Istihadhah (1)

(Bagian ke-1)

Tak seperti haid, tidak semua wanita mengalami istihadhah karena haid merupakan kebiasaan rutin yang dialami wanita yang normal/sehat, sedangkan istihadhah adalah darah yang tidak biasa. Ia keluar karena ada gangguan pada urat yang diistilahkan ‘adzil (al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim, 3/242).

Singkatnya, ada ketidaknormalan/penyakit pada wanita yang mengalaminya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Fathimah bintu Abi Hubaisy radhiallahu ‘anha tentang darah istihadhah ini:

إِنَّمّا ذَلِكَ عِرْقٌ وَلَيْسَ بِالْحَيْضَةِ

“Apa yang kamu alami itu hanyalah darah dari urat bukan haid.” (HR. al- Bukhari no. 228 dan Muslim no. 751)

Istihadhah ini telah dialami oleh wanita sejak dahulu. Kalangan sahabiyah pun mengalaminya. Dalam hitungan ulama mencapai sepuluh orang, kata al-Imam ash-Shan’ani rahimahullah. Tiga orang putri Jahsyin: Zainab Ummul Mukminin, Ummu Habibah istri Abdurrahman ibn Auf, dan Hamnah istri Thalhah bin Ubaidillah, radhiallahu ‘anhum, semuanya mengalami istihadhah. (Subulus Salam, 1/377)

Bahkan, Ummu Habibah radhiallahu ‘anha mengalaminya sampai tujuh tahun sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut.

عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ : أَنَّ أُمَّ حَبِيْبَةَ بِنْتَ جَحْشٍ خَنَتَةَ رَسُوْلِ اللهِ وَتَحْتَ عَبْدِ الرَّحْمنِ بْنِ عَوْفٍ اسْتُحِيْضَتْ سَبْعَ سِنِيْنَ

Dari Aisyah radhiallahu ‘anha istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia mengabarkan bahwasanya Ummu Habibah bintu Jahsyin—ipar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan istri Abdurrahman ibn Auf— mengalami istihadhah selama tujuh tahun…. (HR. al-Bukhari no. 327 dan Muslim no. 754)

Ada pula di antara sahabiyah yang keluar darah istihadhah dengan deras dan sangat banyak seperti Hamnah bintu Jahsyin radhiallahu ‘anha. Ia pernah datang mengadukan keadaannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

كُنْتُ أُسْتَحَاضُ حَيْضَةً كَثِيْرَةً شَدِيْدَةً ….

“Aku ditimpa istihadhah yang sangat banyak dan deras…” (HR. Ahmad, Abu Dawud no. 287, dan at-Tirmidzi no. 128, dihasankan al-Imam al-Albani rahimahullah dalam Irwa’ul Ghalil no. 188)

Adapun istihadhah yang dialami istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ditunjukkan dalam hadits berikut ini:

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: اعْتَكَفَتْ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ امْرَأَةٌ مُسْتَحَاضَةٌ مِنْ أَزْوَاجِهِ، فَكَانَتْ تَرَى الْحُمْرَةَ وَالصُّفْرَةَ، فَرُبَّماَ وَضَعْنَا الطَّسْتَ تَحْتَهَا وَهِيَ تُصَلِّي

Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, ia berkata, “Salah seorang istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengalami istihadhah beri’tikaf bersama beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia melihat darahnya yang keluar berwarna kemerahan dan kekuningan. Terkadang kami meletakkan bejana di bawahnya saat ia shalat.” (HR. al-Bukhari no. 2037)

Demikian gambaran istihadhah yang dialami wanita sahabiyah. Berikut ini kita akan melihat beberapa tinjauan hukum berkenaan dengan wanita yang mengalami istihadhah[1].

 payung-merah-di-tengah-salju

Darah Haid Tidak Sama dengan Darah Istihadhah

        Menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah, keberadaan darah istihadhah bersama darah haid merupakan suatu masalah yang rumit, sering membuat rancu sehingga keduanya harus dibedakan.

Cara membedakan keduanya bisa dengan ‘adat (kebiasaan haid), dengan tamyiz (membedakan sifat darah), atau dengan melihat kebiasaan umumnya wanita[2]. Demikian yang ditunjukkan dalam As-Sunnah. (Majmu’atul Fatawa, 21/630—631)

Tentang ‘adat (kebiasaan) haid ditunjukkan dalam hadits Aisyah radhiallahu ‘anha, ia berkata, “Fathimah bintu Abi Hubaisy radhiallahu ‘anha datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu menyampaikan masalahnya. ‘Wahai Rasulullah, saya seorang wanita yang mengalami istihadhah sehingga saya tak pernah suci. Apakah saya harus meninggalkan shalat saat mengalaminya?’.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:

لاَ إِنَّمَّا ذَلِكَ عِرْقٌ وَلَيْسَ بِالْحَيْضَةِ، فَإِذَا أَقْبَلَتِ الْحَيْضَةُ فَدَعِي الصَّلاَةَ، فَإِذَا أَدْبَرَتْ فَاغْسِلِي عَنْكِ الدَّمَ وَصَلِّي

“Kamu tidak boleh meninggalkan shalat, (karena) apa yang kamu alami itu hanyalah darah dari urat bukan haid. Apabila datang haidmu, tinggalkanlah shalat. Jika haidmu telah berlalu, cucilah darah darimu (mandilah) dan shalatlah.” (HR. al-Bukhari no. 228 dan Muslim no. 751)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengatakan kepada Ummu Habibah bintu Jahsyin radhiallahu ‘anha yang mengeluhkan istihadhah yang menimpanya:

اُمْكُثِيْ قَدْرَ مَا كَانَتْ تَحْبِسُكِ حَيْضَتُكِ ثُمَّ اغْتَسِلِيْ

“Tinggalkanlah shalat sekadar hari-hari haidmu, kemudian (setelah berlalu hari-hari tersebut) mandilah.” (HR. Muslim no. 758)

Jumhur ulama mengambil hadits ini untuk wanita yang tertimpa istihadhah yang memiliki kebiasaan haid yang tertentu setiap bulannya sebelum ditimpa istihadhah. Ketika keluar darah dari kemaluannya, untuk mengetahui apakah ia haid atau istihadhah, ia kembali kepada kebiasaan haidnya[3]. Demikian mazhab Abu Hanifah, asy-Syafi’i, dan Ahmad. (Majmu’atul Fatawa, 21/628)

Adapun tamyiz ditunjukkan dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Fathimah bintu Abi Hubaisy radhiallahu ‘anha:

إِنَّ دَمَ الْحَيْضِ دَمٌ أَسْوَدُ يُعْرَفُ، فَإِذَا كَانَتْ ذَلِكِ فَامْسِكِي عَنِ الصَّلاَةِ. فَإِذَا كَانَ الْآخَرُ فَتَوَضَّئِيْ وَصَلِّيْ

“Apabila darah itu darah haid, dia berwarna hitam yang dikenal. Apabila demikian darah yang keluar darimu, tinggalkanlah shalat. Namun apabila bukan, berwudhulah dan shalatlah.” (HR. Abu Dawud no. 286, an-Nasa’i no. 363, dan selain keduanya. Disahihkan dalam Irwa’ul Ghalil no. 204)

Tamyiz dilakukan oleh wanita yang tidak memiliki kebiasaan haid yang tetap ataupun ia lupa ‘adatnya, sebelum ditimpa istihadhah, dan ia bisa membedakan darah[4].

Perbedaan darah haid dan darah istihadhah bisa disimpulkan sebagai berikut.

  1. Darah haid umumnya berwarna hitam, sedangkan darah istihadhah umumnya berwarna merah.
  2. Darah haid sifatnya kental, sedangkan darah istihadhah encer.
  3. Aroma darah haid tidak sedap/berbau busuk, sedangkan darah istihadhah tidak berbau busuk.
  4. Darah haid tidak bisa membeku karena telah membeku di dalam rahim kemudian terpancar dan mengalir, sedangkan darah istihadhah bisa membeku karena merupakan darah urat. (asy-Syarhul Mumti’, 1/487—488)

Apabila si wanita mustahadhah (yang tertimpa istihadhah) mempunyai ‘adat dan bisa melakukan tamyiz, ulama berbeda pendapat, mana yang didahulukan, ‘adat ataukah tamyiz? Yang lebih kuat dalam masalah ini, kata Fadhilatusy Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah, si wanita kembali kepada ‘adatnya, dengan alasan:

  1. Hadits yang menyebutkan tamyiz diperselisihkan kesahihannya[5].
  2. Kembali kepada ‘adat lebih mudah dan lebih meyakinkan bagi si wanita, karena sifat darah itu bisa berubah-ubah atau keluarnya bergeser ke akhir bulan atau ke awal bulan, atau keluarnya terputus-putus sehari berwarna hitam, di hari lainnya berwarna merah. (asy-Syarhul Mumti’, 1/492)

Adapun wanita yang tidak memiliki ‘adat dan tidak bisa melakukan tamyiz, ia mengamalkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Hamnah bintu Jahsyin radhiallahu ‘anha:

إِنَّمَا هَذِهِ رَكْضَةٌ مِنَ الشَّيْطَانِ، فَتَحَيَّضِيْ سِتَّةَ أَيَّامٍ أَوْ سَبْعَةَ أَيَّامٍ فيِ عِلْمِ اللهِ تَعَالَى ذِكْرُهُ، ثُمَّ اغْتَسِلِيْ. حَتَّى إِذَا رَأَيْتِ أَنَّكِ قَدْ طَهُرْتِ وَاسْتَنْقَأْتِ، فَصَلِّيْ ثَلاَثًا وَعِشْرِيْنَ لَيْلَةً أَوْ أَرْبَعًا وَعِشْرِيْنَ لَيْلَةً وَأَيَّامَهَا وَصُوْمِيْ، فَإِنَّ ذَلِكَ يُجْزِئُكِ، وَكَذَلِكِ فَافْعَلِي كُلَّ شَهْرٍ كَمَا تَحِيْضُ النِّسَاءُ وَكَمَا يَطْهُرْنَ

“Hal itu hanyalah sebuah gangguan dari setan. Anggaplah dirimu haid selama enam atau tujuh hari dalam ilmu Allah yang Mahatinggi sebutan-Nya. Setelah lewat dari itu mandilah. Ketika engkau melihat dirimu telah bersih dan suci, shalatlah selama 23 atau 24 malam berikut siangnya dan berpuasalah. Hal ini mencukupimu. Demikianlah yang engkau lakukan setiap bulannya sebagaimana para wanita biasa berhaid dan biasa suci.” (HR. Ahmad, Abu Dawud no. 287, at-Tirmidzi no. 128, dihasankan al-Imam al-Albani rahimahullah dalam Irwa’ul Ghalil no. 188)

Caranya, melihat kebiasaan haid dan suci para wanita yang dekat kekerabatannya dengannya, lalu kebiasaan itu ia terapkan pada dirinya (ia samakan dirinya dengan mereka).

 

Hukum Wanita Mustahadhah Sama Dengan Wanita yang Suci

Mayoritas ahlul ilmi berpendapat bahwa wanita mustahadhah dalam kebanyakan hukumnya sama dengan wanita yang suci. (al-Minhaj, 3/242)

Berbeda halnya dengan wanita haid, wanita mustahadhah diperintah untuk tetap mengerjakan shalat dan puasa. Demikian ijma’/kesepakatan ulama. (al- Iqna’ fi Masa’il al-Ijma’, al-Imam Ibnul Qaththan, 1/106)

Ia juga diperintah/dibolehkan mengerjakan ibadah-ibadah yang lain, seperti kata al-Imam an-Nawawi rahimahullah, “Adapun shalat, puasa, i’tikaf, membaca Al-Qur’an, menyentuh mushaf, membawanya, sujud tilawah, sujud syukur, dan ibadah-ibadah yang wajib, hukumnya sama dengan orang yang suci. Ini merupakan masalah yang disepakati.” (al-Minhaj, 3/242)

 

Cara Bersuci Wanita Mustahadhah untuk Shalat

Apabila wanita mustahadhah hendak bersuci untuk mengerjakan shalat, ia harus membersihkan tempat keluarnya darah kemudian menyumpal/menutupnya dengan pembalut atau semisalnya untuk menahan darah agar tidak tembus keluar. Dalilnya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Hamnah bintu Jahsyin radhiallahu ‘anha yang telah disinggung di atas ketika ia mengeluhkan banyaknya darah yang keluar:

أَنْعَتُ لَكِ الْكُرْسُفَ فَإِنَّهُ يُذْهِبُ الدَّمَ

“Aku terangkan kepadamu, pakailah kapas[6], karena kapas bisa menghilangkan darah.”

Dalam hadits Ummu Salamah radhiallahu ‘anha disebutkan:

لِتَسْتَثْفِرَ بِثَوْبٍ

“Hendaklah ia istitsfar[7] dengan kain.” (HR. Abu Dawud no. 274, disahihkan dalam Shahih Abi Dawud)

Ahlul ilmi menyatakan, jika ia sudah melakukan hal tersebut, namun darah tetap keluar/tembus hingga keluar dari pembalut/kain/handuk yang dipakai sebagai penutup darah, karena longgarnya ikatan penyumpal darah tersebut maka dikuatkan lagi dan ia kembali bersuci dengan membersihkan darah[8]. Apabila darah tembus keluar dari sumpalan karena derasnya dan sudah diupayakan menyumpalnya dengan kuat, namun tetap tidak dapat mencegah darah, si wanita tetap melanjutkan shalat walaupun darahnya menetes keluar, karena tidak memungkinkan lagi baginya menghindari hal tersebut. Hal ini berdasarkan hadits Aisyah radhiallahu ‘anha yang telah dibawakan di atas tentang istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shalat dalam keadaan di bawahnya ada bejana guna menampung darah yang menetes keluar. (al-Mughni, “Kitab ath-Tharahah, Mas’alah: al-Mubtala bi Salasil Baul wa Katsratil Madzi….”, al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab 2/551—552)

ditulis oleh Al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyyah


[1] Masalah istihadhah ini sebenarnya sudah pernah kami bahas dalam majalah ini, dalam edisi no. 04 tahun perdana Juli 2003/1424 H, pada rubrik “Wanita dalam Sorotan”.

[2] Dalam hal ini, ia melihat kerabatnya dari kalangan wanita seperti ibunya atau saudara perempuannya. Kesamaan seorang wanita dengan kerabat-kerabatnya lebih dekat daripada kesamaannya dengan keumuman wanita yang bukan kerabatnya. (asy-Syarhul Mumti’, 1/489)

[3] Kapan ia biasa mengalami haid dan berapa hari lamanya. Misalnya, ia biasa haid di awal bulan selama tujuh hari, berarti itulah ‘adatnya.

[4] Misalnya, ia keluar darah selama sebulan. Pada sepuluh hari yang awal, darah yang keluar berwarna hitam dan beraroma khas darah haid, sedangkan selebihnya darahnya berwarna merah. Berdasarkan hal ini, sepuluh hari yang awal itu dihitung sebagai hari haidnya, selebihnya dianggap istihadhah.

[5] Sementara hadits yang menyebutkan ‘adat lebih kuat karena diriwayatkan dalam Shahihain.

[6] Disumbat dengan kapas.

[7] Makna istitsfar adalah menutup/menyumpal tempat keluarnya darah dengan kain yang dapat menahan keluarnya darah tersebut.

[8] Ini merupakan pendapat mazhab Hanafiyah, Syafi’iyah, dan Hanabilah yang memandang keluarnya darah merupakan hadats bagi wanita mustahadhah. Sementara al-Imam Malik, Rabi’ah dan jama’ahnya dari kalangan ahlul ilmi berpendapat wanita mustahadhah tidak wajib wudhu dengan keluarnya darah, maka tidak wajib baginya berwudhu setiap kali hendak shalat selama tidak menimpanya perkara yang membatalkan wudhu.

Empat Kesalahan Dalam Mendidik Anak

Mendidik anak bukan hal yang mudah. Salah langkah bisa mengakibatkan salah asuhan. Oleh karena itu, orang tua perlu mengetahui apa yang semestinya dilakukan dan apa yang semestinya dihindari. Ditambah pula faktor-faktor yang akan mendukung pendidikan yang sedang kita lakukan. Lanjutkan membaca Empat Kesalahan Dalam Mendidik Anak

Tata Cara I’tikaf

TATA CARA I’TIKAF

Bagaimana tata cara beri’tikaf di masjid pada sepuluh hari terakhir Ramadhan, kapan dimulai dan amalan apa yang dikerjakan selama beri’tikaf berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah?

Muhammad Basir via email

Dijawab oleh al-Ustadz Muhammad as-Sarbini al-Makassari

Beri’tikaf di masjid pada sepuluh hari terakhir Ramadhan merupakan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sering dikerjakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mencari keutamaan sepuluh hari terakhir Ramadhan, khususnya malam mulia yang utama (lailatul-qadri). Hal ini sebagaimana diriwayatkan oleh ‘Aisyah radhiallahu ‘anha:

أَنَّ النَّبِىَّ كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللهُ، ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ.

“Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa melakukan i’tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadhan hingga beliau diwafatkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Kemudian para istri beliau pun melakukan i’tikaf sepeninggal beliau.” (Muttafaq ‘alaih)

I’tikaf memiliki adab-adab yang menentukan sah dan sempurnanya i’tikaf, termasuk kapan mulainya dan kapan berakhirnya, berikut amalan-amalan apa saja yang dikerjakan selama i’tikaf.

Barang siapa berniat untuk melaksanakan sunnah ini hendaklah memulai i’tikaf dengan masuk ke masjid tempat i’tikaf sejak terbenamnya matahari di malam ke-21 Ramadhan, karena sepuluh hari terakhir Ramadhan dimulai ketika terbenam matahari di malam ke-21 Ramadhan. Jika dia menyiapkan tenda (kemah) di salah satu satu bagian masjid sebagai tempat menyendiri selama i’tikaf—dan ini hukumnya sunnah— hendaklah masuk ke dalam tenda (kemah) itu setelah shalat shubuh. Dalilnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai i’tikaf di masjidnya ketika terbenam matahari di awal malam ke-21. Namun beliau baru menyendiri (masuk) di dalam tenda yang telah disiapkan untuk dirinya setelah shalat shubuh, berdasarkan hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anha:

كَانَ رَسُولُ الله إِذَا أَرَادَ أَنْ يَعْتَكِفَ صَلَّى الْفَجْرَ ثُمَّ دَخَلَ مُعْتَكَفَهُ

“Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkeinginan melakukan i’tikaf, beliau menunaikan shalat Fajar (shubuh), kemudian masuk ke tempat i’tikafnya.” (Muttafaq ‘alaih)

Ini adalah mazhab empat imam (Abu Hanifah, Malik, asy-Syafi’i, dan Ahmad) serta jumhur (mayoritas) ulama yang dirajihkan (dikuatkan) oleh al-Imam Ibnu ‘Utsaimin, dan inilah pendapat yang rajih.

Selama beri’tikaf hendaklah memerhatikan adab-adab berikut.

  1. Tidak melakukan jima’ (senggama), berdasarkan ayat i’tikaf:

وَلَا تُبَٰشِرُوهُنَّ وَأَنتُمۡ عَٰكِفُونَ فِي ٱلۡمَسَٰجِدِۗ

“Janganlah kalian menggauli istri-istri itu, sedangkan kalian beri’tikaf dalam masjid.” (al-Baqarah: 187)

Hal ini hukumnya haram dan membatalkan i’tikaf, baik dilakukan di masjid maupun di luar masjid (rumah). Sebab, Allah subhanahu wa ta’ala mengharamkannya secara khusus pada i’tikaf, padahal pada asalnya halal di luar i’tikaf. Jima’ diharamkan dalam i’tikaf karena bertentangan dengan tujuan i’tikaf.

  1. Tidak melakukan hal-hal yang bertentangan dengan tujuan i’tikaf, seperti keluar untuk bersenggama dengan istri di rumah, keluar untuk menekuni pekerjaannya, ataupun melakukan profesinya di tempat i’tikafnya[1], keluar untuk transaksi jual-beli, ataupun melakukan transaksi jual-beli di masjid, dan semisalnya. Apabila hal itu dilakukan maka i’tikafnya batal, meskipun ia telah mempersyaratkan akan melakukannya saat berniat melakukan i’tikaf, karena hal-hal tersebut bertentangan dengan tujuan i’tikaf. Al-Imam Ahmad rahimahullah berkata, “Kalau memang ia butuh untuk bekerja (melakukan profesinya), jangan beri’tikaf.”

  1. Tidak keluar dari tempat i’tikaf untuk urusan yang tidak bersifat harus dilakukan. Adapun keluar untuk urusan yang bersifat harus dilakukan, hal itu boleh. Urusan tersebut meliputi hal-hal yang bersifat tabiat manusiawi seperti kebutuhan buang hajat dan makan-minum, atau yang bersifat aturan syariat seperti wudhu, mandi janabah, dan shalat Jum’at. Ibnu Qudamah rahimahullah berkata, “Tidak ada khilaf tentang bolehnya seseorang yang beri’tikaf keluar dari masjid untuk suatu urusan yang harus dilakukan.” Dalilnya adalah hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anha:

إِنَّ النَّبِيَّ كَانَ لَا يَدْخُلُ الْبَيْتَ إلاَّ لِحاَجَةٍ )وَفِي رِوَايَةِ مُسْلِمٍ: إِلَّا لِحَاجَةِ الْإِنْسَانِ) إِذَا كَانَ مُعْتَكِفاً.

“Sesungguhnya jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang beri’tikaf, beliau biasanya tidak masuk rumah kecuali untuk suatu hajat (pada riwayat Muslim: untuk hajat manusiawi).” (Muttafaq ‘alaih)

Juga hadits ‘Aisyah yang mauquf (dinisbatkan kepada ‘Aisyah sebagai perbuatannya) yang diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab Shahih-nya pada “Kitab al-Haidh”:

إِنْ كُنْتُ لَأَدْخُلُ الْبَيْتَ لِلْحَاجَةِ وَالْمَرِيْضُ فِيْهِ، فَمَا أَسْأَلُ عَنْهُ إِلاَّ وَأَنَا مَارَّةٌ.

“Adalah aku (jika sedang beri’tikaf) biasa masuk rumah untuk suatu hajat, padahal di dalam rumah ada orang sakit. Aku tidak menanyakan keadaannya kecuali sambil lewat saja.”[2]

Oleh karena itu, tidak boleh keluar dari tempat i’tikaf untuk urusan ketaatan yang bersifat sunnah, seperti menjenguk orang sakit dan mengantarkan jenazah, menurut pendapat yang rajih. Ini adalah pendapat jumhur ulama dan dirajihkan oleh Ibnu ‘Utsaimin, kecuali jika jelas baginya bahwa tidak ada yang mengurusi orang sakit tersebut selain dirinya—sedangkan kondisi sakitnya telah kritis—atau jika tidak ada yang bisa mengurusi jenazah tersebut selain dirinya, hal ini diperbolehkan. Sebab, pada kondisi itu hukumnya menjadi wajib atas dirinya. Jika ia keluar untuk suatu urusan yang harus dilakukannya, maka tidak boleh berlama-lama lebih dari hajatnya itu. Jika ia berlama-lama lebih dari hajatnya tersebut, maka i’tikafnya batal sebagaimana batalnya i’tikaf jika keluar untuk suatu urusan yang tidak bersifat wajib meskipun hanya sebentar, menurut pendapat empat imam mazhab.

  1. Disunnahkan menyibukkan diri dengan berbagai macam ibadah khusus, seperti shalat sunnah mutlak di waktu-waktu yang tidak terlarang, membaca Al-Qur’an, berzikir, berdoa, serta beristighfar. Secara khusus, sepuluh malam terakhir Ramadhan dihidupkan dengan shalat tarawih. Inilah inti dan tujuan i’tikaf, untuk mekhususkan diri dengan ibadah-ibadah tersebut. Itulah sebabnya pelaksanaan i’tikaf dibatasi harus di masjid.

  1. Disunnahkan meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baik dalam bentuk ucapan, perbuatan, maupun yang lainnya.

  1. Tidak mengapa baginya untuk berbicara sebatas hajat dan berbincang-bincang dengan orang lain dalam batas yang dibolehkan dalam syariat, baik secara langsung maupun melalui telepon, selama hal itu masih dalam masjid tempat beri’tikaf. Demikian pula, tidak mengapa untuk dikunjungi kerabat atau temannya di tempat i’tikafnya serta berbincang-bincang sejenak dan tidak lama. Hal ini ditunjukkan oleh hadits Shafiyyah bintu Huyai radhiallahu ‘anha, salah seorang istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim (Muttafaqun ‘Alaih) tentang kedatangannya mengunjungi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di malam hari saat beliau melakukan i’tikaf, lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri bersamanya dan mengantarkannya pulang ke rumahnya.[3]

Selanjutnya, i’tikaf berakhir ketika terbenam matahari di malam ‘Id dan tidak disyariatkan menunggu esok harinya hingga menjelang shalat ‘Id. Ini merupakan pendapat jumhur (mayoritas) ulama serta Ibnu Hazm.

I’TIKAF DI SELAIN MASJID YANG TIGA

Para ulama berbeda pendapat tentang i’tikaf di selain tiga masjid (Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjidil Aqsha), ada yang membolehkan dan ada yang tidak membolehkan. Mana yang rajih (lebih kuat)?

Fulan – lewat sms

 

Dijawab oleh al-Ustadz Muhammad as-Sarbini al-Makassari

Menurut kami, yang rajih adalah pendapat yang menyatakan bahwa i’tikaf diperbolehkan di semua masjid dan tidak terbatas hanya di tiga masjid saja. Hal ini berdasarkan keumuman firman Allah subhanahu wa ta’ala:

وَلَا تُبَٰشِرُوهُنَّ وَأَنتُمۡ عَٰكِفُونَ فِي ٱلۡمَسَٰجِدِۗ

       “Janganlah kalian gauli istri-istri itu, sedangkan kalian beri’tikaf dalam masjid.” (Al-Baqarah: 187)

Kata masjid dalam ayat ini bersifat umum[4] dan tidak dibatasi dengan sifat-sifat tertentu, sehingga ayat ini meliputi seluruh masjid tanpa kecuali.

Akan tetapi, jika rentang waktu i’tikaf diselingi waktu shalat lima waktu, maka bagi kaum pria yang berpendapat wajibnya shalat lima waktu secara berjamaah—dan inilah pendapat yang benar—dipersyaratkan untuk mereka beri’tikaf di masjid-masjid tempat ditunaikannya shalat berjamaah.[5] Jika rentang waktu i’tikaf diselingi waktu shalat Jum’at, yang afdhal (lebih utama) adalah mereka beri’tikaf di masjid yang padanya ditunaikan shalat Jum’at, namun hal ini bukan syarat.[6]

Adapun kaum wanita tidak dipersyaratkan melakukannya di masjid yang ditunaikan padanya shalat berjamaah, karena shalat jamaah tidak wajib atas kaum wanita. Ini adalah pendapat Abu Hanifah, Ahmad, dan Ishaq bin Rahawaih, serta dirajihkan oleh Ibnu Baz dan Ibnu ‘Utsaimin.

Adapun pendapat yang menyatakan bahwa i’tikaf tidak sah kecuali dilakukan di tiga masjid (Masjid Al-Haram, Masjid An-Nabawi, dan Masjid Al-Aqsha) merupakan pendapat yang lemah, karena sandarannya adalah hadits yang diperselisihkan kesahihannya oleh para ulama dan ada kelemahannya, yaitu hadits Hudzaifah radhiallahu ‘anhu:

لاَ اعْتِكَافَ إِلاَّ فِي الْمَسَاجِدِ الثَّلاَثَةِ

“Tidak ada i’tikaf kecuali di tiga masjid.”

Hadits ini diriwayatkan secara marfu’ (dinisbatkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) oleh Sa’id bin Manshur dalam kitab as-Sunan dan ath-Thahawi dalam kitab Musykilul Atsar, juga diriwayatkan secara mauquf (dinisbatkan kepada Hudzaifah radhiallahu ‘anhu sebagai ucapannya) oleh ath-Thabarani dalam kitab al-Mu’jam al-Kabir, Abdur Razzaq dalam kitab al-Mushannaf, dan Ibnu Abi Syaibah dalam kitab Al-Mushannaf. Lafadz riwayat Abdur Razzaq adalah sebagai berikut.

قَالَ حُذَيْفَةُ لِعَبْدِ اللهِ: قَوْمٌ عُكُوْفٌ بَ دَارِكَ وَدَارِ أَبِي مُوْسَى لَا تَنْهَاهُمْ؟ فَقاَلَ لَهُ عَبْدُ اللهِ: فَلَعَلَّهُمْ أَصَابُوا وَأَخْطَأْتَ وَحَفِظُوا وَنَسِيْتَ؟ فَقَالَ حُذَيْفَةُ: لَا اعْتِكَافَ إِلَّا فِي هَذِه ِالْمَسَاجِدِ الثَّلاَثَةِ

Hudzaifah berkata kepada ‘Abdullah bin Mas’ud, “Engkau melihat suatu kaum melakukan i’tikaf (di masjid) antara rumahmu dan rumah Abu Musa al-Asy’ari dan engkau tidak melarang mereka?”

Abdulllah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu menjawab, “Barangkali mereka yang benar dan engkau yang salah, serta mereka yang hafal (sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) dan engkau yang lupa.”

Lalu Hudzaifah berkata lagi, “Tidak ada i’tikaf kecuali di tiga masjid.”

Asy-Syaukani mengatakan bahwa riwayat mauquf ini menunjukkan Hudzaifah tidaklah berdalilkan dengan hadits yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Riwayat ini juga menunjukkan bahwa Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu menyelisihinya serta membolehkan i’tikaf di seluruh masjid. Seandainya memang ada hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tentu Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu tidak akan menyelisihinya. Yang semakin menguatkan hal ini adalah dalam riwayat Sa’id bin Manshur yang marfu’ ada tambahan riwayat dengan lafadz:

أَوْ مَسْجِدٍ جَمَاعَةٍ

“… atau di masjid jamaah.”

Yakni masjid jami’ tempat ditunaikan shalat Jum’at. Maka dari itu, asy-Syaukani mengomentari riwayat ini dengan berkata, “Demikian pula adanya keraguan pada periwayatan itu (antara pembatasan di tiga masjid atau di masjid jamaah) termasuk hal yang melemahkan pendalilan dengan salah satu bagian dari hadits tersebut. Dengan ini pula Ibnu Hazm melemahkan hadits ini. Beliau berkata, ‘Keraguan ini dari Hudzaifah sendiri atau perawi setelahnya (yang di bawahnya). Tidak dibenarkan memastikan bahwa hadits-hadits itu berasal dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan adanya keraguan pada periwayatannya. Seandainya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengucapkannya, tentu Allah subhanahu wa ta’ala akan menjaganya untuk umat ini dan tidak akan tersisipi keraguan dalam periwayatannya.

Adapun yang menyatakan hadits ini sahih adalah asy-Syaikh al-Albani dalam ash-Shahihah (no. 2786) dan asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab al-Wushabi. Namun asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab al-Wushabi tidak menyatakan bahwa i’tikaf hanya sah dilakukan di tiga masjid dengan hadits ini. Beliau justru mengambil bagian kedua dari hadits untuk berpendapat bahwa i’tikaf hanya sah dilakukan di masjid jamaah (masjid jami’). Beliau menukilkan pula bahwa ini adalah pendapat asy-Syaikh Muqbil al-Wadi’i. Lihat risalah beliau Idhah ad-Dalalah fi Takhrij wa Tahqiq Hadits La I’tikaf illa fil Masjid ats-Tsalatsah.

Seandainya pun hadits Hudzaifah ini dinyatakan sahih, hadits ini tetap tidak bisa menjadi dalil untuk membatasi bahwa i’tikaf hanya sah dilakukan di tiga masjid. Hadits ini harus dipadukan dengan dalil-dalil lain yang menyebutkan bolehnya beri’tikaf di selain tiga masjid. Oleh karena itu, hadits ini harus ditafsirkan dengan makna bahwa tidaklah i’tikaf sempurna melainkan bila dilakukan di tiga masjid atau masjid jamaah. Dengan ini, tampaklah bahwa pendapat yang kami pilih adalah pendapat yang terbaik, insya Allah.[7] Wallahu a’lam.


[1] Seperti menjahit atau yang lainnya.

[2] Adapun periwayatan hadits ini secara marfu’ (dinisbatkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) yang diriwayatkan oleh Abu Dawud merupakan riwayat yang dha’if (lemah), sebab dalam sanadnya terdapat rawi yang lemah bernama Laits bin Abi Sulaim.

[3] Adapun keluarnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari masjid untuk mengantar Shafiyyah radhiallahu ‘anha, dibawa kepada pemahaman bahwa hal itu merupakan keharusan bagi beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk melakukannya, karena peristiwa itu di malam hari sehingga beliau khawatir jika membiarkannya pulang sendiri.

[4] Karena ( أل ) pada kata ( الْمَسَاجِد ) di ayat tersebut merupakan salah satu perangkat bahasa yang digunakan untuk menunjukkan makna yang bersifat umum.

[5] Karena kewajiban menghadiri shalat berjamaah menuntutnya untuk banyak keluar dari masjid tempat i’tikafnya serta berulang kali dalam sehari-semalam. Hal ini akan membatalkan i’tikafnya, karena bertolak belakang dengan maksud dan tujuan i’tikaf itu sendiri.

[6] Karena kewajiban menghadiri shalat Jum’at tidak memiliki intensitas yang sering dan hanya sekali dalam sepekan, sehingga tidak menuntutnya sering keluar meninggalkan masjid tempat i’tikafnya, dan hal itu tidak membatalkan i’tikaf.

[7] Lihat pembahasan ini pada kitab al-Muhalla (no. 633), Bidayah al-Mujtahid (2/610), al-Mughni (4/461—463), al-Majmu’ (6/507—508), Fathul Bari (dalam Kitab al-I’tikaf, Bab al-I’tikaf fi al-‘Asyri al-Awakhir), Nailul Authar (dalam Kitab al-I’tikaf penjelasan hadits Hudzaifah radhiallahu ‘anhu), asy-Syarh al-Mumti’ (6/504—507), dan Majmu’ al-Fatawa li Ibni Baz (14/436).

Berani Mengakui Kesalahan dan Kembali Kepada Kebenaran

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

تِلۡكَ ٱلدَّارُ ٱلۡأٓخِرَةُ نَجۡعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوّٗا فِي ٱلۡأَرۡضِ وَلَا فَسَادٗاۚ وَٱلۡعَٰقِبَةُ لِلۡمُتَّقِينَ ٨٣

“Negeri akhirat itu Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (al-Qashash: 83)

Lanjutkan membaca Berani Mengakui Kesalahan dan Kembali Kepada Kebenaran

Kemunafikan Berselubung Agama

Kebencian terhadap agama ini senantiasa dinyalakan oleh musuh-musuh Islam. Jika dengan cara kasar yakni pembantaian atau pembunuhan terhadap umat Islam gagal, maka cara halus dan terselubung pun digunakan. Jika mereka tidak berani turun tangan secara langsung, maka ada kaki tangan mereka yang siap melaksanakan misi mereka, meruntuhkan Islam dari dalam.

  Lanjutkan membaca Kemunafikan Berselubung Agama

Tahun Perutusan

 (Bagian ke-1)

Keberadaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama pasukan ‘usrah (kesulitan) beberapa malam di Tabuk tanpa ada upaya pihak Romawi melakukan penyerangan walau sekecil apa pun, telah menaikkan pamor kaum muslimin di mata bangsa Arab ketika itu. Bagi bangsa Arab, hal ini merupakan puncak kekuatan kaum muslimin, karena berani menyambut tantangan bangsa “adidaya” Romawi yang sebelumnya mengancam hendak menyerang Madinah. Lanjutkan membaca Tahun Perutusan

Agungkan Sunnah, Penuhi Seruan Rasulullah

Ad-Darimi[1] rahimahullah meriwayatkan dari Miqdam bin Ma’dikarib radhiallahu ‘anhu:

أَنَّ رَسُولَ الله حَرَّمَ أَشْيَاءَ يَوْمَ خَيْبَرٍ، الْحِمَارَ وَغَيْرَهُ ثُمَّ قَالَ: لَيُوشِكُ الرَّجُلُ مُتَّكِئًا عَلَى أَرِيكَتِه يُحَدَّثُ بِحَدِيْثِي فَيَقُولُ: بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ كِتَابُ اللهِ، مَا وَجَدْنَا فِيهِ مِنْ حَلَالٍ اسْتَحْلَلْنَاهُ وَمَا وَجَدْنَاهُ فِيهِ مِنْ حَرَامٍ حَرَّمْنَاهُ. أَلَاوَإِنَّ مَا حَرَّمَ رَسُولُ الله فَهُوَ مِثْلُ مَا حَرَّمَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengharamkan beberapa perkara pada hari khaibar, yaitu keledai dan lainnya. Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Telah dekat (munculnya) seseorang, ia bertelekan di atas dipannya, disampaikan kepadanya haditsku, (namun dia menolaknya) seraya berkata, ‘(Cukuplah) di antara kita dan kalian Kitabullah. Apa yang kita dapatkan dalam Kitabullah halal kita halalkan, dan apa yang kita dapatkan di dalamnya haram kita haramkan’.” (Kemudian Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,) “Ketahuilah, sesungguhnya apa yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam haramkan sama dengan apa yang Allah haramkan.”

 

Takhrij Hadits

Ad-Darimi rahimahullah meriwayatkan hadits ini dalam Muqaddimah Sunannya, Bab “As-Sunnah Qadhiyatun ‘ala Kitabillah” no. 590 dari Asad bin Musa dari Mu’awiyah bin Shalih dari al-Hasan bin Jabir dari Miqdam bin Ma’dikarib radhiallahu ‘anhu.

Guru beliau, Asad bin Musa, adalah Ibnu Ibrahim bin al-Walid bin Abdil Malik al-Umawi. Asadus-Sunnah (singanya sunnah), demikian ia dijuluki. Ibnu Hajar rahimahullah menyatakan, “Shaduq, Yughrib (jujur namun sering meriwayatkan halhal yang aneh).”

Tentang Mu’awiyah bin Shalih bin Hudair al-Hadhrami al-Himshi. Abu Zur’ah ar-Razi dan an-Nasa’i rahimahumallah berkata, “Tsiqah (tepercaya).” (al-Jarh wat-Ta’dil [8/382])

Al-’Ijli rahimahullah berkata, “Tsiqah.” (Tarikh ats-Tsiqat hlm. 432)

Sedangkan Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Shaduq lahu auham (jujur namun memiliki beberapa kekeliruan).”

Adapun al-Hasan bin Jabir al-Lakhmi al-Kindi, Ibnu Hibban rahimahullah menyebutkannya dalam ats-Tsiqat (4/125). Sedangkan Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Maqbul.” (Haditsnya diterima jika ada penguat, jika tidak, maka lemah); dan hadits ini termasuk hadits yang memiliki penguat-penguat.

Melalui jalan Mu’awiyah bin Shalih dari al-Hasan bin Jabir dari Miqdam bin Ma’dikarib radhiallahu ‘anhu, at-Tirmidzi rahimahullah meriwayatkan dalam Sunan-nya, Kitab “Al-Ilmu bab Ma Naha ‘anhu An Yuqala ‘ala Haditsin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam” no. 2664. Demikian pula Ibnu Majah rahimahullah dalam Muqaddimah Sunan-nya “Bab Ta’zhimu Haditsi Rasulillah shallallahu ‘alaihi wa sallam wat Taghlizh ‘ala Man ‘Aradhahu” no. 12.

Adapun Abu Dawud rahimahullah, beliau meriwayatkan hadits Miqdam bin Ma’dikarib radhiallahu ‘anhu dalam As-Sunan “Kitab As-Sunnah bab Fi Luzumi As-Sunnah” no. 4604—dengan sanad yang semua rawinya tsiqah—dari gurunya, Abdul Wahhab bin Najdah dari Abu ‘Amr bin Katsir bin Dinar dari Harits bin ‘Utsman dari Abdurrahman bin Abi ‘Auf dari Miqdam bin Ma’dikarib radhiallahu ‘anhu secara marfu’ (sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) dengan lafadz:

أَلَا إِنِّي أُوْتِيْتُ الْكِتَابَ وَمِثْلَهُ مَعَهُ، أَلَا يُوْشِكُ رَجَلٌ شَبْعَانُ عَلَى أَرِيكَتِه يَقُولُ: عَلَيْكُمْ بِهَذَا الْقُرْآنِ. فَمَا وَجَدْتُمْ فِيهِ مِنْ حَلَالٍ فَأَحِلُّوهُ وَمَا وَجَدْتُمْ فِيهِ مِنْ حَرَامٍ فَحَرِّمُوهُ؛ أَلَا لَا يَحِلُّ لَكُمْ لَحْمُ الْحِمَارِ الْأَهْلِي وَلَا كُلُّ ذِي نَابٍ مِنَ السبعِ الْحَدِيثَ

“Ketahuilah, sesungguhnya aku diberi Al-Kitab dan yang semisalnya bersamanya (yakni Al-Hadits). Ketahuilah, telah dekat (munculnya) seorang yang kenyang di atas dipannya berkata, ‘(Cukuplah) kalian dengan Al-Qur’an ini (tidak perlu pada hadits Nabi–pen.). Apa yang kalian dapatkan dalam Al-Qur’an halal maka halalkanlah, dan apa yang kalian dapatkan di dalamnya haram maka haramkanlah’.” (Kemudian Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda), “Ketahuilah, tidak halal bagi kalian daging himar peliharaan, tidak halal pula semua yang bertaring dari hewan buas …” (Al-Hadits)

Hadits Miqdam bin Ma’dikarib radhiallahu ‘anhu memiliki syawahid (penguat) dari hadits Abu Rafi’ al-Anshari radhiallahu ‘anhu[2] dan hadits Jabir radhiallahu ‘anhu.

Hadits Miqdam radhiallahu ‘anhu sahih dengan semua jalan dan syawahidnya. Asy-Syaikh al-Albani rahimahullah mensahihkannya dalam Shahih at-Tirmidzi. Walhamdulillah.

 

Makna Hadits

Ada berita dan bimbingan dalam sabda yang agung ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitakan akan munculnya pengingkar sunnah. Mereka menolak hadits-hadits Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan melemparnya ke belakang punggung dengan sombong sebagaimana digambarkan; kaum yang kenyang dan bertelekan di atas dipan-dipan[3].

Dalam upayanya mengingkari sunnah, mereka berkata, “(Cukuplah) kalian dengan Al-Qur’an ini, apa yang kalian dapatkan dalam Al-Qur’an halal maka halalkanlah, dan apa yang kalian dapatkan di dalamnya haram maka haramkanlah.” Adapun hadits-hadits Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka picingkan mata dan mereka berpaling darinya.

Merekalah yang lebih dikenal sebagai Qur’aniyyun atau inkarus sunnah. Dengan ucapan yang batil ini, mereka tidak sadar akan banyaknya ayat Al-Qur’an yang dengan tegas memerintahkan mereka untuk berpegang teguh pada sabdasabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antaranya firman Allah subhanahu wa ta’ala:

وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمۡ عَنۡهُ فَٱنتَهُواْۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ ٧

“Dan apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah, dan bertakwalah kalian kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya.” (al-Hasyr: 7)

Saudaraku, jika bukan dari sabda-sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari mana kita akan mengerti tata cara shalat? Dari mana kita mengerti tata cara haji? Dari mana pula kita mengerti rincian-rincian dari apa yang disebutkan dalam Al-Qur’an secara mujmal (global)? Orang yang berakal sehat tentu akan menjawab, “Kita hanya akan mengerti itu semua dari sabda-sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam!”

Suatu hari, sahabat ‘Imran bin al-Hushain radhiallahu ‘anhu[4] berada di sebuah majelis bersama murid-muridnya. Tiba-tiba seseorang berkata, “Jangan kau sampaikan kepada kami kecuali Al-Qur’an!”

‘Imran radhiallahu ‘anhu berkata, “Dekatkan orang ini kepadaku!” Kemudian ‘Imran radhiallahu ‘anhu berkata kepadanya, “Wahai fulan, apa pendapatmu, seandainya kau dan teman-temanmu dihadapkan pada Al-Qur’an, akankah kau dapatkan di dalamnya shalat dzuhur empat rakaat, shalat ashar empat rakaat, shalat maghrib tiga rakaat dengan men-jahar-kan bacaan pada dua rakaat (pertama)? Apa pula pendapatmu seandainya kau dan teman-temanmu dihadapkan pada Al-Qur’an, akankah kau dapatkan thawaf (mengelilingi Ka’bah) itu tujuh putaran? Demikian pula (sa’i di) Shafa dan Marwah (tujuh kali)?”

Kemudian Imran bin al-Hushain radhiallahu ‘anhu berkata:

أَيْ قَوْمُ، خُذُوا عَنَّا، فَإِنَّكُمْ وَاللهِ، إِنْ لَا تَفْعَلُوا لَتَضِلُّنَّ

“Wahai kaum, ambillah dari kami (hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), karena kalian—demi Allah—seandainya tidak melakukannya pasti akan tersesat.” Kisah ini diriwayatkan al-Khatib al-Baghdadi rahimahullah dalam al-Kifayah (hlm. 38) dari beberapa jalan dari al-Hasan al-Bashri rahimahullah.

Serupa dengan ucapan Imran bin al-Hushain radhiallahu ‘anhu, al-Hakim rahimahullah dalam Ma’rifah ‘Ulumul Hadits (hlm. 65) dan al-Khatib rahimahullah dalam al-Kifayah (hlm. 49) meriwayatkan dari al-Auza’i rahimahullah, dia berkata, Ayub as-Sikhtiyani rahimahullah berkata:

إِذَا حَدَّثْتَ الرَّجُلَ بِالسُّنَّةِ فَقَالَ: دَعْنَا مِنْ هَذَا وَحَدِّثْنَا مِنَ الْقُرْآنِ؛ فَاعْلَمْ أَنَّهُ ضَالٌّ مُضِلٌّ

“Jika engkau sampaikan sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada seseorang, namun dia (justru) berkata, ‘Tinggalkan ini, sampaikan saja kepada kami Al-Qur’an!’, ketahuilah sesungguhnya dia adalah orang yang sesat dan menyesatkan!”

Betapa banyak syariat Islam diterangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits-haditsnya. Betapa banyak pula ayat-ayat Al-Qur’an dirinci dalam sabda-sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka tidak ada keraguan sedikitpun bahwasanya menolak hadits-hadits Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bermakna meruntuhkan Islam, serta pelakunya sesat dan menyesatkan.

Di samping berisi berita, hadits Miqdam radhiallahu ‘anhu mengandung bimbingan bagi umat ini untuk berhati-hati dari kaum tersebut—atau yang sepaham dengan mereka—dan berusaha membentengi diri dari kesesatan mereka, tentu dengan selalu berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala agar dilindungi dari segala fitnah. Wabillahit taufiq.

 permata

Kedudukan Sunnah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam

Sebelum kita berbicara lebih jauh tentang Sunnah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, ada satu hal yang perlu kita dudukkan yaitu: Apa yang dimaksud dengan sunnah dalam pembahasan kita?

Sunnah yang kita kehendaki bukanlah sunnah yang didefinisikan dalam ilmu ushul fiqh sebagai “Perkara yang jika dilakukan akan mendapat pahala dan jika ditinggalkan tidak berdosa,” atau yang diistilahkan pula dengan mustahab.

Namun, sunnah yang kita maksudkan adalah ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam secara umum, yaitu risalah yang beliau bawa, baik Al-Qur’an ataupun Al-Hadits. Sunnah dengan makna inilah yang disebut dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِيْ فَلَيْسَ مِنّيِ

“Barangsiapa membenci sunnahku (yakni ajaranku baik Al-Qur’an atau Hadits, pen.) maka dia bukan dari golonganku.” (HR. Muslim dalam ash-Shahih no. 1401 dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu)

Allah subhanahu wa ta’ala turunkan Al-Qur’an kepada Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Allah subhanahu wa ta’ala perintahkan beliau untuk menerangkannya kepada manusia dengan sabda-sabda beliau yaitu Al-Hadits. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَأَنزَلۡنَآ إِلَيۡكَ ٱلذِّكۡرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيۡهِمۡ

“Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur’an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka.” (an-Nahl: 44)

Demikianlah tugas Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam . Membacakan kepada manusia apa yang Allah subhanahu wa ta’ala wahyukan kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa Al-Qur’an dan Al-Hadits, sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala ingatkan nikmat ini dalam firman-Nya:

لَقَدۡ مَنَّ ٱللَّهُ عَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِينَ إِذۡ بَعَثَ فِيهِمۡ رَسُولٗا مِّنۡ أَنفُسِهِمۡ يَتۡلُواْ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمۡ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ وَإِن كَانُواْ مِن قَبۡلُ لَفِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٍ ١٦٤

“Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, serta mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah (Al-Hadits). Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (Ali Imran: 164 )

Jadi, semua yang datang dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam baik Al-Qur’an maupun Al-Hadits, adalah sunnah (ajaran) beliau yang wajib diagungkan dan dimuliakan. Tidak boleh bagi siapa pun meremehkan apalagi membencinya. Hal itu karena sunnah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah wahyu Allah subhanahu wa ta’ala, sebagaimana dalam firman-Nya:

وَمَا يَنطِقُ عَنِ ٱلۡهَوَىٰٓ ٣ إِنۡ هُوَ إِلَّا وَحۡيٞ يُوحَىٰ ٤

“Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (an-Najm: 3—4)

Demikian pula wajib bagi kita mengagungkan sunnah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan ittiba’ (mengikuti) sunnah beliau sebagai bukti kecintaan kepada-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

قُلۡ إِن كُنتُمۡ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِي يُحۡبِبۡكُمُ ٱللَّهُ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۚ وَٱللَّهُ غَفُورٞ رَّحِيمٞ ٣١

Katakanlah (wahai Nabi), “Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Ali ‘Imran: 31)

Bahkan Allah subhanahu wa ta’ala bersumpah dengan diri-Nya, bahwa seseorang tidaklah beriman hingga menjadikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai hakim (pemutus perkara) atas segala hal yang diperselisihkan.[5] Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

        فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤۡمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيۡنَهُمۡ ثُمَّ لَا يَجِدُواْ فِيٓ أَنفُسِهِمۡ حَرَجٗا مِّمَّا قَضَيۡتَ وَيُسَلِّمُواْ تَسۡلِيمٗا ٦٥

“Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (an-Nisa: 65)

        Jika telah jelas kemuliaan dan keagungan sabda-sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka semua yang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sabdakan adalah syariat yang wajib diagungkan dan wajib diamalkan, meskipun tidak tersebut dalam Al-Qur’an.

Mari kita kembali pada hadits Miqdam radhiallahu ‘anhu. Beliau memberitakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengharamkan daging himar pada perang Khaibar. Pengharaman ini wajib diterima meskipun tidak terdapat dalam Al-Qur’an. Beliau mengharamkan pula semua yang bertaring dari hewan buas seperti singa, harimau, dan sejenisnya. Pengharaman ini pun wajib diagungkan dan diterima, meskipun Al-Qur’an tidak menyebutkannya, karena apa yang diharamkan oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam sama dengan apa yang diharamkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam Kitab-Nya, sebagaimana ditegaskan sendiri oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

أَلَا وَإِنَّ مَا حَرَّمَ رَسُولُ الله فَهُوَ مِثْلُ مَا حَرَّمَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ

“Ketahuilah, sungguh apa yang diharamkan Rasulullah seperti apa yang diharamkan Allah ‘azza wa jalla.”

 

Pengagungan Salaf terhadap Sunnah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam

Para sahabat radhiallahu ‘anhum adalah teladan dalam mengagungkan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik di masa hidup beliau maupun sesudah wafatnya. Demikian pula generasi terbaik berikutnya, tabi’in, atba’ut tabi’in, dan orang-orang yang berjalan di atas jalan mereka.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Sungguh pada generasi pendahulu (salaf) umat ini, pengingkaran dan kemarahan mereka demikian hebat kepada orang yang menolak hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan ra’yu (akal), qiyas, istihsan (anggapan baik), atau ucapan manusia—siapa pun orangnya—, … bahkan, mereka meng-hajr (memutuskan hubungan) dengan pelakunya. Bahkan, generasi pendahulu (salaf) dari umat ini tidaklah membenarkan melainkan wajibnya tunduk, berserah diri, serta mendengar dan taat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Tidak pernah terbetik dalam benak-benak salaf untuk tawaqquf (menunda menerima sunnah) hingga ada pengamalan, qiyas (analogi), atau ucapan fulan dan fulan yang mencocoki sunnah (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam). Bahkan yang mereka lakukan adalah mengamalkan firman Allah subhanahu wa ta’ala:

وَمَا كَانَ لِمُؤۡمِنٖ وَلَا مُؤۡمِنَةٍ إِذَا قَضَى ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥٓ أَمۡرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ ٱلۡخِيَرَةُ مِنۡ أَمۡرِهِمۡۗ وَمَن يَعۡصِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدۡ ضَلَّ ضَلَٰلٗا مُّبِينٗا ٣٦

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguh dia telah sesat, sesat yang nyata.” (al-Ahzab: 36)[6]

Suatu hari—sebagaimana dikisahkan oleh Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu—Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat dengan mengenakan alas kaki. Di tengah shalatnya beliau melepasnya. Seketika itu pula, para sahabat ikut melepas sandal-sandal mereka. Seusai shalat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Apa gerangan yang membuat kalian melepas sandal-sandal kalian?”

Mereka berkata, “Wahai Rasulullah, kami melihat engkau melepas alas kaki, kami pun melepas alas kaki-alas kaki kami.”[7]

Demikianlah para sahabat radhiallahu ‘anhum. Dengan segera mereka mengikuti Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam segala gerak-geriknya, karena pengagungan mereka terhadap sunnah serta karena keimanan bahwasanya tidak ada kebahagiaan dan keselamatan kecuali dengan mengikuti segala yang dibawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 sandal-jadul

Akibat yang Allah subhanahu wa ta’ala Timpakan bagi Pengingkar Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Mengingkari sunnah adalah alamat kebinasaan dan petaka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَثَلِي كَمَثَلِ رَجُلٍ اسْتَوْقَدَ نَارًا فَلَمَّا أَضَاءَتْ مَا حَوْلَهَا جَعَلَ الْفَرَاشُ وَهَذِهِ الدَّوَابُّ الَّتي في النَّارِ يَقَعْنَ فِيهَا وَجَعَلَ يَحْجُزُهُنَّ وَيَغْلِبْنَهُ فَيَتَقَحَّمْنَ فِيهَا. قَالَ: فَذَلِكُمْ مَثَلِي وَمَثَلُكُمْ، أَنَا آخِذٌ بِحُجَزِكُمْ عَنِ النَّارِ، هَلُمَّ عَنِ النَّارِ، هَلُمَّ عَنْ النَّارِ، فَتَغْلِبُونِي تَقَحَّمُونَ فِيهَا

“Permisalan diriku seperti orang yang menyalakan api. Ketika api telah menyinari apa yang ada di sekelilingnya berdatanganlah serangga-serangga beterbangan mendekati api, sementara orang ini berusaha menghalangi dari api namun hewan-hewan itu (tidak menghiraukan) bahkan menerobosnya, hingga mereka berjatuhan ke dalamnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Itulah permisalan diriku dan diri kalian. Aku mengambil ikat-ikat pinggang kalian untuk menyelamatkan dari neraka, ‘Jauhilah neraka! Jauhilah dari neraka!’ Tetapi kalian (kebanyakan umatku tidak menghiraukanku) bahkan menerobosnya, dan kalian berjatuhan ke dalam neraka.”[8]

Saudaraku, meskipun apa yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sampaikan adalah perkara yang disunnahkan seperti puasa Senin-Kamis, siwak, atau perkara mustahab lainnya, namun yang harus selalu kita ingat dan kita tanyakan pada diri kita adalah, “Siapa yang mengucapkan sabda ini dan dari mana sabda ini bersumber?”

Jawabnya adalah, “Ini adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang bersumber dari wahyu Allah subhanahu wa ta’ala!”

Seorang yang selalu sadar hakikat ini, dia akan jauh dari sikap mengolok-olok ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meskipun itu perkara yang mustahab, dan meskipun dia belum mampu melaksanakannya karena lemahnya iman yang ada pada dirinya.

Namun kini, kita menyaksikan perkara yang menyedihkan. Bukan perkara mustahab saja yang dilecehkan. Bahkan perkara wajib pun menjadi bahan cemoohan. Wanita berkerudung—apa lagi yang bercadar—diejek dan ditertawakan. Sementara wanita-wanita fasik yang tidak berbaju—bahkan di antara mereka wanita-wanita kafir—justru menjadi pujaan. Allahul musta’an, kepada Allah subhanahu wa ta’ala sajalah kita mengadu, dan hanya kepada-Nyalah kita merintih kepedihan ini.

Pelecehan kain di atas mata kaki dan jenggot adalah lembaran lain dari sejumlah kesedihan kita akan jauhnya umat dari ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Meskipun terkadang kita masih memberikan alasan pada kebanyakan kaum muslimin, mungkin mereka tidak tahu bahwa Nabi mereka shallallahu ‘alaihi wa sallam berjenggot lebat. Mungkin mereka tidak paham tatkala membaca Al-Qur’an bahwa jenggot adalah sunnah nabi-nabi sebelum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seperti firman Allah subhanahu wa ta’ala tatkala mengisahkan Musa dan Harun ‘alaihimassalam:

قَالَ يَبۡنَؤُمَّ لَا تَأۡخُذۡ بِلِحۡيَتِي وَلَا بِرَأۡسِيٓۖ إِنِّي خَشِيتُ أَن تَقُولَ فَرَّقۡتَ بَيۡنَ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ وَلَمۡ تَرۡقُبۡ قَوۡلِي ٩٤

Harun menjawab, “Wahai putra ibuku, janganlah kamu pegang jenggotku dan jangan (pula) kepalaku. Sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan berkata (kepadaku), ‘Kamu telah memecah antara Bani Israil dan kamu tidak memelihara amanatku’.” (Thaha: 94)

Hanya doa dan permohonan kepada-Nya, semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberi hidayah atas umat ini dan semoga Allah subhanahu wa ta’ala muliakan negeri ini dengan mengagungkan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Wahai orang-orang yang meremehkan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, hendaknya kalian takut akan akibat buruk yang akan menimpa kalian jika tidak segera bertaubat dan kembali kepada jalan yang lurus. Al-Imam Ahmad rahimahullah berkata, “Aku heran terhadap suatu kaum yang mengerti sanad hadits dan kesahihannya, akan tetapi mereka lebih mengutamakan pendapat Sufyan. Padahal Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

فَلۡيَحۡذَرِ ٱلَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنۡ أَمۡرِهِۦٓ أَن تُصِيبَهُمۡ فِتۡنَةٌ أَوۡ يُصِيبَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٌ ٦٣

“… maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa fitnah (cobaan) atau ditimpa azab yang pedih.” (an-Nur: 63)

Kemudian al-Imam Ahmad rahimahullah berkata, “Tahukah kalian apa itu fitnah? Fitnah itu adalah syirik. Bisa jadi dengan sebab dia menolak sebagian sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, muncul dalam hatinya penyimpangan hingga dia binasa karenanya.”[9]

 

Slogan-Slogan yang Mencampakkan Sunnah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam

Berpegang pada sunnah Rasul di zaman yang penuh fitnah ini ibarat seorang menggenggam bara api. Sebagaimana digambarkan dalam hadits Abu Dzar al-Ghifari radhiallahu ‘anhu.

Pengingkaran terhadap sunnah banyak terjadi di sekitar kita. Qur’aniyun atau kelompok Inkarus sunnah adalah salah satu model para pengingkar sunnah yang jauh-jauh hari telah diperingatkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits al-Miqdam bin Ma’dikarib radhiallahu ‘anhu.

Model pengingkaran sunnah sangat beragam. Ada yang terang-terangan sebagaimana mereka yang tersebut dalam hadits Miqdam radhiallahu ‘anhu. Ada pula pengingkaran terselubung berupa syubhat (kerancuan) dan slogan yang diembuskan di tengah umat untuk menjauhkan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari sanubari kaum muslimin.

Tetapi anehnya, pengingkaran tersebut seringkali justru terucap dari orang-orang Islam yang ditokohkan atau melalui institusi-institusi yang membawa bendera Islam.

Sesungguhnya, banyak faktor yang mendorong mereka menjatuhkan dirinya ke dalam fitnah yang berbahaya ini. Boleh jadi karena kebodohan terhadap sunnah, atau mereka telah terbelenggu dalam penjara fanatisme mazhab, atau sengaja mereka korbankan sunnah demi kepentingan politik, atau bahkan ada di antara mereka yang memang menjadi corong orang-orang kafir dan munafik, para pengagung orientalis yang demikian gencar berusaha menjauhkan umat Islam dari sunnah Rasulullahn.

Saudaraku, di kesempatan ini mari kita simak beberapa slogan atau syubhat yang bertujuan mengikis pengagungan sunnah dari diri seorang muslim, yang berujung pada meninggalkan sunnah Rasul. Dengan memohon taufik dari Allah subhanahu wa ta’ala, syubhat-syubhat tadi akan kita paparkan berikut sebagian dari bantahannya. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala menyelamatkan kita dari makar dan tipudaya setan.

 syiah-sesat

Pertama: Mencela sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai pembawa risalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Cara ini ditempuh orang-orang Rafidhah (Syi’ah), munafik, dan yang membebek di belakang mereka. Mereka masih gentar dan takut mencela langsung Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tetapi mereka punya makar yang sangat busuk di tengah-tengah umat yaitu melunturkan kepercayaan umat kepada generasi terbaik, pembawa Al-Qur’an dan Al-Hadits.

Celaan demi celaan pun dilontarkan kepada para sahabat, terlebih sahabat yang banyak meriwayatkan hadits seperti Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu. Jika kepercayaan kepada pembawa risalah telah luntur, niscaya akan muncul keraguan terhadap apa yang mereka bawa, Al-Qur’an dan Al-Hadits.

Untuk menjawab syubhat ini, cukup kita katakan: Para sahabat adalah generasi terbaik yang telah Allah subhanahu wa ta’ala ridhai dengan nash Al-Qur’an, demikian pula sabda-sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun pencacatan kalian, ini adalah kebatilan.

Bacalah ayat berikut dan silakan kalian memilih untuk beriman atau kafir kepada firman Allah subhanahu wa ta’ala:

وَٱلسَّٰبِقُونَ ٱلۡأَوَّلُونَ مِنَ ٱلۡمُهَٰجِرِينَ وَٱلۡأَنصَارِ وَٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُم بِإِحۡسَٰنٖ رَّضِيَ ٱللَّهُ عَنۡهُمۡ وَرَضُواْ عَنۡهُ وَأَعَدَّ لَهُمۡ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي تَحۡتَهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدٗاۚ ذَٰلِكَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ ١٠٠

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (at-Taubah: 100)

 

Kedua: Mengedepankan fanatisme kelompok/mazhab daripada hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (taqlid).

Penyakit fanatisme kelompok/mazhab seringkali membawa seseorang menolak sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang terang-terangan menyelisihi paham kelompok dan mazhabnya. Dia enggan atau bahkan risih mengamalkan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah jelas kesahihannya, hanya karena tidak ada dalam mazhab atau ucapan imam-imam mazhabnya.

Di antara bantahannya, kita katakan bahwa tidak ada seorang pun yang maksum kecuali para nabi dan rasul. Adapun imam-imam mazhab, mereka tidaklah maksum. Bahkan mereka sendiri telah mengingatkan umat agar membuang pendapat-pendapat mereka jika menyelisihi sunnah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam.[10]

 

Ketiga: Membuat umat ragu akan kebenaran sanad[11] dan keotentikan kitab-kitab hadits seperti Shahih al-Bukhari.

Orientalis atau pengikut hawa nafsu yang memuja mereka memunculkan syubhat di tengah umat bahwasanya sanad hadits adalah buatan orang belakangan di abad kedua atau ketiga, seperti al-Bukhari dan yang sezaman dengan beliau. Adapun rawi-rawi antara al-Bukhari dan Rasul hanyalah tokoh-tokoh fiktif.

Studi-studi kritis tentang Shahih al-Bukhari pun digelar, tidak lain untuk membawa umat ini meragukan hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika Shahih al-Bukhari saja dijatuhkan lalu bagaimana dengan kitab-kitab hadits lainnya?

Cukup sebagai bantahan kita katakan bahwa umat Islam telah bersepakat akan kesahihan Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim. Adapun para akademisi yang mencoba-coba mengkritisi kedua kitab ini adalah anak-anak jahil. Siapa mereka dan siapa al-Imam al-Bukhari rahimahullah? Siapa mereka dan siapa al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah?

Adapun sanad, sesungguhnya sejak sahabat masih hidup—di masa tabi’in— sanad telah dipakai untuk menyaring berita yang bersumber dari orang-orang yang jujur atau pendusta. Muhammad bin Sirin rahimahullah berkata, “Dahulu mereka tidak menanyakan sanad, namun ketika fitnah telah terjadi (yaitu pembunuhan ‘Utsman bin ‘Affan radhiallahu ‘anhu di tahun 35 H, pen.) mereka bertanya, ‘Sebutkan rawi-rawi kalian!’ Untuk dilihat, jika Ahlus Sunnah maka haditsnya diterima, sedangkan jika yang meriwayatkan ahlul bid’ah maka hadits mereka tidak diambil.”[12]

 

Keempat: Perkataan Mu’tazilah, ahli kalam (filsafat), dan yang sepaham dengan mereka bahwasanya hadits ahad[13] tidak dipakai untuk menetapkan aqidah.

Demikian syubhat ini dilontarkan Mu’tazilah dan orang-orang yang mengadopsi kesesatan itu di zaman kita. Asy-Syaikh al-Albani rahimahullah berkata, “(Bahkan) sebagian ‘da’i-da’i Islam’ pada hari ini, dengan terang-terangan menyatakan tidak bolehnya mengambil perkara aqidah dari hadits-hadits ahad. Bahkan (mereka menyatakan) haram hukumnya!!”[14]

Tidak diragukan dengan syubhat ini, puluhan ribu hadits akan tertolak karena tergolong hadits-hadits ahad. Syubhat ini ibarat rumah laba-laba yang tidak memiliki kekuatan sedikitpun. Cukuplah sebagai bantahannya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Mu’adz bin Jabal radhiallahu ‘anhu seorang diri ke negeri Yaman untuk mendakwahkan Islam, baik aqidah, ibadah, muamalah, atau akhlak.15 Apakah kalian akan mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengkhianati risalah karena hanya mengutus Muadz seorang diri? Apakah kalian juga akan mengatakan bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam gegabah dengan mengutus Muadz seorang diri mendakwahkan aqidah di tengah-tengah komunitas ahlul kitab?

 

Kelima: Perkataan yang sering terlontar dari mulut sebagian orang bodoh ketika disampaikan kepadanya sebuah hadits, dia berkata, “Ini kan hanya masalah furu’ (cabang), bukan ushul (pokok),” atau berkata, “Ini hanyalah kulit dan bukan inti/buah/substansi.”

Sangat disayangkan ucapan dengan nada meremehkan sunnah ini muncul dari orang-orang yang katanya sudah belajar “Islam”, menyandang titel dan gelar akademik doktor atau profesor. Hendaknya mereka mengaca kepada sahabat ketika mereka dengan serta-merta melepas sandal-sandal mereka tatkala melihat Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam melepasnya. Demi Allah! Tidak terbetik sedikitpun dalam diri sahabat perkataan, “Ini furu’ bukan ushul!”

Kaum muslimin, semoga Allah subhanahu wa ta’ala merahmati kita. Demikian sebagian syubhat yang diembuskan setan untuk menggeserkan kaki-kaki manusia dari ittiba’ (mengikuti) sunnah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka berhati-hatilah dari jerat-jerat setan tersebut. Sabarlah dalam menegakkan sunnah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam dada-dada ini. Sesungguhnya saat berjumpa dengan Allah subhanahu wa ta’ala telah dekat!! Masing-masing kita akan ditanya, sudahkah kita memenuhi seruan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam?

وَيَوۡمَ يُنَادِيهِمۡ فَيَقُولُ مَاذَآ أَجَبۡتُمُ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ٦٥

Dan (ingatlah) hari (di waktu) Allah menyeru mereka, seraya berkata, “Apakah jawabanmu kepada para rasul?” (al-Qashash: 65)

Walhamdulillahi Rabill ‘alamin. Washallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam.

 

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc.


[1] Beliau adalah Abu Muhammad Abdullah bin Abdirrahman bin al-Fadhl bin Bahram ad-Darimi. Ad-Darimi merupakan nisbat kepada Bani Darim bin Malik. Beliau lahir pada tahun 181 H dan wafat 255 H, setahun sebelum wafatnya al-Bukhari.

[2] Dalam Sunan Abi Dawud (5/12 no. 4605), al-Musnad (6/8).

[3] Al-Baghawi mengatakan bahwa yang dimaksud dengan sifat ini adalah orang-orang hidup mewah, senantiasa berada di rumah mereka dan tidak mau menuntut ilmu. (at-Taisir bi Syarhil Jami’ ash-Shaghir, al-Munawi)

[4] Beliau adalah ‘Imran bin Hushain bin ‘Ubaid al-Khuza’i, Abu Nujaid radhiallahu ‘anhu. Masuk Islam pada tahun Khaibar (7 H) dan meninggal tahun 52 H di Bashrah.

[5] Menjadikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai hakim terwujud dengan mendatangi beliau di kala hidupnya dan kembali kepada sunnahnya sesudah wafatnya.

[6] Lihat I’lamul Muwaqi’in (3/46)

[7] Shahih, diriwayatkan Abu Dawud dalam As-Sunan “Kitab ash-Shalah” no. 650

[8] HR. Muslim dalam ash-Shahih, “Kitabul Fadha’il” (no. 2284) dan Ahmad dalam al-Musnad (no. 2733) dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu.

[9] Ucapan al-Imam Ahmad rahimahullah ini dinukil Syaikhul Islam rahimahullah dalam Kitabut Tauhid alladzi Huwa Haqqullah ‘alal ‘Abid.

[10] Silakan lihat riwayat-riwayat al-Imam Abu Hanifah, Malik, Asy-Syafi’i, dan Ahmad rahimahumullah di Muqaddimah Shifat Shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karya asy-Syaikh al-Albani rahimahullah hlm. 45—55.

[11] Sanad adalah rantai periwayat-periwayat hadits yang menghubungkan kepada nash hadits. Silakan buka kembali Asy-Syariah Vol. VI/No. 61/1431 H/2010 “Terjaganya Kemurnian Islam” yang membahas secara rinci tentang ilmu sanad.

[12] Diriwayatkan al-Imam Muslim rahimahullah dalam Muqaddimah Shahih-nya (1/13)

[13] Yaitu hadits yang diriwayatkan satu, dua, tiga orang, atau lebih selama tidak mencapai derajat mutawatir.

[14] Al-Hadits Hujjatun Binafsihi fil ‘Aqaidi wal Ahkam, al-Albani, hlm. 38.

Meluruskan Peranan Akal Dalam Menafsirkan Al-Qur’an

Akal adalah salah satu pemberian Allah subhanahu wa ta’ala yang sangat bermanfaat bagi kemaslahatan hidup manusia di dunia dan akhirat. Dengan akal, manusia dapat memahami wahyu yang diturunkan Allah subhanahu wa ta’ala sehingga mampu mengenal kebenaran dan membedakannya dari kebatilan, tentu selama manusia tersebut memanfaatkan fungsi akal dengan sebaik-baiknya. Lanjutkan membaca Meluruskan Peranan Akal Dalam Menafsirkan Al-Qur’an

Yang Tercecer dari IAIN (8) – Hermeneutika

Penelitian di Yogyakarta menyatakan, “Arus perkembangan pemikiran Islam Liberal di Kota Yogyakarta bermula dari kampus IAIN Sunan Kalijaga pada dekade tahun 1980-an oleh para dosen dan akademisi kampus melalui kajian-kajian keislaman yang diikuti oleh mahasiswa. Materi hermeneutika dan pemikiran orientalis barat sudah menjadi kajian resmi di UIN Sunan Kalijaga.” Lanjutkan membaca Yang Tercecer dari IAIN (8) – Hermeneutika

Yang Tercecer dari IAIN (7) – Mengusung Tokoh Kafir dan Bid’ah

Di antara bukti kecintaan seorang muslim kepada Allah subhanahu wa ta’ala adalah ia selalu berusaha mencintai orang yang Allah subhanahu wa ta’ala cintai dan membenci siapa yang Allah subhanahu wa ta’ala benci. Sungguh aneh bila ia mengaku mencintai-Nya akan tetapi dia membenci siapa yang Allah subhanahu wa ta’ala cintai dan mencintai siapa yang Allah subhanahu wa ta’ala benci. Penyair Arab mengatakan:

   تَعْصِي اْلِإلَهَ وَأَنْتَ تَزْعُمُ حُبَّهُ

 هَذَا لَعَمْرِي في اْلقِيَاس بَدِيْعُ

لَوْ كَانَ حُبُّكَ صَادِقًا لَأَطَعْتَهُ

إِنَّ اْلمُحِبَّ لِمَنْ يُحِبُّ مُطِيْعُ

Kamu bermaksiat kepada Ilah sementara kamu mengaku cinta kepada-Nya

Aku bersumpah, ini sungguh kias yang aneh

Seandainya pengakuan cintamu jujur, tentu kamu akan menaatinya

karena seorang yang mencintai itu akan menaati yang dicintainya. (al-Qaulul Mufid, 3/55) Lanjutkan membaca Yang Tercecer dari IAIN (7) – Mengusung Tokoh Kafir dan Bid’ah

Yang Tercecer dari IAIN (6) – Kawin Sesama Jenis

Di antara keanehan yang mereka munculkan adalah upaya melegalisasi kawin sesama jenis. Sesuatu yang sangat tidak wajar sampaipun di kalangan binatang. Allah subhanahu wa ta’ala telah menciptakan manusia dan menciptakan pasangan-pasangan untuk mereka. Lanjutkan membaca Yang Tercecer dari IAIN (6) – Kawin Sesama Jenis

Yang Tercecer dari IAIN (5) – Poligami

Tema poligami sangat hangat untuk dibicarakan, sehingga kelompok ini tidak melewatkan pembicaraan tentangnya. Di antara wujudnya adalah sebuah buku yang ditulis oleh Siti Musdah Mulia dengan judul Islam Menggugat Poligami. Mereka mengecam habis-habisan apa yang disebut poligami, tanpa rasa takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan tanpa rasa malu kepada-Nya. Seolah-olah mereka tidak tahu bahwa Allah subhanahu wa ta’ala membolehkan poligami. Seakan-akan mereka juga tidak mau tahu akan hikmah dan aturan Islam yang membolehkannya, tidak mengharuskannya. Bagi mereka, pokoknya tidak setuju, dan bagi mereka, poligami adalah diskriminasi bagi kaum hawa. Satu sikap yang angkuh dan tidak mau tahu. Lanjutkan membaca Yang Tercecer dari IAIN (5) – Poligami

Yang Tercecer dari IAIN (4) – Kesetaraan Gender

Kesetaraan gender merupakan salah satu gagasan yang banyak disuarakan oleh kaum SIPILIS—sebagaimana diistilahkan oleh sebagian penulis, sebagai singkatan dari sekularisme, pluralisme dan liberalisme—yang tak sedikit dari mereka bercokol di kampus-kampus PTAI. Hal ini, sebagaimana disuarakan kaum lelaki, juga banyak kaum wanita yang menyuarakannya demi menuntut apa yang mereka anggap sebagai hak-hak mereka. Lanjutkan membaca Yang Tercecer dari IAIN (4) – Kesetaraan Gender

Yang Tercecer dari IAIN (3) – Kawin Beda Agama

Di antara hal yang sering terlontar di tengah-tengah kampus PTAI, terutama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, adalah gagasan kawin beda agama. Seiring dengan itu, muncullah istilah “Penghulu Swasta” atau bisa kita bilang “Penghulu Kawin Beda Agama”. Dialah Zainun Kamal, dosen tetap pada Fakultas Ushuludin sekaligus dosen pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Dengan jabatan nonformalnya sebagai penghulu swasta, ia telah berhasil menikahkan beberapa pasangan beda agama yang wanitanya muslimah. Lanjutkan membaca Yang Tercecer dari IAIN (3) – Kawin Beda Agama

Yang Tercecer dari IAIN (2) – Pluralisme Agama

Pluralisme agama adalah suatu paham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama dan karenanya kebenaran setiap agama adalah relatif. Oleh sebab itu, setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim bahwa hanya agamanya saja yang benar sedangkan agama yang lain salah. Pluralisme agama juga mengajarkan bahwa semua pemeluk agama akan masuk dan hidup berdampingan di surga…. (Fatwa MUI No. 7/MUNAS VII/MUI/II/2005 tentang Pluralisme, Liberalisme dan Sekularisme Agama) Lanjutkan membaca Yang Tercecer dari IAIN (2) – Pluralisme Agama

Yang Tercecer dari IAIN (1) – Menggugat Al-Qur’an

Bercak-bercak hitam mengotori kampus akibat peristiwa yang menodai akidah dan tarbiyah Islamiyah, sehingga di sejumlah—bukan semua—kampus PTAI tercecer hal-hal besar dan berbahaya yang tidak bisa dianggap sepele. Berikut ini rincian dan penjelasan dari peristiwa tersebut, agar menjadi perhatian kita sehingga kita waspada dan berhati-hati darinya. Lanjutkan membaca Yang Tercecer dari IAIN (1) – Menggugat Al-Qur’an

Merenungi Rentetan Peristiwa di IAIN

Sungguh memilukan, hati terasa tersayat-sayat, kalbu serasa berontak, dan emosi meluap, saat mendengar, membaca, bahkan melihat berbagai kejadian yang amat memukul, terjadi di berbagai instansi berlabel Islam, entah itu institut, sekolah tinggi, atau universitas Islam.Tercatat sebuah perubahan besar dalam sejarah IAIN[1], dengan munculnya Harun Nasution[2] yang menawarkan berbagai perubahan dengan mengusung slogan “Islam Rasional”. Bukunya yang kontroversial, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, dikukuhkan oleh Departemen Agama RI—berdasarkan rapat rektor IAIN se-Indonesia pada bulan Agustus 1973 di Ciumbuleuit Bandung—sebagai buku wajib bagi setiap mahasiswa IAIN, apa pun fakultas dan jurusannya. Kala itu, buku ini mendapat tantangan dan reaksi yang sangat keras dan tajam dari Prof. Dr. H.M. Rasjidi—Menteri Agama RI pertama—. Beliau khawatir akan pengaruh buku tersebut bagi angkatan muda Islam, karena menurutnya: Lanjutkan membaca Merenungi Rentetan Peristiwa di IAIN

Peran Lembaga Pendidikan Islam

Pendidikan adalah dakwah. Pendidikan yang dalam bahasa Arab disebut tarbiyah, merupakan suatu tanggung jawab yang besar yang telah Allah subhanahu wa ta’ala pesankan kepada Nabi-Nya:

مَا كَانَ لِبَشَرٍ أَن يُؤۡتِيَهُ ٱللَّهُ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡحُكۡمَ وَٱلنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُواْ عِبَادٗا لِّي مِن دُونِ ٱللَّهِ وَلَٰكِن كُونُواْ رَبَّٰنِيِّ‍ۧنَ بِمَا كُنتُمۡ تُعَلِّمُونَ ٱلۡكِتَٰبَ وَبِمَا كُنتُمۡ تَدۡرُسُونَ ٧٩

Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al-Kitab, hikmah, dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia, “Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah.” Akan tetapi (dia berkata), “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al-Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.” (Ali Imran: 79) Lanjutkan membaca Peran Lembaga Pendidikan Islam