Suatu petang ketika aku berada di sisi Rasulullah n, datanglah kaum dengan baju dari kain yang bergaris yang terbuat dari bulu domba. Beliau pun shalat lalu berdiri dan berkhutbah memberi dorongan kepada para sahabatnya (untuk bersedekah). Beliau bersabda, “Walaupun satu sha’ atau setengah sha’, meskipun satu genggam atau sebagiannya, akan melindungi salah seorang kalian dan wajahnya dari panasnya Jahannam, walau dengan sebutir kurma atau separuhnya. Sungguh kalian akan berjumpa dengan Allah dan Dia akan berkata, ‘Bukankah Aku telah memberikanmu pendengaran dan penglihatan?’ Katanya, ‘Ya.’ Allah berfirman, ‘Bukankah Aku telah berikan engkau harta dan anak?’ Katanya, ‘Ya.’ Lalu Allah berfirman, ‘Lalu manakah (amalan) yang telah engkau siapkan untukmu?’ Ia melihat apa yang di depannya dan sesudahnya. Ia pun melihat ke arah kanan dan kirinya, namun tidak dia dapati apa pun yang menyelamatkannya dari panasnya neraka.” Rasulullah bersabda, “Jagalah diri kalian dari api neraka meskipun dengan separuh kurma, jika tidak bisa maka dengan kalimat yang baik….” (HR. at-Tirmidzi dalam as-Sunan [5/no. 2953] dan Ahmad dalam al-Musnad [4/378]. Al-Albani berkata dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi, “Hasan.”)
Washallallahu ‘ala Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam.
Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

Catatan Kaki:

1 Sabda Rasulullah n:
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى آلِ أَبِي أَوْفَى
yang berarti “Ya Allah, berilah ampunan kepada keluarga Abu Aufa,” maksudnya adalah doa untuk Abu Aufa. Ath-Thahawi menjelaskan dalam Musykilul Atsar bahwa orang Arab biasa menyebut satu orang tertentu dengan alu fulan (keluarga fulan).

2 An-Nawawi berkata, “Ulama bersepakat bahwasanya boleh bershalawat untuk selain para nabi jika diikutkan kepada mereka, seperti:
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَتِهِ وَأَتْبَاعِهِ
“Semoga Allah memberikan shalawat kepada Muhammad (n), keluarga Muhammad (n), para istri, keturunan dan pengikut beliau.”
Sesungguhnya salaf tidak melarang shalawat (yang seperti ini) dengan dalil adanya perintah bershalawat seperti ini dalam tasyahud shalat dan lainnya.” (al-Minhaj)
3 Yang nabi dan rasul tidak termasuk di dalamnya, -pen.
4 Mereka mengkhususkan shalawat untuk ‘Ali, sementara itu yang lebih mulia dari ‘Ali z seperti Abu Bakr ash-Shiddiq z mereka mengharamkan shalawat untuknya, bahkan mereka mencela dan mengafirkannya.

5 Asy-Syaikh Abdurrahman al-Mar’i al-‘Adni ketika ditanya tentang doa untuk muzakki, beliau memberikan keterangan bahwa doa dari yang diberi zakat sesungguhnya adalah bentuk syukur. Tidak ada bentuk atau kaifiyah doa yang khusus.
Al-Imam asy-Syafi’i t menyukai bagi orang yang menerima zakat mendoakan muzakki dengan perkataan:
آجَرَكَ اللهُ فِيمَا أَعْطَيْتَ وَجَعَلَهُ لَكَ طَهُوراً وَبَارَكَ لَكَ فِيمَا أَبْقَيْتَ
“Semoga Allah memberi pahala atas apa yang telah engkau berikan. Semoga Allah menjadikan kesucian untukmu. Semoga Allah memberkahi hartamu yang tersisa.”

Kekikiran Mewariskan Siksaan

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal)

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan yang batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak, serta tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih, pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka Jahannam, lalu dibakar dengannya dahi, lambung, dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka, “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.” (at-Taubah: 34—35)
Penjelasan Mufradat Ayat
“Orang-orang yang menyimpan,” berasal dari kata kanz yang bermakna mengumpulkan.
Ibnu Jarir t berkata, “Kanz adalah segala sesuatu yang dikumpulkan, baik yang berasal dari dalam bumi maupun luarnya.”
“Dipanaskan.”
Maknanya adalah neraka yang dipanaskan dengan panas yang tinggi. Ini adalah bacaan jumhur ahli qiraah. Adapun Ibnu Amir membacanya تُحْمَى. (Lihat Fathul Qadir, karya asy-Syaukani)
“Lalu dibakar….”
Bermakna disetrika. Ini bacaan jumhur ahli qiraah. Namun, diriwayatkan dari Abu Haiwah bahwa dia membaca فَيُكْوَى dengan ya’ sebagai pengganti ta’. (Fathul Qadir)

Tafsir Ayat
Ayat Allah k ini menjelaskan tentang nasib orang-orang kikir yang tidak membelanjakan hartanya di jalan Allah k, yang senang mengumpulkan

hartanya baik emas, perak, maupun harta benda berharga lain yang dimilikinya serta enggan mengeluarkan kadar (zakat) yang wajib yang diperintahkan oleh Allah k.
Al-Allamah as-Sa’di t menerangkan, “Allah l menyebutkan pada dua ayat ini penyimpangan manusia dalam hal harta. Penyimpangan itu terjadi disebabkan salah satu dari dua hal berikut.
Ada kalanya dia menginfakkan hartanya untuk kebatilan yang tidak memberi manfaat baginya. Dia tidak mendapatkan hasilnya melainkan kemudaratan semata. Ini terjadi ketika dia mengeluarkan hartanya untuk kemaksiatan dan pelampiasan hawa nafsu yang tidak mendorongnya untuk taat kepada Allah k. Dia mengeluarkan hartanya untuk menghalangi manusia dari jalan Allah k.
Ada kalanya pula dia tidak menginfakkan hartanya untuk menunaikan hal-hal yang wajib.” (Taisir al-Kariim ar-Rahman)
Al-Hafizh Ibnu Katsir t menjelaskan, “Mereka merupakan jenis yang ketiga dari tokoh-tokoh di kalangan manusia. Manusia membutuhkan ulama, ahli ibadah, dan pemilik harta. Jika ketiga jenis manusia ini rusak, akan rusak pula keadaan manusia secara umum, seperti ucapan sebagian ulama:
وَهَلْ أَفْسَدَ الدِّينَ إِلَّا الْمُلُوكُ
وَأَحْبَارُ سُوْءٍ وَرُهْبَانُهَا
Tidak ada yang merusak agama ini kecuali para penguasa
para ulama dan ahli ibadah yang jahat …” (Tafsir Ibnu Katsir)

“Orang-orang yang mengumpulkan emas dan perak.”
Terjadi perbedaan di kalangan ahli tafsir tentang siapa yang dimaksud di dalam ayat ini. Yang berpendapat bahwa yang dimaksud adalah kalangan pendeta dan ulama Yahudi yang disebutkan sebelumnya. Namun, yang benar adalah ayat ini bersifat umum, mencakup seluruh kaum muslimin, berdasarkan keumuman lafadz ayat ini. (Tafsir Fathul Qadir, Tafsir al-Alusi)

Apa yang Dimaksud Kanz?
Terjadi pula silang pendapat di kalangan ulama tentang harta yang disebut kanz.
Sebagian ulama menyatakan bahwa kanz adalah semua harta yang wajib dizakati namun tidak dikeluarkan zakatnya. Pendapat ini diriwayatkan dari Ibnu Umar, Jabir, Ikrimah, dan as-Suddi. Ibnu Umar c mengatakan, “Harta apa pun yang telah ditunaikan zakatnya tidak disebut kanz meskipun tertimbun di dalam bumi. Harta apa pun yang tidak ditunaikan zakatnya, itu disebut kanz yang pemiliknya akan disetrika, meskipun harta itu tampak di atas bumi.” (Tafsir Ibnu Jarir ath-Thabari)
Pendapat ini dikuatkan oleh Ibnu Jarir ath-Thabari dan al-Qurthubi. Inilah pendapat yang benar.
Ulama yang lain mengatakan bahwa kanz adalah harta yang melebihi jumlah empat ribu dirham, baik yang sudah ditunaikan zakatnya maupun tidak. Pendapat ini diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib z.
Ada pula yang berpendapat bahwa yang dimaksud kanz adalah harta yang melebihi kebutuhan pemiliknya. Pendapat ini diriwayatkan dari Abu Dzar z. Al-Qurthubi mengatakan, “Ini termasuk pendapat yang beliau bersendiri dalam hal ini.” (Lihat Tafsir ath-Thabari, Tafsir al-Qurthubi)

Kewajiban Mengeluarkan Zakat Emas dan Perak
Ayat ini menjelaskan kepada hamba-hamba Allah l tentang kewajiban yang dikenakan bagi para pemilik harta emas dan perak untuk mengeluarkan sebagian harta tersebut di jalan Allah k, termasuk membayar zakat mal jika terpenuhi syarat-syarat wajib zakat berupa nishab dan mencapai setahun (haul). Dalam hal ini, telah dijelaskan oleh Nabi n sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 1573) dari Ali z bahwa beliau n bersabda:
فَإِذَا كَانَتْ لَكَ مِائَتَا دِرْهَمٍ وَحَالَ عَلَيْهَا الْحَوْلُ فَفِيهَا خَمْسَةُ دَرَاهِمَ وَلَيْسَ عَلَيْكَ شَيْءٌ -يَعْنِي في الذَّهَبِ- حَتَّى يَكُونَ لَكَ عِشْرُونَ دِينَارًا فَإِذَا كَانَ لَكَ عِشْرُونَ دِينَارًا وَحَالَ عَلَيْهَا الْحَوْلُ فَفِيهَا نِصْفُ دِينَارٍ
“Apabila engkau memiliki dua ratus dirham dan genap setahun maka zakatnya sebesar lima dirham. Tidak ada kewajiban zakat bagimu dalam emas hingga mencapai jumlah dua puluh dinar. Jika engkau memiliki dua puluh dinar dan genap setahun maka terdapat zakat sebesar setengah dinar.”
Jumlah kadar zakat tersebut dan genap setahun merupakan perkara yang disepakati oleh para ulama, sebagaimana yang disebutkan an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim (7/48).
Ibnul Mundzir t berkata, “Para ulama bersepakat bahwa jika emas mencapai jumlah dua puluh mitsqal, yang jumlahnya dua ratus dirham, maka diwajibkan zakat, kecuali yang dinukilkan dari Hasan.” (al-Ijma’, Ibnul Mundzir hlm. 98)
Dua puluh dinar sebanding dengan 85 gram emas murni, karena satu dinar sebanding dengan 4,25 gram. Ini pendapat yang dikuatkan oleh Ibnu ‘Utsaimin. (Fatawa Ibnu Utsaimin, 18/93, Maktabah Syamilah)
Beberapa ulama menentukan kadar dua puluh dinar sebanding dengan 92 gram emas murni. Pendapat ini dikuatkan oleh asy-Syaikh Ibnu Baz dan al-Lajnah ad-Da’imah. (Fiqih wa Ahkam Zakatidz Dzahab, Abu Abdillah al-Misna’i hlm. 11)
Jika harta telah mencapai nisab, wajib dikeluarkan 2,5 persen dari hartanya tersebut.

Hukum Zakat Perhiasan
Terjadi perselisihan di kalangan para ulama tentang perhiasan, apakah wajib dizakati atau tidak?
Jumhur ulama berpendapat bahwa tidak ada kewajiban zakat atasnya, dengan alasan tidak ada dalil sahih yang jelas menunjukkan hal tersebut.
Sebagian ulama berpendapat bahwa pada perhiasan ada zakat yang harus dikeluarkan. Pendapat ini merupakan mazhab Hanafiyah dan dirajihkan oleh para ahli tahqiq (peneliti), seperti asy-Syaikh Ibnu Baz, al-Albani, Ibnu Utsaimin, dan Syaikhuna al-Wadi’i.
Dalil yang menunjukkan adanya zakat perhiasan di antaranya:
Hadits ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya, bahwa ada seorang wanita datang kepada Nabi n dan di tangannya terdapat dua gelang yang tebal dari emas. Rasulullah n bertanya, “Apakah engkau menunaikan zakat perhiasan ini?” Wanita tersebut menjawab, “Tidak.” Rasulullah n pun bersabda, “Apakah kamu senang Allah l memakaikan

kepadamu dua gelang dari neraka pada hari kiamat?” Wanita tersebut segera melepaskan keduanya dan melemparnya sambil berkata, “Keduanya milik Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Abu Dawud dan an-Nasa’i, dihasankan oleh an-Nawawi, Ibnul Mulaqqin, Ibnu Hajar, al-Albani, dan Syaikhuna al-Wadi’i)
Di samping itu, masih ada lagi beberapa dalil lainnya. (Lihat Fiqh wa Ahkam Zakatidz Dzahab, Abu Abdillah al-Misna’i, hlm. 8—10)

Ancaman bagi Orang yang Tidak Menginfakkan Hartanya
As-Sa’di berkata ketika menjelaskan firman Allah l:
“Tidak menginfakkannya di jalan Allah,” yaitu pada jalan-jalan kebaikan yang mengantarkannya kepada Allah l. Inilah jenis kanz yang diharamkan, yaitu yang menghalangi pemberian nafkah yang wajib, seperti tidak mau membayar zakat, atau nafkah-nafkah yang bersifat wajib seperti nafkah untuk istri dan kerabat, atau nafkah di jalan Allah l yang bersifat wajib. (Taisir al-Karim ar-Rahman)
Rincian hukuman yang dirasakan orang-orang yang tidak mengeluarkan bagian yang wajib dari hartanya, dijelaskan oleh Allah l pada ayat berikutnya.
Pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka Jahannam, lalu dibakar dengannya dahi, lambung, dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka, “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.” (at-Taubah: 35)
Ayat ini dipertegas lagi oleh Nabi n dengan sabdanya:
مَا مِنْ صَاحِبِ ذَهَبٍ وَلَا فِضَّةٍ لَا يُؤَدِّي مِنْهَا حَقَّهَا إِلَّا إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ صُفِّحَتْ لَهُ صَفَائِحُ مِنْ نَارٍ فَأُحْمِيَ عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَيُكْوَى بِهَا جَنْبُهُ وَجَبِينُهُ وَظَهْرُهُ، كُلَّمَا بَرَدَتْ أُعِيدَتْ لَهُ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ حَتَّى يُقْضَى بَيْنَ الْعِبَادِ فَيَرَى سَبِيلَهُ إِمَّا إِلَى الْجَنَّةِ وَإِمَّا إِلَى النَّارِ
“Tidak seorang pun pemilik emas dan perak yang tidak menunaikan haknya melainkan pada hari kiamat akan dibentangkan baginya lempengan-lempengan dari api neraka, lalu dinyalakan padanya di dalam neraka jahannam, lalu disetrika lambung, pelipis, dan punggungnya. Setiap kali menjadi dingin, dikembalikan lagi untuknya pada satu hari yang hitungannya sama dengan 50.000 tahun. Kemudian dia akan melihat nasibnya, apakah dimasukkan ke dalam surga atau neraka.” (HR. Muslim no. 987 dari Abu Hurairah z)

Kafirkah Orang yang Tidak Membayar Zakat?
Al-Lajnah ad-Da’imah ditanya dengan pertanyaan berikut, “Apa hukumnya orang yang telah bersaksi La ilaha illallah dan menegakkan shalat, namun dia tidak membayar zakat dan dia tidak rela sama sekali. Apakah hukumnya dalam Islam jika dia meninggal? Apakah dishalati atau tidak?”
Al-Lajnah menjawab, “Zakat merupakan salah satu rukun Islam. Barang siapa yang meninggalkannya karena mengingkari kewajibannya, maka

dijelaskan kepadanya tentang hukumnya. Jika dia tetap pada prinsipnya berarti dia telah kafir, tidak boleh dishalati, dan tidak boleh dikuburkan di pekuburan kaum muslimin. Adapun jika dia meninggalkannya karena kikir namun masih meyakini kewajibannya, dia telah melakukan dosa besar. Dia menjadi fasik karenanya, namun tidak menjadi kafir. Dia tetap dishalati jika meninggal dalam keadaan seperti ini dan urusannya diserahkan kepada Allah k.” (Fatawa al-Lajnah no. 6147)
Wallahu a’lam.

Golongan yang Tidak Berhak Menerima Zakat

(ditulis olehAl-Ustadz Abu Abdillah Muhammad al-Makassari)

Ada tujuh golongan yang tidak berhak menerima zakat, yaitu:
1. Bani Hasyim, yaitu Nabi n dan kerabatnya
2. Orang kaya
3. Orang yang berfisik kuat dan berpenghasilan cukup
4. Orang yang dinafkahinya
5. Orang yang tercukupi nafkahnya oleh yang menanggungnya.
6. Budak
7. Orang kafir

Bani Hasyim, yakni Nabi n dan Kerabatnya
Zakat diharamkan atas Bani Hasyim, yaitu Nabi n dan kerabatnya. Mereka adalah keluarga ‘Abbas, keluarga ‘Ali, keluarga Ja’far, keluarga ‘Aqil, keluarga al-Harits bin ‘Abdil Muththalib.
Adapun tentang keluarga Abu Lahab, ada perbedaan pendapat tentangnya. Asy-Syaukani berkata, “Keluarga Abu Lahab tidak termasuk dalam hukum ini, berdasarkan apa yang dikatakan (bahwa tidak ada seorang pun dari mereka yang masuk Islam pada masa hidup Nabi n). Namun hal ini terbantah dengan apa yang disebutkan dalam Jami’ul Ushul bahwa dua putra Abu Lahab yang bernama ‘Utbah dan Mu’attib masuk Islam pada Fathu Makkah. Rasulullah n pun bergembira dengan keislaman keduanya. Keduanya juga ikut Perang Hunain dan Thaif.1 Menurut ahli nasab, keduanya memiliki keturunan.”
Penulis kitab ar-Raudhul Murbi’ menetapkan keluarga Abu Lahab tergolong Bani Hasyim yang haram menerima zakat.
Ibnu ‘Utsaimin menyebutkan bahwa sejak lebih dari seribu tahun yang silam, raja-raja yang berkuasa di negeri Yaman adalah Bani Hasyim. Nasab mereka masyhur dan dikenal sebagai Bani Hasyim. Selain mereka, banyak juga yang bernasab Bani Hasyim. Beliau menyatakan bahwa barang siapa mengaku sebagai Bani Hasyim, pengakuannya diterima dan tidak diberi zakat.
Zakat diharamkan atas Bani Hasyim, yaitu Nabi n dan kerabatnya, sebagai pemuliaan terhadap mereka, karena mereka adalah kerabat Nabi n. Kerabat Nabi n adalah nasab manusia yang paling mulia sehingga tidak pantas menerima zakat yang merupakan kotoran manusia, karena zakat membersihkan pemiliknya dari kotoran (dosa). Dalilnya adalah sebagai berikut.
1. Hadits al-Muththalib bin Rabi’ah bin al-Harits:
“Rabi’ah bin al-Harits dan al-‘Abbas bin ‘Abdil Muththalib berkumpul. Keduanya mengutus al-Muththalib dan al-Fadhl bin ‘Abbas untuk menemui Rasulullah n agar beliau mengangkat keduanya sebagai amil zakat, sehingga keduanya ikut mendapat bagian dari zakat sebagaimana yang lainnya. Tatkala keduanya menemui Rasulullah n, beliau n bersabda:
إِنَّ الصَّدَقَةَ لاَ تَنْبَغِي لِآلِ مُحَمَّدٍ, إِنَّمَا هِيَ أَوْسَاخُ النَّاسِ
“Sesungguhnya zakat tidak dihalalkan bagi Nabi n dan keluarganya. Zakat itu hanyalah merupakan kotoran manusia.”
Kemudian Rasulullah n menikahkan keduanya dan memerintahkan petugas al-khumus agar memberikan harta al-khumus kepada keduanya untuk mahar pernikahan.” (HR. Muslim Bab Tarki Isti’mali Ali an-Nabi ‘alash Shadaqah no. 1072)
2. Hadits Abu Hurairah z:
أَخَذَ الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍ c تَمْرَةً مِنْ تَمْرِ الصَّدَقَةِ فَجَعَلَهَا فِى فِيهِ، فَقَالَ النَّبِيُّ n: كِخْ كِخْ ارْمِ بِهَا! أَمَا عَلِمْتَ أَنَّا لاَ نَأْكُلُ الصَّدَقَةََ؟
Al-Hasan bin Ali c memungut sebutir kurma dari kurma zakat lalu memasukkannya ke dalam mulutnya. Nabi n berkata, “Kikh kikh,2 muntahkan! Tidakkah engkau mengetahui bahwa kita tidak boleh memakan harta zakat?” (HR. al-Bukhari no. 1491 dan Muslim no. 1069)
Dalam riwayat al-Bukhari yang lain dengan lafadz:
أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ آلَ مُحَمَّدٍ لاَ يَأْكُلُونَ الصَّدَقَةَ
“Tidakkah engkau mengetahui bahwa sesungguhnya Muhammad dan keluarganya tidak boleh memakan harta zakat?” (HR. al-Bukhari no. 1485)
Kedua hadits ini menunjukkan haramnya zakat bagi mereka. Hadits yang pertama menunjukkan bahwa sebabnya adalah zakat merupakan kotoran manusia, karena zakat yang dikeluarkan membersihkan pemiliknya dari kotoran (dosa). Suatu pembersih tentu saja bercampur dengan kotoran yang dibersihkannya. Dalil bahwa zakat membersihkan pemiliknya dari kotoran adalah firman Allah l:
“Hendaklah engkau (wahai Muhammad) mengambil zakat dari harta-harta mereka yang dengannya engkau membersihkan mereka dari dosa dan memperbaiki keadaan mereka.” (at-Taubah: 103)
Keumuman hadits-hadits tersebut meliputi Bani Hasyim, baik yang fakir-miskin, sebagai amil zakat, muallaf, maupun lainnya. Bahkan hadits al-Muththalib bin Rabi’ah bin al-Harits merupakan nash yang menunjukkan bahwa zakat adalah haram bagi Bani Hasyim meskipun mereka sebagai amil zakat, karena kisahnya terkait dengan permintaan mereka menjadi amil zakat, dan Rasulullah n tetap mengharamkan bagi mereka. Inilah pendapat yang rajih.
Demikian pula keumuman hadits-hadits yang ada, meliputi zakat Bani Hasyim dan yang lainnya. Inilah pendapat yang rajih.
Bani Hasyim haram menerima zakat. Sebagai gantinya, mereka berhak dibantu dengan harta al-khumus, yaitu seperlima bagian dari seperlima ghanimah (harta rampasan perang), sedangkan empat perlima bagian dari ghanimah dibagikan kepada pasukan yang merampasnya. Jadi, seperlima bagian dari ghanimah dibagi menjadi lima bagian, salah satunya untuk kerabat Nabi n. Seperlima bagian tersebut untuk kerabat Nabi n, yaitu Bani Hasyim. Dalam hal ini Banil Muththalib memiliki hukum yang sama dengan mereka. Jubair bin Muth’im z berkisah:
مَشَيْتُ أَنَا وَعُثْمَانُ بْنُ عَفَّانَ إِلَى رَسُولِ اللهِ n فَقُلْنَا: يَا رَسُولَ اللهِ، أَعْطَيْتَ بَنِي الْمُطَّلِبِ وَتَرَكْتَنَا، وَنَحْنُ وَهُمْ مِنْكَ بِمَنْزِلَةٍ وَاحِدَةٍ. فَقَالَ رَسُولُ اللهِ n: إِنَّمَا بَنُو الْمُطَّلِبِ وَبَنُو هَاشِمٍ شَيءٌ وَاحِدٌ
Aku berjalan bersama ‘Utsman bin ‘Affan z menemui Rasulullah n, lalu kami berkata, “Wahai Rasulullah, engkau memberi bagian dari al-khumus kepada Banil Muththalib dan engkau membiarkan kami, padahal kami dan mereka memiliki kedudukan yang sama darimu.” Rasulullah n pun bersabda: “Hanyalah Banil Muththalib dan Bani Hasyim itu satu kesatuan.” (HR. al-Bukhari no. 2971)
Oleh karena itu, apabila mereka dizalimi dengan tidak diberi bagian dari khumus, atau tidak ada khumus yang akan dibagikan kepada mereka, sebagaimana realita di masa sekarang, fakir-miskin di antara mereka berhak dibantu dengan zakat untuk memenuhi kebutuhan darurat (pokok) mereka. Ini adalah pendapat sebagian fuqaha Hanabilah, salah satu sisi pendapat di kalangan fuqaha Syafi’iyah, dinukilkan juga dari Abu Hanifah, dan dirajihkan oleh Ibnu Taimiyah serta Ibnu ‘Utsaimin.
Ada beberapa golongan yang diperselisihkan oleh ulama, apakah memiliki hukum yang sama dengan Bani Hasyim atau tidak? Golongan-golongan tersebut adalah sebagai berikut.
1. Maula Bani Hasyim, yaitu budak yang dimerdekakan oleh Bani Hasyim
Pendapat yang lebih kuat menyatakan bahwa mereka memiliki hukum yang sama dengan Bani Hasyim dalam hal haramnya zakat bagi mereka. Ini berdasarkan hadits Abu Rafi’ maula Rasulullah n yang dilarang oleh Rasulullah n untuk menjadi amil zakat. Beliau n bersabda:
إِنَّ الصَّدَقَةَ لَا تَحِلُّ لَنَا وَإِنَّ مَوَالِيَ الْقَوْمِ مِنْ أَنْفُسِهِمْ
“Sesungguhnya zakat tidak dihalalkan bagi kami, dan maula suatu kaum adalah bagian dari mereka.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, dan yang lainnya, disahihkan oleh al-Albani dalam Irwa’ul Ghalil no. 880)
2. Istri-istri Rasulullah n
Syaikhul Islam memilih salah satu riwayat dari al-Imam Ahmad bahwa zakat itu haram bagi istri-istri Rasulullah n, sebab mereka merupakan keluarga/kerabat Nabi n. Ini adalah pendapat yang rajih.
Adapun maula istri-istri Nabi n, tidak ada perbedaan pendapat bahwa kedudukannya berbeda dengan maula Bani Hasyim. Zakat itu halal atas mereka.
3. Banil Muththalib
Al-Muththalib adalah saudara Hasyim. Mereka empat bersaudara, yaitu: Hasyim, al-Muththalib, ‘Abdusyams, dan Naufal. Ayah mereka bernama ‘Abdumanaf.
Asy-Syafi’i dan salah satu riwayat dari Ahmad berpendapat bahwa Banil Muththalib memiliki hukum yang sama dengan Bani Hasyim, yakni haram menerima zakat. Pendapat ini dirajihkan oleh Ibnu Hajar. Mereka berdalil dengan qiyas (analogi) terhadap penyamaan hukum antara keduanya dalam hal menerima bagian dari al-khumus. Rasulullah n mengabarkan bahwa Bani Hasyim dan Banil Muththalib adalah dua keluarga yang merupakan satu kesatuan yang berhak menerima al-khumus, sebagaimana dalam hadits Jubair bin Muth’im z di atas. Berdasarkan pendapat ini, berlaku perbedaan pendapat tentang hukum maula Banil Muththalib dalam menerima zakat seperti pada maula Bani Hasyim, berikut yang rajih dari perbedaan pendapat tersebut.
Namun pendalilan ini lemah, karena Rasulullah n menyamakan hukum keduanya dalam menerima al-khumus dan menyatakan bahwa keduanya merupakan satu kesatuan, berdasarkan loyalitas Banil Muththalib terhadap Bani Hasyim yang senantiasa membela dan menolong mereka dalam peperangan, baik di masa jahiliah maupun di masa Islam. Bukan semata-mata karena Banil Muththalib memiliki hubungan kekerabatan. Buktinya, Bani ‘Abdisyams dan Bani Naufal yang juga memiliki hubungan kekerabatan dengan Bani Hasyim, hukumnya lain. Adapun dalam masalah zakat, urusannya berbeda dan tidak bisa disamakan.
Oleh karena itu, yang rajih adalah pendapat Abu Hanifah, Malik, dan salah satu riwayat dari Ahmad yang menjadi mazhab Hanabilah bahwa Banil Muththalib halal menerima zakat, karena mereka masuk dalam keumuman ayat tentang delapan golongan yang berhak menerima zakat. Mereka tidak termasuk kerabat Muhammad n yang bernasab mulia yang karenanya diharamkan menerima zakat. Pendapat inilah yang dirajihkan oleh Ibnu ‘Utsaimin.

Masalah: Apakah sedekah yang bersifat sunnah juga diharamkan atas Bani Hasyim?
Ada perbedaan pendapat di antara ulama. Yang rajih, sedekah itu haram atas Rasulullah n dan halal untuk Bani Hasyim yang lainnya. Jadi, khusus bagi Nabi n, seluruh sedekah haram, baik yang wajib (zakat) maupun yang sunnah. Ini adalah pendapat jumhur, yang dirajihkan oleh Ibnu Qudamah dan Ibnu ‘Utsaimin. Ibnu Qudamah menerangkan sebabnya, “Karena hal itu termasuk ciri dan tanda yang menunjukkan kenabian beliau n, sehingga beliau n tidak pernah menerimanya sama sekali.” Ada banyak hadits yang menunjukkan hal ini.
Adapun Bani Hasyim yang lainnya halal menerima sedekah sunnah namun haram menerima yang wajib (zakat). Ini adalah pendapat jumhur (mayoritas) ulama, yang dirajihkan oleh Ibnu Qudamah dan Ibnu ‘Utsaimin.
Ibnu ‘Utsaimin berkata dalam Fathu Dzil Jalali wal Ikram, “Sebab diharamkannya zakat bagi Bani Hasyim ini tidak sesuai penerapannya pada sedekah sunnah. Sebab, sedekah sunnah hukumnya tidak wajib (seperti zakat), sehingga bukan merupakan pembersih harta (kotoran manusia), melainkan sebagai penghapus dosa.”

Orang Kaya
Yang dimaksud dengan orang kaya di sini adalah orang yang memiliki harta yang cukup dalam memenuhi kebutuhannya sehari-hari bersama keluarganya—jika dia berkeluarga—dalam jangka waktu setahun, menurut tingkat kehidupan masyarakat sekitarnya yang sederajat dengannya. Golongan orang kaya diharamkan menerima zakat untuk memenuhi kebutuhannya bersama keluarganya—jika dia berkeluarga—karena dia bukan golongan fakir-miskin yang membutuhkan.
Dalilnya adalah hadits Ubaidullah bin ‘Adi bin Khiyar z tentang dua orang sahabat, keduanya bercerita kepada ‘Ubaidullah:
أَنَّهُمَا أَتَيَا النَّبِيَّ n فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ وَهُوَ يَقْسِمُ الصَّدَقَةَ فَسَأَلاَهُ مِنْهَا فَرَفَعَ فِينَا الْبَصَرَ وَخَفَضَهُ فَرَآناَ جَلْدَينِ فَقَالَ: إِنْ شِئْتُمَا أَعْطَيتُكُمَا وَلاَ حَظَّ فِيهَا لِغَنِيٍّ وَلاَ لِقَوِيٍّ مُكْتَسِبٍ
Mereka berdua mendatangi Nabi n pada hajjatul wada’ ketika beliau tengah membagi-bagikan zakat. Keduanya lantas meminta bagian kepada beliau n. Mereka berkata, “Beliau n menatap kami dan mengamati dari atas ke bawah. Beliau melihat kami berdua sebagai lelaki yang kuat.” Beliau n kemudian berkata, “Jika kalian menginginkannya (akan kuberikan). Akan tetapi, sesungguhnya tidak ada bagian dari zakat untuk seorang yang kaya, tidak pula untuk seorang yang berfisik kuat, serta punya profesi yang mencukupinya.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, an-Nasa’i, ad-Daraquthni, al-Baihaqi, dan lainnya, dinyatakan bagus sanadnya oleh Ahmad, disahihkan oleh an-Nawawi dalam al-Majmu’ [6/170] dan al-Albani dalam Irwa’ al-Ghalil no. 876)
Juga hadits Abu Sa’id al-Khudri z yang telah lewat, Rasulullah n bersabda:
لاَ تَحِلُّ الصَّدَقَةُ لِغَنِيٍّ إِلاَّ لِخَمْسَةٍ: لِغَازٍ فِى سَبِيلِ اللهِ، أَوْ لِعَامِلٍ عَلَيْهَا، أَوْ لِغَارِمٍ، أَوْ لِرَجُلٍ اشْتَرَاهَا بِمَالِهِ، أَوْ لِرَجُلٍ كَانَ لَهُ جَارٌ مِسْكِينٌ فَتُصُدِّقَ عَلَى الْمِسْكِينِ فَأَهْدَاهَا الْمِسْكِينُ لِلْغَنِيِّ.
“Zakat tidak halal bagi orang kaya, kecuali lima lima jenis orang kaya: yang berjihad di jalan Allah l, amil zakat, yang berutang, yang membelinya (zakat tersebut) dengan hartanya, dan yang bertetangga dengan orang miskin yang mendapat zakat kemudian menghadiahkannya kepadanya.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan al-Hakim)
Kedua hadits ini menunjukkan bahwa orang kaya haram menerima zakat dari bagian golongan fakir-miskin, bagaimana pun derajat kekayaannya, baik dia memiliki harta yang mencapai nishab maupun tidak.3

Orang yang Berfisik Kuat dan Berpenghasilan Cukup
Orang yang berfisik kuat dan punya profesi/penghasilan yang mencukupinya untuk keluarganya—jika dia berkeluarga—pada hakikatnya termasuk kaya. Oleh karena itu, zakat haram baginya untuk memenuhi kebutuhannya bersama keluarganya—jika dia berkeluarga—, sebab dia tidak termasuk golongan fakir-miskin yang membutuhkan.
Dalilnya adalah hadits dua laki-laki sahabat di atas. Makna muktasib dalam hadits tersebut, seperti kata asy-Syaukani dalam Nailul Authar, adalah berpenghasilan cukup.
Ibnu ‘Utsaimin t berkata menerangkan hadits ini dalam Fathu Dzil Jalali wal Ikram, “Nabi n mempersyaratkan dua syarat untuk golongan ini, yaitu fisik kuat dan punya profesi/penghasilan. Jika dia berfisik kuat, namun tidak punya profesi/penghasilan, zakat halal baginya. Jika dia punya profesi, namun fisiknya lemah, zakat halal baginya. Seperti halnya seorang lelaki yang memiliki profesi yang ditekuni, namun dia tidak mampu bekerja menjalankan profesinya karena sakit, maka zakat halal baginya. Inilah dua golongan yang haram menerima zakat: orang kaya serta orang yang berfisik kuat dan berprofesi dengan penghasilan yang mencukupinya. Orang kaya tercukupi dengan hartanya. Orang yang berfisik kuat dan berprofesi tercukupi dengan penghasilannya.”

Orang yang Tercukupi Nafkahnya oleh yang Menanggungnya
Orang yang telah tercukupi nafkahnya oleh pihak yang bertanggung jawab menafkahinya, tidak berhak diberi zakat untuk memenuhi kebutuhannya, karena kebutuhannya telah tercukupi dengan nafkah itu.
Maka dari itu, zakat tidak boleh diberikan kepada seorang wanita fakir yang dipenuhi nafkahnya oleh suaminya, seorang anak yang dipenuhi nafkahnya oleh ayahnya, dan siapa saja yang kebutuhannya dipenuhi oleh pihak yang menanggung nafkahnya. Demikian pendapat yang rajih, menurut Ibnu ‘Utsaimin t.

Perhatian
Zakat halal bagi orang yang kaya—dengan harta/penghasilannya—dan orang yang terpenuhi nafkahnya oleh yang menanggungnya dari sisi makna yang lain selain kemiskinan dan kefakiran, yaitu sebagai amil zakat, orang yang berutang, mujahid, atau ibnus sabil yang kehabisan bekal dalam safarnya, sebagaimana telah berlalu pembahasannya pada Golongan yang Berhak Menerima Zakat.

Orang yang Dinafkahinya
Yang wajib dinafkahi oleh seseorang terkait dengan pembahasan zakat meliputi:
1. Kerabat yang dinafkahinya
Orang yang kaya wajib menafkahi keturunannya ke bawah dan asal-usulnya ke atas secara mutlak (mewarisi atau tidak mewarisi). Demikian pula kerabatnya yang lain, dengan syarat dia mewarisi dari kerabatnya itu. Adapun kerabat yang pada asalnya tidak diwarisi olehnya atau dia tertutupi oleh yang lainnya untuk menerima warisan darinya, dia tidak berkewajiban memberi nafkah kepadanya. Oleh karena itu, seseorang yang mampu (kaya) berkewajiban menafkahi kedua orang tuanya yang miskin, kakek dan neneknya yang miskin, anak-anak dan cucu-cucunya yang miskin, serta kerabat lainnya yang miskin yang diwarisinya.
Seseorang diharamkan memberikan zakatnya kepada kerabat yang dinafkahinya untuk menutupi kebutuhannya dengan zakat itu. Sebab, jika zakatnya diberikan kepada orang yang dinafkahinya, berarti kebutuhannya tercukupi dengan zakat itu. Dengan sendirinya, gugurlah kewajibannya memberi nafkah kepadanya. Maka dari itu, pemberian zakat kepadanya mengandung makna pengguguran kewajiban menafkahinya, ini tentu tidak boleh. Ini adalah mazhab asy-Syafi’i dan salah satu riwayat dari Ahmad, yang dirajihkan oleh Ibnu Taimiyah, as-Sa’di, dan Ibnu ‘Utsaimin. Pendapat ini lebih kuat daripada pendapat jumhur yang membolehkan zakat diberikan kepada kerabat selain orang tua dan anak.
Berdasarkan hal ini, seseorang yang menafkahi anaknya tidak boleh memberikan zakatnya kepada anaknya, yang berarti menggugurkan nafkahnya. Seseorang yang menafkahi orang tuanya tidak boleh memberikan zakatnya kepada orang tuanya, yang berarti menggugurkan nafkahnya. Seseorang yang menafkahi kakek atau neneknya tidak boleh memberikan zakatnya kepada kakek atau neneknya, karena menggugurkan nafkahnya. Seseorang yang menafkahi saudaranya tidak boleh memberikan zakatnya kepada saudaranya tersebut, yang berarti menggugurkan nafkahnya.
Jika pemberian zakat kepada salah seorang mereka tidak menggugurkan nafkahnya, hukumnya boleh menurut mazhab Syafi’iyah, salah satu pendapat dalam mazhab Hanabilah, yang dirajihkan oleh Ibnu Taimiyah dan Ibnu ‘Utsaimin. Pendapat ini yang rajih, insya Allah.
Berdasarkan hal ini, jika seseorang tidak menafkahinya karena hartanya tidak cukup untuk menafkahinya dan dia memiliki zakat, dia boleh memberikan zakatnya kepadanya, karena hal itu tidak bermakna menggugurkan kewajibannya memberi nafkah kepadanya. Misalnya, seseorang menafkahi ayahnya tapi tidak cukup untuk menafkahi kakeknya, maka zakatnya harus diserahkan kepada kakeknya, bukan ayahnya. Hal ini agar kewajiban memberikan nafkah kepada ayah tidak gugur. Begitu seterusnya, dengan anak dan cucu. Zakat itu diberikan kepada cucu, bukan kepada anak.
Demikian pula halnya jika yang dinafkahinya berhak menerima zakat dengan makna lain selain kefakiran dan kemiskinan, seperti halnya jika dia berutang atau musafir yang terputus bekalnya dalam safar. Dalam hal ini dia boleh memberikan zakat tersebut kepadanya untuk melunasi utangnya atau bekalnya dalam menyempurnakan safarnya. Namun, jika yang dinafkahinya berutang untuk memenuhi kebutuhan nafkahnya yang semestinya merupakan tanggung jawabnya, dia tidak boleh memberikan zakatnya untuk pelunasan utang tersebut. Hal ini karena maknanya kembali kepada pengguguran nafkah yang wajib ditanggungnya. Dia berkewajiban untuk melunasi utang kerabatnya dengan hartanya, bukan dari zakatnya, sebab utang itu untuk memenuhi kebutuhan/nafkah kerabat yang merupakan tanggung jawabnya.
Jika kerabat yang dinafkahinya berhak menerima zakat untuk kebutuhan dan maslahat kaum muslimin, yaitu sebagai mujahid, atau berutang untuk mendamaikan dua pihak yang bertikai, dia boleh memberikan zakatnya kepada kerabatnya itu. Hal ini diterangkan oleh Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qudamah.

2. Istri
Seorang suami wajib menafkahi istrinya secara mutlak, baik istrinya miskin maupun kaya. Haram baginya memberikan zakatnya kepada istrinya untuk memenuhi kebutuhannya yang seharusnya dipenuhi dengan nafkahnya. Karena akan bermakna menggugurkan kewajiban memberikan nafkah kepadanya, ini tidak boleh.
Adapun seseorang memberikan zakatnya kepada istrinya untuk makna lain yang tidak mengandung makna pengguguran nafkah, seperti melunasi utangnya, maka dibolehkan. Ini menurut pendapat yang dirajihkan oleh Ibnu ‘Utsaimin.

Budak
Zakat tidak boleh diberikan kepada seorang budak untuk memenuhi kebutuhannya, karena nafkah seorang budak merupakan tanggung jawab tuan/pemiliknya. Kebutuhannya telah terpenuhi dengan nafkah dari tuannya. Di samping itu, seorang budak tidak mempunyai hak milik, karena diri dan hartanya adalah milik tuannya. Jika dia diberi zakat, otomatis zakat itu akan beralih ke tangan tuannya. Ibnu Qudamah berkata, “Kami tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat dalam masalah ini.”
Berbeda halnya jika seorang budak diberi zakat sebagai amil zakat dengan izin tuannya, hal ini boleh sebagaimana bolehnya menyewa tenaga seorang budak untuk suatu pekerjaan dengan izin tuannya. Demikian pula, boleh

menyalurkan zakat untuk memerdekakan budak, sebagaimana telah dibahas pada Kajian Utama: Golongan yang Berhak Menerima Zakat.

Orang Kafir
Orang kafir tidak boleh diberi zakat. Ibnul Mundzir menukilkan ijma’ (kesepakatan) ulama tentang hal ini. Ibnu Qudamah mengatakan, “Kami tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat dalam hal ini.”
Akan tetapi, dikecualikan orang kafir yang diberi zakat sebagai mu’allaf.8
Wallahu a’lam.

 

Catatan Kaki:

1 Lihat al-Ishabah fi Ma’rifati ash-Shahabah pada biografi ‘Utbah bin Abi Lahab dan Mu’attib bin Abi Lahab.

2 Kata ini digunakan untuk menghardik anak kecil dari sesuatu yang kotor dan menjijikkan. Lihat Syarhu Muslim li an-Nawawi Bab Tahrim az-Zakah ‘ala Rasulillah n, juga Fathul Bari Bab Ma Yudzkaru fi ash-Shadaqah li an-Nabi n.

3Kata ini digunakan untuk menghardik anak kecil dari sesuatu yang kotor dan menjijikkan. Lihat Syarhu Muslim li an-Nawawi Bab Tahrim az-Zakah ‘ala Rasulillah n, juga Fathul Bari Bab Ma Yudzkaru fi ash-Shadaqah li an-Nabi n.

4 Lihat al-Mughni (4/98—100), al-Majmu’ (6/222—223), Majmu’ al-Fatawa (25/90—93), al-Ikhtiyarat hlm. 61—62, Nailul Authar, Bab… (4/178—179), dan asy-Syarhul Mumti’ (6/251—253, 262—263).
5 Lihat Majmu’ al-Fatawa (25/90), al-Mughni (4/108).
6 Lihat al-Mughni (4/100), al-Majmu’ (6/173—17

Golongan yang Berhak Menerima Zakat

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad al-Makassari)

Golongan yang berhak menerima zakat disebut juga ahli zakat. Jumlahnya delapan golongan. Allah l menyebutkan mereka dalam Al-Qur’an:
“Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, para amil (petugas) zakat, para muallaf yang dibujuk kalbunya, untuk (pemerdekaan) budak, untuk pelunasan utang orang-orang yang berutang, untuk jihad, dan untuk kepentingan musafir yang kehabisan bekal dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.” (at-Taubah: 60)
Perlu diketahui bahwa delapan golongan tersebut terbagi menjadi dua kelompok, kelompok yang menggunakan huruf lam (اللَّامُ) dan kelompok yang menggunakan huruf fi (فِي).
Kelompok yang menggunakan huruf lam adalah:
“Untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, para amil (petugas) zakat, dan para muallaf yang dibujuk kalbunya.”
Huruf ini bermakna kepemilikan. Artinya, zakat itu diberikan kepada golongan-golongan tersebut untuk dimiliki oleh mereka. Berdasarkan hal ini, zakat tersebut harus diberikan kepada mereka untuk dimiliki oleh mereka sendiri. Setelahnya, terserah pemiliknya masing-masing dalam memanfaatkan harta tersebut untuk kepentingan dan maslahat dirinya, apakah untuk kebutuhan makan dan minum, pakaian, tempat tinggal, melunasi utang, atau hajat lainnya. Seandainya seorang fakir-miskin yang telah diberi zakat tiba-tiba mendapat warisan dalam jumlah besar dan menjadi kaya karenanya, zakat yang telah diterimanya tetap menjadi miliknya. Dia tidak dituntut mengembalikannya.
Kelompok yang menggunakan huruf fi adalah:
“Untuk (pemerdekaan) budak, untuk pelunasan utang orang-orang yang berutang, untuk jihad, dan untuk kepentingan musafir yang kehabisan bekal dalam perjalanan.”
Huruf ini bermakna zharfiyah (ruang lingkup). Artinya, zakat itu disalurkan dalam ruang lingkup kepentingan golongan-golongan tersebut, bukan dimiliki oleh mereka untuk digunakan secara bebas dalam memenuhi seluruh hajat dan maslahat yang diinginkannya. Zakat itu digunakan secara terbatas dalam ruang lingkup kepentingan yang menjadi alasan zakat itu diberikan. Atas dasar ini, Ibnu ‘Utsaimin dalam asy-Syarhul Mumti’ (6/229, 234–235) menyatakan bahwa zakat tersebut tidak harus diserahkan langsung ke tangan mereka, namun bisa disalurkan untuk kepentingan yang bersangkutan tanpa melalui tangannya. Berikut ini penjelasannya.
– Untuk memerdekakan budak
Zakat bisa diberikan ke tangan seorang budak mukatab (yang membeli dirinya) yang telah membeli dirinya dari tuannya dengan mencicil, untuk dia bayarkan kepada tuannya agar dia dimerdekakan. Bisa pula langsung dibayarkan kepada tuannya agar memerdekakannya tanpa sepengetahuan budak yang bersangkutan.
– Untuk yang berutang
Zakat bisa diberikan kepadanya untuk dia gunakan melunasi utangnya. Bisa pula diberikan langsung kepada pemilik piutang tersebut tanpa sepengetahuan yang bersangkutan.
– Untuk jihad
Zakat boleh diberikan kepada para mujahid yang berjihad untuk memenuhi kebutuhannya selama jihad berlangsung. Boleh juga langsung dibelanjakan untuk kepentingan jihad berupa peralatan/persenjataan perang dan lainnya.
– Untuk musafir yang kehabisan bekal dalam safarnya
Zakat boleh diberikan kepadanya untuk memenuhi kepentingan safarnya hingga dia tiba di negerinya. Boleh juga langsung dibelikan tiket kendaraan (pesawat, kereta, atau bus), perbekalan makan/minum, dan lainnya yang dibutuhkannya dalam safar, setelah itu diberikan kepadanya hingga dia tiba di negerinya.
Apabila zakat itu telah digunakan olehnya untuk kepentingan yang menjadi alasan dia diberi zakat dan ada yang tersisa, sisanya wajib dikembalikan. Selain mujahid (orang yang berjihad), maka menurut Ibnu Qudamah t, sisa yang ada menjadi haknya, sebagaimana akan datang penjelasannya. Wallahu a’lam.

Peringatan
Bila di antara kelompok yang pertama (yang berhak memilikinya) ada yang lemah akalnya dalam pemanfaatan harta, zakat itu diberikan kepada wali yang mengurusi kepentingan dan maslahatnya untuk disalurkan olehnya demi kepentingan dan maslahat yang bersangkutan.

Fakir dan Miskin
Sebagian ulama ada yang beranggapan bahwa fakir dan miskin adalah sama, padahal keduanya berbeda. Namun, ada perbedaan pendapat di antara ulama dalam membedakan keduanya. Ada yang berpendapat bahwa orang fakir lebih kesusahan daripada orang miskin, ada pula yang berpendapat sebaliknya. Yang rajih, orang fakir lebih kesusahan daripada orang miskin.
Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, “Orang fakir lebih kesusahan daripada orang miskin. Orang miskin adalah orang yang punya harta/penghasilan, namun tidak mencukupinya, sedangkan orang fakir tidak punya harta/penghasilan sama sekali. Ini adalah pendapat asy-Syafi’i serta jumhur ahli hadits dan ahli fiqih.” Ini pula pendapat Ibnu Hazm azh-Zhahiri.
Dalil-dalil yang ada menunjukkan secara jelas hakikat fakir dan miskin, serta perbedaan keduanya. Jadi, jika digandengkan maka keduanya berbeda dengan perbedaan yang disebutkan. Namun, perlu diketahui bahwa jika disebutkan kata fakir secara tersendiri, maknanya meliputi miskin. Demikian pula jika kata miskin disebutkan secara tersendiri, maknanya meliputi fakir.
Yang diperhitungkan dalam penetapan miskinnya seseorang adalah kebutuhannya dalam setahun penuh. Hal ini berdasarkan pertimbangan bahwa periode setahun merupakan periode perputaran haul harta zakat yang senantiasa dikeluarkan zakatnya setiap akhir tahun. Maka dari itu, zakat yang diberikan kepada fakir miskin adalah untuk memenuhi hajat kebutuhannya dalam setahun hingga tahun berikutnya, demikian seterusnya. Ini adalah pendapat Hanabilah yang difatwakan oleh Ibnu ‘Utsaimin dan al-Lajnah ad-Da’imah yang diketuai oleh Ibnu Baz. Pendapat ini lebih kuat daripada pendapat yang mengatakan bahwa yang diperhitungkan adalah kebutuhan seumur hidup, sehingga dia diberi zakat untuk memenuhi kebutuhannya seumur hidup.
Apabila dia berkeluarga, yang diperhitungkan bukan semata-mata kebutuhan dia sendiri, melainkan kebutuhannya bersama seluruh anggota keluarga yang dia tanggung nafkahnya. Apabila penghasilan dan hartanya tidak mencukupi untuk kebutuhan bersama keluarganya dalam setahun, dia termasuk miskin. Misalnya, penghasilannya setiap bulan satu juta rupiah dan terkadang ada tambahan, sehingga dalam setahun penghasilannya sekitar 12—14 juta rupiah. Ternyata kebutuhannya bersama keluarganya dalam setahun sekitar enam belas juta rupiah, berarti dia termasuk miskin. Selaku pimpinan keluarga yang mewakili seluruh anggota keluarga yang dia tanggung nafkahnya, dia boleh mengambil zakat yang akan memenuhi kebutuhannya bersama mereka selama setahun.
Dhabith (kriteria) yang menjadi tolok ukur dalam hal ini adalah penghasilan yang tidak mencukupi kebutuhan seseorang bersama keluarganya menurut tingkat kehidupan masyarakat sekitarnya yang sederajat dengannya, sebagaimana fatwa al-Lajnah yang diketuai oleh Ibnu Baz (Fatawa al-Lajnah, 9/428).

Amil (Petugas Zakat)
Mereka adalah para petugas zakat yang mendapat tugas dan wewenang dari pemerintah untuk pengurusan zakat. Al-Imam Ibnu ‘Utsaimin menyatakan dalam asy-Syarhul Mumti’ (6/225) bahwa pengurusan zakat membutuhkan tiga jenis petugas yang ditunjuk, yaitu:
1. Petugas yang memungut zakat dari para pemilik, dinamakan mushaddiq (mushaddiqun), sa’i (su’at), atau jabi (jubat).
2. Petugas yang menjaga zakat yang terkumpul, dinamakan hafizh (huffazh).
3. Petugas yang membagi zakat, dinamakan qasim (qasimun).
Beliau menyatakan bahwa yang bertugas memungut zakat, menjaga dan membagikannya, merekalah yang dimaksud dengan para amil zakat.
Amil tidak dipersyaratkan harus seorang fakir-miskin, boleh dari kalangan orang kaya selama dia tepercaya. Sebab, para amil bekerja demi maslahat zakat, bukan karena membutuhkan zakat. Yang menunjukkan hal ini adalah hadits Abu Sa’id al-Khudri z:
لاَ تَحِلُّ الصَّدَقَةُ لِغَنِيٍّ إِلاَّ لِخَمْسَةٍ: لِغَازٍ فِى سَبِيلِ اللهِ، أَوْ لِعَامِلٍ عَلَيْهَا، أَوْ لِغَارِمٍ، أَوْ لِرَجُلٍ اشْتَرَاهَا بِمَالِهِ، أَوْ لِرَجُلٍ كَانَ لَهُ جَارٌ مِسْكِينٌ فَتُصُدِّقَ عَلَى الْمِسْكِينِ فَأَهْدَاهَا الْمِسْكِينُ لِلْغَنِيِّ.
“Zakat tidak halal bagi orang kaya, kecuali lima jenis orang kaya: yang berjihad di jalan Allah l, amil zakat, yang berutang, yang membelinya dengan hartanya, yang bertetangga dengan orang miskin yang mendapat zakat, kemudian menghadiahkannya kepadanya.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan al-Hakim)
Hadits ini diperselisihkan apakah maushul (sanadnya bersambung) atau mursal (sanadnya putus). Hadits ini disahihkan oleh al-Hakim, adz-Dzahabi, an-Nawawi dalam al-Majmu’ (6/191), dan al-Albani dalam al-Irwa’ (no. 870).
Para amil zakat diberi bagian dari zakat sebagai bayaran atas pekerjaan mereka mengurus zakat dan dinamakan ‘umalah. Mereka mendapatkan bagian sesuai kadar pekerjaan mereka dalam mengurusi zakat.
Demikian pula semua pihak yang ikut beramal dalam pengurusan zakat hingga zakat itu diterima oleh ahli zakat yang berhak, mereka diberi upah dari zakat sesuai dengan kadar pekerjaan mereka. Seperti juru hitung, juru tulis, juru gudang, penggembala, dan semisalnya.
Adapun yang menimbang dan menakar zakat, serta menghitung zakat binatang ternak yang akan dipungut oleh ‘amil, yang membayar upahnya adalah pemilik zakat. Sebab, hal itu merupakan bagian dari biaya pembayaran zakat yang merupakan tanggung jawab pemilik zakat. Ini pendapat yang dirajihkan Ibnu Qudamah t dan dianggap paling benar oleh fuqaha yang bermazhab Syafi’i. Wallahu a’lam.

Muallaf yang Dibujuk/Dilunakkan Kalbunya
Muallaf yang dibujuk kalbunya adalah:
1. Orang kafir yang diharapkan keislamannya, hatinya dibujuk agar masuk Islam dengan pemberian zakat. Hikmahnya adalah untuk menghidupkan kalbunya yang mati. Jika seorang fakir-miskin diberi zakat untuk kehidupan jasadnya, tentu seorang kafir yang diberi zakat untuk kehidupan kalbunya lebih pantas. Ibnu ‘Utsaimin menegaskan dalam asy-Syarhul Mumti’ (6/225) bahwa hal itu harus berdasarkan adanya qarinah (indikasi) yang menunjukkan adanya harapan dia akan masuk Islam. Indikasi tersebut misalnya adanya ketertarikan terhadap Islam, dia mencari kitab-kitab Islam untuk dipelajari, atau lainnya. Adapun orang kafir yang tidak diharapkan keislamannya karena tidak ada indikasi yang mendasarinya, tidak termasuk muallaf. Sebab, menginginkan sesuatu yang tidak berdasar berarti mengkhayalkan sesuatu yang tidak diharapkan terjadi.
2. Orang kafir yang dikhawatirkan gangguan dan kejahatannya terhadap kaum muslimin berikut harta benda dan kehormatan mereka, kalbunya dibujuk dengan zakat untuk mencegah gangguan dan kejahatannya terhadap mereka. Hal itu apabila gangguan dan kejahatannya tidak dapat dicegah dengan selain zakat.
3. Seorang muslim yang lemah imannya, agak meremehkan shalat, zakat, puasa, dan semisalnya, kalbunya dibujuk dengan pemberian zakat agar imannya bertambah kuat dan tetap kokoh dalam Islam. Hikmahnya adalah untuk menghidupkan kalbunya, yang lebih penting daripada kehidupan jasadnya.
Ada perbedaan pendapat di antara ulama, apakah dipersyaratkan muallaf tersebut seorang sayyid (pemimpin/tokoh) yang ditaati oleh kaum/sukunya ataukah tidak?
Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ al-Fatawa (28/290) dan as-Sa’di dalam Tafsir-nya menetapkan pendapat yang mempersyaratkan hal itu. Dalilnya:
1. Ketika Nabi n memberikan zakat kepada para muallaf, beliau hanya memberikan para tokoh kaum/suku, bukan orang biasa.
2. Kekufuran dan kelemahan iman orang biasa tidak memudaratkan kaum muslimin, berbeda dengan seorang pemimpin atau tokoh kaum/suku yang diharapkan kaumnya juga ikut beriman dan iman mereka menjadi kuat. Demikian pula halnya seorang yang dikhawatirkan kejahatannya terhadap kaum muslimin, jika dia seorang pemimpin/tokoh boleh jadi kejahatannya tidak dapat dicegah dengan cara lain selain dengan membujuk kalbunya melalui zakat. Adapun jika dia hanya orang biasa, memungkinkan untuk dihukum dengan hukuman penjara, dipukul, atau hukuman lainnya.
Sedangkan Ibnu ‘Utsaimin t dalam asy-Syarhul Mumti’ (6/227) merajihkan hal ini untuk muallaf yang dikhawatirkan gangguan dan kejahatannya berdasarkan hujjah yang disebutkan di atas. Adapun muallaf yang diharapkan keislamannya dan muallaf yang hendak dikuatkan imannya, beliau tidak mempersyaratkannya. Menurut beliau, menjaga agama seseorang agar tetap kokoh dan menghidupkan kalbunya dengan pemberian zakat lebih penting daripada menjaga jasadnya.

Pemerdekaan Budak
Pemerdekaan budak yang dimaksud dalam ayat di atas meliputi:
1. Pemerdekaan budak yang berstatus mukatab, yaitu budak yang membeli dirinya dari tuannya dengan pembayaran yang dicicil dua kali atau lebih.
2. Pembelian budak untuk dimerdekakan, yaitu dengan membeli budak tersebut dari tuannya dengan zakat untuk dimerdekakan. Terlebih budak yang berada di tangan seorang tuan yang menyakitinya atau tuan yang tidak tepercaya atas budaknya.
3. Pembebasan muslim yang ditawan oleh musuh (kaum kafir), yaitu dengan menebusnya dengan zakat yang diberikan kepada pihak kafir yang menawannya agar dia dibebaskan. Jika seorang budak saja dibantu dengan zakat agar bebas dari perbudakan, tentu membantu pembebasan seorang muslim yang tertawan musuh dan terancam nyawanya lebih pantas.

Pelunasan Utang Orang-Orang yang Berutang
Hal ini meliputi:
1. Seorang yang berutang untuk memenuhi hajat/maslahat dirinya dan keluarganya. Utangnya berhak dilunasi dengan zakat jika dia tidak mampu untuk melunasinya, meskipun dia memiliki harta yang mencukupi kebutuhannya bersama keluarganya, berdasarkan hadits Abu Sa’id al-Khudri z yang telah lalu. Namun, apabila seseorang berutang untuk suatu maksiat, Ibnu Taimiyah, Ibnu Katsir, dan Ibnu ‘Utsaimin merajihkan bahwa utangnya tidak berhak dilunasi dengan zakat hingga dia bertobat. Sebab, pelunasan utangnya dengan zakat berarti mendukung maksiatnya. Lain halnya jika dia telah bertobat, utangnya berhak dilunasi dengan zakat.
2. Orang yang berutang untuk mendamaikan dua pihak yang bertikai, yakni ketika dia tidak mendapatkan jalan untuk mendamaikannya kecuali dengan memberikan harta/uang/materi kepada kedua pihak yang bertikai dan menanggung korban harta/jiwa dari kedua pihak, lalu berutang untuk hal itu. Ibnu ‘Utsaimin menyatakan dalam Fathu Dzil Jalali wal Ikram bahwa yang dikenal dari keterangan ulama adalah dipersyaratkan dalam hal ini pertikaian antarkelompok atau antarsuku, bukan pertikaian antarpribadi. Hanya ini yang disebutkan oleh Ibnu Qudamah dan as-Sa’di. Namun, an-Nawawi menukilkan dalam al-Majmu’ dari asy-Syafi’i dan fuqaha Syafi’iyah bahwa hal ini meliputi pertikaian antarsuku, antarkelompok, dan antarpribadi.
Dalilnya adalah hadits Qabishah bin Mukhariq al-Hilali z, dia berkata:
تَحَمَّلْتُ حَمَالَةً فَأَتَيْتُ رَسُولَ اللهِ n أَسْأَلُهُ فِيهَا. فَقَالَ: أَقِمْ حَتَّى تَأْتِيَنَا الصَّدَقَةُ فَنَأْمُرَ لَكَ بِهَا. ثُمَّ قَالَ: يَا قَبِيصَةُ، إِنَّ الْمَسْأَلَةَ لاَ تَحِلُّ إِلاَّ لِأَحَدِ ثَلاَثَةٍ: رَجُلٍ تَحَمَّلَ حَمَالَةً فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيبَهَا ثُمَّ يُمْسِكُ …. الْحَدِيثَ
“Aku menanggung utang (untuk mendamaikan dua suku/kelompok yang bertikai). Aku pun menemui Rasulullah n untuk meminta harta guna melunasinya.” Maka Rasulullah n berkata, “Tinggallah di sini hingga datang harta zakat kepada kami, kami akan memerintahkan untuk diberikan kepadamu.” Lalu beliau n berkata, “Wahai Qabishah, sesungguhnya meminta itu tidak boleh kecuali bagi salah satu dari tiga golongan: seorang yang menanggung utang (untuk mendamaikan dua suku/kelompok yang bertikai), maka halal baginya untuk meminta hingga dia mendapatkannya (untuk melunasinya), lalu dia berhenti …. dst.” (HR. Muslim no. 1044)
Oleh karena itu, utangnya berhak dilunasi dengan zakat, meskipun dia kaya berdasarkan zahir (yang tampak) dari hadits Qabishah di atas, juga berdasarkan hadits Abu Sa’id al-Khudri z yang telah lewat.
Ibnu ‘Utsaimin berkata dalam Fathu Dzil Jalali wal Ikram, “Dia diberi zakat meskipun kaya. Hal ini termasuk membantu dan menolong dalam urusan yang baik lagi terpuji dan disyukuri. Sudah sepantasnya dia diberi zakat untuk melunasi utangnya tersebut agar memotivasi dirinya dan yang semisalnya untuk melakukannya, karena biasanya utang tersebut berjumlah besar.”

Masalah: Perbedaan pendapat di antara ulama tentang penyaluran zakat untuk pelunasan utang orang yang telah meninggal.
Ibnu ‘Utsaimin merajihkan mazhab Ahmad dan jumhur ulama bahwa hal itu tidak boleh dengan beberapa alasan berikut.
1. Tampaknya pelunasan utang dengan zakat bertujuan untuk menghilangkan kehinaan dari dirinya, sebab utang adalah seperti kata pepatah, “Utang adalah kegelisahan di malam hari dan kehinaan di siang hari.”
2. Adalah Nabi n tidak melunasi utang orang yang telah meninggal dengan zakat. Pada awalnya, jika ada mayat yang tidak meninggalkan harta untuk melunasi utangnya beliau tidak menshalatinya. Setelah Allah l memberikan banyak kemenangan kepada beliau dan banyak harta fai’ (baitul mal) yang diperuntukkan bagi kemaslahatan kaum muslimin, beliau pun melunasi utang mayat darinya.
3. Jika pintu ini dibuka, akan mengakibatkan telantarnya pelunasan utang orang-orang yang masih hidup, karena biasanya perasaan lebih condong untuk mengasihani orang yang telah meninggal ketimbang yang hidup.

Kepentingan Jihad
Yang dimaksud dengan fi sabilillah (di jalan Allah l) dalam ayat adalah jihad saja, bukan yang lainnya. Inilah yang benar dari seluruh pendapat ulama. Ini adalah pendapat jumhur dan Ibnu Hazm. Dalilnya adalah hadits Abu Sa’id Al-Khudri z:
لاَ تَحِلُّ الصَّدَقَةُ لِغَنِىٍّ إِلاَّ لِخَمْسَةٍ: لِغَازٍ فِى سَبِيلِ اللَّهِ …. الحديث.
“Zakat tidak halal bagi orang kaya, kecuali lima lima jenis orang kaya: yang berjihad di jalan Allah l …. dst.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah dan Al-Hakim)1
Oleh karena itu, penafsiran ayat ini dengan seluruh jalan kebaikan seperti pembangunan masjid, madrasah/sekolah agama, biaya operasional madrasah, pencetakan/penerbitan buku-buku agama, dan yang semisalnya adalah pendapat yang lemah.
Diingkari pula oleh Ibnu Qudamah, al-Albani, Ibnu ‘Utsaimin, dan al-Lajnah ad-Da’imah yang diketuai Ibnu Baz. Menurut mereka, jika demikian maknanya, berarti tidak ada faedahnya pembatasan ahli zakat pada delapan golongan saja, karena penafsiran ini berkonsekuensi meliputi seluruh jalan kebaikan yang tidak terbatas. Bahkan, al-Albani menyatakan bahwa pendapat seperti ini tidak dinukilkan dari siapa pun dari kalangan ulama salaf.
Adapun ibadah haji sebagai salah satu amalan fi sabilillah telah diperdebatkan sengit oleh para ulama, apakah termasuk dalam cakupan ayat yang berhak mendapatkan penyaluran zakat atau tidak?
Syaikhul-Islam dan Al-Albani memilih pendapat yang mengatakan bahwa ibadah haji termasuk dalam cakupan fi sabilillah yang berhak mendapat penyaluran zakat. Ini adalah salah satu riwayat dari dua pendapat Al-Imam Ahmad serta merupakan fatwa Ibnu ‘Abbas z dan Ibnu ‘Umar z. Pendapat ini berhujjah dengan hadits Ibnu ‘Abbas z tentang seorang wanita yang meminta kepada suaminya agar di berangkatkan berhaji oleh suaminya dengan mengendarai ontanya yang telah di wakafkan untuk kepentingan jihad fi sabilillah, lalu suaminya mendatangi Rasulullah n untuk menanyakan hal itu, maka Rasulullah n bersabda:
أَمَا إِنَّكَ لَوْ أَحْجَجْتَهَا عَلَيْهِ كَانَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ .
“Ketahuilah bahwa jika engkau memberangkatkannya berhaji dengan mengendarai onta itu, sesungguhnya hal itu termasuk di jalan Allah.” (HR. Abu Dawud, Ath-Thabarani, Al-Hakim dan Ibnu Khuzaimah, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Tamamul-Minnah hal. 381 dan Al-Irwa’ no. 869)
Adapun Ibnu ‘Utsaimin beliau memilih pendapat yang mengatakan bahwa ibadah haji tidak termasuk dalam cakupan fi sabilillah yang dimaksudkan dalam ayat tersebut, sehingga tidak berhak mendapat penyaluran zakat. Ini adalah madzhab Al-Imam Abu Hanifah, Malik, Asy-Syafi’i, salah satu riwayat dari dua pendapat Al-Imam Ahmad, dan jumhur ulama serta Ibnu Hazm. Ibnu Hazm berkata: “Jika dikatakan, “Bukankah telah diriwayatkan dari Rasulullah n bahwa ibada haji termasuk fi sabilillah dan telah benar pula riwayat dari Ibnu ‘Abbas z bahwa beliau berfatwa ibadah haji berhak mendapat penyaluran zakat?” Maka kami jawab, memang benar demikian dan seluruh amalan kebaikan termasuk di jalan Allah. Akan tetapi, tidak ada perbedaan pendapat bahwa Allah l tidak menginginkan seluruh jalan-jalan kebaikan dalam masalah pembagian zakat. Oleh karena itu, tidak boleh membagikan zakat kepada selain yang ditetapkan oleh nash.” Nash yang beliau maksud adalah hadits Abu Sa’id Al-Khudri z di atas yang menetapkan bahwa fi sabilillah yang berhak mendapat penyaluran zakat adalah jihad. Mereka menguatkan hal ini dengan hujjah bahwa seorang mujahid di medan jihad diberi zakat demi kebutuhan dan kepentingan kaum muslimin terhadapnya. Sedangkan seorang yang berhaji kaum muslimin tidak punya kebutuhan dan kepentingan terhadapnya serta tidak ada manfaat untuk kaum muslimin dengan berhajinya seseorang. Lagi pula tidak ada tuntutan kebutuhan bagi seorang fakir miskin untuk diberangkatkan berhaji dengan zakat, karena haji tidak diwajibkan baginya selaku orang yang tidak mampu menunaikannya dari sisi kemampuan harta. Berikut penyaluran zakat untuk menutupi kebutuhan orang-orang yang berhajat dari delapan golongan yang berhak mendapat zakat serta penyalurannya untuk kepentingan dan maslahat kaum muslimin tentu saja lebih diutamakan daripada ini.
Kesimpulannya, pendapat jumhur tampak lebih kuat dan sepertinya inilah yang rajih. Wallahu a’lam.
Berdasarkan hal ini, jihad dalam ayat ini meliputi:
1. Perang melawan orang-orang kafir.
Ibnu ‘Utsaimin menegaskan bahwa dalam hal ini tidak hanya diberikan ke tangan para mujahid tersebut, melainkan berhak disalurkan untuk memenuhi seluruh kebutuhan dan kepentingan perang berupa nafkah para mujahid selama perang, pembelian persenjataan/peralatan perang, kendaraan perang, dan lainnya yang terkait dengan kepentingan jihad tersebut. Termasuk pula membayar para penunjuk jalan yang disewa untuk menunjukkan tempat-tempat yang dibutuhkan dalam perang tersebut, sebab fi sabilillah (jihad) dalam ayat menggunakan huruf fi sebagaimana telah diterangkan di atas.
Seorang mujahid berhak diberi zakat untuk memenuhi kebutuhannya selama perang berlangsung, meskipun dia termasuk orang kaya. Ini berdasarkan hadits Abu Sa’id al-Khudri z yang telah lewat. Hal itu karena para mujahid tersebut diberi zakat untuk kebutuhan dan maslahat kaum muslimin. Oleh karena itu, jika dia tidak jadi berangkat ke medan perang, dia berkewajiban mengembalikan zakat tersebut. Jika dia pulang di tengah jalan sebelum berperang atau tidak menyelesaikan perangnya, dia berkewajiban mengembalikan yang tersisa dari zakat yang diterimanya. Adapun jika menyelesaikan perangnya dan ada yang tersisa, Ibnu Qudamah menegaskan bahwa zakat yang diberikan kepadanya telah menjadi miliknya, sebab dia tidaklah diberi kecuali sebatas kebutuhannya selama jihad. Jika ada yang tersisa, berarti dia sendiri yang mempersempit dirinya dalam penggunaan zakat tersebut.
2. Menuntut ilmu syariat (agama).
As-Sa’di berkata dalam Taisir al-Karim ar-Rahman, “Jika seorang lelaki yang memiliki kemampuan untuk mencari nafkah berkonsentrasi menuntut ilmu agama, dia berhak diberi zakat, sebab menuntut ilmu agama termasuk jihad di jalan Allah l.”
Apa yang dinyatakan oleh as-Sa’di ditegaskan oleh para fuqaha Hanabilah, sebagaimana dalam asy-Syarhul Mumti’ (6/221).
Ibnu ‘Utsaimin berfatwa dalam Majmu’ ar-Rasa’il (18/391—392), “Aku berpendapat akan bolehnya menyalurkan zakat kepada para penuntut ilmu syar’i, sebab agama Islam tegak dengan ilmu dan senjata. Allah l berfirman:
“Wahai Nabi, perangilah kaum kafir dan munafik.” (at-Tahrim: 9)
Telah diketahui bersama bahwa jihad memerangi kaum munafik dilakukan dengan ilmu, bukan senjata. Berdasarkan hal ini, zakat disalurkan untuk nafkah mereka dan pembelian kitab-kitab yang mereka butuhkan. Sama saja, baik dibelikan kitab-kitab yang dibutuhkan untuk dimiliki secara pribadi oleh masing-masing mereka maupun dibelikan kitab-kitab yang disimpan di perpustakaan untuk dimanfaatkan oleh penuntut ilmu secara umum. Kitab di tangan penuntut ilmu seperti pedang, senapan, dan senjata lainnya di tangan pasukan perang.
Adapun penyaluran zakat untuk pembangunan asrama dan madrasah (sekolah) untuk kepentingan para penuntut ilmu, kami ragu akan hal itu. Perbedaan antara keduanya, pemanfaatan kitab merupakan sarana untuk menuntut ilmu. Jadi, tidak ada ilmu tanpa kitab. Berbeda halnya dengan asrama dan madrasah. Namun, jika para penuntut ilmu itu fakir miskin, boleh menyewakan perumahan untuk mereka dari zakat yang merupakan bagian fakir miskin. Demikian pula halnya dengan madrasah, jika tidak memungkinkan bagi mereka belajar di masjid. Wallahu a’lam.”

Kepentingan Perjalanan Musafir yang Kehabisan Bekal
Yang dimaksud dengan ibnus sabil dalam ayat adalah musafir yang terputus perjalanannya karena kehabisan bekal dalam safar (perjalanan), sehingga dia membutuhkan bantuan dengan zakat agar bisa pulang ke negerinya. Dia disebut ibnus sabil yang artinya anak jalan, karena dia menetapi jalan dalam safarnya.
Berdasarkan makna tersebut, seseorang yang baru saja hendak memulai safar meninggalkan negerinya dan tidak punya bekal, dia tidak termasuk ibnus sabil yang berhak dibantu dengan zakat, menurut pendapat yang rajih. Ini adalah pendapat Ibnu Hazm, Ahmad, Malik, Abu Hanifah, dan jumhur ulama yang dipilih oleh Ibnu Taimiyah, as-Sa’di, dan al-‘Utsaimin. Sedangkan asy-Syafi’i berpendapat bahwa dia termasuk ibnus sabil. Akan tetapi, pendapat yang pertama lebih kuat, insya Allah.
Ibnu ‘Utsaimin berkata, “Jika safar yang hendak dilakukannya sangat mendesak dan bersifat darurat, sementara dia tidak punya bekal untuk safar, dia berhak dibantu dengan zakat dari sisi lain, yaitu sebagai orang fakir.”
Seorang ibnus sabil berhak dibantu dengan zakat karena kebutuhannya dalam safar. Oleh karena itu, dia diberi zakat meskipun hartanya melimpah di negerinya.
Apabila perjalanannya terputus sebelum mencapai tempat tujuan safarnya, dia diberi zakat yang cukup sebagai bekal untuk mencapai tempat tujuannya hingga pulang ke negerinya, menurut pendapat Hanabilah dan tampaknya dibenarkan oleh Ibnu ‘Utsaimin.
Menurut kami, pendapat ini lebih kuat daripada pendapat yang dikuatkan oleh Ibnu Qudamah bahwa dia hanya berhak dibantu dengan zakat untuk pulang ke negerinya, tidak untuk menyelesaikan perjalanannya ke tempat tujuan hingga dia pulang ke negerinya.
Tidak ada perbedaan antara musafir yang safarnya jauh dan safarnya dekat. Namun, apabila safarnya dalam rangka maksiat, dia tidak berhak dibantu dengan zakat hingga dia bertobat, menurut pendapat yang rajih. Pendapat ini adalah mazhab Hanabilah dan dirajihkan oleh Ibnu ‘Utsaimin.
Wallahu a’lam.

Catatan Kaki:

1   Lihat kembali haditsnya secara lengkap pada pembahasan Amil (petugas) zakat.

 

Adab Pembayaran Zakat

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad al-Makassari)

Dalam membayar zakat ada adab-adab yang perlu diketahui serta diperhatikan demi sah dan sempurna pembayarannya. Adab-adab tersebut adalah sebagai berikut.

1. Zakat yang wajib dikeluarkan dari setiap harta zakat adalah yang bernilai sedang
Zakat bukan berupa harta yang bagus, demi hak dan kepentingan pemilik harta. Bukan pula yang jelek, demi hak dan kepentingan fakir miskin serta ahli zakat lainnya. Oleh karena itu, pemilik zakat tidak boleh mengeluarkan yang jelek dan ‘amil (petugas) zakat pun tidak boleh memungut yang bagus. Dalil-dalil yang menunjukkan hal ini di antaranya:
• Firman Allah l:
“Janganlah kalian memilih yang buruk-buruk untuk kalian nafkahkan darinya, padahal kalian sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya.” (al-Baqarah: 267)
• Hadits Ibnu ‘Abbas z yang menyebutkan kisah Rasulullah n mengutus Mu’adz bin Jabal z ke negeri Yaman. Beliau n bersabda kepadanya:
فَإِيَّاكَ وَكَرَائِمَ أَمْوَالِهِمْ وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ، فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللهِ حِجَابٌ
“Berhati-hatilah, jangan sampai engkau mengambil harta mereka yang istimewa. Jagalah dirimu dari doa pihak yang terzalimi, karena sesungguhnya tidak ada penghalang antara dia dan Allah (untuk dikabulkan).” (Muttafaqun ‘alaih)
Berdasarkan dalil-dalil ini, zakat yang wajib dibayarkan adalah yang bernilai sedang, bukan yang jelek dan bukan pula yang bagus. Harta sendiri dikelompokkan menjadi tiga bagian: sepertiga yang bagus, sepertiga yang sedang, dan sepertiga yang jelek. Zakat dikeluarkan dari sepertiga yang sedang itu.
Namun, jika pemilik harta secara sukarela menyerahkan yang terbaik dari hartanya, zakat itu sah dan pahalanya lebih besar, karena hal itu adalah haknya dan dia rela menyerahkannya.

2. Zakat harus dibayarkan dalam bentuk harta yang diwajibkan dan tidak boleh menggantinya dengan harganya (dalam bentuk uang), kecuali jika ada tuntutan hajat dan maslahat
Zakat hewan ternak dibayarkan dalam bentuk hewan ternak yang ditetapkan oleh syariat. Zakat biji-bijian dan buah-buahan dibayarkan dalam bentuk biji-bijian dan buah-buahan yang ditetapkan oleh syariat. Pembayarannya tidak boleh diganti dengan membayarkan harganya (uang) tanpa ada tuntutan hajat dan maslahat. Syaikhul Islam t berfatwa dalam Majmu’ al-Fatawa (25/82—83), “Yang paling jelas dalam permasalahan ini adalah tidak boleh membayarkan zakat harta berupa harganya, tanpa ada tuntutan hajat dan maslahat yang rajihah (dominan). Oleh karena itu, Rasulullah n menetapkan sistem jubran (penutup kekurangan) berupa dua ekor kambing atau dua puluh dirham1 dan beliau tidak beralih kepada pembayaran harganya.
Selain itu, jika pembayaran harga dalam bentuk uang dibolehkan secara mutlak, bisa jadi pemilik harta akan beralih ke jenis yang jelek dan mungkin akan terjadi mudarat (penyimpangan) ketika menghitung harganya. Terlebih lagi, zakat sendiri dibangun di atas asas menyantuni orang-orang yang berhajat dari kalangan “ahli” (yang berhak menerima) zakat, dengan memperhitungkan kadar harta dan jenisnya.
Adapun membayarkan harganya karena tuntutan hajat, maslahat, dan keadilan, ini tidaklah mengapa.
Misalnya, seseorang menjual hasil kebun atau sawahnya dalam bentuk uang dirham. Dalam hal ini, sah baginya mengeluarkan zakatnya sebesar sepersepuluh dari harga hasil kebun/sawah tersebut tanpa harus membeli buah-buahan atau biji-bijian (yang serupa) untuk mengeluarkan zakatnya dalam bentuk buah-buahan atau biji-bijian, karena dengan membayarkan harganya dia telah menyamakan dirinya dengan fakir miskin dalam menikmati hartanya. Al-Imam Ahmad t telah menegaskan bolehnya hal ini.
Contoh lainnya, seseorang terkena kewajiban zakat seekor kambing dari lima ekor unta dan tidak ada seorang pun yang menjual kambing untuk dibelinya. Sah baginya dalam hal ini untuk membayarkan harganya saja dan dia tidak dibebani melakukan safar ke daerah lain untuk mencari kambing yang bisa dibelinya.
Contoh berikutnya, ahli zakat (yang berhak menerima zakat) meminta agar mereka diberi zakat berupa harganya, karena itu lebih bermanfaat bagi mereka; atau petugas zakat yang memandang bahwa pembayaran dengan uang lebih bermanfaat bagi mereka. Dia pun membayarkannya kepada mereka dalam bentuk harganya.”
Al-Imam Ibnu ‘Utsaimin t juga memfatwakan hal ini dalam Majmu’ ar-Rasa’il (18/67—68).
Yang dikenal dalam mazhab Malik dan asy-Syafi’i, pembayaran zakat dengan harganya, tidak boleh. Adapun Abu Hanifah berpendapat boleh. Wallahu a’lam.

Masalah: Apakah sah pembayaran zakat emas dan perak dengan uang senilainya?
Al-Lajnah Ad-Da’imah yang diketuai oleh al-Imam Ibnu Baz t berfatwa dalam Fatawa al-Lajnah (9/259—260), “Tidak mengapa mengeluarkan zakat emas dan perak dalam bentuk uang yang senilai dengan harganya pada waktu sempurnanya haul. Hal ini karena emas, perak, dan uang memiliki kesamaan sebagai satuan harga dalam menilai suatu barang/harta.”
Maksudnya, pada masa Rasulullah n harga suatu barang/harta dinilai dengan dinar (mata uang emas) dan dirham (mata uang perak). Pada masa ini, kedudukan dinar dan dirham digantikan oleh mata uang-mata uang yang ada. Berarti, pada hakikatnya emas, perak, dan mata uang yang ada memiliki kesamaan sebagai nilai/harga untuk menilai suatu harta/barang. Itulah sebabnya dibolehkan zakat emas dan perak dibayarkan dalam bentuk uang sesuai dengan harga emas dan perak saat pembayaran zakat itu.

3. Wajib membayarkan zakat sesegera mungkin
Barang siapa menundanya tanpa sebab yang bisa ditolerir, dia berdosa. Dalilnya adalah kaidah, “Hukum asal setiap kewajiban yang diperintahkan harus segera dilaksanakan tanpa menundanya.” Kaidah ini didukung oleh sekian banyak dalil. Demikian pula tinjauan makna dan fungsi zakat menuntut untuk segera dibayarkan tanpa menundanya, sebab terkait dengan kebutuhan ahli zakat (penerima zakat). Penundaan pembayaran zakat akan mengakibatkan telantarnya kebutuhan ahli zakat. Ini adalah mazhab Ahmad, asy-Syafi’i, Malik, dan jumhur (mayoritas) ulama. Pendapat ini dirajihkan oleh Ibnu ‘Utsaimin dalam asy-Syarhul Mumti’ (6/186—187) dan difatwakan oleh al-Lajnah ad-Da’imah yang diketuai oleh al-Imam Ibnu Baz dalam Fatawa al-Lajnah (9/393, 395, 398).
Contoh aplikasi adab ini adalah fatwa al-Imam Ibnu ‘Utsaimin dalam asy-Syarhul Mumti’ (6/187) dan Majmu’ ar-Rasa’il (18/522, 138). Disebutkan di sana, jika seorang wanita terkena kewajiban zakat perhiasan (emas atau perak) dan dia tidak memiliki harta lainnya untuk pembayaran zakatnya, dia wajib membayarkan zakatnya dengan mengeluarkan sebagian dari perhiasannya itu, atau menjual sebagian perhiasannya senilai zakat yang wajib dikeluarkannya, kemudian membayarkan zakatnya dalam bentuk uang. Jika ada salah satu kerabat atau suaminya bermaksud membayarkan zakat tersebut untuknya dan wanita itu rela dibayarkan, hukumnya sah. Demikian pula fatwa al-Imam Ibnu Baz t dalam Majmu’ al-Fatawa (14/96).

Masalah: Apa yang harus dilakukan oleh seseorang yang terkena kewajiban zakat setiap tahun dan dia belum membayarkannya untuk jangka waktu beberapa tahun?
Ibnu ‘Utsaimin t dalam Majmu’ ar-Rasa’il (18/296, 302—303) dan al-Lajnah ad-Da’imah yang diketuai oleh al-Imam Ibnu Baz dalam Fatawa al-Lajnah (9/395) memfatwakan bahwa dia wajib untuk bertobat kepada Allah l atas kesalahannya menunda pembayaran zakatnya berikut tidak membayarkannya hingga beberapa tahun. Di samping itu, dia wajib segera membayarkan seluruh zakat yang masih ada di tangannya dan menyerahkannya kepada pihak-pihak yang berhak menerima zakat.
Oleh karena itu, hendaklah dia berijtihad (bersungguh-sungguh), menghitung semampunya kadar zakat tersebut jika dia tidak mengetahuinya secara pasti. Dan tidak ada udzur (pemaafan) baginya selama dia hidup di tengah-tengah kaum muslimin, karena kewajiban zakat telah umum dipahami oleh kaum muslimin. Seharusnya dia bertanya kepada orang yang berilmu.

4. Pada asalnya yang afdhal adalah zakat dibayarkan pada waktunya, saat haul (periode setahun) dari nishab yang telah sempurna
Diperbolehkan memajukan waktu pembayaran zakat suatu harta yang mencapai nishab sebelum waktunya tiba. Dalilnya adalah rukhsah (keringanan) yang diberikan oleh Rasulullah n kepada al-’Abbas z yang akan kami sebutkan. Hal ini menjadi semakin kuat dengan tinjauan makna bahwa penetapan waktu pembayaran zakat di akhir haul adalah demi melapangkan pemilik zakat, sebagaimana halnya pembayaran zakat hasil tanaman yang wajib dilakukan saat panen, tanpa persyaratan haul. Jika pemilik zakat ingin membayarkannya sebelum haul sempurna, hal itu adalah pilihannya sendiri agar lebih berhati-hati. Ini adalah mazhab Ahmad, asy-Syafi’i, Abu Hanifah, dan jumhur ulama. Berbeda dengan Malik, Ibnu Hazm, dan Ibnul Mundzir yang berpendapat bahwa pembayaran zakat tidak boleh dimajukan.
Namun, boleh jadi yang lebih afdhal adalah memajukan pembayarannya jika ada hajat dan maslahat yang menuntut untuk dimajukan, seperti memenuhi kebutuhan kerabat fakir-miskin yang mendesak, kebutuhan para mujahid yang sedang berjihad di jalan Allah l, dan yang semisalnya.
Akan tetapi, ada perbedaan pendapat di antara jumhur, apakah hanya boleh dimajukan untuk periode setahun ke depan, dua tahun ke depan, atau lebih dari itu?
Al-Lajnah Ad-Da’imah yang diketuai oleh al-Imam Ibnu Baz memfatwakan bolehnya dimajukan untuk periode dua tahun ke depan. Pendapat ini didukung oleh hadits ‘Ali bin Abi Thalib z bahwa Rasulullah n memberi rukhsah (keringanan) kepada al-’Abbas z, paman beliau, untuk menyegerakan pembayaran zakatnya dua tahun sebelum waktunya tiba. Hadits ini dikeluarkan oleh al-Baihaqi. Pada sanadnya ada kelemahan, namun menjadi kuat dengan syawahid (penguat-penguat) yang semakna. Oleh karena itu, dihasankan oleh al-Imam al-Albani t dalam al-Irwa’ (no. 857).
Pendapat yang terkuat adalah boleh dimajukan untuk periode dua tahun ke depan dan tidak boleh lebih dari itu, karena hal itu adalah rukhshah (keringanan), sedangkan batas keringanan yang ditetapkan dalam syariat tidak boleh dilampaui.
Adapun memajukan pengeluaran zakat harta yang tidak mencapai nishab, ulama bersepakat bahwa hal itu tidak boleh. Alasannya, nishab adalah sebab (faktor) yang menjadikan suatu harta terkena kewajiban zakat. Jika sebab (faktor) tersebut tidak ada, pada asalnya harta itu tidak terkena kewajiban zakat.
Dengan demikian, jika memajukan pembayarannya untuk periode setahun berkonsekuensi mengurangi harta dari nishab untuk periode tahun berikutnya, pembayarannya tidak boleh dimajukan lebih dari setahun. Misalnya, seseorang memiliki empat puluh ekor kambing. Dia memajukan pembayaran zakatnya untuk dua periode haul ke depan dengan mengeluarkan dua ekor kambing lain, bukan dari empat puluh ekor tersebut yang merupakan nishab. Hal ini dibolehkan. Jika dia bermaksud mengeluarkan dua ekor yang salah satunya dari nishab yang ada, hal itu dibolehkan untuk periode setahun ke depan namun tidak untuk periode dua tahun berikutnya. Alasannya, dengan mengeluarkan salah satunya dari nishab berarti kambingnya tersisa 39 ekor, dan jumlah ini tidak mencapai nishab.

5. Yang berkewajiban membayarkan zakat anak yang belum baligh dan orang gila adalah walinya.
An-Nawawi t menerangkan dalam al-Majmu’ (5/302) bahwa jika walinya tidak menunaikan kewajiban tersebut, maka anak itu—setelah baligh—dan orang gila itu—jika telah sembuh dari gilanya—wajib mengeluarkan seluruh kewajiban zakat hartanya yang belum dikeluarkan.

6. Pembayaran zakat tidak sah tanpa disertai niat, menurut pendapat empat imam mazhab dan jumhur (mayoritas) ulama.
Pendapat inilah yang difatwakan oleh al-Lajnah ad-Da’imah yang diketuai oleh al-Imam Ibnu Baz dan dirajihkan (dikuatkan) oleh Ibnu ‘Utsaimin. Oleh karena itu, orang yang mengeluarkan zakat wajib berniat mengeluarkan zakat hartanya dan meniatkan jenis zakat harta yang dikeluarkannya, apakah zakat emas, perak, uang, hewan ternak, atau jenis zakat harta lainnya. Jika dia adalah wali anak yang belum baligh dan orang gila, dia harus meniatkannya untuk pembayaran zakat keduanya.
Hal itu karena pengeluaran harta dilakukan dengan niat dan maksud yang berbeda-beda. Ada yang mengeluarkannya dengan niat sebagai zakat yang wajib, sedekah, hadiah, hibah, pembayaran ganti rugi, atau maksud lainnya. Maka dari itu, yang membedakan antara satu dan yang lainnya adalah niat. Dalilnya adalah keumuman hadits ‘Umar bin al-Khaththab z, bahwa Rasulullah n bersabda:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
“Hanyalah setiap amalan itu dikerjakan dengan niat dan hanyalah setiap pelaku amalan dibalasi sesuai niatnya.” (Muttafaqun ‘alaih)

7. Pembayaran dan pembagian zakat kepada pihak yang berhak dapat dilakukan dengan tiga cara.
• Dilakukan sendiri oleh pemilik zakat.
• Diwakilkan kepada orang yang tepercaya, dengan cara memberikan zakat itu kepadanya untuk dibagikan, atau meminta agar wakil tersebut mengeluarkannya terlebih dahulu dari hartanya. Wakil yang diamanahi tidak boleh mengambil inisiatif sendiri dalam pembagian zakat tersebut.
Al-Imam Ibnu ‘Utsaimin dalam Majmu’ ar-Rasa’il (18/311) ditanya tentang hukum seorang fakir yang dipercaya sebagai wakil untuk membagikannya kepada orang lain yang berhak, tetapi dia mengambilnya untuk dirinya sendiri.
Beliau t berkata, “Hal itu haram dan menyelisihi amanah, karena pemilik zakat mengamanahinya sebagai wakil untuk dibagikan kepada orang lain, namun dia mengambilnya untuk dirinya sendiri. Para ulama telah menyebutkan bahwa seorang wakil tidak boleh berinisiatif sendiri membagikan zakat yang diamanahkan kepadanya. Berdasarkan hal ini, dia wajib menjelaskan kepada pemilik zakat tersebut bahwa zakat yang diambil itu disalurkan kepada dirinya sendiri. Jika dia membolehkan maka tidak mengapa. Namun, jika dia tidak membolehkannya, dia wajib mengganti dan membagikannya kepada yang dikehendaki oleh pemilik zakat tersebut.”
Demikian pula fatwa al-Lajnah ad-Da’imah dalam Fatawa al-Lajnah (9/409—410) ketika ditanya tentang seorang wakil zakat yang diamanahi oleh pemiliknya untuk membagikannya kepada fakir-miskin dalam satu negeri, namun dia membagikannya kepada fakir miskin selain mereka.
Al-Lajnah menyatakan, “Seorang wakil zakat tidak boleh mengambil inisiatif sendiri yang menyelisihi amanah pemilik zakat. Jika wakil zakat menyelisihi amanah pemilik zakat yang memercayainya, dia wajib menggantinya (dan memberikannya kepada pihak yang dikehendaki oleh pemiliknya).”
• Diserahkan kepada amil (petugas pemungut zakat) yang diutus oleh pemerintah agar mereka membagikannya kepada yang berhak, dengan syarat pemerintah yang adil. Ada ijma’ (kesepakatan) ulama tentang sahnya menyerahkan zakat kepada pemerintah yang adil (tidak menzalimi rakyat).

Masalah: Manakah yang afdhal (lebih utama) membagikannya sendiri, diwakilkan, atau melalui pemerintah yang adil?
Ada perbedaan pendapat di kalangan ulama.
1. Zakat amwal bathinah (harta yang tersembunyi) yang lebih utama adalah membagikannya sendiri, sedangkan zakat amwal zhahirah (harta yang tampak) yang lebih utama adalah membayarkannya melalui pemerintah. Yang dimaksud amwal bathinah (harta yang tersembunyi) adalah emas, perak, uang, barang perdagangan2, dan rikaz3. Adapun amwal zhahirah (harta yang tampak) adalah hasil tanaman dan binatang ternak.
2. Membayarkannya melalui pemerintah lebih utama, baik amwal bathinah maupun amwal zhahirah.
3. Membagikannya sendiri lebih utama, baik amwal bathinah maupun amwal zhahirah. Alasannya adalah beberapa hujjah berikut.
– Pembayar zakat akan meraih pahala lelah yang dirasakannya dalam mengeluarkan zakatnya, karena hal itu adalah ibadah.
– Pembayar zakat lebih yakin bahwa dia telah menunaikan tanggung jawabnya.
– Adanya kemungkinan yang tidak diinginkan jika dibayarkan melalui pemerintah atau wakil. Misalnya, adanya kemungkinan pemerintah atau wakil meremehkan pembagiannya, kurang berhati-hati menjaganya hingga hilang/musnah, atau kemungkinan lainnya.
– Menghindari celaan masyarakat sekitarnya yang mungkin tidak mengetahui bahwa dirinya telah membayar zakat melalui pemerintah atau wakilnya. Apalagi kalau dia seorang kaya-raya yang terkenal.
Menurut kami, yang rajih (kuat) adalah pendapat terakhir yang merupakan mazhab Hanabilah.

8. Wajib dipastikan secara yakin bahwa pihak yang diberi zakat termasuk pihak yang berhak menerima zakat.
Jika tidak bisa dipastikan, pembayar zakat wajib berijtihad (menganalisis) dengan penuh kesungguhan dalam memilih dengan dugaan kuat bahwa yang diberi berhak menerima zakat.
Jika seseorang telah bersungguh-sungguh memperkirakan bahwa orang yang diberinya zakat memang berhak menerimanya, lalu di kemudian hari diketahui bahwa perkiraannya keliru, apakah hal itu sah dan dianggap telah menunaikan kewajiban membayar zakat?
Ada silang pendapat di antara ulama dalam hal ini. Yang benar hal itu sah, meskipun ternyata yang diberi adalah orang kaya, orang kafir, budak, atau Bani Hasyim, sebab dia telah bertakwa kepada Allah l semampunya dalam melaksanakan kewajiban. Allah l tidak membebani seorang hamba lebih dari kemampuannya.

9. Jika yang diberi zakat diketahui sebagai fakir-miskin yang berhak menerima zakat, tidak ada hajat untuk menyatakan kepadanya bahwa harta yang diberikan kepadanya adalah zakat, untuk menjaga agar dirinya tidak merasa hina dengan itu.
Adapun jika yang diberi zakat tidak diketahui dengan pasti sebagai pihak yang berhak menerima zakat, hendaknya dia diberitahu agar dia menolaknya kalau ternyata bukan pihak yang berhak menerimanya, sehingga pemilik zakat bisa memberikannya kepada yang berhak.

10. Yang afdhal (lebih utama) bagi pemilik zakat adalah memberikan zakatnya kepada kerabatnya sendiri yang berhak mendapatkannya, dengan syarat bukan kerabat yang dinafkahinya.
Jika orang itu dinafkahi olehnya, dia tidak boleh menerima, karena jika zakat itu diberikan kepada orang tersebut, lantas hajatnya tercukupi dengan zakat itu, dengan sendirinya gugurlah kewajibannya memberi nafkah kepadanya. Berarti, pemberian zakat tersebut kepada yang dinafkahinya menggugurkan kewajibannya untuk menafkahi yang bersangkutan. Hal ini tidak boleh. Ini adalah pendapat yang dipilih Ibnu Taimiyah dan Ibnu ‘Utsaimin.
Termasuk dalam hal ini adalah lebih utama seorang istri memberikan zakat kepada suami sendiri yang berhak mendapat zakat, karena istri tidak berkewajiban menafkahi suaminya yang fakir-miskin.

11. Yang afdhal adalah membagikan harta zakat kepada yang berhak dari penduduk negeri/daerahnya sendiri.
Ada perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang hukum mengirim zakat ke luar negeri atau ke luar daerah pemilik zakat. Yang rajih adalah makruh mengirimnya ke luar daerah pemilik zakat jika tidak ada tuntutan hajat atau maslahat. Jika ada hajat atau maslahat yang menuntut untuk di kirim ke luar daerah pemilik zakat, hal ini diperbolehkan dan afdhal.
Misalnya, pemilik zakat memiliki kerabat fakir-miskin di daerah lain yang sangat miskin. Lebih utama dia mengirimnya kepada mereka untuk memenuhi hajat mereka dan untuk mempererat hubungan kekerabatan.
Contoh lain, jika di negeri lain ada penuntut ilmu syariat yang berhajat seperti hajat fakir-miskin yang ada di negerinya maka lebih utama mengirimnya kepada mereka. Hal itu karena kegiatan menuntut ilmu syariat berkaitan dengan maslahat Islam dan kaum muslimin secara umum. Dalilnya adalah keumuman firman Allah l:
“Hanyalah sesungguhnya zakat itu untuk orang-orang fakir, miskin, …. dst.” (at-Taubah: 60)
Maksudnya, fakir-miskin di seluruh penjuru dunia. Ini pendapat yang dirajihkan oleh as-Sa’di, Ibnu ‘Utsaimin, serta yang difatwakan oleh al-Lajnah ad-Da’imah yang diketuai oleh Ibnu Baz. Pendapat inilah yang rajih, insya Allah.
Apabila di tempat tinggalnya tidak ada penerima zakat yang berhak, dia wajib mengirimnya kepada penerima zakat yang ada di tempat lain.

12. Jika zakat dikirim ke luar wilayah tempat tinggal, biaya pengirimannya ditanggung oleh pemilik zakat, tidak dipotong dari zakat tersebut.

13. Apabila hartanya berada di tempat yang berbeda dengan tempat dia berada, yang afdhal membagikan zakatnya di tempat harta tersebut berada.
Terutama jika hartanya berupa binatang ternak dan hasil tanaman yang merupakan amwal zhahirah (harta-harta yang tampak). Karena, harta itulah yang merupakan sebab/faktor wajibnya zakat dan perhatian fakir-miskin tertuju kepadanya.

14. Boleh mengkhususkan pemberian zakat hanya kepada satu orang ahli zakat dari delapan golongan ahli zakat yang ada.
Ini adalah mazhab Abu Hanifah, Ahmad, Sufyan ats-Tsauri, dan jumhur ulama. Pendapat ini yang dirajihkan (dikuatkan) oleh Ibnu Qudamah, as-Sa’di, dan Ibnu ‘Utsaimin berdasarkan dalil-dalil berikut ini.
1. Ayat penetapan delapan golongan ahli zakat tersebut dalam konteks menerangkan golongan-golongan yang berhak mendapat zakat, bukan konteks mewajibkan untuk dibagikan kepada mereka seluruhnya.
2. Firman Allah l:
“Jika kalian menampakkan sedekah (untuk dicontoh orang lain) maka itu adalah baik sekali. Jika kalian menyembunyikannya dan kalian berikan kepada orang-orang fakir maka hal itu lebih baik bagi kalian.” (al-Baqarah: 271)
Dalam ayat ini, terdapat dalil pengkhususan sedekah untuk golongan fakir/miskin saja, padahal kata sedekah dalam ayat ini meliputi sedekah wajib (zakat) dan sedekah sunnah.
3. Sabda Rasulullah n kepada Mu’adz bin Jabal z ketika mengutusnya ke negeri Yaman:
وَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللهَ قَدْ فَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ فَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ.
“Kabarkan kepada mereka bahwasanya Allah telah mewajibkan atas mereka zakat mal (harta) yang dipungut dari orang kaya mereka dan dibagikan kepada orang fakir/miskin mereka.” (Muttafaqun ‘alaih dari Ibnu ‘Abbas c)
Hadits ini menunjukkan bolehnya mengkhususkan zakat untuk golongan fakir/miskin saja.
4. Sabda Rasulullah n kepada Qabishah bin Mukhariq al-Hilali z yang datang meminta zakat untuk melunasi utangnya dalam rangka mendamaikan dua kelompok/suku yang bertikai:
أَقِمْ حَتَّى تَأْتِيَنَا الصَّدَقَةُ فَنَأْمُرَ لَكَ بِهَا.
“Tinggallah di sini hingga datang harta zakat kepada kami, kami akan memerintahkan untuk diberikan kepadamu.” (HR. Muslim)

Hadits ini menunjukkan bolehnya mengkhususkan zakat untuk satu orang saja dari golongan orang yang berutang.

15. Sebagian ulama menyatakan disunnahkan bagi pemilik zakat untuk berdoa saat menyerahkan zakatnya.
Menurut mereka, doanya adalah:
اللَّهُمَّ اجْعَلْهَا مَغْنَمًا وَلاَ تَجْعَلْهَا مَغْرَمًا
“Ya Allah, jadikanlah zakat ini bermanfaat bagiku dan janganlah engkau menjadikannya sebagai kerugian.”
Mereka berdalil dengan hadits Abu Hurairah z yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah t. Namun, hadits ini dihukumi sebagai hadits palsu oleh al-Albani dalam Dha’if Sunan Ibni Majah no. 1797 dan Irwa’ al-Ghalil no. 852, karena sumber periwayatannya adalah al-Bakhtari bin ‘Ubaid yang tertuduh pendusta. Wallahu a’lam.4
Adapun pihak imam (penguasa), petugas pemerintah yang memungut zakat atau pihak penerima zakat, disunnahkan untuk mendoakan pemilik zakat yang memberinya dengan membaca:
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيهِ
“Ya Allah, bershalawatlah atasnya.”
atau membaca:
اللَّهُمَّ بَارِكْ فِيهِ وَفِي مَالِهِ
“Ya Allah, berkahilah dia dan hartanya.”
Dalil doa yang pertama adalah firman Allah l:
“Hendaklah engkau (wahai Muhammad) mengambil zakat dari harta-harta mereka yang dengannya engkau membersihkan mereka dari dosa dan memperbaiki keadaan mereka, serta bershalawatlah untuk mereka.” (at-Taubah: 103)
Demikian pula hadits Ibnu Abi Aufa z:
كَانَ النَّبِىُّ n إِذَا أَتَاهُ قَوْمٌ بِصَدَقَتِهِمْ قَالَ: اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى آلِ فُلاَنٍ. فَأَتَاهُ أَبِي بِصَدَقَتِهِ، فَقَالَ: اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى آلِ أَبِي أَوْفَى
Adalah Nabi n jika didatangi oleh suatu kaum yang menyerahkan zakat mereka, beliau berkata, “Ya Allah, bershalawatlah atas mereka.” Datanglah ayahku menyerahkan zakatnya, beliau pun berkata, “Ya Allah, bershalawatlah atas keluarga Abu Aufa.” (HR. al-Bukhari no. 1497 dan Muslim no. 1078)
Dalil doa yang kedua adalah hadits Wa’il bin Hujr z, disebutkan di dalamnya bahwa Nabi n mendoakan seorang lelaki yang datang menyerahkan zakat untanya:
اللَّهُمَّ بَارِكْ فِيهِ وَفِي مَالِهِ
“Ya Allah, berkahilah dia dan hartanya.” (HR. an-Nasa’i, disahihkan sanadnya oleh al-Albani dalam Shahih Sunan an-Nasa’i no. 2458)
Tatkala ayat dan hadits menunjukkan disunnahkannya hal itu bagi imam (penguasa) dan petugasnya, menjadi sunnah pula bagi pihak penerima zakat yang menerimanya langsung dari pemilik zakat, sebab imam (penguasa) dan petugasnya merupakan wakil pihak penerima zakat. Jadi, hukumnya sunnah, bukan wajib.
Wallahu a’lam.

Catatan Kaki:

1 Sistem jubran hanya berlaku pada zakat unta, karena dalil masalah ini hanya disebutkan pada zakat unta, dalam hadits Anas z tentang kitab zakat yang ditulis oleh Abu Bakr z. Sistem jubran berlaku ketika seseorang terkena kewajiban untuk mengeluarkan zakat unta dengan umur tertentu yang telah ditetapkan, ternyata dia tidak memilikinya, atau memilikinya namun untanya cacat. Dalam keadaan seperti ini, dia mengeluarkan yang setahun lebih tua usianya dan mengambil salah satu dari dua pilihan yang ditetapkan petugas pemungut zakat pada jubran tersebut, atau mengeluarkan yang setahun lebih muda usianya (yang sah dalam pembayaran zakat) dan membayar kepada petugas pemungut zakat salah satu dari dua pilihan yang ditetapkan pada jubran tersebut.

2 Jika berpendapat bahwa barang perdagangan terkena zakat.

3 Lihat kembali tentang rikaz pada pembahasan Jenis-Jenis Harta yang Diperselisihkan Zakatnya pada edisi 54.

4 Pembahasan tentang hadits tersebut bisa dibaca pada rubrik Hadits edisi ini.

Mutiara Hikmah Khalifah Abu Bak AshShidiq Terhadap Orang-orang yang tidak mau Berzakat

(ditulis oleh: Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi, Lc)

Kota Madinah Diselimuti Kesedihan
Saat matahari menyingsing di hari Senin, 12 Rabi’ul Awal tahun 11 Hijriyah, Madinah diselimuti kesedihan dengan wafatnya Rasulullah n. Musibah terbesar yang menimpa umat, khususnya para sahabat yang selama ini merasakan pahit getir perjuangan Islam bersama Rasulullah n. Sebuah musibah yang benar-benar membuat galau hati orang-orang terbaik umat ini. Di antara mereka pun ada yang tak tahu harus berbuat apa. Sahabat ‘Ali bin Abi Thalib z mengurung diri di rumah bersama sang istri Fathimah. Sahabat ‘Utsman bin Affan z terdiam seribu bahasa. Sementara sahabat ‘Umar bin al-Khaththab z tak dapat menguasai dirinya, hingga tidak terkontrol ucapannya. Dengan lantang beliau berseru, “Rasulullah n tidak wafat! Beliau hanya dipanggil oleh Allah l untuk sementara waktu sebagaimana yang pernah dialami Nabi Musa (selama 40 hari, pen.), serta akan kembali untuk memotong tangan dan kaki orang-orang (yang mengatakan bahwa beliau telah wafat).” (Lihat al-‘Awashim Minal Qawashim karya al-Qadhi Abu Bakr Ibnul Arabi, hlm. 37—39, dan ar-Rahiqul Makhtum, hlm. 468)

Sahabat Abu Bakr ash-Shiddiq1 z Pelipur Lara Kegalauan Umat
Demikianlah kondisi umum yang menyelimuti kota Madinah di hari kematian Rasulullah n. Betapa rahmat Allah l yang sangat luas menghendaki sahabat Abu Bakr ash-Shiddiq z, manusia terbaik di umat ini setelah Rasul-Nya n, sebagai pelipur lara bagi segala kegalauan di hari itu.
Alkisah, ketika itu sahabat Abu Bakr ash-Shiddiq z tidak berada di tempat kejadian. Beliau sedang berada di As-Sunh, sebuah tempat yang terletak di ‘awali (dataran tinggi) kota Madinah. Saat mendengar berita kematian Rasulullah n, dengan cepat beliau z meluncur ke rumah sang putri, ‘Aisyah x, tempat wafat Rasulullah n. Sesampainya di rumah ‘Aisyah, sahabat Abu Bakr ash-Shiddiq z langsung mendatangi pembaringan Rasulullah n. Disingkapnya kain yang menutupi wajah beliau n, didekapnya tubuh beliau n dan diciumnya, seraya mengatakan, “Sungguh engkau, wahai Rasulullah n, selalu dalam kebaikan ketika hidup dan mati. Demi Allah, tidaklah Allah l menjadikan untukmu dua kematian. Sungguh kematian yang Allah l tetapkan untukmu telah tiba.”
Kemudian beliau z keluar menuju Masjid Nabawi yang telah dipenuhi oleh para sahabat. Ketika itu, ‘Umar bin al-Khaththab z tak dapat menguasai dirinya dan kata-katanya pun tak lagi terkontrol, sebagaimana tersebut di atas. Naiklah sahabat Abu Bakr ash-Shiddiq z ke atas mimbar. Beliau mulai pembicaraan dengan memuji Allah l, kemudian berkata, “Amma ba’du. Wahai sekalian manusia, barang siapa yang menyembah Muhammad n, maka Muhammad n sekarang telah wafat. Barang siapa yang menyembah Allah l maka sesungguhnya Allah Mahahidup dan tidak akan mati.” Setelah itu, beliau z membacakan firman Allah l:
“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul. Sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudarat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan (kebaikan) kepada orang-orang yang bersyukur.” (Ali ‘Imran: 144)
Dengan jiwa yang teguh, ilmu yang tinggi, dan akhlak yang mulia, sahabat Abu Bakr ash-Shiddiq z—biidznillah—berhasil mengondisikan umat dan membimbing mereka kepada kebenaran. Akhirnya, tidaklah mereka keluar dari masjid melainkan telah terbimbing di atas kebenaran. Ayat ke-144 dari Surah Ali ‘Imran tersebut kemudian dilantunkan di lorong-lorong kota Madinah, seakan-akan baru diturunkan di hari itu.
Kemudian—seiring berjalannya waktu—sahabat Abu Bakr ash-Shiddiq z yang sangat dekat posisinya dengan Rasulullah n tersebut dibai’at oleh kaum Muhajirin dan Anshar sebagai pemimpin umat (khalifah). Di balai pertemuan (saqifah) Bani Sa’idah, beliau dipercaya untuk memimpin umat melanjutkan misi perjuangan Islam yang telah dilakukan Rasulullah n. (Lihat al-‘Awashim Minal Qawashim, hlm. 42—45)

Kondisi Umat di Awal Masa Kekhalifahan Abu Bakr ash-Shiddiq z
Para pembaca yang mulia, kondisi umat di awal masa kekhalifahan sahabat Abu Bakr ash-Shiddiq z sangat berbeda dengan kondisi mereka di masa Rasulullah n. Mereka terbagi menjadi empat kelompok.
1. Sekelompok orang yang berteguh diri di atas jalan Rasulullah n. Mereka adalah mayoritas umat.
2. Sekelompok orang yang masih menyatakan keislaman, namun tidak mau berzakat. Jumlah mereka lebih sedikit dibandingkan kelompok yang pertama.
3. Sekelompok orang yang terang-terangan mengumumkan kekafiran dan keluar dari Islam, seperti pengikut Thulaihah dan Sajah. Jumlah mereka lebih sedikit dibandingkan dua kelompok sebelumnya. Hanya saja, di setiap suku ada orang-orang yang memerangi orang-orang murtad tersebut.
4. Sekelompok orang yang tidak menampakkan sikapnya, sambil menunggu pemenang dari tiga kelompok tersebut, untuk kemudian bergabung dengan mereka.” (Lihat Fathul Bari karya al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani, 12/288—289)

Kebijakan Khalifah Abu Bakr ash-Shiddiq z di Tengah Derasnya Arus Kemurtadan
Kondisi umat yang memprihatinkan tersebut tak membuat Khalifah Abu Bakr ash-Shiddiq z putus asa. Berbagai kebijakan strategis pun beliau tempuh untuk stabilisasi keadaan. Dengan keilmuan yang tinggi dan perhitungan yang matang, beliau memutuskan untuk mengirim pasukan perang kepada kelompok orang-orang murtad dan orang-orang yang tidak mau berzakat. Berkat pertolongan Allah l, tidaklah berlalu setahun melainkan beliau telah berhasil mengatasi semua itu.
Al-Imam Abu Muhammad Ibnu Hazm t dalam kitabnya al-Fashl fil Milali wal Ahwa’i wan Nihal mengatakan, “Khalifah Abu Bakr ash-Shiddiq z mengirim pasukan perang kepada mereka semua. Fairuz dan pasukannya yang dikirim ke markas al-Aswad (di Shan’a) berhasil membunuhnya.2 Sementara Musailamah al-Kadzdzab yang bermarkas di Yamamah juga berhasil dibunuh (oleh pasukan Khalid bin al-Walid z, pen.). Thulaihah dan Sajah kembali memeluk Islam. Demikian pula mayoritas orang-orang murtad lainnya. Tidak sampai setahun, semua telah kembali ke pangkuan Islam. Walillahil hamdu.”3
Subhanallah, ternyata kebijakan Khalifah Abu Bakr ash-Shiddiq z yang terkesan keras tersebut sangat strategis dalam mengembalikan kepercayaan umat terhadap agamanya dan mengantarkan Islam kepada kejayaannya. Gerakan bersenjata para nabi palsu dan pengikutnya berhasil ditumpas. Bahkan, sebagian mereka kembali ke dalam agama Islam. Para penentang zakat yang juga melakukan perlawanan bersenjata berhasil dilumpuhkan dan ditundukkan di bawah naungan syariat Islam yang mulia. Syiar Islam kembali bercahaya di tengah umat, yang sebelumnya sempat redup. Panji-panji tauhid pun kembali berkibar, yang sebelumnya sempat melemah.
Tak heran, bila sahabat Abu Hurairah z berkata, “Demi Allah, Dzat yang tiada berhak diibadahi kecuali Dia, seandainya Abu Bakr ash-Shiddiq z tidak diangkat sebagai khalifah, niscaya Allah l tidak diibadahi.” Beliau mengulangi ucapan tersebut tiga kali, kemudian menyebutkan hujjahnya. (al-Bidayah wan Nihayah karya al-Imam Ibnu Katsir, 6/305)
Demikian pula al-Imam Ali Ibnul Madini t, beliau berkata, “Sesungguhnya Allah l mengokohkan agama ini dengan Abu Bakar ash-Shiddiq z di tengah derasnya arus kemurtadan, dan dengan Ahmad bin Hanbal t di tengah maraknya keyakinan sesat bahwa Al-Qur’an adalah makhluk (bukan kalamullah).” (Tadzkiratul Huffazh karya al-Imam adz-Dzahabi, 2/432)

Syubhat Orang-Orang yang Tidak Mau Berzakat di Masa Kekhalifahan Abu Bakr ash-Shiddiq z
Tidak diragukan lagi bahwa zakat merupakan kewajiban yang harus ditunaikan dalam Islam. Di dalam Al-Qur’anul Karim, banyak sekali ayat yang menunjukkan perintah berzakat. Di antaranya adalah firman Allah l:
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (al-Bayyinah: 5)
“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, serta taatlah kepada rasul, supaya kamu diberi rahmat.” (an-Nur: 56)
Dalam mutiara kenabian, terpancar petuah mulia bahwa menunaikan zakat merupakan bagian dari lima rukun Islam. Rasulullah n bersabda:
بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَّسُوْلُ اللهِ, وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ, وَصِيَامِ رَمَضَانَ, وَحَجِّ الْبَيْتِ
“Agama Islam dibangun di atas lima hal: (1) bersyahadat bahwasanya tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah dan Muhammad itu utusan Allah, (2) mendirikan shalat, (3) menunaikan zakat, (4) shaum di bulan Ramadhan, dan (5) berhaji ke Baitullah.” (HR. al-Bukhari no. 8 dan Muslim no. 16, dari sahabat Abdullah bin Umar c)
Menurut aturan syariat, tidak berzakat merupakan dosa besar. Di dalam Al-Qur’anul Karim, dengan tegas Allah l mengancam orang-orang yang tidak mau berzakat. Allah l berfirman:
“Orang-orang yang menyimpan emas dan perak serta tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih. Pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka Jahannam, lalu dibakar dengannya dahi, lambung, dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka, ‘Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu’.” (at-Taubah: 34—35)
“Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil terhadap harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat, dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi, dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Ali Imran: 180)4
Di dalam kitab-kitab hadits, didapati pula ancaman Rasulullah n terhadap orang-orang yang tidak mau berzakat tersebut.
Para pembaca yang mulia, kewajiban berzakat merupakan keyakinan yang telah terpatri dalam sanubari umat di masa Rasulullah n. Namun, ketika Rasulullah n wafat dan sahabat Abu Bakr ash-Shiddiq z menjadi khalifah, muncullah syubhat (kerancuan berpikir) pada sebagian elemen umat bahwa kewajiban zakat tersebut hanya berlaku semasa hidup Rasulullah n, tidak berlaku sepeninggal beliau n. Mereka berdalil dengan firman Allah l:
“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka, serta berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka.” (at-Taubah: 103)
Menurut mereka, selain Rasulullah n tidak ada yang dapat membersihkan dan menyucikan jiwa mereka, sehingga bagaimana mungkin doanya dapat (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka? Akhirnya, mereka tidak mau menunaikan zakat di masa kekhalifahan Abu Bakr ash-Shiddiq z. (Lihat Fathul Bari, 12/290)

Sikap Khalifah Abu Bakr ash-Shiddiq z dan Para Sahabat
Para sahabat Nabi bersepakat bahwa orang-orang yang tidak mau berzakat di masa kekhalifahan Abu Bakr ash-Shiddiq z tersebut bersalah, apapun alasannya. Namun, mereka berbeda pendapat dalam menyikapinya. Dengan pertimbangan kondisi dan lain hal, mayoritas sahabat berpendapat bahwa orang-orang yang tidak mau berzakat tersebut sementara waktu dibiarkan saja dan dilakukan upaya pendekatan persuasif kepada mereka, dengan harapan keimanan mereka bisa kokoh dan siap untuk berzakat. Disampaikanlah pendapat tersebut kepada Khalifah Abu Bakr ash-Shiddiq z. Ternyata Khalifah tidak sependapat dengan mereka. Beliau z lebih memilih bersikap tegas terhadap orang-orang yang tidak mau menunaikan zakat tersebut dan bertekad bulat untuk memerangi mereka. (Lihat al-Bidayah wan Nihayah, 6/311)
Sikap tegas Khalifah Abu Bakr ash-Shiddiq z tersebut, awalnya tidak mendapat respon dari para sahabat, termasuk ‘Umar bin al-Khaththab z. Terjadilah diskusi ilmiah di antara mereka, hingga tampak jelas bahwa kebenaran berada di pihak Khalifah Abu Bakr ash-Shiddiq z. Akhirnya, terhimpunlah kata sepakat di kalangan para sahabat bahwa orang-orang yang tidak mau berzakat tersebut harus diperangi.
Disebutkan dalam Shahih al-Bukhari no. 6924—6925, dari Abu Hurairah z bahwa Umar bin al-Khaththab z berkata kepada Khalifah Abu Bakr ash-Shiddiq z, “Wahai Abu Bakr, mengapa engkau memerangi mereka padahal Rasulullah n telah bersabda: ‘Aku diperintah untuk memerangi manusia hingga mereka mengucapkan laailaaha illallah (tiada yang berhak diibadahi kecuali Allah). Barang siapa mengucapkannya niscaya akan terlindungi dariku harta dan jiwanya kecuali dengan haknya, serta perhitungannya di sisi Allah’.”
Abu Bakr ash-Shiddiq z berkata, “Demi Allah, aku akan memerangi siapa saja yang membedakan antara shalat dan zakat, karena zakat adalah hak harta (yang wajib ditunaikan, pen.). Demi Allah, jika mereka menolak untuk menyerahkan seekor anak kambing betina (sebagai zakat) kepadaku, yang dahulu mereka menyerahkannya kepada Rasulullah n, niscaya aku akan memerangi mereka karenanya.”
Umar bin al-Khaththab z berkata, “Demi Allah, tidaklah aku meyakini kecuali seperti apa yang telah dilapangkan oleh Allah l pada dada Abu Bakr, yakni keharusan memerangi mereka. Aku menjadi tahu bahwa pendapat itulah yang benar.”
Asy-Syaikh Hafizh al-Hakami t berkata, “Umar bin al-Khaththab z dan sebagian besar sahabat memahami bahwa seseorang yang telah mengucapkan dua kalimat syahadat berarti telah terlindungi dari hukuman dunia. Berdasarkan hal ini, mereka tidak menyetujui tindakan memerangi orang-orang yang tidak mau berzakat (karena mereka masih mengucapkan dua kalimat syahadat, pen.). Adapun Abu Bakr ash-Shiddiq z memahami bahwa seseorang (yang mengucapkan dua kalimat syahadat, pen.) boleh diperangi hingga benar-benar terbukti bahwa ia telah menunaikan hak-haknya. Hal ini berdasarkan sabda Nabi n, ‘Barang siapa menunaikannya niscaya akan terlindungi dariku harta dan jiwanya kecuali dengan haknya, serta perhitungannya di sisi Allah.’ Kemudian beliau z berkata, ‘Zakat adalah hak harta yang harus ditunaikan.’ Pemahaman Abu Bakr ash-Shiddiq z tersebut ternyata juga diriwayatkan secara tegas oleh beberapa sahabat—di antaranya Ibnu Umar, Anas bin Malik, dan yang lainnya g— bahwa Rasulullah n bersabda, ‘Aku diperintah untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tiada yang berhak diibadahi kecuali Allah dan bersaksi pula bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat…..’ Hal ini pula yang dikandung oleh firman Allah l:
“Jika mereka bertobat, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (at-Taubah: 5)
Oleh karena itu, perlindungan (terhadap jiwa dan harta) tersebut tidak terwujud melainkan dengan menunaikan berbagai kewajiban yang datang dari Allah l dan diiringi tauhid. Ketika Abu Bakr ash-Shiddiq z menjelaskan hal ini kepada para sahabat, mereka pun sependapat dengannya dan meyakini bahwa itulah pendapat yang benar.” (Ma’arijul Qabul, 2/430)
Terkait dengan latar belakang kesepakatan para sahabat untuk memerangi orang-orang yang tidak mau berzakat tersebut, para ulama yang tergabung dalam al-Lajnah ad-Da’imah lil-Buhuts al-Ilmiyyah wal Ifta’ menjelaskan bahwa kesepakatan para sahabat bersama Khalifah Abu Bakr ash-Shiddiq z tersebut berdasarkan dua alasan.
1. Adanya kekufuran pada orang-orang yang tidak mau berzakat tersebut.
2. Sikap mereka yang tidak mau berzakat.
Penolakan mereka terhadap perintah Allah l (kewajiban berzakat) merupakan bentuk kekufuran, sedangkan penolakan mereka untuk menyerahkan zakat kepada Khalifah merupakan bukti nyata bahwa mereka tidak mau berzakat. Jadi, dua alasan itulah yang melatarbelakangi kebijakan memerangi orang-orang yang tidak mau berzakat tersebut. (Majallah al-Buhuts al-Islamiyyah, 42/45)
Sebagai penutup kajian kali ini, ada satu faedah penting terkait rincian hukum terhadap orang-orang yang tidak mau berzakat. Berikut ini pemaparannya.
– Jika seseorang tidak berzakat karena penentangannya terhadap kewajiban syariat zakat, dia dihukumi sebagai seorang kafir murtad.
– Jika dia tidak berzakat karena sifat bakhil dan malas, namun tetap meyakini kewajiban syariat zakat, maka zakatnya diambil secara paksa dan dia diberi pelajaran.
– Jika dia tidak mau berzakat dan siap berperang karenanya, dia tergolong murtad, karena kesiapan berperang untuk mempertahankan sikapnya tersebut merupakan bukti penentangannya terhadap syariat zakat. Inilah kondisi (sebagian) orang-orang murtad (di masa kekhalifahan Abu Bakr ash-Shiddiq z). Mereka tidak mau berzakat dan siap berperang karenanya. Kalaulah mereka tidak mau berzakat dan tidak siap berperang karenanya, niscaya para sahabat akan mencukupkan dengan mengambil (paksa) zakat dari mereka, memberi pelajaran kepada mereka, dan tidak memerangi mereka. Namun, ketika mereka tidak mau berzakat dan bersiap untuk berperang karenanya, ini adalah bukti penentangan mereka terhadap syariat zakat. (Lihat Syarh Risalah Kitab al-Iman Abi Ubaid Qasim bin Sallam karya asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah ar-Rajhi, 1/43)
Para pembaca yang mulia, demikianlah secercah cahaya dari kehidupan Khalifah Abu Bakr ash-Shiddiq z yang penuh ilmu dan iman, khususnya ketika menghadapi berbagai fitnah dan gejolak besar yang terjadi di tengah-tengah umat. Semoga kita dapat mendulang mutiara hikmah darinya.
Amin Ya Rabbal Alamin.

Catatan Kaki:

1 Sahabat Abu Bakr ash-Shiddiq z terlahir dengan nama Abdullah bin Abi Quhafah Utsman bin Amir bin ‘Amr bin Ka’b bin Sa’d bin Taim bin Murrah bin Ka’b bin Luai bin Ghalib al-Qurasyi at-Taimi. Nasab beliau bertemu dengan nasab Rasulullah n pada Murrah bin Ka’b. Sahabat Nabi n yang mulia ini akrab dipanggil dengan ‘Atiq (sebuah julukan beliau). Sebabnya ada beberapa versi. Menurut al-Imam al-Laits bin Sa’d, al-Imam Ahmad bin Hanbal, al-Imam Yahya bin Ma’in, dan yang lainnya, karena ketampanan wajah beliau. Adapun menurut al-Imam al-Fadhl bin Dukain, karena bersegeranya beliau dalam kebaikan. Menurut al-Imam Mush’ab bin az-Zubair, karena bersihnya nasab beliau dari keburukan. Menurut riwayat Ummul Mukminin Aisyah x, karena beliau terbebas dari azab api neraka.
Abu Bakr adalah kunyah beliau, sedangkan ash-Shiddiq adalah gelar kehormatan yang Allah l sematkan untuk beliau melalui lisan Rasulullah n. Sebabnya adalah beliau bersegera membenarkan segala yang datang dari Rasulullah n, senantiasa jujur dalam keimanannya, dan tidak pernah muncul dari beliau kejelekan dalam semua kondisi. (Lihat Tarikh al-Khulafa’ karya al-Imam as-Suyuthi, hlm. 31—33 dan Tahdzib al-Asma’ wal Lughat karya al-Imam an-Nawawi, 2/181)

2 Menurut al-Qadhi ‘Iyadh dan yang sependapat dengannya, terbunuhnya al-Aswad al-‘Ansi terjadi sesaat menjelang wafatnya Rasulullah n. (Lihat Fathul Bari, 12/292)

3 Dinukil dari Fathul Bari, 12/289.

4 Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, “Ayat ini turun berkaitan dengan orang-orang yang tidak menunaikan zakat. Ini adalah pendapat mayoritas ahli tafsir.” (Fathul Bari, 3/318)

Surat Pembaca edisi 62

Penjelasan Ma’rifat yang Benar
Pada Asy-Syariah No. 54/V/1430 hlm. 65 dinukilkan ucapan Ibnul Qayyim t, “Adapun syahwat, obatnya adalah lurusnya ilmu dan ma’rifat.” Mohon Asy-Syariah membahas tema tentang ma’rifat supaya umat bisa mengetahui makna ma’rifat dengan pemahaman yang benar tidak seperti pemahaman sufi.

0852271xxxxx

Jazakumullahu khairan atas masukannya.

Jilid dan Halaman Bersambung
Bismillah. Afwan, ana adalah pelanggan setia Asy-Syari’ah. Untuk catatan saja di edisi terakhir ini cara penjilidannya tidak memakai stapler, ini mengakibatkan lembaran-lembaran kertas dalam majalah tersebut mudah lepas, mohon dipertimbangkan kembali.

Abu Hudzaifah
081568xxxxx

Ana hanya mau memberi saran, halaman yang bersambung lebih baik diteruskan saja supaya tidak membingungkan pembaca.

0852269xxxxx

Redaksi sebenarnya dihadapkan pada banyak dilema. Sebagaimana yang Pembaca lihat, mengacu pada jumlah halaman sebelumnya (96 halaman), majalah Asy-Syariah tampil demikian padat, bahkan boleh dikatakan “sesak”. Padahal huruf (font) yang digunakan sudah “dikorbankan” yakni berukuran kecil, demi mengakomodasi jumlah atau panjang artikel yang masuk. Ternyata hal ini kemudian menjadi persoalan tersendiri bagi sebagian pembaca, terutama yang berusia lanjut. Akhirnya, kami memutuskan untuk menambah jumlah halaman (menjadi 104 halaman)—tanpa menambah rubrik terlebih dahulu—agar huruf yang kami gunakan bisa diperbesar sebagaimana banyak masukan yang kami terima. Selain itu, kami berharap dengan penambahan halaman ini, akan mengurangi halaman bersambung yang juga dikeluhkan sebagian pembaca. Namun, kenyataannya, halaman bersambung tetap menjadi hal yang sulit kami hindari. Jika dipaksakan, secara teknis bisa jadi hal itu dapat kami lakukan. Namun, hal itu berkonsekuensi pada perbedaan besar huruf yang digunakan antara rubrik yang satu dengan yang lainnya.
Adapun tentang penjilidan seperti yang Pembaca lihat—dengan binding bukan staples—, hal itu memang telah menjadi standar dalam percetakan, jika jumlah halaman yang digunakan lebih dari 96 halaman.
Kami mohon maaf, jika kami masih banyak kekurangan di sana-sini. Kami masih perlu banyak belajar dalam memperbaiki wajah maupun isi majalah agar ke depan lebih baik lagi, insya Allah.

Rubrik Bahasa Arab
Ana punya usulan tentang penambahan halaman pelajaran bahasa Arab berupa mufradat, nahwu-sharaf, dan sebagainya.
Hari-Jakarta
0856945xxxxx
Akan kami pertimbangkan, jazakumullahu khairan.

KEUTAMAAN MALU

Al-Imam an-Nawawi t berkata, “Para ulama mengatakan bahwa malu hakikatnya adalah akhlak yang mengantar seseorang untuk meninggalkan kejelekan dan menghalanginya mengurangi hak-hak orang lain.”

Kami telah meriwayatkan dari al-Qasim al-Junaidi t, ia berkata, “Malu adalah memerhatikan nikmat-nikmat (Allah l) dan menganggap dirinya kurang (mensyukuri nikmat-nikmat tersebut). Dari keduanya terlahir rasa malu.”
Ummu Abdillah al-Wadi’iyyah hafizhahallahu ta’ala berkata, “Malu adalah salah satu akhlak yang utama. Ia merupakan perhiasan manusia. Hilangnya rasa malu akan menyebabkan segala macam keburukan, sehingga terjadilah pertumpahan darah, dinodainya kehormatan manusia, dilakukannya perbuatan-perbuatan keji, tidak dihargainya orang-orang tua, dan campur baurnya laki-laki dengan para wanita.
Para wanita keluar sembari menampakkan perhiasan dan berdandan, bepergian tanpa mahram. Hilangnya rasa malu juga akan menyebabkan al-haq hanya didengar namun selanjutnya ditolak.”
Al-Imam al-Fudhail bin Iyadh t berkata, “Lima tanda celakanya seseorang adalah kerasnya hati, mata yang tidak bisa menangis, sedikitnya rasa malu, cinta dunia, dan panjang angan-angan.”

(Nashihati lin Nisa’, hlm. 196–197)